JURNAL ILMU KESEHATAN

advertisement
JURNAL ILMU KESEHATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN
JAWA TENGAH
POLA TATALAKSANA DIARE CAIR AKUT DI RSUD WONOSOBO
IKA PURNAMA SARI DAN ARI SETYAWATI
PENGARUH PENDAMPING PERSALINAN DAN PARITAS TERHADAP
PENGURANGAN RASA NYERI KALA I FASE AKTIF PADA IBU
BERSALIN NORMAL
FARIHAH INDRIANI
EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH TIKUS PUTIH JANTAN (RATTUS NORVEGICUS)
HIPERTENSI
SRI MULYANI
ABNORMALITAS GEN PADA THALASEMIA
ANISA ELL RAHARYANI
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGERUHI KUALITAS
DISCHARGE PLANNING TERHADAP TINGKAT KEMANDIARIAN
PASIEN
DENGAN
GANGGUAN
CARDIOVARCULAR
PASCA
HOSPITALISASI: LITERATURE REVIEW
CANDRA DEWI RAHAYU
ANALISIS PERAN FORUM KESEHATAN DESA DALAM
PELAKSANAAN DESA SIAGA AKTIF DI KABUPATEN
WONOSOBO TAHUN 2014
MUHAMMAD SAHLI
JURNAL ILMU KESEHATAN
DEWAN REDAKSI
Penerbit :
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
Pelindung :
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES)
Universitas Sains Al-Qur’an
Jawa Tengah di Wonosobo
Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi :
M. Fahrurrozi. S. Kep. Ns
Sekretaris Redaksi :
Siti Khoiriyah, S. Kep. Ns, Dewi Candra Resmi, S. SiT
Editor :
Fajar Gunawan, Amd.Kom
Anggota Redaksi :
Candra Dewi Rahayu, S. Kep. Ns, Farihah Indriani, S.SiT
POLA TATALAKSANA DIARE CAIR AKUT DI RSUD WONOSOBO
Ika Purnamasari, Ari Setyawati
ABSTRAK
Latar Belakang : Penyakit diare merupakan penyebab kematian pertama pada
usia balita. Penatalaksanaan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi dan berbasis bukti diharapkan mampu menekan angka mortalitas
dan morbiditas penyakit diare.
Tujuan : untuk mengetahui bagaimana pola tata laksana pasien diare cair akut di
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wonosobo.
Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektf. Sampel
penelitian ini adalah pasien anak usia dibawah dua tahun yang menjalani rawat
inap karena diare selama periode waktu Januari – Desember tahun 2013. Julah
sampel 193 anak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan ceklist. Analisis
data dilakukan dengan SPSS versi 16.00.
Hasil :Pasien yang dirawat dengan dehidrasi berat hanya 5,2%, tatalaksana diare
terkait upaya rehidrasi oral menggunakan oralit masih sangat rendah (7,3%) dan
92,7% anak diare tidak diberi oalit. Penggunaan rehidrasi intravena pada kasus
diare dijumpai 100% pada semua kasus tanpa memperhatikan derajat dehidrasi.
Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dijumpai 98,4%. Pemberian zink sebagai
mikronutrien sudah sangat bagik dterapkan yaitu 95,3% anak diare mendapatkan
terapi zink. Penggunaan anti diare dan anti emetik masing-masing sebanyak 2,6%
dan 44%. Sedangkan untuk pemberian ASI maupun susu formula dijumpai bahwa
58% anak diare tidak mendapatkan ASI dan atau susu formula
Kesimpulan : Pola tatalaksana diare cair akut pada anak di RSUD Wonosobo
masih ada yang belum sesuai dengan pedoman tatalaksana diare menurut
Kementrian Kesehatan RI
Implikasi Keperawatan : Perawat dapat melaksanakan perannya sebagai
advocate terkait tatalaksana diare cair akut di rumah sakit.
Kata Kunci : Tatalaksana, Anak, Diare Cair Akut
Pendahuluan
Penyakit Diare merupakan penyakit yang menempati urutan kedua
penyebab kematian balita di dunia setelah pneumonia. WHO mencatat hampir
sembilan juta anak balita meninggal setiap tahunnya dan satu setengah juta per
tahun anak balita meninggal karena diare atau 16 % dari seluruh penyebab
kematian. Saat ini, hanya 39% anak dengan diare di negara-negara berkembang
mendapatkan penanganan yang sesuai (WHO 2009). Di Indonesia, penyakit diare
merupakan penyakit endemis yang berpotensi untuk menjadi KLB (Kejadian
Luar Biasa) dan sering disertai dengan kematian. Laporan Riskesdas tahun 2007
menunjukkan bahwa penyakit diare merupakan penyebab kematian nomor satu
pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua
umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%). (Kemenkes RI
2012).
Paket penanganan dan pengawasan terhadap penyakit diare telah disusun
oleh WHO yang meliputi paket pengobatan (treatment) dengan tujuan untuk
mengurangi angka kematian balita akibat diaredan paket pencegahan yang
bertujuan untuk mengurangi beban diare pada jangka waktu menengah dan lama.
Paket ini tersusun atas 7 (tujuh) poin perencanaan untuk penanganan diare secara
komprehensif, yaitu 2(dua) elemen penting pengobatan sesuai WHO dan UNICEF
dan 5 elemen
pencegahan yang membutuhkan perhatian lebih dalam proses
implementasinya, yaitu (WHO 2009):
1. Penggantian cairan untuk mencegah dehidrasi, termasuk dengan
menggunakan low-osmolarity oral rehydration (ORS),
2. Pengobatan dengan zinc, dimana pengobatan ini dapat menurunkan
keparahan dan lama diare.
3. Vaksinasi rotavirus dan campak
4. Promosi kesehatan tentang ASI eksklusif dan suplemen vitamin A
5. Promosi kesehatan tentang cuci tangan menggunakan sabun
6. Peningkatan kualitas dan kuantitas penyediaan air, termasuk keamanan
penyimpanan air rumah tangga
7. Promosi tentang sanitasi di komunitas.
Penelitian oleh Sofian (2004) tentang pola penggunaan antibiotik di RSI NU
Demak, diperoleh hasil bahwa 100% anak usia 1-3 tahun yang dirawat di rumah
sakit tersebut mendapatkan antibiotik. Cara pemberian 62,93% serbuk injeksi dan
37,07% sirup (oral). Hal ini menunjukkan penggunaan antibiotik pada kasus diare
bersifat tidak rasional. Penelitian lain di rumah sakit swasta di Jakarta tentang
penatalaksanaan diare diperoleh hasil bahwa tata laksana diare akut di tiga rumah
sakit swasta di Jakarta kurang sesuai dengan panduan/protabel WHO, tampak dari
hasil pemakaian CRO hanya pada 50% pasien, antibiotik masih banyak dipakai
(90%), dan pemakaian susu formula khusus pada 70% anak (Dwipurwantoro
2005)
Rumah Sakit Umum Daerah Wonosobo, merupakan salah satu rumah sakit
yang sering mendapatkan rujukan dari puskesmas di wilayah Wonosobo.
Berdasarkan data di ruang rawat inap RSUD Wonosobo tahun 2013, diketahui
bahwa peringkat pertama dari 10 besar penyakit anak adalah diare. Hal ini dapat
terjadi hampir sepanjang tahun. Jumlah rata-rata pasien diare setiap bulannya di
ruang perawatan khusus anak mencapai 50 – 60 pasien. Jumlah ini merupakan
jumlah yang cukup tinggi.
Berdasarkan wawancara dengan perawat di rumah sakit, masih terdapat
penggunaan antibiotik pada kasus – kasus diare, penggantian susu formula dan
pemberian cairan intravena yang kurang sesuai dengan indikasi. Keadaan ini
membutuhkan pemantauan yang rutin terkait tata laksana pasien diare, sehingga
pasien mendapatkan pengobatan dan perawatan yang sesuai dengan pedoman
yang telah ditetapkan. Apabila pasien diare mendapatkan pengobatan dan
perawatan yang tidak sesuai, maka dikhawatirkan pasien mendapatkan kerugian
dari praktik tersebut seperti resisten terhadap antibiotika dan dapat juga
berhubungan dengan penambahan biaya karena harus membeli obat yang
sebenarnya kurang dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena pada umumnya diare
disebabkan oleh rotavirus dan tidak memerlukan antibotika.
Berdasarkan keadaan tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan yang
ada, yaitu “Bagaimana pola tata laksana pasien diare cair akut di RSUD
Wonosobo? Apakah sudah sesuai dengan lima langkah tuntaskan diare (Lima
Lintas Diare) dari Kemenkes RI?”
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pola tata laksana
pasien diare cair akut di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wonosobo. yang
meliputi:
1. Pemberian cairan rehidrasi oral (CRO)
2. Pemberian cairan parenteral
3. Penggunaan antibiotik
4. Pemberian tablet zinc
5. Penggunaan anti diare dan anti emetik
6. Pemberian ASI dan susu formula
Metode
Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektf. Sampel
penelitian ini adalah pasien anak usia dibawah dua tahun yang menjalani rawat
inap karena diare selama periode waktu Januari – Desember tahun 2013. Julah
sampel 193 anak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan ceklist. Analisis
data dilakukan dengan SPSS versi 16.00.
Hasil
1.
Karakteristik Responden
Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 257 pasien anak dengan
diare cair akut yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Setjonegoro Wonosobo periode bulan Januari sampai Desember 2013.
Adapun sampel yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 193 pasien,
terdiri dari 126 (65,3%) anak laki-laki dan 67 (34,7%) anak perempuan
dengan rentang usia 0 – 24 bulan. Kelompok umur 0 – 6 bulan berjumlah 41
(21,2%) anak, kelompok umur 7 – 11 bulan berjumlah 66 (34,1%) anak
serta 86 (44,6%) anak berusia 12-24 bulan. Berdasarkan derajat dehidrasi,
115 (59,6%) diantaranya tanpa mengalami dehidrasi, sebanyak 68 (35,2%)
dengan dehidrasi ringan-sedang, sedangkan dengan dehidrasi berat terdapat
10 (5,2%) anak.
2.
Pola Tatalaksana Diare Cair Akut
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa penggunaan oralit
dipakai pada 14 (7,3%) anak, sedangkan 179 (92,7%) anak tidak diberikan
oralit. Pada penelitian ini anak dengan diare cair akut masih banyak yang
tidak diberikan ASI yaitu 112 (58%), sedangkan anak yang masih diberikan
ASI 81 (42%). Terapi cairan parenteral masih banyak digunakan pada kasus
diare baik tanpa dehidrasi, dengan dehidrasi ringan sampai sedang dan
dehidrasi berat yaitu 193 (100%). Penggunaan antibiotik dalam kasus diare
juga menjadi salah satu terapi yang banyak digunakan yaitu 190 (98,4%)
dan 3 (1,6%) anak tidak mendapatkan terapi antibiotik. Tetapi untuk
penggunaan zink hanya pada 9 (4,7%) anak saja yang tidak mendapatkan
zink, yang lain 184 (95,3%) menggunakan zink. Terapi antidiare hanya
digunakan pada 4 (2,6%) anak saja, sedangkan sebagian besar 188 (97,4%)
anak tidak mendapat terapi antidiare. Penggunaan antiemetik didapatkan
pada 85 (44%) anak, sedangkan 108 (56%) anak tidak mendapatkan
antiemetik. Gambaran pola tatalaksana diatas dapat dilihat pada Tabel 1
berikut
Tabel 1
Pola Tata Laksana Diare Cair Akut
No.
Jenis Tatalaksana
1. Pemberian oralit
Ya
Tidak
2. Pemberian ASI/Sufor
Ya
Tidak
3. Pemberian cairan parenteral
Ya
Tidak
4. Pemberian antibiotik
Ya
Tidak
5.
Pemberian zinc
Ya
Tidak
Frekuensi
Prosentase
14
179
7,3
92,7
81
112
42
58
193
0
100
0
190
3
98,4%
1,6
184
9
95,3%
4,7%
6.
7.
Pemberian antidiare
Ya
Tidak
Pemberian antiemetik
Ya
Tidak
4
188
2,6%
97,4%
85
108
44%
56%
Pembahasan
1.
Jenis Kelamin
Pada penelitian ini didapatkan bahwa anak yang mengalami diare cair
akut yang dirawat di RSUD Setjonegoro sebagian besar adalah laki laki
(65,3%), dengan rentang usia 0 – 24 bulan. Penelitian yang dilakukan
Pramita dkk juga menyebutkan bahwa 55% dari keseluruhan anak yang
dirawat di RS swasta di Jakarta dengan diare adalah laki laki1,3. Hal ini
dimungkinkan karena pada tahap pertumbuhan dan perkembangannya,
tingkat aktifitas pada anak laki laki lebih banyak daripada anak perempuan.
Pada usia tersebut juga anak mulai mengeksplorasi lingkungan.
2.
Usia
Berdasarkan data yang diperoleh, insiden tertinggi anak yang
mengalami diare cair akut berada pada usia dibawah 2 tahun. Jumlah
terbanyak didapatkan pada usia lebih dari 6 bulan, kemungkinan terjadi
karena pada anak lebh dari 6 bulan sudah diperkenalkan makanan
pendamping ASI dan makanan tambahan lainnya, sedangkan untuk rentang
usia kurang dari 6 bulan tingkat kejadian diare lebih sedikit karena anak
masih mendapatkan ASI.
3.
Tingkat dehidrasi
Berdasarkan hasil yang diperoleh, tingkat dehidrasi pada diare cair
akut yang dirawat di RSUD Wonosobo paling banyak pada kasus tanpa
dehidrasi. Hasil ini tidak sesuai dengan pola tata laksana yang
direkomendasikan oleh WHO, dimana pada kasus diare cair akut, yang
perlu dirawat di Rumah Sakit adalah pada kasus diare cair akut dengan
dehidrasi berat. Faktor ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman
dan tingkat pengetahuan orang tua/keluarga tentang tanda dan gejala diare
serta penanganan pertama untuk diare, yaitu untuk diare cair akut tanpa
dehidrasi dapat dengan pemberian CRO/oralit, yang bisa dilakukan di
rumah.
4.
Upaya rehidrasi
Hasil penelitian ini, pasien yang mendapatkan CRO hanya 7,3% saja,
sisanya tidak mendapatkan terapi rehidrasi oral. Pemberian CRO belum
dapat dipahami dan dilaksanakan sepenuhnya, padahal terapi rehidrasi oral
merupakan terapi pilihan dan direkomendasikan untuk menggantikan cairan
dan elektrolit yang hilang akibat diare pada anak dengan diare akut
dehidrasi ringan sedang2. Selain itu juga belum tersedianya pojok oralit di
rumah Sakit.
Terapi parenteral didapatkan 100% pada penelitian ini. Dari
keseluruhan pasien yang dirawat dengan diare cair akut tanpa dehidrasi,
dehidrasi sedang
mendapatkan terapi parenteral. Akan tetapi, terapi
parenteral pada diare cair akut dengan dehidrasi berat telah dilaksanakan
sesuai dengan rekomendasi WHO, yaitu pemberian pemberian cairan
intravena secara bertahap. Untuk anak umur kurang dari 12 bulan 30
ml/kgBB pada 1 jam dan 70 mm/kgBB dalam 5 jam pada pemberian
berikutnya. Sedangkan untuk anak usia lebih dari 12 bulan diberikan dengan
dosis yang sama pada 30 ml pemberian pertama dan 2,5 jam untuk
pemberian berikutnya (WHO, 2009).
Pemberian ASI pada anak dengan diare cair akut yang ditemukan pada
penelitian ini masih jarang ditemukan, hanya 42% anak dengan diare yang
masih diberikan ASI. Sebagian tidak diberikan ASI, padahal ASI dan
makanan pendamping ASI sebenarnya masih dapat dilanjutkan walaupun
anak mengalami diare, karena ASI/MPASI masih dibutuhkan oleh tubuh
pada anak dengan diare. Pemberian ASI pada anak 0-6 bulan juga sangat
dianjurkan mengingat ASI dapat meningkatkan imunitas anak, sehingga
anak tidak mudah terinfeksi bakteri/virus.
Sebagian besar anak yang dirawat dengan diare cair akut mendapatkan
terapi antibiotik, yaitu pada 98,4% kasus. Penatalaksanaan ini tidak sesuai
dengan rekomendasi WHO. Pemberian antibiotik dilakukan pada diare yang
disebabkan karena virus/bakteri. Namun, pada penelitian ini tidak
ditemukan adanya pemeriksaan penunjang yaitu feces rutin, sehingga
pemberian antibiotik ini dilakukan sebagai upaya pencegahan.
Pemberian zinc pada anak dengan diare
cair akut
sangat
direkomendasikan oleh WHO, sesuai dengan penelitian ini bahwa 95,3%
anak sudah mendapatkan zinc. Pemberian antidiare hanya diberikan pada
2,6% kasus, sedangkan anti emetik diberikan pada 88% kasus anak dengan
diare cair akut karena mengalami mual dan muntah. Hal ini sebenarnya
tidak direkomendasikan oleh WHO.
Kesimpulan dan Saran
Pola tatalaksana diare cair akut pada anak bawah dua tahun masih ada yang
belum sesuai dengan panduan penetalaksanaan diare menurut Departemmen
Kesehatan RI.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi
rumah sakit khususnya terkait tatalaksana anak diare dan selanjutnya dapat
digunakan untuk menyusun prosedur operasional standar pelayanan. Penelitian ini
masih terbatas pada deskripsi tatalaksana diare sehingga perlu dilakukan
penelitian lanjutan tentang faktor-faktor yang menyebabkan ketidaksesuaian
tatalaksana diare dengan panduan yang telah ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
DepKes RI (2011), Buku saku Bagi Petugas Kesehatan ; Lima Langkah
Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE), Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Dorland (2002) Kamus Kedokteran
Dwipoerwantoro, PG, Hegar Badriul, Witjaksono PAW (2005), Pola Tata
Laksana Diare Akut di Beberapa Rumah Sakit Swasta di Jakarta, Apakah
Sesuaidengan ProtokolWHO? Sari Pediatri, vol 6 No 4 2005 ;182-187
KemenKes RI (2013), Profil Kesehatan Indonesia 2012
Opando et al.. Effect of a multi faceted quality improvement intervention on
inappropriate antibiotic use in children with non bloody diarrhoea admitted
to
district
hospitals
in
Kenya.
BMC
Pediatrics
http://www.biomedcentral.com/1471-2431/11/109.
Pramita G. Dwipoerwantoro, Badriul Hegar, Pustika A. W. Witjaksono. Pola Tata
Laksana Diare Akut di Beberapa Rumah Sakit Swasta di Jakarta; apakah
sesuai dengan protokol WHO. Sari Pediatri, Vol.6, No.4, Maret 2005: 182187
Sidik NA dkk (2013), Assessment of The Quality of Hospital Care for Children in
Indonesia, Tropical Medicine and International Health, volume 18 No.4
PP 407 – 415 April 2013
Sofian Ahmad (2004), Pola Penggunaan Antibiotik pada Diare Anak di RSI
NU Demak, skripsi
WHO – UNICEF (2009), Diarrhoea : Why Children Are Still Dying and What
Can Be done?
WHO (2009), Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah sakit;
Pedoman Bagi Rumah sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten /
Kota
PENGARUH PENDAMPING PERSALINAN DAN PARITAS
TERHADAP PENGURANGAN RASA NYERI
KALA I FASE AKTIF PADA IBU
BERSALIN NORMAL
Farihah Indriyani
ABSTRAK
Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis, terjadinya disebabkan oleh
kontraksi uterus yang dirasakan bertambah kuat dan paling dominan terjadi pada
kala I fase aktif. Intensitas nyeri dirasakan berbeda-beda dan dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya pendamping persalinan dan paritas. Tujuan penelitian
adalah mengetahui tentang Pengaruh Pendamping Persalinan Dan Paritas
Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Kala I Fase Aktif Pada Ibu Bersalin Normal.
Metode penelitian. Studi ini merupakan penelitian quasi eksperiment yang
dilakukan di RSIA Adina Wonosobo. Pada penelitian ini mengambil jenis “One
group pre test-posttest” di mana kelompok eksperimen diberikan pre test sebelum
di beri perlakuan yang kemudian diukur dengan posttest setelah adanya
perlakuan. Populasi adalah Semua ibu bersalin di RSIA Adina Wonosobo.
Teknik pengambilan sampel adalah Total Sampling yaitu semua ibu bersalin yang
normal di RB Adina Wonosobo pada bulan Maret sampai April tahun 2014. Hasil
penelitian adalah 1) Pengaruh tingkat rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin
sebelum ada pendamping persalinan dan setelah ada pendampingan persalinan
dapat disimpulkan bahwa ibu dengan pendamping persalinan mengalami nyeri
yang lebih ringan dibandingkan ibu tidak dengan pendamping persalinan. 2)
Pengaruh paritas terhadap pengurangan rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu
bersalin normal dapat disimpulkan bahwa ibu multigravida ternyata mengalami
nyeri yang lebih ringan dibandingkan ibu primigravida 3)Interaksi pengaruh
peran pendamping persalinan dan paritas terhadap pengurangan rasa nyeri kala I
fase aktif pada ibu bersalin normal ibu di RSIA Adina Wonosobo dapat
disimpulkan bahwa faktor interaksi pendamping persalinan dan paritas
mempunyai interaksi yang signifikan terhadap skala nyeri kala I pada ibu bersalin
di RB Adina Wonosobo
Kata Kunci: Pendamping persalinan, Paritas, Pengurangan rasa nyeri kala I fase
aktif pada ibu bersalin normal.
PENDAHULUAN
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal.
Kelahiran seorang bayi merupakan peristiwa yang sosial yang ibu dan keluarga
nantikan selama kurang lebih 9 bulan. Ketika persalinan di mulai, peran ibu
adalah untuk melahirkan bayinya. Peran petugas kesehatan adalah memantau
persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi, selain itu bersama keluarga
memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin (Saifudin, 2002).
Melahirkan merupakan proses alami dan menimbulkan rasa sakit.
Melahirkan secara normal akan membutuhkan daya tahan tubuh yang kuat karena
terlampau sakit. Perempuan yang merasakan sakit terlalu parah dari seharusnya
disebut fear-tension-pain concept, yaitu rasa sakit yang menimbulkan ketegangan
dan kepanikan yang menyebabkan otot kaku dan sakit sehingga tidak heran jika
ada juga perempuan yang melahirkan normal, namun menggunakan obat-obatan
untuk mengatasi rasa sakit.
Ada beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi rasa nyeri adalah
berbagai hambatan fisik dan psikologis ibu. Faktor fisik diantaranya tindakan
medis selama persalinan, besarnya pembukaan dan lamanya kontraksi, sedangkan
faktor psikologis diantaranya panik, sugesti, dan pendamping persalinan
(Danuatmada & Mciliasari, 2004).
Cara-cara alternatif untuk mengatasi rasa sakit dan kecemasan selama
proses persalinan dan melahirkan perlu dianjurkan atau setidaknya dicoba
sebelum menawarkan obat-obat pereda rasa sakit. Dukungan yang terus menerus,
urut/pijat, air hangat yang menenangkan, perubahan posisi tubuh, kata-kata serta
belaian yang memberi semangat dapat meningkatkan kenyamanan si ibu dan
mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit.
Asuhan kebidanan dukungan persalinan Kala I dapat diberikan dengan cara
menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu untuk mendampingi ibu
selama proses persalinan seperti suami, keluarga, atau teman dekat. Suami dan
keluarga dianjurkan untuk berperan aktif dalam mendukung dan melakukan
kegiatan yang dapat memberikan kenyamanan bagi ibu. Pendamping ibu saat
persalinan sebaiknya adalah orang yang peduli pada ibu, yang paling penting
1
adalah orang-orang yang diinginkan oleh si ibu untuk mendampinginya selama
persalinan. Di beberapa tempat, hanya wanita yang boleh menemani ibu pada saat
ia melahirkan. Dalam budaya lain, sudah menjadi kebiasaan bagi suami menjadi
pendamping
dalam
persalinan
bahkan
menolong
persalinan.
Kehadiran
pendamping selama proses persalinan, sentuhan penghiburan dan dorongan orang
yang mendukung sangat besar artinya karena dapat membantu ibu saat proses
persalinan (Januardi, 2002).
Dukungan yang terus menerus dari seorang pendamping persalinan kepada
ibu selama proses persalinan dan melahirkan dapat mempermudah proses
persalinan dan melahirkan itu sendiri, mengurangi kebutuhan tindakan medis,
serta meningkatkan rasa percaya diri ibu akan kemampuan menyusui dan merawat
bayinya. Seorang pendamping dapat membantu proses kelahiran berjalan normal
dengan mengajak si ibu bergerak dan berjalan di ruang persalinan, memberi
minuman dan makanan ringan, serta memberinya semangat agar tidak merasa
cemas dan kesakitan.
Menurut wawancara yang dilakukan kepada penanggung jawab rumah
bersalin RB Adina Wonosobo, jumlah pasien pada tahun 2013 sebanyak 355
orang, untuk pasien primigravida sebanyak 190 orang sedangkan pada
multigravida sebanyak 165 orang. Dalam menangani persalinan di RB Adina
Wonosobo mengutamakan kenyamanan pasien, karena pasien yang memasuki
proses persalinan kala I sudah mulai merasakan kesakitan. Rasa sakit itu
disebabkan oleh rasa nyeri yang hebat pada bagian perut, apalagi bagi ibu
primigravida
yang belum
mempunyai
pengalaman dalam
mengahadapi
persalinan, biasanya ibu mengalami kebingungan dan kesakitan karena rasa nyeri
yang hebat pada perutnya, apabila terjadi kontraksi dalam persalinan kala I.
Untuk mengurangi rasa nyeri pada ibu bersalin ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya yaitu umur dan paritas ibu, ras, budaya, dan etnik, mekanisme
coping, metode relaksasi yang digunakan, cemas dan takut, kelelahan, lama
persalinan, posisi maternal dan fetal, pendamping persalinan. Akan tetapi peneliti
hanya ingin meneliti tentang peran pendamping dan paritas terhadap pengurangan
rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin normal. Dengan adanya
2
pendampingan oleh suami atau anggota keluarga yang membuat ibu nyaman dan
tenang di harapkan akan dapat mengurangi nyeri persalinan pada ibu bersalin.
Pendamping persalinan juga mempengaruhi psikologis ibu dimana faktor
psikologis juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi lama persalinan.
Pengurangan rasa nyeri pada pasien bisa dibantu oleh anggota keluarga atau
bidan untuk memberikan dukungan secara moril dan memberi sentuhan atau
pemijatan sehingga ibu bisa merasa nyaman dan tenang sehingga nyeri yang
dirasakan oleh pasien dapat berkurang. Akan tetapi kebanyakan para pendamping
persalinan tidak mengetahui apa peran pendamping pada proses persalinan, para
pendamping hanya mengikuti anjuran bidan yang menganjurkan mereka untuk
mendamping ibu yang sedang bersalin, apabila itu ibu bersalin primigravida yang
belum pernah ada pengalaman.
Maka penulis melakukan penelitian tentang “Peran pendamping persalinan
dan Paritas Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Kala I Fase Aktif Pada Ibu
Bersalin Normal Di RB Adina Wonosobo”.
KAJIAN PUSTAKA
1.
Persalinan Normal
a. Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan
lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba,
2005). Menurut Winknjosatro (2006), Persalinan adalah proses membuka
dan menipisnya servik dan janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran
adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan
lahir. Sedangkan menurut Mansjoer (2005), Persalinan adalah suatu
proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus
melalui vagina ke dunia luar.
b. Etiologi persalinan
Sebab-sebab persalinan sampai saat ini merupakan teori yang
komplek, antara lain:
3
a) Teori Penurunan Hormon
b) Teori Plasenta Menjadi Tua
c) Teori Ketegangan (distensi rahim)
d) Teori Sirkulasi mekanik
e) Induksi partus
c. Faktor yang berperan dalam Persalinan
Menurut Kuswnowardhani (2003), faktor yang berperan dalam
persalinan antara lain:
a) Power (tenaga)
b) Passege (jalan lahir)
c) Passeger (janin)
d) Position
e) Psychologic
Proses Persalinan
Winkjosastro (2006) menyatakan bahwa proses persalinan terdiri
dari 4 kala, yaitu :
a. Kala I
Kala I berlangsung dari permulaan persalinan sesungguhnya
sampai pembukaan lengkap. Kala I dimulai sejak terjadinya his
adekuat dan servik mulai membuka sehingga pembukaan
lengkap (10 cm), pada primigravida lamanya 6 sampai 8 jam
dan pada multipara 2 sampai 10 jam (Oxorn, 2003) atau pada
primigravida kira – kira 13 jam dan multipara kira–kira 7 jam
(Wiknjosastro, 2006).
Kala pembukaan dibagi 2 fase , yaitu :
1) Fase laten
Fase laten dimulai dari permulaan kontraksi uterus
yang reguler sampai terjadinya dilatasi servik yang
mencapai ukuran dimeter 3 cm. kontraksi uterus selam
fase ini lebih pendek dan ringan, lama kontraksi 20-40
4
detik. Fase ini berlangsung 6 jam pada primipara dan
4,5 jam pada multipara.
2) Fase aktif
Selama fase aktif persalinan, dilatasi servik terjadi
lebih cepat. Dimulai dari akhir fase laten dan berakhir
dengan dilatasi servik 4 cm sampai 10 cm. persalinan
efektif di mulai pada fase ini. Rata-rata dilatasi servik
untuk primipara 1,2 cm atau lebih tiap jam dan
multipara 1,5 jam atau tiap jam (Martin, 2002).
b. Kala II
Kala II persalinan didefinisikan mulai dari dilatasi servik
penuh sampai diikuti kelahiran bayi. Batasan kala II dimulai
saat pembukaan serviks lengkap dan berakhir dengan lahirnya
seluruh tubuh janin (Chapman, 2006).
Kala II primi 1,5 sampai 2 jam sedangkan pada multi 0,5
sampai 1 jam (Wiknjosastro, 1999).
c. Kala III
Kala tiga persalinan tiga disebut juga sebagai kala uri atau
kala pengeluaran plasenta. Kala tiga dan empat persalinan
merupakan kelanjutan dari kala satu (kala pembukaan) dan kala
dua (kala pengeluaran bayi) persalinan.
d. Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi
dan plasenta lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama
terhadap bahaya perdarahan post partum. Masa post partum
merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian ibu,
terutama kematian disebabkan karena perdarahan.
2.
Konsep Dasar Nyeri
1.
Pengertian Nyeri
a. Pengertian nyeri
5
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia nyeri adalah rasa
yang menyebabkan penderitaan. Nyeri adalah suatu rasa yang
tidak nyaman baik ringan ataupun berat (Perry & Poter, 2005).
b. Respon Tubuh Terhadap Nyeri
1)
Respon Simpatis
2)
Respon Parasimpatis
3)
Respon Perilaku
4)
Faktor-faktor yang mempengaruhi respon
Oleh karena nyeri merupakan masalah yang kompleks, maka
berbagai faktor dapat mempengaruhi respon nyeri antara lain
(Mander, 2004) :
a)
Umur
b)
Jenis kelamin
c)
Sosiokultural
d)
Situasi/lingkungan
e)
Arti Nyeri
f)
Perhatian
g)
Kecemasan
h)
Kelelahan
i)
Pengalaman Nyeri Sebelumnya
j)
Coping style
k)
Dukungan Sosial dan Keluarga
c. Skala Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah
nyeri yang dirasakan oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri
sangat subyektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam
intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang
yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang
paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologis tubuh
terhadap nyeri itu sendiri. Namun pengukuran nyeri dengan
6
teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang
nyeri itu sendiri.
Pengukuran
subjek
nyeri
dapat
dilakukan
dengan
menggunakan berbagai alat pengukuran nyeri, seperti skala visual
analog, skala nyeri numerik analog, skala nyeri deskriptif atau
skala nyeri Wong-Bakers untuk anak-anak.
Nyeri bisa diukur dengan menggunakan skala intensitas
nyeri deskriptif atau pain of ruler.
0
: Tidak nyeri
1–3 :
Nyeri ringan : Secara obyektif klien dapat
berkomunikasi dengan baik
4-6
:
Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, dapat
mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan
baik
7-9
:
Sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol : secara
obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah
tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat
diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10
: Sangat nyeri yang tidak dapat dikontrol : Pasien sudah tidak
mampu lagi berkomunikasi.
Saat pengukuran responden diminta untuk menunjukkan
berapa skala nyeri yang sedang dirasakan sehingga dapat
diketahui bahwa responden tidak merasakan nyeri, nyeri ringan,
nyeri sedang, sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol atau
bahkan sangat nyeri yang tidak dapat dikontrol lagi.
2.
Nyeri Persalinan
a.
Pengertian Nyeri Persalinan
Nyeri persalinan adalah respon nyeri yang menyertai
kontraksi uterus mempengaruhi mekanisme fisiologis sejumlah
7
sistem tubuh yang selalu menyebabkan respon stres fisiologis
yang umum dan menyeluruh (Mander, 2004).
b.
Jaras Perifer Nyeri Persalinan
Karya
eksperimental
pada
sistem
saraf
otonom
menunjukan bahwa baik komponen simpatis dan parasimpatis
menyuplai sebagaian besar organ abdomen dan pelvis, termasuk
uterus. Secara otomatis, otot polos uterus di suplai sebagian
besar oleh serat-C yang tidak bermielin dan sebagian oleh serat
A-delta kecil yang bermielin.
Serat nosiseptif dalam uterus dan servik melewati pleksus
uterine dan servikalis dan kemudian (secara berurutan) melewati
pleksus
pelvikus,
nervus
hipogasatrikus
medius,
nervus
hipogastrikus superior dan kemudian menuju ranta simpatis
lumbalis. Dari sini, serat nosiseptif melewati rantai torasikus
bagian bawah dan meninggalkannya dengan berjalan melalui
rami komunikantes albus yang berkaitan dengan nervus spinalis
T10, T12, T12, dan L1. Akhirnya serat nosiest berjalan melalui
saraf-saraf spinalis dan berkaitan dengan neuron kornu dorsalis.
Serat nosiseptif dari perineum melalui nervus pudendus dan
masuk kedalam medula spinalis melalui radisk posterior S2, S3,
dan S4. Selain itu, segmen lumbalis bagian bawah dan sakralis
bagian atas menyuplai saraf menuju struktur pelvis yang terlibat
dalam nyeri persalinan.
Selama kala I persalinan, nyeri diakibatkan oleh dilatasi
servik dan segmen bawah uterus dan distensia korpus uterus
(Mochtar, 2001). Intensitas nyeri selama kala ini diakibatkan
oleh kekuatan konstraksi dan tekanan yang dibangkitkan.
Pernyataan yang tegas ini didasarkan pada hasil remuan bahwa
tekanan cairan amnion lebih dari 15 mmHg di atas tonus yang
dibutuhkan untuk meregangkan segmen bawah uterus dan servik
dan dengan demikian menghasilakan nyeri. Sebenarnya, tekanan
8
diatas 50 mmHg telah direkam sebagai sesuatu yang normal
selama kala I persalinan. Dengan demikian logis untuk
mengharapkan bahwa makin tinggi tekanan cairan amnion,
makin besar distensia sehingga menyebabkan nyeri yang lebih
berat.
Nyeri ini dialihkan ke dermaton yang disuplai oleh
segmen medulla spinalis yang sama dengan segmen yang
menerima input nosiseptif dari uterus dan serviks. Dermaton
adalah daerah tubuh yang dipersarafi oleh saraf spinalis khusus,
misalnya dermaton 12 mengacu pada dermaton torasiikus ke 12.
Nyeri di rasakan sebagai nyeri tumpul yang lama pada awal kala
I dan terbatas dermaton torasikus ke-11 (T11) dan ke-12 (T12).
Kemudian pada kala II persalinan, nyeri pada dermaton T10 dan
L1.
Penurunan kepala janin memasuki pelvis pada akhir kala I
menyebabkan distensia struktur pelvis dan tekanan pada rodiks
pleksus lumbosakrolis, yang menyebabkan nyeri alih pada
perjalanan segmen L2 ke bawah. Akibatnya nyeri dirasakan
pada region L2, bagian bawah punggung dan juga pada paha dan
tungkai.
Pada kala II persalinan, nyeri tambahan disebabkan oleh
regangan dan robekan jaringan, misalnya pada nyeri perineum
dan tekanan pada otot skelet perineum. Di sini nyeri disebabkan
oleh regangan struktur somatic superficial dan digambarkan
sebagai nyeri yang tajam dan terlokalisasi, terutama pada daerah
yang disuplai oleh saraf pudendus. Beberapa wanita dapat
mengalami nyeri pada paha dan tungkai mereka, digambarkan
sebagai nyeri tumpul yang lama, terbakar atau kram. Hal ini
dapat diakibatkan oleh rangsangan struktur pada pelvis yang
sensitive-nyeri dan yang menyebabkan nyeri ringan yang
9
dialihkan pada segmen lumbalis dan sakralis bagian bawah
(Mander, 2004).
c.
Nyeri Persalinan dan Respon Tubuh
Nyeri yang menyertai kontraksi uterus menyebabkan
hiperventilasi, dengan frekuensi pernafasan tercatat 60-70 kali
permenit. Hiperventilasi sebaliknya menyebabkan penurunan
kadar PaCO2 (kadar pada kehamilan normal adalah 32 mmHg,
kadar yang menurun adalah 16-20 mmHg) dan konsekuensinya
adalah peningkatan kadar pH yang konsisten. Temuan yang
sama telah dilaporkan oleh sejumlah peneliti di bidang nyeri
persalinan. Salah satu bahaya kadar PaCO2 ibu rendah adalah
penurunan kadar PaCO2 janin yang menyebabkan deselerasi
lambat denyut jantung janin (Mender, 2004).
Ventilasi dapat meningkat nyata ketika wanita bersalin
menggunakan latihan pernafasan. Hal ini dapat mempengaruhi
kesimbangan asam basa system sirkulasi, menghasilkan
alkalosis selama persalinan adalah penurunan transfer oksigen
bagi janin. Alkalosis juga dapat menginduksi vasokontriksi
uterus, memperlama persalinan dan alkalosis yang makin
memburuk.
d.
Nyeri Kala I Persalinan
Selama kala I persalinan rasa nyeri disebabkan oleh dua
peristiwa yaitu :
1)
Nyeri karena kontraksi rahim yang dihantarkan oleh
serabut saraf torakal 11 dan12
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang
selama kehamilan dalam batas tertentu, setelah melewati
batas tersebut maka otot rahim akan berkontraksi atau
disebut dengan his pertanda dimulainya persalinan.
Kontraksi rahim terjadi selain karena regangan otot polos
juga pengaruh dari estrogen dan progesteron , sistem
10
kontraktilitas miometrium sendiri dan oksitosin. Pada fase
laten kala I persalinan kontraksi rahim terjadi setiap 15
sampai 20 menit dan bisa berlangsung kira-kira 30 detik.
Kontraksi-kontraksi ini sedikit lemah dan bahkan tidak
terasa oleh ibu yang bersangkutan. Kontraksi-kontraksi ini
biasanya terjadi dengan keteraturan syang beriman dan
interval (selang antar waktu) diantara kontraksi secara
berangsur menjadi lebih pendek, sementara lamanya
kontraksi semakin panjang. Pada fase aktif kala I
persalinan kontraksi rahim bisa terjadi setiap 2 sampai 3
menit dan berlangsung selama 50-60 detik. Kontraksi
rahim pada fase ini sangat kuat. Selama kontraksi akan
terjadi kontriksi pembuluh darah yang menyebabkan
anoksia serabut otot, hal inilah yang menyebabkan
anoksia serabut otot, hal inilah yang menyebabkan
timbulnya rangsang nyeri, selain itu rangsanga nyeri
timbuk karena tertekannya ujung saraf sewaktu rahim
berkontraksi. Selama kontraksi rahim selalu diikuti
pengerasan abdomen dan rasa tidak nyaman (rasa nyeri).
Rasa nyeri yang dirasakan sebagai rasa sakit punggung.
Dalam perkembanganya kontraksi akan menjadi lebih
lama dan kuat yang mengakibatkan intensitas nyeri yang
dirasakan semakin bertambah (Mander, 2004).
2)
Nyeri karena peregangan atau pembukaan leher rahim
yang dihantarkan oleh serabut saraf sacrum 2, 3 dan 4.
Pembukaan leher rahim adalah proses pembesaran
lubang luar leher rahim dari keadaan yang memungkinkan
lewatnya
kepala
janin.
Pembukaan
diukur
dalam
cenmimeter dan pembukaan lengkap pada bulan penuh
sama dengan kira-kira 10 cm. Pembukaan akan terjadi
sebagai akibat dari kerja rahim serta tekanan yang
11
berlawanan yang dikenakan oleh kantung membran dan
bagian janin yang menyodor. Kepala janin yang berada
dalam keadaan fleksi penuh yang dengan ketat dikenakan
pada leher rahim akan membantu permukaan yang efisien.
Tekanan yang dikenakan secara merata ke leher rahim
akan menyebabkan fundus rahim bereaksi dengan jalan
berkontraksi, hal inilah yang menimbulkan rasa nyeri
(Mander, 2004).
3)
Penyebaran Rasa Nyeri Pada Kala I persalinan
Rasa nyeri pada suatu alat atau tubuh tidak selalu
berarti bahwa tubuh tadi yang sakit, tetapi bisa berasal dari
alat tubuh lain. Misalnya rasa nyeri di punggung pada
awal persalinan dapat berasal dari uterus dan bukan dari
otot punggung sendiri, hal demikian dinamakan refered
poin (penyebaran rasa nyeri). Daerah penyebaran rasa
nyeri berubah-ubah selama proses persalinan. Pada kala I
persalinan (kala pembukaan) daerah nyeri yang dirasakan
pada punggung bahwa hal ini berhubungan dengan
kontraksi rahim dan peregangan leher di mana rasa nyeri
di hantarkan melalui serabut saraf torakal 11, 12, dan
serabut saraf sacral 2,3 dan 4 (Mander, 2004).
e.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri Persalinan
1)
Umur dan Paritas
2)
Ras, Budaya, dan Etnik
3)
Mekanisme coping
4)
Metode Relaksasi Yang Digunakan
5)
Cemas dan Takut
6)
Kelelahan
7)
Lama Persalinan
8)
Posisi Maternal dan Fetal
9)
Pendamping Persalinan
12
f.
3.
Teknik Pengurangan Rasa Nyeri
Peran Pendamping persalinan
1.
Pengertian
Pendampingan adalah perbuatan mendampingi, menemani dan
menyertai dalam suka maupun duka (Depdiknas, 2001).
2.
Dukungan pendamping persalinan
Menurut Marshall (2000) menyebutkan bahwa dukungan pada
persalinan dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a.
Dukungan fisik adalah dukungan langsung berupa pertolongan
langsung yang diberikan oleh keluarga atau suami kepada ibu
bersalin.
b.
Dukungan
adalah
dukungan
yang
berupa
kehangatan,
kepedulian atau ungkapan empati yang akan menimbulkan
keyakinan bahwa ibu merasa dicintai dan diperhatikan oleh
suami,
yang pada akhirnya
dapat
berpengaruh kepada
keberhasilan.
Peran Pendamping
a. Peran pendamping selama proses persalinan yaitu (Darsa, 2009) :
1) Mengatur posisi ibu, dengan membantu ibu tidur miring atau
sesuai dengan keinginan ibu disela-sela kontraksi dan
mendukung posisi ini agar dapat mengejan secara efektif saat
relaksasi.
2) Mengatur nafas ibu, dengan cara membimbing ibu mengatur
nafas saat kontraksi dan beristirahat saat relaksasi.
3) Memberikan asuhan tubuh dengan menghapuskan keringat ibu,
memegang tangan, memberikan pijatan, mengelus perut ibu
dengan lembut.
4) Memberi informasi kepada ibu tentang kemajuan persalinan.
5) Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
13
6) Membantu ibu kekamar mandi.
7) Memberikan cairan dan nutrisi sesuai keinginan ibu.
8) Memberikan dorongan spiritual dengan ikut berdoa.
9) Memberi dorongan semangat mengejan saat kontraksi serta
memberikan pujian atas kemampuan ibu saat mengejan.
b. Menurut Ruth (2002) suami sebagai pendamping persalinan dapat
melakukan hal sebagai berikut :
1) Memberi dorongan semangat yang akan dibutuhkan jika
persalinan lebih lama dari yang diperkirakan. Suami sebaiknya
diberitahu terlebih dahulu bahwa jika istri berteriak padanya
hanya karena sang istri tidak mungkin berteriak pada dokter.
2) Memijat bagian tubuh, agar anda tidak terlalu tegang atau
untuk mengalihkan perhatian istri dari kontraksi. Pukulan
perlahan
pada
perut
yang
disebut
effeurage,
dengan
menggunakan ujung jari merupakan pijatan yang disarankan.
3) Memastikan istri merasa nyaman dengan menyediakan bantal,
air, permen atau potongan es untuk istri atau memanggilkan
perawat atau dokter jika istri membutuhkan bantuan.
4) Memegang istri saat mengejan agar istri memiliki pegangan
saat mendorong dan memimpin istri agar mengejan dengan
cara yang paling efektif.
3.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Peran Pendamping Persalinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi peran pendamping persalinan
antara lain (Darsa, 2009):
a.
Sosial Ekonomi
b.
Budaya
c.
Lingkungan
d.
Pengetahuan
e.
Umur
f.
Pendidikan
14
4.
Pembagian persalinan normal berdasarkan Gravida dan para atau
berdasarkan paritasnya
Hampir sebagian besar persalinan merupakan persalinan normal,
hanya sebagian saja (12% sampai 15%) merupakan persalinan patologi.
Pada beberapa kondisi, persalinan normal dapat beralih menjadi persalinan
patologi apabila terjadi kesalahan dalam penilaian kondisi ibu dan bayi atau
juga akibat kesalahan dalam memimpin proses persalinan ( Winkjosastro,
2006).
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan persalinan normal, yaitu
gravid dan para. Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil dan
yang dimaksud dengan para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan
bayi yang dapat hidup atau Viabel (Winkjosastro, 2006). Dalam istilah lain
yaitu paritas, paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh
seorang wanita (BKKBN, 2006).
Menurut Winkjosastro (2006) berdasarkan gravid, ibu dibagi menjadi
2 yaitu:
a.
Primigravida
b.
Seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.
Multigravida
Seorang wanita yang sudah beberapa kali hamil, sampai 5 kali.
Menurut Winkjosastro (2006) berdasarkan para, ibu dibagi menjadi
menjadi 3, yaitu :
a.
Nullipara
b.
Seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable.
Primipara
c.
Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk
pertama kali.
Multipara atau pleuripara
d.
Wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali yaitu
sampai 5 kali.
Grandemultipara
Wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau
mati.
15
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk menyajikan gambaran masingmasing variabel penelitian, dimana hasilnya diuraikan dalam tabel-tabel
dibawah ini :
a.
Skala Nyeri Ibu dengan Pendamping Persalinan
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Ibu dengan Pendamping
Persalinan pada Ibu Bersalin di RB Adina Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
16
5,69
1,078
4
8
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 16 ibu bersalin di
RB Adina Wonosobo yang memiliki pendamping persalinan, rata-rata skala
nyeri ibu sebesar 5,67 ± 1,08, dimana skala nyeri paling ringan sebesar 4
dan paling berat sebesar 8.
b.
Skala Nyeri Ibu Tidak dengan Pendamping Persalinan
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin tidak
dengan Pendamping Persalinan di RB Adina Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
13
7,77
1,013
6
9
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 13 ibu bersalin di
RB Adina Wonosobo yang tidak memiliki pendamping persalinan, rata-rata
skala nyeri ibu sebesar 7,7 ± 1,01, dimana skala nyeri paling ringan sebesar
6 dan paling berat sebesar 9.
c.
Skala Nyeri Kala I pada Ibu Primigravida
Tabel 4.3
16
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin
Primigravida di RB Adina Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
12
8,08
0,669
7
9
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 12 ibu bersalin
primigravida di RB Adina Wonosobo, rata-rata skala nyeri ibu sebesar 8,08
± 0,67, dimana skala nyeri paling ringan sebesar 7 dan paling berat sebesar
9.
d.
Skala Nyeri Kala I pada Ibu Multigravida
Tabel 4.4
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin
Multigravida di RB Adina Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
17
5,59
0,870
4
7
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 17 ibu bersalin
multigravida di RB Adina Wonosobo, rata-rata skala nyeri ibu sebesar 5,59
± 0,87, dimana skala nyeri paling ringan sebesar 4 dan paling berat sebesar
7.
e.
Skala Nyeri Kala I pada Ibu Primigravida dengan Pendamping
Persalinan
Tabel 4.5
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin
Primigravida dengan Pendamping Persalinan di RB Adina Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
2
7,50
0,707
7
8
17
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa dari 2 ibu bersalin
primigravida dengan pendamping persalinan di RB Adina Wonosobo, ratarata skala nyeri ibu sebesar 7,50 ± 0,71, dimana skala nyeri paling ringan
sebesar 7 dan paling berat sebesar 8.
f.
Skala Nyeri Kala I pada Ibu Primigravida Tidak dengan Pendamping
Persalinan
Tabel 4.6
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin
Primigravida Tidak dengan Pendamping Persalinan di RB Adina
Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
10
8,20
0,632
7
9
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari 3 ibu bersalin
primigravida tidak dengan pendamping persalinan di RB Adina Wonosobo,
rata-rata skala nyeri ibu sebesar 8,20 ± 0,63, dimana skala nyeri paling
ringan sebesar 7 dan paling berat sebesar 8.
g.
Skala Nyeri Kala I pada Ibu Multigravida dengan Pendamping
Persalinan
Tabel 4.7
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin
Multigravida dengan Pendamping Persalinan di RB Adina Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
14
5,43
0,852
4
7
Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa dari 14 ibu bersalin
multiigravida dengan pendamping persalinan di RB Adina Wonosobo, ratarata skala nyeri ibu sebesar 5,43 ± 0,85, dimana skala nyeri paling ringan
sebesar 4 dan paling berat sebesar 7.
18
h.
Skala Nyeri Kala I pada Ibu Multigravida Tidak dengan Pendamping
Persalinan
Tabel 4.8
Statistik Deskriptif Berdasarkan Skala Nyeri Kala I pada Ibu Bersalin
Multigravida Tidak dengan Pendamping Persalinan di RB Adina
Wonosobo
Variabel
N
Mean
SD
Min
Max
Skala Nyeri
3
6,33
0,577
6
7
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa dari 3 ibu bersalin
multiigravida tidak dengan pendamping persalinan di RB Adina Wonosobo,
rata-rata skala nyeri ibu sebesar 6,33 ± 0,58, dimana skala nyeri paling
ringan sebesar 6 dan paling berat sebesar 7.
Berdasarkan hasil-hasil di atas, skala nyeri kala I pada Ibu hamil
berdasarkan paritas dan pendamping persalinan dapat dirangkum pada tabel
berikut.
Tabel 4.9 Skala Nyeri Kala I pada Ibu bersalin berdasarkan Paritas dan
Pendamping Persalinan
Paritas
Pendamping
Persalinan
Primigravida Tidak
Ya
Multigravida Tidak
Ya
B.
N
Mean
SD
Minimum Maksimum
10
8,20
0,632
7
9
2
7,50
0,707
7
8
3
6,33
0,577
6
7
14
5,43
0,852
4
7
Analisis Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui
pengaruh peran pendamping persalinan dan paritas terhadap pengurangan
rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin normal di RB Andina
19
Wonosobo. Untuk menguji perbedaan ini digunakan uji analisis varian
(ANOVA), namun uji ANOVA ini memiliki asumsi yang harus dipenuhi,
yaitu data berdistribusi normal dan varian yang homogen atau homogenitas
varian.
1. Uji Distribusi Normal
Uji normalitas ini menggunakan uji Kolmogorov Smirnov, dimana
uji ini dilakukan terhadap residual atau error yang diperoleh dari analisis
varian (ANOVA). Hasil dari uji normalitas disajikan pada tabel berikut
ini.
Tabel 4.10 Uji Normalitas
Variabel
Kolmogorov Smirnov
p-value
Residual
1,060
0,211
Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas
diperoleh p-value 0,211 > α (0,05), ini menunjukkan bahwa data residual
dari hasil ANOVA dapat dinyatakan berdistribusi normal. Ini
menunjukkan asumsi normalitas sudah terpenuhi.
2. Uji Homogenitas Varian
Tabel 4.11 Uji Homogenitas Varian
F hitung
0,951
Berdasarkan tabel
Df1
Df2
p-value
3
25
0,431
4.11 dapat
diketahui
bahwa hasil
uji
homogenitas varian menggunakan Lavene test diperoleh p-value 0,431 >
α (0,05), ini menunjukkan bahwa data residual yang diperoleh dari uji
ANOVA dapat dinyatakan memiliki varian yang homogen. Ini berarti
bahwa asumsi homogenitas sudah terpenuhi dan kemudian dapat
dilakukan pengujian selanjutnya.
3. Uji Hipotesis dengan Analisis Varian Dua Arah (two-way ANOVA)
20
Analisis varian dua arah (two-way ANOVA) digunakan teknik
statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatif lebih dari
dua sampel (k sampel) secara serentak, dimana setiap sampel terdiri dari
2 kategori atau lebih.
a. Perbedaan Skala Nyeri Kala I antara Ibu Bersalin dengan Pendamping
Persalinan dengan Ibu Bersalin tidak dengan Pendamping Persalinan
Berdasarkan hasil analisis varian dua arah (two – way ANOVA)
diperoleh nilai F untuk variabel pendamping persalinan terhadap skala
nyeri kala I sebesar nilai signifikansi 0,044, sedangkan nilai F tabel
dengan α = 0,05 dan dk1 = 1, dk2 = 25. Oleh karena nilai signifikan
0,044 < 0,05 maka Ho ditolak. Ini berarti bahwa pendamping persalinan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap skala nyeri kala I pada
ibu bersalin di RB Adina Wonosobo.
Berdasarkah hasil perhitungan, nilai rata-rata skala nyeri untuk ibu
dengan pendamping persalinan didapatkan sebesar 5,69 dan untuk ibu
tidak dengan pendamping persalinan sebesar 7,77. Ini berarti dapat
disimpulkan bahwa ibu dengan pendamping persalinan mengalami nyeri
yang lebih ringan dibandingkan ibu tidak dengan pendamping persalinan.
b. Perbedaan Skala Nyeri Kala I antara Ibu Bersalin Primigravida dengan
Ibu Bersalin Multigravida
Berdasarkan hasil analisis varian dua arah (two – way ANOVA)
diperoleh nilai F untuk variabel pendamping persalinan terhadap skala
nyeri kala I sebesar nilai signifikansi 0,000, sedangkan nilai F tabel
dengan α = 0,05 dan dk1 = 1, dk2 = 25. Oleh karena nilai signifikan
0,000 < 0,05 maka Ho ditolak. Ini berarti bahwa paritas mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap skala nyeri kala I pada ibu bersalin di
RB Adina Wonosobo.
Berdasarkah hasil nilai rata-rata, skala nyeri untuk ibu primigravida
didapatkan sebesar 8,08 dan untuk ibu multigravida sebesar 5,59. Ini
berarti dapat disimpulkan bahwa ibu multigravida ternyata mengalami
nyeri yang lebih ringan dibandingkan ibu primigravida.
21
c. Pengaruh Interaksi antara Pendamping Persalinan dengan Paritas
terhadap Skala Nyeri Kala I
Berdasarkan hasil analisi varian dua arah (two – way ANOVA)
diperoleh nilai signifikan untuk variabel interaksi pendamping persalinan
dan paritas 0,073, sedangkan nilai F dengan α = 0,05 dan dk1 = 1, dk2 =
25. Oleh karena nilai signifikan 0,073 > 0,05, maka Ho ditolak. Ini
berarti bahwa faktor interaksi pendamping persalinan dan paritas
mempunyai interaksi yang signifikan terhadap skala nyeri kala I pada ibu
bersalin di RB Adina Wonosobo.
PEMBAHASAN
1)
Pengaruh tingkat rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin sebelum
ada pendamping persalinan dan setelah ada pendampingan persalinan
Persalinan kala I merupakan kala pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala
pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturian masih dapat
berjalan-jalan. Lama kala I pada primigravida 12 jam sedangkan
multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve friedman, diperhitungkan
pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam
(Manuaba, 2005).
Selama kala I nyeri dihasilkan oleh dilatasi serviks dan segmen
bawah rahim, serta distensi uterus. Intensitas nyeri kala I akibat dari
kontraksi uterus, involunter nyeri dirasakan dari pinggang dan menjalar ke
perut. Kualitas nyeri bervariasi, sensasi impuls dari uterus sinapsnya pada
Torakal 10, 11,12 dan lumbal 1. Mengurangi nyeri pada fase ini dengan
memblok daerah di atasnya (Rusmini, 2007).
Berdasarkah hasil perhitungan, nilai rata-rata skala nyeri untuk ibu
dengan pendamping persalinan didapatkan sebesar 5,69 dan untuk ibu tidak
dengan pendamping persalinan sebesar 7,77. Ini berarti dapat disimpulkan
bahwa ibu dengan pendamping persalinan mengalami nyeri yang lebih
ringan dibandingkan ibu tidak dengan pendamping persalinan.
22
Menurut Mochtar (2001), selama kala I persalinan, nyeri diakibatkan
oleh dilatasi servik dan segmen bawah uterus dan distensia korpus uterus.
Intensitas nyeri selama kala ini diakibatkan oleh kekuatan konstraksi dan
tekanan yang dibangkitkan. Pernyataan yang tegas ini didasarkan pada hasil
temuan bahwa tekanan cairan amnion lebih dari 15 mmHg di atas tonus
yang dibutuhkan untuk meregangkan segmen bawah uterus dan servik
sehingga menghasilkan nyeri. Sebenarnya, tekanan diatas 50 mmHg telah
direkam sebagai sesuatu yang normal selama kala I persalinan. Dengan
demikian logis untuk mengharapkan bahwa makin tinggi tekanan cairan
amnion, makin besar distensia sehingga menyebabkan nyeri yang lebih
berat.
Selanjutnya, nyeri ini dialihkan ke dermaton yang disuplai oleh
segmen medulla spinalis yang sama dengan segmen yang menerima input
nosiseptif dari uterus dan serviks. Dermaton adalah daerah tubuh yang
dipersarafi oleh saraf spinalis khusus, misalnya dermaton 12 mengacu pada
dermaton torakus ke-12. Nyeri di rasakan sebagai nyeri tumpul yang lama
pada awal kala I dan terbatas dermaton torasikus ke-11 (T11) dan ke-12
(T12). Kemudian pada kala II persalinan, nyeri pada dermaton T10 dan L1.
Penurunan kepala janin memasuki pelvis pada akhir kala I
menyebabkan distensia struktur pelvis dan tekanan pada rodiks pleksus
lumbosakralis, yang menyebabkan nyeri alih pada perjalanan segmen L2 ke
bawah. Akibatnya nyeri dirasakan pada region L2, bagian bawah punggung
dan juga pada paha dan tungkai.
Sedangkan menurut Mander (2004), selama kala I persalinan rasa
nyeri disebabkan oleh dua peristiwa yaitu: yang pertama nyeri karena
kontraksi rahim yang dihantarkan oleh serabut saraf torakal 11 dan 12.
Sedangkan yang kedua adalah nyeri karena peregangan atau pembukaan
leher rahim yang dihantarkan oleh serabut saraf sacrum 2, 3 dan 4.
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang selama kehamilan
dalam batas tertentu, setelah melewati batas tersebut maka otot rahim akan
berkontraksi atau disebut dengan his pertanda dimulainya persalinan.
23
Kontraksi rahim terjadi selain karena regangan otot polos juga pengaruh
dari estrogen dan progesteron, sistem kontraktilitas miometrium sendiri dan
oksitosin. Pada fase laten kala I persalinan kontraksi rahim terjadi setiap 15
sampai 20 menit dan bisa berlangsung kira-kira 30 detik. Kontraksikontraksi ini sedikit lemah dan bahkan tidak terasa oleh ibu yang
bersangkutan. Kontraksi-kontraksi ini biasanya terjadi dengan keteraturan
yang beriman dan interval (selang antar waktu) diantara kontraksi secara
berangsur menjadi lebih pendek, sementara lamanya kontraksi semakin
panjang. Pada fase aktif kala I persalinan kontraksi rahim bisa terjadi setiap
2 sampai 3 menit dan berlangsung selama 50-60 detik. Kontraksi rahim
pada fase ini sangat kuat. Selama kontraksi akan terjadi kontriksi pembuluh
darah yang menyebabkan anoksia serabut otot yang menimbulkan
rangsangan nyeri, selain itu rangsanga nyeri timbul karena tertekannya
ujung saraf sewaktu rahim berkontraksi. Selama kontraksi rahim selalu
diikuti pengerasan abdomen dan rasa tidak nyaman (rasa nyeri). Rasa nyeri
yang dirasakan sebagai rasa sakit punggung. Dalam perkembanganya
kontraksi akan menjadi lebih lama dan kuat yang mengakibatkan intensitas
nyeri yang dirasakan semakin bertambah (Mander, 2004).
Pembukaan leher rahim adalah proses pembesaran lubang luar leher
rahim dari keadaan yang memungkinkan lewatnya kepala janin. Pembukaan
diukur dalam cenmimeter dan pembukaan lengkap pada bulan penuh sama
dengan kira-kira 10 cm. Pembukaan akan terjadi sebagai akibat dari kerja
rahim serta tekanan yang berlawanan yang dikenakan oleh kantung
membran dan bagian janin yang menyodor. Kepala janin yang berada dalam
keadaan fleksi penuh yang dengan ketat dikenakan pada leher rahim akan
membantu permukaan yang efisien. Tekanan yang dikenakan secara merata
ke leher rahim akan menyebabkan fundus rahim bereaksi dengan jalan
berkontraksi, hal inilah yang menimbulkan rasa nyeri (Mander, 2004).
Nyeri merupakan kondisi berupa kondisi perasaan yang tidak
menyenangkan, bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada
setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya pada orang
24
tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang
dialaminya. Nyeri menurut kebanyakan ahli, sebagai suatu fenomena misterius
yang tidak dapat didefinisikan secara khusus. Menurut Brunner dan Suddart
pengertian nyeri dalam kebidanan adalah sesuatu yang dikatakan oleh pasien,
kapan saja adanya nyeri tersebut. Sedangkan Wolf Firest (dalam Depkes RI,
1997) mendefinisikan nyeri sebagai suatu perasaan menderita secara fisik dan
mental atau perasaan yang dapat menimbulkan ketegangan.
Nyeri adalah suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul bilamana
jaringan
sedang
dirusakkan
dan
menyebab
individu
bereaksi
untuk
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri. Scrumum, mengartikan nyeri
sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan
fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi
fisik, fisiologis maupun emosional (Hidayat, 2008).
Berdasarkan penelitian Deviany, 2013 Sebagian besar persalinan
didampingi yaitu sebesar 63 %, Skala nyeri yang dirasakan yaitu skala nyeri
minimum sebesar 0 hal ini berarti Terdapat hubungan kehadiran pendamping
persalinan dengan skala nyeri saat ibu bersalin.
2)
Pengaruh paritas terhadap pengurangan rasa nyeri kala I fase aktif
pada ibu bersalin normal
Berdasarkah hasil nilai rata-rata, skala nyeri untuk ibu primigravida
didapatkan sebesar 8,08 dan untuk ibu multigravida sebesar 5,59. Ini berarti
dapat disimpulkan bahwa ibu multigravida ternyata mengalami nyeri yang
lebih ringan dibandingkan ibu primigravida.
Pendamping selama proses persalinan merupakan dukungan atau
pendampingan
yang
dapat
memberikan
manfaat
seperti
memberi
ketenangan dan penguat psikis pada istri yang sedang melahirkan baik pada
ibu yang primigravida maupun pada multigravida. Di tengah kondisi yang
tidak nyaman, istri memerlukan pegangan, dukungan dan semangat untuk
mengurangi kecemasan dan ketakutannya. Pendamping persalinan baik itu
suami, keluarga, atau ibu akan selalu ada bila dibutuhkan, dengan berada di
samping istri yang sedang melahirkan, keluarga maupun suami siap
membantu apa saja yang dibutuhkan istri. Manfaat lain adalah kedekatan
25
emosi suami-istri akan bertambah saat suami melihat sendiri perjuangan
hidup dan mati sang istri saat melahirkan anaknya yang dapat membuat
suami semakin dekat dan sayang kepada istrinya.
Menurut Darsa (2009), kehadiran suami dalam kamar bersalin akan
disambut dengan baik karena dapat membawa ketentraman bagi istri yang
akan melahirkan, suami juga dapat memainkan peranan yang aktif dalam
memberikan dukungan fisik dan moral kepada istrinya. Suami yang telah
ikut aktif berpartisipasi dalam kursus antenatal dan persiapan kelahiran
biasanya memandang persalinan sebagai hal yang positif.
Menurut Ruth (2002) suami sebagai pendamping persalinan dapat
memberi dorongan semangat yang akan dibutuhkan jika persalinan lebih
lama dari yang diperkirakan. Suami sebaiknya diberitahu terlebih dahulu
bahwa jika istri berteriak padanya hanya karena sang istri tidak mungkin
berteriak pada dokter. Suami juga bisa berperan dengan memijat bagian
tubuh tubuh sang istri, agar istri tidak terlalu tegang atau untuk mengalihkan
perhatian istri dari kontraksi. Pukulan perlahan pada perut yang disebut
effeurage, dengan menggunakan ujung jari merupakan pijatan yang
disarankan. Selain itu, suami akan memastikan istri merasa nyaman dengan
menyediakan bantal, air, permen atau potongan es untuk istri atau
memanggilkan perawat atau dokter jika istri membutuhkan bantuan. Dengan
memegang istri saat mengejan agar istri memiliki pegangan saat mendorong
dan memimpin istri agar mengejan dengan cara yang paling efektif.
Berdasarkan hasil penelitian sri ratmawati (2011) menunjukkan bahwa
yang paling dominan mengalami nyeri persalinan berat adalah ibu bersalin
primipara, dimana menurut kenyataan bahwa ibu primipara memang belum
pernah mempunyai pengalaman melahirkan termasuk pengalaman nyeri
waktu persalinan yang mengakibatkan sulit untuk mengantisipasinya. Selain
itu proses melahirkan yang tidak sama dengan multipara, karena pada
primipara proses penipisan biasanya terjadi lebih dulu daripada dilatasi
serviks. Sedangkan pada multipara proses penipisan dan dilatasi serviks
terjadi bersamaan.
26
Berdasarkan hasil penelitian, pemberian dukungan fisik, emosional
dan psikologis selama persalinan juga dapat membantu mempercepat proses
persalinan dan membantu ibu memperoleh kepuasan dalam melalui proses
persalinan normal. Metode mengurangi rasa nyeri yang dilakukan secara
terus menerus dalam bentuk dukungan harus dipilih yang bersifat sederhana,
biaya rendah, resiko rendah, membantu kemajuan persalinan, hasil kelahiran
bertambah baik dan bersifat sayang ibu.
3)
Interaksi pengaruh peran pendamping persalinan dan paritas terhadap
pengurangan rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin normal
Berdasarkan hasil analisis Varian Dua arah (two – way ANOVA)
diperoleh nilai F hitung untuk variabel interaksi pendamping persalinan dan
paritas terhadap skala nyeri sebesar nilai signifikan = 0,073, α = 0,05 dan
dk1 = 1, dk2 = 25). Oleh karena nilai signifikan 0,073 > 0,05 , maka Ho
ditolak. Ini berarti bahwa faktor interaksi pendamping persalinan dan paritas
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap skala nyeri kala I pada ibu
bersalin di RB Adina Wonosobo.
Hal ini dikarenakan pendampingan suami atau keluarga selama proses
persalinan memberikan manfaat seperti memberi ketenangan dan penguat
psikis pada istri yang sedang melahirkan. Sehingga istri yang mulanya tidak
nyaman sebelum ada suami atau keluarga yang mendampingi, merasa
nyaman setalah didampingi oleh keluarga atau suami itu terjadi pada wanita
baik yang baru melahirkan maupun yang sudah pernah melahirkan. Pada
saat melahirkan istri memerlukan pegangan, dukungan, dan semangat untuk
mengurangi kecemasan dan ketakutannya.
Menurut Darsa (2009), dalam proses kelahiran, suami dapat ikut
berperan membantu agar ibu dapat menjalani proses persalinan dengan
lancar. Peran yang dapat suami lakukan dalam proses persalinan antara lain
mengatur posisi ibu, memberikan nutrisi dan cairan, mengalihkan perhatian
ibu dari rasa nyeri selama proses persalinan, mengukur waktu kontraksi,
mengusap-usap punggung ibu, menjadi titik fokus, bernapas bersama ibu
saat kontraksi, menginformasikan kemajuan persalinan, memberikan
27
dorongan spiritual, memberi dukungan moral, menghibur dan memberi
dorongan semangat.
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Atin Puspitasari (2009),
menyimpulkan bahwa pendampingan suami selama proses persalinan
mempunyai pengaruh terhadap pengurangan rasa nyeri dibandingkan
dengan ibu intrapartum yang tidak didampingi oleh suaminya selama proses
persalinan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendamping persalinan
secara signifikan dapat mengurangi rasa nyeri ibu pada kala I fase aktif pada
persalinan. Hal ini sesuai dengan pendapat Danuatmaja dan Meiliasari
(2004) yang mengatakan bahwa pendamping persalinan dapat memberi
dorongan dan keyakinan pada ibu selama proses persalinan berlangsung dan
membantu ibu untuk menciptakan suasana nyaman dalam ruang bersalin
serta membantu ibu mengatasi rasa nyeri yang tidak nyaman.
Beberapa faktor yang menimbulkan nyeri selama persalinan secara
fisiologis adalah kontraksi uterus yang berakibat terjadinya hipoksia dari
otot-otot uterus, peregangan servik, penekanan pada tuba, ovarium dan
peritonium, peregangan pada ligamentum uterus serta distensia otot-otot
dasar panggul serta perineum (Pilliteri, 2003). Nyeri persalinan akan
dirasakan lebih hebat apabila disertai dengan kecemasan dan ketakutan
(Lowe, 2002).
Pada kala I reaksi ibu bersalin antara lain adalah perasaan kecemasan,
ketakutan dan meningkatnya sensitivitas nyeri. Dengan adanya dukungan
orang-orang berarti terutama suami akan memberi perasaan aman dan
nyaman, kehadiran seorang pendamping persalinan juga akan membantu
merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang memberi pengaruh pada
proses
kemajuan
persalinan,
sehingga
diharapkan
dengan
adanya
pendamping persalinan dapat mempercepat proses persalinan.
Dukungan yang terus menerus dari seorang pendamping persalinan
baik itu dari suami maupun keluarga kepada ibu selama proses persalinan
dan melahirkan dapat mempermudah proses persalinan dan melahirkan,
28
mengurangi kebutuhan tindakan medis, serta meningkatkan rasa percaya diri
ibu akan kemampuan menyusui dan merawat bayinya. Seorang pendamping
dapat membantu proses kelahiran berjalan normal dengan mengajak ibu
bersalin bergerak dan berjalan di ruang persalinan, memberi minuman dan
makanan ringan, serta memberinya semangat agar tidak merasa cemas dan
kesakitan.
Pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti, pada saat dilakukan
penelitian ini seorang pendamping persalinan memberikan minum dan
makan, mengajak ibu jalan-jalan, mengusap-usap atau menghapus keringat,
mengelus-elus punggung, mengipasi ibu, membantu ibu mengubah posisi,
membantu ibu ke
kamar mandi, memberikan pengetahuan tentang
persalinan, membantu ibu untuk berdo’a sehingga ibu merasa tenang dan
nyaman dalam menjalani proses persalinan tersebut. Dengan dukungan yang
terus-menerus, perubahan posisi tubuh, kata-kata serta belaian yang
memberi
semangat
dapat
meningkatkan
kenyamanan
si
ibu
dan
mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit.
Mengingat pentingnya pendamping persalinan bagi ibu yang
melahirkan, maka diharapkan bagi keluarga dan suami untuk secara aktif
memberikan dukungan dan pendampingan kepada ibu dan harus siap
dengan berada di samping istri yang sedang melahirkan. Keluarga maupun
suami harus siap membantu apa saja yang dibutuhkan istri, sehingga
diharapkan persalinan menjadi lancar dan dapat memberikan kenyamanan
bagi sang ibu yang melahirkan serta mengurangi rasa sakit selama proses
persalinan.
Selanjutnya, bagi tenaga kesehatan dalam penatalaksanaan di kamar
bersalin, diharapkan memberikan kenyamanan bagi klien dan memungkin
suami atau keluarga dapat mendampingi ibu selama proses persalinan tanpa
mengganggu kenyamanan klien lain.
29
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di bab sebelumnya,
maka peneliti menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.
Pengaruh tingkat rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin sebelum
ada pendamping persalinan dan setelah ada pendampingan persalinan
dapat disimpulkan bahwa ibu dengan pendamping persalinan
mengalami nyeri yang lebih ringan dibandingkan ibu tidak dengan
pendamping persalinan.
2.
Pengaruh paritas terhadap pengurangan rasa nyeri kala I fase aktif
pada ibu bersalin normal dapat disimpulkan bahwa ibu multigravida
ternyata mengalami nyeri yang lebih ringan dibandingkan ibu
primigravida
3.
Interaksi pengaruh peran pendamping persalinan dan paritas terhadap
pengurangan rasa nyeri kala I fase aktif pada ibu bersalin normal ibu
di RSIA Adina Wonosobo dapat disimpulkan bahwa faktor interaksi
pendamping persalinan dan paritas mempunyai interaksi yang
signifikan terhadap skala nyeri kala I pada ibu bersalin di RB Adina
Wonosobo.
30
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A. 2003. Riset Keperawatan dan Tehnik Penelitian Ilmiah. Surabaya:
Salemba Medika.
Arikunto,S. 2006. Prosedur Praktis: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi VI. jakarta:
PT. Rineka Cipta
Chapman, V. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. Jakarta : EGC
Danuatmajda & Meiliasari (2004). Persalinan Normal Tanpa Rasa Sakit. Penerbit
Puspa Swara. Jakarta
Darsa. 2009. Gambaran Pendampingan Selama Proses Persalinan. Di akses 3 juli
2013,dari:
http://darsananursejiwa.blogspot.com/2010/03/gambaran-
pendamping-selama-proses-persalinan/23.html
Depkes RI. 2000. Pedoman Pelayanan Kesehatan Perinatal di Puskesmas.
Jakarta. Depkes RI
Depkes RI. 2002. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Dasar. Depkes RI :
Jakarta
Depkes RI. 2008. Pembangunan Kesehatan : Mewujudkan Indonesia yang Lebih
Sehat. Jakarta : Depkes RI
Ismarwati. 2005. Teknih Mengurangi Rasa Nyeri. Di akses 3 november, 2013,
dari
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/18149.tehnikmengurangirasanyeri.p
df/18149.html
Januardi, Judi. 2002. Mempersiapkan Persalinan Sehat. Jakarta: Puspa Swara
Karina.
2003.
Mengatasi
Nyeri
Persalinan.
http://infoibu.com/2010/3.pdf.html
Klien & Thomson. 2008. Panduan lengkap kebidanan. Jogjakarta : Palmall
Kusumowardhani. 2003. Wanita Hamil Membutuhkan Psikolog. From
http://www.promos/kes.com/artikel
From:
31
Linkages. 2009. Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding: The
Special Role of Maternity Services. Di akses 8 desember 2013, dari:
http://www.pdfqueen.com/html
Mander. 2004. Nyeri Persalinan. (Alih Bahasa Bertha Sugiarto). Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Mansjoer, dkk. 2005. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Media Aesculapius:
Jakarta
Manuaba. 2005. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana
Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta; EGC
. 2007. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta; EGC
Mario, T.P. 2006. SPSS untuk Paramedis. Jogjakarta : Ardana Media
Martin. 2002. Inpartum Managemen Moduls : A perinatal education program
Philadelphia : Williams
Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologis, Obtetri patologis. Jakarta :
EGC
Nolan. 2004. Kehamilan dan Melahirkan. Penerbit Buku Arcan. Jakarta
Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta; Rineka Cipta
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika
Oxorn. 2003. Ilmu Kebidanan Patologis Dan Fisiologis Persalinan. Yogyakarta:
Yayasan Essintica Medika
Prawirohardjo, S. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta
Perry and Potter. 2005. Fundamental keperawatan, Konsep, Proses, dan
Praktikan. Edisi 4. Alih bahasa; Yasmin Asih. Jakarta; EGC
32
Rusmini. 2007. Manajemen nyeri persalinan. Di akses 8 desember 2013, dari:
http://images.albadroe.multiply.multiplycontent.com/attachment/MANAJ
EMENNYERIPERSALINAN.ppt
Ruth. 2002. Mengkreasikan kehamilan & menjaga kasih sayang bersama Dr.
Ruth. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada
Saifuddin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfa Beta
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfa Beta
Sarwono, P. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Prawirohardjo
Wiknjosastro. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Zaenal.
2005.
Nyeri
http://www.compas.com
persalinan.
Di
akses
3
desember
2013,
dari
33
EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH TIKUS PUTIH JANTAN
(RATTUS NORVEGICUS) HIPERTENSI
Sri Mulyani
INTISARI
Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko koroner yang sangat
penting. Hal tersebut terlihat baik di Negara-negara yang telah maju maupun
Negara yang sedang berkembang. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
mempunyai kandungan kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Penapisan
fitokimia menunjukkan bahwa simplisia daun belimbing wuluh mengandung
flavonoid, saponin, tannin dan steroid/triterpenoid. Tanin memiliki efek diuretik
selain itu tannin dan flavonoid juga berperan sebagai antioksidan yang berguna
untuk menurunkan tekanan darah.
Tujuan: mengetahui ekstrak daun belimbing wuluh terhadap penurunan tekanan
darah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) hipertensi.
Metode: penelitian ini merupakan penelitian eksperimen murni dengan desain
pretest-posttest control group. Jumlah sampel 21 ekor yang dibagi dalam 3
kelompok yang sebelumnya telah diinduksi dengan NaCl 2.5% dan prednisone
dosis 1.5 mg/kg BB selama 15 hari. Kelompok 1 diberikan perlakuan captopril
dosis 2.5 mg/kg BB, kelompok 2 diberikan ekstrak daun belimbing wuluh dosis
52.517 mg/100 gram BB tikus dan kelompok 3 diberikan ekstrak daun belimbing
wuluh dosis 105.034 mg/100 gram BB tikus. Perlakuan diberikan selama 15 hari
setelah itu diukur tekanan darah tikus.
Hasil: captopril dosis 2.5 mg/kg BB efektif terhadap penurunan tekanan darah
tikus (p < 0.05). Ekstrak daun belimbing wuluh dosis 52.517 mg/100 gram BB
tikus efektif terhadap penurunan tekanan darah tikus (p < 0.05) dan ekstrak daun
belimbing wuluh dosis 105.034 mg/100 gram BB tikus efektif terhadap penurunan
tekanan darah tikus (p 0.05).
Kesimpulan: captopril dosis 2.5 mg/kg BB dan ekstrak daun belimbing wuluh
dosis 105.034 mg/100 gram BB tikus memiliki efektivitas yang sama terhadap
penurunan tekanan darah tikus putih jantan hipertensi.
Kata Kunci: belimbing wuluh, diuretic, antioksidan dan tekanan darah.
34
PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 (tiga), setelah stroke dan
tuberkulosis. Jumlahnya mencapai 6,8 persen dari proporsi penyebab kematian
pada semua umur di Indonesia. Prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 30%
dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskuler lebih banyak pada perempuan
(52%) dibandingkan pada laki-laki (48%) 1. Jumlah tersebut akan terus tinggi lagi
mengingat hipertensi merupakan faktor utama penyebab penyakit jantung dan
kardiovaskuler 2.
Pelayanan kesehatan saat ini berusaha untuk menerapkan konsep holistik,
yaitu suatu pendekatan yang memandang manusia secara keseluruhan, meliputi
bio-psiko-sosiokultural-spiritual
3
. Keperawatan holistik menghormati serta
mengobati jiwa, tubuh dan pikiran klien. Model kesehatan holistik juga
mencerminkan terapi medis alternatif dan komplementer. Perawat menggunakan
intervensi holistik pada pengobatan standar tambahan, mengganti intervensi yang
tidak efektif atau merusak dan mempromosikan atau memelihara kesehatan. Salah
satu jenis terapi komplementer adalah terapi herbal. Filosofi terapi herbal berbeda
dengan terapi obat konvensional. Tujuan terapi herbal adalah memperbaiki
keseimbangan dalam individu dengan memfasilitasi kemampuan penyembuhan
diri individu 4.
Anti hipertensi yang berasal dari tumbuhan dapat bekerja dengan berbagai
cara, antara lain dengan cara menurunkan volume cairan tubuh (diuresis),
mengurangi tahanan perifer (vasodilator) atau mempengaruhi kerja jantung itu
sendiri 5. Penggunaan obat dan formulasi herbal menjadi pertimbangan untuk
mengurangi efek toksik dan memiliki efek samping yang minimal dibandingkan
dengan obat-obat sintetik 6.
Daun belimbing wuluh mengandung tanin, sulfur, asam format dan
peroksida 7. Penelitian yang dilakukan oleh Prasetya (2007) menunjukkan bahwa
ekstrak daun belimbing wuluh mempunyai efek diuresis pada dosis 52,517
mg/100 gram BB) dan 105,034 mg/100 gram BB) pada tikus putih jantan 8.
35
Penelitian uji fitokimia menunjukkan bahwa daun belimbing wuluh mengandung
senyawa tanin, flavonoid dan triterpenoid 9. Penelitian yang dilakukan oleh
Lidyawati, dkk (2006) menunjukkan bahwa penapisan fitokimia simplisia dari
ekstrak metanol daun belimbing wuluh mengandung flavonoid, saponin, tanin dan
steroid/triterpenoid 10.
Flavonoid memiliki efek anti tumor, immunostimulan, analgesik, anti
radang (anti inflamasi), anti virus, anti bakteri, anti HIV, anti diare, anti
hepatotoksik, anti hiperglikemik dan sebagai vasodilator11. Flavonoid juga
memiliki potensi sebagai antioksidan. Antioksidan berguna untuk mencegah
penuaan akibat zat-zat radikal bebas yang menyebabkan kerusakan jantung.
Flavonoid berguna untuk menurunkan tekanan darah dengan zat yang dikeluarkan
yaitu nitric oxide serta menyeimbangkan beberapa hormon didalam tubuh12.
Menurut Jouad (2001) campuran flavonoid dapat meningkatkan urinasi dan
pengeluaran elektrolit pada tikus normotensi. Kecepatan filtrasi glomerulus (GFR)
memperlihatkan peningkatan peningkatan yang signifikan setelah pemberian
flavonoid13.
Daun belimbing wuluh juga mengandung kalium yang dapat mempengaruhi
pengeluaran urin. Kalium berfungsi sebagai diuretik sehingga pengeluaran
natrium cairan meningkat, jumlah natrium rendah tekanan darah menurun14.
Diuretik berperan dalam mengurangi besarnya volume isi pembuluh darah,
menghilangkan retensi natrium dan memperkecil oedema perifer, paru-paru dan
jantung kongesti melalui penambahan jumlah urin (diuresis) yang mekanisme
kerjanya pada ginjal. Mekanisme ini sangat penting untuk mengatur tekanan darah
dan untuk membuang komponen-komponen toksik keluar dari tubuh kita. karena
itulah, tanin berkhasiat untuk mengobati hipertensi 15.
Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui
mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti bakteri dan
antioksidan. Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi
36
kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas, dan menghambat terjadinya
reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas 16.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan desain
pretest-posttest control group design yaitu dengan cara memilih kelompok
penelitian yang dilakukan secara random baik kelompok kontrol maupun
kelompok perlakuan. Populasi dalam penelitian adalah tikus putih jantan (Rattus
Norvegicus). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 21 ekor tikus yang dibagi
menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 7 ekor tikus. Kriteria
sampel dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan galur wistar (Rattus
Norvegicus), jenis kelamin jantan, umur 3 bulan, berat badan 200-210 gram,
hipertensi.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Terapi Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tanggal 20 Mei s.d 24 Juni 2013.
Bahan penelitian yang digunakan adalah ekstrak daun belimbing wuluh, tikus
putih jantan galur wistar dengan usia 3 bulan dan berat badan 200-210 gram
sebanyak 21 ekor, prednison, captopril, NaCl 2,5%, aquades, makanan dan minum
standar untuk tikus. Alat penelitian yang digunakan adalah, kandang tikus,
timbangan electrical scale, sonde, Blood pressure analyzer. Variabel dalam
penelitian ini ada 2 yaitu variabel independen (pemberian ekstrak daun belimbing
wuluh dosis 52,517 mg/100 gram BB dan 105,034 mg/100 gram BB) dan variabel
dependen (tekanan darah sistole dan diastole tikus putih jantan).
Tahap-tahap dalam penelitian ini adalah:
1.
Pembuatan ekstrak daun belimbing wuluh
Daun belimbing wuluh dikeringkan dengan oven pada suhu 650C
selama 72 jam. Daun yang telah kering diblender hingga menjadi tepung,
kemudian dilakukan maserasi dengan pelarut ethanol 95%. Kemudian
diinkubasi selama 72 jam untuk memberikan kesempatan zat pelarut untuk
menarik bahan aktif. Dilakukan penyaringan dan kemudian filtrat diuapkan
37
sampai memperoleh ekstrak kental daun belimbing wuluh. Pembuatan
ekstrak daun belimbing wuluh ini dilakukan di Laboratorium Fakultas
Farmasi Universitas Gadjah Mada.
2.
Hewan coba
1)
Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih jantan galur wistar
usia 3 bulan dengan berat 200-210 gram yang diaklimatisasi selama 7
hari untuk penyesuaian terhadap tempat penelitian
2)
Dilakukan induksi hipertensi buatan dengan menggunakan kombinasi
prednison 1,5 mg/kgBB dan NaCl 2,5% yang diberikan setiap hari
secara oral selama 15 hari untuk memperoleh tekanan darah diatas
normal. Setelah 15 hari diinduksi, tikus diukur tekanan darahnya
terlebih dahulu dan yang digunakan adalah tekanan darah diatas 150
mmHg (7).
3)
Tikus putih jantan dibagi secara random menjadi 3 kelompok.
Kelompok 1 adalah kelompok kontrol dengan pemberian captopril
dengan dosis 2,5 mg/kg BB, kelompok 2 dan 3 adalah kelompok
perlakuan yang diberikan ekstrak daun belimbing wuluh dengan dosis
52,517 mg/100 gram BB dan 105,034 mg/100 gram BB.
4)
Pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dilakukan satu kali setiap
hari secara oral selama 15 hari. Sebelumnya ekstrak daun belimbing
wuluh diencerkan dengan aquades kemudian disedot menggunakan
sonde yang ujungnya terbuat dari karet dan dimasukkan melalui mulut
tikus hingga mencapai lambung, setelah itu ekstrak daun belimbing
wuluh disemprotkan.
5)
Setelah 15 hari perlakuan, satu hari berikutnya dilakukan pengukuran
tekanan darah pada masing-masing tikus, baik kelompok perlakuan
maupun kelompok kontrol dengan menggunakan alat Blood pressure
analyzer.
Analisa data yang digunakan pada peneltian ini adalah analisa
univariat untuk mengetahui rata-rata tekanan darah tikus percobaan sebelum
38
dan setelah perlakuan. Analisa bivariat dengan menggunakan uji paired t
test untuk data yang berdistribusi normal dan wilcoxon test untuk data yang
tidak berdistribusi normal. Analisa multivariate dengan uji MANOVA untuk
mengetahui pengaruh dari semua variabel independen terhadap variabel
dependen.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Hasil
Hasil Uji Paired t Test dan Wilcoxon Test
Kelompok
Kelompok 1 Systole
pre
Systole
post
Diastole
pre
Diastole
post
Kelompok 2 Systole
pre
Systole
post
Diastole
pre
Diastole
post
Kelompok 3 Systole
pre
Systole
post
Diastole
pre
Diastole
post
N
7
Mean
183,57
7
131,00
7
173,13
7
124,83
7
181,43
7
143,29
7
169,57
7
136,00
7
184,43
7
135,57
7
173,86
7
123,86
P
0,018
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa p value tekanan darah systole
dan diastole baik kelompok 1, kelompok 2 dan kelompok 3 adalah < 0,05
sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
39
antara tekanan darah systole dan diastole baik dari kelompok 1, kelompok 2
dan kelompok 3 antara sebelum dan setelah diberikan perlakuan.
Hasil Uji Manova Pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel
Dependen (N=21)
Variabel
Variabel
P value (Sig)
Independen
Dependen
Pemberian Perlakuan Sistole Pretest
0,722
(Kelompok 1,
Sistole Posttest
0,001
Kelompok 2,
Diastole Pretest
0,471
Kelompok 3)
Diastole Posttest
0,001
Dari tabel hasil uji Manova diatas dapat dilihat bahwa nilai p value
pada tekanan darah pretest (systole dan diastole) > 0,05 dan nilai p value
tekanan darah posttest (systole dan diastole) < 0,05, sehingga dapat
disimpulkan jawaban dari hipotesis adalah sebagai berikut:
a.
Pemberian perlakuan (captopril 2,5 mg/kgBB, ekstrak daun belimbing
wuluh 52,517 mg/100 gram BB tikus dan ekstrak daun belimbing
wuluh
105,034
mg/100
gram
BB
tikus)
secara
bermakna
mempengaruhi tekanan systole dengan p value 0,001.
b.
Pemberian perlakuan (captopril 2,5 mg/kgBB, ekstrak daun belimbing
wuluh 52,517 mg/100 gram BB tikus dan ekstrak daun belimbing
wuluh
105,034
mg/100
gram
BB
tikus)
secara
bermakna
mempengaruhi tekanan darah diastole dengan p value 0,001.
Dependen
Variabel
Sistole Pretest
Sistole Posttest
Hasil Uji Post Hoc Benferroni (N=21)
Independen Variabel
Mean
Difference
Kelompok 1
Kelompok 2
2,14
Kelompok 3
-0,86
Kelompok 2
Kelompok 1
-2,14
Kelompok 3
-3,00
Kelompok 3
Kelompok 1
0,86
Kelompok 2
3,00
Kelompok 1
Kelompok 2
-12,29
Kelompok 3
-4,57
P value (sig)
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
0,001
0,342
40
Kelompok 2
Kelompok 3
Diastole Pretest
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Diastole Postest
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 1
Kelompok 3
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 1
Kelompok 3
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 1
Kelompok 3
Kelompok 1
Kelompok 2
12,29
7,71
4,57
-7,71
3,29
-1,00
-3,29
-4,29
1,00
4,29
-11,57
-0,57
11,57
12,14
-0,57
-12,14
0,001
0,035
0,342
0,035
1,000
1,000
1,000
0,740
1,000
0,740
0,005
1,000
0,005
0,003
1,000
0,003
Dari hasil uji Post Hoc menunjukkan bahwa:
a.
Nilai systole post test yang memiliki perbedaan adalah kelompok
captopril 2,5 mg/kgBB dan kelompok ekstrak daun belimbing wuluh
52,517 mg/100 gram BB tikus, kelompok ekstrak daun belimbing
wuluh 52,517 mg/100 gram BB tikus dan kelompok captopril 2,5
mg/kgBB, kelompok ekstrak daun belimbing wuluh 52,517 mg/100
gram BB tikus dan kelompok ekstrak daun belimbing wuluh 105,034
mg/100 gram BB tikus serta kelompok ekstrak daun belimbing wuluh
105,034 mg/100 gram BB tikus dan kelompok ekstrak daun belimbing
wuluh 52,517 mg/100 gram BB tikus.
b.
Nilai diastole posttest yang memiliki perbedaan adalah kelompok
captopril 2,5 mg/kg BB dan kelompok ekstrak daun belimbing wuluh
52,517 mg/100 gram BB tikus, kelompok ekstrak daun belimbing
wuluh 52,517 mg/100 gram BB tikus dan kelompok captopril 2,5
mg/kgBB, kelompok ekstrak daun belimbing wuluh 52,517 mg/100
gram BB tikus dan kelompok ekstrak daun belimbing wuluh 105,034
mg/100 gram BB tikus serta kelompok ekstrak daun belimbing wuluh
105,034 mg/100 gram BB tikus dan kelompok ekstrak daun belimbing
wuluh 52,517 mg/100 gram BB tikus.
41
200
180
160
140
120
kelompok 1
100
kelompok 2
80
kelompok 3
60
40
20
0
0
0.5
1
1.5
2
2.5
Grafik perbedaan tekanan darah systole pretest dan posttest
200
180
160
140
120
kelompok 1
100
kelompok 2
80
kelompok 3
60
40
20
0
0
0.5
1
1.5
2
2.5
Grafik perbedaan tekanan darah systole pretest dan posttest
2.
Pembahasan
a.
Captopril terhadap Penurunan Tekanan Darah
Hasil pengukuran tekanan darah systole dan diastole pada
kelompok satu (kelompok kontrol positif dengan pemberian captopril
2,5 mg/kg BB) menunjukkan penurunan yang bermakna. Rerata
tekanan systole sebelum perlakuan adalah 183,57 dan setelah
42
perlakuan 131,00. Untuk analisa bivariat pada tekanan systole
digunakan wilcoxon test karena data tidak berdistribusi normal dan
diperoleh nilai p 0,018. Rerata tekanan diastole sebelum perlakuan
173,13 dan setelah perlakuan 124, 83.Dengan uji paired t test
diperoleh p value 0,000. Karena p value < 0,05 maka dapat diambil
kesimpulan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tekanan
darah baik sistole maupun diastole sebelum dan setelah diberikan
captopril 2,5 mg/kgBB secara oral selama 2 minggu.
Salah satu jenis terapi farmakologi hipertensi adalah dengan
Inhibitor ACE (angiotensin converting enzyme), jenis obat ini diduga
menghambat system rennin-angiotensin-aldosteron, sehingga tekanan
darah turun. Inhibitor ACE menghambat enzim untuk mengubah
angiotensin I menjadi angiotensin II (vasokonstriktor kuat)
17
. Hasil
Penelitian Supadmi (2011) menyatakan bahwa golongan penghambat
enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor) paling umum digunakan
adalah captopril sebanyak 34 pasien dan lisinopril 7 pasien 18.
Captopril merupakan obat antihipertensi yang bekerja sebagai
ACE (Angiotensin Converting Enzyme) inhibitor yaitu sebagai
penghambat enzim pengkonversi angiotensin dengan cara mengurangi
pembentukan angiotensin II 19. Hal ini juga diungkapkan oleh Katzung
(2001) bahwa captopril dan obat-obat golongan ini menghambat
enzim penghambat yang menghidrolisa angiotensin I menjadi
angiotensin II dan (dengan nama plasmakinase) menginaktifkan
bradikinin, suatu vasodilator yang poten. Captopril tidak memiliki
pressor, jadi aktivitas hipotensif captopril kemungkinan dihasilkan
dari kerja penghambat pada system angiotensin rennin dan suatu kerja
rangsangan pada system kinin kalikrein 20.
b.
Ekstrak Daun Belimbing Wuluh terhadap Tekanan Darah
Dari hasil uji statistik kelompok 2 (kelompok eksperimen 1
yaitu pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dengan dosis 52,517
mg/100 gram BB tikus) diperoleh nilai mean tekanan systole sebelum
43
181,43 dan setelah perlakuan 143,29. Sedangkan nilai mean diastole
sebelum 169,57 dan setelah perlakuan 136,00. Hasil uji statistik
kelompok 3 (kelompok eksperimen 2 yaitu dengan pemberian ekstrak
daun belimbing wuluh dosis 105,034 mg/100 gram BB tikus)
didapatkan nilai mean systole sebelum 184,43 dan setelah perlakuan
135,57, sedangkan mean diastole sebelum 173,86 dan setelah
perlakuan 123,86. Pre dan Post test pada masing-masing kelompok
dianalisa menggunakan paired t test dengan hasil nilai p kedua
kelompok adalah 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan tekanan darah yang signifikan antara sebelum dan setelah
perlakuan baik kelompok 2 maupun kelompok 3.
Antihipertensi yang berasal dari tumbuhan dapat bekerja dengan
berbagai cara antara lain dengan cara menurunkan volume cairan
tubuh (diuresis), mengurangi tahanan perifer (vasodilator) atau
mempengaruhi kerja jantung itu sendiri 5. Penggunaan tanaman obat
dan formulasi herbal menjadi pertimbangan untuk mengurangi efek
toksik dan memiliki efek samping yang minimal dibandingkan dengan
obat-obat sintetik 6.
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan salah satu
jenis tanaman asli Indonesia yang biasanya digunakan sebagai obat.
Batang dan daun belimbing wuluh mengandung tanin, sulfur dan asam
format21. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Lidyawati, dkk (2006) yang menunjukkan bahwa simplisia dari
ekstrak methanol daun belimbing wuluh mengandung flavonoid,
saponin, tanin, steroid/triterpenoid 10.
Flavonoid
memiliki
efek
anti
tumor,
immunostimulan,
analgesik, anti radang (anti inflamasi), anti virus, anti bakteri, anti
HIV, anti diare, anti hepatotoksik, anti hiperglikemik dan sebagai
vasodilator11. Flavonoid juga memiliki potensi sebagai antioksidan.
Antioksidan berguna untuk mencegah penuaan akibat zat-zat radikal
bebas yang menyebabkan kerusakan jantung. Flavonoid berguna
44
untuk menurunkan tekanan darah dengan zat yang dikeluarkan yaitu
nitric oxide serta menyeimbangkan beberapa hormon didalam tubuh12.
Menurut Jouad (2001) campuran flavonoid dapat meningkatkan
urinasi dan pengeluaran elektrolit pada tikus normotensi. Kecepatan
filtrasi glomerulus (GFR) memperlihatkan peningkatan peningkatan
yang signifikan setelah pemberian flavonoid13.
Daun belimbing wuluh juga mengandung kalium yang dapat
mempengaruhi pengeluaran urin. Kalium berfungsi sebagai diuretik
sehingga pengeluaran natrium cairan meningkat, jumlah natrium
rendah tekanan darah menurun14. Hal ini juga dibuktikan oleh hasil
penelitian Prasetya (2007) yang mengatakan bahwa ekstrak daun
belimbing wuluh mempunyai efek diuresis pada dosis 52,517 mg/100
gram BB tikus dan 105, 034 mg/100 gram BB tikus 8.
Senyawa fitokimia alkaloid tanin memiliki efek dalam bidang
kesehatan sebagai antihipertensi
22
. Tanin mengurangi pengerasan
pembuluh darah. Jika pengerasan tidak terjadi, peredaran darah lancar
sehingga kerja jantung tidak terlalu berat dan potensi stroke bisa
hilang
23
. Tanin juga merupakan senyawa aktif metabolit sekunder
yang diketahui mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen,
anti diare, anti bakteri dan antioksidan. Tanin juga dapat berfungsi
sebagai antioksidan biologis. Antioksidan dalam pengertian kimia,
merupakan senyawa pemberi elektron. Antioksidan bekerja dengan
cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat
oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut bisa terhambat.
Antioksidan
menstabilkan
radikal
bebas
dengan
melengkapi
kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas, dan menghambat
terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas 16.
45
KESIMPULAN
Dari hasil uji statistik dapat diambil kesimpulan bahwa dari ketiga
kelompok terjadi perbedaan tekanan darah baik systole maupun diastole sebelum
dan setelah perlakuan. Dengan kata lain ekstrak daun belimbing wuluh dapat
menurunkan tekanan darah tikus putih jantan hipertensi. Dan dari uji MANOVA
dan Pos Hoc dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok captopril 2,5 mg/kg BB
memiliki efektivitas yang sama dengan kelompok ekstrak daun belimbing wuluh
dosis 105,034 mg/100 gram BB dalam menurunkan tekanan darah tikus putih
jantan hipertensi.
46
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 2010. Hipertensi Penyebab Kematian No. 3. Pusat
Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Departemen Kesehatan RI. 2009. Hipertensi Faktor Risiko Utama Penyakit
Kardiovaskuler.
Pusat
Komunikasi
Publik
Sekretariat
Jenderal
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Press Kemenkes RI.
Azizatunnisa, Nurul dan Suhartini. 2012. Pengetahuan dan Keterampilan Perawat
dalam Pelayanan Keperawatan Holistik di Indonesian Holistic Tourist
Hospital. Jurnal Nursing Studies. Vol. 1. No. 1 Tahun 2012. Online di :
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnursing
Potter, Patricia A and Perry, Anne G. 2010. Fundamental of Nursing. 7th edition.
Vol. 3. Singapore: Elsevier.
Loew D and M. Kaszkin. 2002. Approaching the problem of bioequivalence of
Herbal Medicinal Products. Pytother Res.
Harlbeistin, R.A. 2005. Medicinal Plants: Historical and Cross Cultural usage
pattern. Ann Epidemiol.
Dalimartha dan Wijayakusuma. 2006. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan
Darah Tinggi. Jakarta: Swadaya.
Prasetya, Andhika Arie. (2007). Efek Diuresis Ekstrak Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa Bilimbi L) pada Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus).
Digilib FK UNS.
Mukhlisoh, Wardatul. 2010. Pengaruh Ekstrak Tunggal dan Gabungan Daun
Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi, Linn) terhadap Efektivitas
Antibakteri secara In Vitro. Malang: UIN Malang Malik Ibrahim.
Lidyawati, S dan Ruslan K. 2006. Karakterisasi Simplisia dan Daun Belimbing
Wuluh (Averrhoa Bilimbi, L). Skripsi Farmasi ITB.
Adha, Andi Citra. (2009). Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Alpukat
(Persea Americana Mill.) terhadap Aktivitas Diuretik Tikus Putih Jantan
Spraguey-Dawley. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB.
47
Putri,
Laras.
2011.
P4
Molecullar
Modelling.
http://www.scribd.com/doc/55/55105548/p4-molecullar-modelling.
Diakses 2 Maret 2013.
Jouad, H; MA Lacaille Dubois; B Lyoussi and M. Edduks. 2001. Effects of The
Flavonoids Extract from Spregularia Pupurea Pers. On Arterial Blood
Pressure and Renal Function in Normal and Hypertensive Rats. Journal
of
Ethnopharmacology.
Vol.
76:
http://www.sciencedirect.com/science/journal/03788741.
159-163.
Diakses
10
Desember 2013.
Fitriani, V. (2009). Obat Tradisional Pengidap Hipertensi Makanlah Kucai.
Trubus Majalah Pertanian Indonesia. http://www.trubus-online.co.id.
Diakses 20 Desember 2013.
Sutedjo, A.Y. 2008. Mengenal Obat-Obatan secara mudah dan Aplikasinya
dalam Keperawatan. Yogyakarta: Amara Books.
Malangi, Liberty P; Sangi, Meiske S dan Paendong, Jessie J. E. Penentuan
Kandungan Tanin dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Buah
Alpukat (Persea Americana Mill.). Jurnal MIPA UNSRAT. On line 1 (1).
5-10. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jmuo.
Tambayong, Jan. 2002. Farmakologi untuk Keperawatan. Editor: Monica Ester.
Jakarta: Widya Medika.
Supadmi, Woro. Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gagal
Ginjal
Kronik
yang
Menjalani
Hemodialisis.
Fakultas
Farmasi
Universitas Ahmad Dahlan. Jurnal Ilmiah Kefarmasian. Vol 1 No. 1 6780, 2011.
Rasyad, Ade Arinia; Noviza, Deni dan Muslim. Mikroenkapsulasi Kaptopril
dengan Penyalut Etil Selulosa Menggunakan Metode Penguapan Pelarut.
Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol 8. No.2 Tahun 2011.
Katzung, Bertram G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Alih Bahasa: Staf
Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran UNSRI. Editor: Azwar Agoes.
Jakarta: EGC.
48
Hartini, N. 2005. Hubungan Kadar Senyawa Dikarbonil dan Tirosin setelah
Pemberian Perasan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) pada
Reaksi Glikosilasi In Vitro. Jurnal Berkala Kedokteran. Vol. 2.
Sangi, M, M. R. J Runtuwene, H. E. I Simbala dan V. M. A Makang. 2008.
Phytochemical Analysis of Medicine Plant in North Minahasa Region.
Fakultas MIPA UNSRAT Manado.
Diennazola, Renda. 2012. Manfaat Si Hitam Langka. Tabloid Agribisnis Dwi
Mingguan.
aid=3530
http://www.agrinaonline.com/show_article.php?rid=12&
49
ABNORMALITAS GEN PADA THALASEMIA
Anisa Ell Raharyani
ABSTRAK
Thalasemia merupakan penyakit yang diakibatkan oleh mutasi gen globin
sehingga menyebabkan kekurangan sintesis protein yang berperan dalam
membentuk globin darah. Thalasemia bersifat autosom, sehingga dapat diturunkan
dari generasi ke generasi atau diturunkan langsung oleh kedua orang tuanya.
Mutasi gen globin disebabkan oleh gangguan translasi pada mRNA sehingga
menimbulkan gangguan pada rantai globin. Sintesa rantai globin diatur dan
dikendalikan oleh 2 kelompok gen yaitu kluster gen globin α yang terletak pada
lengan pendek autosom 16 (16 p 13.3), dan kluster gen globin β yang terletak
pada lengan pendek autosom 11 (11 p 15.4). Mutasi di globin betha terjadi di
dalam regio promotor dan tempat cup, di dalam ekson dan intron, dan di laut
penyambungan batas ekson intron. Mutasi juga ditemukan pada tempat
poliadenilasi dan delesi besar dijumpai pada regio 5’ dan 3’ pada gen. Terdapat
perbedaan antara thalasemia α dan thalasemia β. Skrinning, pencegahan dan
penanganan yang tepat akan meminimalkan dampak dari thalasamia khususnya
thalasemia mayor.
50
Pendahuluan
Thalasemia merupakan permasalahan kesehatan di dunia termasuk
Indonesia. World Health Organization (WHO) menyatakan, bahwa insiden
pembawa penyakit Thalasemia di Indonesia berkisar antara 6 - 10%, itu artinya
bahwa dari 100 orang, 6 – 10 orang menurunkan/membawa sifat Thalasemia.
Setiap tahunnya kurang lebih terdapat 3.000 bayi lahir di Indonesia dan menderita
Thalasemia (Yayasan Thallasaemia Yogyakarta). Hasil Riset Kesehatan Dasar
tahun 2007 yaitu menunjukkan bahwa prevalensi nasional penyakit thalasemia
sebesar 0,1%, delapan Propinsi menunjukkan prevalensinya diatas prevalensi
nasional yaitu Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (1,34%), DKI Jakarta,
Sumatera Selatan, Gorontalo, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat
serta Maluku. Sebesar 0,01% yang merupakan prevalensi terendah yaitu Propinsi
Lampung, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan sebesar 0,04% prevalensi
didapatkan di Propinsi Bali (Riset kesehatan Dasar, 2007).
Penyakit Thalasemia merupakan penyakit
yang diturunkan secara
autosomal, oleh karena itu penyakit ini biasanya sudah terdeteksi sejak lahir.
Thalasemia memerlukan pencegahan dan penanganan secara khusus karena pada
penderita thalasemia mayor yang sudah agak besar akan menunjukkan beberapa
gejala gejala klinis seperti gangguan pertumbuhan, anak menjadi kurus dan
bahkan kurang gizi (Lubis et al, 1991). Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui
adanya mutasi genetik yang menyebabkan thalasemia dan pewarisannya. Manfaat
dari studi ini bahwa thalasemia itu merupakan penyakit herediter dan dapat
ditemukan sejak lahir, maka perlu dilakukan skrining, pencegahan, dan
penanganan yang tepat.
Definisi Thalasemia
Thalasemia merupakan defek genetik yang mengakibatkan berkurang atau
tidak adanya sama sekali sintesis satu atau lebih rantai globin yang merupakan
polipeptida penting molekul hemoglobin (Atmakusumah, 2010). Thalasemia
disebabkan oleh penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi satu atau
51
lebih rantai globin α, β ataupun rantai globin lainnya sehingga terjadi delesi total
atau parsial gen globin dan substitusi, delesi atau insersi nukleotida. Pada
thalasemia terjadi perubahan nukleotida ke 59 secara transisi (T menjadi C) dan
nukleotida ke 147 secara transversi (G menjadi C). Hasil analisis jenis mutasi
yang ditemukan adalah silent mutation karena tidak ada perubahan asam amino
yang disandi (Andika Tripramudya, 2014). Defek bersifat kuantitatif dimana
sintesis rantai globin normal menjadi kurang atau tidak ada, tapi ada juga mutasi
yang menyebabkan struktur bervariasi dan mutasi yang menghasilkan hemoglobin
sangat tidak stabil, sehingga fenotif talasemia beragam (Galanello, 2014).
Hemoglobinopati dan Mutasi Gen Globin
Thalasemia merupakan penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan rantai
globin pembentuk hemoglobin (Hb) baik rantai globin α (Thalasemia α) maupun
rantai globin β (Thalasemia β). Kekurangan rantai globin tersebut dapat
disebabkan oleh gangguan translasi pada tingkat mRNA yang menimbulkan
gangguan pada sintesis rantai globin, kemudian pembentukan rantai globin yang
tidak normal juga dapat menyebabkan kekurangan pada rantai globin sehingga
menjadi tidak stabil (Kartikawati, 2001). Hemoglobin merupakan komponen pada
darah yang berfungsi untuk membawa oksigen dan nutrisi untuk didistribusikan
ke seluruh tubuh. Hemoglobin terdiri dari 2 senyawa yaitu hem dan globin.
Senyawa hem mengandung zat besi (atom Fe), sedangkan globin merupakan suatu
protein yang terdiri dari rantai polipeptida. Normalnya, hemoglobin pada orang
dewasa yang normal terdiri dari 2 rantai alpha (α) dan 2 rantai beta (β) yaitu HbA
(α2β2 = 97%), sebagian lagi HbA2 (α2δ2 = 2,5%) dan sisanya adalah HbF (α2γ2)
kira kira 0,5%. Sedangkan pada janin terdapat bentuk hemoglobin yang lain yaitu
HbF (hemoglobin Fetal) dan hemoglobin embrional : Hb Gowers1, Hb Gowers2,
dan Hb Portland. Masing masing hemoglobin mempunyai komposisi yaitu HbF :
alpha2 gama2, Hb Gowers 1 : Zeta2 epsilon2, Hb Gowers2 : alpha2 epsilon2, Hb
portland : zeta2 gama2 (Kauffman. E, 2001).
Sintesa rantai globin diatur dan dikendalikan oleh suatu gen tertentu.
Terdapat 2 kelompok gen yang bertanggung jawab untuk mengatur dan
52
mengendalikan sintesa protein globin, yaitu kluster gen globin α yang terletak
pada lengan pendek autosom 16 (16 p 13.3), dengan demikian sel diploid
memiliki 4 salinan gen globin α dan kluster gen globin β yang terletak pada
lengan pendek autosom 11 (11 p 15.4) (Evans et all 1990 dan Colins et al, 1984).
Mutasi di globin betha terjadi di dalam regio promotor dan tempat cup, di dalam
ekson dan intron, dan di laut penyambungan batas ekson intron. Mutasi juga
ditemukan pada tempat poliadenilasi dan delesi besar dijumpai pada regio 5’ dan
3’ pada gen (Watsen J. Gilman, 1992)
Gambar 1. Ekspresi gen dan sintesa protein pada thalasemia (Biokimia kedokteran
Dasar.2000)
Sintesa pada rantai globin sebenarnya sudah dimulai sejak awal kehidupan
pada embrio dalam kandungan manusia, sampai dengan usia kandungan 8 minggu
dan sampai akhir kehamilan. Organ yang bertanggung jawab dalam proses sintesa
ini adalah hati, limpa, dan sumsum tulang ( Gale et al, 1979). Selama tahap
perkembangan embrionik (kurang dari 8 minggu), rantai ζ dan rantai α disintesis.
53
Selama periode janin (8-41 minggu) rantai γ dan rantai α menggantikan rantai
embrionik itu, dimulai di sekitar kehamilan sampai sepanjang hidup. Rantai rantai
β menggantikan rantai γ. Sebagian kecil hemoglobin dewasa memiliki rantai δ
sebagai ganti rantai bethanya. Sinyal sinyal yang mengontrol diaktifkan dan
dimatikannya berbagai gen hemoglobin belum diketahui, namun kemiripan dalam
hal struktur nukleotida semua gen itu nampaknya menunjukkan di awal evolusi
(John C. Avise, 2007). Adanya mutasi gen dalam dalam Thalasemia bersifat
herediter sehingga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
Gambar 2. faktor faktor evolusioner yang bertanggung jawab pada keragaman
hemoglobin (The Genetics Gods.2007)
54
Klasifikasi Thalasemia
a. Thalasemia α
Pada individu yang normal mengandung 4 gen α yang mengandung
protein dalam jumlah yang sama. Thalasemia α terbagi menjadi 2
kelompok yaitu tipe delesi (deletional α thalasemia) dan tipe non delesi
(non deletional α thalasemia). Gejala klinis yang muncul pada penderita
Thalasemia α tergantung pada gen α yang masih utuh. Manifestasi klinis
yang muncul pada dasarnya disebabkan oleh anemia dan hipoksia. Anemia
disebabkan karena menurunnya kadar hemoglobin normal (HbA) yang
diakibatkan oleh kurangnya rantai globin α, akibat kekurangan rantai
globin α menyebabkan ketidaksesuaian dengan pasangannya pada rantai β
dan γ. Rantai β dan rantai γ yang berlebihan tersebut menimbulkan
pembentukan Hb H (β4) atau Hb Bart’s (γ4). Sedangkan hipoksia muncul
sebagai akibat dari Hb H dan Hb Bart’s yang mengikat oksigen tetapi tidak
mudah untuk melepaskannya kembali seperti pada hemoglobin yang
normal (Kartikawati, 2001).
b. Thalasemia β
Pada Thalasemia β banyak disebabkan oleh mutasi (mutasi titik). Mutasi
titik dapat terjadi di berbagai tempat dan dapat menimbulkan akibat yang
berbeda beda. Sebagian lagi disebabkan persilangan yang tidak seimbang.
Persilangan tak seimbang pada thalasemia β menyebabkan delesi sebagian
dari gen β atau menimbulkan gen gabungan (fusion genes) δβ, hemoglobin
yang dihasilkan oleh gabungan 2 gen (δβ) tersebut dinamakan Hb lepore.
Persilangan tak seimbang juga dapat menimbulkan delesi tidak hanya gen
β tetapi juga pada gen gen yang lain seperti gen α, G-γ, A-γ, tergantung
lebarnya delesi. Bentuk bentuk ini dinamakan Thal β komplek. Bentuk
komplek ini biasanya mengakibatkan gejala yang ringan oleh karena tidak
adanya gen β menyebabkan Hb F terus diproduksi sampai dengan dewasa.
Variasi dari thalasemia β yaitu, thalasemia minor, thalasemia mayor, dan
thalasemia intermediet.
55
Tabel 1. Mutasi penyebab Thalasemia β
Letak mutasi
akibat
fenotip
Transkripsi turun
β+
Cup site
mRNA tidak stabil
β0
Initiation codon
Translasi tidak terjadi
β0
Abnormal splice site
β + atau β 0
Frame shift
β0
Premature termination
β0
Protein labil
β0
Abnormal splice site
β + atau β 0
mRNA tidak stabil
β0
a. Promotor
b. 5’UT
c. Ekson (1,2,3)
d. Intron (1 dan 2)
e. 3’UT
Poliadenilation
signal
Sedangkan bentuk mutasi gen yang terjadi pada Thalasemia α :
1. Delesi, mencakup satu gen (-α) atau kedua (--) gen globin α. Pada
thalasemia αËš terdapat 14 delesi yang mengenai gen α, sehingga
produksi rantai α hilang sama sekali dari kromosom abnormal. Bentuk
umum –α+ yang paling umum (-α3,7 dan –α4,2) mencakup delesi satu
atau duplikasi gen globin α lainnya.
2. Non delesi, kedua haploid gen α utuh (αα), ekspresi gen –α2 lebih kuat
2-3 kali dari ekspresi gen –α1 sehingga sebagian besar mutasi non
delesi ditemukan predominasi pada ekspresi gen –α2.
Bentuk mutasi gen yang terjadi pada Thalasemia β :
1. Delesi. Pada thalasemia β ditemukan 17 delesi, sering ditemukan
adalah delesi 619 bp pada ujung akhir 3’ gen globin β. Bentuk
homozygot pada delesi ini menyebabkan thalasemia βËš, sedangkan
heterozygot menimbulkan peningkatan HbA2 dan HbE.
56
2. Non delesi, terjadi transkripsi, prosesing dan translasi berupa mutasi
titik : region promotor, mutasi transkripsional pada lokasi cap, mutasi
prosesing RNA : intron – ekson boundaris, polyadenilation signal,
splice site concencus sequences, cryptic sites in exons, cryptic sites in
introns. Mutasi yang menyebabkan translasi abnormal mRNA :
inisiasi, nonsence, dan mutasi frameshift.
3. Bentuk mutasi lain seperti thalasemia β yang diwariskan dominan,
varian globin β tidak stabil, thalasemia β tersembunyi, mutasi
thalasemia yang tidak terkait kluster gen globin β dn bentuk variasi
thalasemia β (Setyaningsih, 2009)
Jenis cacat molekul gen globin yang banyak dijumpai adalah Hb E/ivs
1- nt5. Hb E merupakan jenis thalasemia yang banyak ditemukan di negara
negara Asia tenggara dan frekuensi karier nya diperkirakan sebesar 50%.
Secara klinis Hb E baik yang homozygot maupun heterozygot tidak
tampak/asimptomatis, tetapi apabila ditemukan bersama thalasemia bentuk
double heterozygot akan menghasilkan Hb E yang secara klinis beratnya
sama dengan thalasemia mayor atau thalasemia intermediet yang
membutuhkan transfusi secara reguler (Moedrik Tamam, et al. 2010).
Tabel 2. Perbedaan thalasemia α dan thalasemia β :
Perbedaan
Mutasi
Thalasemia α
Delesi
gen
Thalasemia β
umum Delesi
terjadi
gen
umum
jarang terjadi
Sifat globin yang Tetramer γ4 dan β4 Agregat rantai α yang
berlebihan
yang larut
tidak larut
Pembentukan
Pembentukan
hemikrom yang lambat
hemikrom cepat
Band
4.1
teroksidasi
tidak Band 4.1 teroksidasi
57
Sel darah merah
Overhidrasi,
kaku, Dehidrasi,
kaku,
membran stabil
membran tidak stabil
Anemia
Hemolitik
Diseritropoetik
Perubahan tulang
Jarang
Sering
Besi berlebih
Jarang
Sering
Pola Pewarisan (Ilmu Kesehatan Anak Nelson, 2000)
a.
Pewarisan resesif autosom : anak dengan orang tua heterozigot
memiliki 25% peluang bersifat homozygot (misalnya 1 peluang pada
pewarisan gen mutan yang berasal dari setiap orang tuanya : ½ X ½ =
¼ ), laki laki dan wanita terkena dengan frekuensi yang sama, individu
yang terkena hampir selalu dilahirkan hanya pada satu generasi
keluarga, anak anak dari yang terkena (homozygot) semuanya
heterozygot, anak anak dari homozygot hanya bisa terkena jika
pasangannya heterozygot. Frekuensi heterozygot dapat dihitung
dengan cara formula Hardy Weinberg : p2 + 2 pq + q2 = 1, dimana p
adalah frekuensi salah satu dari sepasang alel, dan q merupakan
frekuensi yang lain.
Gambar 3. Pewarisan resesif autosom
58
b.
Pewarisan dominan autosom : pada pewarisan ini baik laki laki
maupun wanita sama sama terkena yang pemindahannya terjadi dari
satu orang tua kepada anak, dan gen mutan yang bertanggung jawab
dapat muncul dengan gen mutan secara spontan.
Gambar 4. Pewarisan dominan autosom
Tindakan preventif dan kontrol thalasemia
a.
Pembentukan kelompok kerja thalasemia di tingkat nasional maupun
regional.(G. Akbari.2006)
Kelompok kerja thalasemia perlu dibentuk yang melibatkan para ahli
dan orang orang berhubungan dengan masalah thalasemia. Kelompok
kerja ini dibentuk dengan tujuan untuk menyelenggarakan pertemuan
pertemuan ilmiah secara rutin baik di tingkat regional maupun
nasional guna memantau dan mengevaluasi permasalahan yang
terjadi, kebijaksanaan dan langkah langkah yang harus ditempuh guna
menyelesaikan permasalahan tersebut serta melaporkankannya ke
dinas kesehatan yang terkait.
b.
Meningkatkan
penelitian
tentang
epidemiologi,
patofisiologi
molekuler, dan manajemen klinis penyakit thalasemia. Studi
59
epidemiologi dapat dimulai dengan melakukan skrinning pada
populasi untuk mengetahui lebih jauh tentang resiko pembawa sifat
thalasemia, Analisis molekuler juga perlu dilakukan terhadap populasi
terutama pada pasangan yang mempunyai pembawa sifat thalasemia.
Pengetahuan dasar tentang molekuler thalasemia juga sangat penting,
karena ekspresi gen globin pada thalasemia sangat kompleks dan
banyak melibatkan komponen yang ada di luar gen itu sendiri.
c.
Meningkatkan kualitas SDM dan fasilitas laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan pada pasien yang
dicurigai thalasemia adalah :
1.
Darah rutin : pada thalasemia terdapat anemia hipokromik
mikrositik dengan nilai mean corpuscular volume (MCV) < 80 fl
dan mean corpuscular hemoglobin (MCH) < 27 pg. Anemia
hipokromik mikrositik juga ditemukan pada defisiensi besi,
namun biasanya disertai penurunan kadar red blood cell (RBC)
dan peningkatan red cell distribution width (RDW). Jika terjadi
hipersplenisme akan terjadi penurunan trombosit (Atmakumah,
2009)
2.
Hitung retikulosit pada thalasemia meningkat antara 2-8%
3.
Gambaran darah tepi : pada gambaran darah tepi akan ditemukan
retikulosit poikilositosis, basophilic stippling, sel tear drops dan
sel target.
4.
Feritin, Serum Iron (SI) dan Total Iron Binding Capacity (TIBC).
Pada anemia defisiensi besi SI akan mengalami penurunan,
sedangkan TIBC akan mengalami peningkatan. HbA2 yang
rendah dapat ditemukan pada anemia defisiensi besi dan
thalasemia α sehingga kadang sulit membedakan dengan
pembawa sifat thalasemia β.
5.
Tes fungsi hepar. Kadar bilirubin tak terkonjugasi akan
meningkat sampai 2-4 mg%. SGOT dan SGPT juga akan
60
meningkat yang akan mengakibatkan gangguan pada faktor
pembekuan darah.
6.
Pemeriksaan rontgen. Pemeriksaan rontgen bertujuan untuk
melihat adanya metabolisme tulang akibat eritropoesis.
7.
Pemeriksaan sumsum tulang. Pada pemeriksaan sumsum tulang
akan nampak gambaran eritropoesis yang sangat aktif.
8.
Pemeriksaan EKG, bertujuan untuk melihat keadaan jantungnya
akibat terjadi anemia.
d.
Konseling genetik dan diagnosis prenatal
Sasaran konseling genetik adalah pasangan pra nikah terutama mereka
yang berasal dari kalangan/ populasi yang berpotensi tinggi menderita
atau ada anggota keluarga yang menderita thalasemia. Pemeriksaan
yang dilakukan adalah indeks hematologis untuk memastikan bahwa
membawa thalasemia atau tidak.
Informasi penting yang harus disampaikan antara lain :
1.
Tentang penyakit thalasemia itu sendiri, bagaimana cara
penurunannya dan permasalahan yang dihadapi oleh penderita
thalasemia terutama thalasemia mayor.
2.
Memberi jalan keluar cara mengatasi masalah yang sedang
dihadapi oleh klien dan membiarkan membuat keputusan sendiri
terhadap tindakan yang akan dilakukan.
3.
Membantu mereka/klien agar keputusan yang diambil dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar.
Diagnosis prenatal bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
apakah janin menderita thalsemia mayor, yaitu dimulai dengan
pemeriksaan DNA kedua orang tuanya terlebih dahulu. Setelah usia
kehamilan 6-8 minggu dilakukan pemeriksaan sampel jaringan villi
choriolis serta dilakukan pemeriksaan molekuler sesuai dengan mutan
yang diemban oleh kedua orang tuanya (Anak Agung G.P. 2015)
61
Kesimpulan
Thalasemia merupakan kelainan genetik akibat mutasi gen yang
disebabkan oleh kekurangan sintesis protein yang berperan dalam
pembentukan darah dengan manifestasi klinis anemia dan hipoksia.
Prevalensi thalasemia di Indonesia tergolong tinggi dan memerlukan
perhatian dari pemerintah. Skrinning yang tepat pada populasi akan
membantu penegakkan diagnosis yang tepat pula terkait Thalasemia.
Terutama pada pasangan pra nikah untuk memberikan konseling bahwa
thalasemia dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Pemeriksaan secara
lengkap juga harus dilakukan pada wanita yang sedang hamil yang
dicurigai mempunyai sifat bawaan thalasemia.
62
DAFTAR PUSTAKA
Akbari Ganie R. 2006. Pidato Pengukuhan “Thalasemia Permasalahan dan
Penanganannya”.2005. repository usu 2006
Anak Agung Gede P.W., 2015. Skrinning dan Diagnosis Thalasemia Dalam
Kehamilan. E-Journal Obstetric dan Gynecology.
Andika Tripramudya Onggo. 2014. Identifikasi Mutasi Gen β Globin Ekson 1
Pada Pembawa Thalasemia. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada
Anomim. 2008. Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta : Badan Penelitian dan
Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Atmakusumah, T.D., Wahidiyat, P.A., Sofro, A.S., Wirawan, R., Tjitrasari, T.,
Setyaningsih, I., Wibawa, A. 2010. Pencegahan Thalassemia. Hasil Kajian
Konvensi HTA. Jakarta: 16 Juni.
Atmakusumah, T.D. 2009. Thalassemia: manifestasi klinis, pendekatan diagnosis,
dan thalassemia intermedia. Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B.,Alwi, I.,
Simadibrata, M., Setiati, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V.
Jakarta
Atmakusumah, T.D. Setyaningsih, I. 2009. Dasar-dasar talasemia: salah satu jenis
hemoglobinopati. Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I.,
Simadibrata, M., Setiati, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V.
Jakarta
Collins. F. S and Weissman S. M. 1984. The Molecular Genetics of Human
Hemoglobin. Prog. Nucleid Acid Red. Mol. Biol. 31:315
Evans T. Felsenfel G. And Reitman M. 1990. Control of Globin Gene
Transkription. Annu. Rev. Cell. Biol.6:95-124
Gale R.E., Clegg J.B., and Huehns E.R., 1979. Human Embrionic and
Haemoglobin Gower 1 and Gower 2. Nature. 280 (5718): 162-164
http://www.thalassaemia-yogyakarta.org/2013_02_01_archive.html
63
Henny Kartikawati. 2001. Hemoglobinopati Sebagai Model Penyakit Thalasemia.
Magister Ilmu Biomedik. Universitas Diponegoro
John C. Avise, The Genetics Gods :Evolution and Belief in Human Asffairs
.havard university pres 2001 cetakan 2007)
Kauffman. E. 2001. Human Genetics. Haemoglobin Structure. BMS 655. March
2001.
Moedrik Tamam, Suharyo Hadisaputro, Sutaryo, Iswari Setianingsih, Rini Astuti,
Agustinus Soemantri. 2010. Hubungan Antara Tipe Mutasi Gen Globin
dan Manifestasi Klinis Pada Thalasemia. Jurnal Kedokteran Brawijaya
Vol.26. Februari. 2010
Marks Dawn B. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar ; Sebuah pendekatan klinis ,
Jakarta ; EGC
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak volume I. Editor Richard E. Behrman.
Jakarta : EGC
Pignatti,
C.
B.,
Galanello,
R.
2014.
Thalassemia
and
Related
Disorders:Quantitative Disorders of Hemoglobin Synthesis. In : Greer,
J.P., Arber, D.A., Glader, B., List, A.F., Means, R.T., Paraskevas, F,
Rodgers, G.M.Wintrobe’s Clinical Hematology. 13th edition. Lippincott
Williams s& Wilkins
Watson, J. Gilman M. 1992. Witkowski C. Zowler M. Recombinant DNA
Scientific American Books, New York Will Freenan 540-544
64
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGERUHI KUALITAS
DISCHARGE PLANNING TERHADAP TINGKAT KEMANDIARIAN
PASIEN DENGAN GANGGUAN CARDIOVARCULAR PASCA
HOSPITALISASI: LITERATURE REVIEW
CANDRA DEWI RAHAYU
ABSTRAK
Latar Belakang dan Tujuan: Managemen perawatan gangguan cardiovascular
melibatkan multidisiplin professional, banyak evidence yang menunjukan bahwa
pasien yang dilakukan perawatan di rumah sakit yang dilakukan oleh multidisiplin
mempunyai efek yang lebih baik dari pada yang tidak. Discharge planning
terprogam diharapkan mampu meningkatkan kemandirian pasien dalam
melakukan perawatan baik saat di rumah sakit maupun setelah perawatan,
sehingga diharapkan dapat menurunkan angka re-hospitalisasi karena keluhan
yang sama (relapse). Discharge planning juga diharapkan meminimalisir adanya
komplikasi akibat penyakit kardiovascular tersebut. Tujuan dari penulisan adalah
untuk mengetahui evidence faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas
discharge planning terhadap tingkat kemandirian pasien dengan ganggunan
cardiovascular pasca hospitalisasi
Metodologi: Systematic review ini dilakukan dengan mengumpulkan hasil
publikasi ilmiah pada tahun 2010-2014 dengan penelusuran EBSCO, ProQuest,
PubMed, Google search dan American Journal Of Nursing (AJN). Penelusuran
dengan metoda boleon, full teks, pdf, medeline dengan kata kunci “nursing” and
“discharge planning” and “program” and “cardiovascular”. Metodologi yang
digunakan dalam publikasi ilmuah dengan menggunakan metoda kualitatif dan
RCT dilakukan oleh perawat kepada pasien dengan gangguan cardiovascular.
Selanjutnya data direview dengan penggunakan CASP tools dan diekstraksi
kemudian dikelompokkan untuk dibahas dan disimpulkan untuk mengetahui
kualitas jurnal.
Hasil dan Kesimpulan: Hasil penelusuran mendapat 4 publikasi ilmiah dengan
kualitas baik. Dari studi ditemukan 10 faktor yang dapat mempengaruhi kualitas
discharge planning. Factor-faktor tersebut mempunyai hasil yang signifikan
terhadap kuliatas discharge planning. Hasil ini menunjukan pentingnya discharge
planning terprogram untuk meningkatkan kemandirian pasien. Akan tetapi yang
terjadi di rumah sakit terutama rumah sakit di Indonesia belum dilakukan sesuai
dengan hasil penelitian. Termassuk dalam hal dokumentasi keperawatan yang
masih lemah.
Key word: discharge planning, cardiovascular, multidisiplin profesional
65
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Di Indonesia semua pelayanan keperawatan di Rumah Sakit,
telah merancang berbagai bentuk format Discharge Planning, bentuk
pendokumentasian discharge planing berupa resume pasien pulang.
Cara ini merupakan pemberian informasi yang sasarannya ke pasien
dan keluarga hanya untuk mengingatkan, akan tetapi tidak ada yang
bisa menjamin apakah pasien dan keluarga mengetahui faktor resiko
apa yang dapat membuat penyakitnya kambuh, penanganan apa yang
dilakukan bisa terjadi kegawatdaruratan terhadap kondisi penyakitnya.
Discahrge planing seharusnya memberikan proses deep-learning pada
pasien sehingga terjadinya perubahan perilaku dan kemampuan
melakukan perawatan diri secara mandiri baik pasien maupun
keluarga (Uke Panila, 2014). Terutama pada pasien dengan gangguan
cardiovascular outcome dari perawatan gangguan cardiovasculat
adalah pasien bisa toleran dalam melakukan ADL (activity dialy
living).
Penelitian yang dilakuakn oleh Jane Graham pada tahun 2013
menunjukan bahwa discharge planning sangat dibutuhkan pada pasien
di masa transisi yaitu perpindahan pasien dari perawatan rumah sakitperawatan rumah. Untuk mendapat discharge planing yang berkualitas
diperlukan pengkajian yang mendalam terkait dengan metoda
discharge planning. Untuk menerapkan metoda discharge planning
yang berkualitas harus di ketahui terlebih dahulu kebutuhan pasien
dan perawat dalam melakukan discharge planning. Dalam pemenuhan
tersebut tentu dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari perawat,
pasien maupun tenaga profesional yang lain. Dan apakah
faktor
faktor-
tersedut dapat mempengaruhi kualitas discharge planning
sehingga berdampak terhadap tingkap kemanddirian pasien terutama
pada pasien dengan gangguan cardiovascular?
66
Discharge planning yang dilakukan sejak awal (saat pasien
masuk) dapat menurunkan angka kunjungan ulang pasien ke rumah
sakit dengan keluhan yang sama (relapse) (Mary T Fox, 2013) bahkan
dapat menurunkan angka terjadinya komplikasi (Jane Graham, 2013)
selain itu discharge planning yang dilakukan secara terprogram dapat
memperpendek lama perawatan pasien di rumah sakit (LOS menurun)
hal ni disebabkan karena tingkat kemandirian pasien dan keluarga
meningkat sehingga perawatan lebih efektif dan efisian hal dapat
menekan biaya perawatan (Petsunee Thungjaroenkul: 2007).
2.
Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas
discharge planning terhadap tingkat kemandirian pasien dengan
gangguan kardiovascular pasca hospitalisasi
b. Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi
kualitas discharge planning pada pasien dengan gangguan
cardiovascular.
b) Untuk mengetahu efectifitas discharge planning terprogram
dalam meningkatkan tingkat kemandirian pasien dengan
gangguan cardiovascular.
c) Untuk mengetahui efektifitas perawat khusus dalam melakukan
discharge planning pada pasien dengan gangguan cardiovascular
B.
METODE
Pengumpulan
artikel
yang
dilakukan
sitematik
review
ini
menggabungkan antara discharge planning yang dilakukan oleh perawat dan
oleh tenaga kesehatan lain dalam melakukan perawatan mandiri dan
rehabilitasi.
1.
Kriteria inklusi dan eksklusi
67
Kriteria inkkusi yaitu artikel dengan metoda penelitian kulaitatif
dan kuantitatif tahun 2010-2014 dilakukan secara terprogram
discharge planning pada pasien dengan gangguan cardiovascular
dengan usia dewasa (minimal 18 tahun) dan di evalusi secara berkala
untuk mengetahui factor yang dapat mempengaruhi kualitas discharge
palanning serta efektifitas discharge planning yang dilakukan secara
terprogram.
Jumlah total sampel pada penelitian kualitatif dilakukan pada 18
rumah sakit dan 31 partisipan dimana teknik pengambilan sampel
dengan menggunakan purposepul samping.
Rumah sakit yang
digunakan dalam penelitian adalah rumah sakit khusus untuk
gangguan kardiovaskular dan rumah sakit umum dengan
actual
number of date 30 hari perawatan dan pastisipan dibedakan atas usia,
jenis kelamin, pengalaman, pendidikan terakhir.
Randomized Control Trial (RCT) yang digunakan dalam artike
dengan total poulasi artikel pertama n=340 dan pada artikel kedua
n=162. Yang kemudian 11 pasien gugur untuk dijadikan sampel
karena tidak bersedia mengisi inform concern. Segingga total sampel
pada artikel pertama adalah 329. Kemudian sampel tersebut dibagi
menjadi dua kelompok, satu kelompok di berikan perlakuan dan satu
kelompok dijadikan sebagai control.
Pemilihan sampel pada artikel dengan metoda RCT ini adalah
pasien yang dilakukan perawatan dirumah sakit dengan gangguan
cardiovascular usia diatas 18 tahun. Yang kemudian dilakukan
perlakuan. Pada artikel yang kedua yaitu dengan memberikan
pendidikan kesehatan yang didasarkan pada teori motivasi dan teori
perkembangan pada artikel ke 4 (emoat) perlakukan di lakukan oleh
cese-managemen untuk mengidentifikasi masalah perawatn individu
dan fasilitas pelayan yang digunakan dan disease management untuk
mengidentifikasi
masalah
dan
factor
risiko
pada
masalah
68
cardiovascular tentang informasi dan pendidikan kesehatan yang
dibutuhkan oleh pasien.
2.
Strategi Pencarian Literatur
Systematic review ini dilakukan dengan mengumpulkan hasil
publikasi ilmiah pada tahun 2010-2014 dengan penelusuran EBSCO,
ProQuest, PubMed, Google search, American Journal Of Nursing
(AJN). Penelusuran dengan metoda boleon, full teks, pdf, medeline
dengan kata kunci “nursing” and “discharge planning” and “program”
and “cardiovascular”.
Gambar 1
Diagram prisma
Identifikasi
EBSCO
DP & cardiovascular n=919
DP & cardiocascular & AMI n =171
PROQUEST
Nurse & DP & program & cardiovascular
n=1.633
PUBMED
Nurse & DP & program &Acute Myocard
Infrak n=510
AJN dan Google Search
Skrening
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
PDF
Full text
Bahasa Inggis
Free download
Tahun 2009-2014
Medeline
Peer review
EBSCO n= 171
PROQUEST n=666
PUBMED n=140
AJN dan Google Search
69
Kelayakan
1. Jurnal
2. Sampel perawat dan atau
pasien diatas usia 18 tahun
3. Kualitas discharge plannig
EBSCO n=10
PROQUEST n=29
PUBMED n=35
AJN dan Google Search
Included
analisis
1. Motoda kualitatif dan
atau RCT
2. Factor yang
mempengaruhi
kualitas Discharge
Planning
EBSCO n=1
PROQUEST n=2
PUBMED n=1
AJN dan Google Search n=3
Systematic review n=4
3.
Ekstraksi data dan motede pengkajian kualitas studi
Data dari artikel direview dengan penggunakan CASP tools dan
diekstraksi kemudian dikelompokkan untuk dilakukan triangulasi
untuk dilakukan pembahasan dan disimpulkan
sehingga dikeahui
kualitas jurnal. Penentuan kualitas jurnal dengan menggunakan
prosentase hasil ekstraksi yaitu jurnal dikategorikan menjadi kualitas
baik, sedang dan kulaitas tidak baik. Jurnal dikategorikan baik jika
propsentase 80%-100%, cukup jika 65%-79% dan tidak baik jika
prosentase <64%. Dari hasil analisa tersebut didapat 4 jurnal dengan
kateggori baik yaitu dengan prosentase 88,2 % dan 91,1% untuk hasil
peneitian kulaitatif (lampiran 1) 80,9% dan 85,7% untuk Randomized
Control Trial (RCT) ( lampiran 2)
4.
Analisa Data
Data dikumpulkan berdasarkan tujuan, sampel dan hasil yang
sebanding kemudian dilakukan analisis (table 1) sehingga dapat pula
dilihat heterogenitas dari hasil penelitian yang ditemukan dalam studi
(publikasi ilmiah). Jika dalam temuan jurnal tidak sesuai dengan
70
kirteria baik kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi ataupun hasil
tidak sesuai yang telah ditetapkan maka jurnal tersebut tidak
dilakukan sistematik review (dihapus). Sistematik review ini bertujuan
untuk untuk memperkuat hasil dari studi/penelitian tersebut. Dalam
review ini ada tiga jurnal yang kemudian tidak dilakukan analissis
(dihapus)
71
Tabel 1
Karakteristik artikel yang didapatkan ( n=4)
No
Penulis
Judul
Jurnal
Tujuan
Metodologi
Hasil
S Rian
“Learning by
J Gen Intern
Mengurangi
Kualitatif
Lima topik utama untuk
Greysen et
Doing”—Resident
Med
readmisi dan
analissis
identifikasi discharge planning
all (2012)
Perspectives on
efeksamping
yang berkualitas
Developing
dengan
1. Kerja sama tim dan
Competency in High-
penggunaan
interdisipliner
Quality Discharge
discharge laning
Disharge planing
Care
yang berkualitas
(tahun)
1
2. Perencanaan terstuktur serta
strategi discharge planing
3. Keselamatan pasien dan
konsep Discharge planning
yang aman
4. Perawatan berkelanjutan
setelah pasien mendapatkan
discharge planning.
5. Dokumentassi discharge
planing
2
Emily J.
Features of High
J Gen Intern
Untuk
Kualitatif
Lima tema untuk membedakan
72
Cherlinall
Quality Discharge
Med
mengidentifikasi
(2012)
Planning for Patients
proses discharge
Following Acute
planning terkait
Myocardial Infarction
dengan kinerja
study
kualitas discharge planning
1. Memulai Discharge planning
pada saat pasien masuk
2. Memberikan perawatan
yang lebih baik di
komprehensif dalam
rumah sakit
perawatan pasien.
perawatan AMI
3. Memastikan bahwa rencana
yang diukur
tindak lanjut di berikan
dengan RSMR
sebelum rencana pemulangan
4. Memberikan waktu khusus
untuk discharge planning
pada lien dan keluarga.
5. Menghubungi perawat primer
untuk rencana perawatan
tindak lanjut.
3
Palle Larsen
Stimulation to self
Nursing
Untuk menguji
Quasi
tidak ada perbedaan total perilaku
et all (2013)
care in patient with
Education
prosedur
ekspeimen
perawatan diri antara kelompok
heart failure: a quasi-
and Practice
perencanaan
pada awal perlakuan nilai
pemulanangan
p=0,161
terhadap pasien
setelah 4 minggu total score pada
experimental study
73
gagal jantung
kelompok control 25,3 dan pada
dengan gejala
kelompok intervensi 22,2 dengan
ringan dan sedang
nilai p=0.049
Serta untuk
setelah 12 minggu total score
mengetahui efek
pada kelompok control 26,8
persiapan rencana
angka ini sama pasa saat awal
pulang indivudu
percobaan dan pada kelompok
dalam rehabilitasi
intervensi dengn score 22.6.
perbedaan skor 6,2 atau nilai
p=0,007
4
Cristina
Effect of a nurse case
BioMed
Untuk
Single centre
Discharge planning yang
Meisinger et
management
Central
mengevaluasi
randomized
dilakuka oleh case management
all (2013)
compared to usual
discharge
two armed
tidak mendapatkan hasil yang
care among aged
planning yang
group tryal
signifikan setelah satu tahun
patients with
diberikan oleh
perlakuan dengan hazard interval
myocardial infarction:
perawat berbasis
1.01, 95% dan confidence
result from the
managemen kasus
interval 0.72-1.41
randomized
controlled KORINDA
studi
74
C.
HASIL
Systematic review yang dilakukan dengan metoda kulaitatif dan
kuantitatif pada empat jurnal yang dianalisis yang didapat dengan
menggunakan metoda boleon dari e juranal EBSCO, ProQuest, PubMed, AJN
dan google search (gambar 1).
Hasil penelitian kualitatif dengan mengidentifikasi beberapa tema,
sedangkan hasil penelitian RCT dilakukan perlakuan berupa discharge planning
(memberikan pendidikan kessehatan) yang kemudian di lakukan follow up
untuk mengetahui efektifitas dari perlakuan/tindakan. Untuk penelitian RCT
tidak dilakukan blinding dijelaskan dalam jurnal karena tidak memungkinkan
untuk dilakukan blinding yang disebabkan karena perlakukan/tindakan berupa
pemberian pendidikan kesehatan sehingga untuk sampel perawat tidak bisa
dilakukan blinding, akan tetapi untuk pasien tetap dilakukan blinding.
1.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas discharge planning
Ketika akan menentukan bagaiamana teknik yang paling benar
sehingga discharge planning dapat berkualitas dibutuhkan pembelajaran
lebih mendalam untuk proses discharge planning. Proses ini sangat
penting untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien.
Proses tersebut menunjukan bahwa untuk mendapatkan pelayanan yang
berkualitas dibutuhkan kerjasama, perencanaan terstruktur, keamanan
pasien, perawatan berkelanjutan dan dokumentasi. (Greysen at all: 2011)
dari dasar asumsi tersebut kemudian dijadikan tema dalam penelitian.
Lima tema tersebut adalah kerja sama
tim dan interdisipliner
Disharge planing pada tema ini difikuskan tentang komunikasi yang
dilakukan antar tenaga kesehatan. Meningkatkan kedisiplinan dan
kerjasama antar tim akan meningkatkan kualiatas pelayan discharge
planning. Sehingga kerja sama tim sangat dibutuhkan dalam proses
discharge planning. Tema yang kedua: perencanaan terstuktur serta
strategi discharge planning, hasil menunjukan belum ditemukan bahwa
75
discharge planning dijadikan sebagai prioritas sampai pasien siap untuk
pulang. Untuk memberikan perencanaan terstruktur dilakukan dengan
pembuatan jadwal terkait dengan kemampuan pasien dalam melakukan
perawatan dan keselamatan pasien dalam keadaan gawat. Tema tiga:
Keselamatan
pasien
dan
konsep
Discharge
planning
pasien
membutuhkan perawatan yang holistic dan berkelanjutan dalam proses
penyembuhan. Hasil penelitian menunjukan keselamatan pasien setelah
pulang adalah perawatan lanjutatau rehabilitasi, Tema empat: Perawatan
berkelanjutan setelah pasien mendapatkan discharge planning, discharge
planning yang sudah dilakukan tapi masih susah untuk dilakukan
pembelajaran berkelanjutan ssetelah pasien pulang sehingga harus ada
follow up post discharge Tema lima: Dokumentassi discharge planning:
dokumentasi selalu berbanding lusrus dengan kualitass discharge
planning discharge planning yang berkualitas harus ada dokumentasi
terstandar.
Emely J Cerlin tahun 2012 hasil penelitian ini klasifikasikan dengan
lima tema yaitu memulai discharge planning pada saat pasien masuk,
yaitu diberikan pada awal pasien baru masuk rumah sakit. Hal ini penting
dilakukan untuk membina hubungan yang proaktif dalam proses
discharge planning.
Memberikan perawatan
komprehensif dalam
perawatan pasien yaitu dengan memberikan pelayanan management kasus
yang terdiri dari perawat, tenaga social dan tenaga kesehatan lain.
Memastikan bahwa rencana tindak lanjut di berikan sebelum rencana
pemulangan, hal menunjukan follow up setelah pasien pulang dari rumah
sakit penting dilakukan dimana hal ini juga akan menunjukan
performa/kualitas dari rumah sakit tersebut. Memberikan waktu khusus
untuk discharge planning pada klien dan keluarga. Pendidikan kesehatan
dilakukan pada waktu khusus dalam rangka persiapan pasien pulang.
Menghubungi perawat primer untuk rencana perawatan tindak lanjut.
76
Rencana perawatan tindak lanjut diberikan pada hari 1-2 setelah
perawatan tema pendidikan kesehatan dilakukan oleh perawat primer
yang kemudian didelegasikan kepada staffnya atau perawat asosiet.
2.
Factor yang paling dominan dalam menentukan kualitas discharge
planning
Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan diatas bahwa discharge
planning seharusnya dilakukan sedini mungkin yaitu sejak pasien datang
kerumah sakit sampai pasien siap untuk dipulangkan, dilakukan oleh
tenaga kesehatan kusus (case management) dan harus dilakukan follop up
untuk mngetahui kualitas dari discharge planning tersebut. Selain itu
dokumentasi merupankan hal penting karena dengan dokumentasi dapat
dinilai kualitas dari discharge planning tersebut.
Menurut hasil analisa ketiga factor tersebut harus ada untuk
mendapatkan discharge planning berkualitas yaitu: discharge planning
diberikan dari awal, follow up dan dikumentasi.
3.
Efektifitas discharge planning terprogram terhapat tingkat kemandirian
pasiaen
Dari analisis faktor yang paling dominan terhadap discharge
planning yang berkuaalitas maka dilakukan penelitian dengaan metoda
RCT. (Pale Larsen: 2013) dengan melakukan intervensi pada sampe
dengan usia minimal 18 tahun intervensi yang dilakukan yaitu denagna
memberikan pendidikan kesehatan yang didasarkan pada teori motifasi
dan teori perkembangan dengan hasil tidak ada perbedaan total perilaku
perawatan diri antara kelompok pada awal perlakuan
nilai p=0,161
setelah 4 minggu total score pada kelompok control 25,3 dan pada
kelompok intervensi 22,2 dengan nilai p=0.049 setelah 12 minggu total
score pada kelompok control 26,8
angka ini sama pasa saat awal
77
percobaan dan pada kelompok intervensi dengn score 22.6. perbedaan
skor 6,2 atau nilai p=0,007. Dimana usia tidak mempengaruhi hasil.
Penelitian lain menggabungkan intervensi yang dilakukan oleh case
management dan desease management. Untuk case management
discharge planning yang diberikan berupa identifikasi masalah dan
fasilitas perawatan kesehatan yang dialami individu. Sedangakan untuk
desease management tindakan discharge planning berupa masalah dan
factor risiko pada gangguan ddischarge planning hasil menunjukan
discharge planning yang dilakukan oleh case management Tidak
mendapatkan hasil yang signifikan setelah satu tahun perlakuan dengan
hazard interval 1.01, 95% dan confidence interval 0.72-1.41. Hal ini bisa
disebakan karena pada penelitian pasien tidak hanya mengalami
gangguan kardivaskular akan tetapi juga mengalami Diabetes Melitus hal
ini juga disebabkan karena pada kelompok intervensi dilakukan
bersamaan dengan foloow up, sehingga berpengaruh terhadap hasil
D.
PEMBAHASAN
Empat jurnal dilakukan review sudah berdasarkan kriteria inklusi dan
kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Pada jurnal yang dilakukan dengan
metoda kualitatif yang sudah di lakukan appraisal dengan menggunakan CASP
tools mempunyai nilai baik yaitu diatas 80% begitu juga untuk jurnal dengan
RCT. Hal ini menunjukan bahwa jurnal tersebut layak untuk diaplikasikan
dalam ruang lingkup keperawatan khususnya baik dari untuk keperawatan
klinik ataupun dari managemen keperawatan.
Metoda RCT yang dilakukan tidak dilakukan blinding pada jurnal 3 (tiga)
dan single blind pada jurnal (4) sehingga munculnya bias pada hasil penelitian
lebih tinggi pada metoda RCT ini (Munsri: 2013). Seharusnya peneliti
menggunkan double bahkan triple blind pada penelitian sehingga bias dalam
penelitian dapat diminimalisir.
78
Dalam jurnal 1 (satu) tidak mencantumkan adanya etical clearance dalam
penelitian ….. dalam jurnal kualitatif juga tidak dijelaskan dimana jurnal ini
lebih tepat diaplikasikan.
Dari hasil penelitian diatas telah dijelaskan beberapa factor yang dapat
mempengaruhi kualitas discharge planning dan juga telah diketahui factor yang
paling dominan mempengaruhi kualitas discharge planning yaitu discharge
planning yang dilakukan sejak awal pasien masuk, ada perawat case
managemen yang akan memberikan discharge planning serta adanya
dokumentasi yang jelas. Hal ini menunjukan bahwa discharge planning
terprogram/terstruktur mempunyai efek yang signifikan terhadap kualitas
discharge planning yang akan ddiberikan kepada pasien. Sedangkan discharge
planning yang berkualitas akan meningkatkan kemandirian pasien. Akan tetapi
hal ini belum kita jumpai dirumah sakit.
Dokumentasi discharge planning yang diberikan dirumah sakit hanya
berupa resume pasien pulang yang isinya hanya berupa obat-obatan, jadwal
control tanpa ada penjelasan dari perawat terkait dengan kondisi psien saat ini
dan bagaimana managemen perawatan setelah pasien pulang dari rumah sakit.
Sehingga hal ini perlu di tindak lanjuti teruma oleh bidang keperawatan yaitu
untuk mengyusun protap/SOP (standar Opersional Prosedur) yang jelas sesuai
dengan hasil penelitian disertai tools discharge planning yang mengindikasikan
kulaitas dari discharge planning pada suatu rumah sakit.
E.
PENUTUP
Dalam jurnal dibahas bahwa tingkat kemandirian pasien melakukan
perawatan pacsa hospitalisasi mengidentifikasi kualitas dari discharge planning
yang diberikan oleh perawat. Dari hasil review yang menunjukan bahwa
discharge planning secara terprogram mempunyai dampak yang positif dan
dipelayan belum optimal dilakukan maka fenomena ini bisa dijadikan sebagai
bahan untuk researcher untuk melakukan penelitan lebih lanjut kenapa
79
discharge planning ini belum optimal dilakukan apakah karen factor
managemen dalam arti pendokumentasian (SOP dan atau belum adanya tools
discharge planning) yang sesuai dengan kondisi rumah sakit dan geografi
Indonesia tau mungkin disebabkan karena sunber daya manusia (SDM).
80
DAFTAR PUSTAKA
Uke Panila (2014) Fk.iu.ac.id/ konsep discharge planning/di akses tanggal 10 November
2014.
Jane Graham, Robbyn Galakher and Janine Bothe. (2013). Nurse Discharge Planning and
Risk assessment: Behaviour, understanding and barrier. Journal Of Clinical
Nursing ed: 22. Blackwell Publishing.
Mary T Fox, et all. (2013). Effectiveness of early discharge planning in acutely ill
or injured hospitalized older adults:a systematic review and metaanalysis. BMC Geriatric
Petsunee Thungjaroenkul.(2007). The Impact of Nurse Staffing on Hospital Costs
and Patient Length of Stay:A Systematic Review. CNE vo:25
Palle Larsen. (2013) Stimulation To Self-Care In Patients With Heart Failure: A
Quasi-Eksperiment Study. Nursing Education and Practice Vol:4
Emely J Cherlin. (2012) Features Of Higt Quality Discharge Planning for
Patients Following Acute Miocard Infraction. J Gen Intern Med
S Ryan Greysen. (2011). Learning By Doing-Resident Perspektif On Defeloping
Competency in Hight Quality Discharge. J Gen Intern Med
81
ANALISIS PERAN FORUM KESEHATAN DESA DALAM
PELAKSANAAN DESA SIAGA AKTIF DI KABUPATEN
WONOSOBO TAHUN 2014
MUHAMMAD SAHLI
Abstrak
Pengembangan desa siaga sudah dimulai sejak tahun 2006, tetapi sampai tahun
2010 tercatat hanya 56,1% yang menjadi desa siaga. Perkembangan desa siaga aktif
di Kabupaten Wonosobo dalam 3 (tiga) tahun terakhir mengalami fluktuasi. Fluktuasi
ini disebabkan oleh peran FKD di Kabupaten Wonosobo belum optimal.Tujuan
penelitian ini untuk menganalisis peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif di
Kabupaten Wonosobo.
Jenis penelitian adalah kualitatif. Informan utama 2 orang ketua FKD dan 2
orang kepala desa. Informan triangulasi sebanyak 7 orang yang terdiri dari 2 orang
bidan desa, 2 orang ketua posyandu, 2 orang pemegang program promkes puskemas,
1 orang kasie pemberdayaan UKBM & pembiayaan kesehatan Dinas Kesehatan. Data
dianalisis dengan analisis isi.
Hasil penelitian menunjukan beberapa peran yang belum dilakukan oleh FKD
dengan desa siaga pratama meliputi upaya penanggulangan faktor resiko masalah
kesehatan, penemuan masalah kesehatan di UKBM, penyiapan dana untuk upaya
pencegahan dan penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan. Peran FKD pada
strata pratama yang sudah dilakukan meliputi deteksi dini, melaporkan, koordinasi
masalah kesehatan. Pada strata mandiri sudah melakukan semua peran FKD.
Disarankan untuk melakukan koordinasi dengan pembina desa siaga aktif tingkat
kecamatan untuk mengadakan rapat koordinasi minimal 3 bulan sekali dengan
anggaran dari BOK. Selain itu juga mengadakan penyegaran materi desa siaga aktif
kepada unsur FKD setiap tahun. .
Kata kunci: Desa Siaga , Pelaksanaan, Forum Kesehatan Desa
Kepustakaan: 25, 1995 - 2014
82
ABSTRACT
Village allertness program development began in 2006,but until 2010 there were
only 56.1% being village allertness program.The development of village allertness
program in Wonosobo Regency in the last three years has fluctuated.These
fluctuations are due to the role of Village Health Forum in Wonosobo regency is not
maximized. The purpose of this study was to analyze the role of Village Health Forum
in the implementation of village allertness program in Wonosobo Regency.
Type of research is qualitative. Key informants consisted of two Village Health
Forum chairman and two headmen. Informant triangulation seven people consisting
of two midwives, two heads of Integrated Service Post, the two men that hold health
promotion programs community health centers, one section head of self-sufficient
empowerment Public Health Efforts and health financing Health Department. Data
were analyzed using content analysis.
The results showed some roles that have not beendoneby theVillage Health
Forum with the first village allertness program include reduction of risk factors of
health problems, health problems discoveries in Public Health Efforts community
initiative, preparation of funding for prevention and control of risk factors of health
problems. Role of Village Health Forum at the first strata that have been made
include early detection reporting, coordination of health problems.In independent
strata all roles Village Health Forum have already been done.
Advised to coordinate with the village allertness program guidance for district
level coordination meetings held at least once every three months with a budget of
Health Operational Assistance. It also held are fresher materials to elements of the
village allertness program to Health Forum village severy year.
Keywords: Village Allertness Program, Implementation, Village Health Forum
Literature: 25, 1995 - 2014
83
Pendahuluan
Pengembangan Desa Siaga telah dimulai sejak tahun 2006. Sampai dengan saat
ini, tercatat sudah 42.295 Desa dan Kelurahan Siaga Aktif (56,1%) dari 75.410 Desa
dan Kelurahan yang ada di Indonesia. Namun demikian, banyak di antaranya yang
belum berhasil menciptakan Desa Siaga dan Kelurahan Siaga Aktif. Padahal Desa
dan Kelurahan Siaga Aktif merupakan salah satu indikator dalam Standar Pelayanan
Minimal.1
Peran FKD/FKK, yaitu: 1) deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan,2)
melaporkan adanya masalah kesehatan, 3) upaya penanggulangan faktor resiko, 4)
penyiapan dana untuk upaya pencegahan
dan
penanggulangan, 5) penemuan
masalah kesehatan di UKBM ( Posyandu, UKS, Poskestren, PKD dll), 6) koordinasi
penanganan masalah kesehatan di desa.1, 2
Studi pendahuluan pada peran FKD/FKK yang dilakukan melalui wawancara
pada tanggal 13 – 20 Maret 2014 di 10 (sepuluh) FKD/FKK di dapatkan; 7 Kepala
Desa/Kelurahan tidak tahu program FKD, 6 FKD belum melakukan deteksi dini
faktor resiko masalah kesehatan . 5 FKD belum melaporkan adanya masalah
kesehatan. 7 FKD belum melakukan upaya penanggulangan faktor resiko . 8 FKD
belum melakukan penyiapan dana untuk upaya pencegahan dan penanggulangan. 8
FKD belum melakukan penemuan masalah kesehatan di UKBM serta 8 FKD belum
melakukan koordinasi penanganan masalah kesehatan di desa.
Dengan belum optimalnya peran FKD/FKK seperti digambarkan diatas dan
melihat besarnya manfaat Desa/Kelurahan Siaga Aktif bagi masyarakat, khususnya
bagi perkembangan Desa/Kelurahan Siaga Aktif dan pentingnya peran FKD/FKK
dalam pelaksanaan Desa/Kelurahan Siaga Aktif akan sangat mempengaruhi kegiatan
Desa/Kelurahan Siaga Aktif yang dilaksanakan setiap bulanya.
Berdasarkan fenomena dan fakta-fakta tersebut diatas menjadi landasan peneliti
dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang
bagaimana peran FKD/FKK di Kabupaten Wonosobo tahun 2014.
84
Metode Penelitian
Jenis
penelitian
yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan
menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui peran Forum
Kesehatan Desa dalam Pelaksanaan Desa Siaga Aktif di Kabupaten Wonosobo 2014. 4
Informan utama adalah 2 (dua) orang ketua FKD/FKK dan 2 (dua) orang
Kepala Desa/Kelurahan. Informan triangulasi adalah 2 (dua) orang bidan desa, 2
(dua) ketua Posyandu, 2 (dua) orang pemegang program promkes puskesmas, yaitu
Puskesmas Wonosobo I dan Kepala Puskesmas Kaliwiro serta Kasie Pengembangan
UKBM & Pembiayaan Kesehatan.
Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data primer melalui wawancara
mendalam dan data skunder melalui telaah dokumen. Setelah pengumpulan data
selesai di laksanakan maka data diolah menggunakan analisis isi (content analysis),
yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. 5
Hasil
Observasi Komponen Desa Siaga Aktif
Observasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui secara langsung
pelaksanaan desa siaga aktif, data yang diperoleh dapat melengkapi dan
mendukung hasil wawancara mendalam yang dilakukan pada informan utama
dan informan triangulasi berkaitan dengan peran forum kesehatan desa dalam
pelaksanaan desa siaga aktif.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Tabel 1: Hasil Observasi Komponen Desa Siaga Aktif
Pratama
Komponen
Ada
Tidak
SK FKD
V
Struktur Organisasi
V
Uraian Tugas
V
Rencana Kegiatan
V
SMD
V
MMD
V
Rapat koordinasi
2 kali/tahun
Pembiayaan Kesehatan
V
Surveilens
V
Mandiri
Ada
Tidak
V
V
V
V
V
V
4 kali/tahun
V
V
85
10
11
Hasil
Gotong Royong
PKD
V
V
V
V
observasi yang dilakukan pada 2 (dua) desa siaga aktif. Keduanya
memiliki SK FKD, struktur organisasi, dan uraian tugas. Rencana kegiatan, SMD,
dan MMD tidak ada di desa siaga aktif dengan strata pratama, sedangkan pada strata
mandiri ada uraian tugas, SMD dan MMD. Rapat koordinasi dilakukan setahun 2
(dua) pada strata pratama sedang pada strata mandiri rapat rutin setiap bulan. Pada
desa siaga aktif dengan strata pratama pembiayaan kesehatan kurang koordinasi
dengan bidan maupun kepala desa. Sedangkan pada desa siaga aktif dengan strata
mandiri, pembiayaan kesehatan sudah terkoordinasi dengan kepala desa dan bidan.
Keduanya mengadakan gotong royong dan memiliki PKD .
SK FKD, Struktur organisasi dan Uraian tugas
Kedua
desa siaga sudah memiliki SK FKD, struktur organisasi dan
uraian tugas. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 1.
Kotak 1
“Cara menerbitkan, kumpulan dengan Masyarakat,tokoh agama, BPD, LPMD, kita bentuk forum
kesehatan desa, sudah di SK kan”(UKD2)
“Kita kan kerja sama dengan BPD. Kita kerja sama dengan perangkat untuk mengawasinya,,,”(UKD1)
Rencana kegiatan, SMD dan MMD
Pada desa siaga aktif dengan strata pratama tidak memilki rencana
kegiatan, SMD dan MMD. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 2.
Kotak 2
“Belum jalan, belum pernah ada pertemuan, baru sekali thok pas sosialisasi tahun 2013 dari
puskesmas. Desa diminta untuk SMD dan MMD. Dilatih dari puskesmas dengan cara role play.
Sekarang nda jalan, seharusnya dioprak-oprak lagi biar jalan”(TBD1)
Pada desa siaga aktif dengan strata mandiri sudah memiliki rencana
kegiatan, melaksanakan SMD dan MMD. Pernyataan tersebut dapat dilihat
pada kotak 3.
Kotak 3
“Kalau rencana sudah, sampai masuk ke RPJMDes, untuk ambulance di masukan, supaya rujukan ibu
melahirkan lebih cepat, realisasi ambulance tahun 2015,,,”(UKD2)
86
Rapat Koordinasi
Rapat koordinasi sudah dilakukan dari strata pratama 3 (tiga) bulan sekali
ditingkat kecamatan sedangkan strata mandiri melakukan rapat koordinasi tiap 3
(tiga ) bulan ditingkat desa. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 4.
Kotak 4
“Ada pertemuan rutin 3 bulan sekali, kita manfaatkan untuk membahas di pertemuan itu sendiri, ada
sharing”(UKD2)
“Biasanya kita ada rapat koordinasi lintas sektoral 3 bulan sekali. Disitu siapa saja boleh melakukan
usulan tidak harus desa siaga”(TP1)
Upaya Pembiayaan
Upaya pembiayaan pada desa siaga dengan strata pratama sudah ada, namun
tidak semua anggota FKD mengetahui bahwa dana itu termasuk kategori pembiayaan
kesehatan. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 5.
Kotak 5
“Saya kan memegang zakat mal kalo ada orang sakit yang kurang biaya saya bantu dari zakat
mal”(UFKD1)
“,,,belum ada, paling untuk PMT itu saja minim, dana sehat sekarang tidak ada”(TBD1)
“dana sehat sekarang tidak ada”(TBD1)
Pada strata mandiri sudah ada pembiayaan kesehatan yang diambil dari iuran
jimpitan sebesar Rp. 500/bulan digunakan untuk biaya pengobatan di PKD, jumlah
kunjungan ke PKD tidak dibatasi, biaya ditanggung dari iuran jimpitan. Bila ada
pembiayaan kesehatan diluar PKD, masyarakat mengadakan iuran yang sifatnya
insidentil. Pernyataan tersebut daapat dilihat pada kotak 6.
Kotak 6
“,,,bagi masyarakat yang tidak mampu kita sediakan dana sosial, dari masyarakat iuran RP.500,perbulan untuk pengobatan di PKD”(UKD2)
“Iuran lain, selain yang Rp.500,- kalau ada kegiatan tidak terencana”(UKD2)
Bentuk pembiayaan kesehatan yang dapat dikembangkan dimasayarakat,
yaitu a) tabulin, 2) arisan jamban, 3) dana psyandu untuk PMT, 4) jimpitan melalui
RT/RW, dawis, PKK, 5) dana pengembangan lingkungan sebagai kompensasi
industri/dunia usaha.2
87
Surveilens
Surveilen pada kedua desa siaga aktif baik pratama maupun mandiri sudah
dilakukan pada faktor lingkungan maupun perilaku. Pernyataan tersebut dapat dilihat
pada kotak 7.
Kotak 7
“Yang jelas anjuran kepala desa untuk masalah kesehatan rumah sehat, jamban, selokan di setiap
pertemuan untuk disosialisasikan suruh disalurkan satu titik untuk mencegah nyamuk”(UFKD2)
“Sudah, seperti jentik nyamuk, yang melakukan anggota-anggota pamong bersama-sama. Kalau
sampah juga sudah”(TKP1)
Gotong royong
Gotong
royong sudah dilakukan oleh kedua desa siaga aktif dengan cara
kegiatan rabu bersih, jum’at bersih, donor darah. Pernyataan tersebut dapat lihat pada
kotak 8.
KOTAK 8
“,,,jum’at bersih, jimpitan beras, donor darah”(UFKD2)
“kegiatan disini, tiap 3 bulan ada donor darah,,,”(UKD2)
“Kalau ada jentiknya dikasih tau sama orangnya yang punya bak, suruh menguras”(TKP1)
Poliklinik Kesehatan Desa (PKD)
Kedua desa siaga aktif sudah ada tempat layanan kesehatan dasar berupa
PKD. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 9.
Kotak 9
“PKD dan perlengakapanya sudah ada,,,”(UKD1)
“Sediakan lahan, kedepan ada kekurangan dapur, bila tahun 2015 aturan terwujud kita alokasi
kan ke perluasan PKD”(UKD2)
Deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan
Peran FKD dalam deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan, 2 (dua)
informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah
melaksanakan deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan dengan cara penyuluhan,
kerja bhakti, pemeriksaan jentik nyamuk, pengelolaan sampah. Pernyataan tersebut
dapat dilihat pada kotak 14.
Kotak 14
“,,,Kita kan juga ada jumat bersih, dari sini kita bisa mendeteksi”(UFKD2)
“Sudah, seperti jentik nyamuk, yang melakukan anggota-anggota pamong bersama-sama. Kalau
sampah juga sudah” (TKP1)
“Mengenai balita gizi buruk dan DBD, yang lain tidak ada. Kalau ada kasus DBD kita ke desa untuk
menyelidiki, lalu kita cari jentik diwilayah itu itu kalo ada laporan dari dinas”(TP1)
88
Melaporkan adanya masalah kesehatan
Peran FKD dalam melaporkan adanya masalah kesehatan kedua informan
utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah
melaporkan bila ada masalah kesehatan dengan cara melapor kebidan atau ke kepala
desa secara lisan. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 15.
Kotak 15
“Kalo tertulis belum, kalo lisan saya ke pak kepala desa, kalo kebidan canggung karena bidan desanya
kurang feer” (UFKD1)
“Kalo melaporkan sih iya kadang melaporkan contohnya penyakit cacar disekolahan”(TBD1)
“Kader langsung ke saya atau ke puskesmas, PKD yang pertama bila saya tidak bisa saya rujuk ke
Puskesmas”(TBD2)
Upaya menanggulangi faktor resiko masalah kesehatan
Peran FKD dalam upaya menanggulangi faktor resiko masalah kesehatan,
informan utama (ketua FKD dengan strata pratama)
belum melakukan upaya
penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan, namun yang melakukan langsung
bidanya sendiri. Pernyataan bidan didukung oleh pernyataan ketua posyandu yang
mengatakan kalau ada jentik pada bak mandi, dikasih tahu pada orangnya, suruh
menguras. Pernyataan tersebut dapat dilihat dalam kotak 16.
Kotak 16
“,,,kelingkungan belum”(UFKD1)
“Langsung bidanya, yang ini turun ke desa”(TBD1)
Pada informan utama (ketua FKD dengan strata pratama) sudah melakukan
upaya menanggulangi faktor resiko masalah kesehatan, yaitu dengan cara
pembuangan air limbah dari rumah warga dibuat satu titik yang akan dibuang ke
sungai. Pernyataan tersebut dapat dilihat dalam kotak 17.
Kotak 17.
“Saluran pembuangan limbah akan dibuat satu titik yang mengalir ke sungai supaya tidak
menggenang di lingkungan”(UFKD2)
“Iya, kalau penyakit apa, kita melakukan kebersihan”(TKP2)
89
Upaya penyiapan dana
Peran
FKD
dalam
upaya
penyiapan
dana
untuk
pencegahan
dan
penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan, kedua informan utama (ketua FKD
dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah melakukan upaya penyiapan
dana untuk pencegahan dan penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan dengan
cara mengambil dari zakat mal, alokasi ADD, iuran jimpitan Rp. 500,-, iuran swadaya
yang sifatnya insidentil. Pernyataan tersebut bisa dilihat dalam kotak 18.
Kotak 18.
“Disini tidak ada dana khusus, kalau ada yang sakit tidak mampu kita bantu dengan dana dari zakat
mall”(UFKD1)
“Dari ADD karena terbatas akan bertahap”(UFKD2)
“Biasanya mengadakan swadaya masyarakat, atau iuran lagi selain yang wajib Rp. 500,- perbulan.
Rencana pembuatan bak sampah dari anggaran desa tahun depan”(TKP2)
Upaya menemukan masalah kesehatan di UKBM
Peran FKD dalam upaya menemukan masalah kesehatan di UKBM, informan
utama (ketua FKD dengan strata pratama) mengatakan belum melakukan upaya
menemukan masalah kesehatan di UKBM, karena pemahaman yang belum ada
tentang peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif, namun pernyataan informan
utama (Ketua FKD dengan strata pratama) tidak didukung oleh informan triangulasi
(ketua posyandu, bidan desa maupun pemegang program promkes) yang mengatakan
sudah melakukan penemuan masalah kesehatan di UKBM dengan cara penimbangan
dan pengukuran tinggi badan di posyandu. Pernyataan tersebut bisa dilihat dalam
kotak 19.
Kotak 19
“Belum kita lakukan”(UFKD1)
“Kan ada penimbangan, ngukur tinggi badan. Kalo grafiknya nda naik kita catat”(TKP1)
“Kader biasanya melakukan saat kegiatan posyandu”(TP1)
Pada informan utama (ketua FKD dengan strata mandiri) mengatakan sudah
melakukan penemuan masalah kesehatan di UKBM dan didukung oleh pernyataan
informan triangulasi ( ketua posyandu, bidan desa, pemegang program puskesmas),
dengan cara melakukan posyandu. Pernyataan ini dapat dilihat pada kotak 20.
Kotak 20
“Mengetahui di posyandu misal ada balita gizi buruk atau berat badan di bawah garis merah”(TKP2)
“Saat ini masalah kesehatan, semua dukuh punya kader. Dari UKS bila ada masalah bisa ke
PKD”(TBD2)
90
Koordinasi penanganan masalah kesehatan
Peran FKD dalam koordinasi penanganan masalah kesehatan di desa, kedua
informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah
melakukan koordinasi penanganan masalah kesehatan dengan bidan, kepala desa,
maupun di tingkat kecamatan. Pernyataan ini dapat di lihat dikotak 21.
Kotak 21
“Yaitu tadi dengan kepala desa, kalo dibale desa dengan perangkat”(UFKD1)
“Ada pertemuan rutin 3 bulan sekali, kita manfaatkan untuk membahas di pertemuan itu sendiri, ada
sharing”(UKD2)
Faktor yang Mempengaruhi Peran FKD
Menurut informan utama (ketua FKD dengan strata pratama) mengatakan
faktor yang mempengaruhi peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif adalah
sumber daya manusianya. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 22.
Kotak 22
“Karena termasuk SDM, kalo diberi saran, kalo yang mampu dan pintar tidak perlu saran. Yang
kurang mampu tidak mau di beri saran”(UFKD1)
Pada informan utama (ketua FKD) lainya mengatakan tidak ada faktor yang
mempengaruhi peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif. Pernyataan tersebut
dapat dilihat pada kotak 28.
Kotak 28
“Tidak ada”(UFKD2)
Manfaat kegiatan yang dilakukan
Manfaat yang didapatkan anggota FKD dalam menjalankan peran dalam
pelaksanaan desa siaga aktif, kedua informan utama (ketua FKD) mengatakan ada
manfaatnya yaitu tahu lebih awal permasalahan kesehatan yang ada didesanya dan
bisa belajar. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 23.
Kotak 23
“Kita lebih dulu tahu masalah-masalah yang ada didesa”(UFKD1)
“Yang jelas kita bisa belajar, tahu kondisi di desa”(UFKD2)
91
Adanya kesempatan
Kesempatan menjadi anggota FKD kedua informan utama (ketua FKD dengan
strata pratama dan mandiri) mengatakan bahwa dalam pemilihan bukan karena
mendaftar atau mengajukan diri tapi karena diajak ditunjuk oleh masyarakat.
Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 24.
Kotak 24
“Saya diangkat karena pilihan, saya ditunjuk dengan tulisan, saya usul tetapi mereka meminta saya
untuk menjadi ketua”(UFKD1)
“Kalo dipertemuan saya sering brangkat, karena ketua lama mengundurkan diri, saya dipilih untuk jadi
ketua FKD”(UFKD2)
Ketrampilan yang di miliki
Ketrampilan yang dimiliki menurut informan utama (ketua FKD dengan strata
pratama dan mandiri) akan mempengaruhi peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga.
Ketrampilan yang perlu dimiliki bisa berupa pengetahuan tentang penyakit, dan cara
penyuluhan, punya rasa kebersihan. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 25.
Kotak 25
“,,,Kalo sering diundang kumpulan, ketrampilan bisa berupa penyuluhan,,,”(UFKD1)
“Dibidang kesehatan harus punya seperti apa penyakit, , aktif dalam kegiatan, punya rasa
kebersihan”(UFKD2)
Rasa memiliki
Kedua informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri)
mengatakan ada rasa memiliki terhadap desa siaga aktif, yaitu ada rasa ingin
mengembangkan, membesarkan karena itu berguna. Pernyataan tersebut dapat lihat
padaa kotak 26.
Kotak 26
“Bagus, ingin membesarkan, ingin mengembangkan contoh ingin membeli ambulance desa”(UFKD2)
Ketokohan dalam masyarakat
Kedua informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri)
mengatakan faktor ketokohan anggota FKD mempengaruhi peran dalam pelaksanaan
92
desa siaga aktif. Seperti
bila berbicara akan didengar, dan bisa memotivasi.
Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kotak 27.
Kotak 27
“Jelas, ya misal kalau kalo orang yang ngomong bukan tokoh jelas tidak pengaruh, tapi kalo tokoh ya
diperhatikan”(UFKD1)
“Tokoh agama, pengaruhnya memotivasi, mendukung FKD dibidang sosial, diharapkan semua
masyarakat memiliki”(UFKD2)
Pembahasan
SK FKD, Struktur organisasi dan Uraian tugas
Kedua desa siaga sudah memiliki SK FKD, struktur organisasi dan uraian
tugas. Keberadaan forum ini dibuktikan dengan adanya surat keputusan (SK) kepala
desa/lurah yang dilengkapi struktur organisasi dan uraian tugas masing-masing
anggota.2
Rencana kegiatan, SMD dan MMD
Pada desa siaga aktif dengan strata pratama tidak memilki rencana kegiatan,
SMD dan MMD. Pada desa siaga aktif dengan strata mandiri sudah memiliki rencana
kegiatan, melaksanakan SMD dan MMD.
SMD dilaksanakan dalam rangka identifikasi masalah kesehatan maupun
potensi yang ada diwilayah desa tersebut. Hasil SMD meliputi masalah kesehatan,
faktor resiko masalah kesehatan dan potensi yang ada di wilayahnya. SMD
dilaksanakan minimal setahun sekali.2
MMD merupakan tindak lanjut kegiatan SMD yang dilaksanakan dengan tujuan
menentukan prioritas masalah, pemecahan masalah dan kesepakatan tindak lanjut
dengan memanfaatkan potensi yang ada. Hasil MMD dirumuskan dalam rencana
kerja. MMD dilaksanakan minimal setahun sekali.2
Rapat Koordinasi
Rapat koordinasi sudah dilakukan dari strata pratama 3 (tiga) bulan sekali
ditingkat kecamatan sedangkan strata mandiri melakukan rapat koordinasi tiap 3
93
(tiga ) bulan ditingkat desa. Rapat pengurus FKD diperlukan dalam rangka koordinasi
pelaksanaan kegiatan. Rapat ini seharusnya dilakukan secara rutin terjadual. Namun
juga bisa dilaksanakan apabila diperlukan misalnya pada saat ada masalah bencana
atau kegawatan.2
Upaya Pembiayaan
Upaya pembiayaan pada desa siaga dengan strata pratama sudah ada, namun
tidak semua anggota FKD mengetahui bahwa dana itu termasuk kategori pembiayaan
kesehatan. Pada strata mandiri sudah ada pembiayaan kesehatan yang diambil dari
iuran jimpitan sebesar Rp. 500/bulan digunakan untuk biaya pengobatan di PKD,
jumlah kunjungan ke PKD tidak dibatasi, biaya ditanggung dari iuran jimpitan. Bila
ada pembiayaan kesehatan diluar PKD, masyarakat mengadakan iuran yang sifatnya
insidentil.
Pembiayaan kesehatan dalam desa siaga aktif selain dengan mengembangkan
dana swadaya masyarakat juga diharapkan adanya dukungan pendanaan secara resmi
atau tetap yang dianggarkan oleh pemerintah desa melalui ADD/APBDes atau
anggaran desa yang ditentukan dalam musrenbagdes. Dukungan pendanaan melalui
anggaran desa ini merupakan bentuk komitmen dari pemerintah desa terhadap
pengembangan desa siaga aktif sehingga dana ini akan dijamin keberlanjutanya. 2
Bentuk pembiayaan kesehatan yang dapat dikembangkan dimasayarakat, yaitu
a) tabulin, 2) arisan jamban, 3) dana psyandu untuk PMT, 4) jimpitan melalui
RT/RW, dawis, PKK, 5) dana pengembangan lingkungan sebagai kompensasi
industri/dunia usaha.2
Surveilens
Surveilen pada kedua desa siaga aktif baik pratama maupun mandiri sudah
dilakukan pada faktor lingkungan maupun perilaku. Tujuan pengamatan dan
pemantauan oleh masyarakat agar tercipta sistem kewaspadaan dan kesiapsiagaan
dini masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya penyakit dan masalah kesehatan,
94
bencana, kegawatdaruratan kesehatan yang akan mengancam dan merugikan
masyarakat sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan. 2
Gotong royong
Gotong
royong sudah dilakukan oleh kedua desa siaga aktif dengan cara
kegiatan rabu bersih, jum’at bersih, donor darah. Bentuk kegiatan gotong royong
masyarakat di desa siaga aktif antara lain, 1) jum’at bersih, PSN, gerakan 3M, 2)
Ambulance desa, 3) donor darah, 4) pemanfaatan masyarakat pada sarana kesehatan
yang ada.2
Poliklinik Kesehatan Desa (PKD)
Kedua desa siaga aktif sudah ada tempat layanan kesehatan dasar berupa PKD.
PKD merupakan suatu upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk
dari, leh dan untuk masyarakat setempat atas dasar musyawarah desa yang didukung
oleh tenaga profesional kesehatan untuk melakukan upaya kesehatan promotif,
preventif, dan kuratif sesuai dengan kewenanganya dibawah pembinaan teknis
puskesmas.2
Deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan
Peran FKD dalam deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan, 2 (dua)
informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah
melaksanakan deteksi dini faktor resiko masalah kesehatan dengan cara penyuluhan,
kerja bhakti, pemeriksaan jentik nyamuk, pengelolaan sampah.
Melaporkan adanya masalah kesehatan
Peran FKD dalam melaporkan adanya masalah kesehatan kedua informan
utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah
melaporkan bila ada masalah kesehatan dengan cara melapor kebidan atau ke kepala
desa secara lisan.
Upaya menanggulangi faktor resiko masalah kesehatan
Peran FKD dalam upaya menanggulangi faktor resiko masalah kesehatan,
informan utama (ketua FKD dengan strata pratama)
belum melakukan upaya
penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan, namun yang melakukan langsung
95
bidanya sendiri. Pernyataan bidan didukung oleh pernyataan ketua posyandu yang
mengatakan kalau ada jentik pada bak mandi, dikasih tahu pada orangnya, suruh
menguras. Pada informan utama (ketua FKD dengan strata pratama)
sudah
melakukan upaya menanggulangi faktor resiko masalah kesehatan, yaitu dengan cara
pembuangan air limbah dari rumah warga dibuat satu titik yang akan dibuang ke
sungai.
Ketua FKD dengan strata pratama belum memahami peran apa yang seharusnya
dilakukan sehingga apa yang dilakukan oleh kader (ketua posyandu) ketua FKD tidak
mengetahui. FKD/FKK beranggotakan berbagai unsur dimasyarakat, meliputi: 1)
kepala desa dan perangkatnya, 2) Badan Permusyawaratan Desa, 3) TP PKK, 4)
lembaga sosial, 5) tokoh agama, tokoh masyarakat, kader, 6) perwakilan kelompok. 2
Upaya yang dilakukan dengan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam
bidang kesehatan, dengan cara meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan
masyarakat sehingga masyarakat dapat berkontribusi dalam meningkatkan derajat
kesehatan.6
Upaya penyiapan dana
Peran
FKD
dalam
upaya
penyiapan
dana
untuk
pencegahan
dan
penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan, kedua informan utama (ketua FKD
dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah melakukan upaya penyiapan
dana untuk pencegahan dan penanggulangan faktor resiko masalah kesehatan dengan
cara mengambil dari zakat mal, alokasi ADD, iuran jimpitan Rp. 500,-, iuran swadaya
yang sifatnya insidentil.
Upaya menemukan masalah kesehatan di UKBM
Peran FKD dalam upaya menemukan masalah kesehatan di UKBM, informan
utama (ketua FKD dengan strata pratama) mengatakan belum melakukan upaya
menemukan masalah kesehatan di UKBM, karena pemahaman yang belum ada
tentang peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif, namun pernyataan informan
utama (Ketua FKD dengan strata pratama) tidak didukung oleh informan triangulasi
(ketua posyandu, bidan desa maupun pemegang program promkes) yang mengatakan
96
sudah melakukan penemuan masalah kesehatan di UKBM dengan cara penimbangan
dan pengukuran tinggi badan di posyandu. Pada informan utama (ketua FKD dengan
strata mandiri) mengatakan sudah melakukan penemuan masalah kesehatan di
UKBM dan didukung oleh pernyataan informan triangulasi ( ketua posyandu, bidan
desa, pemegang program puskesmas), dengan cara melakukan posyandu.
Koordinasi penanganan masalah kesehatan
Peran FKD dalam koordinasi penanganan masalah kesehatan di desa, kedua
informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri) mengatakan sudah
melakukan koordinasi penanganan masalah kesehatan dengan bidan, kepala desa,
maupun di tingkat kecamatan.
Faktor yang Mempengaruhi Peran FKD
Menurut informan utama (ketua FKD dengan strata pratama) mengatakan
faktor yang mempengaruhi peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif adalah
sumber daya manusianya. Pada informan utama (ketua FKD) lainya mengatakan
tidak ada faktor yang mempengaruhi peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga aktif.
Manfaat kegiatan yang dilakukan
Manfaat yang didapatkan anggota FKD dalam menjalankan peran dalam
pelaksanaan desa siaga aktif, kedua informan utama (ketua FKD) mengatakan ada
manfaatnya yaitu tahu lebih awal permasalahan kesehatan yang ada didesanya dan
bisa belajar. Jika kegiatan yang di lakukan memberi manfaat yang nyata bagi
masyarakat maka kesediaan masyarakat untuk berperan serta menjadi besar. 7
Adanya kesempatan
Kesempatan menjadi anggota FKD kedua informan utama (ketua FKD dengan
strata pratama dan mandiri) mengatakan bahwa dalam pemilihan bukan karena
mendaftar atau mengajukan diri tapi karena diajak ditunjuk oleh masyarakat.
Kesediaan juga berpengaruh oleh adanya kesempatan atau ajakan untuk berperan
97
serta dan masyarakat melihat memang ada hal-hal yang berguna dalam kegiatan yang
akan datang.7
Ketrampilan yang di miliki
Ketrampilan yang dimiliki menurut informan utama (ketua FKD dengan strata
pratama dan mandiri) akan mempengaruhi peran FKD dalam pelaksanaan desa siaga.
Ketrampilan yang perlu dimiliki bisa berupa pengetahuan tentang penyakit, dan cara
penyuluhan, punya rasa kebersihan. Contoh kegiatan pemberdayaan masyarakat
diantaranya segala bentuk komunikasi, informasi dan edukasi. Jika kegiatakan yang
dilakukan membutuhkan ketrampilan tertentu dan orang yang mempunyai
ketrampilan sesuai dengan ketrampilan tersebut, maka orang tertarik untuk berperan
serta.7
Rasa memiliki
Kedua informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri)
mengatakan ada rasa memiliki terhadap desa siaga aktif, yaitu ada rasa ingin
mengembangkan, membesarkan karena itu berguna. Rasa memiliki sesuatu akan
tumbuh jika sejak awal kegiatan masyarakat sudah diikutsertakan, jika rasa memiliki
ini bisa tumbuhkan dengan baik, maka peran serta akan dapat dilestarikan. 7
Ketokohan dalam masyarakat
kedua informan utama (ketua FKD dengan strata pratama dan mandiri)
mengatakan faktor ketokohan anggota FKD mempengaruhi peran dalam pelaksanaan
desa siaga aktif. Seperti bila berbicara akan didengar, dan bisa memotivasi. Jika
dalam kegiatan yang di selenggarakan masyarakat melihat ada tokoh-tokoh
masyarakat atau pemimpin kader yang disegani ikut serta, maka mereka akan tertarik
pula berperan serta.7
Simpulan
Pemahaman ketua KD tentang peran dan koordinasi dalam tingkat desa, akan
menentukan keaktifan desa siaga
98
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Kesehatan
RI.
Pedoman
Umum
Pengembangan
Desa
dan
Kelurahan Siaga Aktif. Jakarta. 2010.
Dinas
Kesehatan
Jawa
Tengah.
Pedoman
Penentuan
Strata
Desa/Kelurahan Siaga Aktif Provinsi Jawa Tengah. Semarang. 2011.
Dinas Kesehatan Wonosobo. Draf Rencana Strategis Dinas Kesehatan Wonosobo
Tahun 2010 - 2015. Wonosobo. 2010.
Bungin, Burhan (Ed). Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke-8. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta. 2011.
Anselm, Strauss & Juliet,
C. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, Cetakan ke-3.
Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta. 2009
Dinas Kesehatan Jawa Tengah. Standarisasi Proses Pemberdayaan Masyarakat
Provinsi Jawa Tengah. Semarang 2011
Fallen, R & Budi Dwi K,R. Catatan Kuliah Keperawatan Komunitas. Nuha
Medika. Yogyakarta. 2010.
Download