BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Keuangan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Manajemen Keuangan
Manajemen
keuangan
memainkan
peranan
penting
dalam
perkembangan sebuah perusahaan. Dalam penerapannya, manajemen keuangan
tidak dapat berdiri sendiri. Manajemen keuangan selalu berkaitan erat dengan
berbagai disiplin ilmu yang lain seperti akuntansi, ilmu ekonomi mikro dan
makro, manajemen pemasaran, manajemen produksi, metode kuantitatif dan
manajemen sumber daya manusia.
2.1.1
Pengertian Manajemen Keuangan
Keuangan memiliki ruang lingkup yang luas dan dinamis.
Keuangan dapat berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan manusia dan
organisasi. Untuk dapat memperoleh laba dalam melakukan suatu usaha
diperlukan keuangan yang optimal untuk dapat berjalan dengan baik sehingga
untuk dapat mengoptimalkan keuangan perusahaan maka diperlukan manajemen
yang baik. Oleh karena itu, keuangan mempunyai hubungan yang erat terhadap
ilmu manajerial.
Seiring dengan perkembangannya, manajemen keuangan tidak hanya
mencatat, membuat laporan, mengendalikan posisi kas, membayar tagihan-tagihan
dan mencari dana. Akan tetapi, manajemen keuangan juga mengatur
penginvestasian dana, mengatur kombinasi dana yang optimal, serta mengatur
pendistribusian keuangan (pembagian deviden).
Menurut Gitman (2012:4) adalah :
"Management finance is concerned with the duties of the financial
manager in the business firm."
Menurut Sutrisno (2009:2) menerangkan bahwa :
“Manajemen keuangan adalah semua aktifitas perusahaan yang
berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan
biaya murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana
tersebut secara efisien”.
Sedangkan dalam bukunya, Darsono (2006:1) menerangkan bahwa :
“Manajemen keuangan adalah aktifitas pemilik dan manajemen
perusahaan untuk memperoleh sumber modal yang semurah-murahnya dan
menggunakan seefektif, seefisien, dan seproduktif mungkin untuk
memperoleh laba”.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai pengertian
manajemen keuangan yaitu segala aktifitas pengelolaan secara optimal dana-dana
yang akan digunakan untuk membiayai usaha seefektif dan sefisien mungkin yang
dilakukan perusahaan.
2.1.2
Fungsi Manajemen Keuangan
Selain itu dijelaskan pula Sutrisno (2009:5) fungsi manajemen
keuangan terdiri dari tiga keputusan utama yang harus dilakukan oleh suatu
perusahaan yaitu :
Keputusan Investasi
Keputusan investasi adalah bagaimana manajer keuangan harus
mengalokasikan dana ke dalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat
mendatangkan keuntungan dimasa depan. Investasi akan mengandung
banyak resiko dan ketidakpastian. Resiko dan hasil yang diharapkan dari
investasi itu akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan, kebijakan,
maupun nilai perusahaan.
Keputusan Pendanaan
Keputusan pendanaan adalah keputusan manajemen keuangan
dalam melakukan pertimbangan dan analisis perpaduan antara sumbersumber dana yang paling ekonomis bagi perusahaan untuk mendanai
kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan operasional perusahaannya.
Keputusan pendanaan akan tercermin dalam sisa pasiva perusahaan,
dengan melihat pinjaman jangka pendek dan jangka panjang, sedangkan
perbandingannya disebut dengan struktur modal. Dalam keputusan
pendanaan baik struktur modal maupun struktur finansial.
Keputusan Dividen
Dividen bagian dari keuntungan suatu perusahaan yang di
bayarkan kepada pemegang saham. Keputusan dividen adalah keputusan
manajemen keuangan dalam menentukan besarnya proporsi yang akan di
simpan perusahaan sebagai laba ditahan untuk diinvestasikan dalam
rangka meningkatkan pertumbuhan perusahaan.
2.1.3
Tujuan Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan yang efisien membutuhkan tujuan dan
sasaran yang digunakan sebagai standar dalam memberikan penilaian tingkat
efisien untuk menentukan keputusan keuangan. Untuk dapat mengambil
keputusan-keputusan keuangan yang benar, manajer keuangan perlu menentukan
tujuan yang harus dicapai. Keputusan yang benar adalah keputusan yang akan
membantu mencapai tujuan tersebut. Secara normatif, tujuan keputusan keuangan
adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan karena dapat meningkatkan
kemakmuran para pemilik perusahaan (pemegang saham).
Menurut Husnan (2004:6), tujuan manajemen keuangan adalah :
“Untuk dapat mengambil keputusan-keputusan keuangan yang
benar, manajer keuangan perlu menentukan tujuan yang harus dicapai.”
Menurut Sutrisno (2003:5), tujuan manajemen keuangan adalah :
“Meningkatkan kemakmuran para pemegang saham atau pemilik.
Kemakmuran para pemegang saham diperlihatkan dalam wujud semakin
tingginya harga saham, yang merupakan pencerminan dari keputusankeputusan investasi, pendanaan, dan kebijakan dividen. Maka tujuan dari
manajemen keuangan adalah bagaimana perusahaan mengelola baik itu
mendapatkan dana maupun mengalokasikan dana guna mencapai nilai
perusahaan yaitu kemakmuran para pemegang saham.”
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan manajemen keuangan adalah
bagaimana
perusahaan
merencanakan,
memperoleh,
mengelola
dan
mengalokasikan dana guna memaksimalkan nilai perusahaan yang harus dicapai
sekaligus memberikan kemakmuran para pemegang saham.
2.2
Pasar Modal
2.2.1
Pengertian Pasar Modal
Pasar
modal
hakikatnya
merupakan
suatu
kegiatan
yang
mempertemukan penjual dan pembeli dana. Dana yang diperjualbelikan tersebut
digunakan
untuk
jangka
waktu
yang
lama
dalam
tujuan
menunjang
pengembangan usaha organisasi atau perusahaan. Kegiatan jual beli dana tersebut
dilakukan dalam suatu lembaga resmi yang disebut bursa efek.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1995
tentang pasar modal pasal 1 ayat 1 mendefinisikan pasar modal adalah sebagai
berikut :
“Pasar modal adalah kegiatan bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan
efek, perusahaan publik yang berkaitan
dengan efek yang diterbitkan serta lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan efek.”
Menurut Gitman (2003:25) mengemukakan pengertian pasar modal
sebagai berikut :
“Pasar modal adalah sebuah pasar yang mana para penyedia dana
dan pihak yang membutuhkan pendanaan jangka panjang memungkinkan
untuk melakukan suatu transaksi.”
Selanjutnya menurut Sundjaja dan Barlian (2003:424) mendefinisikan
pasar modal dalam dua arti sebagai berikut :
Pengertian pasar modal dalam arti yang sempit :
“Pasar modal merupakan kegiatan yang mempertemukan penjual
dan pembeli dalam jangka waktu yang panjang.”
Pengertian pasar modal dalam arti yang luas :
“pasar
modal
adalah
keseluruhan
sistem
keuangan
yang
terorganisasi termasuk bank-bank komersil dan semua perantara dibidang
keuangan serta surat-surat berharga jangka panjang dan pendek”.
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pasar
modal adalah suatu tempat yang mempertemukan penjual dan pembeli didalam
kegiatan jual beli dalam melakukan transaksi kegiatan jual beli dana dan pihak
pihak yang membutuhkan pendanaan jangka panjang.
2.2.2
Jenis-Jenis Pasar Modal
Penjualan saham (termasuk jenis sekuritas lain) kepada masyarakat
dapat dilakukan dengan beberapa cara. Umumnya penjualan dilakukan sesuai
dengan
jenis
ataupun
bentuk
pasar
modal
dimana
sekuritas
tersebut
diperjualbelikan. Jenis-jenis pasar modal menurut Sunariyah (2006:13) ada
beberapa macam yaitu:
1. Pasar Perdana (Primary Market), yaitu pasar modal yang menjual pertama
saham sekuritas lainnya sebelum sekuritas tersebut dicatatkan di bursa
ekek. Harga pasar di pasar ini ditentukan oleh peminjam emisi dan
perusahaan yang go public.
2. Pasar Sekunder (Secondary market), yaitu pasar modal dalam bentuk bursa
efek yang memperjualbelikan saham dan sekuritas pada umumnya setelah
penjualan di primary market. Harga pasar di pasar ini ditentukan oleh
permintaan dan penawaran yang dipengaruhi faktor emiten.
3. Pasar ketiga (third Market), yaitu pasar modal tempat saham dan sekuritas
lain diperdagangkan diluar bursa efek.
4. Pasar keempat (Fourth Market), yaitu pasar perdagangan saham antar
pemegang saham tanpa melalui pialang atau perantara dagang efek.
2.2.3
Faktor-faktor Pasar Modal
Pasar modal sebagai tempat bertemunya penjual (emiten) dan
pembeli (investor) tentu memiliki faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pasar modal seperti yang dikemukakan
Husnan (2001:6), sebagai berikut :
Supply Sekuritas
Berarti banyak perusahaan yang akan menerbitkan sekuritas. Hal
ini bukan hanya berarti bahwa banyak perusahaan yang bersedia
menerbitkan sekuritas, tetapi juga berarti bahwa rencana penggunaan dana
yang
diperoleh
dari
penerbitan
sekuritas
tersebut
memang
menguntungkan.
Demand akan Sekuritas
Berarti tersedia jumlah dana yang memadai untuk membeli
sekuritas-sekuritas yang ditawarkan ini berarti harus terdapat sejumlah
pihak yang mempunyai dana dalam jumlah yang cukup besar untuk
membeli sekuritas-sekuritas yang ditawarkan.
Kondisi Politik dan Ekonomi
Kondisi ekonomi politik dan ekonomi yang stabil dan dinamis
merupakan syarat perkembangan dunia bisnis. Perkembangan bisnis akan
menyebabkan permintaan akan dana (baik dana jangka panjang maupun
dana jangka panjang) meningkat. Peningkatan permintaan ini yang
akhirnya akan mendorong berkembangnya pasar modal.
Masalah Hukum dan Peraturan
Masalah kepastian hokum dan peraturan sering merupakan masalah
yang menjadi penghambat di Negara-negara yang sedang berkembang.
Dalam bidang apapun nampaknya terjadi gejala ketertinggalan hokum dan
peraturan dari perkembangan ekonomi. Peraturan yang melindungi para
pemodal dari kecurangan (abuse) pihak emiten perlu ditegakkan.
Peran Lembaga-Lembaga Pendukung Pasar Modal
Lembaga pendukung pasar modal, seperti Badan Pengawas Pasar
Modal (stock Exchange Commision) yang memberikan ijin (dengan
memeriksa perusahaan) bagi calon emiten, bursa efek, para pialang, dan
bias bekerja secara professional untuk mendukung beroperasinya pasar
modal.
2.2.4
Instrumen Pasar Modal
Instrumen pasar modal pada prinsipnya adalah semua surat-surat
berharga (efek) yang umum diperjualbelikan melalui pasar modal. Instrumen
pasar modal merupakan suatu bukti kepemilikan modal dari lembaga yang
mengeluarkannya, yang dapat diperjualbelikan. Pemegang instrumen pasar modal
mengharapkan memperoleh keuntungan dengan menahan instrument tersebut.
Pengertian efek menurut Undang-undang Pasar Modal RI no. 8 Tahun
1995 butir 5 tentang Pasar Modal adalah sebagai berikut :
“Efek adalah surat pengakuan utang, surat berharga komersil,
saham, obligasi, sekuritas kredit, tanda bukti hutang, setiap rights, waran,
opsi, atau setiap turunan (derivative) dari efek atau setiap instrument yang
ditetapkan sebagai efek”.
Sedangkan menurut Sutrisno (2003 : 352) instrument yang sering
diperjualbelikan di pasar modal Indonesia yaitu :
Saham
Merupakan surat bukti kepemilikan perusahaan atau penyertaan
pada perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). di pasar modal
Indonesia transaksi saham sangat dominan dibandingkan obligasi. Saham
ini dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu saham preferen (preferred
stock) dan saham biasa (common stock).
Obligasi
Obligasi
merupakan
surat
hutang
yang
dikeluarkan
oleh
perusahaan dengan nilai nominal tertentu yang akin dibayarkan saat jatuh
tempo dan memberikan bunga tertentu.
Obligasi yang bias diterbitkan oleh perusahaan swasta, Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), maupun BUMD. Obligasi tersebut
mempunyai nilai nominal tertentu, dan nilai nominal ini biasanya tidak
sama demean harga jualnya, hal ini disebabkan karena tingkat diskonto
yang diberikan lebih besar dibandingkan demean suku bunga obligasi. Ada
beberapa jenis obligasi menurut Sutrisno (2003:373) yang bisa
ditawarkan pleh perusahaan, antara lain :
Obligasi Bunga Tetap (Fixed Rate Bond)
Merupakan obligasi yang memberikan bunga secara tetap sampai
masa jatuh temponya. Obligasi ini paling banyak diterbitkan di pasar
modal, dan biasanya bunga atau sering disebut sebagai coupon dibayarkan
setiap 6 bulan sekali. Kupon bunga ini biasanya disertakan bersamaan
dengan sertifikat obligasinya.
Obligasi Bunga Mengambang (Floating Rate Bond)
Obligasi jenis ini memberikan bunga yang besar berfluktuasi
sensual demean suku bunga pasar. Bila suku bunga pasar turun, maka
bunga obligasi juga turun. Dan sebaliknya bila suku bunga pasar naik,
maka bunga obligasi juga naik.
Obligasi Tanpa Bunga
Adalah obligasi yang tidak pernah memberikan bunga kepada
pemegangnya, sehingga keuntungan yang diperoleh oleh pemegang
obligasi adalah diskonto yang diberikan.
Obligasi Tanpa Jatuh Tempo (Perpetual Bond)
Merupakan obligasi yang tidak menetapkan jatuh temponya,
sehingga jatuh tempo tergantung pada penerbitnya, bila penerbitnya
menginginkan untuk melunasi, penerbit akan mengumumkan kepada
pemegangnya, etapi bunga akin terus dibayarkan oleh penerbitnya sebelum
ditarik kembali oleh penerbitnya.
Obligasi Konversi (Convertible Bond)
Yaitu obligasi yang disertai demean hak untuk dikonversi demean
saham yang dikeluarkan untuk menarik investor agar mau membeli
obligasinya. Keuntungan diperoleh adalah bila harga saham perusahaan
meningkat pada saat jatuh tempo obligasi.
Dengan demikian pasar modal Indonesia adalah tempat jual beli
dana dalam berbagai bentuk kepemilikan yang dapat dipilih oleh investor dalam
alternatif investasi terhadap suatu perusahaan.
2.3
Laporan Keuangan
2.3.1
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam
suatu perusahaan, karena adanya laporan keuangan dapat menunjukkan seberapa
sehat perusahaan serta mengetahui besarnya laba/rugi perusahaan serta informasi
penting lainnya. Menurut Sutrisno (2009:9) menyatakan bahwa :
“Laporan keuangan itu disusun untuk menyediakan informasi
keuangan suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
(manajemen, pemilik, kreditor, investor, pemerintah dan pihak-pihak
lainnya).”
Pengertian laporan keuangan menurut Munawir (2002:5) :
“Dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk
suatu perusahaan. Kedua daftar tersebut adalah daftar neraca atau daftar
posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba. Pada waktu
akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk
menambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tidak
dibagikan (laba ditahan).”
Sedangkan menurut Harahap (2005:107) adalah sebagai berikut :
“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil
usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.”
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan
merupakan laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang di dalamnya terdapat
posisi keuangan perusahaan sebagai suatu alat informasi dan hasil akhir dari
aktifitas suatu perusahaan yang dibuat oleh manajemen pada saat tertentu atau
jangka waktu tertentu.
2.3.2
Jenis-Jenis Laporan Keuangan
Setiap pemakai mempunyai kebutuhan yang berbeda terhadap informasi
keuangan. Berdasarkan kebutuhan tersebut, pemakai akan mencari informasi
mana yang paling dibutuhkan untuk dianalisis lebih lanjut, sehingga laporan
keuangan perlu diklasifikasikan dalam berbagai jenis laporan keuangan.
Jenis-jenis laporan keuangan menurut Sundjadja dan Barlian (2003:78)
sebagai berikut :
1. Laporan Laba-Rugi (Income statement)
Laporan laba rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama satu periode
tertentu biasanya meliputi periode satu tahun. Dimana tertulis secara lengkap
semua pendapatan dan beban yang harus dibayar. Laporan laba rugi menurut
Horne & Wachowicz (2005:153) adalah sebagai berikut :
“laporan rugi laba adalah ringkasan dari pendapatan dan biaya
perusahaan selama periode tertentu diakhiri dengan laba bersih atau rugi
bersih untuk periode tersebut.”
Dapat disimpulkan bahwa laporan laba rugi menggambarkan jumlah
pendapatan, biaya, dan laba atau rugi perusahaan pada suatu periode tertentu.
2. Neraca (Balance Sheet)
Neraca mencerminkan nilai aktiva, hutang dan modal sendiri pada suatu saat
tertentu untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan.
Menurut Horne & Wachowicz (2005:193) sebagai berikut :
“Neraca adalah ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu
yang menunjukkan total aktiva sama dengan total kewajiban ditambah ekuitas
pemilik.”
Dapat disimpulkan bahwa neraca merupakan laporan pada saat tertentu
mengenai sumber daya perusahaan (aktiva), hutang-hutang, dan ekuitas pemilik.
3. Laporan Laba Ditahan (Statement of Retained Earning)
Laporan laba ditahan merupkan daftar kumulatif laba yang berasal dari
tahun ke tahun yang lalu dan tahun berjalan yang tidak dibagikan sebagai dividen.
Dalam daftar tersebut dicantumkan pendapatan yang diperoleh pada tahun
tertentu, dividen kas yang dibagikan dengan perubahan saldo laba yang ditahan
pada awal dan akhir tahun tersebut.
4. Laporan Aliran Kas
Laporan aliran kas meringkas aliran kas masuk dan keluar perusahaan
untuk jangka waktu tertentu Mamduh (2004:33). Laporan kas diperlukan karena
dalam beberapa situasi, laporan laba rugi tidak cukup akurat menggambarkan
kondisi keuangan perusahaan, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang
memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih
perusahaan, struktur keuangan, dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah
serta waktu arus kas dalam rangka perubahan keadaan dan peluang.
2.3.3
Fungsi dan Tujuan Laporan Keuangan
Hasil akhir dari suatu proses pencatatan keuangan diantaranya
adalah laporan keuangan. Laporan keuangan dapat mencerminkan prestasi dari
manajemen perusahaan pada periode tertentu. Dalam laporan keuangan terdapat
informasi-informasi keuangan yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan.
Menurut IAI (2004:4), tujuan laporan keuangan ada tiga yaitu :
1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja,
serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat
bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin
dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena
secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kebijakan
dimasa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi no
keuangan.
3. Laporan keuangan menunjukkan apa yang telah dilaksanakan
manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas
sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Manfaat laporan keuangan itu sendiri terletak pada interprestasi masingmasing pemakainya. Pemakainya dalam konteks ini adalah pihak-pihak yang
berkepentingan. Secara luar manfaat laporan keuangan adalah memberikan
informasi mengenai tingkat kesehatan keuangan perusahaan yang mengeluarkan
laporan keuangan, dari hasil analisis tersebut diketahui potensi-potensi dan
kelemaha-kelemahan yang dimiliki perusahaan sehingga pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan dapat mempergunakannya sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Sedangkan penggunaan laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi
seperti berikut :
1. Pengguna eksternal yang terdiri dari :
-Kreditur dan investor
-Pemerintah (eksekutif dan legislatif), Ditjen Pajak, Instansi pemerintah
terkait lainnya.
-Masyarakat umum, serikat pekerjaan, pelanggan,
2. Pengguna internal yang terdiri dari :
-Manajemen perusahaan
-Karyawan perusahaan
2.4
Investasi
2.4.1
Pengertian Investasi
Investasi merupakan suatu kegiatan penanaman modal untuk suatu
atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan
harapan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Beberapa pakar
mengemukakan pendapatnya tentang investasi.
Menurut Tandelilin (2010:3) :
“Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya
lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah
keuntungan di masa yang akan datang.”
Menurut Sunariyah (2006:4) :
“Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva
yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan
mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang”.
Sedangkan menurut Gitman dan Joehnk (2005:3) investasi
didefinisikan “investasi merupakan wadah dimana dana dapat ditempatkan
dengan harapan bahwa itu akan menghasilkan pendapatan yang positif
dan/atau memelihara atau meningkatkan nilainya.”
Dari
berbagai
pengertian
tentang
investasi
diatas,
dapat
disimpulkan bahwa investasi sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang
dilakukan pada saat ini, dimana dana dapat ditempatkan dengan harapan bahwa
itu akan menghasilkan pendapatan yang positif dan/atau memelihara atau
meningkatkan nilainya.
2.4.2
Jenis-Jenis Investasi
Investasi ke dalam aktiva keuangan dapat berupa investasi
langsung dan investasi tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan
membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara
atau dengan cara yang lain. Sebaliknya investasi tidak langsung dilakukan dengan
membeli saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aktivaaktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain.
Menurut Sunariyah (2006:4), investasi dalam arti luas terdiri dari dua
bagian utama, yaitu :
1. Investasi dalam bentuk aktiva riil (real assets)
Aktiva riil adalah aktiva terwujud seperti emas, perak, intan, barangbarang seni dan real estate.
2. Investasi dalam bentuk surat-surat berharga atau sekuritas (marketable
securities atau financial assets).
Aktiva financial adalah surat-surat berharga yang pada dasarnya
merupakan klaim atas aktiva riil yang dikuasai oleh suatu entitas.
Investasi keuangan berhubungan dengan masalah pengalokasian dana yang
akan dilaksanakan oleh perusahaan di dalam pembelian surat-surat berharga.
Menurut Sunariyah (2006:4) pemilikan aktiva financial dalam rangka investasi
pada sebuah entitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
Investasi Langsung (direct Investment)
Investasi langsung adalah pembelian langsung aktiva keuangan
suatu perusahaan. Investasi langsung dapat dilakukan dengan membeli
aktiva keuangan suatu perusahaan. Investasi langsung dapat dilakukan
dengan membeli aktiva keuangan yang dapat diperjual-belikan di pasar
uang (money market), pasar modal (capital market), atau pasat turunan
(derivative market). Investasi langsung juga dapat dilakukan dengan
membeli aktiva keuangan yang tidak dapat diperjual-belikan. Aktiva
keuangan yang tidak dapat diperjual-belikan biasanya diperoleh melalui
bank komersial yang berupa tabungan di bank atau sertifikat deposito.
Investasi Tidak Langsung (Indirect Investment)
Investasi tidak langsung adalah pembelian saham dari perusahaan
investasi yang mempunyai portofolio aktiva-aktiva keuangan dari
perusahaan-perusahaan lain. Investasi tidak langsung dilakukan dengan
membeli surat-surat berharga dari perusahaan investasi. Perusahaan
investasi adalah perusahaan yang menyediakan jasa keuangan dengan cara
menjual sahamnya ke publik dan menggunakan dana yang di peroleh
untuk diinvestasikan ke dalam portofolionya. Ini berarti bahwa perusahaan
investasi membentuk portofolio (diharapkan portofolionya optimal) dan
menjualnya eceran kepada publik daalam bentuk saham-sahamnya.
2.4.3
Pentingnya Keputusan Investasi
Keputusan investasi sendiri tercermin dari pertumbuhan Total
Asset perusahaan yang bersangkutan dari tahun ke tahun. Implementasi
leputusan investasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dana dalam
perusahaan yang berasal dari sumber pendanaan internal (internal
financing) dan sumber pendanaan eksternal (ekstenal financing). Dengan
memperhatikan
sumber-sumber
pembiayaan.
Perusahaan
memiliki
beberapa alternative pembiayaan untuk menentukan struktur modal yang
tepat bagi perusahaan. Jadi, inti dari fungsi pendanaan ini adalah
bagaimana perusahaan menentukan sumber dana yang optimal untuk
mendanai berbagai alternative investasi, sehingga dapat memaksimalkan
nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya.
Menurut Ahmad (2004:118) perencanaan terhadap keputusan
investasi ini sangat penting karena beberapa hal sebagai berikut :
Dana yang dikeluarkan untuk investasi sangat besar, dan jumlah
dana yang besar tersebut tidak bias diperoleh kembali dalam jangka
pendek atau diperoleh sekaligus.
Dana yang dikeluarkan akan terikat dalam jangka panjang,
sehingga perusahaan harus menunggu selama jangka waktu cukup lama
untuk bias memperoleh kembali dana tersebut.
Keputusan
investasi
menyangkut
harapan
terhadap
hasil
keuntungan di masa yang akan datang. Kesalahan dalam mengadakan
peramalan akan dapat mengakibatkan terjadinya over atau under
investment, yang akhirnya akan merugikan perusahaan.
Masih menurut Ahmad (2004:118), proses dalam melakukan
keputusan investasi dapat diperinci kedalam tahap sebagai berikut :
-
Perencanaan
-
Analisis proyek
-
Pemilihan proyek
-
Pelaksanaan proyek
-
Pengawasan proyek
Jika proyek investasi sudah tersedia atau dapat diperoleh, maka
perusahaan perlu melakukan analisis awal. Dalam analisis awal perusahaan harus
mengumpulkan informasi yang lebih akurat tentang proyek-proyek yang tersedia.
Informasi tentang proyek-proyek yang akan diambil umumnyanya meliputi :
-
Jenis atau macam produk
-
Lama berdirinya proyek
-
Pola produksi atau output selama masa proyek
-
Total produksi dan saat mulai beproduksi
-
Teknologi yang akan digunakan
-
Jumlah dan pola penerimaan dan pengeluaran cash flow
-
Informasi lain yang sangat bervariasi antara satu proyek dengan proyek
lain
Jadi, inti dari fungsi investasi ini adalah bagaimana perusahaan
menentukan sumber dana yang optimal untuk mendanai berbagai alternatif
investasi, sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada
harga sahamnya.
Tujuan Investasi
Pada
dasarnya
orang
melakukan
investasi
adalah
untuk
menghasilkan sejumlah uang. Secara lebih khusus menurut Tandelilin
(2010:8) ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi
antara lain :
Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa depan.
Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf
hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana
mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak
berkurang di masa yang akan datang.
Dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau
obyek lain, maka seseorang dapat menghindarkan diri dari resiko
penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh
inflasi.
Dorongan menghemat pajak. Beberapa Negara di dunia banyak
melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi di
masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat
yang melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.
2.5
Return On Investment (ROI)
Analisis ROI dalam analisi keuangan merupakan arti yang sangat
luas karena merupakan salah satu teknik yang bersifat menyeluruh
(comprehensive). Analisis ROI merupakan analisis teknik yang lazim
digunakan untuk mengukur tingkat efektifitas dari keseluruhan operasi
perusahaan. ROI merupakan salah satu rasio Profitabilitas yang mengukur
kemampuan perusahaan dengan keseluruhan investasi yang ditanamkan
dalam total asset yang digunakan untuk mengasilkan keuntungan.
Menurut Munawir (2002:91) terdapat kegunaan dan kelemahan dalam
analisa ROI.
Kegunaan dari analisa ROI adalah sebagai berikut :
Rasio ROI bersifat menyeluruh artinya apabila perusahaan telah
menjalankan praktek akuntansi yang baik maka manajemen dapat
menggunakan teknik analisis ROI untuk mengukur efisiensi penggunaan
operating asset.
Apabila data industri yang sejenis tersedia maka perusahaan dapat
mengadakan perbandingan tingkat ROI dengan perusahaan-perusahaan
lain yang sejenis.
Analisis ROI dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
aktivitas perusahaan dalam mengalokasikan biaya dan modalnya.
Kelemahan ROI :
ROI tidak dapat digunakan sebagai dasar perbandingan antar
perusahaan bila terdapat perbedaan-perbedaan dalam penerapan kebijakan
yang dilaksanakan oleh perusahaan walaupun perusahaan itu sejenis.
Adanya fluktuasi nilai uang akan mempengaruhi nilai operating
assets dan profit margin.
Munawir (2002:89) menyatakan bahwa ROI adalah salah satu
bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam
aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan. Dengan demikian rasio ini menghubungkan keuntungan yang
diperoleh dari operasi perusahaan (net profit income) dengan jumlah
investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan
operasi tersebut (net operating assets).
ROI mengukur produktivitas dari dana yang di investasikan dalam
perusahaan dan berguna untuk mendeteksi kesalahan dalam penggunaan
modal. Sebagai salah satu ukuran keefektifan, semakin tinggi ROI maka
semakin efektif perusahaan tersebut. ROI merupakan rasio yang
membandingkan income setelah pajak dengan assets yang di investasikan.
Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Kasmir (2011:202) :
“Return On Investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan
hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI
juga merupakan suatu ukuran tentang efektifitas manajemen dalam
mengelola investasinya.”
menurut Husnan (2004:74) :
“menyatakan bahwa ROI menunjukkan seberapa banyak laba
bersih yang dapat diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki.”
Sedangkan menurut Fahmi (2011:137) menyatakan bahwa :
“ rasio ROI melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan
mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang
diharapkan.”
Berdasarkan pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
ROI adalah rasio yang menunjukkan hasil ats jumlah aktiva yang
digunakan dalam perusahaan yang dapat diperoleh dari seluruh kekayaan
yang dimiliki.
Maka dengan demikian Kasmir (2011:202) menyatakan Semakin
kecil (rendah) rasio ini, semakin kurang baik, demikian pula sebaliknya.
Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektifitas dari keseluruhan
operasi perusahaan.
Dimana :
Earning After Interest and Tax
= Laba sesudah bunga dan
pajak
Total Asset
= seluruh asset kekayaan yang dimiliki oleh
perusahaan
Berdasarkan keterangan di atas, ROI dapat digunakan untuk
melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Jika laba suatu
perusahaan meningkat, maka harga saham perusahaan tersebut juga akan
meningkat.
2.6
Earning Per Share (EPS)
Pada umumnya dalam menanamkan modalnya investor mengharapkan
manfaat yang akan dihasilkan dalam bentuk Earning Per Share (EPS) jumlah laba
bersih sering digunakan oleh para pemodal dan kreditur dalam mengevaluasi
profitabilitas perusahaan. Earning Per Share menggambarkan sejumlah rupiah
yang didapatkan dari setiap lembar saham yang beredar. Menurut Munawir
pendapatan per lembar saham biasanya merupakan indikator laba yang selalu
diperhatikan oleh para investor. . Adapun para ahli menjelaskan pengertian
Earning Per Share (EPS) sebagai berikut:
Menurut Mamduh dan Halim (2005:194), bahwa:
“Earning Per Share adalah rasio keuangan yang sering digunakan
oleh para investor perusahaan untuk menganalisis kemampuan perusahaan
dalam mencetak laba berdasarkan saham yang dimiliki”
Kemudian menurut Sutrisno (2009:222), bahwa:
“EPS merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan per lembar saham yang dimiliki oleh pemiliknya.”
Sedangkan menurut Gitman (2005:15), bahwa:
“Earning Per Share adalah rasio keuangan yang memperlihatkan jumlah
pendapatan atas saham biasa yang beredar, dengan membandingkan
pendapatan yang tersedia bagi para pemegang saham biasa dengan jumlah
saham yang beredar.”
Berdasarkan pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
EPS merupakan rasio profitabilitas sebagai informasi yang digunakan untuk
menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk tiap lembar
saham yang dimiliki sehingga informasi yang dibuat bagi para investor.
Dengan demikian menurut Arifin (2007:87), rasio ini dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
Earning Per Share (EPS) merupakan salah satu variabel keuangan yang
menggambarkan
kinerja
perusahaan.
Jika
variabel
keuntungan
tersebut
menunjukkan kinerja yang baik atas suatu perusahaan maka investor cenderung
tertarik untuk berinvestasi pada saham tersebut, kemudian akan berpengaruh
terhadap harga saham dan juga return saham. Jika permintaan lebih banyak
daripada jumlah saham yang ditawarkan, maka harga saham tersebut akan
semakin meningkat sehingga return saham tersebut yang dihasilkan akan semakin
meningkat pula. Sebaliknya jika perusahaan tidak stabil akan menunjukkan EPS
yang berfluktuasi.
Rasio ini juga mencerminkan pertumbuhan laba perusahaan.
Tingkat EPS yang tinggi menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan keuntungan dan memberikan pendapatan bagi pemegang saham
tertinggi. EPS dapat dipengaruhi oleh oleh dua penentu yang mempengaruhi
Earning Per Share yaitu pengembalian atas ekuitas pemegang saham dan nilai
buku per lembar saham. Semakin tinggi rasio nilai buku laba per lembar saham
semakin baik hasil yang diperoleh perusahaan.
2.7
Saham
2.7.1
Pengertian Saham
Saham secara sederhana dapat didefinisikan sebagai salah satu sumber
dana baru yang diperoleh perusahaan yang berasal dari pemilik modal dengan
konsekuensi perusahaan harus memberikan kontrak prestasi terhadap modal
tersebut dalam bentuk dividen dan apresiasi harga saham. Menurut Rusdin
(2008:68) saham adalah :
“Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan atas
suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki klaim atas penghasilan
dan aktiva perusahaan.”
Sedangkan menurut Mishkin and Easkins (2006:28) saham adalah
:
“a security that is claim on the earnings and assets of a
corporation.”
Jadi saham adalah surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal
yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas
(PT), wujud saham adalah selembar kertas dimana saham tersebut menyatakan
bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan yang
menerbitkan surat berharga. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar
penyertaan yang ditanamkan diperusahaan tersebut.
2.7.2 Jenis-Jenis Saham
Dalam transaksi perdagangan di bursa efek saham merupakan instrumen
yang dominan diperdagangkan yang dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Saham Biasa (Common Stock)
Merupakan
bukti
tanda
kepemilikan atas
suatu
perusahaan.
Keuntungannya berasal dari kenaikan harga saham dan pembayaran dividen
yang besar kecilnya tergantung pada keputusan RUPS.
2. Saham Preferen (Preferred Stock)
Saham ini mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham
biasa. Dibandingkan dengan saham biasa, saham preferen mempunyai
beberapa hak yaitu hak atas dividen tetap dan hak pembayaran tertentu
dahulu.
3. Saham Treasuri (Treasury Stock)
Saham treasuri merupakan saham perusahaan yang sudah pernah
dikeluarkan dan beredar (outstanding), kemudian dibeli kembali oleh
perusahaan untuk disimpan yang dapat dijual kembali.
2.7.3 Harga Saham
Dalam pasar modal yang efisien semua sekuritas diperjual belikan pada
harga pasar. Harga pasar saham adalah harga yang ditentukan investor melalui
pertemuan permintaan dan penawaran. Pertemuan ini dapat terjadi karena para
investor sepakat terhadap harga suatu saham. Karena saham-saham itu
diperdagangkan di pasar modal, maka dibutuhkan suatu sistem penilaian sebagai
tolak ukur baik buruknya saham tersebut dengan pasar saham.
Menurut Rusdin (2008:66), harga saham adalah :
“Harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung, jika bursa
sudah tutup maka harga pasar saham tersebut adalah harga penutupnya.”
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga saham mengalami
perubahan naik atau turun dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut tergantung
pada kekuatan permintaan dan penawaran. Jika penawaran akan saham tinggi,
maka harga saham tersebut akan naik dan jika penawaran saham rendah maka
harga saham akan turun.
2.7.4 Analisis Saham
Untuk menentukan nilai saham, pemodal harus melakukan analisis terlebih
dahulu terhadap saham-saham yang ada di pasar modal (bursa efek) guna
menentukan saham-saham atau melakukan portofolio yang dapat memberikan
return paling optimal. Tujuan analisis saham
adalah untuk menilai apakah
penetapan harga saham suatu perusahaan ditawar secara wajar atau tidak.
Terdapat dua tipe dasar analisis pasar untuk pedoman para pelaku dipasar modal.
Kedua tipe analisis tersebut adalah analisis fundamental dan analisis teknikal.
2.7.4.1 Analisis Fundamental
Analisis fundamental mengidentifikasi dan mengukur faktor-faktor yang
menentukan nilai intrinsik suatu finansial. Nilai intrisik inilah yang diestimasikan
oleh para pemodal atau analisis. Nilai intrisik merupakan suatu fungsi dari
variabel-variabel perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu
return yang diharapkan dan suatu resiko yang melekat pada saham tersebut. Hasil
estimasi nilai intrisik kemudian dibandingkan dengan harga pasar yang sekarang
(current market price). Harga pasar suatu saham merupakan refleksi dari rata-rata
nilai intrisiknya.
Definisi analisis fundamental menurut Husnan (2005:307) bahwa :
“Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham di
masa yang akan datang dengan (i) mengestimasi nilai faktor-faktor
fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang,
dan (ii) menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga
diperoleh taksiran harga saham.”
Berdasarkan
fundamental
penjelasan diatas
digunakan
untuk
dapat
mengevaluasi
disimpulkan
prospek
bahwa
masa
analisis
mendatang,
pertumbuhan dan profit perusahaan dalam kaitannya dengan perekonomian secara
makro ekonomi nasional, pertimbangan perusahaan dan kondisi perusahaan itu
sendiri. Analisis fundamental akan membandingkan nilai intrinsik suatu saham
dengan harga pasarnya guna menentukan apakah harga pasar saham sudah benarbenar mencerminkan nilai yang seharusnya.
2.7.4.2 Analisis Teknikal
Analisis teknikal merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data
atau catatan mengenai pasar itu sendiri untuk berusaha mengakses permintaan dan
penawaran suatu saham tertentu atau pasar secara keseluruhan. Pendekatan
analisis menggunakan data pasar yang dipublikasikan, seperti: harga saham,
volume perdagangan, indeks harga saham gabungan dan individu, serta faktorfaktor lain yang bersifat teknis. Sasaran yang ingin dicapai pada pendekatan ini
adalah ketepatan waktu dalam memprediksi pergerakan harga (price movement)
jangka pendek suatu saham maupun indikator pasar. Para analisis teknikal lebih
menekankan perhatian dan perubahan harga daripada tingkat harga. Oleh sebab itu
analisis ini lebih ditekankan untuk meramal trend perubahan harga.
Menurut Tjiptono dan Hendy (2011:202) analisis teknikal didefinisikan
sebagai berikut :
“Analisis teknikal merupakan salah satu metode yang digunakan
untuk menilai saham, di mana dengan metode ini para analisis melakukan
evaluasi saham berbasis pada data-data statistik yang dihasilkan dari
aktivitas perdagangan saham, seperti harga saham dan volume transaksi.”
Sedangkan menurut Husnan (2005:341) bahwa :
“Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga
saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham tersebut
(kondisi pasar) di waktu yang lalu.”
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa analisis
teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati
perubahan harga tersebut diwaktu yang lalu.
2.8
Pengaruh ROI (Return On Investment) dan EPS (Earning Per Share)
terhadap Harga Saham
2.8.1
Pengaruh ROI (Return On Investment) Terhadap Harga
Saham
Analisa terhadap harga saham yang dilakukan oleh investor
memerlukan informasi, salah satu informasi yang ada adalah laporan
keuangan dipublikasikan oleh perusahaan. Laporan keuangan yang
diperoleh investor baru akan berguna apabila telah dianalisa. Analisa
terhadap laporan keuangan memerlukan ukuran tertentu. Ukuran yang
umum digunakan adalah rasio keuangan, diantaranya yang digunakan
investor dalam menganalisa saham adalah Return On Investment (ROI)
sejalan dengan Modigliani & Miller (MM) dalam Njo Anastasis 2003 yang
menyatakan bahwa perubahan ROI akan berpengaruh terhadap harga
saham.
Harga saham dimasa yang akan datang diprediksi dengan
mengestiminasi nilai dari ROI yang berpengaruh terhadap harga saham
dan menerapkan hubungan ROI dengan harga saham, sehingga dapat
diperoleh taksiran harga saham yang disepakati. Bila ROI suatu
perusahaan menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya, maka
harga sahamnya juga akan menurun. Sebaliknya perusahaan yang
memiliki harga saham yang meningkat, maka harga sahamnya akan
meningkat.
Jika suatu perusahaan mempunyai masa depan yang baik dan dapat
memberikan keuntungan baik bagi investor maka transaksi saham
perusahaan mengalami kenaikan dan tingkat harga saham semakin
mengikuti laju perkembangan dan kondisi perusahaan tersebut. Menurut
Husnan (2001:317) :
“Kalau kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat,
harga
saham
akan
meningkat.
Dengan
kata
lain
profitabilitas
mempengaruhi harga saham.”
2.8.2
Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham
Earning Per Share (EPS) merupakan indikator yang paling umum
digunakan oleh investor, karena rasio ini mengungkap kemungkinan EPS yang
dapat diperoleh para pemegang saham. Menurut Sutrisno (2009:5) :
“ Harga saham mencerminkan nilai rill perusahaan. Harga saham sendiri
dipengaruhi oleh beberapa fakor yakni, (1) laba per lembar saham, (2)
tingkat harga bebas resiko, (3) tingkat ketidakpastian operasi perusahaan.”
Semakin tinggi EPS, menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan yang semakin tinggi juga.
2.9
Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Rosyid (2009) dalam jurnalnya
yang berjudul “Pengaruh Return On Investment (ROI) dan Earning Per
Share (EPS) terhadap Harga Saham pada PT. Astra Internasional, Tbk”
dari hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun nilai determinasi
hanya mencapai 16,1 % tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa ROI dan
EPS berpengaruh terhadap harga saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Priatinah dan Adhe Kusuma (2012)
dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Return On Investment (ROI),
Earning Per Share (EPS), dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga
Saham Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
(BEI)” menunjukkan bahwa (1) ROI secara parsial berpengaruh positif dan
signifikan terhadap harga saham hal ini dibuktikan oleh nilai koefisien
determinasi (r2) ROI sebesar 0,197 dan nilai signifikan t sebesar 0,012. (2)
Earning Per Share secara parsial berpengaruh positif dan signifikan
terhadap harga saham hal ini dibuktikan oleh nilai koefisien determinasi
(r2) EPS sebesar 0,463 dan nilai signifikan t sebesar 0,000. (3) Dividen Per
Share secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga
saham hal ini dibuktikan oleh nilai koefisien determinasi (r 2) DPS sebesar
0,787 dan nilai signifikan t sebesar 0,000. (4) ROI, EPS, DPS secara
simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, hal ini
dibuktikan demean nilai R2 sebesar 0,841 dan nilai signifikan F sebesar
0,000.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Rosalina, J. Kuleh, dan
Nadir (2013) dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Profitabilitas
Terhadap Harga Saham Pada Sektor Industri Barang Konsumsi Yang
Terdaftar Di BEI” menyatakan bahwa hasil pengujian secara simultan
dapat diketahui bahwa variable Net Profit Margin (NPM), Return On
Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS),
dan Deviden Per Share (DPS) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
harga saham dengan nilai Fhitung = 53,901 > Ftabel = 2,59. Pada pengujian
secara parsial diperoleh hasil bahwa variable Earning Per Share (EPS)
yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap harga saham dengan
nilai thitung = 6,704 > ttabel = 1,980.
Download