proposal penelitian

advertisement
III.
3.1.
KAJIAN TEORITIS INTEGRASI EKONOMI
Teori Integrasi Ekonomi
Integrasi dalam ilmu ekonomi pertama kali digunakan dalam konteks
organisasi dalam suatu industri sebagaimana dikemukakan oleh Machlup
(Jovanovic, 2006). Integrasi digunakan untuk menggambarkan kombinasi atau
penyatuan beberapa perusahaan dalam suatu industri, baik secara vertikal
maupun horizontal. Kemudian istilah integrasi ekonomi dalam konteks negara,
yang menggambarkan penyatuan beberapa negara dalam satu kesatuan, diawali
dengan munculnya teori Custom Union (CU) oleh Viner (1950). Tetapi definisi
yang baku tentang integrasi ekonomi di antara para ekonom belum juga
ditemukan hingga saat ini. Para ekonom mengembangkan berbagai definisi
mengenai integrasi ekonomi dari berbagai sudut pandang yang berbeda satu
sama lain.
Jovanovic (2006) dengan ringkas telah mendokumentasikan berbagai
definisi integrasi yang berkembang, antara lain definisi yang dikemukakan oleh
Tinbergen, Balassa, Holzman, Kahneert, serta Menis dan Sauvant. Tinbergen
(1962) membedakan definisi integrasi sebagai bentuk penghapusan diskriminasi
serta kebebasan bertransaksi (negative integration) dan sebagai bentuk
penyerahan kebijakan pada lembaga bersama (positive integration).
Balassa (1961) membedakan integrasi sebagai konsep dinamis melalui
penghapusan diskriminasi di antara negara yang berbeda, maupun dalam
konsep statis dengan melihat ada tidaknya perbedaan dalam diskriminasi.
Holzman menyatakan integrasi ekonomi sebagai situasi ketika dua kawasan
menjadi satu atau mempunyai satu pasar yang ditandai harga barang dan faktor
produksi yang sama di antara dua kawasan tersebut. Definisi tersebut
mengasumsikan bahwa tidak ada hambatan pergerakan barang, jasa dan faktor
produksi serta adanya lembaga yang memfasilitasi pergerakan tersebut.
Dari
beberapa
definisi
integrasi
tersebut,
Jovanovic
(2006)
menyimpulkan bahwa konsep integrasi ekonomi merupakan konsep yang cukup
kompleks dan harus didefinisikan secara hati-hati. Secara umum, integrasi
ekonomi dapat didefinisikan sebagai sebuah proses yang dilakukan oleh
sekelompok negara dalam rangka meningkatkan kemakmurannya. Dalam upaya
meningkatkan kemakmuran tersebut, integrasi merupakan pilihan kebijakan
yang lebih efisien dibanding apabila setiap negara melakukan upaya secara
unilateral.
Integrasi ekonomi juga mensyaratkan paling tidak adanya beberapa
pembagian tenaga kerja dan kebebasan mobilitas barang dan jasa dalam suatu
kelompok negara. Integrasi pada tingkatan yang lebih tinggi juga mensyaratkan
mobilitas yang bebas atas faktor produksi dalam intra-kawasan, termasuk
hambatan pergerakan faktor produksi antar area yang terintegrasi.
Definisi integrasi ekonomi yang ditandai oleh adanya mobilitas barang dan
jasa serta faktor produksi tersebut sesuai dengan definisi integrasi menurut United
Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) maupun Pelkman
(2001). UNCTAD (2006) mendefinisikan integrasi ekonomi sebagai kesepakatan
yang dilakukan untuk memfasilitasi perdagangan internasional dan pergerakan
faktor produksi lintas negara. Sementara Pelkman (2001) mendefinisikan integrasi
ekonomi sebagai integrasi yang ditandai oleh penghapusan hambatan-hambatan
ekonomi (economic frontier) antara dua atau lebih ekonomi atau negara.
Hambatan-hambatan ekonomi tersebut meliputi semua pembatasan yang
menyebabkan mobilitas barang, jasa, faktor produksi, dan juga aliran komunikasi,
secara aktual maupun potensial relatif rendah. Dalam definisi ini, pengertian
economic frontier berbeda dengan teritorial frontier.
Alasan integrasi ekonomi didasarkan pada teori perdagangan bebas tanpa
hambatan baik berupa tarif maupun non-tarif yang bertujuan untuk meningkatkan
volume perdagangan, peningkatan efisiensi produksi, peningkatan pertumbuhan
ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Integrasi ekonomi memiliki prinsip dan
mekanisme yang sama dengan perdagangan bebas, atas dasar suatu kesepakatan di
antara anggota yang melakukan perjanjian di antara negara-negara yang berada
dalam satu kawasan maupun atas kepentingan tertentu.
Integrasi ekonomi mengacu pada suatu kebijakan komersial atau kebijakan
perdagangan yang secara diskriminatif menurunkan atau menghapuskan hambatan
perdagangan hanya di antara negara anggota yang sepakat untuk membentuk
suatu integrasi ekonomi. Semua bentuk hambatan perdagangan baik tarif maupun
non-tarif sengaja diturunkan atau bahkan dihapuskan. Sedangkan negara yang
bukan anggota masih berhak untuk menerapkan kebijakan secara sendiri apakah
mereka menerapkan tarif dan non-tarif.
Dalam integrasi ekonomi terjadi perlakuan diskriminatif antara negara
anggota dengan negara di luar anggota integrasi ekonomi dalam melakukan
perdagangan dan investasi sehingga akan memberikan dampak kreasi dan dampak
diversi bagi negara anggota. Krugman (1991) memperkenalkan suatu pendekatan
bahwa secara alami blok perdagangan didasarkan pada pendekatan geografis yang
dapat memberikan efisiensi dan meningkatkan kesejahteraan bagi negara yang
berintegrasi.
Perkembangan terbaru tentang blok-blok perdagangan regional adalah
dengan banyaknya perjanjian kesepakatan baru yang ditandatangani mengenai
Preferential Trade Arragement (PTAs) sejak tahun 1990. PTAs adalah suatu
persetujuan antar dua negara atau lebih yang memberlakukan tarif yang lebih
rendah untuk produk yang diperdagangkan di antara mereka dibandingkan dengan
produk yang diperdagangkan dengan negara luar.3
Meskipun terjadi perdebatan secara substansial dalam jangka pendek
mengenai penyesuaian biaya dan pengurangan hambatan perdagangan, namun
secara umum lebih menyepakati bahwa peningkatan keterbukaan perdagangan
dalam jangka panjang memiliki dampak positif yang signifikan pada
pembangunan ekonomi. Dalam konteks ini kemajuan pada kesepakatan
perdagangan preferensial (PTAs) dan kesepakatan perdagangan multilateral akan
memberikan implikasi penting pada pertumbuhan ekonomi dan pengurangan
kemiskinan dalam pembangunan dunia di masa yang akan datang. 3
Secara teoritis Solvatore (1997) 4 menguraikan integrasi ekonomi yang
terdiri dari:
1. Pengaturan perdagangan preferensial (Preferential Trade Arragements)
dibentuk oleh negara-negara yang sepakat menurunkan hambatan-hambatan
perdagangan yang berlangsung di antara mereka dan membedakannya dengan
negara-negara yang bukan anggota.
3
4
Preferential trade agreements in Asia and the Oacific, Asian Development outlook 2002.
Regional cooperation in Asia, hal. 178
2. Kawasan perdagangan bebas (Free Trade Area) dimana semua hambatan
perdagangan baik tarif maupun non-tarif di antara negara-negara anggota
dihilangkan sepenuhnya, namun masing-masing negara anggota tersebut masih
berhak menentukan sendiri apakah mempertahankan atau menghilangkan
hambatan-hambatan perdagangan yang diterapkan terhadap negara-negara di
luar anggota.
3. Persekutuan pabean (Customs Union) mewajibkan semua negara anggota
untuk tidak hanya menghilangkan semua bentuk hambatan perdagangan di
antara mereka, namun juga menyeragamkan kebijakan perdagangan mereka
terhadap negara luar yang bukan anggota.
4. Pasaran bersama (Common Market) yaitu suatu bentuk integrasi yang tidak
hanya membebaskan perdagangan barang, tetapi juga membebaskan arus
faktor produksi, seperti tenaga kerja dan modal dari semua hambatan.
5. Uni Ekonomi (Economic Union) yaitu dengan menyeragamkan kebijakankebijakan moneter dan fiskal dari masing-masing negara anggota yang berada
dalam suatu kawasan atau bagi negara-negara yang melakukan kesepakatan.
Teori lain tentang integrasi ekonomi dikemukakan Balassa (1961) yang
membagi proses pelaksanaan integrasi dalam enam tahap:
1.
Preferential Trading Area (PTA) yaitu blok perdagangan yang
memberikan keistimewaan untuk produk-produk tertentu dari negara
tertentu
dengan
melakukan
menghilangkannya sama sekali.
pengurangan
tarif,
namun
tidak
2.
Free Trade Area (FTA) suatu kawasan yang menghapuskan tarif dan
kuota antar negara anggota, namun masing-masing negara tetap
menerapkan tarif mereka masing-masing terhadap negara bukan anggota.
3.
Customs Union (CU) merupakan FTA yang meniadakan hambatan
pergerakan komoditi antar negara anggota dan menerapkan tarif yang
sama terhadap negara bukan anggota.
4.
Common Market (CM) merupakan CU yang juga meniadakan
hambatan-hambatan pada pergerakan faktor-faktor produksi (barang,
jasa, dan aliran modal). Kesamaan harga dari faktor-faktor produksi
diharapkan dapat menghasilkan alokasi sumberdaya yang efisien.
5.
Economic Union merupakan suatu CM dengan tingkat harmonisasi
kebijakan ekonomi nasional yang signifikan (termasuk pengambilan
kebijakan struktural).
6.
Total Economic Integration penyatuan moneter, fiskal, dan kebijakan
sosial yang diikuti dengan pembentukan lembaga supra nasional, dengan
keputusan-keputusan yang mengikat bagi seluruh negara anggota.
Tahapan integrasi Ballasa tersebut memberikan urutan untuk keperluan
analisis dan membantu memahami tambahan kebijakan yang diperlukan
dalam setiap tahapan integrasi. Dalam perkembangannya, Balassa melakukan
penyesuaian pada beberapa hal. Secara teoritis Balassa (1961) menunjukkan
bahwa semakin tinggi tahapan integrasi ekonomi, semakin kompleks
persyaratan kebijakan yang diperlukan.
Balassa (1961) mengungkapkan bahwa perluasan tahapan integrasi
ekonomi terdiri: (1) Regional Autarky yaitu bilateral trade agreements, (2)
FTA yaitu penghapusan tarif dan kuota antara negara anggota, tarif nasional
tetap ada dan diberlakukan ke negara bukan anggota, (3) Custom Union yaitu
penghapusan tarif dan kuota antar negara anggota dan pengenaan tarif yang
sama pada negara non-anggota, (4) Common Market dimana faktor produksi
barang dan jasa bergerak bebas, (5) Economic Union yaitu harmonisasi atau
koordinasi beberapa kebijakan nasional. Transfer beberapa kebijakan nasional
ke level supra nasional, (6) Monetery Union yaitu pemberlakuan mata uang
tunggal (single currency) dan Single Central Bank, (7) Fiscal Union yaitu
harmonisasi pajak pada semua negara anggota, dan (8) Political Union yaitu
lembaga demokratis pada level supranatural.
Perjanjian perdagangan preferensial (PTAs) adalah kesepakatan antara dua
negara atau lebih dimana tarif yang dikenakan pada barang yang diperdagangkan
bagi negara anggota lebih rendah dibanding dengan tarif yang diperdagangkan
dengan negara di luar anggota. 5 PTAs dapat diartikan secara luas, meliputi
Regional Trading Arragement (RTAs) yang merupakan kesepakatan yang
dibentuk dalam satu kawasan, kesepakatan perdagangan antar negara-negara
berkembang, kesepakatan perdagangan antar kawasan dan bentuk kesepakatan
lainnya yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa. Bentuk
kesepakatan perdagangan yang telah dibentuk telah mengarah pada perdagangan
bebas seperti World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian
Nations (ASEAN), ASEAN Free Trade Area (AFTA), Australian dan New
Zealand yaitu Closer Economic Relation Trade Agreement (CER), South Pacific
Regional Trade and Economic Coorporation Agreement (SPARTECA), Asian
5
Panagariya (2000) The defenition used in this chapter are generally based on tehe discussion in
the paper and in Appleyard and Field (1998)
Pacific Economic Coorporation (APEC), European Union (EU), North American
Free Trade (NAFTA), European Free Trade Area (EFTA), Andean Pact,
Economic Cooperation Organization (ECO), dan Southern Common Market
(Mercosur).
Secara umum, bentuk kesepakatan perdagangan antara dua negara atau
lebih, baik PTAs, sistem perdagangan multilateral, sistem perdagangan dalam
suatu kawasan maupun organisasi perdagangan dunia memiliki prinsip yang sama
yaitu menurunkan atau menghilangkan semua bentuk hambatan perdagangan, baik
tarif maupun non-tarif. Cakupan integrasinya mulai dari integrasi untuk
perdagangan barang dan jasa sampai pada pasar tunggal bersama yang meliputi
semua aspek ekonomi seperti perdagangan barang dan jasa, perdagangan faktor
produksi, integrasi dalam moneter dan integrasi kebijakan ekonomi secara
menyeluruh. Tujuan yang paling mendasar dari integrasi ekonomi ini adalah
meningkatkan volume perdagangan barang dan jasa, meningkatkan mobilitas
kapital dan tenaga kerja, meningkatkan produksi, meningkatkan efisiensi produksi
serta meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.
Pembentukan integrasi ekonomi akan menciptakan dampak meningkatnya
kesejahteraan negara-negara anggota secara keseluruhan karena akan mengarah
pada peningkatan spesialisasi produksi, yang didasarkan pada keuntungan
komparatif setiap negara.
Uraian tersebut diperkuat oleh hasil kajian dari Dollar (1992), Sach and
Warner (1995), Edwards (1998) dan Wacziarg (2001) bahwa integrasi ekonomi
yang menurunkan atau menghilangkan semua hambatan perdagangan di antara
negara-negara anggota dapat meningkatkan daya saing dan membuka besarnya
pasar pada negara anggota. Selain itu, integrasi ekonomi juga dapat meningkatkan
persaingan industri domestik yang dapat memacu efisiensi produktif di antara
produsen domestik dan meningkatkan kualitas/kuantitas dari input dan barang
dalam perekonomian, produsen domestik dapat meningkatkan keuntungan dan
semakin besarnya pasar ekspor serta meningkatkan kesempatan kerja.
Soloaga dan Winters (2001) yang meneliti tentang European Union
menyimpulkan bahwa efek European Union terhadap arus perdagangan negara
anggota sangat signifikan positif, yaitu meningkatkan volume perdagangan negara
anggota. Begitu pula dengan efek dari EFTA sangat signifikan positif terhadap
volume perdagangan. Dengan demikian maka integrasi ekonomi dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat negara-negara anggota.
Namun, apabila negara anggota lebih banyak berdagang dengan negara di
luar kawasan integrasi ekonomi daripada menjalin hubungan dagang yang intensif
dengan negara anggota maka akan terjadi penurunan volume perdagangan dan
selanjutnya akan menyebabkan penurunan kesejahteraan masyarakat negara
anggota. Singkatnya, integrasi ekonomi dapat menimbulkan dampak kreasi dan
diversi perdagangan.
Secara lengkap manfaat integrasi ekonomi: (1) produksi semakin efisien
yang memungkinkan terjadinya spesialisasi, sehingga produk yang bersangkutan
memiliki keunggulan komparatif, (2) produksi meningkat akibat meningkatnya
volume perdagangan, (3) posisi tawar di forum internasional makin membaik
sehingga memungkinkan peningkatan volume perdagangan, (4) kualitas produk
dan faktor produksi makin meningkat yang disebabkan oleh perkembangan
teknologi, (5) mobilitas modal dan tenaga kerja bebas keluar masuk sesama
negara anggota, dan (6) adanya koordinasi antara sesama anggota dalam kebijakan
moneter dan fiskal. Kondisi tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
bagi negara-negara anggota dalam satu kawasan yang terintegrasi secara ekonomi
sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3.2. Dampak Kreasi dan Diversi Integrasi Ekonomi
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa integrasi ekonomi
menimbulkan dampak kreasi dan dampak diversi bagi perdagangan negara-negara
anggota. Kreasi perdagangan (trade creation) terjadi apabila sebagian produksi
domestik di suatu negara yang menjadi anggota perserikatan pabean (integrasi
ekonomi) atau dari negara luar yang bukan anggota digantikan dengan impor yang
lebih efisien atau harganya lebih murah dari negara anggota lainnya.
Diversi perdagangan (trade diversion) terjadi apabila impor yang (efisien)
murah dari negara luar yang bukan anggota perserikatan pabean tergusur oleh
impor yang harganya lebih mahal dari negara anggota karena adanya pengenaan
tarif bagi negara non anggota. 6 Dampak kreasi muncul karena selisih harga dunia
dengan harga dalam kawasan integrasi ekonomi sangat kecil sehingga memberi
kesejahteraan yang tinggi bagi negara anggota. Sedangkan dampak diversi muncul
karena selisih antara harga dunia dengan harga yang ada dalam kawasan integrasi
ekonomi sangat besar sehingga dapat mengurangi kesejahteraan negara anggota.
Berkaitan dengan dampak kreasi dan diversi, De Melo, Panagariya and
Rodrik (1992); Bhagwati and Panagariya (1996); dan Schiff (1997),
mengungkapkan bahwa dampak diversi muncul melalui perdagangan antara
negara anggota integrasi dengan non anggota integrasi, dimana pola spesialisasi
6
Solvatore, Dominich (1997) Ekonomi Internasional hlm. 383
tidak optimal karena distribusi sumberdaya lintas anggota tidak representatif dari
distribusi sumberdaya di dunia. Misalnya, suatu negara anggota integrasi ekonomi
relatif kaya akan kapital, sementara negara lain di luar anggota kaya akan tenaga
kerja (labour) maka harga produk yang intesif labour negara di luar anggota
integrasi lebih murah dibanding harga produk yang sama yang diproduksi oleh
negara integrasi ekonomi. Tetapi karena produk dari luar anggota dikenai tarif,
maka harga yang diterima konsumen anggota integrasi menjadi mahal. Akibatnya,
terjadi pengurangan kesejahteraan bagi konsumen dalam kawasan integrasi
ekonomi. Hal ini menimbulkan dampak diversi yang lebih besar. Cernat (2001)
menilai bahwa sebagian besar kesepakatan perdagangan regional atau Regional
Trade Arrangements (RTAs) di Afrika tidak menimbulkan diversi tetapi
membawa kreasi yang lebih besar.
3.3. Pengaruh Perdagangan Internasional
Konsep ekonomi berpandangan bahwa persaingan akan mengharuskan
perusahaan-perusahaan yang bersaing dipasar akan menciptakan efisiensi,
mengembangkan dan menguasai teknologi dan banyak melakukan inovasi.
Apabila terwujud persaingan bebas secara internasional maka setiap perusahaan
akan dapat memanfaatkan ”economies of scale”; perusahaan bisa menjadi besar
dan produksi diperluas karena perdagangan bebas dapat memperluas pasar.
Manfaat adanya ”economic of scale” yang diterima suatu negara disebut manfaat
dinamis (dynamic gains). 7 Teori ekonomi telah membuktikan bahwa perdagangan
bebas internasional akan memperbaiki efisiensi perekonomian suatu negara dan
7
Paul R. Krugman & Mauricen Stfeld, International Economics, Theory and Practics, London
Scott, Foresman & Company, 1988,206
dunia, akan mewujudkan distribusi pendapatan yang lebih baik, mempromosikan
pertumbuhan ekonomi dan akhirnya menaikan kesejahteraan ekonomi.
Perdagangan bebas merupakan dasar pembangunan ekonomi dan
pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya dapat mengurangi kemiskinan.
Perdagangan yang terbuka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, perbaikan
mikroekonomi pada efisiensi alokasi sumberdaya, dan peningkatan tingkat
persaingan di antara industri. Selain itu, perdagangan juga dapat meningkatkan
variasi produk intermediate dan barang-barang modal yang tersedia serta
keterbukaan jaringan komunikasi untuk pertukaran metode produksi dan praktek
bisnis. Integrasi ekonomi juga telah menunjukkan dampak yang penting pada
pengurangan korupsi, peningkatan respons pemerintah dan peningkatan kualitas
kebijakan ekonomi.
Perubahan tingkat kesejahteraan tersebut ditentukan oleh seberapa besar
terjadinya kreasi dan diversi perdagangan. Apabila kreasi lebih besar dari diversi
perdagangan maka kesejahteraan meningkat dan sebaliknya (Krugman and
Maurice, 2003; Dunn and Mutti, 2000; Husted and Melvin, 2004). Selanjutnya,
besar kecilnya kreasi perdagangan ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Besaran atau ukuran ekonomi suatu kawasan. Meskipun tidak ada kriteria
ukuran ekonomi yang optimal, tetapi semakin besar ukuran ekonomi sebuah
kawasan akan semakin besar pasar yang tersedia sehingga semakin besar pula
kemungkinan terciptanya kreasi perdagangan.
2. Struktur tarif awal (intial tariffs) yang berlaku di kawasan. Semakin tinggi
tingkat tarif yang berlaku sebelum integrasi, semakin besar kemungkinan
terciptanya kreasi perdagangan.
3. Perdagangan intra-kawasan sebelum adanya blok perdagangan. Kreasi
perdagangan akan semakin besar apabila semakin tinggi perdagangan di antara
negara-negara di dalam kawasan (perdagangan intra-kawasan), semakin besar
kreasi perdagangan yang dapat diperoleh dari pembentukan blok perdagangan.
4. Tingkat substitusi produk. Semakin tinggi tingkat substitusi antara produkproduk yang dihasilkan di dalam kawasan dengan produk dari luar kawasan
maka semakin besar kemungkinan terciptanya kreasi perdagangan.
5. Tingkat pembangunan ekonomi sebelum adanya blok perdagangan. Apabila
tingkat pembangunan dan pendapatan nasional negara-negara di dalam
kawasan hampir sama maka keuntungan ekonomi dari sebuah blok
perdagangan regional akan semakin besar. Selain itu, proses integrasi ekonomi
kawasan semakin mudah dilakukan.
6. Kedekatan geografis dan sarana transportasi. Integrasi ekonomi akan mudah
dilakukan apabila negara-negara di sebuah kawasan secara geografis saling
berdekatan karena biaya transportasi menjadi lebih rendah apalagi tersedia
infrastruktur transportasi yang baik.
7. Struktur ekonomi komplemen atau kompetisi. Keberhasilan integrasi ekonomi
kawasan juga ditentukan oleh struktur ekonomi negara-negara anggota. Kreasi
perdagangan akan semakin besar apabila struktur ekonomi sebelum integrasi
adalah berkompetensi tetapi selanjutnya berkomplementer setelah integrasi
dilakukan. Hal ini dapat diartikan bahwa sebelum integrasi, negara-negara di
dalam kawasan menghasilkan produk yang mirip akibat masih tingginya
tingkat tarif dan banyaknya hambatan non-tarif. Setelah integrasi, semua jenis
hambatan perdagangan dihapuskan maka industri yang lebih efisien akan
menggantikan yang kurang efisien dan produk yang dihasilkan lebih beragam.
Industri akan berspesialisasi dan mencapai skala besar sehingga memberikan
kesejahteraan yang lebih besar.
Selain faktor-faktor ekonomi tersebut, keberhasilan integrasi ekonomi
kawasan juga ditentukan oleh variabel non-ekonomi, seperti kesadaran negaranegara dalam kawasan untuk mencari solusi bersama guna memecahkan persoalan
yang dihadapi, keinginan untuk mengakhiri konflik atau perselisihan di antara
negara anggota dalam satu kawasan, dan keinginan untuk meningkatkan
pembangunan ekonomi dan kesejahteraan. Selain itu, komitmen politik
merupakan faktor penentu keberhasilan sebuah kerjasama ekonomi regional.
Keberhasilan blok perdagangan regional memerlukan komitmen yang tinggi dari
para pemimpin politik sehingga dapat dilaksanakan sesuai tujuan.
Hasil penelitian World Bank (2001) menunjukkan bahwa negara-negara
NIEs seperti Singapura, Hongkong dan Korea yang mengembangkan kebijakan
perdagangan yang lebih longgar terutama penurunan tarif secara berkala, telah
meningkatkan volume perdagangan ketiga negara tersebut, dengan tingkat
pertumbuhan ekspor manufaktur di atas 60 persen. Hal ini membuktikan bahwa
dengan adanya perdagangan bebas maka arus barang dan jasa serta mobilitas
faktor produksi dan adopsi teknologi semakin lancar melewati batas-batas negara.
Hasil penelitian Tubagus dan Yose (1996) menunjukkan bahwa dampak
perdagangan internasional yang semakin bebas akan menimbulkan perubahan
kesejahteraan ekonomi, output sektoral, dan pola tenaga kerja di ASEAN. Dengan
lebih
terbukanya
perdagangan
internasional
akan
diperoleh
tambahan
kesejahteraan ekonomi yang semakin tinggi bagi negara yang tergabung di dalam
integrasi ekonomi.
World Bank (2001) melaporkan bahwa langkah-langkah liberalisasi
perdagangan internasional yang dijalankan sejumlah negara berkembang di
kawasan Afrika, Amerika Latin dan Asia pascaputaran GATT mulai beranjak
menjadi perekonomian industri baru dengan tingkat pertumbuhan ekspor dan
impor manufaktur yang cukup tinggi dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang
sangat cepat bagi yang sungguh-sungguh melaksanakannya.
3.4. Hubungan Investasi, Perdagangan dan Pertumbuhan Ekonomi
Investasi merupakan faktor penting dalam kelangsungan pembangunan
ekonomi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan adanya investasi
maka akan tercipta kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, yang
selanjutnya akan meningkatkan permintaan pasar. Jika investasi turun, kegiatan
produksi turun, dengan sendirinya output pun merosot. Jika output nasional turun
maka pada gilirannya laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan juga akan
menurun baik dalam angka persentase pertumbuhannya sendiri maupun, yang
lebih penting, dalam kualitasnya.
Kegiatan investasi ini terdiri atas investasi langsung (foreign direct
investment, FDI) dan investasi portofolio. Investasi portofolio meliputi investasi
dalam bentuk aset keuangan, seperti obligasi, saham dan sebagainya yang dimiliki
oleh investor asing dan diinvestasikan ke dalam suatu negara. Sedangkan investasi
langsung adalah investasi yang dilakukan pada pabrik, barang modal, tanah dan
sebagainya, dengan melakukan kontrol terhadap investasi yang dilakukan.
Foreign Direct Investment (FDI) adalah kepemilikan pihak asing terhadap
aset suatu negara sehingga mereka dapat melakukan pengawasan langsung
terhadap penggunaan aset tersebut (Felianty, 2006). Negara penerima FDI tidak
hanya menerima keuntungan berupa modal, tetapi juga akses terhadap teknologi,
manajemen, pasar, international network, perubahan struktur dan export oriented.
Sementara World Investment Report (1994) menyebutkan bahwa aliran FDI dari
negara maju ke negara berkembang tergantung pada hubungan saling
memengaruhi antara faktor ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Faktor ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi negara penerima FDI,
potensi pasar yang tinggi, tenaga kerja yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah
yang cukup, ketersediaan infrastruktur yang lengkap dan mendukung serta
apresiasi nilai tukar mata uang. Sedangkan kebijakan pemerintah yang
berpengaruh adalah kebijakan pembangunan sektor swasta (private sector) yang
tangguh, kebijakan pembaharuan ekonomi makro (broad economic), kebijakan
melakukan liberalisasi perekonomian (economic liberalization), kebijakan
melakukan swastanisasi (privatization) dan kebijakan mengintegrasikan hubungan
regional (regional integration).
Millberg (1999) dalam Karunia (2005) menyatakan bahwa FDI merupakan
aktivitas kunci dalam aktivitas pembangunan perekonomian suatu bangsa karena
FDI dapat memicu beberapa hal pokok seperti: (1) menciptakan efek promosi
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi (promote economic growth and
development), (2) menciptakan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan
pendapatan masyarakat, (3) mempercepat penyerapan teknologi yang dapat
meningkatkan produktivitas masyarakat, (4) dapat membantu penerobosan pasar
ekspor (access to export market), dan (5) mampu memberi efek positif pada
neraca pembayaran.
Selanjutnya, pendapat ekonom yang lain dalam menilai terjadinya aliran
FDI dari suatu negara ke negara lain, yang dikenal dengan eclectic theory,
menjabarkan hal pokok faktor yang menyebabkan aliran modal dari suatu negara
ke negara lainnya, yaitu:
1. Harus ada keunggulan kepemilikan (ownership advantage) dari perusahaan
yang akan menanamkan modalnya. Keunggulan internal ini bersifat sangat
spesifik untuk tiap perusahaan dan diperlukan sebagai kompensasi menjadi
perusahaan asing di negara lain. Keunggulan spesifik ini dapat berupa
monopoli atas suatu produk atau merek tertentu, proses produksi yang lebih
efisien, keahlian manajemen dan pengetahuan yang lebih mengenai pasar atau
teknik pemasaran. Faktor eksternal (negeri asal modal), seperti tingginya
tingkat upah, energi yang semakin langka dan ketatnya regulasi mengenai
lingkungan di dalam negeri, mendorong perusahan beroperasi di luar negeri.
2. Negara yang menjadi tempat investasi harus memiliki keunggulan-keunggulan
lokasi untuk menarik calon investor asing agar menanamkan modalnya.
Keunggulan lokasi ini dapat berupa potensi pasar yang besar, pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, tingkat inflasi yang rendah, tenaga kerja yang murah,
ketersediaan infrastruktur, melimpahnya sumberdaya alam, insentif yang
menarik dan longgarnya peraturan mengenai pengendalian lingkungan.
Keunggulan ini akan menjadi daya tarik bagi calon investor untuk
mengeksploitasi potensi-potensi yang ada demi kepentingan bisnisnya.
Dalam teori produksi dijelaskan bahwa semua faktor produksi memberi
sumbangan terhadap pertumbuhan output. Dengan demikian peningkatan output
dapat diperoleh dari peningkatan investasi (akumulasi modal) dan peningkatan
penyerapan tenaga kerja, dengan asumsi input lainnya tetap (ceteris paribus). Jadi,
berapa besar perubahan pertumbuhan perekonomian akibat perubahan input dapat
ditentukan.
Teori ekonomi juga menjelaskan bahwa besarnya pertumbuhan ekonomi
ditentukan oleh pertumbuhan masing-masing input. Keseimbangan jangka
panjang terjadi apabila laju pertumbuhan ekonomi sama dengan laju pertumbuhan
barang modal dan laju pertambahan penyerapan tenaga kerja. Tetapi pada
kenyataannya yang terjadi adalah laju pertumbuhan ekonomi lebih besar dari laju
pertumbuhan modal dan laju pertumbuhan penyerapan tenaga kerja.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam teori perdagangan internasional,
bahwa negara yang melakukan perdagangan internasional akan memperoleh gains
from trade. Keuntungan tersebut dapat berupa peningkatan produksi barang dari
faktor produksi yang melimpah, juga peningkatan konsumsi barang dan jasa yang
tidak mempunyai faktor produksi yang tidak melimpah di negara tersebut. Jika
suatu negara mengalami pertumbuhan maka pertumbuhan tersebut akan
berdampak pada pola produksi yang ada di negara tersebut.
Teori yang telah dikemukakan tersebut, menyatakan bahwa output total
suatu negara merupakan fungsi dari kapital. Sedangkan teori lain menunjukkan
bahwa pergerakan modal yang masuk ke suatu negara dapat meningkatkan output
total negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Foreign
Direct Investment secara teori memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan
ekonomi suatu negara.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa adanya capital inflow ke suatu
negara dapat memperbesar output total. Dengan adanya capital inflow ini dalam
bentuk Foreign Direct Investmen maka kapital tersebut akan digunakan untuk
memproduksi barang yang dapat berorientasi ekspor atau memproduksi barang
yang dapat (menjadi) substitusi impor. Apa pun barang yang diproduksi akan
berdampak positif pada perdagangan internasional.
Pramadhani, Bissoondeeal, dan Driffield (2007) dalam studinya tentang
FDI, Perdagangan dan Pertumbuhan, dengan menggunakan analisis causality
menyimpulkan
bahwa
peningkatan
investasi
asing
di
Indonesia
akan
meningkatkan ekspor. Peningkatan ekspor juga akan menambah FDI yang masuk.
Investasi asing juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan
baku dan bahan penolong dalam proses produksi.
Alguacil, Cuadros and Orts (2002) meneliti tentang hubungan FDI, ekspor
industri manufaktur dan domestic performance di Meksiko. Dengan menggunakan
kausalitas disimpulkan bahwa penelitian ini bukan hanya mendukung export led
growth, tetapi juga membuktikan eksistensi FDI dan pertumbuhan. Ditemukan
hubungan yang signifikan terkait pengaruh FDI terhadap output yang
menunjukkan bahwa FDI dapat meningkatkan perekonomian di Meksiko. Adanya
hubungan signifikan antara FDI terhadap ekspor membuktikan adanya keyakinan
FDI led growth yang menggambarkan perusahaan-perusahaan asing di Meksiko
berorientasi ekspor.
Riyadi (1998), melakukan penelitian dengan model ekonometrika,
menemukan bahwa FDI inflow memberikan kontribusi positif dan signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi pada sektor manufaktur dan sektor jasa.
Sedangkan variabel-variabel ekonomi makro yang mempunyai hubungan positif
dan signifikan yang memengaruhi pertumbuhan FDI inflow adalah investasi
domestik dan impor.
3.5.
Pengaruh Kreasi dan Diversi Investasi
”Eclectic theory” dari Dunning (1977) menyatakan bahwa FDI adalah
suatu fungsi dari tiga kluster variabel, yakni: (1) spesifik perusahaan, (2)
internalisasi, dan (3) keunggulan lokasional. Perusahaan harus memiliki
spesifikasi perusahaan dengan keunggulan kepemilikan (ownership advantages)
terhadap perusahaan lain dan harus dapat memanfaatkan keunggulan ini secara
langsung
dibandingkan
advantages).
Selain
itu,
menjual
atau
perusahaan
menyewakannya
harus
lebih
(internalization
profitabel
dengan
mengombinasikan keunggulan ini dengan memanfaatkan sedikitnya satu input
faktor luar negeri sehingga produksi lokal dapat mendominasi ekspor (locational
advantages). Jika tiga tipe insentif ini tidak terjadi, suatu MNC akan lebih baik
mengekspor, melakukan licensing, franchising, dibandingkan melakukan investasi
dalam bentuk investasi FDI.
Pengaruh regionalisme terhadap FDI dapat dimasukkan dalam traditional
electic model dimana perubahan pada kebijakan komersil eksternal akan
memengaruhi keunggulan lokasional. Seperti yang dinyatakan, pengaruh integrasi
regional terhadap FDI adalah bermakna ganda (ambiguous): di satu sisi, integrasi
regional dapat memberi efek investment creation dan efek investment diversion
terhadap peningkatan FDI ke negara anggota melalui kesepakatan perdagangan
preferensial. Di sisi lain, terdapat "tarif hopping" yang merupakan insentif bagi
aliran FDI yang ada sebelum integrasi, dan akan terjadi penurunan capital outflow
dalam bentuk FDI dari negara mitra (yaitu negara anggota dalam kesepakatan
perdagangan preferensial) ketika tarif dihilangkan.
Namun demikian, terdapat literatur empiris yang menguji pengaruh
regionalisme terhadap FDI dalam konteks teori ini. Salah satu cara dalam
mengintegrasikan investasi ke dalam model regionalisme ekonomi adalah
menghubungkan diskriminasi dalam liberalisasi perdagangan dengan perubahan
pada renumerasi faktor relatif, yang pada gilirannya menyebabkan perubahan
pada aliran investasi. Negara yang relatif berlimpah modal akan mengalami net
inflow investasi dengan bunga yang relatif meningkat terhadap upah, dan
sebaliknya negara yang relatif berlimpah tenaga kerja akan mengalami net capital
outflow karena penurunan bunga modal relatif terhadap upah.
Induksi variabel perdagangan dan pengaruh yang menyebabkan investasi
telah diterapkan dalam model Dynamic Computational General Equilibrium
(CGE). Namun, harga faktor relatif adalah salah satu determinan FDI dan yang
lainnya seperti ukuran ekonomi, pendapatan per kapita, perubahan ekonomi di
negara sumber dan penerima, jarak geografis antar negara, variabel yang terkait
dengan kebijakan komersil, dan faktor keunggulan lokasional lainnya. Insentif
renumerasi faktor relatif menunjukkan bahwa FDI akan mengalir dari negara
dengan bunga relatif rendah ke negara dengan bunga yang relatif tinggi.
Studi lain yang melihat pengaruh kawasan perdagangan regional terhadap
pola FDI menggunakan teknik ad hoc, seperti mengidentifikasi keuntungan
struktural pada share FDI yang mungkin terkait dengan blok perdagangan telah
dilakukan Kreinin and Plummer (2002) dan Blomstrom and Kokko (1997).
Kreinin and Plummer (2002) menggunakan pendekatan ini untuk Uni Eropa dan
NAFTA sedangkan Blomstrom dan Kokko (1997) menggunakannya untuk
kawasan perdagangan bebas AS-Kanada, NAFTA, dan MERCOSOR.
Studi yang dilakukan Kreinin and Plummer (2002) menemukan tidak
adanya bukti diversi investasi dan menemukan sejumlah bukti kreasi investasi.
Sementara Blomstrom and Kokko (1997) menemukan bahwa pengaruh
regionalisme terhadap arus FDI tergantung pada pengaruh kesepakatan terhadap
lingkungan kebijakan komersil dan keunggulan lokasional dalam negara yang
berintegrasi. Namun, dalam studi ini cakupanya masih terbatas yaitu tidak
berusaha memodelkan skenario kontrafaktual atau tidak menggunakan pendekatan
ekonomoterika pada determinan FDI.
Selain kedua studi tersebut, Pain (1996) juga melakukan studi terkait
pengaruh perdagangan regional terhadap pola FDI. Studi yang dilakukan Pain
(1996) menggunakan panel-data disagregasi untuk mengestimasikan determinan
investasi Inggris di Uni Eropa dan menemukan bukti dampak positif yang
signifikan secara statistika dari EC-92 (Single Market Program) terhadap outflow
FDI ke negara EU lainnya, dan juga terjadi diversi investasi dari Amerika Serikat.
Akan tetapi, hasilnya hanya didasarkan pada negara sumber (Inggris) dan satu
(negara) non-anggota (Amerika Serikat).
3.6 Kebijakan Doing Business dalam Investasi
Krisis keuangan global telah memunculkan minat baru terhadap penataan
peraturan serta penyelenggaraan fungsi kelembagaan untuk mempermudah
jalannya perekonomian. Peraturan dan kelembagaan di bidang investasi dan usaha
yang efektif dapat mendukung proses penyesuaian perekonomian. Investor
membutuhkan kemudahan untuk mendirikan dan menutup usaha, serta
fleksibilitas dalam pengerahan kembali sumberdaya yang mereka miliki.
Kejelasan hak atas properti dan penguatan prasarana pasar yang dapat mendorong
aliran investasi merupakan prasyarat yang harus dibenahi.
Menjawab tantangan tersebut, World Bank sejak tahun 2002, memulai
proyek doing business. Salah satu pemikiran yang melandasi doing business
adalah bahwa kegiatan ekonomi perlu didukung oleh kebijakan yang baik. Hal
tersebut mencakup peraturan yang menciptakan hak atas properti yang jelas dan
mengurangi biaya penyelesaian sengketa, yang menyebabkan interaksi ekonomi
menjadi lebih mudah diramal, dan peraturan yang memberi perlindungan pokok
terhadap penyalahgunaan kepada para mitra kontrak.
Tujuannya adalah mendorong perancangan kebijakan-kebijakan yang
efisien, dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkannya dan dapat
dilaksanakan dengan mudah. Sejumlah indikator doing business juga memberikan
skor lebih tinggi bagi negara yang memiliki lebih banyak peraturan. Contohnya,
berkenaan dengan ketentuan pengungkapan informasi yang lebih tegas untuk
transaksi-transaksi dengan pihak terkait. Beberapa indikator lain memberikan skor
yang lebih tinggi untuk negara yang mengambil langkah penyederhanaan dalam
pelaksanaan kebijakan, seperti dalam hal proses formal pendirian usaha melalui
penyelenggaraan layanan terpadu.
Dalam indikator waktu dan pergerakan serta perkiraan biaya direkam
berdasarkan daftar biaya resmi, yang dapat diberlakukan. Metode pengukuran
yang dipergunakan oleh doing business dilandasi pada karya De Soto (2000) yang
menerapkan pendekatan waktu dan pergerakan. De Soto menggunakan
pendekatan tersebut tahun 1980-an untuk menunjukkan hambatan yang dihadapi
dalam mendirikan pabrik garmen di daerah pinggiran kota Lima, Peru.
Dari data statistik pada Tabel 7, terlihat gambaran bahwa daya saing
investasi ASEAN sangat bervariasi. Singapura menempati urutan pertama selama
tiga tahun berturut-turut dari tahun 2008 sampai tahun 2010. Sementara Filipina
dan Indonesia menempati posisi yang sangat tertinggal masing-masing urutan ke
122 dan 144 pada tahun 2010.
Tabel 7. Perbandingan Tingkat Kemudahan Berbisnis di Beberapa Negara Asia
Negara
Peringkat
2006
2007
2008
Indonesia
131
135
123
Malaysia
25
25
24
Filipina
121
126
133
Singapura
2
1
1
Thailand
19
18
15
China
108
93
83
India
138
134
120
Jepang
12
11
12
Vietnam
98
104
91
Korea Selatan
23
23
30
Sumber : World Bank, Doing Business 2008, 2009, 2010.
2009
129
20
140
1
13
83
122
12
92
23
2010
122
23
144
1
12
88
133
15
93
19
Tabel 8 menyajikan peringkat komponen Doing Business tahun 2009 dan
2010. Terlihat bahwa Singapura selalu menduduki peringkat teratas, terutama
dalam perekrutan pegawai dan perdagangan lintas batas. Malaysia juga
menempati peringkat tertinggi dalam hal kemudahan mendapatkan kredit.
Sedangkan Indonesia mendapatkan peringkat buruk dalam hal mendirikan usaha,
perekrutan pegawai, perlindungan kontrak dan penutupan bisnis. Demikian halnya
dengan Filipina.
Tabel 8. Peringkat Komponen Doing Business Tahun 2009 dan 2010
Komponen
Indonesia
Negara
Filipina
Malaysia
Singapura
Thailand
2009
2010
2009
2010
2009
2010
2009
2010
2009
2010
173
161
76
23
155
162
4
4
12
55
57
61
105
109
106
111
2
2
11
13
Perekrutan Pegawai
150
149
54
61
114
115
1
1
47
52
Pendaftaran
Properti
Mendapat-kan
Kredit
Perlindung-an Bagi
Investor
110
95
81
86
101
102
15
16
5
6
109
113
1
1
125
127
4
4
68
71
53
41
4
4
127
132
2
2
11
12
Membayar Pajak
119
127
21
24
126
135
5
5
82
88
Mendirikan Usaha
Izin Mendirikan
Bangunan
Perdagang-an
Lintas Batas
Perlindung-an
Kontrak
40
45
31
35
66
68
1
1
10
12
142
146
60
59
116
118
16
13
24
24
Penutupan Bisnis
141
142
57
57
153
153
2
2
48
48
Sumber : World Bank, Doing Business, 2010 (diolah).
3.7.
Inter Industry Trade dan Intra Industry Trade
Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur tingkat integrasi
adalah dengan menggunakan Indeks Intensitas Perdagangan (Trade Intensity
Index, TII). Tingkat integrasi kedelapan sektor prioritas di ASEAN dapat
dianalisis dengan menggunakan TII, diperlukan evaluasi tentang perkembangan
perdagangan antarindustri yang berbeda (inter-industry trade) dan perdagangan di
antara industri yang sama atau sejenis (intra-industry trade).
Sejak tahun 1980, tren perdagangan internasional mulai bergeser ke
perdagangan produk yang berasal dari industri yang sama (intra-industry trade)
baik pada negara maju maupun negara industri baru. Intra-industry trade terjadi
bukan hanya karena adanya perbedaan teknologi atau faktor produksi yang
melimpah di suatu negara sehingga memiliki keunggulan komparatif, tetapi juga
karena pertimbangan skala ekonomi (Krugman and Maurice, 2003). Dengan
adanya skala ekonomi, output akan meningkat dengan proporsi yang lebih besar
daripada peningkatan input. Akibatnya, perusahaan menjadi lebih efisien karena
biaya produksi rata-rata menurun sehingga akan melakukan spesialisasi pada
produk tersebut.
Penyebab terjadinya intra-industry trade adalah:
1. Industrinya merupakan industri weight gaining, yang berarti bahwa produk
tersebut memiliki nilai tambah seiring dengan bertambahnya kegiatan
produksi. Terdapat suatu rangkaian produksi atau pasokan faktor produksi
(supply chain) dimana negara yang memiliki keunggulan komparatif tertentu
akan berspesialisasi pada suatu mata rantai produksi tersebut.
2. Cara produksi yang dilakukan oleh perusahaan multinasional (Multi National
Corporation, MNC), biasanya berasal dari negara maju yang mengalokasikan
segmen produksinya yang bersifat padat karya ke negara berkembang untuk
mendapatkan keuntungan dari upah buruh yang lebih murah. Negara
berkembang yang memiliki keunggulan komparatif berupa upah buruh yang
murah melakukan kegiatan produksi berupa perakitan (assembly) dari
komponen suku cadang yang berasal dari MNC. Produknya di ekspor kembali
ke negara MNC untuk di jual di pasar domestik negara tersebut.
3. Produk tersebut merupakan produk musiman yang (memiliki) perbedaan
siklus musim antara negara-negara yang berdagang. Sebagai akibatnya, suatu
negara akan memproduksi dan mengekspor produk pada satu musim,
kemudian pada suatu musim yang lain negara tersebut akan mengimpor
produk untuk memenuhi permintaan negara.
4. Produk tersebut harus diproduksi secara simultan, misalnya industri minyak
dan turunannya. Produksi dalam industri minyak dan turunannya biasanya
dilakukan melalui distilasi/penyulingan bertingkat dan kapasitas produksi
untuk masing-masing produk turunannya tidak sama sehingga suatu negara
yang memiliki kapasitas berlebih untuk satu produk akan mengekspor produk
tersebut ke negara lain. Sebaliknya, akan mengimpor produk yang kapasitas
produksinya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan domestik.
5. Adanya entrepot trade yang biasanya terjadi pada produk yang di impor bukan
untuk konsumsi domestik, melainkan untuk di ekspor kembali (re-ekspor).
Negara tersebut akan memberi suatu jasa tertentu, misalnya packaging dan
labeling, sebelum produk tersebut di re-ekspor.
Rumus yang lazim digunakan dalam perhitungan indeks intra–industry
trade adalah Gruebel–Lyold Index:
……………………………………………………(1)
dimana:
: indeks intra-industry trade produk k antara negara i ke negara j.
: ekspor produk k dari negara i ke negara j
: impor produk k oleh negara i dari negara j.
Dengan mengikuti cara perhitungan tersebut, perkembangan tingkat
integrasi perdagangan di ASEAN selama 10 tahun terakhir, khususnya pada
delapan sektor prioritas, didominasi oleh sektor elektronik. Hal ini ditunjukkan
oleh indeks IIT yang tinggi, yaitu di atas 50, dan melibatkan paling banyak negara
ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) dibandingkan
dengan industri lainnya. Artinya, produk elektronik yang dihasilkan oleh negara-
negara ASEAN di proses di antara negara ASEAN itu sendiri, atau dapat
dikatakan bahwa ASEAN telah menjadi regional production base untuk produk
tersebut. Kondisi tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa perdagangan ASEAN
di dominasi oleh produk elektronik. Industri lainnya yang terintegrasi cukup tinggi
dan melibatkan beberapa negara ASEAN adalah industri perikanan (Malaysia,
Filipina, dan Singapura) dan produk karet (Indonesia, Malaysia, dan Filipina).
3.8. Pelajaran dari Integrasi Ekonomi Eropa
Dalam upaya memperdalam integrasi ekonomi ASEAN maka referensi
utama yang paling dapat digunakan adalah integrasi ekonomi Eropa yang dinilai
sukses dalam proses dan implementasinya.
3.8.1. Masyarakat Ekonomi Eropa
Proses integrasi yang terjadi di Uni Eropa sering dijadikan model bagi
keberhasilan integrasi ekonomi di dunia. Tetapi pembentukan Uni Eropa bukan
pekerjaan mudah dan cepat. Prosesnya berlansung cukup lama, dimulai oleh
gagasan tentang perlunya dibentuk Dewan Eropa 1946 di Swiss. Setelah perang
dunia II, keinginan mendirikan Uni Eropa semakin meningkat, didorong oleh
keinginan untuk membangun kembali Eropa dan menghindari kemungkinan
perang. Karena itu, dibentuklah European Coal and Steel Community (ECSC)
oleh Jerman, Perancis, Italia, dan negara-negara Benelux. Tujuan ECSC Treaty
adalah penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan menciptakan suatu pasar
bersama dimana produk, pekerja, dan modal dari sektor batu bara dan baja dari
negara-negara anggotanya dapat bergerak
dengan bebas. ECSC mulai
diberlakukan tanggal 23 Juli 1952 sampai tahun 2002.
Dalam rangka memperkuat Uni Eropa, pada tahun 1957 di Roma
ditandatangani European Atomic Energy Community (EAEC), yang lebih dikenal
dengan Euratom dan European Economic Community (EEC) atau EEC Treaty.
Tujuan utama Treaty of Rome adalah penciptaan suatu pasar bersama di antara
negara-negara anggotanya melalui; pertama, pencapaian suatu Custom Unions
yang ditandai dengan penghapusan customs duties, import quotas dan berbagai
hambatan perdagangan lainnya di antara negara anggota, serta disisi lain
memberlakukan suatu Common Custom Tariff. Perjanjian tersebut mengharuskan
para anggota untuk memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) menurunkan tarif,
kuota, dan hambatan lain pada perdagangan intranegara Eropa, (2) menaati tarif
eksternal umum di luar EEC, (3) menjalankan aliran faktor produksi dalam EEC,
(4) mengharmonisasikan kebijakan pajak, moneter, keamanan dan sosial, dan (5)
menentukan kebijakan di sektor pertanian, transportasi dan persaingan industri.
Perkembagan selanjutnya menunjukkan semakin terjadinya konvergensi
antara perekonomian Eropa sehingga semakin perlu untuk membatasi fluktuasi
nilai tukar antar mata uang mereka. Dewan Eropa akhirnya menyepakati secara
lebih nyata penyatuan Eropa dalam bidang ekonomi, moneter dan politik di
Maastrich, Belanda pada tahun 1992.
Sejak Kesepakatan Maastrich tidak ada lagi pembatasan lalu lintas barang
maupun orang di antara negara-negara Uni Eropa. Setiap orang boleh bekerja di
mana saja yang mereka inginkan. Begitu pula dengan barang-barang yang
diproduksi bebas diperdagangkan dan melintasi batas negara di antara negaranegara Eropa. Komisi MEE telah merumuskan kebijakan hubungan luar negeri
yang komprehensif dalam rangka pasar tunggal Eropa tahun 1993. Empat policy
issues yang telah disinggung adalah: (1) Eropa tahun 1993 tetap menganut sistem
ekonomi/perdagangan terbuka, (2) MEE tidak akan melakukan tindakan yang
bertentangan dengan kewajiban internasional yang diatur dalam GATT, (3)
keuntungan ekonomi yang telah diperoleh tidak akan diberikan secara unilateral
kepada mitra dagang tanpa mengindahkan prinsip resiprositas, dan (4) pembatasan
impor tetap dilakukan pada beberapa bidang sensitif.
3.8.2. Pasar Tunggal Eropa
Untuk memulai pasar tunggal Eropa ada tiga rumusan pokok yang
disepakati secara bertahap yaitu penghapusan hambatan fisik, penghapusan
hambatan teknis, dan penghapusan hambatan fiskal.
1. Penghapusan hambatan fisik meliputi arus lalu lintas barang, penduduk, sarana
transportasi serta berbagai masalah yang menyangkut peraturan, prosedur, bea
cukai, pemeriksaan imigrasi, urusan paspor dan sebagainya.
2. Penghapusan berbagai hambatan teknis meliputi lalu lintas barang, penduduk,
modal, serta hambatan hukum dan administrasi.
3. Penghapusan hambatan fiskal adalah penciptaan kebijakan fiskal untuk
mendekatkan perbedaan tingkat pajak di antara sesama negara anggota.
Meskipun perwujudan Pasar Tunggal Eropa (PTE) sudah terlaksana pada
tanggal 1 Januari 1993, lalu lintas barang belum sepenuhnya dilaksanakan. Hal
tersebut terutama disebabkan oleh sebagian besar direktif itu masih menunggu
pengesahan di negara anggota masing-masing. Selain itu, prinsip saling mengakui
dan harmonisasi standar barang dan jasa yang diperdagangkan belum seluruhnya
dipatuhi perusahaan di negara-negara anggota.
Terciptanya PTE meniadakan semua pengawasan dan formalitas pada
batas internal ME, yang mempunyai efek segmentasi pasar yaitu meniadakan
berbagai rintangan dan perdagangan dan produksi non tarif, dengan penciptaan
PTE diharapkan akan memberi empat efek utama: (1) pengurangan yang
mencolok dalam biaya, sebagai pemanfaatan yang lebih efisien dari berbagai
macam skala ekonomi, (2) terciptanya efisiensi yang lebih baik dalam perusahaan
dan tercapainya rasionalisasi merupakan akibat dari pasar yang kompetitif, (3)
terjadinya penyesuaian antar industri atas dasar gerak yang lebih leluasa dari
keunggulan komparatif dalam suatu pasar yang terintegrasi, dan (4) akhirnya
terjadi arus inovasi dan terciptanya proses dan produk baru yang didorong oleh
dinamika pasar internal Eropa yang besar.
3.8.3. Sistem Moneter Eropa
European Monetary System (EMS) atau Sistem Moneter Eropa merupakan
tahapan terakhir bagi terciptanya sebuah masyarakat Eropa yang bersatu. Selama
delapan belas tahun antara tahun 1970 hingga 1988, telah terjadi berbagai
peristiwa, di antaranya European Community telah bertambah anggotanya, dengan
bergabungnya Denmark, Irlandia, Inggris, Yunani, Portugal, dan Spanyol. Di
tahun 1979 dibentuk European Monetary System (EMS) yang menciptakan sistem
nilai tukar tetap di antara negara anggota kecuali untuk mata uang Inggris,
Poundsterling.
Keberadaan EMS membantu stabilitas nilai tukar mata uang negara
anggota dan mendorong negara anggota untuk menetapkan kebijakan yang ketat
yang memungkinkan mereka menjaga solidaritas di antara para anggota dan
mendisiplinkan perekonomian mereka. Wacana ini selanjutnya menjadi agenda
dalam Single European Act pada tahun 1987 yang mengarah pada pasar bebas
untuk barang, jasa, dan modal yang diharapkan akan terwujud tahun 1993. EMS
yang disampaikan Komite Delor terdiri atas tiga hal:
1. European Currency Unit (ECU) atau satuan mata uang Eropa, akan menjadi
satu-satunya alat transaksi di antara negara-negara anggota ME.
2. Setiap negara anggota harus menyerahkan 20 persen cadangan devisanya
untuk disimpan di European Monetary Coorporation.
3. Hal paling utama adalah bahwa setiap negara anggota wajib menjaga nilai
tukar yang ditetapkan, yaitu mengikuti aturan ERM hanya diperkenankan
untuk berfluktuasi +/- 2.25 persen, kecuali yang ditetapkan lain.
Dalam rangka mempercepat pelaksanaan EMU, proses integrasi menuju
EMU berjalan secara evolusioner, terdiri atas (Felianty, 2006):
1. Fase pertama pembentukan European Monetary Union (EMU) memutuskan
realisasi tahap pertama economic and monetary union dimulai pada 1 Juli
1990. Pada prinsipnya tahap pertama ini akan menghapus seluruh restriksi
pergerakan modal di antara negara anggota. Tahap pertama ini akan
mengidentifikasi segala permasalahan dan berakhir pada tahun 1993.
2. Fase kedua yaitu pendirian EMI dan EC. Fase kedua, dimulai dengan
didirikannya European Monetary Institute (EMI) pada tanggal 1 Januari 1994.
EMI memiliki dua tanggung jawab, yaitu: (1) memperkuat kerjasama antar
bank sentral dan koordinasi kebijakan moneter, dan (2) melakukan persiapan
untuk mendirikan Bank Sentral Eropa, yang memegang kendali kebijakan
moneter dan menciptakan mata uang tunggal.
3. Fase ketiga yaitu penetapan nilai tukar tetap. Tanggal 1 Januari 1999 dimulai
tahap ketiga, atau tahap terakhir dalam pembentukan EMU, yang ditandai
dengan penetapan nilai tukar yang tetap di antara 11 mata uang negara
anggota yang bergabung dalam monetary union dan pelaksanaan kebijakan
moneter adalah tanggung jawab ECB.
Sehubungan dengan syarat yang ditetapkan dalam Maastricht Treaty
tersebut maka dirancang kriteria untuk mencapai tingkat sustainibilitas
konvergensi yang tinggi. Kriteria konvergensi ini adalah:
1. Kriteria nilai tukar mata uang: nilai tukar mata uang tiap negara anggota harus
berfluktuasi pada margin kurang-lebih 2.5 persen, selama dua tahun selama
masa pengujian. Sebuah negara anggota tidak dapat berinisiatif sendiri dalam
melakukan devaluasi mata uangnya terhadap mata uang negara anggota lain.
2. Kriteria inflasi: tingkat inflasi rata-rata negara anggota tidak boleh lebih dari
1.5 persen di atas tingkat inflasi rata-rata dari tiga negara anggota yang
memiliki indikator tingkat inflasi rata-rata yang terbaik.
3. Kriteria suku bunga: tingkat suku bunga jangka panjang rata-rata (obligasi
pemerintah atau sejenisnya) negara anggota tidak boleh lebih dari 2 persen di
atas tingkat suku bunga jangka panjang rata-rata tiga negara anggota yang
memiliki kinerja terbaik pada indikator tingkat suku bunga jangka panjang.
4. Kriteria keuangan publik: defisit anggaran tiap negara anggota tidak boleh
lebih dari 3 persen dari GDP.
3.8.4. Mata Uang Tunggal Eropa
Mulai tanggal 1 Januari 1999 negara anggota Uni Eropa memberlakukan
mata uang tunggal, yaitu Euro. Ada tiga alasan yang menyebabkan Eropa
menggunakan mata uang tunggal. Pertama, satu mata uang dipandang sebagai
persyaratan utama untuk memperlancar perdagangan dan investasi di antara
negara Uni Eropa. Kedua, mata uang tunggal diyakini akan memberi suara yang
lebih kuat bagi Eropa dalam menghadapi Amerika Serikat pada perekonomian
global. Ketiga, mata uang tunggal akan memperkuat integrasi politik yang akan
menghindarkan terjadinya kembali perang di Eropa seperti pada masa lalu.
Kriteria negara anggota MEE untuk dapat bergabung dalam satu mata
uang Euro adalah sebagai berikut: (1) mempunyai inflasi tidak lebih dari 1.5
persen, (2) suku bunga jangka panjang tidak lebih tinggi dari 2 persen, (3) defisit
anggaran pemerintah tidak lebih tinggi dari 3 persen terhadap GDP, (4) utang
pemerintah tidak boleh lebih dari 60 persen terhadap GDP, (5) nilai tukar stabil
dalam Sistem Moneter Eropa, (6) Bank Sentral nasional yang independen, (7)
tidak boleh membayar defisit anggaran dengan mencetak uang, (8) tidak ada dana
talangan untuk membayar uang yang berlebihan, dan (9) institusi keuangan tidak
dapat dibujuk untuk membayar utang pemerintah.
Keuntungan yang diperoleh dari pemberlakuan Euro adalah harga yang
lebih rendah sebagai akibat persaingan dan transparansi harga di antara negara
anggota. Harga pada berbagai negara dapat dibandingkan sehingga barang dan
jasa menjadi lebih murah. Akibat pemberlakuan suatu mata uang itu adalah
perdagangan intra-Uni Eropa akan bertambah besar. Euro sendiri tidak akan
menyelesaikan masalah yang kini dihadapi Eropa, tetapi Euro yang stabil
membuat ekonomi Uni Eropa menjadi lebih kuat. Karena hilangnya gejolak Euro
akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil.
3.9. Studi Empiris Terdahulu
Studi yang dilakukan Kreinin and Plummer (2008) yang menggunakan
model gravity yang diperluas (augmented model gravity) untuk menangkap
pengaruh dari integrasi ekonomi regional terhadap aliran FDI pada EU, NAFTA,
MERCOSUR, dan ASEAN, menghasilkan tiga kesimpulan penting, yakni: (1)
integrasi regional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap FDI, yang
merupakan kombinasi dari efek kreasi dan diversi investasi; (2) efek diversi
investasi terjadi pada beberapa kasus, dan dengan demikian perlu mendapatkan
perhatian, khususnya di antara negara berkembang yang bukan merupakan bagian
dari anggota regional dengan negara maju; dan (3) FDI bertindak sebagai
substitusi untuk perdagangan, meskipun pada beberapa kasus bersifat komplemen
bagi perdagangan.
Studi Sharma and Chua (2000) menyimpulkan bahwa perdagangan di
ASEAN meningkat sesuai dengan ukuran perekonomian, dan integrasi ekonomi
ASEAN
tidak
meningkatkan
perdagangan
intra-ASEAN.
Namun,
pada
kenyataannya peningkatan pada perdagangan negara ASEAN terjadi karena
perdagangan dengan negara-negara APEC. ASEAN dapat menghasilkan suatu
keuntungan lebih besar dalam perdagangan dengan pengurangan hambatan
perdagangan secara unilateral dan multilateral di antara anggota maupun dengan
negara di kawasan Asia Pasifik.
Cernat (2001) melakukan studi tentang pengaruh kesepakatan perdagangan
pada negara-negara berkembang. Model yang digunakan adalah model gravity
dengan melibatkan dua variabel dummy intra-RTA dan ekstra-RTA yang dianggap
menggambarkan dampak diversi dan dampak kreasi dari integrasi ekonomi.
Dalam studi ini disimpulkan bahwa pengaruh kreasi integrasi ekonomi RTAs bagi
negara berkembang lebih besar dibanding dampak diversi. Begitu pula integrasi
ekonomi UE, AFTA, COMESA, SADC menimbulkan pengaruh kreasi.
MERCOSUR, Andean Community, ECOWAS menciptakan pengaruh diversi, dan
NAFTA dan CRICOM memberikan kesimpulan yang tidak jelas.
Kim, et al. (2003) meneliti faktor-faktor yang menentukan pola
perdagangan bilateral dengan menggunakan persamaan model gravity dinamis
pada 10 negara Uni Eropa. Kesimpulan mereka menunjukkan bahwa masuknya
FDI pada industri-industri skala besar akan menghasilkan tingkat pertumbuhan
ekspor yang tinggi dibanding dengan impor di dalam industri sektor ini dan
sebaliknya, tingkat pertumbuhan pendapatan secara relatif menyebabkan
tingginya pertumbuhan impor dari ekspor pada sektor makanan dan pertanian.
Lee and Shin (2005) melakukan penelitian mengenai integrasi regional
Asia Timur. Hasil penelitian mereka mengindikasikan bahwa bentuk RTA antara
negara yang diperkirakan secara geografis berdekatan (diukur oleh jarak atau
border) maka secara signifikan perdagangan akan meningkat di antara negaranegara anggotanya. Mereka juga menemukan bahwa letak geografis akan
memberi kontribusi terhadap peningkatan perdagangan antara negara dan rest of
the world, dan lebih lanjut menyatakan bahwa RTA Asia Timur sepertinya dapat
menciptakan (creation) tambahan perdagangan antara negara anggota tanpa
mengurangi perdagangan dari non-anggota.
Frankel (1997) menemukan koefisien kreasi perdagangan integrasi
ekonomi ANDEAN negatif dan tidak signifikan untuk tahun 1960-an dan 1970-an
dan positif kreasi perdagangan tahun 1992. Sementara, Amjadi dan Winters
(1997) meneliti integrasi ekonomi MERCOSUR menyimpulkan bahwa dengan
adanya integrasi ekonomi maka transportation cost perdagangan masing-masing
anggota lebih rendah sehingga memperoleh manfaat net welfare bagi anggota
MERCOSUR. Studi lain yang fokus pada NAFTA menemukan bahwa efek
perdagangan NAFTA mixed dan tidak signifikan untuk extra trade dan intra trade
(Wall, 2000; Krueger, 1999).
Robert (2004) menggunakan model gravity untuk menjelaskan FTA CinaASEAN (CAFTA). Estimasi dilakukan dengan teknik pendugaan OLS. Dari hasil
estimasi menunjukkan bahwa ukuran ekonomi (GDP) dan jarak antara negara
secara signifikan memengaruhi perdagangan antara Cina dan ASEAN. Dalam
model ini, biaya perdagangan atau biaya transport diproksi dengan jarak antara,
yang menyatakan bahwa semakin jauh jarak antara negara anggotanya maka
tingkat perdagangan antara negara anggotanya akan menurun.
Glick and Rose (2001) melakukan penelitian untuk melihat pengaruh
currency union terhadap perdagangan. Estimasi model gravity dilakukan dengan
teknik pooled, random, dan fixed effect. Hasil estimasi menunjukkan bahwa
koefisien currency union (CU) yang diproksi dengan variabel dummy, dimana
nilai CU = 1 jika negara menggunakan mata uang yang sama, dan CU = 0 untuk
yang lainnya. Hasilnya mengindikasikan bahwa negara yang berdagang dengan
mitra dagangnya yang menggunakan mata uang bersama masing-masing dapat
meningkatkan volume perdagangan untuk masing-masing negara.
Hasil penelitian Wiranta (1996) mengenai perkembangan perdagangan di
kawasan ASEAN dan pengaruhnya terhadap Indonesia menyimpulkan bahwa
perdagangan kawasan dengan dunia luar memperlihatkan peningkatan yang cukup
cepat, namun perdagangan intra-ASEAN meningkat jauh lebih cepat. Hal ini
menunjukkan bahwa kerjasama ekonomi kawasan memperlihatkan hasil yang
positif dalam meningkatkan perdagangan intra-ASEAN meskipun lebih kecil
dibanding perdagangan ekstra-ASEAN.
Studi yang dilakukan oleh Tubagus dan Yose (1996) tentang liberalisasi
perdagangan dunia dan bagaimana manfaatnya bagi ASEAN, menunjukkan
bahwa dengan lebih terbukanya liberalisasi perdagangan internasional akan
diperoleh tambahan kesejahteraan ekonomi yang semakin tinggi. Negara-negara
yang bergabung dalam APEC dan AFTA akan mendapatkan manfaat tambahan
dari liberalisasi, tapi tanpa bergabung dengan WTO keuntungannya akan sedikit
saja. Selain itu, Lapipi (2004) menemukan bahwa efek integrasi ekonomi terhadap
volume perdagangan intra-ASEAN relatif kecil dibandingkan efek integrasi
ekonomi APEC terhadap perdagangan negara ASEAN. Keterlibatan anggota
ASEAN dalam integrasi ASEAN belum memberikan efek kreasi, namun
keterlibatannya dalam integrasi ekonomi APEC telah memberikan efek kreasi.
Bussiere, Fidmurc and Schantz (2005) meneliti tentang integrasi
perdagangan dari Central and Eastern European Countries (CEES) dengan
menggunakan model gravity. Data yang digunakan adalah time series dan crosssection yang digabung jadi pooled data. Datanya dimulai dari tahun 1980-2003.
Hasilnya menunjukkan hasil konvergen ke arah tingkat perdagangan normal
karena dekatnya letak geografis mereka dengan penggunaan area Euro dan juga
karena tingkat GDP mereka yang lebih kecil. Negara-negara tersebut secara alami
memiliki peran yang penting terhadap share perdagangan Uni Eropa.
Carillo dan Li (2002) melakukan penelitian menggunakan model
persamaan gravity untuk menjelaskan pengaruh Andean Community (AC) dan
MERCUSOR terhadap perdagangan intra-region dan intra-industri pada periode
1980-1997. Hasilnya menunjukkan market size dan distance, AC Preferential
Trade Area (PTA) memiliki pengaruh signifikan terhadap kedua produk
diferensiasi dan produk pilihan, terutama pada barang-barang capital intensive.
Sebaliknya, PTA Mercusor hanya memiliki pengaruh terhadap kapital intensif
sub-kategori dari produk-produk pilihan yang diteliti.
Beberapa studi tersebut menyimpulkan bahwa integrasi ekonomi memberi
pengaruh pada peningkatan volume perdagangan, peningkatan produksi,
peningkatan efisiensi, peningkatan kesempatan kerja, peningkatan daya saing dan
penurunan cost. Analisis kualitatif Frankel and Rose (1996) dalam penelitiannya
yang menggunakan data dari 21 negara industri menemukan bahwa semakin
tinggi level bilateral trade, akan semakin besar korelasi dari siklus bisnis antara
negara. Ditemukan pula bahwa di 10 negara Asia Timur, fluktuasi perekonomian
lebih terkonsentrasi ketika ketergantungan perdagangan semakin besar di suatu
wilayah. Hal ini menggambarkan bahwa semakin tinggi volume perdagangan
maka semakin mudah untuk membentuk Currency Union.
Shin and Wang (2003) menemukan bahwa intra industry trade adalah
jalur utama dari sinkronnya siklus bisnis Korea dan 11 negara di Asia lainnya,
walaupun peningkatan dalam perdagangan itu sendiri belum tentu diikuti dengan
peningkatan dalam koherensi siklus bisnis.
Dalam kaitan intra industry trade sebagai prasyarat Currency Union, Arif
and Tan (1992) menemukan bahwa didalam perdagangan antar negara ASEAN
pangsa intra industry trade sebesar 96 persen dan inter industry trade hanya
sebesar 4 persen. Hasil penelitian ini diperkuat oleh Lapipi (2004) yang
menemukan hal yang sama bahwa perdagangan di ASEAN didominasi oleh
fenomena intra industry trade sebesar 96 persen.
Pramadhani, Bissoondeeal, dan Driffield (2007) dalam studinya tentang
FDI, perdagangan dan pertumbuhan, dengan menggunakan analisis causality
mengatakankan
bahwa
peningkatan
investasi
asing
di
Indonesia
akan
meningkatkan ekspor, peningkatan ekspor juga akan menambah FDI yang masuk.
Investasi asing juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan
baku dan bahan penolong dalam proses produksi.
Alguacil, Cuadros and Orts (2002) meneliti hubungan FDI, ekspor industri
manufaktur dan domestic performance di Meksiko. Berdasarkan penelitian
tersebut ditemukan hubungan yang signifikan antara pengaruh FDI terhadap
output yang menunjukkan bahwa FDI dapat meningkatkan perekonomian di
Meksiko. Adanya hubungan signifikan antara FDI terhadap ekspor membuktikan
adanya keyakinan FDI led growth yang menggambarkan perusahaan-perusahaan
asing di Meksiko berorientasi ekspor.
Riyadi (1998) melakukan penelitian dengan model ekonometrika,
menemukan bahwa FDI inflow memberi kontribusi positif dan signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi, yakni sektor manufaktur dan sektor jasa. Sedangkan
variabel-variabel ekonomi makro yang mempunyai hubungan positif dan
signifikan yang memengaruhi pertumbuhan FDI inflow adalah investasi domestik
dan impor.
Studi lain yang melihat pengaruh kawasan perdagangan regional terhadap
pola FDI telah dilakukan Kreinin and Plummer (2002) menggunakan pendekatan
ini
untuk
Uni
Eropa
dan
NAFTA.
Blomstrom
dan
Kokko
(1997)
menggunakannya untuk kawasan perdagangan bebas Amerika Serikat-Kanada,
NAFTA, dan MERCOSOR. Kreinin and Plummer (2002) menemukan tidak
adanya bukti diversi investasi dan menemukan sejumlah bukti kreasi investasi.
Sementara, Blomstrom dan Kokko (1997) menemukan bahwa pengaruh
regionalisme terhadap arus FDI tergantung pada pengaruh kesepakatan terhadap
lingkungan kebijakan komersil dan keunggulan lokasional dalam negara yang
berintegrasi.
Studi ini cakupannya masih terbatas, yaitu tidak berusaha memodelkan
skenario kontra faktual atau tidak menggunakan pendekatan ekonomoterika pada
determinan FDI. Pain (1996) menggunakan panel-data disagregasi untuk
mengestimasikan determinan investasi Inggris di Uni Eropa dan menemukan bukti
pengaruh positif yang signifikan secara statistika terhadap outflow FDI ke negara
Uni Eropa lainnya dan terjadi diversi FDI dari Amerika Serikat. Hasilnya hanya
didasarkan pada negara sumber Inggris dan satu lagi Amerika Serikat.
3.10.
Kerangka Pemikiran Disertasi
Integrasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan internasional adalah cerita
keberhasilan dan kesuksesan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan ekonomi global tersebut berlangsung sangat cepat dan terintegrasi,
mendorong peningkatan efisiensi ekonomi untuk memperoleh daya saing yang
tinggi. Hambatan dalam kegiatan ekonomi mulai dikurangi bahkan dihilangkan
terutama dalam kegiatan investasi dan perdagangan terhadap barang maupun jasa,
dengan membentuk World Trade Organization (WTO). Pada awalnya WTO
diperkirakan akan berjalan mulus, ternyata dalam perkembangannya mengalami
berbagai kendala dan kegagalan. Penyebabnya adalah belum siapnya negara
anggota menjalankan kesepakatan WTO. Dalam rangka mempersiapkan diri
dalam WTO, beberapa negara di dunia membentuk blok-blok ekonomi
berdasarkan batas wilayah dan rumpun untuk memperkuat ekonomi seperti Uni
Eropa, NAFTA, MERCOSUR, ASEAN dan lainnya. Tujuannya adalah
meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi negara anggota. Beberapa
kawasan integrasi ekonomi dunia disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Kawasan Integrasi Ekonomi Dunia
AFTA
ASEAN Free Trade Area
CSN
Danean Community CSN
ASEAN
Association Of South East Asian Nations
CER
Closer Economic Relations Trade Agreement
ECO
Economic Coorperation Organisations
EFTA
European Free Trade Association
EU
European Union
NAFTA
North American Free Trade Agreement
SAPTA
Preferential Trade Arrangement
SPAR TECA
South Pacific Regional Trade dan Economic Cooperation
Sumber : Clarete, Ramon, C. Edmonds and J.S. Wallack (2003)
Kesuksesan pelaksanaan integrasi ekonomi Uni Eropa sampai tahapan
yang sangat maju, telah mendorong berkembangnya integrasi ekonomi pada
beberapa kawasan lainnya mulai dari kerjasama ekonomi bilateral sampai pada
kerjasama pada satu kawasan yang lebih luas, baik pada skala ekonomi yang kecil
maupun dalam skala integrasi ekonomi yang lebih luas. Persaingan antar kawasan
kerjasama ekonomi mulai berkembang yang mengarah pada efisiensi ekonomi
kawasan.
Perbandingan kawasan ASEAN dengan kawasan integrasi ekonomi
lainnya dalam size ekonomi dan GDP disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Perbandingan ASEAN dengan Kawasan Integrasi Ekonomi Lain
Badan
Populasi
UE
456 285 839
ASEAN
553 900 000
NAFTA
430 495 039
CSN
366 669 975
CINA
1.306 847 624
INDIA
1.102 600 000
Amerika Serikat
296 900 571
Sumber : ASEAN Secretariat (2008).
GDP (PPP)
11 064 752
2 172 000
12 889 900
2 635 349
7 249 000
3 433 000
11 190 000
GDP (PPP)
Per Kapita
24.249
4.044
29.942
7.187
5.200
3.100
39.100
Negara
Anggota
25
10
3
12
33
35
50
Kondisi tersebut mendorong pembentukan kerjasama negara-negara
ASEAN sejak tahun 1967. Krisis ekonomi yang melanda negara pada kawasan
Asia Timur, semakin memantapkan langkah negara ASEAN untuk menjalankan
integrasi ekonomi yang lebih luas. Kemungkinan pelaksanaan integrasi keuangan
dan integrasi moneter menjadi cita-cita negara ASEAN yang dipandang dapat
meningkatkan daya tahan ekonomi negara anggotanya. Kerangka pemikiran
penelitian disertasi ini secara singkat disajikan pada gambar 1.
Globalisasi
Ekonomi
Daya saing
ekonomi
WTO
 Kegagalan WTO
 Persaingan
Ekonomi Regional
Regionalisasi Ekonomi
 Uni Eropa
 NAFTA
 APEC
 ASEAN
Free Trade
(Penghapusan Tarif)
Barang dan Jasa
 Keberhasilan EMU
 Krisis Ekonomi 98
Integrasi
Free Factor Mobility
 Modal
 Tenaga Kerja
Investasi
Perdagangan
-
TII
Open
GDP
Populasi
FDI
Tax
Real Exchange Rate
Interest Rate
APEC
Efek Kreasi
-
GDP
Trade
Population
Distance
Size
Open
Real Exchange Rate
Interest Rate
Cina, India, UE, APEC, NAFTA
Efek Diversi
GDP (Gross Domestic Product) / Output
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Disertasi
Integrasi ekonomi ASEAN yang lebih luas, diharapkan dapat menciptakan
free mobility factor (modal dan tenaga kerja) dan terjadi pembebasan tarif barang
dan jasa bagi negara ASEAN yang berdampak pada peningkatan volume
perdagangan, peningkatan investasi, efisiensi produksi dan efisiensi alokasi
sumberdaya dan peningkatan pendapatan faktor. Penghapusan hambatan
perdagangan dan investasi serta penyatuan dalam pasar keuangan dan penyatuan
moneter akan memberi dampak kreasi bagi negara-negara anggota ASEAN
sekaligus dapat memberikan efek diversi bagi negara-negara anggota.
Pengaruh diversi muncul karena adanya proteksi bagi negara non-anggota
ASEAN yang lebih efisien dalam kegiatan produksi barang dan jasa. Dampak
akhir yang diharapkan dalam integrasi ekonomi ASEAN adalah pertumbuhan
output yang diukur dengan pertumbuhan GDP masing-masing negara anggota
sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat negara anggota integrasi.
Download