this PDF file

advertisement
POLITIK SEKSUAL DALAM NOVEL LEMAH TANJUNG, PECINAN
KOTA
MALANG, DAN 1998 KARYA RATNA INDRASWARI IBRAHIM
Yuni Kuswidarti
Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Pare | Jl. Pahlawan Kusuma Bangsa No. 2 Pare
Email: [email protected]
Abstrak: Pada pergerakan feminis radikal, satu slogan yang terkenal adalah „the
personal is political‟. Politik yang dimaksud tidak hanya beroprasi pada lingkup Negara
namun bermula dari lingkup kecil seperti keluarga. Peneliti menemukan adanya bentukbentuk politik seksual pada era Orde Barudalam Novel Lemah Tanjung, Pecinan Kota
Malang, dan 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim menggunakan konsep Kate Millet.
Hadirnya politik seksual yang mengopresi perempuan menyebabkan adanya negosiasi
terhadap sistem patriarki yang telah mengakar dalam masyarakat.
Kata Kunci: Novel, Politik Seksual, Patriarki, Orde Baru, Perempuan.
Abstract: In the radical feminist movement, one well-known slogan is that “the personal
is political”. Politics here are not only working within the scope of such a large state, but
starting from small scope, like family. The research found other forms of sexual politics
that occured in the era of the New Order (Orde Baru) in novel Lemah Tanjung, Pecinan
Kota Malang, and 1998 by Ratna Indraswari Ibrahim using the concept of Kate Millet.
The presence of sexual politics that oppress women leads them to conduct negotiations
over the patriarchal system which is deeply embedded in society.
Keywords: Novel, Sexual Politics, Patriarchal, New Order (Orde Baru), Women.
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
mereka.
1. Pendahuluan
Karya
sastra
tidak
hanya
Hal
ini
munculnya
ditandai
dengan
perempuan-perempuan
dipandang sebagai imajinasi pengarang
pengarang dalam dunia sastra Indonesia
semata. Herder dan Immanuel Kant
yang melihat kondisi sosial politik
memiliki
saling
melalui “kaca mata” perempuan dalam
mendukung dalam memandang karya
karya-karya mereka pada saat itu,
sastra. Menurut Kant, kesesuaian karya
seperti Ayu Utami, Dee Lestari, Fira
sastra
Basuki,
pendapat
dengan
psikologi
yang
alam,
merupakan
sejarah,
suatu
dan
kriteria
keindahan karya sastra. Sedangkan,
Laksmi
Pamuntjak,
Djenar
Maesa Ayu, Titis Basono, Abidah El
Khalieqy, dan lain-lain.
menurut Herder setiap karya sastra lahir
Karya sastra yang diproduksi
dari lingkungan sosial dan geografi,
oleh
sehingga karya sastra kemudian dapat
Soeharto memberikan kontribusi yang
dinilai
sebagai
cukup signifikan untuk memikirkan
sejarah (Swingewood dan
ulang sebuah negara. Setelah Orde Baru
sekaligus
referensi
dilihat
Laurenson, 1971).
perempuan
pasca-
runtuh dan kehilangan legitimasinya,
Karya sastra
yang dianggap
karya-karya
baru
sebagai dokumen sosial merupakan
mengeksplorasi
salah satu alternatif bagi pengarang
untuk
untuk
persyaratan,
turut
pengarang
berperan
dalam
perempuan
berbagai
berbicara,
mulai
alternatif
mengajukan
dan
jika
mungkin
“mendefinisikan
serta pemikirannya atas permasalahan
bangsa,
dengan
yang terjadi di masyarakat. Salah satu
perspektif dan menjabarkan pengalaman
permasalahan di Indonesia yang banyak
perempuan
yang
diangkat dalam karya sastra adalah
perdebatan
itu.
kondisi sosial Politik di Era Orde Baru.
pengarang menyadari bahwa wacana
Berakhirnya Orde Baru yang otoriter
kekuasaan
memicu
termasuk
ditanamkan oleh Orde Baru tidak hanya
perempuan pengarang untuk berani
menekan heterogenitas, namun terutama
“bersuara‟
juga
menyumbangkan
para
segala
pengarang,
melalui
pandangan
tulisan-tulisan
ulang”
memperhatikan
terkait
Para
negara
memarjinalkan
dengan
perempuan
yang
telah
perempuan.
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
Sehingga, meskipun ini adalah cara
maupun
yang
feminis. Arimbi (2009) menjelaskan
amat
menantang dan
terjadi
mahasiswa
perspektif
banyak masalah di awal mereka tetap
bahwa
berkontribusi secara mendalam untuk
mempercayai
melakukan
dari
ditulisnya dapat mendukung gerakan
ideologi kekuasan di era persatuan,
perempuan, karena karya-karya tersebut
gender, ras, kelas, dan kebangsaan
juga
(Michalik & Budianta, 2015).
perlawanan untuk maskulinitas yang
pemeriksaan
ulang
Ratna
dari
berfungsi
Indraswari
Ibrahim
karyakarya
yang
sebagai
salah
satu
Dari sekian banyak perempuan
telah mengakar di Indonesia. Menurut
pengarang yang muncul pada masa itu,
Ratna, bias ideologi patriarki telah
salah
berdampak cukup besar pada sistem-
satu
perempuan
pengarang
Indonesia yang cukup produktif dan
sistem
telah mengeluarkan banyak karya sastra
Indonesia. Sehingga, negara seakan-
adalah Ratna Indraswari Ibrahim. Selain
akan hadir untuk mewakili laki-laki,
sebagai pengarang, ia dikenal aktif
sedangkan
dalam
masyarakat yang „diam‟ dan dianggap
berbagai
organisasi
sosial,
termasuk organisasi perempuan. Pada
awalnya, Ratna Indraswari Ibrahim
yang
berlaku
di
perempuan
negara
menjadi
kelompok marjinal.
Peneliti
menemukan
hal-hal
lebih dikenal sebagai cerpenis. Ia telah
yang menarik berdasarkan pembacaan
menerbitkan kurang lebih 400 cerpen
awal atas tiga novel Ratna Indraswari
dalam bentuk buku kumpulan cerpen,
Ibrahim, yakni Lemah Tanjung, Pecinan
maupun tersebar
media massa.
Kota Malang, dan 1998. Pertama, Ratna
Namun, karena keaktifannya dalam
Indraswari Ibrahim menawarkan setting
menulis, ia pun telah menghasilkan
waktu pada masa Orde Baru dalam tiga
beberapa
novelnya
di
novel.
Tema-tema
yang
dari
beberapa
sisi
yang
diangkat oleh Ratna dalam cerpen
menunjukkan bahwa permasalahan pada
maupun
era Orde Baru begitu kompleks, hingga
novelnya
permasalahan
Karyakaryanya
adalah
seputar
perempuan.
seringkali
dipilih
sebagai bahan kajian oleh para peneliti
berpengaruh
ekonomi,
pada
maupun
etnisitas,
sosial,
politik.
Kedua,
tokohtokoh dan permasalahan yang
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
dimunculkan oleh Ratna Indraswari
kelima,
keaktifan
Ibrahim berasal dari daerah (lokal) yaitu
Ibrahim
dalam
Malang, Jawa Timur, akan tetapi apa
sosial
yang dirasakan dan dipikirkan oleh para
karyanya disusun berdasarkan seminar-
tokoh perempuannya dapat dikatakan
seminar yang pernah ia ikuti, penelitian-
mewakili perempuan Indonesia secara
penelitian, atau pun memanfaatkan data-
umum. Ketiga, jika beberapa pengarang
data empiris lainnya.
yang
memunculkan tokoh “korban” yang
Ratna
Indraswari
beberapa
organisasi
memungkinkan
Berdasarkan
latar
karya-
belakang
menerima diskriminasi di masa Orde
tersebut, peneliti melakukan penelitian
Baru secara langsung, Ratna Indraswari
berjudul “Politik Seksual dalam novel
Ibrahim justru menampilkan beberapa
Lemah Tanjung, Pecinan Kota Malang,
tokoh yang berada di sekitar “korban”.
dan
Hal ini menunjukkan bahwa dalam
Ibrahim”. Hal ini karena, meskipun
ketiga novelnya, Ratna memperlihatkan
telah banyak karya-karya lain Ratna
dampak sosial politik Era Orde Baru
Indraswari Ibrahim yang telah dikaji
telah diterima oleh masyarakat secara
dengan
menyeluruh.
feminis,
dibandingkan
Keempat,
karya
Ratna
menggunakan
akan
Indraswari
kritik
tetapi
belum
sastra
ada
novel-novel
penelitian yang menggunakan konsep
perempuan pengarang lain di masa
politik seksual. Konsep politik seksual
reformasi (misalnya, karya-karya sastra
(Sexual Politics) Kate Millet dianggap
wangi yang dikenal mengeksplorasi
penting dan sesuai untuk dimanfaatkan
seksualitas perempuan) tiga novel Ratna
dalam penelitian novel-novel Ratna
Indraswari Ibrahim memang terlihat
Indraswari Ibrahim karena konsep ini
“kurang berani”, akan tetapi novel
menelusuri adanya relasi kuasa antara
Lemah Tanjung, Pecinan Kota Malang,
laki-laki dan perempuan dari berbagai
dan
institusi
1998
dengan
jika
1998
sangat
realistis
dalam
pendukung
patriarki
yang
menggambarkan kegalauan mayoritas
multidimensional sekaligus menemukan
perempuan pada masa itu, yaitu antara
bentuk-bentuk negosiasi yang dilakukan
kepasrahan
untuk
oleh tokoh-tokoh perempuan. Konsep
Dan
politik seksual lahir ketika Kate Millet
melawan
dan
dalam
keinginan
keterbatasan.
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
menemukan
bentuk-bentuk
politik
seksual dari pengkajiannya terhadap
novel-novel
laki-laki
yang
juga
memperhatikan
kondisi
sosial
politik era Orde Baru.
sangat
Barry (2010) menyatakan bahwa
patriarkal. Meskipun demikian, peneliti
feminisme sejak awal memang memiliki
memanfaatkan model penelitian politik
kepedulian krusial terhadap buku dan
seksual Kate Millet untuk meneliti
sastra,
novelnovel Ratna Indraswari Ibrahim
menyadari bahwa citra perempuan telah
yang umumnya bernafaskan feminis.
banyak disebarluaskan melalui karya
Hal ini karena, penelitian ini justru
sastra, sehingga kemudian diperlukan
dapat digunakan untuk melihat sejauh
perlawanan
mana sistem patriarki beroperasi dalam
otoritas dan koherensinya.
karena
kaum
serta
feminisme
mempertanyakan
menempatkan perempuan pada posisi
Kritik sastra feminis memiliki
subordinat bahkan setelah perempuan
tujuan untuk meningkatkan kesadaran
melakukan negosiasi.
peran perempuan dalam aspek produksi
Berdasarkan latar belakang yang
telah
dipaparkan,
merumuskan
penelitian
politik
ini,
seksual
maka
peneliti
sejauh mana laki-laki mendominasi
dalam
perempuan di berbagai aspek (Carter,
bagaimanakah
2006). Hal ini karena, kritik sastra
permasalahan
yaitu
sastra sekaligus untuk mengungkapkan
digambarkan
dalam
feminis akan memperlihatkan adanya
novel “Lemah Tanjung”, “Pecinan
pengaruh
Kota Malang”, dan “1998” karya Ratna
kehidupan seharihari dengan melakukan
Indraswari Ibrahim dan bagaimanakah
penelitian teks. Menurut Barker (2004),
bentuk-bentuk
patriarki
negosiasi
tokoh
budaya
merupakan
patriarki
sistem
dalam
tatanan
perempuan terhadap politik seksual
sosial yang terus menerus berulang,
dalam novel-novel tersebut.
yaitu dominasi laki-laki atas subordinasi
2. Landasan Teori
perempuan di berbagai sosial praktis.
Penelitian ini menggunakan teori
Budaya patriarki yang telah mengakar di
kritik sastra feminis dan memanfaatkan
masyarakat inilah yang menciptakan
model pengkajian politik seksual dari
opresi terhadap perempuan.
Kate Millet. Selain itu, penelitian ini
2.1 Politik Seksual
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
Dalam
gerakan
feminisme
Millet, Patriarkal cenderung membesar-
feminisme
gelombang
besarkan perbedaan biologis antara laki-
kedua sangat dikenal sebuah slogan,
laki dan perempuan, dan memastikan
yaitu “the personal is political” yang
bahwa laki-laki adalah maskulin dan
dikatakan
selalu
radikal
atau
mampu
menjangkau
lebih
dominan
sedangkan
persoalan perempuan hingga ke ranah
perempuan sebagai feminin mempunyai
privat. Politik dapat beroperasi secara
peran yang subordinat. Karena begitu
terselubung sekaligus mengemuka. Hal
kuatnya
itu dilakukan sebagai usaha untuk
perempuan seakan-akan harus menerima
menyalurkan kehendak kuasa laki-laki
opresi tersebut (Tong, 2006).
terhadap perempuan. Politik di sini tidak
ideologi
Politik
ini,
seksual
sehingga
merupakan
hanya bekerja dalam lingkup besar
hubungan kekuasaan antara laki-laki
seperti negara melainkan dimulai dari
dan perempuan sebagai dampak dari
lingkup
perbedaan seksual yang dipengaruhi
kecil,
seperti
keluarga.
Persoalan politik berselubung kekuasaan
oleh
terhadap
hanya
mengakar kuat di masyarakat. Sehingga
meliputi perepresian perempuan dalam
dalam masyarakat patriarki, perempuan
memiliki hak suara politik dan hak ikut
memiliki
serta
minoritas, yaitu sekelompok manusia
perempuan
dalam
tidak
keterwakilan
politik,
sistem
patriarki
status
yang
sebagai
kelompok
melainkan ikut masuk dalam ketubuhan
yang
itu sendiri.
dengan masyarakat yang lain karena
Politik
Seksual
merupakan
diperlakukan
telah
secara
berbeda
kondisi fisik atau sifat budayanya.
“...sex
is
a
pemikiran Kate Millet yang dibahas
Millet
menuliskan
dalam bukunya yang berjudul Sexual
status
category
Politics (1970). Kate Millet adalah salah
implications (2000)”, ia menganggap
satu tokoh feminis radikal-libertarian
seks
yang
memiliki implikasi politik.
berpendapat
seks/gender
di
merupakan
akar
dialami
oleh
bahwa
dalam
dari
sistem
patriarki
opresi
perempuan.
sebagai
with
kategori
political
status
yang
Penelitian ini menerapkan model
yang
pengkajian Kate Millet terhadap novel,
Menurut
yaitu dengan menelusuri munculnya
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
politik seksual dari institusi-institusi
pola
yang
sistem
pimpinan agensi sosialisasi gender. 7
patriarki di masyarakat Akan tetapi,
Sosialisasi terutama dilakukan dalam
karena novelnovel Ratna Indraswari
ranah keluarga yang pada akhirnya akan
Ibrahim selalu memunculkan semangat
menyebar ke masyarakat luas.
perjuangan tokoh-tokoh perempuan di
• Kelas. Menempatkan perempuan “di
dalamnya, maka selain menemukan
bawah‟ laki-laki, darimana pun kelas
bentuk-bentuk politik seksual, dalam
sosial mereka berada. Menciptakan
penelitian ini akan ditemukan pula
adanya pertentangan antara perempuan
bentuk-bentuk negosiasi yang dilakukan
yang
oleh tokoh-tokoh
perempuan lain.
telah
melanggengkan
perempuan untuk
general
dominasi
satu
dengan
pria
dan
perempuan-
melawan patriarki. Berikut ini institusi-
• Ekonomi dan pendidikan. Pekerjaan
institusi
yang
domestik perempuan tidak mendapatkan
beroperasi dengan saling terkait dan
bayaran dan seringkali tidak dianggap
saling
sebagai pekerjaan, dimana pekerjaan
pendukung
patriarki
mempengaruhi
dalam
mengukuhkan sistem patriarki (2000).
mereka dalam pandangan publik adalah
•
Ideologis.
Politik
seksual
tidak dibayar, mendapatkan diskriminasi
sistem
patriarki
dan eksploitasi. Wanita diarahkan dan
temperamen,
didorong ke level yang lebih rendah
peran, dan status pada laki-laki dan
pada performa dan pada spesialisasi
perempuan.
pendidikan yang kurang dapat dijual.
• Biologis. Promosi politik seksual,
• Paksaaan. Patriarki didukung oleh
melalui ilmu religi dan ilmu sains
koersi legal dan dengan ancaman serta
popular, pandangan bahwa perbedaan
fakta kekuatan informal dengan adanya
biologis meningkatkan perbedaan sosial,
pemerkosaan
dimana gender merupakan reifikasi seks
rumah tangga.
daripada suatu konstruksi sosial dan

menyosialisasikan
dengan
pembentukan
dan
kekerasan
dalam
Mitos dan agama. Dalam hal ini
kultural yang dapat ditampilkannya
agama Kristen yang mengajarkan
• Sosiologis. Originalisasi politik sosial
peranan Eva sebagai sumber dari
merupakan bagian yang menetapkan
penderitaan manusia,
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
menghubungkan wanita dengan seks
“pengiburumahtanggaan”
dan dosa, mencemari rayuan wanita dan
diharuskan untuk bersedia bekerja tanpa
mendorong pria untuk terayu.
dibayar atau kalaupun dibayar, mereka
• Psikologis. Untuk dapat mengatasinya,
akan dibayar dengan upah yang rendah.
wanita harus menerima karakteristik
Dan
personal yang inferior, mereka harus
memanipulasi
merendahkan
secara sosial, politik, maupun ekonomi,
mereka
diri,
bawahan,
menerima
standar
menjadikan
diri
merayu
pria,
ganda
seksual,
untuk
pemerintah
mereka
membendung
kekuatan
Orde
dan
perempuan
Baru
berupaya
mendefinisikan mereka dalam kategori
“istri”
pada
utama
intuisi, emosi dan insting daripada
akhirnya menciptakan budaya “ikut
intelektual dan menerima perilaku yang
suami” (Suryakusuma, 2011).
terus menerus sebagai obyek seksual.
sebagai
yang
melengkapi perilaku mereka dengan
Selain
itu,
pemerintah
juga
menyebarkan ideologi “bapak-ibuisme”
2.2 Sosial Politik dan Politik Seksual
pada
seluruh
Era Orde Baru
bertujuan
lapisan
untuk
masyarakat
mendukung
“asas
kekuasaan
kekeluargaan” dalam Pancasila yang
tertinggi yang turut membentuk serta
pada masa itu sangat digaungkan. Disini
melanggengkan
“bapak”
Negara
memiliki
ideologi
patriarkal
adalah
sumber
dalam masyarakat. Pemerintah Orde
kekuasaan
Baru telah membuat beberapa konsep
merupakan
yang dianggap merugikan perempuan,
kekuasaan
seperti
programprogram pembangunan negara
“Ibuisme
negara”
mengandung
yang
unsur-unsur
sementara
utama
salah
satu
tersebut,
“ibu”
“mediator”
sehingga
dapat terealisasi dengan baik.
“pengiburumahtanggaan” dan “ibuisme”
Kebijakan-kebijakan pemerintah
yang mengarah pada “domestikasi”.
yang berujung pada politik seksual ini
Paham
telah dirancang dengan begitu rapi oleh
“ibuisme”
mengharuskan
perempuan
untuk
anakanak,
keluarga,
Sedangkan
melayani
dan
suami,
negara,
negara.
masyarakat
dengan
perempuan
sehingga
tidak
banyak
yang menyadari bahwa
telah
disubordianasi.
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
Suryakusuma
(2011)
menjelaskan
Pada peristiwa kerusuhan Mei
bahwa perempuan mendapatkan “peran
1998,
ganda”
mendapatkan
“beban
yang
berarti
ganda”,
mengharuskan
sekaligus
Tionghoa
kerugian,
banyak
baik
secara
yaitu
dengan
psikis, fisik, maupun materi. Rumah-
mereka
untuk
rumah dan toko-toko mereka dibakar
“berpartisipasi” dalam
negara
mendapatkan
etnis
pembangunan
tidak
dan
dijarah,
mereka
menerima
boleh
kekerasan, ancaman, siksaan, pelecehan,
meninggalkan “kodrat” mereka sebagai
bahkan pembunuhan. Terlebih lagi,
pencipta keluarga yang bahagia dan
banyak
sejahtera. Maka, politik seksual dalam
perempuan-perempuan etnis Tionghoa
kondisi negara yang menindas ini secara
tanpa
terus-menerus mempersempit pilihan
Suryadinata
perempuan sebagai individu.
perempuan Tionghoa dapat dikatakan
terjadi
alasan
pemerkosaan
yang
(2002)
jelas.
di
pada
Menurut
Indonesia,
Selain permasalahan yang telah
menempati posisi double minority, yaitu
dipaparkan di atas, masa Orde Baru juga
sebagai perempuan dan sebagai etnis
lekat dengan permasalahan sentimen
Tionghoa. Hal ini, tentu membuat
rasial yang menimpa etnis Tionghoa.
perempuan-perempuan etnis Tionghoa
Pada saat itu, masyarakat peranakan
merasa tidak aman dan tertekan.
Tionghoa dianggap sebagai „liyan‟ oleh
Masa Orde Baru yang berakhir
masyarakat pribumi. Kehadiran mereka
pada Mei 1998 menawarkan reformasi
selalu distigmakan negatif. Dari sinilah
sebagai jalan terang dari kebungkaman
maka
dan
sekaligus kerusuhan masyarakat. Sejak
kecemburuan dari masyarakat pribumi
hadirnya era Reformasi, masyarakat
yang
lebih berani untuk “bersuara” bahkan
muncul
akibatnya
kebencian
orang-orang
etnis
Tionghoa seringkali dijadikan kambing
dengan
hitam
dalam
ketidakadilan. Hal ini juga berlaku bagi
permasalahan negara. Termasuk dalam
para perempuan Indonesia. Mereka
kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada
banyak
mendirikan
Mei 1998 (Suryadinata, 2002).
organisasi
yang
perempuan
di
(scapegoating)
lantang
untuk
memprotes
organisasi-
memikirkan
masa
depan
nasib
yang
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
diharapkan dapat terbebas dari opresi
dan 1998. Sedangkan, data sekunder
dan subordinasi.
dalam penelitian ini dapat berupa jurnal,
3. Metode Penelitian
artikel,
Penelitian
ini
serta
buku-buku
yang
menggunakan
didalamnya memuat metode kritik sastra
pendekatan kualitatif-deskriptif. Hal ini
feminis, konsep politik seksual Kate
karena
Millet, ulasan tentang Ratna Indraswari
pendekatan
kualitatif
dapat
memberi penjelasan yang luas mengenai
Ibrahim
perilaku
dan
berbagai
Creswell
(2009)
kebiasaan
yang
manusia.
menyatakan
dan
karyakaryanya,
studi
serta
perempuan
yang
diperlukan untuk membantu analisis.
bahwa pendekatan kualitatif sebagai
Teknik pengumpulan data dalam
pendekatan yang menyediakan suatu
penelitian
ini
dilakukan
sudut pandang untuk membentuk tipe-
beberapa
tahap,
antara
tipe pertanyaan, menjelaskan bagaimana
membaca
secara
data diperoleh, menganalisis data, serta
mendetail
memberi ruang untuk sebuah ajakan
menemukan serta menandai hal-hal
perubahan.
yang berkaitan dengan politik seksual,
Dalam penelitian ini, peneliti
melakukan
interpretasi,
(3)
dengan
lain:
(1)
menyeluruh
dan
reading),
(2)
(close
mengumpulkan
data-data
dari
mencoba
berbagai sumber yang dikumpulkan
memahami atau menafsirkan makna dari
melalui studi kajian pustaka (library
fenomena-fenomena
reseacrh).
di
dunia
yang
(4)
melakukan
analisis
terjadi di dalam teks sastra, yaitu novel-
lanjutan terhadap ketiga novel, (5)
novel Ratna Indraswari Ibrahim. Untuk
melakukan seleksi terhadap seluruh
mendukung analisis dalam penelitian
data, yang bertujuan agar mendapatkan
ini, peneliti menggunakan teori kritik
data yang sesuai untuk analisa. Teknik
sastra feminis.
analisis
data
dalam
penelitian
ini
Dalam penelitian ini, ada dua
dilakukan dalam beberapa tahap, antara
jenis data, yaitu data primer dan data
lain, (1) menyiapkan dan menyusun
sekunder. Data primer dalam penelitian
data-data yang akan dianalisis (baik data
ini adalah novel-novel tersebut adalah
primer maupun sekunder), (2) membaca
Lemah Tanjung, Pecinan Kota Malang,
data primer, (3) melakukan coding, (4)
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
memperoleh sebuah deskripsi untuk
menyatakan ketidaktertarikan mereka
dianalisis dari data coding yang telah
pada dunia politik.
“Putri merasa Reformasi
dilakukan pada tahap tiga, (5) peneliti
melakukan analisis
dan interpretasi
ini milik Neno dan aktifis lain,
terhadap semua data yang diperoleh.
bukan milik dia yang lebih suka
diam
saja
di
rumah
dan
4. Hasil dan Pembahasan
menikmati kebersamaan dengan
4.1 Politik Seksual yang muncul dari
Neno.” (2012:183)
Kekuasaan dan Rasial
Tokoh-tokoh perempuan dalam
“Asrul, kamu tahu, saya tidak
Lemah Tanjung, Pecinan Kota Malang,
suka berpolitik praktis. Apalagi
dan 1998 terlihat “kurang akrab” dengan
menjadi kebo ijo. Saya ini cuma
dunia politik. Ninik dan Purti (1998)
ingin menjadi teman bu In.
harus
Kalau saya dianggap sudah
memiliki “suara” yang “senada” dengan
dipolitisasi, satusatunya jalan
Suwarno sebagai kepala keluarga. Bu
agar tidak masuk ke pusaran itu,
Indri
saya harus meninggalkan kota
dan
digunakan
Gita
(Lemah
sebagai
Tanjung)
“pion”
dalam
Malang.” (2003:372)
permainan politik beberapa pihak yang
memanfaatkan
mereka
perjuangan
dalam
murni
mempertahankan
Dunia
dikuasai
oleh
politik
lebih
laki-laki,
banyak
perempuan
hanya
sebagai
„penonton‟
atau
lingkungan. Dan Anggraeni (Pecinan
berperan
Kota
perempuan
„pendukung‟ laki-laki. Padahal politik
Tionghoa yang begitu ketakutan atas
merupakan salah satu jalan utama yang
kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada
dapat
Mei 1998 namun tidak bisa pergi
menghapuskan ketidakadilan seksual.
meninggalkan
Namun,
Malang)
seorang
Indonesia
tanpa
izin
digunakan
perempuan
inferioritas
yang
untuk
terlanjur
suaminya. Semua tokoh perempuan
meresap dalam diri perempuan pada
tersebut juga secara terang-terangan
akhirnya membuat mereka pun enggan
untuk berpartisipasi di ranah politik.
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
Terlebih bagi perempuan Tionghoa,
4.2 Politik Seksual yang Muncul dari
yang saat itu menjadi sasaran dan
Kelas Sosial
dikambinghitam-kan
dalam
Isu kesenjangan sosial sangat
mereka
tidak
jelas terlihat pada era pemerintahan
kesempatan
untuk
Orde Baru. Hal ini tentu berpengaruh
politik,
karena
pada sektorsektor lain di masyarakat,
pemerintah Orde Baru saat itu telah
termasuk bagaimana kelas sosial dapat
melarang dengan tegas bergabungnya
mempengaruhi
etnis Tionghoa. Para perempuan etnis
menjalankan peran gendernya yang
Tionghoa menerima diskriminasi yang
berujung
bertubi-tubi
mereka
Masyarakat menilai bahwa kelas sosial
yaitu
tinggi umumnya ditempati oleh laki-
terdiskriminasi di dalam masyarakat
laki. Sehingga kelas sosial tersebut
karena statusnya sebagai etnis Tionghoa
digunakan sebagai modal kekuasaan
dan sebagai perempuan atau seorang
mereka.
istri.
mencapai kelas sosial tinggi akan
permasalahn
mungkin
punya
memasuki
sebagai
politik,
dunia
karena
“double
posisi
minority”,
Konstruksi-konstruksi yang telah
seseorang
pada
politik
Lakilaki
dipandang
yang
sebelah
dalam
seksual.
tidak
mata
bisa
oleh
dibuat oleh negara pada masa Orde Baru
masyarakat. Sementara, bagi perempuan
yang menjauhkan para perempuan dari
yang
dunia
mungkin
politik
tersebut
kemudian
memiliki
kelas
sosial
tinggi
saja bisa “menang” dari
berpengaruh pada kehidupan perempuan
perempuan lain, namun hal itu tidak
di berbagai aspek, yaitu seperti kelas
berlaku bagi relasinya dengan laki-laki.
sosial yang erat kaitannya dengan
Di mana pun kelas sosial perempuan,
ekonomi dan pendidikan, keluarga serta
mereka tetap dianggap sebagai inferior,
cinta
seorang “istri” yang “ikut” suami.
dan
pernikahan
yang secara
otomatis akan mempengaruhi hubungan
Novel-novel
Ratna
menggambarkan
sosial mereka dengan masyarakat luas.
permasalahan yang terjadi antara lakilaki dan perempuan maupun perempuan
dengan
perempuan
lain
perihal
perbedaan kelas sosial. Tokoh Roy
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
“(...) Saya tahu, kamu
(Lemah Tanjung) menggunakan kelas
sosialnya untuk dapat menakhlukkan Bu
belum
sampai
mencintainya.
Indri dan Gita, dalam hal bisnis maupun
Kamu cuma terseret oleh arus
cinta. Tokoh Ninik dan Suwarno serta
yang besar. Kamu terpesona
Putri dan Neno (1998) dapat dikatakan
karena kehidupannya barangkali
sebagai pasangan beda kelas sosial.
adalah impian kita bersama.”
Begitu juga dengan Lely dan Gunaldi
(2003:253)
(Pecinan Kota Malang) yang berbeda
Sementara
itu,
karir
dan
suku. Kelas sosial Suwarno dan Neno
kesibukan yang telah dicapai bu Indri
yang
pada
serta kemerdekaan berpikir Banon dan
mereka
mbak Syarifah membuat Gita (Lemah
diremehkan oleh masyarakat. Namun,
Tanjung) merasa cemburu. Ninik (1998)
hal ini bukan berarti mereka kehilangan
iri pada karir dan kesuksesan Farida.
otoritasnya sebagai laki-laki. Ninik dan
Hal ini membuatnya menyadari bahwa
Putri tidak bisa menukar kelas sosialnya
selama
dengan kekuasaan, sehingga mereka
beraktualisasi di tengah masyarakat
tetap berada dalam posisi subordinat.
karena
Sama halnya dengan Lely, karena nilai-
domestik. Lely dan Anggraeni (Pecinan
nilai patriarkal yang sejak kecil telah
Kota Malang) saling cemburu karena
tertanam begitu kuat dalam dirinya, ia
kekuarangan
tetap
yang
cemburu pada pendidikan tinggi dan
mengabdikan diri pada suami meskipun
kecerdasan yang dimilki Anggraeni.
berasal dari suku yang lebih tinggi serta
Sedangkan Anggraeni cemburu pada
memiliki penghasilan sendiri.
kesuksesan dan kekayaan Lely.
lebih
rendah
pasangannya
dari
membuat
berberan
sebagai
istri
ini
hanya
“Tentu saja dia merasa
tidak
bersalah.
Pikirnya
dirinya
berkutat
tidak
di
masing-masing.
“Perempuan
bisa
ranah
Lely
itu
ini
kelihatan sangat sibuk. Saya
proyek yang merugi karena dia
merasa sedikit iri karena pada
sudah
saat ini saya tidak tahu apa yang
mengeluarkan
banyak
dana buat kantong pejabat.”
harus
(2003:251)
mengisi waktu” (2003:10)
saya
lakukan
untuk
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
Ninik
hanya
ingin
tetap sulit untuk mencapai kesetaraan
mencecap sesuatu yang bukan
dengan
karena prestasi suaminya. Tiba-
patriarki masih tetap ditanamkan dalam
tiba ia merasa ada kebosanan
diri setiap orang dan dinikmati oleh diri
dan
kepingin
setiap perempuan. Namun, hal ini
sekali ada jeda dalam hidupnya.
tidaklah sia-sia, karena ini merupakan
Cerita Farida tentang dunia
jalan awal untuk menemukan kesadaran
seminar, pergi dari satu kota ke
agar
kota yang lain, dari satu negeri
mereka pada laki-laki. Meskipun disisi
ke negeri yang lain itu membuat
lain, konstruksi “kepala keluarga” dapat
Ninik ingin menjalani kehidupan
digunakan
seperti itu.” (2012:28)
“menguasai”
terkadang
dia
laki-laki
terbebas
selama
dari
konstruksi
ketergantungan
perempuan
laki-laki
untuk
melalui
“tuntutan”/“tekanan”/”beban”,
4.3 Politik Seksual yang Muncul dari
walaupun sebenarnya hal ini hanyalah
proses timbal balik yang tetap berujung
Ekonomi dan Pendidikan
Kelas sosial selalu berkaitan erat
opresi pada perempuan. Dan lagi-lagi,
dengan pendidikan, karir, dan taraf
hal ini seringkali terjadi karena status
perekonomian
perempuan
yang
dicapai
oleh
sesorang. Bagi perempuan, memiliki
mandiri
diharapkan
posisi
dapat
mereka
pengakuan
finansial
„menyelamatkan‟
dan
dari
sebelumnya
secara
mendapatkan
masyarakat
selalu
“istri”
yang
didefinisikan oleh negara.
pendidikan tinggi, karir profesional serta
mampu
sebagai
Pergeseran pola pikir masyarakat
mengenai pentingnya pendidikan bagi
perempuan
dapat
terlihat
dari
kemunculan tokoh-tokoh dalam tiga
yang
novel Ratna. Hampir semua tokoh-tokoh
memandang
perempuan digambarkan berpendidikan
perempuan sebagai sosok “kelas dua”.
tinggi,
Sayangnya realita mengatkan bahwa
mempunyai gelar sarjana bahkan S2 dan
meskipun memiliki pendidikan tinggi,
S3 dan seringkali mempunyai karir yang
karir
serta
bagus, mereka diantaranya adalah: Gita
perekonomian yang mapan perempuan
(karyawan bank), Bu Indri (dosen),
yang
cemerlang,
mencicipi
bangku
kuliah,
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
Mbak Syarifah (penulis), dan Banon
dengan total karena dilarang melupakan
(Lemah 13 Tanjung), Anggraeni (dosen)
“kewajibannya” sebagai seorang “ibu”.
dan
Kota
Hal ini membuat sebagian perempuan
Malang), serta Ninik, Putri, dan Heni
memilih sebagai ibu rumah tangga dan
(1998).
menggunakan pendidikan yang telah ia
anakanaknya
(Pecinan
“Aku tidak ingin masmu
capai untuk mendidik anak, seperti
galih pulang ke malang, bahkan
tokoh Ninik dalam novel 1998. Ia harus
aku
ke
memendam keinginannya untuk berkarir
amerika sekalipun belum selesai
dan berkontribusi di masyarakat. Dalam
S1. Rasanya suasana belajar
novel 1998, Ninik digambarkan sebagai
disini
lagi.
perempuan ideal yang sesuai dengan
Padahal aku kepingin melihat
konsep “ibuisme” negara pada era Orde
kau kelas menjadi wanita karir,
Baru.
bukan
pingin
mengirimmu
tidak
nyaman
seperti
“Sekali
hanya
lagi
ia tidak
perempuan di ranah domestik
pernah menyesal hanya menjadi
sosial saja.” (2012:24)
ibu dari anak-anaknya, tapi
“Tentu
saja
ketika
sungguh
ia
ingin
mempunyai
itu. Saya belajar sekuat tenaga
keringatnya sendiri (...) Ninik
dan ikut aktif dalam forum apa
hanya ingin mencecap sesuatu
pun. Saya tidak suka siapa pun,
yang bukan karena prestasi
bahkan Paul sekalipun misalnya,
suaminya.” (2012:28)
yang berani mengatakan kalau
Lain ceritanya dengan tokoh
tidak
bisa
apa-apa.”
Gita
(Lemah
uang
dari
sekali
mahasiwa, saya menolak ucapan
saya
oleh
aku,
Tanjung)
hasil
yang
(2003:89)
menggunakan
“Peran ganda” yang dibebankan
“ketergantungannya” secara ekonomi
pemerintah
untuk “menguasai” suaminya melalui
pada
perempuan
membuat mereka yang meskipun telah
“tuntutan”,
meskipun
mencapai pendidikan dan karir yang
membayarnya dengan mengorbankan
baik, tidak bisa menjalani peran mereka
keinginannya.
Lalu,
ia
tokoh
harus
Lely
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
(Pecinan
Kota
menyerahkan
Malang)
yang
kepemilikan
aset-aset
mempengaruhi bagaimana anak-anak
bersikap hingga mereka dewasa.
hasil jerih payahnya pada suami.
“Setelah
Dalam beberapa kasus ideologi
menikah,
ini dapat menguntungkan sekaligus
sekalipun saya sendiri bekerja,
merugikan baik untuk laki-laki maupun
sebagian
perempuan,
besar
kebutuhan
meskipun
pada
rumah tangga kami ditanggung
kenyataannya lebih banyak merugikan
oleh Paul. Sementara itu, gaji
perempuan. Ideologi ini akan sangat
saya untuk kesenangan diri saya
sulit dihapus karena sistem penanam
sendiri.
dilakukan secara turun-temurun pada
Tampaknya,
saya
memang tidak berbuat apa pun
setiap
yang mungkin punya arti bagiku
meskipun
setelah
sendiri” (2003:79)
mengikuti
atau
Dalam ketiga novelnya, Ratna
perempuan misalnya, jika lingkungan di
menciptakan tokoh Mbak Syarifah,
sekitar mereka tetap memegang teguh
seorang difabel yang seringkali tidak
dan menerapkan nilainilai patriarki,
“tersentuh”
“liyan”
dan
oleh
menunjukkan
generasi.
Dengan
demikian,
dewasa
mereka
mempelajari
kajian
dianggap
sebagai
mereka
masyarakat,
berhasil
seringkali justru dianggap “melenceng”,
eksistensinya
sebagai
bahkan oleh kaum
penulis.
yang
sendiri.
berusaha
Situasi
melawan
perempuan itu
politik
dalam
pemerintahan Orde Baru juga turut
4.4 Politik Seksual yang Muncul dari
mempengaruhi
Keluarga dan Hubungan Sosial
patriarkal dan mengakibatkan politik
Sebagai
patriarki,
kepala
keluarga
lembaga
bertugas
untuk
tersebarnya
ideologi
seksual muncul pada keluarga dan
masyarakat
dengan
membentuk
menanamkan ideologi patriarkal kepada
“bapakibuisme”, yang mana “bapak”
anak-anak. Sayangnya hal ini seringkali
adalah sumber kekuasaan, sementara
justru melalui seorang ibu atau nenek.
“ibu” adalah mediatornya.
Penanaman
ideologi
ini
sangat
Nilai-nilai patriarkal yang sejak
kecil diterima oleh tokoh Gita (Lemah
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
Tanjung), Lely (Pecinan Kota Malang)
tinggal di sini. Maka jika saya
Ninik (1998) mempengaruhi pola pikir
bersikap tidak normatif, tetap
dan cara bersikap dalam memandang
hidup di Malang bersama Bonet,
diri
menyikapi
bukan saja masyarakat yang
pernikahan. Hal tersebut sangat sulit
akan menudingku sebagai istri
dihilangkan meskipun mereka pernah
yang tidak bisa setia, melainkan
mengikuti kajian perempuan, mereka
juga diriku sendiri. ” (2003:89)
belum
Meskipun
mereka
maupun
sepenuhnya
norma-norma
berani
yang
melawan
ada
demikian,
tokoh-
karena
tokoh dalam tiga novel Ratna mulai
masyarakat akan menentang apa yang
menyadari bahwa konstruksi dominan
mereka lakukan.
untuk laki-laki dan subordinat untuk
“(...) Buktinya, sekalipun
perempuan tidak boleh diteruskan. Oleh
usia pernikahan saya dengan
sebab
Paul sudah hampir empat belas
mewariskan nilai-nilai dan stereotipe
tahun,
kadangkadang
masih
yang
terasa
gagap
bicara
gender pada anak-anak mereka.
untuk
itu,
mengarah
“Aku
kecewa
tidak
pada
ingin
ketidakadilan
“Paling tidak, saya tidak
dengan Paul tentang hal yang
sebenar-benarnya.” (2003:67)
mereka
ingin
Bonet
hanya
belajar
dengan
tentang peran sosial domestik
keputusan itu...tetapi aku tidak
saja. Apalagi neneknya kerap
berani memaksa, karena aku
bilang, manakala saya marah
harus menghormati orang laki-
kala dia lupa mengerjakan PR-
laki. Maka aku diam saja.
nya, “Bonet itu cantik. Dia akan
Dalam
jadi pengantin dari laki-laki
hati
aku
merasa
kecewa...” (2008:82)
kaya yang tidak akan bertanya
“Secara normatif saya
adalah
istri
Paul,
yang
seharusnya bersama Paul, di
mana
saja
Nyatanya?
dia
Saya
berada.
lebih
suka
kepadanya tentang LSM, atau
apa itu namanya”” (2003:91)
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
4.5 Politik Seksual yang Muncul dari
Gita (Lemah Tanjung)
Cinta dan Pernikahan
merasa
Relasi antara suami dan istri
dalam
sebuah
pernikahan
dapat
dikatakan sebagai tempat bersarangnya
terbelenggu
muncul
dalam
dalam
pernikahannya. Hal ini karena ia tidak
bisa bebas melakukan apa yang ia
inginkan sebagai seorang individu.
politik seksual „abadi‟. Politik seksual
yang
yang amat
“(...) Saya jadi berpikir,
hubungan
apakah
pilihan
saya
untuk
pernikahan begitu kompleks. Hal ini
menikah
ditentukan oleh sikap laki-laki maupun
keliru?
perempuan dalam menjalani kehidupan
dikondisikan
pernikahan, juga dari sejauh mana nilai-
menjadi seperti dia. Ya, saya
nilai patriarkal telah meresap dalam diri.
tahu pendapat umum, istri harus
Konstruksi “suami” dan “istri” yang
ikut suami. Tapi, dengan begitu,
telah dibuat oleh negara, masyarakat,
apakah
serta dikukuhkan oleh tradisi dan agama
merasa bahagia?” (2003:48)
membuat
perempuan
sulit
tidak
Saya
bisa
“(...)
untuk
seperti
olehnya
untuk
membuat
Lantas,
kita
sebuah
melepaskan diri dari otoritas lakilaki.
pikiran meloncat: pernikahan ini
Bagi mereka yang memiliki keberanian
sudah
untuk “melawan” kekakuan ini, mereka
Sepertinya tidak bisa menikmati
akan mendapatkan kemerdekaan, namun
kehidupan privasiku sepenuh-
harus menebusnya dengan sentimen
penuhnya.” (2003:131)
masyarakat. Batas-batas yang ada dalam
Selain
ikatan
pernikahan,
itu,
cerita
mengenai
yang
perselingkuhan yang mengarah pada isu
ditujukan untuk perempuan, membuat
poligami digambarkan pada dua tokoh
sebagian
berani
laki-laki, yaitu tokoh Paul dengan Sussy
memutuskan untuk tidak menikah demi
serta Gunaldi dengan Atik. Gita (istri
meraih kemerdekaan diri.
Paul)
dari
terlebih
membelengguku!
mereka
Dalam novel Lemah Tanjung
dan Pecinan Kota
Malang, Ratna
Indraswari Ibrahim menceritakan tokoh
dan
menyikapi
Lely
(Istri
Gunaldi)
perselingkuhan
suaminya
dengan cara yang berbeda, meskipun
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
pada
akhirnya
mereka
sama-sama
memaafkan suami maasing-masing.
ini
Hentikan
itu
atau
kamu
memang sudah menjadi perempuan
“Kadang-kadang dalam
hidup
barunya.
murahan.”(2003:253)
“Masya Allah, saya memang
diperlukan
pengorbanan demi kabaikan kita
perempuan
bersama, demi anakku Bonet.
mengekspresikan
Saya mendinginkan hati saya
Sungguh, saya sendiri menolak apabila
mendengar nama Susy Graemes
ada perempuan yang bisa mencintai dua
terasa begitu mengiris. Saya
laki laki sekaligus. Itu kegilaan yang
ingat omongan Mbak Syarifah,
luar biasa. Padahal, norma hanya
cinta
menyepakati yang bersifat poligamis itu
itu
direbut
dan
dipertahankan! ” (2003:144)
Ratna
juga
kuno,
yang
suasana
mudah
hati
ini.
adalah laki-laki.” (2003:300)
menggambarkan
Ikatan dalam pernikahan yang
tokoh perempuan yang berselingkuh dan
sulit
mengarah pada poliandri, yaitu Gita
Mbak Syarifah (Lemah Tanjung), Aisah
(Lemah
(Pecinan Kota Malang), dan Niken
Tanjung)
dan
Anggraeni
dilonggarkan
membuat
tokoh
(Pecinan Kota Malang). Masyarakat
(1998)
menilai bahwa yang berhak poligami
menikah.
adalah laki-laki, sedangkan perempuan
kesepian dan cibiran dari masyarakat
yang poliandri dianggap menyalahi
dengan menjadi perempuan yang sukses
aturan.
dan merdeka.
Ketika
lakilaki
melakukan
memutuskan
untuk
tidak
Mereka
menebus
rasa
perselingkuhan maka istri seakan-akan
harus
memaafkan
dan
memberi
4.6 Bentuk-bentuk
pemakluman sambil instropeksi diri
dilakukan
tentang apa yang kurang dari dirinya.
Perempuan.
Sementara, bagi perempuan yang berani
Beberapa
“mendua”
akan
dianggap
sebagai
perempuan “nakal”.
“Kamu
seperti
Negosiasi
yang
tokoh-tokoh
tokoh-tokoh
perempuan berani melakukan resistensi
dalam
tiga
novel
ini
dapat
perempuan
dikelompokkan menjadi dua. Pertama,
nakal! Semua orang tahu kamu pacar
mereka yang melakukan perlawanan
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
dengan cara pembuktian dan aktualisasi
aspek, yaitu (1) kekuasaan negara dan
diri, yaitu mereka yang telah mampu
rasial, (2) kelas sosial, (3) ekonomi dan
mencapai pendidikan tinggi, karir yang
pendidikan, (4) keluarga dan hubungan
cemerlang, serta perekonomian yang
sosial, serta (5) cinta dan pernikahan.
mapan,
Dari
sehingga
beberapa
kasus
terdiskriminasi,
meskipun
mereka
namun
pada
masih
setidaknya
semua
institusi
institusi
patriarki,
pendukung
“sosiologi
yang mengkonstruksi
(sociological)”
mereka telah membangun “peran” dan
laki-laki sebagai pemimpin dan kepala
“status” mereka yang baru ditengah
keluarga
masyarakat.
para
paling sering ditemui dan paling kuat
perempuan dengan cara pembuktian
dalam mewujudkan opresi terhadap
eksistensi ini umumnya masih didukung
perempuan.
oleh
masyarakat.
“paksaan (force)” melalui kebijakan
Berbeda dengan hal yang kedua, yaitu
atau hukum negara pada masa Orde
dengan cara pelanggaran norma-norma
Baru saat itu sangat mempengaruhi
yang
seperti
berjalannya
sistem
melawan laki-laki, baik ayah ataupun
menyeluruh
di
suami, demi mempertahankan keinginan
menghadapi politik seksual, muncul
pribadi. Dan juga beberapa perempuan
bentuk-bentuk negosiasi dari beberapa
yang berani memutuskan untuk tidak
tokoh perempuan, antara lain: (1)
menikah. Perlawanan yang kedua ini
bertambahnya pengetahuan perempuan
umumnya akan menerima sangsi sosial
dalam bidang politik, (2) tercapainya
dari masyarakat serta dianggap “liyan”.
pendidikan tinggi, (3) karir menjanjikan
sebagian
mengikat
Perlawanan
besar
perempuan,
merupakan
Selain
institusi
itu,
yang
institusi
patriarki
secara
masyarakat.
Dalam
serta perekonomian yang mapan, (4)
adanya kesaran untuk tidak mewariskan
4. Simpulan
Penelitian ini menemukan bahwa
nilai-nilai patriarkal kepada generasi
institusi-institusi pendukung patriarki
berikutnya, (5) adanya perubahan cara
telah
pandang
menyebar
dalam
aspek-apek
terhadap
pernikahan,
(6)
kehidupan perempuan. Dalam penelitian
muncul keberanian beberapa perempuan
ini, politik seksual muncul dalam lima
untuk
“melanggar”
norma
yang
Lakon, Vo
[POLITIK SEKSUAL DALAM…(YUNI KUSWIDARTI)] Oktober 2
mengikat. Namun, dalam penelitian ini
Carter, David. 2006. Literary Theory.
ditemukan bahwa perempuan berada
dalam masalah yang dilematik. Di satu
Herts: PocketEssentials.
Creswell, John. W. 2009. Research
sisi mereka tidak ingin terdiskriminasi,
Design:
namun merasa takut untuk melawan
Quantitative, and Mixed Method
sistem-sistem
Aproach.
patriarki
yang
sudah
mapan di masyarakat. Sementara di sisi
lain,
mereka
merasa
perlu
untuk
Qualitative,
Los
Angels:
Sage
Publication.
Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik
melawan segala opresi yang mereka
Sastra
terima, dengan konsekuensi dianggap
Pengantar. Jakarta: Gramedia
“melenceng”
Pustaka
oleh
masyarakat
pro-
patriarki.
Utama.
Feminis:
Ibrahim,
Sebuah
Ratna
Indraswari.
2003. Lemah Tanjung. Jakarta:
5. Daftar Pustaka
PT.
Arimbi, Diah Ariani. 2009. Reading
Indonesia.
Contemporary
Muslim
Indonesian
Women
Representation,
Writers:
Identity
dan
Religion of Muslim Women in
Indonesian
Fictions.
Amsterdam:
Amsterdam
University Press.
Barker,
Barry,
Chris.
Widiasarana
____________________.2008. Pecinan
Kota
Malang.
Human
Publishing.
____________________.2012.
1998.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Michalik, Yvonne & Budianta, Melani.
2015.
Indonesian
Dictionary Of Cultural Studies.
Writers.
Berlin:
Regiospectra
London: SAGE Publications.
Verlag.
Millet,
Kate.
Peter.
2004.
Gramedia
The
2010.
SAGE
Women
2000.
Pengantar
Sexsual Politics. Urbana and
Komprehensif Teori Sastra dan
Chicago: University Of Illinois
Budaya
Press.
(Beginning
Yogjakarta: Jalasutra.
Theory).
Sugihastuti & Suharto. 2002. Kritik
Sastra
Feminis:
Teori
dan
Lakon, Vol. 1, No. 1, Edisi Oktober 2016
Aplikasinya.
Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Suryadinata, Leo. 2002. Negara dan
Etnis Tionghoa. Jakarta: Pustaka
LP3ES.
Suryakusuma,
Negara:
Julia.
2011.
Ibuisme
Konstruksi
Sosial
Keperempuanan
Orde
Baru.
Depok: Komunitas Bambu.
Swingewood, Alan & Laurenson, Diana.
1971.
The
Sociology
Of
Literature. London: Paladin.
Tong,
Rosemarie
Feminist
Paling
Putnam.
Though:
2004.
Pengantar
Komprehensif
kepada
Pemikiran
Feminis.
Arus
Utama
Yogjakarta: Jalasutra.
Download