Pendalaman Pasar Keuangan untuk Mendukung Pembiayaan

advertisement
Memahami Ketentuan Hukum E-commerce di
Indonesia – Sudah Siapkah Kita?
Iwan Setiawan S.H, L.LM, (Ph.D Candidate)
Jakarta, 29 Oktober 2015
Indonesian Corporate Counsel Association
This views expressed in this presentation are solely of the author’s and do not necessarily represent the views of
institution.
Latar Belakang
Kebangkita e-commerce di Indonesia dipengaruhi banyak faktor.
Dari sisi populasi, Indonesia jelas memiliki potensi yang besar
dengan lebih dari 250 juta penduduk. Tingkat penetrasi internet dan
mobile internet juga kian meningkat dari tahun ke tahun
BMI research mencatat pada tahun 2014 perputara uang belanja
online mencapai Rp 21 triliun dengan nilai rata-rata per orangnya
dalam satu tahun Rp 825 ribu. Dengan asumsi nilai belanja yang sama,
maka di tahun 2015 diprediksikan menjadi Rp 50 trilun.
Perkembangan E-commerce di Indonesia meningkat pesat
dalam 3 tahun terakhir, menurut data Google pada Oktober
2012, penggunaaan internet berjumlah 55 juta dan pada
awal 2015 melonjak menjadi 72,7 juta, serta penggunaan
ponsel yang mencapai 308 juta.
Criteo dalam laporannya yang berjudul “ State of Mobile
Commerece”
triwulan kedua 2015, menempatkan
Indonesia dalam urutan pertama sebagai negara dengan
presentase penggunaan mobile commerce di Asia.
Founder Rebright Partners Takeshi Ebihara dalam salah satu
panel diskusinya mengatakan bahwa e-commerce
merupakan gerbang awal pertumbuhan ekosistem. Bila ecommerce matang, maka bisnis Internet lainnya akan ikut
terangkat, termasuk sektor travel, kesehatan, dan lainnya
9
1
Hasil riset BMI research mencatat di tahun 2014, layanan belanja di
internet mencapai 24% dari total pengguna internet di indonesia. dan
pasar belanja online akan meningkat 57% pada tahun 2015.
2
8
Redwing-Asia menyatakan bahwa Indonesia dinilai memiliki
perkembangan e-commerce paling pesat. Riset lainnya dari
Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Google Indonesia,
dan Taylor Nelson Sofres mengungkap nilai pasar Ecommerce Indonesia pada 2013 sekitar US$ 8 miliar, dan
diprediksi akan naik 3 kali lipat menjadi US$ 25 miliar.
3
7
4
6
5
Pada sektor perbankan, Deputi Gubernur BI, Ronald Waas
mengatakan bahwa Bank Indonesia akan berencana
memperluas cakupan penggunaan E-commerce dengan
memperbolehkan Bank yang memiliki modal inti Rp 5 Triliun
– Rp 30 Triliun untuk menjalankan program LKD (Layanan
Keuangan Digital).
Riset eMarketer menjelaskan bahwa pertumbuhan penjualan
E-commerce B2C (business to consumer) di Indonesia
mencapai 71.3% pada 2013, dan 45,1% pada 2014, 37,2%
pada 2015, 26% pada 2016, dan 22% pada 2017.
.Pertumbuhan e-commerce yang matang akan diikuti dengan perkembangan enabler bisnis lainnya, seperti online payment, fullfilment, dan logistik.
Kemajuan segmen tersebut akhirnya akan mendorong industri Internet lainnya untuk ikut berkembang.
Perkembangan E-commerce
Terdapat 4 Jenis E-commerce
yang berlaku global saat ini:
3
4
3
C2C
Consumer to Consumer,
contoh : www.ebay.com
C2B
Consumer to Business,
contoh : www.elance.com
Perkembangan
Internet
menumbuhkan
kebiasaan
baru
perdagangan lewat alat elektronik/ electronic commerce (ecommerce). Perkembangan ini tak luput dari perhatian bank yang
memang selalu mencari peluang baru untuk mendongkrak
bisnisnya:
Di Indonesia, perkembangan e-commerce diramaikan oleh bank
yang memiliki situs jual beli online, contohnya :
1
B2C
Business to Consumer,
contoh : www.amazon.com
1
Perkembangan E-commerce pada Perbankan
Indonesia
2
B2B
Business to Business, contoh :
www.ec21.com
2
Bank Mandiri, meluncurkan portal belanja online Tokoone.com
pada 24 November 2011, bertujuan untuk memudahkan
masyarakat pemegang kartu kredit dapat melakukan tranksi
pembelian barang dengan mudah.
BNI, DOKU dan Connecting Life melakukan kerjasama dengan
meluncurkan Blandja.com pada 1 April 2013.
3
Bank BCA mengembangkan fasilitas internet KlikBCA dengan
nama BCA KlikPay, dan berkerjasama dengan 5 portal belanja
online, yakni bhineka.com, blibli.com, gudangvoucher.com,
livingsocial.co.id dan cbn.net.id
4
Citibank dengan situs belibarang.com, CIMB Niaga dengan ecommerce payment nya yaitu CIMB Clicks. Bank Danamon
dengan Danamon Online Banking, layanan internet banking
danamon yang bekerjasama dengan 21 merchant.
Resiko E-commerce
Maraknya perdagangan daring atau on ine membuat perbankan bergegas
menggarap potensi bisnisnya lewat saluran pembayaran, bakan membuat laman
perdagangan online sendiri. Risiko, meski demikian, akan meningkat seketika bank
memulai langkah pertama.
3
1
Risiko operasional, seperti
tidak berfungsinya proses
internal, aspek
manusia/human error, system
failure, atau akibat kejadian
proses eksternal (bencana
alam, computer hacking dan
terorisme)
Resiko reputasi terjadi karena
hilangnya tingkat kepercayaan
pemangku kepentingan yang
bersumber pada persepsi
negatif perusaahaan.
Menyangkut e-commerce ,
Risiko stratejik , seperti risiko reputasi menjadi sangat Maraknya transaksi online
kerugian karena
fatal karena informasi neatif
meningkatkan risiko
ketidaktepatan dalam
sangat menyebar cepat ke
pencurian dana dan data
perencanaan dan
pengguna internet
melalui perangkat teknologi
implementasi serta
Internet maupun mobile.
keputusan stratejik
perusahaan
2
4
5
Risiko keamanan juga perlu
diperhatikan, seperti
keamanan data pengguna
atau nasabah pada bank,
keamanan bertransaksi
untuk menjaga data
pribadi/rahasia.
Ancaman Keamanan E-commerce di Indonesia
1
Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus mencatat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tercatat 36,6 juta serangan cyber
crime yang terjadi di Indonesia. sejak 2012 sampai April 2015, divisi cyber crime telah menangkap 497 orang tersangka kasus
kejahatan di dunia maya. Hal ini sesuai dengan data Security Threat 2013 yang menyebutkan indonesia adalah negara paling
berisiko mengalami serangan cyber crime
Pada sektor keuangan, terdapat sejumlah modus kejahatan perbankan, diantaranya adalah Carbanak,
berupa malware yang digunakan oleh kelompok kriminal teroganisir. Spear phising dan skimming
juga termasuk tindak kriminal yang menembus sistem komputerisasi bank.
3
5
2
Terdapat kelemahan pada aspek integritas sumberdaya manusia, yang secara sengaja melakukan kejahatan
dan kecurangan terhadap sistem pengamanan hardware maupun software e-commerce
Kemanan cyber yang masih lemah dikarenakan Indonesia masih belum memiliki Cyber Security, Data Cisco
mencatat pada tahun 2014 Indonesia adalah negara dengan trafik kejahatan cyber terbesar
4
Good Regulation
• the rules and procedures of a system should be specified clearly, enforceable and their
consequences predictable. A system which is not legally robust or in which the legal issues
are poorly understood could endanger its participants. Poor understanding can give
participants a false sense of security leading them for example, to underestimate their
credit or liquidity exposures. Participants, the system operator, and other involved parties –
in some cases including customers – should understand clearly the financial risks in the
system and where they are borne. An important determinant of where the risks are borne
will be the rules and procedures of the system. These should define clearly the rights and
obligations of all the parties involved and all such parties should be provided with up-todate explanatory material. In particular, the relationship between the system rules and the
other components of the legal environment should be clearly understood and explained. In
addition, key rules relating to financial risks should be made publicly available.
CPSS, ‘Core Principles for Systemically Important Payment Systems’
Pajak dan E-Commerce
Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-62/PJ/2013 tentang Penegasan
Ketentuan Perpajakan Atas Transaksi E-Commerce
4 Model transaksi E-Commerce;
1.Online Marketplace
2.Classified Ads
3.Daily Deals
4.Online Retail
7
Extra Teritorial Jurisdiction
• Pasal 2 :
Undang-undang ini berlaku untuk :
– Setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam UU ITE;
– Baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia;
– Yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau diluar wilayah hukum Indonesia
dan merugikan kepentingan Indonesia.
8
Waktu Pengiriman & Penerimaan
Kecuali diperjanjikan lain (Pasal 8):
•
•
Waktu Pengiriman IE/DE:
• IE/DE telah dikirim dgn alamat yang benar dan telah memasuki sistem elektronik yang berada diluar
kendali Pengirim.
Waktu Penerimaan IE/DE:
• IE/DE memasuki Sistem Elektronik dibawah kendali Penerima.
9
Kewajiban Penyelenggara Sistem Vide UU ITE
• Penyelenggara Sistem Elektronik harus (Pasal 15):
– Menyelenggarakan sistem elektronik secara andal dan aman serta bertanggungjawab terhadap
beroperasinya sistem elektronik, kecuali :
• Dalam keadaan keadaan memaksa;
• Terdapat kesalahan/kelalaian pihak pengguna sistem elektronik.
• Persyaratan minimum Penyelenggara sistem Elektronik (Pasal 16):
–
–
–
–
Dapat menampilkan IE/DE secara utuh dalam masa retensi;
Dapat melindungi availability, integrity, authentication, confidentiality dan access IE;
Dapat beroperasi secara properly/sesuai sisdur;
Mengumumkan sisdur/petunjuk sistem elektronik dalam bahasa, informasi dan simbol yang dapat
dipahami stake holder
– Up date sisdur/petunjuk scr berkelanjutan
10
Agen Elektronik
•
•
•
UU ITE dan PP-PSTE mengatur mengenai AGEN ELEKTRONIK:
Penyelenggara agen elektronik wajib
• Bertanggungjawab atas segala akibat hukum atas:
• transaksi elektronik yang menggunakan agen elektronik
• Gagal beroperasinya agen elektronik akibat tindakan pihak
ketiga secara langsung.
Harus menyediakan fitur pada agen elektronik tertentu yang
memungkinkan pengguna melakukan perubahan informasi (edit,
cancel, dll) dalam proses transaksi.
VS
Pasal 54 Draft PP-E-Commerce:
• Suatu kontrak elektronik dapat dibuat dari hasil interaksi
dengan suatu perangkat transaksi otomatis yang
diselenggarakan oleh Pelaku Usaha.
•  terminologi AGEN ELEKTRONIK perlu diadopsi dalam
draft PP E-commerce.
11
Subject & Liabilities ... (Psl 21)
• Pelaku Transaksi
– Dilakukan sendiri
– Melalui pemberian kuasa
– Melalui agen elektronik
• Tanggung Jawab
– Sendiri
– Pemberi kuasa
– Penyelenggara Agen
Elektronik
Kecuali tdp:
- Kelalaian/kesalahan
pengguna
- force majeur
12
Disharmony Draft PP E-Commerce dengan Peraturan
Perundangan Lainnya
13
Asas Netral Teknologi
UU ITE/PP PSTE
•
Psl 3 UU ITE:
– Pemanfaatan TI dan transaksi elektronik dilaksanakan
berdasarkan asas …kebebasan memilih teknologi atau
netral teknologi (Psl 3)
•
Psl 54 PP PSTE:
– Tanda tangan elektronik dpt bersertifikasi dan tidak
bersertifikasi
– Memiliki dampak terhadap kekuatan pembuktian.
VS
• Psl 57 (2) PP PSTE:
– Penyelenggara tanda tangan elektronik….wajib
menggunakan …teknik kriptografi (Ini sudah keluar
dari asas netral teknologi).
Draft PP E-Commerce
• Pasal 34 (2)
– Bukti Transaksi Perdagangan Melalui Sistem
Elektronik…dapat dijadikan bukti tulisan yang autentik
jika menggunakan Tanda Tangan Elektronik yang
didukung oleh suatu Sertifikat Elektronik yang
terpercaya…
– Secara a-contrario maka Tanda Tangan Elektronik yang
tidak didukung oleh sertifikat elektronik TIDAK DAPAT
dijadikan bukti tulisan yang autentik…
Electronic Signature
•
Tanda Tangan Elektronik (Pasal 11):
– terdiri dari Informasi Elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik
lain;
– yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi.
•
UNCITRAL Model Law on Electronic Signatures (2001),
... Alongside “Digital Signature” based on Public-Key Cryptography, the broader notions of “electronic
signature” mechanism :
• Biometric
• Personal Identification Numbers (PIN)
• Digitized versions of handwritten signatures;
• Clicking an “OK-Box”.
• American Bar Association, broad legal concept of signature:
• Digital Signature
• Digitized images of paper signatures;
• Typed notations such as “/s/John Smith”
• Addressing notations, such as electronic mail origination headers.
15
Syarat Sah Electronic Signature
•
Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan
akibat hukum yang sah, selama memenuhi persyaratan (UU
ITE Pasal 11):
a. Data hanya terkait dengan penanda tangan;
b. Data pembuatan tanda tangan elektronik hanya berada dalam
kuasa penanda tangan;
c. Segala perubahan atas tanda tangan dapat diketahui;
d. Segala perubahan atas IE yang terkait dengan Tanda Tangan
Elektronik setelah waktu penandatangnan dapat diketahui;
e. Terdapat cara mengidentifikasi Penanda Tangan;
f. Terdapat cara tertentu untuk menunjukkan persetujuan
Penanda Tangan atas IE terkait.
•
Pasal 11.d UU ITE diadopsi dalam Pasal 53 (2) PP PSTE dan
selanjutnya DIKOREKSI oleh Pasal 53 (3) PP PSTE:
• Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d
berlaku sepanjang Tanda Tangan Elektronik digunakan
untuk menjamin INTEGRITAS Informasi Elektronik.
16
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Aturan Terkait Certification Authority (CA): (Pasal 13)
• Setiap orang berhak menggunakan jasa CA untuk pembuatan Tanda Tangan Elektroniknya;
• CA harus memastikan keterkaitan tanda tangan elektronik dengan pemiliknya (big question: apakah td. Tgn
elektronik = digital signature??)
• CA dapat berbadan hukum Indonesia atau asing;
• Penyelenggara sertifikasi asing harus terdaftar di Indonesia;
•
Tugas Certification Authority (CA):
Menyediakan informasi yang akurat, jelas dan pasti kepada setiap pengguna jasa yang meliputi:
– metode identifikasi Penanda Tangan;
– hal yang digunakan untuk mengetahui data diri si pembuat tanda
tangan;
– untuk menunjukkan keberlakuan dan keamanan Tanda Tangan
Elektronik.
Umumnya CA selalu terasosiasi dengan Digital Signature
17
Wajibnya DIGITAL SIGNATURE???
18
Yuridiksi … (1)
UU ITE/PP PSTE
• Pasal 18 UU ITE
– Para pihak berwenang menetapkan hukum
dan forum yang berlaku bagi transaksi
elektronik internasional
– Bila tidak diatur khusus, maka didasarkan
pada asas Hukum Perdata Internasional
• The basis presence principle
• Principle of effectiveness
Draft PP E-Commerce
•
•
Terhadap transaksi perdagangan mlli sistem elektronik di
DN dan di LN yang menyangkut kepentingan nasional
berlaku hukum Indonesia (psl 4)
Pasal 5:
–
–
–
•
Boleh berdasarkan kesepakatan sepanjang posisi tawar
seimbang
Bila tidak ditentukan tegas, berlaku hukum Ina dan forum di
PN Jakarta Pusat
Bila terjadi sengketa, konsumen dpt menggugat melalui BPSK
atau ke badan peradilan di tempat kedudukan konsumen
Pasal 7: Penawaran scr umum berlaku hukum Indonesia.
Sepanjang tidak ditentukan lain…pilihan hukum dan forum
dalam transaksi privat adalah hukum
Indonesia/kompetensi relatif/peradilan niaga.
19
Yuridiksi … (2)
UU Perlindungan Konsumen
•
•
Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan
dan syarat syarat yang telah dipersiapkan dan
ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh
pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu
dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan
wajib dipenuhi oleh konsumen (Psl 1 (10)
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau
jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang
membuat atau mencantumkan klausula baku pada
setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila: …..
(Psl 18 )
Draft PP E-Commerce
• Penjelasan Pasal 5:
– Yg dimaksud dgn posisi tawar menawar yang
seimbang adalah posisi yg setara dgn semangat
saling menguntungkan. Indikatornya adl
perjanjian yg tidak memuat unfair contract
terms, atau tidak dirumuskan secara sepihak
oleh pelaku usaha yang hanya menguntungkan
salah satu pihak/pelaku usaha dan melepaskan
tanggung jawabnya.
20
Penawaran & Penerimaan Transaksi E-Commerce … (1)
UU ITE/PP PSET
•
•
Saat Transaksi Elektronik terjadi ( UU ITEPasal 20):
– Saat penawaran yang dikirim Pengirim telah diterima
dan disetujui oleh Penerima.
– Persetujuan dilakukan dengan pernyataan
penerimaan secara elektronik
PP PSTE (Psl 50)
– Transaksi elektronik tjd pada saat tercapai
kesepakatan…
– Kesepakatan terjadi pd saat penawaran transaksi yg
dikirim oleh Pengirim telah diterima dan disetujui
oleh Penerima
– Kesepakatan: (1) tindakan penerimaan yg menyatakan
persetujuan; (2) pemakaian objek oleh pengguna…
PP E-Commerce
• Penawaran scr elektronik adl tindakan
penawaran mlli komunikasi elektronik dari
Pelaku Usaha kepada pihak lain (Draft PP ECommerce Psl 1 (15);
• Persetujuan scr elektronik adl
tindakan/pernyataan persetujuan/penerimaan
scr sadar atas syarat dan kondisi yang
disampaikan dalam Penawaran
Elektronik…(online/offline) (Draft PP ECommerce Psl 1 (16).
21
Penawaran & Penerimaan Transaksi ECommerce … (2)
• Problem Terkait Penawaran dan Penerimaan:
– Terkait definisi Pengirim dan Penerima dlm UU ITE/PP PSTE
dikaitkan dengan transaksi e-commerce melalui website (pull
or push information?)
– “Offer” is not the same with “Invitation to Treat” or
“Invitation to Negotiate”
• Some activities to be appear making offers, but legally are not,
e.g: displays of goods for sale, brochures, website, etc.
– Bila Konsep Invitation to Treat diterima di Indonesia, maka
PELAKU USAHA adalah bukan pihak yang melakukan
PENAWARAN sebagaimana diatur dlm banyak pasal di Draft
PP E-Commerce, melainkan KONSUMEN.
22
Data Elektronik Sebagai Alat Bukti
• Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU ITE
– IE/DE dan/atau hasil cetaknya merupakan :
– alat bukti hukum yang sah;
– Perluasan alat bukti yang sah sesuai hukum acara di Indonesia
• Pasal 44 UU ITE
Alat Bukti penyidikan, penuntutan & pemeriksaan di sidang Pengadilan:
– Alat bukti yang sah mnrt ketentuan perundangan;
– Alat bukti lain berupa IE &/ DE;
•
Perdata
1866 BW & 164 HIR
–
–
–
–
–
Bukti tulisan;
Saksi-saksi;
persangkaan2;
Pengakuan; dan
sumpah
Pidana
•
184 KUHAP
–
–
–
–
–
Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Petunjuk
Keterangan Terdakwa
23
Ketentuan Dokumen Tertulis vs UU
ITE
• Pasal 6 UU ITE
IE/DE tetap dianggap sah meskipun :
– Terdapat ketentuan (dibawah UU) yang
mensyaratkan suatu dokumen harus berbentuk
tertulis; dan
– dengan syarat: Informasi dapat di akses,
ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat
dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan
suatu keadaan.
24
Dokumen Harus TETAP Tertulis
• Pasal 5 ayat 4 UU ITE
•
Pengecualian IE/DE:
– Surat yang oleh UU dipersyaratkan tertulis;
– Surat beserta dokumen yang berdasarkan UU harus dibuat dalam
bentuk akta notariil atau akta PPAT.
– Contoh: Cek, Sertifikat Tanah, Surat Perkawinan, dll
VS
Pasal 35 Draft PP E-Commerce:
•
IE terkait alat bukti yang sah dan mengikat, harus
mempertimbangkan kesetaraan fungsional (functional equivalent
approach): a. dalam hal tdp UU yang mensyaratkan bahwa suatu
perjanjian harus dilakukan dalam bentuk tertulis di atas media kertas,
maka persyaratan tsb dianggap telah terpenuhi oleh IE sebagai alat
bukti, sepanjang dapat disimpan, diakses, ditampilkan…
25
Sertifikasi Keandalan
Pasal 9 UU ITE :
• Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi
yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.
Pasal 10 UU ITE:
• Setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik DAPAT disertifikasi oleh
Lembaga Sertifikasi Keandalan (Trust Mark).
VS
Pasal 42 Draft PP - Ecommerce:
• Pelaku Usaha wajib memastikan substansi atau materi iklan yg disampaikan tidak bertentangan
dgn peraturan perundangan di bidang perlindungan konsumen & persaingan usaha yg dibuktikan
dengan PENCANTUMAN trust mark …..
Privacy
Privacy (Pasal 26 UU ITE)
• Penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang
menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas
persetujuan orang yang bersangkutan.
• Pasal 57 dan 58 Draft PP E-Commerce belum memuat prinsip
Pasal 26 UU ITE.
• Draft PP-E-Commerce direkomendasi untuk memiliki aturan
terkait:
–
–
–
–
–
Opt in or Opt Out policy
Cookies Policy
Privacy Policy
Hyperlink Policy
dll
27
Bank Indonesia’s Role
• UU No. 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3
Tahun 2004
– Pasal 7 : “Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan
nilai rupiah”.
– Pasal 8 : “Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Bank
Indonesia mempunyai tugas sbb.:
• Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
• Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran;
• Mengatur dan mengawasi bank.
Sistem Pembayaran Secara Elektronik – CLC 28 September
2005
31
Status dan Kedudukan Bank Indonesia
• Kewenangan dalam Sistem Pembayaran, al:

Melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas
penyelenggaraan jasa sistem pembayaran.

Mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk
menyampaikan laporan kegiatannya, dan

Menetapkan penggunaan alat/instrumen pembayaran.
Standar Keamanan Sistem Pembayaran E-Commerce
UU BI & PBI/SEBI
• BI menentukan standar sistem
keamanan sistem pembayaran yang
dilakukan oleh Bank mapun institusi
lain seperti telco.
Draft PP – E-Commerce
• Pasal 60 (1): Penyelenggara sistem
pembayaran wajib mematuhi standar
level keamanan sistem elektronik yang
ditentukan oleh Menkominfo…
• Pasal 60 (2): Penetapan standar level
keamanan sbgmn pd ayat (1)
ditentukan oleh Menkeu, BI dan/atau
OJK.
33
Batalnya Kontrak Elektronik &
Liabilities
• Pasal 76 Draft PP E-Commerce:
– Kontrak elektronik otomatis batal demi hukum apabila terjadi
kesalahan teknis akibat tidak adanya akuntabilitas sistem;
– Akibat kesalahan teknis, tidak terdapat kewajiban pengembalian
barang yg telah diterima (dianggap pemberian Cuma-cuma);
– Kerugian yg timbul menjadi tanggungjawab pelaku usaha (pedagang,
penyelenggara transaksi dan penyelenggara sarana perantara);
• Perlu re-visit, mengingat:
– Kontrak pada esensinya adalah kesepakatan para pihak. Adanya
kesalahan sistem dapat dimitigasi dan dikompensasi berdasarkan
kesepakatan;
– Liabilities dibebankan kepada banyak pihak, padahal bisa saja
kesalahan yang timbul hanya pada salah satu pihak saja. Perlu
sinkronisasi dengan prinsip hukum Principal dan Agency.
34
Liabilities Kerugian
• Pasal 21 Draft PP Ecommerce:
– Dalam hal transaksi e-commerce merugikan konsumen, konsumen dapat
melaporkan kerugian kpd menteri
– Pelaku usaha yang dilaporkan, harus menyelesaikan ganti rugi.
– Pelaku usaha yg tidak menyelesaikan masalah ganti rugi dimasukkan ke
dalam Daftar Prioritas Pengawasan oleh Menteri yg dapat diakses publik
• Comment: Ketentuan ini berisiko tidak fair karena pelaku usaha
terkesan langsung dihukum tanpa adanya proses konfirmasi dan
‘trial’ serta pembelaan diri. Dapat saja klaim konsumen
sebenarnya tidak berdasar. Perlu didiskusikan lagi.
35
TERIMA KASIH
Iwan Setiawan, SH. L.LM
Email : [email protected]
Phone: 021-29815438
Download