Perempuan Rote Meniti Tradisi - Pusat Humaniora dan Manajemen

advertisement
Perempuan Rote Meniti Tradisi
Marizka Khairunnisa
Indah Nur Esti Leksani
Dusri Lens Messah
Betty Roosihermiatie
i
Goyangan Lembut Jemari Dukun Bayi, Oyog
©2014 Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan
dan Pemberdayaan Masyarakat
Penulis
Marizka Khairunnisa
Indah Nur Esti Leksani
Dusri Lens Messah
Betty Roosihermiatie
Editor
Betty Roosihermiatie
Desain Cover
Agung Dwi Laksono
Cetakan 1, November 2014
Buku ini diterbitkan atas kerjasama
PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN
DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jl. Indrapura 17 Surabaya
Telp. 031-3528748, Fax. 031-3528749
dan
LEMBAGA PENERBITAN BALITBANGKES (Anggota IKAPI)
Jl. Percetakan Negara 20 Jakarta
Telepon: 021-4261088; Fax: 021-4243933
e mail: [email protected]
ISBN 978-602-1099-17-9
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan
dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis
dari penerbit.
ii
Buku seri ini merupakan satu dari dua puluh buku hasil
kegiatan Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2014 di 20 etnik.
Pelaksanaan riset dilakukan oleh tim sesuai Surat Keputusan
Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat Nomor HK.02.04/1/45/2014, tanggal 3 Januari 2014,
dengan susunan tim sebagai berikut:
Pembina
: Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI.
Penanggung Jawab
: Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan
Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat
Wakil Penanggung Jawab : Dr. dr. Lestari H., MMed (PH)
Ketua Pelaksana
: dr. Tri Juni Angkasawati, MSc
Ketua Tim Teknis
: dra. Suharmiati, M.Si
Anggota Tim Teknis
: drs. Setia Pranata, M.Si
Agung Dwi Laksono, SKM., M.Kes
drg. Made Asri Budisuari, M.Kes
Sugeng Rahanto, MPH., MPHM
dra.Rachmalina S.,MSc. PH
drs. Kasno Dihardjo
Aan Kurniawan, S.Ant
Yunita Fitrianti, S.Ant
Syarifah Nuraini, S.Sos
Sri Handayani, S.Sos
iii
Koordinator wilayah
:
1. dra. Rachmalina Soerachman, MSc. PH : Kab. Boven Digoel
dan Kab. Asmat
2. dr. Tri Juni Angkasawati, MSc : Kab. Kaimana dan Kab. Teluk
Wondama
3. Sugeng Rahanto, MPH., MPHM : Kab. Aceh Barat, Kab. Kep.
Mentawai
4. drs. Kasno Dihardjo : Kab. Lebak, Kab. Musi Banyuasin
5. Gurendro Putro : Kab. Kapuas, Kab. Landak
6. Dr. dr. Lestari Handayani, MMed (PH) : Kab. Kolaka Utara,
Kab. Boalemo
7. Dr. drg. Niniek Lely Pratiwi, M.Kes : Kab. Jeneponto, Kab.
Mamuju Utara
8. drg. Made Asri Budisuari, M.Kes : Kab. Sarolangun, Kab.
Indragiri Hilir
9. dr. Betty Roosihermiatie, MSPH., Ph.D : Kab. Sumba Timur.
Kab. Rote Ndao
10. dra. Suharmiati, M.Si : Kab. Buru, Kab. Cirebon
iv
KATA PENGANTAR
Mengapa Riset Etnografi Kesehatan 2014 perlu dilakukan ?
Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan
masyarakat di Indonesia saat ini masih dilandasi dengan
pendekatan logika dan rasional, sehingga masalah kesehatan
menjadi semakin komplek. Disaat pendekatan rasional yang sudah
mentok dalam menangani masalah kesehatan, maka dirasa perlu
dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi salah satu
cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Untuk
itulah maka dilakukan Riset Etnografi sebagai salah satu alternatif
mengungkap berbagai fakta kehidupan sosial masyarakat terkait
kesehatan.
Dengan mempertemukan pandangan rasional dan
indigenous knowledge (kaum humanis) diharapkan akan
menimbulkan kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan caracara pemecahan masalah kesehatan masyarakat. Simbiose ini juga
dapat menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa
kebersamaan (sense of togetherness) dalam menyelesaikan
masalah untuk meningkatkan status kesehatan di Indonesia.
Tulisan dalam buku seri ini merupakan bagian dari 20 buku
seri hasil Riset Etnografi Kesehatan 2014 yang dilaksanakan di
berbagai provinsi di Indonesia. Buku seri ini sangat penting guna
menyingkap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun
agar dapat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan upaya
pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kearifan lokal.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh informan,
partisipan dan penulis yang berkontribusi dalam penyelesaian buku
seri ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan-Kementerian Kesehatan
v
RI yang telah memberikan kesempatan pada Pusat Humaniora
untuk melaksanakan Riset Etnografi Kesehatan 2014, sehingga
dapat tersusun beberapa buku seri dari hasil riset ini.
Surabaya, Nopember 2014
Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat
Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI.
drg. Agus Suprapto, M.Kes
vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
v
vii
xi
xii
BAB 1 PENDAHULUAN
1
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
1.2.2. Tujuan Khusus
1.3. Metode Penelitian
1.3.1. Penentuan Lokasi Penelitian
1.3.2. Jenis dan Sumber data
1.3.3. Disain Penelitian
1.3.4. Cara pemilihan informan
1.3.5. Cara Pengumpulan Data
1.3.6. Instrumen Pengumpulan Data
1.4. Cara Analisis data
1
3
3
4
4
4
4
4
5
6
7
7
BAB 2 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
9
2.1.Sejarah Desa
2.1.1. Asal Usul
2.1.2. Perkembangan Desa
2.2. Geografi dan Kependudukan
2.2.1. Geografi
2.2.2. Kependudukan
2.3. Religi
2.3.1.Kosmologi
vii
9
9
14
19
19
24
29
29
2.3.2. Praktek Keagamaan atau Kepercayaan Tradisional
2.4. Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan
2.4.1. Keluarga Inti
2.4.2. Sistem Kekerabatan
2.4.3. Sistem Kemasyarakatan dan Politik Lokal
2.5. Pengetahuan Tentang Kesehatan
2.5.1. Konsepsi Mengenai Sehat dan Sakit
2.5.2. Penyembuhan Tradisional
2.5.3. Pengetahuan Penyembuhan Tradisional dan
Biomedikal
2.5.4. Pengetahuan tentang Makanan dan Minuman
2.6. Bahasa
2.7. Kesenian
2.8. Mata pencaharian
2.8.1 Jenis Mata Pencaharian Penduduk
2.8.2. Pembagian Kerja
2.8.3.Alokasi Penghasilan
2.8.4. Jenis Kepemilikan Barang
34
36
36
38
47
55
55
56
57
BAB 3 POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DESA LIMAKOLI
71
58
58
59
61
61
63
65
66
3.1. Status Kesehatan
3.1.1. KIA
3.1.2. Budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
3.1.3. Penyakit Menular
3.1.4. Penyakit Tidak Menular
3.2. Suanggi
3.3. Sistem Pelayanan Kesehatan
3.3.1. Formal
3.3.2. Tradisional (Ketersediaan, Aksesibilitas)
3.4. Health Seeking Behaviour
71
71
72
81
82
88
112
112
113
113
BAB 4 PEREMPUAN ROTE MENITI TRADISI
115
viii
4.1. Pra Hamil
4.1.1. Remaja
4.1.2. Aktivitas Remaja
4.1.3. Kesehatan Reproduksi
4.1.4. Pasangan Suami yang Istrinya Belum Pernah Hamil
4.2. Masa Kehamilan
4.2.1. Aktivitas Ibu Hamil
4.2.2. Masalah kehamilan
4.2.3. Makanan Pantangan Ibu Hamil
4.2.4. Pemeriksaan Kehamilan
4.2.5. Ramuan Tradisional pada Masa Hamil
4.2.6. Kepercayaan untuk Ibu Hamil
4.3. Persalinan
4.3.1. Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
4.3.2. Persalinan oleh Dukun Kampung
4.3.3. Persalinan Sendiri di Rumah
4.3.4.Risiko Persalinan
4.4.Paska Persalinan
4.4.1. Panggang
4.4.2. Mandi Air Obat
4.4.3. Obat Kampung dan Jamu
4.4.4. Ari-ari (Plasenta)
4.4.5. Konsep Darah Putih dalam Tradisi Masyarakat Desa
Limakoli
4.4.6. Pantangan Ibu Nifas (Saat Menjalani Perawatan Paska
Persalinan)
4.4.7. Paska Panggang, Mandi air Obat dan Minum Jamu
atau Obat Kampung
4.4.8. Pencegahan Kehamilan
4.5. Perawatan Bayi
4.5.1. Pemotongan Tali Pusat
4.5.2. Perawatan Tali Pusat
ix
115
115
116
119
126
128
129
130
132
132
134
136
137
138
140
145
149
154
155
159
163
168
169
170
171
171
171
171
172
4.5.3. Memandikan Bayi
4.5.4. Tradisi Penamaan Anak
4.5.5.Kepercayaan Untuk Keselamatan Bayi
4.5.6. Imunisasi
4.6. Masa Menyusui
4.6.1 .Minuman Bayi Baru Lahir Sebelum ASI
4.6.2 . Pemberian ASI
4.6.3. Masalah ASI dan Menyusui
4.6.4. Sole (Sapih)
4.6.5. Makanan Pendamping ASI
4.7. Anak dan Balita
4.7.1. Pola Asuh Anak dan Balita
4.7.2.Aktivitas Anak
4.7.3. Perayaan Ulang Tahun Anak
173
175
176
177
179
179
179
180
182
182
182
182
183
184
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
187
5.1. Kesimpulan
5.2.Rekomendasi
187
188
INDEKS
GLOSARIUM
DAFTAR PUSTAKA
191
194
198
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Jumlah penduduk Kabupaten Rote Ndao Tahun
2013
Tabel 3.1. Sarana Sanitasi Dasar Desa Limakoli tahun
2013
xi
24
77
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1. Batu Termanu di Rote Tengah
Gambar 2. 2. Tower Listrik Tenaga Surya di Dusun Tayoen
Gambar 2. 3. Peta Pulau Kab Rote Ndao
Gambar 2. 4. Jalan Penghubung Antar Dusun di Desa
Limakoli
Gambar 2. 5. Salah satu binatang ternak peliharaan
warga
Gambar 2. 6. Gambar Rumah Penduduk Desa Limakoli
Gambar 2. 7. Dinding Rumah Terbuat dari Bebak
Gambar 2. 8. Atap Rumah dari daun pohon gewang
Gambar 2. 9. Daging Babi untuk Pesta Kematian
Gambar 2. 10. Jenis Pernikahan yang Disukai, Pernikahan
Tuti Kalike
Gambar 2. 11. Gambar Pagar untuk melindungi lahan
pertanian dari ternak
Gambar 2. 12. Alat musik Sasando
Gambar 2. 13. Gambar Suasana Pasar Ofalain
Gambar 2. 14. Gambar anak mengasuh adik
Gambar 2. 15. Teknologi yang dipergunakan di bidang
pertanian
Gambar 2. 16. Kegiatan mencuci di sungai
Gambar 3. 1. Suasana Penimbangan di Posyandu
Gambar 3. 2. MCK permanen di Desa Limakoli
Gambar 3. 3. Kamar Mandi non permanen milik warga
Gambar 3. 4. Salah satu sumur pribadi milik warga
Gambar 3. 5. Penampungan air bersih keluarga
Gambar 4. 1. Ibu hamil sedang memikul kayu
xii
13
15
20
20
23
26
27
27
30
46
53
60
63
65
67
69
75
77
78
80
81
130
Gambar 4. 2. Keluarga yang menunggu di ruang bersalin
Gambar 4. 3. Dapur tempat melakukan panggang
Gambar 4. 4. Kayu Kusambing
Gambar 4. 5. Tradisi Panggang
Gambar 4. 6. Air obat untuk mandi
Gambar 4. 7. Bahan untuk mandi air obat (Akar kuning,
kulit noak, kulit tupi, kulit delas, kulit lino)
Gambar 4. 8. Bahan air obat yang sudah direbus (Akar
kuning, kulit noak, kulit tupi, kulit delas, kulit lino)
Gambar 4. 9. Bahan obat kampung (Kunyit, Asam, Lada,
Daun pepaya muda)
Gambar 4. 10. Ramuan obat kampung diminum selama
tiga hari (kunyit, asam, lada dan daun pepaya)
Gambar 4. 11. Bahan obat kampung (akar kuning, kulit
noak, kulit tupi, kulit delas dan kulit lino)
Gambar 4. 12. Akar Kalamanik (1) dan akar Sungalatu (2)
Gambar 4. 13. Jamu yang dibeli dari apotek
Gambar 4. 14. Isi jamu yang dibeli dari apotek
Gambar 4. 15. Ari-ari yang digantung di pohon Kainunak
Gambar 4. 16. Gunting yang dipakai dukun untuk
memotong tali pusat
Gambar 4. 17. Santan kental yang dicampur dengan
kencur untuk menurunkan panas badan pada bayi
Gambar 4. 18. Kencur yang disematkan dibaju untuk
mengobati sakit batuk pada bayi
Gambar 4. 19. Umbi Genuak
Gambar 4. 20. Bayi yang diberi sisir dan al-kitab di
samping bantal
Gambar 4. 21. Bayi umur 2 hari yang diberi minum teh
Gambar 4. 22. Kakak menjaga adik bayi
xiii
139
156
157
158
160
161
162
163
164
165
166
167
167
168
172
174
174
176
177
181
183
xiv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Setiap tiga menit, di manapun di Indonesia, satu anak
balita meninggal dunia. Setiap jam, satu perempuan meninggal
dunia ketika melahirkan atau karena sebab-sebab yang
berhubungan dengan kehamilan (UNICEF Indonesia, Ringkasan
Kajian, Oktober 2012). Data tersebut menunjukkan bahwa
kematian balita dan kematian ibu masih menjadi permasalahan
di Indonesia.
Menurunkan kematian bayi dan balita serta peningkatan
kesehatan ibu di Indonesia merupakan tujuan ke empat dan lima
dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDG). Sampai dengan
tahun 2015 mendatang, pemerintah masih berusaha untuk
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) serta Angka Kematian Balita (AKABA), agar tujuan dari
MDG bisa tercapai.
Sesuai dengan target MDG, AKI harus turun menjadi 102
per 100.000 Kelahiran Hidup (KH) pada tahun 2015. Sementara
itu, data terakhir dari SDKI tahun 2012 menunjukkan bahwa AKI
masih berada pada angka 359 per 100.000 kelahiran hidup
sedangkan AKB adalah 32 per 1000 KH.
Hasil Survei Kesehatan Nasional pada tahun 2004
menunjukkan bahwa AKI di Propinsi NTT adalah 554 per 100.000
KH di atas angka nasional sebesar 307 per 100.000 KH. Demikian
1
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
AKB di Propinsi NTT adalah 62 per 1000 KH di atas angka nasional
sebesar 52 per 1000 KH (Surkesnas, 2004).
Dari wilayah di Indonesia, Propinsi Nusa Tenggara Timur
merupakan salah satu propinsi dengan AKI dan AKB tertinggi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah provinsi
setempat mencanangkan sebuah program yang dinamakan
“Revolusi KIA”. Program ini sudah berjalan cukup lama, sejak
dicanangkan pada tahun 2010. Tujuan dari program Revolusi KIA
adalah untuk mempercepat penurunan kematian Ibu melahirkan
dan bayi baru lahir melalui persalinan di fasilitas kesehatan yang
memadai dan siap 24 jam.
Kabupaten Rote Ndao merupakan salah satu kabupaten di
Propinsi NTT yang mempunyai AKI dan AKB tinggi. Data Dinas
Kesehatan Kabupaten Rote Ndao menunjukkan bahwa
Kecamatan Rote Tengah merupakan salah satu kecamatan yang
mempunyai kejadian kematian ibu melahirkan pada tahun 2013.
Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa angka penolong
persalinan dukun bersalin masih tinggi yaitu sebesar 40,2%, lebih
rendah dibandingkan angka penolong persalinan oleh tenaga
bidan sebesar 51,2%. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga non
kesehatan masih menjadi pilihan ibu melahirkan. Pilihan-pilihan
tersebut sering terkait erat dengan faktor-faktor sosial budaya.
Budaya yang dimaksudkan adalah budaya yang seringkali sudah
berakar dan mendarah daging di dalam masyarakat. Pengambilan
keputusan untuk berobat di fasilitas kesehatan misalnya.
Seringkali pengambilan keputusan tersebut bukan berada di
tangan orang yang sakit dan memerlukan pengobatan, tetapi
berada di tangan keluarga besar.
Sebenarnya tanggung jawab untuk menurunkan AKI dan
AKB tidak hanya berada di tangan pemerintah, melainkan juga
masyarakat sendiri. Hal ini disebabkan karena upaya peningkatan
derajat kesehatan masyarakat meliputi berbagai macam faktor,
2
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
meliputi faktor kebijakan, pelayanan, sampai faktor perilaku dan
sosial budaya masyarakat.
Kesehatan belum menjadi prioritas utama dalam
keseharian masyarakat pada umumnya. Demikian juga dengan
kesehatan ibu dan anak. Proses kehamilan dan melahirkan
dianggap merupakan sebuah proses alami dari kehidupan
manusia yang tidak memerlukan perhatian dan perlakuan
khusus. Oleh sebab itu, tidak terlalu banyak perhatian yang
diberikan baik dari keluarga maupun ibu hamil sendiri, terhadap
kondisi kehamilan dan persiapan kelahirannya. Seorang ibu
melahirkan masih banyak dianggap tidak berisiko dan tidak
begitu memerlukan perhatian dari pihak medis.
Kesehatan
terkait
erat
dengan
konsep-konsep
kebudayaan. Konsep-konsep budaya tentang kondisi sehat dan
sakit, makanan-minuman yang baik dan buruk untuk kesehatan,
kepercayaan terkait dengan pantangan dan anjuran untuk ibu
hamil dan melahirkan, di satu sisi bisa menjadi penghalang untuk
kesehatan, tetapi di sisi lain bisa dijadikan sebagai potensi untuk
mengatasi
permasalahan-permasalahan
terkait
dengan
kesehatan itu sendiri. Dengan mengetahui potensi dan
permasalahan yang terjadi, maka pemecahan dari permasalahan
tersebut diharapkan akan bisa tercapai.
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran secara menyeluruh aspek
potensi budaya masyarakat terkait masalah kesehatan yang
meliputi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Penyakit Tidak Menular
(PTM), Penyakit Menular (PM) dan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) di Kabupaten Rote Ndao.
3
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
1.2.2. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi secara mendalam unsur-unsur budaya
yang mempengaruhi kesehatan di masyarakat
2) Mengidentifikasi peran dan fungsi sosial masyarakat yang
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan terkait
dengan pelayanan kesehatan
1.3.
Metode Penelitian
1.3.1. Penentuan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi
Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Rote Ndao dipilih berdasarkan
rangking Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)
tahun 2007. Kabupaten Rote Ndao menempati rangking IPKM
401, dengan kategori kabupaten bermasalah berat kesehatan
dan miskin (KaA). Sementara itu, dari 14 kabupaten yang ada di
Propinsi NTT, Kabupaten Rote Ndao menempati IPKM rangking
ke dua belas. Suku Rote merupakan suku yang terpilih untuk
dilakukan penelitian.
1.3.2. Jenis dan Sumber data
Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif etnografi.
1.3.3. Disain Penelitian
Disain penelitian adalah penelitian eksploratif dengan
metode etnografi. Etnografi merupakan sebuah pekerjaan
mendeskripsikan suatu kebudayaan yang bertujuan untuk
memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang
penduduk asli (Spradley, 2007:3).
4
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Menurut Spradley (2007: 14) etnografi mempunyai
peranan yang penting, antara lain adalah menginformasikan
teori-teori ikatan budaya, menemukan grounded theory,
memahami masyarakat yang kompleks, dan memahami perilaku
manusia.
1.3.4. Cara pemilihan informan
Populasi penelitian ini adalah semua masyarakat yang
berada dalam lokasi penelitian.
Informan adalah masyarakat yang terlibat secara budaya
dan berpengaruh terhadap kesehatan baik dari sisi provider
kesehatan, pengguna fasilitas kesehatan, tokoh-tokoh yang
berpengaruh, dan semua orang yang dapat memberikan
informasi terkait topik penelitian.
Adapun Informan dalam penelitian ini antara lain :
1) Remaja, keluarga, dan tetangganya;
2) Ibu yang sedang atau pernah hamil dan bersalin, suami dan
keluarganya;
3) Ibu yang memiliki anak bayi atau balita, suami, dan
keluarganya;
4) Tokoh masyarakat, tokoh agama, atau tokoh adat yang
mengetahui budaya setempat;
5) Pengobat tradisional, seperti dukun atau pengobat alternatif
lain;
6) Petugas kesehatan puskesmas dan jaringannya;
7) Penderita penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Informan ditentukan dengan cara purposive sampling,
dengan teknik snowball sampling. Purposive sampling digunakan
untuk mendapatkan informan yang dianggap bisa mewakili atau
representatif untuk menjawab tujuan dari penelitian. Sementara
itu teknik snowball sampling digunakan karena peneliti tidak
5
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dalam teknik ini
peneliti meminta seseorang yang sudah dijadikan informan untuk
menunjukkan keberadaan orang lain yang bisa dijadikan
informan selanjutnya.
Kriteria Inklusi
Informan berasal dari warga masyarakat yang merupakan
warga etnis asli yang bertempat tinggal di lokasi penelitian.
Kriteria Eksklusi
Informan yang tidak paham atau kurang memahami unsurunsur budaya yang diteliti.
1.3.5. Cara Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan cara melakukan wawancara
mendalam dan observasi partisipasi.
Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan
terpilih yang sudah bersedia untuk dilakukan wawancara.
Wawancara dilakukan di tempat yang nyaman bagi informan, dan
dilakukan dengan menjaga kerashasiaan informasi yang
diberikan.
Observasi partisipasi dilakukan oleh peneliti di wilayah
tempat penelitian, di mana peneliti tinggal dan hidup bersama
dengan masyarakat untuk mengeksplorasi dan mengamati
informasi yang ingin diketahui terkait dengan kesehatan
masyarakat setempat.
Penelusuran data sekunder, referensi dan pustaka yang
berkaitan dengan substansi penelitian juga dilakukan untuk
mengumpulkan informasi.
6
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
1.3.6. Instrumen Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data, digunakan beberapa
instrument pengumpulan data, yang meliputi:
1) Pedoman Wawancara Mendalam
Pedoman wawancara digunakan sebagai petunjuk
wawancara agar informasi yang diinginkan terfokus dan
tercapai.
2) Pedoman pengamatan (observasi)
Pedoman pengamatan digunakan sebagai pedoman untuk
mengamati fenomena yang ada dalam keseharian
masyarakat.
3) Buku catatan harian (logbook)
Buku catatan digunakan untuk mencatat kejadian yang
dialami oleh peneliti setiap hari.
4) Kamera foto, video, dan perekam suara
Digunakan untuk merekam gambar dan suara selama
proses pengambilan data.
1.4.
Analisis data
Karena penelitian ini merupakan penelitian etnografis,
maka analisis yang dilakukan adalah analisis etnografis, untuk
menemukan makna budaya. Menurut Spradley (2007), analisis
etnografis merupakan penyelidikan berbagai bagian sebagaimana
yang dikonseptualisasikan oleh informan. Terdapat empat
analisis yang akan digunakan, yaitu analisis domain, analisis
taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema kultural.
1. Analisis Domain
Analisis domain dilakukan untuk memperoleh
gambaran atau pengertian yang bersifat umum dan relatif
7
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
menyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu fokus atau
pokok permasalahan yang tengah diteliti (Faisal, 1990:91)
2. Analisis Taksonomi
Pada analisis taksonomi, analisis dilakukan dengan lebih
lanjut dan mendalam. Pada analisis ini, fokus penelitian
ditetapkan terbatas pada domain tertentu yang sangat
berguna dalam upaya mendeskripsikan atau menjelaskan
fenomena atau fokus yang menjadi sasaran penelitian (Faisal,
1990:98).
3. Analisis Komponensial
Analisis komponensial mengorganisasikan kontras antar
elemen dalam domain yang diperoleh melalui observasi dan
wawancara terseleksi (Williams, 1988: 137 dalam Faisal,
1990:102-103). Selain itu, analisis komponen merupakan
suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen
makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya
(Spradley, 2007: 247).
4. Analisis Tema Kultural
Tema budaya merupakan unsur-unsur dalam peta
kognitif yang membentuk suatu kebudayaan (Spradley,
2007:267). Melakukan analisis tema budaya adalah
menemukan tema-tema budaya dengan memilih satu domain
yang mengorganisir untuk analisis intensif.
8
BAB 2
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.1.
Sejarah Desa
2.1.1. Asal Usul
2.1.1.1. Sejarah Suku Rote
Suku Rote adalah sebutan untuk semua suku yang
mendiami pulau Rote. Ada beberapa versi mengenai asal usul
suku bangsa Rote. Salah satu cerita yang dianggap mendekati
kebenaran oleh salah seorang informan bahwa suku Rote berasal
dari Provinsi Maluku. Menurut sejarah, nenek moyang suku
bangsa Rote berasal dari kepulauan Seram, Maluku. Hal ini
disebabkan adanya beberapa kesamaan marga antara marga
orang Maluku dengan marga orang Rote, misalnya Marga
Manuhutu, Yohanes, dan Messakh.
Sementara itu menurut sebuah cerita lain, nenek moyang
dari suku-suku yang sekarang mendiami wilayah Rote Tengah
atau yang pada masa dahulu merupakan bagian dari Nusak
Termanu, disebutkan berasal dari Mediterania dan
Persia.Menurut sebuah kisah, dahulu kira-kira pada tahun 5.000
SM, datanglah dua belas orang yang berasal dari wilayah
Mediterania dan Persia. Mereka datang dengan menggunakan
kapal kecil seperti sampan, dimana kemudian arus membawa
mereka sampai ke kepulauan Seram di Maluku. Dari Kepulauan
Seram kedua belas orang tersebut datang ke Rote. Selanjutnya
karena tidak cocok dengan kondisi cuaca yang ada di Rote, dua
9
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
belas orang tersebut kembali ke Maluku. Tetapi tidak beberapa
lama kemudian sebelas orang diantaranya datang kembali dan
menetap di Pulau Rote.
Kesebelas orang tersebut datang ke wilayah Nusak
Termanu, yang pada masa dahulu disebut dengan Nusak
Padalalais. Kemudian masing-masing orang tersebut membentuk
kerajaan-kerajaan tersendiri, dan hidup terpisah. Kira-kira pada
tahun 1000 SM, dari Pulau Seram datanglah cucu dari Kailalais,
salah seorang yang tetap di Maluku yaitu Mabula. Kedatangan
Mabula bermaksud menyatukan kembali sebelas raja yang hidup
terpisah. Tetapi tampaknya upaya tersebut belum bisa terwujud.
Sehingga upaya untuk mempersatukan kembali kesebelas
kelompok tersebut berlanjut sampai kepada keturunan Mabula
yang bernama Muskanamak. Muskanamak diberikan karunia
untuk membuat alat musik Sasando yang dimaksudkan
menyatukan kembali nenek moyang mereka dari Mediterania
dan Persia, yang datang ke Maluku dan Rote. Tetapi rupanya
usaha Muskanamak pun belum berhasil.
Karena usaha Muskanamak juga tidak berhasil, anak
Muskanamak yang bernama Killa Muskanan kemudian membuat
sebuah genderang yang berasal dari tempurung. Killa Muskanan
mulai memainkan alat musik tersebut, tetapi ternyata cara ini
juga belum mampu mempersatukan kembali orang-orang
tersebut. Anak Killa Muskanan yang bernama Pello Kila kembali
membuat alat musik, kali ini berupa gong dan tambur yang
terbuat dari kayu, dan juga menciptakan sebuah tarian yang
kemudian diberi nama tarian Kebalai. Dengan adanya tarian
Kebalai tersebut, enam suku sudah mulai masuk bergabung
bersama dengan Pello Kila. Meskipun demikian, enam suku yang
bergabung menjadi satu tersebut belum mengangkat seorang
Raja untuk dijadikan sebagai pemimpin.
10
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Setelah enam suku bersatu, mereka membangun sebuah
benteng yang diberi nama benteng Kolilain, untuk menghindari
serangan dari kerajaan lain. Di dalam benteng tersebut, dibangun
sebuah hus, yang kemudian menjadi pusat pertunjukan taritarian. Setelah terbentuknya hus ini keenam suku yang
bergabung membentuk satu kerajaan dan menunjuk seorang raja
sebagai pemimpin mereka. Raja terpilih pada waktu itu adalah
raja Kelu Kila.
Dari 11 orang yang datang ke wilayah Rote tersebut, pada
akhirnya hanya 9 orang yang tinggal di wilayah Rote Tengah atau
wilayah Nusak Termanu. Ke 9 orang ini kemudian berkembang
dan melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi fam-fam di
wilayah Rote Tengah pada masa sekarang.
Kata Termanu sendiri berasal dari salah satu nama Raja
termasyhur di Nusak Padalalais yaitu Raja Tolamanu, yang
memerintah pada tahun 1450. Raja Tolamanu menjadi
termasyhur karena berhasil mengalahkan seorang raja raksasa di
Pulau Rote, yaitu raja Foibalo dari kerajaan Bokai. Dengan
keberhasilannya mengalahkan raja Foibalo, maka wilayah
kekuasaan raja Tolamanu menjadi semakin luas, sampai ke
wilayah Limakoli (Nitanggoen) yang merupakan bagian dari
wilayah kekuasaan Raja Foibalo. Keberhasilan ini kemudian
menyebabkan raja Tolamanu berkata bahwa dia adalah ayam
jago yang telah berhasil mengalahkan raja Foibalo. Sejak saat
itulah kerajaan Padalalais dikenal dengan nama Kerajaan
Termanu atau Nusak Termanu.
Tampuk kepemimpinan raja Tolamanu terus berpindah
dari generasi Raja yang satu ke generasi Raja yang berikutnya,
sampai akhirnya pemerintah mulai “menghilangkan” kekuasaan
raja-raja pada tahun 1967. Sejak tahun 1967 itu, dibentuklah
kecamatan dan desa dengan pemerintah sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi. Desa Limakoli menjadi bagian dari Nusak
11
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Termanu setelah pemerintah mulai menghapuskan Sistem
Kerajaan pada tahun 1967.
2.1.1.2. Sejarah Desa Limakoli
Desa Limakoli merupakan nama yang dibentuk
berdasarkan kesepakatan setelah sistem kerajaan dihapus dan
diubah menjadi sistem kecamatan pada tahun 1967. Lima
mempunyai arti tangan, dan Koli merupakan nama orang
sehingga desa Limakoli bisa diartikan sebagai tangan orang yang
bisa merangkul dan menghimpun. Dengan kata lain, nama Desa
Limakoli tidak berasal dari sebuah sejarah atau legenda tertentu.
Tetapi salah satu dusun yang ada di desa Limakoli, yaitu dusun
NItanggoen, merupakan nama dusun yang mempunyai sejarah
tersendiri pada masa lalu.
Nama Nitanggoen berasal dari sebuah kisah pada zaman
Raja Termanu. Pada waktu itu Raja Termanu bermaksud
memperluas wilayahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, raja
Termanu bertemu dengan Raja Bokai, seorang Raja yang
menguasai wilayah yang sekarang bernama Nitanggoen. Raja
Bokai menyambut kedatangan Raja Termanu dengan
memberikan jamuan makan dan membunuh hewan sebagai
tanda penghormatan. Raja Termanu berkata kepada Raja Bokai,
bahwa dia menginginkan untuk memakan daging yang bisa
dimakan langsung secara utuh. Raja Bokai bertanya, “hewan
apakah itu?” Raja Termanu pun menjawab, hewan yang
dimaksudkan adalah udang.
Raja
Bokai kemudian mengutus
kedua
anak
perempuannya untuk menangkap udang sebagai jamuan bagi
Raja Termanu. Kedua putri Raja tersebut bernama Oafui dan
Henafoi. Sebenarnya, itu merupakan siasat Raja Termanu untuk
memperluas wilayah karena di sungai yang dituju, Raja Termanu
12
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
sudah memasang orang untuk menangkap kedua putri raja
tersebut. Kedua putri raja tersebut ditangkap dan dijadikan
tawanan di Feapopi, yang sekarang menjadi ibukota kecamatan
Rote Tengah.
Karena kedua putri raja tidak kunjung kembali, Raja
Termanu beserta rombongan kembali ke kerajaannya sementara
Raja Bokai kemudian mulai mencari keberadaan kedua putrinya.
Sesampainya di kerajaan, Raja Termanu membuat kesepakatan
dengan kedua orang putri raja. Bahwa kedua putri raja tidak akan
bisa pulang sebelum wilayah kerajaan Bokai diberikan menjadi
wilayah kerajaan Termanu. Akhirnya kedua putri menyetujui
kesepakatan tersebut dan wilayah kerajaan yang diberikan mulai
wilayah Oendule sampai ke Termanu.
Gambar 2. 1
Batu Termanu di Rote Tengah
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Setelah kesepakatan tersebut disetujui kedua belah pihak,
ditanamlah bendera sebagai tanda batas di wilayah barat
13
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Nitanggoen. Tetapi ternyata, kedua putri tidak setuju dan
meminta batas wilayah ditanam di sebelah timur. Kalau batas
tanah itu tidak ditanam di sebelah timur, maka kedua putri tidak
mau pulang. Itulah kenapa salah satu wilayah di Desa Limakoli
diberi nama Nitanggoen, artinya melihat dia yang mempunyai
kunci.
2.1.2. Perkembangan Desa
2.1.2.1. Perubahan yang terjadi di Desa Limakoli
Perubahan yang cukup besar terjadi di Desa Limakoli sejak
masuknya listrik pada tahun 2009. Pada waktu itu pemerintah
memberikan bantuan penerangan berupa sehen(bola lampu)
beserta panel surya untuk menampung sinar matahari.
Sementara itu untuk panel surya berbayar, setiap bulan warga
diwajibkan membayar iuran sebesar Rp. 36.000,- yang nantinya
digunakan untuk biaya pembelian meteran listrik PLN. Jadi ketika
listrik masuk ke Desa Limakoli, warga tidak perlu membayar
untuk beli meteran listrik.
Salah satu dusun di Desa Limakoli, dusun Tayoen sudah
mempunyai tower tenaga listrik surya. Tower listrik ini digunakan
sejak bulan April tahun 2014. Sistem kerjanya seperti sistem kerja
panel tenaga surya yang dipasang secara perseorangan, hanya
berjumlah lebih banyak dan memiliki daya tampung yang lebih
besar. Jadi selain bisa digunakan untuk menyalakan lampu,
tenaga surya yang tertampung bisa digunakan untuk
menghidupkan televisi. Dari tower listrik ini, listrik dialirkan ke
rumah penduduk. Listrik bisa digunakan mulai pukul 17.00 06.00 WITA. Berbeda dengan lampu sehen yang dialirkan oleh
Perusahaan Listrik Negara (PLN), tower listrik di dusun Tayoen ini
dibangun
menggunakan
dana
bantuan
Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), sehingga masyarakat
14
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
tidak perlu membayar iuran bulanan kepada KPDT. Tetapi
masyarakat wajib merawat dan menjaga tower listrik tersebut.
Oleh karena itu warga masyarakat kemudian mempunyai inisiatif
melakukan penarikan iuran setiap bulan untuk perawatan alat,
terutama air aki. Warga diharuskan membayar iuran sebesar Rp.
8.000 setiap bulan.
Gambar 2. 2
Tower Listrik Tenaga Surya di Dusun Tayoen
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Perubahan lain yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir ini adalah perubahan di bidang pendidikan. Kesadaran
masyarakat untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang
pendidikan SMA meningkat. Menurut seorang informan guru,
kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya mulai
muncul sekitar tahun 2000- an. Sejak tahun 2004 sampai
sekarang, seluruh siswa yang bersekolah di SD Nitanggoen
melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP.
Perubahan dalam bidang mata pencaharian juga terjadi
pada masyarakat desa Limakoli. Pada masa dahulu, mata
pencaharian utama penduduk adalah mengiris tuak atau
15
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
membuat gula air dari pohon lontar. Sekarang hampir 100 %
penduduk bekerja sebagai petani. Lima orang penduduk desa
adalah pegawai negeri yang bekerja sebagai guru sekolah dasar
dan sekolah menengah pertama.
Perubahan mata pencaharian utama ini mempengaruhi
makanan pokok masyarakat. Makanan pokok masyarakat
berubah dari yang sebelumnya jagung, menjadi nasi seiring
dengan meningkatnya produksi padi masyarakat Desa Limakoli.
Selain menjadi petani padi, penduduk juga menanam sayuran
untuk dijual. Jenis sayuran yang biasa ditanam antara lain bayam,
kangkung, sawi putih, bawang merah dan bawang putih.
Kebanyakan penduduk desa Limakoli memelihara ternak,
khususnya babi dan sapi. Di bidang peternakan, pemerintah
memberikan bantuan sebanyak 116 ekor sapi yang diberikan
kepada warga Desa Limakoli pada tahun 2009. Mulai saat itu,
kehidupan perekonomian warga masyarakat membaik yang
ditandai dengan kepemilikan sepeda motor sebagai indikator
peningkatan perekonomian penduduk.
Terdapat dua macam bantuan sapi yaitu bantuan sapi
sosial dan bantuan sapi kopel. Jika seseorang menerima bantuan
sapi sosial, maka tidak dibebankan untuk mengembalikan sapi
yang diterima. Sedangkan dalam bantuan sapi kopel, penerima
bantuan diharuskan untuk menandatangi sejenis kontrak untuk
mengembalikan dalam bentuk anak sapi. Penerima bantuan
harus mengembalikan satu ekor anak sapi ke Dinas Peternakan
dalam waktu lima tahun.
Selain bertani dan beternak, penduduk Desa Limakoli
memiliki mata pencaharian sampingan berkebun dan berdagang.
Minyak kelapa dan gula air merupakan barang dagangan yang
sering dijual, selain sayur mayur. Satu botol minyak kelapa
berukuran @600 ml dijual dengan harga Rp. 8.000,- sementara
satu liter gula air dijual dengan harga Rp. 10.000,-.
16
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
2.1.2.2. Perubahan nilai dan norma di Desa Limakoli
Kegiatan gotong royong yang masih cukup sering dilakukan
antara lain adalah gotong royong membangun pondasi,
membersihkan saluran air untuk irigasi sawah, atau
membersihkan sumber air umum. Dalam Adat Rote, kegiatan
yang mencerminkan semangat gotong royong adalah kegiatan
berkumpul keluarga atau tu’u. Kegiatan tu’u biasanya mencakup
kegiatan untuk pesta pernikahan dan kematian, di mana satu
keluarga membantu keluarga yang lain secara bergantian.
Bantuan tersebut biasanya berbentuk uang tunai.
Perubahan besar mulai terjadi ketika seorang tokoh yang
bernama John Ndolu melontarkan gagasan untuk melakukan
revitalisasi budaya, khususnya dalam budaya tu’u. Uang tu’u yang
sebelumnya dikumpulkan untuk keperluan pesta pora dalam
acara pesta kematian maupun pesta pernikahan, kemudian mulai
dicoba untuk dialihkan penggunaannya menjadi tu’u di bidang
pendidikan. Dengan demikian, semangat gotong royong yang
sebenarnya sudah ada di dalam adat budaya Rote bisa digunakan
untuk meningkatkan pendidikan. Meskipun demikian gaung tu’u
untuk pendidikan belum begitu bergema di Desa Limakoli.
2.1.2.3.
Mobilitas Penduduk,
Komunikasi
Sarana
Transportasi,
dan
Mobilitas penduduk Desa Limakoli tidak begitu tinggi.
Hampir seluruh kegiatan sehari-hari penduduknya dilakukan di
dalam desa karena sebagian besar penduduk bekerja sebagai
petani dan menggarap lahan pertanian di dalam Desa Limakoli.
Tidak ada warga yang merantau untuk bekerja ke luar negeri.
Meskipun demikian ada beberapa warga yang bekerja di luar
desa, atau merantau untuk bekerja di Kupang. Sebagian anak
muda setelah menyelesaikan pendidikan SMA pergi ke ibukota
17
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Provinsi, Kupang untuk bekerja sebagai penjual ikan atau penjaga
toko. Mobilitas masyarakat pada umumnya adalah pergi ke pasar
mingguan, setiap hari Rabu di desa tetangga. Oleh karena itu
kondisi desa Limakoli sewaktu di pagi hari pasar biasanya lebih
sepi dibandingkan dengan hari-hari biasa. Hal itu disebabkan
karena penduduk pergi ke desa tetangga, baik untuk berjualan
maupun berbelanja.
Pasar mingguan tersebut, yang biasa disebut oleh
masyarakat sebagai pasar Ofalain, tidak hanya menjadi sebuah
tempat jual beli. Pasar tersebut juga berfungsi sebagai tempat
bersosialisasi, di mana satu orang dengan orang yang lain saling
bertemu, mengucap salam, dan berbincang sejenak dengan
orang-orang yang dikenalnya. Seringkali barang belanjaan yang
dibeli tidak seberapa, tetapi waktu yang dihabiskan untuk berada
di pasar Ofalain cukup lama. Selain itu pergi ke pasar, dapat
menjadi semacam ajang refreshing bagi para penduduk. Untuk
pergi ke pasar, pakaian yang dikenakan agak berbeda dengan
yang biasa dikenakan sehari-hari, para ibu berdandan, demikian
juga dengan anak-anak yang diajak turut serta ke pasar. Mereka
mengenakan salah satu pakaian terbaiknya dan berkeliling pasar
yang tidak terlalu besar untuk melihat-lihat barang yang dijual
sehingga menjadi suatu keasyikan tersendiri.
Bagi warga masyarakat yang pergi ke pasar Ofalain untuk
berjualan, maka hari tersebut bisa menjadi kesempatan untuk
menjual barang dagangannya. Sayur mayur hasil panen, minyak
kelapa, alat musik juk merupakan beberapa jenis barang yang
dijual penduduk Desa Limakoli. Bagi mereka yang memiliki kios,
maka pasar mingguan ini bisa sebagai tempat untuk membeli
barang-barang pengisi kiosnya.
Kendaraan motor pribadi, ojek atau oto pick up menjadi
pilihan sarana transportasi yang digunakan masyarakat Desa
Limakoli untuk pergi ke pasar. Pada pukul enam pagi biasanya
18
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
mereka mulai berangkat ke pasar, dan kembali sekitar pukul
delapan pagi. Bagi penduduk desa yang berjualan di pasar, maka
mereka akan berangkat lebih pagi lagi, yaitu pukul empat pagi.
Sarana transportasi yang ada di Desa Limakoli memang
terbatas, bahkan untuk sarana angkutan umum dari dan menuju
Desa Limakoli bisa dikatakan tidak ada, kecuali pada hari pasar
tersebut. Oleh karena itu, sarana transportasi yang biasa
digunakan masyarakat adalah sepeda motor pribadi. Ojek yang
biasa digunakan umumnya berasal penduduk desa setempat.
Oto pick up selain biasa digunakan sebagai sarana transportasi
pada hari pasar, juga untuk mengangkut hasil panen.
Adapun alat komunikasi berupa telepon genggam sudah
dikenal oleh penduduk Desa Limakoli. Anak muda juga mengenal
internet sebagai alat komunikasi, walaupun belum dimanfaatkan
secara maksimal.
2.2. Geografi dan Kependudukan
2.2.1. Geografi
Kondisi Desa Limakoli
Desa Limakoli merupakan desa yang terletak di bagian
tengah dari Kecamatan Rote Tengah. Desa Limakoli sebelah utara
berbatasan dengan Desa Nggodimeda, sebelah selatan
berbatasan dengan Desa Suebela dan Desa Lidabesi, sebelah
timur berbatasan dengan Desa Suebela, dan sebelah Barat
berbatasan dengan Desa Lidamanu. Luas wilayah Kecamatan
Rote Tengah adalah 162,51 km2 sedangkan Desa Limakoli adalah
26,87 km2. Jumlah penduduk Desa Limakoli sebanyak 562 jiwa.
Desa Limakoli terletak kurang lebih 20 kilometer dari pusat
ibu kota kabupaten. Akses jalan untuk menuju ke Desa Limakoli
19
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
cukup bagus, seluruh jalan yang dilalui beraspal walaupun ada
beberapa bagian jalan yang rusak berlubang.
Gambar 2. 3
Peta Pulau Kab Rote Ndao
Sumber: ayahaan.wordpress.com
Gambar 2. 4
Jalan Penghubung Antar Dusun di Desa Limakoli
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
20
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Desa Limakoli terdiri dari tiga dusun, yaitu dusun
Nitanggoen, dusun Oebaan, dan dusun Tayoen. Kondisi jalan di
desa Limakoli sudah relatif baik, terbuat dari jalan tanah yang
sudah dikeraskan, kecuali jalan menuju ke dusun Tayoen dan
sebagian dusun di Oebaan. Jalan menuju ke dua tempat tersebut
masih berupa jalanan berbatu, yang mudah terlepas jika musim
hujan.
Cara Pembuangan Sampah
Warga masyarakat membuang sampah dengan cara
menggali tanah di dekat rumahnya untuk dijadikan tempat
pembuangan sampah rumah tangga. Sampah bekas makanan
biasanya dibuang begitu saja untuk dijadikan makanan oleh
anjing, ayam, atau babi yang ada di sekitar rumah. Selain
menggali tanah, membuang sampah di hutan juga banyak
dilakukan oleh warga masyarakat. Sementara itu di sungai yang
mengalir di desa, sampah bungkus sabun cuci merupakan jenis
sampah yang banyak ditemukan.
Sumber Air
Sumber air diperoleh dari air sumur, mata air, maupun
sungai. Sumber air yang berasal dari sumur biasanya digunakan
untuk keperluan minum, memasak, serta mandi. Terdapat dua
macam sumur, yaitu sumur pribadi dan sumur umum. Sumur
pribadi dibangun oleh masing-masing rumahtangga, sedangkan
sumur umum dibangun dengan dana Perusahaan Air Minum
Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). Pada tahun 2009 Desa
Limakoli mendapat bantuan dari PAMSIMAS yaitu uang sebesar
Rp. 250.000.000,- untuk pembangunan sumur.
Kebersihan air sumur dijaga dengan cara “menguras”
sumur setiap satu tahun sekali. Yang dimaksud dengan menguras
air sumur di sini adalah membersihkan sampah-sampah daun dan
21
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
lumut yang tumbuh di dalam dinding sumur, sehingga sumur
menjadi bersih kembali. Setelah dibersihkan, air sumur biasanya
diberikan bubuk kaporit yang dibagikan dari pihak puskesmas.
Jika sumur tersebut adalah sumur umum, maka akan dibersihkan
secara gotong royong
Sementara sumber air yang berasal dari mata air atau
sungai digunakan untuk keperluan mencuci dan mandi bagi
sebagian penduduk yang belum mempunyai sumur dan kamar
mandi. Oleh karena itu, pencemaran yang terjadi pada air sungai
biasanya berasal dari deterjen untuk mencuci, dan kotoran
hewan peliharaan, seperti sapi atau babi.
Pola Tanam
Desa Limakoli termasuk dalam daerah dataran tinggi.
Tanaman utama bagi penduduk Desa Limakoli adalah padi. Selain
itu ditanam juga jagung dan sayur mayur seperti sawi, bayam,
kangkung, serta bawang merah, bawang putih dan cabai.
Sawah dibedakan menjadi dua, yaitu sawah irigasi dan
sawah gora. Sawah irigasi adalah sawah dengan masa tanam
sebanyak dua kali dalam setahun, dengan sumber irigasi
mengandalkan air bendungan. Sedangkan sawah gora adalah
sawah yang menggunakan air hujan sebagai sumber irigasi, oleh
karena itu masa tanamnya hanya bisa dilakukan satu kali dalam
setahun.
Tanah persawahan sudah diolah dengan cara-cara
modern, yaitu dengan menggunakan traktor untuk mengolah
tanah. Meskipun demikian, cangkul masih digunakan oleh
beberapa orang untuk mengolah tanah.
Pemeliharaan Hewan
Jenis ternak yang dipelihara oleh masyarakat Desa
Limakoli antara lain babi, sapi, ayam. Hewan ternak di sini tidak
22
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
dipelihara di dalam kandang, melainkan dibiarkan lepas. Jika
seseorang memelihara sapi, maka sapi tersebut dibiarkan lepas
ke padang rumput untuk mencari makan. Sapi baru akan dicari
pemiliknya ketika akan dijual. Untuk membedakan antara pemilik
sapi yang satu dengan yang lain, pemilik menandainya dengan
memberikan cap nama pada kulit sapi atau menggunting telinga
sapi dengan menggunakan pola tertentu untuk menunjukkan
kepemilikan seseorang terhadap sapi tersebut.
Babi biasanya juga dilepas pada pagi hari, dan akan
kembali ke rumah pada sore hari untuk diberi makan. Putak atau
isi batang pohon gewang merupakan makanan babi yang biasa
diberikan. Sedangkan ayam biasanya dibiarkan di sekitar rumah
dan memperoleh makan dari sisa makanan yang diberikan oleh
pemiliknya. Anjing merupakan binatang peliharaan yang dimiliki
hampir setiap keluarga. Setiap keluarga rata-rata memiliki lebih
dari satu ekor anjing.
Gambar 2. 5
Salah satu binatang ternak peliharaan warga
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
23
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Mandi Cuci Kakus
Meskipun masih cukup banyak warga Desa Limakoli yang
belum mempunyai tempat Mandi Cuci Kakus (MCK) yang layak,
atau bahkan tidak memilikinya, tetapi tidak ada fasilitas MCK
umum di desa ini. Bagi warga desa yang belum memiliki sumur,
kamar mandi atau jamban, kebutuhan untuk mandi dan mencuci
terutama dilakukan di sungai. Sementara itu kegiatan membuang
hajat dilakukan di hutan. Di Desa Limakoli terdapat hutan dan
banyak tanah kosong di sekitar rumah karena tanah yang masih
luas. Setelah membuang hajat, daun atau tanah digunakan untuk
menutupi, walaupun tidak sedikit yang pergi meninggalkan
begitu saja. Kotoran tersebut akan dimakan bersih oleh babi atau
anjing merupakan alasan yang dikemukakan oleh mereka.
2.2.2. Kependudukan
Jumlah penduduk di Kabupaten Rote Ndao, Kecamatan
Rote Tengah dan Desa Limakoli disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 2.1. Jumlah penduduk Kabupaten Rote Ndao Tahun 2013
WILAYAH
Kab. Rote Ndao
Kec. Rote Tengah
Desa Limakoli
JUMLAH
PENDUDUK
124.835
8.230
562
LUAS WILAYAH
(KM2)
1.278,05
162,51
26,87
KEPADATAN
PENDUDUK
98
51
21,55
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao
Jumlah penduduk di Kecamatan Rote Tengah 8.230 jiwa
dengan kepadatan penduduk 51 per km2. Sedangkan jumlah
penduduk di Desa Limakoli sebanyak 562 jiwa dengan kepadatan
21,55 km2 relatif kurang padat dibandingkan dengan di
kecamatan. Menurut jenis kelamin, jumlah penduduk terdiri dari
294 laki-laki dan 268 perempuan dengan rasio laki-laki
dibandingkan perempuan 1,097:1.
24
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Usia produktif berkisar antara 17 hingga 40 tahun.
Keseharian penduduk setempat yang sudah dewasa adalah
berangkat bekerja ke sawah pada pagi dan pulang menjelang
petang hari. Sementara itu para pemuda biasanya melakukan
kegiatan olahraga voli di lapangan dekat sekolah dasar pada sore
hari. Demikian juga dengan anak-anak. Anak-anak biasanya
bermain pada sore hari. Bermain kartu, atau permainan
menggiring ban, di mana ban sepeda motor digelindingkan
dengan menggunakan sebatang kayu, merupakan jenis
permainan yang sering dilakukan. Sementara itu pada malam
hari, kegiatan warga masyarakat antara lain pergi menghadiri
ibadah malam atau menonton televisi.
Pola Tempat Tinggal
Tidak ada aturan tertentu di masyarakat dalam
membangun sebuah rumah. Pada prinsipnya pola pemukiman di
Desa Limakoli adalah pola pemukiman dengan mengikuti
sepanjang jalan. Sebelum tahun 1980-an, pola pemukiman
penduduk mengikuti keberadaan pohon lontar. Di mana ada
pohon lontar, maka di situlah penduduk membangun rumahnya.
Pada masa itu pohon lontar memang masih menjadi sumber
kehidupan masyarakat Rote. Tetapi pada tahun 1985 terdapat
program ABRI masuk desa untuk “mengeluarkan” masyarakat
yang tinggal di hutan agar berpindah dan bertempat tinggal di
pinggir jalan. Jika masyarakat tidak mau pindah, maka tentara lah
yang membongkar rumahnya. Maka sejak saat itu, pola
pemukiman masyarakat berubah dan berpindah di pinggir jalan.
Rumah penduduk rata-rata dibangun dari bahan bebak,
yaitu batang daun pohon lontar yang masih muda, kemudian
disusun dan diikat sehingga membentuk sebuah dinding. Karena
dengan dinding dari bahan bebak angin masih bisa masuk ke
dalam rumah, maka biasanya penduduk melapisi dinding
25
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
tersebut dengan kertas koran atau kalender bekas untuk
mencegah angin masuk ke dalam rumah. Dinding rumah tersebut
dikombinasikan dengan bahan kayu atau batu-bata pada bagian
bawah rumah. Rumah yang seluruhnya terbuat dari batu bata
hanya dimiliki oleh beberapa orang warga.
Gambar 2. 6
Rumah Penduduk Desa Limakoli
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Atap rumah terbuat dari daun pohon gewang, yang
dirangkai hingga menjadi sebuah atap. Selain itu, atap seng
merupakan jenis atap yang juga banyak digunakan oleh warga
Desa Limakoli. Lantai rumah warga kebanyakan masih lantai
tanah walaupun beberapa rumah menggunakan ubin. Sumber
ventilasi rumah berasal dari jendela rumah.
26
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gambar 2. 7
Dinding Rumah Terbuat dari Bebak
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Gambar 2. 8
Atap Rumah dari daun pohon gewang
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
27
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Kamar mandi dibangun terpisah dari rumah. Terdapat dua
macam alasan mengapa kamar mandi dibangun terpisah dari
rumah. Alasan yang pertama adalah karena kamar mandi dan WC
belum termasuk dalam prioritas utama seseorang dalam
membangun rumah. Ruangan yang harus ada dalam sebuah
rumah adalah kamar tidur.Kesadaran masyarakat untuk
membangun kamar mandi dan WC termasuk terlambat. Oleh
karena itu pada umumnya masyarakat tidak memasukkan kamar
mandi dan WC sebagai bagian dari perencanaan membangun
rumahnya. Bisa dikatakan bahwa membuat kamar mandi dan WC
merupakan prioritas terakhir ketika seseorang mulai mampu
untuk membangun tempat tinggal.
Alasan yang kedua mengapa kamar mandi dibangun
terpisah dari rumah adalah karena kamar mandi merupakan
tempat untuk membuang kotoran sehingga merupakan sebuah
tempat yang kotor dan bau. Jika kamar mandi dibangun menjadi
satu dengan rumah, maka akan ada anggapan bahwa seluruh
rumah akan menjadi kotor dan berbau.
Bagi mereka yang memiliki WC dan kamar mandi
permanen, bahan yang digunakan untuk membangun kamar
mandi adalah semen dan batu bata, dengan lantai kamar mandi
yang diplester. Sementara itu bagi mereka yang belum
mempunyai kamar mandi dan WC permanen, kamar mandi
dibangun dengan bahan bebak, daun pohon gewang, seng, atau
sekedar ditutup dengan kain. “Lantai” kamar mandi terbuat dari
tanah, dengan diberi alas papan kayu untuk meletakkan ember
sekaligus sebagai tempat pijakan ketika mandi.
Bangunan dapur sebagian besar juga berada terpisah dari
rumah, biasanya terletak di belakang atau samping rumah.
Kebanyakan dapur, bentuknya sebagaimana rumah mempunyai
atap, pintu, dan jendela. Rata-rata dapur berukuran luas dimana
berhubungan dengan budaya panggang yang masih ada di desa
28
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
ini. Tradisi panggang ibu baru melahirkan biasanya dilakukan di
dapur dan membutuhkan tempat yang cukup luas agar ibu dapat
berbaring dan menghangatkan badannya dengan kayu panggang.
2.3. Religi
2.3.1. Kosmologi
Tradisi Pesta Kematian dalam Budaya Rote
Dalam budaya Rote, kematian dirayakan dengan membuat
pesta secara besar-besaran dan meriah. Babi dalam acara
tersebut dibunuh dalam jumlah puluhan ekor, karena masingmasing keluarga menyumbang hewan babi untuk pesta
kematian. Dalam pesta kematian rata-rata satu keluarga
membawa satu ekor babi, meskipun tidak menutup kemungkinan
jumlah yang dibawa lebih dari satu.
Tujuan dari mengadakan pesta kematian tersebut adalah
untuk “menyenangkan hati” para leluhur. Masyarakat percaya
bahwa pada saat pesta kematian, para leluhur akan turut hadir
dan memakan hidangan yang disediakan pada pesta tersebut.
Oleh karena itu, semakin besar pesta yang diadakan, maka para
leluhur akan semakin senang. Dipercaya juga oleh penduduk
bahwa para leluhur senang melihat para keluarga yang masih
hidup makan dengan lahap. Di dalam budaya Rote, acara
pemakaman memang dihadiri oleh hampir seluruh warga
masyarakat, dari anak kecil sampai dengan orang dewasa baik
perempuan maupun laki-laki. Selain keluarga dan warga desa
setempat, warga desa lain yang mengenal almarhum selama
hidupnya juga hadir. Dalam acara pesta kematian yang dilakukan
pada hari pemakaman, para pelayat memang dipersilahkan untuk
menyantap hidangan daging yang tersedia, ditambah dengan
membawa pulang daging sebanyak satu plastik. Jika seorang ibu
29
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
sedang mengandung, maka dia akan mendapatkan daging
sebanyak dua plastik.
Gambar 2. 9
Daging Babi untuk Pesta Kematian
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
30
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Meskipun demikian, seorang informan tokoh adat Rote
mengatakan bahwa seringkali pesta kematian dibuat dengan
mewah dan meriah disebabkan karena gengsi dan harga diri.
Semakin besar pesta kematian yang dirayakan, maka orang akan
semakin memuji dan mengakui keberadaan mereka sebagai
orang yang hebat. Tetapi sesungguhnya penyelenggaraan pesta
kematian tersebut merupakan suatu proses pemiskinan diri. Hal
ini disebabkan karena seseorang yang mengadakan pesta
kematian akan menanggung “hutang” dengan begitu banyaknya
hewan babi yang dibunuh untuk mengadakan pesta tersebut.
Upacara pemakaman dilakukan pada hari ketiga setelah
seseorang meninggal dunia. Pada hari pertama sampai dengan
hari ketiga sebelum jenazah dimakamkan, para tetangga sekitar
datang ke rumah keluarga yang sedang mendapatkan musibah
pada sore sampai malam hari dimana biasanya dihidangkan kuekue dan minuman. Acara ini disebut mete atau begadang. Pada
tiga hari sebelum pemakaman ini terdapat juga acara keagamaan
berupa kebaktian dan doa dari pendeta.
Pada hari pemakaman, acara dimulai dengan sambutan
dari keluarga. Jika orang yang meninggal tersebut pernah duduk
menjabat di dalam pemerintahan, maka akan ada pidato dari
Camat setempat. Acara seperti ini disebut upacara
pemerintahan. Kemudian acara dilanjutkan dengan ungkapan
hati dari keluarga yang berisi ucapan terimakasih kepada warga
yang sudah datang melayat. Khutbah dari pendeta dan nyanyian
gereja oleh pihak keluarga biasanya juga mengiringi prosesi
pemakaman. Setelah khutbah dari bapak Pendeta tersebut, acara
dilanjutkan dengan penghormatan kepada jenazah untuk yang
terakhir kali dan dilanjutkan dengan acara tutup peti jenazah.
Barulah kemudian jenazah dikuburkan ke liang kubur, diiringi
dengan penaburan bunga, dan ditutup dengan doa dan khutbah
terakhir. Ada satu prosesi yang cukup menarik, yaitu diadakannya
31
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
acara lelang beberapa barang peninggalan almarhum. Lelang
dilakukan dengan para pelayat, dimana hasilnya akan
disumbangkan kepada pihak gereja.
Dalam kebudayaan Rote, pesta kematian dirayakan pada
hari ke 3, ke 9, ke 40, dan ke 100 setelah seseorang dimakamkan.
Pada hari ke 3 dan ke 9, dipercaya arwah orang yang meninggal
masih ada di dunia, walaupun alamnya sudah terpisah, antara
orang hidup yang tinggal di dunia terang dengan alam orang yang
sudah meninggal, yang tinggal di dunia gelap. Pada hari ke 3
setelah pemakaman tersebut, dipercaya seseorang yang sudah
meninggal telah bangkit dari kuburnya. Sementara itu pada hari
ke 40, seseorang yang meninggal dunia tersebut diyakini sudah
pergi meninggalkan alam dunia untuk selama-lamanya.
Informan lain mengatakan bahwa pesta kematian
dilakukan pada hari ke 3, ke 9, dan ke 40 setelah seseorang
meninggal dunia karena pengaruh dari ajaran agama. Menurut
ajaran agama Kristen, Nabi Isa dibangkitkan jiwanya pada hari ke
3 setelah kematiannya dan bertemu dengan para muridnya pada
hari ke 9. Kemudian pada hari ke 40 setelah kematian, Nabi Isa
diangkat arwahnya ke surga dan meninggalkan murid-muridnya.
Pada pesta kematian yang diadakan pada hari ketiga
setelah pemakaman, dipercaya bahwa arwah orang yang
meninggal dunia masih berada di alam yang sama dengan
manusia yang masih hidup. Oleh karena itu pada masa dahulu,
terdapat kebiasaan untuk menyimpan sisa makanan ke dalam
anyaman keranjang yang terbuat dari daun lontar yang disebut
dengan Talioe. Anyaman yang berbentuk seperti piring tersebut
diikat dengan tali dan digantungkan untuk meletakkan makanan.
Ketika makanan yang diletakkan di tempat tersebut berkurang
isinya, maka keluarga percaya bahwa arwah orang meninggal
tersebutlah yang memakan makanan tersebut.
32
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Sebelum mayat orang yang meninggal dunia dikuburkan,
arwah orang tersebut masih bisa berkomunikasi dengan orang
yang masih hidup dengan cara merasuki tubuh seseorang. Orang
kerasukan itulah yang nantinya bisa melihat dan berkomunikasi
dengan arwah orang yang sudah meninggal dunia. Setelah sadar
orang tersebut bisa menceritakan kembali apa saja yang dia lihat
atau dia bicarakan selama kesurupan. Biasanya orang yang
dimasuki arwahnya adalah orang yang berjiwa lemah lembut.
Di samping perayaan pesta kematian tersebut di atas,
meskipun sangat jarang terjadi, terdapat perayaan 100 hari
kematian. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan rasa cinta yang
besar dari keluarga terhadap orang yang telah meninggal dunia.
Perayaan 100 hari kematian dilakukan dengan mengundang
kerabat dan juga tetangga.
Adat Istiadat yang Mengiringi Pesta Kematian
Tradisi pukul gong dilakukan untuk mengiringi pesta
kematian pada keluarga yang terpandang. Pemukulan gong
biasanya dimulai dari hari kematian sampai dengan pada saat
pemakaman. Acara pemukulan gong diikuti dengan sebuah
kesenian tari yang disebut sebagai kesenian foti, di mana
seseorang yang menerima selimut diharuskan untuk menari
sesuai dengan irama gong. Jika seseorang enggan menari, maka
akan diberikan denda berupa satu botol sopi (minuman keras
yang terbuat dari sadapan pohon lontar).
Selain itu terdapat tradisi pukul rotan yaitu tradisi yang
hanya bisa dijumpai pada saat ada seseorang yang meninggal
dunia. Tradisi ini biasanya diadakan pada perayaan hari ke 3, 9,
dan 40 setelah seseorang meninggal dunia. Dalam pukul rotan,
dilakukan pertandingan antara dua orang yang saling memukul
kaki dengan menggunakan rotan. Tradisi ini seringkali diselipi
dengan praktik kekuatan gaib untuk memperkuat tubuh,
33
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
sehingga bisa menang melawan kubu lawan. Sebenarnya, tidak
ada hadiah yang dijanjikan dalam pertandingan ini, sehingga
kadang hanya kepuasan batinlah yang menjadi hadiahnya. Jika
sampai terjadi kematian yang disebabkan pukul rotan, tidak ada
pihak yang akan melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib,
karena masyarakat menganggap bahwa jika seseorang meninggal
di arena pukul rotan, itu bukanlah suatu hal yang harus
dilaporkan ke ranah hukum. Tradisi pukul rotan terakhir kali di
Desa Limakoli dilakukan pada tahun 1995, karena menyebabkan
timbulnya perkelahian antar kampung.
2.3.2. Praktek Keagamaan atau Kepercayaan Tradisional
Seluruh penduduk Desa Limakoli beragama Kristen.
Terdapat lima gereja yang digunakan sebagai tempat beribadah
di Desa Limakoli, yaitu:
1. Gereja Sidang Jemaat Allah
2. GPDI (Gereja Pantekosta Di Indonesia)
3. GMIT (Gereja Masehi Injil Timor)
4. GPPS (Gereja Pantekosta Pusat Surabaya)
5. GBI (Gereja Bethel Indonesia)
Kegiatan keagamaan yang ada di desa ini antara lain:
1. Ibadah Raya Minggu, merupakan ibadah yang dilakukan setiap
hari Minggu pagi, dan diikuti oleh seluruh jemaat gereja baik
laki-laki maupun perempuan mulai anak sampai dewasa.
Kegiatan yang dilakukan meliputi ibadah dan puji-pujian
kepada Tuhan.
2. Ibadah Rumah Tangga yang diadakan dua kali dalam satu
minggu.
3. Sekolah Minggu merupakan kegiatan ibadah untuk anak dan
remaja yang dilakukan satu kali seminggu, setiap hari Sabtu
sore.
34
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
4. Kegiatan remaja merupakan kegiatan gereja untuk anak muda
yang dilakukan satu minggu sekali, setiap hari Selasa. Dalam
kebaktian kaum muda, isi khutbah yang diberikan antara lain
menyangkut
permasalahan pergaulan remaja, dan
permasalahan narkoba. Kaum muda dikhawatirkan mudah
terpengaruh oleh hal-hal yang negatif jika tidak ditanamkan
iman melalui kebaktian kaum muda seperti ini. Selain khutbah,
isi kebaktian kaum muda adalah acara pemuridan atau sesi
tanya jawab antara kaum muda dengan pendeta atau majelis
pengkhutbah.
5. Kebaktian kaum ibu, merupakan kebaktian gereja khusus
untuk perempuan yang sudah berumah tangga, diadakan satu
minggu sekali. Acara ibadah kaum ibu diisi dengan khutbah
dan kesaksian. Pengisi materi biasanya adalah jemaat
perempuan yang sebelumnya ditunjuk oleh pendeta. Materi
yang diberikan antara lain yang berkaitan dengan perempuan,
seperti tentang bagaimana menjadi ibu yang baik, bagaimana
merawat suami, setia kepada suami, tidak berselingkuh, dan
sebagainya. Metode penyampaian materi dengan kesaksian,
saling mencurahkan isi hati, sehingga suatu permasalahan bisa
dicari solusinya. Selain materi keagamaan, kegiatan memasak
dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam kebaktian kaum
ibu.
6. Ibadah doa malam, merupakan ibadah malam yang juga
dihadiri oleh seluruh jemaat gereja. Ibadah diisi dengan
khutbah, pendalaman Al Kitab, dan puji-pujian. Di dalam
ibadah doa malam, seluruh jemaat melakukannya dalam posisi
duduk.
7. Ibadah doa puasa, merupakan ibadah yang dilakukan satu kali
seminggu setiap hari Jumat. Ibadah doa puasa ini merupakan
ibadah doa setelah puasa dilakukan selama 24 jam yaitu mulai
Kamis sore sampai dengan Jumat sore.
35
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Pihak gereja terkadang menyelipkan pesan-pesan
kesehatan dalam materi khutbahnya, seperti yang dikatakan
salah seorang pendeta. Pihak gereja memberi motivasi untuk
membuat jamban dengan cara mengatakan bahwa daripada
menghamburkan uang, maka alangkah lebih baiknya jika uang
tersebut digunakan untuk membangun jamban.
Pendeta juga berperan dalam mendorong masyarakat
untuk berobat ke fasilitas kesehatan dengan cara memberikan
nomor telepon pendeta yang dapat dihubungi jemaat sewaktuwaktu. Pendeta akan menghubungi pihak tenaga kesehatan, jika
ada warga masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
2.4. Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan
2.4.1. Keluarga Inti
2.4.1.1.Komposisi Keluarga Inti
Pada umumnya, anggota keluarga yang tinggal di dalam
rumah, adalah anggota keluarga inti, suami istri, dan anakanaknya. Anggota keluarga yang baru menikah, jika perempuan
maka akan tinggal bersama keluarga suaminya untuk sementara
atau menetap di tempat tinggal baru yang terpisah dari kedua
orangtua jika sudah memiliki rumah.
2.4.1.2. Pembagian Kerja anggota keluarga inti
Domestik
Pekerjaan domestik pada umumnya merupakan
tanggungjawab pihak perempuan, dalam hal ini adalah istri dan
anak perempuan yang sudah bisa diminta untuk membantu
pekerjaan rumah. Tugas domestik meliputi pekerjaan
36
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
membersihkan rumah, menyapu, mencuci piring, mencuci
pakaian, memikul air, dan mengasuh anak. Tugas pengasuhan
anak dan memikul air merupakan dua macam tugas yang paling
sering dilimpahkan seorang ibu kepada anak perempuannya.
Tidak mengherankan kalau kemudian kita banyak melihat
seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SD terlihat
sudah sangat terampil menjaga dan mengasuh adiknya yang
masih kecil.
Eksistensi Diri
Untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
urusan di luar lingkup rumah tangga, kepala keluarga masih
mempunyai peranan lebih besar dibandingkan seorang istri.
Meskipun di desa tidak ada kegiatan-kegiatan khusus, tetapi
ketika ada undangan resmi dari pemerintah desa, maka kepala
keluarga merupakan pihak yang diundang untuk mewakili.
Produksi
Dalam hal pembagian tugas untuk pemenuhan kebutuhan
ekonomi keluarga, antara laki-laki dan perempuan mempunyai
porsi yang hampir sama. Hal ini karena pekerjaan pokok di Desa
Limakoli sebagai petani, dimana antara suami dan istri saling
bekerja sama. Pekerjaan seperti mencangkul dan menyemprot
hama dikerjakan oleh suami, sedangkan menanam padi,
menyiangi rumput dan memanen dikerjakan oleh istri. Pekerjaan
sampingan menanam sayuran di kebun sebagian besar dilakukan
oleh pihak perempuan, mulai dari menyiapkan lahan, menanam,
menyiram, dan memanen hasil sayurnya.
Reproduksi
Keputusan untuk mendapatkan keturunan merupakan
keputusan bersama, antara pihak suami dengan istri. Demikian
juga dengan pemasangan alat kontrasepsi, kebanyakan informan
37
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
mendiskusikannya terlebih dulu dengan pihak suami untuk
menanyakan kesediaannya bila istri menggunakan alat
kontrasepsi. Semua wanita menggunakan alat kontrasepsi susuk
yang dilakukan bidan puskesmas pembantu.
2.4.1.3. Pola Interaksi antara anggota rumah tangga
Pada umumnya anggota keluarga lengkap berkumpul pada
malam hari, karena pada pagi sampai sore hari orangtua biasanya
bekerja di sawah. Menonton televisi umumnya dilakukan banyak
penduduk di malam hari. Banyak orang yang akan berkunjung ke
rumah orang yang mempunyai televisi untuk menonton bersama
karena hanya beberapa keluarga yang memiliki televisi. Kegiatan
menonton televisi bersama ini biasanya berlangsung sampai
pukul sembilan malam, bahkan bisa lebih seperti saat ada siaran
bola.
2.4.2. Sistem Kekerabatan
2.4.2.1. Pernikahan
Berbicara tentang masalah pernikahan dalam tradisi Rote,
tidak dapat lepas dari pembicaraan mengenai belis atau dalam
bahasa Indonesia mas kawin. Belis dalam bahasa Rote adalah
mas kawin yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak
perempuan. Besarnya belis tidak tergantung pada tingkat
pendidikan maupun pekerjaan seseorang, tetapi tergantung pada
kelompok anak suku, karena nilai belis tersebut sudah ditetapkan
sejak masa kerajaan pada zaman dahulu. Tingkatan dalam
pemberian belis adalah sebagai berikut:
1) Tingkatan raja atau anak raja, belis sejumlah 150 gulden atau
enam ekor kerbau betina.
38
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
2) Cucu raja, belis sejumlah 100 Gulden atau empat ekor kerbau
betina
3) Mantan raja, belis sejumlah 75 Gulden atau tiga ekor kerbau
betina
4) Temukung atau sekarang setingkat kepala desa, belis sebesar
100 gulden atau empat ekor kerbau betina.
5) Keturunan raja atau dalam satu marga, belis sebesar 55
Gulden atau dua ekor kerbau betina dengan satu tenak
kerbau/satu adik/ satu ekor anak kerbau.
6) Rakyat, belis sebesar 25 Gulden atau satu ekor kerbau betina
dengan anaknya.
Pihak yang berhak mendapatkan belis adalah pihak orangtua
dan to’o atau paman dari pihak perempuan. Orangtua mendapatkan
belis sebagai tanda balas jasa, tanda terima kasih atau disebut balas
air susu. Sementara itu to’o mendapatkan bagian belis karena di
masa lalu mempunyai peran penting untuk memanjat pohon lontar
yang menjadi pohon kehidupan masyarakat Rote. Pada masa itu
hampir seluruh kehidupan masyarakat Rote bergantung pada
pohon lontar. Sumber makanan masyarakat Rote pun tergantung
pada gula air yang merupakan hasil dari pohon lontar. Sehingga
untuk membalas jasa to’o yang telah menyadap lontar, membawa
turun gula air maka to’o mendapatkan bagian dari belis perkawinan.
Belis yang diterima oleh pihak perempuan tersebut kemudian
akan “dikembalikan” dalam bentuk barang untuk mengisi rumah.
Barang kebutuhan tersebut seperti berupa kursi, lemari makan,
lemari pakaian, tempat tidur, piring, gelas, bahkan sampai tungku
tempat memasak beserta abunya pun turut dibawa serta.
Pada masa sekarang meskipun beberapa suku mulai
menghilangkan atau mengurangi nilai belis, karena menganggap
sebagai semacam transaksi jual beli anak perempuan, tetapi masih
banyak yang menggunakan belis dalam pernikahan. Salah seorang
informan mengatakan, penetapan belis pada masa kini telah
39
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
berubah menjadi sebuah proses tawar menawar sehingga harga
belis bisa melambung tinggi sesuai keinginan orangtua masingmasing.
Selain menikah di gereja secara agama, masyarakat Rote
mengenal pernikahan adat yang disebut Terang Kampung.
Terang kampung merupakan sebuah proses pernikahan adat
yang sah karena disaksikan oleh warga kampung dan perangkat
desa. Meskipun pernikahan sah secara adat, tetapi di mata
hukum negara dan agama pernikahan Terang Kampung belum
mendapatkan legitimasi, karena tidak tercatat di Catatan Sipil
dan tidak mendapat buku nikah. Dalam pernikahan Terang
Kampung ini, pihak pemerintah desa dianggap sudah mengetahui
bahwa kedua orang tersebut resmi menikah secara adat. Selain
itu, terang Kampung berfungsi sebagai pemberitahuan kepada
masyarakat setempat bahwa seseorang memasuki kehidupan
rumah tangga yang baru. Kalau sudah melakukan Terang
Kampung, bisa dikatakan bahwa sepasang laki-laki dan
perempuan tersebut sudah menikah secara semi permanen dan
segera menuju ke jenjang pernikahan selanjutnya, yaitu
pernikahan secara agama.
“Kalau sudah terang kampung, dalam arti sudah semi
permanen lah, jadi sudah beranjak ke,..mungkin mau
persiapan untuk mau urusan pernikahan atau mungkin
sudah adat, sudah persiapan, sudah mampu, sudah ada
segala-galanya, berarti sudah, itu urusan keluarga.” (MS,
Maneleo)
Ketika seseorang melakukan terang kampung, maka
diberikan surat yang ditandatangani oleh orangtua dan pihak
pemerintah desa yang memuat keterangan besarnya nilai belis.
Sedikit berbeda dengan acara pernikahan di Catatan Sipil,
pernikahan terang kampung hanya melibatkan pihak pemerintah,
yang diwakili kepala desa, maneleo, dan kedua belah pihak baik
40
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
keluarga laki-laki maupun keluarga perempuan. Dalam
pernikahan terang kampung, pihak mempelai laki-laki membayar
belis dan uang administrasi desa dan setelah itu keluarga
mempelai perempuan akan menyediakan hewan satu ekor
kambing atau babi untuk makan bersama.
Jika dalam perkawinan terjadi perceraian, maka harus
dilihat dahulu siapa yang berbuat kesalahan sampai terjadi
perceraian. Apabila kesalahan terletak di pihak istri, maka belis
harus dikembalikan kepada keluarga suami tetapi sebaliknya, jika
suami yang meminta cerai atau berbuat kesalahan di dalam
perkawinan, maka belis tidak perlu dikembalikan.
Urutan Pernikahan dalam Adat Rote
Urutan dalam pernikahan menurut adat Rote adalah:
1. Pertemuan antara orangtua calon mempelai wanita dengan
pria. Dalam pertemuan ini, jika orangtua pihak laki-laki kurang
bisa berkomunikasi maka maneleo bertugas mewakili
pembicaraan antara pihak laki-laki dengan perempuan. Hal
yang dibicarakan dalam pertemuan ini adalah tentang
anggaran dan adat istiadat. Adat yang dimaksud di sini adalah
belis. Setelah terjadi kesepakatan nilai belis, maka kedua belah
pihak akan menentukan hari pernikahan dan segala sesuatu
yang harus dipersiapkan menjelang hari pernikahan.
2. Kemudian dilakukan acara masuk minta atau peminangan.
Dalam masuk minta, keluarga laki-laki membawa dulang
sebagaimana permintaan pihak keluarga perempuan dalam
jumlah bervariasi antara 5, 7, atau 9. Dulang merupakan
tempat yang digunakan untuk membawa hantaran pernikahan
berbentuk piring bulat lebar. Isi dulang adalah pakaian untuk
orangtua, pakaian wanita dan perlengkapannya, serta satu
rangkai sirih pinang, beserta cincin, kalung, atau anting yang
ditempatkan dalam ndunak (anyaman berbentuk persegi
41
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
empat yang terbuat dari daun lontar). Ndunak digunakan
sebagai bagian adat meminang menurut terang kampung.
Seringkali untuk menghemat biaya, maka acara masuk minta
ini disamakan waktunya dengan acara malam picabok.
3. Malam picabok adalah malam hantaran perlengkapan rumah
tangga yang dilakukan sehari sebelum pernikahan. Pada
malam picabok ini, pihak keluarga laki-laki mengantarkan
semua kelengkapan pesta. Di sini mulai dihitung berapa
jumlah babi, berapa kilo beras yang dibutuhkan, besar uang
bumbu, dan semua perlengkapan lain yang dibawa, termasuk
pakaian pernikahan yang akan dikenakan. Jika pada malam
picabok ini ada barang yang kurang lengkap walaupun satu,
maka bisa dipastikan bahwa pernikahan belum bisa dilakukan
keesokan harinya.
Pada malam picabok ini juga diadakan sebuah pesta dimana
semua biayanya ditanggung pihak keluarga perempuan. Hal ini
yang kemudian menyebabkan pihak keluarga perempuan
terkadang meminta belis tinggi untuk membiayai semua
keperluan pesta sebelum dan sesudah pernikahan.
4. Setelah malam picabok, diadakan pernikahan pada keesokan
hari diikuti dengan babalaq atau antaran dari pihak keluarga
perempuan ke pihak laki-laki. Anak perempuan diantarkan ke
rumah menantu laki-laki, lengkap dengan barang-barang yang
akan dijadikan sebagai pengisi rumah.
Rangkaian acara pernikahan diikuti dengan acara nahani
atau penyambutan, di mana keluarga laki-laki menyambut
keluarga pihak perempuan dengan mengadakan pesta.
Pembiayaan pesta pernikahan sampai dengan pesta
penyambutan merupakan tanggungjawab pihak keluarga lakilaki. Kemudian rangkaian acara pernikahan ditutup dengan acara
nate’ah yaitu minta diri atau acara pamitan yang terkadang
dijadikan satu rangkaian dengan acara pernikahan.
42
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Denda Pernikahan
Di dalam pernikahan Rote, terdapat beberapa macam
denda adat terkait dengan pernikahan yaitu:
1. Denda buka pintu (suelelesu/lalaba nusak) adalah denda
karena terjadi pernikahan berbeda wilayah. Besar denda ini
tidak ditentukan dan merupakan kesepakatan bersama.
2. Bayar darah adalah denda karena penganiayaan yang
dilakukan oleh seorang suami kepada istri. Besar denda ini
berdasar atas kesepakatan antara kedua belah pihak.
3. Denda cuci muka (naluoek) karena seseorang melarikan anak
perempuan. Demikian juga jika seorang perempuan hamil
sebelum menikah, maka pihak laki-laki akan dikenakan denda
satu ekor kerbau betina yang sudah mempunyai anak.
4. Nalelesu adalah istilah kawin lari dalam bahasa Rote, yaitu
suatu kondisi di mana dua orang menikah tanpa kesepakatan
dari kedua orangtuanya. Jika seseorang melakukan kawin lari,
maka orang tersebut dikenakan denda berupa satu ekor
kerbau betina. Denda kawin lari disebut kenggauk atau injak
duri karena ketika orangtuanya mencari akan menginjak duri,
sehingga sebagai anak harus membayar denda potong duri.
Ketika kedua denda ini sudah diselesaikan, barulah kedua
belah pihak bisa masuk ke dalam tata cara pernikahan yang
biasa dilakukan.
5. Melangkahi adalah sebuah denda yang harus diberikan jika
seorang adik menikah mendahului kakak laki-lakinya yang
belum menikah. Nilai denda yang dikenakan tergantung dari
kesepakatan antara pihak kakak dengan pihak adik. Denda ini
tidak berlaku jika yang dilangkahi dalam pernikahan adalah
kakak perempuan.
43
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Dasar penetapan garis keturunan
Garis keturunan yang digunakan dalam suku Rote adalah
patrilineal atau mengikuti garis keturunan ayah. Fam atau marga
merupakan struktur klan dalam masyarakat Rote, yang
menunjukkan sistem kekerabatan. Nama marga seseorang bisa
menunjukkan asal daerah dan status sosialnya. Misalnya
seseorang dengan marga Amalo, maka orang bisa mengetahui
kalau orang tersebut berasal dari keturunan raja, karena Amalo
adalah nama Raja di Rote Tengah pada masa lampau.
Tidak menutup kemungkinan fam atau suku lain ikut
bergabung atau berpindah dalam suatu suku. Bahkan untuk
seseorang yang tidak mempunyai marga sebelumnya, dapat
membentuk sebuah nama marga baru. Seorang laki-laki yang
berasal dari wilayah atau daerah yang tidak mempunyai marga,
misalnya daerah Jawa, bisa mendapatkan marga dengan masuk
dan bergabung ke dalam anak suku tertentu. Sebagai contoh
kasus seorang laki-laki yang berasal dari Jawa mempunyai nama
belakang Syaputro. Kemudian nama Syaputro dijadikan sebagai
nama marga oleh dirinya dan masuk ke maneleo tertentu. Sejak
saat itu dia dan keturunannya akan mendapat nama marga
Syaputro sehingga muncul nama marga baru di Rote Tengah.
Perpindahan marga juga bisa dilakukan, jika seseorang ingin
berganti marga, meskipun hal tersebut belum pernah terjadi.
Untuk bergabung ke dalam sebuah leo (anak suku)
dilakukan prosesi adat tertentu. Seseorang yang akan bergabung
ke dalam leo tertentu mempunyai kebebasan memilih fam sesuai
pilihannya. Kepindahan leo tidak memerlukan surat atau
administrasi pemerintahan dan cukup dengan kehadiran kepala
desa dalam upacara adat penerimaan.
Rangkaian upacara adat penerimaan diawali dengan
sambutan maneleo sebagai pemberitahuan bahwa seseorang
akan masuk ke dalam leo dan mengumumkan bahwa orang
44
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
tersebut sah menjadi bagian dari anak leo pada hari tersebut.
Setelah acara penyambutan, dilakukan acara penandatanganan
surat yang menyatakan bergabungnya seseorang ke dalam leo.
Pola penentuan pemilihan jodoh
Pada dasarnya suku Rote cukup terbuka dalam
membicarakan masalah pemilihan jodoh. Tidak ada pelarangan
secara keras jika kedua orang saling jatuh cinta walaupun
berbeda keyakinan, misalnya. Jika menikah nantinya, salah satu
pihak dipersilahkan untuk mengikuti keyakinan pihak lainnya.
Dalam adat Rote, seorang perempuan yang sudah menikah akan
mengikuti fam keluarga suaminya. Fam milik keluarga istri tidak
hilang, melainkan disematkan di belakang fam keluarga
suaminya.
Pernikahan di dalam marga dilarang. Tetapi seandainya
terjadi maka pihak yang melakukan pernikahan tersebut
dikenakan denda. Denda adat tersebut adalah satu ekor mae
atau kerbau betina yang sudah beranak. Sebagai contoh di dalam
marga Kiukanak terdapat fam Lian dan Seubelan, jika kedua fam
tersebut melakukan pernikahan akan dikenakan denda. Dalam
hal ini pihak laki-laki harus menanggung denda dengan
membayarkan denda ke pihak perempuan.
Sedangkan dua orang yang memiliki fam sama tidak boleh
menikah dengan alasan apapun, walaupun jika dilihat dari
hubungan darah maupun kekerabatan bukan termasuk dalam
keluarga satu darah. Bagaimanapun jauhnya hubungan darah
orang dengan fam yang sama, mereka tetap merupakan keluarga
yang tidak boleh saling menikah. Jika kedua orang tersebut tetap
menikah, maka risikonya akan dikucilkan dari keluarga dan diusir
dari dalam suku atau tidak diakui menjadi anggota suku. Sebab
bagi suku Rote, hal tersebut menunjukkan kerusakan moral dan
pencemaran terhadap nama baik keluarga besar.
45
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Pernikahan yang disukai di dalam suku Rote adalah
pernikahan sambung ikat pinggang atau Tuti Kalike. Pernikahan
ini terkadang disebut sebagai pernikahan sambung darah karena
antara saudara sepupu di mana kedua orangtuanya merupakan
bersaudara kandung.
Sebagai gambaran adalah sebuah keluarga yang
mempunyai dua anak yaitu masing-masing seorang anak laki-laki
dan anak perempuan. Jika kedua anak tersebut kemudian
menikah dan masing-masing melahirkan anak laki-laki dan anak
perempuan yang berbeda fam. Kedua anak berbeda fam tersebut
diperbolehkan menikah dan pernikahan tersebut merupakan
pernikahan yang disukai karena hartanya tidak keluar dari
keluarga.
Gambar 2. 10
Jenis Pernikahan yang Disukai, Pernikahan Tuti Kalike
Usia pernikahan ideal
Usia pernikahan yang ideal menurut tokoh masyarakat
adalah 17 tahun, tetapi kenyataannya cukup banyak warga yang
hamil dan melahirkan atau menikah pada usia 14-15 tahun,
khususnya perempuan. Pada umumnya bentuk keluarga adalah
keluarga inti yaitu satu rumah yang dihuni oleh suami, istri dan
anak-anaknya. Pola tempat tinggal setelah menikah, jika
sepasang suami istri belum mempunyai rumah akan tinggal di
46
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
rumah keluarga laki-laki (patrilokal) dan setelah mempunyai
rumah sendiri mereka akan memisah dan tinggal di rumah
barunya (neolokal).
Hukum Pewarisan
Dalam Hukum Pewarisan (Ba’e Pusaka) kebudayaan Rote,
anak laki-laki bungsu mempunyai hak untuk mewarisi rumah
orangtua (Fadik manini uma). Sementara itu anak perempuan
tidak berhak mendapatkan bagian apapun dalam pembagian
harta warisan, kecuali jika orangtua memang ingin memberikan
secara pribadi kepada anak perempuan.
Dalam pembagian harta benda selain rumah, seperti uang,
hewan, atau sawah, kakak laki-laki tertua mendapatkan bagian
yang lebih besar dibandingkan dengan adik-adiknya. Sebagai
contoh, misalnya orangtua meninggalkan harta warisan sepuluh
ekor sapi, untuk empat orang anak laki-lakinya. Sebelum harta
tersebut dibagi, kakak laki-laki yang tertua terlebih dahulu
mendapatkan bagian satu ekor sapi, baru kemudian sembilan
ekor sapi tersebut dibagi rata di antara empat orang anak
tersebut. Hal itu sesuai dengan filosofi orang Rote, kaak manita
hata, artinya bahwa kakak sulung melihat harta orangtuanya
terlebih dahulu dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang
lain. Oleh karena itu, kakak sulung berhak mendapatkan bagian
harta yang lebih banyak dibandingkan dengan adik-adiknya.
2.4.3. Sistem Kemasyarakatan dan Politik Lokal
Pola kerjasama dan konflik
Konflik yang sering terjadi di Desa Limakoli merupakan
konflik antar warga. Konflik tersebut biasanya tentang
perkelahian antar tetangga yang ditimbulkan karena
kesalahpahaman, akibat “perkelahian” hewan peliharaan
47
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
misalnya. Seekor anjing yang menggigit seekor anak babi bisa
menimbulkan perselisihan yang berujung laporan kepada pihak
berwajib. Jika perselisihan tersebut kemudian bisa diselesaikan
dengan cara damai, maka kedua belah pihak yang bertikai harus
membuat kesepakatan. Kesepakatan tersebut biasanya berupa
denda adat, dengan membunuh hewan anjing yang menggigit
anak babi tersebut. Selain itu, uang denda juga harus dibayarkan
dalam perselisihan tersebut, berupa uang yang nilainya dapat
mencapai Rp. 1.000.000;
Perselisihan yang lain biasanya antara anggota keluarga.
Konflik tersebut juga bisa berujung pelaporan ke pihak yang
berwajib, tidak peduli anggota keluarganya sendiri yang
dilaporkan. Selain itu, konflik yang disebabkan penipuan cukup
banyak terjadi. Hal tersebut biasanya terkait dengan penipuan
jual beli hewan peliharaan seperti sapi atau babi.
Pola Kerjasama dan Interaksi Sosial Masyarakat
Tu’u merupakan acara kumpul keluarga yang menjadi
cerminan dari nilai-nilai kegotong royongan suku bangsa Rote.
Dalam budaya tu’u ini anggota keluarga (baik yang berasal dari
satu marga maupun berbeda marga) berkumpul untuk saling
mengumpulkan sumbangan, baik berupa uang maupun berupa
barang untuk keperluan pernikahan, kematian, dan juga
pendidikan. Tu’u pendidikan, merupakan bagian dari program
revitalisasi budaya yang mulai diterapkan pada tahun 2006. Di
dalam tu’u, terdapat istilah sambung keluarga atau gantung
pintu. Artinya semua sumbangan tersebut akan saling berbalas,
tidak berhenti begitu saja, dan tercatat dalam sebuah buku yang
disebut dengan buku catatan hutang.
Selain itu, gotong royong masyarakat dalam proses
pembangunan rumah yaitu gotong royong membangun pondasi
dan gotong royong dalam upacara kematian. Dalam setiap acara
48
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
kematian, masing-masing dusun mempunyai tanggung jawab
untuk membantu keluarga yang anggotanya meninggal, dalam
membuat peti mati dan menggali liang kubur. Sebagai contoh,
jika terjadi kematian warga yang tinggal di dusun Tayoen, maka
warga di dusun Oebaan bertanggung jawab menggali lubang, dan
warga di dusun Nitanggoen mempunyai tanggung jawab
membuat peti mati. Dengan adanya gotong royong seperti itu,
keluarga yang mengalami musibah kematian akan merasa
diringankan bebannya.
Interaksi masyarakat sehari-hari biasanya dilakukan ketika
saling bertemu seperti di sumur umum, kegiatan kebaktian, atau
membeli barang di kios. Selain itu, interaksi juga biasa terjadi
pada malam hari, ketika mereka berkumpul bersama di salah
satu rumah untuk menonton televisi.
Sistem Politik Lokal
Di dalam pemerintahan desa, kepala desa menjadi
pemimpin formal, dengan seorang sekretaris desa sebagai
pendampingnya. Selain itu terdapat juga Kaur Kemasyarakatan,
Kaur Pemerintahan, dan Kaur Umum (bendahara), dan Kepala
dusun, untuk membantu tugas Kepala Desa.
Selain seorang kepala desa, masyarakat Desa Limakoli
memiliki tokoh adat yang dijadikan sebagai pemimpin informal.
Pemimpin Informal dalam masyarakat adalah seorang maneleo
atau kepala suku. Maneleo berasal dari kata mane yang berarti
Raja dan leo yang berarti suku. Seorang maneleo membawahi
beberapa anak leo atau anak suku. Maneleo dipilih oleh anakanak leo yang menjadi anggota, dengan cara pemungutan suara.
Calon yang mendapatkan suara terbanyak akan dilantik menjadi
seorang maneleo. Terdapat tiga kriteria umum untuk dapat
dipilih sebagai maneleo. Yang pertama adalah merupakan
keturunan bangsawan, yang kedua adalah orang yang
49
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
berpengaruh, dan yang ketiga adalah kemampuan dalam
ekonomi.
Ada tiga tingkatan maneleo yaitu maneleo desa (maneleo
kecil), maneleo kecamatan (maneleo uum), dan maneleo
Kabupaten (maneleo huk). Pada dasarnya masa jabatan maneleo
adalah seumur hidup atau sampai maneleo tersebut
mengundurkan diri, meskipun hal tersebut tergantung pada
masing-masing maneleo. Misalnya ada maneleo yang
menetapkan masa jabatan maneleo selama empat tahun, untuk
kemudian dilakukan pemilihan kembali sesudah masa jabatannya
habis.
Tugas utama seorang maneleo adalah mengurus hal-hal
yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat, terutama
menyangkut adat istiadat dalam pernikahan dan kematian.
Dalam pernikahan, biasanya maneleo bertindak sebagai juru
bicara yang mewakili pihak keluarga untuk berembuk
menentukan dan menyepakati jumlah belis. Meskipun demikian,
maneleo tidak berhak memutuskan jumlah belis, karena yang
berhak menentukan adalah orangtua pihak perempuan. Ketika
terjadi pernikahan, seorang maneleo juga berhak menerima uang
pamit (noke makasi) dari pihak laki-laki yang meminang seorang
perempuan dari anak leo-nya. Besarnya uang pamit tersebut
bervariasi, berkisar antara Rp. 150.000,- sampai Rp. 500.000,-.
Manesongo
Dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian, suku Rote
mempunyai kepala pengairan yang disebut dengan istilah
Manesongo. Manesongo adalah jabatan yang diberikan kepada
“pemilik” bendungan yang mempunyai hak untuk membagikan
air kepada para anggota kompleks persawahan. Disebut pemilik
bendungan karena manesongo adalah orang yang dahulu berjasa
membuat bendungan untuk pertama kali. Oleh karena itu jabatan
50
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
manesongo tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Hanya
keturunan langsung dari marga yang sama berhak untuk
mewarisi jabatan tersebut. Jabatan sebagai manesongo
merupakan jabatan yang dipegang oleh seseorang seumur hidup.
Seorang manesongo tidak harus menetap di desa tempat
bendungan berada, sepanjang nenek moyangnya lah yang
memiliki bendungan tersebut. Seorang manesongo atau kepala
subak akan mewariskannya kepada anak kandung, siapapun baik
laki-laki maupun perempuan, baik anak sulung, anak ke 2 atau ke
3, maupun anak bungsu. Jika memang anak perempuan yang
mewarisi, biasanya jabatan tersebut akan diserahkan kepada
suaminya. Jika keluarga pemilik bendungan memutuskan untuk
menjual bendungan, maka kepemilikannya bisa berpindah,
demikian juga dengan posisi sebagai manesongo akan berpindah
kepada orang yang membeli bendungan tersebut.
Tugas seorang manesongo adalah memastikan bahwa air
untuk mengairi sawah sudah terdistribusikan secara adil dan
merata, memastikan kekuatan pagar di sekeliling sawah, dan
memberikan denda kepada anggota kompleks yang melanggar
aturan yang disepakati bersama. Dalam mengatur anggota
kompleks persawahan, seorang manesongo memiliki wakil
disebut manakilaoe yang dipilihnya.
Upah seorang manesongo atau kepala subak ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara anggota kompleks persawahan.
Tetapi rata-rata dihitung dari hasil panen, sesuai dengan
rendaman bibit yang ditanam. Misalnya seorang petani
menanam lima blek bibit hasil rendaman, maka dia akan
memberikan jumlah sama lima blek padi kepada kepala subak
nantinya.
Persemaian bibit dilakukan pada bulan Januari sampai
dengan Maret. Dan setiap satu tahun sekali akan diadakan acara
syukuran, yang disebut acara naoek, di mana para anggota
51
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
kompleks persawahan diminta membawa ayam dan beras
sebagai hidangan yang akan disantap bersama. Pada acara
syukuran ini pula semua uang denda yang didapatkan selama
satu tahun beserta penggunaannya, diberitahukan kepada
seluruh anggota kompleks persawahan. Demikian juga dengan
denda berupa binatang ternak, akan disembelih pada saat acara
syukuran ini. Denda akan dikenakan ketika ada anggota kompleks
yang melakukan pelanggaran seperti melakukan sabotase
terhadap jumlah air yang seharusnya dibagi sehingga pembagian
air menjadi tidak merata yang bisa didenda satu ekor kambing.
Setiap anggota kompleks persawahan mempunyai
kewajiban membuat pagar yang kuat untuk melindungi agar
hewan peliharaan tidak menerobos masuk ke dalam kompleks
persawahan. Nantinya tingkat kekuatan pagar tersebut akan
diperiksa dan disahkan oleh suatu komisi pagar dari
pemerintahan. Ketika pagar sudah mendapatkan pengesahan
kekuatan dari komisi pagar, jika ada hewan yang masuk ke dalam
kompleks persawahan maka pemilik hewan merupakan pihak
yang bersalah dan bukan pihak pemilik pagar. Hukuman yang
diberikan adalah penyembelihan hewan, dengan pembagian
setengah bagian untuk anggota kompleks persawahan dan
setengah bagiannya lagi kepada pemilik binatang.
Beberapa denda akan dikenakan jika anggota kompleks
persawahan melanggar peraturan yang sudah disepakati
bersama. Jumlah denda tersebut bisa meningkat tetapi tidak bisa
berkurang. Misalnya jika seseorang tidak membuat pagar dengan
kuat, maka dikenakan denda sebesar Rp. 50.000,- sedangkan jika
selokan tidak bersih atau datang hanya hanya mengikuti kegiatan
kerja bakti atau gotong royong setengah hari dikenakan denda
sebesar Rp. 25.000,- dan jika tidak membersihkan selokan sama
sekali dikenakan denda sebesar Rp. 50.000,-. Demikian untuk
kegiatan rapat, jika seseorang tidak datang rapat, maka
52
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
dikenakan didenda sebesar Rp. 50.000,- sedangkan jika terlambat
datang sebesar Rp. 25.000; Denda-denda tersebut dikumpulkan
dan menjadi kas untuk memperbaiki selokan dan bendungan.
Pagar merupakan hal penting dalam kehidupan pertanian
masyarakat Rote. Setiap tahun sebelum mulai proses tanam,
harus dibuat pagar setinggi 160 cm, dan selokan di persawahan
dibersihkan. Oleh sebab itu masing-masing anggota kompleks
persawahan mendapat tugas untuk membuat pagar sesuai
jumlah bibit padi yang akan ditanam. Untuk bibit padi kurang
lebih satu blek, diwajibkan membuat pagar sepanjang 2 meter.
Setiap satu tahun sekali akan ada komisi pagar, yang diwakili oleh
perwakilan dari kecamatan dan kepala desa, akan memeriksa
kekuatan pagar.
Gambar 2. 11
Pagar untuk melindungi lahan pertanian dari ternak
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Karena peran pagar sangat penting, maka sebelum diperiksa
oleh komisi pagar, akan dilakukan tiga kali pemeriksaan, yaitu
53
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
1) Pemeriksaan pertama dilakukan oleh masing-masing
pemilik pagar, yang harus memeriksa pagar secara
keseluruhan dan membersihkan selokan untuk pengairan.
2) Pemeriksaan yang kedua dilakukan oleh manesongo yang
akan memeriksa kekuatan pagar setelah bibit selesai
ditanam, sebelum pagar tersebut diperiksa oleh komisi
pagar.
3) Komisi am atau biasa disebut sebagai komisi pagar,
merupakan komisi pemeriksa kekuatan pagar yang
terakhir kali. Perwakilan dari kecamatan, kepala desa,
serta panitia yang dibentuk merupakan pihak yang
memeriksa dan mengesahkan kekuatan pagar.
Dalam acara pemeriksaan kekuatan pagar akan diadakan
pesta dengan mengundang seluruh anggota kompleks dimana
masing-masing membawa 1 periuk nasi dan satu ekor ayam. Jika
anggota tidak membawa nasi dan ayam tersebut, maka akan
dikenakan denda adat yang sudah disepakati bersama, yaitu
menjual sawah miliknya dan tetap memberikan 1 periuk nasi,
atau menjual sawah dan membawa satu ekor ayam.
Maneholo
Maneholo adalah seorang kepala kompleks perkebunan.
Berbeda dengan manesongo, kepemimpinan seorang maneholo
bisa berganti setiap tahun, dan proses pemilihannya dipilih oleh
anggota kompleks perkebunan.
Tugas seorang maneholo antara lain adalah melakukan
pengawasan terhadap orang yang keluar masuk ke dalam
mamar, memeriksa pagar, bertanggungjawab atas kehilangan
yang terjadi di dalam kompleks perkebunan, dan juga memeriksa
jika ada tanaman yang masak dan siap dipanen oleh pemilik
pohon. Anggota kompleks perkebunan yang akan memasuki
kebun diwajibkan untuk melapor terlebih dahulu kepada
54
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
maneholo. Jika tidak melapor, maka akan dikenakan denda
berupa 18 ekor ayam atau beras sebanyak satu blek.
Maneholo mendapatkan upah dari bagi hasil kebun yang
dimiliki oleh anggota kompleks perkebunan. Setiap anggota
kompleks perkebunan harus memberikan bagian dari tanaman
yang diambil kepada maneholo sebagai bukti.
2.5. Pengetahuan Tentang Kesehatan
2.5.1. Konsepsi Mengenai Sehat dan Sakit
Masyarakat mempunyai konsep sehat di mana tubuh
terasa segar dan bersemangat untuk melakukan kegiatan kerja.
Sementara itu sakit dikatakan sebagai suatu kondisi di mana
tubuh terasa lemas, tidak mempunyai nafsu makan.
Seseorang akan mengakui kalau dia sedang dalam kondisi
tubuh yang tidak sehat jika tidak bisa melakukan pekerjaan
sehari-hari. Badan lemah, tidak bisa beraktivitas, sering merasa
mengantuk, dan nafsu makan berkurang merupakan tanda-tanda
sakit menurut salah seorang informan.
Seseorang yang sakit diperlakukan lebih istimewa dalam
pengobatan. Dalam hal makanan, orang yang sakit biasanya
diberi bubur, tetapi tidak ada perlakuan istimewa lainnya.
Suatu penyakit dikatakan berat jika seseorang sudah tidak
bisa bangun dari tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas dalam
waktu yang lama. Sementara itu suatu penyakit dikatakan ringan
jika seseorang masih bisa beraktivitas meskipun sedang tidak
enak badan.
Konsep bersih adalah suatu kondisi di mana tidak ada
sampah yang berserakan, tidak ada kotoran dalam rumah
maupun di lantai, sebagaimana dinyatakan seorang informan.
Sementara itu konsep kotor menurut masyarakat adalah suatu
55
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
kondisi di mana terdapat banyak kotoran di sekitar rumah
maupun lingkungan.
Kondisi sakit jiwa di masyarakat Desa Limakoli terutama
dipercaya karena darah putih dari jalan lahir naik ke kepala pada
ibu setelah melahirkan.
2.5.2. Penyembuhan Tradisional
Di Desa Limakoli tidak ada sebutan khusus untuk
penyembuh tradisional. Sebutan dukun kampung biasanya
diberikan kepada orang yang biasa membantu kelahiran bayi.
Seorang dukun kampung yang membantu kelahiran seorang bayi
biasanya akan diberikan separuh dari kepala binatang pada saat
pesta syukuran kelahiran anak.
Ada seorang penyembuh tradisional yang terkenal
kemampuannya dalam menyembuhkan penyakit berkaitan
dengan patah tulang dan penyakit dalam perut, bernama Oma Sr.
Oma Sr mendapatkan karunia ketika menyusui anak pertamanya,
kurang lebih 50 tahun yang lalu. Pada waktu itu, Oma Sr tiba-tiba
ingin berpuasa selama sepuluh hari, walaupun akhirnya hanya
tiga hari. Pada malam ketiga, Oma Sr mendapat petunjuk
semacam penglihatan.
Setelah mendapatkan karunia, Oma Sr bertemu dengan
orang Amerika yang mengajari cara melahirkan anak. Orang
Amerika tersebut juga menunjukkan orang-orang yang patah
tulang dan terkilir. Oma Sr mulai meraba bagian-bagian yang
sakit, setelah itu penderita mengalami kesembuhan. Selain itu,
oma Sr bisa mengobati penyakit-penyakit dalam perut, seperti
penyakit lambung dan ginjal. Orang Amerika tersebut juga
memberitahukan tentang berbagai obat-obatan modern yang
biasa dipakai oleh tenaga kesehatan.
56
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Dalam memberikan pengobatan, Oma Sr membuat
ramuan obat dalam periuk dari tanah. Menurutnya, manusia
diciptakan dari tanah sehingga pengobatannya juga harus
menggunakan periuk tanah.
Oma Sr menolong kelahiran di desa Limakoli, tetapi sejak
dua tahun terakhir terdapat perubahan karena ibu diminta untuk
melahirkan di puskesmas. Walaupun demikian, Oma Sr tidak bisa
menolak kalau diminta memberikan pertolongan. Oma Sr juga
mempunyai keahlian untuk mengembalikan posisi bayi yang
melintang.
Obat tradisional yang biasa digunakan untuk mengobati
sakit gigi adalah dengan menggunakan kulit pohon kom. Kulit
pohon kom diiris sebanyak tiga ruas, diambil dari bawah ke atas,
kemudian dididihkan untuk dijadikan sebagai obat kumur.
2.5.3. Pengetahuan Penyembuhan Tradisional dan Biomedikal
Pengobatan tradisional dari bahan-bahan akar, kulit
pohon, dan daun masih banyak digunakan. Pengetahuan
mengenai pengobatan tradisional ini biasanya orang lanjut usia
atau tidak dimiliki setiap orang.
Amoksilin merupakan obat modern yang banyak diketahui
warga. Seringkali orang minum amoksilin tanpa berobat ke
dokter. Seorang anak balita yang menderita gatal-gatal diberi
ibunya cairan amoksilin yang dioleskan tiga kali sehari pada pagi,
siang dan sore hari. Cara pembuatan obat oles sakit kulit yaitu
tiga butir amoksilin dihancurkan kemudian dicampur dengan satu
botol kecil minyak kelapa. “Resep” tersebut diperoleh informan
dari salah seorang tetangganya.
57
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
2.5.4. Pengetahuan tentang Makanan dan Minuman
Tidak ada pembedaan antara makanan orang dewasa
dengan makanan anak. Sayur dan ikan merupakan dua jenis
bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh warga masyarakat.
Terkadang beberapa orang juga makan dengan nasi kosong yaitu
nasi yang dicampur dengan air garam. Daging babi atau daging
ayam merupakan bahan makanan istimewa yang hanya dapat
ditemui jika terdapat acara pesta.
Di dalam sebuah keluarga, makanan dibagikan untuk
semua, tidak ada prioritas dalam membagi makanan, hanya
ketika kepala keluarga berada di luar rumah maka akan disisihkan
makanan oleh istrinya. Cara pengolahan makanan umumnya
direbus atau ditumis. Masyarakat mengenal jenis bumbu
masakan terbatas pada bawang putih dan garam saja. Dalam hal
cara penyimpanan makanan, tidak ada cara penyimpanan
makanan dan minuman khusus, yang dilakukan oleh penduduk
desa Limakoli.
2.6. Bahasa
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Limakoli
menggunakan bahasa Rote. Tetapi saat ini banyak orang yang
dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Menurut Fox dalam Haning (2009) bagi orang Rote,
berbicara adalah kenikmatan hidup, bukan hanya obrokan
kosong untuk menghabiskan waktu, tetapi merupakan suatu
sikap untuk berpihak secara formal dalam pertengkaran,
perdebatan, dan ketangkasan berbicara yang tak ada habishabisnya atau keinginan untuk saling menyaingi dalam
menggunakan ungkapan-ungkapan dengan lancar dan berimbang
dalam upacara.
58
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Paul A. Haning (2009) menyatakan bahwa Kabupaten Rote
Ndao terdiri dari dua bahasa, yaitu Bahasa Rote dan Bahasa
Ndao. Dalam Bahasa Rote terdapat 18 dialek yang berbeda
karena pembagian Rote menjadi 18 nusak (kerajaan) yang
kemudian dikelompokkan menjadi empat dialek besar (Fanggidae
dalam Haning, 2009), yaitu dialek Rote Timur di wilayah
Kecamatan Rote Timur dan Pantai Baru; dialek Rote Tengah di
wilayah Kecamatan Rote Tengah, Rote Selatan, Lobalain; dialek
Rote Barat Daya, dan dialek Rote Barat Laut. Dari keempat dialek
tersebut, dialek Rote Tengah merupakan dialek yang mempunyai
penutur terbanyak dan disebutkan menjadi standar bagi penutur
bahasa Rote.
2.7. Kesenian
Sasando dan gong merupakan dua jenis alat musik sebagai
ciri khas suku Rote. Sementara itu Foti dan Kebalai merupakan
dua jenis seni tari yang terdapat dalam kebudayaan Rote. Foti
adalah sebuah tarian yang biasa ditarikan ketika acara pesta
kematian. Menari yang dilakukan dalam upacara kematian
mempunyai tujuan menghibur keluarga yang sedang berduka.
Tarian foti merupakan tarian dengan gerakan kaki yang cepat
mengikuti bunyi irama gong. Sementara, tarian Kebalai
merupakan tarian yang dilakukan secara beramai-ramai, di mana
laki-laki dan perempuan saling berpegangan tangan, dan menari
secara melingkar dengan diiringi musik gong.
Tetapi sayang kesenian yang sekarang di Desa Limakoli
hanya pukul gong pada upacara kematian yang digunakan bila
orang berada.
Demikian juga dengan manholo atau orang yang pandai
mengucapkan bahasa syair (bini), sudah tidak bisa ditemui di
Desa Limakoli. Pada masa kini pengucapan bini terkadang masih
59
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
dilakukan dalam acara penyambutan kepala daerah setingkat
Bupati.
Di sekolah dasar diajarkan muatan lokal mata ajaran
kesenian tetapi terbatas pada pembelajaran lagu tradisional
kepada murid-murid.
Gambar 2. 12
Alat musik Sasando
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Alat musik gong dipukul dengan dua cara. Cara yang
pertama adalah memukul dengan ritme lambat atau disebut
pukulan enggalutu. Sementara itu pukulan cepat atau pukulan
kei merupakan cara memukul untuk mengiringi tarian foti. Tradisi
memukul gong jarang dilakukan semenjak ada larangan dari
pihak gereja. Tradisi memukul gong sendiri sebenarnya bukan
merupakan kebiasaan yang melanggar ajaran agama, tetapi
kebiasaan lain yang menyertai tradisi pukul gong lah, misalnya
tradisi minum sopi yang melanggar ajaran agama.
60
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
2.8. Mata pencaharian
2.8.1 Jenis Mata Pencaharian Penduduk
Mata Pencaharian Pokok
Mata pencaharian utama penduduk sebagai petani padi.
Sawah dibagi menjadi dua macam sistem pengairan, yaitu sawah
air hidup serta sawah tadah hujan dan sawah padi gora. Sawah
air hidup merupakan sawah yang memperoleh air langsung dari
sungai, sawah tadah hujan dari air hujan, dan sawah padi gora
dari air hujan tetapi sebelumnya tidak dilakukan pengolahan
tanah. Sawah air hidup bisa ditanami padi sebanyak dua kali
dalam setahun, sementara itu sawah tadah hujan dan sawah padi
gora hanya satu kali dalam setahun, yaitu hanya pada musim
hujan. Masa tanam sawah padi gora dimulai biasanya pada bulan
Desember.
Mata Pencaharian Sampingan
Ketika seseorang tidak memiliki lahan pertanian sendiri,
dia bisa bekerja untuk mengerjakan sawah orang lain. Ada dua
sistem pengerjaan sawah, yang pertama adalah mengerjakan
sawah orang lain sepenuhnya, mulai dari menanam sampai
panen. Hasil panen tersebut akan dibagi dua sama antara pemilik
tanah dan penggarap sawah. Yang kedua adalah mengerjakan
sebagai tenaga sewa untuk membantu menanam atau memanen
hasil padi. Upah terendah tenaga kerja perempuan adalah Rp.
20.000,- per hari sedangkan untuk laki-laki adalah Rp. 25.000,per hari.
Beternak merupakan sumber penghasilan di luar
pertanian, yang membikan penghasilan cukup besar. Babi usia
enam bulan, bisa dijual seharga Rp.1.000.000,-. Sedangkan sapi
cukup mahal harganya, tetapi waktu pemeliharaannya lebih lama
sehingga kebanyakan warga lebih memilih beternak babi
61
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
dibandingkan sapi. Penduduk terkadang juga menjual binatang
anjing dengan hargai Rp.350.000 untuk ukuran sedang.
Selain bekerja di bidang pertanian, beberapa orang
mempunyai pekerjaan sampingan lain ketika tidak bekerja di
bidang pertanian. Ada yang bekerja sebagai penggali sumur,
mengumpulkan bebak untuk dijual, dan berbagai macam
pekerjaan lain sesuai dengan keahliannya. Ketika tidak bekerja di
sawah sebagian besar masyarakat menjual bebak (batang dari
daun pohon gewang). Harga jual bebak bisa dikatakan cukup
mahal dan menjadi daya tarik tersendiri. Harga sebuah bebak
adalah Rp. 1000,- dan satu ikat berisi 30 bebak. Dengan
demikian, kalau seseorang bisa mengumpulkan satu ikat bebak
dalam waktu satu hari, maka dia akan mendapatkan uang Rp.
30.000,-. Penjual pun tidak jauh mengantar bebak, karena
pembelinya akan datang untuk mengambil bebak-bebak
tersebut. Bebak sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai
bahan pembuat pagar.
Menjual minyak kelapa juga menjadi pekerjaan sampingan
masyarakat Desa Limakoli, khususnya para perempuan. Minyak
kelapa tersebut dimasukkan dalam botol air mineral ukuran 600
ml, dan dijual seharga Rp. 8.000,- per botol. Dari 30 butir kelapa
bisa dihasilkan 6 botol minyak kelapa. Mereka biasanya menjual
barang-barang hasil kebun dan juga hasil olahan minyak kelapa di
Pasar Ofalain yang diadakan setiap hari Rabu.
Bertanam pohon pisang merupakan pekerjaan sampingan
penduduk. Harga jual pisang Rp.5.000,- per sisir dirasakan bisa
membantu perekonomian rumah tangga sehari-hari karena
waktunya lebih cepat dibandingkan menunggu panen padi.
Sekitar bulan Agustus, beberapa orang mulai bekerja
mengiris pohon lontar, diambil niranya untuk dijadikan olahan
gula air. Meskipun demikian, mengiris pohon lontar tidak banyak
dilakukan oleh penduduk Desa Limakoli.
62
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gambar 2. 13
Suasana Pasar Ofalain
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
2.8.2 Pembagian Kerja
Ada budaya Rote yang disebut Tomanek Ina Kakana yang
mempunyai arti laki-laki adalah raja, dan perempuan seperti
kanak-kanak. Karena laki-laki adalah seorang raja, maka bisa
memerintah dan tugas perempuan adalah mengerjakan segala
macam pekerjaan rumah.
Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan terutama
bisa dilihat di bidang pertanian. Dalam mengerjakan pekerjaanpekerjaan di bidang pertanian, yang disebut sebagai pekerjaan
perempuan antara lain adalah tete na’o (membersihkan rumput),
sele (menanam bibit padi), koru (panen padi), tek (melakukan
rontok padi).
63
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Sementara itu yang disebut sebagai pekerjaan laki-laki di
sawah antara lain adalah mencangkul tanah agar siap untuk
ditanam, membuat pematang, menaburkan nuk (bibit) yang
akan disemai, memupuk dan menyemprot padi, mengangkut
padi, dan merontokkan padi. Selain itu juga ada pekerjaan yang
dilakukan bersama-sama antara laki-laki dengan perempuan,
yaitu pekerjaan mencabut rumput dan menanam, menjaga
burung, serta melakukan rontok padi (dengan menggunakan
mesin).
Pembagian kerja juga dilakukan ketika sebuah keluarga
mempunyai pekerjaan sampingan untuk membuat minyak
kelapa. Pekerjaan memetik buah kelapa dilakukan oleh suami,
sementara itu pekerjaan memikul kelapa dilakukan bersamasama antara suami dengan istri, dengan porsi angkutan kelapa
lebih banyak dilakukan oleh istri. Dikatakan dalam bahasa Rote,
suami tanggung panjat dan istri tanggung pikul. Artinya, suami
melakukan pekerjaan memanjat dan memetik buah kelapa,
sementara itu istri mempunyai pekerjaan untuk memikul kelapa
yang sudah dipetik tersebut. Demikian juga dengan pekerjaan
memasak perasan kelapa hingga menjadi minyak, dilakukan oleh
istri.
Anak-anak perempuan sudah diberikan tugas untuk
memikul air sejak usia 4 atau 5 tahun. Dimulai dari menggunakan
jerigen kecil atau ember kecil, baru kemudian meningkat
memikul air dengan menggunakan alat pikul yang disebut lepa,
dan mengangkat dua buah ember ukuran sedang dalam satu kali
pikul.
Di dalam rumah, anak-anak perempuan mempunyai tugas
untuk mengurus segala macam pekerjaan rumah tangga seperti
menyapu rumah, mencuci baju, mencuci piring, memasak nasi,
memasak sayur dan lauk pauk. Ketika seorang anak perempuan
sudah memasuki usia SMP maka tugas dan tanggung jawab
64
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
pengurusan rumah mulai menjadi tanggungjawabnya penuh. Ibu
akan bekerja di sawah sepanjang hari.
Tetapi tidak demikian dengan anak laki-laki. Seorang anak
laki-laki tidak diberikan tugas dan tanggung jawab untuk
menangani pekerjaan rumah tangga. Anak laki-laki akan
diajarkan dan diajak untuk mengerjakan pekerjaan di sawah,
seperti memikul padi. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun ratarata sudah bisa memikul padi seberat satu blek (sekitar 60 mog).
Seorang anak perempuan memang sudah dibiasakan
untuk bekerja membantu pekerjaan rumah tangga lebih awal
dibandingkan dengan anak laki-laki. Menurut salah seorang
informan, hal ini disebabkan karena jika seorang perempuan
tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, maka bisa
dipastikan perempuan tersebut di masa depan tidak akan dapat
berumah tangga.
Gambar 2. 14
Anak mengasuh adik
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
2.8.3. Alokasi Penghasilan
Penghasilan masyarakat sehari-hari yang pertama
digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti sabun
65
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
cuci, sabun mandi, minyak tanah, gula, kopi, dan juga garam.
Barulah kemudian penghasilan tersebut digunakan untuk
menyiapkan keperluan-keperluan tu’u.
2.8.4. Jenis Kepemilikan Barang
Rata-rata warga masyarakat sudah mempunyai sepeda
motor sebagai alat transportasi. Televisi masih menjadi barang
mewah, dan tidak semua orang memiliki televisi. Tetapi hal itu
juga disebabkan karena ketersediaan listrik dengan tenaga surya
sehingga penggunaanya terbatas. Telepon genggam sudah
dimiliki oleh hampir setiap keluarga penduduk Limakoli yang
sudah berusia dewasa. Beberapa anak usia sekolah juga ada yang
mempunyai telepon genggam.
Sebagian besar rumah tidak mempunyai dekorasi atau
hiasan rumah tertentu. Tetapi beberapa rumah terdapat dekorasi
kepala rusa atau kepala babi hutan hasil buruan atau mempunyai
hiasan bunga terbuat dari plastik yang merupakan tugas anak
sekolah.
2.9. Teknologi dan peralatan
Macam-macam peralatan informasi dan transportasi
Terkait dengan teknologi komunikasi penduduk Desa
Limakoli tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan telepon
genggam. Hampir setiap rumah mempunyai telepon genggam.
Bidan desa juga memberikan nomor telepon, khususnya kepada
ibu hamil agar bisa dihubungi setiap saat. Sebenarnya dibutuhkan
kesadaran masyarakat yang lebih tinggi agar menggunakan
telepon genggam sebagai alat untuk menghubungi tenaga
kesehatan dalam pencarian pertolongan kesehatan.
66
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Meskipun alat transportasi umum dari dan menuju Desa
Limakoli sangat terbatas, tetapi jika berkaitan dengan kesehatan,
puskesmas setempat telah menyediakan alat transportasi berupa
mobil ambulance yang bisa dihubungi 24 jam oleh warga. Akses
jalan untuk menuju Desa Limakoli sebenarnya relatif mudah
ditempuh, sehingga tidak menjadi kendala.
Gambar 2. 15
Teknologi yang dipergunakan di bidang pertanian
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Penggunaan jenis-jenis peralatan yang digunakan di dalam rumah
Kebanyakan warga mempunyai dapur yang terpisah dari
rumah. Dapur biasanya terletak di belakang rumah, dalam
kondisi terbuka, sehingga binatang seperti ayam, anjing, maupun
babi bebas untuk berkeliaran. Peralatan masak dan makan
seringkali menjadi serbuan dari anjing-anjing peliharaan sesaat
setelah digunakan. Jika anjing peliharaan tersebut sedang berada
dalam kondisi yang tidak sehat, ditambah dengan proses
pencucian yang kurang bersih, maka terbuka kemungkinan
terjadinya pencemaran atau penularan penyakit yang berasal
dari air liur anjing. Penempatan peralatan masak dan peralatan
makan di tempat terbuka juga menjadikan hewan-hewan
67
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
peliharaan tersebut lebih mudah untuk menjilat peralatan makan
milik manusia.
Penggunaan teknologi yang terkait kesehatan
Seluruh warga masyarakat sudah mempunyai kesadaran
untuk merebus air minum. Dalam pengolahan makanan, bahan
yang akan dimasak dicuci terlebih dahulu. Sebagian besar warga
melakukan mengolah makanan dengan cara direbus dan ditumis.
Makanan yang digoreng dengan banyak minyak jarang ditemui.
Cita rasa makanan cenderung asin, tetapi dengan sedikit
bumbu masak seperti bawang merah atau bawang putih.
Penyajian makanan disertai pemberian garam di meja makan,
sebagai bahan taburan jika masakan yang disajikan kurang asin.
Makanan yang dikonsumsi penduduk biasanya nasi dengan
sayur dan jika tidak memasak sayuran nasi kosong, yaitu nasi
yang dimakan dengan campuran air garam merupakan menu
pilihan. Variasi nasi kosong antara lain nasi yang dicampur
dengan air garam, sampai nasi yang diberi campuran minyak
kelapa dan garam. Kadang bila ada penjual ikan yang masuk ke
desa maka hari itu mereka makan dengan lauk ikan. Jenis ikan
yang biasa dibeli adalah ikan segar.
Pengolahan obat
Di Desa Limakoli tersedia cukup banyak bahan alam yang
biasanya digunakan untuk menyembuhkan sakit. Meskipun
demikian, hanya beberapa orang yang mengetahui nama dan
khasiat tanaman-tanaman obat tradisional tersebut. Pengolahan
obat tradisional umumnya diolah dengan cara direbus kemudian
diminum atau dibakar kemudian dioleskan ke bagian tubuh.
Rumah
Mayoritas rumah penduduk tidak mempunyai cukup
ventilasi dimana biasanya pergantian udara melalui pintu. Dan
68
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
mayoritas rumah berlantai tanah, maka kebersihan rumah perlu
diperhatikan. Karena lantai rumah dari tanah tersebut, ketika
meludah, balita buang air kecil terkadang dilakukan di dalam
rumah.
MCK
Keberadaan WC merupakan permasalahan utama yang
masih dihadapi di Desa Limakoli terkait dengan MCK. Menggali
tanah di hutan kemudian meninggalkannya agar dimakan oleh
babi atau anjingmerupakan pilihan sebagian besar masyarakat
yang tidak mempunyai WC untuk melakukan kegiatan buang air
besar. Hal ini tentu bisa menimbulkan penyakit, karena kotoran
manusia dibuang sembarangan.
Gambar 2. 16
Kegiatan mencuci di sungai
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
69
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
70
BAB 3
POTRET KESEHATAN
3.1. Status Kesehatan
3.1.1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Kegiatan Puskesmas yang terkait dengan Kesehatan Ibu
dan Anak adalah Posyandu yang dilakukan setiap bulan satu kali.
Kegiatan Posyandu tersebut meliputi kegiatan penimbangan,
imunisasi bayi dan balita, imunisasi ibu hamil, pemeriksaan ibu
hamil, dan pelayanan terhadap pasien umum.
Program bantuan pemerintah terkait dengan KIA adalah
bantuan PNPM untuk ibu hamil, bayi dan balita. Bantuan tersebut
berupa pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan
balita, serta bantuan insentif transportasi untuk pemeriksaan ke
posyandu.
Upaya yang dilakukan puskesmas agar penduduk bersedia
melahirkan di pelayanan kesehatan antara lain sosialisasi dan
konseling ketika ibu hamil memeriksakan kehamilannya.
Sosialisasi juga terkait pemberian nomor telepon yang bisa
dihubungi sewaktu-waktu, yaitu nomor telepon bidan, bidan
koordinator, kepala puskesmas, sampai supir ambulance. Selain
itu dilakukan sosialisasi terkait dengan pembebasan biaya bagi
ibu bersalin, meliputi biaya persalinan, pengobatan, dan
transportasi, disebabkan karena program Revolusi KIA yang
dicanangkan oleh pemerintah provinsi NTT.
71
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Program Revolusi KIA dicanangkan di seluruh NTT sejak
bulan Oktober tahun 2010. Program Revolusi KIA membebaskan
seluruh biaya persalinan di fasilitas kesehatan, tetapi melarang
petugas kesehatan melakukan persalinan di rumah.
Persalinan di rumah biasanya karena pengaruh keluarga
lebih besar dalam pengambilan keputusan. Menurut informan
kepala puskesmas, akses jalan yang sulit tidak bisa dijadikan
alasan karena terdapat desa dengan akses jalan yang lebih sulit
tetapi bisa dan bersedia untuk melahirkan di pusat kesehatan.
Sejak dicanangkan Gerakan Sayang Ibu pada tahun 2012,
proses persalinan tidak selalu seperti yang ditakutkan, misalnya
dengan proses pengguntingan jalan lahir. Pihak keluarga juga
diperbolehkan masuk ke ruang bersalin jika memang dibutuhkan.
Selain itu, delapan jam setelah melahirkan, seorang ibu
diperbolehkan pulang. Jadi tidak perlu menginap selama berharihari seperti yang dikhawatirkan warga masyarakat selama ini.
Selain itu, dukun akan mendapatkan uang sebesar Rp. 25.000,karena telah menelepon pihak puskesmas atau tenaga kesehatan.
Mengikuti KB dilakukan ketika memiliki lebih dari tiga
orang anak. Menurut salah seorang informan hal tersebut
kemungkinan jika salah seorang anaknya meninggal, maka masih
memiliki anak lainnya.
3.1.2. Budaya Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
3.1.2.1. Persalinan oleh Tenaga Keshatan
Mayoritas ibu lebih memilih melahirkan di rumah
daripada di rumah sakit. Sampai dengan bulan Juni tahun 2014,
hanya tiga ibu yang melahirkan di Puskesmas. Ada berbagai
macam alasan yang dikemukakan mengapa mereka memilih
melahirkan di rumah. Alasan yang utama adalah ketakutan
menyangkut permasalahan biaya. Bagi masyarakat, melahirkan di
72
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
fasilitas kesehatan identik dengan biaya yang mahal. Selain itu,
mereka juga memilih untuk melahirkan di rumah karena rumor
yang mengerikan terkait dengan proses melahirkan di rumah
sakit. Rumor tersebut antara lain adalah proses pengguntingan
dan penjahitan yang dilakukan, tidak ada anggota keluarga lain
yang boleh menemani proses persalinan, tentang tenaga
kesehatan yang akan membentak jika dalam proses persalinan
ibu berteriak kesakitan.
Meskipun dari sedikit ibu yang memilih melahirkan di
puskesmas tersebut mengatakan bahwa keputusan mereka
disebabkan pengalamannya melihat kakak kandungnya meninggal
karena perdarahan saat melahirkan.
Pihak puskesmas sendiri sebenarnya sudah melakukan
beberapa cara untuk melakukan sosialisasi tentang melahirkan di
pelayanan kesehatan kepada masyarakat, seperti menghadirkan
ibu yang melahirkan di puskesmas, dan berbagi pengalaman atau
cerita dengan warga. Tetapi hasilnya belum terlalu dirasakan.
Persalinan di rumah pada umumnya ditolong tenaga non
kesehatan, yaitu keluarga atau dukun kampung. Proses persalinan
dilakukan di kamar tidur, tetapi tidak di tempat tidur, melainkan
di lantai dengan beralaskan tikar. Untuk membantu mengejan,
kain selendang digantungkan dan dipakai pegangan untuk
membantu mengejan. Selain dengan kain, ibu yang akan
melahirkan juga meminta bantuan keluarga (suami, ibu, atau
saudara) untuk menyandarkan bagian punggungnya, sehingga
kedua punggung saling bertemu. Perut ibu yang melahirkan diikat
dengan sehelai kain, dengan fungsi untuk menahan bayi yang
akan dilahirkan agar tidak kembali ke perut ibu.
Sedangkan orang yang menolong persalinan tidak
menggunakan alat pelindung apapun, seperti sarung tangan.
Peralatan yang digunakan tidak didisinfektan, seperti alat untuk
memotong tali pusat. Gunting biasanya digunakan untuk
73
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
memotong tali pusat. Jika menggunakan gunting yang tidak baru,
akan langsung digunakan tanpa disinfektan dahulu, atau hanya
dilap dengan kain.
3.1.2.2. Penimbangan Bayi dan Balita
Kegiatan Posyandu di Desa Limakoli dilakukan di gedung
yang khusus dibangun dengan dana PNPM Mandiri. Karena di
Desa Limakoli terdapat tiga dusun, maka terdapat tiga bangunan
Posyandu. Ketiga gedung tersebut dalam kondisi baik dan cukup
terawat. Masing-masing bangunan terdapat kamar untuk
pemeriksaan ibu hamil. Sedangkan fasilitas yang tersedia di
gedung Posyandu cukup lengkap yaitu masing-masing
mempunyai meja dan kursi untuk pemeriksaan, serta tempat
tidur untuk tempat pemeriksaan ibu hamil. Selain itu masingmasing posyandu memiliki alat timbang berbentuk injak yang
dilengkapi alat ukur dan timbangan untuk bayi. Dalam rangka
gerakan cuci tangan memakai sabun, setiap Posyandu juga
mempunyai sebuah ember tempat cuci tangan yang dilengkapi
dengan kran. Namun, ember tersebut sangat jarang digunakan
dan hanya dijadikan sebagai pajangan.
Karena tempat Posyandu sudah dipisahkan berdasarkan
masing-masing dusun, maka alasan tempat pemilihan
penimbangan dilakukan berdasarkan kedekatan lokasi.
Beberapa alasan yang diberikan oleh ibu-ibu tentang
alasan datang ke Posyandu adalah untuk mengetahui berapa
berat badan terakhir anak, serta apakah berat badan anak
mereka mengalami kenaikan atau penurunan.
Makanan yang diberikan pada saat penimbangan antara
lain biskuit, susu, atau kacang hijau. Susu dan kacang hijau
ditempatkan dalam ember besar untuk kemudian dibagikan
kepada para balita. Para ibu membawa berbagai macam botol,
74
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
ada botol bekas minuman air mineral, botol bekas minuman teh
instan, tidak tahu sudah berapa kali dipakai karena kusam
warnanya.
Gambar 3. 1
Suasana Penimbangan di Posyandu
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
3.1.2.3. Memberikan ASI Eksklusif
Di Desa Limakoli ASI eksklusif belum diberikan. Hal ini
karena pada hari pertama seorang bayi lahir, maka bisa dipastikan
akan diberikan air kopi. Seduhan air kopi dipercaya bisa
memperkuat dada bayi, sehingga tradisi ini masih bertahan
sampai sekarang.
Meskipun ASI eksklusif tidak terpenuhi karena pemberian
air kopi, tetapi di Desa Limakoli anak diberi ASI cukup lama.
Seorang ibu rata-rata memberikan ASI tanpa makanan apa pun
sampai usia 6 bulan. Bahkan setelah usia bulan, mereka tetap
75
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
meneruskan pemberian ASI sampai usia satu atau satu setengah
tahun.
Pengertian ASI eksklusif menurut masyarakat adalah
bahwa seorang bayi diberikan ASI sampai usia enam bulan, tanpa
melihat apakah pada waktu bayi baru lahir dia sudah diberikan
makanan atau minuman lain. Meskipun sebagian sudah
mendengar informasi mengenai ASI eksklusif dari petugas
kesehatan di Posyandu, masih terdapat salah pengertian.
Pada saat menyusui, seorang ibu mengaku tidak
mempunyai kebiasaan mencuci tangannya terlebih dahulu.
Beberapa jenis makanan yang harus dikomsumsi ibu menyusui
adalah jenis kacang-kacangan dan sayur daun marungga.
1.1.2.4.
Mencuci Tangan dengan air bersih dan sabun
Dari hasil observasi, mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun belum menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Seorang anak
kecil yang baru pulang bermain bisa langsung mengambil
makanan kemudian makan siang dengan tangan.
Demikian dengan balita yang buang air kecil. Mereka tidak
dicebokkan orangtua, hanya dilepaskan celananya bahkan
seringkali dibiarkan tidak mengenakan celana sampai kencing
kembali.
3.1.2.5. Memakai jamban sehat
Tempat yang sering digunakan masyarakat untuk buang air
besar jika tidak mempunyai jamban adalah di hutan.
Untuk program PHBS, pihak puskesmas mempunyai
program yang rencana diberi nama program arisan jamban.
Konsep dari program ini sama seperti program arisan, di mana
warga yang belum mempunyai jamban bergabung menjadi satu
76
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
dan bergiliran untuk saling membantu membuat jamban di dalam
anggota kelompoknya. Nantinya kelompok tersebut menghitung
sendiri berapa uang dan bahan yang dibutuhkan.
Beberapa informan yang belum mempunyai fasilitas MCK
biasanya menumpang mandi di rumah tetangga atau menantu
yang tinggal bersebelahan.
Berikut data tentang sarana sanitasi dasar di Desa Limakoli
pada bulan Desember tahun 2013.
Tabel 3.1. Sarana Sanitasi Dasar Desa Limakoli tahun 2013
Nama
Dusun
Tayoen
Nitanggoen
Oebaan
Jumlah
Jml
KK
32
69
51
152
Jml
Jiwa
127
241
194
262
Leher
angsa
12
25
20
57
Plgsgn
2
6
12
20
Cemp
lung
6
10
7
23
Jamban
BABS
102
199
183
484
25
42
11
78
Sumber: Data Puskesmas 2013
Gambar 3. 2
MCK permanen di desa Limakoli
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
77
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Gambar 3. 3
Kamar Mandi non permanen milik warga
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
3.1.2.6. Melakukan Aktifitas Fisik Setiap Hari
Kegiatan aktifitas fisik cukup banyak dilakukan oleh
masyarakat bahkan bisa dikatakan keseharian warga masyarakat
Desa Limakoli sarat dengan aktifitas fisik. Pergi bekerja ke sawah,
memikul air, dan memikul kayu, merupakan sebagian kecil
aktifitas fisik penduduk desa Limakoli yang rutin dilakukan.
Sebagian besar warga yang bekerja sebagai petani mempunyai
aktivitas bekerja di sawah pada pagi hari sampai dengan sore
hari. Berbagai macam pekerjaan bergantian dilakukan di sawah,
mulai dari mencangkul, menanam, memberi pupuk,
menyemprot, sampai nantinya memanen dan memikul hasil
panen. Selain itu, untuk sampai ke lahan sawah dibutuhkan
tenaga fisik yang cukup besar, karena seringkali harus ditempuh
berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.
Kegiatan memikul air juga merupakan kegiatan yang biasa
dilakukan sehari-hari dan membutuhkan tenaga cukup besar.
78
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kegiatan ini banyak dilakukan terutama oleh anak-anak
perempuan dan ibu-ibu. Pagi dan sore hari merupakan waktu
yang digunakan untuk mengambil air. Minimal satu kilometer
jarak dapat ditempuh untuk aktivitas memikul air ini.
3.1.2.7. Konsumsi Sayur dan Buah Setiap Hari
Penduduk desa Limakoli cukup sering mengkonsumsi sayur,
meskipun kurang beragam jenisnya. Sayur yang biasa dikonsumsi
merupakan jenis sayur yang biasa ditanam di kebun setempat,
seperti sawi, kangkung, dan bayam. Selain itu “sumber” sayuran
untuk dimakan juga berasal dari halaman rumah setempat,
seperti sayur daun marungga, sayur bunga pepaya, dan sayur
pucuk daun labu. Sedangkan konsumsi buah bisa dikatakan
sangat kurang. Hal ini disebabkan karena keterbatasan jenis buah
yang ada di Desa Limakoli. Buah yang tumbuh di desa Limakoli
antara lain adalah buah pisang dan buah pepaya. Tetapi dua jenis
buah itu pun juga jarang dikonsumsi oleh warga, karena mereka
lebih
memilih
untuk
menjual
dibandingkan
untuk
mengkonsumsinya. Selain itu, konsumsi buah juga menjadi
sebuah hal yang mewah, karena untuk mendapatkan buah,
seseorang harus pergi ke ibukota kabupaten terlebih dahulu.
Jenis buah yang tersedia pun merupakan jenis buah yang
tergolong “mewah dan mahal” seperti buah jeruk, buah anggur,
dan buah apel. Oleh masyarakat setempat, merupakan sebuah
hal yang cukup sulit untuk dapat membeli buah-buahan tersebut.
3.1.2.8. Kebiasaan Merokok
Merokok menjadi kebiasaan hampir seluruh laki-laki di
Desa Limakoli. Jenis rokok yang dikonsumsi antara lain adalah
rokok batangan, atau rokok yang dibuat sendiri dengan cara
79
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
melinting. Rata-rata penduduk merokok baik ketika berada di
dalam maupun di luar rumah.
3.1.2.9. Penggunaan air bersih
Sumber air yang digunakan untuk keperluan memasak dan
minum berasal dari air sumur, sementara itu yang digunakan
untuk keperluan cuci dan mandi berasal dari dua macam sumber,
yaitu sumur dan sungai.
Penyakit kulit yang pada umumnya diderita oleh penduduk
setempat, terutama anak-anak yang masih berusia di bawah lima
tahun atau yang masih duduk di bangku SD, disebabkan karena
kurangnya kebersihan diri. Kurangnya kebersihan diri tersebut
disebabkan karena mandi dari sumber air yang kotor, atau mandi
dengan menggunakan air sungai yang sama dengan tempat
minum dan berendam kerbau.
Gambar 3. 4
Salah satu sumur pribadi milik warga
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
80
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gambar 3. 5
Penampungan air bersih keluarga
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
3.1.2.10. Memberantas jentik nyamuk
Tidak ada program atau kegiatan khusus yang dilakukan
baik oleh masyarakat dan tenaga kesehatan untuk memberantas
jentik nyamuk. DBD dan juga malaria rupanya bukan merupakan
jenis penyakit yang banyak muncul di desa Limakoli sehingga
dijadikan sebagai prioritas kesehatan. Tetapi Puskesmas
mempunyai program untuk membagikan kaporit, yang bertujuan
untuk membersihkan air,
setiap tiga bulan sekali untuk
dimasukkan dalam bak penampungan air maupun sumur.
3.1.3 Penyakit Menular
3.1.3.1. Tuberkulosis (TB)
Penyakit Tuberkulosis oleh sebagian besar masyarakat
masih dianggap sebagai penyakit keturunan atau kutukan, dan
bukan penyakit menular. Sebenarnya TB merupakan penyakit
81
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
menular yang bisa ditularkan ke orang sekitar jika penderita
meludah sembarangan dan tidak menjaga kebersihan.
Menurut pemegang program pemberantasan penyakit TB
puskesmas, penderita TB yang tercatat di puskesmas tidak
berobat secara tuntas selama enam bulan. Hal ini disebabkan
karena berbagai macam alasan terutama malas untuk mengambil
obat karena jauh, sehingga pengobatannya terputus. Dulu
Pengawas Minum Obat (PMO) mendapatkan insentif dari
organisasi Wahana Visi Indonesia (WVI), tetapi sejak tidak ada
insentif, tidak ada kesadaran dari PMO maupun penderita TB
sendiri untuk mengambil obat di Puskesmas. Selain itu, alasan
berhenti minum obat TB karena pasien merasa tubuhnya sudah
sehat sesudah minum obat dua minggu, sehingga tidak
meneruskan minum obat.
Karena masih ada warga masyarakat yang menganggap TB
sebagai penyakit kutukan, maka ada penderita TB yang berobat
ke dukun. Pemahaman penyakit TB yang buruk dan konotasi
negatif masyarakat terhadap penyakit TB maka pihak puskesmas
mengatakan dengan seseorang menderita penyakit batuk.
“Oh jadi jangan bilang mereka TB. Bilang saja mereka
penyakit batuk. Kan menyangkut rasa harga diri to.
Penyakit yang tidak bagus kalau di sini.” (Mr)
3.1.4. Penyakit Tidak Menular
3.1.4.1 Rematik
Penyakit rematik disebut masyarakat dengan penyakit
asam asam yang merupakan keluhan terbanyak di Desa Limakoli.
Biasanya informan mendeskripsikan perasaan yang dideritanya
tersebut dengan istilah asam-asam dan kaki terasa tertikam.
82
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tidak semua informan memeriksakan penyakit rematik ini,
karena sebagian informan memperkirakan sendiri jenis
penyakitnya, setelah mengetahui gejala-gejala yang dirasakan,
tanpa memeriksakan ke petugas kesehatan. Sementara itu
mereka yang memeriksakan diri ke petugas kesehatan
mengatakan bahwa obat yang diberikan dokter tidak
memberikan banyak perubahan terhadap kondisi kesehatannya.
Obat asam urat biasanya dibeli informan secara bebas dari
apotik, dan diminum ketika informan merasa ada tanda-tanda
penyakit asam uratnya akan kambuh.
Selain minum obat yang dibeli di apotik, ada informan
yang mengobati penyakit rematiknya dengan “pengobatan
tradisional” berupa es batu dengan garam dapur. Informan
mengatakan bahwa merendam kaki ke dalam es batu sebanyak
tiga balok dicampur satu kilogram garam dan satu liter minyak
tanah bisa mengurangi keluhan penyakit asam urat. Pengobatan
seperti ini harus dilakukan setiap hari sampai rasa sakitnya
hilang. Karena informan terkendala membeli es batu setiap hari,
dimana ketiadaan listrik di desa, maka informan hanya
melakukan terapi tersebut satu minggu sekali. Setelah melakukan
terapi tersebut informan mengaku bahwa kram di kakinya terasa
agak mereda.
Selain itu, pada umumnya informan tetap bekerja seperti
biasa. Artinya mereka tetap melakukan pekerjaan sehari-hari di
sawah, walaupun kaki mereka terasa asam-asam. Meskipun
demikian, salah seorang informan yang sudah menderita
penyakit asam urat selama 19 tahun mengaku tidak bisa berjalan
dan beraktivitas jika penyakit rematik sedang kambuh.
Menurut pengertian informan, penyakit asam urat
disebabkan seseorang tidak menjaga makan dan minum, yaitu
mengkonsumsi makanan yang berasa asam.
83
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
“Mungkin makan minumnya juga tidak dijaga. Makan
yang asam-asam. Suka makan cuka, barangkali. Be (saya)
punya pendirian mungkin begitu. Makan asam-asam,
pedas-pedas, ikan” (ME)
Pengobatan penyakit asam-asam yang selama ini diderita
adalah dengan menggosok bagian kaki yang sakit dengan obat
gosok seperti minyak tawon, balsem, remason untuk
menghangatkan bagian yang terasa sakit.
Menurut informan pantangan makanan penyakit ini antara
lain semua jenis makanan yang berasa asam, kangkung, bayam,
daging, dan kacang-kacangan. Meskipun demikian, informan
tidak begitu mematuhi larangan dokter tersebut karena menurut
informan, baik dia makan makanan tersebut maupun tidak,
penyakitnya tetap akan kambuh.
3.1.4.2. Penyakit Jantung
Menurut informan, penyebab penyakit jantung ada dua
macam, yaitu disebabkan karena keturunan dan tekanan darah.
Gejala dari penyakit jantung antara lain tidak kuat bekerja, sesak
nafas dan tidak kuat jika berjalan jauh. Informan sudah pernah
berobat ke dokter umum di Ba’a (Ibu Kota Kabupaten) tetapi
dianjurkan untuk memeriksakan ke dokter spesialis jantung di
Kota Kupang. Sampai saat ini, informan masih menunda dan
belum memeriksakan penyakit jantung ke dokter spesialis,
karena mengaku masih mengumpulkan biaya yang diperkirakan
harus dikeluarkan sebesar 4 juta rupiah, meskipun informan
sudah sering merasa kesakitan ketika harus berjalan jauh atau
melakukan pekerjaan berat. Pada saat ini informan tidak
meminum obat dan hanya berhenti beraktivitas bila terasa sakit.
Mengenai pola makan, informan mengaku makan
makanan seperti biasanya sebelum mengalami rasa sakit.
84
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Meskipun demikian, ada orang yang menganjurkan untuk
menghindari makanan daging bagian dalam perut atau makan
bagian luar perut, hati dan kacang-kacangan.
3.1.4.3. Hipertensi
Bapak Ib menderita hipertensi cukup lama, yaitu dua belas
tahun. Tahun ini, bapak Ib merasa penyakitnya semakin lama
semakin berat. Mata tidak bisa melihat dengan jelas, otak pun
dirasa tidak lagi bisa bekerja dengan “benar” sebagaimana
dahulu atau dengan kata lain, bapak Ib menjadi pikun.
Semua itu menurut bapak Ib berawal dari dua botol
minuman berwarna merah yang diberikan salah seorang
saudaranya. Menurut saudaranya minuman tersebut merupakan
obat yang bisa meringankan keluhan hipertensinya. Ternyata,
penyakit bapak Ib dirasakan tidak semakin membaik, justru
semakin parah.
“Nah, begitu. Jadi tapi memang menurut saya punya
perkiraan,waktu itu beta minum apa itu, bukan obat, itu penyakit
itu. Beta tambah berat. Omong juga tersalah.” (Ib)
Tidak ada kecurigaan dari bapak Ib ketika diberikan dua
botol minuman tersebut, karena hubungan saudara yang masih
melekat pada diri mereka. Tetapi bapak Ib menjadi curiga karena
saudara tersebut mempunyai hutang sebesar Rp. 1.000.000 pada
tahun 2002 dan sampai sekarang belum dikembalikan. Bapak Ib
mencurigai pemberian minuman tersebut disebabkan karena
kejadian hutang piutang tersebut.
Meskipun bapak Ib merasa sakit yang dideritanya semakin
bertambah parah, tetapi bapak Ib tidak berani untuk
menceritakan kondisi terakhir kesehatannya kepada tetangga
dan orang-orang di sekitar rumahnya. Dia takut nantinya akan
ada orang yang memanfaatkan keadaan tersebut dan melakukan
85
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
tindakan tidak baik yang akan memperparah sakitnya. Suanggi,
begitu masyarakat mengatakannya.
Sehari setelah bapak Ib pulang, bapak Ib tidak bisa bangun
dari tempat tidur dan merasakan penurunan kondisi tubuh.
Selain itu dari mulut dan hidung bapak Ib terus menerus
mengeluarkan darah. Sehingga kemudian, anaknya yang ada di
Kupang meminta bapak Ib untuk berobat ke Kupang.
Ketika Bapak Ib berobat ke dokter di Kupang, tidak
ditemukan penyakit di tubuh bapak Ib. Dokter mengatakan
bahwa bapak Ib menderita penyakit tekanan darah tinggi, dan
memberikan obat penurun tekanan darah tinggi. Setelah obat
tersebut habis diminum, menurut bapak Ib tidak ada perubahan
yang berarti dalam kesehatannya.
Ketika berobat ke Kupang, kondisi tubuh informan sudah
sangat lemas, bahkan digambarkan sebagai kondisi orang yang
hampir meninggal.
Sampai saat dilakukan wawancara, bapak Ib masih
merasakan sakit terutama di bagian bahu, yang menyebabkan
dirinya tidak bisa tidur nyenyak. Bapak Ib mengumpamakan
penyakit yang sekarang ini diderita bisa berlari-lari ke sana
kemari, dimana saat ini berada di tangan sebelah kanan.
Akibatnya bahu terasa kaku, dan tangan terasa kram sehingga
tidak bisa melakukan kegiatan apapun bahkan tidak bisa
mengangkat tangan untuk makan.
Sakit kepala sering dirasakannya. Emosi pun mudah
tersulut, sehingga ketika marah sering tidak terkendali. Pada
masa muda, informan mempunyai kebiasaan merokok dan
minum-minuman keras. Kebiasaan tersebut dilakukan hampir
setiap hari, dan berhenti setelah dokter menyarankan informan
untuk menghentikan kebiasaannya tersebut.
86
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Menurut informan, penyakit hipertensi yang dideritanya
merupakan sebuah penyakit keturunan, karena dahulu
orangtuanya juga menderita penyakit yang sama.
Untuk menurunkan tekanan darah tinggi yang dideritanya
informan mengkonsumsi bawang putih. Informasi tersebut
diperoleh dari kawannya, bahwa bawang putih bisa menurunkan
tekanan darah tinggi. Oleh karena itu informan pun
mengkonsumsinya secara rutin dengan tujuan menurunkan
tekanan darah tingginya. Rebusan daun pohon gelenggitik juga
merupakan obat tradisional yang dipercaya bisa menurunkan
hipertensi.
Sementara itu dokter sendiri memberikan saran agar
informan mengurangi makanan daging babi, ayam potong,
garam, susu dan kopi. Tetapi informan tidak begitu mematuhi
pantangan makanan karena menganggap baik makan atau tidak
penyakitnya tetap kambuh.
Mengenai aktivitas, informan tidak dapat pergi ke sawah
tetapi masih mengambil air sebanyak dua sampai tiga kali sehari.
3.1.4.4. Asma
Penyakit asma yang diderita oleh informan sudah lama.
Penyakit tersebut akan kambuh jika cuaca dirasakan terlalu
ekstrim, baik terlalu panas maupun terlalu dingin. Biasanya
penderita berobat ke dokter praktek sore di Ba’a. Karena sudah
lama menderita penyakit asma, bila mendapat serangan sesak
informan mengetahui obat-obatan yang harus diminum untuk
mengatasi penyakit asmanya disebutkan GG (Gliceryl Guaiacolat),
Aminophylin, CTM (chlorphenramine maleat), dan Dexa
(dexametasone). Tidak terdapat pantangan makanan yang
dilakukan oleh informan untuk menghindari penyakit asma yang
dideritanya.
87
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
3.1.4.5. Diabetes
Meskipun pada saat penelitian tidak ditemukan seorang
penderita diabetes, tetapi pernah terjadi penyakit diabetes yang
menimpa mama kandung salah seorang informan. Menurut
pengetahuan informan, penyakit diabetes atau penyakit gula bisa
dibagi menjadi dua, yaitu penyakit gula kering dan penyakit gula
basah. Gula kering menyebabkan berat badan penderitanya terus
menurun, sementara itu penyakit gula basah menyebabkan
tubuh penderitanya mengalami luka, bahkan bisa sampai
membusuk. Penyakit tersebut karena pengaruh makanan, dan
tidak ada kaitannya dengan faktor keturunan. Makanan yang
dimaksud adalah makanan yang rasa manisnya terlalu berlebih,
seperti gula air. Menurut mama Dlc, meskipun rutin minum obat,
tetapi tidak ada perubahan yang cukup berarti dalam tubuh sang
ibu.
3.2. Suanggi
Suanggi merupakan bahasa daerah untuk menyebut
kekuatan gaib yang dikirim oleh seseorang untuk menyakiti orang
lain. Suanggi merupakan nama ilmu hitam yang digunakan untuk
menyakiti atau merugikan orang lain, sementara itu orang yang
bisa melakukan suanggi disebut dengan istilah tukang suanggi
atau man suanggi dalam bahasa Rote.
Berkaitan dengan permasalahan kesehatan, tampaknya
kekuatan Suanggi ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, karena
kepercayaan masyarakat terhadap suanggi yang kemudian
menyebabkan seseorang sakit masih sangat besar.
Penyakit yang disebabkan karena kekuatan suanggi
dipercaya karena iri hati, terutama iri karena melihat orang lain
mempunyai kelebihan harta, mempunyai kehidupan yang lebih
baik, dan lebih berhasil dalam mengusahakan sesuatu.
88
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Seseorang yang mengirimkan racun melalui suanggi, akan
memberikan waktu kapan racun tersebut akan bekerja, karena
biasanya racun tidak akan langsung bereaksi sesaat setelah
dikirimkan, melainkan baru bereaksi 3 hari, 5 hari, 7 hari, atau 9
hari, barulah kemudian orang yang terkena suanggi akan jatuh
sakit. Hal tersebut kemudian menyebabkan orang-orang di
sekitar tidak bisa menemukan orang yang bisa dicurigai
menimbulkan penyakit.
Tanda-tanda orang terkena suanggi
Orang yang terkena suanggi sendiri bisa diketahui jika dia
sudah meninggal dunia. Tubuhnya akan menghitam setelah
meninggal, mulai dari kulit tubuh, muka, hingga kuku jarinya.
Ketika masih hidup, cara untuk mengetahui apakah seseorang
terkena suanggi atau tidak adalah dengan cara menekan kuku jari
tangan. Kuku jari tangan orang yang terkena suanggi akan
berwarna putih. Selain itu, orang yang terkena suanggi akan
merasa tubuhnya lemas secara tiba-tiba setiap pukul 12 siang.
Selain lemas, tubuh juga akan merasa menggigil, dingin, tidak ada
nafsu makan, dan penderitanya menjadi tidak bisa bekerja dan
beraktivitas seperti biasa. Tubuh yang lemas tersebut disertai
dengan muka yang terlihat pucat bagaikan orang yang tidak
mempunyai darah sama sekali di dalam tubuhnya.
Menderita sakit secara mendadak, setelah beberapa hari
sebelumnya terlihat sehat dikatakan oleh informan juga
merupakan tanda orang terkena suanggi. Tanda lain adalah
orang tersebut akan muntah dan mengeluarkan berak berwarna
hitam setelah diberikan obat penangkal.
Penyakit yang kemudian dicurigai sebagai penyakit yang
disebabkan karena perbuatan orang jahat atau suanggi biasanya
merupakan penyakit yang sudah diobati berulang-ulang ke
dokter atau tenaga kesehatan, tetapi tidak kunjung sembuh,
89
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
sementara dokter tidak menemukan adanya penyakit apapun
pada tubuh pasien.
Jenis-jenis racun dalam Suanggi
1. Racun Angin
Racun angin merupakan jenis racun yang dikirimkan
melalui media perantaraan rokok dan angin. Rokok dinyalakan
disertai dengan mantra-mantra yang menyebut nama calon
sasaran, setelah itu rokok akan dihisap dan dihembuskan
mengikuti arah angin termpat calon sasaran berada. Racun akan
mulai bereaksi jika calon sasaran tersebut mencium atau
menghisap asap rokok yang dikirimkan.
2. Racun Langsung
Racun langsung merupakan racun yang langsung diberikan
kepada calon sasaran. Racun bisa diberikan melalui akar yang
dioleskan ke telapak tangan, kemudian diberikan kepada calon
sasaran dengan menjabat tangan.
Selain itu, racun juga bisa dimasukkan melalui makanan,
kita sebagai orang awam tidak bisa melihat bentuk racunnya,
karena ketika sudah dimasukkan ke dalam makanan, maka
bentuk makanan atau minuman tersebut tidak berubah. Yang
terlihat hanya bentuk makanan atau minuman tersebut, apakah
kopi, teh, nasi, biskuit, dan sebagainya. Selain dicampurkan lewat
air minum atau makanan, racun juga bisa diberikan dalam bentuk
cairan untuk keramas, dan bisa masuk melalui pori-pori kulit.
Salah seorang informan mengatakan bahwa ketika
seseorang terkena racun, maka orang tersebut tidak boleh
dibawa ke rumah sakit, melainkan harus diobati dengan obat
tradisional atau biasa disebut obat kampung.
Untuk membedakan apakah seseorang terkena racun atau
guna-guna, bisa dilakukan pemeriksaan dengan cara menekan
90
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
kuku orang yang bersangkutan. Ketika kuku orang tersebut
berwarna kuning, maka dipastikan orang tersebut terkena racun,
sehingga harus segera dicarikan obatnya. Setelah diberi obat,
biasanya orang tersebut akan muntah dan buang air besar untuk
mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Minyak kelapa dan air
kelapa merupakan dua jenis bahan yang biasa digunakan untuk
mengeluarkan racun.
“Ini barusan pengalaman di Rote selatan itu, ada saudara
1 punya anak. Katanya kena racun, tapi dibawa ke
rumah sakit. Sampai di rumah sakit langsung
meninggal,” (DK)
Penangkal Suanggi
Tidak banyak informasi yang bisa dikumpulkan mengenai
obat-obatan atau bahan penangkal suanggi. Orang yang
dikatakan mengetahui tentang cara pengobatan suanggi tidak
bisa mengatakannya dengan rinci. Mereka hanya bisa
mengatakan bahwa penangkal suanggi bisa terbuat dari bahan
akar atau jenis tanaman tertentu, tanpa menyebutkan nama akar
atau tanaman tersebut. Akar yang dimaksudkan bisa digantung
di sudut-sudut rumah, untuk menangkal kedatangan kuntilanak,
yang bisa membawa penyakit, agar tidak masuk ke dalam rumah.
Untuk menghindari penyakit yang disebabkan karena perbuatan
manusia, bisa digunakan palang tubuh dengan cara
menggunakan akar yang direbus dan dioles dengan rendaman
minyak kelapa.
Seseorang yang bisa mengobati orang yang terkena
suanggi, tidak bisa memberitahukan bahan-bahan apa saja yang
bisa digunakan untuk meyembuhkan penyakit akibat suanggi
tersebut, karena itu merupakan rahasia. Media penyembuhan
yang dilakukan biasanya melalui air, akar-akaran atau daundaunan, dan juga mantra.
91
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Ilmu suanggi bisa diturunkan melalui pengajaran, dari
orang yang sebelumnya sudah bisa melakukan suanggi ke orang
yang ingin belajar suanggi. Orang yang melakukan suanggi konon
katanya dapat dilihat dari bentuk wajah yang tirus dengan mata
agak menonjol keluar.
Kuntilanak
Selain suanggi masyarakat juga mempercayai keberadaan
kuntilanak, yang dipercaya sosoknya menyerupai seorang
manusia, bisa perempuan maupun laki-laki, meskipun
kebanyakan berwujud perempuan cantik. Selain berwujud
manusia, kuntilanak juga dipercayai bisa berwujud sejenis burung
yang dipercaya bisa berubah menjadi seorang manusia.
Kedatangan kuntilanak akan ditandai dengan suara lengkingan
kecil, yang menandakan bahwa sebentar lagi di lingkungan
sekitar akan ada orang yang terkena sakit.
Kuntilanak “bekerja” dengan cara menghisap darah
manusia, sehingga tubuh manusia berubah menjadi sangat pucat.
Ada dua macam darah yang ada di dalam tubuh manusia, yaitu
darah merah dan darah putih. Kuntilanak dipercaya hanya
menghisap darah merah manusia dan meninggalkan darah putih
saja, itulah yang menyebabkan kenapa seseorang berwajah pucat
setelah dihisap oleh kuntilanak. Ketika tubuh seseorang merasa
lemah maka hal tersebut merupakan tanda kuntilanak tersebut
sudah mulai bekerja.
Selain menghisap darah korban, kuntilanak juga dipercaya
meminta tumbal dari ibu hamil, sehingga seorang ibu bisa
mengalami keguguran, atau anak lahir dalam keadaan sudah
meninggal dunia, dengan kondisi tubuh dan ari-ari hancur seperti
tercincang.
Kuntilanak juga bisa dipelihara seperti halnya hewan
peliharaan. Kuntilanak biasanya memilih sendiri orang yang akan
92
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
dijadikan tuannya. Cara memilihnya adalah dengan
menampakkan wujud manusia kepada orang yang dikehendaki.
Barulah nanti kalau orang tersebut bersedia membuat
kesepakatan dengan kuntilanak, maka orang tersebut akan
menjadi “tuan”. Ketika seseorang bersedia menjadi tuan
kuntilanak, maka orang tersebut akan mempunyai ilmu yang bisa
digunakan untuk menyakiti orang maupun untuk memperoleh
harta kekayaan. Ketika seseorang memelihara kuntilanak, maka
di dalam rumah orang tersebut bisa dipastikan akan terpasang
botol yang digantung, dan di dalam botol tersebut dimasukkan
buah paria sebagai makanan kuntilanak. Botol tersebut nantinya
tidak boleh dipegang oleh siapapun.
Itulah sebabnya kenapa perempuan hamil, khususnya di
Desa Limakoli, menggunakan sisir atau membawa paku ketika
akan keluar malam dalam kondisi hamil, sejak perempuan
tersebut mengetahui dirinya mengandung.
Ketika kuntilanak berbentuk burung, maka dia akan
berwujud menjadi bermacam-macam bentuk burung. Ada orang
yang mengatakan bahwa bentuknya seperti burung merpati,
burung hantu, atau burung elang. Selain itu, kepercayaan yang
beredar adalah bahwa kuntilanak adalah penjelmaan dari
malaikat pencabut nyawa manusia. Oleh karena itu suara
kuntilanak terkadang juga bisa menjadi penanda bahwa sebentar
lagi akan ada orang meninggal di lingkungan rumah sekitar. Bunyi
tanda kematian tersebut menurut salah seorang informan adalah
seperti peluit yang melengking tinggi.
Ketika kuntilanak tersebut berubah menjadi manusia,
maka kuntilanak tersebut mempunyai lubang kecil di tengkuk,
itulah kenapa paku merupakan “senjata” untuk melawan
kuntilanak, karena jika paku tersebut dimasukkan ke dalam
lubang, dia akan berubah menjadi manusia.
93
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Risiko terbesar yang bisa dihadapi oleh seseorang yang
memelihara kuntilanak adalah dia akan memangsa tuan yang
telah memeliharanya selama ini, jika kuntilanak tersebut tidak
mendapatkan makanan.
Burung tersebut biasa berkeliaran pada pukul 12 malam,
dan jika berkeliaran cepat (disuruh oleh tuannya), maka pada
pukul 6 sore dia sudah berjalan. Kuntilanak tersebut bisa menjadi
perantara penyakit, atau diminta untuk mengantarkan penyakit
kepada diri seseorang.
Contoh Kasus Suanggi
Berikut beberapa kasus kejadian penyakit yang dikatakan
oleh informan merupakan penyakit yang disebabkan karena
suanggi.
1. Kasus Mama Dlc
Mama Dlc adalah seorang informan yang kedua orang
anaknya meninggal dunia di usia masih sangat muda, yaitu lima
bulan dan lima tahun. Meskipun dokter mengatakan bahwa
kedua anaknya meninggal disebabkan penyakit tipes, tetapi
mama Dlc tidak mempercayainya. Diagnosis penyakit tipes yang
dibuat oleh dokter menurut mama Dlc hanya merupakan
diagnosis penyakit yang diberikan. Akhirnya penyakit tipes
merupakan penyakit yang disarankan dokter untuk dibacakan
dalam upacara pemakaman kedua anak mama Dlc.
“Dokter hanya bilang begitu saja. Kan dokter juga sudah
bingung itu. Karena dokter kan juga sudah rasa kasihan,
dia sudah menderita, lalu dokter bilang, mama kalau
pulang susun riwayat hidupnya tipes. Kasihan. Dia nggak
ada penyakit, “ begitu kata mama Dlc menirukan katakata dokter pada saat kematian anaknya.
Mama Dlc merasa curiga bahwa kedua anaknya meninggal
karena ada orang lain yang dendam terhadap keluarganya. Oleh
94
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
karena itu mereka kemudian membalas dendam kepada kedua
anaknya yang masih kecil dan belum tahu apa-apa, supaya tidak
ada orang yang curiga.
Mama Dlc menjadi semakin curiga, karena sebelumnya
kedua anak tersebut terlihat sehat dan tidak menunjukkan suatu
tanda penyakit apapun. Penyakit yang kemudian menimpa anakanaknya diyakini dikirimkan lewat angin, karena kedua anak
tersebut masih kecil atau belum keluar jauh untuk melakukan
aktivitas.
Kematian kedua anak tersebut diawali dengan tubuh yang
mengalami panas tinggi, sehingga menyebabkan tubuh anak
menjadi “kering” dan anak menangis setiap hari. Panas tubuh
pada anak tersebut tidak disertai kejang, batuk, pilek, atau diare.
Mama Dlc memiliki pengalaman kedua anaknya
meninggal, dan diperkirakan bahwa mereka meninggal karena
ada orang yang melakukan guna-guna kepada kedua orang
anaknya.
Anak nomor tiga, berjenis kelamin laki-laki, meninggal
pada usia lima bulan. Sementara itu anak nomor empat,
perempuan, meninggal pada usia lima tahun. Mereka berdua
meninggal karena demam. Mama Dlc sempat membawa mereka
ke rumah sakit, dan dirawat inap selama tiga hari sebelum
kemudian meninggal dunia.
Anak ketiga menderita panas tinggi dimana sebelumnya
dirawat di rumah selama dua hari dan dibawa ke rumah sakit
pada hari ketiga kemudian meninggal. Sedangkan anak keempat
juga menderita panas sebelumnya dirawat di rumah selama dua
hari karena panas, dan dibawa ke rumah sakit, menjalani
perawatan selama tiga hari kemudian meninggal. Selama di
rumah, mama Dlc memberikan kedua anakmya tersebut obat
Inzana yang dibeli dari kios dekat rumah.
95
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
2. Kasus Mama Dm
Mama Dm adalah seorang ibu muda yang meninggal
beberapa minggu setelah melahirkan anak pertama. Menurut
pihak keluarga, tidak ada masalah kehamilan yang berarti ketika
mama Dm mengandung. Suatu kali mama Dm merasa tertikam
perutnya di usia kehamilan empat bulan dan diurut, seperti yang
biasa dilakukan oleh ibu-ibu hamil di Desa Limakoli, sebanyak tiga
kali.
Ketika bersalin, tidak ada kelainan yang dirasakan maupun
diketahui oleh pihak keluarga. Mama Dm merasakan tanda-tanda
melahirkan pada sore harinya, dan pada malam harinya lahir
anak laki-laki.
Menurut ayah mama Dm, proses melahirkan mama Dm
terhitung lancar, tidak mengalami kesulitan apapun yang dibantu
oleh ibu dari mama Dm. Ketika melahirkan, mama Dm
mengeluarkan cukup banyak darah, tetapi oleh keluarga
dianggap hal yang biasa dialami orang yang sedang bersalin.
“Kalau susah pakai dukun-dukun koh, dari rumah sakit,
sonde (tidak). Melahirkan baik-baik” Mama HL.
“Kalau dia melahirkan itu kalau dia terganggu berarti
botong (kita) panggil dukun ko kesehatan. Ini sonde
(tidak) nah. Dia lahir baik-baik.” Tambah bapak HL.
Tali pusar bayi pada waktu itu dipotong dengan
menggunakan gunting rambut. Seperti umumnya ibu bersalian di
Desa Limakoli, sebelum dipotong, tali pusat diberi lada halus dan
diikat. Selain itu mama Dm juga meminum ramuan obat sehabis
melahirkan. Ramuan obat yang diminum dipersiapkan oleh
mama mantu, sementara itu mama kandung menyiapkan segala
keperluan panggang dan perlengkapan mandi air panas.
Selang dua hari setelah melahirkan, perut mama Dm mulai
terasa sakit dan tiba-tiba bengkak. Perut mama Dm mulai
96
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
membesar seperti orang hamil, jika disentuh keras, dan
mengeluarkan bau.
Atas saran saudaranya, karena bengkak di perut mama Dm
semakin besar sampai terlihat seperti orang yang sedang hamil
maka dibawa berobat ke rumah sakit. Di rumah sakit, mama Dm
dilakukan rontgen tetapi tidak ada darah kotor atau apapun di
dalam perutnya. Menurut dokter perlu dirawat tetapi
keluarganya minta pulang paksa dengan alasan hasil foto tidak
ditemukan penyakit.
Sesampainya di rumah, pihak keluarga memanggil tim doa
untuk membantu meringankan penyakit mama Dm. Begitu terus
sampai dua belas hari setelah keluar dari rumah sakit, mama Dm
meninggal dunia.
“Habis malam botong (saya) bawa pulang, habis sonde
(tidak) ada penyakit nah..botong (saya) mau menginap,
tetap di situ mau bikin apa? Bawa pulang sudah. Bawa
pulang begitu ju (juga) botong (saya) cari tahu di tim doa
dong, sonde (tidak) tertolong juga. “ Bapak HL
mengungkapkan alasannya membawa pulang mamaq
Dm dari rumah sakit.
Selama satu minggu, tim doa bergantian datang ke rumah
untuk mendoakan kesembuhan dari mama Dm. Tidak ada upaya
untuk melanjutkan pengobatan ke tempat lain, karena ketika
diperiksa di rumah sakit tidak ditemukan penyakit.
“Panggil tim doa sa(saja) . Berdoa sa (saja). Pulang juga
kotong (kita) berdoa, kotong (kita) panggil semua
gembala di sini. Masing-masing datang berdoa tiap hari,
“ kata Bapak DL.
Ketika melakukan doa, para gembala juga berdoa dengan
menggunakan segelas minyak kelapa sebagai media pengobatan,
yang kemudian digosok-gosokkan ke bagian tubuh mama Dm.
97
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Setelah berada di rumah duabelas hari, Mama Dm
meninggal dunia. Begitu meninggal dunia, maka perut mama Dm
mengempis kembali seperti sediakala. Padahal sebelumnya
keluarga sempat memperkirakan bahwa perut mama Dm akan
pecah jika meninggal dunia.
Cukup banyak kabar yang beredar bahwa penyakit mama
Dm merupakan penyakit yang dikirim oleh orang melalui suanggi,
tetapi keluarganya menganggap bahwa penyakit tersebut
merupakan takdir dari Tuhan. Hal itu disebabkan ketika lahir
seorang manusia sudah mempunyai perjanjian dengan Tuhan,
akan meninggal pada usia berapa dan dengan cara apapun.
Sementara itu menurut pandangan petugas kesehatan,
yaitu bidan yang bertugas di Puskesmas setempat bahwa
kemungkinan besar kasus meninggalnya mama Dm disebabkan
infeksi paska melahirkan. Sisa darah atau sisa plasenta di dalam
rahim kemungkinan besar ada yang tertinggal, disertai dengan
proses pertolongan persalinan yang tidak steril mengakibatkan
terjadinya kematian ibu paska melahirkan karena infeksi.
3. Kasus Al
Al adalah seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang
seharusnya duduk di bangku kelas enam SD. Tetapi karena
mengalami sakit, maka Al terpaksa berhenti sekolah sejak dua
tahun yang lalu. Semua itu berawal dari peristiwa jatuh
pingsannya Al di sekolah. Al merasa kepalanya pusing dan seperti
ditarik-tarik. Kepala sekolah kemudian menyarankan agar
orangtua Al memeriksakan kondisi kesehatan Al ke rumah sakit.
Orangtua Al kemudian membawa pergi berobat ke Rumah Sakit
Baa sebanyak satu kali dan ke Rumah Sakit di Kupang sebanyak
tiga kali.
Menurut orang tua AI dokter di Ba’a mengatakan bahwa Al
menderita penyakit lambung sehingga dilarang mengkonsumsi
98
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
cabai agar tidak kambuh. Ketika lambung dirasa sakit, maka tidak
lama kemudian kepalanya terasa pusing. Dokter di Rumah Sakit
Ba’a tersebut memberikan obat tetapi ternyata penyakitnya tidak
kunjung membaik.
Karena tidak kunjung membaik maka orangtuanya
membawa ke dokter Rumah Sakit di Kupang. Al dinyatakan
menderita penyakit syaraf diberi obat. Tetapi sampai dengan
obat habis, penyakit Al tetap kambuh.
Al tidak bisa mengingat apapun yang terjadi pada saat
penyakitnya kambuh. Tetapi sebelumnya Al bisa merasakan
gejala ketika penyakitnya akan kambuh. Al akan segera
memberitahukan ibunya, atau jika sedang tidak ada orang di
rumah maka dia segera pergi ke rumah nenek yang berdekatan
dengan rumahnya.
Ketika kambuh, kepala Al terasa berputar dan tertarik
selama kurang lebih setengah jam. Ketika mulai tidak sadarkan
diri, tubuh Al mulai berkeringat, diikuti dengan gerakan mulut
mengunyah. Menurut tetangganya gerakan mengunyah ini
seperti gerakan kambing yang sedang mengunyah rumput,
dengan kepala bergerak-gerak dari kiri ke kanan. Rasa sakit
kepala tersebut bisa berlangsung dua sampai tiga kali dalam satu
minggu. Pada saat kambuh AI hanya bisa berpegangan pada kursi
sampai akhirnya sadar kembali.
Saat ini, Al tidak boleh terkena panas, karena kemungkinan
penyakitnya kambuh menjadi lebih sering. Itulah salah satu
alasan mengapa ayah Al melarang bersekolah karena harus
menempuh perjalanan cukup jauh. Untuk saat ini, kegiatan Al
terbatas pada kegiatan bermain dengan teman-teman yang ada
di sekitar rumah. Mengambil air dan berada di dekat tungku
menjadi dua hal yang dilarang oleh orangtua Al karena takut
sewaktu-waktu pingsan dan terkena api atau tercebur ke dalam
sumur.
99
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Sebenarnya di Kupang, selain berobat ke dokter, orangtua
Al juga membawanya “berobat” ke orang pintar. Orang pintar
tersebut mengatakan bahwa penyakit Al disebabkan karena
perbuatan orang, atau biasa disebut dengan istilah suanggi tetapi
tidak diberikan obat apa pun.
Kemudian orangtua Al juga membawanya kepada tim doa
dan diobati dengan perantaraan air yang telah diberi doa.
Selain mendapatkan pengobatan di atas, orangtua Al juga
mencoba pengobatan dengan ramuan tradisional berupa akarakar tanaman obat, yang direbus untuk diminum airnya.
Biaya yang dikeluarkan oleh orangtua Al untuk
mengupayakan kesembuhannya cukup banyak dengan menjual
tiga ekor sapi. Itulah mengapa kemudian tetangga sekitar
beranggapan bahwa penyakit Al terkait dengan masalah gunaguna.
Selain beranggapan bahwa penyakit Al karena guna-guna,
mama DK juga menganggap bahwa penyakit yang diderita Al ini
kemungkinan merupakan ujian dari Tuhan akibat perbuatan
orangtuanya.
4. Kasus bapak Ib
Bapak Ib juga merupakan salah seorang informan yang
menganggap bahwa penyakit yang dideritanya merupakan
penyakit yang disebabkan guna-guna dari orang lain. Penyakit
bapak Ib dikatakan sebagai sebuah penyakit yang datang secara
tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena sehari sebelum bapak Ib
jatuh sakit dan tidak bisa bergerak, bapak Ib masih berada dalam
kondisi sehat, bahkan bisa berjalan dengan jarak jauh, kurang
lebih 10 kilometer, dari Desa Limakoli ke kantor polisi yang
terletak di kecamatan tanpa mengalami kesulitan apa pun. Bapak
Ib memang sedang mempunyai permasalahan menyangkut
penipuan terkait jual beli kerbau. Beberapa tahun yang lalu ada
100
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
seseorang yang membeli kerbau milik bapak Ib tetapi sampai
sekarang permasalahan jual beli tersebut belum selesai,
disebabkan karena pihak pembeli melakukan kecurangan dengan
tidak membayar kerbau yang sudah dibeli. Pihak pembeli
menjaminkan sebuah rumah, tetapi rumah tersebut bukan
miliknya. Maka, bapak Ib melaporkan permasalahan tersebut
kepada pihak kepolisian.
Tengah malam, sepulangnya bapak Ib melapor dari
kepolisian, bapak Ib mulai mengalami keanehan. Tiba-tiba saja
bapak Ib terbangun dan pergi ke luar rumah seperti orang yang
kehilangan kesadarannya. Istri bapak Ib menyuruh bapak Ib
masuk, tetapi bapak Ib seperti tidak bisa mendengarkan suara
istrinya.
Pagi harinya, mama tua (istri bapak Ib) pergi ke rumah
tetangga untuk meminta pertolongan, karena bapak Ib tidak
sadarkan diri, tidak bisa berbicara sama sekali dan hanya bisa
mengeluarkan air liur dari mulutnya. Mama DK, sang tetangga,
segera datang ke rumah bapak Ib. Sesampainya di sana, benar
saja, bapak Ib dalam kondisi yang tidak bisa berbicara dengan
jelas. Kedua tangannya sedang memegangi leher dan mulutnya
mengeluarkan air liur.
Beberapa saat kemudian, bapak Ib sempat berada dalam
kondisi normal, dan bisa berbicara. Bapak Ib mengatakan bahwa
ada ular yang melilit lehernya, oleh karena itu tangan bapak Ib
mencengkeram lehernya sendiri, sebagai usaha untuk
melepaskan lilitan ular dari leher.
“Jadi dia cerita, dia cerita, beta bilang ‘sakit dari kapan’,
‘tidak saya tidak sakit, saya hanya mimpi ini’. Dia mimpi
ini kena lilit ular besar 2. Jadi mungkin di leher toh jadi
dia tidak ada suara , itu kan mungkin pengaruh itu dan
air liur. Kan biasa orang dicekek di sini kita keluar air
liur.” (Mama DK)
101
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Akhirnya mama DK mencoba meringankan rasa sakit
bapak Ib dengan menggosokkan minyak tawon pada tubuh bapak
Ib. Selain menggosokkan minyak tawon, mama DK mengajak
bapak Ib untuk berdoa. Karena dalam pandangan mama DK, apa
yang dialami oleh bapak IB bukanlah suatu penyakit melainkan
sebuah gangguan untuk menguji sejauh mana keimanan bapak
Ib. Hal ini disimpulkan karena ada ular, sebagai simbol musuh
Tuhan, yang melilit leher bapak IB.
Karena tidak berapa lama kemudian tubuh bapak Ib mulai
panas tinggi dan mengalami kejang pada tangannya, maka istri
bapak Ib segera menelepon anaknya yang ada di Kupang. Si anak
memutuskan untuk membawa bapak Ib ke Kupang pada hari itu
juga.
Setelah bapak Ib jatuh sakit, tetangga kemudian mulai
menghubungkan kejadian ini dengan sebuah suara yang didengar
pada malam hari. Mereka mengaku mendengar suara burung
kuntilanak pada malam hari. keyakinan itu semakin bertambah
karena bapak Ib kemudian mengatakan dia dililit ular pada
lehernya.
“Oh berarti pengaruh itu ko jangan sampe’. pengaruh itu
jadi bapak tua langsung mimpi, ha, dalam mimpi ular,
mimpi ular, ha dia langsung jatuh sakit seperti itu. Jadi,
mereka punya pemikiran itu, kayaknya orang guna-guna,
gitu. Karena, dia tidak sakit, tiba-tiba saja kalo mimpi
dililit ular, langsung begitu. “ (DK).
Menurut salah seorang informan, untuk penyakit yang
disebabkan karena guna-guna, upaya pergi berobat ke rumah
sakit berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh si
penderita, bukan untuk menyembuhkan penyakit penderita.
Karena di rumah sakit pasien akan diberi infus untuk
menggantikan makanan yang tidak bisa dimakan oleh si pasien.
Meskipun demikian, dalam kasus terkena guna-guna, informan
102
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
tetap meyakini bahwa pengobatan tradisional tetap diperlukan
agar pasien bisa sembuh dari penyakit yang disebabkan karena
guna-guna tersebut.
“…lalu bisa juga di rumah sakit, mungkin dong cari obat
tradisional, bisa kasih minum di rumah sakit tapi tanpa
ketahuan dokternya. Kan biasanya dokter itu kalau
sudah periksa habis, dia keluar toh? Jadi tinggal
keluarga yang jaga, bisa saja jeda itu obat rumah
sakit,bisa minumkan itu . Jadi dua –duanya berjalan..”
(DK)
Pada saat ini penelitian berlangsung Bp Ib dibawa ke
Kupang untuk berobat ke dokter.
5. Kasus Bapak AA
Bapak AA mengalami sakit setelah pulang dari menghadiri
pesta kematian di kampung sebelah. Perut terasa seperti
tersayat-sayat, tenggorokan terasa sakit, dan nafas terasa seperti
sudah hampir putus, dengan kata lain bapak AA merasa ajalnya
sudah dekat.
Seseorang kemudian memberikan obat penawar racun
berbentuk buah, yang dalam bahasa Rote disebut dengan buah
Patola. Buah Patola adalah jenis tanaman merambat berbentuk
panjang, dan mempunyai kulit tipis seperti saringan. Dalam
bahasa Jawa, tanaman tersebut biasa disebut dengan gambas.
Kulit buah tersebut kemudian dicelupkan di dalam air, sebentar
saja, karena rasanya akan sangat pahit. Setelah itu, air akan
diminum. Tidak lama setelah meminum ramuan tersebut, bapak
AA muntah darah. Darah yang keluar pada waktu itu berbentuk
kental dan berwarna merah kehitaman. Sebagai salah seorang
tetangga yang menyaksikan sendiri kejadian tersebut, bapak DL
memberikan kesaksian bahwa sebelum bapak AA meminum
celupan buah Patola, kondisi bapak AA bisa dikatakan sudah
103
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
menunjukkan tanda-tanda kematian. Tubuhnya sudah gemetar,
dan kejang karena sudah terlalu sakit. Tetapi setelah meminum
ramuan tersebut, kondisi bapak AA seketika berangsur membaik.
Banyak orang menduga, bahwa penyakit yang dialami oleh
bapak AA merupakan penyakit kiriman dari orang. Meskipun
demikian, ada juga salah seorang tetangga yang memperkirakan
kemungkinan bahwa bapak AA sebelumnya sudah mempunyai
penyakit, dan baru “pecah” pada saat itu.
Keguguran karena kuntilanak
Salah seorang informan menceritakan pengalaman
keguguran istri yang diyakini disebabkan karena perbuatan
makhluk kuntilanak. Tiga kali dia dan istrinya harus kehilangan
anak nomor pertama sampai ketiga. Anaknya yang pertama
hanya bertahan sampai usia satu minggu. Anak yang kedua dan
ketiga meninggal dalam usia kandungan tujuh bulan.
Pada kematian anak pertama, informan mendengar
kicauan burung pada pukul tiga sore, kemudian pada malam hari
informan mengaku mengalami gangguan karena perutnya terasa
seperti kram, dan pada saat yang bersamaan terdengar kembali
suara kicauan burung. Kali ini suara kicauan burung berada di
dalam rumah. Perut mama DL terasa seperti dicabik-cabik
sehingga dia hanya bisa berteriak kesakitan. Suami mama DL
kemudian berusaha mengusir burung tersebut agar keluar
rumah, walaupun sejatinya dia sendiri tidak bisa melihat wujud
dari burung yang suara kicauannya terdengar jelas itu. Ketika
burung tersebut pergi, maka mama DL tidak merasakan sakit
kembali dan bisa melanjutkan tidur dengan tenang tanpa ada
gangguan.
Tetapi beberapa hari kemudian, perut mama DL terasa
sakit kembali, sehingga suami mencari pertolongan ke rumah
kakak kandungnya yang tinggal di sebelah rumah. Dua hari mama
104
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
DL menginap di rumah tersebut dan perutnya tidak mengalami
rasa sakit.
Tepat dua hari kemudian ketika mama DL kembali tidur di
rumahnya, pada pukul 9 malam, terdengar suara keras dari atap
rumahnya. Suara keras seperti buah lontar yang jatuh dari
pohon. Begitu kerasnya sampai rumah terasa bergetar. Begitu
informan menggambarkan. Suara tersebut terus berulang tepat
setiap pukul Sembilan malam, dan terus berlanjut sampai usia
kandungan mencapai sembilan bulan.
“Tepat jam 9 malam hari minggu jam 9. Kena ini rumah,
kok ini rumah tidak peyot seng tidak peyot, suara keras
sekali. Tembok ini bergetar, kalau dia sudah terjadi, ibu
ini “a sa sakit perut ini sudah sakit” ibu ini tersiksa
selama 9 bulan. Sakit-sakitan, saya sudah minta..pihak
gereja sudah berdoa, tapi toh begitu juga tidak ada
pertolongan. Nah, hal-hal begini tidak mungkin kita lari
ke rumah sakit” (DL).
Akhirnya, anak pertama yang dilahirkan hanya berumur
satu minggu, kemudian meninggal dunia tanpa ada tanda sakit
apapun sebelumnya. Menurut salah seorang saudara bapak DL
yang berprofesi sebagai bidan mengatakan bahwa anak
meninggal karena keracunan air ketuban, sehingga badan
menghitam semua. Tetapi bapak dan mama DL meyakini, bahwa
penyakit ini bukan disebabkan karena penyebab medis,
melainkan sebab lain. Hal ini disebabkan karena seluruh tubuh
anak berbekas hitam, seperti bekas garis dicakar. Dengan kata
lain, menurut tafsiran orang, penyebab kematian adalah
disebabkan karena gangguan kuntilanak. Terdapat perasaan
keyakinan, tidak keyakinan, antara percaya dan tidak percaya
tentang penyebab kematian. Seperti yang tergambar dari
pernyataan informan bertikut ini.
105
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
“Matinya aneh. Tapi menurut deteksi kesehatan bahwa
itu keracunan apa, air ketuban dan lain sebagainya. Itu
menurut deteksi. Tapi menurut tafsiran orang ilmu gelap
bahwa itu gangguan setan dari kuntilanak ini. Tetapi
secara orang yang beragama tidak percaya ke arah yang
satu itu, kuntilanak ini. Tapi kenyataannya ada. ” DL.
Ketika terjadi gangguan-gangguan kuntilanak tersebut,
bapak DL sempat memanggil pihak gereja setiap hari Minggu
malam, untuk melakukan perkumpulan doa di rumah. Meskipun
demikian, gangguan tersebut tetap muncul. Ketika terjadi suara
keras pada saat dilakukan doa, semua orang datang ingin melhat,
tetapi ternyata tidak ditemukan benda atau makhluk apapun di
tempat terdengarnya suara jatuh. Suara-suara tersebut terdengar
ketika istri bapak DL hamil usia 2-3 bulan, sampai masa
melahirkan.
Ketika terjadi tanda-tanda seperti ini, dan istrinya menjadi
jatuh sakit, bapak DL percaya bahwa tidak mungkin sang istri
dibawa berobat ke rumah sakit, karena menurut bapak DL sudah
jelas penyakitnya tersebut tidak akan bisa disembuhkan.
“ Saya tidak percaya dan tidak mungkin pengobatan ini
kita bawa ke pengobatan modern, yang rumah sakit ya,
sekedar ke puskesmas rumah sakit itu saya tidak
percaya.”DL.
Akhirnya, bapak DL memutuskan untuk meminta doa
kepada pihak pendeta, karena bapak DL mengaku tidak
mempercayai mistik. Sesampainya di sana, orang tersebut
menyarankan agar bapak DL membongkar rumahnya. Tetapi
bapak DL berpendapat, kalau dia bersedia untuk membongkar
rumahnya, maka itu berarti dia mengaku kalah dengan kekuatan
gelap tersebut. Dan bapak DL mempunyai pendapat, di dunia
mana tidak ada setan? Setiap tempat pasti ada setannya.
106
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Akhirnya, istri bapak DL hamil tiga kali dengan gangguan
seperti itu terus menerus. Setiap kali kehamilan, pasti ada suara
burung dan diikuti dengan perut yang terasa sakit. Anak kedua
dan ketiga bapak DL, harus gugur di usia tujuh bulan kehamilan.
Gangguan yang dialami sama seperti kehamilan anak yang
pertama, mulai usia kandungan dua bulan istri bapak DL sudah
mulai digangggu dengan suara-suara aneh, yang diikuti dengan
rasa sakit yang hebat pada bagian perutnya. Perut terasa seperti
dicabik-cabik, sampai akhirnya mengalami keguguran. Tetapi
mulai kehamilan anak keempat, istri bapak DL tidak pernah
mengalami gangguan tersebut, bahkan bisa dikatakan proses
kehamilan dan kelahirannya berjalan dengan lancar.
Penyakit Secara Medis dan Penyakit Secara Budaya
Penyakit adalah pengakuan sosial bahwa seseorang itu
tidak bisa menjalankan peran normalnya secara wajar, dan
bahwa harus dilakukan sesuatu terhadap situasi tersebut (Foster,
1986). Hal ini sesuai dengan jawaban-jawaban para informan
mengenai konsep sehat dan sakit menurut mereka. Bagi para
informan, mereka mengatakan bahwa mereka sedang berada
dalam kondisi sakit jika mereka sudah tidak bisa bekerja, tubuh
terasa lemas, dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dengan
demikian, kegiatan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan dengan
baik seperti halnya ketika sedang berada dalam kondisi sehat.
Karena konsep sehat bagi para informan adalah sebuah kondisi di
mana mereka bisa beraktivitas dengan baik dan lancar tanpa
mengalami keluhan atau hambatan.
Penyakit dibedakan menjadi dua, yaitu penyakit sebagai
sebuah konsep patologi (disease) dan penyakit sebagai suatu
konsep kebudayaan (illness). Sebuah penyakit (illness) bisa
disebabkan karena beberapa macam hal (Foster, 1986), antara
lain adalah makhluk supranatural (makhluk gaib atau dewa),
107
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
makhluk yang bukan manusia (hantu, roh leluhur, atau roh jahat),
maupun makhluk manusia (tukang sihir atau tukang tenung).
Sistem seperti ini disebut dengan sistem personalistik, karena
penyakit tersebut ditujukan khusus kepada korban atau orang
yang menjadi sakit. Dalam kasus masyarakat di desa Limakoli,
kepercayaan masyarakat akan penyebab penyakit muncul
karenja penyakit tersebut disebabkan karena makhluk bukan
manusia (dalam hal ini adalah kuntilanak), dan makhluk manusia
(yang disebabkan karena tukang sihir yang disebut tukang
suanggi atau man suanggi oleh masyarakat).
Kuntilanak dan man suanggi merupakan agen-agen yang
bisa bertindak untuk menyebabkan penyakit. Penyakit-penyakit
yang ditimbulkan merupakan penyakit yang bisa berujung kepada
kematian dalam jangka waktu yang cukup cepat. Penyakitpenyakit
tersebut
pada
umumnya
diawali
dengan
ketidakberdayaan fisik untuk melakukan kegiatan sehari-hari,
keluarnya darah dari bagian tubuh tertentu, perut yang terasa
sakit, dan wajah penderita yang pucat. Wajah dan tubuh yang
pucat tersebut disebabkan karena kuntilanak atau roh jahat
menghisap habis darah merah yang ada pada perut ibu, dan
hanya meninggalkan darah putih, sehingga kemudian bayi
menjadi tidak berdaya dan meninggal.
Rasa iri merupakan alasan utama seseorang menjadi
korban dari kekuatan man suanggi. Hal ini sama dengan
penemuan penelitian yang dilakukan pada orang Dobu di
Melanesia, yang menyebutkan bahwa penduduk menganggap
bahwa penyakit (illness) berasal dari agen yang diakibatkan
terutama oleh rasa iri.
Banyak kasus penyakit ataupun kasus-kasus kematian yang
oleh penduduk dikatakan disebabkan oleh suanggi, terutama
adalah penyakit-penyakit yang bersifat “mendadak”, maupun
menyebabkan kematian secara mendadak, atau penyakit yang
108
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
sudah dibawa untuk diperiksakan ke dokter tetapi oleh dokter
penyakit tersebut diakui oleh masyarakat belum ada diagnosis
penyebabnya. Harley dalam Foster menyebutkan penyakit adalah
sesuatu yang tidak wajar, akibat masuknya kekuatan-kekuatan
yang berasal dari luar, yang umumnya diarahkan oleh sarana
magis. Penyakit dan kematian dini kemudian dianggap berasal
dari kekuatan-kekuatan luar atau ilmu sihir. Harley juga
mendaftar sejumlah 16 penyebab penyakit dan kematian yang
tidak wajar, termasuk di dalamnya adalah sihir, keracunan,
pelanggaran pantangan, kekuatan fetish dan binatang jadi-jadian.
Penyakit wajar adalah penyakit yang sederhana dan bisa diobati
dengan ramuan tradisional dan kematian yang disebabkan
karena usia tua. Daftar ini hampir sama dengan apa yang
ditemukan di desa Limakoli.
Jika penyakit (illness) didefinisikan sebagai akibat
masuknya suatu objek karena ilmu sihir, maka pengeluaran objek
tersebut adalah mutlak bagi kesembuhan si pasien (Foster, 1986).
Kondisi sakit seseorang juga dipercaya merupakan
“hukuman” dari Tuhan atau akibat yang harus ditanggung oleh
seseorang disebabkan karena perbuatan-perbuatan dosa yang
dilakukan pada masa lalu, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh
orangtua. Penyebab seperti ini terjadi pada kasus Al, di mana
masyarakat sekitar memberikan penilaian bahwa penyakit Al
yang diderita merupakan dosa masa lalu kedua orangtuanya yang
dinilai telah menyiksa makhluk Tuhan melalui hewan kambing,
sehingga kemudian penyakit yang diderita oleh Al menyerupai
kambing yang sedang mengunyah. Memohon ampun kepada
Tuhan dan juga menebus dosa-dosa di masa lalu merupakan
upaya yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakit yang
diderita oleh Al.
Masyarakat berada pada dua sisi, sisi yang pertama,
mereka mempercayai sistem pengobatan modern, tetapi di sisi
109
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
lain, mereka juga mempercayai sistem pengobatan lain untuk
mengobati penyakit-penyakit yang dipercayai oleh mereka
disebabkan karena hal-hal gaib. Dengan demikian, di dalam
masyarakat desa Limakoli juga terdapat dua pembagian besar
tentang sistem medis (Foster, 1986):
Yang pertama adalah suatu sistem teori penyakit yang
meliputi kepercayaan-kepercayaan mengenai ciri-ciri sehat,
sebab-sebab sakit, serta pengobatan dan teknik-teknik
penyembuhan lain yang dipergunakan oleh para dokter. Sistem
teori penyakit merupakan sebuah sistem, yang bersifat rasional
dan logis. Setiap penyakit mempunyai penjelasan mengenai
sebab-sebabnya, oleh karena itu teknik penyembuhannya juga
berasal dari sebab-sebab penyakit tersebut.
Untuk penyakit-penyakit yang sudah umum dan sudah
diketahui masyarakat akan sembuh dengan pengobatan modern
dengan pengobatan sendiri, seperti batuk, pilek, panas, demam,
masyarakat akan merujuk pengobatan modern sebagai
pengobatan penyakitnya. Tetapi jika penyakit tersebut
merupakan penyakit yang dipercaya timbul karena perbuatan
gaib, dengan tanda-tanda tidak seperti tanda-tanda penyakit
biasa, maka masyarakat percaya bahwa pengobatan medis
modern tidak akan bisa banyak menyembuhkan. Diperlukan
pertolongan lain di luar pertolongan medis modern, yaitu
pengobatan tradisional atau dengan menggunakan pertolongan
orang pintar. Pengobatan medis dikatakan oleh salah seorang
informan “hanya” sebagai upaya untuk lebih memperkuat tubuh
pasien yang menjadi korban suanggi, dan berjaga-jaga kalau
terjadi komplikasi dalam tubuh korban.
Yang kedua adalah sistem perawatan kesehatan yang
memperhatikan cara-cara yang dilakukan oleh berbagai
masyarakat untuk merawat orang sakit dan untuk memanfaatkan
“pengetahuan” tentang penyakit untuk menolong pasien. Dalam
110
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
sistem perawatan kesehatan, dibutuhkan interaksi antara pasien
dengan penyembuh. Di dalam sistem ini keluarga dan masyarakat
turut serta dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Mencari orang yang bisa menyembuhkan penyakit yang
disebabkan karena suanggi, mencari tanaman-tanaman, buah,
yang bisa menyembuhkan racun, merupakan upaya yang
dilakukan oleh keluarga jika ada anggota keluarga yang terkena
suanggi.
Mereka yang menganggap penyakit disebabkan karena
ilmu sihir akan menghindari perbuatan menyakiti hati tetanggatetangga yang kemungkinan akan melakukan tindakan jahat
tersebut (Foster, 1986). Demikian juga dengan apa yang
dilakukan oleh masyarakat desa Limakoli. Seorang perempuan
yang sedang hamil akan lebih berhati-hati dalam berbicara atau
berinteraksi dengan orang lain, berhati-hati dalam mengeluarkan
pendapat tentang kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap
orang lain, disebabkan karena seorang ibu hamil akan lebih
rentan diserang oleh kekuatan gaib dibandingkan dengan orang
lain yang sedang tidak dalam kondisi hamil.
Informan bapak Ib, tidak mengatakan kepada para
tetangga terhadap kondisinya yang sedang sakit, disebabkan
karena informan merasa takut kalau kondisinya tersebut akan
“dimanfaatkan” oleh orang-orang yang berniat jahat, dengan
mengirimkan penyakit yang lebih besar kepadanya. Demikian
juga dengan mama Yn. Mama Yn tidak pernah mengatakan
kepada tetangga jika anak-anaknya sedang menderita sakit,
meskipun itu hanya sakit demam ringan. Kondisi anak yang
sedang berada dalam kondisi tidak sehat menyebabkan anak
akan berada dalam kondisi rentan untuk dimasuki penyakitpenyakit yang disebabkan karena kekuatan jahat.
Rasa takut akan terkena racun yang bisa menyebabkan
penyakit tersebut seringkali juga diwujudkan dalam rasa takut
111
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
untuk makan atau minum dalam pesta yang dihadiri oleh banyak
orang. Karena dikatakan, biasanya dalam kesempatankesempatan seperti itulah orang akan mengirimkan racun kepada
sasaran.
Sementara itu dalam sistem naturalistik, penyakit (illness)
dijelaskan dengan istilah-istilah sistemik yang bukan pribadi
(Foster, 1986). Penyakit yang disebabkan karena sistem medis
naturalistik ini disebabkan karena ketidakseimbangan yang ada di
dalam tubuh seseorang, misalnya ketidakseimbangan antara
unsur-unsur panas dan dingin dalam tubuh, cairan yang ada di
dalam tubuh, atau juga konsep yin dan yang.
Pencegahan Penyakit dalam Tradisi
Pencegahan penyakit secara tradisional dilakukan oleh
masyarakat desa Limakoli, antara lain dengan menggunakan
jimat tertentu. Penggunaan jimat kami temui pada bayi yang
baru lahir. Akar gelenggitik disematkan pada pakaian bayi untuk
mencegah agar bayi terhindar dari makhluk halus yang nantinya
akan menyebabkan bayi menjadi sakit. Ibu hamil biasanya
memakai sisir di rambut, kemudian memegang paku sebagai
upaya pencegahan keguguran bayi dalam kandungan.
3.3. Sistem Pelayanan Kesehatan
3.3.1. Formal (Ketersediaan, Aksesibilitas)
Pelayanan yang diterima di Puskesmas Namodale,
dikatakan oleh informan baik, karena petugasnya ramah.
Puskesmas Namodale juga bisa ditempuh dari desa Limakoli
dengan cukup mudah, disebabkan karena akses jalan yang sudah
relatif baik. Jarak tempuh pun tidak terlalu lama, sekitar setengah
jam perjalanan ditempuh dengan menggunakan kendaraan
112
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
bermotor.
Transportasi umum tidak ada, hanya ada alat
transportasi ojek dari warga desa setempat.
3.3.2 Tradisional (Ketersediaan, Aksesibilitas)
Di desa limakoli terdapat pengobat tradisional yang utama
adalah seorang dukun kampung yang kebanyakan membantu
urut, mengobati patah tulang dan menolong kelahiran. Selain itu
ada seorang dukun kampung yang hanya bisa urut perut ibu
hamil. Adapung di dusun Tayoen terdapat seorang dukun
kampung yang hanya bisa membantu menolong kelahiran.
3.4. Health Seeking Behaviour
Selain tenaga kesehatan, gereja juga menjadi rujukan bagi
masyarakat untuk mengupayakan kesembuhan bagi pihak yang
sedang mengalami sakit. “Proses penyembuhan” tersebut
melalui doa, dengan memanggil tim pelayanan doa dari gereja ke
rumah.
Pilihan pertama masyarakat pada umumnya adalah pergi
untuk meminta doa, baru kemudian mereka akan meminta
bantuan ke pihak tenaga kesehatan. Jika belum sembuh juga,
maka biasanya orang pintar akan menjadi pilihan. Karena itu
artinya, penyakit yang diderita bukanlah penyakit biasa,
melainkan penyakit yang disebabkan karena ada iri hati dari
seseorang.
Ketika masyarakat mencari pengobatan ke tenaga
kesehatan, maka Posyandu menjadi pilihan sebagian informan
untuk berobat, walaupun itu artinya mereka harus menunggu
setiap satu bulan. Setelah itu, barulah mereka mendatangi
puskesmas pembantu untuk mencari pengobatan. Masyarakat
berobat ke puskesmas kalau penyakitnya tersebut dirasa berat.
113
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Sebaliknya, kalau penyakit tersebut dirasa tidak terlalu berat,
maka masyarakat akan berobat ke posyandu. Pergi ke rumah
sakit atau dokter yang berpraktik di Baa tidak menjadi pilihan
utama karena beaya transportasi yang mahal, Rp. 75.000; dari
Baa ke Limakoli pulang pergi atau bila penyakitnya berat.
Salah seorang informan, bapak DL, memilih untuk pergi ke
rumah sakit ketika penyakit yang dialaminya terasa sebagai
penyakit berat. Sementara itu, jika penyakit dirasakan sebagai
penyakit biasa, maka informan akan pergi membeli obat di
warung atau apotik.
“Kalau kita dapat alami penyakit yang berat baru
bawa ke rumah sakit, tapi kalau sekedar sakit-sakit
biasa karena kita tanggulangi dengan kita ambil
obat di itu, yang jual obat, apa itu namanya (apotik,
apotik) ..ya apotik. “ DL
Selain mencari pengobatan, informan juga sering
mengobati sendiri penyakit-penyakit yang dialami oleh dirinya
sendiri maupun keluarga. Menurut informan, pengetahuan
tersebut didapatkannya ketika berobat di tenaga kesehatan, dan
mengingat jenis obat yang dipergunakan untuk mengobati
penyakitnya. Informan mengenal beberapa jenis obat, misalnya
paracetamol. Dengan demikian, informan mempunyai persediaan
obat di rumahnya untuk berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu ada
anggota keluarganya yang sakit. Obat cacing, obat diare, obat
anti malaria, CTM, dexa.
Pengalaman berobat ke rumah sakit pernah dialami oleh
anak MR yang sedang hamil. Karena mengalami keracunan
kehamilan, maka anaknya harus dirawat selama tiga hari di
rumah sakit. Selain itu belum pernah ada pengalaman informan
berobat ke rumah sakit.
114
BAB 4
KESEHATAN IBU DAN ANAK
4.1. Pra Hamil
4.1.1. Remaja
Remaja adalah masa baliq atau keterbukaan terhadap
lawan jenis. Sedangkan menurut Zakiyah Darajat (1990:23)
remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan
dewasa. Dalam masa anak ini mengalami masa pertumbuhan
dan masa perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak
baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi
bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Tidak ada sebutan khusus untuk remaja di Desa Limakoli.
Sapaan bagi anak perempuan yang belum menikah dengan
sebutan Nona dan anak laki-laki belum menikah dengan sebutan
Nyong. Tidak ada tradisi maupun ritual yang dilakukan untuk
menandai peralihan masa dari anak-anak menuju remaja. Tradisi
sunat misalnya, bukan merupakan sebuah tradisi yang dikenal
oleh masyarakat desa Limakoli. Satu-satunya ritual yang
menandai peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja atau
dewasa adalah ritual keagamaan pembaptisan. Pembaptisan
dilakukan berdasarkan keinginan dari masing-masing orang,
dilakukan tanpa adanya paksaan, sebagai tanda seseorang lahir
kembali dan siap untuk menanggung sendiri dosa yang
diperbuatnya. Pada umumnya, masyarakat melakukan
pembaptisan pada usia antara 15-18 tahun. Seorang jemaat yang
115
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
sudah menyatakan diri siap untuk dibaptis bisa mendaftar
kepada pendeta di gereja. Pendeta akan memberikan
pembekalan agama terlebih dahulu kepada calon yang akan
dibaptis. Kemudian pada hari pembaptisan, pendeta, jemaat
yang akan dibaptis, bersama seluruh jemaat gereja akan menuju
ke sungai tempat pembaptisan akan dilakukan. Sungai menjadi
tempat pembaptisan, karena seorang jemaat yang akan dibaptis
harus “menenggelamkan” seluruh anggota tubuhnya ke dalam
sungai sebagai simbol dari kelahiran kembali menjadi seorang
manusia baru.
“...tapi kalau kita itu sudah besar, jadi kesadaran pribadi.
Kalau belum dibaptis itu dosa kesalahan kita itu masih
terkait sama orangtua, kalo uda dibaptis itu uda
ditanggung sendiri. Jadi kita udah bener-bener
menyadari adanya Tuhan...” Jelas St
4.1.2. Aktivitas Remaja
Remaja desa Limakoli yang masih menempuh pendidikan
mempunyai aktivitas sekolah pada pagi hari. Karena sekolah SMP
terletak di desa lain, maka pada pagi hari anak-anak SMP
tersebut akan berangkat bersama-sama menuju ke sekolah yang
bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit dengan
berjalan kaki.
Bagi remaja perempuan, sepulang dari sekolah mereka
mempunyai tugas untuk membantu orang tua dengan
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti memasak,
mencuci piring dan pakaian, memikul air, membersihkan rumah,
dan juga pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sedangkan
bagi remaja laki-laki tidak diberikan beban kerja rumah tangga
seperti halnya remaja perempuan. Kebanyakan remaja laki-laki
116
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
akan mengisi waktunya dengan bermain bola volly yang biasa
dilakukan di lapangan sekolah dasar desa Limakoli.
Bagi para remaja yang sudah tidak menempuh jenjang
pendidikan, mereka akan mengisi waktunya dengan membantu
orang tua bekerja di sawah dan juga menyelesaikan pekerjaan
rumah tangga. Beberapa orang remaja mengisi hari-hari dengan
minum minuman keras. Beberapa orang remaja laki-laki
mengkonsumsi sopi (jenis minuman keras tradisional), yang bisa
mereka dapatkan melalui salah satu warung di desa tersebut,
dengan harga yang tidak terlalu mahal, Rp. 10.000 untuk satu
botol air mineral berukuran @600 ml. Meminum sopi menjadi
kebiasaan pada waktu acara pernikahan, acara kematian, atau
pada malam hari ketika berkumpul bersama-sama dengan remaja
lain.
“...Bisa juga kalau duduk-duduk lalu minum-minum...”
Jelas Nd.
Telepon genggam juga telah menjadi bagian dari
keseharian sebagian besar remaja di Desa Limakoli. Menurut
keterangan salah seorang guru SMP yang tinggal di desa Limakoli,
selain pengaruh dari lingkungan, telepon genggam juga
mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pergaulan remaja
pada masa kini, yang cenderung mengarah kepada pergaulan
bebas.
“Iya dua itu, lingkungan dan HP. Nah di hp kan ada tuh
film porno yang dong su tonton to. Nah anak SMP kan
banyak yang punya HP. HP mereka juga bukan HP yang
biasa to, yang sudah lengkap itu, makanya mereka juga
jadi terpengaruh. Tapi lingkungan nomor 1”, kata
informan Lr.
Pendapat yang hampir serupa juga dikemukakan oleh
seorang pendeta yang tinggal di desa Limakoli. Informan ini
117
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
sepakat bahwa telepon genggam mempunyai andil dalam
mempengaruhi pergaulan remaja pada masa kini.
“...Kita lihat sekarang ini sex bebas merajalela. Kemudian
narkoba itu juga kadang-kadang merembet. Sekarang ini
desa-desa tidak seperti macam dulu. Kalau macam dulu
desa-desa masih suci lah. Tidak ada yang suci lagi
sekarang. Istilahnya sekarang ini dunia selebar daun
kelor sudah. Artinya dulu kita mau hubung ke mana
setengah mati, paling-paling telegram. Tapi sekarang
adanya besi bodoh ini, semua. Sehingga kadang-kadang
kita lihat pergaulan itu, ada nona-nona dong bisa
hilang...” Jelas Pd Dl.
“Kotong ini setiap hari. dari dulu begitu. Habis main bola
sore-sore, kotong tanya di mana nanti malam (tempat
minum sopi-pen).” Lanjut Nd menjelaskan mengenai
waktu dan tempat dilakukannya kegiatan minum sopi.
Meskipun tidak seluruh remaja mempunyai kebiasaan
untuk minum sopi, tetapi hal ini patut menjadi perhatian, karena
di sini ditemukan seorang anak remaja berusia 16 tahun yang
setiap hari selalu minum sopi, sehingga telah menjadi kebiasaan.
Peneliti juga pernah menemukan, satu orang anak SMP berusia
14 tahun minum sopi di sore hari bersama dua orang temannya
di pinggir jalan.
Sopi merupakan jenis minuman keras tradisional yang
merupakan olahan dari nira yang diambil dari pohon lontar. Nira
tersebut kemudian difermentasikan sehingga menjadi minuman
sopi. Dengan fenomena beberapa anak muda yang mempunyai
kebiasaan minum-minuman keras ini, tidak ada tindakan tegas
yang diberikan baik oleh tokoh pemerintah, tokoh masyarakat,
tokoh adat, maupun masyarakat itu sendiri. Sopi dipandang
sebagai bagian dari tradisi, dan bukan pelanggaran terhadap
norma agama misalnya. Oleh karena itu tidak ada sanksi yang
118
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
diberikan kepada remaja yang memium sopi, kecuali kalau
mereka yang meminum sopi tersebut kemudian melakukan
tindakan yang meresahkan masyarakat seperti melakukan
pencurian atau perkelahian.
“Awal mulanya memang dapat terguran dari kepala
desa, tapi bilang minum boleh, tapi jangan bikin merusak
ke halaman orang, artinya potong orang punya pepaya,
ubi. Itu namanya curi. Itu sanksinya harus ada. Kalau
hanya minum di jalan boleh boleh saja..” Nd
Ketertarikan antar lawan jenis diakui oleh para informan
sudah mulai dirasakan semenjak mereka duduk di bangku SMP,
setelah mengalami mimpi basah bagi remaja laki-laki dan
mendapatkan haid bagi remaja perempuan. Tidak semua remaja
berani mengutarakan perasaan kepada orang yang mereka sukai.
Para remaja perempuan lebih banyak membicarakan tentang
orang yang disukai kepada teman terdekatnya. Meskipun
demikian, ditemukan beberapa kasus di mana remaja sudah
mulai berani berpacaran, bahkan sampai melakukan hubungan
seksual.
4.1.3. Kesehatan Reproduksi
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sudah
didapatkan sejak duduk dibangku SD kelas enam, meskipun
masih terbatas pada penjelasan tentang mestruasi. Setelah anak
duduk di bangku SMP, pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi dijelaskan dengan lebih mendalam pada mata
pelajaran Biologi. Pemberian pengetahuan tersebut dilakukan
dengan tujuan sebagai bekal pengetahuan bagi para remaja agar
tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dan bisa lebih berhatihati dalam berhubungan dengan lawan jenis.
119
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Salah seorang informan yang duduk di bangku SMP
mengatakan bahwa dia sudah memperoleh informasi dari guru,
bahwa seorang perempuan yang sudah mengalami masa
menstruasi berarti perempuan tersebut bisa hamil jika
melakukan hubungan seksual.
“...Ibu terangkan kalau sudah menstruasi itu sudah tanda
alat kemaluannya sudah berfungsi untuk berhubungan
gitu...” Jelas St
Selain guru sekolah yang memberikan pengetahuan
mengenai kesehatan reproduksi, pihak Puskesmas dan BKKBN
setempat juga mempunyai program penyuluhan yang ditujukan
kepada murid sekolah SMP dan SMA. Kegiatan penyuluhan
tersebut dilakukan rutin setiap satu tahun sekali dengan tujuan
untuk memberikan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi
remaja sekaligus kegiatan pemberian imunisasi tetanus.
“...Organ reproduksi sama KB. Tanda-tanda mulai
dewasa, semua dikasih” Jelas KpP mengenai materi yang
diberikan ketika penyuluhan.
Gereja juga mempunyai peran dalam memberikan
pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi kepada remaja,
meskipun pengetahuan tersebut masih disampaikan secara
umum.
Orangtua, khususnya ibu, juga memberikan nasihat
kepada anak perempuan yang telah mendapatkan menstruasi.
Pengetahuan yang diberikan adalah pengetahuan tentang apa
saja yang harus dilakukan jika remaja putri mengalami haid dan
bekal untuk melindungi diri sendiri agar terhindar dari pergaulan
yang negatif. Orangtua salah seorang informan juga mengatakan
bahwa ketika seorang perempuan sudah mendapatkan haid,
maka dia tidak boleh membawa seorang laki-laki untuk masuk ke
120
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
dalam kamar, tanpa menjelaskan lebih lanjut kepada anak apa
alasan dari pelarangan tersebut.
Seorang anak perempuan yang sudah mendapatkan haid
juga mempunyai pantangan-pantangan tertentu yang tidak boleh
dilakukan disebabkan karena kepercayaan-kepercayaan yang
ditanamkan oleh orangtua, khususnya dari ibu mereka. Seorang
perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan untuk
melakukan keramas dan mandi pada malam hari. Jika seorang
perempuan yang sedang haid keramas, maka dipercaya darah
putih akan naik ke atas kepala, dan bisa menyebabkan kepala
pusing, pingsan, dan bisa juga menjadi gila. Mandi pada malam
hari yang dilakukan oleh perempuan yang sedang haid, juga bisa
menyebabkan darah haid keluar secara berlebih dan
menyebabkan perut terasa sakit. Berikut ini adalah pernyataan
yang dikemukakan oleh mama Db mengenai pelarangan mandi
malam pada perempuan yang sedang haid.
“...Sakit perut dan haidnya terlalu banyak kalau mandi
malam dan lama...”
Berbeda dengan anak perempuan, seorang anak laki-laki
tidak banyak diberikan nasihat, pantangan, maupun
kepercayaan-kepercayaan mengenai kesehatan reproduksi. Anak
remaja laki-laki banyak mendapatkan pengetahuan mengenai
pengetahuan kesehatan reproduksi dari teman-teman sebaya
atau melalui televisi. Seorang informan remaja berusia 16 tahun
mengatakan bahwa dia mengetahui informasi mengenai
HIV/AIDS dari televisi. Menurut informan, dia pernah melihat
tayangan televisi yang menceritakan tentang seorang penderita
AIDS. Cara pencegahan yang dilakukan menurut informan adalah
dengan mengindari perempuan yang “tidak baik”. Meskipun
dmeikian, ketika diminta untuk menjelaskan tentang apa yang
dimaksud dengan perempuan “tidak baik”, informan tidak bisa
121
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
menjelaskan lebih lanjut, dan hanya mengatakan bahwa
perempuan yang tidak baik adalah perempuan yang bergaul
bebas dengan laki-laki, perempuan yang menderita AIDS, dan
perempuan yang mempunyai kebiasaan minum-minuman keras.
“Pokoknya yang sembarang-sembarang, su (sudah)
pernah mengalami penyakit AIDS, dengan perempuan
yang mabuk-mabuk, itu son (tidak) mau. Hindari supaya
jangan kena penyakit AIDS”, (Nd).
Ciri-ciri dari orang yang terkena HIV/AIDS juga diketahui
oleh informan melalui film. Berbadan kurus, dan terus mengalami
penurunan berat badan sampai meninggal dunia merupakan
tanda-tanda orang terkena AIDS yang digambarkan dalam film
tersebut.
Pengetahuan mengenai beberapa macam alat kontrasepsi
juga diperoleh informan remaja melalui pergaulan. Informan
pernah mendengar mengenai alat kontrasepsi kondom, tetapi
belum pernah melihatnya.
Berkaitan dengan permasalahan kesehatan reproduksi
remaja, kejadian hamil di luar nikah menjadi salah satu
permasalahan yang cukup banyak dialami oleh remaja pada usia
sekolah mereka. Kebanyakan remaja yang mengalami kehamilan
di luar nikah masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ketika terjadi
kehamilan, maka seorang remaja perempuan harus berhenti dan
keluar dari bangku sekolah. Hal itu disebabkan karena peraturan
sekolah memang mengharuskan sekolah untuk mengeluarkan
siswa yang mengalami kasus kehamilan di luar nikah. Dalam
beberapa kasus, kehamilan yang terjadi ketika seorang remaja
perempuan hamil di bangku kelas tiga, maka dia tetap diizinkan
untuk mengikuti ujian akhir sekolah disebabkan karena nama
siswa sudah tercantum dalam daftar peserta ujian akhir.
Dalam kejadian hamil di luar nikah pada remaja, ada yang
memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya meski tanpa
122
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
suami, ada yang kemudian menikah secara adat (pernikahan
Terang Kampung) dan ada juga yang kemudian menggugurkan
kandungannya.
Ss adalah seorang remaja berusia 16 tahun. Pada saat Ss
duduk di bangku SMA, Ss tinggal di kos karena jarak sekolah
dengan rumah terlalu jauh untuk ditempuh pulang pergi setiap
hari. Akibatnya pengawasan orangtua kepada anak juga menjadi
kurang. Ss hamil diluar nikah dengan teman satu sekolah, dan
pihak sekolah mengeluarkan Ss dari bangku sekolah. Setelah anak
lahir, Ss kembali lagi ke bangku sekolah, dan tinggal kembali di
kamar kos. Pengasuhan anak kemudian diserahkan kepada
orangtua Ss. Oleh orang tua Ss, anak yang sebenarnya menjadi
cucu tersebut sudah dianggap sebagai anak sendiri dan diberikan
fam orang tuanya.
Sangat disayangkan, tidak lama kemudian, Ss kembali
hamil di luar nikah, kali ini dengan adik kelasnya di SMA. Pihak
sekolah kemudian memberikan kebijakan untuk mengeluarkan
kembali Ss dari sekolah. Saat penelitian berlangsung, Ss sedang
hamil dengan usia kandungan tujuh bulan.
Satu kasus aborsi kami temukan di wilayah penelitian. El
adalah nama remaja tersebut. Pada waktu itu El masih berusia 17
tahun, dan duduk di bangku SMA kelas dua. Menurut keterangan
dari salah seorang informan, El hamil dengan seorang pria yang
sudah beristri dengan usia yang jauh di atas El. Orangtua dan
seluruh keluarga El marah besar dan bahkan mengancam akan
membunuh El, ketika mengetahui El sedang mengandung.
Karena merasa ketakutan dengan ancaman keluarga besarnya
tersebut, El kemudian melarikan diri ke rumah saudara di desa
sebelah. Sesampainya di sana, El kemudian menggugurkan
kandungan dengan meminum serbuk obat “Bintang Tujuh” yang
dibeli di kios. Setelah meminum obat tersebut, El mengalami
sakit perut dan pendarahan, sehingga akhirnya keluarga
123
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
membawa El ke Rumah Sakit. Di rumah Sakit, hasil USG
menyatakan bahwa janin El masih bisa diselamatkan. Tetapi
setelah pulang dari Rumah Sakit, orang tua El membawa El ke
dukun kampung untuk menggugurkan kandungan dengan cara
diurut.
Menurut Romauli (2011), ada dua hal yang bisa dan biasa
dilakukan jika mengalami kehamilan yang tidak diharapkan yaitu
mempertahankan kehamilan atau mengakhiri kehamilan. Semua
tindakan yang dilakukan remaja tersebut dapat membawa risiko
baik fisik, psikis, sosial. Bila kehamilan diakhiri (aborsi) dapat
mengakibatkan dampak negatif, antara lain:
1. Risiko perdarahan karena mengambil jaringan yang tidak
bersih dan tidak aman menurut medis
2. Pengerokan yang terlalu dalam akan meninggalkan cerukan/
bahkan lubang di dinding rahim
3. Gangguan haid bila pergerakan dilakukan sampai menyentuh
selaput otot
4. Infeksi yang terjadi akibat kelalaian/kurang terampilnya
dokter yang menangani
Mengingat besarnya risiko yang harus dihadapi oleh
pelaku aborsi, diperlukan perhatian dari pihak petugas kesehatan
untuk memberikan pengetahuan tentang bahaya aborsi,
utamanya pada remaja. Kejadian hamil di luar nikah di kalangan
remaja disebabkan karena beberapa macam hal. Penyebab yang
utama adalah kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak.
Karena desa Limakoli tidak memiliki sekolah setingkat SMA, maka
warga desa yang akan melanjutkan sekolah ke bangku SMA harus
bersekolah di SMA yang terletak di Kecamatan. Jarak tempuh
yang terlalu jauh untuk melakukan perjalanan pulang pergi, serta
tidak adanya alat transportasi umum dari dan menuju ke desa
Limakoli menyebabkan anak yang duduk di bangku SMA harus
menginap/kos di rumah orang atau tinggal di rumah saudara.
124
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Mereka biasa pulang ke rumah setiap satu minggu sekali atau
bahkan satu bulan sekali. Oleh sebab itu orangtua mengalami
kesulitan untuk mengawasi keseharian anak yang duduk di
bangku SMA.
Kesibukan orangtua bekerja di sawah dari pagi sampai
dengan sore hari menyebabkan orangtua kurang memberikan
pengawasan kepada anak, terutama anak yang beranjak remaja.
Anak yang beranjak remaja sudah dianggap sebagai anak yang
tidak memerlukan perhatian yang lebih besar, dibandingkan
dengan anak yang masih berada di bangku sekolah dasar
misalnya. Anak yang sudah duduk di bangku SMP, utamanya anak
perempuan, diberikan tugas dan tanggung jawab untuk
mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketika orangtua pergi
bekerja ke sawah.
Kasus kehamilan di luar nikah yang dialami para remaja
tidak menyebabkan warga masyarakat melakukan pengucilan
terhadap mereka. Remaja yang mengalami kasus kehamilan yang
tidak diinginkan, tetap diterima menjadi bagian dari masyarakat,
meskipun gunjingan terhadap mereka tidak bisa dihindarkan,
terutama gunjingan yang dilakukan terhadap perempuan yang
tidak menikah dan perempuan yang melakukan aborsi. “Posisi”
perempuan yang hamil di luar nikah tetapi kemudian melakukan
pernikahan adat lebih cenderung tidak mendapatkan gunjingan
dari masyarakat.
Kasus perempuan hamil di luar nikah kemudian juga
berpengaruh terhadap tingkat pemeriksaan kehamilan. Mereka
cenderung untuk tidak mau memeriksakan kehamilannya ke
Posyandu. Untuk kasus-kasus seperti ini, di mana ibu hamil tidak
memeriksakan kehamilannya ke Posyandu, bidan desa kemudian
mendatangi rumah pasien untuk melakukan pemeriksaan
kandungan ibu hamil.
125
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Meskipun ada beberapa orang remaja yang mengalami
kejadian hamil di luar nikah, tetapi berdasarkan data yang
didapatkan dari Puskesmas setempat, tidak terdapat penyakit
yang disebabkan karena perilaku seks bebas seperti Infeksi
Menular Seksual dan HIV AIDS di desa Limakoli.
4.1.4. Pasangan Suami Yang Istrinya Belum Pernah Hamil
Salah satu tujuan dalam pernikahan adalah melanjutkan
keturunan dalam keluarga. Tetapi tidak semua pasangan suami
istri bisa mempunyai anak. Ada yang baru menikah dan cepat
dikaruniai anak, ada juga yang sudah lama menikah baru
dikaruniai anak, tetapi ada juga yang sudah menikah dan tidak
dikaruniai anak dalam jangka waktu sangat lama, sehingga bisa
dikatakan bahwa mereka tidak memiliki keturunan.
Di wilayah penelitian, peneliti menemukan sepasang
suami istri yang belum dikarunia anak setelah menikah selama 14
tahun. Siklus haid informan Ls sebelum menikah bisa dikatakan
tidak teratur. Mama Ls mendapatkan haid setiap dua atau empat
bulan sekali. Setelah menikah mama Ls baru mendapatkan haid
setiap satu tahun sekali, diikuti dengan tubuh yang terasa lemas
hingga mama Ls tidak mampu untuk beraktivitas disebabkan
karena darah yang dikeluarkan sangat banyak.
Menurut
informan, darah yang keluar berupa gumpalan darah hitam,
diikuti dengan rasa sakit yang teramat sangat pada bagian
belakang perut. Jika darah hitam sudah keluar habis, maka akan
diikuti dengan keluarnya darah merah selama kurang lebih lima
hari. Untuk mempercepat dan memperlancar keluarnya darah
pada waktu menstruasi, mama Ls meminum ramuan obat
kampung yang diracik oleh kakaknya. Obat kampung tersebut
dibuat dari bahan akar Lulu Ai Fula yang direbus dengan cengkeh
(Syzgium aromaticum), pala (Myristica fragrans) dan lada (Piper
126
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
nigrum). Ramuan tersebut diminum tiga kali sehari, pagi, siang,
malam, sampai mentruasi berhenti. Mama Ls meminum ramuan
obat kampung selama dua tahun terakhir, setiap kali mengalami
menstruasi, sebab menstruasi yang dialami selama dua tahun
terakhir ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mama Ls
pernah memeriksakan mengenai siklus menstruasi yang tidak
teratur kepada bidan, dan bidan memberikan vitamin penambah
darah. Bidan desa setempat sebenarnya sudah menyarankan
mama Ls agar pergi memeriksakan diri ke rumah sakit di Kupang
disebabkan karena peralatan yang lebih lengkap. Tetapi karena
alasan keterbatasan biaya, dan rasa malu untuk pergi
memeriksakan ke dokter, maka mama Ls memutuskan untuk
menunda kepergiannya ke Kupang.
“...Ikut posyandu saya kasih vitamin. Karena dia malu
untuk periksa ke dokter. Dokter disini hanya dokter
umum itupun laki-laki. Bagusnya langsung ke Kupang...”
Jelas Bd Fk
Dahulu, ketika usia pernikahan Mama Ls dan suami
berjalan selama tujuh tahun, Mama Ls pergi memeriksakan diri
ke dokter praktek untuk memeriksakan mestruasi yang tidak
teratur. Dokter memberikan obat untuk diminum selama empat
hari, tetapi dokter tidak memberitahukan kepada Mama Ls
manfaat dari obat tersebut.
Sebagai usaha untuk mendapatkan keturunan Mama Ls
pernah pergi ke pengobatan tradisional dengan meminta
bantuan seorang dukun kampung untuk melakukan pemijatan di
bagian perut. Dari dukun kampung yang pertama diperoleh
keterangan bahwa kandungan mama Ls tidak kuat, sehingga sulit
untuk mendapatkan keturunan. Dukun kampung yang kedua
mengatakan bahwa kandungan Mama Ls tergeser, sehingga
perut mama Ls harus diurut secara teratur untuk “meletakkan”
kembali posisi kandungan kepada tempatnya.
127
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Masyarakat menanggapi kondisi mama Ls dan suami yang
belum dikaruniai anak atau tidak bisa hamil sebagai sebuah
kondisi yang disebabkan karena ketidakcocokan antara darah
mama Ls dengan darah suami.
Untuk saat ini, Mama Ls dengan suami sudah pasrah
dengan kondisi tanpa anak yang dialami pada saat ini.
Meskipun mama Ls tidak pernah meminum ramuan obat
untuk membantu menyuburkan kandungan, salah seorang dukun
kampung mengatakan bahwa ada bahan alam dari kayu Kak yang
bisa digunakan untuk menyuburkan kandungan. Kulit kayu Kak
tersebut kemudian direbus dengan campuran buah pinang
kering.
“Ada 1 kayu juga namanya Kak, anaknya nanti
banyak.ambil dia punya kulit 3 kasih mendidih dengan
pinang kering 3 biji supaya bikin subur kandungan...”
Jelas Oma Sr.
4.2. Masa Kehamilan
Kehamilan adalah suatu keadaan yang butuh perawatan
khusus dan sangat berisiko karena bisa menyebabkan kematian
bayi, ibu maupun keduanya. Tetapi bagi masyarakat Desa
Limakoli, kehamilan bukan merupakan hal yang istimewa, dan
merupakan sebuah peristiwa biasa yang dialami oleh setiap
perempuan. Tidak ada perlakuan khusus yang diberikan kepada
ibu hamil, seperti upaya mengurangi pekerjaan sehari-hari,
melakukan
pemeriksaan
kehamilan
secara
teratur,
mengkonsumsi makanan bergizi, atau melakukan ritual
penyambutan kehamilan dan kelahiran.
128
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
4.2.1. Aktivitas Ibu Hamil
Pada usia kehamilan satu sampai tiga bulan, ibu biasanya
bekerja hati-hati untuk menjaga kehamilannya. Sebagian besar
ibu hamil di desa Limakoli mulai melakukan kegiatan atau
pekerjaan yang berat mulai dari usia kehamilan tiga bulan sampai
dengan masa melahirkan. Bekerja di sawah, memikul air,
memikul kayu, memasak, membersihkan rumah dan mencuci
merupakan pekerjaan sehari-hari yang dilakukan oleh ibu hamil.
Pada usia kehamilan satu bulan sampai dengan tiga bulan,
seorang ibu hamil akan mengurangi pekerjaan sehari-hari, karena
kandungan dirasa belum kuat. Sementara itu ketika usia
kehamilan mencapai sembilan bulan dan semakin dekat dengan
masa melahirkan, intensitas pekerjaan ibu hamil semakin
ditingkatkan untuk menghadapi masa melahirkan. Tetap bekerja
selama masa kehamilan dipercaya bisa mempermudah proses
kelahiran. Sebaliknya, jika seorang ibu hamil bermalas-malasan
dalam bekerja, maka bisa dipastikan bahwa proses kelahiran
akan berjalan dengan tidak mudah.
“....harus kerja berat karena kalau tidak kerja berat
melahirkan akan susah...” Jelas mama Es.
Bekerja di sawah merupakan pekerjaan sehari-hari yang
dilakukan sebagian besar ibu di Desa Limakoli, termasuk juga ibu
yang sedang hamil. Mama Yo dan mama Me yang sedang hamil 6
bulan, setiap hari pergi bekerja ke sawah untuk melakukan
kegiatan panen dan tanam. Sama halnya seperti petani yang lain,
mama Yo dan mama Me bekerja mulai dari pukul tujuh pagi
sampai dengan pukul enam malam. Akses menuju ke lokasi
persawahan bisa dikatakan bukan merupakan akses yang mudah
untuk ditempuh. Jalan yang terjal dan berbatu harus dilewati
sebelumnya. Setelah sampai di pinggir sungai, perjalanan masih
129
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
dilanjutkan dengan berjalan kaki menyeberang sungai dengan
arus cukup deras dan batu-batu licin di dalamnya.
Gambar 4. 1
Ibu hamil sedang memikul kayu
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Selain bekerja di sawah, ibu hamil juga melakukan aktivitas
menjemur padi dan mencari kayu sebagai persiapan tradisi
panggang setelah melahirkan dan juga sebagai persediaan bahan
bakar di dapur.
4.2.2. Masalah kehamilan
Menurut keterangan bidan desa, masalah kehamilan yang
banyak dialami ibu hamil di Desa Limakoli adalah mual, muntah,
tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah dan KEK.
Satu orang ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi
karena mempunyai protein urin positif 2, yang bisa berbahaya
bagi kehamilan. Berikut keterangan dari Bd Fk.
“...Itu berbahaya karena hasil urine positif 2
mengakibatkan mata kunang-kunang, kepala pusing,
130
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
tiba-tiba gelap pada saat melahirkan (preemklasi). Ada
yang bengkak tangan dan kaki, karena urine positif
2..”Bd Fk.
Pada saat usia kehamilan delapan bulan, kaki Mama Rn
bengkak sampai dengan paha. Bidan setempat menyarankan agar
Mama Rr periksa dan hasilnya urine positif 2. Hasil tes tersebut
menurut bidan membahayakan keselamatan ibu dan janin,
sehingga bidan menyarankan agar Mama Rn melakukan opname
di Rumah Sakit. Kakak mama Rn tidak setuju jika mama Rn harus
menjalani opname, sehingga akhirnya mama Rn pulang ke
rumah. Bidan setempat hanya mengingatkan agar pada saat
persalinan menghubungi bidan.
Ketika dikonfirmasikan kepada informan mama Rn, mama
Rn mengatakan bahwa menurut dokter informan menderita
asam urat.
“...jadi ambil darah tes bilang asam urat (terkekeh)...”
Jelas Mama Rn
Tiga orang ibu hamil dengan KEK ditemukan di lokasi
penelitian. Konsumsi ibu hamil sama seperti konsumsi
masyarakat lain pada umumnya, atau dengan kata lain tidak ada
pembedaan makanan antara ibu yang sedang hamil dengan ibu
yang tidak hamil. Sayur, lauk pauk dan ikan dikonsumsi jika ada
penjual ikan yang menjual ikan di dalam desa. Makan nasi kosong
(nasi yang dicampur dengan air garam atau nasi dengan gula air)
merupakan jenis makanan yang cukup sering dikonsumsi. Ibu
hamil yang mengalami KEK akan menerima bantuan dari PNPM
Mandiri berupa PMT ibu hamil seperti telur, susu dan gula.
Menurut Romauly (2011) pengaruh gizi terhadap kehamilan
sangat penting, berat badan ibu hamil harus memadai
bertambah sesuai dengan usia kehamilan, karena berat badan
normal akan menghasilkan anak yang normal.
131
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
4.2.3. Makanan Pantangan Ibu Hamil
Berkaitan dengan pantangan makanan, maka ada
beberapa jenis makanan yang dihindari oleh ibu hamil.
Konsumsi makanan bersantan dan kacang tanah dihindari
oleh ibu hamil karena pada saat bayi lahir, kulit bayi akan sulit
untuk dibersihkan karena tubuhnya berminyak seperti santan.
Seorang ibu hamil juga tidak diperbolehkan untuk
meminum es, mengkonsumsi buah pisang dan bakso karena pada
saat melahirkan nanti, bayi akan berukuran besar sehingga ibu
akan mengalami kesulitan pada saat melahirkan. Menurut
Romauli (2011), meminum es sebenarnya tidak berpengaruh
dalam peningkatan berat badan janin maupun ibu. Meminum air
es disertai dengan sirup yang mempunyai kadar gula tinggi
adalah penyebab meningkatnya berat badan ibu dan janin.
Seorang ibu hamil tidak diperbolehkan untuk
mengkonsumsi jantung pisang, buah nangka, daun dan bunga
pepaya serta daun singkong karena akan menyebabkan ketuban
sulit pecah, ari-ari sulit untuk keluar, dan bisa menyebabkan ibu
meninggal.
Seorang ibu hamil tidak diperbolehkan makan nanas
karena bisa menyebabkan keguguran. Dalam Romauli (2011)
konsumsi nanas dapat merangsang asam lambung berproduksi
lebih tinggi, yang dapat mengganggu kesehatan lambung.
4.2.4. Pemeriksaan Kehamilan
4.2.4.1. Pemeriksaan Kehamilan di Tenaga Kesehatan
Di Desa Limakoli terdapat Puskesmas Pembantu untuk
pelayanan kesehatan warga, termasuk untuk pemeriksaan ibu
hamil Meskipun demikian, ibu hamil lebih memilih untuk
132
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
memeriksakan kehamilan pada saat Posyandu di tiap-tiap dusun,
yang dilakukan setiap satu bulan sekali.
Rata-rata ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan
pertama kali pada usia kehamilan empat bulan. Alasan yang
dikemukakan oleh informan mengenai pemeriksaan kehamilan
yang dilakukan pada usia empat bulan ke atas disebabkan karena
bayi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada usia
kehamilan empat bulan. Ketika bayi belum menunjukkan gerakan
apapun, maka bagi para informan belum waktunya untuk
memeriksakan kehamilan. Alasan kesibukan bekerja di sawah
juga dikemukakan oleh informan sebagai penyebab pemeriksaan
kehamilan yang terlambat. Menurut bidan desa setempat,
idealnya pemeriksaan kehamilan untuk pertama kali dilakukan
pada usia kehamilan 0-12 minggu untuk deteksi awal kehamilan.
“...Sebenarnya kan yang normalnya dia harus 0-12
minggu, itu harus dideteksi dari awal. Tapi kan – yang 012 minggu satu sa (saja)(yang memeriksakan
kehamilannya-pen)...” kata Bd Fk
Idealnya seorang ibu hamil harus memeriksakan
kehamilannya minimal sebanyak empat kali yaitu (Romauli,2011):
1) Trimester I (sebelum 14 minggu) satu kali kunjungan
2) Trimester II (antara 14 – 28 minggu) satu kali kunjungan
3) Trimester III (antara 28 – 36 minggu)
4) Trimester III sesudah 36 minggu
4.2.4.2. Pemeriksaan Kehamilan di Tenaga non Kesehatan
Selain melakukan pemeriksaan kehamilan di tenaga
kesehatan, ibu hamil di desa Limakoli juga mempunyai kebiasaan
untuk melakukan urut atau pijat di bagian perut ketika kehamilan
memasuki usia tujuh bulan. Pada saat kehamilan memasuki usia
tujuh bulan, maka keluhan yang dirasakan oleh seorang ibu hamil
133
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
semakin bertambah. Ketika perut terasa nyeri, seorang ibu hamil
lebih memilih untuk memijat atau melakukan urut pada
kandungannya. Menurut informan, rasa nyeri tersebut
disebabkan karena posisi bayi yang melintang. Seorang dukun
kampung mampu memutar posisi bayi yang melintang sehingga
bisa berada pada posisi jalan lahir dnegan cara mengurut perut
dan punggung seorang ibu hamil.
Salah seorang informan tenaga kesehatan mengatakan
bahwa urut atau pijat hamil pada ibu hamil yang bertujuan untuk
memutar bayi agar berada di posisi yang tepat justru bisa
mengakibatkan perdarahan saat persalinan. Ibu cukup
melakukan posisi menungging, maka bayi akan kembali berada
pada posisi jalan lahir.
“...Itu berbahaya sekali. Nantinya pada saat persalinan
bisa mengakibatkan pendarahan...” Jelas Bd Fk
mengenai bahaya urut perut pada ibu hamil.
“Pasien disuruh pulang, tidur nungging paling lama 5
menit selama 1 minggu. Setelah itu periksa ulang sudah
normal kembali” Jelas Bd Fk
Selain disebabkan karena rasa sakit di dalam perut, ibu
yang berada pada masa awal kehamilan melakukan urut untuk
menyatukan darah yang masih terserak di dalam rahim.
“...Urut kasih bulat begitu.Karena masih bulan pertama
itu masih darah kan jadi terserak, jadi oma itu harus buat
kasih dikumpulin begitu. Kadang-kadang kalau tidak urut
nanti terjadi anak kembar...” Jelas Mm Es
4.2.5. Ramuan Tradisional pada Masa Hamil
Seorang ibu dengan usia kehamilan delapan-sembilan
bulan mempunyai tradisi untuk menggunakan ramuan obat
tradisional yang dipercaya bisa memperlancar proses kelahiran.
134
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Berikut ini adalah rangkaian ramuan yang digunakan oleh ibu
hamil di desa Limakoli.
1. Kulit pohon Atebik
Kulit pohon Atebik diambil sebanyak dua ruas jari tangan.
Kulit pohon harus diambil dari bawah ke atas. Kulit pohon Atebik
tersebut kemudian dimakan dengan kelapa yang sudah dijemur
sampai kering sebanyak satu ruas jari tangan. Kulit pohon Atebik
dan buah kelapa tersebut kemudian dikunyah sampai sarinya
habis, kemudian ampas sisa kunyahan tersebut diusapkan ke
perut. Ramuan ini dimakan selama tiga hari.
2. Akar Abanitu
Tiga buah akar Abanitu dimakan dengan kelapa kering
sebanyak satu ruas jari tangan. Setelah dikunyah, ampasnya
diusapkan ke perut. Hal ini juga dilakukan selama tiga hari.
3. Daun Marungga/ daun kelor (Moringa Oleifera)
Daun Marungga diambil dari tujuh batang ranting pohon
Marungga. Setelah itu daun marungga direbus, dan harus
dimakan hingga habis oleh ibu hamil. Ramuan ini dimakan selama
satu hari.
4. Akar lombok hutan (lombok buah halus)
Tiga buah akar Lombok hutan direbus dengan air sebanyak
tiga gelas, hingga menyusut menjadi 1,5-1 gelas saja. Setelah itu
ramuan ini diminum selama tiga hari.
5. Daun Totokoana
Daun diambil dari pohon Totokoana yang tidak berbuah.
Satu genggam daun Totokoana dimasak sampai layu dengan
menggunakan minyak kelapa. Ramuan ini dimakan selama satu
hari. Daun Totokoana yang direndam dalam minyak kelapa
dioleskan ke perut selama satu sampai dua minggu.
135
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
“...kayu ada yang kunyah dan minum semua ada dekatdekat sini.bisa minum / makan kayu untuk melahirkan
supaya picah (pecah) air gonak (ketuban) biar anak
keluar sonde (tidak) sakit dan cepat” Jelas Oma Sr
4.2.6. Kepercayaan untuk Ibu Hamil
Ibu hamil di desa Limakoli mempunyai kepercayaan
terhadap makhluk kuntilanak sebagai penyebab keguguran,
dengan cara menghisap darah bayi yang ada di dalam kandungan
dan mencakar punggung ibu hamil. Bayi yang meninggal
disebabkan karena kuntilanak, akan meninggalkan semacam
garukan dan warna hitam pada kulit bayi. Untuk menghindari
“serangan” kuntilanak tersebut, ibu hamil mempunyai
kepercayaan untuk memakai sisir, membawa paku atau
membawa gunting ketika keluar pada malam hari.
Informan meyakini bahwa makhluk kuntilanak bukan
hanya merupakan mitos, melainkan merupakan makhluk yang
benar-benar ada. Hal ini disebabkan karena informan pernah
melihat sendiri kejadian di mana bayi sudah berada dalam
kondisi hancur di dalam perut. Akhirnya bayi dikeluarkan dengan
bantuan dukun kampung, dengan cara merogoh perut ibu dan
mengeluarkan satu per satu bagian tubuh bayi yang sudah
hancur dari dalam perut ibu.
Ibu hamil di desa Limakoli juga mempunyai tradisi
menggosok perut dengan menggunakan pasir. Tujuan melakukan
kebiasaan ini adalah supaya pada saat dilahirkan kulit anak
menjadi bersih, badan dan rambut anak tidak tercampur dengan
darah sehingga mudah dibersihkan. Pasir digosokkan di bagian
perut setiap kali mandi, sejak seorang ibu mengetahui kalau dia
sedang hamil.
136
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Beberapa kepercayaan dan pantangan juga masih
dilakukan dan dipercaya oleh ibu hamil yang berada di Desa
Limakoli. Kesulitan ketika akan melahirkan diyakini akan dialami
jika seorang ibu hamil duduk di depan pintu, makan sambil
berjalan, tidur siang terlalu lama dan bermalas-malasan.
Seorang ibu hamil dan suaminya tidak boleh
membicarakan kejelekan orang lain, karena kejelekan yang
dibicarakan tersebut akan kembali ke anaknya. Saat seorang istri
sedang hamil, suami tidak boleh marah atau membentak istri
karena akan menyebabkan anak di dalam kandungan menjadi
sedih dan kelak anak yang dilahirkan menjadi cengeng.
4.3. Persalinan
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya jalan
lahir (Hidayat, et al 2010). Persalinan merupakan hal yang paling
ditunggu - tunggu oleh para ibu hamil, sebuah waktu yang
menyenangkan namun di sisi lain merupakan hal paling
mendebarkan. Proses persalinan merupakan sebuah keadaan
yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi dan budaya
masyarakat setempat serta berpengaruh terhadap proses
pengambilan keputusan dalam mencari dan menentukan upaya
kesehatan bagi sang ibu (Musadad, 2002).
Persalinan di desa Limakoli ada tiga macam, yaitu
persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan, persalinan yang
dibantu oleh dukun kampung dan persalinan yang dilakukan
dengan bantuan keluarga, baik itu mama mantu, orangtua
kandung atau suami. Peran keluarga, khususnya mertua, sangat
besar untuk menentukan dimana ibu hamil akan bersalin dan apa
saja yang harus dilakukan ibu setelah bersalin.
137
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
4.3.1. Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Alur pelayanan yang tertulis dalam Buku Panduan
Revolusi KIA NTT 2009 adalah pasien (ibu akan melahirkan)
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai dan siap 24 jam di
Puskesmas Rawat Inap dan apabila membutuhkan penanganan
lebih lanjut pada tingkat yang lebih tinggi maka di rujuk ke
Rumah Sakit. Sejak diterapkan program Revolusi KIA, persalinan
yang dilakukan di fasilitas kesehatan tidak dipungut biaya, mulai
dari biaya transportasi (untuk keperluan mengantar dan
menjemput pasien), biaya persalinan, dan biaya pengobatan.
Meskipun demikian, masih sedikit ibu hamil di desa Limakoli yang
melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.
“...Masalah biaya tidak usah dipikirkan. Ibu tinggal
siapkan pakaian bayi, pakaian ibu untuk tukar, pembalut,
mungkin juga termos air untuk minum...” Jelas KpP
Berdasarkan Pedoman Revolusi KIA NTT 2009 disebutkan
bahwa:
1. Setiap ibu hamil dipersiapkan untuk bersalin di fasilitas
kesehatan yang memadai dan siap 24 jam ( Puskesmas PONED
atau RS PONEK)
2. Suami dan keluarga ibu hamil dipersiapkan secara mental dan
finansial untuk mengantar dan mendampingi ibu hamil yang
akan bersalin ke fasilitas kesehatan yang memadai dan siap 24
jam ( Puskesmas PONED atau RS PONEK), termasuk bila
menunnggu di ruang tunggu
3. Setiap ibu hamil dengan kondisi normal, pada hari H-1 sudah
berada di Puskesmas PONED terdekat dan dan pulang ke
rumah pada hari+3
4. Semua biaya yang termasuk dalam kriteria miskin ditanggung
oleh pemerintah
138
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
5. Semua pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit setelah mendapat
pertolongan dan perawatan dijemput dan diantar pulang
kerumah oleh mobil Puskesmas yang merujuk atau ambulans
Rumah Sakit
Gambar 4. 2
Keluarga yang menunggu di ruang bersalin
Sumber: Dokumentasi Peneliti REK 2014
Selama ini pihak Puskesmas telah melakukan sosialisasi
kepada warga setempat, khususnya ibu hamil dan keluarganya,
untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan. Sosialisasi dan
konseling tersebut dilakukan setiap kali ibu memeriksakan
kehamilan di Posyandu, kegiatan pertemuan dengan kader, dan
sosialisasi dari pihak PNPM mengenai program Revolusi KIA.
Petugas kesehatan juga memberikan nomer HP di setiap
buku KIA, yaitu nomer HP Bidan desa setempat, Bidan
koordinator Puskesmas, Kepala Puskesmas dan nomor HP dari
sopir ambulans supaya bisa dihubungi oleh ibu hamil jika
merasakan tanda-tanda melahirkan.
“...Jadi kalau semisal menghubungi nomor yang satu
tidak bisa, bisa menghubungi nomor yang lain, jadi
139
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
dengan nomor HP sopir punya. Kan pelayanan gratis ibu.
Persalinan gratis, antar jemput gratis, pengobatan
gratis...” Jelas KpP
Dari kacamata petugas kesehatan, seorang ibu harus
melahirkan di fasilitas kesehatan sebab proses persalinan di
puskesmas dan rumah sakit dilakukan dengan prosedur-prosedur
yang sudah terstandar. Sebelum melakukan proses persalinan,
tenaga kesehatan melakukan pensterilan alat dan bahan sebelum
digunakan. Bidan dan tenaga kesehatan yang lain juga
menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) berupa sepatu boot
untuk menghindari tertularnya penyakit yang diderita oleh ibu
bersalin tersebut.
“...tenaga kesehatan mau pake sarung tangan harus cuci
tangan 7 langkah…baru pake sarung tangan, seperti itu
prosesnya...Kalau misalnya posisi bidan yang menolong,
kaki luka. Ibu yang kotong tolong positif hepatitis, positif
AIDS, pasti kan kalo bisa pake sepatu boot. Kalau sonde
berhati-hati nanti dia bisa kena AIDS, karena dia tolong
ibu melahirkan yang AIDS tanpa dia perlindungan diri
yang sonde bagus...” Jelas Bd Fk
4.3.2. Persalinan oleh Dukun Kampung
Terdapat empat orang dukun kampung yang biasa
membantu proses persalinan di desa Limakoli. Mereka akan
datang apabila dipanggil oleh pihak keluarga ibu yang akan
melahirkan. Biasanya seorang dukun kampung dimintai
pertolongan karena proses persalinan sulit, seperti posisi anak
yang melintang. Selain itu seorang dukun kampung juga akan
dimintai pertolongannya untuk membantu memotong tali pusar
bayi dan mengeluarkan ari-ari (plasenta) yang sulit keluar.
140
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Selain memberikan pertolongan pada ibu melahirkan,
seorang dukun kampung juga bisa memberikan ramuan
tradisional untuk diminum dan digunakan dalam air mandi, yang
bermanfaat untuk memulihkan kondisi ibu paska melahirkan.
Seorang dukun kampung menolong persalinan dengan
cara merogoh jalan lahir dengan menggunakan tangan kosong.
Seringkali hal tersebut dilakukan tanpa menunggu pembukaan
sempurna terlebih dahulu dari jalan lahir. Jika ternyata proses
persalinan sulit disebabkan karena bayi berada dalam posisi
melintang, maka dukun kampung akan memutar posisi bayi
terlebih dahulu dengan mengurut perut ibu, baru setelah itu bayi
ditarik keluar.
“...disini kalau melahirkan, kalau oma (dukun kampung)
datang permisi ini tangannya harus masuk ke dalam....”
Jelas mama Es.
“...Belum waktunya untuk muku (mengejan) sudah- kan
kebanyakan begitu, dukun-dukun kan seperti itu toh, jadi
rogoh itu langsung tarik, sonde pakai sarung tangan,
tahu itu bersih atau sonde...” Jelas Bd Fk
“Kalau bayinya sulit keluar, dirogoh, ditarik,Kalau dia
punya kaki duluan, dia punya mukanya di belakang, baru
saya putar, ” Jelas Oma Yl, seorang dukun kampung.
Demikian juga ketika terjadi persalinan dengan ari-ari
yang sulit keluar, maka masyarakat akan memanggil dukun
kampung untuk meminta pertolongan.
“...sudah tolong habis, dia pu ari-ari sonde keluar sendiri,
oma yang rogoh kasih keluar dia pu ari-ari. Tarik kasih
keluar semua di bawah...” Jelas Oma Dk.
Ibu yang melahirkan di rumah, baik dengan bantuan dukun
maupun tidak, akan mengikat perut bagian atas dengan sehelai
kain. Hal ini dipercaya bisa mempercepat proses kelahiran bayi
141
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
dan mencegah bayi yang sudah berada di jalan lahir akan naik
kembali ke atas. Sedangkan menurut petugas kesehatan
setempat, pengikatan perut bagian atas tidak perlu dilakukan
karena jika bayi sudah berada di jalan lahir, maka bayi tersebut
tidak akan kembali naik ke rahim seperti yang dipercaya oleh
masyarakat.
“...Itu dia nyobek kain, talinya tipis. Itu diikat karena
takut bayinya lari lagi ke atas. Sebenarnya tidak perlu
diikat karena jika bayi sudah dijalan lahir pasti akan
keluar dengan sendirinya...” Jelas Bd Fk
Jika seorang bayi ditolong kelahirannya oleh dukun
kampung, maka beberapa tradisi masih dilakukan terhadap bayi
yang baru lahir. Salah satunya adalah dengan mengayun bayi
dengan cukup kencang segera setelah bayi tersebut dipotong tali
pusat dan dimandikan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan
supaya bayi tidak tumbuh menjadi anak penakut.
“Bayi lahir, tali pusarnya dipotong, dimandiin, digoyang,
baru pakai baju,” Jelas Oma Yl
Program kemitraan dukun kampung dan bidan di desa
Limakoli sudah dilakukan, dengan mengadakan pertemuan rutin
setiap tahunnya. Dalam kemitraan dukun kampung dan bidan
tersebut dijelaskan bahwa tugas dari dukun kampung adalah
mendampingi dan memberitahu bidan jika terdapat seorang ibu
yang akan melahirkan, supaya bidan dapat segera datang untuk
menolong.
“...Mitra kerja itu hanya sekadar, “bidan, ibu yang ini
sudah dapat tanda, ibu bidan su cepat datang ko? Oiya
mama kotong pi. Hanya sekedar begitu sa (tugas dukun
kampung), tapi untuk persalinan bukan tugas dari dukun
lagi. Itu sudah harus diserahkan ke tangan bidan. Jadi
142
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
kemitraan bidan dan dukun kan harusnya seperti itu
toh...” Jelas Bd Fk
Hal ini sesuai dengan Pedoman Revolusi KIA Provinsi NTT
2009, yang menyatakan bahwa tugas, fungsi dan peran dukun
bayi (dalam desa setempat dikenal dukun kampung) adalah
sebagai berikut:
1) Mengingatkan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya
minimal empat kali selama kehamilan di bidan/ dokter
2) Mengingatkan ibu untuk melahirkan di Puskesmas PONED/
Rumah Sakit PONEK (dengan catatan: bila lokasi tempat
tinggal jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai dan 24 jam,
menyiapkan diri untuk tinggal di rumah tunggu)
3) Mengingatkan keluarga untuk mengantarkan ibu melahirkan
ke Puskesmas PONED/ Rumah Sakit PONEK
4) Menggerakkan ibu dan bayinya ke Posyandu setiap bulan
5) Meningkatkan kemitraan dengan bidan dalam peran “Ibu
Asuh” (memandikan ibu dan bayi, merawat tali pusat)
Dukun kampung yang bersedia membawa ibu untuk
melahirkan di fasilitas kesehatan, akan mendapat uang insentif
yang diambil dari dana PNPM. Hal tersebut dilakukan untuk
merangsang dukun kampung agar tidak melakukan persalinan di
rumah dan bersedia mendorong ibu untuk melahirkan di fasilitas
kesehatan.
“Oh iya, 25 ribu untuk satu ibu. Sampai sekarang
masih....” Jelas KpP
Sementara itu, kader sebagai mitra petugas kesehatan,
selain bertugas untuk menggerakkan kegiatan Posyandu, juga
bertugas mengingatkan ibu hamil dan keluarganya untuk selalu
memeriksakan kehamilannya dan melahirkan dengan bantuan
tenaga kesehatan. Berikut ini adalah tugas, fungsi dan peran
143
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
kader Posyandu yang tercantum dalam buku Pedoman Revolusi
KIA Provinsi NTT 2009 :
1) Melakukan kunjungan rumah untuk pendataan ibu hamil, ibu
melahirkan, ibu nifas, ibu menyusui, bayi baru lahir, bayi dan
PUS
2) Menggerakkan sasaran pergi ke Posyandu
3) Mengingatkan ibu untuk melahirkan ke Puskesmas PONED /
Rumah Sakit PONEK (dengan catatan: bila lokasi tempat
tinggal jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai dan 24 jam,
menyiapkan diri untuk tinggal di rumah tunggu)
4) Melaporkan kepada bidan desa/ perawat/ tenaga kesehatan
lainnya bila ada yang akan melahirkan
5) Melaksanakan kegiatan penyuluhan dan penimbangan di
Posyandu
6) Melakukan pencatatan dan pelaporan Posyandu.
Sementara itu berdasarkan informasi dari kader posyandu
setempat, kader melaksanakan kegiatan sesuai dengan agenda
kegiatan yang disampaikan pada pertemuan kader dengan
tenaga kesehatan dan PNPM. Kegiatan tersebut antara lain
adalah mengingatkan ibu hamil dan keluarganya untuk
memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan,
serta mengingatkan orang tua yang mempunyai bayi dan balita
untuk datang ke Posyandu setiap bulannya.
Tetapi di sisi lain kader mengatakan bahwa mereka hanya
bisa mengingatkan dan memberitahu masyarakat tentang
pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan, tetapi mempunyai
kewenangan untuk memaksa. Hal ini disebabkan karena di satu
sisi, jika terjadi sesuatu pada warga pada saat warga melahirkan
ke tenaga kesehatan, maka keluarga dan masyarakat akan
menyalahkan dirinya sebagai kader.
“...Pengalaman yang tradisional, melahirkan pakai dukun
beranak, dukun kampung. Saya jelaskan, saya kasih
144
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
penyuluhan sebaiknya ke rumah sakit. Mereka jawab
begini, ‘kalau dulu punya anak banyak banyak kita
melahirkan di rumah, tidak apa-apa’, mereka punya
jawaban balik seperti itu. Jadi saya sebagai kader tidak
boleh maksa mereka, saya tidak bisa paksa ibu karena
begini, saya juga berpikir kembali kalau seadainya saya
paksa mereka bawa ke rumah sakit, untung-untung
kalau sampai sana melahirkannya normal, tapi kalau ada
kendala pasti saya yang disalahkan. Karena orang
kampung seperti itu, pasti saya disalahkan karena apa,
‘kita mau melahirkan di rumah tapi ibu yang mau-mau
bawa kita datang ke puskesmas akhirnya terjadi seperti
ini’. Jadi saya menjaga hal-hal itu terjadi, apalagi kita
disini semua masih hubungan keluarga, saya jaga itu.
Makanya saya cuma kasih penyuluhan, tapi kalau
mereka tidak sadar saya tidak bisa paksa mereka...” Jelas
Mm Db
4.3.3. Persalinan Sendiri di Rumah
Persalinan yang dilakukan di rumah biasanya dilakukan
sendiri atau dengan bantuan suami,ibu mertua atau ibu kandung,
saudara perempuan, dan atau tetangga terdekat. Beberapa
alasan dikemukakan oleh informan terkait dengan keputusan
mereka untuk melakukan persalinan tanpa pertolongan petugas
kesehatan.
Ibu yang akan bersalin tidak mau di tolong orang lain
selain keluarga, karena takut kalau proses persalinannya akan
menjadi bahan pembicaraan orang lain.
Selain itu, disebabkan karena pengalaman melahirkan
anak pertama yang dirasa mudah, maka seorang ibu kemudian
memutuskan untuk melahirkan anak kedua dan seterusnya
seorang diri, tanpa meminta bantuan siapapun.
145
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Informan merasa ketakutan jika melahirkan di puskesmas
maka jalan lahir akan digunting dan dijahit. Kabar tentang hal ini
sebenarnya merupakan kabar yang banyak beredar dan
menimbulkan ketakutan pada ibu yang akan melahirkan.
Bayangan tentang rasa sakit yang harus ditanggung tersebut
telah membuat seorang ibu lebih memilih untuk melahirkan
tanpa pertolongan petugas kesehatan.
Sementara itu keterangan yang diperoleh dari petugas
kesehatan, ketika sudah tiba waktunya melahirkan yang ditandai
dengan pembukaan sempurna pada jalan lahir dan kepala bayi
mulai terlihat, barulah bidan melakukan persalinan. Jika terjadi
robekan pada jalan lahir, maka bidan melakukan tindakan jahit
dengan menggunakan benang daging untuk menutup luka
robekan dan menghentikan keluarnya darah. Meskipun
demikian, tidak setiap proses kelahiran mengharuskan tindakan
penjahitan jalan lahir.
“...Dia betul-betul su pembukaan 10, sampe lihat adek
mea (bayi) punya kepala, bayi punya kepala sudah 5-6
senti di jalan lahir, baru bidan pimpin persalinan...” Jelas
Bd Fk
Jika ibu melahirkan di puskesmas atau rumah sakit, maka
keluarga tidak boleh menemani proses kelahiran ibu. Dengan
demikian, seorang ibu akan merasa kesepian dan tidak
mendapatkan dukungan dari pihak keluarga.
Menurut pihak puskesmas, anggapan tersebut salah,
karena sebenarnya di dalam ruangan bersalin, ibu diizinkan untuk
ditemani oleh suami atau keluarga, meskipun dibatasi jumlahnya.
Kekhawatiran lain juga muncul, Jika melahirkan di
puskesmas atau rumah sakit maka tidak ada yang menjaga anak
di rumah, dan tidak ada yang memberi makan hewan peliharaan.
146
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
“...suami saya bilang kalau di RS nanti anak-anak siapa
yang jaga...” Jelas mama Es.
Selain itu, ternyata di antara para informan yang kami
wawancarai, juga beredar kabar bahwa jika melahirkan di RS dan
ibu merasa kesakitan, maka bidan akan memarahi ibu tersebut.
“...Ya dengar-dengar cerita kalau su sampai di rumah
sakit kalau perut su menosol, ibu bidan su rasa...ibu
bidan bilang menjengkelkan kotong lagi, itu yang bikin
beta takut...” Jelas mama Dt.
Ketika dikonfirmasi kepada petugas kesehatan, menurut
petugas kesehatan, persalinan yang dilakukan pada masa kini
tidak seperti apa yang dibayangkan oleh para ibu. Dengan adanya
gerakan sayang ibu, persalinan dilakukan dengan meminimalisir
terjadinya luka pada ibu ketika melahirkan.
“...Karena ada istilah kalau melahirkan di rumah sakit itu
harus colok, gunting, padahal kan tidak. Orang kan ada
gerakan sayang ibu dan anak to ibu. Kita sudah jelaskan
kalau kita tidak kayak di rumah yang disuruh ngeden, kan
kita tahu berapa jam dia melahirkan, berapa jam dia
sampai bukaan berapa, dan kapan dia sudah
diperbolekan mengedan. Ada keluarga di luar. Kalau ada
saat-saat tertentu mereka butuh suami, kita bisa
persilahkan suami. ” Jelas KpP
Alasan lain yang banyak dikemukakan oleh informan
kenapa mereka tidak melahirkan di fasilitas kesehatan adalah
tidak adanya tanda-tanda akan melahirkan. Para informan
mengatakan, perut terasa mulas seperti akan buang air besar,
dan “tiba-tiba” saja bayi lahir, tanpa sempat pergi ke fasilitas
kesehatan.
147
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Alasan tersebut dinilai mengada-ada oleh petugas
kesehatan. Kepala puskesmas mengemukakan pendapatnya
sebagai berikut,
“...Mereka bilang melahirkan tidak sakit, langsung keluar,
kan tidak mungkin. Saya kasih contoh, untuk BAB saja
kita butuh tenaga untuk ngeden supaya BAB itu bisa
keluar, tidak mungkin langsung keluar. Apalgi
mengeluarkan bayi, tidak bisa langsung keluar. Sakitnya
berjam-jam. Apalagi anak pertama kan kadang ada his
his palsu, sakit berminggu-minggu baru kemudian
melahirkan, begitu”
Persalinan di rumah biasa dilakukan di lantai dengan
beralaskan tikar. Ketika seorang ibu sudah siap melahirkan, maka
sehelai kain akan segera diikatkan pada bagian atas perut ibu
untuk mencegah supaya bayi tidak naik kembali ke atas. Untuk
membantu mengumpulkan kekuatan pada waktu mengejan,
seorang ibu akan berpegangan pada tali, menahan kaki,
bersandar pada tembok, atau bersandar pada punggung salah
seorang anggota keluarga. Selain mengejan, supaya bayi dapat
cepat lahir, ada anggota keluarga yang membantu mendorong
perut bagian atas ibu.
Jika ari-ari (plasenta) belum keluar bersamaan dengan
bayi, maka perut ibu yang bersalin akan dipijat dengan gerakan
memutar, menggunakan minyak kelapa, baru kemudian ibu
mengejan sedikit.
“...kalau saya putar sendiri, akhirnya dia (ari-ari)
keluar...”Mama Es.
Setelah bayi lahir dan tubuh ibu telah dibersihkan, seluruh
bagian tubuh ibu, termasuk perut, akan diinjak dengan
menggunakan kaki yang terlebih dahulu sudah dihangatkan di
148
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
depan perapian. Tradisi ini dipercaya dapat mengeluarkan darah
kotor yang masih menggumpal di dalam perut.
“...iya injak pakai kaki, habis melahirkan itu harus injak
pakai kaki, kasih panas di kaki injak badan semua...” jelas
mama Es
Pada masyarakat desa Limakoli, peran keluarga sangat
penting dalam menentukan dimana ibu akan melahirkan dan
melakukan perawatan paska persalinan. Pihak-pihak yang
mempunyai peran cukup besar dalam menentukan tempat
persalinan adalah pihak keluarga dari suami (bapak mantu dan
mama mantu). Sebagai contoh adalah kasus yang dialami oleh
mama Td. Mama Td dan orangtua mama Td menginginkan untuk
melahirkan di tenaga kesehatan, karena pengalaman kematian
salah satu anggota keluarga akibat perdarahan pada waktu
melahirkan. Tetapi di sisi lain, keluarga dari suami mama Td
(mama mantu dan bapak mantu) menginginkan agar persalinan
dilakukan di rumah dengan bantuan keluarga. Keluarga mama Td
akhirnya mengikuti keinginan dari keluarga suami Mama Td.
Mama Td ternyata mengalami persalinan sulit, yang disebabkan
karena bayi berada pada posisi melintang. Sehingga kemudian
keluarga memutuskan untuk meminta pertolongan dukun
kampung.
4.3.4. Risiko Persalinan
Kasus kematian ibu melahirkan di Desa Limakoli
disebabkan karena perdarahan dan infeksi paska persalinan.
Menurut kepercayaan warga setempat, perdarahan pada ibu
melahirkan disebabkan karena ari-ari hidup yang tidak segera
keluar dari rahim ibu. Dalam pengertian para informan, ari-ari
hidup adalah ari-ari yang bisa berjalan dan merayap di dalam
rahim dan apabila merayap naik sampai dada, maka seorang ibu
149
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
bisa meninggal dunia. Menurut Oma Sr, seorang dukun kampung,
ari-ari dapat dibagi menjadi empat macam.
“...Yang pertama itu, anak keluar itu ari-ari mati. Yang
satu hidup, itu namanya tokek. Satu lagi namanya
kelelawar,kalau itu anak keluar dia mulai naik ke atas,
dia cari jalan mau keluar tapi tidak ada jalan. Satu lagi
sama kek (seperti) kerbau punya, itu besar, muku
(mengedan) baru keluar. Kebanyakan ari-ari hidup kasih
keluar, di luar dia merayap-merayap....” Jelas Oma Sr.
Untuk menanggulangi terjadinya darah loss atau
pendarahan, ketika waktu melahirkan sudah dekat, biasanya ibu
hamil atau keluarga sudah menyiapkan ramuan untuk
menghentikan perdarahan. Ramuan tersebut dibuat dari akar
Gelenggitik yang tumbuh menghadap ke arah timur, kemudian
dicuci bersih dan direbus dengan satu gayung air menggunakan
periuk (periuk dari tanah atau panci) sampai mendidih menjadi
satu gelas dan diminum tiga kali sehari sebelum makan sampai
darah yang keluar berkurang.
“...Jadi kalau su dekat melahirkan, itu sudah kasih tahu
memang sudah diambil Bapak Ss, siap-siap, kalau tidak
darah loss ya tidak diminum...” Jelas Mama Yn
Kematian ibu karena infeksi persalinan terjadi ketika
persalinan di rumah yang dibantu oleh keluarga atau dukun
kampung. Persalinan tersebut hanya menggunakan peralatan
seadanya yaitu tanpa memakai sarung tangan dan tidak
disterilisasi terlebih dahulu. Alat yang dipakai untuk memotong
tali pusat bukan menggunakan alat khusus melainkan gunting
atau pisau yang biasa digunakan sehari-hari tanpa dibersihkan
atau disterilakan sebelum digunakan. Pihak yang biasa dimintai
tolong untuk memotong tali pusat yaitu kader atau dukun
kampung.
150
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kasus kematian ibu yang terjadi pada tahun 2013 adalah
persalinan di rumah yang menyebabkan infeksi paska persalinan.
Saat itu mama Dm melahirkan dibantu mama dan bapaknya
sendiri dirumah. Dalam proses persalinannya ternyata bayi sulit
dilahirkan. Akhirnya bapak memanggil dukun kampung dan
setelah dibantu persalinannya bayi bisa keluar dengan selamat.
Tetapi pada hari ketiga setelah persalinan perut mama Dm tibatiba membesar dan keras. Bidan setempat datang ke rumah dan
menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit, tapi keluarga masih
belum mau. Kemudian bidan datang untuk yang kedua kalinya
dan akhirnya keluarga mau membawa Mama Dm ke rumah sakit.
Setelah pemeriksaan di rumah sakit, petugas tenaga kesehatan
menyarankan pasien untuk dirujuk ke Rumah Sakit di Kupang
karena peralatan kurang lengkap dan meminta persetujuan
keluarga agar pasien di suntik infeksi tapi keluarga menolak dan
membawa pulang pasien. Pada hari ketujuh setelah pulang dari
Rumah Sakit, Mama Dm meninggal dunia.
Risiko persalinan yang menyebabkan kematian bayi di
desa setempat adalah kematian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
karena premature (lahir belum waktunya) dan lamanya bayi di
dalam jalan lahir ibu. pada tahun 2013 sampai dengan penelitian
ini berakhir, kematian bayi di desa setempat sebesar empat bayi.
Dua kematian dikarenakan BBLR yang lahir premature, satu
kematian dikarenakan lama dijalan lahir dan satu kematian pada
saat hari terakhir kami di lokasi dikarenakan IUFD (Intra Uterine
Fetal Death).
Kematian bayi yang meninggal karena BBLR dialami oleh
Mama Id. Selama masa kehamilan beliau rutin memeriksakan
kehamilannya di bidan setempat saat posyandu dan keadaan
janin dinyatakan sehat. Pada usia kehamilan empat bulan, beliau
pergi urut ke dukun kampung karena bayi di dalam kandungan
tidak bergerak. Dukun kampung memberitahukan bahwa bayi
151
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
tidak bergerak karena bayi masih terlalu kecil. Saat usia
kehamilan delapan bulan, pada pukul dua siang mama Id
merasakan perut tertikam (nyeri), dan pada pukul enam pagi
keesokan harinya seorang bayi laki-laki lahir, tanpa adanya tanda
akan melahirkan seperti bercak darah atau cairan. Persalinan
dibantu oleh mama mantu. Karena bayi yang lahir sangat kecil,
mama mantu memberitahu kader bahwa mama Id sudah
melahirkan. Kader kemudian menelepon bidan untuk
memberitahukan kejadian tersebut. Pada pukul tujuh pagi bidan
datang dengan ambulans dan segera menyuntik ibu, kemudian
membungkus bayi untuk dibawa ke Puskesmas karena bayi yang
lahir prematur dan berat badan lahir rendah. Awalnya bidan dan
mama Id tidak tahu kalau bayi kembar. Ditengah perjalanan
menuju Puskesmas, mama Id merasakan perut terasa mulas, dan
setelah diperiksa bidan ternyata masih terdapat bayi di dalam
kandungan. Seorang bayi perempuan kemudian lahir di dalam
ambulans. Mama Id dan bayi kemudian dirujuk ke Rumah Sakit
untuk mendapatkan penanganan yang intensif karena peralatan
di Puskesmas tidak lengkap. Pada pukul empat sore bayi laki-laki
tersebut meninggal di Rumah Sakit dan langsung dibawa pulang
bersamaan dengan bayi perempuan yang masih hidup. Keluarga
meminta agar bayi yang masih hidup dibawa pulang karena
keluarga kurang puas dengan kinerja petugas kesehatan di
Rumah Sakit yang tidak menjelaskan penyebab kematian dari
bayi laki-laki. Bayi perempuan tersebut kemudian meninggal
pada hari kesembilan.
Kematian bayi karena proses persalinan lama dialami
mama Yi merupakan proses persalinan yang dibantu oleh
keluarga sendiri di rumah. Menurut keterangan dari bidan
setempat proses persalinan yang lama sehingga bayi berada lama
di jalan lahir dan akhirnya bayi meninggal. Pada waktu itu tidak
ada yang mengetahui tentang persalinan mama Yi termasuk
152
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
kader dan bidan. Kader baru mengetahui kalau mama Yi
melahirkan dan bayi meninggal dunia setelah mama dari mama Yi
memminta tolong untuk memberitahukan kejadian tersebut
kepada bidan desa. Selama kehamilan mama Yi rajin
memeriksakan kehamilannya ke bidan setempat pada waktu
Posyandu.
Sedangkan kematian bayi karena Intra Uterine Fetal
Death (IUFD) dialami oleh bayi mama Dn. Mama Dn rutin
memeriksakan kehamilannya ke bidan saat Posyandu meskipun
jarak dari rumah ke Posyandu jauh,membutuhkan waktu 30
menit dengan berjalan kaki, dan harus ditempuh melewati jalan
berbatu dan terjal. Hasil pemeriksaan kehamilan dinyatakan
sehat, baik janin dan ibunya. Pada usia kehamilan sembilan bulan
dan memasuki waktu bersalin, pagi harinya mama Dn dan
keluarga berencana untuk tinggal dirumah saudara yang dekat
dengan Puskesmas agar apabila proses persalinan tiba bisa cepat
tertangani. Tetapi sebelum berangkat ke rumah saudara, mama
Dn sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan dan langsung
menghubungi bidan untuk bersalin ke fasilitas kesehatan. Setelah
bidan dan ambulans datang, bidan memeriksa kehamilan mama
Dn dan curiga dengan kondisi bayi dalam kandungannya yang
tidak bergerak sehingga mama Dn langsung dibawa ke
Puskesmas. Setelah dilahirkan di Puskesmas, diperkirakan bayi
sudah meninggal dalam kandungan sekitar 1-2 minggu dengan
kondisi badan bayi lembek, kulit mengelupas walaupun tubuh
masih utuh. Selama 1-2 minggu tersebut mama Dn tidak
merasakan tanda-tanda apapun dan tidak mengetahui jika bayi
yang dikandungnya sudah meninggal.
Dalam menyukseskan gerakan Revolusi KIA untuk
menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir,
selain masyarakat dan tenaga kesehatan, Kepala desa/lurah juga
mempunyai tugas, fungsi dan peran sebagai berikut:
153
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
1) Membuat peraturan desa (Perdes) melalui Musyawarah
Desa tentang pemberdayaan masyarakat desa dalam
mendukung penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir
melalui persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai
dan 24 jam
2) Menggerakkan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan
di bidan/dokter
3) Mewajibkan ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas
kesehatan yang memadai dan 24 jam
4) Berpartisipasi aktif dalam melaksanakan Audit Maternal
Perinatal Sosial
5) Melakukan Musyawarah Masyarakat Desa/ Kelurahan
6) Mencatat dan melaporkan kelahiran dan kematian yang
terjadi di desa/ kelurahan wilayah kerjanya kepada camat
7) Mengaktifkan kembali Dasa Wisma
8) Memfasilitasi pembentukan/pengembangan Desa Siaga di
wilayah kerjanya
9) Mengorganisasikan jejaring calon donor darah
sukarelawan
10) Mensiagakan fasilitas transportasi ke fasilitas kesehatan.
4.4. Paska Persalinan
Setelah bayi lahir ibu harus melakukan beberapa
perawatan paska persalinan untuk memulihkan kesehatannya.
Tradisi perawatan tersebut sudah dilakukan sejak dari nenek
moyang dan sampai saat ini masih dipercaya dapat membantu
memulihkan kondisi paska bersalin. Adapun tradisi perawatan
yang dilakukan pada masa nifas tersebut adalah panggang, mandi
air obat dan minum obat kampung atau jamu yang dibeli dari
apotek.
154
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Rangkaian kegiatan ini juga sudah direncanakan oleh ibuibu yang sedang hamil, meskipun nantinya mereka akan
melahirkan di tenaga kesehatan. Kegiatan ini tidak di tinggalkan
karena kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan dari zaman
dahulu yang harus dilakukan. Yang paling berperan dalam
pengambilan keputusan untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tersebut adalah keluarga terutama keluarga dari pihak suami
(bapak mantu dan mama mantu).
4.4.1. Panggang
Panggang merupakan kegiatan yang dilakukan setelah ibu
melahirkan untuk mengeluarkan darah kotor serta
menyembuhkan luka dalam paska persalinan, dan mencegah
darah putih agar tidak naik ke atas kepala. Tidak ada hukuman
adat yang mengikat jika seorang ibu tidak melakukan panggang
setelah melahirkan. Tetapi terdapat ketakutan warga setempat
akan naiknya darah putih ke kepala yang bisa menyebabkan ibu
tersebut menjadi gila, jika seorang ibu tidak melakukan
panggang. Tradisi panggang tersebut sudah dilakukan turun
temurun dari nenek moyang dan sudah menjadi kewajiban bagi
ibu untuk melakukan panggang setelah melahirkan, baik
melahirkan di rumah maupun melahirkan di tenaga kesehatan.
Tradisi Panggang dilakukan di dapur atau di kamar pada
masa nifas, selama kurang lebih satu bulan hingga darah kotor
dan darah putih keluar sampai habis. Tidak ada ketentuan khusus
mengenai ruangan yang digunakan untuk panggang, tetapi
panggang biasa dilakukan di dapur atau di kamar. Kamar maupun
dapur di desa setempat banyak terbuat dari papan kayu maupun
bebak (dahan pohon gewang yang masih kecil). Pertukaran udara
hanya masuk melalui celah-celah papan maupun bebak karena
tidak ada jendela yang dibuat khusus untuk pertukaran udara
155
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
tersebut. Tempat yang dipakai ibu untuk duduk atau berbaring
selama panggang terbuat dari papan yang diberi alas tikar
terbuat dari daun pohon lontar.
Gambar 4. 3
Dapur tempat melakukan panggang
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Kayu kusambing merupakan jenis kayu yang harus dipakai
untuk melakukan tradisi panggang karena kayu kusambing
mempunyai api yang besar dan dapat menghasilkan nyala api
yang tahan lama. Kayu kusambing tersebut sudah dipersiapkan
sendiri oleh ibu hamil sebelum waktu persalinan tiba.
Ketika melakukan tradisi panggang, kayu kusambing
dibakar dengan nyala api cukup besar di samping papan tempat
ibu tidur maupun menyusui bayinya. Semakin malam maka
semakin besar juga api yang dinyalakan karena suhu udara di
desa setempat semakin dingin dan ibu akan merasa kedinginan
jika nyala api tidak besar.
156
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gambar 4. 4
Kayu Kusambing
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Selain dilakukan oleh ibu setelah melahirkan, tradisi
panggang juga dilakukan oleh ibu yang mengalami keguguran.
Hal ini disebabkan karena setelah keguguran ibu juga
mengeluarkan darah merah dan darah putih. Jika tidak
melakukan panggang, maka diyakini darah putih akan naik ke
kepala dan bisa menyebabkan seorang ibu menjadi gila.
Seluruh informan yang mengalami keguguran tidak pergi
ke fasilitas kesehatan untuk membersihkan kandungannya.
Mereka memulihkan kondisi tubuh paska keguguran dengan cara
meminum ramuan tradisional, mengompres perut dengan air
hangat dan mandi dengan air panas selama dua minggu sampai
darah keluar habis. Berikut ini adalah informasi yang
menyebutkan akibat dari tidak melakukan panggang paska
keguguran.
“… dia tidak mandi air panas, tidak panggang, hanya dia
biarkan begitu saja. Dia gila. Dia punya kepala pusing,
lalu kalau dia kerja, dia kayak tidak bisa kerja begitu”
Jelas Mm Fc
157
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Selama panggang ibu tidak boleh meninggalkan tempat
panggang kecuali untuk mandi dan buang air. Beberapa bayi ikut
tidur satu ruangan dengan ibu yang sedang melakukan panggang,
tetapi beberapa bayi masuk ke dalam ruangan panggang hanya
saat akan disusui.
Yang ditakutkan jika ibu meninggalkan tempat panggang
adalah angin bisa masuk ke tubuh ibu dan naiknya darah putih ke
kepala yang bisa menyebabkan pusing bahkan bisa menyebabkan
gila.
Gambar 4. 5
Tradisi Panggang
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Sebenarnya, tenaga kesehatan tidak tinggal diam dan
melarang ketika mengetahui seorang ibu melakukan panggang
setelah melahirkan. Tetapi tidak semua warga mengindahkan
larangan tersebut, karena panggang sudah menjadi kebiasaan
meraka. Menurut tenaga kesehatan, tradisi panggang
158
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
mempunyai pengaruh yang tidak sehat bagi bayi dan ibu seperti
sesak nafas dan paru-paru yang terganggu.
“...Arang, asap keluar, bayi yang baru lahir, dia baru mau
menyesuaikan diri dengan dia punya lingkungan yang
ada, dia punya paru-paru masih terlalu kecil. Dengan
hirup seperti itu, itu kan sonde sehat buat dia , bisa saja
dia napas sesak. Seperti itu sih. . untuk ibunya, bisa saja
napas sesak, dengan hirup itu asap...” Jelas Bd Fk
Tradisi serupa panggang ini juga bisa ditemui di daerah
lain di Indonesia. Salah satunya adalah hasil dari Riset Etnografi
Kesehatan 2012 yang dilakukan oleh Fitrianti dkk di Desa
Tetinggi, Kecamatan Blang Pegayon, Kabupaten Gayo Lues, NAD.
Hampir sama dengan tradisi panggang, prosesi nite harus
dilakukan oleh ibu nifas dalam waktu 44 hari, dengan berada di
depan api dan menggunakan ramuan tradisional. Mengeluarkan
darah kotor, menghilangkan rasa sakit di tubuh paska
melahirkan, supaya badan tidak bungkuk, dan kuat bekerja di
sawah /ladang merupakan alasan melakukan nite (Fitrianti dkk,
2012).
4.4.2 Mandi Air Obat
Tradisi mandi air obat dilakukan paska melahirkan hingga
masa nifas berakhir. Mandi air obat dipercaya dapat
mengeluarkan darah kotor dari dalam perut (darah merah dan
darah putih), mencegah darah putih naik ke kepala, membuat
badan tidak berbau amis, dan menjadikan badan segar.
Berbagai macam tumbuhan digunakan sebagai bahanbahan ramuan yang akan digunakan untuk mandi. Berikut ini
adalah bahan-bahan yang biasa dipergunakan :
1. Serai Merah
2. Daun Gelak (Kayu Putih)
159
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
3. Daun Tembiring (Asam)
Semua bahan tersebut direbus di dalam tacu (wajan besar)
atau kuali tanah maupun panci sampai mendidih.
Gambar 4. 6
Air obat untuk mandi (serai, daun asam, daun kayu putih)
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Selain itu, terdapat bahan lain yang digunakan untuk
mandi air obat, yaitu :
1) Akar kuning
2) Kulit Noak
3) Kulit Tuppy
4) Kulit Dellas
5) Kulit Lino
Cara membuat ramuan air mandi sama seperti di atas,
seluruh bahan direbus hingga mendidih. Ramuan air ini dapat
digunakan hingga empat hari dan dapat dibuat kembali jika air
sudah mulai memudar warnanya. Ramuan air mandi ini
bertujuan untuk mencegah darah putih naik ke kepala,
mengharumkan badan dan mencegah angin masuk kedalam poripori kulit.
160
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
“...Kalau obat yang mandi, itu kan, kalau menurut kita
orang Rote ini kita kalau setelah melahirkan itu, kita
punya pori-pori kan terbuka. Menurut kami orang tua
begitu. Pori-pori kalau terbuka, kalaumandi air dingin
seperti ini nanti ini, apa, kemasukan angin. Menurut
orang tua kita begitu...” Jelas Mama Ls
Gambar 4. 7
Bahan air obat (Akar kuning, kulit noak, kulit tupi, kulit delas, kulit lino)
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Jika digunakan secara terpisah, masing-masing tumbuhan
yang digunakan sebagai bahan mandi air obat tersebut memiliki
manfaat tersendiri.
1. Akar kuning mempunyai manfaat untuk mengharumkan darah
2. Kulit Noak mempunyai manfaat untuk melancarkan darah
merah
3. Kulit Tupi mempunyai manfaat untuk membersihkan dan
melancarkan darah merah
4. Kulit Delas mempunyai manfaat untuk membersihkan darah
dan melancarkan darah putih
5. Kulit Lino mempunyai manfaat untuk memperkuat dada bayi.
161
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Informan mama Ls mengetahui manfaat dari masingmasing tumbuhan tersebut karena sering melihat orangtuanya
pada masa dahulu sering membuat ramuan untuk mandi air obat.
Gambar 4. 8
Bahan air obat yang sudah direbus
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Ramuan air mandi yang sudah direbus hingga mendidih
tadi kemudian digunakan sebagai air mandi. Air obat tersebut
tidak boleh dicampur dengan air dingin, sehingga kemudian
badan ibu harus diolesi terlebih dahulu dengan minyak kelapa
supaya kulit tidak langsung terkena panasnya air obat.
Pada hari pertama sampai hari ketiga setelah melahirkan,
ibu mandi air obat dengan cara tatobi (kompres) dengan
menggunakan kain. Bagian perut merupakan bagian tubuh yang
pertama kali ditekan untuk mengeluarkan darah kotor di dalam
perut. Setelah bagian perut, baru kemudian dilakukan penekanan
pada bagian tubuh lain.
162
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
4.4.3 Obat Kampung dan Jamu
Selain melakukan tradisi panggang dan mandi air obat,
setelah melahirkan ibu juga harus minum obat kampung atau
jamu yang dibeli dari apotek untuk mengeluarkan darah kotor
dan mencegah darah putih naik ke kepala. Bahan yang biasa
digunakan untuk membuat obat kampung antara lain adalah
Kunyit (Curcumae domesticae rhizoma), Asam (Tamarindus
indica), Lada (Myristica fragrans), dan Daun pepaya muda.
Gambar 4. 9
Bahan obat kampung (Kunyit, Asam, Lada, Daun pepaya muda)
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Cara pembuatan obat kampung pada dasarnya hampir
sama seperti pembuatan jamu yang dilakukan di Jawa. Parutan
kunyit, daun pepaya dan lada yang dihaluskan, dan air asam
dicampur menjadi satu, kemudian disaring. Ramuan obat
kampung tersebut diminum setiap pagi hari sebelum sarapan
untuk membantu mengeluarkan darah kotor, sehingga rahim ibu
menjadi bersih. Ramuan obat kampung tersebut diminum selama
tiga hari,sejak hari pertama setelah melahirkan.
163
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Ramuan obat lain masih harus diminum sampai masa nifas
selesai terbuat dari akar kuning, kulit noak, kulit tupi, kulit delas
dan kulit lino. Semua bahan tersebut direbus hingga mendidih
dan diminum setiap hari (pagi, siang dan malam). Ramuan obat
kampung ini mempunyai manfaat untuk mencegah darah putih
naik ke kepala, melancarkan keluarnya darah merah, darah putih,
mengharumkan badan dan menguatkan dada bayi.
Gambar 4. 10
Ramuan obat kampung diminum selama tiga hari
(kunyit, asam, lada dan daun pepaya)
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Variasi lain dari bahan-bahan ramuan obat kampung
terbuat dari Akar kuning, kulit pohon kamboja yang dikeringkan
(diiris dari bawah keatas) dan bawang merah (Allium cepa).
Seluruh ramuan tersebut direbus hingga mendidih dan diminum
selama satu minggu.
Ramuan obat kampung lain yang didapatkan dari salah
satu dukun kampung di desa setempat adalah sebagai berikut :
164
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ramuan obat kampung yang harus diminum sesaat setelah
melahirkan
1) Asam (Tamarindus indica)
2) Bawang putih
3) Merica / Pala(Piper nigrum)
4) Pala (Myristica fragrans)
Gambar 4. 11
Bahan obat kampung (akar kuning, kulit noak, kulit tupi, kulit delas dan kulit
lino)
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Ramuan obat kampung yang harus diminum selama satu bulan
1) Kaisumamanek
2) Akar Kasumba
3) Akar kuning
4) Akar kalamanik
5) Akar sungalatu
6) Akar niluale
7) Akar kunauk
165
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Seluruh bahan-bahan ramuan obat tradisional tersebut
diambil dari hutan dengan mengucapkan doa terlebih dahulu.
Selain itu, ampas sisa rebusan ramuan tidak boleh dibuang
sembarangan, tetapi harus ditimbun kembali di dalam tanah.
Gambar 4. 12
Akar Kalamanik (1) dan akar Sungalatu (2)
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Selain meramu sendiri obat kampung, beberapa ibu juga
ada yang lebih memilih jamu instan yang dibeli di apotek sebagai
pengganti obat kampung. Selain diminum, jamu dalam kemasan
tersebut juga diperuntukkan dioleskan pada tubuh. Anggur
bersalin juga digunakan oleh beberapa orang informan sebagai
pengganti ramuan obat kampung maupun jamu. Anggur bersalin
diminum satu sloki untuk menghangatkan badan, membersihkan
perut dan memulihkan kembali tenaga ibu setelah melahirkan.
Meminum ramuan obat kampung, jamu, atau anggur
bersalin terkadang menjadi pengganti bagi ibu bersalin yang tidak
melakukan panggang. Karena jika tidak melakukan panggang
166
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
badan akan terasa dingin, menggigil dan pegal, obat kampung
dapat membantu mengurangi keluhan yang ditimbulkan akibat
tidak melakukan panggang.
Gambar 4. 13
Jamu yang dibeli dari apotek
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Gambar 4. 14
Isi jamu yang dibeli dari apotek
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
167
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
4.4.4 Ari-ari (Plasenta)
Oleh warga setempat, ari-ari bayi biasa dikubur atau
digantung di pohon Kainunak. Menurut keterangan informan,
pada masa lalu seluruh ari-ari bayi digantung di bagian paling
atas dari pohon Kainunak. Tujuan dari menggantung ari-ari
tersebut adalah supaya kelak ketika dewasa anak tidak memiliki
rasa takut untuk menaiki pohon. Dalam kebudayaan Rote di masa
lalu, mengiris pohon lontar merupakan mata pencaharian utama
penduduk. Jika dikaitkan dengan tradisi tersebut, maka harapan
orang tua kepada anak adalah supaya anak dapat mencari nafkah
dengan mengiris pohon lontar tanpa dilip[uti rasa takut.
Gambar 4. 15
Ari-ari yang digantung di pohon Kainunak
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Pohon kainunak yang akan digunakan untuk menggantung
ari-ari dibersihkan terlebih dahulu dahannya. Sebelum digantung,
ari-ari dibungkus kain dan dimasukkan ke dalam kapisak
(anyaman keranjang yang terbuat dari daun lontar). Ayah si bayi
kemudian akan berlari ke pohon kainunak , memanjat pohon
tersebut, dan kemudian menggantungkannya di bagian paling
168
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
atas dari pohon kainunak. Keranjang berisi ari-ari tersebut
kemudian digoyang-goyangkan seperti tertiup angin. Karena
pohon kainunak digunakan untuk menggantung ari-ari, maka
terdapat kepercayaan bahwa pohon Kainunak tidak boleh
dipotong dan dijadikan sebagai kayu bakar, sebab terdapat
bagian tubuh manusiapada pohon kainunak.
4.4.5 Konsep Darah Putih Dalam Tradisi Masyarakat Desa
Limakoli
Pada masa nifas, masyarakat desa Limakoli mengenal dua
macam darah, yaitu darah merah dan darah putih. Darah merah
adalah darah yang keluar dari jalan lahir, berwarna merah dan
keluar segera setelah melahirkan sampai beberapa hari
setelahnya. Sedangkan yang dimaksud dengan darah putih
adalah darah yang keluar dari jalan lahir setelah darah merah
keluar habis. Darah putih ini berbentuk kental dan berbau. Darah
putih inilah yang dianggap berbahaya oleh masyarakat, sebab jika
naik ke atas kepala dapat menyebabkan pusing dan gila. Naiknya
darah putih, bisa terjadi jika seorang ibu tidak melakukan tradisi
panggang dan perawatan paska persalinan, serta melakukan
keramas sebelum darah putih selesai keluar.
Dari sisi tenaga kesehatan, darah yang keluar setelah
persalinan disebabkan karena terlepasnya ari-ari dan kontraksi
pada waktu melahirkan. Darah tersebut kemudian berangsurangsur berubah warnanya dari warna merah (lokea rubra) dan
berangsur-angsur berubah warna menjadi kuning (semuelenta)
dan terakhir darah tersebut berubah warna menjadi putih.
“...Pada saat proses persalinan berakhir, pasti darah
keluar karena lepasan dari ari-ari. Nah itu dia pasti
keluar karena ada luka. Terjadi kontraksi. Makanya
darah harus keluar..” Jelas Bd Fk
169
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Di desa Limakoli, terdapat seorang ibu yang mengalami
gangguan jiwa. Oleh penduduk setempat gangguan jiwa tersebut
dipercaya disebabkan karena ibu tidak melakukan perawatan
paska persalinan seperti panggang, mandi air obat dan minum
ramuan obat kampung.
4.4.6 Pantangan Ibu Nifas (Saat Menjalani Perawatan Paska
Persalinan)
Berbeda halnya dengan pada saat menjalani masa
kehamilan, masa nifas atau masa setelah melahirkan merupakan
masa di mana seorang ibu mendapatkan perlakuan khusus atau
istimewa. Selama menjalani masa panggang, seorang ibu tidak
boleh melakukan pekerjaan apapun. Ketika bayi memasuki usia
satu sampai dua bulan, seorang ibu mulai diperbolehkan untuk
melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti memasak,
membersihkan rumah, mencuci pakaian dan memandikan bayi.
Dalam melakukan pekerjaan tersebut dada ibu harus diikat
dengan sehelai kain dengan tujuan supaya dada anak tidak
“pecah” (anak tidak batuk, sesak nafas dan mengeluarkan suara
seperti orang mengorok). Setelah bayi berusia sembilan bulan,
seorang ibu diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan berat
seperti memikul air dan memikul kayu.
Selain larangan untuk melakukan pekerjaan berat, selama
masa panggang ibu tidak boleh melakukan kegiatan keramas. Hal
ini diyakini akan menyebabkan darah putih naik yang
menyebabkan pusing dan dapat menyebabkan timbulnya
gangguan jiwa pada ibu.
“...istilah kita orang Rote itu kalau kita melahirkan, kalau
sesudah panggang baru bisa keramas rambut. Kita
panggang selama dua minggu walaupun rambut kotor
seperti apapun jangan dikeramas...” Jelas mama Fc.
170
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
4.4.7 Paska Panggang, Mandi air Obat dan Minum Jamu atau
Obat Kampung
Setelah masa nifas selesai, dan ketiga rangkaian tradisi
tersebut selesai dilakukan, maka ibu diperbolehkan mandi
dengan menggunakan air dingin dan keramas dengan
menggunakan ramuan air obat.
“...itu harus cuci rambut pakai obat(kampung) itu
mencegah darah putih, kalau darah putihnaik di kepala
itu akan gila” Jelas Mama Es
4.4.8. Pencegahan Kehamilan
Pencegahan kehamilan yang dilakukan warga setempat
adalah dengan cara ikut KB. KB yang diminati oleh warga desa
Limakoli adalah KB susuk (implant). Keikutsertaan warga dalam
ber-KB dilakukan setelah lahir anak ketiga dan seterusnya. Dalam
keluarga, anak yang dimiliki harus lengkap yaitu anak laki-laki dan
perempuan. Misalnya sebuah keluarga sudah memiliki tiga orang
anak laki-laki maka keluarga tersebut masih berupaya untuk bisa
mendapatkan anak perempuan dan begitu pula sebaliknya. Dari
informasi yang diperoleh dari dukun kampung setempat, rebusan
kulit kayu kusambing jantan (tidak memiliki buah) merupakan
obat alami yang bisa diminum untuk melakukan pencegahan
kehamilan.
4.5
Perawatan Bayi
4.5.1 Pemotongan Tali Pusat
Tali pusat bayi dipotong dengan menggunakan gunting
atau pisau. Sebelum dipotong, tali pusat diberi garam, lada
(Myristica fragrans) atau abu untuk mengurangi darah yang
171
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
keluar pada saat pemotongan tali pusat. Setelah itu tali pusat
diikat dengan menggunakan benang dan dipotong dengan alas
buah kelapa.
Gambar 4. 16
Gunting yang dipakai dukun untuk memotong tali pusat
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
4.5.2 Perawatan Tali Pusat
Tali pusat yang sudah dipotong kemudian diberi alkohol,
minyak telon, atau bedak supaya cepat kering. Selama tali pusat
bayi belum lepas, ibu tidak diperbolehkan makan masakan yang
dimasak dengan menggunakan garam dan bumbu masak, karena
akan menyebabkan tali pusat anak menjadi berair, bernanah, dan
lama masa pengeringannya.
Ketika tali pusat sudah terlepas, maka tali pusat tersebut
akan disimpan, untuk kemudian dibuang ke laut supaya anak
tidak mengalami mabuk laut jika bepergian dengan
menggunakan kapal. Beberapa informan juga menggunakan tali
172
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
pusat sebagai obat jika anak mengalami sakit. Rendaman tali
pusat di dalam air digunakan untuk mengobati sakit demam atau
pilek pada anak. Selain itu, tali pusat juga bisa dikalungkan ke
leher anak untuk mencegah anak menjadi sakit.
“...ditaruh di dalam air putih, dong
demam...” Jelas Mama Yn
minum kalau
“...Dengan ini, pilek, begini, ambil peniti ko apa ikat
pakai benang ko taruh dileher, atau taruh dibaju begini
(tangan sambil menunjuk ke baju seperti menjepitkan
peniti ke baju)...” Jelas Mama Yn
4.5.3. Memandikan Bayi
Setelah bayi lahir, bayi dimandikan dengan air hangat.
Pada saat bayi berusia satu sampai tiga hari, tubuh bayi dipijat
dengan menggunakan tangan yang dihangatkan terlebih dahulu
dengan api panggang. Tujuan dari pemijatan tersebut adalah
untuk membentuk anggota badan bayi, seperti memancungkan
hidung, membulatkan kepala dan mengempeskan bagian tubuh
bayi yang bengkak.
Mandi dengan air santan dilakukan jika bayi sedang sakit
panas. Santan kental dibalurkan ke seluruh tubuh bayi untuk
menurunkan panas tubuh. Air santan yang dicampur dengan jahe
digunakan jika sakit anak disertai dengan batuk.
173
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Gambar 4. 17
Santan kental dan kencur untuk menurunkan panas badan pada bayi
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Gambar 4. 18
Kencur yang disematkan di baju untuk mengobati sakit batuk pada bayi
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
174
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
4.5.4. Tradisi Penamaan Anak
Penamaan anak bagi masyarakat Desa Limakoli
merupakan sebuah hal yang penting. Selain nama yang
tercantum di dalam akta kelahiran, setiap anak yang tinggal di
Desa Limakoli memiliki nama lain, yang oleh beberapa orang
disebut dengan istilah nama “setan”. Nama setan tersebut
biasanya diambil dari nama keluarga yang sudah meninggal
dunia, meskipun tidak menutup kemungkinan nama keluarga
yang masih hidup juga bisa disematkan sebagaia nama setan.
Penamaan tersebut diberikan sejak anak baru lahir, atau ketika
seorang anak masih berusia kurang dari satu bulan.
Pemilihan nama bisa didapatkan dari sebuah mimpi atau
disebabkan karena anak mengalami gangguan baik secara fisik
maupun gangguan kesehatan. Gangguan tersebut antara lain
adalah anak terus menerus menangis, tidak mau menyusu, tidak
dapat buang air kecil maupun buang air besar, tubuhnya demam,
nafas sesak, atau mengalami kejang. Jika terjadi tanda-tanda
seperti itu, maka orangtua akan segera memilihkan nama kerabat
yang dirasa cocok. Berhentinya keluhan maupun gangguan pada
anak menjadi tanda bahwa nama yang dipilih tersebut sesuai
dengan anak.
“...ada juga yang dia demam, sampai tidak mau makan.
Begitu. Lalu orangtua kadang-kadang dong dia bilang ini,
kan dia punya ba’i atau nenek yang tutup dia punya
mulut, sehingga tidak mau makan, tidak mau minum,
begitu..” Jelas Bp Fd
Kejadian sakit pada seorang anak juga dipercaya
disebabkan karena pemilik nama “setan” tidak terima jika
seorang anak dimarahi oleh orang tua.
175
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
“...nanti dia punya orangtua yang kita kasih nama itu dia
kasih dia sakit. Kepercayaannya di sini. Bisa juga dia
sakit, kita minta ampun sudah…” Jelas Bapak Fd
4.5.5. Kepercayaan untuk Keselamatan Bayi
beberapa cara dilakukan oleh warga Desa Limakoli untuk
menghindarkan bayi dari gangguan makhluk halus. Menyematkan
bawang merah dan umbi genuak pada baju bayi merupakan salah
satunya. Cara lain adalah dengan meletakkan sisir di atas kepala
anak, atau meletakkan Al-kitab di samping kepala anak.
Gambar 4. 19
Umbi Genuak
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
176
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gambar 4. 20
Bayi yang diberi sisir dan al-kitab di samping bantal
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
4.5.6. Imunisasi
Kegiatan Posyandu dilakukan setiap satu bulan sekali
pada masing-masing dusun. Selain kegiatan penimbangan bayi
dan balita, dalam Posyandu juga dilakukan kegiatan pemeriksaan
ibu hamil dan pemeriksaan warga masyarakat yang sedang sakit.
Kegiatan penimbangan dan pengukuran tinggi badan dilakukan
oleh kader, sementara itu kegiatan pemeriksaan ibu hamil,
imunisasi bayi dan warga masyarakat dilakukan oleh bidan desa
setempat.
“Di posyandu itu meliputi penimbangan, imunisasi bayibalita, imunisasi ibu hamil, pemeriksaan ibu hamil, lalu
dengan pelayanan pasien umum” Jelas KpP
Bidan desa memberikan imunisasi HB 0 baik untuk bayi
yang lahir di fasilitas kesehatan maupun bayi yang lahir di rumah.
177
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Untuk bayi yang lahir di fasilitas kesehatan, imunisasi HB-0
diberikan pada saat setelah persalinan dan sebelum pulang
kembali ke rumah. Untuk bayi yang lahir di rumah, maka bidan
akan memberikan imunisasi HB-0 di rumah warga. Imunisasi HB0 diberikan pada bayi dengan berat badan normal (>2500 gram)
sedangkan untuk bayi dengan berat badan di bawah 2500 gram,
imunisasi baru akan diberikan ketika berat badannya sudah
mencapai 2500 gram.
Meskipun bidan desa sudah melakukan kunjungan rumah
untuk memberikan imunisasi HB 0, tetapi masih ada warga yang
menolak anaknya untuk diimunisasi. Salah satu contoh adalah
mama Ar yang mempunyai anak kembar. Menurut informasi dari
bidan dan kader setempat, salah seorang warga menolak
kedatangan bidan yang akan memberikan imunisasi, disebabkan
karena takut jika nanti kedua anaknya terus menerus menangis
setelah dilakukan imunisasi, sehingga ibu harus menenangkan
kedua bayi kembarnya tersebut.
Beberapa vaksin imunisasi hanya diberikan di Puskesmas
pada setiap tanggal tertentu, disebabkan karena harga vaksin
yang mahal. Sehingga untuk mendapatkan imunisasi tersebut
orang tua harus mengantarkan bayinya ke Puskesmas. Tidak
semua orang tua mau mengantarkan bayi untuk melakukan
imunisasi di Puskesmas dengan alasan tidak ada yang mengantar,
tempat terlalu jauh dan takut kalau anaknya menangis.
Dalam kegiatan Posyandu, juga terdapat program
pemberian makanan tambahan untuk bayi dan balita, serta ibu
hamil yang diambil dari dana PNPM. Pemberian makanan
tambahan tersebut bertujuan untuk menarik minat orangtua
agar bersedia untuk menimbangkan anak-anaknya ke Posyandu.
“PMT itu ada 2 yaitu penyuluhan dan pemulihan. PMT
penyuluhan hanya untuk menarik ibu-ibu, berupa pemberian
178
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
susu balita agar rutin datang ke Posyandu. PMT pemulihan
untuk pemulihan gizi buruk balita...” Jelas Bd Fk
4.6. Masa Menyusui
Masa menyusui merupakan masa penting dalam
pertumbuhan bayi, karena ASI mengandung banyak zat gizi yang
diperlukan bayi untuk membangun daya tahan tubuhnya.
Menurut para informan, ASI berfungsi untuk menghilangkan rasa
lapar pada bayi. Pada masa menyusui terdapat beberapa
pantangan makanan bagi ibu menyusui. Salah satunya adalah
pantangan mengkonsumsi daging babi karena menyebabkan
perut anak menjadi kembung. Makanan pedas juga menjadi
pantangan bagi ibu menyusui karena dapat menyebabkan sakit
perut pada bayi.
4.6.1. Minuman Bayi Baru Lahir Sebelum ASI
Setelah bayi lahir, minuman pertama yang biasanya
diberikan kepada bayi adalah air kopi atau gula air, karena
dianggap minuman tersebut dapat membuat bayi kuat dan tidak
mudah sakit. Pemberian kopi atau gula air hanya diberikan sekali
sesaat setelah bayi lahir, sekitar satu sampai tiga sendok teh.
Pemberian minuman tersebut sudah dilakukan sejak dahulu dan
telah menjadi tradisi yang dilakukan turun temurun.
4.6.2. Pemberian ASI
Menurut Rukiyah dkk (2010) ASI eksklusif adalah
pemberian ASI yang dilakukan sedini mungkin setelah persalinan,
tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain, walaupun air
putih sampai bayi berusia 6 bulan.
179
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Dari pengertian tersebut, program ASI eksklusif yang
dicanangkan oleh pemerintah belum dapat tercapai. Hal ini
disebabkan karena ASI baru diberikan kepada bayi setelah
pemberian minuman kopi atau gula air seperti disebut di atas.
Jika ternyata ASI belum keluar, maka bayi akan diberikan susu
formula atau air teh. Pengertian dan manfaat kolostrum juga
belum diketahui oleh para informan. Oleh para informan,
kolostrum dimaknai sebagai air susu yang lebih kental.
“...yaa kalau dikasih langsung itu masih kental jadi itu bagus
untuk kasih bayi...” Jelas Mm Es
4.6.3. Masalah ASI dan Menyusui
Kebanyakan informan mengatakan bahwa ASI baru keluar
dengan lancar tiga hari setelah melahirkan. Untuk memperlancar
ASI, ibu di desa Limakoli biasa mengkonsumsi kacang tanah,
daging ayam atau daging sapi. Daging yang akan dimakan diolah
dengan cara digoreng, direbus atau dipanggang. Daging tersebut
dimasak tanpa menggunakan bumbu masak dan garam.
Selain mengkonsumsi makanan tersebut, untuk
memperlancar ASI dilakukan urut dengan menggunakan miniyak
kelapa, atau dengan tumbukan kelapa yang sudah dijemur dan
dibakar dan dicampur dengan air. Ramuan tersebut kemudian
dioleskan dan diurut pada bagian payudara dan punggung ibu
setiap pagi selama tiga hari.
“...Mama mantu ini baru bakar kelapa, habis itu baru ramas,
kasih ke punya tetek, kalau tiga hari baru ini..keluar..” Jelas
Mama Fh
Menurut Rukiyah (2010), produksi dan pengeluaran
ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan
oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI,
sedangkan Oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI.
180
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Prolaktin dipengaruhi oleh nutrisi ibu, semakin baik asupan
nutrisinya maka produksi ASI akan banyak. Hal-hal yang
mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah makanan,
ketenangan jiwa dan pikiran, penggunaan alat kontrasepsi,
perawatan payudara, anatomis payudara, faktor fisiologi,
pola istirahat, faktor isapan anak atau frekuensi penyusuan,
faktor obat-obatan, berat bayi lahir, umur kehamilan saat
melahirkan, konsumsi rokok dan alkohol.
Gambar 4. 21
Bayi umur 2 hari yang diberi minum teh
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
Makanan, perawatan payudara dan juga masa istirahat
setelah persalinan merupakan beberapa faktor yang dilakukan
oleh warga setempat untuk memperlancar produksi ASI.
Menurut Rukiyah (2010), makanan yang dikonsumsi ibu
menyusui sangat berpengaruh terhadap produksi ASI, apabila
gizinya cukup dan pola makannya teratur maka produksi ASI akan
lancar.
181
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
4.6.4. Sole (Sapih)
Proses menyapih atau dalam bahasa setempat disebut
sole, rata-rata dilakukan ketika anak berusia satu tahun lebih.
Pada umumnya, anak akan dititipkan ke rumah nenek sampai
anak bisa lepas minum ASI. Susu Formula atau air teh merupakan
minuman pengganti ASI selama masa penyapihan.
4.6.5. Makanan Pendamping ASI
Pada umumnya warga Desa Limakoli memberikan
makanan tambahan setelah bayi berusia enam bulan. Informasi
tersebut diperoleh dari bidan dan kader setempat. Makanan
pendamping ASI yang diberikan berupa bubur, baik bubur instan
maupun bubur dari beras yang dibuat sendiri oleh ibu.
4.7. Anak dan Balita
4.7.1. Pola Asuh Anak dan Balita
Dari hasil observasi dapat dilihat bahwa balita di desa
setempat jarang memakai celana. Ketika buang air kecil,
orangtua jarang langsung mengganti celana anak. Kebanyakan
orangtua hanya melepas celana, tanpa memakaikan lagi celana
penggantinya. Anak-anak juga terlihat memakai baju yang sama
selama dua sampai tiga hari.
Keluarga yang belum mempunyai WC, membiarkan anak
buang air besar di halaman rumah atau di hutan yang terletak di
dekat rumah. Kebiasaan menggosok gigi baru diajarkan oleh
orangtua ketika anak sudah tidak menelan pasta giginya.
Pukulan dan bentakan keras merupakan pemandangan
lumrah yang biasa dilakukan kepada anak-anak. Bukan hanya
berasal dari orangtua, bentakan tersebut juga berasal dari kakak
kandung atau saudara.
182
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ketika anak sakit, orang tua akan membeli obat di kios,
atau membeli obat di apotek yang terletak di Ba’a. Puskesmas
pembantu menjadi pilihan berobat warga masyarakat yang
tinggal di sekitarnya, tetapi tidak bagi warga masyarakat yang
tinggal jauh dari Puskesmas Pembantu. Posyandu lebih dijadikan
sebagai pilihan tempat berobat. Sementara itu hampir tidak
pernah ada warga yang berobat ke puskesmas, disebabkan
karena jarak puskesmas yang terbilang cukup jauh dari desa
Limakoli. Pengobatan tradisional yang biasa dilakukan untuk
mengobati anak sakit adalah dengan melakukan pemijatan pada
dukun kampung setempat.
4.7.2 Aktivitas Anak
Aktivitas sehari-hari anak di desa setempat adalah
bermain dan juga membantu orangtua. Menjaga adik sambil
bermain, menyapu, mengambil air atau memasak merupakan
kegiatan anak di desa Limakoli.
Gambar 4. 22
Kakak menjaga adik bayi
Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014
183
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
4.7.3 Perayaan Ulang Tahun Anak
Perayaan Ulang Tahun menjadi sebuah hal yang biasa
dilakukan oleh warga setempat. Perayaan ulang tahun anak
ketika memasuki usia satu tahun merupakan sebuah perayaan
yang wajib dilakukan, sementara itu perayaan ulang tahun pada
tahun-tahun setelahnya merupakan pilihan dari masing-masing
keluarga apakah akan merayakannya atau tidak. Pada perayaan
ulang tahun tersebut biasanya orang tua akan memotong ayam,
babi atau anjing sebagai makanan yang akan disajikan. Perayaan
ulang tahun dilakukan pada malam hari, dengan dihadiri keluarga
dan tetangga sekitar.
Perempuan hamil dan bayi yang ada di dalam
kandungannya dipandang sebagai sesuatu yang rentan dan harus
dilindungi. Cara perlindungan yang kemudian dilakukan adalah
dengan melalui penerapan berbagai macam pantangan hal-hal
yang dilarang untuk dilakukan, dan juga sebaliknya berbagai
macam hal-hal yang harus dilakukan.
Tradisi-tradisi yang sudah ditanamkan, baik secara
langsung maupun tidak langsung, tentang hal-hal yang harus
dilakukan oleh seorang perempuan ketika dia menjalani masa
kehamilan, melahirkan, paska melahirkan, sampai bagaimana
cara-cara yang diharapkan seorang perempuan untuk merawat
anak-anaknya, sudah melekat dan tertanam kuat dalam diri.
Bahkan semua proses tersebut sudah ditanamkan sejak kecil, dan
berlanjut sampai remaja, dan dewasa. Ketika anak, mereka
melihat praktik-praktik tradisi tersebut dilakukan pada ibu,
tetangga atau saudara perempuan misalnya. Ketika seorang
perempuan beranjak menjadi gadis remaja, seorang ibu mulai
ditanamkan nilai-nilai tentang hal-hal yang harus dihindari oleh
seorang perempuan ketika sudah mengalami menstruasi.
Nilai-nilai yang berpengaruh terhadap kesehatan remaja
perlu ditingkatkan dengan pendidikan mengenai bahaya
184
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
kehamilan di usia dini. Sementara itu ketika sudah melahirkan
anak pertama, seorang perempuan akan menjalani tradisi
sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulunya.
Seperti dikatakan Foster (1986), dalam sistem nilai dan
kepercayaan, dalam struktur sosial dan proses kognitif mereka,
masyarakat rumpun dan masyarakat petani menunjukkan
bentuk-bentuk yang kadang menghambat penerimaan terhadap
pengobatan ilmiah. Pada umumnya masih terlihat sifat
etnosentris pada diri mereka, di mana terikat pada cara-cara dan
kepercayaan tradisional, dan menganggap bahwa cara-cara
tradisional tersebut sama dan mungkin lebih baik daripada caracara masyarakat lainnya. Demikian juga dengan masyarakat desa
Limakoli yang masih kental tradisinya dalam hal cara-cara
perawatan ibu hamil dan melahirkan.
185
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
186
BAB 5
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan
Pengetahuan masyarakat mengenai penyakit dan
penyebabnya dapat dikatakan masih rendah. Di dalam
masyarakat masih terdapat kepercayaan terkait dengan hal-hal
bersifat gaib sebagai penyebab timbulnya penyakit, yang juga
menjadi penyebab kematian mendadak.
Kesadaran penduduk untuk melakukan pengobatan jika
mengalami gangguan kesehatan juga masih rendah. Hal yang
sama juga terjadi pada ibu hamil. Meskipun kesadaran ibu untuk
memeriksakan kehamilannya di posyandu cukup tinggi, tetapi
kesadaran untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan
masih rendah. Mereka lebih merasa nyaman untuk melahirkan di
rumah dengan bantuan keluarga maupun dukun kampung.
Melahirkan di rumah dengan bantuan tenaga non kesehatan
mempunyai risiko lebih besar terutama berkaitan dengan
kebersihan, yang menyebabkan risiko infeksi paska melahirkan
lebih tinggi. Risiko terlambatnya pertolongan jika terjadi
kelahiran berisiko tinggi, juga menjadi ancaman bagi ibu
melahirkan. Perdarahan juga menjadi salah satu risiko dalam
persalinan yang dapat menyebabkan kematian. Meskipun
demikian, bahan akar tanaman yang sudah disiapkan sebelum
melahirkan dan dipercaya dapat menghentikan perdarahan
187
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
membuat para informan menjadi tenang. Mengingat risiko yang
harus dihadapi oleh ibu melahirkan cukup tinggi, maka upaya
mendorong ibu agar secara sadar melakukan persalinan di
fasilitas kesehatan merupakan sebuah hal yang penting untuk
dilakukan.
Dari hasil penelitian dapat dilihat pengobatan ilmiah
modern sudah diterima untuk penyakit-penyakit yang secara
umum bisa dianggap ringan, seperti batuk, pilek, panas, dan
beberapa penyakit lain seperti hipertensi. Tetapi hambatan dari
penerimaan masyarakat terhadap pengobatan dan perawatan
kesehatan modern juga masih terjadi. Hal ini disebabkan karena
masyarakat masih terikat dengan tradisi-tradisi mereka. Tradisitradisi tersebut masih terlihat dipegang teguh utamanya pada
kasus ibu hamil dan melahirkan, serta pada orang yang
menderita sakit karena terkena suanggi.
Pengambilan keputusan terkait dengan permasalahan
kesehatan juga masih banyak dilakukan oleh keluarga, khususnya
keluarga laki-laki. Hal ini kemudian juga menyebabkan
keterlambatan dalam pencarian pertolongan kesehatan.
5.2. Rekomendasi
Berikut ini adalah rekomendasi yang bisa diberikan untuk
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan
di Desa Limakoli:
1. Melibatkan keluarga dan tokoh adat dalam kegiatan promosi
kesehatan
2. Memasukkan materi kesehatan ke dalam kegiatan keagamaan
3. Penyuluhan tentang konsep-konsep kesehatan yang benar
untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar tidak takut
bersalin di tenaga kesehatan
188
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
4. Meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan,
dengan cara tenaga
kesehatan menetap di desa
5. Memanfaatkan larangan ibu bekerja di sawah pada saat
menyusui untuk mempromosikan pemberian ASI eksklusif
6. Modifikasi tradisi panggang, agar saat menyusui ibu boleh
keluar dari ruangan panggang.
189
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
190
INDEKS
A
adat · 5, 17, 31, 40, 41, 42, 43,
44, 45, 48, 49, 50, 54, 118,
123, 125, 155, 188, 196
AKI · 1, 2
ASI · 75, 76, 179, 180, 181, 182,
189
78, 79, 82, 93, 96, 100, 115,
117, 128, 129, 130, 132, 137,
149, 169, 175, 176, 182, 188
dukun · 2, 5, 56, 72, 73, 82, 96,
113, 124, 127, 128, 134, 136,
137, 140, 141, 142, 143, 144,
149, 150, 151, 164, 171, 172,
183, 187
F
B
budaya · 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 17,
28, 29, 48, 50, 63, 137
fasilitas kesehatan · 2, 5, 138,
140, 143, 147, 178, 187
K
D
desa Limakoli · 12, 15, 16, 18,
21, 57, 58, 77, 78, 79, 81,
108, 109, 110, 111, 112, 115,
116, 117, 124, 126, 129, 133,
135, 136, 137, 138, 140, 142,
149, 169, 170, 171, 180, 183,
185
Desa Limakoli · 11, 12, 14, 16,
17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25,
26, 34, 37, 47, 49, 56, 58, 59,
62, 66, 67, 68, 69, 74, 75, 77,
Kabupaten Rote Ndao · 2, 3, 4,
24, 59
kehamilan · 1, 3, 96, 107, 114,
122, 124, 125, 128, 129, 130,
131, 133, 134, 139, 143, 144,
151, 153, 154, 170, 171, 181,
184, 185
kematian · 1, 2, 17, 29, 31, 32,
33, 34, 48, 50, 59, 93, 94, 98,
104, 105, 108, 117, 128, 149,
151, 152, 153, 154, 187
191
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
kepercayaan · 3, 88, 93, 108,
110, 121, 136, 137, 149, 169,
185, 187, 189
kesehatan · 1, 2, 3, 4, 5, 6, 36,
56, 66, 67, 68, 71, 72, 73, 76,
81, 83, 88, 89, 96, 98, 106,
110, 113, 114, 119, 120, 121,
122, 124, 132, 133, 134, 137,
138, 139, 140, 142, 143, 144,
145, 146, 147, 148, 149, 151,
152, 153, 154, 155, 157, 158,
169, 175, 177, 184, 187, 188,
189
kesehatan reproduksi · 119,
120, 121
konsumsi · 79, 131, 132, 181
M
makanan · 3, 16, 21, 23, 32, 39,
55, 58, 68, 71, 75, 76, 83, 84,
87, 88, 90, 93, 94, 102, 128,
131, 132, 178, 179, 180, 181,
182, 184, 195
maneleo · 40, 41, 44, 49, 50
Manesongo · 50
mata pencaharian · 15, 16, 168
menyusui · 56, 76, 144, 156,
179, 181, 189
minuman · 3, 31, 33, 58, 75, 76,
85, 86, 90, 117, 118, 122,
179, 180, 182, 196
192
P
Panggang · 155, 158, 171
pantangan · 3, 84, 87, 109, 121,
132, 137, 179, 184
pengobatan · 2, 55, 57, 71, 83,
91, 97, 100, 103, 106, 109,
110, 113, 114, 127, 138, 140,
185, 187, 188
penyakit · 5, 55, 56, 67, 69, 81,
82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89,
91, 94, 95, 97, 98, 99, 100,
102, 104, 105, 107, 108, 109,
110, 111, 112, 113, 114, 122,
126, 140, 187, 188
penyakit menular · 5, 81
Penyakit Tidak Menular · 3, 82
pernikahan · 17, 38, 39, 40, 41,
42, 43, 45, 46, 48, 50, 117,
123, 125, 126, 127, 194, 195,
196
persalinan · 2, 71, 72, 73, 98,
131, 134, 137, 138, 139, 140,
141, 142, 143, 145, 146, 147,
149, 150, 151, 152, 153, 154,
155, 156, 169, 170, 178, 179,
181, 187, 194, 195
pesta kematian · 17, 29, 31, 32,
33, 59, 103
Posyandu · 71, 74, 75, 76, 113,
125, 133, 139, 143, 144, 153,
177, 178, 179, 183
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Puskesmas · 71, 72, 77, 81, 82,
98, 112, 120, 126, 132, 138,
139, 143, 144, 152, 153, 178,
183
S
suanggi · 88, 89, 91, 92, 94, 98,
100, 108, 110, 111, 188, 195
suku Rote · 9, 44, 45, 46, 50, 59
R
ramuan · 57, 96, 100, 103, 109,
126, 128, 134, 135, 141, 150,
157, 159, 160, 162, 164, 166,
170, 171
remaja · 34, 35, 115, 116, 117,
118, 119, 120, 121, 122, 123,
124, 125, 126, 184
Revolusi KIA · 2, 71, 72, 138,
139, 143, 144, 153, 197
ritual · 115, 128
T
tali pusat · 73, 96, 142, 143,
150, 171, 172
teknologi · 66, 68
tradisi · 33, 38, 60, 75, 115,
118, 130, 134, 136, 142, 154,
156, 157, 158, 159, 163, 168,
169, 171, 179, 184, 185, 188,
189, 194
tradisional · 5, 56, 57, 60, 68,
83, 87, 90, 100, 103, 109,
110, 112, 113, 117, 118, 127,
134, 141, 144, 157, 159, 166,
183, 185, 193, 194
193
GLOSARIUM
Abanitu
: jenis tanaman obat tradisional untuk
memperlancar proses melahirkan
Aidok
: obat
Antero
: utuh
Asam-asam : nyeri pada tulang
Atebik
: jenis tanaman obat tradisional untuk
memperlancar proses melahirkan
Ba’e Pusaka : hukum pewarisan
Ba’i
: kakek
Bebak
: tulang daun pohon gewang
Belis
:mas kawin
Botong
: kita
Darah loss
: pendarahan
Delas
: jenis tanaman untuk bahan mandi air obat
Duimanosok :rematik
Enggalutu
: pukulan gong dengan irama lambat
Fadik manini uma : anak bungsu sebagai pewaris rumah
Foti
: nama tarian dengan gerakan kaki yang cepat
Gelenggitik : tanaman obat untuk mengobati hipertensi dan
pendarahan
Genuak
: tanaman umbi-umbian
Gewang
: nama pohon
Juk
: gitar kecil
Kaak manita hata
: kakak melihat harta
Kainunak
: nama pohon tempat menggantungkan ari-ari
bayi
Kaisumanek : jenis tanaman obat untuk ibu bersalin
194
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kalamanik
Kapisak
Kasumba
Kebalai
Kenggaok
Koko
Komisi am
Koru
Kunauk
Kusambing
Lala’ba nusak
Lelepa
Leo
Lino
Lu’lu
Lulumun
Mae
Mamar
Manakilaoe
Mane
maneholo
Maneleo
Maneleo huk
Maneleo uum
Manesongo
Man suanggi
Marungga
Mea
Mete
Muku
: jenis tanaman obat untuk ibu bersalin
: keranjang yang terbuat dari anyaman daun lontar
: tanaman yang dikonsumsi ibu setelah bersalin
: nama tarian tradisional Rote
: denda kawin lari
: menggendong
: komisi pagar
: panen
: tanaman yang dikonsumsi ibu setelah persalinan
: jenis kayu yang digunakan dalam tradisi
panggang
: pernikahan beda kecamatan
: pikulan
: anak suku
: tanaman bahan mandi air obat
: tanaman untuk mengurangi rasa sakit pada saat
bersalin
: remas
: induk sapi betina yang sudah melahirkan anak
: kebun
: wakil manesongo
: raja
:ketua kompleks perkebunan
:raja suku
: raja suku tingkat kabupaten
: raja suku tingkat kecamatan
: kepala pengairan persawahan
: pelaku suanggi
: daun kelor
: bayi
: begadang
: mengejan
195
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
Nahani
: penyambutan
Nakona sepek : perayaan hari ketiga setelah bayi lahir
Nalelesu
: kawin lari
Naluoek
: denda karena membawa lari anak perempuan
Nanea
: menjaga burung di sawah
Nate’ah
: acara berpamitan yang dilakukan keluarga
perempuan setelah menikah
Ndunak
: tempat sirih pinang
Niluale
: tanaman yang dikonsumsi ibu setelah persalinan
Noak
: tanaman bahan mandi air obat
Noke makasi : uang terimakasih
Nuk
: bibit
Nusak
: kerajaan
Oto
:kendaraan bermotor
Papadak
: peraturan
Picabok
: hantaran perlengkapan rumah tangga yang
dilakukan sehari sebelum pernikahan
Putak
: isi pohon gewang (biasanya untuk makanan babi)
Sa
: saja
Sele
: menanam bibit padi
Sole
: sapih
Sonde
: tidak
Sopi
: minuman keras
Su
: sudah
Suanggi
: kekuatan gaib
Suelelesu
: adat buka pintu
Sungalatu
: nama tanaman yang dikonsumsi ibu setelah
bersalin
Tacu
: wajan
Tek
: rontok padi
Tendes
: menekan
Te tafa
: kelewang dan tombak
196
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tete
: bendungan
Tete na’o
: membersihkan rumput
Terang kampung: pernikahan adat
Tertikam
: rasa nyeri
Tofa
: mencabut rumput
Tomanek Ina Kakana : Laki-laki adalah raja, dan perempuan itu
seperti kanak-kanak
Totokoana
: nama tanaman untuk memperlancar proses
melahirkan
To’o
:paman
Tupi
: tanaman yang digunakan sebagai bahan mandi
air obat
Tuti Kalike
: pernikahan sambung ikat pinggang(pernikahan
antara saudara sepupu di mana kedua
orangtuanya bersaudara kandung)
197
DAFTAR PUSTAKA
Darajat, Zakiyah. 1990. Kesehatan Mental. Jakarta: CV Haji Mas
Agung
Dinas Kesehatan Provinsi NTT. 2009. Pedoman Revolusi KIA di
Provinsi NTT.
Fitrianti, Yunita, dkk. 2012. Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan
Anak: Etnik Gayo, Desa Tetingi, Kecamatan Blang
Pegayon, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi NAD. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Kementerian Kesehatan RI.
Foster, George M. & Barbara G. Anderson. 1986. Antropologi
Kesehatan. Jakarta: UI Press.
Haning, Paul A. 2009. Bahasa dan Sastra Rote. Kupang: CV Kairos.
Helman, Cecil G. Culture. 2001. Health and Illness. New York:
Oxford University Press.
Hidayat, Asri, Supatini. 2010. Asuhan Kebidanan Persalinan.
Yogyakarta: Muha Medika.
Kemenkes RI. 2010. Laporan Nasional Riskesdas 2007. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Musadad, Anwar, Rachmalina, Kasnodiharjo, Ekowati Rahajeng.
2002. Latar Belakang Kejadian Kematian Ibu di Nusa
Tenggara Timur. Jurnal Ekologi Kesehatan vol 2 no 3 :
136-145
Romauli, Suryati. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan dan Konsep
Dasar Asuhan Kehamilan. Nuha Medika : Yogyakarta
198
Etnik Rote, Kab. Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur
Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti, Meida Liana. 2010. Asuhan
kebidanan III (Nifas). CV Trans Info Media: Jakarta Timur.
Sanapiah, Faisal. 1990. Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar dan
Aplikasi. Malang: YA3.
Spradley, James. P. 2007.Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
UNICEF Indonesia.
www.unicef.org/indonesia
Ringkasan Kajian, Oktober 2012.
199
Buku Seri Etnografi Kesehatan Tahun 2014
200
Download