x UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur yang tidak terhingga penulis

advertisement
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur yang tidak terhingga penulis panjatkan kehadapan Ida Sang
Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) karena atas rahmat dan karunia-Nya
disertasi yang berjudul: “Industrialisasi Seni Kriya pada Era Globalisasi di
Kecamatan Tegallalang Gianyar Bali” dapat diselesaikan.
Disertasi ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa adanya bantuan dari
berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada yang terhormat Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., selaku
Promotor yang telah banyak memberikan bimbingan, dorongan, semangat kepada
penulis, agar segera dapat menyelesaikan penelitian ini. Kepada Prof. Dr. I Nengah
Bawa Atmadja, M.A., selaku Ko-Promotor I yang telah banyak membimbing penulis
dalam memahami paradigma kajian budaya dan menerapkan teori-teori kritis yang
berkaitan dengan masalah penelitian ini. Hal ini sangat membantu penulis dalam
menyelesaikan disertasi ini. Dr. I Nyoman Dhana, M.A., selaku Ko-Promotor II yang
telah banyak membimbing dan memberikan dorongan, semangat, dan koreksi secara
mendetail dalam penyelesaian disertasi ini.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Prof. Dr. dr. I
Ketut Swastika, Sp.PD-KEMD selaku Rektor Universitas Udayana. Prof. Dr. dr. A.A.
Raka Sudewi, Sp.S.(K) selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Prof. Dr. Made Budiasa, M.A. selaku Asisten Direktur I dan Prof. Dr. Made Sudiana
Mahendra, Ph.D., selaku Asisten Direktur II atas kesempatan yang diberikan kepada
penulis untuk menerima beasiswa. Terima kasih pula disampaikan kepada Prof. Dr.
A.A. Bagus Wirawana, S.U. selaku Ketua dan Dr. Putu Sukarja, M.Si. selaku
Sekretaris Program Doktor Kajian Budaya yang telah memberikan fasilitas
pendidikan, motivasi, semangat, dan selalu mendorong penulis untuk menyelesaikan
disertasi ini.
Penulis mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada dosen-dosen S3
Kajian Budaya yang telah memberikan materi dan bimbingan selama perkuliahan,
dengan berbagai warna dasar keilmuan, yang dapat memberikan pengayaan vii
x
tersendiri pada penulis. Beliau tersebut adalah: Prof. Dr. I Gde Widja, M.A.;
Prof. Dr. I Nengah Bawa Atmadja, M.A.; Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A.; Dr. I Gede
Mudana, M.Si.; Dr. I Putu Sukarja, M.Si.; Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A.; Dr.
Industri Ginting Suka, M.S.; Dr. Ni Made Wiasti, M.Hum.; Dr. I Nyoman Dhana,
M.A.; Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U.; Prof. Dr. A.A. Ngr. Anom Kumbara,
M.A.; Prof. Dr. Aron Meko Mbete,; Prof. Dr. I Gde Parimartha, M.A.; Prof. Dr. I Gde
Semadi Astra,; Prof. Dr. I Ketut Nehen, S.E., M.Ec.; Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A.;
Prof. Dr. Ing. I Made Merta, ; Prof. Dr. I Ketut Mertha, S.H., M.H.; Prof. Dr. Irwan
Abdullah; Prof. Dr. Koento Wibisono; Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A.; Prof.
Dr. Shri E. Ahimsa Putra, M.A.
Terima kasih pula disampaikan kepada dewan penguji disertasi ini, yaitu:
Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A.; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.; Dr. I
Nyoman Dhana, M.A.; Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U.; Prof. Dr. I Gde
Parimartha, M.A.; Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, M.S.; Dr. I Putu Sukarja, M.Si.; Dr. Ni
Made Wiasti, M.Hum., yang telah memberikan masukan, perbaikan, kritik,
sanggahan, koreksi, maupun saran sehingga disertasi ini dapat diwujudkan seperti
sekarang ini.
Terima kasih disampaaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
yang telah memberikan bantuan beasiswa (BPPS), serta seluruh staf administrasi
Program Pascasarjana Universitas Udayana. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada para staf/pegawai Program Doktor Kajian Budaya, yaitu: I Putu Sukaryawan,
S.T.; Dra. Ni Luh Witari; Ni Wayan Ariyati, S.E.; Cok Istri Murniati S.E.; A.A. Ayu
Indrawati; I Nyoman Candra; Putu Hendrawan; Ketut Budi Astra yang telah banyak
memberikan bantuan fasilitas dan informasi administrasi selama penulis menempuh
studi di Program Doktor Kajian Budaya.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Dr. I Nyoman
Jampel, M.Pd., selaku Rektor Universitas Pendidikan Ganesha yang telah
memberikan izin studi lanjut kepada penulis, sehingga penulis berkesempatan
menambah pengetahuan serta wawasan keilmuan di bidang Kajian Budaya. Dekan
Fakultas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A., yang selalu
mendorong dan memberi semangat untuk menyelesaikan studi ini. viii
xi
Terima kasih disampaikan pula kepada teman-teman seperjuangan dalam
suka maupun duka di Program Doktor Kajian Budaya angkatan 2012/2013, yaitu:
A.A. Gde Bagus Udayana, I Wayan Sujana, I Nyoman Sukerna, I Made Pageh,
Bambang Dharwiyanto Putro, I Wayan Mudra, I Gde Wirata, I Ketut Sariada, A.A.
Nyoman Sri Wahyuni, I Gusti Ketut Purnaya, I Gede Susila, Ida Ayu Trisna Wati, I
Made Ary Widiastini, Ni Wayan Ardini, I Dewa Ayu Sri Suastini, Ida Ayu Kade Sri
Sukma Dewi, I Nyoman Mardika, Sri Ratnawati, Suroyo, dan Komang Sri Marheni.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Jurusan
Pendidikan Seni Rupa, Drs. Hardiman, M.Si., Drs. Mursal Buyung, Drs. Agus
Sudarmawan, M.Si., Drs. Jajang Suryana, M.Sn., Drs. I Ketut Supir, M.Hum., Dr. I
Ketut Sudita, M.Si., Dra. Luh Suartini, M.Pd., Drs. I Gusti Nyoman Widnyana,
M.Erg., Drs. I Gusti Ngh. Sura Ardana, M.Sn., Drs. I Gede Eka Harsana K., M.Erg., I
Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si., I Gusti Made Budiarta, S.Pd., M.Pd., Ni Nyoman Sri
Witari, S.Sn., M.Sn., I Ketut Nala Hariwardana, S.Sn., M.Pd., I Nyoman Rediasa,
S.Sn., M.Si., Elly Herlyani, S.Sn., M.Pd., dan Langen Bronto Sutrisno, S.Sn., M.A.,
yang telah bersedia menjadi teman berdiskusi.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Dinas Perisdustrian dan
Perdagangan Kabupaten Gianyar, I Wayan Suamba, S.T., Camat Tegallalang, I
Nyoman Darmawan, S.Sos., Kepala Desa Tergallalang, Dewa Gde Rai Sutrisna, S.P.,
Kelian Desa Pakraman Tegallalang, Pande Wayan Karsa, dan juga kepada
pematung/perajin: I Made Ada, I Wayan Naspi, I Wayan Rajeg, I Putu Darma, I
Made Linggih Dharmawan, I Made Parwata, I Wayan Risa, S.Pd., Drs. I Made Weda,
Nyoman Gede Amer Jaya (Gede Cokot), Made Piter Oka Yasa, I Made Dodot, dan
Wayan Astawa, yang dengan sabar dan tulus memberikan informasi kepada penulis.
Terima kasih pula disampaikan kepada ayahanda, I Ketut Tangun (Alm.),
Ibunda Ni Made Sawi (Alm.), dan juga kepada bapak mertua Dewa Gede Munadha
(Alm.) ibu mertua I Gusti Ketut Mayun yang telah memberi motivasi dan semangat
untuk meraih cita-cita. Kepada istri tercinta I Dewa Ayu Made Budhyani, yang
senantiasa berdoa dan memberikan dorongan dan pengorbanan ix
xii
untuk penyelesaian disertasi ini. Juga kepada kakak I Nyoman Retig dan I
Ketut Sandiarsa, S.Pd., M.M. kakak ipar I Made Dini dan Ni Wayan Musim, I Dewa
Gede Budhyasa, S.E., Sak Tut, adik ipar Ir. I Dewa Nyoman Budyastana, dan dr
Kadek Kristiyani, S. (Anes), ananda Putu Yudia Pratiwi, S.Pd., Kadek Adi Surya
Negara, Komang Budi Gunawan, ponakan-ponakan dr. I Wayan Sudira, S.Ked.,
Kadek Widya Putra, S.Ked., Indah, Dian, Ni Putu Sandy Parianti, S.T., Kadek
Suryadi Sandy, Josep, yang telah banyak memberikan inspirasi, kekuatan dan
dorongan dalam penyelesaian disertasi ini.
Penulis tiada hentinya memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
agar menganugrahkan asung kerta wara nugraha-Nya kepada semua pihak yang telah
memberi bantuan dan pengorbanan dalam penyelesaian disertasi ini. Om Shantih,
Shantih, Shantih, Om.
Denpasar, 4 Oktober 2016
Penulis,
xiii
ABSTRAK
INDUSTRIALISASI SENI KRIYA PADA ERA GLOBALISASI
DI KECAMATAN TEGALLALANG GIANYAR BALI
Seni kriya sebagai budaya rakyat dibuat oleh perajin dengan menggunakan
keterampilan tangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan
sehari-hari maupun untuk keperluan upacara keagamaan yang memiliki nilai-nilai
estetis. Industrialisasi pada seni kriya proses pengerjaannya tidak lagi sepenuhnya
menggunakan keterampilan tangan, namun dibantu dengan mesin dan diproduksi
secara massal. Rumusan masalah penelitian adalah mengapa terjadi industrialisasi
seni kriya di Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali; bagaimana para pemangku
kepentingan berperan untuk memainkan kekuasaan dalam industrialisasi seni
kriya di Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali; dan bagaimana implikasi
industrialisasi seni kriya tersebut pada perajin setempat dan benda-benda seni
kriya yang ditampilkannya.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif perspektif cultural
studies. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan
studi dokumen. Teknik analisis data secara deskriptif kualitatif melalui tahapan
dekonstruksi, dan penyusunan etnografi. Teori yang digunakan adalah teori
Globalisasi, teori Praktik Sosial, teori Kuasa dan teori Estetika Posmodern.
Hasil penelitian menunjukkan, (1) alasan terjadinya industrialisasi seni
kriya, karena adanya berbagai kebutuhan bahwa seni kriya sebagai budaya rakyat
tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun
berkembang menjadi industri budaya yang diproduksi dengan mesin secara
massal untuk memenuhi kebutuhan pariwisata, (2) Peran pemangku kepentingan
memainkan kekuasaan melalui modal yang dimiliki, seperti keluarga perajin
sebagai produksi, desa pakraman, pemerintah daerah dan provinsi, lembaga
formal, serta konsumen mancanegara membuat seni kriya sebagai produk industri,
dan (3) Implikasi pada perajin membuat diversifikasi pada seni kriya dan
munculnya lima idiom estetik seni kriya postmodern, yaitu pastiche, parodi,
kitsch, camp, dan skizoprenia.
Temuan baru penelitian ini adalah (1) Industrialisasi seni kriya terjadi di
Tegallalang karena adanya pergerakan manusia dari satu negara ke negara lain
sebagai wisatawan dan lainnya, sehingga banyak membutuhkan produk-produk
seni kriya sebagai cinderamata atau diperdagangkan. Temuan ini dapat dimengerti
berdasarkan teori Appadurai tentang Globalisasi, adanya aliran global, yakni:
ethnoscape, technoscape, mediascape, finanscape, dan ideoscape. (2) Peran para
pemangku kepentingan dalam memainkan kekuasaan dapat dimengerti berdasarkan teori praktik sosial Bourdieu melalui permainan modal-modal, yaitu: modal
budaya, modal sosial, dan modal ekonomi. (3) Implikasinya adalah terjadinya
diversifikasi seni kriya yang memunculkan estetika posmodern. Berdasarkan teori
Baudrillard dunia posmodern sebagai dunia yang dicirikan oleh simulasi.
Kata kunci: industrialisasi, seni kriya, globalisasi, pemangku kepentingan,
permainan modal
xiv
ABSTRACT
HANDICRAFTS INDUSTRIALIZATION IN GLOBALIZATION ERA IN
TEGALLALANG DISTRICT OF GIANYAR IN BALI
Handicrafts as folk culture are made by craftsmen manually to meet the
community daily needs as well as the requirement of religious rituals that have
esthetical values. Industrialization in handicrafts has shifted the production of
works from manual production into the combination of manual and machine
production that result in mass production. The problems of this study were why
did industrialization occur in handicrafts in Tegallalang district, Gianyar, Bali?;
how did the stakeholders play their roles in the industrialization of the handicrafts
in Tegallalang district, Gianyar, Bali?; and how did the implication of the
industrialization of the handicrafts for the local craftsmen and for the works of art
work presented?
This study used qualitative method with cultural studies perspective. The
data were collected through observation, in-depth interview, and document study.
The data were analyzed descriptive-qualitatively through deconstruction, and
ethnography composition stages. The study used Globalization theory, Social
Practice theory, power theory, and Postmodern Esthetic theory.
The result showed that (1) the industrialization of the handicrafts is due to
their versatility. They are not only used as cultural products to meet the need of
the community, but they have developed into cultural industry art products
produced by machines in mass quantity to meet the demand in tourism. (2) the
stakeholders play the role through their capitals. They consist of craftsmen’s
families as producers, desapakraman, local and provincial government, formal
institutions, and foreign consumers. They make the handicrafts industry
products. (3) the implication for the craftsmen causes diversification in the works
of art and the emergence of five postmodern works of art esthetic idioms:
pastiche, parody, camp and schizophrenia.
The new findings of this study are as follows: (1) Industrialization of
handicrafts occurred in Tegallalang because of the movement of people from one
country to another as tourists and for other reasons, thus many of them need
handicrafts as souvenirs or commodities. This finding can be understood based
on Appadurai’s theory on globalization in which there are global movements,
ethnoscape, technoscape, mediascape, finanscape, and ideoscape. (2) The role of
the stakeholders in using their powers can be understood based on Bourdieu’s
social practice theory through capital game, i.e., through cultural capital, social
capital, and economic capital. (3) The implication is the occurrence of handicrafts
diversification brings about postmodern esthetics. Based on Baudrillard’s theory,
modern world is a world characterized by simulation.
Keywords: industrialization, handicrafts, globalization, stakeholders. the game
capital
xv
RINGKASAN
Seni kriya atau seni kerajinan adalah karya seni rupa sebagai hasil kerja
dari seseorang atau sekelompok perajin, yang dalam proses pengerjaannya lebih
banyak menggunakan keterampilan tangan (secara manual). Seni kriya merupakan
karya tradisional yang dikerjakan secara turun-temurun dalam setiap generasi.
Benda-benda seni kriya ada yang berwujud dua dimensi dan tiga dimensi, sebagai
benda fungsional maupun nonfungsional untuk memenuhi kebutuhan manusia
secara praktis, religius, maupun sekuler yang memiliki nilai estetis.
Pada era globalisasi terjadi peningkatan koneksi global dan hubungan
sosial antarmanusia yang melahirkan bentuk-bentuk komunikasi dan informasi
baru melintasi ruang dan waktu. Globalisasi melibatkan gerakan dinamis
kelompok-kelompok etnis, teknologi, transaksi finansial, citra media, dan konflikkonflik ideologi. Kondisi tersebut mendorong terjadinya perubahan dalam teknik
pembuatan seni kriya oleh perajin di Tegallalang. Perajin tidak lagi sepenuhnya
menggunakan keterampilan tangan, namun diadaptasi menggunakan mesin dan
menghasilkan produk massal untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pembuatan
produk massal mengakibatkan seni kriya tradisional menjadi termarjinalkan.
Dalam industrialisasi berbagai pemangku kepentingan/stakeholder memainkan
kekuasaan melalui modal-modal yang dimiliki untuk Memeroleh keuntungan,
akibatnya muncul beragam produk seni kriya.
Berdasarkan fenomena tersebut, masalah yang dikaji adalah alasan
terjadinya industrialisasi seni kriya di kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali.
Peran para pemangku kepentingan memainkan kekuasaan dalam industrialisasi
seni kriya di kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali. Implikasi industrialisasi seni
kriya pada perajin setempat dan benda-benda seni kriya yang ditampilkannya.
Rumusan masalah penelitian dibedah menggunakan teori Globalisasi, teori
Praktik Sosial, dan teori Estetika Postmodern.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan perspektif
cultural studies. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan
xvi
studi dokumen. Data-data yang sudah dikumpulkan dan selanjutnya dianalisis
melalui tahapan semiotik, dekonstruksi, dan penyusunan etnografi kritis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya industrialisasi seni kriya
pada era globalisasi di kecamatan Tegallalang, karena datangnya wisatawan ke
Bali pada umumnya dan Tegallalang khususnya ingin menikmati keindahan alam
dan keunikan budaya masyarakatnya, serta membutuhkan seni kriya sebagai
cinderamata. Seni kriya sebagai budaya rakyat diproduksi secara tradisional untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Permintaan terhadap seni kriya semakin
banyak, seni kriya diproduksi secara massal. Wisatawan membutuhkan diversifikasi objek wisata karena mereka datang untuk menikmati objek wisata sebanyakbanyaknya. Tegallalang yang semula hanya sebagai daerah lintasan wisatawan,
sekarang sudah ada beberapa objek wisata seperti objek wisata Ceking, Gunung
Kawi, objek wisata agro sebagai tempat kunjungan wisatawan. Untuk memenuhi
kebutuhan wisatawan terhadap barang-barang seni kriya sangat banyak art shop
yang menjual produk-produk seni kriya.
Adanya tempat-tempat wisata dan barang-barang seni kriya yang dijual di
Tegallalang sebagai upaya untuk menarik dolar dari pusat ke pinggir. Tujuannya
agar Tegallalang banyak dikunjungi wisatawan untuk menikmati objek wisata
yang dibangun oleh masyarakatnya. Terciptanya berbagai jenis produk seni kriya
karena dukungan infrastruktur material baik yang tersedia di wilayah Tegallalang
maupun yang didatangkan dari luar sehingga produk-produk seni kriya semakin
bervariasi. Dukungan struktur sosial dan tidak bertentangan dengan superstruktur
teknologi, serta kuatnya dorongan semangat wirausaha dari perajin untuk
mengembangkan industri kreatif membuat Tegallalang menjadi salah satu pusat
pembuatan dan penjualan produk-produk seni kriya di Kabupaten Gianyar. Usaha
berbasis sektor informal dilakukan oleh keluarga, sehingga usahanya tidak ada
yang berbentuk PT atau CV, dan perajin tidak ada yang memiliki Hak atas
Kekayaan Intelektual (HaKI). Kuatnya dorongan idologi pasar, perajin membuat
produk-produk sesuai dengan selera pasar agar cepat laku. Pasar menjadi
kebutuhan
konsumerisme,
barang-barang
xvii
konsumsi
ada
di
pasar,
supermarkert,atau mall yang banyak menyediakan barang-barang untuk konsumsi
guna memenuhi keinginan atau hasrat.
Peran para pemangku kepentingan memainkan kekuasaan dalam industrialisasi seni kriya di Tegallalang mencakup: peran keluarga sebagai basis produksi,
distribusi dan pemasaran. Ayah sebagai kepala keluarga memainkan modal budaya, modal sosial, dan modal ekonomi dalam memroduksi seni kriya dan membangun usaha penjualan dengan mendirikan art shop. Ayah menjalankan kuasa
kepada anak untuk mewariskan usahanya, mencari tenaga kerja di luar keluarga,
mendistribusikan pekerjaan dan pemasaran produk-produk seni kriya. Pola
pemasaran benda-benda seni kriya oleh perajin, menjual sendiri melalui art shop
dan melalui guide/pemandu wisata. Desa PakramanTegallalang membuka objek
wisata dan fasilitas pendukungnya untuk menarik kunjungan wisatawan. Desa
dinas berperan melaksanakan program pemerintah, adanya pertukaran pemuda
ASEAN yang pernah diselenggarakan di Tegallalang dibawah koordinasi
Kementrian Sosial RI. Desa Dinas memiliki kuasa menentukan jumlah perajin
yang terlibat dalam kegiatan tersebut
Peran pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi terhadap perajin di
Tegallalang adalah melibatkan perajin dalam kegiatan Expo, pameran Dekranas,
pameran Inacraf, dan pameran dalam Pesta Kesenian Bali. Pemkab dan Pemprov
menjalankan kuasa dengan memanfaatkan modal sosial menentukan perajin yang
ikut dalam kegiatan tersebut. Peran pemasok bahan baku memainkan modal
ekonomi dalam menentukan harga kayu yang dibutuhkan oleh perajin. Dalam
memproduksi dan menyediakan berbagai jenis produk seni kriya, perajin dibantu
Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Pembangunan Daerah Bali, memberi
pinjaman uang, dan perajin harus mematuhi aturan yang dilakukan oleh Bank.
Peran perajin dengan konsumen mancanegara, perajin pembuat produk
seni kriya dan menjual produknya di art shop, wisatawan dapat memilih secara
langsung produk-produk seni kriya yang disukai dan dibeli. Ada juga sistem order
atau pesanan dari konsumen biasanya dalam jumlah yang cukup besar. Konsumen
memainkan modal ekonomi mengatur perajin untuk membuat produk sesuai
keinginannya. Perajin memainkan modal budaya untuk membuat produk sesuai
xviii
keterampilannya. Komunikasi perajin dan konsumen mancanegara dilakukan
lewat e-mail dan telepon, pengiriman produk biasanya dilakukan melalui kargo.
Implikasi industrialisasi seni kriya pada perajin dan produk-produk seni
kriya yang dihasilkan, terjadi diversifikasi produk seni kriya yang dibuat oleh
perajin. Perajin memainkan modal kultural untuk menghasilkan produk beragam
yang ditukarkan menjadi modal ekonomi. Masuknya budaya asing ke Tegallalang,
unsur-unsur lokal bercampur dengan unsur-unsur global menghasilkan budaya
glokalisasi.
Diversifikasi seni kriya, alih budaya dari budaya rakyat menjadi budaya
populer. Perubahan ini memunculkan estetika pramodern, estetika modern dan
estetika postmodern. Estetika pramodern mengacu pada seni tradisional. Estetika
modern mengacu pada pembaharuan/kreativitas. Estetika postmodern menghilangkan batas antara seni tradisional dan seni modern. Dalam diskursus
postmodern ideom-ideom estetik yang dapat diambil, dikembangkan, diperluas,
diperdalam dan diterapkan dalam praktik-praktik kebudayaan yang lebih luas
khususnya seni. Lima ideom estetik postmodern adalah: pasthice, parodi, kitsch,
camp, dan skizofrenia. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan produk seni
kriya pada era globalisasi di Tegallalang melahirkan estetika postmodern.
Implikasi industrialisasi seni kriya pada era globalisasi pada perajin di
Tegallalang sebagai komunitas lokal berorientasi pada kosmopolitan, selain itu
sebagai masyarakat berorientasi multikultur. Hal tersebut terjadi karena banyak
orang luar yang datang ke Tegallalang baik sebagai tenaga kerja (perajin), dan
pengelola usaha seni kriya sehingga terdapat beragam budaya yang bersaing untuk
merebut pasar. Di sini juga terjadi penguatan budaya konsumen dan budaya citra.
Masyarakat perajin mengonsumsi produk bukan mementingkan nilai gunanya
tetapi lebih kepada nilai tandanya. Citra menjadi sangat penting karena dapat menunjukkan identitas diri dan membedakan dengan yang lain. Pada era globalisasi
pasar menentukan taksu, karena perajin membuat produk bukan berdasarkan keinginan dari dalam diri melalui kekuatan modal budaya, namun untuk melayani
atau mengikuti kebutuhan pasar.
xix
Temuan baru dalam penelitian ini adalah pertama, terjadinya industrialisasi seni kriya di Tegallalang diakibatkan adanya globalisasi. Semua aliran global
menghasilkan berbagai realitas budaya melalui berbagai perpaduan budaya.
Berdasarkan teori Appadurai lima aliran global yakni: ethnoscape, technoscape,
mediascape, finanscape, dan ideoscape. Kedatangan orang asing membawa
perubahan terhadap masyarakat Bali, khususnya para seniman atau perajin yang
ada di Tegallalang yang memproduksi karya-karya seni rupa atau seni kriya.
Sistem tradisional secara manual dalam proses produksi seni kriya yang sudah
dilakukan secara turun temurun diadaptasi dengan menggunakan teknologi mesin
secara mekanik, sehingga produk-produk yang dihasilkan bersifat massal.
Memproduksi seni kriya secara massal dengan menggunakan tenaga mesin yang
dilakukan oleh perajin menjadi lebih cepat dan harganya lebih murah jika
dibandingkan dengan tenaga manual secara tradisional. Kondisi seperti ini
berimplikasi pada pengurangan atau peminggiran produksi budaya tradisional
yang memiliki keterampilan tinggi dan proses produksi lebih lama dan harganya
lebih mahal.
Selanjutnya temuan kedua, dalam industrialisasi terjadi permainan kuasa
dari berbagai pemangku kepentingan. Temuan ini dapat dipahami berdasarkan
teori Boudieu yang memperkenalkan konsep tentang habitus dan ranah. Melalui
habitus` Bourdieu dapat ditunjukkan bahwa praktik sosial bukan hanya dipahami
sebagai pola pengambilan keputusan yang bersifat individu atau praktik sosial
sebagai hasil struktur supra-individual, melainkan hasil internalisasi struktur dunia
sosial atau struktur sosial yang dibatinkan dan diwujudkan. Di samping itu temuan
penelitian yang menunjukkan bahwa kuasa dalam industrialisasi seni kriya,
ditemukan pula bahwa berbagai bentuk kuasa tersebut merupakan arena
pertarungan melalui permainan modal, yaitu modal budaya, modal sosial, dan
modal ekonomi. Berbagai praktik sosial tersebut berlangsung terhadap perajin
dengan komponen baik sebagai pemegang regulasi melalui kebijakan yang harus
diikuti oleh perajin, maupun hal-hal terkait dengan masalah produksi, distribusi
dan pemasaran dalam industrialisasi seni kriya.
xx
Temuan ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa implikasi industrialisasi
seni kriya pada perajin dan benda-benda seni kriya yang dihasilkan mengacu pada
teori estetika postmodern. Berdasarkan teori Baudrillard dunia postmodern
sebagai dunia yang dicirikan oleh simulasi, kita hidup di “zaman simulasi”.
Proses simulasi mengarah pada penciptaan simulakcra atau “reproduksi objek
atau peristiwa”. Meleburnya perbedaan antara tanda dengan kenyataan, semakin
sulit untuk mengatakan mana yang nyata dan mana hal-hal yang menyimulasikan
yang nyata. Temuan penelitian menunjukkan bahwa implikasi industrialisasi seni
kriya di Tegallalang pada era posmodern terjadi diversifikasi produk seni kriya.
Di sini terjadi berbagai permainan bentuk maupun makna dan tidak ada batas
antara yang tradisional dan modern dan melebur menjadi postmodern. Seni
posmodern sebagai perlawanan terhadap seni modern yang bersifat universal,
rasional, dan berorientasi pada kebaruan. Seni posmodern bisa mengambil dari
seni tradisi dan seni modern, dan mengeksplor sesuai keinginan senimannya.
Dalam diskursus posmodern ada kategori-kategori kebudayaan, ideomideom estetik yang dapat diambil, dikembangkan diperluas, diperdalam dalam
praktik-praktik kebudayaan khususnya seni. Tujuannya untuk membuka wawasan
bagi penjelajahan idiom-idiom yang lebih kaya. Karya-karya seni kriya yang
ditampilkan oleh perajin di Tegallalang pada era postmodern menunjukkan
keragaman budaya. Munculnya karya-karya tersebut sebagai olah cipta dari
perajin dengan mengambil objek-objek yang sudah ada pada masa sebelumnya
menjadi karya-karya yang lucu atau menjadi aneh dengan menghilangkan makna
yang ada pada karya-karya sebelumnya yang menjadi acuan. Karya-karya seni
posmodern sebagai fesien karena terjadi proses daur ulang karya-karya seni yang
sudah ada pada era sebelumnya. Era posmodern ditandaidengan meleburnya TV
dalam kehidupan dan meleburnya kehidupan ke dalam TV. Menguatnya budaya
konsumen dan budaya citra dalam kehidupan masyarakat perajin di Tegallalang
saat ini, karena adanya berbagai produk yang ditawarkan oleh pasar.
xxi
DAFTAR ISI
Sampul Dalam…………………………………………………………………...
Prasyarat Gelar………………………………………………………………......
Lembar Persetujuan……………………………………………………………...
Panitia Penguji…………………………………………………………………..
Surat Pernyataan Bebas Pagiat………………………………………………….
Ucapan Terima Kasih……………………………………………………………
Abstrak……………………………………………………………………...…...
Abstract…………………………………………………………………...……..
Ringkasan………………………………………………………………………..
Daftar Isi…………………………………………………………………...……
Daftar Tabel……………………………………………………………………..
Daftar Gambar…………………………………………………………………..
Glosarium………………………………………………………………………..
i
ii
iii
iv
v
vi
x
xi
xii
xviii
xxi
xxii
xxiv
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………...
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………...
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………………
1.3.1 Tujuan Umum……………………………………………………………..
1.3.2 Tujuan Khusus…………………………………………………………….
1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………………………..
1.4.1 Manfaat Teoritis………………………………………………...................
1.4.2 Manfaat Praktis……………………………………………………………
1
1
12
13
13
13
13
13
14
BAB II KAJIAN PUSTAKA KONSEP LANDASAN TEORI DAN MODEL
PENELITIAN…………………………………………………………
2.1 Kajian Pustaka………………………………………………………............
2.2 Konsep……………………………………………………............................
2.2.1 Industrialisasi……………………………………………………………...
2.2.2 Seni Kriya…………………………………………………………………
2.2.3 Globalisasi……………………………………………………...................
2.3 Landasan Teori………………………………………………………...........
2.3.1 Teori Globalisasi…………………………………………………………..
2.3.2 Teori Praktik………………………………………………………………
2.3.3 Teori Relasi Kuasa………………………………………………………..
2.3.4 Teori Estetika Posmodernisme.……………………………………………
2.4 Model Penelitian…………………………………………………………….
15
15
28
28
30
31
33
33
37
44
46
56
BAB III METODE PENELITIAN……………………………………………..
3.1 Rancangan Penelitian………………………………………………………..
3.2 Lokasi Penelitian…………………………………………………………….
3.3 Jenis dan Sumber Data………………………………………………………
3.4 Teknik Penentuan Informan…………………………………………………
58
58
59
59
60
xxii
3.5 Instrumen Penelitian………………………………………………………...
3.6 Teknik Pengumpulan Data………………………………………………….
3.6.1 Observasi………………………………………………………………….
3.6.2 Wawancara………………………………………………………………..
3.6.3 Studi Dokumen……………………………………………………………
3.7 Teknik Analisis Data………………………………………………………..
3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data………………………………………
61
61
62
62
63
64
64
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN……………………
4.1 Etnografi Desa Tegallalang…………………………………………………
4.1.1 Asal Usul Desa Tegallalang………………………………………………
4.1.2 Lokasi dan Keadaan Geografis Kecamatan Tegallalang…………………
4.1.2.1 Lokasi Kecamatan Tegallalang…………………………………………
4.1.2.2 Letak Geografis Kecamatan Tegallalang……………….........................
4.2 Kondisi Demografi…………………………………………………………
4.2.1 Kondisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin…………………………..
4.2.2 Kondisi Penduduk Berdasarkan Agama……………………….................
4.2.3 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan……………….................
4.2.4 Penduduk Menurut Sumber Mata Pencaharian……………………………
4.3 Kelembagaan Desa Kecamatan Tegallalang…………………………...........
4.4 Profil Perajin di Tegallalang………………………………………………...
66
66
66
71
71
75
81
81
81
82
83
84
87
BAB V ALASAN TERJADINYA INDUSTRIALISASI SENI KRIYA DI
KECAMATAN TEGALLALANGGIANYAR BALI………………
5.1 Budaya Rakyat Basis Bagi Industrialisasi…………………………………..
5.1.1 Industri Rakyat Berkaitan dengan Budaya Agraris……………………….
5.1.2 Industrialisasi Kelanjutan dari Budaya Rakyat………………....................
5.2 Ethnoscape…………………………………………………………………..
5.2.1 Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata………………………….....................
5.2.2 Diverisifikasi Daya Tarik Wisata………………………………………….
5.3 Mediascape…………………………………………………………..............
5.3.1 Peran Media Mempromosikan Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata……...
5.3.2 Cinderamata sebagai Simbol Kehadiran…………………………………..
5.4 Finanscape…………………………………………………………………...
5.4.1 Pariwisata dalam Perspektif Ekonomi……………………….....................
5.4.2 Menarik Dolar dari Pusat ke Pinggir………………………………………
5.5 Technoscape…………………………………………………………………
5.5.1 Dukungan Infrastruktur Material dan Teknologi…………….....................
5.5.1.1 Dukungan Material…………………………………...............................
5.5.1.2 Dukungan Teknologi……………………………………………………
5.5.2 Kegiatan Berbasis Sektor Informal……………………………………….
5.6 Ideoscape……………………………………………………………………
5.6.1 Semangat Pengembangan Industri Kreatif………………………………..
5.6.2 Penguatan Ideologi Pasar…………………………………….....................
5.6.3 Penguatan Ideologi Konsumerisme………………………….....................
100
100
102
105
108
108
111
114
114
116
126
126
127
132
132
132
141
146
152
152
163
173
xxiii
BAB VI PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM
INDUSTRIALISASI SENI KRIYA DI KECAMATAN
TEGALLALANG GIANYAR BALI……………………………….
6.1 Peran Keluarga dalamProduksi, Distribusi dan Pemasaran.………………...
6.1.1 Peran Aneka Modal dalam Produksi………..…………………………….
6.1.2 Peran Ideologi dan Kekuasaan dalam Produksi…………………………..
6.1.3 Peran Penggunaan Tenaga Kerja dalam Proses Produksi…………………
6.1.4 Peran dalam Pemasaran Produk Seni Kriya……….....................................
6.1.4.1 Pemasaran Secara Mandiri………………………………………………
6.1.4.2 Pemasaran Melalui Pemandu Wisata/Guide…………………………….
6.2 Peran Desa Pakraman……………………………………………………….
6.3 Peran Desa Dinas……………………………………………………………
6.4 Peran Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi……………………..
6.4.1 Pembinaan dan Keikutsertaan Perajindalam Pameranatau Ekspo...............
6.4.2 Undang Undang Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). ………………..
6.4.3 Penerbitan Sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)................
6.5 Peran Perajin dan Pemasok Bahan Baku…………….………………...........
6.6 Peran Lembaga Keuangan Formal dan Informal……………………………
6.7 Peran Konsumen Mancanegara………………………………………...........
177
177
177
181
185
192
192
194
200
204
207
207
220
223
228
239
241
BAB VII IMPLIKASI INDUSTRIALISASI SENI KRIYA PADA PERAJIN
SETEMPAT DAN BENDA-BENDA SENI KRIYA YANG
DIHASILKAN………………………………………………………
7.1 Diversifikasi Produk Seni Kriya…………………………………………….
7.2 Alih Budaya dari Budaya Rakyat menjadi Budaya Populer………………..
7.2.1 Estetika Pramodern………………………………………………………..
7.2.2 Estetika Modern…………………………………………………………...
7.2.3 Estetika Posmodern.…………………………………………….................
7.3 Komunitas Lokal Berorientasi Kosmopolitan……………………………….
7.4 Beorientasi Multikultural……………………………………………………
7.5 Penguatan Budaya Konsumen………………………………………………
7.6 Penguatan Budaya Citra…………………………………………………….
7.7 Pasar Menentukan “Taksu”………………………………………………….
7.8 Pasar Membutuhkan Produk………………………………………………...
245
245
249
253
257
263
291
297
304
308
312
322
BAB VIII PENUTUP…………………………………………………………..
8.1 Simpulan…………………………………………………………………….
8.2 Temuan………………………………………………………………………
8.3 Saran…………………………………………………………………………
326
326
330
332
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………...
PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI……………………………
DAFTAR INFORMAN…………………………………………………………
335
347
349
xxiv
DAFTAR TABEL
Table 2.1
Perbedaan antara Kondisi Masyarakat Modern dengan Masyarakat Posmodern…
Tabel 2.2
Ciri yang Mendasari Masa Posmodernitas.……………………………………….
Table 2.3
Wacana Utama Estetika di Era Pramodern, Modern dan Posmodern.……………
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Kecamatan Tegallalang Tahun 2013…………………………..
Tabel 4.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Tahun 2013……………………………...
Tabel 4.3
Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan…………………………………..
Tabel 4.4
Jumlah Penduduk Menurut Sumber Mata Pencaharian…………………………...
Tabel 4.5
Desa Dinas dan Banjar Dinas Kecamatan Tegallalang……………………………
Tabel 4.6
Desa Dinas dan Desa Pakraman Kecamatan Tegallalang…………………….......
xxv
48
49
52
81
81
82
83
84
86
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Model Penelitian…………………………………………………………………..
Gambar 4.1
Batas Wilayah Desa Wisata Tegallalang………………………………………….
Gambar 4.2
Art Shop Bangunan Permanen…………………………………………………….
Gambar 4.3
Art Shop Semi Permanen Menjual Seni Kriya……………………………………
Gambar 4.4
Peta Pulau Bali dan Lokasi Penelitian…………………………………………….
Gambar 4.5
Denah Kecamatan Tegallalang……………………………………………………
Gambar 4.6
Kantor Camat Tegallalang………………………………………………………...
Gambar 4.7
Proses Kerja Pembuatan Seni Kerajinan…………………………………………..
Gambar 4.8
Gerbang Kawasan Wisata Ceking…………………………………………………
Gambar 4.9
Objek Wisata Alam Ceking……………………………………………………….
Gambar 4.10
Objek Wisata Gunung Kawi………………………………………………………
Gambar 4.11
Patung Karya I Nyoman Cokot……………………………………………………
Gambar 5.1
Topeng-Topeng Primitif…………………………………………………………..
Gambar 5.2
Patung Karya I Nyoman Cokot……………………………………………………
Gambar 5.3
Patung Garuda Karya I Made Ada………………………………………………..
Gambar 5.4
Tiruan Makanan 4 Sehat 5 Sempurna……………………………………………..
Gambar 5.5
Berbagai Jenis Seni Kriya Perlengkapan Upacara………………………………...
Gambar 5.6
Seni Kriya Logam Motif Binatang………………………………………………...
Gambar 5.7
Seni Kriya Wajah Santa Claus...…………………………………………………..
Gambar 6.1
Seni Kriya Karya I Wayan Naspi………………………………………………….
Gambar 6.2
xxvi
56
71
72
73
74
74
75
76
79
79
80
88
124
156
158
160
163
170
171
215
Patung Singa Karya I Made Ada………………………………………………….. 216
Gambar 6.3
Patung Budha Karya I Nyoman Centeng………………………………………….
Gambar 6.4
Karya Seni Kriya I Wayan Judin………………………………………………….
Gambar 6.5
Jenis-Jenis Produk Seni Kriya yang Terdapat di Art Shop “Pande Inih”…………
Gambar 6.6
Seni Patung Karya I Gede Amer Jaya………..……………………………………
Gambar 6.7
Karya I Made Parwata “Barong” …………………………………………………
Gambar 7.1
Patung Garuda Karya I Made Murthawan………………………………………...
Gambar 7.2
Patung-patung Tradisional Karya I Wayan Naspi………………………………...
Gambar 7.3
Seni Patung Karya I Nyoman Cokot………………………………………………
Gambar 7.4
Seni Patung Karya I Ketut Nongos………………………………………………..
Gambar 7.5
Patung Garuda Karya Putu Darma…….………………………………………….
Gambar 7.6
Binatang Cicak…………………………………………………………………….
Gambar 7.7
Seni Kriya dalam bentuk Macan………………………………………………….
Gambar 7.8
Patung Garuda Mulut Besar dan Sayap Kecil……………………………………..
Gambar 7.9
Garuda Sayap Terbuka…………………………………………………………….
Gambar 7.10
Patung Budha sebagai Simbol Agama Budha……………………………………..
Gambar 7.11
Kerajinan Kayu yang Dilapisi Kaca……………………………………………….
Gambar 7.12
Karya Seni Kriya Binatang Gajah Belalainya Diperpanjang……………………...
Gambar 7.13
Seni Kriya Bentuk Manusia……………………………………………………….
Gambar 7.14
Seni Kriya Daur Ulang Masa Lalu, Patung pada Zaman Hindu dan Budha………
Gambar 7.15
Patung Singa sebagai Produk Berkelas……………………………………………
Gambar 7.16
Patung Singa sebagai Produk Pasaran…………………………………………….
xxvii
217
218
227
236
237
255
255
260
261
261
269
270
274
275
279
280
283
283
286
315
315
GLOSARIUM
art shop: merupakan sebuah tempat untuk jual beli benda-benda seni
bokor: karya seni kriya berbentuk lingkaran dengan diameter bervariasi yang
dibuat dari kayu yang diukir serta dicat prada digunakan sebagai wadah
sesajen untuk upacara ritual agama Hindu.
dulang: karya seni kriya yang berbentuk lingkaran tinggi kurang lebih 30 cm
dengan diameter bervariasi yang dibuat dari kayu yang diukir dan dicat
prada digunakan sebagai tempat gebogan untuk upacara ritual agama
Hindu.
gebogan: 1) rangkaian buah dan jajan yang disusun setinggi kurang lebih satu
meter sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada
saat upacara ritual; 2) kain yang dilipat disusun setinggi kurang lebih satu
meter digunakan sebagai perlengkapan pada upacara manusa yadnya.
galeri: 1) sebuah bangunan yang salah satu sisinya terbuka tanpa pintu; 2) sebuah
ruangan panjang di tingkat atas (loteng) seperti biasa terdapat pada rumah
yang bercorak Elisabethan, ruangan ini dipergunakan untuk pertunjukan
tonil atau opera. Galeri juga sebagai tempat para seniman berpameran dan
berjualan karya-karya seni rupa, dalam hal ini berkonotasi dua maksud:
pameran dan jualan, artinya galeri bisa untuk tujuan ideal (apresiasi dan
komersial) maupun tujuan realitas (sama sekali komersial).
jempana: karya seni kriya yang berbentuk rumah kecil dibuat dari kayu yang
diukir dan dicat prada digunakan sebagai tempat untuk mengusung
pratima pada saat melakukan upacara melasti ke laut.
kekarangan: ragam hias Bali dalam perwujudannya merupakan gubahan atau
stiliran dari bentuk-bentuk binatang yang diterapkan sebagai hiasan pada
bangunan suci maupun perumahan.
kuasa: 1) kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); 2) wewenang
atas sesuatu atau untuk menentukan; 3) pengaruh.
ngayah: kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat Bali tanpa
mendapat upah atau imbalan berkaitan dengan kegiatan adat dan agama.
pemangku kepentingan/stakeholder: sebagai kelompok atau individu yang dapat
Memengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu
xxviii
pengotok: palu kayu yang memiliki berbagai ukuran yang digunakan untuk
memukul pahat dalam proses membuat karya seni kriya.
pengutik: alat yang dibuat dari logam berbentuk lancip yang memiliki dua mata
pisau digunakan dalam proses pembuatan seni kriya.
pepatran: ragam hias Bali dalam perwujudannya merupakan gubahan atau stiliran
dari bentuk tumbuh-tumbuhan diterapkan sebagai hiasan pada bangunan
suci maupun perumahan.
pewayangan: ragam hias Bali dalam perwujudannya merupakan gubahan atau
stiliran dari bentuk manusia digunakan sebagai hiasan pada bangunan suci
dan perumahan.
pretima: karya seni kriya yang dibuat dari kayu dan atau uang kepeng yang
berwujud manusia dan atau binatang yang memiliki nilai simbolis.
salang: karya seni kriya berupa rangkaian uang kepeng yang berwujud manusia
laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan memiliki nilai
estetis, biasanya ditempatkan atau digantung pada bagian depan bangunan
suci (pura dan sanggah) pada saat upacara ritual agama Hindu.
sanggah: 1) sebuah wujud bangunan suci; 2) areal bangunan suci dalam suatu
keluarga.
sanggawang: karya seni kriya berupa ukiran patra punggel yang dbuat dari kayu
digunakan sebagai penyangga antara tiang dan lambang pada bangunan
tradisional Bali.
taksu: merupakan kekuatan suci yang berasal dari Tuhan yang dapat diperoleh
melalui upacara ritual dan olah spiritual. Kekuatan suci atau spiritual ini
muncul dalam dunia seni dan di bidang profesi lainnya dan sangat
dibutuh-kan oleh semua orang dari berbagai bidang profesi.
tamiang: karya seni kriya berupa rangkaian uang kepeng yang berbentuk
lingkaran yang memiliki nilai simbolis.
tiang tugeh: tiang yang dibuat dari kayu pada bagian alas menggunakan patung
singa atau garuda berfungsi sebagai penyangga atau penahan langit-langit
bangunan tradisional Bali.
yadnya: korban suci yang dilakukan dengan hati yang tulus iklas dan tanpa
pamerih.
xxix
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seni kriya atau seni kerajinan adalah karya seni rupa yang dibuat oleh
seseorang atau kelompok masyarakat, dalam proses pergerjannnya lebih banyak
menggunakan keterampilan tangan (Kusnadi, 1983: 44). Sejalan dengan itu
Walker menyatakan kriya sebagai karya keterampilan tangan secara manual yang
ditekuni oleh masyarakat sebagai suatu pekerjaan yang berjalan secara turuntemurun (Walker, 2010: 41). Benda-benda seni kriya memiliki wujud dua dimensi
dan tiga dimensi, yang digunakan sebagai benda fungsional dan nonfungsional
untuk memenuhi kebutuhan manusia secara praktis, estetis, dan spiritual religius.
Produk seni (kriya) merupakan milik kelompok masyarakat tradisional
dalam satu komunitas (Piliang, 2003: 251). Seni kriya sebagai karya tradisional di
dalamnya terdapat norma-norma atau aturan-aturan secara budaya yang telah
memiliki pakemnya. Di dalam seni kriya terkandung nilai kepercayaan atau
keyakinan mengenai bentuk, fungsi, dan proses perwujudannya yang bersifat
kolektif, dan berulang-ulang. Produk seni kriya yang berbeda-beda sebagai ciri
khas produksi masyarakat tradisional dilandasi nilai filosofi dari masing-masing
daerah pendukungnya (Subiyantoro, 2010: 41-42).
1
2
Perwujudan seni kriya terdiri atas berbagai jenis sesuai dengan bahan yang
digunakan. Menurut Kusnadi jenis-jenis seni kriya dapat dikelompokkan menurut
bahan baku dan teknik dalam pengerjaan (Kusnadi, 1983: 44). Adapun jenis-jenis
seni kriya tersebut, antara lain seni kriya batu, seni kriya logam, seni kriya kayu,
seni kriya kulit, seni kriya anyam, seni kriya tekstil, dan seni kriya keramik.
Adapun teknik pembuatannya adalah teknik pahat atau ukir (kriya batu dan kayu),
teknik cor, las/patri dan kenteng (kriya logam), teknik tatah dan sungging (kriya
kulit), teknik anyam, simpul (kriya anyam), teknik tenun, sulam, batik (canting
dan cap), dan rajut (kriya tekstil), teknik pijit, slab, pilin, dan cetak (kriya
keramik) (Walker, 2010: 41; Bahari, 2008: 87) .
Benda-benda seni kriya tradisional diciptakan berdasarkan latar belakang
kehidupan masyarakat pedesaan yang memiliki rasa kebersamaan dan kesetiaan
yang tinggi. Sejalan dengan itu Wibowo (2007) menyatakan bahwa:
Di Indonesia kebudayaan masyarakatnya sebagian besar masih bercorak
pertanian, kebudayaan dalam konteks norma dan sistem sosial
kemasyarakatan pedesaan masih tercermin secara sadar pada setiap aspek
kehidupan. Paternalistik, kesenangan berkumpul dalam rangka suatu
solidaritas, keterlibatan keluarga, semua ini mencerminkan kebudayaan
agraris yang masih berakar, meskipun di kota besar corak kehidupan
semacam itu sudah terkontaminasi dan termodifikasi oleh berbagai macam
gaya hidup. Solidaritas sosial di desa menjadi sangat positif ketika arah
perhatian tertuju pada kebersamaan, gotong royong, saling memperhatikan, dan mendorong. Makna kebersamaan yang utama, bukan
kepentingan individu, melainkan kepentingan masyarakat (Wibowo, 2007:
23).
Kebersamaan dalam proses pengerjaan seni kriya dilakukan secara tradisional dengan alat-alat sederhana (manual) melalui sistem berkelompok. Hal itu
sejalan dengan pendapat Purnata (1977: 12), bahwa seni kriya tradisional proses
pengerjaannya dilakukan oleh perajin bersama-sama secara kolektif tanpa
3
menonjolkan kemampuan dan nama pribadi, sehingga hasil karyanya hampir sama
jika dilihat dari wujud dan fungsinya.
Selanjutnya didukung oleh pendapat
Gustami (1992: 71), sebagai karya seni tradisional, seni kriya ini tumbuh atas
ciptaan perajin dengan perasaan yang halus dan tekun, dari bahan yang tersedia di
lingkungan perajin untuk industri rumah tangga atau produksi domestik, dan
secara fungsional memiliki kegunaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang
bersifat sekuler maupun untuk kebutuhan bersifat spiritual religius.
Tegallalang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Gianyar, Bali
perajinnya membuat seni kriya. Di Tegallalang pertumbuhan seni kriya sangat
baik, karena didukung oleh nilai-nilai tradisionalisme masyarakat yang selalu
menggunakan produk seni kriya sebagai barang untuk keperluan rumah tangga,
keperluan ritual agama Hindu yang memiliki nilai estetis, maupun sebagai barang
spiritual religius. Sejalan dengan itu Suryawan (2009) menyatakan, bahwa karya
seni tradisional di Bali adalah sebagai sarana yadnya, persembahan untuk para
Dewa yang diwujudkan dalam bentuk alat-alat pelaksanaan upacara ritual. Saat ini
seni kriya masih melekat menjadi salah satu sarana upacara, di antaranya seni ukir
atau seni kriya yang dibuat dari kayu, logam, kulit, dan bahan lainnya. Seni ukir
(relief), dan wayang kulit berkembang dengan tema-tema dari cerita pewayangan
dalam Mahabharata dan Ramayana (Suryawan, 2009: 247-248).
Membuat seni kriya tradisional dilakukan oleh masyarakat perajin di
Tegallalang, Gianyar Bali, dan menghasilkan karya-karya seni kriya tradisional
yang sangat kental dengan nilai seni budaya Bali. Karya-karya seni yang dibuat,
seperti seni pahat garuda, singa, perwujudan para dewa, tokoh-tokoh pewayangan,
4
pratima ( perwujudan yang sakral untuk di pura), dulang (wanci), bokor, salang,
saab, benda-benda perlengkapan upacara ritual dengan motif-motif pepatran,
kekarangan, pewayangan, dan bentuk-bentuk lainnya untuk keperluan masyarakat
Bali. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Covarrubias (1974), bahwa di desa
Sebatu, Tegallalang anak-anak sudah bisa membuat patung kecil-kecil dengan
bentuk lucu yang berbahan kayu digunakan sebagai tutup botol (alat perlengkapan
upacara ritual) yang berbentuk manusia, burung, kodok, ular, dan lain-lain
(Covarrubias, 1974: 160). Membuat seni kerajinan sudah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat Tegallalang, mulai dari anak-anak sampai orang tua dapat
membuat produk-produk untuk kebutuhan masyarakat tradisional.
Bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat seni kriya tradisional
perajin di Tegallalang mengambil kayu yang tumbuh di lingkungan sekitarnya.
Peralatan yang digunakan dalam proses produksi adalah peralatan tradisional,
antara lain pahat, penguktik, palu (pengotok), gergaji tangan untuk memotong
kayu, dan peralatan tradisional lainnya. Para perajin kebanyakan berasal dari
lingkup keluarga, sedangkan sistem pengelolaannya dilakukan melalui sistem
manajemen informal, dan keluarga bukan sebagai
unit produksi. Penjualan
produk seni kriya masih terbatas pada kebutuhan keluarga atau masyarakat yang
bersifat lokal. Holt (2000) menyatakan dalam pembuatan seni kriya sebagai
produk tradisional, seni kriya dibuat melalui teknik kekriyaan yang tinggi dan
bahan yang berkualitas, sehingga menghasilkan produk seni kriya yang
berkualitas (Holt 2000: 256).
5
Keberadaan seni kriya sebagai karya tradisional masyarakat Tegallalang
dalam tataran ideal selalu dipertahankan, dalam arti tidak akan mudah berubah
karena banyak karya-karya seni kriya dalam perwujudannya dilandasi oleh
kebudayaan Bali. Menurut Mantra, kebudayaan Bali tumbuh berdasarkan normanorma budaya agama Hindu (1996: 2). Masyarakat masih meyakini bahwa
terciptanya suatu karya seni tradisional oleh seniman memiliki taksu (nilai-nilai
agama Hindu) yang menjiwainya, sehingga karya seni tersebut memiliki daya
tarik/daya pikat yang sangat kuat. Sejalan dengan hal tersebut Dibia (2012)
menyatakan, bahwa dalam penciptaan karya seni terjadi keterlibatan bathin yang
mendalam atau memiliki kemampuan khusus atau kekuatan yang memungkinkan
baginya menghasilkan karya dengan kualitas yang luar biasa (Dibia, 2012: 18).
Penciptaan karya seni kriya berkualitas merupakan tanggung jawab dari
masyarakat perajin di Tegallalang. Karya yang diciptakan diperuntukkan bagi
kepentingan masyarakat yang kemudian dipersembahkan ke hadapan Maha
Pencipta. Di samping itu pula terdapat sikap penghormatan terhadap para leluhur
yang telah mewariskan nilai budaya yang dapat jadikan sebagai objek
berkreativitas untuk bekerja dan pelestarian nilai budaya. Sebagai masyarakat
yang menganut konsep ritual penciptaan karya seni oleh masyarakat Bali dapat
pula diartikan sebagai bentuk yadnya seperti yang dikatakan oleh O’Dea dalam
Sumandiyo Hadi (2002: 31).
Globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini menyebabkan seni kriya
yang dibuat perajin di Tegallalang
mengalami perubahan atau pergeseran.
Perubahan tersebut bukan saja dalam pemanfaatan bahan, alat-alat yang
6
dipergunakan, namun berbagai sektor mengalami perubahan. Seiring dengan
perubahan tersebut, Atmadja menyatakan, globalisasi membawa perubahan dalam
kehidupan sosial masyarakat (Atmadja, 2010: 1). Perubahan sosial pada
masyarakat tidak saja berlangsung sangat cepat, tetapi juga berdimensi amat luas,
yakni menyangkut berbagai bidang kehidupan yang berkaitan satu bidang dengan
bidang yang lainnya (Pitana, 1994: 3). Globalisasi diiringi oleh perkembangan
teknologi membawa nilai-nilai baru dan bahkan sering menimbulkan konflik di
berbagai sektor budaya. Kecenderungan untuk terpandang baru atau modern
merupakan gejala umum di masyarakat tradisional yang sibuk mencari bentukbentuk dirinya. Peralatan yang serba mesin mengubah fungsi tangan, dan bagianbagian badan lainnya, sehingga sebagian besar berubah fungsi karena
perlengkapan yang serba elektronik. Bentuk mencerminkan fungsi, perubahan
fungsi tentunya menimbulkan perubahan bentuk (Gelebet, 1982: 2). Demikian
halnya adanya perubahan dalam kebudayaan sering menimbulkan dilema antara
tradisi yang cenderung bertahan dan modernisasi yang cenderung merombak
dengan membawa nilai-nilai baru.
Globalisasi menimbulkan perubahan sosial dan kebudayaan yang dialami
oleh perajin di Tegallalang, dan mengakibatkan terjadinya penurunan nilai-nilai
kekriyaan dalam proses pembuatan seni kriya. Hal ini disebabkan oleh berbagai
motivasi dan faktor pendorong secara kebetulan atau pun direncanakan. Menurut
Pujilaksono, sebagaimana dikutip oleh Arimbawa (2011), terjadinya perubahan
dan perkembangan karena termotivasi oleh pengaruh eksternal dan internal,
sebagai akibat terjadinya interaksi dengan unsur kebudayaan lain dan latar
7
belakang ideologi atau inovasi/baru. Perubahan tersebut dapat mengakibatkan
hilangnya unsur-unsur kebudayaan material yang pernah ada atau pemertahanan
unsur-unsur budaya masa lalu dan terjadi dalam proses adaptasi dengan unsurunsur budaya yang baru (Arimbawa, 2011: 3)
Menurut Abercrombie dkk. (2010), unsur budaya baru yang terjadi dalam
perubahan nilai-nilai tradisional ke nilai-nilai modern dalam industrialisasi
berorientasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan mengikuti perkembangan dan penerapan sumber-sumber tenaga mesin untuk memekanisasi
produksi. Industrialisasi yang terjadi pada saat ini merupakan proses produksi dari
proses tradisional yang manual (menggunakan tangan), kemudian berkembang
menjadi industri mesin. Proses ini telah mengalami perubahan dengan melibatkan
berbagai komponen dalam pembagian kerja, sehingga terjadi spesialisasi kerja,
rasionalisasi, dan hubungan produksi sosial yang baru (Abercrombie, dkk., 2010:
277).
Berkaitan hal itu, industrialisasi pada seni kriya di Tegallalang terjadi
perubahan dalam proses pembuatan dan jenis produk yang dihasilkan. Seni kriya
pada mulanya dalam proses pengerjaannya secara manual, namun sekarang terjadi
perubahan proses, selain menggunakan tangan juga menggunakan mesin, bahkan
ada dengan teknik cetak sehingga menghasilkan produk massal. Begitu pula
produk yang dibuat bukan saja seni kriya tradisional seperti wujud singa, garuda,
maupun tokoh- tokoh pewayangan, namun didominasi oleh jenis produk seni
kriya pop, seperti kucing, kuda, jerapah, serta berbagai jenis seni kriya
kontemporer lainnya. Perajin yang semula hanya dalam lingkup keluarga saja,
8
sekarang ditambah dari keluarga lain, bahkan
banyak mendatangkan perajin
(tenaga upahan) dari daerah lain. Sistem pengelolaan tidak lagi melalui sistem
ekonomi informal yang berbasis keluarga, melainkan berubah menjadi sistem
ekonomi formal melalui manajemen pembagian kerja melalui sistem secara
profesional, serta pengaturan waktu yang sangat ketat bahkan telah terprogram.
Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat produk seni kriya sebelumnya
hanya mengandalkan bahan yang berada di daerah sendiri, tetapi sekarang
merambah ke daerah lain untuk mencukupi ketersediaan bahan baku produk seni
kriya, seperti dari daerah Kintamani, Bangli, Karangasem, Buleleng, dan daerah
lainnya di Bali, dan bahkan mendatangkan dari luar Bali.
Berdasarkan penelitian Suryana (2008), fenomena industrialisasi terhadap
seni kriya di Tegallalang mulai terjadi tahun 1980-an. Ketika itu perajin masih
memproduksi seni kriya dalam bentuk binatang, tiruan tumbuh-tumbuhan, dan
juga buah-buahan. Tahun 1990-an perkembangannya semakin pesat seiring
dengan perkembangan pariwisata di Bali, sehingga berbagai produk seni kriya pop
dan kontemporer diciptakan oleh perajin untuk memenuhi kebutuhan pasar
(Suryana, 2008: 16-17). Bersamaan dengan itu, Tegallalang banyak didatangi oleh
perajin dari luar daerah untuk membuat seni kriya secara massal guna memenuhi
permintaan pasar. Di samping itu toko-toko seni (art shops) banyak bermunculan
di daerah Tegallalang untuk menjual berbagai produk seni kriya.
Pergeseran pembuatan produk seni kriya tradisional menjadi produk
industri budaya yang terdapat di Tegallalang lebih banyak berorientasi pada nilainilai komersial. Barang-barang yang diproduksi sudah menuju barang konsumsi
9
massa. Untuk memenuhi kebutuhan produk massal, bahan yang semula diambil
dari daerah setempat tidak mencukupi, sehingga mengambil bahan dari daerah
lain. Bahan baku yang digunakan banyak didatangkan dari luar Tegallalang,
sehingga para perajin sampai saat ini masih dibayangi kesulitan untuk
memproduksi seni kriya dalam jumlah besar. Bahkan untuk mencapai target
penjualan yang tinggi, perajin sangat gencar mengembangkan produk dan mencari
celah dalam memasarkan produknya. Produk seni kriya diproduksi secara massal
dengan membuat berbagai model, warna, dan ukuran dijual dalam sistem paket.
Pemasarannya dijual di toko seni, pasar seni (lingkup lokal), ada yang dikirim ke
luar daerah (secara nasional), dan banyak pula yang bekerjasama dengan kargo
untuk pemasaran ke luar negeri (internasional/global), atau melalui sistem online
(internet) (Bisnis Bali, Senin, 1 Juli 2013).
Pembuatan produk massal secara mekanis membuat perajin di Tegallalang
sebagai masyarakat penghasil seni kriya tradisional menjadi semakin terdesak
karena munculnya kekuatan ekonomi dalam kekuasaan kapitalis. Produk seni
kriya tradisional menjadi termarjinalisasi dengan adanya produk mekanis yang
lebih menitikberatkan pada ideologi pasar dengan memproduksi barang secara
massal dalam waktu yang singkat untuk mendapatkan keuntungan sebanyakbanyaknya. Industrialisasi seni kriya dalam kehidupan pariwisata membuat
perkembangannya menjadi semakin tidak terkendali. Menurut Gustami (2008:
18), industri pariwisata yang berkembang sangat pesat membuat para pelaku seni
kriya berburu untuk menghasilkan produk sebagai material perdagangan, yang
secara terselubung didorong atas keinginan pemilik modal (kapitalis).
10
Kemajuan industri pariwisata di Bali pada umumnya, dan Tegallalang
khususnya membuat seni kriya menjadi produk andalan bagi kapitalis sebagai
produk perdagangan (Adian 2011: 23), seni kriya awalnya dibuat untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat kini lebih banyak sebagai material perdagangan. Dalam
kondisi seperti ini, kaum kapitalis dapat memainkan kekuasaannya terhadap
perajin. Oleh karena itu dalam memproduksi seni kriya perajin sangat tergantung
pada kapitalis yang menjadi agen dalam menentukan jenis produksi sesuai dengan
permintaannya. Sementara itu menurut pendapat Marcuse sebagaimana seperti
yang ditulis oleh Sachari (2002: 30), industri seni pada zaman modern semakin
gencar dilakukan, karena banyaknya barang seni yang diproduksi secara massal,
sehingga karya estetik jatuh menjadi komoditas.
Dalam industrialisasi seni kriya di Tegallalang ada permainan modal yang
dilakukan oleh pemangku kepentingan/stakeholder untuk merebut kekuasaan.
Para pemangku kepentingan melakukan praktik sosial melalui modal. Pemilik
modal yang lebih besar dan mobilitas yang lebih tinggi lebih dominan, sedangkan
yang paling kecil modalnya akan termarjinalisasi atau terpinggirkan. Permainan
tersebut dapat dilakukan oleh para pemangku kepentingan, seperti keluarga
pembuat seni kriya dan pemilik art shop, desa pakraman, desa dinas, pemerintah,
perajin, pemasok bahan baku, lembaga keuangan, dan konsumen mancanegara.
Pertarungan berbagai modal dilakukan oleh para pemangku kepentingan.
Menurut pandangan Bauman (1998) sebagaimana ditulis oleh
Ritzer (2012),
modal dan mobilitas telah menjadi faktor terpenting dan yang paling membedakan
dalam stratifikasi sosial. Pemenang dalam perang ruang ini adalah mereka yang
11
memiliki modal besar dan mobilitas yang mampu bergerak bebas dalam segala
bidang. Mereka yang tidak memiliki modal dan mobilitas selalu menjadi
pecundang dan akan terpinggirkan (Ritzer, 2012: 983). Kekuasaan para pemodal
berada pada wilayah yang aman dari para pecundang atau pemilik modal kecil dan
yang selalu termarjinalkan.
Praktik sosial melalui permainan modal yang dilakukan oleh pemangku
kepentingan dalam industrialisasi seni kriya berimplikasi pada perilaku perajin
dalam memproduksi seni kriya. Perajin dalam bekerja kemungkinan berada di
bawah kekuasaan kapitalis karena mereka yang memiliki modal sehingga mereka
akan membuat produk seni kriya sesuai dengan permintaan atau pesanan dari
kapitalis. Perajin bekerja hanya memenuhi pesanan dari konsumen (make to
order), sehingga mereka menjadi kehilangan identitas Bali. Perajin boleh jadi
membuat produk seni kriya apa saja sesuai dengan keinginan perajin itu sendiri
tanpa mau mengikuti perintah atau diatur oleh para konsumen, sehingga mereka
menghasilkan berbagai jenis (beragam) produk seni kriya.
Industrialisasi pada era globalisasi saat ini membuat produk-produk seni
kriya atau desain-desain kriya dari luar masuk ke Bali dan Tegallalang khususnya
yang dipasok oleh pemilik modal ekonomi. Produk seni kriya sangat beragam dan
menjadi tantangan bagi perajin dalam mempertahankan produk-produk seni kriya
tradisional Bali. Di samping itu juga terjadi persaingan yang semakin ketat dalam
memproduksi seni kriya untuk memenuhi permintaan pasar. Seni kriya tumbuh
oleh sistem kapitalis pasar sebagai produk massal dan bersifat pasaran, yang
dikonstruksi untuk memenuhi kepentingan pasar.
12
Sehubungan dengan hal itu, industrialisasi seni kriya pada era globalisasi
yang terjadi di Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali sangat penting untuk diteliti
dalam konteks kajian budaya, sehingga dapat mengungkap ideologi apa yang ada
dalam praktik industrialisasi seni kriya. Kajian yang lebih kritis diperlukan
sehingga permasalahan yang muncul dapat diungkap secara akademik dengan
menggunakan teori-teori kritis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, terjadinya industrialisasi seni kriya pada era
globalisasi di Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali pada saat ini akan berpengaruh terhadap produk seni kriya yang diproduksi oleh
perajin. Dalam indus-
trialisasi seni kriya ada ideologi dan permainan modal yang melatarbelakanginya,
sehingga terjadi penciptaan produk secara mekanis yang bersifat massal. Adapun
pertanyaannya dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Mengapa terjadi industrialisasi seni kriya di Kecamatan Tegallalang,
Gianyar, Bali?
2. Bagaimana para pemangku kepentingan berperan untuk memainkan
kekuasaan dalam industrialisasi seni kriya di Kecamatan Tegallalang,
Gianyar, Bali?
3. Bagaimana implikasi industrialisasi seni kriya pada perajin setempat
dan benda-benda seni kriya yang ditampilkannya?
13
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, memahami, dan
mendeskripsikan sistem operasional, reproduksi dan kuasa para pemangku
kepentingan dan implikasinya dalam industrialisasi seni kriya di kecamatan
Tegallalang, Gianyar, Bali.
1.3.2 Tujuan Khusus
Sesuai uraian permasalahan di atas, tujuan khusus penelitian adalah untuk
mendeskripsikan secara ilmiah variabel-variabel penting dalam penelitian, sebagai
berikut.
1. Untuk mengkaji alasan maknawi terjadinya industrialisasi seni kriya di
Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali.
2. Untuk mengkaji peran para pemangku kepentingan dalam memainkan
kekuasaan dalam industrialisasi seni kriya di Kecamatan Tegallalang,
Gianyar, Bali.
3. Untuk mengakaji implikasi industrialisasi seni kriya pada perajin
setempat dan benda-benda seni kriya yang ditampilkannya.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoretis
Secara teoretis temuan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada
khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam kaitannya dengan masalah-masalah
seni, lebih khususnya seni kriya yang selama ini lebih banyak dikaji melalui
14
estetika teks rupa secara visual. Padahal dalam perkembangan (industrialisasi)
seni kriya perlu juga diungkap secara konteksnya. Dalam pengungkapannya hal
ini memerlukan adanya kajian yang lebih komprehensif sehingga pemahaman
kasus ini dapat dikaji dari perspektif lintas budaya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis temuan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan
memberikan penyadaran dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam seni
kriya sebagai warisan budaya Bali. Dalam hal ini: (1) pihak pemerintah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebagai pengambil kebijakan dalam
menentukan peraturan tentang industri seni kriya yang ada di Bali. (2) Dunia
industri pariwisata untuk memajukan industri seni kriya dalam memenuhi
kebutuhan pariwisata tanpa mengabaikan karakteristik seni kriya Bali. (3) Para
perajin sebagai sumber informasi dan acuan dalam rangka pengembangan seni
kriya tradisional Bali dalam bentuk kreativitas seni. (4) Peneliti lain sebagai
informasi, menambah pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran arti penting
mengenali dan memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam seni kriya tradisional
sebagai warisan budaya.
Download