hubungan lama hemodialisa dengan insomnia pada pasien gagal

advertisement
HUBUNGAN LAMA HEMODIALISA DENGAN INSOMNIA PADA PASIEN
GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA
DI RST. DR ASMIR SALATIGA
ARTIKEL ILMIAH
OLEH:
ANA PURNAMA SARI
010111a006
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
FEBRUARI, 2016
HUBUNGAN LAMA HEMODIALISA DENGAN INSOMNIA
PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK
YANG MENJALANI HEMODIALISA
DI RST. DR. ASMIR SALATIGA
Ana purnama sari* Raharjo Apriyatmoko, SKM., M.Kes* Eko Susilo, S.Kep., Ns.,
M.Kep
ABSTRAK
Latar belakang: Salah satu komplikasi yang sering dialami oleh pasien gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisa adalah gangguan tidur. Gangguan tidur dialami oleh setidaknya
50-80% pasien yang menjalani hemodialisis > 12 bulan. Tujuan: Tujuan penelitian ini
adalah mengetahui hubungan lama hemodialisa dengan insomnia pada pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisa di RST. Dr. Asmir Salatiga.
Metode: Penelitian dengan Pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua
pasien yang menjalani hemodialisa di RST. Dr. Asmir salatiga berjumlah 35. Metode
pengambilan sampel dengan cara total sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kuesioner KSPBJ-IRS. Uji statistik menggunakan uji Kendall Tau.
Hasil: Sebagian besar responden baru menjalani hemodialisa sebanyak 22 responden (62,9%)
dan yang lama sebanyak 19 responden (37,1%). Sebagian besar tingkat insomnia ringan
sebanyak 16 responden (54,3%), tidak insomnia sebanyak 10 responden (28,6%), dan
insomnia berat sebanyak 6 responden (17,1%).
Simpulan: Tidak ada hubungan antara lama hemodialisa dengan insomnia pada pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RST. Dr. Asmir Salatiga dengan p value 0,776.
RS diharapkan memperhatikan psikologis masing-masing pasien hemodialisa baik yang
menjalani hemodialisa baru ataupun lama karena keduanya sama-sama ditemukan ada yang
mengalami insomnia ada yang tidak.
Kata kunci
Kepustakaan
: Lama Hemodialisa, Insomnia
: 30 pustaka (2002 – 2012)
ABSTRACT
Background : One complication that is often experienced by patients with chronic renal
failure undergoing hemodialysis is sleep disorder. Sleep disorder is experienced by at least
50-80% patients who undergo hemodialysis> 12 months. Objectives : The purpose of this
study was to determine the relationship between the duration of hemodialysis and insomnia in
patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis in RST (Army Hospital) Dr.
Asmir Salatiga.
Method : The research used cross sectional approach. The study population was all patients
undergoing hemodialysis in RST (Army Hospital) Dr. Asmir Salatiga as many as 35 persons.
The sampling method used total sampling. Measuring tool used questionnaires of KSPBJIRS. Statistical test used Kendall Tau test.
Results : Most of the respondents who had just undergone hemodialysis were 22 respondents
(62.9%) and who had undergone hemodialysis for several times were 13 respondents
(37.1%). Most of the respondents who had mild insomnia were 19 respondents (54,3%), who
did not suffer from insomnia were 10 respondents (28,6%), and heavy insomnia were 6
respondents (17,1%).
Conclusion : There was no relationship between the duration of hemodialysis with insomnia
in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis in the RST (Army Hospital)
Dr. Asmir Salatiga with p value 0.776.
The hospital is expected to pay attention to the psychology of hemodialysis patients who
undergo hemodialysis either new or long duration because they both may suffer from
insomnia or not.
Keywords
: Long duration of hemodialysis, Insomnia
Bibliographies
: 30 references (2002-2012)
Pendahuluan
Gagal ginjal kronis merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan ireversibel
dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan
metabolisme
dan
keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uresemia (retensi urea dan
sampah nitrogen lain dalam darah)
(Brunner & Suddarth, 2001).
Angka kejadian gagal ginjal kronik
meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah
gagal ginjal kronik di dunia tahun 2009 di
Amerika Serikat rata-rata prevalensinya
10-13% atau sekitar 25 juta orang yang
terkena
Penyakit
Ginjal
Kronik.
Sedangkan di Indonesia tahun 2009
prevalensinya 12,5% atau 18 juta orang
dewasa yang terkena penyakit ginjal
kronik. Menurut data Dinas Kesehatan
Jawa Tengah jumlah penderita gagal ginjal
kronik di Jawa Tengah tahun 2004 sekitar
169 kasus (Thata, Mohani, Widodo, 2009).
Menurut data dari peneftri (persatuan
nefrologi indonesia), diperkirakan ada 70
ribu penderita ginjal di Indonesia, namun
yang terdeteksi menderita gagal ginjal
kronis tahap terminal dari mereka yang
menjalani cuci darah (hemodialisis) hanya
sekitar 4 ribu sampai 5 ribu saja.
Diperkirakan bahwa lebih dari 100.000
pasien yang akhir-akhir ini menjalani
hemodialisis. (Syamsir A. & Iwan H.,
2007, Brunner & Suddarth, 2001).
Hemodialisa
merupakan
proses
penyaringan sampah metabolisme dengan
menggunakan membrane semi-permeable
yang berfungsi sebagai ginjal buatan atau
yang disebut dengan dialyzer (Thomas,
2002; Price & Wilson, 2003). Tindakan
tersebut bertujuan untuk mengoreksi
gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit, serta mengeliminasi sisa produk
metabolisme protein (Kallenbach, 2005;
Sukandar, 2006). Namun demikian,
hemodialisa tidak menyambungkan atau
memulihkan penyakit ginjal dan tidak
mampu mengimbangi hilangnya aktivitas
metabolic
atau
endokrin
yang
dilaksanakan oleh ginjal, sehingga pasien
tetap mengalami berbagai kompllikasi
baik dari penyakitnya maupun juga
terapinya (Brunner & Suddarth, 2001).
Salah satu komplikasi yang sering dialami
oleh pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisa adalah gangguan
tidur.
Gangguan tidur dialami oleh setidaknya
50-80%
pasien
yang
menjalani
hemodialisis (Merlino, at al, 2006). Sabry,
at al (2010) dalam penelitiannya mengenai
Sleep disorders in haemodialysis patient
menjelaskan bahwa prevalensi gangguan
tidur pada 88 pasien hemodialisis kronis
selama 4 bulan adalah 79,5%, dan
gangguan tidur yang paling umum adalah
insomnia (65,9%). Hasil penelitian
sabbatini, et al. (2002), menunjukkan
risiko tinggi insomnia pada pasien yang
menjalani HD lebih dari 12 bulan. Hal ini
berhubungan dengan makin progresifnya
gejala dan penyakit yang mendasari terapi
dialysis pada penderita yang menjalani HD
dalam waktu yang lama. Seperti
peningkatan hormone paratiroid (PTH)
dan osteodistrofi renal (Sabbatini, et al,
2002).
Insomnia
adalah
ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan tidur, baik secara
kualitas maupun kuantitas. Insomnia
adalah gejala yang dialami oleh orang
yang mengalami kesulitan kronis untuk
tidur, sering terbangun dari tidur, dan tidur
singkat atau tidur nonrestoratif (Perry &
Potter, 2005).
Individu yang menderita insomnia tidak
merasa segar pada saat bangun tidur,
mengalami ngantuk yang berlebihan di
siang hari dan kualitas tidurnya tidak
cukup, letih, depresi, dan cemas (Kozier,
2010; Potter, 2005). Pada akhirnya,
insomnia yang dialami pasien gagal ginjal
yang
menjalani
hemodialisa
akan
menyebabkan penurunan kualitas hidup
pasien, seperti: 1) Fisik: kelemahan fisik,
sesak nafas, perubahan pola nutrisi, dll.; 2)
Psikologi: perasaan positif dan perasaan
negative.; 3) Hubungan social: kurang
bersosialisasi, disfungsi seksual, dan butuh
dukungan.; 4) Lingkungan: perubahan
status ekonomi dan butuh informasi
(Unruh ML, et al, 2006; Putri dewi M,
2014).
berjumlah 35 pasien yang masih aktif
menjalani terapi HD berdasarkan data
rekam medik. Sampel yang di ambil dalam
penelitian ini adalah 35 pasien. Tempat
penelitian dilakukan di RST. Dr. Asmir
salatiga. Waktu pelaksanaan pada bulan
Agustus 2015.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang
dilakukan di RST. Dr. Asmir salatiga
dengan melakukan wawancara tentang
mengenai sulit tidur pada 8 pasien gagal
ginjal kronik yang melakukan terapi
hemodialisa. Didapatkan 2 pasien sudah 1
tahun menjalani terapi HD mengalami sulit
tidur setelah menjalani terapi HD. 5 pasien
kurang dari 1 tahun menjalani terapi HD
mengalami kesulitan tidur. Sedangkan 1
pasien yang sudah lebih dari 1 tahun
menjalani terapi HD mengalami gangguan
tidur sejak sebelum menjalani terapi HD.
Dari studi pendahuluan dapat disimpulkan
antara pasien yang menjalani terapi HD
lebih dari 1 tahun sebagian besar
mengalami sulit tidur dan pasien yang
menjalani terapi HD kurang dari 1 tahun
ada juga yang mengalami sulit tidur. Dari
keduanya didapatkan pula pasien yang
mengalami kesulitan tidur sejak sebelum
HD. Berdasarkan fenomena tersebut
peneliti ingin melakukan penelitian
tentang “Hubungan Lama Hemodialisa
Dengan Insomnia pada Pasien Gagal
Ginjal
Kronik
Yang
Menjalani
Hemodialisa Di RST. Dr. Asmir Salatiga”.
Alat pengumpulan data yang digunakan
adalah kuesioner dan data dari rekam
medic pasien. Teknik pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah total sampling.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan lama hemodialisa
dengan insomnia pada pasien gagal ginjal
kronik yang menjani hemodialisa di RST.
Dr. Asmir Salatiga
Metode Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan
metode penelitian deskriptif analitik
dengan pendekatan cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
pasien yang menjalani hemodialisa di
RST. Dr. Asmir salatiga. Populasi
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Distribusi frekuensi lama hemodialisa
pada pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisa di RST. Dr.
Asmir Salatiga
Lama
Hemodialisa
Baru
Lama
Total
Frekuensi
22
13
35
Persentase
(%)
62,9
37,1
100,0
Tabel 4.1. menunjukkan bahwa sebagian
besar
responden
baru
menjalani
hemodialisa sebanyak 22 responden
(62,9%), sedangkan responden yang lama
menjalani hemodialisa sebanyak 13
responden (37,1%).
Hasil penelitian menunjukkan sebagian
besar
responden
baru
menjalani
hemodialisa sebanyak 22 responden
(62,9%).
Sebagian
besar
pasien
hemodialisa adalah baru disebabkan
banyak klien gagal ginjal kronik yang
meskipun melakukan hemodialisa tetap
tidak bertahan hidup.
Pasien baru memerlukan hemodialisa
dimana hemodialisis merupakan suatu cara
untuk
mengeluarkan
produk
sisa
metabolisme berupa larutan dan air yang
ada pada darah melalui membaran semi
permeable atau dialyzer (Thomas, 2002),
bertujuan untuk mengoreksi gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit,
mengurangi nilai urea nitrogen darah,
kretinin, hiperkalemia dan memperbaiki
keadaan
asidosis
metabolic,
serta
mengatasi anemia (Smeltzer & Bare, 2001;
Kallenbach, et al, 2005).
Namun dalam penelitian ini penelitian juga
didapatkan pasien yang lama (≥ 12 bulan)
hemodialisanya sebanyak 13 responden
(37,1%). Meskipun hemodialisis dapat
memperpanjang usia tanpa batas yang
jelas, namun tindakan ini tidak akan
mengubah perjalanan alami penyakit ginjal
yang mendasari dan juga tidak akan
mengembalikan seluruh fungsi ginjal.
Pasien tetap akan mengalami sejumlah
permasalahan dan komplikasi. Nurchayati
(2011)
mengungkapkan
bahwa
hemodialisis merupakan terapi pengganti
ginjal yang digunakan pada pasien dalam
keadaan gagal ginjal akut dan pasien
dengan penyakit ginjal stadium terminal.
Seseorang yang telah divonis menderita
gagal ginjal harus menjalani terapi
pengganti ginjal seumur hidup, dan salah
satu pilihannya adalah hemodialisis.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Rosdiana I (2011)
dengan judul analisis faktor yang
berhubungan dengan kejadian insomnia
pada pasien gagal ginjal kronikyang
menjalani hemodialisa di RS umum daerah
tasikmalaya dan garut dimana sebagian
besar responden lama hemodialisa (≥11
bulan) sebanyak 54 orang (50,9%).
Penelitian tersebut berbeda dengan hasil
penelitian yang peneliti lakukan dimana
sebagian besar responden baru menjalani
hemodialisa sebanyak 22 responden
(62,9%).
Distribusi frekuensi tingkat insomnia
pada pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisa di RST. Dr.
Asmir Salatiga
Tingkat
Insomnia
Tidak Insomnia
Ringan
Berat
Total
Frekuensi
10
19
6
35
Persentase
(%)
28,6
54,3
17,1
100,0
Tabel 4.2. menunjukkan bahwa sebagian
besar responden mengalami insomnia
ringan sebanyak 19 responden (54,3%),
responden yang tidak mengalami insomnia
sebanyak 10 responden (28,6%), dan
responden yang mengalami insomnia berat
sebanyak 6 responden (17,1%).
Hasil penelitian menunjukkan sebagian
besar tingkat insomnia ringan sebanyak 19
responden (54,3%). Insomnia didefinisikan
sebagai keluhan kesulitan untuk memulai
tidur, kesulitan mempertahankan tidur,
bangun terlalu dini
dan tidak dapat
kembali tidur, atau tidur dengan kualitas
yang buruk (American Academy Of Sleep
Medicine, 2008).
Menurut Kozier (2010), Insomnia adalah
ketidakmampuan untuk tidur dengan
jumlah atau kualitas yang cukup. Individu
yang menderita insomnia tidak merasa
segar pada saat bangun tidur. Dengan
demikian,
Insomnia
merupakan
ketidakmampuan
untuk
mencukupi
kebutuhan tidur baik secara kualitas
maupun kuantitas.
Hasil penelitian didapatkan pasien yang
tidak mengalami insomnia sebanyak 10
responden (28,6%). Pasien yang tidak
insomnia
disebabkan
pasien
telah
menerima. Penelitian Romani NK, dkk.,
(2013) bahwa sumber koping yang
dimanfaatkan
dengan
baik
dapat
membantu pasien GGK mengembangkan
mekanisme koping yang adaptif, sehingga
pasien GGK dapat menanggulangi
kecemasannya.
Selain
itu
terapi
hemodialisis bisa terus diikuti pasien
karena pasien sudah bisa beradaptasi
dengan alat/unit HD sehingga pasien tetap
semangat untuk menjalani terapi (Wijaya,
A., 2005).
Gejala-gejala insomnia dapat disebabkan
oleh berbagai faktor biologis, psikologis
dan sosial. Mereka paling sering
mengakibatkan
jumlah
tidur
tidak
memadai, meskipun penderita memiliki
kesempatan untuk dapat tidur penuh
malam hari (American Academy Of Sleep
Medicine, 2008).
Kebanyakan insomnia diakibatkan oleh
stress,
maka
terdapat
peningkatan
noradrenalin serum, peningkatan ACTH
dan kortisol, juga penurunan produksi
melatonin. Kemungkinan penurunan kadar
melatonin adalah karena penurunan Fungsi
adrenergik yang terjadi pada gagal ginjal
kronis (Karasek et al. 2002). Faktor
selanjutnya yang mungkin mempengaruhi
tingkat
melatonin
adalah
hormon
paratiroid.
pada
pasien
dengan
hemodialyzed
hiperparatiroidisme,
paratiroidektomi signifikan meningkatkan
sekresi melatonin nocturnal (R. Kancheva,
2008).
Hasil penelitian didapatkan pasien yang
mengalami insomnia berat sebanyak 6
responden (17,1%). Insomnia yang berat
dapat berbahaya bagi kesehatan pasien.
orang yang tidur kurang dari 5 jam selama
memiliki angka harapan hidup lebih
sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam
semalam. Hal ini kemungkinan disebabkan
karena penyakit yang menginduksi
insomnia yang memperpendek angka
harapan hidup atau karena high arousal
state yang terdapat pada insomnia
mempertinggi angka mortalitas atau
mengurangi kemungkinan sembuh dari
penyakit (Turana, 2007).
Waleed A (2013) meneliti tentang
Insomnia pada Pasien dengan Gagal Ginjal
Menjalani Hemodialisis dengan hasilnya
dimana Insomnia dilaporkan oleh 53,4% di
antara 88 pasien yang menjalani
hemodialisis. Insomnia secara bermakna
dikaitkan dengan usia, hemodialisis di pagi
hari, sindrom kaki gelisah dan kehadiran
diabetes mellitus. Tidak ada hubungan
yang signifikan antara insomnia dan
variabel lain (Body Mass Index, jenis
kelamin, kebiasaan merokok dan durasi
dialisis).
Hubungan lama hemodialisa dengan
insomnia pada pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisa di
RST. Dr. Asmir Salatiga.
Lama
Hemodialisa
Tingkat Insomnia
rho
Pvalue
Tidak
Ringan
Berat
Total
Insomnia
f
%
f
% f
%
f %
Baru
7 31,8
22 100
0,776
11 50,0 4 18,2
0,04
6
Lama 3 23,1 8 61,5 2 14,4 13 100
Total 10 28,6 19 54,3 6 17,1 35 100
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa responden
yang sudah lama melakukan hemodialisa
(≥12 bulan) sebagian besar mengalami
insomnia ringan sebanyak 11 responden
(50,0%) dan responden yang baru
melakukan hemodialisa (< 12 bulan)
sebagian besar mengalami insomnia ringan
sebanyak 8 responden (61,5%).
Berdasarkan uji Kendall Tau dapat dilihat
bahwa nilai p 0,776>  =0,05 yang artinya
Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan
antara lama hemodialisa dengan insomnia
pada pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisa di RST. Dr. Asmir
Salatiga
Hasil penelitian didapatkan tidak ada
hubungan antara lama hemodialisa dengan
insomnia pada pasien gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisa di RST. Dr.
Asmir Salatiga. Hasil penelitian tidak ada
hubungan disebabkan responden yang baru
melakukan hemodialisa (<12 bulan)
sebagian besar tingkat insomnianya ringan
sebanyak 11 responden (50,0%) dan
responden
yang
lama
melakukan
hemodialisa (≥12 bulan) sebagian besar
tingkat insomnianya ringan sebanyak 8
responden (61,5%).
Insomnia pada pasien GGK memiliki
konsekuensi
yang
lebih
besar
dibandingkan pada populasi umum.
Menurut
Al-jahdali
et.al.,
(2010),
Prevalensi insomnia adalah 60,8%.
Insomnia adalah umum pada pasien
dialisis dan secara bermakna dikaitkan
dengan gangguan tidur lainnya seperti
RLS, gangguan napas saat tidur dan
kantuk di siang hari yang berlebihan (Aljahdali et.al., 2010).
Insomnia dikaitkan dengan penurunan
substansial dalam kualitas hidup. Insomnia
dapat menyebabkan distress pribadi dan
merugikan hubungan sosial dan ekonomi,
menyebabkan sejumlah efek merusak pada
perilaku, kesehatan, rasa kesejahteraan,
kenikmatan hubungan interpersonal dan
keselamatan pribadi. Insomnia dapat
mengganggu fungsi siang hari dan dapat
meningkatkan terjadinya kecelakaan (Roth
T., 2007). Individu yang menderita
insomnia tidak merasa segar pada saat
bangun tidur, mengalami ngantuk yang
berlebihan di siang hari dan kualitas
tidurnya tidak cukup, letih, depresi, dan
cemas. Sehingga insomnia yang dialami
oleh pasien gagal ginjal yang menjalani
hemodialisa
dapat
menyebabkan
penurunan kualitas hidup pasien (Unruh
ML, et al, 2006; Merlino G, 2008; Kozier,
2010; Putri dewi M, 2014).
Insomnia pada pasien dengan terapi HD
dapat terjadi akibat dari mekanisme
peningkatan dari insiden osteodistrofi
renal yang berhubungan dengan nyeri
tulang dan pruritus akibat peningkatan
kadar serum parathormon (PTH). Dengan
menurunnya filtrasi melalui glomerulus
ginjal penderita GGK dapat mengalami
peningkatan fosfat serum dan sebaliknya
penurunan
kadar
serum
kalsium,
hipokalsemia dapat merangsang sekresi
PTH. Dalam hal ini juga dapat terjadi
penurunan produksi calcitriol oleh ginjal,
yang dapat menurunkan penyerapan
kalsium
usus
yang
menyebabkan
hipokalsemia dan akibatnya, menstimulasi
sekresi PTH. Tingkat fosfat serum yang
tinggi juga memiliki efek menstimulasi
langsung pada sekresi PTH. Pasien dengan
hiperparatiroidisme memiliki berbagai
gejala yang dapat mengganggu tidur
pasien, seperti : Nyeri tulang, dan Pruritus:
Pruritus terjadi pada gagal ginjal lanjut,
terutama pada pasien dialisis, dan
kemungkinan
berhubungan
dengan
deposisi kalsium dan fosfor dalam kulit.
Lama menjalani HD juga menyebabkan
peningkatan dari paratiroid hormone
(PTH) (Abdullah M.W, 2006; Sabbatini, et
al, 2002; Alfrey AC., 2004; Tallon S., et
al., 1996).
Dalam penelitian ini didapatkan nilai p
value 0,968, yang artinya tidak ada
hubungan antara lama hemodialisa dengan
insomnia pada pasien gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisa di RST. Dr.
Asmir Salatiga didukung oleh penelitian
Waleed A (2013) tentang Insomnia pada
Pasien dengan Gagal Ginjal Menjalani
Hemodialisis dimana hasilnya adalah tidak
ada hubungan yang signifikan antara
insomnia dengan durasi dialisis.
Tidak adanya hubungan antara lama
hemodialisa dengan insomnia disebabkan
antara pasien yang baru HD dan yang lama
HD ada yang mengalami insomnia ataupun
tidak mengalami insomnia. Tidak adanya
hubungan
kemungkinan
karena
dipengaruhi faktor lain dari responden
seperti faktor psikologis yaitu depresi dan
kecemasan.
Menurut Sabbatini, et al
(2002) menyatakan bahwa status psikologi
pasien berpengaruh besar terhadap
terjadinya
insomnia
pada
pasien
hemodialisa.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini adalah belum
bisa mengendalikan faktor-faktor yang
mempengaruhi insomnia, misalnya faktor
psikologis dan lingkungan. Dalam
pengambilan data pasien tidak diobservasi
untuk menentukan kejadian insomnia yang
dialami pasien. Pasien yang mengeluh
insomnia sebelum menjalani hemodialisa
tetap dimasukan dalam penelitian, yang
kemungkinan dapat mempengaruhi hasil
penelitian.
Kesimpulan
1. Sebagian besar responden baru
menjalani hemodialisa sebanyak 22
responden (62,9%) dan yang lama
sebanyak 13 responden (37,1%).
2. Sebagian besar tingkat insomnia
ringan sebanyak 19 responden
(54,3%), tidak insomnia sebanyak 10
responden (28,6%), dan berat
sebanyak 6 responden (17,1%).
3. Tidak ada hubungan antara lama
hemodialisa dengan insomnia pada
pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisa di RST. Dr.
Asmir Salatiga dengan p value 0,776
Saran
1. Bagi Responden
Responden diharapkan tidak cemas
dalam menjalani hemodialisis karena
tidak semua responden mengalami
insomnia tergantung pada gangguan
yang terjadi pada masing-masing
responden.
2. Bagi RST. Dr. Asmir Salatiga
RS
diharapkan
memperhatikan
psikologis
masing-masing pasien
hemodialisa baik yang menjalani
hemodialisa baru ataupun lama karena
keduanya sama-sama ditemukan ada
yang mengalami insomnia ada yang
tidak.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti
selanjutnya
diharapkan
meneliti faktor yang berhubungan
dengan insomnia pada pasien gagal
ginjal kronik seperti kecemasan atau
dukungan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Jahdali, et al. (2010). Insomnia In
Chronic Renal Patients On Dialysis In
Saudi Arabia. Jurnal Of Circadian
Rhythms.
Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur
Penelitian, Suatu Proses Praktik.
Jakarta : PT
Rineka Cipta.
Baradero M., 2009. Klien Gangguan
Ginjal : Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar
Keperawatan Medical-Bedah. Ed. 8.
Jakarta: EGC.
David A., Tomb, 2003. Buku saku
psikiatri. Ed. 6. Jakarta: EGC
Elder, S.J., et al. (2008). Sleep quality
predict quality of life and mortality
risk in hemodialysis patients: results
from the Dialysis Outcomes and
Practice Patterns Study (DOPPS).
Nephrol dial transplant.
Joyce M. Black & Jane Hokanson Hawks,
2014. Keperawatan Medical Bedah
Ed.8. Singapura: CV. Pentasada Media
Edukasi.
Kallenbach, J.Z., Gutch, C.f., Marta,
S.H.,& Corca, A.L., ( 2005). Review
Of Hemodyalisis For Nurses and
Dyalysis personel. 7 th Edition, St.
Louis: Elsevier Mosby.
Kozier, dkk. 2010. Buku Ajar keperawatan
Fundamental Konsep , Proses &
Praktik. Jakarta : EGC.
Malaki M., et al. (2012). Insomnia And
Limb Pain in Hemodialysis Patients :
What is the Share of Rsless Leg
Syndrome, Saudi J Kidney Dis
Transpl.
Merlino, G., Piani, A., Dolso, P., et al.
(2006). Sleep disorders in patients with
end-stage renal disease undergoing
dialysis therapy. Nephrology, Dialysis,
Transplantation.
Mucsi, I., Molnar, M. Z., Rethelyi, J., et al.
(2004). Sleep disorders and illness
intrusiveness in patients on chronic
dialysis.
Nephrology,
Dialysis,
Transplantation.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Novak, M., et al. (2006). Diagnosis and
Management of Insomnia in Dialysis
Patients. Seminar in Dialysis.
Nurchayati, S. (2010). Analisis FaktorFaktor yang Berhubungan dengan
Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal
Kronik yang Menjalani Hemodialisis.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penelitian
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Patricia G., dkk. 2011. Keperawatan
Kritis: Pendekatan Asuhan Holistic.
Ed. 8. Jakartta: EGC.
Perry & Potter. 2005. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan. Jakarta :
EGC.
Price & Wilson, 2005. Patofisiologi :
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
Romani NK, dkk. (2013). Hubungan
Mekanisme Koping Individu Dengan
Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gagal
Ginjal Kronis Di Unit Hemodialisa
Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Rosdiana I. (2011). Analisis Faktor Yang
Berhubungan
Dengan
Kejadian
Insomnia Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik yang Menjalani Hemodialisa
Di RS Umum Daerah Tasikmalaya
Dan Garut.
Roth T. ( 2007). Insomnia: Definition,
Prevalence,
Etiology,
and
Consequences. Journal of Clinical
Sleep Medicine.
Sabbatini M., et al. (2002). Insomnia in
Maintenance Hemodialysis patients,
Nephrol Dial Transplant,
Sabry, A., et al. (2010). Sleep Disorders In
Hemodialysis Patients. Saudi J
Kidneydis Transpl.
Sukandar, E., 2006. Neurologi Klinik.
Edisi ketiga. Bandung: Pusat Informasi
Ilmiah (PII) Bagian Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD
Suwitra K., Sudoyo AW. Setiyohadi B,
Alwi I, K MS, Setiati S., 2009. Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: Interna
Publishing
Syamsir A. & Iwan H., 2007. Gagal
Ginjal. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Thata M, Mohani, Widodo. 2009. Abstrak
Penelitian Penyakit Ginjal Kronik,
retrived Maret 19, 2011.
Thomas, N. (2002). Renal nursing (2nd
edition). London united kingdom:
Elsevier science.
Unruh ML., et al. (2006). sleep Quality
and Its Correlates in the First Years of
Dialisis. Clin J Am Soc Neprhrol.
Waleed A. (2013). Insomnia In Patients
With Renal Failure Undergoing
Hemodialysis. Medical Journal of
Babylon-Vol. 10- No. 3 -2013
Wijaya, A. (2005). Kualitas Hidup Pasien
Penyakit Ginjal Kronik Yang
Menjalani Hemodialisis Dan
Mengalami Depresi.
Download