efektivitas model pembelajaran learning cycle 5e

advertisement
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E
BERBANTUAN ALAT PERAGA PADA MATERI SEGITIGA KELAS VII
TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA
Shufiana Ahmad
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNIKAL
Jl. Sriwijaya No 3 Pekalongan, [email protected]
ABSTRAK
Di dalam pembelajaran matematika, sering kali ditemukan berbagai permasalahan
misalnya kurangnya faktor dari dalam diri siswa untuk belajar yaitu motivasi untuk
berprestasi, siswa kurang memahami konsep dan kurang aktif, sehingga siswa mengalami
kesulitan dalam mengerjakan soal pemecahan masalah. Pada penelitian ini akan diterapkan
model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga pada materi segitiga kelas VII
SMP N 2 Wonotunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih
efektif, yang ditandai: (1) rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi segitiga
dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga
mencapai ketuntasan (2) rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa yang diajar dengan
model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga materi segitiga lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional (3) motivasi
berprestasi siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan alat
peraga berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa materi segitiga.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP N 2 Wonotunggal yang
terdiri dari 3 kelas dengan menggunakan teknik simple random sampling terpilih 2 kelas
sebagai sampel.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) rata-rata kelas eksperimen 76,24 secara statistik
memenuhi ketuntasan 70 (2) rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa kelas
eksperimen 76,24 secara statistik lebih baik dari pada rata-rata kemampuan pemecahan
masalah siswa pada kelas kontrol 64,1 (3) terdapat pengaruh antara motivasi berprestasi siswa
terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa dengan persamaan Ŷ = 0,2120 + 0,4630X
sebesar 56,31%.
Kata Kunci : Efektivitas, Model Pembelajaran Learning Cycle 5E, Alat Peraga, Motivasi
Berprestasi, kemampuan pemecahan masalah
ABSTRACT
In the learning of mathematics, often found a variety of problems such as the lack of the
factor of motivation for itself, the understanding of concept and less active, thus the students
have difficulty when they doing the problem-solving. This research will be applied on the
model of learning assisted 5E Learning Cycle props on the material of the triangle Grade VII
SMP N 2 Wonotunggal. This research aims to get more effective learning, marked: (1) the
average of student's problem-solving ability on the material of a triangle using model assisted
5E Learning Cycle learning props reached completely (2) the average of ability students
taught problem solving with learning cycle model 5E assisted props triangular material better
63
64 δ E L T ∆ | Vol.3 No.1, Januari 2015, hlm 63-74
than the students who taught with conventional (3) the learning motivation of students taught
with an accomplished model 5E learning cycle assisted learning props have an effect on the
ability of solving the problem student material triangle. The population in this research is all
of student grade VII SMP N 2 Wonotunggal consisting of 3 classes. The researcher used
simple random sampling technique thus it was chosen 2 classes as samples.
The results showed: (1) the average of experiments class is 76,24 statiscally reached the
completeness 70. (2) the average of ability for thier problem solving experiments class 76,24
statiscally better than the average of student's problem solving ability 64,1 in control class (3)
there are influences between the motivation of students to perform troubleshooting abilities
pupils with equation Ŷ = 0,2120 + 0, 4630X is equal to 56,31%.
Key words: effectiveness, 5E Learning Cycle Instructional Models, props, Motivated
Achievers, problem-solving ability
Pendahuluan
untuk memecahkan masalah kehidupan
Matematika merupakan pelajaran
sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola
yang dipelajari oleh semua siswa dari SD
hubungan dan generalisasi pengalaman, (4)
hingga SMA dan bahkan juga di perguruan
sarana untuk mengembangakan kreativitas,
tinggi.
dan
Matematika
secara
umum
(5)
sarana
untuk
meningkatkan
ditegaskan sebagai penelitian pola dan
kesadaran terhadap perkembangan budaya.
struktur,
Menurut pandangan
perubahan,
dan
ruang.
NCTM
(National
Matematika bisa juga diartikan penelitian
Council of Teachers of Mathematics)
bilangan dan angka. Sedangkan dalam
merekomendasikan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
pembelajaran
matematika didefinisikan sebagai ilmu
Matematika sebagai pemecahan masalah,
tentang
antara
(2) matematika sebagai penalaran, (3)
bilangan, dan prosedur operasional yang
Matematika sebagai komunikasi, dan (4)
digunakan dalam penyelesaian masalah
matematika sebagai hubungan (Suherman,
mengenai bilangan.
2003:298). Salah satu tujuan mendasar
bilangan,
hubungan
4
prinsip
matematika,
dalam
yaitu:
(1)
Ada banyak alasan tentang perlunya
dalam pandangan NCTM yang berkaitan
siswa belajar matematika. Cornelius dalam
dengan penyelesaian masalah matematika
Abdurrahman (2012:204) mengemukakan
dalam
lima alasan perlunya belajar matematika
kemampuan
karena matematika merupakan (1) sarana
berfikir yang jelas dan logis, (2) sarana
kehidupan sehari-hari adalah
pemecahan
masalah.
Ahmad, Efektivitas Pembelajaran Learning Cycle , 65
Pemecahan masalah adalah melakukan
Berdasarkan
dokumentasi
yaitu
operasi prosedural urutan tindakan, tahap
dilihat dari daftar nilai ulangan harian di
demi tahap secara sistematis, sebagai
kelas VII semester genap tahun pelajaran
seorang
2012/2013 di SMP N 2 Wonotunggal pada
pemula
memecahkan
suatu
masalah (Madewena, 2011:52).
Standar
Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara
peneliti
dengan
guru
Kompetensi
(SK)
6,
yaitu
memahami konsep segiempat dan segitiga
serta
menentukan
Kompetensi
kemampuan pemecahan masalah siswa di
mengidentifikasi
SMP
kurang
berdasarkan sisi dan sudutnya, dan 6.3
yang
menghitung keliling dan luas bangun
2
memuaskan.
Wonotunggal
Banyak
siswa
6.1,
sifat-sifat
yaitu
segitiga
beranggapan matematika adalah pelajaran
segitiga
yang sulit dan anggapan tersebut sudah
menggunakannya
melekat pada sebagian besar siswa. Siswa
masalah. Diperoleh permasalahan yaitu
mengalami kesulitan dalam mengerjakan
banyak siswa yang belum tuntas dalam
soal-soal
ulangan harian tersebut
pemecahan
masalah
yang
dan
(KD)
dan
matematika di SMP N 2 Wonotunggal,
N
Dasar
ukurannya,
segiempat
dalam
serta
pemecahan
dan persentase
diberikan oleh guru. Hanya ada beberapa
siswa yang tuntas kurang dari 80%, yaitu
siswa yang mampu menyelesaikan soal
60% untuk kelas VII A, 50% untuk kelas
tersebut dengan benar, sedangkan siswa
VII B, dan 47,5% untuk kelas VII C.
yang lain mengalami kesulitan dalam
Selain faktor
dari kemampuan
menyelesaikannya. Bahkan siswa enggan
pemecahan masalah siswa, rendahnya nilai
untuk menyelesaikan soal karena mereka
matematika di SMP N 2 Wonotunggal juga
sudah menganggap sulit terlebih dahulu
disebabkan kurangnya faktor dari dalam
soal tersebut. Sehingga mereka hanya
diri siswa untuk belajar yaitu motivasi. Hal
mengandalkan jawaban dari teman lain
ini di tunjukkan ketika guru mengajukan
atau menunggu penjelasan dari guru tanpa
pertanyaan mengenai pemahaman materi
berusaha untuk menemukan sendiri solusi
yang sudah diajarkan kepada siswa, siswa
permasalahan soal tersebut. Hal inilah
kurang merespon dengan baik mengenai
mengakibatkan nilai matematika siswa
pertanyaan yang diajukan oleh guru.
belum
Kurangnya respon siswa di tunjukkan oleh
mencapai
Kriteria
Minimum (KKM) yaitu 70.
Ketuntasan
beberapa
siswa
yang
mengajukkan
66 δ E L T ∆ | Vol.3 No.1, Januari 2015, hlm 63-74
pertanyaan, siswa yang lainnya cenderung
kegiatan
pasif
karena siswa merasa takut untuk
sedemikian rupa sehingga siswa dapat
mengajukan pertanyaan. Di sini terlihat
menguasai kompetensi-kompetensi yang
kurangnya motivasi siswa untuk berprestasi
harus dicapai dalam pembelajaran dengan
lebih baik.
berperan
Motivasi berprestasi
(fase)
yang
aktif.
diorganisasi
Model
Pembelajaran
merupakan
Learning Cycle 5E merupakan salah satu
bagi siswa,
model pembelajaran dengan pendekatan
bagi siswa dapat mendorong semangat
konstruktivistik yang terdiri atas 5 tahap:
untuk
pembangkitan
hal
yang
cukup penting
berprestasi
dalam
mengarahkan kegiatan
belajar
minat
(engagement),
sesuai
eksplorasi
kebutuhannya.
Dalam
(explanation), elaborasi (elaboration), dan
matematika
motivasi
evaluasi (evaluation) (Wena, 2009:171).
dalam
Dengan menggunakan model pembelajaran
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan
learning cycle 5E dengan berbantuan alat
guru. Biasanya siswa yang mempunyai
peraga maka siswa diharapkan dapat
motivasi tinggi akan mengerjakan tugas
termotivasi dan mengembangkan konsep
yang
matematika
dengan
pembelajaran
berprestasi
sangat
diberikan
belajar
dan
dibutuhkan
guru
dengan
sebaik-
baiknya. Selain itu, siswa yang mempunyai
(exploration),
agar
dapat
penjelasan
memecahkan
masalah matematika.
motivasi tinggi belajarnya akan tinggi pula
Penelitian yang relevan memuat
sehingga prestasi dalam belajarnya juga
uraian
sistematis
tentang
hasil-hasil
akan meningkat.
penelitian yang didapat oleh peneliti
Mengatasi permasalahan tersebut,
terdahulu dan terkait dengan penelitian
dibutuhkan model pembelajaran yang dapat
yang akan dilakukan diantaranya yaitu
meningkatkan motivasi berprestasi dan
penelitian yang dilakukan oleh Innarotul
kemampuan pemecahan masalah siswa.
Ulya (2011) tentang “Efektifitas Model
Model
Pembelajaran Learning Cycle 5E (LC5E)
pembelajaran
pembelajaran
tersebut
Learning
dengan
Cycle
5E
Dengan Pemanfaatan Alat Peraga Pada
berbantuan alat peraga. Learning cycle 5E
Materi Pokok Bidang Datar Terhadap Hasil
atau siklus belajar adalah suatu model
Belajar Peserta Didik Kelas VII SMP
pembelajaran yang berpusat pada siswa
Nurul Islam Semarang Tahun Pelajaran
yang merupakan rangkaian tahap-tahap
2010/2011”. Hasil penelitian menunjukkan
Ahmad, Pembelajaran Pembelajaran Learning Cycle , 67
bahwa hasil belajar matematika siswa yang
komunikasi matematis siswa kelas IX B
diajarkan menggunakan model Learning
SMP Negeri 2 Sleman.
Cycle 5E (LC5E) ( kelompok eksperimen)
Berdasarkan
hasil
berbagai
dengan pemanfaatan alat peraga lebih baik
penelitian yang telah dilakukan, maka
daripada siswa yang diajarkan dengan
dapat
pembelajaran konvensional (kelas kontrol)
pembelajaran Learning Cycle 5E efektif
pada materi segitiga.
untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal
Muamanah
(2011)
tentang
disimpulkan
tersebut
yang
bahwa
menjadi
model
dasar
peneliti
“Efektivitas Model Pembelajaran Learning
melakukan penelitian efektivitas model
Cycle Berbantuan LKPD Pada Materi
pembelajaran Learning Cycle 5E dengan
Pokok Logika Matematika Terhadap Hasil
berbantuan alat peraga. Namun terdapat
Belajar Peserta Didik Kelas X SMA NU 1
perbedaan dalam hasil belajar yang diukur.
Hasyim
Dalam
Asy’ari
Tarub
Tegal
Tahun
penelitian
ini
mengukur
Pelajaran 2010/2011”. Hasil penelitian
kemampuan
menujukkan
bahwa
hasil
belajar
motivasi berprestasi. Karena kemampuan
matematika
siswa
antara
yang
pemecahan masalah siswa di SMP N 2
mendapatkan pembelajaran Learning Cycle
Wonotunggal kurang memuaskan. Banyak
dengan berbantuan LKPD lebih baik dari
siswa nilai matematika belum mencapai
pada siswa yang mendapat pembelajaran
Kriteria Ketuntasan Mininum (KKM) yaitu
konvensional
70. Selain faktor
pada
materi
logika
pemecahan
masalah
dan
dari kemampuan
matematika Kelas X SMA NU 1 Hasyim
pemecahan masalah siswa, rendahnya nilai
Asy’ari Tarub Tegal.
matematika di SMP N 2 Wonotunggal juga
Nina
tentang
Agustyaningrum
“Implementasi
(2011)
disebabkan
Model
dorongan dari dalam diri siswa untuk
Pembelajaran Learning Cycle 5E Untuk
oleh
kurangnya
faktor
belajar yaitu motivasi untuk berprestasi.
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi
Tujuan penelitian ini adalah: 1)
Matematis Siswa Kelas IX B SMP Negeri
Untuk mengetahui rata-rata kemampuan
2 Sleman”. Hasil penelitian nenunjukkan
pemecahan masalah siswa pada materi
bahwa penerapan pembelajaran Learning
segitiga
Cycle 5E dapat meningkatkan kemampuan
Learning Cycle 5E berbantuan Alat Peraga
dengan
model
pembelajaran
68 δ E L T ∆ | Vol.3 No.1, Januari 2015, hlm 63-74
mencapai KKM. 2) Untuk mengetahui rata-
Dalam penelitian ini yang menjadi
rata kemampuan pemecahan masalah siswa
variabel
yang diajar dengan model pembelajaran
adalah
motivasi
berprestasi
menggunakan
model
learning cycle 5E berbantuan Alat Peraga
pembelajaran
Learning
materi segitiga lebih baik dibandingkan
berbantuan alat peraga. Sedangkan variabel
dengan
terikat adalah kemampuan pemecahan
siswa
pembelajaran
yang
diajar
konvensional.
3)
dengan
Untuk
bebasnya
Cycle
5E
masalah siswa.
mengetahui motivasi berprestasi siswa
Populasi dalam penelitian ini yaitu
yang diajar dengan model pembelajaran
seluruh siswa kelas VII SMP N 2
learning cycle 5E berbantuan alat peraga
Wonotunggal tahun pelajaran 2013/2014.
berpengaruh
Pada penelitian ini ada dua kelas sampel
terhadap
kemampuan
pemecahan masalah siswa materi segitiga.
yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Metode Penelitian
Pengambilan sampel dengan teknik simple
Tempat yang dijadikan sebagai
penelitian adalah SMP N 2 Wonotunggal,
random sampling yaitu dilakukan dengan
cara undian.
yang terletak di Kecamatan Wonotunggal
Kabupaten Batang. Sedangkan waktunya
antara bulan Januari hingga bulan Agustus.
Metode penelitian yang dilakukan
dalam penelitian adalah metode penelitian
eksperimen. Tujuan penelitian eksperimen
untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.
Perlakuan dalam penelitian ini diberikan
pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Analisis
data
dilakukan
untuk
menguji hipotesis dalam rangka penarikan
kesimpulan mencapai tujuan penelitian.
Adapun langkah-langkahnya (1) Analisis
awal
melakukan
menggunakan
(a)
rumus
uji
uji
normalitas
Chi-kuadrat
dengan kriteria pengujian taraf signifikansi
2
2
5% H0 diterima jika hitung
< tabel
, maka
Kelas eksperimen menggunakan model
data
Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga
berdistribusi normal (Budiyono, 2009:
sedangkan
169). (b) Uji homogenitas bertujuan untuk
pada
kelas
kontrol
berasal
dari
mengetahui
Perlakuan pada kelas eksperimen dan
mempunyai varians yang sama atau tidak.
kelask
Jika k kelompok mempunyai varians yang
pembanding.
bertujuan
sebagai
k
yang
menggunakan pembelajaran konvensional.
kontrol
apakah
populasi
kelompok
sama maka kelompok tersebut dikatakan
Ahmad, Pembelajaran Pembelajaran Learning Cycle , 69
homogen.
Kriteria
pengujiannya
lebih baik dari kelas kontrol dengan
H 0 diterima jika Fhitung  Ftabel dengan dk
menggunakan pembelajaran konvensional.
 n1  1 ,
pembilang
dk
penyebut
 n 2  1 dan α  5% . (c) Uji kesamaan
rata-rata
menggunakan
uji
t,
dengan
Kriteria pengujiannya adalah H0 diterima
jika
-t (1- 1 α) <t hitung <t (1- 1
2
2
α)
dengan taraf
Kriteria pengujian hipotesis adalah uji satu
pihak, yaitu uji pihak kanan. Menguji
kebenaran
hipotesis
yang
diajukan
digunakan uji t satu pihak (pihak kanan),
rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut.
signifikansi α = 5% dan derajat kebebasan
dk = (n1 + n 2 - 2) (Sudjana 2005: 239). (2)
Analisis akhir Sebelum dilakukan uji
t=
x1 - x 2
1 1
s
+
n1 n 2
efektivitas, terlebih dahulu dilakukan uji
prasyarat
(uji
normalitas
dan
uji
homogenitas). Uji efektivitas meliputi (a)
uji ketuntasan digunakan untuk mengetahui
ketuntasan
kemampuan
pemecahan
masalah siswa pada kelas eksperimen
setelah dikenakan perlakuan dengan model
pembelajaran
Learning
Cycle
5E
berbantuan alat peraga. Untuk menguji
ketuntasan rata-rata kelas digunakan uji
satu pihak dengan (Sugiyono, 2010:102) .
Pada penelitian ini kelas dikatakan tuntas
apabila nilai siswa lebih dari 70. Kriteria
penerimaan H 0 jika t hitung > t tabel dengan dk
= (n-1) α = 5%.
s2 =
 n1 -1 s12
,dengan
+  n 2 -1 s 2 2
 2
2
n1 + n 2 - 2
,
(Sudjana,
2005:239). Dengan kriteria pengujian,
maka dapat disimpulkan H0 diterima jika
t  t 1 dimana t 1α didapat dari distribusi
t dengan dk = (n1 + n2 – 2) dan α = 5%. (c)
uji pengaruh dengan regresi, Analisis
regresi digunakan sebagai alat untuk
melihat hubungan fungsional antar variabel
bebas (independent variable) diberi notasi
X dan variabel terikat diberi notasi Y
(Sundayana, 2014:190). Persamaan umum
regresi linear sederhana menurut Budiyono
(2009:254) adalah
. (b) Uji beda rata-rata
untuk mengetahui apakah
kemampuan
pemecahan masalah pada kelas eksperimen
dengan menggunakan model pembelajaran
Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga
Ŷ  a  bX
Koefisien-koefisien regresi a dan b
dihitung dengan rumus:
70 δ E L T ∆ | Vol.3 No.1, Januari 2015, hlm 63-74
 Y  X    X  XY 
a
n  X   X 
n  XY   X  Y 
b
n  X   X 
2
n
 Y 
JKR  a  Y   b XY  
n
JKG   Y  a  Y   b XY 
2
2
2
a)
JKT   Y
2
2
 Y 

2
2
2
Prasyarat Uji Regresi Linear: 1) Uji
Rumus yang digunakan dalam uji linearitas
linearitas Kriteria pengujiannya adalah H0
(Budiyono, 2009: 262) yaitu sebagai
diterima jika Fhitung(tuna cocok) < Ftabel dengan
berikut.
α = 5%, dk pembilang = k – 2 dan dk
penyebut = n – k. Adapun rangkuman
analisis varians uji linearitas menurut
Budiyono
(2009:262)
adalah
sebagai
Tabel 1. Rangkuman Analisis Variansi Uji
Linearitas
Sum
ber
J
K
Regre
si
J
K
R
J
K
T
C
J
K
G
M
J
K
T
Galat
Murn
i
Total
Rerata kuadratnya adalah:
JKGM
JKGTC
dan RKGTC 
nk
k2
2) Uji Keberartian Regresi, statistik ujinya
RKGM 
berikut.
Tuna
Coco
k
T2
dengan dkGM  n  k
n
JKGTC  JKG  JKGM dengan dkGTC  k  2
JKGM   Y 2  
dk
1
Fobs
RK
RK
R
-
Fα
-
P
-
pα
k–2
n–k
n–1
RK
TC
RK
GM
-
F
-
RKGTC
RKGM
Fobs 
adalah
F * atau
pα
-
-
merupakan
derajat kebebasan 1 dan n–2, sehingga
rangkuman analisis variansnya tampak
pada tabel 2 (Budiyono, 2009:264).
Tabel 2. Rangkuman Analisis Variansi
pada Uji Keberartian Regresi
-
-
yang
variabel random berdistribusi F dengan
Sum
JK
ber
-
RKR
RKG
Fobs
Dk RK
Fα
P
pα
Reg
JK
resi
R
(R)
1
RKR F 
RKR
RKG
F * atau
pα
Dengan JKT, JKR, dan JKG (Budiyono,
2009: 258) adalah sebagai berikut.
Gal
at
Tot
al
JK
G
JK
T
n–2 RKG
-
-
-
n–1 -
-
-
-
Ahmad, Pembelajaran Pembelajaran Learning Cycle , 71
Rumus yang digunakan dalam uji
keberartian
regresi
linear
(Budiyono,
JKR
1
RKG 
JKG
n2
normal dan Fhitung < Ftabel, kedua kelas yaitu
kelas
3) Uji Keberartian Koefisien Regresi,
Koefisien regresi disebut berarti apabila
nilainya tidak nol. Caranya adalah dengan
menguji apakah β = 0 ataukah β ≠ 0. Jika β
= 0 yang benar, berarti koefisien regresinya
tidak berarti. Sebaliknya jika β ≠ 0 maka
koefisien regresinya berarti (Budiyono,
2009:265). Untuk melihat keberartian ini
digunakan
uji
statistik
t
Hasil analisis data awal diperoleh
bahwa  2hitung   2tabel , data berdistribusi
2009:264) yaitu sebagai berikut.
RKR 
Hasil dan Pembahasan
(Budiyono,
2009:265) yaitu sebagai berikut.
eksperimen
memiliki
keadaan
kelas
kontrol
awal
yang
sama/homogen dan thitung < ttabel sehingga
tidak ada perbedaan rata-rata antara kelas
eksperimen
dengan
kelas
kontrol.
Kemudian kedua kelas diberi perlakuan
pembelajaran matematika yang berbeda,
yaitu
kelas
eksperimen
menggunakan
model pembelajaran Learning Cycle
5E
berbantuan alat peraga dan kelas kontrol
diberi
b
t
~ t n  2
sb
dan
perlakuan
menggunakan
pembelajaran konvensioanal.
Hasil analisis data akhir yaitu uji
Dengan s b menurut Budiyono (2009:259)
yaitu sebagai berikut.
s y.x 
efektivitas,
sebelum
dilakukan
uji
efektivitas dilakukan terlebih dahulu uji
JKG
n2
normalitas dan homogen caranya sama
 X 

dengan analisis data awal. 1) uji ketuntasan
Koefisien
disimpulkan bahwa rata-rata sampel lebih
determinasi regresi linear antara variabel
dari 70. Jika dilihat dari rata-rata sampel
independen dengan variabel dependen,
yang mencapai 76,24 yang melebihi nilai
disajikan dengan r 2 (Budiyono, 2009:258)
dari KKM maka dapat disimpulkan bahwa
yaitu sebagai berikut.
rata-rata kemampuan pemecahan masalah
sb 
b)
r2 
s 2y.x
x2
2
dengan
Koefisien
JKR
JKT
x  X
2
Determinasi,
2
n
diperoleh
siswa
t hitung > t tabel maka
kelas
eksperimen
dapat
mencapai
ketuntasan. Hal ini sesuai penelitian yang
dilakukan oleh oleh Innarotul Ulya (2011)
72 δ E L T ∆ | Vol.3 No.1, Januari 2015, hlm 63-74
dengan hasil penelitiannya menyimpulkan
Penelitian ini dimaksudkan untuk
bahwa model pembelajaran Laerning Cycle
mengetahui efektivitas model pembelajaran
5E
dapat
Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga
meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini
pada materi segitiga kelas VII SMP N 2
berarti model pembelajaran Laerning Cycle
Wonotunggal.
5E
dapat
efektivitas pembelajaran tersebut, dalam
pemecahan
penelitian ini digunakan dua kelompok
masalah siswa. 2) uji beda rata-rata,
sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas
berbantuan
berbantuan
meningkatkan
diperoleh
alat
alat
peraga
peraga
kemampuan
t  t 1
yang berarti bahwa
bahwa rataan kedua kelas berbeda. Jika
Untuk
mengetahui
kontrol yang diambil dengan teknik simple
random sampling.
dilihat dari rata-rata sampel, yaitu rata-rata
Model pembelajaran Learning Cycle
kemampuan pemecahan masalah siswa
5E berbantuan alat peraga pada kelas
kelas eksperimen sebesar 76,24 dan rata-
eksperimen
rata kemampuan pemecahan masalah siswa
pertemuan
kelas kontrol sebesar 64,1. maka dapat
beberapa hambatan yang muncul dalam
disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan
pelaksanaan
pemecahan
diawal
masalah
siswa
kelas
dilaksanakan
empat
pembelajaran.
pembelajaran
pertemuan
kali
Terdapat
diantaranya
Guru
pembelajaran
dalam
eksperimen lebih baik daripada rata-rata
melaksanakan
kemampuan pemecahan masalah siswa
terlaksana dengan baik karena model
kelas kontrol. 3) uji pengaruh dengan
Learning Cycle 5E berbantuan alat peraga
regresi, dari hasil perhitungan yang telah
merupakan hal yang baru bagi siswa
dilakukan diperoleh koefisien determinasi
sehingga masih banyak penyesuaian yang
sama dengan 0,5631. Hal ini berarti besar
harus dilakukan siswa. Selain itu siswa
pengaruh motivasi berprestasi terhadap
belum terbiasa untuk belajar sendiri dan
kemampuan pemecahan masalah siswa
bingung
adalah 56,31 %, melalui persamaan regresi
permasalahan yang diberikan guru dalam
linear sederhana Y  a  bX = 0,2120 +
Lembar Kerja Siswa (LKS) karena siswa
0,4630 X. Sedangkan 43,69 % dipengaruhi
sudah terbiasa dengan pembelajaran yang
oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh
diberikan secara langsung kepada guru.
peneliti.
Sehingga
untuk
siswa
pasif
belum
menyelesaikan
dalam
proses
pembelajaran. Permasalahan yang lain,
Ahmad, Pembelajaran Pembelajaran Learning Cycle , 73
siswa tidak berani untuk mempresentasikan
3. Rata-rata
kemampuan
pemecahan
hasil diskusinya di depan kelas. Siswa
masalah siswa yang diajar dengan
merasa
model pembelajaran Learning Cycle 5E
malu
untuk
mengeluarkan
pendapatnya.
berbantuan alat peraga dapat mencapai
Pertemuan II sudah lebih baik dari
pertemuan
cukup
KKM 70.
memahami model pembelajaran Learning
4. Rata-rata
Cycle
5E
I.
Siswa
sudah
ketuntasan sebesar 76,2419 pada batas
berbantuan
alat
kemampuan
pemecahan
peraga.
masalah siswa yang diajar dengan
Walaupun siswa masih bingung untuk
model pembelajaran Learning Cycle 5E
menyelesaikan permasalahan di Lembar
berbantuan
Kerja siswa (LKS) tapi siswa sudah mulai
daripada
aktif dalam proses pembelajaran.
pemecahan masalah siswa yang diajar
Pertemuan III dan IV sudah jauh
dengan
alat
peraga
lebih
rata-rata
pembelajaran
baik
kemampuan
konvensional.
lebih baik dari pertemuan II. Siswa sudah
Perbedaan ini dapat dilihat dari rata-rata
memahami model pembelajaran Learning
kemampuan pemecahan masalah siswa
Cycle 5E berbantuan alat peraga, sudah
kelas
mulai paham tentang permasalahan yang
sedangkan
ada di Lembar Kerja Siswa (LKS). Apalagi
pemecahan masalah siswa kelas kontrol
dengan guru menjelaskan/pengutan materi
sebesar 64,1.
dengan menggunakan alat peraga siswa
5. Hasil
eksperimen
sebesar
rata-rata
perhitungan
76,2419
kemampuan
pada
kelas
lebih memahami materi yang dipelajari.
eksperimen diperoleh a = 0,2120 dan b
Dan siswa dapat mengerjakan soal latihan
=
kemampuan pemecahan masalah yang
determinasi
diberikan guru.
persamaan regresi linear sederhana Ŷ =
0,4630.
Diperoleh
sebesar
koefisien
56,31%.
Jadi
0,2120 + 0,4630X adalah 56,31%. Dari
hasil tersebut disimpulkan motivasi
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan
sebelumnya,
yang
dapat
sebagai berikut.
berprestasi
belajar
siswa
dalam
telah
diuraikan
pembelajaran matematika menggunakan
ditarik
kesimpulan
model pembelajaran Learning Cycle 5E
berbantuan alat peraga berpengaruh
74 δ E L T ∆ | Vol.3 No.1, Januari 2015, hlm 63-74
positif terhadap prestasi belajar siswa
materi pokok segitiga kelas VII SMP N
2 Wonotunggal artinya siswa yang
motivasi berprestasi belajarnya lebih
tinggi
lebih
baik
kemampuan
pemecahan masalah siswa daripada
siswa
yang
motivasi
berprestasi
belajarnya rendah.
Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. 2012. Anak
Berkesulitan
Belajar.
Jakarta:
Rineka Cipta.
Agustyaningrum,
Nina.
2011.
Implementasi Model Pembelajaran
Learning
Cycle
5E
Untuk
Meningkatkan
Kemampuan
Komunikasi Matematis Siswa Kelas
IX B SMP Negeri 2 Sleman.
Seminar Nasional Matematika dan
Pendidikan
Matematika
Yogyakarta, 3 Desember 2011.
Budiyono.
2009.
Statistika
Untuk
Penelitian. Surakarta: UNS Press.
Madewena. 2011. Strategi Pembelajaran
Inovatif Kontemporer. Jakarta:
Bumi Aksara.
Muamanah. 2011. Efektivitas Model
Pembelajaran Learning Cycle
Berbantuan LKPD Pada Materi
Pokok
Logika
Matematika
Terhadap Hasil Belajar Peserta
Didik Kelas X SMA NU 1 Hasyim
Asy’ari Tarub Tegal Tahun
Pelajaran 2010/2011. Skripsi.
Semarang: IAIN Walisongo.
Sudjana, Nana. 2005. Metode Statistik.
Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2010. Statistika untuk
Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suherman, E, dkk. 2003. Strategi
Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung:JICA-UPI.
Sundayana, Rostina. 2014. Statistik
Penelitian Pendidikan. Bandung:
Alfabeta.
Ulya, Innarotul. 2011. Efektifitas Model
Pembelajaran Learning Cycle 5E
(LC5E) Dengan Pemanfaatan Alat
Peraga Pada Materi Pokok Bidang
Datar Terhadap Hasil Belajar
Peserta Didik Kelas VII SMP Nurul
Islam Semarang Tahun Pelajaran
2010/2011. Skripsi. Semarang:
IAIN Walisongo.
Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran
Inovatif Kontemporer. Jakarta:
Bumi Aksara.
Download