1 status pemanfaatan sumberdaya perikanan - BPPL

advertisement
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
DEMERSAL DI LAUT CINA SELATAN (WPP- NRI 711)
Oleh
Isa Nagib Edrus, Ali Suman dan Muhammad Taufik
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang
stok, life history dan dinamika populasi ikan demersal di perairan Laut Cina Selatan
(WPP NRI 711). Pendekatan dalam pengambilan data adalah melalui survey tempat
pendaratan utama dan survei laut. Hasil penelitian menjukkan bahwa perikanan
armada perikanan ukuran kecil (5 – 10 GT) mendominasi perikanan demersal. Alat
tangkap pancing, bubu dan payang merupakan alat tangkap yang mendominasi
dengan trip terbanyak pada wilayah karang dalam, sementara pukat ikan dan dogol
dengan besaran usaha 30 GT ke atas mengambil wilayah tangkap pada perairan
di atas 4 mil laut. Rata-rata produksi di perairan Bintan adalah 96.808 ton/tahun,
sedangkan di Bangka Belitung 73.598 ton per tahun dan Tanjung Balai Karimun
adalah 20.731 ton per tahun. Komposisi jenis ikan demersal didapatkan melebihi
100 jenis dan yang mendominasi adalah Nemipterus spp, Caesio cuning, dan
Sciaenidae. Cacth per Unit Effort (CPUE) tertinggi menurut alat tangkap adalah
pukat ikan yaitu 343 kg ikan demersal per hari dan yang terkecil adalah pancing
ulur dan payang, yaitu masing-masing 23 dan 24 kg per hari. Musim memijah ikanikan yang dominan tertangkap dua kali dalam setahun dan puncak musim ikan atau
musim tangkap bergantung pada pada kondisi cuaca. Nilai laju pengusahaan (E)
untuk beberapa jenis ikan yang dominan tertangkap adalah : ikan kakap merah
0,34/tahun, ekor kuning 0,53/tahun, kurisi 0,58/tahun, kaneke 0,37/tahun, kerapu
sunu 0,23/tahun dan kakap tanda-tanda 0,48/tahun. Estimasi potensi lestari (MSY)
untuk WPP 711 adalah sebesar 482.200 ton/tahun dan upaya optimum (f opt.)
9.987 unit alat tangkap standar dogol. Status ekslpoitasi sudah berada pada tahapan
overfishing,dengan demikian harus dilakukan penantaan upaya penangkapan.
Kata Kunci: Perikanan Demersal, Stok, Life History, Dinamika Populasi, Laut
Cina Selatan
1
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
WPP 711 Laut Cina Selatan adalah salah satu dari 11 WPP yang ditetapkan
melalui Permen KP No.01/MEN/2009. Perairan ini terletak di Indonesia bagian
barat yang secara yurisdiksi politik berbatasan dengan perairan negara lain, yaitu
Malaysia, Vietnam dan Thailand. WPP 711-Laut Cina Selatan meliputi empat
propinsi yaitu Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jambi dan Bangka-Belitung.
Kekayaan sumberdaya ikan strategis, seperti udang, cumi-cumi, ikan demersal
dan karang yang melimpah telah menarik banyak armada penangkapan dari luar
kawasan, bahkan dari negara-negara sekitar, untuk beroperasi di wilayah ini, baik
secara legal maupun ilegal.
Pemanfatan sumber daya perikanan di wilayah Laut Cina Selatan dilakukan
oleh berbagai negara yang langsung berbatasan dengan LCS, yaitu meliputi
Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Dengan demikian maka beberapa jenis
sumber daya ikan terutama yang bersifat peruaya (migrasi) merupakan milik bersama
(shared stocks) diantara negara-negara tersebut. Sekitar sepertiga luas perairannya
termasuk ke dalam perairan teritorial dan ZEE Indonesia. Luas perairan LCS yang
masuk wilayah Indonesia diestimasi sekitar 595 km2 (SCS, 1979; Cholik et al.,
1995). Lokasi memiliki iklim tropis dan curah hujan yang tinggi, dimana perairan
ini memiliki beragam ekosistem aquatik dengan keaneka-ragaman jenis ikan yang
tinggi.
Sejalan dengan perkembangan perikanan, tekanan penangkapan yang tinggi
telah dialami oleh hampir seluruh kawasan, terlebih di zona tradisional yang
bersinggungan dalam semua kepentingan otorita administrasi di kawasan regional
masing-masing. Pada kawasan seperti ini, pemanfaatan sumberdaya ikan secara
optimal dan lestari memerlukan informasi yang reliable berkaitan dengan sediaan
(stock), sebaran sumberdaya ikan dan karakteristik perikanannya sehingga langkahlangkah kebijakan eksploitasi dapat dilakukan dengan tepat tanpa membahayakan
kelestariannya.
Perairan Laut Cina Selatan, merupakan daerah yang potensial untuk
penangkapan ikan demersal dan udang Penaeid. Pemanfaatan sumber daya ikan
demersal di perairan Laut Cina Selatan sudah berlangsung cukup lama dan status
pengusahaannya cenderung berada dalam tingkatan yang jenuh (Dwiponggo, 1977;
Naamin et al., 1992). Dengan adanya indikator semakin menurunnya laju tangkap
sebagai indeks kelimpahan stok di perairan ini, yang berarti sudah terjadi penurunan
2
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
stok (Badrudin dan Karyana, 1992), maka stok sumber daya ikan demersal di perairan
ini perlu mendapat perhatian yang serius dan upaya-upaya pengelolaan yang lebih
baik, sehingga sumber daya yang ada masih dapat menjadi modal bagi perbaikan
(recovery) stok dalam kaitannya dengan pemanfaatan secara berkelanjutan dan
lestari. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian secara menyeluruh a tentang
stok, life history dan dinamika populasi ikan demersal di perairan Laut Cina Selatan.
Diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi dasar pengelolaan perikanan yang
menunjang keberlanjutan pemanfaatan bagi kesejahteraan bangsa.
BAHAN DAN METODE
Data dan informasi yang dikumpulkan sebagian besar berbasis pada aspek
biologi yang dilakukan oleh para peneliti, teknisi dan beberapa tenaga enumerator
sebagai penghimpun data harian di lokasi penelitian. Kegiatan terdiri dari sampling
hasil tengkapan di beberapa tempat pendaratan ikan terpilih dan survei laut dengan
lintasan tertentu dengan armada KM Madidihang 02. Lokasi kabupaten-kota yang
menjadi lokasi penelitian antara lain Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang
(Kepulauan Riau), Sungai Liat (Bangka) dan Tanjung Pandan (Belitung).
Komponen kegiatan meliputi aspek biologi dan aspek penangkapan,
perikanan dan survei laut dengan metode sapuan (swepth area). Aspek biologi yang
dikumpulkan adalah: panjang ikan dan biologi reproduksi. Aspek penangkapan
meliputi : penyebaran dan musim penangkapan, laju tangkap dan kepadatan stok,
komposisi jenis dan parameter populasi. Data sekunder dihimpun dari Kantor Dinas
Perikanan setempat dan instansi terkait lainnya. Survei laut laut dilakukan untuk
mencari kepadatan, biomassa, stok dan laju tangkap.
Analisis data yang diperoleh mengacu kepada metoda-metoda baku yang biasa
digunakan. Estimasi besarnya stok dilakukan melalui penghitungan laju tangkap
(catch rate) dengan menggunakan metode swepth area dan dinamika populasi
digunakan program FISAT (Sparre and Venema., 1992). Data catch dan effort
yang bersifat runtun waktu akan dianalisis selain untuk mendapatkan gambaran
perkembangan (trend) indeks kelimpahan stok juga akan diterapkan model surplus
produksi untuk mendapatkan dugaan MSY (Badrudin, 2002).
3
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keragaan Perikanan
Laut Cina Selatan (LCS) merupakan bagian dari Paparan Sunda (Sunda Shelf)
yang memiliki kedalaman relatif dangkal di bagian selatan dan semakin dalam
ke arah utara. Dasar perairan di daerah tersebut terdiri dari lumpur, pasir campur
lumpur, dan pasir. Bagian terbesar dari perairan sebelah barat Kalimantan dan
sebelah utara Bangka-Belitung terdapat banyak sponge dan batuan karang. Seperti
juga pada bagian utara di sekitar kepulauan Natuna terdapat kekayaan sumbedaya
terumbu karang serta pada lokasi ini banyak digunakan bubu dan pancing.
Pemanfaatan sumber daya ikan demersal di perairan Laut Cina Selatan dan
sekitarnya telah berlangsung sejak lama. Eksploitasi tersebut telah mencapai
puncaknya pada tahun 1980-an dimana alat tangkap yang efektif adalah jaring trawl.
Dari keadaan tersebut dapat diduga bahwa sumber daya ikan demersal di perairan
Laut Cina Selatan dan sekitarnya berada pada tekanan penangkapan yang cukup
tinggi dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.
Usaha perikanan yang mengambil manfaat dari kesuburan dan keanekaragaman
LCS adalah meliputi dari mulai perikanan artisanal sampai perikanan industri,
karena besaran usaha perikanan perahu tanpa motor tercatat cukup besar dan tidak
sebanding dengan jumlah perahu bermotor. Ukuran kapasitas kapal antara 5 dan 10
GT adalah yang terbesar dalam jumlah dan disusul oleh ukuran 10 – 20 GT dan 20
– 30 GT, sedangkan ukuran di atas 30 GT tergolong rendah. Oleh karena itu wilayah
tangkap masih berkisar lebih banyak pada 4 mil laut, sementara wilayah ZEE kurang
diminati karena rendahnya hasil tangkapan pelagis besar seperti cakalang dan tuna.
Produksi perikanan demersal yang merupakan kontribusi catatan tahunan
menurut wilayah pendaratan diringkas pada Tabel 1. Potensi ikan demersal dari
LCS yang merupakan kontribusi produksi Provinsi Kepulauan Riau menyumbang
rata-rata 96.808 ton/tahun (75% demersal), dari Provinsi Bangka Belitung sebesar
73.598 ton/tahun ( 31 % demersal).
4
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Produksi ikan demersal berdasarkan wilayah pendaratan.
Wilayah Provinsi
Bintan (Kepri)
Produksi
Rasio
Rata-Rata Demersal
Tangkapan
(Ton per Tahun)
Demersal-Pelagis
96.808
75% Demersal
Bangka Belitung
73.598
Tanjung Balai Karimun (Kepri)
20.731
31% Demersal
Tahun Data
2008 - 2011
2001 - 2011
Daerah Penangkapan
Laut Cina Selatan (LCS) merupakan bagian dari Paparan Sunda (Sunda Shelf)
yang memiliki kedalaman relatif dangkal di bagian selatan dan semakin dalam ke
arah utara. Menurut Sudrajat & Beck (1978) daerah dimana trawl dapat dioperasikan
(trawlable) di LCS adalah di sebelah selatan, terutama terdapat di pantai timur
Sumatera dan barat Kalimantan yang dasar perairannya terdiri atas lumpur, pasir
campur lumpur, dan pasir. Pada bagian tertentu perairan sebelah barat Kalimantan
dan sebelah utara Bangka-Belitung ditandai oleh nelayam sebagai titik-titik karang
dalam, dimana banyak digunakan bubu dan pancing.
Pola penangkapan ikan demersal di LCS adalah spesifik berbasis ekosistem,
sehingga hanya tersebar secara spasial menurut titik-titik (spot) daerah tangkapan
yang bersifat mengelompok di lokasi tertentu (Gambar 2). Lokasi tangkapan
umumnya ditandai oleh keberadaan ekosistem spesifik di sekitarnya, seperti padang
lamun, terumbu karang dan estuaria yang merupakan area spill over dari sumberdaya
ikan, atau tanda-tanda lainnya seperti paparan perairan dangkal berlumpur padat,
berbatu dan adanya karang dalam. Lokasi seperti ini menyebar di antara pulau-pulau
sekitar Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Natuna, Anambas, dan pulau-pulau kecil
serta gosong di perairan lepas pantai Kalimantan Barat yang ditemui dari Utara
hingga Barat Laut.
Oleh karena daerah tangkapan ikan demersal di LCS berbasis ekosistem
dan bersifat mengelompok (Gambar 1), nelayan dari setiap basis pendaratan ikan
regional lebih fokus pada wilayah tangkapan terdekat. Hal ini ditandai oleh jumlah
trip penangkapan dari berbagai alat tangkap yang tinggi sepanjang tahun (±1,3
juta trip/tahun) dengan perode harian (oneday fishing) sampai mingguan. Jumlah
trip penangkapan yang dominan adalah dari perikanan pancing dan bubu. Dengan
demikian, wilayah yang mendapat tekanan penangkapan lebih besar tetap di sekitar
5
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
pesisir (inshore fishing), karena kapasitas kapal yang umumnya rendah. Kecuali itu,
wilayah jelajah penangkapan berkisar dari 50 - 100 mil laut dari basis pelabuhan
masing-masing, yaitu bagi nelayan Riau, Bangka Belitung dan Pemangkat sampai
perairan Natuna. Sementara wilayah ZEE belum menjadi perhatian penuh bagi
nelayan-nelayan yang berbasis di beberapa Provinsi tersebut di atas.
Daerah Tangkapan Ikan KM Armada
dengan alat tangkap bubu
Daerah
Tangkapan Ikan
KM Debi Jaya
dengan alat
tangkap bubu
Daerah
Tangkapan
Ikan KM Jaya
Makmur
dengan alat
tangkap bubu
Daerah Tangkapan Ikan KM Portugal
dengan alat tangkap bubu
Daerah Tangkapan Ikan KM Riski Jaya
dengan alat tangkap pancing
Daerah Tangkapan ikan KM Portugal
dengan alat tangkap pancing
Armada Perikanan yang berbasis
di PPN Tanjung Pandan
Daerah Tangkapan ikan KM Portugal
dengan alat tangkap payang
Gambar 1. Daerah penangkapan ikan menurut armada perikanan bubu, pancing dan payang
yang berbasis pada PPN Tanjung Pandan
6
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Alat Tangkap
Setiap daerah pendaratan ikan memiliki kebiasaan masing-masing dalam
memilih dan menggunakan alat tangkap, namun dominasi jumlah dari alat
tangkap yang digunakan menunjukkan kecenderungan yang sama dari tiap daerah.
Perikanan bubu, pukat ikan, pancing, dan gabungan alat tangkap pancing dan bubu
ternyata mendominasi usaha perikanan demersal di LCS. Disamping itu tercatat
juga ada penggunaan alat tangkap lain seperti muroami dan sero yang berbasis
pada penangkapan di derah lamun, terumbu karang, dan karang dalam. Selain itu,
perikanan yang berbasis perairan dangkal berlumpur padat umumnya menggunakan
pukat ikan, rawai dan payang (Gambar 2). Kecenderungan penggunaan jenis alat
tangkap pancing dan bubu tersebut menempatkan perikanan demersal masuk
kategori perikanan berkelanjutan, karena hasil tangkapan terbatas dan selektif. Akan
tetapi penggunaan muroami disinyalir masih dilakukan meskipun terlarang dan hasil
tangkapan muroami yang terbesar adalah ekor kuning.
A
B
Gambar 2. Armada kapal pukat ikan (A) dan bubu (B) di Kabupaten Bintan
Komposisi Hasil Tangkapan dan CPUE
Komposisi hasil tangkapan di bawah ini menunjukkan bahwa perikanan
demersal di LCS benar-benar berbasis ekosistem. Beberapa jenis demersal dominan
yang tertangkap umumnya adalah memiliki habitat rataan pasir lumpur dan habitat
batuan karang dalam di dasar perairan neritik, serta perairan sekitar terumbu karang
serta estuaria. Komposisi yang mendominasi 10 besar hasil tangkapan adalah
terdiri dari : Kurisi pasir (Nemipterus spp.), Ekor kuning (Caesio cuning), Gulamah
(Sciaenidae), Kaci-kaci/Kaneke/seminyak (Diagramma pictum), Kuwe (Caranx
spp.; Carangodes spp.; Seriola rivoliana.), Pari (Aetoplatea zonora; Dasyatis
7
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
kuhlii; Paeniuralymha sp), kakap merah (Lutjanus malabaricus), Jenaha (L. Johnii),
tanda-tanda (L. vitta), bawal hitam (Formio niger), Nuri (Choerodon spp), Kerapu/
sunu (Epinephelus sexfasciatus; Epinephelus areolatus; Plectropomus maculates),
Remang (Muraenesox cinereus), Manyung (Arius thalasinus), Kapas-kapas (Gerres
kapas), kakatua (Scarus spp.), Biji nangka/Kuniran (Parupeneus chrysopleuron),
Ayam-ayam (Abalistes stellatus), dan Lencam (Lethrinus lentjan).
Beberapa jenis ikan demersal yang dominan tertangkap diambil sampelnya
untuk mengetahui pola eksploitasinya (Lampiran 1). Ukuran ikan adalah variabel
penting dalam ekologi perikanan karena dapat digunakan sebagai basis untuk
memperkirakan sifat sejarah hidup ikan, termasuk jangka waktu hidup, laju
pemanfaatan, pertumbuhan dan laju kematian (Froese & Pauly 2000).
Ikan manyung (Arius thalasinus) memiliki sebaran frekuensi panjang yang
menunjukkan adanya dua kelompok umur. Interval panjang dari 46-49 cm sampai 5861 cm merupakan kelompok modus panjang ikan dewasa, lebih dominan dari pada
kelas dewasa tua. Dengan kata lain bahwa komposisi kelas interval dewasa tua yang
berkisar pada 78-82 cm sampai 94-97 cm sangat rendah dan ini menunjukkan bahwa
ikan manyung dalam status eksploitasi tinggi. Menurut Dulvy et al., 2003), ikanikan berukuran besar sangat rentan terhadap penangkapan. Kejadian ini khususnya
relevan sekali jika dikaitkan dengan ikan karang atau ikan demersal, karena ikan
demersal berukuran besar selalu menjadi target perikanan komersil (Sadovy &
Vincent 2003). Untuk kasus seperti ini perlu adanya penatataan upaya penangkapan
agar kelas rekrutimen siap tangkap tersebut mengalami pertumbuhan populasi dan
perkembangan ukuran panjang.
Ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) memiliki frekuensi sebaran panjang
yang menunjukkan adanya kelompok umur dewasa muda yang mendominasi.
Interval panjang sampai dengan 15-17 cm mewakili kelas anakan. Interval panjang
dari 20-23 cm, 23-26 cm sampai 26-29 cm merupakan kelompok dewasa muda dan
kelas ini justru yang terbanyak dalam populasinya. Menurut Froese & Pauly (2000),
ikan karang atau demersal adalah serupa dengan kelompok ikan lain, dimana dalam
pola distribusi frekuensi kelompok populasi ikan karang/demersal didominasi oleh
individu-individu ukuran kecil. Jadi ikan kelompok ini sangat jarang mencapai
ukuran lebih dari modus terbanyaknya dalam populasi. Sebaliknya kelas interval
panjang ikan kakap merah dari 44-47 cm sampai di atas 47-50 cm tergolong
sedikit, dimana ini menunjukkan adanya eksplotasi tinggi atas ikan kakap merah
sebelumnya. Menurut Sadovy (1997), populasi yang memiliki ukuran besar dalam
8
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
jumlah rendah biasanya menunjukkan adanya tekanan penangkapan di masa lalu dan
adanya rekruitmen baru menunjukkan adanya pertumbuhan populasi. Pengelolaan
sumberdaya ikan untuk menyediaan ukuran siap tangkap perlu dilakukan, yaitu
dengan mengurangi atau membatasi waktu kegiatan penangkapan.
Ikan kakap/tanda-tanda (Lutjanus vitta) yang diamati memiliki ukuran terkecil
11 cm dan terbesar pada ukuran panjang 36 cm dengan rata-rata 21,51 cm. Distrbusi
frekuensi ikan kakap ini memperlihatkan lebih umur muda lebih banyak, semantara
umur dewasa tua yang dimulai dari ukuran 29 cm sudah terlihat mendatar kurvanya,
dimana ini sebagai tanda adanya eksploitasi yang intensif. Panjang pertama kali
tertangkap Lc = 23,65 cm.
Sebaran frekuensi panjang ikan ekor kuning (Caesio cuning) hampir bersifat
normal, namun kelas interval 16 sampai 20 yang merupakan dewasa muda
mendominasi populasi dan kelas interval 10-12 cm sebagai anakan dan interval
ukuran 24-28 cm sebagai dewasa tua masih banyak muncul (tertangkap). Sementara
ukuran 28 cm ke atas sudah semakin jarang. Panjang pertama kali tertangkap Lc
= 19,84 – 26 cm. Distribusi prekuensi ekor kuning sama pola kurvanya dengan
kakap merah bahwa kurva distribusi frekuensi panjang menjadi tinggi di kiri yang
merupakan kelas interval dewasa muda. Hal ini menunjukkan bahwa eksploitasi
sumberdaya ikan ekor kuning sangat intensif, dimana ukuran 24 cm ke atas yang
merupakan ukuran siap tangkap menjadi berkurang. Kasus tingginya eksploitasi
ekor kuning ini dapat dikaitkan dengan penggunaan muroami yang bersifat cepat
menguras sumberdaya ikan.
Sebaran frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus peronii) bersifat normal,
dimana modus (terbanyak) kelas interval panjang ada pada ukuran 18-20. Ukuran siap
tangkap dengan kelas interval 22-24 cm dan 24-26 terdapat hanya sedikit, sementara
tingkat eksploitasi ikan kurisi sangat tinggi. Panjang pertama kali tertangkap Lc
= 18,89 cm. Koefisien pertumbuhan (K = 0,85) dari ikan kurisi pasir yang tinggi
diharapkan mampu menjaga rekruitmen dalam artian pengelolaan sumberdaya ikan,
sehingga dapat mendukung pertumbuhan kelas interval ukuran dewasa tua siap
tangkap sehingga distribusi normalnya tetap dapat dipertahankan. Menurut Choat
et al. (2006), untuk mencapai frekuensi ukuran populasi yang berdistribusi normal,
pola perikanan yang baik menghendaki perhatian yang luar biasa, yaitu adanya
perbaikkan pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya perikanan.
9
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Sebaran ukuran panjang total ikan kerapu sunu (Plectropomus maculatus)
berkisar antara 16,0 – 73,0 cm dengan rata-rata 38,79 cm dan modus terbanyak
ada pada panjang 31 cm. Distribusi ikan kerapu sunu juga bersifat hampir normal
dengan kurva terlihat lebih condong ke kiri. Panjang pertama kali tertangkap Lc =
43,7 cm. Hal ini sama seperti ikan kakap bahwa ukuran dewasa tua sudah mulai
menyusut jumlahnya sebagai akibat dari intensifitas penangkapan.
Probabilitas dan selektivitas dari masing-masing alat tangkap sangat menentukan
hasil tangkapan. Kemudian hasil tangkapan serta ketersediaan sumberdaya ikan
menentukan besaran laju tangkap atau CPUE. Armada perikanan dengan alat tangkap
tunggal memiliki tingkat CPUE untuk ikan demersal lebih rendah dibandingkan
dengan armada pengguna alat tangkap lebih dari 1 . Armada dengan alat tangkap
yang potensial mengeruk sumberdaya ikan adalah yang memiliki tingkat CPUE
yang tinggi. Pada Tabel 2 disajikan CPUE ikan demersal dari berbagai alat tangkap
di perairan Laut Cina Selatan dan terlihat yang memiliki CPUE tertinggi adalah alat
tangkap pukat ikan.
Tabel 2. CPUE ikan demersal menurut armada perikanan di Laut Cina Selatan tahun 2014.
ARMADA PERIKANAN
CPUE (Parsial)
Unit Analisis
(jumlah Armada)
Pancing Ulur
23 Kg / hari
228 unit
Pancing + Bubu
85 Kg / hari
102 unit
Bubu
52 Kg / hari
95 unit
135 Kg / hari
33 unit
24 Kg / hari
27 unit
343 Kg / hari
90 unit
Muroami
Payang
Pukat Ikan
Dinamika Populasi dan Potensi Lestari (MSY)
Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan demersal dapat dilihat dari nilai laju
pengusahaannya(E) dan nilai E di atas 0,5 dianggap sebagai lebih tangkap. Nilai
E untuk ikan kakap merah 0,34/tahun, ekor kuning 0,53/tahun, kurisi 0,58/tahun,
kaneke 0,37/tahun, kerapu sunu 0,23/tahun dan kakap tanda-tanda 0,48/tahun. Hal
ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan kakap merah 68 %, ekor kuning 106%, kurisi
pasir 116 %, kaneke 74%, kerapu sunu 46% dan kakap tanda-tanda 96%.
10
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Berdasarkan indikator dari nilai E tersebut maka dapat diprediksi bahwa
eksploitasi untuk ikan kakap merah masih terbuka 32%, untuk ekor kuning dan
kurisi pasir sudah dalam status kelebihan tangkap masing-masing 6 % dan 16%.
Eksploitasi ikan kaneke sudah masuk pada status penangkapan yang intensif dan
hanya tersisa batas upaya penangkapan lanjutan hanya 26%. Eksploitasi kakap
tanda-tanda juga tergolong intensif dan hanya tersisa batas usaha lanjutan 4%.
Sementara eksploitasi kerapu sunu masih belum masuk intensif dan masih tersisa
batas usaha lanjutan 54%.
Seperti telah disebut di atas bahwa eksploitasi di LCS telah mencapai
puncaknya pada tahun 1980-an dan intensitas terus meningkat sampai dengan
2014, di mana alat tangkap yang masuk kategori efektif adalah pukat ikan (jaring
trawl). Dari keadaan tersebut dapat diduga bahwa sumber daya ikan demersal
di perairan LCS dan sekitarnya berada pada tekanan penangkapan yang cukup
tinggi dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, kegiatan
penangkapan oleh negara-negara lain dapat dikatagorikan sebagai illegal fishing, di
mana pada dekade terakhir ini tampak semakin merajalela, seperti diketahui adanya
penangkapan kapal ikan Veitnam di Natuna.
Penggunaan alat tangkap muroami yang sesungguhnya sudah dilarang juga
menjadi penyebab dari terkurasnya sumberdaya ikan, terutama ekor kuning (Gambar
3). Pada beberapa data yang terkumpul, ikan ekor kuning tidak dimasukkan kepada
hasil tangkapan muroami, tetapi dalam kenyataannya ikantersebut ditangkap dengan
muroami.
Gambar 3. Sebaranpanjang Ikan Ekor Kuning (Caesio cuning) di Laut Cina Selatan.
TKG ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dari mulai Januari, Pebruari,
Maret, dan September didominasi oleh tingkat 1 dan sedikit ada TKG 2. Prediksi
matang gonad yang mendekati memijah diperkirakan Desember atau Januari. TKG
11
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ikan kakap tanda-tanda (Lutjanus vittae) pada bulan tersebut didominasi oleh TKG
III dengan persentase sebesar 67,6% dan TKG IV dengan persentasi sebesar 2,9%.
Rata-rata nilai indeks kematangan gonad ikan kakap tanda-tanda tertinggi terjadi
pada bulan Maret (1,77) dan terendah pada bulan Agustus (0,57). Dengan demikian
diduga pemijahan ikan kakap amoy di perairan Biantan terjadi pada bulan Maret.
Tidak seperti kakap merah, ikan ekor kuning (Caesio cuning) memiliki TKG
dengan tingkat yang beragam meskipun didominasi oleh TKG 1. TKG ekor kuning
di bulan Pebruari dan Mei sudah ada yang ke tingkat ‘spent’ dari semua TKG yang
ada mulai dari TKG 1,2,3, 4,5 dan 6, dimana bulan September ada yang mencapai
TKG 6. Rata-rata nilai indeks kematangan gonad ikan ekor kuning tertinggi terjadi
pada bulan April (0,67). Hal ini menunjukkan bahwa waktu memijah ekor kuning
adalah pada bulan Pebruari, April, Mei dan Oktober. TKG ikan kurisi dari bulan
Pebruari, Maret, Mei selalu didominasi tingkat 1 dan sudah dijumpai sedikit TKG
2, 3 dan 4. Tingkat ‘spent” dijumpai pada bulan Mei dan September, dimana ini
menunjukkan waktu memijah jatuh pada bulan Mei dan September.
Estimasi potensi lestari (MSY) menurut Model Produksi Surplus Schaeffer
(1957) untuk WPP 711 dengan data serial 11 tahun (Tabel 3) didapatkan sebesar
482.200 ton/tahun. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari
potensi lestarinya atau sebesar 385.760 ton/tahun. Upaya optimal alat tangkap dogol,
sebagai alat yang distandarisasi, adalah sebesar 9.987 unit (Gambar 4), sementara f
aktual adalah 10.878 unit alat tangkap dogol. Dengan demikian tingkat pemanfaatan
sumberdaya ikan demersal di perairan Laut Cina Selatan sudah berada pada tahapan
yang overfishing, dengan demikian harus dilakukan pengurangan upaya.
Tabel 3. Produksi, upaya dan CPUE ikan demersal di WPP NRI711
TAHUN
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
12
CATCH (C)
165.078
179.071
197.625
183.238
142.786
195.503
125.348
167.638
191.784
195.556
191.444
EFFORT (F)
7.129
12.117
9.096
7.916
8.561
7.670
11.319
11.494
7.708
11.604
10.878
CPUE (C/F)
23,16
14,78
21,73
23,15
16,68
25,49
11,07
14,58
24,88
16,85
17,60
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KESIMPULAN DAN SARAN
Alat tangkap untuk memanfaatka sumber daya ikan demersal di Laut Cina
Selatan (WPP-NRI711) didominasi alat tangkap bubu, pukat ikan dan pancing
serta komposisi jenis ikan didominasioleh ikan kurisi (Nemipterus spp). Dinamika
populasi ikan demersal menunjukkan pertumbuhan yang lambat dan dengan puncak
musim pemijahan berlangsung dua kali dalam setahun. Status pemanfaatan sumber
daya ikan demersal sudah berada dalam tahapan yang over-fishing dan harus
dilakukan pengurangan upaya sekitar 891 unit alat tangkap dogol.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan Penelitian Stok dan Optimasi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Demersal Untuk Mendukung Industrialisasi
Di WPP 571-Selat Malaka dan WPP 711-Laut Cina Selatan di Balai Penelitian
Perikanan Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan (dulu Pusat
Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan), Balitbang KPTahun Anggaran (TA) 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Badrudin., 2002. Pendugaan MSY dengan Model Produksi Surplus. Pelatihan
Enumerator monitoring dan Evaluasi Sumberdaya Perikanan. Direktorat
Sumberdaya Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
Badrudin & Karyana, 1992. Indeks kelimpahan stok sumber daya ikan demersal di
perairan pantai barat Kalimantan. Jur.;?/nal Penelitian Perikanan Laut
No. 71 : 1-8.
Cholik, F., A. Sudradjat, & P.T. Imanto. 1995. Peluang agribisnis budi daya laut
di Kawasan Timur Indonesia. hlm. 136−156. Prosiding Temu Usaha
Pemasyarakatan Teknologi Karamba Jaring Apung bagi Budi Daya Laut.
Jakarta, 12−13 April 1995
Dulvy, N.K., Y. Sadovy, & J.D. Reynolds. 2003. Extinction vulnerability in marine
populations. Fish Fish Ser 4:25–64
Dwiponggo, A. 1977. Peta Beberapa Sumber Perikanan Demersal (dasar) di
Laut Jawa dan Cina Selatan. Laporan Penelitian Perikanan Laut. Balai
Penelitian Perikanan Laut. Departemen Pertanian. Jakarta.
13
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Froese, R. & D. Pauly,. 2000. FishBase 2000: concepts, design and data sources.
ICLARM, Manila.
Naamin, N., B. Sumiono, S. Ilyas, D. Nugroho, B. Iskandar PS, H.R. Barus, M.
Badrudin, A. Suman & E.M. Amin, 1992. Pedoman teknis pemanfaatan
dan pengelolaan sumber daya udang penaeid bagi pembangunan
perikanan. Seri Pengembangan Penelitian Perikanan No. PHP/KAN/
PT/22/1992. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian : 86 hal.
Sadovy, Y. 1997. Live reef fishery species features prominently in first marine fish
IUCN Red List. Live Reef Fish Information Bulletin No. 2, Secretariat of
the Pacific Community, Noumea, pp. 13–14.
Sadovy, Y & A.C.J, Vincent. 2003. Ecological issues and the trades in live reef fishes.
In: Coral reef fishes. Dynamics and diversity in a complex ecosystem. P.F.
Sale (Ed). Academic Press, San Diego, CA, p 391–420
Schaefer, M.B. 1957. Some considerations of population dynamics and economics
in relation to the management of marine fisheries. Journal of the Fisheries
Research Board of Canada, 14, pp. 669–81.
Sudradjat, A. & Beck, U. 1978. Report on the Southern South China Sea demersal
trawl survey, June-July 1978. Contrib. of the Dem. Fish. Proj. No. 4/1978.
MFRI-GTZ.
Sparre, P. & S.C. Venema, 1999. Introduksi pengkajian stok ikan tropis. Buku 1.
Manual. FAO fish. Tech.
14
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Lampiran 1. Distribusi panjang beberapa jenis ikan yang dominan tertangkap di perairan Laut
Cina Selatan (WPP-NRI 711).
15
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
16
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
17
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA UDANG
DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN
Oleh
Tri Ernawati, Duranta D. Kembaren dan Ali Suman
Balai Penelitian Perikanan Laut
Abstrak
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji gambaran status pemanfaatan
sumber daya udang penaeid sebagai landasan untuk melakukan pengelolaan
perikanan yang berkelanjutan. Hasil tangkapan udang di perairan LCS dalam kurun
waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan terjadinya perubahan komposisi dari
jenis dari udang yang bernilai ekonomis tinggi (jerbung dan dogol) ke jenis udang
yang bernilai ekonomis rendah (udang sudu). Rata-rata ukuran udang penaeid
yang tertangkap lebih kecil daripada rata-rata ukuran matang gonad (L50% < Lm).
Kondisi stok udang penaeid berdasarkan indeks kepadatan stok CPUE menunjukkan
trend yang menurun. Berdasarkan pendekatan metode analitik status sumberdaya
udang penaeid di LCS telah menunjukkan tingkat pemanfaatan secara umum telah
berlebih (E > 0,5). Oleh karena itu diperlukan perhatian yang lebih intensif dan
rasional dalam penentuan kebijakan pengelolaan perikanan. Pengendalian upaya
penangkapan dapat dilakukan dengan beberapa langkah kebijakan, yaitu melalui
kebijakan: 1). pengurangan jumlah trip atau pelarangan penangkapan padapuncak
musim pemijahan, 2). pelarangan penangkapan di area-area nursery ground untuk
meminimalkan juvenil-juvenil atau individu-individu muda tertangkap (clossing
area), dan 3). Penerapan dan implementasi PermenKP no 2 Tahun 2015 tentang
larangan alat tangkap seperti pukat tarik/lampara dasar.
Kata kunci : Stok, tingkat pemanfaatan, udang, Laut Cina Selatan
18
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Laut Cina Selatan berdasarkan Permen KP No. PER 01/MEN/2009 adalah
bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPPRI) 711,
meliputi perairan Laut Cina Selatan (LCS), Selat Karimata dan Laut Natuna.
Perairan LCS adalah bagian dari Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang memiliki
kedalaman relatif dangkal di bagian selatan dan merupakan perairan laut-dalam di
bagian utara. Upaya penangkapan ikan/udang di LCS umumnya sudah tinggi (highly
exploited) bahkan sudah melebihi tangkapan (over exploited) terutama bagi sumber
daya yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti udang penaeid. Sejalan dengan
meningkatnya permintaan akan komoditas udang Penaeid baik untuk kebutuhan
dalam negeri maupun ekspor mengakibatkan terjadinya perkembangan pesat dalam
peningkatan upaya pemanfaatannya. Dalam buku potensi disebutkan bahwa potensi
lestari sumber daya udang penaeid di WPP 711 adalah sebesar 72.250 ton/tahun
dengan tingkat pemanfaatan telah melebihi upaya optimum (Suman et al., 2014).
Sumber daya udang penaeid adalah sumber daya bersifat dapat pulih (renewable
resources). Namun tingginya intensitas penangkapan udang Penaeid di perairan
LCS dan dilakukan sepanjang hari dan sepanjang tahun, maka dikhawatirkan
pemanfaatannya akan mengancam kelestarian dan keberlanjutan pemanfaatan
sumber daya tanpa ada pengelolaan yang rasional. Sumber daya udang Penaeid
sangat rentan terhadap dampak penangkapan mengingat sifatnya yang memiliki
ruaya yang sempit, aktivitas rendah dan kawanan relatif kecil (Aoyama, 1973).
Penyebaran sumber daya udang Penaeid di LCS terdapat pada kedalaman perairan
kurang dari 30 m dengan kondisi habitat dasar perairan berupa lumpur, lumpur
berpasir dan masih dipengaruhi oleh massa air tawar. Daerah penangkapan udang
penaeid tersebar di area Laut Cina Selatan bagian selatan (Pantai Barat Kalimantan
dan Pantai Timur Sumatera) (Suman et al., 2014).
Tujuan penulisan makalah untuk mengkaji gambaran status pemanfaatan
sumber daya udang penaeid sebagai landasan untuk melakukan pengelolaan
perikanan yang berkelanjutan dan dasar bagi pengkajian selanjutnya.
1. Komposisi Jenis dan Struktur Ukuran
Kegiatan penangkapan udang di LCS dilakukan dengan menggunakan alat
tangkap jaring tiga lapis (trammel net), bagan apung dan pukat tarik atau lampara
dasar. Trammel net banyak digunakan di area LCS bagian barat (Sumatera Selatan
19
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dan Bangka Belitung), sedangkan lampara dasar banyak digunakan di area timur
(Kalimantan Barat). Trammel net banyak dijumpai di daerah Banyuasin dan
Belitung. Sementara lampara dasar banyak ditemukan di setiap perairan di wilayah
Kalimantan Barat (Ketapang, Sungai Kakap dan Pemangkat-Sambas). Alat tangkap
trammel net dan pukat tarik dioperasikan secara harian dengan perahu berukuran ≤
5 GT.
Komposisi hasil tangkapan trammel net di perairan Belitung terdiri atas
krustasea, ikan, sotong dan biota lain. Hasil tangkapan didominasi oleh ikanikan demersal yang mencapai 75,92% dari total hasil tangkapan. Hasil tangkapan
udang penaeid sebesar 15,39%, rajungan sebesar 5,4%, sotong sebesar 2,06% dan
gastropoda sebesar 0,04%. Udang penaeid yang mendominasi adalah jenis udang
putih (Penaeus indicus) sebanyak 11,68% (Tabel 1).
Tabel 1. Komposisi jenis hasil tangkapan Trammel Net di perairan Belitung, 2014
20
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Observasi laut dengan mengikuti penangkapan lampara dasar di bulan Mei
dan September 2014 diketahui bahwa komposisi jenis didominasi oleh kelompok
udang dan ikan. Proporsi udang terhadap hasil tangkapan lampara dasar adalah
sebesar 38,2% (Mei) dan 39,6% (September). Proporsi ikan diperoleh sebesar 46,1%
(Mei) dan 34,7% (September) (Tabel 2). Konsentrasi udang penaeid di pantai barat
Kalimantan adalah di daerah Ketapang, Telok Batang, Mempawah, Singkawang dan
Pemangkat (BRPL,2006). Hasil survei trawl di perairan Natuna pada tahun 2005
tidak diperoleh kelompok udang Penaeid (BRPL,2006).
Tabel 2. Komposisi hasil tangkapan Lampara Dasar di perairan Pemangkat, 2014.
Berdasarkan hasil observasi di laut bulan Mei dan September jenis-jenis udang
yang tertangkap di perairan Pemangkat dan sekitar antara lain adalah jenis udang
wangkang/peci (Penaeus merguiensis), udang dogol (Metapenaeus affinis), udang
sudu (Metapenaeus brevicornis), udang putih (Metapenaeus tenuipes), udang merah
(Metapenaeopsis sp.) dan udang ket (Parapenaeopsis scluptilis). Jenis udang sudu
(M.brevicornis) mendominasi di antara jenis udang-udang lain (Gambar 1).
21
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 1. Komposisi jenis udang yang tertangkap lampara dasar di perairan di sekitar
perairan Pemangkat, 2014
Proporsi udang terhadap hasil tangkapan total di sekitar perairan Pemangkat
lebih besar dibandingkan di perairan Belitung dipengaruhi oleh perbedaan kondisi
lingkungan di kedua area tersebut. Pantai-pantai Kalimantan Barat adalah perairan
yang masih dipengaruhi oleh massa air tawar karena terdapat sungai-sungai besar
yang bermuara di pantai tersebut. Menurut Motoh (1981), udang penaeid umumnya
menyebar di perairan yang masih dipengaruhi oleh massa air tawar.
Pengamatan struktur ukuran udang penaeid dilakukan terhadap beberapa jenis,
antara lain: Penaeus merguiensis, P. indicus, Metapenaeus ensis, M. affinis dan M.
brevicornis. Struktur ukuran panjang karapas udang P. merguiensis di LCS area barat
(Banyuasin) lebih besar dibandingkan yang tertangkap di area timur (Pemangkat).
Perbedaan ukuran udang yang tertangkap di area barat dan timur LCS disebabkan
oleh perbedaan jenis alat tangkap sehingga mempengaruhi penentuan daerah
penangkapan. Ukuran rata-rata panjang karapas udang penaeid yang tertangkap,
udang jantan cenderung lebih kecil dibandingkan udang betina, baik jenis Penaeus
maupun Metapeneus (Tabel 3).
22
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 3. Struktur ukuran panjang karapas Udang Penaeid di perairan Laut Cina Selatan.
Jenis
Udang burung/wangkang/peci
(P.merguiensis )
Udang putih (P. indicus )
Udang dogol (M. ensis )
Udang dogol (M. affinis )
Udang dogol (M. brevirconis )
Kisaran Panjang
Karapas (mm)
Jantan Betina
16 - 52 19 - 59
12 - 46 14 - 51
17 - 39 15 - 72
17 - 52 17 - 61
12 - 29 13 - 40
11 - 20 12 - 30
Rata-rata Panjang
Karapas ± sd
Jantan
Betina
33,0 ± 4,93 35,3 ± 6,25
22,9 ± 3,08 25,8 ± 5,57
26,4 ± 2,39 31,2 ± 4,66
28,8 ± 5,58 31,9 ± 5,50
21,4 ± 2,46 24,5 ± 5,04
15,0 ± 1,90 17,8 ± 2,48
Alat Tangkap
Trammel Net
Lampara dasar
Trammel Net
Trammel Net
Lampara dasar
Lampara dasar
Lokasi
Banyuasin
Pemangkat
Belitung
Banyuasin
Pemangkat
Pemangkat
2. Rata-rata Ukuran Rata-rata Tertangkap (L) dan Matang Gonad
(Lm)
Rata-rata ukuran rata-rata udang tertangkap (L) adalah hal yang penting
untuk diketahui. Bila dikaitkan dengan ukuran rata-rata pertama kali matang
gonad (Lm) dapat diketahui status populasinya. Kajian tentang (L) dan (Lm) dapat
dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan besarnya ukuran ikan/udang yang boleh
ditangkap (minimum legal size). Ukuran rata-rata pertama kali matang gonad dapat
didefinisikan sebagai panjang karapas pada 50% dari semua individu yang telah
matang gonad (King, 1995). Ukuran matang gonad dapat dijadikan sebagai indikator
ukuran pemijahan dalam suatu populasi (Crocos, 1987 dalam Crocos et al, 2001).
Hasil penelitian di perairan Laut Cina Selatan diperoleh bahwa ukuran ratarata panjang karapas udang penaeid yang tertangkap (L5) dan matang gonad (Lm)
bervariasi (Tabel 4). Rata-rata udang penaeid yang tertangkap di perairan LCS belum
melakukan pemijahan (L < Lm) kecuali jenis P.indicus di perairan Belitung. Ratarata udang P.indicus yang tertangkap di perairan Belitung telah sempat melakukan
pemijahan ditunjukkan dengan L > Lm. Ukuran rata-rata tangkapan yang lebih
rendah dibandingkan ukuran rata-rata matang gonad akan menyebabkan penurunan
stok sumberdaya akibat terhambatnya proses rekruitmen (Henriques, 1999 dalam
Pinheiro & Lins-Oliveira, 2006). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas
penangkapan sudah mengakibatkan terancamnya kelestarian sumberdaya yang ada
terutama di perairan pantai barat Kalimantan, dengan masih banyak digunakan alat
tangkap tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengelolaan
melalui penggunaan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan seperti trammel net,
memperbesar ukuran mata jaring dan pelarangan kegiatan penangkapan di area yang
teridentifikasi sebagai daerah nursery ground.
23
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 4. Ukuran rata-rata tertangkap dan matang gonad Udang Penaeid di perairan Laut Cina
Selatan, 2014
Lokasi
Spesies
L
50%
(mmCL)
Lm (mmCL)
Pera iran ba rat LCS
(Suma tera Selatan
dan Bangka
Belitung)
Penae us merguiensis
Me tapenaeus ensis
48,1
64,9
Pera iran Timur LCS
(Panta i Barat
Kalima ntan)
P. me rguiensis
26,8
33,7
M.affinis
23,4
25,4
M.brevicornis
18,2
19,7
Penaeus indicus
31,6
34,8
29,4
32,4
3. Musim Penangkapan dan Musim Pemijahan
Dugaan musim penangkapan udang di perairan Pemangkat didasarkan pada
data statistik perikanan selama kurun waktu 2007-2013. Analisa dilakukan terhadap
hasil tangkapan per unit upaya lampara dasar. Hasil analisa menunjukkan bahwa
musim penangkapan terjadi pada bulan Juni sampai Desember dan puncak musim
penangkapan terjadi pada bulan Juni (Gambar 2).
Gambar 2. Indeks musim penangkapan udang di perairan Pemangkat
Prediksi musim pemijahan udang di suatu perairan dapat dilakukan melalui
pengamatan distribusi tingkat kematangan gonad udang betina di perairan tersebut
(Martosubroto, 1978) setiap bulannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang
jerbung/putih/peci (P. merguiensis, P. indicus) di perairan barat LCS (Banyuasin
24
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dan Belitung) cenderung memiliki pola musim memijah yang hampir sama yaitu
pada bulan antara April - Juli. Musim pemijahan udang jerbung (P. merguiensis) di
sekitar perairan barat Kalimantan terjadi pada bulan Februari, Juni dan Nopember.
Kondisi tersebut sedikit berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
Penelitian pada periode tahun 1988 - 1990 di perairan pantai utara Jawa Barat,
memperlihatkan bahwa udang jerbung memijah hampir setiap bulan dengan puncak
musim pemijahan pada bulan Mei (musim timur) dan Maret (musim barat) (Suman
et al., 1991). Musim pemijahan udang jerbung di perairan Cilacap dan sekitarnya
berlangsung sepanjang tahun dengan puncaknya pada bulan Agustus, Nopember
dan April (Adisusilo, 1983). Udang jerbung di perairan Panimbang, Jawa Barat
diketahui puncak pemijahan pada bulan September (Suman et al., 1988), sementara
itu di pantai utara Jawa Tengah pada bulan Oktober-Nopember (Naamin, 1971).
Variasi musim pemijahan di beberapa lokasi dipengaruhi oleh perubahan suhu
dan salinitas perairan. Menurut Preston (1985) dalam Zacharia & Kakati (2004),
dijelaskan bahwa suhu dan salinitas sangat mempengaruhi penetasan telur dan daya
tahan larva yang dihasilkan.
4. Status Stok dan Tingkat Pemanfaatan
Kelimpahan stok udang penaeid di LCS diperoleh dengan melakukan survei
laut menggunakan trawl sebagai alat standar. Survei laut dilakukan dengan kapal
riset maupun perahu nelayan. Hasil tangkapan per-jam (catch rate) alat tangkap
trawl diasumsikan proporsional dengan biomassa udang penaeid yang ada di alam,
maka angka tersebut merupakan salah satu indek kelimpahan (kepadatan) stok yang
terbaik bagi pendugaan besarnya stok (standing stock).
Kepadatan stok udang penaeid berdasarkan hasil sampling mini trawl (lampara
dasar) perahu nelayan di sekitar perairan Ketapang diperoleh 5,57 kg/km2. Sedangkan
kepadatan stok udang penaeid diperoleh dari hasil kapal riset relatif lebih kecil yaitu
2,40 kg/km2. Hasil survei dengan kapal riset, kelimpahan udang penaeid paling padat
adalah di sekitar perairan Mempawah dan sebelah barat Pulau Karimata. Perbedaan
hasil kepadatan stok yang diperoleh dari sampling perahu nelayan dan kapal riset
disebabkan oleh perbedaan area setting alat tangkap. Setting lampara dasar di
Ketapang dilakukan pada perairan sekitar muara dan pesisir pantai dengan kedalaman
perairan < 10m. Sedangkan sampling kepadatan stok dengan kapal riset dilakukan
di perairan dengan kedalaman rata-rata lebih dari 20 m. Kondisi ini disebabkan
karena keterbatasan kapal riset tidak mampu menjangkau sekitar daerah muara dan
25
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
pesisir pantai yang dapat menyebabkan kapal kandas. Menurut Motoh (1981) daerah
penyebaran udang penaeid umumnya terdapat di perairan yang masih dipengaruhi
oleh massa air tawar (freshwater discharge). Oleh karena itu kepadatan stok di area
muara lebih tinggi dibandingkan di perairan yang lebih dalam. Penyebaran sumber
daya udang penaeid di Laut Cina Selatan pada umumnyan terkonsentrasi di sekitar
pantai (BRPL, 2006). Secara ekologis daerah penangkapan udang jerbung (Banana
shrimp) biasanya terdapat bersamaan dengan kelompok udang dogol (Endeavour
shrimp) terutama terdapat di perairan dangkal dan muara sungai atau di daerah yang
terdapat hutan mangrovenya (Woffy, 1990).
Kondisi kelimpahan stok udang dapat direpresentasikan oleh hasil tangkapan
per satuan upaya (CPUE) sebagai indek kepadatan stok yang digambarkan oleh
kecenderungan (trend) yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Trend CPUE udang
penaeid yang didaratkan di Pemangkat dari periode tahun 2007 – 2013 menunjukkan
trend yang menurun (Gambar 3). Penurunan terendah terjadi pada tahun 2013.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa telah terjadi penurunan stok udang
penaeid yang disebabkan oleh upaya penangkapan yang sudah lebih tangkap (over
exploited). Terjadinya over exploited adalah dipengaruhi oleh kegiatan penangkapan
yang tidak bertanggungjawab atau tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan alat
tangkap lampara dasar (mini trawl).
Gambar 3. Perkembangan CPUE udang berdasarkan hasil tangkapan lampara dasar di
Pemangkat
Hasil analisis berdasarkan metode analitik diperoleh tingkat pemanfaatan
(E) berkisar antara 0,5 – 0,7 (Tabel 5) . Status sumberdaya udang penaeid di LCS
26
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
telah menunjukkan tingkat pemanfaatan yang secara umum menunjukkan kondisi
yang memerlukan perhatian yang lebih intensif dan rasional dalam penentuan
kebijakan pengelolaan perikanan. Nilai laju eksploitasi (E) yang cenderung tinggi
(> 0,5) menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya udang di LCS telah
melebihi batas pemanfaatan yang optimum. Menurut Gulland (1971) suatu stok
sudah mencapai pengusahaan yang optimal bila nilai E optimal (E opt) adalah 0.5.
Penggunaan E ~ 0.5 sebagai nilai optimal untuk rasio pengusahaan suatu stok
didasarkan pada asumsi bahwa mortalitas alami (M) sama dengan mortalitas
penangkapan (F).
Tabel 5. Nilai laju ekploitasi beberapa jenis Udang Penaeid di Laut Cina Selatan.
No
1.
2.
3.
4.
5.
Spesies
Udang jerbung/putih/peci (P. merguiensis)
Udang jerbung/putih (P. indicus)
Udang dogol (M. ensis)
Udang dogol (M. affinis)
Udang susu (M. brevicornis)
Nilai laju eksploitasi (E)
0,70
0,66
0,53
0,5
0,6
5. Opsi pengelolaan
Status pemanfaatan sumberdaya udang penaeid di perairan Laut Cina Selatan
secara umum sudah menunjukkan kondisi lebih tangkap, dengan ditunjukkan
ukuran rata-rata yang tertangkap relatif lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata
ukuran matang gonad. Berkaitan dengan hal tersebut dan berdasarkan pada hasil
penelitian ini terdapat dua opsi pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mendukung
kelesatarian sumberdaya udang yaitu : Oleh karena itu dalam pengelolaan perikanan
udang dan di wilayah ini harus lebih hati-hati. Perlu dibatasi atau dikurangi jumlah
upaya penangkapannya. Pengendalian upaya penangkapan dapat dilakukan dengan
beberapa langkah kebijakan, yaitu melalui kebijakan: 1). pengurangan jumlah
trip atau pelarangan penangkapan padapuncak musim pemijahan, 2). pelarangan
penangkapan di area-area nursery ground untuk meminimalkan juvenil-juvenil
atau individu-individu muda tertangkap (clossing area), dan 3). Penerapan dan
implementasi PermenKP no 2 Tahun 2015 tentang larangan alat tangkap yang tidak
ramah lingkungan seperti pukat tarik/lampara dasar diganti dengan trammel net.
27
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil tangkapan udang di perairan LCS dalam kurun waktu beberapa tahun
terakhir menunjukkan terjadinya perubahan komposisi dari jenis dari udang yang
bernilai ekonomis tinggi (jerbung dan dogol) ke jenis udang yang bernilai ekonomis
rendah (udang sudu). Puncak musim penangkapan teridentifikasi pada bulan Juni
diperairan timur LCS sedangkan puncak musim pemijahan udang jerbung terjadi
pada bulan Februari, Juni dan Nopember di perairan timur LCS, sementara puncak
pemijahan diperairan barat LCS terjadi pada bulan April - Juli. Rata-rata ukuran
udang penaeid yang tertangkap lebih kecil daripada rata-rata ukuran matang gonad
(L < Lm). Status stok sumber daya udang di perairan Laut Cina Selatan sudah berada
dalam tahapan yang over-fishing, dengan demikian harus dilakukan pengurangan
upaya sekitar 20-40 % dari kondisi saat ini.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan Penelitian Stok dan Optimasi
Pemanfaatan Sumberdaya Udang Penaeid dan Krustasea Lain dalam Mendukung
Industrialisasi Perikanan di WPP 571 Selat Malaka – Laut Andaman dan WPP 711
Selat Karimata – Laut Natuna – Laut Cina Selatan di Balai Penelitian Perikanan Laut
T.A. 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, S. 1983. Ukuran matang kelamin dan musim pemijahan udang jerbung
(Penaeus merguiensis de Man) di perairan Cilacap dan sekitarnya.
Laporan Penelitian Perikanan Laut No. 29: 97-102.
Anonymous. 2009. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 01/
MEN/2009 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia.
Aoyama, T., 1973. The demersal stock and fisheries of the South China Sea. SCS/
DEV/73/3. FAO.Rome. 80p.
BRPL, 2004. Status Stok, Dampak Penangkapan dan Bioekologi Sumberdaya Ikan
Pelagis Kecil dan Demersal di Perairan Selat Malaka. Laporan Hasil
Penelitian. Balai Riset Perikanan Laut, Jakarta
BRPL, 2006. Riset Pengkajian Stok, Life History dan Dinamika Populasi Sumber
Daya Ikan Demersal dan Udang Penaeid di Laut Cina Selatan, Laut Jawa
28
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dan Selat Makasar. Laporan Akhir. Balai Penelitian Perikanan Laut,
Jakarta.
BRPL, 2008. Riset Stok, Lingkungan SDI Demersal dan Pelagis Ekonomis Penting
dan Sistem Operasi Penangkapan di Selat Malaka dan Pantai Timur
Sumatera. Laporan Hasil Penelitian. Balai Riset Perikanan Laut, Jakarta
Crocos, P.J.,Y.C. Park, D.J. Die, K. Warburton & F. Manson. 2001. Reproductive
dynamics of endevour prawn, Metapenaeus endevouri and M. ensis, in
Albatross Bay, Gulf of Carpentaria, Australia. Marine Biology. 138 : 63
– 75.
Direktorat Jendral Perikanan Tangkap (DJPT). 2012. Statistik Perikanan Tangkap
Indonesia. Diterbitkan setiap tahun.
King, M. 1995. Fisheries Biology: Assessment and Management. Fishing News
Books. Oxford, England: 341p.
Martosubroto, P. 1978. Musim pemijahan dan pertumbuhan udang jerbung, Penaeus
merguiensis de Man dan udang dogol, Metapenaeus ensis de Haan di
perairan Tanjung Krawang. Prosiding Seminar Ke-II Perikanan Udang.
Jakarta, 15-18 Maret 1977: hal. 7-20.
Motoh,H. 1981. Studies on the fisheries biology of the giant tiger prawn, Penaeus
monodon, in the Philippines. SEAFDEC Tech. Pap. No. 7: 128p.
Naamin, N. 1971. Laporan pendahuluan mengenai spawning ground udang di pantai
utara Jawa Tengah. Laporan Penelitian Perikanan Laut No. PL/71: 18 hal.
Pauly, D., J. Ingles & R. Neal. 1984. Application to shrimp stocks of objective
methods for the estimation of growth, mortality, and recruitment related
parameters from length frequency data (ELEFAN I and II). In: Penaeid
shrimp-their biology and management: 220-234. Fishing News Book
Limited. Farnham-Surrey-England.
Pinheiro, A. P. & J. E. Lins-Oliveira. 2006. Reproductive biology of Panulirus
echinatus (Crustacea: Palinuridae) from São Pedro and São Paulo
Archipelago, Brazil. Nauplius. 14(2): 89-97.
Sudjastani, T. 1974. Dinamika populasi ikan kembung di Laut Jawa. Laporan
Penelitian Perikanan Laut No. 1 : 30-64.
Suman, A. dan D. Nugroho, 1988. Perikanan udang putih (Penaeus merguiensis de
Man) di perairan Pemalang dan sekitarnya. Jurnal Penelitian Perikanan
Laut No.47 : 13-20.
29
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Suman, A., Wudianto., B. Sumiono., H.E. Irianto.,Badrudin & K. Amri. 2014. Potensi
dan Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Repubik Indonesia (WPP RI). Balai Penelitian Perikanan Laut,
P4KSI, BALITBANG-KP. Jakarta.
Woffy,A. 1990. Population dynamics of Metapenaeus ensis (Penaeid) in the Gulf of
Papua,PNG. Fishbyte Vo. 8 (1): 18-20.
Zacharia, S. & V.S. Kakati. 2004. Optimal salinity and temperature for early
developmental stages of Penaeus merguiensis De man. Aquaculture
(232): 373 – 382.
30
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN PELAGIS BESAR
DI WPP 711 LAUT CINA SELATAN
Oleh
Khairul Amri, Umi Chodrijah, Tegoeh Noegroho, Thomas Hidayat dan
Enjah Rahmat
ABSTRAK
Sumberdaya ikan pelagis besar merupakan komoditas ekonomis penting
yang banyak dimanfaatkan nelayan di perairan Wilayah Pengelolaan Perikanan
(WPP) 571 Laut Cina Selatan. Perairan Laut Cina Selatan telah lama menjadi
daerah tujuan penangkapan ikan bagi nelayan purse seine (PS) yang berasal dari
Jawa yang berpangkalan di Pekalongan, Tegal dan Juana. Selain itu, perairan ini
juga merupakan daerah penangkapan ikan potensial bagi nelayan lokal yang berada
di sekitar perairan ini. Penelitian ini mengkaji aspek pemanfaatan dan status stok
sumberdaya ikan pelagis besar di WPP 711 Laut Cina Selatan. Data yang digunakan
merupakan data hasil penelitian pada tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan
pengusahaan sumberdaya ikan pelagis besar di Laut Cina Selatan dilakukan dengan
menggunakan armada beragam. Perikanan tenggiri umumnya didominasi oleh
perikanan skala rakyat (artisanal) menggunakan kapal motor tempel (KMT) 5-10 GT
dengan alat tangkap dominan gillnet dan pancing ulur. Perikanan tongkol umumnya
dimanfaatkan kapal-kapal purse seine dari Jawa dengan kapal berukuran besar 20-30
GT bahkan lebih. Potensi lestari SDI pelagis besar sebesar 54.170 ton/tahun, dengan
upaya optimum (F Opt.) setara: 11.931 purse seine dan tingkat pemanfaatannya
mendekati optimum. Pengusahaan sumberdaya ikan pelagis besar di LCS masih bisa
dikembangkan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Kata kunci: sumberdaya pelagis besar, status stok, Laut Cina Selatan
31
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Sumberdaya ikan pelagis besar merupakan komoditas ekonomis penting yang
banyak dimanfaatkan nelayan di perairan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)
571 Laut Cina Selatan. Beberapa literatur menyebutkan, perairan Laut Cina Selatan
(LCS) menempati posisi penting dalam produksi perikanan dunia yaitu memberi
kontribusi sebesar lebih dari 12% dari produksi ikan, dan merupakan daerah yang
tinggi tingkat keragaman biodiversitasnya (Talaue-McManus, 2000).
Perairan Laut Cina Selatan telah lama menjadi daerah tujuan penangkapan
ikan bagi nelayan purse seine (PS) yang berasal dari Jawa yang berpangkalan di
Pekalongan, Tegal dan Juana. Selain itu, perairan ini juga merupakan daerah
penangkapan ikan potensial bagi nelayan lokal yang berada di sekitar perairan ini,
mulai dari nelayan Bangka-Belitung di bagian selatan; nelayan Kepulauan Riau
di bagian tengah; dan nelayan Kalimantan Barat seperti Pemangkat dan nelayan
Natuna di bagian utara.
Jenis-jenis ikan pelagis besar yang banyak dimanfaatkan nelayan di perairan ini
adalah kelompok ikan tuna neritik seperti jenis-jenis tongkol dan tenggiri serta hiu/
cucut juga lemadang. Berdasarkan Kepmen KP No.45 Tahun 2011, angka estimasi
potensi sumberdaya perikanan di WPP 711 sebesar 1.059 juta ton, adapun ikan
pelagis besar potensinya diperkirakan mencapai 66.100 ton/tahun. Sampai sejauh
ini belum banyak informasi terkait hasil penelitian sumberdaya ikan pelagis besar
terutama yang membahas aspek pemanfaatan dan status stok sumberdayanya.
Tulisan ini menyajikan aspek pemanfaatan dan status stok sumberdaya ikan
pelagis besar di WPP 711 Laut Cina Selatan. Data yang digunakan merupakan data
hasil penelitian pada tahun 2014 dengan maksud memberikan informasi terbaru
mengenai kondisi sumberdaya ikan pelagis besar di perairan ini.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari Januari-Desember 2014. Lokasi penelitian
di perairan yang masuk dalam WPP-NRI 711 ini meliputi perairan BangkaBelitung, Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Cina Selatan (wilayah Indonesia).
Lokasi pendaratan yang ditetapkan sebagai lokasi sampling meliputi pelabuhan
32
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
pendaratan ikan di Tanjung Pandan (Belitung); Sungailiat (Bangka); Moro (Tanjung
Balaikarimun); Tanjung Pinang (Bintan); dan Pemangkat (Kalimantan Barat).
Jenis Data dan Cara Perolehannya
Data yang dikumpulkan adalah data dari kegiatan perikanan tangkap ikan
pelagis besar di lokasi sampling yang meliputi:
•
•
•
•
Data hasil tangkapan per kapal dikumpulkan melalui ’catch monitoring’ terhadap kapal-kapal penangkap ikan pelagis besar yang mendaratkan dan membongkar ikannya di lokasi-lokasi sampling, ataupun
melalui observasi laut. Pencatatan dibantu oleh tenaga enumerator
lapangan di lokasi sampling
Pencatatan hasil tangkapan dilakukan menurut format standar berdasarkan waktu, fishing ground, spesifikasi kapal dan species
Data aspek operasional penangkapan dikumpulkan melalui observasi
(di laut dan di darat) dan wawancara dengan nakhoda kapal/nelayan
Data pendukung (statistik perikanan, data register kapal) dikumpulkan
di tempat pendaratan ikan, pangkalan pendaratan dan instansi terkait.
Pengolahan dan Analisa Data
Data hasil tangkapan yang dikumpulkan ditabulasi dalam bentuk lembar
kerja (worksheet) dan disusun menurut kapal pada setiap trip dan atau tawur.
Data kemudian diringkas menurut waktu (bulan) untuk menduga kecenderungan
perubahannya secara musiman berdasarkan nilai rata-rata statistik yang diperoleh.
Fluktuasi musim tangkapan diduga berdasarkan nilai laju tangkap yang diperoleh;
komposisi hasil tangkapan didasarkan pada hasil sampling komposisi jenis di
atas kapal nelayan. Analisis secara grafis dan statistik sederhana diterapkan untuk
menunjukkan kecenderungan perubahan yang terjadi pada fluktuasi hasil tangkapan.
Untuk menghitung Catch Per Unit Effort (CPUE), data yang digunakan adalah
data produksi (catcth) dan upaya (effort) dari ikan pelagis besar. Untuk menetukan
indeks kelimpahan yang juga menggambarkan tingkat pemanfaatan, analisa CPUE
dilakukan berdasarkan Sparre and Venema (1999):
33
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
CPUE = catch / unit effort
Dimana : Catch = total hasil tangkapan (kg)
Effort = total upaya penangkapan (unit alat tangkap)
CPUE = hasil tangkapan per upaya penangkapan (kg/unit)
Untuk mengetahui pola musim penangkapan digunakan Metode Persentase
Rata-rata (The Average Percentage Methods) yang didasarkan pada Analisis Runtun
Waktu (Spiegel, M. R., 1961).
Cara perhitungannya sbb:
1.
Hitung nilai hasil tangkapan per upaya tangkap (CPUE) yaitu :
U
Ui
m
= CPUE rata-rata bulanan dalam setahun (ton/trip)
= CPUE per bulan (ton/trip)
= 12 (jumlah bulan dalam setahun)
2.
Hitung Up yaitu rasio Ui terhadap U dinyatakan dalam persen
3.
Selanjutnya dihitung :
IMi = Indeks Musim ke i
t
= Jumlah tahun dari data
4. Kriteria penentuan musim ikan ialah jika indeks musim lebih dari 1
(lebih dari 100 %) atau di atas rata-rata, dan bukan musim jika indeks
musim kurang dari 1 (kurang dari 100 %). Apabila IM = 1 (100 %),
nilai ini sama dengan harga rata-rata bulanan sehingga dapat dikatakan dalam keadaan normal atau berimbang.
34
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Parameter biologi dan dinamika populasi dianalisa dengan metode standar.
Parameter yang dianlisa adalah ukuran ikan pertama kali tertangkap (Lc). Identifikasi
gonad mengacu pada urutan tingkat kematangan gonad (Effendie, 2002). Gonado
Somatic Index dianalisis dengan rumus yang dikemukakan Effendi, (2002). Nilai
Lm dianalisis dengan metode Spearman-Karber dalam Udupa (1986). Kebiasaan
makanan dianalisis dengan metode frekuensi kejadian, dalam persentase (Effendi,
1979). Jumlah telur dihitung dengan metode gravimetri dan fekunditas dianalisis
dengan rumus yang dikemukakan Effendi, (1979).
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Kondisi Perikanan
Jenis-jenis ikan pelagis besar yang umumnya tertangkap nelayan di perairan
Laut Cina Selatan terdiri dari kelompok jenis tongkol, yang dominan adalah jenis
tongkol komo/kawakawa (Euthynnus affinis) dan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol).
Sementara jenis tenggiri terdiri dari tenggiri batang (Scomberomerus commerson)
dan tengggiri papan (Scomberomerus guttatus). Selain itu juga tertangkap ikan
lemadang dan hiu/cucut.
Lokasi pendaratan ikan pelagis besar di WPP 711 dilakukan nelayan di pelabuhan
pendaratan ikan resmi (milik pemerintah) seperti Pelabuhan Perikanan Nusantara
(PPN); Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) dan juga di pelabuhan/pangkalan pendaratan
ikan milik peroarang atau swasta yang dikenal dengan sebutan tangkahan. Beberapa
PPN yang dijadikan lokasi sampling adalah PPN Tanjung Pandan (Belitung); PPN
Sungailiat (Bangka) dan PPN Pemangkat (Kalimantan Barat).
Jenis Alat Tangkap
Ikan pelagis besar di perairan LCS ditangkap menggunakan alat tangkap jaring
insang hanyut (gillnet), pancing ulur, dan purse seine. Nelayan tradisional dengan
kapal berukuran kecil ke laut sehari pulang (one day fishing), sedangkan nelayan
pada kapal-kapal besar (skala industri) jumlah hari laut antara 10-15 hari.
35
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gillnet atau jaring insang hanyut dominan menangkap ikan tenggiri dan
tongkol. Alat tangkap jaring insang hanyut yang digunakan nelayan LCS umumnya
mempunyai ukuran panjang jaring sekitar 4.000-10.000 m, dalam 17 m dengan besar
mata jaring 4-5 inchi. Jaring ini merupakan jaring insang permukaan sehingga tidak
memiliki pemberat di bagian bawahnya, “pemberat” jaring menggunakan “benang
kaki “ yaitu bagian bawah jaring sedalam sekitar 2 m yang terbuat dari bahan yang
tenggelam. Pemberat logam hanya digunakan di bagian ujung –ujung jaring.
Pancing ulur yang banyak digunakan nelayan di LCS terdiri dari dua jenis,
yaitu untuk menangkap tenggiri dan menangkap ikan pelagis kecil. Pancing
tenggiri dibuat khusus dengan menambahkan beberapa kawat di atas mata pancing,
tujuannya adalah bila umpan dimakan ikan tenggiri maka pancing tidak putus
karena ada kawatnya. Pancing biasa dioperasikan di sekitar rumpon atau di sekitar
perairan karang di luar rumpon. Pancing tenggiri menggunakan umpan ikan yang
dipotong atau ikan kecil yang utuh, sedangkan pancing ulur menggunakan umpan
palsu berupa benang sutra dimensi.
Alat tangkap purse seine operasionalnya sangat dipengaruhi musim (bulan
gelap dan terang). Panjang jaring yang digunakan sekitar 450 depa dengan
kedalaman sekitar 80 depa. Ukuran mata jaring 1 inch dengan konstruksi kantong
berada di samping. Umumnya armada pukat cincin menggunakan satu genset dan
satu unit mesin induk dengan kapasitas 240 PK. Alat bantu penangkapan berupa
lampu halogen dan merkuri dengan daya 1000 hingga 3000 watt.
Perkembangan Armada
Armada penangkapan ikan pelagis besar yang beroperasi di LCS didominasi
kapal-kapal berukuran kecil. Kapal yang mendaratkan ikannya di PPN Sungailiat
mayoritas tradisional berupa kapal motor berukuran < 5 GT. Pada tahun 2013 jumlah
kapal < 5 GT sangat dominan (75%), kapal 5-10 GT (25%) sisanya dalam jumlah
kecil kapal berukuran 10-20 GT tidak ada kapal berukuran > 30 GT hanya ada 1
kapal (Gambar 1).
36
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 1. Jumlah dan prosentase kapal (2013) di PPN Sungailiat
Kapal penangkapan ikan nelayan di PPN Tanjung Pandan didominasi oleh
kapal motor (KM) dengan alat tangkap dengan ukuran tonase rata-rata < 5 GT.
Sedangkan untuk kapal pengangkut ikan ukuran toanasenya berkisar antara 10-50
GT. Perkembangan jumlah kapal berdasarkan ukuranya dapat dilihat pada Tabel 1
berikut ini.
Tabel 1. Perkembangan armada penangkap ikan di PPN Tanjung Pandan
Tahun
Kapal Motor/KM (GT)
Total
< 10 GT
10’-30 GT
30’-60 GT
2005
509
19
1
529
2006
509
19
1
529
2007
509
19
1
529
2008
303
15
4
322
2009
303
15
4
322
2010
303
15
4
322
2011
303
15
4
322
2012
303
15
4
322
15
4
323
2013
304
Sumber: PPN Tanjung Pandan, 2014
Armada penangkapan di Moro didominasi oleh perahu motor tempel (76%),
dan motor tempel 24%. Sedangkan dari besarnya tonase kapal di dominasi oleh
ukuran 5 GT yaitu 77%, > 5-30 GT sebesar 22%, dan sebagian kecil > 30 GT sebesar
37
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
1% (Gambar 3). Kapal dengan alat tangkap gillnet di sekitar Pulau Moro dan Tj.
Balai Karimun terdiri dari dua macam yaitu yang dibawah 5 GT dan lebih dari 20
GT (Gambar 2).
Gambar 2. Kategori Kapal Berdasarkan Tonase di Tanjung Balai Karimun
Armada penangkap di Tanjung Pinang didominasi perahu tanpa motor (PTM)
sebesar 52%, sedangkan di kota Batam didominasi o motor tempel (MT) sebesar
38%. Sedangkan di Kepulauan Riau secara keseluruhan, jumlah kapal motor (KM)
sebesar 44%, perahu tanpa motor (PTM) sebesar 36% dan perahu motor tempel
(MT) sebesar 20%. (Gambar 3).
Gambar 3. Jumlah dan komposisi armada penangkap ikan di wilayah Kep. Riau 2008-2011
Armada penangkapan ikan pelagis besar di PPN Pemangkat didominasi oleh
kapal-kapal purse seine berukuran besar (20-30 GT) dengan prosentase mencapai
36%. Disusul kemudian oleh kapal-kapal berukuran 5-10 GT (21%). Kapal-kapal
38
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
berukuran 50-100 GT sekitar 16%. Adapun kapal-kapal berukuran kecil (< 5 GT)
jumlahnya sangat sedikit (Gambar 4).
6% 1%
Jumlah Armada Berdasarkan Ukuran Kapal (GT)
di Pemangkat 2009-2013
21%
1200
0 - 5 GT
16%
1000
5-10
Jumlah (unit)
800
10-20
2009
600
2010
400
2011
11%
9%
2012
200
100 - 200
0
5-10
10-20
20 - 30
30 - 50
30 - 50
50 - 100
2013
0- 5
20 - 30
50 - 100 100 - 200
Ukuran kapal (GT)
36%
Gambar 4. Jumlah armda dan prosentasenya berdasarkan ukuran di PPN Pemangkat
2009-2013
Musim dan Daerah Penangkapan
Musim penangkapan ikan pelagis besar di LCS, untuk jenis tenggiri
berlangsung pada musim utara yaitu mulai bulan November sampai Februari (musim
barat) sedangkan musim penangkapan ikan tongkol terjadi pada musim selatan/
timur (bulan Juli-September). Hasil tangkapan pada Musim Barat lebih banyak
dibandingkan dengan pada Musim Timur. Karakteristik hasil tangkapan pada Musim
Barat umumnya tenggiri dan tongkol berukuran besar sementara pada Musim Timur
banyak tertangkap ikan tenggiri dan tongkol berukuran kecil dan dalam jumlah yang
lebih sedikit.
Daerah penangkapan ikan nelayan LCS seperti terlihat pada (Gambar 5).
Nelayan gillnet di Pemangkat daerah penangkapannya meliputi perairan Bangka
hingga Natuna. Daerah penangkapan gillnet yang berbasis di Moro dibedakan
menjadi dua, yaitu kapal gillnet > 20 GT menangkap di sekitar Selat Karimata,
sedangkan kapal gillnet < 5 GT menangkap ikan di sekitar Pulau Moro, Pulau Jang,
Pulau Buru, Pulau Kijang, Pulau Karimun Anak, Pulau Kundur, dan sekitar Tanjung
Pelanduk. Gillnet di Pulau Bangka memiliki daerah penangkapan di sekitar utara
Pulau Bangka. Daerah penangkapan tenggiri dengan pancing ulur yang berbasis di
Belitung yaitu di perairan Karang Pesawat (50 mil sebelah utara Belitung: perairan
L. Natuna) dan karang tangkal (45 mil utara P. Belitung) serta di perairan sebelah
timur (Selat Karimata) yakni di sekitar P. Klumpang. Daerah penangkapan nelayan
Bintan berada di sekitar kepulauan Anambas dan Laut Serasan serta Laut Natuna
dan Selat Karimata.
39
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 5. Daerah penangakpan pelagis besar nelayan Laut Cina Selatan
Produksi dan CPUE
Produksi jenis ikan pelagis besar di PPN Sungailiat dan CPUE berdasarkan alat
tangkap ditampilkan pada Gambar 6. Produksi tenggiri batang (2002-2013) tertinggi
sebesar 282,915 kg (2004) dan terendah pada 2008 (272,674 kg). Produksi tongkol
komo tertinggi pada 2004 (399,248 kg) dan terendah pada 2012 ( 383,235 kg).
CPUE purse seine tertinggi tahun 2008 (839 kg/trip), ternnya meturun pada 20102011, dan mulai naik lagi tetapi tidak signifikan pada 2012-2013. CPUE pancing ulur
menunjukkan tren yang sudah hampir mendatar dari 2007-2011, kemudian mulai
ada kenaikkan pada tahun 2012-2013. Tren CPUE gillnet menunjukkan fluktuasi
yang hampir sama dengan payang tetapi pada 2009-2011 tmenurun drastis.
S. commerson
E. affinis
Pancing Ulur
T. Tonggol
Gillnet
Mini Purse Seine
800
700
600
500
400
300
200
100
0
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Tahun
Gambar 6. Perkembangan Produksi Ikan Pelagis Besar di PPN Sungailiat-Bangka
40
Payang
900
CPUE (kg/trip)
Produksi (kg)
S. guttatus
450,000
400,000
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
-
2012
2013
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Produksi ikan di PPN Pemangkat didominasi pelagis kecil (layang 22% dan
selar 17%), pelagi besar (tongkol komo 18%, tongkol abu-abu 12%) sisanya ikan
demersal. (kurisi gulamah, manyung, udang). Sekitar 84% hasil tangkapan pelagis
besar dihasilkan kapal gillnet, sisanya 26 % disumbangkan oleh kapal purse seine.
Tren produksi ikan pelagis besar yaitu tongkol komo, tongkol abu-abu dan tenggiri,
secara umum mengalami penurunan dari tahun 2009 sampai 2012, kemudian
mengalami peningkatan pada 2013.Tahun 2011 produksi tenggiri sangat tinggi
seiring peningkatan upaya penangkapannya. CPUE dan laju tangkap kapal gillnet di
PPN Pemangkat (2012) ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Laju Tangkap Kapal Gill Net di Pemangkat
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
Rerata
produksi
(Kg)
378,082
460,691
332,605
343,274
184,460
293,978
171,775
88,479
190,132
278,545
459,065
430,059
3,611,145
Upaya
(trip)
97
119
97
96
77
76
91
44
90
82
114
115
1098
Catch
rate
3897.8
3871.4
3428.9
3575.8
2395.6
3868.1
1887.6
2010.9
2112.6
3396.9
4026.9
3739.6
3288.8
(Sumber: Statistik PPN Pemangkat 2012)
Produksi pelagis besar tahunan di PPN Tanjung Pandan berfluktuasi (Tabel 3)
dan CPUE tongkol dan tenggiri (Gambar 7). Hasil tangkapan tertinggi ikan tongkol
dan ternggiri terjadi pada 2006 (tenggiri: 421.231 kg; dan tongkol: 333.900 kg) dan
terendah untuk tenggiri tahun 2010 (109.657 kg) sementara tongkol tahun 2009
(18.498 kg). Produksi tongkol mengalami penurunan yang sangat drastis sejak tahun
2007 sampai 2013.
41
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 3. Produksi pelagis besar di PPN Tanjung Pandan 2007-2013
Tahun
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Total Landing (kg)
Tenggiri
Tongkol
164.548
263.186
421.231
290.849
319.373
162.399
109.657
171.512
128.126
214.448
129.747
229.276
333.900
58.623
64.653
18.498
20.918
25.358
35.091
47.209
Gambar 7. CPUE tongkol dan tenggiri di PPN Tanjung Pandan 2004-2013
Produksi bulanan ikan pelagis besar hasil tangkapan gillnet di perairan Laut
Cina Selatan yang didaratkan nelayan di Tanjung Pinang selama 2013 secara
umum memperlihatkan fluktuasi dengan trend yang cenderung menurun (Gambar
8). Kelimpahan (CPUE) ikan tongkol berkisar 75,38 - 238,18 kg/trip, sementara
CPUE tenggiri berkisar 35,42 - 146,57 kg/trip. CPUE tongkol tertinggi Januari
dan terendah pada September, sedangkan CPUE tenggiri tertinggi bulan Mei dan
terendah September.
42
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 8. Produksi total pelagis besar dan produksi bulanan di Tanjung Pinang 2008-2011
PEMBAHASAN
Hasil pengamatan terhadap tren hasil tangkapan terlihat adanya penurunan
produksi sumberdaya perikanan pelagis besar di Laut Cina Selatan di lokasi-lokasi
tertentu. Indikasi ini juga terlihat dari penurunan CPUE pada tahun-tahun tertentu.
Tetapi hal ini belum bisa menggambarkan kondisi secara keseluruhan, karena di
lokasi-lokasi pendaratan lain justru terlihat indikasi tren produksi stabil dan bahkan
CPUE mengalami peningkatan, yang berarti kelimpahan sumberdaya ikan pelagis
besar di LCS masih cukup besar.
Dari pengematan terhadap aspek biologi didapatkan panjang ikan tenggiri
batang berkisar antara 23-125 cmFL sedangkan ikan tenggiri batang maksimum
berukuran 240 cm (fishbase). Ukuran pertama kali tertangkap Lc = 68,8 cm.
Struktur ukuran tenggiri papan yang tertangkap gillnet menunjukkan ukuran ikan
yang tertangkap masih juvenil sampai yang telah matang gonad. Gillnet sebagai alat
tangkap yang dominan dioperasikan menunjukkan panjang pertama kali tertangkap
(Lc) pada panjang 44,6 cm.
Ikan tenggiri batang berukuran besar tertangkap pada bulan Maret. Pada
penelitian ini bulan Februari – September modus nilai panjang ikan yang tertangkap
terus mengalami pergerakan ke arah kiri yaitu ke arah ikan-ikan berukuran kecil.
Pada bulan Juli – September terdapat 2 (dua) puncak modus. Hal ini menunjukkan
ukuran ikan yang tertangkap pada bulan Juli-September sangat beragam dan selain
ikan berukuran kecil atau belum dewasa ditemukan juga ikan berukuran besar yang
siap untuk memijah.
Dari uji t menunjukkan pola pertumbuhan tenggiri papan di perairan LCS
adalah isometrik (pertambahan berat sebanding dengan pertumbuhan panjangnya).
43
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hal ini mengindikasikan bahwa perairan LCS adalah perairan yang subur
dengan ketersediaan makanan yang cukup banyak bagi ikan untuk tumbuh dan
berkembangbiak.
Tingkat kematangan gonad sampel didominasi oleh TKG IV, kematangan gonad
ikan jantan hanya ditemukan dari TKG I-III. Selama penelitian belum ditemukan
gonad ikan jantan pada TKG IV atau V. Sedangkan ikan betina dominan ditemukan
pada TKG III-V. Panjang ikan jantan pada TKG I-III ditemukan pada panjang ikan
< 45 cm, sedangkan ikan betina mulai terlihat ada gonadnya pada panjang > 45 cm.
Ikan tongkol kawa-kawa yang tertangkap pada bulan Januari-Maret, bulan Mei
sampai Oktober 2014 modus ukuran hampir sama. Panjang pertama kali tertangkap
(Lc) yang tertangkap gillnet adalah 39,1 cm, ternyata lebih besar dibandingkan
nilai Lm yaitu 34 (betina) dan 35,8 cm (jantan) . Nilai Lc harus lebih besar dari
nilai Lm agar rekrutmen berlangsung baik. Bila nilai Lc lebih kecil dari Lm maka
ikan-ikan yang tertangkap adalah ikan muda belum pernah memijah. Nilai Lc yang
terlalu kecil disebakan oleh penggunaan mata jaring atau mata pancing yang terlalu
kecil. Dari hubungan panjang berat terlihat bahwa nilai b adalah 2,938. Dari uji t
terhadap tongkol kawa-kawa menunjukkan hasil pola pertumbuhan isometrik Pola
pertumbuhan isometrik artinya pertumbuhan panjang seiring dengan pertambahan
beratnya. Pasokan makanan di di perairan Laut Cina Selatan tersedia cukup
memadai. Panjang pertama kali tertangkap (Lc) Euthynnus affinis yang tertangkap
gillnet adalah 39,1 cm, ternyata lebih besar dibandingkan nilai Lm yaitu 34 (betina)
dan 35,8 cm (jantan) . Nilai Lc harus lebih besar dari nilai Lm agar rekrutmen
berlangsung baik. Bila nilai Lc lebih kecil dari Lm maka ikan-ikan yang tertangkap
adalah ikan muda belum pernah memijah. Nilai Lc yang terlalu kecil disebakan oleh
penggunaan mata jaring atau mata pancing yang terlalu kecil.
Dari hubungan panjang berat terlihat bahwa nilai b adalah 2,938. . Dari
uji t terhadap tongkol kawa-kawa (Euthynnus affinis) menunjukkan hasil pola
pertumbuhan isometrik Pola pertumbuhan isometrik artinya pertumbuhan panjang
seiring dengan pertambahan beratnya. Pasokan makanan di di perairan Laut Cina
Selatan tersedia cukup memadai.
Dari kandungan isi lambung dapat disimpulkan bahwa kebisaan makan
Euthynnus affinis adalah Sardinella spp (5%) dan Loligo sp (2%), kondisi lambung
kosong (63,4%) dan kondisi makanan sudah hancur (29,7%), sehingga jenis-jenis
makanan yang biasa dimakan tongkol kawa-kawa sulit untuk diidenfikasi.
44
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Ukuran tongkol abu-abu hasil tangkapan gill net di Laut Cina Selatan selama
Januari sampai September 2014 berkisar antara 29-82 cm. Ukuran panjang paling
banyak (modus) yaitu ML 45 dan 48 cm, sedangkan ukuran rata-rata 46.7 cm. Hasil
perhitungan hubungan panjang berat 1840 ekor ikan tongkol abu-abu dari bulan
Januari sampai Juni memperlihatkan nilai b tongkol abu-abu adalah 3.036. Hasil
perhitungan dengan uji tmenghasilkan t hitung= 0.000037, sedang t tabel= 1.96,
artinya t hitung < dari t tabel sehingga tolak h1 terima t0, artinya berdasarkan uji
t menghasilkan nilai b=3. Menurut Effendie (1997) jika nilai b yang dihasilkan
= 3 maka pertumbuhan bersifat isometrik, artinya pertambahan berat ikan sama
dengan pertambahan panjangnya. Dari pertumbuhan ikan tongkol abu-abu yang
bersifat isometrik ini kita menduga bahwa mangsa ikan ini cukup di habitatnya.
Perkembangan tingkat kematangan gonad (TKG) tongkol abu-abu dari bulan Januari
sampai September dari masing-masing tingkatan berfluktatif. Tren TKG IV ikan
betina terus meningkat sampai bulan Juli sayang bulan berikutnya tidak terdapat
TKG IV hal ini karena kurangnya sampel atau pada waktu peneliti ke lapangan tidak
ada kapal yang mendarat sehingga sulit mendapat sampel, namun dengan melihat
TKG pada ikan jantan pada bulan Agustus TKG IV mulai menurun sehingga patut
diduga ikan tongkol abu-abu memijah pada bulan Agustus. Hasil analisis dengan
metode Spearman-Karber menunjukkan ukuran pertama kali matang gonad (Lm)
ikan tongkol abu-abu yang tertangkap di Laut Cina Selatan adalah 40.5 cm FL (pada
kisaran FL 39,2 - 41,9 cm). Isi lambung ikan tongkol abu-abu yang tertangkap di Laut
Cina Selatan dari bulan Januari- September 2014 adalah cumi-cumi (Loliginidae)
45 %, teri 9.4 %, ikan layang 17.2 %, tembang 1.6 % dan ikan hancur (tidak
teridentifikasi) 25 %. Dari jenis isi lambung tongkol abu-abu bisa kita simpulkan
ikan tongkol abu-abu adalah ikan karnivora yang memakan berbagai jenis ikan dan
moluska.
Hasil kajian pendugaan stok dengan aplikasi Model Produksi Surplus data
catch dan effort di Laut Cina Selatan selama 11 tahun (2000-2010), diperoleh nilai
dugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 48.910 ton/tahun dengan
upaya optimal (fopt.) sebesar 45.879 unit standar jaring insang hanyut (Gambar 9).
Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari potensi lestarinya
atau sebesar 39.128 ton /tahun. Berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkap, pada
tahun 2010 diperoleh jumlah alat yang beroperasi sebesar 20.877 unit standar jaring
insang hanyut dan produksi ikan pelagis besar sebesar 43.379 ton. Dengan demikian
effort aktual 2010 belum melebihi effort optimum dan tingkat pemanfaatan sumber
daya ikan pelagis besar non tuna di perairan ini sebesar 0,46.
45
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
60000
Produksi (Ton)
50000
40000
2005
30000
2010
2008
2006
2009
2007
2003
2002
2004
2001
20000
10000
0
0
20000
40000
60000
80000
100000
Upaya (Unit)
Gambar 9. Kurva hubungan antara produksi dan upaya SDI pelagis besar non tuna di
WPP 711
Dengan memperhatikan hasil analisis tersebut di atas menunjukkan bahwa
pemanfaatan sumber daya ikan pelagis besar non tuna masih di bawah tingkat
optimum, masih bisa dikembangkan dengan tetap memperhatikan prinsip kehatihatian.
KESIMPULAN
Dalam penelitian ini terlihat bahwa pengusahaan sumberdaya ikan pelagis besar
di Laut Cina Selatan dilakukan dengan menggunakan armada beragam. Perikanan
tenggiri umumnya didominasi oleh perikanan skala rakyat (artisanal) menggunakan
kapal motor tempel (KMT) 5-10 GT dengan alat tangkap dominan gillnet dan
pancing ulur. Perikanan tongkol umumnya dimanfaatkan kapal-kapal purse seine
dari Jawa dengan kapal berukuran besar 20-30 GT bahkan lebih. Potensi lestari SDI
pelagis besar sebesar 54.170 ton/tahun, dengan upaya optimum (F Opt.) setara:
11.931 purse seine dan tingkat pemanfaatannya mendekati optimum. Pengusahaan
sumberdaya ikan pelagis besar di LCS masih bisa dikembangkan dengan tetap
memperhatikan prinsip kehati-hatian.
PERSANTUNAN
46
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan Penelitian Aspek Biologi,
Tingkat Pemanfaatan dan Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Pelagis Besar
di WPP 571 Selat Malaka dan WPP 711 Laut Cina Selatan untuk Mendukung
Industrialisasi Perikanan T.A. 2014, di Balai Penelitian Perikanan Laut Muara Baru,
Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2014. Statistik Perikanan PPN Sungailiat Bangka 2014. Laporan
tahunan statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara 2002-2014. Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Anonymous, 2013. Statistik Perikanan PPN Pemangkat 2013. Laporan tahunan
statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara 2002-2013. Direktorat Jenderal
Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Spiegel M. R. 1961. Theory and Problems of Statistics. Schaum Publ. Co, New York.
359P.
Sparre, P. dan S. C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438 hal.
Talaue-McManus L (2000) Transboundary diagnostic analysis for the South China
Sea. EAS/RCU Tech Rep Ser No 14, 107 p
Beverton, R. J. H. and S. J. Holt. 1956. A Review of Methods for Estimating Mortality
Rates in Exploited Fish Populations, with Special Reference to Sources of
Bias in Catch Sampling. Rapp. P.-V. Reun. CIEM, 140: 67 – 83.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor: viii +
112 hlm
Effendie, I. M. 2002. Biologi Reproduksi Ikan. Yayasan Dewi Sri, Bogor: viii + 116
hlm.
Sparre, P. & S.C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Ikan Tropis. Buku 1: Manual.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438p.
Schaefer, M.B. & C.J. Orange. 1956. Studies on sexual development and spawning of
yellowfin tuna (Thunnus albacares) and skipjack (Katsuwonus pelamis)
in three areas of the Eastern Pacific Ocean by axamination of gonads.
Bulletin .I-ATTC 1 (6): 282-349.
47
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Sparre, P. & S. C. Venema, 1992. Introduction to tropical fish stock assessment, Part
1 - Manual. FAO Fisheries Technical Paper 306,376 pp.
Udupa, K. S. 1986. Statistical method of estimating the size of first maturity in fish.
Fishbyte ICLARM. Manila. Vol 4 No 2. August 1986. 8-1.
48
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN PELAGIS KECIL
LAUT CINA SELATAN (WPP-NRI 711).
Oleh
Achmad Zamroni, Moh Fauzi dan Hari Ilhamdi
ABSTRAK
. Status pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil di WPP RI 711
disajikan dengan melihat keragaan perikanan, armada penangkapan dan alat tangkap,
jumlah dan komposisi jenis hasil tangkapan, aktivitas penangkapan serta indeks
kelimpahan stok. Penelitian dilaksanakan tahun 2014 di perairan WPP RI 711 yang
meliputi: Pontianak, Pemangkat, Tanjung Pinang dan Teluk Batang/Tanjung Satai.
Data yang dikumpulkan adalah data hasil tangkapan per kapal, aspek operasional
penangkapan dan data pendukung (statistik perikanan, data register kapal). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan upaya pada perikanan purse
seine di Pemangkat walaupun jumlah purse seine menurun. Jumlah hari lebih lama
(diatas 2 minggu) nilai CPUE lebih sedikit, 13-15 hari merupakan jumlah hari
optimum. Diduga terjadi perubahan komposisi jenis, dominasi layang (Decapterus
russelli dan D. macrosoma) sekitar 48 %, bentong (Selar crumenophthalmus ) 30%,
tongkol 10%. Sumberdaya ikan terubuk (T. toli) di sekitar Pemangkat, pada musim
tertentu hasil tangkapan cukup banyak lebih besar dibanding terubuk di Bengkalis.
Eksploitasi dilakukan oleh jaring terubuk (gll net) dengan menggunakan armada
kecil (<10 GT). Ikan Kembung Tanjung Satai (R. brachysoma) memberi kontribusi
sebesar 16% dari total produksi perikanan.
Kata kunci: WPP-NRI 711, status pemanfaatan, sumberdaya ikan, pelagis
kecil
49
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Sumberdaya ikan pelagis kecil merupakan sumberdaya yang mempunyai nilai
ekonomis yang cukup tinggi. Potensi ikan laut di Indonesia diperkirakan sebesar
6,4 juta ton per-tahun, sekitar 73 % merupakan kelompok ikan pelagis baik besar
maupun kecil. Potensi ikan pelagis kecil sendiri sekitar 56 dari potensi keseluruhan.
Gambar 1. Peta WPP RI 711 (Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Cina Selatan)
(DJPT-KKP,2011).
Dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan, wilayah Laut
Cina Selatan dikelompokkan dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711
bersama dengan Selat Karimata, Laut Natuna dan sekitarnya dengan luas wilayah
diperkirakan sekitar 595 000 km². Laut Cina Selatan (LCS) telah lama menjadi daerah
tujuan penangkapan bagi nelayan purse seine (PS) dari Jawa, yaitu Pekalongan,
Tegal dan Juana, pada sekitar musim timur (Mei – September).
Pembaharuan terhadap penelitian terdahulu mengenai perkembangan
eksploitasi sumberdaya pelagis kecil perlu dilakukan, selain itu, penelitian ini juga
untuk menentukan status eksploitasi, kelimpahan sumberdaya dan hal-hal terkait
50
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
life history ikan pelagis kecil untuk kepentingan pengelolaan dan pengembangan
perikanan. Penelitian sebelumnya di Laut Cina Selatan kerjasama penelitian
dengan ‘SEAFDEC’ (tahun 2003-2005) serta penelitian tentang kajian stok tahun
2005,meliputi akustik, oseanografi dan perikanan demersal.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 di perairan yang masuk dalam WPPNRI 711 yang meliputi Pontianak, Pemangkat, Tanjung Pinang dan Teluk Batang/
Tanjung Satai. Data yang dikumpulkan adalah data dari kegiatan perikanan tangkap
di lokasi sampling yang meliputi:
•
•
•
•
Data hasil tangkapan per kapal dikumpulkan melalui ’catch monitoring’
terhadap kapal-kapal (purse seine, purse seine mini) yang mendarat dan bongkar
ikan di lokasi-lokasi contoh, ataupun melalui observasi laut. Pencatatan dibantu
oleh tenaga enumerator lapangan di lokasi utama (9 orang enumerator) serta
nakhoda kapal pada kegiatan on board observer
Pencatatan hasil tangkapan dilakukan menurut format standar berdasarkan
waktu, fishing ground, spesifikasi kapal dan species
Data aspek operasional penangkapan dikumpulkan melalui observasi (di laut
dan di darat) dan wawancara dengan nakhoda kapal/nelayan
Data pendukung (statistik perikanan, data register kapal) dikumpulkan di tempat
pendaratan ikan, pangkalan pendaratan dan instansi terkait.
Data hasil tangkapan ditabulasi dalam bentuk lembar kerja (worksheet) dan
disusun menurut kapal pada setiap trip dan atau tawur. Data kemudian diringkas
menurut waktu (bulan) untuk menduga kecenderungan perubahannya secara
musiman berdasarkan nilai rata-rata statistik yang diperoleh. Fluktuasi musim
tangkapan diduga berdasarkan nilai laju tangkap yang diperoleh; komposisi hasil
tangkapan didasarkan pada hasil sampling komposisi jenis di atas kapal nelayan.
Analisis secara grafis dan statistik sederhana diterapkan untuk menunjukkan
kecenderungan perubahan yang terjadi pada fluktuasi hasil tangkapan.
51
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL
Perikanan Pukat Cincin di Pemangkat
Armada dan Aspek Operasional Penangkapan
Jumlah armada pukat cincin yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Nusantara
(PPN) Pemangkat berjumlah 30 unit dengan ukuran berkisar antara 32 hingga 117
GT. Jumlah ini lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2011 jumlah
kapal mencapai 36 unit dan tahun 2012 turun menjadi 32 unit. Masing-masing kapal
penangkap memiliki kapal penampung yang akan membawa hasil tangkapannya ke
pangkalan pendaratan ikan. Lama hari di laut antara 2 hingga 27 hari (rata-rata 19-20
hari), jumlah Anak Buah Kapal (ABK) berkisar antara 20-23 orang.
Panjang jaring yang digunakan sekitar 450 depa dengan kedalaman sekitar
80 depa. Ukuran mata jaring 1 inch dengan konstruksi kantong berada di samping.
Umumnya armada pukat cincin menggunakan satu genset dan satu unit mesin
induk dengan kapasitas 240 PK. Alat bantu penangkapan berupa lampu halogen
dan merkuri dengan daya 1000 hingga 3000 watt. Setiap armada peanangkap juga
delengkapi mesin pembeku (freezer).
Jumlah dan Komposisi Hasil Tangkapan
Selama periode tahun 2013 jumlah hasil tangkapan armada pukat cincin sekitar
4177 ton, jumlah ini lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan
hasil monitoring terhadap armada pukat cincin yang berbasis di Pemangkat pada
tahun 2011 total hasil tangkapan sebesar 4918 ton. Tahun berikutnya yakni 2012
produksinya turun menjadi 3769 ton Bila dibandingkan dengan data statistik yang
dikeluarkan oleh PPN Pemangkat nampak bahwa meskipun terjadi bias perbedaan
sebesar 23% namun kecenderungan pola produksinya sama (Gambar 2).
52
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 2. Jumlah hasil tangkapan armada pukat cincin yang berbasis di PPN Pemangkat
tahun 2007 hingga 2013.
Ikan layang mendominasi hasil tangkapan pukat cincin sebesar 48 % dari total
hasil tangkapan. Jenis ikan layang yang tertangkap adalah Decapterus russelli dan
D. macrosoma. Hasil tangkapan ikan Selar Bentong (Selar crumenophthalmus)
sebesar 30% dari total hasil tangkapan, sedangkan ikan tongkol komo berkontribusi
10% dari total hasil tangkapan (Gambar 3).
Gambar 3. Komposisi hasil tangkapan armada pukat cincin yang berbasis di PPN Pemangkat
tahun 2014.
53
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Daerah Penangkapan dan Musim Penangkapan
Daerah penangkapan armada pukat cincin yang berbasis di PPN Pemangkat
adalah di sekitar kepulauan Natuna, pulau Midai dan Subi. Kawasan ini merupakan
bagian dari perairan Laut Cina Selatan (Gambar 4).
Gambar 4. Daerah penangkapan armada pukat cincin yang berbasis di PPN Pemangkat.
Musim paceklik ikan terjadi pada akhir musim barat hingga musim peralihan
satu (Januari - Mei). Para nelayan setempat memberi istilah “musim utara” pada
bulan-bulan tersebut dimana kondisi gelombang yang tinggi dan angin yang kencang
menyebabkan nelayan jarang yang beroperasi menangkap ikan. Jumlah trip pada
musim paceklik rata-rata hanya 10 trip. Pada musim timur jumlah hasil tangkapan
mulai naik dan mencapai puncaknya pada bulan Juli dengan total hasil tangkapan
mencapai 614 ton (tahun 2013). Nilai produksi kembali meningkat pada akhir musim
54
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
peralihan dua (Gambar 5), sehingga dalam satu tahun terjadi dua kali puncak musim
penangkapan yaitu bulan Juli dan Oktober-Nopember.
Gambar 5. Nilai indeks musim penangkapan armada pukat cincin di Pemangkat
tahun 2011-2013.
Indeks Kelimpahan Stok
Nilai laju tangkap armada purse seine di Pemangkat pada tahun 2013 sebesar
13 ton/trip atau setara dengan 740 kg/hari. Laju tangkap bulanan tertinggi terjadi
pada bulan Juli dan Desember, yaitu sebesar 1,1 ton/hari atau setara dengan 20 ton/
trip. Nilai laju tangkap terendah terjadi pada bulan Januari – April, yaitu sekitar
400 kg/hari atau setara dengan 5,3 ton/trip (Gambar 6). Nilai laju tangkap yang
diperoleh lebih rendah dari tahun sebelumnya (tahun 2011). Tahun 2011 nilai laju
tangkap harian sebesar 856 kg/hari sedangkan tahun 2012 turun menjadi 693 kg/
hari (Gambar 7). Jumlah trip mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Pada tahun 2011 dari 36 unit armada yang aktif selama setahun terdapat
278 trip, pada tahun 2012 dari 32 armada terdapat 261 trip sedangkan pada tahun
2013 dari 30 armada terdapat 282 trip. Semakin meningkatnya jumlah trip ternyata
tidak diikuti dengan kenaikan produksinya. Pada Gambar 8 dapat diketahui bahwa
trip dengan jumlah hari laut lebih dari 15 hari memperoleh hasil tangkapan lebih
rendah. Nilai laju tangkap (kg/hari) juga mengalami penurunan setelah hari ke-15.
55
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 6. Nilai laju tangkap dan jumlah trip bulanan armada pukat cincin di PPN Pemangkat.
Gambar 7. Laju tangkap armada pukat cincin yang berbasis di Pemangkat tahun 2011-2013.
Gambar 8. Hubungan antara produksi, laju tangkap dan jumlah hari di laut.
56
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Perikanan Terubuk di Pemangkat
Ikan terubuk yang tertangkap di perairan sekitar Pemangkat berbeda spesies
dengan ikan terubuk yang terdapat di Bengkalis. Spesies ikan terubuk di Pemangkat
sama dengan ikan terubuk yang tertangkap di Serawak, Malaysia, yaitu Tenualosa
toli. Eskploitasi ikan terubuk di perairan Kalimantan Barat khususnya Pemangkat
menggunakan jaring plastik, yang merupakan alat tangkap jenis gillnet tepi bagi
armada di bawah 5 GT. Terdapat dua jenis armada jaring plastik yakni yang
berukuran 2 - 3 GT yang beroperasi pada perairan lebih dari 5 mil dan di bawah 2
GT yang beroperasi di bawah 5 mil. Saat ini jumlah armada jaring plastik belum bisa
diketahui secara pasti karena kapal yang berukuran dibawah 5 GT tidak memerlukan
ijin dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sambas (tidak diambil
retribusi). Di Pemangkat diperkirakan terdapat lebih dari 200 kelompok nelayan
yang masing-masing kelompok memiliki maksimal 10 orang anggota. Berdasarkan
informasi dari nelayan dan DKP, armada jaring plastik terdapat di Selakau hingga
Liku dan daerah Paloh merupakan daerah yang paling banyak terdapat armada jaring
plastik. Data statistik DKP Kab. Sambas hanya terdapat 110 armada < 5 GT untuk
seluruh Kab. Sambas (under estimate).
Armada jaring plastilk di Pemangkat hanya diawaki oleh dua orang kru
(Nahkoda dan ABK). Armada ini dilengkapai dengan mesin dongfeng 15 PK dan
baterai isi ulang (rechargeable) sebagai penerangan. Jaringi plastik terbuat dari
benang plastik dengan panjang jaring 30 pis (1.500 m) dan dalam jaring 6 depa (9
meter) dengan mata jaring 2¼ inchi, yang dilengkapi dengan pemberat berupa timah
sebanyak 105 kg dan pelampung utama sejumlah 3 buah serta 50 buah pelampung
kecil. Lama tanam jaring gill net hanyut ini kira-kira 1 - 1.5 jam dan dalam satu
malam dilakukan satu kali setting, apabila cuaca mendukung sampai dua kali.
Daerah penangkapan jaring plastik nelayan pasar melayu, Pemangkat adalah di
sekitar pesisir pantai Selakau hingga pesisir pantai Tanjung Datu (Gambar 9). Lama
operasi penangkapan 1 – 3 hari. Daerah operasi penangkapan one day fishing hanya
di sekitar pesisir Selakau hingga pesisir Santebang, sedangkan operasi penangkapan
yang mencapai 3 hari disekitar pesisir Santebang sampai Tanjung Datu. Hasil
wawancara dengan bapak Hanafi dan salah satu nelayan pasar melayu bahwa musim
penangkapan ikan terubuk dimulai dari bulan Januari – April, yang merupakan
puncak musim ikan terubuk, bulan Mei – Juli kosong dan kembali meningkat pada
bulan Agustus – Desember. Karena kekosongan ikan terubuk di bulan Mei – Juli
nelayan jaring terubuk mengganti jaringnya dengan jaring bawal.
57
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 9. Daerah penangkapan armada jaring plastik pasar melayu.
Komposisi hasil tangkapan beberapa kapal contoh jaring plastik di Pasar
Melayu, Pemangkat terdiri dari ikan parang-parang, senangin, ikan campur, bawal,
kembung, terubuk, tenggiri dan semperek, hasil tangkapan di dominasi oleh ikan
semperek mencapai 56 % (Gambar 10a). Ikan semperek merupakan julukan dari anak
ikan terubuk bagi nelayan Pemangkat. Ikan terubuk dengan berat kurang dari 500
gram disebut semperek sedangkan ikan yang beratnya lebih dari 500 gram disebut
ikan terubuk. Fluktuasi hasil tangkapan ikan semperek dari beberapa kapal contoh
menunjukkan bahwa pada bulan Januari hasil tangkapan ikan semperek dan ikan
terubuk masih rendah. Pada bulan Februari hasil tangkapan semperek meningkat
secara signifikan mencapai 1,2 ton. Hasil tangkapan ikan semperek menurun drastis
pada bulan Maret bahkan ikan terubuk tidak tertangkap (Gambar 10b).
58
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
a b
Gambar 10. (a) Komposisi hasil tangkapan gillnet di Pemangkat, Januari-Maret 2014;
(b) Fluktuasi hasil tangkapan gillnet di Pemangkat, Januari-Maret 2014.
Perikanan Kembung di Teluk Batang
Musim dan Hasil Tangkapan Ikan
Musim Ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Teluk Batang pada tahun
2012 terjadi antara bulan Juli – Desember. Pada tahun 2012 volume produksi
perikanan yang di daratkan di PPP Teluk Batang tercatat sebesar 1.967,83 ton
(Statistik Perikanan Tangkap PPP Teluk Batang 2012). Pada Gambar 11a dapat dilihat
fluktuasi bulanan hasil total tangkapan kapal ikan yang di daratkan di PPP Teluk
Batang, musim ikan terjadi sekitar bulan Desember sampai dengan Februari. Dari
seluruh hasil tangkapan ikan yang tertangkap, jenis ikan yang dominan tertangkap
di PPP Teluk Batang pada tahun 2012 adalah ikan Kembung, yaitu sebesar 239.676
kg. Pada tahun 2013, tercatat volume produksi perikanan yang didaratkan di PPP
Teluk Batang sebanyak 1.529,59 ton. Komposisi jenis hasil tangkapan di PPP Teluk
Batang tahun 2013 juga didominasi oleh ikan Kembung, yaitu sebesar 391.363
Kg, sedangkan produksi ikan Manyung, Gulamah, Tembang , dan Selanget adalah
314.340 kg, 136.581 kg, 83.988 kg dan78.275 kg (Gambar 11b).
59
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ab
Gambar 11. a. Hasil Tangkapan Ikan yang di daratkan di PPP Teluk Batang pada tahun 2013
dan 2014; b. Hasil Tangkapan ikan yang didaratkan di PPP Teluk Batang tahun 2013.
Hasil Tangkapan Ikan Kembung (Rastrelliger brachysoma) di Teluk Batang
Tahun 1994 – 2000 hasil tangkapan ikan kembung dari alat tangkap jaring
lingkar sebesar 70%, 10% dari jaring insang tetap dan 19% lainnya berasal dari
jenis-jenis alat tangkap lainnya seperti jaring insang hanyut, jermal, sero serta pukat
cincin mini (Dinas Perikanan Propinsi Kalimantan Barat, 1995-2001, dalam Hariati
dkk., 2011). Hasil tangkapan ikan kembung dari tahun 2009 sampai dengan tahun
2013 cenderung mengalami peningkatan (Gambar 12a). Peningkatan ini seiring
dengan bertambanya jumlah unit alat penangkapan dan upaya penangkapan yang
dilakukan. Berdasarkan data hasil tangkapan bulanan ikan kembung menunjukkan
musim penangkapan terjadi pada bulan September – Maret dengan puncak hasil
tangkapan terjadi pada bulan Desember (Gambar 12b).
ab
Gambar 12. a. Hasil tangkapan ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) tahun 2009-2013;
b. Grafik Total Hasil tangkapan ikan kembung pada tahun 2012 dan tahun 2013 di PPP Teluk
Batang.
60
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Armada dan Daerah Penangkapan
Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kembung di Teluk Batang
dan sekitarnya adalah pukat cincin mini dan jaring insang hanyut. Jumlah alat
tangkap Pukat Cincin pada tahun 2012 tercatat sebanyak 22 unit dan Jaring Insang
Hanyut sebanyak 48 unit, pada tahun 2013 terjadi peningkatan jumlah alat tangkap
Pukat cincin sebanyak 29 unit dan Jaring insang Hanyut sebanyak 122 unit. Daerah
penangkapannya di dekat Pulau Penebangan, Pulau Pelapis di sebelah barat Pulau
Maya. Hasil tangkapan pukat cincin umumnya didaratkan di pangkalan pemilik
kapal (tangkahan) masing-masing di Tanjung Satai dan Pintau. Hampir semua
hasil tangkapan pukat cincin diangkut ke Pelabuhan Teluk Batang dengan kapal
pengangkut untuk dilakukan pencatatan produksi, hanya sedikit yang langdung
dibawa dengan kapal penangkap. Hal yang sama juga terjadi pada hasil tangkapan
jaring insang hanyut.
Indeks Kelimpahan Stok
Nilai lajut tangkap pukat cincin mini dan jaring insang hanyut di Teluk Batang
dan sekitarnya menunjukkan bahwa laju tangkap tertinggi terjadi pada bulan
Desember, sedangkan laju tangkap terendah terjadi pada bulan Maret – Mei. Bulan
April – Juli 2013 tidak tertangkap spesies ikan kembung, karena pada bulan tersebut
bukan merupakan musim ikan kembung (Tabel 1.)
Tabel 1. Hasil Tangkapan dan Upaya (jumlah trip) Pukat incin dan Jaring Insang Hanyut kembung di PPP Teluk Batang 2013.
Bulan
Total Cacth(Kg)
Trip
Total Kembung(Kg)
CPUE
Jan
24654
52
7667
474,12
Feb
44828
81
15487
553,43
Mar
31636,4
72
6027
439,39
Apr
33635,7
74
0
454,54
Mei
36773,4
87
0
422,68
Jun
49345
86
0
573,78
Jul
47477,5
84
0
565,21
Agust
54804
83
4515
660,29
61
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Bulan
Total Cacth(Kg)
Trip
Total Kembung(Kg)
CPUE
Sep
63233
88
7590
718,56
Okt
53691
69
23534
778,13
Nop
84424
107
34002
789,01
Des
113678
95
93234
1196,61
Total
638180
978
192056
7625,745
PEMBAHASAN
Terjadi penurunan jumlah unit PS Pemangkat dari 36 unit pada 2011 menjadi
tinggal 30 unit pada2013. Dengan kapasitas kapal yang besar sehingga mampu
menjelajah lautan secara lebih leluasa kapal mampu menjangkau daerah penangkapan
lebih jauh, tapi berakibat membutuhkan jumlah hari laut semakin lama hingga 1
bulan (rata-rata 19-20 hari). Penggunaan tehnologi dan alat bantu penangkapan
modern bertujuan untuk memperoleh hasil tangkapan semakin banyak, namun
kondisi biomassa semakin terbatas. Trend peningkatan jumlah trip penangkapan
disertai jumlah hari laut semakin lama secara keseluruhan meningkatkan tekanan
penangkapan yang berdampak pada semakin rendahnya hasil tangkapan per unit
upaya (ton/trip atau kg/hari) dan total hasil tangkapan. Produksi sekitar 5000 ton
pada 2011 turun menjadi 4200 ton pada 2013. Pada periode sebelumnya terjadi
kenaikan produksi antara 2007-2009.
Sementara itu,terdapat indikasi perbedaan nilai produksi dari hasil monitoring
dengan data statistik perikanan sebesar 23%. Untuk meningkatkan akurasi data
pencatatan hasil tangkapan dan operasional penangkapan menjadi semakin penting
sekaligus berperan sebagai komponen pengelolaan yang bertanggung jawab.
Berdasarkan fluktuasi indek musim ikan pelagis musim paceklik diperkirakan
berlangsung sekitar bulan Januari-April dengan jumlah trip rata-rata 10 trip/kapal.
Pada bulan Mei (musim timur) hasil tangkapan meningkat, pada bulan Juli lebih
tinggi sebesar 614 ton dan mencapai puncak sekitar Oktober-November (musim
peralihan). Pola musiman ikan pelagis di Laut Cina Selatan yang bersamaan juga
telah dilaporkan sebelumnya oleh Wudianto et al. (2007 dan 2007a). Pola musiman
juga hampir bersamaan dengan pola musiman ikan pelagis di Laut Jawa seperti
diuraikan sebelumnya oleh Atmaja et al. (1986), Amin & Suwarso (1990), Suwarso
et al. (2004), Hendiarti et al. (2005).
62
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Jumlah hari di laut untuk melakukan penangkapan berkisar antara 5-27 hari.
Namun ketika operasional telah lebih lama dari 15 hari ternyata tidak seimbang
dengan hasil tangkapan yang diperoleh (laju tangkap); dengan jumlah hari lebih
pendek maka akan diperoleh laju tangkap yang lebih besar. Pola demikian juga
terlihat di perairan lain seperti di pantai utara Jawa oleh kapal MPS Rembang, di
Laut Sulawesi utara Tumumpa oleh kapal MPS Tumumpa serta beberapa lokasi
lainnya. Hal ini diduga terkait dengan fisiensi penangkapan dan gejala kejenuhan
populasi ikan pelagis kecil akibat penangkapan secara terus menerus.
Terjadi perubahan komposisi jenis hasil tangkapan. Kontribusi kategori
‘layang’ (Decapterus russelli dan D. macrosoma) saat ini sekitar 48%, bentong
(Selar crumenophthalmus) 30%, tongkol 10%. Pada kurun 2003-2007 dominasi
kategori layang mencapai 60% (Zamroni, 2009), dalam kurun 2003-2005 Wudianto
et al. (2007) melaporkan hasil tangkapan laying di Laut Cina Selatan mencapai
65% dari total hasil tangkapan. Perubahan komposisi hasil tangkapan sering terjadi
dalam perikanan yang telah tereksploitasi penuh. Di Laut Jawa indikasinya terlihat
pada kemunculan ikan ayam-ayaman pada beberapa tahun terakhir serta kenaikan
prosentase jenis selar dalam hasil tangkapan.
KESIMPULAN
Upaya penangkapan perikanan purse seine yang berbasis di Pemangkat
mengalami peningkatan walaupun jumlah PS menurun, tetapi menyebabkan
penurunan produksi. Komposisi jenis ikan pelagis kecil mengalami perubahan akibat
tekanan penangkapan yang intensif. Terdapat sumberdaya ikan terubuk (T. toli) di
sekitar Pemangkat, pada musim tertentu hasil tangkapan lebih besar dibanding
terubuk di Bengkalis dan eksploitasinya menggunakan jaring terubuk (gll net)
dengan armada skala kecil (<10 GT). Ikan kembung Tanjung Satai (R. brachysoma)
memberi kontribusi sebesar 16% dari total produksi perikanan, pengusahaan
dilakukan secara tradisional dengan jumlah upaya masih mengalami peningkatan.
PERSANTUNAN
Kegiatan dari hasil penelitian Penelitian Stok, Distribusi dan Parameter Biologi
Sumberdaya Ikan Pelagis Kecil di WPP 711, TA 2014 di Balai Penelitian Perikanan
Laut, Jakarta.
63
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M., T. Dahril dan D. Efison. 1995. Ekologi reproduksi ikan Terubuk (Alosa
toli) di perairan Bengkalis, Riau. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 1: 2-19.
Anonimous. 2001. Pengkajian Stok Ikan di Perairan Indonesia. Pusat Riset
Perikanan Tangkap, BRKP-DKP dan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi-LIPI. Jakarta.
Bailey, C.; Dwiponggo, A.; Marahudin F. Indonesian marine capture fisheries. 1987.
ICLARM Stud. Rev. (10): 196p.
Blaber, S.J.M. and D. Brewer. 1997. Feeding ecology of Tenualosa macrura in
Bengkalis. Presented in 1st Co-ordination Meeting on Terubuk Fishery.
Pekanbaru, 23-24 July 1997.
Blaber, S.J.M. 1998. Reproductive ecology and life history of Terubuk in Indonesia.
2nd Co-ordination Meeting on Terubuk Fishery. Pekanbaru, 1998.
Brewer, D. and S.J.M. Blaber. 1997. Reproductive ecology and life history of
Tenualosa macrura in Bengkalis. Presented in 1st Co-ordination Meeting
on Terubuk Fishery. Pekanbaru, 23-24 July 1997.
Blaber, S.J.M., D.T. Brewer, D.A. Milton, G.S. Merta, D. Efison, G. Fry and T.
van der Velde. 1999. The life history of the Protandrous Tropical Shad
Tenualosa macrura (Alosinae : Clupeidae) : Fishery Implications.
Estuarine, Coastal and Shelft Science, 49, 689 – 701.
Conway, D. VP, G. W. Rowena, Joanna Hugues-Dit-Ciles, C. P. Gallienne and
David B Robins. 2003. Guide to the coastal and surface Zooplankton of
the South-Western Indian Ocean. Marine Biological Association of the
United Kingdom. Occasional Publication No 15. Version 1, June 2003.
Dwiponggo, A. 1987. Indonesia’s marine fisheries resources. In: C. Bailey, A.
Dwiponggo & F. Marahudin. Indonesian Marine Capture Fisheries.
ICLARM. Studies and Review 10: 10-63.
Effendie, M.I. 1979. Metode biologi perikanan. Yayasan Dewi Sri bogor, 192 p.
Efison, D. 2007. Identifikasi calon suaka perikanan ikan Terubuk (Tenualosa
macrura) : Ringkasan Eksekutif. Satker Direktorat Konservasi dan
Taman Nasional Laut, Dir. Jen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,
DKP. 12 pp.
64
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hariati, T. Wudianto & Subagja. 2008. TINGKAT PEMANFAATAN IKAN
LAYANG (Decapterus russelli dan Decapterus macrosoma) DARI
PERAIRAN ZONA EKONOMI EKSLUSIF LAUT CINA SELATAN.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 14:393-401
Holden, M.J. and D.F.S Raitt (eds.). 1974. Manual of Fisheries Sciences. Part 2.
Methods of Resource Investigation and Their Application. FAO Fish.
Tech. Pap., (115). Rev. 1: 214p.
Hurasan, M. S. dan H. Banjar. 1993. Alat tangkap, komposisi dan dugaan potensi
sumberdaya ikan pelagis kecil di perairan Utara Maluku, Sorong dan Fakfak. Jurnal Pen. Perikanan Laut, 80: 46-52.
Kailola, P.J., M.J. Williams, P.C. Stewart, R.E. Reichelt, A. McNee and C. Grieve.
1993. Australian Fisheries Resources. Bureau of Resource Sciences/
Fisheries Research and Development Corporation, Canberra.
Mangga Barani, Husni, Dr. MSi. 2006. Kebijakan pengelolaan perikanan tangkap di
Indonesia. Dipresentasikan pada Sosialisasi Hasil Kegiatan Riset. Pusat
Riset Periknan Tangkap. BPPI Semarang, 14 Desember 2006.
Martosubroto, P. 2005. Menuju pengelolaan Perikanan yang bertanggung jawab.
Forum Pengkajian Stok Ikan Laut, Hotel Bintang. Jakarta, 27-28
Desember 2005.
Merta, I.G.S., Suwarso, Wasilun, K. Wagiyo., E.S. Girsang dan Suprapto. 1999.
Status populasi dan bio-ekologi ikan Terubuk, Tenualosa macrura
(Clupeidae) di propinsi Riau. J. Pen. Perikanan Indonesia V(3): 15 – 29.
Merta, I.G.S., Suwarso and S.B. Atmaja. 1997. Preliminary study on catch
fluctuation patterns of Terubuk (Tenualosa macrura) fishery in Bengkalis
waters, Riau Province. Presented in 1st Co-ordination Meeting on Terubuk
Fishery. Pekanbaru, 23-24 July 1997.
Merta, I.G.S., Suwarso and XX. Sumber Daya Ikan Terubuk (Tenualosa macrura)
dan Pengelolaannya. Departemen Kelautan dan Perikanan – ACIAR.
Poster.
Pauly, D. and G.I. Murphy. 1982. Theory and Management of Tropical Fisheries.
ICLARM..;
Perbowo, N. 2007. Pengelolaan Ikan Terubuk. DJPT-SDI, DKP.
65
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Robertson, M. and J. Ovenden. 2002. Indonesian Terubuk (Tenualosa macrura):
Larval identification using genetics. Shad Larvae Identification Report.
Molecular Fisheries Laboratory (QDPI Southern Fisheries Centre, 13
Beach Road, Deception Bay, 4508) and University of Queensland (St.
Lucia, 4072, Qld.).
Roos, D., O. Roux. & F. Command. 2007. Notes on the Biolgy of the bigeye scad,
Selar crumenophthalmus (Carangidae) around Reunion Island, Southwest
Indian Ocean. Scientia Marina. 71(1) :137-144
Schreck, C.B. and P.B. Moyle. 1990. Methods for Fish Biology. American Fisheries
Sociaety. Bethesda, Maryland, USA.
Sparre, P., E. Ursin and S.C. Venema. 1989. Introduction to Tropical Fish Stock
Assessment. FAO Fisheries Technical Paper, 306/1: 337p.
Suprapto dan Suwarso. 2000. Perikanan Terubuk di Kabupaten Bengkalis (Propinsi
Riau). Warta Penelitian Perikanan Indonesia, 6(1): 2-6.
Suwarso, Wasilun, dan I.G.S. Merta. 1999. Pengendalian lingkungan perikanan
Terubuk, Tenualosa macrura (Clupeidae) di Propinsi riau. Warta Lit.
Kan. Indonesia 5 : 6 – 13.
Suwarso. 2014. Sumber daya Ikan Terubuk (Tenualosa sp.) di perairan pantai
Pemangkat, Kalimanan Barat. Seminar Nasional Ikan VIII dan Konggres
IV Masyarakat Iktiologi Indonesia. Bogor, 3-4 Juni 2014. 12 Pp.
Suwarso. 1998. Kelimpahan populasi ikan Terubuk, Tenualosa macrura (Clupeidae),
dan dugaan nilai produksinya di perairan estuarin sekitar Bengkalis
(Riau). Prosiding Simposium Perikanan Indonesia II, ISBN: 979-818668-0.
Suwarso dan I.G.S. Merta. 1997. Kelimpahan populasi ikan Terubuk, Tenualosa
macrura (Clupeidae) dan dugaan produksinya di perairan estuarin sekitar
Bengkalis (Riau). Simposium Perikanan Indonesia II, Ujung Pandang,
23-24 September 1997. 99-103.
Suwarso. 2000. Penurunan populasi dan alternatif pengelolaan ikan Terubuk,
Tenualosa macrura (Clupeidae), di Propinsi Riau.Prosiding Seminar
Nasional Keanekaragaman Hayati Ikan. ISBN: 979-9583-4-8.
Suwarso, I. G. S. Merta dan Karsono Wagiyo. Sumber Daya Ikan Terubuk (Tenualosa
macrura) dan Pengelolaannya. POSTER. Departemen Kelautan dan
Perikanan – ACIAR.
66
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Suwarso, A. Zamroni & Wudianto. 2008. Biologi Reproduksi dan Dugaan Musim
Pemijahan Ikan pelagis Kecil di Laut Cina Selatan. Jurnal penelitian
Perikanan Indonesia. (XIV)4: 379-391
Syam, A.R. 2006. Parameter Stok Dan Laju Tingkat Eksploitasi Ikan Kawalinya
(Selar crumenophthalmus) di Peraitan Maluku. Prosiding. Disampaikan
pada seminar Nasional Ikan IV di Jatiluhur.
Wagiyo, K. Bioekologi, sediaan, eksploitasi dan konservasi ikan Terubuk (Tenualosa
macrura, Bleeker, 1852).
Wagiyo, K. 2003. Kelimpahan Larva Terubuk (Tenualosa macrura) dan beberapa
faktor hidrologis daerah asuhannya. Interim Report (unpublished).
Wagiyo, K. dan Suwarso. 1999. Kondisi lingkungan estuarin Bengkalis dalam
hubungannya dengan kelimpahan larva ikan. Prosiding Seminar Hasil
Penelitian Perikanan 1999/2000, ISBN: 979-8186-79-6.
Yamaji, I. 1996. Illustration of The Marine Plankton of Japan. Hoikusha. Japan
67
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
STATUS PEMANFAATAN SUMBERDAYA CUMI-CUMI DI
LAUT CINA SELATAN (WPP-NRI 711)
Oleh
Asep Priatna, Suwarso dan Hari Ilhamdi
ABSTRAK
Wilayah Pengelolaan Perikanan Selat Karimata, Laut Cina Selatan, dan
Laut Natuna (WPP 711) memiliki sumberdaya cumi-cumi yang cukup potensial
untuk dimanfaatkan. Pemanfaatan cumi-cumi di WPP 711 didominasi oleh unit
penangkapan bouke ami yang berasal dari berbagai daerah, diantaranya berbasis di
PPP Sei Rengas dan PPI Sei Jawi, Kota Pontianak. Penelitian untuk mengetahui
tingkat pemanfaatan cumi-cumi oleh bouke ami yang berbasis di Pontianak
dilakukan selama tahun 2014 sampai bulan September 2015. Data dan informasi
merupakan hasil observasi dan pencatatatan harian terhadap kapal-kapal bouke ami
yang mendaratkan hasil tangkapannya. Sekitar 73% kapal penangkap berukuran 1030 GT mendominasi unit penangkapan bouke ami yang aktif. Pemanfaatan cumicumi berlangsung sepanjang tahun. Hasil tangkapan cumi-cumi mencapai 80%
dari total tangkapan bouke ami. Puncak musim penangkapan terjadi dua kali yaitu
puncak tertinggi pada bulan September-November dan puncak kedua pada bulan
Maret-Mei. Sementara bukan musim pada bulan Juni-Agustus, dan paceklik pada
bulan Desember-Februari. Tingkat upaya penangkapan bouke ami berbanding lurus
terhadap jumlah produksi cumi-cumi. Dinamika musim penangkapan mencerminkan
fluktuasi CPUE bulanan cumi-cumi. Selama periode 2012-2015 menunjukkan
jumlah upaya, produksi dan CPUE cumi-cumi menunjukkan peningkatan. Rata-rata
produksi cumi-cumi mencapai 1200 ton/tahun atau sekitar 100 ton/bulan atau 2,2
ton/trip. Jumlah trip kapal bouke ami rata-rata 4 kali trip per tahun. CPUE terbesar
pada bulan September-Oktober mencapai 2,87 ton/trip dan terendah pada bulan
Januari yaitu rata-rata 0,54 ton/trip. Rata-rata CPUE bulanan sekitar 2,01 ton/trip.
Tingkat upaya mungkin bisa ditingkatkan atau paling tidak dipertahankan.
Kata Kunci: Cumi-cumi, CPUE, tingkat pemanfaatan, WPP 711, Sei Rengas, Sei Jawi
68
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Cumi-cumi (Loligo sp) merupakan salah satu potensi sumberdaya non ikan
yang bernilai ekonomis yang banyak tersebar di Perairan Indonesia, dan menjadi
komoditas ekspor perikanan Indonesia. Salah satu daerah penangkapan cumi-cumi
yang potensial adalah perairan wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 711 Selat
Karimata, Laut Natuna dan Laut China Selatan. Perairan tersebut merupakan salah
satu daerah yang memiliki potensi penangkapan cumi-cumi untuk komoditas lokal
maupun ekspor.
Potensi sumberdaya cumi-cumi di perairan Indonesia diperkirakan 28.255
ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan sekitar 75% dari potensi lestarinya.
Walaupun tingkat pemanfaatan rata-rata masih dibawah potensi lestari, tetapi pada
8 wilayah pengelolaan perikanan (WPP) telah mengalami kelebihan tangkap dan
hanya 2 WPP yang statusnya kurang tangkap yaitu Laut Seram dan Laut Arafura
(Mallawa, 2006). Berdasarkan KEP.45/MEN/2011, potensi sumberdaya cumi-cumi
di WPP 711 mencapai 2.700 ton/tahun atau 10% dari total potensi cumi-cumi di
seluruh perairan Indonesia yang mencapai 28.300 ton/tahun, dengan status tingkap
pemanfaatan moderat. Produksi cumi-cumi di WPP 711 pada tahun 2013 tercatat
31.783 ton, dimana pada 9 tahun terakhir (2005-2013) telah mengalami kenaikan
rata-rata 28,15% per tahun (DJPT, 2014). Sebagian besar jenis cumi-cumi adalah
famili Loligonidae.
Cumi-cumi (cephalopoda) dapat ditangkap hampir oleh semua jenis alat
penangkap ikan yang ada di Indonesia. Berdasarkan statistik produksi per jenis alat
tangkap tahun 2013, lima jenis alat tangkap yang mendominasi hasil tangkapan
cumi-cumi diantaranya adalah bagan perahu (lift net), pancing cumi (Squid jigger),
pukat tarik ikan (fish net), payang termasuk lampara (pelagic Danish seine), dan
dogol termasuk Lampara dasar, Jaring arad, Cantrang (Demersal danish seine)
(DJPT, 2014). Cumi-cumi (Loligo sp.) di perairan Indonesia umumnya ditangkap
dengan pancing cumi (squid jigging), jala jatuh berkapal (cast net) dan bagan apung
(bouke ami). Persentase hasil tangkapan cumi-cumi dari masing-masing alat tangkap
ini adalah 100%, 85% dan 80% (KEP.MEN.KP.Nomor KEP.60/MEN/2010).
Berdasarkan jenis-jenis alat tangkap ikan di Indonesia, bouke ami merupakan
alat tangkap yang diklasifikasikan sebagai jaring angkat (lift net). Berdasarkan
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.60/MEN/2010 tentang
produktivitas kapal penangkap ikan, disebutkan bahwa cumi-cumi dari kapal bouke
69
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ami merupakan hasil tangkapan utama, dimana persentase hasil tangkapannya
sebesar 80% dari total tangkapannya.
Pontianak-Kalimantan Barat merupakan salah satu basis perikanan yang
memanfaatkan cumi-cumi dari WPP-711. Rata-rata produksi tahunan (2005-2013)
cumi-cumi di WPP 711, sekitar 11% nya berada di Pontianak. Statistik perikanan
tangkap 2013 menyebutkan bahwa setidaknya 30% unit bagan perahu termasuk
juga bouke ami yang beroperasi di WPP 711 berada di Provinsi Kalimantan Barat,
dengan jumlah trip mencapai 39,595 trip pada tahun 2013. Produksi cumi-cumi di
Kalimantan Barat pada tahun 2013 tercatat 1.966 ton, dimana pada 9 tahun terakhir
(2005-2013) telah mengalami kenaikan rata-rata 23,94% per tahun (DJPT, 2014).
Sebagian besar jenis cumi-cumi yang didaratkan adalah famili Loligonidae.
PPP Sungai Rengas dan PPI Sungai Jawi di Pontianak merupakan salah satu basis
pendaratan cumi-cumi dari WPP 711, dimana unit penangkapan yang mendominasi
hasil tangkapan cumi-cumi adalah bouke ami (jaring cumi). Berdasarkan data
statistik tahun 2014 di kedua pelabuhan perikanan tersebut, kapal-kapal bouke ami
mendominasi yaitu sekitar 70% dibandingkan jumlah unit penangkapan lainnya, dan
sekitar 80% produksi cumi-cumi dihasilkan dari bouke ami.
Beberapa penelitian mengenai sumberdaya cumi-cumi (Loliginidae) yang
menyinggung WPP 711 Selat Karimata dan Laut Cina Selatan telah dilakukan oleh
Pralampita dan Chodriyah (2009), Chodrijah dan Budiarti (2011), Rosalina et al.
(2011), Triharyuni dan Puspasari (2012), Triharyuni et al. (2012), dan Atmaja (2013).
Namun informasi mengenai sumber daya cumi-cumi yang didaratkan di basis-basis
utama di WPP 711 belum banyak dibahas. Hal tersebut karena kurangnya data dan
informasi tentang perikanan cumi-cumi dari sentra-sentra perikanan di sekitar WPP
711. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai sumberdaya cumi-cumi yang
didaratkan di Pontianak yaitu di PPP Sungai Rengas dan PPI Sungai Jawi sebagai
salah satu basis utama pendaratan cumi-cumi dari WPP 711. Tulisan ini membahas
profil, aspek penangkapan, musim-daerah penangkapan, produksi, upaya, komposisi
jenis, potensi, dan status pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi di Pontianak.
METODE
Penelitian perikanan cumi-cumi hasil tangkapan bouke ami di basis pendaratan
PPP Sei Rengas dan PPI Sei Jawi Pontianak. Informasi aspek penangkapan dan hasil
70
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
tangkapan dilakukan dengan metode survey pada tahun 2014-2015, yaitu observasi
langsung terhadap kapal-kapal bouke ami dan hasil tangkapannya. Sementara data
dan informasi aspek produksi dan upaya diperoleh dari hasil pencatatan harian PPP
Sei Rengas, PPI Sei Jawi, dan pos PSDKP Pontianak terhadapa kapal-kapal bouke
ami yang mendaratkan hasil tangkkapan selama tahun 2012 – September 2015. Data
yang dikumpulkan meliputi spesifikasi kapal, durasi trip, serta jumlah dan jenis hasil
tangkapan.
Produktivitas hasil tangkapan cumi-cumi dari bouke ami diestimasi dengan
menggunakan analisis catch per unit effort (CPUE) menurut Gulland (1982) yaitu:
CPUEi = Catch i/Effort I ………………….…………………………….. (1)
CPUEi : jumlah cumi-cumi hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan ke-i
(ton/trip)
Catch i : cumi-cumi hasil tangkapan bulan ke-i (ton)
Effort i : upaya penangkapan bouke ami ke-i (trip)
Analisis pola musim penangkapan ikan menggunakan Metode Persentase Ratarata yang didasarkan pada Analisis Runtun Waktu (Spiegel, 1961). Perhitungan nilai
rata-rata bulanan CPUE dalam setahun (U ) yaitu:
………………….……………..............……………….. (2)
Ū = CPUE rata-rata bulanan dalam setahun (ton/trip)
Ui = CPUE per bulan (ton/trip)
m = 12 (jumlah bulan dalam setahun)
Up yaitu rasio Ui terhadap Ū dinyatakan dalam persen diperoleh :
…………….…………………..…..............……….. (3)
Perhitungan indeks musim penangkapan:
…………….…….…………………….............…….. (4)
71
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
IMi = Indeks Musim ke-i
t
= jumlah tahun dari data
Musim penangkapan jika IM>1 (lebih dari 100 %) atau di atas rata-rata, IM<1
bukan musim, dan IM=1 yaitu sama dengan nilai rata-rata bulanan, dapat dikatakan
dalam keadaan normal atau berimbang.
Berdasarkan jumlah kapal-kapal bouke ami yang berangkat atau datang dari dan
ke PPP Sei Rengas dan Sei Jawi dari Bulan Januari 2012 sampai September 2015,
tidak semuanya mendaratkan hasil tangkapan, analisis didasarkan pada pendaratan
kapal yang mendaratkan hasil tangkapan meskipun minimum.
HASIL
1. Profil perikanan cumi-Cumi
Sumberdaya cumi-cumi menjadi salah satu sumberdaya yang dominan di
Pontianak saat ini. Pangsa pasar sumberdaya ini sangat bagus terutama untuk pasar
ekspor yang menjanjikan harga tinggi. Cumi-cumi dominan diupayakan dengan
menggunakan alat tangkap bouke ami. Terdapat dua basis pendaratan cumi-cumi di
Pontianak yaitu PPP Sei Rengas dan PPP Sei Jawi yang semuanya berasal dari WPP
711. Produksi cumi-cumi yang didaratkan di kedua tempat tersebut menunjukkan
tren peningkatan sepanjang tahun 2012-2015. Rata-rata produksi cumi-cumi
mencapai 1.200 ton/tahun atau sekitar 100 ton/bulan.
Sepanjang tahun 2014, tercatat sebanyak 143 unit kapal bouke ami (607 trip)
yang aktif mendaratkan hasil tangkapan cumi-cumi di Pontianak yang beroperasi di
WPP 711 (Barat Kalimantan, Selat Karimata, dan Laut Cina Selatan. Ukuran kapal
bervariasi antara 5 GT sampai lebih dari 60 GT dan didominasi oleh kapal berukuran
10-30 GT yaitu 73% dari total jumlah kapal bouke ami yang aktif di Pontianak.
Durasi kapal-kapal bouke ami beroperasi antara 15-60 hari per tripnya, kapal dengan
ukuran <30 GT rata-rata 14-20 hari/trip, sementara kapal >30 GT mencapai 40-70
hari/trip.
72
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
2. Aspek penangkapan
Kapal-kapal Bouke ami yang berbasis di PPP Sei Rengas dan PPI Sei Jawi
Pontianak, merupakan kapal kayu berukuran 6-98 GT. Selain 1 unit mesin utama,
juga menggunakan 1 unit mesin untuk lampu, dan 1 unit mesin untuk freezer palka
sebagai sistem pendingin untuk menyimpan hasil tangkapan. Jumlah ABK 7–14
orang. Gambar 1 merupakan contoh kapal bouke ami yang berbasis di PPP Sei
Rengas dan PPI Sei Jawi.
Gambar 1. Kapal bouke ami yang berbasis di Sei Rengas dan Sei Jawi, Pontianak.
Bouke ami termasuk alat tangkap jaring angkat (lift net), yang dipasang pada
sisi kanan kapal. Ukuran jaring menyesuaikan panjang kapal, biasanya sama dengan
panjang dek bebas kapal berkisar antara 12-20 m. Bouke ami adalah jaring berupa
perangkap berbentuk persegi, panjang frame jaring 8-16 m, kedalaman jaring 1015 m, dan mesh size 1 inch berbahan polyamide. Bagian bawah jaring dilengkapi
cincin, pemberat dan tali kerut, sementara bagian atasnya merupakan kantong.
Daerah penangkapan kapal bouke ami Pontianak mencakup Laut Cina Selatan
dan Selat Karimata. Operasi penangkapan cumi-cumi dengan bouke ami dilakukan
pada malam hari mulai dari jam 6 sore hingga jam 5 pagi, menggunakan alat bantu
lampu untuk menarik gerombolan cumi-cumi dengan daya 750-2000 watt sebanyak
24-90 buah. Dalam satu malam dilakukan 5-8 kali setting. Waktu yang dibutuhkan
untuk setting 1 jam, waktu tunggu 30 menit, dan 30 menit untuk hauling.
73
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Saat proses penangkapan jaring akan menjadi terbalik dengan bagian bawah
yang bercincin dan pemberat akan mengkerut dan menyatu oleh tali kerut yang
ditarik dengan bantuan winch hauler pada saat houling dan terlebih dahulu sampai di
permukaan, sedang bagian kantongnya akan terdapat di bawah. Cumi-cumi diangkat
ke kapal dengan bantuan serok. Selanjutnya hasil tangkapan ditempatkan di palka.
Jumlah dan kapasitas palka menyesuaikan dengan ukuran kapal umumnya antara
4-8 palka tiap kapal.
Bila cumi-cumi di lokasi penangkapan relative berukuran besar, cumi-cumi
ditangkap dengan pancing. Cumi-cumi berukuran besar cenderung lebih liar, jauh dari
kapal, dan ada di kolom periaran yang lebih dalam, sehingga kurang memungkinkan
untuk ditangkap dengan bouke ami. Pengoperasian pancing cumi-cumi dan pancing
lainnya juga dilakukan pada saat waktu tunggu bouke ami.
Gambar 2 merupakan sebaran bulanan indeks musim (IM) penangkapan
cumi-cumi di WPP 711 dengan bouke ami yang berbasis di PPP Sei Rengas dan
PPI Sei Jawi. Musim penangkapan terjadi pada 2 periode yaitu bulan April dan
bulan Agustus-November (IM>1). Sementara bukan musim penangkapan terjadi
pada bulan Desember-Maret dan bulan Mei-Juli (IM<1). Meskipun bulan Mei-Juli
temasuk kriteria bukan musim, namun pada kenyataannya aktivitas penangkapan
tetap dilakukan pada periode tersebut, dengan jumlah effort yang lebih rendah
dibanding periode musim penangkapan (April, Agustus-November).
Gambar 2. Indeks musim penangkapan cumi-cumi dari kapal bouke ami di Pontianak
74
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
3. Hasil tangkapan
Terdapat dua tempat pendaratan cumi-cumi hasil tangkapan bouke ami di
Pontianak, yaitu PPP Sei Rengas dan PPI Sei Jawi. Hasil tangkapan cumi-cumi
umumnya telah dikemas di kapal, karena umumnya kapal-kapal yang lebih besar
telah dilengkapi dengan sistem pendingin (freezer). Di kapal, hasil tangkapan cumicumi ataupun ikan berdasarkan ukuran yang telah ditetapkan ditempatkan pada
cetakan (packing) berbahan alumunium/stainless berukuran 48x27x11,5 cm untuk
selanjutnya di tempatkan pada palka pendingin. Bobot per cetakan yaitu 15-16 kg
dan 11-13 kg masing-masing untuk cumi-cumi dan ikan, setelah beku di masukkan
pada kemasan plastik (Gambar 3).
Cumi-cumi yang didaratkan di PPI Sei Jawi langsung dimuat ke kontainer,
sedangkan di PPP Sei Rengas harus dibawa dengan truk sebelum dimuat di container
karena akses container belum memungkinkan masuk ke PPP Sei Rengas. Cumicumi dalam container dibawa ke Jakarta untuk selanjutnya diekspor. Sementara pada
kapal yang lebih kecil, pengawetan hasil tangkapan di palka masih menggunakan es.
Cumi-cumi dibawa ke cold storage untuk di sortir dan di kemas sebelum di pasarkan.
Gambar 3. Proses pengukuran bobot cumi-cumi dalam kemasan beku
Kapal bouke ami yang berbasis di Pontianak pada saat beroperasi, tidak hanya
mengoperasikan bouke ami tetapi juga menggunakan pancing cumi yang berbentuk
pancing rawai. Hasil tangkapan tidak hanya cumi-cumi, terdapat berbagai jenis
ikan lainnya yaitu pelagis besar, pelagis kecil sebagai hasil tangkapan sampingan,
dan ikan demersal hasil tangkapan pancing tangan (hand line). Hasil wawancara
dengan nelayan disebutkan bahwa hasil tangkapan jaring bouke ami adalah cumicumi (Loligo sp), tembang (Sardinella spp), layur (Trichiurus lepturus), kembung
75
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(Rastrelliger sp), selar (Caranx sp), tongkol (Thunnus tonggol), dan jenis ikan
lainnya. Sedangkan untuk hasil tangkapan pancing tangan berupa manyung
(Arius sp), tenggiri (Scomberomorus sp), kakap (Lutjanus sp) dan budun/belanak
(Valamugil seheli).
Sumberdaya cumi-cumi dalam hasil tangkapan bouke ami berlangsung
sepanjang tahun dan merupakan hasil tangkapan yang paling dominan. Berdasarkan
rata-rata hasil tangkapan bulanan dari Januari 2012 – September 2015, kontribusinya
mencapai 79% dari hasil tangkapan, sisanya ikan pelagis kecil (9%) seperti ikan
layang, lemuru, bentong, kembung dan selar. Ikan pelagis besar (5%) seperti tenggiri
dan tongkol, ikan demersal (4%) yaitu ikan manyung, ekor kuning, kerapu, biji
nangka, dan kurisi, dan ikan lainnya (3%). Dalam kurun 2012-2014 persentase hasil
tangkapan cumi-cumi cenderung berfluktuasi meskipun relatif kecil, peningkatan
yang cukup signifikan terjadi dari tahun 2014 ke 2015 (Gambar 4).
Gambar 4. Komposisi hasil tangkapan bouke ami yang mendarat di S. Rengas, Pontianak,
2012-2015.
Berdasarkan prosentase komposisi jenis, hasil tangkapan cumi-cumi paling
banyak diperoleh pada bulan Agustus (69%) dan yang paling sedikit pada bulan
Februari (16%) saja dibandingkan jenis sumberdaya lainnya sebagai hasil tangkapan
sampingan (Gambar 5).
76
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 5. Variasi musiman dari komposisi hasil tangkapan bouke ami yang mendarat di Sei
Rengas-Sei Jawi, Pontianak, 2012-2015.
Prosentase komposisi jenis cumi-cumi yang didaratkan di PPP Sei Rengas
dan PPI Sei Jawi belum bisa diestimasi, mengingat cumi-cumi sudah langsung di
kemas beku. Namun pengamatan sekilas bahwa jenis cumi-cumi adalah dari famili
Loliginidae, genus Loligo yaitu Loligo chinensis, Loligo singhalensis, Loligo edulis,
Loligo duvaucelli, dan terdapat pula jenis sontong (Gambar 6).
Gambar 6. Jenis cumi-cumi dan sontong yang didaratkan di Pontianak.
Cumi-cumi hasil tangkapan yang dikemas beku dikelompokkan dalam lima
ukuran (Tabel 1). Cumi-cumi yang berukuran besar (26-35cm) yang tergolong
ukuran super, biasanya hasil tangkapan pancing cumi karena cumi berukuran besar
cenderung berada di strata yang lebih dalam dan sangat lincah sehingga cukup sulit
untuk ditangkap dengan bouke ami.
77
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Kelompok ukuran Cumi-Cumi berdasarkan sistem kemasannya
Jenis cumi ( Kode A )
A2 ( Susun 2 ) / Super
A3 ( Susun 3 )
A4 ( Susun 4 )
A5 ( Susun 5 )
Cendol
Ukuran/ekor (cm)
26-35
21-25
16-20
11-15
5-10
Berat/packing (kg)
12,50 dan 15
13,37
15,72
15,53
15-16
4. Produksi dan upaya penangkapan
Produksi cumi-cumi berdasarkan monitoring harian di PPP Sei Rengas dan PPI
Sei Jawi tahun 2012-2013 berjumlah 2.141 ton atau 51% dari jumlah produksi cumicumi di Kalimantan Barat yaitu 4.239 ton pada tahun 2012-2013, dan hanya sekitar
4,6% dari produksi cumi-cumi di WPP 711 tahun 2012-2013 (DJPT, 2014).
Produksi tahunan (2012-2015) hasil tangkapan kapal bouke ami mengalami
fluktuasi. Penurunan produksi terjadi pada tahun 2013 dibanding 2012 sekitar 14%,
kemudian meningkat pada tahun 2014 dibanding 2013 sekitar 38%, sementara bila
melihat jumlah produksi dan trip bouke ami sampai bulan September 2015, maka
produksi sampai akhir tahun 2015 diperkirakan akan lebih tinggi dari tahun 2014.
Demikian juga dengan produksi cumi-cumi yang mengalami fluktuasi produksi
tahunan seperti halnya hasil tangkapan total bouke ami. Mengingat hampir 80%
hasil tangkapan bouke ami adalah cumi-cumi, sehingga produksi bouke ami
mencerminkan pula produksi cumi-cumi (Gambar 7).
Rata-rata produksi bulanan menunjukkan puncak produksi cumi-cumi terjadi
pada bulan Oktober-November mencapai rata-rata 196,6 ton dan terendah pada
bulan Januari-Februari rata-rata sekitar 4,1 ton (Gambar 7).
78
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 7. Produksi bulanan hasil tangkapan total dan cumi-cumi (ton) dari kapal bouke ami
yang di daratkan di Sei Rengas dan Sei Jawi tahun 2012-2015.
Berdasarkan monitoring harian selama periode 2012 sampai September 2015,
upaya penangkapan (trip kapal) cumi-cumi oleh bouke ami berfluktuasi
setiap bulan dan tahunnya (Gambar 6). Pada tahun 2012, tercatat sebanyak
118 kapal (604 trip) bouke ami, dimana 39 unit (79 trip) hasilnya nihil atau tidak
ada hasil tangkapannnya. Pada tahun 2013, jumlah kapal yang beroperasi
sebanyak 156 kapal (559 trip), dan 84 unit (129 trip) hasilnya nihil. Tahun 2014,
yang beroperasi sebanyak 166 kapal (688 trip), dan 61 unit (81 trip) hasilnya nihil.
Sementara pada tahun 2015 (sampai bulan September), yang beroperasi sebanyak
124 kapal (372 trip), dan 21 unit (33 trip) hasilnya nihil.
Rata-rata sebanyak 85% dari total trip per tahun kapal-kapal bouke ami
mendaratkan hasil tangkapannya. Sementara 15% dari jumlah trip tidak mendaratkan
hasil tangkapan (nihil), disebabkan karena mengalami kerusakan mesin, hanya
lapor atau mengisi perbekalan. Jumlah trip kapal bouke ami rata-rata 4 kali trip per
tahun. Berdasarkan jumlah kapal yang beroperasi, upaya penangkapan bouke ami
cenderung mengalami peningkatan meskipun jumlah tripnya berflukstuasi setiap
tahunnya.
Selama tahun 2012-2015, upaya penangkapan (trip) cumi-cumi oleh bouke ami
pada tahun 2012-2015 yang paling tinggi terdapat pada bulan April, Mei, September,
dan Oktober. Sementara jumlah trip yang relative paling sedikit terdapat pada bulan
Januari-Maret. Penurunan jumlah trip dari bulan sebelumnnya terdapat pada bulan
Juli, Agustus, dan Desember (Gambar 8).
79
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 8. Fluktuasi jumlah upaya penangkapan (trip) bulanan kapal-kapal bouke ami yang
berbasis di Sei Rengas dan Sei Jawi (Pontianak) tahun 2012-2015.
Rata-rata hasil tangkapan cumi-cumi sekitar 100 ton per bulan atau 60% dari
total hasil tangkapan bouke ami yang didaratkan di Pontianak. Hasil tangkapan
cumi-cumi dari bouke ami sangat bervariasi secara musiman/bulanan, yaitu dari
hasil minimum antara 50-100 kg hingga mencapai maksimum sekitar 23 ton per
trip per kapal (rata-rata 2,2 ton/trip). Kontribusinya diperkirakan sekitar 80% dari
total hasil tangkapan bouke ami. Secara umum, diketahui kelompok cumi-cumi
cenderung menentukan hasil tangkapan bouke ami secara keseluruhan.
Rata-rata bulanan hasil tangkapan cumi-cumi dari bouke ami per satuan
upaya tangkap (trip) atau CPUE (catch per unit effort) yang didaratkan di PPP Sei
Rengas dan PPI Sei Jawi selama periode 2012-2015 sebesar 2,01 ton/trip. CPUE
terbesar pada bulan September-Oktober mencapai 2,87 ton/trip, dan terendah pada
bulan Januari yaitu rata-rata 0,54 ton/trip. Rata-rata CPUE bulanan sekitar 0,5 ton/
trip terhadap rata-rata CPUE bulanan total hasil tangkapan bouke ami (Gambar 9).
CPUE tahunan cumi-cumi hasil tangkapan bouke ami menunjukkan tren yang terus
meningkat sepanjang tahun 2012-2015.
80
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 9. Fluktuasi CPUE (ton/trip) cumi-cumi hasil tangkapan kapal bouke ami yang
didaratkan di Sei Rengas dan Sei Jawi, Pontianak, tahun 2012-2015
PEMBAHASAN
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 tentang
jalur penangkapan ikan dan penempatan alat penangkap ikan dan bantu penangkapan
ikan di WPP RI menunjukkan bahwa kapal bouke ami dapat beroperasi di semua
WPP RI. Daerah penangkapan cumi-cumi oleh kapal-kapal bouke yang berbasis di
Pontianak tentunya di WPP 711 yaitu perairan Barat Kalimantan, Selat Karimata,
dan Laut Cina Selatan. WPP 711 merupakan lokasi yang memiliki sumberdaya
cumi-cumi yang potensial sepanjang tahun.
Upaya pemanfaatan cumi-cumi tidak hanya dilakukan oleh kapal-kapal
bouke ami dari Pontinak saja. Kapal-kapal bouke ami dari Blanakan (Pralampita &
Chodriyah, 2009); (Chodrijah & Budiarti, 2011), Sungailiat (Rosalina et al., 2011),
Rembang (Triharyuni & Puspasari, 2012), Kejawanan (Triharyuni et al., 2012),
Muara Baru (Atmaja, 2013); (Rooskandar, 2014), dan Muara Angke (Ainun, 2014)
juga memanfaatkan cumi-cumi di WPP 711.
Selain pengoperasian bouke ami sebagai alat tangkap utama, nelayan-nelayan
bouke ami di Pontianak juga menggunakan pancing tangan untuk menangkap cumicumi. Hal ini umum dilakukan oleh nelayan serupa dari daerah Juwana (Hufiadi
& Mahiswara, 2007) dan daerah lainnya seperti yang disebutkan dalam beberapa
penelitian diatas.
Indeks musim penangkapan sumberdaya cumi-cumi dari kapal-kapal bouke
ami yang berbasis di Pontianak mencermin puncak-puncak musim penangkapan,
81
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
karena aktivitas penangkapan hampir terjadi sepanjang bulan kecuali pada bulan
Desember-Februari (musim barat). Puncak musim penangkapan terjadi pada bulan
April (musim peralihan-1) dan bulan September-November (musim peralihan-2)
yang lebih tinggi dibanding musim peralihan-1.
Musim penangkapan tersebut sama dengan musim tangkap cumi-cumi oleh
armada tangkap dari pesisir utara Jawa yang beroperasi di WPP 712 dan WPP 711.
Cumi-cumi yang didaratkan di Rembang tertangkap setiap bulan. Bulan Maret-Mei
dan November sebagai musim tangkap, sedangkan bulan Desember-Februari dan
Juni-Oktober merupakan bukan musim tangkap (Triharyuni et al., 2012). Musim
penangkapan cumi-cumi yang didaratkan di Sungailiat-Bangka terjadi pada bulan
April, Mei, Juni, Oktober, dan November (Rosalina et al., 2011).
Penelitian Prasetyo (2014) mengenai sebaran spasial cumi-cumi (Loligo Spp.)
di Selat Karimata hingga Laut Jawa menyebutkan hasil tangkapan cumi-cumi pada
tahun 2011 dan 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan-2 hingga
musim barat (September-Desember) dimana sebaran spasial penangkapan cumicumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata.
Pada saat musim tangkap diduga kelimpahan cumi-cumi tinggi dan pada saat
tidak musim tangkap kelimpahan cumi-cumi rendah. Tingginya upaya tangkap dan
produksi cumi-cumi pada musim tangkap mengindikasikan hal tersebut. Hartati
(1998) menyebutkan bahwa bahwa musim penangkapan cumi-cumi berhubungan
dengan kelimpahan cumi-cumi.
Faktor nyata musim penangkapan cumi-cumi adalah kondisi cuaca. Puncak
musim penangkapan pada musim peralihan disebabkan karena kondisi perairan
pada musim tersebut relatif tenang sehingga jumlah upaya tangkap (trip) juga tinggi.
Sementara musim penangkapan cumi-cumi di perairan Selat Alas berlangsung pada
bulan Oktober-Maret, dengan puncak musim pada bulan November. Masa panceklik
berlangsung pada bulan April-September, dan bulan Juni-Agustus merupakan
puncak musim panceklik (Hartati et al., 2004). Musim penangkapan cumi-cumi di
Lombok berlangsung pada musim barat, yaitu pada bulan Oktober-Maret (Soselisa
et al., 1986). Hal tersebut di sebabkan kondisi periaran di wilayah timur Indonesia
cenderung tenang pada musim barat.
Selain faktor cuaca, tingginya kelimpahan cumi-cumi pada bulan November
disebabkan diduga karena pada bulan ini kondisi perairan subur, akibat unsur hara
dari Laut Banda terbawa arus sampai di Laut Jawa sehingga perairan menjadi lebih
82
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
subur (Chodriyah & Hariati, 2010). Oleh karena itu, pada musim peralihan-2 dengan
kondisi periaran relative lebih tenang, maka jumlah penangkapan tinggi, kelimpahan
tinggi, sehingga produksi cumi-cumi relative lebih tinggi dibanding musim lainnya.
Komposis jenis cumi-cumi hasil bouke ami yang didaratkan di Pontianak
diduga hampir sama dengan komposisi jenis yang didaratkan berbagai lokasi
lainnya seperti Bangka Belitung maupun utara Jawa. Mengingat kapal-kapal bouke
ami tersebut juga menangkap cumi-cumi di WPP 711. Selain itu peyebaran cumicumi relative cukup luas, ditambah kedekatan lokasi WPP 711 dengan WPP 712.
Observasi di pasar ikan Pontianak menunjukkan jenis cumi-cumi yang ada adalah
famili Loliginidae, genus Loligo yaitu Loligo chinensis, Loligo singhalensis, Loligo
edulis, Loligo duvaucelli, dan terdapat pula jenis sontong.
Pada puncak musim penangkapan bulan April dan Oktober, urutan komposisi
jenis cumi yang didaratkan di Rembang adalah L. duvaucelli, L. edulis, L. chinensis,
dan L. singhalensis. (Triharyuni & Puspasari, 2012). L. duvaucelli merupakan jenis
cumi-cumi yang dominan tertangkap di Selat Alas (Hartati, 1998); (Mubarak &
Suprapto, 1999), juga di Blanakan (Pralampita & Chodriyah, 2009).
Jumlah upaya penangkapan cumi-cumi oleh bouke ami di Pontianak
menunjukkan peningkatan selama 4 tahun terakhir. Fluktuasi jumlah upaya
juga terjadi secara bulanan, upaya penangkapan yang tinggi terjadi pada musim
peralihan-1 (April-Mei) dan yang lebih tinggi lagi pada musim peralihan-2
(September-Oktober). Sementara penurunan jumlah upaya tangkap terjadi pada
musim timur (Juli-Agustus), dan yang paling rendah pada musim barat (DesemberFebruari).
Fluktusi jumlah upaya penangkapan tersebut serupa dengan kapal-kapal yang
berbasis di Muara Angke, karena sebagian besar kapal-kapal tersebut beroperasi di
WPP 711 (Ainun, 2014); Rooskandar (2014). Umumnya dinamika musiman upaya
tangkap tidak berbeda jauh dengan upaya tangkap kapal-kapal bouke ami dari pesisir
utara Jawa.
Faktor teknis unit penangkapan bouke ami seperti dimensi kapal, ukuran
alat tangkap, jumlah awak kapal dan daya lampu, dapat menentukan jumlah hasil
tangkapan. Hasil penelitian Triharyuni S. et al. (2012) menyebutkan hanya ukuran
kapal yang signifikan terhadap perubahan hasil tangkapan dengan pengaruh sebesar
53%. Sementara ketiga faktor teknis lainnya tidak signifikan. Faktor non teknis
yang mempengaruhi seperti musim, cuaca, suhu, salinitas, yang memang tidak
83
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
bisa dikontrol (Triharyuni S. et al., 2012). Pada perikanan bouke ami, dimensi
kapal sepertinya cukup berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Ukuran kapal
sangat menentukan ukuran frame, jaring, daya mesin, durasi trip, jangkauan lokasi
penangkapan, dan kapasitas palka.
Hasil tangkapan bouke ami didominasi oleh cumi-cumi sebagai target
tangkapan, mencapai 80% dari total hasil tangkapan. Sejalan dengan upaya tangkap,
produksi cumi-cumi dari bouke ami yang didaratkan di Pontianak menunjukkan
tren yang terus meningkat. Fluktuasi produksi bulanan juga meyerupai dinamika
upaya tangkap berdasarkan musim. Tingginya produksi cumi-cumi dipengaruhi oleh
banyaknya trip penangkapan (Triharyuni et al., 2012); (Pralampita & Chodriyah,
2009).
Fluktuasi produksi bulanan cumi-cumi dari WPP 711 yang didaratkan di
Pontianak, relative sama dengan produksi cumi-cumi dari laut Jawa (WPP 712) yang
didaratkan di utara Jawa. Hasil tangkapan cumi-cumi yang didaratkan di Juwana
tertinggi pada bulan Nopember dan terendah pada bulan Juni (Hufiadi & Mahiswara,
2007). Di Kejawanan, hasil tangkapan terbesar pada bulan Agustus dan terendah
pada bulan Maret (Triharyuni et al., 2012). Di Rembang tertinggi pada bulan
Juni dan terendah pada bulan Januari-Februari (Triharyuni & Puspasari, 2012).
Sementara di Blanakan (2005-2006) puncak penangkapan pada bulan DesemberJanuari (Pralampita & Chodrijah, 2009).
Di Laut Jawa, tingginya hasil tangkapan cumi-cumi pada musim timur diduga
karena suburnya perairan dan kaya akan unsur hara. Pada musim timur di sekitar
Laut Banda dan Selat Makassar terjadi upwelling sehingga daerah sekitarnya
menjadi subur. Unsur hara tersebut terbawa arus ke Laut Jawa mengakibatkan Laut
Jawa selama dan sesudah musim timur menjadi subur (Wyrtki,1961). Massa air yang
berasal dari arah timur tersebut membawa salinitas yang berkadar tinggi 32-33,75‰
yang sesuai dengan cumi-cumi (Chodriyah & Hariati, 2010). Perbedaan ini diduga
karena lokasi penangkapan yang berbeda (Triharyuni S. et al., 2012). Kapal-kapal
bouke ami mengesuaikan lokasi tangkapan dari Laut Jawa ke Selat Karimata dan
Laut Cina Selatan, karena adanya pergeseran kelimpahan cumi-cumi dan kondisi
cuaca.
Fluktuasi upaya pemanfaatan bouke ami di Pontianak berpengaruh terhadap
jumlah produksi cumi-cumi, artinya jumlah upaya yang tinggi menghasilkan produksi
yang tinggi pula dan sebaliknya. Rooskandar (2014) menyebutkan kenaikan volume
84
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
produksi cumi-cumi berbanding lurus terhadap kenaikan jumlah unit penangkapan
di Muara Baru. Sehingga dinamika bulanan musim penangkapan cumi-cumi dari
WPP 711 oleh bouke ami yang berbasis Pontianak, sekaligus mencerminkan kondisi
CPUE cumi-cumi dari bouke ami.
Selama 4 tahun terakhir, tren produksi cumi-cumi dan upaya tangkap bouke ami
di Pontianak menunjukkan peningkatan. Peningkatan CPUE (ton/trip) sebesar 20%
per tahun, atau 6% per tahun untuk CPUE berdasarkan jumlah unit penangkapan
(ton/unit). Sepanjang tahun 2005-2009, produksi, upaya, dan CPUE cumi-cumi di
Sungailiat terus meningkat (Rosalina et al., 2011). Triharyuni & Puspasari (2012)
menyebutkan selama tahun 2006-2009 produksi cumi-cumi yang didaratkan di
Rembang mengalami kenaikan rata-rata sekitar 26% setiap tahunnya. Begitu juga
produksi cumi-cumi di Muara angke, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan,
tahun 2009 sebesar 2.577,74 ton pada tahun 2012 naik menjadi 8.493,41 ton (UPT
PPI Muara Angke 2013 dalam Ainun, 2014).
CPUE cumi-cumi di Pontianak yang tertinggi pada bulan September-Oktober
(musim peralihan-2) dan terendah pada bulan Januari (musim barat). Fluktuasi
CPUE bulanan tersebut serupa dengan yang diperoleh dari beberapa basis bouke ami
di Utara Jawa seperti Juwana (Hufiadi & Mahiswara, 2007), Blanakan (Pralampita
& Chodriyah, 2009); (Chodrijah & Budiarti, 2011), Sungailiat (Rosalina et al.,
2011), Rembang (Triharyuni & Puspasari, 2012), Kejawanan (Triharyuni et al.,
2012), Muara Angke (Ainun, 2014), dan Muara Baru (Rooskandar, 2014). Hal ini
disebabkan kapal-kapal bouke ami memiliki target yang sama yaitu cumi-cumi.
Selain beroperasi di WPP 712, kapal-kapal dari berbagai daerah tersebut juga
sedikit banyak beroperasi di WPP 711 yang berdekatan dengan WPP 712. Dinamika
kelimpahan cumi-cumi di WPP 711 diduga sama dengan di WPP 712.
Analisis Model Produksi Surplus dari Schaeffer (1957) terhadap data catch dan
effort tahun 2000-2011 (DJPT, 2012) pada sumberdaya cumi-cumi di WPP-RI 711
(Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Cina Selatan) diperoleh nilai dugaan potensi
lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 6.073 ton/tahun dengan upaya optimal
(fopt.) sebesar 3.667 unit standar bagan apung (Gambar 9). Jumlah tangkapan yang
diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari potensi lestarinya atau sebesar 4.859 ton.
Berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkap, pada tahun 2011 diperoleh jumlah
alat tangkap setara bagan apung sebanyak 4.394 unit standar bagan apung. Tingkat
pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi di WPP-RI 711 pada tahun 2011 sebesar 1,2
atau telah melebihi effort lestarinya.
85
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KESIMPULAN DAN SARAN
Unit penangkapan bouke ami yang berbasis di Pontianak memanfaatkan
secara penuh sumberdaya cumi-cumi dari WPP 711. Fluktuasi produksi cumi-cumi
ditentukan oleh jumlah upaya tangkapnya. Musim penangkapan sangat dipengaruhi
oleh kondisi cuaca dan berbanding lurus dengan jumlah produksi, CPUE dan
kelimpahan cumi-cumi. Puncak musim terjadi dua kali, yaitu puncak pertama lebih
tinggi pada musim peralihan 2 (September-November), dan puncak kedua pada
musim peralihan 1 (April-Mei). Sementara bukan musim pada musim timur, dan
paceklik terjadi pada musim barat. Status pemanfaatan sumber daya cumi-cumi
di perairan Laut Cina Selatan sudah melebihi upaya yang optimum (over-fishing),
sehingga harus dilakukan pengurangan upaya sekitar 20 % dari kondisi saat ini.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan Penelitian Karakteristik Biologi
Perikanan, Habitat Sumber Daya dan Potensi Produksi Sumber Daya Ikan di WPP711, APBN TA. 2015 di Balai Penelitian Perikanan Laut. Muara Baru, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Atmaja, S. B. 2013. Perkembangan perikanan cumi–cumi di sentra pendaratan ikan
utara pulau Jawa. J. Lit. Perikan. Ind. 19 (1):31-38
Ainun, R. N. 2014. Musim Penangkapan dan Pemetaan Daerah Penangkapan Jaring
Cumi di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711. Skripsi. Institut
Pertanian Bogor. 29 p.
Chodriyah,U. & T.Hariati. 2010. Musim penangkapan ikan pelagis kecil di Laut
Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 16 (3): 217-223.
Chodrijah, U. & T.W. Budiarti . 2011. Beberapa aspek biologi cumi-cumi jamak
(Loligo duvaucelli) yang didaratkan di Blanakan, Subang, Jawa Barat.
BAWAL-Widya Riset Perikanan Tangkap. 3 (6): 357-362
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2014. Statistik PerikananTangkap di Laut
menurut Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
(WPPNRI), 2005-2013. Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
484 hal.
86
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hartati, S.T. 1998. Fluktuasi Musiman Hasil Tangkapan Cumi-cumi (Loliginidae)
di Perairan selat Alas, NTB. Thesis: Program Pasca Sarjana Institut
Pertanian Bogor. p. 36-37.
Hufiadi & Mahiswara. 2007. Karakteristik Perikanan Jaring Cumi di Utara Jawa. J.
Lit. Perikan. Ind. 13 (2): 12.
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Nomor KEP.45/MEN/2011 tentang
Estimasi Potensi Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Republik Indonesia.
KeputusanMenteri Kelautan dan Perikanan, No. Kep.06/Men/2010 tentang alat
penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik
Indonesia.
Mallawa, A. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Berkelanjutan dan Berbasis
Masyarakat. Lokakarya Agenda Penelitian Program COREMAP II
Kabupaten Selayar tahun 2016. 31 hal.
Mubarak, H. & Suprapto. 1999. Penangkapan cumi-cumi di Selat Alas (Nusa
Tenggara Barat). Warta Penelitian Perikanan Indonesia. 3: 2-10.
Pralampita, W. A. & U. Chodriyah. 2009. Aspek perikanan dan komposisi hasil
tangkapan cumi-cumi yang didaratkan di Pusat Pendaratan Ikan.
Blanakan, Subang, Jawa Barat. BAWAL-Widya Riset Perikanan Tangkap.
2 (5): 251-256.
Prasetyo, B. A., S. Hutabarat, A. Hartoko. 2014. Sebaran spasial cumi-cumi (loligo
spp.) dengan variabel suhu permukaan laut dan klorofil-a data satelit
modis aqua di Selat Karimata hingga laut jawa. Diponegoro Journal Of
Maquares. 3 (1): 51-60.
Rooskandar, B. P. 2014. Analisis Produksi Cumi-cumi Unit Penangkapan Bouke
Ami di PPS Nizam Zachman Jakarta. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
27 p.
Rosalina, D., W. Adi & D. Martasari. 2010. Analisis Tangkapan Lestari dan Pola
Musim Penangkapan Cumi-cumi di Pelabuhan Perikanan Nusantara
Sungailiat-Bangka. Maspari Journal. 2:26-38.
Soselisa, J., S. Majuki & W. Subani. 1986. Produksi danMusim Penangkapan Cumicumi (Loligo spp.) di Lombok (Nusa Tenggara Barat). JPPL. 34: 79-90.
87
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Triharyuni, S. & R. Puspasari. 2012. Produksi dan musim penangkapan cumi-cumi
(loligo spp.) di perairan Rembang (Jawa Tengah). J. Lit. Perikan. Ind. 18
(2):77-83
Triharyuni, S., Wijopriono, A. P. Prasetyo & R. Puspasari. 2012. Model produksi dan
laju tangkap kapal bouke ami yang berbasis di PPN Kejawanan, Cirebon
Jawa Barat. J. Lit. Perikan. Ind. 18 (3):135-143.
88
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KAPASITAS PENANGKAPAN PERIKANAN PUKAT CINCIN
DI LAUT CINA SELATAN (WPP 711)
(STUDI KASUS PUKAT CINCIN PEMANGKAT)
Oleh :
Hufiadi, Mahiswara, dan Wahyuni Nasution
ABSTRAK
Unit penangkapan pukat cincin dapat dikategorikan efisien apabila
perolehan hasil tangkapannya mendekati produksi potensial dalam kegiatan operasi
penangkapannya. Penelitian kapasitas penangkapan dilakukan pada perikanan pukat
cincin yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat. Pengukuran
efisiensi teknis dapat dijadikan sebagai indikator kinerja alat tangkap pukat cincin.
Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan kapasitas pukat cincin yang mendaratkan
hasil tangkapan dilakukan pengukuran efisiensi berdasarkan kinerja produksi
tahunan dan musim penangkapan. Analisis dilakukan secara matematis dengan
menggunakan metode PtP (Peak to peak) dan DEA (Data Envelopment Analysis).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kapasitas perikanan pukat cincin yang berbasis
di Pemangkat, selama periode tahun 2007 – 2013 diperoleh skor efisiensi rata-rata
0,86. Pemanfaatan kapasitas pukat cincin pada musim barat, timur , peralihan I
dan peralihan II masing-masing sebesar 85%, 90%, 87% dan 84% dari tangkapan
potensial. Beberapa kapal pukat cincin dari ke empat musim tersebut menunjukkan
pemanfaatan kapasitas yang tidak optimal dan merupakan indikasi adanya excess
capacity.
Kata Kunci :efisiensi teknis, Laut Cina Selatan, musim penangkapan,
pukat cincin
89
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Perairan Laut Cina Selatan (LCS) merupakan salah satu daerah penangkapan
utama kapal pukat cincin yang berbasis di Pemangkat, Batam dan Tanjungbalai
Asahan. Bahkan pada era tahun 1990-an armada perikanan pukat cincin yang
berbasis di Pekalongan dan Juwana, Jawa Tengah pada saat di perairan Laut Jawa
berlangsung musim timur, menjadikan perairan LCS sebagai daerah penangkapan.
Perkembangan perikanan pukat cincin di Kalimantan Barat, khususnya di Pemangkat
tidak terlepas dari aktivitas perluasan jangkauan daerah penangkapan armada dari
Jawa Tengah. Namun demikian saat ini aktivitas kapal pukat cincin dari Jawa relatif
sudah sangat berkurang. Sumber daya ikan pelagis di perairan LCS merupakan
komoditi perikanan yang penting dan bersifat strategis yang secara intensif
dimanfaatkan oleh armada pukat cincin. Hasil tangkapan pukat cincin umumnya
didominasi jenis ikan layang (Decapterus russelli dan Decapterus macrosoma)
sekitar 67,3 % yang diikuti jenis ikan banyar (Rastrelliger kanagurta), selar
(Crumenophthalmus), juwi atau tembang (Sardinella spp.) dengan jumlah masingmasing kurang dari 10% (Atmadja dan Nugroho, 2004).
Dalam hal pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis, pada saat ini kondisi
obyektif di lapangan menunjukkan adanya tekanan eksploitasi yang tinggi terhadap
sumberdaya ikan di perairan LCS. Hasil kajian Komnas Kajian Stok sumberdaya
ikan yang dituangkan dalam Permen KP No.45/Tahun 2011 menunjukkan bahwa,
untuk sumberdaya ikan pelagis kecil dalam status pemanfaatan jenuh (fully
exploited). Kondisi ini membawa konsekuensi terjadinya perubahan indeks upaya
penangkapan dan hasil tangkapan. Laju tangkap pukat cincin terus mengalami
penurunan dalam beberapa tahun terakhir karena penurunan stok sumberdaya ikan
layang (Decapterus sp.) dan banyar (Rastrelliger kanagurta). Kedua jenis ikan
tersebut memberi kontribusi yang sangat besar terhadap hasil tangkapan pukat
cincin (Atmadja & Nugroho, 2004 ; Hariati et al., 2005). Tekanan penangkapan yang
tinggi terhadap sumberdaya ikan diperkirakan memberi dampak terhadap proses
biologi ikan tersebut (Suwarso et al., 2008).
Dalam sistem pengelolaan sumberdaya ikan, kepentingan jangka pendek
ditujukan untuk menghindari terjadinya tangkapan lebih terhadap stok ikan. Oleh
karena itu diperlukan suatu sistem pengelolaan untuk tercapainya hasil tangkapan
yang berkelanjutan. Pengelolaan perikanan, pada hakekatnya adalah pengelolaan
ekosistem, dimana keterkaitan antara komponen yang satu dengan yang lainnya
sangat erat hubungan sebab akibatnya. Perubahan pada satu elemen ekosistem akan
90
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
merubah struktur secara keseluruhan ekosistem tersebut (Wiyono & Wahju, 2006).
Secara umum usaha penangkap ikan mengharapkan produksi/hasil tangkapan yang
ideal dengan penggunaan input yang efisien. Usaha penangkapan ikan memiliki
tujuan untuk memaksimumkan keuntungan. Perolehan keuntungan berkaitan erat
dengan efisiensi produksi. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pendugaan
produksi (hasil tangkapan) optimal dan efesiensi teknis kapal pukat cincin yang
beroperasi di perairan LCS, yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
Pemangkat.
METODE PENELITIAN
Sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data
sekunder. Data primer untuk analisis efisiensi perbandingan antara kapal pukat
cincin dihimpun melalui kegiatan enumerasi. Petugas enumerator mendata kapal
pukat cincin aktif yang melakukan operasi penangkapan selama tahun 2014. Data
sekunder diiperoleh dari statistik perikanan (produksi dan upaya) PPN Pemangkat
tahun 2007-2013.
Pengolahan dan analisis data
Analisis efisiensi pemanfaatan ikan pelagis di perairan LCS didasarkan
pada produktivitas pukat cincin yang melakukan pendaratan di PPN Pemangkat,
Kalimantan Barat. Kajian efisiensi penangkapan tahunan dilakukan terhadap data
kegiatan operasi pukat cincin selama kurun waktu antara tahun 2007 – 2013, serta
melalui pengamatan (mengolah data primer yang dihimpun selama satu tahun)
dengan membandingkan efisiensi antar kapal pukat cincin yang aktif beroperasi
selama tahun 2014. Pengukuran efisiensi penangkapan tahunan diukur dengan
mengunakan analisis Peak to Peak (PtP), sementara pengukuran nilai efisiensi
antara pakat cincin yang aktif menggunakan analisis Data Envelopment Analysis
(DEA).
Analisis data tahunan
Untuk mengetahui kapasitas penangkapan, data dianalisis dengan metode
Peak-to-Peak (PtP). Menurut Ballard dan Roberts (1997) dalam Zheng and Zhou
91
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(2005) (www.terrapub.co.jp diakses tanggal 10 Mei 2011), metode PtP adalah
pengukuransederhana terhadap respon lembaga atau pengamat olehindustri untuk
mengubah permintaan. Pengukuran itu didasarkan pada trend melalui pendekatan
puncak yang dianggap mencerminkan output maksimum yang dicapai pada stok
modal dan ikan. Menurut Ballard danRoberts, fungsiproduksi Cobb-Douglas atau
mirip dengan model Schaffer jangka pendek adalah sebagai berikut :
...............................................................................................(1)
dalam hal ini Yt merupakan hasil tangkapan total atau output yang dihasilkan
dalam kurun waktu tertentu. Lt adalah jumlah pengusaha pada waktu t; kt adalah
jumlah stok pada waktu t; Tt adalah penyesuaian trend teknologi dan A adalah
koefisien deret. Sedangkan untuk nilai a dan b merupakan Constant Returns to Scale
(CRS), jika dijumlahkan harus sama dengan 1. Untuk mempermudah perhitungan,
persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi :
Yt = A.Vt.Tt dengan Vt = Ltaktb .................................................................(2)
Jika Vt adalah jumlah unit produksi (misalnya jumlah kapal, GT atau daya
lampu). Metode peak to peak ini digunakan untuk mengestimasi tren teknologi yang
terjadi, dengan asumsi A = 1 pada unit input Vt dan unit output Yt. Tingkat teknologi
pada periode waktu tertentu t(Tt) ditentukan oleh tingkat rata-rata perubahan dalam
produktivitas antara tahun yang mempunyai produksi puncak(Persamaan 3). Relatif
terhadap tahun t tertentu, nilai m dan n sesuai dengan lamanya waktu dari tahun
sebelumnyad an mengikuti tahun puncak.
....................................................(3)
Analisis data antar pukat cincin
Data tangkapan pukat cincin selama tahun 2014 dianalisis dengan Data
Envelopment Analysis (DEA). Pengukuran kapasitas penangkapan antara pukat
cincin dihitung dengan pendekatan multioutput yaitu (layang, selar dan ikan lainnya)
mengingat tidak semua hasil tangkapan memberikan kontribusi secara terus menerus
terhadap total hasil tangkapan, yaitu dengan memilih jenis ikan tertentu yang secara
relatif terus menerus memberikan kontribusi total hasil tangkapan sebagai output
data dan dikaji menurut musim penangkapan (musim barat, timur, peralihan I dan
peralihan II).
92
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Aspek teknis pukat cincin : bobot dan ukuran kapal, panjang jaring, daya
lampu, lama trip, volume palkah, jumlah ABK, bahan bakar dan perbekalan
terlebih dahulu dilakukan analisis penentuan faktor-faktor input yang berpengaruh
terhadap produksi perikanan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglass, dengan
bantuan MS Excel dan SPSS 22. Selanjutnnya Input yang dianggap berpengaruh
dijadikan sebagai instrumen dalam penilain efisiensi kapasitas penangkapan. Untuk
mendapatkan gambaran dinamika efisiensi teknis, selanjutnya dihitung dengan
menggunakan DEA. Analisis efisiensi teknis dilakukan dengan membandingkan
nilai efisiensi antar unit alat tangkap yang dijadikan sebagai DMU (decision making
unit). Proses penghitungan yaitu dengan menentukan nilai konstanta dari output
(µ), fixed input (x) dan variable input λ pada masing-masing DMU sehingga
diperoleh nilai efisiensi penangkapan berdasarkan tingkat pemanfaatan kapasitas
(CU) penangkapan dan tingkat pemanfaatan kapasitas variabel input (VIU). Jumlah
hasil tangkapan jenis ikan m oleh alat tangkap j (Ujm) ditetapkan sebagai output data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Karakteristik Perikanan Pukat Cincin Pemangkat
Unit pukat cincin (purse seine) yang berbasis di PPN Pemangkat merupakan
pukat cincin pelagis kecil. Kapal terbuat dari bahan kayu dan kayu berlapis fibre.
Ukuran bobot kapal berkisar antara 30 – 117 GT. Tenaga penggerak yang digunakan
relatif besar yaitu mesin dengan kisaran kekuatan antara 180-380 PK. Pukat cincin
tergolong unit penangkapan padat karya, dengan jumlah ABK berkisar 15-25 orang
untuk setiap unit.
Perkembangan teknologi dalam penanganan hasil tangkapan terjadi pada
kapal pukat cincin. Sejak tahun 2009, kapal pukat cincin Pemangkat sebagian besar
sudah menggunakan sistem freezer, dalam mempertahankan kualitas ikan hasil
tangkapan. Meski demikian hingga saat ini terdapat kapal yang masih menggunakan
es untuk mempertahankan mutu ikan hasil tangkapan. Beberapa kapal pukat cincin
di Pemangkat telah menggunakan power block untuk mengangkat jaring dalam
operasinya. Penggunaan teknologi ini telah meningkatkan efisiensi pengoperasiannya
dalam hal waktu dan tenaga kerja. Pada saat musim ikan, kapal pukat cincin
menitipkan hasil tangkapan kepada kapal penampung, sebagai upaya menjaga mutu
93
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
hasil tangkapan agar tetap dalam kondisi segar. Telah menjadi kebiasaan kapal pukat
cincin di Pemangkat, senantiasa mengupayakan ikan hasil tangkapan dalam keadaan
segar.
Ukuran panjang jaring pukat cincin berkisar antara 450-570 meter, tinggi jaring
mencapai 120 meter dengan ukuran mata jaring di bagian kantong 1,0 inci. Sistem
operasi penangkapan pukat cincin menggunakan alat bantu penangkapan lampu/
cahaya sebelum dilakukan pengoperasian jaring. Kegiatan penangkapan praktis
hanya dilakukan pada malam hari (pada periode bulan gelap). Jumlah daya lampu
yang digunakan oleh satu unit penangkapan pukat cincin berkisar antara 20.000
watt – 75.000 watt. Jumlah hari di laut dalam satu trip penangkapan pukat cincin
berkisar antara 11-20 hari.
Daerah penangkapan pukat cincin umumnya mencapai posisi garis lintang
antara 20 dan 40LU, hingga mencapai perbatasan Vietnam.Seperti dari beberapa
armada pukat cincin Pemangkat yang berhasil dihimpun berada di sekitar lintang 20
LS - 40LS dan1070 – 1100 BT (Gambar 1).Sebelumnya daerah penangkapan pukat
cincin Pemangkat tidak jauh dari Pelabuhan yaitu disekitar pulau Pulau Mindai dan
PulauTimou. Seiring semakin menurunnya hasil tangkapan, ekspansi ke perairan
yang lebih jauh terjadi yaitu hingga keperairan sekitar kepulauan Natuna Besar,
Pulau Selor dan Pulau Panjang. Pada musim angin Selatan pukat cincin pemangkat
umumnya beroperasi disekitar Pulau Subi dan Pulau Sugi yaitu merupakan perairan
yang berbatasan dengan Malaysia.
Gambar 1. Daerah penangkapan pukat cincin nelayan Pemangkat.
94
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Kapasitas Penangkapan Perikanan Pukat Cincin
Hasil dari analisis kapasitas perikanan pukat cincin yang berbasis di Pemangkat,
selama periode tahun 2007 – 2013 diperoleh skor efisiensi rata-rata 0,86. Hal ini
mengindikasikan bahwa selama periode tersebut perikanan pukat cincin beroperasi
sekitar 86% dari kapasitas optimal dan secara teknis perikanan pukat cincin
mengalami excess capacity sebesar 14%. Trajektori paling efisien untuk perikanan
pukat cincin terjadi pada tahun 2007 dan 2009 sementara trajektori paling tidak
efisien terjadi pada tahun 2012 dan 2013.
Pola perkembangan efisiensi secara umum mengikuti pola perkembangan
produksi, sementara pola perkembangan upaya (trip) secara umum cenderung terus
meningkat. Pada Tahun 2007 terjadi efisiensi yang tinggi, sementara produksi pukat
cincin pada tahun yang sama pada kondisi rendah. Peningkatan efisiensi selanjutnya
terjadi setelah tahun 2008 yang diikuti dengan pengurangan input (trip) sebesar
3,17% pada tahun 2008 dibanding tahun sebelumnya yang secara agregat diikuti
oleh peningkatan output sebesar 27,71% (Gambar 2).
Gambar 2. Perkembangan efisiensi, produksi dan trip penangkapan pukat cincin Pemangkat
periode tahun 2007 – 2013.
Hasil tangkapan total (actual catch) dan nilai kemampuan tangkap (potential
catch) pada kurun waktu tahun 2007 – 2013 merupakan hasil dari penghitungan
matematik (Gambar 3). Nilai tangkapan potensial selama kurun waktu 2007 – 2013
secara umum cenderung tidak mengalami perubahan nilai yang tajam terutama dari
mulai tahun 2008 hingga 2013. Sedangkan hasil tangkapan aktual selama periode
2007 – 2013 mengalami fluktuatif, terjadi penurunan produksi yang relatif tajam
pada tahun 2012 hingga 2013 yaitu mencapai 28% lebih penurunan produksi dari
tahun sebelumnya (2011). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut pada beberapa
95
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
tahun menunjukkan adanya excesscapacity. Kapasitas berlebih (excess capacity)
merupakan perbandingan relatif antara tingkat tangkapan potensial (maksimal)
terhadap hasil tangkapan aktual.
Gambar 3. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan pukat cincin pemangkat periode
tahun 2007-2013.
Excess capacity penangkapan pukat cincin paling tinggi terjadi pada tahun
2012 dan 2013 yaitu masing- masing 2530 ton dan 3168 ton (Gambar 4). Excess
capacity dapat terjadi bila terdapat ketidakseimbangan pasar yaitu perubahan dalam
penawaran dan permintaan, sehingga perusahaan menangkap ikan terlalu banyak
(Pascoe et.al 2003).
Gambar 4. Grafik excess fishing capacity pemanfaatan perikanan pukat Cincin di Pemangkat
2007-2013.
96
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Efisiensi Teknis Berdasarkan Musim Penangkapan
Analisis efisiensi antar unit pukat cincin (purse seine) yang berbasis di
Pemangkat, dihitung dengan pendekatan multi output (hasil tangkapan layang,
selar dan ikan lainnya) dan dikaji menurut musim penangkapan (musim barat,
timur, peralihan I dan peralihan II). Penilaian kapasitas penangkapan berdasarkan
pada data input operasional (upaya) dan hasil tangkapan armada pukat cincin yang
dihimpun enumerator pada tahun 2014. Unit alat tangkap yang dianggap efisien
secara penuh (fully efficient) adalah kapal yang mempunyai skor efisiensi sebesar
1,00 atau 100 %, pada kondisi tersebut, seluruh input dimanfaatkan penuh atau tidak
terdapat potensi peningkatan input yang digunakan.
Berdasarkan hasil perhitungan Data Envilopment Analysis (DEA) terhadap
29 kapal pukat cincin pada musim barat diperoleh rata-rata efisiensi sebesar 0,85.
Distribusi nilai efisiensi penangkapan pukat cincin tersebut adalah berkisar antara
0,01 – 1,00 didominasi oleh kapal dengan capaian nilai efisiensi optimal yaitu
sebanyak 19 kapal (65,5%) sementara kapal yang tidak efisien sebanyak 10 kapal
(34,5%).
Hasil Perhitungan DEA pada musim timur diperoleh bahwa tingkat pemanfaatan
kapasitas penangkapanpukat cincin rata-rata mencapai nilai efisiensi sebesar 0,90.
Distribusi nilai efisiensi tersebut dari 29 sampel kapal terdapat 20 kapal (69,0%)
berada pada tingkat pemanfaatan yang optimal dan yang lainnya sebanyak 9 kapal
(31,0%) tidak optimal. Nilai efisiensi yang diperoleh armada pukat cincin berkisar
antara 0,34 - 1,00
Selama musim peralihan I, diperoleh nilai efisiensi rata-rata sebesar 0,87.
Berdasarkan data pukat cincin yang aktif beroperasi di LCS pada musim peralihan
dari 28 sampel kapal diperoleh sebanyak 18 kapal (64,3%) berada pada tingkat
efiseinsi yang optimal dan yang lainnya sebanyak 10 kapal (35,7%) berada pada
tingkat yang tidak optimal (inefficiency). Nilai efisiensi tersebut yang dicapai
berkisar antara 0,30–1,00.
Selama musim peralihan II, diperoleh nilai efisiensi rata-rata sebesar 0,84.
Berdasarkan data pukat cincin yang aktif beroperasi di LCS pada musim peralihan
II dari 28 sampel kapal diperoleh sebanyak 13 kapal (46,4%) berada pada tingkat
efiseinsi yang optimal dan yang lainnya sebanyak 15 kapal (53,6%) berada pada
tingkat yang tidak optimal (inefficiency). Nilai efisiensi tersebut yang dicapai
berkisar antara 0,42–1,00.
97
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Berdasarkan pemanfaatan variabel input (VIU) yang digunakan dalam
pengoperasian pukat cincin pada musim barat, timur, peralihan I dan musim
peralihan II diperoleh masing-masing nilai rata-rata VIU berkisar antara 0,93 –0,99,
0,98 – 1,00, 0,98 – 0,99 dan 0,97 – 0,99. Berdasarkan nilai VIU yang menjadi
instrumen dalam pengendalian kapasitas pukat cincin dari ketiga musim tersebut,
secara umum menunjukkan sebagian besar berada pada tingkat pemanfaatan yang
efisien yang ditandai oleh sebagian besar pukat cincin pencapai nilai VIU mendekati
atau mencapai nilai 1,00 (Gambar 5).
Gambar 5. Distribusi pemanfaatan variabel input pukat cincin Pemangkat
pada musim barat, timur dan peralihan I dan peralihan II.
Kapasitas berlebih terjadi pada beberapa kapal pukat cincin dalam setiap musim
penangkapan. Berdasarkan hasil perhitungan DEA, berlebih (excess capacity) pada
tangkapan dominan (layang dan selar) ditunjukkan pada Gambar 6. Pada musim
barat excess capacity tertingi terhadap pemanfaatan ikan layang sebesar 4696 kg,
selar 9887 kg dan pada ikan lainnya sebesar 5008 kg. Musim timur tertinggi untuk
ikan layang sebesar 9530 kg, ikan selar 6081 kg dan pada ikan lainnya 5262 kg.
Pada musim peralihan I tertinggi dalam pemanfaatan ikan layang sebesar 7555 kg,
ikan selar 7990 dan pada ikan lainnya 9512 kg. Pada musim peralihan II excess
capacity tertinggi pemanfaatan pada ikan layang sebesar 7244 kg, terhadap ikan
selar 7423 kg dan pada ikan lainnya sebanyak 8684 kg. Nilai excess capacity yang
98
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
tinggi menunjukkan tingkat pemanfaatan dalam penggoperasian pukat cincin
tersebut kecil terhadap tangkapan potensial.
Gambar 6. Excess capacity di setiap musim dalam pemanfaatan tangkapan dominan
BAHASAN
Perikanan pukat cincin Pemangkat yang beroperasi di perairan LCS, efisiensinya
secara umum sejak tahun 2007 hingga tahun 2011 menunjukkan tren yang relatif
tinggi yaitu berkisar antara 0,78 – 1,00. Tahun 2009 mengalami peningkatan
produksi aktual yang signifikan, sementara upaya mengalami penurunan dibanding
tahun sebelumnya sehingga pada tahun 2009 nilai efisiensi tinggi (optimal).
Sebaliknya pada tahun 2012 hingga 2013 terjadi penurunan produksi yang relatif
tajam yaitu mencapai 28%, penurunan produksi dari tahun sebelumnya. Perbedaan
produksi aktual dengan produksi potensial perikanan pukat cincin terjadi selama
periode tahun 2007-2013. Apabila kapasitas perikanan dikendalikan maka produksi
perikanan pukat cincin sebenarnya mampu ditingkatkan mengikuti grafik produksi
potensial. Misal pada tahun 2012 dan 2013 masing-masing potensi output 47% dan
68% lebih besar dari produksi aktual yaitu masing-masing 2530 ton dan 3168 ton.
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat eksploitasi pukat cincin di LCS pada tahun 2012
dan 2013 kecil, yaitu 68% dan 60% dari hasil yang seharusnya optimal. Dengan
99
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
demikian mengurangi kapasitas sebesar 32% pada tahun 2012 dan 40% tahun 2013
akan memungkinkan output diproduksi secara optimal.
Uji model DEA untuk menentukan angka efisiensi sebagai indikator penilaian
kapasitas penangkapan.Pengukuran pemanfaatan kapasitas unit pukat cincin
dilakukan pula dengan membandingkan efisiensi antar unit alat tangkap yang sejenis
yang aktif beroperasi. DEA dapat digunakan untuk menghitung perbaikan angka
efisiensi, yang secara prinsip adalah dengan mengurangi input atau menambah
output (Cooper et al., 2004).
Kondisi faktual penangkapan ikan pelagis dengan pukat cincin Pemangkat
yang beroperasi di LCS, mencapai efisiensi yang optimal pada musim barat, musim
timur dan musim peralihan I sebagian besar yang ditandai oleh nilai efisiensi teknis
(TE) mencapai 1,00. Rata-rata efisiensi dari keempat musim penangkapan (barat,
timur, peralihan I dan peralihan II) yaitu masing masing 0,85, 0,90, 0,87 dan
0,84. Persentase kapal pukat cincin yang mencapai efisiensi optimal (nilai TE 1,00)
pada keempat musim penangkapan masing-masing 65%, 69%, 64% dan 46%. Hal
ini menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan pukat cincin di Pemangkat telah
memanfaatkan kapasitas penangkapan secara optimal dalam pemanfaatan teknologi
yang ada terutama pada musim barat, timur dan peralihan I. Pada musim peralihan
II beberapa kapal pukat cincin yang beroperasi dibawah tingkat kapasitasnya atau
mengalami pemanfaatan kapasitas input yang rendah. Perbedaan capaian efisiensi
kemungkinan terkait dengan perbedaan lokasi penangkapan, perbedaan dalam
keterampilan awak kapal/nakhoda, perbedaan usia kapal, atau alat bantu navigasi
dan lainnya yang berbeda (Cunningham & Greboval, 2001). Nelayan dikatakan
melakukan penangkapan secara efisien jika produksi ikan yang diperoleh pada saat
penangkapan mendekati potensi maksimum. Berdasarkan hasil analisis potensi
output secara keseluruhan yang sesuai kapasitas pukat cincin di Pemangkat adalah
pada musim barat 18%, timur 11%, peralihan I 15% dan musim peralihan II 19%
lebih besar dari produksi aktual.
KESIMPULAN
Selama kurun waktu antara 2007 – 2013, perikanan pukat cincin Pemangkat
melakukan kegiatan operasi penangkapan rata-rata 86% dari kapasitas optimal
yang dimiliki, dengan demikian perikanan pukat cincin mengalami excess capacity
sebesar 14%. Tingkat eksploitasi pukat cincin yang beroperasi di Laut Cina Selatan
100
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(Natuna) pada tahun 2012 dan 2013 sekitar 68% dan 60% terhadap hasil tangkapan
potensial. Tingkat efisiensi pukat cincin di Pemangkat pada musim timur lebih tinggi
dibandingkan pada musim barat, peralihan I dan II dengan persentase kapal pukat
cincin yang mencapai efisiensi optimal (nilai TE 1,00) lebih banyak. Sementara
musim peralihan I sedikit lebih tinggi dibanding musim barat dan peralihan II.
Pemanfaatan kapasitas pukat cincin pada musim barat, timur, peralihan I dan musim
peralihan II masing-masing sebesar 85%, 90%, 87% dan 84% dari tangkapan
potensial. Rendahnya tingkat pemanfaatan potensial pada musim peralihan II
menunjukkan adanya excess capacity yang tinggi dibanding pada musim lainnya.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi hasil penelitian “Pengkajian Kapasitas
Penangkapan Perikanan Pukat Ikan dan Pukat Cincin di Selat Malaka dan Laut
Cina Selatan (WPP 571 dan WPP 711)” Tahun Anggaran 2014 di Balai Penelitian
Perikanan Laut Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, S.B. & D. Nugroho, 2004. Karakteristik parameter populasi ikan siro
(Ambligaster sirm, Clupeidae) dan model terapan Beverton & Holt di
Laut natuna dan Sekitarnya. JPPI. Edisi Sumberdaya dan Penangkapan.
10 (4). 21-27.
Cooper WC, Seiford, LM, Tone, Kaoru, 2004. Data Envelopment Analysis.
Massachusets: Kluwer Academic Publisher.
Cunningham, S & D.Greboval, 2001.Managing Fishing Capacity.A Review of
policy and Technical issue. FAO and Agricultural Organisation of The
United nations. 54 p
Hariati et al., 2005.Ikan Layang biru (Decapterus macarellus), salah satu spesies
ikan pelagis kecil laut dalam di Indonesia.Warta Penelitian Perikanan
Indonesia.Vol 2 No 5: 15-18.
Pascoe, S., James, E. K., Greboval, D and C. J. Morrison-Paul, 2003.Measuring and
Assessing Capacity in Fisheries. 2. Issues and Methode. FAO Fisheries
Technical Paper No. 443/2. Rome. 130 pp.
101
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Suwarso, A. Zamroni, & Wudianto. 2008. Biologi produksi dan dugaan musim
pemijahan ikan pelagis kecil di Laut Cina Selatan. J. Lit. Perikan. Ind
14(4): 379-391.
Wiyono ES dan Wahju RI.
2006. Penghitungan Kapasitas Penangkapan
(Fishing Capacity) pada Perikanan Skala Kecil pantai. Suatu penelitian
Pendahuluan. Prosiding Seminar Nasional Perikanan Tangkap. Bogor.
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hlm.381-389.
Zheng, Yi & Qi Zhou, Ying, 2005, Measures of the Fishing Capacity of Chinese
Marine Fleets and Discussion of the Methods, www.terrapub.co.jp
diakses tanggal 10 Mei 2011
102
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
BIOLOGI REPRODUKSI DAN KEBIASAAN
MAKAN IKAN KAKAP (Lutjanus vitta) DI PERAIRAN NATUNA
DAN SEKITARNYA, LAUT CINA SELATAN (WPP-NRI 711)
Oleh
Prihatiningsih, Nur’ainun Muchlis dan Muhammad Taufik
ABSTRAK
Penangkapan ikan kakap yang terus berlangsung akan menyebabkan
terganggunya stok sumberdaya ikan kakap di perairan Natuna. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui kondisi stok sumberdaya ikan kakap dari aspek biologi reproduksi
dan kebiasaan makan. Pengambilan contoh ikan kakap dilakukan di Kijang, Bintan
(Kepulauan Riau) bulan Maret, April, Mei, Agustus dan September 2014. Contoh
ikan kakap diperoleh dari hasil tangkapan menggunakan bubu ikan dan pancing
ulur no 8 dan 9 pada kedalaman 70-90 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ikan kakap yang ditemukan relatif berukuran besar berkisar 11,0 sampai dengan
36,3 cmTL dengan rata-rata 21,51 cmTL. Pola pertumbuhan ikan kakap bersifat
allometrik negatif dan faktor kondisi berkisar 1,24 – 1,39. Nisbah kelamin antara
jenis kelamin jantan dan betina umumnya seimbang. Musim pemijahan ikan kakap
diduga terjadi pada bulan Maret. Pola pemijahannya bersifat total spawner dan
memiliki potensi reproduksi yang cukup besar dengan fekunditas 11.220 – 323.310
butir telur. Kebiasaan makan ikan kakap bersifat karnivora umumnya jenis krustasea
dimana makanan utamanya adalah udang kipas (Squilla sp) sebesar 44%, makanan
pelengkapnya adalah udang (Penaeidae) sebesar 38% dan makanan tambahannya
adalah kepiting (Portunus spp) 11% dan udang rebon (Mysis spp) 7%.
KATA KUNCI : Biologi reproduksi, ikan kakap (Lutjanus vitta), perairan
Natuna.
103
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Ikan kakap (Lutjanus vitta) merupakan kelompok ikan demersal dari famili
Lutjanidae. Ikan kakap ini banyak tertangkap oleh bubu ikan dan pancing ulur.
Ikan kakap selain dikonsumsi secara lokal juga di ekspor ke negara tetangga yaitu
Singapore dan Malaysia karena Kepulauan Riau letak geografisnya berdekatan
dengan negara tersebut.
Kegiatan penangkapan ikan demersal di perairan Laut Natuna yang didaratkan
di Kabupeten Bintan – Kepulauan Riau mengalami peningkatan dari tahun 20082011. Dengan meningkatnya produksi dan kegiatan penangkapan, dikhawatirkan stok
ikan tersebut akan menipis, Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka sumberdaya
ikan disuatu perairan harus dikelola secara rasional, dengan memperhatikan aspek
biologi, ekonomi, ekologi dan sosial (Widodo & Suadi, 2006) sehingga tercapai
pengembangan perikanan ikan kakap yang berkelanjutan dan lestari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi stok ikan kakap dari aspek
biologi reproduksi diantaranya sebaran ukuran panjang, hubungan panjang berat,
faktor kondisi, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan
gonad, fekunditas, diameter telur, dan kebiasaan makan ikan kakap di perairan
Natuna (Laut Cina Selatan) untuk digunakan dalam bahan pengkajian stok dan
sebagai dasar pengembangan pengelolaannya.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan (Maret, April, Mei, Agustus dan
September) tahun 2014. Lokasi penangkapan merupakan daerah penangkapan di
sekitar perairan Laut Natuna dengan kedalaman 70-90 meter. Daerah ini umumnya
merupakan perairan karang yang sebagian besar merupakan habitat ikan kekakapan.
Pengumpulan Data
Pengambilan contoh ikan kakap dilakukan di Tempat Pendaratan Ikan
(Tangkahan) Kijang, Bintan (Kepulauan Riau). Analisis sampel dilakukan di
Laboratorium Balai Penelitian Perikanan Laut – Jakarta. Contoh ikan kakap
104
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
diperoleh dari hasil tangkapan menggunakan bubu ikan dan pancing ulur dengan
mata pancing no 8 dan 9. Contoh panjang ikan diukur dengan ketelitian 0,1 cm
dan berat individu dengan ketelitian 1,0 gram. Gonad ikan kakap diawetkan dengan
menggunakan larutan gilson. Gambar ikan kakap disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1 . Ikan kakap (Lutjanus vitta) di perairan Natuna tahun 2014.
.
ANALISIS DATA
Hubungan panjang-berat
Hubungan panjang-berat mengacu pada Effendie (1979) dengan formula:
W = aLb .........................................................................................................(1)
dimana :
W = berat
L = panjang
a = intersep (perpotongan kurva hubungan panjang-berat dengan sumbu Y)
b = ”slope”
Untuk menguji nilai b = 3 atau b ≠3 dilakukan uji –t (uji parsial), dengan
hipotesis:
H0 : b = 3, hubungan panjang dan berat adalah isometrik
H1 : b ≠3, hubungan panjang dengan berat adalah allometrik yaitu :
Pola hubungan panjang-berat bersifat allometrik positif, bila b > 3 (pertambahan
105
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
berat lebih cepat daripada pertambahan panjang), dan allometrik negatif, bila b < 3
(pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat).
Faktor kondisi
Perhitungan faktor kondisi berdasarkan pada panjang dan berat ikan. Setelah
pola pertumbuhan panjang diketahui, nilai faktor kondisi dapat dihitung. Faktor
kondisi ikan kakap dihitung dengan rumus (Effendie, 1979):
Kn = 102 W/L3 …………………………………….…………............……...(2)
ikan
Dimana: Kn = faktor kondisi; W = bobot rata-rata ikan; L = panjang rata-rata
Nisbah kelamin
Nisbah kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan kakap
jantan dengan jumlah ikan kakap betina dengan menggunakan uji chi-square (Steel
& Torrie, 1993) dengan rumus :
………………………..………….........………...........….(3)
dimana ;
Oi = Jumlah frekuensi ikan jantan dan betina;
ei = Jumlah ikan jantan dan betina harapan pada sel ke-1;
k = kelompok stasiun pengamatan untuk ikan jantan dan betina yang
ditemukan.
Tingkat kematangan gonad (TKG)
Perkembangan TKG diamati secara makroskopis (visual) dengan cara
melihat perubahan morfologi gonad serta pengamatan secara mikroskopis yaitu
histologi dengan metode parafin dan pewarnaan hematoxylin - eosin. Secara visual
/ makroskopis dengan menggunakan kaca pembesar (lup). Tanda-tanda yang
digunakan dalam membedakan jenis kelamin yaitu untuk ikan betina adalah bentuk
ovari, besar kecil ukuran ovari, pengisian ovari dalam rongga tubuh dan warna
ovari. Sebaliknya, untuk ikan jantan yaitu bentuk testis, ukuran testis, pengisian
testis dalam rongga tubuh, serta warna testis. Penentuan tingkat kematangan gonad
dilakukan berdasarkan atas acuan Holden & Raitt (1974), yang terdiri atas lima
tingkatan (Tabel 1).
106
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Tingkat kematangan gonad ikan
Tingkat kematangan gonad/
Keterangan/Remarks
Gonad maturity stage
I (belum matang)
Ovarium dan testes, panjang 1/3 rongga perut. Ovarium
transparan dan kemerahmerahan.
Telur tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
II (belum matang)
Panjang ovarium sekitar 1/2 rongga perut. Ovarium
transparan dan kemerahmerahan.
Telur belum dapat dilihat dengan mata biasa.
III (matang)
Panjang ovarium dan testes sekitar 2/3 rongga perut.
Warna ovarium pink-kuning
dan butiran telur sudah tampak.
IV (matang)
Panjang ovarium 2/3 memenuhi rongga perut. Ovarium
berwarna orange dengan
pembuluh darah sudah mulai kurang jelas. Transparan
dan butiran telur terlihat jelas.
V
Ovarium mengerut sampai panjang 1/2 rongga perut
sebagai tanda pemijahan tetapi
(spent)
ada butir-butir telur.
Sumber/sources : Holden & Raitt (1974)
Secara mikroskopis yaitu perkembangan oosit dibagi menjadi lima stadium
berdasarkan klasifikasi Kuo et al. (1974), yaitu stadium I (oosit primer mempunyai
khromatin nukleolus dan perinukleolus); stadium II (terdapat vesikel pada kuning
telur); stadium III (terdapat globula pada kuning telurnya); stadium IV (stadium
matang telur, ditandai dengan bergeraknya inti sel dari tengah ke tepi) dan stadium
V (disebut stadium atretis; gonad berbentuk kecil, telur belum dapat dibedakan oleh
mata biasa,ukuran menyusut, berwarna kemerahan).
Indeks kematangan gonad (IKG)
Indeks kematangan gonad (IKG) didapat melalui rumus yang diuraikan
Effendie (1979), yaitu :
107
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
IKG dimana ;
IKG Bg
Bt
x 100%....................................................................................(4)
: Indeks kematangan gonad (%)
: Berat gonad ikan (gram)
: Berat total ikan (gram).
Fekunditas dan diameter telur
Penghitungan fekunditas ikan kakap dilakukan dengan mengambil gonad ikan
kakap yang sudah mencapai TKG III dan IV. Pengukuran ukuran diameter dan
jumlah telur dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 4x10. Dalam
penelitian ini contoh telur seberat 0.1 gram kemudian diteliti sebaran ukuran telur
dan jumlah telurnya. Fekunditas dihitung secara gravimetri dengan rumus Holden
& Raitt (1974) :
F =
nxGxV g
.................................................................................... (5)
dimana :
F = fekunditas; n = jumlah telur dalam sub sample;
V = volume pengenceran
G = berat gonad;
g = berat gonad sub sample (0.1 gram).
Analisis kebiasaan makan
Evaluasi jenis makanan dengan menggunakan indeks bagian terbesar (index
of preponderance) merupakan gabungan dari dua metode, yaitu metode frekuensi
kejadian dan metode gravimetrik. Metode ini dikembangkan oleh Natarjan &
Jhingram (1961) dalam Effendie (1979) dengan rumus :
IP (%) = [(Vi*Oi)/∑(Vi*Oi)]*100% ...........................................................(6)
dimana:
IP = indeks bagian terbesar (index of preponderance)
Vi = persentase volume makanan ikan jenis ke-i
Oi = persentase frekuensi kejadian makanan jenis ke-i.
108
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL DAN BAHASAN
HASIL
Sebaran ukuran panjang
Ikan kakap (Lutjanus vitta) yang diamati dari perairan Natuna (Laut Cina
Selatan) yang didaratkan di Kijang, Bintan-Kepulauan Riau berjumlah 1.589 ekor.
Ukuran terkecil terdapat pada ukuran panjang 11,0 cmTL dan terbesar pada ukuran
panjang 36,3 cmTL dengan rata-rata 21,51 cmTL (Gambar 2).
Gambar 2. Sebaran ukuran panjang ikan kakap (L. vitta) di perairan Natuna dan sekitarnya.
Hubungan panjang-berat
Pola pertumbuhan ikan kakap dengan menggunakan alat tangkap bubu ikan
dan pancing ulur secara keseluruhan dari 316 sampel ikan bersifat allometrik
negatif dengan nilai b sebesar 2,911 dan koefesien determinasi (R2) sebesar 0,949
dan koefesien korelasi (r) sebesar 0,974 sehingga terjadi hubungan yang sangat erat
antara variabel panjang dan berat ikan kakap. Dengan memisahkan antara jenis
kelamin jantan dan betina, maka hubungan panjang berat ikan kakap jenis kelamin
jantan dan betina adalah allometrik negatif dengan nilai b, koefesien determinasi
(R2) dan koefesien korelasi (r) masing-masing sebesar 2,905; 0,953; 0,976 (jantan)
dan 2,946; 0,962; 0,981 (betina). Dapat dikatakan bahwa pertambahan panjang ikan
kakap lebih cepat dibandingkan pertambahan beratnya (Gambar 3).
109
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 3. Hubungan panjang berat ikan kakap (L. vitta) di perairan Natuna.
Faktor kondisi
Faktor kondisi menunjukkan keadaan ikan dilihat dari kapasitas fisik untuk
kelangsungan hidup dan reproduksi dan dari segi komersil berupa kualitas dan
kuantitas daging ikan untuk dikonsumsi. Faktor kondisi ikan kakap disajikan pada
Gambar 4. Faktor kondisi ikan kakap berkisar 1,24 – 1,39 dengan rata-rata 1,34
terkecil pada bulan Agustus dan terbesar pada bulan September.
Gambar 4. Faktor kondisi ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya.
110
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Nisbah Kelamin (Sex ratio)
Berdasarkan hasil pengamatan bulan Maret, perbandingan nisbah kelamin
antara ikan kakap jantan dan betina yaitu 2,61 : 1,0 (72,3% : 27,7%), artinya dialam
populasi jenis kelamin jantan 2 kali lebih banyak dibandingkan jantan. Bulan April
dan Mei , perbandingan nisbah kelamin jantan dan betina masing-masing 1,0 :
1,3 (42% : 58%) dan 1,2 : 1,0 (54,7% : 45,3%) dalam keadaan seimbang. Bulan
September juga perbandingan jenis kelaminnya dalam keadaan seimbang yaitu 1,1 :
1,0 (53,9% : 46,0% (Gambar 4). Dengan demikian secara keseluruhan nisbah kelamin
jantan dan betina ikan kakap dalam keadaan seimbang yaitu 1,0:1,1 (47,9%:52,0%).
Gambar 4. Nisbah kelamin ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya.
Tingkat kematangan gonad (TKG)
Komposisi TKG ikan kakap yang diamati pada jenis kelamin jantan bulan Maret
menyebar pada TKG I – IV didominasi oleh stadia III-IV dengan persentasi 46,2%.
Bulan April menyebar pada stadia I-IV didominasi oleh stadia II dengan presentasi
sebesar 54,54%. Bulan Mei, TKG menyebar pada stadia I – V didominasi oleh stadia
II dengan presentasi 38,46% namun ditemukan stadia V yang menandakan akan
terjadi musim pemijahan. Bulan Agustus dan September TKG menyebar pada stadia
I – III didominasi oleh stadia I sebanyak 45,0%.
Pada jenis kelamin betina, TKG ikan kakap pada bulan Maret dan April
menyebar pada stadia I-IV didominasi stadia III sebesar 67,6% (Maret) dan
pengamatan bulan April didominasi oleh stadia II sebesar 50,0%. Bulan Mei, TKG
menyebar pada stadia I-V didominasi oleh stadia III dengan presentasi sebesar
111
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
30,95%. Bulan Agustus dan September TKG menyebar pada stadia I – IV, bulan
Agustus didominasi stadia III (38,46%) dan bulan September didominasi stadia II
(55,0%) (Gambar 5).
Gambar 5. Tingkat kematangan gonad ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya.
Indeks kematangan gonad (IKG)
Rata-rata nilai indeks kematangan gonad ikan kakap betina tertinggi terjadi
pada bulan Maret (1,77) dan terendah pada bulan Agustus (0,57). Indeks kematangan
gonad ikan kakap disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6. Indeks kematangan gonad ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya.
112
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Fekunditas dan diameter telur
Fekunditas ikan kakap yang diamati memiliki kisaran 11.220 – 323.310
butir telur dengan rata-rata 77.098 butir telur setiap satu induk betinanya. Nilai
fekunditas terendah (11.220 butir telur) terdapat pada ukuran ikan 23,6 cmTL dan
tertinggi (323.310 butir telur) terdapat pada ukuran ikan 31,2 cmTL. Gambar 7
memperlihatkan hubungan antara fekunditas dengan panjang total ikan kakap yang
menunjukkan koefesien determinasi atau nilai model observasi (R2) sebesar 0,252.
Gambar 7. Hubungan antara fekunditas dan panjang total ikan kakap di perairan Natuna dan
sekitarnya..
Pola pemijahan ditentukan berdasarkan analisis ukuran diameter telur. Di
bawah ini merupakan sebaran frekuensi diameter telur ikan kakap yang
diamati untuk menduga pola pemijahan. Diameter telur ikan kakap berkisar pada 51,5 – 567,01 µm (Gambar 8).
Gambar 8. Sebaran diameter telur ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya.
113
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ikan kakap bersifat karnivora dimana makanan utamanya
adalah krustasea jenis udang kipas (Squilla sp) sebesar 44%, makanan pelengkapnya
adalah udang (Penaeidae) sebesar 38% dan makanan tambahannya adalah kepiting
(Portunus spp) 11% dan udang rebon (Mysis spp) 7% (Gambar 9).
isi lambung
Lutjanus vitta
Kepiting (Portunus spp)
11%
38%
Udang kipas (Squilla spp)
44%
7%
rebon (Mysis spp)
udang (Penaeidae)
Gambar 9 . Kebiasaan makan ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya
BAHASAN
Ikan kakap, Lutjanidae vitta dengan nama lain The brownstripe Snapper adalah
salah satu sumberdaya ikan demersal cukup potensial, umumnya ditangkap
oleh alat tangkap pukat ikan, pancing dan bubu ikan biasanya hidup di kedalaman
30-100 m. Sebaran ukuran panjang ikan kakap menyebar normal berkisar antara
11,0 cmTL sampai dengan 36,3 cmTL dengan rata-rata 21,51 cmTL. Hasil penelitian
ini lebih besar dibandingkan dengan hasil penelitian Ramachandran et al., (2014) di
perairan India berkisar antara 9,0 – 31,8 cm. Menurut Longenecker et al., (2010),
ikan kakap, Lutjanus vitta memiliki rata-rata panjang 15 cm dan panjang maksimum
37 cm.
Hubungan panjang berat ikan kakap secara keseluruhan maupun berdasarkan
jenis kelamin jantan dan betina bersifat allometrik negatif dengan persamaan
W=0,01L2,911 (keseluruhan), W=0,018L2,905 (jantan), dan W=0,015L2,946 (betina)
yang artinya pola pertambahan panjang ikan kakap lebih cepat dari pertumbuhan
114
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
beratnya. Hal ini sama dengan hasil penelitian Usman et al., (2014) pada jenis ikan
yang berbeda namun masih dalam satu famili Lutjanidae yaitu ikan kakap merah
(Lutjanus spp.) di perairan utara Cirebon-Laut Jawa menunjukkan pola pertumbuhan
allometrik negatif, namun berbeda dengan Ramachandran et al., (2014) di perairan
India bahwa pola pertumbuhan ikan kakap, lutjanus vitta bersifat issometrik.
Nilai faktor kondisi ikan kakap rata-rata memiliki bentuk tubuh kurang pipih
berkisar 1,24 – 1,39 dengan rata-rata 1,34 terkecil pada bulan Agustus dan terbesar
pada bulan September. Effendie (1979) menyatakan bahwa nilai K berkisar 2 - 4
apabila badan ikan agak pipih dan berkisar 1 - 3 apabila badan ikan kurang pipih.
Nilai faktor kondisi ikan kakap selama 5 bulan cenderung berfluktuatif. Besarnya
nilai faktor kondisi pada bulan Mei dan September terjadi pada saat ikan mengisi
gonadnya dengan sel kelamin, dan akan mencapai puncaknya sebelum terjadi
pemijahan.
Nisbah kelamin ikan kakap antara jenis kelamin jantan dan betina adalah
seimbang yaitu 1,0:1,1 (47,9%:52,0%). Ball & Rao (1984) menyatakan bahwa ratio
kelamin merupakan perbandingan ikan betina dan jantan dalam suatu populasi,
dimana nisbah 1:1 (50% betina dan 50% jantan) merupakan kondisi yang ideal
sehingga sangat baik untuk keberlangsungan rekruitman individu dalam populasi
ikan kakap di Laut Natuna. Umumnya perbedaan jumlah ikan yang tertangkap
berkaitan dengan pola tingkah laku ruaya ikan, baik untuk memijah maupun mencari
makan.
Tingkat kematangan gonad adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum
dan sesudah ikan memijah. Pengetahuan mengenai kematangan gonad diperlukan
untuk menentukan atau mengetahui perbandingan antara ikan yang matang gonadnya
dengan ikan yang belum matang gonad dari stok yang ada di perairan, selain itu dapat
diketahui ukuran atau umur ikan pertama kali matang gonad, mengetahui waktu
pemijahan, lama pemijahan dan frekuensi pemijahan dalam satu tahun (Effendie,
1979).
Ikan kakap jenis kelamin jantan dan betina pada bulan Maret memiliki
komposisi perkembangan kematangan gonad yang lebih besar dibandingkan bulan
lainnya dimana TKG jantan didominasi oleh stadia III-IV dengan persentasi 46,2%
dan jenis kelamin betina, TKG ikan kakap didominasi stadia III sebesar 67,6%.
Dalam biologi perikanan, Effendie (1997) menyatakan bahwa pencatatan perubahan
atau tahap-tahap kematangan gonad ikan diperlukan untuk mengetahui perbandingan
115
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang tidak. Dari pengetahuan tahap
perkembangan gonad ini juga akan didapatkan keterangan bilamana ikan tersebut
akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah.
Indeks kematangan gonad (IKG) merupakan suatu informasi untuk mengetahui
perubahan yang terjadi dalam gonad secara kuantitatif. Melalui IKG ini dapat
dinyatakan adanya perubahan yang terjadi dalam gonad. Rata-rata nilai IKG gonad
ikan kakap betina tertinggi terjadi pada bulan Maret (1,77) dan terendah pada bulan
Agustus (0,57).Berdasarkan data TKG dan IKG, diduga pemijahan ikan kakap di
perairan Natuna yang didaratkan di Kijang terjadi pada bulan Maret.
Fekunditas adalah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada saat ikan
memijah (Effendie 1997). Berdasarkan hasil pengamatan, fekunditas ikan kakap
yang diamati berkisar 11.220 – 323.310 butir telur. Umumnya ikan teleostei perairan
laut memiliki tingkat fekunditas tinggi, mencapai ribuan sampai jutaan setiap ikan
betinanya pertahun. Nilai fekunditas yang tinggi ini berarti ikan kakap memiliki
potensi reproduksi yang tinggi pula, sehingga berpengaruh pula pada tingginya
kesedian stok dan rekruitmen ikan kakap. Hubungan antara panjang ikan dan
fekunditas ikan kakap menunjukkan bahwa hanya 25,2% dari keragaman nilai
fekunditas ikan kakap yang dapat dijelaskan oleh panjang total. Nilai koefesien
korelasi (r) adalah akar dari R2 yaitu sebesar 0,502. Nilai r menujukkan bahwa
keeratan hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 50%.
Diameter oosit telur ikan kakap berkisar 51,5 – 567,01 µm. Berdasarkan
sebaran frekuensi diameter telur dapat diketahui bahwa terdapat hanya satu modus
ukuran diameter telur. Diameter telur ini bervariasi dengan ukuran yang berbeda,
maka dapat diindikasikan bahwa pola pemijahan adalah total spawner atau telur
yang sudah matang dikeluarkan sekaligus dalam suatu periode pemijahan dan akan
melakukan pemijahan kembali pada musim pemijahan berikutnya. Ikan kakap
berdiameter tebanyak berkisar pada ukuran 351 µm yaitu berjumlah 286 butir
(28,99%). Diameter telur ikan kakap, Lutjanus vitta di perairan Natuna jauh lebih
kecil bila dibandingkan dengan diameter oosit pada L. malabaricus di Kupang
maupun di Sape kurang lebih berukuran 500-600μ (tingkat V) (Andamari et al.,
2004), L. sebae (950 µm) dan L. argentimaculatus (870 µm) yang memijah di Balai
Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol (Suastika et al., 2003). Ukuran telur
masak yang ada dalam ovarium berbeda-beda (Gambar 8). Hal ini menunjukkan
bahwa waktu pemijahan terus menerus pada kisaran waktu yang lama. (Hoar 1957
in Siregar 2004) menyatakan bahwa Lama pemijahan pada ikan dapat diduga dari
116
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ukuran dameter telur. Jika waktu pemijahan pendek, maka semua telur masak yang
ada di ovarium berukuran sama, dimana ukuran ini berbeda dengan ukuran telur pada
saat folikel masih muda. Tetapi bila waktu pemijahan terus menerus pada kisaran
waktu yang lama, maka ukuran telur masak yang ada dalam ovarium berbeda-beda.
Kebiasaan makanan ikan dipelajari untuk menentukan gizi alamiah ikan dan
dapat dilihat hubungan ekologi di antara organisme di dalam perairan itu, misalnya
bentuk-bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan (Effendie, 1997). Hasil
analisa isi lambung (stomach content) ikan kakap bersifat karnivora dimana makanan
utamanya adalah krustasea jenis udang kipas (Squilla sp) sebesar 44%, makanan
pelengkapnya adalah udang (Penaeidae) sebesar 38% dan makanan tambahannya
adalah kepiting (Portunus spp) 11% dan udang rebon (Mysis spp) 7% di mana jenis
makanan tersebut merupakan jenis makanan yang banyak tersedia di perairan Laut
Natuna, sehingga dapat disimpulkan bahwa perairan tersebut merupakan habitat
tumbuh dan berkembang yang baik bagi Lutjanus vitta.
KESIMPULAN
Pola pertumbuhan ikan kakap di perairan Natuna dan sekitarnya bersifat
allometrik negatif, dan nisbah kelamin antara jenis kelamin jantan betina adalah
seimbang, dengan musim pemijahan terjadi pada bulan Maret. Pola pemijahan ikan
kakap adalah total spawner dan memiliki potensi reproduksi yang cukup besar
dengan fekunditas berkisar 11.220 – 323.310 butir telur dan hanya 25,2% dari
keragaman nilai fekunditas ikan kakap yang dapat dijelaskan oleh panjang total.
Kebiasaan makan ikan kakap bersifat karnivora.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan riset: Pengkajian stok dan optimasi
pemanfaatan sumberdaya perikanan demersal untuk mendukung industrialisasi di
WPP 571-Selat Malaka dan WPP 711 Laut Cina Selatan Jawa di Balai Penelitian
Perikanan Laut. Tahun 2014.
117
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DAFTAR PUSTAKA
Andamari, R. , D. Milton, T. Van Der Velde, B. Sumiono. 2004. Pengamatan aspek
biologi ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dari perairan Sape dan
Kupang. JPPI Sumber Daya dan Penangkapan Vol.10 No.4
Effendie, H. M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor,112
pp.
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.
Holden, M. J. & Raitt. D. F. S. (eds.). 1974. Manual of Fisheries Sciences. Part
2. Methods of Resource Investigation and Their Application. FAO Fish.
Tech pap., (115). Rev. 1 : 214 pp.
Kuo, C.M., C.E. Nash & Z. H. Shehadeh. 1974. A Procedural guide to induce
spawning in grey mullet (Mugil cephalus L.). Aquaculture, 3: 1 – 14.
Longenecker, K., R. Langson, H. Bolick & A. Allison. 2010. Population size
structure and rapid reproductive analysis of exploited reef fish population
at Kamiali Wildlife management Area, Papua New Guinea. Bishop
Museum Technical Report 52. Honolulu, Hawaii.
Ramachandran, S., D.M. Ali & Benjamin C.V. 2014. Age, growth and mortality
of brownstripe snapper Lutjanus vitta (Quoy & Gaimard, 1824) from
Southwest coast of India. J. Mar. Biol. Ass. India, 55 (2), 61-68.
Suastika, M., P.I. Imanto, & A. Priyono. 2003. Catatan aspek biologi pemeliharaan
induk ikan kakap merah di Balai Besar Riset Perikanan Gondol, Bali.
2003 (belum diterbitkan).
Steel, R. G. D. & H. Torrie, 1993. Prinsip dan Prosedur statistika Suatu Pendekatan
Biometrik. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri. Edisi Kedua. PT.
Gramedia Pustaka Utama, jakarta. 333 pp.
Usman. A, O.K. Sumadhiharga, M.P. Patrial, 2014. Pengelelolaan sumberdaya ikan
kakap merah (Lutjanus spp.) di perairan Utara Cirebon, laut Jawa. Jurnal
Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5 No 1: 65-74 p.
118
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KARAKTERISTIK BIOLOGI IKAN KURISI (Nemipterus furcosus)
DI PERAIRAN BANGKA DAN SEKITARNYA,
LAUT CINA SELATAN (WPP-NRI 711)
Oleh
Nur’ainun Muchlis dan Prihatiningsih
ABSTRAK
Ikan kurisi merupakan salah satu jenis ikan demersal yang memiliki nilai
ekonomis yang penting karena permintaan yang cukup tinggi khususnya oleh
konsumen lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek
biologi ikan kurisi serta kebiasaan makannya.Penelitian ini dilakukan di tempat
pendaratan ikan Pelabuhan Perikanan Pantai Sungailiat pada bulan Februari –
Nopember 2014. Data yang dikumpulkan meliputi pengukuran panjang dan berat
ikan kurisi yang didaratkan, rasio kelamin, serta kebiasaan makan. Hasil penelitian
menunjukkan sebaran ukuran panjang ikan kurisi yang berkisar antara 11,9 – 27,9 cm
FL dengan rata-rata 15,9 - 17,9 cm FL dengan puncak modus pada ukuran panjang
15,9 cm FL. Rata-rata ukuran panjang pertama kali tertangkap (Lc) ikan kurisi
(Nemipterus furcosus) diperoleh nilai Lc = 17.832 cm FL. Hasil analisa isi lambung
ikan kurisi (Nemipterus furcosus) menunjukkan makanan utamanya adalah kepiting,
beberapa jenis udang dan ikan hancur, sementara makanan tambahan adalah cumicumi dengan persentase kemunculan kurang dari 10 %.
Kata kunci : Aspek biologi, kebiasaan makan, kurisi, Bangka
PENDAHULUAN
Ikan kurisi merupakan salah satu jenis ikan demersal yang memiliki nilai
ekonomis cukup tinggi khususnya di perairan Bangka dan sekitarnya. Nilai
ekonomis yang tinggi di dasarkan atas permintaan yang cukup tinggi khususnya
oleh konsumen lokal. Ikan kurisi (Nemipterus furcosus) yang didaratkan di PPN
119
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Sungailiat umumnya tertangkap oleh pancing. Pemanfaatan sumberdaya yang
berlebih dapat memicu terjadinya kondisi lebih tangkap (over fishing). Kegiatan
penangkapan yang sesuai dengan daya dukung dapat menjamin kelestarian dengan
didukung oleh informasi mengenai ukuran pertama kali tertangkap dan ukuran
pertama kali memijah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biologi
ikan kurisi meliputi sebaran ukuran panjang, hubungan panjang berat, pendugaan
rata-rata ukuran pertama kali matang gonad (Lm), nisbah kelamin dan kebiasaan
makan.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di tempat pendaratan ikan Pelabuhan Perikanan
Pantai Sungailiat pada bulan Februari – Nopember 2014 (Gambar 1). Data yang
dikumpulkan meliputi pengukuran panjang dan berat ikan kurisi yang didaratkan,
rasio kelamin, serta kebiasaan makan.
Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel ikan di PPN Sungailiat
120
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Analisis Data
Hubungan Panjang-Berat
Hubungan panjang-berat mengacu pada effendie (1997) dengan formula :
W = aLb …………………………………………………..……..........……….. (1)
Dimana :
W = Berat
L = Panjang
a = Intersep (Perpotongan kurva hubungan panjang-berat dengan sumbu Y)
b = Kemiringan (Slope)
Untuk menguji nilai b = 3 atau b ≠ 3 dilakukan uji –t (uji parsial), dengan hipotesis :
H0 : b = 3, hubungan panjang dengan berat adalah isometrik
H1 : b ≠ 3, hubungan panjang dengan berat adalah allometrik yaitu :
Pola hubungan panjang-berat bersifat allometrik positif, bila b > 3 (pertambahan
berat lebih cepat daripada pertambahan panjang), dan allometrik negatif, bila b< 3
(pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat).
Sebaran frekuensi panjang
Perhitungan frekuansi panjang dilakukan dengan melihat nilai rata-rata panjang
ikan kurisi dan persentase kemunculan dari tiap rata-rata panjang ikan selama satu
tahun pengamatan.
Nisbah Kelamin
Nisbah kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan kurisi
jantan dengan jumlah ikan kurisi betina dengan menggunakan uji chi-square (Steel
dan Torrie, 1993) dengan rumus :
…………………………...........................………….(2)
dimana ;
Oi = Jumlah frekuensi ikan jantan dan betina;
ei = Jumlah ikan jantan dan betina harapan pada sel ke-1;
k
= kelompok stasiun pengamatan untuk ikan jantan dan betina yang
ditemukan.
121
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Analisis Kebiasaan Makan
Evaluasi jenis makanan dengan menggunakan indeks bagian terbesar (index
of preponderance) merupakan gabungan dari dua metode, yaitu metode frekuensi
kejadian dan metode gravimetrik. Metode ini dikembangkan oleh Natarjan &
Jhingram (1961) dalam Effendie (1979) dengan rumus :
IP (%) = [(Vi*Oi)/∑(Vi*Oi)]*100%.......................................................................(3)
dimana :
IP = indeks bagian terbesar (indeks of preponderance)
Vi = persentase volume makanan ikan jenis ke-i
Oi = persentase frekuensi kejadian makanan jenis ke-i
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hubungan Panjang Berat
Pertumbuhan merupakan suatu proses yang terjadi di dalam tubuh organisme
yang menyebabkan perubahan ukuran panjang dan bobot tubuh dalam periode waktu
tertentu. Pertumbuhan merupakan proses gabungan dari tingkah laku dan proses
fisiologi. Menurut Effendie (2002), pertumbuhan ikan di suatu perairan banyak
dipengaruhi oleh faktor lingkungan antara lain ukuran makanan yang dimakan,
ukuran ikan diperairan, jenis makanan yang dimakan, serta kualitas dan kondisi ikan
(umur, keturunan dan genetik).
Menurut Effendie (1979), pencatatan ukuran panjang ikan bermanfaat untuk
menaksir pertumbuhan ikan pada waktu tertentu. Dalam mempelajari panjang berat
ini diperlukan pola statistik agar dapat menganalisis data panjang dan berat yang
didapatkan. Pola statistik yang digunakan dalam menganalisis hubungan panjang
berat ini adalah analisis regresi. Sebagai dasar analisis regresi adalah hubungan
linier antara dua peubah yang dalam hal ini adalah panjang dan beratnya.
Pola pertumbuhan ikan kurisi jantan bersifat allometrik negatif dengan nilai
b sebesar 2,633 dan koefesien korelasi sebesar 0,826 sehingga dapat dikatakan
bahwa pertambahan panjang ikan kurisi jantan lebih cepat dibandingkan dengan
pertambahan beratnya. Demikian pula dengan pola pertumbuhan ikan kurisi betina,
pola pertumbuhannya bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2.625 dan
koefesien korelasi sebesar 0,860 (Gambar 2)
122
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 2. Hubungan panjang berat ikan kurisi di perairan Bangka dan sekitarnya
Sebaran Ukuran Panjang
Sebaran ukuran panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) yang didaratkan di
PPN Sungailiat-Bangka tahun 2014 dari 1.027 ekor sampel ikan kurisi yang berkisar
antara 11,9 – 27,9 cm FL dengan rata-rata 15,9 - 17,9 cm FL dengan puncak modus
pada ukuran panjang 15,9 cm FL (Gambar 3).
Gambar 3. Sebaran ukuran panjang ikan kurisi (Nemipterus Furcosus) di Sungailiat, Bangka
2014
Pendugaan rata-rata panjang pertama kali tertangkap (Lc)
Pada pengamatan terhadap pendugaan rata-rata ukuran panjang pertama kali
tertangkap (Lc) ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di perairan Bangka dan sekitarnya
diperoleh nilai Lc = 17.8 cm FL (Gambar 4).
123
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
N.furcosus
Frekuensi kumulatif (%)
100
75
Lc= 17,832 cmFL
50
25
0
10
15
20
25
30
Panjang cagak (cm)
Gambar 4. Pendugaan ukuran panjang pertama kali tertangkap (Lc) ikan kurisi di perairan
Bangka dan sekitarnya.
Nisbah Kelamin
Stok atau sumberdaya ikan perlu untuk memperhatikan struktur umur dan
rasio jenis kelamin dari populasi ikan yang tersedia supaya sumberdaya ikan
tersebut tetap lestari. Pendugaan terhadap stok ikan jenis tertentu harus mengetahui
perbandingan jumlah jantan dan betina. Pengamatan jenis kelamin ikan merupakan
hal yang sangat penting dalam mempelajari struktur populasi. Pengujian statistik
dan anggapan bahwa satu ekor ikan jantan memijah dengan satu ekor ikan betina
dikatakan seimbang, tetapi seperti yang telah kita ketahui tidak semua jenis ikan
memiliki perbandingan 1:1 diasumsikan seimbang. Namun pada kenyataannya di
alam perbandingan rasio kelamin tidaklah mutlak, hal ini dapat dipengaruhi oleh
pola distribusi yang disebabkan oleh ketersediaan makanan, kepadatan populasi, dan
keseimbangan rantai makanan (Effendie, 1979).
Ikan tertentu bisa saja ikan betina harus lebih banyak daripada ikan jantan,
dapat diartikan bahwa populasi tersebut masih ideal untuk mempertahankan
kelestariannya, maksudnya adalah dari beberapa ekor ikan betina dapat dibuahi
oleh satu ekor ikan jantan. Namun sebaliknya jika ikan jantan lebih banyak dari
ikan betina kemungkinan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat
tipis atau mengalami kepunahan karena kuantitatif dari telur yang dihasilkan oleh
ikan betina lebih sedikit. Apabila jantan lebih banyak dari betina dapat diartikan
bahwa populasi tersebut belum tentu mampu mempertahankan kelestariannya atau
cenderung punah (Effendie, 2002).
124
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Perbandingan nisbah kelamin antara kurisi jantan dan betina di perairan Bangka
dan sekitarnya pada bulan Februari 2014 yaitu 1,0 : 1,68 (37.3% : 62.7%) artinya di
alam populasi ikan kurisi betina sedikit lebih banyak dibandingkan kelamin jantan.
Bulan April, perbandingan nisbah kelamin antara ikan kurisi jantan dan betina di
Sungailiat yaitu 5,80 : 1,0 (85.3% : 14.7%) artinya di alam populasi ikan kurisi
jantan lebih banyak dibandingkan kelamin betina. Bulan Mei, Perbandingan nisbah
kelamin antara ikan kurisi jantan dan betina yaitu 1,0 : 2,39 (29.5% : 70.5%) artinya
di alam populasi ikan kurisi betina lebih banyak dibandingkan kelamin jantan
(Gambar 5)
Gambar 5. Rasio Kelamin Ikan Kurisi di perairan Bangka dan sekitarnya.
Kebiasaan Makan
Pengamatan isi lambung dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan
dari ikan kurisi yang didaratkan di PPN Sungailiat selama tahun 2014n. Kebiasaan
makan ikan dapat dilihat dari hubungan ekologi diantara organisme didalam
perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai makanan
(Effendie, 1979). Berdasarkan hasil analisa isi lambung ikan kurisi (Nemipterus
furcosus), pengamatan bulan Februari 2014, makanan utamanya adalah kepiting
yang kehadirannya mencapai 41.2%, makanan pelengkapnya adalah ikan yang sudah
hancur dengan kehadiran 35.3%, sedangkan makanan tambahan dari jenis udang
Bulan April, isi lambung hampir seimbang antara kepiting, udang dan ikan
dimana masing-masing berada pada kisaran 30 %. Adapun isi lambung pada bulan
Mei ditemukan makanan utama adalah ikan sebanyak 36.4%, makanan tambahan
yaitu udang 27.3% dan kepiting 21.2%, adapun makanan tambahan adalah cumicumi dengan persentase kemunculan 15.2% (Gambar 6)
125
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Berdasarkan hasil analisa isi lambung ikan kurisi (Nemipterus furcosus) setiap
bulan pengamatan pada tahun 2014, makanan utamanya adalah kepiting, selanjutnya
beberapa jenis udang, ikan hancur, adapun makanan tambahan adalah cumi-cumi
dengan persentase kemunculan kurang dari 10 %.
Gambar 6. Isi Lambung Ikan Kurisi di perairan Bangka dan sekitarnya
KESIMPULAN
Pola pertumbuhan ikan kurisi (N. furcosus) yang tertangkap di Perairan Bangka
dan sekitarnya bersifat allometrik negatif. Sebaran ukuran panjang ikan kurisi
berkisar antara 11,9 – 27,9 cm FL dengan rata-rata 15,9 - 17,9 cm FL dan puncak
modus pada ukuran panjang 15,9 cm FL. Ikan kurisi bersifat karnivor dengan nisbah
kelamin selalu ditemui lebih banyak ikan betina.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan riset : Pengkajian stok dan optimasi
pemanfaatan sumberdaya perikanan demersal untuk mendukung industrialisasi di
WPP 571 Selat Malaka dan WPP 711 laut Cina Selatan di Balai Penelitian Perikanan
Laut, Tahun 2014.
126
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DAFTAR PUSTAKA
Effendie, H.M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor, 112
pp.
Steel, R. G. D. & H. Torrie, 1993. Prinsip dan Prosedur statistika Suatu Pendekatan
Biometrik. Edisi Kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 333 pp.
Udupa, K. S. 1986. StatisticaL method of estimating the size of first maturity in fish.
Fishbyte ICLARM. Manila. Vol 4 No 2. August 1986. 8-1.
127
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
UKURAN LAYAK TANGKAP TONGKOL KAWA-KAWA
(Euthynnus Affinis) DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN
Oleh
Umi Chodrijah, Thomas Hidayat dan Yoke Hany Restiangsih
ABSTRAK
Ikan tongkol kawa-kawa (Euthynnus affinis) termasuk dalam family
Scombridae. Ikan tongkol merupakan salah satu sumberdaya perikanan ekonomis
penting, sehingga perlu suatu pengelolaan yang baik agar pemanfaatan ikan tongkol
dapat terus berlanjut. Salah satu informasi yang dibutuhkan untuk pengupayaan
pengelolaan ikan adalah dengan mengetahui struktur ukuran dan ukuran ikan yang
layak tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran, hubungan
panjang berat, dan ukuran layak tangkap ikan tongkol kawa-kawa betina berdasarkan
ukuran pertama kali mencapai kedewasaan di Laut Cina Selatan. Sebanyak 1465
sampel ikan tongkol kawa-kawa dikumpulkan dari 2 tempat pendaratan ikan
yaitu tempat pendaratan ikan di Kijang, Tanjung Pinang, Riau Kepulauan dan
PPN Pemangkat, Kalimantan Barat pada bulan Februari sampai dengan Oktober
2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran frekuensi panjang cagak ikan
tongkol kawa-kawa diperoleh panjang minimum 26 cm FL, maksimum 62 cmFL
dan panjang-rata-rata 33 cmFL. Persamaan dari hubungan panjang dan bobot ikan
tongkol kawa-kawa adalah W = 0,020L2,938. Ikan tongkol kawa-kawa yang layak
ditangkap setidaknya telah mencapai panjang cagak sebesar 35,8 cmFL.
Kata kunci: tongkol kawa-kawa, ukuran, Laut Cina Selatan
PENDAHULUAN
Ikan tongkol kawa-kawa (Euthynnus affinis) merupakan salah satu jenis ikan
ekonomis penting sehingga perlu suatu pengelolaan yang baik agar pemanfaatan
ikan tongkol dapat terus berlanjut. Dalam Statistik Perikanan Tangkap, terdapat 3
128
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
jenis ikan tongkol yaitu tongkol krai (Frigate tuna), tongkol kawa-kawa (kawakawa, Eastern little tuna) dan tongkol abu (Longtail tuna). Estimasi produksi
tongkol tahun 2012 adalah 588.060 ton (Statistik Perikanan Tangkap, 2014). Pada
tahun 2013, volume ekspor tuna, cakalang, tongkol mencapai sekitar 209.410 ton
dengan niai USD$ 764,8 juta (Dirjen P2HP, 2014). Selain itu, Indonesia merupakan
Negara kontributor produksi terbesar diantara 32 negara anggota Indian Ocean Tuna
Commission (IOTC) dengan rata-rata produksi tahun 2009-2012 sebesar 356.682/
tahun (25,22%). (DJPT, 2015).
Laut Cina Selatan (LCS) merupakan bagian dari Paparan Sunda (Sunda Shelf)
yang memiliki kedalaman relative dangkal di bagian selatan dan perairan laut dalam
di bagian utara (Suman et al., 2014). Menurut Boer et al., (2001), potensi perikanan
LCS per tahunnya sekitar 1,25 juta ton, dengan tingkat pemanfaatan sebesar 20%.
Berdasarkan Kepmen 45 Tahun 2011, angka estimasi potensi sumberdaya perikanan
di WPP 711 sebesar 1.059 juta ton, ikan pelagis besar potensinya diperkirakan
66.100 ton/tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran, hubungan panjang
bobot dan ukuran layak tangkap ikan tongkol kawa-kawa dari perairan Laut Cina
Selatan. Informasi ini sangat diperlukan sebagai bahan dasar pengelolaan ikan
tongkol sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian tentang ukuran layak tangkap ikan tongkol kawa-kawa dilakukan
di tempat pendaratan ikan di Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dan PPN
Pemangkat (Kalimantan Barat). Penelitian dilakukan dengan metode observasi
langsung pada bulan Januari sampai dengan Oktober 2014. Pengumpulan data
dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh tenaga enumerator. Ikan tongkol kawakawa diperoleh dari hasil tangkapan alat tangkap gillnet. Data morfometri ikan
yaitu panjang cagak (diukur dengan ketelitian 0,1 cm) dan berat (ditimbang hingga
ketelitian 1gr) diukur untuk tiap individu ikan tongkol kawa-kawa dari hasil
tangkapan nelayan gillnet di perairan Laut Cina Selatan.
129
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Analisis Data
Pendugaan ukuran ikan pertama kali tertangkap dilakukan dengan membuat
grafik hubungan antara distribusi panjang kelas (sumbu X) dengan jumlah ikan
yang dinyatakan dengan distribusi normal kumulatif estimasi (sumbu Y). Untuk
memperoleh nilai Lc (length at first capture) yaitu dengan menarik garis hubungan
antara sumbu X dan sumbu Y untuk nilai 50% (Beverton & Holt (1957) dalam
Sparre & Venema, 1992).
proporsi tertahan =
N
Jumlah Total
Keterangan:
N = jumlah ikan pada tiap tengah kelas (ekor)
X dan Y digunakan untuk menghitung nilai a (intercept) dan b (slope).
Menurut Sparre dan Venema (1999), untuk membuat kurva tersebut terlebih
dahulu harus menghitung nilai dari SL estimasi, dengan rumus:
SLobs =
1
1 + exp(S1 - S2xL)
1 + exp (S1 - S2 xL =
exp (S1 - S2 xl) =
Ln [
- 1] = Sl - S2xL
Untuk menghitung ukuran ikan pertama kali tertangkap (Lc) dilakukan dengan
menghitung nilai L50%, titik 50% dipilih karena merupakan inflection point (titik
belok) dimana kurva logistik yang dihubungkan dengan kurva ogive selection
titik beloknya berada pada angka 50%. Pada perhitungan Lc maupun Lm nilai
50% dianggap merupakan titik optimum dimanfaatkannya sumberdaya perikanan,
dimana 100% ikan yang ada di laut optimumnya hanya 50% yang boleh ditangkap
dan separuhnya lagi harus lepas. Dari jumlah yang lepas ke laut diharapkan bisa
tumbuh jadi ikan dewasa dan bisa berkembangbiak (menghasilkan keturunan baru).
Rumus untuk menghitung Lc adalah sebagai berikut:
dimana :
SLobs
130
= Frekwensi kumulatif dari proporsi tertahan
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
L50 %
S1& S2
S1
S2 = panjang tubuh ikan dimana 50% tertahan
= konstanta pada rumus kurva logistik berbasis panjang
= nilai intersep a (perpotongan antara garis linear dengan
sumbu y)
= nilai slope b (sudut kemiringan garis regresi)
Untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan, isometric (b=3) atau alometrik
(b±3), dihitung dari hubungan antara panjang dan berat ikan dengan menggunakan
rumus yang dikemukakan oleh Effendie (1979) yaitu :
W = a*Lb
dimana :
W= berat ikan (gram)
L = panjang cagak ikan (cm)
a dan b = konstanta
Nilai konstanta “b” yang diperoleh dari persamaan tersebut di atas selanjutnya
diuji ketepatannya terhadap nilai b = 3 dengan menggunakan “uji-t”.
Panjang pertama kali matang gonad (Lm/Length at first maturity) dianalisis
dengan metode Spearman – Karber (Udupa, 1986):
m = xk +X/2 – (XΣpi)
keterangan:
m = logaritma ukuran pertama kali matang gonad
xk = logaritma nilai tengah kelas terakhir dimana terjadi matang gonad 100%
X = selisih logaritma nilai tengah
Pi = perbandingan matang gonad tiap kelas panjang
CL= Convidence limit (batas atas dan bawah)
m = panjang ikan pertama kali matang gonad
ni = jumlah ikan pada kelas panjang ke-i
qi = 1 – pi
131
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Distribusi Panjang Cagak dan Hubungan Panjang Berat
Berdasarkan hasil analisis, sebaran frekuensi panjang cagak ikan tongkol kawakawa diperoleh panjang minimum 26 cm FL, maksimum 62 cmFL dan panjang-ratarata 39,11 cmFL dengan modus pada ukuran 33 midlength cmFL. (Gambar 1).
Gambar 1.Distribusi frekuensi panjang cagak tongkol kawa-kawa (Euthynnus affinis) di Laut
Cina Selatan 2014
Hasil analisis hubungan panjang dan bobot ikan tongkol kawa-kawa sebanyak
1465 ekor sampel dihasilkan persamaan W = 0,020L2,938 (r2= 0,949) dengan nilai b =
2,938 (Gambar 2). Setelah dilakukan uji t, nilai t hitung (thitung = 0.004525 ) lebih kecil
dari t tabel (t tabel =1,965) dengan tingkat kepercayaan 95% yang artinya peningkatan
pertambahan berat sebanding dengan pertumbuhan panjangnya.
Gambar 2. Hubungan panjang dan bobot tongkol kawa-kawa (Euthynnus affinis)
di perairan Laut Cina Selatan 2014
132
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Nilai Lc dan Nilai Lm
Dari kurva sigmoid persentase sebaran frekuensi panjang dan frekuensi
kumulatif pada posisi 50% diperoleh panjang rata-rata tertangkap (Lc) ikan tongkol
kawa-kawa yang tertangkap dengan gillnet adalah 39,1 cmFL, (Gambar 3).
Gambar 3. Panjang pertama kali tertangkap (Lc) ikan tongkol kawa-kawa
(Euthynnus affinis) hasil tangkapan di Laut Cina Selatan 2014
Berdasarkan analisis dengan metode Spearman – Karber (Udupa, 1986),
panjang pertama kali matang gonad ikan tongkol kawa-kawa diperoleh nilai 34 cm
(betina) dan 35,8 cm (jantan). Menurut penelitian sebelumnya, nilai Lm tongkol
kawa-kawa di Jepang adalah 29 cmFL (IOTC, 2006). Apabila dibandingkan antara
nilai Lc = 39,1 cm dan Lm, maka ikan tongkol kawa-kawa yang tertangkap di Laut
Cina Selatan memiliki nilai Lc di atas nilai Lm (Lc>Lm).
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis, ikan tongkol kawa-kawa yang tertangkap pada bulan
Januari sampai dengan bulan Oktober 2014 diperoleh kisaran 26 - 62 midlength cmFL
dengan modus pada ukuran 33 midlength cmFL. Menurut penelitian sebelumnya
yaitu Robert et al., (1997) di perairan Selandia Baru dengan alat tangkap purse seine
memperoleh kisaran 26 - 41 cm. Sedangkan menurut Iswarya dan Sujatha, (2012) di
Utara Andhra Pradesh, India diperoleh ukuran pada kisaran 30 - 46 cm dan Yu Tao,
(2012) di Selat Taiwan dengan alat tangkap purse seine diperoleh kisaran ukuran
pada 25 - 40 cm.
133
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Berdasarkan hubungan panjang bobot terlihat bahwa nilai b adalah 2,938.
Setelah dilakukan uji t, nilai t hitung (thitung = 0.004525) lebih kecil dari t tabel (t tabel
=1,965) dengan tingkat kepercayaan 95% yang artinya peningkatan pertambahan
bobot sebanding dengan pertumbuhan panjangnya. Hasil penelitian ini hampir
sama dengan penelitian sebelumnya. Menurut Rohit et al., (2012) di perairan
India, nilai b untuk Euthynnus affinis adalah 2,889. Perbedaan pola pertumbuhan
dipengaruhi oleh, jenis kelamin, keturunan, umur, penyakit, tingkat kematangan
gonad, ketersediaan makanan, dan suhu perairan (Effendi, 2002). Menurut Merta,
1993, bahwa perbedaan nilai b disebabkan oleh perbedaan habitat, jenis kelamin,
tahap-tahap pertumbuhan ikan mulai dari larva, yuwana, dan saat ikan mulai matang
gonad. Estimasi nilai a dan b spesies E. affinis dari beberapa penelitian sebelumnya
disajikan pada Tabel.1.
Tabel 1 . Estimasi nilai a dan b dari hubungan panjang berat E. affinis (Rohit et al., 2012).
Area
Value
a
Reference
b
Indian Ocean
0.0166
2.963
Morrow, 1954
Philippine Water
Indian Ocean
0.0108
3.154
Tester and Nakamura, 1957
0.0138
3.0287
0.000031
2.886
Indian Waters
0.019
2.95
James et al., 2003
Indian Waters
0.0254
2.889
Rohit et al., 2012
Mangalore, India
Silas, 1967
Muthiah,1985
Sedangkan rata-rata panjang pertama kali tertangkap (Lc) yang tertangkap
gillnet adalah 39,1 cm, ternyata lebih besar dibandingkan nilai Lm yaitu 34 (betina)
dan 35,8 cm (jantan). Nilai Lc harus lebih besar dari nilai Lm agar rekruitmen
berlangsung baik. Bila nilai Lc lebih kecil dari Lm maka ikan-ikan yang tertangkap
adalah ikan muda belum pernah memijah. Nilai Lc yang terlalu kecil disebakan oleh
penggunaan mata jaring atau mata pancing yang terlalu kecil.
Sedangkan hasil analisis panjang pertama kali matang gonad Lm = 34 (betina)
dan 35,8 cm (jantan). Nilai Lm dari hasil penelitian yang sudah ada tersaji pada
Tabel 2.. Nilai Lm Euthynnus affinis di perairan Laut Cina Selatan hampir sama
dengan di Laut Jawa. Untuk menjamin keberlanjutan pemanfaatan sumber daya
ikan tongkol kawa-kawa seyogyanya ikan yang ditangkap adalah ikan-ikan yang
setidaknya pernah memijah satu kali. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa
134
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ukuran pertama kali matang gonad adalah 35,8 cmFL sehingga disarankan bahwa
ukuran tongkol kawa-kawa yang layak ditangkap dengan ukuran panjang lebih dari
35,8 cm FL.
Tabel 2. Nilai Lm ikan tongkol dari penelitian sebelumnya.
Spesies
Lokasi
Jenis Kelamin Lm (cm)
Euthynnus affinis Selat Taiwan
Betina
Jantan
Pantai Mangalore
Betina
Jantan
Perairan India
Gabungan
Andhra Pradesh, India Betina
Jantan
Laut Cina Selatan
Gabungan
Auxis rochei
Laut Jawa
Laut Liguria
Pantai Mangalore
India
Auxis thazard
Pantai Mangalore
India
Gabungan
Betina
Jantan
Betina
Jantan
Gabungan
Gabungan
Betina
Jantan
Gabungan
Andhra Pradesh, India Betina
Jantan
26.9
27.1
43
44
37.7
49
49.7
50
Referensi
Yu Tao et al ., (2012)
Muthiah, (1985)
Abdussamad et al ., (2012)
Iswarya dan Sujatha, (2012)
Williamson, (1970) dalam
Muthiah, (1985)
33.7 Hidayat, (2013)
32.5 Plandri et al ., (2009)
33.5
23.8 Muthiah, (1985)
24
23
23 James et al ., (1992) dalam
Pillai & Pillai, (2000)
30.5 Muthiah, (1985)
30
30 James et al ., (1992) dalam
Pillai & Pillai, (2000)
38.5 Iswarya dan Sujatha, (2012)
36.7
KESIMPULAN
Sebaran frekuensi panjang cagak ikan tongkol kawa-kawa diperoleh panjang
minimum 26 cm FL, maksimum 62 cmFL dan panjang-rata-rata 33 cmFL. Persamaan
dari hubungan panjang dan bobot ikan tongkol kawa-kawa adalah W = 0,020L2,938.
Ikan tongkol kawa-kawa yang layak ditangkap adalah setidaknya telah mencapai
panjang cagak sebesar 35,8 cmFL..
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan Penelitian Aspek Biologi,
Tingkat Pemanfaatan dan Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Pelagis Besar
di WPP 571 Selat Malaka dan WPP 711 Laut Cina Selatan untuk Mendukung
Industrialisasi Perikanan T.A. 2014, di Balai Penelitian Perikanan Laut Muara Baru,
Jakarta.
135
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DAFTAR PUSTAKA
Beverton, R. J. H. and S. J. Holt. 1956. A Review of Methods for Estimating Mortality
Rates in Exploited Fish Populations, with Special Reference to Sources of
Bias in Catch Sampling. Rapp. P.-V. Reun. CIEM, 140: 67 – 83.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2015. Rencana Pengelolaan Perikanan
Tuna, Cakalang dan Tongkol. 208pp.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor: viii +
112 hlm
Effendie, I. M. 2002. Biologi Reproduksi Ikan. Yayasan Dewi Sri, Bogor: viii + 116
hlm.
Iswarya, D and Sujatha, K. 2012, Fishery and some aspects of reproductive biology
of two coastal species of tuna, Auxis thazard (Lacepède, 1800) and
Euthynnus affinis (Cantor, 1849) off north Andhra Pradesh, India. Indian
J. Fish., 59(4) : 67-76.
IOTC . 2006. Compilation of information on neritic tuna in the Indian Ocean.
Working paper IOTC-2006-SC-INF11
Roberts E.P, D. Eggleston and G. D. James, 1997. Frigate tuna Auxis thazard in
New Zealand waters (note). Fisheries Research Division, Ministry of
Agriculture and Fisheries, P.O. Box 19–062, Wellington, New Zealand.
Rohit, P. Anuleksmi C, E.M. Abdussamad, K.K. Joshi, K.P. Said Koya, Shubhadeep
Ghosh, A. Margaret M. Rathinam, S. Kemparaju, H.K. Dokhia, D.
Prakasan, and N. Beni, 2012. Fishery and bionomics of the little tuna,
Euthynnus affinis (Cantor, 1849) exploited from Indian waters. Central
Marine Fisheries Research Institute. Indian J. Fish., 59(3) : 33-42.
Statistik Perikanan Tangkap Indonesia, 2014. Direktorat Jenderal Perikanan
Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Sparre, P. & S.C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Ikan Tropis. Buku 1: Manual.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438p.
Schaefer, M.B. & C.J. Orange. 1956. Studies on sexual development and spawning of
yellowfin tuna (Thunnus albacares) and skipjack (Katsuwonus pelamis)
in three areas of the Eastern Pacific Ocean by axamination of gonads.
Bulletin .I-ATTC 1 (6): 282-349.
136
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Sparre, P. & S. C. Venema, 1992. Introduction to tropical fish stock assessment, Part
1 - Manual. FAO Fisheries Technical Paper 306,376 pp.
Suman, A.,Wudianto, Sumiono, B., Irianto, H.E., Badrudin dan Amri, K. 2014.
Potensi Lestari dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan. Di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI). Ref Graphika.
Jakarta. Xxiii+199pp.
Udupa, K. S. 1986. Statistical method of estimating the size of first maturity in fish.
Fishbyte ICLARM. Manila. Vol 4 No 2. August 1986. 8-1.
Yu Tao, Chen Mingru1, Du Jianguo, LuZhenbin and Yang Shengyun, 2012. Age
and growth changes and population dynamics of the black pomfret
(Parastromateus niger) and the frigate tuna (Auxis thazard thazard), in
the Taiwan Strait. Department of Oceanography, Xiamen University,
Xiamen 361005, ChinaLat. Am. J. Aquat. Res., 40(3): 649-656.
137
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PERIKANAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BANGKA,
LAUT CINA SELATAN
Oleh
Tegoeh Noegroho, Yoke Hanny R, dan Thomas Hidayat
ABSTRAK
Penangkapan ikan pelagis besar di Laut Cina Selatan telah lama dilakukan.
Ikan pelagis besar ada yang menjadi target seperti yang tertangkap pada gillnet dan
ada pula yang tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan seperti pada mini purse
seine. Perikanan pelagis besar di Laut Cina Selatan khususnya perairan Bangka
belum tergambarkan dengan baik, oleh sebab itu perlu adanya penelitian yang terkait
perikanan pelagis besar sebagai dasar untuk pengelolaan perikanan. Penelitian telah
dilakukan pada Februari-November di PPN Sungailiat tahun 2014. Metode observasi
dan wawancara telah digunakan dalam pengumpulan data-data perikanan. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perikanan perikanan yang sedang
berlangsung di perairan Sungailiat Bangka. Hasil penelitian menunjukkan produksi
ikan pelagis besar yang dominan adalah tenggiri dan tongkol. Armada penangkapan
didominasi ukuran < 5 GT. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan
tenggiri adalah pancing ulur dan gillnet. Pancing ulur adalah alat tangkap yang
terus bertambah dari tahun 2005-2013. Komposisi hasil tangkapan pancing ulur
didominasi oleh ikan tenggiri, terutama pada kapal < 5 GT. CPUE pancing ulur
telah menunjukkan tren yang datar, sehingga penambahan alat tangkap ini sebaiknya
sdah tidak dilakukan lagi. Musim penangkapan ikan tenggiri berlangsung pada
Maret-Juni dan Oktober-November. Puncak musim terjadi pada April dan Oktober.
Sedangkan kondisi tidak musim dimana ikan tenggiri yang tertangkap jumlahnya
sedikit berlangsung pada Desember-Februari dan Juni-September. Daerah
penangkapan gillnet dan pancing ulur tidaklah terlalu berjauhan dan nelayan Bangka
mencari ikan disekitar pulau hingga 60 mil. Pada musim Timur daerah penangkapan
gillnet cenderung berada di sisi utara karena nelayan berlindung dari angin timur,
sedangkan pada musim barat daerah penangkapan gillnet lebih menyebar mulai
utara sampai ke timur.
Kata kunci: tenggiri, CPUE, komposisi tangkapan, musim penangkapan
138
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Laut Cina Selatan (WPP 711) merupakan wilayah perairan yang berbatasan
langsung dengan Malaysia dan Thailand. Sebagai wilayah perbatasan, menempati
posisi penting, karena jika dimanfaatkan secara baik, selain dapat meningkatkan
aspek kesejahteraan juga keamanan. Perairan ini telah lama diidentifikasi sebagai
wilayah perairan padat nelayan.
Aktivitas eksploitasi sumberdaya perikanan dilakukan secara intensif oleh
nelayan konvensional maupun modern, baik secara legal maupun ilegal. Posisi penting
perairan Laut Cina Selatan (LCS) menyangkut tingginya tingkat keanekaragaman
biologi yang dimilikinya. Perairan yang berada di barat Indo Pasifik ini telah lama
dikenal sebagai laut dangkal yang sangat potensial di dunia. LCS menempati
posisi penting dalam produksi perikanan dunia yaitu sebesar lebih dari 12%, dan
merupakan daerah yang tinggi keragamannya (Talaue-McManus, 2000). LCS juga
merupakan perairan dengan tingkat biodiversity yang tinggi. Perairan bagian selatan
LCS yang merupakan bagian perairan Indonesia (LCSI) dikategorikan sebagai
perairan neritik dengan kedalaman rata-rata 70 m dan merupakan salah satu daerah
potensi perikanan laut. Wilayah perairan ini membentang dari utara mulai dari Laut
Natuna sampai ke perairan Bangka-Belitung dan Selat Karimata di bagian selatan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis
karakteristik perikanan tenggiri di perairan Bangka. Penelitian ini meliputi aspek
pemanfaatan, CPUE, musim penangkapan, daerah penangkapan, dan komposisi hasil
tangkapan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang perikanan
tenggiri yang berlangsung di perairan Bangka, dan semoga hasil penelitian ini dapat
bermanfaat.
BAHAN DAN METODE
Lokasi Survei
Lokasi penelitian dilakukan di peraian Bangka dengan pusat pendaratan di
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat. PPN Sungailiat merupakan
pelabuhan Nusantara yang merupakan basis terbesar kapal-kapal penangkap ikan
di Pulau Bangka. Beberapa jenis kapal dan alat tangkap dengan berbagai ukuran
mendaratkan ikan hasil tangkapannya di PPN Sungailiat. Daerah penangkapan ikan
pelagis besar di perairan Bangka berada tidak jauh dari pantai, sekitar pulau, dan
agak jauh untuk kapal-kapal yang lebih besar.
139
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
CPUE (Catch Per Unit Effort)
Pengumpulan data dilakukan di PPN Sungailiat, Jawa Barat dari bulan
Februari dan November 2014. Data yang digunakan adalah produksi (catcth) dan
upaya (effort) dari ikan neritik tuna. Untuk menetukan indeks kelimpahan yang juga
menggambarkan tingkat pemanfaatan di gunakan analisa CPUE berdasarkan Sparre
and Venema (1999):
CPUE = catch / unit effort
Dimana : Catch = total hasil tangkapan (kg)
Effort = total upaya penangkapan (unit alat tangkap)
CPUE = hasil tangkapan per upaya penangkapan (kg/unit)
Musim Penangkapan
Untuk mengetahui pola musim penangkapan ikan digunakan Metode Persentase
Rata-rata (The Average Percentage Methods) yang didasarkan pada Analisis Runtun
Waktu (Spiegel, M. R., 1961). Cara perhitungannya adalah sebagai berikut :
1.
Hitung nilai hasil tangkapan per upaya tangkap (CPUE) yaitu :
= CPUE rata-rata bulanan dalam setahun (ton/trip)
= CPUE per bulan (ton/trip)
m = 12 (jumlah bulan dalam setahun)
U
Ui
2.
Hitung Up yaitu rasio Ui terhadap U dinyatakan dalam persen
3.
Selanjutnya dihitung :
IMi = Indeks Musim ke i
t
140
= Jumlah tahun dari data
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
4. Kriteria penentuan musim ikan ialah jika indeks musim lebih dari 1
(lebih dari 100 %) atau di atas rata-rata, dan bukan musim jika indeks
musim kurang dari 1 (kurang dari 100 %). Apabila IM = 1 (100 %),
nilai ini sama dengan harga rata-rata bulanan sehingga dapat dikatakan
dalam keadaan normal atau berimbang. Pola musim penangkapan dengan metode rata-rata bergerak (moving average) sehingga dapat menentukan saat yang tepat untuk melakukan operasi penangkapan ikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Produksi Ikan
Produksi ikan di menunjukkan tren yang terus meningkat dari 2002 sampai
2008. Setelah 2008 produksi mulai sedikit menurun sampai 2011. Produksi ikan
mulai naik lagi pada tahun 2012 dan 2013. Produksi tahun 2013 mencapai 6.559.635
ton dengan nilai transaksi mencapai Rp. 111.504.615.500. Beberapa jenis ikan yang
mempunyai nilai tinggi seperti kakap merah, kerapu, tenggiri, bawal hitam, dan
tongkol, menjadi komoditas ekspor ke Malaysia dan Singapura. Perkembangan
produksi ikan di PPN Sungailiat tersaji pada Gambar 1.
Gambar 1. Perkembangan Produksi Ikan di Perairan Bangka
Dari total produksi, ikan pelagis besarnya terdiri dari tenggiri papan
(Scomberomorus guttatus), tenggiri (Scomberomorus commerson), tongkol komo
(Euthynnus affinis), dan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol). Produksi tenggiri
141
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
tertinggi pada periode 2002-2013 didaratkan pada tahun 2004 (282,915 kg) dan tahun
2008 (272,674 kg). Tren produksi tenggiri tahun 2009-2013 menunjukkan kejadian
stabil, dengan rata-rata 160,000 kg. Produksi tongkol komo tertinggi tahun 2004
(399,248 kg) dan tahun 2012 (383,235 kg). Produksi tongkol komo pada periode
tahun 2006-2010 mengalami penurunan yang drastis dengan rata-rata 130,000 kg/
tahun. Produksi tahun 2013 mengalami penurunan yang tajam setelah naik tinggi
pada tahun 2012. Perkembangan produksi ikan pelagis besar lainnya dapat dilihat
pada Gambar 2.
Produksi (kg)
S. guttatus
S. commerson
E. affinis
T. Tonggol
450,000
400,000
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tahun
Gambar 2. Perkembangan Produksi Ikan Pelagis Besar
Gambar 3. Nilai produksi ikan pelagis besar dominan di Perairan Bangka Belitung
142
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 3 memperlihatkan terjadi penurunan nilai produksi yang signifikan
dari jenis tongkol krai dan terjadi peningkatan nilai produksi jenis tenggiri, Jenis
tenggiri papan tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dari tahun ke
tahun sedangkan jenis tongkol komo pada tahun 2009 terjadi peningkatan yang tajam
hingga 6000 ton. Melonjaknya produksi tongkol komo pada tahun 2009 disebabkan
oleh kesalahan identifikasi pada tahun sebelumnya.
Tabel 1. Dimensi Kapal di PPN Sungailiat
No
Jenis Kapal
Trip
(hari)
ABK
(orang)
GT
Dimensi (Meter)
(P)
(L)
(D)
Waktu
Operasi
1
Pancing Ulur
4
3-5.
5-8.
15
1.8
1.5
pagi dan
malam
2
Payang
3
5-7.
5
12
1.5
1.2
pagi dan
malam
3
Gillnet
4-5.
5
5-6.
12-15.
2
1.5
Malam
4
Mini Purse
Seine
3
14
15-20
25
3.5
2
Malam
Alat Tangkap dan Cara Pengoperasian
Mayoritas nelayan Provinsi Bangka Belitung dapat dikategorikan sebagai
nelayan kecil atau nelayan tradisional, hal ini terlihat dari armada yang digunakan
merupakan armada < 5 GT. Armada di atas 5 GT juga terdapat di Provinsi ini
tetapi jumlahnya jauh lebih rendah dari armada <5 GT, seperti yang terlihat pada
Gambar 4.
143
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 4. Perkembangan armada penangkapan ikan di Provinsi Bangka Belitung
Ikan pelagis besar khususnya neritik tuna yang didaratkan di PPN Sungailiat
berasal dari kapal-kapal tradisional dibawah 10 GT. Jumlah kapal kategori < 5 GT
sangat dominan sebesar 75%, dan 5-10 GT sebesar 25% pada tahun 2013. Pada 2013
kapal dengan kategori 10-20 GT tidak ada dan ukuran lebih besar dari 30 GT hanya
ada 1 kapal (kapal INKAMINA).
Dimensi dan besarnya GT kapal di PPN Sungailiat dapat dilihat pada Tabel
1. Terlihat GT kapal yang paling besar adalah kapal purse seine, sedangkan kapal
yang lain mempunyai GT yang hampir sama. Pancing ulur di PPN Sungailiat ada
dua jenis yaitu tipe kapal Buton dan tipe kapal Bangka. Kapal pancing ulur Bangka
mempunyai ukuran lebih besar dibandingkan dengan pancing ulur kapal andon dari
Buton.
Dari alat tangkap yang menangkap ikan pelagis besar di perairan Bangka antara
lain: pancing ulur, payang, gillnet, dan mini purse seine. Tahun 2013 alat tangkap
pancing ulur mempunyai jumlah paling banyak yaitu 404 unit, gillnet berjumlah
236 unit, mini purse seine berjumlah 56 unit, dan payang berjumlah 48 unit. Jumlah
kapal di perairan Bangka dapat dilihat pada Gambar 5.
144
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 5. Jumlah Alat Tangkap di PPN Sungailiat Tahun 2013
Jumlah pancing ulur dari tahun 2005-2013 menunjukkan tren yang meningkat
terus sampai tahun 2012 dan pada 2013 menurun sekitar 2 %. Untuk gillnet juga
menunjukkan tren yang hampir sama dengan pancing ulur. Payang dan mini purse
seine menunjukkan tren yang semakin menurun sejak tahun 2009. Mini purse seine
mulai trennya mulai naik lagi pada tahun 2011-2013. Tren perkembangan alat
tangkap di PPN Sungailiat dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Perkembangan Jumlah Alat Tangkap di PPN Sungailiat Tahun 2005-2013
Pancing Ulur
Pancing ulur yang digunakan mempunyai dua type yaitu untuk menangkap
tenggiri, dan menangkap ikan pelagis besar. Pancing tenggiri dibuat khusus dengan
menambahkan kawat beberapa di atas mata pancing, tujuannya adalah bila umpan
145
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dimakan ikan tenggiri maka pancing tidak putus karena ada kawatnya. Pancing
biasa dioperasikan di sekitar rumpon atau di sekitar perairan karang di luar rumpon.
Pancing tenggiri menggunakan umpan ikan yang dipotong atau ikan kecil yang utuh,
sedangkan pancing ulur menggunakan umpan palsu berupa benang sutra dimensi.
Cara pengoperasian pancing tenggiri adalah pertama mata pancing dipasangi
umpan dan kemudian dilemparkan ke air dengan area 10-20 meter. Nelayan kadang
mengoperasikan pancing tenggiri lebih dari dari satu unit dalam satu kapal, dan diikat
pada tiang di kapal. Sedangkan pancing ulur dioperasikan dengan cara menurunkan
pancing dengan area 20 meter dan kemudian pancing ditarik-tarik, bila sudah terasa
berat diduga ikan sudah banyak yang makan umpan maka pancing akan ditarik ke
atas. Disain pancing tenggiri dan pancing ulur tersaji pada Gambar 7.
(A)
(B)
Gambar 7. (A) Disain Pancing Tenggiri, dan (B) Pancing Ulur di PPN Sungailiat
Komposisi hasil tangkapan untuk pancing ulur < 5 GT didominasi oleh ikan
tenggiri (55%), Selaroides sp 40%, dan ikan lainnya 5%. Untuk pancing ulur yang
lebih besar > 5 GT komposisi hasilnya didominasi ikan talang-talang 23%, ikan
kuwe 14%, ikan layang 14%, ikan kembung 13%, tenggiri 12%, dan beberapa jenis
ikan lainnya. Komposisi hasil tangkapan pancing ulur tersaji pada Gambar 8. Ikan
tenggiri di perairan Bangka dominan tertangkap oleh pancing ulur dan gillnet hal ini
berbeda dengan di Teluk Kwandang, yang dominan tertangkap dengan alat tangkap
purse seine (pajeko lampu). (Noegroho., et al (2012)
146
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
2%
Tenggiri Batang
kuwe
12%
14%
Layang
2%
14%
Kembung
Barakuda
Bentong
23%
14%
Talang-talang
tetengkek
5%
Siro
13%
Lainnya
1%
(A)
(B)
Gambar 8. (A). Komposisi Hasil Tangkapan Pancing Ulur Ukuran Kapal < 5 GT dan
(B) Ukuran 5 – 10 GT di PPN Sungailiat-Bangka
Jaring Insang Hanyut (Gillnet)
Cara pengoperasian gillnet dimulai dengan melempar tiang yang ada lampu
penanda yang diikuti dengan jaring dengan kapal mundur dengan kecepatan 2-4
knot. Tali selambar yang panjangnya hampir 40 m salah satu ujungnya diikat di
kapal. Setting jaring biasanya jam 17.00 WIB. Dan hauling pada jam 2 malam. Jaring
di tarik secara manual oleh ABK atau dengan menggunakan hauler, tali selambar
yang di ikat di kapal ditarik terlebih dahulu sampai pada bagian badan jaring, sambil
melepas ikan yang ada di jaring. Biasanya waktu penarikan jaring berlangsung
sekitar 3 jam. Pada saat menunggu hauling, nelayan sering memanfaatkan waktunya
dengan memancing. Gillnet mempunyai target ikan tongkol dan tenggiri. Dan dapat
dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Disain Jaring Insang Hanyut (Gillnet) di Sungailiat-Bangka
147
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hasil tangkapan per upaya beberapa alat tangkap utama yang menangkap ikan
pelagis disajikan pada Gambar 10. CPUE purse seine tertinggi tahun 2008 sebesar
839 kg/trip. Menurun pada tahun 2010-2011, dan meningkat tajam pada 2012-2013.
CPUE pancing ulur terlihat menunjukkan tren yang sudah hampir mendatar dari
2007-2011, kemudian mulai ada kenaikkan pada tahun 2012-2013. CPUE pancing
ulur tidak terlalu berfluktuasi terlihat stabil pada kisaran antara 200-300 kg/trip. Tren
CPUE gillnet menunjukkan fluktuasi yang hampir sama dengan payang tetapi pada
tahun 2009-2011 trennya menurun drastis.
Pancing Ulur
Gillnet
Mini Purse Seine
Payang
900
800
CPUE (kg/trip)
700
600
500
400
300
200
100
0
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Tahun
Gambar 10. Hasil Tangkapan Per Upaya (CPUE)
Musim dan Daerah Penangkapan
Musim penangkapan ikan tenggiri berlangsung pada Maret-Juni dan OktoberNovember. Dengan puncak musim terjadi pada April dan Oktober. Musim paceklik
pada Desember-Februari dan Juni-September (Gambar 11). Musim penangkapan
berlangsung dua kali, Maret-Juni merupakan musim peralihan pertama sampai
menjelang musim timur, sedangkan puncak musim kedua berlangsung pada musim
peralihan kedua menuju ke musim barat. Kondisi ini bermanfaat buat nelayan yang
menangkap ikan tenggiri di perairan Bangka. Kondisi ini juga hampir sama dengan
yang dilaporkan Noegroho, (2013) di perairan Teluk Kwandang Laut Sulawesi
bahwa musim penangkapan tenggiri berlangsung pada April-Mei-Juni dan OktoberNovember.
148
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
0,4
Indek Musim Penangkapan
0,3
0,2
0,1
0
Jan
Feb Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agt
Sep
Okt
Nop Des
-0,1
-0,2
-0,3
Gambar 11. Indek Musim Penangkapan Ikan Tenggiri di Perairan Bangka
Daerah penangkapan ikan nelayan gillnet dan pancing ulur ditampilkan pada
Gambar 12. Daerah penangkapan gillnet dan pancing ulur tidaklah terlalu berjauhan
dan nelayan Bangka mencari ikan disekitar pulau hingga 60 mil.
Gambar 12. Daerah Penangkapan Pancing Ulur dan Gillnet di Perairan Bangka
Khusus daerah penangkapan kapal gillnet di perairan Bangka dan didaratkan
di PPN Sungailiat tersaji pada Gambar 13. Pada musim Timur daerah penangkapan
cenderung berada di sisi utara karena nelayan berlindung dari angin timur, sedangkan
pada musim barat daerah penangkapan gillnet lebih menyebar mulai utara sampai ke
timur. Perbedaan daerah penangkapan kapal gilnet tersaji pada Gambar 13.
149
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 13. Daerah Penangkapan Kapal Gillnet di Perairan Bangka
(Sumber: Data Monitoring Pelabuhan Sungailiat)
KESIMPULAN
Pancing ulur dan gillnet adalah alat tangkap utama digunakan dalam
penangkapan ikan pelagis besar di perairan Bnagka. Komposisi hasil tangkapan
pancing ulur menunjukkan presentase tenggiri yang tertangkap cukup besar, yaitu
12-55%. CPUE pancing ulur menunjukkan tren yang berfluktuasi dari tahun ke
tahun sehingga penambahan alat tangkap dan kapal pancing ulur untuk menangkap
tenggiri harus dikendalikan. Puncak musim penangkapan tenggiri di perairan Bangka
berlangsung pada April dan Oktober. Daerah penangkapan gillnet dan pancing ulur
berubah seiring dengan adanya perubahan musim angin.
150
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2014. Statistik Perikanan PPN Sungailiat Bangka 2014. Laporan
tahunan statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara 2002-2014. Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Statistik perikanan tangkap tahun 2002-2014
Noegroho. T., 2013. Penelitian Aspek Biologi dan Penangkapan Ikan Tenggiri
(Scomberomorus commerson, Lacepede 1800) di Perairan Teluk
Kwandang, Laut Sulawesi. Tesis. Universitas Indonesia. 1-82.
Noegroho. T, Umi. C, & H. Thomas. 2012. Hasil Tangkapan, Laju Tangkap, dan
Panjang Rata-rata Tertangkap Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson)
dari Kapal Pajeko Lampu di Perairan Kwandang, Laut Sulawesi, dalam
Kartamihardja et al., Ed. 2012. Penguatan Pengelolaan Sumberdaya Ikan
Menuju Ekonomi Biru Industrialisasi Perikanan Tangkap. Prosiding
Seminar Nasional Perikanan Tangkap:385:1-9.
Spiegel M. R. 1961. Theory and Problems of Statistics. Schaum Publ. Co, New York.
359P.
Sparre, P. dan S. C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438 hal.
Talaue-McManus L (2000) Transboundary diagnostic analysis for the South China
Sea. EAS/RCU Tech Rep Ser No 14, 107 p
151
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PARAMETER POPULASI IKAN TENGGIRI BATANG
(Scomberomorus Commerson) DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN
Oleh
Y.H. Restiangsih, T. Noegroho, dan Umi Chodrijah
ABSTRAK
Perikanan tenggiri merupakan komoditas unggulan di Laut Cina Selatan. Di
Bangka tingkat konsumtif masyarakat terhadap ikan tenggiri sangat tinggi, hal ini
diikuti dengan tingkat penangkapan yang tinggi. Control penangkapan dan kajian
biologi perlu dilakukan guna keberlanjutan perikanan ikan tenggiri. Penelitian
telah dilakukan pada Januari sampai dengan Desember 2014 di Sungailiat-Bangka.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dinamika populasi seperti laju
pertumbuhan, tingkat kematian, tingkat eksploitasi, dan pola rekrutmen ikan tenggiri
(Scomberomorus commerson). Sampel ukuran ikan tenggiri diambil secara acak dari
hasil tangkapan pancing ulur (handline). Data ukuran ikan yang diperoleh digunakan
untuk perhitungan dinamika populasi. Analisis dinamika populasi dilakukan dengan
program FISAT II. Dari hasil penelitian diperoleh L∞ (cm) dan laju pertumbuhan
(K) masing-masing 129,6 cm dan 0,49/ tahun. Laju mortalitas total (Z) sebesar
1,61 per tahun. Tingkat kematian karena penangkapan (F) sebesar 1,01/tahun lebih
rendah jika dibandingkan dengan tingkat kematian alami (M) sebesar 0,60/tahun.
Tingkat eksploitasi (E) ikan tenggiri di Laut Cina Selatan adalah 0,58/tahun. Pola
rekrutmen ikan tenggiri terjadi dua kali, puncak pertama terjadi pada Maret-April,
dan yang kedua pada September-Oktober.
Kata kunci: Scomberomorus commerson, parameter dinamika populasi,
Laut Cina Selatan
152
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Ikan tenggiri batang (Scomberomorus commerson) merupakan kelompok ikan
pelagis. Perikanan tenggiri merupakan komoditas unggulan di Laut Cina Selatan
yang tersebar di beberapa tempat pendaratan antara lain Bangka, Belitung, Tanjung
Pinang, Kepulauan Tj. Balai Karimun, dan Kepulauan Anambas. Di Sungailiat,
Bangka ikan tenggiri merupakan perikanan utama yang diperuntukan kebutuhan
konsumsi lokal maupun ekspor. Total produksi ikan tenggiri di Pelabuhan Perikanan
Nusantara Sungai Liat pada 2012 hingga 2014 terus meningkat yaitu pada tahun
2012 adalah sebesar 209 ton, tahun 2013 naik 19,48% menjadi 259.5 ton, dan pada
tahun 2014 naik 37,9% menjadi 418 ton (Anonimous, 2015).
Tingginya tingkat konsumtif masyarakat Bangka terhadap ikan tenggiri
mengakibatkan tingginya aktifitas penangkapan. Hal ini di dukung oleh nilai CPUE
pancing ulur pada tahun 2012 hingga 2014 yang terus meningkat, yaitu pada tahun
2012 183 Kg/trip, tahun 2013 230 Kg/trip dan tahun 2014 304 Kg/trip (Anonimous,
2015). CPUE pancing ulur menunjukkan intensifnya penangkapan yang dilakukan.
Jika hal tersebut terus dilakukan tanpa adanya pengawasan, dapat mengancam
keberlajutan dari perikanan ikan tenggiri. Penelitian terhadap dinamika populasi
ikan tenggiri di Indonesia masih jarang dilakukan, dibandingkan yang dilakukan
di beberapa negara seperti: di perairan Saudi Arabia, Bahrain, Qatar, UAE, Oman,
dan Kuwait (Jayabalan et al., 2011); di perairan pantai Iran (Shojaei et al., 2007);
di perairan Australia (Welch et al., 2002); dan di Laut India, (Kasim et al., 2002).
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis beberapa parameter dinamika
populasi seperti laju pertumbuhan, tingkat kematian, tingkat eksploitasi, dan pola
rekrutmen ikan tenggiri (Scomberomorus commerson). Dari hasil penelitian ini
dapat digunakan untuk pengelolaan sumber daya ikan tenggiri yang berkelanjutan.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada Januari sampai dengan Desember 2014. Pengumpulan
data dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat, Bangka, Provinsi
Bangka Belitung. Data panjang ikan dikumpulkan setiap bulan baik oleh peneliti
maupun dibantu tenaga enumerator.
153
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Pengambilan contoh ikan didapat dari kapal pancing ulur. Data morfometri
ikan yaitu panjang cagak diukur dengan ketelitian 0.1 cm dan bobot ikan ditimbang
dengan ketelitian 0.1 Kg. Sampling ukuran ikan diambil secara acak dan kemudian
dibuat persentase frekuensi dalam beberapa kelas panjang, dan kemudian dianalisis
menggunakan komputer dalam program FISAT II.
Analisa Data
Parameter populasi ikan tenggiri diestimasi dengan mengelompokkan ukuran
ikan dengan interval 4 cm setiap bulannya. Pertumbuhan ikan yang dieksploitasi
dihitung dengan mengikuti model von Bertalanffy dengan persamaan berikut:
Lt = L∞ (1-e-K(t-t0)) ......................................................................................... 1)
dimana:
Lt = panjang ikan pada umur t
L∞ = panjang asimtotik (infiniti)
K = konstanta pertumbuhan
t0 = umur pada panjang 0 cm
Data frekuensi panjang bulanan dianalisis secara langsung dengan program
Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN I). Dalam program ELEFAN 1
modus-modus atau puncak-puncak teridentifikasi dengan proses restrukturisasi.
Puncak-puncak tersebut diasumsikan mewakili kohor-kohor dan paling cocok dalam
pembentukan suatu kurva pertumbuhan von Bertalanffy secara interaktif, nilai-nilai
L dan K dari Rn yang tertinggi.
Untuk membandingkan pertumbuhan dan umur dari penelitian yang lain serta
kecepatan pertumbuhan maka digunakan Growth Performance Index (Ø’) atau
sering disebut phi-prime (Munro& Pauly, 1983), yaitu:
Ø’= Log (K) + 2 Log (L∞) ......................................................................2)
Mortalitas untuk populasi ikan yang sudah tereksploitasi merupakan kombinasi
dari mortalitas alami dan mortalitas karena penangkapan (Pauly, 1983; Sparre &
Venema, 1999; Welcomme, 2001). Mortalitas alami (M) dapat dihitung berdasarkan
rumus empiris Pauly (1980). yang menggunakan data parameter pertumbuhan ikan
dan rerata suhu permukaan air tahunan dalam satuan derajat Celsius. Rerata suhu
permukaan perairan di Laut Cina Selatan nilainya mendekati 29°C.
154
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Log(M)= -0,0066–0,279* Log(L∞)+0,6543* Log(K)+0,4634* Log(T) .......3)
dimana:
T = suhu perairan dari survei laut di daerah penangkapan 29°C dimasukan sebagai input
Mengingat ikan tenggiri mempunyai sifat menggerombol (Sparre & Venema,
1999) maka nilai M dikoreksi menjadi 20% lebih rendah, sehingga rumus Pauly
tersebut menjadi:
M = 0,8* Exp(-0,0152-0,279*Ln L”+0,6543*Ln K+0,463*Ln T ........4)
Koefisien mortalitas total (Z) diperoleh dari kurva hasil tangkapan berdasarkan
panjang (length converted catch curve) (Pauly, 1983) yang perhitungannya dilakukan
secara komputerisasi menggunakan paket program FISAT (Gayanilo et al., 1996).
Laju mortalitas penangkapan (F) diestimasi dengan menggunakan persamaan:
F = Z-M ......................................................................................................5)
Tingkat eksploitasi (E) dihitung menggunakan persamaan Pauly (1983), yaitu:
E = F/Z = F/ (F+M) .....................................................................................6)
dimana,
M= laju mortalitas
E= tingkat eksploitasi
Z= mortalitas total
F= mortalitas penangkapan
Pola rekrutmen diduga dengan program FISAT pada sub bagian recruitment
pattern, dengan input data L∞, K, dan to (Gayanilo et al., 1996). Dari pola rekrutmen
yang terbentuk dapat ditentukan perkiraan waktu saat puncak rekrutmen terjadi dan
dapat diduga musim pemijahan.
155
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL DAN BAHASAN
HASIL
Pertumbuhan dan Umur
Dari data panjang ikan tenggiri yang telah dianalisis dengan menggunakan
ELEFAN I (Gambar 1) diperoleh panjang infinity (L∞) 129,6 cm, dan laju
pertumbuhan 0,49 per tahun. Nilai K < 1 yang diperoleh menunjukkan bahwa ikan
tenggiri di perairan Laut Cina Selatan mempunyai pertumbuhan yang lambat.
Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Von Bertalanffy Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson)
Dari panjang infinity (L∞), laju pertumbuhan (K) dan nilai t0 (-0,049/tahun)
diperoleh persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy Lt= 129,6 (1-e-0,49(t+0,049)). Dari
persamaan yang diperoleh dibuat kurva hubungan antara umur dengan panjang ikan.
Kurva pertumbuhan ikan tenggiri dengan beberapa variasi umur dapat dilihat pada
Gambar 2.Nilai Indek Kecepatan Pertumbuhan (Ø’) ikan tenggiri di perairan Laut
Cina Selatan adalah 3,9/tahun.
156
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Ikan Tenggiri (Relative Length at Age)
Laju Kematian dan Laju Ekksploitasi
Berdasarkan kurva hasil tangkapan menurut ukuran panjang, lingkaran yang
berwarna hitam menggambarkan kelompok ikan tenggiri yang telah dieksploitasi
(Gambar 3). Dari hasil analisis regresi dengan program FISAT II diperoleh laju
mortalitas alami 0,75 per tahun, laju mortalitas karena penangkapan 1,01 per tahun.
Pauly (1980) merekomendasikan laju mortalitas alami untuk ikan-ikan yang cepat
bermigrasi seperti ikan tenggiri harus dikalikan dengan 0,8, jadi laju mortalitas
alami (M) menjadi 0,6 per tahun. Dengan demikian laju mortalitas total (Z) yang
merupakan jumlah laju mortalitas alami (M) dan mortalitas karena penangkapan (F)
menjadi 1,61 per tahun.
Gambar 3. Kurva Hasil Tangkapan menurut ukuran Panjang Ikan
157
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Laju tingkat eksploitasi optimum terjadi jika terdapat keseimbangan rasio antara
M dan Fsehingga diasumsikan bahwa nilai eksploitasi optimum (EOPTIMUM) yang
lestari setara dengan E = 0,5. Tingkat eksploitasi ikan tenggiri di Laut Cina Selatan
adalah 0,58.
Pola Rekrutmen
Pola rekrutmen ikan tenggiri terjadi terjadi sepanjang tahun, dengan dua
puncak pada bulan Maret sampai dengan April (peak recruitment), dan pada bulan
September sampai dengan Oktober (lean recruitment). (Gambar 4)
Gambar 4. Pola Rekrutmen Ikan Tenggiri di Laut Cina Selatan
PEMBAHASAN
Dari panjang infiniti (L∞) dan laju pertumbuhan (K) per tahun dapat diketahui
ikan tenggiri pada umur 1, 2, dan 3 tahun masing-masing mempunyai panjang 52,
82, dan 101 cm. Panjang infiniti tenggiri 129,6 cm tercapai pada umur ikan lebih dari
15 tahun. Darvishi et al. (2011) melaporkan tenggiri di Teluk Persia dan Laut Oman
pada umur 1, 2, 3, 4, masing-masing mempunyai panjang 63 cm, 104 cm, 129 cm,
dan 129 cm. Hasil Penelitian Noegroho & Hidayat (2014) menyatakan di perairan
Kwandang Laut Sulawesi melaporkan ikan tenggiri pada umur 1, 2, 3, 4, dan 5 tahun
masing-masing mempunyai panjang 73,4 cm ; 111,6 cm ; 128,7 cm ; 136,2 cm dan
139,6 cm dengan panjang infiniti 142,3 cm. Panjang infiniti dan laju pertumbuhan
tenggiri di beberapa lokasi tersaji pada Tabel 1.
158
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Panjang Infiniti dan Laju Pertumbuhan Tenggiri
Panjang infiniti ikan tenggiri di Laut Cina Selatan termasuk di tengah-tengah
antara panjang infiniti 110-232,4 cm. Nilai laju pertumbuhan ikan tenggiri termasuk
yang sedang dan hampir sama dengan nilai K yang dilaporkan di Pantai Iran bagian
selatan (Shojaei et al., 2007).
Laju kematian karena penangkapan (F) sebesar 1.01 lebih tinggi jika
dibandingkan dengan tingkat kematian alami (M) sebesar 0,60, jadi nilai mortalitas
total (Z) 1,61 per tahun. Laju mortalitas penangkapan ikan tenggiri di Laut Cina
Selatan mencapai 1 per tahun yang artinya seluruh kohort telah penuh dieksploitasi
atau telah tertangkap (Beverton & Holt, 1957). Laju kematian penangkapan ikan
tenggiri di Laut Cina Selatan menunjukkan intensitas yang tinggi daripada laju
kematian penangkapan ikan tenggiri di perairan Teluk Kwandang. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa aktifitas penangkapan ikan tenggiri di Laut Cina Selatan
lebih intensif dibanding dengan perairan Teluk Kwandang. Nilai Z, M, F, dan E dari
beberapa hasil penelitian yang sudah ada tersaji dalam Tabel 2.
Tabel 2. Estimasi Nilai Z, M, F, dan E dari Beberapa Area.
Sumber: disarikan dari Darvishi et al. (2011) dan Jayabalan et al. (2011)
Laju eksploitasi (E) diperoleh dari nilai Z dan F dengan persamaan F/Z.
Berdasarkan kriteria Pauly et al. (1983), nilai laju pengusahaan yang rasional dan
159
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
lestari disuatu perairan berada pada nilai E < 0,5 atau paling tinggi pada nilai E=0,5.
Tingkat eksploitasi ikan tenggiri di Laut Cina Selatan adalah 0,58 yang berarti laju
eksploitasi ikan tenggiri batang di perairan ini sudah berada pada keadaan yang jenuh
(fully exploited). Tingkat eksploitasi tenggiri di beberapa lokasi juga menunjukkan
hal yang sama, seperti pada tabel 2. kondisi ini apabila berlangsung terus-menerus
tanpa adanya penataan pengusahaan maka kelestarian tenggiri akan terancam. Oleh
karena itu, perlu dilakukan pola pemanfaatan yang bertanggungjawab agar potensi
lestari tetap terjaga. Beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk mengendalikan tingkat
eksploitasi antara lain mengatur penutupan musim penangkapan pada bulan-bulan
saat diperkirakan ikan memijah, dan pengendalian upaya penangkapan.
Pola rekrutmen memiliki keterkaitan dnegan waktu pemijahan (ongkers,
2006). Rekrutmen tenggiri terjadi sepanjang tahun, dan puncaknya terjadi dua
kali yaitu pertama Maret sampai dengan April dan kedua September sampai
dengan Oktober. Pola rekrutmen berlangsung dalam dua periode musim, pertama
berlangsung pada musim peralihan pertama dan kedua berlangsung pada akhir
musim angin timur sampai musim peralihan kedua. Hasil ini hampir sama dengan
yang dilaporkan Noegroho & Hidayat (2014) di perairan Kwandang Laut Sulawesi,
yang mendapatkan rekrutmen tenggiri berlangsung dua puncak yaitu Maret sampai
dengan Juli dan September sampai dengan Oktober. Sedangkan Darvishi et al.,
(2011) di Teluk Persia dan Laut Oman, melaporkan puncak rekrutmen tenggiri
berlangsung pada September- Oktober.
KESIMPULAN
Pertumbuhan ikan tenggiri di Laut Cina Selatan melimiki pola pertumbuhan
yang lambat. Puncak rekrutmen ikan tenggiri terjadi dua kali, yaitu pada bulan
Maret sampai dengan April dan pada bulan September sampai dengan Oktober.
Laju mortalitas penangkapan ikan tenggiri lebih tinggi dari laju mortalitas alami,
hal ini memperlihatkan sumberdaya ikan tenggiri di perairan Laut Cina Selatan
telah dieksploitasi. Dengan demikian perlu dilakukan pengaturan jumlah upaya
penangkapan agar kelestarian sumberdaya ikan tenggiri dapat tetap terjaga.
160
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan Penelitian Aspek Biologi, Tingkat
Pemanfaatan dan Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Pelagis Besar DI WPP
571 dan WPP 711 Untuk Mendukung Industrialisasi Perikanan di Balai Penelitian
Perikanan Laut T.A 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2015. Statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat. Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Jakarta.
Beverton, R. J. H. &S. J. Holt. 1957. On the Dynamics of Exploited Fish Populations.
Fishery Investigations Ministry of Agriculture and Food (Great
Britain)Series, 2(19): 533 p.
Darvishi M, Kaymaram F, Salarpouri A, Behzadi S & B. Daghooghi.2011. Population
Dynamic and Biological Aspects of Scombermorus commerson in the
Persian Gulf and Oman Sea (Iranian coastal). IOTC WPNT01–22.
Gayanilo, F. C. Jr., Sparre, P. & D. Pauly. 1996. The FAO ICLARM Stock Assessment
Tools (FISAT) User’s Guide.FAO Computerized Information Series
(Fisheries). Rome,FAO, 126 p.
Grandcourt, E., T. Z. Al Abdessalaam, F. Francis, A. T. Al Shamsi, S. Al Ali, K.
Al-Ali, S. Hartmann, A. l Suwaidi. 2005. Assessment of the Fishery for
Kingfish (Kanaad/ Khabat), Scomberomorus commerson, in the Waters
off Abu Dhabi Emirate. Marine Environmental Research Centre. United
EmirateArab:1-14.
Gulland, J.A. 1971. The Fish Resources of the Oceans. FAO Fishing News (Books)
Ltd. Surrey: 255p.
Jayabalan, N., Lubna Al-Kharusi, Saoud Al-Habsi, Shama Zaki, Fatma Al-Kiyumi, &
D. Suliman. 2011. An Assesment of Share Stock Fishery of The Kingfish
Scomberomorus commerson (Lacepede 1800) in The GCC Water. J.Mar.
Biol. Ass. India, 53. 46-57.
Kasim, H. M., C. Muthiah, N. G. K. Pillai, T. M. Yohannan, B. Manojkumar, K.
P. Said Koya, T. S. Balasubramanian, U. S. Bhat, M. N. K. Elayathu, C.
Manimaran and H. K. Dhokia. 2002. Stock assessment of seerfishes in the
Indian Seas. In: N. G. K. Pillai, N. G. Menon, P. P. Pillai and U. Ganga
161
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(Eds.) Management of Scombroid Fisheries. Central Marine Fisheries
Research Institute, Kochi. p. 108-124.
McIlwain JL, Claereboudt MR, Zaki S, Al-Oufi H, Al-Akzami Y, Goddard JS (2005)
Spatial variation in age and growth of the kingfish (Scomberomorus
commerson) in the coastal waters of the Sultanate of Oman. Fisheries
Research 73:283-298
Munro, J. L. & D. Pauly. 1983. A Simple Method for Comparing the Growth of
Fishes and Invertebrates.ICLARM Fishbyte, 1(1): 5-6.
Noegroho, T & H. Thomas. 2014. Dinamika Populasi Ikan Tenggiri (Scomberomorus
Commerson) Di Perairan Teluk Kwandang, Laut Sulawesi. Jurnal
Penelitian Perikanan Indonesia. Jakarta. hal 251-258.
Ongkers, OTS. 2006. Pemantauan Terhadap Parameter Populasi Ikan Teri Merah
(Encrasicholina heterolaba) Di Teluk Ambon Bagian Dalam. Prosiding
Seminar Nasional Ikan IV di Jatiluhur tanggal 29-30 Agustus 2006.
Masyarakat Iktiologi Indonesia kerjasama dengan Loka Riset Pemacuan
Stok Ikan, PRPT-DKP, Departemen MSP-IPB dan Puslit Biologi LIPI :
31-40.
Pauly, D. 1980. On the Interrelationships Between Natural Mortality, Growth
Parameters and Mean Environmental Temperature in 175 Fish Stocks.
Journal du ConseilInternational pour I’ Exploration de la Mer, 39:175192.
Pauly, D. 1983. Some Simple Methods in Tropical Fish Stock Assessment. FAO
Fisheries Technical Paper No. 234. 52p.
Randall, J.E., 1995. Coastal fishes of Oman. University of Hawaii Press, Honolulu,
Hawaii.439 pp.
Shojaei, M. G., S. A. T. Motlagh, J. Seyfabadi, B. Abtahi& R. Dehghani. 2007.
Age, Growth and Mortality Rate of the Narrow-Barred Spanish
Mackerel(Scomberomorus commerson Lacepede, 1800) in Coastal
Waters of Iran from Length Frequency Data.Turk. J. Fish. Aquat. Sci., 7:
115-121.
Sparre, P. and Venema, S. 1999. Introduction to Tropical Fish Stock Assesment.
(Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis, alih bahasa: Pusat Penelitian
dan Pengembangan Perikanan). Buku 1: Manual. Badan Penelitian dan
Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438 hal.
162
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Sumpton, W.D. and M.F. O’Neil .,2004.Monitoring Requirement for the Management
of Spanish Mackerel (Scomberomorus commerson) in Queensland.
Sohthern Fisheries Centre Deception Bay. QI04026.34pp.
Welch, D.J., Hoyle, S.D., McPherson, G.R. and Gribble, N.A. 2002. Preliminary
assessment of the Queensland east coast Spanish mackerel fishery.
Information Series QI02110, Queensland Government, Department of
Primary Industries, Cairs, 32 pp.
Welcomme, R. L. 2001. Inland Fisheries: Ecology and Management. London Fishing
News Book. A Division of Blackwell Science. 358p.
163
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
SUMBER DAYA IKAN TERUBUK (Tenualosa Sp.)
DI PERAIRAN ESTUARI PEMANGKAT
KALIMANTAN BARAT
Oleh
Suwarso, Fadly Yahya, Adi Kuswoyo dan Hari Ilhamdi
ABSTRAK
Ikan terubuk (Tenualosa spp.) adalah ikan estuari, endemik dan umumnya
bersifat ‘protandrous hermaphodite’. Sejauh ini diketahui terubuk hanya ditemukan
di pantai timur Sumatera, antara lain di perairan Bengkalis, Riau (Tenualosa macrura)
serta Labuhan Batu dan Labuhan Bilik, Sumatera Utara (Tenualosa ilisha). Status
sumber daya terubuk di pantai timur Sumatera sangat menurun akibat eksploitasi
intensif sehingga sejak beberapa tahun lalu telah mengalami overfishing. Meskipun
saat ini tidak lagi menjadi target utama penangkapan seperti kondisi sekitar dua
dekade sebelumnya, ikan terubuk ini masih diburu. Degradasi lingkungan ikut
memperparah rekruitmen ikan terubuk. Penelitian ini dilakukan melalui observasi
lapangan selama Januari-Maret 2014 dan pencacahan hasil tangkapan gillnet yang
mendarat di Pemangkat. Hasil menunjukkan, jenis yang eksis di daerah Pemangkat
diduga Tenualosa toli, species yang sama tersebar di Serawak. Daerah penangkapan
tersebar dari utara di daerah perbatasan dengan Serawak hingga ke selatan sekitar
Singkawang. Dalam periode 2013- Maret 2014 hasil tangkapan rata-rata sekitar 41
ekor (sekitar 10 kg) tapi dapat mencapai 500 an ekor atau 130 kg. Hasil tangkapan
didominasi terubuk muda ukuran kecil (semparek, berat <500 gram) sebanyak
99%. Hasil tangkapan berfluktuasi menurut musim. Kosongnya hasil tangkapan
pada bulan-bulan tertentu diperkirakan berhubungan dengan fungsi perairan pantai
Kalimantan Barat sebagai feeding ground. Kajian mendalam bagi kekayaan jenis
dan konservasi terubuk sangat diperlukan.
Kata kunci: Sumber daya, terubuk, estuari, Pemangkat, Kalimantan Barat.
164
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Ikan Terubuk (Tenualosa spp.; Alosinae, Clupeidae) termasuk komoditas
perikanan yang penting, strategis dan bernilai ekonomis tinggi. Terubuk merupakan
ikan estuari, endemik dan umumnya bersifat ‘protandrous hermaphodite’ (setiap
individu ikan akan mengalami perubahan seksualitas dari jantan menjadi betina pada
ukuran/umur tertentu).
Sejauh ini, di Asia dikenal lima spesies terubuk dengan daerah penyebaran
seperti terlihat pada (Gambar 1), antara lain T. ilisha, T. macrura, T. toil, T. reevsii
dan T. thibaudeaui. Terubuk di Indonesia diketahui hanya ditemukan di pantai timur
Sumatera, antara lain T. macrura di perairan estuari Bengkalis (Riau), T. ilisha di
Labuhan Batu dan Labuhan Bilik (Sumatera Utara); sedang T. toli ditemukan di
perairan estuari Serawak (Blaber et al., 1996). Untuk perairan Bengkalis, sejak lama
terubuk menjadi primadona. Ikan ini terus-menerus diburu, selain karena harga
telurnya (gonad betina dalam kondisi matang) cukup mahal (12 juta rupiah/kg),
dagingnya juga dikonsumsi. Sampai sekitar tahun lima puluhan ikan terubuk masih
dapat dijumpai dalam jumlah yang melimpah dengan hasil tangkapan 2000-3000
ekor/kapal; namun sejak tahun 1960-an terjadi penurunan hasil tangkapan, tahun
1980-an hasil tangkapan jumlahnya terbatas (Ahmad et al., 1995). Tahun 1997
Suwarso & Merta melaporkan produksi ikan terubuk di Bengkalis berkisar antara
0,5-10 ton/bulan atau sekitar 4-37 ribu ekor/bulan dengan nilai 3,6-175 juta rupiah.
Gambar 1. Peta penyebaran terubuk (Tenualosa spp.) di Asia
(Sumber: Brewer & Blaber, 1997)
165
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Penurunan sumber daya terubuk di pantai timur Sumatera tersebut terutama
akibat eksploitasi intensif, sehingga tercapai kondisi recruitment overfishing sejak
beberapa tahun lalu. Degradasi lingkungan Sungai Siak yang terjadi akibat polusi
serbuk kayu, limbah rumah tangga dan transportasi ikut memperparah recruitment
ikan terubuk. Meskipun saat ini tidak lagi menjadi target penangkapan seperti
kondisi dua dekade sebelumnya, ikan terubuk masih diburu.
Paper ini melaporkan keberadaan sumber daya ikan terubuk di pantai sekitar
Pemangkat (Kalimantan Barat) berdasarkan observasi lapangan dan pencacahan
hasil tangkapan gill net yang mendarat di Pemangkat. Mengingat strategisnya
sumberdaya ini hasil diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam
pengelolaan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab sekaligus bagi kekayaan
jenis ikan di Indonesia.
BAHAN DAN METODE
Contoh ikan terubuk diperoleh dari hasil tangkapan jaring plastik (gill net tepi)
yang melakukan penangkapan di pantai sekitar Pemangkat selama Januari-Maret
2014. Kapal yang digunakan berukuran kurang dari 5 GT. Selama periode survey
tersebut dilakukan pengumpulan specimen ikan serta observasi lapangan untuk
mendapatkan informasi tentang operasional perikanan ini. Indek kelimpahan ikan
diperoleh berdasarkan data hasil tangkapan alat gill net yang mendarat selama
Februari 2013 sampai Maret 2014 melalui pencacahan hasil tangkapan.
Identifikasi species dengan mengacu pada FAO Species Identification Guide for
Fishery Purposes (1999) dan Kailola (1980). Analisis deskriptif dan statistik dengan
mempresentasikannya secara grafis dilaksanakan untuk melihat kecenderungan yang
terjadi pada indek kelimpahan (hasil tangkapan per unit upaya, kg/trip). Pengukuran
panjang dan kondisi kematangan juga dilakukan untuk memperoleh data biologi
ikan.
166
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Species dan Biologi
Dari identifikasi terhadap beberapa ikan contoh yang dikumpulkan selama
Januari-Maret 2014 menunjukkan jenis ikan terubuk yang tersebar di daerah
Pemangkat diduga Tenualosa toli (Gambar 2). Species yang sama juga tersebar
di Serawak. Ikan terubuk di Pemangkat merupakan komoditas bernilai ekonomis
tinggi. Harga ditentukan oleh bobot ikan, ikan berukuran > 500 gram dikategorikan
sebagai ‘terubuk’, bila beratnya < 500 gram dikategorikan sebagai ‘semparek’.
Gambar 2. Ikan Terubuk di perairan sekitar Pemangkat, Kalimantan Barat.
Ukuran ikan yang tertangkap berkisar antara panjang 18 – 36 cmFL (rata-rata
25 cm) berat 85 - 730 gram (rata-rata 262 gram). Sebaran frekuensi panjang ikan
tertera pada Gambar 3. Dari gambar tersebut dapat terlihat paling tidak terdapat
dua kelompok ukuran (umur) ikan yang masing-masing diwakili oleh modus
ukuran 20 cm dan 27 cm; ada kemungkinan ada modus ukuran lain, yaitu 23 cm
dan 35 cm. Dari ikan contoh sebanyak 71 ekor, selama Januari-Maret 2014 yang
teridentifikasi sebagai ikan betina/female (memiliki telur/ovary) sebanyak 45 ekor
(63%) yang berukuran 22 cm ke atas, sedang lainnya kosong (mungkin ikan jantan/
male). Berdasarkan data tersebut ukuran transisi saat terjadi perubahan kelamin dari
jantan (semparek kecil) menjadi betina (semparek besar dan terubuk) pada jenis ini
dimungkinkan terjadi pada ukuran 23-25 cmFL.
167
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Dari ke 45 ekor ikan betina tersebut sebagian besar (87%) berada dalam kondisi
kematangan awal (immature) dimana ovari kecil, tipis, panjang, berwarna merah tua
dan jernih; belum terlihat adanya butiran telur. Sisanya, 9% berada dalam kondisi
pematangan gonad/telur (maturing) dan kondisi pasca mijah/spent (4%). Indek
Gonad Somatik (GSI) berkisar antara 0,2 – 6,0 % (rata-rata 0,95 %).
Gambar 3. Ukuran (panjang dan berat) ikan terubuk di perairan Pemangkat, Kalimantan
Barat.
Alat Tangkap dan Lokasi Penangkapan
Ikan terubuk ditangkap dengan menggunakan jaring plastik (gill net tepi)
yang dioperasikan dengan perahu kecil ukuran kurang dari 5 GT (Gambar 4) di
perairan yang berjarak sekitar 5 mil. ABK umumnya hanya 2 orang, salah satunya
adalah sebagai nakhoda. Nelayan jarring plastik dapat ditemui di Pasar Melayu
(Pemangkat). Setiap kapal dilengkapi dengan mesin Dongfeng 15 pK dan baterai
untuk penerangan. Jaring terbuat dari benang plastik, panjang 1000-1500 m, dalam
7-9 m, mata jaring 2¼-2½ inch, dilengkapi dengan pemberat timah sebanyak 105
kg dan pelampung utama sebanyak 3 buah serta 50 buah pelampung kecil. Lama
tanam jaring gill net hanyut ini kira-kira 1-1,5 jam; dalam satu malam biasanya
hanya dilakukan satu kali setting, jika cuaca mendukung bisa dua kali.
168
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 4. Kapal gill net (jaring plastik) di Pemangkat.
Daerah penangkapan tersebar dari utara di perbatasan dengan Serawak
(Tanjung Datu) hingga ke selatan sekitar Singkawang. Beberapa lokasi yang dapat
diidentifikasi antara lain pantai Pengikik, pulau Moro, Jawai, Tanjung Bayung,
Lampu Putih dan Selimpai. (Gambar 5). Operasi penangkapan antara 1 sampai 3
hari; jika penangkapan di pantai Selakau hingga Santebang (Singkawang) hanya 1
hari, sedangkan jika di pesisir Santebang sampai Tanjung Datu bisa mencapai 3 hari.
Gambar 5. Peta daerah penangkapan ikan Terubuk (T. toli) oleh alat tangkap gill net di
perairan pantai Pemangkat, Kalbar.
169
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Saat ini jumlah alat jaring plastik ini belum bisa diketahuai secara pasti. Hal
ini karena kapal-kapal berukuran dibawah 10 GT tidak memerlukan ijin Dinas
Kelautan dan Perikanan. Namun dengan adanya bantuan untuk kelompok nelayan
menyebabkan jumlah kelompok nelayan meningkat. Diperkirakan terdapat lebih
dari 200 kelompok nelayan di seluruh Kabupaten Sambas dimana masing-masing
kelompok beranggotakan 10 orang. Di Pasar Melayu (Pemangkat) saja terdapat 30
kelompok nelayan sehingga bila satu kelompok nelayan memiliki 5 armada maka
jumlah armada jaring plastik di Pasar Melayu diperkirakan mencapai lebih dari 150
unit. Selain itu, armada jaring plastik juga dapat dijumpai di Selakau hingga Liku
serta sekitar Paloh. Data statistik Kab. Sambas mencatat sekitar 110 armada jarring
plastik di seluruh Kab. Sambas.
Musim Tangkapan dan Kelimpahan
Berdasarkan wawancara dengan nelayan gill net di Pasar Melayu, musim
penangkapan Terubuk berlangsung antara bulan Januari sampai April; antara MeiJuli kosong, dan musim lagi antara bulan Agustus-Desember. Pada kekosongan
musim Terubuk pada bulan Mei–Juli nelayan biasanya berganti alat tangkap
dengan jaring bawal. Ikan Terubuk yang tertangkap antara Januari-Maret biasanya
didominasi oleh kategori ‘semparek’ atau ikan berukuran kecil antara 200-450 gram;
sedangkan antara Agustus-Desember hasil tangkapan berupa kategori ‘terubuk’
(berat > 500 gram).
Dari hasil pencacahan selama Februari sampai Maret 2014 terhadap 11 nelayan
gill net di Pasar Melayu terkumpul total hasil tangkapan gill net tepi sebanyak 6123
kg atau 637 kg/bulan. Frekuensi penangkapan tiap nelayan antara 1-18 trip/bulan
(rata-rata 6 trip/bulan). Dari 11 nelayan contoh 5 orang memperoleh hasil tangkapan
rata-rata dibawah 50 kg, tapi 6 nelayan lainnya memperoleh hasil tangkapan antara
70-465 kg/bulan (rata-rata 268 kg/bulan).
Hasil tangkapan per unit upaya (CPUE) digunakan sebagai indek kelimpahan
ikan untuk memberi gambaran pola fluktuasi kelimpahannya. Fluktuasi hasil
tangkapan terlihat pada Gambar 5. Pola fluktuasi seperti ditunjukkan pada Gambar 6
memperlihatkan hasil tangkapan minimal terjadi pada bulan Agustus 2013, puncak
musim pada 2013 berlangsung pada bulan Mei 2013 tetapi pada 2014 puncaknya
pada bulan Februari. Puncak yang lebih tinggi terjadi pada bulan Nopember 2013.
170
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hasil tangkapan ikan terubuk pada gill net tepi cukup banyak walaupun
nampaknya tidak menjadi penangkapan, kontribusinya sekitar 38%, jenis lainnya
terdiri dari parang-parang, tengiri, ikan pelagis kecil, bawal dan lain-lain. Berdasarkan
kategori ukurannya kategori ‘semparek’ (terubuk kecil/muda) mendominasi hasil
tangkapan terubuk (99%) (Gambar 6).
Gambar 6. Fluktuasi hasil tangkapan gillnet di Pasar Melayu, Januari-Maret 2014
Gambar 7. Komposisi hasil tangkapan gillnet dan kelompok terubuk yang didaratkan di Pasar
Melayu (Pemangkat), Januari-Maret 2014.
PEMBAHASAN
Keberadaan ikan terubuk di Kalimantan Barat diketahui dari hasil survey
lapangan antara bulan Januari-Maret 2014. Diduga dari species T. toli, species
yang sama dengan yang ditemukan di Serawak. Dari fakta sifat biologi yang
terinventarisasi pada periode tersebut sementara ini diperkirakan bahwa perairan
KalBar kemungkinan berfungsi sebagai daerah untuk tumbuh, mencari makan dan
171
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
mematangkapan telurnya. Ini terlihat dari hasil pengamatan biologi pada bulan
Januari-Maret 2014 yang menunjukkan kondisi telur (gonad/ovary) umumnya
masih muda (immature) dan berkembang (maturing).
Dengan asumsi memiliki karakteristik biologi yang sama dengan species
terubuk lainnya terlihat indikasi ukuran saat terjadi peralihan (transisi) sexual ikan
terjadi pada ukuran sekitar 23-25 cm FL, sedang pada T. macrura di Bengkalis
ukuran transisi terjadi pada ukuran sekitar 20-21 cmFL. Secara umum ukuran yang
tertangkap lebih besar dibanding ikan terubuk di Bengkalis.
Belum diketahui tingkat pemanfaatan yang sesungguhnya meski tidak semua
nelayan gillnet tepi menangkap terubuk, dan ini akibat sangat sedikitnya jumlah
nelayan contoh (11 orang/unit kapal/alat); sedang dari fakta lapangan menunjukkan
jumlah alat tangkap gillnet tepi di sekitar Pemangkat saja mencapai 200 kapal,
belum diketahui pasti jumlah alat ini di Kabupaten Sambas. Namun mengingat
distribusinya yang terbatas (kurang dari 5 mil dari daratan) dan bernilai tinggi,
jenis ini diduga akan mengalami peningkatan tekanan penangkapan secara terus
menerus dan akan mengkibatkan penurunan populasi, apalagi spesies ini termasuk
sangat rawan terhadap tekanan lingkungan. Identifikasi secara lengkap termasuk
aspek upaya penangkapan dan life-history ikan diperlukan untuk dasar-dasar bagi
pengelolaannya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Musim ikan terubuk di perairan pantai Kalimantan Barat berlangsung dua kali,
yaitu antara bulan Januari-Maret dan September-Desember; bulan Mei-Agustus
diketahui sebagai musim paceklik ikan terubuk dan digantikan oleh ikan bawal. Hasil
tangkapan per unit upaya sebagai indek kelimpahan memperlihatkan kelimpahan
berfluktuasi secara musiman. CPUE berkisar antara 1-34 kg/trip/hari (rata-rata 25
kg/trip), sedang CPUE terubuk di Bengkalis (2012-2013) sekitar 29 kg/trip; bedanya
ikan kategori terubuk di Pemangkat sangat sedikit (sekitar 1%) sedang di Bengkalis
lebih banyak (12%).
Bahkan dalam periode 2013 sampai Maret 2014 hasil tangkapan ikan terubuk
rata-rata sekitar 41 ekor (10 kg) tapi dapat mencapai 500 an ekor (130 kg), didominasi
oleh ikan muda/semparek berat rata-rata kurang dari 500 gram/ekor (99%).
KESIMPULAN
Sumberdaya terubuk di perairan sekitar Pemangkat diduga jenis Tenualosa toli
(Alosinae, Clupeidae), merupakan komoditas ekonomis (harga cukup mahal) dan
172
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
sangat spesifik. Merupakan ikan estuari, protandrous hermaphrodit dan endemik
dengan sebaran yang terbatas sehingga rawan mengalami penurunan kualitas
biologinya. Walaupun tidak menjadi target penangkapan gillnet (hasil tangkapan
terubuk 38% dari total hasil tangkapan) dikhawatirkan juga akan mengalami
penurunan stok bahkan menjadi semakin langka seperti kerabat dekatnya di estuari
Bengkalis Riau (T. macrura). Selain tekanan penangkapan tekanan lingkungan dapat
memperberat tekanan terhadap stok ini. Musim ikan terubuk berlangsung dua kali
dalam setahun (2013-2014), pertama antara bulan Januari-Maret dan SeptemberDesember. Pada bulan April/Mei sampai Agustus hasil tangkapan sangat rendah.
PERSANTUNAN
Penelitian ini merupakan kontribusi dari kegiatan penelitian Balai Penelitian
Perikanan Laut tahun 2014 yang berjudul “Kajian Stok, Distribusi dan Parameter
Biologi Sumberdaya Ikan Pelagis Kecil untuk Mendukung Industrialisasi Perikanan
di WPP 571 dan 711” yang didanai oleh APBN 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M., T. Dahril dan D. Efison. 1995. Ekologi reproduksi ikan Terubuk (Alosa
toli) di perairan Bengkalis, Riau. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 1: 2-19.
Blaber, S.J.M., D.T. Brewer, D.A. Milton, G.S. Merta, D. Efison, G. Fry and T.
van der Velde. 1999. The Life History of the Protandrous Tropical Shad
Tenualosa macrura (Alosinae : Clupeidae) : Fishery Implications.
Estuari, Coastal and Shelf Science, 49, 689-701.
Blaber, S.J.M. and D. Brewer. 1997. Feeding ecology of Tenualosa macrura in
Bengkalis. Presented in 1st Co-ordination Meeting on Terubuk Fishery.
Pekanbaru, 23-24 July 1997.
Blaber, S.J.M. 1998. Reproductive ecology and life history of Terubuk in Indonesia.
2nd Co-ordination Meeting on Terubuk Fishery. Pekanbaru, 1998.
Brewer, D. and S.J.M. Blaber. 1997. Reproductive ecology and life history of
Tenualosa macrura in Bengkalis. Presented in 1st Co-ordination Meeting
on Terubuk Fishery. Pekanbaru, 23-24 July 1997.
Efison, D. 2007. Identifikasi calon suaka perikanan ikan Terubuk (Tenualosa
macrura) : Ringkasan Eksekutif. Satker Direktorat Konservasi dan
173
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Taman Nasional Laut, Dir. Jen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,
DKP. 12 pp.
Merta, I.G.S., Suwarso, Wasilun, K. Wagiyo, E.S. Girsang dan Suprapto. 1999. Status
Populasi dan Bio-Fkologi Ikan Terubuk, Tenualosa macrura (Clupeidae)
di Propinsi Riau. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, V(3) : 15-29.
Merta, I.G.S., Suwarso and S.B. Atmaja. 1997. Preliminary study on catch
fluctuation patterns of Terubuk (Tenualosa macrura) fishery in Bengkalis
waters, Riau Province. Presented in 1st Co-ordination Meeting on Terubuk
Fishery. Pekanbaru, 23-24 July 1997.
Merta, I.G.S., Suwarso and XX. Sumber Daya Ikan Terubuk (Tenualosa macrura)
dan Pengelolaannya. Departemen Kelautan dan Perikanan – ACIAR.
Poster.
Perbowo, N. 2007. Pengelolaan Ikan Terubuk. DJPT-SDI, DKP.
Robertson, M. and J. Ovenden. 2002. Indonesian Terubuk (Tenualosa macrura):
Larval identification using genetics. Shad Larvae Identification Report.
Molecular Fisheries Laboratory (QDPI Southern Fisheries Centre, 13
Beach Road, Deception Bay, 4508) and University of Queensland (St.
Lucia, 4072, Qld.).
Suprapto dan Suwarso. 2000. Perikanan Terubuk di Kabupaten Bengkalis (Propinsi
Riau). Warta Penelitian Perikanan Indonesia, 6(1): 2-6.
Suwarso. 1998. Kelimpahan populasi ikan Terubuk, Tenualosa macrura (Clupeidae),
dan dugaan nilai produksinya di perairan estuarin sekitar Bengkalis
(Riau). Prosiding Simposium Perikanan Indonesia II, ISBN: 979-818668-0.
Suwarso dan I.G.S. Merta. 1997. Kelimpahan populasi ikan Terubuk, Tenualosa
macrura (Clupeidae) dan dugaan produksinya di perairan estuarin sekitar
Bengkalis (Riau). Simposium Perikanan Indonesia II, Ujung Pandang,
23-24 September 1997. 99-103.
Suwarso, Wasilun dan I.G.S Merta. 1999. Pengendalian lingkungan perikanan
Terubuk, Tenualosa macrura (Clupeidae) di Propinsi Riau. Warta
Penelitian Perikanan Indonesia, 5(4): 6-13.
Suwarso. 2000. Penurunan populasi dan alternatif pengelolaan ikan Terubuk,
Tenualosa macrura (Clupeidae), di Propinsi Riau. Prosiding Seminar
Nasional Keanekaragaman Hayati Ikan. ISBN: 979-9583-4-8.
174
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Suwarso, I. G. S. Merta dan Karsono Wagiyo. Sumber Daya Ikan Terubuk (Tenualosa
macrura) dan Pengelolaannya. POSTER. Departemen Kelautan dan
Perikanan – ACIAR.
Wagiyo, K. Bioekologi, sediaan, eksploitasi dan konservasi ikan Terubuk (Tenualosa
macrura, Bleeker, 1852).
Wagiyo, K. 2003. Kelimpahan Larva Terubuk (Tenualosa macrura) dan beberapa
faktor hidrologis daerah asuhannya. Interim Report (unpublished).
Wagiyo, K. dan Suwarso. 1999. Kondisi lingkungan estuarin Bengkalis dalam
hubungannya dengan kelimpahan larva ikan. Prosiding Seminar Hasil
Penelitian Perikanan 1999/2000, ISBN: 979-8186-79-6.
175
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
RESTRUKTURISASI KEBIJAKAN PEMBESARAN
NAPOLEON (Cheilinus Undulatus Rüppell 1835)
DI PERAIRAN ANAMBAS DAN NATUNA
Oleh
Isa Nagib Edrus
ABSTRAK
Masalah perikanan Napoleon yang terjadi pada aspek budidaya adalah
kesenjangan antara legalitas ukuran panen dan jumlah kuota dengan peningkatan
produksi dan pemasarannya. Tulisan ini menggunakan pendekatan analisis
kebijakan publik dengan tujuan memberikan arahan pengembangan sea-ranching
ke dalam bentuk model yang legalitasnya dapat diterima semua pihak dengan
mempertimbangkan prinsip kesesuaian sifat-sifat ekosistem dalam usaha perikanan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk menanggulangi permasalahan yang
terkait perikanan budidaya dibutuhkan perubahan pola managemen budidaya
laut dengan memperhatikan aspek-aspek produktivitas, sustainabilitas, stabilitas,
tracebilitas, equitabilitas dan legalitas. Dari perubahan tersebut diharapkan menjadi
bentuk legalitas aturan yang lebih menguntungkan bagi pembudidaya dan bagi
ikan rawan punah itu sendiri, sehingga dapat dipandang selaras dengan prinsip
Non Detrimental Finding dan tata laksana perikanan yang bertanggung jawab. Pola
yang dapat ditawarkan untuk solusi tersebut adalah budidaya laut (mariculture)
KJA Napoleon dijadikan bagian integral dari pola sea-ranching, karena pola
sea-ranching memiliki konsep yang baik dalam hal konservasi dan pengkayaan
sumberdya melalui restoking. Model tersebut dapat mengatasi masalah yang terjadi
dengan memperhatikan perbaikan pelembagaan dalam sistem usaha budidaya.
Pengembangan model ini berdasarkan pada penjaminan assosiasi pelaku usaha atas
semua transparansi jalannya usaha.
Kata kunci: sea-ranching, ikan Napoleon, Anambas, Natuna
176
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Status Ikan Napoleon adalah Terancam punah apabila pengelolaannya tanpa
pengaturan (Russell, 2004). CITES tahun 2004 telah menetapkan appendiks 2
dengan batasan panen yang tidak merugikan (Non Detrimental Finding) dan
mewajibkan adanya penetapan kuota perdagangan (CITES, 2004). Untuk menyikapi
pertimbangan CITES tersebut, pemerintah telah mengeluarkan penetapan kuota
Nasional 2000 ekor secara berjenjang dan regional menurut tahun dan penentuan
pintu ekspor melalui Bandar udara. Kemudian untuk merubah regulasi yang lama
pemerintah mengeluarkan regulasi baru berupa Keputusan Menteri Nomor KP 37
Tahun 2013, tentang aturan yang boleh ditangkap dan tidak boleh ditangkap.
Dari sekian banyak masalah pengelolaan yang terjadi di lapangan, masalah
krusial adalah menyangkaut kesenjangan yang terjadi antara deregulasi di bidang
pengelolaan dengan perikanan tangkap napoleon dan perikanan budidaya napoleon.
Masalah tersebut adalah menyangkut IUU Fishing, pembatasan stok, pintu
pemasaran ekspor, ukuran panen hasil budidaya, dan pengawasan. Permasalahan
yang terkait dengan perikanan budidaya di Anambas dan Natuna adalah produksi
akhir-akhir ini meningkat karena menurunnya penjualan. Penurunan penjualan pada
dasarnya adalah terkait dengan (1) masalah pintu keluar ekspor yang hanya sematamata bergantung pada transportasi laut, (2) besaran stok diluar ketentuan, dan (3)
ukuran panen (< 1 kg) masuk kategori larangan, dimana semua ini menjadi paradoks
atau terbentur pada regulasi yang telah ditetapkan.
Untuk menanggulangi permasalahan yang terkait perikanan budidaya
dibutuhkan total Solution menyangkut aspek biologi ikan, konservasi, teknis,
ekonomis, sosial, hukum dan kelembagaan dalam bisnis perikanan Napoleon.
Perubahan pola managemen budidaya laut Keramba Jaring Apung (KJA) Napoleon
adalah langkah strategis sebagai suatu solusi, dimana dari perubahan tersebut
diharapkan menjadi bentuk legalitas aturan yang lebih menguntungkan bagi
pembudidaya dan bagi ikan rawan punah itu sendiri, sehingga dapat dipandang
selaras dengan prinsip Non Detrimental Finding dan tata laksana perikanan yang
bertanggung jawab. Pola yang dapat ditawarkan untuk solusi tersebut adalah budidaya
laut (mariculture) KJA Napoleon dijadikan bagian integral dari pola sea-ranching,
karena pola sea-ranching memiliki konsep yang baik dalam hal konservasi dan
pengkayaan sumberdya melalui restoking. Untuk itu diperlukan sedikit perubahan
model dan kelembagaan usaha perikanan KJA Napoleon agar dapat mengentaskan
masalah yang terjadi dan layak menurut pandangan CITES.
177
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
CITES dalam hal ini hanya mengatur bentuk perdagangannya ke luar,
sementara bentuk-bentuk mangement ke dalam perlu dikelola sebaik-baiknya oleh
pemerintah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus merugikan
ikan Napoleon sendiri yang statusnya rawan punah (Edrus & Suman, 2013), karena
jenis ikan tidak begitu baik dikenal oleh masyarakat (Sadovy, 2003). Ramburambu konservasi dan panen yang tidak merugikan harus menjadi ketentuan paling
pokok dalam mengontrol pengelolaan perikanan Napoleon. Convensi CITES yang
tertuang dalam Resolution Conf. 11.16 (Rev.CoP15) seputar tema tentang usulan
transformasi status populasi dari Appendix 1 menjadi Appendix II melalui aktivitas
ranching memberikan ruang positif atas ranching dengan beberapa rekomendasi
tentunya. CITES (2003) memberikan definisi tentang istilah ranching, yaitu berarti
pembesaran suatu species hewan dalam suatu lingkungan yang terkontrol dan hewan
tersebut sebagai telur atau anakan diambil dari alam, dimana hewan tersebut dalam
bentuk telur atau anakan memiliki kemungkinan survival yang sangat rendah untuk
menjadi dewasa. Selanjutnya difinisi “sistem penandaan yang seragam” (uniform
marking system) berarti suatu sistem dari penandaan setiap produk yang dizinkan
oleh Konferensi CITES untuk setiap species, yang secara minimum, termasuk
dalam Standarisasi Organisasi Internasional untuk kode dua surat (sertifikasi produk
dan transportasi) dari negara asal, yang mencantumkan angka identifikasi unik
spesifik dan tahun produksi untuk produk-produk dalam sediaan stok atau produk
yang diperdagangkan dari operasi dalam stok pada waktu yang tercantum dalam
proposal, tahun dimana proposal itu mendapat persetujuan. Secara garis besar dari
difinisi CITES tersebut dapat diringkas bahwa CITES menghendaki adanya prinsip
konservasi yang ketat atas kepentingan peningkatan kelulusan hidup species di alam
dan perlunya dokumen asal usul suatu produk ranching.
Sekarang kita akan melihat sejauh mana Keramba Jaring Apung (KJA) dapat
memenuhi prinsip di atas dengan cara memodifikasinya menjadi sea-ranching.
Secara teknis kegiatan sea-ranching berbeda dengan mariculture (KJA). Searanching akan sangat tergantung dari karakteristik geografi dan hidrografi wilayah,
sehingga paket teknologi yang dipergunakan akan sangat disesuaikan dengan lokasi.
Benih dapat diambil dari beragam sumber penghasil benih dan setelah tahapan
melepaskan benih ikan ke perairan yang telah dipersiapkan, benih mengalami
pembesaran secara alami tanpa adanya pemberian pakan, jadi alam yang memelihara
dan kemudian panen dapat dilakukan di alam. Pada budidaya laut (mariculture),
benih juga diambil dari beragam sumber penghasil, tetapi tahapan pembesaran benih
terjadi dalam ruang sempit dan terbatas. Tahapan dalam budidaya laut terkontrol
178
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dengan manajemen intensif dimana jumlah tebar benih tertentu dan pakan khusus
diberikan secara periodik, seperti pola KJA yang tersebar di perairan pantai, dan
kemudian panen dilakukan pada waktu yang jelas dengan hanya menaikkan jaring
(Azwar, 1990; Sirait, 2007).
Terminologi lain mendifinisikan “ranching” sebagai suatu sistem budidaya,
dimana pertama-tama komoditas budidaya dibesarkan dalam area terbatas (memenuhi
kapasitas) sampai bertelur, kemudian anakannya dilepas ke dalam lingkungan yang
alamiah dan akhirnya stadium dewasa dapat ditangkap dari linkungan alamiah
tersebut (Tseng, 1989; Jia & Chen, 2000)
Dari difinisi di atas jelas bahwa sistem KJA berbeda secara teknis dengan
sistem sea-ranching. Pertanyaannya adalah bagaimana merekonstruksi perikanan
budidaya KJA di Anambas dan Natuna sehingga sesuai dengan sistem sea-ranching
sebagaimana pengertian CITES di atas yang secara substansial mengandung prinsipprinsip restocking dan konservasi?
Seperti diketahui bahwa aktivitas pembesaran ikan Napoleon dalam KJA
di kedua lokasi itu sudah terjadi selama 3 dekade dan dapat dipandang sebagai
primordial dari pola sea-ranching. Berarti perlu diketahui langkah-langkah apa saja
untuk merestrukturisasi pengembangan pola KJA sehingga pola KJA tersebut menjadi
bagian sea-ranching dan menjadi usaha perikanan Napoleon yang berkelanjutan dan
legal dalam semua aspek tersebut di atas. Kecuali itu langkah-langkah apa saja yang
perlu dikembangkan supaya aspek legalitas dari semua tahapan budidaya sampai
pemasaran dan jalur pasarnya perlu ditetapkan sehingga tidak menimbulkan masalah
baru.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan arahan pengembangan searanching ke dalam bentuk model yang legalitasnya dan dapat diterima semua pihak
dengan mempertimbangkan prinsip kesesuaian sifat-sifat ekosistem dalam usaha
perikanan.
METODE
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan adalah analisis publik (Suharto,
2014), yaitu memformulasi semua informasi yang tersedia menjadi suatu anjuran
yang bermanfaat untuk mengentasan suatu masalah. Tulisan ini terfokus pada kajian
sifat-sifat pendukung dan pelemah dari suatu ekosistem laut yang diusahakan seperti
179
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
pada aspek-aspek produktivitas, stabilitas, sustainabilitas, tracebilitas, equitabilitas
dan lagalitas. Analisis ini mencoba untuk berangkat dari kerangka berfikir di bawah
ini (Kotak 1).
PEMASARAN
PEMANENAN
NELAYAN
PEMBESARAN
KERAMBA JARING APUNG
PENANGKAPAN
ANAKAN
SPAWNING
PEMBESARAN
EX-SITU
BENIH
PEMANENAN
SPILL OVER EFFECT
BENIH ALAM
BENIH
PENELURAN
KONTORL
LINGKUNGAN
PELEPASAN
SEA-RANCHING
ANAKAN
ANAKAN
TUMBUH
KESESUAIAN
TUMBUH
PEMATANGAN
HABITAT
DEWASA
DEWASA
Gambar 1. Model KJA terpadu sea-ranching, modifikasi pola Maasaru (1999)
180
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KERANGKA BERFIKIR
Substansi mendasar dari Kepmen KP Nomor 37 tahun 2013 adalah pembatasan terbatas berdasarkan ukuran yang intinya adalah sebagai upaya memberikan kesempatan ikan napoleon mengembangan
populasinya di alam. Hal yang dikehendaki oleh regulasi tersebut adalah ketersediaan plasma nutfah dari
ukuran terkecil matang gonad sampai indukan Napoleon matang gonad yang cukup di alam, sehingga akan
memberikan kesempatan ikan Napoleon bergenerasi kembali. Hal inilah yang sebenarnya menjadi tujuan
yang hakiki atas pengelolaan sumberdaya ikan supaya tidak terjadi krisis perikanan.
Perlakuan pembesaran ikan Napoleon pada sistem mariculture (KJA) di Anambas dan Natuna
tidak dapat disamakan dengan pengertian atau terminologi dari prinsip dasar budidaya yang sesunggguhnya,
seperti juga prinsip dasar sea-ranching. Aktivitas pembesaran seperti ini tidak menerapkan pelakuan yang
terkontrol sebagaimana perlakuan budidaya pada hatchery yang dimulai dari pembenihan, sementara budidaya pembesaran sangat bergantung pada benih alam. Namun kesamaan antara mariculture dan sea-ranching adalah sama-sama berkenaan dengan asal muasal benih dan perbedaannya adalah pada cara panen dan
prinsip restocking, dimana pengkayaan sumberdaya (enhancement) menjadi tujuan sea-ranching dan peningkatan produksi adalah tujuan dari mariculture.
Untuk itu dalam sistem mariculture (KJA) dibutuhkan tahapan tambahan atau kontribusi agar
dapat menjamin prinsip restocking untuk kepentingan mendukung konservasi ikan Napoleon di alam. Restocking yang menjadi dasar dari sea-ranching diasumsikan dapat dikenakan pula pada pola usaha KJA
untuk mengembangkan populasi ikan Napoleon di alam melalui usaha-usaha dengan caranya sendiri atau
cara-cara yang disepakati (Gambar 1). Dengan demikian KJA pembesaran ikan Napoleon dapat menjadi
bagian dari sea-ranching dan tidak harus menjadi usaha yang kontra produktif atas regulasi yang diatur
pemerintah atau CITES.
Bilamana tahapan pembesaran ikan Napoleon dalam KJA dan upaya restocking yang terdokumentasi dengan baik dapat dipertanggung-jawabkan, maka pengaturan selanjutnya pada pola tata niaga pemasaran dapat lebih mudah dilegalisasi dan jalur pemasaran dapat dinegosiasikan kembali.
Seperti disebutkan di atas, pengertian sea-ranching yang di dalamnya ada tahapan restocking
adalah berkaitan dengan pengkayaan sumberdya (enhancement) suatu komoditas, dimana secara teknis pola
KJA dapat menjadi bagian pada tahapan awal sea-ranching (Gambar 1). Dalam hal ini KJA berfungsi sebagai penyedia benih pada tahapan restorasi. Ada dua jalan dalam hal penyebaran benih ke alam, pertama
menurut kesepakatan atas seberapa besar kontribusi pelaku bisnis Ikan Napoleon melepaskan benih ke alam
dengan ketetapan (jumlah dan ukuran) yang akan menjadi konsensus bersama. Kedua, upaya pembesaran
ikan Napoleon pada sejumlah keramba jaring apung (KJA) sesungguhnya dapat diasumsikan menjadi sumber benih, dimana setiap petak KJA dibagi ke dalam fungsinya masing-masing. Satu atau dua petak dapat
secara khusus digunakan untuk petak pengindukan ikan Napoleon dengan harapan bahwa di petak tersebut
akan terjadi spawning ex-situ dan proses berikutnya terjadi spill over effects ke luar keramba, kemudian
anakan ikan Napoleon yang menyebar ke alam dapat ditangkap kembali oleh nelayan untuk benih pembesaran dalam KJA.
Oleh karena tahapan dalam sea-ranching, terutama menyangkut restocking, membutuhkan adanya konsensus dan kesepahaman inter dan antar stakeholder dan pemerintah, maka perlu adanya pelembagaan
atas usaha sea-ranching ikan Napoleon, dimana diharapkan pemantapan sea-ranching pada masing-masing
lokasi Anambas dan Natuna adalah dalam bentuk kawasan terpadu usaha Napoleon yang mengakomodasi
beragam usaha secara horizontal menurut profesi, seperti pembudiaya, nelayan benih, pengumpul, pemasaran dan usaha-usaha pendukung lainnya. Selanjutnya masing-masing profesi tersebut membutuhkan semacam assosiasi untuk mengembangkan modal sosialnya, agar semua permasalahan dapat diatasi bersama.
181
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Prospek Pengembangan Sea-Ranching
Pengembangan usaha KJA ikan Napoleon di Anambas dan Natuna dapat
menjawab berbagai masalah perikanan Napoleon dengan jalan membangun
model sea-ranching yang tepat berdasarkan penjaminan aspek produktivitas,
sustainabilitas, stabilitas, tracebilitas, equitabilitas dan legalitas. Model seperti
ini sesungguhnya mengacu pada pembangunan yang memperhatikan keseuaian
“agro-ecosystem property”. Analisis tentang hal ini menyangkut apa saja hal
yang menguntungkan/positif dapat dikembangkan dan kelemahan/negatif sebagai
penghambat pengembangan. Di bawah ini akan didiskripsi secara ringkas masingmasing aspek tersebut.
Produktivitas
Pola budidaya laut (mariculture) ikan Napoleon dalam KJA sejauh ini sudah
jelas memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding perikanan tangkap Napoleon,
meskipun diakui usaha budidaya ini mahal, membutuhkan waktu yang panjang
(sampai 6 tahun untuk ukuran panen), dengan manajemen yang rumit (Wawancara
Pribadi, 2012; Soemodinoto et al., 2013). Berbeda dengan mariculutre, pola searanching bukan saja menyebabkan produktivitas ukuran dewasa meningkat, tetapi
juga ketersediaan benih akan meningkat (Sirait, 2007).
Menurut laporan KKJI pada acara Focus Group Discussion tanggal 23 Oktober
2015 di Jakarta, Sejauh ini pada sentra produksi KJA Anambas dan Natuna tersedia
lebih kurang 300.000 ekor ikan Napoleon yang siap jual. Ikan Napoleon sebanyak
ini mengalami kesulitan pemasaran. Kesulitan ini berhubungan dengan (1) ketentuan
ukuran panen ikan Napoleon yang diatur oleh Kepmen KP nomor 37 tahun 2013;
(2) kuota yang yang ditetapkan tidak sebanyak itu; (3) ketentuan pemasaran melalui
udara; dan (4) kapal penjemput sudah mengurangi jadwalnya.
Sustainabilitas
Restocking dalam pola sea-ranching dapat menjamin kesenambungan benih
Napoleon dari alam (Tseng, 1989). Kecuali itu, tindakan-tindakan aksi dalam aspek
sustainabilitas seperti menyiapkan keramba khusus untuk indukan, tempat dimana
yang akan terjadi spawning dan kemudian terjadi spill-over effect benih ke sekitar
182
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
habitat yang cocok, dapat dipandang sebagai suatu keniscayaan dalam konservasi
ikan Napoleon. Keramba indukan seperti ini dapat menjawab kehati-hatian panen
(NDF) yang diamanatkan CITES.
Pandangan bahwa pemanfaatan benih ikan Napoleon dari alam adalah selaras
dengan pengertian konservasi, karena dalam KJA kelulusan hidup cukup tinggi
dari kelulusan hidup anakan ikan yang menghadapi predator. Hasil penelitian
menyebutkan bahwa kelulusan hidup anak ikan Napoleon dalam keramba 85%
(BP2KSI, 2014), tetapi sebaliknya kelulusan hidup anakan ikan Napoloen dalam
proses panen dari alam hanya 20% (Edrus & Suman, 2013).
Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa satu sisi pembesaran ikan Napoleon
dalam keramba dapat menjamin kelulusan hidup ikan, tetapi cara panen anakan
ikan dari alam belum mendukung sepenuhnya angka kelulusan hidup menjadi lebih
tinggi dari ancaman predator alami. Dengan kata lain, kematian anakan ikan juga
disebabkan cara-cara yang buruk dari prosedur pasca panen tangkapan dari alam
(Edrus & Suman, 2013). Hal ini artinya bahwa tindakan pasca panen benih belum
menjamin konservasi, kecuali ada tindakan memperbaikan metode pasca panen.
Stabilitas
Faktor stabilitas usaha pembesaran ikan dalam keramba bergantung pada benih
alam dan pakan alam. Ikan Napoleon memiliki kebiasaan makan tersendiri, terutama
ketika stadium juvenile (Randall et al., 1978). Dengan demikian dua faktor penting
ini (benih dan pakan) perlu dikembangkan menurut preferensi ikan Napoleon dan
dipastikan kelestariannya. Restocking adalah kunci sukses untuk stabilitas usaha
perikanan dengan pola KJA (Bell et al., 2008). Penjaminan pada ketersediaan benih
ikan Napoleon bergantung pada langkah-langkah teknis pemilik KJA bersama
nelayan pencari benih dalam upaya restocking jangka pendek maupun jangka
panjang. Baik pemilik KJA maupun nelayan pencari benih harus membangun sarana
dan prasarana dengan caranya sendiri dalam mendukung kerja restocking.
Tracebilitas. Asal usul dan life story biologis dari ikan harus jelas. Asal usul
dibagi dua, yaitu pertama adalah asal dari tangkapan atau asal dari budidaya dan
asal komoditas pada bongkar muat ikan yang perlu dibuktikan oleh dokumen
resmi. Kedua, asal usul biologis benih ikan yang digunakan dalam sea-ranching,
yaitu apakah benih ikan Napoleon dari alam sekitarnya memang berasal dari proses
spawning populasi Napoleon dari keramba (ex-situ) atau dari proses spawning
183
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
alami di luar keramba (in-situ) dan ini perlu bukti ilmiah. Penelitian ikan Napoleon
dewasa di habitat aslinya sejauh ini menyebutkan hanya 2 ekor ikan Napoleon
dewasa dijumpai pada jelajah lintas sensus yang sangat panjang, hingga sampai dua
kali survei laut dilakukan (Edrus et al., 2012; BPSPL, 2013). Fakta ini mendorong
asumsi tentang asal anakan ikan Naploen adalah berasal dari keramba.
Asal usul benih ikan Napoleon sekitar wilayah keramba menjadi sangat
penting sekali untuk menetapkan tindakan selanjutnya, bahwa apakah mungkin
menjadikan keramba sebagai wadah spawning ex-situ ikan Napoleon. Penelitianpenelitian sudah mengarah ke hal ini (Satria & Syam, 2015; Satria et al., 2015),
seperti (1) ditemukannya warna putih dalam kolom air keramba pada waktu tertentu
oleh pemilik keramba, dimana Colin (2010) menyebutkan sifat ikan Napoleon
dalam masa kawin selalu dalam bentuk bergerombol melakukan pemijahan telur
(Spawning aggregation). Penelitian di Anambas menyebutkan bahwa spawning
ikan Napoleon terjadi antara Oktober dan Januari; (2) satu kelompok sample (dari
13 kelompok sample yang dikumpulkan) membuktikan uji parental bahwa benih
ikan yang ada di sekitar keramba berasal dari keramba; (3) prilaku kawin (sebelum
spawning) ikan Napoleon diasumsikan berubah setelah sekian lama dalam keramba
sebagai respon naluri fungsi perkembang-biakan, seperti terlihat pada malam hari
pada periode lunar.
Penelitian-penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mendukung teknologi
spawning ikan Napoleon dalam keramba dan teknologi pasca panen anakan ikan
Napoleon di luar keramba. Kegiatan-kegiatan ini harus didukung oleh pihak
pemerintah dan stakeholder terkait. Model sea-ranching harus lebih berkembang ke
dalam bentuk integrasi teknologi pembesaran dan pembenihan. Model sea-ranching
ini juga perlu didukung oleh sistem dokumentasi asal usul yang dapat dipercaya,
sehingga mempermudah sertifikasi keramba jaring apung (KJA) dan sertifikasi hasil
produk KJA itu sendiri. Tertip administrasi (berita acara dan pelaporan) dan tertib
hukum dari sea-ranching pada akhirnya akan mempermudah pengawasan dalam
tingkat proses budidaya di sentra produksi dan dalam pengawasan dan keamanan
transportasinya di laut. Jika dari awal sudah tertip maka pintu keluar ekspor tidak
saja dapat bergantung pada bandar udara tetapi juga pada pelabuhan laut.
Equitabilitas. Ketentuan regulasi adalah mengikat secara umum dan
pengecualian atasnya akan menjadi paradoks karena akan menimbulkan
kecemburuan sosial dan menimbulkan dampak negatif sebagai ikutannya. Sekecil
apapun celah yang diperlonggar atas produk regulasi akan menjadi perselingkuhan
184
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dalam sistem yang semula diatur untuk tertibnya sesuatu (Edrus & Suman, 2013).
Peternak atau pengumpul ikan Napoleon akan mencari jalan untuk “bermain”di
wilayah abu-abu pada wilayah yang diperlonggar tersebut. Dalam hal ini, Permen
KP nomor 37 tahun 2013 mengatur tentang ukuran yang tidak boleh ditangkap dari
alam adalah interval 100 gram - 1000 gram dan diatas 3000 gram. Itu artinya yang
boleh ditangkap lalu dijual adalah interval 1000 gram – 3000 gram. Ketika regulasi
seperti ini dihubungkan dengan ukuran panen ikan Napoleon dari hasil sea-ranching
akan menimbulkan masalah. Terutama yang umum dipanen dan mencapai harga
tertinggi untuk ikan Napoleon hasil pembesaran sea-ranching adalah antara 600
gram sampai 800 gram. Memberikan kelonggaran ukuran untuk penjualan hasil searanching akan menjadi masalah pada ketentuan hasil tangkapan di alam. Nelayan
penangkap ikan Napoleon dari alam dapat saja berkilah ketika mereka mendapatkan
hasil pancingan berukuran di bawah 1000 gram sebagai hasil pembesaran ketika
melaporkannya untuk dijual. Ketika kejadian seperti ini meluas maka Permen KP
nomor 37 tahun 2013 tersebut tidak mempunyai makna lagi untuk mengatur ukuran
tangkap, karena aspek equitabilitas dalam penerapannya diabaikan.
Berbeda dari aspek hukum yang mengikat secara merata, distribusi hasil
pembangunan atau pengembangan suatu usaha biasanya bergantung pada performan
atau kinerja bagaimana usaha tersebut dalam mengelola sumberdaya. Jadi bisa saja
tidak berdistribusi normal atau tidak merata. Kelompok usaha dengan kemampuan
yang spesifik dari mengelola sumberdaya yang spesifik biasanya mendapatkan porsi
yang cukup dibanding kelompok yang bersifat sebaliknya. Dalam hal ini alam
memiliki anugerahnya masing-masing untuk pengelola sumberdaya yang berbeda
kinerja (performances).
Dalam hal sumberdaya apa yang dimiliki oleh Anambas dan Natuna dapat
dikatakan bahwa sumberdaya anakan ikan Napoleon diasumsikan sebagai anugerah
tersendiri atas model KJA yang sudah 3 dekade mereka terapkan dan ini merupakan
bagian dari kinerja perikanan budidaya di laut. Modifikasi pola budidaya laut
menjadi sea-ranching adalah model yang lebih inovatif yang harus diikuti oleh
penelitian-pengembangan lanjutan (Tringali et al., 2008; Bell et al., 2008). Pola
kinerja perikanan budidaya seperti ini diharapkan menjadi bagian dari konservasi
ikan Napoleon secara Nasional, seperti yang diamanatkan CITES dan regulasi
Kemeterian Kelautan dan Perikanan.
Langkah yang perlu diambil pemerintah untuk tidak menimbulkan paradoks
dalam impelementasi hukum adalah melakukan penelitian untuk melihat apakah
185
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
model sea-ranching dan anugrah yang ada di Anambas dan Natuna itu juga ditemukan
di wilayah Indonesia yang lain. Informasi ini adalah diperlukan untuk menentukan
kebijakan yang spesifik lokal dengan perangkat regulasi yang bersifat lokal pula,
dimana pemerintah dapat membuat standarisasi regulasi yang berlaku untuk model
sea-ranching yang sama. Di samping itu, pemerintah dapat pula membuat zonasi
wilayah usaha yang terkait dan mendorong terbentuknya assosiasi yang terkait pula,
sehingga zonasi sea-rancing dan zonasi perikanan tangkap dapat terpetakan dengan
tegas dan jelas. Pola zonasi seperti ini akan mempermudah sertifikasi, pengawasan
dan pengembangan lebih lanjut.
Namun peran pemerintah ini tidak berdiri sendiri dan peran stakeholder sebagai
mitra pemerintah diharap mampu mengemban amanat konservasi ikan rawan punah.
Analisis stakeholder perlu juga untuk dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengukur
seberapa jauh pengaruh stakeholder dalam upaya menegakkan konservasi melalui
setiap usahanya dan seberapa baik sikap dan prilaku stakeholder dalam membangun
kerja sama antar stakeholders dan membangun hubungan baik dengan pemerintah
dalam penegakan hukum. Dalam hal ini assosiasi stakeholder perlu dibangun untuk
mempermudah pengembangan usaha. Diasumsikan bahwa melalui peran assosiasi
tersebut maka pemerataan hasil pembangunan dapat terjadi.
Apabila pola usaha perikanan tangkap dan perikanan sea-ranching sudah jelas
dalam terminologinya dan zonasi wilayahnya pun sudah jelas terpetakan, sertifikasi
untuk masing-masing produk dapat ditentukan. Melalui sertifikasi ini diharapkan
paradok tentang ukuran panen ikan Napoleon dari sea-ranching dengan ukuran yang
tidak boleh ditangkap pada perikanan tangkap Napoleon dapat diselesaikan dengan
tafsir tersendiri atas Kepmen KP nomor 37 tahun 2013 sejauh tidak dipolitisasi.
Untuk hal yang sama dapat berlaku ketika menentukan kuota ikan Napoleon hasil
sea-ranching.
Legalitas
Usaha yang sporadis tidak dapat dikontrol dengan baik, oleh karena itu legalitas
hanya diberikan pada model sea-ranching yeng terdokumentasi dengan jelas. Model
sea-ranching perlu dikelola oleh kelembagaan yang jelas dan setiap pemilik harus
menjadi bagian dari assosiasi, agar sifat dan perilaku setiap anggota dapat diarahkan
pada kesepakatan yang saling menguntungkan. Rewardest dan funisment dapat
ditentukan dalam rangka mendukung perikanan yang bertanggung jawab dan hal ini
186
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
perlu konsesus bersama untuk mendapatkan hak legalitas yang dijamin pemerintah.
Oleh karena itu mitra bisnis satu sama lain perlu menempatkan kepentingannya pada
wadah yang sehat dan kuat sebagai modal sosial dalam partisipasi (Kolopaking,
2002; Mariana, 2006), serta memposisikannya pada domain yang baik di mata
pemerintah, yaitu jauh dari praktek ala mafia dalam usaha perikanan yang menjadi
paradoks saat ini.
Zonasi wilayah perlu diatur oleh assosiasi secara konsensus untuk menjamin
azas konservasi dalam prinsip sustainability seperti diatur dalam Kepmen KP RI
No. 35/KEPMEN-KP/ 2011. Pengkayaan sumberdaya harus dipandang sebagai
oportunitas dari area spesifik yang ingin digarap dan memenuhi target skala
perikanan budidaya pada lahan yang direhabilitasi (Aciar, 2011). Dalam pola searanching pelaku usaha KJA perlu menyediakan petak-petak khusus pengindukan
dan spawning yang terkontrol. Secara bersama, asssosiasi perlu menentukan area
plasma dan area pemanfaatan benih ikan Napoleon, di mana pada area plasma perlu
adanya ketetapan pelarangan yang disepakati bersama untuk kepentingan penetapan
kawasan restoking ikan napoleon di alam.
Legalitas dapat juga diberikan dengan adanya kesepemahaman tertulis bahwa
dalam setiap panen pemilik usaha KJA dengan suka rela melepaskan beberapa ikan
Napoleon ke alam sebagai upaya restoking dan kesepemahaman tentang ukuran
benih awal pembesaran di antara ukuran 5 cm – 15 cm (sesuai dengan ukuran
Permen KP Nomor 37 tahun 2013).
Sertifikasi adalah dokumen penting dan legal sebagai tindakan pencegahan
(mitigation measure) atas masalah pengangkutan hasil budidaya sea-ranching
melalui laut atau udara. Sejauh ini P2HP mengalami kesulitan dalam minilai masalah
legalitas yang diluar ketentuan. Seperti diketahui bahwa sertifikasi yang diberikan
sejauh ini adalah lebih kepada usaha pembesaran atau budidaya secara umum dan
bukan spesifik ikan Napoleon. Oleh karen itu, dalam upaya legalitas tersebut model
sea-ranching harus mendokumentasikan informasi-informasi penting tentang proses
budidaya ikan Napoleon, yaitu mulai dari aplikasi logbook harian, berita acara dan
pelaporan-pelaporan, dimana semua dokumentasi tersebut di bawah kontrol unit
kerja teknis terkait yang diketahui oleh dinas terkait. Tertip dokumentasi tersebut
harus menjadi keniscayaan bahwa pemilik usaha mendapatkan jaminan sertifikasi
usaha budidaya dan sertifikasi angkutan hasil budidaya dengan mudah tanpa harus
dibebani oleh hal-hal yang diluar kesepakatan dan kesepemahaman.
187
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Dokumentasi dan sertifikasi seperti ini mungkin dapat memudahkan sampai
sebatas kepentingan P2HP, tetapi apakah dapat menjamin acceptabilitas CITES,
karena masih menyangkut kuota dan pintu ekspor yang telah ditetapkan oleh pihak
Indonesia sendiri (scientific authority dan management authority), seperti ekspor
melalui udara. Dengan tertipnya dokumentasi dan sertifikasi, pihak Indonesia
dapat saja merubah jalur angkutan dari udara menjadi jalur laut sejauh model ini
(legalitasnya) dipresentasikan dengan baik kepada CITES sebagai pihak yang
mengatur perdagangan di luar negeri.
Pelaku bisnis atas angkutan hasil budidaya dapat dikategorikan pada usaha
monopoli atau oligopoli dengan dampak yang berbeda. Namun akar masalahnya
bukan terletak pada sistem pemasaran itu, melainkan pada prilaku pelaku bisnis,
apakah dapat diatur atau sporadis di luar kontrol. Sekali lagi assosiasi harus berperan
aktif sebagai mitra pemerintah untuk mengatur rute pemasaran yang benar. Artinya
asssosiasi dapat menentukan pola angkutan secara terbuka yang dapat disetujui
pemerintah dan CITES sekaligus.
Adapun legalitas atau peningkatan kuota ekspor sangat bergantung pada apakah
CITES dapat diyakinkan pada situasi Anambas dan Natuna yang bersifat spesifik
tersebut? Apakah CITES dapat menerima model sea-ranching ikan Napoleon
yang dimodifikasi sehingga semua itu sinkron dengan prinsip NDF, konservasi
dan perikanan yang berkelanjutan? Undangan atas pengamat dan ahli grouper dan
Wrasse yang bernaung di bawah CITES akan sangat bermanfaat dalam menentukan
langkah pengembangan perikanan Napoleon di Anambas dan Natuna.
Kebijakan Pengembangan
Persefektif masa depan sea-ranching di Anambas dan Natuna bergantung
pada upaya-upaya memperbaiki kinerja perikanan KJA Napoleon yang sudah
berlangsung dengan baik sekarang. Tabel 1. memberikan ringkasan singkat
pedoman pengembangan yang diawali oleh dua panduan, yaitu pertanyaan kunci
sebagai indikasi apa yang diinginkan dan hipotesa kerja sebagai arahan pada perihal
yang akan diperbaiki.
188
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Persepektif pengembangan sea-ranching yang terintegrasi dengan
keramba jaring apung (KJA) di Anambas dan Natuna
Pertanyaan Kunci
Hipotesa Kerja
1. Bagaimana mereklamasi hirarki lahan
keramba jaring apung (KJA) tanpa
merusak tujuan usaha pembesaran ikan,
usaha perikanan benih anakan ikan
dan perikanan umpan dan kemudian
pada waktu yang sama dapat mengatasi
secara sinergis kelangkaan benih dan
keterbatasan komponen produksi?
2. Bagaimana merekstrukturisasi kelembagaan masyarakat agar masyarakat menjadi
pelaku-pelaku agribisnis yang sehat, mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki akses permodalan, pemerataan kesempatan
kerja dan produksi serta penjaminan pemasaran?
3. Bagaimana membangun kawasan KJA
terintegrasi tanpa menciptakan benturan-benturan kepentingan lingkungan dan
prinsip pembangunan yang berkelanjutan?
1. Budidaya pembesaran yang terintegrasi dengan restocking ikan
Napoleon sebagai komoditas unggulan wilayah dalam satu ka wasan
sehamparan dapat menciptakan usaha perikanan Napoleon yang lebih
efektif dan efisien, dimana dengan
cara ini produktivitas lahan KJA
meningkat, ketersediaan benih
berkesinambungan dan komponen
produksi terpenuhi.
2.Usaha budidaya berkelompok
berdasarkan profesi yang spesifik
dari situasi beragam profesi yang
dibangun dalam satu kawasan sehamparan dan satu assosiasi akan
menciptakan sistem usaha yang sehat, sehingga lembaga pendamping
(seperti UPP) dapat mengembangkan modal sosial untuk mempromosikan dan menjamin kebutuhan
permodalan pada lembaga keuangan dan sekaligus mengatur pemasaran yang tersertifikasi secara
legal.
3.Pola sea-ranching akan menciptakan perputaran intern energi dan
sumberdaya benih dalam kawasan
terpadu KJA pada kawasan yang
sepesifik sehingga tidak mengganggu kelestarian lingkungan
alam.
189
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Garis Besar Pedoman Pengembangan
1. Menstruktur kembali pola KJA yang ada menjadi bentuk terpadu dengan sea-rancing, di mana setiap unit usaha merekayasa petak-petak keramba apung dengan fungsi pembesaran ikan menurut ukuran dan menyediakan petak khusus untuk wadah
spawning.
2. Membangun sistem dokumentasi operasional melalui logbook harian, berita acara
kegiatan, dan rakapitulasi data tebar benih dan panen secara periodik untuk setiap
unit usaha sea-ranching.
3. Membangun kawasan perikanan Napoleon sistem horizontal dengan profesi
masing-masing yang terpadu pada basis usaha perikanan bibit ikan Napoleon, usaha
pembesaran dan restocking (spawning) ikan Napoleon, usaha penyediaan pakan,
usaha angkutan pemasaran, dan usaha saprodi. (Untuk selanjutnya disebut sebagai
Kawasan Terpadu Sea-Ranching Ikan Napoleon).
4. Menetapkan ukuran panen (benih dan dewasa) dan kuota ekspor ikan Napoleon
berbasis sertifikasi khusus produk sea-ranching.
5.Mengembangkan pola ekspor melalui laut berbasis sertifikasi produk budidaya legal
dan sertifikasi angkutan legal.
6.Membangun dan memberdayaan kelembagaan kemitraan sebagai pendamping (Unit
Pendukung Pengelolaan), asosiasi pelaku bisnis, bapak angkat, dan koperasi usaha
untuk tujuan mempercepat adopsi teknologi, membentuk opini bisnis yang sehat,
membangun jejaring informasi partisipatif, dan memberdayakan pelaku-pelaku
usaha.
7.Merestrukturisasi/memperkuat peran pemerintah sesuai TUPOKSI dalam sistem
pembinaan, pelayanan dan pengawasan dalam Kawasan Terpadu Sea-Ranching Ikan
Napoleon.
8. Mengembangkan pola kontribusi yang disepakati dari tiap unit usaha sea-ranching
pada upaya restocking ikan Napoleon dewasa ke alamnya pada setiap kali termin
penjualan hasil pembesaran.
Rencana Aksi
Dengan sedikit melakukan reklamasi sistem usaha yang sudah ada dan
memperhatikan semua prasyarat pengembangan seperti disebut di muka, program
pembangunan sea-ranching dapat disusun sebagai berikut.
1. Rekayasa konstruksi KJA dalam bentuk pembagian petak keramba
pembesaran sesuai peruntukannya, seperti petak keramba untuk ukuran
ikan yang berbeda, untuk pengindukan dan untuk area spawning.
190
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
2.
Penerapan dukumentasi proses dengan pola log-book dalam semua jenjang kegiatan sea-ranching, seperti stock opname, penebaran benih,
pemanenan, jumlah pelepasan ke alam, rekapitulasi data bulanan, dan
pemberian ransum makanan ikan (jenis dan jumlah), dimana semua
data dan informasi dibuatkan berita acara bulanan dan dilaporkan rangkap dua ke instansi-instansi berwenang yang telah ditetapkan.
3. Mendorong terciptanya usaha-usaha terkait sea-ranching menurut pola
horizontal dengan diversifikasi profesi/usaha, seperti usaha pembesaran ikan, penyediaan benih, penyediaan pakan, penyediaan saprodi dan
obat-obatan, perbengkelan, dan koperasi.
4. Menciptakan regulasi dan memberikan sertifikasi benih, sertifikasi
produk pembesaran, sertifikasi pengangkutan produk atau sertifikasi
eksport, dimana sertifikasi dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang
telah ditunjuk sesuai dengan ketetapan ukuran panen dan kuota yang
disepakati dengan memperhatikan semua dokumentasi proses restocking dalam sea-ranching yang dilaporkan pemilik KJA.
5. Menetapkan pelabuhan eksport dalam kawasan terpadu restocking dan
sea-ranching bagi produk dan angkutan yang telah disertifikasi, dimana penetapan berdasarkan nota kesepemahaman antara assosiasi pengusaha dan instansi pemerintah terkait.
6. Menciptakan assosiasi pengusaha dan stakeholder untuk mengelola
modal sosial dalam rangka mempermudah kerja sama, pembinaan dan
pengawasan.
7. Menetapkan TUPOKSI lembaga pemerintah terkait berkenaan dengan
audit usaha, pembinaan, pelayanan, sertifikasi, dan pengawasan.
8. Membangun kesepemahaman antar pelaku usaha KJA yang meliputi
juga nelayan dan unit kerja teknis pemerintah untuk mengembangkan
sistem restocking benih ikan Napoleon, mulai dari menetapkan regulasi
yang disepakati bersama sampai merekonstruksi teknis dan rancang bangun restocking ikan Napoleon pada tehapan KJA sesuai dengan habitat untuk anakan ikan Napoleon.
9. Menetapkan zonasi peruntukan sebagai kawasan perlindungan benih
dan kawasan pemanfaatan.
191
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Dukungan Penelitian
Dalam pengembangan usaha sea-ranching dibutuhkan banyak informasi dan
data. Beberapa tindak lanjut penelitian yang masih diperlukan berdasarkan pada
kebutuhan pengembangan tersebut antara lain adalah menyangkut thema-thema di
bawah ini.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Uji parental anakan ikan Napoleon
Uji genetis asal usul anakan ikan Napoleon
Laju Kelulusan hidup dalam pasca panen anakan ikan Napoleon
Laju Kelulusan hidup dalam proses pembesaran ikan Napoleon
Tipe dan ketersediaan pakan alami baik untuk pembesaran ikan Napoleon
Diversifikasi komoditas ekonomis penting dalam sea-ranching.
Analisis perbaikan stok di alam melalui kegiatan sea-ranching
Keramba jaring apung (KJA) sebagai sumber benih dalam upaya mendukung
restocking sebagai bagian dari sea-ranching (Gambar 1) dapat melalui dua jalan.
Pertama melalui cara kontribusi suka rela dan kedua melalui rekayasa biologis dan
reproduktif.
Cara pertama adalah benih diperoleh dengan jalan partisipasi pelaku bisnis, baik
dari pemilik KJA maupun dari nelayan penangkap benih. Dalam hal ini diperlukan
kesadaran yang tinggi untuk secara bersama memberikan kontribusi benih. Kontribusi
adalah dalam bentuk pelepasan kembali benih ikan Napoleon ke alam setelah
cukup ukuran. Untuk pihak pemilik KJA, mereka dianjurkan membesarkan benih
dalam KJA dan melakukan pelepasan sekian ekor (dari 5 % hasil panen KJA) atau
dengan nilai kontribusi yang disepakati bersama. Untuk pihak nelayan penangkap
anakan atau pencari benih, mereka dianjurkan untuk membuat satu unit keramba
pembesaran benih sebagai tanggung jawab perorangan atau kolektif, dimana benih
dibesarkan sampai ukuran siap tebar ke alam dengan memperhitungkan peningkatan
kelulusan hidup di alam. Adapun lokasi pelepasan anakan ke alam adalah kawasan
yang memiliki habitat yang cocok dan kawasan tersebut merupakan lokasi yang
dipilih untuk dizonasi sebagai kawasan perlindungan benih.
Teknik pembesaran benih dalam keramba ini akan berhasil apabila masalah
pakan khusus untuk anakan ikan Napoleon tersedia (anak kepiting). Sejauh ini
pihak pemilik KJA berhasil membesarkan benih ikan Napoleon dalam keramba dari
192
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ukuran “biji beras” sampai sampai lebih dari 2 inci (Wawancara Pribadi, 2012). Hal
ini berarti bahwa rekayasa pembesaran benih dapat mengacu pada atau mengadopsi
pada teknologi partisipatif yang sudah berkembang di Anambas dan Natuna. Namun
penelitian-penelitian tentang pakan anakan ikan Napoleon tetap diperlukan untuk
pengembangannya, sebagaimana diketahui bahwa untuk ukuran anakan 1 sampai 2
inci adalah periode tersulit dalam menentukan pakan yang sesuai dan yang digemari
anakan ikan Napoleon, seperti pengalaman hatchery ikan Napoleon di Bali (Sim,
2004).
Perlakuan pembesaran anakan tersebut dalam keramba sangat menentukan
besarnya tingkat kelulusan hidupnya di alam saat dilakukan penebaran ke habitat
aslinya. Sebaliknya, perbaikan pasca panen benih yang ditangkap dari alam juga
sangat menentukan besarnya tingkat kelulusan hidup benih dalam masa transportasi
sampai ke tempat penampungan (Edrus & Suman, 2013). Keduanya dapat
dipertimbangkan sebagai nilai tambah dalam tindakan konservasi sumberdaya ikan
Napoleon.
Cara kedua adalah benih dapat diperoleh melalui hasil spawning ex-situ dalam
KJA. Dalam hal ini petak KJA dibuat beberapa unit untuk ukuran yang berbeda,
dimana satu atau dua petak keramba dibuat khusus untuk indukan yang siap bertelur
(matang gonad) dan kondisi keramba dalam posisi bersih dari biota penempel dan
lumut. Diasumsikan bahwa ikan-ikan napoleon dewasa setelah mendekam beberapa
tahun dalam KJA akan merubah prilaku kawinnya sebagai insting reproduktif
bawaan. Sejauh ini ikan-ikan dewasa telah menunjukkan pelepasan telur (spawning)
dalam keramba, seperti adanya petunjuk pemutihan kolom air. Stok anakan ikan
Napoleon sebanyak itu di Anambas dan Natuna, yang dianggap sebagai anugrah,
juga diasumsikan berasal dari hasil perkawian dalam KJA, dimana terjadi spill over
effects dari larva yang keluar menembus jalan keramba. Asumsi ini akan dibuktikan
lebih lanjut melalui penelitian-penelitian uji parental dan genetis.
Perbaikan stok ikan Napoleon di alam sangat bergantung pada keberhasilan
pelepasan telur dalam keramba. Oleh karena itu, peran serta masing-masing pemilik
KJA menjadi suatu harapan untuk menyiapkan sarana pelepasan telur tersebut.
Penyiapan sarana seperti itu dapat juga dengan jalan partisipasi nelayan, baik
perorangan maupun kolektif yang difasilitasi oleh Unit Pelayanan Teknis terkait.
Lokasi pembangunan sarana tersebut ditentukan menurut kesuaian geografis
ekosistem padang lamun dan terumbu karang, karena peristiwa spill over effects
tersebut harus lebih dekat dengan habitat yang disukai ikan Napoleon. Lokasi
193
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
seperti ini harus termasuk dalam kawasan perlindungan dan zonasinya sudah harus
ditetapkan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa indikator sukses dalam peningkatan stok ikan
Napoleon di alam melalui pola sea-ranching adalah berhubungan dengan fungsi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Perlakuan pembesaran benih dalam keramba penampungan.
Jumlah benih yang disumbangkan pelaku usaha perikanan Napoleon.
Ketersediaan pakan spesifik anakan ikan Napoleon.
Teknolog partisipatif pakan anakan ikan Napoleon.
Perbaikan teknik pasca panen anakan ikan Napoleon.
Perubahan perilaku kawin ikan Napoleon pada situasi ex-situ.
Kesiapan sarana KJA untuk pelepasan telur dan kebersihan keramba.
Stimulasi kematangan gonad.
Partisipasi masyarakat nelayan.
Penzonasian wilayah peruntukan yang tepat.
Pola panen dalam model sea-ranching ini (Gambar 1) lebih bertumpu pada
panen anakan ikan Napoleon dari alam. Ukuran yang boleh dipanen adalah ukuran
di bawah 100 gram sebagaimana ketentuan Kepmen KP No. 37 tahun 2013. Bentuk
dewasa dengan ukuran antara 100 gram sampai 1000 hanya dipanen dari usaha
pembesaran dalam KJA, sementara stadium dewasa di atas 100 gram yang hidup di
alam harus menjadi cadangan sumberdaya untuk peningkatan stok ikan Napoleon
di alam. Dengan jalan ini populasi ikan Napoleon di alam diharapkan dapat
berkembang dengan adanya cukup ukuran dewasa yang matang gonad. Pola panen
seperti ini diharapkan selaras dengan prinsip Non-detrimental Finding sebagaimana
yang diinginkan CITES.
Penguatan Kelembagaan
Semua kegiatan dalam tahapan budidaya yang menggunakan model searanching, yaitu dimulai dari penen benih, tebar benih, pembesaran benih, pelepasan
benih ke alam (spill over effects), restocking anakan ke alam (kontribusi), sampai
pada panen ukuran dewasa siap jual dari KJA wajib tercatat dalam log-book harian
untuk mendapatkan data dan informasi yang terukur. Fungsi log-book adalah untuk
membuat berita acara dan pelaporan pelaku bisnis kepada Unit Pelayanan Teknis
194
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(UPT) permerintah, dengan tujuan memperoleh sertifikasi produk dan sertifikasi
transportasi hasil.
Untuk kepentingan seperti ini (sertifikasi), peran Unit Pelayanan Teknis Daerah
(UPTD) harus distrukturisasi kembali dalam ketetapan TUPOKSI. Siapa bertugas apa
dan apa yang menjadi beban tugas. Hal ini menyangkut kepentingan pelayanan pada
sarana dan prasarana. Sarana adalah bentuk-bentuk penyediaan teknis infrastruktur
dan prasarana adalah bentuk-bentuk lembaga pelayanan pembinaan. Dalam hal ini,
UPTD Perikanan Budidaya, UPTD Kelautan dan Perikanan, dan UPT dari Balai
Pengelolaan Sumberdaya Laut dan Pesisir perlu menempatkan posisi sesuai dengan
TUPOKSI masing-masing untuk menyiapkan program pengembangan dan regulasi
operasional.
Jalur birokrasi dan koordinasi kinerja pelayanan pemerintah harus jelas dan
sederhana, sehingga tidak terjadi kesulitan pada pihak pemerintah sendiri dan pihak
stakeholders. Pelayanan sertifikasi produk dan sertifikasi transportasi perlu diatur
dalam regulasi yang lebih mengakomodasi kepentingan pengawasan di tingkat lapang
dan kemudahan pelaku usaha. Di samping itu, pemerintah pusat atau pemerintah
daerah perlu menetapkan keputusan dalam hal TUPOKSI UPTD tersebut.
Di sisi yang lain, stakeholder dalam komunitas pelaku bisnis ini perlu
membangun wadah berserikat dalam bentuk assosiasi pengelola perikanan KJA
Napoleon. Lembaga ini diperlukan untuk kemudahan pengelolaan ikan dan perikanan
Napoleon dalam bentuk-bentuk partisipatif dan kemudahan kerja sama kemitraan
inter dan antar stakehorlders serta kerjasama antara stakeholders dan pemerintah.
Usaha Perikanan budidaya ikan Napoleon di Anambas dan Natuna merupakan
subsistem dari perikanan di Indonesia. Tuntutan pada peran assosiasi bisnis adalah
turut menyusun tata perekonomian dunia yang lebih adil, lebih baik untuk generasi
sekarang maupun generasi mendatang. Assosiasi dalam peran kepemimpinannya
harus mengembangkan sederet etika bisnis (business ethics) untuk perusahaanperusahan KJA yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan yang juga
mencakup tanggung jawab sosial. Sehingga analisis lingkungan eksternal bisnis
(termasuk didalamnya faktor sosial) perlu dimasukan (incorporated) dalam proses
penentuan tujuan perusahaan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Napoleon yang
berkelanjutan, bersama elemen-elemen lingkungan internal perusahaan (Adrianto
et al., 2013).
195
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Pola pembinaan dan pengawasan terhadap semua aspek pengelolaan ikan rawan
punah akan menjadi mudah dengan adanya assosiasi seperti ini, karena semua bentuk
kesepemahaman dan konsensus dapat melalui aspirasi anggota dalam assosiasi.
Assosiasi turut bertanggung jawab atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
pada tahapan proses pengelolaan perikanan Napoleon, sebagaimana juga assosiasi
dapat mengajukan usulan-usulan yang harus dipertimbangkan pemerintah, seperti
misalnya perubahan pintu ekspor dari bandara ke pelabuhan laut.
Pada dasarnya keberhasilan pengembangan kawasan terpadu pengelolaan
perikanan KJA Napoleon di Anambas dan Natuna akan bergantung pada manajemen
Assosiasi tersebut serta dalam kontrol dan pelayanan pemerintah daerah. Dalam
hal ini semua aktivitas harus terkontrol melalui “Jejaring Informasi” yang harus
dibuat oleh ahli Infomatika Teknologi. Juga perilaku bisnis dari pelaku-pelaku usaha
dapat diditeksi secara dini melalui kinerja assosiasi, terutama bagaimana assosiasi
mengelola modal sosial, seperti membangun kepercayaan, kebersamaan, sikap
partisipatif, keinginan berbagi, dan mengembangkan visi dan misi pengelolaan ikan
rawan punah.
Keberhasilan tersebut juga dapat diraih melalui indigenous knowledge, yaitu
praktek-praktek adat lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan. Seperti adanya pola
buka tutup dalam panen anakan ikan Napoleon yang ditetapkan secara partisipatif
oleh petinggi adat. Peran lembaga adat dapat lebih dikembangkan dalam semua
aspek sistem budidaya melalui pola sea-ranching ini. Pengawasan pada tingkat
lapang sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan kepemimpinan adat.
Keberhasilan tersebut juga akan lebih mencapai target yang diinginkan jika
semua aspek sea-ranching ini dapat disosialisasikan kepada semua pihak. Semua
intrumen regulasi yang berkenaan dengan sea-ranching perlu mendapatkan
persetujuan sehingga dapat diterima masyarakat dan pelaku usaha.
Dengan demikian, kunci sukses yang menjadi indikator keberhasilan penguatan kelembagaan dalam model sea-ranching adalah berkaitan dengan
fungsi di bawah ini.
1. Peran Jejaring Informasi.
2. Peran UPTD dengan birokrasi yang sederhana sesuai dengan TUPOKSInya.
3. Regulasi yang sepesifik lokal dan dapat diterima pelaku usaha.
196
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
4. Pola kemitraan yang seimbang dan saling menguntungkan.
5. Penguatan kelembagaan adat.
6.Sosialisasi program sea-ranching dan regulasinya
Penyiapan regulasi usaha KJA perikanan napoleon
Target utama dari regulasi yang ingin disiapkan adalah bagaiman instrumen
hukum dapat melegalisasi pengelolaan perikanan Napoleon model sea-ranching di
Anambas dan Natuna tanpa menciptakan kondisi yang paradoks dengan regulasi
yang sudah ada atau tanpa menciptakan kesan pengucualian aturan pada usaha KJA di
kedua lokasi itu. Gugatan politis dapat saja terjadi ketika timbul suatu kecemburuan
sosial dalam hal kepentingan atau justru menimbulkan penyalahgunaan regulasi.
Pengecualian yang diberikan kepada usaha perikanan Napleon di Anambas dan
Natuna harus didasari oleh alasan yang jelas, terutama dengan memperhatikan
kinerja perikanan Napoleon berbasis sea-ranching. Sehingga hal yang sama dapat
menjadi contoh usaha perikanan Napoleon di wilayah lain.
Seperti dijelaskan di atas bahwa model sea-ranching tersebut dapat memenuhi
aspek sustainabilitas, tracelibilitas, dan legalitas dalam usaha perikanan. Adanya
restocking benih ke alam juga telah memenuhi aspek konservasi (stabilitas) dan
pemerataan kesempatan usaha (equitabilitas). Kecuali itu, sistem produksi hanya
bertumpu pada panen ikan Napoleon dewasa dari KJA dan panen anakan dari wilayah
khusus zonasi pemanfaatan. Beberapa hal di atas dapat menjadi pertimbangan
untuk memberikan pengecualian pada pengelolaan perikanan Napoleon di luar dari
ketetapan Kepmen KP nomor 37 tahun 2013.
Kepmen KP nomor 37 tahun 2013 mengatur tentang ukuran ikan Napoleon
yang boleh dan tidak boleh ditangkap. Regulasi ini mengatur perikanan tangkap
Napoleon. Kaitannya dengan perikanan KJA Napoleon adalah menyangkut ukuran
benih yang boleh ditangkap dari alam (di bawah 100 gr). Namun yang belum
terakomodasi adalah ukuran panen ikan Napoleon dari KJA. Hal ini menjadi gap
terhadap ketentuan Kempen KP tersebut manakala hasil panen Napoleon dari KJA
dipasarkan dengan ukuran siap jual (600 gr – 800 gr), sementara ukuran yang boleh
tertangkap adalah 1000 gr sampai 3000 gr. Untuk alasan itu dibutuhkan regulasi
dalam bentuk deklarasi khusus untuk melegalisasi ukuran panen ikan Napoleon dari
hasil pembesaran dalam KJA. Prasyarat deklarasi tersebut adalah proses dokumentasi
197
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
dalam semua tahapan kegiatan sea-ranching, dimana dokumentasi tersebut berupa
kawasan yang terzonasi dengan jelas, berita acara yang valid, pelaporan yang berkala
dan sampai keluarnya sertifikasi produk dan sertifikasi transportasi produk KJA.
Deklarasi harus menyangkut pula ketentuan kuota panen untuk produk
KJA. Prasyarat keluarnya deklarasi tersebut berkenaan dengan pelaporan analisis
penilaian dan rasio antara jumlah RTP, jumlah tebar, angka kematian, jumlah panen,
potensi anakan di alam dan jumlah pelepasan dalam proses restocking. Penilaian
ini selaras sebagaimana penentuan kuota tangkap di alam yang berdasarkan pada
stock assessment, tetapi yang dikaji lebih kepada potensi anakan ikan Napleon di
alam, karena tingkat pemanfaatan terbesar ikan Napoleon di Anambas dan Natuna
adalah anakan ikan Napolen. Deklarasi juga mengatur tentang proses sertifikasi
dan kelembagaan yang bertanggung jawab atasnya, karena kunci legalitas usaha
perikanan Napoleon berbasis sea-ranching tersebut juga bergantung pada legalitas
lembaga yang mengeluarkan sertifikasi.
Dengan demikian, kunci sukses yang menjadi indikator keberhasilan penetapan
regulasi pengelolaan perikanan Napoleon berbasis sea-ranching adalah berkaitan
dengan fungsi di bawah ini.
1. Model sea-ranching yang terdokumentasi dengan baik.
2.Kawasan sea-ranching perikanan Napoleon yang dizonasi secara
legal.
3. Penetapan deklarasi khusus yang mengatur ukuran panen dan kuota
produk KJA.
4. Legalitas lembaga yang mengeluarkan sertifiksi produk KJA dan sertifikasi transportasi produk KJA.
Sistem transportasi dan mekanisme pemasaran
Pengembangan model sea-ranching periknan Napoleon di Anambas dan Natuna
meliputi banyak aktor atau Rumah Tangga Perikanan (RTP) yang meliputi nelayan,
buruh, pembudidaya, pengumpul, pemasaran dan usaha-usaha pendukung lainnya.
Oleh karena itu pengembangan sea-ranching adalah menurut pola bisnis terintegrasi
dan bersifat profesi horizonatal dari beragam bidang usaha menurut ragam RTP. Pola
Usaha agribisnis seperti ini adalah meliputi kawasan sehamparan, dimana semua
198
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
komponen usaha berada dalam satu kawasan pelayanan dan perputaran energi, input
dan ouput menjadi bersifat efektif dan efisien.
Dalam Kawasan Terpadu Sea-Ranching Perikanan Napoleon seperti ini tentu
saja harus didukung pintu tunggal pemasaran, yaitu pelabuhan ekspor. Kawasan
terpadu tersebut di bawah manajemen Assosiasi Usaha Perikanan KJA Napoleon
Anambas dan Natuna yang juga bertanggung jawab pada pemasaran hasil keluar
wilayah.
Assosiasi secara aklamasi dapat menentukan unit usaha refresentatif yang akan
melakukan transportasi hasil budidaya ke pasar global (Hongkong), sebagaimana
sudah berjalan selama 30 tahuan. Dengan adanya dukungan sertifikasi produk dan
sertifikasi transportasi produk, Assosiasi juga dapat mengajukan usulan kepada
pemerintah untuk pengiriman hasil melalui pelabuhan laut. Dalam hal ini pola
pemasaran hasil KJA, dengan ketetapan Napoleon hidup dengan ukuran dewasa
siap jual (600 gr – 1000 gr), ditangani menurut pola penjemputan hasil oleh kapal
pengumpul pada pelabuhan yang ditetapkan dan di bawah kontrol P2HP dan
karantina.
Pemantauan dan Evaluasi
Pengembangan sea-ranching akan berdampak positif jangka pendek dan
jangka panjang pada populasi ikan Napoleon sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Pemantauan pada progres dalam masa proses pengembangan (on going) diperlukan
untuk memastikan kesuaian tahapan pengembangan produksi dengan pendekatanpendekatan konservasi, restocking (enhancement) dan pemenuhan aspek legalitas.
Dalam rangka menilai kinerja pengembangan sea-ranching pengelolaan perikanan
budidaya Napoleon untuk kepentingan perbaikan manajemen ke depan, beberapa
indikator yang perlu dipantau antara lain seperti pada Tabel Lampiran 1. Pada tahap
evaluasi dampak jangka panjang dari pengembangan sea-ranching, tujuan yang
ingin dicapai adalah memastikan bahwa model sea-ranching dapat memperbaiki
atau meningkatkan populasi ikan Napoleon di alam. Adapun indikator dari dampak
jangka panjang ini adalah seperti disajikan pada Tabel Lampiran 2.
Waktu untuk pemantauan dapat dilaksanakan tiga kali menurut periode
implementasi, seperti tahap pra-implementasi, fase implementasi dan postimplementasi. Waktu evaluasi dapat dilaksanakan pada pasca-impelementasi, yaitu
sekitar 5 sampai 10 tahun setalah implementasi.
199
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Penanggung jawab pemantauan dan evaluasi adalah UPTD terkait.
Pelaksanaannya dalam bentuk kerja sama dengan evaluator eksternal. Unit analisis
pemantauan dan evaluasi meliputi mulai dari ekosistem terkait, dokumen searanching yang tersedia, sampai kepada RTP sebagai pelaku usaha, birokrat/aparat
pemerintah sebagai penentu kebijakan, pemangku kepentingan sebagai penanggung
jawab pengelolaan sumberdaya, dan LSM sebagai pengamat lingkungan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Budidaya pembesaran ikan Napoleon yang terintegrasi dengan sea-ranching
dalam satu kawasan sehamparan dapat dilegalkan karena memenuhi aspek
konservasi dan kehati-hatian panen, dimana usaha ini mampu menyediakan benih
ikan Napoleon secara mandiri melalui usaha restocking, sehingga daur kebutuhan
semua komponen usaha terpenuhi secara berkelanajutan dan semua produknya dan
pemasaran hasil melalui satu pintu pelabuhan laut dapat disertifikasi dan disetujui.
Pengawasan atas jalannya kegiatan sea-ranching dalam satu kawasan seperti itu
mudah dilakukan, karena tanggung jawab ada pada assosiasi yang membangun
pola leadership dalam bentuk berserikat dan jaringan informasi yang mengorganisir
semua bentuk koordinasi kegiatan, dimana dengannya legalitas dan tracebilitas
produk dan pemasaran dapat diberikan. Dari aspek produksi, pola sea-ranching
lebih bertumpu pada panen anakan ikan yang merupakan hasil restocking sendiri
dan panen Napoleon dewasa dari KJA, sementara ikan dewasa di alam dibiarkan
tumbuh untuk bergenerasi, oleh karenanya pola sea-ranching tidak akan mengganggu
populasi ikan Napoleon di alam
Jika pelaku bisnis usaha pembesaran ikan Naploen dalam keramba
menginginkan adanya legalitas usaha yang ditetapkan oleh pemerintah, maka pelaku
bisnis perlu mengambil langkah untuk memperkuat usaha dengan melakukan proses
dokumentasi harian, bulanan dan tahunan terhadap jalannya usaha dan melalui
assosiasi pelaku bisnis dapat menjadi mitra yang dapat dipercaya anggotanya dan
aparatur pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
ACIAR. 2010. ACIAR Fisheries Program Project Profile 2011 - 2012. ACIAR<
Research that works for Developing Counries and Australia. 187 pp.
200
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Adrianto, A., A. Fahrudin, T. Kodiran, M. A. Al Amin, A. Afandy & A. Handani.
2013. Pemetaan Sosial untuk pPemberdayaan Masyarakat di Wilayah
Kabupaten Kepulauan Anambas – Kepulaun Riau. Working Paper PSKPL
– IPB. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, IPB, Bogor. 49 h.
Azwar ZI. 1990. A Study Report on The Traning Course on Marine Ranch System.
Marine Biologycal Institute Kochi University. USA.
Bell, J.D., K.M. Leber, H. L. Blankenship, N.R. Loneragan & R. Masuda. 2008.
A New Era for Restocking, Stock Enhancement and Sea Ranching of
Coastal Fisheries Resources. FAO Coorporate Documen Respository.
DOI 10.1080/10641260701776951. P. 1 – 9
BP2KSI, 2014. Penelitian bahan penetapan status perlindungan jenis ikan napoleon
(Cheilinus undulatus) di perairan Anambas. Laporan Final Penelitian.
Tidak dipublikasi.
BPSPL, 2013. Laporan kegiatan identifikasi dan monitoring populasi, habitat,
peredaran dan pemanfaatan jenis ikan napoleon Cheilinus undulatus di
Kabupaten Kepulauan Anambas – Kepulauan Riau. Balai Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Dirjen KP3K –
Kementerian Kelautan dan Perikanan
CITES. 2003. Ranching and trade in ranched specimens of species transferred from
Appendix I to Appendix II. Trem of Ranching in CITES Priority. Conf.
11.16 (Rev. CoP15).
Colin, P.L., 2010. Aggregation and spawning behaviour of the humphead wrasse
Cheilinus undulates (Pisces: Labridae): general aspects of spawning
behaviour. Journal of Fish Biology 76: 987-1007.
Edrus, I.N., S.R. Suharti, Mozril, Hendrisman, I.M. Rizqan, Maldi, R.P. Sari,
M.Saputra. 2012. Identifikasi dan Monitoring Populasi, Habitat,
Peredaran dan Pemanfaatan Jenis Ikan Napoleon (Cheilinis undulatus)
di Kabupaten Kepulauan Riau. Laporan Proyek. Balai Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir dan Laut Padang, Padang, 41 hal.
Edrus, I.N. & A. Suman. 2013. Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus Ruppell 1835):
Status Stok dan Pengelolaannya di Indonesia. IPB Press, Bogor, 149 hal.
Jia, J. & J. Chen. 2000. Sea Farming and Sea-ranching in China. FAO
FISHERIES TECHNICAL PAPER nomor 418, Rome, 23 pp.
201
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Kolopaking, Lala M. 2002. Pola-Pola Kemitraan Dalam pengembangan
Usaha Ekonomi Skala Kecil/Gurem. Makalah Lokakarya Nasional
“Pengembangan Ekonomi Daerah Melalui Sinergitas pengembangan
Kawasan”. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. 4 -5
November 2002. Jakarta.
Mariana, Dede, 2006.Modal Sosial (Social Capital) Dan Partisipasi Masyarakat
Dalam Pembangunan. Makalah dalam Warta Bapeda Jabar, Oktberdesember 2006.
Menteri Kelautan dan Perikanan. 2011. Kepmen KP RI No. 35/KEPMEN-KP/ 2011
tentang pencadangan kawasan konservasi perairan nasional kepulauan
Anambas. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Menteri Kelautan dan Perikanan. 2013. Peraturan Menteri KP No. 35/PERMEN-KP/
2013 tentang perlindungan jenis ikan Nomor 35 tahun 2013. Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
Randall, J.E., S. M. Head, and A. P. L. Sanders. 1978. Food Habits of The Giant
Humphead Wrasse (Cheilinus undulates, Labridae). Env. Biol. Fishes 3:
335-338
Russell, B. 2004. Cheilinus undulatus. In: IUCN 2013. IUCN Red List of Threatened
Species. Version 2013.1. <www.iucnredlist.org>. Downloaded on 26
August 2013.
Sadovy, Y., M. Kulbicki, P. Labrosse, Y. Letourneur, P. Lokani and T.J. Donaldson.
2003. The humphead wrasse, Cheilinus undulatus: Synopsis of a
threatened and poorly known giant coral reef fish. Reviews in Fish
Biology and Fisheries 13(3):327–364.
Satria, F & A.R. Syam. 2015. Penelitian bahan penetapan status perlindungan jenis
ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) di Kepulauan Anambas. Kertas
Kerja BPPKSI-Jatiluhur, pada Focus Group Discussion di Jakarta
Jatiluhur, 23 Oktober 2015. 19 hal.
Satria F, A.R.Syam, D.W.H.Tjahjo & M.R.Anwar-Putri. 2015. Perlindungan,
Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Napoleon (Cheilinus
undulatus) di Perairan Kepulauan Anambas. BPPKSI-Jatiluhur.
Sirait, M. 2007. Kajian Budidaya Ikan Karang dengan Sistem Sea-Ranching dalam
Mendukung Wisata Bahari: Studi Kasus di Kawasan Gili Indah, Lombok,
Nusa Tenggara Barat. Disertasi Pasca Sarjana, IPB, Bogor, 129 hal.
202
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Soemodinoto, A., A. Djunaedi & J.M. Nur. 2013. Budidaya Ikan Napoleon oleh
Masyarakat di Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau: Evolusi
Kegiatan, Jejaring Pembudidaya dan Kelayakan Usaha.
Tringali, M.D. , K.M. Leber, W.G. Halstead, R.Mcmichael, J. O’hop, B. Winner, R.
Cody, C. Young, C. Neidig, H. Wolfe, A. Forstchen & L. Barbieri.
2008. Marine Stock Enhancement in Florida: A Multi-Disciplinary,
Stakeholder-Supported, Accountability-Based Approach. Restocking,
Stock Enhancement and Sea Ranching Systems and Their Role in
Fisheries Management. FAO Coorporate Documen Respository. DOI.
10.1080/10641260701776902. P. 51 – 57.
Tseng, C.K., 1989. Farming and ranching of the sea in China. In: Selected Works
of C.K. Tseng, pp.1235-1247. Beijing, Ocean Publishing House, 1279p.
203
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
LAMPIRAN
Lampiran 1. Indikator monitoring di kawasan terpadu pengelolaan perikanan
Napoleon di Anambas dan Natuna
INDIKATOR
PELAKSANA
SUMBER
INFORMASI
DAN DATA
Produktivitas
• Jumlah panen ikan Napoleon hidup
dewasa (ekor/KJA/tahun)
• Jumlah panen anakan ikan
Napoleon (ekor/nelayan/tahun)
• Jumlah pakan (kg/jenis/KJA/tahun)
• I n t e r n a l /
e k s t e r n a l
evaluator
• Logbook
• berita acara
• pelaporan
Sustainabilitas
• Jumlah anakan di alam/ha
• Jumlah ketersediaan sea weed/ha
• Indek
keanekaragaman
dan
kepadatan ikan karang di terumbu
karang sekitar.
• Survival rate dalam proses panen
anakan (ekor/panen)
• Survival rate dalam pembesaran
(ekor/bulan)
• Jumlah
kejadian
peneluran
(spawning)
dalam
keramba
(fenomena/tahun)
• Internal/eksternal
evaluator
• BPSPL
• Logbook
• berita acara
• pelaporan
• Survei Laut
Stabilitas
• Jumlah anakan yang dibeli dalam
periode waktu (ekor/tahun)
• Jumlah pakan untuk ikan dewasa
(kg/jenis/KJA/tahun)
• Jumlah pakan untuk juvenil (kg/
jenis/KJA/tahun)
• Pendapatan bersih & B/C rasio
usaha pembesaran ikan Napoleon.
• Pendapatan bersih & B/C rasio usaha
penangkap anakanikan Napoleon.
• Fluatuasi harga per tahun.
• Jumlah kedatangan kapal pembeli/
tahun
• Internal/eksternal
evaluator
• Logbook
• berita acara
• pelaporan
• wawancara
informan
kunci
• Survei
ekonomi
PARAMETER
204
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tracebilitas
• Jumlah dan intensitas RTP yang
menggunakan logbook
• Jumlah dan intensitas RTP yang
menggunakan berita acara
• Jumlah dan intensitas RTP yang
membuat pelaporan,
• Jumlah sample uji parental dan
intensitas yang merujuk pada asal
usul anakan ikan Napoleon yang
hidup di sekitar KJA.
• Kesesuaian genetis anakan ikan
Napoleon dengan induknya di KJA.
•Eksternal
evaluator
• Logbook
• berita acara
• pelaporan
wawancara informan kunci
Equitabilitas
• Jumlah nelayan atau RTP menurut
profesi dalam usaha sea-ranching
(RTP/profesi)
• Jumlah RTP yang membuat petak
pembesaran benih untuk restocking.
• Komposisi pengumpul:
pembudidaya:penangkap benih.
• Jumlah petak pembesaran benih
yang dibuat secara kolektif.
• Jumlah anggota dan pengurus dalam
Assosiasi
• Persepsi anggota assosiasi pada
akses
kegiatan
sea-ranching
(intensitas-non parametrik).
• Sikap, pengetahuan, keterampilan
anggota pada proses sea-ranching
(intensitas – non parametrik)
•
• e k s t e r n a l
evaluator
• Logbook
• berita acara
• pelaporan
wawancara informan kunci
Lagalitas
• Luasan kawasan sea-ranching yang
terzonasi
• Kelayakan proses dokumentasi /
logbook, berita acara. Pelaporan
(intensitas-non parametrik).
• Persepsi
pelaku
usaha
dan
stakeholders pada deklarasi yang
dibuat
pemerintah
(intensitas
pemahaman – non parametrik.
• Jumlah sertifikasi yang sudah
dikeluarkan
(dokumen/jenis
sertifikasi)
• e k s t e r n a l
evaluator
• Logbook
• berita acara
• pelaporan
• wawancara
informan
kunci
205
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Lampiran 2. : Indikator evaluasi dampak pengembangan sea-ranching
perikanan Napoleon di Anambas dan Natuna
PARAMETER
INDIKATOR
PELAKSANA
Enhancement
(Pengkayaan
Suberdaya ikan
Napoleon)
• Sediaan stok ikan Napoleon
dewasa di alam (ekor/hektar)
• Sediaan stok anakan ikan Napoleon menurut periode waktu
selama 5 tahun di alam (ekor/
ha/tahun).
• Laju kecepatan tumbuh populasi
ikan Napoleon (ekor/tahun)
• Internal/eksternal evaluator
206
SUMBER
INFORMASI
DAN DATA
• Monitoring
populasi di laut
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN
DAERAH PENANGKAPANPUKAT IKAN YANG BERBASIS
DI TANJUNG PINANG KEPULAUAN RIAU
Oleh :
Mahiswara dan Baihaqi
ABSTRAK
Pukat ikan (fish net) adalah jenis alat tangkap pukat yang didesain khusus
untuk menangkap ikan dengan ikan dasar-demersal sebagai spesies targetnya. Pukat
ikan dalam klasifikasi alat tangkap yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan
Perikanan sering diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai fish net. Struktur
armada yang ada pada saat ini, pukat ikan Tanjung Pinang dikategorikan menjadi
dua, yaitu pukat ikan kecil dengan kapal <100 GT dan dengan kapal 100 – 200 GT.
Tenaga penggerak yang digunakan memiliki kekuatan antara 150 – 500 PK. Metode
yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei melalui kegiatan on board
observer pada bulan Mei 2014. Tujuan penulisan ini yaitu mendapatkan informasi
komposisi hasil tangkapan, laju tangkap/ CPUE dan daerah penangkapan pukat ikan
yang berbasis di Tanjung Pinang. Hasil penelitian menunjukkan komposisi hasil
tangkapan pukat ikan yaitu ikan demersal (68,51%), ikan pelagis (14,37%), ikan
rucah (11,14%), cumi (4,01%), udang (1,96%) dan invertebrata (0,01%). Besaran
laju tangkap pukat ikan berkisar antara 10 – 730,7 kg/tawur dengan rata-rata 383,84
kg/ tawur atau 84,82 kg/jam. Daerah penangkapan pukat ikan yang berbasis di
Tanjung Pinang berada pada daerah operasi penangkapan dilakukan pada posisi
sekitar 1060 - 1090 LS & 010 - 020 BT.
Kata kunci : pukat ikan, komposisi hasil tangkapan, laju tangkap, daerah
penangkapan
207
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Pukat ikan (fish net) adalah jenis alat tangkap pukat yang didesain khusus untuk
menangkap ikan demersal sebagai spesies target. Pukat ikan dalam klasifikasi alat
tangkap yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan sering diterjemahkan
kedalam bahasa Inggris sebagai fish net. Sebenarnya istilah fish net mempunyai arti
yang tidak jelas, karena secara harafiah fish net atau jaring ikan berarti semua alat
penangkap ikan yang material utamanya terbuat dari bahan jaring (net-webbing).
Terlepas dari berbagai istilah yang dikenakannya, sebenarnya alat tangkap yang
berama pukat ikan-fish net tergolong dalam alat tangkap trawl, karena target spesies
pukat ikan yaitu ikan dasar yang hidup di dekat atau di dasar perairan. Jaring pukat
ikan umumnya dirancang dengan bukaan mulut tinggi (high opening trawl).
Pengoperasian pukat ikan di WPP Laut China Selatan didasarkan pada SK.
Mentan No: 770/Kpts/IK.120/10/1996 tentang penggunaan pukat ikan di wilayah
perairan ZEEI Laut China Selatan. Kepemilikan kapal pukat ikan di Tanjung
Pinang umumnya bersifat individu, namun dalam operasionalnya dikelola oleh
sebuah manajemen yang tujuan utamanya menampung hasil tangkapan dari setiap
anggota kelompoknya, dengan cara membiayai seluruh keperluan operasional.
Setiap pengelola armada perikanan pukat ikan di Tanjung Pinang memiliki gudang/
tangkahan sendiri, sebagai pusat aktivitas bongkar hasil tangkapan.
Struktur armada pukat ikan Tanjung Pinang dikategorikan menjadi dua, yaitu
ukuran pukat ikan kecil dengan kapal <100 GT dan dengan ukuan kapal 100 – 200
GT. Tenaga penggerak yang digunakan memiliki kekuatan antara 150 – 500 PK.
Sebagian besar mesin yang digunakan kapal pukat ikan yang berbasis di Tanjung
Pinang yaitu mesin Cummins. Mesin lokal ataupun produk China jarang digunakan.
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seluruh ijin pengoperasian pukat ikan
dikeluarkan oleh pusat, dalam hal ini Ditjen Perikanan Tangkap, Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
METODOLOGI
Pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei laut melalui
kegiatan on board observer pada unit penangkapan pukat ikan selama periode
pengumpulan data bulan Mei 2014. Kegiatan on board observer dilaksanakan pada
208
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
kapal pukat ikan KM Harapan Murni (P 26,40 m ; L 6,88 m; D 2,35 m, 63 GT, 350
PK) yang dilengkapi dengan peralatan navigasi, radio, fish finder dan GPS (Global
Positioning Systems). Kegiatan penangkapan dilaksanakan selama 19 hari dengan
jumlah hari efektif pengoperasian pukat ikan 15 hari. Jumlah total tawur selama trip
penangkapan sebanyak 54 kali. Informasi yang dicatat antara lain : hasil tangkapan,
jumlah tawur, posisi dan lama penarikan. Identifikasi ikan berdasarkan Trap and
Kailola (1984) dan Bruin and Russell (1994).
Analisis Data
Analisis mengenai spesifikasi alat tangkap dan daerah penangkapan dilakukan
secara deskriptif dalam bentuk gambar dan tabulasi, sedangkan perbedaan laju
tangkap rata-rata hasil tangkapan per setting/tawur dihitung melalui rumus sebagai
berikut :
CPUE = Catch (Kg)
Upaya (setting/jam)
HASIL
Pukat Ikan Tanjung Pinang
Berbeda dengan pukat udang, pukat ikan baik yang berukuran kecil, sedang
maupun besar umumnya dioperasikan dengan kapal tipe stern trawler. Pukat ikan
yang digunakan (fish net) yaitu pukat dengan panjang ris atas (head rope) 60, 0 m
dan panjang ris bawah (ground rope) 61,0 m. Pada prinsipnya jaring pukat ikan yang
terkonsentrasi di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), terdiri dari bagian sayap, mulut
badan dan kantong. Pada saat operasi penangkapan mulut jaring terbuka secara
horizontal dengan menggunakan “otter board” dan secara vertikal menggunakan
pelampung dan pemberat. Dari hasil pengamatan jaring pukat ikan mempunyai
dimensi sebagai berikut: Pada sayap digunakan tali ris dengan bahan PA diameter
16 mm dan 16 mm. Pada tali ris atas digunakan 2 buah tali dilengkapi dengan
pelampung untuk satu sisi sebanyak 20 pelampung (No 800, Ø 8 inci). Pemberat
bobin sepanjang 40 meter dengan pemberat rantai besi diameter 3/8 inci dengan
berat 50 kg dan panjang total 27 meter yang dipasang dengan jarak antar ikatan 30
cm dengan panjang rantai 45 cm.
209
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Panjang sayap ± 20 m. Bahan jaring pada bagian sayap yaitu PE Ø 6mm
dengan besar mata pada sayap 36 inci. Pada bagian mulut jaring dipasang tali
head rope PA 22 mm (dua buah ) dan tali Foot rope PA 24 mm (3 buah). Pada tali
head rope dipasang pelampung 210 mm sebanyak 15 buah. Dan pada tali foot rope
dipasang pemberat timah seperti pada bagian sayap.
Pada bagian badan bahan jaring digunkan PE terdiri dari d 120 dan d 96 dengan
besar mata jaring terus menurun yaitu mulai dari badan jaring yang berukuran 96
inci, 48 inci, 24 inci, 12 inci 9 inci, 6 inci 4 inci, dan 3 inci dan 2 inci. Sedangkan
pada bagian kantong digunakan bahan PE d 42 dengan mesh size 1,5 inci dengan
panjang kantong 6 m. Sisi bagian bawah ditambah anyaman satu baris, setengah
mata dengan ukuran mata yang lebih besar PE Ø 4 mm dengan mesh size 3,5 inci
(Gambar 1)
HR. 60 m
GR. 61 m
11
#
Say
ap
30
m
all
bar
96”
96”
d/12
0
17
#
all
mesh
m
96 “. 90
#.
48 “.
180
24 “.#.270
#12 “.
360
9“. #.
Badan 41
1p
2b
450 #.
6 “.
430
4“. #.
370
3“.
#.
295 #.
2“. 250
#. “.
1½
220 #.
Kantong
6m
11
#
1½“
220
#.
17
#
d/1
20
d/
96
d/9
6
d/
96
d/
72
d/
60
d/
48
d/
30
d/
24
d/
24
d/
30
d/4
2
Keterangan :
Tali ris atas : kuralon ∅16m m
Ris bawah kuralon ∅16m m
Tali pelampung PP ∅6 mm
Pelampung bola ∅ 8 inci (40
bh).
Gambar 1. Konstruksi dan desain pukat ikan Panjung Pinang
210
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 2. Kapal pukat ikan Tanjung Pinang
Dengan ukuran kapal yang relatif besar, pengoperasian pukat ikan praktis
bisa dilakukan sepanjang tahun. Upaya penangkapan relatif menurun pada saat
berlangsung musim barat. Dalam satu trip penangkapan ikan dengan pukat ikan
lamanya berkisar antara 14-22 hari. Umumnya kapal pukat ikan dalam satu hari
(24 jam) melakukan pengoperasian antara 3-5 tawur jaring (setting), dengan lama
penarikan jaring di dalam air antara 2-5 jam/tawur.
Dari hasil kegiatan on board observer di kapal pukat ikan KM Harapan Murni
(63 GT, 350 PK) yang berbasis di Tanjung Pinang pada bulan Mei 2014 diperoleh
informasi bahwa, trip penangkapan dilakukan selama 19 hari dengan jumlah hari
efektif pengoperasian pukat ikan selama 15 hari. Terjadi kerusakan jaring yang
membutuhkan waktu perbaikannya. Jumlah total tawur selama trip penangkapan
sebanyak 54 kali, dengan sekali mengalami kegagalan operasi. Rata-rata waktu
penarikan jaring di dasar perairan yaitu 270 menit/tawur, dengan kisaran antara 95 –
345 menit per tawur. Kecepatan kapal pada saat melakukan penarikan jaring berkisar
antara 3-3.7 knot. Dengan durasi penarikan jaring yang lama, gerakan kapal pada
saat penarikan dapat berubah-ubah arah sesuai dengan kondisi daerah penangkapan.
Rata-rata laju tangkap pukat ikan Tanjung Pinang yaitu 383,84 kg/ tawur atau 84.82
kg/jam.
211
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Komposisi Hasil Tangkapan
Dari hasil kegiatan observer pada bulan Mei 2014, diperoleh informasi bahwa
komposisi hasil tangkapan ikan demersal merupakan target penangkapan. Dari 54
kali tarikan diperoleh rata-rata laju tangkap 84,82 kg/jam. Berdasarkan famili
diperoleh laju tangkap tertinggi adalah Carangidae dengan rata-rata laju tangkap
sebesar 6,34 kg/jam (13,78 %) dari total laju tangkap, berikutnya diikuti oleh
Nemipteridae 6,24 kg/jam (13,55%), Lutjanidae 3,90 kg/jam (8,24 %), Gerreidae
2,96 kg/jam (6,43%), Mullidae 2,72 kg/jam (5,91%), Ariidae 2,71 kg/jam (5,89%)
dan Haemulidae 2,30 kg/jam (5,00%). Sementara laju tangkap udang (Penaeidae)
relatif rendah yaitu 0,92 kg/jam (2,00%), cumi-cumi 0,93 kg/jam (2,03% dan sotong
0,47 kg/jam (1,03%). Sedangkan laju tangkap ikan rucah (trash fish) 5,44 kg/jam
(11,82%) (Gambar 3).
Hasil tangkapan pukat ikan didominasi oleh ikan demersal mencapai 68,51%,
berikutnya adalah perikanan pelagis 14,37% kemudian cumi dan sotong sekitar
4,01%. Sementara kategori trash fish merupakan kumpulan dari ikan-ikan kecil yang
dianggap tidak ekonomis atau rucah mencapai 11,14%. (Tabel 1).
Tabel 1. Komposisi berdasarkan katagori ikan tangkapan Pukat Ikan
PERIKANAN
TANGKAPAN
PERSEN
KG
%
Demersal
7761.50
68.51
Pelagis
1627.75
14.37
udang
221.50
1.96
cumi,sotong
454.80
4.01
Invertebrata
1.5
0.01
Trashfish
1261.8
11.14
Total
11328.85
100
Jenis ikan demersal yang dominan tertangkap antara lain : kurisi (Nemipteridae)
kakap (Lutjanidae), kapasan (Gerreidae) kuniran (Mullidae), sembilang (Arridae),
bubunyai (Haemulidae), pari (Dasyatididae) dan beloso (Synodontidae). Tangkapan
ikan pelagis didominasi oleh ikan karangid (Carangidae 13,8%), kembung
212
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(Scombridae 0,7%) Alu-alu (Sphyraenidae 0,1%). Sementara yang termasuk
masuk kedalam kelompok trash fish terdiri dari buntal (Diodontidae), bukur
(Monacanthidae), udang krosok (Shrimp), helikopter (Triacanthidae), kapasan
(Pomacentridae), walangan (Triglidae), pepetek (Leiognathidae), lepuh dan ikanikan kecil lainnya. Trash fish ini didominasi oleh ikan buntal sekitar 60% dan bukur
15% sedangkan ikan lainnnya masing-masing sebarannya sekitar 5%.
Gambar 3. Komposisi Tangkapan Pukat Ikan Tanjung Pinang.
Gambar 4. Komposisi Ikan Demersal Hasil Tangkapan Pukat Ikan
Selain ikan demersal yang menjadi target penangkapan, tertangkap juga ikan
pelagis (Gambar 5) sebagai hasil tangkapan sampingan dengan total hasil tangkapan
213
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
sebesar 1627.75 kg atau 14,37% dari total tangkapan pukat ikan. Terdapat 13 jenis
ikan pelagis yang tertangkap yang didominasi oleh ikan selar kuning (S. leptolepis)
(68% dari jenis ikan pelagis yang tertangkap) atau 10% dari total tangkapan pukat
ikan.
Gambar 5. Komposisi Ikan Pelagis Hasil Tangkapan Pukat Ikan
Jenis krustacea yang tertangkap sebesar 221,50 kg atau 1,96% dari total
tangkapan pukat ikan. Hasil tangkapan krustacea yang tertangkap didominasi oleh
udang krosok. Komposisi krustacea terdiri dari udang jerbung, krosok, lobster, dan
kipas dengan masing-masing prosentase sebesar 8%, 57%, 3%, dan 32%. Selain itu,
cumi cumi tertangkap sebanyak 2% dari total tangkapan, sotong 1% dan sisanya
adalah jenis kepiting. Ikan rucah yang tertangkap mencapai 1261,8 kg atau 11,14%
dari total tangkapan (Tabel 2).
214
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 2. Komposisi jenis ikan rucah hasil tangkapan Pukat Ikan
Jenis
Persentase
DIODONTIDAE (Buntal)
60
MONACANTHIDAE (bukur)
15
SHIRM (Udang krosok)
5
TRIACANTHIDAE (helikopter)
5
POMACENTRIDAE (kapasan)
5
TRIGLIDE Cehelidonichthys sp (walangan)
3
LEOGNATUDAE (petek)
2
LAIN-LAIN (Lepuh dan ikan -ikan kecil )
5
Daerah penangkapan
Armada pukat ikan yang berbasis di Tanjung Pinang melakukan operasi di
wilayah perairan Laut China Selatan di sekitar Pulau Natuna atau istilah nelayan
lokal adalah daerah Tokong Kemudi, dan Perairan Kep. Riau (selat Karimata)
atau istilah nelayan lokal adalah daerah Pejantan. Kedalaman perairan di lokasi
penangkapan umumnya kurang dari 50 meter. Gambar 6 adalah daerah penangkapan
kapal pukat ikan berdasarkan obervasi observer yang mengukuti secara langsung
aktivitas penangkapan selama 1 trip penuh.
Gambar 6. Daerah Penangkapan Kapal Pukat Ikan yang Berbasis di Tanjung Pinang
215
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PEMBAHASAN
Pemanfaatan sumberdaya ikan di Perairan Selat Malaka terus mengalami
peningkatan upaya. Intensitas pemanfaatan yang tinggi di Selat Malaka terjadi baik
terhadap kelompok sumberdaya ikan demersal maupun pelagis. Laju eksploitasi
penangkapan dapat digambarkan dengan bertambahnya jumlah kapal, peningkatan
kemampuan tangkap, dan kapasitas penangkapan serta perluasan daerah penangkapan
ke wilayah pengelolaan perikanan yang berbeda (Atmadja, 2008).
Masalah pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkembang di Selat Malaka
dewasa ini yaitu beroperasinya kapal-kapal pukat ikan (fish net) sejak tahun 1990
di perairan ZEE, untuk penangkapan ikan demersal (Sumiono, 2002). Bersamaan
dengan meningkatnya pukat ikan tahun 1991 di Selat Malaka, terjadi menurunnya
hasil tangkapan per upaya (CPUE) dari kapal pukat ikan yakni dari 11 ton/kapal
pada tahun 1994 menjadi 7,5 ton / kapal/trip pada tahun 1996 (Sumiono, 2002).
Presentase hasil tangkapan pukat ikan di sekitar Pulau Berhala (Selat Malaka)
berdasarkan kelompok (kategori) ikan terdiri dari demersal (52,26 %), cumi-cumi
(29,69%), pelagis (8,81 %), udang (3,39%) dan trashfish (5,84 %). Hasil penelitian
tahun 2003 menunjukkan bahwa, nilai laju tangkap ikan demersal pada perikanan
pukat ikan yang beroperasi di perairan sekitar Pulau Berhala sebesar 127,7 kg/jam
(Hufiadi dan Nurdin, 2006). Dari informasi tersebut tampak jelas bahwa terdapat
kecenderungan semakin menurunnya nilai CPUE untuk perikanan pukat ikan di
perairan Selat Malaka. Fenomena yang hampir sama diduga kuat terjadi pula pada
perikanan pukat ikan yang berbasis di Tanjung Pinang. Keadaan ini terindikasi oleh
semakin meningkatnya jumlah unit penangkapan pukat ikan yang mendapatkan ijin
penangkapan.
Perikanan pukat ikan sejatinya adalah trawl yang tergolong sangat aktif dengan
produktifitas yang relatif tinggi. Alat ini bersifat tidak ramah lingkungan, karena
menangkap segala jenis dan ukuran ikan yang berada pada lintasan sapuan bagian
mulut jaring. Berdasarkan pencatatan observer pada perikanan pukat ikan yang
beroperasi di perairan lainnya (Kepulauan Riau) diperoleh rata-rata laju tangkap
84,82 kg/jam. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan famili diperoleh laju tangkap
tertinggi adalah kelompok ikan carangidae dengan rata-rata laju tangkap sebesar
6,34 kg/jam (13,78 % dari total laju tangkap).
216
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KESIMPULAN
Jenis ikan demersal yang dominan tertangkap antara lain : kurisi (Nemipteridae)
kakap (Lutjanidae), kapasan (Gerreidae) kuniran (Mullidae), sembilang (Arridae),
bubunyai (Haemulidae), pari (Dasyatididae) dan beloso (Synodontidae). Tangkapan
ikan pelagis didominasi oleh ikan karangid (Carangidae 13,8%), kembung
(Scombridae 0,7%) Alu-alu (Sphyraenidae 0,1%).
Produktivitas dan komposisi tangkapan pukat ikan diperoleh rata-rata laju
tangkap 84,82 kg/jam. Tangkapan tertinggi adalah famili Carangidae dengan ratarata laju tangkap sebesar 6,34 kg/jam (13,78 %) dari total laju tangkap, berikutnya
diikuti oleh Nemipteridae 6,24 kg/jam (13,55%), Lutjanidae 3,90 kg/jam (8,24 %),
Gerreidae 2,96 kg/jam (6,43%), Mullidae 2,72 kg/jam (5,91%), Ariidae 2,71 kg/jam
(5,89%) dan Haemulidae 2,30 kg/jam (5,00%). Laju tangkap udang (Penaeidae)
relatif rendah yaitu 0,92 kg/jam (2,00%), sedangkan cumi-cumi 0,93 kg/jam
(2,03%) dan sotong 0,47 kg/jam (1,03%). Laju tangkap ikan rucah (trash fish) 5,44
kg/jam (11,82%).
Daerah penangkapan pukat ikan yang berbasis di Tanjung pinang umumnya
dari Perairan Pulau Bintan hingga ke selatan sekitar Pulau Pejantan dan ke utara
sekitar perairan Tokang Kemudi. Daerah penangkapan pukat ikan terletak pada
posisi 1060 - 1090 LS & 010 - 020 BT.
PERSANTUNAN
Kegiatan dari hasil riset Pengkajian Kapasitas Penangkapan Perikanan Pukat
Ikan dan Pukat Cincin di Selat Malaka (WPP571) dan Laut China Selatan (WPP
711) TA. 2014 di Balai Penelitian Perikanan Laut.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymus. 2008. Dinamika Populasi Sumberdaya Ikan Demersal dan Udang
Penaeid di Laut Jawa (Losari Transek). Laporan Teknis Riset. Balai Riset
Perikan Laut. Jakarta.
Atmadja, S. B. 2008. Sumberdaya ikan pelagis kecil dan dinamika perikanan pukat
cincin di Laut Jawa. Balai Riset Perikanan Laut. Pusat Riset Perikanan
Tangkap. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.100 pp.
217
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Burhanuddin., S. Martosewojo., A.Djamali dan R. Moeljanto. 1984. Perikanan
Demersal di Indonesia. LON – LIPI, Jakarta. Hal : 9 – 55.
De Bruin G.H.P., and B.C. Russel. (1994). The Marine fishery Resources of
Srilanka. Food and Agriculture Organization of The Unite Nation Rome .
400 P.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda
dan Taktik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan, Insitut Pertanian Bogor. Bogor. Hal. 8.
Hufiadi & E.Nurdin. 2006. Laju tangkap dan kepadatan stok ikan demersal di
perairansekitar P.Berhala, Selat Malaka. Seminar Nasional Perikanan
Tangkap.Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.
Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. p.128-133
Sumiono, B. 2002. Laju tangkap dan kepadatan stok ikan demersal di perairan Selat
Malaka.Jurnal Penelitian Perikanan laut.Jakarta BRKP.DKP.Vol 8. (1): 4151.
Trap T.G and Kailola P.J. (1984). Trawled Fishes of southern Indonesia and
Nortwestern Australia. The Australian Development Assistance Bureu.
The Directorate General of Fisheries Indonesia, The German Agency for
Technical Cooperation Australia, 406 p.
218
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
MUSIM PENANGKAPAN, LAJU TANGKAP DAN
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI
LAUT CINA SELATAN
Oleh
Thomas Hidayat , Tegoeh Noegroho2 dan Umi Chodrijah3
1
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan Februari sampai Desember 2014 di Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat, Kalimanatan Barat, dan bertujuan untuk
memperoleh data dan informasi tentang laju tangkap, musim penangkapan,
komposisi hasil tangkapan, dan ukuran ikan yang tertangkap jaring insang
hanyut di Laut Cina Selatan. Data primer diperoleh dengan pencatatan langsung
yang dilakukan enumerator pada hasil tangkapan kapal jaring insang hanyut,
sedangkan data sekunder yang dianalisis merupakan data statistik perikanan dari
PPN Pemangkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju tangkap 4.518 kg/
trip, atau sama dengan 545,8 kg/setting. Musim penangkapan terjadi pada sekitar
Maret, Agustus dan November, sementara musim paceklik pada Februari dan Mei.
Komposisi jenis hasil tangkapan jaring insang di Laut Cina Selatan didominasi oleh
tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) 41%, tongkol komo (Euthynnus affinis) 39%,
tenggiri (Scomberomorus commerson) 11%. Ikan tongkol abu-abu yang tertangkap
paling dominan berukuran 47 - 49 cmFL dan tongkol komo 41 - 46 cmFL, hal ini
menunjukkan sebagian besar hasil tangkapan sudah tergolong ikan dewasa.
KATA KUNCI : Jaring insang, laju tangkap, musim penangkapan, Laut
Cina Selatan
PENDAHULUAN
Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 Laut Cina Selatan dan Laut
Natuna merupakan perairan dengan kedalaman rata-rata 70 m dan banyak terdapat
gugusan pulau-pulau kecil. Perairan ini memiliki potensi sumberdaya ikan yang
219
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
besar, khususnya ikan pelagis kecil dan pelagis besar. Hasil tangkapan dari Laut
Cina Selatan didaratkan di beberapa tempat seperti Pemangkat, Tanjung Pinang dan
Bangka-Belitung.
Pemangkat merupakan salah satu tempat pendaratan utama dari kapal-kapal
ikan yang beroperasi di Laut Cina Selatan. Di PPN Pemangkat terdapat beberapa
jenis alat tangkap yaitu : pukat cincin (purse seine), jaring insang hanyut (gill net),
lampara dasar, rawai dasar tetap dan boukeami. Produksi ikan yang didaratkan pada
tahun 2012 mencapai 9.248 ton/tahun. Produksi ikan di Pemangkat didominasi
pelagis kecil (layang 22%, selar 17%), ikan pelagis besar (tongkol komo 18%,
tongkol abu-abu 12%), sisanya yaitu ikan demersal seperti kurisi, gulamah,
manyung, udang dan lain-lain.
Ikan-ikan pelagis besar seperti tongkol komo (Euthynnus affinis), tongkol abuabu (Thunnus tonggol) dan tenggiri (Scomberomorus commerson) tertangkap hanya
oleh alat tangkap pukat cincin dan jaring insang hanyut. Produksi ikan pelagis besar
terutama tuna neritik (tongkol komo, tongkol abu-abu dan tenggiri), dihasilkan 84
% oleh kapal jaring insang hanyut, sisanya 26 % disumbangkan oleh kapal pukat
cincin.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju tangkap, musim penangkapan,
komposisi hasil tangkapan, dan ukuran ikan yang tertangkap jaring insang di Laut
Cina Selatan.
BAHAN DAN METODE
Kegiatan penelitian dilakukan dari Februari sampai Desember 2014 terhadap
hasil tangkapan jaring insang hanyut dengan daerah penangkapan Laut Cina Selatan
dan sekitarnya yang didaratkan di PPN Pemangkat, Kalimantan Barat.
Analisis Data
Ukuran ikan pertama kali tertangkap atau Length at first capture (Lc) merupakan
50 % fraksi tertahan (ikan yang tertangkap) dari alat tangkap. Nilai Lc diperoleh dari
data sebaran panjang yang dihitung dengan rumus (Sparre & Venema 1999):
SLest= 1/(1+exp(S1-S2*L)).................................................................................................(1)
220
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Lc=S1/S2.........................................................................................(2)
dimana:
SLest
: kurva logistic
S1dan S2
: Konstanta
Perhitungan Laju tangkap diperoleh dengan menggunakan rumus Sparre &
Venema (1999) sebagai berikut :
................................................................................... (3)
dimana,
CR= laju tangkap
Cw
= bobot tangkapan (kg)
t
= satuan waktu (trip)
Dugaan musim penangkapan ikan ditentukan menggunakan metode persentase
rata-rata (the average percentage methods) yang didasarkan pada analisis runtun
waktu (times series analysis) (Spiegel, 1961). Sebagai berikut :
1.
CPUE = Catch Per Unit of Effort
U =
1 m
∑U i …………..................................................…….
m i =1
(1)
U = CPUE rata-rata bulanan dalam setahun (ton/trip)
U i = CPUE per bulan (ton/trip)
m = 12 (jumlah bulan dalam setahun)
2. Up yaitu rasio Ui terhadap U dinyatakan dalam persen :
Up =
Ui
x 100 % ………...................................………..…... (2)
U
3. Indeks Musim Penangkapan
IMi =
1 t
∑U p
t i =1
..……….…...................................................……..
(3)
IMi = Indeks Musim ke i
t
= Jumlah tahun dari data
221
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
HASIL
Armada dan Daerah Penangkapan
Kapal jaring insang hanyut di Pemangkat rata-rata terbuat dari kayu berukuran
16-47 GT,dilengkapi mesin penggerak inboard merk Yanmar atau Jiangdong 100120 PK, perlengkapan lainnya alat penentu posisi (GPS). Banyaknya ABK 8-10
orang, dengan lama trip 9-12 hari sekali melaut.
Alat tangkap jaring insang hanyut yang digunakan nelayan Pemangkat
mempunyai ukuran panjang jaring sekitar 6.000-10.000 m, dalam 20-25 m, panjang
tali pelampung 8-10m dengan besar mata jaring 4-5 inchi. Jaring ini tidak memiliki
pemberat pada bagian bawahnya, sebagai gantinya menggunakan “benang kaki
“ yaitu bagian bawah jaring sedalam sekitar 2 m yang terbuat dari bahan yang
tenggelam. Pemberat logam hanya di bagian ujung – ujung jaring. Lebih lengkapnya
desain jaring insang seperti terlihat pada Gambar 1.
Pengoperasian jaring insang hanyut pada dasarnya sederhana yaitu setelah
kapal sampai di daerah penangkapan (fishing ground) kapal akan berlayar dengan
kecepatan sekitar 3 knot sambil menurunkan jaring, arah haluan kapal diusahakan
berlawanan dengan arus laut. Setting atau penurunan alat tangkap biasanya dimulai
sekitar pukul 16.00 WIB dan mulai ditarik (hauling) sekitar pukul 22.00 WIB.
Penarikan jaring ke atas dek kapal dilakukan dengan bantuan mesin penggulung
(power block) yang biasa disebut mesin gol, sambil menarik jaring ABK melepaskan
ikan yang yang terjerat/terpuntal pada jaring kemudian jaring disusun agar mudah
untuk operasi berikutnya. Proses penarikan jaring bila tidak banyak ikan sekitar 3
jam, tetapi bila banyak ikan bisa mencapai 6 jam. .
Gambar 1. Desain jaring insang hanyut di Pemangkat
222
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Daerah penangkapan jaring insang hanyut di Pemangkat di sebelah Barat
Pemangkat 1070-1090 BT yaitu sekitar P. Pejantan, P. Pengikik, P. Tambelan, pada
bulan September - Oktober terlihat daerah penangkapan sekitar 1050 BT mendekati
Tanjung Pinang, sedangkan secara vertikal daerah penangkapan menyebar dari 30
LU sampai 10 LS, di bulan Desember daerah penangkapan terjauh di Utara di sekitar
P. Subi dan P. Natuna. Lebih lanjut sebaran daerah penangkapan jaring insang hanyut
dapat dilihat di Gambar 2.
Gambar 2. Daerah penangkapan jaring insang hanyut di PPN Pemangkat.
Laju Tangkap dan Musim Penangkapan
Nilai laju tangkap diperoleh dari hasil pencatatan enumerator terhadap hasil
tangkapan tiap trip kapal jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan dari bulan dari
Februari sampai Desember 2014. Laju tangkap rata-rata jaring insang hanyut adalah
4.518 kg/trip, atau sama dengan 545,8 kg/setting (Tabel 1).
223
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Laju tangkap jaring insang hanyut dari Laut Cina Selatan
Bulan
Produksi (kg)
∑ trip
∑ setting
Laju tangkap
(kg/trip)
Laju tangkap
(kg/setting)
Februari
39759
8
66
4969,9
602,4
Maret
54157
8
65
6769,6
833,2
April
43745
10
89
4374,5
491,5
Mei
29235
9
70
3248,3
417,6
Juni
39620
7
63
5660,0
628,9
Juli
37805
8
66
4725,6
572,8
Agustus
35661
7
53
5094,4
672,8
September
26208
9
78
2912,0
336,0
Oktober
40130
9
76
4458,9
528,0
November
37437
9
70
4159,7
534,8
Desember
26618
8
69
3327,3
385,8
Rata-rata
8.4
70
4518,2
545,8
Dari analisis musim penangkapan dalam periode waktu selama 6 (enam) tahun
dari 2008 sampai 2013, diketahui bahwa musim penangkapan kapal jaring insang
hanyut di Laut Cina Selatan terjadi pada sekitar Maret, Agustus dan November.
Sedangkan musim paceklik diawali pada Februari dan Mei (Gambar 3).
Gambar 3. Indeks Musim Penangkapan (IMP) jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan yang
didaratkan di PPN Pemangkat.
224
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Komposisi Jenis Hasil Tangkapan
Komposisi jenis hasil tangkapan jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan
yaitu tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) 41%, tongkol komo (Euthynnus affinis)
39%, tenggiri (Scomberomorus commerson) 11%, layaran (Istiophorus oriental)
3,5%, manyung (Arius sp) 1,8% dan lain-lain 2,6% (Gambar 4).
Gambar 4. Komposisi hasil tangkapan jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan.
Sebaran ukuran ikan tongkol abu-abu di Laut Cina Selatan selama 11 bulan
menyebar normal dengan 1 modus pada kelas 47 - 49 cmFL, sedangkan struktur
ukuran tongkol abu-abu berkisar dari 35 - 85 cmFL.
Gambar 5. Struktur ukuran tongkol abu-abu hasil tangkapan jaring insang hanyut di Laut
Cina Selatan.
225
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Ukuran ikan tongkol komo yang tertangkap jaring insang hanyut di Laut Cina
Selatan berkisar antara panjang cagak (FL) 35 - 64cm, dengan modus 41 - 46 cmFL.
Gambar 6. Struktur ukuran tongkol komo hasil tangkapan jaring insang hanyut di Laut Cina
Selatan.
BAHASAN
Rata-rata laju tangkap jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan selama
penelitian (Februari - Desember 2014) yaitu 4.518 kg/trip, atau sama dengan 545,8
kg/setting (dengan lama trip rata-rata 9 - 12 hari). Hal ini berbeda dengan laju
tangkap alat tangkap ini Laut Jawa 306,3 kg/setting (Hidayat & Noegroho, 2013),
sedangkan laju tangkap di perairan Thailand 223 kg/setting (Yesaki, 1991).
Musim penangkapan kapal jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan terjadi
pada sekitar Maret, Agustus dan November serta musim paceklik pada Februari dan
Mei, sementara musim penangkapan terjadi pada bulan Agustus dan November.
Hasil penelitian Hendiarti et al. (2005) mendapatkan pada bulan Juni sampai
Oktober (Musim Timur) kadar klorofil di Laut Jawa tinggi, pada Musim Timur
arus permukaan arus bergerak dari Laut Banda melalui Laut Flores dan dari Selat
Makassar ke Laut Jawa selanjutnya bergerak ke Laut Natuna dan Laut Cina Selatan
membawa air yang kaya akan nutrisi (Hendiarti et al., 2005). Ikan tuna neritik
(tongkol abu-abu dan tongkol komo) merupakan top predator dalam trophic level di
perairan ini yang mangsanya ikan-ikan pelagis kecil.
Tingginya kelimpahan klorofil yang mengindikasikan kelimpahan plankton
akan memicu kelimpahan ikan pelagis kecil, yang membuat habitat perairan ini
menjadi tempat yang menarik bagi ikan-ikan tuna neritik. Selanjutnya Lehodey et
226
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
al. (1998) menuliskan gerombolan tuna sering terlihat berada di sekitar perairan
yang kelimpahan planktonnya tinggi.
Komposisi jenis hasil tangkapan jaring insang di Laut Cina Selatan didominasi
oleh tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) 41%, tongkol komo (Euthynnus affinis)
39%, tenggiri (Scomberomorus commerson) 11%. Di Laut Jawa komposisi hasil
tangkapan jaring insang tongkol komo (Euthynnus affinis) 54 %, tongkol abu-abu
(Thunnus tonggol) 36 %, tenggiri ( Scomberomorus commerson) 9 % (Hidayat &
Nugroho, 2013). Komposisi jenis hasil tangkapan jaring insang di Laut Cina Selatan
dan di Laut Jawa memiliki persamaan dimana didominasi oleh tongkol abu-abu,
tongkol batik dan tenggiri. Hal ini diduga karena tongkol komo, tongkol abu-abu
dan tenggiri cenderung hidup pada kelompok (schooling) yang sama (Collete &
Nauen, 1983).
Ukuran ikan tongkol abu-abu yang tertangkap jaring insang hanyut di Laut
Cina Selatan berkisar antara panjang cagak (FL) 35 - 85cm, dengan modus 47 - 49
cmFL. Ukuran ikan tongkol komo berkisar antara panjang cagak (FL) 35-64 cm,
dengan modus 41 - 46 cmFL. Hal ini berbeda dengan ukuran tongkol abu-abu yang
tertangkap jaring insang hanyut di Laut Jawa antara 25 - 60 cmFL, dengan modus
43 cm, sedangkan ukuran ikan tongkol komo 22 – 49 cmFL, dengan modus 37 cm
(Hidayat & Noegroho, 2013). Sedangkan ukuran rata-rata tongkol abu-abu dengan
alat tangkap ini di Thailand adalah 38,7 cm, dan tongkol komo rata-rata 39,2 cm
(Yesaki, 1991).
Ukuran tongkol abu-abu hasil tangkapan jaring insang hanyut di Laut Cina
Selatan paling banyak pada ukuran 47 - 49 cmFL dan tongkol komo 41 - 46cmFL.
Hal ini menunjukkan bahwa ikan tongkol abu-abu dan tongkol komo yang
tertangkap alat ini sebagian besar sudah tergolong dewasa. Rata-rata ukuran pertama
kali matang gonad (length at first maturity/Lm) ikan tongkol abu-abu di perairan
Laut Cina Selatan adalah 40 cmFL (Balai Penelitian Perikanan Laut, 2014), di
perairan Taiwan sekitar 37 cm (Chiang et al., 2011), sementara Lm ikan tongkol
komo di Laut Jawa adalah 33,7 cm (Balai Penelitian Perikanan Laut, 2012). Dengan
demikian jaring dapat dikatakan jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan adalah
ramah lingkunngan karena dapat menjamin pembaruan populasi.
227
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KESIMPULAN
Rata-rata laju tangkap jaring insang hanyut di Laut Cina Selatan adalah 4.518
kg/trip. Musim penangkapan terjadi pada sekitar Maret, Agustus dan November
serta musim paceklik pada Februari dan Mei. Komposisi jenis hasil tangkapan jaring
insang di Laut Cina Selatan didominasi oleh tongkol abu-abu (Thunnus tonggol)
41%, dan ikan yang tertangkap sebagian besar sudah tergolong dewasa. Dengan
demikian penangkapan ikan tongkol dengan menggunakan jaring insang hanyut
akan menjamin kelestarian sumber daya di Laut Cina Selatan.
PERSANTUNAN
Makalah ini merupakan kontribusi dari Kegiatan “Penelitian Aspek Biologi,
Tingkat Pemanfaatan Dan Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Pelagis Besar
Di WPP 711 Laut Cina Selatan Untuk Mendukung Industrialisasi Perikanan”.Balai
Penelitian Perikanan Laut tahun 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian Perikanan Laut. 2012. Laporan Akhir.Penelitian Distribusi Dan
Kelimpahan Sumberdaya Ikan Pelagis Besar Di WPP-716 Laut Sulawesi
DanWPP-712 Laut Jawa.
Balai Penelitian Perikanan Laut. 2014. Laporan Akhir.Penelitian Aspek Biologi,
Tingkat Pemanfaatan Dan Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Pelagis
BesarDi WPP 711 Laut Cina Selatan Untuk Mendukung Industrialisasi
Perikanan.
Chiang W.C.,H. Hsu,S.C. Fu,S.C. Chen, C.L. Sun, W.Y. Chen, D.C. Liu, W.C. Su.
2011. Reproductive biology of longtail Tuna (Thunnus tonggol) from coastal
waters off Taiwan. Working Party on Neritic Tuna 01, IOTC 2011.
Collete B.B. and C.E. Nauen. 1983.FAO Special Catalogue. Vol. 2 Scombrids Of
The World An Annotated And Illustrated Catalogue Of Tunas, Mackerels,
Bonitos, And Related Species Known To Date. FAO Fisheries Synopsys.125
(2): 33-34
Hendiarti, N., Suwarso, E. Aldrin, K. Amri, S. I. Sachoemar & I. B. Wahyono.
2005. Seasonal Variation of Pelagic Fish Catch Around Java.Oceanography
18 (4).112-123.
228
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hidayat T..&,T. Noegroho. 2013. Perikanan jaring insang hanyut di Laut Jawa.
Bunga Rampai. Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut
Jawa. PT Penerbit IPB Press. ISBN. 978-979-493-631-3.
Lehodey, P., J. Andre, M. Bertignac, J. Hampton, A.Stoens, C. Menkes, C.
Memery, & N. Grima. 1998. Predicting skipjack tuna forage distributions
in the equatorial Pacific using a coupled dynamical bio-geochemical model.
FisheryOceanography 7(3/4):317–325.
Sparre P. & S.C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Ikan Tropis, Buku 1. Pusat
Penelitian Dan Pengembangan Perikanan. Departemen Pertanian R.I. Jakarta.
438 hal.
Spiegel, M. R., 1961. Theory and Problems of Statistics.Schaum Publ. Co., New
York. 359 p.
Yesaki M, 1991. Interaction between fisheries for small tunas off the South China
Sea coast of Thailand And Malaysia.In Interactions of Pacific Tuna Fisheries.
Vol. 1-Summary Report and Paper on Interaction. FAO Fish. Tech. Pap.
(336/1):300-319.
229
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENERAPAN METODE Data Envelopment Analysis
DALAM EVALUASI EFISIENSI PUKAT CINCIN GUNA
MENGOPTIMALKAN PRODUKTIVITAS
Oleh
Tri Wahyu Budiarti dan Mahiswara
ABSTRAK
Pesatnya perkembangan pukat cincin di Pemangkat memicu nelayan untuk
berusaha meningkatkan hasil produksinya. Peningkatan produksi ini dilakukan
dengan cara meningkatkan upaya penangkapan dan meningkatkan input upaya
penangkapan semaksimal mungkin. Keadaan seperti ini malah menyebabkan
penurunan hasil tangkapan karena terjadinya penurunan sumberdaya ikan di
lokasi penangkapan yaitu Laut Cina Selatan. Penurunan kemampuan tangkap ini
mempengaruhi perubahan cara pandang para pengelola perikanan terkait bagaimana
menentukan perhitungan guna menghasilkan hasil tangkapan yang optimal dengan
penggunaan input seefisien mungkin. Penelitian ini dilakukukan guna mengevaluasi
efisiensi unit penangkapan pukat cincin dalam hal ini penggunaan jumlah input
produksi. Metode yang digunakan pada pengolahan data adalah metode Data
Envelopmnet Analysis (DEA) dengan bantuan program DEAP 2.1. Berdasarkan hasil
persamaan produktivitas dengan metode Cobb-Douglass dan uji statistik diperoleh
faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan pukat cincin berukuran 30 – 60
GT di Pemangkat adalah lama waktu trip, kebutuhan ransum dan bahan bakar yang
digunakan. Hasil perhitungan fluktuasi dan rata-rata produksi optimal berada di
bawah fluktuasi dan rata-rata produksi aktual. Sehingga agar nilai produksi optimal
dapat dicapai perlu dilakukan penurunan sampai tingkat yang efisien terhadap ketiga
input variabel tersebut.
Kata kunci: DEA, efisiensi, produksi optimal, pukat cincin di Pemangkat
230
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Pukat cincin merupakan salah satu alat tangkap utama yang digunakan
nelayan Pemangkat untuk menangkap ikan pelagis di perairan Laut Cina Selatan.
Pesatnya perkembangan unit penangkapan pukat cincin yang berbasis di Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat dipengaruhi juga adanya perluasan daerah
penangkapan nelayan pukat cincin daerah lain, misalnya Pekalongan. Sejalan dengan
investasi kapal baru yang lebih besar (80 – 100 GT) pada 1982-1983 menyebabkan
peningkatan kapasitas penangkapan (dimensi ukuran jaring, ukuran kapal, dan
kekuatan mesin), strategi penangkapan dan perluasan daerah penangkapan pukat
cincin Pekalongan ke bagian timur Laut Jawa dan Laut Cina Selatan (Atmadja
2002). Selain itu perkembangan pukat cincin dipicu juga oleh adanya penggunaan
lampu untuk meningkatkan efektifitas penangkapan menggantikan peranan rumpon
yang ditanam di laut pada tahun 1986-1987 (Atmadja dan Sadhotomo, 1995). Pada
tahun yang sama mulai berkembang penggunaan pukat cincin di Pontianak dan pada
tahun 1990 meluas ke Pemangkat Kabupaten Sambas.
Pada kenyataannya peningkatan jumlah upaya dan modifikasi/ penambahan
jumlah input misalnya penggunaan lampu dan fish finder tidak serta-merta
menguntungkan nelayan, bahkan terindikasi adanya kelebihan tangkap sehingga
lambat laun akan menurunkan kemampuan tangkap karena terjadinya penurunan
sumberdaya ikan di wilayah tersebut.
Penurunan kemampuan tangkap ini mempengaruhi perubahan cara pandang
para pengelola perikanan terkait bagaimana menentukan perhitungan guna
menghasilkan hasil tangkapan yang optimal dengan penggunaan input seefisien
mungkin. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah menentukan nilai produksi
optimal yang sesuai dengan penggunaan input dalam kondisi efisien. Data
Envelopment Analysis (DEA) sebagai salah satu metode dalam mengukur efisiensi
relatif yang mengasumsikan input berdasarkan output diharapkan dapat dijadikan
sarana dalam memecahkan permasalahan tersebut. Adapun tujuan dari penelitian
ini adalah menerapkan metode DEA untuk menentukan produksi optimal unit
penangkapan pukat cincin di Pemangkat pada penggunaan input yang efisien.
METODE PENELITIAN
Pengambilan data penelitian dilakukan pada Februari- November 2014 di PPN
Pemangkat pada kapal berukuran 30 – 60 GT. Data yang dijadikan sebagai bahan
231
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
analisis berupa aspek teknis operasional dan hasil tangkapan 12 unit (96 trip). Aspek
teknis operasional tersebut antara lain: panjang kapal (m), kekuatan mesin (HP),
panjang jaring (m), daya lampu (watt), lama trip (hari), jumlah ABK (orang), bahan
bakar (ton), dan ransum (Rupiah)
Setiap usaha memiliki tujuan untuk memaksimumkan keuntungan, dan
perolehan keuntungan maksimum berkaitan erat dengan efisiensi berproduksi,
ketentuan ini berlaku juga untuk usaha penangkapan. Pada kenyataannya di lapangan
terdapat beberapa masalah terkait penggunaan faktor-faktor produksi (input). Untuk
menentukan faktor produksi yang berpengaruh terhadap hasil tangkapan dilakukan
dengan menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglass.
Pengolahan data produktivitas dilakukan dengan bantuan program MS Excel
dan SPSS versi 22. Persamaan fungsi Cobb-Douglass yang digunakan adalah
sebagai berikut :
Y = boX1b1 X2b2 X3b3...................... Xnb eu.......................................(1)
keterangan :
Y : variabel yang dijelaskan
X : variabel yang menjelaskan (faktor produksi)
b0, b1, b2.... bn
: besaran yang akan diduga
u
: kesalahan (disturbance term)
e
: bilangan natural ≈ 2,718
Untuk memudahkan pendugaan, maka persamaan tersebut diubah menjadi
persamaan linier berganda dengan cara melogaritma naturalkan (Ln) persamaan
tersebut, sehingga bentuk persamaannya menjadi sebagai berikut :
Ln Y = Ln b0 + b1 Ln X1 + b2 Ln X2 + ............+ bn Ln Xn + u Ln e..(2)
keterangan : Y adalah produktivitas kapal pukat cincin dan X1 (panjang
kapal), X2 (kekuatan mesin), X3 (panjang jaring), X4 (daya lampu), X5 (lama trip),
X6 (jumlah ABK), X7 (solar), dan X8 (Ransum) yang merupakan faktor-faktor yang
diduga mempengaruhi produktivitas kapal pukat cincin. Derajat keeratan hubungan
antara variabel bebas (X) dan variabel tak bebas (Y) dilakukan dengan melihat nilai
koefisien determinasi (R2). Uji F-statistik dilakukan untuk mengetahui pengaruh
secara bersama-sama faktor produksi yang digunakan (X) terhadap produksi (Y),
dan uji t-statistik untuk mengetahui pengaruh faktor produksi (X) secara individu
terhadap produksi (Y).
232
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Pengukuran efisiensi teknis penangkapan dilakukan dengan menggunakan
metode Data Envelopment Analysis (DEA) dengan bantuan software DEAP version
2.1 (Colli et al. 2005), kemudian pengolahan analisis dilanjutkan menggunakan
program Microsoft Excel. DEA merupakan analisis program matematik untuk
mengestimasi efisiensi teknis kegiatan produksi secara simultan. Faktor input (X)
yang berpengaruh terhadap output/ hasil tangkapan (Y) berdasarkan hasil perhitungan
metode Cobb Douglas dijadikan vektor output (u) dan vektor inputs (x). Diandaikan
terdapat m outputs, n inputs dan j unit penangkapan ikan atau pengamatan. Input
dibagi menjadi fixed input (xf) dan variable input (xv). Kapasitas output dan nilai
pemanfaatan sempurna dari input, selanjutnya dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut (Fare et al., 1989; 1994):
……....................................................................(3)
dimana :
J
θ1 u jm ≤ ∑ z j u jm , (output dibandingkan DMU)
j =1
J
∑z
j =1
j
x jn ≤ x jn , j
x jn = λ jn x jn ,
J
∑z
j =1
n∈ xf n ∈ xv
z j ≥ 0, j = 1,2,..., J ,
λ jn ≥ 0, n =1,2,..., N ,
dimana TE adalah technical efficiency (efisiensi teknis), zj adalah variable
intensitas untuk jth pengamatan; θ 1 nilai efisiensi teknis atau proporsi dengan m
output dapat ditingkatkan pada kondisi produksi pada tingkat kapasitas penuh; dan
λ*jn adalah rata-rata pemanfaatan variable input (variable input utilization rate,
VIU), yaitu rasio penggunaan inputan secara optimum xjn terhadap pemanfaatan
inputan dari pengamatan xjn.
Kapasitas output pada efisiensi teknis (technical efficiency capacity output,
TECU) kemudian didefinisikan dengan menggandakan θ1* dengan produksi
233
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
sesungguhnya. Pemanfaatan kapasitas (CU) berdasarkan pada output pengamatan, kemudian dihitung dengan persamaan berikut:
TECU =
u
1
= * ....................................................................(4)
*
θ1 u θ1
Analisis efisiensi teknis dilakukan dengan membandingkan nilai efisiensi antar
kapal yang dijadikan sebagai DMU (decision making unit). Proses penghitungan
dengan menentukan nilai konstanta dari output (µ), fixed input (x) dan variable input
( λ ) pada masing-masing DMU sehingga diperoleh nilai efisiensi penangkapan
berdasarkan tingkat pemanfaatan kapasitas (CU) penangkapan dan tingkat
pemanfaatan kapasitas variabel input (VIU). Mengitung VIU yaitu dengan cara
membandingkan variabel optimum dengan variabel aktual.
Dimana:
VIU<1 : terjadi kapasitas berlebih input penangkapan, sehingga diperlukan
pengurangan VIU.
VIU>1: terjadi kekurangan input penangkapan, sehingga diperlukan
penambahan input atau pengembangan usaha.
VIU=1: tingkat kapasitas optimal (efisien).
Dengan bantuan MS Excel diperoleh nilai input yang efisien, langkah selanjutnya
adalah melakukan perhitungan nilai produksi optimal dengan memasukkan nilai
input optimal ke dalam persamaan produksi yang telah terbentuk pada persamaan
Cobb Douglass hasil perhitungan sebelumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Pada kapal pukat cincin berukuran 30 – 60 GT, terdapat dua belas unit kapal
yang dianalisis, dengan rata-rata panjang kapal 21.09 m (Tabel 1). Hasil analisis
persamaan regresi berganda pada fungsi produksi menurut Cobb-Douglass bahwa
dari delapan jenis input (faktor produksi) yang dianalisis terdapat tiga faktor
produksi yang mempengaruhi hasil tangkapan pukat cincin yaitu X5 (lama trip), X7
(bahan bakar), dan X8 (Ransum) (Tabel 2).
234
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Rata-rata output dan faktor input pada kapal berukuran 30 - 60 GT
Output/ Input
Ket.
Y
X1
X2
X3
X4
X5
X6
X7
X8
Rata-rata
Simpangan
baku
N (kapal)
Hasil tangkapan (ton)
Panjang Kapal (m)
Kekuatan mesin (PK)
Panjang jaring (m)
Daya lampu (kilowatt)
Trip (hari)
Jumlah ABK (orang)
Bahan bakar (liter)
21,03
21,09
265
541,7
47,45
18
21
9,25
3,97
1,60
51,9
5,1
15,36
0,97
1,00
2,28
12
12
12
12
12
12
12
12
Ransum (juta Rupiah)
5,08
1,41
12
Hasil pengujian pengaruh bersama-sama faktor produksi yang digunakan (X5,
X7, X8) terhadap produksi (Y) yang dilakukan dengan uji F memenuhi persyaratan uji
(Fhitung > Ftabel) dengan tingkat signifikan 0.02 (kurang dari 0.05). Begitu juga hasil
statistik uji t untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor input (X5, X7, X8)
terhadap produksi (Y) memenuhi persyaratan uji yaitu nilai t hitung masing-masing
faktor tersebut lebih besar daripada nilai t tabel, dengan tingkat signifikan masingmasing faktor kurang dari 0.05 pada taraf kepercayaan 95% (Tabel 2).
Adapun persamaan produksi yang diperoleh berdasarkan hasil analisis regresi
berganda pada kapal berukuran 30 – 60 GT tersebut adalah Y = -32.23 + 1.906 X5
+ 1.013 X7 + 1.976 X8, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.832. Hal
ini menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut (lama trip, bahan bakar, dan ransum)
dapat menjelaskan nilai produksi (Y) sebesar 83.2%, dan sisanya dipengaruhi oleh
faktor-faktor lainnya.
Tabel 2. Parameter estimasi model produksi kapal berukuran 30 - 60 GT
t hitung
t tabel
Beta
Sig
Konstanta
-32,23
X5
1,906
3,042
1,860
0,016
X7
1,013
3,806
1,860
0,005
X8
1,976
4,778
1,860
0,001
F hitung
F tabel
sig
13,247
4,07
0,02
235
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Hasil perhitungan efisiensi teknis kapal pukat cincin berukuran 30 – 60 GT
dengan menggunakan metode DEA (Gambar 1 dan Lampiran 3) diketahui terdapat
empat unit kapal pukat cincin yang kurang efisien (TE = 0.85 ~ 1) dan delapan unit
kapal lainnya dalam keadaan efisien (TE = 1). Sehingga dapat dikatakan dari kedua
belas unit pukat cincin yang dianalisis hanya terdapat sekitar 66,67 % unit yang
kapasitas penangkapannya efisien (TE = 1) atau terdapat 33,33% yang mengalami
kapasitas berlebih (TE < 1). Ketidakefisienan ini disebabkan karena adanya kelebihan
pemanfaatan input produksi (excess capacity) pada pengoperasian pukat cincin di
Pemangkat.
KM L
KM K
KM J
KM I
KM H
l
a
p
a KM G
K
a
m KM F
a
N
KM E
KM D
KM C
KM B
KM A
0,75
0,80
0,85
0,90
0,95
1,00
Efisiensi
Gambar 1. Distribusi efisiensi teknis pukat cincin 30 – 60 GT
Tingkat pemanfaatan input variabel (VIU) pukat cincin dapat diukur berdasarkan
rasio dari penggunaan input optimal (target) dengan input aktual (observasi).
Input optimal merupakan input yang digunakan pada kondisi efisiensi teknis sama
dengan satu (TE = 1). Jika rasio VIU kurang dari satu (VIU < 1.00) maka telah
terjadi surplus penggunaan input variabel sehingga perlu melakukan pengurangan
penggunaan input tersebut (Fare et al. 1994). Secara umum tingkat pemanfaatan
input variabel pukat cincin yang berbasis di Pemangkat sebagian besar berada pada
tingkat pemanfaatan yang efisien yang ditandai oleh sebagian besar pencapaian nilai
VIU satu (VIU = 1). Pada penggunaan variabel input diketahui hanya satu unit kapal
yang tidak efisien (VIU = 0.75 ~ 1) dalam melakukan penambahan jumlah input
lama waktu trip dan ransum dan sebelas unit lainnya efisien (VIU = 1). (Gambar 2).
Setelah diperoleh hasil VIU maka dapat ditentukan juga nilai kapasitas berlebih
kapal pukat cincin yang dianalisis dengan cara melakukan pengurangan antara
236
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DMU (%)
jumlah input optimal (input target) dengan jumlah input aktual (input observasi).
Kapasitas berlebih (excess capacity) ini menunjukkan nilai berlebihnya jumlah input
yang digunakan pada pengoperasian pukat cincin. Rata-rata prosentase kapasitas
berlebih terjadi pada bahan bakar sebesar -0.791% dan ransum sebesar -0.451%.
Dengan rata-rata tingkat pemanfaatan VIU bahan bakar sebesar 0.992 dan ransum
0.995, maka perlu rata-rata potensi perbaikan bahan bakar 63.694% dan ransum
36.306% (Tabel 2).
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
0,75 - 1
=1
Trip
BBM
Ransum
Variable Input Utilization
Gambar 2. Distribusi nilai VIU pukat cincin berukuran 30 – 60 GT
Tabel 2. Rata-rata kapasitas berlebih, tingkat VIU dan potensi perbaikan kapal berukuran
30 – 60 GT
Keterangan
1. Kapasitas berlebih (%)
- Trip
- Bahan bakar
- Ransum
2. Tingkat VIU
- Trip
- Bahan bakar
- Ransum
3. Potensi Perbaikan (%)
- Trip
- Bahan bakar
- Ransum
Nilai
0,000
-0,791
-0,451
1,000
0,992
0,995
0,000
63,694
36,306
237
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Produksi Optimal Pukat Cincin Berukuran 30 – 60 GT
Nilai produksi aktual adalah nilai hasil tangkapan unit pukat cincin dalam
keadaan sebenarnya (saat observasi). Nilai produksi aktual pukat cincin berukuran
30 – 60 GT ini bervariasi yaitu antara 3.60 – 46.50 ton setiap trip. Rata-rata
produksi aktual keduabelas unit pukat cincin Pemangkat yang berukuran 30 – 60 GT
adalah 21.03 ton setiap trip. Berdasarkan persamaan produksi yang diperoleh dari
analisis regresi linier terhadap faktor produksi diperoleh tiga faktor produksi yang
mempengaruhi hasil tangkapan pukat cincin berukuran 30 - 60 GT yaitu jumlah
hari per trip, bahan bakar, dan ransum. Dengan memasukkan nilai faktor produksi
pada tingkat kapasitas yang efisien dari hasil perhitungan efisiensi teknis maka
dapat ditentukan nilai produksi optimal pukat cincin yang berukuran 30 – 60 GT.
Hasil pendugaan nilai produksi optimal pada keduabelas unit kapal pukat cincin di
Pemangkat yang berukuran 30 – 60 GT pada kisaran 14.22 – 25.02 ton/ trip atau
rata-rata sebesar 19.74 ton/trip. Sehingga terdapat selisih rata-rata sebesar 6.54%
dibandingkan dengan rata-rata produksi aktualnya (Gambar 3).
30
Produksi (ton)
25
20
15
10
5
0
0
2
4
6
Nama Kapal
8
10
Produksi aktual
Produksi optimal
Rata-rata produksi aktual
Rata-rata produksi optimal
12
Gambar 3. Produksi aktual, optimal dan rata-rata pukat cincin berukuran 30-60GT
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil persamaan produktivitas dengan metode Cobb-Douglass,
dan hasil uji statistik diperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan
pukat cincin berukuran 30 – 60 GT di Pemangkat adalah lama waktu trip, kebutuhan
ransum dan bahan bakar yang digunakan. Sudibyo (1998) menyatakan bahwa
hasil produksi pukat cincin di Pekalongan sangat nyata dipengaruhi oleh faktor
238
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
panjang kapal, lama trip, dan bahan bakar. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Suherman dan Fitri (2004), bahwa kebutuhan bahan bakar mempengaruhi
hasil tangkapan pukat cincin di Bajomulyo, Juwana. Wiyono dan Hufiadi (2014)
menyatakan bahwa hasil tangkapan pukat cincin skala kecil di perairan utara Jawa
dipengaruhi oleh tiga faktor input yaitu panjang kapal, kebutuhan es, dan jumlah
perbekalan yang dibawa. Keseragaman faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
tangkapan pukat cincin di Pemangkat dengan pukat cincin di wilayah utara Jawa
tersebut mengindikasikan bahwa faktor input yang bersifat variabel (bahan bakar,
lama trip, kebutuhan ransum, dan lainnya) mempunyai pengaruh lebih besar daripada
faktor input yang bersifat tetap. Dengan tujuan memperoleh hasil tangkapan yang
semaksimal mungkin, nelayan Pemangkat akan lebih mudah dan lebih murah dalam
meningkatkan faktor-faktor input variabel, daripada merubah ukuran kapal dan
ukuran pukat cincin.
Peningkatan upaya penangkapan yang dilakukan nelayan dapat menurunkan
total hasil tangkapan per unit usaha (CPUE) karena ikan yang menjadi target
penangkapan semakin berkurang seiring dengan peningkatan upaya penangkapan
(Purwanto dan Nugroho 2011). Peningkatan jumlah input variabel pada pukat
cincin berukuran 30 – 60 GT akan menimbulkan ketidakefisienan dalam upaya
penangkapan, karena adanya indikasi penurunan jumlah sumberdaya perikanan di
Laut Cina Selatan yang dibuktikan dengan penurunan rata-rata CPUE berdasarkan
data produksi perikanan PPN Pemangkat tahun 2005 - 2013. Salah satu konsekuensi
penurunan produktivitas tersebut adalah turunnya nilai CPUE pukat cincin di Laut
Cina Selatan sebesar 16,67 % jika dimisalkan bahwa jumlah potensi ikan pelagisnya
tetap sama setiap tahunnya. Fenomena penurunan sumberdaya ini diperkuat juga
oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 45/MEN/2011 tentang Estimasi
Potensi Sumber Daya Ikan di WPP RI bahwa kondisi beberapa ikan pelagis kecil
(Banyar, Kembung, D. macrostoma dan D. ruselli) di perairan Laut Cina Selatan
(WPP-711) telah mengalami penangkapan berlebih (fully exploited).
Pada kapal berukuran 30 – 60 GT, jika faktor input yang digunakan besar,
mereka memperoleh hasil tangkapan yang banyak, tetapi kemampuan kapal kurang
mendukung dalam mengangkut hasil tangkapan. Pada kondisi ini memerlukan kapal
lain dalam hal ini kapal angkut untuk mengangkut hasil tangkapan. Penggunaan
kapal angkut tersebut ditengarai akan mengurangi keuntungan karena adanya biaya
tambahan bahan bakar minyak untuk operasional kapal angkut. Sehingga dapat
dikatakan kategori kapal pukat cincin berukuran 30 - 60 GT tersebut tidak efisien,
239
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
karena nilai produksi aktualnya melebihi produksi optimal. Agar diperoleh kapasitas
input kapal yang efisien maka harus dilakukan pengurangan jumlah input sesuai
dengan tingkat efisiensinya, sehingga produksi optimalnya tercapai.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis produksi terhadap 12 unit kapal pukat cincin berukuran 3060 GT di Pemangkat, terdapat kelebihan tangkap sebesar 6,54% dari nilai produksi
optimalnya. Hal ini disebabkan karena adanya kelebihan input (excess capacity)
pada dua jenis faktor produksi yang mempengaruhinya yaitu jumlah BBM (solar),
dan nilai ransum. Sehingga agar nilai produksi optimal dapat dicapai perlu dilakukan
penurunan sampai tingkat yang efisien terhadap ketiga input variabel tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Atmadja SB dan Sadhotomo B. 1995. Aspek Operasional Kapal Pukat Cincin di
Laut Jawa. Laporan Penelitian Perikanan Laut No. 32. Jakarta. hal. 65-71
Coelli TJ, Rao DSP, O’Donnel CJ, Bettese GE. 2005. An Introduction to efficiency
and productivity Analisys. New York, USA. Springer Science Bussiness
Media, LLC.347 P.
Fare R, Grosskopf S, Lovell C.A.K. 1994. Production Frontiers. United Kingdom:
Cambridge University Press. 296p.
Purwanto & Nugroho D. 2011. Daya Tangkap Kapal Pukat Cincin dan Upaya
Penangkapan pada Perikanan Pelagis Kecil di Laut Jawa. Jurnal Penelitian
Perikanan Indonesia Vol. 17 No.1. hal 23-30.
Suherman A. dan Fitri ADP. 2004. Pengaruh Berbagai Faktor Input Terhadap Hasil
Tangkapan Purse Seine di Bajomulyo, Juwana Kabupaten Pati, Jawa
Tengah. Laporan Kegiatan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Universitas Diponegoro Semarang. 28 hal.
Sudibyo. 1998. Studi Tentang Pengaruh Berbagai Faktor Input Terhadap Hasil
Tangkapan Purse Seine di Pekalongan. Tesis. Institut Pertanian Bogor.
80 hal.
Wiyono, ES & Hufiadi. 2014. Measuring the Technical Efficiency of Purse Seine in
Tropical Small-scale Fisheries in Indonesia. Asian Fisheries Science 27
(2014). Asian Fisheries Society. 297-308.
240
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ASPEK PENANGKAPAN DAN KOMPOSISI
PERIKANAN PUKAT CINCIN DI PEMANGKAT
Oleh
Wahyuni Nasution, Hufiadi dan Mahiswara
ABSTRAK
Pukat cincin merupakan salah satu alat tangkap perikanan pelagis kecil
utama dan cukup produktif di perairan Laut Cina Selatan termasuk di wilayah
operasi Pemangkat. Tulisan ini menyajikan informasi deskriptif mengenai aspek
penangkapan perikanan pukat cincin dan komposisi hasil tangkapan dari kapalkapal yang berbasis di Pemangkat yang beroperasi pada tahun 2014. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jumlah kapal pukat cincin yang beroperasi pada tahun 2014
adalah sebanyak 30 unit. Perkembangan armada pukat cincin di Pemangkat semakin
baik hal ini dapat dilihat dari penggunaan power block dalam operasi penangkapan,
dan penggunaan frizzer sebagai pengganti balok es untuk menjaga mutu hasil
tangkapan. Dari semua kapal pukat cincin, diketahui laju tangkap total dari
keseluruhan kapal pukat cincin adalah 21004,7 kg/trip, dengan jumlah trip sebanyak
242 trip selama setahun. Kapal-kapal pukat cincin di Pemangkat telah mengalami
perkembangan hal ini ditunjukkan dengan penggunaan frizzer sebagai pengganti es
balok. Hasil tangkapan utama dari perikanan pukat cincin adalah ikan pelagis kecil.
Dari pengamatan kapal KM Hoki Tuna yang terbesar terdiri dari jenis perikanan
pelagis kecil dengan proporsi 73,4 %, perikanan pelagis besar dengan proporsi 29.22
%.
KATA KUNCI: perikanan, pukat cincin, Laut Cina Selatan
PENDAHULUAN
Sumberdaya ikan pelagis merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang
umumnya hidup pada lapisan permukaan dan terdiri dari banyak spesies yang
241
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
berukuran badannya relatif tetap kecil meskipun telah dewasa (Dwiponggo,1983).
Sumberdaya ikan pelagis kecil diduga merupakan salah satu sumberdaya perikanan
yang paling melimpah di perairan Indonesia. Sumberdaya ini merupakan sumberdaya
neritik, karena terutama penyebarannya adalah di perairan dekat pantai. Di daerah
– daerah dimana terjadi proses pengadukan massa air (upwelling), sumberdaya ini
dapat membentuk biomasaa yang sangat besar (Csirke dalam Merta,et al.,1999).
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di perairan Laut Cina Selatan wilayah
Indonesia telah berlangsung secara intensif sejak lama. Secara umum, tingkat
pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di Laut Cina Selatan dari tahun ke tahun terus
meningkat. Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di perairan Laut Cina Selatan
wilayah Indonesia telah berlangsung secara intensif sejak lama, terutama oleh
armada pukat cincin yang berbasis di Pemangkat, Palembang, dan Kepulauan Riau
serta Pekalongan dan Juwana.
Pengoperasian pukat cincin di Laut Cina Selatan difokuskan untuk sumberdaya
ikan pelagis kecil. Armada kapal pukat cincin memiliki alat penangkapan
yang selektivitas yang cukup tinggi, ditunjukkan oleh ukuran mata jaring yang
distandarkan, lokasi penangkapan yang direncanakan dan musim penangkapan
tertentu. Penggunaan rumpon pada perikanan pukat cincin di Pemangkat ditengarai
menjadikan ikan permukaan berkumpul di seputar rumpon, bergabung dengan jenis
ikan pelagis lain. Ekspansi kapal pukat cincin yang berasal dari perairan utara Jawa
perairan Samudera Hindia menjadikan tekanan eksploitasi sumberdaya ikan (pelagis
besar dan pelagis kecil) semakin tinggi.
Tulisan ini menyajikan informasi deskriptif mengenai aspek penangkapan
perikanan pukat cincin yang berbasis di Pemangkat yang beroperasi pada tahun
2014 beserta hasil tangkapan yang mendominasi dari kegiatan penangkapan KM
Hoki Tuna yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Pemangkat.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di tempat pendaratan ikan di PPN Pemangkat pada
bulan Januari – November 2014.
242
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Pengambilan Data
Kegiatan penelitian dilakukan terhadap perikanan pukat cincin meliputi hasil
tangkapan, teknik penangkapan, daerah penangkapan serta komposisi hasil tangkapan
selama tahun 2014. Data hasil tangkapan per kapal dikumpulkan melalui ‘catch
monitoring’ terhadap kapal-kapal pukat cincin yang mendaratkan hasil tangkapan
di PPN Pemangkat. Pencatatan data dibantu oleh tenaga enumerator mengenai
aspek penangkapan keseluruhan (dimensi kapal dll). Jenis data yang diperoleh yaitu
berupa aspek penangkapan yang meliputi: ukuran kapal, dimensi alat tangkap, dan
mesin kapal. Data lain yaitu berupa data yang terkait kegiatan operasi penangkapan
yaitu: trip kapal penggunaan BBM dan hasil tangkapannya (harian, bulanan dan
tahunan yang dikumpulkan dari buku laporan tahunan perikanan dan buku bakul
di tempat pendaratan ikan). Informasi utama dari faktor inputan unit penangkapan
ikan yang akan dihimpun meliputi: gross tonnage kapal (GT), panjang kapal (m),
kekuatan kapal (HP), jumlah ABK (orang), konsumsi BBM (liter), jumlah total hari
di laut (jumlah tawur), daerah penangkapan. Sedangkan aspek output digunakan
data produksi unit penangkapan.
Data komposisi hasil tangkapan pukat cincin secara keseluruhan diambil setiap
bulan, namun untuk komposisi secara detail dihimpun secara langsung dengan ikut
serta dalam operasional penangkapan kapal pukat cincin yaitu KM Hoki Tuna. Data
yang diambil adalah komposisi hasil tangkapan serta ukuran panjang ikan yang
tertangkap oleh pukat cincin yang dioperasikan oleh kapal Hoki Tuna dalam satu
trip operasi penangkapan.
Analisis data
Data hasil tangkapan tiap-tiap jenis ikan dijumlah, lalu dihitung persentasenya
terhadap masing-masing hasil tangkapan total:
Ci
Ci
% Ki = Ctotal Ctotal x 100% ………..…………………....................... (1)
Ki = komposisi jenis ikan i
Ci = hasil tangkapan i
Ctot = hasil tangkapan total
243
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Pendugaan ukuran rata-rata ikan pertama kali menggunakan metode kurva
logistik, yaitu dengan memplotkan presentase frekuensi kumulatif dengan panjang
ikan. Untuk mengetahui distribusi frekuensi ikan madidihang yang tertangkap,
dibuat tabel frekuensi kumulatif (%).
Perolehan data diperoleh melalui kegiatan survei di PPN Pemangkat yang
merupakan sentra pendaratan ikan perikanan pukat cincin (purse seine) yang
beroperasi di perairan Laut Cina Selatan dan sekitarnya. Data sekunder berasal
dari data statistik perikanan dan data yang berasal dari institusi terkait, data primer
diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber (nelayan, pengurus, pemilik)
menggunakan kuesioner dan beberapa form wawancara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Jumlah Kapal Pukat Cincin di Pemangkat
Unit penangkapan utama yang berbasis di PPN Pemangkat yakni perikanan
pukat cincin (purse seine), jaring pancing ulur, jaring insang (gillnet), lampara dasar
dan rawai dasar. Pada tahun 1991 - 1995, jumlah pukat cincin yang terdaftar adalah
6 unit; tahun 1996 jumlah kapal mulai meningkat sampai tahun 2003 mencapai 48
unit (Gambar 1), dengan rata-rata pertambahan tiap tahunnya 4 unit. Pada tahun
2004, jumlah kapal yang aktif beroperasi 42 unit, namun pada akhir tahun 2005 dan
2006 jumlah kapal aktif berkurang masing-masing menjadi 35 dan 32 unit (Hariati,
et al. 2009).
Pada 2007-2010 jumlah unit penangkapan kapal pukat cincin tidak mengalami
penambahan jumlah yakni sebanyak 32 unit. Pada tahun 2011 dan tahun 2012
mengalami penambahan jumlah unit penngkapan kapal pukat cincin berjumlah
34 unit. Terdapat tiga jenis kategori kapal pukat cincin berdasarkan atas fungsinya
yaitu kapal penangkap (catcher boat), kapal lampu (light boat), dan kapal
pengumpul dan pengangkut (collecting atau carrier vessel) (Widodo, 2010).
Peningkatan unit penangkapan pukat cincin sangat dipengaruhi oleh perkembangan
rumpon, kemudahan administrasi, membaiknya layanan kepelabuhan dan fasilitas
infrastruktur yang memadai oleh pihak pelabuhan yang menyebabkan unit – unit
penangkapan pukat cincin yang berada di sekitar wilayah PPN Pemangkat
244
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 1. Perkembangan armada (unit) perikanan di PPN Pemangkat
Gambar 2. Perkembangan Produksi per Alat Tangkap di PPN Pemangkat
Produksi ikan yang tercatat dalam statistik perikanan PPN Pemangkat
menggambarkan produksi ikan yang didaratkan di PPN Pemangkat dan di beberapa
tangkahan yang berada di wilayah kerja PPN, yang berasal dari kapal-kapal
penangkap pukat cincin yang berbasis di Pemangkat. Pada Gambar 2 menyajikan
produksi total hasil tangkapan di PPN Pemangkat. Tampak bahwa pada periode
tahun 2005-2011 hasil tangkapan yang paling bantak didaratkan adalah hasil
tangkapan pukat cincin dibandingkan dengan alat tangkap lain. Hasil tangkapan
pukat cincin mengalami kenaikan dari tahun 2007 sampe 2009, Tampak bahwa pada
periode tahun 2005-2009 terjadi peningkatan produksi ikan yang didaratkan dengan
nilai rata-rata kenaikan sebesar 28.7% dan mengalami penurunan pada tahun 2009
hingga 2012.
245
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Deskripsi Armada Pukat Cincin dan Pengoperasiannya
Kapal (fishing vessel) pukat cincin Pemangkat terbuat dari kayu, kisaran
panjang 15-25 m, lebar 4 - 7 m, dan dalam 1 - 3 m. Bobot kapal adalah 30 – 117 GT,
4 unit antara lain berukuran 30 - 34 GT (ukuran medium) dan 26 unit lainnya 50 112 GT (ukuran besar). Mesin penggerak yang digunakan berkekuatan 160-360 PK.
Lama di laut umumnya berkisar 9-20 hari, dengan jumlah ABK umumnya berkisar
5-28 orang. Jumlah tawur 1-2 kali per hari, penggunaan BBM rata-rata 3-15 ton/
trip, dan penggunaan es balok 10-30 balok/trip dan sebagian lagi menggunakan
frizzer. Jumlah kapal yang menggunakan frizzer adalah sekitar 10 unit.
Kapal pukat cincin yang berbasis di PPN Pemangkat dalam pengoperasiannya
menggunakan alat bantu penangkapan rumpon dan cahaya (lampu). Lampu yang
digunakan dalam setiap operasi penangkapan ada dua jenis, yaitu lampu sorot dengan
kapasitas daya 400 watt dan lampu bohlam dengan kapasitas daya 1500 watt. Jumlah
daya lampu yang digunakan oleh satu unit penangkapan pukat cincin berkisar antara
36.000 watt – 75.000 watt. Kapal pukat cincin di Pemangkat sudah dibantu dengan
alat navigasi diantaranya adalah fish finder, GPS, dan radio komunikasi. Sebagian
besar kapal sudah menggunakan mesin pendingin (frizzer). Untuk kapal pukat
cincin yang masih menggunakan pendingin es balok, hasil tangkapannya setiap hari
dititipkan pada kapal penampung yang kemudian akan dibawa ketempat pendaratan.
Jaring pukat cincin terbuat dari bahan nilon dengan 4 ukuran mata jaring dari
atas ke bawah masing-masing adalah 4, 3, 2, dan 1 inci di bagian kantung. Panjang
jaring 510 - 600 m, dan dalam jaring 105 – 127.5 m. Para pemilik kapal pukat cincin
Pemangkat mempunyai kapal pengangkut hasil tangkapan (carrier vessel) dari
daerah penangkapan ke pangkalan (di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat)
yang berjumlah 21 unit dan berukuran 5 - 40 GT. .
246
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 3. Desain Alat tangkap pukat cincin di PPN Pemangkat
Keterangan Gambar:
Ris atas dan tali pelampung PE Ø 2 x10 mm : 570 m.
Ris bawah dan tali pemberat rope PE Ø10 dan16 mm : 800m.
Dalam jaring 42 m
Pelampung putih sintesis rubber Panjang 15,4 cm x Ø 9,8 cm./ Y-50.
Pelampung kuning sintetis raber Panjang 20,3 cm Ø 11,4 cm , jarak pelampung
rata-rata 30 cm, ( untuk bagian kantong)
Pemberat timah panjang 4,9 cm Ø. 3.3 cm @ 250 g. = 500 kg , jarak antar pemberat 7-8 cm
Cincin kuningan @ 2kg, = 100 buah, tali cincin panjang 0,8 m PE Ǿ 10 mm, jarak
antar tali
cincin = 6 m
Tali kolor Nylon Ø 48 mm, Panjang 800 m/4 rool.
247
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Upaya Penangkapan (Jumlah Trip)
Nilai laju tangkap diperoleh dari data hasil trip kapal masuk yang beroperasi
selama tahun 2014. Laju tangkap total dari keseluruhan kapal pukat cincin adalah
21004,7 kg/trip, dengan jumlah trip sebanyak 242 trip selama setahun. Rata-rata laju
tangkapan armada pukat cincin yang berbasis di Pemangkat adalah 18828 kg/trip
(lamanya satu trip 9-20 hari).
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa hasil tangkapan pukat cincin yang paling besar
terjadi pada bulan Juni, sedangkan hasil tangkapan terendah terjadi pada bulan
Januari. Data pada bulan Januari diketahui didata pada pertengahan bulan.
Tabel 1. Laju tangkap pukat cincin 2014
Bulan
Hasil Tangkapan (Kg)
Jumlah trip
Laju Tangkap (Kg/trip)
Februari
10825
4
2706.25
Maret
119039
19
6265.21
April
511450
26
19671.15
Mei
700557
28
25019.89
Juni
921760
29
31784.83
Juli
551292
28
19689.00
Agustus
383263
23
16663.61
September
594715
28
21239.82
Oktober
613615
28
21914.82
November
676619
29
23331.69
Daerah Penangkapan Pukat Cincin
Daerah penangkapan pukat cincin umumnya mencapai posisi garis lintang
antara 20 dan 40LU, hingga mencapai perbatasan Vietnam. Seperti tertera pada
Gambar 4, daerah penangkapan dari beberapa armada pukat cincin Pemangkat
yang berhasil dihimpun berada di sekitar lintang20 LS - 40LS dan1070 – 1100 BT.
Sebelumnya daerah penangkapan pukat cincin Pemangkat tidak jauh dari Pelabuhan
yaitu disekitar pulau Pulau Mindai dan PulauTimou.
248
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Seiring semakin menurunnya hasil tangkapan, ekspansi ke perairan yang lebih
jauh terjadi yaitu hingga keperairan sekitar kepulauan Natuna Besar, Pulau Selor dan
Pulau Panjang. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun diperoleh informasi
bahwa, pada musim angin Selatan pukat cincin pemangkat umumnya beroperasi
disekitar Pulau Subi dan Pulau Sugi yaitu merupakan perairan yang berbatasan
dengan Malaysia.
Armada pukat cincin Pemangkat melakukan operasi di sekitar pulau-pulau
kecil di perairan Natuna yaitu Muri, Midai, Panjang, Sabang Mawang, Subi, Seluan,
Seraya, dan Pulau Tiga pada kedalaman 40 - 100 m (Hariati, et al 2009). Berdasarkan
pada posisi yang direkam oleh alat (black box onboard) yang dipasang di salah satu
kapal pukat cincin Pemangkat pada bulan Juni - Agustus 2004, daerah penangkapan
yang ditempuh kapal pukat cincin adalah perairan sekitar Pulau Natuna Besar pada
kedalaman 30 - 80 m (Siriraksophon, 2006).
Gambar 4. Posisi daerah penangkapan (fishing ground) pukat cincin yang berbasis di
Pemangkat
Komposisi Hasil Tangkapan Pukat Cincin
Hasil tangkapan kapal pukat cincin menunjukkan bahwa ikan yang dominan
tertangkap dari keseluruhan adalah jenis ikan pelagis kecil yakni ikan Bentong
(Selar crummenopphthalmus) dan Ikan Layang (Decapterus spp) yang merupakan
hasil tangkapan utama yang banyak tertangkap di perairan Laut Cina Selatan sekitar
249
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
rumpon. Identifikasi hasil tangkapan perikanan pukat cincin dicatat melalui kegiatan
observer dari kapal KM Hoki Tuna. Ikan layang (Decapterus spp) merupakan hasil
tangkapan utama pula pada perikanan purse seine di Laut Jawa, dengan tingkat
produksi 60% dari hasil tangkapan total, ikan pelagis kecil lainnya. seperti ikan
kembung, lemuru, selar, bentong dan tembang (Aziz et al., 2000).
Hasil tangkapan KM Hoki Tuna menunjukkan bahwa ikan yang dominan
tertangkap adalah jenis ikan pelagis kecil seperti ikan layang (Decapterus sp) dan
Bentong (Selar crumenophthalmus) dan ikan pelagis besar tongkol batik (Euthinnus
affinis) dan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol). Komposisi hasil tangkapan kapal
pukat cincin KM. Hoki Tuna dapat dilihat pada Gambar 5. Hasil tangkapan bentong
yaitu sebanyak 4309 kg, ikan layang sebesar 2358 kg, dan ikan tongkol sebesar
2032,5 kg.
Pukat cincin merupakan alat tangkap yang dikhususkan untk menangkap ikan
jenis pelagis, namun dalam operasinya tidak menutup kemungkinan menangkap
ikan jenis pelagis besar. Hasil pengamatan terhadap komposisi hasil tangkapan
dari pukat cincin yang dioperasikan oleh kapal KM Hoki Tuna diketahui bahwa
presentasi ikan pelagis kecil yang tertangkap adalah sebesar 70,78%; ikan pelagis
besar sebesar 29.22 %.
Spesies yang dominan dan berhasil diidentifikasi berturut-turut adalah: Layang
(Decapterus russelli), Bentong (Caranx crumenophthalmus), sedangkan untuk ikan
pelagis besar didominasi oleh ikan tongkol batik (Euthinnus affinis). Berdasarkan
hasil pengukuran morfometrik ketiga jenis ikan tersebut (panjang total, tinggi tubuh
dan lingkar tubuh) diperoleh panjang total ikan layang berkisar 7,9 – 22 cm (ratarata 15,22 cm), Bentong berkisar 7,2 – 20,5 cm (rata-rata 15,19 cm). (Tabel 2).
250
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 5. Komposisi hasil tangkapan kapal pukat cincin KM Hoki Tuna di Pemangkat
Tabel 2. Ukuran ikan pelagis kecil (cm) dominan tertangkap pukat cincin (KM Hoki Tuna)
Jmh
TL
Rataan
Tinggi
Rataan
Lingkar tbh
Rataan
N
cm
cm
cm
cm
cm
cm
Layang biru (Decapterus
macrosoma)
132
8,5 - 20
16,88
1,1-5,5
3,0
4,2 – 10,4
8,5
Layang (Decapterus
russelli)
227
7,9 – 22
15,22
1,4 – 4,9
3,2
3,8 – 12.9
8,5
Bentong (Selar
crummenopphthalmus)
227
7,2 – 20.5
15,19
1,6 – 6,5
4,2
4,2 – 15,6
10,5
IKAN
251
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
(a)
(c)
(b)
(d)
Gambar 6. Ukuran panjang (a) layang biru (Decapterus macrosoma); (b) layang (Decapterus
russelli); (c) bentong (Selar crummenopphthalmus); (d) tongkol batik (Euthinnus affinis)
Ukuran yang dominan tertangkap untuk ikan layang (Decapterus russelli) 1819 cm dan ikan bentong (Selar crummenopphthalmus) 19-20 cm. Ukuran pertama
kali matang gonad untuk ikan layang (Decapterus russelli) betina adalah 18,97
cm dan untuk yang jantan adalah 21,2 cm. Ikan banyar (Rasterlliger kanagurta)
berkelamin betina ukuran pertama kali matang gonad 20,37 cm sedangkan yang
jantan 20,87 cm (Pralampita, 2010). Diduga ikan pelagis kecil yang dominan sudah
matang gonad dengan kisaran ukuran diatas ukuran nilai Lm yaitu 18,97 cm.
Komposisi perikanan pelagis besar terdiri dari Tongkol batik (Euthynnus
affinis) sebesar 73,4%, tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) sebesar 8,7%, dan ikan
layaran (Istioporus oriental) sebesar 6,9 % dari keseluruhan total hasil tangkapan
ikan pelagis besar sebesar 2763.5 kg. Kisaran ukuran tongkol batik yang tertangkap
oleh alat tangkap pukat cincin adalah 8,7 – 20 cmFL.
252
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Kekhawatiran terhadap tekanan sumberdaya ikan pelagis kecil, yaitu rata-rata
umur ikan lebih muda banyak yang tertangkap dan menimbulkan adanya upaya
peningkatan laju eksploitasi serta akan menimbulkan rekruitmen over fishing,
berhubung ukuran pertama kali ikan yang tertangkap (Lc) lebih besar daripada
pertama kali matang gonad (Lm) serta penetapan spesifik daerah pemijahan dari
hasil tangkapan purse seine masih sulit dilaksanakan (Widodo,1991).
Menurut Sumarto dalam Sunarjo (1990) sifat menggerombol ikan ini pada
umumnya membelakangi rumpon, dan selalu menghadap/menentang arus. Sifat
menggerombol ikan layang tidak terbatas dengan ikan sejenisnya, bahkan kerap
kali bergabung dengan jenis lainnya, seperti bawal (Stromateus sp) , Selar (Caranx
sp) , ikan Tembang (Sardinella sp) dan lain-lainnya. Hal ini yang menyebabkan
komposisi utama dari kapal pukat cincin (purse seine) adalah ikan layang dan selar.
Menurut penelitian Hariati (2011), operasi penangkapan pukat cincin
menggunakan tiga cara atau metode, metode yang komposisi hasil tangkapannya
paling banyak adalah cara ketiga yaitu menangkap kelompok ikan pelagis yang
berkumpul di bawah benda yang terapung (kayu/ sampah). Jenis-jenis ikan yang
tertangkap terdiri atas ikan pelagis besar dan kecil dan didominansi oleh ikan
cakalang dan layang biru (Decapterus macarellus) bersama jenis-jenis ikan pelagis
kecil seperti ikan siro dan banyar. Selanjutnya tertangkap ikan kuwe, alu-alu, semar,
tongkol krei, tongkol komo,lisong, mandidihang, dan kambing-kambing. Jenis-jenis
hasil sampingan yang tertangkap dikarenakan ikan cakalang,layang, dan jenisjenis lainnya sedang berkumpul dengan solid dan tidak banyak bergerak sehingga
mudah ditangkap, dibandingkan dengan gerombolan ikan cakalang dan lainnya yang
tertangkap menggunakan cara satu.
KESIMPULAN
Kapal pukat cincin Pemangkat terdiri dari yang berukuran besar 50 - 112 GT
sebanyak 26 unit dan yang berukuran medium (30 - 34 GT) sebanyak 4 unit. Ukuran
kapal berkisar antara panjang 15-25 m, lebar 4 - 7 m, dan dalam 1 - 3 m. Panjang
jaring yang digunakan berukuran 510 - 600 m, dan dalam jaring 105 – 127.5 m.
Hal ini membuktikan bahwa kapal pukat cincin di Pemangkat telah mengalami
perkembangan, baik dari segi ukuran, metode pengoperasian, dan metode pendingin
(frizzer). Daerah penangkapan pukat cincin umumnya mencapai posisi garis
lintang antara 20 dan 40LU, hingga mencapai perbatasan Vietnam dengan lamanya
253
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
trip berkisar antara 9-20 hari laut dan jumlah ABK 5-28 ABK. Hasil tangkapan
dari pukat cincin KM Hoki Tuna terdiri dari perikanan pelagis kecil, perikanan
pelagis besar dan perikanan demersal. Jenis ikan pelagis kecil terdiri dari ikan
Bentong (Selar crumenophthalmus), Layang biru (Decapterus macrosoma), ikan
layang (Decapterus russelli), dan untuk perikanan pelagis besar didominasi oleh
ikan Tongkol Batik (Euthinnus affinis), Tongkol Abu-abu (Thunnus tonggol).
dan Cumi-cumi (Loligo sp). Hasil pengukuran panjang cagak (Fork Length) ikan
layang (Decapterus russelli) yang tertangkap memperlihatkan kisaran panjang 7,922 cmFL, ikan layang lonco (Decapterus macrosoma) adalah 8,5 – 20 cm FL dan
bentong (Selar crummenopphthalmus) memiliki kisaran panjang 7,2-20,5 cmFL.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz,K.A., J.Widodo, Mennofatria Boer, Asikin Djamali dan A.Ghofar , 2000.
Reevaluasi Potensi Sumberdaya Ikan Up Dating Potensi Sumberdaya
Ikan Ekonomis Penting (Laporan Akhir). Pusat Kajian Sumberdaya
Pesisir dan Lautan , IPB ,Bogor.
Dwiponggo,1983.Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut Indonesia,Laporan
Penelitian Perikanan Laut No.2 Puslitbang Perikanan Jakarta.
Hariati, Tuti. 2009. Perikanan Pukat Cincin di Pemangkat, Kalimantan Barat. Jurnal
Penelitian Perikanan Indonesia. Jakarta. Vol.15 No.1 Maret: 79-91.
Hariati, tuti. 2011. Status dan perkembangan perikanan pukat cincin Di Banda Aceh.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Jakarta. Vol.17 no.3: 157-167.
Merta.I.G.S.,B.Sadhotomo dan J.Widodo,1999. Sumberdaya Perikanan Pelagis
Kecil dan Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan
Indonesia, Direktorat Jenderal Perikanan Jakarta.
Pralampita, W.A & U. Chodriyah. 2010. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Layang
(Decapterus russelli) dan Ikan Banyar (Rasterlliger kanagurta) yang
Didaratkan DI Rembang, Jawa Tengah. BAWAL. Jakarta.
Siriraksophon, S. 2006. Fishing operation and their fishing grounds targetting
small pelagic fishes. Presented in the SEAFDEC Regional Conference
on Pelagic Fisheries and it’s Management. Siemreap Cambodia. 21-24
November 2006. 14 pp.
254
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Sunarjo .1990 . Analisa Parameter Pertumbuhan Ikan Layang Deles (Decapterus
macrosoma Blkr) di Perairan Laut Jawa Bagian Timur. (Skripsi) Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.
Widodo,J.1991. Maturity and Spawning of Shortfin Scad (Decapterus macrosoma)
Carangidae of The Java Sea. Asian Fishery Society ,Manila.
Widodo, A.A & B. I. Prisantoso. 2010. Keragaan Armada Pukat Cincin Tuna yang
beroperasi di Samudera Pasifik Indonesia. Jurnal Peneliti Perikanan
Indonesia. Jakarta.
255
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KONDISI OSEANOGRAFI
(SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A)
PERAIRAN LAUT CINA SELATAN
BERDASARKAN DATA MULTITEMPORAL
Oleh
Khairul Amri dan Yoke Hani Restiangsih
ABSTRAK
Laut Cina Selatan yang berada dalam perairan Indonesia ini merupakan
salah satu kawasan perairan yang subur. Kedalaman perairan ini relatif dangkal di
bagian selatan dan lebih dalam di bagian utara dan dikategorikan sebagai perairan
neritik yang menjadi salah satu perairan yang memiliki potensi perikanan laut.
Penelitian aspek oseanografi perairan ini dilakukan pada tahun 2014 menggunakan
data multi temporal yang dianalisa dari citra Satelit MODIS Aqua. Data analisa
sebaran SPL dapat memberikan gambaran mengenai pola sebaran dan nilai fluktuasi
suhu permukaan laut perairan secara bulanan dan musiman. Sementara sebaran
konsentrasi klorofil-a diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pola dan
tingkat kesuburan perairan yang menggambarkan produktifitas primer perairan. Hasil
penelitian menunjukkan pola sebaran SPLsemakin ke arah barat daya (semenanjung
Malaysia) cenderung lebih dingin dibandingkan ke arah timur (Kalimantan) dan
barat (Sumatera) yang terlihat lebih hangat. Massa air bersuhu lebih dingin di bagian
barat daya ini memiliki salinitas yang lebih tinggi. Salinitas lebih rendah umumnya
berada di sekitar pantai baik di pesisir Kalimantan Barat maupun Sumatera (Riau
Kepulauan) yang menunjukkan adanya pengaruh massa air dari limpasan sungaisaungai besar. Perairan ini pada musim hujan (September-Desember dan JanuariFebruari) terlihat relatif subur dengan konsentrasi kandungan klorofil-a yang lebih
tinggi asupan unsur hara (nutrien) yang terbawa massa air sungai yang pengaruhnya
terlihat sampai ke bagian tengah perairan.
Kata Kunci: SPL, klorofil-a, data multi temporal, Laut Cina Selatan
256
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PENDAHULUAN
Laut Cina Selatan (LCS) berdasarkan Permen KP No. PER 01/MEN/2009
adalah bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
(WPP-NRI) 711. Perairan WPP 711 ini wilayahnya cukup luas meliputi perairan
Laut Cina Selatan dan Laut Natuna di bagian utara serta perairan Bangka-Belitung
dan Selat Karimata di bagian selatan. Luas wilayah perairan LCS diperkirakan
mencapai sekitar 595 000 km².
Laut Cina Selatan merupakan bagian dari Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang
memiliki kedalaman relatif dangkal di bagian selatan dan lebih dalam di bagian
utara. Secara umum, perairan ini dikategorikan sebagai perairan neritik dengan
kedalaman rata-rata 70 m dan merupakan salah satu daerah potensi perikanan laut.
Bentuk perairan ini memanjang dari timur laut ke barat laut, mulai dari Selat
Baski (Selat antara Taiwan dan Filipina) hingga ke perairan Indonesia. Laut Cina
Selatan yang berada dalam wilayah Indonesia, merupakan bagian perairan LCS
yang memisahkan antara daratan Kalimantan dengan Sumatera. Lautan ini terbentuk
oleh genangan laut zaman Plestoin dan dibangun oleh topografi dasar perairan yang
sangat sederhana (Suyarso, 1997).
Dari segi potensi, Laut Cina Selatan yang berada dalam perairan Indonesia ini
merupakan salah satu kawasan perairan yang kaya akan sumber daya perikanan,
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Selat Makassar (MREP, 1999 dalam Anonim,
2002).
Kondisi oseanografi suatu perairan sangat mempengaruhi keberadaan dan
sebaran sumberdaya ikan yang ada dalam perairan tersebut. Dinamika oseanografi
di Laut Cina Selatan mengalami perubahan sesuai monsun dan pergerakan airnya
dipengaruhi perpindahan massa air dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Tulisan ini
mengkaji kondisi oseanografi perairan Laut Cina Selatan wilayah Indonesia dengan
fokus pada data suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a sebagai indikator
produktivitas primer perairan.
257
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
BAHAN DAN METODE
Bahan
Dalam studi ini digunakan data citra sebaran SPL dan konsentrasi klorofil-a
hasil pengukuran sensor satelit Aqua MODIS (Moderate Resolution Imaging
Spectroradiometer). Data yang dianalisa adalah citra periode 2010-2014. Data citra
sebaran SPL dan konsentrasi Klorofil-a dalam bentuk level-2 (bulanan) MODIS
di-download dari NASA website (http://www.reason.gsfc.nasa.gov). Data lainnya
untuk melengkapi pembahasan diperoleh dari kajian literatur terkait.
Metode
Data SPL diduga dengan menggunakan algoritma standard MODIS 11 µm
NLSST Algorithm (http://nasa.gsfc.gov) sedangkan data konsentrasi klorofil-a
diduga berdasarkan algoritma OC3M (O’Reilly et al., 2000) yang merupakan
algoritma default dalam SeaDAS 5.2. Semua data citra satelit yang digunakan
dalam penelitian ini belum diverifikasi dengan data hasil pengukuran lapangan.
Data analisa sebaran SPL diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
pola sebaran dan nilai fluktuasi suhu permukaan laut perairan secara bulanan dan
musiman. Sementara sebaran konsentrasi klorofil-a diharapkan dapat memberikan
gambaran mengenai pola dan tingkat kesuburan perairan yang menggambarkan
produktifitas primer perairan.
Dari kedua analisa data tersebut juga akan terlihat gambaran pola arus
permukaan perairan yang ditunjukkan dengan kecenderungan pergerakan massa
air yang dipresentasikan dengan perubahan SPL dan sebaran klorofil-a berdasarkan
analisa data secara time series (deret waktu). Analisa tambahan dilakukan dengan
membandingkan data literatur sebagai pelengkap.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Sebaran Spasial dan Temporal SPL
Pola sebaran spasial Suhu Permukaan Laut (SPL) perairan Laut Cina Selatan
ditampailkan pada Gambar 1 (Jananuari-Juni) dan Gambar 2 (Juli-Desember).
258
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Dari citra terlihat sebaran SPL perairan LCS pada bulan Januari- Februari lebih
rendah dengan masuknya massa air bersuhu dingin dari arah utara. Selanjutnya
mulai bulan Maret massa air dengan nila SPL rendah mulai menghilang dan SPL
mulai mengangat pada bulan April-Mei dan kemudian menurun pada bulan JuniJuli-Agustus SPL sedikit menurun dan selanjutnya Oktober-November SPL mulai
mengangat. Kemudian pada bulan Desember SPL kembali mengalami penurunan.
Massa air dengan nilai sebaran SPL lebih hangat umumnya berada di bagian
tengah perairan, sementara di bagian pinggir perairan seperti pantai barat Kalimantan
dan pantai timur semenanjung Malaysia SPL cenderung lebih rendah. Diduga hal ini
terkait dengan pengaruhnya masuknya massa air dari beberapa muara sungai.
JAN
MAR
FEB
FEB
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Sumatera
MEI
APR
JUN
Kalimantan
Kalimantan
Kalimantan
SPL (0C)
Sumatera
Sumatera
Sumatera
Gambar 1. Citra sebaran SPL bulanan Laut Cina Selatan (Januari-Juni 2014)
259
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
JUL
SEP
AGS
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Kalimantan
Sumatera
OKT
Sumatera
NOV
Kalimantan
DES
Kalimantan
Kalimantan
SPL (0C)
Sumatera
Sumatera
Sumatera
Gambar 2. Citra sebaran SPL bulanan Laut Cina Selatan (Juli-Desember 2014)
Selama pengamatan 2010-2014, suhu permukaan laut berfluktiasi setiap
tahunnya. Pada tahun 2010 SPL di Laut Cina Selatan cenderung lebih tinggi,
sementara pada tahun 2011 suhu permukaan laut menurun dan pada tahun 20122013 mengalami peningkatan secara perlahan (Gambar 3). Secara umum fluktuasi
nilai rata-rata suhu permukaan laut memiliki tren yang sama, yaitu antara MaretSeptember meningkat tetapi terjadi sedikit penurunan pada bulan Agustus dan
Nopember-Februari rata-rata suhu permukaan laut cenderung menurun. Kisaran
tertinggi selama periode pengamatan terjadi pada bulan Mei untuk setiap tahunnya
yaitu masing-masing dengan nilai sebaran 31,52 °C, 30,66 °C, 30,79 °C, 31,43 °C,
dan 31,27 °C. Sedangkan nilai terendah terjadi pada bulan Januari masing-masing
dengan nilai sebaran 28,32 °C, 27,17 °C, 27,51 °C, 28,14 °C, dan 26,63 °C (Gambar
3).
260
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
WPP 711
32
Suhu Permukaan Laut (oC)
31
30
29
28
27
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
26
2010
2011
2012
2013
2014
Gambar 3. Grafik nilai rata-rata bulanan SPL di LCS selama periode 2010-2014
Sebaran Spasial dan Temporal Klorofil-a
Sebaran spasial dan temporal klorofil-a permukaan (Gambar 4 dan Gambar
5) menunjukkan bahwa perairan Laut Cina Selatan merupakan perairan yang subur
dengan nilai sebaran klorofil-a permukaan yang tinggi. Konsentrasi klorofil-a tinggi
umumnya terlihat di perairan pantai terutama di pesisir Kalimantan Barat (Indonesia)
dan wilayah pesisir Sabah-Serawak (Malaysia). Konsentrasi klorofil-a yang tinggi
di wilayah pesisir berasal dari aliran air yang masuk melalui muara-muara sungai
besar di lokasi tersebut. Hal ini menandakan bahwa tingginya klorofil-a di wilayah
pesisir akibat pengkayaan nutrien dari aliran massa air dari daratan. Klorofil-a tinggi
ditemukan sepanjang tahun di pesisir, sementara di bagian tengah perairan pada
bulan Maret-Agustus nilai sebaran klorofil-a cenderung rendah akibat berkurangnya
aliran nutrien karena musim kemarau (volume massa air dari sungai berkurang).
Selanjutnya, memasuki bulan September sampai Desember dan kemudian berlanjut
Januari-Februari, sebaran klorofil-a kembali meningkat seiring datangnya musim
hujan, sehingga aliran nutrien kembali meningkat dan menyuburkan perairan.
261
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
JAN
FEB
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Sumatera
MEI
APR
Kalimantan
Sumatera
MAR
JUN
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Klo-a
(mg/l)
Sumatera
Gambar 4. Citra sebaran Klorofil-a permukaan bulanan di perairan Laut Cina Selatan
(Januari-Juni 2014)
262
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
JUL
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Kalimantan
Sumatera
Sumatera
OKT
NOV
Kalimantan
Sumatera
SEP
AGS
DES
Kalimantan
Sumatera
Kalimantan
Klo-a
(mg/l)
Sumatera
Gambar 5. Citra sebaran Klorofil-a permukaan bulanan di perairan Laut Cina Selatan (JuliDesember 2014)
Nilai sebaran rata-rata bulanan klorofil-a selama periode 2010-2014 di perairan
Laut China Selatan memiliki tren yang seragam, kecuali pada tahun 2014 terdapat
tren klorofil-a yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (Gambar 6).
Jika pada tahun-tahun sebelumnya nilai klorofil-a berfluktuasi setiap bulannya, pada
tahun 2014 terjadi penurunan nilai rata-rata klorofil-a pada bulan Januari – Maret
dan mulai terjadi peningkatan pada bulan April – Juli dan mengalami penurunan
kembali pada bulan Agustus.
Kisaran nilai rata-rata bulanan klorofil-a tertinggi dijumpai pada tahun 2014
pada bulan Juli dengan nilai 0,70 mg/m3. Sedangkan yang terendah pada bulan
Maret 2014 dengan nilai 0,23 mg/m3. Pada akhir 2014, nilai rata-rata klorofil-a
sangat rendah dibanding tahun lainnya.
263
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
0,8
WPP 711
0,7
Klorofil-a (mg/m3)
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
0
2010
2011
2012
2013
2014
Gambar 6. Fluktuasi nilai rata-rata bulanan klorofil-a bulanan di perairan Laut Cina Selatan
2010-2014
PEMBAHASAN
Dari segi geografis, Laut Cina Selatan yang berada di wilayah perairan
Indonesia termasuk perairan dangkal yang merupakan bagian dari Paparan Sunda
(Sunda Shelf). Dasar lautnya ditutupi lumpur dan pasir serta karang, topografinya
melandai dari selatan ke utara (Wyrtky, 1961). Kedalaman dasar perairan bagian
selatan Laut Cina Selatan ini bervariasi berkisar antara 20 meter (sekitar BangkaBelitung) di bagian selatan hingga 90 meter di bagian utara (Laut Natuna).
Berdasarkan literatur, bentuk dasar perairan sebelah barat Kalimantan pada
umumnya cukup dangkal dengan bentuk dasar bergelombang dan tidak curam.
Sedangkan di perairan ke arah Sumatera dasar perairannya cenderung agak rata
(tidak bergelombang) atau lebih landai. Dari irisan melintang topografi dasar
perairan, terlihat bahwa semakin ke arah utara yakni di perairan Laut Natuna, dasar
perairannya jauh lebih dalam dan lebih curam (Anonim, 1997). Bentuk-bentuk
264
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
topografi yang umum dijumpai di dasar perairan Laut Cina Selatan diantaranya
adalah dataran, kanal dan bentuk-bentuk topografi karang/reef (Suyarso, 1997).
Dari segi oseanografis, Laut Cina Selatan merupakan suatu kanal yang
menghubungkan pertukaran massa air antara Samudera Pasifik dan Samudera
Hindia melalui Selat Malaka, Selat Sunda dan sebagian besar melewati Laut Jawa
dan masuk melalui beberapa selat di Kepulauan Nusa Tenggara. Dampak pertukaran
massa air tersebut diketahui banyak berpengaruh terhadap kondisi iklim di Indonesia.
Dominansi dan penyebaran masing-masing massa air tersebut di bagian
selatan perairan Laut Cina Selatan sangat tergantung pada musim. Pada musim
barat (Desember-Pebruari) angin munson di bagian utara (sekitar Kepulauan
Natuna) kebanyakan berarah utara sampai timur laut dan pada musim timur (Juli
– September) angin kebanyakan berarah selatan sampai barat daya (Ilahude, 1997).
Sekali-sekali angin munson tersebut dapat berarah barat laut pada musim barat
dan berarah tenggara pada musim timur. Pada musim peralihan I (Maret-Mei) dan
peralihan II (September-Nopember) kecepatan angin umumnya lemah dan arahnya
tidak menentu. Adanya angin muson ini menimbulkan adanya arus-arus paras/
permukaan laut yang berganti arah sesuai dengan peralihan munson. Pada musim
barat arah arus permukaan khususnya di Selat Karimata ke arah selatan atau selatantenggara dan pada musim timur arahnya utara atau utara-barat laut (Ilahude, 1997).
Selain oleh angin munson, Armondo di Laut Cina Selatan juga ditimbulkan dan
dipelihara oleh perbedaan tinggi muka laut antara Pulau Belitung dan Kepulauan
Natuna yang berubah-ubah sesuai perubahan musim (Wyrtky, 1961). Arus tersebut
yang merupakan bagian utama dari Armondo dan adalah kelanjutan dari “monsoon
current” yang ada di Laut Jawa (Berlage, 1927), pada musim timur membawa massa
air dari Laut Jawa masuk ke Laut Cina Selatan. Massa air ini umumnya memiliki
salinitas yang rendah karena telah mengalami banyak pengenceran dari sungaisungai di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Pada musim barat, hal sebaliknya
yang terjadi yaitu massa air bersalinitas tinggi diangkut oleh Armondo dari Laut
Cina Selatan melalui Kepulauan Natuna masuk ke Selat Karimata dan selanjutnya
menuju Laut Jawa (Ilahude, 1997).
Beberapa sungai besar dan anak-anak sungainya mempengaruhi massa air di
perairan bagian selatan Laut Cina Selatan ini, di antaranya adalah Sungai Musi,
Sungai Batanghari dan Sungai Siak (di Sumatera) yang mengalir dari arah barat.
Sementara dari arah timur (Kalimantan) mengalir dari Sungai Kapuas dan Sungai
Sambas. Massa air yang masuk dari sungai ini selain mempengaruhi parameter fisik
265
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
seperti suhu, kecerahan dan salinitas, juga mempengaruhi tingkat kesuburan perairan
(klorofil-a) akibat asupan nutrien yang terbawa aliran massa air.
Dari sebaran SPL terlihat bahwa pada musim hujan, massa air di sekitar pesisir
Kalimantan Barat dan pesisir timur Sumatera cenderung lebih rendah sementara
konsentrasi klororil-a permukaannya cenderung tinggi. Ini memandakan bahwa
asupan massa air dari muara-muara sungai pada musim hujan memiliki nilai sebaran
SPL lebih rendah dengan saat musim kemarau. Massa air tersebut juga membawa
nutrien sehingga kesuburan perairan meningkat ditandai dengan tingginya
kandungan klorofil-a pada saat itu. Secara umum, suplai nutrien di Laut Cina Selatan
terlihat sangat tergantung kepada suplai nutrien yang berasal dari asupan dari daratan
melalui limpasan massa air di muara-muara sungai di sekitar perairan ini.
KESIMPULAN
Secara umum, massa air Laut Cina Selatan yang berada dalam wilayah perairan
Indonesia memiliki karakteristik oseanografi fisik dan kimia yang relatif sama
dengan perairan Indonesia pada umumnya. Suhu permukaan laut rata-rata 29, 84 0C.
Pola sebaran suhu semakin ke arah barat daya (semenanjung Malaysia) cenderung
lebih dingin dibandingkan ke arah timur (Kalimantan) dan barat (Sumatera) yang
terlihat lebih hangat. Massa air bersuhu lebih dingin di bagian barat daya ini
memiliki salinitas yang lebih tinggi. Salinitas lebih rendah umumnya berada di
sekitar pantai baik di pesisir Kalimantan Barat maupun Sumatera (Riau Kepulauan)
yang menunjukkan adanya pengaruh massa air dari limpasan sungai-saungai besar.
Perairan ini pada musim hujan (September-Desember dan Januari-Februari) terlihat
relatif subur dengan konsentrasi kandungan klorofil-a yang lebih tinggi asupan unsur
hara (nutrien) yang terbawa massa air sungai yang pengaruhnya terlihat sampai ke
bagian tengah perairan.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan Penelitian Aspek Biologi,
Tingkat Pemanfaatan dan Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Pelagis Besar
di WPP 571 Selat Malaka dan WPP 711 Laut Cina Selatan untuk Mendukung
Industrialisasi Perikanan T.A. 2014, di Balai Penelitian Perikanan Laut Muara Baru,
Jakarta.
266
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1997. Atlas Oseanologi Laut Cina Selatan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Jakarta.
Anonim. 2002. Laporan Akhir Penelitian Sumber Daya Kelautan di Kawasan
Pengembangan dan Pengelolaan Laut Cina Selatan, Khususnya Perairan
Belitung, Bangka dan Kalbar. Pusat Penelitian Oseanografi. Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Anonim. 2009. Permen KP No. PER 01/MEN/2009 Tentang WIlayah Pengelolaan
Perikanan Negara Republik Indonesia. Departemen Kelautan dan
Perikanan RI.
Berlage, H.P. 1927. Monsoon currents in the Java Sea and its entrances. Verh. Magn.
Met. Obs. Batavia, 19: 1-28
Ilahude, A.G. 1997. Sebaran Suhu, Salinitas, Sigma-T dan Zat Hara Perairan Laut
Cina Selatan. Atlas Oseanologi Laut Cina Selatan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Jakarta.
O’Reilly, J. E., S. Maritorena, D. A. Siegel, M. C. O’Brien, D. Toole, B. G. Mitchell,
M. Kahru, F. P. Chavez, P. Strutton, G. F. Cota, S. B. Hooker, C. R.
McClain, K. L. Carder, F. Muller-Karger, L. H. Harding, A. Magnuson, D.
Phinney, G. F. Moore, J. Aiken, K. R. Arrigo, R. Letelier, and M. Culver.
2000. Ocean color chlorophyll-a a algorithms for SeaWiFS, OC2, and
OC4: Version 4. In: Hooker, S.B. and E. R. Firestone (eds.): SeaWiFS
postlaunch technical report series, Volume 11, SeaWiFS postlaunch
calibration and validation analyses, Part 3. Goddard Space Flight Center,
Greenbelt, Maryland. NASA/TM-2000-206892, Vol.11. pp. 9-23.
Pescod, M.B. 1977. Surface water quality criteria for tropical developing countries,
water and health in hot climates.
Suyarso, 1997. Lingkungan Fisik Kawasan Laut Cina Selatan. Atlas Oseanologi Laut
Cina Selatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Wyrtky, K. 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters. Naga
Report 2:1-195.
267
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
DINAMIKA POPULASI
IKAN LAYANG DELES (Decapterus Macrosoma)
DI PERAIRAN NATUNA, LAUT CINA SELATAN
Oleh
Moh Fauzi, Suwarso dan Achmad Zamroni
ABSTRAK
Pendugaan parameter populasi ikan layang deles (Decapterus macrosoma)
melalui analisis distribusi frekuensi panjang bulanan dengan menganalisis sampel
yang dikumpulkan di perairan Natuna, Laut Cina Selatan dari Januari 2012- Juli
2013. Data frekuensi panjang dianalisis dengan Program FiSAT. Hasil menunjukkan
bahwa parameter pertumbuhan Von Bertalanffy (L∞) dan laju pertumbuhan (K)
adalah 23,1cm FL dan 1,3 Y-1. Pola rekrutmen menunjukkan satu puncak perekrutan.
Kematian total (Z) adalah 8,1 dan tingkat eksploitasi (E) adalah 0,72. Pengelolaan
yang lestari perlu mengurangi upaya penangkapannya, trip maupun jumlah hari di
laut.
Kata kunci: ikan layang, pertumbuhan, eksplotasi, Laut Cina Selatan
PENDAHULUAN
Perkembangan penangkapan ikan pelagis kecil di perairan Laut China Selatan
ke arah lepas pantai yang dirintis oleh armada pukat cincin Pekalongan sejak tahun
1985 di perairan Pejantan telah diikuti oleh nelayan Kalimantan Barat, khususnya di
Pemangkat pada tahun 1990. Jumlah kapal pukat cincin Pemangkat yang pada tahun
1995 hanya enam unit, pada tiap tahunnya meningkat sampai mencapai 48 unit pada
tahun 2003. Komposisi hasil tangkapan pukat cincin Pemangkat terdiri atas jenis
ikan yang bersifat neritik dan oseanik, terutama jenis-jenis ikan pelagis kecil yaitu
dua jenis ikan layang (Decapterus russelli dan D. macrosoma spp.), bentong (Selar
crumenophthalmus) dan banyar (Rastrelliger kanagurta) (Hariati, 2009). Tingkat
268
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
pemanfaatan spesies ikan layang deles di perairan Laut Cina Selatan Indonesia
2003- 2005 sudah tinggi yakni mencapai 0,66 (Hariati, 2008).
Ikan layang deles merupakan jenis ikan pelagis kecil yang penyebarannya
meliputi Selat Sunda, perairan timur Indonesia Teluk Benggala, Filipina dan Laut
Cina Selatan. Ikan ini hidup secara bergerombol di perairan pantai maupun lepas
pantai yang berhubungan dengan laut dalam yang memiliki kadar garam tinggi.
Eksploitasi ikan ini dilakukan oleh armada pukat cincin, payang dan jaring insang.
Makanan utamanya berupa plankton kasar dan invertebrate kecil (Murniyati, 2003).
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi dinamika populasi
meliputi parameter pertumbuhan, kematian dan tingkat eksploitasi ikan layang hasil
tangkapan armada pukat cincin yang beroperasi di sekitar perairan Natuna Laut
Cina Selatan. Parameter yang diperoleh diharapkan menjadi bahan masukan bagi
pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis pelagis kecil.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Data yang digunakan dalam analisis merupakan rangkaian sebaran frekuensi
panjang cagak serial bulanan ikan layang deles (Decapterus macrosoma) hasil
tangkapan armada pukat cincin yang didaratkan di PPN Pemangkat, Kalimantan
Barat periode 2012-2013.
Metode sampling
Pengambilan sampel sesuai dengan prosedur standar pada kapal pukat cincin
yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Pemangkat, Kalimantan Barat.
Pengukuran panjang cagak( FL) dalam satuan millimeter terdekat untuk analisis
pertumbuhan dengan menggunakan kertas ukur measuring paper. Data yang
diperoleh kemudian dikelompokkan serial bulanan menurut selang kelas panjang 5
mmFL. Data length frequency bulanan tersebut kemudian digandakan terhadap hasil
tangkapan spesies layang deles dan diboboti dengan nilai panjang dan beratnya. Dari
nilai pembobotan tersebut dilakukan analisa untuk menentukan kelompok-kelompok
cohort (mean &sd) melalui metode Bhattacharrya. Dari kelompok-kelompok umur
269
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
ini akan diperoleh garis pertumbuhan Linking of mean yang dengannya diperoleh
nilai starting sample dan lengthnya.
Analisa data
Pendugaan tingkat pemanfaatan ikan layang deles dilakukan dengan penentuan
parameter-parameter pertumbhan terlebih dahulu berdasarkan persamaan von
Bertalanffy. Parameter-parameter pertumbuhan ikan tersebut adalah panjang
asimptotik (L∞), koefisien laju pertumbuhan (K) dan umur teoretis pada saat panjang
ikan nol (tnol). Pendugaan nilai L∞ dilakukan dengan metode Powell-Wetherall
dalam paket program Fisat-II. Nilai L∞ yang didapat selanjutnya digunakan sebagai
dugaan awal untuk memperoleh nilai K dengan menggunakan program ELEFAN I.
Nilai tnol diduga dengan menggunakan persamaan empiris Pauly. Setelah
parameter-parameter pertumbuhan ikan layang diketahui selanjutnya dilakukan
penghitungan laju mortalitas total (Z) berdasarkan persamaan Beverton dan Holt.
Pendugaan laju kematian alami (M) dihitung berdasarkan persamaan empiris
Pauly. Nilai Z dan M kemudian digunakan untuk menduga laju kematian akibat
penangkapan/ fishing mortality (F) dan laju eksploitasi ikan layang dihitung
berdasarkan nisbah dari laju kematian akibat penangkapan dan mortalitas total.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Kisaran Panjang
Jumlah ikan layang deles yang diamati 895 ekor sampel terdiri dari 7 set data
frekuensi panjang cagak bulanan yakni pada bulan Januari, Mei, Juni, Juli Agustus
(2012) dan Juni, Juli (2013). Kisaran kelas panjang antara 10.75 hingga 20,75 cmFL.
Berdasarkan hasil pengelompokkan ke dalam kelas panjang didapatkan 10 kelas
panjang dengan frekuensi yang berbeda-beda untuksetiap kelas panjang tersebut
Kelompok Umur
Berdasarkan metode Bhatacharya, diperoleh kurva normal yang menggambarkan
jumlah kohort dari sebaran frekuensi panjang ikan. Dari Januari 2012 hingga Juli
270
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
2013, ikan layang deles mengalami pertumbuhan panjang, ditunjukan pergeseran
modus ke arah kanan (Gambar 1). Sebaran kelompok ukuran ikan selar setiap
pengambilan contoh disajikan pada Tabel 1.
Gambar 1.Sebaran panjang cagak ikan layang deles (D. macrosoma) di perairan Natuna 20122013
271
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Tabel 1. Sebaran kelompok ukuran layang deles (Decapterus macrosoma)
Waktu
Mean ± s.d.
kelompok ukuran 1
kelompok ukuran 2
Januari 2012
13.85 ± 1.76837
Mei 2012
16.16 ± 0.64
0.64
Juni 2012
17 ± 0.47
0.47
Juli 2012
13.61 ± 0.5
16.5 ± 0.79
Agustus 2012
12.5 ± 0.67
15.62 ± 0.89
Juni 2013
16.1 ± 0.56
Juli 2013
15.67 ± 0.75
Parameter pertumbuhan
Dengan menggunakan metoda plot Powell-Wetherall diperoleh dugaan panjang
infiniti (Loo) = 23,1 (Gambar 2). Dugaan koefisien pertumbuhan (K) = 1,3cm/tahun
didapat dengan menggunakan program Elefan I (k scan). Kurva pertumbuhan layang
D. macrosoma yang dihasilkan dari sebaran frekuensi panjang cagak dapat dilihat
pada Gambar 3.
272
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 2. Kurva regresi (Li –L’i) dan L’I ikan layang deles (D. macrosoma) di Laut Natuna
2012-2013
Gambar 3. Kurva koefisien pertumbuhan layang deles (D. macrosoma) di Laut Natuna
2012-2013
273
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Pola pertumbuhan Von Berrtalanfy dan kunci umur panjang dari layang deles
di Laut Natuna disajikan pada (Gambar 4). Nilai dugaan to (umur teoretis pada
saat panjang ikan sama dengan nol) didapat t0 = -0.0035. Nilai dugaan diperoleh
menggunakan persamaan empiris Pauly (1983). Bila nilai parameter pertumbuhan
yang digunakan adalah hasil analisis Bhattacharrya maka model pertumbuhan dan
hubungan umur-panjang teoretis layang deles di Laut Natuna dengan persamaan Von
Bertalanfy adalah:
Lt = 23.1*[1- exp – 1.03 * (t+0.0035)]
Gambar 4. Hubungan Panjang cagak dengan umur ikan layang deles di Laut Natuna
2012-2013
Mortalitas
Nilai koefisien kematian total (Z) ikan layang diperoleh sebesar 8.1 per tahun.
Nilai ini diturunkan dari hasil kurva hasil tangkapan konversi panjang (Length
converted catch Curve) model plot Beverton and Holt. (Gambar 5) memperlihatkan
kurva hasil tangkapan konversi panjang ikan layang deles. Dengan memasukkan
nilai K = 1.3cm tahun-1, L∞ = 23.1 dan T = 30°C ke persamaan empiris Pauly (1983),
diperoleh nilai dugaan koefisien kematian alaminya adalah 2.26 tahun-1. Dari kedua
nilai parameter tersebut maka nilai dugaan koefisiesn kematian karena penangkapan
(F) dapat diduga dengan cara mengurangkan nilai koefisien kematian total (Z)
terhadap koefisien kematian alami (M) yakni sebesar 5.84 tahun-1.
274
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Nilai dugaan status eksploitasi (E) diperoleh dengan membagi nilai dugaan
koefisien kematian karena penangkapan (F=5.84) terhadap koefisien kematian total
(Z=8.1). Nilai dugaan status eksploitasi (E) didapat sebesar 0.72 per tahun.
Gambar 5. Kurva konversi panjang layang deles (D. macrosoma) di Laut Natuna 2012-2013
Pola Rekruitmen
Hasil analisis rekrutment menunjukkan rekrutmen ikan layang deles terjadi
sepanjang tahun dengan puncak rekrutmen cenderung satu kali dalam setahun
(Gambar 6). Prosentase rekrutmen tertinggi pada Mei, Juni dan Juli sebesar 52.5%
(Tabel 2).
275
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
Gambar 6. Pola rekruitmen layang deles (D. macrosoma) di Perairan Natuna 2012-2013
Tabel 2. Presentase rekrutmen ikan layang deles bulanan
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
276
Rekruitmen (%)
1.03
1.09
1.22
7.27
15.45
19.89
17.18
12.79
11.56
8.86
3.66
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
PEMBAHASAN
Parameter populasi merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengetahui
kondisi suatu sumberdaya di suatu perairan. Berdasarkan analisa metode powell
watherall dan Elefan untuk L∞ dan K didapatkan nilai parameter pertumbuhan layang
deles di Laut Natuna pada 2012-2013 adalah L∞ 23,1 cm FL dan laju pertumbuhan
K 1,3 pertahun. Umur teoretis pada saat panjang nol (t0) sebesar -0.0035. Nilai K
merupakan suatu parameter yang menyatakan kecepatan kurva pertumbuhan dalam
mencapai batas limit bagian atas dari pola pertumbuhan ikan. Semakin tinggi nilai
koefisien pertumbuhan maka ikan semakin cepat mencapai panjang maksimum.
Berdasarkan hasil penelitian Hartati (2008) di perairan yang sama didapatkan
nilai L∞ sebesar 25,84 cm dan K= 1,2. Nampak bahwa meskipun laju pertumbuhan
layang deles masih sama seperti penelitian 10 tahun yang lalu, namun nilai
L∞ cenderung semakin kecil. Menurut Laurec dan Le guen dalam Nurhakim
(1993) bisa saja terjadi perbedaan nilai estimasi parameter pertumbuhan. Hal ini
disebabkan karena pengaruh interval contoh yang terambil dan perlakuan matematik
untuk memperolehnya. Selain itu perbedaan bisa disebabkan oleh lamanya
waktu pengambilan contoh, musim, ukuran sampel yang diambil serta lokasi
penangkapannya (Aziz, et al 1992).
Koefisien kematian menggambarkan berkurangnya kelimpahan ikan-ikan
dalam satu kelompok umur pada kurun waktu tertentu di suatu perairan karena faktor
alam maupun penangkapan. Diperoleh nilai koefisien kematian total (Z) sebesar 8.1
per tahun, koefisen kematian alami (M) sebesar 2,26 dan koefisien kematian karena
penangkapan sebesar 5.84. Nilai parameter kematian ini meningkat dibandingkan
dengan penelitian sebelumnya (10 tahun lalu) di perairan yang sama (Hariati, 2008)
yakni Z = 4,92; M: 1,71 dan F 3,21. Kematian alami umumnya dipengaruhi oleh
factor lingkungan kondisi perairan, predator, penyakit, kekurangan pakan dan mati
karena tua. Nilai dugaan koefisien ini (M=2) dengan asumsi bahwa suhu rata-rata
tahunan di Laut Cina Selatan adalah 30°C.
Nisbah pemanfaatan (E) ikan layang biru hasil penelitian ini sebesar 0.72. Ini
artinya tingkat pemanfaatan ikan layang di Laut Natuna sudah mencapai tingkat
pemanfaatan optimumnya. Persentase pemanfaatan ikan layang sebesar 144%
(=(E/0,5)*100%) dari tingkat optimumnya. Sehingga untuk mencapai tingkat
pemanfaatan yang berimbang dengan sumberdaya maka disarankan untuk tidak
menambah jumlah armada atau mengurangi effort.
277
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
KESIMPULAN
Tingkat eksploitasi ikan layang deles di perairan Natuna, Laut Cina Selatan
telah melebihi nilai optimumnya (144%). Untuk itu saran pengelolaannya adalah
mengurangi effort/upaya penangkapannya. Opsi pengelolaannya antara lain dengan
mengurangi jumlah armada, trip maupun jumlah hari di laut
DAFTAR PUSTAKA
Azis, K.A., Muchsin, I. & Boer, M. 1992. Kajian Dinamika Populasi Ikan-Ikan
Niaga Utama di perairan Pantai Barat Bengkulu. (Laporan Penelitian,
tidak dipublikasikan). Fak. Perikanan IPB. Bogor.
Hariati, T., Wudianto & Subagja. 2008. Tingkat Pemanfaatan Ikan Layang
(Decapterus Russelli Dan Decapterus Macrosoma) Dari Perairan
Zona Ekonomi Ekslusif Laut Cina Selatan. Jurnal Penelitian Perikanan
Indonesia. 14(4): 393-401
Hariati, T., Chodriyah, U. & Taufik, M. 2009. Perikanan Pukat Cincin Di Pemangkat,
Kalimantan Barat. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 15(1): 79-91
Murniyati, A.S. 2003. Biologi 100 ikan laut ekonomis penting di Indonesia. Edisi 2.
Sekolah Usaha Perikanan Menengah Tegal. 102 hal
278
Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Perairan Laut Cina Selatan (WPP-NRI 711)
LAMPIRAN
Lampiran 1. Sebaran panjang cagak layang deles di perairan Natuna 2012-2013
279
Download