Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers

advertisement
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Bisnis Media
vs
Kemerdekaan Pers
(Dalam Kajian Hukum Praktik Monopoli
& Persaingan Usaha di Indonesia)
Editor: Imam JP
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana 1.
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual
2. kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak
Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi
buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Bisnis Media
vs
Kemerdekaan Pers
vi
Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers
(Dalam Kajian Hukum Praktik Monopoli & Persaingan Usaha di Indonesia)
Dr. Naungan Harahap, SH.,MH.
Editor: Imam JP
Perwajahan Isi dan Sampul: Bud Sr
Cetakan I: 2014
ISBN: 978-602-7936-19-5
Diterbitkan oleh:
Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2014, dan
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat
Gedung Dewan Pers, Lt. 4
Jln. Kebon Sirih No. 34 Jakarta Pusat 10340
Telp. 021-3453131, Fax. 021-345175
Dicetak Oleh :
PT. Semesta Rakyat Merdeka
Hak cipta dilindungi undang-undang
All Rights Reserved
Sambutan
vii
H. Margiono
Sambutan
Ketua Penanggung Jawab
Hari Pers Nasional 2014
Menjaga Semangat Berdemokrasi
Dan Kebebasan Berekspresi
Assalamualaikum Wr. Wb.
S
yukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Ilahi bahwa kita masih
dianugerahi begitu banyak nikmat, terutama nikmat kesehatan dan
kemampuan berpikir jernih, agar selalu mampu melahirkan karya-karya
yang bermanfaat baik bagi masyarakat pers pada khususnya maupun bagi
bangsa dan negara ini pada umumnya.
viii
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Masyarakat seringkali menempatkan pers dengan sejumlah sebutan,
salah satunya sebagai pilar keempat demokrasi setelah lembaga yudikatif,
legislatif dan eksekutif. Sebutan semacam ini merupakan harapan dari
masyarakat, dan sekaligus menjadi tantangan para wartawan dan pengelola
perusahaan pers. Oleh karena, masyarakat semakin kritis dan cerdas,
sehingga mereka juga menuntut wartawan yang sadar akan profesi, beretika
jurnalistik, terampil dalam menyikapi kemajuan zaman dan membela
kepentingan publik.
Tahun ini pers nasional kembali harus membuktikan harapan
masyarakatnya, karena Indonesia memasuki kelanjutan babak berdemokrasi
melalui pemilihan umum legislatif maupun pemilihan umum presiden.
Apalagi, masyarakat semakin memiliki akses informasi dari berbagai
sumber melalui produk kemajuan teknologi informasi berbasis internet.
Pers bukan lagi menjadi satu-satunya sumber informasi.
Sekalipun demikian, tidak dapat dipungkiri, pers juga memanfaatkan
internet dan informasinya tetap dipercaya masyarakat karena pers memiliki
kode etik jurnalistik yang sudah menjadi hukum besi, yakni “akan patah
kepercayaan masyarakat bilamana pers melanggar kode etiknya.” Hal
semacam ini sejalan pula dengan kenyataan berkaitan tingkat kepercayaan
masyarakat berinformasi di internet. “If you lie, you die.” ( Jika Anda
berbohong, maka Anda mati). Inilah realitas dalam keterbukaan informasi.
Menghadapi realitas inilah pers, terutama wartawan, semakin perlu
meningkatkan kompetensi dengan senantiasa memperkaya wawasannya.
Salah satunya wartawan menulis buku. Buku adalah mahkota bagi
wartawan, di tengah kesibukan berkarya jurnalistik di perusahaan persnya
masing-masing.
Dalam kaitan inilah, kita patut bersyukur atas terbitnya buku-buku
karya wartawan dan tokoh pers nasional yang diterbitkan dalam peringatan
Hari Pers Nasional (HPN) 2014. Hal ini telah dimulai sejak Hari Pers
Nasional (HPN) 2011 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selama ini buku-buku yang ditulis oleh kalangan pers tidak wajib
Sambutan
ix
murni ilmiah-akademis sebagaimana banyak dilakukan oleh pakar di
perguruan tinggi. Namun demikian, para wartawan atau tokoh pers patut
pula kita yakini bahwa gagasan yang dituangkan dalam bentuk artikel
dan telaah kritis bergaya jurnalistik layak bersanding dengan karya ilmiah
populer.
Saya secara khusus menghaturkan banyak terima kasih kepada para
wartawan dan tokoh pers nasional yang telah meluangkan waktu dan
berbesar hati menyumbangkan buah pikirnya, sehingga menjadi tradisi
penerbitan buku-buku ini.
Berbagai tulisan berkaitan dengan jurnalistik, kinerja pers,
perusahaan multimedia massa, etika dan hukum pers, serta tema-tema lain
yang disajikan oleh wartawan dan tokoh pers ini layak menjadi referensi
melek media (media literacy) guna menambah wawasan para pemangku
kepentingan pers nasional yang bersemboyan: “Kemerdekaan Pers dari dan
untuk Rakyat.” Dan, tahun ini Hari Pers Nasional (HPN) yang puncak
acaranya berlangsung di Bengkulu, Bumi Bunga Rafflesia, berfokus
mengenai “Pers Sehat, Rakyat Berdaulat.”
Bengkulu memiliki sejarah panjang bagi masyarakat dunia dengan
kehadiran Sir Thomas Stamford Raffles selaku Gubernur Bengkulu
untuk kepentingan Kerajaan Inggris pada 1818 hingga 1824. Bersama
pakar botani Dr. Arnoldi, Raffles menjumpai bunga berukuran besar yang
kemudian dikenal dengan nama Rafflesia Arnoldi.
Sejarah nasional juga mencatat posisi strategis Bengkulu, karena salah
seorang bapak bangsa dan proklamator kemer­dekaan Republik Indonesia,
Soekarno, diasing­
kan pemerintah penjajah Belanda pada 1938 hingga
1942. Di Bengkulu inilah, Soekarno mematangkan sejumlah gagasannya,
termasuk untuk mewujudkan kemerdekaan negerinya, Indonesia. Tidak
sedikit catatan penting ditorehkan Soekarno mengenai cita-cita untuk
bangsanya untuk merdeka di Bengkulu.
Insya Allah gagasan Soekarno demi bangsanya juga dapat memberikan
semangat bagi insan pers nasional melalui penerbitan buku-buku ini,
menuju kebaikan kehidupan berdemokrasi dan menjaga kebebasan
x
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
berekspresi maupun kebebasan pers seluas-luasnya untuk kepentingan
rakyat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 9 Februari 2014
H. Margiono
(Ketua Umum PWI Pusat)
Sambutan
xi
Rita Sri Hastuti
Sambutan
Ketua Panitia Pelaksana
Hari Pers Nasional 2014
Berbagi Pemikiran
dan Pengalaman
Assalamualaikum Wr. Wb.
B
agi wartawan, buku adalah monumen. Dengan kata lain, puncak karya
seorang wartawan adalah menulis buku. Tidak heran bila banyak
wartawan yang telah merasa cukup lama di lapangan, kemudian menulis
buku.
xii
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Sebuah pepatah Cina yang sering disebut-sebut oleh para motivator
penulisan, mengatakan, “seburam-buramnya catatan, lebih baik daripada
lupa”. Dengan menuliskan pengalaman-pengalamannya—baik yang sudah
pernah diungkap di media maupun yang belum—dalam sebuah buku,
maka jejak-jejak pemikiran sang penulis terekam di dalamnya. Itulah yang
diinginkan seorang wartawan. Segala kegelisahannya, pemikirannya yang
kritis—yang mungkin tak semua bisa diungkapkan di media massa—dapat
dikeluarkannya di dalam buku.
Bagi wartawan, menulis adalah segalanya. Menulis tidak saja
membuat dirinya “diakui”, tetapi lebih dari itu–menulis adalah sesuatu yang
membahagiakan. Namun, lebih dari itu, buku yang ditulis oleh wartawan
sangat diharapkan dapat ikut mencerdaskan bangsa, karena isinya yang
berdasarkan pengamatan panjang dapat memperluas cakrawala pemikiran
pembacanya.
Itulah sebabnya beberapa tahun terakhir, Hari Pers Nasional
(HPN)—yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 9 Februari
bertepatan dengan Hari Ulang Tahun PWI dan ditetapkan dengan
Keputusan Presiden RI No. 5 tahun 1985—ditandai dengan penerbitan
buku-buku yang ditulis oleh wartawan Indonesia.
Sesuai dengan yang diamanatkan UU Pers Nomor 40/1999, Pasal 3
bahwa fungsi pers adalah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan,
dan kontrol sosial. Meski tidak melalui media cetak atau elektronik,
wartawan yang berkompetensi tinggi akan mempunyai pikiran yang sama
dalam memilih topik dan bahasa dalam buku yang ia terbitkan. Artinya,
melalui buku, dia juga memberikan informasi, pendidikan, hiburan, dan
kontrol sosial.
Melihat semakin bertambahnya jumlah buku yang diterbitkan
dalam rangka HPN, tentu sangat menggembirakan. Hal itu menandakan
bahwa memang semakin banyak wartawan Indonesia yang tidak saja ingin
merekam pengalamannya, tetapi juga berbagi pengalaman dan pemikiran
sebagai bagian ikut mencerdaskan bangsa.
Sambutan
xiii
Dengan demikian, tema HPN 2014, “Pers Sehat Rakyat Berdaulat”,
tak semata-mata diperlihatkan melalui media massa, tetapi juga melalui
buku-buku yang ditulis oleh wartawan Indonesia.
Selamat membaca, semoga bermanfaat bagi Anda.
Jakarta, 9 Februari 2014
Rita Sri Hastuti
(Ketua Panitia Pelaksana HPN 2014)
Dr. Naungan Harahap, SH.,MH.
Pengantar Penulis
Bismillahirrahmanirrahim
S
yukur alhamdulillahirrabbil’alamin, segala puja dan puji penulis
panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan rahmat, taufik,
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini dengan
judul “Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers: Dalam Kajian Hukum Praktik
Monopoli & Persaingan Usaha di Indonesia”. Penulisan buku ini merupakan
sumbangan untuk memenuhi jadwal kegiatan panitia pelaksanan pusat
dalam memperingati Hari Pers Nasional (HPN) dan hari jadi Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2014.
Karya ilmiah ini sebagian besar sumber tulisan disusun dari naskah
Disertasi S3 Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran
Sambutan
xv
yang dipertahankan oleh penulis dalam sidang terbuka Guru Besar promosi
doktor di Bandung pada tanggal 8 Agustus 2012 dengan judul; ”Kajian
Hukum Persaingan Usaha Industri Media Massa Nasional Dikaitkan
dengan Kemerdekaan Pers Dalam Tujuan Negara Kesejahteraan”. Bahanbahan penulisan diperoleh dan diolah melalui serangkaian kegiatan
penelitian studi lintas disiplin ilmu, ilmu hukum dan ilmu sosial serta ilmu
komunikasi. Obyek tulisan fokus pada variabel-variabel kajian hukum
bisnis, praktik monopoli industri media massa, pengamatan terhadap pers,
kemerdekaan pers, dan negara kesejahteraan serta fenomena persaingan
industri media massa, baik cetak maupun elektronik.
Membahas Kemerdekaan pers yang sudah dikenal di Indonesia dapat
dilihat dalam sejarah pers nasional yang tidak terpisahkan dari idealisme
pers untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Setelah era reformasi,
berlakunya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ternyata fungsi dan
peran pers tidak hanya sebagai penyebar informasi publik, melainkan
berkembang menjadi lembaga ekonomi yang mengutamakan aspek
komersial. Keberadaan industri media massa ini memberikan pengaruh
positif ataupun negatif pada pembangunan demokrasi dan negara
kesejahteraan. Penulis menyadari bahwa buku ini belum sempurna. Materi
dan isi di sana-sini masih terdapat banyak kekurangan. Segala tegur sapa
ataupun kritik yang objektif dan konstruktif selalu penulis harapkan dan
akan diterima dengan senang hati.
Selesainya tulisan ini tidak terlepas dari adanya bimbingan, arahan,
dan saran positif serta dorongan dari semua pihak, khususnya tim promotor.
Untuk itu, ucapan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam dan
penghargaan yang tulus pertama-tama penulis sampaikan kepada Ibu Prof.
Dr. Djuhaendah Hasan, S.H. selaku Ketua Tim Promotor/Guru Besar
Ilmu Hukum Bisnis Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Prof.
Djuhaendah adalah ketua Tim Promotor I (S-3) dan Ketua Pembimbing
Tesis (S-2), komunikasi dengan beliau selalu berjalan lancar. Penulis juga
mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Prof. Dr. H.
xvi
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Ahmad M. Ramli, S.H., M.H., FCBArb. selaku anggota Tim Promotor
II. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada almarhum Prof. Dr. H.
Pontang Moerad BM, S.H. anggota Tim Promotor III. Pada April 2011,
beliau wafat saat persiapan sidang Seminar Hasil Penelitian (SHP), serta
Prof. Huala Adolf, S.H., L.L.M., Ph.D., FCBArb. yang bersedia menjadi
penguji. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
penulis sampaikan kepada Tim Pembahas Oponan Ahli, yaitu Prof. Dr.
H. Lili Rasjidi, S.Sos., L.L.M, Almarhum Prof. Dr. H. Yudha Bhakti, S.H.,
M.H., Dr. Supraba Sekarwati W., D.H., CN dan Prof. Dr. Gde Panca
Astawa, S.H., M.H.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan ucapan terima
kasih kepada Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Ir.,
DE.A, beserta para pembantu rektor dan Dekan Fakultas Hukum Dr.
Ida Nurlinda, S.H., M.H. Demikian juga kepada Direktur Pascasarjana
Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Ir. Mahfud Arifin, M.S. beserta para
asisten direktur dan semua karyawan yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk mengikuti pendidikan doktor ilmu hukum. Pihakpihak lain yang telah berjasa kepada penulis dalam penulisan disertasi
ini antara lain Rektor dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam
Nusantara beserta staf. Demikian pula semua guru penulis di SDN 21,
SMPN 2, SMP Perguruan Rakyat Padangsidempuan Sumatra Utara, dan
SMKN Jakarta.
Penulis juga mengapresiasi bantuan tokoh Dewan Pers di Jakarta, antara
lain Bung Bambang Harymurti (wakil ketua), Bung Wina Armada Sukardi
(anggota) beserta staf yang telah memberikan kesempatan penelitian
dan pengumpulan data untuk penulisan karya ilmiah ini. Ucapan terima
kasih juga penulis sampaikan kepada jajaran pimpinan Sekretariat Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI, Kepala Biro Humas dan Hukum
Bapak Ahmad Junaidi dan staf Ibu Erika Rovita Maharani yang telah
memberikan kesempatan wawancara dan pengumpulan data.
Sambutan
xvii
Tak lupa, penulis juga menyampaikan rasa bangga kepada rekan-rekan
seprofesi di bidang kewartawanan dan pengurus PWI, khususnya kepada
anggota Dewan Pers Bung Wina Armada Sukardi, S.H., M.M., M.B.A.
yang terus memberikan dukungan moril sebagai partner diskusi tentang
hukum pers dan kode etik jurnalistik Penulis juga berterima kasih kepada
rekan-rekan pengurus/anggota DPC Ikadin Bandung, khususnya advokat
Bung Tigor Gultom, S.H., M.H. teman berdiskusi. Secara khusus, penulis
juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua rekan mahasiswa
S-3 angkatan tahun 2007-2008. Demikian pula kepada rekan-rekan lain,
terima kasih atas semua bantuannya.
Selanjutnya, sebagai rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah
Swt., ungkapan perasaan bangga dan terima kasih yang setulus-tulusnya
penulis persembahkan kepada ayahanda H. Harun Harahap (almarhum)
Gelar Mangaraja Bangun Dipabuat, Ibunda Inang Hj. Tiolin Siregar
(almarhumah) yang sudah berpulang ke pangkuan Ilahi ketika penulis
masih kecil. Disertasi ini ananda persembahkan kepada orangtua sebagai
salah satu perwujudan cita-cita pendidikan kepada anak-anak saleh yang
ditinggalkan. Begitu juga kepada mertua, Bapak M. Suyono (almarhum)
dan Ibu Hj. Siti Rukoyah (almarhumah), terima kasih atas segala doa dan
perhatian selama hidup.
Rasa hormat dan terima kasih yang tulus juga disampaikan kepada
ketiga saudaraku, kakanda Hj. Nurhayati, Hj. Purnama Bulan, dan
abanganda Godung Humala (almarhum). Ketika penulis masih kecil,
merekalah yang mendidik dan selalu memotivasi penulis untuk meraih
cita-cita sampai ke pendidikan tinggi.
Kepada istri tercinta, Hj. Yenny Rukiyani, anak-anak tersayang
Adhya Rajasandi Harahap, S.E. dan Annisa Nurbaiti, S.E. (Ak.), terima
kasih tak terhingga atas andil besar berupa dorongan moril, semangat,
dan doa sejak penulis mengikuti kuliah di Pascasarjana Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran, sampai saat menempuh ujian akhir dan selesainya
xviii
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
penulisan disertasi ini. Khusus kepada istri dan ananda Adhya dan Annisa,
terima kasih atas kerelaan hilangnya sebagian waktu untuk berkumpul
bersama selama ini. Semoga apa yang ayah jalani untuk memenuhi syarat
pendidikan doktor ilmu hukum dapat menjadi teladan dan motivasi bagi
kalian dalam menuntut ilmu di masa yang akan datang.
Akhirnya, penulis berharap disertasi yang sederhana ini bermanfaat
bagi semua pihak. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam
tulisan ini. Billahi taufik walhidayah. Wassalammu’alaikum Warrahmatullahi
Wabarrakatuh.
Bandung, Februari 2014
Penulis
Dr. H. Naungan Harahap
Sambutan
xix
Daftar Isi
Sambutan Penanggung Jawab Hari Pers Nasional 2014 |vii
Sambutan Panitia Pelaksana Hari Pers Nasional 2014 |xi
Pengantar Penulis |xiv
Bab I
Hukum Persaingan Industri Media Massa Dan Kemerdekaan
Pers |1
A. Komersial dan Idealisme Pers |1
B. Pers Bisnis Sejak Orde Baru |6
C. Peran Pers dan Pelanggaran Delik Pers |9
D. Larangan Praktik Monopoli Media Massa |12
E. Perubahan Ketatanegaraan |18
F. Kemerdekaan Pers dan Kode Etik |24
Bab II Tinjauan Hukum Persaingan Industri Media Massa Dalam
Negara Kesejahteraan |32
A. Pengertian dan Istilah Media Massa |32
B. Landasan Teori |34
C. Persaingan Usaha Menuju Negara
Kesejahteraan |49
1. Negara Kesejahteraan Berdasarkan Pancasila |60
2. Aspek Moral dalam Persaingan Usaha |65
3. Pembangunan Hukum dalam Persaingan Usaha |67
D. Demokrasi dan Kemerdekaan Pers Mewujudkan
Kesejahteraan |69
1. Pers Pilar Demokrasi |74
2. Demokrasi dan Kontrol Sosial Pers |78
3. Kemerdekaan Pers dan Pembangunan Hukum dalam
RPJP |80
xx
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
xx
4. Pendekatan Kemerdekaan Pers |83
5. Kemerdekaan Pers Mendukung Negara
Kesejahteraan |83
E. Fungsi Media Massa Meningkatkan Kesejahteraan |85
1. Fungsi dan Peran Dewan Pers |87
2. Fungsi dan Peran Organisasi Pers dan
Perusahaan Pers |91
3. Fungsi dan Peran KPPU |94
F. Ruang Lingkup Industri Media Massa |97
1. Hukum Media Massa |100
2. Kode Etik Profesi |102
- KEJ Dewan Pers |106
G. Sistem Regulasi Persaingan Usaha |111
1. Dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat |112
2. Industri Media Massa |115
H. Aspek-aspek Hukum Media Massa |120
1. UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers |120
2. UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran |123
3. UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE |125
4. UU No. 14 Tahun 2008 tentang KIP |127
I. Persyaratan Mendirikan Perusahaan Media Massa pada Era
Orde Lama, Orde Baru, Hingga Reformasi |130
Bab III Kemerdekaan Pers Dan Etika Profesi Dalam Bisnis Industri
Media Massa |136
A. Sejarah Kemerdekaan Pers |136
1. Kemerdekaan Pers (1945–1966) |139
2. Kemerdekaan Pers (1966–1999) |145
3. Kemerdekaan Pers (1999–sekarang) |150
xxi
B. C. D. E. F. G. H. Sambutan
xxi
Sistem Pers di Indonesia |153
1. Pers Liberal |153
2. Pers Bebas dan Bertanggung Jawab |155
3. Kemerdekaan Pers yang Profesional |159
Ruang Lingkup Kemerdekaan Pers |162
1. Tujuan Kemerdekaan Pers |164
2. Fungsi Kemerdekaan Pers |166
Asas-asas Pers yang Baik dalam Industri Media Massa |166
1. Asas Moralitas |168
2. Asas Profesionalitas |169
3. Asas Demokratis |170
4. Asas Supremasi Hukum |170
5. Asas Keadilan |171
6. Asas Kepastian Hukum |172
7. Asas Nasionalisme |173
8. Asas Kekeluargaan |173
Peran Pers yang Baik dalam Kemerdekaan Pers |174
1. Wahana Informasi yang Positif |174
2. Mencerdaskan Masyarakat |176
3. Memenuhi Informasi Bagi Kepentingan Publik |178
4. Mengembangkan Demokrasi |181
Kegiatan Bisnis Industri Media Massa |186
1. Kegiatan Jurnalistik Berita, Artikel, dan Foto |186
2. Iklan dan Pariwara |189
Penyalahgunaan Kemerdekaan Pers dan Akibatnya |190
Perbandingan Hukum Kemerdekaan Pers di Beberapa
Negara |195
1. Malaysia |198
2. Jerman |198
3. Australia |198
4. Amerika Serikat |199 xxii
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
xxii
Bab IV Persaingan Usaha Industri Media Massa Diaitkan Dengan
Kemerdekaan Pers |201
A. Pelaksanaan Kemerdekaan Pers dan Kebebasan Usaha Media
Massa |201
B. Persaingan Usaha Industri Media Massa MenujuPersaingan
yang Sehat dan Sesuai Etika Profesi |207
C. Permasalahan Pelaksanaan Kemerdekaan Pers |212
D. Akibat Praktik Persaingan Usaha Tidak Sehat Media Massa
Terhadap Kemerdekaan Pers |220
1. Manajemen Media Menuntut Keuntungan Besar |221
2. Redaksi Media Mengabaikan Etik dan Idealisme
Pers |223
3. Independensi Profesionalisme Pers Terganggu |225
E. Tanggung Jawab Media Massa Terhadap Publik dan Isi
Pemberitaan |225
F. Pelaksanaan Sanksi Hukum, Administrasi, Etika Pers, Hak
Jawab dan Koreksi |227
1. KUH Perdata |228
2. KUH Pidana |230
3. Hukum Administrasi |236
4. Hak Jawab |238
1). Hak Jawab Dalam Etika Pers |239
2). Hak Jawab Dalam UU Pers |239
5. Hak Koreksi |243
G. Kasus-Kasus Praktik Monopoli Media, Delik Pers dan Etika di
Indonesia dan Negara Lain |244
1. Praktik Monopoli Media Elektronik |244
1). Kelompok Korporasi Kepemilikan Media
Massa |244
2). KPPU: Astro Langgar Hak Siar Liga Inggris |246
3). MPPI vs PT MNC |262
xxiii
Sambutan
4). Praktik Monopoli Media Cetak |282
2. Kasus Delik Pers |284
(1). Tommy vs Tempo |286
(2). Prita vs RS Omni |294
(3). Infotainment vs Selebriti Luna Maya |296
(4). Lady Di vs Paparazi |297
(5). Gugatan Perdana Menteri Singapura vs New York
Times |299
DAFTAR PUSTAKA |301
TENTANG PENULIS |312
xxiii
Bab I
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
A. Komersial dan Idealisme Pers
Dalam pembangunan industri media massa, persaingan usaha dan
kemerdekaan pers masih merupakan masalah kontroversial yang dihadapi
bangsa Indonesia dewasa ini. Di samping fungsinya sebagai media
informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial, pers juga merupakan
lembaga ekonomi.1 Terkait dengan adanya unsur komersial yang menjadi
bagian dari industri pers, persaingan antarmedia pun menjadi semakin
tinggi. Pada umumnya untuk memenangi persaingan tersebut, media
berlomba memenuhi ketiga unsur yaitu faktual, aktual, dan menarik.
Namun, pemenuhan ketiga unsur tersebut sering terlepas dari unsur
faktualnya yang kadang-kadang ditinggalkan. Hal itu bisa mengakibatkan
berita disajikan secara tidak proporsional, artinya hanya berdasarkan
asumsi wartawan tanpa memisahkan fakta dan opini. Demikian pula untuk
memenuhi unsur menarik, pers terkadang melanggar norma hukum yang
telah ditetapkan sebagai acuan.
Lihat Fungsi Pers Pasal 3 Undang-Undang Nomor. 40 Tahun 1999 tentang
Pers.
1
2
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Terkait hal ini, fungsi lembaga ekonomi yang dimiliki oleh pers dapat
saja menjadi bumerang bagi pers sendiri. Sebaliknya, distorsi informasi
makin sering terjadi, artinya, pers mulai berpihak kepada kelompok
pengusaha pers yang lebih kuat dan berkuasa.2 Fenomena itu memperkuat
adanya indikasi terganggunya kemerdekaan pers akibat dominasi bisnis
pers yang mengutamakan kepentingan komersial daripada idealisme pers.
Kemerdekaan pers juga telah berkembang yang antara lain ditandai
dengan adanya regulasi di bidang media massa. Namun, kalangan pers
belum dapat mengatasi dampak dari kemerdekaan pers tersebut dan media
massa masih berpihak pada kepentingan industri daripada kepentingan
publik yang lebih luas.3 Sementara tujuan pokok kemerdekaan pers adalah
pertama tersedianya segala informasi yang menjadi hak dan milik masyarakat
dan kedua terlaksananya fungsi pengawasan terhadap pemerintah. Namun,
kalangan pers masih banyak yang belum memahami makna kemerdekaan
pers itu.
Menurut UU RPJP 2005-2025, aspek kelembagaan kemerdekaan
pers/media massa dalam kurun waktu 20 tahun mendatang akan menjadi
masalah dan tantangan terberat pembangunan nasional, terutama dalam
menghadapi proses konsolidasi demokrasi; “Akses masyarakat ter­hadap
informasi yang bebas dan terbuka, dalam banyak hal, akan lebih memu­
dahkan kontrol atas pemenuhan kepentingan publik; Peran media massa
yang bebas sangat menentukan dalam proses menemukan, mencegah,
memublikasikan berbagai bentuk penyelewengan kekuasaan dan korupsi;
Tantangan lain adalah mengatasi berbagai dampak negatif perkembangan
industri pers yang cenderung berpihak pada kepentingan kapitalis dan
RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2004-2009,
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009, Sinar Grafika,
Jakarta, 2005, hlm. 126
3
Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005-2025. Lihat Bab II
Kondisi Umum Bidang Politik, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan, Fokus
Media, 2007, hlm.39
2
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
3
bukan mengedepankan kepentingan masyarakat luas. Keseluruhan upaya
tersebut berada dalam konteks menempatkan peranan pers sebagai salah
satu pilar dan perkembangan demokrasi.”4
Dampak negatif yang terakhir dirasakan oleh masyarakat yakni
adanya pers yang masih menganggap bahwa konsep kemerdekaan pers
yang dimilikinya bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh
siapa pun. Padahal kemerdekaan pers di negara-negara demokratis adalah
milik masyarakat yang didelegasikan oleh rakyat melalui proses demokrasi
untuk dilaksanakan oleh pers. Dampak negatif lainnya, pada kenyataannya,
privasi orang ada yang terganggu dan ada norma-norma masyarakat
yang dilanggar. Keseluruhan dampak dari kebebasan pers, baik itu positif
maupun negatif, menimbulkan pertanyaan apakah memang sudah tepat
konteks kebebasan pers yang terdapat dalam Undang-Undang Pers. Bila
konteks kebebasan pers tersebut sudah tepat maka seharusnya tidak ada
lagi permasalahan yang timbul.
Kemerdekaan pers umumnya tidak bisa diwujudkan di dalam
negara yang tertinggal atau negara yang menganut sistem pemerintahan
tidak demokratis. Jadi kemerdekaan pers itu penting dalam kehidupan
pers. Kebebasan pers akan lebih bermakna jika disertai tanggung jawab
dan pers tidak bebas sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan itu harus bisa
dipertanggungjawabkan atau dengan istilah kebebasan yang bertanggung
jawab.5 Permasalahan pers Indonesia tidak bisa dilepaskan dari berbagai
kendala yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan kemerdekaan pers.
Pada kenyataannya, selama ini terdapat empat jenis perbuatan, tindakan,
atau kebijakan yang dapat mendistorsi kemerdekaan pers yaitu melalui
peraturan, birokrasi, kriminalisasi pers, dan jajaran perusahaan pers.6
Distorsi atas kemerdekaan pers yang bersumber dari insan pers atau praktisi
UU RPJP, Op.cit, hlm.65.
Elvinaro Ardianto dkk, Komunikasi Massa-Suatu Pengantar, Edisi Revisi,
Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2007, hlm. 203
6
R.H. Siregar, Setengah Abad Pergulatan Etika Pers, Dewan Kehormatan
PWI, Januari 2005, hlm 151-159.
4
5
4
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
pers terjadi sebagai akibat tidak dilaksanakannya tugas-tugas jurnalistik
sesuai dengan norma etik dan norma hukum. Jajaran pers itu sendiri dapat
mendistorsi kemerdekaan pers. Distorsi jenis ini pada hakikatnya dapat
dibagi dua, yaitu yang bersumber dari pemilik perusahaan pers dan yang
bersumber dari insan pers itu sendiri. Bersumber dari perusahaan pers
dimungkinkan sesuai dengan dinamika perkembangan perusahaan pers.
Seperti diketahui, perusahaan pers dewasa ini sudah berkembang menjadi
industri yang padat modal. Dalam kaitan ini, Mochtar Lubis7 mengatakan
perkembangan perusahaan pers Indonesia telah menjadi perusahaan
konglomerat dan mungkin perusahaan pers itu sendiri menjadi lembaga
yang punya vested interest yang hendak dilindunginya. Apakah dengan
perkembangan seperti ini kita masih dapat mempertahankan kedudukan
pers Indonesia sebagai pers yang memiliki etos seperti dulu?
Mochtar Lubis mengkritik, etos kerja wartawan telah terkena
erosi oleh perkembangan perusahaan pers yang mengharuskan mereka
melakukan kompromi untuk me­lin­dungi kepentingan-kepentingannya.8
Yang dimaksud dengan etos wartawan Indonesia adalah kerakyatan,
kemer­deka­an, dan kebebasan menyatakan pendapat dan pikiran serta
nilai-nilai yang mendukung hak-hak demokrasi. Etos tersebut tertanam
dalam diri wartawan dari perjuangan dan pengalaman pers Indonesia
selama masa penjajahan bertahun-tahun. Sementara etos pers Indonesia
bersumber pada perjuangan bangsa Indonesia untuk memajukan bangsa,
memerdekakan bangsa dari kaum penjajah.9
Hal tersebut semakin mengemuka pada saat “Era Reformasi” mulai
berjalan. Pada saat reformasi mulai ber­gulir, pergerakan pers pun mulai
mengecap kebebasan yang selama ini diimpikan. Dengan dukungan
pemerintah, pers mulai menjalankan fungsi sepenuhnya dengan diber­
7
Mochtar Lubis, Etos Pers Indonesia dalam Visi Wartawan 45, Media Sejahtera,
Jakarta,1992, hlm.15.Lihat juga R.H.Siregar, Setengah Abad Pergulatan Etia Pers,
Op.cit, hlm.11
8
Ibid. hlm.11
9
Ibid
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
5
lakukannnya Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Berbagai
dukungan pers lahir pada era reformasi di antaranya, pertama didapat dari
perubahan ketatanegaraan yaitu konstitusi negara dengan dilakukannya
amandemen kedua Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Pasal 28F
dinyatakan bahwa hak untuk berkomunikasi dan hak untuk mendapatkan
informasi merupakan hak asasi manusia.
Adanya Pasal 28 dan Pasal 28F merupakan dukungan dan amanat
konstitusi sekaligus merupakan regulasi pers yang harus dilaksanakan
bahwa, Pertama, pelaksanaan kemerdekaan pers harus dijamin. Kedua,
adanya jaminan perlindungan bagi wartawan, Ketiga, hilangnya birokrasi
dalam hal pendirian perusahaan pers dengan dicabutnya ketentuan Surat
Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Keempat, tidak ada pemberedelan
atau penyensoran, Kelima, adanya transparansi kinerja pemerintah dan
semakin dekatnya hubungan antara masyarakat dan pemerintah dengan
pers sebagai jembatannya, dan Keenam, masyarakat men­dapat informasi
yang lebih banyak mengenai segala hal. Dengan dukungan tersebut, pers di
Indonesia kemudian mengalami perkembangan yang pesat.
Dalam penelitian lain ditemukan, datangnya era reformasi tidak begitu
banyak berpengaruh terhadap struktur kepemilikan atau konglomerasi
media.Kebebasan pers sebagai buah dari gerakan reformasi justru menambah
rasa aman bagi para pengusaha media. Pada masa refomasi, pers bergulat
dengan pasar yang semakin membuat jaya kelompok-kelompok media
yang sudah mapan secara ekonomis pada zaman Orde Baru.10 Meskipun
sebenarnya, pada era reformasi, dengan adanya dukungan pemerintah,
pembuatan sejumlah perundang-undangan yang baru dinilai positif dengan
diberlakukannya regulasi di bidang media massa. Regulasi tergolong baru
yang melingkupi hukum media massa, seperti Undang-Undang No. 40
Tahun 1999 tentang Pers, UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, UU
No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dan
Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa, Granit, Jakarta,
2004, hlm. 65
10
6
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP)11.
Namun, dengan tercantumnya dalam perundangan-undangan tersebut
yaitu adanya fungsi ekonomi, orientasi pengembangan industri media
massa, baik cetak maupun elektronik mulai bergeser dari aspek pers idealis
ke aspek pers komersial (bisnis).
Laporan Dewan Pers menunjukkan, selama 30 tahun Orde Baru
(1966-1996) jumlah penerbitan yang memi­liki SIUPP hanya sekitar 260
media. Kemudian setelah deregulasi di bidang pers mulai bergulir tahun
1999, jumlah penerbitan melonjak tajam menjadi 1381. Tahun 2001,
jumlahnya bertambah menjadi 1881. Namun, hanya ber­selang beberapa
bulan saja ternyata 70 persen berhenti terbit dan akhir tahun 2001 media
cetak tinggal 566 penerbitan, selebihnya kolaps, gulung tikar, dan akhirnya
mati. Keadaan itu memprihatinkan pebisnis pers dalam mengembangkan
investasi, karena modal kerja, dan sumber daya manusia yang tersedia tidak
dapat diberdayakan secara optimal.12
B. Pers Bisnis Sejak Orde Baru
Di Indonesia, indikasi praktik pers bisnis sudah terjadi sejak pada
masa Orde Baru (1966-1998), sedangkan sebe­lumnya yakni pada masa
Orde Lama (1945-1965) media massa nasional masih menganut pers
perjuangan atau idealis. Pada era Orde Baru ketentuan mengenai media
massa yaitu UU Pokok Pers No.11/1966 jo. No.4/ 1967 diubah menjadi
UU Pokok Pers No. 21/1982. Perubahan ini sekaligus menandai era baru
dalam pers Indonesia. Selain terkait dengan politik dan hukum, pers
Empat undang-undang di bidang media cetak dan elektronik yaitu UU Nomor.
40 Tahun 1999 tentang Pers mulai berlaku tanggal 23 September 1999 LNRI Tahun
1999 Nomor 166, UU Nomor 32 Tahun 2005 tentang Penyiaran berlaku tgl. 28
Desember 2002 LNRI Tahun 2002 Nomor 139, UU Nomor 11 Tahun 2008 tentahg
ITE berlaku tgl. 21 April 2008 LNRI Tahun 2008 Nomor 58, UU Nomor 14 Tahun
2008 tentang KIP, berlaku tgl 30 April 2008 LNRI Tahun 2008 Nomor 61.
12
Laporan Dewan Pers Tahun 2008.
11
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
7
Indonesia juga mulai bermain bisnis 13. Perkenalan pers Indonesia dengan
bisnis semakin akrab setelah keluarnya Peraturan Menteri Penerangan No.
01/Per/Menpen/ 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)
dan Surat Keputusan Menpen No. 214A/Kep/Menpen/1984 mengenai
tata cara memperoleh SIUPP. Sejak itulah pengelolaan pers tak ubahnya
mengelola bisnis lain sehingga mengaburkan makna idealisme yang selama
ini menjadi ciri pers Indonesia.14
Bagaimanapun, hadirnya regulasi SIUPP pada masa itu telah menjadi
tonggak penting bagi munculnya kelompok-kelompok perusahaan media
yang bermodal kuat. Dengan kekuatan modalnya, mereka bisa memperoleh
SIUPP baru dari Departemen Penerangan (sekarang Menkominfo) atau
membeli SIUPP surat kabar lain yang kehabisan modal untuk bertahan
hidup. Dalam perkembangan selanjutnya, akibat perubahan regulasi di
bidang pers ini interaksi yang terjadi bukan lagi antara insan pers dan
pemerintah melain­kan berkembang antara pengusaha media dan penguasa
politik. Para pihak saling bersinergi mencari keuntungan: penguasa
memperoleh stabilitas, sedangkan peng­usaha mendapatkan fasilitas.15
Dalam Pasal 3 ayat 2 Undang-Undang Pers, dinyatakan bahwa pers
nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Dalam penjelasan ayat
tersebut, disebutkan bahwa perusahaan pers dikelola sesuai dengan prinsip
ekonomi, agar kualitas dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya
semakin meningkat dengan tidak meninggalkan kewajiban sosialnya.16
Perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan fungsi
lembaga ekonomi yang dimiliki oleh pers karena hal itu akan berkaitan
Ibnu Hamad, Op.cit, hlm.64
Ibid, hlm 64
15
Ibid, hlm 65, lihat Sen,Krishna and David T Hill, Media, Cultures, and
Politics in Indonesia, Cictoria: Oxford University Press, 2000, ch,2,hlm.51-71,
Yasuo Hannazaki, Pers Terjebak (terjemahan), Jakarta, ISAI,1998 dalam Ibnu
Hamad, Konstruksi Realitas Politik. Fenomena SIUPP ini kemudian melahirkan
gejala kelompok-kelompok usaha media, seperti Kelompok Kompas-Gramedia
(KKG), Sinar Kasih Grup, Pos Kota Grup, Presindo Grup, Grafiti/Jawa Pos Grup.
16
Op.cit, Penjelasan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
13
14
8
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dengan Pasal 10 Undang-Undang Pers. Dalam pasal tersebut, dinyatakan
bahwa “Perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan
karyawannya dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba
bersih serta bentuk kese­jahteraan lainnya.” Berkaitan dengan kepemilikan
saham, berlaku ketentuan dalam undang-undang PT dan Undang-Undang
Pasar Modal. Jadi, sangatlah penting hal ini dijelaskan lebih lanjut agar
tidak terjadi perbenturan mengenai penjelasan untuk hal tersebut.
Untuk mencapai tujuan-tujuan komersial, tidak jarang terjadi
kelompok-kelompok media terlibat persaingan dan menimbulkan per­
saingan usaha yang tidak sehat antar- media massa cetak dan elektronik.
Kini persaingan tidak wajar di lingkungan industri media massa itu makin
transparan, baik dalam mencari produk pemberitaan atau jasa informasi
maupun dalam monopoli saham kepemilikan perusahaan. Pada umumnya
kasus-kasus persaingan usaha tidak sehat terkait dengan media massa
mencakup praktik penetapan harga, pembagian wilayah pemasaran atau
alokasi pasar, kartel, dan kepemilikan saham mayoritas pada dua atau tiga
lebih perusahaan. Selain itu kasus yang agak menarik perhatian akhirakhir ini adalah pelanggaran oleh grup bisnis perusahaan pers berupa
penyebaran koran dan jaringan frekuensi radio, dan televisi.
Para pelaku usaha dalam kasus ini berusaha dengan cara memanfaatkan
jaringan publik domain secara ilegal. Di bidang industri media elektronik
terdapat indikasi adanya upaya menuju monopoli oleh “televisi swasta
nasional” yang menguasai televisi lokal. Televisi tersebut berusaha untuk
menguasai jaringan. Dengan menguasai jaringan, praktiknya akan terjadi
wajib tayang. Program siaran yang diatur oleh televisi nasional dari Jakarta
secara sepihak harus disiarkan oleh televisi lokal di daerah. Jika hal itu
terjadi, akibatnya akan dapat merugikan pemirsa televisi lokal di daerahdaerah dan dapat mengancam prinsip kemerdekaan pers.
Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) dalam laporannya
menyebutkan, mereka menemukan adanya kasus persaingan kepemilikan
saham mayoritas di bidang televisi swasta yang dilakukan kelompok-
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
9
kelompok televisi swasta nasional, antara lain Media Nusantara Citra
(MNC). Kelompok media ini menguasai mayoritas kepemilikan tiga
stasiun televisi swasta nasional yaitu RCTI, Global TV, dan TPI (sekarang
bernama MNCTV). Kelompok Bank Mega “Trans TV” dengan “TV-7”
milik grup Kompas. Kedua kelompok media ini membentuk satu stasiun
televisi bernama Trans-7 yang kepemilikan saham mayoritasnya dimiliki
oleh Bank Mega. Grup Bakrie ANTV membeli perusahaan Lativi. Kerja
sama televisi swasta yang disebut terakhir ini kemudian membentuk TV
One. Grup koran Media Indonesia mendirikan Metro TV, serta Grup TV
Indosiar dengan Radio Elshinta.
Di bidang media cetak juga terjadi adanya praktik kepemilikan
saham mayoritas seperti grup koran Jawa Pos dan Radar dengan televisitelevisi lokal, antara lain TV Batam. Grup Harian “Bali Pos” dengan Bali
TV, Yogyakarta TV, Bandung TV.
C. Peran Pers dan Pelanggaran Delik Pers
Di samping terjadinya kasus persaingan usaha tidak sehat antarmedia
massa di Indonesia, banyak media massa juga terkait dengan delik pers dan
mendapat klaim dari masyarakat. Bahkan menurut laporan Dewan Pers,
beberapa media massa diperkarakan ke pengadilan melalui perdata dan
pidana dengan tuntutan ganti rugi sangat besar jumlahnya.17 Contoh di
dalam negeri, kasus-kasus pencemaran nama baik terkait dengan mantan
Ketua DPA, Baramuli yang menuntut majalah Info Bisnis. Tommy
Soeharto vs majalah Gatra. Harian Kompas, majalah Tempo, dan Koran
Tempo digugat oleh Marimutu Sinivasan dari Texmaco. Majalah Time
vs Soeharto, dan kasus Prita Mulyasari melawan Rumah Sakit Omni
Internasional.18 Penghinaan atau pencemaran nama baik dan fitnah (libel atau
slander) adalah ketentuan hukum yang paling sering digunakan untuk
Log.cit, Laporan Dewan Pers
Harian Kompas, Jakarta, Desember, 2009.
17
18
10
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
melawan media massa. Dalam KUHP sejatinya tidak didefinisikan dengan
jelas apa yang dimaksud dengan penghinaan, tetapi bentuk penghinaan
dikenal adanya pencemaran tertulis, penghinaan ringan, pengaduan dan
tuduhan fitnah. Kategorisasi penghinaan tersebut tidak ada yang secara
khusus ditujukan untuk pers, tetapi bisa dikenakan untuk pers dengan
ancaman hukuman bervariasi, antara empat bulan dan enam tahun penjara.
Pers sering harus berhadapan dengan anggota masyarakat yang merasa
dirugikan oleh suatu pemberitaan, dengan Pasal 310 KUHP.19
Terkait dengan tanggung jawab hukum pers, Loebby Loqman20,
mengatakan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 tidak memuat
pertanggungjawaban sehingga pertanggungjawaban dalam bidang pers
tunduk pada aturan yang umum, yaitu pertanggungjawaban yang ada dalam
Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Dalam perkara pidana, pertanggung
jawaban didasarkan atas asas “tiada hukum tanpa kesalahan” sehingga
harus dicari siapa orang yang bersalah. Orang yang bersalah itulah yang
harus bertanggung jawab atas tindak pidana yang dilakukannya. KUHP
mengatur sistem penyertaan.
Menurut Loebby, Undang-undang Pers yang terdahulu yaitu UU Pers
No. 11 Tahun 1966 dan UU Pers No. 21 Tahun 1982, menganut sistem
pertanggungjawaban fiktif bagi kejahatan melalui alat cetak yang diatur
dalam Pasal 61 dan 62 KUHP. Tidak adanya pertanggungjawaban pers
dalam Undang-Undang Pers yang berlaku sekarang menyebabkan adanya
risiko tuntutan hukum kepada pers. Untuk itu, Loebby berpendapat harus
dicari sejauh mana terdapat penyertaan dalam dunia pers. Hal itu tentu
merupakan risiko yang harus ditanggung oleh insan pers, dan termasuk
adanya kebebasan pers.21
Bagir Manan22 berpendapat, sistem pertanggung­jawaban pers tersebut
19
Ibid , hlm.15-18.
Loebby Loqman, Hukum dan Pembelaan Wartawan, makalah pada Pelatihan
PWI, Cisarua Bogor, Juli 2001.
21
Ibid
22
Bagir Manan, Pers dan Hakim, makalah disampaikan dalam Pelatihan Saksi
20
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
11
dapat ditinjau dari dua hal, yaitu sifat serta tanggung jawab individual dan
tanggung jawab menurut kaidah profesi. Menurut Bagir Manan, pertama;
sifat dan tanggung jawab individual, misalnya kasus pence­maran tertulis
(Pasal 310 ayat 2), mensyaratkan harus ada unsur publikasi penyiaran
(disiarkan), sedangkan yang memutuskan suatu berita disiarkan atau tidak
disiarkan adalah redaksi, bukan wartawan. Walaupun berita itu ditulis oleh
wartawan, tetapi kalau tidak disiarkan belum memenuhi unsur pidana.
Redaksi yang memutuskan menyiarkan itulah yang memenuhi unsur pidana.
“Semestinya redaksi yang bertanggung jawab secara kepidanaan karena
redaksi memenuhi unsur perbuatan melanggar hukum (wederrechtelijk)”23
Kedua; sifat dan tanggung jawab menurut kaidah profesi.
Dikemukakannya, apabila suatu pertanggungjawaban hukum
semata-mata sebagai akibat atau timbul karena pekerjaan profesi yaitu dari
kegiatan jurnalistik, maka semua pertanggungjawaban pertama-tama harus
didasarkan pada asas dan kaidah profesi yaitu ketentuan-ketentuan etik
dan ketentuan hukum yang mengatur profesi. Relevan dengan pernyataan
tersebut, Andi Samsan Nganro24 mengatakan bahwa kebebasan pers
sifatnya tidak absolut. Kebebasan pers harus diimbangi dengan tanggung
jawab. Selain itu, Yenti Garnasih25 mengatakan tentu saja kebebasan pers
itu berkaitan dengan kebebasan menyatakan pendapat yang dijamin
konstitusi. Oleh karena itu, dalam penerapan hukum pers, ancaman pidana
harus tetap merupakan iltimum remedium, maksudnya asas perbuatan
pidana tersebut bukan meniadakan ancaman pidana tetapi harus mem­
pertimbangkan untung-ruginya ancaman pidana.
Sehubungan dengan fungsi dan peran pers yang demikian penting
dalam negara demokrasi, para pihak ada yang mengusulkan agar
Khusus Ahli Dewan Pers, Batam, Juni 2010, dan ceramah pada Calon Hakim, di
Mega Mendung, Bogor, Mei 2010.
23
Ibid
24
Andi Samsan Nganro, Pasal-asal Pencemaran Nama Baik dan Kemerdekaan
Pers, makalah pada Seminar Dewan Pers, Jakarta, Januari 2010..
25
Yenti Garnasih., Log.cit
12
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
pelanggaran terhadap nama baik dan kehormatan yang dilakukan oleh pers
tidak langsung dituntut secara pidana, tetapi lebih dahulu digunakan sarana
yang ada dalam Undang Undang Pers. Mengenai ancaman hukuman,
tidak dikenakan dengan hukuman pidana tetapi cukup dikenakan sanksi
perdata.26 Terkait dengan perbedaan persepsi hukum positif mana yang
akan diterapkan, apakah UU Pers atau KUHPidana, dalam delik pers perlu
dicari solusi untuk memperoleh kepastian hukum, mengingat kegiatan dan
kehidupan manusia sangat luas sehingga tidak mungkin tercakup dalam
suatu peraturan atau perundang-undangan yang tuntas dan jelas.
Untuk itu, harus diupayakan adanya pembentukan hukum atau
yurisprudensi oleh hakim melalui vonis di pengadilan.27 Yang dimaksud
dengan pembentukan hukum adalah merumuskan peraturan-peraturan
umum yang berlaku umum bagi setiap orang. Kegiatan demikian meru­
pakan proses konkretisasi atau individualisasi per­
aturan hukum (das
sollen) yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa konkret (das sein)
tertentu.28 Hakim dapat disebut sebagai pembentuk hukum semu atau
quasi legislator. Karena UU sering tidak jelas, bersifat umum dan abstrak,
maka hakim harus mencari hukumnya.29
D. Larangan Praktik Monopoli Media Massa
Dalam era demokrasi ekonomi ini tentu saja tidak mudah untuk
mewujudkan tujuan pembangunan nasional masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.30 Permasalahannya semakin
J. Satrio,Gugat Perdata Atas Dasar Penghinaan sebagai Tindakan Melawan
Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm.106.
27
Pontang Moerad, Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan Dalam
Perkara Pidana, Alumni, Bandung, 2005, hlm. 79-80.
28
Ibid, hlm.81
29
Ibid, hlm.83, lihat juga C.F.G Sunaryati Hartono dalam Peranan Pengadilan
Dalam Rangka Pembinaan dan Pembaharuan Hukum Nasional”, Binacipta,
Bandung, 1975 hlm.9
30
Lihat Konsideran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen Lembaran Negara RI. Lembaran Negara RI Tahun 1999
26
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
13
berat terutama di tengah situasi yang sedang menghadapi globalisasi dan
perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan teknologi telekomunikasi
dan informatika. Di samping itu, kebijakan komunikasi dan informasi
nasional belum optimal.31 Dengan perkataan lain, dikemukakan oleh
Sunaryati Hartono32 bahwa bangsa Indonesia mengidamkan suatu masya­
rakat yang adil dan makmur secara merata yang dicapai dengan cara yang
wajar (seimbang, tidak ekstrem) dan berperikemanusiaan, sehingga tercapai
keselarasan, keserasian, dan ketenteraman di seluruh negeri.
Peningkatan peran media komunikasi dan informasi di satu sisi
akan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan konsolidasi demokrasi,33
sedangkan di sisi lain media massa dalam menjalankan fungsinya secara
otonom dan independen belum optimal. Jaringan media massa masih
diha­dapkan pada terbatasnya kapasitas, jangkauan, dan kualitas sarana
dan prasarana media massa serta kualitas sumber daya manusia. Keadaan
ini telah mengakibatkan rendahnya kemampuan masyarakat mengakses
informasi.34 Program pengembangan komunikasi, informasi, dan media
massa bertujuan meningkatkan peran pers dan media massa dalam
memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh infor­masi secara bebas,
transparan, dan bertanggung jawab, serta dalam rangka mewujudkan
masyarakat informasi menuju masyarakat berbasis pengetahuan.
Dalam hal ini, pemerintah melakukan kegiatan pokok antara lain
memfasilitasi peninjauan atas aspek-aspek politik terhadap peraturan
perundangan yang terkait dengan pers dan media massa, dan pengkajian
serta pene­litian yang relevan dalam pengembangan kualitas dan kuantitas
Nomor 42, Sinar Grafika, Cetakan Ketiga, Jakarta, Februari 2004, hlm.1
31
Perpres RI Nomor 7 Tahun 2005 tentang RPJMN, Log.cit. hlm. 41-42,
125,128
32
Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional,
Alumni Cetakan Kesatu, Bandung, 1991, hlm. 3
33
Log.cit – Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025, hlm.
33-34
34
Ibid
14
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
informasi dan komunikasi.35 Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi,
informasi dan proses globalisasi telah memberikan pengaruh yang besar
terhadap nilai-nilai bisnis yang berkembang dan hidup di Indonesia.
Wolfgang G. Friedman36 menggambarkan bahwa globalisasi merupakan
hal yang tidak bisa ditolak lagi oleh setiap bangsa karena di dalamnya
dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dalam aktivitas manusia.
Alfin Toffler mengatakan, tekno­
logi komunikasi telah menciptakan
globalisasi dunia dan mengakibatkan kegiatan bisnis saling mempengaruhi.
Dalam kaitan ini, Djuhaendah Hasan37 menyatakan dalam era global,
pengaruh ekonomi global selalu melekat dalam hukum bisnis. Hukum
persaingan usaha sebenarnya mengatur soal pertentangan kepentingan
antarpelaku usaha saat satu pelaku usaha merasa dirugikan oleh tindakan
pelaku usaha lainnya.38 Dengan kata lain, persaingan usaha dapat dipahami
sebagai kondisi persaingan di antara pelaku usaha yang berjalan secara
tidak fair.39 Hal itu disebabkan pelanggaran terhadap hukum persaingan
pada akhirnya akan merugikan masyarakat dan perekonomian negara.
Penegakan hukum persaingan usaha dilakukan oleh para pihak dan akan
efektif apabila konsep hukum tersebut difasilitasi dengan instrumen
hukum yang bersifat pemaksa (imperative).40 Instrumen atau alat hukum
dimaksud adalah dengan berlakunya Undang-undang No. 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Untuk Indonesia, undang-undang larangan praktik monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat memiliki lan­
dasan konstitusional yakni
bid
WG.Friedman, New York Times, artikel surat kabar, New York. Lihat laporan
Utama Majalah Biskom, Jakarta, Volume Mei 2008, hlm. 8 dan Peranan Hukum
Dalam Perekonomian di Negara Berkembang, YOI, Jakarta, 1996, hlm. 11
37
Djuhaendah Hasan (ed), Pembangunan Hukum Bisnis Dalam Pembangunan
Hukum Indonesia , Kumpulan tulisan dalam buku, Pembangunan Hukum Bisnis
Dalam Kerangka Sistem Hukum Nasional, Unpad Bandung, September 2007,
hlm.9
38
Mustafa Kamal Rokan, Hukum Persaingan Usaha, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2010, hlm.263
39
Mustafa Kamal Rokan, Op.cit, hlm.10.
40
Mustafa Kamal Rokan, Op.cit, hlm. 263
35
36
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
15
Pancasila dan UUD 1945. Pasal 33 ayat (1) tentang kebebasan berusaha,
ayat (2), dan (3). Dalam konsiderans ditegaskan bahwa tujuan umum yang
hendak dicapai UU Larangan Praktik Monopoli antara lain; ditujukan
untuk mengarahkan pembangunan ekonomi kepada terwujudnya ke­
se­
jahteraan rakyat berda­
sarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945, dan mewujudkan demokrasi ekonomi, serta mencegah pemu­satan
kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu.
Apabila ingin mengetahui apakah ada atau tidak terjadi suatu kasus
persaingan usaha tidak sehat dapat ditinjau berdasarkan hukum bisnis.
Menurut ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1999 terdapat tiga kriteria
penting yang dapat digunakan untuk memenuhi unsur kasus persaingan
usaha tidak sehat, yaitu pertama persaingan usaha yang dilakukan secara
tidak jujur, kedua dilakukan dengan cara melawan hukum, dan ketiga
menghambat terjadinya persaingan di antara pelaku.41 Sementara untuk
menyelesaikan dan mempercepat proses penanganan perkara persaingan
usaha berdasarkan UU No.5 Tahun 1999 mensyaratkan diben­
tuknya
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Komisi bertugas melakukan
penilaian terhadap tindakan-tindakan yang dilarang berdasarkan tiga
kategori yang ada (perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang, dan
posisi dominan).
Selain itu komisi memiliki kewenangan seperti mela­kukan penye­
lidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus-kasus dugaan praktik
monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh
masyarakat atau oleh pelaku usaha dan; Memutuskan dan menetapkan
ada atau tidaknya kerugian di pihak pelaku usaha lain dan masyarakat;
serta menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku
usaha yang melanggar ketentuan undang-undang.42 Oleh karena itu, dari
rumusan di atas dapat dikemukakan bahwa hukum persaingan usaha pada
umumnya merupakan sengketa perdata43
Dalam KUHPerdata (BW) ditemukan pasal yang mengatur
Ibid, hlm. 10
Mustafa Kamal Rokan, Op.cit, hlm. 266-270.
43
Ibid, hlm 267
41
42
16
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
persaingan usaha yaitu Pasal 1365 KUHPerdata (Perbuatan Melanggar
Hukum/PMH) yang menyatakan bahwa “setiap perbuatan yang melanggar
hukum dan mem­bawa kerugian kepada orang lain mewajibkan orang
yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannnya untuk mengganti
kerugian tersebut.” Pasal ini tidak mengatur tentang persaingan usaha secara
khusus. Hanya, karena keluasannya, pasal-pasal perdata itu bisa dijadikan
dasar oleh mereka yang menderita kerugian akibat perbuatan curang di
dalam persaingan usaha. Namun, apabila di dalam kasus persaingan usaha
terdapat persaingan curang dapat juga diproses secara pidana sebagaimana
diatur dalam Pasal 382 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUH
Pidana).
Terkait pembahasan mengenai perusahaan pers atau industri media
massa harus mencegah terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha
yang tidak sehat yang dapat merugikan masyarakat. Menurut ketentuan
umum Pasal 1 UU No.5 Tahun 1999, praktik monopoli adalah pemusatan
kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan
dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu,
sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan
kepentingan umum. Sementara persaingan usaha tidak sehat adalah
persaingan antarpelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan
atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak
jujur dan melawan hukum.
Fenomena di atas telah berkembang dan didukung oleh adanya
hubungan antara pengambil keputusan dan para pelaku usaha, baik secara
langsung maupun tidak langsung, sehingga memperburuk keadaan. Para
pengusaha media yang dekat dengan elite kekuasaan mendapat kemudahankemudahan yang berlebihan sehingga berdampak pada kesenjangan sosial.
Munculnya konglomerasi dan seke­lompok kecil pengusaha media massa
yang tidak didukung oleh idealisme pers sejatinya merupakan salah satu
faktor yang mengakibatkan peran media massa menjadi sangat rapuh dan
tidak mampu bersaing.44
Lihat penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
44
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
17
Dalam penegakan hukum, pengawasan atas pelaksanaan undangundang ini ditangani secara independen oleh Komisi Pengawasan
Persaingan Usaha (KPPU). Berda­
sarkan perintah undang-undang,
KPPU memiliki ke­we­­­nangan antara lain menjatuhkan sanksi tindakan
administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar ke­ten­tuan berupa
pembatalan perjanjian, penetapan ganti rugi, dan mengenakan denda
Rp1.000.000.000 s.d. Rp25.000.000.000 (dua puluh lima miliar rupiah).
Menurut Pasal 44 ayat (5) putusan komisi merupakan bukti permulaan
yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan. Komisi
bertugas melakukan penilaian terhadap tindakan-tindakan yang dilarang
berdasarkan tiga kategori yang ada (perjanjian yang dilarang, kegiatan yang
dilarang, dan posisi dominan). Menurut Pasal 30-37 dinyatakan KPPU merupakan lembaga
independen yang diamanatkan oleh undang-undang, sedangkan keang­
gotaannya diangkat berdasarkan Keputusan Presiden RI No.75 Tahun
1999. KPPU memi­liki tugas dan kewenangan tertentu. Sementara we­
we­nang komisi mencakup antara lain; menerima laporan dari masyarakat
dan atau pelaku usaha tentang dugaan ter­jadinya praktik monopoli dan
atau persaingan usaha yang tidak sehat; melakukan penyelidikan dan atau
pemeriksaan terhadap kasus-kasus dugaan praktik monopoli dan atau
persaingan usaha yang tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau
oleh pelaku usaha, dan; memutuskan dan menetapkan ada atau tidaknya
kerugian di pihak pelaku usaha lain dan masyarakat; serta menjatuhkan
sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang.45
Di kebanyakan negara, warga dan konsumen menerima informasi
yang mereka butuhkan melalui media, termasuk surat kabar dan televisi.
Media bertindak sebagai perantara yang mengumpulkan informasi dan
menyebarkannya kepa­da warga dan konsumen. Simon dkk. menjelaskan,
kepe­milikan media massa adalah bentuk lain dari kontrol dan monopoli
1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
45
Mustafa Kamal Rokan, Op.cit, hlm. 266-270.
18
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
perusahaan media massa yang dapat dimiliki oleh negara atau swasta yaitu
keluarga. Dalam penelitiannya, dikemukakan kepemilikan industri media
massa terbagi dalam tiga kategori yaitu negara, swasta (termasuk keluarga,
yang dimiliki publik secara luas dan karyawan) dan lain-lain. Kepemilikan
memberi bentuk pada informasi yang disampaikan kepada para pemilih
dan konsumen, tetapi dia menegaskan kepemilikan bukan satu-satunya
faktor penentu sajian berita media. Menurut Simon, negara memo­nopoli
pasar media jika pangsa media yang dikuasai pemerintah melebihi 75
persen.
Untuk mewujudkan suatu cita-cita keadilan sosial dan kemakmuran
bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti memerlukan peningkatan pendapatan
masyarakat yang berkeadilan. Monopoli dan monopsoni harus dihindari
atau dikendalikan oleh negara agar tidak merugikan masyarakat, maka
sistem ekonomi harus dapat mengerahkan partisipasi aktif masyarakat luas
dalam kegiatan pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur. Untuk
mengantisipasi era globalisasi itu, agar perekonomian Indonesia dan dunia
usaha di Indonesia bisa “survive” Indonesia harus memiliki nilai kecepatan,
strategi, kewirausahaan, dan persaingan.46
E. Perubahan Ketatanegaraan
Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, kon­stitusi negara
Republik Indonesia mengalami perubahan yang signifikan, terutama di
bidang ketatanegaraan. Salah satu di antaranya adalah terjadinya beberapa
kali amandemen terhadap isi batang tubuh UUD 1945 yang hingga saat
ini telah empat kali diamandemen. Pasal 28 Undang Undang Dasar 1945
menyatakan: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”
Perubahan khusus pada Pasal 28 memberi legitimasi pada kemer­
dekaan pers. Dengan sendirinya, dengan telah diamandemennya pasal
Diskusi Sehari, Perekonomian dan Dunia Usaha Indonesia, Harian Kompas,
Jakarta, tanggal 9 Maret 2004
46
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
19
tersebut menjadi Pasal 28F, otomatis menempatkan aturan itu sebagai salah
satu dasar hukum ketentuan di bidang pers. Pasal 28F ini juga menjadi
payung hukum pers nasional yang berbunyi: “Setiap orang berhak untuk
berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi
dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyim­pan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. ** (Perubahan Kedua
Tahun 2000) Bandingkan dengan isi Pasal 28 sebelum diamandemen.
Perimbangan mengenai segi ideal dan komersial peru­sahaan erat
kaitannya dengan sistem pers yang berlaku di suatu negara, sedangkan yang
menjadi pokok per­masalahan mengenai sistem pers adalah kebebasannya.
Sistem kebebasan itu sendiri merupakan bagian dari suatu sistem yang
lebih besar, yakni hak asasi manusia untuk mengeluarkan pikiran dengan
lisan dan tulisan sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD’45. Memang
secara ter­surat Pasal 28 UUD 1945 tidak menyebutkan “kebebasan pers”,
tetapi secara tersirat kebebasan pers itu tersimpul di dalamnya. Kebebasan
pers (freedom of the press) atau kebebasan mempunyai dan menyatakan
pendapat (freedom of opinion and expression) serta kebebasan berbicara
(freedom of speech) adalah beberapa di antara hak manusia yang asasi. Hak
tersebut memungkinkan manusia tidak diganggu saat menjalani kehidupan
bermasyarakat dan bernegara sebagai warga dari suatu kehidupan bersama.
Istilah kemerdekaan pers dan kebebasan pers, selama rapat-rapat
pembahasan RUU Pers, termasuk persoalan yang mendapat pembahasan
mendalam dan kemudian istilah kemerdekaan pers disepakati sebagai ganti
kebebasan pers.47 Paradigma kemerdekaan pers yang profesional dipakai
untuk menggantikan paradigma “kebebasan pers yang bertanggung jawab”.
Dari aspek konstitusi, kata kemerdekaan pers dinilai lebih sesuai dengan
Undang-Undang Dasar, khususnya Pasal 28 yang menjamin ke­mer­dekaan
47
Laporan Komisi I DPR RI dalam pembicaraan Tingkat IV tentang Rancangan
Undang-Undang Pers, tanggal 15 September 1999. Lihat dalam Wina Armada
Sukardi, Keutamaan di Balik Kontroversi Undang-Undang Pers, Dewan Pers,
Jakarta, November 2007, hlm. 19.
20
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
setiap orang untuk menyampaikan pikiran dan pendapatnya, baik lisan
maupun tulisan. Dari aspek substansi, kemerdekaan pers memiliki makna
yang lebih hakiki karena kemerdekaan adalah hak asasi bagi setiap orang,
termasuk insan pers, yang tidak boleh dirampas. Sementara kebebasan pers,
selain dapat ditafsirkan menjadi kebebasan absolut, bebas nilai, dapat pula
digunakan sebagai pembenaran terhadap kebebasan yang tanpa batas.48
Bagi dunia pers, kata “kebebasan” ataupun “kebebasan berusaha”
juga dijamin oleh UUD 1945, yakni Pasal 28 dan Pasal 33. Di bidang
perekonomian nasional, berdasarkan Pasal 33 dijelaskan:
(1). Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
(2). Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasi oleh negara.
(3). Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemak­
muran rakyat.
(4). Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berke­
lan­
jutan, berwawasan ling­
kungan, kemandirian, serta menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ***
(Perubahan Keempat 2002) (5). Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang. *** (Perubahan Keempat Tahun 2002).
Djuhaendah Hasan berpendapat, pada kata “kese­
jahteraan” di
dalamnya terkandung pula asas pembangunan ekonomi bagi segenap bangsa
Indonesia, tanpa kecuali, baik usaha besar maupun kecil. Hukum bisnis
di Indonesia memperoleh dasar hukum berlandaskan Undang-Undang
Dasar 1945, terutama dalam Pembukaan alinea keempat yang berbunyi:
“….Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
Ibid., hlm.19
48
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
21
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melak­
sanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, per­­­da­maian abadi
dan keadilan sosial…, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia” Landasan hukum pokok lainnya, hukum bisnis
terdapat dalam ketentuan Pasal 33.
Peran kemerdekaan pers dalam pengembangan usaha industri media
massa harus berorientasi pada makna kon­
sepsi negara kesejahteraan,
sebagaimana tersirat dalam Pembukaan UUD 1945. Negara kesejahteraan
yang dimak­sud adalah konsep berdasarkan UUD 1945. Namun, masya­
rakat adil dan makmur yang merata secara material dan spiritual hingga
kini masih merupakan harapan dan cita-cita bangsa. Dalam konstitusi,
cita-cita luhur lainnya yang diamanatkan, yaitu negara melindungi segenap
bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum serta men­cerdaskan
kehidupan bangsa. Selain program mening­katkan kesejahteraan rakyat,
dalam disertasi ini juga dilakukan penelusuran terhadap agenda pemerintah
dalam rangka menciptakan Indonesia yang adil dan demokratis.
Untuk itu, sasaran dan arah kebijakan pemerintah akan men­jamin
pengembangan media dan kebebasan media dalam mengomunikasikan
kepentingan masyarakat.49 Semen­
tara itu, negara bertindak sebagai
regulator dan penye­­dia pelayanan barang dan jasa yang dibutuhkan rakyat
banyak, tetapi tetap menjunjung tinggi hukum (supremasi hukum).50
Kewajiban pemerintah untuk memajukan kese­jahteraan umum secara
tegas dinyatakan sebagai salah satu tujuan pembentukan negara Indonesia
yang tercantum dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Dalam
kaitan dengan paham dan konsep negara kesejahteraan berda­sarkan UUD
1945, perwujudan kesejahteraan bangsa Indonesia merupakan amanat
konstitusi51 yang secara filosofis berlandaskan cita hukum (rechts-idee)
NKRI.
PJPN, Op.cit, hlm. 126
A.V. Dicey, An Introduction to the Study of Law Constitution, Mac Millan &
Co, London, 1959, hlm.50.
51
Pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 dan makna Pasal 33 dan
34 pada batang tubuh UUD 1945.
49
50
22
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Mewujudkan kesejahteraan umum dalam konsep negara ke­
sejahteraan semakin penting, terutama pengembangan peran dan fungsi
industri media massa nasional sebagai sarana komunikasi dalam proses
mencerdaskan bangsa. Namun kenyataannya, menurut kajian disertasi
dalam konsep Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN), pemerintah belum optimal menempatkan industri media massa
sebagai lembaga ekonomi yang strategis, otonom, dan independen dalam
menyejahterakan bangsa.52 Untuk itu apabila ingin mewujudkan Indonesia
yang demokratis dan adil serta berlandaskan hukum dapat dilakukan
dengan memantapkan pelembagaan demokrasi yang lebih kokoh. Hal ini
dapat diwujudkan antara lain dengan mewujudkan komitmen politik yang
tegas terhadap pentingnya kebebasan media massa serta keleluasaan ber­
serikat, berkumpul, dan berpendapat.53
Peningkatan peranan komunikasi dan informasi, menu­
rut RPJP
2005-2025 ditekankan pada pencerdasan masya­­rakat dalam kehidupan
politik. Dalam upaya mem­berikan pendidikan politik dan mencerdaskan
bangsa, media massa dapat melakukannya dengan cara54 sebagai berikut;
(a). mewujudkan kebebasan pers yang lebih mapan, ter­lembaga serta
menjamin hak masyarakat luas untuk berpendapat dan mengontrol
jalannya penyelenggaraan negara secara cerdas dan demokratis,
(b). mewujudkan pemerataan informasi yang lebih besar dengan
mendorong munculnya media-media massa daerah yang independen,
(c). mewujudkan deregulasi yang lebih besar dalam bidang penyiaran
sehingga dapat lebih menjamin pemerataan informasi secara nasional
dan dapat mencegah monopoli informasi,
(d). menciptakan jaringan informasi yang bersifat interaktif antara
masyarakat kalangan pengambilan keputusan politik untuk mencip­
takan kebijakan yang lebih mudah dipahami masyarakat luas.
(e). menciptakan jaringan teknologi informasi dan komu­
nikasi yang
Ibid , hlm.126
Ibid , hlm 113
54
Ibid , hlm. 114
52
53
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
23
mampu menghubungkan seluruh link informasi yang ada di pelosok
nusantara sebagai suatu kesatuan yang mampu mengikat dan mem­
perluas integritas bangsa.
(f ). memanfaatkan jaringan teknologi informasi dan ko­munikasi secara
efektif agar mampu memberikan informasi yang lebih konprehensif
kepada masyarakat internasional supaya tidak terjadi kesalahpahaman
yang dapat meletakkan Indonesia pada posisi politik yang menyulitkan,
(g). meningkatkan lembaga independen di bidang komu­
nikasi dan
informasi untuk lebih mendukung proses pencerdasan masyarakat
dalam kehidupan politik dan perwujudan kebebasan pers yang lebih
mapan.
Hal-hal yang telah diuraikan di atas menunjukkan bukti bahwa
Indonesia merupakan negara kesejahteraan, sedangkan permasalahan
pokok pembangunan nasional dalam RPJM 2004-2009 dikemukakan,
antara lain pada tahun 2003 tercatat masih tingginya jumlah pengangguran
terbuka yakni 9,5 juta jiwa per tahun (9,5 persen). Kese­jahteraan masyarakat
di perdesaan, mencakup sekitar 60 persen penduduk Indonesia, khususnya
petani masih sangat rendah.55
Untuk pembahasan akan diuraikan sistem hukum, peraturan dan
undang-undang berdasarkan Perpres No.7 Tahun 2005 tentang RPJMN
2004-2009. Dalam Perpres tentang RPJMN, pengaruh teori Friedman
sangat tampak pada bagian-bagian awal. Dalam konteks substansi hukum,
terdapat beberapa permasalahan antara lain terjadinya tumpang tindih dan
inkonsistensi peraturan perundang-undangan dan implementasi undangundang terhadap peraturan pelaksanaannya.56
Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang RPJMN Tahun 2004-2009,
Op.cit, hlm 9-17.
56
Lihat Bab 9 mengenai “Pembenahan Sistem dan Politik Hukum” khususnya
pada bagian “Permasalahan” Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun
2004-2009, Log.cit.
55
24
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
F. Kemerdekaan Pers dan Kode Etik
Dalam membedah tentang kemerdekaan pers. Menurut C. Merrill,
yang dimaksud dengan kemerdekaan pers adalah kondisi yang memung­
kinkan para pekerja pers memilih, menentukan, dan mengerjakan tugas
mereka sesuai dengan keinginan mereka. Jadi, kemerdekaan pers mencakup
kebebasan negatif (bebas dari) dan kebebasan positif (bebas untuk).
Dengan kata lain, konsep “bebas dari” seseorang dimungkinkan dan tidak
dipaksa untuk melakukan suatu perbuatan, sedangkan dengan konsep
“bebas untuk” sese­orang dimungkinkan berbuat untuk mencapai apa yang
diinginkan. Dalam perspektif tersebut, kemerdekaan pers berarti kondisi
yang memungkinkan para pekerja pers tidak dipaksa untuk berbuat sesuatu
dan mampu berbuat sesuatu untuk mencapai apa yang diinginkannya.57
Teori kemerdekaan pers atau disebut juga kebebasan pers bertitik
tolak dari pers liberal dan teori tanggung jawab sosial. Disebut demikian
karena inti pemikirannya adalah: “Siapa saja yang menikmati kebebasan
juga memiliki tanggung jawab tertentu kepada masyarakat.”58 Teori baru
ini muncul sebagai reaksi atas teori pers libertarian yang dinilai terlalu
mementingkan kebebasan yang sebelumnya telah berkembang di Amerika.
Dalam perkembangan se­lan­jutnya di era demokrasi industri modern, teori
tang­gung jawab sosial memiliki fungsi-fungsi pers yaitu mencerdaskan
publik, mendukung sistem ekonomi, politik, kebebasan politik, dan hiburan.
Untuk itu, James D. Wolfensohn59 menyatakan penda­patnya bahwa
pers yang bebas itu bukan suatu keme­wahan. Pers menjadi inti dari suatu
pembangunan yang merata, bisa membongkar korupsi, dan mengontrol
kebijakan publik serta memperlancar perdagangan dengan menyampaikan
Ana Nadhya Abrar, Panduan Buat Pers Indonesia, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 1995, hlm 5
58
William L.Rivers dkk, Media Massa & Masyarakat Modern, Edisi Kedua,
Kencana Prenada Media Group, Cetakan Ke-3, Jakarta, 2008, hlm.99.
59
James D. Wolfensohn, Perihal Pers Bebas Kata Pengantar dalam buku Hak
Memberitakan Peran Pers dalam Pembangunan Ekonomi, Seri Studi Pembangunan
World Bank Institute, Terjemahan M.Hamid (ed), PDA Tempo, Jakarta, 2006, hlm.
viii.
57
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
25
gagasan dan inovasi yang melintas batas negara. Kondisi legal dan status
kepemilikan media memang merupakan salah satu ancaman terhadap
kemerdekaan pers, terutama dalam menjalankan fungsinya sebagai pemasok
informasi yang dibutuhkan masyarakat. Apabila media mudah dipidanakan
atau digugat pasal pencemaran nama baik, misalnya, banyak informasi yang
dibutuhkan untuk menegakkan tata kelola pemerintahan yang baik akan
terbenam di bawah permukaan. Demikian apabila kepemilikan media
terkonsentrasi dalam beberapa konglomerat atau dimiliki pemerintah, hal
serupa pasti terjadi.60
Pada tahun 1904 Joseph Pulitzer, pendiri akademi jurnalistik,
mengatakan “Komersialisme memang sah-sah saja bagi koran yang
memang harus hidup ….Namun ko­mersialisme akan menjadi kemerosotan
dan bahaya jika terlalu dipentingkan. Begitu pengelola merasa bahwa
koran­nya semata-mata adalah unit bisnis, saat itu pula kekuatan moralnya
lenyap”. Selanjutnya Pulitzer menga­takan pula bahwa:” Tanpa adanya etika,
koran bukan hanya tak akan mampu melayani kepentingan masyarakat,
tetapi justru akan menjadi bahaya terhadap masyarakat tersebut.”61
Seperti dimaklumi, esensi dari pers bebas adalah tidak diperkenankan­
nya tindakan preventif. Sementara Suardi Tasrif mengatakan, ada tiga syarat
pokok bagi kebebasan pers di mana pun, yaitu; 1. Tidak diperlukannya
izin untuk menerbitkan penerbitan pers, 2. Tidak ada sensor, dan 3. Tidak
ada pemberedelan. Hal tersebut secara jelas ditegaskan dalam Pasal 4 UU
Pokok Pers No. 11 Tahun 1966, yang diubah dan disempurnakan oleh
UU No.4 Tahun 1967 dan UU No. 23 Tahun 1982 yang menetapkan
bahwa “terhadap pers nasional tidak dikenakan sensor dan pemberedelan.”
Ketentuan yang sama juga diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang
Pers yang ditegaskan dalam Pasal 4 ayat (2) bahwa “terhadap pers nasional
tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan atau pelarangan penyiaran”.
60
Bambang Harymurti, Hak Memberitakan, Peran Pers dalam Pembangunan
Ekonomi, Seri Studi Pembangunan World Bank Institute, The World Bank
Washington,D.C., Terjemahan M. Hamid (ed), PDA Tempo, Jakarta, 2006, hlm. vi
61
Ibid , hlm 102-103
26
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Di Indonesia, pemakaian istilah kebebasan pers diganti menjadi
kemerdekaan pers mulai disepakati pada saat proses pembahasan
Rancangan Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers di DPR.62
Istilah “kemerdekaan pers yang profesional” diperkenalkan oleh Fraksi
Persatuan Pembangunan di Komisi I. Paradigma “kemerdekaan pers yang
profesional” dipakai untuk menggantikan paradigma “kebebasan pers yang
bertanggung jawab”. Kedua paradigma ini dinilai memiliki makna yang
sangat berbeda. Dari aspek konstitusi, kata “kemerdekaan pers” dinilai
lebih sesuai dengan Undang-Undang Dasar, khususnya pasal 28 yang
menjamin “kemerdekaan” setiap orang untuk menyampaikan pikiran dan
pendapatnya, baik lisan maupun tulisan.
Dari rangkaian kalimat tersebut terlihat bahwa per­kataan kemerdekaan
pers itu secara tersurat tidak kita temukan dalam UUD 45, karena UUD
45 tidak meng­
gunakan istilah “kebebasan” melainkan “kemerdekaan”.
Menurut penelitian pemakaian istilah “kemerdekaan” itu sesuai dengan
sejarah pembentukannya yakni dalam masa perjuangan kemerdekaan
Republik Indonesia. Selain itu, pers yang memiliki kemerdekaan juga
sangat penting untuk mewujudkan Hak Asasi Manusia (HAM) yang
dijamin dengan Tap MPR Nomor. XVII/MPR/1998 tentang Hak
Asasi Manusia, antara lain yang menyatakan bahwa setiap orang berhak
berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam PBB
tentang HAM Pasal 19 yang berbunyi: “Setiap orang berhak atas kebebasan
mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan
memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan
menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan
dengan tidak memandang batas-batas wilayah”.
Undang-Undang Pers dalam Pasal 6 menyatakan bahwa peran
pers adalah memenuhi hak masyarakat untuk menge­­tahui, menegakkan
nilai-nilai dasar demokrasi men­­dorong terwujudnya supremasi hukum
Wina Armada Sukardi, Keutamaan di Balik Kontroversi Undang-Undang
Pers, Dewan Pers
62
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
27
dan hak asasi manusia; menghormati kebhinekaan, mengembangkan
pen­­dapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar,
melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kepentingan umum, dan memperjuangkan keadilan dan
kebenaran. Dapat dikatakan, peran pers paling dapat dirasakan dan paling
utama yang terhubung secara langsung maupun tidak langsung dengan
peran yang lain adalah dalam melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan
saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Katakata berkaitan dengan kepentingan umum, dapat diterjemahkan sebagai
kinerja pemerintah dalam menjalankan pemerintahan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat sebagai wakil dari rakyat. Pada dasarnya, pers
menjadi semacam alarm atau peringatan dini bagi pemerintah dalam
menjalankan peme­rintahan agar tercipta good governance.
Pemahaman lebih luas tentang kemerdekaan pers dikemukakan
Bagir Manan63 bahwa kemerdekaan pers telah lama diterima sebagai salah
satu pilar bahkan syarat demokrasi. Tanpa kemerdekaan pers, demokrasi
akan semu belaka, karena ada beberapa pilar demokrasi yang tidak dapat
dipisahkan dari kemerdekaan pers, seperti kebebasan mengeluarkan
pendapat, kebebasan berkomunikasi, kebe­basan mencari dan memperoleh
informasi, dan hak menga­
wasi jalannya pemerintahan. “Berbagai hak
atas ke­be­basan di atas dan pengawasan terhadap jalannya peme­rintahan
memerlukan pers yang merdeka. Tanpa pers yang merdeka, hak tersebut
sulit dijalankan secara wajar bahkan sama sekali terbelenggu.”64 Selain
sebagai bagian dari demokrasi, kemerdekaan pers merupakan unsur hak
asasi manusia. Dalam konteks hak asasi manusia, amandemen Bill of
Rights Amendment AS (1791), menegaskan berlakunya larangan membuat
undang-undang mengenai pengaturan pers.
Terkait dengan obyek tulisan ini antara lain peraturan dan
perundang-undangan di bidang media massa buatan Belanda yang sempat
Bagir Manan, Makalah, Op.Cit
Ibid
63
64
28
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
diberlakukan di Indonesia yaitu Ordonansi tentang ”Pers Bredel”. Menurut
Oemar Seno Ajie,65 Persbreidel mengandung suatu larangan terbit,
suatu verschijningsverbod yang dapat diikuti dengan larangan mencetak,
menerbitkan, dan mengedarkan barang cetakan, periodik, apabila larangan
untuk verschijnen (terbit) tersebut tidak membawa hasil yang memuaskan.
Indonesia kini telah memiliki peraturan dan perundang-undangan sendiri di
bidang media massa, sekurang-kurangnya sebanyak 8 (delapan) perundangundangan, yaitu di bidang pers (media cetak), bidang penyiaran (media
elektronik radio dan TV), internet (media online), dan informasi publik.
Kebijaksanaan dalam pengaturan persaingan bisnis yang sehat mem­
punyai tujuan efisiensi secara maksimal. Dalam hukum bisnis, masalah
etika bisnis merupakan hal yang sangat penting karena perkembangan dan
pembangunan bisnis akan berjalan apabila bisnis sebagai suatu kegiatan
ekonomi dijalankan secara fair dan tidak melanggar etika yang dapat
merugikan pihak lain, karena tindakan jahat bukan hanya merugikan diri
sendiri tetapi juga orang lain dalam hidup bermasyarakat.
Mochtar Kusumaatmadja66 menjelaskan, moral sese­
orang yang
didasarkan pada etika disebut otonom, maksud­
nya adalah jika yang
bersangkutan dapat langsung ber­bicara kepada manusia sebagai anggota
masyarakat tanpa berkaitan dengan anggota masyarakat lainnya. Moral
didasarkan atas hati nurani manusia itu sendiri dan memungkinkan
manusia itu untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk atau
disebut etika adalah suatu hal yang mem­bedakan antara sifat manusia dan
hewan. Sekaligus kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan
yang buruk merupakan sumber dari kesadaran berkaidah (Normbewustsein)
manusia, atau heteronom. Sekelompok manusia yang hidup bersama
merupakan masyarakat, kare­nanya berbeda dengan sekelompok hewan.
Oemar Seno Adji, Pembreidelan Surat Kabar Sebagai Kasus, dalam buku
Subagio Pr dkk, Persuratkabaran Indonesia Dalam Era Informasi, Sinar Harapan,
1986, hlm. 257-260
66
Mochtar Kusumaatmadja, B.Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Alumni,
Buku I, Cetakan ke-1, Bandung, 1999, hlm. 26.
65
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
29
Relevan dengan tulisan ini, selayaknya terlebih dahulu dijelaskan
mengenai pengertian konsep Etika dan Kode Etik Profesi. Dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa etika adalah ilmu apa yang baik
dan apa yang buruk, hak dan kewajiban moral (akhlak) atau budi pekerti
atau susila.. Penjelasan lain K. Bertens dalam buku “Etika”67 menyatakan
bahwa moral dari segi etimologi sama dengan etika. Dalam kehidupan
sehari-hari sering tidak bisa dibedakan antara etika dan moral. Secara
harfiah, sebagaimana diartikan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
(KUBI)68 moral adalah ajaran tentang baik-buruk yang diterima umum
mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya.
Etika adalah filsafat moral yang mempelajari feno­mena secara refleks
dan kritis sehingga etika dapat dipan­dang sebagai sarana orientrasi. Franz
Magnis-Suseno69 mengatakan etika adalah pengetahuan, ibarat sarana pen­
carian orientasi di tempat “gelap”. Dalam penaf­siran bebas70 boleh dikatakan
orientasi sangat penting bagi wartawan di lapangan, misalnya reporter yang
sedang men­da­pat tugas liputan ke suatu tempat yang masih asing. Se­ba­
gaimana juga profesi lain, profesi jurnalistik memiliki kode etik yang berisi
norma tentang moralitas bagaimana menjalankan praktik sebagai jurnalis
atau wartawan.
Dengan kode etik ini utamanya diharapkan indepen­densi wartawan
tetap terjaga agar tidak melanggar kepen­tingan umum. Lebih jauh dengan
kode etik dapat juga menjadi motivasi untuk mendorong agar peduli dan
kritis sebagai wujud penghormatan pada hukum dan HAM.71 Batasan
independensi itu diwujudkan dalam bentuk etika dan kode etik profesi.
Ditinjau dari sudut sifatnya, etika umumnya tidak dalam bentuk tertulis,
K.Bertens, Etika, Gramedia, Jakarta, 1993,
KUBI, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Depdiknas, Balai Pustaka.
69
Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar, Pustaka Filsafat, Kanisius, Yogyakarta,
1987.
70
Naungan Harahap, Diktat Kuliah Etika & Regulasi Penyiaran, Fikom PKTA
Unpad,2009.
71
Luhut MP dan Sidik Suraputra, Kode Etik Profesi dari ….., Makalah,
workshop Peradi, Pascasarjana FHUI, Jakarta, 2010.
67
68
30
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
sementara kode etik sudah terulis. Suatu kode etik sifatnya bukanlah sesuatu
yang eksklusif. Dengan demikian, masyarakat juga bisa mengetahuinya,
misalnya melalui program sosialisasi atau diskusi panel.
Kode etik jurnalistik dalam hal ini menjadi salah satu dan yang utama
menjadi barometer profesionalisme wartawan. KEJ menyangkut hati nurani
terdalam wartawan. Rumusan etika profesi jurnalistik merupakan hasil
pergumulan hati nurani wartawan. Pelaksanaannya juga harus dilandasi
dengan hati nurani. Maka pelanggaran terhadap hati nurani profesi
wartawan jelas merupakan sifat yang tercela. Secara prinsip, pelanggaran
terhadap kode etik jurnalistik khususnya bagi wartawan dapat bermakna
merupakan perbuatan yang lebih tercela daripada pelanggaran terhadap
hukum atau perundang-undangan sekalipun.72
Pelaksanaan etika pers secara gamblang dapat dijelaskan terbagi
dalam beberapa tahapan, yaitu pertama menca­
kup mencari informasi
yang baik untuk bahan pemberitaan terutama mengadakan wawancara
dengan sumber berita, kedua adalah ketika wartawan membuat, mengetik,
atau menyajikan informasi. Kedua tahapan tersebut yaitu men­cari dan
menyajikan informasi biasa disebut merupakan proses pracetak atau
prasiaran. Ketiga adalah tahapan per­tanggungjawaban etik dan hukum
kepada hati nurani war­tawan dan publik atas produk berita yang disiarkan.
Hal ini disebut pascacetak/siaran. Proses berita tersebut mulai mencari,
menyajikan, dan tanggung jawab yang merupakan ruang lingkup kode etik
jurnalistik.
Jadi jelas ketaatan wartawan terhadap kode etik tidak cukup sampai
mencari dan menyajikan, tetapi masih ada tangggung jawab etik wartawan
yaitu setelah koran diter­bitkan atau berita foto disiarkan. Proses dan
tahapan itu disebut kegiatan jurnalistik, dan setiap kegiatan jurnalistik
merupakan prinsip dan obyek etika profesi pers yang tidak terbantahkan.
Baik-buruknya informasi yang disiarkan secara etis sangat tergantung pada
Wina Armada, Keutamaan di Balik Kontroversi Undang-Undang Pers,
Dewan Pers, Op.cit hlm 147.
72
Hukum Persaingan Industri
Media Massa dan Kemerdekaan Pers
31
penaatan kode etik jurnalistik oleh wartawan yang mengembannya karena
di dalam­nya melekat tanggung jawab moral profesi.
Bab II
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara
Kesejahteraan
A. Pengertian dan Istilah Media Massa
Mengenai pengertian dan istilah media massa. A.Muis73 memberi
pengertian secara etimologis kata “Pers” (Belanda), “Press” (Inggris), “Presse”
(Prancis) berarti “tekan” atau “cetak” yang berasal dari bahasa Latin, Pressare
dari kata premere (tekan). Definisi terminologisnya ialah “media massa
cetak”, disingkat “media cetak”. Dalam bahasa Belanda Drukpers, atau pers
dalam bahasa Inggris printed media atau printing press, atau press. Istilah
pers sudah lazim diartikan sebagai “surat kabar” (newspaper) atau “majalah”
(magazine), dan sering pula dimasukkan pengertian wartawan di dalamnya.
Media massa juga dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi,
maksudnya menurut Jakob Oetama74, apabila iklan menjadi bagian integral
dari bentuk dan isi media, maka ben­tuk dan kualitas iklan juga tidak
dapat melepaskan diri dari tanggung jawab dan kaidah-kaidah etis yang
melekat pada profesi media. Apa yang disebut creative design, jika orisinal,
kreatif, dan indah, bukan saja memperkuat sam­painya pesan, tetapi juga
memperkaya kesegaran pesan-pesan berita dalam keseluruhan media. Hasil
73
A.Muis, Kontroversi Sekitar Kebebasan Pers: Bunga Rampai Masalah
Komunikasi,Jurnalistik, Etika dan Hukum Pers, Mario Grafika, Cetakan Pertama,
Jakarta, 1996, hlm. 11
74
Jakob Oetama, Op.cit, hlm. 129.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
33
karya yang kreatif mempersyaratkan profesionalisme di bidang periklanan.
Istilah pers telah dikenal oleh masyarakat kita sebagai salah satu
jenis media massa (media komunikasi massa). Banyak yang menyebutnya
“mass media” (bahasa Inggris) yang semestinya disebut “media massa“ dalam
bahasa Indonesia. Misalnya dalam UU Pokok Pers pasal 2 ayat 1 (UU
No.11/1966 jo UU No.4/1967 jo No. 21/1982) digunakan istilah “mass
media”. Biasa pula digunakan istilah media massa cetak, disingkat menjadi
media cetak (printed media). Istilah pers dapat dibagi dalam dua bagian
yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, pers adalah
media massa yang meliputi semua alat komunikasi massa, termasuk film,
radio, dan televisi. Sementara pers dalam arti sempit dibatasi hanya pada
pers cetak saja.75
Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan pers adalah dalam arti luas,
yakni media massa. Sementara menurut perundang-undangan, media
massa adalah salah satu per­usahaan pers nasional, sebagaimana dijelaskan
dalam Pasal 1 ayat (2) UU Pers No. 40 Tahun 1999 bahwa perusahaan
pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers,
meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita,
serta perusahaan media lain­nya yang secara khusus menyelenggarakan,
menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Sementara dalam hukum pers,
yang disebut istilah delik pers sebenarnya bukan merupakan terminologi
hukum, melainkan hanya sebutan umum atau konvensi di kalangan
masyarakat untuk menamai pasal-pasal KUHPidana yang berkaitan
dengan pers. Karena yang sering melakukan pelanggaran atas delik itu
adalah pers, maka tindak pidana itu dikatakan sebagai delik pers.76 Perusahaan pers, baik cetak maupun elektronik, atau disebut juga media
massa secara garis besar dapat dike­mu­kakan bahwa sistem manajemen pers
hampir sama dengan jenis perusahaan yang lain pada umumnya. Organisasi
75
J.C.T.Simorangkir, Hukum dan Kebebasan Pers, Badan Pembinaan Hukum
Nasional, Jakarta, 1980, hlm 3.
76
RH.Siregar, Komariah Sapardjaja (ed), Delik Pers Dalam Hukum Pidana,
Dewan Pers dan Lembaga Informasi Nasional, Jakarta, 2003, hlm. 1.
34
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
manajemennya terdiri atas dua bagian besar yaitu redaksi dan administrasi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bisnis industri media massa sama dengan
kegiatan bisnis di perusahaan-perusahaan lain. Oleh karena itu, akan lebih
baik apabila kita mengetahui pengertian perusahaan pers ber­dasarkan Pasal
1 ayat (2) Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers: “Perusahaan
pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers
meli­­
puti perusahaan media cetak, media elektronk, dan kantor berita,
serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan,
menyiarkan, atau menyalurkan informasi”. Menurut ketentuan Permenpen No. 01/Per/Menpen 1984 perusahaan/
penerbitan pers meliputi badan usaha swasta nasional berbentuk badan hukum,
koperasi, atau bentuk badan usaha milik negara yang menyelenggarakan
penerbitan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertang­gung jawab, serta
mengutamakan sifat-sifat adil dan dikelola secara bersama berdasarkan asas
kekeluargaan. Perusahaan/penerbit pers nasional harus memiliki badan
hukum berbentuk 1. Perseroan Terbatas (PT), 2. Koperasi, 3. Yayasan, 4.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Ketentuan mengenai badan hukum ini ditemukan pula dalam UU No.
40 Tahun 1999 tentang Pers. Pada Pasal 9 dijelaskan bahwa setiap warga
negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers, dan setiap
perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia. Sementara Pasal
10 dan 11 menjelaskan setiap perusahaan pers mem­berikan kesejahteraan
kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham
dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya, dan
investasi penanaman modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui
pasar modal.
B. Landasan Teori
Setiap penelitian senantiasa harus menggunakan pemikiranpemikiran teoritis. Tulisan ini berpijak pada tiga teori hukum:
Pertama, Negara Hukum Kesejahteraan Pancasila (welfare state)
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
35
sebagai grand theory. Teori ini pada intinya menyatakan bahwa negara
berkewajiban mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Negara bertindak
sebagai regulator dan penyedia pelayanan barang dan jasa yang dibutuhkan
rakyat banyak, tetapi tetap menjunjung tinggi supremasi hukum. Negara
Kesejahteraan, Welfare State atau Welvaar Staat merupakan antitesis dari
konsep Negara Hukum Klasik yang dikenal dengan istilah Nachwakersstaat
(Negara Penjaga Malam) yang bertindak aktif, “jemput bola” untuk
mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera sebagai cita-cita bangsa.
Pemerintah hukum negara modern tidak bersikap menunggu atau pasif
dan baru bertindak apabila muncul gangguan terhadap rakyat seperti yang
terjadi di negara-negara dengan konsep negara hukum klasik.
Dalam perspektif negara kesejahteraan (welfare state) dan negara
hukum yang mendapatkan hak-hak asasi ma­nusia dan asas kedaulatan
rakyat (konsumen), kese­jah­te­raan masyarakat suatu negara tidak ditentukan
pada apa yang telah dicapai masyarakat yang lain. Kesejahteraan terletak
pada apa yang telah dicapai masyarakat itu sendiri, dan keseimbangan
pasar yang telah dicapai menentukan tingkat perekonomian suatu negara.
Dalam perkembangan selanjutnya, konsep negara hukum kesejahteraan
telah menggeser pengertian asas legalitas, yang semula bermakna sebagai
pemerintahan berdasarkan undang-undang (wetnatigheid van het bestuur)
menjadi pemerintahan berda­­sarkan atas hukum (rechtmatigheid van het
bestuur), yang kemudian menjadi lebih longgar lagi menjadi doelmatigheid
van het bestuur untuk memberikan ruang kebe­basan bertindak yang lebih luas
oleh pemerintah (peningkatan freies ermessen) guna menyelenggararakan
negara kesejahteraan.
Menurut Jeremi Bentham, ekonomi kesejahteraan merupakan salah
satu komponen inti dari analisis kebijakan terhadap proses kebijakan
dan sekaligus salah satu unsur dalam proses kebijakan itu sendiri. Dalam
hal ini, analisis kebijakan adalah aplikasi teori dan model ekonomi kese­
jahteraan untuk meningkatkan rasionalitas dan efisiensi pembuatan
keputusan. Demikian selanjutnya untuk negara-negara yang bercirikan
36
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
negara kesejahteraan (welfare state). Soal alokasi sumber daya di antara
sektor publik dan swasta menjadi cukup penting, mengingat negara
kesejahteraan juga berkepentingan untuk mencapai kesejahteraan umum
warganya dengan sumber daya yang terbatas. Bukan sekadar menjamin
keamanan swasta untuk mengejar kesejahteraan mereka sendiri. Dalam
keadaan seperti ini, kehadiran ke­tentuan yang secara tegas memisahkan
sumber daya publik dari sumber daya swasta menjadi tidak terhindarkan
untuk meniadakan tumpang tindih alokasi publik-privat yang pasti terjadi
bila tidak ada peraturan tegas tentang itu.
Dalam konsep negara kesejahteraan, negara atau pe­merintah bukan
hanya turut campur dalam kesejahteraan masyarakat, tetapi juga harus
aktif untuk menyejahterakan masyarakat. Untuk itu, diperlukan berbagai
sarana seperti peraturan dan perundang-undangan dan sarana lainnya
sehingga misi mulia tersebut berhasil secara optimal.77 Jimly Asshiddiqie
mengatakan, Indonesia mengadopsi konsep negara kesejahteraan (walfare
state) dari negara-negara maju.78
Menurut Muhammad Hatta, konsep negara kesejah­teraan merupa­
kan kebalikan dari konsep negara kapitalis atau negara polisi atau negara
penjaga malam. Dengan pengertian demikian, masalah pengurusan
kesejahteraaan masyarakat merupakan urusan pasar atau urusan pribadipribadi atau urusan masyarakat itu sendiri.79
Konsep negara kesejahteraan (welfare state, welvaarstaat) merupakan
reformasi dari konsep negara pen­jaga malam (nachtwakerstaat) yang lahir
lebih dahulu. Dalam konsep negara polisi penjaga malam, negara itu
diang­gap sebagai penjaga malam yang hanya bertugas menjaga agar dalam
masyarakat tidak terjadi hal-hal yang menganggu ketertiban. Mengenai
upaya untuk mencapai kesejahteraan sepenuhnya diserahkan kepada
77
imly Asshiddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan
Keempat, Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
2002, hlm. 55
78
Ibid ,hlm.55
79
Ibid, hlm.55
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
37
anggota masyarakat itu sendiri, Negara sama sekali tidak turut campur
di dalamnya. Akan tetapi, kemudian dengan berkembangnya ilmu dan
teknologi serta sebagai dampak negatif dari konsep negara penjaga malam
itu sendiri, mengakibatkan dalam mas­yarakat terjadi berbagai macam
masalah sosial yang memaksa negara/pemerintah harus campur tangan
secara aktif dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Dalam keadaan demikian, negara dianggap sebagai penjaga malam.
Kemudian pemikiran negara sebagai penjaga malam berubah dan diganti
dengan konsep negara kesejahteraaan (welfare state).80 Ketentuan tersebut
me­
ne­
kankan keterlibatan negara secara langsung untuk men­
ciptakan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kon­sep negara kesejahteraaan.
Konsep ini dipopulerkan oleh Presiden AS Franklin Delano Roosevelt
(1933-1945).81 Konsep negara hukum kesejahteraan sering juga disebut
sebagai negara hukum modern dalam arti material. Mac Iver menyebutkan
konsepsi negara kesejahteraan (welfare state) atau negara hukum modern
atau negara hukum material, memiliki cirri-ciri sebagai berikut.82
Dalam negara hukum kesejahteraan yang diutamakan adalah terja­
minnnya hak-hak asasi sosial ekonomi rakyat. Pertimbangan-pertim­
bangan efisiensi dan manajemen le­bih diutamakan daripada pemba­gian
kekuasaan yang ber­orien­tasi politis, sehingga peran eksekutif lebih besar
dari­pada peran legislative, sedangkan hak milik tidak bersifat mutlak.
Uraian di atas menunjukkan bahwa peran negara ditem­patkan pada posisi
yang kuat dan lebih besar dalam menciptakan kesejahteraan umum (public
welfare) dan ke­adilan sosial (social justice). Konsepsi negara hukum modern
demikian, dalam berbagai literatur disebutkan, selain meng­­
hendaki
setiap tindakan negara atau pemerintah harus ber­dasarkan hukum, juga
Man S. Sastrawidjaja, Bunga Rampai Hukum Dagang,Alumni, Bandung,
2005, hlm.2
81
Ibrahim R, Landasan Filosofis dan Yuridis Keberadaan BUMN: Sebuah
Tinjauan, Jurnal Hukum Bisnis, Jakarta, Volume 26 No.1 Tahun 2007, hlm. 10
82
Dikutip dari Abrar, Hak Pengawasan Negara Atas Pertambangan
Berdasarkan UUD 1945, Disertasi, PPS-Unpad, Bandung, 1999, hlm 1.
80
38
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
negara diserahi peran, tugas, dan tanggung jawab yang lebih luas untuk
mensejahterakan rakyat. Dewasa ini, sejumlah Negara di Eropa seperti
Negara-negara Skandinavia, Belanda, Belgia, dan Inggris menganut sistem
Negara kesejahteraan dalam satu bentuk atau lainnya.
Di Indonesia konsep Negara kesejahteraan antara lain dapat
ditemukan dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu alinea kedua dan keempat.
Pada alinea kedua berbunyi:
“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah
kepada saat yang berbahagia dengan sela­mat sentausa, … yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Tercantumnya perkataan adil dan
makmur dalam alinea kedua pembukaan menurut penelitian penulis
menunjukkan bahwa NKRI menganut konsep negara kese­jahteraan. Begitu
pula pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945 juga diketahui bahwa
dibentuknya suatu pemerintah Negara Indonesia bertujuan antara lain
….. untuk memajukan kesejahteraaan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa ……, dengan mewujudkan suatu ke­adilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Selain pada pembukaan, keterangan yang lain tentang negara
kese­jahteraan ditemukan pada batang tubuh UUD 1945 yaitu pada Pasal
33 dan 34 Bab XIV UUD 1945 berjudul Perekonomian Nasional dan
Kesejahteraan Sosial.
Kedua, teori keadilan Pancasila sebagai middle range theory. Sehu­
bungan dengan hal itu, Soerjono Soekanto mengatakan, “Di samping
ketertiban, hukum juga bertu­juan untuk mencapai keadilan yang pada
hakikatnya ber­akar pada kondisi yang pada suatu waktu tertentu di­ingin­
kan oleh suatu masyarakat tertentu.” Pendapat ini da­pat dipahami sebab
unsur keadilan tidak bisa dipisahkan. Hu­kum merupakan perangkat atas
dan kaidah yang men­ja­min adanya keteraturan (kepastian) dan ketertiban
dalam ma­
sya­
rakat. Artinya, unsur keteraturan (kepastian), keter­
tiban,
dan keadilan adalah tiga pilar yang menopang hukum, dan merupakan
roh hukum. Hal itu perlu sekali dipahami bukan hanya bagi kehidupan
masyarakat yang teratur, tetapi juga merupakan syarat penting.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
39
Masyarakat menghendaki kehidupannya aman, ten­te­ram, teratur,
dan terjamin oleh penguasanya melalui pela­yanan hukum, pemberian
hak yang seimbang dengan kewa­jibannya. Dengan kata lain, masyarakat
senantiasa men­cari keadilan. Keadilan yang didambakan oleh ma­syarakat
ada­lah keadilan yang sesuai dengan apa yang dirasakan dan yang berlaku
dalam negara tempat masyarakat itu berada. John Rawls dalam bukunya
A Theory of Justice mengatakan bahwa “Keadilan adalah kebajikan utama
dalam institusi sosial, sebagaimana kebenaran dalam sistem pemikiran, dan
sebagai kebajikan utama umat manusia, kebenaran, dan keadilan tidak bisa
diganggu gugat”.83
Beberapa teori keadilan dikemukakan Aristoteles da­lam bukunya
Etika. Dia membagi keadilan ke dalam dua golongan, yaitu:
1.) keadilan distributif, yaitu keadilan dalam hal pendis­
tribusian
kekayaan atau kepemilikan lainnya pada masing-masing anggota
masyarakat. Terkait dengan keadilan distributif ini, yang dimaksud
oleh Aristoteles adalah keseimbangan antara apa yang didapat (he
gets) oleh seseorang dengan apa yang patut didapatkan (he deserves).
2.) keadilan korektif, yakni keadilan yang bertujuan untuk mengoreksi
kejadian yang tidak adil. Dalam hal ini, keadilan dalam hubungan
antara satu orang dan orang lain yang merupakan keseimbangan
(equality) antara apa yang diberikan (what is given) dengan apa yang
diterimanya (what is received).84
Menurut berbagai referensi di dalam masyarakat modern sekarang,
dikenal adanya teori nilai keadilan menu­rut hukum (legal justice) yaitu
keadilan menurut aturan nor­matif yang ada dan berlaku dalam bentuk
peraturan perundang-undangan. Keadilan sosial (social justice) yaitu
keadilan yang didasarkan pada apa yang ada dan hidup berkembang di
dalam masyarakat meskipun tidak tertulis. Dan, keadilan moral (moral
John Rawls, A Theory of Justice (Teori Keadilan), Pustaka Pelajar, Jogyakarta,
2006, Cetakan I, hlm 3.
84
Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, 2007, hlm
109.
83
40
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
justice) yang didasarkan pada nilai baik atau buruk, benar atau salah
berdasarkan agama yang dianut masing-masing pembuat keputusan yang
diyakini membawa akibat mendapat dosa atau berpahala. Untuk mencapai
keadilan formal harus memenuhi unsur yang berlaku juga bagi suatu
keadilan hukum. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:85
1). Harus ada ketentuan yang mengatur bagaimana mem­berlakukan
manusia dalam kasus-kasus tertentu yang dihadapinya.
2). Ketentuan hukum tersebut harus jelas sasaran pem­berlakuannya.
Dalam hal ini, mesti ada ketentuan yang menentukan apakah aturan
hukum tersebut berlaku untuk orang dalam semua kategori, atau
hanya berlaku untuk kategori orang tertentu saja.
3). Aturan hukum tersebut haruslah diterapkan secara tidak memihak
dan tanpa diskriminasi kepada setiap orang yang memenuhi
kualifikasi pengaturannya.
Agar tercapai suatu keadilan sosial, diperlukan pelak­sanaan prinsipprinsip hukum tertentu. John Rawls dalam teori keadilan mempersyaratkan
dua prinsip keadilan sosial yang sangat memengaruhi pemikiran abad ke20, yaitu prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Paling utama adalah prinsip kebebasan yang sama (equal liberty),
yakni setiap orang memiliki hak atas kebebasan individual (liberty)
yang sama dengan hak orang lainnya.
2. Prinsip kesempatan yang sama (equal opportunity). Dalam hal
ini, ketidakadilan ekonomi dalam masya­rakat harus diatur untuk
melindungi pihak yang tidak beruntung, dengan jalan memberikan
kesempatan yang sama bagi semua orang dengan persyaratan yang
adil.86 Untuk menjaga agar koridor yang akan memberikan arah kebijakan
politik hukum yang bersumber dari cita negara kesejahteraan tersebut dapat
berfungsi dengan baik, pemerintah harus menerapkan suatu asas keadilan
Ibid, hlm 118
Ibid, hlm. 126
85
86
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
41
sehingga kepentingan masing-masing pihak akan terlindungi, bukan
dominasi kepentingan otoriter. Asas keadilan Pancasila akan menciptakan
suatu mekanisme pengawasan, menghindarkan ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan dari satu pihak terhadap pihak lainnya, menegakkan
kemerdekaan pers di tengah persaingan bisnis, menjamin agar pemerintah
dan legislatif dalam melakukan pembaruan hukum yang memberikan
kepastian hukum yang adil dan tertib.
Terkait dengan permasalahan dalam tulisan ini, teori keadilan hukum
bisnis tersebut diperkuat oleh teori dari Aristoteles untuk dapat menganalisis
dan menjawab pertanyaan. Aristoteles, salah seorang murid Plato yang
hidup pada masa teori klasik Yunani Kuno, dikenal sebagai seorang filosof
termasyhur. Dalam tulisannya, Retorika, Aristoteles87 menganjurkan
apabila suatu hukum positif yang berlaku tidak menguntungkan, sebaiknya
lari ke “hukum universal”. Namun, Aristoteles menegaskan hukum positif
harus dimenangkan daripada hukum tidak tertulis. Selain Aristoteles,
tokoh lainnya yaitu Roscoe Pound dan Mochtar Kusumaatmadja termasuk
jajaran tokoh terkemuka yang menekankan pentingnya keadilan dan
kepastian hukum di tengah masyarakat.
Ketiga, applied theory yaitu teori hukum pembangunan oleh Mochtar
Kusumatmadja, yang pada intinya mengatakan bahwa hukum adalah
sarana pembangunan (masyarakat dan bangsa). Bahwa pembangunan pada
hakikatnya adalah perubahan nilai (values) suatu masyarakat, karena itu
mela­lui pembangunan hukum, nilai dan perilaku masya­rakat diarahkan
(diubah) ke arah yang dikehendaki. Meng­ambil makna teori hukum
pembangunan sangat relevan dengan fungsi hukum sebagai pembaru
masyarakat yang diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh Mochtar
Kusumaatmadja setelah menelaah sociological jurisprudence theory dari
Roscoe Pound di Amerika Serikat. Menurut Roscoe Pound, hukum
merupakan institusi sosial yang diciptakan untuk membahagiakan manusia,
memajukan masyarakat.
Prajudi Atmosudirdjo, Log.cit, hlm. 14
87
42
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Fungsionalisasi hukum dalam kehidupan masyarakat sangat
ditentukan oleh lembaga peradilan dalam memutus suatu perkara. Oleh
karena itu, hakim menerapkan tiga tahapan, yaitu menemukan hukum
(menetapkan secara se­lektif aturan atau kaidah mana yang tepat dari
sekian banyak aturan atau kaidah yang ada) dan jika tidak ditemukan maka
hakim dapat menemukannya melalui putusan pengadilan sebelumnya
yang dapat digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, menafsirkan
atau memaknai aturan/kaidah yang ditetapkan terhadap perkara yang
akan diputuskan, dan kemudian menerapkan aturan/kaidah tersebut pada
perkara yang akan diputuskan. Lembaga peradilan (hakim) secara konkret
mengarahkan terjadinya perubahan sosial (social enginering) melalui
putusan-putusannya.
Dalam hal ini, terjadi perbedaan pandangan antara Roscoe Pound
dan Mochtar Kusumatmadja. Perbedaan pendapat kedua tokoh itu
disebabkan oleh masalah dan kondisi sosial di Indonesia tidak sama dengan
apa yang terjadi pada masyarakat Amerika Serikat. Jika Roscou Pound
sangat menonjolkan peranan peradilan maka Mochtar Kusumatmadja
memberikan peranan yang sangat penting pada perundang-undangan. Hal
ini cukup beralasan karena sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia
yang sedang membangun, sehingga semua potensi bangsa diarahkan
untuk mendukung kegiatan pembangunan di segala aspek kehidupan.
Tidak sepertti Pound yang sangat percaya dengan fungsi mekanisme
hukum, Mochtar Kusumatmadja tidak menafikan unsur manusia (aspek
kemanusiaan) dalam memerankan hukum sebagai sarana pembaruan
masyarakat, untuk mewujudkan tujuan hukum menciptakan suatu kondisi
masyarakat yang tertib, teratur, dan demokratis.
Pada intinya, kerangka pemikiran ini berpijak pada pemahaman
untuk mencapai keadilan dalam masyarakat. Diperlukan adanya ketertiban
dan kepastian hukum dalam pergaulan antarmanusia dalam masyarakat.88
Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan,
Kumpulan Karya Tulis, Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan
88
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
43
Mochtar Kusumaatmadja menyatakan bahwa suatu sistem hukum positif
tidak bisa tidak, harus berdasarkan keadilan. Mochtar berpendapat, walau
arti atau makna keadilan itu bisa berbeda-beda dari satu sistem nilai ke
sistem yang lain, tetapi suatu sistem hukum tak dapat bertahan lama
apabila tidak dirasakan adil oleh masyarakat yang diatur oleh hukum itu.
Dengan perkataan lain, ketidakadilan akan mengganggu ketertiban yang
justru menjadi tujuan tatanan hukum. “Ketertiban yang tengah terganggu
berarti bahwa keteraturan dan karenanya kepastian tidak lagi terjamin. Jadi
suatu tatanan hukum tidak bisa dilepaskan dari keadilan”.89
Untuk itu, Mochtar mengatakan perlu dibedakan antara fungsi
hukum dan tujuan hukum. Dalam argumentasinya, dijelaskan bahwa
hukum menjamin keteraturan (kepastian) dan ketertiban. Hal itu bukan
tujuan akhir dari hukum melainkan fungsi hukum, sedangkan tujuan
hukum tidak bisa dilepaskan dari tujuan akhir dalam hidup bermasyarakat
yang memiliki nilai-nilai dan dasar falsafah hidup, yang akhirnya bermuara
pada keadilan. Keadilan adalah sesuatu yang bisa dirasakan dan merupakan
unsur melekat dari hukum sebagai asas dan kaidah yang menjamin adanya
keteraturan (kepastian) dan ketertiban dalam masyarakat.
Tujuan hukum dalam sistem hukum positif Indonesia tidak bisa
dilepaskan dari aspirasi dan tujuan perjuangan bangsa. Dengan perkataan
lain, Mochtar mengkonstatir bahwa hukum di masa proses modernisasi
dan globalisasi makin lama makin lepas dari kehidupan manusia sebagai
makhluk sosial yang berbudaya (de-personalized), sehingga aspek fungsi
hukum menjadi lebih menonjol atau penting daripada aspek tujuan
hukum.90 Mochtar Kusumaatmadja mengatakan hukum diciptakan untuk
menjamin tegaknya keadilan, ketertiban, dan kepastian hukum (K3h).
Tujuan lebih jauh dari hukum adalah mewujudkan kedamaian sejati
di dalam masyarakat.91 Menurut Djuhaendah Hasan, kedamaian sejati
bekerja sama dengan PT Alumni, Edisi ke I, Cetakan ke 1, 2002,hlm. 3-15.
89
Ibid , hlm.52
90
Ibid , hlm. 52-53
91
Djuhaendah Hasan, Refleksi Dinamika Hukum, Log.cit, hlm. 21-22
44
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
akan terwujud bilamana setiap warga masyarakat merasakan ketenteraman
dalam batinnya. Para warga atau masyarakat akan merasa tenteram apabila;
a). Yakin bahwa kelangsungan hidup dan pelaksanaan, termasuk hal
mempertahankan haknya tidak tergantung pada kekuatan; b). Bilamana para
warga merasa yakin, secara bebas dapat menjalankan apa yang diyakininya
secara benar; c). Secara bebas seseorang dapat mengembangkan bakatbakat dan kesenangannya; d). Selalu mendapat perlakuan secara wajar dan
berperikemanusiaan, adil, dan beradab, juga ketika telah melakukan suatu
kesalahan. Secara implisit, tujuan hukum tersebut sudah mencakup tujuan
lain dari hukum yakni mewujudkan keadilan. Kelangsungan ketertiban dan
kedamaian sangat tergantung pada terlaksananya keadilan. Oleh karena
itu, terselenggaranya keadilan adalah sangat esensial dalam mewujudkan
hukum.
Di Indonesia, menurut penulis, pada umumnya media massa, baik
cetak maupun elektronik, menganut asas ke­adilan, kepastian hukum, dan
supremasi hukum, yaitu asas yang melekat pada batang tubuh undangundang tersebut. Pada asas pers nasional dijelaskan asas demokrasi,
keadilan, dan supremasi hukum. Berdasarkan Pasal 2 UU No. 40 Tahun
1999 ditegaskan bahwa kemerdekaan pers adalah satu wujud kedaulatan
rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi
hukum. Asas “bebas dan bertanggung jawab” menjadi salah satu jiwa dari
peraturan “kemerdekaan pers” di Indonesia yang melandasi UU No. 40
Tahun 1999 tentang Pers.
Pengertian yang sama tentang asas keadian dan ke­pastian hukum
juga ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran. Dalam Pasal 2 disebutkan bahwa penyiaran diselenggarakan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Demikian pula
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE) pada Pasal 3 dijelaskan pemanfaatan TI dan transaksi
elektronik dilaksanakan berdasarkan asas kepastian hukum yang dianut
dalam UU ITE. Asas lainnya yang terkandung dalam UU itu adalah asas
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
45
manfaat, sikap kehati-hatian, iktikad baik, dan netralitas teknologi. Prinsip
keadilan, berarti pers dalam memberitakan atau menyiarkan sesuatu
mendatangkan atau mengetengahkan rasa keadilan yang ada di masyarakat.
Tolok ukur dari keadilan dalam suatu kegiatan jurnalistik memang
tidak dapat ditentukan secara pasti, tetapi ada yang disebut dengan ukuran
umum. Sebagai contoh, untuk pemberitaan kegiatan jurnalistik mengenai
sengketa antara pihak A dan pihak B. Standar keadilan yang harus dilakukan
pers adalah memuat pemberitaan setelah memperoleh keterangan dari
pihak A ataupun pihak B (cover both sides). Prinsip keadilan juga memiliki
sisi lain. Banyak terdapat fakta di masyarakat yang belum tentu benar.
Ketika keadaan sebenarnya tertutup oleh fakta, pers diharapkan mampu
membongkar fakta tersebut hingga muncul kebenaran yang sesungguhnya
sehingga ada keadilan dalam masyarakat.
Selain teori pembangunan hukum juga dikenal adadanya teori
pembaruan hukum dari Mochtar Kusumaatmadja, kedua teori ini pada
hakekatnya adalah sama untuk dikembangkan yang dapat digunakan
sebagai teori aplikatif (applied theory). Pada intinya disebutkan bahwa
fungsi hukum adalah sarana pembangunan (masyarakat dan bangsa).
Bahwa pembangunan pada hakikatnya adalah per­ubahan nilai (values)
suatu masyarakat. Dengan perkataan lain tentunya hal ini sesuai atau
merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.92
Mochtar Kusumaatmadja mengatakan, “hukum sebagai kaidah sosial tidak
lepas dari nilai (values) dalam masyarakat, bahkan dapat dikatakan bahwa
hukum itu merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat.93
“Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum
yang hidup (the living law) di dalam masyarakat”. Berarti hukum itu
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, hlm.66.
93
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Masyarakat dan Pembinaan Hukum
Nasional Suatu Uraian tentang Landasan Pikiran, Pola dan Mekanisme
Pembaruan Hukum di Indonesia, Bandung Lembaga Penelitian Hukum Universitas
Padjadjaran dan Binacipta, 1986, hlm.1
92
46
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.94 Dengan perka­
taaan lain, tentunya hal ini sesuai pula atau merupakan pencerminan dari
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Penerapan Teori Pembaruan Hukum adalah tujuan pokok dari
hukum yang apabila hendak direduksi pada satu hal saja yaitu keadilan
merupakan satu prasyarat yang teratur (kepastian). Hukum sebagai sarana
yang penting untuk memelihara ketertiban harus dikembangkan dan
dibina sedemikian rupa, sehingga dapat memberi ruang gerak perubahan.
Bukan sebaliknya, menghambat usaha-usaha pembaruan karena sematamata ingin mempertahankan nilai lama.
Pada hakikatnya pembangunan adalah perubahan nilai (values),
karena itu melalui pembaruan hukum, nilai dan perilaku masyarakat
diarahkan (diubah) ke arah yang dikehendaki.95 Jadi, hakikat dari masalah
pembangunan nasional adalah masalah pembaruan cara berpikir dan sikap
hidup.Tanpa sikap dan cara berpikir yang berubah, pengenalan (introduction)
lembaga-lembaga modern dalam kehidupan tidak akan berhasil. Namun,
dalam menentukan pilihan, nilai-nilai lama-tua dan baru tersebut selalu
diha­dapkan pada berbagai kesulitan dan rintangan terutama jika hendak
memilih nilai-nilai kejujuran, keteladanan, dan heterogenitas masyarakat.96
Hal itu menjadi relevan dengan pendapat Mochtar Kusumaatmadja yang
menyebutkan beberapa sifat yang perlu dalam masyarakat modern97,
misalnya kejujuran (honesty), efisien (efficient), bertepat waktu (punctuality),
keteraturan (orderliness), kerajinan (dilligence), sifat hemat (thrifty), rasional
dalam mengambil putusan, dan kemampuan untuk menangguhkan selera
konsumtif.
Konsepsi hukum sebagai sarana pembangunan yang kemudian
dikenal sebagai Teori Pembangunan atau Teori Pembaruan Hukum pada
Ibid
Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan,
Kumpulan Karya Tulis, Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum Pembangunan
bekerja sama dengan Penerbit PT Alumni, Bandung, 2002, Log.cit, hlm. 15.
96
Ibid, hlm.10-11
97
Ibid
94
95
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
47
pokoknya mengandung tiga prinsip dasar. Pertama, hukum bukan hanya
kaidah/norma tetapi juga merupakan gejala sosial sehingga hukum adalah
pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kedua,
hukum sebagai sarana pembaruan masyarakat sehingga bila semula hukum
memelihara dan mem­pertahankan sesuatu yang sudah ada, dalam pemikiran
ini hukum menciptakan masyarakat yang dikehendaki melalui fungsi
membantu perubahan dalam masyarakat. Ketiga, dalam penerapannya,
perubahan hukum dilakukan berdasarkan skala prioritas mulai dari halhal yang bersifat netral, pribadi dan spiritual, disesuaikan dengan tingkat
kesiapan masyarakat.98
Untuk menjamin serta memperlancar pelaksanaan pem­­­bangunan
nasional, menurut Komar Kantaatmadja, bagi Indonesia hukum berperan
sebagai sarana pembangunan yaitu bahwa hukum harus mampu memenuhi
kebutuhan se­suai dengan tingkat kemajuan serta tahapan pembangunan
di segala bidang.99 Sementara pengertian pembangunan seluas-luasnya,
menurut Djuhaendah Hasan100 adalah meli­puti segala segi dari kehidupan
manusia termasuk kehi­dupan ekonomi. Dalam pembangunan ekonomi
diperlukan dukungan pembangunan hukum. Untuk itu, pembentukan
peraturan baru di bidang hukum bisnis sangat mendesak. Hal itu sejalan
dengan perkembangan ekonomi di era globalisasi yang makin pesat.101
Pembangunan adalah persyaratan penting dari kese­luruhan kondisi
global. Dalam hal ini Lili Rasjidi menga­takan bahwa pembangunan hukum
merupakan suatu per­ma­salahan yang lebih bersifat global daripada sekadar
bersifat lokal. Makna pembangunan bagi negara-negara berkembang
Ibid
Komar Kantaatmadja, Peran dan Fungsi Profesi Hukum Dalam Undangundang Perpajakan, makalah seminar Nasional Hukum Pajak, IMNO-UNPAD,
Juli 1985 dalam Djuhaendah Hasan, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah
Dan Benda Lain Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas
Pemisahan Horisontal, Citra Aditya Bakti, Bandung 1996, hlm.3.
100
Djuhaendah Hasan, Pembangunan Hukum Bisnis, Log.cit, hlm. 1
101
Djuhaendah Hasan, Lihat Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan
Jaminan Lain. hlm.170
98
99
48
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
adalah perjuangan untuk meningkatkan per­
tumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, keahlian, dan
informasi, serta untuk melawan tekanan-tekanan ekonomi dari negara
maju.102 Sesungguhnya hukum harus tampil ke depan, menunjukkan arah,
dan memberi jalan bagi pembaruan.103
Terkait dengan program pembangunan komunikasi, informasi, dan
media massa, selain mempunyai peran yang sangat menentukan bagi
keberhasilan pembangunan sistem politik demokrasi, juga berkaitan erat
dengan upaya men­cerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan bangsa
dimaksud di antaranya meningkatkan peran pers yang berfungsi sebagai
sarana media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan lembaga
ekonomi104, terutama dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat
pembaca, pemirsa, dan pendengar. Namun, keadaan komunikasi sosial
dan politik sering tersumbat antara rakyat dan pemerintah, sehingga hasil
sambung rasa pembangunan sadar hukum yang digelar di desa-desa tidak
berjalan optimal.
Ahmad M. Ramli105 mengatakan, akibat dari informasi hukum yang
terhambat dan telah dirasakan pada saat ini yaitu tidak adanya kepastian
hukum. Hal itu telah mengakibatkan kelemahan dalam kepatuhan publik.
Dalam konteks perdagangan dan perekonomian global, pebisnis Indonesia,
mau tidak mau dan suka tidak suka, menggunakan dan memanfaatkan
eCommerce. Tentunya masalah ini menyangkut pula masalah transfer
elektronik. Mitra dagang dan bisnis Indonesia tentu merasa tidak nyaman
karena merasa tidak terlindungi akibat ketiadaan cyberlaw. Perkembangan
Ibid , hlm. 170
Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam
Pembangunan Nasional , Bandung, Binacipta, 1986, Log.cit, hlm.8
104
Lihat Pasal 3 ayat (1) dan (2) Undang Undang No. 40 Tahun 1999 tentang
Pers
105
Ahmad M. Ramli, Refleksi Dinamika Hukum, Kumpulan Tulisan berjudul
Penguatan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Nasional Guna
Menunjang Grand Design Sistem dan Politik Hukum Nasional, Perum Percetakan
Negara RI, Jakarta, 2008, hlm.508
102
103
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
49
teknologi informasi termasuk internet di dalamnya juga memberikan
tantangan tersendiri bagi perkembangan hukum di Indonesia.
C. Persaingan Usaha Menuju Negara Kesejahteraan
Hukum persaingan usaha dapat dimaknai dengan dua variabel,
yakni hukum dan persaingan usaha. Pemaknaan dimaksudkan agar dapat
dibedakan antara hukum itu sendiri dan persaingan usaha. Hukum adalah
entitas yang sangat kompleks, meliputi kenyataan kemasyarakatan yang
majemuk dan tak henti-hentinya diperdebatkan di kalangan cendekiawan.
Beberapa definisi tentang hukum memberikan pengertian kepada kita
bahwa masyarakat hukum adalah himpunan kesatuan hukum yang terikat
dalam hubungan yang teratur. Budaya hukum adalah tradisi hukum
untuk mengatur kehidupan masyarakat hukum, dan ilmu hukum adalah
penjabaran, pengujian, dan pengembangan teori-teori hukum yang berasal
dari komponen filsafat hukum.
Konsep hukum merupakan garis-garis besar kebijakan hukum yang
dibentuk oleh suatu masyarakat hukum, sedangkan pembentukan hukum
adalah proses perumusan hukum ditentukan konsep hukum. Penerapan
hukum merupakan penyelenggaraan pengaturan setiap hubungan hukum
dalam masyarakat hukum. Evaluasi hukum adalah penentuan kualitas
hukum, menelaah kualitas potensi dan fungsi dari setiap komponen
hukum. Hukum dibutuhkan sebagai sarana pembangunan masyarakat,
juga merupakan transformasi masyarakat menuju struktur organisasi dan
nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang pada saatnya hidup
dalam suasana globalisasi masyarakat dunia.
Hukum harus dimodernisasi agar tidak tertinggal dari perkembangan
ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sebab, jika tertinggal, selanjutnya
hukum tidak mampu berperan optimal dalam mengatur atau memberikan
pedoman kepada manusia dalam berbagai aktivitasnya. Akibatnya, akan
muncul kekacauan (chaos), baik dalam kegiatan ekonomi, politik, sosial dan
budaya. Oleh karena itu, hukum harus selalu diperbarui, disesuaikan dengan
50
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
kondisi dan perkembangan zaman. Kompleksitas hukum menyebabkan
hukum itu dapat dipelajari dari berbagai sudut pandang, seperti lahirnya
UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers (disebut UU Pers) dan UU Nomor
5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat (disebut UU LPMPUTS). Kedua ketentuan perundangundangan tersebut menjadi pokok bahasan penelitian disertasi ini.
Istilah hukum persaingan (Competition Law) sebenarnya lebih
menekankan pada aspek persaingan. Dengan demi­kian, hukum persaingan
merupakan instrumen hukum yang menentukan tentang bagaimana
persaingan itu harus dilaksanakan. Meskipun demikian, hukum persaingan
usaha sangat terkait dengan tiga hal pokok, yaitu (1) pencegahan atau
peniadaan praktik monopoli; (2) menjamin terjadinya persaingan yang
sehat; dan (3) melarang persaingan yang tidak jujur. Francis Fukuyama
pada dekade 1990-an telah memprediksi adanya kecenderungan negaranegara di dunia terhadap pasar bebas. Menurut Fukuyama, prinsipprinsip liberal dalam ekonomi “pasar bebas” telah menyebar dan berhasil
memproduksi kesejahteraan material. Fukuyama berpendapat, untuk
memastikan terselenggaranya pasar bebas tersebut rambu-rambu dalam
bentuk hukum tetap perlu dipatuhi oleh para pelaku pasar. Rambu-rambu
hukum dimaksud adalah termasuk berlakunya hukum persaingan usaha
pada era pasar bebas.
Menurut Khemani, tujuan hukum persaingan usaha yaitu untuk
pertimbangan ekonomi dan nonekonomi. Dalam hukum persaingan
usaha, pertimbangan ekonomi (economic consideration) diharapkan bisa
menciptakan efisiensi ekonomi. Meskipun demikian, tujuan utama hukum
persaingan usaha ada tiga hal, yaitu;
1). Memelihara kondisi kompetisi yang bebas (maintenance of free
competition).
Artinya adalah hukum persaingan usaha ditujukan untuk melindungi
persaingan, bukan melindungi pesaing. Tujuan ini dilandasi alasan
ekonomi (efisiensi dalam persaingan) dan ideologi (kebebasan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
51
yang sama untuk berusaha dan bersaing). Persaingan yang sehat
akan membawa dampak terhadap alokasi dan relokasi sumber daya
ekonomi secara efisien. Prancis dan Jerman tercatat sebagai negara
yang menonjol dalam menjamin kebebasan ekonomi untuk bersaing,
sedangkan Jerman menganggap bahwa kebebasan ekonomi individual
setara dengan kebebasan lain dalam sistem demokratik konstitusional.
2). Mencegah penyalahgunaan kekuatan ekonomi (prevention of abuse of
economic power) dengan tujuan untuk melengkapi tujuan memelihara
kompetisi yang bebas.
3). Melindungi konsumen (protection of consumers). Selama dua dekade
terakhir, Amerika Serikat menem­
patkan tujuan perlindungan
konsumen secara khusus dalam sistem perekonomian negaranya.
Terkait dengan beberapa tujuan utama hukum per­saingan usaha,
bahwa pada hakikatnya hukum ini dimak­
sud­
kan untuk mengatur
persaingan dan monopoli demi tujuan-tujuan yang menguntungkan.
Dalam arti luas, hukum persaingan usaha bukan hanya meliputi pengaturan
per­saingan, melainkan juga soal boleh-tidaknya monopoli, dan juga bisa
digunakan sebagai sarana kebijakan publik untuk mengatur sumber daya
yang dikuasai negara dan yang boleh dikelola oleh swasta. Pada umumnya,
secara substansial hukum persaingan usaha berisi regulasi–regulasi yang
mencakup 3 (tiga) hal, sebagai berikut; 1) ketentuan tentang perilaku
yang berkaitan dengan aktivitas usaha. 2) ketentuan tentang struktural
yang berkaitan dengan aktivitas usaha. 3) ketentuan prosedural tentang
pelaksanaan dan penegakan hukum persaingan usaha. Tindakan-tindakan
yang dilarang oleh hukum persaingan usaha dapat dibedakan menjadi dua
kategori, yaitu tindakan antipersaingan (anticompetition) dan tindakan
persaingan curang (unfair competition practice, unfair methods of competition).
Pengertian lain mengenai hukum persaingan usaha memberi
pemahaman kepada kita bahwa persaingan usaha di Indonesia menganut
asas demokrasi ekonomi. Dalam UU LPMPUTS Pasal 2 dijelaskan, pelaku
usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan
52
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
demokrasi ekonomi, sedangkan tujuan pembentukan undang-undang ini
dalam Pasal 3 ditegaskan adalah untuk; a) menjaga kepentingan umum
dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; b) mewujudkan iklim usaha
yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga
menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku
usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; c) mencegah
praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan
oleh pelaku usaha, dan; d) terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam
kegiatan usaha.
Kemajuan peradaban membawa umat manusia pada kehidupan
universal. Kemajuan teknologi dalam bidang informasi melepaskan
pengetahuan manusia dari batas-batas geografi dan waktu. Media menjadi
pelaku dalam pertukaran informasi yang begitu cepat. Realitas dunia
mewujud, realitas menjadi konstruksi kata-kata media cetak. Terkait
dengan era globalisasi dan pasar terbuka yang sangat kompetitif sekarang
ini, pers nasional terdorong untuk memasuki area sebagai bagian dari
industri komunikasi dan informasi. Untuk itu, peningkatan profesionalisme
dalam pengelolaan perusahaan pers merupakan syarat penting yang
harus diupayakan dan dikembangkan secara berkelanjutan, agar mampu
mengantisipasi tantangan dengan situasi dan kondisi yang berubah cepat,
tetapi tidak kehilangan idealisme dan integritasnya.
Pendekatan terhadap pers dapat dilakukan dari dua sisi. Pertama,
dari sisi pers sebagai lembaga kemasyarakatan, alat perjuangan nasional
yang mengutamakan sifat-sifat ideal. Di sini kita melihat pers itu sebagai
lembaga pembawa pesan-pesan perjuangan nasional demi kepentingan
kesejahteraan dan keadilan sosial. Kedua, kehadiran pers dapat didekati
sebagai suatu perusahaan bisnis sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal
3 ayat (2) UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam konteks ini dapat
pula diambil makna bahwa pers bisa berfungsi sebagai lembaga ekonomi
yang membawa pesan-pesan untuk pembangunan kesejahteraan demi
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
53
kemakmuran masyarakat.
Menurut Pasal 1 butir 2 yang dimaksud dengan per­usahaan pers
adalah badan hukum Indonesia yang menye­
lenggarakan usaha pers
meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita,
serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan,
menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Pengertian lain dalam penje­
lasan dikemukakan perusahaan pers harus dikelola sesuai dengan prinsip
ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para wartawan dan
karyawannya semakin meningkat dengan tidak meninggalkan kewajiban
sosialnya. Mengacu pada ketentuan-ketentuan yang berlaku, pers nasional
dituntut pula untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjadi pers
yang bebas dan sehat, yaitu pers yang merdeka dan bertanggung jawab.
Untuk menjawab tun­
tutan kebutuhan masyarakat, pers menghendaki
adanya ke­
bebasan dan keterbukaan sebagaimana diamanatkan pada
Pasal 28 UUD 1945, yaitu “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan
dengan undang-undang”.
Setelah diteliti, uraian pada Pasal 28 ini ternyata secara tersurat tidak
mencantumkan istilah kebebasan, melainkan secara tersirat mengandung
makna yang merupakan bagian dari kalimat kemerdekaan mengeluarkan
pikiran dengan lisan dan tulisan. Sesuai dengan tuntutan perkembangan
zaman, bahwa konstitusi negara Republik Indonesia meng­alami perubahan
yang signifikan terutama di bidang ketatanegaraan. Salah satu di antaranya
adalah terjadinya beberapa kali amandemen terhadap batang tubuh UUD
1945 yang hingga saat ini telah terjadi empat kali.
Perubahan khusus terdapat pada Pasal 28 yang mem­­beri legitimasi
pada kemerdekaan pers. Dengan sen­
dirinya, diamandemennya pasal
tersebut menjadi Pasal 28F, otomatis menempatkan hal itu sebagai salah
satu dasar hukum ketentuan pers. Pasal 28F ini juga menjadi payung
hukum pers nasional sekaligus paling mendasar terhadap perubahan UUD
1945 hasil amandemen kedua tahun 2000. Pasal 28F berbunyi sebagai
54
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
berikut: “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta
berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyim­pan, mengolah,
dan menyampaikan informasi dengan meng­gunakan segala jenis saluran
yang tersedia”. ** (Perubahan Kedua Tahun 2000). Bandingkan dengan isi
Pasal 28 sebelum diamandemen: “Kemerdekaan berserikat dan ber­kumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan
dengan undang-undang”.
Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara meru­pakan landasan
filosofis dan sumber hukum paling utama yang tak terbantahkan dalam
pengembangan sistem hukum Indonesia. Begitu pula UUD, tertulis dan
tidak tertulis merupakan sumber hukum, sedangkan Pancasila sebagai
pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalam pembukaan adalah Groon
Norm filsafat sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Kelima sila
Pancasila menjadi satu kesatuan yang utuh sekaligus memberi landasan
yang kokoh bagi setiap pengaturan hukum nasional. Pem­ba­ngunan hukum
nasional, baik dalam pembentukan peraturan perundang-undangan
maupun aplikasi program pem­
bangunan masyarakat, tidak dapat
meninggalkan atau mengabaikan arahan konstitusional.106
Hal itu menunjukkan bahwa setiap pembentukan peraturan dan
perundang-undangan jika akan diberlakukan lazimnya tercantum dalam
konsideran, sekaligus merupakan bukti bahwa filosofi peraturan yang
dibuat membentuk suatu sistem hukum berdasarkan Pancasila dan UUD
1945. Jika dirumuskan, landasan pengaturan pengembangan sistem hukum
Indonesia terdiri atas dua unsur pokok yakni konstitusional dan operasional.
Mengacu pada pemikiran bahwa pengembangan sistem hukum merupakan
bagian dari pembangunan nasional, hal ini akan membawa pema­haman
betapa pentingnya landasan operasional dalam membuat konsep prioritas
pembangunan nasional, seperti menyusun program pembangunan hukum
106. Lili Rasjidi., Pembangunan Hukum Nasional, materi kuliah S3 Ilmu
Hukum Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, tgl 2 Januari 2008.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
55
nasional untuk mewujudkan supremasi hukum dan pemerintahan yang
baik.
Untuk menyusun materi sistem pengembangan hukum nasional, ada
dua indikator yang harus dirumuskan yaitu pokok-pokok pembangunan
nasional dan pembangunan hukum itu sendiri yang sangat terkait dengan
pokok-pokok pikiran UUD 1945 sebagai konstitusi yang termuat di dalam
pembukaannya107 sebagai berikut:
1). “Negara” – begitu bunyinya-- “melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan
dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Dalam pembukaan ini, diterima aliran pengertian negara persatuan,
negara yang melindungi dan meliputi sege­nap bangsa, seluruhnya.
Jadi, negara mengatasi segala paham golongan, mengatasi segala
paham per­
seorangan. Negara menurut pengertian “pembukaan”
ini menghendaki persatuan meliputi segenap bangsa Indonesia,
seluruhnya.
2). Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
3). Dalam “pembukaan” tercantum negara yang berke­
d­
aulatan rakyat,
berdasar atas kerakyatan dan per­
mu­
syawaratan perwakilan. Oleh
karena itu, sistem negara yang terbentuk dalam Undang-Undang Dasar
berdasarkan atas kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaratan
perwakilan. Aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia.
4). Pokok pikiran keempat terkadung dalam “pembukaan” ialah negara
berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab. Oleh karena itu, UUD harus mengandung
isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara
negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan
memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.
107. Penjelasan Tentang Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia,
setelah Amandemen Keempat Tahun 2002, GBHN 1999-2004, Pustaka Setia,
Bandung, Cetakan IV Revisi, September 2002, halaman 33-34.
56
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Pada intinya, pokok pikiran pertama menegaskan untuk mewujudkan
stabilitas yang aman, damai dengan menganut aliran filsafat positivisme
tentang hukum alam dari tokoh Grotius. Pokok pikiran kedua mewujudkan
negara kesejahteraan (welfare state), dan pokok pikiran keti­ga yaitu negara
demokrasi serta pikiran keempat meng­anut asas manfaat utilitas. Hasil
amandemen kedua Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) menegaskan
bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini berarti bahwa
negara Republik Indonesia adalah negara yang ber­da­sarkan atas hukum
(rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan (machtstaat). Pemerintahan
dilaksanakan ber­dasarkan konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas). Konsekuensi dari pasal 1 ayat (3)
amandemen ketiga UUD 1945, adalah keharusan adanya tiga prinsip dasar
yang wajib dijunjung oleh setiap warga negara Indonesia, yaitu supremasi
hukum, kesetaraan di hadapan hukum, dan pencegakan hukum dengan
cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum dan seadil-adilnya.
Hukum menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia dalam mengelola
negara, dan ditempatkan pada posisi tertinggi. Hukumlah yang mem­
berikan kekuasaan dan sesuai dengan amanat konstitusi. UUD 1945
sebagai konstitusi bangsa Indonesia yang merupakan dokumen hukum dan
dokumen politik yang memuat cita-cita, dasar-dasar, dan prinsip-prinsip
penyelenggaraan kehidupan nasional. Pasal II aturan tambahan UUD 1945
menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 terdiri atas pembukaan dan pasal-pasal. Pembukaan dan
pasal-pasal adalah satu kesatuan prinsip-prinsip konstitusi yang bersifat
supreme dalam tata hukum nasional (national legal order). Artinya, peraturan
perundang-undangan yang dibentuk kemudian oleh lembaga berwenang
harus berlandaskan prinsip-prinsip UUD 1945 dan tidak dibenarkan
suatu undang-undang memuat prinsip-prinsip yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip UUD 1945.
Di dalam penjelasan UUD 1945, Bab Umum No. III dirumuskan
bahwa: “Pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalam pembukaan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
57
meliputi suasana kebatinan dari UUD Negara Indonesia, pokok-pokok
pikiran ini mewujudkan cita-cita hukum (rechtsidee) yang menguasai
hukum dasar negara, baik hukum yang tertulis (UUD) maupun hukum
tidak tertulis.” Untuk menjelaskannya, kita harus merujuk pada letak sumber
hukum dan tata urutan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Dalam Pasal 2 Tap MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum
dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan, disebutkan bahwa tata
urutan perundang-undangan yang berlaku seca­ra hierarkis di Indonesia
adalah: Tap MPR, UU, Perppu, PP, Keppres, dan Perda. Berkaitan dengan
posisi tertinggi UUD 1945 dalam tata urutan perundang-undangan se­
sung­­guhnya tidak bisa dilepaskan dari fungsinya sebagai konstitusi negara,
(lihat Hans Kelsen dalam “General Theory of Law and State”).
Secara konstitusional, landasan pembangunan hukum nasional
adalah UUD 1945 dan menjadi hukum dasar Indonesia. Pokok-pokok
pikiran hal ini mendapat pengakuan yang tegas dalam Pasal 1 ayat (3)
Bab I, amandemen ketiga Undang-Undang Dasar 1945, menegaskan
bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Artinya bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum
(rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan (machtstaat), dan pemerintahan
berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas). Sebagai konsekuensi dari Pasal 1 ayat (3),
ada 3 (tiga) prinsip dasar yang wajib dijunjung oleh setiap warga Negara,
yaitu supremasi hukum; kesetaraan di hadapan hukum; dan penegakan
hukum dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum.
Dengan demikian, hukum pada dasarnya memastikan munculnya
aspek-aspek positif dari kemanusiaan dan menghambat aspek negatif dari
kemanusiaan. Munculnya gerakan reformasi pada Mei 1998 merupakan
upaya rakyat untuk kembali kepada negara hukum yang sudah dianut
oleh Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan 1945. Ada indikasi pada
era sebelumnya berlaku adagium, politik sebagai “panglima” yang secara
konstitusional hal ini bertentangan dengan UUD 1945. Oleh karena itu,
58
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
era reformasi kembali pada negara hukum yaitu dengan mene­rapkan
sistem hukum Indonesia guna mengatur sistem politik dan ekonomi yang
bernapaskan kitab suci Alquran, Injil, Weda dan lain-lain.
Penerapan hukum yang ditaati dan diikuti akan mencip­
takan
ketertiban dan memaksimalkan ekspresi potensi ma­sya­rakat. Ketiadaan
penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian
masyarakat yang berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan
yang erat antara damai, adil, dan sejahtera. Untuk itu, perbaikan pada
aspek keadilan dalam pembangunan industri media massa nasional akan
memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian. Dalam konteks
pembangunan nasional, dalam RPJMN 2009-2025 ditetapkan bahwa
kesejahteraan rakyat merupakan bagian integral dari pembangunan
tersebut. Pembangunan kesejahteraan rakyat yang dimaksud adalah yang
sejalan dengan pembangunan nasional, meliputi pem­ba­­ngunan kesehatan,
pendidikan, perumahan, perta­
hanan dan keamanan, politik (proses
demokratisasi), hukum, dan sebagainya.
Pembangunan nasional sebagai suatu kebijakan besar (grand design)
sebagaimana diuraikan di atas memerlukan peru­bahan nilai dan sikap
untuk memberikan arah peru­bahan masyarakat yang lebih baik, lebih
teratur, dan lebih tertib dari keadaan masyarakat sebelumnya, Mochtar
Kusumaatmadja mengemukakan bahwa perubahan tersebut harus
dilakukan secara teratur. Pembangunan nasional berdasarkan UndangUndang RI No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.108 UU No. 25 Tahun 2004 menjadi landasan hukum berlakunya
Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN Tahun 2004-2009). Permasalahan
Perpres Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional RPJMN) tahun 2004-2009, Sinar Grafika Cetakan Pertama
Maret 2005, Op.cit hlm 85-101. Berdasarkan Penjelasan UU Nomor 25 Tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. GBHN ditiadakan
sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan Nasional.
108
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
59
dalam penyelenggaraan sistem dan politik hukum nasional pada dasarnya
meliputi substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum.
Untuk mendukung pembenahan sistem dan politik hukum,
pemerintah menetapkan Visi dan Misi Pem­bangunan Nasional Tahun
2004-2009 berdasarkan Perpres No. 7 Tahun 2005 tentang RPJMN
2004-2009,109 dirumuskan dalam 3 visi sebagai berikut; 1) terwujudnya
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun
dan damai. 2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang
menjunjung tinggi hukum, kesetaraan, dan hak asasi manusia, serta 3)
terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja
dan penghidupan yang layak serta memberikan fondasi yang kokoh bagi
pembangunan yang berkelanjutan. 4) dengan misi mewujudkan Indonesia
yang aman dan damai, adil dan demokratis, yang sejahtera.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2004-2009 adalah landasan operasional pem­bangunan nasional yang mulai
berlaku pada Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Dalam penjelasan UU No. 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ditegaskan, ketentuan tentang
GBHN ditiadakan sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan
Nasional. Hal itu merupakan konsekuensi dari amandemen UUD 1945
yang mengatur bahwa Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.
Dengan tidak adanya GBHN sebagai pedoman Presiden untuk menyusun
rencana pembangunan, maka dibutuhkan pengaturan lebih lanjut bagi
proses perencanaan pembangunan nasional.110
Ke depan, penegakan hukum dan hak asasi manusia menjadi
tumpuan penegakan hukum dan hak asasi manusia dengan mengutamakan
agenda pemberantasan korupsi, antiterorisme, serta pemberantasan
penyalahgunaan narkoba dan obat berbahaya. Untuk itu, menurut RPJP
2005-2025 ada 17 kegiatan yang akan dilakukan, antara lain: penguatan
upaya-upaya pemberantasan korupsi, pelak­s­anaan rencana aksi nasional
Buku RPJMN 2004-2009, Sinar Grafika, Maret 2005, Op.cit, hlm.19.
RPJMN, Op.cit, hlm 506
109
110
60
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
hak asasi manusia, pem­berantasan terorisme/narkoba, efektivitas lembaga
hukum, penghormatan persamaan di depan hukum, audit kekayaan
pejabat, penyempurnaan konsep proses hukum yang lebih sederhana/
cepat/tepat dan murah, peningkatan operasional penegak hukum dan
HAM, pembenahan manajemen perkara, transparansi sistem manajemen
perkara dan lembaga hukum, koordinasi dan pembaruan materi hukum,
pengawasan keimigrasian, peningkatan fungsi intelijen dan tindakan
hukum untuk memutus jaringan narkoba.
1. Negara Kesejahteraan Berdasarkan Pancasila
Dalam kaitan dengan paham dan konsep negara kesejahteraan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sebagaimana
yang termuat di dalam konstitusi (pembukaan UUD 1945 alinea
kedua dan keempat), perwujudan kesejahteraan bangsa Indonesia
merupakan amanat konstitusi yang secara filosofis berlandaskan cita
hukum (recht-idee) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini berarti
bahwa setiap peraturan hukum positif, termasuk hukum persaingan
usaha dan hukum pers di Indonesia harus ditarik dari landasan
cita hukum tersebut agar penerapannya bisa menjadikan hukum
yang bermartabat, yaitu hukum yang memperoleh kepatuhan dari
masyarakat. Indonesia dapat digolongkan sebagai penganut negara
kesejahteraan, misalnya dilihat dari tujuan negara Indonesia untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdasarkan kehidupan bangsa
dan keadilan sosial, dan adanya keterlibatan pemerintahan dalam
bidang ekonomi, sosial, dan budaya warga negaranya. Hal tersebut
diatur dalam UUD 45, antara lain Pasal 27, Pasal 28, Pasal 28A, Pasal
28F, Pasal 28J, Pasal 32, Pasal 33 dan Pasal 34.
Prinsip-prinsip filosofi digali dari Pancasila yang telah ditetapkan
sebagai sumber hukum negara (Pasal 2 Undang-Undang Nomor 10
tahun 2004). UUD 1945 sebagai konstitusi negara merupakan sumber
prinsip-prinsip yuridis normatif dan prinsip-prinsip sosiologis.
Konstitusi UUD 1945 digali dari realitas sosial bangsa Indonesia
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
61
dan perkembangan internasional. Cita hukum Pancasila merupakan
landasan filosofis politik hukum pers. Cita hukum (rechtsidee)
merupakan gabungan dua kata, cita (ide) yang berarti ide, gagasan,
rasa cipta, pikiran dan hukum (rechts) yang secara umum diartikan
sebagai suatu aturan yang wajib ditaati oleh masyarakat. Cita hukum
dengan demikian dapat dimaknai sebagai suatu cita mulia yang ingin
dicapai oleh suatu masyarakat atau bangsa yang menjadi pedoman
dalam pembangunan hukum.
Rudolf Stammler mengartikan cita hukum sebagai konstruksi
pikir yang merupakan keharusan untuk mengarahkan hukum pada
cita-cita yang diinginkan oleh masyarakat. Cita hukum berfungsi
sebagai bintang pemandu (leitsern) terhadap tercapainya cita-cita
masyarakat. Meskipun merupakan titik akhir yang tidak mungkin
dicapai, cita hukum memberi manfaat karena cita hukum memiliki
dua fungsi yaitu cita hukum bangsa Indonesia dapat menguji hukum
positif yang berlaku dan mengarahkan hukum positif melalui
sanksi pemaksa agar menuju keadilan (zwangversuchzum richtigen).
Cita hukum bangsa Indonesia berakar pada Pancasila yang oleh
pendiri negara Republik Indonesia ditetapkan sebagai landasan
filsafat. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia yang
mengungkapkan pandangan bangsa Indonesia tentang hubungan
manusia dan Tuhan, manusia dan sesama manusia, serta manusia dan
alam semesta yang berintikan keyakinan mengenai tempat manusia
individual di dalam masyarakat dan alam semesta.
Terkait dengan pemikiran tentang Cita-cita Nasional Menuju
Negara Hukum Pancasila,111 Arief Sidharta mengatakan, dalam citacita nasional tersebut yang ingin diwujudkan adalah terbentuknya
negara hukum Pancasila atau disebut negara hukum demokratik
kesejahteraan. Hal ini akan tercapai pada abad ke-21 apabila mendapat
landasan ideal berupa legitimasi otoritas politik sebagai persyaratan
Arief Sidharta, skema materi kuliah Sistem Filsafat Hukum Indonesia,
Pascasarjana Unpad, 2007.
111
62
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
guna mencapai kesejahteraan rakyat, keadilan, dan kepastian hukum.
Proses ke arah itu merupakan perjalanan panjang secara bertahap
mulai era tatanan politik kolonial Belanda (1908-1928), interregnum
pendudukan Militer-Jepang (1942-1945), periode tatanan politik
Negara Republik Indonesia (1950-1985), dan periode pemantapan
(1993-1995).
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa berarti manusia harus berusaha
sesuai dengan ajaran Tuhan. Sila peri­ke­manusiaan dan kebangsaan
bermakna bangsa Indonesia melihat manusia internasional sebagai
satu umat, satu kesatuan, sejajar dan menentang adanya penjajahan
atas bangsa-bangsa di dunia. Sifat manusia tidak pernah bebas dan
berbeda-beda tetapi kepribadian setiap kelompok dilindungi. “Meski
ter­ikat tetapi ada kebebasan sesuai dengan kepri­ba­dian­nya masingmasing.” Sila keadilan sosial atau sila kese­­jahteraan sosial adalah suatu
masyarakat adil dan makmur, berbahagia untuk sesama manusia, tidak
ada penghinaan, tidak ada penindasan, dan tidak ada pengisapan.
Hubungan lima sila Pancasila merupakan sistem filsafat, bukan
gado-gado yang terpisah. Hubungan lima sila Pancasila dalam
pandangan bangsa Indonesia adalah hubungan filsafat antarmanusia.
Musyawarah dan mufakat adalah cara manusia mencapai jalan hidup
bahagia. Musyawarah dan mufakat dinamakan demokrasi atau
kedaulatan rakyat. Cara musyawarah atau mufakat mengandung
arti: mengakui adanya perbe­daan antarmanusia yang hidup ber­
kelompok dalam mencari jalan menuju hidup bahagia; mengakui
adanya perbedaan dalam kepribadian masing-masing manusia yang
berkelompok; tidak menyatakan pen­dapat salah seorang mendominasi
pendapat orang lain; diamanatkan, pendapat yang berbeda-beda
harus dimusyawarahkan untuk mufakat.
Kepribadian individu, menurut pemikiran bangsa Indonesia,
diakui dan dilindungi. Undang-Undang Dasar di negara-negara
Eropa dan Amerika didasar­
kan pada filsafat pemikiran revolusi
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
63
Prancis; paham individualisme dan liberalisme. Individualisme dan
liberalisme adalah paham yang salah, Bung Karno melarang paham
itu masuk ke dalam UUD RI (rapat BPPKI 15 Juli 1945). Pancasila
menolak paham individualisme atas dasar men are created free and aqual.
Pancasila berjiwa kekeluargaan, sifatnya bersumber pada keluarga.
Jika Pancasila berjiwa kekeluargaan, pandangan bangsa Indonesia
tempat individu dalam pergaulan hidup itu adalah: “kesatuan dalam
perbedaan”, ”perbedaan dalam kesatuan”. Makna “kesatuan dalam
perbedaan”, “perbedaan dalam kesatuan” terdapat dalam isi lima sila
Pancasila yang menjadi jiwa bangsa Indonesia.
Berdasarkan penelitian, dalam sila-sila Pancasila terdapat
prinsip-prinsip “kesatuan dalam perbedaan”, “perbedaan dalam
kesatuan” yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam alam semesta
ciptaan Tuhan terdapat kesatuan dan perbedaan misalnya tanda-tanda
kehidupan, ada hidup ada mati. Sila Perikemanusiaan/Kebangsaan,
umat manusia di dunia merupakan satu kesatuan umat tetapi ada
perbedaan bangsa-bangsa. Sila Musyawarah, Mufakat terkait dengan
cara manusia mencapai kebahagiaan berbeda-beda untuk mencapai
suatu tujuan hidup sejahtera. Sila Keadilan Sosial adalah hubungan
manusia dan individu dalam kelompoknya yang merupakan kesatuan
tetapi padanya terdapat perbedaan raga, rasa, dan rasio.
Gotong royong merupakan makna khas kepri­badian bangsa
Indonesia. Gotong royong adalah paham dinamis, lebih dinamis
dari paham keke­luar­gaan yang statis. Menurut paham Bung Karno,
gotong royong menggambarkan suatu usaha, amal, dan peker­jaan yang
disebut “tolong-menolong”, misalnya koperasi. Menurut penelitian
Prof. Dr Kuntjaraningrat pada masyarakat desa di Jawa Tengah, yang
dimaksud gotong-royong adalah nama kelompok aktivitas manusia
yang timbul pada waktu ada peristiwa kematian, atau kecelakaan yang
menimpa penduduk desa. Kegiatan gotong-royong ini dilakukan
oleh orang-orang yang meru­pakan anggota dari satu kesatuan desa,
64
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
kampung, keturunan karena menyadari mereka anggota kesatuan
dan itu dilakukan secara spontan. Kegiatan gotong royong dasarnya
adalah kekeluargaan yang bermakna: “kesatuan dalam perbedaan”,
”perbedaan dalam kesatuan”.
Ketentuan lain dalam bidang penegakan hukum untuk keadilan
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dijelaskan dalam UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Rumusan pada Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: “Kekuasaan keha­
kiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia”.112
Penegakan hukum dan ke­adilan berdasarkan ideologi bangsa Indonesia
yakni Pancasila mengandung maksud bahwa penye­leng­garaan peradilan
harus diilhami oleh nilai dari sila-sila Pancasila.
Hal itu mengandung beberapa konsepsi nilai di dalamnya dan
harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari113 yaitu nilai ketakwaan,
kesederajatan, keadaban, kebangsaan, kebersamaan, kerakyatan, dan
keadilan. Yang dimaksud dengan nilai-nilai tersebut adalah; (1) nilai
ketakwaan yaitu diharapkan aparat penegak hukum memahami
bahwa mereka harus menghormati sesama manusia sebagai pencari
keadilan yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak ada perbedaan di mata Sang Pencipta. Para penegak hukum
ataupun pencari keadilan harus memer­cayai keberadaan Tuhan Yang
Maha Esa dan wajib menyembah-Nya (bertakwa) tanpa kecuali;
(2) nilai kesederajatan yaitu adanya kesamaan pemahaman bahwa
dalam pelayanan hukum dan keadilan adalah sama dan sederajat,
tidak ada perbedaan kedudukan ataupun status bagi masyarakat
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Modul Pembelajaran
Bidang Studi Pancasila dan Undang-Undang Dasar NKRI 1945, Jakarta 2010, hlm
3.
112
113
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
65
pencari keadilan; (3) nilai keadaban yaitu terciptanya suasana saling
meng­hormati sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang berhak
mendapat keadilan berdasarkan aturan hukum yang ada, tidak adanya
penekanan, pemak­saan ataupun penindasan antarmanusia; (4) nilai
kebang­saan yaitu adanya rasa kebersamaan dan rasa kesera­gaman
dalam penerapan aturan hukum mes­kipun secara geografis negara
Indonesia terdiri atas pulau-pulau yang terpisah dalam berbagai suku
bangsa; (5) nilai kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yaitu adanya
rasa mempunyai kepentingan bersama yang harus dipertahankan;
(6) nilai kerakyatan dan kebijaksanaan yaitu adanya kontrol dan
pengendalian dalam penegakan hukum untuk mencegah terjadinya
dominasi pelayanan suatu kelompok atau segolongan masyarakat
tertentu yang ingin diistimewakan dari yang lain; (7) nilai keadilan
yaitu adanya sasaran akhir dari penegakan hukum menuju terciptanya
keamanan, ketertiban, kemakmuran, kesejahteraan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial. Hal itu tidak hanya untuk kepentingan seluruh
rakyat dan seluruh bangsa Indonesia di dalam negeri, tetapi juga bisa
dirasakan pula oleh bangsa lain di dunia internasional sejalan dengan
tujuan negara kita yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
2. Aspek Moral dalam Persaingan Usaha
Perilaku pelaku usaha industri media massa bila dikait­
kan
dengan teori etika akan memberi wawasan dan pedoman dalam
pengambilan keputusan bisnis ketika pelaku usaha dihadapkan
pada situasi yang memiliki dimensi moral, seperti memahami dan
me­
mengaruhi keputusan-keputusan atau perilaku dari pesaing,
konsumen, dan pemerintah. Dalam teori etika Barat, etika dipecah
menjadi dua kategori, teleological dan deontological. Teori teleological
mendasarkan peng­
ambilan keputusan moral dengan pengukuran
hasil atau konsekuensi suatu perbuatan, sedangkan teori deontological,
menentukan etika dari suatu perbuatan berdasarkan aturan atau
66
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
prinsip yang mengatur proses pengambilan keputusan. Etika dalam
perusahaan disebut etika bisnis.
Etika bisnis bagi para pelaku usaha merupakan hak dan kewajiban
untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan mekanisme kaidah
yang disepakati bersama. Menurut Djuhaendah Hasan, kesadaran
hukum pelaku bisnis mempunyai peran dalam menumbuhkan
bisnis yang berbudaya. Namun, kesadaran hukum ini harus merata
di antara para pelaku bisnis, para eksekutif, dan juga para birokrat.
Djuhaendah menunjukkan faktor lingkungan berperan besar agar
budaya bisnis yang baik dan sehat tetap terpelihara dan tidak menim­
bul­kan perilaku bisnis yang melanggar etika. Bisnis yang berbudaya
tinggi akan menunjukkan jati diri bangsanya di mata internasional,
dan berdampak terha­dap perkembangan ekonomi nasional.
Tatanan pengaturan yang berkeadilan sosial ber­
dasar­
kan
Pancasila yang bersifat sui generis didasar­kan keseimbangan, kese­
rasian, dan kesejarahan. Adanya suatu tatanan khusus yang dibentuk
jangan sampai merugikan salah satu pihak serta keluar dari budaya
sebagai cita bangsa, yang dapat menyelaraskan, men­capai keserasian
serta keseimbangan. Suatu perundang-undangan berdasarkan
keadilan Pancasila yang memi­liki jiwa keselarasan, keserasian, dan
keseim­bangan akan sangat melindungi bisnis industri media massa
dari ketidakadilan pihak-pihak yang tidak bertang­gung jawab, tanpa
memperhatikan aspek moral dan ekonomi.
Keadilan Pancasila harus menjadi acuan dalam melin­dungi
kemerdekaan pers dan industri media massa. Dengan demikian, berarti
perlindungannya harus mengutamakan tujuan menyejahterakan
masya­­rakat Indonesia. Masyarakat setempat sebagai pemi­lik harus
dilindungi haknya, dikembangkan serta tetap dipertahankan
kreativitasnya agar maju dan man­faatnya dapat dirasakan oleh semua
pihak.Pembe­rian perlindungan bagi pers dan industri media massa
dalam suatu aturan khusus dan tersendiri (sui generis) memang
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
67
perlu segera dilaksanakan agar karya-karya intelektual masyarakat
dan bangsa Indonesia men­dapat kepastian hukum. Hal tersebut
merupakan suatu upaya pembaruan hukum dalam sistem hak keka­
yaan intelektual yang sudah ada saat ini.
Perlindungan bisnis dan industri media massa dila­kukan melalui
pengaturan yang bersifat sui generis harus memperhatikan tiga hal
yaitu; pertama, peraturan tersebut harus memenuhi syarat filosofis
artinya harus berdasarkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia,
ideologi negara, dan pandangan hidup bangsa Indonesia, juga sumber
dari segala sumber hukum yang ada di Indonesia. Kedua, per­aturan
sui generis tersebut harus memenuhi syarat yuridis artinya peraturan
tersebut harus dibuat oleh pemerintah bersama dengan dewan
perwakilan rakyat sebagai representasi rakyat dan pemilik pengetahuan
jurnalistik dan ekspresi pers nasional. Kedua pihak itu harus sejalan
dalam menentukan kebijakan terkait dengan pengetahuan jurnalistik
dan ekspresi pers nasional. Ketiga, peraturan sui generis tersebut harus
memperhatikan syarat sosiologis artinya peraturan tersebut dibuat
karena adanya kebutuhan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Indonesia.
3. Pembangunan Hukum dalam Persaingan Usaha
Dalam persaingan usaha, etika bisnis pembangunan hukum juga sangat
penting. Hukum bisnis dibutuhkan sebagai sarana pembangunan
masyarakat, dan meru­pakan transformasi nilai-nilai kehidupan ber­
bangsa dan bernegara dalam suasana globalisasi masya­ra­kat dunia.
Pembangunan hukum dimaksud adalah UUD 1945 sebagai landasan
konstitusional pemba­
ngunan nasional. Menurut Mohd Yamin,
lambang “Bhinneka Tunggal Ika” artinya sama dengan seloka dalam
bahasa Latin: E pluribus unum berarti bersatu walaupun berbeda.
Lambang RI menunjukkan isi jiwa Negara RI yang disebut jiwa
kekeluargaan yang sampai sekarang tercantum dalam Pasal 33 UUD,
68
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
berbunyi “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
asas kekeluargaan.”
Usaha bersama menunjukkan adanya kelompok manusia yang
didasarkan pada asas kekeluargaan, dan pengertian kekeluargaan
dipakai juga dalam organisasi secara kekeluargaan. Dengan perkataan
lain, untuk menyusun konsep pembangunan hukum nasional selalu
terkait dengan dua hal pokok yaitu politik hukum pemerintah dan
tujuan hukum itu sendiri, serta sifat hukum. Mochtar Kusumaatmadja
mengatakan, tujuan hukum adalah tercapainya ketertiban, keadilan,
dan kepastian hukum (K3H), sedangkan menurut teori utility
( Jeremy Betham) dan teori etis (Aristoteles) tujuan hukum adalah
hal apa yang ingin dicapai. Betham mengatakan, hukum itu berusaha
memberikan kebahagiaan/manfaat/kegunaan yang sebesar-besarnya
kepada sejumlah manusia yang sebanyak-banyaknya. ”The greatest
happinness for the greatest number”.
Titik berat tujuan hukum adalah kegunaan atau faedah. Aristoteles
mengatakan hukum itu semata-mata menghendaki keadilan. Keadilan
distributif (keseimbangan) dan kumulatif (kesamaan) dan titik berat
tujuan hukum adalah keadilan. L.J.Van Apeldoorn mengatakan, tujuan
hukum itu mengatur per­gaulan hidup damai dan adil, sedangkan
Van Kan mengatakan hukum bertujuan menjaga kepentingan tiaptiap manusia supaya kepentingan itu tidak diganggu. Sementara itu,
Mochtar Kusumaatmadja menga­takan, fungsi hukum adalah sarana
untuk men­ciptakan K3H dan hukum sebagai sarana pemba­ruan/
pembangunan masyarakat, dalam konsep “teori hukum pembangunan”.
Hukum adalah tatanan dan kesatuan yang utuh, terdiri atas bagian atau
unsur yang saling berkaitan erat. Hukum mempunyai fungsi sebagai
sarana kamtibmas dan stabilitas nasional.
Soedikno Mertokusumo (1995) mengatakan, sistem hukum
adalah satu kesatuan terdiri atas unsur yang mempunyai interaksi dan
bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut. Sistem hukum
terdiri atas unsur peraturan (norma), asas, dan penger­tian hukum.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
69
Sistem hukum berkembang sesuai dengan perkembangan hukum.
Pandangan arti atau nilai yuridis akan memengaruhi perkembangan
sistem. Sunaryati Hartono (1991) mengatakan, sistem hukum nasional
adalah keseluruhan tata hukum nasional yang wajib bersumber pada
Pancasila dan UUD 1945. Bagi Negara yang berlandaskan hukum,
kesiapan sistem hukum nasional sangat penting.
Mengenai komponen sistem hukum nasional, menurut
Sunaryati Hartono, ada 17 yaitu filsafat hukum nasional, perundangundangan hukum nasional, yurisprudensi, hukum kebiasaan, aparat
penegak hukum, profesi hukum, aparat pelayanan hukum, lembagalembaga hukum, pranata-pranata hukum baru, kesadaran hukum
masyarakat, sistem dan metode pendidikan hukum, penelitian hukum,
ilmu hukum nasional, informasi hukum, perencanaan hukum, sarana
dan prasarana penunjang, dan sumber dana. Selain itu, komponenkomponen sistem hukum mencakup masyarakat hukum, budaya
hukum, ilmu hukum, konsep hukum, pembentukan hukum, bentuk
hukum, penerapan hukum, dan evaluasi hukum.
D. Demokrasi dan Kemerdekaan Pers Mewujudkan
Kesejahteraan
Secara intuitif para pakar telah lama yakin tentang adanya korelasi
positif antara demokrasi, kemerdekaan pers, pertumbuhan ekonomi, dan
pembangunan kesejahteraan masyarakat. Bahkan peraih Anugerah Nobel,
Amartya Sen, dalam penelitiannya Development as Freedom114 membuktikan
adanya kaitan antara kemerdekaan pers dan keberhasilan upaya pencegahan
wabah kelaparan. Hasil penelitian ini kemudian menginspirasi Bank
Dunia yang melihat persoalan kemerdekaan pers adalah masalah bisnis
dan bukan semata-mata berada di ranah politik dan demokrasi seperti
pandangan sebelumnya.
Bambang Harymurti, Hak Memberitakan, Peran Pers dalam Pembangunan
Ekonomi, Kumpulan Tulisan Buku, Tempo dan The World Bank, 2006, hlm. v-vii
114
70
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Perubahan pandangan Bank Dunia mengenai kemer­dekaan pers
memiliki dampak besar terhadap penyusunan strategi pembangunan
ekonomi di seluruh dunia. Sebab, sejak masalah pers diakui sebagai persoalan
ekonomi, berbagai institusi internasional di bidang ekonomi mulai menyusun
perencanaan dan menjalankan program terkait dengan kehadiran konsep
kemerdekaan pers sebagai bagian dari upaya pembangunannya. Karena itu,
dalam strategi pembangunan yang efektif, menurut James D.Wolfensohn115,
penyampaian informasi dan transparansi merupakan unsur utama yang harus
ada. Pers bebas bukan suatu kemewahan, pers menjadi inti pembangunan.
Media bisa membongkar korupsi dan mengontrol kebijakan publik serta
mengkritisi pemerintah
Pentingnya peran pers dalam strategi pembangunan, misalnya dalam
memberantas kemiskinan, pemerintah harus membuka akses kebebasan
informasi dan mening­katkan kualitas informasi. Rakyat yang memperoleh
infor­masi yang lebih banyak akan mampu membuat pilihan yang lebih
baik. Di samping itu, fakta-fakta menunjukkan melalui penyampaian
gagasan dan inovasi, Pers bisa mem­perlancar perdagangan lintas negara.
Demikian pula dalam pembangunan kesejahteraan manusia, peran media
sangat penting dengan menyampaikan informasi kesehatan dan pendidikan
sampai ke desa-desa terpencil. Pengertian pem­bangunan kesejahteraan
manusia116 dalam tulisan ini maksudnya adalah sosial ekonomi mencakup
pendidikan, kesehatan, pekerjaan, pendapatan, pajak, asuransi, dan pensiun.
Edmun menekankan negara kesejahteraan memi­
liki tanggung jawab
mempersiapkan hidup sejahtera bagi warganya dan memberi jaminan hari
tua untuk masa depan.
Dalam sistem negara modern, tujuan demokratisasi dan kemerdekaan
pers dapat diartikan sebagai sarana menuju negara kesejahteraan. Mochamad
115
James D. Wolfensohn, President The World Bank Group (1995-2005),
Perihal Peran Pers Bebas, Tulisan dalam Hak Memberitakan, Peran Pers dalam
Pembangunan Ekonomi, Tempo dan The World Bank, 2006, hlm.viii-ix
116
Edmun Conway,50 Gagasan Ekonomi yang Perlu Anda Ketahui, Erlangga,
2010, hlm.146-150
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
71
Hatta mengatakan, Indonesia dapat digolongkan sebagai penganut negara
kesejahteraan. Hal itu, misalnya, dilihat dari tujuan negara Indonesia yaitu
memajukan kesejahteraan umum, men­cerdaskan kehidupan bangsa dan
keadilan sosial. Adanya keterlibatan pemerintahan dalam bidang ekonomi,
sosial, dan budaya merupakan upaya mengelola sumber-sumber kekayaan
negara untuk kepentingan publik.
Demikian pula dalam konteks paham kebangsaan, gagasan “empat
pilar” kehidupan bernegara (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika,
dan NKRI) demokrasi dan kemerdekaan pers tidak bisa dipisahkan dalam
proses pembangunan bangsa. Yang dimaksud dengan nilai kebang­saan
yaitu adanya rasa kebersamaan dan rasa kese­ragaman dalam penerapan
aturan hukum, meskipun secara geografis negara Indonesia terdiri atas
pulau-pulau yang terpisah dalam berbagai macam suku bangsa. Sementara
nilai kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yaitu adanya rasa mempunyai
kepentingan bersama yang harus dipertahankan.
Mochamad Isnaeni Ramdhan117 melalui tulisannya bertajuk
“Penegakan Pembukaan UUD 1945, Langkah Nyata Mempertahankan
Kehidupan Bernegara” mengatakan, menjalankan fungsi-peran pers dan
kemerdekaan pers dalam alam demokrasi akhir-akhir ini menimbulkan
per­
masalahan. Keadaan ini perlu diantisipasi dengan mene­
gakkan
kembali nilai-nilai Pembukaan UUD 1945. Bebe­rapa gejala atau fakta
penyimpangan dan memudarnya implementasi nilai-nilai 4 pilar kehidupan
bernegara telah terjadi dalam menjalankan fungsi dan perannya di alam
demokrasi. Bahkan di bidang media, format pers dewasa ini yang dikuasai
oleh kalangan elite partai politik ikut meramaikan pembangunan karakter
dan citra bagi pemilik media massa, seraya membunuh karakter lawan
politik. Dalam suasana pers seperti ini, objektivitas tidak lagi menjadi nilai
pemberitaan, dan kecerdasan bangsa makin tertinggal.
Mochamad Isnaeni Ramdhan, Penegakan Pembukaan UUD 1945, Langkah
Nyata Mempertahankan Kehidupan Bernegara, lihat Krisna Harahap, Pemeriksaan
Tipikor Yang Mendua di MA, Grafitri Budi Utami, 2011, hlm.266-269.
117
72
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Ketika modal dan kekuasaan mengepung media massa, kalangan
industri media massa lebih menyerupai “pedagang”, mengendalikan pers
dengan memanfaatkan kepe­milikan saham atau modal untuk mengontrol
isi media. Apabila dikaji, banyak teori yang mencoba menjelaskan
keterkaitan antara sistem kapitalis dan institusi media massa. Menurut
Gordon, sebagaimana dikutip Rahayu, ada tiga hal penting yang dapat
digunakan sebagai patokan untuk mengidentifikasi karakteristik suatu
industri. Ketiga hal tersebut berkaitan dengan customer requirements,
competitive environment, dan social expectation.118 Dijelaskan, customer
requirement merujuk pada pengertian harapan konsumen tentang produk
yang mencakup aspek kualitas, diversitas, dan ketersediaan; competitive
environment merupakan ling­kungan persaingan yang dihadapi perusahaan.
Semen­tara social expectation berhubungan dengan tingkat harapan
masyarakat terhadap keberadaan industri.
Secara filosofis, negara kesejahteraan berlandaskan pada cita hukum
(recht-idee) Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana termaktub
dalam konstitusi (pem­bukaan UUD 1945 alinea kedua dan keempat). Ini
berarti bahwa setiap peraturan hukum positif, termasuk hukum persaingan
usaha dan hukum pers di Indonesia harus ditarik dari landasan cita hukum
tersebut agar penerapannya menjadi hukum yang bermartabat, yaitu
hukum yang memperoleh kepatuhan dari masyarakat. Hal tersebut diatur
dalam UUD 45. Untuk itu, upaya mewujudkan kesejahteraan bersama bagi
bangsa Indonesia merupakan amanat konstitusi yang tak terbantahkan.
Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, ditinjau dari aspek konseptual
(idea) pada nilai-nilai pembukaan konstitusi dimaksud terkandung makna
filosofi bangsa yang saling terkait.
Relevan dengan judul disertasi ini, penulis membatasi pembahasan
mengenai nilai-nilai pembukaan Pancasila, agar analisisnya lebih fokus
pada pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan, yaitu
118
Rahayu, Analisis Dampak Pergeseran Karakteristik Industri Pers pada
Strategi Perusahaan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal
Komunikasi, Vol.V/Oktober 2000, hlm.38.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
73
alinea kedua dan keempat saja terkait dengan materi tentang demokrasi,
kemerdekaan pers, dan negara kesejahteraan. Sebagaimana dikemukakan
pada aline kedua, mampu menjaga tekad untuk tetap merdeka, bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur agar mampu berdiri kokoh menjadi suatu
negara merdeka yang membutuhkan persatuan segenap komponen bangsa
menuju masyarakat adil dan makmur. Pada alinea keempat, dijelaskan mampu
menjalankan tujuan negara untuk melin­dungi segenap bangsa Indonesia,
artinya pemerintah harus mampu menjaga, memelihara, mengurus semua
kekuatan sumber daya alam, ekonomi, manusia dari intervensi kepentingan
asing yang merugikan bangsa Indonesia, dan memajukan kesejahteraan
umum dan gotong royong. Di bawah koordinasi pemerintah, negara
mewujudkan kesejahteraan bersama, dan pemerintah wajib berupaya
mencerdaskan kehidupan bangsa, kecerdasan ekonomi, kecerdasan sosial,
kecerdasan budaya, kecerdasan hankam, dan kecerdasan beragama.119
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa independensi media bisa
rapuh dan mudah terkompromikan. Di satu sisi, pemerintah sering
membelenggu media dan melakukan kontrol demi berbagai kepentingan
pribadi yang kuat. Di sisi lain, hal ini telah membatasi kebebasan
penyampaian informasi. Sementara untuk mendukung pembangunan,
media perlu lingkungan yang baik, dalam arti memiliki kebebasan,
kemampuan yang menyejahterakan.120
Penelitian Roumeen Islam121 menarik dipaparkan dalam tulisan ini.
Dia mengkritisi hubungan antara kemerdekaan pers dan demokrasi. Islam
menjelaskan pada umumnya negara-negara yang demokratis juga memiliki
pers yang bebas. Namun, ia mempertanyakan apakah media bebas yang
menumbuhkan demokrasi, atau demokrasi yang mengembangkan media
bebas. Jelas, dua-duanya bisa terjadi, hanya tingkat demokrasi serta
kebebasan media berbeda-beda derajatnya. Sesama negara demokratis,
tingkat kebebasan medianya tidak sama, dan di antara negara-negara
Ibid
Ibid
121
Op.cit, Roumeen Islam, Apa Yang Diberitakan Media dan Mengapa,hlm 2-3
119
120
74
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
yang relatif sama-sama tidak demokratis pun terdapat toleransi terhadap
kebebasan media sampai batas tertentu. Dia mengambil contoh dua negara
demokratis Rusia dan Amerika Serikat, memiliki sikap yang berbeda
terhadap media dan konsep kebebasan media. Misalnya, di suatu negara
demokratis jenis liputan tertentu dibatasi sementara di negara demokratis
yang lain dibebaskan, seperti berita-berita ekonomi mungkin tidak kenal
peraturan seketat yang dikenakan terhadap berita-berita politik.
Dalam masyarakat demokratis, warga mempunyai hak asasi untuk
mengetahui dan mengeluarkan pendapat, dan mendapatkan informasi
dari pemerintah mengenai apa dan mengapa yang dilakukan pemerintah
serta mem­
persoalkannya. Masyarakat demokratis memiliki anggapan
yang kuat mengenai perlunya transparansi dan keterbukaan pemerintah.
Hal itu sudah berlangsung lama. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Swedia
mengeluarkan undang-undang yang – pertama di dunia -- menekankan
pentingnya tranparansi dalam wilayah publik (public domain).
1. Pers Pilar Demokrasi
Pada awalnya, pemerintahan yang demokratis dito­pang oleh tiga pilar
utama yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam perkembangan
demokrasi selanjutnya, pers memainkan perannya memosisikan diri
sebagai pilar keempat dalam kehidupan negara bersama pemerintah
yang demokratis. Fungsi utama pers selaku pilar keempat demokrasi
adalah kemam­puan untuk melaksanakan fungsi kontrol sosial bagi
ters­elenggaranya pemerintahan negara yang demok­ratis. Selaku pilar
keempat demokrasi, pers tidak berdiri sendiri. Pers adalah bagian
atau subtansi dari sistem demokrasi dalam pemerintahan negara
yang demokratis yang ditegakkan, diperkuat, dan dito­pang bersama
dengan tiga pilar demokrasi lainnya. Dengan prinsip pers sebagai
pilar keempat demokrasi, haki­katnya pers merupakan satu kesatuan
kekuatan bersama eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Meskipun secara eksplisit tidak disebutkan pers menjadi pilar
demokrasi, fungsi pers sebagai alat kontrol kekuasaan dan masyarakat
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
75
pada dasarnya identik dengan latar belakang lahirnya ”trias-politika”,
suatu teori atas pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan
yudikatif yang termasyhur dari Montesquieu, media massa sebagai
alat untuk mengontrol kekuasaan eksekutif atau raja yang sewenangwenang. Bahkan, pers sebagai pilar keempat demokrasi itu bukan
merupakan hal baru. Istilah tersebut sudah lahir sejak zaman John
Lockc pada abad ke-18 mengenai kebebasan mengeluarkan pendapat
melalui keempat pilar yang bekerja sama dengan: 1) eksekutif (the
King/Queen), 2) parlemen (legislative), 3) pengadilan (judicative), 4)
keagamaan (the church), dan 5) pendapat umum (public opinion).
Wilbur Schram dalam bukunya The Four Theories of the Press
mengelompokkan teori pers sebagai pilar keempat demokrasi
berdasarkan sistem politik yang berkembang, yakni; a. sistem pers
otoriter, b. sistem pers komunis, c. sistem pers liberal, dan d. sistem
responsibility of the press. Menurut Wilbur yang dimaksud dengan
sistem pers otoriter dan komunistis terkait dengan sistem politik
otoriter dan komunis yang pada dasarnya tidak mengizinkan adanya
kemerdekaan pers. Pers hanya dijadikan alat atau corong kekuasaan.
Dengan demikian, tidak ada kemerdekaan pers, sedangkan pengertian
pers liberal dikaitkan dengan sistem politik demokrasi liberal yang
berlaku di suatu negara. Pers diberi kebebasan dalam pemberitaan
dengan batasan etika dan hukum.
Menurut teori pers liberal ini, hidup-matinya pers tidak
ditentukan oleh penguasa, tetapi oleh masya­rakat atau pasar yang
mendukungnya. Jika ia kredibel dan bermanfaat bagi masyarakatnya,
ia tetap hidup. Sebaliknya jika isinya tidak bisa dipercaya dan tidak
bermanfaat bagi khalayak, ia akan ditinggalkan publik.122 Apabila
mengacu pada ketentuan tersebut, maka sistem pers yang dianut oleh
pers nasional sekarang ini adalah pers liberal. Berdasarkan laporan
Dewan Pers, fakta-fakta menunjukkan tidak sedikit per­usahaan pers
Wikrama Iryans Abidin, Politik Hukum Pers Indoensia, Grasindo, 2005, hlm
122
71-72
76
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
tidak sehat menjadi kolaps dan gulung tikar karena ditinggalkan oleh
pembaca. Sistem pers bertanggung jawab yang disebut terakhir ini
penger­tiannya kurang jelas karena beban tanggung jawab pers tidak
pasti ditujukan kepada siapa.
Sumber lain mengatakan, istilah pers sebagai pilar keempat
demokrasi pertama kali diperkenalkan oleh anggota parlemen
Inggris.123 Disebutkan bahwa untuk menjadi salah satu kekuatan
demokrasi, pers harus mempunyai lidah (alat) yang membuat orang
lain mau mendengarkan (a tongue which others will listen to). Bahkan
ada sebutan the fifth estate, pilar kelima demokrasi. Di beberapa
negara Barat, dulu polling disebut sebagai pilar kelima, tetapi posisi
itu sekarang ditempati oleh Non-Governmental Organization
(NGO). Lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam konteks global
governance sudah dipercaya, mendapat trust, menjadi semacam pilar
kelima karena penga­ruhnya yang besar.
Dalam melaksanakan peran pers selaku pilar keempat demokrasi,
pers nasional telah mempunyai landasan hukum yaitu UndangUndang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Agar pelaksanaan pilar
keempat demokrasi dapat berlangsung lancar sesuai dengan apa yang
diharapkan, perlu diperhatikan antara lain, pers nasional berperan
menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya
supremasi hukum, dan HAM serta menghormati kebhinekaan.
Pers sebagai pilar keempat demokrasi paling tidak ada lima fungsi
yang harus dilaksanakan dengan baik agar pers dapat menjadi pilar
keempat demokrasi. Fungsi-fungsi tersebut adalah penyampaian
dan penyebaran informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan
lembaga ekonomi. Kelima fungsi tersebut berpeluang tumpang
tindih tetapi selalu dapat dibedakan. Selain fungsi informasi, media
massa memiliki fungsi pendidikan. Agar dapat disebut sebagai pilar
Susanto Pudjomartono, Media: Pilar IV Demokrasi, Workshop SeapaDewan Pers – Fes, Friedrich Ebert Stiftung, 2002, hlm.13
123
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
77
keempat demokrasi, pers harus memberikan pendidikan politik
kepada masyarakat.
Konsep kekuasaan keempat (the fourth estate) bagi pers bukan
berarti lembaga itu harus beroposisi terhadap pemerintah atau
melawan pemerintah. Dalam pengertian itu, kedudukan pers lebih
ditekankan pada sifat independensi dan atau kebebasan menyatakan
informasi dan pendapat tanpa rintangan dari pemerintah. Pers
hanya bertanggung jawab yuridis kepada publik yang dilaksanakan
oleh pengadilan, dan juga bertanggung jawab pada etika pers yang
dilaksanakan oleh organisasi pers. Pers nasional dapat merealisasikan
dirinya sebagai pilar keempat demokrasi di Indonesia apabila dapat
melaksanakan fungsi-fungsinya dengan baik. Apakah hal ini sudah
terealisasi, masyarakatlah yang akan menilai.
Kekuatan moral pers selalu menjadi yang utama. Dalam
hubungan ini, legitimasi moral bahwa pers sebagai pilar keempat
demokrasi, tidak dapat disangkal. Dewasa ini tidak ada negara yang
dapat tumbuh dan berkembang secara sehat, tanpa adanya peran
pers yang efektif. Dalam merealisasikan pers sebagai pilar keempat
demokrasi di Indonesia, dituntut adanya hukum yang melarang
kekuasaan pemerintah (eksekutif ) sebagai penentu nasib pers atau
kewenangan mengurangi kebe­basan pers. Dalam pengertian lain
harus dilarang oleh hukum adanya kekuasaan pemerintah atau
kekuasaan lain yang bertindak sebagai kekuasaan yudikatif atau
menentukan salah atau tidaknya pemberitaan pers.
Pers merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif,
legislatif, dan yudikatif. Pers sebagai sarana pengawasan atas ketiga
pilar itu dan melandasi kiner­janya dengan check and balance. Untuk
dapat mela­kukan peranannya, perlu dijunjung kebebasan pers dalam
menyampaikan informasi publik secara jujur dan berimbang. Di
samping itu, untuk menegakkan pilar keempat, pers juga harus bebas
dari kapitalisme dan politik. Pers independen seharusnya menyadari
78
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
perannya, tidak sekadar mendukung kepentingan pemi­lik modal
dan melanggengkan kekuasaan politik tanpa mempertimbangkan
kepentingan masyarakat yang lebih besar.
2. Demokrasi dan Kontrol Sosial Pers
Pers adalah salah satu sarana bagi warga negara untuk mengeluarkan
pikiran dan pendapat serta me­mi­liki peran positif dalam negara
demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang pe­
ranan penting dalam mengembangkan masyarakat demok­ratis. Media
massa merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang
demokratis, se­dang­kan inti dari demokrasi adalah adanya kesem­patan
bagi aspirasi dan suara rakyat (individu) dalam meme­ngaruhi sebuah
keputusan. Dalam demokrasi juga diperlukan “partisipasi rakyat”,
yang muncul dari kesadaran politik untuk ikut terlibat dan punya
andil dalam sistem pemerintahan. Pada berbagai aspek kehidupan di
negara ini, sejatinya masyarakat memiliki hak untuk ikut serta dalam
menentukan langkah kebijakan suatu negara.
Perlu dijelaskan yang dimaksud dengan “partisipasi masya­
rakat”124 adalah keikut­sertaan masyarakat untuk meng­akomodasikan
kepentingan mereka dalam proses penyusunan rencana pem­bangunan.
Mengambil makna demokrasi (democratic) atau manajemen terbuka
terkan­dung juga makna kontrol sosial yang tak lain adalah pengawasan
masyarakat yang di dalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut:125
a. social participation yaitu keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan.
b. social responsibility yaitu pertanggungjawaban pemerintah ter­hadap
rakyat. c. social support yaitu dukungan rakyat terhadap pemerintah.
d. social control yaitu pengawasan masyarakat terhadap tindakantindakan pemerintah.
Log.cit, RPJMN 2004-2009,Sinar Grafika, 2005, hlm.511
Sukarna. Social Control (Kontrol Masyarakat) Bandung. PT. Citra Aditya
Bakti. 2002. hlm.1.
124
125
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
79
Dalam negara demokrasi, lembaga-lembaga yang menjadi
corong sistem demokrasi seper­ti badan yudikatif, badan perwakilan
po­litik atau badan per­wakilan rakyat (ke­kuasaan legislatif ) dapat
dikoreksi oleh pers. Apabila keputusan-keputusan badan terse­but
merugikan kepentingan masyarakat secara kese­
luruhan, misalnya
tidak memihak masyarakat dan menimbulkan rasa ketidak­adilan,
maka pers dapat menyam­paikan per­nya­taan dan aspirasinya terhadap
kepu­tusan tersebut. Selain itu, pers juga berperan dalam mengoreksi
tindakan-tindakan administratif atau administrasi negara dan badan
eksekutif sebagai badan penyelenggara kekuasaan negara untuk
mewu­
judkan cita-cita rakyat, yaitu terwu­
judnya keamanan dari
ancaman luar, kesejah­
teraan masyarakat yang menyeluruh, serta
terlindungnya kemer­dekaan per­orangan.126
Demikian juga istilah kontrol sosial sebe­narnya tidak dapat dipisahkan
dari isi demokrasi atau prinsip-prinsip demokrasi. Bahkan dapat
dikatakan bahwa antara kontrol sosial dan demokrasi merupakan
satu kesa­tuan yang bulat. Setiap ada kontrol sosial dengan sendirinya
ada demokrasi atau usaha untuk menegakkan demokrasi. Tentang hal
ini, Sukarna dengan tegas mengatakan demokrasi tanpa kontrol sosial
adalah kosong, dan kontrol sosial tanpa demokrasi adalah bohong.
Karena itu, antara pengawasan sosial dan demokrasi diibaratkan
“gula dan manis”-nya.127 Mengenai hal ini fungsi pengawasan pers
bisa dimaknai sebagai sikap pers dalam melaksanakan fungsinya yang
ditujukan terhadap perseorangan atau kelompok. Mak­sudnya adalah
untuk memperbaiki ke­adaan mela­lui tulisan yang disalurkan secara
langsung atau tidak langsung terhadap aparatur pemerintahan dan
lembaga-lembaga masyarakat terkait, sesuai dengan aturan hukum
yang berlaku.
Alex Sobur.Etika Pers Profesionalisme Dengan Nurani. Humaniora Utama
Press. Bandung. 2001. hlm.56.
127
Ibid.
126
80
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Tujuan pengawasan sosial melalui pers adalah untuk membantu
pengawasan melekat yang telah dila­kukan aparatur negara, baik
nasional, regional, lokal maupun rural dan urban. Jadi, pengawasan
sosial pada hakikatnya dapat membantu terse­
leng­­
garanya
pelaksanaan pekerjaan abdi negara atau abdi peme­­rintah, sedangkan
tujuan pengawasan sosial pers sebenarnya adalah untuk mewujudkan
pemerintahan yang bersih dan stabil. Prinsipnya, tujuan pengawasan
sosial media massa tidak bersifat destruktif, melainkan pers dapat
mengem­bangkan pemerintahan yang de­mok­ratis, sehingga tidak
mengarah kepada tiranisme, nepotisme, ataupun menggunakan cara
machiavelistic yaitu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan
yang dike­hen­dakinya. Dengan perkataan lain, tujuan pokok pengawasan
sosial adalah untuk mencegah peme­rintahan menggunakan sis­tem
kediktatoran dalam menjalankan pe­
me­
rin­
tahannya dalam segala
128
tingkatan.
3. Kemerdekaan Pers dan Pembangunan Hukum dalam RPJP
Kebebasan pers tidaklah bersifat mutlak. Dalam konsep hak asasi
manusia, kebebasan pers dikategorikan sebagai derogated right atau
hak yang dapat diabaikan/dibatasi. Berdasaran uraian di atas, yang
dimaksud dengan kemerdekaan pers di sini adalah kemerdekaan
pers atau alat komunikasi di Indonesia dalam mencari, mengolah,
dan menulis berita yang disalurkan atau diterbitkan melalui media
cetak atau media elektronik. Merdeka dalam arti tidak ada campur
tangan kekuasaan dalam aturan mengekang kemerdekaan pers, yang
diwujudkan dalam bentuk: a. merdeka dari keharusan memiliki Surat
Izin Terbit atau bentuk lainnya, b. merdeka dari sensor pers, c. merdeka
dari pemberedelan, d. merdeka dari campur tangan pemerintah dan
pihak mana pun dalam kegiatan pers.129
Ibid.,
Log.Cit, Wikrama Iryans Abidin, Poltik Hukum Pers Indonesia, Grasindo,
128
129
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
81
Pengabaian terhadap kebebasan pers dapat dilak­sanakan apabila
terjadi keadaan darurat yang ber­sifat memaksa dan luar biasa, misalnya
bencana alam, kekacauan negara, darurat militer, dan lain-lain. Namun,
perlu diingat, sesuai dengan Pasal 19 Deklarasi HAM/Konvensi
Jenewa 1948 oleh PBB, pembatasan itu harus dinyatakan dalam
undang-undang/per­aturan, diberi batasan mana yang harus dibatasi,
dan memi­liki jangka waktu tertentu. Apabila kondisi kem­bali normal,
kebebasan penuh harus diberlakukan kembali. Namun, sebaliknya
pembatasan-pembatasan yang bersifat represif berupa delik-delik
pidana yang mengandung delik pers (pencemaran nama baik, delik
agama, kabar bohong dan lain-lain) dipandang sah dan konstitusional.
Pembatasan demikian diakui oleh hukum internasional.
Kemerdekaan, seperti kebebasan pers atau kebe­basan berpikir
dan mengeluarkan pendapat serta kebe­
basan berbicara adalah
beberapa di antara hak asasi yang paling mendasar. Sama mendasarnya
dengan hak untuk hidup yang mencakup hak untuk men­cari nafkah
dan memperoleh upah yang sesuai dengan jerih payah yang diberikan.
Hak asasi yang mendasar ini tidak boleh dibatasi dengan alasan apa
pun. Hampir semua konstitusi yang ada di dunia ini men­cantumkan
jaminan hak asasi yang mendasar ini. Di Indonesia, melalui Pasal 28
UUD 1945 dengan tercan­tumnya ke­bebasan mengeluarkan pikiran
atau pendapat terse­but, maksudnya adalah agar kehidupan demokrasi
dapat ditumbuhkan.
Tepatnya Pasal 28 menyatakan: “Kemerdekaan ber­­se­rikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran de­ngan lisan dan tulisan, dan
sebagainya ditetapkan de­ngan undang-undang.” Apa yang disebutkan
dalam Pasal 28 tersebut, pada hakikatnya merupakan akar sistem
dari kebebasan pers Indonesia. Dengan demi­kian, pasal tersebut
menentukan bentuk dan isi konsep dasar dari sistem kebebasan pers
di Indonesia. Dalam pembangunan hukum nasional, baik dalam pem­­
2005, hlm.38
82
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
ben­tukan peraturan perundang-undangan mau­pun aplikasi program
pembangunan masyarakat, Mochtar Kusumaatmadja mengingatkan
kita agar tidak meninggalkan atau mengabaikan arahan kons­
titusional.130 Maksudnya, baik perencanaan maupun pelaksanaan
konsep dan undang-undang dimaksud tetap berada pada koridor
konstitusi yang berlaku, seperti pembentukan undang-undang pers,
kemer­dekaan pers, dan undang-undang larangan praktik monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat harus mengacu pada arahan nilainilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai hukum dasar.
Dalam konteks pembangunan nasional di dalam RPJP 20092025 ditetapkan bahwa kesejahteraan rakyat merupakan bagian
integral dari pembangunan tersebut. Pembangunan kesejahteraan
rakyat yang dimaksud adalah yang sejalan dengan pembangunan
nasional meliputi pembangunan kesehatan, pendidikan, perumahan,
pertahanan dan keamanan, politik (proses demokratisasi), hukum,
dan sebagainya. Pembangunan nasional sebagai suatu kebijakan besar
(grand design) sebagaimana diuraikan di atas memerlukan perubahan
nilai (value) dan sikap (attitude) untuk memberikan arah perubahan
masyarakat yang lebih baik, lebih teratur, dan lebih tertib dari keadaan
masyarakat sebelumnya. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan,
bahwa perubahan tersebut harus dilakukan secara teratur.
Untuk mendukung pembenahan sistem dan politik hukum,
pemerintah menetapkan Visi-Misi Pembangunan Nasional Tahun
2004-2009. Berda­sarkan Perpres No.7 Tahun 2005 tentang RPJMN
2004-2009,131 dirumuskan dalam visi mewujudkan per­ekonomian
yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang
layak serta memberikan fondasi yang kokoh bagi pembangunan yang
ber­kelanjutan. Dengan misi mewujudkan Indonesia yang aman dan
damai, adil dan demokratis, yang sejahtera.
130
Lili Rasjidi, Pembangunan Hukum Nasional, Materi kuliah S3 Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, tgl 2 Januari 2008.
131
Buku RPJMN 2004-2009, Sinar Grafika, Maret 2005, Op.cit, hlm.19.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
83
4. Pendekatan Kemerdekaan Pers
Pendekatan terhadap kemerdekaan pers dapat dila­ku­kan dari dua
sisi. Pertama, dari sisi pers sebagai lem­baga kemasyarakatan, alat
perjuangan nasional yang mengutamakan sifat-sifat ideal. Di sini kita
melihat kemerdekaan pers itu sebagai lembaga pembawa pesan-pesan
perjuangan nasional demi kepentingan kesejahteraan dan keadilan
sosial. Kedua, kehadiran pers dapat didekati sebagai suatu perusahaan
bisnis sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 3 ayat (2) UU No.
40 Tahun 1999 tentang Pers.
Dalam konteks ini, dapat pula diambil makna bahwa pers bisa
berfungsi sebagai lembaga ekonomi yang membawa pesan-pesan
untuk pembangunan kesejahteraan demi kemakmuran masyarakat.
Menurut Pasal 1 butir 2 yang dimaksud dengan perusahaan pers
adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers
meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita,
serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan,
menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Pengertian lain dalam
penjelasan yang dikemukakan perusahaan pers harus dikelola sesuai
dengan prinsip ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para
wartawan dan karyawannya semakin meningkat dengan tidak
meninggalkan kewajiban sosialnya.
5. Kemerdekaan Pers Mendukung Negara Kesejahteraan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem demokrasi dan
kemerdekaan pers serta negara kese­jahteraan terbukti memiliki korelasi
dan hubungan satu sama lain dalam upaya mewujudkan negara kese­
jahteraan di Indonesia. Demokrasi tidak bisa dipi­
sahkan dengan
kemerdekaan pers, demikian pula de­mok­rasi dan kemerdekaan pers
merupakan suatu sarana atau alat dalam mencapai tujuan negara
kese­jah­teraan. Dalam perspektif yang lebih luas, kemer­de­kaan pers
memiliki peran besar, tidak hanya dalam mengem­bangkan demokrasi
84
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
tetapi juga di bidang eko­nomi dan menyejahterakan masyarakat,
teruta­ma dalam pembangunan sosial dan pendidikan bangsa. Melalui
fungsi-fungsi menyiarkan informasi, mem­berikan pendidikan politik
dan hiburan yang sehat, melakukan pengawasan sosial terhadap
peme­rintah, misalnya soal korupsi, dan lembaga ekonomi, serta peran
yang dimiliki media massa dalam jangka panjang dapat mewujudkan
pembangunan negara kese­jah­teraan.
Terkait dengan hal itu, perusahaan pers berbeda dengan
perusahaan bisnis lain yang mengutamakan aspek komersial atau
profit marking, betapa pun bantuan sosialnya bersifat abstrak -- tidak
teraba seperti berbentuk fisik -- dan sederhananya andil kemerdekaan
pers yang dimiliki secara teoretis dan praktis media massa dapat
menyumbangkan kesejahteraan sosial bagi rakyat dengan tidak
mengabaikan idealism dan nasionalisme kewartawanannya. Dalam
perspektif pers sebagai pilar keempat demokrasi bersama pilar
lainnya, eksekutif, legislatif, dan yudikatif dapat bersama-sama
mewujudkan negara kesejahteraan sebagaimana amanat konstitusi
dalam pembukaan Pancasila dan UUD 45 khususnya alinea kedua
dan keempat yang merupakan perwujudan nilai-nilai kebangsaan.
Peran media massa dalam mentransformasikan nilai-nilai
kebangsaan merupakan sesuatu yang sudah seharusnya, dan media
kita sesungguhnya sudah dan terus melakukannya. Persoalan yang
ada, media cukup kesulitan mengangkat nilai-nilai kebangsaan dalam
bentuk nyata karena tidak atau belum menemukan narasumber,
tokoh atau fakta-fakta yang dapat atau benar-benar layak menjadi
ikon, panutan dalam mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan yang
relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. Demikian pula peran media
massa dalam pembangunan karakter bangsa haruslah berlandaskan
pada perspektif budaya Indonesia yang meletakkan landasannya
dalam kerangka negara kesatuan, dengan keanekaragaman budaya
yang memiliki nilai-nilai luhur, kebijaksanaan, dan pengetahuan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
85
lokal yang arif dan bijaksana. Hal tersebut di atas menunjukkan
peran media tidak hanya sebagai sarana pelepas ketegangan atau
hiburan, tetapi isi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan
dalam proses politik, sosial, ekonomi dan pembangunan negara
kesejahteraan. Maka gambaran yang dibentuk oleh isi media yang
memberi informasi yang salah dari media massa akan memunculkan
gambaran yang salah terhadap objek sosial. Karenanya, media massa
dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas.
Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral
penyajian berita. Pemusatan kepemilikan terhadap media massa
adalah aspek utama penguasaan politik dan ekonomi.
Industri media seiring dengan revolusi teknologi komunikasi
mencapai tahap industri modern dengan segala konsekuensinya.
Hal ini menempatkan media pada sisi yang dilematis yakni antara
pemenuhan fungsi media secara komprehensif dengan kepentingan
bisnis. Dalam pandangan Robert McChesney, “produk-produk yang
dihasilkan oleh bisnis media biasanya bernilai cukup baik dalam
produksi hiburan yang menghasilkan keuntungan besar buat mereka.
Pada pokoknya, keseluruhan bisnis media membuat peluang untuk
mewujudkan berbagai kesejahteraan di bidang kehidupan politik,
sosial, budaya,”132 dan ekonomi.
E. Fungsi Media Massa Meningkatkan Kesejahteraan
Dalam negara hukum kesejahteraan, yang diutamakan adalah
terjaminnya hak-hak asasi sosial ekonomi rakyat. Pertimbangan-pertim­
bangan efisiensi dan manajemen lebih diutamakan daripada pem­bagian
kekuasaan yang berorientasi politis, sehingga peran eksekutif lebih besar
daripada peran legislatif. Negara tidak hanya menjaga ketertiban dan
keamanan, tetapi juga turut serta dalam usaha-usaha sosial dan ekonomi.
Robert Mc. Chesney, Konglomerasi Media Massa dan Ancaman Terhadap
Demokrasi, Andi Achdian (terj), Jakarta : Aji, Th. 1998, hlm.29.
132
86
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Lebih besifat negara hukum material yang mengutamakan keadilan sosial.
Uraian di atas menunjukkan bahwa peran negara ditempatkan pada posisi
yang kuat dan lebih besar dalam menciptakan kesejahteraan umum (public
welfare) dan keadilan sosial (social justice).
Dapat dikemukakan bahwa secara formal, konsepsi negara hukum
mempunyai tujuan yakni mencegah k­
ek­uasaan absolut, sedangkan
secara materil, tujuan negara hukum modern mewujudkan kesejahteraan
(kemakmuran) rakyatnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Mochtar
Kusumatmadja yang mengemukakan, bahwa pem­ba­ngunan dalam arti
seluas-luasnya meliputi segala aspek dari kehidupan masyarakat dan tidak
hanya satu segi dari kehidupan masyarakat dan tidak hanya segi kehidupan
ekonomi belaka. Tentu sejalan dengan tulisan ini diyakini bahwa
pembangunan industri media massa dapat mening­katkan kesejahteraan
masyarakat, sebagaimana terlihat dalam sejarah media massa nasional.
Sejak reformasi bergulir, seiring dengan era kebebasan pers, orientasi
industri media massa baik cetak maupun elektronik mulai bergeser dari
pers idealis menjadi pers industri. Bahkan keadaan ini sudah terjadi sejak
pada masa Orde Baru, tetapi proses bisnis pers di era reformasi ini semakin
transparan dan dipicu terbukanya peluang kebe­basan berusaha di bidang
media massa, sejalan dengan berlakunya UU Pers dan UU No. 32 Tahun
2003 tentang Penyiaran. Sama halnya dengan perusahaan-perusahaan
lain, perusahaan pers pun pada umumnya bertujuan untuk memperoleh
keuntungan material dan imaterial. Pihak direksi perusahaan pers atau
media massa bersangkutan yang akan menentukan segi manakah yang akan
mereka utamakan. Segi idealnya sajakah atau segi komersialnya sepanjang
tujuannya tidak bertentangan dengan undang-undang.
Mengutamakan segi idealnya saja, dapat berakibat buruk terhadap
perkembangan perusahaan pers yang juga harus memperoleh keuntungan.
Sebaliknya, mengutamakan segi komersialnya semata akan bertentangan
dengan tujuan pers sebagai lembaga kemasyarakatan, alat perjuangan
nasional. Idealnya, pengasuh dan pemilik perusahaan dapat menyinkronkan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
87
kedua tujuan antara ideal dan bisnis yang seimbang, tidak membedakan
prioritas kegiatan yang dapat merugikan.
1. Fungsi dan Peran Dewan Pers
Dewan Pers adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan
UU Nomor. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Tujuannya adalah untuk
mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas serta
kuantitas pers nasional. Sementara anggota Dewan Pers berjumlah
9 orang terdiri atas komunitas pers wartawan, pimpinan perusahaan
pers, tokoh masyarakat, dan ahli di bidang pers dan komunikasi.
Status keanggotaan Dewan Pers diangkat dan ditetapkan berdasarkan
Keputusan Presiden, sedangkan struktur dan organisasi ditetapkan
oleh Keputusan Dewan Pers.
Keberadaan Dewan Pers selama ini diharapkan dapat menjadi
implementing agency (IA) dari Undang-Undang Pers, tetapi Dewan
Pers tidak dapat menja­lankan peran dan fungsinya dengan semestinya
karena tidak diberi kewenangan yang memadai. Dalam UU Pers
dikemukaan Dewan Pers hanya berperan sebagai lembaga konsultasi,
bukan penegak hukum. Pengawasan terhadap pers idealnya dilakukan
oleh masya­rakat. Menurut penjelasan Undang-Undang Pers Nomor.
40 Tahun 1999 pengawasan masyarakat yang dimaksud antara lain:
oleh setiap orang dengan dijaminnya hak jawab dan hak koreksi, oleh
lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemantauan media (media
watch) dan oleh Dewan Pers.
Ketentuan tentang fungsi dan peran Dewan Pers terdapat pada
Bab V Pasal 15 UU Pers:
a. Pembentukan Dewan Pers adalah bagian dari upaya mengem­
bangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers
nasional (ayat 1). Dengan demikian, Dewan Pers mengemban
amanat atas dipatuhinya kode etik pers dan peng­gunaan standar
jurnalistik profesional.
88
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
b. Fungsi-fungsi Dewan Pers (Ayat 2) adalah:
(1) melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak
lain;
(2) melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan
pers;
(3) menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik
Jurnalistik;
(4) memberikan pertimbangan dan mengupa­ya­kan penyele­
saian pengaduan masya­
ra­
kat atas kasus-kasus yang
berhu­­
bungan dengan pemberitaan pers; (penje­
lasan:
pertimbangan yang dikeluarkan Dewan Pers berkaitan
dengan Hak Jawab, Hak Koreksi, dan dugaan pelanggaran
terhadap Kode Etik Jurnalistik).
(5) mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan
pemerintah;
(6) memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun
peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan
kualitas profesi kewartawanan;
(7) mendata perusahaan pers.
Dewan Pers adalah lembaga independen yang lahir dalam
semangat reformasi, bersifat mandiri dan tidak ada lagi unsur
pemerintah dalam keanggotaannya. Dengan dukungan masyarakat
pers Indonesia, otoritas Dewan Pers semata-mata terletak pada
kemauan perusahaan dan redaksi media pers. Sebagai lembaga
independen yang bebas dari tekanan pemerintah, Dewan Pers memiliki
peluang maksimal untuk ber­
peran sebagai mediator independen
bagi semua pihak yang bersengketa dengan media. Keputusan yang
selalu mengutamakan nonlitigasi (di luar pengadilan) perlu tetap
diupayakan untuk menjamin kebebasan pers.
Berkaitan dengan fungsi dan peran Dewan Pers tersebut,
penulis kemudian melakukan penelitian ke Dewan Pers sepanjang
menyangkut kemerdekaan pers dalam tujuan negara kesejahteraan,
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
89
dan salah satu yang menjadi kajian penelitian penulis adalah perlu atau
tidaknya dilakukan revisi UU Pers. Penulis menempatkan penelitian
pada Bab IV. Pene­litian lainnya soal pengkajian terhadap UU Pers
dilakukan oleh Endang Sayekti pada tahun 2001 dan menyimpulkan
bahwa UU Pers masih banyak mengan­dung kelemahan, yaitu adanya
pasal yang tidak jelas.133
Sri Hartiningsih dalam makalah yang berjudul “Mencermati
Beberapa Ketentuan Dalam UU Pers Sebagai Bahan Penyempurnaan”
menyebutkan bebe­
rapa ketentuan dalam UU Pers menimbulkan
berbagai penafsiran sehingga menyulitkan dalam penerapannya.
Ketidakjelasan itu antara lain terdapat dalam Pasal 15, Pasal 16, dan
Pasal 18 dikaitkan dengan Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 13.134
Pasal 15
1. Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan me­
ningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang
independen.
2. Dewan Pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan
pers;
b. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik
Jurnalistik;
c. Memberikan pertimbangan dan mengupa­yakan penyele­
saian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhu­
bungan dengan pemberitaan pers;
d. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan
pemerintah;
e. Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun
Endang Sayekti. Kajian Terhadap UU Pers, makalah pada Forum Peninjauan
Kembali UU Pers, 13 September 2001 di Solo.
134
Sri Hartiningsih, Mencermati Beberapa Ketentuan Dalam UU Pers Sebagai
Bahan Penyempurnaan. Makalah pada Forum Peninjauan Kembali UU Pers, Log.
cit ,13 September 2001.
133
90
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
f. peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan
kualitas profesi kewartawanan;
Mendata perusahaan pers;
3. Anggota Dewan Pers terdiri atas:
a. Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan;
b. Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi
perusahaan pers;
c. Tokoh masyarakat, ahli di bidang pers dan atau komunikasi,
dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi wartawan
dan organisasi perusahaan pers;
4. Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota.
5. Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana dimaksud dalam ayat
(3) pasal ini ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
6. Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan
sesudah itu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode
berikutnya.
7. Sumber pembiayaan Dewan Pers berasal dari :
a. organisasi pers;
b. perusahaan pers;
c. bantuan dari negara dan bantuan lain yang tidak mengikat.
Sri Hartiningsih memaparkan, Pasal 15 UU Pers belum jelas bentuk
instrumen hukumnya untuk mem­
bentuk Dewan Pers. Hal itu
membawa sejumlah problema­tika, kepada siapa kinerja Dewan Pers
diper­tang­gungjawabkan? Begitu pula bagaimana meka­nis­me kerja
Dewan Pers, baik internal apalagi dalam kaitannya dengan pihak
eksternal?
Selain Dewan Pers, terdapat lembaga independen bernama
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lembaga ini dibentuk untuk
mengatur lembaga penyiaran di Indonesia. KPI diperlukan
karena ranah frekuensi adalah milik publik, maka perlu dilaku­kan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
91
pengawasan terhadap penggunaan frekuensi penyiaran. KPI berfungsi
menjembatani kepentingan masyarakat dengan institusi pemerintah
dan lembaga penyiaran (radio, dan TV swasta, publik, komunitas,
maupun berlangg­anan). KPI juga memiliki tugas meng­usa­hakan
terciptanya suatu sistem penyiaran nasional yang memberikan
kepastian hukum, tatanan, serta keteraturan berdasarkan persamaan
dan keadilan. Adapun yang menjadi fungsi KPI adalah mewadahi
aspirasi dan mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran di
Indonesia. KPI merupakan akses yang menjembatani kepentingan
masyarakat dengan institusi pemerintah dan lembaga penyiaran. KPI
wajib mengusahakan agar tercipta suatu sistem penyiaran nasional
yang memberikan kepastian hukum, tatanan, serta keteraturan
berdasarkan asas kebersamaan dan keadilan.
2. Fungsi dan Peran Organisasi Pers dan Perusahaan Pers
Organisasi wartawan di Indonesia secara kuantitas jumlahnya cukup
banyak, mencapai ratusan, tetapi dalam perjalanannya tidak ada yang
mengetahui berapa banyak angka yang pasti. Organisasi wartawan
mulai berkembang sejak bergulirnya reformasi yang dimung­kinkan
dibukanya keran kebebasan, sebagai­mana termaktub dalam Pasal 7
Ayat (1) “Warta­wan bebas memilih organisasi wartawan”. Namun
kebe­basan berorganisasi yang dimiliki warta­wan tidak berarti bebas
sebebas-bebasnya dan tidak bersifat absolut. Untuk itu, berdasarkan
Pasal 15 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Dewan Pers
memandang perlu melakukan verifikasi organisasi wartawan di
Indonesia dalam rangka penertiban dan pembinaan terhadap pers.
Hasil verifikasi Dewan Pers tahun 2007 menun­jukkan organisasi
wartawan di Indonesia yang telah memenuhi persyaratan hanya ada
3 (tiga) yaitu; Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis
Independen (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).
Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah
92
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
organisasi wartawan yang didirikan di Solo pada tanggal 9 Februari
1946. Dilihat dari tahun kela­hirannya, PWI merupakan organisasi
(kewar­tawanan) tertua di Indonesia. Kini anggota PWI tercatat
sekitar 15.000 orang dan memiliki struktur organisasi dari tingkat
pusat, cabang provinsi, dan perwakilan di daerah kabupaten/kota.
Tingkat cabang berdiri di setiap provinsi seluruh Indonesia dan
termasuk cabang khusus Surakarta sebagai kota kelahiran PWI.
Dalam muka­dimah Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga PWI
bahwa sejarah PWI menunjukkan per­juangan wartawan Indonesia
tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Rakyat Indonesia untuk
mencapai kemerdekaan.
Menurut buku Ensiklopedia Pers Indonesia (EPI), PWI didirikan
oleh tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka
menyatukan diri mewu­judkan masyarakat yang berketuhanan Yang
Maha Esa, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur serta beradab.
PWI memiliki asas Pancasila dan merupakan organisasi wartawan
independen dan profesional. Dalam perkembangannya, struktur
organisasi PWI telah memiliki cabang di setiap provinsi di Indonesia
dengan jumlah anggota sebanyak 14.000 wartawan. Sesuai dengan
amanat undang-undang, PWI memiliki Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
PWI.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lahir sebagai perlawanan
komunitas pers Indonesia terhadap kese­wenang-wenangan rezim
Orde Baru. Mulanya ada­lah pemberedelan majalah Detik, Editor,
dan Tempo, 21 Juni 1994. AJI lahir di Bogor, 7 Agustus 1994.
Pada hari itulah mereka menandatangani Deklarasi Sirnagalih.
Inti deklarasi itu adalah menun­tut dipe­nuhinya hak publik atas
informasi, menentang penge­kangan pers, menolak wadah tunggal
untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI. Menge­nai fungsi
sebagai organisasi pers dan jurnalis, AJI juga gigih memperjuangkan
dan mempertahankan kebe­basan pers. AJI berupaya menciptakan
iklim pers yang sehat.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
93
Organisasi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) didirikan di
Jakarta pada tanggal 9 Agustus 1998 dan berasaskan Pancasila. IJTI
merupakan organisasi yang bersifat independen, wadah berhimpun
jurnalis televisi Indonesia. Tujuan dari IJTI adalah mewujudkan
kemerdekaan pers yang bertanggung jawab (yang merupakan tujuan
umum). Tujuan khususnya adalah mewujudkan korps jurnalis televisi
Indonesia yang mandiri, bebas, dan bertanggung jawab. Sementara
organisasi perusahaan pers yang aktif di antaranya adalah Serikat
Perusahaan Pers (SPS), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia
(P3I), dan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI).
SPS adalah organisasi yang lahir tahun 1946 di Yogyakarta.
Dalam periode awal masa perjuangan, organisasi ini mampu menya­
tukan seluruh penerbit pers di Indonesia guna mengawal serta mem­
pertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. SPS
merupakan organisasi yang menghimpun para penerbit (koran,
majalah, tabloid) dalam arti yang sangat luas dan komprehensif,
menyangkut segala aspek dalam pengelolaan perusahaan pers. Hingga
saat ini, SPS memiliki anggota sebanyak 433 penerbit pers –surat
kabar harian, tabloid, surat kabar mingguan, buletin, dan majalah-- di
29 provinsi (SPS Pusat, Juni 2009). Adapun yang menjadi visi dan
misi dari organisasi SPS adalah menegakkan kemerdekaan pers dan
membangun industri pers yang sehat dan bermartabat.
PPPI adalah asosiasi perusahaan-perusahaan jasa yang men­
ciptakan ide komunikasi pemasaran dan komunikasi publik. PPPI
adalah asosiasi perusahaan-perusahaan periklanan yang bergerak di
bidang komu­nikasi pemasaran yang berdiri pada 20 Desember 1972.
PPPI merupakan penerus PBRI (Persatuan Biro Reklame Indonesia)
yang didirikan pada tanggal 1 September 1949. Landasan falsafah
PPPI antara lain mewujudkan kehidupan periklanan nasional
yang sehat, jujur, dan bertanggung jawab dengan cara mene­gakkan
Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia secara murni dan
konsisten, baik dalam lingkup internal maupun eksternal.
94
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
ATVSI didirikan pada tanggal 4 Agustus 2000 dengan
pendirinya adalah RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, dan ANTeve. Kini
ATVSI memiliki 10 anggota yaitu RCTI, SCTV, Indosiar, TPI,
Trans TV, ANTeve, Global TV, Metro TV, Trans 7, dan TV One.
Kesepuluh anggota ini menyelenggarakan siaran secara nasional.
Sebagai asosiasi, ATVSI memiliki visi yaitu memajukan industri
televisi siaran Indonesia, sedangkan misinya adalah memajukan,
menampung, menyalurkan kepentingan dan keinginan bersama
dalam mengembangkan etika perilaku, tanggung jawab profesional,
dan pelayanan bagi anggotanya demi kepentingan masyarakat.
3. Fungsi dan Peran KPPU
Terkait dengan karakter yang khas dari pelaksanaan dan penegakan
hukum persaingan, dibentuk suatu komisi pengawas yang memiliki
otoritas untuk mela­
kukan pengawasan terhadap implementasi
undang-undang. Berbagai negara yang membentuk undang-undang
ini juga membentuk komisi yang fungsi dan kewenangannya
disesuaikan dengan sistem hukum yang berlaku.135 Sistem hukum
yang berlaku di suatu negara memberikan perspektif yang berbeda
terhadap kedudukan, fungsi, dan kewenangan dari komisi pengawas
yang merupakan badan independen. Hal itu umumnya karena komisi
memiliki multifungsi sebagai badan quasi judicial, legislative, ataupun
executive, artinya fungsi yang tidak umum berada pada hanya suatu
badan.
Alasan filosofis yang dapat dijadikan dasar pem­ben­tukan KPPU
yaitu untuk mengawasi pelak­sanaan suatu aturan hukum diperlukan suatu
lembaga yang mendapat kewenangan dari negara. Dengan kewe­nangan
tersebut diharapkan lembaga pengawas ini dapat menjalankan tugas dan
fungsinya dengan baik serta sedapat mungkin mampu bertindak secara
independen. Alasan sosiologis yang dapat dijadikan dasar pembentukan
Ayudha D. Prayoga, Persaingan Usaha dan Hukum yang Mengaturnya,
Proyek ELIPS. 1999, hlm. 28
135
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
95
KPPU adalah telah menurunnya citra pengadilan dalam memeriksa
dan mengadili suatu perkara serta beban perkara pengadilan yang sudah
menumpuk. Alasan lain adalah dunia usaha membu­­tuhkan penyelesaian
yang cepat, murah, seder­hana, dan proses pemeriksaan yang bersifat
rahasia. Oleh karena itu, diperlukan suatu lembaga khusus yang terdiri
atas orang-orang yang ahli dalam bidang ekonomi dan hukum sehingga
penyelesaian yang cepat dapat terwujud.
Keberadaan KPPU diatur dalam Pasal 30 UU Per­saingan Usaha
yang menentukan bahwa untuk meng­
awasi pelaksanaan UU No.
5/1999 dibentuk Komisi Pengawas Persaingan Usaha. KPPU meru­
pakan lembaga yang sifatnya independen terlepas dari segala pengaruh
kekuasaan pemerintah ataupun pihak lain dan langsung bertanggung
jawab kepada Presiden. Pembentukan KPPU dilakukan berdasarkan
Kepu­tusan Presiden RI No. 75 Tahun 1999 tentang Komisi Pengawas
Persaingan Usaha. Dengan demi­kian, Indonesia memakai model yang
kedua, yaitu KPPU meru­pakan lembaga independen yang bebas dari
intervensi pemerintah ataupun kekuatan-kekuatan lainnya sebagaimana
ketentuan Pasal 30 ayat 2 UU Persaingan Usaha.
Sejak didirikan, KPPU telah menunjukkan aktivi­tasnya dalam
memantau setiap gerak langkah serta kepatuhan pelaku usaha
terhadap UU No. 5/1999. Jika dibandingkan dengan negara lain,
pertumbuhan KPPU sebagai lembaga pengawas persaingan usaha
cukup menggembirakan, bahkan tumbuh dan berkem­bangnya KPPU
di kawasan ASEAN sangat cepat. Melihat pesatnya perkembangan
tersebut, KPPU sudah dapat menjalankan fungsi sesungguhnya
dengan baik dan benar. Yang lebih penting lagi, KPPU sudah mampu
membuat persaingan usaha di negara kita men­jadi lebih sehat
dibandingkan sewaktu UU No. 5/1999 belum ada.
Beberapa regulasi dalam penegakan hukum per­saingan usaha yang
berkaitan dengan kewenangan KPPU untuk mengimplementasikan
UU Persaingan Usaha dan menegakkan hukum persaingan usaha,
antara lain:
96
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
a.
Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Pasal 38 s.d
Pasal 49).
b. Keputusan Presiden RI No. 75 Tahun 1999 tentang Komisi
Pengawas Persaingan Usaha.
c. Peraturan Mahkamah Agung RI No.3 Tahun 2005 tentang Tata
Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan
KPPU.
d. Peraturan KPPU No. 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penanganan Perkara di KPPU.
e. Peraturan KPPU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pedoman Tugas
Pokok, Fungsi dan Wewenang Ketua/Wakil Ketua Komisi,
Anggota Komisi, dan Sekretariat Komisi dalam Lingkungan
Komisi Pengawas Persaingan Usaha
f. Peraturan KPPU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Tata
Cara Pengenaan Denda Keterlambatan Penyampaian
Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha
dan Pengambilalihan Saham Perusahaan
g. Peraturan KPPU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
19 Huruf D (Praktik Diskriminasi)
h. Peraturan KPPU Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
5 (Penetapan Harga)
i. Peraturan KPPU Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
15 (Perjanjian Tertutup)
j. Peraturan KPPU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
20 ( Jual Rugi)
k. Peraturan KPPU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
27 (Pemilikan Saham)
l. Peraturan KPPU Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
8 (Penetapan Harga Jual Kembali)
m. Peraturan KPPU Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal
50 huruf h
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
97
n. Peraturan KPPU Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan
atas Peraturan
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 13 Tahun 2010
tentang Pedoman Pelaksanaan tentang Penggabungan atau Peleburan
Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat
Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat.
F. Ruang Lingkup Industri Media Massa
Untuk memahami posisi media massa dalam sistem kapitalis, terlebih
dahulu kita pahami asumsi-asumsi dasar media yang melatarbelakangi
media massa. Pertama, institusi media menyelenggarakan produksi,
reproduksi, dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian
simbol yang mengandung acuan bermakna tentang pengalaman dalam
kehidupan sosial. Dalam hal ini, media massa memiliki posisi yang
begitu penting dalam proses transformasi pengetahuan. Kedua, media
massa memiliki peran mediasi antara realitas sosial yang objektif dengan
pengalaman pribadi. Media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam
lingkungan publik. Pada dasarnya, media massa dapat dijangkau oleh
segenap anggota masyarakat secara luas.
Menurut Denis McQuail,136 terdapat ciri-ciri khusus institusi media
massa antara lain.
a. Memproduksi dan mendistribusi “pengetahuan” dalam wujud
informasi, pandangan, dan budaya. Upaya tersebut merupakan
respons terhadap kebutuhan sosial kolektif dan permintaan individu.
b. Menyediakan saluran untuk menghubungkan orang tertentu dengan
orang lain, dari pengirim ke penerima, dari khalayak kepada anggota
khalayak lainnya.
Denis McQuil, Teori Komunikasi Massa,Agus Dharma (terj), Jakarta:
Erlangga, 1987, hlm.40.
136
98
c.
d.
e.
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Media menyelenggarakan sebagian besar kegiatannya dalam
lingkungan publik. Partisipasi anggota khalayak dalam institusi
pada hakikatnya bersifat sukarela, tanpa adanya keharusan dan atau
kewajiban sosial
Institusi media dikaitkan dengan industri pasar karena ketergan­
tungannya pada imbalan kerja, teknologi, dan kebutuhan pembiayaan
Meskipun institusi media itu sendiri tidak memiliki kekuasaan, tetapi
institusi ini selalu berkaitan dengan kekuasaan negara karena adanya
kesinambungan pemakaian media dengan mekanisme hukum.
Media massa mengalami kontradiksi sebagai institusi kapitalis yang
berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal. Karena media massa
harus berorientasi pada pasar dan sensitif terhadap dinamika persaingan
pasar, ia harus berusaha untuk menyajikan produk informasi yang memiliki
keunggulan pasar, antara lain informasi politik dan ekonomi. Di lain pihak,
media massa juga sering dijadikan alat atau menjadi struktur politik negara
yang menyebabkan media massa tersubordinasikan dalam mainstream
negara.
Contohnya, pada masa Orde Baru media massa menjadi agen
hegemoni dan alat propaganda pemerintah. Bahasan tentang konsekuensi
sistem kapitalisme terhadap media massa tidak lepas dari industri media
massa itu sendiri dan prospek kebebasannya. Media massa berkembang di
antara titik tolak kepentingan masyarakat dan negara, sebelum akhirnya
terimpit di antara kepungan modal dan kekuasaan.
Dalam masyarakat yang sistem sosial politiknya demokratis, akan
tersedia informasi yang layak bagi rakyatnya. Sebaliknya, dalam masyarakat
yang tidak demokratis, sistem komunikasi (dalam hal ini media massa)
yang ada digunakan untuk mempertahankan kekuasaan.
Penguasaan terhadap media massa adalah aspek utama penguasaan
politik dan ekonomi. Secara politik, kalangan industri media dan
komunikasi dapat menentang dan bahkan sekeras mungkin berupaya
mengurangi berbagai intervensi negara dalam aktivitas mereka. Kekuatan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
99
ini akan segera bereaksi apabila pemerintah berencana mengeluarkan suatu
usulan atau kebijakan terhadap sistem media dan komunikasi. Kebijakan
pemerintah ini dipandang sebagai kejahatan besar terhadap praktik pasar
bebas dalam industri media, tak peduli apa maksud di balik kebijakan
tersebut.
Ketika modal dan kekuasaan mengepung media massa, kalangan
industri media massa lebih menyerupai “pedagang”, mengendalikan pers
dengan memanfaatkan kepe­mi­likan saham atau modal untuk mengontrol isi
media atau mengancam institusi media yang “nakal”, dari­pada menyerupai
“politisi”, mengendalikan pers dengan mere­kayasa.
Sebagai capitalist venture media massa beroperasi dalam sebuah
struktur industri kapitalis yang tidak selalu memfasilitasi tetapi juga
mengekang. Menurut Smythe, “…Fungsi utama media adalah menciptakan
kestabilan segmen khalayak bagi monopoli penjualan pengiklan kapitalis”
137
. Kalau dikaji, banyak teori yang mencoba menjelaskan keter­kaitan
antara sistem kapitalis dan institusi media massa, baik dari perspektif
Marxist maupun yang non-Marxist. Menurut Gordon, sebagaimana
dikutip Rahayu, ada tiga hal penting yang dapat digunakan sebagai patokan
untuk mengidentifikasi karakteristik suatu industri. Ketiga hal itu tersebut
berkaitan dengan customer requirements, competitive environment, dan social
expectation.138
Customer requirement merujuk pada pengertian harapan konsumen
tentang produk yang mencakup aspek kualitas, diversitas, dan ketersediaan.
Competitive environment meru­pakan lingkungan persaingan yang dihadapi
peru­sahaan. Sementara social expectation berhubungan dengan ting­katan
harapan masyarakat terhadap keberadaan industri. Industri media seiring
dengan revolusi teknologi komu­­nikasi mencapai tahap industri modern
137
Dallas Smythe, Communication: Blindspot of Western Marxism, Canadian
Journal of Political and Social Theory, Volume 1, Number 3,1977, hlm.1.
138
Rahayu, Analisis Dampak Pergeseran Karakteristik Industri Pers pada
Strategi Perusahaan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal
Komunikasi, Vol.V/Oktober 2000, hlm.38.
100
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dengan segala konsekuensinya. Hal itu menempatkan media pada sisi yang
dilematis yakni antara pemenuhan fungsi media secara komprehensif dan
kepentingan bisnis.
Dalam pandangan Robert Mc Chesney, “produk-produk yang
dihasilkan oleh bisnis media biasanya bernilai cukup baik dalam produksi
hiburan yang menghasilkan keuntungan besar buat mereka. Namun,
apabila diban­dingkan dengan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaanperusahaan tersebut, kualitas yang dihasilkan bisa kita katakan menyedihkan.
Pada pokoknya, keseluruhan bisnis media membuat berbagai keterbatasan
terhadap kehidupan politik dan budaya”139.
Dalam bukunya, Agus Sudibyo, Dedy N. Hidayat menulis, media
adalah realitas dalam dirinya sendiri. Kemampuan untuk menjadi
pemain dalam industri media, contohnya, jelas tidak secara berimbang
dimiliki publik. Pemain industri media kita tampaknya hanya akan terdiri
atas kaum yang itu-itu saja. Media pun memiliki fungsi ideologis dan
melakukan manuver politik sesuai dengan fungsi ideologisnya. Ini akan
mencakup masalah siapa, kepentingan apa, dan perspektif mana yang
akan memperoleh akses ke media mereka. Di luar fungsi ideologis yang
dijalankan, bagaimanapun media pertama-tama perlu dilihat sebagai
institusi ekonomi dan karenanya manuver politik yang dijalankan melalui
politik pemberitaannya juga dikemas sebagai komoditas informasi yang
berusaha menyiasati tuntutan pasar.140
1. Hukum Media Massa
Landasan konstitusi dan yuridis kemerdekaan pers pada era reformasi
ini ditandai dengan langkah Majelis Permusyawaratan Rakyat yang
membuat Tap MPR No. XVII/1998 dan amandemen II UUD 1945
Pasal 28 F yang menegaskan bahwa berkomunikasi dan memperoleh
139
Robert Mc. Chesney, Konglomerasi Media Massa dan Ancaman Terhadap
Demokrasi, Andi Achdian (terj), Jakarta : Aji, Th. 1998, hlm.29.
140
Dedy. N Hidayat, Pengantar, dalam Agus Sudibyo, Politik Media dan
Pertarungan Wacana, Yogyakarta: LKIS, 2001, hlm.x.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
101
informasi adalah hak warga negara yang dijamin konstitusi, serta
pada tahun 1999 DPR dan pemerintah membuat 2 (dua) undangundang yang memerdekaan pers.
Landasan konstitusi dan yuridis kemerdekaan pers di antaranya
adalah:
1). Tap MPR No. XVII/1998 tentang Hak Asasi Manusia yang
menyebutkan:
Pasal 14 : “Setiap orang berhak atas kebebasan menyatakan
pikiran dan sikap sesuai dengan hati nurani”. Pasal 19: “Setiap
orang berhak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan
menge­
luarkan pendapat”. Pasal 20: “Setiap orang berhak
untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”. Pasal
21: “Setiap orang berhak men­
cari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, meng­olah, dan menyampaikan informasi dengan
meng­gu­nakan segala jenis saluran yang tersedia”. Pasal 42: “Hak
warga negara untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi
dijamin dan dilindungi”.
2). Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia menyebutkan:
Pasal 14 Ayat 1: “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi
dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”. Ayat (2):
“Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan menyampaikan infor­masi dengan
menggunakan segala jenis sarana yang tersedia”.
Pasal 23 Ayat (2): “Setiap orang bebas untuk mempunyai,
mengeluarkan, dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati
nuraninya secara lisan dan tulisan melalui media cetak maupun
elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesu­silaan,
ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa”.
102
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Pasal 60 Ayat (2): “Setiap anak berhak mencari, menerima,
dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat intelektualitas
dan usianya demi pengembangan dirinya sepanjang sesuai
dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan”.
3). Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan:
Intervensi pemerintah terhadap pers tidak boleh ada. Pers dan
publiklah yang mengontrol peme­
rintah, bukan sebaliknya.
Departemen Penerangan tidak diperlukan. Reformasi pers dari
pemerintah sebagai pembina, penentu kebijakan, pengaturan,
pengawasan, dan pengendalian penyiaran menjadi masingmasing medialah yang membina dan mengendalikan medianya.
Pelanggaran oleh pers: bila melanggar kode etik dilakukan
ethics enforcement dan bila melanggar hukum dilakukan law
enforcement.
4). Amandemen II UUD 1945 menyebutkan sebagai berikut:
Pasal 28 E: Ayat (2): Setiap orang berhak atas kebe­basan
meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai
dengan hati nuraninya. Ayat (3): Setiap orang berhak atas
kebebasan ber­serikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Pasal 28 F: Setiap orang berhak untuk berkomu­nikasi dan
memperoleh informasi untuk mengem­
bangkan pribadi dan
lingkungan sosial­nya, serta berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyam­paikan infor­masi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
2. Kode Etik Profesi
Biasanya suatu himpunan profesi merumuskan semacam kode etik.
“Kode” adalah sistem peraturan (system of rules), sedangkan “etik”
adalah norma perilaku.141 Suseno menyebut kode etik sebagai
“daftar kewajiban dalam menjalankan suatu profesi yang disusun
141
T. Atmadi, Sistem Pers Indonesia, Jakarta, PT Gunung Agung, 1985. hlm.61.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
103
oleh para anggota profesi itu sendiri dan mengikatnya saat
mempraktikkannya”.142 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
kode etik merupakan tuntutan, bim­bingan atau pedoman moral atau
kesusilaan untuk suatu profesi yang disusun oleh para anggota profesi
itu sendiri dan mengikatnya saat mempraktikkannya.
Kode etik sebenarnya merupakan perincian lebih lanjut dari
norma-norma yang lebih umum, yang diru­muskan dan dibahas dalam
etika profesi. Kode etik memerinci lebih lanjut dan memperjelas serta
mem­pertegas norma-norma tersebut dengan memilih dari berbagai
kemungkinan penataan norma-norma yang paling dibutuhkan
dalam praktik pelaksanaan profesi yang bersangkutan. Kode etik
adalah pemandu sikap dan perilaku bilamana kode etik tersebut telah
menjadi fungsi nurani. Kode etik profesi merupakan milik kelom­
pok profesi itu sendiri dan pedoman perilaku yang mereka susun
demi kepentingan mereka bersama. Oleh karena itu, yang wajib
menjatuhkan sanksi terha­dap mereka yang melanggar adalah kelom­
pok profesi itu sendiri.
Sebagai sistem pengaturan yang bersifat normatif, kode etik
dengan sendirinya tidak menentukan segala sesuatunya secara nyata
dan konkret, tetapi hanya menetapkan nilai-nilai. Nilai tingkah laku
yang dicerminkan dalam kode etik, bukan tingkah laku atau perangai
yang aktual semata-mata, tetapi meru­
pakan rumusan tentang
“bagaimana seharusnya” dan “bagaimana sepatutnya” tingkah laku
yang benar atau salah, yang baik atau buruk itu, menurut ukuran
moralitas masyarakat.
Secara umum, kode kewartawanan itu mencakup ketentuanketentuan:143
a. Mewajibkan para pengemban profesi untuk tidak melakukan
perbuatan dengan cara yang dapat merusak profesi.
b. Para pengemban profesi seyogianya berperilaku dalam kehidupan
Suseno. Nilai, Krisis Nilai, Transvalutasi. Basis 7, 1987. hlm.77
Robert Solomon, Etika, Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 1987. hlm.93.
142
143
104
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
pribadinya dengan cara yang tidak menimbulkan konflik
kepentingan dengan kewajiban-kewajiban profesionalnya
c. Para pengemban profesi seyogianya bertindak adil (fair) dalam
berurusan dengan rekan profesi.
d. Para pengemban profesi seyogianya berupaya menjaga stabilitas
informasi yang disajikan dengan selalu berupaya:
1). memaparkan bahan berita secara cermat, objektif, dan
konsideratif
2). menghindari distorsi, seleksi, dan mis­representasi fakta
3). menghindari bias dan parsialitas (keber­pihakan)
4). berupaya tidak melakukan dan atau mem­
bangkitkan
dugaan-dugaan (conjecture) dan mencampuradukkan fakta
dan opini
e. Para pengemban profesi seyogianya memiliki integritas dalam
menjalankan profesinya
f. Para pengemban profesi seyogianya menghormati konfidensialitas
sumber infor­masinya sepanjang sumber informasi itu memerlukan
dan atau menghendakinya
g. Para pengemban profesi seyogianya meng­hormati dan sejauh
mungkin tidak memasuki lingkungan kehidupan pribadi (right
to privacy), asas ini memublikasikan:
1).Kewajiban untuk memperkenalkan diri secara jelas
sebelum melakukan wawan­cara dan atau sebelum mem­
peroleh izin memasuki lingkungan kehidupan pribadi
seseorang
2). Berkewajiban menghindari cara pengem­
banan profesi
yang menimbulkan harassment (situasi yang sangat
mengganggu) bagi subjek pemberitaan dan atau orang lain
yang terkait
3). Tidak menggunakan misrepresentasi dan dalih pada waktu
berupaya memperoleh informasi
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
105
h. Para pengemban profesi seyogianya meng­
hormati hak
jawab dan koreksi
i. Para pengemban profesi seyogianya tidak menggunakan
bahasa diskriminatif
j. Para pengemban profesi seyogianya tidak melakukan
plagiat
Pada umumnya, etika profesi dipandang sebagai suatu disiplin
normatif yang ditandai adanya standar-standar tertentu yang sudah
ditentukan dalam ling­kungan bisnis, yang harus diterapkan dalam
men­
ja­
lankan aktivitas bisnis tersebut. Standar-standar ini akan
menunjukkan apakah yang segala aktivitas yang dijalankan tersebut
akan divonis sebagai suatu bisnis yang baik atau buruk, yang kemudian
hal itu akan diklaim sebagai suatu yang seharusnya dilakukan dan apa
yang seharusnya tidak dilakukan dalam peng­ambilan keputusan pada
setiap aktivitas dalam bisnis tersebut. Dalam penerapannya, etika
profesi bisnis sering kali terbentur oleh berbagai dilema kepentingan
yang ingin dicapai dalam bisnis itu sendiri. Namun, semua manajer
atau pemegang keputusan suatu bisnis harus tetap dapat menjalani
dan menghadapi berbagai konflik etika yang sulit sekali pun.
Masalah etika profesi tidak akan pernah habis-habisnya untuk
dibahas serta terus mengalami perkem­bangan dan perubahan karena
masalah etika sangat terkait dengan banyak kepentingan para
pemang­ku kepentingan (stakeholder) yang juga terus ber­kem­­bang.
Perkem­bangan peradaban manusia telah menum­buh­kan nilai-nilai
baru bagaimana mereka meng­­­
inter­
pretasikan lingkungannya dan
kemudian dija­di­kan suatu nilai yang mereka junjung tinggi untuk
bisa hidup bersama.
Alasan ekonomi sering kali membuat nilai-nilai etika dalam
bisnis menjadi sesuatu yang diabaikan. Dengan alasan mengejar
keuntungan, pelaku bisnis menjadikan suatu hal yang tadinya haram
sebagai sesuatu yang ”halal”.
106
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Terkait dengan kegiatan media massa untuk men­jamin
kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh
informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan
moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam men­
jaga keper­cayaan publik. Atas dasar itu, wartawan Indonesia bersama
Dewan Pers menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik.
Selain setiap perusahaan media massa menerapkan etika yang
berlaku di lingkungan internal perusahaan, pada umumnya Kode
Etik Jurnalistik juga berlaku di lingkungan media massa nasional
yang diberlakukan oleh Dewan Pers. Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Dewan Pers ini ruang lingkupnya lebih luas mencakup wartawan,
organisasi pers, dan perusahaan pers.
-KEJ Dewan Pers:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, meng­hasilkan berita
yang akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk.
Penafsiran:
1. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta
sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan,
paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik
perusahaan pers.
2. Akurat berarti dipercaya benar sesuai dengan keadaan
objektif ketika peristiwa terjadi.
3. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan
setara.
4. Tidak beriktikad buruk berarti tidak ada niat secara
sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian
pihak lain.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
107
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional
dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Penafsiran:
Cara-cara yang profesional adalah:
a. Menunjukkan identitas diri kepada nara­sumber;
b. Menghormati hak privasi;
c. Tidak menyuap;
1. Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sum­
bernya; rekayasa pengambilan dan pemuatan atau
penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan
keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara
berimbang;
2. Menghormati pengalaman traumatik nara­
sumber
dalam penyajian gambar, foto, suara;
3. Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan
hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
4. Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertim­bang­
kan untuk peliputan berita investigasi bagi kepen­
tingan publik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan
secara berimbang, tidak men­campurkan fakta dan opini yang
menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Penafsiran:
1. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck
tentang kebenaran informasi itu.
2. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu
pemberitaan kepada masing-masing pihak secara
108
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
proporsional.
3. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi
wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu
pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
4. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi
seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah,
sadis, dan cabul.
Penafsiran:
1. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya
oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta
yang terjadi.
2. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara
sengaja dengan niat buruk.
3. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
4. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis
dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang sematamata untuk membangkitkan nafsu birahi.
5. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan
mencantumkan waktu peng­ambilan gambar dan suara.
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan
identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan
identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Penafsiran
1. Identitas adalah semua data dan informasi yang
menyangkut diri seseorang yang memu­dahkan orang lain
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
109
untuk melacak.
2. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun
dan belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak
menerima suap.
Penafsiran
1. Menyalahgunakan profesi adalah segala tin­dakan yang
mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang
diperoleh saat ber­
tu­
gas sebelum informasi tersebut
menjadi pengetahuan umum.
2. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang,
benda atau fasilitas dari pihak lain yang memengaruhi
independensi.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi
narasumber yang tidak bersedia dike­
tahui identitas maupun
keberadaannya, meng­hargai ketentuan embargo, informasi latar
belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.
Penafsiran
1. Hak tolak adalak hak untuk tidak meng­
ungkapkan
identitas dan keberadaan nara­
sumber demi keamanan
narasumber dan keluarganya.
2. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran
berita sesuai dengan permintaan narasumber.
3. Informasi latar belakang adalah segala infor­masi atau data
dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa
menyebutkan nara­sumbernya.
110
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
4. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari
narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyia­
rkan berita
berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas
dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan
bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin,
sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Penafsiran
1. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai
sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.
2. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak nara­sum­ber tentang
kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
1. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri
dan berhati-hati.
2. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehi­dupan seseorang
dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan
publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki
berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan
maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Penafsiran
1. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin,
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
111
baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
2. Permintaan maaf disampaikan apabila kesa­lahan terkait
dengan substansi pokok.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara
proporsional.
Penafsiran
1. Hak jawab adalah hak seseorang atau seke­lompok orang
untuk memberikan tang­gapan atau sanggahan terhadap
pem­beritaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
2. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan
kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik
tentang dirinya maupun tentang orang lain.
3. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang
perlu diperbaiki.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jur­nalistik dilakukan
Dewan Pers, sedangkan sanksi atas pelanggaran kode etik
jurnalistik dila­
kukan oleh organisasi wartawan dan atau
perusahaan pers.
G. Sistem Regulasi Persaingan Usaha
Dewasa ini sudah lebih dari 80 negara di dunia yang telah memiliki
Undang-Undang Persaingan Usaha dan Antimonopoli, dan lebih dari 20
negara lainnya sedang berupaya menyusun aturan perundangan yang sama.
Langkah negara-negara tersebut sementara mengarah pada satu tujuan,
yaitu meletakkan dasar bagi suatu aturan hukum untuk melakukan regulasi
guna menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat. Persaingan usaha
yang sehat (fair competition) merupakan salah satu syarat bagi negaranegara untuk mengelola perekonomian yang berorientasi pasar.
112
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Negara–negara komunis seperti Federasi Rusia dan Republik Rakyat
Cina (RRC) yang pada dasarnya segala aktivitas perekonomiannya
diatur oleh negara secara terpusat (central-planned economy), juga mulai
mereformasi kebijakan ekonomi mereka menuju ekonomi yang berorientasi
pada mekanisme pasar. Bahkan RRC sendiri telah menjadi anggota
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai simbol bagi persekutuan
negara-negara dengan pengorganisasian ekonomi yang berorientasi pasar.
Apabila ditelusuri, sistem regulasi persaingan usaha dan praktik
monopoli di bidang bisnis tidak bisa dilepaskan dari adanya latar belakang
kepentingan politik hukum suatu bangsa. Contohnya, pembentukan komisi
perdagangan VOC oleh Belanda pada zaman penjajahan merupakan salah
satu bukti adanya hubungan antara kepentingan politik hukum pemerintah
kolonial Belanda yang berlaku saat itu yang dilatarbelakangi besarnya
tuntutan ekonomi rakyatnya di Eropa terhadap kebutuhan akan rempahrempah. Hal itu dapat diteliti dari isi pasal-pasal hak-hak oktroi, cara-cara,
dan latar belakang serta tujuan pembentukan VOC di Indonesia pada masa
lalu yang ditegaskan secara jelas pada Pasal 2 untuk melakukan praktik
monopoli perdagangan.
Demikian pula di Indonesia, membentuk berbagai regulasi di bidang
persaingan usaha adalah sesuai dengan kebutuhan politik hukum bangsa
dalam rangka mewujudkan negara kesejahteraan. Lahirnya UU Nomor
5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat dapat dipandang sebagai suatu regulasi produk hukum buatan
asli bangsa Indonesia di bidang industri, perdagangan, dan bisnis, termasuk
undang-undang konsumen.
1. Dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Dalam
Industri Media Massa
Dalam aktivitas bisnis dapat dipastikan terjadi persaingan
(competition) di antara pelaku usaha. Pelaku usaha akan berusaha
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
113
menciptakan, mengemas, serta me­­ma­sarkan produk yang dimiliki,
baik barang mau­pun jasa, sebaik mungkin agar diminati dan dibeli
oleh konsumen. Persaingan dalam usaha dapat ber­implikasi positif,
sebaliknya dapat menjadi negatif jika dijalan­kan dengan perilaku
negatif dan sistem ekonomi yang menyebabkan tidak kompetitif.
Dari sisi manfaat, persaingan dalam dunia usaha adalah cara
yang efektif untuk mencapai pendaya­gu­naan sumber daya secara
optimal. Adanya rivalitas akan cenderung menekan ongkos-ongkos
produksi sehing­
ga harga menjadi lebih rendah serta kualitasnya
sema­
kin meningkat. Bahkan lebih dari itu, persaingan dapat
menjadi landasan fundamental bagi kinerja di atas rata-rata untuk
jangka panjang dan dinamakannya ke­unggulan bersaing yang lestari
(sustainable competitive advantage) yang dapat diperoleh melalui tiga
strategi generik, yakni keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus biaya.
Persaingan dalam pasar dan mekanisme pasar dapat membentuk
beberapa jenis pasar. Ada yang disebut dengan pasar persaingan
sempurna (perfect competition market), pasar monopoli, oligopoli, dan
juga posisi dominan. Persaingan sempurna adalah struktur pasar yang
paling ideal karena sistem pasar ini adalah struktur pasar yang akan
menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi barang dan jasa yang
sangat tinggi efisiensinya. Adapun yang disebut oligopoli adalah pasar
yang terdiri atas beberapa produsen saja.
UU Persaingan Usaha secara garis besar mengatur dua hal, yakni
larangan praktik monopoli dan per­saingan tidak sehat. Keduanya
(praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat) adalah dua hal
yang berbeda. Menurut UU Persaingan Usaha, monopoli diartikan
sebagai penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/
atau penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku atau satu kelompok
usaha (Pasal 1 angka 1 UU Persaingan Usaha).
Berdasarkan pengertian dan istilah, kelompok pelaku usaha
dikenal dengan istilah grup pengusaha atau kelompok, sindikasi, juga
114
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
disebut sebagai sektor privat. Sementara praktik monopoli adalah
pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang
mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atau barang
dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha
tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Pengertian
monopoli sebenarnya lebih luas, sehingga jangkauan kata monopoli
dapat dilihat jika seseorang yang monopolis menguasai pangsa pasar
lebih dari 50 persen. Dengan demikian, pada pasar tersebut masih ada
pelaku usaha (pesaing), tetapi terdapat satu atau dua pelaku yang lebih
menguasai (Pasal 17 ayat 2 UU Persaingan Usaha).
Persaingan usaha tidak sehat dapat dipahami sebagai kondisi
persaingan di antara pelaku usaha yang berjalan secara tidak fair. UU
Persaingan Usaha memberikan 3 (tiga) indikator untuk menyatakan
terjadinya persaingan usaha tidak sehat, yaitu:
a. Persaingan usaha yang dilakukan secara tidak jujur
b. Persaingan usaha yang dilakukan dengan cara melawan hukum
c. Persaingan usaha yang dilakukan dengan cara menghambat
terjadinya persaingan di antara pelaku usaha
Secara garis besar, UU Persaingan Usaha berisikan sebagai
berikut:
Pertama, perjanjian yang dilarang sebagaimana yang terdapat dalam
Bab III dari Pasal 4 sampai Pasal 16.
Kedua, kegiatan yang dilarang terdapat pada Bab IV yang perinciannya
dimuat dari Pasal 17 sampai Pasal 24.
Ketiga, larangan yang berkaitan dengan posisi dominan terdapat
dalam Bab V dari Pasal 25 sampai Pasal 29.
Keempat, pengecualian, terdapat dalam Pasal 50 – 51, dan Kelima,
lembaga yang ditugasi pemerintah untuk melakukan pengawasan
persaingan usaha yang disebut dengan Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (KPPU) Pasal 30 sampai Pasal 37.
Media massa elektronik terkait dengan bisnis informasi, menjadi
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
115
pertanyaan apakah informasi ter­masuk barang yang diatur dalam ruang
lingkup praktik monopoli yang diperdagangkan. Untuk menge­tahui
kejelasan tentang barang informasi dapat diangkat dari definisi dalam
ketentuan umum Pasal 1 ayat (16) yang menjelaskan bahwa barang
adalah setiap benda, baik berwujud maupun tidak berwujud, baik
bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, atau
dimanfaatkan oleh konsumen atau pelaku usaha. Mengenai kaitannya
dengan jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau
prestasi yang diper­dagangkan dalam masyarakat untuk dimanfaatkan
oleh konsumen atau pelaku usaha.
Dengan kata lain, dapat dirumuskan bahwa infor­masi adalah
barang tidak berwujud yang diperda­gang­kan melalui sistem jasa.
Begitu pula yang dimaksudkan dengan persaingan usaha tidak sehat
dijelaskan adalah persaingan antarpelaku usaha dalam menjalankan
kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang
dilakukan dengan cara tidak jujur atau mela­
wan hukum atau
menghambat persaingan usaha. Dalam menjalankan kegiatan
usahanya agar tidak melakukan praktik monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat yang bersangkutan diawasi oleh KPPU (Komisi
Pengawas Persaingan Usaha) yang bersifat independen.
2. Industri Media Massa
Sistem regulasi persaingan usaha dalam industri media massa
dilaksanakan berdasarkan ketentuan per­aturan dan perundang-undangan
yang berlaku. Dan keberadaannya sangat terkait dengan sejarah
perkem­­bangan media massa. Keadaan media massa di Indonesia
saat ini jauh lebih berkembang dan terasa kiprahnya dibandingkan
dengan masa-masa sebe­lum­­nya. Saat ini media massa di Indonesia
mulai tum­buh, dan bisnis media massa juga mulai menjadi perha­­tian
utama para pengusaha. Namun, di samping itu, perkem­bangan media
juga menimbulkan dampak sosial yang memprihatinkan. Hal itu
terjadi karena saat ini industri media, baik cetak maupun elektronik,
116
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
tidak lagi memperhatikan kualitas informasi yang diberikan kepada
masyarakat, melainkan hanya melihat dari sisi keun­tungan yang akan
diperoleh perusahaan media, dan ini berdampak bagi masyarakat,
terutama remaja.
Pemberitaan atau informasi yang disuguhkan oleh kalangan
media massa juga terkadang tidak lagi sesuai dengan fungsi media
massa secara keseluruhan, melainkan media massa saat ini lebih
terpaku pada fungsi menghibur saja. Dengan demikian, informasi
yang ditampilkan hanya berkisar mengenai busana, mode, atau yang
paling banyak saat ini adalah mengenai selebriti, mulai dari gaya
hidup mereka hingga masalah pribadi seperti perceraian. Hal itulah
yang sangat disayangkan, karena nantinya secara tidak langsung
hal itu akan menjadi contoh atau ”panutan” masyarakat dalam
kesehariannya.144
Memang saat ini ada sejumlah kebijakan peme­rintah yang telah
disahkan berkaitan dengan media massa, seperti Undang-Undang
No.40 Tahun 1999, Undang-Undang Penyiaran No.32 Tahun 2002.
Di samping itu, media massa juga selalu diawasi oleh Dewan Pers dan
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Namun, dalam aplikasinya, semua
kebijakan itu masih sangat jauh dari harapan. Hal itu tampak dari
sistem kinerja media massa yang masih sangat banyak memberitakan
atau menginformasikan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dan
melenceng dari peraturan yang telah dikeluarkan.
Terlepas apakah itu media cetak maupun elektronik milik
pemerintah ataupun milik perseorangan (independen), yang jelas para
pemilik industri media tampaknya telah memahami bahwa bidangbidang media komunikasi merupakan komoditas bisnis yang bernilai
ekonomis.
144
Fachrur Rizha. Dampak Sosial dari Pengembangan Industri Media Massa
dan Implementasi Kebijakan di Bidang Komunikasi Massa. http://pesannanggroe.
com/karya-ilmiah/41-karya-ilmiah/70-dampak-sosial-dari-pengembanganindustri-media-massa-dan-implementasi-kebijakan-dibidang-komunikasi-massa.
html. Diakses tanggal 7 Oktober 2011.
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
117
Sebagai sebuah industri bisnis, media massa tentunya disadari
oleh banyak pihak memiliki pengaruh yang sangat besar. Bagi para
pemilik modal, media massa merupakan sarana bisnis. Sementara
bagi para komunikator massa, khususnya kalangan wartawan dan
karyawan media massa lainnya, media adalah sarana profesi. Bagi
kalangan masyarakat tertentu, khususnya tokoh, media massa
merupakan infrastruktur kekuasaan. Adapun dimuatnya kebijakankebijakan, perundang-undangan, peraturan-peraturan, merupakan
refleksi dari keterlibatan kalangan masyarakat. Di lain pihak, kalangan
masyarakat umum mengharapkan media massa sebagai alat kontrol
sosial dan perubahan.
Dalam hal ini McQuail melukiskan, kedudukan media massa
berada di antara dua lapisan sosial, yaitu lapisan atas dan lapisan
bawah. Dengan demikian, media massa menjadi penghubung,
bahkan bagian yang menyatu pada sistem-sistem yang berwujud
di dalam sebuah negara.145 Pada dasarnya, kedudukan media massa
saat ini sangat strategis. Informasi mengalir seolah tanpa batas atau
sempadan yang menghubungkan antara masyarakat kalangan atas
dan bawah. Namun, seiring perkembangan zaman dan banyaknya
kepentingan yang bertarung di dalamnya, kedudukan media massa
dinilai sudah tidak ideal lagi. Ini dapat kita lihat melalui peran dan
fungsi media massa yang sesungguhnya.
Di beberapa jenis media, peran dan fungsinya sudah mengacu
pada peran dan fungsi bisnis semata. Saat ini sudah sangat jauh
berkurang fungsi edukasi, nilai, dan etika yang disiarkan. Berdalih atas
dasar survei terhadap keperluan tontonan atau bacaan masyarakat,
media massa kini justru banyak mengumbar nilai-nilai negatif dan
fiksi untuk masyarakat. Bahkan ada beberapa aspek pemberitaan atau
informasi yang ter­kesan sengaja digembar-gemborkan untuk kepen­
tingan segelintir orang saja. Keadaan ini terjadi karena berlakunya
konglomerasi media oleh “pemilik kuasa”. Tak jarang beberapa media
Denis McQuail. Op cit., hlm. 78.
145
118
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dimiliki oleh satu orang atau bernaung di bawah satu industri media
sehingga format, isi, dan isu yang ditampilkan selalu sama. Akibat­
nya, media menjadi alat “perang” kepentingan oleh pemilik media dan
para kroninya. Oleh karena itu, penulis menyebutnya dengan istilah
“perebutan lahan”, baik lahan bisnis, lahan kepentingan, maupun
lahan-lahan sensasi lainnya.
Perkembangan kedua yang patut dicermati ber­kaitan dengan
kondisi lingkungan tempat industri media tersebut hidup. Kondisi
lingkungan memberi tekanan-tekanan pada institusi media ber­
sangkutan. Globalisasi yang ditandai dengan pergerakan bebas
informasi, uang, tenaga kerja, produk, dan jasa melintasi batas-batas
tradisional negara makin mendesak berba­gai institusi media untuk
betul-betul bersifat kompetitif jika mau survive.146
Tren terakhir menunjukkan semakin ketatnya iklim persaingan
dan semakin menguatnya nilai-nilai kepentingan ekonomi (profit)
atas nilai-nilai “jurnalisme murni”. Pemilihan topik atau isu untuk
diliput, misalnya semakin mempertimbangkan faktor untung rugi
(cost benefit) secara finansial. Jadi, tidak semata-mata hanya memper­
timbangkan nilai “jurnalisme murni”. Contohnya terlihat nyata di
media cetak pada akhir tahun-tahun terakhir ini, dengan makin
tipisnya jarak antara newsroom atau bagian redaksi (editorial) dan
bagian bisnis atau usaha “pembauran” bagian redaksi dengan usaha
ini dipraktikkan dalam operasional sehari-hari di sejumlah koran
nasional.
Kegiatan dalam media pers, dengan menggunakan bahasa
manajemen, dirumuskan dalam sebutan pra­produksi, produksi, dan
pemasaran. Sebutan ini ber­konotasi fisik-material dan berkonteks
ekonomi. Sementara kerja jurnalisme sejatinya adalah proses
intelektual. Kegiatan jurnalisme pada dasarnya memi­lih realitas sosial
Satrio Arismunandar. Perkembangan Terkini dalam Industri Media dan
Hubungannya dengan Kurikulum Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi, Jurnal
Ilmiah SCRIPTURA ISSN 1978-385X Vol. No.1 Januari 2007. hlm.3.
146
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
119
untuk dijadikan informasi pers, untuk kemudian informasi ditransfer
ke alam pikiran khalayak luas. Proses mengubah realitas sosial menjadi
informasi itu sendiri adalah kerja intelektual, begitu pula penyerapan
informasi yang dilakukan oleh kha­layak adalah kerja intelektual.
Kerja jurnalisme yang berada dalam situasi industrial tentulah akan
menye­
suaikan diri dengan manajemen. Namun, selain diformat
oleh manajemen industrial, kerja wartawan juga dipengaruhi oleh
etos profesional jurnalismenya masing-masing. Etos profesional ini
menuntut adanya kebebasan dalam bekerja. Profesionalisme ditandai
oleh kemandirian, sementara kemandirian itu harus ditempatkan
dalam proses manajemen. Inilah masalah yang perlu diperhatikan.
Jadi bukan sekadar kebebasan wartawan, sebab kebebasan hanya
bermakna bagi profesionalisme.
Dalam perkembangannya, pers nasional bergerak ke arah
penerbitan yang bersifat industrial. Ini ditandai dengan sifatnya yang
padat modal dan kemajuan perangkat keras serta pola manajemen
yang semakin canggih. Ditambah lagi dengan sifat pengusahaan
yang padat modal, sosok pers sekarang sangat berbeda dibandingkan
dengan pers nasional pada masa perge­rakan nasional. Oleh karena itu,
mungkin kurang tepat men-”tracee”, menelusuri jejak pers sekarang
dengan pers nasional tempo “doeloe” pada zaman pergerakan.
Pers nasional, dalam hal ini media cetak, pada masa depan
bukan hanya menghadapi tantangan di dalam dirinya sendiri,
tetapi lebih-lebih lagi perkembangan masyarakat Indonesia. Media
cetak berkembang dalam masyarakat industrial. Sebagai catatan,
perlu diingat bahwa masyarakat industrial adalah tipe masyarakat
yang berkembang setelah meninggalkan dunia agraris tetapi belum
memasuki tahapan masyarakat informasi.
Posisi media cetak di negeri kita dapat disebut serba tidak
tepat tempat. Media cetak muncul ketika bagian terbesar masyarakat
belum beranjak dari alam agrarisnya. Dalam alam ini, bukan media
120
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
massa cetak yang diperlukan, sebab masyarakat dapat tercukupi
dengan media sosial. Sebelum menjadi masyarakat industrial yang
mengandalkan media massa, masyarakat kita akan dilanda oleh arus
teknologi komunikasi dengan media interaktif. Dari media sosial ke
media interaktif memang suatu loncatan teknologi yang luar biasa,
tetapi substansinya sebenarnya tidak banyak berbeda. Media sosial
juga bersifat interaktif, setiap pelaku komunikasi dapat menentukan
sendiri kapan dan berapa banyak informasi yang akan diambilnya.
Sejumlah elite di kota-kota sudah memasuki alam masyarakat
informasi. Kebutuhan akan informasi yang bersifat pragmatis dipenuhi
melalui media interaktif yang memiliki jaringan internasional.
Sejumlah lainnya lebih banyak meng­gunakan media massa elektronik
bersifat audiovisual, dengan parabola jam siaran se­pan­jang waktu. Pola
penggunaan media audiovisual bersifat menangkap seluruh perhatian,
berbeda dengan media audio yang masih bisa dikerjakan sambil lalu.
Contoh yang paling khas siaran pagi televisi, dengan begitu jam
membaca media cetak edisi pagi akan berkurang. Loncatan budaya
komunikasi yang dialami oleh masyarakat kita, dengan sendirinya
tidak menguntungkan bagi perkembangan media cetak.147
H. Aspek-aspek Hukum Media Massa
1. UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers
Hukum adalah sebuah entitas yang sangat kompleks, meliputi kenya­
taan kemasyarakatan yang majemuk dan tak henti-hentinya diper­debatkan
di kalangan cendekiawan. Kompleksnya hukum menye­babkan hukum itu
dapat dipelajari dari berbagai sudut pandang. Lahirnya berbagai disiplin
hukum di antaranya hukum pers (UU No. 40 Tahun 1999) sebagai bagian
dari politik hukum (politic of law), merupakan bukti yang tidak terbantahkan
Ashadi Siregar, Kebebasan Wartawan Dalam Industri Pers Nasional. Orasi
disampaikan pada Acara Wisuda Sarjana, Sekolah Tinggi Komunikasi Massa
AWS, Surabaya 25 Juli 1991. hlm 6.
147
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
121
dari kebenaran pernyataan tersebut. Perlu dipahami bahwa politik hukum
(rechtspolitek) adalah suatu bidang ilmu yang mempunyai ciri-ciri tertentu,
yaitu kegiatan untuk menentukan atau memilih hukum mana yang sesuai
untuk mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki oleh masyarakat.
Pengertian lain menyebutkan bahwa politik hukum adalah legal
policy yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah
Indonesia. Politik hukum juga mencakup proses pembuatan dan pelak­
sanaan hukum yang dapat menunjukkan sifat dan ke arah mana hukum
akan dibangun dan ditegakkan. Dengan asumsi demikian, perlu diajukan
pertanyaan apakah “kebebasan pers” sebagai suatu ciri dari kegiatan hukum
pers dapat dikategorikan telah memenuhi unsur politik hukum.
Memahami pengertian politik hukum secara umum adalah sangat
penting, termasuk juga bagaimana kedudukan disiplin ilmu itu dalam
struktur keilmuan disiplin hukum, dan apa manfaatnya jika kita mem­
pelajarinya. Untuk men­je­laskannya, kita harus merujuk pada letak sumber
hukum dan tata urutan perundang-undangan yang ber­laku di Indonesia.
Dalam Pasal 2 Tap MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum
dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan, disebutkan bahwa tata
urutan perundang-undangan yang berlaku secara hierarkis di Indonesia
adalah Tap MPR, UU, Perppu, PP, Keppres, dan Perda.
Berkaitan dengan posisi tertinggi UUD 1945 dalam tata urutan
perundang-undangan, sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari fungsinya
sebagai konstitusi negara. Hal ini senada dengan pendapat Hans Kelsen
dalam “General Theory of Law and State”. Perumusan politik hukum oleh
DPR dilakukan melalui beberapa tahapan proses (DPD–DPR–Presiden)
dengan empat tingkat. Keinginan membuat atau merevisi undang-undang
bisa datang dari berbagai kalangan yang bisa muncul pada tingkat
suprastruktur politik ataupun infrastruktur politik. Sementara infrastruktur
politik Indonesia terdiri atas partai politik, kelompok kepentingan (interest
group), kelompok penekan (pressure group), alat komunikasi politik, dan
tokoh politik.
122
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Sri Soemantri pernah mengonstatasi, hubungan antara hukum dan
politik di Indonesia ibarat perjalanan lokomotif kereta api yang keluar
dari relnya. Jika hukum diibaratkan rel dan politik diibaratkan lokomotif
maka sering terlihat lokomotif itu keluar dari rel yang seharusnya dilalui.
Hal itu terkait dengan analisis karena konsentrasi energi politik lebih
kuat, maka menjadi beralasan adanya konstatasi bahwa kerap kali otonomi
hukum di Indonesia diintervensi politik. M. Mahfud dalam pernyataan
hipotesisnya mengemukakan bahwa konfigurasi politik suatu negara akan
melahirkan ka­rakter produk hukum tertentu di negara tersebut. Ia meng­
artikan konfigurasi politik adalah susunan atau kon­ste­lasi kekuatan politik
yang secara dikotomis terbagi dalam kon­figurasi politik demokratis dan
konfigurasi politik otoriter.
Secara spesifik, untuk mengualifikasikan apakah konfigurasi politik itu
demokratis atau otoriter, Mahfud memakai indikator tiga pilar demokrasi,
yaitu peranan partai politik dan badan perwakilan, kebebasan pers, dan
peranan eksekutif. Pada konfigurasi politik demokratis, partai politik dan
lembaga perwakilan rakyat aktif berperan menentukan hukum negara atau
politik nasional. Kehidupan pers relatif bebas, sedangkan peranan lembaga
eksekutif (pemerintah) tidak dominan dan tunduk pada kemauan-kemauan
rakyat yang digambarkan lewat kehendak lembaga perwakilan rakyat. Pada
konfigurasi politik otoriter, yang terjadi adalah sebaliknya.
Ketentuan pelaksanaan undang-undang dimaksud adalah peraturan
mengenai Undang-Undang Perseroan Terbatas yang dikenal dengan
UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT (Tambahan Lembaran Negara RI
No. 3587 Kehakiman, Perseroan Terbatas, Saham, Ekonomi (Penjelasan
atas Lembaran Negara RI Tahun 1995 Nomor 13). Seperti dimaklumi,
dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Penerangan RI No.01/Per/
Menpen/1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), maka
peraturan menteri itu telah menyingkirkan ketentuan sebelumnya mengenai
Surat Izin Terbit (SIT) penerbitan pers yang diatur dalam Pasal 20 ayat (1)
UU No.11 Tahun 1966. Dan, ketentuan SIT secara yuridis formal tidak
berlaku lagi. Ternyata Permenpen 01/1984 tersebut telah mengakibatkan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
123
terjadinya sifat campur aduk antara undang-undang perusahaan pers (code
of the enterprise) dan undang-undang penerbitan yang menyangkut isi (code
of publication).
Akan tetapi, apabila kita simak bunyi Pasal 33 h Permenpen No.
01/1984 itu, akan timbul interpretasi lain. Sekalipun nama ketentuan
tersebut adalah Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), sehingga
seakan-akan hanya menyangkut aspek bisnis perusahaan pers saja, tetapi
ketentuan lain dalam Pasal 11 dan penjelasan Pasal 11 UU No.11/1966
menyatakan. “Jika suatu penerbitan pers, isinya ternyata bertentangan
dengan Pancasila, maka sesudah mendengar pertimbangan Dewan Pers,
pemerin­tah mengeluarkan suatu keputusan untuk melarang kelang­sungan
terbitnya”.
Padahal apabila diperhatikan, Pasal 4 dan 8 (2) UU No.11/1966
dengan tegas menyebutkan pula bahwa sensor dan pemberedelan dilarang.
Sementara Pasal 8 ayat (2) menyatakan bahwa penerbitan pers tidak wajib
memiliki Surat Izin Terbit. Karena Pasal 33 h Permenpen No. 01/1984
mengatur isi suatu penerbitan pers, maka pasal itu meng­gerogoti apa
yang telah ditetapkan oleh Pasal 4 dan 8 ayat (2) UU No.11/1966, yakni
melarang terjadinya sensor, pemberedelan, dan kewajiban memiliki surat
izin terbit terhadap penerbitan pers.
Sebagaimana diketahui, dalam tinjauan pustaka dije­laskan bahwa
kebebasan pers di mana pun ada tiga syarat pokok yang dipersyaratkan,
adalah: 1) tidak diperlukannya izin untuk menerbitkan penerbitan pers, 2)
tidak ada sensor, dan 3) tidak ada pemberedelan.
2. UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
Dalam penelitian pustaka yang dilakukan untuk mem­
perluas
wawasan penulis tentang pengertian pers, perlu dicari dan diangkat
pemahaman berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran. Dalam pembukaan dikemukakan bahwa spektrum frekuensi
radio merupakan sumber daya alam terbatas dan merupakan kekayaan
nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan dipergunakan
124
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
untuk sebesar-besarnya kemak­
muran rakyat sesuai dengan cita-cita
Proklamasi 17 Agustus 1945. Dengan tujuan untuk menjaga integrasi
nasional, kemajemukan masyarakat Indonesia dan terlaksananya otonomi
daerah maka perlu dibentuk sistem penyiaran nasional yang menjamin
terciptanya tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang
guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam lampiran UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
dijelaskan bahwa lembaga penyiaran merupakan media komunikasi massa
yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, politik,
dan ekonomi, me­miliki kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan
fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, pengawasan, dan
praktik sosial.
Pengertian lain tentang pers penyiaran diuraikan dalam Pasal 1,
bahwa yang dimaksud;
1). Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar,
atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik
yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui
perangkat penerima siaran.
2). Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana
pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut, atau di
antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui
udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara
serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima
siaran.
3). Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menya­
lurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan
terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.
4). Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang,
yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan
gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program
yang teratur dan berkesinambungan .
5). Siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
125
melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan,
memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan barang atau jasa kepada
khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan
produk yang ditawarkan. Siaran iklan layanan masyarakat adalah
siaran iklan nonkomersial yang disiarkan melalui penyiaran radio
atau televisi.
Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mem­punyai fungsi
sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, pengawasan,
dan perekat sosial. Dalam menja­lankan fungsi sebagaimana dimaksud,
penyiaran juga mem­punyai fungsi ekonomi dan kebudayaan. Lembaga
Penyiaran Publik disusun oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bersama
pemerintah.
3. UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE
Lahirnya undang-undang ini didasari pertimbangan bahwa globalisasi
informasi telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat
informasi dunia, sehingga mengharuskan dibentuknya pengaturan
mengenai penge­lolaan informasi dan transaksi elektronik secara merata
yang menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan
kehidupan bangsa. Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi (TI)
secara langsung telah memengaruhi lahirnya bentuk-bentuk hukum baru.
Diharapkan pemanfaatan TI dapat berperan penting dalam perdagangan
dan pertum­buhan perekonomian nasional untuk mewujudkan kese­jah­
teraan masyarakat sehingga pemanfaatannya dapat melalui infrastruktur
hukum.
Berdasarkan penelitian, UU ITE yang terdiri atas 13 bab dan 54 pasal
merupakan “rezim hukum baru” dalam khazanah peraturan perundangundangan RI yang menganut asas yurisdiksi ekstrateritorial, asas kebebasan
memilih teknologi atau netral teknologi, dengan cakupan materi antara
lain pengakuan informasi dan/atau dokumen elektronik sebagai alat bukti
hukum yang sah, pengakuan atas tanda tangan elektronik, penyelenggaraan
126
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
sertifikat elektronik dan sistem elektronik; nama domain, hak kekayaan
intelektual dan perlindungan hak pribadi, perbuatan yang dilarang serta
ketentuan pidananya. Undang-undang ITE ini memuat ketentuan pidana
pasal 45 sampai 52, bagi yang memenuhi unsur melanggar ketentuan pasal
27 sampai pasal 37 diancam pidana penjara 6–10 tahun atau denda antara
Rp 600 juta sampai Rp 12 miliar.
Dalam ketentuan umum dijelaskan beberapa pengertian informasi
elektronik, yakni satu atau sekumpulan data elektronik, tetapi tidak terbatas
pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange
(EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau
sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang
telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang
mampu memahaminya. Transaksi elektronik adalah perbuatan hukum
yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/
atau media elektronik lainnya. Sementara nama domain adalah alamat
internet penyelenggara negara, orang, badan usaha, dan/atau masyarakat,
yang dapat digunakan dalam berkomunikasi melalui internet, berupa
kode atau susunan karakter yang bersifat unik untuk menunjukkan lokasi
tertentu dalam internet.
Pada pasal 2 dijelaskan, Undang-Undang ITE berlaku untuk setiap
orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam
undang-undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia
maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di
wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan
merugikan kepentingan Indonesia. Yang baru dalam khazanah hukum di
Indonesia adalah karena UU ini menganut asas ekstra teritorial. Artinya,
UU ini juga berlaku bagi setiap orang yang berada di luar Indonesia yang
melakukan tindak pidana seperti yang diatur dalam UU ini, yang akibatnya
merugikan pihak-pihak yang berada di Indonesia.
Pemanfaatan TI dan transaksi elektronik dilaksanakan berdasarkan
asas kepastian hukum yang dianut dalam UU ITE. Asas lainnya yang
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
127
terkandung dalam UU itu adalah asas manfaat, sikap kehati-hatian, iktikad
baik, dan netralitas teknologi. Sebagaimana layaknya undang-undang,
UU ini mengatur hal-hal pokok dan aspek-aspek yang terkait dengan
pemanfaatan TI, khususnya pengelolaan informasi elektronik dan transaksi
elektronik.
Oleh karena itu, UU ini mencakup berbagai aspek, mulai dari
informasi, elektronik, dan penyelenggaraan elektronik. Transaksi elektronik,
penyelenggaraan tanda tangan elektronik, akses ke sistem dan jaringan
komputer, nama domain, dan perlindungan terhadap informasi dalam
komputer. UU ITE juga mengatur aspek-aspek yang belum diatur di
HAKI, seperti desain situs dan karya intelektual yang ada di dalamnya.
Perlindungan juga diberikan atas hak-hak pribadi (privacy) sehingga
penggunaan setiap informasi melalui media elektronik, yang menyangkut
data tentang seseorang harus memperoleh persetujuan pemiliknya.
Selain itu, diatur juga tentang penyelesaian sengketa. Ini mencakup
gugatan perdata, tata cara melakukan gugatan itu, pengadilan yang
memprosesnya, upaya hukum, arbitrase, dan penyelesaian di luar pengadilan
(Alternative Dispute Resolution- ADR) yang bisa berupa negosiasi, mediasi,
dan konsolidasi.
4. UU No. 14 Tahun 2008 tentang KIP
Mengacu pada Pasal 28 F UUD 1945 yang menyebutkan bahwa
setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Termasuk hak untuk
mencari, memperoleh, memiliki, dan menyimpan informasi dengan meng­
gunakan segala jenis saluran yang ada. Dengan dasar pertimbangan itu,
pemerintah menerbitkan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) yang mengatur lebih dalam
tentang keterbukaan informasi dan transparansi penyelenggaraan negara
sebagai salah satu wujud dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang
demokratis.
128
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Dalam Bab I Pasal 1 UU KIP dijelaskan bahwa infor­masi adalah
keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai,
makna, dan pesan, baik data, fakta, maupun penjelasannya yang dapat
dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan
format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
secara elektronik maupun nonelektronik. Sementara informasi publik
adalah informasi yang diha­silkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau
diterima oleh penyelenggara negara dan penyelenggaraan negara dan atau
penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai
dengan undang-undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan
kepentingan publik.
Badan publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif
serta badan-badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan
penyelenggaraan negara yang sebagian atau seluruh dananya bersumber
dari APBN dan/atau APBD, sumbangan masyarakat atau bantuan luar
negeri.
Dalam Pasal 4 UU KIP dijelaskan tentang hak masya­rakat sebagai
pemohon atau pengguna informasi publik untuk memperoleh, mengetahui,
melihat, menghadiri, men­
dapatkan, dan menyebarluaskan informasi
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap per­
mohonan informasi harus disertai dengan alasan yang jelas dan diajukan
secara lisan dan tertulis. Setiap informasi yang diperoleh masyarakat harus
dipergunakan dengan sebaik-baiknya menurut peraturan perundangundangan.
Dalam Pasal 6 dan 7 UU KIP disebutkan hak dan kewa­jiban badan
publik dalam menerima permintaan infor­masi yang diajukan oleh masyarakat
pengguna infor­masi. Badan publik mempunyai hak untuk menolak mem­­
be­rikan informasi yang dikecualikan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dalam hal ini, informasi publik yang tidak dapat diberitakan
adalah:
a. Informasi yang dapat membahayakan negara
b. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan perlin­dungan usaha
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
129
dari persaingan usaha tidak sehat.
c. Informasi yang berkaitan dengan hak-hak pribadi
d. Informasi yang berkaitan dengan rahasia jabatan
e. Informasi yang diminta belum dikuasai atau belum didokumentasikan.
Selain hal yang disebut itu, tidak ada alasan bagi badan publik untuk
menolak permintaan informasi dari masya­rakat pengguna informasi publik.
Oleh karena itu, badan publik harus bersikap terbuka terhadap masyarakat.
Tujuan UU KIP sebagaimana termaktub dalam Pasal 2 UU KIP
adalah:
a. Menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan
kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan
keputusan publik
b. Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan
kebijakan publik
c. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam peng­ambilan kebijakan
publik dan pengelolaan badan publik yang baik
d. Mewujudkan penyelenggara negara yang baik, yaitu transparan,
efektif, efisien, akuntabel, serta dapat dipertanggungjawabkan
e. Mengetahui alasan kebijakan publik yang memengaruhi hajat hidup
orang banyak
f. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan/atau
g. Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan
badan publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.
Keberadaan UU KIP merupakan angin segar bagi siapa saja, karena
setiap orang menjadi berhak memperoleh informasi publik, melihat dan
mengetahui informasi publik, menghadiri pertemuan publik yang terbuka
untuk umum untuk memperoleh informasi publik, mendapatkan salinan
informasi publik melalui permohonan sesuai dengan undang-undang
ini, dan/atau menyebarluaskan informasi publik sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
130
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
I. Persyaratan Mendirikan Perusahaan Media Massa
Nasional pada Era Orde Lama, Orde Baru, Hingga
Reformasi
Pada 14 Maret 1957 Presiden Soekarno mengumumkan Negara Dalam
Keadaan Bahaya (SOB) yang berlaku bagi seluruh Indonesia, sehubungan
dengan pemberontakan PRRI di Sumatra dan Permesta di Sulawesi. Pada
bulan Juli 1957, Soekarno mengumumkan Kabinet Juanda dan menetapkan
Manipol Usdek sebagai Haluan Negara. Sistem pemerintahan yang
demokratis yang dikatakan Soekarno sebagai “Pemerintahan Demokrasi
Terpimpin” ternyata telah menempatkan Soekarno sebagai pemimpin
yang otoriter. Kedudukan dan fungsi pers diarahkan oleh penguasa untuk
mencapai tujuan politik Demokrasi Terpimpin dan suara-suara pers yang
bernada melawan harus dibungkam.
Berbagai batasan dilakukan penguasa terhadap kemer­dekaan pers
termasuk di antaranya melakukan sensor atas informasi ke luar negeri.
Jack Russel, koresponden United Press dikecam penguasa karena United
Press mengkritik Soekarno sebagai pemimpin otoriter yang semakin dekat
dengan komunis. Selama tahun 1957, terjadi peningkatan yang signifikan
menyangkut sikap penguasa yang antipers. Secara keseluruhan, mencapai
125 tindakan pembatasan kebebasan pers.
Pada tahun 1958, Penguasa Perang Daerah Djakarta (Peperada)
mengeluarkan ketentuan bahwa seluruh penerbitan surat kabar dan majalah
wajib mendaftarkan diri sebelum 1 Oktober 1958 untuk memperoleh SIT
(Surat Izin Terbit). Tanggal 1 Oktober 1958, dapat dikatakan sebagai
tanggal matinya kebebasan pers di Indonesia. Walaupun surat kabar
dapat terbit, tetapi harus mengikuti kehendak penguasa, dan setiap saat
SIT dapat dicabut tanpa alasan hukum yang jelas. “Sejak 1 Oktober 1958,
sejarah pers Indonesia memasuki periode hitam,” ujar Muchtar Lubis
sebagaimana dikutip Smith148. Hal serupa diikuti oleh Penguasa Perang
Edwar Smith, C, Sejarah Pembreidelan Pers di Indonesia, (terj), Jakarta,1986,
Pustaka Grafitti, hlm. 178
148
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
131
Tertinggi (Peperti), bahwa semua penerbitan surat kabar dan majalah di
seluruh Indonesia wajib memiliki SIT.
Pada tahun 1960, secara resmi Menteri Penerangan melegalisasi
ketentuan tentang SIT itu, dan untuk men­
dapatkan SIT, semua
penerbitan harus menandatangani persetujuan atas 19 (sembilan belas)
pasal pernyataan. Janji penerbit ini selanjutnya merupakan senjata bagi
penguasa dalam melakukan pembredelan pers yang tidak sepaham dengan
penguasa. Beberapa surat kabar yang dicabut SIT-nya oleh Menteri
Penerangan sebagai konsekuensi dari ‘janji’ tersebut, antara lain: Pedoman,
Nusantara, Keng Po, Pos Indonesia, dan Star Weekly. Sementara Harian
Abadi menghentikan penerbitannya karena tidak bersedia menandatangani
19 persyaratan tersebut.
Selanjutnya, Departemen Penerangan mengeluarkan lagi ketentuan
baru, yaitu bahwa setiap surat kabar atau majalah harus didukung oleh
satu parpol atau tiga ormas. Hal itu berarti bahwa masyarakat tidak dapat
lagi menerbitkan surat kabar apabila tidak ada partai politik atau ormas
yang mendukung. Yang lebih penting di sini adalah bahwa telah terjadi
pengingkaran terhadap Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
konstitusi negara sebagaimana Dekrit 5 Juli 1959.
Tahun-tahun selanjutnya merupakan lembaran hitam bagi kebebasan
pers Indonesia. Kedekatan Soekarno dengan komunis telah menyebabkan
tidak hanya pemerintah yang melakukan pengawasan terhadap pers, tetapi
tidak jarang juga orang-orang komunis yang melakukan teror terhadap
wartawan. Salah satu tajuk harian Cina ‘Keug’ sebagaimana dikemukakan
Smith menggambarkan hal itu sebagai berikut: “Cara orang-orang PKI
datang dan pergi ke Istana telah menarik perhatian umum begitu rupa
sehingga timbul kesan bahwa Bung Karno sekarang lebih dekat ke PKI
daripada ke PNI yang kadang-kadang dikecamnya karena aliran kapitalisliberalis yang tampak di dalamnya”149.
Era pemberlakuan surat izin cetak (SIC) dalam pendi­rian peru­
sahaan pers ditandai dengan adanya peristiwa Malari. Peristiwa Malari
Edwar Smith C. Op.Cit, hlm. 144
149
132
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
merupakan koreksi atas kebijakan politik dan ekonomi terhadap peme­
rintahan Orde Baru setelah 12 (dua belas tahun) tahun berkuasa. Hal itu
dimanifestasikan dalam bentuk pemberedelan surat kabar yang dikenal
dengan ‘pemberangusan’, yaitu mencabut Surat Izin Terbit sekaligus Surat
Izin Cetak yang dikeluarkan oleh Laksus Pangkopkamtib.
Surat kabar yang diberedel tidak hanya yang terbit di Ibu Kota
Negara Jakarta, tetapi juga surat kabar penerbitan pers di beberapa kota
besar lainnya. Beberapa surat kabar yang dicabut SIT ataupun SIC-nya
antara lain harian Nusantara, Kami, Indonesia Raya, The Jakarta Times,
Wenang, Pemuda Indonesia, Pedoman, dan majalah mingguan Ekspres
( Jakarta), harian Suluh Berita (Surabaya), Mingguan Mahasiswa Indonesia
(Bandung), dan Indonesia Pos (Ujung Pandang).
Pada tahun 1974, pemerintah mengeluarkan dua ketentuan berupa
Keputusan Menteri Penerangan tentang pengukuhan PWI dan SPS
sebagai satu-satunya organisasi wartawan dan penerbit pers, serta
pengukuhan Serikat Penerbit Surat Kabar sebagai satu-satunya organisasi
percetakan pers. Dengan demikian, peranan media sangat diperlukan untuk
penggalangan massa sehingga diperlukan kerja sama dengan pers. Namun,
bantuan dan fasilitas yang diberikan diikuti beberapa persyaratan yang
tidak boleh dilanggar, yaitu (1) media tidak boleh menyinggung keluarga
Soeharto; (2) media tidak boleh menyinggung dwifungsi ABRI; dan (3)
media tidak boleh menulis hal-hal yang berkaitan dengan masalah SARA.
Pada era Orde Baru, berlaku regulasi SIUPP tercatat mulai awal tahun
1980-an. Pemerintah mengembangkan pers yang bebas dan bertanggung
jawab yang diadopsi dari Social Responsibility Theory of The Press. Di
negara asalnya, teori ini muncul atas reaksi terhadap enam tugas pers dari
The Libertarian Theory yang sangat bebas dan terlalu terbuka sehingga
kebebasan melupakan etika. Hal itu dikemukakan Komisi Kebebasan
Pers Amerika dalam A Free and Responsibility Press (1947) dan William
E.Hocking dalam bukunya Freedom of the Press: A Framework of Principle
(1947). Walaupun secara umum keduanya menerima keenam tugas pers
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
133
menurut teori tradisional (Libertarian), teori ini “tidak puas terhadap
interpretasi para pemilik dan pelaksana media tentang fungsi itu”150.
Dalam penerapan teori ini di Indonesia, muncul per­masalahan besar,
yaitu adanya perbedaan persepsi terhadap kedua hal pokok, yaitu tentang
“bebas” dan “tanggung jawab”. Bebas dimaksudkan seperti apa yang
dikehendaki kaidah jurnalistik atau seperti yang dikehen­daki pemerintah
yang tidak memiliki standar yang jelas. Demikian pula halnya dengan
“tanggung jawab”. Pers harus bertanggung jawab kepada siapa, apakah
kepada masyarakat yang memerlukan informasi secara terbuka atau kepada
pemerintah dengan pendekatan keamanan (security approach).
Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982
yang mengatur kehidupan pers sebagai perubahan atas Undang-Undang
No. 11 Tahun 1966 dan Undang-Undang No. 4 Tahun 1967. Sebagai tindak
lanjut dari undang-undang ini, pemerintah melalui Menpen juga menge­
luarkan seperangkat ketentuan hukum yang pada intinya amat membatasi
kebebasan pers. Salah satu yang paling ditakuti oleh penerbitan pers saat itu
adalah Peraturan Menpen Nomor 1 Tahun 1984 tentang Ketentuan Surat
Izin Perusahaan Pers (SIUPP) yang menurut versi pemerintah merupakan
penjabaran atas UU Nomor 21 Tahun 1982.
Melalui ketentuan tersebut, Menpen memiliki wewe­
nang yang
cukup besar dalam mengendalikan kebe­basan penerbitan pers di Indonesia,
yang menurut versi pemerintah dikatakan sebagai ”pembinaan” tetapi
dimanifestasikan dengan “pemberedelan”, yaitu mencabut SIUPP pener­
bitan pers. Pada umumnya, dasar pencabutan SIUPP adalah demi
keamanan negara dan demi kelangsungan pembangunan walaupun pada
kenya­taannya penerbitan pers yang diberedel isinya hanya memberitakan
masalah pribadi pejabat atau keluarganya. Sementara beberapa penerbitan
pers yang dicabut SIUPP-nya tidak lagi diberi kesempatan untuk terbit
kembali.
Siebert, Fred S,.et.al., FourTheories of The Press,London, University of
Illinois, London, 1973, hlm.74.
150
134
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Berbagai tekanan terhadap kebebasan pers meng­akibatkan media
menjadi lebih pragmatis, konten media menjadi mandul, dan lebih eufimistis
dalam melakukan kritik terhadap penguasa. Sebelum memperoleh teguran
dari penguasa, media melakukan self censorship terlebih dahulu. Pendapat
berbagai kalangan tentang kondisi pers pada era Orde Baru ini antara lain
menyatakan bahwa pers Indonesia “tidak memiliki kebebasan pers sama
sekali; pemerintah bertindak represif terhadap pers; dan pasal 28 UUD
1945 ditafsirkan menyimpang dari esensi maksudnya dan pers yang telah
berhasil dijinakkan oleh penguasa.”
Kondisi itu menyebabkan pers “tiarap, menggunakan jurnalisme
kepiting”. Pemberitaan pers cenderung bergaya eufimisme dalam
menyampaikan kritik; dan pers menjauhi “kawasan terbatas”, kritik yang
disampaikan tidak sesuai dengan kehendak masyarakat agar SIUPP-nya
tidak dicabut penguasa151. Pada era ini, tidak banyak terjadi pemberedelan,
dan setelah peristiwa Malari hanya tercatat beberapa surat kabar yang
dicabut SIT-nya, yaitu Sinar Harapan, Prioritas, dan majalah Tempo, Detik,
serta Editor.
Selama rezim Orde Baru ini, walaupun industri pers berkembang
menjadi konglomerasi pers, tetapi kebebasan mengemukakan pendapat
sebagai manifestasi dari social control function, tidak diperoleh sama sekali.
Kebebasan mendirikan media massa baru diberlakukan mulai era
Orde Reformasi hingga sekarang. Berdasarkan UU Pers, perusahaan
pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers,
meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita,
serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan,
menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Mencermati ketentuan dalam
UU Pers, untuk membuat usaha penerbitan koran, tabloid, majalah, dan
sejenisnya, sebenarnya cukup “mudah”, yaitu hanya ada dua kewajiban yang
harus dipenuhi.
Pertama, perusahaan pers harus berbadan hukum Indonesia. Itu
151
Dirangkum dari berbagai tulisan dalam Jurnal Pers Indonesia, Nomor 5
Tahun XIX, Maret 1999
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
135
berarti perusahaan pers harus berbentuk PT (perseroan terbatas), yayasan,
koperasi, dan BUMN. Bahkan dalam praktiknya, Perseroan Komanditer
(CV/Commanditaire Vennootschap) pun merupakan badan hukum.
Kedua, perusahaan pers mempunyai kewajiban untuk mengumumkan
nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang
bersangkutan. Khusus untuk penerbitan pers, ditambah nama dan alamat
percetakan. Tulisan nama dan alamat tersebut biasanya tercantum dalam
“kotak (box) susunan redaksi (dan perusahaan)”.
Ada sanksi jika suatu perusahaan pers tidak memenuhi dua kewajiban
tersebut. Jika perusahaan pers tidak meme­nuhi dua kewajiban tersebut,
perusahaan pers yang bersang­kutan diancam pidana dengan pidana denda
paling banyak Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah). Terlepas dari sanksi
pidana tersebut, membuat usaha penerbitan pers cukup “mudah”. Tidak
sesulit zaman Orde Baru yang mem­bu­tuhkan SIUPP (Surat Izin Usaha
Penerbitan Pers).
Namun, tidak adanya SIUPP bukan berarti tanpa izin. Perusahaan
pers tetap harus memiliki perizinan untuk kepentingan perekonomian
(perdagangan) negara, yaitu harus memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib
Pajak) dan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)/TDUP (Tanda Daftar
Usaha Perdagangan).
Bab III
Kemerdekaan Pers Dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
A. Sejarah Kemerdekaan Pers
Perjuangan untuk mengemukakan pendapat secara bebas di media
cetak sudah dimulai di Inggris tahun 1579 ketika John Stubbe menulis
dan Hugh Singleton sebagai pencetak mengedarkan pamflet tentang
perkawinan Ratu Elizabeth I dengan seorang bangsawan Prancis. Pada
tahun 1584, William Carter dihukum gantung karena mencetak pamflet
pro-Katolik di negeri yang diperintah oleh Protestan. Antara tahun 1644
sampai 1693 John Twyn, William Walwyn, dan Anderton juga menjalani
hukuman gantung karena menolak menyebut nama pengarang dari bukubuku yang mereka terbitkan. Sampai tahun 1695 Inggris memberlakukan
sensor terhadap semua tulisan sebelum dicetak dan diedarkan kepada
umum.
Dalam perkembangannya kemudian, di banyak negara kemerdekaan
pers lahir dalam berbagai variasi, dari yang ekstrem sampai dengan yang
moderat. Pers bebas mulai mendapat tempat yang penting di Amerika ketika
Tinjauan Hukum Persaingan Industri
Media Massa Dalam Negara Kesejahteraan
137
para pencetus kemerdekaan negeri tersebut merumuskan hak-hak rakyat
dalam konstitusi tahun 1787. Perdebatan sengit terjadi antara Alexander
Hamilton dan Thomas Jefferson. Berbeda dengan Alexander Hamilton,
Thomas Jefferson mengatakan bahwa kebebasan mengemukakan pendapat
tidak cukup disebut secara umum dalam konstitusi. Ia harus diikuti oleh
jaminan hukum secara tertulis untuk menghormati dan melindunginya
sepanjang masa. Dari perbedaan ini, lahirlah Amandemen Pertama
Konstitusi Amerika yang berbunyi, antara lain: “kongres tidak dapat
membuat undang-undang yang membatasi kebebasan mengemukakan
pendapat atau kebebasan pers...”.152
Kebebasan pers pertama kali dipelopori oleh John Milton pada abad
ke-17. Dalam pidatonya yang berjudul Aeropaqitica dia berucap “a speech
for unlicenced printing”. Ucapan filsuf berkebangsaan Inggris itu menandai
permulaan lahirnya gerakan antisensor sebagai tindakan preventif terhadap
publikasi.
Perjuangan Milton baru diakui dunia internasional dua abad
kemudian, sejak dideklarasikannya piagam Universal Hak Asasi Manusia
oleh PBB pada tanggal 28 Desember 1948. Jaminan kebebasan itu tercatat
dalam Pasal 19 yang berbunyi: “Everyone has the right to freedom of opinion
and expression, this right includes freedom to hold opinion without interference
and to seek, receive and impart information and ideas through any media and
regardless of frontiers”. Hal tersebut dinilai masih kurang lengkap. PBB
kemudian menyetujui lagi kovenan internasional Hak Sipil dan Politik
(International Covenant of Civil and Political). Jaminan kebebasan pers
kembali dimasukkan. Pasal 19 Kovenan itu berbunyi:
1). Everyone shall have the right to hold opinions without interference.
2). Everyone shall have the right to freedom of expression, this right shall
include freedom to seek, receive, and impart information and ideas of all
kinds, regardless of frontiers, either orally, in writing or in print, in the
from of art, or through any other media of his choice.
152
Erman Rajagukguk. Kemerdekaan Pers dari Masa ke Masa, Tanggung
Jawabnya Dalam Masyarakat Demokratis. Sinar Harapan, 24 Agustus 1982.
138
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
3). The exercise of the rights provide for in paragraph 2 on this article carries
it special duties and responsibilities. It may therefore be subject to certain
restriction but these shall only be such as provide by law and are necessary;
a. For respect of the right or reputation of others.
b. For the protection of national security or public health or morals
Terjemahan bebas:
1). Setiap orang berhak untuk berpendapat tanpa dipengaruhi orang lain
2). Setiap orang berhak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat,
hak ini termasuk kebebasan mencari, menerima, dan memberikan
infomasi dan pemikiran apa pun, terlepas dari pembatasan secara
lisan, tertulis, atau dalam bentuk cetakan karya seni atau media lain
sesuai dengan pilihannya.
3). Pelaksanaan hak-hak yang tercantum dalam ayat 2 pasal ini
menimbulkan kewajiban dan tanggung jawab khusus, oleh karenanya
dapat dikenai pembatasan tertentu, tetapi hal ini dapat dilakukan
sesuai dengan hukum sepanjang diperlukan untuk:
a. Menghormati hak atau nama baik orang lain
b. Melindungi keamanan nasional, ketertiban umum, kesehatan
atau moral umum.
Di Indonesia jaminan kebebasan pers tertuang dalam UUD 1945
Pasal 28, dan Pasal 28F yang menyatakan: “Setiap orang berhak untuk
berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi
dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. Hal tersebut diperkuat
lagi dalam Undang-Undang Hak Asasi Manusia No. 39 Tahun 1999
dalam Pasal 23 ayat 2: “Setiap orang bebas mempunyai, mengeluarkan, dan
menyebarkan pendapat sesuai dengan hati nuraninya secara lisan atau tulisan
melalui media cetak maupun media elektronik dengan memperhatikan
nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan
bangsa”.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
139
Lalu dipertegas dalam UU Pers: “Kebebasan pers adalah hak asasi
warga negara” dan setiap usaha menghalangi tegaknya kebebasan pers
dapat dipidana dua tahun penjara atau denda Rp500.000.000,- (lima
ratus juta rupiah). Makna kebebasan pers sesungguhnya adalah larangan
sensor pendahuluan/preventif (prior restraining) terhadap pemberitaanpemberitaan pers.
Yang dimaksud sensor di sini adalah:
1). Penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi
yang diterbitkan atau disiarkan.
2). Tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak
mana pun.
3) Dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak
berwajib dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik
Dari tahun 1945 sampai saat ini, terjadi fluktuasi kebebasan pers
di Indonesia yang dikelompokkan menjadi 3 (tiga) periode: (1). Era
kemerdekaan pers tahun 1945–1966, (2). Era kemerdekaan pers 1966–
1999, (3). Era kemerdekaan pers tahun 1999 sampai sekarang.
1. Kemerdekaan Pers (1945–1966)
Pada era revolusi fisik, Indonesia mengalami dualisme sistem peme­
rintahan, yaitu sistem pemerintahan yang demokratis berdasarkan UUD
1945 dan peme­rintahan otoriter Kolonial Belanda NICA yang kem­bali
ke Indonesia membonceng tentara Sekutu. Sebelum masuknya tentara
Sekutu dan NICA, pada awal kemerdekaan, pers Indonesia mengalami
euforia kebebasan setelah terlepas dari tekanan penjajahan Belanda dan
Jepang. Misi utama pers saat itu adalah menyebarluaskan proklamasi
kemerdekaan dan mem­persiapkan masyarakat untuk melawan Jepang
yang masih berada di Indonesia.
Dibandingkan dengan kebebasan saat dalam tekanan penjajah,
kebebasan pers saat itu mengalami perubahan yang signifikan dari
pers otoriter ke pers liberal. Pers dengan bebas menyerukan agar rakyat
140
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
mengadakan pergerakan dalam merebut senjata di kamp Jepang dan
memberitakan secara luas hasil pergerakan rakyat tersebut. Kondisi
inilah yang menurut Muchtar Lubis merupakan awal dari perjuangan
pers secara terbuka.153
Pers pada awal kemerdekaan merupakan mitra pemerintah
dalam mencari kebenaran, mem­
perta­
han­
kan kemerdekaan, dan
meng­gerakkan rakyat untuk mela­wan penjajah. Secara struktural,
pers Indonesia tumbuh dengan baik. Setiap warga negara dapat
m­ener­bitkan surat kabar tanpa adanya batasan, perizinan, dan se­
macamnya dari penguasa. Sebagaimana dikutip oleh Smith dalam
Sullivan (1967), “pada tahun 1948 Indonesia menerbitkan 45 surat
kabar dengan oplah 227.000 sehari. Di tempat yang tidak ada
surat kabar, orang Indonesia menerbitkan surat kabar stensilan”154.
Selanjutnya, mengenai pertumbuhan surat kabar secara fisik, dalam
Garis Besar Perkembangan Pers Indonesia yang diterbitkan SPS secara
luas dikemukakan bahwa di beberapa daerah pada era revolusi fisik
ini terbit beberapa surat kabar Indonesia.
Periode ini ditandai pula dengan lahirnya Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) tanggal 9 Februari 1946. Pada awal kelahirannya,
PWI menempatkan diri seba­
gai organisasi perjuangan bersama
organisasi lainnya. “Pada masa tersebut, NKRI yang berusia muda
mengintervensi –bahkan mensubordinatkan– orga­nisasi wartawan
PWI, tetapi untuk satu tujuan yang mulia, kemerdekaan itu sendiri.155
Kondisi PWI yang demikian, tidak dapat dilepaskan dari kenyataan
historis bahwa NKRI yang masih berusia muda sangat memerlukan
dukungan dari seluruh komunitas masyarakat, dan hal ini tidak berarti
Hanif Hoesin. Selintas Sejarah Kebebasan Pers di Indonesia. Makalah dari
Badan Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah Jakarta, Departemen
Komunikasi dan Informatika.2009, hlm. 3
154
Edwar Smith C, Sejarah Pembreidelan Pers di Indonesia, (terj),Jakarta,
1986, Pustaka Grafiti, hlm.73.
155
Togi Simanjuntak (Editor), Wartawan Terpasung – Intervensi Negara di
Tubuh PWI, Institut Studi Arus Informasi, Jakarta. hlm. 15.
153
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
141
mengekang kebebasan wartawan. Setelah Belanda kembali dengan
pemerintahan NICA yang membonceng tentara Sekutu, kehidupan
pers Indonesia kembali mengalami tekanan.
Tekanan-tekanan terhadap pers Indonesia terjadi di berbagai
wilayah pendudukan. Di Jakarta, pada 19 April 1946 polisi NICA
melakukan penggerebekan terhadap kantor berita APB (Arabian Press
Board yang kemudian berubah menjadi Asian Press Board). Pemimpin
APB, Dza Shahab ditangkap dan APB dilarang menyiarkan berita
apa pun, terutama mengenai gerakan-gerakan TNI. Di samping
itu, wartawan ‘republiken’ yang bekerja di daerah pendudukan, di
intimidasi dan digeledah dengan dalih kolaborasi. Di Surabaya,
wartawan yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, menyingkir
ke pedalaman dan di sana mereka meneruskan perjuangan membela
republik.
Di Medan, tekanan terhadap pers dilakukan Sekutu dengan
memberedel “Pewarta Deli”, memenjarakan A.O. Lubis (wartawan)
dan Rahmat pimpinan percetakan “Syarikat Tapanoeli”. Redaksi
“Mimbar Oemum” A.Wahab ditahan dan alat-alat radionya dibeslag
oleh Inggris. Demikian pula halnya dengan percetakan “Soeloeh
Merdeka” yang disita Inggris pada 4 Juli 1946. Di Sumatra Tengah,
percetakan “Oetoesan Soematra” dihancurkan Sekutu, dan kegiatan
pener­bitan terhenti pada akhir tahun 1946. Saat agresi I, “Tjahaya
Padang” berhenti terbit karena pimpinan dan karyawannya ditawan
Belanda bersamaan dengan ditembak matinya Wali Kota Padang
Bagindo Azis Chan sebagai pendiri ”Tjahaya Padang”. Sementara
di Palembang, kantor surat kabar “Obor Rakjat” menjadi sasaran
penembakan Belanda.156
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan inilah yang menurut
pers pada saat itu merupakan kebenaran yang harus dipertahankan.
Kalau merujuk kepada Siebert157 dan kawan-kawan, kebebasan pers
Hanif Hoesin. Op.cit. hlm.4.
Fred Siebert, S,.et.al., FourTheories of The Press, London, University Of
156
157
142
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
saat itu dapat dikategorikan sebagai The Libertarian Theory. Menurut
teori ini, manusia tidak perlu tergantung kepada kekuasaan (kekuasaan
Belanda) dan tidak perlu dituntun dan diarahkan dalam mencari
kebenaran, karena kebenaran itu merupakan hak asasi. Pada tahun
1945, kebijakan komunikasi dan informasi nasional berdasarkan
Pasal 28 UUD 1945 yang mengamanatkan kemerdekaan berekspresi.
Pikiran masyarakat umum (public opinions) menjadi sendi dasar
pemerintah yang berkedaulatan rakyat. Asas yang ditempuh adalah
pers harus merdeka. Bebas dari intervensi pemerintah. Penerbitan
pers pun tanpa surat izin terbit.
Dari sisi pemerintahan, selama Kabinet Parlementer ini telah
terjadi enam kali pergantian kabinet. Kondisi ini merupakan lahan
bagi pers Indonesia dalam mereguk kebebasannya. Pers dengan
mudahnya memberikan pandangan, opini, ataupun kritik tajam
terhadap kekuasaan. Bahkan muncul opini di kalangan elite politik
saat itu, bahwa pers merupakan salah satu faktor penting dalam
setiap pergantian kabinet. Di samping berhadapan dengan parlemen
dan kabinet, di kalangan pers tidak jarang terjadi polemik, terutama
antara surat kabar partai/partisan yang memerintah dengan surat
kabar yang menempatkan diri sebagai oposisi. Karena “........ masingmasing media atau institusi pers tersebut memiliki ikatan primordial
atau ikatan ideologis dengan partai-partai tertentu. Dalam hal
peranan pers menjatuhkan kabinet, tergambar dari ungkapan Hanna
sebagaimana dikutip Smith bahwa: “Pemimpin Redaksi Muchtar
Lubis mempunyai saham yang besar dalam menjatuhkan kabinet”158.
Menjelang Pemilu 1955, sejumlah penerbitan pers tetap mem­
per­tahankan independensinya, sementara sebagian lain menjadi pers
partisan berorientasi partai tertentu. Kecaman pers terhadap tokohtokoh pemerintah dan partai meningkat. Tindakan-tindakan untuk
Illinois, London. 1973, Op.cit, hlm. 3.
Ibid. hlm. 145.
158
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
143
membungkam pers dengan dalih membocorkan rahasia negara dimulai.
Asa Bafagih, Pemimpin Redaksi Pemandangan, ketika menyiarkan
berita tentang penerimaan modal asing, diajukan ke pengadilan. PWI
Jakarta menyelenggarakan demonstrasi, protes ke kantor Menteri
Kehakiman menuntut agar Asa Bafagih dibebaskan dari segala
tuntutan.159
Pers sebagai lembaga social control yang legal terhadap kekuasan
amat berfungsi dalam menjaga penguasa agar tidak menyalahgunakan
atau melanggar batas-batas kekuasaan. Sistem pers Libertarian, yang
kadangkala mengarah kepada trial by the press secara bertahap telah
menggiring pers untuk berhadap-hadapan dengan negara. Hal itu
pada suatu saat akan menyebabkan negara mempertajam kukunya
untuk mengambil tindakan tegas terhadap pers. Kemudian, pada
tanggal 14 Maret 1957 Presiden Soekarno mengumumkan Negara
Dalam Keadaan Bahaya (SOB) yang berlaku bagi seluruh Indonesia,
sehubungan dengan pemberontakan PRRI di Sumatra dan Permesta
di Sulawesi.
Pada bulan Juli 1957 Soekarno mengumumkan Kabinet Juanda
dan menetapkan Manipol Usdek sebagai Haluan Negara. Sistem
pemerintahan yang demokratis yang dikatakan Soekarno sebagai
Pemerintahan De­mokrasi Terpimpin” ternyata telah menempatkan
Soekarno sebagai pemimpin yang otoriter. Kedudukan serta fungsi
pers diarahkan penguasa untuk mencapai tujuan politik demokrasi
terpimpin dan suara-suara pers yang bernada melawan harus
dibungkam. Selama tahun 1957, terjadi peningkatan yang signifikan
terhadap tindakan antipers oleh penguasa yang secara keseluruhan
mencapai 125 kali tindakan pembatasan kebebasan pers.
Pada tahun 1958, Penguasa Perang Daerah Djakarta (Peperada)
mengeluarkan ketentuan bahwa seluruh penerbitan surat kabar dan
159
Sabam Leo Batubara. Menegakkan Kemerdekaan Pers. Kumpulan Makalah
1999-2007. Penerbit Dewan Pers. 2007, hlm. 7.
144
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
majalah wajib men­daf­tarkan diri sebelum 1 Oktober 1958 untuk
memperoleh SIT (Surat Izin Terbit). Tanggal 1 Oktober 1958, dapat
dikatakan sebagai tanggal matin­ya kebebasan pers di Indonesia.
Walaupun surat kabar dapat terbit, tetapi harus mengikuti kehendak
penguasa, dan setiap saat SIT dapat dicabut tanpa alasan hukum yang
jelas. “Sejak 1 Oktober 1958, sejarah pers Indonesia memasuki periode
hitam,” demikian Muchtar Lubis sebagaimana dikutip Smith160.
Hal serupa diikuti oleh Penguasa Perang Tertinggi (Peperti), bahwa
seluruh penerbitan surat kabar dan majalah di seluruh Indonesia
wajib memiliki SIT.
Dalam melakukan pembatasan terhadap kebe­
basan pers,
ketentuan demi ketentuan dikeluarkan penguasa. Salah satunya
adalah ketentuan dari Menpen yang mewajibkan surat kabar di
seluruh Indonesia berafiliasi dengan parpol atau ormas. Menurut
ketentuan ini, masing-masing parpol atau ormas hanya dibenarkan
memiliki satu organ resmi, dan surat kabar atau majalah lainnya harus
berafiliasi kepada parpol atau ormas tersebut. Saat itu tidak kurang 80
surat kabar di Indonesia yang dimiliki oleh sembilan parpol, ormas
dan Panca Tunggal (pemerintah). Selanjutnya, Deppen mengeluarkan
lagi ketentuan baru, yaitu bahwa setiap surat kabar atau majalah harus
didukung oleh satu parpol atau tiga ormas. Hal itu berarti bahwa
masyarakat tidak dapat lagi menerbitkan surat kabar apabila tidak
ada partai politik atau ormas yang mendukung. Yang lebih penting
di sini adalah bahwa telah terjadi pengingkaran terhadap Pasal 28
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sebagaimana
Dekrit 5 Juli 1959.
Kemudian terbit Penetapan Presiden No. 6 Oktober 1960 yang
menyatakan Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) memberlakukan
persyaratan Surat Izin Terbit (SIT) secara nasional dan kebijakan ini
adalah awal tiarapnya pers Indonesia.
Edwar Smith, C.,Op.cit., hlm. 178.
160
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
2. Kemerdekaan Pers (1966–1999)
145
Pada periode ini, sampai dengan terjadinya Malari tahun 1974, pers
Indonesia dengan bebas dapat melakukan kritik terhadap kekuasaan,
di samping secara struktural terlihat pertumbuhan jumlah penerbitan
pers yang cukup signifikan. Setelah terjadi Malari, rezim Orde Baru
mulai melakukan pembatasan terhadap kebebasan pers, dalam bentuk
pemberedelan terhadap beberapa surat kabar di Jakarta dan beberapa
daerah. Terjadinya pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui
Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada tahun 1965, merupakan the
turning point dari sistem pemerintahan otoriter dengan Demokrasi
Terpimpin. Selama enam bulan, sejak 1 Oktober 1965 sampai 11
Maret 1966 adalah masa transisi yang sangat kacau di Indonesia,
terutama di pusat kekuasaan.
Dalam membentuk opini publik, pihak Angkatan Darat
menerbitkan surat kabar harian Berita Yudha dengan tugas utama
mengumandangkan Pancasila dan perjuangan ABRI, khususnya
TNI AD. Sementara itu, mahasiswa menerbitkan Harian KAMI
untuk memobilisasi gerakan mereka yang terkenal dengan “Gerakan
Ganyang PKI”. Pada masa transisi ini, ternyata pers di Indonesia tidak
saja mengalami tekanan terhadap content media tetapi juga mengalami
tekanan fisik berupa penyerangan dan intimidasi, sebagaimana halnya
yang pernah dialami pers saat revolusi fisik oleh NICA dan Sekutu.
Setelah Soeharto menerima mandat Surat Perintah 11 Maret
1966 yang memberi kekuasaan untuk mengamankan NKRI yang
sedang kacau, mun­cullah momentum awal kembalinya pers Indonesia
ke alam demokrasi. Langkah pertama yang diambil Soeharto adalah
menyatakan Partai Komunis Indonesia sebagai partai terlarang di
Indonesia. Kemudian memerintahkan pembersihan orang-orang
komunis yang ada pada penerbitan pers, di antaranya penutupan
sementara Kantor Berita Antara, karena menjelang pemberontakan
G30S/PKI kantor berita ini dikuasai orang-orang komunis.
146
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Penutupan Antara yang ber­
langsung selama 10 hari, kemudian
setelah seluruh karyawan yang terlibat partai komunis “dibersihkan”,
Antara beroperasi seperti sedia kala.
Komitmen demokrasi yang ditunjukkan Soeharto, disambut
baik oleh pers Indonesia yang saat itu turut berjuang menyuarakan
Tritura. Pers saat itu bahu-membahu dengan Angkatan Darat dan
mahasiswa dalam membersihkan antek Partai Komunis di Indonesia.
“Mulai saat ini sebenarnya terjadi ‘bulan madu’ antara pers dan
pemerintah, karena pemerintah memberikan “kelonggaran dan
toleransi – sebagaimana komitmen awal -- terhadap kritikan pers
kepada negara itu sendiri”.161 Lahirnya Undang-Undang Nomor 11
Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers pada era ini,
merupakan tonggak sejarah kebebasan pers Indonesia, dan pada pasal
4 dijamin bahwa: “Terhadap pers nasional tidak dikenakan sensor dan
pembreidelan”.
Pemerintahan Orde Baru menitikberatkan pada pembangunan
ekonomi, dan modal asing harus masuk sebanyak-banyaknya ke
Indonesia, karena pada awal Orde Baru perekonomian sangat
terpuruk, dan inflasi mencapai 600 persen. Keamanan dalam negeri
menjadi syarat utama yang diartikulasikan dengan “stabilitas nasional”.
Tingkat perekonomian yang mulai membaik, membawa konsekuensi
berkembangnya tindakan korupsi di kalangan pemerintahan.
Sementara itu, di kalangan pemerintahan sendiri terjadi perpecahan.
Kondisi demikian merupakan lahan bagi pers Indonesia dalam
melakukan fungsi social control. Salah satu yang fenomenal adalah
dibongkarnya kasus korupsi Pertamina (investigating report) oleh
surat kabar Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis.
Keberanian pers dalam membongkar masalah sosial, masalah
pemerintahan/kekuasaan dan korupsi di kalangan pemerintah,
mengindikasikan bahwa pada era ini pers Indonesia menganut
Togi Simanjuntak, Op cit., hlm. 90.
161
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
147
paham Libertarian, yang menempatkan manusia tidak tergantung
kepada kekuasaan dan tidak perlu dituntun dan diarahkan dalam
mencari kebenaran, karena kebenaran itu sendiri merupakan hak
asasi. Kondisi kebebasan pers yang demikian menyebabkan pers
Indonesia dikatakan oleh Togi sebagai pers populis dan sikap kritis.
“Pers populis dan kritis di Indonesia pernah pula muncul pada masa
penjajahan Belanda, selama berkobarnya nasionalisme Indonesia,
serta masa revolusi dan masa mempertahankan kemerdekaan”162.
Pada tahun 1970, dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 1970, pemerintah mempertegas keberadaan Dewan Pers yang
dibentuk dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1967, sebagai
konsekuensi diberlakukannya UU No.11 Tahun 1966. Salah satu
wewenang Dewan Pers adalah: “Memberi pertimbangan kepada
badan/instansi pemerintah lainnya, mengenai kebijakan penindakan
terhadap perbuatan-perbuatan yang melanggar UU No.11 Tahun
1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers Pasal 3 ayat (3).
Keluarnya ketentuan ini mengarah pada upaya penguasa untuk
mereduksi kebebasan pers, yang saat itu menurut penguasa “pers
Indonesia terlalu bebas”. Hal itu selanjutnya menjadi kontroversi
dalam implementasi kebebasan pers di Indonesia, karena saran dan
pertimbangan Dewan Pers digunakan penguasa sebagai justifikasi
terhadap berbagai tindakan yang dilakukan dalam menekan kebebasan
pers di Indonesia walaupun dilakukan dengan mengingkari Pasal 4
UU No.11 Tahun 1966.
Walaupun penguasa melakukan pembatasan ter­ha­dap kebebasan
pers, tetapi di lain pihak, peme­rin­tah dalam menjalankan programnya
sangat me­mer­­lukan dukungan dari masyarakat yang saat itu mencuat
sebagai “partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan”. Dengan
demikian, peranan media sangat diperlukan untuk penggalangan
massa, sehing­ga diperlukan kerja sama dengan pers. Bentuk kerja
Ibid., hlm. 77
162
148
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
sama tersebut dimanifestasikan dengan membe­
rikan dukungan
melalui berbagai bantuan dan fasilitas. Namun, bantuan dan fasilitas
yang diberikan, diikuti dengan beberapa persyaratan yang tidak
boleh dilang­gar, yaitu: a. Media tidak boleh menyinggung keluarga
Soeharto; b. Media tidak boleh menyinggung Dwifungsi ABRI; dan
c. Media tidak boleh menulis hal-hal yang berkaitan dengan masalah
SARA.
Kemudian terbit Undang-Undang Penyiaran No. 24 Tahun
1997 yang mempersyaratkan izin penyiaran dari segi isi atau materi
oleh Departemen Penerangan dan izin frekuensi oleh Departemen
Perhubungan.Dengan izin tersebut,pemerintah mendapatkan legalitas
menjadi pembina, penentu kebijakan, penga­turan, pengawasan, dan
pengendalian pers (media cetak dan media penyiaran). Pers yang
pemberitaannya berseberangan dapat dibatalkan isinya, pers menjadi
tumpul dan tunduk kepada penguasa.
Dalam periode ini terjadi penindasan terhadap pers, antara lain:
a. Tercatat 237 perusahaan pers dibatalkan izin terbitnya karena
dinilai mengganggu stabilitas nasional.
b. Upaya mantan Pemimpin Umum Prioritas Surya Paloh
mengajukan permohonan kepada Mahkamah Agung (MA)
agar melakukan judicial review terhadap Permenpen No.
01/1984 karena dinilai bertentangan dengan Pasal 28 UUD
1945 akhirnya ditolak oleh MA pada 4 Juni 1993. Kemudian
mantan Pemred Majalah Tempo menggugat Pemerintah RI
(dhi Menpen RI) yang membatalkan SIUPP Tempo. Putusan
kasasi Mahkamah Agung H. Soerjono, SH pada 13 Juni 1996
mengesahkan pembatalan SIUPP tersebut.
c. Salah satu pejuang berkategori “die hard” adalah Mochtar Lubis.
Perang jihadnya terhadap korupsi rezim Orde Lama berakibat
tidak saja surat kabarnya Indonesia Raya diberedel, ia pun dibui
dan ditahan selama 9 tahun. Kemudian hasil investigative
report-nya tentang korupsi di Pertamina dan liputannya tentang
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
149
peristiwa Malari 15 Januari 1974 berakibat Mochtar Lubis
kehilangan medianya. Dia ditahan 2,5 bulan oleh rezim Orde
Baru.163
Pembatasan kebebasan pers pada era itu juga dilakukan dengan
“cara-cara lain” seperti “imbauan pejabat pemerintah” (lebih tepat
dikatakan sebagai larangan) untuk tidak memuat suatu fakta yang
menurut pemerintah menimbulkan dampak terhadap keamanan,
walaupun menurut kaidah jurnalistik mempunyai nilai berita yang
tinggi. Imbauan dilakukan antara lain melalui chief editors meeting,
atau melalui telepon oleh pejabat ke dewan redaksi. Hal terakhir ini
oleh berbagai pihak dikatakan sebagai berkembangnya dengan subur
”budaya telepon” di kalangan pejabat.
Berbagai tekanan terhadap kebebasan pers mengakibatkan
media menjadi lebih pragmatis, konten media menjadi mandul, dan
lebih eufimistis dalam melakukan kritik terhadap penguasa. Sebelum
memperoleh teguran dari penguasa, media melakukan self censorship
terlebih dahulu. Pendapat berbagai kalangan tentang kondisi pers pada
era Orde Baru ini antara lain dinyatakan bahwa pers Indonesia “tidak
memiliki kebebasan pers sama sekali; pemerintah bertindak represif
terhadap pers; dan pasal 28 UUD 1945 ditafsirkan menyimpang dari
esensi maksudnya dan pers yang telah berhasil dijinakkan penguasa.
Kondisi ini menyebabkan pers tiarap, menggunakan jurnalisme
kepiting. Pemberitaan pers cenderung bergaya eufimisme dalam
menyampaikan kritik; dan pers menjauhi “kawasan terbatas”, kritik
yang disampaikan tidak sesuai dengan kehendak masyarakat agar
SIUPP-nya tidak dicabut penguasa164. Pada era ini, tidak banyak
terjadi pemberedelan, dan setelah peristiwa Malari tercatat hanya
beberapa surat kabar yang dicabut SIT-nya, yaitu Sinar Harapan,.
Prioritas, dan majalah Tempo, Detik, serta Editor.
Sabam Leo Batubara. Op cit., hlm. 9.
Dirangkum dari berbagai tulisan dalam Jurnal Pers Indonesia, Nomor 5
Tahun XIX, Maret 1999
163
164
150
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Selama rezim Orde Baru ini, walaupun industri pers berkembang
menjadi konglomerasi pers, tetapi kebebasan mengemukakan pendapat
sebagai manifestasi dari social control function, tidak diperoleh sama
sekali.
3. Kemerdekaan Pers (1999–sekarang)
Gerakan reformasi yang terjadi pertengahan Mei 1998 merupakan
titik balik dari pemerintahan Orde Baru dan membawa “angin
segar” bagi kebebasan pers di Indonesia. Penyerahan kekuasaan oleh
Soeharto kepada Habibie, telah membuka peluang demokrasi yang
selama pemerintahan Orde Baru tidak berproses sebagaimana paham
demokrasi itu sendiri. Pada awal pemerintahannya, Yunus Yosfiah
yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan pada Kabinet
Reformasi, mengeluarkan serangkaian kebijakan yang membuka
‘keran’ kebebasan pers, yaitu dengan mencabut berbagai ketentuan
hukum yang selama rezim Orde Baru dianggap membelenggu
kebebasan pers, terutama: (1) Permenpen No. 01/Per/Menpen/1984
tentang Ketentuan-Ketentuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
(SIUPP); dan (2) SK Menpen No.214A/Kep/Menpen/1984 tentang
Prosedur dan Persyaratan untuk Mendapatkan SIUPP.
Kebijakan tersebut telah membuka peluang bagi masyarakat
untuk mengembangkan kehidupan pers nasional secara bebas, tidak
saja dalam menumbuhkan penerbitan secara horizontal tetapi juga
memberi kebebasan dalam melaksanakan fungsi pengawasan sosial.
Jumlah penerbitan pers meningkat dengan cepat, sampai 15 April
1999, Deppen sudah mengeluarkan 852 SIUPP baru, dan sampai
dengan akhir tahun 2001 penerbitan pers di Indonesia diperkirakan
sudah mencapai 1.800-2.000. Wilayah penerbitan pers juga semakin
luas, tidak hanya terpusat di ibu kota negara dan kota provinsi, tetapi
sudah sampai ke kota kabupaten, bahkan kota kecamatan.
Di bidang konten media, kebebasan pers pada awal reformasi
ini berada dalam kondisi euforia yang ditunjukkan “....dalam isi, gaya
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
151
pemberitaan serta cara-cara memperoleh informasi yang berbeda
dengan masa Orde Baru. Berbagai batas wilayah pemberitaan, yang
masa Orde Baru dianggap tabu dan berbahaya secara politik, kini
seolah-olah sirna diterpa angin kebebasan”165 Kondisi euforia pers ini
digambarkan oleh Jalaluddin Rakhmat “........ seperti kuda lepas dari
kandangnya. Pers Indonesia meloncat-loncat, berlari tanpa arah, dan
mendengus ke mana saja.... Banyak pengamat mengeluh, pers kini
sudah menceritakan apa saja kecuali yang benar. Bila pada masa Orde
Baru pers tidak bebas dan bertanggung jawab, pers Orde Habibie
adalah pers yang bebas tetapi tidak bertanggung jawab”166
Euforia kebebasan pers ini mendapat perhatian dari Presiden
B.J. Habibie dan menjadi salah satu topik bahasan dalam rapat kerja
antara Deppen dan Komisi I DPR. Habibie mengingatkan pers
agar tidak menebarkan benih disintegrasi. “Saya yakin sepenuhnya
tidak satu pun di antara kita yang ingin media digunakan untuk
membangkitkan emosi rakyat guna saling menghujat atau saling
menjatuhkan dengan menyebar berita fitnah, atau hal lain yang
bertentangan dengan kode etik jurnalistik167. Sementara itu, kalangan
FKP di Komisi I DPR menilai “......... banyaknya SIUPP baru yang
dikeluarkan Deppen telah menyebabkan banyak penerbitan pers yang
melanggar kode etik jurnalistik, menjadi provokator bagi tindakan
brutal massa dan mengombang-ambing sikap masyarakat.
Pers dianggap oleh para anggota FKP itu sudah kebablasan.
Salah seorang anggota FKP DPR yang berasal dari kalangan pers,
Sofyan Lubis juga memberikan penilaian senada, yang dalam salah
satu pernyataannya mengungkapkan ..... Pers yang senang membuat
berita yang memanaskan suasana. “Seperti judul-judul berita yang
dibuat cenderung seram-seram. Bahkan ada kesan penulisnya
165
Hanif Suranto, et.al, Pers Indonesia Pasca Suharto¸ Lembaga Studi Pers
dan Pembangunan, Aliansi Jurnalis Indonesia, Jakarta. 1999. hlm.2.
166
Ibid. hlm. 29
167
Ibid. hlm. 30
152
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
membuat judul dulu, baru mencari beritanya. Berita ditulis cenderung
superbebas sehingga tidak memperhatikan rambu-rambu Kode
Etik Jurnalistik”.168 Terhadap berbagai tudingan tersebut, kalangan
masyarakat pers mengemukakan berbagai pembelaannya, seperti yang
dikemukakan antara lain oleh R.H. Siregar, Goenawan Mohamad,
Rosihan Anwar, bahkan Menteri Penerangan.
Menteri Penerangan misalnya mengemukakan: ”Kekhawatiran
anggota FKP mengenai kebebasan pers merupakan wujud perilaku
status quo dan mencerminkan pemikiran Orde Baru yang harus
ditinggalkan pada era reformasi. Terhadap pernyataan Habibie,
R.H. Siregar mengungkapkan “.... pers tidak bisa dikatakan sebagai
penyulut disintegrasi bangsa. Kalau memang faktanya betul, sumber
informasinya kredibel dan kompeten, saya kira tidak salah. Dalam
hal ini, Goenawan Mohamad juga mengungkapkan hal yang sama
bahwa apa yang terjadi dalam pers Indonesia saat ini masih dalam
batas kewajaran. “Memang ada satu-dua pers yang salah dalam
mengartikulasikan kebebasan, tetapi itu tidak banyak.”
Sementara itu, wartawan senior Rosihan Anwar mengingatkan
bahwa sejak dibukanya keran kebebasan pers, makin santer keluhan
berbagai pihak atas pemberitaan pers yang semakin bebas. “Ketika
pers menyiarkan berita mengenai tuntutan mahasiswa yang
berdemonstrasi dan menuntut pemberantasan KKN, adili Soeharto,
hapuskan Dwifungsi ABRI, ganti Habibie dan sebagainya, ada pihak
yang menghendaki agar kebebasan pers kembali kendur”. 169
Kendatipun secara politik pers sudah memperoleh kebebasannya,
dalam arti hilangnya pengawasan pemerintah, tetapi hambatan
nonpolitik berupa tekanan publik/oknum pemerintah masih dialami
oleh pers Indonesia. Sampai dengan April 1999, terdapat sedikitnya
47 kasus intimidasi terhadap jurnalis berupa intimidasi dan kekerasan
fisik. Namun, fenomena lain yang perlu mendapat perhatian kalangan
Ibid. hlm. 30.
Ibid.
168
169
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
153
pers adalah munculnya tuntutan publik melalui jalur hukum, yang
selama era Orde Lama maupun Orde Baru jarang terjadi. Hal itu
mengindikasikan semakin baiknya tingkat literasi publik terhadap
media dalam menggunakan hak hukumnya untuk mengawasi pers.
B. Sistem Pers di Indonesia
1. Pers Liberal
Media massa di satu negara mencerminkan sistem pemerintahan
negara bersangkutan. Dengan kata lain, perkembangan politik dan
sistem pemerintahan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan
media, terutama yang berkaitan dengan kebebasan. Wiio sebagaimana
dikutip Martin mengemukakan: “In anything, differences in mass media
roles and functions in different social system support a contingency view
of communication. Lebih jauh Martin menjelaskan: “According to this
view the communication process and outcomes are influenced by internal
and external contingencies (situation) as well as by the degree of freedom
of the work process of the system”.170
Menurut Siebert, untuk mengetahui realitas pers di suatu
negara secara mendalam, terlebih dahulu harus dikaji asumsi-asumsi
filosofis (dasar dan hakiki) yang diyakini dan digunakan oleh negara
tersebut, terutama menyangkut hakikat manusia, hakikat negara
dan masyarakat, hubungan manusia dengan negara, serta hakikat
pengetahuan dan kebenaran171. Hal ini adalah karena pers selalu
mengambil bentuk dan warna yang sesuai dengan asumsi-asumsi
filosofis yang diyakini dan digunakan oleh negara tempat pers tersebut
berada172.
Martin, et al, , Compartative Mass Media System, Logman Inc, New York,
1983, hlm. 86.
171
Siebert, Fred S,.et.al., FourTheories of The Press, London, University of
Illinois. 1973. London. Op.cit, hlm. 2
172
Abar, Akhmad Zaini, Kisah Pers Indonesia 1966 – 1974, LkiS. 1995.
170
154
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Sejak kemerdekaan, Indonesia sudah mengalami beberapa
kali pergantian sistem pemerintahan, mulai dari pemerintahan yang
demokratis pada awal kemer­dekaan, pemerintahan yang liberal saat
kabinet parlementer, dualisme pemerintahan selama masa penja­
jahan NICA/Sekutu yang otoriter dan peme­rin­tahan republik yang
demokratis. Kemudian setelah beberapa tahun kembali lagi ke
pemerintahan otoriter yang dikenal dengan rezim Orde Lama dan
selama hampir 25 tahun era pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto.
Setelah Presiden Soekarno mengumumkan Negara Dalam
Keadaan Bahaya Perang (SOB) tanggal 14 Maret 1957 sehubungan
pemberontakan di Sumatra dan Sulawesi, diikuti Dekrit Presiden
1 Juli 1959, sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia adalah
pemerintahan yang otoriter. Sistem pers yang berlaku di Indonesia
mulai saat itu juga menganut paham otoritarian yang ditandai dengan
terjadinya berba­gai tindakan antipers.
Kondisi demikian paling tidak berlangsung sampai awal
pemerintahan Orde Baru, saat pemerin­
tahan mengalami masa
transisi untuk kembali melak­sanakan Undang Undang Dasar 1945
secara murni dan konsekuen. Pada masa transisi ini, sistem pers di
Indonesia cenderung menganut paham Libertarian, pers dengan
bebas dapat melakukan kritik ter­hadap penguasa dan mendukung
perjuangan maha­siswa “menghabisi” rezim Orde Lama. Akan tetapi,
kebebasan ini tidak bertahan lama, karena setelah peme­rintahan
rezim Orde Baru merasa cukup kuat, rezim pemerintahan Soeharto
mulai melakukan pem­batasan terhadap berbagai bidang kehidupan,
sehingga pers Indonesia kembali ke paham otoritarian.
Reformasi yang diawali pertengahan 1997 dengan puncaknya
Mei 1998, mengusung tiga tuntutan masyarakat, yaitu demokratisasi,
keterbukaan, dan supremasi hukum. Terjadinya penyerahan
kekuasaan dari Soeharto ke Habibie telah mengubah sistem peme­
rintahan otoriter ke pemerintahan yang lebih demokratis. Selama
Yogyakarta, hlm. 21.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
155
era pemerintahan Presiden Habibie, terjadi perubahan yang cukup
signifikan terhadap kebebasan pers. Saat diundangkannya UndangUndang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, menu­rut berbagai
kalangan, undang-undang ini terlalu ‘liberal’, tetapi digunakan sampai
sekarang.
2. Pers Bebas dan Bertanggung Jawab
Pada awal tahun 1980-an, pemerintah mengembangkan pers yang
bebas dan bertanggung jawab yang diadopsi dari Social Responsibility
Theory of The Press. Di negara asalnya, teori ini muncul atas reaksi
terhadap enam tugas pers dari The Libertarian Theory yang sangat
bebas dan terlalu terbuka sehingga kebebasan mengabaikan etika. Hal
itu dikemukakan Komisi Kebebasan Pers Amerika dalam A Free and
Responsibility Press (1947) dan William E. Hocking dalam bukunya
Freedom of the Press: A Framework of Principle (1947). Walaupun
secara umum keduanya menerima keenam tugas pers menurut
teori tradisional (Libertarian), tetapi teori ini “tidak puas terhadap
interpretasi para pemilik dan pelaksana media tentang fungsi itu”173.
Dalam menerapkan teori ini di Indonesia, muncul permasalahan
besar, yaitu adanya perbedaan persepsi terhadap kedua hal pokok,
yaitu tentang “bebas” dan “tanggung jawab”. Bebas dimaksudkan
apakah seperti apa yang dikehendaki kaidah jurnalistik atau seperti
yang dikehendaki pemerintah yang tidak punya standar yang
jelas. Demikian pula halnya dengan “tanggung jawab”. Pers harus
bertanggung jawab kepada siapa, apakah kepada masyarakat yang
memerlukan informasi secara terbuka atau kepada pemerintah
dengan pende­katan keamanan (security approach).
Tidak adanya batasan yang jelas tentang arti kebe­basan dan
tanggung jawab ini memberi keleluasaan kepada penguasa untuk
mengeluarkan berbagai aturan hukum untuk mengatur pers.
Pemerintah menge­luarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982
Fred Siebert, S,.et.al.Op cit., hlm. 74.
173
156
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
yang mengatur kehidupan pers, sebagai perubahan atas UndangUndang No. 11 Tahun 1966 dan Undang-Undang No. 4 Tahun 1967.
Sebagai tindak lanjut dari undang-undang ini, pemerintah melalui
Menpen juga mengeluarkan seperangkat ketentuan hukum yang pada
intinya bersifat represif membatasi kebebasan pers. Salah satu yang
paling ditakuti oleh penerbitan pers saat itu adalah Peraturan Menpen
Nomor 1 Tahun 1984 tentang Ketentuan Surat Izin Perusahaan Pers
(SIUPP) yang menurut versi pemerintah merupakan penjabaran dari
UU Nomor 21 Tahun 1982.
Melalui ketentuan ini, Menteri Penerangan memi­liki wewenang
yang cukup besar dalam mengen­dalikan kebebasan penerbitan pers
di Indonesia, yang menurut versi pemerintah dikatakan sebagai
‘pembinaan’ tetapi dimanifestasikan dengan “pemberedelan”, yaitu
men­cabut SIUPP penerbitan pers. Pada umumnya, dasar pencabutan
SIUPP adalah demi keamanan negara dan demi kelangsungan
pembangunan, walaupun pada kenyataannya penerbitan pers yang
diberedel isinya hanya memberitakan masalah pribadi pejabat atau
keluarganya. Sementara beberapa penerbitan pers yang dicabut
SIUPP-nya tidak lagi diberi kesempatan untuk terbit kembali.
Bertanggung jawab dapat diartikan sebagai ke­
mam­
puan
menerima atau memikul tanggung jawab yang timbul dari kesadaran
dan kemauan sendiri, atau akibat yang semata-mata karena perbuatan
sendiri. Dengan kata lain, bertanggung jawab adalah kemam­puan
menerima atau memikul hak dan kewajiban atas dasar kebebasan
(free will), bukan yang timbul karena suatu tekanan, keterpaksaan,
atau ketidakberdayaan. Pers yang bertanggung jawab adalah pers
yang bebas atau merdeka menentukan sendiri hak dan kewa­
jibannya tanpa suatu tekanan, keterpaksaan, atau keti­dakberdayaan.
Pers semacam ini hanya ada kalau ada kemerdekaan pers (freedom
of press). Tanpa kemer­dekaan, segala bentuk pertanggungjawaban
pers akan bersifat semu sebagai manifestasi tekanan, keter­paksaan,
atau ketidakberdayaan. Kedudukan, peran dan pertanggungjawaban
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
157
pers yang tidak merdeka semata-mata ditentukan oleh kehendak
pihak yang dominan dengan pilihan menjadi martir atau sebagai alat
kekuasaan.174
Pers merdeka memerlukan kebebasan, dan kebe­basan memerlukan
demokrasi. Tanpa demokrasi tidak pernah ada kemerdekaan atau
kebebasan pers. Karena itu, siapa pun yang menghendaki pers
merdeka, harus­
lah menjadi atau pendukung demokrasi (the real
democracy, bukan crypto democracy). Selain memerlukan kemerdekaan,
pers yang bertanggung jawab haruslah pers yang sehat yaitu pers yang
menjalankan tugas-tugas jurnalistik secara benar, tepat, teratur, dan
tertib. Mewujudkan pers yang bertanggung jawab tentu tidak terlepas
dari rambu-rambu hukum yang harus dijalankan agar informasi atau
berita yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan secara etika
profesi dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pers yang sehat dalam arti pers yang bertanggung jawab
memerlukan berbagai persyaratan dan tuntutan yang harus diikuti,
yaitu:175
1). Tuntutan etik: tugas atau pekerjaan jurnalistik atau
kewartawanan adalah tugas atau pekerjaan profesi. Pedoman
pertama dan utama setiap peker­jaan profesi adalah etika yang
akan menuntun pelaksanaan tugas atau pekerjaan dengan baik
sesuai dengan ciri-ciri profesi. Tuntutan etik profesi bukan saja
mengacu pada moral (layak atau tidak layak, patut atau tidak
patut), melainkan men­cakup pula tuntuan disiplin dan tanggung
jawab.
2). Tuntutan kesantunan atau sopan santun: ada perbedaan antara
tuntutan etik dan tuntutan sopan santun. Tuntutan etik adalah
tuntutan yang lebih bersifat rohaniah dan pribadi (personal),
sedangkan sopan santun adalah tuntutan tingkah laku sosial dan
Bagir Manan. Menjaga Kemerdekaan Pers di Pusaran Hukum. Penerbit
Dewan Pers.Jakarta. 2010, hlm.32.
175
Ibid.,hlm.33.
174
158
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
berstandar pada budaya lingkungan atau tempat tertentu.
3). Tuntutan hukum; Wartawan atau pelaku pers, baik sebagai
pelayan publik, maupun sebagai unsur kekuasaan sosial
(social power) hanya akan hidup dan menikmati kemerdekaan
(kebebasan), kala ada (dalam) demokrasi dan negara hukum
(democracy under the rule of the law, democratische rechtsstaat). Pers
sebagai pelayan publik dan unsur kekuasaan sosial hendaknya
menjadi simbol kepatuhan terhadap hukum, dan menjadi
pendorong ketaatan pada hukum.
4). Tuntutan integritas; Integritas adalah sikap dan tingkah laku
untuk berbuat dengan cara-cara terbaik dan terhormat untuk
menghasilkan yang terbaik.
5). Tuntutan cita-cita; Wartawan atau pelaku pers harus memiliki
dan bekerja atas dasar suatu cita-cita atau idealisme yang akan
menjadi bintang pemandu kemajuan dan menjalankan tugas
jurnalistik dengan baik sebagai pembawa informasi, pertukaran
pikiran, dan berbagai tuntutan kemanusiaan atau sosial dalam
satu masyarakat demokratik.
Pers sebagai pelayan publik dan sosial hendaknya menjadi simbol
kepatuhan terhadap hukum, dan pendorong ketaatan pada hukum.
Untuk itu, pers yang sehat dan bertanggung jawab memerlukan
berbagai persyaratan serta pedoman yang harus diikuti, yaitu:176
Pertama setiap pekerjaan profesi adalah etika yang akan
menuntun pelaksanaan tugas atau pekerjaan dengan baik sesuai
dengan ciri-ciri profesi. Tuntutan etik profesi bukan saja mengacu
pada moral (layak atau tidak layak, patut atau tidak patut), melainkan
mencakup pula tuntutan disiplin dan tanggung jawab. Oleh karena
itu, kode etik disebut juga sebagai aturan disiplin (disciplinary rules),
aturan tingkah laku (code of conduct). Bagi wartawan atau pelaku pers,
tuntutan etik meliputi hal-hal menjaga objektivitas, berimbang, tidak
Ibid.,hlm.33.
176
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
159
berpihak, kejujuran (fairness), cover both sides, berita semata-mata
berdasarkan fakta, menjauhi kebohongan, menjauhi fitnah, menjauhi
berita yang bersifat menghukum (menghakimi). Menjauhi cara-cara
intimidasi dan bertanya yang menekan, senantiasa menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan, baik terhadap subjek berita maupun orangorang yang berkaitan dengan subjek berita.
Kedua, selain etik juga tuntutan kesantunan atau sopan santun
(code of conduct). Memang, secara teoretis antara tuntutan etik dan
sopan santun terdapat perbedaan. Tuntutan etik adalah tuntutan
yang lebih bersifat rohaniah dan pribadi (personal), sedangkan
sopan santun adalah tuntutan tingkah laku sosial dan berstandar
pada budaya lingkungan atau tempat tertentu. Setiap wartawan atau
pelaku pers sangat perlu menjaga sopan santun saat menjalankan
tugas jurnalistik. Menghindari konflik atau sikap permusuhan yang
akan menghambat pelaksanaan tugas jurnalistik.
Ketiga, persyaratan lainnya pers harus memiliki integritas. Yang
dimaksud dengan integritas adalah sikap dan tingkah laku untuk
berbuat dengan cara-cara terbaik dan terhormat untuk menghasilkan
yang terbaik. Integritas adalah harkat kemuliaan (dignity) dan
kehormatan (honesty) untuk senantiasa mengusahakan dan mencapai
yang terbaik. Integritas bertalian dengan attitude dan character yang
mencakup nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, kejujuran (fairness),
dapat dipercaya atau amanah. Wartawan atau pelaku pers harus
memiliki dan bekerja atas dasar suatu cita-cita atau idealisme yang
akan menjadi pemandu dalam menjalankan tugas jurnalistik dengan
baik sebagai pembawa informasi, dan pertukaran pikiran.
3. Kemerdekaan Pers yang Profesional
Tuntutan profesional pers dalam mengemban kemer­dekaan pers
juga makin didorong oleh persaingan antarusaha pers yang makin
meningkat. Ada yang mengatakan, pemberitaan pers yang buruk akan
160
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
ditinggalkan masyarakat. Masyarakat hanya akan memilih keluaran
pers yang baik.177 Pers harus menyadari konsep kemerdekaan pers
tidaklah bersifat mutlak. Dalam konsep hak asasi manusia, kebebasan
pers dikategorikan sebagai derogated right atau hak yang dapat
diabaikan/dibatasi. Kemerdekaan, seperti kebebasan pers (freedom
of the press) atau kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat
(freedom of opinion and expression) serta kebebasan berbicara (freedom
of the speech) adalah beberapa di antara hak asasi yang paling mendasar.
Sama mendasarnya dengan hak untuk hidup yang mencakup hak
untuk mencari nafkah dan memperoleh upah yang sesuai dengan
jerih payah yang diberikan.
Di Indonesia, Pasal 28 UUD 1945 mencantumkan kemerdekaan
mengeluarkan pikiran atau pendapat agar kehidupan demokrasi
dapat ditumbuhkan. Tepatnya Pasal 28 UUD 1945 menyatakan:
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan, dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang.” Apa yang disebutkan dalam Pasal 28 UUD 1945 tersebut,
pada hakikatnya merupakan akar sistem dari kebebasan pers
Indonesia. Dengan demikian, pasal tersebut menentukan bentuk dan
isi konsep dasar dari sistem kebebasan pers tersebut.
Pelaku pers terutama wartawan profesional dituntut memiliki
kompetensi tinggi, baik kompetensi penge­
tahuan, kompetensi
keterampilan, ataupun kompetensi etik. Selain sebagai syarat
profesional, kompetensi yang tinggi juga berjalan seiring dengan
tuntutan masyarakat yang makin kompleks dan maju, akibat
kemajuan ilmu dan teknologi, serta tuntutan yang mengglobal. Tanpa
kompetensi yang tinggi dan sikap serta tindakan yang profesional,
pekerja pers khususnya wartawan tidak akan dapat menghasilkan
keluaran (output) jurnalistik yang dihargai masyarakat.
Baik berdasarkan pekerjaan, perkembangan pers, tuntutan,
maupun perkembangan baru, haruslah dila­
kukan upaya terusBagir Manan. Op cit. hlm.37. 177
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
161
menerus untuk meningkatkan kom­petensi pers nasional kita. Usahausaha itu wajib dilakukan perusahaan pers, organisasi wartawan,
orga­
nisasi perusahaan pers, lembaga-lembaga pendi­
dikan dan
pelatihan pers, dan Dewan Pers. Kegiatan meningkatkan kompetensi
dapat dilakukan dengan aneka ragam bentuk, seperti pendidikan
dan pelatihan, pertemuan-pertemuan ilmiah, lokakarya, diskusi
dan sebagainya. Salah satu segmen yang sangat penting untuk
meningkatkan kompetensi pers adalah kerja sama dengan lembaga
pendidikan tinggi jurnalistik, dan mendorong berbagai kegiatan
sosial pers, termasuk mendorong pengembangan pers kampus.
Pelaku pers terutama wartawan yang tidak memiliki kompetensi
tinggi, baik kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan,
maupun kompetensi etik akan merusak citra kebebasan pers karena
tidak memahami UU Pers dan kode etik jurnalistik. Seperti artikel
yang pernah ditulis oleh Rosihan Anwar di harian Kompas 9 Februari
2002 dengan judul “80% Wartawan Memeras” yang menyatakan
banyaknya wartawan yang melakukan pemerasan, yang berarti suatu
kemorosotan akhlak dan moral yang luar biasa.178
Keprofesionalan pers akan pengetahuan dan keterampilan
jurnalistik, tentu tidak akan terlepas dari sumber daya pelaku pers
yang umumnya memiliki kemampuan atau kompetensi tersebut
bukan berasal dari sumber pendidikan dan atau pelatihan pers
tetapi tumbuh atas dasar learning by doing. Oleh karena itu, sangat
perlu usaha meningkatkan secara terus- menerus pengetahuan dan
keterampilan jurnalistik pelaku pers mengenai sikap dan karakter,
terutama berkaitan dengan Kode Etik Jurnalistik. Sebagai pekerja
profesional, setiap pelaku pers harus mengetahui dengan baik dan
menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Kode etik jurnalistik adalah
mahkota pelaku pers (sebagaimana kode etik bagi profesi lain). Dalam
kenyataan, masih sangat banyak pelaku pers terutama wartawan yang
belum membaca apalagi menguasai kode etik jurnalistik yang sangat
Sabam Leo Batubara. Op cit. hlm.158.
178
162
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
berpengaruh terhadap pelanggaran kode etik jurnalistik.
Dalam menghadapi berbagai tuntutan serta perkembangan
baru, pelaku pers harus berusaha meningkatkan kompetensi pers
nasional. Usaha-usaha ini wajib dilakukan perusahaan pers, organisasi
wartawan, organisasi perusahaan pers, lembaga-lembaga pendidikan
dan pelatihan pers serta Dewan Pers. Kegiatan meningkatkan
kompetensi kemerdekaan pers yang profesional dapat dilakukan
melalui pendidikan dan pelatihan, pertemuan-pertemuan ilmiah,
lokakarya, diskusi dan sebagainya.
C. Ruang Lingkup Kemerdekaan Pers
Secara ringkas terdapat sejumlah asumsi dasar yang melandasi
gagasan kemerdekaan pers:179
a. Kemerdekaan pers dibutuhkan untuk pencarian kebenaran. Sejarah
umat manusia menunjukkan ketika ada masa di mana terdapat
lembaga/orang pemegang otoritas kebenaran, lembaga/orang tersebut
potensial menghalangi proses pencarian kebenaran, dengan beragam
alasan (Contoh : gereja pra-pencerahan).
b. Kemerdekaan pers dibutuhkan untuk mengontrol penguasa, karena
menurut Lord Acton: “Kekuasaan Cenderung Korup, dan Kekuasaan
Absolut Mutlak Korup!”
c. Kemerdekaan pers dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat yang
memiliki pengetahuan memadai tentang lingkungan sehingga dapat
mengambil keputusan secara rasional dalam proses pengambilan
keputusan – prasyarat bagi keterlibatan publik dalam proses politik.
d. Kemerdekaan pers dibutuhkan dalam rangka men­
ciptakan apa
Ade Armando, Kemerdekaan Pers Bukan Kemerdekaan Absolut.
Makalah pada Seminar Pembangunan Hukum Nasonal VIII Tema Penegakan
Hukum Dalam Era Pembangunan Berkelanjutan, Diselenggarakan oleh Badan
Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
RI, Denpasar, 14 – 18 Juli 2000, hlm.1.
179
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
163
yang disebut sebagai public sphere yakni sebuah ruang bebas di mana
beragam suara yang bertentangan dapat terwadahi secara merdeka
dan otonom.
Seperti terlihat, kemerdekaan pers diasumsikan memiliki makna
vital karena adanya kondisi-kondisi yang dibutuhkan demokrasi yang
hanya dimungkinkan kalau kemerdekaan pers ada. Para jurnalis memang
diberi hak istimewa untuk secara bebas mengumpulkan informasi dalam
kondisi-kondisi yang tak dimiliki warga kebanyakan, tetapi pada akhirnya
jurnalis juga adalah warga negara yang harus tunduk pada hukum yang
berlaku untuk seluruh warga lainnya. Kemerdekaan pers merujuk pada
kemerdekaan untuk mengumpulkan dan menyiarkan informasi yang
terkait dengan kepentingan publik. Kata kuncinya adalah kepentingan
publik, kemaslahatan masyarakat. Informasi di luar itu tidak penting untuk
dilindungi.
Karena itu, kemerdekaan pers tak ada kaitannya sama sekali dengan,
misalnya, penyebaran pornografi, penyebaran fitnah, penghinaan, dan
sebagainya. Menyertakan penye­baran segala macam informasi sampah ke
dalam kemer­de­kaan pers adalah pengkhianatan dan penghinaan terha­dap
mereka yang bahkan rela mengorbankan nyawa untuk memperjuangkan
kemerdekaan tersebut. Kemerde­
kaan pers misalnya tidak melindungi
pihak-pihak yang sekadar ingin menyiarkan informasi tanpa peduli akan
arti “tanggung jawab”. Kemerdekaan pers untuk menyiarkan informasi,
tidak mencakup kebebasan untuk menyiarkan kabar bohong.
Dalm hal ini, argumen tentang “hak jawab” adalah hak yang bisa
digunakan, tetapi bisa juga tidak. Bila pers bohong, atau tidak menyiarkan
informasi yang tidak akurat, dan bisa dibuktikan bahwa informasi tersebut
memang tidak akurat dan sengaja disebarkan untuk merugikan kepentingan
pihak lain, pers pantas dihukum. Kemampuan pers dalam menjalankan
peranannya tersebut banyak bergantung kepada seberapa jauh kemerdekaan
diperolehnya dari pemerintah dan kekuatan-kekuatan lain. Hanya pers
yang bebas yang dapat melayani masyarakat yang demokratis. Ia harus
164
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bebas mengkritik dengan bijaksana dan benar tingkah laku para pejabat
dan ia harus mempunyai hak untuk mengetahui aktivitas pernerintahan.
1. Tujuan Kemerdekaan Pers
Inti dari demokrasi adalah kepercayaan bahwa akal, kebijaksanaan, dan
karakter dari sebagian besar masyarakat akan membawa ke keadaan
yang lebih baik dan lebih memuaskan. Akan tetapi, masyarakat dalam
alam demokrasi hanya dapat berfungsi jika kepadanya diberikan faktafakta yang benar mengenai lingkungan tempat dia hidup. Jika rakyat
tidak mendapat informasi yang benar mengenai persoalan persoalan
mereka, maka mayoritas dari mereka yang memerintah bukan saja
tidak dapat mengambil keputusan, bahkan bisa membuat keputusan
yang salah. Kemampuan pers dalam menjalankan perannya tersebut
banyak bergantung pada seberapa jauh kemerdekaan diper­olehnya
dari pemerintah dan kekuatan kekuatan lain. Hanya pers bebas
yang dapat melayani masyarakat yang demokratis. Ia harus bebas
mengkritik dengan bijaksana dan benar tingkah laku para pejabat dan
ia harus mempunyai hak untuk mengetahui aktivitas pemerintahan.
Namun, kebebasannya harus diiringi tujuan yang hendak
dicapai, yang sama pentingnya dengan kebebasan itu sendiri. Pers
harus mengemukakan kebenaran. Ia tidak cukup memuat tentang
body contest, mengutip pendapat seorang terkemuka tentang sesuatu
kontroversi atau mengutip secara lengkap pesan seorang eksekutif,
pers harus menguraikan arti dari informasi yang ia berikan dan
menempatkannya dalam hubungan masa depan yang lebih baik.
Pers dalam masyarakat demokratis mempunyai tanggung jawab
untuk mengembangkan sistem demokrasi itu sendiri. Ia mempunyai
tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada legislator,
pejabat, dan warga negara pada umumnya. Sebaliknya ia mempunyai
hak untuk mendapatkan informasi mengenai aktivitas pemerintahan
dalam setiap tingkatan. Pers mampu menjadikan dirinya sebagai
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
165
forum pertukaran pandangan dan kritik.
Pers harus mampu menolong individu dan masyarakat untuk
meningkatkan kemampuan mereka dalam memperbaiki diri.
Pers harus mampu memperbaiki dirinya sendiri sehingga dapat
memberitakan sesuatu secara tepat, benar, fair dan terhormat.
Pada akhirnya, pers yang bebas harus mampu berdiri sendiri, lepas
dari hambatan hambatan-pemerintah atau kekuatan dari struktur
ekonomi tempat dia menjadi salah satu bagian. Kebebasan pers
harus dijaga dari penerbit yang hanya bertujuan untuk mencari uang.
Tujuan kemerdekaan pers tanpa disadari dapat dibatasi oleh, misalnya,
kebutuhan akan iklan. Di samping itu pers bebas yang menumbuhkan
penerbitan-penerbitan luas dan besar jangan mematikan pers lokal
yang mempunyai perhatian lebih besar terhadap masalah-masalah di
lingkungan mereka. Berkembangnya media massa haruslah diiringi
dengan kesadaran tentang peranan mereka dalam masyarakat. Konsep
ini melahirkan serangkaian peraturan, di mana pers harus obyektif
dan menjunjung tinggi kebenaran, kehormatan, dan rahasia pribadi
serta melindungi kepentingan tertinggi dari negara.
Tradisi demokrasi kemerdekaan pers memerlukan sedikit
mungkin peraturan dan mendapat kepastian hukum melalui suatu
pengadilan yang bebas. Di banyak negara berkembang, pers seperti
berjalan di tepi mata pisau, di bawah serangkaian pembatasan dan
tekanan. Jika pers hendak memberikan sumbangannya kepada
kemajuan nasional, maka baik pers maupun pemerintah hendaknya
mengembangkan hubungan saling memer­cayai daripada hubungan
yang antagonistis yang penuh dengan kecurigaan. Dalam ketiadaan
ketentuan, pers memutuskan sendiri apa yang ia anggap bijaksana. Ia
harus kembali pada keterikatannya kepada bangsa, masyarakat, dan
profesinya.180
Erman Rajagukguk. Op cit.
180
166
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
2. Fungsi Kemerdekaan Pers
Kebebasan pers selalu dihubungkan dengan kebebasan mengemukakan
pendapat, suatu bagian hak manusia yang paling asasi. Persoalan
selalu timbul tentang “kebebasan” yang bagaimana dan sejauh mana?
Penafsiran ekstrem dilakukan William O. Douglas. Dia cenderung
memandang bahwa kemerdekaan pers adalah absolut atau tanpa
batas.181 Di pihak lain, banyak pendapat yang menyatakan bahwa
kemerdekaan pers dibatasi oleh fungsi sosial. Dalam. pengertian yang
terakhir ini, kebebasan pers, misalnya, tentu tidak akan melindungi
hak media massa yang mengeksploitasi seks, menggunakan bahasa
yang tidak senonoh, atau memuat berita berita sensasional.
Kebebasan pers acap kali juga dihubungkan dengan hak
masyarakat untuk mengetahui. Akan tetapi, menurut pandangan yang
moderat, tanggung jawab pers bebas selalu menuntut pertimbangan
hak masyarakat untuk mengetahui apa? Sejauh mana? Apakah
masyarakat mempunyai hak untuk mengetahui nama seorang
korban pemerkosaan, nama seorang terdakwa dalam pemeriksaan
pendahuluan, atau apakah umum mempunyai hak untuk mengetahui
kehidupan pribadi tetangganya? Pers dalam menyiarkan suatu berita
harus mempertimbangkan kondisi etik, psikologi, dan masa depan
seseorang.
D. Asas-asas Pers yang Baik dalam Industri Media
Massa
Berbagai referensi menjelaskan, pengertian asas ada­
lah prinsipprinsip pokok dan bersifat umum. Karena me­nyangkut hal pokok, asas
dikatakan sebagai prinsip dasar, bahkan karena pentingnya, Djuhaendah
Hasan menye­­but­kan asas adalah roh. Pada umumnya, asas demokratis
terkait dengan hal-hal pokok, seperti dalam “asas-asas pe­nyelenggaraan
181
Erman Rajagukguk. Op cit.,
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
167
negara”182 meliputi; (1). Asas kepastian hukum, yaitu asas dalam negara
hukum yang meng­uta­makan landasan peraturan perundang-undangan,
kepa­­tutan, dan keadilan dalam setiap penyelenggaraan negara; (2). Asas
tertib penyelenggaraan negara yaitu asas yang menjadi landasan keteraturan,
keserasian, dan ke­se­imbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara;
(3). Asas kepentingan umum yaitu asas yang men­­dahulukan kesejahteraan
umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif. (4). Asas
keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang
penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas
hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara; (5). Asas proporsionalitas
yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban
penyelenggara negara; (6). Asas akuntabilitas yaitu asas yang menentukan
bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan
negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat
sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan (7) Asas profesionalitas yaitu asas
yang mengutamakan keahlian berlandaskan kode etik dan ketentuan
perundang-undangan; sedangkan asas demokrasi yang dikandung
dalam pers atau kode etik jurnalistik, antara lain meliputi: a. keharusan
menghasilkan berita yang berimbang, b. keharusan bersikap independen, c.
kewajiban melayani hak jawab, d. kewajiban melayani hak koreksi.
Adapun wartawan dalam menjalankan profesinya dituntut untuk
bertindak sesuai dengan asas adil, fair, dan berimbang. Walaupun mungkin
wartawan memiliki pandangan yang berbeda, dalam menjalankan
profesinya wartawan harus tetap bertindak adil, fair, dan berimbang dalam
pemberitaan. Hal itu harus diupayakan semaksimal mungkin sampai
batas-batas yang memungkinkan. Ini akan menghasilkan keanekaragaman
informasi. Semua itu supaya berita tetap demokratis, dan dengan begitu
masyarakat memperoleh berita dari berbagai sudut pandang dan dapat
Op.cit, RPJMN 2004-2009, hlm.509-510
182
168
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
memberikan penilaian. Wartawan yang tidak bersikap demokratis dalam
beritanya adalah wartawan yang tidak menaati Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Masyarakat yang sistem sosial politiknya demokratis akan menyediakan
informasi yang layak bagi warga. Sebaliknya, dalam pemerintahan yang
tidak demokratis, sistem komunikasi media massa yang ada digunakan
untuk mempertahankan kekuasaannya. Apabila hal ini terjadi, jelaslah
pemerintahan yang mengabaikan layanan informasi pers bertentangan
dengan asas demokratis. Media sebagai salah satu sumber informasi
publik diharapkan bisa menjadi alat untuk mendorong berjalannya ketiga
prinsip good governance (prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, dan
partisipasi). Harus diakui, melalui medialah serangkaian peristiwa, opini,
dan realitas dapat disajikan dalam bentuk informasi kepada masyarakat.
Dengan menyajikan asas berita-berita aktual dari ber­bagai isu yang
berkaitan dengan praktik-praktik korupsi, hukum, politik, dan sebagainya,
tampak bahwa sesungguhnya media memiliki kontribusi yang esensial
dalam mendukung proses pembangunan demokrasi. Terlebih, saat ini kita
sedang berada dalam masa transisi demokrasi yang salah satu jalannya
melalui pembaruan tata pemerintahan. Oleh karena itu, inilah saat
yang tepat bagi media massa untuk mendukung proses pembaruan tata
pemerintahan yang baik melalui berita-berita informatif, cerdas, kritis, dan
bertanggung jawab.
Beberapa acuan asas pers yang baik terkait dengan kegiatan jurnalistik
dalam pemberitaan yang bertanggung jawab, yakni:
1. Asas Moralitas
Wartawan bukan saja harus menyadari bahwa profesi wartawan atau
jurnalistik memiliki landasan moral yang kuat, tetapi juga moralitas
yang sudah harus mendarah daging dalam diri wartawan. Dengan
demikian, semua karya jurnalistik wartawan, apa pun bentuknya,
harus dilandasi moralitas yang kuat. Ini juga sekaligus menunjukkan
betapa dalam diri wartawan ada tanggung jawab moral yang tinggi.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
169
Wartawan yang melaksanakan profesi tanpa moralitas atau dengan
standar moral yang rendah berarti mengingkari jati dirinya sendiri. 183
Kandungan moralitas dalam KEJ, antara lain: a. wartawan tidak
boleh beriktikad buruk, b.wartawan tidak boleh membuat berita cabul
dan sadis, c.wartawan tidak menyebut identitas korban kesusilaan,
d. wartawan tidak menyebut identitas anak-anak sebagai pelaku
kejahatan, e. wartawan tidak berprasangka dan diskriminatif terhadap
perbedaan jenis kelamin, bahasa, suku agama, dan antargolongan
(SARA). f. wartawan tidak merendahkan martabah orang lemah,
miskin, dan sakit (jasmani dan rohani), g. wartawan tidak menerima
suap, h. wartawan menghormati kehidupan pribadi, kecuali untuk
kepentingan umum, i. wartawan melaksanakan kewajiban koreksi,
yakni mencabut dan meralat jika mengetahui ada pembuatan berita
yang keliru atau tidak benar, walaupun tidak ada yang meminta
bahkan jika perlu disertai dengan permintaan maaf.
2. Asas Profesionalitas
Asas profesional adalah nilai-nilai profesionalitas apa saja yang
dikandung dalam KEJ dan mengapa nilai profesionalitas itu harus
ada. Dalam hal ini, asas profesionalitas yang dimaksud antara
lain: a.wartawan harus membuat berita yang benar, b. wartawan
menunjukkan identitas kepada narasumber, c. wartawan menghasilkan
berita yang faktual dan jelas sumbernya, d. wartawan selalu menguji
informasi, e. wartawan dapat membedakan fakta dan opini, f.
wartawan tidak membuat berita bohong dan fitnah, g. wartawan
mencantumkan waktu peristiwa dan atau pengambilan/penyiaran
gambar h. wartawan menghargai ketentuan embargo, off the record,
informasi latar belakang (background information), i. wartawan harus
menjalankan reka ulang.
Wirna Armada. Cara Mudah Memahami Kode Etik Jurnalistik dan Dewan
Pers. Penerbit Dewan Pers. 2008. Log.Cit hlm.41.
183
170
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
3. Asas Demokratis
Asas demokrasi adalah nilai demokratis apa saja yang dikandung
oleh KEJ dan mengapa harus ada nilai demokratis itu. Dalam hal
ini, asas demokratis yang dimaksud antara lain meliputi: a. keharusan
menghasilkan berita yang berimbang, b. keharusan bersikap
independen, c. kewajiban melayani hak jawab, d. kewajiban melayani
hak koreksi.
Terkait dengan latar belakang dan golongan wartawan, dalam
menjalankan profesinya, wartawan dituntut bertindak adil, fair, dan
berimbang. Walaupun mungkin wartawan memiliki pandangan atau
golongan yang berbeda, dalam menjalankan profesinya, wartawan
harus tetap bertindak adil, fair, dan berimbang dalam berita-beritanya.
Hal itu harus diupayakan semaksimal mungkin sampai batas-batas
yang memungkinkan. Itu akan menghasilkan keanekaragaman
informasi. Semua itu supaya berita tetap demokratis, dan dengan
demikian masyarakat memperoleh berita dari berbagai sudut pandang
dan dapat memberikan penilaian. Wartawan yang tidak bersikap
demokratis dalam beritanya adalah wartawan yang tidak menaati
KEJ.
4. Asas Supremasi Hukum
Benar bahwa etika dan hukum memiliki karateristik yang sangat
berbeda, sehingga ruang lingkup dan sanksinya juga sangat berbeda.
Namun, nilai kode etik dapat saja mengadopsi atau mendukung suatu
nilai hukum tertentu sebagai bagian dari moral itu sendiri. Dengan
demikian, eksistensi hukum yang dimaksud adalah yang didukung
oleh nilai moral yang ada dalam etika. Oleh karena itu, ada istilah
terkenal quid leges sines moribos ”apalah artinya hukum tanpa moral”.184
Dalam hal ini, yang dimaksud dengan asas hukum dalam KEJ
adalah nilai hukum mana saja yang diadopsi dan atau didukung oleh
Ibid.,hlm.44.
184
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
171
KEJ dan mengapa hal tersebut terjadi. Asas hukum yang dimaksud,
antara lain: a. wartawan tidak boleh melakukan plagiat, b. wartawan
menghormati asas praduga tidak bersalah, c. wartawan memiliki hak
tolak, d. wartawan tidak menyalahgunakan profesinya.
5. Asas Keadilan
Asas keadilan ini mencakup, bahwa jurnalis wajib menyajikan
berita yang adil dan seimbang. Pers harus mampu menjadi
agents of reforms dan kebijakan media harus independen,
mencerminkan suara hati bangsa, bebas dari tekanan,
kekangan, campur tangan penguasa di pusat dan di daerah,
conflict of interests.
Pers nasional harus dapat menjawab tantangan itu
dengan kinerja yang profesional yang dilandasi semangat
memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Keadilan hanya
akan terwujud manakala pers dalam menjalankan tugasnya
benar-benar memperlakukan narasumber secara adil. Artinya,
dalam pemberitaan, wawancara ataupun bentuk kegiatan
pemberitaan lainnya, harus dilaksanakan dengan prinsip sama
rata yang dilandasi pengabdian.
Contoh implementasi dari asas keadilan ini adalah
sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 97 UU No. 10 Tahun
2008 tentang Pemilu yaitu media massa cetak menyediakan
halaman dan waktu yang adil serta seimbang untuk pemuatan
berita dan wawancara serta untuk pemasangan iklan kampanye
bagi peserta pemilu.
Keadilan dalam pelayanan terimplementasi dalam
bentuk pemberitaan, kesempatan menggunakan pers atas
dasar kesepakatan dan ruang yang sama bagi semua peserta
pemilu. Jika partai A mendapat porsi pemberitaan setengah
halaman, maka partai B juga harus mendapat porsi yang
172
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
sama. Pelayanan seperti inilah yang dituntut undang-undang.
Dengan alasan apa pun, pers tidak boleh berlaku tidak adil.
Ini perlu digarisbawahi karena untuk mengukur adil-tidaknya
institusi pers sangatlah mudah. Intensitas pemberitaan partai
tertentu dan kolom yang diberikan dapat dijadikan ukuran
adil-tidaknya pelayanan pers terhadap partai politik.
6. Asas Kepastian Hukum
Adanya Pasal 8 UU Pers yang berbunyi: “Dalam me­lak­­sanakan
profesinya, wartawan dapat mendapat per­lindungan hukum”, bukan­
lah tanpa maksud terten­tu. Pencantuman pasal ini tidaklah dapat
disama­
kan dengan perlindungan hukum umum yang diberikan
kepada setiap orang. Ketentuan perlindungan ini bersifat sangat
khusus buat pers, dan karena itu menjadi sangat berarti.
Dalam penjelasan Pasal 8 UU Pers diterangkan bahwa yang
dimaksud dengan “perlindungan hukum” adalah jaminan perlin­
dungan pemerintah dan atau masyarakat kepada wartawan dalam
melak­sanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selama pers menja­
lankan fungsi, hak, kewajiban, dan peranan sebagaimana diatur dalam
undang-undang itu, wartawan harus mendapat jaminan perlindungan
dari pemerintah atau masyarakat.
Makna perlindungan dalam pasal ini menjadi dasar pembenar
terhadap tugas-tugas jurnalistik wartawan dengan dasar-dasar
pembenar untuk profesi lainnya. Ketika wartawan memperjuangkan
keadilan dan kebenaran, wartawan juga sedang menjalankan keten­
tuan perundang-undangan dan karena itu wartawan tidak dapat
dihukum. Banyak yang berang­gapan bahwa wartawan yang sedang
melakukan investigasi tidak dilindungi undang-undang. Jika keten­
tuan Pasal 8 UU Pers disimak dengan baik, apa yang dinamakan proses
investigative reporting merupakan bagian dari kegiatan jurnalistik dan
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
173
karena itu sesuai dengan peraturan yang berlaku, kegiatan investigasi
tetap dilindungi oleh hukum.
Dengan adanya kepastian perlindungan hukum dalam Pasal 8
sebagai salah satu “mahkota” UU Pers, berarti otomatis demi hukum
setiap wartawan yang menjalankan tugasnya, sepanjang sesuai dengan
standar, sudah melekat mendapat perlindungan hukum. Artinya,
ketika menjalankan tugasnya, wartawan tidak boleh dihukum, baik
selama pencarian bahan maupun setelah beritanya disiarkan.185 Dalam
pengertian lain pasal ini, wartawan dalam menjalankan tugasnya tidak
dapat dituntut. Alasannya, dalam hal ini undang–undang dengan
jelas telah memberikan kekhususan kepada profesi wartawan dengan
memberikan per­
lin­­
dungan hukum ketika menjalankan tugasnya.
Berdasarkan hal ini pula, wartawan jika mengejar-ngejar narasumber
dan pejabat, tidak boleh dihukum.
7. Asas Nasionalisme
Menurut asas ini, pers juga harus bersifat nasionalis yaitu tidak
menutup mata apabila ada persoalan bangsa. Asas nasionalisme
tersebut adalah: 1) mengabdi untuk kepentingan bangsa dan
negara, 2) memperhatikan keselamatan dan keamanan bangsa,
3) memperhatikan persatuan dan kesatuan negara.
8. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan dalam pers adalah kemampuan pers untuk
membuat masyarakat merasa menjadi anggota suatu kelompok.
Misalnya, pada acara yang ditayangkan televisi, seorang gadis yang
menderita karena penyakit leukemia, gadis tersebut hampir putus asa
karena penyakitnya tidak kunjung sembuh. Setelah tayangan program
tersebut di televisi, banyak pemirsa yang bersimpati dan menyerahkan
bantuan sebagai bentuk rasa simpati kepada gadis yang menderita
penyakit tersebut.
Wina Armada Sukardi, Op.Cit, hlm. 198.
185
174
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
E. Peran Pers yang Baik dalam Kemerdekaan Pers
Dalam konteks kehidupan sosial, peran media diperlukan untuk
memberikan informasi berbagai masalah yang ada dan berkembang di
tengah masyarakat, sekaligus dimanfaatkan sebagai jendela untuk melihat
permasalahan yang ada melalui peran media, apakah jelas dan sudah
memadai. Media sebagai cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat
dan dunia, merefleksikan apa adanya. Memandang media sebagai filter
yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media
senantiasa memilih isu, informasi, atau bentuk konten lain berdasarkan
standar yang dimiliki.
Pada satu sisi, media massa juga sering kali dianggap sebagai
guide, penunjuk jalan, atau interpreter yang menerjemahkan arah atas
berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam. Sementara di sisi
yang lain, publik melihat media sebagai forum untuk mempresentasikan
berbagai bentuk informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga terjadi
tanggapan dan umpan balik yang positif dan mungkin solutif terhadap
beragam masalah yang ada. Media tidak hanya sebagai jembatan tempat
lalu lalangnya informasi, tetapi juga sebagai partner komunikasi yang
memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.
1. Wahana Informasi yang Positif
Salah satu hak pers adalah menyampaikan informasi. McQuail dalam
bukunya Mass Communication Theories merangkum pandangan
khalayak terhadap peran media massa sebagai wahana informasi yang
positif. Menurut McQuail, ada enam perspektif dalam hal melihat
peran pers yang baik, yaitu :186
1). Media massa sebagai jendela sumber informasi.
Media dipandang sebagai jendela yang memung­
kinkan
khalayak “melihat“ apa yang terjadi di luar, atau media juga
dapat berperan sebagai media pembelajaran untuk mengetahui
berbagai peristiwa yang terjadi. Dalam konteks kehidupan sosial,
Denis McQuail. Op cit., hlm. 66.
186
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
2. 3.
4.
5.
6.
175
peran media diperlukan untuk memberikan informasi berbagai
masalah yang ada dan berkem­bang di tengah masyarakat, meski
jendela ini untuk melihat permasalahan yang ada melalui peran
media, apakah jelas dan sudah memadai.
Media sebagai kaca spion yang memantulkan berbagai informasi
di masyarakat.
Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan
dunia, yang merefleksikan apa adanya. Oleh karena itu, para
pengelola media sering merasa ”tidak bersalah” jika isi media
menggambarkan hal yang buruk dan mungkin menakutkan
masyarakat. Memandang media sebagai filter atau gatekeeper yang
menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak.
Media senantiasa memilih isu, informasi, atau bentuk konten
yang lain berdasarkan standar yang dimiliki.
Media massa sering kali dianggap sebagai guide, penunjuk
jalan, atau interpreter yang mener­jemah­kan arah atas berbagai
ketidakpastian atau alternatif yang beragam.
Melihat media sebagai forum untuk mempre­sentasikan berbagai
bentuk informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga terjadi
tanggapan dan umpan balik yang positif dan mungkin solutif
terhadap beragam masalah yang ada.
Media sebagai mitra aktif yang tidak sekadar tempat lalu
lalangnya informasi, tetapi juga merupakan partner komunikasi
yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang interaktif.
Hal tersebut menunjukkan peran media tidak hanya sebagai
sarana pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi juga isi yang disaji­
kan mempunyai pesan yang signifikan dalam proses sosial dan
politik. Oleh karena itu, gambaran yang dibentuk oleh media yang
memberi informasi yang salah akan memunculkan gambaran yang
salah terhadap objek sosial. Oleh karena itu, media massa dituntut
176
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas
informasi inilah yang merupakan wahana tuntutan etis dan moral
penyajian berita.
2. Mencerdaskan Masyarakat
Idealisme yang melekat pada pers sebagai lembaga kemasyarakatan
ialah melakukan pengawasan sosial dengan menyatakan pendapat
secara bebas, tetapi tentu dengan perasaan tanggung jawab bila
pers itu menganut social responsibility. Idealisme yang melekat pada
pers dijabarkan dalam pelaksanaan fungsinya, selain menyiarkan
informasi, juga mendidik, menghibur, dan memengaruhi. Pada
umumnya, pers sudah dianggap sebagai fenomena kehidupan masya­
rakat modern. Itulah sebabnya, pers terus ditelaah dan dikaji dari
berbagai dimensi pendekatan, mulai dari pendekatan ilmu dan filsafat
hingga pendekatan teknis. Bahkan, pers diamati sebagai barometer
dan perlambang kebebasan dan hak asasi manusia. Tidak dapat
disangkal bahwa media massa memberikan andil bagi pembinaan dan
pengembangan pendidikan.
Media massa memang memiliki kelebihan. Di samping
memiliki jumlah pembaca dan pemirsa terbesar, media juga memiliki
pengaruh besar di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, media massa
merupakan salah satu mitra kerja yang penting dalam memajukan
kegiatan pendidikan. Pers juga diharapkan mampu menyosialisasikan
hasil-hasil pembinaan serta pengembangan pendidikan moral
dan etika kebangsaan. Sosialisasi pengembangan pendidikan akan
berhasil manakala pers dapat mengetahui dan mengerti fungsi sosial
media massa, baik secara teori menurut pendapat para pakar maupun
pengertian berdasarkan Undang-Undang Pers.
Harold D. Lasswell dan Charles Wright dalam bukunya
mengelompokkan fungsi-fungsi sosial media massa, yaitu:187
Harold D Lasswell dan Charles Wright. Investigating Estrada, PCIJ. 2000.
hlm.203
187
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
177
(1). Fungsi menyiarkan informasi (to inform) atau disebut juga sebagai
social surveillance. Menyiarkan informasi merupakan fungsi pers
yang utama. Pada fungsi ini, media massa termasuk media televisi
akan senantiasa merujuk pada upaya penyebaran informasi
dan interpretasi seobjektif mungkin mengenai peristiwa yang
terjadi, dengan maksud agar dapat dilakukan pengawasan sosial
sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam
lingkungan masyarakat bersangkutan.
(2). Fungsi mendidik (to educate). Sebagai sarana pendidikan
massa, surat kabar dan majalah memuat tulisan-tulisan yang
mengandung pengetahuan sehingga khalayak pembaca
bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara
implisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana, maupun berita.
(3) Sebagai social correlation. Dengan fungsi korelasi sosial
tersebut, akan terjadi upaya penyebaran informasi yang dapat
menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok
sosial lainnya. Begitu pun antara pandangan–pandangan yang
berbeda, agar tercapai konsensus sosial.
(4). Fungsi socialization. Pada fungsi ini, media massa selalu
merujuk pada upaya pewarisan nilai-nilai luhur dari satu
generasi ke generasi selanjutnya, atau dari satu kelompok ke
kelompok lainnya.
(5). Fungsi memengaruhi (to influence). Fungsi meme­
ngaruhi
menyebabkan pers memegang peran penting dalam kehidupan
masyarakat. Sudah tentu surat kabar yang ditakuti ini ialah surat
kabar yang independen yang bebas menyatakan pendapat, bebas
melakukan pengawasan sosial. Fungsi memengaruhi dari surat
kabar, secara implisit terdapat pada tajuk rencana, opini, dan
berita. (6). Fungsi entertainment. Agar tidak membosankan, sudah
tentu media massa perlu juga menyajikan hiburan kepada
178
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
khalayaknya. Hal-hal yang bersifat hiburan sering dimuat oleh
surat kabar, majalah, serta televisi untuk mengimbangi beritaberita berat (hard news) dan artikel yang berbobot. Isi surat
kabar dan majalah yang bersifat hiburan bisa berbentuk cerita
pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang,
pojok, karikatur, tidak jarang juga berita yang mengandung
minat insani (human interest), dan kadang-kadang tajuk rencana,
sedangkan di radio atau televisi bisa dalam bentuk pergelaran
atau siaran langsung (live). Hanya, fungsi hiburan ini sudah
terlalu dominan mewarnai siaran televisi kita sehingga fungsi
lainnya seolah sudah terlupakan. Untuk itu, fungsi hiburan
haruslah ditata agar seimbang dengan fungsi-fungsi lainnya.
Sejatinya, fungsi media massa tersebut bersinergi dan sinkron
dalam rangka menyajikan pemberitaan yang sehat. Sebab, hanya
tontonan yang sehat sajalah yang nantinya dapat melahirkan
generasi sehat yaitu generasi yang memiliki karakter sebagai
bangsa.
(7). Di samping fungsi-fungsi pers tersebut, masih terdapat fungsi
lainnya yaitu lembaga ekonomi. Fungsi lembaga ekonomi di
sini dimaksudkan sebagai struktur atau badan kelembagaan
perusahaan pers yang harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip
demokrasi ekonomi agar mampu menyejahterakan masyarakat,
khususnya karyawan pers.
(8).Sementara menurut Smythe, fungsi utama media adalah
menciptakan kestabilan segmen khalayak bagi monopoli
penjualan iklan kapitalis” 188.
3. Memenuhi Informasi Bagi Kepentingan Publik
Media massa juga memiliki peran besar dalam meme­nuhi informasi
masyarakat dan kepentingan informasi publik yang baik. Ketentuan
188
Dallas Smythe, Communication: Blindspot of Western Marxism, Canadian
Journal of Political and Social Theory, Volume 1, Number 3,1977, hlm.1.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
179
mengenai peran pers ini secara tegas diatur dalam Pasal 6 UU Pers.
Namun, untuk mampu berperan dalam menyiarkan kepen­tingan
informasi tersebut, setidaknya pers harus dapat memenuhi persyaratan
dengan kondisi sebagai berikut:189
(1). Adanya kebebasan menyiarkan merupakan dasar utama
demokrasi yang menjamin kebebasan ber­
pen­
dapat,
menyampaikan informasi, dan menge­
tahui kebenaran.
Kebebasan pers memung­
kinkan adanya pengawasan, kritik,
dan pendapat yang menjadi diskursus sehari-hari. Kebebasan
publikasi diperlukan untuk memunculkan pemerintahan
dan masyarakat yang cerdas serta bijaksana. Kondisi tersebut
diharapkan akan memperkuat peran media sebagai “watchdog” terhadap institusi kekuasaan dan masyarakat untuk mendorong
perubahan masyarakat secara terus-menerus.
(2). Terjaminnya pluralitas kepemilikan media meru­
pakan hal
yang sangat penting, karena setiap kepemilikan yang berbeda
mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap perspektif isi
media.
(3). Terjaminnya keragaman informasi yang dise­diakan untuk khalayak
yang berbeda, baik karena perbedaan kategori sosial, berdasarkan
perbedaan demografis, psikografis, teknografis, maupun geografis.
(4).Terjaminnya penyaluran perbedaan pendapat yaitu sistem
media yang memungkinkan setiap komponen masyarakat
mendapat akses yang ku­rang lebih sama. Hal itu diperlukan agar
suara minoritas secara sosial dan politik tidak termar­ginalkan,
sekaligus dalam rangka meng­eliminasi konflik dengan upaya
membangun saling penger­tian di antara seluruh komponen
yang ada.
(5). Tercapainya kondisi jaringan pembaca, yaitu sistem media
massa yang mampu menjangkau khalayak yang luas, tidak
The Media and Ideological Effect dalam Mass Communication and Society,
Sage Publication, California, 1977
189
180
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
ada lagi blankspot atau wilayah yang tidak terlayani media
massa, sekaligus dalam rangka mencegah adanya ketertutupan
kelompok–kelompok yang tidak terjangkau media dari
informasi yang bermanfaat bagi mereka.
(6). Terwujudnya penyajian informasi dan budaya yang berkualitas
untuk masyarakat. Tuntutannya, agar media massa menyajikan
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya
dengan mengacu pada adanya kode etik dalam menja­lankan
jurnalisme media yang hendaknya bersifat objektif, maksudnya
akurat, jujur, lengkap, sesuai dengan realitas, teruji, dan
memisahkan fakta dengan opini. Informasi yang disajikan juga
harus bersifat tidak memihak (imparsial), melaporkan dengan
lebih dari satu perspektif, dengan cara yang tidak sensasional
atau bias.
(7). Terciptanya komitmen media untuk mendukung sistem politik
yang demokratis. Sebagaimana kita ketahui bahwa demokrasi
Indonesia sedang mencari bentuk. Eksperimentasi politik yang
demok­ratis memerlukan waktu cukup lama sampai pada bentuk
sistem politik yang lebih solid, agar jangan sampai terjadi setback
pada format lama. Di sini perlunya media sebagai pendorong
proses demokratisasi, termasuk mendorong perubahanperubahan yang lebih reformatif.
(8). Media massa harus respek pada sistem per­adilan, menghargai
sistem hukum, sekaligus menyosialisasikan kepada masyarakat
tentang pentingnya penegakan hukum, termasuk tidak
memengaruhi jalannya peradilan dan menjunjung tinggi asas
praduga tak bersalah dalam isi medianya. Di sini pentingnya
media menegakkan code of conduct yang berlaku secara spesifik
ataupun universal. Di samping itu, media juga menyuarakan
pentingnya legal action, untuk menyelesaikan sengketa
masyarakat.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
181
Publik media massa juga memiliki peran dalam menunjang
kehidupan masyarakat untuk menciptakan kepentingan politik
yang baik. Untuk mampu berperan dalam hal tersebut, setidaknya
harus terpenuhi hal-hal sebagai berikut:190 1). Adanya freedom of
publications yang merupakan dasar utama demokrasi dan menjamin
kebebasan berpendapat, menyampaikan informasi, dan mengetahui
kebenaran. Kebebasan pers memungkinkan adanya kontrol, kritik,
dan pendapat yang menjadi diskursus sehari-hari. 2). Terjaminnya
plurality of ownership. Pluralitas kepemilikan media merupakan
hal yang sangat penting karena setiap kepemilikan yang berbeda
mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap perspektif isi media.
3). Terjaminnya diversity of information available to public,
yakni keragaman informasi yang disediakan untuk khalayak
yang berbeda, baik karena perbedaan kategori sosial berdasarkan
perbedaan demografis, psikografis, teknografis, maupun geografis. 4).
Terjaminnya diversity of exspression of opinion, yaitu sistem media
yang memungkinkan setiap komponen masyarakat men­dapat akses
yang kurang lebih sama. 5).Tercapainya kondisi extensive reach,
yaitu sistem media massa yang mampu menjangkau khalayak yang
luas, tidak ada lagi blankspot, atau wilayah yang terlayani media
massa.
4. Mengembangkan Demokrasi
Kemerdekaan pers merupakan bagian dari kebe­basan memperoleh
dan menyampaikan informasi serta menyatakan pendapat yang
dilaksanakan melalui pers. Dengan demikian, kemerdekaan pers dapat
dipandang sebagai bagian dari konsep demokrasi. Hak demokrasi
dan hak politik rakyat bersumber pada hak asasi manusia (HAM)
dan kebebasan dasar manusia. HAM dan kebebasan dasar manusia
itu adalah kebebasan menyatakan pendapat secara lisan ataupun
190
Ibid
182
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
tulisan, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala
jenis saluran yang tersedia. Di Indonesia, hak itu telah dijamin oleh
konstitusi melalui Pasal 28 dan Pasal 28F perubahan kedua UUD
1945.
Namun, pers perlu menyadari bahwa tidak semua orang siap
untuk berdemokrasi. Apabila masyarakat tidak menyadari dan
tidak menjalankan spirit de­mokrasi, masyarakat demokrasi dan
free society tidak akan terwujud. Di sinilah tampak tugas pendidikan
yang juga dibebankan kepada ilmu komunikasi dan media massa
sebagai medium yang mencapai sebanyak mungkin orang.191 Dalam
mengemukakan fakta, di satu sisi, pers memformulasikan pernyataan
tentang kebenaran yang menuntut pemikiran untuk diketahui dan
dimengerti. Di sisi lain, pers yang mewakili pendapat dan kepentingan
umum, berperan seperti layaknya kekuasaan pemegang amanat orang
lain, suara rakyat, suara publik, sehingga menjalankan fungsi wakil
rakyat di DPR/MPR.192
Sejarah perjalanan pers di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari
proses demokratisasi dan perjuangan bangsa melawan kaum penjajah,
karena pers ikut serta dalam gerakan kaum nasionalis. Pada masa
penjajahan, meskipun mendapat tekanan dari pemerintah Belanda,
keadaan keuangan yang lemah dan kurangnya keterampilan jurnalistik,
surat-surat kabar Indonesia tetap terbit untuk menyediakan forum
bagi para pemimpin gerakan kemerdekaan. Dinamika sejarah pers
Indonesia selama Kebangkitan Nasionalisme,193 seperti disebutkan
Mochtar Lubis dalam buku The Press in Indonesia, orang bisa melihat
semangat nasionalisme yang diungkapkan dalam nama-nama surat
kabar yang diterbitkan Parada Harahap seperti Sinar Merdeka,
Bintang Hindia, Bintang Timur, Jakarta Barat, Sinar Pasundan,
Semangat, Volskraat, dan Tjaja Timur, sedangkan nama-nama lain
Ibid, Astrid S. Susanto-Sumarno, hlm. 52
Ibid, Artidjo Alkostar, hlm. 49.
193
Log.Cit, Edward C.Smith, Pembredelan Pers di Indonesia, Grafitipers,1986,
hlm.67.
191
192
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
183
yang diterbitkan para tokoh pers adalah Matahari, Kompas, Suara
Kemerdekaan, Suara Berjuang, Kilat, Api, Guntur, dan Benih
Kemerdekaan, serta koran Kemajuan Hindia yang berubah menjadi
Kemajuan Indonesia.
Menurut Edward C. Smith194, pers Indonesia selama
kebangkitan semangat nasionalisme, pers dilahirkan oleh dorongan
semangat tinggi nasionalisme guna menggerakkan para pemimpin
nasional yakni adanya tuntutan kebutuhan yang mendesak dan hak
rakyat untuk berbicara secara bebas. Pada masa itu, pers Indonesia
membantu pergerakan dengan menyebarkan berita di kalangan
rakyat dan membentuk pendapat umum Indonesia untuk mendukung
kemerdekaan dari para penguasa kolonial. Para kaum terdidik yang
mampu baca-tulis jumlahnya baru minoritas tetapi melalui mereka
berita-berita disebarkan sampai kepada rakyat petani di desa-desa.
Pers Indonesia pada masa-masa awal perjuangan dalam memberikan
informasi lebih bersifat mengobarkan semangat perjuangan secara
emosional ketimbang rasional.
Meskipun serba kekurangan, pada masa lalu pers Indonesia
sudah membuat langkah permulaan: membuka jalan bagi para
wartawan dan penerbit. Pers Indonesia pada masa itu telah melahirkan
konsep tentang pers di kalangan orang Indonesia. Pengertian itu tetap
ada pada mereka melalui masa-masa sulit yang datang kemudian.
Peredaran surat-surat kabar harian pada masa itu hanya berkisar
antara 1.500 s.d. 5.000 eksemplar. Namun, sebagaian besar surat kabar
sudah memiliki percetakan sendiri, betapa pun kecilnya, sebagian
surat kabar masih diset dengan tangan. Untuk memenuhi kebutuhan
biaya operasional sehari-hari, koran-koran tersebut bergantung
pada pendapatan iklan. Para pembaca yang berpenghasilan rendah
tidak mampu sepenuhnya menunjang surat kabar. Harga langganan
bulanan, kurang lebih sepertiga nilainya dari surat-surat kabar
Belanda. Seperti dikatakan Hasibuan dalam tulisannya mengenai
Ibid
194
184
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
segi ekonomi surat-surat kabar di Hindia, kemajuan surat kabar
bergantung pada makin besarnya jumlah pembaca yang punya daya
beli untuk membantu meningkatkan nilai iklan surat kabar itu.
Pada makna demokrasi atau open management terkandung juga
makna kontrol sosial yang tak lain adalah pengawasan masyarakat
yang di dalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut:195 Social
particiption yaitu keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan; Social
responsibility yaitu pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat;
Social support yaitu dukungan rakyat terhadap pemerintah; Social
control yaitu pengawasan masyarakat terhadap tindakan-tindakan
pemerintah.
Istilah kontrol sosial sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari isi
demokrasi atau prinsip-prinsip demokrasi. Bahkan, dapat dikatakan
bahwa kontrol sosial dan demokrasi merupakan satu kesatuan yang
bulat. Setiap ada kontrol sosial dengan sendirinya ada demokrasi atau
usaha untuk menegakkan demokrasi. Tentang hal ini, Sukarna dengan
tegas mengatakan demokrasi tanpa social control adalah kosong, dan
social control tanpa demokrasi adalah bohong. Oleh karena itu, kontrol
sosial dan demokrasi diibaratkan “gula dan manis”-nya.196
Fungsi kontrol oleh pers bisa dimaknai sebagai sikap pers dalam
melaksanakan fungsinya yang ditujukan terhadap perseorangan atau
kelompok dengan maksud memperbaiki keadaan melalui tulisan yang
disalurkan secara langsung atau tidak langsung terhadap aparatur
pemerintahan atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkait., sesuai
dengan aturan hukum yang berlaku.
Pelaksanaan fungsi kontrol sosial pers mempunyai banyak
tujuan, antara lain:197 untuk menjaga agar undang-undang yang
telah dibuat oleh rakyat dijalankan sebaik-baiknya oleh semua pihak;
195
Sukarna. Social Control (Kontrol Masyarakat) Bandung. PT. Citra Aditya
Bakti. 2002. hlm.1.
196
Ibid.
197
Ibid. hlm.9
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
185
untuk melindungi hak-hak asasi manusia dari tindakan-tindakan
yang dilakukan sewenang-wenang oleh siapa pun; untuk melindungi
kepentingan-kepentingan masyarakat, baik kepentingan politik,
sosial, ekonomi, dan budaya. Lewat kontrol sosial yang dilaksanakan
secara efektif institusional dan konstitusional, kepentingankepentingan masyarakat akan terjamin; untuk menjaga agar jalannya
pemerintahan sesuai dengan UUD, UU, serta kehendak seluruh
lapisan masyarakat dan bangsa.
Tujuan kontrol sosial melalui pers untuk membantu pengawasan
melekat yang telah dilakukan aparatur negara, baik nasional, regional,
lokal, maupun rural dan urban. Jadi, pengawasan sosial pada hakikatnya
dapat membantu terselenggaranya pelaksanaan pekerjaan yang sehat
dari abdi negara atau abdi pemerintah, abdi pembangunan dan abdi
masyarakat dalam rangka membela kepentingan-kepentingan rakyat.
Pengawasan sosial oleh pers dapat menunjang pemerintahan yang
demokratis sehingga tidak mengarah kepada tiranisme, nepotisme,
ataupun menggunakan cara machiavelistik yaitu menggunakan
segala cara untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau dengan
perkataan lain untuk mencegah pemerintahan menggunakan sistem
kediktatoran dalam menjalankan pemerintahannya itu dalam segala
tingkatan.198
Pers adalah salah satu sarana bagi warga negara untuk
mengeluarkan pikiran dan pendapat serta memiliki peran penting
dalam negara demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab
memegang peran penting dalam masyarakat demokratis dan
merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang
demokratis.
Pers merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif,
legislatif, dan yudikatif. Pers merupakan alat kontrol atas ketiga
pilar itu dan melandasi kinerjanya dengan check and balance. Untuk
Ibid.,
198
186
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dapat melakukan peran tersebut, perlu ada kebebasan pers dalam
menyampaikan informasi publik secara jujur dan berimbang. Di
samping itu pula, untuk menegakkan pilar keempat ini, pers juga
harus bebas dari kapitalisme dan politik.
F. Kegiatan Bisnis Industri Media Massa
1. Kegiatan Jurnalistik Informasi Berita, Artikel, dan Foto
Para tokoh komunikasi atau tokoh jurnalistik memberikan definisi
jurnalistik berbeda-beda, tetapi artinya sama. Jurnalistik secara
harfiah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal
pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau
catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau
“catatan harian” (diary). Dalam bahasa Belanda, journalistiek artinya
penyiaran catatan harian.199 Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan
istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah seperangkat
atau suatu alat media massa. Berdasarkan pengertian jurnalistik dari
berbagai literatur, dapat dikaji definisi jurnalistik. Namun, jurnalistik
mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik
minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada
masyarakat, mengenai apa saja yang terjadi di dunia.
Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhu­bungan dengan
pencatatan atau pelaporan setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers,
bukan media massa. Jurnalistik juga dapat diartikan sebagai kegiatan
untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah,
atau media berkala lainnya. M. Djen Amar mengatakan, jurnalistik
adalah usaha memproduksi kata-kata dan gambar-gambar yang
dihubungkan dengan proses transfer ide atau gagasan dengan bentuk
suara. Inilah cikal bakal makna jurnalistik sederhana. Pengertian
menurut Amar juga dijelaskan pada pendapat Sumadiria. Jurnalistik
199
Assegaff, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan,
Jakarta, Ghalia Indonesia, 1982, hlm.102.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
187
adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita
kepada khalayak seluas-luasnya.200
Ada pula pendapat A. Muis dan Edwin Emery. A. Muis (pakar
hukum komunikasi) mengatakan bahwa definisi tentang jurnalistik
cukup banyak. Namun, definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan
secara umum. Semua definisi jurnalistik memasukkan unsur media
massa, penulisan berita, dan waktu tertentu (aktualitas). Edwin Emery
juga sama mengatakan bahwa dalam jurnalistik selalu harus ada unsur
kesegaran waktu (timeliness atau aktualitas). Emery menambahkan
bahwa seorang jurnalis memiliki dua fungsi utama. Pertama, fungsi
jurnalis adalah melaporkan berita. Kedua, membuat interpretasi dan
memberikan pendapat yang didasarkan pada beritanya.201 Ruang
lingkup jurnalistik sama saja dengan ruang lingkup pers yang terdiri
atas dua bagian, yaitu news dan views.202 News dapat dibagi menjadi
dua bagian besar, yaitu straight news dan feature news.
Jurnalistik adalah bidang profesi yang meng­usahakan penyajian
informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada
hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran, dan pengkajian)
secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang
ada. Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di
dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, sebagai berikut:203
objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak; aktual: terbaru, belum
basi; luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum; penting: besar
pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang
penting/terkenal; jarak: familier, kedekatan (geografis, kultural,
psikologis). Sementara berita yang banyak muncul dalam media
200
Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi
Al-Qalam dalam Al-Qur’an, Jakarta, Penerbit Teraju, 2004, hlm.504.
201
A Muis. Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu Annutama,
Jakarta, 1999, hlm.204.
202
Asep Romli Syamsul M, Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan
Kepenulisan, Bandung, Batic Press, 2005, hlm.90.
203
Ibid.,
188
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
massa pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu
berita langsung (straight news), berita ringan (soft news) dan berita
kisah (feature), yaitu:204
Dalam perkembangan berikutnya, teknik penu­lisan berita
langsung, berita ringan, dan berita kisah ini sering dipadukan
dalam sebuah laporan menyeluruh dan diturunkan dalam saat
yang bersamaan. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah
depth news atau investigative news di mana seluruh data dan
informasinya diperoleh melalui depth reporting atau investigative
reporting. Dengan demikian, depth reporting atau investigative
reporting adalah teknik pen­carian data dan informasi terkait
dengan apa yang akan diberitakan, sedangkan depth news atau
investigative news adalah berita yang dihasilkan melalui depth
reporting atau investigative reporting. Kedalaman sebuah berita
dapat dilihat dari kelengkapan data dan informasinya, dapat
juga dilihat dari kebaruannya, dalam arti sesuatu yang baru itu
didapat setelah melalui proses penelusuran yang mendalam.
Panjang-tidaknya sebuah tulisan, bukan patokan mendalam
atau tidaknya sebuah berita.
Foto jurnalistik adalah karya foto biasa tetapi memiliki nilai
berita atau pesan yang layak untuk diketahui orang banyak dan
disebarluaskan lewat media massa. Foto jurnalistik mencakup
kombinasi gambar-gambar (ilustrasi) dan cerita (story). Fotografi pers
merupakan pekerjaan memperoleh gambar-gambar bagi pemakai
editorial dalam surat kabar, majalah, dan penerbitan lainnya, dan ini
tentu sudah ada pada pers Indonesia. Pekerjaan press photographer
adalah memperoleh gambar-gambar yang akan melukiskan berita,
memperkuat cerita yang ditulis oleh reporter, dan menyajikan berita
secara visual.205
Arif Permadi, Jenis-Jenis Berita, www.webnode.com/news/pengertianberita/ diakses tanggal 17 Oktober 2011
205
Bobby Triadi, Fotografi Jurnalistik sebagai Media Komunikasi, http://www.
204
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
189
Kegiatan jurnalistik juga tak lepas dari jurnalistik artikel. Artikel
adalah bentuk karangan yang berisi analisis suatu fenomena
alam atau sosial dengan maksud untuk menjelaskan siapa,
apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa fenomena
alam atau sosial tersebut terjadi. Suatu artikel kadang-kadang
menawarkan suatu alternatif bagi pemecahan suatu masalah.
Aktualitas juga merupakan hal yang harus dimiliki sebuah
artikel. Untuk bisa mengetahui aktualitas berita, penulis
artikel dituntut untuk sering membaca. Aktualitas artikel bisa
diperoleh dengan mengamati fenomena-fenomena yang saat
ini sedang terjadi.
2. Iklan dan Pariwara
Periklanan mendapat sorotan tajam semenjak aspek informasi menjadi
bagian penting dalam bisnis. Kegiatan periklanan yang efektif
dipandang mampu memengaruhi kecenderungan konsumtif dalam
ma­sya­rakat. Periklanan yang efektif akan mengubah pengetahuan
publik mengenai ketersediaan dan karakteristik beberapa produk.
Elastisitas permintaan produk akan sangat dipengaruhi aktivitas
periklanan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa ang­
garan iklan berpengaruh positif terhadap penjualan dan market share.
Sebaliknya, peningkatan anggaran iklan pesaing berpengaruh
negatif terhadap tingkat penjualan dan market share pesaingnya.206
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, iklan adalah “berita
atau pesan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar
tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan.” Dari definisi di atas,
terdapat beberapa komponen utama dalam iklan, yakni “mendorong
dan membujuk”. Dengan kata lain, iklan harus memiliki sifat
persuasif. Pengertian iklan secara komprehensif adalah “semua
halamansatu.net. Diakses tanggal 16 Oktober 2011
206
Darmadi Durianto, Sugiarto, Anton.W.Widaja, Hendrawan. S. Invasi Pasar
dengan Iklan yang Efektif, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2003. hlm.45.
190
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide,
barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor
tertentu. Sementara Jhon Caples menyatakan bahwa periklanan
adalah segala bentuk penyajian nonpersonal, promosi dan ide,
barang ataupun jasa oleh sponsor tertentu yang memerlukan
pembayaran.207
Iklan merupakan bagian dari komunikasi yang terdiri atas
berbagai kegiatan untuk memberikan infor­masi dari komunikasi
kepada pasar sasaran tentang adanya suatu produk, baik berupa barang,
jasa, dan ide. Berhasil-tidaknya iklan yang dipasang terga­ntung
dari media mana yang digunakan untuk mencapai sasaran. Oleh
karena itu, masalah pemilihan media iklan tidak hanya didasar­kan
pada perkiraan melainkan juga harus diperhatikan sifat-sifat iklan dan
faktor-faktor lain yang memengaruhi kegiatan iklan yang dilakukan.
Menurut Tjiptono, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
memilih media iklan adalah:208 dana yang digunakan untuk iklan;
sifat pasar; jenis produk; tahap-tahap dalam siklus kehidupan barang.
Strategi yang diambil untuk mengiklankan barang dipengaruhi
oleh tahap-tahap siklus kehi­dupan barang yaitu tahap perkenalan,
pertum­buhan, kedewasaan, dan tahap kejenuhan.
G. Penyalahgunaan Kemerdekaan Pers dan
Akibatnya
Ditegaskan dalam Pasal 7 ayat 2 UU Pers bahwa wartawan
memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Dalam penerapannya,
profesi wartawan harus selalu menjaga kehormatan profesinya dengan
tidak menerima imbalan dalam bentuk apa pun dari sumber berita/
narasumber yang berkaitan dengan tugas-tugas kewartawanannya. Pers
Jhon Caples, Tested Advertising Methods, Fifth Edition, Prentice Hall, 1997,
hlm.293
208
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, Cetakan Pertama, Edisi Kedua,
Penerbit Andi, Yogyakarta, 1997, hlm.204.
207
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
191
tidak menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Dalam pemberitaan pun wartawan tidak boleh menyiarkan informasi yang
bersifat menghakimi atau membuat kesimpulan soal kesalahan seseorang,
terlebih lagi untuk kasus-kasus yang masih dalam proses peradilan. Dalam
kegiatan jurnalistik, wartawan tidak memasukkan opini pribadi dalam
pemberitaan. Wartawan sebaiknya melaporkan dan menyiarkan informasi
dan meneliti kembali kebenaran informasi tersebut.
Dalam UU Pers telah diterangkan rambu-rambu serta koridor yang
jelas dalam menjalankan kemerdekaan pers, dan jika kemerdekaan yang
diamanatkan dalam UU Pers tersebut dilanggar, pers akan dikenai sanksi
sebagaimana tercantum dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 18 UU Pers secara jelas menyatakan, perusahaan pers yang
melanggar ketentuan Pasal 5 ayat 1 dan 2 serta Pasal 13 dipidana dengan
pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
Pasal 5 ayat 1 UU Pers menyatakan, pers nasional berkewajiban
memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma
agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tidak bersalah,
kemudian pada ayat (2) menyatakan pers wajib melayani hak jawab.
UU Pers masih mengandung sejumlah pasal yang menghambat atau
setidaknya mengganggu kebebasan pers, misalnya ada pasal-pasal yang
mengakibatkan konsekuensi hukum yang merugikan kebebasan pers.
Tuduhan penyalahgunaan profesi pers atau penyalahgunaan kemerdekaan
pers oleh media dapat diselesaikan antara lain melalui proses hukum
(kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan). Penyelesaian sengketa pers melalui
peradilan terbagi dua yaitu proses peradilan pidana dan proses peradilan
perdata. Dalam proses peradilan pidana, yang dikenal dengan delik pers
yaitu delik yang terdapat di dalam KUHP tetapi tidak merupakan delik
yang berdiri sendiri melainkan bagian dari delik khusus yang berlaku
umum.
Ada dua unsur yang harus dipenuhi supaya seorang wartawan dapat
dimintai pertanggungjawabannya dan dituntut di pengadilan secara hukum
pidana, yaitu: war­
tawan yang bersangkutan mengetahui sebelumnya
192
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
isi be­rita dan tulisan yang dimaksud serta wartawan yang ber­sangkutan
sadar sepenuhnya bahwa tulisan yang dimuat­nya dapat dipidana. Dalam
perkembangannya di negara-negara demokrasi, sengketa pers diselesaikan
tidak dengan pemidanaan melainkan dengan jalur perdata dengan mem­
berikan kompensasi kerugian korban secara pro­porsional. Kasus pers di
Amerika Serikat yang sampai ke pengadilan selalu ditolak dengan adanya
Amandemen Pertama Konstitusi AS yang jelas menjamin kebebasan pers.
Jika melihat dari sudut pandang KUHP, Pasal 310 sampai dengan
Pasal 321 KUHP telah mengatur per­
masalahan penghinaan maupun
fitnah/nista yang dapat terjadi dalam pemberitaan pers. Untuk masalah
penghinaan, Pasal 310-321 KUHP telah mengatur secara jelas mengenai
kriteria tindak pidana penghinaan. Beberapa pasal tersebut di atas
mengatur ancaman hukuman pidana penjara pa­ling lama 4 bulan
sampai dengan 4 tahun. Pem­beratan hukuman akan dikenakan apabila
penghinaan ter­sebut memenuhi unsur-unsur yang terkandung dalam
bebe­rapa pasal dalam KUHP mengenai tindak pidana penghinaan.
Tindak pidana fitnah merupakan tindak pidana penghinaan.
Menurut hukum acara pidana, tersangka penghinaan diberi kesem­
patan untuk membuktikan kebenaran apa yang dituduhkan. Dengan
demikian, pada prinsipnya KUHP sendiri juga cukup mem­beri­kan per­
lind­ungan bagi kebebasan pers, yaitu kesempatan bagi terdakwa pelaku
penghinaan atau fitnah untuk membuktikan kebe­naran mengenai apa
yang dituduhkannya, atau dalam hal penghinaan atau fitnah tersebut
dilakukan melalui pemberitaan pers maka wartawan yang melaku­
kan pem­beritaan tersebut dapat diberi kesempatan oleh hakim untuk
membuktikan kebenaran mengenai pemberitaannya.
Jika pemberitaan pers yang dianggap menghina atau menfitnah itu
dapat dibuktikan kebenarannya, wartawan yang menjadi terdakwa tidak
dapat dipidana atas tu­duhan penghinaan atau fitnah. Sebaliknya, jika ber­
da­sar­kan putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap perbuatan
yang dituduhkan tersebut tidak terbukti, putusan tersebut menjadi bukti
sempurna bahwa apa yang dituduhkan tersebut tidak benar.
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
193
Selain dituntut di pengadilan dengan KUHP, wartawan yang
menyalahgunakan kemerdekaan pers juga rentan dengan gugatan perdata
perbuatan melanggar hukum. Dalam gugatan perdata yang biasanya
muncul adalah gugatan pencemaran nama baik jika korban yang merasa
dicemarkan nama baiknya diberi suatu hak kepada pihak yang merasa
dirugikan untuk menuntut pemulihan kembali haknya. Dari orang yang
bertanggung jawab atas timbulnya kerugian itu, atau sebaliknya pembayaran
ganti rugi, merupakan suatu kewajiban bagi pihak yang bertanggung jawab
atas kerugian tersebut.
Salah satu unsur perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365
KUHPerdata adalah harus ada unsur kerugian dalam hal ganti rugi karena
perbuatan melanggar hukum, pemohon (korban) berdasarkan gugatannya
ke pengadilan pada pasal 1365 KUHPerdata tidak dapat mengharapkan
besarnya kerugian. Kerugian ini ditentukan oleh undang-undang kerugian
yang timbul karena adanya perbuatan melanggar hukum, dapat berupa:
kerugian material dan kerugian imaterial. Hal itu dapat disimpulkan
berdasarkan ketentuan Pasal 1371 KUHPerdata, yang berbunyi; Penyebab
luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan sengaja atau kurang hatihati, memberikan hak kepada si korban untuk selain mendapat penggantian
biaya-biaya penyembuhan, juga menuntut penggantian kerugian yang
disebabkan oleh luka atau cacatnya tersebut.
Perkataan penggantian biaya-biaya penyembuhan menunjukkan
adanya kerugian yang bersifat material, sedangkan perkataan “kerugian
karena luka atau cacat” menunjukkan kerugian imaterial. Selain pasal
tersebut, korban dapat menuntut ke pengadilan dengan Pasal 1372
sampai Pasal 1380 KUHPerdata yang juga mengatur tentang kerugian
imaterial sebagai akibat perbuatan melang­gar hukum karena penghinaan
(pencemaran nama baik). Adapun kerugian imaterial yaitu kerugian yang
tidak dapat dinilai dengan uang, karena kerugiannya menyangkut perasaan
seseorang, yaitu penderitaan batin.
Dalam persaingan usaha, perusahaan media massa yang melanggar
ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan timbulnya risiko
194
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bagi perusahaan berupa sanksi administratif. Secara umum, hukum
persaingan usaha bertujuan menjaga “iklim persaingan” antarpelaku usaha
serta menjadikan persaingan antarpelaku usaha menjadi sehat. Selain itu,
hukum persaingan usaha bertujuan menghindari terjadinya eksploitasi
terhadap konsumen oleh pelaku usaha tertentu serta mendukung sistem
ekonomi pasar yang dianut suatu negara.
Selain tujuan umum, masing-masing negara mem­
punyai tujuan
khusus menghadirkan hukum persaingan usaha. Di Amerika Serikat,
hukum persaingan usaha bertujuan melindungi sistem kompetisi (preserve
competitive system), di Jerman bertujuan memajukan kesejahteraan dan
kebebasan warga negara, dan di Swedia bertujuan mencapai pemanfaatan
optimal dari sumber-sumber yang ada di masyarakat.
Adapun di Indonesia, tujuan hukum persaingan usaha melalui UU
Persaingan Usaha, adalah:
a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi
nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat.
b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui peraturan persaingan
usaha yang sehat, sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan
berusaha yang sama bagi si pelaku usaha besar, pelaku usaha
menengah, dan pelaku usaha yang kecil,
c. Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat
yang ditimbulkan pelaku usaha, dan
d. Terciptanya efektivitas dalam kegiatan usaha.
KPPU dapat menjatuhkan sanksi administratif secara kumulatif
ataupun alternatif. Dalam hal tentang denda, telah diatur dalam Pasal
47 UU Persaingan Usaha, dan KPPU telah menerbitkan aturan teknis
soal denda dan ganti rugi yang tercantum dalam keputusan KPPU No.
252/KPPU/Kep/VII/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Ketentuan
Pasal 47 UU Persaingan Usaha. Hukum antimonopoli/persaingan usaha
menyediakan sanksi-sanksi pidana bagi si pelanggar hukum, tetapi untuk
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
195
menerapkan sanksi pidana tersebut tetap pejabat penegak hukum, yaitu
kepolisian sebagai penyidik, jaksa sebagai penuntut, dan hakim untuk
mengadilinya. Jadi, sungguhpun telah ada komisi yang dibentuk berdasarkan
UU Persaingan Usaha, tetapi hanya bertugas di bidang administrasi saja.
Jadi komisi pengawas tidak mempunyai kewenangan dalam bidang hukum
pidana. Namun, putusan komisi merupakan bukti permulaan yang cukup
bagi suatu penyidikan perkara pidana.
Dalam Undang-Undang Persaingan Usaha terdapat dua macam
sanksi pidana, yaitu: (1) Sanksi pidana pokok. Yang termasuk sanksi pidana
pokok adalah (a) pidana denda minimal Rp 25.000.000.000 (dua puluh
lima miliar rupiah) dan maksimal Rp 100.000.000.000 (seratus miliar
rupiah), atau (b) pidana kurungan pengganti denda paling lama 6 bulan.
Sanksi pidana diberikan oleh pengadilan, artinya bukan kewenangan
komisi. (2). Pidana tambahan. Ketentuan tentang pidana tambahan
terdapat pada Pasal 49 Undang-Undang Persaingan Usaha di mana pelaku
usaha dapat dijatuhi hukuman : 1) pencabutan izin usaha, 2) pelaku usaha
yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang
Persaingan Usaha dilarang menduduki jabatan direksi atau komisaris
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-lamanya 5 (lima) tahun, 3).
Tindakan penghentian terhadap kegiatan-kegiatan atau tindakan tertentu
yang menyebabkan timbulnya kerugian kepada pihak lain.
H. Perbandingan Hukum Kemerdekaan Pers di
Beberapa Negara
Untuk kepentingan penelitian, penulis membuat perban­dingan hukum
kemerdekaan pers, termasuk sistem dan regulasi yang berlaku di beberapa
negara di luar Indonesia. Menurut Gutteridge, perbandingan hukum
merupakan suatu metode studi dan penelitian hukum.209 Sementara Van
Aveldorn berpendapat, perbandingan hukum merupakan suatu ilmu bantu
Peter Mahmud Marzuki, dalam buku Penelitian Hukum,Op.Cit, hlm. 132.
209
196
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bagi ilmu hukum dogmatik, dalam arti untuk menimbang dan meneliti
aturan-aturan hukum dan putusan-putusan pengadilan yang ada dengan
sistem hukum lain.210 Studi perbandingan hukum merupakan kegiatan
untuk membandingkan hukum suatu negara dengan hukum negara lain
atau hukum dari suatu waktu tertentu dengan hukum dari waktu yang
lain.211
Dalam tulisan ini perlu dikemukakan bahwa dalam melakukan
perbandingan hukum penting juga mengung­
kapkan persamaan dan
perbedaan. Tujuannya adalah untuk mengetahui lebih jelas rumusan dan
analisis sistem dan prinsip yang berlaku, sehingga dengan adanya informasi
persamaan dan perbedaan, penulisan, dan pengelompokan sumber bahan
perbandingan hukum menjadi cerdas. Persamaan di antara perundangundangan beberapa negara yang diperbandingkan mungkin saja terjadi
karena adanya persamaan sistem hukum pers yang dianut oleh negaranegara tersebut walaupun dari segi perkembangan ekonomi dan politik
mungkin berbeda.
Secara teoretis, perbandingan hukum juga dapat dilakukan tanpa
melihat sistem hukum ataupun tingkat perkembangan ekonomi, melainkan
hanya melihat substansinya yang merupakan kebutuhan demokrasi secara
universal di beberapa negara, misalnya hukum persaingan usaha industri
media massa dan hukum kemerdekaan pers.
Dalam konteks tulisan, kemerdekaan pers dapat dipahami bahwa
latar belakang filosofis yang melandasi undang-undang pers tidak sama,
seperti negara Republik Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Australia,
dan Jerman. Dari sudut sistem hukum, aturan yang berlaku di Malaysia,
Amerika, dan Australia memiliki kesamaan, yakni menganut sistem
hukum common law atau Anglosaxon dan memiliki perbedaan sistem
hukum dengan Indonesia dan Jerman yang menganut Eropa continental
atau civil law system. Namun, keberadaan hukum kemerdekaan pers di
Ibid hlm. 133
Ibid.
210
211
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
197
negara-negara tersebut dapat diduga memiliki persamaan doktrin dan
prinsip-prinsip hukum dalam pemberlakuan hukum kemerdekaan pers
tersebut.
Dengan perkataan lain, ke empat negara tersebut menganut paham
kemerdekaan pers meskipun penerapannya bervariasi dan mengalami
pasang-surut. Dalam perkembangannya di banyak negara, hukum
kemerdekaan pers lahir dalam berbagai variasi, dari yang ekstrem sampai
dengan yang moderat. Seperti halnya pelaksanaan kemerdekaan pers
di Indonesia, Dewan Pers juga mencatat hasil penelitian organisasi pers
internasional Prancis, Reporters Sans Frontiers (RSF, Wartawan Tanpa
Perbatasan) yang menempatkan kebebasan pers di Indonesia selama tahun
2002 pada peringkat yang lebih baik daripada di Thailand dan Filipina.
Dari 139 negara yang diamati RSF, kebebasan pers di Indonesia,Thailand,
dan Filipina masing-masing berada pada peringkat ke–57, ke-66, dan
ke-89. Salah satu alasan untuk menilai kebebasan pers di Indonesia yang
paling baik di Asia Tenggara ialah karena di sini tidak lagi terjadi tekanan
dan pengendalian oleh negara terhadap pers sejak pemerintahan Orde
Baru berakhir pada bulan Mei 1998.
Menurut sejarah, pers bebas mulai mendapat tempat yang penting di
Amerika ketika para pencetus kemerdekaan negeri tersebut merumuskan
hak-hak rakyat dalam Konstitusi Tahun 1787. Perdebatan sengit terjadi
antara Alexander Hamilton dan Thomas Jefferson. Berbeda dengan
Alexander Hamilton, Thomas Jefferson mengatakan bahwa kebebasan
mengemukakan pendapat tidak cukup disebut secara umum dalam
konstitusi. Ia harus diikuti oleh jaminan hukum secara tertulis untuk
menghormati dan melindunginya sepanjang masa. Dari perbedaan ini,
lahirlah Amandemen Pertama Konstitusi Amerika yang berbunyi, antara
lain: “kongres tidak dapat membuat undang undang yang membatasi
kebebasan mengemukakan pendapat atau kebebasan pers...”.212
Ibid., hlm.3.
212
198
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
1. Malaysia
Dalam perkembangannya, dewasa ini kebebasan pers Malaysia
juga mengalami pasang-surut terkait dengan perjuangan untuk
menegakkan salah satu pilar demokrasi ini. Media/pers di negara
Malaysia—sama seperti di Indonesia pada masa lalu—dikontrol
lewat keharusan pembaruan izin terbit. Pembaruan izin terbit di
Malaysia ini jauh lebih ketat dibandingkan dengan di Indonesia pada
masa lalu, yakni setiap tahun. Oleh karena itu, wajar kalau kemudian
media juga lebih berpihak kepada pemerintah ketimbang oposisi.213
Media-media di Malaysia dikuasai pemerintah atau partai-partai
yang berkuasa, yang tergabung dalam koalisi Barisan Nasional.
Politik di Malaysia sudah sedemikian ketat mengekang kemerdekaan
pers, sehingga partai oposisi mengeluh kepada Ketua Komisi Pemilu
bahwa pers tidak independen, terlalu mendukung pemerintah.
Apalagi saat memberikan liputan pemilihan umum yang cenderung
tidak berimbang.
2. Jerman
Pasal 10 konstitusi UUD Jerman menyatakan:
1). Privacy of posts and telecommunications shall be inviolable
2). This right may restricted on by pursuant to the law. Such law may
laid down the person affected shall not be informed of any such
restriction if it serves to protect the free democratic basic order or the
existence or the security of the Federation or a Land, and the recourse
to the courts shall be replaced by a review of the case by bodies and
auxiliary appointed by Parliament.
(1).Hubungan-hubungan pribadi (privacy) melalui pos dan
telekomunikasi tidak boleh diganggu
(2). Hak tersebut hanya dapat dibatasi sesuai dengan ketentuan
undang-undang. Undang-undang yang membatasi dapat
Kompas, Pers Malaysia Menghadapi Pemilu, 25 Februari 2008
213
Kemerdekaan Pers dan Etika Profesi
Dalam Bisnis Industri Media Massa
199
menetapkan bahwa orang-orang yang terkena boleh tidak
diberi tahu mengenai pembatasan tersebut apabila pembatasan
dilaku­kan untuk melindungi dasar kebebasan demokratis atau
mengenai keberadaan (eksistensi) atau keamanan federal atau
negara bagian, dan keberatan ke pengadilan akan digantikan
dengan cara peninjauan kembali kasus tersebut oleh badan-badan
atau badan-badan khusus yang ditunjuk parlemen. 3. Australia
Seperti umumnya negara-negara maju lainnya, kemerdekaan pers
di negara Australia telah terjaga dan menempatkan pers sebagai
alat kontrol pemerintah. Pemerintah tidak menerapkan kebijakan
yang mengkriminalkan pers atau tindakan yang menganut criminal
defamation dalam pekerjaan jurnalistik. Demikian pula pemerintah
dalam kebijakan pers tidak memenjarakan wartawan karena pekerjaan
jurnalistik. Australia tidak menganut civil defamation atau karya
jurnalistik yang mengandung pencemaran. Namun, pemerintah dapat
menghukum (kriminal) pers jika berita yang disampaikan tidak untuk
kepentingan umum. Pemerintah dengan tegas memberikan sanksi
atas pelanggaran kemerdekaan pers, misalnya pemerasan (blackmail),
berita yang disampaikan meru­pakan hasil rekayasa, serta melakukan
contempt of court.
4. Amerika Serikat
Dalam konstitusi Amerika Serikat ada dua ketentuan mengenai
kebebasan korespondensi atau hak komunikasi, yaitu:214
1). Amandemen I (1791)
“Congress shall make no law respecting an establishment religion
or prohibiting the free exercise thereof or obridging the freedom of
speech or of the press, or the right of the people peaceably to assemble
and to petition to the Government for redress of grievances” Kongres
Bagir Manan, Op cit, hlm.120.
214
200
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dilarang membuat undang-undang mengenai suatu agama atau
melarang melaksanakan ibadah menurut agama, menghalangi
(mengurangi) hak atas kebebasan berbicara, atau kebebasan
pers, atau hak rakyat untuk berserikat atau berkumpul dan hak
menyampaikan petisi kepada pemerintah menuntut pemulihan
atas suatu kerugian.
2). Amandemen IV:
The right of the people to be secure in their persons, houses, papers
and effects, against unreasonable searches and seizures, shall not
be violated, and no warrants shall issue, but upon probable cause,
supported by Oath or affirmation, and particularly describing the
place to be searched, and the persons or things to be seizures. Hak
rakyat atas keamanan jiwa dan badan, rumah, surat, dan barangbarang berharga dari pemeriksaan dan penyitaan tanpa alasan
yang sah, tidak boleh dilanggar. Dan tidak satu surat perintah
pun boleh dikeluarkan kecuali atas dugaan yang beralasan
(alasan yang cukup) dan diberikan atas sumpah atau janji dan
harus pula disertai dengan keterangan mengenai tempat yang
akan digeledah (diperiksa) dan orang-orang yang akan diperiksa
serta barang-barang yang akan disita.
Bab IV
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
A. Pelaksanaan Kemerdekaan Pers dan Kebebasan
Usaha Media Massa
Kemerdekaan pers mengandung pengertian, tidak ada campur tangan
kekuasaan yang dapat mengekang kebebasan pers. Adanya campur tangan
dan pengekangan pers dimaksud, memberi ”makna” pada kemerdekaan pers.
Sementara persyaratan pokok kemerdekaan pers adalah: 215 a. bebas dari
keharusan memiliki Surat Izin Terbit (SIT) atau bentuk izin lainnya; b.
Bebas dari sensor; c. Bebas dari pemberedelan; dan d. Bebas dari campur
tangan pemerintah dan pihak mana pun. Hal itu menjadi penting bagi
sebuah negara berkembang atau belum berkembang. Sistem kemerdekaan
pers menjadi salah satu indikator penilaian suatu negara demokrasi
atau otoriter. Karena, untuk dapat dikatakan sebuah negara menganut
pemerintahan demokratis, dapat dilihat dari sistem pers dan pelaksanaan
kemerdekaan pers yang berlaku di negara tersebut.
Namun pelaksanaan kemerdekaan pers dan kehidupan industri
Wikrama Iryans Abidin, Politik Hukum Pers Indonesia, Jakarta: Grasindo,
2005, hlm. 38.
215
202
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
media massa juga dapat ditentukan oleh “kondisi dan tempat ia hidup”,
yakni: sistem politik, sistem dan kultur kekuasaan.216 Di Indonesia pada
masa pemerintahan Soekarno (Orde Lama), dan masa Soeharto (Orde
Baru) misalnya, hubungan kekuasaan dengan media memiliki pretensi yang
berbeda-beda.217 Demikian pula di era reformasi, pers nasional sedemikian
bebas karena deregulasi tentang SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan
Pers) dicabut oleh B.J Habibie melalui rangkaian sudden policy (kebijakan
dadakan).
Kebijakan pemerintah tersebut kemudian oleh Abdurrahman Wahid
disusul dengan pembubaran Departemen Penerangan, yang selama era Orde
Baru menjadi lembaga pengontrol pers. Konfigurasi politik berubah sejak
reformasi bergulir. Pemerintah mulai memberlakukan Undang-Undang
No. 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai pengganti Undang-Undang No.
21 Tahun 1982. Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 lebih menekankan
pentingnya kebebasan pers sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 4 ayat
(2) yang berbunyi: ”Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran,
pemberedelan atau pelanggaran penyiaran”.
Di Indonesia, sejak era Reformasi 1998, keadaan media cenderung
berubah ke arah liberalisasi dan membawa pengaruh yang sangat penting
dalam proses demokratisasi. Perkembangan yang signifikan adalah posisi
kebebasan pers yang dipertegas dalam konstitusi (UUD 1945) dan UndangUndang Pers, serta semakin kokohnya liberalisasi ekonomi. Kebebasan
atau liberalisasi media baik cetak maupun elektronik juga memberikan
keleluasaan dalam pemilikan media. Para pemilik modal memanfaatkan
kesempatan tersebut untuk menanamkan investasi secara maksimal sebagai
bagian dari kegiatan bisnis yang strategis dan menguntungkan.
Pada masa Orde Baru, usaha media mengalami pengekangan
oleh pemerintah. Sejumlah persyaratan yang harus dilalui oleh pemilik
perusahaan untuk mendirikan perusahaan pers. Di antaranya adalah
Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2005, hlm 85
217
Ibid
216
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
203
persyaratan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Pokok Pers No.11 Tahun 1966 juncto UndangUndang No. 4 Tahun 1967 juncto. Undang-Undang No. 21 Tahun 1982.
Dengan adanya izin tersebut, pemerintah mendapat legalitas menjadi
pembina, penentu kebijakan, pengaturan, pengawasan, dan pengendalian
pers (media cetak dan media penyiaran). Pers yang pembe­
ritaannya
berseberangan dapat dibatalkan isinya sehingga perusahaan pers menjadi
tumpul dan tunduk pada penguasa.218
Aturan yang membatasi media tersebut mengakibatkan perusahan
pers sulit berkembang, karena adanya sejumlah persyaratan yang sangat
ketat. Penerbitan pers 91 persen tersebar di Pulau Jawa (Jawa centered),
penambahan halaman dan space iklan dibatasi, serta perusahaan media cetak
tidak dapat izin masuk ke industri televisi.219 Kondisi pada masa Orde Baru
berubah dengan terbitnya UU Pers, salah satu kondisi perubahan dengan
terbitnya undang-undang ini adalah sebagaimana tercantum dalam Pasal
9 ayat (2) UU Pers yaitu: “Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan
hukum Indonesia”, sehingga aturan yang mempersyaratkan SIUPP tidak
diperlukan lagi.
Pada tahun 2005, sumber Serikat Perusahaan Pers (SPS) mencatat
terdapat 829 perusahaan media cetak (surat kabar, tabloid, majalah, buletin).
Jumlah ini memang cukup banyak jika dibandingkan dengan perusahaan
media cetak pada masa Orde Baru. Namun, dari 829 perusahaan pers
media cetak tersebut hanya 30 persen (tiga puluh persen) yang memiliki
manajemen perusahaan yang sehat. Ciri-ciri dari media sehat bisnis adalah,
di antaranya yaitu perolehan iklan signifikan, media yang berkualitas
(mainstreams), mampu membuat produk pers yang atraktif, mencerahkan,
taat kode etik, dibutuhkan khalayak, mengandung hiburan yang berkualitas,
mempunyai wartawan yang cerdas dan profesional (diukur dari tulisannya),
wartawan digaji secara profesional.220
Sabam Leo Batubara, Op. cit, hlm.8.
Ibid
220
Sabam Leo Batubara, Op. cit, hlm.70.
218
219
204
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Saat ini, perusahaan media cetak telah bertumbuh menjadi grup
perusahaan, di antaranya: a. KKG: 30 perusahaan pers, Kompas Cyber
Media, b. Jawa Pos Group lebih dari 140 perusahaan pers, c. Surat Kabar
Harian (SKH) Media Indonesia, Metro TV, d. Koran Tempo, Majalah
Tempo, e. SKH. Bisnis Indonesia Group, f. SKH. Suara Pembaruan Group,
g. SKH. Pos Kota Group , h. SKH Pikiran Rakyat Group, i. SKH. Suara
Merdeka Group, j. Majalah Info Kelapa Gading Group, k. SKH. Bali Post
Group, l. Majalah Femina Group, m. Majalah Gatra Group, n. Subentra
Cipta Media Group, o. Pin Point Group (Majalah Warta Ekonomi), p.
Republika Group.
Kebebasan pers sesungguhnya tidak memilah-milah antara media
cetak dan media elektronik (penyiaran) sepanjang medium tersebut
melaksanakan kegiatan pers (jurnalistik), maka jaminan kebebasan tetap
melindunginya. Namun dalam kenyataannya tidak semua media penyiaran
melaksanakan tugas jurnalistik. Bahkan kegiatan jurnalistik atau unsur
jurnalisme hanya sebagian kecil saja dari aneka ragam program media
penyiaran.
Pembatasan terhadap media penyiaran akan terasa lebih urgen
lagi apabila dikaitkan dengan penggunaan frekuensi. Pada hakikatnya,
frekuensi adalah milik publik yang jumlahnya terbatas, maka publik juga
harus terlibat dalam pengaturan frekuensi tersebut melalui lembagalembaga resmi. Selain untuk mewakili kepentingan publik, negara juga
diberi amanah untuk mengurus ranah publik tersebut berdasarkan Pasal 33
dan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
dengan penjelasan sebagai berikut :
Pasal 33
1). Sebelum menyelenggarakan kegiatannya, lembaga penyiaran wajib
memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran
2). Permohonan izin wajib mencantumkan nama, visi, misi, dan format
siaran yang akan diselenggarakan serta memenuhi persyaratan sesuai
dengan ketentuan undang-undang ini.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
205
3). Pemberian izin penyelenggaraan penyiaran berdasarkan minat,
kepentingan. dan kenyamanan publik
4). Izin dan perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran diberikan
oleh negara setelah memperoleh: (1). Masukan dan hasil evaluasi
dengar pendapat antara pemohon dan Komisi Penyiaran Indonesia.
(2). Rekomendasi kelayakan penyelenggaraan penyiaran dari Komisi
Penyiaran Indonesia. (3). Hasil kesepakatan dalam forum rapat bersama
yang diadakan khusus untuk perizinan antara Komisi Penyiaran
Indonesia dan pemerintah, dan (4). Izin alokasi dan penggunaan
spektrum frekuensi radio oleh pemerintah atas usul Komisi Penyiaran
Indonesia. (5). Atas dasar hasil kese­pakatan secara administratif izin
penyelenggaraan penyiaran diberikan oleh negara melalui Komisi
Penyiaran Indonesia. (6). Izin penyelenggaraan dan per­pan­jangan izin
penyelenggaraan penyiaran wajib diter­bitkan paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kerja setelah ada kesepakatan dari forum rapat ber­sama
sebagai­mana dimaksud dalam ayat (4) huruf c. (7). Lembaga penyiaran
wajib membayar izin penye­lenggaraan penyiaran melalui kas negara,
dan (8). Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persya­ratan
perizinan penyelenggaraan penyiaran disusun oleh Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI) bersama pemerintah.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 34 dijelaskan bahwa izin penye­leng­
garaan penyiaran diberikan untuk penyiaran radio jangka waktu 5 (lima)
tahun dan televisi waktu 10 (sepuluh) tahun, dan dapat diperpanjang.
Sebelum memperoleh izin tetap penyelenggaraan penyiaran, lembaga
penyiaran radio wajib melalui masa uji coba siaran paling lama 6 (enam)
bulan dan untuk lembaga penyiaran televisi wajib melalui masa uji coba
siaran paling lama 1 (satu) tahun, dan izin penyiaran ditegaskan dilarang
dipindahtangankan kepada pihak lain.
Menurut ketentuan, izin penyelenggaraan penyiaran dapat dicabut
apabila: tidak lulus masa uji coba siaran yang telah ditetapkan; melanggar
penggunaan spektrum frekuensi radio dan/atau wilayah jangkauan siaran
206
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
yang ditetapkan; tidak melakukan kegiatan siaran lebih dari 3 (tiga) bulan
tanpa pemberitahuan kepada KPI; dipindahtangankan kepada pihak lain;
melanggar ketentuan rencana dasar teknik penyiaran dan persyaratan
teknis perangkat penyiaran; atau melanggar ketentuan mengenai standar
program siaran setelah adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum yang tetap. Demikian pula izin penyelenggaraan penyiaran
dikatakan berakhir karena habis masa izin dan tidak diperpanjang kembali.
Kebijakan soal pembatasan Monopoli, Konglomerasi, dan
Kepemilikan Silang (Media Penyiaran) sesungguhnya telah diatur dalam
peraturan perundang-undangan yakni UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran, dalam Pasal 18 ayat 1 disebutkan: “Pemusatan kepemilikan
dan penguasaan lembaga penyiaran swasta oleh satu orang atau satu badan
hukum, baik di satu wilayah siar maupun beberapa wilayah siar, dibatasi”.
Selanjutnya mengenai pembatasan kepemilikan dan penguasaan atas jasa
penyiaran radio dan televisi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran
Swasta.
Demikian pula soal kebebasan berusaha di bidang media internet,
Pemerintah Indonesia berupaya memberikan dukungan terhadap
pengembangan teknologi informasi, khususnya pengelolaan informasi
dan transaksi elektronik beserta infrastruktur hukum dan pengaturannya.
Setelah melalui proses panjang, Presiden RI menetapkan Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
dan berlaku sejak tanggal 21 April 2008.221
UU ITE terdiri atas 13 bab dan 54 pasal yang merupakan rezim
hukum baru untuk mengatur kegiatan cyberspace di Indonesia. Beberapa
aspek-aspek penting yang diatur dalam UU ITE adalah aspek yurisdiksi,
digunakan pendekatan prinsip perluasan yurisdiksi (extra territorial
yurisdiction) disebabkan transaksi elektronik memiliki karakteristik lintas
teritorial dan tidak dapat menggunakan pendekatan hukum konvensional.
Aspek pembuktian elektronik (e-evidence), alat bukti elektronik merupakan
221
Dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
207
alat bukti dan memiliki akibat hukum yang sah di muka pengadilan. Kemajuan teknologi melalui internet membuat perusahaan pers dapat
menyebarkan informasi atau berita melalui internet (daring/online). UU
ITE telah memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk menggunakan
dan memanfaatkan internet untuk berkomunikasi atau menyebarkan
informasi. Pada Pasal 23 UU ITE disebutkan: setiap penyelenggaraan
negara, orang, badan usaha, dan/atau masyarakat berhak memiliki nama
domain berdasarkan prinsip pendaftar pertama. Dalam penjelasan pasal
ini disebutkan nama domain berupa alamat atau jati diri penyelenggaraan
negara, orang, badan usaha dan/atau masyarakat, yakni didasarkan pada
prinsip pendaftar pertama (first come first serve). Prinsip pendaftar pertama
berbeda antara ketentuan dalam nama domain dan dalam bidang hak
kekayaan intelektual karena tidak diperlukan pemeriksaan substansif
seperti pemeriksaan dalam pendaftaran merek dan paten.
B. Persaingan Usaha Industri Media Massa Menuju
Persaingan yang Sehat dan Sesuai Etika Profesi
Persaingan usaha industri media massa nasional, baik cetak maupun
elektronik, mulai bergulir seiring dengan terbukanya keran kebebasan
pers. Era reformasi yang disebut juga masa perubahan yang reformis
menjadi peluang bagi para pihak untuk memasuki dunia bisnis media.
Keadaan ini mengakibatkan, dalam perjalanannya cepat atau lambat, wajah
pers nasional semakin bergeser dari pers idealis menuju pers industri.
Sebenarnya indikasi ke arah itu sudah terjadi sejak masa Orde Baru, tetapi
proses bisnis pers pada era reformasi ini semakin transparan dan dipicu
oleh terbukanya peluang kebebasan berusaha di bidang media massa
sejalan dengan berlakunya UU Pers dan Penyiaran.
Menurut laporan media massa belum lama ini, minat investasi di jajaran
industri media cetak dan elektronik terus meningkat. Dengan demikian,
banyak pengusaha berusaha membeli beberapa perusahaan media dengan
cara menguasai saham mayoritas. Tujuan pembelian saham besar-besaran
208
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
di satu sisi merupakan strategi pasar dalam menghadapi persaingan usaha
yang ketat, di sisi lain untuk membentuk gabungan korporasi dalam rangka
membangun suatu kekuatan grup bisnis media yang kokoh, seperti grup
“Trans/7” milik Chairul Tanjung antara kelompok Bank Mega, Trans TV
dan TV 7 milik Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Kelompok ANTeve
grup Bakrie dengan grup Latif, Lativi dan TV One, Grup Media Indonesia
milik Surya Paloh dengan Metro TV, serta grup TV Indosiar dengan Radio
Elshinta. Di jajaran media cetak terdapat grup Jawa Pos yang menguasai
kepemilikan saham mayoritas dengan televisi-televisi lokal, antara lain TV
Batam.
Tren penggabungan beberapa stasiun televisi nasional tahun-tahun
terakhir ini terus meningkat. Menurut penelitian, dari aspek bisnis
penggabungan usaha televisi selain untuk efisiensi, di satu sisi terkait
dengan tingginya biaya operasional yang ditanggung oleh masing-masing
perusahaan, di sisi lain terbatasnya fasilitas pendapatan iklan. Untuk
itu, penggabungan usaha media merupakan solusi bisnis yang tidak
bisa dihindari karena market share iklan yang ada tidak cukup mampu
menghidupi 10 “televisi nasional” secara sendiri-sendiri. Pada umumnya,
jumlah pemasang iklan baru akan naik pada masa-masa kampanye
pemilu, sebagaimana publikasi Survei Nielsen Media Research Indonesia
menunjukkan, pada Januari-Maret 2008, belanja iklan pemerintah dan
parpol meningkat 62 persen dibandingkan dengan periode yang sama
2007. Diprediksi, belanja iklan meningkat lagi pada Pemilu 2009.
Sementara itu, perusahaan media massa yang berorientasi pada
bisnis industri surat kabar, tabloid, majalah, dan televisi serta radio makin
banyak yang kolaps dan gulung tikar menghentikan kegiatannya. Dalam
era globalisasi, keadaan ini tentu saja memprihatinkan bagi para pebisnis
pers dalam mengembangkan investasi, karena modal kerja, aset-aset, dan
sumber daya manusia (SDM) yang tersedia tidak dapat diberdayakan
secara optimal. Keadaan ini menimbulkan permasalahan baru --sekaligus
dilematis—untuk mendorong persaingan usaha tidak sehat.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
209
Secara sederhana, persaingan usaha (business competition) dapat
didefinisikan sebagai persaingan usaha antara para penjual dalam merebut
pembeli dan pangsa pasar. Hukum persaingan usaha (business competition
law) berisi ketentuan-ketentuan substansial tentang tindakan-tindakan
yang dilarang dan ketentuan-ketentuan prosedural mengenai penegakan
hukum persaingan.222 Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa hukum persaingan usaha merupakan ketentuan-ketentuan yang
mengatur penegakan hukum dalam persaingan usaha, yaitu persaingan
usaha di antara para penjual dalam merebut pembeli.
Berbagai istilah yang dikenal dan sering digunakan untuk menunjuk
instrumen hukum yang mengatur per­saingan usaha yang pada intinya
untuk menegaskan bahwa yang ingin dijamin adalah terciptanya persaingan
yang sehat. Apa pun istilah yang dipakai, semuanya berkaitan dengan dua
hal utama, yaitu menjamin terjadinya persaingan yang sehat dan melarang
persaingan yang tidak jujur. Untuk itu, apabila kita ingin mengembangkan
persaingan usaha industri media massa menuju persaingan yang sehat maka
diperlukan prinsip-prinsip pokok, yaitu; 1). Adanya jaminan kepastian
hukum terjadinya persaingan usaha secara sehat, dan 2). Adanya etika
profesi bisnis yang baik.
Etika dalam arti sebenarnya dapat dianggap sebagai acuan yang
menyatakan apakah tindakan, aktivitas, atau perilaku suatu individu bisa
dianggap baik atau tidak. Dalam etika profesi bisnis, akan diuji peran-peran
dan prinsip-prinsip etika dalam konteks komersial/bisnis. Umumnya, etika
profesi bisnis dipandang sebagai suatu normatif disiplin, dan terdapat
standar-standar tertentu yang harus diterapkan dalam menjalankan
aktivitas bisnis tersebut. Standar-standar ini akan menunjukkan apakah
segala aktivitas yang dijalankan merupakan suatu bisnis yang baik atau
buruk. Pendapat yang lain mengatakan, etika berkenaan dengan suatu
pedoman yang bersifat sakral, sopan, baik, dihormati, penuh tata krama,
UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli & Persaingan
Usaha Tidak Sehat
222
210
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bermoral, tidak memecundangi, tidak merugikan, tidak menyusahkan
orang lain, dan sebagainya. Biasanya etika juga dianggap sesuai dengan
adat, norma, moral, dan aturan.
Dalam penerapannya, etika profesi sering kali terbentur dengan
berbagai dilema kepentingan yang ingin dicapai dalam bisnis itu sendiri.
Namun, semua manajer atau peme­
gang keputusan suatu bisnis harus
tetap dapat menjalani dan menghadapi berbagai konflik etika yang sulit
sekalipun. Pelaksanaan etika profesi tidak akan pernah ada habisnya serta
terus mengalami perkembangan dan perubahan. Masalah etika sangat
terkait dengan ekspektasi dari banyak kepentingan para stakeholder-nya yang
juga terus berkembang. Sekilas bisa dilihat, etika profesi adalah acuan yang
dipakai oleh suatu individu atau perusahaan sebagai pedoman agar aktivitas
yang mereka lakukan tersebut tidak merugikan individu atau kelompok
komunitas lembaga lain. Dengan kata lain, etika profesi dijadikan pedoman
dalam bertingkah laku sebagai nilai-nilai yang baik dalam komunitas.
Demikian pula dalam menjalankan aktivitas bisnis, kita akan
dihadapkan pada banyak pihak yang berseberangan, bahkan banyak pihak
yang tidak bisa lagi membedakan apakah yang telah dilakukannya itu etis
atau tidak etis sama sekali. Alasan ekonomi sering kali membuat nilainilai etika dalam bisnis menjadi suatu yang diabaikan. Alasan mengejar
keuntungan membuat pelaku bisnis menjadikan sesuatu yang tadinya
haram, menjadi halal.
Menurut Konosuke Matsushita,223 tujuan bisnis sebe­narnya bukanlah
mencari keuntungan semata melainkan untuk dapat melayani kebutuhan
masyarakat. Sementara keuntungan tidak lain hanyalah simbol kepercayaan
masya­
rakat atas kegiatan bisnis suatu perusahaan. Artinya, karena
masyarakat merasa kebutuhan hidupnya dipenuhi secara baik, mereka akan
menyukai produk perusahaan tersebut yang memang dibutuhannya tetapi
sekaligus juga puas dengan produk tersebut. Maka, mereka akan tetap
Konosuke Matsushita, Not For Bread Alone, A Business Ethos, A Management
Ethics (Kyoto:PHP Institute, 1988), dalam Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan
dan Relavansinya, Edisi Baru, Kanisius, 1998, Op.cit, hlm. 51.
223
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
211
membeli produk tersebut. Dari sinilah keuntungan akan mengalir terus.
Dengan demikian, yang pertama-tama menjadi fokus perhatian dalam
bisnis bukanlah mencari keuntungan, melainkan apa kebutuhan masyarakat
dan bagaimana melayani kebutuhan masyarakat itu secara baik, dan dari
sanalah ia memperoleh keuntungan. Matshushita berpen­dapat bisnis yang
baik selalu mempunyai misi tertentu yang luhur dan tidak sekadar mencari
keuntungan. Dalam pandangannya, misi dapat meningkatkan standar
hidup masyarakat, menyejahterakan masyarakat, dan membuat hidup
manusia lebih manusiawi melalui pemenuhan kebutuhan mereka secara
baik.224
Bila berkaitan dengan bisnis, yang tergambar adalah bahwa suatu
kegiatan bisnis mempunyai etika tertentu yang dianggap dan diakui oleh
pelaku bisnis yang menciptakan keuntungan tanpa merugikan pihak
lain, berbisnis dengan sopan. Bahkan dengan gamblangnya, etika bisnis
merupakan suatu tatanan perbuatan baik yang harus ditaati dan dijadikan
pedoman untuk melakukan bisnis yang bersifat tidak merugikan pihak
lain, baik langsung maupun tidak langsung secara moral.
Tegaknya etika bisnis dan sehat-tidaknya iklim bisnis, sangat
ditentukan oleh sistem sosial politik yang dianut suatu negara. Untuk
menuju persaingan yang sehat, kita juga membutuhan perangkat moral
bagi praktik bisnis yang baik dan etis. Hal itu berarti, supaya bisnis dapat
dijalankan secara baik dan etis, dibutuhkan pula perangkat hukum yang baik
dan adil. Sementara syarat utama untuk menjamin sebuah sistem ekonomi
pasar yang fair dan adil adalah perlunya suatu peran pemerintah yang adil
juga. Artinya, pemerintah yang benar-benar bersikap netral dan tunduk
pada aturan main yang ada, yaitu berupa aturan keadilan yang menjamin
hak dan kepentingan setiap orang secara sama dan fair. Di sini diperlukan
juga pengawasan yang efektif dari lembaga legislatif dan yudikatif.225
Pada umumnya, sama halnya dengan perusahaan lain, perusahaan
pers pun bertujuan memperoleh keuntungan material dan imaterial. Pihak
Ibid.
Ibid, hlm 219-227
224
225
212
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
direksi perusahaan media massa bersangkutan, akan menentukan segi
manakah yang akan mereka utamakan. Segi idealnya sajakah atau segi
komersialnya sepanjang tujuannya tidak bertentangan dengan undangundang. Mengutamakan segi idealnya saja, dapat berakibat buruk terhadap
perkembangan perusahaan pers yang juga harus memperoleh keuntungan.
Sebaliknya, mengutamakan segi komersialnya semata akan bertentangan
dengan tujuan pers sebagai lembaga kemasyarakatan, alat perjuangan
nasional. Idealnya, pengasuh dan pemilik perusahaan dapat menyinkronkan
kedua tujuan antara ideal dan komersial yang seimbang, tidak membedakan
prioritas kegiatan yang dapat merugikan.
C. Permasalahan Pelaksanaan Kemerdekaan Pers
Pelaksanaan kemerdekaan pers di Indonesia dewasa ini masih
menghadapi sejumlah kendala dan permasalahan. Kebebasan pers
yang diamanatkan oleh undang-undang belum berjalan optimal. Hak
demokrasi dan hak kemerdekaan pers belum dinikmati oleh masyarakat.
Ketidaklancaran pelaksanaan kemerdekaan pers ini menyebabkan keadaan
semakin mengarah pada kontroversi perdebatan pendapat tentang perlutidaknya revisi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Undang-undang ini dengan tegas dan jelas telah membawa angin segar
bagi perkembangan dan kemerdekaan pers Indonesia. Proses pembentukan
undang-undang ini dilatarbelakangi oleh semangat sosial politik untuk
memberikan dan melindungi kemerdekaan pers yang sebesar-besarnya.
Demikian pula UU Pers telah memosisikan peran pers secara
lebih baik dengan memberi jaminan bahwa kemer­dekaan pers adalah
hak asasi warga negara, dan mem­punyai hak mencari, memperoleh dan
menyebarluaskan gagasan dan informasi. Bahkan amanat yang sama telah
ditegaskan dalam Pasal 28F Hasil Amandemen Kedua UUD-45 yang
menyebutkan, “setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengem­bangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta
berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyam­paikan informasi dengan menggu­nakan segala jenis saluran yang
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
213
tersedia.”
Di samping itu, UU Pers juga telah mengatur tentang peranan pers
nasional, seperti halnya memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;
menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi
hukum dan HAM serta menghormati kebhinekaan; mengembangkan
pendapat umum; melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran
terhadap kepentingan umum; dan memperjuangkan kebenaran dan
keadilan. Demikianlah seharusnya pelaksanaan kemerdekaan pers tersebut
dalam menuju negara kesejahteraan perlu dijaga dan dipertahankan,
jangan sampai terancam atau dihambat. Untuk itu, semua pihak harus
menyadari bahwa konsep kemerdekaan pers tersebut bersumber dari
kedaulatan rakyat untuk kemudian dilaksanakan oleh wartawan. Pendapat
ini berangkat dari konstruksi pemikiran yang mengatakan bahwa rakyat
yang berdaulat dengan sendirinya memiliki sejumlah hak publik. Salah
satu dari hak publik itu adalah hak untuk memperoleh informasi dan ilmu
pengetahuan.
Untuk menemukan jawaban, dalam tulisan ini penulis mencoba
melakukan penelitian, siapakah yang akan bertanggung jawab atas
pelaksanaan kemerdekaan pers, dan faktor-faktor apakah yang menghambat
pelaksanaan kemerdekaan pers di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang
dilaksanakan Dewan Pers, penanggung jawab dan penghambat pelaksanaan
kemerdekaan pers adalah bersumber pada pers dan faktor sosial yang
melingkupinya.226
Menurut keterangan, pers yang dimaksud terbagi dalam dua golongan
227
yaitu wartawan the good guys versus the bad guys. Golongan pertama adalah
wartawan dan pers the good guys yakni wartawan yang masih bertugas dan
komit sesuai dengan sejarah dan tradisi pers Indonesia, serta berpihak
kepada kaum tertindas dan membela golongan yang dizalimi. Golongan
kedua, wartawan dan pers the bad guys adalah wartawan yang tidak
Naungan Harahap, Penelitian Disertasi pada Dewan Pers, Jakarta, 15
November 2011.
227
Sabam Leo Batubara. Op cit, hlm.86.
226
214
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bertanggung jawab dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada pihak
yang tertindas dan yang dizalimi, merusak independensi dan kredibilitas
pers sehingga menghambat pelaksanaan kemerdekaan pers.
Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa penghambat
pelaksanaan kemerdekaan pers sejatinya bersumber pada golongan kedua
yaitu wartawan dan pers the bad guys yang tidak bertanggung jawab dengan
kriteria mengabaikan nasib korban yang dizalimi dan tidak independen.
Sementara pelaksana kemerdekaan pers yang baik di masa depan
diharapkan dapat diemban oleh golongan pertama, wartawan dan pers the
good guys yang masih aktif membela kaum tertindas.
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa berbagai kendala yang dapat
menghambat kemerdekaan pers adalah faktor sosiokultural atau lazim
disebut sosiologis, psikologis, politik hukum, dan perundang-undangan.
Penjelasannya, sebagai berikut:
1). Faktor sosiologis228 mencakup aneka etnik, perbedaan norma sosial,
dan kurang mampu berbahasa Indonesia. Faktor semantik, pendidikan
belum merata.
2). Faktor psikologis disebut hambatan psikologis karena hambatanhambatan tersebut merupakan unsur dari kegiatan psikis manusia.
Hambatan dalam pelaksanaan pers yang termasuk dalam hambatan
psikologis adalah: 229 perbedaan kepentingan (interest), prasangka
(prejudice), stereotip (stereotype), dan motivasi (motivation).
3). Faktor politik hukum dan distorsi pers. Selain melalui peraturan,
terbukti dalam praktik distorsi atas kemer­dekaan pers bisa juga
dilakukan oleh birokrasi. Pers nasional pun pada masa lalu sangat
berpengalaman menghadapi distorsi melalui birokrasi ini. Seperti
diketahui, pada zaman Orde Baru dikenal apa yang disebut “budaya
telepon”.
4). Faktor perundang-undangan Sebab, masih ada sejumlah ketentuan
UU yang dapat dikualifikasikan mengancam kemerdekaan pers, antara
Elvinaro Ardianto, Op cit, hlm. 94
Ibid
228
229
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
215
lain UU tentang Perseroan Terbatas, UU Perlindungan Konsumen,
UU Hak Cipta, dan sejumlah pasal dalam KUHPidana yang bisa
menyeret wartawan masuk penjara. Bahkan UU No. 32 Tahun 2002
tentang Penyiaran termasuk kategori mengancam kemerdekaan pers
karena terdapat sejumlah ketentuan yang memberi peluang kepada
birokrasi kembali ikut campur tangan mengatur media siaran, seperti
mengeluarkan rekomendasi izin frekuensi. Dari berbagai kenyataan
itu, kita bisa mengatakan, sekalipun konstitusi dan UU Pers sudah
lebih menjamin kemerdekaan pers, masih saja dimungkinkan
distorsi terhadap kemerdekaan pers melalui peraturan perundangundangan.230
Kajian revisi UU Pers pernah disampaikan oleh pemerintah,
tetapi menurut kajian versi Dewan Pers atas draf revisi UU Pers versi
pemerintah tersebut setidaknya memiliki 6 (enam) ancaman yang
dapat menghambat pelaksanaan kebebasan pers. Keenam ancaman
terhadap kebebasan pers dimaksud adalah, sebagai berikut:
(1). Revisi itu memperbolehkan sensor, pelarangan, pemberitaan,
dan pemberedelan. Salah satunya, Pasal 4 ayat (5) meng­
amanatkan antara lain bahwa berita yang membahayakan
sistem penyelenggaraan pertahanan dan keamanan nasional
dapat disensor, dilarang pemberitaannya, dan medianya dapat
diberedel. Pasal itu dinilai sebagai pasal karet, pada gilirannya
media yang mem­­beritakan seperti konflik marinir, demo rakyat
di kecamatan dan kabupaten dapat dinilai melanggar pasal baru
tersebut, dan oleh karena itu kemerdekaan pers dapat diberedel.
(2). Penyelenggaraan pers oleh Peraturan Pemerintah (PP). Pasal
5 ayat (4) “Ketentuan tata cara hak jawab dan koreksi diatur
dengan PP”. Pada era Orde Baru saja ketentuan tersebut masih
urusan masyarakat pers. Sepertinya, pasal baru itu memedomani
model Uni Soviet, Kuba, dan Korea Utara. Di negeri itu, tata
R.H. Siregar, Efektivitas Peran Pers Dalam Menunjang Pemajuan dan
Perlindungan HAM, Makalah Pada Seminar Kemenkum HAM 2009, hlm.4.
230
216
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
cara hak jawab dan koreksi memang diatur pemerintah. Pasal 9
ayat 4: “Standar persyaratan perusahaan pers diatur dengan PP”.
Lahirnya PP ini nantinya akan melarang eksistensi media yang
tidak memenuhi standar karena tidak pro kepada penguasa.
Sementara media yang kritis terhadap penguasa akan dinilai
sebagai perusahaan pers yang tidak memenuhi standar sehingga
dilarang terbit.
(3). Konsep revisi menganut politik hukum yang dapat meng­
kriminalkan pers dalam pekerjaan jurnalistik (Pasal 4 ayat 5,
Pasal 13, Pasal 17 ayat 2, dan Pasal 18 ayat (3). Pasal 18 ayat 3:
pers yang memuat berita yang merendahkan martabat agama,
mengganggu kerukunan beragama, bertentangan dengan rasa
kesusilaan masyarakat, membahayakan sistem penyelenggaraan
pertahanan dan keamanan nasional – dipidana sesuai dengan
undang-undang yang berlaku (KUHP).
(4). Pasal 17 ayat 2 huruf b: “Masyarakat melakukan gugatan hukum
kepada pers yang merugikan kepentingan masyarakat, baik
secara perorangan maupun kelompok masyarakat. Pasal ini ingin
menghapus mekanisme solusi sengketa pers akibat pemberitaan
pers seperti yang disosialisasikan Dewan Pers. Bahwasanya
berdasar UU Pers, kesalahan kata-kata diselesaikan dengan
hak jawab, kemudian bila ada putusan Dewan Pers yang tidak
memuaskan, dapat menempuh jalur hukum berdasarkan Pasal
18 ayat 2. Mekanisme solusi berdasar konsep revisi itu justru
mendorong masyarakat langsung melakukan gugatan hukum
berdasar KUHP.
(5). Draf revisi tidak dalam 6 pasal/ayat, Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4),
Pasal 15 ayat (2) huruf d dan e, Pasal 15 ayat (7) huruf c, dan
Pasal 18 ayat (2) memberi legal authority kepada Dewan Pers
menjadi penguasa baru, lebih powerful dari Dewan Pers Orde
Baru. Karena pembiayaan Dewan Pers bersumber dari Anggaran
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
217
Pendapatan dan Belanja Negara, Dewan Pers menjadi eksekutor
penyensoran dan pemberedelan, Dewan Pers diberi kewenangan
menindak asosiasi wartawan dan terhadap wartawan yang tidak
memenuhi standar, Dewan Pers menentukan sendiri sejumlah
regulasi pers tanpa menyertakan komunitas pers. Dengan
draf revisi, Dewan Pers akan terlalu berkuasa sehingga dapat
menghambat kemerdekaan pers itu sendiri.
(6). Paradigma konsep revisi tersebut menempatkan kemerdekaan
pers hanya untuk mendukung pembangunan. Sementara
berdasarkan UU Pers,Pasal 2 “Kemerdekaan pers adalah salah satu
wujud kedaulatan rakyat”. Pasal 4 ayat (1), “Kemerdekaan pers
dijamin sebagai hak asasi warga negara”. Pasal 6a: “Pers nasional
memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.” Pemerintah yang berencana merevisi UU Pers, bisa dilihat dari dua
sisi.
Pertama, meski zaman dan kondisi politik sudah berubah, tidak
demikian dengan cara pandang kalangan pemerintah terhadap kebebasan
pers. Belum terjadi transformasi kultur yang membuat para pemimpin
formal lebih apresiatif terhadap hak publik atas informasi dan perbedaan
pendapat. Dalam tubuh birokrasi kita, belum terlahir pemahaman baru
yang kondusif bagi ruang publik yang otonom dari intervensi negara serta
bagi fungsi-fungsi demokratis media.
Tak mengherankan, masih sering muncul berbagai ekspektasi usang
agar pers berperan dalam mengawal nilai-nilai nasionalisme, patriotisme,
dan pembangunan. Di kalangan pemerintahan, masih berkembang ilusi
tentang pers sebagai perangkat pembangunan dan mitra pemerintah.
Problem paradigma ini bukan hanya tecermin dalam draf revisi UU Pers
yang kontroversial itu, tetapi juga dari pernyataan para pejabat dalam
berbagai kesempatan.
Kedua, dalam revisi UU Pers tersebut, pemerintah mem­punyai agenda
resentralisasi dan reorganisasi kekuasaan pemerintah di bidang pers.
218
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Dalam draf revisi UU Pers ada ambisi politik untuk membangun kembali
otoritas dan lingkup kekuasaan pemerintah (Departemen Komunikasi dan
Informatika/Depkominfo) layaknya Departemen Penerangan pada masa
lalu.
Usaha untuk melakukan revisi UU Pers tersebut sebenarnya sudah
cukup lama, mulai 2001 atau usianya baru sekitar 2 (dua) tahun. UU
Pers berlaku efektif, kontroversi revisi terus berkembang. Namun, dalam
perjalanannya hingga sekarang nasib usulan revisi UU Pers tersebut seakan
tenggelam di tengah suara lautan kontroversi. Hal itu terjadi karena di
antara para pihak yang saling berbeda pendapat belum memperoleh
kata kesepakatan. Satu sama lain saling adu konsep, argumentasi, dan
kepentingan.
Dalam revisi UU tersebut, terdapat tiga kelompok yang terlibat
perdebatan. Kelompok pertama adalah tokoh-tokoh perusahaan pers yang
menentang dan “ngotot” menolak adanya revisi atau perubahan UU Pers.
Kelompok kedua, pemerintah menghendaki agar UU Pers secepatnya
diubah, dan kelompok ketiga para praktisi pers yang setuju terhadap
kemungkinan diadakannya revisi perubahan tertentu sepanjang syaratsyarat untuk melakukan revisi perubahan terpenuhi. Pada pokoknya, para
pihak setuju dengan kemerdekaan pers diatur dalam UU Pers tetapi pada
tingkat implementasi semua berbeda.
Oemar Seno Adji menegaskan, dalam hal adanya keinginan melakukan
revisi UU Pers terdapat beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan
yaitu: perkembangan undang-undang pidana sudah dipandang tidak cocok
lagi diterapkan dalam lapangan pers. Membandingkan dengan di Belanda,
sudah tiga kali ketentuan pers dimasukkan dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) tetapi sebanyak itu pula gagal. Prinsip lainnya
adalah ancaman penjara terhadap pers tidak wajar lagi hidup di negara
demokrasi. Artinya, terhadap karya jurnalistik tidak boleh dikenakan pidana
penjara dan ini harus menjadi pegangan dasar. Oleh karena itu, Oemar
Seno Adji memperingatkan, ”Janganlah pers memberikan alasan bagi
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
219
pembentuk undang-undang untuk mengatur pers, khususnya janganlah
diberi kesempatan untuk lahirnya perundang-undangan pidana.”231
Dalam pembahasan materi revisi Undang-Undang No. 40 Tahun
1999 tentang Pers232 disarankan beberapa hal, yakni perlu dipertimbangkan
dan dimasukkan ketentuan untuk penyempurnaan revisi agar undangundang baru yang akan dihasilkan lebih jelas, lengkap, dan terperinci.
Penjelasannya, sebagai berikut:
(1). Harus ada kejelasan tentang Sistem Pertang­gung­jawaban
(2). Harus ada pemberdayaan Dewan Pers
(3). Harus dijadikan Undang-Undang Lex Specialis Derogat Lex Generalis
(4). Harus ada kejelasan mengenai jenis sanksi
(5). Harus ada standar kompetensi profesi wartawan
(6). Harus ada penyempurnaan rumusan pada bagian sanksi
(7). Harus diatur mekanisme hukum positif/hukum acara gugatan mana
yang dipakai
(8). Harus jelas sanksinya apabila ada perusahaan pers yang tidak mau
menjalankan keputusan yang telah diambil
(9). Harus dijelaskan pengertian kategori jurnalistik
(10). Harus dikeluarkannya Etika Jurnalistik dari undang-undang
(11).Harus ada kejelasan instansi yang berwenang menangani kasus/
delik pers
(12). Harus ada pendayagunaan peranan media watch
(13). Harus diperjelas hubungan Undang-Undang Pers dengan undangundang yang lain
(14). Harus ada sanksi bagi pelanggaran setiap ketentuan
(15). Harus ada perlindungan dan kesejahteraan untuk profesi wartawan
Oemar Seno Adji, Pers:Aspek-Aspek Hukum, Erlangga, Jakarta, Tahun 1977,
hlm. 48-61.
232
Wina Armada Sukardi, Keutamaan di Balik Kontroversi, Op.cit, hlm. 219-227.
231
220
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
D. Akibat Praktik Persaingan Usaha Tidak Sehat Media
Massa Terhadap Kemerdekaan Pers
Arah perkembangan pers Indonesia tampaknya meng­ikuti perkem­
bangan di negara-negara maju sehingga tumbuh menjadi industri informasi.
Gejala ke arah itu sudah terlihat sewaktu masuknya Sukamdani dan
kawan-kawan ke bidang pers dengan menanggung semua biaya penerbitan
Bisnis Indonesia pada tahun 1985. Pada penerbitan surat kabar harian
tersebut, redaksi diberi jatah saham 20 persen untuk seluruh wartawan.233
Pada awalnya, Sukamdani yang dikenal masyarakat sebagai pengusaha
perhotelan yang sukses memang ingin menerbitkan koran harian Bisnis
Indonesia.
Kepemilikan berbagai macam perusahaan media massa, baik cetak,
online, maupun elektronik, oleh satu konglomerat tertentu diyakini
membatasi hak publik dalam memperoleh keberagaman informasi,
pemberitaan, dan pandangan yang sangat diperlukan dalam konteks
berdemokrasi. Sementara di sisi lain, keberadaan konglomerasi perusahaan
media massa juga dianggap tidak memberi banyak kontribusi pada
perlindungan dan peningkatan kesejahteraan para pekerja pers. Perusahaan
juga diketahui sangat alergi terhadap ke­beradaan serikat pekerja media
massa yang ada.
Akibat konglomerasi dan kekuatan modal, keberadaan pemilik media
massa di bidang redaksi menjadi sangat domi­nan. Mereka bahkan mampu
mengendalikan kebebasan pemberitaan media massa yang selama ini
bersikap independen. Praktik konglomerasi justru merugikan kemer­dekaan
pers dan itu tampak dalam sejumlah kasus seperti fenomena perkembangan
multimedia. Dan wartawan dituntut tidak hanya bekerja dalam satu moda
industri, misalnya untuk media cetak saja, melainkan juga untuk beragam
moda pemberitaan lain.
Kekuatan modal dalam media yang independen memang menghasilkan
sejumlah akibat yang luar biasa dalam bentuk:234 a) media menjadi corong
Alex Sobur, Op cit, hlm.370.
233
Ignatius Haryanto. Konglomerasi Media, Serikat Pekerja Media, dan
234
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
221
kepentingan politik atau bisnis semata, b) media mudah diintervensi untuk
item-item pemberitaan yang dianggap tabu oleh pemilik atau grup media
tersebut. c) media menjadi bias dalam menyajikan informasi kepada publik,
lebih jauh media kerap kali jadi berbohong kepada publik, d) ideologi
kecepatan penyampaian informasi tetapi belum tentu akurat, e) konflik,
sensasionalisme, komersialisme adalah hal-hal yang menjadi keutamaan
(virtue) pada industri media sekarang ini, f ) berbaurnya batas antara fungsi
informasi dan fungsi hiburan dari media massa.
Contoh konglomerasi perusahaan industri media massa pada MNC
Group PT Media Nusantara Citra (PT MNC Terbuka) merupakan salah
satu konglomerasi media terbesar di Indonesia. Perusahaan media ini
memiliki bisnis di bidang produksi program, distribusi program, saluran
televisi terestrial, saluran program televisi, surat kabar, tabloid, dan jaringan
radio. Perusahaan ini dapat digolongkan sebagai perusahaan media yang
terintegrasi secara raksasa.235 Televisi swasta lainnya, yakni SCTV, Metro
TV, dan Indosiar berdiri sebagai perusahaan sendiri. Saat ini, SCTV dan
Indosiar dalam proses evaluasi untuk merger dalam grup Surya Citra
Media.236
1. Manajemen Media Menuntut Keuntungan Besar
Tekanan ekonomi memengaruhi komunikasi yang dilakukan. Dalam
komunikasi media, melekat tanggung jawab sosial yang sering
dikalahkan oleh kepentingan ekonomi dari perusahaan pers. Dalam
media massa, tekanan ekonomi berasal dari pendukung finansial,
investor, pemilik, pemasang iklan, pelanggan, kemudian para pesaing
serta masyarakat atau publik secara umum. Pertumbuhan pasar media
Kebebasan Pers, Paper diskusi Aliansi Jurnalis Independen Jakarta dan Dewan
Pers, Rabu, 3 Maret 2010 tentang “Konglomerasi Media: Ancaman atau
Peluang bagi Kebebasan Pers”, hlm.5.
Ibid.,
http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies
/2049280-konglomerasi-media/#ixzz1bV5TWDQf. Diakses tanggal 22 Oktober
2011
235
236
222
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
yang semakin bersaing membuat institusi media menjadi ekspansi
bisnis para pengusaha, sehingga banyak keputusan yang diambil
berdasarkan keuntungan komersial belaka.
Semua media berlomba-lomba membuat tayangan yang kreatif
dan menarik perhatian para konsumen, sehingga merebut hati
pembaca atau pemirsa. Dalam hal ini dimanfaatkan oleh para awak
media untuk menayangkan iklan-iklan agar dapat dipertontonkan,
dan tentu saja hal ini merupakan pemasukan terbesar bagi institusi
media, bahkan tidak bisa dimungkiri lagi bahwa pemasukan keuangan
media adalah iklan. Namun, yang terjadi adalah pemasang iklan dapat
memutuskan apakah suatu program dapat ditayangkan atau tidak,
sehingga kekuasaan menjadi di tangan pemilik modal.
Sebuah idealisme jurnalistik terkadang memang dikalahkan
oleh kekuasaan keuangan. Manajemen media sudah mulai dirasuki
oleh teori-teori marketing yang penuh strategi untuk meraup
keuntungan komersial, sehingga keputusan-keputusan manajemen
media hanya berdasarkan faktor keuangan semata, dan meletakkan
idealisme jurnalistik ke urutan paling bawah. Hal itu menyebabkan
adanya dilema antara nilai etis, tanggung jawab sosial, dan tekanan
ekonomi demi kelangsungan hidup media itu sendiri.
Media massa merupakan bentuk komunikasi massa yang mampu
menyediakan kebutuhan akan informasi yang cepat mengenai apa
yang terjadi. Peranannya yang penting inilah yang membuat industri
media massa berkembang sangat pesat dan membuat media massa
tidak hanya sebagai institusi yang idealis, seperti misalnya sebagai alat
sosial, politik, dan budaya, tetapi juga telah mengubahnya menjadi
suatu institusi yang sangat mementingkan keuntungan ekonomi.
Sebagai institusi ekonomi, media massa hadir menjadi suatu industri
yang menjanjikan keuntungan yang besar bagi setiap pengusaha.
Keuntungan yang diperoleh media massa di Indonesia misalnya
yaitu dari data AGB Nielsen Media Research, terlihat hingga kuartal
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
223
ke-3 tahun 2006, Grup Media Nusantara Citra (MNC) sukses
meraup Rp 4,8 triliun atau 32,9 persen dari total belanja iklan TV.
Urutan ke-2 diduduki Trans TV dan Trans 7, dengan Rp 3,4 triliun
(23,2 persen). ANTeve dan Lativi (TV One) berhasil memperoleh
pendapatan Rp 2,3 triliun (15,7 persen), berada pada peringkat ke-3
. Hal itu mengakibatkan pengusaha media kini tidak lagi hanya
berorientasi pada pemenuhan hak masyarakat akan terpenuhinya
informasi tetapi juga berorientasi untuk mengejar keuntungan
ekonomi sebesar-besarnya.237
Pasar media merupakan suatu pasar yang memiliki karakteristik
yang unik bila dibandingkan dengan jenis pasar lainnya. Media tidak
hanya memproduksi suatu barang, tetapi media juga memproduksi
jasa. Barang yang ditawarkan adalah tayangan program dari media
itu sendiri, dan jenis jasa yang ditawarkan adalah media massa
sebagai medium untuk menghubungkan pengiklan dengan khalayak
pengonsumsi media massa. Media massa mencoba untuk mencari
jalan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan produksi mereka
agar keuntungan yang mereka peroleh bisa maksimal.
2. Redaksi Media Mengabaikan Etik dan Idealisme Pers
Kekhawatiran para pengamat kehidupan pers di Indonesia bertumpu
pada kekhawatiran bergesernya nilai-nilai etis pers Indonesia akibat
masuknya orang-orang bisnis yang tidak mempunyai latar belakang
pers dalam kehidupan pers. Bagaimanapun, antara dimensi idealisme
dan komersialisme yang melekat pada pers mutlak harus berimbang.
Hanya dengan mengandalkan idealisme itulah pers dapat memelihara
kelangsungan hidupnya. Pers bisa menjadi apa yang disebut giantism
seperti yang terjadi di Amerika, surat kabar, majalah, bahkan radio dan
televisi di seluruh negeri dimiliki oleh beberapa gelintir pengusaha
raksasa yang mengendalikan usahanya dari gedung-gedung pencakar
Bahaya, kepemilikan stasiun televisi Terkonsentrasi www.kompas.com/read/
xml/2008/03/27/18321983. Diakses pada 22 Oktober 2011
237
224
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
langit di kota-kota metropolitan.238
Jika giantism terjadi Indonesia, bukan hal yang mustahil para
wartawan yang disebabkan kerapuhan idealismenya sudah dimingimingi upah yang lebih besar. Kesejatian pers Indonesia pun akan sirna
dan wartawan bukan lagi seorang jurnalis idealis, melainkan seorang
perajin atau tukang dalam hal tulis menulis. Ia tidak lagi memiliki
dedikasi dan loyalitas kepada media yang pernah membesarkannya.
Setiap saat ia siap meloncat dari perusahaan pers yang satu ke
perusahaan pers lainnya yang menjanjikan upah lebih besar. Ketika
pemilik modal campur tangan terlalu besar dalam redaksi media, hal
itu tentunya akan memengaruhi bentuk pemberitaan dari perusahaan
pers tersebut. Faktor kepentingan akan menghilangkan etika dan
idealisme pers dalam melakukan fungsinya sebagaimana terdapat
dalam UU Pers. Media akan selalu terikat dan tumpang tindih dan
sarat dengan berbagai permasalahan terkait kasus-kasus seperti pesan
sponsor dari pemilik media, agenda terselubung dewan redaksi, ataupun
pelampiasan idealisme si wartawan.
Kepentingan yang besar dari pemilik modal mengakibatkan
pers tidak mandiri, atau berpihak pada kepentingan tertentu. Padahal
kemandirian (zelfstanding haid) adalah wujud dari independensi pers
itu sendiri, sehingga pers mengabaikan keberpihakannya terhadap
kebenaran dan keadilan serta manfaat berita untuk kepentingan
publik. Kepentingan publik yang seharusnya diutamakan menjadi
diabaikan oleh pers bahkan mengabaikan nilai-nilai moral yang
dijunjung tinggi oleh publik terhadap pers.
Kondisi ini mengakibatkan pers menjadi alat rezim yang sangat
berada jauh dari kepentingan publik sehingga terciptalah permusuhan
dengan pers. Dengan beralihnya wajah pers yang economic oriented
maka jurnalistik telah mengabaikan pemberitaan yang objektif, netral,
berimbang, faktual, akurat, dan benar.
238
Onong Uchjana Effendy, Problematik Profesi Kewartawanan, Pikiran
Rakyat, tanggal 1 September 1990.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
225
3. Independensi Profesionalisme Pers Terganggu
Sebagai profesi, tentunya penyelenggaraan pers harus didasarkan
pada pengetahuan yang cukup dan keahlian, baik dalam arti
penguasaan pengetahuan maupun keterampilan. Pekerjaan profesi
tidak dapat dipisahkan dari integritas sebagai pilar untuk menjaga
dan mempertahankan kehormatan serta kemuliaan profesi. Tanpa
integritas, kehormatan dan kemuliaan akan sirna. Pers atau wartawan
yang tidak memiliki integritas bukan saja kehilangan kehormatan dan
kemuliaan, juga akan direndahkan bahkan jadi bahan gurauan. Selain
dalam kejujuran dan keterbukaan, integritas adalah untuk senantiasa
menjalankan pekerjaan (tugas jurnalistik) dengan cara-cara terbaik
untuk mencapai hasil terbaik.
Profit oriented telah mengabaikan apa yang disebut social
responsibility. Menjadikan pers sebagai alat untuk mencapai kepen­
tingan pemilik modal, sehingga dapat mengancam kehidupan
pers karena mengabaikan prinsip independensi pers. Kepen­tingan
ekonomi telah mengikis profesionalisme wartawan dalam menja­
lankan tugasnya. Dengan dalih kebebasan pers, profesi wartawan
telah melawan hati nurani demi kepentingan pribadi dan kepentingan
bisnisnya.
E. Tanggung Jawab Media Massa Terhadap Publik
dan Isi Pemberitaan
Pers merdeka memerlukan kebebasan, dan kebebasan memerlukan
demokrasi. Tanpa demokrasi, tidak pernah ada kemerdekaan atau
kebebasan pers. Wartawan atau pelaku pers, baik sebagai pelayan publik
maupun sebagai unsur kekuatan sosial (social power) hanya akan hidup
dalam alam demokrasi dan negara hukum. Demokrasi dan negara hukum
tidak hanya subur di tangan penguasa yang demokratis dan menjalankan
kekuasaan berdasarkan hukum (legality, legaliteit), tetapi juga kemerdekaan
226
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
pers dapat hidup subur di tengah masyarakat yang berwatak demokratik
dan menjun­jung tinggi hukum. Selain memerlukan kemer­dekaan dalam
mengemas isi pemberitaan, pers harus memiliki tanggung jawab terhadap
masyarakat, karena dalam setiap kegiatan jurnalistik semua isi pemberitaan
media massa harus dipertanggungjawabkan kepada publik. Untuk
memikul tanggung jawab yang besar itu, pers harus sehat yaitu pers yang
menjalankan tugas-tugas jurnalistik secara benar, tepat, teratur, dan tertib.
Tanggung jawab manajemen media massa seyogianya dapat dibedakan
antara pengelolaan perusahaan pers dan pengelolaan penerbitan pers atau
redaksi media massa. Selain untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan
produk­tivitas sebagaimana fungsi manajemen pada umumnya, penge­lolaan
(perusahaan dan penerbitan) pers yang baik meru­pakan sesuatu yang tidak
terpisahkan dari upaya mem­bangun dan memelihara kepercayaan publik
(public trust). Sebagai sebuah perusahaan, industri pers harus dikelola
atas dasar prinsip-prinsip ekonomi, termasuk keuntungan ekono­minya.
Demikian juga pengelolaan penerbitan pers dan redaksi dimaksudkan
agar berita sebagai fungsi utama pers dapat sampai kepada publik secara
optimal, dan meme­nuhi segala syarat pemberitaan sesuai dengan kriteria
etik dan hukum, serta mencerminkan kompetensi yang tinggi.
Pada saat ini, kapitalisasi perusahaan dan penerbitan pers (redaksi)
menjadi polemik yang berkepanjangan. Pemilik modal tidak terlepas dari
motif mencari keuntungan (rugi laba) termasuk kepemilikan atas pers.
Kepemilikan pers oleh para pemilik modal dikhawatirkan akan berpengaruh
pada kebebasan wartawan dan kemerdekaan pers, serta pers sebagai sarana
demokrasi. Kebijakan pemberitaan ditentukan oleh perhitungan rugi-laba
pemilik, bukan lagi mewujudkan berita yang benar dan akurat. Pers tidak
akan lagi menjadi instrumen sosial yang melayani kepentingan publik
melainkan hanya untuk kepentingan pemilik perusahaan.
Di pihak lain, beberapa pendapat menyatakan, keikut­sertaan para
investor dalam perusahaan (usaha) pers tidak mungkin bisa dihindari,
terutama untuk menghadapi per­saingan ketat media seperti media baru
internet dan lain-lain. Media-media tradisional (seperti surat kabar,
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
227
radio) menghadapi ancaman kehilangan pembaca, pendengar, atau
pemirsa. Menguatnya penguasaan pemilik modal di bidang industri media
massa dapat menimbulkan berbagai implikasi seperti praktik monopoli
penyelenggaraan pers dan eksploitasi terhadap wartawan dan karyawan
pers.
Selain memberikan informasi yang benar, pers yang sehat dan
bertanggung jawab semestinya dapat berfungsi pula sebagai penuntun
masyarakat menuju cita-cita bangsa yaitu mewujudkan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehi­
dupan bangsa, mencapai sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat atas dasar keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Tidak
semestinya pers sebagai pranata sosial menjadi bagian dari suasana tidak
kondusif yang menciptakan kemelut. Pers harus berlaku sebagai penuntun
yang membimbing, meng­arahkan, dan mengajak memulihkan keadaan yang
tenteram.
F. Pelaksanaan Sanksi Hukum, Administrasi, Etika Pers,
Hak Jawab, dan Koreksi
“Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa”.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya hubung­an yang kuat antara pers
dan masyarakat. Oleh karena itu, setiap insan pers harus menyadari bahwa
dia merupakan pekerja sosial yang bekerja untuk kepentingan umum,
dan bertanggung jawab kepada publik. Oleh karena itu, me­ru­­pakan suatu
pelanggaran berat terhadap profesi bila pers mencederai masyarakat melalui
cara-cara yang tidak pro­fesional, seperti penyesatan informasi, rekayasa
informasi, atau bentuk-bentuk lain sehingga masyarakat tidak mendapat
informasi yang benar.
Ketentuan dan perundang-undangan di bidang pers memberi peluang
kepada masyarakat yang merasa diru­gikan akibat suatu pemberitaan pers
untuk mengajukan tuntutan, baik tuntutan perdata maupun pidana melalui
proses hukum yang berlaku, ke kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan
maupun tuntutan profesional kepada lembaga-lembaga pers terkait seperti
228
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Dewan Pers, organisasi pers, perusahaan pers, dan media. Penjelasannya,
sebagai berikut; 1. KUH Perdata
Ketentuan mengenai ganti rugi di Indonesia antara lain diatur dalam
Pasal 1327 sampai Pasal 1380 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUHPerdata). Menurut isi pasal-pasal tersebut, ganti rugi
tidak hanya dituntut langsung oleh mereka yang namanya dirugikan,
tetapi juga boleh dilakukan oleh pasangan suami atau istri dan
keturunan waris yang jika namanya dihina sudah meninggal. Bahkan
mereka yang merasa menjadi korban penghinaan dimungkinkan
meminta kepada pengadilan agar kasusnya dinyatakan sebagai kasus
fitnah dalam perkara pidana.
Selain itu KUHPt memberikan batas kadaluwarsa gugatan
selama setahun. Sesudah batas masa itu lewat, otomatis demi hukum
hak mengajukan gugatan menjadi gugur. Selain itu, ketentuan ini
bersifat umum, dalam artian bukan semata-mata untuk mengatur
ganti rugi dalam dunia pers. Bahkan justru ganti rugi dalam dunia
perslah yang “dicantolkan” pada ketentuan-ketentuan dalam KUHPt.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini dasar pasal-pasal mengenai ganti
rugi yang dapat diarahkan tuntutan ganti rugi kepada pers.239
Pasal 1373
Tuntutan perdata soal penghinaan diajukan untuk memperoleh ganti
rugi dan pemulihan nama baik serta kehormatan. Menurut pasal ini,
tuntutan yang diajukan mempunyai dua tujuan pokok, yaitu ganti
rugi dan pemulihan kehormatan atau nama baik. Di sini undangundang memberikan kebebasan yang sangat luas kepada hakim untuk
menentukan selayaknya ganti rugi yang harus dijatuhkan.
Wina Armada, Menggugat Kebebasan Pers, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta,1993, hlm. 105.
239
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
229
Pasal 1374
Tanpa mengurangi ganti rugi, tergugat dapat meminta supaya
keputusan itu tidak disebarluaskan, dengan syarat dia menyatakan
penyesalan, minta maaf, dan menyatakan orang yang dihina sebagai
orang yang terhormat.
Pasal 1375
Tuntutan ketiga pasal sebelum pasal ini dapat pula dilakukan oleh suami
atau istri, kakek-nenek, anak dan cucu karena penghinaan dilakukan
kepada suami atau istri, anak cucu, orang tua, dan kakek-nenek mereka,
setelah orang-orang yang bersangkutan meninggal dunia.
Pasal 1375
Pasal 1369
Pasal ini mengisyaratkan, nama baik dan kehormatan tidak hanya
melekat pada pribadi pihak yang dihina, tetapi dapat juga menjadi milik
keluarga pasangan hidup (suami istri) dan keturunannya. Pengertian
ini memperluas arti nama baik atau kehormatan pribadi seseorang
menjadi milik keluarganya. Oleh karena itu, walaupun orang yang
nama baik atau kehormatannya dirugikan sudah meninggal dunia,
kepada keluarganya tetap diberikan hak mengajukan tuntutan ganti
rugi.
Pada pasal ini disebutkan bahwa hak menuntut ganti rugi tidak hilang
karena orang yang menghina atau dihina meninggal dunia. Namun,
bila yang melakukan penghinaan meninggal dunia tidak dijelaskan
apakah tuntutan ganti rugi dapat pula diajukan kepada keluarga atau
ahli waris pihak yang menghina. Di sini kelihatan, pembuat undangundang menganut prinsip kepada pihak keluarga hanya diberikan
hal-hal yang menguntungkan mereka saja. Berkaitan dengan masalah
ganti rugi akibat penghinaan yang mencemarkan nama baik atau
230
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
kehormatan, pasal-pasal KUHP tersebut di atas sama sekali tidak
menyinggung patokan bagaimana menghitung jumlah kerugian yang
harus diberikan. Akibatnya, tetap saja besarnya ganti rugi menjadi
persoalan.
Bila diperbandingkan, penjelasan uraian hukum di Amerika
dan Indonesia, ternyata di kedua negara besarnya ganti rugi yang
layak masih menjadi masalah karena tidak ada kriteria yang baku dan
pasti. Masing-masing dikembalikan kepada keadilan yang situasional
berdasarkan keputusan hakim. Tetapi, di kedua negara tetap ada
prinsip hukum yang sama: siapa yang mencemarkan nama baik
dan kehormatan orang lain harus membayar ganti rugi. Prinsip ini
berlaku pula bagi pers di kedua negara; pers yang telah melakukan
pencemaran nama baik atau kehormatan seseorang tanpa alasan
untuk kepentingan umum harus membayar ganti rugi kepada orang
yang dirugikan itu.240
2. KUH Pidana
Pertanggungjawaban pers dalam sanksi pidana. Ketika wartawan
dituntut pertanggungjawabannya secara hukum pidana, terdapat
dua unsur formal dan material yang harus dipenuhi supaya seorang
wartawan dapat dimintai pertanggungjawabannya dan dituntut
secara hukum, yaitu:241
a. Apakah wartawan yang bersangkutan mengetahui sebelumnya
isi berita dan tulisan dimaksud.
b. Penghinaan atau pencemaran nama baik seseorang, sering juga
disebut fitnah.
Pasal-pasal penghinaan adalah ketentuan hukum yang paling
sering digunakan untuk melawan media massa. Fitnah disebarkan
Ibid.,hlm.110.
Dewan Pers dan Lembaga Informasi Nasional, Delik Pers dalam Hukum
Pidana, Penerbit Dewan Pers dan Lembaga Informasi Nasional, Jakarta, hlm.2.
240
241
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
231
secara tertulis, dikenal sebagai libel, sedangkan yang diucapkan
disebut slander. Fitnah lazimnya merupakan kasus delik aduan.
Seseorang yang nama baiknya dicemarkan bisa melakukan tuntutan
ke pengadilan negeri dan jika memang dapat, mendapat ganti rugi.
Hukuman pidana penjara juga bisa diterapkan kepada pihak yang
melakukan pencemaran nama baik.242
Ketentuan hukum penghinaan ini bersifat delik aduan, yakni
perkara penghinaan terjadi jika ada pihak yang mengadu. Artinya,
masyarakat yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers -- nama
baiknya tercemar atau merasa terhina -- harus mengadu ke aparat
penegak hukum agar perkara tersebut bisa diusut. Sementara kasus
penghinaan terhadap Presiden, Wakil Presiden, dan instansi negara,
termasuk dalam delik biasa, artinya aparat hukum dapat berinisiatif
melakukan penyidikan dan pengusutan tanpa harus ada pengaduan
dari pihak yang dirugikan. Logika dari ketentuan ini adalah bahwa
presiden, wakil presiden, dan instansi negara adalah simbol negara
yang harus dijaga martabatnya. Selain itu, posisi jabatannya tidak
memungkinkan mereka bertindak sebagai pengadu.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPid)
sejatinya tidak didefinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan
penghinaan. Akibatnya, perkara hukum yang terjadi sering kali
merupakan penafsiran yang subjektif. Seseorang dengan mudah
dapat menuduh pers telah menghina atau mencemarkan nama
baiknya jika ia tidak suka dengan cara pers memberitakan dirinya.
Hal itu menyebabkan pasal-pasal penghinaan (penghasutan) sering
disebut sebagai “ranjau” bagi pers karena mudah sekali dikenakan
untuk menuntut pers atau wartawan. Selain itu, ketentuan ini juga
sering dijuluki sebagai “pasal-pasal karet” karena begitu lentur untuk
ditafsirkan dan diinterprestasikan. Terlebih-lebih jika pelanggaran itu
terkait dengan presiden, wakil presiden, dan instansi negara.
Ibid.,hlm.16.
242
232
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Hakikat penghinaan adalah menyerang kehor­
matan dan
nama baik seseorang, golongan, lembaga, agama, jabatan termasuk
orang yang sudah meninggal dunia. Dalam KUHP disebutkan
bahwa penghinaan bisa dilakukan dengan cara lisan atau tulisan
(tercetak). Adapun bentuk penghinaan dibagi dalam lima kategori,
yaitu: pencemaran, pencemaran tertulis atau lisan, penghinaan
ringan, fitnah, fitnah pengaduan, dan fitnah tuduhan. Kategorisasi
penghinaan tersebut tidak ada yang secara khusus ditujukan untuk
pers, tetapi bisa dikenakan untuk pers dengan ancaman hukuman
bervariasi antara empat bulan dan enam tahun penjara.
Pers sering harus berhadapan dengan anggota masya­
rakat
yang merasa dirugikan oleh suatu pemberitaan. Penafsiran adanya
penghinaan atau pencemaran nama baik (dalam Pasal 310 KUHP).
Ini juga berlaku jika memenuhi unsur:
a. Dilakukan dengan sengaja dan dengan maksud agar diketahui
umum (tersiar)
b. Bersifat menuduh, dalam hal ini tidak disertai bukti yang
mendukung tuduhan
c. Akibat pencemaran itu jelas merusak kehormatan atau nama
baik seseorang.
Misalnya, kasus yang terjadi pada tabloid Warta Republik yang
menulis laporan utama berjudul “Cinta Segitiga Dua Orang Jenderal:
Try Sutrisno dan Edi Sudrajat Berebut Janda”. Laporan yang dimuat
pada edisi pertama, November 1998 itu ditulis tanpa ada wawancara
atau konfirmasi dari sumber berita, melainkan hanya bersumber
dari desas-desus. Pemimpin Redaksi Warta Republik diadukan ke
pengadilan dan dijatuhi hukuman percobaan karena mencemarkan
nama baik pengadu, yaitu Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno dan
Jenderal TNI (Purn.) Edi Sudrajat. Dalam kasus ini perbuatan
wartawan tabloid Warta Republik memenuhi unsur sengaja melakukan
penghinaan, menuduh tanpa bukti, dan telah mencemarkan nama
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
233
baik pengadu.243
Rambu-rambu hukum sebagai bentuk pertang­
gungjawaban
pers masih menganut dualisme yaitu pertanggungjawaban menurut
UU Pers dan menurut KUHPid, perbedaan itu dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Pertanggungjawaban menurut UU Pers
Penje­lasan Pasal 12, UU Pers menyebutkan “….Yang dimaksud
dengan “penanggung jawab” adalah penanggung jawab
perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi.
Sepanjang menyangkut pertanggungjawaban pidana menurut
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Kemudian penjelasan menyangkut ketentuan pidana khususnya
penjelasan Pasal 18 ayat (2) ditegaskan, “Dalam hal pelanggaran
pidana yang dilakukan oleh perusahaan pers, maka perusahaan
tersebut diwakili oleh penanggung jawab sebagai­mana dimaksud
dalam penjelasan Pasal 12”
Sebagai perbandingan, dalam ketentuan pertang­gungjawaban
pers menurut UU No.11 Tahun 1966 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pers, yang telah dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku lagi berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 1999
tentang Pers, Pasal 15 ayat (4) Undang-Undang No.11 Tahun
1966 menetapkan “Pemimpin redaksi dapat memindahkan
pertanggungjawabannya terhadap hukum, mengenai suatu
tulisan kepada anggota redaksi yang lain atau kepada penulisnya
yang bersangkutan”. Prinsip pertanggungjawaban seperti ini
disebut bersifat fiktif.
b. Pertanggungjawaban menurut KUHP
Sementara itu, menyangkut pertanggungjawaban, Pasal 55 ayat
1 KUHP menetapkan “Dihukum sebagai orang yang melakukan
peristiwa pidana”:
Ibid.,hlm.18.
243
234
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
1) Orang yang melakukan, yang menyuruh me­la­kukan atau
turut melakukan perbuatan itu;
2) Orang yang dengan pemberian, perjanjian, salah memakai
kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu
daya atau dengan memberi kesempatan, daya-upaya atau
keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu
perbuatan;
Menurut Pasal 55 KUHP, dalam peristiwa pidana dikenal empat
jenis pelaku, yaitu:
1). Pelaku (dader), yaitu orang yang melakukan sendiri segala anasir
dan elemen peristiwa pidana, biasanya disebut pelaku utama.
2). Pelaku yang menyuruh melakukan (doen plegen), di sini paling
tidak terlibat dua orang yang melakukan peristiwa pidana.
3). Pelaku yang turut melakukan (medepleger), artinya orang itu
bersama- sama dengan orang lain melakukan perbuatan pidana.
Di sini paling tidak ada dua orang yang terlibat, yaitu orang
yang melakukan dan orang yang turut melakukan perbuatan pidana.
Pelaku yang dengan sengaja membujuk melakukan perbuatan pidana
(uitlokker). Cara-cara pembujukan itu bermacam-macam, seperti
dijanjikan diberikan sejumlah uang/hadiah/jabatan atau melakukan
kekerasan untuk melakukan suatu perbuatan. Pertanggungjawaban
fiktif menurut UU Pers dan menurut KUHP berbeda. Prinsip
pertanggungjawaban menurut UU Pers disebut bersifat fiktif, karena
penjelasan Pasal 12 UU Pers menyatakan apabila terjadi sengketa
hukum atau perkara pidana maka yang bertanggung jawab adalah
“penanggung jawab”.
Itu berarti, jika ada gugatan perdata atau penga­duan pidana, maka
yang harus bertanggung jawab adalah ”Penanggung Jawab” dimaksud.
Pihak kepolisian, misalnya, apabila menerima pengaduan perkara
pidana, maka menurut UU Pers tersebut tidak perlu menyelidiki
si pelaku utama perbuatan pidana, melainkan langsung meminta
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
235
pertanggungjawaban dari Penanggung Jawab. Padahal belum tentu
si penanggung jawab adalah orang yang melakukan perbuatan pidana
atau yang mengetahui telah terjadi perbuatan pidana.
Namun, karena ketentuan UU Pers menga­takan bahwa penang­
gung jawab harus bertang­gung jawab, baik di bidang usaha maupun di
bidang redaksi, tidak bisa tidak, dialah yang harus menghadapi proses
hukum. Itulah sebabnya prinsip pertang­gungjawaban pidana menurut
UU Pers disebut bersifat fiktif karena belum tentu penanggung jawab
tadi melakukan per­buatan pidana yang dituduhkan. Namun, sebagai
penanggung jawab menurut UU Pers, mau tidak mau dialah yang
harus menghadapi setiap gugatan perdata dan tuntutan pidana.
Pertanggungjawaban pidana bersifat fiktif ini makin jelas pada
penjelasan Pasal 18 ayat (2) UU Pers, yang mengatakan “Dalam
hal pelanggaran pida­na yang dilakukan oleh perusahaan pers, maka
per­usahaan tersebut diwakili oleh penanggung jawab sebagaimana
dimaksud dalam Penjelasan Pasal 12. “Dari perkataan “diwakili” dalam
rumusan itu berarti pertanggungjawaban pidana dapat dialihkan atau
disub­stitusikan kepada orang lain. Sebaliknya, KUHP menganut
prinsip pertanggungjawaban personal atau bersifat individual. Prinsip
pertanggungjawaban bersi­fat personal ini tersimpul dari ketentuan
Pasal 55 KUHP.
Ketentuan Pasal 55 KUHP ini dikenal dengan deelneming atau
“penyertaan”. Jadi, kadar keterlibatan seseorang dalam peristiwa
pidana tergantung seberapa jauh orang tersebut terlibat dalam proses
terjadinya tindak pidana. Berdasarkan prinsip ini, siapa saja yang
melakukan perbuatan pidana atau peristiwa pidana, dialah yang
bertanggung jawab. Dengan kata lain, pertanggungjawaban pidana
itu tidak dapat dipin­dah­kan, dialihkan, atau disubstitusikan kepada
orang lain yang sama sekali tidak melakukan perbuatan pidana.
Menurut UU Pers, pertanggungjawaban pidana dapat diwakilkan
kepada orang lain--dalam hal ini penanggung jawab-- padahal yang
bersangkutan belum tentu orang yang melakukan perbuatan pidana
236
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
sehingga disebut bersifat fiktif. Namun, menurut KUHP, pelaku
perbuatan pidanalah yang bertanggung jawab, dan karena itu disebut
pertanggungjawaban bersifat personal.
3. Hukum Administrasi
Sanksi hukum administrasi merupakan inti dari pene­gakan
hukum administrasi. Sanksi diperlukan untuk menjamin
penegakan hukum administrasi. Penggunaan sanksi adminis­
trasi merupakan penerapan kewenangan pemerin­
tahan di
mana kewenangan ini berasal dari aturan hukum administrasi
tertulis dan tidak tertulis.
Jenis sanksi administrasi dapat dilihat dari segi sasarannya
yaitu sanksi reparatoir, artinya sanksi yang diterapkan
sebagai reaksi atas pelanggaran norma, yang ditujukan untuk
mengembalikan pada kondisi semula sebelum terjadinya
pelanggaran, misalnya bestuursdwang, dwangsom, sanksi punitif
artinya sanksi yang ditujukan untuk memberikan hukuman
pada seseorang, misalnya adalah berupa denda administratif,
sedangkan sanksi regresif adalah sanksi yang diterapkan
sebagai reaksi atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang
terdapat pada ketetapan yang diterbitkan.
Perbedaan sanksi administrasi dan sanksi pidana adalah,
jika sanksi administrasi ditujukan pada perbuatan, sifat repatoircondemnatoir, prosedurnya dilakukan secara langsung oleh
pejabat tata usaha negara tanpa melalui peradilan. Sementara
sanksi pidana ditujukan pada si pelaku, sifat condemnatoir,
harus melalui proses peradilan. Macam-macam sanksi dalam
hukum administrasi seperti berikut, bestuursdwang (paksaan
pemerintahan), penarikan kembali keputusan (ketetapan)
yang menguntungkan, pengenaan denda administratif, dan
pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom).
a. Penarikan kembali keputusan (ketetapan) yang meng­
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
237
untungkan Penarikan kembali Ketetapan Tata Usaha
Negara yang menguntungkan dilaku­kan dengan menge­
luarkan suatu ketetapan baru yang isinya menarik kembali
dan/atau menyatakan tidak berlaku lagi ketetapan
yang terdahulu. Ini diterapkan dalam hal jika terjadi
pelanggaran terhadap peraturan atau syarat-syarat yang
dilekat­kan pada penetapan tertulis yang telah diberikan,
juga dapat terjadi pelanggaran undang-undang yang
berkaitan dengan izin yang dipegang oleh si pelanggar.
Kaidah HAN memberikan kemungkinan untuk mencabut
Ketetapan Tata Usaha Negara yang menguntungkan
sebagai akibat dari kesalahan si penerima Ketetapan Tata
Usaha Negara sehingga pencabutannya merupakan sanksi
baginya.
b. Pengenaan uang paksa (dwangsom)
Uang paksa dapat dipersamakan sebagai hukuman atau
denda, jumlahnya berdasarkan syarat dalam perjanjian,
yang harus dibayar karena tidak menunaikan, tidak
sempurna melaksanakan atau tidak sesuai waktu yang
ditentukan, dalam hal ini berbeda dengan biaya ganti
kerugian, kerusakan, dan pembayaran bunga.
Menurut hukum administrasi, pengenaan uang paksa
ini dapat dikenakan kepada seseorang atau warga
negara yang tidak mematuhi atau melanggar ketentuan
yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai alternatif dari
tindakan paksaan pemerintahan c. Pengenaan denda administratif
Terdapat perbedaan dalam hal pengenaan denda
administratif ini, yaitu bahwa berbeda dengan pengenaan
uang paksa yang ditujukan untuk mendapatkan situasi
konkret yang sesuai dengan norma, denda administrasi
238
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
tidak lebih dari sekadar reaksi terhadap pelanggaran
norma, yang ditujukan untuk menambah hukuman yang
pasti.
Dalam pengenaan sanksi ini pemerintah harus tetap
memperhatikan asas-asas hukum administrasi, baik tertulis
maupun tidak tertulis.
4. Hak jawab
Dari mekanisme internal proses pers, banyak faktor yang menye­
babkan terjadinya pencemaran nama baik melalui pers. Pertama, yang
memang jelas mengandung faktor kesengajaan dari pers. Di samping
itu, mungkin juga hal itu terjadi akibat faktor ketidaksengajaan,
misalnya karena data yang diperlukan tidak muncul atau ditemu­
kannya sudah terlambat. Bisa pula terjadi karena masalah teknis
penulisan dan kekurangcermatan pers. Ini memperlihatkan, dari
sudut pers sebetulnya “tingkat kesalahan” yang muncul dalam pelbagai
penerbitan pers berbeda satu dengan lainnya.
Adanya fakta itu, tidak berarti dapat membuat pers yang telah
melakukan pencemaran nama baik kemudian luput dari hukum. Sebab,
prinsipnya, siapa yang berbuat, dia harus menanggung risiko. Maka,
pers yang salah tetap harus dihukum. Tetapi, dalam menjatuhkan
hukuman, seharusnya tingkat kesalahan pers harus pula diperhatikan.
Pers yang memang sengaja mencemarkan nama baik seseorang tanpa
alasan yang kuat, jelas harus memperoleh ganjaran hukum yang
tinggi. Tetapi, bagi pers yang mungkin tidak sengaja atau karena
kurang cermat, dan dampak yang ditimbulkannya juga tidak terlalu
besar bagi korbannya, barangkali akan adil bila hukumannya tidak
seberat hukuman kepada pers yang memang sengaja mencemarkan
nama baik orang dan berdampak luas pula terhadap kehormatan dan
reputasi orang yang namanya dicemarkan itu.
Selain itu, mereka yang dirugikan karena pemberitaan pers
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
239
harus pula diberi kesempatan untuk membantah berita mengenai
dirinya, atau bahkan membela diri mereka melalui pers itu. Sesudah
itu, kepada mereka harus pula diberikan pilihan apakah hanya ingin
menyelesaikan persoalannya melalui “hak jawab” yang diberikan
kepada mereka untuk membantah dan membela diri di pers itu, atau
tetap hendak membawa persoalannya ke pengadilan atau bahkan
memilih keduanya sekaligus.
1). Hak Jawab Dalam Etika Pers
Hak jawab diatur dalam Pasal 10 Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
yang mengatakan wartawan Indonesia dengan kesadaran
sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan
yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan
hak jawab secara proporsional kepada sumber atau objek berita.
Dalam tafsir KEJ dikatakan, hak jawab diberikan pada
kesempatan pertama untuk menjernihkan duduk persoalan
yang diberitakan. Sementara hak jawab dimuat pada halaman
yang sama atau ditempatkan pada letak yang menarik perhatian,
maksimum sepanjang berita yang dipertanyakan/dipersoalkan.
Mengutamakan kecermatan menjadi lebih mutlak bagi
wartawan media siaran karena kecepatan daya siar/sebarnya.
Oleh karena itu, penyiaran hak jawab wajib dilakukan segera
oleh media siaran, jika perlu berulang.
2). Hak Jawab Dalam UU Pers
Hak jawab juga diatur dalam Pasal 5 ayat (2) UU Pers yang
menyatakan pers wajib melayani hak jawab, sedangkan pada
Pasal 1 ayat (11) UU Pers hak jawab adalah hak seseorang
atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau
sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan
nama baiknya.
240
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Berbeda dengan hak tolak yang merupakan hak wartawan
untuk merahasiakan identitas sumber beritanya, maka hak
jawab adalah hak anggota masyarakat, organisasi, badan hukum
untuk meluruskan berita yang dianggap merugikan atau berita
yang tidak benar.
Hak jawab merupakan alat pengawasan masya­
rakat
terhadap kebebasan pers, sebab yang dinginkan tidak sekadar
kebe­basan melainkan kebebasan bertanggung jawab, artinya
kebebasan pers itu harus dipertanggungjawabkan kepada
pemiliknya, yaitu rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Oleh
karena itu, rakyat juga wajib mengembangkan dan menjaga
kebebasan pers serta menjamin hak memperoleh informasi yang
diperl­ukan masyarakat. 244
Berangkat dari partisipasi masyarakat untuk mengem­
bangkan dan menjamin hak memperoleh informasi yang
diperlukan inilah, UU Pers dalam Pasal 17 secara khusus
mengatur peran serta masyarakat. Dalam Pasal 17 ayat (1) UU
Pers menyatakan masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk
mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak mem­
peroleh informasi yang diperlukan. Kemudian dalam Pasal 17
ayat (2) UU Pers ditetapkan bahwa kegiatan masyarakat itu
dapat dilakukan berupa memantau dan melaporkan analisis
mengenai pelanggaran hukum, etika, dan kekeliruan teknis
pemberitaan yang dilakukan oleh pers. Menyampaikan usulan
dan saran ke Dewan Pers dalam rangka menjaga dan mening­
katkan kualitas pers nasional. Dalam penjelasan Pasal 17 UU
Pers dikatakan untuk melaksanakan peran serta masyarakat
tersebut dapat dibentuk lembaga atau organisasi pemantau
media (media watch).
R.H. Siregar, Setengah Abad Pergulatan Etika Pers, Penerbit Dewan
Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia, 2005, hlm. 131.
244
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
241
Jelaslah bahwa masyarakat dalam UU Pers mempunyai hak
untuk mengontrol, bahkan mengoreksi pelaksanaan kebebasan
pers. Dan, salah satu cara masyarakat mengawasi dan mengoreksi
pelaksanaan kebebasan pers itu adalah melalui mekanisme
hak jawab. Dalam Penjelasan Umum UU Pers dengan tegas
dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban,
dan perannya, pers menghormati hak asasi setiap orang. Oleh
karena itu, dituntut pers yang profesional dan terbuka untuk
dikontrol oleh masyarakat.
Hanya saja pelaksanaan hak jawab tersebut sering kurang
memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan. Ada beberapa
faktor yang menjadi alasan, seperti:245 (a). Hak jawab baru
dimuat beberapa lama kemudian sehingga pelaksanaannya
kurang efektif karena masyarakat sudah lupa akan berita awal.
(b). Berita awal dimuat di halaman utama dan dalam ukuran
berapa kolom, tetapi hak jawab ditempatkan di halaman dalam
dengan ukuran satu kolom (c). Dampak yang ditimbulkan berita
awal tidak dapat dipulihkan oleh pemuatan hak jawab.
Diangkatnya hak jawab menjadi ketentuan hukum positif,
menjadikan apabila terjadi pelanggaran terhadap pelaksanaan
terhadapnya, maka sanksi atas pelanggarannya pun bergeser,
tidak lagi bersifat moral melainkan bersifat hukum. Sanksi
hukum ini pun tidak terbatas perdata melainkan bersifat pidana,
sekalipun pidana denda. Sebab, dalam Pasal 18 ayat 2 UU Pers
dikatakan, perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5
ayat 2, yaitu hak jawab, dipidana dengan pidana denda paling
banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Jadi, kalau
ada pengelola media tidak melaksanakan hak jawab tersebut
dapat dipidana paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta
rupiah).
Ibid., hlm.132.
245
242
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Dalam hal yang berkepentingan merasa tidak puas atas
pelaksanaan hak jawab, memang tidak tertutup kemungkinan
untuk mengajukannya menjadi perkara hukum. Hak jawab
menjadi bagian penting dalam proses interaksi pers dengan
masyarakat. Sebab, secara tidak langsung sesungguhnya hak
jawab juga termasuk salah satu bentuk ganti rugi yang diberikan
pers.
Dengan adanya hak jawab ini, ada dua faktor yang harus
ditanggung oleh pers, yaitu :246
1). Tentu saja pemakaian ruangan secara gratis, dengan
pemuatan suatu hak jawab, ada ruangan dalam penerbitan
pers yang terambil. Sementara kalau tidak ada hak jawab,
ruangan itu dapat dipakai untuk berita atau untuk iklan.
Berarti secara ekonomis pers yang memuat hak jawab
sudah mengeluarkan biaya yang merugikan mereka.
2). Kredibilitas atau citra pers yang bersangkutan. Adanya
pemuatan hak jawab dapat menye­
babkan pers yang
bersangkutan dinilai kurang profesional. Kalau terusmenerus, akhirnya akan memengaruhi kredibilitas atau
citra penerbitan pers yang bersangkutan. Padahal citra
atau kredibilitas bagi pers merupakan modal dasar tidak
berwujud yang paling mahal. Pers yang tidak mempunyai
kredibilitas tidak akan dipercayai oleh pembacanya, dan
akhirnya tidak akan dibeli. Jika itu terjadi, pers yang
bersangkutan akan merugi atau bahkan gulung tikar.
Namun mekanisme penyelesaian persoalan yang dituntut
kalangan pers tersebut dan sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang pers, sering tidak diakui atau diindah­kan
masyarakat. Dengan kata lain, tidak meng­indahkan mekanisme
hak jawab melainkan lang­sung memerkarakannya, baik secara
246
Wina Armada, Op cit. hlm.98.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
243
perdata maupun pidana. Alasan yang sering muncul ada­lah
karena mekanisme hak jawab yang kurang efektif, mengingat
ketentuan itu merupakan “hak”, maka tergantung yang ber­
kepentingan mau mem­per­gunakannya atau tidak.
5. Hak Koreksi
Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau
membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik
tentang dirinya maupun orang lain. Kewajiban koreksi, menurut
pasal 5 ayat (3) dan Pasal 1 angka 13 UU Pers adalah keharusan
melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta,
opini, atau gambar yang tidak benar, yang telah diberitakan oleh
pers yang bersangkutan. Kewajiban koreksi dilakukan atas insiatif
redaksi sendiri ketika ia menemukan kesalahan.
Berbeda dengan hak jawab, maka terhadap hak koreksi–karena
kualitas akibat yang ditimbulkannya tidak seberat hak jawab—tidak
diancam dengan pidana denda. Dalam menggunakan hak jawab atau
hak koreksi, pihak yang merasa dirugikan perlu melakukan langkahlangkah sistematis sebagai berikut:247
a. Cermati isi pemberitaan tersebut. Pastikan telah terjadi
kekeliruan yang berakibat merugikan nama baik kita.
b. Catatlah nama koran, majalah, tabloid, atau media hari itu: hari
apa, tanggal berapa, edisi ke berapa terbitnya, apa judul
berita itu, di halaman dan kolom berapa dimuat berita
yang kita duga telah terjadi kekeliruan, siapa wartawan
(inisialnya), di mana alamat redaksinya (lengkap dengan
nomor faks dan teleponnya), siapa pemimpin redaksinya,
siapa ombudsmannya (bila ada) lengkap dengan alamat
dan nomor telepon dan faksnya.
c. Pastikan bahwa kita berhak mengajukan hak jawab, sebagaimana
Pasal 11 dan Pasal 1 UU Pers.
Alfian, Pers dan Aspek-Aspek Hukum, Cet.1 Jakarta, Erlangga, 2003, hlm.88
247
244
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
d. Gunting dan kliping berita yang akan kita ajukan
e. Kirimkan langsung atau melalui faks, e-mail, pos, dan juga bisa
diantar lewat kurir.
f. Pastikan kita menyediakan waktu yang cukup untuk dihubungi
ombudsman atau redaksi dalam rangka melayani hak jawab dan
hak koreksi yang kita adukan.
Kriteria untuk mengajukan hak jawab.
1). Hak jawab dapat diajukan oleh seseorang;
2). Hak jawab dapat diajukan oleh sekelompok orang;
3). Hak jawab dapat diajukan dalam bentuk tanggapan;
4). Hak jawab dapat diajukan dalam bentuk sanggahan;
5). Tanggapan atau sanggahan itu diajukan terhadap pemberitaan;
6). Tanggapan atau sanggahan pemberitaan itu harus berupa fakta;
7). Tanggapan dan atau sanggahan terhadap pemberitaan yang
harus berupa fakta itu merugikan nama baiknya.
Berkas pengaduan yang terdiri atas:
1). Kliping berita;
2). Tembusan ke redaksi bila ada ombudsman (jika tidak ada
ombudsman ke redaksi);
3). Identitas dan alamat lengkap pengadu, termasuk nomor telepon
(dilengkapi dengan fotokopi identitas diri);
4).. Surat uraian materi pemberitaan mana yang keliru sehingga
menjadi keberatan kita, sekaligus berisi hal apa yang kita mintakan.
G. Kasus-Kasus Praktik Monopoli Media, Delik Pers
dan Etika di Indonesia dan Negara Lain
1. Praktik Monopoli Media Elektronik
1). Kelompok Korporasi Kepemilikan Media Massa
Monopoli kepemilikan media mulai mendapat perhatian
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
245
yang serius. Sekarang ini telah terbentuk setidaknya
5 (lima) kelompok korporasi media papan atas yang
perkembangannya cukup mapan, yaitu;
Pertama korporasi media PT Media Nusantara
Citra, Tbk (MNC Media) yang dimiliki oleh Harry
Tanoesoedibjo, membawahi RCTI (PT Rajawali Citra
Televisi Indonesia), TPI (PT Cipta Televisi Pendidikan
Indonesia sekarang bernama MNC TV), dan Global TV
(PT Global Informasi Bermutu).
Kedua, kelompok di bawah PT Bakrie Brothers (Group
Bakrie) yang dimiliki oleh Anindya N. Bakrie. Grup
Bakrie ini membawahi ANTeve (PT Cakrawala Andalas
Televisi) yang kini berbagi saham dengan Star TV (News
Corps, menguasai saham 20%) dan Lativi yang sekarang
telah berganti nama menjadi TVOne.
Ketiga adalah kelompok PT Trans Corporat (Group
Para) dimiliki Chairul Tanjung. Grup ini membawahi
Trans TV (PT Televisi Transformasi Indonesia) dan
Trans-7 (PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh) milik
kelompok Kompas Gramedia (KKG).
Kempat adalah kelompok Metro TV dan Harian Media
Indonesia milik Surya Paloh.
Kelima adalah kelompok Jawa Pos dan TV-TV daerah
milik Dahlan Iskan.
Konsentrasi kepemilikan media massa di Indonesia
mengakibatkan struktur pasar media memiliki bentuk
monopoli, yaitu kondisi yang hanya satu pelaku usaha
yang mempunyai kontrol eksklusif terhadap pasokan
barang dan jasa di suatu pasar. Dalam pasar oligopoli,
tindakan yang dilakukan oleh salah satu pemain pasar
akan memengaruhi pemain lainnya, baik dalam kebijakan
246
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
maupun performa dari pemain lain. Selain itu, apabila
ada pemain baru yang hendak memasuki pasar, maka
akan sulit untuk memasuki pasar tersebut apabila tidak
memiliki kemampuan atau kekuatan yang sama dengan
pemain yang telah ada sebelumnya, yang telah memiliki
teknologi dan pengalaman yang lebih kuat. Persaingan
yang terjadi tidak hanya persaingan isi dan jenis program
tetapi juga persaingan infrastruktur dan teknologi. Sulitnya
memasuki pasar tersebut mengakibatkan konsentrasi akan
semakin memusat pada pelaku pasar yang kuat.
Di samping itu, rencana akuisisi Indosiar oleh PT Elang
Mahkota Teknologi (EMTK) yang juga memiliki SCTV,
juga dinilai melanggar Undang-Undang Persaingan
Usaha. Pasalnya, PT EMTK nantinya memiliki tiga
frekuensi yakni Indosiar, SCTV, dan O Channel. Kasus
akuisisi Indosiar oleh PT EMTK semakin marak ketika
melibatkan KPPU dan Bapepam.248
KPPU adalah lembaga independen yang berwe­
nang untuk
menyelesaikan perkara persaingan usaha. Dasar hukum
dibentuknya lembaga ini adalah Pasal 30 UU Persaingan
Usaha. Berangkat dari kewenangan KPPU yang memeriksa
dan menyelesaikan perkara persaingan usaha, maka penulis
melakukan penelitian di KPPU terkait dengan praktik monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat yang berkaitan dengan industri
media massa nasional.
2). KPPU: Astro Langgar Hak Siar Liga Inggris
KPPU pernah memutus perkara persaingan usaha terkait media
massa nasional yaitu Putusan KPPU No: 3/KPPU-L/2008
qnoyzone.blogdetik..com/index.php/2010/09/22/opini-konglomerasi-mediakepemilikan- silang-pemicu-monopoli-pemberitaan/. Diakses tanggal 15 Oktober
2011
248
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
247
tentang kasus Astro atas kepemilikan hak siar eksklusif Liga
Inggris (English Premier League).249 Pada awal September 2007,
Astro (penyedia jasa layanan televisi berlangganan Astro dari
PT Direct Vision) dituduh melakukan persaingan usaha tidak
sehat atas kepemilikan hak siar Liga Inggris untuk wilayah
Indonesia. Dugaan praktik persaingan usaha tidak sehat
ditujukan kepada pihak Astro atas kepemilikan Barclays Premier
League (BPL) English Premier League (EPL) semenjak musim
2007-2008. Kesepakatan hak siar antara Astro dan ESPN Star
Network ini mengakibatkan siaran EPL tidak tersedia di televisi
berlangganan lainnya pada musim 2007-2008.
Adapun kasus posisi dalam kasus tersebut terhitung sejak
dimulainya EPL musim 2007-2008. Astro mulai berusaha
menjalankan langkah strategis bisnis yang cukup berani dengan
menjadi satu-satunya penyelenggara siaran EPL pada musim
2007-2008. Kepemilikan eksklusif Astro terhadap hak siar
EPL tersebut tentu saja menimbulkan berbagai reaksi dari
masyarakat Indonesia pada umumnya dan penggemar Liga
Inggris pada khususnya. Berbagai kekecewaan sampai dengan
protes atas kepemilikan hak siar eksklusif EPL oleh Astro
tersebut bermunculan. Kritik atas kepemilikan hak siar eksklusif
pada Astro tersebut tidak datang hanya dari masyarakat
penggemar EPL. PT Indonusa Telemedia (Telkom Vision)
selaku salah satu pelaku usaha pelayanan televisi berlangganan
juga mengkritik hak siar eksklusif Astro tersebut karena dinilai
sangat merugikan dan tidak adil. Hal itu disebabkan perjanjian
hak siar tersebut secara tidak langsung mengakibatkan kerugian
kepada Telkom Vision karena sekitar 50 persen pelanggan baru
Telkom Vision mem­batalkan status langganan mereka.
Setelah terbukti lengkap dan jelas, KPPU kemudian melakukan
Naungan Harahap, Penelitian untuk Penulisan Disertasi, KPPU, Jakarta, 11
November 2011.
249
248
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
rapat pada tanggal 24 Januari 2008 untuk menetapkan bahwa
putusan tersebut dapat ditindaklanjuti ke tahap pemeriksaan
pendahuluan. Akhirnya, setelah polemik yang cukup lama,
KPPU mengeluarkan putusannya mengenai kasus ini. Dalam
putusan perkara No. 3/KPPU-L/2008 ini, KPPU menyatakan
bahwa pihak Astro All Asia dan PT Direct Vision (PT DV)
dinyatakan tidak bersalah. Namun, pihak perwakilan ESPN
Star Sports (ESS) dan All Asia Multimedia Networks (AAMN)
dinyatakan bersalah melanggar Pasal 16 UU Persaingan
Usaha. Selain itu, pihak Astro All Asia, PT.DV, dan AAMN
dinyatakan tidak terbukti melanggar Pasal 19 huruf a dan c UU
Persaingan Usaha. Poin keempat dalam putusan KPPU ini juga
menetapkan pembatalan perjanjian antara ESS dan AAMN
yang berhubungan dengan pengendalian dan penempatan hak
siar EPL musim 2007-2010 atau minimal perbaikan perjanjian
tersebut agar dapat dilakukan dengan proses yang kompetitif di
antara operator TV di Indonesia.
Setelah putusan ditetapkan pada tanggal 14 Oktober 2008,
salah satu pihak pelapor yaitu Indovision melaporkan keberatan
mereka atas kasus tersebut kepada Pengadilan Negeri Jakarta
Barat. Selain itu, AAMN selaku terlapor mengajukan keberatan
mereka terhadap Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal
8 Oktober 2008. Dalam permohonannya, AAMN menyatakan
KPPU keliru dalam melakukan penerapan hukum kasus BPL.
Ada tiga poin putusan KPPU yang dianggap mengganjal yaitu
pertimbangan KPPU yang memerintahkan agar AAMN tetap
mempertahankan kelangsungan hubungan usaha dengan
PT DV dengan alasan melindungi kepentingan konsumen
yang berlangganan TV berbayar di Indonesia, maka mereka
menilai bahwa putusan KPPU tersebut bertentangan dengan
kewenangan KPPU sebagaimana diatur dalam Pasal 47 ayat (2)
UU Persaingan Usaha.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
249
Kemudian soal penerapan Pasal 16 UU Persaingan Usaha dalam
kasus BPL, AAMN berpendapat penentuan pasal itu tidak
tepat lantaran tidak seluruh unsur pasal itu terbukti. Pasalnya,
meskipun terbukti melakukan monopoli, tindakan AAMN
yang berkontrak dengan ESS tidak memiliki dampak negatif
pada pasar TV berbayar di Indonesia. Pasal 16 UU Persaingan
Usaha menegaskan larangan perjanjian yang menimbulkan
persaingan tidak sehat. Kisruh hak siar yang dimasalahkan
bersumber dari perilaku praperjanjian antara AAMN dengan
ESS. Klausul perjanjian tentang pengalihan konten BPL tidak
dilakukan melalui tender bukan bagian dari perjanjian terkait
dengan pengalihan hak siar BPL. Lagi pula, AAMN tidak
memenuhi unsur pelaku usaha yang ditentukan dalam Pasal
16 UU Persaingan Usaha. Sebab, AAMN adalah pihak di luar
negeri, berdomisili dan melakukan kegiatan usaha di luar negeri.
Konsep single economic entry juga tidak dapat diterapkan dalam
kasus ini. AAMN bukan pemegang saham PT DV baik secara
langsung maupun tidak langsung. AAMN hanya pemasok
dari PT DV dan tidak memiliki kontrol terhadap PT DV.
Penerapan pasal 16 UU Persaingan Usaha dianggap melawan
prinsip-prinsip hukum yang adil. KPPU, selaku otoritas hukum
persaingan, seharusnya tidak melakukan spekulasi. Sementara
yang terakhir adalah soal yurisdiksi KPPU terhadap AAMN.
AAMN menyatakan KPPU tidak memiliki yurisdiksi terhadap
AAMN sebab perkara ini dikecualikan dalam Pasal 50 UU
Persaingan Usaha lantaran terkait dengan hak atas kekayaan
intelektual (HAKI) yakni hak siar BPL. Adapun yang menjadi
alasan pelaporan terhadap Astro kepada KPPU adalah adanya
dugaan pelanggaran Pasal 16 dan Pasal 19 huruf (a) dan (c)
UU Persaingan Usaha. Adapun pelanggaran Pasal 16 ditujukan
kepada AAAN, AAMN dan PT DV dengan ESS. Sementara
dugaan pelanggaran Pasal 19 huruf (a) dan (c) ditujukan kepada
250
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
AAAN, AAMN, dan PT DV.
Pasal 16 UU Persaingan Usaha adalah mengenai adanya
larangan bagi para pelaku usaha dalam negeri untuk melakukan
perjanjian dengan pihak lain yang mana perjanjian tersebut
memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Sifat
dari pasal ini adalah pasal yang bersifat rule of reason dalam
penegakannya. Sementara isi Pasal 19 UU Persaingan Usaha
sendiri berisi kegiatan yang dilarang yaitu penguasaan pasar.
Pasal ini melakukan pelarangan satu atau beberapa kegiatan,
baik sendiri maupun bersama-sama, yang dapat mengakibatkan
monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.
Adapun perbuatan tersebut berupa:
a. Menolak atau menghalangi pelaku usaha tertentu
untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar
bersangkutan; atau
b. Menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha
pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha
dengan pelaku usaha pesaingnya itu, atau
c. Membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau
jasa pada pasar bersangkutan; atau
d. Melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu.
Dalam kaitan dengan kasus ini, pihak pelapor menganggap
bahwa usaha Astro untuk mendapat hak siar eksklusif
terhadap hak siar Liga Inggris adalah suatu langkah atau
upaya melakukan penguasaan pasar. Hal itu terjadi karena
sejak Astro mendapat hak terhadap hak siar Liga Inggris
tersebut, banyak calon pelanggan potensial yang awalnya
akan menjadi pelanggan PayTV lain malah beralih ke
Astro. Hal itu berarti Astro melakukan penghalangan
konsumen potensial payTV lain untuk menjadi pelanggan
mereka.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
251
Selain itu, tuduhan yang diajukan kepada para terlapor
adalah:
a). AAMN dan ESS tanpa melalui proses yang
kompetitif telah membuat perjanjian terkait dengan
hak tayang siaran eksklusif BPL di Indonesia yang
dapat mengakibatkan praktik monopoli pada pasar
TV berbayar di Indonesia.
b). Perilaku AAMN dan ESS tersebut mengakibatkan
kerugian yang dialami oleh pesaing PT DV pada
pasar TV berbayar di Indonesia dalam jangka pendek
dan berpotensi menimbulkan persaingan yang tidak
sehat dalam jangka panjang.
Namun, bukan hanya penyedia Astro di Indonesa yaitu
PT DV saja yang dituntut oleh para pelapor, melainkan
juga para pihak lain yang terkait.
Pihak-pihak yang dilaporkan adalah:
a. AAAN, Plc. merupakan induk per­
usahaan yang
memiliki berbagai anak perusahaan yang melakukan
kegiatan usaha dalam bidang usaha televisi berbayar,
penyiaran radio, produksi dan distribusi content TV
serta sejumlah bisnis lainnya di bidang media. Salah
satunya adalah PayTV Astro.
b. ESS merupakan badan usaha patungan yang
berbentuk general partnership antara ESPN dan
Star Sports yang melakukan kegiatan usaha dalam
bidang pengembangan produksi program olah
raga, distribusi, dan penjualan channel dan hak siar
di wilayah Asia dan anak benua India, termasuk di
dalamnya kepada perusahaan televisi berbayar di
Indonesia, di mana siaran Liga Inggris ditayangkan
melalui kanal mereka.
c. AAMN melakukan kegiatan usaha utama untuk
252
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
memperoleh content, membuat channel televisi
berbahasa Indonesia dan berbahasa Malaysia
untuk disuplai kepada operator televisi berbayar
yang dioperasikan oleh Astro, baik di PT DV di
Indonesia, MBNS di Malaysia, maupun “Kristal
Astro” di Brunei Darussalam melakukan kegiatan
usaha sekunder berupa pengadaan decoder untuk
disuplai ke PT DV di Indonesia.
Maka, akibat dari perbuatan para terlapor, pelapor merasa
dirugikan secara finansial. Salah satu pelapor yaitu PT
Telkom Vision misalnya, merasa dirugikan karena sekitar
50 persen dari calon pelanggannya membatalkan rencana
mereka berlangganan disebabkan adanya kabar bahwa
Liga Inggris hanya akan disiarkan oleh Astro, bukan
Telkom Vision.
Sementara itu, laporan yang diajukan pihak-pihak lain
(AAAN, ESS, dan AAMN) diajukan karena adanya
dugaan bahwa tidak adanya transparansi di dalam tender
hak siar Liga Inggris tersebut. Para pelapor menganggap
telah terjadi persekongkolan mengenai hak siar antara
Astro dan para pihak terkait karena para pelapor tidak
diberi tahu terlebih dahulu mengenai adanya hak siar Liga
Inggris.
Terhadap laporan yang diajukan pelapor, terlapor (ESS,
AAMN, AAAN, dan PT DV) mengajukan pembelaannya
sebagai berikut:
a. ESS berpendapat konstruksi Pasal 50 huruf b dalam
perjanjian hak siar Liga Inggris jelas “terkait” dengan
HAKI sehingga perjanjian hak siar eksklusif Liga
Inggris seharusnya dikecualikan dari UU Persaingan
Usaha..
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
253
b. ESS berpendapat bahwa Pasal 16 UU Persaingan
Usaha hanya mengatur pelaku usaha, bukan kelom­
pok pelaku usaha, sehingga ESS berada di luar
wewenang KPPU karena mereka bukan pelaku usaha
sebagaimana diatur dalam UU Persaingan Usaha.
c. ESS mengatakan bahwa PT DV adalah anak
perusahaan Lippo Group yang sahamnya 100 persen
dimiliki oleh Lippo Group dan tidak ada kepemilikan
saham, baik secara langsung maupun tidak langsung,
oleh AAN ataupun AAMN, sehingga dengan ini
Astro Group dan PT DV tidak dapat dianggap
sebagai Single Economic Entity (SEE) karena PT DV
dikontrol oleh Lippo Group dan bukan oleh Astro
Group.
d. AAAN dan AAMN menyatakan penempatan
satu direktur sebagai perwakilan Astro di PT DV
juga tidaklah dapat disimpulkan secara sempit
sebagai adanya kontrol ataupun kesatuan entitas
sebagaimana yang dimaksud dalam doktrin kesatuan
entitas ekonomi. Perlu dicatat bahwa dua direktur
lainnya ditunjuk oleh Lippo Group.
e. Bahwa karena hak siar Liga Inggris itu hanya untuk
periode waktu tertentu, yaitu pada Liga Inggris
periode 2007-2010 maka masih banyak substitusi
lain untuk Liga Inggris.
f. ESS menganggap bahwa definisi pasar upstream
oleh komisi terlalu sempit. Karena, pasar upstream
tersebut setidaknya harus meliputi konten olah raga
utama (contoh Formula 1) dan juga konten utama
secara umum.
g. Selain itu, menurut ESS, pasar downstream tidak
254
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
hanya TV berbayar di Indonesia, tetapi juga meliputi
free to air dan TV berbayar.
h. Bahwa Liga Inggris hanyalah sebuah konten yang
memiliki nilai lebih tetapi bukan konten yang sangat
penting bagi para penyelenggara TV berbayar.
i. AAAN dan AAMN berpendapat bahwa definisi
essential content terlalu cenderung ke definisi “penting”
oleh orang awam yang mana berbeda dengan konteks
konsep dan definisi essential content/essential facility
sebagaimana dikenal dalam hukum kompetisi.
j. Bahwa TV-TV berbayar lain di Indonesia memiliki
konten eksklusif yang tidak kalah daya tariknya dari
Liga Inggris untuk menjaring calon pelanggan.
k. ESS mengatakan bahwa sebelum pemberian hak siar,
mereka telah melakukan pembicaraan dengan pihak
Indovision mengenai hak siar Liga Inggris untuk
musim 2007-2010.
l. AAMN dan AAAN menyatakan bahwa perilaku
praperjanjian hak siar Liga Inggris antara ESS
dan AAMN tidak bersifat antikompetisi dan telah
dilakukan dengan mekanisme yang kompetitif.
m. Bahwa hak siar eksklusif tidak merugikan pesaing
dan tidak mengakibatkan adanya pesaing yang
bangkrut.
n. AAAN dan AAMN mengatakan tidak ada bukti
konkret atas dampak kerugian jangka panjang.
o. ESS menyatakan bahwa asumsi-asumsi kerugian
yang mungkin dialami oleh Indovision tidak memiliki
dasar yang kuat dan kalaupun ada kerugian maka hal
tersebut tidak dapat dipersalahkan terhadap terlapor.
Adapun yang menjadi pertimbangan majelis komisi
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
255
sebelum mengambil putusan dalam perkara ini adalah
sebagai berikut:
a. Bahwa majelis komisi memandang perlu untuk
menerapkan prinsip-prinsip persaingan usaha yang
sehat dalam upaya memperoleh dan mengeksploitasi
hak siar premium konten yang akan disiarkan oleh
operator TV di Indonesia.
b. Majelis komisi menilai, untuk menghilangkan
praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat pada perkara ini, dapat dilakukan melalui
pembatalan perjanjian atau perbaikan perjanjian
antara ESS dan AAMN terkait dengan pengelolaan
dan penempatan hak siar Liga Inggris 2007-2010
dilakukan melalui proses yang kompetitif di antara
operator TV di Indonesia.
c. Majelis komisi berdasarkan Pasal 47 ayat (2) huruf g
UU Persaingan Usaha berwenang untuk mengenakan
denda terhadap AAMN. Namun, mengingat industri
TV berbayar di Indonesia masih dalam tahap awal
pertumbuhan sehingga majelis tidak mengenakan
denda dalam perkara ini.
d. Majelis komisi memandang perlu untuk melindungi
hak-hak dari pelanggan TV berbayar di Indonesia,
terutama pelanggan PT DV untuk tetap dapat
menikmati siaran yang harus dilakukan oleh AAMN
bersama-sama Astro Group sebagai suatu entitas
ekonomi.
Adapun yang menjadi putusan Majelis Komisi berdasarkan
fakta, analisis dan kesimpulan dengan mengingat Pasal ayat
(3) UU Persaingan Usaha, Majelis KPPU memutuskan
sebagai berikut:
256
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
a.
Menyatakan bahwa terlapor III; ESPN Star Sport
dan Terlapor IV; All Multimedia Networks FX LLC
terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal
16 UU Persaingan Usaha.
b. Menyatakan bahwa Terlapor I PT Direct Vision
dan Terlapor II Astro All Asia Networks PLc. tidak
terbukti melanggar Pasal 16 UU Persaingan Usaha.
c. Menyatakan bahwa terlapor I PT Direct Vision,
Terlapor II Astro All Asia Networks Plc., dan
Terlapor IV All Asia Multimedia Networks, FZLLC tidak terbukti melanggar Pasal 19 huruf a dan c
UU Persaingan Usaha.
d. Menetapkan pembatalan perjanjian antara Terlapor
III; ESPN Star Sport dengan Terlapor IV All Asia
Multimedia Networks, FZ-LLC terkait dengan
pengendalian dan penempatan hak siar BPL musim
2007-2010 atau Terlapor VI All Asia Multimedia
Networks, FZ-LLC memperbaiki perjanjian dengan
Terlapor III ESPN Star Sports terkait dengan
pengendalian dan penempatan hak siar BPL musim
2007-2010 agar dilakukan melalui proses yang
kompetitif di antara operator TV di Indonesia.
e. Memerintahkan Terlapor IV All Asia Multimedia
Networks, FZ-LLC untuk menjaga dan melindungi
konsumen TV berbayar di Indonesia dengan tetap
mempertahankan kelangsungan hubungan usaha
dengan PT Direct Vision dan tidak menghentikan
seluruh pelayanan kepada pelanggan sampai adanya
penyelesaian hukum mengenai status kepemilikan
PT Direct Vision.
Setelah putusan ini dijatuhkan oleh KPPU, pada 14
Oktober 2008, Indovision selaku pelapor menyatakan
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
257
keberatannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat, karena
pihak Indovision merasa bahwa putusan tersebut cacat
hukum.
Dalam kasus Astro ini, hak siar yang dipegang oleh
AAMN terhadap BPL adalah untuk musim 2007-2010,
berarti musim yang akan disiarkan adalah musim 20072008, 2008-2009, 2009-2010. Dengan ini, terlihat bahwa
AAMN memegang hak siar BPL untuk masa tiga tahun.
Apabila dikaitkan dengan Pasal 50 ayat (1) huruf c
Undang-Undang Hak Cipta, maka AAMN sama sekali
tidak melanggar ketentuan yang ada terkait dengan hak
dalam undang-undang hak cipta.
Kewenangan KPPU dalam menyelesaikan kasus Astro
ini telah dirumuskan dalam Pasal 36 UU Persaingan
Usaha. Pada Pasal 36 huruf a sampai KPPU, KPPU diberi
wewenang untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada
pelaku usaha yang bersalah. Dalam putusannya, KPPU
menyatakan bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap
Pasal 16 UU Persaingan Usaha. Kedua terlapor kemudian
diperintahkan untuk menetapkan pembatalan perjanjian
di antara kedua belah pihak yaitu AAMN dengan ESS.
Dalam wewenang KPPU untuk menjatuhkan sanksi
administratif terdapat ketentuan Pasal 47, adapun sesuai
ketentuan Pasal 47 ayat (2) UU Persaingan Usaha, maka
jenis sanksi administratif yang dapat dijatuhkan oleh
KPPU adalah sebagai berikut:
a. Penetapan pembatalan perjanjian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 13,
Pasal 15, dan Pasal 16, dan atau.
b. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan
integrasi vertikal sebagai­mana dimaksud dalam Pasal
14, dan atau
258
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
c.
Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan
kegiatan yang terbukti menimbulkan praktik, dan
atau menyebabkan persaingan usaha tidak sehat atau
merugikan masyarakat, dan atau
d. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan
penyalahgunaan posisi dominan, dan atau
e. Penetapan pembatalan atas peng­
ga­
bungan atau
peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan atau
f. Penetapan pembayaran ganti rugi, dan atau
g. Pengenaan
denda
serendah-rendahnya
Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah) dan setinggitingginya Rp 25.000.000.000 (dua puluh lima miliar
rupiah).
Terlebih lagi pada Pasal 47 huruf a UU Persaingan
Usaha, pelanggaran terhadap Pasal 16 UU Persaingan
Usaha disebutkan secara spesifik bahwa perjanjian
terhadap pasal tersebut dapat dikenakan penetapan
pembatalan perjanjian. Sampai pada putusan KPPU
untuk membatalkan atau menegosiasikan ulang hak siar
Liga Inggris, semuanya masih sesuai dengan ketentuan
dalam UU Persaingan Usaha, terutama Pasal 47. Namun,
permasalahan timbul ketika KPPU pada poin kelima
dalam putusannya memerintahkan agar PT DV dan
AAMN tetap melaksanakan kerja sama dalam penyiaran
TV berlangganan Astro di Indonesia.
Hal itu karena dalam ketentuan UU Persaingan Usaha
sama sekali tidak disebutkan mengenai kewenangan KPPU
untuk memerintahkan pelaku usaha tetap melanjutkan
kerja samanya. Oleh karena itu, dalam hal ini KPPU dapat
dikatakan melampaui kewenangan yang telah diberikan
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
259
dalam UU Persaingan Usaha dengan memberikan putusan
yang berada di luar dari kewenangannya.
Mengenai hubungan putusan ini dengan UU Hak Cipta
maka karena perjanjian hak siar eksklusif ini adalah
dalam bentuk lisensi, maka semua itu akan merujuk pada
ketentuan dalam Pasal 47 ayat (1) UU Hak Cipta. Di
dalam pasal tersebut, perjanjian lisensi pada umumnya
diperbolehkan oleh UU Hak Cipta. Namun, dalam
pembentukan kontrak atau surat perjanjian lisensi
tidak boleh memuat ketentuan yang dapat merugikan
perekonomian Indonesia dan atau mengakibatkan
persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur pada
UU Persaingan Usaha. Sesuai dengan ketentuan Pasal 50
huruf b UU Persaingan Usaha, maka lisensi termasuk ke
dalam kelompok yang dikecualikan, sedangkan hak siar
Liga Inggris adalah bagian atau derivasi dari HAKI yaitu
lisensi, sehingga ia memang dapat dikecualikan seperti
dalam Pasal 50 huruf b UU Persaingan Usaha.
Mengenai dampak yang dapat merugikan perekonomian
Indonesia dan atau menim­
bulkan monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat seperti disebut dalam Pasal 47
ayat (1) UU Hak Cipta, maka lisensi hak siar Liga Inggris ini
terbukti tidak merugikan perekonomian Indonesia, tetapi
ia terbukti dapat mengakibatkan persaingan tidak sehat,
sehingga dia dapat dikatakan melanggar ketentuan pasal
tersebut karena memenuhi salah satu unsur dalam pasal
tersebut karena proses tendernya dianggap tidak transparan.
Namun, perjanjian lisensi hak siar ini masih tunduk pada
ketentuan dalam UU Hak Cipta.
Adapun Pasal 50 UU Persaingan Usaha mengatur perjanjianperjanjian dan per­buatan-perbuatan yang dikecualikan dari
260
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
UU Persaingan Usaha, yaitu sebagai berikut:
a. Perbuatan dan/atau perjanjian yang bertujuan untuk
melaksanakan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
b. Perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan
intelektual seperti lisensi, paten, merek dagang, hak
cipta, desain produk industri, rangkaian elektronik
terpadu, dan rahasia dagang. Meskipun tidak ditegas­
kan dalam penjelasan undang-undang ini, perke­
cualian ini hanya berlaku secara terbatas, sepan­jang
tidak menghalangi persaingan dan tidak melang­gar
UU Persaingan Usaha.
c. Perjanjian yang berkaitan dengan waralaba. Meskipun
undang-undang tidak memberikan penjelasan, penge­­
cualian ini juga berlaku secara terbatas Meski­
pun
pelaku usaha melaksanakan bisnisnya secara wara­laba
tidak dapat begitu saja menjalankan usahanya sehingga
mengakibatkan monopoli dan/atau per­saingan usaha
tidak sehat.
d. Perjanjian penetapan standar teknis produk barang
dan/atau jasa yang tidak mengekang dan/atau
menghalagi persaingan.
e. Perjanjian dalam rangka keagenan yang isinya tidak
memuat ketentuan untuk memasok kembali barang
dan/atau jasa dengan harga yang lebih rendah
daripada harga yang telah diperjanjikan.
f. Perjanjian kerja sama penelitian untuk peningkatan
atau perbaikan standar hidup masyarakat luas.
g. Perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh
pemerintah Republik Indonesia.
h. Perbuatan dan/atau perjanjian yang bertujuan untuk
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
261
ekspor yang tidak mengganggu kebutuhan dan/atau
pasokan pasar dalam negeri.
i. Kegiatan usaha koperasi yang secara khusus bertujuan
untuk melayani anggotanya.
j. Perbuatan pelaku usaha yang tergolong dalam usaha
kecil. Meskipun undang-undang tidak memberikan
penjelasan, perkecualian ini pun harus ditafsirkan
terbatas, karena pengusaha kecil pun tidak dapat
melanggar peraturan-peraturan monopoli atau per­
saingan curang.
Ketentuan dalam Pasal 50 huruf a ini adalah ketentuan yang
bersifat pengecualian (exceptions). Ketentuan pengecualian
ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya benturan
dari berbagai kebijakan dan dalam rangka memenuhi
hak-hak dasar warga negara oleh negara yang ditata
dalam sebuah sistem perekonomian nasional. Selain itu,
ketentuan pengecualian ini tidak dapat dihindarkan karena
“keterikatan” pada hukum atau perjanjian internasional
melalui proses ratifikasi. Pengecualian tersebut secara tegas
diatur dalam Pasal 33 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UUD
1945, yang berbunyi sebagai berikut:
a. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negaara
dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh negara
b. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
c. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan,
efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga
262
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional.
Pelaksanaan ketentuan Pasal 33 UUD 1945 tersebut tidak
hanya diatur dalam UU Persaingan Usaha tetapi juga
dalam undang-undang sektoral lainnya. Dengan demikian,
penetapan kebijakan adanya ketentuan pengecualian
(dalam Pasal 50 huruf a) dimaksudkan agar tidak saling
kontradiksi kebijakan yang diatur dalam UU Persaingan
Usaha dan yang diatur dalam undang-undang sektoral
tersebut. Pemberian perlakuan khusus bagi cabang-cabang
produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak untuk
dikuasai negara, sejalan dengan yang diatur dalam Pasal 51
UU Persaingan Usaha.
Selanjutnya, walaupun berdasarkan ketentuan dalam Pasal
176, Pasal 177 dan 178 Undang-Undang No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan
kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus
perekonomian daerah, pengaturan dan pengurusan di
bidang ekonomi harus tetap berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan termasuk yang diatur
dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945. Dengan demikian,
kebijakan otonomi daerah di bidang perekonomian tidak
boleh bertentangan dengan kebijakan prekonomian
nasional karena materi peraturan perundang-undangan
yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem
hukum nasional. 3). MPPI vs PT MNC
Selain itu, KPPU juga pernah memberikan saran dan per­
timbangan atas perkara praktik monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat dalam industri media massa nasional, terkait dengan
laporan Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) yang
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
263
mempersoalkan kepemilikan PT Media Nusantara Citra Tbk.
(MNC) atas tiga stasiun televisi nasional. KPPU mengeluarkan
Saran dan Pertimbangan Nomor 338/K/VI/2008 tanggal 5 Juni
2008.
Dugaan ini diawali tembusan dari Masyarakat Pers dan
Penyiaran Indonesia (MPPI) yang mempersoalkan kepemilikan
PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNC) atas tiga stasiun televisi
nasional. MPPI menilai bahwa hal itu merupakan pemusatan
kepemilikan yang melanggar UU Persaingan Usaha. MPPI
mengajukan somasi kepada Departemen Komunikasi dan
Informatika (Depkominfo) serta Komisi Penyiaran Indonesia,
tetapi pihak yang disomasi tidak kunjung menangani kasus
ini, terkait dengan dugaan adanya kepemilikan silang MNC
oleh MPPI, yaitu MNC dianggap melakukan ketidakpatuhan
terhadap UU Persaingan Usaha Pasal 25 ayat (1) dan (2)
khususnya penyalahgunaan posisi dominan, penguasaan pangsa
pasar, penguasaan frekuensi, serta dugaan adanya perjanjian
restriktif antara MNC dan pihak penyedia konten ataupun
dengan pihak agensi iklan dan adanya kerisauan masyarakat atas
pemusatan kepemilikan suatu perusahaan holding pada beberapa
media penyiaran televisi.
Akibat somasi yang diajukan kepada Depkominfo serta KPI,
dan pihak yang disomasi tidak kunjung menangani kasus
ini, akhirnya KPPU membentuk tim gabungan pengkaji 13
(tiga belas) aturan kepemilikan modal. Tim antara lain berisi
perwakilan Depkominfo, KPI, KPPU, Bursa Efek Jakarta, dan
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan untuk
menyelesaikan dugaan kasus MNC tersebut. Dalam penelusuran
dugaan kasus tersebut, KPPU tidak melanjutkan penyelidikan
pada tahap pemeriksaan lanjutan karena KPPU menganggap
tidak cukup bukti. Sebagai bukti penghentian dugaan kasus
tersebut, KPPU mengeluarkan Saran dan Pertimbangan Nomor
264
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
338/K/VI/2008 tanggal 5 Juni 2008.
Dilihat pada fakta yang terdapat dalam industri televisi terestrial,
industri televisi terestrial memang tergolong oligopoli. Hal itu
bisa dilihat dari sedikitnya jumlah pemain atau pelaku usaha
yang ada dalam industri ini. Meskipun demikian, tidak ada satu
pun pemain dominan dalam industri tersebut. Hal itu bisa dilihat
dari penguasaan pangsa pasar para pelaku usaha dalam industri
ini. Dalam pangsa pasar iklan, tidak ada pelaku usaha yang
menguasai di atas 20 persen. Bahkan, jika pangsa pasar dihitung
berdasarkan grup perusahaan pemilik stasiun televisi terestrial,
tidak ada kelompok usaha yang menguasai lebih dari 35 persen
pangsa pasar. Ketiga stasiun televisi terestrial yang dikuasai oleh
MNC, yaitu RCTI, Global TV, dan TPI (kini MNCTV) jika
diakumulasi, pangsa pasar iklannya hanya sebesar 34,5 persen.
Dengan demikian, tarif iklan yang ditawarkan oleh stasiun
televisi di bawah MNC masih berada di bawah range harga
yang wajar. Bahkan, harga slot iklan yang ditawarkan oleh
stasiun televisi di bawah MNC bukanlah harga tertinggi di
pasar iklan. Selain itu, stasiun televisi di bawah MNC tidak
pernah menerapkan persyaratan yang memberikan agensi iklan
dalam membeli slot iklan yang ditawarkan oleh stasiun televisi
di bawah MNC. Stasiun televisi di bawah MNC pun tidak
pernah membatasi agensi iklan untuk memilih slot iklan yang
ditawarkan oleh stasiun televisi lainnya.
Jika dilihat dari produksi siaran, penguasaan pangsa pasar
pemirsa stasiun televisi terestrial tidak ada yang melebihi 20
persen, dan jika dilihat dari kelompok usaha pemilik stasiun
televisi terestrial, tidak ada kelompok usaha yang menguasai
lebih dari 35 persen pangsa pemirsa. Secara akumulatif, pangsa
pemirsa ketiga stasiun televisi terestrial di bawah MNC hanya
sebesar 34 persen.
Tidak adanya posisi dominan dalam industri ini secara langsung
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
265
menyebabkan tidak adanya penyalahgunaan posisi dominan
yang dituduhkan kepada MNC. Tidak adanya penyalahgunaan
posisi dominan selain dari penguasaan pangsa pasar yang
rendah, juga dapat dilihat dari tidak adanya perjanjian restriktif
antara MNC dan pihak penyedia konten dengan pihak agensi
iklan. Selain itu, fakta yang ada juga menunjukkan tidak adanya
praktik usaha tidak sehat yang dijalankan oleh ketiga stasiun
televisi di bawah MNC Media, yaitu RCTI, Global TV, dan
TPI (MNCTV). Fakta tersebut dapat dilihat dari tidak adanya
tindakan untuk menghambat pelaku usaha lain dalam rangka
masuk ke industri yang dilakukan oleh ketiga stasiun televisi di
bawah MNC. Selain itu, tidak ada persyaratan memberatkan
dalam perjanjian antara tiga stasiun televisi di bawah MNC dan
pihak penyedia konten serta agensi iklan.
Mengenai penguasaan frekuensi, pemerintah melalui
Depkominfo memang hanya memberikan izin beroperasi untuk
wilayah nasional kepada 11 (sebelas) stasiun televisi swasta yang
ada. Artinya, bila MNC tidak memiliki ketiga stasiun televisi
tersebut, selama aturan tersebut belum dihapuskan, maka tidak
akan nada pelaku usaha baru dalam industri televisi terestrial
nasional. Jika demikian, industri televisi terestrial adalah industri
yang sehat, dan tidak ada satu pun pelaku usaha yang dominan
memengaruhi industri karena tidak ada satu pun pelaku usaha
yang dapat menggunakan market power-nya untuk mendikte
pasar.
MNC yang memiliki tiga stasiun televisi terestrial swasta
nasional juga tidak terbukti melakukan penyalahgunaan posisi
dominan yang dapat dilihat dari tidak adanya tindakan meng­
hambat pesaing/pelaku usaha baru dan tidak adanya perjanjian
yang memberatkan penyedia konten dan agensi iklan.
Mengenai ketidakpatuhan MNC terhadap UU Persaingan
Usaha, bahwa MNC tidak melakukan pelanggaran atas Pasal
266
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
25 ayat (1) dan (2) UU Persaingan Usaha karena:
a. Akumulasi pangsa iklan ketiga stasiun televisi di bawah
MNC yaitu RCTI, Global TV, dan TPI (MNCTV) tidak
mencapai 35 persen.
b. Akumulasi pangsa pemirsa ketiga stasiun televisi di bawah
MNC yaitu RCTI, Global TV, dan TPI tidak mencapai
35 persen.
c. Tidak membuat persyaratan yang membe­ratkan penyedia
konten dalam menjual dan mendistribusikan hasil produk­
sinya kepada stasiun televisi di bawah MNC.
d. Tidak menghalangi penyedia konten untuk menjual atau
mendistribusikan hasil produk­sinya kepada stasiun televisi
terestrial selain stasiun televisi di bawah MNC.
e. Tidak membuat persyaratan yang membe­ratkan ataupun
memberikan barang yang tidak wajar kepada agensi iklan
dalam membeli slot yang tersedia di tiga stasiun televisi di
bawah MNC.
f. Tidak menghalangi agensi iklan untuk membeli slot iklan
dari stasiun televisi di luar stasiun televisi yang berada di
bawah MNC.
g. Tidak menghalangi pemirsa untuk memilih stasiun televisi
apa yang menjadi tontonan pemirsa.
h. Dalam hal penguasaan frekuensi, MNC tidak membatasi
pelaku usaha lain yang potensial untuk masuk ke industri
televisi terestrial. Penguasaan frekuensi terkait erat dengan
izin siaran dan hingga saat ini Depkominfo sebagai
institusi yang berwenang mengeluarkan izin siaran hanya
memberikan izin kepada 11 (sebelas) lembaga penyiaran
swasta.
Terkait dengan bidang penyiaran kepemilikan silang di lembaga
penyiaran swasta diatur secara umum dalam Undang-Undang
No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan secara khusus
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
267
dalam Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2005 tentang
Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta. Kedua
aturan ini pada dasarnya melarang adanya kepemilikan oleh satu
badan hukum di beberapa lembaga penyiaran swasta di daerah
(provinsi) yang sama dalam rangka menghindarkan industri
penyiaran dari praktik monopoli informasi dan opini. Dilihat
dari konteks tersebut, peraturan tersebut belum bisa diterapkan
saat ini karena sistem yang berlaku dalam industri penyiaran di
Indonesia belum menganut sistem jaringan.
Hingga saat ini, izin penyiaran yang dimiliki oleh RCTI,
Global TV, dan TPI (MNCTV) adalah izin penyiaran dengan
jangkauan nasional. Bila dilihat dari sisi ketersediaan informasi,
ketiga stasiun televisi terestrial di bawah MNC itu tidak dapat
dikategorikan sebagai bentuk monopoli informasi dan opini.
Hal itu karena pemirsa Indonesia hingga saat ini bebas memilih
untuk menerima informasi dari stasiun televisi mana pun tanpa
ada hambatan sedikit pun. Isi siaran yang ditayangkan oleh
RCTI, Global TV, dan TPI juga terdiri atas beragam kategori.
Stasiun televisi terestrial lainnya juga menyiarkan kategori acara
yang kurang lebih sama, tetapi dengan komposisi dan target
segmen pasar yang berbeda.
Oleh karena itu, kepemilikan oleh MNC terhadap RCTI,
Global TV, dan TPI sama sekali tidak menyebabkan monopoli
informasi dan opini di tangan ketiga stasiun televisi tersebut.
Dari uraian di atas, terpapar sejumlah duduk perkara atau posisi
kasus serta fakta-fakta mengapa penelusuran atas dugaan kasus
kepemilikan silang yang dilakukan oleh MNC dihentikan,
walaupun fakta-fakta tersebut di atas harus didasarkan pada
suatu putusan atau pernyataan yang dikeluarkan oleh MNC.
Akhirnya, pada 5 Juni 2008 KPPU mengeluarkan putusan
dalam bentuk saran dan pertimbangan KPPU terkait dengan
penanganan kepemilikan silang di media penyiaran televisi.
268
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Atas penghentian penelusuran dugaan kasus kepemilikan silang
yang dilakukan oleh MNC berdasarkan tuduhan dari MPPI,
KPPU mengeluarkan saran dan pertimbangan No:338/K/
VI/2008 pada 5 Juni 2008 terkait dengan penghentian
penanganan dugaan kasus kepemilikan silang di MNC.
Nomor : 338/K/VI/2008
Tanggal 5 Juni 2008
Perihal : Saran dan Pertimbangan KPPU Terkait Penanganan
Kepemilikan Silang di Media Penyiaran Televisi --------------------------------------------------------------------------
Sumber, Materi Kebijakan dan Isu Persaingan Usaha ----------------------------------------------------------------------
KPPU mencermati adanya kerisauan masyarakat atas pemusatan
kepemilikan suatu perusahaan holding pada beberapa media
penyiaran televisi. Beberapa hal yang disimpulkan KPPU
sehubungan dengan isu pemusatan kepemilikan dalam industri
media televisi yaitu : ------------------------------------------------------------------------------------------------------1). Dari penelitian laporan dugaan pemusatan kepemilikan di
industri penyiaran televisi, dapat disimpulkan bahwa pemusatan
kepemilikan terjadi secara efektif yang berarti terdapat kontrol
atau kendali yang nyata dari perusahaan induk yang berpengaruh
pada rencana strategis anak perusahaannya.---------------------------------------------------------------------------------2). MNC tidak bertindak sebagai pemegang posisi dominan dalam
industri penyiaran televisi jika dilihat dari pasar relevannya.
KPPU juga belum menemukan adanya dampak negatif dari
pemusatan kepemilikan terhadap pasar bersangkutan. Namun,
KPPU tetap melakukan monitoring terhadap perilaku pelaku
usaha di industri penyiaran ----------------------------------
Isi Pertimbangan ---------------------------------------------------------------------------- ------------------------------
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
269
Dari hasil kajian KPPU terhadap UU Penyiaran, disimpulkan
bahwa undang-undang tersebut berupaya mencegah terjadinya
pemusatan kepemilikan, baik oleh individu maupun badan
hukum mana pun yang bermuara pada terjadi­nya monopoli
informasi. Oleh karena itu, KPPU mendukung setiap langkah
pemerintah untuk mengimplementasikannya dengan langkah
penertiban lisensi penyiaran yang tidak memperbolehkan adanya
bentuk-bentuk kegiatan yang memiliki dampak terjadinya
pemusatan kepemilikan --------------------------------------------------------------------------------------------------Selain itu, KPPU merekomendasikan pemerintah secepatnya
melakukan revisi terhadap PP No. 50 Tahun 2005 tentang
Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta, di
mana PP tersebut bertentangan dengan semangat dan prinsip
UU Penyiaran. -----------------------------------------------------------------------------------------------------------Saran dan pertimbangan KPPU Nomor: 338/K/VI/2008 yang
dikeluarkan pada tanggal 5 Juni 2008 tersebut merupakan bukti
bahwa KPPU benar-benar menghentikan sengketa penelusuran
dugaan kepemilikan silang di MNC.
Dalam saran dan pertimbangan KPPU Nomor: 338/K/VI/2008
yang dikeluarkan pada 5 Juni 2008, secara garis besar KPPU
memberikan pendapat bahwa pemusatan kepemilikan terjadi
secara efektif yang berarti terdapat kontrol atau kendali yang
nyata dari perusahaan induk yang berpengaruh pada rencana
strategis anak perusahaannya. Namun, MNC tidak bertindak
sebagai pemegang posisi dominan dalam industri penyiaran
televisi jika dilihat dari pasar relevannya. Di samping itu, KPPU
juga belum menemukan adanya dampak negatif dari pemusatan
kepemilikan terhadap pasar bersangkutannya. Namun, KPPU
tetap harus melakukan monitoring terhadap perilaku pelaku
usaha di industri penyiaran.
270
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
KPPU menyarankan kepada pemerintah untuk meng­
implementasikannya dengan langkah penertiban lisensi
penyiaran yang tidak mem­per­bolehkan adanya bentuk-bentuk
kegiatan yang memiliki dampak terjadinya pemusatan kepe­
milikan. Sebagai perusahaan induk atau holding company, MNC
dinilai tidak terbukti mengendalikan langsung 3 (tiga) stasiun
televisi yang dikuasainya yaitu RCTI, Global TV, dan TPI.
Dari sisi pasar dan penyiaran, ketiga stasiun televisi tersebut
hanya menguasai tidak lebih dari 35% (tiga puluh lima persen)
sehingga tidak ada penguasaan pasar lebih dari 50% (lima puluh
persen).
Di samping itu, KPPU tidak memiliki cukup bukti untuk
melanjutkan penelusuran menuju pemeriksaan pendahuluan.
MNC dianggap tidak melakukan pelang­garan terhadap UU
Persaingan Usaha karena ketiga stasiun televisi tersebut, yaitu
RCTI, Global TV, dan TPI menjalankan bisnisnya secara
terpisah, dan tidak ada dominasi pertelevisian, termasuk oleh
MNC. Ukurannya adalah pangsa pasar dari segi pemirsa dan
iklan yang belum melebihi 50% (lima puluh persen). Sebaiknya,
dalam hal dugaan kepemilikan silang khususnya yang dialami
oleh MNC, terlebih dahulu ditangani menggunakan UU
Penyiaran oleh Depkominfo.
Namun, penghentian dugaan kasus kepemi­likan silang
MNC ini disayangkan oleh MPPI. MPPI ber­
ang­
gapan
seharusnya KPPU tidak hanya melihat dari penguasaan pangsa
pasar oleh MNC karena memiliki 3 (tiga) stasiun televisi yaitu
RCTI, Global TV, dan TPI, melainkan yang terpenting adalah
melarang penguasaan akses informasi.
Terlebih lagi, di samping MNC menguasai 3 (tiga) stasiun
televisi yaitu RCTI, Global TV, dan TPI, MNC juga menguasai
beberapa media cetak, radio, internet portal, dan akses informasi
lainnya. MPPI pun juga sangat menyayangkan bahwa somasi
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
271
yang diajukan kepada pemerintah tidak direspons dengan baik.
Bertentangan dengan MPPI, MNC sangat menyambut
baik keputusan KPPU dengan dikeluarkannya saran dan
pertimbangan KPPU Nomor: 338/K/VI/2008 tanggal 5 Juni
2008. Tuduhan kepada MNC dianggap tidak proporsional dan
menampik bahwa MNC memo­nopoli informasi karena porsi
siaran terbesar di MNC adalah hiburan. Pendapat lainnya
adalah bila melihat pada penguasaan pasar, MNC diduga
melakukan pelanggaran UU Persaingan Usaha atas tindakannya
yaitu penguasaan yang diatur dalam Pasal 19 UU Persaingan
Usaha:
Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa
kegiatan, baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain yang
dapat mengakibatkan terjadinya monopoli dan/atau persaingan
usaha tidak sehat berupa:
a. Menolak dan/atau menghalangi pelaku usaha tertentu
untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar
bersangkutan, atau
b. Menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha
pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha
dengan pelaku usaha pesaingnya itu, atau
c. Membatasi peredaran dan/atau penjualan barang dan/atau
jasa pada pasar bersangkutan, atau
d. Melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku usaha
tertentu.
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal
19 UU Persaingan Usaha adalah unsur pelaku usaha, unsur
kegiatan menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan
kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan, unsur
pasar bersangkutan, dan unsur persaingan usaha tidak sehat.
Dalam dugaan kasus kepemilikan silang ini, MNC hanya
memenuhi unsur sebagai pelaku usaha karena yang dimaksud
272
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dengan pelaku usaha menurut ketentuan Pasal 1 angka (5) UU
Persaingan Usaha adalah:
“Setiap orang perorangan atau badan hukum, baik yang
berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum, yang
didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan
berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”.
Dalam hal ini, MNC dapat didefinisikan sebagai badan
hukum atau perseroan terbatas karena telah sah berdiri
pada tahun 1997 dengan nama PT Panca Andika Mandiri
berkedudukan di Jakarta yang kemudian melakukan perubahan
nama menjadi PT Media Nusantara Citra pada tahun 2002 serta
melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public
offering (IPO) pada tahun 2007 sehingga status perusahaan
menjadi terbuka (go public). MNC bergerak di bidang usaha
perdagangan umum, pembangunan, perindustrian, pertanian,
pengangkutan, perce­
takan, investasi di bidang multimedia
melalui perangkat satelit dan perangkat telekomunikasi lainnya,
termasuk distribusi dan produksi konten. Dengan demikian,
unsur pelaku usaha terpenuhi. Sementara unsur-unsur lain
yaitu unsur kegiatan menghalangi pelaku usaha tertentu untuk
mela­kukan kegiatan usaha yang sama pada pasar ber­sangkutan,
unsur pasar bersangkutan, dan unsur persaingan usaha tidak
sehat, tidak terpenuhi.
Hal itu dapat dilihat bahwa jika pangsa pasar dari ketiga
stasiun televisi yang dimiliki oleh MNC yaitu RCTI, Global
TV, dan TPI dihitung secara total, maka pangsa pemirsa
gabungannya adalah sebesar kurang dari 35% (tiga puluh lima
persen) atau tepatnya adalah sebesar 34,9% (tiga puluh empat
koma sembilan persen). Ini menunjukkan bahwa kepemilikan
silang oleh MNC yaitu RCTI, Global TV, dan TPI tidak
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
273
menyebabkan adanya posisi dominan atau penguasaan pasar
oleh MNC dalam pasar program atau acara. Selain itu, ketiga
stasiun televisi di bawah MNC yaitu RCTI, Global TV, dan
TPI juga tidak melakukan kegiatan yang membatasi pemirsa
untuk memilih acara yang ingin ditonton.
Dari sisi input-nya, ketiga stasiun televisi di bawah MNC
yaitu RCTI, Global TV, dan TPI juga tidak menerapkan
perjanjian yang memberatkan penyedia konten dan tidak
menekan harga yang ditawarkan oleh penyedia konten dalam
hal menjual produknya kepada stasiun televisi di bawah MNC.
Stasiun televisi di bawah MNC juga tidak terbukti membatasi
penyedia konten untuk menjual produknya kepada stasiun
televisi lainnya. Sementara itu, pasar iklan RCTI, Global TV,
dan TPI secara akumulatif sebesar kurang dari 35% (tiga puluh
lima persen) atau tepatnya sebesar 34,5% (tiga puluh empat
koma lima persen). RCTI menguasai 15,2% (lima belas koma
dua persen) pangsa iklan, Global TV menguasai 8,3% (delapan
koma tiga persen) pangsa iklan, dan TPI menguasai 11%
(sebelas persen) pangsa iklan.
Hal itu menunjukkan bahwa dugaan kepe­milikan silang
yang dituduhkan kepada MNC atas kepemilikan silang RCTI,
Global TV, dan TPI tidak menyebabkan adanya posisi dominan
dalam industri televisi terestrial nasional. Begitu pula dengan
tarif iklan yang ditawarkan oleh ketiga stasiun televisi di bawah
MNC, yaitu RCTI, Global TV, dan TPI masih berada dalam
range harga yang wajar. Bahkan harga slot iklan yang ditawarkan
oleh stasiun televisi di bawah MNC bukanlah harga yang
tertinggi di pasar iklan. Ketiga stasiun televisi di bawah MNC
yaitu RCTI, Global TV, dan TPI pun tidak pernah menerapkan
persyaratan yang memberatkan agensi iklan dalam membeli slot
iklan yang ditawarkan oleh stasiun televisi di bawah MNC, dan
ketiga stasiun televisi di bawah MNC yaitu RCTI, Global TV,
274
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dan TPI tidak pernah membatasi agensi iklan untuk memilih
slot iklan yang ditawarkan oleh stasiun televisi lainnya.
Pendapat lain KPPU terkait dengan dugaan penyalah­
gunaan posisi dominan bahwa di samping diduga melakukan
pelanggaran terhadap Pasal 19 UU Persaingan Usaha, MNC
diduga melakukan pelanggaran terhadap Pasal 25 ayat (1) dan
(2) UU Persaingan Usaha. Untuk mengetahui apakah MNC
melanggar atau tidak, terlebih dahulu diteliti unsur-unsur dalam
Pasal 25 ayat (1) huruf a UU Persaingan Usaha. Pasal 25 ayat (1)
huruf a UU Persaingan Usaha menyatakan:
“Pelaku usaha dilarang menggunakan posisi dominan, baik
secara langsung maupun tidak langsung, untuk menetapkan
syarat-syarat perda­gangan dengan tujuan mencegah dan atau
menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa yang
bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas”.
Pasal 25 ayat (1) huruf a UU Persaingan Usaha mengan­
dung 2 (dua) unsur yaitu unsur pelaku usaha dan unsur posisi
dominan. Unsur posisi dominan, sebagaimana disebutkan dalam
Pasal 1 angka 4 UU Persaingan Usaha adalah:
“Keadaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing
yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan posisi
pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi
tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam
kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses, serta
kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan
barang atau jasa tertentu”.
Dilihat dari struktur pasarnya, industri stasiun televisi
terestrial memang tergolong oligopoli. Hal itu bisa dilihat dari
sedikitnya jumlah pemain atau pelaku usaha yang ada dalam
industri ini. Meskipun demikian, tidak ada satu pun pemain
dominan. Hal itu bisa dilihat dari penguasaan pangsa pasar
para pelaku usahanya dan tidak ada pelaku usaha menguasai di
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
275
atas 50% (lima puluh persen) pangsa pasar. Demikian juga kita
lihat dari sisi grup pemilik stasiun televisi free to air, tidak ada
penyalahgunaan posisi dominan oleh ketiga stasiun televisi di
bawah MNC yaitu RCTI, Global TV, dan TPI, baik kepada
pemirsa maupun kepada penyedia konten dan agensi iklan,
karena tidak ada perjanjian eksklusif atau perjanjian yang
memberatkan pihak konten dan agensi iklan.
Hingga saat ini tidak ada stasiun televisi di bawah MNC
yang melakukan pembatasan, baik pembatasan informasi kepada
pemirsa maupun pembatasan slot iklan kepada pemirsa maupun
pembatasan slot iklan kepada agensi iklan. Begitu pula dalam
hal penguasaan frekuensi, MNC tidak membatasi pelaku usaha
lain yang potensial untuk masuk ke industri stasiun televisi
terestrial.
Penguasaan frekuensi terkait erat dengan izin siaran dan
hingga saat ini Depkominfo sebagai institusi yang berwenang
mengeluarkan izin siaran hanya memberikan izin kepada 11
(sebelas) lembaga penyiaran swasta. Dengan tidak terpenuhinya
salah satu unsur dalam Pasal 25 ayat (1) huruf a UU Persaingan
Usaha maka dugaan pelanggaran yang dilakukan MNC tersebut
tidak terpenuhi.
KPPU juga memberikan pendapat terkait dengan bidang
penyiaran yaitu kepemilikan silang di lembaga penyiaran
swasta diatur secara umum dalam UU Penyiaran dan secara
khusus dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005
tentang Penyelenggaraan Penyiaran dan Lembaga Penyiaran
Swasta. Kedua aturan tersebut pada dasarnya melarang adanya
kepemilikan oleh satu badan hukum di beberapa lembaga
penyiaran swasta di daerah (provinsi) yang sama dalam rangka
menghindari industri penyiaran dari praktik monopoli informasi
dan opini.
Dilihat dari konteks tersebut, peraturan tersebut belum
276
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
bisa diterapkan saat ini karena sistem yang berlaku dalam
industri penyiaran di Indonesia belum menganut sistem
jaringan. Hingga saat ini, izin penyiaran yang dimiliki oleh
stasiun televisi di bawah MNC yaitu RCTI, Global TV, dan
TPI adalah izin penyiaran dengan jangkauan nasional sehingga
dugaan terhadap UU Penyiaran yang dilakukan MNC tidak
berdasar.
Di samping itu, MNC juga bukan merupakan lembaga
penyiaran sehingga tidak masalah bila MNC memiliki 3
(tiga) stasiun televisi yaitu RCTI, Global TV, dan TPI, juga
televisi berbayar atau pay TV karena dalam Pasal 33 Peraturan
Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan
Penyiaran dan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) menyatakan
bahwa larangan kepemilikan silang itu terhadap entitas lembaga
penyiaran swasta, dan bukan pada perseorangan atau badan
hukum.
Pasal 33 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005
tentang Penyelenggaraan Penyiaran dan Lembaga Penyiaran
Swasta, yaitu:
“Kepemilikan yang diizinkan yaitu apabila kepemilikan satu
LPS radio dan satu lembaga penyiaran berbayar (LPB) atau TV
berlangganan dan atau satu media cetak pada wilayah yang sama
atau kepemilikan satu LPS televisi dan satu LPB dan satu media
cetak pada wilayah yang sama; atau kepemilikan satu, LPS radio
dan satu LPS televisi, dan satu LPB pada wilayah yang sama”.
Sementara pada Pasal 18 ayat (2) UU Penyiaran disebutkan
bahwa kepemilikan silang antara LPS yang menyelenggarakan
jasa penyiaran radio dan LPS yang menyelenggarakan jasa
penyiaran televisi, antara LPS dan perusahaan media cetak,
serta antara LPS dan LPS jasa penyiaran lainnya, baik langsung
maupun tidak langsung, dibatasi.
Padahal UU Penyiaran mempunyai filosofi mencegah
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
277
monopoli kepemilikan dan demokratisasi informasi melalui
penganekaragaman kepemilikan silang antara LPS yang
menyelenggarakan jasa penyiaran radio dan LPS yang
menyelenggarakan jasa penyiaran televisi, antara LPS dan
perusahaan media cetak, serta antara LPS dan LPS jasa penyiaran
lainnya, baik langsung maupun tidak langsung, dibatasi. Padahal
UU Penyiaran mempunyai filosofi mencegah monopoli kepe­
milikan dan demokratisasi informasi melalui peng­anekaragaman
kepemilikan dan konten isi siaran. Walaupun MNC menguasai
100 (seratus) frekuensi dari 250 (dua ratus lima puluh) lebih
frekuensi yang ada, sebaiknya pemerintah bersama Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) tetap harus mencari titik temu agar
demokratisasi informasi melalui keanekaragaman kepemilikan
dan konten isi siaran LPS bisa tercapai.
Pendapat-pendapat di atas menjadi dasar bahwa KPPU
tidak memiliki cukup bukti untuk melanjutkan pada pemeriksaan
lanjutan atas dugaan kepemilikan silang yang dilakukan oleh
MNC. Oleh karena itu, KPPU hanya mengeluarkan saran
dan pertimbangan KPPU Nomor: 338/K/VI/2008 yang
dikeluarkan pada 5 Juni 2008. Seperti kita ketahui, dugaan
kasus kepemilikan silang oleh MNC ini menimbulkan polemik
yang rumit. Kerumitan ini dipicu oleh pandangan yang melihat
adanya perbedaan aturan antara pembatasan kepemilikan yang
dimaksudkan dalam UU Penyiaran dan Pemusatan Kepemilikan
dalam UU Persaingan Usaha. Dalam UU Persaingan Usaha
juga ditemui kesulitan untuk mengukur penguasaan pasar yakni
apakah cukup diukur melalui gambaran angka rating yang
menggambarkan pemirsa atau distribusi pemasukan iklan.
KPPU sendiri berpendapat bahwa kasus ini dapat
dipertajam dengan menempatkan konteks kepemilikan saham
dengan kepemilikan frekuensi yang pembuktiannya dengan
melihat apakah MNC menguasai frekuensi sebagai pemilik
278
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
barang milik publik. Namun, akhirnya KPPU menghentikan
pemeriksaan dugaan kasus ini karena KPPU beranggapan
tidak mempunyai cukup bukti untuk melanjutkan kasus ini
ke tahap selanjutnya yaitu pemeriksaan pendahuluan. Seperti
yang diungkapkan perwakilan KPPU, yaitu: “Juga tidak ada
penguasaan struktur pasar lebih dari 50 persen. Dari sisi pasar
penyiaran dan periklanan, ketiga stasiun televisi itu hanya
menguasai sekitar 34 persen dari hasil pembahasan sidang pleno
KPPU.
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1
Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara menya­
takan, pemeriksaan pendahuluan adalah serangkaian kegiatan
yang dilakukan oleh Majelis Komisi terhadap laporan dugaan
pelanggaran untuk menyimpulkan perlu atau tidak perlu
dilakukan pemeriksaan lanjutan. Kemudian menurut Peraturan
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010
tentang Tata Cara Penanganan Perkara, pemeriksaan lanjutan
adalah serangkaian kegiatan yang dila­kukan oleh Majelis Komisi
terhadap adanya dugaan pelanggaran untuk menyimpulkan ada
atau tidak adanya bukti pelanggaran.
Pasal 2 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara
menyatakan, penanganan perkara berdasarkan:
a. Laporan pelapor, terdiri atas tahap sebagai berikut:
laporan, klarifikasi, penyelidikan, pemberkasan, sidang
majelis komisi, putusan komisi.
b. Laporan pelapor dengan permohonan ganti rugi, terdiri
atas tahap sebagai berikut: laporan, klarifikasi, sidang
Majelis Komisi, dan putusan Majelis Komisi.
c. Inisiatif komisi terdiri atas tahap sebagai berikut: kajian,
penelitian, pengawasan pelaku usaha, penyelidikan,
pemberkasan, sidang Majelis Komisi, putusan komisi.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
279
Selain itu, sejumlah pasal dalam UU Penyiaran menetapkan
larangan pemusatan kepemilikan perusahaan penyiaran, di
antaranya:
a. Pasal 18 ayat (1) UU Penyiaran yang menya­takan, pemu­
satan kepemilikan dan penguasaan lembaga penyiaran
swasta oleh satu orang atau satu badan hukum, baik di satu
wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, dibatasi.
b. Pasal 18 ayat (2) UU Penyiaran yang menya­
takan
kepemilikan silang antara lembaga penyiaran swasta yang
menyelenggarakan jasa penyiaran radio dan lembaga
penyiaran swasta yang menyelenggarakan jasa penyiaran
televisi, antara lembaga penyiaran swasta dan perusahaan
media cetak, serta antara lembaga penyiaran swasta dan
lembaga penyiaran swasta jasa penyiaran lainnya, baik
langsung maupun tidak langsung, dibatasi.
c. Pasal 34 ayat (4) UU Penyiaran yang menya­takan izin
penyelenggaraan penyiaran dila­rang dipindahtangankan
kepada pihak lain.
Terhadap Pasal 18 dan Pasal 34 UU Penyiaran ini, sejumlah
lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang media yakni
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Pemantau Regulasi
dan Regulator Media (PR2Media) Media Link, Yayasan 28,
dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers yang tergabung
dalam Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran
(KIDP) pada 18 Oktober 2011 mengajukan permohonan uji
materi atas tafsir Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (4) UndangUndang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 dan uji materi pasalpasal tersebut terhadap Pasal-pasal 28D, 28F, dan 33 ayat (3)
Undang-Undang Dasar 1945. Terhadap permohonan tersebut,
Mahkamah Konstitusi telah menerima permohonan uji materi
dan diberi nomor tanda terima pengajuan perkara 382/PAN.
MK/X/2011.
280
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Upaya hukum ini ditempuh oleh KIDP menyusul
penafsiran sepihak oleh badan hukum/perseorangan terhadap
Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (4) UU Penyiaran, demi kepen­
tingan dan keuntungan sekelompok pemodal atau orang tertentu
saja. Akibat penafsiran sepihak dua pasal tersebut, telah muncul
masalah pemusatan kepemilikan stasiun penyiaran televisi dan
radio di tangan segelintir pengusaha dan praktik jual-beli izin
prinsipal penyiaran, termasuk frekuensi penyiaran dengan dalih
perpindahan atau penjualan saham usaha penyiaran.
Dalam permohonan uji materi tersebut, KIDP menya­takan
penyiaran adalah suatu usaha yang menggunakan frekuensi yang
tergolong sebagai sumber daya alam terbatas dan seharusnya
digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Namun, saat ini terjadi praktik jual-beli frekuensi penyiaran dan
pemusatan kepemilikan bisnis penyiaran, termasuk penguasaan
opini publik, aset-aset ekonomi penyiaran, yang berpotensi
membatasi, mengurangi hak warga negara dalam menyatakan
pendapat, memperoleh informasi, dan hak berekspresi, yang
bertentangan dengan tujuan konstitusi. Contoh konkretnya
adalah:
a. Dominasi dan pemusatan kepemilikan oleh badan hukum
penyiaran. Pertama, pem­berian, penjualan, dan pengalihan
Izin Penye­lenggaraan Penyiaran (IPP) dalam kasus PT
Visi Media Asia Tbk. yang menguasai PT Cakrawala
Andalas Televisi (ANTeve) dan PT Lativi Media Karya
(TVOne) yang terjadi sekitar Februari 2011.
b. Pemberian, penjualan, dan pengalihan Izin Penyeleng­
garaan Penyiaran (IPP) dalam kasus PT Elang Mahkota
Teknologi (Emtek) Tbk. yang menguasai PT Indosiar
Karya Media yang memiliki PT Indosiar Visual Mandiri
(Indosiar), dan menguasai PT Surya Citra Media Tbk.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
c.
281
(SCMA) yang memiliki PT Surya Citra Televisi (SCTV)
yang dilakukan sekitar Juni 2011.
Pemberian, penjualan, dan pengalihan Izin Penyeleng­
garaan Penyiaran (IPP) dalam kasus PT Media Nusantara
Citra Tbk. yang menguasai/memiliki PT Cipta Televisi
Pendidikan Indonesia (TPI/MNCTV), PT Rajawali
Citra Televisi Indonesia (RCTI), dan PT Global Informasi
Bermutu (Global TV), yang dilakukan sekitar Juni 2007.
Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran
(KIDP) menilai Mahkamah Konstitusi dibentuk sebagai
lembaga pelindung konstitusi (the guardian of constitution)
dapat membatalkan keberadaan UU secara menyeluruh ataupun
per pasalnya jika bertentangan dengan konstitusi, yakni UndangUndang Dasar 1945. Mahkamah Konstitusi (MK) juga berhak
memberikan penafsiran terhadap ketentuan di dalam pasal
undang-undang agar sesuai dengan nilai-nilai konstitusi. Tafsir
Mahkamah Konstitusi terhadap konstitusionalitas pasal-pasal
pada undang-undang tersebut merupakan tafsir satu-satunya
(the sole interpreter of constitution) yang memiliki kekuatan
hukum, sehingga terhadap pasal-pasal yang memiliki makna
ambigu, tidak jelas, dan/atau multitafsir dapat dimintakan
penafsirannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK).
Para pemohon ini mengajukan beberapa permohonan
kepada Mahkamah Konstitusi, di antaranya adalah:
a. Mengabulkan seluruh permohonan para pemohon.
b. Menyatakan tafsir sepihak pelaksanaan Pasal 18 ayat (1)
dan Pasal 34 ayat (4) UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran adalah inkonstitusional.
c. Menyatakan Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (4) UU
Penyiaran konstitutional sepanjang ditafsirkan sebagai
berikut : (a). Pasal 18 ayat (1) UU Penyiaran selain yang
282
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
tersebut di dalam UU penyiaran. Harus ditafsirkan:
“satu badan hukum apa pun di tingkat mana pun atau
perseorangan, tidak boleh memiliki lebih dari 1 (satu)
izin penyelenggaraan penyiaran jasa penyiaran televisi,
yang berlokasi di 1 (satu) provinsi.” (b). Pasal 34 ayat (4)
UU Penyiaran, harus ditafsirkan: “bahwa segala bentuk
pemindahtanganan IPP dan penguasaan/kepemilikan
lembaga penyiaran dengan cara dijual, dialihkan kepada
badan hukum lain atau perseorangan lain di tingkat mana
pun bertentangan dengan UU Penyiaran.”
d. Memperingatkan seluruh lembaga penyiaran di Indonesia
agar menaati peraturan yang berlaku, tidak membuat
tafsir atas undang-undang yang melanggar hukum dan
menjauhi bisnis penyiaran yang merugikan kepentingan
negara dan masyarakat.
e. Meminta pemerintah dan regulator penyiaran agar
mengambil tindakan tegas dan adil untuk menghentikan
praktik pelanggaran UU Penyiaran dan pemusatan
kepemilikan lembaga penyiaran yang melanggar aturan,
sebelum menghadapi tuntutan hukum masyarakat.
Sampai saat ini, perkara tersebut masih dalam proses
persidangan di Mahkamah Konstitusi dan masih menunggu
keputusan majelis terhadap permohonan pengujian pasal-pasal
tersebut.
4). Praktik Monopoli Media Cetak
Praktik monopoli terjadi pada KKG (Kelompok Kompas
Gramedia) yang memiliki hampir 30 media cetak dan
2 media online. Tuduhan serupa juga dikenakan kepada
Jawa Pos News Network ( JPNN) yang memiliki 97
penerbitan pers. Belum lagi, JPNN akan mengembangkan
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
283
ekspansinya di sektor pertelevisian. Tiras surat kabar
harian (SKH) Kompas adalah 500.000 eksemplar.
Sementara tiras nasional untuk SKH adalah sebesar 4,8
juta eksemplar. Bila melihat sirkulasi koran nasional,
Kompas belum menguasai pasar 50% atau hanya berkisar
10 persen dari pangsa pasar. Di awal 1990-an Kompas memiliki kerajaan bisnis yang
terdiri atas 38 perusahaan yang dikenal sebagai Kelompok
Kompas-Gramedia. (KKG). Kelompok ini gabungan dari
berbagai penerbit buku dan percetakan, stasiun radio, perusahaan
perjalanan/wisata, hotel, mesin alat berat, supermarket,
asuransi, bank industri periklanan, tambak udang, mebel rotan,
perusahaan perfilman, pabrik tisu, warung telekomunikasi,
lembaga pendidikan bahasa Inggris dan komputer, dll. Melalui
berbagai buku, majalah, dan surat kabar, Kompas-Gramedia
mendominasi industri penerbitan. Surat kabar Kompas secara
teratur menerima bagian yang lebih besar (lebih dari seperempat)
dari pendapatan iklan surat kabar nasional. Sejak 1989, di
bawah Divisi Pers Daerah, Kompas-Gramedia merangkul
berbagai koran daerah melalui suntikan modal, redaksional, dan
kolaborasi manajerial.
Adapun media yang berada di bawah Kompas-Gramedia
antara lain Harian Kompas, Tribun Pekanbaru, Bangka Pos,
Surya, Warta Kota, Tribun Batam, dan Tribun Jabar, Majalah
National Geographic, Majalah Bobo, Majalah Hai, Majalah
Kawanku, Tabloid Nova, Majalah Chip, Majalah Info Komputer,
Majalah Angkasa, Majalah Kontan, Majalah What Hi-Fi?,
Tabloid PC Plus, Majalah HotGame, Tabloid Saji, Tabloid
Sedap, Tabloid Bola, Tabloid Soccer, Tabloid Motorplus, Majalah
Otomotif, Majalah Idea, Kompas.com, Radio Otomotif, dan
Radio Sonora.
284
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Jawa Pos merupakan perusahaan pers terbesar kedua, terpusat di
harian terbitan Surabaya. Jawa Pos didirikan oleh keluarga pada
1949. Namun pada 1982, PT Grafiti Pers yang membawahi
majalah berita terbesar di Indonesia, Tempo, melakukan
diversifikasi dengan mengambil alih Jawa Pos yang waktu
itu hampir kolaps. Dahlan Iskan ditunjuk merestorasi koran
itu, dalam waktu satu dekade berhasil mengubah surat kabar
yang sekarat menjadi salah satu dari 200 bisnis terkemuka di
Indonesia.
Pada 1997, Jawa Pos merentangkan tangan ke seluruh
Indonesia dengan 20 surat kabar, 5 tabloid mingguan, dan 4
majalah, di luar 11 percetakan, 1 pabrik kertas, dan 9 perusahaan
nonpenerbitan yang bergerak di wilayah perbankan, hotel,
internet service, dan real estate. Jawa Pos adalah surat kabar
pertama yang berkembang menjadi konglomerat pers melalui
konsentrasi secara eksklusif di pasar provinsi.
Menurut Pasal 27 UU No. 5 Tahun 1999 (UU
Antimonopoli) poin a, satu pelaku usaha atau satu
kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50 persen
pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu dan di
poin b, menguasai 75 persen pangsa pasar.250
2. Kasus Delik Pers
Dalam peraturan dan pendapat para ahli, tidak terdapat
satu pengertian yang jelas tentang delik pers. Oleh karena
itu, pengertian pers yang selalu berkembang akan dapat
memengaruhi pengertian delik pers dari arti yang sempit dan
berkembang menjadi arti yang luas.251 Menurut eks peraturan
250
http://febrinamasaya.blogspot.com/2010/11/media-cetak-vs-ekonomi.html.
Diakes tanggal 15 Oktober 2011
251
Bambang Poernomo, Pertumbuhan Hukum Penyimpangan di Luar Kodifikasi
Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1984, hlm. 51.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
285
Deuk Pers Reglement 1856, delik pers adalah kejahatan atau
pelanggaran dengan mempergunakan barang cetak yang berupa
melipatgandakan tulisan, hasil seni lukis, dan teks musik yang
dihasilkan oleh pekerjaan mesin atau bahan kimia. Apabila arah
pengertiannya mengikuti WvS, dapat disebutkan bahwa delik
pers adalah kejahatan yang dilakukan dengan alat percetakan.252
Sejauh mana kejahatan melalui pers dapat dirumuskan sebagai
delik pers, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
tidak didapatkan rumusan yang pasti.253 Dengan demikian,
untuk mengetahui kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu
kejahatan yang melalui pers dapat dikatakan sebagai delik pers,
maka dapat dilihat beberapa pendapat sarjana sebagai berikut:254
Menurut Oemar Seno Adji, terdapat tiga kriteria yang
harus dipenuhi dalam suatu delik pers, antara lain: 1). Ia harus
dilakukan dengan barang cetakan; 2). Perbuatan yang dipidana
harus terdiri atas pernyataan pikiran atau perasaan; 3). Dari
perumusan delik harus dinyatakan bahwa publikasi merupakan
suatu syarat penting untuk menumbuhkan suatu kejahatan,
apabila kenyataan tersebut dilakukan dengan suatu tulisan.255
Sementara menurut Vos dan Jonkers, delik pers adalah delik
yang dilakukan dengan menggunakan alat pencetak dan pada
pelaksanaannya telah terjadi publikasi.256
Sementara R. Moegono berpendapat, terda­pat kriteria
yang harus dipenuhi oleh suatu kejahatan melalui pers cetak,
yakni harus meme­
nuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1).
Perbuatan yang diancam hukuman harus terdiri atas per­nyataan
Ibid.,
A. Hamzah. Delik-Delik Pers di Indonesia, Jakarta: Media Sarana Press,
1987, hlm.66.
254
Ibid.,
255
Oemar Seno Adji, Pers Aspek-Aspek Hukum, Jakarta: Erlangga. 1997, hlm 297.
256
Bambang Poernomo, Op cit, hlm.51.
252
253
286
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
pikiran dan perasaan orang; (2). Harus dilakukan dengan
barang cetakan; (3). Harus ada publikasi.257 Dari uraian tentang
pengertian delik pers tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
adanya beberapa batasan, yaitu:258 a. dalam pengertian umum,
delik pers adalah kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan
melalui pers; b. dalam pengertian menurut peraturan (yuridis)
sebagaimana tercantum di dalam Reglement op de Druksw erken
1856, delik pers adalah kejahatan atau pelanggaran dengan
mempergunakan barang cetak yang berupa melipatgandakan
tulisan, hasil seni lukis, dan teks musik yang dihasilkan oleh
pekerjaan mesin atau bahan kimia. c. dalam pengertian yang
dibatasi menurut para ahli hukum, dengan persyaratan;
(a) berupa pernyataan pikiran atau pendapat orang;
(b) dilakukan melalui alat cetak atau pers;
(c) dan harus adanya publikasi telah terjadi delik.
Pengertian delik pers menurut ahli hukum yang dibatasi dengan
tiga persyaratan tersebut di atas membawa konsekuensi, bahwa
apabila tidak memenuhi syarat pertama lebih dahulu maka tidak
termasuk golongan delik pers.259
(1).Tommy vs Tempo
Perkara pers masuk ke meja hijau yang cukup menggegerkan
pada tahun 2004 adalah kasus majalah Tempo melawan
Tommy Winata, bos Artha Graha. Perseteruan ini berawal
dari tulisan di Tempo Edisi 3-9 Maret 2003 berjudul “Ada
Tommy di Tenabang?”. Berita ini memuat isu adanya proposal
renovasi Pasar Tanah Abang yang diajukan Tommy, sebelum
pasar tersebut terbakar. Akibat berita itu, timbul keresahan di
B.A Manulu, Delik -Delik Pers di Indonesia, Jakarta: PT Media Sarana
Press, 1987, hlm. 67.
258
Bambang Poernomo.Op cit. hlm.52.
259
Ibid.,
257
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
287
kalangan karyawan Artha Graha, yang kemudian berunjuk rasa
ke kantor redaksi Tempo di Jalan Proklamasi Jakarta Pusat.
Rupanya, tak hanya karyawan Tommy yang jengkel dengan
pemberitaan tersebut. Sebagian korban kebakaran Pasar Tanah
Abang juga marah. Menurut Tommy, kemarahan itu ditujukan
ke kantornya dengan cara melempari kantornya itu dengan
kotoran dan telur. Bahkan, ada yang mengancam Tommy lewat
telepon. Kasus ini menjadi “lebih terhormat” dengan dimintanya
Tommy datang ke Gedung DPR, Senayan, 17 Maret 2003.
Dalam tulisan itu, Tommy disebut sebagai “pemulung besar”.
Sebutan itu membuat Tommy dan orang-orang di sekitarnya
marah, tidak terima. Apalagi, Tommy mengaku tidak pernah
mengajukan proposal renovasi Tanah Abang. Tempo juga tidak
mempunyai cetak biru proposal Tanah Abang. Maka silang
sengketa ini pun masuk ke pengadilan.
Kasus ini disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat. Duduk sebagai terdakwa adalah Pemimpin Redaksi
Tempo Bambang Harymurti, wartawan Ahmad Taufik dan
Teuku Iskandar Ali. Berita ini dianggap bohong sehingga
menimbulkan keonaran di tengah masyarakat. Saksi Tommy
Winata menyatakan tidak pernah mengajukan proposal
renovasi Tanah Abang, dan tidak pernah diwawancarai pihak
Tempo, kata Jaksa Bastian Hutabarat. Pemberitaan itu membuat
resah banyak orang, baik karyawan Tommy maupun pedagang
di Pasar Tanah Abang. Selain itu, menurut Bastian, berita itu
berkonotasi negatif karena menyebut Tommy sebagai “pemulung
besar”. Seperti seorang pengais sampah atau kotoran. Jaksa
berpendapat Bambang terbukti bersalah menyebarkan berita
bohong sehingga menimbulkan keonaran di masyarakat.
Tentang Tommy yang menyatakan tidak pernah diwawan­
carai Tempo dipatahkan oleh argumen Bemarda Rurit yang
288
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
mewawancarai Tommy lewat telepon. Ini diperkuat oleh
bukti tertulis resmi dari PT Telekomunikasi Indonesia. Saksi
Silvia Hasan dan David Tjiu juga membenarkan nomor
yang dihubungi itu milik Tommy Winata. Roy Suryo, pakar
telematika yang menganalisis rekaman itu, juga menegaskan
bahwa suara rekaman itu identik dengan suara Tommy Winata.
Jaksa Penuntut Umum menyatakan Bambang Harymurti,
Ahmad Taufik, dan Teuku Iskandar Ali masing-masing dituntut
hukuman penjara 2 (dua) tahun dan segera ditahan.
Menurut Bambang, jika tuntutan ini diterima oleh majelis
hakim akan membahayakan akses publik terhadap informasi.
“Jika ada orang kuat tidak senang pemberitaan Anda, lalu ia
kirim orang bikin keonaran, Anda akan dituntut menyebarkan
berita yang menimbulkan keonaran, dan bisa dihukum 10 tahun.
Selain itu, Bambang menilai berkas tuntutan jaksa ini aneh
dan terkesan dipaksakan tentang penyebaran berita bohong.
“Apakah bantahan Tommy Winata itu disebut bohong? Kalau
bantahan itu tidak benar, berarti beritanya benar. Sementara
pengacara Todung Mulya Lubis berpendapat, pemberitaan
Tempo menyangkut kepentingan umum sehingga seharusnya
tidak ada tindak pidana. Apalagi, dalam profesi pers tidak ada
kebenaran absolut. “Pers itu mencari kebenaran. Selama mencari
kebenaran itu, kalau kaidah-kaidah jurnalistik sudah dipenuhi,
cover both sides, tidak ada soal dengan pemberitaan itu.
Proses di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terutama pada
tanggal 16 September 2004 menjadi ajang lontaran yel-yel
dan bentangan spanduk dari kedua kelompok. Pada satu sisi,
kelompok pembela Bambang Harymurti dan kawan-kawan
yang antikriminalisasi pers, meminta hakim membebaskannya,
sedangkan kubu lain menolak intervensi terhadap putusan
lembaga peradilan. Pada akhirnya, Majelis Hakim yang diketuai
Suripto dengan hakim anggota Koesriyanto dan Ridwan
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
289
Mansur, menyatakan bahwa Bambang Harymurti terbukti
secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana
menyiarkan berita bohong, dan dengan sengaja menimbulkan
keonaran di kalangan rakyat dan melakukan fitnah secara
bersama-sama.
Berita di Majalah Tempo edisi 3-9 Maret 2003 dengan
judul “Ada Tommy di Tenabang?” dinilai merugikan Tommy
serta tidak didasari bukti dan fakta yang kuat. Sesuai dengan
fakta di persidangan, Tommy Winata tidak terbukti berada di
balik kebakaran Pasar Tanah Abang. Bukti proposal renovasi
Tanah Abang yang diajukan Tommy Winata tiga bulan sebelum
peristiwa kebakaran, juga tidak ada.
Fakta berikutnya, Tommy tidak mendapat keuntungan
besar atas kebakaran itu. Selanjutnya, sumber berita yang ditulis
Tempo juga tidak dapat ditunjukkan di persidangan. Atas dasar
itu, Majelis Hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa
Bambang Harymurti selama satu tahun penjara. Sudah
sewajarnya terdakwa bertanggung jawab atas pemberitaan tetapi
Bambang tidak otomatis menjalani pidana tersebut. Sementara
terdakwa Ahmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali, keduanya
terbukti bersalah melakukan tindak pidana dan perbuatan
tindak pidana mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh
kedua terdakwa. Alasannya, Majelis Hakim mengacu pada UU
Pers yang menyatakan, dalam perusahaan pers ada redaksi dan
nonredaksi, sehingga dalam soal pemberitaan, yang bertanggung
jawab adalah atasannya.
Kepada pers, Darwin Aritonang penasihat hukum
ketiga terdakwa, mengatakan bahwa dakwaan Jaksa Penuntut
Umum Bastian Hutabarat terhadap ketiga terdakwa kabur dan
tidak cermat, tetapi majelis hakim tidak berani secara tegas
membebaskan terdakwa. Pembebasan dari hukuman penjara
terhadap Ahmad Taufik dan Iskandar Ali dengan alasan sesuai
290
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
dengan Pasal 12 UU No.40 Tahun 199 tentang Pers itu sekadar
lips service. Sekadar menyiratkan bahwa perkara tersebut sudah
diadili dengan Undang-Undang Pers.
Sementara dakwaan subsider pada Pasal 310 dan 311 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur
penyerangan kehormatan dan nama baik, serta fitnah dianggap
kabur dan tidak cermat. Hal itu terlihat dari putusan majelis
hakim yang tidak konsisten dengan menggunakan Pasal 12
Undang-Undang Pers untuk membebaskan terdakwa Taufik
dan Iskandar Ali. Padahal, di dalam dakwaan UU Pers sama
sekali tidak dipertimbangkan.
Dipakainya UU Pers ini memang cukup mengagetkan
banyak kalangan. Sebab, sebelumnya kendati mendapat desakan
sana-sini, para hakim terkesan tak mau melirik UU Pers.
Alasannya, pihaknya (majelis hakim) tidak mungkin memutus
perkara ini di luar dakwaan jaksa yang menuntut kasus itu
dengan KUHP, bukan dengan UU Pers. Jaksa Penuntut Umum
juga terkejut dengan putusan hakim yang “menyelipkan”
pertimbangan pasal UU Pers. Putusan itu kontradiktif. Seusai
vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terdakwa Bambang
Harymurti dan Ahmad Taufik langsung mengajukan banding,
sedangkan Iskandar Ali mengajukan kasasi. Iskandar Ali
mengajukan kasasi karena tidak puas dengan putusan majelis
hakim tingkat pertama yang seharusnya memberikan putusan
bebas murni kepada terdakwa Iskandar Ali.
(2). Prita vs RS Omni
Keluhan pelanggan adalah lumrah, sebab mereka membayar
setiap pelayanan yang diterima. Jika pelayanan kurang
memuaskan, mereka pasti mengeluh. Ke mana biasanya
pelanggan jasa pelayanan publik mengeluh sehingga mendapat
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
291
perhatian pemberi jasa pelayanan?.
Ada banyak sarana untuk menyampaikan keluhan jika
menghadapi masalah dalam me­
man­
faatkan jasa pelayanan
publik. Melalui surat pembaca di media cetak, agar publik tidak
meng­alami keluhan yang sama. Ada pula yang disam­paikan
dari mulut ke mulut, lewat saudara, tetangga, dan teman. Di
zaman serba elektronik, keluhan bisa dikabarkan melalui surat
elektronik atau e-mail, juga melalui mailing list pada temanteman satu komunitas. Di samping kabar cepat sampai, reaksi
pun lebih cepat datang.
Satu di antara banyak keluhan yang disam­
paikan
lewat e-mail dilakukan Prita Mulyasari. Pasien Rumah Sakit
Omni Internasional di Tangerang, Banten ini, mengeluhkan
buruknya pelayanan yang telah dia alami, kepada temantemannya, melalui mailing list. Sebab, keluhan yang disampaikan
kepada pihak rumah sakit dan dokter yang melayani, tidak
memuaskan dirinya. Prita awalnya memeriksakan diri pada 7 Agustus 2008 dengan
keluhan badan terasa panas tinggi dan sakit kepala. Ia ditangani
dr. Hengky dan dr. Indah. Diagnosisnya adalah demam berdarah
(DB) dan disarankan rawat inap. Semasa rawat inap, Prita
merasakan berbagai kejanggalan seperti terus diberi berbagai
suntikan tanpa penjelasan apa pun. Bahkan, tangan, leher,
dan daerah sekitar mata mengalami pembengkakan. Ketika
Prita memutuskan untuk pindah rumah sakit, ia kesulitan
mendapatkan data medis dirinya. Yang dipermasalahkannya
adalah mengapa diagnosis awal 27.000 trombosit bisa berubah
mendadak menjadi 181.000 trombosit. Prita mempertanyakan
perbedaan yang signifikan itu. Isi e-mail Prita Mulyasari sebagai
berikut:
292
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
From : prita mulyasari [mailto. [email protected]]
Sent : Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To:
customer_care@ banksinarmas. com; hendra.
goenawan@
banksinarmas. com; Hendra
Goenawan; mario pasla; Lesthya theresa; Lucy
Juliana Sapri; Andri Nugroho; Anton Ferdiansyah;
ADI ATMANTO; Adia Adithiya Pradithama;
Cindy Robertha; Credit Card Supervisor; Yusuf
Centerix; [email protected]; kakak gue;
Setiawan Diana; Johan; Nadhya Budhiman; Renny
Rosanna; Vanty Valentina
Subject: Penipuan OMNI International Hospital Alam
Sutera Tangerang
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa
manusia lainnya, terutama anak-anak, lansia dan bayi.
Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS
dan title International karena semakin mewah RS dan
semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien,
penjualan obat dan suntikan. Saya tidak mengatakan semua
RS International seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini
di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008
jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing
kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa
RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti
mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya
dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan
darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan
kondisi normalnya adalah 200.000, saya diinformasikan
dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya
wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
293
ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya
dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah
menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan
tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama
sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah
dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya
menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah
positif demam berdarah. ..........................................................
Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB
saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di
RS ini tapi tidak ada follow upnya sama sekali. Lalu hasil lab
yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000
bukan 27.000. --------------------------------------------Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat
jelas surat tertujunya ke mana kan? makanya saya sebut
Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hatihati dengan permainan mereka yang mempermainkan
nyawa orang. Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan
santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai
dengan standard International yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk
mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke
Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi
suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen
hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan
kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal
yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan
diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan
makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikare­
nakan
biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya
294
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin tapi RS
ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu
pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS
Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr. Mimi
dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian siasia hanya demi perusahaan Anda.
Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga,
saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati
dengan perawatan medis dari dokter ini.
salam,
Prita Mulyasari
Tindakan Prita didasari alasan bahwa dia telah membayar
mahal pelayanan yang mestinya diperoleh dari rumah sakit
berstandar internasional. Namun, tanggapan pihak RS Omni
luar biasa. Keluhan kecil yang disampaikan kepada teman,
dinilai pihak manajemen Rumah Sakit Omni Internasional
telah mencemarkan nama baik rumah sakit itu, sehingga Prita
diperkarakan melalui jalur hukum.
Melalui laporan yang disampaikan pihak manajemen
Rumah Sakit Omni Internasional, polisi dan jaksa dengan
mudah menemukan pasal-pasal yang dilanggar Prita. Kedua
lembaga penegak hukum itu menuduh Prita melanggar Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (Pasal 310 dan 311 KUHP,
dan 27 ayat 3 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
yang berbunyi: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak
mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau
membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan
dan/atau pencemaran nama baik.” Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
295
Karena ancaman hukuman maksimalnya disebutkan
dalam Pasal 45 ayat 1 UU yang sama lebih dari 5 tahun
penjara atau tepatnya 6 tahun penjara, Prita Mulyasari pun
ditahan. Tindakan cepat jaksa dengan menjerat Prita ternyata
menjadi cemoohan publik. Terlebih ada dugaan gratifikasi
oleh RS Omni terhadap Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang.
Sebab, RS Omni Internasional memberikan layanan medical
check up dan papsmear cuma-cuma untuk para pegawai Kejari
Tangerang. Pengumuman yang sempat ditempel di Gedung
Kejari Tangerang ini dikeluarkan 18 Mei 2009, sedangkan Prita
ditahan lima hari sebelumnya.
Reaksi pun deras berdatangan. Apalagi saat itu tengah
berlangsung kampanye pemilu legislatif. Para politisi
memanfaatkan kesempatan “menolong” Prita, demi merebut
simpati. Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri
langsung menyambangi Prita yang ditahan di LP khusus wanita
di Tangerang
Dalam perkara pidana pada Pengadilan Negeri Tangerang
Prita Mulyasari dibebaskan atas dakwaan melakukan penghinaan
kepada Rumah Sakit Omni International. Sementara pada
pengadilan yang sama, Pengadilan Negeri Tangerang dan
Pengadilan Tinggi Banten menyatakan Prita bersalah dalam
perkara perdata sehingga divonis membayar denda Rp 204 juta.
Denda ini adalah pengganti kerugian moril dan materiil yang
dialami RS Omni.
Vonis ini memicu gelombang simpati kedua pada Prita. Mantan
Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan akan membayar
separuh dari denda yang dibebankan kepada Prita. Tak kalah
mengharukan reaksi dari masyarakat. Mereka menghimpun
dana dengan cara unik, yakni mengumpulkan uang logam (koin)
receh, untuk membayar denda kepada RS Omni. Mahkamah
296
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Agung kemudian mengabulkan permohonan kasasi
gugatan perdata Prita Mulyasari melawan Rumah Sakit
Omni Internasional. Dengan keluarnya vonis tersebut,
Prita dibebaskan dari seluruh ganti rugi.260
( 3). Infotainment vs Selebriti Luna Maya
Kasus hukum antara selebriti Indonesia Luna Maya dan kalangan
media infotaintment berujung pada dilaporkannya Luna Maya
ke polisi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya. PWI
menggunakan dasar hukum Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)
yang diatur dalam Pasal 27 ayat (3) mengenai pencemaran nama
baik dan Pasal 45 ayat (1).
Kasus Luna Maya berawal dari dunia daring (online), Luna
Maya berkeluh-kesah di akun blognya, Twitter, tentang sikap
para wartawan infotainment. Melalui statusnya, Luna Maya
mencaci maki pekerja infotainment dengan kalimat
bahwa wartawan infotainment lebih hina dari pelacur
dan pembunuh!!!! may ur soul burn in hell!!!. Status yang
merendahkan dan mengucilkan pekerja infotainment.
Sampai akhirnya status tweet-nya dihapus.
Beberapa hari kemudian, Luna Maya me­nya­takan
permintaan maaf dalam akun blognya, Twitter kepada
pekerja infotainment¸ dan masyarakat yang merasa tidak
nyaman dengan pem­
beritaan dirinya di media. Banyak
anggota masyarakat yang menyayangkan kasus ini mencuat
ke publik. Tidaklah terlalu urgen untuk diselesaikan melalui
ranah hukum. Wartawan infotainment haruslah lebih cerdas
dan lebih arif menyikapi kasus ini, dengan tidak ikut-ikutan
mengikuti euforia gugat-menggugat. Masih banyak kasus-
260
http://berita.liputan6.com/read/253843/prita-rs-omni-dan-sanksi-publik.
Diakses tanggal 15 Oktober 2011
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
297
kasus lain yang lebih penting dan menyangkut kepentingan
masyarakat umum yang lebih besar serta lebih layak untuk
diselesaikan melalui jalur hukum.
Wartawan infotaintment sebenarnya dapat menggunakan
hak jawabnya berdasarkan UU Pers dengan memberikan
klarifikasi melalui media atas hujatan yang dilontarkan Luna
Maya. Hal itu akan mencerminkan sikap yang lebih arif dan
elegan.
Kasus ini pun berujung pada perdamaian antara wartawan
infotainment yang diwakili oleh Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) Jaya dan Luna Maya. Perdamaian itu memang menjadi
salah satu syarat pencabutan laporan polisi kepada Luna Maya.
Namun, kemudian timbul permasalahan karena perdamaian
itu sendiri tidak dilakukan di depan publik atau dalam forum
terbuka yang dihadiri seluruh wartawan infotainment karena
kasus itu telah menjadi ranah publik. Perdamaian antara
wartawan infotainment yang diwakili oleh PWI Jaya dan Luna
Maya dilakukan secara diam-diam dan menimbulkan berbagai
prasangka dan fitnah. Pelajaran dari kejadian Luna Maya ini
adalah bahwa diperlukan suatu kode etik dalam penggunaan
dunia internet.
(4). Lady Di vs Paparazi
Putri Diana adalah ikon abad ke-20. Dia mem­punyai kecantikan
feminin dan glamor. Pada saat yang sama, ia dikagumi karena
kegiatan amalnya, dan mendukung kampanye untuk melarang
ranjau darat. Menikah dengan Pangeran Charles pada tahun
1981, ia menerima gelar “Yang Mulia Putri Diana dari Wales”
Dia adalah Bunda Pangeran William dan Pangeran Harry,
urutan ke-2 dan ke-3 dalam garis takhta.
Pada 1981, Diana menikah dengan Pangeran Charles.
Diana 13 tahun lebih muda, pada usia yang baru 20 tahun,
298
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Charles berumur 33 pada saat pernikahan. Masyarakat umum
segera dihangatkan dengan kepolosan dan keindahan Putri
Diana. Pernikahan itu disaksikan oleh lebih dari 1 miliar orang
di seluruh dunia. Selama perkawinan, mereka memiliki dua
putra, Pangeran William dan Pangeran Harry. Namun, pada
pertengahan dekade 1980-an, ketidakcocokan mulai muncul
dalam pernikahan, dan di bawah publisitas, perkawinan mereka
mengarah ke perceraian pada 1992. Selama periode ini, Diana
dikatakan telah menderita berbagai masalah kesehatan seperti
depresi.
Diana meninggal dunia pada tanggal 31 Agustus 1997,
dalam kecelakaan mobil yang melibatkan Dodi Al-Fayed.
Dikatakan, mereka sedang dikejar oleh paparazi pada saat
kecelakaan fatal, meskipun pemeriksaan juga mencatat bahwa
sopir mobil itu juga berada di bawah pengaruh obat-obatan
dan minuman beralkohol. Kontroversi masih menyelimuti
kematiannya, dengan pemeriksaan lebih lanjut masih berlang­
sung. Diana tewas setelah mobil Mercedes yang ditum­panginya
menabrak sebuah pilar di terowongan Pont de l’Alma di Paris
ketika dikejar-kejar paparazi pada suatu malam tanggal 31
Agustus 1997. Saat dikejar paparazi, sopir Henri Paul yang
mengemudikan mobil Mercedes dengan kecepatan tinggi,
dibuat terkejut oleh lampu sorot dari mobil Fiat Uno warna
putih, sehingga Paul kehilangan kendali dan kemudian mobil
Mercedes yang ditumpangi Putri Diana beserta Dodi Al- Fayed
menabrak dinding terowongan.
Pada 2003, kepolisian Inggris mengadakan penyelidikan
mendalam atas kematian Putri Diana dan setelah tiga tahun
penyelidikan yang menghabiskan dana 3,7 juta Poundsterling,
tidak ditemukan bukti yang mendukung teori konspirasi atas
kematian Lady Di.
Persaingan Usaha Industri Media Massa
Dikaitkan dengan Kemerdekaan Pers
299
(5). Gugatan Perdana Menteri Singapura vs New York
Times
Perdana Menteri (PM) Lee Hsien Loong sukses
memenangi gugatan hukum atas The New York Times
Company terkait dengan artikel dinasti politik yang
dipublikasikan International Herald Tribune (IHT).
Perusahaan surat kabar Amerika ternama, New York Times
(NYT), harus membayar total kerugian 160.000 dolar Singapura
(114.000 dolar AS atau sekitar Rp 1 miliar) kepada Perdana
Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan dua menteri seniornya
terkait dengan pemuatan artikel tentang dinasti politik atas
gugatan pencemaran nama baik
Perusahaan NYT dan penulis artikel Philip Bowling,
selain harus membayar ganti rugi SGD 60.000 (sekitar
Rp 389,6 juta) atas kerugian yang dialami Perdana Menteri
Lee dan masing-masing SGD 50.000 (sekitar Rp 324,7
juta) untuk mengganti kerugian kepada dua menteri senior, Lee
Kuan Yew dan Goh Chok Tong. Tergugat (perusahaan NYT
dan penulis artikel Philip Bowling) juga harus menanggung
biaya perkara. Artikel Bowling dipublikasikan oleh NYT Edisi Global,
International Herald Tribune (IHT). Artikel yang berjudul “AU
In The Family” itu menulis secara tersirat kemungkinan bahwa
Lee, putra pendiri Singapura Lee Kuan Yew, mendapat pekerjaan
bukan karena prestasinya. Artikel itu juga menyinggung Goh
yang merupakan pendahulu Lee dan kini menjadi menteri
senior. Atas gugatan tersebut juga, IHT pada penerbitan edisi
berikutnya memuat permohonan maaf kepada Perdana Menteri
Lee Hsien Loong, Menteri Lee Kuan Yew, dan mantan Perdana
Menteri Goh Chok Tong atas penderitaan atau keadaan yang
memalukan yang disebabkan oleh perbuatan pelanggaran dan
artikel dalam IHT.
300
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Artikel yang memuat pencemaran nama baik itu ditulis
oleh kolumnis yang berbasis di Hong Kong, Philip Bowling dan
NYT telah menyepakati periode kesepakatan untuk membayar
kerugian. Artikel Bowring itu membuat pembaca berasumsi
Perdana Menteri Lee Hsien Loong hanya mewarisi jabatan
PM dari sang ayah. Perdana Menteri Lee Hsien Loong
membantah keras tudingan nepotisme tersebut dan
menegaskan jabatan kepala pemerintahan itu buah kerja
kerasnya.
Tuntutan ganti kerugian atas pemberitaan itu bukanlah
tuntutan pertama yang dilakukan para pemimpin Singapura
terhadap media. Para pemimpin Singapura bahkan telah meraih
ratusan ribu dolar dari biaya ganti rugi atas kasus pencemaran
nama baik, kritikan, dan publikasi asing. Para pemimpin
Singapura beralasan, tuntutan diperlukan untuk melindungi
reputasi pemerintah dari serangan orang lain. Tahun lalu. Far
Eastern Economic Review yang bermarkas di Hong Kong dan
editornya digugat ganti kerugian membayar 400.000 dolar atas
tuntutan pencemaran nama baik Perdana Menteri Lee dan
ayahnya. Sebelumnya, Editor Senior Wall Street Journal juga
didenda 10.000 dolar Singapura pada Maret 2009 atas tuduhan
penghinaan terhadap pengadilan kota melalui tiga artikelnya.
Denda 25.000 dolar juga pernah dibayarkan oleh surat kabar
Dow Jones Publishing Company (Asia) Inc. pada November 2008
karena tuduhan fitnah dalam artikel yang dipublikasikannya.261
http://metronews.fajar.co.id/read/86900/33/index.php. Singapura berhasil
mempertahankan reputasi politiknya. Diakses 15 Oktober 2011
261
Daftar Pustaka
301
Daftar Pustaka
Buku:
Ahmad M. Ramli, Cyber Law dan HAKI Dalam Sistem Hukum Indonesia,
Refika Aditama, Cetakan Kesatu, Bandung, Oktober 2004.
---- Perlindungan Rahasia Dagang Dalam UU No. 30/2000 dan
Perbandingannya dengan Beberapa Negara, Mandar Maju, Cetakan
Pertama, Bandung, 2001.
Ali Maksum, Pengantar Filsafat dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme,
Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2008.
A.Muis, Kontroversi Sekitar Kebebasan Pers, Mario Grafika, Cetakan
Pertama, Jakarta, 1996.
Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, Ghalia Indonesia, Cetakan
Pertama, Jakarta, Desember 2002.
Astrid S. Susanto-Sunario, Media Pilar IV Demokrasi, Kumpulan Makalah,
Dewan Pers-SEAPA-Friedricht Ebert Stiftung, Jakarta, Oktober
2002.
A.Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, Penerbit Kanisius,
Cetakan ke-9 Yogyakarta, 2006.
Astim Riyanto, Filsafat Hukum, Yapemdo, 2003.
Bagir Manan, Menjaga Kemerdekaan Pers di Pusaran Hukum, Dewan Pers,
November 2010.
Bemmelen van J.M, Hukum Pidana 1-Hukum Pidana Material Bagian
Umum, Binacipta, Cetakan Kedua, 1987.
Bernard Arief Sidharta, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Sebuah
Penelitian tentang Fondasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu
302
Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers
Hukum sebagai landasan pengembangan Ilmu Hukum Nasional
Indonesia, Mandar Maju, Cetakan Kedua, Bandung, 2000.
Binoto Nadapdap, Hukum Acara Persaingan Usaha, Permata Aksara, 2009,
Bruggink J.J.H, alih bahasa Arief Sidharta, Refleksi Tentang Hukum, Citra
Aditya Bakti, Cetakan Kedua, Bandung, 1999.
Danrivanto Budhijanto, Hukum Telekomunikasi, Penyiaran & Teknologi
Informasi- Regulasi & Konvergensi, PT Refika Aditama, Bandung,
2010.
Daryl Koehn, Landasan Etika Profesi, Kanisius, Yogyakarta, 2000
Djoko Purwanto, Komunikasi Bisnis, Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta, 2006
Djuhaendah Hasan, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda
Lain yang Melekat pada Tanah dalam Konsepsi Penerapan Asas
Pemisahan Horisontal (Suatu Konsep Dalam Menyongsong Lahirnya
Lembaga Hak Tanggungan), Citra Aditya Bakti, Cetakan Pertama,
Bandung,1996.
---- Refleksi Dinamika Hukum Rangkaian Pemikiran dalam Dekade
Terakhir,
Kumpulan Tulisan In Memoriam Komar Kantaatmadja (1998-2008),
Perum Percetakan Negara RI – FH Universitas Padjadjaran, 2008.
Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislasi Tentang Sistem Pertanggungjawaban
Pidana Korporasi di Indonesia, CV Utomo, Cetakan Pertama,
Bandung, 2004.
Saefullah E, Tanggung Jawab Produsen terhadap Akibat Hukum yang
Ditimbulkan dari Produk pada Era Pasar Bebas, Himpunan Hukum
Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Cetakan Pertama, Bandung,
2000.
Eddi Sopandi, Hukum Bisnis – Beberapa Hal dan Catatan Berupa Tanya
Jawab, Refika Aditama, Cetakan Pertama, September 2003.
Elvinaro Ardianto dkk, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Edisi Revisi,
Simbiosa Rekatama Media, 2009.
Daftar Pustaka
303
Fisher B.Aubrey, Teori-Teori Komunikasi, Judul Asli Perspectives on Human
Communication, Terjemahan Soejono Trimo, Penyunting Jalaluddin
Rakhmat, Remadja Karya,1986
Hermansyah, Pokok-pokok Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Edisi
Pertama, 2008.
Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, PT RajaGrafindo Persada,
Edisi Pertama Cetakan Kedua, Jakarta, 2005.
---- Perjanjian Penanaman Modal dalam Hukum Perdagangan Internasional
(WTO), PT RajaGrafindo Persada, Cetakan Pertama, Jakarta,
Agustus 2004.
---- Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional, Edisi Revisi, PT.
Raja Grafindo Persada, Cetakan Ketiga, Jakarta 2002.
Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa, Granit, 2004.
Imam Syaukani, A.Ahsin Thohari, Dasar-dasar Politik Hukum, Raja
Grafindo Persada, Cetakan Pertama, Jakarta, April 2004.
Ida Bagus Wyasa Putra, Aspek-aspek Hukum Perdata Internasional- Dalam
Transaksi Bisnis Internasional, Refika Aditama, Cetakan Pertama,
Bandung, September 2000.
Indriyanto Seno Adji, Humanisme dan Pembaruan Penegakan Hukum, PT
Kompas Media Nusantara, Jakarta, Mei, 2009.
Isis Ikhwansyah, Hukum Persaingan Usaha dalam Implementasi Teori dan
Praktik, Unpad Press,2010.
Islam ed Roemeen, The Right to Tell: The Role of Mass Media in Economic
Development, World Bank Institute (WBI) – Pusat Data dan Analisa
Tempo, Terjemahan M. Hamid, 2006.
Jalaluddin Rachmat, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Cetakan
Ketujuh, Bandung, 1992.
Jakob Oetama, Perspektif Pers Indonesia (Kumpulan Karangan), LP3ES,
Jakarta, 1987.
J.E.Sahetapy, Runtuhnya Etik Hukum, PT Kompas Media Nusantara,
Jakarta, 2009.
304
Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers
Johannes Ibrahim, Lindawaty Sewu, Hukum Bisnis dalam Persepsi Manusia
Modern, Refika Aditama, Cetakan Pertama, Bandung Januari 2004.
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Indonesia Inggris, An
Indonesian-English
Dictionary,Edisi Ketiga Third Edition, Direvisi dan Diedit oleh John
U.Wolff dan
James T. Collins, kerja sama dengan Hassan Shadily, PT. Gramedia
Pustaka Utama, Cetakan Keenam, Jakarta, Juni 2000.
----, Kamus Inggris Indonesia, An English-Indonesian Dictionary, Cornell
University
Press 1975 dan PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan XXV, Jakarta,
Agustus 2000.
John Pieris & Wiwi Sri Widiarty, Negara Hukum dan Perlindungan
Konsumen terhadap Produk Pangan Kedaluwarsa, Pelangi CendekiaUKI, Jakarta 2007
Johnny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha, Bayumedia Publishing, Cetakan
ketiga, 2009.
----, Pendekatan Ekonomi terhadap Hukum-Teori dan Implikasi
Penerapannya dalam Penegakan Hukum, Pmn, ITSpress, Surabaya
2009.
Judhariksawan, Hukum Penyiaran, PT. Radja Grafindo Persada, Jakarta,
Juni 2010.
Kenichi Ohmae, Dunia Tanpa Batas-Kekuatan dan Strategi di Dalam
Ekonomi yang Saling Mengait, Pelajaran di Dalam Logika Baru Pasar
Global, Terjemahan/ Alih Bahasa F.X. Budiyanto, Binarupa Aksara,
Cetakan Pertama, Jakarta, 1999.
Krisna Harahap, Konstitusi Republik Indonesia Sejak Proklamasi hingga
Reformasi, Grafitri Budi Utami, Bandung, 2004.
---- Konstitusi Republik Indonesia Menuju Perubahan Ke-5, PT. Grafitri
Budi Utami, Cetakan Ketiga, Bandung, 2009.
Daftar Pustaka
305
Lili Rasjidi,Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum,
Citra Aditya Bakti, Cetakan Kesembilan, Bandung, 2004.
Man S. Sastrawidjaja, Bunga Rampai Hukum Dagang, Edisi Pertama,
Alumni, Cetakan Kesatu, Bandung, 2005.
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Edisi Pertama, Alumni,
Cetakan Kesatu, Bandung, 1994.
Munir Fuady, Bisnis Kotor (Anatomi Kejahatan Kerah Putih), Citra Aditya
Bakti, Cetakan Kesatu, Bandung, 2004.
---- Pengantar Hukum Bisnis, Menata Bisnis Modern di Era Global, Citra
Aditya Bakti, Cetakan Pertama, Bandung, 2002.
---- Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Buku Kedua,
Citra Aditya Bakti, Cetakan Pertama, Bandung, 2003.
---- Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontemporer), Citra Aditya
Bakti, Cetakan Kesatu, Bandung, 2002.
Mustafa Kamal Rokan, Hukum Persaingan Usaha (Teori dan Praktiknya di
Indonesia), Raja Grafindo, 2010.
Moch. Faisal Salam, Pertumbuhan Hukum Bisnis di Indonesia, Pustaka,
Cetakan Pertama, Bandung, 2001.
Mochtar Kusumaatmadja- Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional,
Edisi Kedua, Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum, dan
Pembangunan Bekerja Sama dengan Alumni, Cetakan Kesatu,
Bandung, 2003.
---- Pengantar Hukum Internasional, Edisi Kedua, Pusat Studi Wawasan
Nusantara,
Hukum dan Pembangunan Bekerja Sama dengan Alumni, Cetakan Kesatu, Bandung, 2003.
---- Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan (Kumpulan Karya Tulis),
Editor Otje Salman S, Eddy Damian, Edisi Pertama, Pusat Studi
Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan Kerja Sama dengan
Alumni, Cetakan Kesatu, Bandung, 2002.
---- & Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Buku I, Alumni, Bandung, 2000.
306
Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers
Mochtar Lubis, Visi Wartawan 45, Kumpulan Tulisan Suardi Tasrif,
Mohammad Said, Media Sejahtera, Cetakan Pertama, Juli 1992
Mulya T. Lubis, Richard M. Buxbaum (Penyunting), Peranan Hukum
Dalam Perekonomian di Negara Berkembang, Edisi Pertama Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta, 1986.
Oemar Seno Adji, Pers. Aspek-Aspek Hukum, Erlangga, Cetakan Kedua
EYD, Jakarta, 1977.
---- Mass Media dan Hukum, Erlangga Jakarta, 1973.
Otje Salman, Anthon F. Susanto, Teori Hukum, Mengingat, Mengumpulkan,
an Membuka Kembali, Refika Aditama, Bandung, 2007.
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi, Citra Aditya
Bakti, Cetakan III, Bandung 2003.
Pindyck S Robert, Rubinfeld L. Rubinfeld, Mikro Ekonomi (Microeconomics
5th edition), Terjemahan, Alih Bahasa Tanty Tarigan, Penyunting
Agus Widyantoro, Revisi Edisi Kelima, Jilid 1,PT. Indeks, Jakarta,
2003.
Pontang Moerad, Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan Dalam
Perkara Pidana, Alumni, Edisi Pertama, 2005.
Pound Roscoe, Pengantar Filsafat Hukum terjemahan Mohamad Radjab,
An Introduction to The Philosophy of Law, Bharata Karya Aksara,
Cetakan Ketiga,Jakarta, 1982.
---- Tugas Hukum, terjemahan Mohamad Radjab, The Task of Law,
Bhratara, Jakarta, 1965
Rachmadi Usman, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual, Alumni, Bandung,
2003.
Rachmadi F, Informasi dan Komunikasi dalam Percaturan Internasional,
Alumni, Cetakan Pertama, Bandung, 1988
Ridwan Khairandy,Itikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Cetakan
Kedua,Jakarta, 2004.
Daftar Pustaka
307
Rudy Rizky, Editor, Refleksi Dinamika Hukum Rangkaian Pemikiran dalam
Dekade Terakhir, Percetakan Negara RI, Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran, 2008.
R.H. Siregar, Setengah Abad Pergulatan Etika Pers, Kompas-Dewan
Kehormatan PWI, 2005
----Komariah Sapardjaja,Lukas Luwarso,Tim Lembaga Informasi
Nasional, Dewan Pers dan LIN, Dewan Pers dalam Hukum Pidana,
Cetakan Kedua, Jakarta, Februari 2003.
Rivers L.William – Jensen W Jay– Peterson Theodore, Media Massa &
Masyarakat Modern, Edisi Kedua, Prenada Media Group, Jakarta,2008
Rochmat Soemitro, Hukum Perseroan Terbatas, Yayasan dan Wakaf, PT.
Eresco, Bandung 1993
Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Kejahatan Bisnis (Business Crime),
Prenada Media, Edisi Pertama, Jakarta, Juli, 2003.
----Reformasi Hukum, Hak Asasi Manusia & Penegakan Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 2001
Sabam Leo Batubara, Indonesia Bergulat dalam Paradoks, Dewan Pers, 2009.
Saefullah E, Tanggung Jawab Produsen terhadap Akibat Hukum yang
Ditimbulkan dari Produk pada Era Pasar Bebas, Himpunan Hukum
Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Cetakan Pertama, Bandung,
2000.
Satrio. J, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Buku 1,
Citra Aditya Bakti, Cetakan Kedua, Bandung, 2001.
---- Hukum Perikatan yang Lahir dari Undang-Undang, Bagian Pertama,
Citra Aditya Bakti, Cetakan Kedua, Bandung, 2001.
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum Pencarian Pembebasan dan Pencerahan,
Editor Khudzaifah Dimyati, Muhammadiyah University Press,
Cetakan Pertama, Solo, 2004.
---- Ilmu Hukum, PT Citra Aditya Bati, Cetakan Keenam, Bandung 2006.
Salim H.S, Hukum Kontrak Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar
Grafika, Cetakan Kedua, Jakarta, Juni 2004.
308
Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers
---- Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Buku Kesatu,
Sinar Grafika, Cetakan pertama, Jakarta, Oktober 2003.
Samsul Wahidin, Hukum Pers, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006.
Smith C.Edward, Pembredelan Pers di Indonesia, Judul Asli A History of
Newspaper suppression in Indonesia, 1949-1965 (Tesis Doktor pada
University of Iowa,1969), Penerjemah Atmakusumah, Alex A.
Rakhim, Arie Wikdjo Broto, Pustaka Grafitipers, Cetakan Kedua,
Jakarta,1986
Sri Soemantri M, Hak Menguji Material di Indonesia, Alumni,Bandung,
1982.
Sri Soedwi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata: Hak Jaminan Atas Tanah,
Liberty, Cetakan Keempat,Yogyakarta, Februari, 1981
Subekti.R, Aneka Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Cetakan Kesepuluh,
Bandung, 1995
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,
Yogyakarta, 1993.
Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus, Prenada Media,
Cetakan Kedua, Jakarta, Agustus, 2004.
Soedjono Dirdjosisworo, Kontrak Bisnis (Menurut Sistem Civil Law, dan
Praktek Dagang Internasional), Mandar Maju, Cetakan Kesatu,
Bandung, 2003.
Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan
Singkat, Raja Grafindo Persada, Cetakan Keenam, Jakarta, Januari
2003.
Soeganda Priyatna – Elvinaro Ardianto, Komunikasi Bisnis-Tujuh Pilar
Strategi Komunikasi Bisnis, Widya Padjadjaran, Bandung, 2009.
Suhasril, Mohammad Taufik Makarao, Hukum Larangan Praktik Monopolid
dan Persaingan Usaha tidak Sehat di Indonesia, Ghalia Indonesia, Juli
2010.
Sumantoro, Hukum Ekonomi, UI-Pres, 2008.
Daftar Pustaka
309
Sunaryati Hartono, Pokok-Pokok Hukum Perdata Internasional, Putra A.Bardin,
Cetakan Kelima, April 2001.
---- Penelitian Hukum di Indonesia pada Akhir Abad Ke-20, Edisi Pertama,
Alumni, Cetakan Kesatu, Bandung, 1994.
---- Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Cetakan
Kesatu, Bandung, 1991.
Suyud Margono, Hukum Antimonopoli, Sinar Grafika, Jakarta, 2009
Tim Lindsey, Eddy Damian ed, Hak Kekayaan Intelektual, Suatu Pengantar,
Alumni, Bandung, 2004.
Utrecht E, Moh Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum Indonesia,
PT.Ichtiar Baru – Sinar Harapan, Cetakan Kesebelas, Jakarta, 1989.
Victor Purba, Kontrak Jual Beli Barang Internasional (Konvensi Vienna
1980), Fakultas Hukum Program Pascasarjana Universitas Indonesia,
Cetakan Pertama, Jakarta, 2002.
Vollmar, H.F.A,Hukum Benda (Menurut KUH Perdata), Saduran Chidir
Ali, Tarsito, Cetakan Kedua, Bandung, Agustus 1990.
Wikrama Iryans Abidin, Politik Hukum Pers Indonesia, Grasindo, 2005.
Wina Armada Sukardi, Keutamaan di Balik Kontroversi Undang-Undang
Pers, Dewan Pers, 2007.
---- Kode Etik Jurnalistik, Dewan Pers, 2006
Wirjono Prodjodikoro. R, Perbuatan Melanggar Hukum Dipandang dari
Sudut Hukum Perdata, Mandar Maju, Cetakan Pertama,
Bandung, 2000.
Yudha Bhakti Ardhiwisastra, Penafsiran dan Konstruksi Hukum, Alumni,
Edisi Pertama, Cetakan Kesatu, Bandung, 2000.
----Hukum Internasional, Bunga Rampai, PT Alumni Bandung,
2003
----Penemuan Hukum Nasional dan Internasional, Kumpulan Makalah,
Editor Idris, Rachminawati, Imam Mulyana, PT Fikahati Aneska –
FH Universitas Padjadjaran, 2012.
310
Bisnis Media vs Kemerdekaan Pers
Perundang-undangan:
1. Undang-Undang Dasar 1945, hasil amandemen
2. Undang-Undang Nomor. 40 Tahun 1999 tentang Pers
3. Undang-Undang Nomor. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat
4. Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
5. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
6. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHDagang)
7. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana)
8. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
9. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
10. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1999 tentang Perseroan Terbatas
11. Undang-Undang Nomor. 30 Tahun 1999 tentang Penanaman Modal
Asing
12. Undang-Undang RI Nomor.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan.
13. Undang-Undang RI Nomor. 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 (RPJP)
14. Peraturan Presiden RI Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2004-2009, Sinar
Grafika, Cetakan Pertama, Jakarta, Maret 2005.
Makalah, Pidato Ilmiah, Artikel, dan lainnya:
Bagir Manan, Catatan Menuju Pers yang Bertanggung Jawab dan Sehat,
pada pelatihan Ahli Dewan Pers, Batam, Juni 2010.
Eddy Damian, Plagiat Karya Tulis yang Tidak Melanggar Hukum Hak Cipta,
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Hukum
pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung 12 Maret
2005.
Daftar Pustaka
311
Krisna Harahap, Menuju Ketertiban Hukum yang Berkeadilan (Studi Kasus
Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), Pidato Pengukuhan
Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Hukum pada Sekolah Tinggi
Hukum Bandung (STHB)/Kopertis Wilayah IV/Jabar), Bandung
05 Maret 2005.
Rukmana Amanwinata,Kedudukan dan Fungsi Lembaga Negara Menurut
UUD 1945 Hasil Amandemen dan Usul Komisi Konstitusi, Makalah
seminar Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dengan
Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia (Persahi), Bandung 23
September 2004.
Naungan H, Aspek-aspek Penting Hukum Pers dan Kode Etik Jurnalistik
pada Diklat
Forum Humas Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan
sosialisasi wartawan Jawa Barat, 27 Desember 2010. dan Februari
2011.
---- Penerapan Asas Praduga tidak Bersalah Dalam Pers, Jurnal Dewan Pers
Edisi No. 2, November 2010
Sumber lainnya:
Buletin, Etika, Berita Dewan Pers No.59 Maret-2008
Jurnal Dewan Pers Edisi No.2 November 2010.
Jurnal Hukum Bisnis,Volume 24-No.2 Yayasan Pengembangan
Bisnis, Jakarta, 2005.
---- Jurnal Hukum Bisnis, Volume 21, Yayasan Pengembangan
Bisnis, Jakarta, Oktober-November 2002.
----Jurnal Hukum Bisnis, Volume 18, Yayasan Pengembangan
Bisnis Jakarta, 18 Maret 2002.
---- Jurnal Wawasan Hukum, Volume 8 No. 2, Sekolah Tinggi
Bandung, Bandung, November 2002.
Hukum
Hukum
Hukum
Hukum
312
Tentang Penulis
NAUNGAN Harahap, Bin Harun Gelar Sutan
Mahodum lahir di Pargarutan Jae Padangsidempuan,
Sumatra Utara, 6 Juli 1953. Pria Muslim beranak dua
ini tinggal di Jalan Suajadi – Asli II No. 31/182A
Bandung, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan
Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat telp. 022-203067.
Dia adalah praktisi pers, advokat, dan akademisi dosen.
Selepas pensiun sebagai wartawan, dia kini berkantor
di Kantor Hukum Naungan & Partner, Advokat dan
Legal Consultant, alamat Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Dirjen
Bina Marga Lantai B-2 Jln. LLRE Martadinata No. 119 Kota Bandung,
E-mail: [email protected].
Dari hasil pernikahannya dengan Hj. Yenny Rukiyani, Bc.A, Naungan
memiliki dua anak, yakni Adhya Rajasandi Harahap, S.E. dan Annisa
Nurbaiti, S.E. (mahasiswa S-2 Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas
Padjadjaran Bandung). Naungan adalah putra bungsu dari pasangan H.
Harun Harahap, Gelar Mangaraja Bangun Dipabuat (almarhum) dan
Hj. Tiolin Siregar (almarhumah). Sementara istrinya, Yenny adalah putri
dari pasangan M. Suyono (almarhum) dan Hj. Rukoyah (almarhumah).
Dalam keluarga, Naungan memiliki tiga saudara kandung yang juga telah
meninggal dunia.
Pada masa kecilnya, Naungan sudah ditinggal kedua orang tua.
Ibundanya meninggal lebih dulu ketika dia masih umur empat tahun,
waktu itu belum sekolah. Selang tiga tahun kemudian ayahandanya wafat
saat dia masih sekolah Klas III SR. Naungan masuk sekolah klas satu SD,
sebenarnya umurnya baru empat tahun. Menurut kelaziman masa itu,
tahun 1957, seorang anak baru boleh masuk sekolah apabila anak sudah
berumur sekurang-kurangnya enam tahun. Tangannyapun di kepala
313
belum sampai menjangkau telinga, tapi karena ibu sudah meninggal ayah memasukkannya sekolah ke SD dalam usia empat tahun. Itu artinya
umurnya dituakan dua tahun. Jadi sesungguhnya dia memiliki dua macam
tahun kelahiran, yaitu lahir biologis tahun 1953 dan lahir administrasi
pendaftaran masuk sekolah tahun 1951.
Naungan menempuh pendidikan dasar di SDN 21 Padangsidempuan
dan lulus 1963, kemudian SMP Padangsidempuan (lulus 1966), dan
STM Neg 1 Jurusan Listrik Jakarta (1971). Kuliah sambil kerja adalah
pengalaman indah yang tak pernah dia lupakan. Gelar sarjana hukum
(S.H.) dia raih dari Fakultas Hukum Universitas Islam Nusantara Bandung
pada 1990. Gelar magister hukum (M.H.) diraihnya dari Pascasarjana
Universitas Padjadjaran, lulus Cum Laude (dengan pujian) pada 2005.
Sementara pendidikan jenjang S-3 (doktor) Program Studi Ilmu Hukum
ditempuh di Universitas Padjadjaran, dan menjadi Kandidat Doktor sejak
2008. Pada 1982, Naungan juga pernah mengikuti program non-gelar
(nondegree) di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad)
Bandung. Pendidikan nonformal lainnya dia tempuh di Lembaga Pers Dr.
Soetomo (LPDS) Jakarta, yakni dalam bidang profesi pers (1988).
Berbagai jabatan di bidang media, advokat, dan dosen pun pernah
disandangnya. Naungan mulai meniti karier sebagai wartawan Harian
Umum Mandala pada 1976. Setelah 21 tahun berkiprah di Mandala, dia
pindah ke HU Pikiran Rakyat tahun 1997 dan pensiun pada 2007 setelah
berkiprah 10 tahun di koran terbesar di Jawa Barat tersebut. Kiprahnya
di HU Mandala sampai (1976-1996) dimulai dari wartawan, kemudian
redaktur, redaktur pelaksana, dan wakil pemimpin redaksi. Dewan
Komisaris PT Satia Mandala Raya (Mandala-Kompas) pada 1992-1995,
General Manager PT Grafitri (Percetakan Mandala–Kompas) 1992-1995.
Staf Redaksi/Redaktur HU Pikiran Rakyat (1998-2007), Redaktur SKM
Priangan Grup Pikiran Rakyat, Redaktur Cyber Media HU Pikiran Rakyat
(2005–2007), Penanggung Jawab/Dewan Redaksi & Penasihat Hukum
314
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Tabloid Fajar Pos (sejak 2010), penyunting dan Majalah Jurnal Penelitian
Mitra Bestari Kemenkominfo (sejak 2012).
Di bidang organisasi profesi pers, Naungan menjadi anggota
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1977, sampai sekarang. Pada
1981, dia memperoleh status Anggota Biasa PWI No. 10.00.1856.81.
Dia juga menjabat menjadi Ketua PWI Perwakilan Kota Bandung pada
1989-1992. Sekretaris I, II PWI Cabang Jawa Barat (1992-2002), Wakil
Ketua Bidang Pendidikan PWI Cabang Jawa Barat 2002-2007, anggota
Presidium Pemantauan Pemilu/Pijafrel (Public and Indonesian Journalist
for Free and Fair Election) PWI Jawa Barat (2003- 2007), Ketua Tim
Perumus Kurikulum Training of Trainer (TOT) Tingkat Nasional PWI
Pusat (2005), Pelatih Nasional Wartawan PWI Pusat (sejak 2007), Ketua
Divisi Legislasi dan Advokasi Mapilu/Pijafrel PWI Pusat (sejak 2007),
anggota Tim Penyempurnaan PD/PRT-KEJ PWI (sejak 2010), Ketua
Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Cabang Jawa Barat (20072011), Ahli Dewan Pers (sejak 2010), anggota Dewan Penasihat PWI
Cabang Jawa Barat (2011–2016), Asesor/Penguji Kompetensi Wartawan
(UKW) Indonesia (sejak 2011), Anggota Komisi Kompetensi Wartawan
PWI Pusat (2013-2018).
Sebagai wartawan, Naungan juga beberapa kali meraih penghargaan.
Pada rentang 1985 sampai 1989, dia empat kali menjadi juara dan
memperoleh penghargaan Piagam Adi Sastra dari Jaksa Agung RI dan
meraih juara II, III, IV, dan V pada lomba karya tulis Media Massa
Cetak Bidang Hukum Tingkat Nasional Kejaksaan Agung RI. Pada
1997, dia menjadi juara I Lomba Karya Tulis Media Massa Bidang
Pembangunan Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung dan
memperoleh Piagam “Pembangunan” dari Wali Kota Bandung. Naungan
pun memperoleh sertifikat dari Dewan Pers sebagai Penghargaan Atas
Jenjang Pemilik Standar Kompetensi Wartawan Utama (2011), sertifikat
Nomor:032-WU/DP/V/2011.
Pada 1992-1997 Naungan melakukan liputan jurnalistik ke negaranegara ASEAN, ROC Taiwan, Australia, lima negara Eropa yakni Prancis,
315
Belanda, Jerman, Swiss, dan Inggris. Pada 1997, dia menjadi peserta
Seminar Pers Dunia IFRA di Amsterdam, Belanda. Untuk penyusunan
naskah disertasi S3, tahun 2011 Naungan melakukan penelitian di
lingkungan kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), jajaran
Dewan Pers, dan beberapa media massa nasional.
Di bidang profesi hukum praktisi pengacara, Naungan menjadi
pengacara & penasihat hukum (sejak 1996). Dia lolos ujian dan memperoleh
izin praktek dengan sertifikat pengacara dari Pengadilan Tinggi Jawa Barat
(sejak 1996), masuk organisasi Ikatan Advokat Indonesia/Ikadin (sejak
2004), anggota Dewan Kehormatan DPC Ikadin Bandung (2006–2010),
Ketua Dewan Kehormatan DPC Ikadin Bandung (2010-2014), anggota
majelis Dewan Kehormatan DPC Perhimpunan Advokat Indonesia
(Peradi) Jawa Barat (2009-2013), dan Direktur Kantor Hukum Naungan
& Partner, Advokat & Legal Consultant (sejak 2004), Advokat anggota
Peradi Nomor Induk Anggota/ NIA.96.11035 2006 (sejak 2006).
Sebagai advokat, Naungan (sejak 2004) aktif mem­berikan konsultasi
hukum, pembelaan dan penasihat hukum dalam beracara di Pengadilan
Negeri Klas IA Bandung, Peradilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi,
KPK, dan Mahkamah Agung RI. Dalam perkara pidana melakukan
pendampingan klien di Polda Jabar, Polrestabes Bandung, Polres Bandung
Timur, Polres Subang, Kejaksaan, dan Pengadilan Negeri Subang terkait
perkara delik pers, pencemaran nama baik, kekerasan dalam rumah tangga,
perkara tindak pidana korupsi (Tipikor) di tingkat pertama, banding dan
kasasi MA. Dalam perkara perdata gugatan lelang, perkara di PTUN
dalam posisi tergugat sengketa tanah di Cibinong Kabupaten Bogor,
mendampingi tergugat dalam perkara buruh tekstil pada Pengadilan
Hubungan Industrial (PHI) Bandung.
Profesi lain yang pernah dijalaninya adalah Guru pengajar sebagai
dosen luar biasa di beberapa universitas negeri dan swasta di Bandung
1996-2011. Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Bandung
(1997–1998), dosen S-1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas ARS
Internasional 2008-2009, dosen D-3 PAKT Penyiaran Fikom Universitas
316
Dr. Naungan Harahap, SH., MH.
Padjadjaran 2009-2010, dosen S-1dan D-3 Komunikasi dan Niaga
Universitas Telkom (2010-2011), dosen S-1 Fakultas Hukum dan S-2
Pascasarjana Univeversitas Islam Nusantara Bandung (2013 – sekarang).
Pada 1996-1997, penulis mengajar di Komando Doktrin, Pendidikan dan
Pelatihan (Kodiklat TNI AD). Selama menjadi dosen dia mengasuh mata
kuliah Hukum Pidana, Hukum Pers, Regulasi Pers/Penyiaran, Manajemen
Media Massa, Etika & Kehumasan, Hukum Dagang, dan Pancasila.
Menjadi pelatih Wartawan PWI Cabang Jawa Barat (sejak 1996). Penasihat
Ikatan Mahasiswa Program Pascasarjana (IMPP Unpad) pada 2008-2009.
Pada masa senggang, Naungan sering menulis artikel hukum
(ataupun) pers di media massa, jurnal ilmiah, mengikuti seminar, lokakarya
tingkat nasional, menjadi pemateri dalam pendidikan dan pelatihan
wartawan di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai seorang Muslim, dia
sudah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada 2002.
Bandung Februari 2014
Download