Unduh File - Pengadilan Tinggi Bandung

advertisement
PUTUSAN
NOMOR :435/PDT/2015/PT. BDG
“ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”,
Pengadilan Tinggi
Bandung, yang memeriksa dan mengadili perkara
perdata dalam peradilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan sebagai
berikut dalam perkara antara :
PT. ABETAMA SEMPURNA, beralamat di Jalan Komp. Intercon, Taman
Kebon Jeruk Blok AA No. 1-3 Jakarta Barat, dalam hal ini memberi
Kuasa kepada T. TRIYANTO, S.H., CN., PUJIANTI, S.H., MARBUI
HAIDI PARTOGI, S.H., WARDANIMAN LAROSA, S.H., LIMSON
NAINGGOLAN, S.H., J.B. BUDHISATRIO, S.H., ROYNALDO
SAUT, S.H., Advokat pada Kantor Hukum “TRI & REKAN (3R)”
yang beralamat kantor di Jalan Raden Saleh Raya No. 45 A Jakarta
Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 08 Januari
2015, sebagai PEMBANDING semula PENGGUGAT;------------------Lawan :
1. PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA Cq PEMERINRAH PROPINSI
JAWA BARAT Cq GUBERNUR PROPINSI JAWA BARAT,
beralamat di Jalan Dipenogoro No. 22 Kota Bandung, dalam hal ini
memberi Kuasa kepada YESSY ESMIRALDA, S.H., M.H., TATANG
FIRMANSYAH, S.H., M.H., ARIZ EKHA SUPRAPTO, S.H., DADI
ANDRIYANDI NUGRAHA, S.H., Kepala Biro dan HAM Sekretariat
Daerah Prop Jawa Barat, Kasubag Litigasi dan Staf Biro Hukum dan
HAM Daerah Prop Jawa Barat dan
berdasarkan Surat Kuasa
Khusus tertanggal 09 Maret 2015, sebagai TERBANDING semula
TERGUGAT ;---------------------------------------------------------------------2. KANTOR
BADAN
PERTANAHAN
NASIONAL
(BPN)
KOTA
BANDUNG, beralamat di Jalan Soekarno-Hatta No. 586 Kota
Bandung, dalam hal ini memberi Kuasa kepada ENDANG JAYADI,
S.H., M.H., DIDIH DIHARJA WIJAYA, S.IP., H. IYEP SOFYAN,
S.H., H. ULOH SAEFULOH, S.H., DANNY HERSUBIANTO, S.H.,
HIDAYAT, Kepala seksi sengketa Badan Pertanahan Bandung dan
Para Staff Kantor Badan Pertanahan Bandung berdasarkan Surat
Hal 1 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Kuasa Khusus tertanggal 12 Pebruari 2015 sebagai TURUT
TERBANDING semula TURUT TERGUGAT ;---------------------------
PENGADILAN TINGGI TERSEBUT ;---------------------------------------------------Telah membaca:------------------------------------------------------------------------------1. Surat Penetapan Ketua Pengadilan Tinggi Bandung
tanggal
07
Januari 2016 Nomor : 435/ Pen /Pdt/ 2015/ PT. BDG tentang
penunjukan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara
ini ;-------------------------------------------------------------------------------------2. Berkas perkara dan surat-surat yang bersangkutan serta turunan resmi
putusan Pengadilan Negeri Bandung tanggal
28 Mei 2015 Nomor :
20/Pdt. G/2015 /PN. Bdg, dalam perkara para pihak tersebut di atas;--
TENTANG DUDUK PERKARA :
Menimbang, bahwa Penggugat telah mengajukan Gugatannya ke
Pengadilan Negeri Bandung tertanggal. 21 Januari 2015, yang terdaftar
diregister ke Paniteraan Pengadilan Negeri Bandung pada tanggal. 15
Januari 2015, dibawah Register Perkara No.20/Pdt.G/2015/PN Bdg, yang
pada pokoknya mengemukakan dalil-dalil dan petitum Gugatannya sebagai
berikut :
1.
Bahwa Penggugat adalah pemegang hak atas Sertifikat Hak Guna
Bangunan No. 322/ Braga, Surat Ukur No. 1292/1986 tanggal 23
September 1986 seluas 93 m2 yang
terletak di Komplek Barceuy
Permai Kaveling D.6 No. 18 Bandung berikut sebuah bangunan
permanent tiga lantai yang didirikan berdasarkan Surat Izin Mendirikan
Bangunan (IMB) tertanggal 18 Juli 1985 Nomor 644.2/928-DBP yang
dikeluarkan oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II (dua)
Bandung.
2.
Bahwa Sertifikat Hak Guna Bangunan No. 322/ Braga berikut bangunan
permanen
tersebut
Penggugat
peroleh
atas
dasar
jual
beli
sebagaimana tercantum dalam Akta Jual Beli Nomor : 295/2007 tanggal
14 Juni 2007, yang dibuat dihadapan Notaris dan PPAT (Pejabat
Pembuat Akta Tanah) Haji Wira Fransiska, SH.
Hal 2 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
3.
Bahwa sertifikat Hak Guna Bangunan tersebut mempunyai masa
berlaku hak selama 30 tahun dan berakhir pada tanggal 17 April 2014.
4.
Bahwa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
sebelum masa berlakunya hak sertifikat tersebut berakhir sertifikat
tersebut dapat dimohonkan perpanjangan dan untuk itu Penggugat telah
mencoba memohon perpanjangan jangka waktu sertifikat Hak Guna
Bangunan tersebut kepada Turut Tergugat, namun permohonan
Penggugat ini tidak mau diterima oleh Turut Tergugat sebelum adanya
persetujuan terlebih dahulu dari Tergugat I dengan alasan Sertifikat Hak
Guna Bangunan tersebut berdiri diatas tanah Hak Pengelolaan (HPL)
yang kewenangannya berada pada Tergugat I.
5.
Bahwa
Penggugat
juga
telah
memohon
persetujuan
untuk
memperpanjang jangka waktu sertifikat Hak Guna Bangunan tersebut
kepada Tergugat I, tapi permohonan ini juga DITOLAK Tergugat I
dengan alasan tanah tersebut akan direvitalisasi menjadi kawasan
komersial baru yang haknya akan diberikan kepada Investor Baru
melalui lelang.
6.
Bahwa selanjutnya, ternyata bukan surat persetujuan dari Tergugat I
yang Penggugat peroleh, tapi sebaliknya melalui surat tertanggal 11
April 2014 No.030/1963-PPD yang ditujukan kepada Para Penghuni
Komplek Ruko Banceuy Permai, Tergugat I meminta kepada seluruh
penghuni Komplek Banceuy untuk segera mengosongkan bangunan
dan segera pindah dengan batas waktu pengosongan sampai tanggal
30 Desember 2014.
7.
Bahwa Penggugat lebih terkejut lagi ternyata dengan suratnya
tertanggal 22 April 2013 No.593/1917/PPD Tergugat I memberitahukan
kepada seluruh warga/penghuni pertokoan Banceuy Permai bahwa
HGB di atas Hak Pengelolaan (HPL) Pemerintah Provinsi Jawa Barat
bukan HGB murni dan setelah jangka waktu sertifikat berakhir kembali
menjadi milik/dikuasai Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
8.
Bahwa Penggugat yang baru membeli bangunan ruko yang terletak di
komplek Banceuy Permai tersebut
pada
tanggal 14 Juni 2007,
sungguhlah amat terkejut dengan adanya informasi dari Tergugat I yang
memberitahukan sertifikat Hak Guna Bangunan milik Penggugat tidak
dapat diperpanjang karena apabila Penggugat tahu sertifikat tidak dapat
diperpanjang dan bangunan harus dikosongkan dan diserahkan
Hal 3 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
bersamaan dengan berakhirnya sertifikat, Penggugat atau siapapun
pasti tidak akan mau membeli bangunan ruko yang terletak di Banceuy
Permai ini.
9.
Bahwa didalam Sertifikat HGB No.322/Braga, sedikitpun tidak ada
catatan
ataupun
keterangan
yang
menyatakan
Sertifikat
HGB
No.322/Braga apabila habis masa berlakuknya tidak dapat diperpanjang
dan dalam surat ukurnya juga tidak ada catatan yang menerangkan
bahwa apabila masa berlaku sertifikat berakhir, maka bangunan yang
berdiri di atas sertifikat beralih menjadi milik Tergugat I.
10. Bahwa sesuai dengan ketentuan yang berlaku, walaupun sertifikat Hak
Guna Bangunan berdiri di atas tanah dengan Hak Pengelolaan (HPL),
sertifikat Hak Guna Bangunan tersebut dapat diperpanjang jangka
waktunya atau diperbaharui haknya, dimana hal ini secara tegas diatur
dalam ketentuan Pasal 28 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang
menyebutkan sebagai berikut :
Ayat (1) “ Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai
bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun”
Ayat (2) “Atas permintaan pemegang hak dan dengan mengingat keperluan
serta keadaan bangunan-bangunannya, jangka waktu tersebut dalam ayat 1
dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun”.
Selanjutnya
Pasal 25
ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan
Hak Pakai Atas Tanah juga menyebutkan sebagai berikut :
Pasal 25 ayat (1) “Hak guna bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
22 diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun dan dapat
diperpanjang untuk jangka waktu paling lama dua puluh tahun”.
11. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat (1) huruf a,b,c,d Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak
Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah
menegaskan bahwa :
“Hak Guna Bangunan atas tanah negara sebagimana dimaksud dalam
Pasal 22, atas permohonan pemegang hak dapat diperpanjang atau
diperbaharui, jika memenuhi syarat:
a. Tanahnya masih dipergunakan dengan baik sesuai dengan keadaan,
sifat dan tujuan pemberian hak tersebut;
Hal 4 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
b. Syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik oleh
pemegang hak; dan
c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19;
d. Tanah tersebut masih sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
yang bersangkutan.
12. Bahwa selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 44 Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun
1999 tentang Tata Cara Pemberian Dan Pembatalan Hak Atas Tanah
Negara dan Hak Pengelolaan disebutkan :
(1). Permohonan perpanjangan jangka waktu Hak Guna Bangunan
yang tanahnya dipergunakan untuk bangunan rumah tinggal
DIKABULKAN oleh pejabat yang berwenang apabila :
a. Tanah tersebut masih dipergunakan untuk rumah tinggal sesuai
dengan maksud pemberian hak yang bersangkutan atau telah
dipergunakan pemegang hak untuk keperluan sesuai dengan
Rencana
Tata
Ruang
Wilayah
untuk
kawasan
yang
bersangkutan.
b. Syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik
oleh pemegang hak.
c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang Hak
Guna Bangunan.
(2). Permohonan perpanjangan jangka waktu Hak Guna Bangunan
yang tanahnya dipergunakan untuk keperluan lain daripada untuk
bangunan tempat tinggal DIKABULKAN oleh pejabat yang
berwenang apabila :
a. Tanah yang bersangkutan dipergunakan sesuai Rencana Tata
Ruang
Wilayah
yang
berlaku
pada
saat
permohonan
perpanjangan atau masih dipergunakan sesuai dengan maksud
pemberian hak tersebut atau Rencana Tata ruang Wilayah yang
berlaku sebelum saat permohonan perpanjangan akan tetapi
pemegang hak sanggup untuk menyesuaikan penggunaan
tanah tersebut dengan Rencana Tata Ruang Wilayah yang
berlaku.
b. Syarat-syarat pemberian hak masih dipenuhi dengan baik oleh
pemegang hak.
Hal 5 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai Pemegang
Hak Guna Bangunan.
13. Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut diatas, walaupun Hak Guna
Bangunan berdiri di atas tanah Hak Pengelolaan tetap dapat
diperpanjang dan dalam hal ini Penggugat haruslah diprioritaskan untuk
memperpanjang atau memperbaharui Sertifikat Hak Guna Bangunan
No. 322/ Braga tersebut daripada pihak manapun juga, sehingga tidak
ada alasan lain bagi Tergugat I untuk tidak memberikan persetujuan
kepada Penggugat untuk memperpanjang hak dan tidak ada alasan lagi
bagi
Turut
Tergugat
untuk
tidak menerima
permohonan perpanjangan sertifikat Hak Guna
dan
memproses
Bangunan milik
Penggugat.
14. Bahwa Penggugat pernah mencoba menyelesaikan persoalan ini secara
musyawarah dengan Tergugat I akan tetapi tidak mencapai suatu
kesepakatan dimana Tergugat I tetap berkeinginan untuk menyerahkan
Hak Pengelolaan tersebut dengan cara melakukan kerjasama dengan
pihak ketiga untuk membangun, mengelola dan akan merevitalisasi
komplek Banceuy Permai Bandung, pedahal secara fakta bangunan
yang ada di Komplek Banceuy Permai tersebut sampai saat ini masih
digunakan oleh Penggugat.
15. Bahwa oleh karena gugatan ini didasarkan pada bukti-bukti otentik yang
tidak dapat disangkal lagi keberanannya, maka mohon putusan ini
dinyatakan dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum
verzet, banding maupun kasasi (Uitvoerbaar bij voorraad).
Berdasarkan dalil-dalil sebagaimana tersebut diatas, kiranya Majelis Hakim
yang terhormat yang memeriksa dan mengadili perkara aquo berkenan
memutuskan sebagai berikut:
1.
Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya ;
2.
Menyatakan Penggugat adalah pemilik yang sah atas bangunan
permanent 3 (tiga) lantai yang didirikan berdasarkan Surat Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) tertanggal 18 Juli 1985 Nomor 644.2/928DBP yang dikeluarkan oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II
(dua) Bandung terletak di komplek Barceuy Permai Kaveling D.6 No. 18
Bandung.
Hal 6 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
3.
Menyatakan Penggugat mempunyai hak prioritas utama dari pihak
manapun untuk dapat memperpanjang atau memperbaharui Sertifikat
Hak Guna Bangunan No. 322/ Braga, Surat Ukur No. 1292/1986 tanggal
23 September 1986, yang terletak di komplek Barceuy Permai Kaveling
D.6 No. 18 Bandung.
4.
Menghukum dan memerintahkan Tergugat I dalam tenggang waktu
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak putusan ini
mempunyai kekuatan hukum tetap untuk menerbitkan surat persetujuan
kepada
Penggugat
untuk
memperpanjang
atau
memperbaharui
Sertifikat Hak Guna Bangunan No. 322/ Braga, Surat Ukur No. 1292
/1986 tanggal 23 September 1986, yang terletak di Komplek Barceuy
Permai Kaveling D.6 No. 18 Bandung dan apabila Tergugat I tidak mau
menerbitkan surat persetujuan tersebut maka dengan lewatnya
tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari maka persetujuan tersebut dianggap
telah diberikan.
5.
Menghukum dan memerintahkan Turut Tergugat untuk menerima dan
memproses permohonan perpanjangan Sertifikat Hak Guna Bangunan
No. 322/ Braga, Surat Ukur No. 1292/1986 tanggal 23 September 1986,
yang terletak di komplek Barceuy Permai Kaveling D.6 No. 18 Bandung.
6.
Menghukum Turut Tergugat untuk tunduk dan patuh pada putusan ini ;
7.
Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun ada
upaya hukum verzet, banding maupun kasasi (Uitvoerbaar bij voorraad).
Menimbang, bahwa atas gugatan Penggugat tersebut Tergugat I telah
mengajukan jawaban sebagai berikut :
A. DALAM EKSEPSI
1. Eksepsi Tidak Berwenang Mengadili secara Absolut (Exceptie van
Onbeveogheid)
Bahwa apa yang diuraikan oleh Penggugat di dalam Surat Gugatannya
tertanggal 12 Januari 2015 pada dasarnya merupakan hal yang terkait
dengan perbuatan tata usaha negara karena menyangkut proses
penerbitan sertipikat dan juga hal lainnya terkait administrasi pertanahan.
Hal ini sangat tampak terlihat dari pokok permasalahan yang dikemukakan,
dimulai dari uraian mengenai administrasi kepemilikan objek sengketa yaitu
berupa Hak Guna Bangunan (“HGB”) yang merupakan hasil spiltsing yang
dijual oleh PT. Interna Permai baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui beberapa kali pengalihan sebagaimana terurai di dalam posita
Penggugat angka 1 sampai dengan angka 15.
Hal 7 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Bahwa kemudian dari uraian posita dimulai dari angka 1 sampai dengan
angka 15 tersebut, Penggugat seolah-olah menceritakan sebagai pihak
yang paling mengatahui proses hingga terbitnya sertifikasi yang in casu
dipersoalkan di dalam perkara a quo. Di samping itu Penggugat pun
membuat analisis yang keliru sebagaimana dinyatakan dalam angka 13
surat gugatannya tertanggal 12 Januari 2015 tersebut.
Hal lain yang menarik adalah masalah Surat No. 030/1963-PBD tanggal 11
April 2014 dan surat No. 593/1917/BPD, tanggal 22 April 2014, yang
diyakini para Penggugat sebagai dasar tindakan hukum yang akan
dilakukan berupa pengosongan objek sengketa pasca berakhirnya HGB
para Penggugat pada tanggal 17 April 2014.
Sehingga dari kesemua uraian para Penggugat tersebut, baik dari posita
yang disampaikan maupun petitum-nya, dapat disimpulkan bahwa pokok
gugatan yang diajukan oleh para Penggugat adalah :
1.
Masalah perpanjangan HGB atas objek sengketa pasca berakhir pada
tanggal 17 April 2014.
2.
Masalah pengosongan objek sengketa;
Atas dasar kesimpulan pokok gugatan tersebut, maka Tergugat akan
menyampaikan sanggahan sbb :
Bahwa masalah ini, merujuk pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diubah oleh
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
terakhir diubah kembali oleh Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara (“UU PTUN”) disebutkan bahwa :
(1) Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan
keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal
tersebut disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara.
(2) Jika
suatu
Badan
atau
Pejabat
Tata
Usaha
Negara
tidak
mengeluarkan keputusan yang dimohon, sedangkan jangka waktu
sebagaimana
ditentukan
data
peraturan
perundang-undangan
dimaksud telah lewat, maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
tersebut dianggap telah menolak mengeluarkan keputusan yang
dimaksud.
(3) Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak
menentukan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat(2),
maka setelah lewat jangka waktu empat bulan sejak di terimanya
permohonan, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
Hal 8 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
bersangkutan
dianggap
telah
mengeluarkan
keputusan
penolakan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa tidak adanya
perpanjangan HGB atas nama Penggugat oleh Kantor Pertanahan Kota
Bandung (selaku Pejabat Tata Usaha Negara) dapat dipersamakan dengan
Keputusan Tata Usaha Negara atau dikenal dengan Keputusan TUN yang
Fiktif Negatif.
Merujuk pada ketentuan Pasal 1 angka 9 UU PTUN disebutkan bahwa :
“Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang
dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi
tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan
perundangundangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual,
dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan
hukum perdata”.
Lalu bagaimana dengan sertipikat HGB, apakah memenuhi kriteria sebagai
Keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud Pasal 1 angka 9
UU PTUN tersebut ?
Bahwa sebagaimana diketahui, terkait doktrin mengenai perbuatan
hukum yang dilakukan oleh pemerintah (bestuur hendelingen) secara
publik,
dikenal
diantaranya
perbuatan
hukum
bersegi
satu
(eenzijdigepublikrechtelijke handelingen) yang bentuknya adalah
ketetapan atau keputusan. Di Belanda istilah “Ketetapan” atau
“Keputusan” disebut dengan istilah Beschikking (Van Vollenhoven).
Di
Indonesia
kemudian
istilah
Beschikking
ini
ada
yang
menterjemahkan sebagai „Ketetapan‟ (Bagir Manan, Sjachran
Basah, Indroharto, dll.), ada juga yang menterjemahkan dengan
„Keputusan‟ (Philipus M. Hadjon, SF. Marbun, dll).
Dikalangan para sarjana terdapat perbedaan pendapat dalam
mendefenisikan istilah ketetapan (beschikking), menurut J.B.J.M Ten
Berge beschikking didefinisikan sebagai:
1.
Keputusan hukum publik yang bersifat konkret dan individual:
keputusan itu berasal dari organ pemerintahan yang didasarkan pada
kewenangan hukum publik.
2.
Dibuat untuk satu atau lebih individu atau berkenaan dengan satu atau
lebih perkara atau keadaan.
3.
Keputusan itu memberikan suatu kewajiban pada seseorang atau
organisasi, memberikan kewenangan atau hak pada mereka.
Hal 9 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Menurut Utrecht, beschikking diartikan sebagai perbuatan hukum
publik bersegi satu (yang dilakukan oleh alat-alat pemerintahan
berdasarkan suatu kekuasaan istimewa). Sedangkan menurut WF.
Prins dan R Kosim Adisapoetra beschikking adalah suatu tindakan
hukum yang bersifat sepihak dalam bidang pemerintahan yang
dilakukan oleh suatu badan pemerintah berdasarkan wewenang yang
luar biasa.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, tampak ada beberapa unsur
yang terdapat dalam beschikking, yaitu:
1.
Pernyataan kehendak sepihak;
2.
Dikeluarkan oleh organ pemerintah;
3.
Didasarkan pada kewenangan hukum yang bersifat publik;
4.
Ditujukan untuk hal khusus atau peristiwa kongkret dan individual;
5.
Dengan maksud untuk menimbulkan akibat hukum.
Berdasarkan definisi dan dihubungkan dengan ketentuan Pasal 1
angka 9 UU PTUN tersebut tampak bahwa Keputusan Tata Usaha
Negara (KTUN) memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
-
Penetapan tertulis bukan hanya dilihat dari bentuknya saja tetapi
lebih ditekankan kepada isinya, yang berisi kejelasan tentang:
a.
Badan
atau
Pejabat
Tata
Usaha
Negara
mana
yang
mengeluarkannya;
b.
Maksud serta mengenai hal apa isi tulisan tersebut; dan
c.
Kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan di
dalamnya.
-
Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat TUN
Sebagai suatu Keputusan TUN, Penetapan tertulis itu juga
merupakan salah satu instrumen yuridis pemerintahan yang
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat TUN dalam rangka
pelaksanaan suatu bidang urusan pemerintahan. Selanjutnya
mengenai apa dan siapa yang dimaksud dengan Badan atau
Pejabat TUN sebagai subjek Tergugat, disebutkan dalam Pasal 1
angka 8 UU PTUN :“Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
adalah
badan
atau
pejabat
yang
melaksanakan
urusan
pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.”
Hal 10 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Badan atau Pejabat TUN di sini ukurannya ditentukan oleh fungsi
yang dilaksanakan Badan atau Pejabat TUN pada saat tindakan
hukum TUN itu dilakukan. Sehingga apabila yang diperbuat itu
berdasarkan
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku
merupakan suatu pelaksanaan dari urusan pemerintahan, maka
apa saja dan siapa saja yang melaksanakan fungsi demikian itu,
saat itu juga dapat dianggap sebagai suatu Badan atau Pejabat
TUN. Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan adalah
segala macam urusan mengenai masyarakat bangsa dan negara
yang bukan merupakan tugas legislatif ataupun yudikatif.
-
Berisi tindakan Hukum TUN
Bahwa suatu Penetapan Tertulis adalah salah satu bentuk dari
keputusan Badan atau Pejabat TUN, dan keputusan yang
demikian selalu merupakan suatu tindakan hukum TUN, dan
suatu tindakan hukum TUN itu adalah suatu keputusan yang
menciptakan,
atau
menentukan
mengikatnya
atau
menghapuskannya suatu hubungan hukum TUN yang telah ada.
Dengan kata lain untuk dapat dianggap suatu Penetapan Tertulis,
maka tindakan Badan atau Pejabat TUN itu harus merupakan
suatu tindakan hukum, artinya dimaksudkan untuk menimbulkan
suatu akibat hukum TUN.
-
Berdasarkan Peraturan perundang-undangan; yang dimaksud
adalah semua peraturan yang bersifat mengikat secara umum,
yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan Rakyat bersama
Pemerintah, baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah, serta
semua Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik
ditingkat pusat maupun tingkat daerah yang juga mengikat
secara umum (Penjelasan Pasal 1 angka 2 Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1986). Sedangkan menurut Pasal 1 angka 2
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan
Perundang-Undangan,
yang
dimaksud
dengan
Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang
memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk
atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang
berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan
Perundang-undangan.
Hal 11 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
-
Bersifat konkret diartikan obyek yang diputuskan dalam
keputusan itu tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat
ditentukan. Dengan kata lain wujud dari keputusan tersebut dapat
dilihat dengan kasat mata, namun terhadap ketentuan ini ada
pengecualian sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 UU PTUN;
-
Bersifat individual, diartikan bahwa Keputusan Tata Usaha
Negara itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi tertentu baik alamat
maupun yang dituju. Kalau yang dituju itu lebih dari satu orang,
maka tiap-tiap individu harus dicantumkan namanya dalam
keputusan tersebut.
-
Bersifat final, diartikan keputusan tersebut sudah definitif ,
keputusan yang tidak lagi memerlukan persetujuan dari instansi
atasan atau instansi lain, karenanya keputusan ini dapat
menimbulkan akibat hukum.
-
Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
Menimbulkan Akibat Hukum disini artinya menimbulkan suatu
perubahan dalam suasana hukum yang telah ada. Karena
Penetapan Tertulis itu merupakan suatu tindakan hukum, maka
sebagai
tindakan
hukum
ia
selalu
dimaksudkan
untuk
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata. Apabila tidak dapat menimbulkan akibat hukum ia bukan
suatu tindakan hukum dan karenanya juga bukan suatu
Penetapan Tertulis.
Bahwa perlu juga diketengahkan menyangkut perbuatan hukum dilakukan
oleh Pejabat/ Badan Tata Usaha Negara, in casu, adalah Turut Tergugat
yaitu
Kepala
Kantor
Pertanahan
Kota
Bandung
yang
merupakan
representasi Badan Pertanahan Nasional RI vide Peraturan Presiden
Nomor 63 Tahun 2013 tentang Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia Pasal 2 yang menyatakan :
“BPN RI mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang pertanahan secara nasional, regional, dan sektoral sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
Hal yang digaris bawahi bahwa menyangkut “tugas pemerintahan di bidang
pertanahan” adalah suatu perbuatan hukum yang mungkin dilakukan oleh
Pemerintah, di samping juga perbuatan yang sifatnya keperdataan. Perlu
dibedakan antara perbuatan melawan hukum dalam ranah perbuatan
Hal 12 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
hukum perdata dan perbuatan melawan hukum dalam ranah hukum tata
usaha negara. H. Ujang Abdullah, SH., M.Si di dalam makalahnya tentang
“Perbuatan Melawan Hukum Oleh Penguasa” menyatakan dengan tegas
bahwa:
“Pemerintah yang merupakan bagian dari organisasi negara mempunyai
organ-organ disebut badan atau jabatan Tata Usaha Negara yang
mempunyai mandiri dalam statusnya berdasarkan peraturan per Undangundangan yang berlaku dapat melakukan perbuatan hukum perdata dan
hukum publik, seperti mengadakan perjanjian, melahirkan hukum
positif dalam bentuk keputusan dari yang bersifat umum sampai
keputusan yang kongkrit dan individual.”
Berdasarkan hal tersebut di atas, tampak bahwa perbuatan hukum
Pemerintah tidak saja dalam lingkup hukum publik seperti melahirkan
hukum positif dalam bentuk keputusan baik yang bersifat umum ataupun
keputusan yang kongkrit dan individual, namun juga di luar hal tersebut,
Pemerintah pun dapat melakukan perbuatan hukum perdata.
Artinya adalah : perlu dilakukan klasifikasi terhadap perbuatan hukum
yang dilakukan pemerintah sebelum mengajukannya ke pengadilan,
karena hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap peradilan
manakah yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili perbuatan
hukum dari pemerintah tersebut.
Bahwa dalam perkara a quo, Penggugat mencoba untuk menyamarkan
tuntutan dengan dalil “Menuntut Hak” yang dikemas dalam posita dan
petitum yang seolah-olah gugatan a quo adalah gugatan menuntut hak
atas perbuatan Tergugat dalam ranah Hukum Perdata padahal tujuan akhir
dari gugatan a quo adalah lahirnya suatu perbuatan hukum tata usaha
negara dari Pejabat/ Badan Tata Usaha Negara yaitu berbentuk
perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB) .
Dalam praktek keputusan-keputusan badan/Pejabat TUN yang
berpontesi menimbulkan sengketa TUN, sebagaimana dikemukakan
oleh H. Ujang Abdullah, SH., M.Si, yaitu antara lain
keputusan
tentang Status Hukum, Hak dan Kewajiban yang meliputi:
1.
Status hukum perorangan atau Badan Hukum Perdata,misalkan:
akta kelahiran, akta kematian, akta pendirian/pembubaran badan
hukum, KTP, Ijazah, Sertifikat, dsb;
2.
Hak/ Kewajiban perorangan atau Badan Hukum Perdata terhadap
suatu barang untuk jasa, misalkan: pemberian/pencabutan hak atas
tanah, hak untuk melakukan pekerjaan, dsb.
Hal 13 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Bahwa permasalahan kompetensi mengadili ternyata telah menjadi
yurisprudensi Mahkamah Agung RI berdasarkan putusan No. 716
K/Sip/1973 tanggal 5 September 1973 dimana Majelis Hakim Agung
yang dipimpin oleh Prof. R. Subekti SH membenarkan pertimbangan
pengadilan negeri dan pengadilan tinggi bahwa pengeluaran/
pencabutan dan pembatalan surat sertipikat adalah semata-mata
wewenang dari Kantor Pendaftaran dan Pengawasan Pendaftaran
Tanah, bukan termasuk wewenang Pengadilan Negeri, maka
gugatan penggugat-penggugat mengenai pencabutan / pembatalan
sertipikat No. 171 tidak dapat diterima.
Sehingga kiranya sudah cukup patut dan beralasan hukum apabila
Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a
quo agar dalam kedudukannya sebagaimana Pasal 132 Rv yang
secara Ex-Officio memiliki kewenangan untuk menyatakan diri tidak
berwenang
mengadili
secara
absolut
perkara-perkara
yang
menyangkut objek gugatan Tata Usaha Negara yang merupakan
kewenangan dari Peradilan Tata Usaha Negara.
Bahwa berdasarkan keseluruhan uraian dalil-dalil tersebut di atas,
Tergugat mohon dengan hormat kepada Majelis Hakim yang Mulia
pada Pengadilan Negeri Klas 1A Khusus Bandung yang memeriksa
dan mengadili perkara a quo untuk dapat kiranya memutus terlebih
dahulu berkenaan dengan kewenangan mengadili secara absolut
dari Pengadilan Negeri Klas 1A Khusus Bandung dalam memeriksa
dan mengadili perkara a quo dengan menyatakan bahwa Pengadilan
Negeri Klas 1A Khusus Bandung tidak berwenang memeriksa dan
mengadili perkara ini dan selanjutnya memutus bahwa gugatan dari
Penggugat harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvanklijke
verklaard).
2. Eksepsi Prosesual di Luar Eksepsi Kompetensi
2.1. Eksepsi Error in Persona
2.1.1 Gugatan
Diskualifikasi
in
Person
(Gemis
aanhoedanigheid)
Bahwa Penggugat di dalam Surat Gugatannya tertanggal 12
Januari 2015 yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri Klas IA Khusus Bandung pada tanggal 15 Januari 2015,
menyatakan di dalam perihalnya bahwa gugatan a quo adalah
gugatan menuntut hak.
Hal 14 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Namun demikian hal menarik yang patut disimak adalah apa
yang
menjadi dalil posita sebagaimana diuraikan oleh
Penggugat, namun dalam posita tersebut tidak ada satupun
dalil yang menyatakan hubungan hukum antara Penggugat
dengan Tergugat, oleh karena itu perlu Tergugat uraikan
kronologis hal ihwal terbitnya Hak Guna Bangunan sbb :
Bahwa Tergugat mengadakan perjanjian dengan PT. Interna
Permai untuk membangun kawasan bancey (tanah bekas LP
Banceuy) sebagaimana tertuang di dalam Surat Perjanjian
Pembangunan dan Pengelolaan Gedung Banceuy Permai di
Jalan Banceuy No. 8 Bandung Nomor : 011/3700/Huk. yang
dibuat tanggal 17 April 1984.
Hal tersebut memberikan pemahaman bahwa pada dasarnya
Penggugat
menyadari
asal
muasal
dari
SHGB
yang
dipegangnya merupakan pecahan atau splitsing dari Sertipikat
Hak Guna Bangunan No.284/ Kelurahan Braga terbit tanggal
11 Agusus 1986 Surat Ukur tanggal 28 Nopember 1985
No.3244/1985 seluas 10.305 m2 tertulis atas nama PT. Interna
Permai, berkedudukan di Bandung yang berakhir haknya pada
tanggal 17 April 2014.
Para Penggugat tampaknya juga menyadari bahwa SHGB
No.322/ Braga tersebut merupakan bentuk akibat hukum yang
timbul dari adanya Surat Perjanjian Nomor : 011/3700/Huk.
tanggal 17 April 1984 antara Tergugat dengan PT. Interna
Permai.
Bahwa
terhadap
hal
tersebut,
secara
hukum,
tentu
memberikan implikasi sebagai berikut :
1. Objek sengketa merupakan turunan atau splitsing dari
SHGB No.284/ Braga yang terbit di atas Sertipikat Hak
Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28 Nopember 1985,
yang masa berakhirnya merujuk pada Surat Perjanjian
Nomor : 011/3700/Huk. tanggal 17 April 1984 maka
berakhir pada tanggal 17 April 2014;
2. Segala akibat hukum yang timbul dari Surat Perjanjian
Nomor : 011/3700/Huk. tanggal 17 April 1984 hanya
mengikat pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut
yaitu Tergugat dan PT. Interna Permai;
3. Segala objek yang menyangkut keberadaan SHGB No.284/
Braga yang terbit di atas Sertipikat Hak Pengelolaan
Hal 15 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
No.1/Kel. Braga tanggal 28 Nopember 1985 sepenuhnya
hanya mengikat Tergugat dan PT. Interna Permai.
Hal tersebut merujuk ketentuan Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata khususnya Pasal 1338 yang pada pokoknya
menyatakan bahwa : “Semua perjanjian yang dibuat secara
sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya”.
Frasa “perjanjian berlaku bagi mereka yang membuatnya”
tersebut semakin kokoh dengan adanya pernyataan Pasal
1340 yang dengan tegas menyebutkan : “Suatu perjanjian
hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya”.
Pertanyaannya adalah : Lalu dimanakah posisi hukum
Penggugat saat ini ???
Sesuai dengan ketentuan Pasal 30 huruf d Peraturan
Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna
Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai
Atas
Tanah(“PP 40/1996”) dinyatakan bahwa :
“Pemegang
Hak
Guna
Bangunan
berkewajiban:
menyerahkan kembali tanah yang diberikan dengan Hak
Guna
Bangunan
kepada
Negara,
pemegang
Hak
Pengelolaan atau pemegang Hak Milik sesudah Hak Guna
Bangunan itu hapus;”
Artinya bahwa Penggugat sudah tidak lagi memiliki
hubungan hukum dengan SHGB turunan atau splitsing
dari SHGB No.284/ Kelurahan Braga yang terbit di atas
Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28
Nopember 1985, yang masa berakhirnya merujuk pada Surat
Perjanjian Nomor : 011/3700/Huk. tanggal 17 April 1984 sejak
berakhir pada tanggal 17 April 2014.
Bahwa fakta tersebut, secara normatif juga dikuatkan oleh
Pasal 68 ayat (1) huruf a dan ayat (2) Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan
(“UU 30/2014”) yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
“Keputusan berakhir apabila:
a.
habis masa berlakunya;
b.
dicabut oleh Pejabat Pemerintahan yang berwenang;
c.
dibatalkan
oleh
pejabat
yang
berwenang
atau
berdasarkan putusan Pengadilan; atau
d.
diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan.
Hal 16 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
(1)
Dalam
hal
berakhirnya
Keputusan sebagaimana
dimaksud pada Ayat (1) huruf a, Keputusan dengan
sendirinya menjadi berakhir dan tidak mempunyai
kekuatan hukum.“
Bahwa sebagaimana kita ketahui, dan telah diulas sebelumnya
pada bagian Eksepsi Tidak Berwenang Mengadili secara
Absolut (Exceptie van Onbeveogheid) surat jawaban ini,
bahwa SHGB yang diklaim dan dipermasalahkan oleh
Penggugat adalah salah satu bentuk dari Keputusan Tata
Usaha Negara. Sehingga dengan demikian ketentuan UU
30/2014
sangat
relevan
untuk
diterapkan
didalam
permasalahan ini, karena undang-undang tersebut sudah
mulai diundangkan pada 17 Oktober 2014.
Bahwa dengan telah berakhirnya sejak 17 April 2014 maka
dengan demikian sesuai dengan bunyi frasa “Keputusan
dengan sendirinya menjadi berakhir dan tidak mempunyai
kekuatan hukum” maka secara otomatis hubungan hukum
antara Subjek pemegang SHGB dengan objek SHGBnya pun
menjadi berakhir.
Dengan kedudukan yang demikian maka jelaslah sudah
bahwa Penggugat adalah Penggugat yang tidak memiliki legal
standing atau menurut hukum dinyatakan sebagai penggugat
yang tidak memiliki kualifikasi (diskualifikasi in person).
Bahwa kedudukan Penggugat yang tidak memiliki kapasitas
(legal standing) ini patut untuk dikualifikasikan sebagai cacat
error in persona, hal ini selaras dengan apa yang disampaikan
oleh M. Yahya Harahap, SH., dalam bukunya “Hukum Acara
Perdata
tentang
Gugatan,
Persidangan,
Penyitaan,
Pembuktian, dan Putusan Pengadilan”, Jakarta : Sinar Grafika.
2005 : 111 bahwa apabila yang bertindak sebagai Penggugat
orang yang tidak memenuhi syarat (diskualifikasi) karena
disebabkan Penggugat dalam kondisi tidak mempunyai hak
untuk menggugat perkara yang disengketakan, maka sudah
selayaknyalah gugatan tersebut harus dinyatakan cacat formal
karena mengandung diskualifikasi in person.
Bahwa permasalahan mengenai pentingnya kapasitas (legal
standing) dari suatu pihak yang berperkara khususnya
Penggugat
juga
telah
diangkat
menjadi
yurisprudensi
Mahkamah Agung RI sebagaimana putusan Nomor 294
Hal 17 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
K/Sip/1971 tanggal 7 Juli 1971 juncto putusan Pengadilan
Tinggi Bandung
Nomor
114/1970/Perd/PTB tanggal 10
Nopember 1970 juncto PNI Bandung Nomor 215/1967/Sipil
tanggal 4 Juni 1968 yang menyatakan bahwa “suatu gugatan
haruslah diajukan oleh orang yang mempunyai hubungan
hukum dengan apa yang digugatnya, sehingga gugatan
yang secara salah diajukan tersebut haruslah dinyatakan
tidak dapat diterima”.
2.1.2 Gugatan Kurang Pihak (Plurium Litis Consortium).
Gugatan dari Penggugat seharusnya dinyatakan kurang pihak
karena tidak menarik PT. Interna Permai sebagai pihak dalam
perkara Aquo.
Mengapa demikian?
Karena terbitnya sertifikat Hak Guna Bangunan tersebut
bermula dari kerjasama pembangunan antara
Penggugat
dengan PT. Interna Permai kemudian terbit HGB No.
284/Kelurahan Braga yang dipecah oleh PT. Interna Permai
menjadi beberapa HBG diantaranya HGB yang dikuasai oleh
Penggugat (SHGB No. 322/Braga).
Apabila Penggugat kemudian berdalih, dengan menyatakan
bahwa penarikan Tergugat untuk menjadi pihak dalam perkara
a quo adalah sepenuhnya menjadi kewenangan Penggugat
dengan mendasarkannya pada beberapa yurisprudensi yang
memiliki substansi tentang itu, tentu hal tersebut merupakan
hak Penggugat untuk mengelak, tetapi sekali lagi, secara
proporsional, Tergugat dalam kapasitas sebagai pihak yang
beritikad baik untuk menyelesaikan perkara a quo dan lebih
dari itu tentunya dengan latar belakang fundamentum petendi
yang jelas dan terang, maka akan memberikan informasi dan
dasar yang kuat bagi Majelis Hakim in casu untuk memeriksa
dan mengadili perkara a quo dengan pertimbangan yang
matang dan penuh keadilan.
Bahwa selaras dengan apa yang disampaikan oleh M.
Yahya Harahap, SH., (2005: 112) :
Bentuk error in persona yang lain disebut plurium litis
consortium. Pihak yang bertindak sebagai penggugat
atau yang ditarik sebagai tergugat :
Hal 18 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
-
tidak lengkap, masih ada orang yang mesti ikut
bertindak sebagai penggugat atau ditarik tergugat;
-
oleh karena itu, gugatan mengandung error in
persona dalam bentuk plurium litis consortium, dalam
arti gugatan yang diajukan kurang pihaknya.
Hal
tersebut
juga
mengacu
pada
yurisprudensi
Mahkamah Agung RI Nomor 186/R/Pdt/1984 tanggal 18
Desember 1985 juncto putusan PT Samarinda Nomor
178/1983 tanggal 21 September 1984 juncto PN
Samarinda Nomor 96/1982 tanggal 5 Maret 1983 yang
menyatakan bahwa karena tidak menarik pihak yang
seharusnya
ditarik
sebagai
pihak
maka
gugatan
dinyatakan mengandung cacat error in persona dalam
bentuk plurium litis consortium. Yurisprudensi tersebut
semakin diperkuat oleh yurisprudensi Mahkamah Agung
RI yang lain dalam putusan Nomor 1125 K/Pdt/1984
tanggal 18 September 1983 juncto putusan PT Bandung
Nomor 454/1982 tanggal 9 Juni 1983 juncto putusan PN
Bandung Nomor 6/1982 tanggal 25 Agustus 1982 yang
menyatakan bahwa judex factie salah menerapkan tata
tertib beracara yang tidak menyertakan pihak yang
memiliki relevansi namun tidak ditarik menjadi pihak di
dalam suatu perkara. Hal senada juga ditegakkan di
dalam yurisprudensi Mahkamah Agung yang lain yaitu
dalam putusan Nomor 621 K/ Sip/1975 tanggal 25 Mei
1977 yang menyatakan bahwa dengan tidak menarik
pihak ketiga yang memiliki keterkaitan dengan gugatan
yang diajukan penggugat maka mengandung cacat
plurium litis consortium.
2.2. Eksepsi Kedudukan Hukum (legal standing)
2.2.1 Penggugat tidak mempunyai legal standing untuk mengajukan
gugatan.
Bahwa apabila Penggugat mengklaim sebagai pemilik SHGB
No. 322/Braga, sebagaimana diuraikan di dalam posita angka
1 dan 2, yang pada pokoknya menyatakan “bahwa Sertifikat
Hak Guna Bangunan No. 322/Braga, Surat Ukur No.
Hal 19 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
1292/1986 tanggal 23 September 1986 seluas 93 m2 yang
terletak di komplek Banceuy Permai Kaveling D.6 No. 18
Bandung diperoleh atas dasar jual beli sebagaimana
tercantum dalam akta Jual Beli No. 295/2007 tanggal 14
Juni 207 .......”.
Terhadap dalil tersebut apabila hendak dicermati, Penggugat
melakukan pembelian terhadap Bangunan Ruko tersebut
dilakukan pada tanggal 14 Juni 2007. Dimana SHGB tersebut
merupakan turunan atau splitsing dari SHGB induk No.284/
Kelurahan
Braga
yang
terbit
di
atas
Sertipikat
Hak
Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28 Nopember 1985
sementara
itu
Surat
Perjanjian
Pembangunan
dan
Pengelolaan Gedung Banceuy Permai di Jalan Banceuy No. 8
Bandung Nomor : 011/3700/Huk. yang dibuat tanggal 17 April
1984, artinya Penggugat membeli ruko tersebut 7 tahun
menjelang berahirnya Hak Guna Bangunan tersebut yaitu
tanggal 17 April 2014.
Pertanyaannya adalah ?
Dimana posisi hukum Penggugat di dalam Surat Perjanjian
Nomor: 011/3700/Huk. yang dibuat tanggal 17 April 1984
antara Tergugat dan PT. Interna Permai.
Untuk
menjawab dua pertanyaan tersebut tentu patut
diperhatikan apa yang menjadi pertimbangan hukum Majelis
Hakim Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Bandung pada saat
menjatuhkan putusan dalam perkara Gugatan Perdata Nomor
: 335/PDT.G/2014/PN.BDG yang diajukan pada tanggal 27
Juni 2014 oleh Suwito Gunawan Cs yang juga merupakan
penghuni Objek Sengketa di kawasan Banceuy Permai. Di
dalam putusan tertanggal 4 Nopember 2014 tersebut Yang
Mulia
Majelis
Hakim
dengan
bijaksana
memberikan
pertimbangan sebagaimana termuat di dalam halaman 30
putusan tersebut yaitu sebagai berikut :
“Menimbang, bahwa oleh karena para pihak dalam
Perjanjian
Pembangunan
dan
Pengelolaan
Gedung
Banceuy Permai No. 011/3700/HUK tertanggal 17 April
1984 adalah Tergugat I dengan Tergugat II sedangkan para
Penggugat bukan merupakan pihak dalam perjanjian a quo,
maka tuntutan para Penggugat agar Tergugat I dinyatakan
melakukan
perbuatan
wanprestasi
padahal
diantara
keduanya tidak terdapat adanya hubungan hukum berupa
Hal 20 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
perjanjian
telah
mengakibatkan
dalil
gugatan
para
Penggugat menjadi tidak jelas atau kabur;”
Walaupun Suwito Gunawan tidak lagi masuk sebagai pihak di
dalam perkara a quo namun demikian patut dicatat bahwa
para Penggugat di dalam
Gugatan Perdata Nomor :
335/PDT.G/2014/PN.BDG adalah merupakan penghuni yang
sama
yang
berada
di
atas
objek
sengketa
yang
dipermasalahkan di dalam perkara a quo;
Berdasarkan hal tersebut setidaknya dapat dipastikan bahwa
pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Bandung
Nomor : 335/PDT.G/2014/PN.BDG tanggal 4 Nopember 2014
sebagaimana disunting tersebut di atas sangat relevan untuk
kembali dipertimbangkan di dalam memeriksa dan memutus
perkara a quo.
Terhadap fakta tersebut maka dapat dipastikan bahwa posita
yang disampaikan oleh Penggugat sebagaimana diuraikan di
dalam surat gugatan tertanggal 12 Januari 2015 hanyalah
sebuah
peraturan
alasan
hukum
yang
perundang-undangan
berdasarkan
yang
asumsi
diuraikan
dari
oleh
Penggugat yang jelas-jelas bertentangan dengan Pasal 1320,
1338 KUHPerdata.
Bahwa terhadap hal-hal yang demikian tentunya patut untuk
dinyatakan tidak dapat dikabulkan. Karena secara logika,
bagaimana mungkin memberi perpanjangan Hak Guna
Bangunan kepada pihak yang tidak terikat dalam suatu
perjanjian atau tidak ada hubungan hukumnya, oleh karena itu
sudah sepatut dan sepantasnya apabila Yang mulia Majelis
Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk
memutus dan menyatakan menolak gugatan Penggugat atau
setidak-tidaknya menyatakan gugatan Pengugat tidak dapat
diterima (niet ontvankelijkverklaard);
1.2.2 Gugatan Prematur
Gugatan yang diajukan oleh Penggugat harus dinyatakan
prematur dengan alasan bahwa Penggugat tidak pernah
mengajukan permohonan perpanjangan haknya,
apabila
mengacu pada ketentuan Pasal 27 PP 40/1996 dinyatakan
sebagai berikut :
(1) Permohonan perpanjangan jangka waktu Hak Guna
Bangunan atau pembaharuannya diajukan selambat-
Hal 21 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
lambatnya DUA TAHUN sebelum berakhirnya jangka
waktu
Hak
Guna
Bangunan
tersebut
atau
perpanjangannya.
(2) Perpanjangan atau pembaharuan Hak Guna Bangunan
dicatat dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan.
(3) Ketentuan
mengenai
tata
cara
permohonan
perpanjangan atau pembaharuan Hak Guna Bangunan
dan
persyaratannya
diatur
lebih
lanjut
dengan
Keputusan Presiden.
Dengan berpedoman pada Pasal 27 tersebut, seharusnya
sebelum mempermasalahkan perkara a quo, maka terlebih
dahulu Penggugat mengajukan permohonan perpanjangan
SHGB-nya minimal atau selambat-lambatnya 2 (dua) tahun
sebelum SHGB tersebut berakhir.
Faktanya?
Hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Penggugat untuk
mengajukan
permohonan
perpanjangan.
Hal
tersebut
diungkap dalam pertimbangan persidangan Gugatan Perdata
Nomor : 335/PDT.G/2014/PN.BDG yang selanjutnya dijadikan
dasar pertimbangan hukum oleh Yang Mulia Majelis Hakim
perkara tersebut sebagaimana terurai di dalam halaman 30
salinan putusan perkara tersebut tertanggal 4 Nopember 2014
sebagai berikut :
“Menimbang, bahwa di samping uraian pertimbangan
hukum di atas, dalam posita surat gugatannya para
Penggugat menguraikan berdasarkan pasal 10 ayat (3)
Perjanjian No. 011/3700/HUK tertanggal 17 April 1984
yaitu antara Tergugat I dengan Tergugat II disebutkan
setelah masa waktu habis pemakaian diberi prioritas
untuk
memperpanjang
mengajukan
hak
perpanjangan
pakainya
haknya
dan
sesuai
dapat
dengan
ketentuan yang berlaku dengan persyaratan yang akan
ditentukan kemudian hari oleh Pihak Kesatu...., namun
tidak terdapat adanya suatu uraian mengenai bahwa para
Penggugat
telah
pernah
mengajukan
permohonan
perpanjangan haknya yaitu setelah berakhirnya masa
berlakunya hak tersebut (terhitung 30 tahun sejak tanggal
17 April 1984). Bahwa dengan belum pernahnya para
Penggugat
mengajukan
permohonan
Hal 22 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
perpanjangan
haknya setelah masa berlakunya hak tersebut berakhir,
maka hal tersebut telah mengakibatkan gugatan para
Penggugat tersebut belum waktunya untuk diajukan atau
dengan perkataan lain, bahwa gugatan para Penggugat
tersebut merupakan gugatan yang prematur”
Apabila menyimak Surat Gugatan tertanggal 12 januari 2015
yang diajukan oleh Penggugat dari posita 1 samapai dengan
posita 15 maka fakta yang disampaikan oleh Penggugat
tersebut
yang
menyatakan
bahwa
Penggugat
pernah
mengajukan permohonan perpanjangan SHGB tersebut hanya
merupakan isapan jempol.
Dengan kondisi yang demikian, maka apa yang menjadi fakta
dan telah dipertimbangkan oleh Yang Mulia Majelis Hakim
dalam perkara Perdata Nomor : 335/PDT.G/2014/PN.BDG
tersebut di atas, menurut hemat Tergugat masih sangat
relevan untuk pula diterapkan dan dipertimbangkan oleh Yang
Mulia Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo.
Terlebih lagi, para Penggugat justru terlihat kebingungan, di
satu sisi menyatakan diri sebagai pemegang SHGB yang
diperoleh dari hasil jual beli dengan pihak yang tidak jelas.
Fakta lain yang juga tidak dapat ditampik adalah terhadap
SHGB
tersebut
tidak
pernah
sekalipun
Penggugat
mengajukan permohonan perpanjangan kepada Tergugat
secara tertulis dari Penggugat sebagaimana amanat dari Pasal
26 ayat (2) PP 40/1996 yang menyatakan :
“Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan
diperpanjang
atau
diperbaharui
atas
permohonan
pemegang Hak Guna Bangunan setelah mendapat
persetujuan dari pemegang Hak Pengelolaan.”
Yang ada justru Penggugat terlihat begitu “galau” dan “mencla
mencle” karena disatu sisi mengklaim sebagai pemilik SHGB
dan disisi lain Penggugat tidak menyebutkan membeli dari
pihak mana, lebih parahnya lagi Penggugat yang beritikad
tidak baik karena faktanya Penggugat membeli Obyek
sengketa tidak melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap
status tanah dan bangunan tersebut, yang nyatanya SHGB
322/Braga yang dikuasai oleh Penggugat merupakan splitsing
dari HGB No. 284 yang diterbitkan di atas HPL No. 1 Milik
Hal 23 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang telah berahir pada
tanggal 14 April 2014.
berkenaan dengan ada prosedur yang tidak ditempuh
oleh Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 27 PP
40/1996,
maka
dalil
gugatan
tersebut
dianggap
prematuur, oleh karena itu mohon kiranya Pengadilan
Negeri Klas IA Khusus Bandung seyogianya menyatakan
dalil Tergugat I tersebut tepat dan beralasan dan
selanjutnya menyatakan bahwa gugatan penggugat
harus ditolak atau atau setidak-tidaknya menyatakan
gugatan
Pengugat
tidak
dapat
diterima
(niet
ontvankelijkverklaard);
3. Eksepsi Hukum Materiil (Materiele Exceptie)
1.1
Objek
Sengketa
Tidak
Dapat
Diperkarakan
(Exceptio
Peremptoria)
1.1.1 Exceptio doli mali (exceptio doli presentis)
Bahwa gugatan dari para Penggugat sebagaimana dinyatakan
di dalam surat gugatannya tertanggal 12 januari 2015 yang
baru diajukan melalui Kepaniteraan Pengadilan Negeri Khusus
Klas IA Bandung tanggal 15 januari 2015 harus dinyatakan
sebagai gugatan curang atau guugatan yang tidak beritikad
baik.
Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan, Penggugat berusaha
untuk menghindari ketentuan Pasal 26 ayat (2) PP 40/1996
yang menyatakan bahwa :
“Hak
Guna
Bangunan
atas
tanah
Hak
Pengelolaan
diperpanjang atau diperbaharui atas permohonan pemegang
Hak Guna Bangunan setelah mendapat persetujuan dari
pemegang Hak Pengelolaan”.
Apabila memang Penggugat menghendaki untuk diperpanjang
bukankah seharusnya Penggugat menempuh mekanisme
sebagaimana
dipersyaratkan
oleh
peraturan perundang-
undangan yang berlaku yaitu PP 40/1996? Kalaupun pada
akhirnya akan dilakukan revitalisasi dan selanjutnya dilakukan
pengumuman lelang, hal tersebut merupakan amanat dari
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal
41 ayat (1) yang menyatakan bahwa "Penetapan mitra
Bangun Guna Serah dilaksanakan melalui tender/lelang
Hal 24 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
dengan mengikutsertakan sekurang-kurangnya 5 (lima)
peserta/peminat". Sehingga apa yang dilakukan Tergugat I
memang sudah dilakukan secara normatif sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap penghuni
terakhir yang mendiami Ruko Banceuy, sudah dijelaskan
dalam pertemuan terakhir dengan masyarakat Banceuy,
bahwa
akan
mengakomodir
para
penghuni
untuk
mendapatkan prioritas sebagai penghuni pada kawasan
Banceuy Baru, implementasinya akan direalisasikan pada saat
telah terpilih mitra kerjasama, yang dituangkan dalam
perjanjian, yang intinya untuk penghuni terakhir apabila
berminat akan diberikan perlakuan khusus tidak disamakan
dengan konsumen umum.
Fakta tersebut jelas menimbulkan persepsi negatif,
karena akan sangat tampak bahwa gugatan a quo
diajukan dengan tidak didasari oleh niat baik atau dalam
sistem hukum Common Law dikenal sebagai Vexatious
litigation atau dalam sistem hukum Civil Law maka lebih
dikenal dengan gugatan doli presentis atau gugatan
dengan “niat licik” yaitu ingin menguasai objek sengketa
dengan tidak mentaati peraturan perundangundangan yang berlaku. oleh karena itu mohon kiranya
Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Bandung seyogianya
menyatakan dalil Tergugat I tersebut tepat dan beralasan
dan selanjutnya menyatakan bahwa gugatan penggugat
harus ditolak atau atau setidak-tidaknya menyatakan
gugatan
Pengugat
tidak
dapat
diterima
(niet
ontvankelijkverklaard);
1.1.2 Exceptio Dominii
Penggugat di dalam surat gugatannya tertanggal 12 januari
2015
yang baru diajukan melalui Kepaniteraan Pengadilan
Negeri Khusus Klas IA Bandung tanggal 15 januari 2015
mendalilkan dalam posita dan petitum seolah-olah sebagai
pihak yang paling benar dan mempunyai kapasitas untuk
memperoleh perpanjangan SHGB padahal terbitnya SHGB
tersebut merupakan perbuatan perjanjian yang dilakukan
Tergugat I dengan PT. Interna Permai, lebih jauh Penggugat
Hal 25 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
pun mengklaim bahwa SHGB tersebut adalah miliknya
padahal berdasarkan perjanjian No. 011/3700/HUK tertanggal
17 April 1984 sudah expire.
Bahwa menjadi kewajiban hukum sebagaimana diatur dalam
Hukum Acara Perdata yang ada, maka Penggugat wajib untuk
membuktikan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar tersebut.
Karena, barangsiapa yang mendalilkan maka dia yang harus
membuktikan sebagaimana diisyaratkan dalam:
-
Pasal 163 HIR
Barang siapa yang mengatakan mempunyai barang
suatu hak, atau menyebutkan suatu kejadian atau
meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak
orang lain, maka orang itu harus membuktikan
adanya haknya itu atau adanya kejadian itu.
-
Pasal 1865 KUHPerdata
Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai
suatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri
maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk
pada
suatu
peristiwa,
diwajibkan
membuktikan
adanya hak atau peristiwa tersebut.
Bahwa berdasarkan uraian pada bagian eksepsi materiil
ini,
maka
dapat
dibuktikan
bahwa
gugatan
dari
Penggugat tersebut sama sekali tidak berdasardan
mengandung cacat exceptio peremptoria. Karenanya
sudah cukup alasan hukum agar kiranya Pengadilan
Negeri Klas IA Khusus Bandung seyogianya menyatakan
eksepsi Tergugat I tersebut adalah sangat tepat dan
beralasan dan selanjutnya menolak gugatan Penggugat
atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat
tidak dapat diterima (niet ontvankelijkverklaard).
Hal 26 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa Tergugat I dengan ini mohon agar hal-hal yang telah dikemukakan
dalam bagian Eksepsi dan bagian Provisi secara mutatis mutandis masuk
dalam bagian Pokok Perkara ini;
2. Bahwa Tergugat I dengan ini MENOLAK dengan tegas, bulat dan utuh,
seluruh dalil Penggugat sebagaimana tertuang di dalam Surat Gugatannya
tertanggal 12 Januari 2015 yang baru diajukan melalui Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Bandung tanggal 15 Januari 2015 dan
diberi registerasi perkara Nomor : 20/PDT/G/2015/PN.BDG, kecuali untuk
hal-hal yang diakui secara tegas kebenarannya oleh Tergugat I;
3. Bahwa sebelum menanggapi pada bagian pokok perkara a quo, alangkah
baiknya jika kita kembali menyimak dalil-dalil sebagaimana dikemukaakan
oleh Penggugat dalam perkara perdata Nomor : 20/PDT/G/2015/PN.BDG
yang diajukan berdasarkan Surat Gugatan tertanggal 12 Januari 2015 yang
baru diajukan melalui Kepaniteraan Pengadilan Negeri Khusus Klas IA
Bandung tanggal 15 januari 2015, khususnya posita angka 1, 2 dan 3,
dimana Penggugat dalam perkara tersebut mendalilkan bahwa Penggugat
adalah pemilik SHGB No. 322/Braga.
Mengapa dalil tersebut perlu kembali diangkat?
Karena banyak persamaan diantara kedua gugatan, baik perkara perdata
Nomor
:
20/PDT/G/2015/PN.BDG
dan
perkara
perdata
Nomor
:
533/PDT/G/2014/PN.BDG, memiliki objek lokasi yang sama yaitu Pertokoan
Banceuy Permai yang terletak di Jalan Banceuy No. 8 Bandung. Bahwa
walaupun sebagian besar identitas penggugat berbeda di kedua perkara
tersebut, namun kesemua penggugat di kedua perkara adalah penghuni
Pertokoan Banceuy Permai yang terletak di Jalan Jalan Banceuy No. 8
Bandung.
Artinya bahwa walaupun substansi gugatannya berbeda diantara keduanya,
namun demikian kedudukan dari penggugat di dalam kedua perkara
tersebut adalah sama yaitu sama-sama pemegang SHGB yang lahir dari
hasil pemisahan atau splitsing dari Sertipikat Hak Guna Bangunan No.284/
Kelurahan Braga atas nama PT. Interna Permai yang berdiri di atas
Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28 Nopember 1985
atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Tergugat I), dimana SHGB
tersebut telah berakhir masa berlakunya sejak tanggal 17 April 2014.
Dengan demikian jelas bahwa dengan permintaan perpanjangan
SHGB dari Penggugat kepada Tergugat I merupakan sebuah
pengakuan dari Penggugat bahwa tanah dan bangunan yang
Hal 27 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
beralamat di Jalan Banceuy No. 8 Bandung merupakan milik
Tergugat I hal ini patut untuk diangkat sebagai fakta yang memiliki
validitas yang memiliki kekuatan pembuktian sempurna di dalam
perkara a quo. oleh karena itu mohon kiranya Pengadilan Negeri Klas
IA Khusus Bandung seyogianya menyatakan dalil Tergugat I tersebut
tepat dan beralasan dan selanjutnya menyatakan menolak gugatan
penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Pengugat
tidak dapat diterima (niet ontvankelijkverklaard);
4. Bahwa apa yang di dalilkan oleh Penggugat pada posita angka 1, 2 dan 3
tersebut di atas yang pada pokoknya menyatakan fakta bahwa Penggugat
baru membeli splitsing dari Sertipikat Hak Guna Bangunan No.284/
Kelurahan Braga atas nama PT. Interna Permai yang berdiri di atas
Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28 Nopember 1985
atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Tergugat I) pada tanggal 14
Juni 2007.
Bahwa hal tersebut memberikan fakta bahwa Penggugat baru memiliki
SHGB tersebut + 7 tahun menjelang berahirnya SHGB (14 April 2014), dari
hasil jual beli yang dilakukan oleh Penggugat dihadapan notaris H. Wira
Fransiska, SH tanggal 14 Juni 2007.
-
Pertanyaannya mungkinkah Penggugat tidak tahu SHGB-nya terbit di
atas HPL
No. 1 ?
Apabila Penggugat berdalih tidak mengetahui bahwa SHBG tersebut terbit
di atas HPL No. 1 milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hal itu hanya
isapan jempol belaka karena penggugat melakukan pembelian SHGB No.
322/Braga tersebut bukan dibahwah tangan tetapi dihadapan Notaris yang
notabenenya
pasti
akan
diperiksa
kelengkapan
dokumen-dokumen
pendukung/ asal muasal dari SHGB oleh notaris.
Bahwa berdasarkan atas alasan-alasan tersebut, maka Tergugat I dengan
tegas MENOLAK seluruh posita yang disampaikan oleh Penggugat
sebagaimana dimuat dalam Surat Gugatannya tertanggal 12 Januari 2015
khususnya pada bagian angka 1, 2 dan 3. Posita-posita tersebut harus
ditolak dan dikesampingkan karena ketentuan
tentang Hak Guna
Bangunan sudah jelas sebagaimana diatur dalam :
- Pasal 26 ayat (2) PP 40 tahun 1996 yang menyatakan bahwa :
“Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan diperpanjang atau
diperbaharui atas permohonan pemegang Hak Guna Bangunan
setelah mendapat persetujuan dari pemegang Hak Pengelolaan”.
Hal 28 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
- Pasal 30 huruf d PP Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna
Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah(“PP
40/1996”) dinyatakan bahwa :
“Pemegang
Hak
Guna
Bangunan
berkewajiban:
menyerahkan
kembali tanah yang diberikan dengan Hak Guna Bangunan kepada
Negara, pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak Milik
sesudah Hak Guna Bangunan itu hapus;”
Khususnya mengenai dalih pembeli yang beritikad baik, Prof. Ny.
Arie S. Hutagalung. S.H., M.LI.menyatakan bahwa Pembeli yang
beritikad baik memang dilindungi hukum, karena sudah merupakan
azas hukum, akan tetapi tidak setiap pembeli dapat dikategorikan
beritikad baik apalagi terbukti secara nyata pembeli tersebut
mengetahui tanah HGB diatas HPL itu tunduk kepada P3T, akan
tetapi sengaja ditabrak dengan mengenyampingkan semua ketentuan
Perundang-undangan, seperti Pasal 26 ayat (2) jo. Pasal 34 ayat (7)
PP No. 40 Tahun 1996 dan Surat Menteri Negara Agraria Kepala
BPN Nomor: 630.1-3433 tanggal 17 September 1998, tidak pernah
diuji secara materiil oleh Mahkamah Agung. Pembeli yang beritikad
baik adalah pembeli yang jujur dan tidak melanggar ketentuan
perundang-undangan.
Berkenaan dengan prinsip pembeli yang beritikad baik, sudah pula
menjadi yurispridensi Mahkamah Agung RI dalam Putusan Kasasi
Mahkamah Agung Nomor 1651 K/PDT/2013 tanggal 12 November
2013 yang menyatakan :
“Bahwa Penggugat tidak bisa dikwalifikasi sebagai pembeli objek
sengketa yang beritikad baik, HGB yang segera berakhir dan berada
di atas Hak Pengelolaan karena tidak melakukan duty of care dan
tidak memenuhi a certain standart of conduct, yaitu meneliti
secara cermat sebelum membeli”
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, dan bersandar pada ketentuan,
maka Tergugat I dengan tegas menolak dengan bulat dan utuh
seluruh asumsi yang disampaikan oleh Penggugat sebagaimana
termuat di dalam Surat Gugatannya tertanggal 12 Januari 2015
posita angka 1,2 dan 3. oleh karena itu mohon kiranya Pengadilan
Negeri Klas IA Khusus Bandung seyogianya menyatakan dalil
Tergugat I tersebut tepat dan beralasan dan selanjutnya menyatakan
Hal 29 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
menolak gugatan penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan
gugatan Pengugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijkverklaard);
5. Bahwa selanjutnya Tergugat I pun MENOLAK dengan TEGAS terhadap
Surat Gugatan Penggugat tertanggal 12 Januari 2015 khususnya posita
angka 4 dan 5 dengan alasan bahwa posita-posita tersebut hanyalah
asumsi belaka dari ketentuan UU 5 Tahun 1960 yang dibangun untuk
kepentingan Penggugat saja.
Karena Faktanya :
Bahwa Penggugat tidak pernah mengajukan secara tertulis permohonan
perpanjangan Hak Guna Bangunan termaksud kepada Tergugat I
sebagaimana ketentuan Pasal 27 PP 40/1996 yang menyatakan sebagai
berikut :
(1) Permohonan perpanjangan jangka waktu Hak Guna Bangunan atau
pembaharuannya
diajukan
selambat-lambatnya
dua
tahun
sebelum berakhirnya jangka waktu hak guna bangunan
tersebut atau perpanjangannya.
(2) Perpanjangan atau pembaharuan Hak Guna Bangunan dicatat
dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan.
(3) Ketentuan mengenai tata cara permohonan perpanjangan atau
pembaharuan Hak Guna Bangunan dan persyaratannya diatur lebih
lanjut dengan Keputusan Presiden.
Berdasarkan alasan-alasan dan uaraian-uraian tersebut, maka sudah
sepantas dan sepatutnya Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa
dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan dalil Tergugat I
tersebut tepat dan beralasan dan selanjutnya menyatakan menolak
gugatan penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan
Pengugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijkverklaard);
6. Bahwa Tergugat dengan tegas dan bulat menolak gugatan Penggugat pada
angaka 6,7,8 dan 9 dalam surat gugatannya tertanggal 12 Januari 2015
yang pada pokoknya menyatakan “keberatan terhadap surat-surat yang
dikeluarkan oleh Tergugat I terkait dengan Ruko Banceuy”.
Untuk mendapat gambaran yang terang benderang mengenai peristiwa
hukum hingga lahirnya SHGB No. 322/Braga tersebut, tergugat I akan
menguraikan hal-hal sbb :
Bahwa bermula dari Surat Perjanjian Pembangunan dan Pengelolaan
Gedung Banceuy Permai di Jalan Banceuy No. 8 Bandung Nomor :
011/3700/Huk. tanggal 17 April 1984 dan lahirnya SHGB-SHGB turunan
Hal 30 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
dari hasil pemisahan atau splitsing dari Sertipikat Hak Guna Bangunan
No.284/ Kelurahan Braga atas nama PT. Interna Permai yang berdiri di atas
Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28 Nopember 1985
atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Tergugat I), Tergugat I akan
ketengahkan kronologisnya sebagai berikut :
(1) Tanah di Jalan Banceuy/ABC Kav. B. 14 No. 16 Kota Bandung,
awalnya berdiri Lembaga Pemasyarakatan Banceuy sejak tahun 1911
yang kemudian dikuasai oleh Departemen Kehakiman RI, oleh karena
kondisinya sudah rusak dan lokasinya tidak cocok sebagai tempat
Pemasyarakatan Narapidana karena berada di pusat kota yang
peruntukan tanahnya untuk kawasan perdagangan sesuai dengan
Rencana
Tata
Ruang
Kota
Bandung,
sehingga
Departemen
Kehakiman telah membangun Lembaga Pemasyarakatan baru yang
terletak di jalan Soekarno-Hatta Bandung. Bahwa selanjutnya dilakukan
tukar-menukar/ruislag antara Departemen Kehakiman selaku Pemilik
Asset Ex Lembaga Pemasyarakatan Banceuy dengan Pemerintah
Provinsi Jawa Barat yang menyerahkan 3,5 Ha Tanah di Desa Cibubur
Kecamatan Cimanggis Kabupaten Bogor.
(2) Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman RI tanggal 27 Pebruari
1985 No.A.18b.PL.07.01/ 1985 dan Surat Persetujuan Pelimpahan
Tanah dan Gedung dari Menteri Keuangan RI tanggal 19 September
1984 No.S.1011/MK.011/1984 tanah tersebut diserahkan haknya untuk
kepentingan Pemerintah Propinsi Daerah Tk.l Jawa Barat dan
dilakukan serah terima asset sesuai Berita Acara Serah Terima Tanah
dan Bangunan Bekas Lembaga Pemasyarakatan Banceuy tanggal 03
April 1985 No.WB. PL.07.1-I.1016.
(3) Bahwa
kemudian
tanah
tersebut
dimohon
permohonan
Hak
Pengelolaan tanggal 12 April 1985 oleh Pemerintah Propinsi Daerah
Tingkat. I Jawa Barat seluas 10.305m2 untuk pusat pertokoan dan
halaman parkir, yang terletak di Jalan Banceuy Kelurahan Braga,
Kecamatan sumur Bandung, Kota Bandung (d.h. Bandung Wetan).
(4) Berdasarkan
Surat
Keputusan
Menteri
Dalam
Negeri
No.SK.93/HPL/DA/85 tanggal 8 Oktober 1985 tersebut diberikan Hak
Pengelolaan seluas 10.305 m2 kepada Pemerintah Propinsi Daerah
Tingkat I Jawa Barat.
(5) Bahwa selanjutnya Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.
SK.93/HPL/DA/85 tanggal 8 Oktober 1985 tersebut didaftarkan dan
diterbitkan Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kel. Braga tanggal 28
Nopember 1985, Surat Ukur tanggal 28 Nopember 1985 No. 3244/1985
Hal 31 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
seluas 10.305 m2 tertulis atas nama Pemerintah Provinsi Daerah
Tingkat I Jawa Barat yang terletak di Jalan Banceuy Kelurahan Braga,
Kecamatan Sumur Bandung Kota Bandung.
(6) Pada tanggal 17 April 1984, Pemerintah Provinsi Jawa Barat
melakukan kerjasama pembangunan eks. Lembaga Permasyarakatan
dengan PT. Interna Permai dengan sistem Built Operation and Transfer
(BOT) berdasarkan Perjanjian Pembangunan dan Pengelolaan Gedung
Banceuy Permai di Jalan Banceuy No.8 Bandung No. 001/3700/Huk
tertanggal 17 April 1984; dan kepada PT. lnterna Permai diberikan hak
untuk mengelola selama 30 (tiga puluh) tahun, setelah berakhir masa
kerjasama seluruh aset yang telah dibangun harus diserahkan
kepada pemilik dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
(7) Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK.
411/HGB/DA/86 tanggal 13 Juni 1986 diberikan Hak Guna Bangunan di
atas Tanah Hak Pengelolaan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I
Jawa Barat No.1/Kel. Braga kepada PT. Interna Permai berkedudukan
di Bandung untuk jangka waktu selama 30 (tiga puluh) tahun berlaku
terhitung mulai tanggal 17 April 1984 seluas 10.305 m2, yang
selanjutnya
Surat
Keputusan
Menteri
Dalam
Negeri
No.
SK.
411/HGB/DA/86 tanggal 13 Juni 1986 didaftarkan dan terbit Sertipikat
Hak Guna Bangunan No.284/ Kelurahan Braga terbit tanggal 11
Agusus 1986 Surat Ukur tanggal 28 Nopember 1985 No.3244/1985
seluas
10.305
m2
tertulis
atas
nama
PT.
Interna
Permai
berkedudukan di Bandung, kemudian SHGB No. 284 tersebut
displitsing oleh PT. Interna menjadi beberapa SHGB termasuk SHGB
No. 322 yang konon milik Penggugat.
(8) Berdasarkan Surat Direktur Utama PT. Interna Permai Nomor :
09/PT.INT/II/10 tanggal 9 Februari 2010 Perihal : Permohonan
Perpanjangan Perjanjian Kerjasama Gedung Banceuy Permai kepada
Bapak Gubernur Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat antara lain
disebutkan bahwa tanah seluas 10.305 m2 telah dibangun :
 Seluas ± 9.305 m2 telah di bangun 59 Unit Ruko berlantai 3 dan
fasilitas Jalan Komplek, dimana Hak Guna Bangunan atas 59 (lima
puluh sembilan) Unit Ruko tersebut telah beralih kepada pihak
ketiga;
 Seluas ± 1.000 m2 telah di bangun Gedung Parkir berlantai 5 yang
sampai saat ini masih dikelola PT. Interna Permai.
(9) Pemerintah Provinsi telah mengadakan sosialisasi kepada masyarakat
penghuni Ruko Banceuy sejak tahun 2011, dengan menginformasikan
antara lain :
Hal 32 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
i.
Mengenai
status aset/tanah dijelaskan bahwa status tanah
adalah tanah dengan Hak Pengelolaan yang ada pemiliknya yaitu
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bukan tanah negara bebas.
ii. Kerjasama dengan PT. lnterna Permai telah berakhir pada 17 April
2014 dan perlu diketahui bahwa HGB induk atas nama PT. Interna
Permai yaitu HGB di atas HPL No.284/Kelurahan Braga sama telah
berakhir pada 17 April 2014.
iii. Dengan berakhirnya perjanjian tersebut sebagaimana poin b pihak
PT. Interna Permai telah menyerahkan aset yang dibangun hasil
kerjasama kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, berdasarkan
Berita Acara Serah Terima Nomor: 214/INT-DIR-ST/IV/2014 tanggal
17 April 2014.
iiii. Rencana Pemerintah
eks.
Ruko
Provinsi Jawa Barat
Banceuy
mengoptimalisasikan
Permai
akan merevitalisasi
yaitu
dalam
pemanfaatan/pengelolaan
rangka
aset
milik
Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
(10) Revitalisasi Ruko Banceuy Permai merupakan kebijakan Pemerintah
Provinsi Jawa Barat dengan pertimbangan:
i.
Bahwa keberadaan ruko saat ini tidak dapat dikelola secara
maksimal karena secara ekonomis tidak dapat menghasilkan
secara maksimal Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
memadai.
ii.
Bahwa daya tampung eksisting hanya untuk 62 (enam puluh
dua) Ruko saja dengan jumlah penghuni yang terbatas.
iii. Jalan Banceuy adalah kawasan komersial, dengan daerah
peruntukan
perdagangan
dan
jasa,
sehingga
sangat
memungkinkan untuk pengembangan kawasan tersebut menjadi
kawasan
yang
ekonomis
dan
memberikan
dampak
bagi
perekonomian masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat
Jawa Barat pada umumnya.
(11) Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap penghuni terakhir
yang mendiami Ruko Banceuy, sudah dijelaskan dalam pertemuan
terakhir dengan masyarakat banceuy, bahwa akan mengakomodir para
penghuni untuk mendapatkan prioritas sebagai penghuni pada
kawasan Banceuy Baru, implementasinya akan direalisasikan pada
saat telah terpilih mitra kerjasama, yang dituangkan dalam perjanjian,
yang intinya untuk penghuni terakhir apabila berminat akan diberikan
perlakuan khusus tidak disamakan dengan konsumen umum.
(12) Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam jangka pendek, telah
memberikan kebijaksanaan bahwa penghuni ruko Banceuy dapat
Hal 33 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
menghuni sementara sampai dengan 30 Desember 2014 dengan cara
sewa sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(13) Terkait dengan permohonan perpanjangan HGB diatas HPL dari para
penghuni dan dari PT.Interna Permai sesuai penjelasan dari Kepala
Kantor Pertanahan Kota Bandung dalam pertemuan tanggal 22
Mei 2014 yang dihadiri oleh penghuni eks. Ruko Benceuy telah
dijelaskan bahwa perpanjangan HGB di atas HPL harus seijin dari
pemilik HPL, berdasarkan PP No.40 Tahun 1996 pada Pasal 26
ayat (2) "Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan
diperpanjang atau diperbaharui atas permohonan pemegang Hak
Guna Bangunan setelah mendapat persetujuan dari pemegang
Hak Pengelolaan".
(14) Terkait dengan berakhirnya HGB diatas HPL dijelaskan dalam PP No.
40 Tahun 1996 pada Pasal 36 ayat (2) "Hapusnya Hak Guna
Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 35 mengakibatkan tanahnya kembali ke dalam
penguasaan
pemegang
Hak
Pengelolaan
".
Hal
ini
perlu
disampaikan karena ada yang salah menginterpretasikan PP No.40
Tahun 1996 yang tidak dibaca secara utuh, karena ada perbedaan
perlakuan terhadap Tanah Negara, Tanah Hak Pengelolaan dan Tanah
Hak Milik.
(15) Mengenai pengumuman lelang kerjasama dalam harian umum Pikiran
Rakyat pada tanggal 25 Juni 2014, itu sudah merupakan hal yang
normatif, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri 17 Tahun 2007
Pasal 41 ayat (1) yang menyatakan bahwa "Penetapan mitra Bangun
Guna
Serah
dilaksanakan
melalui
tender/lelang
dengan
mengikutsertakan sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat",
perihal pengumuman yang ditayangkan di harian Pikiran Rakyat
terbatas karena informasi yang lebih lengkap sudah ada di Sekretariat
Tim Pemanfaatan Aset Milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat Jl.
Diponegoro No.. 22 Bandung, pada Biro Pengelolaan Barang Daerah.
Bahwa dengan penjelasan kronologis tersebut sudah jelas terang
benderang kedudukan Penggugat tersebut, oleh karenannya sudah sepatut
dan selayaknya Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili
Perkara A quo untuk memutus dan menyatakan menolak gugatan
Penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Pengugat tidak
dapat diterima (niet ontvankelijkverklaard);
7. Bahwa selanjutnya terkait dengan posita angka 10, 11 dan 12
dimana
Penggugat berusaha untuk memberikan uraian mengenai Hak Guna
Bangunan
diatas
Hak
Pengelolaan
dapat
diperpanjang
Hal 34 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
dengan
berlandaskan pada UU No 5 Tahun 1960 Khususnya Pasal 28 ayat 1 dan 2,
terhadap dalil tersebut Tergugat I akan tanggapi dengan mengambil
Keterangan Ahli Hukum Agraria yaitu Prof. Ny. Arie S. Hutagalung.
S.H., M.LI. yang disampaikan oleh beliau kepada Yang Mulia Bapak Ketua
Mahkamah Agung RI sebagaimana tertuang di dalam Affidavit (written
sworn statement of fact) tertanggal 6 November 2013.
Bahwa keterangan ahli dari Prof. Ny. Arie S. Hutagalung. S.H., M.LI.
tersebut berpedoman pada :
1. Undang-Undang No.5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok- Pokok Agraria (“UU No. 5 Tahun 1960”);
2. Undang-Undang No. 51/PRP/Tahun 1960 tentang Larangan
Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau Kuasanya (“UU
No. 51/PRP/Tahun 1960”)
3. Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan
Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan
Tanah (“UU No. 4 Tahun 1996”)
4. Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna
Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah (“PP
No. 40 Tahun 1996”);
5. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah (“PP No. 24 Tahun 1997”);
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1974 tentang
Ketentuan-Ketentuan Mengenai Penyediaan dan Pemberian
Tanah Untuk Keperluan Perusahaan (“PMDN No. 5 Tahun
1974”);
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977 tentang Tata
Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak Atas
Bagian-Bagian Tanah Hak Pengelolaan Serta Pendaftarannya
(“PMDN No. 1 Tahun 1977”)
(catatan: PMDN No. 1 Tahun 1977 ini sudah dicabut dengan
PMNA/ Ka. BPN No. 9 Tahun 1999, tetapi ketentuan yang diatur
didalam PMDN No. 1 Tahun 1977 belum diatur dalam PMNA/ Ka.
BPN No. 9 Tahun 1999, sehingga dianggap masih berlaku);
8. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.3 Tahun 1997
tentang
Ketentuan
Pelaksana
PP
No.
24/1997
Tentang
Pendaftaran Tanah (“PMNA/Ka. BPN No. 3 Tahun 1997”);
Hal 35 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
9. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 9 Tahun 1999
tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah
Negara dan Hak Pengelolaan (“PMNA/Ka. BPN No. 9 Tahun
1999”).
(catatan : ketentuan PMNA/ Ka. BPN No. 9 Tahun 1999
sepanjang mengatur tata cara pembatalan Hak atas Tanah
Negara yang bertentangan dengan Peraturan Kepala BPN RI No.
3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan
Kasus Pertanahan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku);
10. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 1 Tahun 2010
tentang Standar Pelayanan dan Pengaturan Pertanahan (“Per
Ka. BPN No. 1 Tahun 2010”);
11. Peraturan Kepala BPN RI No. 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan (“Per Ka. BPN
No. 3 Tahun 2011”);
12. Surat Menteri Negara Agraria Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 630.1-3433 tanggal 17 September 1998 perihal
Agunan Sertipikat di atas tanah Hak Pengelolaan (“Surat Menteri
Negara Agraria Kepala BPN Nomor: 630.1-3433 tanggal 17
September 1998”)
Prof. Ny. Arie S. Hutagalung. S.H., M.LI. memberikan penjelasan
mengenai konsepsi dasar atau ajaran ilmu hukum dalam bidang hukum
tanah Nasional yang mengatur kedudukan serta hakekat dari Hak
Pengelolaan (“HPL”).
HPL adalah “gempilan” atau “bagian” dari Hak Menguasai Negara
(“HMN”)
yang
berisi
kewenangan
publik,
yang
kewenangan
pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya.
HPL mengandung 2 (dua) sifat kewenangan, yaitu kewenangan
publik (merencanakan penggunaan dan menyerahkan bagian dari
HPL untuk pihak ketiga) dan kewenangan privat (menggunakan
tanahnya untuk keperluan pelaksanaan tugasnya).
HPL dalam sistematika hak-hak penguasaan atas tanah tidak
dimasukkan ke dalam golongan hak atas tanah. Pemegang HPL
memang mempunyai kewenangan untuk menggunakan tanahnya
untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, tetapi bukan itu tujuan
pemberian HPL tersebut kepadanya. Tujuan utamanya adalah bahwa
Hal 36 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
tanah yang bersangkutan disediakan
pihak-pihak
lain
yang
memerlukan.
bagi penggunaannya oleh
Dalam
penyediaan
dan
pemberian tanah itu, pemegang HPL diberikan kewenangan untuk
melakukan kegiatan yang merupakan sebagian dari kewenangan
Negara sebagaimana diatur menurut ketentuan pasal 2 ayat 2 UUPA.
Subyek yang dapat diberikan HPL adalah:
a. Instansi Pemerintah (Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah);
b. Badan Usaha Milik Negara;
c. Badan Usaha Milik Daerah;
d. PT. Persero;
e. Badan Otorita;
f. Badan-badan hukum pemerintah lainnya yang ditunjuk pemerintah
yang dapat diberikan HPL sepanjang sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya yang berkaitan dengan pengelolaan tanah.
(vide pasal 67 ayat (1) & (2) PMNA/Ka. BPN No. 9 Tahun 1999)
Walaupun HPL bukan hak atas tanah, namun HPL tetap dilakukan
pendaftaran dan diterbitkan sertipikatnya sebagai tanda bukti haknya. HPL sebagai HMN tidak dapat dipindahtangankan dan tidak
ditunjuk sebagai obyek Hak Tanggungan. Oleh karena itu HPL tidak
memenuhi syarat untuk dapat dijadikan jamin utang.
HPL hanya dapat diberikan diatas Tanah Negara. Oleh karena itu,
jika diatas tanah yang akan diberikan HPL masih ada hak-hak atas
tanah lainnya seperti HGB, HP, dll, maka wajib terlebih dahulu
dibebaskan oleh calon pemegang HPL dengan memberikan ganti
rugi yang layak. Sebelum calon pemegang HPL diberikan HPL, harus
dipastikan bahwa diatas tanah yang akan diberikan HPL tersebut
clean and clear. Jika pemberian HPL terjadi diatas tanah yang masih
ada hak atau kepentingan pihak lain, maka secara hukum HPL itu
mengandung cacat yuridis.
Selanjutnya terkait dengan kedudukan Hak Guna Bangunan (“HGB”)
diatas HPL dengan menguraikan tentang apa yang menjadi dasar
memberikan HGB diatas HPL dan apa saja hak-hak pemegang HGB
diatas HPL, apakah sama dengan HGB diatas Tanah Negara atau
HGB diatas Tanah Hak Milik, Prof. Ny. Arie S. Hutagalung. S.H.,
M.LI. memberikan penjelasan sebagai berikut:
Pemegang HPL mempunyai kewenangan untuk:
Hal 37 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
a. Merencanakan
peruntukan
dan
penggunaan
tanah
yang
bersangkutan;
b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan
usahanya; dan
c. Menyerahkan bagian-bagian dari pada tanah itu kepada pihak
ketiga menurut persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan
pemegang hak tersebut, yang meliputi segi-segi peruntukan,
penggunaan, jangka waktu dan keuangannya, dengan ketentuan
bahwa pemberian hak atas tanah kepada pihak ketiga yang
bersangkutan dilakukan oleh pejabat-pejabat yang berwenang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, (vide
pasal 3 PMDN No. 5 Tahun 1974 jo. pasal 1 ayat (1) PMDN No. 1
Tahun 1977).
Berdasarkan hal tersebut, diatur adanya kewenangan pemegang
HPL untuk memberikan hak lain diatas tanah HPL tersebut kepada
pihak lain seperti HM, HGB dan HP (vide pasal 22 ayat (2) PP No. 40
Tahun 1996 jo. pasal 2 PMDN No. 1 Tahun 1977 jo. pasal 1 butir (3)
PMNA/Ka. BPN No. 9 Tahun 1999).
Pemberian Hak atas tanah diatas HPL tersebut, dilakukan oleh
Pejabat Badan Pertanahan Nasional yang berwenang, atas usul
pemegang HPL yang bersangkutan berdasarkan perjanjian antara
pemegang HPL dengan calon pemegang hak atas tanah diatas HPL.
Perjanjian antara pemegang HPL dengan calon pemegang hak atas
tanah diatas tanah HPL tersebut-lah yang menjadi dasar pemberian
hak atas tanah (HM/HGB/HP) diatas HPL.
Pemegang HGB diatas HPL memiliki hak-hak yang sama dengan
pemegang HGB diatas Tanah Negara maupun dengan pemegang
HGB diatas tanah Hak Milik, yaitu:
- Pemegang HGB diatas HPL berhak untuk membangun bangunan
diatas HGB-nya tersebut sesuai dengan peruntukannya (vide
pasal 32 PP No. 40 Tahun 1996).
- Pemegang HGB diatas HPL berhak untuk memperpanjang dan
memperbaharui jangka waktu HGB nya setelah mendapat
persetujuan dari pemegang HPL (vide pasal 26 ayat (2) PP No. 40
Tahun 1996).
Hal 38 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
- Pemegang HGB diatas HPL berhak untuk menjadikan HGB-nya
tersebut
sebagai
jaminan
utang
dengan
dibebani
Hak
Tanggungan, dengan persetujuan pemegang HPL terlebih dahulu
(vide pasal 4 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1996 jo. pasal 33 PP No. 40
Tahun 1996 jo. Surat Menteri Negara Agraria Kepala BPN Nomor:
630.1-3433 tanggal 17 September 1998).
- Pemegang HGB diatas HPL berhak untuk mengalihkan HGB-nya
tersebut kepada pihak lain, dengan persetujuan pemegang HPL
terlebih dahulu (vide pasal 34 ayat (7) PP No. 40 Tahun 1996).
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka pemegang HGB diatas
HPL mempunyai hak-hak yang sama dengan pemegang HGB diatas
Tanah Negara atau tanah Hak Milik. Namun perbedaannya adalah,
pada setiap perpanjangan/pembaharuan atau peralihan atau
pembebanannya atas HGB tersebut, harus dengan persetujuan
terlebih dahulu dari pemegang HPL.
Bahwa terkait dengan HGB diatas HPL didasarkan kepada adanya
perjanjian antara pemegang HPL dengan pemegang HGB yang
disebut dengan P3T (Perjanjian Penyerahan Pengunaan Tanah),
apakah ada syarat-syarat tertentu yang diharuskan baik formal atau
material untuk pembuatan P3T.
Prof. Ny. Arie S. Hutagalung. S.H., M.LI. memberikan penjelasan
sebagai berikut :
Setiap penyerahan penggunaan tanah sebagai bagian HPL kepada
pihak ketiga oleh pemegang HPL wajib membuat P3T antara pihak
pemegang HPL dengan pihak ketiga/calon pemegang hak atas
tanah. Dalam P3T harus memuat keterangan mengenai:
a. Identitas pihak-pihak yang bersangkutan;
b. Letak, batas-batas dan luas tanah yang dimaksud;
c. Jenis penggunaannya;
d. Hak atas tanah yang akan dimintakan untuk diberikan kepada
pihak ketiga yang bersangkutan dan keterangan mengenai jangka
waktunya serta kemungkinan untuk memperpanjangnya;
e. Jenis bangunan yang akan didirikan diatasnya dan ketentuan
mengenai
pemilikan
bangunan-bangunan
berakhirnya hak atas tanah yang diberikan;
Hal 39 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
tersebut
pada
f. Jumlah uang pemasukan dan syarat-syarat pembayarannya; dan
g. Syarat-syarat lain yang dipandang perlu. (vide pasal 3 ayat (2)
PMDN No. 1 Tahun 1977)
Setelah para pihak (pemegang HPL dan pihak ketiga) menyepakati
dan menandatangani P3T, maka pihak ketiga tersebut mengajukan
permohonan hak atas tanah kepada Kepala BPN melalui perantaraan
pemegang HPL. Setelah terbit Surat Keputusan Pemberian Hak Atas
Tanah, maka si pihak ketiga tanah harus memenuhi kewajibannya
untuk membayar uang pemasukan kepada pemegang HPL.
Kewajiban membuat perjanjian tertulis antara pemegang HPL dengan
calon pemegang HGB ditentukan dalam pasal 3 ayat (1) PMDN No. 1
Tahun 1977 tanggal 17-2-1977 yang berbunyi sebagai berikut:
“ setiap penyerahan penggunaan tanah yang merupakan bagian
dari tanah Hak Pengelolaan kepada pihak ketiga oleh pemegang
Hak Pengelolaan, baik yang disertai ataupun tidak disertai dengan
pendirian bangunan diatasnya, wajib dilakukan dengan pembuatan
perjanjian tertulis antara pihak pemegang Hak Pengelolaan dan
pihak ketiga yang bersangkutan.”
Sedangkan substansi yang dimuat dalam Perjanjian tertulis (P3T)
tersebut menurut pasal 3 ayat (2) PMDN No. 1 Tahun 1977 tersebut
disebutkan sebagai berikut:
Perjanjian termaksud dalam ayat (1) pasal ini memuat antara lain
keterangan mengenai:
a. identitas pihak-pihak yang bersangkutan.
b. letak, batas-batas dan luas tanah yang dimaksud.
c. jenis penggunaannya.
d. hak atas tanah yang akan dimintakan untuk diberikan kepada
pihak ketiga yang bersangkutan dan keterangan mengenai
jangka
waktunya
serta
kemungkinan
untuk
memperpanjangnya.
e. jenis-jenis bangunan yang akan didirikan di atasnya dan ketentuan
mengenai
pemilikan
bangunan-bangunan
tersebut
berakhirnya hak tanah yang diberikan.
f. jumlah uang pemasukan dan syarat-syarat pembayarannya.
g. syarat-syarat lain yang dipandang perlu.”
Hal 40 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
pada
Adapun permohonan HGB diatas HPL didasarkan “atas usul
pemegang HPL” diatur didalam pasal 4 PMDN No. 1 Tahun 1977
sebagai berikut:
Pasal 4
i. Permohonan Hak Milik, Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai
diajukan
oleh
pihak
ketiga
yang
memperoleh
penunjukan/penyerahan tersebut pada pasal 2 dengan perantara
pemegang Hak Pengelolaan yang bersangkutan.
ii. Pemegang Hak Pengelolaan berkewajiban untuk melengkapi
berkas-berkas permohonan tersebut dan meneruskannya kepada
Menteri
Dalam
Negeri/Gubernur
Kepala
Daerah
yang
bersangkutan, disertai usul-usul tentang syarat-syarat yang harus
ditaati oleh penerima hak.
iii. Permohonan tersebut dalam ayat (2) pasal ini diajukan dan
diselesaikan menurut tata cara dan wewenang sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1973 jo.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 1972, dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan Agraria yang
berlaku.
iv. Selain
memenuhi
kewajibannya
terhadap
pemegang
Hak
Pengelolaan yang bersangkutan, penerima hak berkewajiban
membayar biaya administrasi kepada Kantor Bendahara Negara
dan sumbangan kepada Yayasan Dana Landreform serta biaya
pendaftaran tanah sebagai yang disebutkan di dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 1/1975.”
catatan:
1.
PMDN No. 6 Tahun 1972 sudah dinyatakan tidak
berlaku dan icabut oleh PMNA/Ka. BPN No. 3 Tahun
1999, dan terakhir yang berlaku saat ini Per. Ka. BPN
No. 2 Tahun 2013 tentang Pelimpahan Kewenangan
Pemberian
Hak
Atas
Tanah
dan
Kegiatan
Pendaftaran Tanah.
2. PMDN No. 5 Tahun 1973 sudah dinyatakan tidak
berlaku dan dicabut oleh PMNA/Ka. BPN No. 9
Tahun 1999
3. PMDN No. 1 Tahun 1975 sudah dinyatakan tidak
berlaku dan dicabut, yang terakhir berlaku saat ini
adalah PP No. 13 Tahun 2010. Didalam PP No. 13
Hal 41 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Tahun 2010 tersebut kewajiban pembayaran uang
pemasukan kepada Negara oleh pemegang HGB
diatas HPL sudah tidak ada lagi, namun hanya
dikenakan biaya pendaftaran sebesar 1‰ (satu
permil).
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, bersandar dari apa yang
disampaikan oleh Prof. Ny. Arie S. Hutagalung. S.H., M.LI.,
Tergugat I dengan tegas menolak dengan bulat dan utuh seluruh dalil
yang disampaikan oleh Penggugat sebagaimana termuat di dalam
Surat Gugatannya tertanggal 12 Januari 2015 posita angka 10,11
dan 12. Oleh karenannya
Tergugat I mohon kiranya Yang Mulia
Majelis Hakim Yang Terhormat yang memeriksa dan mengadili
perkara a quo untuk menyatakan menolak gugatan Pengugat atau
setidak-tidaknya menyatakan gugatan Pengugat tidak dapat diterima
(niet ontvankelijkverklaard);
8.
Bahwa terhadap posita Penggugat angka 13, 14 dan 15 yang
terurai di halaman surat gugatan Penggugat tertanggal 12 Januari
2015, Tergugat I merasa tidak perlu lagi menanggapinya, karena
bagian tersebut telah dijawab dengan merujuk apa yang disampaikan
oleh Prof. Ny. Arie S. Hutagalung. S.H., M.LI., pada bagian angka 7
Surat Jawaban ini. Khususnya mengenai dalih pembelian, namun
demikian apabila merujuk terhadap pendapat, Prof. Ny. Arie S.
Hutagalung. S.H., M.LI. mengenai “pembeli yang beritikad baik”
beliau menyatakan bahwa Pembeli yang beritikad baik memang
dilindungi hukum, karena sudah merupakan azas hukum, akan tetapi
tidak setiap pembeli dapat dikategorikan beritikad baik apalagi
terbukti secara nyata pembeli tersebut mengetahui bahwa
tanah
HGB diatas HPL itu tunduk kepada P3T, akan tetapi sengaja ditabrak
dengan mengenyampingkan semua ketentuan Perundang-undangan,
seperti Pasal 26 ayat (2) jo. Pasal 34 ayat (7) PP No. 40 Tahun 1996
dan Surat Menteri Negara Agraria Kepala BPN Nomor: 630.1-3433
tanggal 17 September 1998, tidak pernah diuji secara materiil oleh
Mahkamah Agung. Pembeli yang beritikad baik adalah pembeli yang
jujur dan tidak melanggar ketentuan perundang-undangan.
Berkenaan dengan prinsip pembeli yang beritikad baik, sudah pula
menjadi yurispridensi Mahkamah Agung RI dalam Putusan Kasasi
Hal 42 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Mahkamah Agung Nomor 1651 K/PDT/2013 tanggal 12 November
2013 yang menyatakan :
“Bahwa Penggugat tidak bisa dikwalifikasi sebagai pembeli objek
sengketa yang beritikad baik, HGB yang segera berakhir dan berada
di atas Hak Pengelolaan karena tidak melakukan duty of care dan
tidak memenuhi a certain standart of conduct, yaitu meneliti
secara cermat sebelum membeli”
Pertanyaannya sekarang yang patut disodorkan adalah : apakah
Penggugat pernah menyangkal bahwa SHGB-SHGB-nya tersebut
merupakan turunan atau pecahan atau splitsing dari Sertipikat Hak
Guna Bangunan No.284/ Kelurahan Braga atas nama PT. Interna
Permai yang berdiri di atas Sertipikat Hak Pengelolaan No.1/Kel.
Braga tanggal 28 Nopember 1985 atas nama Pemerintah Provinsi
Jawa Barat (Tergugat I) ?
Pada saatnya persidangan pembuktian akan tampak kebenaran yang
sesungguhnya.
Dari hal tersebut tentu akan tampak apakah para Penggugat
memang beritikad baik dengan memenuhi prinsip duty of care dan
memenuhi a certain standart of conduct ataukah sebaliknya para
Penggugat ternyata memiliki itikad buruk mengajukan gugatan a quo
yang dalam sistem hukum Common Law dikenal sebagai Vexatious
litigation atau dalam sistem hukum Civil Law maka lebih dikenal
dengan gugatan doli presentis atau gugatan dengan “niat licik”. Para
Penggugat
hanya
ingin
memperpanjang
penguasaan
dan
pemanfaatan atas objek sengketa secara melawan hukum, padahal
sudah berakhir SHGBnya tersebut sejak 17 April 2014.
Oleh karena itu sudah cukup alasan kiranya bagi Tergugat I untuk
menyampaikan permohonan kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang
Terhormat yang memeriksa perkara a quo agar kiranya juga
sependapat dengan Tergugat I dan selanjutnya menyatakan bahwa
surat gugatan Penggugat tertanggal 12 Januari 2015 adalah
bertentangan dengan fakta yang nyata dan sangat bertentangan
dengan kebenaran hukum sehingga sudah sepantas dan sepatutnya
apabila Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas IA Khusus
Bandung untuk menyatakan dalil Tergugat I tersebut tepat dan
beralasan dan selanjutnya menyatakan bahwa gugatan penggugat
Hal 43 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
harus ditolak atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Pengugat
tidak dapat diterima (niet ontvankelijkverklaard);
DALAM PETITUM
Bahwa
berdasarkan
seluruh
uraian-uraian
yang
telah
disampaikan
sebagaimana tersebut di atas, kiranya tidaklah berlebihan dan sangat beralasan
hukumapabila Tergugat I dengan ini memohon agar kiranya Yang Mulia Majelis
Hakim Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Bandung Yang Terhormat, yang
memeriksa perkara a quo berkenan untuk mengadili dan selanjutnya memutus
perkara sebagai berikut:
I. DALAM EKSEPSI
1. Menerima dan menyatakan Eksepsi Tergugat I tepat dan
beralasan;
2. Menyatakan gugatan Pengugat tidak dapat diterima (niet
ontvankelijkverklaard);
3. Menghukum Penggugat untuk membayar seluruh biaya perkara
yang timbul dalam perkara ini menurut hukum.
II. DALAM POKOK PERKARA
1. Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar seluruh biaya perkara
yang timbul dalam perkara ini menurut hukum.
ATAU : Apabila Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas IA
Khusus Bandung Yang Terhormat berpendapat lain, maka
Tergugat I mohon kiranya dapat memberikan Putusan yang
seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Menimbang, bahwa atas gugatan Penggugat tersebut Turut Tergugat
telah mengajukan jawaban sebagai berikut :
DALAM EKSEPSI
1. Bahwa, Turut Tergugat menolak seluruh dalil gugatan Penggugat
kecuali yang secara tegas diakui dan menguntungkan Turut Tergugat;
2. TENTANG KUALITAS PENGGUGAT (ONBEVOEG)
Bahwa, Sertipikat Hak Guna Bangunan No.322/Kelurahan Braga
terakhir tercatat atas nama Penggugat merupakan pecahan dari
Sertipikat HGB No.284/Kelurahan Braga yang terbit di atas Hak
Pengelolaan No.l/Kelurahan Braga telah berakhir jangka waktunya
sehingga Sertipikat HGB dimaksud sudah tidak berlaku lagi dan status
Hal 44 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
tanahnya kembali pada Hak Pengelolaan No.l/Kelurahan Braga atas
nama Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat yang mana
perencanaan, pengelolaan dan penggunaannya kembali kepada
pemegang Hak Pengelolaan in casu Pemerintah Propinsi Daerah
Tingkat I Jawa Barat.
Sehubungan dengan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka sudah
jelas bahwa Penggugat tidak mempunyai kualitas untuk mengajukan
gugatan mengingat sertipikat HGB dimaksud telah berakhir. Oleh
karena itu maka sudah selayaknya Majelis Hakim yang memeriksa dan
memutus perkara a quo untuk menyatakan gugatan Pengugat ditolak
seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat tidak
dapat diterima (niet onvantkelijk verklaard).
DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa, mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa, menangani dan
memutus perkara ini agar apa yang telah Turut Tergugat kemukakan
dalam Eksepsi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam
pokok perkara ini;
2. Bahwa, Turut Tergugat menolak dalil-dalil surat gugatan Penggugat
kecuali terhadap hal-hal yang diakui secara tegas dan nyata demi
kepentingan Turut Tergugat;
3. Bahwa, di atas Sertipikat Hak Pengelolaan No.l/Kelurahan Braga
Kecamatan Bandung Wetan Kotamadya Bandung tercatat atas nama
Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat telah diterbitkan
Sertipikat Hak Guna Bangunan No.284/Kelurahan Braga, sertipikat terbit
tanggal 11-08-1986, Surat Ukur tanggal 28-11-1985 No.3244/1985
seluas 10.305 M2, tercatal atas nama PT.1NTERNA PERMAI
Berkedudukan di Bandung, terletak di Jl.Banceuy Kelurahan Braga,
Kecamatan Bandung Wetan, Kotamadya Bandung, berakhir haknya
tanggal 17-04-2014 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri
tanggal 13-06-1986 No. SK.411/HGB/DA/86;
4. Bahwa, terhadap Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 284/Kelurahan
Braga tersebut telah dipisah-pisah/displit sampai habis, antara lain
menjadi beberapa sertipikat HGB dan salah satunya adalah Sertipikat
HGB No.322/Kelurahan Braga terakhir tercatat atas nama Penggugat.
5. Bahwa, Turut Tergugat menolak dalil posita gugatan angka 9 sampai
dengan angka 13 karena Penggugat dalam posita gugatannya hanya
Hal 45 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
mendalilkan
dan
mencantumkan
peraturan
dengan
pasal
yang
menguntungkan bagi dirinya saja tidak mengungkapkan pasal-pasal
lainnya, bahwa mengenai pemberian Hak Guna Bangunan diatur pula
pada Peraturan Pemerintah RI No.40 Tahun 1996 tentang Hale Guna
Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah pada Pasal
21 menyebutkan sebagai berikut:
Pasal 21
Tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Bangunan adalah :
a. Tanah Negara;
b. Tanah Hak Pengelolaan;
c. Tanah Hak Milik.
6. Bahwa, mengenai terjadinya Hale Guna Bangunan diatur pada Pasal
22 ayat (2) Peraturan Pemerintah RI No.40 Tahun 1996 bahwa :
"Hak Guna Bangunan atas Hak Pengelolaan diberikan dengan keputusan
pemberian hak oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan
usul pemegang Hak Pengelolaan”.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka sudah jelas bahwa
permohonan
HGB
di
atas Hak Pengelolaan, bergantung pada
perencanaan pemegang Hak Pengelolaan in casu Pemerintah Propinsi
Daerah Tingkat I Jawa Barat sebagai pemegang Sertipikat Hak
Pengelolaan No. 1/Kelurahan Braga disesuaikan dengan rencana
peruntukkan dan penggunaan lahan tersebut.
7. Bahwa, mengenai perpanjangan maupun pembaharuan HGB diatur
dalam Pasal 26 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1996 bahwa :
"Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan diperpanjang atau
diperbaharui atas permohonan pemegang Hak Guna Bangunan setelah
mendapat persetujuan daripemegang Hak Pengelolaan".
Berdasarkan uraian tersebut di atas, rnaka sudah sangat jelas bahwa
apabila Penggugat ingin mengajukan perpanjangan atau pembaharuan
HGB harus mendapat persetujuan (rekomendasi) terlebih dahulu
kepada pemegang Hak Pengelolaan in casu Pemerintah Propinsi
Daerah Tingkat I Jawa Barat sebagai pemegang Sertipikat Hak
Pengelolaan
Pengelolaan
No.
1/Kelurahan
tidak
memberi
Braga.
ijin
Apabila
adanya
pemegang
Hak
permohonan
perpanjangan/pembaharuan HGB maka permohonan tersebut tidak dapat
dilakukan.
8. Bahwa, terhadap pemegang HGB mempunyai beberapa kewajiban
Hal 46 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
sebagaimana diatur pada Pasal 30 Peraturan Pemerintah No.40 Tahun
1996 sebagai berikut:
Pasal 30
(1) Membayar uang pemasukan yang jumlah dan cara pembayarannya
ditetapkan dalam keputusan pemberian haknya;
(2) Menggunakan tanah sesuai dengan peruntukannya dan persyaratan
sebagaimana
ditetapkan
dalam
keputusan
dan
perjanjian
pemberiannya;
(3) Memelihara dengan baik tanah dan bangunan yang di atasnya
serta menjaga kelestarian lingkungan hidup;
(4) Menyerahkan kembali tanah yang diberikan Hak Guna Bangunan
kepada Negara, pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak
Milik sesudah Hak Guna Bangunan itu hapus;
(5) Menyerahkan Sertipikat Hak Guna Bangunan yang telah hapus
kepada
Kepala Kantor Pertanahan
Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka sudah jclas
Penggugat harus segera mengembalikan lahan tersebut Pemerintah
Propinsi Daerah Tingkat 1 Jawa Barat sebagai pemegang Sertipikat Hak
Pengelolaan No. 1/Kelurahan Braga dan Penggugat mempunyai
kewajiban untuk menyerahkan sertipikat HGB atas nama Penggugat
yang telah hapus tersebut kepada Tergugat I;
Hal demikian juga terdapat pada Pasal 38 Peraturan Pemerintah No.40
Tahun 1996, yang mengatur sebagai berikut:
"apabila Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan atau atas tanah
Hak Milik hapus sebagaimana dimaksud Pasal 35, maka bekas pemegang
Hak Guna Bangunan wajib menyerahkan tanahnya kepada pemegang Hak
Pengelolaan atau pemegang Hak Milik dan memenuhi ketentuan yang
sudah disepakati dalam perjanjian penggunaan tanah Hak Pengelolaan
atau perjanjian pemberian Hak Guna Bangunan atas Hak Milik".
9. Bahwa, mengenai hapusnya HGB diatur dalam Pasal 36 ayat (2)
Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1996, mengatur sebagai berikut:
"Hapusnya
Hak
Guna
Bangunan
atas
tanah
Hak
Pengeiolaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 mengakibatkan tanahnya kembali
ke dalam penguasaan pemegang Hak Pengelolaan".
Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas, status tanah obyek
perkara a quo kembali kepada Hak Pengelolaan yaitu Sertipikat Hak
Hal 47 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Pengelolaan No.l/Kelurahan Braga atas nama Pemerintah Propinsi Daerah
Tingkat I Jawa Barat.
10. Bahwa, mengenai sanksi yang dapat dilakukan terhadap pemegang HGB
diatur pada Pasal 37 Undang-Undang No.40 Tahun 1996 selengkapnya
sebagai berikut:
Pasal ,37
(1) Apabila Hak Guna Bangunan atas Tanah Negara hapus dan tidak
diperpanjang atau tidak diperbaharui maka bekas pemegang Hak
Guna Bangunan wajib membongkar bangunan dan benda-benda
yang ada diatasnya dan rnenycrahkan tanahnya kepada Negara
dalam keadaan kosong selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun
sejak hapusnya Hak Guna Bangunan-,
(2) Dalam hal bangunan dan benda-benda sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) masih diperlukan, maka kepada bekas pemegang hak
diberikan ganti rugi yang bentuk jumlahnya diatur lebih lanjut dengan
Keputusan Presiden;
(3) Pembongkaran bangunan dan benda-benda sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilaksanakan atas biaya bekas pemegang Hak Guna
Bangunan',
(4) Jika bekas pemegang Hak Guna Bangunan lalai dalam memenuhi
kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) maka bangunan
dan benda-benda yang ada di atas tanah bekas Hak Guna
Bangunan itu dibongkar oleh Pemerintah atas biaya bekas
pemegang Hak Guna Bangunan.
11. Bahwa, Hak Pengelolaan diatur secara tersendiri dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri
Permohonan
dan
No.l
Tahun
1977
tentang
Tata
Cara
Penyelesaian Pemberian Hak Atas Bagian-bagian
Tanah Hak Pengelolaan serta Pendaftarannya. Hak Pengelolaan ini bcrisi
wewenang crnluk :
a. Merencanakan
peruntukan
dan
penggunaan
tanah
yang
bersangkutan;
b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan usahanya;
c. Menyerahkan bagian-bagian daripada tanah itu kepada pihak
ketiga menurut persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan
pemegang hak tersebut yang meliputi segi-segi peruntukkan,
penggunaan, jangka waktu dan keuangannya dengan ketentuan
bahwa pemberian hak atas tanah kepada pihak ketiga yang
Hal 48 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
bersangkutan dilakukan oleh pejabat-pejabat yang berwenang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.l Tahun 1977 Pasal 5
ditentukan bahwa mengenai Hak Pengelolaan tidak menjadi hapus
dengan didaftarkannya hak-hak yang diberikan kepada pihak ketiga.
Dengan demikian maka Hak Pengelolaan memang bukan Hak Memiliki
tetapi Negara yang dalam hal ini diberikan kepada Pemerintah Daerah
(Pemerintah Propinsi Jawa Barat) diberikan "hak menguasai" yang
mana pengelolaannya diberikan kepada pihak ketiga berdasarkan
perjanjian (Pasal 3) dengan hak atas tanah yang berjangka waktu (Hak
Guna Bangunan), yang mana apabila setelah diberikan Hak Guna
Bangunan kepada pihak ketiga, Hak Pengelolaan yang melekat
terhadap tanah tersebut tidak menjadi hapus dan setelah Hak Guna
Bangunan atas nama Pihak Ketiga tersebut jangka waktunya berakhir
maka tanah tersebut tetap berstatus Hak Pengelolaan. Dalam hal ini
PT. Interna Permai (Tergugat II) tidak mempunyai hubungan hukum
lagi dengan tanah tersebut apalagi Sertipikat HGB atas nama Para
Penggugat.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.l Tahun 1977 kemudian dicabut
dengan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional No.9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan
Pembatalan Hak Atas Tanah dan Hak Pengelolaan.
Atas dasar uraian tersebut diatas, mohon kiranya Majelis Hakim yang
mengadili perkara ini berkenan untuk memutus :
1.
Menerima jawaban Turut Tergugat baik dalam Eksepsi
maupun
dalam pokok perkara;
2.
Menolak
gugatan
Penggugat
seluruhnya
atau
setidak-tidaknya
menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijk
verklaard);
3.
Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara yang timbul
dalam perkara ini;
4.
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain mohon putusan seadil-adilnya
(ex aequo ex, bono).
Menimbang, bahwa terhadap jawaban dari Tergugat I dan jawaban
Turut Tergugat, Penggugat telah mengajukan sanggahan terhadap refliknya
Hal 49 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
tertanggal 04 Mei 2015 yang pada pokoknya menolak eksepsi Tergugat I
dan Turut Tergugat ;-----------------------------------------------------------------------Menimbang, bahwa terhadap Replik dari Penggugat, Tergugat I telah
menyampaikan Duplik tanggal 30 Mei 2015 sedangkan Turut tergugat tidak
mengajukan Duplik dan selengkapnya sebagaimana terlampir dalam Berita
Acara perkara ini Persidangan di Pengadilan Negeri Bandung ;-----------------Memperhatikan,
mengutip
dan
menerima
keadaan-keadaan
sebagaimana tercantum dalam putusan Pengadilan Negeri Bandung tanggal
28 Mei 2015 Nomor : 20/Pdt. G/2015 /PN. Bdg , yang amarnya berbunyi
sebagai berikut :-------------------------------------------------------------------------------I.
DALAM EKSEPSI :

II.
Mengabulkan Eksepsi Tergugat I ;-------------------------------------
DALAM POKOK PERKARA
1.
Menyatakan Pengadilan Negeri Klas 1A Khusus Bandung tidak
berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut ;
2.
Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.
1.271.000,- (satu juta dua ratus tujuh puluh satu ribu rupiah) ;
Menimbang, bahwa
Pembanding semula
Penggugat , telah
menyatakan permohonan pemeriksaan tingkat banding terhadap putusan
tersebut di atas yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri
Bandung
pada tanggal 01 Juni 2015, permohonan banding mana telah diberitahukan
dengan patut dan seksama kepada Terbanding
semula
Tergugat pada
tanggal 24 Juni 2015 dan kepada Turut Terbanding semula Turut Tergugat
pada tanggal 22 Juni 2015, dengan seksama ; ----------------------------------------
Menimbang,
bahwa
Pembanding
semula
Penggugat
untuk
kepentingan pemeriksaan tingkat banding melaui kuasa hukumnya telah
mengirimkan Memori Banding yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri Bandung pada tanggal 03 Agustus 2015 dan telah diberitahukan
kepada Terbanding semula Tergugat pada tanggal 11 Agustus 2015, dan
kepada Turut Terbanding semula Turut Tergugat pada tanggal 11 Agustus
2015, dengan seksama ;---------------------------------------------------------------------
Hal 50 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Menimbang, bahwa dalam hal ini baik Terbanding semula Tergugat
ataupun Turut Terbanding semula Turut Tergugat tidak mengirimkan kontra
memori banding. ;----------------------------------------------------------------------------Menimbang, bahwa kepada Pembanding semula Penggugat pada
tanggal 07 Juli 2015, kepada
14 Juli 2015 Mei 2015 dan
Tergugat
13
Juli
Terbanding semula Tergugat pada tanggal
kepada Para Turut Terbanding semula Turut
2015, telah
diberi kesempatan
berkas perkara sebelum dikirim ke Pengadilan
untuk mempelajari
Tingkat Banding, dengan
seksama ;----------------------------------------------------------------------------------------
TENTANG HUKUMNYA
Menimbang, bahwa permohonan banding dari Pembanding semula
Penggugat terhadap putusan Pengadilan Negeri Bandung tanggal 28 Mei
2015 Nomor : 20/Pdt.G/2015/PN. Bdg, telah diajukan dalam tenggang waktu
dan menurut tata cara
yang ditentukan dalam Undang-undang oleh
karenanya permohonan banding tersebut secara formal dapat diterima ;-------Menimbang, bahwa dalam memori bandingnya Pembanding semula
Penggugat pada pokoknya mengemukakan hal-hal sebagai berikut :

Bahwa Terbanding (Tergugat) tidak pernah mengeluarkan penetapan
tertulis atau Keputusan Tata Usaha Negara yang bersifat Kongkrit,
Individual dan Final yang dapat menjadi Objek gugatan Pengadilan Tata
Usaha Negara ;-----------------------------------------------------------------------------

Bahwa asal muasal Sertifikat HGB No.322/BRAGA milik Pembanding
merupakan pecahan (Splitsing) dari Sertifikat HGB No.284/BRAGA atas
Nama
PT.
Interna
Permai
dimana
timbulknya
sertifkat
HGB
No.284/BRAGA karena perjanjian yang pernah dibuat Terbanding
dengan PT.INTERNA PERMAI dan berdasar ketentuan pasal 2 huruf a
UU No.5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, hal ini
merupakan perbuatan Perdata yang mutlakl
menjadi kewenangan
Peradilan Umum ;-------------------------------------------------------------------------
Bahwa dalam Sertifikat HGB No. 322/BRAGA tidak ada catatan setelah
Sertifikat habis masa berlakunya maka tidak dapat diperpanjang dan
pada waktu membeli, Penjual telah mendapat izin mengalihkan Hak
No.500.32.73-752A tanggal 14-06-2007 dari Terbanding, sehingga
kepentingan Pembanding selaku Pembeli yang beritikad baik haruslah
dilindungi ;----------------------------------------------------------------------------------
Hal 51 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg

Bahwa berdasarkan bukti P-1 sampai dengan P-6, Penggugat adalah
pemilik atas c bangunan diatas Sertifikat Hak Guna Bangunan
No.322/BRAGA yang harus diprioritaskan pemberian haknya ;-------------
Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim Tingkat Banding membaca
memori banding yang dikirimkan oleh kuasa hukum Pembanding semula
Penggugat, Pengadilan Tinggi berpendapat bahwa semua yang diuraikan
dalam memori banding tersebut tidak ditemukan hal-hal baru yang dapat
mempengaruhi putusan
Majelis Hakim Tingkat Pertama dan secara umum
apa yang menjadi keberatan Pembanding semula Penggugat telah
dipertimbangkan dalam putusan Tingkat Pertama ;---------------------------------Menimbang, bahwa
setelah Majelis Tingkat Banding mempelajari
dengan seksama berkas perkara berupa salinan resmi Putusan Pengadilan
Negeri Bandung
tanggal 28 Mei 2015 Nomor : 20/Pdt.G/2015/PN. Bdg,
Berita Acara Persidangan, dan alat-alat bukti kedua belah pihak dan Memori
Banding dari Pembanding semula Penggugat, Majelis Hakim Tingkaat
Banding berpendapat
bahwa alasan-alasan hukum, pertimbangan hukum
dalam putusan Majelis Hakim Tingkat Pertama sudah tepat dan benar, oleh
karenanya pertimbangan hukum tersebut diambil alih dan dijadikan sebagai
pertimbangan hukum sendiri oleh Pengadilan Tinggi dalam mengadili dan
memutus perkara ini dalam tingkat banding ;-------------------------------------------Menimbang, bahwa berdasarkan segala pertimbangan hukum diatas,
menurut
pendapat
Majelis
Hakim
Tingkat
Banding
bahwa
putusan
Pengadilan Negeri Bandung tanggal 28 Mei 2015 Nomor :20/Pdt.G/2015/PN.
Bdg,
yang
dimohonkan
banding
tersebut,
beralasan
hukum
untuk
DIKUATKAN ;----------------------------------------------------------------------------------Menimbang, bahwa oleh karena Pembanding semula
Penggugat
berada dalam pihak yang kalah, maka dihukum untuk membayar biaya
perkara dalam kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding akan
ditetapkan dalam amar putusan ;----------------------------------------------------------
Mengingat dan memperhatikan ketentuan peraturan perundangundangan serta hukum yang bersangkutan :------------------------------------------Hal 52 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
------------------------------------------ M E N G A D I L I -------------------------
Menerima
permohonan
banding
dari
Pembanding
semula
Penggugat ;------------------------------------------------------------------------
Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Bandung tanggal 28 Mei
2015 Nomor : 20/ Pdt. G / 2015 / PN. Bdg, yang dimohonkan
banding tersebut ;---------------------------------------------------------------

Menghukum Pembanding semula Penggugat membayar biaya
perkara
dalam kedua tingkat pengadilan yang dalam tingkat
banding sebesar Rp.150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah), ;---
Demikianlah diputus dalam sidang permusyawaratan Majelis Hakim
Pengadilan Tinggi Bandung pada hari Rabu tanggal 10 Februari 2016, oleh
Kami
KAREL TUPPU, SH. MH, selaku Hakim Ketua Majelis,
H. LEXSY
MAMANTO, SH. MH dan HANIFAH HIDAYAT NOOR, SH.MH masingmasing selaku Hakim anggota untuk memeriksa dan mengadili perkara
tersebut, putusan mana diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk
umum pada tingkat banding pada hari Rabu tanggal 17 Februari 2016, oleh
Hakim Ketua Majelis didampingi Hakim anggota dengan dibantu oleh
BAMBANG BELARDAYA, SH sebagai Panitera Pengganti, tanpa hadirnya
para pihak yang berperkara ;----------------------------------------------------------------
Hakim Anggota
Hakim Ketua Majelis
TTD
TTD
H. LEXSY MAMANTO, SH. MH
KAREL TUPPU, SH. MH
TTD
HANIFAH HIDAYAT NOOR, SH.MH
Panitera Pengganti
TTD
BAMBANG BELARDAYA, SH.
Hal 53 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Rincian Biaya :
Redaksi ------------------------ Rp. 5.000,Materai----- --------------------Rp. 6.000,Pemberkasan------------- --- Rp. 139.000,Rp.150.000,-(seratus lima puluh ribu rupiah)
Hal 54 put No.435/Pdt/2015/PT.Bdg
Download