BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Indonesia merupakan suatu hal yang wajib ditempuh oleh
semua warga negara. Pendidikan di Indonesia telah memasuki tahap pembaruan
dimana pendidikan harus ditempuh untuk semua kalangan. Pendidikan itu sendiri
merupakan suatu ruh negara untuk mencapai suatu peningkatan dalam mutu sumber
daya manusia. Pendidikan di Indonesia terdiri dari berbagai jenjang pendidikan
formal meliputi taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Indonesia
mewajibkan sekolah selama 12 tahun bagi setiap warga negaranya.
Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 berisi setiap warga negara berhak
mendapat pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan tersebut diberikan kepada setiap
warga negara tanpa memandang jenis kelamin, ras dan suku budayanya bahkan
warga yang berada di tempat tepencil sekalipun mendapatkan hak pendidikan.
Seluruh warga negara mendapatkan hak dalam pendidikan tanpa terkecuali
termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak berkebutuhan khusus memiliki
hak yang sama atas pendidikan di Indonesia. Anak Berkebutuhan Khusus diberikan
hak atas pendidikannya sesuai dengan UUD No. 19 tahun 2011 bahwa kewajiban
negara terhadap penyandang disabilitas diberikan kebebasan dalam aspek
kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, politik, olah raga, seni dan
budaya, serta pemanfaatan teknologi, informasi dan komunikasi.
Ketetapan dalam undang-undang dijelaskan bahwa Anak Berkebutuhan
Khusus memiliki porsi yang sama dalam mengenyam pendidikan di Indonesia.
Anak Berkebutuhan Khusus memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan sesuai
dengan kelainan dan klasifikasinya sehingga dapat menyesuaikan dengan layanan
dan pendidikan khusus yang tepat. Dalam unsur pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus memiliki layanan yang berbeda dalam pendidikannya sesuai dengan jenis
kelainan dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus. Seperti halnya anak yang
berkelainan fisik berbeda dalam layanan pendidikan dengan anak yang berkelainan
dalam emosional, mental dan anak yang memiliki kecerdasan tertentu. Setiap Anak
1
2
Berkebutuhan khusus memiliki kelainan dan kecerdasan masing-masing, oleh
karena itu berbeda pula layanan pendidikan dan usaha guru untuk bisa
mengembangkan potensi yang dimiliki anak.
Anak Berkebutuhan Khusus bukan kata lain dari istilah anak penyandang
cacat tetapi istilah yang lebih luas untuk menggambarkan keadaan anak yang
mengalami hambatan perkembangan dan hambatan belajar termasuk anak-anak
penyandang cacat (Zaenal Alimin, 2004: 18). Istilah Anak berkebutuhan Khusus
dipakai pula pada anak-anak penyandang cacat. Geonifam (2010: 11)
mengemukakan “Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik
khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada
ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik”. Selain itu menurut Heward dalam
Wiyani (2014: 22) berpendapat bahwa:
“Anak dengan kepemilikan karaktereristik khusus yang berbeda dengan
anak lain pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan
mental, emosi, atau fisik. Penyandang tunanetra, tunarungu, tunagrahita,
tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat,
dan anak dengan gangguan kesehatan masuk dalam kategori anak
berkebutuhan khusus”.
Berdasarkan
klasifikasi
Anak
Berkebutuhan
Khusus
Tunagrahita
merupakan salah satu macam Anak berkebutuhan Khusus. Tunagrahita merupakan
kelainan yang menyebabkan hambatan mental dan intelektual, berbagai macam
tunagrahita termasuk anak down syndrome. Menurut Japan League for Mentally
Retarded dalam Geniofam (2010: 55) IQ atau intelegensi anak tunagrahita (down
syndrome) berada pada 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi yang baku. Hal ini
mempengaruhi kapasitas belajar anak terutama yang bersifat abstrak seperti belajar
berhitung, menulis, dan membaca. Anak down syndrome mengalami keterbatasan
sosial, terutama dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat dan mempunyai
kecenderungan bergantung pada orang lain, dan karakteristik fungsi-fungsi mental
lainnya tidak dapat menghadapi suatu kegiatan atau tugas dalam waktu lama.
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan oleh peneliti ketika observasi
menemukan bahwa anak down syndrome di kelas V C1 mengalami kesulitan dalam
berhitung, terutama berhitung tahap awal mengenai pengenalan angka dan lambang
3
bilangan. Dalam memahami dan mengenali lambang bilangan mereka sangat
kesulitan dan belum mampu untuk menyebutkan berapa lambang bilangan yang
tepat pada benda. Mereka mengalami kesulitan dalam membedakan lambang
bilangan dasar 1-10. Mereka cenderung mudah lupa dalam memahami lambang
bilangan dan diperlukannya pengajaran yang berulang ulang. Anak mampu
membilang 1-5 namun belum dapat menunjukkan lambang bilangannya. Anak
mampu menghitung benda disekitar yang berjumlah 1-5, namun belum mampu
menunjukkan lambang bilangannya. Anak belum mampu menulis dan membaca
sehingga dalam pembelajaran berhitung anak belum mampu menulis angka yang
tepat. Selain itu dikarenakan metode pembelajaran yang digunakan masih bersifat
monoton. Terlebih anak down syndrome yang memiliki hambatan dalam berfikir
abstrak, sehingga proses belajar berhitung menjadi sulit. Faktor lain yang
mempengaruhi yaitu anak cenderung mudah bosan dan malas dalam berfikir
sehingga kurang motivasi dalam belajar berhitung.
Anak down syndrome memiliki hambatan dalam intelektualnya sehingga
dalam belajar sebaiknya dimulai dari hal-hal yang konkret dan semi konkret serta
membutuhkan suatu metode yang konsisten dalam pengajarannya termasuk belajar
berhitung memahami lambang bilangan 1-10. Dengan metode pembelajaran yang
tepat diharapkan anak dapat belajar dengan mudah. Metode pembelajaran berhitung
sebaiknya dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang sehingga menarik dalam
proses pembelajaran berlangsung.
Berbagai metode pembelajaran yang baik dapat digunakan untuk membantu
anak dalam memahami suatu mata pelajaran. Penelitian ini mencoba menggunakan
metode glenn doman dalam pembelajaran matematika anak down syndrome pada
materi memahami lambang bilangan. Metode glenn doman merupakan salah satu
metode yang digunakan untuk pengajaran didalamnya termasuk membantu
berhitung. Metode glenn doman biasanya diterapkan dalam pembelajaran di taman
kanak-kanak dan PAUD untuk mengajari anak membaca dan berhitung. Peneliti
akan menggunakan metode glenn doman untuk anak down syndrome pada materi
lambang bilangan 1-10. Metode glenn doman memiliki prinsip dalam
pengajarannya tidak membedakaan antara anak normal dengan anak yang cidera
4
otak/ABK. Peneliti menganggap bahwa metode glenn doman sesuai untuk
mengajarkan lambang bilangan pada anak down syndrome dimana dalam
mengajarkannya menggunakan alat peraga berupa dot cards/kartu titik berdasarkan
jumlah tertentu dan kartu angka untuk mengenalkan lambang bilangan. Selain itu
metode glenn doman menerapkan prinsip yang konsisten dan berulang-ulang hal
ini sesuai dengan proses pengajaran anak down syndrome
yang memiliki
intelegensi dibawah rata-rata sehingga membutuhkan proses pembelajaran yang
konsisten agar tidak mudah lupa. Dalam penerapannya metode glenn doman
memakai alat peraga yang mudah didapat bahkan dapat dibuat sendiri oleh peneliti,
metode glenn doman juga menerapkan konsep bermain dan menyenangkan
sehingga dapat melatih indra penglihatan dan ketertarikan anak.
Metode glenn doman diharapkan dapat membantu anak dalam memahami
operasi hitung terutama memahami lambang bilangan 1-10. Temuan peneliti dalam
kegiatan pembelajaran masih bersifat abstrak dan menggunakan metode yang
monoton sehingga anak sulit memahami materi lambang bilangan 1-10. Melalui
metode glenn doman, proses pembelajaran akan dilakukan dengan tahap yang
berurutan sehingga memudahkan anak dalam belajar, dan memiliki prinsip tidak
ada bedanya anak normal dengan anak cidera otak dan memiliki prinsip
menyenangkan semua anak memiliki kemampuan yang sama temasuk anak down
syndrome.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, peneliti terdorong untuk
mengadakan penelitian dengan judul “Efektivitas Penggunaan Metode Glenn
Doman Untuk Meningkatkan Pemahaman Lambang Bilangan Anak Down
Syndrome Kelas V C1 SLB Negeri Surakarta Tahun Ajaran 2016/2016”.
5
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi
beberapa masalah diantaranya:
1. Anak down syndrome mengalami kesulitan dalam hal akademik dikarenakan
IQ/ kemampuannya dibawah rata-rata
2. Anak down syndrome mengalami kesulitan dalam berfikir abstrak sehingga
kemampuan dalam berhitung rendah
3. Anak down syndrome mudah lupa dan prestasi belajar rendah
4. Anak down syndrome belum mampu membedakan lambang bilangan asli 1-10
5. Metode pembelajaran yang digunakan bersifat monoton sehingga anak down
syndrome sulit untuk belajar memahami lambang bilangan.
C. Pembatasan Masalah
Mengingat banyaknya permasalahan yang terdapat dalam latar belakang,
maka penelitian ini difokuskan pada:
1. Subjek penelitian adalah anak down syndrome kelas V C1 SLB Negeri
Surakarta tahun ajaran 2015/2016.
2. Kemampuan yang akan ditingkatkan ialah memahami lambang bilangan 1-10
3. Metode yang digunakan dalam pemahaman lambang bilangan 1-10 adalah
metode glenn doman.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah dalam penelitian yaitu Apakah penggunaan metode glenn doman efektif
untuk meningkatkan pemahaman lambang bilangan anak down syndrome kelas V
C1 SLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2015/2016?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan metode
glenn doman untuk meningkatkan pemahaman lambang bilangan anak down
syndrome kelas V C1 SLB Negri Surakarta tahun ajaran 2015/2016.
6
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memberikan pengetahuan yang lebih luas terhadap pembaca mengenai
metode pembelajaran yang dapat diterapkan, serta dapat mendorong calon
peneliti lain khususnya di lingkungan program studi pendidikan khusus/PLB
FKIP UNS untuk mengadakan penelitian yang lebih mendalam.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Memberikan pengalaman dan terlibat dalam penerapan metode glenn
doman sehubungan dengan pembelajaran berhitung mengenai pemahaman
lambang bilangan anak down syndrome.
b. Bagi Siswa
Memberikan pengalaman dan membantu siswa dalam belajar mengenai
lambang bilangan 1-10 dengan menggunakan metode glenn doman.
c. Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman dalam meneliti serta dalam menerapkan
metode glenn doman dalam pemahaman lambang bilangan pada anak down
syndrome.
7
Download