KLONING GEN PENYANDI ENDO-1,4-β

advertisement
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
KLONING GEN PENYANDI ENDO-1,4-β-XILANASE ASAL ISOLAT A
BAKTERI XILANOLITIK SISTEM ABDOMINAL RAYAP TANAH
PADA E.coli Top10 (pET-30a(+))
SKRIPSI
PREVITA ZEIZAR RAHMAWATI
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2012
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
KLONING GEN PENYANDI ENDO-1,4-β-XILANASE ASAL ISOLAT A
BAKTERI XILANOLITIK SISTEM ABDOMINAL RAYAP TANAH
PADA E.coli Top10 (pET-30a(+))
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Bidang
Kimia Pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Oleh:
PREVITA ZEIZAR RAHMAWATI
NIM 080810623
Tanggal Lulus: 7 Agustus 2012
Disetujui Oleh:
Skripsi
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Ni Nyoman Tri P., M.Si
NIP. 19630615 198701 2 001
Dr. Sri Sumarsih, M.Si
NIP. 19600110 198810 2 001
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
LEMBAR PENGESAHAN NASKAH SKRIPSI
Judul
Penyusun
NIM
Tanggal ujian
: Kloning Gen Penyandi Endo-1,4-β-Xilanase Asal Isolat A
Bakteri Xilanolitik Sistem Abdominal Rayap Tanah Pada E.
coli Top10 (pET30a(+))
: Previta Zeizar Rahmawati
: 080810623
: 7 Agustus 2012
Disetujui oleh :
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si
NIP. 19630615 198701 2 001
Dr. Sri Sumarsih, M.Si
NIP. 19600110 198810 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Studi Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Dr. Alfinda Novi Kristanti, DEA
NIP. 19671115 199102 2 001
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI
Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di perpustakaan dalam
lingkungan Universitas Airlangga. Diperkenankan untuk memakai sebagai
referensi kepustakaan, tetapi pengutipan seijin penulis dan harus menyebutkan
sumbernya sesuai dengan kebiasaan ilmiah.
Dokumen skripsi ini merupakan hak milik Universitas Airlangga
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga penyusun dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul Kloning
Gen Penyandi Endo-1,4-β-Xilanase Asal Isolat A Bakteri Xilanolitik Sistem
Abdominal Rayap Tanah Pada E.coli Top10 [pET-30a(+)] dengan tepat waktu.
Penulisan proposal skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si selaku dosen
pembimbing I dan Ibu Dr. Sri Sumarsih, M.Si selaku pembimbing II
yang telah memberikan waktu, saran, doa dan bimbingan kepada
penulis sampai terselesaikan skripsi ini.
2. Ibu Dr. Hartati, MS selaku Dosen Wali yang senantiasa membimbing
serta memberikan banyak masukan.
3. Seluruh staf pengajar program studi S1 Departemen Kimia Fakultas
Sains dan Teknologi yang telah memberikan bekal ilmu yang
bermanfaat kepada penulis.
4. Papa, Mama, Kakak dan Adik yang memberikan kasih sayang, doa,
semangat kepercayaan, dan dukungan baik secara moril maupun materi
kepada penulis selama penyusunan proposal skripsi.
5. Ibu A.A. Istri Ratnadewi, terima kasih telah mempercayakan penulis
untuk mengerjakan sebagian dari riset proyek penelitiannya.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
6. Tim proteomik TDC, mbak One, mbak Nita, mbak Laura dan mbak
Titin, mas Fanani terima kasih atas segala masukan-masukan dan
semangat yang diberikan kepada penulis.
7. Para staf TDC di lab. Lepra dan lab. Malaria mbak dinar, mbak ratna,
mbak agnes dan mbak wahyu, terima kasih atas bantuan dalam analisis
nanodrop, PCR, dan geldoc.
8. Teman – teman kelompok penelitian biokim blast (Tea, Amal, Amel,
Luluk, Nadya, Dita, Siska, Rohis, Jo, Resti, Mumun, Ryan) yang
saling memberikan semangat selama proses penelitian dan penyusunan
skripsi ini
9. Serta pihak – pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang
banyak memberikan saran, masukan dan pengalamannya.
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan proposal skripsi ini masih
banyak kekurangan, sehingga penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan proposal skripsi ini selanjutnya. Penyusun berharap
proposal skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya ilmu bahan alam.
Surabaya, Agustus 2012
Penyusun
Previta Zeizar R.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Rahmawati, Previta Zeisar., 2012, Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+)). Skripsi ini dibawah bimbingan Prof. Dr. Ni Nyoman
Tri Puspaningsih, M.Si. dan Dr. Sri Sumarsih, M.Si, Departeman Kimia,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.
ABSTRAK
Endo-1,4- ß-xilanase merupakan enzim yang dapat mengkatalisis hidrolisis ikatan
glikosida pada xilan yang berpotensi dalam proses industri pangan, pakan, pulp
dan pengolahan limbah pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengamplifikasi
dan kloning gen penyandi endo-1,4- ß-xilanase asal bakteri sistem abdominal
rayap tanah ke dalam E.coli Top10 [pET-30a(+)] serta menentukan urutan basa
nukleotida dan tingkat homologinya terhadap gen endo-1,4-β-xilanase lain yang
ada di GenBank. Proses amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase isolat A
dilakukan dengan menggunakan PCR dengan 30 siklus dan pada kondisi
denaturasi 940C, annealing 580C, extension 72oC. Amplikon yang diperoleh
kemudian dilakukan transformasi ke dalam plasmid pET-30a(+) dan di klon kan
kedalam E.coli Top 10 dan mendapatkan rekombinan yang dinamakan pEXyl06.
Dari hasil analisis sekuensing, di dapatkan urutan basa dari gen penyandi endo1,4- ß-xilanase pada plasmid pET-30a(+) rekombinan dengan ukuran gen 642 bp.
Fragmen gen endo-1,4-β-xilanase asal isolat A mempunyai tingkat homologi 99%
dengan gen endo-1,4-β-xilanase Bacillus subtilis strain MWO dan termasuk ke
dalam kelompok glikosida hidrolase famili 11.
Kata kunci : Bacillus subtilis, endo-1,4-β-xilanase, kloning gen, sekuensing,
homologi, PCR
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Rahmawati, Previta Zeisar., 2012, Cloning of Genes encoding endo-1,4-βxilanase from xilanolytic bacterial isolate A of soil termite abdominal system
in E.coli Top10 (pET-30a(+)). Script is under the guidance of Prof. Dr. Ni
Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. dan Dr. Sri Sumarsih, M.Si, Department of
Chemistry, Faculty of Science and Technology, Airlangga University,
Surabaya.
ABSTRACT
Endo-1,4-ß-xylanase is an enzyme that can catalyze the hydrolysis of the
glycoside bond on xylan that industrial processes of food, feed, pulp and
agricultural waste. This study aims to amplification and cloning of genes encoding
endo-1,4-ß-xylanase from abdominal system termite soil bacteria into E. coli
Top10 [pET-30a (+)] and determine the sequence of nucleotide bases and the
level of they homology of the else endo-1,4-β-xylanase genes in GenBank. The
process of amplification of the gene encoding endo-1,4-β-xylanase from isolate A
were performed using PCR with 30 cycle and the conditions of denaturation at
940C, 580C annealing, extension 72oC. Then, amplicon was transformed into the
plasmid pET-30a (+) and clone it into E. coli Top 10. The result showed that
recombnant namely pEXyl06. From the results of sequencing analysis, in order to
get bases of the gene encoding endo-1,4-ß-xylanase in the plasmid pET-30a (+)
recombinants with gene size 642 bp. Gene fragments of endo-1 ,4-β-xylanase
from isolate A has 99% homology with the gene endo-1 ,4-β-xylanase Bacillus
subtilis strain MWO and belongs to the group of glycoside hydrolase family 11.
Keywords: Bacillus subtilis, endo-1,4-β-xylanase, gene cloning, sequencing,
homology, PCR
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR ISI
Skripsi
HALAMAN JUDUL ....................................................................................
LEMBAR PERNYATAAN ..........................................................................
LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................
LEMBAR PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI.....................................
KATA PENGANTAR ...................................................................................
ABSTRAK.....................................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
DAFTAR TABEL .........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
i
ii
iii
iv
v
vii
ix
xii
xiv
xv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah ...............................................................
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ..........................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................
1
1
4
4
5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................
2.1 Rayap ...........................................................................................
2.2 Xilan ............................................................................................
2.3 Enzim-enzim xilanolitik ..............................................................
2.3.1 Enzim endo-β-xilanase ........................................................
2.3.2 Enzim endo-β-xilosidase .....................................................
2.3.2 Enzim α-L-arabinofuranosidase...........................................
2.4 Enzim-enzim antara untuk memanipulasI DNA ............................
2.5 Polymerase chain reaction (PCR) ................................................
2.6 Vektor kloning .............................................................................
2.6.1 Plasmid pET-30a(+) ..........................................................
2.7 Kloning gen .................................................................................
2.8 Tahapan kloning gen ....................................................................
2.8.1 Amplifikasi DNA sisipan ...................................................
2.8.2 Proses restriksi DNA insert dan DNA plasmid....................
2.8.3 Ligasi DNA insert dengan plasmid .....................................
2.8.4 Transformasi DNA rekombinan..........................................
2.8.5 Sekuensing DNA................................................................
6
6
8
9
9
10
11
12
15
16
17
18
21
21
21
22
23
24
BAB III METODE PENELITIAN ...............................................................
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................
3.2 Sampel penelitian .........................................................................
3.3 Bahan dan Alat Penelitian .............................................................
3.2.1 Bahan penelitian .................................................................
3.2.2 Alat penelitian ....................................................................
3.4 Diagram alir penelitian .................................................................
26
26
26
26
26
27
28
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Skripsi
3.5 Prosedur penelitian ......................................................................
3.5.1 Pembuatan larutan ...............................................................
3.5.1.1 Pembuatan larutan buffer TE 500mM.......................
3.5.1.2 Pembuatan larutan lisosim........................................
3.5.1.3 Pembuatan larutan STEP 500 µL..............................
3.5.1.4 Pembuatan larutan Na-asetat 3M ..............................
3.5.2 Pembuatan media ................................................................
3.5.2.1 Pembuatan media cair untuk koloni E.coli ................
3.5.2.2 Pembuatan media cair untuk koloni E.coli
(pET-30a(+))............................................................
3.5.2.3 Pembuatan media padat ............................................
3.5.2.4 Pembuatan media padat untuk koloni E.coli
(pET-30a(+))............................................................
3.5.3 Peremajaan isolat bakteri xilanolitik (isolat A)....................
3.5.4 Isolasi DNA kromosom isolat A .........................................
3.5.5 Peremajaan E.coli (pET-30a(+)) .........................................
3.5.6 Isolasi DNA plasmid pET-30a(+) .......................................
3.5.7 Pemurnian DNA plasmid pET-30a(+).................................
3.5.8 Amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
menggunakan teknik PCR ...................................................
3.5.9 Analisis DNA dengan elektroforesis gel agarosa.................
3.5.10 Pemurnian amplikon ..........................................................
3.5.11 Restriksi amplikon dan plasmid pET-30a(+) ......................
3.5.12 Ligasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dan plasmid
pET-30a(+) .......................................................................
3.5.13 Kloning pET-30a(+) rekombinan kedalam E.coli Top10 ....
3.5.13.1 Peremajaan isolat E.coli Top10 dari stok gliserol..
3.5.13.2 Pembuatan sel kompeten E.coli Top10 .................
3.5.13.3 Transformasi plasmid pET-30a(+) ke
E.coli Top10........................................................
3.5.14 Seleksi transforman koloni E.coli Top10 pembawa
plasmid rekombinan pET-30a(+) .......................................
3.6 Sekuensing dengan metode sanger ...............................................
3.7 Analisis homologi hasil rekombinan dengan gen lain yang telah
dipublikasikan dalam database GenBank menggunakan program
BLAST .........................................................................................
29
29
29
29
29
29
30
30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................
4.1 Isolasi DNA kromosom isolat A......................................................
4.2 Isolasi DNA plasmid pET-30a(+)....................................................
4.3 Amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dengan teknik PCR .
4.4 Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase .....................................
4.4.1 Restriksi amplikon dan plasmid pET-30a(+) ..........................
4.4.2 Ligasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dan plasmid pET30a(+) ...................................................................................
4.4.3 Transformasi plasmid pET-30a(+) rekombinan ke E.coli
41
41
42
44
49
49
30
30
31
31
31
32
33
34
35
35
36
37
37
37
37
38
39
39
40
40
50
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Top10.................................................................................... 51
4.4.4 Seleksi transforman E.coli Top10 pembawa plasmid pET30a(+) rekombinan ................................................................ 54
4.5 Analisis urutan basa nukleotida dan homologi DNA plasmid pET30a(+) rekombinan pembawa gen penyandi endo-1,4-β-xilanase ..... 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 62
5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 62
5.2 Saran............................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 63
LAMPIRAN
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
2.1
Koloni rayap ............................................................................
7
2.2
Struktur xilan dan sisi pemotongannya. ....................................
9
2.3
Reaksi yang dikatalisis oleh eksonuklease dan endonuklease....
12
2.4
Reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh DNA ligase.........................
13
2.5
Reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh DNA polimerase.................
14
2.6
Reaksi-reaksi yang oleh enzim yang memodifikasi DNA.........
14
2.7
Langkah-langkah dasar dalam PCR ..........................................
16
2.8
Peta plasmid pET-30a(+) ........................................................
17
2.9
Langkah-langkah dasar dalam kloning gen ...............................
19
4.1
Elektroforesis hasil isolasi DNA kromosom .............................
42
4.2
Elektroforesis hasil isolasi DNA plasmid pET-30a(+) ..............
44
4.3a
Elektroforesis hasil amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
isolat A dengan primer xynF dan xynR ...................................
48
4.3b
Hasil elektroforesis amplikon yang telah dimurnikan ...............
48
4.4
Analisis restriksi amplikon dan plasmid pET-30a(+) ................
50
4.5
Pengikatan dan pengambilan plasmid oleh sel kompeten dengan
4.6
Skripsi
Judul Gambar
larutan CaCl2 ...........................................................................
51
Hasil transformasi ...................................................................
53
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR GAMBAR
Nomor
4.7
Judul Gambar
Halaman
Hasil elektroforesis DNA dari transforman plasmid pembawa
pET-30a(+) ..............................................................................
4.8
Skripsi
55
Alignment hasil sekuensing DNA plasmid pET-30a(+) rekombinan 57
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR TABEL
Nomor
Judul Tabel
Halaman
4.1
Beberapa gen yang mempunyai homologi yang tinggi dengan gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase isolate A bakteri xilanolitik asal rayap
tanah……………………………………………………………
Skripsi
60
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Skripsi
Judul Lampiran
1.
Pembuatan Larutan TE
2.
Pembuatan Larutan Lisosim
3.
Pembuatan Larutan STEP
4.
Pembuatan Na-Asetat 3 M
5.
Pembuatan Larutan dan Bahan Untuk Elektroforesis
6.
Electropherogram hasil sekuensing
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan salah satu Negara tropis di dunia yang memiliki
berbagai jenis flora dan fauna. Fauna yang mempunyai tipe hidup di daerah tropis
juga sangat bermacam-macam, salah satunya adalah rayap yang tergolong dalam
kelas insekta. Di Indonesia, rayap mempunyai berbagai macam sebutan nama,
sebagian besar menyebutnya dengan semut putih, di Sumatera digunakan istilah
anai-anai, di Jawa disebut rangas, sedangkan beberapa jenis rayap di daerah Jawa
Barat disebut rinyuh, sumpiyuh. Bergantung jenisnya, panjang tubuh rayap antara
4 - 11 mm. Di alam bebas, rayap berperan penting sebagai penjaga keseimbangan
alam dengan cara menghancurkan kayu dan mengembalikannya sebagai "hara" ke
dalam tanah. Namun di pemukiman rayap menjadi hama yang sangat merugikan
dan menimbulkan kerugian ekonomis. Rayap dapat merusak bahan-bahan yang
mengandung selulosa yang merupakan sumber makanan bagi rayap, karena rayap
merupakan satu-satunya kelompok serangga yang mampu memanfaatkan selulosa
sebagai sumber makanannya, seperti: kayu, kertas dan kain (Johnson, 1992).
Komponen penyusun dinding sel kayu yaitu hemiselulosa, selulosa dan
lignin. Kelimpahan selulosa dalam kayu adalah sebesar 40-55%, hemiselulosa
sebesar 24-40% dan lignin sebesar 18-25% (Howard et al., 2003). Hemiselulosa
tersusun atas xilan, sedangkan pada kayu lunak, komponen penyusunnya adalah
glukomanan (Kumar et al, 2008). Karena kemampuan rayap sebagai pemakan
1
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
kayu, pada sistem abdominal rayap terdapat mikroba yang bisa menghasilkan dan
mensekresi enzim pendegradasi hemiselulosa seperti enzim xilanolitik. Enzim
xilanolitik merupakan enzim kompleks yang terdiri atas endo-1,4-β-xilanase, βxilosidase, α-L-arabinofuranosidase, α-glukuronidase, asetil xilan esterase dan
asam ferulat esterase (Collins et a.l, 2005). Enzim xilanolitik ini dapat digunakan
untuk biobleching pada industri kertas, penjernihan dan meningkatkan aroma jus
dan anggur, industri makanan dan pakan ternak (Jiang et al., 2009). Xilanase
merupakan kelompok enzim yang memiliki kemampuan menghidrolisis
hemiselulosa dalam hal ini ialah xilan atau polimer dari xilosa dan xilooligosakarida. Xilanase dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat yang
dihidrolisis, yaitu β-xilosidase, eksoxilanase, dan endoxilanase (Richana, 2002).
Gen penyandi xilanase dari berbagai sumber, telah dikloning ke dalam
berbagai sel inang misalnya, Kloning gen penyandi xilanase termostabil dari
Actinomandura sp. S14 diekspresikan ke E.coli dan Pichia pastoris (Sriyapai et
al. 2011), gen xilanase dari Bacillus subtillis strain R5 (Jalal et al., 2009), xilanase
dari Bacillus strain B10 di E.coli (Huang et al., 2006), xilanase dari Paecilomyces
thermophilia di E.coli dan mengkarakterisasi xilanase rekombinan (Zhang et al,
2010).
Ratnadewi dkk (2009) telah melakukan: isolasi bakteri-bakteri pensekresi
komponen enzim xilanolitik dari rayap tanah dan mendapatkan salah satu dari
kelompok enzim xilanolitik yaitu enzim endo-1,4-β-xilanase yang dapat diperoleh
melalui overekspresi gen penyandi enzim xilanolitik dari bakteri sistem abdominal
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
rayap. Enzim endo-1,4-β-xilanase yang diperoleh dimanfaatkan untuk produksi
prebiotik xilooligosakarida dari xilan.
Enzim endo-1,4-β-xilanase sangat penting di dunia industri dan dunia
penelitian, maka perlu dilakukan adanya suatu kemampuan untuk produksi enzim
endo-1,4-β-xilanase. Sehingga pada penelitian ini dilakukan kloning gen penyandi
enzim endo-1,4-β-xilanase sehingga akan diperoleh gen penyandi endo-1,4-βxilanase yang murni dalam jumlah yang relatif besar.
Pada penelitian ini dilakukan amplifikasi gen penyandi endo-1,4-βxilanase yang berasal dari isolat A yang kemudian di lakukan kloning ke E. coli
Top10 (pET-30a(+)) dan menentukan urutan basa nukleotida dan tingkat
homologi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase asal sistem abdominal rayap tanah.
Proses amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dilakukan dengan teknik
Polymerase Chain Reaction (PCR). Primer forward yang digunakan adalah
berdasarkan dari sekuen primer yang telah berhasil untuk mengamplifikasi gen
penyandi xilanase dari Bacillus strain B10 di E.coli (Huang et al., 2006) dan
primer reverse yang digunakan adalah berdasarkan penelitian skripsi oleh
Amaliah labiqah tentang amplifikasi gen penyandi endo xilanase pada rayap
tanah.
Proses amplifikasi gen endo-1,4-β-xilanase dilakukan proses denaturasi
pada suhu 94oC, annealing menggunaka gradien suhu yaitu 40oC; 48oC; 52,oC; 58
o
C dan extension pada suhu 72oC dengan jumlah siklus 30 kali. Amplikon yang
diperoleh kemudian diklon ke dalam plasmid pET-30a(+). Plasmid rekombinan
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
tersebut kemudian di transformasi ke dalam sel inang Escherichia coli dengan
jenis E.coli yang digunakan disini adalah E.coli Top10.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan maka dapat diambil suatu
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah gen penyandi endo-1,4-β-xilanase asal bakteri sistem abdominal
rayap tanah dapat di amplifikasi dan diklon ke dalam E.coli Top10 (pET30a(+))?
2. Bagaimanakah urutan basa nukleotida dan tingkat homologi gen penyandi
endo-1,4-β-xilanase rekombinan asal bakteri sistem abdominal rayap
tanah?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Melakukan amplifikasi dan kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase asal
bakteri sistem abdominal rayap tanah ke dalam E.coli Top10 (pET30a(+)).
2. Menentukan urutan basa nukleotida dan tingkat homologi gen penyandi
endo-1,4-β-xilanase asal bakteri sistem abdominal rayap tanah.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan melakukan kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase pada sistem
abdominal rayap tanah pada E. coli Top10, diharapkan akan mendapatkan suatu
rekombinan penghasil enzim endo-1,4-β-xilanase yang murni, selanjutnya enzim
endo-1,4-β-xilanase dapat dimanfaatkan di dalam dunia industri makanan,
peternakan dan lain-lain. Selain itu di penelitian ini juga memberikan informasi
urutan basa nukleotida gen penyandi enzim endo-1,4-β-xilanase asal bakteri
sistem abdominal rayap tanah.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rayap
Rayap adalah jenis serangga pemakan selulosa yang berukuran sedang,
yang termasuk dalam ordo Isoptera, secara relatif kelompok kecil dari serangga
yang terdiri dari kurang lebih 1900 jenis di dunia. Hidup dalam jumlah kecil atau
besar dengan organisasi yang sangat baik, komunitasnya membuat sejumlah
kasta-kasta khusus yang memiliki pekerjaan khusus untuk kelangsungan hidup
koloni. Rayap memiliki bentuk dan ukuran sayap depan yang sama dengan sayap
belakang, sehingga ordonya disebut Isoptera (Iso = sama, ptera = sayap)
(Johnson, 1992). Rayap mempunyai taksonomi sebagai berikut :
Kerajaan
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insekta
Subkelas
: Pterygota
Ordo
: Isoptera
Famili
: Mastotermitidae
Kalotermitidae
Termopsidae
Hodotermitidae
Rhinotermitidae
Termitidae
Skripsi
6
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Diseluruh dunia telah dikenal sekitar 2000 spesies rayap (diidentifikasi
dan dideskripsikan sekitar 120 spesies merupakan hama), sedangkan di Indonesia
dari sejumlah 200 spesies yang dikenal baru sekitar 20 spesies yang diketahui
berperan sebagai hama perusak kayu serta hama hutan atau pertanian
(Tarumingkeng, 2001). Pada Gambar 2.1 rayap hidup di dalam habitat-habitat di
bawah tanah yang lembab dan hidup di daerah kering yaitu diatas tanah. Sarangsarang rayap dapat didalam tanah seluruhnya, atau dapat menonjol diatas
permukaan. Rayap-rayap kayu kering yang hidup di atas tanah tanpa kontak
dengan tanah sama sekali hidup di potongan potongan batang pohon, pohonpohon dan bangunan yang terbuat dari kayu.
Gambar 2.1. Koloni Rayap (Anonim)
Sumber utama kelembabannya adalah air metabolik, yaitu air yang berasal
dari oksidasi makanan. Pada awalnya rayap diyakini tidak dapat mencerna lignin
secara baik, akan tetapi dari perbandingan oleh Seifert (1962) dari kontens lignin
pada kayu dan feses menunjukkan bahwa rayap setidaknya bisa mendemilasi
lignin (Kato, 1998). Selulosa dalam makanan rayap dicerna oleh berbagai macam
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
protista flagella yang berjumlah ribuan yang hidup didalam saluran pencernaan
rayap (Johnson, 1992).
2.2 Xilan
Xilan merupakan suatu heteropolisakarida, yaitu suatu komponen
struktural utama dari hemiselulosa dari dinding sel tumbuhan. Endoxilanase (1,4β-D-xilan xilanohidrolase; EC 3.2.1.8) (Sriyapai et al,. 2010). Xilanase adalah
Komponen utama hemiselulosa yang memiliki tulang punggung rantai Dxilopiranosa dengan ikatan glikosidik β-1,4. Xilan memiliki residu O-asetil,
arabinosil dan
4-O-metil-D-asam glukoronat
yang
terikat
pada tulang
punggungnya. Hidrolisa lengkap xilan menjadi monomernya memerlukan kerja
sinergi beberapa enzim xilanolitik (Zhou, et.,al., 2008). Xilanase banyak diketahui
milik dari famili GH10 dan GH11 (Howard, 2003).
Hidrolisis total xilan membutuhkan beberapa enzim yang berbeda, yaitu
endo-1,4-β-xilanase
(1,4-β-D-xilan
xilanohidrolase,
EC.3.2.1.8)
yang
menghidrolisis struktur dasar xilan secara acak menjadi xilooligosakarida; 1,4-βD-xilosidase
(1,4-β-D-xilanxilohidrolase,
EC.3.2.1.37)
dan
memutus
xilooligosakarida menjadi xilosa. Gugus samping yang menyusun xilan akan
dibebaskan oleh α-L-arabinofuranosidase, β-D-glukuronidase, galaktosidase dan
asetil xilan esterase menjadi arabinosa, glukuronat, galaktosa dan asetat (Lee et
al., 2009).
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Gambar 2.2. Struktur xilan dan sisi pemotongannya (Shallom, 2003)
2.3 Enzim enzim xilanolitik
Enzim-enzim pendegradasi xilan disebut enzim xilanolitik atau enzim
xilanase. Macam-macam enzim xilanase yang bermanfaat antara lain: enzim
endo-β-xilanase (EC.3.2.1.8), enzim β-xilosidase (EC.3.2.1.37), enzim α-Larabinofuranosidase (EC.3.2.1.55) dan enzim ekstra, yang mampu memotong
rantai sisi kelompok heteroxilan . Produk akhir hidrolisis xilan adalah xilosa dan
oligosakarida, dimana mempunyai aplikasi yang potensi di industri produksi
makanan, farmasi, kertas, produk pertanian dan bahan bakar terbarukan (Sriyapai
et al,. 2010).
2.3.1 Enzim endo-β-xilanase
Endo xilanase mampu memutus ikatan β 1-4 pada bagian dalam rantai
xilan secara teratur. Ikatan yang diputus ditentukan berdasarkan panjang rantai
substrat, derajat percabangan, ada atau tidaknya gugus subtitusi, dan pola
pemutusan dari enzim hidrolase tersebut. Enzim endo-β-xilanase (EC.3.2.1.8)
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
telah banyak dideteksi pada
mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dan
masing masing telah di karakterisasi dengan baik, mikroba mikroba penghasil
xilanase biasanya memiliki pH optimum asam atau netral (Gupta et al, 2000).
Famili GH10 (disebut juga Famili F) merupakan kelompok endo xilanase dengan
massa molekul relatif tinggi dengan harga pI yang rendah. Sebaliknya Famili
GH11 (disebut juga Famili G) mempunyai massa molekul relatif rendah dengan
harga pI yang tinggi. Kedua famili tersebut berbeda dalam hal sifat katalitiknya.
Famili 10 mampu menyerang ikatan glikosidik di sebelah titik cabang dan
mengarah ke ujung non-pereduksi dengan menggunakan dua residu xilopiranosil
non-substitusi antara cabang-cabang, sedangkan famili 11 menggunakan tiga
residu xilopiranosil non-substitusi. Berdasarkan hal tersebut, famili 10
mempunyai beberapa aktivitas katalitik yang sesuai dengan β-xilosidase (Kartika
Ayu, 2006). Enzim xilanase GH famili 11, didapatkan dari Bacillus subtilis, dan
Bacillus licheniformis. Untuk enzim xilanase GH famili 10 dijumpai pada
Bacillus sp. (http://www.CAZy.org).
2.3.2 Enzim endo-β-xilosidase
Endo-β-xilosidase, yaitu enzim xilanase yang mampu menghidrolisis xilooligosakarida rantai pendek menjadi xilosa. Aktivitas enzim akan menurun
dengan meningkatnya rantai xilo-oligosakarida (Reilly, 1991). Xilosa selain
merupakan hasil hidrolisis juga merupakan inhibitor bagi enzim endo-βxilosidase. Sebagian besar enzim endo-β-xilosidase yang berhasil dimurnikan
masih menunjukkan adanya aktivitas transferase yang menyebabkan enzim ini
kurang dapat digunakan industri penghasil xilosa.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.3.3 Enzim α-L-arabinofuranosidase
Arabinosa residu ditemukan di pektin atau hemiselulosa seperti sebagai
arabinans, arabinogalaktan, atau arabinoxylans di banyak dinding sel tumbuhan.
Dalam gula bit arabinan, L-arabinosa residu terkait dalam membentuk α-1,5-Larabinan dari L arabinofuranose unit yang terpasang pada posisi 2 atau 3 dalam
konfigurasi
α
sebagai
rantai
samping
(Sakamoto
et
al.,
2010).
Arabinofuranosidase (EC3.2.1.55) mengkatalisis hidrolisis α-1,2 dan α-1 ,3arabinofuranosidik obligasi di hemiselulosa seperti arabinoxylan, arabinan, dan
lainnya yang mengandung arabinosa polisakarida (Canakci et al., 2008).
Enzim ini merupakan bagian dari glikosida hidrolase yang berperan dalm
proses degradasi hemiselulosa seperti arabinoxilan, arabinogalaktan, dan Larabinan. Adanya substituen L-arabinofuranosida dalam struktur xilan dapat
secara kuat menghambat aktivits endo-xilanase dan β-xilosidase yang berakibat
menghalangi degradasi total dari polimer xilan (Shallom et al, 2003). Hal ini
disebabkan oleh struktur L-arabinofuranosida yang cukup besar, sehingga akan
terjadi halangan ruang bagi aktivitas endo-xilanase dan xilosidase. Oleh karena
itu, keberadaan enzim arabinofuranosidase sangat penting dalam degradasi total
xilan (Shallom et al, 2003).
Arabinofuranosidase telah menerima banyak perhatian dalam beberapa
tahun terakhir karena aplikasi potensi mereka dalam proses industri agro, seperti
pengolahan buah-buahan, sayuran, dan sereal dan konversi hemiselulosa untuk
bahan bakar dan bahan kimia. Arabinofuranosidase mungkin diterapkan untuk
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
meningkatkan aroma anggur dan jus buah serta produksi arabinosa, yang telah
dilaporkan untuk menunjukkan efek antiglsemik (Canakci et al,. 2008).
2.4 Enzim-enzim Untuk Manipulasi DNA
Di dalam kloning gen diperlukan enzim-enzim untuk memanipulasi DNA.
Enzim-enzim ini dikelompokkan berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis (Brown,
2010), yaitu:
1. Nuklease, yaitu enzim yang memotong atau memendekkan atau
mendegradasi molekul asam nukleat. Berdasarkan cara pemotongannya,
nuklease
dibedakan
atas
dua
macam
yaitu
eksonuklease
yang
menghilangkan nukleotid satu persatu dari ujung molekul DNA dan
endonuklease yang memecah ikatan fosfodiester internal pada molekul;
DNA.
Gambar 2.3 Reaksi yang dikatalisis oleh eksonuklease dan endonuklease
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2. Ligase, untuk menyambungkan antar asam nukleat satu dengan yang lain
seperti pada DNA insert dengan plasmid dalam salah satu tahapan kloning
gen.
Gambar 2.4 Reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh DNA ligase
3. Polimerase, untuk membuat kopi dari molekul DNA. Polimerase
digunakan pada proses PCR, yaitu penggandaan DNA secara invitro yang
dilakukan
dalam
tabung
eppendorf
dengan
pencampuran
yang
membutuhkan satu set reagen tertentu yang salah satunnya enzim
polimerase. Macam-macam reaksi yang dikatalis oleh enzim polymerase
meliputi 4 macam jenis reaksi, yang pertama adalah basic reaction atau
reaksi perpanjangan untai DNA pada umumnya, yaitu dengan mensintesis
untai-untai DNA dari 5’ hingga 3’. Kedua adalah DNA polimerase I yaitu
enzim yang menambah basa nukleotida pada daerah untai DNA yang
kosong dan kemudian mengganti urutan basa nukleotida pada untai DNA
selanjutnya dengan komplemennya Ketiga reaksi fragmen klenow yaitu
reaksi penambahan basa DNA hanya di daerah untai DNA yang kosong
saja. Dan yang keempat yaitu reaksi DNA reverse transcriptase yaitu
reaksi yang dapat mensintesis untai DNA yang berasal dari untai RNA.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Gambar2.5 Reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh DNA polimerase
4. Enzim modifikasi (modifying enzymes) yaitu suatu enzim untuk
menghilangkan gugus fosfat pada ujung 5’ molekul DNA, menambah
gugus fosfat dari ujung 5’ atau menambah satu atau lebih deoksinukleotida
pada ujung 3’ molekul DNA. Dan yang terakhir adalah topoisomerisme,
yaitu suatu enzim yang mampu membentuk dan mengubah lilitan DNA
dari suatu DNA sirkuler.
.
Gambar2.6 Reaksi-reaksi yang oleh enzim yang memodifikasi DNA
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.5 Polymerase Chain Reaction (PCR)
Polymerase Chain Reaction (PCR) sangat berbeda dari kloning gen yaitu
Serangkaian dari pada proses penggandaan DNA secara invitro yang dilakukan
dalam tabung Eppendorf dengan pencampuran yang membutuhkan satu set reagen
seperti DNA template, primer forward dan primer reverse, Taq DNA polymerase,
buffer PCR, dNTP, MgCl, ddH2O dan ditempatkan pada suatu cycler secara
terprogram dengan serangkaian suhu yang bervariasi. Langkah-langkah dasar
dalam proses PCR adalah sebagai berikut (Brown, 2010).
1. Denaturasi DNA dilakukan pada suhu 94° C, di mana pada suhu tersebut
ikatan hidrogen yang pada struktur DNA semula double-standed
terdenaturasi berubah menjadi struktur DNA yang single-stranded.
2. Annealing (penempelan) primer dilakukan pada suhu 50-600 C. Dua untai
tiap molekul single-stranded dapat bergabung kembali pada suhu ini.
yaitu dengan cara proses penempelan primer yang dapat menempel ke
molekul DNA pada posisi yang spesifik.
3. Proses sintesis DNA menggunakan suhu 74° C. Pada suhu 740C, Taq DNA
polimerase bekerja dengan proses Taq DNA polimerase menempel pada
ujung masing-masing primer forward dan reverse, kemudian mensintesis
basa basa nukleotida sampai terbentuk untai molekul DNA yang baru
4. Suhu di naikkan kembali ke 94° C. molekul DNA double-stranded,
masing-masing terdiri dari satu untai molekul DNA asli dan salah satu
untai DNA baru, kembali ke proses denaturasi ke untai tunggal untuk
siklus yang kedua.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Gambar 2.7. Langkah-langkah dasar dalam PCR (Brown, 2010)
2.6 Vektor Kloning
Vektor kloning adalah konsep molekul DNA artifisial yang mampu
bereplikasi dalam organisme inang dimana sepotong DNA dipelajari secara
khusus dan dapat disisipkan pada posisi yang dikenal, molekul DNA rekombinan
dimasukkan ke sel inang seperti E.coli, ragi, sel hewan, atau sel tumbuhan
(Russell, 1994). Dalam proses kloning, gen atau DNA yang akan diklon kedalam
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
sel inang diperlukan suatu wahana atau vektor. Vektor
ini yang akan
mengantarkan DNA target untuk masuk kedalam sel inang. Terdapat tiga jenis
utama dari vektor yang digunakan untuk kloning DNA dalam sel bakteri: plasmid,
bagteriophage, dan Kosmid. Syarat sebuah vektor yang paling penting adalah
bahwa wahana ini mampu mengadakan replikasi dalam sel tuan rumah sehingga
menghasilkan banyak kopi molekul DNA rekombinan dan diturunkan pada sel
anak saat terjadi pembelahan sel (Russell, 1994).
2.6.1 Plasmid pET30a(+)
Gambar 2.8. Peta plasmid pET-30a(+) (Novagen)
Diagram dari vektor plasmid pET30a(+). Vektor ini berukuran 5422bp, vektor ini
memiliki beberapa fitur berikut sehingga berguna untuk kloning DNA
1. Origin of replicalion (ori) pada Plasmid pET30a(+) mengandung pBR322
sehingga, copy number pada pET30a(+) adalah 15-20 kopi per sel E. coli.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2. Selectable marker pada plasmid pET30a(+) berupa kanamisin (kan).
3. Terdapat daerah sisi restriksi yang unik dan berguna untuk memasukkan
DNA sekuen yang disebut polylinker atau Multiple Cloning Sites (MCS)
yang digunakan untuk membuat plasmid rekombinan.
4. Terdapat lacI (lac repressor), dimana lacI adalah suatu gen yang dapat
menghasilkan repressor. Repressor adalah suatu protein yang dapat
menghalangi RNA polimerase menterjemahkan urutan gen dalam proses
transkripsi. Bila RNA polymerase terhalangi oleh suatu repressor, maka
DNA tidak bisa diterjemahkan oleh RNA polimerase dan protein tidak
terekspresikan dalam sel inang. lacI yang bersifat alloserik dapat di non
aktifkan oleh isopropil-β-D-thiogalaktopiranosida (IPTG) dan memicu
ekspresi lac operon (Wall, 2009).
2.7 Kloning Gen
Antara tahun 1971 sampai 1973 penelitian mengenai genetika mengalami
revolusi dalam biologi modern. Suatu metode baru yang dikembangkan sehingga
eksperimen eksperimen yang sebelumnya tidak dilakukan lagi. Metode- metode
ini disebut teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetik yang inti dari
prosesnya adalah kloning gen.
Langkah-langkah dasar dalam kloning gen menurut Brown (2010) adalah
sebagai berikut Fragmen DNA yang mengandung gen target di insersikan pada
vektor kloning sehingga menghasilkan suatu molekul DNA rekombinan. Vektor
bertindak sebagai alat transportasi gen kedalam sel inang. Sel inang dapat berupa
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
bakteri, ragi, jamur, tanaman tingkat tinggi, dan sel-sel mamalia. Vektor
mengadakan replikasi di dalam sel inang, sehingga menghasilkan banyak kopi
atau turunan yang identik dari vektor dan gen yang dibawanya. Ketika sel inang
membelah, Kopi molekul DNA rekombinan diwariskan pada progeni dan diikuti
replikasi vektor selanjutnya. Sel inang terus melakukan pembelahan sel, hingga
terbentuk koloni pada media padat dan dihasilkan klon sel inang yang identik
dimana tiap sel dalam satu koloni mengandung satu kopi atau lebih molekul DNA
rekombinan.
Molekul DNA
rekombinan
Vektor
Fragmen DNA
Bakteri
Bakteri yang
membawa DNA
rekombinan
2. Transport kedalam
sel host
3. Perbanyakan molekul
DNA rekombinan
4. pembelahan
sel host
5. pembelahan sel
banyak yang
menghasilkan klon
Koloni bakteri yang tumbuh pada
media padat
Gambar 2.9. Langkah langkah Dasar dalam Kloning Gen (Brown, 2010)
Molekul DNA rekombinan perlu dimasukkan ke dalam suatu sel inang
untuk dapat mengekspresikan produk DNA sisipan. Beberapa komponen yang
perlu diperhatikan dalam memilih sel inang yang baik untuk pengklonan adalah
sebaiknya sel inang memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat, dapat tumbuh pada
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
medium kultur, tidak bersifat patogen, dapat ditransformasi oleh DNA dan stabil.
Sel inang dalam pengklonan umumnya berupa mikroorganisme, misalnya
Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Saccharomyces cerevisiae (Brock et al.,
1994).
Eksperimen kloning gen pada umumnya dilakukan dalam 5 langkah: (1)
generasi fragmen DNA yang cocok untuk kloning. (2) keterkaitan fragmen yang
akan di kloning ke vektor plasmid atau genom virus oleh pengobatan DNA
fragmen / vektor campuran dengan DNA ligase. (3) pengenalan produk ligasi
DNA ke dalam sistem sel inang yang cocok, seperti E.coli, dengan transformasi,
transfeksi atau infeksi. (4) diubah pembelotan klon DNA yang mengandung
spesies hibrida yang dibutuhkan: dan (5) isolasi dan karakterisasi DNA dari
spesies hibrida pada hasil klon (Timmis, 1984).
Kloning merupakan suatu dorongan bagi para ilmuan karena dapat
melakukan seleksi dan pemurnian suatu gen dalam jumlah besar yang bebas dari
kontaminasi oleh urutan DNA lain. Kunci keberhasilan atau kegagalan suatu
eksperimen kloning adalah kemampuan melakukan seleksi terhadap gen target
yang akan dikloning. Bila suatu gen berhasil diklon, maka tidak akan lagi terdapat
kesulitan untuk memperoleh informasi tentang struktur, fungsi, dan ekspresi pada
gen tersebut (Brown, 2010).
2.8 Tahapan Kloning Gen
2.8.1 Amplifikasi DNA sisipan
Sintesis dan amplifikasi DNA sisipan yang akan diklon kan menggunakan
teknik PCR (Polymerase Chain Reaction), Prosedur ini digunakan untuk proses
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
amplifikasi enzimatik secara invitro dari DNA sisipan dengan cara mensintesis
DNA tersebut sehingga menghasilkan jumlah salinan dari fragmen DNA dengan
jumlah banyak dan spesifik (Ausubel et al, 1995). Proses PCR dibutuhkan sampel
DNA yang digunakan sebagai DNA cetakan (template) dan reagen-reagen seperti
Taq DNA polymerase, buffer PCR, dNTP, MgCl, ddH2O juga primer forward dan
reverse (Huang et al., 2006).
Reaksi amplifikasi suatu fragmen DNA diawali dengan denaturasi DNA
cetakan sehingga yang awalnya DNA dalam bentuk untai ganda (double stranded)
akan mengalami denaturasi menjadi untai tunggal (single stranded). Berikutnya
adalah proses annealing pada suhu sekitar 55 °C. Primer akan menempel pada
cetakan yang telah terpisah menjadi untai tunggal. Proses dilakukan selama 1-2
menit, kemudian pada proses sintesis DNA, suhu inkubasi dinaikkan menjadi 72
°C selama 90 detik agar terjadi proses polimerisasi untai DNA yang baru
berdasarkan informasi dari DNA cetakan. DNA untai ganda yang terbentuk
selanjutnya akan didenaturasi lagi dengan menaikkan suhu inkubasi menjadi 95
°C untuk tahap siklus berikutnya (Brown, 2010).
2.8.2 Proses Restriksi DNA Insert dan DNA plasmid
Dalam kloning gen tahap yang paling penting adalah proses restriksi
molekul DNA dan vektor dengan ukuran yang tepat. Tiap vektor harus dipotong
pada posisi tunggal untuk membuka lingkaran sehingga molekul DNA baru dapat
diinsersikan. Fitur yang paling penting dari sebuah enzim restriksi adalah bahwa
enzim restriksi mampu membelah molekul untai ganda DNA pada suatu pasangan
sekuen nukleotida tertentu yang disebut situs restriksi (Russell, 1994).
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Enzim restriksi dibagi menjadi 3 tipe yaitu berdasarkan komposisi subunit,
posisi pemotongan,
spesifisitas sekuens dan kofaktor yang diperlukan
(Sasnauskas, 2006). Ada dua jenis utama dari enzim restriksi: enzim restriksi tipe
I, yang mengenali sekuen tertentu namun memotong di tempat lain, dan enzim
restriksi tipe II, dapat memotong hanya dalam situs pengenalan. enzim tipe II
adalah kelas yang paling penting. enzim restriksi di semua kelas ini membuat dua
potongan untai tunggal, satu potong di masing-masing untai. ada dua pengaturan
pemotongan: (1) potongan di pusat simetri (menghasilkan ujung tumpul) atau (2)
potongan yang simetris, ditempatkan di sekitar garis simetri (menghasilkan ujungujung kohesif atau ujung lengket) (Freifelder, 1987). Pada proses kloning gen,
enzim restriksi endonuklease yang digunakan umumnya adalah tipe II karena
dapat memotong DNA pada sisi spesifik, sehingga dihasilkan pola potongan
spesifik. Sisi pengenalan enzim restriksi endonuklease tipe II berupa inverted
repeats, yaitu sekuen dapat dibaca sama dari arah manapun, atau disebut
palindrome (Brown, 2010).
2.8.3 Ligasi antara DNA Insert dengan Plasmid
DNA vektor dan DNA target yang telah dipotong dengan menggunakan
enzim restriksi, kemudian digabungkan untuk membentuk DNA rekombinan
(Snustad and Simmons, 2006). Proses tersebut dinamakan proses ligasi, sebab
dilakukan dengan menggunakan enzim DNA ligase. DNA ligase mengkatalisis
pembentukan ikatan fosfodiester antara ujung 5' fosfat dan 3'-hidroksil terminal
dalam DNA dupleks (Ausubel et al, 1995). Nama enzim biasanya yang di
gunakan adalah T4 ligase.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
T4 ligase ini adalah nama enzim DNA ligase yang lain yang efisien
bergabung ujung tumpul Terminal di bawah kondisi reaksi normal. Ligasi ujung
lengket yang pada umumnya dilakukan pada suhu 12oC sampai 15oC, sedangkan
ligasi ujung tumpul biasanya dilakukan pada suhu kamar (<30oC) dengan 10
sampai 100 kali lebih enzim dari ligasi ujung lengket. T4 DNA ligase dihambat
kuat oleh konsentrasi NaCl > 150 mM. (Ausubel et al, 1995).
2.8.4 Transformasi DNA Rekombinan
Transformasi DNA rekombinan adalah proses transfer DNA plasmid
rekombinan ke dalam sel inang (Mulis, 1990). Syarat utama dalam transformasi
DNA rekombinan adalah sel inang harus dibuat kompeten terlebih dahulu. Sel
kompeten tersebut yang kemudian dicampur dengan plasmid rekombinan untuk
proses transformasi ke dalam sel inang, proses ini yang disebut elektroporasi yaitu
mendorong DNA ke dalam sel dengan dialiri arus listrik (Mulis, 1990).
Elektroporasi merupakan metode transformasi paling cepat, mudah dan efisien.
Efisiensi transformasi diperoleh dapat mencapai 1010 transforman/µg DNA
(Sambrook, 1989).
Metode transformasi dilakukan dengan kejutan panas (heat shock) yang
diawali dengan pemberian CaCl2 untuk menghasilkan sel bakteri yang kompeten,
molekul DNA, misalnya plasmid, dimasukkan ke dalam sel kemudian akan
bereplikasi di dalam sel. Sel kemudian diinkubasi dalam medium pertumbuhan
non-selektif untuk memulihkan kondisi sel (membran sel kembali utuh). Sel
bakteri yang umum digunakan dalam proses transformasi DNA rekombinan
adalah Escherichia coli (Sambrook &Russell, 2001).
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
2.8.5 Sekuensing DNA
sekuensing DNA adalaah suatu metode yang digunakan untuk membaca
urutan basa nukleotida yang terdapat dalam suatu molekul gen. dalam dunia
kedokteran manfaat dari sekuensing DNA adalah dapat digunakan untuk
mengidentifikasi, mendiagnosis, dan mengembangkan pengobatan penyakit
genetik. Dalam sekuensing DNA terdapat dua metode yang sering digunakan,
yaitu metode secara enzimatik oleh Fredrick Sanger dan metode Metode kimiawi
oleh Maxam - Gilbert (Brown, 2010; Devor, 2005).
1. Metode kimiawi oleh Maxam - Gilbert
Metode yang dikembangkan adalah untuk sekuensing DNA untai tunggal
dengan mengambil keuntungan dari proses dua langkah katalitik yang
melibatkan Piperidina dan dua bahan kimia yang selektif menyerang purin
dan pirimidin (Devon, 2005). Selain itu sulfat, dimetil dan piperidina secara
selektif akan
membelah nukleotida guanin namun dimetil sulfat dan
Piperidina di asam formiat akan membelah baik nukleotida guanin maupun
adenin. Fragmen DNA untai ganda yang akan ditentukan urutannya mulamula dilabel menggunakan gugus fosfor radioaktif pada ujung 5’ tiap
untai. reaksi-reaksi akan di muat pada gel poliakrilamida dengan
persentase tinggi dan fragmen diselesaikan oleh elektroforesis.
2. Metode enzimatik oleh Frederick Sanger
Rantai pemutusan sekuensing DNA yang didasarkan pada prinsip bahwa
molekul DNA untai tunggal yang berbeda panjang dengan hanya satu
nukleotida tunggal dapat dipisahkan dari satu lain oleh elektroforesis gel
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
poliakrilamida. Bahan awal untuk percobaan sekuensing terminasi rantai
merupakan persiapan molekul DNA untai tunggal yang identik. Langkah
pertama adalah untuk penempelan oligonukleotida pendek ke posisi yang
sama pada setiap molekul. Langkah kedua adalah sintesis untai reaksi,
yang dikatalisis oleh enzim DNA polimerase dan membutuhkan empat
trifosfat deoksiribonukleotida (dATP, dCTP, dGTP, dan dTTP) sebagai
substrat. (Brown, 2010). Untuk mengetahui urutan DNA hasil analisis,
adalah mengidentifikasi dideoksinukleotida diakhir setiap rantai molekulterminasi.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteomik, Institute
Tropical Desease, Universitas Airlangga, Surabaya . Penelitian ini dimulai pada
bulan Januari 2012 sampai bulan Juli 2012.
3.2 Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat A dari bakteri
asal sistem abdominal rayap tanah yang diperoleh dari A. A. Istri Ratnadewi S,Si.
M,Si (Universitas Jember, Indonesia) dan plasmid pET-30a(+) (Novagen).
3.3 Bahan dan Alat Penelitian
3.3.1 Bahan Penelitian
Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: buffer TE,
bacto-agar, lisozim, tris Cl, SDS, HCl, EDTA, proteinase K, kloroform, fenol,
isoamilalkohol, natrium asetat, etanol absolut, etanol 70%, NaOH, dNTP, Taq
DNA polimerase, primer forward xynF, primer reverse xynR, buffer PCR,
MgCl2, ddH2O, agarosa, tripton, yeast extract, NaCl, buffer TAE, etidium
bromida, DNA purification kit, kanamisin (100µg/mL), enzim restriksi SacI dan
XhoI, T4 Ligase, buffer ligasi, NaOH, asam asetat glasial, Glukosa.
26
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.3.2 Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf (OSK 6508 Steam pressure
apparatus Ogawa Seiki Co., LTD), laminair air flow cabinet (Kottermann 8580),
sentrifuga Beckman (tipe TJ-6), timbangan analitik (Mettler Toledo), pH meter
(Metro-ohm 744), oven (Memmert, Jerman), rotary shaker, lemari pendingin -20
0
C (Royal Chest Freezer BD195), pipet mikro (Eppendorf), waterbath (sansat type
syk-382-M), shaker incubator (Heidolph Polymax 1040), Spektrofotometer UVVIS (Shimadzu UV-1700), Polymerase Chain Reaction (BioRad), UV
transluminator, Sequencer (Applied Biosystems) dan alat-alat gelas yang lazim
digunakan di laboratorium.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.4 Diagram alir penelitian
bakteri xilanolotik Isolat A
Isolasi DNA kromosom
Plasmid pET-30a(+)
dalam E.coli
rekombinan
DNA kromosom Isolat A
Amplifikasi gen
penyandi endo-1,4-βxilanase dengan primer
xynF dan xynR +
Pemurnian amplikon
Isolasi DNA
plasmid
Plasmid pET30a(+)
Gen endo-1,4-β-xilanase
Restriksi dengan
SacI dan XhoI, dan
pemurnian plasmid
Restriksi dengan
SacI dan XhoI
Ligasi
Plasmid Rekombinan
Transformasi ke
E.coli Top10
E.coli Dengan molekul DNA rekombinan (Transforman)
Seleksi transforman
E.coli Top10 rekombinan
Sekuensing
Urutan basa nukleotida gen endo-1,4-β-xilanase
rekombinan
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5 Prosedur Penelitian
Teknik molekuler ini dilakukan berdasarkan metode dari Smbrook et, al (1989).
3.5.1 Pembuatan Larutan
3.5.1.1 Pembuatan larutan buffer TE 500mM
Larutan stok Tris Cl
500 mM sebanyak 50 mL dibuat dengan cara
menimbang secara kuantitatif 3,0285 gram tris Cl, diadd kan dalam 50 mL H2O.
Dibuat dalam dua pH. Yaitu pH 7,5 dan pH 8. Larutan stok EDTA 500 mM
sebanyak 25 mL, ditimbang secara kuantitatif 4,653 gram EDTA, dilarutkan
dalam 25 mL H2O, dibuat dalam pH 8 dengan cara menambahkan sedikit demi
sedikit larutan NaOH.
3.5.1.2 Pembuatan larutan lisosim
Stok lisosim 10 mg/mL ditimbang secara kuantitatif 0.01 gram
dimasukkan kedalam tabung Eppendorf 1,5 mL lalu ditambahkan akuades hingga
1 mL
3.5.1.3 Pembuatan larutan STEP 500 µL
Ke dalam tabung Eppendorf, ditimbang secara kuantitatif SDS 0,5 %
sebanyak 0,0025 gram, ditambahkan Tris Cl 50 mM pH 7,5 sebanyak 50 µL, 400
µL EDTA 0,4 M dan proteinase K dari stok 20 mg/mL diambil 25 µL, semua
dicampur dalam tabung Eppendorf dan dihomogenkan.
3.5.1.4 Pembuatan larutan Na-Asetat 3M
Di timbang secara kuantitatif 2,4609 gram natrium asetat dan dimasukkan
dalam gelas beker lalu diadd kan 10 mL akuades.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5.2 Pembuatan Media
3.5.2.1 Pembuatan Media Cair untuk pemeliharaan E.coli
Media cair yang digunakan adalah media Luria Bertani. Media ini dibuat
dengan melarukan 1% tripton, 1% NaCl, dan 0,5% yeast extract dalam akuades.,
media cair yang dituangkan kedalam erlenmeyer sebaiknya mengisi 1/5 dari
bagian Erlenmeyer. Hal ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan udara pada
pertumbuhan bakteri.
3.5.2.2 Pembuatan Media Cair untuk pemeliharaan E.coli (pET-30a(+))
Media cair yang digunakan adalah media Luria Bertani kanamisin. Media
ini dibuat dengan melarukan 1% tripton, 1% NaCl, dan 0,5% yeast extract dalam
akuades serta 0,5 µL kanamisin, yaitu antibiotik yang digunakan untuk
menumbuhkan
plasmid pET-30a(+), media cair yang dituangkan kedalam
Erlenmeyer sebaiknya mengisi 1/5 dari bagian Erlenmeyer. Hal ini dilakukan
untuk mencukupi kebutuhan udara pada pertumbuhan bakteri.
3.5.2.3 Pembuatan Media Padat
Media padat yang digunakan merupakan media LB (Luria Bertani) yang
digunakan untuk meremajakan koloni Bacillus subtilis. Ditimbang 1 gram bactoagar, 0,5 gram tripton, 0,5 gram NaCl, dan 1 gram yeast extract, kemudian semua
bahan di atas dilarutkan dalam 50 mL akuades. Selanjutnya media tersebut
dipindahkan ke dalam erlenmeyer dan disterilkan dengan autoklaf pada suhu
121oC selama 15 menit. Media steril yang masih hangat-hangat kuku
dihomogenkan kemudian dituang ke dalam cawan petri sebanyak 20 mL. Media
yang telah memadat disimpan dalam lemari pendingin.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5.2.4 Pembuatan Media Padat untuk koloni E.coli (pET-30a(+))
Media yang digunakan merupakan media Luria Bertani (LB). Media padat
digunakan untuk meremajakan koloni E. coli Top10 yang mengandung
pET30a(+). Dibuat media padat 20 mL, ditimbang 0,4 g agar, 0,2 g pepton, 0,2 g
NaCl , dan 0,1 g yeast extract, dilarutkan dalam 20 mL aquades, disterilkan
dengan autoklaf suhu 1210C selama 15 menit. Media steril yang telah hangathangat kuku ditambah dengan 10 µL kanamisin (100 mg/mL), dihomogenkan
kemudian dituang ke dalam cawan petri.
3.5.3 Peremajaan isolat bakteri xilanolitik (isolat A)
Proses peremajaan bakteri dimulai dari mengambil biakan isolat A dari
kultur sebelumnya. Isolat diambil dengan menggunakan kawat ose. Lalu kawat
yang mengandung biakan ini digoreskan pada media padat yang baru. Selanjutnya
biakan diinkubasi pada oven dengan suhu 370C selama 18 jam.
3.5.4 Isolasi DNA kromosom isolat A
Koloni tunggal isolat A diinokulasikan ke dalam 5 ml media cair dan
diinkubasi pada shaker incubator pada suhu 370C dengan kecepatan 150 rpm
selama 18 jam. Kemudian sebanyak 5 ml suspensi sel disentrifuge selama 2 menit
dengan kecepatan 10.000rpm pada suhu 4oC. Setelah terpisah, supernatan dibuang
kemudian pellet sel diresuspensi dengan 250 µl buffer TE (50 mM tris HCl pH 8
dan 50 mM EDTA). Larutan tersebut dibekukan pada suhu -20oC selama 30
menit. kemudian ditambahan 250 µL lisozim 10mg/ml ke dalam sel beku dan
dibiarkan mencair pada suhu kamar. Larutan sel yang sudah mencair dimasukkan
ke dalam penangas es selama 45 menit. Lalu menambahkan larutan STEP (SDS
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
1%, Tris Cl, EDTA pH 8, proteinase K) sebanyak 50µL ke dalam suspensi dan
dicampur rata. Campuran ini selanjutnya dipanaskan dalam waterbath pada suhu
50oC selama 1 jam sambil sesekali digoyang perlahan. Kemudian ditambahkan
300µL larutan fenol jenuh ke dalam campuran lalu dikocok sampai terbentuk
emulsi. Campuran disentrifugasi pada kecepatan 12.000rpm selama 5 menit
sampai terpisah dua lapisan. DNA yang diinginkan berada pada lapisan atas.
Lapisan atas dipipet secara hati-hati dan dipindahkan ke dalam tabung eppendorf
yang steril. Selanjutnya ditambahkan larutan natrium asetat 0,3 M sebanyak 0,1
kali dari volume total hasil pemipetan DNA, lalu dicampur perlahan. Kemudian
ditambahkan etanol absolut dingin sebanyak 2 kali volume larutan kemudian
tabung dibolak-balik untuk pencampuran. Setelah itu, campuran diinkubasi pada
suhu -20oC selama 2 jam sampai semalam. Campuran disentifugasi pada 12000
rpm selama 5 menit, kemudian supernatan dibuang dan pellet dicuci dengan 0,6
ml etanol 70%. Sentrifuge kembali campuran pada 12000 rpm selama 5 menit.
Pelet diambil kemudian ditambahkan 30 µL ddH20
3.5.5 Peremajaan E.coli (pET-30a(+))
Proses peremajaan bakteri dimulai dari mengambil koloni E. coli yang
mengandung plasmid pET-30a(+) dari kultur sebelumnya. Koloni diambil dengan
menggunakan kawat ose. Lalu kawat yang mengandung biakan ini digoreskan
pada media padat yang baru. Selanjutnya biakan diinkubasi pada oven dengan
suhu 370C selama 16 jam.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5.6 Isolasi DNA plasmid pET-30a(+)
Koloni tunggal transforman E.coli diinokulasikan ke dalam 5 mL media
LB cair yang mengandung 2.5 µL kanamisin dan diinkubasi pada shaker
incubator pada suhu 370C dengan kecepatan 150 rpm selama 16 jam. Kemudian
sebanyak 5 ml suspensi sel di sentrifugasi selama 2 menit dengan kecepatan
10.000 rpm pada suhu 40C, pellet disuspensi dengan larutan I (Glukosa 50 mM,
Tris-Cl 2.5 mM pH 8, Na2EDTA 10 mM pH 8) 100 µL dan dihomogenkan lalu
didiamkan 5 menit. Ditambahkan 200 µL larutan II (NaOH 0.2 N 20 µL, SDS 1%
100 µL, aquades steril 880 µL) dan dihomogenkan dengan cara membolak balik
tabung Eppendorf, larutan di inkubasi di es selama 15 menit, setelah 15 menit
ditambahkan 150 µL larutan III (Kalium asetat 5M, asam asetat glasial, ddH2 O
dingin), di inkubasi dalam es selama 10 menit. campuran tersebut disentrifugasi
selam 5 menit dengan kecepatan 12.000 rpm suhu 40C, supernatan yang diperoleh
dipindah secara perlahan dengan menggunakan pipet kedalam tabung Eppendorf
baru yang steril dan ditambahkan campuran fenol : kloroform : isoamil alkohol
(25:24:1) 1 kali volume total, dikocok sampai terbentuk emulsi kemudian
disentrifugasi lagi 12.000 rpm 2 menit. dihasilkan 3 lapis, fasa paling bawah
adalah fasa organik, fasa tengah adalah suatu emulsi putih dan fasa paling atas
adalah fasa cair, fasa cair di pindah dengan cara mempipet secara hati-hati
kedalam tabung eppendorf baru yang steril, fasa cair tersebut dipekatkan dengan
penambahan etanol absolut dingin 2 kali volume total, dan diinkubasi dalam es
selama 1 jam. Campuran disentrifugasi 12.000 rpm selama 5 menit, pellet dicuci
dengan etanol dingin 70% sentrifugasi lagi dan tabung eppendorf di keringkan
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
dari etanol dengan cara membalikkan tabung dan didiamkan 5 menit. Kemudian
pellet dilarutkan dalam 30 µL ddH2O.
3.5.7 Pemurnian DNA plasmid pET-30a(+)
Purifikasi DNA plasmid menggunakan Kit QS Aquick Gel Extraction kit
50, Pertama-tama gel agarosa yang mengandung pita DNA plasmid dipotong
dengan menggunakan cutter bersih dan dimasukkan dalam tabung Eppendorf,
berat total gel dan Eppendorf maksimal 1,3 gram. Pada tabung tersebut
ditambahkan buffer QG 3X volume, dan diinkubasi dalam waterbath suhu 500C
selama 10 menit yang setiap 5 menit tabung eppendorf dibolak balik untuk
penghomogenan larutan. Setelah gel larut dengan sempurna, tabung eppendorf
tersebut si spin sebentar dan di pindah kedalam sebanyak 800µL ke kolom
QIAquick yang dilengkapi dengan tabung pengumpul lalu disentrifugasi 12.000
rpm selama 1 menit. Air pada tabung pengumpul dibuang dan pada kolom dicuci
dengan buffer PE sebanyak 750 µL dan didiamkan selam 30 menit. Lalu
disentrifugasi 12.000 rpm 1 menit, air pada tabung pengumpul dibuang dan
dilakukan lagi sentrifugasi 12.000 rpm 1 menit. Kemudian ditambah ddH20 30 µL
pada kolom, sedangkan tabung pengumpul di ganti dengan tabung eppendorf baru
yang steril dan didiamkan 30 menit baru dilakukan sentrifugasi 12.000 rpm
selama 1 menit. kemudian mengulangi langkah ini sekali lagi. Larutan yang
berada dalam tabung eppendorf disimpan dalam freezer suhu -200C.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5.8 Amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase menggunakan teknik
PCR
Proses amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase menggunakan teknik
PCR. Komponen reaksi PCR yang digunakan komposisinya adalah 6,5 L ddH2O
steril, 1µL MgCl2, 1 L primer xynF (50 pmol), 1L primer xynR (50 pmol) dan
3 L DNA kromosom (hasil isolasi DNA) yang digunakan sebagai template,
mastermix 12,5 µl. Total volume PCR sebanyak 25 L. Proses amplifikasi gen
endo-1,4-β-xilanase dilakukan pada kondisi denaturasi pada suhu 94oC selama 1
menit, annealing pada variasi suhu 40oC; 48oC; 52,oC; 58 oC selama 1 menit dan
extension pada suhu 72oC selama 1 menit dengan jumlah siklus 30 kali. Proses
amplifikasi diawali dengan predenaturasi pada suhu 94oC selama 5 menit dan
diakhiri dengan post extension yang dilakukan pada suhu 72oC selama 10 menit
3.5.9 Analisis DNA dengan elektroforesis gel agarosa
Analisis DNA plasmid menggunakan elektroforesis gel agarosa (1%).
Sebelumnya dilakukan persiapan pada perangkat elektroforesis yaitu dengan
menambahkan buffer TAE 0,5x sampai gel agarose tercelup. Campuran DNA dan
loading dye yang telah homogen kemudian dimasukkan dalam sumur pada gel
agarosa. Kemudian perangkat alat elektroforesis tersebut dialiri arus listrik sebesar
80 V dan dibiarkan sampai loading dye berjalan kurang lebih 2/3 gel agarosa. Gel
kemudian dipindah dan dilakukan proses staining dengan direndam dalam larutan
TAE yang telah diberi 20 µL Etidium Bromida (EtBr) selama 30-45 menit.
Kemudian untuk menghilangkan sisa EtBr pada gel dilakukan dengan
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
memasukkan gel kedalam akuades steril. Untuk memvisualisasi DNA yang telah
dielektroforesis digunakan sinar UV dan kemudian didokumentasikan dengan
kamera polaroid atau menggunakan geldoc.
3.5.10 Pemurnian amplikon
Pemurnian DNA kromosom hasil dari PCR menggunakan Kit QS A Quick
Gel Extraction kit 50, Pertama-tama gel agarosa yang mengandung pita DNA
kromosom dipotong dengan menggunakan cutter bersih dan dimasukkan dalam
tabung eppendorf, berat total gel dan eppendorf maksimal 1.3 gram. Pada tabung
tersebut ditambahkan buffer QG 3X volume, dan diinkubasi dalam waterbath suhu
500C selama 10 menit yang setiap 5 menit tabung eppendorf dibolak balik untuk
penghomogenan larutan. Setelah gel larut dengan sempurna, tabung eppendorf
tersebut si spin sebentar dan di pindah kedalam sebanyak 800µL ke kolom
QIAquick yang dilengkapi dengan tabung pengumpul lalu disentrifugasi 12.000
rpm selama 1 menit. Air pada tabung pengumpul dibuang dan pada kolom dicuci
dengan buffer PE sebanyak 750 µL dan didiamkan selam 30 menit. Lalu
disentrifugasi 12.000 rpm 1 menit, air pada tabung pengumpul dibuang dan
dilakukan lagi sentrifugasi 12.000 rpm 1 menit. Kemudian ditambah ddH20 30 µL
pada kolom, sedangkan tabung pengumpul di ganti dengan tabung eppendorf baru
yang steril dan didiamkan 30 menit baru dilakukan sentrifugasi 12.000 rpm
selama 1 menit. kemudian mengulangi langkah ini sekali lagi. Larutan yang
berada dalam tabung eppendorf disimpan dalam freezer suhu -200C.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5.11 Restriksi amplikon dan plasmid pET-30a(+)
Amplikon yang telah dimurnikan dan plasmid yang telah di isolasi
dilakukan proses restriksi yaitu proses pemotongan DNA oleh enzim restriksi
yang digunakan yaitu SacI dan XhoI dan reagen-reagen tertentu. kedalam tabung
eppendorf 1.5 mL, DNA plasmid sebanyak 21.7 µL, dicampur dengan 3µL buffer
10X, BSA 0.3 µL, enzim restriksi SacI 2µL dan XhoI 3µL sehingga volume total
adalah 30µL. Campuran tersebut di inkubasi dalam waterbath suhu 370C selama 1
jam dan setiap 30 menit di lakukan penghomogenan campuran dengan cara tabung
eppendorf dibolak balik secara perlahan.
3.5.12 Ligasi Gen Penyandi endo-1,4-β-xilanase dan Plasmid pET-30a(+)
Dimasukkan kedalam tabung Eppendorf baru dan steril ddH2O 7,6 µL, lalu
gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dan DNA plasmid pET-30a(+) yang telah
dipurifikasi dan direstriksi, 3µL DNA plasmid dan 7µL gen penyandi endo-1,4-βxilanase, kemudian ditambahkan buffer ligasi 2µL, spin campuran tersebut dan
terakhir ditambahkan T4 ligase 0,4µL. Inkubasi dalam pengangas es yang
kemudian ditaruh dalam suhu 4oC selama 18 jam.
3.5.13 Kloning pET-30a(+) rekombinan kedalam E. coli Top10
3.5.13.1 Peremajaan Isolat E. coli Top10 dari Stok Gliserol
Proses peremajaan E. coli Top10 dimulai dari mengambil isolat E. coli
Top10 dari stok gliserol suhu -80 oC. isolat dalam keadaan beku, diambil dengan
menggunakan kawat ose lalu kawat yang mengandung biakan ini digoreskan pada
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
media padat yang baru. Selanjutnya biakan diinkubasi pada oven dengan suhu
370C selama 18 jam.
3.5.13.2 Pembuatan Sel Kompeten E. coli Top10
E.coli Top10 yang telah diremajakan diinokulasikan dalam 4 mL media
LB cair overnight (16-18 jam). Diambil 1% dari E.coli yang telah dikulturkan
selama 18 jam dan diinokulasikan kedalam media LB cair 50mL diinkubasi pada
shaker incubator pada suhu 370C dengan kecepatan 150 rpm selama 2-2,5 jam
dengan syarat kultur ditumbuhkan sampai OD600 nm =0,4. Setelah kultur mencapai
optical density nya sama dengan 0,4, kultur diletakkan di penangas es selama 10
menit. di ambil dengan menggunakan mikropipet sebanyak 1mL kultur yang telah
dingin dan dimasukkan kedalam tabung eppendorf 1,5mL yang baru dan steril.
Sentrifugasi 1 menit kecepatan 12000 rpm suhu 4oC, buang supernatannya dan
diulangi kembali dengan menambahkan lagi 1mL kultur yang telah dingin
kedalam tabung Eppendorf dan di sentrifugasi lalu supernatannya dibuang.
Kemudian kultur dilarutkan pada 1mL CaCl2 0,1M. Larutan CaCl2 tersebut harus
dalam keadaan dingin dan dihomogenkan dengan cara membolak balikkan
tabung. Campuran tersebut diinkubasi dalam es selama 30 menit lalu
disentrifugasi selama 1 menit 12000 rpm suhu 4oC supernatannya dibuang. Pellet
yang didapat diresuspensikan dengan menggunakan 50 µL larutan CaCl2 0,1M
dingin dan fresh. Untuk membuat stok gliserol, larutan sel setelah diberi larutan
CaCl2 dingin, ditambahkan 14,5% 50µL gliserol, kemudian dihomogenkan
dengan cara membolak balik tabung dan disimpan dalam suhu -80oC
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
3.5.13.3 Transformasi Plasmid pET-30a(+) ke E.coli Top10
Proses transformasi dilakukan dengan mencampurkan 10 µL hasil ligasi
gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dan plasmid pET30a(+) ke dalam 100 µL sel
kompeten E.coli Top10. Campuran diinkubasi pada suhu 4 °C selama 30 menit.
Heat shock dilakukan dengan menginkubasi campuran sel dalam waterbath pada
suhu 420C selama 1 menit, kemudian segera dipindah ke icebath selama 2 menit.
Tahap selanjutnya adalah penambahan 200 µL media LB cair ke dalam masingmasing campuran sel, selanjutnya diinkubasi dalam shaker incubator suhu 370C
selama 1 jam. Tahap terakhir adalah menumbuhkan sel hasil transformasi ke
media agar plate yang mengandung kanamisin, yaitu dengan cara memipet 100
µL suspensi sel kemudian disebar ke permukaan media, lalu diinkubasi pada suhu
370C selama 16 jam. Plasmid
yang ada dalam sel inang E.coli Top10
ditumbuhkan pada media agar LB (Luria Bertani) yang mengandung kanamisin,
karena plasmid pET30a(+) memiliki gen resisten kanamisin sedang inang E.coli
Top10 tidak memiliki gen resisten kanamisin.
3.5.14 Seleksi
transforman koloni
E.coli
Top10 pembawa plasmid
rekombinan pET-30a(+)
Seleksi transforman untuk mendapatkan koloni pembawa plasmid yang
mengandung gen endo-1,4-β-xilanase dilakukan dengan restriksi plasmid dengan
enzim XhoI. Dari koloni yang tumbuh hasil transformasi produk ligasi antara gen
endo-1,4-β-xilanase dan plasmid pET-30a(+) diambil koloni yang tumbuh dan
dilakukan isolasi plasmid dengan metode alkali dan dilakukan secara
konvensional. Dari hasil isolasi plasmid kemudian dilakukan restriksi dengan
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
enzim XhoI untuk mengetahui adanya gen insert yang telah masuk dalam plasmid
pET30a(+) lalu dilakukan analisis dengan elektroforesis gel agarosa.
3.6 Sekuensing dengan metode Sanger
Proses
sekuensing
dilakukan
dengan
menggunakan
alat
Applied
Biosystems di laboratorium 1st Base dengan menggunakan primer T7 promotor
dan T7 terminator.
3.7 Analisis homologi hasil rekombinan dengan gen lain yang telah
dipublikasikan dalam database Genbank menggunakan program BLAST
Sekuens rekombinan pembawa gen endo-1,4-β-xilanase yang telah didapatkan
kemudian dianalisis homologinya dengan gen lain yang juga menyandi gen endo1,4-β-xilanase dengan
menggunakan program BLAST. Program ini diakses
melalui alamat website yaitu http://blast.ncbi.nlm.nih.gov/ selanjutnya dilakukan
langkah-langkah seperti di bawah ini
1. Klik nucleotide blast
2. Dimasukkan hasil sekuens ke dalam kotak yang bertuliskan ”Enter accession
number, gi, or FASTA sequence”
3. Pada kotak bertuliskan “Choose Search Set” dipilih “Others (nr etc)” sebagai
database.
4. Klik BLAST
Setelah melakukan langkah di atas, kemudian ditunggu selama beberapa detik dan
hasil analisis homologi akan muncul.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Isolasi DNA kromosom isolat A
Hasil analisis elektroforesis gel agarosa (1%) di dapatkan kadar kemurnian
DNA kromosom isolat A yaitu 267,7 ng/µL dan rasio 1,88. Teknik isolasi DNA
kromosom isolat A berdasarkan dengan metode pengendapan etanol (Sambrook et
al,. 1989). Kultur isolat A yang telah ditumbuhkan pada suhu 370C selama 18 jam
disentrifugasi dan mendapatkan pelet sel. Pelet sel kemudian diresuspensi dengan
buffer TE dan dilisis. Teknik-teknik pemecahan sel bakteri dilakukan melalui 3
macam metode, (1) cara mekanik atau fisik, yaitu sel dipechkan dengan cara
sonikasi, grinding, dan homogenisasi. (2) cara kimiawi yaitu dengan
menambahkan senyawa kimia seperti EDTA dan SDS. Dan (3) proses enzimatis
menggunakan larutan lizosim atau kitinase (Brown, 2010). Pada penelitian ini
proses lisis sel untuk DNA kromosom yaitu dengan metode enzimatis dan
kimiawi, yaitu penambahan larutan lisozim yang berfungsi untuk proses lisis
membran sel bakteri. Sedangkan proses lisis secara kimiawi menggunakan SDS
pada tahapan pemberian larutan STEP yang terdiri atas SDS, tris Cl, EDTA dan
proteinase K berfungsi untuk menyempurnakan kerusakan dinding dan membran
sel bakteri saat proses lisis secara kimiawi dan enzimatis, selain itu, EDTA
ditambahkan untuk menghilangkan ion magnesium yang penting dalam
mempertahankan struktur sel dan untuk menghambat enzim- enzim seluler yang
dapat merusak DNA (ion Mg2+ merupakan kofaktor penting bagi DNAse yang
41
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
bisa “memakan” DNA) (Brown, 2010). Penambahan SDS berguna untuk
menghilangkan molekul lipid pada membran sehingga menyebabkan kerusakan
sel. Kedalam suspensi sel kemudian ditambahkan larutan fenol jenuh yang
berfungsi untuk mendenaturasi protein. Larutan fenol jenuh berperan untuk
mendenaturasi sehingga terjadi pengendapan protein, sehingga DNA akan larut
dalam fasa air atau supernatan yang berada di lapisan atas. DNA selanjutnya
diendapkan dengan natrium asetat dan etanol absolut, endapan DNA di larutkan
dalam ddH2O. Analisis DNA dilakukan menggunakan elektroforesis gel agarosa
(1%).
A
B
10000 bp
8000 bp
6000 bp
5000 bp
4000 bp
3000 bp
Gambar 4.1 Elektroforesis hasil isolasi DNA kromosom. (A) Marker
GeneRulerTM 1 kb DNA ladder, (B) Hasil isolasi DNA
kromosom
4.2 Isolasi DNA plasmid pET-30a(+)
DNA plasmid pET-30a(+) diisolasi dari E.coli dengan menggunakan
metode alkali (Sambrook et al,. 1989). Kultur dari E.coli yang membawa plasmid
pET-30a(+) yang telah ditumbuhkan pada suhu 370C selama 18 jam dilakukan
sentrifugasi untuk didapatkan pellet sel. Pelet sel yang telah didapatkan
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
diresuspensi dengan larutan I atau larutan GTE (Glukosa, Tris-HCl dan EDTA)
yang digunakan sebagai agen pengkhelat logam. Proses denaturasi pada plasmid
dilakukan pada tahap penambahan larutan 0,2 N NaOH dan 1 % SDS. proses
denaturasi ini dinamakan denaturasi alkali, SDS berfungsi untuk merusak
membran sel bakteri dengan cara menghancurkan lemak yang terdapat dalam
membran sel bakteri, sedangkan NaOH berperan sebagai pemberi suasana basa
pada proses denaturasi sehingga pH yang semula normal akan berubah naik
menjadi antara 12,0-12,5. Pada saat pH antara 12,0-12,5 ikatan hidrogen pada
molekul DNA non-supercoiled atau DNA kromosom dari bakteri
akan
terdenaturasi dan menyebabkan ikatan double-helix terurai dan kedua rantai
polinukleotida memisah sehingga menjadi single-helix sedangkan DNA plasmid
tidak mengalami denaturasi (Brown, 2010). Dengan penambahan larutan III atau
larutan garam tinggi, yang terdiri atas kalium asetat, asam asetat glasial, dan
ddH2O, ekstrak sel mengalami penurunan pH dari basa ke asam sehingga untai
DNA kromosom yang telah terdenaturasi akan mengalami renaturasi acak
sehingga DNA kromosom akan mengelompok dan beragregasi membentuk suatu
emulsi dan diendapkan dengan cara sentrifugasi sehingga DNA kromosom akan
mengendap sebagai pellet sedangkan DNA plasmid akan berada pada supernatan
dan tidak ikut mengendap. Sedangkan protein dihilangkan dengan cara denaturasi
protein pada penambahan campuran fenol : kloroform : isoamil alkohol (25:24:1).
Pada proses penambahan campuran fenol : kloroform : isoamil alkohol (25:24:1),
DNA plasmid akan larut dalam fasa air atau supernatan yang berada di lapisan
atas sedangkan protein akan mengendap. Setelah fasa air dipipet secara hati-hati,
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
larutan DNA plasmid ditambah dengan etanol absolut untuk proses presipitasi
DNA. Untuk menganalisis DNA plasmid pET-30a(+) hasil isolasi dilakukan
analisis menggunakan elektroforesis gel agarosa (1%).
A
B
10000 bp
8000 bp
4000 bp
3000 bp
2000 bp
1500 bp
Gambar 4.2 Elektroforesis hasil isolasi DNA plasmid pET-30a(+). (A) hasil
isolasi DNA plasmid pET-30a(+), (B) Marker GeneRulerTM 1 kb
DNA ladder
Gambar 4.2 hasil elektroforesis dari DNA plasmid pET-30a(+) menunjukkan
adanya 3 pita yang secara topologi merupakan bentuk supercoil, linier dan open
circular (Clowes, 1972). Plasmid pET-30a(+) mempunnyai ukuran 5422 bp
(Novagen), namun demikian untuk menentukan ukuran pasang basa plasmid
ditentukan dengan analisis sekuensing
4.3 Amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dengan teknik PCR
PCR adalah serangkaian reaksi pada proses penggandaan DNA secara
invitro yang dilakukan dalam tabung Eppendorf dengan mencampurkan reagenreagen yang terdiri dari cetakan DNA, primer forward dan primer reverse, Taq
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DNA polymerase, buffer PCR, dNTP, MgCl2, ddH2O, campuran reaksi
ditempatkan pada suatu cycler secara terprogram dengan serangkaian suhu yang
bervariasi (Brown, 2010). Cetakan DNA yang digunakan adalah DNA kromosom
yang mengandung gen penyandi endo-1,4-β-xilanase yang akan diamplifikasi.
Untuk penelitian ini, digunakan master mix yaitu suatu campuran dari dNTP, Taq
polymerase dan buffer PCR. dNTP berisi basa-basa nukleotida dan dengan
bantuan
enzim
DNA
polymerase
basa-basa
nukleotida
tersebut
akan
dipolimerisasi sehingga diperoleh DNA target. Dalam teknik PCR diperlukan
DNA polimerase yang termostabil seperti Taq polimerase. Taq DNA polimerase
memiliki kemampuan resisten terhadap denaturasi oleh panas, sehingga Taq DNA
polimerase sesuai untuk proses PCR. Penambahan MgCl2 dalam reaksi PCR
berfungsi sebagai kofaktor (Sambrook and Russel, 2001). Salah satu faktor
penentu perolehan gen target dalam teknik PCR adalah proses desain primer
oligonukleotida. Dalam penelitian ini, primer didesain dengan cara mengambil
data basa nukleotida dari gen penyandi endo-1,4-β-xilanase kelompok glikosida
hidrolase famili 11 dari Bacillus subtilis yang telah dipublikasikan dalam
GenBank melalui website www.CAZy.org.
Primer merupakan suatu oligonukleotida yang akan menempel pada
cetakan DNA sehingga memungkinkan terjadinya proses amplifikasi. Primer
hanya menempel pada daerah tertentu dari DNA sehingga amplifikasi DNA hanya
terjadi pada daerah yang dibatasi oleh primer forward dan reverse (Brown, 2010)
Suatu primer dalam PCR merupakan kunci utama dari proses PCR. Primer yang
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
didesain dengan benar, akan menghasilkan amplifikasi oleh fragmen DNA
tunggal yang sesuai dengan wilayah target molekul cetakan (Brown, 2010).
Pada penelitian ini. primer forward yang digunakan didesain berdasarkan
dari sekuen primer yang telah berhasil untuk mengamplifikasi gen penyandi
xilanase dari Bacillus strain B10 di E.coli (Huang et al,. 2006) yaitu dengan
urutan basa sepanjang 39 basa nukleotida dari arah 5’ ke 3’ pada urutan start
kodon (ATG). Primer forward yang digunakan memiliki panjang nukleotida 39
basa. Primer reverse yang digunakan adalah yang di desain berdasarkan penelitian
skripsi tentang amplifikasi gen penyandi endo xilanase asal isolate 7 bakteri
xilanolitik sistem abdominal rayap tanah oleh Amaliah Labiqah (2012) dengan
urutan dari 3’ ke 5’ dengan panjang 23 basa nukleotida dan berakhir di stop kodon
(TAA). Primer digunakan dengan menambahkan sisi restriksi dari enzim SacI
untuk primer forward pada ujung 5’ dan XhoI untu primer reverse pada ujung 3’
Primer yang digunakan pada penelitian ini yaitu:
xynF: 5’- GGGGAGCTCATGTTTAAGTTTAAAAAGAATTTCTTAGTT -3’
xynR: 5’- GCCTCGAGTTACCACACTGTTAC -3’
Pada teknik PCR ada tiga langkah utama, yaitu denaturasi, annealing
(penempelan) dan extension (perpanjangan). Proses denaturasi terjadi pada suhu
940C, pada proses ini DNA cetakan mengalami denaturasi dari untai ganda
menjadi untai tunggal. Denaturasi DNA terjadi akibat adanya pemanasan yang
terjadi pada suhu tinggi sehingga merusak ikatan hidrogen yang menghubungkan
antara untai-untai basa nukleotida. Proses denaturasi ini memudahkan primer
untuk menempel pada DNA pada proses selanjutnya yaitu annealing. Annealing
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
merupakan proses penempelan primer pada DNA template yang mempunyai
pasangan basa yang komplemen dengan primer. Annealing dilakukan pada suhu
yang tepat karena jika suhu yang digunakan terlalu rendah maka primer akan
menempel ke daerah yang kurang spesifik sehingga dimungkinkan akan terjadi
amplifikasi lebih dari satu gen yang diinginkan. Namun, apabila suhu yang
digunakan terlalu tinggi kemungkinan pimer tidak akan menempel pada sisi
manapun dari cetakan DNA (Dieffenbach et al, 1993) oleh karena itu, dalam
proses PCR selalu digunakan variasi suhu saat annealing. Proses terakhir adalah
extension dilakukan pada suhu 72oC yang merupakan suhu optimum dari Taq
polimerase. Extension merupakan proses perpanjangan untai DNA oleh DNA
polimerase dimana perpanjangan rantai ini telah dibatasi oleh kedua buah primer
yang menempel. Pada proses ini DNA polimerase berperan sangat penting, yaitu
suatu enzim yang bertugas memperpanjang rantai DNA dengan menambahkan
basa nukleotida yang berasal dari dNTP.
Proses amplifikasi gen endo-1,4-β-xilanase dari isolat A dilakukan dengan
memvariasi suhu annealing pada suhu 40oC; 48oC; 52,oC; 58 oC. Variasi suhu
dilakukan dengan tujuan untuk menentukan suhu optimal dari primer agar dapat
menempel pada DNA template secara sempurna. Dari hasil variasi tersebut, gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase dari isolat A dapat teramplifikasi dengan suhu
annealing 58oC sedangkan pada suhu 40oC; 48oC; 52,oC DNA target tidak
teramplifikasi. Amplikon yang didapatkan berasal dari pasangan primer xynF dan
xynR dengan ukuran nukleotida sebesar ±600bp yang menunjukkan bahwa ukuran
basa nukleotida gen endo-1,4-β-xilanase adalah ±600bp.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
A
B
10000 bp
3000 bp
1000 bp
±600 bp
250 bp
Gambar 4.3a Elektroforesis hasil amplifikasi gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
isolat A dengan primer xynF dan xynR. (A) Marker, (B) hasil
amplifikasi xynF dan xynR suhu 58oC
Amplikon yang telah diperoleh dari proses PCR, kemudian dimurnikan dengan
tujuan untuk menghilangkan sisa-sisa zat dari reagen PCR, sehingga hanya
tertinggal DNA saja. Pemurnian DNA dilakukan dengan menggunakan kit
pemurnian Gene Clean dari QIAGEN.
Berikut adalah hasil elektroforesis hasil pemurnian amplikon
A
B
10000 bp
3000 bp
1000 bp
±600 bp
250 bp
Gambar 4.3b Hasil elektroforesis amplikon yang telah dimurnikan. (A) Marker
GeneRulerTM 1 kb DNA ladder, (B) DNA dari larutan amplikon
pada suhu 58 oC.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
4.4 Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
4.4.1 Restriksi amplikon dan plasmid pET-30a(+)
Pada kloning gen tahap yang paling penting adalah proses restriksi
molekul DNA dan vektor dengan ukuran yang tepat. Vektor harus dipotong pada
posisi tunggal untuk membuka lingkaran sehingga molekul DNA dapat
diinsersikan. Tipe pemotongan pada enzim restriksi sangat berpengaruh dalam
kloning gen yang digunakan umumnya adalah tipe II yaitu enzim yang memotong
pada tempat yang spesifik pada molekul DNA pada urutan pengenal dan tidak
pada tempat lain. Endonuklease restriksi tipe II digunakan dengan alasan karena
dapat memotong DNA pada sisi spesifik, sehingga dihasilkan pola potongan
spesifik. Enzim restriksi yang digunakan pada penelitian ini adalah SacI dan XhoI
dengan model pemotongan yaitu ujung tumpul (sticky end). Amplikon yang telah
di purifikasi dan plasmid pET-30a(+) masing-masing di restriksi dengan SacI dan
XhoI kemudian untuk menjaga pH pada DNA ketika terjadi proses restriksi agar
stabil ditambahkan buffer restriksi. Dalam proses pemotongan DNA, enzim
restriksi perlu dilindungi supaya kerja enzim dalam memotong tidak mengalami
kesalahan sehingga ditambahkan BSA atau Bovine Albumin Serum yang bertugas
sebagai penstabil enzim sehingga kerja enzim restriksi dalam memotong DNA
tidak mengalami kesalahan. Campuran tersebut di inkubasi dalam waterbath suhu
370C selama 1 jam. Hasil analisis dilakukan dengan elektroforesis gel agarosa
(1%).
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
A
B
10000 bp
8000 bp
pET-
5000 bp
3000 bp
2000 bp
1500 bp
ampliko
500 bp
Gambar 4.4 Analisis restriksi amplikon dan plasmid pET-30a(+). (A) Hasil
restriksi amplikon dengan enzim SacI dan XhoI (B) Hasil restriksi
plasmid pET-30a(+) dengan enzim SacI dan XhoI (C) Marker
berdasarkan Gambar 4.6 pada plasmid pET-30a(+) setelah dilakukan restriksi
dengan menggunakan enzim SacI dan XhoI, pada analisis gel elektroforesis tidak
didapatkan lagi tiga pita seperti semula, melainkan hanya satu pita yang muncul.
Hal ini dikarenakan pada plasmid yang berbentuk sirkuler, pada sisi pemotongan
plasmid telah dilakukan pemotongan dengan menggunakan enzim SacI dan XhoI
sehingga plasmid terbuka dan membentuk linier sehingga plasmid dengan
diketahui berapa ukuran yang sebenarnya. Dalam hal ini plasmid pET-30a(+)
berukuran 5422 bp.
4.4.2 Ligasi Gen Penyandi endo-1,4-β-xilanase dan Plasmid pET-30a(+)
Plasmid pET-30a dan amplikon dari gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
isolat A yang telah dipotong dengan menggunakan enzim restriksi, kemudian
digabungkan untuk membentuk DNA rekombinan, proses ini dinamakan dengan
ligasi (Snustad and Simmons, 2006). Proses ligasi menggunakan enzim T4 ligase
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
yaitu suatu enzim yang dapat mengkatalisis ujung 5’-fosfat dan ujung 3’-hidroksil
antara plasmid pET-30a dengan gen penyandi endo-1,4-β-xilanase isolat A. Untuk
menjaga pH saat proses ligasi ditambahkan buffer ligasi. Sedangkan untuk
mengoptimalkan proses ligasi diperlukan inkubasi selama 18 jam dan enzim T4
ligase akan bekerja secara optimal pada suhu 40C.
4.4.3 Transformasi Plasmid pET-30a(+) rekombinan ke E.coli Top10
Dalam menganalisis adanya klon dapat dilakukan setelah DNA plasmid
pET-30a(+) rekombinan ditransformasi ke sel E.coli Top10 sebagai inangnya. Sel
inang ini merupakan sel inang yang khusus dirancang untuk penggandaan dan
penyimpanan plasmid rekombinan. Sel inang E.coli Top10 sebelum dipakai untuk
transformasi, terlebih dahulu diperlakukan secara fisik atau kimiawi yaitu dengan
penambahan CaCl2, atau garam lain sehingga akan memudahkan untuk masuknya
DNA dari luar sel bakteri. Dalam penelitian ini sel Bakteri diperlakukan dengan
penambahan larutan CaCl2 yang berfungsi melemahkan dinding sel sehingga
memudahkan masuknya plasmid rekombinan ke dalam sel bakteri (Gambar 4.6).
Sel-sel yang telah mengalami perlakuan ini disebut sebagai sel kompeten (Brown,
2010).
Gambar 4.5 Pengikatan dan pengambilan plasmid oleh sel kompeten dengan
larutan CaCl2 ( Brown, 2010)
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Proses transformasi diawali dengan mencampurkan plasmid rekombinan
dengan sel kompeten E.coli Top10 dan ditempatkan dalam wadah es yang
bertujuan untuk membuat plasmid berada menempel pada dinding sel kompeten
E.coli Top10. Heat shock dilakukan pada suhu 420C selama 1 menit bertujuan
untuk membuat kejutan sehingga plasmid rekombinan yang telah menempel pada
dinding sel masuk ke dalam sel kompeten E.coli Top10. Campuran langsung
dimasukkan ke dalam wadah berisi es segera setelah heat shock. Hal ini bertujuan
untuk mencegah plasmid yang sudah masuk ke dalam sel kompeten E.coli Top10
keluar kembali (Brown, 2010).
Pada penelitian ini teknik transformasi yang digunakan untuk mentransfer
plasmid pET-30a(+) rekombinan ke dalam sel inang E. coli Top10 dengan metode
heat shock. Setelah proses heat shock ke dalam sel-sel bakteri tersebut
ditambahkan medium LB dan diinkubasi pada suhu 37 °C selama 1 jam kemudian
di spreader pada media LB padat yang mengandung kanamisin, karena pEXyl06
merupakan suatu plasmid rekombinan yang memiliki gen resisten terhadap
kanamisin sedangkan E.coli Top10 tidak memiliki gen resisten terhadap
kanamisin, dan diinkubasi pada suhu 37 °C semalam
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
A
B
C
D
Gambar 4.6 Hasil transformasi. (A) kontrol positif (E. coli Top10), (B) kontrol
negatif (plasmid pET-30a dalam E. coli Top10), (C) kontrol
transformasi restriksi plasmid pET-30a tanpa gen insert dalam E. Coli
Top10 (D) E. coli Top10 (pEXyl06)
Untuk melihat
keberhasilan dari transformasi, dilakukan dengan
menggunakan suatu kontrol negatif dan kontrol positif. Sebagai kontrol negatif
adalah E. coli Top10 yang hasilnya sama sekali tidak tumbuh koloni pada media
LB kanamisin, hal ini dikarenakan pada kontrol negatif hanya terdapat E. coli
Top10 yang tidak memiliki plasmid yang resisten terhadap kanamisin. Sedangkan
kontrol positif adalah plasmid pET-30a(+) non-insert yang di klon kan kedalam E.
coli Top10, hasilnya tumbuh koloni dalam media LB kanamisin, hal ini
dikarenakan pada kontrol positif terdapat plasmid pET-30a(+) yang memiliki
penanda resisten kanamisin sehingga E. coli Top10 bisa tumbuh. Selain itu juga
digunakan kontrol restriksi yaitu plasmid pET-30a(+) yang direstriksi oleh enzim
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
SacI dan XhoI kemudian diklon kan kedalam E.coli Top10 dengan metode heat
shock. Kontrol restriksi ini, jika tidak tumbuh koloni pada media LB kanamisin
menunjukkan bahwa efisiensi proses restriksi adalah 100 % maka kemungkinan
koloni pembawa plasmid tanpa gen insert tidak akan ditemukan dalam hasil
transformasi. Tetapi pada kontrol restriksi yang telah dilakukan pada penelitian
ini, menunjukkan bahwa ada atau tumbuh koloni pada dalam media LB +
kanamisin, hal ini menandakan bahwa koloni pembawa plasmid tanpa gen insert
akan ditemukan dalam hasil transformasi. Dan dari plate hasil transformasi yang
mengandung E. coli Top10 (pEXyl06) dalam media LB + kanamisin hasilnya
tumbuh 20 koloni.
4.4.4 Seleksi transforman E.coli Top10 pembawa plasmid pET-30a(+)
rekombinan
Suatu rekombinan adalah sel yang telah mengalami transformasi yang
mengandung plasmid rekombinan yaitu suatu plasmid yang telah diinsersikan
oleh suatu gen target (Brown, 2010). Seleksi transforman dilakukan untuk
mengetahui adanya plasmid rekombinan pembawa gen insert dari gen penyandi
endo-1,4-β-xilanase dalam plasmid pET-30a(+). Seleksi transforman dilakukan
dengan metode restriksi plasmid pET-30a rekombinan secara single digest dengan
enzim XhoI. Tahapan awal untuk proses seleksi transforman ini dilakukan isolasi
plasmid terhadap semua koloni yang tumbuh pada agar plate. Kemudian hasil
isolasi plasmid ini dianalisis dengan elektroforesis gel agarosa. Setelah itu
dilakukan proses restriksi dengan menggunakan enzim XhoI. Untuk hasil
pembanding, dilakukan juga isolasi plasmid pET-30a(+) yang non-insert
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
kemudian dari hasil isolasi plasmid pET-30a(+) yang non-insert ada sebagian
yang dilakukan restriksi secara single degest dengan enzim XhoI dan ada yang
tanpa dilakukan restriksi. Setelah itu plasid pET-30a(+) rekombinan dan plasmid
pET-30a(+) non-insert dilakukan analisis dengan elektroforesis gel agarosa dan
ditempatkan pada satu gel untuk hasil sebagai perbandingan. Jika positif terdapat
plasmid pET-30a rekombinan pita yang muncul dalam gel agarosa akan tampak
sedikit berada diatas dibandingkan pita pada plasmid pET-30a(+) yang non-insert,
jika dilihat dengan menggunakan perbandingan marker DNA, pita pada plasmid
pET-30a(+) mempunyai ukuran 5422 bp sedangkan pita pada plasmid pET-30a(+)
rekombinan mempunyai ukuran ± 6022 bp.
A
B
C
10000 bp
8000 bp
6000 bp
5000 bp
3000 bp
Gambar 4.7 Hasil elektroforesis DNA dari transforman plasmid pembawa
pET-30a(+). (A) Plasmid pET-30a uncut, (B) Plasmid pET-30a yang
direstriksi dengan enzim XhoI, (C) Marker, (D) DNA plasmid
pET-30a rekombinan (pEXyl06)
Gambar 4.7 menunjukkan pada lajur (A) yaitu hasil isolasi plasmid pET-30a(+)
yang tanpa dilakukan proses restriksi, ini digunakan sebagai kontrol atau
pembanding restriksi, pita yang nampak pada hasil gel elektroforesis yaitu
terdapat 3 pita dan lajur (B) yaitu plasmid pET-30a(+) yang telah direstriksi
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
dengan menggunakan enzim XhoI, yang dengan tujuan untuk mengetahui ukuran
dari plasmid pET-30a(+). Plasmid pET-30a(+) memiliki ukuran sebesar 5422 bp.
Sedamgkan pada lajur (D) adalah DNA plasmid pET-30a(+) rekombinan
(pEXyl06) yang juga telah direstriksi dengan menggunakan enzim XhoI. Dilihat
pada hasil tersebut, pita DNA plasmid pET-30a(+) rekombinan yang muncul
dalam gel agarosa tampak sedikit berada diatas dibandingkan pita pada plasmid
pET-30a(+) non-insert, jika dilihat dengan menggunakan perbandingan marker
DNA, pita pada plasmid pET-30a(+) mempunyai ukuran 5422 bp sedangkan pita
pada plasmid pET-30a(+) rekombinan mempunyai ukuran ± 6022 bp.
4.5 Analisis urutan basa nukleotida dan homologi DNA plasmid pET-30a(+)
rekombinan pembawa gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
Urutan basa nukleotida gen penyandi endo-1,4-β-xilanase asal isolat A
bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah yang terdapat dalam plasmid
pET-30a(+) rekombinan dibaca dengan teknik Sekuensing. Pada penelitian ini
sekuensing dilakukan dengan menggunakan primer T7 promotor dan T7
terminator, sehingga hasil urutan basa yang didapatkan merupakan seluruh bagian
dari gen target dari start kodon (ATG) hingga stop kodon (TAA). Sekuensing
dilakukan dengan alat Applied Biosystems 3730XL squenser. Hasil sekuensing
DNA plasmid pET-30a(+) rekombinan, menunjukkan ukuran nukleotida dari gen
yang didapatkan dengan menggunakan primer T7promoter yaitu didapatkan 1392
bp dan dengan primer T7terminator didapatkan 1455bp.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Untuk mencari urutan basa dari gen insert gen penyandi endo-1,4-βxilanase dari hasil sekuensing DNA plasmid pET-30a(+) rekombinan, ada dua
tahapan yang dilakukan. Pertama adalah alignment antara sekuens DNA plasmid
pET-30a(+) rekombinanan yang telah di sekuensing menggunakan primer
T7promoter dengan DNA plasmid pET-30a(+) rekombinan yang telah di
sekuensing dengan primer T7terminator. Sehingga didapatkan daerah yang
conserve.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Gambar 4.8 Alignment hasil sekuensing DNA plasmid pET-30a(+)
Rekombinanan
Berdasarkan hasil alignment tersebut, daerah yang conserve tersebut masih terdiri
dari urutan basa His Tag, basa enzim-enzim restriksi yang terdapat di plasmid
pET-30a(+) dan urutan basa gen insert gen penyandi endo-1,4-β-xilanase. langkah
kedua untuk mencari gen insert gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dari daerah
yang conserve tersebut. Dengan mencari letak His Tag coding sequence dan letak
urutan basa enzim restriksi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu SacI dan
XhoI pada hasil sekuensing tersebut, maka di peroleh urutan basa nukleotida gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase dari hasil sekuensing DNA plasmid pET-30a(+)
rekombinan yaitu dengan ukuran sebesar 642bp yang dimulai dari start kodon
(ATG) berakhir di stop kodon (TAA). Urutan nukleotida gen penyandi endo-1,4β-xilanase yang terdapat dalam plasmid pET-30a(+) rekombinan adalah sebagai
berikut:
Skripsi
1
ATGTTTAAGT TTAAAAAGAA TTTCTTAGTT GGATTATCGG CAGCTTTAAT GAGTATTAGC
61
TTGTTTTCGG CAACCGTCTC TGCAGCTAGC ACAGACTACT GGCAAAATTG GACTGATGGG
121
GGCGGTATAG TAAACGCTGT CAATGGGTCT GGCGGGAATT ACAGTGTTAA TTGGTCTAAT
181
ACCGGAAATT TTGCTGTTGG TAAAGGTTGG ACTACAGGTT CGCCATTTAG GACGATAAAC
241
TATAATGCCG GAGTTTGGGC ACCGAATGGC AATGGATATT TAACTTTATA TGGTTGGACG
301
AGATCACCGC TCATAGAATA TTATGTAGTG GATTCATGGG GTACTTATAG ACCTACTGGA
361
ACGTATAAGG GTACTGTAAA AAGTGATGGG GGTACATATG ACATATATAC AACTACACGT
421
TATAACGCAC CTTCCATTGA TGGCGATCGC ACTACTTTTA CGCAGTACTG GAGTGTTCGC
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
481
CAGTCGAAGA GACCAACCGG AAGCAACGCT ACAATCACTT TCAGCAATCA TGTGAACGCA
541
TGGAAGAGCC ATGGAATGAA TCTGGGCAGT AATTGGGCTT ACCAAGTCAT GGCGACAGAA
601 GGATATCAAA GTGGTGGAAG TTCTAACGTA ACAGTGTGGT AA
Data nukleotida hasil sekuensing tersebut, kemudian dianalisis dengan
menggunakan BLAST, yaitu untuk menentukan homologi dengan database gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase lain yang telah dipublikasikan di GenBank serta
untuk memastikan benar atau tidaknya gen insert yang terdapat di DNA plasmid
pET-30a(+) rekombinan tersebut adalah gen penyandi endo-1,4-β-xilanase yang
diinginkan. Gen penyandi endo-1,4-β-xilanase dianalisis dengan memasukkan
urutan basa nukleotidanya ke dalam kotak query yang ada dalam website BLAST.
Berdasarkan hasil analisis homologi BLAST, gen penyandi endo-1,4-βxilanase mempunyai tingkat homologi 99% dengan gen endo-1,4-β–xilanase
Bacillus subtilis
strain MW10, gen xilanase Bacillus subtilis strain R5, dan
Bacillus subtilis 168 trpC2. Hal ini menunjukkan bahwa gen insert yang terdapat
dalam plasmid pET-30a(+) rekombinan yang didapatkan adalah benar gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase.
Berikut ini adalah tabel hasil analisis dan tingkat homologi gen penyandi
endo-1,4-β-xilanase dengan database gen penyandi endo-1,4-β-xilanase lain yang
telah dipublikasikan di GenBank:
Accession
DQ100307.1
M36648.1
Z34519.1
Skripsi
Description
Bacillus subtilis strain MWO
endo-1,4-β-xilanase (xylB) gene,
complete cds
B.subtilis xylanase gene, complete
cds
Bacillus subtilis 168 trpC2 xynA
Max ident
99%
99%
99%
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
gene encoding xylanase
Bacillus subtilis Xyl gene for
xylanase, complete cds, strain: R5
Bacillus subtilis strain ATF-27
xylanase A gene, complete cds
Bacillus subtilis strain G1
xylanase gene
AB457186.1
JF312739.1
EU848308.1
99%
98%
97%
Tabel 4.1 Beberapa gen yang mempunyai homologi yang tinggi dengan gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase isolat A asal rayap tanah
Berikut adalah urutan basa nukleotida yang homolog antara gen penyandi endo1,4-β-xilanase isolat A dan Bacillus subtilis strain MWO endo-1,4-β-xilanase
(xylB) gene, complete cds
>
gb|DQ100307.1|
gene,
complete cds
Length=642
Bacillus subtilis strain MW10 endo-1,4-beta-xylanase (xylB)
Score = 1153 bits (624), Expect = 0.0
Identities = 636/642 (99%), Gaps = 0/642 (0%)
Strand=Plus/Plus
Skripsi
Query
1
Sbjct
1
Query
61
Sbjct
61
Query
121
Sbjct
121
Query
181
Sbjct
181
Query
241
Sbjct
241
Query
301
Sbjct
301
Query
361
Sbjct
361
Query
421
Sbjct
421
Query
481
ATGTTTAAGTTTAAAAAGAATTTCTTAGTTGGATTATCGGCAGCTTTAATGAGTATTAGC
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
ATGTTTAAGTTTAAAAAGAATTTCTTAGTTGGATTATCGGCAGCTTTAATGAGTATTAGC
60
TTGTTTTCGGCAACCGTCTCTGCAGCTAGCACAGACTACTGGCAAAATTGGACTGATGGG
|||||||||||||||| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
TTGTTTTCGGCAACCGCCTCTGCAGCTAGCACAGACTACTGGCAAAATTGGACTGATGGG
120
GGCGGTATAGTAAACGCTGTCAATGGGTCTGGCGGGAATTACAGTGTTAATTGGTCTAAT
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
GGCGGTATAGTAAACGCTGTCAATGGGTCTGGCGGGAATTACAGTGTTAATTGGTCTAAT
180
ACCGGAAATTTTGCTGTTGGTAAAGGTTGGACTACAGGTTCGCCATTTAGGACGATAAAC
||||||||||||| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
ACCGGAAATTTTGTTGTTGGTAAAGGTTGGACTACAGGTTCGCCATTTAGGACGATAAAC
240
TATAATGCCGGAGTTTGGGCACCGAATGGCAATGGATATTTAACTTTATATGGTTGGACG
|||||||||||||||||||| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
TATAATGCCGGAGTTTGGGCGCCGAATGGCAATGGATATTTAACTTTATATGGTTGGACG
300
AGATCACCGCTCATAGAATATTATGTAGTGGATTCATGGGGTACTTATAGACCTACTGGA
|||||||| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
AGATCACCTCTCATAGAATATTATGTAGTGGATTCATGGGGTACTTATAGACCTACTGGA
360
ACGTATAAGGGTACTGTAAAAAGTGATGGGGGTACATATGACATATATACAACTACACGT
|||||||| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
ACGTATAAAGGTACTGTAAAAAGTGATGGGGGTACATATGACATATATACAACTACACGT
60
120
180
240
300
360
420
420
TATAACGCACCTTCCATTGATGGCGATCGCACTACTTTTACGCAGTACTGGAGTGTTCGC
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
TATAACGCACCTTCCATTGATGGCGATCGCACTACTTTTACGCAGTACTGGAGTGTTCGC
480
CAGTCGAAGAGACCAACCGGAAGCAACGCTACAATCACTTTCAGCAATCATGTGAACGCA
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
540
480
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Sbjct
481
CAGTCGAAGAGACCAACCGGAAGCAACGCTACAATCACTTTCAGCAATCATGTGAACGCA
540
Query
541
600
Sbjct
541
TGGAAGAGCCATGGAATGAATCTGGGCAGTAATTGGGCTTACCAAGTCATGGCGACAGAA
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
TGGAAGAGCCATGGAATGAATCTGGGCAGTAATTGGGCTTACCAAGTCATGGCGACAGAA
Query
601
Sbjct
601
GGATATCAAAGTGGTGGAAGTTCTAACGTAACAGTGTGGTAA
|||||||||||| |||||||||||||||||||||||||||||
GGATATCAAAGTAGTGGAAGTTCTAACGTAACAGTGTGGTAA
600
642
642
Berdasarkan gen endo-1,4-β-xilanase asal Bacillus subtilis strain MWO,
mempunyai ukuran 642 bp, sementara gen endo-1,4-β-xilanase isolat A bakteri
xilanolitik asal rayap tanah hasil transformasi dalam E.coli Top10 (pET-30a(+))
juga mempunyai ukuran sebesar 642 bp. Hal ini dikarenakan pada urutan basa
nukleotida gen endo-1,4-β-xilanase isolat A dijumpai kodon start (ATG) dan
diakhiri dengan stop kodon (TAA), sehingga gen yang didapatkan adalah gen
secara utuh dari start hingga stop kodon.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :
1.
Gen penyandi endo-1,4-β-xilanase bakteri xilanolitik isolat A asal
sistem abdonminal rayap tanah dapat teramplifikasi dengan ukuran
± 600bp menggunakan teknik PCR dan dapat diklon ke dalam
pET-30a(+)/E.coli Top10 dan didapatkan plasmid pET-30a(+)
rekombinan (pEXyl06)
2.
Dari hasil sekuensing, rekombinan yang diperoleh adalah fragmen
gen endo-1,4-β-xilanase yang mempunyai tingkat homologi
sebesar 99% terhadap gen endo-1,4-β-xilanase famili 11 dari
GenBank.
5.2
Saran
Diharapkan penelitian ini dapat diteruskan dengan melakukan ekspresi gen
penyandi endo-1,4-β-xilanase sehingga dapat diperoleh enzim endo
xilanase rekombinan dan bisa diketahui karakteristik dan aktifitas enzim
xilanase yang dihasilkan.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR PUSTAKA
Ahsan, M. M., Kimura, T., Karita, S., Sakka, K., and Ohmiya, K. 1996. Cloning,
DNA Sequencing, and Expression of the Gene Encoding Clostridium
thermocellum Cellulase CelJ, the Largest Catalytic Component of the
Cellulosome. Journal of Bacteriology 178, p. 5732-5740.
An Yingfeng, Wu, W,. Lv, A., 2010 A PCR-after-ligation method for cloning
of multiple DNA inserts. Analytical Biochemistry 402, p. 203–205
Ausubel, Frederick, M., Brent, Roger., Kingston, Robert, E,. Moore, David, D,.
Seidman, J, G,. Smith, John, A,. and Struhl, Kevin,. 1995, Short Protocols
in Molecular Biology, Third Edition, John Wiley & Sons Inc., Canada.
Brown, T.A. 2010. Gene Cloning and DNA Analysis : An Introduction. 6th Ed.,
Weley-Blackwell Publishing, United Kingdom
Canakci, S., Kacagan, M., Inan, K., Belduz, A. O., and Saha, B. C., 2008,
Cloning, purification, and characterization of a thermostable α-Larabinofuranosidase from Anoxybacillus kestanbolensis AC26Sari, J
Appl Microbiol Biotechno, Vol. 81, p. 61-68.
Clowes, R, C., 1972, Molecular Structure of Bacterial Plasmids, Microbiology
and Molecular Biology Reviews, 36(3):361
Devor, E.J., 2005, IDTutorial: DNA Sequencing, Integrated DNA technologies
Dieffenbach, C. W., Lowe, T. M., and Dveksler, G. S., 1993, General Concepts
for PCR primer Design, Genome Res., Vol. 3, p. S30-S37
Dwijayanthi, I., 2010, Amplifikasi dan Sekuensing Gen Penyandi Endo-1,4-βXilanase Asal Bacillus subtillis PC-01, Skripsi-S1 UNAIR Surabaya.
Erlich, H, A, 1992, PCR Technology Principles and Aplications for DNA
Amplification, W., H., Freeman and Company, United States of America,
Page 13-14
Freifelder, David, 1987, Molecular Biology: Second Edition, Jones and Bartlett
publishers, Boston.
Gupta, S., Bhushan, B., and Hoondal, G. S. 2000. Isolation, Purification and
Characterization of Xylanase from Staphylococcus sp. SG-13 and its
Application in Biobleaching of Kraft Pulp. Journal of Applied
Microbiology 88 (2, February) : 325–334.
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Huang, J., Wang, G., Xiao, L., 2006, Cloning, sequencing and expression of the
xylanase gene from a Bacillus subtilis strain B10 in Escherichia coli,
Journal Bioresource Technology, Vol. 97, p. 802–808.
Howard, R. L., Abotsi, E., Jansen van Rensburg E.L., and Howard, S., 2003,
Lignocellulose biotechnology: issues of bioconversion and enzyme
production, African Journal of Biotechnology, Vol. 2 (12), p. 602-619
Ito, K., Iwashita, K., and Iwano, K. 1992. Cloning and Sequencing of the XynC
Gene Encoding Acid Xylanase of Aspergillus kawachii. Bioscience,
Biotechnology, and Biochemistry, Vol. 56, p. 1338-1340.
Jalal, A., Rashid, N., Rasool, N., and Akhtar, M., 2009. Gene cloning and
characterization of a xylanase from a newly isolated Bacillus subtilis
strain R5. Journal of Bioscience and Bioengineering Vol.107 No.4, p.
360–365.
Johnson, T., 1992, Pengenalan Pelajaran Serangga, Edisi keenam,
diterjemahkan oleh soetiyono Partosoedjono, Yogyakarta, Gajahmada
University Press
Kato, K., Kozaki, S., and Sakuranaga, M., 1998, Degradation of lignin
compounds by bacteria from termite guts, Journal Biotechnology
Letters, Vol. 20, No. 5, p. 459-462.
Kulkarni, N., Shendye, A., and Rao, M. 1999. Molecular and Biotechnological
Aspects of Xylanases. Federation of European Microbiological Societies
Microbiology Reviews 23 p. 411–456
Lehninger, A.L., 1997, Dasar-Dasar Biokimia, Jilid III Penerjemah Maggy
Thenawijaya, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Lee, J.W., Park, J.Y., Kwon, M., and Choi, I.G., 2009, Purification and
Characterization of a Thermostable Xylanase from the Brown-Rot
Fungus Laetiporus sulpureus, Journal of Bioscience and Bioengineering,
VOL. 107 No. 1, 33-37.
Meryandini, A., Widhyastuti, N., dan Lestari, Y., 2008, Permurnian dan
Karakterisasi Xilanase Streptomyces sp. SKK1-8, Makara, Sains, Vol.
12, No. 2, p. 55-60.
Mullis,
Skripsi
B, Kary., 1990, Recombinant DNA Technology and Molecular
Cloning, Scientific American 262:36
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Nandika, D., Adijuwana, H., dan Rizal, E. S. 1995. Karakteristik Saluran
Pencernaan Rayap Kayu Kering Cryptotermes cynochepalus Light.
(Isoptera : Kalotermitidae). Jurnal Biosains 1 (2, Juli) : 7-10.
Pühler, Alfred, and Timmis, Kenneth, N,. 1984, Advanced Molecular Genetics,
Springer-Verlag, Berlin Heidelberg
Puspaningsih, N.N.T., 2004, Gen Penyandi Xilosidase dari Bacillus
thermoleovorans IT-08, Disertasi S3-IPB, Bogor.
Russell, Peter, J, 1994, Fundamentals of Genetics, HarperColins Collage
Publishers, New York.
Sambrook, J., Fritsch, E. F., Maniatis, T., 1989, Molecular Cloning, A
Laboratory Manual, Second Edition, Volume 1, Cold Spring Harbor
Laboratory Pres, New York.
Sambrook, J., Russel, I., 2001, Molecular Cloning, A Laboratory Manual,
Third Edition, Volume 2, Cold Spring Harbor Laboratory Pres, New
York.
Sasnauskas G, Connolly BA, Halford SE, Siksnys V. 2007. Site-specific DNA
transesterification catalyzed by a restriction enzyme, Proc Natl Acad
Sci USA 104(7): 2115-20.
Seifert, K., 1962, Holzforschung, Vol 19, p. 105-111
Shallom, D,. and Shoam, Y,. 2003, Microbial Hemicellulase, Journal Ecology
and Industrial microbiology, Vol. 6, p. 219-228
Sriyapai, T., Somyoonsap, P., Matsui, K., Kawai, F., and Chansiri, K., 2011,
Cloning of a thermostable xylanase from Actinomadura sp. S14 and its
expression in Escherichia coli and Pichia pastoris, Journal of Bioscience
and Bioengineering, Vol 111, p. 528-536.
Stryer L, Tymoczko JL, and Berg JM. 2002. Biochemistry, Edisi ke-5, New York
: WH Freeman.
Tarumingkeng, R. C. 2001. Biologi dan Perilaku Rayap. Bogor : Program Studi
Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor (diakses online dari url http :
//tumoutou.net/biologi_&_perilaku_rayap.htm/).
Wall, D., 2009, Recombinant DNA, Basic Procedures, Elsevier Inc. All rights
reserved University of Wyoming, Laramie, WY, USA
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
Yamani, L.N. 2011. Konstruksi Sekresi Ekstraseluler Dan Peningkatan pH
Optimum α-L-Arabinofuranosidase dari Geobacillus thermoleovorans
IT 08, penelitian S2-UNAIR, Surabaya.
Yuwono, T. 2006. Teori dan Aplikasi Polymerase chain reaction. Andi offset.
Yogyakarta
Zhang, M,. Jiang, Z,. Yang, S,. Hua, C,. Li, L,. 2010. Cloning and expression of
a Paecilomyces thermophila xylanase gene in E.coli and
characterization of the recombinant xylanase, Journal Bioresource
Technology, Vol. 101, p. 688-695
Zhou, C., Bai J., Deng S., Wang J., Zhu J., Wu, M., Wang, W., 2007, Cloning of
Xilanase Gene from Aspergillus usamii anf its Expression in
Escherichia coli. Bioresource Technology 99, p. 831–838
Zhou, J., Huang, H., Meng, K., Shi, P., Wang, Y., Luo, H., Yang, P., Bai, Y., and
Yao, B., 2010, Cloning of a New Xylanase Gene from Streptomyces sp.
TN119 Using a Modified Thermal Asymmetric Interlaced-PCR
Specific for GC-Rich Genes and Biochemical Characterization,
Journal Appl Biochem Biotechnol, Vol. 160, p. 1277–1292.
http://blast.ncbi.nlm.nih.gov/, tanggal akses 21 Juli 2012
http://www.CAZy.org, tanggal akses 5 september 2011
Skripsi
Previta Zeisar Rahmawati
Kloning gen penyandi endo-1,4-β-xilanase
asal isolat A bakteri xilanolitik sistem abdominal rayap tanah pada E.coli
Top10 (pET-30a(+))
Download