2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Perkembangan ekonomi di dunia yang ditandai dengan era globalisasi dan
perdagangan bebas ikut mempengaruhi perekonomian Indonesia. Banyak dampak
positif dan negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan tersebut, salah satu
dampak negatif tersebut adalah krisis ekonomi yang dirasakan oleh bangsa
Indonesia pada tahun 1997. Dampak krisis ekonomi ini tentunya juga
mempengaruhi aktivitas bisnis suatu badan usaha. Banyak badan usaha yang
mengalami kebangkrutan sehingga menimbulkan masalah baru bagi bangsa ini.
Dalam keadaan sekarang ini, dalam dunia ekonomi pengelolaan
perusahaan (corporate governance) telah dianggap penting sebagaimana
pemerintahan negara. Pernyataan diatas telah menegaskan kedudukan penting
perusahaan-perusahaan dalam menjalankan peranan mereka dalam kehidupan
ekonomi dan sosial kita.
Ketidakmampuan sektor swasta dalam memenuhi kewajibannya terhadap
pihak debitur luar negeri pada waktu itu banyak disebabkan karena pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh pihak pengelola perusahaan, yang disebabkan
karena lemahnya peraturan dan perundangan yang mengatur sistem pengelolaan
perusahaan di Indonesia. Pelanggaran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
Good Corporate Governance (GCG) dikalangan perusahaan di Indonesia terjadi
karena sangat minimnya peraturan yang jelas akan hak dan kewajiban pihak-pihak
yang terkait dengan kinerja perusahaan seperti pemegang saham, dewan komisaris
maupun direksi, serta para stakeholder lain, sehingga kontrol akan kinerja
perusahaan menjadi sangat longgar.
Dengan tidak dilaksanakannya prinsip-prinsip GCG tersebut tercermin
dari kurang tersedianya informasi untuk melakukan analisa resiko / hasil, investasi
yang sumber daya yang tidak produktif, yang pada akhirnya menurunkan atau
2
pudarnya kepercayaan pemodal. GCG bukanlah hal yang baru di Indonesia, dan
saat ini tengah menjadi trend global serta menjadi keharusan di masa kini yang
harus dipenuhi oleh perusahaan agar dapat bersaing di pasar bebas yang dekat
waktunya.
GCG sendiri sebagai alternatif sistem pengelolaan korporasi mengemuka
dengan gencar pada masa pasca krisis. Namun, perlu dicatat bahwa konsep GCG
sendiri secara substansi bukan hal yang baru. Seperti diungkapkan oleh Tri
Gunarsih (2002), mengutip dari kajian dari Berle dan Means (1934), isu corporate
governance muncul karena terjadinya pemisahan antara kepemilikan dan
pengelolaan perusahaan. Pemisahan ini memberikan kewenangan kepada
pengelola (manager/direksi) untuk mengurus jalannya perusahaan seperti
mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan atas nama pemilik. Dengan
kata lain, isu mengenai GCG sendiri muncul setelah ada pembagian
tanggungjawab antara pemilik dan profesional.
Walaupun sudah berkembang menjadi istilah yang menjadi trend di
berbagai kalangan, konsep GCG masih disalahartikan. Sebagian orang bahkan
sering mengartikannya sebagai suatu konsep yang berhubungan dengan
Government atau pemerintah. Pada hakekatnya, Corporate Governance adalah
suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu korporasi untuk dioperasikan dan
diawasi. Sistem ini mengatur dengan jelas dan tegas apa saja yang menjadi hak
dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan suatu korporasi bisnis,
seperti dewan komisaris, dewan direksi, manajemen, pemegang saham dan para
stakeholders lainnya. Atau secara lebih khusus, Good Corporate Governance
adalah sistem dan struktur yang baik untuk mengelola perusahaan dengan tujuan
meningkatkan nilai pemegang saham serta mengakomodasi berbagai pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan (Stakeholders) seperti kreditur, pemasok,
asosiasi bisnis, konsumen, pekerja, pemerintah, dan masyarakat.
Penerapan praktik-praktik pengelolaan perusahaan yang baik (GCG) akan
menciptakan insentif internal yang efektif bagi manajemen perusahaan dan
penggunaan sumber daya yang efisien, sehingga mendorong terbentuknya
3
kepercayaan investor, dan masuknya arus modal yang mendorong pulihnya
perekonomian, baik secara makro maupun secara mikro.
Untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan, perusahaan perlu
mengikuti pengelolaan yang diterapkan secara taat azas (Consistent), sehingga
semua nilai yang dimiliki pihak-pihak yang berkepentingan atas perusahaan dapat
didayagunakan secara optimal dan menghasilkan pola hubungan ekonomis yang
menguntungkan.
Laporan keuangan merupakan sarana utama untuk mengungkapkan
kondisi operasi bisnis dan keuangan perusahaan. Selain itu, Laporan keuangan
merupakan sarana umum berupa informasi keuangan yang dikomunikasikan
kepada pihak luar dalam menilai kinerja perusahaan, investor harus senantiasa
berusaha untuk dapat menganalisis kemampuan keuangan perusahaan, sehingga
investor dapat memanfaatkan informasi yang penting adalam pengambilan
keputusan ekonomi investor. Bagi sebagian besar investor, institusional dan
kreditur, laporan keuangan yang diungkapkan secara transparan dan akurat
menjadi salah satu bahan masukkan yang penting untuk pengambilan keputusan.
Tujuan
laporan
keuangan
adalah
menyediakan
informasi
yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan arus kas suatu perusahaan
yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan
ekonomi. Manajemen perusahaan memikul tanggungjawab utama dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan perusahaan.
Informasi yang terdapat pada laporan keuangan perusahaan memuat datadata historis yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan ekonomi terutama dalam keputusan berinvestasi. Oleh karena laporan
keuangan tidak dapat menyajikan gambaran kondisi non-keuangan perusahaan
yang dibutuhkan investor dan kreditur maka banyak banyak regulator pasar modal
dan perbankan di Asia mewajibkan perusahaan menyajikan informasi nonkeuangan perusahaannya, yaitu prinsip-prinsip GCG. Diharapkan dengan adanya
prinsip-prinsip GCG maka laporan keuangan yang dihasilkan dapat diungkapkan
secara transparan dan akurat, sehingga dapat membantu investor dan pihak-pihak
4
lain yang berkepentingan dalam suatu perusahaan untuk mengambil keputusan,
sehingga dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan.
Dalam menilai kinerja perusahaan, investor harus senantiasa berusaha
untuk dapat menganalisis kemampuan keuangan perusahaan, untuk itu investor
dapat memanfaatkan informasi yang tertera dalam laporan keuangan. Laporan
keuangan merupakan salah satu informasi yang penting untuk pengambilan
keputusan.
Pengelolaan perusahaan berdasarkan prinsip GCG pada dasarnya
merupakan upaya untuk menjadikan GCG sebagai kaidah dan pedoman bagi
pengelolaan perusahaan dalam mengelola manajemen perusahaan. Penerapan
prinsip-prinsip GCG saat ini sangat diperlukan agar perusahaan dapat bertahan
dan tangguh dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. GCG diharapkan
merupakan sarana untuk menjadikan perusahaan secara lebih baik, antara lain
dengan menghambat praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN),
meningkatkan disiplin anggaran, mendayagunakan pengawasan, serta mendorong
efisiensi pengelolaan perusahaan.
GCG adalah salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar, itu berkaitan
dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun
terhadap iklim usaha di suatu negara. Penerapan GCG selain sangat penting untuk
menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan,
penerapan GCG juga diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah dalam
menegakkan Good Governance pada umumnya di Indonesia.
Penerapan GCG sangat penting artinya karena secara langsung akan
memberikan arah yang jelas bagi perusahaan untuk memungkinkan pengambilan
keputusan secara bertanggungajawab dan memungkinkan pengelolaan perusahaan
secara lebih amanah, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan dan
kepercayaan dari mitra usaha. Penerapan GCG dapat didorong dari dua sisi, yaitu
etika dan peraturan. Dorongan dari etika (ethical driven) datang dari kesadaran
individu-individu
pelaku
bisnis
untuk
mejalankan
praktik
bisnis
yang
mengutamakan kelangsungan hidup perusahaan, kepentingan stakeholders, dan
menghindari cara-cara menciptakan keuntungan sesaat. Sisi yang lain adalah,
5
dorongan dari peraturan (regulatory driven) “memaksa” perusahaan untuk patuh
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua sisi ini harus saling
melengkapi untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sehat.
Hal yang mendasar dalam menetapkan prinsip GCG adalah manfaat yang
akan disetujui oleh banyak pengamat meliputi :
1. Entitas bisnis akan menjadi efisien
2. Meningkatkan kepercayaan publik
3. Menjaga kelangsungan hidup perusahaan (Going Concern)
4. Dapat mengukur target manajemen perusahaan
5. Meningkatkan produktivitas
Sehubungan dengan pentingnya Corporate Governance seperti yang telah
diuraikan diatas, penulis tertarik untuk membuat penelitian mengenai masalah
PENGARUH
PENERAPAN
PRINSIP-PRINSIP
GOOD
CORPORATE
GOVERNANCE (GCG) TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan
uraian
pada
latar
belakang
diatas,
maka
penulis
mengidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan prinsip Good Corporate Governance di perusahaan
2. Bagaimana kualitas laporan keuangan di perusahaan
3. Apakah terdapat pengaruh dari penerapan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance terhadap kualitas laporan keuangan.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan
informasi yang diperlukan mengenai prinsip-prinsip Good Corporate Governance
dan kualitas laporan keuangan, sehingga dapat diketahui pengaruh penerapan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance terhadap kualitas laporan keuangan
perusahaan, yang akan penulis gunakan dalam rangka penyusunan skripsi sebagai
6
salah satu syarat dalam menyelesaikan program pendidikan Sarjana Akuntansi
pada Universitas Widyatama.
Tujuan Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui penerapan prinsip-prinsip Good Coroprate Governance
pada PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Cilacap
2. Untuk mengetahui Laporan Keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia
III Cabang Cilacap
3. Untuk mengetahui pengaruh penerapan dari prinsip-prinsip Good
Corporate Governance terhadap kualitas Laporan Keuangan PT (Persero)
Pelabuhan Indonesia III Cabang Cilacap
1.4 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan dari penelitian ini penulis berharap bahwa penelitian
ini akan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Adapun
penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai
berikut:
1. Bagi Penulis
Menambah wawasan serta pengetahuan, khususnya mengenai penerapan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance terhadap kualitas laporan
keuangan pada perusahaan, serta kendala-kendala yang dihadapi perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai bahan masukan baik berupa saran ataupun koreksi, sehingga dapat
membantu memecahkan masalah atau kendala yang mereka hadapi dan dapat
menjadi sumbangan pemikiran.
3. Bagi Masyarakat, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi
Agar melalui karya ilmiah yang disusun ini dapat menambah pengetahuan
pembaca dan dapat pula dijadikan referensi di masa yang akan datang.
1.5 Kerangka Pemikiran
Ketika pasar lebih terbuka dan mendunia, serta bisnis menjadi lebih luas
dan kompleks, masyarakat di seluruh dunia menunjukkan ketergantungan yang
7
makin besar atas sektor swasta sebagai motor pelaksana pertumbuhan ekonomi.
Perusahaan adalah produk hukum , masyarakat memungkinkan perusahaan untuk
diciptakan oleh hukum karena mereka sadar bahwa bentuk perusahaan merupakan
bentuk efisien dari organisasi dan masyarakat pun memperoleh keuntungan
darinya.
Aktivitas bisnis merupakan masalah kompleks yang hangat dibicarakan di
tengah usaha pemerintah untuk memulihkan perekonomian yang lesu akibat krisis
di sejumlah negara asia. Krisis ini dipandang merupakan akibat lemahnya praktik
GCG di negara-negara tersebut, sehingga mereka tidak siap memasuki era
globalisasi dan pasar bebas , penerapaan GCG menjadi suatu aspek penting dalam
upaya mempertahankan kelangsungan jalannya perusahaan. Banyak pihak saat ini
mensyaratkan adanya praktek-praktek pengelolaan perusahaan yang baik dalam
melakukan hubungan bisnis dengan para stakeholdersnya.
Corporate Governance merupakan sistim yang mengatur hak dan
kewajiban para pihak yang berperan dan terkait dalam pengelolaan perusahaan.
Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD),
seperti yang dikutip oleh majalah manajemen manusia edisi juli 2000, GCG
adalah suatu sistem bagaimana suatu perusahaan dijalankan dan diawasi. Struktur
Corporate Governance menjelaskan pembagian hak dan kewajiban masingmasing pihak yang terlibat dalam perusahaan, seperti direksi, dewan komisaris,
manajer, pemegang saham, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan
perusahaan, serta mengeluarkan peraturan dan prosedur pengambilan keputusan
bagi kepentingan perusahaan. Sedangkan GCG menurut Komite Nasional
Kebijakan Corporate Governance adalah:
“ Good Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur yang
digunakan oleh
organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada
perusahaan secara
berkesinambungan dalam jangka panjang bagi pemegang
saham, dengan tetap memperhatikan
kepentingan
stakeholder
lainnya,
berlandaskan peraturan dan perundangan dan norma yang berlaku”.
8
Menerapkan GCG secara benar dan konsisten, berarti perusahaan sudah
menerapkan sistem pengelolaan perusahaan sesuai dengan pembagian peran
masing-masing di tingkatan direksi, komisaris, komite audit, sehingga
pengambilan keputusan bisa menjadi lebih di pertanggungjawabkan.
Untuk dapat melaksanakan GCG harus dipenuhi prinsip-prinsip dasarnya.
Acuan bagi penerapan GCG di Indonesia, ditetapkan oleh Komite Nasional
Kebijakan Corporate Governance Indonesia (KNKCGI), yang juga sejalan
dengan hasil pengkajian OECD. Terdapat empat prinsip yang perlu diperhatikan
untuk terselenggaranya GCG, yaitu:
1. Kewajaran (Fairness)
Adanya kejelasan hak-hak kepemilikan bagi pemodal serta sistem hukum dan
penegakkan peraturan-peraturan untuk melindungi hak-hak pemegang saham,
terutama pemegang saham minoritas.
2. Keterbukaan (Transparancy)
Mewajibkan adanya informasi yang terbuka, tepat waktu, jelas, dapat
diperbandingkan, terutama untuk menyangkut masalah keuangan, pengelolaan
perusahaan, dan kepemilikkan perusahaan.
3. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas dapat dicapai melalui pengawasan efektif yang mendasarkan
pada keseimbangan kekuasaan antara direksi, pemegang saham, komisaris,
dan auditor. Keseimbangan peran antara manajemen, pemegang saham,
komisaris, dan auditor sangat penting dalam menciptakan pengelolaan yang
baik pada suatu perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah pembatasan
kekuasaan antara manajer perusahaan yang bertanggung jawab dalam kegiatan
operasional sehari-hari dengan pemegang saham yang dalam hal ini diawali
oleh dewan komisaris.
4. Pertanggungjawaban (Responsibility)
Perusahaan mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi hukum dan
perundang-undangan yang berlaku. Manajemen harus berupaya memenuhi
ketentuan dan peraturan yang berlaku bagi perusahaannya sesuai dengan
bidang industrinya masing-masing.
9
5. Kemandirian (Independency)
Prinsip ini menuntut para pengelola perusahaan agar dapat bertindak secara
mandiri sesuai peran dan fungsi yang dimilikinya tanpa ada tekanan-tekanan
dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan sistem operasional perusahaan
yang berlaku. Tersirat dengan prinsip ini bahwa pengelola perusahaan harus
tetap memberikan pengakuan terhadap hak-hak stakeholders yang ditentukan
dalam undang-undang maupun peraturan perusahaan.
Menurut David Melvill, presiden Chartered Institute of Management
Accountant, ada beberapa keuntungan dari penerapan Good Corporate
Governance, antara lain: mengurangi resiko, membantu menjamin kepatuhan
dengan peraturan yang ada, meningkatkan kepemimpinan di dalam perusahaan,
memacu kinerja, membantu perusahaan dalam upaya go public, meningkatkan
kepercayaan para pemegang saham, dan akuntabilitas sosial akan terungkap
secara jelas.
Gagasan pelaksanaan GCG di Indonesia merupakan pangkal tolak bagi
perubahan budaya kerja pada perusahaan. Dengan GCG diharapkan perusahaan
dan pemerintah dapat berjalan sesuai dengan kaidah praktik yang sehat di segala
bidang.
Kualitas laporan keuangan yang baik dapat dijadikan sebagai salah satu
pedoman bagi investor dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Dalam
mengevaluasi kinerja manajemen, para pemegang saham harus dapat memutuskan
efektivitas dan efisiensi manajemen dalam hal mengelola sumber daya yang
terpakai untuk kegiatan organisasi. Ini berarti, mereka menginginkan informasi
yang menunjukkan apakah tujuan organisasi telah tercapai (efektivitas) dan
dihubungkan dengan pemakaian sumber daya yang minimum dalam menyediakan
barang dan jasa (efisiensi). Jika efektivitas dan efisiensi sudah dievaluasi, para
pemakai data laporan keuangan juga harus mengetahui informasi yang
berhubungan dengan posisi sumberdaya dan kewajiban organisasi.
Setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas GCG diterapkan pada
setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Asas GCG yaitu
transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kesetaraan dan
10
kewajaran diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan dengan
tetap memperhatikan pemangku kepentingan. Penerapan prinsip GCG seharusnya
mempunyai pengaruh yang positif terhadap kualitas laporan keuangan.
Laporan keuangan pada hakekatnya adalah gambaran keadaan keuangan
pada suatu saat dan liputan hasil usaha yang dicapai oleh perusahaan selama
jangka waktu tertentu. Sedangkan tujuan laporan keuangan seperti yang tercantum
dalam Standar Akuntansi Keuangan dalam Bab Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan paragraf 12, adalah bahwa tujuan laporan keuangan
adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Melalui laporan keuangan secara periodik dilaporkan informasi penting
mengenai suatu perusahaan yang berupa:
1. Informasi mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal
perusahaan.
2. Informasi mengenai perubahan-perubahan dalam sumber-sumber ekonomi
netto atau kekayaan bersih (modal = aktiva dikurangi kewajiban), yang
timbul dari aktivitas-aktivitas usaha perusahaan dalam rangka memperoleh
laba.
3. Informasi mengenai hasil usaha perusahaan yang dapat dipakai sebagai
dasar untuk menilai dan membuat estimasi (perkiraan) tentang kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba.
4. Informasi mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan
kewajiban yang disebabkan oleh aktivitas pembelanjaan dan investasi.
5. Informasi penting lainnya yang berhubungan dengan laporan keuangan
seperti halnya kebijakan akuntansi yang dianut oleh perusahaan.
Standar Akuntansi Keuangan bab Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan menyatakan bahwa karakteristik kualitatif laporan
keuangan adalah sebagai berikut :
1. Dapat dipahami (Understandability)
11
2. Relevan (Relevance)
3. Andal (Realibility)
4. Dapat diperbandingkan (Comparability)
Gambaran dilaksanakannya atau tidak prinsip-prinsip GCG pada suatu
perusahaan dapat terlihat jelas di pasar modal. Disinilah terbentuknya penilaian
masyarakat percaya bahwa perusahaan dikelola oleh manajemen yang baik,
termasuk didalamnya pemilik perusahaan, maka perusahaan tersebut akan naik di
pasar modal. Naiknya saham perusahaan tersebut menunjukkan eksistensi entitas
dalam dunia usaha yang kompetitif cukup kuat.
GCG merupakan konsep yang menekankan pentingnya hak pemegang
saham untuk memperoleh informasi dengan benar, akurat, dan tepat waktu serta
keuangan perusahaan untuk mengungkapkan (disclosure) secara akurat, tepat
waktu dan transparan. Prinsip Corporate Governance diharapkan dapat
meningkatkan kualitas laporan keuangan yang pada akhirnya meningkatkan
kepercayaan pemakai laporan keuangan, termasuk investor.
Perusahaan yang telah tercatat di bursa efek, perusahaan negara,
perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, dan perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat
luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian
lingkungan, diharapkan menjadi pelopor dalam penerapan pedoman GCG ini.
Diperlukannya tiga pilar yang saling berhubungan yaitu negara dan
perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat
sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha untuk mendorong terciptanya
pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundangundangan. Prinsip-prinsip dasar yang harus dilaksanakan oleh masing-masing
pilar adalah:
a. Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menciptakan iklim usaha yang sehat, efisien, dan transparan, melaksanakan
peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten.
b. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar
pelaksanaan usaha.
12
c. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang
terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan
melakukan kontrol sosial secara obyektif dan bertanggung jawab.
Berdasarkan uraian di atas, penulis menetapkan hipotesis penelitian
sebagai berikut :
“Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance akan mempunyai
pengaruh positif terhadap Kualitas Laporan Keuangan”
13
Gambar 1.1
Bagan Kerangka Pemikiran
Good Corporate Governance (GCG)
Prinsip - Prinsip Good Corporate Governance (GCG)
Akuntabilitas
Pertanggunganjawaban
Keterbukaan
Kemandirian
Kewajaran
Laporan Keuangan
Tujuan Kualitatif Laporan Keuangan
Relevan
Dapat Dimengerti
Kehandalan
Dapat Diperbandingkan
14
1.6 Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian asosiatif
dengan pendekatan studi kasus metode penelitian asosiatif menurut Sugiyono
(2004 : 11) adalah:
“Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel
atau lebih”.
Data yang penulis kumpulkan meliputi data primer dan sekunder yang
kemudian akan diolah, dianalisis, dan diproses lebih lanjut berdasarkan teori-teori
yang telah dipelajari.
Untuk melaksanakan penelitian ini menulis menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Penelitian lapangan (field research)
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data primer yaitu data yang
diperoleh melalui:
a.
Pengamatan (observasi), yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan
mengamati secara langsung objek yang diteliti.
b.
Wawancara (interview), yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara
tanya jawab dengan pimpinan atau pihak yang berwenang atau bagian
lain yang berhubungan.
c.
Kuesioner (quetionaire), yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan
mengajukan daftar pertanyaan yang diisi oleh pejabat yang bersangkutan
dan penulis membuat pertanyaan yang mengacu pada indikator masingmasing variabel.
2. Penelitian kepustakaan (library research)
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder, yaitu data
yang merupakan faktor penunjang yang bersifat teoritis kepustakaan.
1.7 Lokasi dan Waktu penelitian
Untuk keperluan penyusunan skripsi ini, penulis mengadakan penelitian
pada PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Cilacap, yang berada di jalan
Laut Jawa adapun waktu penelitian dimulai dari Agustus 2008.
15
Download