Majalah Ilmiah maret baru 2012 fixxx

advertisement
68 Media Bina Ilmiah
ISSN No. 1978-3787
PENGARUH DOSIS APLIKASI JAMUR ENDOFIT Trichoderma polysporum ISOLAT ENDO-04
DAN JAMUR SAPROFIT T. harzianum ISOLAT SAPRO-07 DALAM MENINGKATKAN
KETAHANAN TERINDUKSI BEBERAPA KLON VANILI TERHADAP PENYAKIT BUSUK
BATANG FUSARIUM
Oleh :
Ni Made Laksmi Ernawati dan I Made Sudantha
Fakultas Pertanian Univesitas Mataram
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis aplikasi jamur endofit T. polysporum isolat ENDO-04
dan saprofit T. harzianum isolat SAPRO-07 dalam meningkatkan ketahanan terinduksi beberapa klon vanili
terhadap penyakit busuk batang Fusarium dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman vanili.
Percobaan dilakukan di rumah plastik Fakultas Pertanian Universitas Mataram menggunakan Rancangan
Acak Lengkap yang terdiri dari 13 perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Aplikasi jamur ENDO-04 (T. polysporum) dan atau SAPRO-07 (T. harzianum), pada
dosis 25 ml dan 50 ml/stek vanili dan 25 g dan 50 g/kg tanah efektif mengendaliakan penyakit busuk batang
Fusarium dan dapat meningkatkan ketahanan terinduksi bibit vanili terhadap penyakit busuk batang.
Aplikasi jamur ENDO-04 (T. polysporum) yang diberikan masing-masing sebanyak 25 ml dan 50 ml/stek
vanili dan 25 g dan 50 g/kg tanah dapat memacu pemanjangan tunas daun/sulur, sedang aplikasi jamur
SAPRO-07 (T. harzianum) dapat memacu pembentukan tunas bunga. Jika jamur ENDO-04 (T. polysporum)
dan SAPRO-07 (T. harzianum) dicampur maka pengaruh jamur ENDO-04 (T. polysporum) lebih dominan ke
arah pembentukan tunas daun/sulur dibandingkan dengan jamur SAPRO-07 (T. harzianum).
Kata Kunci: vanili, busuk batang, endofit, saprofit, Trichoderma
PENDAHULUAN
Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah
satu daerah pengembangan dan produksi vanili
(Vanilla planifolia Andrews) di Indonesia. Luas
areal penanaman vanili di Indonesia adalah 15.937
ha dan saat ini luas areal penanaman vanili tinggal
50 % dan sebagaian besar dalam keadaan kurang
produktif. Salah satu penyebabnya adalah serangan
jamur Fusarium oxysporum f. sp. vanillae yang
menyebabkan penyakit busuk batang (Ruhnayat,
2004).
Jamur ptogen dapat menyerang semua bagian
tanaman mulai dari akar, batang, daun dan buah.
Infeksi dimulai dari stek tanaman karena jamur
sudah terinfestasi di dalam tanah.
Menurut
Hadisutrisno (dalam Redaksi Trubus, 2004), 7-32 %
bibit stek sudah terkontaminasi, walaupun tanaman
induknya tidak menunjukkan gejala serangan, dan
lebih 80 % tanaman vanili di Indonesia sudah
terinfeksi. Pada tanaman dewasa tingkat kematian
mencapai 50-100 % dan memperpendek umur
produksi dari 10 kali panen menjadi dua kali bahkan
tidak dapat berproduksi (Hadisutrisno, 2005).
Jamur patogen ini memiliki struktur bertahan
berupa klamidospora yang dapat bertahan dalam
tanah sebagai saprofit antara 3-4 tahun sehingga
masih sulit dikendalikan dengan berbagai cara
(Sukamto dan Tombe, 1995). Penularannya melalui
stek yang sudah terinfeksi, sehingga penyebarannya
menjadi cepat dan meluas (Hadisutrisno (2005).
Belum ditemukan klon vanili yang tahan terhadap
penyakit ini (Ruhnayat, 2004). Dengan demikian
perlu alternatif pengendalian dengan cara
meningkatkan ketahanan
terinduksi dengan
perlakuan jamur
endofit T. polysporum isolat
ENDO-04 dan jamur saprofit T. harzianum isolat
SAPRO-07 (Sudantha dan Abadi, 2006 dan 2007).
Menurut Abadi (2003) ketahanan terinduksi
merupakan ketahanan tanaman terhadap infeksi
patogen karena tanaman telah terinfeksi oleh
mikroorganisme lain sebelumnya, baik dari jenis
yang sama maupun dari jenis lain. Jamur endofit
adalah jamur yang hidup di dalam jaringan tanaman
sehat tanpa menyebabkan gejala atau kerusakan
pada tanaman inang (Petrini dan Petrini, 1985
dalam Davis et al., 2003), sedang jamur saprofit atau
saproba antagonis adalah jamur yang hidup pada
sisa-sisa bahan organik dan mempunyai kemampuan
menekan pertumbuhan jamur patogen tular tanah
(Abadi, 2003).
Berdasarkan hasil isolasi pada jaringan tanaman
vanili sehat di kebun vanili Pulau Lombok NTB
ditemukan 19 isolat jamur endofit yang bersifat
antagonistik terhadap jamur F. oxysprorum f. sp.
vanillae secara in-vitro dan 19 jamur saprofit di
risosfer tanaman vanili sehat. Setelah diuji secara in
situ jamur endofit Trichoderma sp. ENDO-04
_____________________________________
Volume 6, No. 2, Maret 2012
http://www.lpsdimataram.com
ISSN No. 1978-3787
Media Bina Ilmiah 69
…………………………………………………………………………………………………………
batang Jurang Malang (T. polysporum) efektif
menekan pertumbuhan jamur F. oxysprorum f. sp.
vanillae dan meningkatkan ketahanan terinduksi
terhadap penyakit busuk batang. Jamur endofit ini
juga dapat memacu pertumbuhan vegetatif stek dan
tanaman vanili klon Timbenuh. Selain itu
jamur
endofit ini dapat tumbuh dengan baik pada seresah
daun kopi, lamtoro, kemiri dan gamal (Sudantha
dan Abadi, 2006). Pada percobaan pengomposan
seresah daun kopi, lamtoro, kemiri dan gamal
ternyata jamur endofit tersebut dapat mempercepat
proses pengomposan (Abadi dan Sudantha, 2007).
Secara in situ, jamur saprofit Trichoderma spp.
SAPRO-07 vanili Jurang Malang (T. harzianum)
efektif dapat memacu pembungaan lebih awal pada
bibit vanili klon Timbenuh (Sudantha, 2007).
Dari percobaan-percobaan yang telah dilakukan
di atas maka dapat dikatakan bahwa kedua isolat
jamur endofit dan saprofit Trichoderma spp. tersebut
berpeluang dikembangkan sebagai biofungisida,
dekomposer dan bioaktivator pertumbuhan dan
pembungaan tanaman vanili. Untuk itu perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut tentang dosis
aplikasi endofit dan saprofit Trichoderma spp. pada
beberapa klon vanili. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui pengaruh dosis aplikasi jamur endofit
T. polysporum isolat ENDO-04 dan jamur saprofit
T. harzianum
isolat SAPRO-07 dalam
meningkatkan ketahanan terinduksi tanaman vanili
terhadap penyakit busuk batang Fusarium dan
pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman vanili.
METODE PENELITIAN
Percobaan
dilakukan di rumah plastik
Fakultas
Pertanian
Universitas
Mataram
menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan
perlakuan dosis aplikasi jamur endofit dan atau
saprofit Trichoderma spp. sebagai berikut:
d0 = Kontrol (tanpa endofit dan saprofit Trichoderma spp.)
d1 = ENDO-04 (T. polysporum) sebanyak 25 ml/stek vanili
d2 = ENDO-04 (T. polysporum) sebanyak 50 ml/stek vanili
d3 = ENDO-04 (T. polysporum) sebanyak 25 g/kg tanah
d4 = ENDO-04 (T. polysporum) sebanyak 50 g/kg tanah
d5 = SAPRO-07 (T. harzianum) sebanyak 25 g/kg tanah
d6 = SAPRO-07 (T. harzianum) sebanyak 50 g/kg tanah
d7 = SAPRO-07 (T. harzianum) sebanyak 25 ml/stek vanili
d8 = SAPRO-07 (T. harzianum) sebanyak 50 ml/stek vanili
d9 = ENDO-4 dan SAPRO-07 sebanyak 25 ml/stek vanili
d10 = ENDO-4 dan SAPRO-07 sebanyak 25 g/kg tanah
d11 = ENDO-4 dan SAPRO-07 sebanyak 50 ml/stek vanili
d12 = ENDO-4 dan SAPRO-07 sebanyak 50 g/kg tanah
Masing-masing perlakuan diulang tiga kali,
sehingga terdapat 39 unit percobaan. Stek klon
vanili berukuran panjang empat buku atau sepanjang
40 cm, diambil dari sulur yang belum pernah
berbunga dan dari pohon yang pernah berbuah dan
mempunyai ruas yang pendek. Sebelum disemai,
stek dicuci dengan air mengalir untuk
menghilangkan lendir yang terdapat pada ujungujung stek dan kotoran yang menempel.
Cara perlakuan sebagai berikut: untuk
perlakuan stek dengan cara merendam pangkal stek
vanili selama 30 masing-masing sebanyak 25 ml dan
50 ml suspensi jamur/stek, dan perlakuan tanah
dengan cara infestasi di sekitar rhizosfer sebanyak
masing-masing 25 g dan 50 g/kg tanah. Selanjutnya
stek vanili ditanam dalam polybag dengan
kemiringan antar 20 – 30o untuk memudahkan
perambatan sulur vanili pada ajir. Medium yang
digunakan untuk menanam stek vanili adalah tanah,
pasir dan pupuk kandang yang sudah disterilkan
dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v/v) sebanyak 3
kg dimasukkan dalam polybag berukuran 15 x 35
cm. Setelah satu minggu akan dilakukan inokulasi
dan tanpa inokulasi dengan suspensi spora jamur F.
oxysporum f.sp. vanillae sebanyak 25 ml suspensi
(kerapatan konidia 10 7/ml).
Peubah yang diamati adalah:
1. Masa inkubasi, pengamatan dilakukan setiap hari
sampai timbulnya gejala pertama.
2. Panjang pembusukan pada batang yang
dilakukan pada umur empat dan enam minggu
setelah tanam. Untuk menilai tingkat ketahanan
terinduksi bibit vanili terhadap penyakit busuk
batang maka dibuat kriteria reaksi ketahanan:
Tabel 1. Reaksi ketahanan bibit vanili terhadap
penyakit busuk batang
berdasarkan
persentase panjang pembusukan pada
batang
No.
1
2
3
4
5
6
Persentase
panjang
pembusukan pada
batang (P)
Tidak terinfeksi
1 % < P ≤ 10 %
11 % < P ≤ 30 %
31 % < P ≤ 60 %
61 % < P ≤ 80 %
81 % < P ≤ 100 %
Reaksi ketahanan
Sangat Tahan
Tahan
Agak Tahan
Agak Peka
Peka
Sangat Peka
3. Panjang tunas daun/sulur yang dilakukan umur
empat dan enam minggu setelah tanam.
Data semua hasil pengamatan dianalisis secara
statistik menggunakan Analisis Keragaman dengan
tingkat kebenaran 95 %, kemudian apabila antar
perlakuan berbeda nyata (signifikan) yang
ditunjukkan dengan F hitung ≥ F tabel maka
dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur dengan
tingkat kebenaran yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa
dosis aplikasi menunjukkan beda nyata terhadap
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.com
Volume 6, No. 2 Maret 2012
70 Media Bina Ilmiah
ISSN No. 1978-3787
masa inkubasi, panjang pembusukan pada batang
vanili.
Rata-rata
masa
inkubasi,
panjang
pembusukan dan panjang tunas daun/ sulur dan bibit
vanili berbunga disajikan pada Tabel 2 dan 3.
Tabel 2. Rata-rata masa inkubasi penyakit busuk
batang dan panjang pembusukan pada
batang vanili sebagai akibat berbagai
dosis aplikasi jamur endofit dan atau
saprofit Trichoderma spp.
No.
Dosis aplikasi jamur endofit
dan atau saprofit
Trichoderma spp.
Ratarata
masa
inkubasi
(hari)
Rata-rata
panjang
pembusuk
an (%)
1.
Kontrol (tanpa endofit dan
saprofit Trichoderma spp.)
ENDO-04 (T. polysporum)
sebanyak 25 ml/stek vanili
ENDO-04 (T. polysporum)
sebanyak 50 ml/stek vanili
ENDO-04 (T. polysporum)
sebanyak 25 g/kg tanah
ENDO-04 (T. polysporum)
sebanyak 50 g/kg tanah
SAPRO-07 (T. harzianum)
sebanyak 25 g/kg tanah
SAPRO-07 (T. harzianum)
sebanyak 50 g/kg tanah
SAPRO-07 (T. harzianum)
sebanyak 25 ml/stek vanili
SAPRO-07 (T. harzianum)
sebanyak 50 ml/stek vanili
ENDO-4 dan SAPRO-07
sebanyak 25 ml/stek vanili
ENDO-4 dan SAPRO-07
sebanyak 25 g/kg tanah
ENDO-4 dan SAPRO-07
sebanyak 50 ml/stek vanili
ENDO-4 dan SAPRO-07
sebanyak 50 g/kg tanah
BNJ 0,05
8,33*)
88,67*)
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,82
2,97
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
25 ml dan 50 ml/stek vanili dan 25 g dan 50 g/kg
tanah menyebabkan bibit vanili tidak terinfeksi oleh
penyakit busuk batang, sedang pada kontrol (tanpa
jamur endofit dan saprofit Trichoderma spp.) bibit
vanili terinfeksi penyakit busuk batang dengan masa
inkubasi rata-rata 8,33 hari dan panjang pembusukan
pada batang rata-rata 88,67 %. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa pemberian jamur endofit dan
saprofit Trichoderma spp. pada berbagai dosis dapat
meningkatkan ketahanan terinduksi bibit vanili
terhadap penyakit busuk batang.
Kemampuan dari jamur
ENDO-04 (T.
polysporum) dan SAPRO-07 (T. harzianum) dalam
mengendalikan penyakit busuk batang erat kaitannya
dengan kemampuan kedua jenis jamur ini dalam
mengendalikan jamur F. oxysporum f. sp. vanillae.
Hasil penelitian yang dilakukan Sudantha (2007)
menunjukkan bahwa secara in-vitro jamur ENDO-04
(T. polysporum) dan SAPRO-07 (T. harzianum)
dalam menekan pertumbuhan jamur F. oxysporum f.
sp. vanillae
melalui mekanisme
kompetisi,
mikoparasit dan antibiosis. Selain itu menurut Chet
dan Baker (1980 dalam Cook dan Baker, 1983),
jamur T. harzianum dan T. hamatum menghasilkan
enzim
ß-(1,3) glucanase dan chitinase yang
menyebabkan eksolisis pada hifa inang jamur
patogenik jamur Rhizoctonia solani dan Sclerotium
rolfsii. Lebih lanjut Chet dan Baker (1980 dalam
Cook dan Baker, 1983) mengungkapkan bahwa
jamur T. hamatum juga menghasilkan enzim
cellulase,
sehingga menambah kemampuannya
sebagai mikoparasit pada jamur Phytium spp.
Tabel 3. Rata-rata panjang tunas daun/sulur vanili
dan bibit vanili yang berbunga sebagai
akibat aplikasi jamur endofit dan atau
saprofit Trichoderma spp.
Keterangan: data 0 artinya bibit vanili
tidak
terinfeksi penyakit busuk batang sampai
berumur delapan minggu setelah
inokulasi patogen (pada analisis
keragaman
data
ditransformasikan
dalam Arcsin √ x + 0,5
*) Angka-angka pada setiap kolom yang
diikuti oleh huruf
yang sama tidak
berbeda nyata pada p ≤ 0,05.
Pada Tabel 2 terlihat bahwa aplikasi jamur
endofit dan saprofit Trichoderma spp. pada berbagai
dosis berpengaruh terhadap masa inkubasi dan
panjang pembusukan penyakit busuk batang. Jamur
ENDO-04 (T. polysporum),
SAPRO-07 (T.
harzianum) dan campuran
ENDO-04 dengan
SAPRO-07 yang diberikan masing-masing sebanyak
Pada Tabel 3 terlihat bahwa aplikasi jamur
endofit dan saprofit Trichoderma spp. ternyata tidak
saja dapat meningkatkan ketahanan terinduksi bibit
vanili terhadap penyakit busuk batang, tetapi juga
dapat memacu pertumbuhan vegetatif bibit vanili
yaitu
pemanjangan
tunas
daun/sulur
dan
pertumbuhan generatif yaitu pembentukan tunas
bunga lebih awal. Aplikasi jamur ENDO-04 (T.
_____________________________________
Volume 6, No. 2, Maret 2012
http://www.lpsdimataram.com
ISSN No. 1978-3787
Media Bina Ilmiah 71
…………………………………………………………………………………………………………
polysporum) yang diberikan masing-masing
sebanyak 25 ml dan 50 ml/stek vanili dan 25 g dan
50 g/kg tanah dapat memacu pemanjangan tunas
daun/sulur, sedang aplikasi jamur SAPRO-07 (T.
harzianum) dapat memacu pembentukan tunas
bunga dibandingkan dengan kontrol. Namun apabila
jamur ENDO-04 (T. polysporum) dan SAPRO-07
(T. harzianum) dicampur maka pengaruh jamur
ENDO-04 (T. polysporum) lebih dominan ke arah
pembentukan tunas daun/sulur dibandingkan dengan
jamur SAPRO-07 (T. harzianum) apabila
dibandingkan dengan jamur
ENDO-04 (T.
polysporum) dan SAPRO-07 (T. harzianum)
diaplikasikan sendiri-sendiri.
Kemampuan dari jamur SAPRO-07 (T.
harzianum) yang dapat memacu pembentukan tunas
bunga tersebut
diduga karena jamur ini
mengeluarkan substansi kimia atau hormon yang
didifusikan ke dalam jaringan tanaman vanili yang
dapat memacu pembungaan. Windham et al. (1986)
pernah melaporkan bahwa jamur T. harzianum dapat
meningkatkan
perkecambahan
benih
dan
pertumbuhan tanaman. Tronsmo dan Dennis (1977
dalam Cook dan Baker, 1983) melaporkan bahwa
penyemprotan konidia jamur T. viride dan T.
polysporum untuk melindungi tanaman strawberi
dari penyakit busuk
ternyata dapat memacu
pembungaan lebih awal.
Hormon
tumbuhan merupakan senyawa
organik yang disintesis di salah satu bagian
tumbuhan dan dipindahkan ke bagian lain, dan pada
konsentrasi
yang
sangat
rendah
mampu
menimbulkan suatu respon fisiologis.
Respon
tersebut dapat berupa memacu pertumbuhan batang,
daun, akar, bunga atau buah (Salisbury dan Ross,
1995). Dari empat macam auxin yaitu geberelin,
sitokinin, asam absisat dan etilen, diduga etilen
merupakan hormon yang dihasilkan oleh jamur
Trichoderma spp. yang dapat memacu pembungaan
pada bibit vanili. Menurut Salisbury dan Ross
(1995), beberapa jenis jamur yang hidup di tanah
dapat menghasilkan etilen. Diduga etilen yang
dilepaskan oleh jamur tersebut
membantu
mendorong perkecambahan biji, mengendalikan
pertumbuhan kecambah, memperlambat serangan
organisme patogen tular tanah, dan memacu
pembentukan bunga. Sebagai contoh penggunaan
etilen pada tanaman nanas dapat memacu sintesis
etilen pada tanaman tersebut sehingga memacu
pembungaan nanas. Contoh lainnya pada buah jeruk
yang terinfeksi oleh jamur menghasilkan etilen yang
memacu sintesis etilen pada tanaman sehingga
memacu pemasakan buah yang lebih cepat. Pada
tumbuhan berbiji semua bagian tumbuhan
menghasilkan etilen, baik pada akar, batang, daun
dan bunga. Etilen merupakan hormon yang mudah
menguap sehingga mudah berpindah dari satu organ
tanaman ke organ lainnya. Pengaruh etilen dalam
jaringan dapat meningkatkan sintesis enzim, jenis
enzimnya bergantung pada jaringan sasaran. Saat
etilen memacu gugur daun, sellulase dan enzim
pengurai dinding sel lainnya muncul di lapisan
absisi. Jika sel terluka, fenilalanin amonialiase
muncul, enzim ini penting dalam pembentukan
senyawa fenol yang berperan dalam pemulihan luka.
Jika jamur patogenik tertentu menyerang sel, etilen
mengterinduksi tanaman untuk membentuk dua
macam enzim yang menguraikan dinding sel jamur
tersebut, yaitu ß-(1,3) glucanase dan chitinase
(Boller, 1988 dalam Salisbury dan Ross, 1995).
PENUTUP
a. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Aplikasi jamur ENDO-04 (T. polysporum) dan
atau SAPRO-07 (T. harzianum), pada dosis 25
ml dan 50 ml/ stek vanili dan 25 g dan 50 g/kg
tanah efektif mengendaliakan penyakit busuk
batang Fusarium dan dapat meningkatkan
ketahanan terinduksi bibit vanili terhadap
penyakit busuk batang.
2. Aplikasi jamur ENDO-04 (T. polysporum)
dapat memacu pertumbuhan vegetatif yaitu
pemanjangan tunas daun/sulur pada bibit,
sedang SAPRO-07 (T. harzianum) dapat
memacu pertumbuhan generatif yaitu tunas
bunga pada bibit vanili. Aplikasi campuran
jamur ENDO-04 (T. polysporum) dengan
SAPRO-07 (T. harzianum) lebih memacu
pertumbuhan tunas daun/sulur dari pada tunas
bunga.
b.
Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat
disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut pada kondisi lapang terutama pada daerahdaerah endemis penyakit busuk batang Fusarium
menggunakan jamur ENDO-04 (T. polysporum) dan
SAPRO-07 (T. harzianum).
DAFTAR PUSTAKA
Abadi, A. L. 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan I Edisi
Pertama. Bayumedia Publishing dan
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya,
Malang Jawa Timur – Indonesia. 137 hal
Cook, R. J. and K. F. Baker. 1983. The Nature and
Practice of Biological Kontrol of Plant
Pathogens. The American Phytopathol.
Society, St. Paul MN. 539 p.
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.com
Volume 6, No. 2 Maret 2012
72 Media Bina Ilmiah
Davis, E. C., J. B. Franklin, A. J. Shaw and R.
Vilgalys.
2003.
Endophytic
Xylaria
(Xylariaceae) Among Liverworts and
Angiospermae: Phylogenetics, Distribution,
and SymSAPROis. American Journal of
Botany 9 (11): 1661 – 1667.
Hadisutrisno, B. 2005. Budidaya Vanili Tahan
Penyakit Busuk Batang. Penerbit Penebar
Swadaya, Depok. 87 p.
Petrini, O. 1993. Endophyt of Pteridium spp.: Some
Considerations for Biological Control.
Sydowia 45: 330 –338.
Redaksi Trubus, 2004. Panduan Praktis: Vanili Kiat
bebas Busuk Batang. Penerbit Majalah
Trubus, Jakarta. 16 hal.
Ruhnayat, A. 2004. Kiat Mengatasi Permasalahan
Praktis Bertanam Vanili Si Emas Hijau nan
Wangi. Agromedia Pustaka, Jakarta. 51 hal.
Salisbury, F. B. and C. W. Ross, 1995. Fisiology
Tumbuhan Jilid 3. Perkembangan tumbuhan
dan fisiologi Tumbuhan (Terjemahan D. R.
Lukman dan Sumaryono). Penerbit ITB
Bandung.
ISSN No. 1978-3787
Sudantha, I. M. dan A. L. Abadi. 2006. Biodiversitas
Jamur endofit Pada Vanili (Vanilla
planifolia Andrews) dan Potensinya Untuk
Meningkatkan Ketahanan Vanili Terhadap
Penyakit Busuk Batang. Laporan Penelitian
Fundamenatal DP2M DIKTI. Fakultas
Pertanian Universitas Mataram, Mataram
107 hal.
Sudantha, I. M. Dan A. L. Abadi. 2007. Sinergisme
Jamur Saprofit dan Endofit Antagonistik
Dalam Meningkatkan Ketahanan Terinduksi
Bibit Vanili Terhadap Penyakit Busuk
Batang Fusarium. Laporan Penelitian
Fundamenatal DP2M DIKTI. Fakultas
Pertanian Universitas Mataram, Mataram
105 hal.
Sukamto dan M. Tombe. 1995. Antagonisme
Trichoderma viride terhadap Fusarium
oxysporum f. sp. vanillae secara In-Vitro.
Risalah Kongres Nasional XIII dan Seminar
Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia
di Mataram. 600 – 604.
Windham, M., Y. Elad and R. Baker. 1986. A
Mechanism of Increased Plant Growth
Induced
by
Trichoderma
spp.
Phytopathology 76: 518 - 521.
_____________________________________
Volume 6, No. 2, Maret 2012
http://www.lpsdimataram.com
Download