Templat tugas akhir S1

advertisement
PENGARUH PEMBERIAN MINYAK SAWIT DAN
VITAMIN D DALAM RANSUM TERHADAP
KUALITAS TELUR AYAM ISA-BROWN
UMUR 60-67 MINGGU
MUSFIROH AHADI NURFITRI
ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Pemberian
Minyak Sawit dan Vitamin D dalam Ransum terhadap Kualitas Telur Ayam ISABrown Umur 60-67 Minggu adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, September 2014
Musfiroh Ahadi Nurfitri
NIM D24100042
ABSTRAK
MUSFIROH AHADI NURFITRI. Pengaruh Pemberian Minyak Sawit dan
Vitamin D dalam Ransum terhadap Kualitas Telur Ayam ISA-Brown Umur 60-67
Minggu. Dibimbing oleh SUMIATI dan WIDYA HERMANA.
Masalah utama yang terjadi di akhir periode produksi telur adalah
menurunnya kualitas kerabang seiring dengan bertambahnya umur ayam dan
penurunan kemampuan menyerap kalsium. Penelitian ini bertujuan mengkaji
pengaruh ransum yang menggunakan minyak sawit dan suplementasi vitamin D
terhadap kualitas telur dari ayam tua. Penelititian ini menggunakan 96 ekor ayam
ISA-Brown umur 60-67 minggu dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola
faktorial 2x2 dan 4 ulangan. Faktor I adalah minyak sawit (MS) dan faktor II
adalah suplementasi vitamin D(SVD). Ransum yang digunakan adalah ransum 3%
MS+0 IU kg-1 SVD (R1), 3% MS+3500 IU kg-1 SVD (R2), 6% MS+0 IU kg-1
SVD (R3), dan 6% MS+3500 IU kg-1 SVD (R4). Suplementasi vitamin D
(p<0.05) meningkatkan bobot dan tebal kerabang, serta skor warna yolk. Interaksi
antara kedua faktor berpengaruh sangat nyata (p<0.01) pada bobot yolk dan nyata
(p<0.05) pada persentase bobot yolk. Suplementasi Vitamin D mampu
meningkatkan kualitas kerabang dan komponen telur lainnya. Jumlah lipid yang
sesuai membantu absorbsi vitamin D dan interaksinya berpengaruh dalam
metabolisme produksi telur.
Kata kunci: kualitas telur, minyak sawit, vitamin D
ABSTRACT
MUSFIROH AHADI NURFITRI. The Effect of Using Palm Oil and Vitamin D
Supplementation on Egg Quality of ISA-Brown Laying Hens Aged 60-67 Weeks.
Supervised by SUMIATI and WIDYA HERMANA
The main problem in the last period of egg production is the decline of egg shell
quality as hens grow older and their ability for calcium absorption. This
experiment was aimed to study the effect of palm oil levels and vitamin D
supplementation on egg quality of old hen. The experiment used 96 ISA-Brown
laying hens aged 60-67 weeks and was conducted in 2x2 completely randomized
factorial design with 4 replicants. Factor I was palm oil (PO) and factor II was
vitamin D supplementation (VDS). The treatment diets were: diet containing 3%
PO+0 IU kg-1 VDS (R1), 3% PO+3500IU kg-1 VDS (R2), 6% PO+0 IU kg-1 VDS
(R3), and 6% PO+3500IU kg-1 VDS (R4). The results showed that vitamin D
suplementation increased (p<0.05) the egg shell weight, egg shell thickness, and
yolk color score. Interaction between oil levels and vitamin D suplementation had
significantly (p<0.01) affected the egg yolk weight and (p<0.05) affected the egg
yolk weight percentage. The appropiate amount of lipid is needed for vitamin D
absorbtion and their interaction influences in metabolism of egg production.
Keywords: egg quality, palm oil, vitamin D
PENGARUH PEMBERIAN MINYAK SAWIT DAN
VITAMIN D DALAM RANSUM TERHADAP
KUALITAS TELUR AYAM ISA-BROWN
UMUR 60-67 MINGGU
MUSFIROH AHADI NURFITRI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Judul Skripsi: Pengaruh Pemberian Minyak Sawit dan Vitamin D dalam Ransum
terhadap Kualitas Telur Ayam ISA-Brown Umur 60-67 Minggu
Nama
: Musfiroh Ahadi Nurfitri
NIM
: D24100042
Disetujui oleh
Dr Ir Sumiati, MSc
Pembimbing I
Dr Ir Widya Hermana, MSi
Pembimbing II
Diketahui oleh
Prof Dr Ir Panca Dewi MHKS, MS
Ketua Departemen
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan limpahan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Minyak Sawit dan
Vitamin D dalam Ransum terhadap Kualitas Telur Ayam ISA-Brown Umur 60-67
Minggu”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi vitamin D
dan taraf minyak sawit dalam ransum pada ayam petelur tua terhadap kualitas
telur yang dihasilkan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk kelulusan dan
memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi
Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pada akhir periode produksi, kualitas kerabang telur yang dihasilkan
menurun dilihat dari ketebalan, kekuatan, dan berat jenis serta persentase
keretakan yang meningkat. Vitamin D berfungsi mengatur penyerapan kalsium
sebagai komponen utama penyusun kerabang telur. Vitamin D merupakan vitamin
larut lemak sehingga pemberian jumlah minyak sawit yang sesuai diharapkan
mampu memberikan jumlah minyak yang sesuai untuk pelarutan vitamin D.
Penulis menyadari penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Kritik,
saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmiah ini
bermanfaat bagi pembaca secara umumnya.
Bogor, September 2014
Musfiroh Ahadi Nurfitri
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
METODE
Bahan
Alat
Lokasi dan Waktu
Prosedur Penelitian
Persiapan kandang dan peralatan
Pemeliharaan
Pengambilan telur
Rancangan Percobaan dan Analisis data
Rancangan Percobaan
Peubah yang Diamati
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bobot Utuh Telur
Kuning Telur (Yolk)
Kerabang
Putih Telur
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
UCAPAN TERIMA KASIH
vi
vi
1
2
2
3
3
3
3
3
3
4
4
4
6
7
7
8
9
9
9
9
9
11
13
13
DAFTAR TABEL
1. Komposisi dan kandungan nutrien ransum penelitian
2. Rataan kualitas telur ayam petelur selama 6 minggu
2
6
DAFTAR LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Hasil analisis ragam bobot utuh telur
Hasil analisis ragam bobot putih telur
Hasil analisis ragam persentase bobot putih telur
Hasil analisis ragam bobot kuning telur
Hasil analisis ragam persentase bobot kuning telur
Hasil analisis ragam persentase bobot kuning telur
Hasil analisis ragam persentase bobot kerabang telur
Hasil analisis ragam tebal kerabang telur
Hasil analisis ragam skor warna kuning telur
Hasil analisis ragam tinggi albumin
11
11
11
11
11
12
12
12
12
12
PENDAHULUAN
Konsumsi telur semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk dan kesadaran penduduk Indonesia akan pentingnya protein hewani.
Telur banyak dipilih untuk memenuhi kebutuhan protein hewani disamping
karena harganya yang relatif terjangkau juga memiliki asam amino yang lengkap.
Konsumsi telur ras perkapita di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 6.15 kg tahun-1
dengan produksi telur 201 000 ton. Sementara pada tahun 2012 produksi telur ras
197 000 ton dan konsumsi perkapita 6.52 kg tahun-1 (Kementan 2013).
Peningkatan produksi telur sejalan dengan meningkatkan populasi ayam
petelur. Selain dengan peningkatan jumlah pullet, populasi ayam produktif juga
bisa ditingkatkan dengan cara memperpanjang umur produktif ayam petelur.
Dilain sisi pullet merupakan biaya terbesar selain ransum dalam usaha peternakan
ayam petelur.
Leeson dan Summer (2005) membagi periode pemeliharaan ayam petelur
berdasarkan siklus produksi telur menjadi 4, fase 1(18-32 minggu), fase 2(32-45
minggu), fase 3(45-60 minggu), dan fase 4(60-70 minggu). Setelah mencapai
puncak produksi maka produksi telur akan terus menurun hingga diafkir karena
tidak ekonomis lagi untuk dilakukan pemeliharaan.
Lambrou (1986) menyatakan bahwa breeding, nutrisi, lingkungan dan
manajemen penanganan telur berpengaruh terhadap kualitas telur. Nutrisi sangat
bergantung kepada pencernaan dan absorsi dari saluran pencernaan. Semakin
meningkatnya umur, kemampuan organ-organ makhluk hidup untuk
bermetabolisme akan semakin menurun. Pada akhir periode produksi, kualitas
kerabang telur yang dihasilkan menurun. Berat telur akan meningkat sejalan
dengan umur ternak dan kualitas kerabang telur akan menurun dilihat dari
ketebalannya, kekuatan dan berat jenis serta persentase keretakan dan cacat
kerabang telur yang meningkat. Selain itu, telur juga tidak sekental biasanya atau
bisa dikatakan telur lebih banyak mengandung air.
Vitamin D berfungsi mengatur penyerapan kalsium sebagai komponen
utama penyusun kerabang telur (Murray et al. 2009). Vitamin D ini termasuk
vitamin larut dalam lemak. Pada dasarnya, absorbsi dan distribusi vitamin larut
dalam lemak mengikuti pola dari pencernaan, absorbsi, distribusi, dan
dekomposisi dari lemak (Riis 1983).
Minyak sawit merupakan bahan pakan sebagi sumber energi yang mudah
ditemui dan memiliki kandungan lemak kasar yang tinggi. Komposisi lemak
minyak sawit juga memiliki banyak kelebihan dibandingkan minyak lainnya
untuk bahan pakan. Jumlah lemak jenuh dan tidak jenuh minyak sawit cukup
seimbang, tidak mengandung lemak trans serta kandungan karetenoid yang cukup
tinggi yang baik untuk produksi telur.
Kualitas telur terdiri dari kualitas eksterior atau kerabang dan juga kualitas
interior yang merupakan isi dari telur (putih telur dan kuning telur). Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian minyak sawit dalam ransum dan
penambahan vitamin D terhadap kualitas telur pada ayam ISA-Brown umur 60-67
minggu.
2
METODE
Bahan
Ternak
Penelitian ini menggunakan 96 ekor ayam petelur strain ISA-brown umur
60 minggu dengan rata-rata bobot badan awal pemeliharaan sebesar 1.46-1.70 kg
dan dialokasikan ke dalam 4 perlakuan yang merupakan kombinasi dari perlakuan
taraf minyak sawit dan penambahan vitamin D3 dengan 4 ulangan secara acak,
dan setiap ulangan terdiri atas 6 ekor ayam.
Ransum
Ransum diberikan dalam bentuk mash, bahan pakan penyusun ransum yang
digunakan adalah jagung kuning, dedak halus, minyaak sawit, bungkil kedelai,
CaCO3, tepung ikan, CGM, DCP, NaCl,. premix, dan DL-Methionin. Ransum
disusun berdasarkan rekomendasi Leeson dan Summers (2005). Vitamin D3 yang
digunakan berbentuk serbuk sehingga langsung dicampurkan dengan ransum
menggunakan mixer. Berdasarkan rekomendasi Leeson dan Summer (2005)
kebutuhan vitamin D untuk ayam petelur yakni sebesar 3500 IU kg-1 ransum
sehingga dalam pembuatan ransum perlakuan sebanyak 120 kg ditambahkan
17.15 mg Vitamin D3 500. Komposisi dan kandungan nutrien ransum disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi dan kandungan nutrien ransum penelitian
Bahan Pakan
Jagung Kuning (%)
Dedak Halus (%)
Bungkil Kedelai (%)
CGM (%)
Tepung Ikan(%)
Minyak sawit (%)
DCP (%)
CaCO3(%)
Dl-Methionine (%)
NaCl (%)
Premix (%)
Total (%)
Suplemen Vit D (IU kg-1)
Kadar Air (%)*
Abu (%)*
Protein Kasar (%)*
Lemak Kasar (%)*
Serat Kasar (%)*
Vitamin D** (IU kg-1)
R1
51.5
6.0
16.5
5.0
7.0
3.0
1.0
9.5
0.1
0.2
0.2
100.0
0
11.69
17.11
15.79
3.61
2.81
-
R2
51.5
6.0
16.5
5.0
7.0
3.0
1.0
9.5
0.1
0.2
0.2
100.0
3500
11.69
17.11
15.79
3.61
2.81
3500
R3
39.5
15.0
16.0
4.0
8.5
6.0
1.5
9.0
0.1
0.2
0.2
100.0
0
12.35
17.92
12.77
5.52
4.99
-
R4
39.5
15.0
16.0
4.0
8.5
6.0
1.5
9.0
0.1
0.2
0.2
100.0
3500
12.35
17.92
12.77
5.52
4.99
3500
R1=minyak sawit 3% + 0 IU kg-1 vitamin D; R2=minyak sawit 3% + 3500IU kg-1 vitamin D;
R3=minyak sawit 6% + 0 IU kg-1 vitamin D; R4=minyak sawit 6% + 3500IU kg-1 vitamin D;
*Hasil Analisa Proksimat Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB 2014);
**Berdasarkan jumlah vitamin yang ditambahkan (5 000 000 IU vitamin D3 g-1 diproduksi oleh
Trouw Nutrition).
3
Alat
Kandang yang digunakan adalah kandang baterai sebanyak 48 petak
masing-masing petak berisi 2 ekor ayam yang terbuat dari kawat dan dilengkapi
dengan tempat ransum dan tempat air minum. Ukuran setiap petak kandang
adalah panjang 92 cm, lebar 47 cm dan tinggi 44 cm.
Peralatan lain yang digunakan adalah lampu sebagai alat penerangan, egg-tray,
timbangan digital, jangka sorong digital (digital caliper), yolk colour fan, cawan petri,
pisau, meja kaca, tisu, dan alkohol 70%.
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Blok C, Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, analisis kualitas telur dilakukan di
Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi
Pakan pada bulan Oktober hingga Desember 2013.
Prosedur Penelitian
Persiapan Kandang dan Peralatan
Persiapan kandang dimulai dengan memasang kandang berupa kandang
baterai yang terbuat dari kawat sebanyak 48 buah, setiap kandang berisi 2 ekor
ayam. Sebelum kandang dan peralatan lainnya seperti tempat ransum dan air
minum akan digunakan maka dibersihkan terlebih dahulu, setelah itu dilakukan
pengapuran pada kandang dan diberi disinfektan. Ayam sebanyak 96 ekor dibagi
dalam 4 perlakuan dengan 4 ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 6 ekor.
Ayam-ayam tersebut ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui bobot badan
awal sebelum masuk pada perlakuan kemudian dilakukan pengacakan.
Pemeliharaan
Pemeliharaan dilaksanakan selama 7 minggu dengan masa adaptasi
ransum selama 1 minggu. Selama penelitian, ransum diberikan dalam jumlah yang
sama untuk setiap satuan ternak dan air minum diberikan ad libitum. Pemberian
ransum dan minum dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari yaitu pada saat pagi,
dan sore hari. Telur yang diproduksi setiap harinya ditimbang menggunakan
timbangan digital, penimbangan dan penghitungan ransum yang dikonsumsi
dilakukan setiap minggu penelitian.
Pengambilan Telur
Telur diambil setiap minggu sekali sejak memasuki minggu kedua dan
pengambilan telur dilakakukan pada hari yang sama setiap minggunya. Dua butir
telur setiap ulangan untuk mewakili analisa kualitas telur diambil secara acak.
4
Rancangan dan Analisa Data
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan
rancanganacak lengkap pola faktorial 2x2 dengan 4 ulangan. Faktor pertama
adalah minyak sawit (3% dan 6%) dan faktor kedua yaitu penambahan vitamin D
(0 IU kg-1 dan 3500 IU kg-1). Model matematis yang digunakan menurut Steel dan
Torrie (1991) adalah :
Yijk = μ+ αi + βj + (αβ)ij + εijk
Keterangan :
Yijk = Nilai parameter peubah yang diamati pada ulangan ke-k dari faktor I
(Minyak sawit) ke-i dan faktor II (Vitamin D) ke-j
μ
= Nilai rataan umum
αi
= Pengaruh Minyak sawit ke-i terhadap peubah (i1 dan i2)
βj
= Pengaruh Vitamin D ke-j terhadap peubah (j1dan j2)
(αβ)ij = Interaksi antara pengaruh Minyak sawit ke-i dan Vitamin D ke-j terhadap
peubah
Εijk = Pengaruh galat percobaan
Perlakuan yang diberikan adalah :
R1 = Minyak sawit 3% + 0 IU kg-1 vitamin D
R2 = Minyak sawit 3% + 3500IU kg-1 vitamin D
R3 = Minyak sawit 6% + 0 IU kg-1 vitamin D
R4 = Minyak sawit 6% + 3500IU kg-1 vitamin D
Pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati, maka data yang
diperoleh dianalisis sidik ragam (ANOVA). Jika didapatkan hasil berbeda nyata
maka dilakukan uji Duncan (Steel and Torrie 1993).
Peubah yang Diamati
Pengambilan data kualitas telur dilakukan pada minggu kedua setelah
perlakuan sampai minggu kedelapan (selama 6 minggu). Peubah yang diamati
dalam penelitian ini adalah kualitas telur yang meliputi bobot telur utuh, bobot
putih telur, bobot kuning telur, skor warna kuning telur, bobot kerabang, tebal
kerabang, dan nilai Haugh Unit.
Bobot Utuh Telur
Bobot utuh telur ayam diperoleh dengan mengukur bobot dari keseluruhan
telur ayam menggunakan timbangan digital dengan satu digit dibelakang koma
dalam satuan gram (g).
Bobot dan Persentase Albumin
Bobot putih telur (albumin) diperoleh setelah albumin dikeluarkan dari
kerabang dan dipisahkan dari kuning telur, kemudian ditimbang menggunakan
timbangan digital dengan satu digit dibelakang koma dalam satuan gram (g).
Persentase albumin diperoleh dari hasil persentase bobot putih telur dalam satuan
gram (g) terhadap bobot utuh telur dalam satuan gram (g).
5
Tinggi Albumin
Tinggi albumin diperoleh pada saat telur utuh dipecah, kemudian diukur
tinggi putihnya dengan menggunkan alat jangka sorong.
Bobot dan Persentase Kuning Telur (Yolk)
Bobot yolk diperoleh setelah yolk dikeluarkan dari kerabang dan dipisahkan
dari putih telur, kemudian ditimbang menggunakan timbangan digital dengan satu
digit dibelakang koma dalam satuan gram (g). Persentase yolk diperoleh dari hasil
persentase bobot yolk dalam satuan gram (g) terhadap bobot utuh dalam satuan
gram (g).
Skor Warna Yolk
Pengamatan skor warna yolk dilakukan dengan cara membandingkan warna
pada kuning telur dengan standar roche yolk colour fan dengan skala 1-15
(Vuilleumir 1987).
Bobot dan Persentase Tebal Kerabang
Bobot kerabang diperoleh setelah semua isi telur dikeluarkan dari kerabang
dan dibersihkan membran kerabangnya, kemudian ditimbang menggunakan
timbangan digital dengan satu digit dibelakang koma dalam satuan gram (g).
Persentase kerabang diperoleh dari hasil persentase bobot kerabang dalam satuan
gram (g) terhadap bobot utuh dalam satuan gram (g).
Tebal Kerabang
Pengukuran tebal kerabang dilakukan pada tiga bagian kerabang telur yakni
pada bagian runcing, tengah, dan pada bagian tumpul. Sampel kerabang yang
diukur dipisahkan dari selaput membran (membran telur). Tebal kerabang telur
diperoleh dengan pengukuran menggunakan micrometer.
Haugh Unit
Haugh unit (HU), merupakan ukuran kualitas protein telur berdasarkan
tinggi albumin yang diukur menggunakan jangka sorong dengan satuan milimeter
(mm) dan bobot telur dalam satuan gram (g). Menurut Mountney (1976), nilai HU
dihitung dengan rumus berikut:
0.37
HU = 100 x log (h - 1.7w + 7.57)
Keterangan :
HU = Nilai haugh unit
h = Tinggi albumin (mm)
w = Bobot telur (g)
Nilai HU yang didapatkan kemudian digunakan untuk mengetahui
kategori kualitas telur (USDA 1983). Analisis sidik ragam tidak dilakukan pada
nilai HU.
6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas telur diamati mulai minggu kedua perlakuan hingga akhir
pemeliharaan. Hasil pengujian kualitas telur disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Rataan kualitas telur ISA-Brown selama 6 minggu (Umur 62-67 minggu)
Penambahan Vit D
Minyak
sawit
-1
0 IU kg
3%
6%
Rataan
57.59±3.28
59.03±16
58.31±1.02
3%
6%
Rataan
13.68±0.52ab
14.57±0.62ab
14.13±0.63
3%
6%
Rataan
23.83±0.87ab
24.69±0.67ab
24.26±0.61
3%
6%
Rataan
7.32±06
7.36±0.42
7.34±0.03b
3%
6%
Rataan
6.44±0.26
6.61±0.12
6.52±0.12b
3%
6%
Rataan
11.21±0.69
11.22±0.29
11.22±0.01
3%
6%
Rataan
0.31±0.03
0.31±0.01
0.31±0.01b
3%
6%
Rataan
37.46±2.80
37.85±1.45
37.66±0.27
3%
6%
Rataan
64.96±1.36
64.09±0.77
64.53±0.62
3%
6%
Rataan
7.12±0.49
7.55±0.28
7.33±0.30
-1
3500IU kg
Rataan
Probabilitas*
Minyak sawit Vit D Interaksi
Bobot Utuh Telur (gram)
59.17±177
58.38±1.12
0.971
57.80±0.92
58.42±0.87
(TN)
58.49±0.97
Bobot Kuning Telur (gram)
14.60±0.41a
14.14±0.65
0.957
13.74±0.47b
14.16±0.59
(TN)
14.17±0.61
Bobot Kuning Telur (%)
24.69±0.49a
24.26±0.61
0.976
23.84±0.73b
24.27±0.60
(TN)
24.26±0.60
Skor Warna Kuning Telur
7.72±0.38
7.52±0.28
0.738
7.80±0.11
7.58±0.31
(TN)
7.76±0.06a
Bobot Kerabang (gram)
6.83±0.30
6.64±0.28
0.350
6.91±0.30
6.76±0.22
(TN)
6.87±0.06a
Bobot Kerabang (%)
11.57±0.81
11.39±0.25
0.466
12.00±0.39
11.61±0.55
(TN)
11.79±0.31
Tebal Kerabang (mm)
0.33±0.02
0.32±0.01
0.908
0.33±0.02
0.32±0.01
(TN)
0.33±0.00a
Bobot Putih Telur (gram)
37.74±1.74
37.60±0.19
0.915
37.15±0.57
37.50±0.50
(TN)
37.44±0.42
Bobot Putih Telur (%)
63.74±1.02
64.35±0.86
0.640
64.16±0.46
64.12±0.05
(TN)
63.95±0.29
Tinggi Albumin (mm)
7.56±0.56
7.34±0.31
0.383
7.54±0.37
7.54±0.01
(TN)
7.55±0.02
Haugh Unit
0.875
(TN)
0.871
(TN)
0.231
(TN)
0.007
(SN)
0.992
(TN)
0.037
(N)
0.041
(N)
0.925
(TN)
0.019
(N)
0.761
(TN)
0.077
(TN)
0.485
(TN)
0.045
(N)
0.908
(TN)
0.824
(TN)
0.612
(TN)
0.264
(TN)
0.355
(TN)
0.214
(TN)
0.334
(TN)
3%
82.77±3.24
83.10±1.68
82.93±0.23b
6%
86.46±1.62
86.52±1.97
86.49±0.05a
Rataan
84.61±2.61
84.81±2.42
* p>0.05 adalah TN (Tidak Nyata); p<0.05 adalah N(Nyata); p<0.01 adalah SN (Sangat Nyata)
7
Bobot Utuh Telur
Semakin tua umur ayam maka telur yang diproduksi akan semakin besar.
Rataan bobot utuh telur pada penelitian ini antara 57.59-59.03 g. Ukuran telur
yang mampu dihasilkan ISA-brown umur 60-67 minggu berkisar 65.5 g-65.7 g
(Hendrix Genetic Company 2009). Telur penelitian memiliki bobot sekitar 90%
dari bobot telur standar ISA-brown. Bobot telur penelitian yang lebih rendah
dipengaruhi karena konsumsi pakan yang lebih rendah dari panduan manajemen
pemeliharaan yakni konsumsi rataan penelitian 83 g hari-1 dibandingkan 125 g
hari-1. Faktor manajamen secara keseluruhan juga mempengaruhi terhadap bobot
telur yang dihasilkan selama penelitian. Faktor lingkungan seperti suhu yang
tinggi juga mempengaruhi penurunan bobot utuh telur yang diproduksi. Menurut
Gumilar (2014) rataan suhu lingkungan penelitian pada bulan Juni berkisar
24.84 ºC pada pagi hari, 31.04 ºC pada siang, dan 28.88 ºC pada sore. Bobot telur
yang dihasilkan pada bulan itu juga lebih rendah dibandingkan standar ISA dan
diduga karena pengaruh suhu kandang pemeliharaan yang tinggi. Yuwanta (2010)
menyebutkan suhu yang optimal untuk ayam petelur berkisar 20 ºC-28 ºC.
Ukuran telur terdiri atas ukuran kecil yaitu dengan berat telur kurang dari
47.2 g, ukuran medium dengan berat telur 47.2 g-54.2 g, ukuran besar dengan
berat telur 54.4 g-61.4 g dan ukuran jumbo dengan berat telur lebih dari 61.5 g
(North dan Bell 1990).
Analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh (p>0.05)
terhadap bobot utuh telur. Ukuran telur yang dihasilkan akan meningkat seiring
dengan fungsi organ ternak yang semakin meningkat hingga di umur yang relatif
tua dan kemampuan organ menurun ukuran telur akan tetap relatif besar.
Kuning Telur (Yolk)
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa interaksi suplementasi vitamin
D dan level minyak sawit memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0.01)
terhadap bobot kuning telur dan beda nyata (p<0.05) terhadap persentase bobot
kuning telur. Pengaruh paling baik berdasarkan uji lanjut Duncan didapatkan dari
minyak sawit 3% dan suplementasi vitamin D 3500 IU kg-1 dengan rataan bobot
yolk 14.60±0.41 g atau 24.69% dari bobot utuh. Perlakuan minyak sawit 3%
tanpa suplementasi vitamin D menghasilkan rataan bobot yolk paling rendah
dengan 13.74±0.47 g atau 23.84% dari bobot utuh.
Persentase bobot yolk terhadap bobot utuh telur berkisar antara 23.83%24.69%. Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa persentase yolk berkisar
30%-32%. Yuwanta (2010) menegaskan bahwa peningkatan bobot telur karena
meningkatnya jumlah putih telur sementara bobot kuning telur relatif stabil.
Persentase yolk terhadap bobot telur utuh akan semakin menurun pada umur
ayam yang semakin tua.
Komposisi asam lemak minyak sawit terdiri dari sekitar 40% asam oleat
(tidak jenuh tunggal), 10% asam linoleat (tidak jenuh ganda), 44% asam palmitat
(jenuh) dan 4,5% asam stearat (jenuh) (Hariyadi 2010). Proporsi asam lemak
jenuh dan tidak jenuh minyak sawit dikatakan proporsional dan baik untuk pakan
unggas.
Yolk tersusun atas 50% air, 30%-35% lipoprotein, dan 15%-20% protein
(Riis 1983). Minyak sawit mengadung lemak kasar sejumlah 98% dan lemak
8
jenuh 50% (NRC 1994). Jumlah lemak dari ransum minyak 3% dan suplementasi
3500 IU kg-1 menghasilkan yolk yang lebih besar.
Suplementasi vitamin D berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap skor kuning
telur. Suplementasi 3500 IUkg-1 vitamin D memberikan skor yang lebih tinggi
atau warna yang semakin cerah dibandingkan tanpa suplementasi (0 IUkg-1)
dengan rataan nilai 7.76 dibanding 7.34. Warna kuning telur sangat dipengaruhi
oleh xanthofil yang terkandung pada bahan ransum (Thomson 1975).
Xanthofil merupakan karotenoid oksidatif dan umumnya unggas mampu
menyerapnya dengan baik (Hudon 1994). Tahapan pencernaan karotenoid dimulai
dari pencernaan bahan pakan, pembentukan misel lipid, membawa karotenoid ke
sel mukosa usus dan kemudian menuju ke plasma darah melalui sistem limfa
(Williams et al. 1963). Baik xanthophil maupun vitamin D yang sama-sama
berada di misel lipid telah terjadi interaksi yang memungkinkan absorbsi
xanthophil lebih optimal karena adanya vitamin D. Interaksi yang mungkin terjadi
sama dengan vitamin E yang mampu meningkatkan pigmentasi yolk (Surai 2001).
Suplementasi vitamin D terbukti mampu menghasilkan yolk dengan warna lebih
cerah.
Kerabang Telur
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D berpengaruh
nyata (p<0.05) terhadap bobot dan tebal kerabang. Suplementasi vitamin D 3500
IU kg-1 menghasilkan bobot dan tebal kerabang yang lebih tinggi dibandingkan
ransum tanpa suplementasi vitamin D (0 IU kg-1). Suplementasi vitamin D 3500
IUkg-1 menghasilkan rataan bobot kerabang 6.87±0.06 g dengan rataan tebal
kerabang 0.33 mm sedangkan tanpa suplementasi 6.52±0.12 g dan 0.31 mm.
Menurut Idris dan Thohari (1998) telur ayam yang ideal memiliki tebal kerabang
berkisar antara 0.33 mm-0.36 mm sehingga suplementasi vitamin D pada ayam
petelur pada fase 4 penting diberikan untuk meningkatkan ketebalan kerabang
telur.
Kalsium sebagai komponen utama penyusun kerabang telur diabsorbsi di
jejunum dan memerlukan spesifik protein kalbindin agar bisa diabsorbsi. Vitamin
D3 atau cholecalciferol berperan sebagai prohormon, di dalam hati diubah
menjadi
25-hydroxycholecalciferol
kemudian
menjadi
1.25-hydroxycholecalciferol dengan radiasi sinar UV.1.2(OH)2D3 sebagai metabolit aktif akan
menstimulus sintesis protein kalbindin sehingga absorbsi kalsium bisa terjadi
(Deluca dan Schnoes 1976).
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas kerabang menurun seiring
bertambahnya umur ayam (Roland 1979, Rajkumar et al. 2009). Ukuran telur
meningkat sejalan dengan umur ayam namun bobot kerabang cenderung tetap
atau bahkan menurun. Ketidakmampuan ayam dalam memproduksi kerabang
yang lebih banyak ini berkaitan dengan aktivitasi 1,25-dihydroxycholecalciferol,
bentuk aktif dari vitamin D (Joyner et al. 1987). Vitamin D yang digunakan dalam
suplementasi ini adalah vitamin D3 yang sudah dalam bentuk aktif atau
1.2(OH)2D3 sehingga tidak memerlukan sinar ultraviolet (UV) untuk aktivasinya
agar menjadi metabolit aktif.
Hasil penelitian tidak menunjukkan perbedaan nyata (p>0.05) terhadap
persentase bobot kerabang yang memiliki rentang antara 11.22%-11.79%.
Meskipun hasilnya tidak signifikan, persentase bobot kerabang yang dihasilkan
9
ransum dengan suplementasi vitamin D memiliki nilai yang lebih tinggi
dibandingkan dengan Bell dan Weaver (2002), yaitu berkisar 10%-12% dari bobot
telur.
Putih Telur (Albumin)
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak mempengaruhi
(p>0.05) bobot putih telur (albumin), persentase bobot albumin, dan tinggi
albumin. Persentase putih telur sekitar 58%-60% dari bobot telur (Bell dan
Weaver 2002) dan persentase putih telur hasil penelitian adalah 63.74%-64.96%.
Haugh unit (HU) yaitu hubungan tinggi albumin dengan keseluruhan bobot
telur serta suhu internal telur merupakan dasar pengukuran indeks mutu telur.
Nilai HU telur hasil penelitian berkisan 82.77-86.52 dan termasuk kedalalam
kategori AA. USDA 1983 membagi telur menjadi 3 kategori berdasarkan nilai
HU, kategori AA memiliki nilai HU 72 atau lebih, kategori A 60-72, dan kategori
B 45-60.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Minyak sawit 3% dan suplementasi vitamin D 3500 IU kg-1 meningkatkan
bobot kuning telur. Suplementasi vitamin D pada ayam memasuki periode afkir
memperbaiki kualitas kerabang baik tebal kerabang dan bobotnya, serta skor
warna kuning telur yang diproduksi. Seluruh nilai Haugh Unit pada semua
perlakuan baik vitamin D maupun minyak sawit berada pada kisaran 82-86 dan
termasuk kategori AA.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan guna mengetahui jumlah optimal lemak
untuk absorbsi vitamin D yang berada pada kisaran 3%-6% tanpa merubah jumlah
suplementasi vitamin D serta mengkaji pengaruh suhu lingkungan pemeliharaan.
DAFTAR PUSTAKA
Bell DD, WeaverWD. 2002. Commercial Chicken Production Meat and Egg. 5th
Edition. Massachusetts (US): Kluver Academic Publishers
Deluca HF, Schnoes HK. 1976. Metabolism and mechanism of action of vitamin
D. Annual Rev Biochem. 45:631-666
Gumilar TC. 2014. Pengaruh suplementasi vitamin E dan selenium dalam ransum
terhadap kualitas telur dan profil darah ayam petelur umur 45-50 minggu.
[Skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.
Hariyadi P. 2010. Sepuluh karakter unggul minyak sawit. Artikel. [Oktober 2010].
SEAFAST-IPB.
10
Hudon J. 1994. Biotechnological applications of research on animal pigmentation.
Biotech Advances. 12: 49-69.
Hendrix Genetic Company. 2009. Product Performance ISA [internet]. [diunduh]
2013 Desember 14. Tersedia dari http://www.hendrix-genetics.com.
Idris S, Thohari I. 1998. Telur dan Cara Pengawetannya. Malang (ID).
Universitas Brawijaya.
Joyner CJ, MJ Peddie, TG Taylor. 1987.The effect of age on egg production in the
domestic hen. Gen Comp Endocrin. 65: 331-336.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2013. Basisdata Konsumsi Pangan [internet].
[diunduh]
8
September
2014.
Tersedia
dari
http://www.pertanian.go.id/konsumsi
Leeson S, Summers JD. 2005. Commercial Poultry Nutrition. 3rd Edition.
Nottingham (UK). Nottingham University Press.
Lambrou LC. 1986. Conserving and monitorig egg shell quality. ZW Agri J. 83:
35-38.
Moutney GJ. 1976. Poultry Product Technology. Westport (US). The AVI
Publising Co.
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwel VW. Biokimia Harper Edisi 27.
Terjemahan (Brahm U). Jakarta: EGC.
North MO, Bell DD. 1990. Commercial Chicken Production Manual 4th Ed. New
York (US): Chapman and Hall.
[NRC] National Research Council. 1994. Nutrient Requitment of Poultry 9th Rev
Ed. Wangshinton DC (US). Nat Acad of Sci.
Rajkumar D, Sharma RP, Rajaravindra KS, Niranjan M, Reddy BLN,
Bhattacharya TK, Chatterjee RN. 2009. Effect of genotype and age on egg
quality traits in naked neck chicken under tropical climate from India. Int J
Poult Sci. 8:115-155.
Riis PM. 1983. Dynamic Process Biochemistry of Animal Production. Amsterdam
(ND): Elsevier Science Publisher BV
Roland DA.1979. Factors influencing shell quality of aging hens. Poult Sci. 58:
774-777.
Steel RGD, Torrie JH. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan
Biometrik. Terjemahan (Bambang S). Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Tama.
Surai PF. 2001. Natural Antioxidants in Avian Nutrition and Reproduction.
Nottingham (US): Nottingham University Press.
Thomson SY. 1975. Role of carotene and vitamin A in animal feeding. World
Rev. Nutr. Diet., 21: 224-280.
[USDA] United Stated Department of Agriculture. 1983. Egg Grading Manual
Agriculture Handbook No. 75. Washington DC (US): Agricultural
Marketing Service.
Vuilleumir JP. 1969. The rhoce yolk colour fan an instrument for measuring yolk
colour. Poult Sci. 48:767-779.
Williams WP, Davies RE, Couch JR. 1963. The utilization of carotenoids by the
hen and chick. Poult Sci. 42: 691-699.
Yuwanta T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Yogyakarta (ID), Gadjah Mada
University Press.
11
Lampiran 1 Hasil analisis ragam bobot utuh telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.007
.128
7.910
59.55
54633.076
KT
.007
.128
7.90
4.95
Fhit
.001
.026
1.593
Sig
.971
.875
.231
KT
.042
.181
.951
3.508
Fhit
.012
.051
.271
Sig
.915
.824
.612
KT
.214
1.328
1.671
.969
Fhit
.221
1.370
1.723
Sig
.647
.264
.214
KT
.001
.008
3.080
.293
Fhit
.003
.028
10.496
Sig
.957
.871
.007
Fhit
.001
.000
5.530
Sig
.976
.992
.037
R2= .119%; R2(terkoreksi)= -.101%
Lampiran 2 Hasil analisis ragam bobot putih telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.042
.181
.951
42.091
22601.803
R2= .027%; R2 (terkoreksi) = -.216%
Lampiran 3 Hasil analisis ragam persentase bobot putih telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.214
1.328
1.671
11.632
66039.432
R2= .216% ; R2(terkoreksi)= .021%
Lampiran 4 Hasil analisis ragam bobot kuning telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.001
.008
3.080
3.521
3210.736
R2= .467%; R2(terkoreksi)= .334%
Lampiran 5 Hasil analisis ragam persentase bobot kuning telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
R2= .315%; R2(terkoreksi)= .144%
db
1
1
1
12
16
JK
.001
5.625E-5
2.933
6.364
9426.544
KT
.001
5.625E-5
2.933
.530
12
Lampiran 6 Hasil analisis ragam persentase bobot kuning telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.062
.483
.006
.792
719.316
KT
.062
.483
.006
.066
Fhit
.947
7.322
.097
Sig
.350
.019
.761
R2= .411%; R2(terkoreksi)= .263%
Lampiran 7 Lampiran 7 Hasil analisis ragam persentase bobot kerabang telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.198
1.300
.181
4.183
2121.861
KT
.198
1.300
.181
.349
Fhit
.568
3.728
.518
Sig
.466
.077
.485
KT
6.250E-6
.002
6.250E-6
.000
Fhit
.014
4.991
.014
Sig
.908
.045
.908
KT
.016
.697
.001
.134
Fhit
.117
5.213
.009
Sig
.738
.041
.925
KT
.164
.185
.202
.200
Fhit
.819
.924
1.012
Sig
.383
.355
.334
R2= .286% ; R2(terkoreksi)= .108)%
Lampiran 8 Hasil analisis ragam tebal kerabang telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
6.250E-6
.002
6.250E-6
.005
1.652
R2= .295%; R2(terkoreksi)= .119)%
Lampiran 9 Hasil analisis ragam skor warna kuning telur
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.016
.697
.001
1.605
914.661
R2= .308%; R2(terkoreksi)= .135%
Lampiran 10 Hasil analisis ragam tinggi albumin
SK
Minyak Sawit (MS)
Vitamin D (VD)
Interaksi (MS*VD)
Galat
Total
db
1
1
1
12
16
JK
.164
.185
.202
2.402
888.909
R2= .187% ; R2(terkoreksi)= -.017%
Keterangan :
SK= sumber keragaman
JK= jumlah kuadrat
db= derajat bebas
KT=kuadrat tengah
Fhit= nilai F
Sig= signifikansi
13
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tuban, Jawa Timur pada tanggal
10 Januari 1992.Penulis merupakan anak pertama dari tiga
bersaudara dari pasangan Bapak Nyoto dan Ibu Solikhatun,
SPd. Penulis menempuh pendidikan dasar di SDN Banyuurip
02 pada tahun 1999-2004. Pendidikan dilanjutkan di MTs
Assalam Bangilan-Tuban pada tahun 2004 dan pendidikan
lanjutan menengah atas diselesaikan pada tahun 2010 di
SMAN 1 Bojonegoro.
Penulis diterima sebagai mahasiswi di Institut Pertanian
Bogor pada tahun 2010 melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI) di
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Penulis adalah mahasiswa
penerima beasiswa BIDIK MISI dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
RI tahun 2010-2014. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif sebagai anggota
Koperasi Mahasiswa IPB. Penulis juga aktif sebagai pengurus Himpunan
Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) pada Biro Usaha Milik
Nutrisi (BUMN) periode 2012/2013.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kepada Tuhan YME atas segala karuniaNya. Terima kasih penulis
ucapkan kepada Dr Ir Sumiati, MSc selaku pemebimbing akademik dan pembimbing
skripsi dan Dr Ir Widya Hermana, MSi selaku pembimbing skripsi, atas segala
bimbingan, kesabaran, dukungan, sumbangan ide dan materi yang telah diberipan.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr Sri Suharti SPt MSi selaku
dosen pembahas seminar pada tanggal 22 Mei 2014 serta Dr Ir Niken Ulupi, MS dan
Dr Ir Rita Mutia, MSc selaku dosen penguji sidang pada tanggal 3 September 2014
atasan masukan dalam penyempurnaan penulisan skripsi ini. Kepada kedua orangtua,
Yoga Wangsit Wigati Irsyadul Choliq, Ulfah Nur Istighfaroh dan seluruh keluarga,
penulis berterimakasih atas kasih sayang dan dukungannya selama ini. Terima kasih
atas kesan yang mendalam kepada teman-teman semenjak mulai berkuliah yang
sampai saat ini masih berhubungan baik antara lain seluruh penghuni lorong 2 gedung
A3 Asrama Putri IPB yakni Vicky, Aul, Dea, Meta, Novi, dan Ulan, serta teman kelas
TPB Miranti, Laura, dan Fitri serta teman-temah serumah yang membuat betah Nely,
Didy dll. Rekan-rekan menuntut ilmu peternakan, seluruh warga D.NET terutama
Ichsan dan Somad yang telah telah memberikan banyak warna di masa kuliah ini
serta Anzy, Tenti, Rifqi, Teguh, Laylli dan Amalia yang telah banyak membantu
dalam pembuatan karya ilmiah ini. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terimaksih
kepada KEMENDIKBUD RI yang telah mendanai penulis untuk melanjutkan kuliah
dan mendanai penelitian hingga meraih gelar sarjana.
Download