BAB II PERLINDUNGAN TERHADAP PENGUNGSI AKIBAT

advertisement
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
BAB II
PERLINDUNGAN TERHADAP PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK YANG
TERJADI DI SURIAH MENURUT HUKUM INTERNASIONAL
2.1
Perbedaan antara asylum sekkers, internally displaced persons, dan
refugees.
Terdapat beberapa perbedaan di dalam memberikan definisi mengenai
asylum seekers, internally displaced persons, dan refugees. Di dalam menjelaskan
definisi ketiga kelompok tersebut harus berdasarkan pada konvensi atau perjanjian
internasional. Hal ini penting karena cara penanganan antara asylum seekers,
internally displaced persons dan refugees sangat berbeda. Oleh karena itu penulis
akan menjelaskan karakteristik dari asylum seekers, internally displaced persons
dan refugees tersebut.
2.1.1 Asylum Seekers
Di dalam hukum internasional tidak terdapat ketentuan khusus yang
mengatur mengenai pengertian yang dapat dijadikan pedoman umum dalam
menjabarkan pengertian pencari suaka, oleh karena itu terdapat perbedaan
pandangan mengenai pencari suaka.
Menurut Sumaryo Suryokusumo, “Suaka (asylum) diartikan sebagai
perlindungan yang diberikan oleh suatu negara kepada pengungsi politik atau
14
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
15
aktivis politik yang berasal dari negara lain dan negara itu mengizinkan untuk
masuk ke wilayahnya atas permintaannya.”34
Menurut Iris Teichmann, “Asylum literally means safe haven. After World
War II, asylum became a legal immigration status in developed countries. This
status is given to people who have fled their home and country because of
persecution.”35
Di dalam bukunya, J.G Starke menyebutkan bahwa terdapat 2 elemen yang
dapat diuraikan untuk memberikan konsep asylum di dalam hukum internasional,
yaitu:36
a. Suaka sebagai diberikannya tempat perlindungan (shelter), yang fungsinya
lebih dari tempat pengungsian yang bersifat sementara
b. Suaka sebagai suatu tingkat perlindungan aktif dari pihak penguasa
wilayah tempat suaka
Lebih lanjut, J.G Starke membedakan suaka menjadi 2 macam,37 yakni suaka
teritorial dan suaka ektra-teritorial. Suaka teritorial adalah sebuah perlindungan
wilayah yang diberikan oleh suatu negara di wilayah kedaulatan teritorial negara
tersebut. Di dalam suaka teritorial, negara pemberi suaka mempunyai kekuasaan
34
Sumaryo Suryokusumo, Hukum Diplomatik dan Konsuler: Jilid I, Tatanusa, Jakarta,
h. 187.
35
Iris Teichmann, Immigration & Asylum, Watts, London, 2002, p. 8.
36
J.G.Starke, Pengantar Hukum Internasional 2: Edisi Kesepuluh, Cet. VII,
(terjemahan Bambang Iriana Djajaatmadja), Sinar Grafika, Jakarta, 2008, h. 475.
37
Ibid.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
16
penuh dalam menerapkan kedaulatan negaranya sebagai implikasi atas pemberian
suaka yang terdapat di dalam yuridksi negaranya. Suaka ekstra-teritorial adalah
perlindungan yang diberikan oleh suatu negara di luar yuridiksi wilayah
negaranya. Suaka ekstra-teritorial biasanya diberikan suatu negara dalam bentuk
pembebasan yuridiksi hukum dari negara teritorial terhadap gedung-gedung
konsuler, tempat-tempat yang berkaitan dengan urusan kedutaan, tempat
bermarkas suatu organisasi internasional, kapal-kapal perang dan kapal yang
membawa bantuan kemanusiaan. Menurut J.G Starke,38 pemberian suaka ekstrateritorial merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum internasional:
“pemberian suaka demikian (ekstra-teritorial) bahkan lebih tampak dilarang oleh
hukum internasional jika akibat-akibatnya dapat membebaskan pelarian dari
penerapan aturan hukum dan administrasi peradilan oleh negara teritorial.”39
Beberapa pengertian mengenai suaka yang diberikan oleh beberapa ahli
hukum
diatas,
setidaknya
dapat
dijadikan
suatu
parameter
untuk
mengelompokkan beberapa karakteristik dari pencari suaka, yaitu:40
1. Mengajukan permohonan suaka kepada pihak-pihak atau negara lain
38
JG Starke, Op. Cit., h. 479.
39
Di dalam bukunya J.G. Starke menyebutkan 3 hal luar biasa yang dapat dijadikan
alasan diberikannya suaka di gedung perwakilan asing, yaitu: (i)Suaka dapat diberikan, untuk
jangka waktu sementara, kepada orang perseorangan yang memang secara fisik dalam bahaya
karena adanya kekerasan masal atau dalam hal seorang buronan yang dalam bahaya karena
melakukan kegiatan politik terhadap negara setempat; (ii)Suaka juga dapat diberikan dimana di
negara itu terdapat kebiasaan yang sudah lama diakui dan mengikat; (iii)Suaka dapat diberikan
juga jika terdapat perjanjian khusus antara negara dimana penerima suaka berasal dan negara
dimana terdapat perwakilannya.
40
JG Starke, Loc. Cit.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
17
2. Seseorang atau sekelompok orang yang mencari tempat perlindungan yang
aman karena dilatarbelakangi oleh ketakutan terhadap adanya persekusi.
Pencari suaka mencari perlindungan atau tempat aman di luar teritorial kedaulatan
wilayah negara asal pencari suaka dengan cara mengajukan permohonan suaka
yang ditujukan kepada pihak atau negara lain. Dengan kata lain, pengajuan
permohonan dari pencari suaka yang ditujukan kepada pihak atau negara lain
tersebut memberi pengertian bahwa negara asal dari pencari suaka tidak mau atau
tidak mampu memberikan perlindungan terhadap pencari suaka, sehingga pencari
suaka tidak memilih untuk mencari perlindungan di negara asalnya dan lebih
memilih mencari perlindungan ke pihak atau negara lain. Penyebab utama pencari
suaka untuk mencari suaka adalah karena terdapat hal-hal dan alasan ketakutan
yang kuat terhadap adanya suatu bentuk persekusi, sehingga alasan ketakutan
tersebut dapat dijadikan pertimbangan bagi negara pemberi suaka dalam
pemberian suaka. Menurut Sulaiman Hamid, terdapat alasan-alasan yang dapat
dijadikan pertimbangan dalam menentukan pemberian perlindungan oleh negara
kepada pemohon suaka, yakni “alasan perikemanusiaan, agama, diskriminasi ras,
politik, dan sebagainya.”41 Alasan-alasan tersebut merupakan alasan yang telah
diatur di dalam beberapa konvesi dan deklarasi di dalam hukum internasional.
Dalam hukum internasional, terdapat ketentuan mengenai hak bagi setiap
orang untuk mencari dan mendapatkan suaka, yang diatur di dalam Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia mengatur
41
Sulaiman Hamid, Lembaga Suaka dalam Hukum Internasional, Rajagrafindo Persada,
Jakarta, 2002, h. 46.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
18
bahwa merupakan hak dasar setiap orang untuk meninggalkan dan kembali ke
negara asalnya. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menjamin hak setiap
orang untuk mencari dan jika diberikan, untuk menikmati perlindungan dari
negara lain atas alasan ketakutan akan terjadinya persekusi.42 Pengaturan di dalam
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tersebut mempunyai arti bahwa tidak ada
satu pihak manapun yang dapat mencegah hak setiap orang untuk meninggalkan
negara asalnya sendiri dan mencari suaka perlindungan di negara lain. Hak untuk
mencari suaka merupakan hak dasar bagi setiap orang dan dijamin oleh hukum
internasional. Pengaturan di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
tersebut adalah deklarasi yang diakui secara internasional dan berlaku secara
universal.
Ketentuan di dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia hanya mengatur hak bagi
setiap orang untuk mencari suaka dan menikmatinya. Merupakan hak dari negara
penerima suaka untuk menentukan diterima atau tidak diterimanya permohonan
suaka tersebut. Menurut Iman Prihandono: 43
pemberian suaka merupakan kewenangan yang mutlak dari dari sebuah
negara, maka Negara pemberi suaka (state-granting asylum) mempunyai
kewenangan mutlak pula untuk mengevaluasi atau menilai sendiri alasanalasan yang dijadikan dasar pemberian suaka, tanpa harus membuka atau
menyampaikan alasan tersebut kepada pihak manapun, termasuk kepada
negara asal (origin state) dari pencari suaka.
Sehingga di dalam pemberian suaka, negara lain tidak dapat mengintervensi
42
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Pasal 13 dan Pasal 14.
43
Iman Prihandono, Jurnal Hukum Yuridika: Pemberian Suaka oleh Negara: Kasus
Pemberian Suaka oleh Pemerintah Australia kepada 42 WNI Asal Papua, Fakultas Hukum
Universitas Airlangga, Vol. 21 No. 1 Januari 2006.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
19
negara penerima suaka di dalam menentukan pemberian suaka tersebut. Pada
keadaan tertentu, pemberian suaka dari negara pemberi suaka dinilai merupakan
tindakan intervensi terhadap kedaulatan negara lain sehingga dapat merusak
hubungan antar negara, tetapi tindakan pemberian suaka tersebut harus dianggap
tindakan yang bersahabat. Pada dasarnya tindakan pemberian suaka bukan
merupakan tindakan yang dapat diklasifikasikan sebagai tindakan yang melanggar
norma-norma bernegara, sebagaimana yang telah diatur di dalam Declaration on
Territorial Asylum tahun 1967, yakni “Recognizing that the grant of asylum by a
State to persons entitled to invoke article 14 of the Universal Declaration of
Human Rights is a peaceful and humanitarian act and that, as such, it cannot be
regarded as unfriendly by any other State.”44 Ketentuan tersebut mengatur bahwa
tindakan pemberian suaka oleh negara penerima suaka harus dianggap sebagai
tindakan yang berlandaskan atas rasa kemanusiaan dan perwujudan nilai-nilai hak
asasi manusia. Keputusan dari suatu negara terkait pemberian suaka harus
dihormati oleh negara lain termasuk negara asal pencari suaka, karena selain
merupakan kedaulatan negara di dalam memberikan suaka, juga dianggap
merupakan perwujudan sikap menjunjung tinggi tujuan dan prinsip di dalam
Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa karena pemberian suaka menimbulkan
tanggungjawab kepada negara pemberi suaka untuk menjamin bahwa penerima
suaka tidak melakukan tindakan atau kejahatan yang bertentangan dengan tujuan
dan prinsip yang terkandung di dalam Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa,
sebagaimana di atur di dalam Declaration on Territorial Asylum: “States granting
44
Declaration on Territorial Asylum.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
20
asylum shall not permit persons who have received asylum to engage in activities
contrary to the purposes and principles of the United Nations.”45 Ketentuan di
dalam Declaration on Territorial Asylum, menjamin hak bagi setiap orang untuk
mencari suaka dan menikmatinya. Setiap orang yang meninggalkan negaranya
dengan maksud untuk mencari suaka ke negara lain, jika negara tersebut
memberikan suaka perlindungan kepadanya, maka pencari suaka tersebut
mendapatkan hak untuk menikmati pemberian suaka tersebut.
Negara yang di yuridiksi wilayahnya terdapat pencari suaka tidak boleh
menolak atau mengembalikan pencari suaka ke negara asalnya. Di dalam Pasal 3
Declaration on Territorial Asylum46 disebutkan bahwa tidak seorang yang dapat
diusir, dikembalikan ke negara asal atau ditolak keberadaannya ketika telah
memasuki wilayah dimana seseorang tersebut mencari suaka atau perlindungan.
Selain karena alasan keamanan wilayah suatu negara, ketentuan di atas
mewajibkan bagi setiap negara untuk menerima pencari suaka, dan sebaliknya
negara penerima suaka tidak boleh mengembalikan pencari suaka ke wilayah yang
berpotensi menjadikan pencari suaka sebagai objek tindakan kekerasan dan
penyiksaan setiap orang yang mencari suaka ke negaranya. Dengan adanya
Declaration on Territorial Asylum yang telah menyetujui suatu resolusi mengenai
45
Article 4 Declaration on Territorial Asylum
46
Article 3 Declaration on Territorial Asylum: (i) No person referred to in article 1,
paragraph 1, shall be subjected to measures such as rejection at the frontier or, if he has already
entered the territory in which he seeks asylum, expulsion or compulsory return to any State where
he may be subjected to persecution, (ii)Exception may be made to the foregoing principle only for
overriding reasons of national security or in order to safeguard the population, as in the case of a
mass influx of persons, (iii)Should a State decide in any case that exception to the principle stated
in paragraph 1 of this article would be justified, it shall consider the possibility of granting to the
person concerned, under such conditions as it may deem appropriate, an opportunity, whether by
way of provisional asylum or otherwise, of going to another State.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
21
pengaturan pemberian suaka, menurut Sumaryo Suryokusumo dalam praktiknya
negara-negara haruslah mempertimbangkan hal-hal berikut:47
i.
ii.
iii.
2.1.2
Jika seseorang meminta suaka, permintaan seharusnya tidak ditolak
atau jika ia memasuki wilayah negara itu, ia tidak perlu diusir tetapi
jika suatu kelompok orang-orang dalam jumlah besar meminta
suaka, hal itu dapat ditolak atas dasar keamanan nasional dari
rakyatnya.
Jika suatu negara merasa sukar untuk memberikan suaka, haruslah
memperhatikan langkah-langkah yang layak demi rasa persatuan
internasional melalui perantara dari negara-negara tertentu atau
Perserikatan Bangsa Bangsa.
Jika suatu negara memberikan suaka kepada kaum pelarian atau
buronan, negara-negara lainnya haruslah menghormatinya.
Internally Displaced Persons
Menurut Walter Kälin dan Jorg Künzli,48 internally displaced persons
adalah sekelompok orang yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal atau tempat
mereka biasanya melakukan aktifitas ke tempat aman yang masih berada di
dalam wilayah negara mereka. Secara yuridis pengaturan penanganan internally
displaced persons harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam
hukum nasional negara dari internally displaced persons tersebut dan negara yang
bertanggungjawab atasnya49, dengan kata lain internally displaced persons berada
di bawah kedaulatan negara. Walaupun penanganan internally displaced persons
mengikuti
hukum
nasional
suatu
negara,
Perserikatan
Bangsa
Bangsa
47
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit., h.193.
48
Walter Kälin dan Jorg Künzli, The Law of International Human Right Protection,
Oxford University Press, 2009, h. 487.
49
Di dalam bukunya, Wagiman menganggap bahwa penyebutan istilah‟ tanggung jawab
negara‟ di dalam hukum internasional cakupannya sangat luas. Prinsipnya dalam perkembangan
hukum internasional dewasa ini, tanggung jawab timbul tidak hanya dikarenakan terdapatnya
kerugian material. Terlanggarnya hak asasi manusia dapat menimbulkan tanggung jawab negara.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
22
menganggap internally displaced persons merupakan pihak yang membutuhkan
jaminan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Perserikatan Bangsa Bangsa
telah mengeluarkan Guiding Principles on Internal Displacement.
Menurut Heru Susetyo, prinsip-prinsip di dalam pengaturan mengenai
internally displaced persons berpijak pada instrumen hukum humaniter dan
hukum hak asasi manusia internasional:
Prinsip ini dibentuk berdasarkan instrumen international humanitarian
law (hukum humaniter internasional dan instrumen international human
rights law (hukum hak asasi manusia internasional sebagai suatu
pedoman internasional untuk pemerintah maupun lembaga-lembaga
internasional yang bergerak di bidang bantuan, perlindungan dan
pelayanan bagi pengungsi internal”50
Guiding Principles on Internal Displacement memang bukan merupakan
ketentuan di dalam hukum internasional yang bersifat mengikat dan memaksa
(legally binding), tetapi prinsip-prinsip yang terdapat di dalamnya menunjukkan
bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia internasional.
“Guiding principles tersebut merupakan sebuah bentuk aturan dasar tentang
bagaimana seharusnya negara yang bersangkutan dengan terjadinya konflik
bersenjata yang menyebabkan internal displacement, dapat menerapkan dan
memberikan perlindungan yang seharusnya terhadap mereka.”51
Di dalam Guiding Principles, diatur mengenai pengertian yang menjadi
pedoman dalam menentukan kriteria dari internally displaced persons, yakni:52
50
Heru Susetyo, Jurnal Hukum Indonesia: Kebijakan Penanganan Internally Displaced
Persons (IDP‟s) di Indonesia dan Dunia Internasional, Lembaga Pengkajian Hukum Internasional
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Vol. 2 No. 1 Oktober 2004.
51
Rensy Triana Putri B, Nurdin, Ikaningtyas, Urgensi Perlindungan Hukum Internally
Displaced Person (Idp) Pada Saat Konflik Bersenjata Di Nigeria Pada Tahun 2009 Berdasarkan
Perspektif Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, h. 15.
52
Guidling Principles
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
23
For the purposes of these principles, internally displaced persons are
persons or groups of persons who have been forced or obliged to flee or
to leave their homes or places of habitual residence, in particular as a
result of or in order to avoid the effects of armed conflict, situations of
generalized violence, violations of human rights or natural or humanmade disasters, and who have not crossed an internationally recognized
State border.
Dari beberapa pengertian diatas dapat
diketahui bahwa terdapat beberapa
karakteristik dari internally displaced persons yaitu:53
a. Sekelompok orang yang terpaksa meninggalkan atau pergi dari tempat
tinggalnya atau tempat sekelompok orang tersebut biasa beraktifitas dan
menjalani kehidupannya, untuk mencari perlindungan ke tempat yang
aman. Sekelompok orang tersebut melakukan perpindahan tempat karena
disebabkan oleh beberapa alasan. Alasan tersebut dapat berupa alasan
yang disebabkan oleh alam (natural disaster), contohnya: bencana alam,
maupun keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan manusia (human
made disaster), contohnya: konflik bersenjata, pelanggaran terhadap hak
asasi manusia.
b. Sekelompok orang tersebut mencari tempat perlindungan dengan tetap
berada di dalam yuridiksi wilayah negara asalnya. Sebagaimana
disebutkan diatas bahwa tempat perlindungan yang dicari atau dituju oleh
internally displaced persons adalah tempat yang secara geografis terletak
di wilayah negara dan secara yuridis tunduk terhadap yuridiksi hukum
53
Ibid.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
24
negara tempat internally displaced persons tersebut tinggal.54 Dalam hal
tindakan perlindungan, maka yang berlaku adalah hukum nasional negara
tersebut. internally displaced persons membutuhkan penanganan yang
berbeda, karena kondisi mereka yang jauh dari tempat tinggal, keadaan
psikis yang terguncang, rentan terhadap perlakuan yang sewenangwenang, sehingga negara asal internally displaced persons merupakan
pihak pertama yang mempunyai tanggung jawab di dalam melindungi hakhak dari internally displaced persons tersebut.55
2.1.3 Refugees
Konsepsi yang mengatur mengenai pengertian pengungsi bukanlah konsep
yang terdapat dalam hukum kebiasaan internasional, sehingga seringkali di dalam
mengartikan kata pengungsi lebih banyak mengacu pada suatu perjanjian
54
Menurut Heru Susetyo, prinsip-prinsip penanganan pengungsi internal (The Guiding
Principles on International Displacement) memiliiki prinsip umum yang memberi penegasan akan
hak-hak dasar pengungsi internal dan tanggungjawab dari pemerintah terhadap pengungsian
interna, yaitu:
1. Para pengungsi internal harus menikmati hak-hak dan kemerdekaan yang sama di bawah
perlindungan hukum nasional maupun internasional sebagaimana yang didapatkan warga negara
lain di negaranya, diskriminasi karena statusnya sebagai pengungsi internal adalah dilarang.
Prinsip-prinsip ini tidak mempunyai dampak legal apapun terhadap pertanggungjawaban
individual atas tindaka pidana di mata hukum internasional, khususnya yang berhubungan dengan
kejahatan genosida, kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan-kejahatan perang.
2. Prinsip-prinsip ini wajib ditaati oleh semua pihak yang berwenang, kelompok-kelompok dan
orang-orang, lepas dari status hukum mereka, dan diterapkan tanpa diskriminasi yang merugikan.
Penaatan tehadap prinsip-prinsip ini tidak boleh mempengaruhi status hukum pihak-pihak
berwenang, kelompok-kelompok, atau orang-orang manapun yang terlibat.
3. Pihak-pihak berwenang di tingkat nasional-lah yang pertama-tama memiliki kewajiban dan
tanggungjawab untuk menyediakan perlindungan dan bantuan kemanusiaan kepada para
pengungsi internal dalam wilayah hukum mereka
55
Principle 9 of Guiding Principles on Internal Displacement: “States are under a
particular obligation to protect against the displacement of indigenous peoples, minorities,
peasants, pastoralists and other groups with a special dependency on and attachment to their
lands.”
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
25
internasional.56 Sebagaimana diketahui bahwa sebuah perjanjian internasional
dibuat untuk melindungi kepentingan pihak-pihak di dalam perjanjian
internasional tersebut, sehingga definisi pengungsi akan selalu sejalan dengan
tujuan politis dari perjanjian internasional tersebut. S. Prakash Sinha memberikan
pengertian sebagai berikut:
The International political refugee may defined as a person who is forced
leave or stay out of his state of nationality or habitual residence for
political reasons arising from events occurring between that state and its
citizens which make his stay there impossible or intolerable, and who has
taken refugee in another state without having acquired a new
nationality57
Namun, banyaknya peristiwa-peristiwa di dalam suatu negara yang
seringkali berujung pada terjadinya perpindahan sekelompok orang ke negara lain
secara terus menerus dan tidak kunjung berhenti, berakibat pada adanya masalah
baru yang membuat negara lain terkena dampak dari perpindahan tersebut, seperti
halnya pengungsi. Persoalan pengungsi adalah masalah kemanusiaan yang dapat
terjadi di wilayah negara manapun. Seperti halnya dengan permasalahanpermasalahan kemanusiaan di lingkup internasional yang lain, pada dasarnya
56
Menurut Sri Setianingsih Suwardi, definisi secara umum, meliputi elemen-elemen
sebagai berikut:
a. Alasannya haruslah didasarkan pada alasan politik
b. Permasalahan politik yang timbul adalah permasalahan antara negara dan warga negaranya
c. Ada keadaan yang mengharuskan dia meninggalkan negaranya atau tempat tinggalnya.
d. Kemungkinan meninggalkan negaranya atau tempat tinggalnya secara sukarela atau tidak
secara sukarela
e. Kembali ke negaranya atau ke tempat tinggalnya tidak mungkin dilakukan atau tidak ditoleran
disebabkan karena sangat berbahaya untuk dirinya atau miliknya
f. Ia harus meminta status sebagai pengungsi di lain negara
g. Ia tidak mendapatkan kewarganegaraan baru
57
Sri Setianingsih Suwardi, Jurnal Hukum Indonesia: Aspek Hukum Masalah Pengungsi
Internasional, Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Vol. 2 No. 1 Oktober 2004, diikutip dari S. Prakash Sinha, Asylum and Internationa Law, (The
Hague, Matinus Nijhoff), h. 95.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
26
masyarakat internasional memberi perhatian penuh dan sangat peduli terhadap
permasalahan
pengungsi
tersebut.
Pengungsi
merupakan
pihak
yang
membutuhkan perlindungan terhadap keselamatan mereka. Beberapa negara yang
melihat dari sudut pandang kemanusiaan, merasa perlu memberikan tempat
berlindung sementara untuk mereka, namun beberapa negara juga menolak untuk
menampung mereka karena beberapa alasan keamanan negara ataupun kedaulatan
negara, perbedaan sudut penanganan permasalahan pengungsi tersebut mendorong
urgensi pembentukan suatu ketentuan bersifat mengikat sebagai bentuk kesadaran
masyarakat internasional terhadap urgensi permasalahan pengungsi. Pada tahun
1951, diadakanlah konferensi di jenewa yang membicarakan masalah status
hukum dari masalah pengungsi yang didasarkan pada Resolusi Majelis Umum
No. 429 (V) pada tanggal 14 Desember 1950. Konferensi yang diadakan pada
tanggal 28 Juli 1951 tersebut telah menghasilkan “Convention Relating on Status
of Refugees”. Dibuatnya konvensi tersebut adalah wujud komitmen negara-negara
dalam
menjunjung
tinggi
nilai-nilai
kemsnusiaan,
khususnya
mengenai
permasalahan pengungsi.
Di dalam hukum pengungsi internasional, pengertian dari pengungsi
mempunyai pengaturan tersendiri di dalam Konvensi mengenai Status Pengungsi
tahun 1951 dan Protokol mengenai Status Pengungsi tahun 1967. Menurut Pasal 1
huruf (A) angka (2) dari Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951,
pengertian dari pengungsi adalah setiap orang yang disebabkan oleh suatu
kecemasan yang beralasan terhadap adanya tindakan kekerasan atau persekusi,
dan persekusi tersebut dilatarbelakangi oleh alasan-alasan sentimen atas ras,
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
27
agama, kebangsaan, keanggotaan
pada kelompok sosial tertentu atau opini
politik, berada di luar negara kewarganegaraannya dan tidak dapat atau tidak mau
memanfaatkan perlindungan negaranya, atau setiap orang yang tidak mempunyai
kewarganegaraan dan berada di luar negara tempat orang tersebut biasanya
bertempat tinggal, sebagai akibat dari adanya kecemasan tersebut, tidak dapat atau
tidak mau kembali ke negara tersebut.58
Apabila ditelaah lebih lanjut, terdapat beberapa elemen-elemen yang dapat
dijadikan parameter dalam mendefinisikan pengungsi, yakni:
a. Setiap orang yang pergi meninggalkan negara kewarganegaraanya atau
negara asal tempat orang tersebut biasanya bertempat tinggal untuk
mencari tempat perlindungan yang aman ke negara lain, karena adanya
kecemasan
yang
sangat
beralasan
terhadap
tindakan
persekusi
terhadapnya.59 Di dalam Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951
dijabarkan bahwa kecemasan yang beralasan terhadap kekerasan atau
persekusi, antara lain karena alasan-alasan ras, agama, kebangsaan,
keanggotaan atas kelompok sosial tertentu, dan opini politik, sehingga
ketakutan yang dirasakan oleh sekelompok orang tersebut merupakan
ketakutan yang berdasar dan dapat ditelusuri kebenarannya. Relevansi
antara situasi dan kondisi di suatu negara dengan latar belakang dari
sekelompok orang tersebut untuk berpindah tempat akan ditelaah dan diuji
kebenarannya oleh suatu badan yang kompeten, dalam hal ini adalah
58
Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951.
59
Pasal 1 Huruf B Angka 2 Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
28
United Nation High Commissioner for Refugees.
b. Sekelompok orang yang mencari tempat perlindungan aman ke wilayah
negara lain. Pengungsi mencari perlindungan dengan melintasi batas
negaranya ke batas negara lain karena negara asal pengungsi tidak dapat
atau tidak mau memberi perlindungan kepada pengungsi.
60
Pengungsi
terpaksa meninggalkan negara asal mereka, karena negara asal mereka
tidak menjamin penuh keselamatan pengungsi. Jika negara asal pengungsi
mampu menjamin dan memberikan perlindungan, maka pengungsi tidak
akan mencari tempat perlidnungan ke wilayah negara lain atau ke negara
tujuan pengungsi. Negara tujuan sementara pengungsi mempunyai
pengaturan dan yuridiksi di teritorial negara tersebut sebagai wujud bentuk
kedaulatan negara, sehingga tidak jarang sering terjadi konflik
kepentingan antara pengungsi dan otoritas perbatasan negara tujuan
sementara pengungsi. Untuk mengantisipasi hal tersebut dibuatlah
Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951 yang menjadi pedoman
yang mengatur penanganan perihal pengungsi.
2.1.3.1 Pengaturan Klausula mengenai Pengungsi
Terdapat 3 macam bentuk klasula mengenai pengungsi, antara lain:
1.
Klausula Inclusion
Merupakan klausula yang menyatakan bahwa prosedur penentuan status
pengungsi harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat di
60
Ibid.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
29
dalam pasal 1A paragraf (1) dan (2), yang merupakan parameter dalam
menentukan kriteria orang yang berhak mendapatkan status pengungsi.
2.
Klausula Cessation
Merupakan Klausula yang mengatur jenis-jenis pencabutan status pengungsi
sebagai akibat dari beberapa hal yang telah ditentukan di dalam Pasal 1C
paragraf (1) sampai paragraf (6) Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun
1951, antara lain:
a. Voluntary Reaguisation of Nationality
Terdapat
pergantian
rezim
di
dalam
kategori
ini,
yang
mengharuskan adanya pergantian rezim penguasa negera asal yang
mencabut kewarganegaraan dari pengungsi dan digantikan oleh
rezim penguasa yang baru. Dicabutnya status pengungsi seseorang,
karena
pengungsi
secara
sukarela
memperoleh
kewarganegaraannya kembali dengan menyetujui kewarganegaraan
kembali yang ditawarkan oleh rezim penguasa yang baru kepada
pengungsi.
b. Voluntary resumption
Dicabutnya status pengungsi seseorang, karena seseorang tersebut
secara
dengan
keinginannya
sendiri
memanfaatkan
status
kewarganegaan dari negara asalnya dan belum terjadi pergantian
rezim penguasa di negara asalanya tersebut.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
30
c. Acquisastion of new nationality
Dicabutnya status pengungsi karena pengungsi telah mendapatkan
dan menikmati kewarganegaaran baru yang diberikan oleh negara
yang ingin menerima pengungsi.
d. Voluntary Re-establishment
Dicabutnya status pengungsi karena pengungsi dan pihak UNHCR
bersepakat untuk kembali ke negara asal yang ditinggalkannya
karena alasan-alasan kecemasan akan persekusi.
e. National whose reasons for becoming refugees have ceased to exit
Seseorang yang karena tidak termasuk ke dalam kategori
pengungsi menurut Konvensi dan tetap menolak memanfaatkan
kewarganegaraan negara asal yang ditinggalkan.
f. Statekess person whose reasons for becoming refugees have ceased
to exit
Dicabutnya status pengungsi atas seseorang yang tidak mempunyai
kewarganegaraan, tetapi tetap dapat melakukan aktifitas di dalam
wilayah suatu negara. Hingga kemudian terdapat situasi yang
mengharuskan seseorang tersebut untuk melakukan perpindahan
tempat bersama warga negara dari negara tempat seseorang yang
tanpa kewarganegaraan tersebut melakukan aktifitas. Jika status
pengungsi dari seseorang yang tidak mempunyai kewarganegaraan
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
31
tersebut dicabut, maka ia dapat kembali ke negara di mana
sebelumnya dia biasa melakukan aktifitas.
3.
Klausula Exclusion
Pencabutan status pengungsi jika dapat dibuktikan bahwa penerima status
pengungsi terlibat di dalam tindak pidana perang, tindak pidana terhadap
kemanusiaan, tindakan-tindakan non-politis yang serius maupun tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan, prinsip dari Perserikatan Bangsa
Bangsa. Pengaturan mengenai klausula ini terdapat di dalam Pasal 1D, IE,
1F Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951.
2.1.3.2 Prinsip Perlindungan Pengungsi
Pemberian status pengungsi berimplikasi pada harus dilakukannya prinsipprinsip perlindungan terhadap pengungsi yang telah diatur di dalam Konvensi
mengenai Status Pengungsi tahun 1951. Konvensi tersebut mengatur prinsip dasar
yang harus diterapkan di dalam penanganan pengungsi.
Non-Refoulement Principle adalah prinsip yang melarang negara peserta
konvensi untuk mengembalikan atau menempatkan pengungsi ke dalam keadaan
yang mengancam keselamatan dan kebebasan pengungsi. Di dalam Konvensi
mengenai Status Pengungsi tahun 1951, ketentuan mengenai prinsip nonrefoulement tersebut terdapat di dalam Pasal 33 mengandung hal yang sangat
penting. Menurut Pasal 42 angka (1)61 Konvensi tahun 1951 yang mengecualikan
61
Article 42(Reservations) :1. At the time of signature, ratification or accession, any
State may make reservations to articles of the Convention other than to articles 1, 3, 4, 16 (1), 33,
36-46 inclusive.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
32
Pasal 33 dari tindakan reservasi. Negara yang tidak menjadi pihak dalam
Konvensi pengungsi juga mempunyai kewajiban secara moral untuk menerapkan
prinsip non-refoulement. Dengan demikian prinsip larangan atas pengusiran di
dalam Pasal 33 merupakan suatu kewajiban non-derogable yang didasarkan atas
pertimbangan kemanusiaan.
Komite Eksekutif UNHCR bahkan telah menetapkan bahwa prinsip nonrefoulement merupakan kemajuan peremptory norm dalam hukum
internasional. Peremptory norm atau disebut dengan jus cogens
merupakan suatu prinsip dasar hukum internasional yang diterima oleh
negara-negara sebagai suatu norma umum yang tidak dapat diabaikan
pelaksanaannya.62
Prinsip non-refoulement merupakan prinsip yang dibuat untuk kepentingan
bersama tanpa memandang apakah negara sudah menjadi pihak dalam Konvensi
1951 atau belum, dan tanpa memperhatikan apakah orang tersebut sudah
diberikan status sebagai pengungsi atau tidak. Prinsip non-refoulement telah
dianggap sebagai hukum kebiasaan internasional, yang mempunyai arti bahwa
seluruh negara, baik yang telah menjadi negara pihak maupun bukan di dalam
konvensi-konvensi pengungsi atau hak asasi manusia yang melarang tindakan
pengusiran, berkewajiban untuk tidak mengembalikan atau mengekstradisi
seseorang ke negara asal atau tempat yang dapat mengancam kebebasan dan
keselamatan orang tersebut.
Prinsip non-diskriminasi adalah prinsip yang melarang negara yang telah
menjadi pihak di dalam Konvensi 1951 untuk memperlakukan pengungsi tanpa
diskriminasi. Prinsip non-diskriminasi terdapat di dalam Pasal 3 Konvensi 1951.
62
Wagiman, Hukum Pengungsi Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, h. 120.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
33
Prinsip non-diskriminasi memberikan tanggungjawab kepada negara pihak untuk
sepenuhnya menjalankan ketentuan di dalam Konvensi 1951. Tujuan prinsip nondiskriminasi adalah melindungi kepentingan dan hak-hak dari setiap orang yang
telah diberikan status sebagai pengungsi. Hal tersebut menunjukkan komitmen
negara yang telah menjadi pihak untuk bertindak berdasarkan rasa kemanusiaan
dan bukan karena atas dasar kepentingan politik.
2.1.4 Analisa perbedaan asylum seekers, internally displaced persons dan
refugees
Telah dijelaskan diatas bahwa terdapat perbedaan antara internally
displaced persons, asylum seekers, dan refugees. Perbedaan tersebut dapat
meliputi batas wilayah dan yuridiksi hukum suatu negara.Perbedaan internally
displaced persons terhadap refugees dan asylum seekers dapat dibedakan dari
wilayah atau tempat internally displaced persons tersebut akan mencari tempat
perlindungan yang aman. Refugees dan asylum seekers mencari perlindungan dari
negara asalnya ke tempat yang merupakan wilayah kedaulatan negara lain, namun
internally displaced persons hanya mencari perlindungan ke tempat yang secara
yuridis masih di dalam wilayah kedaulatan negara asalnya, sehingga pengaturan
mengenai perlindungan internally displaced persons harus berdasarkan pada
hukum nasional negara asal. Perbedaan antara asylum seekers dan refugees
terletak pada legalisasi status dari asylum seekers dan refugees. Pengaturan terkait
penentuan status asylum seekers yang bersifat internasional tidak ada. Hak untuk
menentukan status asylum seekers hanya didasarkan atas penilaian subjektif
negara pemberi suaka. Penentuan status terhadap refugees terdapat pengaturan
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
34
tersendiri di dalam hukum pengungsi. Hukum pengungsi mempunyai pedoman
khusus bagi pengungsi di dalam Konvensi 1951 dan Konvensi 1967 yang memuat
beberapa prosedur resmi dalam menentukan apakah seseorang tersebut berhak
untuk diberikan status pengungsi atau tidak. Pemberian status bagi refugees juga
melibatkan suatu badan khusus yang berwenang untuk menentukan pemberian
status tersebut.
2.2
Hak Asasi Manusia
Setiap manusia mempunyai hak-hak dasar yang melekat pada manusia sejak
manusia itu lahir ke dunia. Hak dasar yang seringkali disebut dengan hak asasi
manusia merupakan hak yang tidak dapat dikurangi atau dihilangkan
keberadaannya. Perkembangan hak asasi manusia ditandai dengan dibentuknya
beberapa piagam-piagam yang memuat mengenai hak asasi manusia.63
Dimulai pada tahun 1215 di Inggris dengan Magna Charta (Perjanjian
Agung) di Inggris pada tahun 15 Juni 1215. Isi perjanjian agung adalah
pembatasan tindakan raja untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap hak milik
dan kebebasan pribadi rakyat. Kedua, Bill of Rights pada tahun 1628. Isi
perjanjian ini adalah penegasan tentang pembatasan kekuasaan raja dan
dihilangkannya hak raja untuk tidak memenjarakan, menyiksa dan menghukum
tanpa dasar hukum. Ketiga, deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat pada 6 juli
1776. Deklarasi ini memuat penegasan bahwa setiap orang dilahirkan dalam
persamaan dan kebebasan dengan hak hidup dan mengejar kebahagiaan. Keempat,
63
Walter Kälin dan Jorg Künzli, Op. Cit., h. 7.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
35
Declaration des droits de‟l homme et du citoyen (deklarasi hak-hak manusia dan
warga negara) di perancis pada tanggal 4 agustus 1786. Deklarasi ini memuat 5
hak-hak asasi manusia: pemilikan harta, kebebasan, persamaan, keamanan dan
perlawanan terhadap penindasan.
Hak asasi manusia merupakan topik pembahasan yang sangat penting
karena pelanggaran terhadap hak asasi manusia seringkali menjadi penyebab suatu
peristiwa sejarah besar dan berakhir dengan adanya revolusi politik, sosial,
perubahan hukum perundang-undang, lahirnya deklarasi dan perjanjian yang
bersifat regional maupun internasional. Oleh karena itu, hak asasi manusia
dianggap sebagai instrumen kemanusiaan yang harus diatur secara internasional.
2.2.1
Instrumen Pengaturan Hak Asasi Manusia
Di dalam hukum internasional terdapat beberapa instrumen internasional
yang pengaturannya berpijak pada dasar-dasar pertimbangan perlindungan hak
asasi manusia. Beberapa diantaranya adalah Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa,
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Kovenan Internasional tentang Hak Sipil
dan Politik, Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya.
2.2.1.1 Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa
Lahirnya Perserikatan Bangsa Bangsa mengubah pandangan masyarakat
internasional khususnya terkait dengan hubungan antar negara. Salah satu objek
kajian yang dirasa penting terhadap perkembangan hubungan antar negara adalah
hak asasi manusia. Hak asasi manusia mulai mendapat perhatian khusus pada saat
dibentuknya Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa oleh Perserikatan Bangsa
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
36
Bangsa. Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa lahir karena adanya kekhawatiran
negara-negara di dunia atas terabaikannya nilai-nilai hak asasi manusia akibat
adanya perang.
Pembukaan Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa mengatur mengenai dasar
alasan yang menjadi faktor pendorong dibuatnya Piagam Perserikatan Bangsa
Bangsa: “to reafirm faith in fundamental human rights, in the dignity and worth
of the human person, in the equal rights of men and women and of nations large
and small”64 Ketentuan tersebut memberi arti bahwa hak asasi manusia adalah
hak yang mendasar, tidak dapat dikurangi pelaksanaannya. Pelaksanaan hak asasi
manusia harus menganut prinsip non-diskriminasi dengan tidak membedakan ras,
jenis kelamin dan agama.65
“The UN Charter, for one, does not mention protection of human rights,
but rather their promotion. Promotion over protection was chosen carefuly at the
time because international measures for the protection of human rights would
have been considered an inadmisible interference with national souvereignity ”66
Pada awalnya Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa hanya dibuat untuk tujuan
mempromosikan konsep hak asasi manusia, tetapi pada akhirnya konsep
mengenai hak asasi manusia merupakan konsep yang secara perlahan dapat
diterima oleh negara-negara di dunia. Hal tersebut dibuktikan dengan dibuatnya
64
Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa.
65
Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa Pasal 55.
66
Skripsi
Walter Kälin dan Jorg Künzli, Op. Cit., h. 27.
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
37
instrumen-instrumen internasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia
yang merujuk pada Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa. Konsep mengenai hak
asasi manusia yang terdapat di dalam Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa
merupakan bentuk kesadaran dari negara-negara di dunia bahwa perdamaian dan
hubungan antar negara dapat diwujudkan dengan penghormatan terhadap nilainilai hak asasi manusia. Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa merupakan
ketentuan yang menjadi pedoman atas perlindungan hak asasi manusia.
“Konvensi-konvensi internasional tentang hak asasi manusia selalu berpedoman
pada ketentuan di dalam Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai salah satu
dasar pertimbangan dalam pembuatannya.”67
2.2.1.2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
Perkembangan hak asasi manusia sendiri mulai berkembang secara
signifikan setelah banyak negara-negara yang menyatakan kemerdekaan
negaranya sebagai salah satu faktor pendorong lahirnya Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia. Deklarasi ini memuat pokok-pokok tentang kebebasan,
persamaan, kepemilikan harta, perkawinan, pendidikan, pekerjaan, kebebasan
beragama. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia merupakan deklarasi pertama
yang disahkan Perserikatan Bangsa Bangsa yang telah diakui secara internasional.
Deklarasi tersebut disahkan sebagai resolusi yang mengatur instrumen dasar hak
asasi manusia oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa pada tanggal 10
Desember tahun 1948. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dibangun
67
Romsan et al., Pengantar Hukum Pengungsi Internasional: Hukum Internasional dan
Prinsip-Prinsio Perlindungan Internasional. Sanic Offset, Jakarta, 2003, h. 117.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
38
berdasarkan ide bahwa HAM didasarkan atas martabat yang melekat pada diri
setiap orang dan tidak dapat dihilangkan. Majelis Umum Perserikatan Bangsa
Bangsa mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sebagai satu standar
umum bagi keberhasilan untuk semua bangsa dan negara.68 Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia mempunyai pengaruh yang signifikan baik secara langsung
maupun tidak langsung pada hukum yang mengatur hak-hak asasi manusia secara
umum. Beberapa prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ada di dalam Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia:
a. Prinsip pengakuan terhadap martabat dasar, hak-hak yang sama sebagai dasar
dari kemerdekaan, keadilan dan perdamaian dunia. Karakteristik Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia dapat dibagi menjadi 3:
- Hak asasi manusia bersifat universal. Setiap orang terikat pada hak asasi
manusia. Sifat universal merujuk pada nilai-nilai moral dan etika khusus
yang diakui dan dijunjung oleh masyarakat internasional. Di dalam
Mukadimah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dicantumkan bahwa
hak setiap orang untuk mendapatkan kemerdekaan, keadilan dan
perdamaian.69
- Hak asasi manusia tidak dapat dipisah-pisah. Hal ini merujuk pada
kepentingan yang setara dari tiap-tiap hak asasi manusia, apakah itu sipil,
68
International Law Making, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Jurnal Hukum
Internasional Volume 4 Nomor 1 Okt 2006, Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2008, h. 133.
69
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
39
politik, ekonomi, sosial ataupun budaya. “Seluruh hak asasi manusia
memiliki status yang setara, dan tidak dapat ditempatkan pada pengaturan
yang bersifat hierarkis.”70
- Hak asasi manusia tidak dapat dirampas. Ini berarti hak yang dimiliki tiap
orang tidak dapat dicabut, diserahkan atau dipindahkan. Hak asasi manusia
merupakan kepentingan dan kebutuhan dasar dari setiap orang sejak lahir,
sehingga pihak manapun tidak dapat mengurangi atau tidak melaksanakan
ketentuan terkait hak asasi manusia. Pasal 1 Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia: “Semua manusia dilahirkan bebas dan setara dalam martabat dan
hak.”71
b. Koordinasi antara negara dengan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk mencapai
pengakuan universal terhadap HAM dan kebebasan dasar. Salah satunya
dengan membangun hubungan yang baik antar bangsa.
c. Prinsip persamaan antara laki-laki dan perempuan. Hak asasi manusia tidak
bersifat diskriminatif. Prinsip non-diskriminasi melingkupi pandangan bahwa
orang tidak dapat diperlakukan secara berbeda berdasarkan kriteria yang
bersifat tambahan yang tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan. Pada pasal 2
DUHAM terdapat ketentuan yang mengatur bahwa setiap orang berhak atas
semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum dalam Deklarasi ini tanpa
pengecualian apapun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin,
70
Hikmahanto Juwana, Pemberdayaan Budaya Hukum dalam Perlindungan Ham di
Indonesia: HAM dalam Perspektif Sistem Hukum Internasional, Refika Aditama, Jakarta, 2004, h.
70.
71
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
40
bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan, hak milik,
kelahiran atau kedudukan lain.72
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia merupakan deklarasi yang memuat
instrumen penting mengenai hak asasi manusia, namun dari segi hukum Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia tidak mempunyai daya ikat. Namun sejalan dengan
perkembangan HAM, banyak negara yang membuat ketentuan-ketentuan -baik di
dalam kepentingan nasional maupun internasional- yang berpedoman pada
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia . “...ketentuan-ketentuan yang terdapat di
dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia banyak dimasukkan ke dalam
hukum nasional negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa dan telah menjadi
tolak ukur untuk menilai sejauh mana suatu negara menempatkan HAM”73
Prinsip-prinsip yang terdapat di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
merupakan prinsip yang dijadikan standar etis normatif bagi masyarakat
internasional. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ditetapkan sebagai suatu
norma yang tidak mengikat, sebagai common standart of achievement, yang
diharapkan menjadi hukum kebiasaan internasional yang secara moral harus
dipatuhi oleh semua negara-negara yang ikut dalam keanggotaan Perserikatan
Bangsa Bangsa. Rumusan-rumusan pengaturan di dalam deklarasi tersebut
merupakan rumusan yang non-derogable (tidak dapat diubah) atau di dalam
hukum internasional sering disebut jus cogens. Menurut Dr. Atik Krusiyati, jus
cogens adalah “norma-norma yang telah diterima dan diakui oleh komunitas
72
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
73
Ibid.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
41
internasional, yang tidak boleh dicabut dan tidak boleh dikecualikan oleh
siapapun.”74 Karakteristik Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang khusus
tersebut berimplikasi pada terikatnya negara-negara berdasarkan hukum kebiasaan
internasional. “Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia terbagi dalam dua bagian,
yaitu economic and social rights dan civil and political rights.”75 Oleh karena itu,
untuk membuat nilai-nilai hak asasi manusia dilaksanakan oleh negara dan
mempunyai kekuatan mengikat sesuai hukum internasional, Majelis Umum
Perserikatan Bangsa Bangsa mengesahkan perjanjian internasional yang secara
yuridis dapat mengikat negara. Pada tahun 1952, diputuskan untuk dibentuk
ICCPR dan ICESCR.
2.2.1.3 International Covenant on Civil and Political Rights dan International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights.
International Covenant on Civil and Political Rights atau dapat disingkat
ICCPR, merupakan instrumen yang mengatur mengenai hak politik dan sipil yang
bersifat universal. ICCPR mengatur cakupan perlindungan hak-hak sipil dan
politik, seperti hak hidup dan martabat manusia, persamaan dimuka hukum, hak
untuk tidak disiksa, persamaan gender, peradilan yang adil, hak-hak minoritas.
Menurut Walter Kallin dan Jorg Kunzli, ICCPR terbagi ke dalam 4 bagian:76
74
Atik Krustiyati, Penanganan Pengungsi Di Indonesia: Tinjauan Aspek Hukum
Internasional dan Nasional, Brilian Internasional, Surabaya, 2010, h. 99.
75
Ibid.
76
Walter Kälin dan Jorg Künzli, Op. Cit., h. 33.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
42
1. Bagian pertama (Pasal 1) berisi hak untuk menentukan nasib sendiri (the
right of self-determination). Hak yang diatur di dalam bagian pertama
mengatur hak yang dimiliki oleh sebuah bangsa/negara untuk secara bebas
menentukan, mengatur, mengelola dan melaksanakan hak politik dan
sosialnya.
2. Bagian kedua (Pasal 2-5) mengatur mengenai kewajiban negara di dalam
ICCPR untuk menghormati, menjamin dan mengimplementasikan
ketentuan di dalam ICCPR dengan mengaturnya ke dalam peraturan
nasional negara secara resmi.
3. Bagian ketiga memuat substansi hak. merupakan daftar hak-hak yang
dijamin dalam ICCPR.
-
Pasal 6-12 mengatur mengenai hak untuk berkehidupan yang
mencakup larangan untuk perlakuan yang kejam dan segala bentuk
penyiksaan yang tidak mencerminkan nilai-nilai perikemanusiaan,
larangan untuk adanya perbudakan; hak untuk mendapatkan kebebasan
bergerak dan keamanan secara pribadi yang mencakup kebebasan
bergerak dan peluang untuk menuntut ganti rugi jika kebebasannya
dibatasi secara tidak sah.
-
Pasal 13-16 mengatur jaminan prosedural yang adil bagi setiap orang
dalam hal pengusiran yang dilakukan terhadapnya, persamaan dalam
kedudukan dan akses terhadap pengadilan.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
43
-
Pasal 17-27 mengatur mengenai kebebasan dalam berpikir, beragama,
menyatakan pendapat, berkeluarga, berserikat. “Pasal 26 menyebutkan
bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama dalam hukum,
tanpa ada diskriminasi antara satu dengan yang lainnya dalam
memperoleh hukum.”77 Oleh karena itu, suatu hukum harus melarang
segala bentuk diskriminasi yang didasarkan pada suatu ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik, asal kebangsaan,
kepemilikan atau status kelahiran.
4. Bagian keempat mengatur tentang Komite HAM, kewenangannya dan
mekanisme pemantauan untuk pelaksanaan kovenan. Pengaturan di dalam
5. bagian keempat mencakup juga kewajiban negara pihak untuk melaporkan
kemajuan implementasi negara atas ICCPR. Negara pihak juga harus
melakukan koordinasi dengan Komite HAM mengenai kendala dalam
pelaksanaan ICCPR.
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights atau yang
biasa disingkat ICESCR merupakan kovenan yang bertujuan untuk melindungi
hak asasi manusia di dalam ruang lingkup hak ekonomi, sosial dan budaya.
“Pengesahan ICESCR sebagai bagian dari International bill of rights secara
implisit telah membenamkan secara legal, setidaknya bagi negara-negara yang
menjadi pihak dalam ICESCR, argumen lama bahwa hak-hak ekonomi, sosial dan
77
International Covenant on Civil and Political Rights.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
44
budaya bukanlah hak asasi manusia”78 Di dalam paragraf pembuka ke-3 dari
ICESCR, ditegaskan tentang keterkaitan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya
dengan hak-hak sipil dan politik. Paragraf pembuka ke-3 tersebut menyatakan:
mengakui bahwa sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,
keadaan ideal dari manusia yang bebas dari penikmatan kebebasan dari
ketakutan dan kemiskinan, hanya dapat dicapai apabila diciptakan
kondisi di mana semua orang dapat menikmati hak-hak ekonomi, sosial
dan budaya, juga hak-hak sipil dan politiknya.79
Substansi yang diatur oleh ICESCR adalah:
1. Pada bagian pertama menjamin pelaksanaan hak untuk menentukan nasib
sendiri dan larangan untuk merampas atau menghilangkannya. Hak
tersebut mencakup hak untuk memajukan dan mengembangkan kehidupan
dari segi ekonomi, sosial dan budaya.
2. Pada bagian kedua mengatur mengenai kewajiban negara pihak untuk
menjalankan pengaturan di dalam ICESCR.
3. Pada bagian ketiga mengatur hak-hak yang harus diberikan oleh negara
pihak.
-
Hak dalam segi ekonomi (Pasal 6-8) yang mengatur hak untuk
mendapatkan pekerjaan termasuk kewajiban negara untuk berperan,
baik sebagai pihak membuat regulasi dan memberi fasilitas terhadap
terwujudnya hak untuk mendapatkan pekerjaan.
78
Mashood A Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Manusia & Hukum Islam,
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2010, h. 174
79
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
45
-
Hak sosial (Pasal 9-12) yang mengatur hak untuk jaminan sosial. Hak
untuk jaminan sosial meliputi hak untuk keamanan sosial, hak untuk
mendapatkan standar kehidupan yang lebih baik.
-
Hak untuk berbudaya (Pasal 13-15) yang mengatur mengenai hak
untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk ikut berpartisipasi di dalam
kebudayaan dan hak untuk menikmati produk hasil budaya.
4. Pada
bagian
keempat
mengatur
mengenai
komitmen
di
dalam
mewujudkan pengaturan di dalam ICESCR. Negara berkewajiban untuk
memberikan laporan periodik yang berisikan laporan tindakan-tindakan
yang telah dilakukan oleh negara pihak dalam hal penerapan ICESCR.
Dua kovenan pokok, International Covenant on Civil and Political Rights
(ICCPR) dan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
(ICESCR) mempunyai formulasi yang berbeda berkenaan dengan mekanisme
Menurut Mashood, terdapat 2 kategorisasi terkait instrumen ICCPR dan ICESR:80
1. hak-hak sipil dan politik sering dianggap sebagai hak-hak generasi
pertama.
ICCPR
menghendaki
Negara
yang
meratifikasi
agar
menghormati dan menjamin perlindungan atas hak-hak yang terkandung
didalamnya. ICCPR pada dasarnya memuat ketentuan mengenai
pembatasan penggunaan kewenangan dari otoritas negara. Artinya, hakhak dan kebebasan yang dijamin di dalamnya akan dapat terpenuhi
apabila peran negara terbatasi.
80
Mashood A. Baderin, Op. Cit., h. 69.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
46
2. hak-hak ekonomi, sosial dan budaya disebut sebagai hak-hak generasi
kedua. ICESCR menghendaki Negara Pihak agar mencapai secara
bertahap realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang diakui di kovenan dan
mengambil langkah-langkah sejauh yang dimungkinkan oleh sumberdaya
yang tersedia. Inilah yang membedakannya dengan model Kovenan
Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang justru menuntut
peran maksimal negara. Negara justru melanggar hak-hak yang dijamin
di dalamnya apabila negara tidak berperan secara aktif.
Implikasinya adalah, ICCPR mensyaratkan implementasi yang bersifat segera,
sementara itu ICESCR meminta implementasi bertahap dengan memperhitungkan
sumberdaya yang ada.
2.2.2
Hubungan Hak Asasi Manusia dan Perlindungan Pengungsi
Di dalam Konvensi Pengungsi dijelaskan bahwa seseorang dapat disebut
sebagai pengungsi adalah seseorang yang keluar dari tempat tinggal atau negara
asalnya untuk mencari perlindungan ke negara lain. Faktor pendorong seorang
pengungsi meninggalkan negara asalnya adalah karena ketakutan akan adanya
persekusi. Seorang pengungsi karena alasan ketakutan tersebut tidak mau atau
tidak dapat memanfaatkan akses perlindungan yang seharusnya diberikan oleh
negara asalnya, sebaliknya negara asal juga tidak mau memberikan upaya
perlindungan hak-hak dasar pengungsi. Ketiadaan peran entitas negara asal di
dalam menjamin hak-hak dasar atas pengungsi menyebabkan kemungkinan untuk
terabaikannya hak-hak dasar seorang pengungsi.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
47
Hukum hak asasi manusia merupakan hukum yang mengatur mengenai
hak-hak dasar manusia. Hukum hak asasi manusia memuat pengaturan yang
menjamin setiap individu untuk dapat mendapatkan hak-hak dasarnya. Instrumen
pengaturan hak asasi manusia merupakan instrumen yang berlaku secara universal
tidak terikat oleh waktu dan tempat. Sifat keberlakuan hak asasi manusia
berimplikasi pada tetap berlakunya instrumen pengaturan mengenai hukum hak
asasi manusia di dalam keadaan apapun. Hukum pengungsi merupakan hukum
yang mengatur mengenai perlindungan hak-hak yang diperoleh seorang atau
sekelompok orang yang dikategorikan sebagai pengungsi menurut Konvensi.
Hukum pengungsi memuat pengaturan perlindungan terhadap pengungsi di dalam
situasi dan kondisi tertentu. Terdapat relevansi antara hak asasi manusia dan
hukum pengungsi. Instrumen pengaturan mengenai hak asasi manusia dibuat
dengan tujuan untuk memberikan perlindungan hak-hak dasar manusia. Tujuan
tersebut sejalan dengan pengaturan perlindungan pengungsi di dalam hukum
pengungsi. Pengaturan di dalam hukum pengungsi dibuat untuk melindungi hakhak dasar pengungsi. Sebagai seorang individu, pengungsi mempunyai hak-hak
dasar yang diatur di dalam hukum hak asasi manusia. Hukum hak asasi manusia
mengakui beberapa hak yang dimiliki setiap individu, antara lain hak untuk
berkehidupan, hak untuk jaminan keselamatan, dan kebebasan-kebebasan
tertentu.81
81
Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
48
Beberapa ketentuan di dalam Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun
1951 yang berpedoman pada instrumen hak asasi manusia internasional antara
lain:
1. Konvensi Pengungsi mengatur prinsip utama, yakni prinsip nonrefoulement. Prinsip tersebut merupakan fundamental yang mengakui hak
asai manusia yang dimiliki pengungsi dari segi perlindungan terhadap
keselamatan. Pengaturan di dalam Konvensi tersebut mengadopsi prinsip
yang telah diatur di dalam DUHAM dan ICCPR. Pasal 32 Larangan untuk
menolak pengungsi yang mencari perlindungan ke tempat yang aman.
Merupakan larangan yang diadopsi dari Pasal 3, Pasal 13 DUHAM,yakni
larangan untuk mencegah mencari perlindungan. Pasal 12 di dalam
ICCPR.
2. Ketentuan di dalam Pasal Konvensi mengatur hak pengungsi untuk
mendapatkan akses pendidikan, hak untuk beragama, dan tidak
diperlakukan secara diskriminatif. Hak-hak di dalam Konvensi tersebut
merupakan hak yang tidak dapat dikenakan mekanisme reservasi oleh
negara yang menjadi pihak di dalam konvensi. Ketentuan tersebut sejalan
dengan ketentuan di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan
ICESCR. Pasal 3 yang mengatur mengenai prinsip non-diskriminasi dan
Pasal 4 yang mengatur mengenai kebebasan beragama merupakan prinsip
yang didasarkan atas kesetaraan derajat terhadap ras, jenis kelamin yang
diatur di dalam Pasal 2 DUHAM. Pasal 13 ICESCR mengatur mengenai
hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa adanya diksriminasi.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
49
Hak untuk berkehidupan, hak terhadap keselamatan dan kebebasan yang diatur di
dalam hukum hak asasi manusia dijadikan dasar untuk membuat instrumen khusus
mengenai perlindungan terhadap pengungsi. Sehingga pengaturan di dalam
hukum pengungsi merupakan pengaturan yang berpedoman pada pengaturan hakhak dasar yang telah diakui oleh hukum hak asasi manusia.
2.3
Perlindungan Internasional Terhadap Pengungsi
Permasalahan pengungsi menyita perhatian masyarakat internasional.
Beberapa instrumen internasional mengatur secara khusus mengenai perlindungan
pengungsi yang berlaku dalam lingkup internasional. Konvensi tahun 1951
merupakan konvensi yang melindungi dan memberikan bantuanpada pengungsi.
Konvensi tahun 1951 mengatur beberapa hal yang penting. Pertama, memberikan
pengertian mengenai pengungsi. Kedua, konvensi menetapkan standar minimum
terkait pengungsi, misalkan memberikan hak-hak dasar yang harus diberikan
kepada pengungsi serta kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh
pengungsi.
2.3.1
Hak Pengungsi
Perlindungan yang diatur di dalam Konvensi tahun 1951 antara lain:82
1. Tidak ada diskriminasi
Tidak akan ada diskriminasi terhadap pengungsi berdasarkan ras, agama,
atau negara asal (Pasal 3). Pengungsi mempunyai kebebasan untuk
82
Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
50
menjalankan ibadah agama sebagaimana yang dijalankan di negara asalnya
(Pasal 4).
2. Negara dimana pengungsi tersebut berada harus memperlakukan
pengungsi sama sebagaimana orang asing lainnya yang berada di negara
tersebut (Pasal 7).
3. Status personal dari pengungsi akan diatur sesuai dengan hukum dimana ia
berdomisili. Jika tidak mempunyai domisili, maka menurut hukum dimana
ia berada. Hak yang paling dasar, khususnya untuk melakukan perkawinan
harus diakui (Pasal 12).
4. Pengungai mempunyai hak untuk memiliki benda bergerak dan benda
tidak bergerak dan menyimpannya seperti orang asing lainnya (Pasal 13).
Pengungsi juga dapat memindahkan ke negara dimana pengungsi akan
diterima (Pasal 30).
5. Pengungsi berhak mendapat perlindungan terkait kepemilikan industri,
seperti penemuan, desain atau model, merek dagang, nama dagang, hak
untuk menikmati hasil penelitian ilmiah seperti warga negara dari negara
tersebut (Pasal 14).
6. Pengungsi mempunyai kebebasan berpekara di depan pengadilan (Pasal
16).
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
51
7. Pengungsi berhak mendapat perlakuan yang sama seperti warga negara di
negara tersebut, dalam hal memperoleh pendidikan dasar dan perlakuan
yang sebaik mungkin untuk bidang pendidikan (Pasal 22).
8. Pengungsi tidak akan dibatasi ruang geraknya (Pasal 26), kecuali jika hal
tersebut diperlukan untuk menunggu statusnya di negara dimana
pengungsi berada atau melanjutkan permohonan ke negara lain (Pasal 31).
9. Negara dimana pengungsi dilarang untuk melakukan tindakan pengusiran
(Pasal 32) dan dilarang untuk mengembalikkan pengungsi ke negara
asalnya (Pasal 33).
10. Pengungsi mempunyai hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial,
seperti hak untuk bekerja, mendapatkan upah dari pekerjaannya, atau
jaminan atas keamanan (Pasal 20-24).
2.3.2
Kewajiban Pengungsi
Disamping hak-hak yang dimilikioleh pengungsi, maka Konvensi tahun
1951 juga mengatur mengenai kewajiban yang harus dijalankan oleh pengungsi.
Di dalam Pasal 2 Konvensi tahun 1951 diatur bahwa kewajiban pengungsi adalah
mentaati peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di negara
dimana pengungsi berada. Pengungsi tidak boleh melakukan tindakan yang
menganggu ketertiban umum, tindakan yang membahayakan kepentingan negara
dimana pengungsi tersebut berada.
2.3.3
Skripsi
Prosedur Penanganan Pengungsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
52
Prosedur dalam menangani masalah pengungsi adalah merupakan tanggung
jawab semua elemen masyarakat internasional. Di dalam hukum internasional
terdapat badan yang berwenang secara khusus dalam menangani masalah
pengungsi, yaitu UNHCR. Dalam Statuta UNHCR tahun 1951 menyebutkan
tentang fungsi utama UNHCR adalah menyediakan perlindungan internasional
dan mencari solusi permanen permasalahan pengungsi bekerja sama dengan
negara-negara
lain
untuk
memberikan
fasilitas
dan
kemudahan
dalam
pelakasanaan voluntary repatriation, local integration dan resettlement.83
1. Voluntary Repatriation
Voluntary Repatriation (repatriasi sukarela) adalah prosedur penanganan
pengungsi dengan menempatkan atau memulangkan kembali pengungsi ke
negara asalnya. Prosedur tersebut dilakukan atas persetujuan dari negara
asal dan pengungsi, sehingga repatriasi sukarela dilakukan dengan tanpa
paksaan dari pihak manapun. Hak pengungsi terkait repatriasi sukarela
diatur di dalam Pasal 13 DUHAM dan Pasal 12 ICCPR yang mengatur
bahwa setiap orang mempunyai hak untuk kembali ke negara asalnya dan
tidak seorang dan pihak manapun yang dapat mencegah atau mengurangi
hak setiap orang untuk masuk dan kembali ke negara asalnya.
2. Local Integration
Local
integration
(integrasi
lokal)
adalah
prosedur
penanganan
permasalahan pengungsi dengan mengintegrasikan, melakukan asimilasi
83
Statuta UNHCR.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga
53
atas faktor ekonomi, psikologis, budaya, keamanan dan faktor sosial yang
terdapat di negara pemberi suaka terhadap pengungsi. Prosedur tersebut
dilakukan atas persetujuan negara pemberi suaka dan pengungsi.
3. Resettlement
Resettlement (penempatan kembali ke negara ketiga) merupakan prosedur
penanganan
pengungsi
dengan
menempatkan
atau
memindahkan
pengungsi ke negara yang bersedia menerima pengungsi.Prosedur tersebut
dilakukan atas persetujuan dari negara penerima dan pengungsi.
Skripsi
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGUNGSI AKIBAT KONFLIK BERSENJATA Haryo Widyo Seno Putranto
MENURUT HUKUM PENGUNGSI INTERNASIONAL (STUDI KASUS PENGUNGSI SURIAH)
Download