PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN A TERHADAP NILAI

advertisement
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN A TERHADAP NILAI
PERLUKAAN SEKUM WAKTU SPORULASI DAN PRODUKSI
OOKISTA Eimeria tenella PADA AYAM ARAB
(The Effect of Vitamin A on Caecum Lesion Score Sporulation Time and
Oocyst Production of Eimeria tenella on Arab Chicken)
TOLIBIN ISKANDAR
Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114
ABSTRACT
The aim of this experiment was identifield the effects of 25.000 IU Vitamin A mixed with Coxalin on
Arab chickens that inoculated by Eimeria tenella. Forty five male Arab chickens were used as experimental
animals and were divided into three groups (K1, K2, and K3). All of the animals were inoculated by 10.000
oocyst of four weeks old E. tenella. The control was K1, K2 was treated with Coxalin, and K3 was treated
with Coxalin + 25.000 IU Vitamin A. The result of the experiment showed that caecum lesion score and
oocyst production of E. tenella were decrease (P<0,01) by treated with Coxalin and or mixed with 25.000 IU
of Vitamin A. However, the oocyst production on K2 and K3 were significant different (P<0,05). In this
research it was indentitified that the average sporulation of the E. tenella is 20 hours.
Key Words: Coxalin, Eimeria tenella, Vitamin A, Arab chicken
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui efek pemberian Vitamin A dengan dosis 25.000 IU yang
pemberiannya setelah diberi Coxalin pada ayam Arab yang diinokulasi oleh Eimeria tenella. Empat puluh
lima ekor ayam Arab jantan dibagi tiga kelompok yaitu K1, K2, dan K3. Semua hewan percobaan diinokulasi
masing-masing 10.000 ookista E. tenella pada ayam umur 4 minggu yang bebas koksidia. Ayam-ayam K1
diberi ookista dan ayam-ayam K2 diberi ookista dan Coxalin sedangkan ayam-ayam K3 diberi ookista dan
Coxalin juga + Vitamin A 25.000 IU. Hasil pengamatan pada skor kerusakan sekum sangat berbeda antara
yang diberi Coxalin + Vitamin A dengan kelompok yang lainnya (P<0,01). Demikian pula jumlah produksi
ookista berbeda nyata antara K3 dengan K1 dan K2 (P<0,05). Pada penelitian ini waktu sporulasi E. tenella
adalah 20 jam.
Kata Kunci: Coxalin, Eimeria tenella, Vitamin A, Ayam Arab
PENDAHULUAN
Peternak ayam buras (bukan ras)
kebanyakan memusatkan perhatiannya pada
penanggulangan penyakit ND (New Castle
Disease) dan AI (Avian Influenza) dengan cara
memberikan vaksinasi secara rutin. Ayam
buras yang dipelihara secara tradisional ini
(dilepas bebas) akan mudah terjangkiti
berbagai penyakit. Salah satunya koksidiosis
penyebabnya yaitu protozoa dari genus
Eimeria, parasit ini terdapat di seluruh dunia,
tetapi lebih banyak ditemukan di negeri
beriiklim panas seperti di Indonesia
(SUPRIHATI, 1987). Penyakit ini menurut
YAHYA (1991) bisa mencapai angka
morbiditas dan mortalitas antara 80% hingga
90%. Kerugian akibat penyakit ini di samping
menimbulkan kematian, juga mengakibatkan
penurunan bobot hidup, masa bertelur
terlambat, penurunan produksi telur, dan
penurunan
efisiensi
pakan.
Penyakit
koksidiosis pada ayam buras prevalensinya
bervariasi di Kabupaten Ciamis, Bekasi,
Subang, dan Sukabumi Propinsi Jawa Barat
berkisar antara 3-64% (ISKANDAR et al., 2000).
Menurut RETNO et al. (1994) menyatakan
kejadian infeksi campuran pada ayam ras
1041
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
sebesar 60%, ayam buras 42,5% sedangkan
infeksi tunggal pada ayam ras 40% dan ayam
buras 57,5% di Sidoarjo Propinsi Jawa Timur.
Demikian pula ayam Arab di Malang
Provinsi Jawa Timur (disebut ayam Dablo)
banyak di ternakan di kota maupun di
pedesaan. Pemeliharaannya ada yang bersifat
intensif dan ada pula yang semi intensif seperti
memelihara ayam buras. Sesuai yang
dilaporkan NATAAMIJAYA et al. (2003) ayam
Arab masih dipelihara secara tradisional
dimana ayam dibiarkan berkeliaran di sekitar
pekarangan rumah. Salah satu kendala dalam
memelihara ayam tersebut yaitu penyakit
koksidiosis.
SING dan DONOVAN (1973) menyatakan
bahwa ayam yang terinfeksi oleh koksidia ada
hubungannya dengan kebutuhan vitamin A.
Kebutuhan vitamin A lebih meningkat pada
ayam-ayam yang diinfeksi koksidia daripada
ayam yang tidak diinfeksi koksidia. Hal ini
disebabkan koksidia tidak saja merusak
mikrovili epitel usus yang secara langsung
mengakibatkan penurunan daya absorpsi
vitamin A, namun juga merusak vitamin A itu
sendiri. Fungsi vitamin A antara lain untuk
mempertahankan keutuhan sel-sel epitel
saluran pencernaan. Pada waktu ayam
terserang koksidiosis yang hebat, maka perlu
cadangan vitamin A di dalam hati untuk
memelihara struktur seluler yang normal dari
membran mukosa (DANIEL, 1992).
Tujuan penelitian ini ingin mengetahui
pengaruh pemberian vitamin A dan tanpa
pemberian vitamin A pada ayam Arab yang
diinfeksi E. tenella. Kemudian diobati Coxalin
yang mengandung Sulfakuinoksalin, dengan
melihat nilai perlukaan sekum waktu sporulasi
dan produksi ookista dari masing-masing
perlakuan.
MATERI DAN METODE
Penelitian dilakukan di laboratorium
Parasitologi Balai Penelitian Veteriner Bogor
dan di Epidemiologi, Fakultas Peternakan,
Universitas Brawijaya, Malang.
Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah ayam Arab (ayam Dablo)
jantan, pakan ayam tanpa koksidiostat, ookista
E. tenella, larutan kalium bikromat 2,5%,
desinfektan, alkohol 70%, gula Sheater, dan
aquades steril.
1042
Ookista yang digunakan sebagai bahan
inokulasi adalah E. tenella galur lokal dari
ayam-ayam yang terinfeksi di daerah Malang,
Lumajang, dan Jember, Jawa Timur. Isi
sekum-sekum yang mengandung ookista E.
tenella diletakkan dalam lumpang porselin
(mortar), diberi aquades secukupnya kemudian
digerus dan dihaluskan secara perlahan-lahan
agar tidak merusak ookista. Kemudian disaring
dengan saringan 25 µm. Hasil saringan
disimpan/endapan pada cawan petri dan diberi
larutan kaium bikromat 2,5% secukupnya pada
temperatur kamar, diamati sampai ookista
bersporulasi
kemudian
dikoleksi,
baru
diinokulasikan.
Peralatan menggunakan kandang dari
bambu ukuran 200 x 80 x 50 cm. Ayam
dipelihara dari umur 1 hari sampai 4 minggu
(masih mengandung maternal antibodi). Pada
hari ke-28 (ayam sensitif koksidiosis), ayamayam sebanyak 45 ekor jenis kelamin jantan
dipindahkan ke kandang sistem baterry secara
acak yang dibagi dalam tiga kelompok.
Kelompok I sebagai kontrol (K1), ayam
diinokulasi 10.000 ookista E. tenella tanpa
pengobatan. Kelompok II (K2) diinokulasi
dengan 10.000 ookista E. tenella dan diobati
Coxalin (dosis terapi). Kelompok III (K3)
diinokulasi 10.000 ookista E. tenella diterapi
dengan Coxalin dan diberi vitamin A seminggu
sebelum diinokulasi sampai hari ke-7 pascainokulasi secara i.m. dengan dosis 25.000 IU.
Inokulasi E. tenella dilakukan satu kali
pada saat ayam berumur 28 hari yang diberikan
secara per oral. Pemberian vitamin A secara
injeksi pada saat ayam umur 21 hari,
sedangkan Coxalin diberikan pada hari ke-2
setelah inokulasi ookista dengan metode 3-2-3.
Semua kelompok ayam dipotong pada hari ke8 pasca-inokulasi.
Waktu sporulasi ookista dihitung dari
masing-masing isi sekum per kelompok pada
suhu 28ºC dan kelembaban 60%.
Peubah yang diamati adalah nilai perlukaan
sekum dan penghitungan produksi ookista
setiap gram isi sekum. Penilaian skor
perlukaan terhadap koksidiosis sekum dengan
cara JOHNSON dan REID (1970).
Hasil pengamatan di analisis secara
statistik, untuk uji perlukaan skor sekum antara
perlakuan dengan uji Kruskal Wallis, tingkat
kerusakan sekum diperoleh berdasarkan
kriteria skor. Sementara itu, untuk mengetahui
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
perbedaan produksi ookista diantara perlakuan
dengan analisis varian (uji F) dan masa
sporulasi ookista (STEEL dan TORRIE, 1991).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan penilaian skor perlukaan
sekum ayam Arab dari ketiga perlakuan tertera
pada Tabel 1, sedangkan produksi ookista
sekum (opg) pada Tabel2.
Tabel 1. Rataan dan simpangan baku
perlukaan sekum ayam Arab
skor
Perlakuan
K1
K2
K3
Rataan skor sekum
a
3,7
2,1
b
1,1c
Simpangan baku
0,7
0,4
0,2
Rataan pada baris yang sama diikuti superskrip yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata
(P<0,01)
K1 = Kelompok kontrol diinokulasi 10.000
ookista E. tenella tanpa obat
K2 = Kelompok diinokulasi 10.000 ookista E.
tenella diobati Coxalin
K3 = Diinokulasi 10.000 ookista E. tenella diberi
Coxalin dan vitamin A
Hasil pengamatan nilai skor perlukaan
sekum antara perlakuan pada kelompok satu,
dua dan tiga menunjukkan perbedaan yang
sangat nyata secara makroskopis. Hal ini
berarti ada manfaat pemberian vitamin A dosis
25.000 IU yang diberikan bersama-sama
dengan koksidiostat Coxalin (3-2-3) dosis
pengobatan pada ayam Arab yang menderita
koksidiosis sekum. Pemberian vitamin A
secara oral dalam pakan atau air minum ada
pakan dan air minum yang tersisa. Aplikasi
i.m. vitamin A akan terdeposit di hati lebih
cepat (SING dan DONOVAN, 1973). Rataan
perlukaan di sekum pada perlakuan satu (K1)
sebesar 3,7 dan rataan K2 sebesar 2,1
sedangkan rataan perlukaan sekum K3 sebesar
1,1.
Pada perlakuan satu (K1) yang diinokulasi
10.000 ookista E. tenella menunjukkan skor
yang paling parah (+4) dan 2 ekor diantaranya
mati. Terlihat sekum sangat membesar dengan
dinding yang merentang, isi sekum terdiri dari
darah yang membeku. Ada beberapa yang
mengalami proses perkapuran, isi sekum yang
berupa tinja sangat sedikit seperti pada Gambar
1. Sedangkan pada Gambar 2 yaitu perubahan
histopatologis sekum yang terinfeksi E. tenella.
Hal ini disebabkan karena pada kelompok
tersebut tidak diberikan pengobatan sehingga
tingkat kerusakan sekum semakin parah, juga
dihitung jumlah ookista pada kerokan mukosa
sekum.
Perubahan patologi anatomi ayam Arab
pada perlakuan ke-2, menunjukkan skor yang
paling tinggi sebesar +3 yaitu sekum berisi
darah yang setengah membeku, dinding sekum
sangat menebal dan ada titik perdarahan,
sedikit didapatkan tinja. Pada perlakuan
tersebut ayam diobati koksidiostat (Coxalin)
yang mengandung Sulfakuinoksalin dosis
pengobatan. Menurut JONES (1977) cara kerja
Sulfakuinoksalin menekan seluruh stadium
skizogoni dan gametogoni dari siklus hidup E.
tenella yaitu menyebabkan degenerasi stadium
aseksual.
Puncak aktivitas Sulfakuinoksalin adalah
pada schizont generasi ke-2 yaitu mengadakan
hambatan secara kompetitif dengan PABA atau
asam folat yang penting untuk pembuatan
sejumlah besar bahan inti selama pembentukan
schizont generasi ke-2.
Tabel 2. Rataan dan simpangan baku produksi ookista per gram (opg) isi sekum
Perlakuan
K1
Rataan produksi opg
Simpangan baku
276.408,78
2.843,27
K2
b
37.476,47
1.387,45
K3
a
12.472,21a
857,43
Rataan pada baris yang sama diikuti superkrip yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (P<0,05).
K1 = Kelompok kontrol diinokulasi 10.000 ookista E. tenella tanpa obat
K2 = Kelompok diinokulasi 10.000 ookista E. tenella diberi Coxalin
K3 = Diinokulasi 10.000 ookista E. tenella diberi Coxalin dan vitamin A
1043
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
Gambar 1. Tingkat kerusakan sekum paling parah (+4)
Melihat tingkat kerusakan sekum yang
masih tergolong parah disebabkan penggunaan
koksidiostat dosis terapeutik masih kurang
efektif, sehingga perlu dikombinasi dengan
obat lain. Setiap spesies Eimeria berbeda
kepekaannya terhadap antikoksidia (RUFF 1977
yang dikutip SUPRIHATI 1987. Penggunaan
Sulfakuinoksalin dosis pengobatan ditujukan
untuk semua spesies Eimeria, sehingga
berdasarkan pendapat tersebut di atas mungkin
pengobatan dengan Sulfakuinoksalin dosis
terapeutik kurang efektif untuk E. tenella.
Berdasarkan pengamatan di lapang para
peternak memberikan takaran obat yang tidak
memadai dalam menentukan takaran obat
melalui air minum ayam, serta kurangnya
pengetahuan akan dampak negatif obat.
Sehingga pemberian obat yang kurang teliti
bila berlangsung lama dapat menimbulkan
resistensi Eimeria terhadap obat. Faktor lain
menurut CUCKLER (1975 yang dikutip YUNUS
et al. 1997) yang berpengaruh terhadap
efektivitas obat antara lain: galur dan virulensi
koksidia, kepekaan induk semang, cuaca,
manajemen dan sanitasi lingkungan. E. tenella
termasuk galur yang paling patogen
dibandingkan dengan galur lain, sedangkan
efektivitas obat dipengaruhi oleh virulensi
Eimeria.
Pada kelompok tiga selain diberi Coxalin
juga dikombinasi dengan pemberian vitamin A
1044
25.000 IU menunjukkan skor perlukaan
terbanyak +1 (9 ekor dari 15 ekor ayam) yaitu
pada dinding dan isi sekum terlihat normal.
Sedangkan kerusakan yang agak parah +2
hanya seekor, juga dihitung jumlah ookista
pada kerokan mukosa sekum menurut
GOODWIN et al. (1998).
Hasil pengamatan kelompok 3 yaitu dengan
penambahan vitamin A dosis 25.000 IU yang
diberikan satu minggu sebelum diinfeksi
sampai hari ketujuh pasca infeksi ternyata
dapat membantu proses penyembuhan dengan
memperlihatkan skor perlukaan pada sekum
yang ringan. Hal ini karena vitamin A berperan
dalam proses epitelisasi, merangsang produksi
mukus dan menghambat keratinasi. Selain itu
vitamin A berperan dalam proses pembentukan
pertahanan tubuh terhadap infeksi penyakit
dengan cara memelihara keutuhan sel-sel epitel
pada saluran pernafasan dan pencernaan. Oleh
sebab itu apabila tejadi kekurangan vitamin A
akan menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Hal ini sesuai yang dilaporkan SING dan
DONOVAN (1973) bahwa ayam yang diinfeksi
koksidia kebutuhan vitamin A lebih banyak
dari pada ayam yang tidak diinfeksi, karena
jumlah vitamin A yang ada dalam darah dan
hati lebih rendah pada ayam yang diinfeksi
sehingga kejadian koksidiosis akan lebih parah.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
Gambar 2. Banyak merozoit-merozoit pada sel epitel sekum lensi Eimeria
Sementara itu, hasil pengamatan produksi
ookista seperti Gambar 3. Setelah dianalisis
secara statistik antara perlakuan kedua dan
ketiga berbeda nyata (P<0,05). Ini berarti ada
perbedaan dari jumlah ookista yang keluar
bersama tinja (feses) dari ke tiga perlakuan.
Dengan pemberian koksidiostat (coxalin) dan
pemberian coxalin di tambah vitamin A jumlah
ookista yang diproduksi relatif sedikit
dibandingkan dengan kontrol. Pada perlakuan
3 karena mendapat vitamin A dan koksidiostat
jumlah ookista yang diproduksi paling sedikit.
Hal ini karena bentuk skizon banyak yang mati
ditandai ookista gagal bersporulasi, meskipun
kalau dilihat hasil rataan menunjukkan
penurunan jumlah ookista. Sesuai yang
dilaporkan DANIEL (1992) bahwa pemberian
vitamin A 30.000 IU bersama koksidiostat
pada ayam yang diinfeksi E. tenella secara
mikroskopis (histopatoligi) pada sekumnya
tidak memperlihatkan sel-sel radang maupun
perdarahan tetapi terjadi pembentukan epitel
(proses epitelisasi). Hal ini menunjukkan
terjadi proses penyembuhan yang lebih baik.
Gambaran bentuk ookista yang bersporulai
seperti pada Gambar 3.
Gambar 3. Ookista E. tenella yang bersporulasi
1045
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
Dilihat dari cara kerja vitamin A terutama
dalam proses epitelisasi, bukan penghambatan
siklus hidup Eimeria, sehingga masih
memungkinkan dihasilkan stadium ookista
pada perlakuan ketiga
Sheather’s sugar flotation technique
(LEVINE, 1985), kemudian disaring dan
ditampung di ember plastik. Pekerjaan ini
diulang 2-3 kali sampai supernatan jernih,
lapisan permukaan dituangkan ke cawan petri
kemudian dicampur kalium bikhromat 2,5%
dan di sporulasikan pada suhu kamar. Hasil
sporulasi tertera pada Tabel 1, 2 dan 3.
Kegunaan mengetahui waktu sporulasi
koksidia erat kaitannya penanggulangan
koksidiosis dengan menggunakan koksidiostat
atau pengobatan.
Tabel 4. Lamanya waktu sporulasi kelompok 2
yang diberi coxalin
Kode ayam
Waktu sporulasi (jam)
22
22
23
18
25
20
27
17
30
23
21
19
Waktu sporulasi (jam)
24
20
20
20
13
19
Rataan
19,5
14
21
Simpangan baku
2,1
15
20
06
18
07
22
08
21
Kode ayam
Waktu sporulasi (jam)
09
17
31
20
Rataan
19,8
33
19
Simpangan baku
1,6
34
23
35
17
37
22
39
21
40
20
43
19
Rataan
20,1
Simpangan baku
1,8
Tabel 3. Lamanya
waktu
koksidiostat (kontrol)
Kode ayam
11
sporulasi
tanpa
Pada Tabel 3 kelompok kontrol dari 15
ekor ayam ada 2 ekor mati dan 8 ekor dibunuh
menunjukkan waktu sporulasi rataan 19,8 jam
dengan simpangan baku 1,6 jam.
Pada Tabel 4 kelompok ayam yang diberi
koksidiostat (coxalin) selama penelitian tidak
ada yang mati, kemudian 8 ekor ayam dibunuh
pengamatan waktu sporulasi rataan 19,5 jam
dengan simpangan baku 2,1 jam.
Sementara itu, kelompok ayam yang diberi
coxalin dan vitamin A selama percobaan tidak
ada yang mati, kemudian hewan dibunuh, hasil
pengamatan waktu sporulasi E. tenella rataan
20,1 jam, dengan simpangan baku 1,8 jam.
Rataan total 19,8 jam dibulatkan menjadi
20 jam dengan simpangan baku total 1,8 jam
dibulatkan menjadi 2 jam. Ada perbedaan
dengan yang dilaporkan CALNEK et al. (1991)
bahwa waktu sporulasi E. tenella adalah 18
jam. Perbedaan ini bisa terjadi karena pengaruh
suhu, tersedianya oksigen dan kelembaman.
1046
17
Tabel 5. Lamanya waktu sporulasi kelompok 3
diberi coxalin dan vitamin A
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa manfaat
pemberian vitamin A dosis 25.000 IU selama
14 hari bersama Coxalin dapat menurunkan
nilai perlukaan sekum. Hal ini berarti ada
proses penyembuhan yang baik, sedangkan
terhadap produksi ookista berpengaruh sangat
nyata dengan waktu sporulasi E. tenella rataan
20 jam. Koksidiostat dalam pakan tidak
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
ditimbang, pakan dibatasi sesuai dengan umur,
pakan sisa di setiap perlakuan sedikit sekali.
Disarankan untuk mengurangi kerugian
yang lebih besar maka perlu penambahan
vitamin A dalam pakan terutama apabila terjadi
wabah koksidiosis. Perlu diteliti lebih lanjut
tentang produktivitas ayam setelah pemberian
vitamin A dosis 250.000 IU bersama
koksidiostat.
DAFTAR PUSTAKA
CALNEK, B.W., H.J. BARNES, C.W. BEARD, W.M.
REID and H.W. YODER. 1991.Diseases of
Poultry 9th Ed. Iowa State University Press.
Ames. Iowa. USA.
GOODWIN, M.A., J. BROWN and D.I. BOUNOUS.
1998. Use of microscopic lesion scores and
oocyst count score to detect Eimeria maxima
in chickens. Avian Pathology 2: 405–408.
ISKANDAR, T., T.S. DIDIK dan A. KOSWADI. 2000.
Isolasi berbagai Parasit dalam Saluran
Pencernaan ayam Buras pada Litter di
beberapa Kabupaten di Jawa Barat. Pros.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Bogor 30 September–1 Oktober
2000. Puslitbang Peternakan. hlm. 394–397.
JOHNSON, J. and W.M. REID. 1970. Anticoccidial
Drugs: Lesion Scoring Techniques in Battery
and Floor-Pen Experiment with Chickens.
Exp. Parasitol. 28: 30–36.
JONES, M.L. 1977. Veterinary Pharmacology and
Theurapeutic. 4th Ed. Oxford & IBH
Publishing Co. New Delhi, Bombay, Calcuta.
pp. 894–909.
LEVINE, N.D. 1985. Veterinary Protozoology 5th.
Ed. Iowa State University Press Iowa. Ames.
USA.
NATAAMIJAYA,
A.G.,
A.R.
SETIOKO,
B.
BRAHMANTIYO dan K. DWIYANTO. 2003.
Performans dan karakteristik tiga galur ayam
lokal (Pelung, Arab dan Sentul). Pros.
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner
Bogor, 29–30 September 2003. Puslitbang
Peternakan, Bogor. hlm. 353–359.
RETNO, D.N., I.K.D. PUTRA, dan N. SIANITA 1994.
Inventaris jenis-jenis Eimeria penyebab
koksidiosis pada ayam ras dan buras di daerah
Sidoarjo Jawa Timur. Med. Kedokteran
Hewan 10: 8–13.
SING,
S.P. and G.A. DONOVAN. 1973. A
Relationship between Coccidiosis and Dietary
Vitamin A Level in Chickens. Poult. Sci. 52:
1295–1301.
SUPRIHATI, E. 1987. Pengaruh Pemberian
Sulfakuinoksalin
terhadap
Kemampuan
Produksi, Sporulasi, dan Infektifitas Oosit
Eimeria Tenella. Tesis. Fakultas Pascasarjana
Universitas Airlangga.
STEEL, R.G.D. and J.H. TORRIE. 1991. Prinsip dan
Prosedur
Statistik
Suatu
Pendekatan
Biometrik. Diterjemahkan oleh BAMBANG
SUMANTRI. PT Gramedia, Jakarta. hlm. 168–
177.
YAHYA, Y. 1991. Penyakit-penyakit Penting pada
Ayam. PT Gramedia, Jakarta.
YUNUS, M., N.D.R. LASTUTI, S. MUMPUNI, M.A.
SUNARSO dan S. RIADI. 1997. Pengaruh
Furazolidon terhadap Nilai Perlukaan Sekum
dan Produksi Ookista Eimeria Tenella pada
Ayam Pedaging. Med. Kedokteran Hewan
13(2): 113–119.
1047
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
DISKUSI
Pertanyaan:
1. Mengapa Bapak menggunakan Coxalin sebagai obat koksidiosis? Mengapa menggunakan
ayam Arab dan bukan ayam pedaging (broiler) dan mengapa ayam yang digunakan berumur 4
minggu?
2. Mengapa coxalin dapat mempengaruhi efek perlukaan usus oleh koksidia E. tenella?
3. Bagaimana menentukan scoring perlukaan sekum?
4. Berapa lama pemberian vitamin A, dan apakah ada indikasi kerusakan pada hati?
Jawaban:
1. Coxalin merupakan salah satu antikoksidia yang banyak beredar dan dipergunakan peternak.
Penelitian ini dilakukan di Malang dimana peternak kecil banyak memelihara ayam Arab dan
ayam aArab memiliki sifat seperti ayam buras. Ayam yang dipergunakan berumur dibawah 4
minggu karena masih memiliki maternal antibody.
2. Coxalin mengandung sulfaaquinonxalin yang bersifat sebagai antikoksidia dan E. tenella
merusak epithel sekum pada ayam.
3. Dilakukan dengan melihat derajat perlukaan pada sekum secara PA (patologi-anatomi). Skor
kerusakan berkisar dari 0 (tidak terdapat kelainan/kersakan) sampai 4 (rusak parah).
4. Satu minggu setelah inokulasi dan tidak ditemukan adanya indikasi kerusakan hati.
1048
Download