PENGARUH KEPERCAYAAN TERHADAP ORGANIZATIONAL

advertisement
PENGARUH KEPERCAYAAN TERHADAP ORGANIZATIONAL
CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) DENGAN NARSISME
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
SKRIPSI
Oleh
AZIZ IBNU TSALITS
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2017
ABSTRAK
PENGARUH KEPERCAYAAN TERHADAP ORGANIZATIONAL
CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) DENGAN NARSISME
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Oleh
AZIZ IBNU TSALITS
Organizational Citizenship Behaviour (OCB) merupakan konsep positif baik dari
segi niat dan hasil, sehingga sangat penting untuk menghasilkan perilaku ini untuk
organisasi. Banyak faktor yang dapat memengaruhi OCB dan salah satunya
adalah kepercayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh
kepercayaan terhadap OCB dan untuk melihat peran narsisme sebagai variabel
moderasi. Survei penelitian ini dilakukan pada 388 karyawan UMKM di
Bandarlampung. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan
dianalisis melalui SPSS. Analisis regresi yang digunakan adalah simple linier
regression dan moderated linier regression (MRA).
Hasil Analisis menunjukkan bahwa kepercayaan berpengaruh positif signifikan
terhadap OCB, dan hubungan ini dimoderasi oleh narsisme dengan cara yang
negatif, dengan kata lain narsisme melemahkan kepercayaan terhadap OCB
karyawan. Narsisme karyawan pada dasarnya memiliki konsekuensi positif dan
negatif bagi perusahaan. Hasil negatif tidak boleh diabaikan oleh perusahaan
karena dengan adanya narsisme negatif karyawan, meskipun tingkat kepercayaan
karyawan yang tinggi, narsisme tersebut dapat mengurangi OCB karywan.
Kata kunci: Kepercayaan, Organizational Citizenship Behaviour, Narsisme
ABSTRACT
THE INFLUENCE TRUST TOWARD ORGANIZATIONAL
CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) WITH NARCISSISM
AS A MODERATING VARIABLE
AZIZ IBNU TSALITS
Organizational citizenship behavior is a positive concept in terms of both intent
and outcome, so it is important to generate this behavior for organisasi. There are
various antedencents of organizational citizenship behavior and one of them is
trust. The purpose of this study was to examine the effect trust on OCB and to see
the role of narcissism as a moderating variable. The survey of this study is
conducted on 388 employees UMKM in Bandarlampung. The Obtained Data
from the questionnaires are analysed through the SPSS statistical software
packaged. The regression analysis used is a simple linear regression and
moderated linier regression (MRA).
Analyses results Showed that trust has a significant positive effect on
organizational citizenship behavior, and this relation is moderated by narcissism
in a negative way, in other words, narcissism weaken trust toward OCB
employee. Narcissism employees basically have positive and negative
consequences for the company. Negative results should not be ignored by
companies due to their negative narcissism employees, despite the high level of
trust employees, narcissism can reduce OCB.
Key Words: Trust, Organizational Citizenship Behaviour, Narcissism
PENGARUH KEPERCAYAAN TERHADAP ORGANIZATIONAL
CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) DENGAN NARSISME
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Oleh
AZIZ IBNU TSALITS
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA EKONOMI
Pada
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2017
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Purwodadi, Kecamatan Gisting, Kabupaten
Tanggamus, Provinsi Lampung pada tanggal 25 Desember 1995. Penulis
merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan dari Bapak Jamili dan Ibu
Sholatin. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) Negeri 05
Gisting pada tahun 2007, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Gisting
pada tahun 2010 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sumberejo pada
tahun 2013.
Penulis aktif dalam organisasi intra maupun ekstrakurikuler di sekolah,
diantaranya pernah menjadi wakil ketua OSIS, anggota Rohis dan anggota
ekstrakurikules sepak bola di SMA N 1 Sumberejo. Prestasi penulis di SMA N 1
Sumberejo yaitu juara tiga Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi
tingkat Kabupaten Tanggamus, dan prestasi untuk ekstrakurikuler yaitu membawa
SMA N 1 Sumberejo sebagai juara futsal tingkat Kabupaten.
Pada tahun 2013 penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Lampung
pada Jurusan Manajemen melalui jalur SNMPTN dan mengambil konsentrasi
Manajemen Sumber Daya Manusia. Penulis aktif dalam beberapa kegiatan
organisasi kampus, diantaranya sebagai anggota Koperasi Mahasiswa Unila
(KOPMA) dan UKM Sepak Bola Unila. Prestasi penulis di Unila yaitu menjadi
mahasiswa berprestasi dengan IP 4 pada semester 6 di Jurusan Manajemen,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Prestasi nonakademik penulis yaitu bersama teman
satu tim sepak bola Unila menjuarai Liga Asosiaasi Kota Bandarlampung. Penulis
melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Panggung Rejo,
Kecamatan Rawajitu Utara, Kabupaten Mesuji pada tahun 2016.
MOTTO
“Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(QS. Al Baqarah: 286)
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
(QS. Al-Insyirah : 6)
“Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan”
(Robert F. Kennedy)
“Adaptasi, improvisasi dan selesaikan”
(Aziz Ibnu Tsalits)
PERSEMBAHAN
Alhamdulllahirabbil’alamin
Terima kasih atas sepercik keberhasilan yang Engkau hadiahkan padaku ya Rabb
Ku persembahkan karya kecil ini…
Untuk Kedua Orang Tuaku, Bapak Jamili dan Ibu Sholatin
Bapak dan Ibu yang selalu memberikan dukungan moril maupun materil serta
do’a yang tiada henti untuk kesuksesanku, karena tiada kata seindah lantunan
do’a dan tiada do’a yang paling khusyuk selain do’a yang terucap dari kedua
orang tua. Terima kasih atas segala do’a, dukungan dan pengorbanan yang telah
engkau berikan. Terimalah persembahan bakti dan cintaku untuk bapak dan ibu
tercinta.
Untuk ke empat saudara dan saudariku
Thoriq Fahrizal Anam, Ana Khoiri Umatin, Aziza Laili Naftukha dan Ridho
Askhabil Muhtadzin
Rekan-rekan seperjuangan manajemen unila 2013
Almamater
Manajemen-Universitas Lampung
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Tercinta
SANWACANA
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur selalu penulis ucapkan atas kehadirat
Allah SWT karena berkat rahmat, ridho dan hidayah-Nya, penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kepercayaan
terhadap OCB dengan Narsisme sebagai Variabel Moderasi (Studi pada
Karyawan UMKM di Bandarlampung)”.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam proses
penyusunan skripsi.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih terutama kepada:
1.
Bapak Prof. Dr. H. Satria Bangsawan, S.E., M.Si., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas lampung.
2.
Ibu Dr. Hj. R.R. Erlina, S.E., M.Si., selaku Ketua Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, serta selaku Penguji
yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
3.
Bapak Prof. Dr. Mahatma Kufepaksi, S.E., M.Sc., selaku pembimbing
akademik yang telah membimbing penulis selama masa perkuliahan.
4.
Bapak Dr. Ribhan, S.E., M.Si., selaku Pembimbing utama yang telah banyak
memberikan bimbingan, motivasi, saran, waktu dan sumbangan pemikiran
selama proses penulisan skripsi hingga penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan.
5.
Ibu Dina Safitri, S.E., MIntnlBus selaku selaku Pembimbing pendamping
yang telah membimbing, memberikan saran, meluangkan waktu dan
memberikan sumbangan pemikiran selama penulisan skripsi ini hingga
penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.
6.
Bapak/Ibu Dosen beserta staf karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas lampung.
7.
Terkhusus untuk Bapak dan Ibuku, terima kasih atas kasih sayang, motivasi,
dukungan dan do’a yang diberikan hingga akhirnya penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
8.
Kakakku Thoriq Fahrizal Anam, yang telah memberikan doa, semangat serta
saran.
9.
Mas Endra, Mba Ana Khoiru Ummatin, serta adik-adikku Aziza Laili
Naftukha dan Ridho Askhabil Muhtadzin yang telah memberikan kasih
sayang dan motivasi.
10. Bapak Toyib dan Ibu Sumiati yang telah banyak membantu dan memberikan
motivasi selama berada di Bandarlampung.
11. Teman-teman Manajemen Sumber Daya Manusia dan Manajemen angkatan
2013 yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
12. Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan yang
tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa pada penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan
dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, untuk itu penulis
sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga
dapat melengkapi kekurangan dari skripsi ini.
Akhirnya tiada kata yang indah selain do’a, semoga seluruh sumbangsih
pemikiran, moral dan material yang telah diberikan menjadi catatan amal baik dan
mendapat pahala dari Allah SWT, semoga semua urusan kita dipermudah oleh
Allah SWT dan semoga skripsi ini akan dapat bermanfaat bagi pembaca dan
pecinta ilmu pengetahuan.
Bandarlampung,
Penulis
Aziz Ibnu Tsalits
NPM.1311011030
Februari 2017
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ..................................................................................................... i
DAFTAR GAMBAR................................................................................................ iii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3
1.4
Latar Belakang .................................................................................................... 1
Rumusan Masalah ................................................................................................ 5
Tujuan Penelitian ................................................................................................. 6
Manfaat Penelitian ............................................................................................... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1 Kepercayaan (trust).............................................................................................. 7
2.1.1 Pengertian Kepercayaan.............................................................................. 7
2.1.2 Dmensi Kepercayaan .................................................................................. 8
2.2 Organizational Citizenship Behavior (OCB)....................................................... 9
2.2.1 Pengertian OCB ......................................................................................... 9
2.2 2 Dimensi OCB ............................................................................................ 11
2.3 Narsisme ............................................................................................................. 12
2.3.1 Pengertian Narsisme .................................................................................. 12
2.3.2 Dimensi Narsisme ...................................................................................... 14
2.4 PenelitianTerdahulu ............................................................................................ 15
2.5 Kerangka Pemikiran............................................................................................ 16
2.6 Hipotesis ............................................................................................................. 17
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian.................................................................................................. 18
3.2 Jenis Data ............................................................................................................ 18
3.3 Populasi dan Sampel ........................................................................................... 19
3.3.1 Populasi...................................................................................................... 19
3.3.2 Sampel........................................................................................................ 19
3.4 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel ................................... 22
3.5
3.6
3.7
3.8
3.4.1 Variabel Penelitian..................................................................................... 22
3.4.2 Definisi Operasional .................................................................................. 22
Metode Pengumpulan Data................................................................................. 24
3.5.1 Kuesioner ................................................................................................... 24
3.5.2 Studi Kepustakaan ..................................................................................... 24
Uji Instrumen Penelitian ..................................................................................... 25
3.6.1 Uji Validitas ............................................................................................... 25
3.6.2 Uji Realibilitas ........................................................................................... 26
3.6.3 Uji Normalitas............................................................................................ 26
Metode Analisis Data.......................................................................................... 27
3.7.1 Analisis Kualitatif ...................................................................................... 27
3.7.2 Analisis Regresi ......................................................................................... 27
Pengujian Hipotesis ............................................................................................ 28
3.8.1 Koefisien Determinasi................................................................................ 28
3.8.2 Uji T (Parsial) ............................................................................................ 30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Responden ..................................................................................... 31
4.2 Uji Validitas, Realibilitas dan Normalitas .......................................................... 33
4.2.1 Uji Validitas ............................................................................................... 33
4.2.2 Uji Reliabilitas ........................................................................................... 35
4.2.3 Uji Normalitas............................................................................................ 38
4.3 Analisis Data Kualitatif (Deskripsi Pernyataan Responden) .............................. 38
4.3.1 Deskripsi Pernyataan Responden Variabel Kepercayaan (X).................... 38
4.3.2 Deskripsi Pernyataan Responden Variabel OCB (Y) ................................ 44
4.3.3 Deskripsi Pernyataan Responden Variabel Narsisme (M)......................... 49
4.4 Analisis Regresi ................................................................................................... 56
4.5 Pengujian Hipotesis.............................................................................................. 57
4.5.1 Koefisien Determinasi................................................................................ 57
4.5.2 Uji T (Parsial) ............................................................................................ 58
BAB V SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN
5.1 Simpulan .............................................................................................................. 61
5.2 Saran..................................................................................................................... 61
5.3 Keterbatasan Penelitian........................................................................................ 62
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
i
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1.
Konseptualisasi Dimensi OCB dalam Penelitian Terdahulu ............................11
2.
Penelitian Proportionate Stratified Sampling ...................................................21
3.
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel................................................23
4.
Proporsi Responden Penelitian ........................................................................31
5.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ......................................32
6.
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur....................................................32
7.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ...........................................33
8.
Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja ..........................................33
9.
Hasil Uji Validitas untuk Variabel Kepercayaan, OCB dan Narsisme.............34
10. Koefisien Nilai r Cronbach’s Alpha .................................................................36
11. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas dengan Teknik Cronbach’s Alpha .............36
12. Hasil Uji Normalitas .........................................................................................38
13. Pernyataan Mengenai Integritas........................................................................39
14. Pernyataan Mengenai Kompetensi....................................................................40
15. Pernyataan Mengenai Konsistensi ....................................................................41
16. Pernyataan Mengenai Loyalitas ........................................................................42
17. Pernyataan Mengenai Keterbukaan ..................................................................43
ii
18. Pernyataan Mengenai Altruism .........................................................................44
19. Pernyataan Mengenai Courtesy ........................................................................45
20. Pernyataan Mengenai Conscientiousness .........................................................46
21. Pernyataan Mengenai Sportmanship.................................................................47
22. Pernyataan Mengenai Civic virtue ....................................................................48
23. Pernyataan Mengenai Otoritas ..........................................................................49
24. Pernyataan Mengenai Superioritas ...................................................................50
25. Pernyataan Mengenai Eksibisionisme ..............................................................51
26. Pernyataan Mengenai Eksploitasi .....................................................................53
27. Pernyataan Mengenai Hak ................................................................................54
28. Koefisien Determinasi Variabel Kepercayaan (X) ...........................................57
29. Koefisien Determinasi Variabel Moderasi (M) ................................................57
30. Uji T untuk Hipotesis I .....................................................................................59
31. Hasil Uji T untuk Hipotesis II...........................................................................60
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar
1.
Halaman
Kerangka Pemikiran..........................................................................................16
iv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1.
Data UMKM Kota Bandarlampung Tahun 2015
2.
Kuesioner
3.
Karakteristik Responden
4.
Distribusi Karakteristik Responden
5.
Hasil Kuesioner Kepercayaan
6.
Hasil Kuesioner OCB
7.
Hasil Kuesioner Narsisme
8.
Distribusi Hasil Kuesioner Kepercayaan (X)
9.
Distribusi Hasil Kuesioner OCB (Y)
10. Distribusi Hasil Kuesioner Narsisme (M)
11. Hasil Uji Validitas (X)
12. Hasil Uji Validitas (Y)
13. Hasil Uji Validitas (M)
14. Hasil Uji Reliabilitas (X)
15. Hasil Uji Reliabilitas (Y)
16. Hasil Uji Reliabilitas (M)
17. Hasil Uji Normalitas
18. Hasil Uji Regresi Sederhana (X)
19. Hasil Uji Regresi Moderasi (M)
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisasi atau perusahaan dalam mencapai tujuannya sangat bergantung pada
sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki, karena pada dasarnya SDM
merupakan elemen utama dari sebuah organisasi yang memiliki peran penting
dalam mencapai tujuan suatu organisasi (Hasibuan, 2006). SDM memiliki peran
strategis dalam organisasi yaitu sebagai pemikir, perencana dan pengendali
aktivitas organisasi. Pengelolaan SDM dengan baik merupakan suatu keharusan
dalam sebuah perusahaan untuk dapat bersaing dengan perusahaan lain yang lebih
maju, namun dalam mengelola SDM tentu berbeda dengan mengelola sumber
daya yang lain, dibutuhkan sebuah kepercayaan untuk terjalinnya hubungan yang
harmonis antar pekerja.
Menurut Robbins dan Judge (2008) kepercayaan (trust) adalah suatu eskpektasi
dan pengharapan positif bahwa orang lain tidak akan melalui kata-kata, tindakan
dan kebijakan bertindak secara oportunistik. Kepercayaan merupakan bagian
terpenting untuk interaksi organisasi yang sukses dengan melibatkan seluruh
SDM yang ada, agar dapat membangun hubungan kerja yang saling percaya satu
sama lain (Debora, 2006). Ellonen et al. (2008) membagi kepercayaan menjadi
2
dua jenis yaitu kepercayaan interpersonal dan impersonal. Kepercayaan
interpersonal dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu kepercayaan horizontal yang
berkaitan dengan kepercayaan antara karyawan, kemudian kepercayaan vertikal
berkaiatan dengan kepercayaan antara karyawan dan pimpinan, kepercayaan ini
didasarkan pada tiga dimensi kepercayaan yaitu kompetensi, kebajikan dan
integritas. Kepercayaan impersonal sering disebut dengan kepercayaan organisasi
merujuk pada kepercayaan anggota dalam strategi maupun visi organisasi,
kemampuan dan kompetensi dalam bisnis, teknologi, struktur dan proses yang adil
serta kebijakan SDM dari organisasi.
Kepercayaan memiliki dampak positif pada peningkatan motivasi, Organizational
Citizenship Behavior (OCB), komitmen organisasi dan kepuasan kerja (Altuntas
dan Baykal 2010). Menurut Robins dan Judge (2010) OCB adalah perilaku atas
kehendak sendiri yang bukan menjadi bagian dari tuntutan kerja formal tetapi
mendorong efektivitas fungsi organisasi. OCB menggambarkan nilai tambah
karyawan yang merupakan salah satu bentuk perilaku prososial, yaitu perilaku
sosial yang positif, konstruktif dan bermakna (Aldag dan Resckhe, 2007). OCB
merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan perilaku anggota
organisasi sehingga individu dapat disebut sebagai anggota yang baik. Perilaku
ini cenderung melihat seseorang sebagai makhluk sosial, bukan sebagai mahluk
individual yang mementingkan diri sendiri.
Organisasi atau perusahaan saat ini banyak yang krisis tentang kepercayaan, dan
lebih senang bekerja secara individu sehingga membuat perilaku pekerja itu
sendiri tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan. Faktor-faktor yang
3
dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dalam sebuah perusahaan, salah satunya
yaitu perilaku narsisme dari pekerja. Menurut Gardner dan Pierce (2011)
narsisme merupakan keadaan di mana seseorang mencintai dirinya secara
berlebihan dan memunculkan perasaan untuk merendahkan orang lain. Individu
yang memiliki gejala tersebut sering disebut narsisis. Narsisis memiliki pesona
atau daya tarik yang dapat membutakan seseorang meskipun hanya sementara,
maksudnya adalah seorang yang narsis mampu terlihat sempurna dihadapan orang
banyak.
Godkin dan Alcorn (2009a) menyatakan bahwa narsisme seseorang berada pada
kisaran baik dan tidak baik. Individu dengan narsis baik ditandai dengan bakat
intelektual yang dikombinasikan oleh fantasi megah dan investasi diri yang kuat
serta dapat mengalami periode berkelanjutan dari akademik, profesional atau
prestasi sukses yang kreatif. Didukung oleh Ronningstam (2005) yang
menyatakan bahwa narsisme yang baik mencakup kemampuan untuk mentolerir
rasa bersalah, menyeimbangkan perasaan keterpisahan, keunggulan dan
kebanggaan termasuk rasa syukur, kepedulian terhadap kemampuan penilaian diri
yang realistis, fantasi megah yang memotivasi prestasi, kemampuan diri untuk
mengendalikan rasa seseorang dari kekuasaan dan agresi yang konstruktif. Higgs
(2009) juga menyatakan bahwa perilaku narsisme pada karyawan akan sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang, karena
perilaku narsisme menciptakan iklim yang sangat penting untuk mencapai kinerja
yang berkelanjutan, jadi perlu adanya perhatian khusus dari perusahaan untuk
mengembangkan sifat narsisme pada karyawan.
4
Berkebalikan dengan Godkin dan Alcorn (2009a) yang menjelaskan tentang
narsisme baik, Godkin dan Alcorn (2009b) lebih menekankan pada narsisme yang
tidak baik, karyawan yang memiliki perilaku narsisme buruk tentu memiliki
masalah dalam berinteraksi dengan rekan-rekan serta berkomunikasi dengan staf
dan garis pekerja tingkat atas maupun rendah. Hasil dari perilaku tersebut dapat
menyebabkan perusahaan gagal dalam mencapai tujuan yang diinginkan, karena
karyawan yang memiliki perilaku narsisme buruk akan sulit untuk bekerja secara
efektif dalam tim. Didukung oleh Maccoby (2004) yang menyatakan bahwa
perilaku narsis terikat untuk meninggalkan sistem dan hubungan buruk di luar
organisasi yang tentunya berakibat pada suasana dalam organisasi. Ellison et al.
(2013) juga mengatakan bahwa seorang yang memiliki sifat narsisme tidak bisa
menerima penilaian dari sudut pandang orang lain, sehingga mereka melihat
dirinya lebih baik dari orang lain. Perilaku narsis dalam jangka panjang gagal
menciptakan iklim yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkelanjutan
(Higgs, 2009).
Narsisme dalam organisasi baru pertama kali dipertimbangkan sebagai variabel
moderasi pada hubungan kepercayaan terhadap OCB oleh Yildiz dan Oncer
(2012). Hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa kepercayaan organisasi
berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku kewarganegaraan organisasi dan
hubungan ini dimoderasi oleh narsisme dengan cara yang negatif. Narsisme
menghasilkan hasil yang tidak sehat karena efek negatif sebagai moderasi.
5
Narsisme pada dasarnya memiliki konsekuensi yang baik ketika organisasi
mampu untuk mengelolanya, tetapi sebaliknya, akan berdampak buruk bagi
organisasi ketika tidak mampu untuk mengelola perilaku narsisme karyawan.
Konsekuensi dari narsisme karyawan tersebut membuat peneliti tertarik untuk
menganalisis dan mengetahui hasilnya melalui penelitian pada UMKM (Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah) di Bandarlampung.
Peneliti akan mencoba mengidentifikasi narsisme karyawan pada UMKM di
Bandarlampung. Narsisme ini apakah akan memperkuat kepercayaan sehingga
berdampak positif terhadap OCB, atau sebaliknya, yaitu melemahkan kepercayaan
sehingga berdampak negatif terhadap OCB karyawan tersebut. Berdasarkan latar
belakang yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh Kepercayaan Terhadap
Organizational Citizenship Behavior (OCB) dengan Narsisme sebagai
Variabel Moderasi”, studi pada UMKM di Bandarlampung.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan uraian di atas maka perumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah kepercayaan berpengaruh terhadap OCB pada UMKM di
Bandarlampung?
2. Apakah narsisme memperkuat atau melemahkan pengaruh kepercayaan
terhadap OCB pada UMKM di Bandarlampung?
6
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka penelitian ini
memiliki tujuan untuk:
1. Untuk mengetahui pengaruh kepercayaan terhadap OCB pada UMKM di
Bandarlampung.
2. Untuk mengetahui peran narsisme dalam memoderasi pengaruh kepercayaan
terhadap OCB pada UMKM di Bandarlampung.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian antara lain :
1. Bagi penulis
Menambah pengetahuan dan penelitian ini digunakan sebagai syarat untuk
menyelesaikan program studi S1 Manajemen Universitas Lampung.
2. Bagi akademisi
Penelitian ini diharapkan menambah referensi di bidang SDM, khususnya
permasalahan yang berhubungan dengan kepercayaan, narsisme dan OCB
karyawan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah informasi dan
pengetahuan sebagai bahan referensi penelitian selanjutnya.
3. Bagi pihak lain
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan masukan untuk memecahkan
masalah yang berkaitan dengan Kepercayaan, OCB dan narsisme. Penelitian
ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dibidang MSDM.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1 Kepercayaan (Trust)
2.1.1 Pengertian Kepercayaan
Menurut Cumming dan Bromiley (1996) dalam Altuntas dan Baykal (2010)
konsep kepercayaan telah didefinisikan sebagai rasa percaya diri dan komitmen
tanpa persepsi ketakutan dan keraguan, seseorang percaya bahwa ia akan
menerima dukungan dan kolaborasi dalam memecahkan masalah pada saat
dibutuhkan, tanpa adanya motif tersembunyi yang mendasari dan atau pikiran
negatif pada bagian dari orang lain. Deutsch (1960) dalam Yilmaz dan Atalay
(2009) menyatakan bahwa kepercayaan adalah perilaku individu yang
mengharapkan seseorang agar memberi manfaat positif. Individu yang dipercaya
dapat memberi manfaat dan melakukan apa yang diinginkan oleh individu yang
memberikan kepercayaan, sehingga kepercayaan menjadi dasar bagi kedua pihak
untuk melakukan kerja sama.
Kepercayaan adalah suatu harapan positif bahwa orang lain tidak akan bertindak
secara oportunistik (Robbins dan Judge, 2008). Oportunistik yang berarti
merujuk pada risiko di dalam hubungan berbasis kepercayaan. Menurut Altuntas
dan Baykal (2010) kepercayaan adalah hal penting dalam semua hubungan di
sebuah organisasi, khususnya hubungan antara karyawan dan pimpinan.
8
Kepercayaan merupakan sebuah komponen penting dari hubungan yang memiliki
konsekuensi menguntungkan bagi karyawan dan organisasi, oleh karena itu,
pimpinan perlu memberikan perhatian khusus untuk mengembangkan
kepercayaan antara karyawan.
2.1.2 Dimensi Kepercayaan
Menurut Knight dan Chervany (2002) dalam Meilianasari (2012) terdapat lima
dimensi utama yang membentuk konsep kepercayaan yaitu:
1. Integritas, merupakan keyakinan bahwa seorang individu atau organisasi akan
melakukan apa yang telah dijanjikan untuk dilakukan dan akan bertindak
tanpa kontradiksi.
2. Kompetensi, yaitu mengacu pada kualifikasi individu, berdasarkan
keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang individu.
3. Konsistensi, memiliki arti bahwa seseorang dapat diandalkan, memiliki
kemampuan memrediksi dan mengatasi setiap persoalan.
4. Loyalitas, yaitu kesetiaan individu terhadap organisasi yang dimiliki dan
memiliki keinginan kuat untuk melindungi dan menjaga satu sama lain dalam
organisasi.
5. Keterbukaan, berarti bahwa individu dan organisasi saling berbagi gagasan
dan informasi dengan bebas tanpa ada yang disembunyikan.
Masak dan Wall (1980) dalam Yildiz dan Oncer (2012) menyatakan bahwa
kepercayaan adalah faktor utama yang membentuk lingkungan internal organisasi.
Kepercayaan ditandai dengan rasa saling memiliki satu sama lain dalam
organisasi. Menurut Barber (1983) dalam Yildiz dan Oncer (2012) kepercayaan
9
dapat memengaruhi perilaku karyawan untuk meningkatkan partisipasi mereka
pada pengambilan keputusan serta menciptakan atmosfir kerja yang aktif.
2.2 Organizational Citizenship Behavior (OCB)
2.2.1 Pengertian OCB
Menurut Organ (1988) dalam Budihardjo (2011) OCB adalah suatu perilaku
sukarela individu yang tidak secara langsung berkaitan dengan sistem
pengimbalan tetapi berkontribusi pada keefektifan organisasi. Waspodo dan
Lussy (2012) menjelaskan bahwa OCB adalah perilaku karyawan yang
mempraktikkan peranan tambahan dan menunjukkan sumbangannya kepada
organisasi melebihi peran spesifikasinya dalam pekerjaan, perilaku tersebut
merupakan sesuatu yang efektif untuk meningkatkan fungsi sebuah organisasi.
Didukung oleh Robbins (2006) bahwa OCB adalah perilaku pilihan yang tidak
menjadi bagian dari kewajiban kerja formal, namun mendukung berfungsinya
organisasi tersebut secara efektif.
Smith (1983) dalam Novliadi (2007) OCB adalah kontribusi pekerja lebih dari
deskripsi kerja formal. OCB melibatkan beberapa perilaku, meliputi perilaku
menolong orang lain, menjadi volunteer untuk tugas-tugas ekstra, patuh terhadap
aturan-aturan dan prosedur-prosedur di tempat kerja. Perilaku tersebut
menggambarkan nilai tambah karyawan dan merupakan salah satu bentuk perilaku
prososial, yaitu perilaku sosial yang positif, konstruktif dan bermakna membantu.
Didukung oleh Johns (1996) dalam Budihardjo (2014) menyatakan bahwa OCB
memiliki karakteristik perilaku sukarela extra-role behavior (ERB) yang tidak
termasuk dalam uraian jabatan, perilaku spontan tanpa sasaran atau perintah
10
seseorang, perilaku yang bersifat menolong, perilaku yang tidak mudah terlihat
dan dinilai melalui evaluasi kinerja.
Garay (2006) menjelaskan bahwa OCB merupakan perilaku sukarela dari
seseorang pekerja untuk mau melakukan tugas atau pekerjaan di luar tanggung
jawab atau kewajibannya demi kemajuan atau keuntungan organisasinya. OCB
merupakan bentuk perilaku yang merupakan pilihan dan insiatif individual, tidak
berkaitan dengan sistem reward formal organisasi. OCB tidak termasuk dalam
persyaratan kerja atau deskripsi kerja karyawan sehingga jika tidak
ditampilkanpun tidak diberi hukuman. OCB atau yang disebutnya sebagai ERB
adalah perilaku yang menguntungkan organisasi atau diarahkan untuk
menguntungkan organisasi, dilakukan secara sukarela dan melebihi ekspektasi
peran yang ada (Waspodo dan Lussy, 2012). OCB secara sederhana dapat
dikatakan sebagai perilaku individu yang berawal dari kerelaan dirinya untuk
memberikan kontribusi melebihi peran inti atau tugasnya terhadap perusahaannya.
Perilaku tersebut dilakukan secara disadari maupun tidak disadari, diarahkan
maupun tidak diarahkan, untuk dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi
perusahaannya.
Peneliti terdahulu telah banyak mengamati tentang dimensi-dimensi yang
memengaruhi OCB. Berdasarkan penelitian terdahulu terdapat dimensi OCB
yang berbeda-beda dan terdapat pula dimensi yang sama menurut beberapa ahli.
Konseptualisasi dimensi OCB penelitian terdahulu disajikan dalam bentuk Tabel
1 sebagai berikut:
11
Tabel 1. Konseptualisasi Dimensi OCB dalam Penelitian Terdahulu
No
Penelitian
Dimensi OCB
1.
Podsakoff et al. (1996)
2.
Coleman and Borman
(2000)
3.
Bachrach et al. (2001)
4.
Battencourt et al. (2001)
5.
Rioux and Penner (2001)





















Altruism
Conscientiousness
Sportmanship
Courtesy
Civic Virtue
Interpersonal Altruism
Interpersonal Conscientiousness
Organizational loyalty
Organizational Complience
Job/Task Conscientiousness
Helping Behavior
Sportmanship
Civic Virtue
Loyalty
Service Delivery
Participation
Altruism
Conscientiousness
Sportmanship
Courtesy
Civic Virtue
Sumber: Pareke, 2004
2.2.2 Dimensi OCB
Organ (1988) dalam Sudarma (2011) mengemukakan lima dimensi primer dari
OCB yaitu:
1. Altruism, yaitu perilaku membantu karyawan lain tanpa ada paksaan pada
tugas-tugas yang berkaitan erat dengan operasi-operasi organisasional.
2. Courtesy, adalah perilaku meringankan problem-problem yang berkaitan
dengan pekerjaan yang dihadapi orang lain.
3. Conscientiousness, berisi tentang kinerja dari prasyarat peran yang melebihi
standar minimum.
12
4. Sportmanship, berisi tentang pantangan-pantangan membuat isu yang merusak
meskipun merasa kesal.
5. Civic virtue, menunjukkan partisipasi sukarela dan dukungan terhadap fungsifungsi organisasi baik secara profesional maupun sosial alamiah.
2.3 Narsisme
2.3.1 Pengertian Narsisme
Chatterjee dan Hambrick (2006) mengatakan bahwa narsisme merupakan suatu
hal yang dikaitkan secara positif dengan harga diri, peningkatan bias diri,
intensitas afektif dan penggunaan kata ganti personal saat berbicara, dijelaskan
juga bahwa sebagai suatu karakteristik kepribadian, narsisme memiliki dua
elemen penting yaitu kognitif dan motivasi. Individu narsis pada sisi kognitif
cenderung melakukan penilaian yang tinggi atas dirinya sendiri, baik kecerdasan,
kreativitas, kompetensi dan kemampuan dalam memimpin, oleh karena itu,
pelaku narsis sangat yakin dan percaya diri atas kemampuan yang mereka miliki
dalam domain tugas. Narsisme pada sisi motivasi memiliki kebutuhan yang kuat
atas ketegasan orang lain terhadap keunggulan yang dimiliki, hal ini diperoleh
baik dalam bentuk penguatan, tepuk tangan dan sanjungan.
Berkebalikan dengan Chatterjee dan Hambrick (2006), Gardner dan Pierce (2011)
mendefinisikan narsisme sebagai sifat sombong seseorang yang senang
membandingkan dirinya dengan orang lain, memiliki sifat egois serta
menganggap bahwa dirinya lebih hebat dan lebih istimewa dari orang lain.
Individu yang memiliki sifat narsisme memiliki ciri-ciri yaitu selalu
menginginkan pengakuan dari orang lain, rendahnya sifat empati, membutuhkan
13
rasa kagum dari orang lain secara berlebihan, cenderung memiliki sifat arogan dan
sombong. Didukung oleh Duchon dan Drake (2009) yang mengatakan bahwa
narsisme adalah istilah untuk seseorang yang memiliki sebuah cinta diri yang
ekstrim, rasa megah pentingnya diri dan rasa yang kuat dari hak. Perilaku narsis
cenderung lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Kondisi tersebut
tentu berlawanan dengan OCB yang lebih menekankan kepada perilaku sosial.
Perilaku narsis kurang baik bila sering diterapkan dalam organisasi.
Menurut Higgs (2009) bahwa dalam jangka panjang perilaku narsis gagal
menciptakan iklim yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkelanjutan.
Didukung oleh Maccoby (2004) bahwa perilaku narsis terikat untuk meninggalkan
sistem dan hubungan yang buruk di belakang mereka karena mereka merusak
iklim organisasi. Organisasi yang mempekerjakan pekerja narsis sepenuhnya
mementingkan diri sendiri dan tidak berbasis realitas (Gregory, 1999) dalam
Yildiz dan Oncer (2010).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sifat narsisme merupakan
perasaan suka yang berlebihan seorang individu terkait dengan karakteristik, sifat,
dan kemampuan yang dimilikinya, yang membuat individu tersebut merasa
sombong dan cenderung merendahkan orang lain (Duchon dan Drake, 2009).
Narsisme memiliki ciri umum berupa rendahnya empati, keinginan untuk
mendapatkan pujian dan rasa hormat, bersikap arogan dan memiliki keinginan
kuat untuk melakukan peningkatan diri agar mendapatkan rasa kagum, pujian
serta rasa hormat dari orang lain.
14
2.3.2 Dimensi Narsisme
Menurut Gardner dan Pierce (2011) terdapat lima dimensi narsisme yang sering
digunakan oleh peneliti, yaitu:
1. Otoritas, yaitu pandangan yang berlebihan terhadap diri sendiri terkait dengan
otoritas atau wewenang atas jabatan yang dimilikinya. Individu yang memiliki
tingkat otoritas atau wewenang yang tinggi, akan menganggap bahwa dirinya
lebih baik daripada individu yang tidak memiliki otorisas atau wewenang di
perusahaan atau organisasi tempat individu tersebut bekerja.
2. Superioritas, yaitu pandangan berlebihan terhadap diri sendiri terkait dengan
kompetensi. latar belakang pendidikan yang tinggi, bakat, kemampuan dan
keunikan akan membuat seseorang merasa bahwa dirinya merupakan seorang
yang hebat dan spesial.
3. Eksibisionisme, yaitu kecenderungan untuk menarik perhatian orang lain
terhadap diri sendiri, terkait dengan kemampuan yang dimiliki, sifat atau
kebiasaan, karakteristik dan bakat yang dimiliki oleh seseorang.
4. Eksploitasi, yaitu motivasi untuk memanipulasi dan mendayagunakan orang
lain untuk kepuasan diri sendiri. Seorang yang memiliki sifat narsisme akan
senang untuk mendayagunakan dan memanipulasi orang lain, hal ini
dikarenakan narsisis percaya dirinya dapat memahami orang lain dan membuat
orang lain percaya dan suka kepadanya.
5. Hak, yaitu kepercayaan bahwa orang lain berhutang rasa hormat dan
kekaguman. Seseorang yang memiliki sifat narsisme sangat membutuhkan
keadaan dimana orang lain memuji dirinya, mengagumi dirinya dan
15
menghormati dirinya. Kebutuhan ini yang membuat seorang narsisis menjadi
bersikap arogan, ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.
2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang pernah dilakukan mengenai pengaruh kepercayaan terhadap OCB
dengan narsisme sebagai variabel moderasi yang menjadi referensi peneliti adalah
penelitian yang dilakukan oleh:
1. Yildiz dan Oncer (2012) yang melakukan penelitian pertama tentang
Narcissism as a Moderator of the Relationship between Organizational Trust
and Organizational Citizenship Behaviour. Penelitian ini merupakan
penelitian pertama yang menggunakan narsisme sebagai variabel moderasi.
Survei penelitian ini dilakukan pada 190 karyawan berbagai perusahaan di
Turki. Data yang diperoleh dari kuesioner dianalisis melalui SPSS paket
perangkat lunak statistik. Hasil Analisis menunjukkan bahwa kepercayaan
organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku kewarganegaraan
organisasi, dan hubungan ini dimoderasi oleh narsisme dengan cara yang
negatif.
2. Wong dan Ngo (2006) melakukan penelitian tentang pengaruh peningkatan
kepercayaan organisasi terhadap OCB. Hasil dari penelitian ini yaitu
meningkatkan kepercayaan organisasi memiliki efek positif terhadap OCB.
3. Aryee et al. (2002) melakukan penelitian tentang pengaruh kepercayaan
terhadap OCB karyawan berbagai perusahaan di Turki. Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa kepercayaan memiliki efek positif
16
tehadap OCB. Perusahaan sebaiknya meningkatkan kepercayaan
karyawannya demi menumbuhkan OCB karyawan dalam perusahaan tersebut.
2.5 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah
yang penting. Kerangka pemikiran menjelaskan secara teoritis pertautan antar
variabel yang akan diteliti (Sugiyono, 2013). Berdasarkan tinjauan pustaka, maka
peneliti membuat kerangka pikir penelitian sebagai berikut:
Kepercayaan (X) :
1.
2.
3.
4.
5.
OCB (Y) :
Integritas
Kompetensi
Konsistensi
Loyalitas
Keterbukaan
1.
2.
3.
4.
5.
Knight dan
Chervany (2002)
Altruism
Civic virtue
Conscientiousness
Courtesy
Sportsmanship
Organ (1988) dalam
Sudarma (2011)
Narsisme (M) :
1. Otoritas (Authority)
2. Superioritas (Superiority)
3. Eksibisionisme (Exhibitionism)
4. Eksploitasi (Exploitativenes)
5. Hak (Entitlement)
Gardner dan Pierce (2011)
Gambar 1: Bagan Kerangka Pemikiran
17
2.6 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang masih
perlu diuji kebenarannya melalui penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu:
1. Kepercayaan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap OCB
pada UMKM di Bandarlampung.
2. Narsisme melemahkan pengaruh kepercayaan terhadap OCB pada UMKM di
Bandarlampung.
18
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian yang penulis teliti adalah mengenai hubungan antara
kepercayaan terhadap OCB yang dimoderasi oleh narsisme karyawan UMKM di
Bandarlampung. Kepercayaan, baik dalam organisasi maupun kepercayaan diri
seseorang merupakan salah satu faktor untuk menumbuhkan OCB dalam suatu
organisasi. Narsisme dapat melemahkan maupun menguatkan hubungan
kepercayaan terhadap OCB . OCB pada dasarnya merupakan perilaku yang
diharapkan oleh semua organisasi atau perusahaan.
3.2 Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Data primer
Data primer merupakan data yang didapatkan langsung dari tempat penelitian
dengan menggunakan instrumen penelitian. Data yang digunakan merupakan
data yang berhubungan dengan kepercayaan, narsisme dan OCB karyawan.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang didapatkan dari pihak lain, data ini terdiri
dari data tentang UMKM dan data terkait dengan penelitian.
19
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2012) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi merupakan keseluruhan subjek yang akan diteliti dengan karakteristik
yang dapat dikatakan sama sehingga dapat digeneralisasikan hasil penelitian yang
dilakukan terhadap populasi tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh UMKM di Bandarlampung yang tercatat pada data bidang UMKM
Diskoperindag Kota Bandarlampung yaitu berjumlah 40.266, jumlah tersebut
terdiri dari Usaha Mikro sebanyak 19.739, Usaha Kecil sebanyak 15.182 dan
Usaha Menengah sebanyak 5.345, karena keterbatasan dana dalam melakukan
penelitian, maka akan diambil sampel dari seluruh populasi yang ada.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karekteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Agar hasil kesimpulan penelitian dapat digeneralisasikan untuk seluruh
populasi, maka sampel yang diambil harus representative (Sugiono, 2012).
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah probability random sampling
yang artinya setiap unsur populasi mempunyai kemungkinan yang sama untuk
dipilih melalui perhitungan secara sistematis, dengan teknik pengambilan sampel
yaitu proportionate stratified random sampling, teknik ini digunakan karena
populasinya tidak homogen, mengacu pada pendapat Sugiyono (2011) bahwa
proportionate stratified random sampling digunakan bila populasi mempunyai
anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.
20
Jumlah populasi kelompok Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah di
Bandarlampung tidak homogen.
Jumlah anggota sampel total ditentukan melalui Rumus Yaname dan Slovin, hal
ini mengacu pada pendapat Riduan dan Engkos (2011) bahwa teknik pengambilan
sampel menggunakan rumus dari Rumus Yaname dan Slovin apabila populasi
sudah diketahu. Rumus tersebut adalah sebagai berikut:
n=
keterangan:
.
n = jumlah anggota sampel
N = jumlah populasi
= presisi
Presisi yang ditetapkan 5%, maka:
n=
n=
n=
.
.
.
.
,
,
= 396,06 = 396
Jumlah anggota sampel yang tidak homogen dilakukan dengan cara pengambilan
sampel secara proportionate stratified random sampling yaitu menggunakan
rumus alokasi proportional (Sugiyono, 2011). Rumus tersebut adalah sebagai
berikut:
ni =
xn
21
keterangan:
ni = jumlah anggota sampel menurut kelompok
n = jumlah anggota sampel seluruhnya
Ni = jumlah anggota populasi menurut kelompok
N = jumlah anggota populasi seluruhnya
Jumlah anggota sampel berdasarkan kelompok usaha menggunakan rumus di atas
adalah:
Usaha Mikro
=
Usaha Kecil
=
Usaha Menengah =
.
.
.
.
.
.
x 396 = 194,125 = 194
x 396 = 149,308 = 149
x 396 = 52,565 = 53
396
Tabel 2. Penelitian Proportionate Stratified Sampling
Kelompok Usaha
Populasi
Proposional 5%
Usaha Mikro
19.739
194
Usaha Kecil
15.182
149
Usaha Menengah
5.345
53
Jumlah
396
396
Sumber: Data Bidang UMKM Diskoperindag Kota Bandarlampung Tahun 2015
Sampel yang diambil untuk kelompok usaha mikro dalam penelitian ini yaitu
rumah makan, jasa perbengkelan, konveksi, pangkas rambut dan konter. Sampel
untuk kelompok usaha kecil yaitu pada pengrajin industri makanan dan minuman,
kemudian sampel untuk kelompok usaha menengah yaitu pada restoran, toko
pakaian dan toko elektronik.
22
3.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Menurut Nazir (2009) definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan
kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan
kegiatan ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur
variabel tersebut.
3.4.1 Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel bebas (independent variable)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi, yang menyebabkan
timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kepercayaan.
b. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel
bebas. Variabel terikat yang di gunakan dalam penelitian ini adalah OCB.
c. Variabel moderasi (moderating variable)
Variabel moderasi adalah tipe variabel yang memperkuat atau melemahkan
hubungan langsung antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel
moderasi yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah narsisme.
3.4.2
Definisi Operasional
Definisi operasional variabel penelitian merupakan penjelasan dari masing-masing
variabel yang digunakan dalam penelitian terhadap indikator-indikator yang
membentuknya. Definisi operasional variabel penelitian ini dapat dilihat pada
tabel 3. berikut:
23
Tabel 3. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel
Kepercayaan
(X)
OCB
(Y)
Narsisme
(M)
Definisi
Menurut Cumming dan
Bromiley (1996) dalam
Altuntas dan Baykal
(2010) konsep kepercayaan
telah didefinisikan sebagai
rasa percaya diri dan
komitmen tanpa persepsi
ketakutan, dan keraguan,
seseorang percaya bahwa ia
akan menerima dukungan
dan kolaborasi dalam
memecahkan masalah pada
saat dibutuhkan, tanpa
adanya motif tersembunyi
yang mendasari dan atau
pikiran negatif pada bagian
dari orang lain.
Organ (1988) dalam
sudarma (2011), OCB
merupakan
perilaku individu yang
ekstra, yang tidak secara
langsung atau eksplisit
dapat dikenali dalam suatu
sistem kerja yang formal,
dan yang secara agregat
mampu meningkatkan
efektifitas fungsi
organisasi.
Narsisme adalah perasaan
bangga terhadap diri
sendiri secara berlebihan
dengan membandingkan
dirinya dengan orang lain
dan cenderung
merendahkan orang lain
(Gardner dan Pierce, 2011).
Indikator
1. Integritas
Skala
5= Sangat Setuju
2. Kompetensi
4= Setuju
3. Konsistensi
3= Netral
4. Loyalitas
2= Tidak Setuju
5. Keterbukaan
1= Sangat Tidak
Setuju
1.
2.
3.
4.
5.
Altruism
Civic virtue
Conscinetiousness
Courtesy
Sportmanship
5=Sangat Setuju
4= Setuju
3= Netral
2= Tidak Setuju
1= Sangat Tidak
Setuju
1.
2.
3.
4.
5.
Otoritas
Superioritas
Eksibisionisme
Eksploitasi,
Hak
5=Sangat Setuju
4= Setuju
3= Netral
2= Tidak Setuju
1= Sangat Tidak
Setuju
24
3.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data menurut Nazir (2009) adalah prosedur yang sistematis dan
standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Penelitian ini menggunakan
cara berikut dalam mengumpulkan data:
3.5.1 Kuesioner
Kuesioner adalah metode penelitian di mana peneliti membuat pertanyaan atau
pernyataan untuk mendapatkan informasi terkait dengan variabel yang diteliti.
Peneliti menggunakan skala likert untuk mengetahui tingkat, kepercayaan,
narsisme dan OCB karyawan dengan menentukan skor pada setiap item
pertanyaan. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2013).
Kuesioner kepercayaan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan
penerjemahan dari Knight dan Chervany (2002). Kuesioner kepercayaan ini
terdiri dari 5 dimensi yang kemudian dibagi menjadi 10 item pertanyaan.
Kuesioner OCB yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penerjemahan
dari Organ (1988), yang terdiri dari 5 dimensi dan kemudian dibagi menjadi 10
item pertanyaan. Kuesioner narsisme yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan penerjemahan dari Gardner dan Pierce (2011). yang terdiri dari 5
dimensi dan kemudian dibagi menjadi 25 item pertanyaan.
3.5.2 Studi Kepustakaan
Kegiatan mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan penelitian yang
berasal dari jurnal-jurnal ilmiah, literatur-literatur serta publikasi-publikasi lain
yang layak dijadikan sumber penelitian.
25
3.6 Uji Instrumen Penelitian
Uji instrumen penelitian adalah uji pendahuluan yang berguna untuk mengetahui
validitas dan reliabilitas data yang diperoleh dari tiap item kuesioner yang diisi
responden. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan
akan mendapatkan hasil pengukuran yang akurat tentang respon dari responden,
sehingga data yang berbentuk angka dapat diolah dengan menggunakan metode
statistik.
3.6.1 Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu
kuesioner dikatakan valid menurut Ghozali (2007) yaitu jika pertanyaan pada
kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuesioner
tersebut. Uji validitas yang digunakan adalah teknik analisis faktor dengan
bantuan software SPSS untuk mengukur tingkat intrakolerasi antar variabel dan
dapat atu tidaknya dilakukan analisis faktor menggunakan kaiser-Meyer-Olin
Measure of Sampling Adequecy (KMO MSA). Bila nilai KMO MSA lebih besar
dari 0,5 maka proses analisis dapat dilanjutkan. Suatu indikator dinyatakan valid
jika memiliki loading factor di atas 0,5 terhadap konstruk yang dituju. Pengujian
validitas untuk indikator reflektif menggunakan korelasi antara skor item dengan
skor konstruknya. Nilai loading factor yang kurang dari 0,5 dengan item
pertanyaanyang mengalami cross loading dengan nilai terkecil harus dikeluarkan
dan begitu seterusnya sampai tidak ada lagi nilai yang kurang dari 0,5.
26
3.6.2 Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas dilakukan hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang telah
melalui pengujian validitas dan yang dinyatakan valid. Uji reliabilitas terhadap
instrumen penelitian (kuesioner) dilakukan untuk menguji apakah hasil
pengukuran dapat dipercaya, dalam hal ini jawaban responden terhadap
pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Nurcahyani, 2010). Teknik
yang digunakan untuk pengujian reliabilitas adalah Cronbach Alpha. Teknik ini
dikembangkan oleh Cronbach untuk menghasilkan korelasi reliabilitas alpha, dan
merupakan teknik pengujian konsistensi reliabilitas antara item-item yang
terpopuler, serta menunjukkan indeks konsistensi yang sempurna. Dasar
pengambilan keputusan yaitu apabila nilai Alpha cronbach > 0,6.
3.6.3 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui normal atau tidaknya suatu
distribusi data. Uji normalitas membandingkan antara data yang kita miliki
dengan data berdistribusi normal yang memiliki mean, dan standar deviasi yang
sama dengan data kita. Uji normalitas dengan penggunaan Sig. di bagian
Kolmogorov-Smirnov apabila data yang diuji menggunakan responden lebih dari
50 orang dan apabila responden kurang dari 50 orang Sig. di bagian Shapiro-Wilk
yang digunakan, karena responden pada penelitian ini terdapat 396 orang maka
peneliti menggunakan Sig. pada bagian Kolmogorov-Smirnov.
Dasar pengambilan keputusan pada uji normalitas adalah sebagai berikut:
1. Angka signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov Sig. > 0.05, maka data
berdistribusi normal.
27
2. Angka signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov Sig. < 0.05, maka data tidak
berdistribusi normal.
3.7 Metode Analisis Data
Data yang didapat dari kuesioner selanjutnya diolah dan dilakukan analisis.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.7.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisa hasil dari penelitian yang telah
dilakukan dan mencari pemecahan masalah dengan menggunakan teori-teori yang
berkaitan dengan kepercayaan terhadap OCB yang dimoderasi oleh narsisme
karyawan.
3.7.2 Analisis Regresi
Analisis regresi digunakan untuk memprediksikan seberapa jauh perubahan nilai
variabel dependen, bila nilai variabel independen dimanipulasi (Sugiyono, 2011).
Analisis regresi yang digunakan adalah simple linier regression dan moderated
linier regression (MRA). Simple linier regression didasarkan pada hubungan
fungsional ataupun kausal satu variabel (Sugiyono, 2011). Moderated linier
regression menguji pengaruh variabel moderasi terhadap hubungan variabel
independen dan dependen. Penelitian ini menggunakan OCB sebagai variabel
dependen, kepercayaan sebagai variabel independen dan narsisme sebagai
variabel moderasi. Persamaan regresi yang dapat disusun :
Y = β1X
Y = β1X + β2M + β3 XM
28
Keterangan:
Y
= OCB
X
= kepercayaan
M
= narsisme
XM
= interaksi X dan M
β1,2,3 = koefisien regresi masing-masing variabel independen
3.8 Pengujian Hipotesis
Analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel
dependen dengan satu atau lebih variabel independen, dengan tujuan untuk
mengestimasi dan atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel
dependen berdasarkan nilai variabel yang diketahui (Gujarati, 2003).
Menurut Ghozali (2006) ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai
aktual dapat diukur dari Goodness of fit-nya. Goodness of fit secara statistik dapat
diukur dari nilai koefisien determinasi dan nilai statistik t. Perhitungan statistik
disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam
daerah kritis (daerah di mana H0 tidak didukung) dan sebaliknya, disebut tidak
signifikan bila uji statistiknya berada dalam daerah dimana H0 didukung.
3.8.1 Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisiensi determinasi
antara nol sampai satu. Nilai koefisien determinasi yang kecil berarti kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat
29
terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi
variabel dependen (Ghozali, 2005). Berikut penjelasan dengan koefisien
determinasi terletak antara 0 sampai dengan 1, atau 0<1 yang memiliki arti
bahwa:
1. Jika mendekati 0, berarti variabel independen tidak mampu menjelaskan
persentase pengaruhnya terhadap variabel dependen.
2. Jika mendekati 1, berarti variabel independen mampu menjelaskan persentase
pengaruhnya terhadap variabel dependen.
Perbandingan koefisien determinan R² yang diperoleh dari kedua persamaan di
atas dapat digunakan untuk melihat narsisme berpengaruh terhadap kepercayaan
dan OCB. Nilai R² dari persamaan pertama (yang tidak mengandung variabel
moderat) apabila > nilai R² model persamaan kedua maka dapat disimpulkan
bahwa variabel moderasi tersebut mempengaruhi variabel X dan variabel Y.
Penelitian ini menggunakan adjusted R² karena menurut Ghozali (2005)
kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap
jumlah variabel independen yang dimasukan dalam model. Setiap tambahan satu
variabel independen, maka R² pasti meningkat, oleh karena itu banyak peneliti
yang menganjurkan menggunakan adjusted R² pada saat mengevaluasi model
regresi. Nilai adjusted R² dapat naik atau turun apabila satu variabel independen
ditambahkan ke dalam model.
30
3.8.2 Uji t (Parsial)
Uji statistik t dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Dasar pengambilan keputusannya adalah:
1. Jika t-hitung < t-tabel, maka variabel independen secara individual tidak
berpengaruh terhadap variabel dependen (hipotesis tidak didukung).
2. Jika t-hitung > t-tabel, maka variabel independen secara individual
berpengaruh terhadap variabel dependen (hipotesis didukung).
Rumus yang digunakan :
Keterangan:
b
=
= koefisien regresi variabel dependen.
b
= standar deviasi koefisien regresi variabel independen.
Hasil uji t dapat dilihat pada output coefficient dari hasil analisis regresi
menggunakan SPSS.
Uji t dapat juga dilakukan dengan melihat nilai signifikansi t masing-masing
variabel pada output hasil regresi menggunakan SPSS dengan significance level
0,05 (α=5%). Jika nilai signifikansi lebih besar dari α maka hipotesis tidak
didukung (koefisien regresi tidak signifikan), yang berarti secara individual
variabel independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel
dependen. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari α maka hipotesis diterima
(koefisien regresi signifikan), berarti secara individual variabel independen
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
BAB V
SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai
pengaruh variabel kepercayaan (integritas, kompetensi, konsistensi, loyalitas,
keterbukaan) terhadap OCB (altruism, civic virtue, conscientiousness, courtesy,
sportsmanship) yang dimoderasi oleh variabel narsisme (otoritas, superioritas,
eksibisionisme, eksploitasi, hak) pada karyawan UMKM di Bandarlampung,
maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan
yaitu:
1. Kepercayaan berpengaruh positif signifikan terhadap OCB pada karyawan UMKM
di Bandarlampung.
2. Narsisme melemahkan kepercayaan terhadap OCB pada karyawan UMKM di
Bandarlampung.
5.2 Saran
Setelah peneliti melakukan penelitian serta telah menarik kesimpulan, maka
peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:
62
1. Karyawan UMKM di Bandarlampung sebaiknya meningkatkan kepercayaan di
dalam organisasi, yaitu kepercayaan pada rekan kerja, bawahan maupun
dengan atasan.
2. Karyawan UMKM di Bandarlampung sebaiknya meningkatkan kepedulian
tehadap rekan kerja daripada bersikap individual yang dapat merugikan
organisasi. UMKM sebaiknya lebih memperhatikan perilaku narsisme dari
karyawannya, dan hasil negatif dari narsisme tidak boleh diabaikan.
5.3 Keterbatasan Penelitian
1. Adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan kuesioner yaitu
terkadang jawaban yang diberikan oleh responden tidak menunjukkan keadaan
yang sesungguhnya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi OCB yang dipakai dalam penelitian ini
hanya terdiri dari variabel kepercayaan sebagai pengaruh langsung dan
narsisme hanya sebagai variabel moderasi untuk hubungan kepercayaan
terhadap OCB, sedangkan masih banyak faktor lain yang dapat memengaruhi
OCB karyawan.
3. Responden dalam penelitian ini dibatasi dalam lingkup sampel yaitu hanya
sebagian karyawan UMKM di Bandarlampung. Bagi peneliti selanjutnya,
penulis memberikan saran untuk memperluas ukuran sampel, sehingga tingkat
generalisasi lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Agung AWS Waspodo dan Lussy Minadaniati. 2012. Pengaruh Kepuasan Kerja
dan Iklim terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) karyawan
pada PT. Trubus Swadaya Depok. Jurnal Riset Manajemen Sains
Indonesia (JRMSI), Vol.3, No. 1.
Aldag, R. dan Reschke, W. 2007. Employee Value Added: Measuring
Discretionary Effort and Its Value to The Organization. Center for
Organization Effectiveness, Inc. 608/833-3332. pp. 1-8.
Altuntas, S. dan Baykal, U. 2010. Relationship between nurses' organizational
trust levels and their organizational citizenship behaviors. Journal of
Nursing Scholarship, 42:2, 186-94.
Aryee, S., Budhwar, P. S. dan Chen, Z. X. 2002. Trust as a mediator of the
relationship between organizational justice and work outcomes: Test of a
social exchange model. Journal of Organizational Behavior, 23:3, 267–
285.
BPS. 2012-2015. Jumlah UMKM Kota Bandarlampung. Diakses dari Data Bidang
UMKM Diskoperindag Kota Bandarlampung Tahun 2015. Diakses Pukul
20.15 WIB, Tanggal 1 Oktober 2016.
Budihardjo, A. 2014. Organisasi Menuju Pencapaian Kinerja Optimum, edisi
baru. Jakarta: Prasetiya Mulya Publishing.
Campbell, W. K., A. S. Goodie, and J. D. Foster. 2004. Narscissism, Confidence
and Risk Attitude. Journal of Behavioral Decision Making, 17:297-311.
Chatterjee, A, dan Hambrick, D. C. 2007. It's all about me: Narcissistic Chief
Executive Officers and their effects on company strategy and
performance.Administrative Science Quarterly, 52, 351–386.
Chiang, C.F., dan Hsieh, T.S. 2012. The Impacts of Perceived Organizational
Support and Psychological Empowerment on Job Performance: The
Mediating effects of Organizational Citizenship Behavior. International
Journal of Hospitality Management, 31, 180-190.
Davison, N dan Kring. 2006. Psikologi Abnormal. Alih Bahasa : Fajar, N. Jakarta:
PT. Grafindo Persada.
Debora. 2006. Pengaruh Pemberdayaan Kerja dan Psikologis Terhadap
Kepercayaan Organisasional dan Kepuasan Kerja Dosen Tetap Perguruan
Tinggi Swasta. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan.
Duchon, D. dan Drake B. 2009. Organizational Narcissism and virtuous behavior.
Journal of Business Ethics, 85, 301-308.
Duchon, D. dan Burns, M. 2008. Organizational Narcissism. Organizational
Dynamics, 37:4, 354-364.
D. Ellison, William., N. Levy, Kenneth., M. Cain, Nicole., B. Ansell, Emily., dan
L. Pincus, Aaron. 2013. The Impact of Pathological Narcissism on
Psychotherapy Utilization, Initial Symptom Severity, and EarlyTreatment Symptom Change: A Naturalistic Investigation. Journal of
Personality Assessment, 95:3, 291-300.
Ellonen, R .Blomqvist, K . dan Puumalainen, K. 2008. The role of trust in
organizational innovatveness. European Journal of Innovation
Management. 11:2, 160-181.
Gardner, Donald G. dan Pierce, Jon L. 2013. Focus of Attentionat Work and
Organization-based Self-esteem. Journal of Managerial Psychology Vol. 28
No. 2, 2013 Pp. 110-132.
Gardner, Donald G. dan Pierce, Jon L. 2011. A Question Of False Self-Esteem:
Organization-Based Self-Esteem And Narcissism In Organizational
Contexts. Journal Of Managerial Psychology. Vol. 26 Iss 8 Pp. 682-699.
Gardner, Donald G; Linn Van Dyne; dan Jon L. Pierce. 2009. The effects of pay
level on organization-based self-esteem and performance: A field study.
Journal of Occupational and Organizational Psychology: The British
Psychological Society .
Ghozali, Imam. 2007. Applikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Edisi Empat. Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Ghozali, Imam. 2005. Applikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Edisi Kedua. Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Godkin, L. dan Allcorn, S. 2009a. Dependent narcissism, organizational learning,
and human resource development. Human Resource Development
Review, 8:4, 484-505.
Godkin, L. dan Allcorn, S. 2009b. Institutional narcissism, arrogant
organization disorder and interruptions in organizational learning. The
Learning Organization, 16:1, 40-57.
Handoko, T. Hani. 2009. Manajemen. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Hasibuan, Malayu S.P, 2006, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah, Edisi
Revisi, Bumi Aksara:Jakarta.
Higgs, M. 2009. The Good, the Bad and the Ugly: Leadership and Narcissism.
Journal of Change Management, 9:2, 165-178.
Horppu, M., Kuivalainen, O., Tarkiainen, A. dan Ellonen, H.K. 2008. Online
satisfaction, trust and loyalty, and the impact of the offline parent brand,
Journal of Product and Brand Management, 17:6, 403-413.
Iskandar. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia Dilengkapi dengan Perilaku
Organisasi Teori dan Penerapan. Bandung: Multazam.
King, G. 2007. Narcissism and Effective Crisis Management: A Review of
Potential Problems and Pitfalls. Journal of Contingencies and Crisis
Management, 15:4, 183-193.
Kreiter, R. dan Kinicki, A. 2004. Organizational Behavior, 6th edition, Mc
Graw Hill.
Maccoby, M. 2004. The Productive Narcissist: The Promise and Peril of
Visionary Leadership. New York: Broadway Books.
Meilianasari, Y. D. 2012. Analisis Kepercayaan Nasabah Pengguna Atm. Jurnal
Manajemen Bisnis. Volume 2 No. 01.
Nazir, Moh. 2009. Metodelogi Penelitian. Cetakan Ketujuh. Bogor. Ghalia
Indonesia.
Nevid, et al. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
Oei, Istijanto. 2010. Riset Sumber Daya Manusia. Cetakan Kelima. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Organ, D.W., Podsakoff, P.M. dan Mackenzie, S.B. 2006. Organizational
Citizenship Behavior: Its Nature, Antecedents, and Consequences.
Thousand OA: Sage Publications.
Paille, Pascal, et al. 2010. Support, Trust, Satisfaction, Intent to Leave, and
Citizenship at Organizational Level. International Journal of
Organizational Analyzis, 18:1, 41-58.
Pearce, C. L. dan Sims, H. P. 2002. The relative influence of vertical vs. shared
leadership on the longitudinal effectiveness of change management
teams. Group Dynamics, 6, 172-197.
Podsakoff, P.M., MacKenzie, S.B., Paine, J.B., dan Bachrach, D.G. (2000).
Organizational Citizenship Behaviors: A Critical Review of the
Theoretical and Empirical Literature and Suggestions for Future
Research. Journal of Management, 26:3, 513-563.
Raskin, R. dan Terry, H. 1988. A principal-components analysis of the narcissistic
personality inventory and further evidence of its construct validity.
Journal of Personality and Social Psychology, 54, 890–902.
Raskin, R. dan Hall, C.S. 1979. A narcissistic personality inventory.
Psychological Reports, 45, 590.
Riduan dan Engkos, A.K. 2011. Cara Menggunakan dan Memakai Path Analysis
(Analisis Jalur). Bandung: Alfabeta.
Robbins, Stephen P. dan Coulter, Mary. 2010. Manajemen (edisi kesepulh).
Jakarta: Erlangga.
Robbins, Stephen P, dan Judge, T. 2010. Organizational Behavior, Edisi 12, Buku
1, Salemba Empat, Jakarta.
Robbins, Stephen P dan Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi :
Organizational Behaviour. Edisi 12. Jakarta : Salemba Empat. Buku 1
Ronnigstam, E. 2005. Identifying and understanding the narcissistic personality.
Oxford University Press.
Sudarma, Ketut. 2011. Analisis Kesejahteraan Berbasis Kinerja melalui
Competency dan Organizational Citizenship Behavior pada Tenaga
Administrasi Dinamika Sosial Ekonomi. Vol Edisi Mei.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
Sugiyono. 2005. Statistik untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta.
Wong, Y., Ngo, H. dan Wong, C. 2006. Perceived organizational justice, trust,
and OCB: A study of Chinese workers in joint ventures and state-owned
enterprises. Journal of World Business, 41, 344-355.
Yildiz, M. L. dan Öncer, A. Z. 2012. Narcissism as a moderator of the
relationship between organizational trust and organizational citizenship
behaviour. International Journal of Business and Social Science, 3:21,
212-222.
Yilmaz, A. dan Atalay, C. 2009. A theoretical analyze on the concept if trust in
organizational life. European Journal of Social Sciences. 8:2, 341-352.
Zeffane R. Tipu, S.A. dan Ryan, J.C. 2011. Communication, commitment and
trust: exploring the triad. International Journal of Business and
Management, 6:6.
Download