BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pelayanan

advertisement
27
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pelayanan publik merupakan suatu bentuk kegatan atau rangkaian kegiatan
yang di mana digunakan dalam rangka untuk pemenuhan kebutuhanpublik akan
suatu bentuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah yang sesuai dengan
perundangan akan hak-hak setiap warga negara atas barang, jasa atau pelayananan
yang disediakan oleh para penyelenggaraan pelayanan publik yang diberikan oleh
pemerintah.
Pada hakekatnya pelayanan publik merupakan tugas utama dalam administrasi
negara yang dilakukan oleh aparatur negara. Perkembangan yang muncul di
sejumlah negara berkenaan dengan pelayanan publik menunjukkan hasil bahwa
penggeseran lebih ke arah penerapan prinsip orientasi pasar dalam memberikan
pelayanannya. Hal ini berarti bahwa pelayanan yang diberikan pemerintah harus
mengutamakan pelayanan terhadap masyarakat sebagai penggunanya (Osbron dan
Gaebler, 1999). Untuk itu dibutuhkan visi yang jelas dalam memberi pelayanan
yang terdepan untuk masyarakatnya.
Pemerintah merupakan pihak yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan
warga negaranya.Dimana pemerintah di sini berperan aktif dalam melakukan
segala aktivitas pengelolaan negara termasuk diantaranya melakukan pengelolaan
terhadap pelayanan publik yang di mana pelayanan publik ini digunakan untuk
memenuhi kebutuhan dan hak-hak warga negaranya. Hal ini ditujukan untuk
28
mewujudkan pemerintahan yang berhasil guna, berdaya guna, dan berkeadilan
bagi masyarakat, yang terpenting dari sini adalah sejauh mana pemerintah dapat
menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut kepada masyarakat secara efektif,
efisien dan akuntabel sehinnga pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah harus
tanpa memandang golongan, status, pangkat, dari masyarakat karena semua
masyarakat mempunyai hak yang sama dalam
menerimapelayanan yang
diberikan oleh pemerintah. Aparat pemerintah di sini dituntut untuk selalu
tanggap akan tuntutan lingkungannya sehingga pelayanan yang diberikan dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik sesuai dengan prosedur yang
seharusnya. Hal ini ditujukan sebagai perwujudan dan fungsi aparatur pemerintah
sebagai pelaksana pelayanan publik.
Dalam konteks ini, pemerintah sebagai pihak yang bertugas memenuhi
kebutuhan masyarakatnya tentunya harus lebih bertindak sebagai regulator
dibanding sebagai implementor atau aktor pelayanan. Oleh karena itu pemerintah
hendaknya perlu memberdayakan kelompok masyarakatnya sebagai penyedia atau
pelaksana pelayanan. Semestara itu pemerintah sendiri hanya membantu
masyarakat agar mampu membantu dirinya sendiri (helping people to themselves)
yang merupakan prinsip self-hel atau sheering rather rowing dalam gagasan
Reinventing Government
Masyarakat merupakan bagian dari negara yang mempunyai hak untuk
dipenuhi oleh negara serta mendapatkan pelayanan yang diberikan oleh
pemerintah kepada warga negaranya. Dalam arti, masyarakat merupakan pihak
yang mendapatkan dan menggunakan pelayanan publik.
29
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak pernahluput dari penggunaan
pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dapat diakui bahwa setiap manusia
mempunyai banyak kebutuhan baik itu kebutuhan primer, skunder, dan tersier
yang selalu menuntutnya untuk dipenuhi. Masyarakat tentunya mempunyai peran
aktif dalam mendapatkan pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh pemerintah.
Dipandang dari sisi masyarakat, tuntutan terhadap pelayanan publik terus
mengalami perubahan seiring dengan didorong adanya perubahan dan arus
globalisasi. Disamping itu adanya perbedaan terhadap kebutuhan masyarakat serta
tanaman-tanaman nilai yang berlaku pada individu-individu masyarakat inipun
sangat mempengaruhi tuntutan mereka terhadap pelayanan publik yang diberikan
pemerintah. Hal ini tentunya akan membuka cakrawala baru bagi aparatur
pemerintah untuk semakin berperan dalam memberikan pelayanannya lebih baik
lagi dalam upaya membantu memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Ruang lingkup pelayanan publik itu sendiri meliputi pelayanan barang publik,
jasa publik dan pelayanan administratif yang semuanya diatur dalam undangundang, termasuk diantaranya pendidikan, pengajaran, pekerjaan dan usaha,
kesehatan, jaminan sosial, energi, perbankan, perhubungan, sumber daya alam,
pariwisata, dan sektor strategis lainnya (Pasal 5 UU No.25 Tahun 2009).
Dalam upaya melaksanakan pelayanan publik, pemerintah membetuk suatu
organisasi peyelenggara pelayanan publik yang bertugas melakukan pelayanan,
pengelolaan pengaduan masyarakat, pengelolaan informasi, pengawasan internal,
penyuluhan masyarakat, dan pelayanan konsultansi (Pasal 8 UU No.25 Tahun
30
2009). Organisasi penyelenggara pelayanan publik ini merupakan lembaga atau
institusi pemerintah baik pemerintahpusat, daerah, BUMN, BUMD, Korporasi,
dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan
publik. Organisasi penyelenggara pelayanan publik ini tentunya mempunyai
tanggung jawab atas pelaksanaan, ketidakmampuan, pelanggaran dan kegagalan
penyelenggaraan pelayanan.
Dalam memberikan pelayanan publik, organisasi penyelenggara pelayanan
publik atau yang disebut juga sebagai organisasi sektor publik ini mempunyai
kewajiban untuk menetapkan standar pelayanan, menempatkan pelayanan yang
kompeten, memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan standar,
membatu masyarakat dalam memahami hak dan tanggung jawabnya, serta
bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan terhadap penyelenggaraan
pelayanan publik (Pasal 15 UU No.25 Tahun 2009).
Pelayanan publik di sini dapat dijadikan sebagai tolak ukur kinerja dari
pemerintah yang paling kasat mata. Masyarakat dapat langsung menilai kinerja
pemerintah berdasarkan kualitas layanan publik yang diterima oleh masyarakat,
karena kualitas dari pelayanan publik ini menjadi suatu hal yang sangat penting
bagi masyarakat, yang dampaknya dapat secara langsung dirasakan oleh
masyarakat diberbagai kalangan, sehingga keberhasilan dalam membangun
kinerja pelayanan publik yang dilakukan secara profesional, efektif, efisien, dan
akuntabel akan dapat mengangkat citra positif dari pemerintah di mata
masyarakat.
31
Demi terpenuhnya hak-hak masyarakat atas pelayanan publik yang diberikan
oleh pemerintah, maka dibutuhkan adanya standar pengukuran untuk menilai dan
mengevaluasi kinerja pemerintah dalam menjalankan pelayanan publik. Adanya
pengukuran kinerja ini menjadi informasi yang sangat penting dan sangat
strategis, karena aadanya penilaian terhadap kinerja pemerintah ini dapat menjadi
evaluasi atas keberhasilan dan kekurangan pencapaian kinerja pemerintah.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik, pemerintah membuat
suatu
aturan yang dijadikan sebagai acuan bagi unit pelayanan publik guna
mengukur kinerja unit pelayanan publik secara berkala. Keputusan tersebut
berdasarkan
Menteri
Pendayagunaan
Aparatur
Negara
yaitu
Nomor:
KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang pedoman umum pelayanan indeks kepuasan
masyarakat unit pelayanan instansi pemerintah, namun realitasnya yang terjadi
saat ini,pelayanan publik yang diberikan oleh aparatur pemerintahmasih banyak
dijumpai kelemahan sehingga belum memenuhi kualitas yang diharapkan
masyarakat. Hal ini ditandai masih banyaknya keluhan-keluhan yang dirasakan
masyarakat yang disampaikan baik lewat media cetak, media elektronik, lewat
media online maupun secara langsung dari orang ke orang yang ini dapat
mempengaruhi citra masyarakat terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh
aparatur pemerintah.
Salah satu contoh organisasi penyelenggaraan pelayanan publik adalah
pelayanan dalam bidang kesehatan seperti unit pelayanan instans Puskesmas yang
memberikan pelayanan terhadap kesehatan masyarakat. Sampai saat ini,
Puskesmas sering dimanfaatkan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah,
32
namun realitasnya hingga saat ini, masih banyak dijumpai keluhan-keluhan
masayarakat terhadap pelayanan Puskesmas, seperti keluhan terhadap prosedur
pelayanan yang cenderung sulit, petugas yang kurang disiplin dan kurang sopan,
lingkungan Puskesmas yang kurang nyaman bagi pengunjung, atau bahkan
pelaksanaan jadwal layanan yang sering kurang tepat. Hal ini tentunya sangat
mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap salah satu bentuk pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh pemerintah. Padahal salah satu fungsi utama
pemerintah adalah memberi pelayanan masyarakat, tetapi realitasnya banyak
masyarakat kurang puas terhadap pelayanan pemerintah tersebut. Hal ini juga
terbukti dalam beberapa penelitian yang dilakukan oleh para kalangan akademisi
dan birokrat tentang pelayanan publik di Indonesia, ternyata kondisinya masih
seringkali dianggap belum baik dan belum
memuaskan. Dalam GDS
(Governance and Decentralization) pada tahun 2002 menunjukkan
tentang
kondisi kinerja pelayanan publik di 20 profinsi di Indonesia yang menyatakan
bahwa secara umum praktik penyelenggaraan pelayanan publik di Indonesia
masih jauh dari prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Begitupun juga
berdasarkan laporan dari The World Competitiveness Yearbook tahun 1999
menunjukkan bahwa kinerja pelayanan birokrasi publik di Indonesia berada pada
posisi negara-negara yang memiliki kelompok indeks competitiveness paling
rendah antara 100 negara paling kompetitif di dunia (Dwiyanto, dkk, 2002).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hamidi (2001) yang meneliti potret
kinerja Pemerintah dalam menilai pelayanan publik di daerah Jawa Timur
menyebutkan bahwa adanya praktik KKN yang telah berkembang dalam
33
penyelenggaraan pelayanan publik membuat birokrasi pemerintah telah gagal
dalam memberikan pelayanan yang efektif dan efisien bagi masyarakat, bahkan
59% masyarakat Jawa Timur yang menggunakan pelayanan publik menilai
pelayanan publik di Jawa Timur adalah buruk. Padahal masyarakat sendiri sebagai
pengguna layanan publik tentunya sangat berharap mendapatkan pelayanan yang
memuaskan dari pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah tersebut salah
satunya pelayanan di bidang kesehatan.
Dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas kinerja pelayanan
publik yang diukur berdasarkan indeks kepuasan masyarakat (IKM). Maka
penulis bermaksud meneliti tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan di Puskesmas Kalirungkut Surabaya serta mengukur seberapa tingkat
kepentingan/harapan masyarakat atas layanan tersebut.Adanya pengukuran ini
ditujukan sebagai tolak ukur kinerja Puskesmas Kalirungkut Surabaya serta dapat
menjadi acuan bagi Puskesmas Kalirungkut tersebut untuk memperbaiki kualitas
layanannya sehingga dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap para
pasien-pasiennya.
34
1.2. Rumusan Masalah
a.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diungkap di atas, maka perlu dibuat
telaah terhap pelayanan publik yang dilakukan oleh aparatur pemerintah seperti
contoh pada pelayanan dibidang kesehatan Puskesmas saat ini belum
mencerminkan pelayanan yang maksimum yang mana ditandai dengan adanya
keluhan-keluhan baik dalam prosedur pelayanan yang dirasa cenderung sulit dan
terlalu berbelit-belit, petugas yang kurang disiplin dan kurang sopan, lingkungan
Puskesmas yang kurang nyaman, atau bahkan jadwal pelaksanaan layanan yang
tidak tepat. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap
pelayanan yang diberikan oleh pemerintah.
b. Ruang Lingkup
Fokus dari penelitian ini adalah pengukuran kinerja pada pelayanan
publikdibidang kesehatan yaitu pada Puskesmas yang tujuannya adalah untuk
mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikannya
serta menilai tingkat kepentingan/harapan masyarakat atas layananan tersebut.
c.
Perumusan masalah
Berdasarkan identifikasi dan ruang lingkup penelitian yang ditulis di atas,
maka terdapat beberapa permasalahan yang perlu diungkap, diantaranya:
1.
Bagaimana kinerja Puskesmas Kalirungkut Surabaya dalam memberikan
pelayanan kesehatannya yang diukur berdasarkan Indeks Kepuasan
Masyarakat?
35
2.
Bagaimana harapan masyarakat pengguna pelayanan Puskesmas Kalirungkut
atas layanan yang diberikan kepada mereka?
3.
Bagaimana tingkat kesesuaian antara standar operasional prosedur pelayanan
Puskesmas
dengan
tingkat
kepuasan
masyarakat
terhadap
layanan
Puskesmas?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Untuk menilai kinerja Puskesmas Kalirungkut Surabaya dalam memberikan
pelayanan kesehatannya yang diukur berdasarkan Indeks Kepuasan
Masyarakat
2.
Untuk mengetahui harapan masyarakat pengguna pelayanan Puskesmas
Kalirungkut atas layanan yang diberikan kepada mereka.
3.
Untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar operasional prosedur
pelayanan Puskesmas dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan
Puskesmas.
36
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah:
a. Kontribusi Praktis
1.
Sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka meningkatkan
kinerja pelayanan intansi pemerintah, khususnya pada kinerja pelayanan
Puskesmas Kalirungkut Surabaya sehingga dari sini dapat diketahui
kelebihan dan kekurangan dari kinerja yang dilakukannya.
2.
Sebagai bahan dalam pertimbangan dalam mengetahui faktor-faktor dan
dimensi-dimensi saja yang merupakan kekurangan dari pelayanan publik.
Dengan adanya ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan ke depan
bagi instansi pemerintah dalam meningkatkan kinerja pelayanannya
terhadap masyarakat sebagai pengguna layanan publik.
b. Kontribusi Teoretis
1.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan dan landasan dalam
penelitian selanjutnya yang melakukan penelitian sejenis, sehingga hasil
penelitian dapat lebih disempurnakan.
2.
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dalam mengetahui
tingkat kepuasan masayarakat dalam menggunakan pelayanan publik
dengan menggunakan Pedoman Umum Indeks Kepuasan Masyarakat
(IKM).
37
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Pengukuran kinerja dalam penelitian ini hanya dengan menggunakan
indikator Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang berdasarkan pada
Kep/2/M.PAN/2/2004. Kepuasan konsumen merupakan salah satu indikator non
finansial yang spesifik berdasarkan penelitian terhadap pelayanan publik dalam
bidang kesehatan pada Puskesmas Kaliungkut Surabaya.
Download