Perawatan Ngorok Cegah Darah Tinggi

advertisement
Kliping Berita Kesehatan
Perawatan Ngorok Cegah Darah Tinggi
KOMPAS.com - Ngorok atau mendengkur telah lama dianggap sebagai bagian keseharian yang
wajar. Bahkan sudah menjadi pandangan umum bahwa mendengkur merupakan tidur yang
nyenyak. Tetapi kita juga sering menemui teman, kerabat atau pasangan yang mendengkur
dengan menyeramkan. Selain suara ngorok, suara malam hari terkadang diselingi episode sunyi
yang diikuti dengan tampilan sesak dan diakhiri dengan tersedak atau terbatuk-batuk.
Di pagi hari, individu-individu ini bangun tak segar dan mudah mengantuk di siang hari. Padahal
mereka sudah cukup tidur setiap malamnya. Mereka seolah lamban, kurang cekatan, emosional,
kurang konsentrasi, mudah tertidur dan sulit mengambil keputusan. Tapi apakah mereka
pemalas? Bukan! Mereka mengalami gejala yang bernama hipersomnia, yang artinya kantuk
berlebihan walau sudah cukup tidur.
Ngorok dan hipersomnia merupakan dua gejala utama dari sleep apnea atau henti nafas saat
tidur. Penderita sleep apnea, tanpa ia sadari, terbangun-bangun dari tidur akibat sesak. Saat
tidur, saluran nafasnya menyempit hingga tak ada udara yang dapat lewat, walau gerakan nafas
terus bergerak.
Risiko Sleep Apnea
Sepanjang sejarah kedokteran tidur yang baru berkembang sejak tahun 50-an, banyak sudah
penelitian yang menyinggung tentang bahaya ngorok. Mulai dari kualitas hidup, keselamatan dan
kesehatan.
Kantuk berlebih yang dialami jelas menurunkan kualitas hidup seseorang. Performa menurun,
kreativitas tersumbat, daya ingat menurun dan hubungan sosial yang buruk. Bahkan sebuah
penelitian menyebutkan bahwa dengkuran merupakan penyebab perceraian nomor tiga di
Amerika setelah perselingkuhan dan masalah keuangan. Tak kalah penting, sleep apnea juga
berperan menurunkan libido dan mengakibatkan impotensi.
Resiko bagi keselamatan bagi mereka yang berkendara, atau mengoperasikan alat berat juga
tak kecil. Kualitas tidur buruk akibta sleep apnea menurunkan kewaspadaan dan kemampuan
refelks penderitanya. Ini sebabnya pendengkur di Eropa tak diperkenankan untuk berkendara
sementara hingga kondisinya disembuhkan.
Henti nafas saat tidur telah lama diketahui menyebabkan hipertensi, diabetes, berbagai
gangguan jantung, stroke hingga kematian. Sayangnya, bahaya ngorok bagi kesehatan masih
diluar deteksi radar kebanyakan tenaga kesehatan di Indonesia. Tak heran jika angka penderita
penyakit-penyakit tadi terus meningkat di tanah air.
Hipertensi
Hubungan hipertensi dan mendengkur dapat dilihat sejak penemuan sleep apnea. Walau sudah
banyak catatan medis tentang gejala-gejala yang mirip sleep apnea, namun karena tak ada
tradisi kedokteran yang mengamati kondisi pasien saat tidur, kondisi ini diabaikan begitu saja.
Hingga di awal berjalannya penelitian tidur, diamati banyaknya penderita hipertensi yang
mengalami kantuk berlebihan. Khawatir akan gangguan tidur bernama narkolepsi, pasien-pasien
ini direkam gelombang otaknya selama tidur. Selama pengamatan didapati bahwa mereka
mendengkur, dan akhirnya diputuskan untuk juga merekam fungsi-fungsi nafas dan jantung
selama tidur.
Terbuktilah bahwa para pendengkur mengalami gangguan nafas selama tidur. Sejak saat itu,
pemeriksaan tidur dilengkapi dengan perekaman nafas dan jantung. Laboratorium tidur dengan
alat bernama polisomnografi (PSG) bukan lagi menjadi alat penelitian, tetapi juga menjadi alat
diagnosa rutin seperti pemeriksaan darah dan foto X ray.
Penelitian-penelitian selanjutnya lebih menguatkan hubungan antara kedua penyakit ini. Mulai
dari mekanisme terjadinya, resiko-resiko yang berperan hingga efek perawatan sleep apnea
terhadap tekanan darah tinggi.
Mekanisme biologis yang diduga berperan adalah meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis
saat tidur akibat penurunan kadar oksigen dan episode bangun singkat. Secara berantai
mengakibatkan rusaknya dinding pembuluh darah serta meningkatnya tahanan pada aliran
darah.
Perawatan
Dalam the Journal of American Medical Association baru-baru ini dibuktikan juga bagaimana
perawatansleep apnea dapat menjaga tekanan darah tetap normal. Didapati bahwa pendengkur
yang telah menggunakan CPAP sebagai perawatan, berkurang resikonya untuk menderita
hipertensi.
CPAP adalah kependekan dari continuous positive airway pressure. Sebuah alat yang
dihubungkan ke hidung lewat masker. Fungsi dasarnya adalah meniupkan tekanan positif untuk
mengganjal saluran nafas agar tetap membuka selama tidur.
Dalam penelitian tersebut diikuti sekitar 1900 orang tanpa hipertensi yang dirujuk ke klinik tidur
sejak tahun 1994 sampai 2000. Pasien-pasien tersebut diikuti setiap tahunnya hingga tahun
2011. Pasien yang terdiagnosa dengan sleep apnea lalu diberi perawatan dengan CPAP.
Hasilnya, para peneliti mendapati bahwa penderita sleep apnea yang tidak menjalankan
perawatan mempunyai resiko dua kali lipat untuk menderita hipertensi dibanding mereka yang
tidak menderita sleep apnea. Sementara pasien-pasien yang meninggalkan perawatan CPAP
mempunyai risiko 80% lebih besar! Padahal pasien-pasien yang menggunakan CPAP menurun
resikonya untuk menderita hipertensi hingga 29%.
Kita sudah tahu pasti bahwa mendengkur dan sleep apnea merupakan salah satu penyebab
utama hipertensi. Kita juga telah mengetahui bahwa perawatan sleep apnea dapat menurunkan
tekanan darah. Tetapi penelitian ini membuktikan bahwa perawatan sleep apnea dapat
mencegah terjadinya hipertensi.
Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2012/05/19/16271252/Komnas.PA.Bakal.Gugat.Kementerian.Kes
ehatan
Kliping berita by: perawatku.blog.unsoed.ac.id
Download