(Piper nigrum L.) Oleh : Mardiantini NIM. 110 500 088 PROGRAM

advertisement
PENGARUH AIR SENI SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN STEK
TANAMAN LADA (Piper nigrum L.)
Oleh :
Mardiantini
NIM. 110 500 088
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2014
PENGARUH AIR SENI SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN STEK
TANAMAN LADA (Piper nigrum L.)
Oleh :
Mardiantini
NIM. 110 500 088
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2014
PENGARUH AIR SENI SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN STEK
TANAMAN LADA (Piper nigrum L.)
Oleh :
Mardiantini
NIM. 110 500 088
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2014
HALAMAN PENGESAHAN
JudulKarya Ilmiah
: Pengaruh Air Seni Sapi Terhadap Pertumbuhan Stek
Tanaman Lada (Piper nigrum L.)
Nama
: Mardiantini
NIM
: 110500088
Program Studi
: BudidayaTanaman Perkebunan
Jurusan
: ManajemenPertanian
Pembimbing,
Penguji I,
Penguji II,
NurHidayat, SP, M.Sc
NIP.197210252001121001
Jamaluddin, SP, M.Si
NIP. 19720612 200112 1 003
Daryono, SP
NIP. 19800202 200812 1 002
Menyetujui,
Ketua Program Studi
Budidaya Tanaman Perkebunan
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
NurHidayat, SP, M.Sc
NIP. 197210252001121001
Ir. Hasanudin, MP
NIP. 19630805 198903 1 005
Lulus UjianPadaTanggal :05Agustus 2014
ABSTRAK
MARDIANTINI.Pengaruh Air Seni Sapi Terhadap Pertumbuhan Stek Tanaman Lada
(Piper nigrum L.) (di bawah bimbingan NUR HIDAYAT ).Penelitian ini
dilatarbelakangi belum maksimalnya pemanfaatan limbah air seni sapi sebagai zat
pengatur tumbuh, khususnya dalam perbanyakan secara stek pada tanaman lada.
Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan air
seni sapi sebagai pengganti zat pengatur tumbuh yang berbahan aktif kimia seperti
Rooton F pada tanaman lada.
Penelitian ini merupakan nonfaktorial yang diatur dalam bentuk Rancangan
Acak Lengkap (RAL) faktor yang digunakan adalah air seni sapi dengan 3 taraf
perlakuan dan 10 kali pengulangan yaitu:
P0 = Tanpa perlakuan
P1 = Campuran air seni sapi dan air dengan konsentrasi 5% (10ml/200ml)
P2 = Campuran air seni sapi dan air dengan konsentrasi 10% (10ml/100ml)
Kemudian data hasil penelitian dianalisis apabila terdapat perbedaan pada taraf
signifikasi 5% atau 1% dilanjutkan Uji BNT.Dari hasil penelitian tepatnya konsentrasi
zat pengatur tumbuh yang terdapat pada air seni sapi mempengaruhi cepatnya hari
muncul tunas. Konsentrasi perlakuan pada P1 (10 ml/200 ml) lebih rendah dari
konsentrasi perlakuan P2 (10 ml/100 ml) namun memberikan pengaruh yang sama
maka diduga konsentrasi pada P1 yang lebih baik dari perlakuan lainnya, karena
hanya memerlukan sedikit air seni sapi.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi bagi
para praktisi lapangan atau petani yang membudidayakan tanaman lada guna
mengoptimalkan pertumbuhan stek tanaman lada dengan pemberian zat pengatur
tumbuh alami yang lebih efisien.
Kata kunci : Air seni sapi, stek & lada.
RIWAYAT HIDUP
MARDIANTINI Lahir pada tanggal 18 Juli 1993 di Samarinda,
Kalimantan Timur. Merupakan anak keenam Bapak Sukardi dan
Ibu Sutiani. Tahun 1999 memulai pendidikan di Sekolah Dasar
Negeri (SDN) 015 Samarinda Kalimantan Timur lulus pada tahun
2005, setelah itu melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama Negeri (SLTPN) 37 Samarinda Kalimantan Timur dan
lulus pada tahun 2008, kemudian melanjutkanke Sekolah Pertanian Pembangunan
(SPP) Negeri Samarinda dan lulus pada tahun 2011. Pendidikan tinggi dimulai pada
tahun 2011 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Jurusan Manajemen
Pertanian, Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan.
Bulan Maret – Mei 2014 mengikuti program Praktek Kerja Lapang (PKL)
di
Perusahaan Perkebunan PT. Kota Bangun Plantation, Desa Jembayan, Kecamatan
Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Puji dan Syukur Kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala,
karena atas Berkah dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya
ilmiah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.
Bapak Nur Hidayat, SP, M.Sc selaku dosen pembimbing dan juga selaku Ketua
Program
Studi
Budidaya
Tanaman
Perkebunan
yang
telah
banyak
mengarahkan penulis mulai dari persiapan penelitian sampai penyusunan Karya
Ilmiah ini.
2.
Bapak Jamaluddin SP, M.Siselaku dosen penguji pertama yang telah
memberikan masukan dan saran kepada penulis demi kesempurnaan Karya
Ilmiah ini.
3.
Bapak Daryono, SP selaku dosen penguji kedua yang telah memberikan
masukan dan saran kepada penulis demi kesempurnaan Karya Ilmiah ini.
4.
Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda.
5.
Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
6.
Para staf pengajar, administrasi dan teknisi di Program Studi Budidaya
Tanaman Perkebunan.
7.
Kedua Orang tua yang telah memberikan dukungan secara penuh sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah ini tepat pada waktunya.
8.
Rekan – rekan mahasiswa yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan
dan penyusunan Karya Ilmiah ini.
9.
Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, karena telah
memberikan sumbangsihnya sehingga tersusunnya Karya Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih jauh dari sempurna, semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Penulis
Kampus Sei Keledang, Agustus 2014
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................
i
DAFTAR ISI................................................................................................
ii
DAFTAR TABEL........................................................................................
iii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
iv
I.
PENDAHULUAN
1
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Lada....................................................................
B. Tinjauan Umum Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)...............................
C. Tinjauan Umum Air Seni Sapi.......................................................
4
18
20
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu........................................................................
B. Alat dan Bahan..............................................................................
C. Prosedur Penelitian.......................................................................
D. Rancangan Penelitian...................................................................
E. Analisis Data..................................................................................
22
22
22
24
24
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil...............................................................................................
B. Pembahasan..................................................................................
26
27
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan....................................................................................
B. Saran.............................................................................................
29
29
III.
IV.
V.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No
1
Tubuh Utama
Halaman
Jenis dan Kandungan Zat Hara pada Beberapa Kotoran ternak
Padat dan Cair...................................................................................
21
2
Jumlah Unsur Hara padakotoranTernak ...........................................
22
3
Sidik Ragam (Tabel Anova)...............................................................
25
4
Hasil Uji BNT taraf 5% pengaruh pemberian air seni sapi pada
pertumbuhan stek tanaman lada terhadap hari muncul
tunas (hari).........................................................................................
27
DAFTAR LAMPIRAN
No
Halaman
1
Bagan Penelitian dengan Perambangan RAL...................................
34
2
Data Hasil Pengamatan Hari Muncul Tunas (Hari)............................
35
3
Tabel Sidik Ragam (Tabel Anova).....................................................
35
4
Dokumentasi Kegiatan Penelitian......................................................
36
1
I.
PENDAHULUAN
Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan produk tertua dan terpenting
dari produk rempah – rempah yang diperdagangkan di dunia. Tanaman ini
merupakan komoditas pertanian yang bernilai ekonomis sejak zaman dahulu kala
hingga saat ini dan dimasa mendatang, sehingga lada ini dijuluki “King of Spices”
atau “rajanya rempah – rempah”. Selain untuk bumbu masakan, aneka produk
lada juga digunakan sebagai bahan ramuan obat – obatan, wewangian dan
kosmetika (Suwarto, 2013).
Indonesia merupakan salah satu produsen lada utama di dunia yang
berperan dalam menentukan pasar lada dunia. Jenis lada yang telah diusahakan
secara komersial adalah lada hitam (black pepper) dan lada putih (white pepper).
Produksi lada juga mengalami fluktuasi seiring dengan pasang surutnya luas
areal lada dengan produktivitas yang juga cenderung menurun akibat perubahan
iklim, penyakit dan tanaman yang sudah tua, terutama di daerah Lampung
(Suwarto, 2013).
Lada di Kalimantan Timur merupakan komoditi tradisional yang sudah
cukup lama dikenal dan dikembangkan oleh rakyat. Beberapa waktu yang lalu
komoditi lada merupakan salah satu komoditi ekspor Kalimantan Timur yang
cukup penting, yang dikenal dengan mutu White Pepper Samarinda (Anonim,
2013).
Untuk meningkatkan kualitas dan produksi, maka langkah awal yang dapat
dilakukan adalah dengan memperhatikan dalam kegiatan teknis budidaya.
Kegiatan budidaya akan berhasil dengan memilih bibit yang baik, karena bibit
merupakan salah satu penentu keberhasilan budidaya tanaman. Bibit yang baik
akan diperoleh dengan memperhatikan macam – macam bibit, ciri – ciri bibit
2
yang baik, dan kiat – kiat tertentu memilih bibit. Macam – macam bibit dapat
diperoleh dengan berbagai teknik perbanyakan tanaman, misalnya stek,
sambung, okulasi dan lain – lain. Untuk mengetahui bibit yang baik perlu
diperhatikan asal – usul bibit dan kesehatan bibit.
Selain itu, perbanyakan lada secara stek merupakan cara perbanyakan
yang meiliki tingkat keberhasilan paling tinggi. Tanaman baru yang dihasilkan
secara stek dijamin sama dengan induknya, baik dalam morfologi, produktivitas,
maupun daya tahannya terhadap penyakit. Tanaman baru juga akan cepat
berbuah, terlebih jika ada perlakuan khusus. Dan umur tanaman lebih panjang
yang berarti lebih panjang pula masa produksinya (Sutarno dan Andoko, 2004).
Salah satu teknik perbanyakan tanaman lada yang sering digunakan
adalah teknik perbanyakan vegetatif yaitu stek. Teknik ini digunakan sangat baik
untuk mempercepat pembibitan, sehingga bibit juga dapat cepat dipindahkan
ke lapangan dan itu erat hubungannya dengan cepatnya pertumbuhan dan
produksi.
Bibit yang akan diperbanyak dengan cara stek, pembentukan akar
merupakan faktor awal yang paling penting dalam pertumbuhan tanaman. Untuk
mempercepatnya tumbuhnya akar dapat dilakukan dengan pemberian hormon
tumbuh atau zat pengatur tumbuh. Hormon tumbuh dapat berupa hormon
tumbuh alami, maupun hormon tumbuh sintetis. Hormon tumbuh alami dapat
diperoleh dari organ tumbuh tanaman dan juga bisa memanfaatkan limbah dari
sapi seperti air seni sapi. Sedangkan hormon tumbuh sintetis adalah hormon
tumbuh yang dibuat oleh pabrik, misalnya IAA (Indole Acetic Acid) atau
dipasaran disebut Rooton F. Rooton F selain sulit tersedia di tempat yang mudah
3
dijangkau oleh para petani di pedesaan, harganya juga relatif sangat tinggi
(Abdurrani, 1990).
Untuk menghemat biaya teknis budidaya dan mempermudah serta
mempercepat pertumbuhan stek dapat dilakukan dengan pemberian air seni
sapi. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Air Seni Sapi Terhadap Pertumbuhan Stek Tanaman Lada”.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan air seni sapi
sebagai
pengganti
zat
pengatur
tumbuh
(ZPT)
pada
tanaman
lada
(Piper nigrum L.).
Hasil yang diharapkan, penelitian ini bisa bermanfaat sebagai bahan
informasi bagi para praktisi lapangan atau petani yang membudidayakan
tanaman lada guna mengoptimalkan pertumbuhan stek tanaman lada dengan
pemberian zat pengatur tumbuh alami yang lebih efisien.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tanaman Lada
Tanaman ini berasal dari Ghat Barat, India. Tanaman lada ini
mempunyai nilai ekonomis tinggi karena memiliki banyak manfaat seperti
sebagai bumbu makanan, sebagai bahan obat – obatan dan sebagai bahan
minyak lada. Tanaman lada juga memiliki kandungan kimia yaitu minyak
atsiri, minyak atsiri sendiri berperan sebagai penarik serangga guna
membantu proses penyerbukan dan sebagai cadangan makanan.
Teophratus yang hidup pada 287 – 372 SM (sebelum masehi)
menyebutkan bahwa ada dua jenis lada yang telah digunakan oleh bangsa
Mesir dan Romawi saat itu, yaitu lada hitam (black pepper) dan lada panjang
(pepper longum). Purseglov pada tahun 1968 menyebutkan bahwa lada
merupakan produk pertama yang diperdagangkan antara dunia barat dan
timur. Selain untuk keperluan rempah – rempah, pada abad pertengahan
tahun 1.100 – 1.500, perdagangan lada memiliki kedudukan yang sangat
penting yaitu sebagai alat tukar dan mas kawin. Lada juga merupakan
tanaman rempah yang sudah lama ditanam di Indonesia.
Sejak zaman penjajahan Belanda, lada telah dibudidayakan oleh
perkebunan
rakyat
Indonesia
dan
produknya
menjadi
komoditas
perdagangan utama antara wilayah dunia di belahan timur dan barat.
Komoditas lada menjadi penting karena memiliki beragam kegunaan. Saat
ini, lada dan hasil olahannya (seperti lada hitam, lada putih, lada hijau dan
bubuk lada) dipakai sebagai industri pembuatan sosis, asinan kol, chutnet
ala India, dan industri minuman ringan, kue – kue, serta industri makanan
kaleng lainnya. Bahkan, lada dan hasil olahan lainnya dapat memberikan
aroma harum yang khas dan rasanya yang pedas sebagai akibat adanya zat
piperine, puiperamin, dan chavicine. Hasil olahan lada yang cukup terkenal
ialah minyak lada yang banyak digunakan dalam industri wewangian
(pragrance), industri parfum, kosmetika, dan industri flavour. Lada hitam dari
Indonesia pada saat ini masih mendominasi pasaran lada dunia sehingga
peluang ini harus terus dimanfaatkan menjadi suatu kekuatan yang
maksimal
bagi
Indonesia
apabila
dapat
mengatasi
permasalahan
produktivitas dan kualitas yang masih rendah (Suwarto, 2013).
Produksi lada Indonesia dominan diekspor dan hanya sedikit yang
dikonsumsi di dalam negeri. Sekitar 80% dari lada yang diproduksi Indonesia
ditujukan untuk pasar ekspor. Informasi pasar komoditi Domestik dan
Internasional
Badan
Pengawasan
Perdagangan
Berjangka
Komoditi
(BAPEPTI), Kementerian Perdagangan mencatat ekspor lada Indonesia
pada 2010 mencapai 63.000 ton senilai 246 juta dolar AS. Dengan kata lain,
meningkat sekitar 24% dibandingkan dengan ekspor tahun 2009 yan hanya
sebesar 51.000 ton atau senilai 140 juta dolar AS. Indonesia merupakan
produsen lada terbesar kedua di dunia setelah Vietnam dengan kontribusi
17% dari produksi lada dunia pada 2010. Selain Indonesia, negara penghasil
lada lainnya adalah Brazil, India, Malaysia, Thailand dan Srilanka yang
semuanya bergabung dalam International Pepper Comunity (IPC) (Suwarto,
2013).
1.
Klasifikasi Tanaman Lada
Lada termasuk famili Piperaceae yang terdiri atas 10 – 12 genera.
Terdapat 1.400 spesies tanaman lada yang beraneka ragam bentuknya,
mulai dari herba, semak, tanaman menjalar, hingga pohon. Tanaman ini
berasal dari ordo Piperales, genus Piper. Lada digolongkan ke dalam
subklas Dycotyledoneae. Akan tetapi, batangnya mempunyai karakter
antara Monocotyledoneae dan Dycotyledoneae (Suwarto, 2013).
Dalam dunia tumbuhan tanaman lada tersusun dalam sistematika
sebagai berikut:
2.
Divisi
: Spermatophyta
Klas
: Angiospermae
Subklas
: Dycotyledoneae
Ordo
: Piperales
Famili
: Piperaceae
Genus
: Piper
Spesies
: Piper nigrum L.
Morfologi Tanaman Lada
a. Akar
Pada garis besarnya lada mempunyai dua jenis akar, yaitu:
1) Akar yang terdapat di atas tanah
Akar yang terdapat di atas tanah juga disebut akar lekat atau
akar panjat. Akar lekat ini berguna untuk melekat atau memanjat
pada tajarnya, sehingga tanaman bisa naik ke atas. Akar – akar
lekat ini hanya tumbuh pada buku batang orthotrop.
2) Akar yang tumbuh di dalam tanah
Akar yang terdapat di dalam tanah juga disebut akar utama.
Akar – akar ini selain tumbuh pada bukunya yang merupakan
perpanjangan dari akar lekat, juga tumbuh pada bekas – bekas
potongan batang. Akar utama tumbuh pada pangkal batang,
sehingga pada satu batang bisa terdapat 10 – 20 akar utama.
Pada akar utama itu akan tumbuh akar samping dengan bulu akar
yang banyak sekali. Bulu – bulu akar tersebut bisa berkembang di
permukaan tanah dan berguna untuk menghisap makanan yang
diperlukan. Apabila keadaan tanah memungkinkan, maka akar itu
akan dapat menembus tanah sedalam 1 – 2 m. Sedangkan
panjangnya akar bisa mencapai 2 – 4 m. Tetapi pada umumnya
sistem perakaran lada cukup dangkal, hanya mencapai kedalaman
antara 30 – 60 cm saja (Anonim, 2003).
b. Batang dan Cabang
Bagian – bagian batang di atas tanah ada tiga jenis yaitu:
1) Stolon
Stolon atau batang primer juga disebut batang dasar. Stolon
juga merupakan batang pokok atau batang induk yang tumbuh
memanjat seperti cabang – cabang orthotrop dan plagiotrop akan
tumbuh. Batang ini berbentuk agak pipih, dan setelah berdiameter
4 – 6 cm, berbenjol – benjol, berwarna abu – abu tua,
beruas – ruas, dan lekas berkayu serta berakar lekat. Sedangkan
pada kuncupnya, batang tersebut membengkok. Tanaman lada
yang masih muda, yaitu umur 8 – 12 bulan akan mencapai
ketinggian 1 – 5,5 m dengan ruas yang jumlahnya kurang lebih
20 buah.
2) Cabang Orthotrop
Cabang – cabang ini tumbuh pada batang pokok. Cabang
tersebut
bentuknya bulat,
berkuncup
yang
berjauhan dan
tumbuhnya memanjat ke atas. Cabang – cabang ini kedudukannya
sama dengan batang primer (stolon). Sebab cabang ini juga
berakar lekat, memanjat serta beruas – ruas. Pada setiap buku
terdapat sehelai daun yang berhadap – hadapan dengan
cabang plagiotrop dan akar lekat yang mengikat tanaman pada
tajarnya.
Semua
cabang
yang
mengarah
ke
atas
disebut
cabang orthotrop. Apabila cabang – cabang itu melekat pada tajar,
tetapi memanjang terus ke bawah atau menggantung, maka
cabang itu disebut sulur gantung, sedang yang tumbuh pada
permukaan tanah disebut sulur tanah.
3) Cabang Plagiotrop
Cabang plagiotrop adalah cabang atau ranting yang tumbuh
dari batang primer mau cabang orthotrop, yang jumlahnya banyak
sekali. Ranting – ranting ini pendek, agak kecil, dan tak melekat
pada tajar sebab masing – masing bukunya tak berakar lekat.
Pada setiap buku tumbuh sehelai daun yang berhadapan dan
disinilah akan tumbuh malai bunga. Cabang ini tumbuhnya selalu
ke
samping,
dan
pada
cabang
ini
masih
bisa
tumbuh
ranting – ranting lagi. Inilah bagian yang selalu mengeluarkan
malai bunga atau buah (Anonim, 2003).
c. Daun
Tanaman lada
ini
berdaun
tunggal tidak
berpasangan,
keadaannya kenyal, serta bertangkai. Bentuknya bulat telur, tetapi
pada pucuknya meruncing. Daun belahan atas berwarna hijau tua
mengkilat, sedangkan pada belahan bawah berwarna hijau pucat dan
tidak mengkilat. Panjang tangkai 2 – 4 cm, panjang daun 12 – 18 cm,
dan lebarnya 5 – 10 cm serta berurat daun 5 – 9. Daun yang keluar di
bagian atas bentuknya panjang, sedangkan daun yang tumbuh di
bagian bawah cenderung membulat. Penampilan daun yang muncul
dari cabang – cabang orthotrop lebih simetris dengan warna hijau
lebih gelap dibandingkan dengan daun dari cabang plagiotrop yang
asimetris dan berwarna terang (Anonim, 2003).
d. Bunga
Bagian – bagian yang dapat berbunga ialah cabang – cabang
plagiotrop atau cabang – cabang buah. Bunga – bunga itu tumbuh
pada malai bunga, sedangkan malai bunga itu sendiri tumbuh pada
ruas – ruas cabang buah yang berhadap – hadapan dengan daun.
Pada satu malai maksimal terdapat 150 bunga. Lada ini merupakan
bunga sempurna atau berumah satu. Bunga ini terdiri dari tajuk,
mahkota bunga, putik dan benang sari. Tajuk bunga lada berwarna
hijau dan melekat di malai. Setelah terjadi pembuahan, tajuk
berfungsi sebagai dasar atau tempat dudukan buah karena buah lada
tidak bertangkai. Mahkota bunga lada berwarna kuning kehijauan
yang akan layu dan kering setelah terjadi pembuahan. Penyerbukan
bunga lada bersifat autogami, penyerbukan terjadi dengan sendirinya
tanpa bantuan serangga atau angin sebagaimana umumnya
tanaman. Hal ini terjadi karena serbuk sari bunga dari pangkal malai
matang terlebih dahulu, sehingga dengan sendirinya menyerbuki
bunga – bunga di bawahnya (Anonim, 2003).
e. Buah
Menurut Anonim (2003), buah merupakan produksi pokok dari
pada hasil tanaman lada. Buah lada ini mempunyai ciri – ciri sebagai
berikut:
1) Bentuk dan warna buah; buah lada berbentuk bulat, berbiji keras
dan berkulit buah yang lunak. Kulit buah yang masih muda
berwarna hijau, sedangkan yang tua berwarna kuning. Dan
apabila buah sudah masak berwarna merah, berlendir dengan
rasa manis. Sesudah dikeringkan lada itu berwarna hitam.
2) Kedudukan buah; buah lada merupakan buah duduk, yang
melekat pada malai. Berat 100 biji kurang lebih 3 – 8 g atau
rata – rata 4,5 g.
3) Keadaan kulit buah; kulit buah atau pericarp terdiri dari 3 bagian,
yaitu:
a) Epicarp
: Kulit luar
b) Mesocarp : Kulit tengah
c) Endocarp : Kulit dalam
4) Biji; di dalam kulit ini terdapat biji – biji yang merupakan produk
dari lada.
3.
Syarat Tumbuh Tanaman Lada
a. Iklim
1) Ketinggian Tempat
Menurut Sutarno dan Andoko (2004), tinggi rendahnya
tempat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman
lada. Untuk mencapai produktivitas optimal, sangat bagus jika lada
dibudidayakan di dataran rendah, yaitu di wilayah dengan
ketinggian 3 – 1.000 m dpl. Lada bisa ditanam di dataran tinggi
(lebih dari 1.000 m dpl), awalnya akan tumbuh bagus, tetapi
pertumbuhan vegetatifnya yaitu akar, batang dan daun lebih
dominan dibandingkan dengan kemampuannya menghasilkan
buah.
2) Suhu
Suhu yang cocok untuk tanaman lada adalah 20o – 34o C
dengan kisaran terbaik 21o – 27o C dipagi hari dan 26o – 32o C di
sore hari.
3) Curah Hujan
Sebagai tanaman yang berasal dari daerah tropis, lada
menghendaki
tempat
tumbuh
dengan
kelembaban
tinggi.
Karenanya, lada paling cocok ditanam di daerah curah hujan
minimum 2.200 – 3.000 mm/tahun. Dengan rata – rata
2.300 mm/tahun. Curah hujan harian 20 – 50 mm dengan
rata – rata 177 hari hujan dalam setahun sesuai untuk tanaman
lada. Tidak terdapat adanya bulan – bulan kering dengan curah
hujan kurang lebih dari 60 mm/bulan.
4) Kelembaban Udara
Lada
dapat
tumbuh
baik
pada
kelembaban
udara
50 – 100%, kisaran untuk pertumbuhan optimal adalah 60 – 80%.
Berkurangnya kelembaban di sekitar tanaman akan menghambat
pertumbuhan jamur.
b. Tanah
Menurut Rukmana (2003), tanah yang akan digunakan untuk
budidaya tanaman lada harus dipilih tanah yang subur, gembur,
banyak mengandung bahan organik, mempunyai pH antara 5,5 – 6,5
(rata – rata 5,8) dan tidak mengandung unsur – unsur yang beracun.
Tanaman lada membutuhkan tanah yang memiliki drainase yang
baik, daya menahan air yang cukup, struktur remah dan derajad
keasaman antara sedikit asam sampai netral.
Tanah yang bermasalah memerlukan pengolahan secara
terpadu. Misalnya, tanah dengan pH kurang dari 5,5 memerlukan
perlakuan pengapuran dan pemberian pupuk organik dosis tinggi.
Demikian pula tanah yang mudah tergenang, memerlukan saluran
drainase.
Tanaman lada dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah.
Meskipun demikian, produksi lada di Indonesia menunjukkan bahwa
ternyata jenis tanah yang ideal bagi pengembangan tanaman lada
adalah tanah andosol, latosol, dan podsolik. Karakteristik ketiga jenis
tanah tersebut adalah sebagai berikut.
1) Tanah Andosol
Tanah andosol disebut juga tanah pegunungan tinggi. Jenis
tanah ini ditemukan terbesar di Jawa, Sumatra Utara, Sumatra
Timur, Sumatra Barat, Bali, Lombok, Minahasa dan sedikit di
Kalimantan.
Karakteristik tanah andosol adalah solum tanah agak tebal
(1 m - 2 m); berwarna hitam, kelabu atau cokelat tua; memiliki
tekstur debu dan lempung berdebu sampai lempung; berstruktur
remah dengan konsistensi gembur; memiliki pH 5,0 – 7,0
(asam sampai netral); memiliki kandungan unsur hara antara
sedang sampai tinggi. Produktivitas tanah termasuk kategori
sedang sampai tinggi.
2) Tanah Latosol
Tanah latosol disebut juga tubuh tanah lateris. Jenis tanah
ini ditemukan di Pulau Sumatra (mulai dari aceh sampai
Lampung), Jawa Barat, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan,
Minahasa, Kep. Malaka dan seperempat dari wilayah Irian Jaya.
Karakteristik tanah latosol adalah solum tanah dalam
(1,5 m – 10 m) dengan batas horison tidak jelas; berwarna merah,
cokelat, sampai kuning; memiliki tekstur liat; berstruktur remah
dengan konsistensi gembur; pH berkisar anatara 4,5 – 6,5;
memiliki kandungan bahan organik lapisan atas antara 3% - 10%;
dan memiliki kandungan zat hara rendah sampai sedang.
Produktivitas tanah termasuk kategori sedang sampai tinggi.
3) Tanah Podsolik
Tanah podsolik sering disebut juga podsolik merah kuning
atau tubuh tanah kwarsa merah. Jenis tanah ini terdapat
di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku,
Irian Jaya dan sedikit di Jawa Barat.
Karakteristik tanah podsolik merah kuning adalah solum
tanah agak tebal (1 m – 2 m) dengan batas horison nyata;
berwarna merah sampai kuning; memiliki tekstur lempung berpasir
sampai lempung berliat; berstruktur gumpal dengan konsistensi
gembur; dan memiliki pH antara 3,5 – 5,5. Produktivitas tanah
termasuk kategori rendah sampai sedang (Rukmana, 2003).
4.
Perbanyakan Tanaman Lada
Pada umumnya lada ditanam atau diperbanyak dengan stek. Akan
tetapi sekiranya dikehendaki, lada dapat juga ditanam atau diperbanyak
dengan biji. Atau dengan kata lain lada itu dapat diperbanyak dengan
cara:
a. Generatif
Menurut
Sarpian
(2007),
perbanyakan
generatif
adalah
perbanyakan bibit dengan cara menumbuhkan buah yang sudah
masak hingga memiliki batang, daun dan akar sehingga memenuhi
syarat untuk digunakan sebagai bibit. Namun, perbanyakan dengan
menggunakan biji ini sangat jarang dilakukan oleh petani. Selain
memerlukan ketelitian dan tahapan pembibitan yang lama dan rumit,
waktu berbuah bibit asal biji lebih lama dibandingkan dengan bibit
asal stek batang. Meskipun demikian, perbanyakan secara generatif
diperlukan jika tanaman lada akan dikembangkan di lokasi lahan
yang baru yang sebelumnya belum pernah ditanam lada
b. Vegetatif
Menurut
Sarpian
(2007),
perbanyakan
vegetatif
adalah
perbanyakan bibit melalui bagian tanaman itu sendiri, kecuali buah.
Pada tanaman lada, perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan
stek, sambung, maupun okulasi. Namun, cara yang biasa dilakukan
oleh petani adalah stek.
1) Stek
Menurut
Anonim
(2013),
stek
adalah
mengusahakan
perakaran dari bagian – bagian tanaman (cabang, daun, atau akar)
dengan memotong dari induknya untuk ditanam.
a) Pohon Induk
Menurut Rismunandar dan Riski (2003), penyetekan tidak
dapat dilakukan dengan sembarang pohon induk. Pohon induk
harus dipilih memenuhi syarat – syarat tertentu, baik umur, ukuran
batang, dan lain – lain. Adapun persyaratan pohon induk adalah
sebagai berikut:
(1) Sudah berumur 2 tahun.
(2) Sudah
mengalami
pemangkasan
pertama
pada
umur
8 – 10 bulan dan pemangkasan kedua pada umur
18 – 20 bulan.
(3) Subur dan tidak terlalu tua.
(4) Sebisa mungkin merupakan tanaman yang berbuah secara
kontinyu.
(5) Sifat – sifat vegetatif dan reproduksinya telah diketahui yakni
interval berbuah pendek, produksi tinggi dan berumur
panjang.
b) Waktu Penyetekan
Penyetekan
sebaiknya
dilakukan
pada
bulan
Oktober – Januari, yakni pada saat musim tanam. Pada
bulan – bulan ini curah hujan cukup tinggi sehingga bibit tidak
akan mati karena kekurangan air. Di samping itu, penyetekan yang
dilakukan pada bulan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan
tunas – tunas baru dari pangkal batang yang disetek. Tunas baru
yang tumbuh ini harus dipelihara dengan baik untuk dijadikan
batang yang menghasilkan buah.
Penyetekan harus dilakukan pada saat yang tepat, yakni
pada saat sinar matahari tertutup awan (cuaca mendung) atau
pada saat sinar matahari tidak terlalu menyengat, yakni pada pagi
hari pukul 05.30 – 08.30 atau sore hari pukul 16.00 – 18.00. Sinar
matahari
yang
terlalu
menyengat
dapat
menyebabkan
bagian – bagian bibit (akar lekat, dahan dan daun) layu sehingga
bibit tidak dapat tumbuh (Sarpian, 2007).
c) Ukuran Pemotongan
Pemotongan batang untuk bibit harus dilakukan menurut
ukuran panjang yang telah ditetapkan karena ukuran pemotongan
akan mempengaruhi keadaan bibit setelah ditanam di kebun. Jika
terlalu panjang, pertumbuhan tunas lebih lama. Sebaliknya jika
terlalu pendek, bibit mengalami kematian karena akar lekat yang
akan tumbuh menjadi akar utama hanya terdapat dalam jumlah
sedikit. Kondisi ini mengakibatkan proses penyesuaian dengan
lingkungan tumbuh yang baru terganggu.
Ukuran pemotongan yang normal berkisar antara 50 – 65 cm
atau 6 – 9 ruas. Dari seluruh panjang tersebut, sekitar 2/3 bagian
atau 4 – 7 ruas bibit bagian pangkal akan dibenamkan ke dalam
tanah dan selebihnya dibiarkan berada di atas permukaan tanah
sebagai tempat tumbuhnya tunas baru (Sarpian, 2007).
d) Cara Pemotongan
Pemtongan bibit asal stek harus dilakukan dengan cara yang
baik dan benar, dalam arti mengikuti cara yang biasa dilakukan
oleh para petani yang telah teruji hasilnya. Pemotongan dilakukan
mulai dari pangkal batang ke arah ujung. Pemotongan pertama
dilakukan pada jarak sekitar 15 – 20 cm dari permukaan tanah
atau 5 – 7 ruas. Dengan demikian, dari pangkal batang yang
disisakan akan dapat tumbuh tunas baru yang lebih banyak dan
lebih rimbun.
Bibit dipotong miring seolah – olah membentuk sudut 45o.
Pemotongan dilakukan pada pertengahan ruas buku, baik pada
bagian pangkal maupun ujung supaya tunas baru dapat tumbuh
dengan cepat (Sarpian, 2007).
2) Sambung
Tujuan sambung ialah sama halnya seperti perbanyakan
vegetatif, disatu pihak ingin mempertahankan jenis – jenis yang
produksinya tinggi, dilain pihak ingin mencari jenis – jenis yang tahan
penyakit akar. Untuk dapat melakukan cara ini diperlukan dua bahan
pokok yaitu:
a) Batang bawah (Understam)
Pada umumnya batang bawah yang digunakan ialah bibit
yang berasal dari biiji, stek dari kebun dan stek lada liar yang
dipilih sebagai tanaman yang tahan terhadap penyakit akar.
Sambung ini dilakukan setelah umur 1 – 2 tahun. Bibit dari biji atau
lada liar biasanya mudah diperoleh, begitu pula yang berasal dari
kebun. Jika terdapat tanaman yang produksinya tinggi dapat
dipertahankan sebagai stek. Akan tetapi jika ternyata produksinya
rendah, dapat dipergunakan sebagai understam.
b) Bahan Sambungan (entris)
Sebagai
bahan
sambungan
sudah
tentu
dipilih
dari
jenis – jenis yang produksinya tinggi dan kualitasnya baik. Bahan
entris ini diambilkan dari kebun yang sudah teruji keunggulannya.
Penyambungan batang lada dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu spleet ent atau sambungan model memakai celah dan
metode kina atau sambungan dengan cara menyambung kina.
3) Okulasi
Okulasi adalah menggabungkan dua jenis tanaman lada
dengan cara menempelkan satu sama lain. Yang ditempeli ialah
sebagai understamnya, sedangkan yang untuk menempel adalah
sebagai entrisnya.
B. Tinjauan Umum Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Hormon adalah zat yang berfungsi sebagai pengatur yang dapat
mempengaruhi jaringan – jaringan berbagai organ tanaman. Hormon tidak
sama dengan pupuk. Walaupun zat pengatur tumbuh ini memang bertugas
untuk mengatur proses – proses fisiologis seperti pembelahan sel dan
pemanjangan sel – sel tanaman sampai pertumbuhan akar, batang, daun,
bunga dan buah (Sari dkk, 1994).
Hormon tumbuh dapat berupa hormon tumbuh alami maupun hormon
tumbuh sintetis. Hormon tumbuh alami dapat diperoleh dari organ tumbuh
tanaman yang masih muda, misalnya ujung tanaman dan ujung akar. Tetapi
sumber keduanya sulit dicari. Sedangkan hormon tumbuh sintetis adalah
hormon tumbuh yang dibuat oleh pabrik, misalnya IAA (Indole Acetic Acid)
atau dipasaran disebut Rooton F. Rooton F selain sulit tersedia di tempat
yang mudah dijangkau oleh para petani di pedesaan, harganya juga relatif
sangat tinggi (Abdurrani, 1990).
Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik yang
bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, dalam jumlah
banyak dapat menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tanaman
(Abidin, 2003).
Zat pengatur tumbuh di dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu
auxin, giberellin, sitokinin, ethylene dan inhibitor dengan ciri khas dan
pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis.
Menurut Heddy (1996), pengaruh komperatif dari auxin, giberellin,
sitokinin, ethylene dan inhibitor adalah sebagai berikut:
1. Auxin
Proses – proses utama yang dirangsang yaitu:
a. Pembelahan
sel
ditandai
dengan
tumbuhnya
kalus,
tumbuh
kebanyakan kultur jaringan, tumbuh kambium, penghambatan tumbuh
tunas lateral.
b. Pembesaran sel ditandai dengan tumbuhnya batang dan koleoptil.
c. Diferensiasi sel ditandai dengan pembentukan akar pada stek dan
potongan jaringan, pembentukan tunas dan beberapa jaringan,
diferensiasi kambium.
2. Giberellin
Proses – proses utama yang dirangsang yaitu:
a. Pembelahan sel ditandai dengan adanya aktifitas pembelah sel
di bawah daerah meristem batang. Tumbuh kambium, hilangnya
dormansi diikuti dengan tumbuhnya tunas dan biji beberapa jenis
tumbuhan.
b. Pembesaran sel ditandai dengan pertumbuhan batang dan daun pada
beberapa jenis tumbuhan. Tumbuh tunas lateral, hilangnya dormansi
diikuti dengan tumbuhnya tunas dan biji pada beberapa jenis
tumbuhan penghambatan pembentukan akar.
c. Rangsangan dan penghambatan pembentukan tunas. Rangsangan
dan penghambatan transisi antara fase muda dan fase dewasa.
3. Sitokinin
Proses – proses utama yang dirangsang yaitu:
a. Pembelahan sel pada kultur jaringan tertentu. Hilangnya dormansi
diikuti dengan tumbuhnya tunas.
b. Pembesaran sel ditandai dengan pertumbuhan batang pada beberapa
jenis tumbuhan. Tumbuh potongan – potongan daun, hilangnya
dormansi diikuti dengan tumbuhnya beberapa jenis biji.
4. Ethylene
Hormon yang berupa gas yang dalam kehidupan tanaman aktif
dalam proses pematangan buah yang bertujuan agar buah cepat masak.
5. Inhibitor
Zat yang menghambat pertumbuhan pada tanaman, sering didapat
pada proses perkecambahan, pertumbuhan pucuk atau dalam dormansi.
Di dalam tanaman, inhibitor menyebar disetiap organ tubuh tanaman.
C. Tinjauan Umum Air Seni Sapi
Air seni sapi yang dianggap sebagai limbah ternyata memilki banyak
manfaat, salah satunya adalah sebagai zat pengatur tumbuh atau hormon
tumbuh alami. Air seni sapi yang relatif mudah didapatkan bisa dijadikan
alternatif untuk merangsang pertumbuhan akar, dan juga bisa menghemat
pengeluaran para petani. Selain itu juga bisa mengurangi volume limbah air
seni sapi yang bisa menjadi sarang nyamuk dan membahayakan
masyarakat, jadi dengan merangsang pertumbuhan akar menggunakan
air seni sapi juga mengurangi limbah dan salah satu upaya kesehatan
masyarakat untuk menghindari terserang penyakit akibat nyamuk.
Air seni sapi sendiri memiliki kandungan kimia seperti N (1,4 – 2,2%),
P (0,6 – 0,7%), K (1,6 – 2,1%). Jenis dan kandungannya dapat dilihat pada
tabel 1 dan 2. Selain itu air seni sapi mengandung zat pengatur tumbuh yang
dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya ialah IAA (Indole
Acetic Acid). Lebih jelasnya ialah memberikan pengaruh positif terhadap
pertumbuhan vegetatif. Dari limbah yang dianggap barang buangan, ternyata
dapat dijadikan hal baru yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang
menjanjikan (Fandy, 2012).
Tabel 1. Jenis dan Kandungan Zat Hara pada Beberapa Kotoran Ternak
Padat dan Cair
Nama Ternak &
Kotorannya
Sapi (Padat)
Sapi (Cair)
Sumber : Lingga, 1991
Nitrogen (%)
Fosfor (%)
Kalium (%)
Air (%)
0,40
1,00
0,20
0,50
0,10
1,50
85
92
Tabel 2. Jumlah Unsur Hara pada kotoran Ternak
Jenis
N
P
Sapi
1,1
0,5
Sumber : Hsieh, 1987
K
0,9
Ca
1,1
Hg
0,8
Na
0,2
Fe
5726
Mn
344
Zn
122
Cu
20
III.
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Marsda Abdurahman Saleh
(Eks. Kehewanan) GG. 1 RT. 23 NO. 60 Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan
Samarinda Ilir Kalimantan Timur. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini
selama 11 hari terhitung dari tanggal 31 Desember 2013 sampai 11 Januari
2014.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Gelas ukur
2. Gunting stek
3. Jerigen
4. Cangkul
5. Ember
6. Gembor
7. Alat tulis
8. Alat dokumentasi
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Top soil
2. Air seni sapi
3. Tanaman lada (stek)
4. Air
C. Prosedur Penelitian
Langkah – langkah dalam penelitian ini yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
23
1.
Penyiapan tempat penelitian
a. Penyiapan tempat
Tempat
yang
digunakan
dalam
penelitian
ini
memiliki
pencahayaan yang optimal, dekat dengan sumber air, jauh dari
gangguan hama dan penyakit serta mudah diawasi.
b. Pengisian polybag
Tanah yang digunakan untuk mengisi polybag dalam penelitian
adalah top soil dan dibersihkan dari sisa – sisa perakaran, daun dan
ranting tanaman. Tanah dimasukkan ke dalam polybag hingga
kurang lebih 3 cm dari permukaan polybag. Polybag kemudian
disusun pada tempat yang telah disiapkan.
2.
Penanaman
a. Perlakuan zat pengatur tumbuh (ZPT) air seni sapi
Air seni sapi dilarutkan dengan air sesuai konsentrasi yang
telah ditentukan pada setiap perlakuan. Kemudian stek yang telah
disiapkan direndam ke dalam larutan air seni sapi selama 5 menit.
b. Penanaman
Setelah polybag disiapkan, stek yang telah direndam ke dalam
larutan air seni sapi selama 5 menit ditanam ke dalam polybag.
3.
Pemeliharaan
Penyiraman dilakukan pada pagi hari dan sore hari, dengan
menggunakan gembor. Penyiraman juga dilakukan apabila tidak ada
hujan atau tergantung kelembaban tanah.
24
D. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang dalam bentuk Rancangan Acak Lengkap (RAL)
faktor yang digunakan adalah air seni sapi dengan 3 taraf perlakuan dan 10
kali pengulangan yaitu:
P0 = Kontrol
P1 = Campuran air seni sapi dan air dengan konsentrasi 5% (10ml/200ml)
P2 = Campuran
air
seni
sapi
dan
air
dengan
konsentrasi
10% (10ml/100ml)
Adapun parameter yang diuji adalah:
1. Hari muncul tunas (hari)
Hari muncul tunas diamati hari mulai dari pemberian perlakuan
sampai hari munculnya tunas baru pada pangkal buku batang tanaman.
Pengamatan dilakukan setelah penanaman sampai tunas mulai muncul.
E. Analisis Data
Menurut Hanafiah (1993), data yang diperoleh dari hasil rancangan
penelitian dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dianalisis secara
statistik dengan sidik ragam Analysis of Variants (anova) dan apabila
terdapat perbedaan pada taraf signifikasi 5% atau 1% maka akan dilakukan
analisis lanjutan dengan metode uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf
signifikasi 5%.
Tabel 3. Sidik Ragam (Tabel Anova)
Sumber
Keragaman
Derajad Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
ZPT
h-1=V1
JKZPT
JKZ/ V1
Galat
(rh-1)-(h-1)=V2
JKGalat
JKG/ V2
Total
Rh-1
JKT
F Hitung
F Tabel
(%)
5
KTH/ KTG
1
F (V1.V2)
25
Koefisien Keragaman merupakan suatu koefisien yang menunjukkan
derajat ketelitian dan keandalan kesimpulan/hasil yang diperoleh dari suatu
percobaan yang merupakan deviasi baku per unit percobaan.
Koefisien Keragaman (KK) dinyatakan sebagai persen dari rerata
umum percobaan sebagai berikut:
KK =
ඥ௄் ௚௔௟௔௧
௬
x 100%
y = ∑ Yij
‫ݎ‬ൈ‫ݐ‬
Dimana :
y
= rerata seluruh percobaan
r
= jumlah ulangan
t
= jumlah perlakuan
∑Yij
= jumlah seluruh data percobaan
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1.
Hari Muncul Tunas (Hari)
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pengaruh
air seni sapi terhadap pertumbuhan stek tanaman lada
sangat
nyata
terhadap
rata
–
rata
hari
muncul
berbeda
tunas
(Lihat tabel anova lampiran 3).
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan karena berbeda
sangat nyata maka dilakukan uji lanjut BNT, dapat dilihat pada tabel 4
sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Uji BNT taraf 5% pengaruh pemberian air seni sapi pada
pertumbuhan stek tanaman lada terhadap hari muncul tunas
(hari)
Perlakuan
Rata - rata hari muncul tunas (hari)
P0
8,2 a
P1
5,7 b
P2
5,6 b
Keterangan : angka rata – rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom
yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada
taraf alpha 5% UJI BNT (P) = 0,97.
Dari hasil sidik ragam perlakuan pemberian air seni sapi berbeda
sangat nyata terhadap hari muncul tunas tanaman lada. Dari tabel 4
berdasarkan uji BNT 5% menunjukkan bahwa pada perlakuan tanpa
pemberian air seni sapi (P0), berbeda sangat nyata dengan pemberian
zat pengatur tumbuh (ZPT) alami dari air seni sapi 10ml/200 ml air (P1),
10ml/100ml air (P2). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian air seni sapi
memberikan pengaruh sangat nyata terhadap hari muncul tunas,
27
perlakuan optimum terdapat pada P2 dengan hari muncul rata – rata
(5,6 hari) namun P2 tidak berbeda nyata dengan P1 dengan hari muncul
rata – rata (5,7 hari), karena angka rata – rata yang diikuti oleh huruf
yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada
uji
BNT
5%.
Oleh
karena
konsentrasi
perlakuan
pada
P1 (10ml/200 ml air) lebih rendah dari konsentrasi perlakuan
P2 (10ml/100 ml air) namun memberikan pengaruh yang sama maka
diduga konsentrasi pada P1 lah yang lebih baik dari perlakuan lainnya,
karena hanya memerlukan sedikit air seni sapi.
B. Pembahasan
1.
Hari Muncul Tunas (Hari)
Cepatnya hari muncul tunas diduga dengan pemberian air seni
sapi dapat menyebabkan terdorongnya atau terpacunya pertumbuhan
akar. Selain itu, air seni sapi sendiri mengandung kandungan seperti
pada rooton f dan juga memiliki kandungan kimia seperti N (1,4 – 2,2%),
P (0,6 – 0,7%), K (1,6 – 2,1%). Air seni sapi mengandung zat pengatur
tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya
ialah IAA (Indole Acetic Acid)/auksin, giberelin dan sitokinin.
Cepatnya muncul tunas juga diduga karena penyetekan dilakukan
pada bulan Oktober – Januari, yakni pada saat musim tanam. Pada
bulan – bulan ini curah hujan cukup tinggi sehingga bibit tidak akan mati
karena kekurangan air. Di samping itu, penyetekan yang dilakukan pada
bulan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan tunas – tunas baru
(Sarpian, 2007).
28
Selain itu tanaman juga memiliki faktor internal yang berlangsung
di dalam tumbuhan yang dikendalikan oleh gen – gen yang dimiliki
tanaman tersebut, juga hormon – hormon yang berperan aktif dalam
pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan seperti auksin, giberelin,
etilen, sitokinin, asam absisat (ABA), kalin dan asam traumalin
(Lakitan,1996).
Sitokinin itu sendiri adalah salah satu jenis hormon tumbuhan
(fitohormon) yang terdapat atau diproduksi oleh tanaman. Hormon ini
mempengaruhi atau merangsang pembelahan dan diferensiasi sel untuk
pertumbuhan tanaman (Kusnadi dan Santoso, 1996).
Sitokinin
dan
auksin
berinteraksi
dalam
mempengaruhi
diferensiasi, konsentrasi auksin yan tinggi dan sitokinin yang rendah
menimbulkan perkembangan akar, sebaliknya konsentrasi auksin
rendah
dan
sitokinin
tinggi
menimbulkan
perkembangan
tunas
(Harjadi, 2002).
Menurut Moore dalam Erviyanti (2005), zat pengatur tumbuh
berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman bagi
kelangsungan hidupnya. Tanpa adanya zat pengatur tumbuh berarti
tidak ada pertumbuhan. Ditambahkan Sallisbury dan Rose (1995),
pemberian
zat
konsentrasinya
pengatur
terlampau
tumbuh
tinggi
kepada
atau
tanaman
terlampau
rendah
apabila
tidak
memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan apabila
diberikan pada konsentrasi yang tepat akan merangsang pertumbuhan
tanaman.
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimbulkan bahwa:
1.
Pemberian air seni sapi dengan konsentrasi 10ml/200 ml air (P1) dan
10ml/100 ml air (P2) lebih baik dari pada tanpa pemberian air seni sapi.
2.
Konsentrasi
yang
diberikan
sesuai
dengan
kebutuhan
sangat
mempengaruhi pertumbuhan stek lada dan sangat membantu untuk
mempercepat pertumbuhannya.
3.
Air seni sapi dapat dimanfaatkan dengan baik agar tidak lagi mencemari
lingkungan.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil pengamatan ini adalah:
1.
Perlu dilakukan pengamatan yang lebih lanjut dalam penggunaan air
seni sapi, agar lebih banyak fungsi dari air seni sapi tersebut. Dan dapat
dijadikan sebagai alternatif agar tidak terlalu banyak bahan kimia yang
digunakan.
2.
Bagi para praktisi lapangan yang ingin membudidayakan tanaman lada
serta ingin menggunakan hormon tumbuh alami selain murah juga
sangat ramah lingkungan. Dan sebaiknya menggunakan perlakuan pada
P1 (10ml/200 ml) dan P2 (10ml/100 ml).
DAFTAR PUSTAKA
Abidin Z. 2003. Dasar – Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.
Angkasa, Bandung IKPI, Bandung. 85 halaman.
Anonim. 2003. Bercocok Tanam Lada. Kanisius, Yogyakarta. 124 hal.
Anonim. 2013. Makalah Stek Daun, Mata Tunas
luchy.blogspot.com/makalah/stek. 23 April 2013
dan
Umbi.
Daus-
Anonim. 2013. Perkembangan Perkebunan 2013. Kalimantan Timur
Abdurrani. 1990. Pemberian Hormon Tumbuh Pada Stek. Wordpress.com.
05 Juni 2008
Erviyanti. 2005. Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh. Wordpress.com.
05 Juni 2008
Fandy. 2012. Urine Sapi
05 Desember 2012
Sebagai
Pengganti
Pestisida.
Scraplist.com.
Hanafiah KA. 1993. Rancangan Percobaan Teori & Aplikasi. PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Harjadi SS. 2002. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Heddy S. 1996. Hormon Tumbuhan. Rajawali Pers, Jakarta.
Kusnadi dan Santoso. 1996. Kamus Istilah Pertanian. Kanisius, Yogyakarta.
Lakitan B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Cetakan
I PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Rismunandar dan Riski MH. 2003. Lada Budidaya & Tata Niada Edisi Revisi.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Rukmana R. 2003. Usaha Tani Lada Perdu. Kanisius, Yogyakarta.
Sallisbury dan Rose. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Bandung. 343 halaman.
Sari L dkk. 1994. Membuat Tanaman Cepat Berbuah. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sarpian T. 2007. Pedoman Berkebun Lada dan Analisis Usaha Tani. Kanisius,
Yogyakarta.
Sutarno dan Andoko A. 2004. Budidaya Lada Si Raja Rempah – Rempah.
Agromedia Pustaka, Depok
Suwarto. 2013. Lada Produksi 2 Ton/Ha. Penebar Swadaya, Jakarta.
LAMPIRAN
34
Lampiran 1. Bagan Penelitian dengan Perambangan RAL
P01
P02
P04
P11
P13
P06
P22
P28
P14
P210
P27
P16
P08
P18
P24
P29
P110
P010
P07
P03
P05
P12
P21
P15
P09
P23
P25
P17
P26
P19
U
S
35
Lampiran 2. Data Hasil Pengamatan Hari Muncul Tunas (Hari)
Ulangan
Perlakuan
X
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
P0
7
6
8
10
7
9
7
11
8
9
8,2
P1
5
6
5
5
6
6
5
7
6
6
5,7
P2
5
5
5
6
5
6
6
5
6
7
5,6
Lampiran 3. Sidik Ragam (Tabel Anova)
SK
Db
JK
KT
F-hit
Ftabel 5%
Ftabel 1 %
P
2
43,4
21,7000
19,4651**
3,354
5,488
Galat
27
30,1
1,1148
TOTAL
29
73,5
KK = 16,2438 %
Ket : **berbeda sangat nyata pada taraf signifikasi 5%
BNT 5% = 0,97
36
Lampiran 4. Dokumentasi Kegiatan Penelitian
Gambar 1. Persiapan Alat
Gambar 2. Persiapan Bahan
37
Gambar 3. Pengambilan Bahan Tanam (Stek)
Gambar 4. Pengisian Polybag
38
Gambar 5. Mengukur Kebutuhan Air
Gambar 6. Mengukur kebutuhan Air Seni Sapi
39
Gambar 7. Perendaman Stek Lada
Gambar 8. Pemotongan Sebagian Daun
40
Gambar 9. Penanaman Stek Lada
Gambar 10. Hasil Penelitian
Download