Melampaui Komunalisme

advertisement
CSPS Monographs on
Social Cohesion in North Maluku
Center for Security and Peace Studies
(Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian)
Sekip K-9 Yogyakarta 55281
Phone: 62 274 520733
Email: [email protected]
Universitas Gadjah Mada
http://csps.ugm.ac.id
Frans Viki Djalong
Melampaui
Komunalisme
Siasat Perdamaian
dalam Politik Pembangunan
Paper No 2
Desember 2012
Tools Pencegahan Konflik dan Best Practices untuk Industri Ekstraktif 1
Melampaui Komunalisme:
Siasat Perdamaian dalam Politik Pembangunan
Frans Viki Djalong
Ringkasan
Tulisan singkat ini bertujuan memperlihatkan kebutuhan dan tantangan proyek
perdamaian dalam konteks desentralisasi dan demokratisasi. Bertolak dari
fenomena konflik-konflik komunal satu dekade terakhir dan belajar dari kasus
sengketa 6 Desa di Maluku Utara, tulisan ini menggarap dua pertanyaan penting
berikut. Pertama, mengapa proyek perdamaian perlu menggarap isu-isu konflik
dalam spektrum politik pembangunan dan kedua, bagaimana sebaiknya membaca
dan mengubah komunalisme politik menjadi politik kewarganegaraan yang
memberi basis otentik bagi perdamaian tanpa meniadakan konflik? Adapun tiga
hasil analisis sekaligus argumen yang mendukung terintegrasinya proyek
perdamaian ke dalam spektrum politik pembangunan. Pertama, komunalisme
dalam politik lokal pasca desentralisasi bukanlah sumber masalah bagi
perdamaian antar-komunitas, melainkan sebuah cara mengakses sumber daya
publik di tengah absennya praxis demokrasi yang konkrit. Kedua, politik
pembangunan yang berorientasi teknokrasi menjadi konteks struktural bagi
berlarut-larutnya konflik antar-komunitas mengakses sumber daya publik. Ketiga,
proyek perdamaian perlu mendiskusikan dan mentransformasi komunalisme
terutama karena kecenderungannya melembagakan permusuhan dalam
mengakses sumber daya publik.
Konflik dan Politik
Pasca Desentralisasi: Konteks
Dalam politik, konflik adalah landasan
bagi berlangsungnya proses artikulasi
kepentingan kelompok. Tanpa konflik, politik
berhenti bekerja dan otoritarianisme mendikte
hubungan negara dan warganya termasuk
mengatur semaunya hubungan ko-eksistensial
antar komunitas. Arti penting konflik semakin
tak terbantahkan ketika demokrasi dihadirkan
untuk mendefinisikan politik. Demokrasi
membela perbedaan identitas dan
kepentingan. Dalam hubungannya dengan
praxis politik, demokrasi—institusi dan
instrumennya—selalu berusaha memastikan
agar pertarungan kepentingan antar kelompok
tidak bersifat meniadakan satu sama lain.
Demokrasi sejatinya mendorong masuk
perbedaan kepentingan ke dalam arena politik
untuk merumuskan dan menghasilkan
kepentingan bersama.1 Dalam cara pandang
ini, demokrasi mengubah politik menjadi
semacam percakapan terus menerus dan tak
kenal lelah demi tercapainya tujuan bersama di
antara kelompok kepentingan, seberapapun
lebarnya perbedaan di antara mereka. Konflik
menjadi prasyarat politik dan demokrasi itu
sendiri. Meniadakan konflik sama artinya
meniadakan masyarakat dan negara terutama
karena keduanya terbentuk dan digarap dalam
perbedaan bukan dalam ruang kosong.
Lantas apa sebetulnya konflik dan
politik yang sedang berlangsung dalam
masyarakat kita sepuluh tahun terakhir dalam
periode 'demokratisasi' dan 'desentralisasi' ini?
Mengapa kekerasan selalu menyertai
pertarungan politik dan mengapa pula konflik
berlarut-larut tanpa kepastian resolusi melalui
proses politik? Tidak ada jawaban tunggal
terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Satu hal yang pasti bahwa kekerasan dan
konflik politik yang berlarut-larut di antara
kelompok kepentingan dalam masyarakat telah
mendorong para praktisi dan para akademisi
membaca kembali hubungan antara politik,
demokrasi dan kesejahteraan. Selain tak
mendekatkan masyarakat pada kesejahteraan,
konflik politik, baik di pusat maupun daerah,
mempertontonkan serial sandiwara perebutan
dan pembagian kekuasaan di antara para
pemburu harta dan jabatan, sementara rakyat
dibiarkan tetap jelata dan bertarung sendiri
mengakses sumber daya publik. Para elit politik
berlaga ibarat serigala yang saling memangsa
yang dengan bagusnya dilukiskan dalam
peribahasa tua homo homini lupus, sementara
di arena yang lain, warga negara menggelar
protes dengan suara yang sayup-sayup dan
lebih sering dilakukan dengan pertumpahan
darah di antara mereka sendiri. Dalam bahasa
yang sarkas, rakyat adalah nama lain bagi
homo sacer, sejenis mahkluk hidup yang terus
dibiarkan nyaman dan dibikin tertib pada garis
subsistensi ekonomi.
Sejumlah Kajian
Untuk memperjelas kenyataan tentang
terputusnya hubungan antara struktur atas
dan struktur bawah, kita perlu memeriksa
hasil-hasil kajian sejumlah penstudi konflik dan
politik belakangan ini. Terkumpul dalam
sebuah antologi bertajuk Politik Lokal di
Indonesia, sejumlah penstudi meneropong
dinamika hubungan politik dan kesejahteraan
dalam konteks demokratisasi pasca Orde
Baru.2 Konflik-konflik yang berlangsung dari
Aceh sampai Papua bercerita tentang
sengitnya pertarungan elit-elit lokal merebut
jabatan, memekarkan kabupaten dan propinsi,
dan memobilisasi identitas etnis, agama dan
teritorial untuk memenangkan pilkadal dan
pemilu. Hasil studi lain yang patut dirujuk
adalah karya monumental Klinken Perang Kota
Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokratisasi
di Indonesia.3 Menggunakan pendekatan
gerakan sosial, terutama konsep politik
perseteruan (contentious politics), penstudi ini
menyimpulkan bahwa kekerasan komunal yang
terjadi di Maluku Utara, Ambon, Poso, dan
Kalimantan Barat, tak terpisahkan dari
runtuhnya rejim pemerintahan Orde Baru yang
serba terpusat itu dan terbukanya kontak
pandora kebebasan yang sekaligus berarti
melebarkan peluang bagi kekuatan-kekuatan
birokrasi dan aristokrasi lokal untuk saling
merebut posisi politik baik dalam pemerintah
maupun parlemen daerah. masyarakat daerah
terbelah ke dalam afiliasi-afiliasi simbolik,
mengubah identitas budaya menjadi identitas
politik melalui proses berdarah-darah selama
lima tahun awal demokratisasi
diselenggarakan. Politik komunal berjalan
bersama kekerasan komunal di bawah kendali
faksi-faksi politik lama dan baru di daerahdaerah konflik tersebut.
Dalam cerita yang nyaris serupa,
penstudi lain merekam geliat hantu-hantu
sejarah dalam konflik politik tersebut.
Nordholt, misalnya, berargumen bahwa konflik
politik antara kekuatan politik daerah pasca
desentralisasi merefleksikan akar-akar
patrimonialisme warisan sejarah, suatu
komunalisme politik yang dikendalikan para
penguasa lokal dengan latar belakang
aristokrasi post-kolonial dan birokrasi modern
Orde Baru.4 Menurut penstudi ini, birokrasi
pemerintahan dan aristokrasi lokal saling
melayani kepentingan satu sama lain sejak
Indonesia dibentuk sebagai negara-bangsa.
Birokrasi pusat membutuhan para bangsawan
dan tokoh masyarakat daerah untuk
mengamankan model penguasaan secara tak
langsung atas populasi dan teritori, sementara
kelompok penguasa lokal membutuhkan
negara untuk melegitimasi penguasaan
langsung mereka atas manusia dan sumber
daya ekonomi setempat.
Dalam rumusan berbeda, dilema
praktis yang menjerat desentralisasi dan
otonomi daerah dikaitkan dengan kualitas
demokrasi. Studi Demos, misalnya,
berargumen bahwa institusi dan instrumen
demokrasi dibajak para elit birokrasi, politisi
dan pengusaha kaya di sebagian besar propinsi
dan kabupaten.5 Partisipasi rakyat dalam
pemilu dan pilkadal digerakkan dengan uang
dan sentimen simbolis. Politik tampak super
sibuk dalam kendali citra pribadi, modal dan
koneksi antara kelompok patron-klien. Politik
semacam ini tak mungkin menghadirkan
kesejahteraan publik kendatipun
4 | CSPS Monographs on Social Cohesion in North Maluku
desenstralisasi dan otonomi daerah
disemarakkan dengan jalur-jalur aspirasi dari
bawah. Uang rakyat dalam skema DAU-DAK,
misalnya, dikelola jajaran birokrasi dan politisi
m e l a l u i p r o y e k- p r o y e k i n f r a s t r u k t u r.
Tujuannya tak lain membalas jasa tim sukses
dan kelompok pendukung. Selain menjadi
sasaran program pembangunan versi elit, tim
sukses diberi peran sebagai kontraktor proyek.
Kolusi dan korupsi berbiak dalam nalar dan
cara berpolitik balas jasa ini. Di lain pihak,
rakyat dibohongi dengan janji dan uang.
Persoalan rakyat tak melangkah lebih jauh dari
masalah sandang, pangan dan papan. Mereka
diajar berpuas diri dengan kondisi yang ada
dengan sedikit hiburan batin yang datang
melalui paket BLT dan Raskin. Studi Demos
sampai pada salah satu kesimpulan penting:
desentralisasi dan otonomi daerah lebih
banyak menimbulkan masalah bagi
kesejahteraan rakyat karena absennya blokblok politik rakyat yang digantikan oleh
artikulasi-artikulasi komunal di bawah arahan
birokrat, politisi dan pengusaha daerah.
Komunalisme:
Mimpi Menjadi Sejahtera
Uraian singkat hasil-hasil studi
tersebut hendak memperlihatkan bahwa
konflik-konflik politik lokal dalam konteks
desentralisasi bercerita tentang dua fakta
penting. Pertama, dominasi elit dalam politik
elektoral dan proses pembuatan kebijakan, dan
kedua, partisipasi 'rakyat' dalam politik
elektoral dan absennya mereka—sebagai
warga negara---dalam
proses pembuatan
kebijakan.
Dua fakta ini adalah dua sisi yang
saling membentuk dari apa yang disebut
komunalisme dalam politik.6 Komunalisme
mempersatukan elit dan rakyatnya dalam
simbolisasi etnis, agama dan teritori,
sementara pada saat bersamaan ia
menyembunyikan gap yang nyaris tak
tersambungkan lagi antara struktur atas (fakta
pertama) dan struktur bawah (fakta kedua).
Hal ini pula yang menjelaskan mengapa
konflik-konflik yang terjadi memunculkan dua
fenomena konflik berdasarkan strukturasi
politik komunal tersebut. Pertama, konflik
antara elit dalam struktur atas, dan kedua,
konflik antar-komunitas dalam struktur bawah.
Kendati demikan, dua tipe konflik
struktural tersebut disatukan dalam
komunalisme politik. Apa artinya? Dua tipe
konflik itu tak lebih dari distribusi resiko-resiko
politik yang dikondisikan oleh kesenjangan
antara struktur atas dan struktur bawah. faksifaksi elit bertarung dalam pilkadal dan pemilu.
Pertarungan ini berlangsung dalam formula
teman/musuh yang selalu saja sampai ke jalan
buntu: menang atau kalah. Menyiasati situasi
ini tampak tak ada lagi jalan keluar dalam
struktur atas selain menerobos masuk ke
sttruktur bawah melalui politisasi identitas.
Dalam kebuntuan ini agama, etnis, teritori dan
narasi sejarah berubah menjadi kategori
politik, tidak semata-mata simbol mati
melainkan dihidupkan melalui konsolidasi dan
mobilisasi politik. Dalam konteks inilah
kekerasan muncul sebagai semacam sebuah
percakapan politik antar identitas hasil
konstruksi tersebut. Terkadang menjadi
pertikaian berdarah-darah.
Mengikuti argumen di atas, kita perlu
memandang kembali hubungan antara politik,
konflik dan kekerasan kolektif pasca
desentralisasi. Sebagaimana dijelaskan,
komunalisme yang bergandengan dengan
kekerasan perlu dibaca sebagai cara berpolitik
untuk mengakses kesejahteraan yang
disediakan dan dikelola negara. Mandulnya
peran perwakilan parpol pasca desentralisasi
memperkuat teknokrasi dalam kerja
pembangunan melalui birokrasi pemerintahan
daerah. Kendati bupati dan dewan perwakilan
dipilih dalam pilkadal dan pemilu langsung
tidak serta merta konstituen terhadirkan dalam
proses pembuatan kebijakan. Sebagaiaman
ditunjukkan sejumlah studi, proses pilkadal
dan pemilu, misalnya, menjadi ajang untuk
mengakses sumber daya birokrasi dan sumber
daya pembangunan untuk kelompok komunal
yang memenangkan pertarungan politik
tersebut. Wujud komunalisme dapat berupa
patronase, klientelisme, dan bosisme. Melalui
ketiga bentuk politik ini, konflik-konflik politik
di daerah melayani agenda elit dan kelompok
kliennya yang teridentifikasi melalui agama,
etnis dan teritori.
Melampaui Komunalisme: Siasat Perdamaian dalam Politik Pembangunan | 5
Kendati demikian, kita tidak sedang
menuding elit sebagai pihak paling
bertanggung jawab terhadap komunalisme.
Elit-elit komunal lahir dan berkembang dalam
komunalisme politik. Agenda kepemimpinan
mereka adalah mengakses sumber daya
birokrasi dan proses pembuatan kebijakan
melalui parlemen daerah. Merebut arena
kebijakan ini begitu penting dan mendesak
terutama karena kemenangan memastikan
mereka dapat memanfaatkan kapasitas alokatif
dan regulatif untuk memenuhi kebutuhan
konstituen komunal yang terbentuk dalam cara
berpolitik komunalistik tersebut. Dalam situasi
ini biasanya perseteruan faksi-faksi elit tidak
berdiri sendiri. Perseteruan itu dalam
beberapa segi yang nyata sekali mencerminkan
pertaruhan kelompok komunal masing-masing.
Tentu yang muncul bukanlah konflik
kepentingan berbasis kewarganegaraan
demokratis, melainkan konflik kepentingan
kelompok berbasis patronase dan klientelisme.
Elektabilitas seorang politisi lebih banyak
ditentukan oleh “jasa-jasa” sebagai patron,
sementara dukungan klien terhadap patron
datang dari keharusan membalas jasa. Begitu
pula logik dan mekanisme pembangunan
daerah terkunci dalam kebiasaan
menggelontorkan proyek-proyek infrastruktur
dalam skema belanja publik tanpa ada indikasi
nyata bagi peningkatan PAD dan kemakmuran
masyarakat. Kelompok klien tetaplah
diperlakukan sebagai obyek intervensi
teknokratis yang diselenggarakan pemda.
Masyarakat pun terbelah ke dalam kelompokkelompok komunal politik yang penuh
perhitungan dan terbiasa merapatkan diri ke
faksi-faksi birokrat tertentu untuk
mendapatkan jatah proyek-proyek
pemberdayaan dan pembangunan fisik.
Politik komunalisme menyembunyikan
tidak saja solidaritas sempit dan cepat bubar
tetapi juga semakin menjauhkan masyarakat
dari usaha-usaha konkrit merumuskan
kepentingan bersama melalui proses
pembuatan kebijakan. Alhasil, rakyat menjadi
pengemis dan penagih janji bupati dan anggota
dewan. Sebaliknya, dua mahkluk politik
terakhir itu bertindak sebagai patron
pembangun yang baik hati. Dengan kata lain,
komunalisme politik merekatkan struktur-atas
dan struktur-bawah dalam skenario pragmatis
yang memantik pertikaian antar elit dan
pertikaian antar kelompok komunal politik di
tingkat bawah. kita pun menyaksikan
kenyataan bahwa desentralisasi rupanya
semakin memantapkan developmentalisme
versi Orde Baru di mana Pemda plus DPRD
adalah pembuat kebijakan, sebagai perumus
masalah dan agen pembangunan, sementara di
lain pihak rakyat adalah mahkluk jelata, tak
lebih dari populasi yang diregister oleh stastitik
untuk diintevensi proyek pembanguan dan
diaktifkan hak politiknya melalui komunalisme
dalam proses elektoral.
Seteru Enam Desa:
Komunalisme sebagai pilihan
Cerita tentang komunalisme politik
mendapatkan ilustrasi terbaik dalam kasus
sengketa 6 desa di Maluku Utara. Berdasarkan
assesment kohesi sosial yang dilakukan tim
peneliti PSKP, diperoleh sejumlah informasi
penting tentang sebab-sebab konflik dan
eskalasinya.7 Sebab-sebab konflik datang dari
sejumlah versi yang terkumpul dalam
assesement di lapangan. Sejumlah pihak yang
diwawancarai, dari kelompok pro Halbar dan
pro-Halut, memberikan cerita yang dibangun
melalui argumen masing-masing. Argumen
kunci berkisar soal kebijakan sepihak
Pemerintah Pusat, narasi sejarah desa, narasi
sejarah pelayanan birokrasi kabupaten, dan
narasi tentang peran dan dampak lingkungan
yang ditimbulkan eksploitasi emas PT
Halmahera Mining untuk masyarakat di pesisir
Teluk Kao tersebut.8 Dari ragam versi itu,
tulisan ini memberi gambaran lain, semacam
konteks yang memungkinkan versi-versi itu
dibangun dan dibela, yakni komunalisme
politik.
Penelitian ini menemukan dua isu
penting yang muncul dalam konflik tersebut.
Pertama, reformulasi kebijakan tentang status
enam desa dalam hubungannya dengan
efektifitas pelayanan publik Pemda Kabupaten
dan kedua, administrasi desa menjadi krusial
karena diperlakukan sebagai unit politik untuk
menyalurkan aspirasi untuk kesejahteraan
penduduk desa. Dalam dua isu ini kita bertemu
dengan paradoks yang membelit hubungan
antara politik, birokrasi dan kesejahteraan.
6 | CSPS Monographs on Social Cohesion in North Maluku
Status desa menjadi kunci perdebatan
baik di kalangan elit setempat maupun di
kalangan kelompok masyarakat yang terbelah
ke dalam dua versi dalam masing-masing desa.
Ada anggapan yang kuat bahwa kejelasan
status desa dapat menfasilitasi pelayanan
publik secara lebih efektif kepada penduduk
setempat. Desa dalam pandangan kedua kubu
tidak semata-mata wilayah administratif
pelayanan melainkan sebuah arena pertautan
antara kepentingan penduduk setempat dan
kinerja pelayanan birokrasi untuk merespon
kepentingan tersebut. sungguhkan demikian
bahwa desa dapat diandalkan sebagai arena
pertemuan berbagai kepentingan penduduk
yang beragam berdasarkan mata pencaharian
dan akses kepada sumber daya birokrasi?
Dalam pengamatan penulis, konflik
yang berlarut-larut justru dimungkin oleh
absennya perspesi dan praktik artikusi
kepentingan di luar skenario administrasi desa.
Masyarakat terbelah ke dalam dua kubu
ekstrim perlu dibaca sebagai ekses dramatis
dari cara membayangkan kesejahteraan
diperoleh melulu melalui logik administratif.
Siapa atau kelompok mana yang paling
diuntungkan oleh skenario konflik semacam
ini? Jawaban cepat yang dapat diamati tak lain
adalah kepentingan sekelompok elit baik itu
berlabel tokoh politik, tokoh masyarakat dan
tokoh agama. Kepentingan mereka tak
berhenti pada pemeliharaan superioritas
identitas simbolis. Lebih dari pada itu, melalui
identifikasi 'kepentingan' berbasis desa
kelompok ini membuat perhitungan politik
jangka pendek maupun jangka panjang.
Dengan mempelopori dan melanggengkan
konflik administratif ini berkedok akses kepada
sumber daya negara dan sumber daya alam,
kelompok ini melirik ke atas, ke tingkat politik
birokrasi yang lebih tinggi seperti kecamatan
dan kabupaten.
Hal ini dibuktikan oleh kenyataan
bahwa aparat desa maupun elit-elit desa,
termasuk yang terkumpul dalam forum antar
desa berdasarkan garis pro dan kontra, tidak
begitu mempedulikan cara-cara sah
mengakses sumber daya birokrasi untuk desa
masing-masing. Pengujian terhadap 'komitmen
pro rakyat' tidak terbukti melalui pemeriksaan
jalur-jalur kanalisasi aspirasi seperti
Musrembang dan lobi-lobi melalui anggota
dewan selama penyusunan RAPBD maupun
aktivitas selama masa reses. Bahkan di
kalangan SKPD strategis tingkat kabupaten,
muncul anggapan bahwa selain pelayanan
publik wajib seperti sekolah dan rumah sakit,
urusan pemberdayaan ekonomi petani dan
nelayan menjadi tanggung jawab pihak
pertambangan melalui skema Community
Development.
Isu konflik yang berputar-putar di
sekitar PP 1999 menyusul regulasi turunannya
dan persoalan bagi hasil kegiatan
pertambangan melalui skema Comdev rupanya
menjadi santapan kelompok elit desa yang
bermain mata dengan elit kecamatan,
kabupaten dan propinsi terkait struktur
peluang politik yang longgar dan selalu
berubah-ubah dalam desentralisasi.
Pertaruhan politik dalam pilkadal/pemilu dan
peluang elektabilitas elit menjadi agenda tak
terucap tetapi terus memantik dan
mendramatisir sebab-sebab konflik yang hadir
di permukaan sekaligus mengelabui kewarasan
penduduk setempat. Pengamatan selama
assessment menunjukkan dengan jelas bahwa
sangat terbatas perhatian pemerintah
kabupaten terhadap penduduk 6 desa ini
kendati perselisihan dan ketidakharmonisan
hubungan antar kelompok sudah berlangsung
sejak 1999. Bahkan dana desa sebesar 55 juta
per tahun anggaran kerap tak dikucurkan dan
kalaupun dikucurkan tak cukup untuk
mengongkos kegiatan-kegiatan bersama
penduduk desa selain untuk menghargai kerja
aparat desa.
Kasus seteru 6 desa bagi penulis
merefleksikan kerentanan komunalisme
politik. Adegan politik para elit dan bakal elit
sebetulnya tidak ditunjang secara permanen
oleh dukungan politik penduduk yang pro dan
kontra. Basis utama yang melanggengkan
konflik semacam ini adalah kapasitas elit untuk
terus menerus memelihara sentimen simbolis
dan teritorial-administratif. Situasi ini
diperparah oleh keterbatasan masyarakat
mendapatkan akses informasi mengenai proses
kanalisasi aspirasi dan pembuatan kebijakan
dalam model yang dikembangkan birokrasi
seperti musrembang. Absennya informasi itu
berjalan bersama absennya pendidikan politik
tentang hak-hak ekonomi dan politik warga
negara. Ruang kosong ini pun memberi celah
Melampaui Komunalisme: Siasat Perdamaian dalam Politik Pembangunan | 7
atau memungkinkan kecerdikan elit berpolitik
atas nama rakyat. Keaktifan penduduk desa
membela desa masing-masing tampak tak ada
kaitan lagi dengan praxis pembangunan. Ilusi
ini hanya mungkin terbentuk dalam
komunalisme politik yang memberi kesan
populis sementara terus membiarkan warga
setempat bertarung sendirian untuk urusan
sandang pangan dan papan tanpa intervensi
kebijakan pemda yang strategis. Terburuk dari
sesat pikir ini adalah bahwa kemiskinan yang
mendera warga disebakan oleh tidak jelasnya
status desa (status yang sebetulnya sudah jelas
berdasarkan peraturan pemerintah!).
Warga desa dari dua kubu pada
dasarnya tidak begitu antusias dengan 'sebabsebab' konflik versi aparat desa dan elit
setempat. Bagi mereka, terpenting adalah
perbaikan taraf hidup dan kepastian mata
pencaharian. Dikomposisikan para petani dan
nelayan dalam jumlah bervariasi di 6 desa
tersebut, penduduk setempat lebih
megidentifikasi diri mereka berdasarkan garis
mata pencaharian serta kerentanan bersama
dalam kehidupan ekonomi. Kejahatan
developmentalisme yang bekerja dengan nalar
birokrasi adalah pengabaian terus menerus
terhadap petani dan nelayan sebagai kekuatan
produksi. Pengabaian ini berujung pada
pengabaian kapasitas petani/nelayan (labor
power) sebagai kekuatan politik dalam
pembuatan kebijakan pemerintah. Dalam
konteks hegemoni developmentalisme inilah
para elit memberikan pelajaran politik yang
menyesatkan bahwa keberpihakan (prokontra) dapat menjadi resep mujarab menuju
kesejahteraan. Di sinilah soal fundamentalnya,
yakni kendati masyarakat tak antusias dengan
sandiwara elit, mereka tetap terkungkung
dalam imaji diri sebagai sasaran
pembangunan. Mereka memandang diri
sebagai obyek intervensi dan para elit
menggarap imaji ini dengan cerdik untuk
perhitungan ekonomi-politik mereka sendiri.
Tersanderanya masyarakat dalam prokontra kian diperparah oleh absennya
pengorganisasian kepentingan berdasarkan
mata pencaharian yang tentu melampaui tapal
batal desa. Peningkatan kesejahteraan
direduksi ke dalam urusan administrasi desa
semata tanpa ada upaya-upaya konkrit
politisasi kepentingan warga dalam proses
pembuatan kebijakan. Desa berubah menjadi
rukun komunal dengan narasi historis dan
simbolis yang diandaikan tak bisa dilanggar
dan diklaim akan digadai dengan nyawa
sekalipun. Ironi muncul, mengapa harus
membela suatu posisi ketika posisi itu terbukti
membatalkan kesejahteraan sebagaimana
menjadi impian setiap warga desa. Bukankah
slogan siap mati demi desa adalah refleksi
hubungan intim antara kepentingan pragmatis
dan supremasi identitas simbolis-historis yang
paling digemari kelompok cerdik pandai dalam
berpolitik? Mengapa tak hadir upaya-upaya
konkrit menegosiasikan kembali kepentingan
bersama antar kelompok pro-kontra?
Bukankah kedua kelompok ini berbagi
kepentingan ekonomi yang sama dari segi mata
pencaharian ketika keduanya berkoar-koar
tentang perbaikan kesejahteraan hidup?
Seteru 6 desa bercerita tentang
komunalisme sebagai simpul penghubung
struktur-atas yang disarati aktor politik serta
kepentingan pragmatisnya dan struktur-bawah
yang ditandai absennya kapasitas politik warga
sekaligus ketakberdayaannya di hadapan rejim
birokrasi developmentalis. Kendati demikian,
komunalisme ini tak kekal karena ia adalah
konstruksi politik untuk mengisi ruang kosong
antara politik dan kesejahteraan, antara janji
dan kenyataan. Paradoks ini sekian lama
dialami warga 6 desa. Mereka terus
mempertanyakan manfaat dari posisi prokontra dan merasakan kejenuhan terutama
karena ketidakharmonisan hubungan antara
sesama saudara sendiri. Terkait perilaku elit
politik, di kalangan warga desa berkembang
sebuah persepsi bahwa janji retoris para elit
politik ibarat 'menulis dengan tinta putih'. Tak
kunjung tuntasnya perselisihan menimbulkan
keraguan tentang komitmen penyelesaian
masalah melalui jalur perwakilan birokrasiparlemen versi dua kabupaten serta
ketidakmampuan pemerintahan propinsi
mencari jalan keluar alternatif. Kendati belum
terorganisir, keraguan akan kinerja elit politikbirokrasi dan kejenuhan hidup dalam suasana
permusuhan memperlihatkan kerentanan
komunalisme yang dikendalikan oleh
pragmatisme elit.
8 | CSPS Monographs on Social Cohesion in North Maluku
Agenda Perdamaian:
Menghancurkan Komunalisme
Kalau komunalisme adalah pilihan
politik, maka kita pun dapat membayangkan
jalan berpolitik berbeda yang dapat
menghubungkan konflik dan kesejahteraan.
Konflik bukannya ditiadakan melainkan
sebaliknya dikerangkai melalui komunikasi dan
negosiasi menuju kepentingan bersama. Pada
titik ini, kita perlu memastikan aktor, arena dan
tujuan yang tersirat dalam konflik tersebut.
Mengapa demikian?
Sebagaimana ditunjukan sejumlah
studi kasus konflik politik lokal pasca
desentralisasi dan analisa kita atas kasus
sengketa 6 desa di Maluku Utara, mobilisasi
identitas simbolis-historis dan teritorial
memiliki prasyarat penting. Pertama, negara,
dalam hal ini birokrasi pemda dan DPRD,
merupakan pengelola dan pendistribusi
sumber daya terbesar untuk kemaslahatan
publik. Pasca desentralisasi bukannya
birokrasi menjadi efektif malah berubah
menjadi arena pelembagaan patronase politik.
Patronase politik ini berjalan bersama dengan
patronase pembangunan dalam arti
redistribusi sumber daya publik dikelola
melalui model patronase. Sang patron birokratpolitisi adalah 'perwakilan' klien komunal di
luar birokrasi.
Kedua, fenomena patronase
pembangunan tersebut setali tiga uang dengan
de-politisasi warga negara. Pasca reformasi
depolitisasi tidak dikoreksi secara
kelembagaan terutama reformasi peran partai
politik. Alhasil, parpol tak lebih dari rumah
singgah para patron komunal untuk proses
elektoral (pilkadal/pemilu). Parpol bukannya
menggarap konstituensi dalam bentuk
pengorganisasian kelompok kepentingan
(petani-nelayan), malah lebih memilih
membesarkan pengurus partai dan menggarap
pejabat-pejabat birokrat untuk bertarung
dalam pemilu dan pilkadal. Di sini pragmatisme
menjadi panglima. Alih-alih menggarap
konstituensi dari bawah, tugas itu beralih ke
tangan para paket cabup/cawabup dan caleg
dadakan yang harus mencari 'massa' sendiri
dengan segala cara. Dalam tempo serba cepat
dan darurat, rute singkat yang paling gampang
ditempuh adalah menggalang sentimen
wilayah (jalur dapil), etnis dan agama yang
terbungkus dalam retorik putra daerah. Dalam
hal ini substansi perwakilan bukan lagi
kepentingan ekonomi yang konkrit dari para
konstituen melainkan fantasi berkuasanya
yang tersalurkan melalui sang putra daerah.
Proses akrobatik ini adalah nama lain dari
komunalisme politik.
Dua prasyarat konflik komunal di atas
merupakan tantangan pegiat perdamaian
dalam konteks desentralisasi hari ini. Konflik
semacam ini tidak membawa kemaslahatan
bagi masyarakat. Dalam perspektif demokrasi
radikal, konflik dengan logik ini merupakan
efek dislokasi yang sangat mendasar dalam
kehidupan masyarakat yang mengalami
depolitisasi berlapis-lapis. Kondisi kemiskinan
akibat teknokrasi pembangunan (bukan karena
absennya pembangunan!) menghadirkan
ketidakpastian dan ketergesaan dalam
mencari-cari sebab masalah. Dalam situasi
depolitisasi yang akut, birokrasi, parlemen dan
parpol dipimpin makhluk politik yang
dikendalikan kepanikan dan ketakutan akan
kehilangan jabatan dan kesempatan menilep
dana publik untuk kepentingan sendiri dan
kepentingan klien komunalnya. Situasi
permusuhan di kalangan pemburu dan
pembela jabatan dapat dengan mudah
merembes masuk ke dalam lapisan masyarakat
yang galau dan merindukan pedoman. Riwayat
etnis dalam imaji kewilayahan dihidupkan
kembali, begitu pula fantasi sejarah kekuasaan
lama seperti kerajaan dan kesultanan digiatkan
sedemikian rupa untuk membenarkan pilihan
politik sarat kepentingan sepihak.
Menyelesaikan konflik ini butuh politik
perdamaian yang berani membongkar logik
komunalisme. Perdamaian, dalam wujud
keharmonisan hubungan sosial antar
komunitas, tidak mungkin tercapai tanpa
memastikan sumber masalah mengapa
komunitas saling berseteru. Bahkan sampai
pada gugatan mengenai faktor-faktor yang
membentuk komunitas itu sendiri. Dalam kasus
sengketa enam desa, 'komunitas' pro-Halbar
dan 'komunitas' pro-Halut bukanlah kelompok
yang sudah ada sebelum PP 42 dikeluarkan
tahun 1999. Identitas mereka melekat dalam
konflik, terbentuk dan terpelihara sejalan
dengan absennya intervensi kebijakan, parpol
dan advokasi yang sungguh-sungguh otentik
dengan visi jangka panjang.
Melampaui Komunalisme: Siasat Perdamaian dalam Politik Pembangunan | 9
Di lain pihak, pengalaman assesment
ini memperjelas argumen tulisan ini bahwa
bahkan kalangan elit desa, baik pro dan kontra,
dapat duduk bersama, berbagi cerita dan
membayangkan masa depan bersama berkat
perumusan kepentingan baru di luar logik
komunalisme.9 Kendati dirasa berat karena
didorong meninggalkan perhitungan jangka
pendek, setidaknya mereka dapat melihat
keuntungan jangka panjang dari upaya-upaya
negosiasi berorientasi kepentingan bersama.
Mendorong mereka berbagi cerita tentang
ketidakpastian mata pencaharian hidup yang
mendera warga desa jauh lebih memungkinkan
tumbuhnya persaudaran otentik, sikap saling
peduli, dan komitmen untuk mengorganisir
kepentingan ekonomi dan kebutuhan dasar
warga desa untuk diperjuangkan melalui
parpol, anggota dewan dan terpenting melalui
Musrembang.
Politik perdamaian melalui skenario
perumusan kepentingan bersama memiliki
kapasitas membentuk kewarganegara
demokratis dan menghadirkan politik
pembuatan kebijakan yang bakal
menghancurkan birokratisme pembangunan.
Dalam skenario ini masyarakat sendiri yang
menggarap perdamaian melalui pencarian
basis nyata bagi ko-eksistensi. Kemiskinan dan
pemiskinan melalui developmentalisme dapat
dijadikan antagonisme, musuh bersama yang
harus diberantas. Artinya, dalam kasus
sengketa 6 Desa, basis pijakan bersama dicari
dalam rumusan masalah baru agar masingmasing pihak tersertakan harapan dan
kepentingannya. Dalam kasus ini, warga desa
dari dua kubu berbagi cerita serupa bahwa
tantangan terbesar mereka bukanlah pada
ketepatan atau kekeliruan memilih desa
sebagai jalan menuju kesejahteraan,
melainkan bagaimana mereka merasa lebih
pasti dalam kehidupan ekonomi dan segera
keluar dari suasana permusuhan.
Dengan mengedepankan kemiskinan
sebagai masalah aktual bersama, sejumlah
pihak yang berkepentingan dalam sengketa
batas administratif ini kehilangan gairah dan
alasan untuk meneruskan sandiwara tersebut.
Begitu pula terbuka peluang bagi warga
terlibat dalam proses pembuatan kebijakan
mulai dari tingkat desa sampai ke tingkat
kabupaten (Halbar dan Halut). Melalui jalur
desa (2 versi) usulan warga tidak melulu
pelayanan publik dasar seperti sekolah dan
rumah sakit melainkan usulan-usulan
pemberdayaan ekonomi kelompok petani dan
nelayan. Karena itu, pengorganiasian
kelompok petani dan nelayan intra-desa
maupun antar-desa mendesak dilakukan agar
mereka dapat melihat persamaan dalam
perbedaan. Mewujudkan hal ini sudah
merupakan sebuah langkah maju yang efektif
untuk mengikis komunalisme yang terkunci
dalam identitas politik berbasis desa selama
ini. Komunalisme hanya bisa diberantas oleh
pikiran dan aksi bersama mereka sendiri.
Melawan tirani elit berarti warga sendiri
merumuskan masalah secara berbeda yang
bertolak belakang dengan rumusan masalah
versi komunalisme itu (“sebab-sebab konflik”!).
Inilah agenda politik perdamaian selanjutnya.
Jalan menuju ko-eksistensi yang damai
tidak semata-mata dituntun pedoman normatif,
melainkan digarap melalui politik
pembangunan. Jalan ini tentu panjang dan
berliku. Tantangannya sangat aktual dalam
konteks teknokrasi pembangunan versi negara
dan krisis politik kewarganegaraan.
Pengalaman konflik komunal selama satu
dekade desentralisasi mendorong pegiat
perdamaian bekerja lebih realistis. Bahwa
dalam cengkeraman komunalisme politik,
masyarakat perlu didorong untuk merumuskan
masalah baru berdasarkan kepentingan
mereka sendiri. Pilihan ini nyata dan bisa
dilakukan. Bukan saja karena masyarakat
adalah kumpulan warga negara dengan hakhak ekonomi dan politik tetapi juga karena
adanya kebenaran sejarah yang tak
terbantahkan: bersatu kita teguh, bercerai kita
runtuh! Persatuan itu, merasa satu dalam
perbedaan, bukan karena ajaran moral yang
diluhurkan atau didikte segelintir politisibirokrat yang cerdik pandai, melainkan hasil
pergumulan mencari persamaan dalam
perbedaan. Barangkali dengan cara ini,
perdamaian menjadi lebih konkrit karena
dikonkretisasi melalui penghampiran terus
menerus terhadap intisari persoalan manusia
Indonesia.
Frans Viki Djaloeng
Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian
Universitas Gadjah Mada (PSKP-UGM)
10 | CSPS Monographs on Social Cohesion in North Maluku
Catatan Akhir
1
Konsep politik, kesejahteraan dan konflik yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari
pemikiran demokrasi post-Marxist dan post-foundasionalist dengan proponen utamanya adalah
Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe. Berbeda dari teorisasi konflik dan politik versi demokrasi
liberal (model agregasi, deliberasi, institusional, prosedural), keduanya mengembangkan teori
demokrasi radikal. Teori ini membahas kembali apa yang hilang atau sengaja dihilangkan dalam
teori demokrasi liberal, yakni, peran penting konflik dalam politik. Dalam pandangan liberal,
konflik kepentingan sekedar cara berpolitik yang diatur oleh hukum dan keputusan politik
dibuat para politisi dan teknokrat untuk kepentingan rakyat. Demokrasi radikal sebaliknya
memandang konflik sebagai esensi politik terutama karena melalui konflik, identitas dan
kepentingan ikut terbelah dan diperbaharui menjadi identitas baru dan kepentingan bersama
kendatipun kekhasan masing-masing kelompok tetap eksis. Implikasinya jelas bahwa kalau
dalam demokrasi liberal gagasan tentang identitas dan kepentingan itu sudah final dan tinggal
dipertarungkan dalam perebutan kekuasaan, maka dalam demokrasi radikal keduanya justru
selalu terbentuk dan diperbaharui dalam pertarungan politik. Kefinalan identitas dan
kepentingan membuat politik tak lebih dari perkelahian antara kawan-musuh (friend/enemy
model) dengan resiko memproduksi kekerasan atas nama kebenaran dan tirani mayoritas.
Sebaliknya, menerima identitas dan kepentingan sebagai dua hal yang selalu terbuka dan
terbelah menghadirkan model pertarungan politik antara kita-mereka (agonistic model) yang
membuat seseorang atau kelompok menjadi militan memperjuangkan kepentingan bersama
ketimbang menjadi pendekar serakah yang memuaskan fantasi
tentang supremasi
kelompoknya sendiri. Penjelasan tentang hubungan politik, konflik, kesejahteraan, lihat Ernesto
Laclau dan Chantal Mouffe. Hegemony and Socialist Strategy. London: Verso, 1985, hal 176193; Chantal Mouffe. The Democratic Paradox. London: Verso, 2000, lihat khusus uraian Bab 4
“For an Agonistic Model of Democracy”, hal 80-107; lihat juga, Chantal Mouffe. “Decision,
Deliberation and Democratic Ethos”, Philosophy Today, Springs 1997, 24-30.
2
Lihat Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken (ed). Politik Lokal di Indonesia. Jakarta
Yayasan Obor, 2007. Sejumlah tulisan yang dapat dirujuk dalam antologi ini antara lain:
Lorraine Aragon. “Persaingan Elit di Sulawesi Tengah” hal. 49-86; John McCharty. “Dijual ke
Hilir: Merundingkan Kembali Kekuasaan Publik atas Alam di Kalimantan Tengah”, hal.189-224;
Taufik Tanasaldy. “Politik Identitas Etnis di Kalimantan Barat”, hal. 461-490; Franz dan Keebet
von Benda-Beckman. “Identitas-Identitas Ambivalen: Desentralisasi dan Komunitas-Komunitas
Politik Minangkabau”, hal.543-576; Jaap Timmer. “Desentralisasi Salah Kaprah dan Politik Elit di
Papua”, hal. 595-625.
3
Lihat Klinken, Perang Kota Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokratisasi di Indonesia.
Jakarta: Yayasan Obor, 2007i
4
Dalam studinya, Nordholt membangun sebuah tesis penting yang diringkas dengan frase
'Changing Continuities', kesinambungan-kesinambungan yang berubah. Intinya adalah bahwa
penerapan desentralisasi dan gagasan otonomi daerah dalam praktiknya bukannya bersifat
antitesis terhadap ikatan-ikatan patrimonialisme yang mendera masyarakat Indonesia pascakemerdekaan terutama cara-cara berpolitik warisan Orde Baru, melainkan memungkinkan
ikatan-ikatan tersebut menjadi cara bagi 'putra-putri daerah' merumuskan dan
memperjuangkan identitas dan kepentingan politik mereka. Lihat, Henk Schulte Nordholt.
“Decentralization in Indonesia: Less State, More Democracy?”, dalam John Harris dkk (ed)
Politicising Democracy, The New Local Politics of Democratization. New York: Palgrave
MacMillan, hal 29-50.
5
Lihat, AE Priyono dkk. Making Democracy Meaningful: Problems and Options in Indonesia.
Yogyakarta: PCD Press, 2007; lihat juga Willy Samadhi dan Nicolaas Warrouw. Demokrasi di
Atas Pasir. Yogyakarta: PCD Press, 2009.
Melampaui Komunalisme: Siasat Perdamaian dalam Politik Pembangunan | 11
6
Pengertian komunalisme bisa jamak. Dalam penggunaan liberal, tepatnya demokrasi liberal,
istilah ini berkonotasi negatif dan selalu saja dikaitkan dengan tradisionalisme dan perilaku
pemimpin karismatis. Dalam tradisi Weberian, misalnya, komunalisasi dipahami sebagai bentuk
artikulasi kolektif berbasis solidaritas sosial, dipelihara ikatan tradisional dan berwatak
emosional. Ini dikontraskan dengan artikulasi rasional berbasis kepentingan dalam kerangka
agregasi sebagaimana dibayangkan dalam perhimpunan modern. Implikasinya jelas bahwa
komunalisme dipandang sebagai penyakit sosial dan gejala politik anti-demokrasi. Begitu pula
efek bacaan liberal ini menulari analisis para penstudi politik dan multikulturalisme di
Indonesia belakangan ini. Komunalisme seperti 'fundamentalisme' agama dibaca sebagai negasi
terhadap multikulturalisme, dikaitkan dengan 'radikalisme' dan kekerasan. Hal serupa muncul
dalam bacaan tentang gejala komunalisme dalam konteks demokratisasi. Politik Indonesia,
khususnya di propinsi dan kabupaten, diramaikan oleh faksi-faksi politik komunal dan praktek
ini disebakan oleh kuatnya ikatan tradisional berdasarkan agama etnis dan wilayah. Direkayasa
elit semata dan masyarakat dihalusinasi dengan keluhuran budaya dan mendisain masa kini
dengan nostalgia. Sungguhkah demikian?
Pengertian komunalisme dalam tulisan ini dibangun dengan argumen berbeda. Komunalisme
justru dipandang sebagai pertama, cara mengisi ruang kekuasaan yang selalu kosong dan
kedua, cara membentuk subyek politik. Hanya saja proyek politik dan subyek yang terbentuk
tidak memenuhi preskripsi demokrasi substansial. Dalam konteks Indonesia satu dekade
terakhir, demokrasi prosedural memungkinkan komunalisme berbiak. Dalam arti, untuk mengisi
ruang kekuasaan, melalui perebutan otoritas politik (kepala daerah/DPRD) serba cepat dan
murah, kerja politik paling mungkin adalah menggarap isu etnis, agama dan wilayah. Ini
dilakukan elit politik kita bukan semata-mata karena serakah atau membohongi rakyat tetapi
juga karena apa yang kita luhurkan sebagai 'rakyat' itu tak pernah diberdayakan secara politik.
Demokrasi berhenti sebagai dogma, mekanisme, dan lembaga, sementara logik-kerja demokrasi
untuk membuat rakyat menjadi makhluk politik nyaris tak terpikirkan sama sekali. Partai
semakin banyak, organisasi-organisasi sipil tumbuh bak jamur di musim hujan, tetapi rakyat tak
ada di sana. Dia 'terwakilkan' saja, dia adalah obyek intervensi atau sasaran program dan
proyek. Dalam konteks inilah, komunalisme politik berbasis agama, etnis dan wilayah tampil
sebagai cara berpolitik yang tersedia di depan mata dan bisa digarap tanpa kerja keras
membentuk rakyat sebagai warga negara demokratis. Untuk bahan perbandingan, lihat Hikmat
Budiman (ed). Komunalisme dan Demokrasi: Negosiasi Rakyat dan Negara. Jakarta: The Japan
Foundation Asia Center dan Forum Interseksi, 2003.
7
Data-data assessment terkumpul dalam Tim Peneliti PSKP. Laporan Assessment Kohesi Sosial:
Studi Kasus 6 Desa (2010). Lihat juga, Tim Peneliti PSKP. Rekomendasi Kebijakan:
Membangun Perdamaian dalam Masyarakat, Mengembangkan Kohesi Sosial di Halmahera,
Maluku Utara (2010).
8
Berikut ringkasan sebab-sebab konflik yang dihimpun tim peneliti selama assessment:
(1) PP No. 42/1999 dibuat tanpa pelibatan atau masukan dari masyarakat di daerah (versi prokontra.
(2) Pemerintah Pusat yang kurang memperhatikan aspek tradisi/kultural masyarakat dalam
membuat PP No. 42/1999 karena enam desa secara tradisi merupakan masyarakat Jailolo
dan Kesultanan Jailolo, bukan Tobelo (versi pro Halbar).
(3) Adanya kepentingan-kepentingan politik elit di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten. Hal
ini terkait Pilkadal, Pemilu Legislatif dan agenda pemekaran wilayah. Menjadikan 6 desa
sebagai basis mendulang suara. Kondisi pro-kontra menguntungkan politisi dari dua
kabupaten yang mencoba peruntungan suara berkat pengkaplingan wilayah dapil. Begitu
pula kelompok yang getol agar 6 desa masuk Kab Halbar memiliki agenda politik yang lebih
ambisius. (Versi pro Halbar dan Pro Halut).
(4) Tarik menarik PT NHM (PT. North Halmahera Minerals) antara Kabupaten Halut dan
Halbar. Community Development lebih melayani kepentingan Pemkab Halut dan
12 | CSPS Monographs on Social Cohesion in North Maluku
memprioritaskan warga desa pro-Halut (versi pro-Halbar).
(5) Tingginya kerusakan lingkungan akibat pertambangan tersebut mempengaruhi basis
ekonomi warga desa, terutama kelompok nelayan. (versi pro Halbar dan pro Halut). Hal ini
menjadikan pihak pertambangan sebagai aktor konflik selain birokrasi dua kabupaten.
(6) Kelambanan Pemerintah Provinsi dalam menanganangi masalah terkait PP No. 42/1999 dan
UU No. 1/2003. Konflik antara Pemkab 2 kabupaten ini membutuhkan negosiasi yang dapat
dilakukan secara aktif oleh pemprop. Akibatnya, masyarakat semakin terbelah ke dalam 2
kotak pemerintahan, Kabupaten Halut atau Kabupaten Halbar.
9
Lihat Tim Peneliti PSKP. Laporan Workshop Kohesi Sosial (2010)-Sofifi. Dalam workshop
ini perwakilan dua desa membicarakan sejumlah pokok masalah bersama seperti pendidikan
sekolah, pelayanan kesehatan dan rumah sakit, program-program pemerintah tahunan dan lainlain. Juga dibahas pentingnya asosiasi nelayan dan petani untuk memudahkan proses
pengusulan program dari tingkat desa ke tingkat lebih tinggi terutama Bappeda dan SKPD
terkait. Isu yang mempersatukan para pihak adalah soal dampak tambang emas di wilayah itu.
Dampak ini sangat dirasakan para nelayan yang merupakan komposisi terbesar dari total 6 desa
(pro dan kontra). Dengan menjadikan dampak pertambangan sebagai simpul, negosiasinegosiasi selanjutnya dapat de-formasi 'sebab-sebab' konflik versi elit. Workshop ini menjadi
ilustrasi terbaik dari upaya bersama mereka merintis kerja sama untuk kepentingan bersama.
(Agenda politik perdamaian selanjutnya!).
Daftar Pustaka
Mas'oed, Mohtar. Negara, Kapital dan Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Djalong, Frans dan Sugiono M. “Indonesian Paths to Peace: From Liberal Framework to Local
Conflict Resolution”, Power, Conflict and Democracy Journal, Vol. I No. 1 (October 2008),
pp.166-184
Antlov, Hans. Negara dalam Desa: Patronase Kepemimpinan Lokal. Yogyakarta: Lappera Pustaka
Utama, 2002.
Tim Peneliti PSKP UGM. Membangun Perdamaian dalam Masyarakat, Membangun Kohesi sosial
di Halmahera, Maluku Utara. (Rekomendasi Kebijakan). PSKP UGM bekerjasa dengan
Lembaga Mitra Lingkungan Maluku Utara dan Serasi-Usaid
Tim Peneliti PSKP UGM. Laporan Workshop Kohesi Sosial (2010).
Klinken, Gerry van. Perang Kota Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokratisasi di Indonesia.
Jakarta: Yayasan Obor, 2007
Malley, Michael S. “New Rules, Old Structures and The Limits of Democratic Decentralization”,
dalam Edward Aspinal dan Greg Fealy (ed) Local Power and Politics in Indonesia:
Decentralization and Democratization. Singapura: ISEAS, 2003
Pemda Kab Halut. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Halmahera Utara Tahun 2009.
Tim Peneliti PSKP/LML Maluku Utara. Laporan Assesment/Observasi Enam Desa. (Dokumen
Penelitian).
Nordholt, Schulte Henk dkk. Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor, 2007.
Mardyanto Triyatmoko. “Pemekaran Wilayah dan Pertarungan Elit di Maluku Utara”, LIPI Jilid
xxx/no 1/ 2005
Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe. Hegemony and Socialist Strategy. London: Verso, 1985, hal
176-193;
Chantal Mouffe. The Democratic Paradox. London: Verso, 2000, lihat khusus uraian Bab 4 “For an
Agonistic Model of Democracy”, hal 80-107
Chantal Mouffe. “Decision, Deliberation and Democratic Ethos”, Philosophy Today, Springs 1997,
24-30.
Melampaui Komunalisme: Siasat Perdamaian dalam Politik Pembangunan | 13
Download