jargon bahasa madura

advertisement
JARGON BAHASA MADURA
PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
(Sebuah Kajian Empiris)
Oleh: Moh. Hafid Effendy
(Calon Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan
dan Anggota Yayasan Pakem Maddhu Pamekasan)
Abstrak:
Dalam suatu masyarakat tidak terdapat adanya keseragaman bahasa,
meskipun dalam masyarakat bahasa yang monolingual (masyarakat hanya
menggunakan satu macam bahasa dalam segala kegiatan hidup). Dengan
demikian jelas bahwa bahasa itu tidak monolitik, tidak hanya ada dalam satu
bentuk, malainkan dalam berbagai bentuk. Bahasa yang masih ada di dalam
ruang lingkup sistem bahasa yang sama (langue) itu disebut varian-varian
bahasa. Fenomena bahasa selain bisa diamati sebagai fenomena sistem atau
stuktur bahasa bisa diamati sebagai fenomena sosial. Sebagai fenomena sosial,
pemakaian bahasa dalam masyarakat dipengaruhi oleh faktor situasional.
Melalui kajian empiris inilah bahwa penggunaan jargon berbahasa Madura
pada tindak tutur masyarakat nelayan dapat dikatakan cukup banyak, hal ini
dapat dibuktikan dengan adanya beberapa perbedaan diksi pada tindak tutur
antara masyarakat nelayan dengan masyarakat umum. Hal tersebut
disebabkan karena adanya faktor sosial, letak geografis, dan banyak
dipengaruhi oleh adanya masyarakat nelayan pendatang dari luar pulau
Madura, yaitu pendatang dari sekitar Jawa Timur yang sama-sama nelayan.
Kata Kunci:
Jargon, Bahasa Madura, Masyarakat Nelayan
A. Pendahuluan
Bangsa
berkembang. Hal ini mempengaruhi
Indonesia
adalah
juga
terhadap
perkembangan
bangsa yang kaya akan kebudayaan
bahasa, sehingga bahasa pun ikut
daerah yang dimiliki setiap suku
berkembang seperti sesuatu yang
bangsa di Indonesia, salah satunya
hidup.
adalah
perkembangan
bahasa
Madura
yang
merupakan ciri khas suku bangsa
1
Madura.
bahasa
dan
sejalan
dengan perkembangan kebudayaaan
bangsa, bahasa merupakan salah
Masyarakat sebagai pemakai
bahasa,
Pertumbuhan
selalu
tumbuh
dan
satu atau bagian dari sejumlah cipta,
rasa, dan karsa manusia. Wajarlah
apabila suatu bahasa relevan dengan
1
Pateda,
Mansoer.
Sosiolinguistik.
(Bandung: Angkasa, 1990), hlm. 70.
tingkat dan kualitas bahasa dari
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
bangsa itu. Di sisi lain, bahasa
monolingual (masyarakat yang hanya
sebagai
menggunakan satu macam bahasa
alat
komunikasi
dan
penjelmaan pikiran yang menyatukan
dalam
masyarakat
Dengan
dengan
kebudayaan.
segala
kegiatan
demikian,
hidup).
jelas
bahwa
Setiap anggota masyarakat terlibat
bahasa tidak monolitik, tidak hanya
dalam komunikasi. Di satu pihak dia
ada dalam satu “bentuk”, melainkan
sebagai pembicara dan di pihak lain
dalam berbagai “bentuk”. Bahasa
sebagai penyimak. Dengan demikian
yang masih ada di dalam ruang
akan terjadi interaksi sosial antar
lingkup sistem bahasa yang sama
individu atau antar kelompok dalam
(langue)
suatu masyarakat dengan bahasa
bahasa.
sebagai alat penuturnya.
Di
Keanekaragaman yang terjadi
disebut
sisi
lain,
varian-varian
sebagaimana
dinyatakan di atas bahwa bahasa
dalam bahasa, yang sangat mudah
memiliki
diamati
yang
hubungan yang sifatnya semena-
menyangkut lafal dan kosakata. Hal
mena antara signifie dan signifiant.
ini dapat dirasakan melalui kata-kata
Namun demikian, kesemena-menaan
yang diucapkan secara berbeda-beda
itu dibatasi oleh kesepakatan antar
dan adanya kata-kata atau ungkapan
penutur.
baru yang tiba-tiba muncul untuk
penutur itulah yang merupakan ciri
memenuhi kepentingan masyarakat
bahwa bahasa bersifat konvensional.
pemakai
Dengan kata lain dapat dikatakan
adalah
perubahan
bahasa.
Selain
itu,
sifat
Ciri
arbitrer,
artinya
kesepakatan
masyarakat Indonesia secara garis
bahwa
besar
sebagai
komunikasi sosial juga dibatasi oleh
masyarakat dwibahasa. Artinya, di
aturan-aturan konvensional diantara
satu pihak memiliki bahasa Indonesia
para penuturnya.
dapat
dilukiskan
sebagai bahasa resmi negara dan
bahasa
nasional,
memiliki
bahasa
di
lain
bahasa
antar
sebagai
alat
Fenomena bahasa selain bisa
pihak
diamati sebagai fenomena sistem
sebagai
atau struktur bahasa bisa diamati
bahasa ibu, bahasa daerah yang
sebagai fenomena sosial. Sebagai
menjadi bahasa
lain,
fenomena sosial, pemakaian bahasa
Bahasa Jawa, Bali, Sunda, Batak,
dalam masyarakat dipengaruhi oleh
Madura, dan sebagainya. Semuanya
faktor situasional.2
daerah
ibu
antara
memiliki tradisi dan ciri khas yang
Sebagaimana
kita
ketahui,
berbeda, penutur asli cukup besar
banyak orang yang mendefinisikan
dan daerah pemakainya cukup luas.
bahasa bergantung dari sudut mana
Dalam suatu masyarakat tidak
terdapat
keseragaman
bahasa,
meskipun dalam masyarakat yang
162
2
Soeparno.
Dasar-dasar
Linguistik
Umum. (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana), 2002.
Hlm. 1.
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
definisi itu dibuat. Salah satunya
belakang penutur, dan (3) pokok
seperti
permasalahan
yang
disepakati
kaum
yang
dibicarakan.
struktural, yakni bahasa didefinisikan
Berdasarkan media yang diguanakan
sebagai sistem tanda arbitrer yang
dikenal dengan ragam bahasa lisan
konvensional.
lain,
dan ragam bahasa tulis. Dari segi
bahasa dikatakan bersifat sistematik
penutur ragam bahasa dibedakan
dan
menjadi
Dengan
sistemik.
sistematik
Bahasa
yang
bahasa
bersifat
karena
ketentuan-ketentuan
kaidah
kata
mengikuti
atau
teratur,
bersifat
kaidah-
sedangkan
sistemik
ragam
ragam
bahasa
terpelajar,
ragam
tidak resmi.
karena
Masyarakat
merupakan
sistem
masyarakat
subsistem-subsistem.
(dialek),
bahasa resmi, dan ragam bahasa
bahasa itu sendiri merupakan suatu
atau
daerah
suatu
yang
kelompok
memiliki variasi
Misalnya,
subsistem
fonologi,
subsistem
morfologi,
subsistem
dengan masyarakat pada umumnya,
sintaksis, subsistem semantik, dan
dan banyak sekali didalamnya terdiri
subsistem leksikon.
dari kelompok-kelompok sosial yang
Sedangkan
sebagaimana
dikutip
bahasa
nelayan
tersendiri
dibandingkan
Saussure
berbeda-beda, yakni: kelompok tani,
Soeparno
pedagang, pelajar, dan sebagainya
(2002:1) menyatakan tentang bahasa
yang
terlibat
langsung
dengan
yang merupakan paduan antara dua
masyarakat nelayan. Sebagian besar
unsur, yaitu signifie dan signifiant.
mereka
Signifie adalah unsur bahasa yang
Madura dalam berkomunikasi sehari-
berada di balik tanda yang berupa
hari.
konsep di dalam benak penutur.
menggunakan satu macam bahasa
Orang awam menyebutnya makna.
tetapi juga dapat menggunakan dan
Sedangkan signifiant adalah unsur
memakai variasi bahasa.
menggunakan
Mereka
bahasa
tidak
hanya
bahasa yang merupakan wujud fisik
atau yang berupa tanda ujar.
Di
masyarakat
B. Jargon
dalam
kenyataannya terdapat bermacam-
sebagai
Bentuk
Variasi
merupakan
variasi
Bahasa
Jargon
macam manfaat pemakaian bahasa,
dialek sosial yang digunakan secara
akibatnya akan timbul keragaman
terbatas
bahasa yang sudah pasti disesuaikan
tertentu dan lingkungan tertentu pula.
dengan
kebutuhan.
Orang yang bukan kelompoknya tidak
Menurut Sugono (1997:10) terdapat
mengerti dan memahami terhadap
tiga kriteria yang berkaitan dengan
ungkapan-ungkapan yang digunakan
ragam bahasa tertentu, yakni (1)
dalam interaksi antar anggota dalam
media yang digunakan, (2) latar
kelompok
situasi
dan
oleh
kelompok
tersebut,
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
profesi
meskipun
163
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
ungkapan-ungkapan tersebut bukan
rahasia.
3
bidang tertentu dengan pernyataan
seperti ini, jargon hanya dapat dipakai
Berkaitan dengan pengertian
jargon
tersebut,
AS
Hornby
dalam situasi tidak resmi. Sedangkan
dalam situasi resmi, pemakai jargon
(1974:545) mengatakan, ‘’Language
akan
full of technical or special words’’.
menggunakan bahasa yang mudah
Artinya, jargon adalah bahasa yang
dimengerti oleh masyarakat umum
penuh dengan kata-kata teknis atau
secara luas. Ini berarti dalam situasi
spesial. Istilah teknis atau spesial
lain
tersebut
suasana, bahasa resmi atau baku
menggambarkan
kekhususan
terhadap
istilah-istilah
kelompok
Kekhususan
ini
adanya
tersebut
yang
dengan
menuntut
keresmian
yang mereka gunakan.4
pemakainya.
menjadi
berkomunikasi
Pengertian
jargon
menurut
identitas
Pateda (1990:70) adalah pemakaian
suatu kelompok sosial dan cenderung
bahasa dalam tiap bidang kehidupan.
tidak dipahami oleh kelompok sosial
Lebih
lainnya. Istilah-istilah khusus dalam
bahwa
jargon hampir dipastikan terdapat
jabatan,
dalam
semua
bidang
masing- masing mempunyai bahasa
Setiap
bidang
keahlian,
kehidupan.
jabatan,
lingkungan pekerjaan, masing-masing
mempunyai
bahasa
khusus
lanjut
Petada
setiap
mengatakan
bidang
lingkungan
keahlian,
pekerjaan,
khusus yang sering tidak dimengerti
oleh kelompok lain.
yang
Variasi
bahasa
menurut
sering tidak dimengerti oleh kelompok
Soeparno adalah keanekaragaman
lain. Harimurti Kridaksana (1983:68)
bahasa yang disebabkan oleh faktor
mengatakan jargon merupakan kosa
tertentu. Menurut dia ada beberapa
kata
dalam
macam variasi bahasa, antara lain :
yang
(a) variasi kronologis, yakni variasi
mobil,
bahasa yang disebabkan oleh faktor
tukang kayu, guru, dan sebagainya,
keurutan waktu atau masa, (b) variasi
dan sering tidak dipahami oleh orang
geografis, yakni variasi bahasa yang
dalam bidang yang lain.
disebabkan oleh perbedaan geografis
yang
kehidupan
dipakai
khas
dipakai
tertentu,
oleh
seperti
montir-montir
Pemakaian
jargon
terbatas
atau faktor regional, (c) variasi sosial,
pada suatu kelompok sosial tertentu,
yakni
maka jargon dipakai pada situasi
disebabkan oleh perbedaan faktor
tidak
sosial, (d) variasi fungsional, yakni
resmi.
mengartikan
Keraf
jargon
(1988:107)
sebagai
variasi
bahasa
yang
kata
variasi bahasa yang disebabkan oleh
teknis atau rahasia dalam suatu
perbedaan fungsi pemakai bahasa,
(e) variasi gaya/ style, yakni variasi
3
Ibrahim, Abd. Syukur. Sosiolinguistik:
Sajian, Tujuan, Pendekatan, dan Problem.
(Surabaya: Usaha Nasional, 1995), hlm. 33.
164
4
Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa.
Jakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 107.
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
bahasa
yang
disebabkan
oleh
variasi-variasi bahasa yang lain.
perbedaan gaya, (f) variasi kultural,
Sebagai
yakni
yang
seperti “bahasa Bagongan” yang
disebabkan oleh perbedaan budaya
khusus dipakai oleh bangsawan
masyarakat
dikalangan keraton Jawa. Dialek
variasi
variasi
bahasa
penuturnya,
individual,
bahasa
yang
dan
yakni
(g)
variasi
disebabkan
oleh
perbedaan perorangan.
akrolek
Jakarta
tampaknya
cendrung
semakin
ini,
tidak
bergengsi
sebagai ciri metropolitan.
Variasi ini disebabkan oleh
perbedaan
contoh
sosiologis.
3) Basilek
Realisasi
Basilek, realisasi variasi
variasi sosial ini berupa sosiolek.
bahasa yang dipandang kurang
Beberapa
bergengsi
sosiolek
yang
dikenal
atau
bahkan
antara lain: (1) Jargon, (2) Akrolek,
dipandang rendah. Pada bahasa
(3) Basilek, (4) Vulgar, (5) Slang, (6)
Jawa “Krama Ndesa” tampaknya
Kolokial, (7) Argot, dan (8) Ken (Cant)
termasuk dalam kelompok ini.
(Soeparno, 2002: 72).
5
Pada bahasa Inggris, bahasa
1) Jargon
yang dipakai oleh para cowboy
Jargon,
bahasa
wujud
yang
terbatas
variasi
pemakainya
pada
kelompok-
dan kuli tambang juga dapat
digolongkan basilek.
4) Vulgar
kelompok sosial tertentu. Istilah-
Vulgar,
wujud
istilah yang dipakai sering tidak
bahasa
dimengerti
menunjukkan pemakaian bahasa
oleh
masyarakat
yang
variasi
umum dan masyarakat diluar
oleh
kelompoknya. Kelompok sosial
terpelajar
pemakai
orang-orang
jargon
menggunakan
khusus
namun
ini
biasanya
istilah-istilah
tidak
bersifat
penutur
ciri-cirinya
yang
atau
kurang
dari
kalangan
bodoh.
Bahasa-
bahasa di Eropa pada zaman
Romawi
sampai
abad
rahasia. Misalnya bahasa petani,
pertengahan dianggap sebagai
bahasa
kayu, bahasa
bahasa vulgar, sebab bahasa
montir, bahasa kernet dan sopir,
para kaum intelek adalah bahasa
dan sebagainya.
latin.
tukang
2) Akrolek
5) Slang
Akrolek, realisasi variasi
Slang,
wujud
atau
bahasa yang dipandang lebih
realisasi bahasa yang bersifat
bergengsi atau lebih tinggi dari
khusus atau rahasia. Bersifat
khusus berarti yang dipakai oleh
5
Soeparno.
Dasar-dasar
Linguistik
Umum. (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 2002),
hlm. 71-72.
kalangan tertentu yang sangat
terbatas. Bersifat rahasia berarti
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
165
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
tidak
boleh
orang
luar
dikuasai
langkah
menjaga
jargon. Bahkan dalam beberapa
kerahasiaan slang akan selalu
hal, jargon dibentuk dari bahasa-
diubah/ berubah, jadi bersifat
bahasa
temporal.
hidup dikalangan pemakainya.
untuk
Kolokial,
percakapan
bahasa
sehari-hari
dalam
ini
menjadi
yang
kelompoknya mengerti. Sebagai
6) Kolokial
impor
yang
Permainan
bahasa
semacam
ini
sebuah
berhasil
rahasia
kelihatannya
merupakan
proses
yang
situasi tidak resmi atau bahasa
disengaja.
Yang
jelas,
yang sering dipergunakan oleh
keberadaan jargon sebagai hasil
sekelompok sosial kelas bawah.
kreatif suatu kelompok sosial
7) Argot
dalam
Argot,
terbatas
wujud
bahasa
diikuti dengan
variasi
kekreatifitasan mempermainkan
yang
pemakainya
bahasa itu. Satu bentuk yang
pada
profesi-profesi
bahasa
sangat
umum
dari
bahasa
tertentu yang bersifat rahasia.
rahasia, yang ditemukan dalam
Dengan kata lain argot dapat
masyarakat
diartikan sebagai slang profesi.
masyarakat
Misalnya bahasa para pencuri,
mencapai pemahaman melalui
pencopet,
suatu proses permainan verbal
penggarong,
dan
sebagainya. Letak kekhususan
biasanya
terletak
pada
kesukuan
yang
dan
kompleks,
dengan bahasa mayoritas.
kosa
Kreativitas
penciptaan
katanya, misalnya: “kaca mata”
jargon tidak dapat dipisahkan
artinya “polisi”, “daun” artinya
dari
“uang kertas”.
dimiliki
8) Ken (Cant))
bahasa
yang
sekelompok
sifat
kedinamisan
bahasa.
yang
Kedinamisan
bahasa menurut perkembangan
Ken (Cant), wujud variasi
dipakai
sosial
oleh
tertentu
dalam
bahasa,
yang
sejalan
dengan
perkembangan
masyarakat.
Ini
semua
dengan lagu yang dibuat-buat
bergantung kepada kebutuhan
supaya lebih menimbulkan kesan
dan
“memelas”. Hal ini tampak pada
pemakainya.
pemakaian bahasa oleh para
dimiliki setiap bahasa, menurut
pengemis atau peminta-minta.
Soeseno Kartomiharjo (1988:8)
Pemakai
kehendak
masyarakat
Struktur
yang
memang
dari
satu
yang
atau
bahasa. Oleh karena itu, setiap
cenderung
penutur bahasa berkesempatan
lebih
bahasa
(bilingual
memiliki
yang
jargon
menguasai
multilingual)
166
mempermainkan bahasa
mekanisme
melayani perkembangan
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
untuk (1) menciptakan kata baru,
lain juga mengalami peristiwa
(2) menggunakan kata-kata lama
bahasa yang sama.6
dengan
makna
baru,
membuat
kalimat
baru
belum
yang
C. Kajian tentang Tindak Tutur
sebelumnya,
Secara garis besar, tindak tutur
kalimat-kalimat,
menurut Searle, sebagaimana dikutip
termasuk yang baru, menjadi
Rani (2004:158) adalah produk atau
suatu wacana yang sama sekali
hasil dari suatu kalimat dalam kondisi
baru. Kata benci akronim dari
tertentu dan merupakan kesatuan
“benar-benar cinta”, merupakan
terkecil
contoh dari kata-kata baru yang
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tindak
diciptakan
tutur dalam ujaran suatu kalimat
(4)
diciptakan
(3)
menyusun
Contoh
pemakai
dari
bahasa.
pernyataan
dari
komunikasi
bahasa.
lain
merupakan penentu makna kalimat
dapat digali sebanyak-banyaknya
yang dimaksud. Misalnya, apabila
dalam bahasa Indonesia, yang
seseorang
secara otomatis keempat konsep
sesuatu kepada orang lain, maka apa
diatas dapat dijadikan ciri jargon,
yang
ditinjau dari proses penciptaan
adalah makna atau maksud kalimat.
jargon.
Akan tetapi untuk menyampaikan
Ibrahim
ingin
ingin
mengemukakan
dikemukakannya
itu
(1993:131)
makna atau maksud dari kalimat itu,
mengemukakan ciri jargon dari
penutur harus menuangkan dalam
sisi yang lain. Menurutnya, argot
wujud tindak tutur. Namun demikian,
para
dari
menurut Rani tindak tutur yang akan
pemuda,
dipilihnya sangat bergantung pada
dan jargon dari para pelancong
beberapa faktor, antara lain dengan
dari kelompok-kelompok jabatan
bahasa apa ia akan bertutur, kepada
yang lain memperoleh hasil yang
siapa
sama
dengan
ujarannya, dalam situasi bagaimana
makna
yang
penyamun,
slang
kelompok-kelompok
memberikan
khusus
pada
ia
akan
menyampaikan
ujaran itu akan disampaikan, dan
nomina, verba, dan adjektiva
kemungkinan-kemungkinan
umum.
manakah yang ada dalam bahasa
sepertinya
Dari
analisis
sorotan
ini
utama
tertumpu pada pemberian makna
tersendiri
terhadap
yang
Rani
(2004:159).
beberapa
jenis kata. Dalam hal ini kata
dipergunakannya
struktur
Tuturan dapat diartikan ucapan,
ujaran,
cerita,
dan
sebagainya
benda, kata kerja, dan kata sifat.
Tidak mustahil pada jenis kata
6
Ibrahim,
Abd.
Syukur.
1995.
Sosiolinguistik: Sajian, Tujuan, Pendekatan, dan
Problem. Surabaya: Usaha Nasional, 1995), hlm
131.
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
167
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
Moelono (1990:978). Bahasa tutur
sebagai
olehnya
diartikan
mereka.
Dengan
demikian,
alat
komunikasi
antara
bahasa
lisan.
tuturan
lisan
Masalahnya sekarang, sering
merupakan hasil dari kegiatan yang
kali dan mungkin terjadi kesalah
produktif
setara
dengan
pahaman dalam proses komunikasi,
menulis
hanya
berbeda
kegiatan
media.
sehingga
tidak
jarang
apa
yang
Tuturan lisan menggunakan media
diinginkan seseorang melalui tindak
artikulator (alat bersuara) sedangkan
tuturnya tidak sampai atau tidak
kegiatan
dipahami
media
menulis
tulisan,
menggunakan
seperti
buku
dan
ballpoint.
oleh
dari
bicaranya.
Beberapa hal yang memungkinkan
timbulnya
Ditinjau
lawan
kondisi
tersebut
dapat
keterampilan
disebabkan oleh sifat masyarakat
berbahasa yang diklasifikasikan oleh
pemakai bahasa yang heterogen.
Tarigan
empat
Selain itu, dapat juga disebabkan
keterampilan
kurangnya pemahaman mereka, baik
menyimak/ mendengarkan, berbicara,
penutur atau penulis maupun penutur
membaca, dan ketermpilan menulis,
atau
maka tuturan lisan termasuk dalam
bahasa dalam komunikasi.
(1990:1)
keterampilan,
menjadi
yakni
keterampilan
berbicara.
Kegiatan
pembaca
Dalam
mengenai
peristiwa
kaidah
berbahasa
menyimak dan membaca termasuk
tidak akan terlepas dari konteks. Jos
kegiatan yang reseptif, sedangkan
Daniel
berbicara
1997:26) mengatakan bahwa konteks
dan
menulis
kegiatan yang produktif.
termasuk
7
Parera
merupakan
(dalam
suatu
Cianago,
situasi
yang
Dari beberapa uraian di atas,
terbentuk karena setting, kegiatan,
dapat disimpulkan bahwa, tuturan
dan relasi. jika terjadi interaksi antara
lisan adalah hasil ucapan atau ujaran
ketiga
seseorang
dan
terbentuklah konteks. Unsur yang
tingkat
termasuk setting yaitu: (1) Unsur-
bersifat
didalamnya
produktif
menunjukkan
kematangan berbahasa pemakainya.
Dalam kehidupan sehari-hari,
kehidupan
maka
unsur material yang ada disekitar
peristiwa
interaksi berbahasa, (2)
Tempat, yaitu tata letak dan tata atur
terlepas dari aktifitas berbahasa, baik
barang dan orang, dan (3) Waktu,
lisan maupun tulisan. Keberadaan
yaitu tata runtutan dan pengaturan
manusia sebagai makhluk sosial yang
urutan
saling
satu
interaksi berbahasa, yang dimaksud
lainnya,
semakin
dengan kegiatan inilah semua tingkah
pentingnya
bahasa
laku yang terjadi dalam interaksi
membutuhkan
yang
menempatkan
tidak
tersebut,
akan
dengan
manusia
komponen
antara
waktu
dalam
peristiwa
berbahasa, salah satu kegiatan yaitu
7
Tarigan, Henry Guntur. Teori Belajar
Bahasa. (Bandung: Angkasa, 1990), hlm. 1-3.
168
berbahasa itu sendiri. Sedangkan
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
yang
termasuk
hubungan
relasi
antara
meliputi
peserta
bicara,
5. Channel (penghubungnya: bahasa
tulis, lisan, dan sebagainya)
hubungan itu dapat ditentukan oleh:
6. Cobe (dialeknya, gayanya)
jenis
7. Message
kelamin,
umur,
kedudukan
form
(debat,
diskusi,
(status, peran, prestise), hubungan
ceramah, agama, pidato, khotbah,
kekeluargaan,
seminar,)
dan
hubungan
kedinasan (umum, militer, pendidikan,
8. Event (kejadian)
kepegawaian, majikan dan buruh,
dan sebagaimya).
Konteks
Dalam
tidak
pemakaian
bahasa
interaksi
akan
berbahasa
terlepas
mempergunakan
dari
satuan-satuan
dibedakan menjadi empat macam
bahasa
yaitu:
meliputi
ungkapan.
tempat terjadinya pemakaian bahasa
bentuknya,
dalam suatu komonikasi, objek yang
berbentuk
disajikan dalam peristiwa komunikasi
gabungan kata atau frase, (c) kalimat,
itu dan tindakan atau perilaku dari
baik berupa kalimat lengkap maupun
para
kalimat tidak lengkap.
(1)
konteks
peran
fisik,
dalam
peristiwa
komonikasi itu, (2) konteks epistemik,
tersebut
disebut
Kalau
diperhatikan
ungkapan
(a)
dengan
itu
sebuah
dapat
kata,
(b)
Sebuah kata dapat menjadi
merupakan
latar
belakang
ungkapan untuk menyatakan sesuatu
pengetahuan
yang
sama-sama
gagasan, konsep, ide, atau perasaan
diketahui oleh pembicara maupun
tertentu, apabila pada kata tersebut
pendengar,
terkandung makna atau pengertian
terdiri
(3)
dari
konteks
linguistik,
kalimat-kalimat
atau
yang dapat diperbandingkan atau
aturan-aturan yang mendahului suatu
dikiaskan terhadap tingkah laku, sifat,
kalimat atau tuturan tertentu dalam
atau
peristiwa
kebiasaan yang terjadi di dalam
komonikasi, (4)
konteks
sosial, merupakan relasi sosial dan
latar
setting
yang
kebiasaan
seseorang
atau
masyarakat.
melengkapi
Seperti halnya yang terjadi
hubungan antara penutur dengan
dalam
para pendengar.
bahasa Madura yang digunakan oleh
Dell Hymes dalam Chaniago,
bahasa
pemakai
Indonesia,
bahasa
juga
jargon
diamati
(1997:5:31) mencatat ciri-ciri konteks
pengunaannya pada tataran kata,
sebagai
faktor
yang
menentukan
frase, dan kalimat. Jargon bahasa
makna
suatu
tindak
berbahasa
Madura juga akan dipengaruhi oleh
sebagai berikut:
pilihan kata atau yang dikenal dengan
1. Adverser (pebicara)
diksi.
2. Advesse (pendengar)
Yang dimaksud dengan diksi
3. Topik pembicaraan
adalah pilihan kata atau memilih kata.
4. Setting (tempat dan waktu)
Dalam
Kamus
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
Besar
Bahasa
169
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
Indonesia
dikatakan
bahwa
diksi
itu.
Sedangkan
yang
dimaksud
adalah pilihan kata yang tepat dan
dengan pembendaharaan kata suatu
selaras (cocok penggunaanya) untuk
bahasa
mengungkapkan
yang dimiliki oleh sebuah bahasa.
gagasan
tertentu
sehingga memperoleh efek tertentu
(seperti
yang
diharapkan).
adalah
keseluruhan
kata
Berdasarkan difinisi diksi yang
telah
diuraikan
pada
bagian
Sedangkan Harimurti dalam Chaer,
sebelumnya, menurut Keraf (1981:18)
(1997:6-2)
ternyata
mendefinisikan
diksi
diksi
atau
pilihan
kata
sebagai pilihan kata dan kejelasan
sengaja difungsikan atau dilakukan
lafal untuk memperoleh efek tertentu
oleh
dalam berbicara didepan umum atau
menciptakan
dalam karang-mengarang. Dengan
berbahasa
kata lain, dapat disimpulkan bahwa
terjadi salah tafsir bagi pendengar
diksi adalah kemampuan pembicara
atau pembaca. Selanjutnya sebagai
atau penulis untuk memilih kata-kata,
ilustrasi Keraf memberikan contoh
lalu menyusunnya menjadi rangkaian
bahwa
kalimat
yang
keselarasan
pengguna
keefektifan
sehingga
untuk
kegiatan
tidak
mereka
akan
yang
luas
sesuai
dengan
kosakatanya akan memilih setepat-
segi
konteks
tepatnya kata mana yang paling
dari
8
Petada.
harmonis
Sementara
bahasa
Keraf
(1981:19)
untuk mewakili maksud
atau gagasannya. Secara populer
menyatakan bahwa istilah diksi pada
menurut
dasarnya
mengatakan
mengandung
pengertian
Keraf,
orang
bahwa
akan
kata
meneliti
yang sangat luas. Namun demikian
sama artinya dengan menyelidiki dan
Keraf
kesimpulan
mengamati
sehingga
kata-kata
utama tentang diksi yakni: (1) pilihan
turunannya
seperti
penelitian,
kata atau diksi adalah kemampuan
penyelidikan,
membedakan secara tepat nuansa-
merupakan
nuansa
dengan
artinya atau kata yang bersinonim.
gagasan yang ingin disampaikan, dan
Mereka yang luas kosa katanya
kemampuan
menolak anggapan tersebut memiliki
membuat
makna
dua
sesuai
untuk
menemukan
dan
pengamatan
kata-kata
pengertian
dan nilai rasa yang dimiliki kelompok
dengan konteks penggunaannya.
Dengan
berbeda
sama
bentuk yang sesuai dengan situasi
pengguna masyarakat bahasa, (2)
yang
yang
demikian,
sesuai
jelaslah
pilihan kata yang tepat dan sesuai
bahwa fungsi diksi adalah untuk
hanya
menciptakan
dimungkinkan
oleh
efektivitas
kegiatan
penguasaan sejumlah kosa kata atau
berbahasa yang dilakukan seorang
pembendaharaan kata dalam bahasa
dalam
rangka
menyampaikan
maksud dan gagasannya kepada
8
Verhaar, J.W.M. Asas-asas Linguistik
Umum. (Yogyakarta: UGM, 2001), hlm. 2-6.
170
orang lain. Oleh karena itu, penulis
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
dapat
menyimpulkan
bahwa
cara menggabungkan huruf awal,
penggunaan jargon bahasa Madura
suku
dalam
mengkombinasikan huruf dengan
tindak
tutur
masyarakat
kata,
nelayan dapat diamati dari pilihan
suku
kata
dilafalkan secara wajar.
atau
dalam
diksi karena
jargon,
memang
kata-kata
sengaja
untuk
menyampaikan
maksud-maksud
tertentu
sesuai
dengan kesepakatan
Jargon
walikan
dapat
yang
artinya
berbentuk
jargon
itu
diungkapkan dalam bentuk verbal
dengan cara membalik kata-kata
yang
D. Bentuk-bentuk Jargon
sudah
ada.
Biasanya
maknanya sama dengan kata yang
a. Jargon Bentuk Kata.
Jargon
sehingga
c. Jargon Bentuk Walikan
dipilih dan digunakan oleh pemakai
bahasa
kata,
atau
yang
dibalik itu. Jargon bentuk walikan
berbentuk
terbentuk
dari
kata-kata
yang
kata artinya jargon yang digunakan
berasal dari bahasa Jawa, bahasa
oleh suatu kelompok sosial, bentuk
Indonesia,
kebahasaannya
kata.
bahasa asing yang mengalami
Jargon yang berbentuk kata ini
proses pembalikan. Jargon bentuk
selanjutnya
diperinci
walikan dalam pembentukan kata-
menjadi beberapa jenis kata, yaitu
katanya sangat bervariasi. Variasi-
kata benda, kata kerja, dan kata
variasi tersebut antara lain: (1)
sifat.
pembalikan
berupa
dapat
b. Jargon Bentuk Singkatan dan
Akronim.
dan
sebagian
sederhana,
pembalikan
dengan
dari
(2)
perubahan
fonem, (3) pembalikan dengan
Yang
dimaksud
jargon
pengurangan fonem, dan lain-lain.
yang berbentuk singkatan akronim
adalah
jargon
yang
dibentuk
E. Jargon
dengan cara memendekkan suatu
Bahasa
kata dengan cara menanggalkan
Bahasa Madura
beberapa bagian yang terdapat
Sebagai Bentuk
dalam
Jargon
Variasi
Tindak
Tutur
merupakan
variasi
dalam kata tersebut. Bagian yang
dialek sosial yang digunakan secara
dihilangkan
terbatas
bentuk
biasanya
vokal,
bentuk-
dan
oleh
kelompok
profesi
yang
tertentu dan lingkungan tertentu pula.
dipertahankan adalah konsonan
Orang yang bukan kelompoknya tidak
awal pada masing-masing suku
mengerti dan memahami terhadap
kata.
ungkapan-ungkapan yang digunakan
Sedangkan
jargon
yang
berbentuk akronim adalah jargon
dalam interaksi antar anggota dalam
kelompok
tersebut,
meskipun
singkatan yang dibentuk dengan
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
171
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
ungkapan-ungkapan tersebut bukan
bervariasi. Fungsi jargon sebagai
rahasia.
tindak tutur dapat dilihat dari pesan
Para
pemakai
umumnya
jargon
secara
menciptakan
istilah
kepentingan
tertentu.
khusus
yang
sengaja
khusus
untuk
Istilah-istilah
berupa
jargon
komunikasinya.
tersebut
Pesan
komunikasi
diungkapkan
menggunakan
dengan
bahasa
rahasia.
Kerahasiaan jargon digunakan dalam
komunikasi
sesama
anggota
digunakan kelompok minoritas disaat
kelompoknya, dan bahkan digunakan
berkomunikasi
sesama
pula dalam berkomunikasi dengan
anggota kelompoknya. Sebab makna
masyarakat di luar kelompoknya..
jargon
penggunaan
dengan
yang
dituturkan
biasanya
hanya dapat dimengerti oleh antar
masyarakat
anggota
jargon
di
luar
terhadap
kelompoknya
kelompoknya
saja.
biasanya kurang efektif karena pada
masyarakat
diluar
umumnya mereka tidak memahami
kelompok sosial ini sama sekali tidak
maknanya, sehingga fungsi jargon
memahami, karena kelompok sosial
dalam hal ini kurang komunikatif.
ini
dengan
Fungsi jargon sangat efektif apabila
kelompok luar selalu menggunakan
dipakai sesama anggota kelompok
bahasa
masyarakat
Sedangkan
kalau
berkomunikasi
yang
umum
dipakai
masyarakat luas.
dapat
lepas
dari
sifat
kedinamisan yang dimiliki bahasa.
Kedinamisan
bahasa
adanya
perkembangan
bahasa,
yang
perkembangan
semua
memiliki
pemahaman yang sama terhadap
Kreativitas penciptaan jargon
tidak
yang
menuntut
sejalan
dalam
dengan
masyarakatnya.
sangat
bergantung
Ini
pada
makna
jargon
tersebut
misalnya
sesama masyarakat nelayan.
Sehubungan dengan fungsi
ini, Searle dalam Petada (1990:5-7)
mengelompokkan
khususnya
tindak
lokasi
tutur
berdasarkan
tindakan yang dilakukan dalam suatu
pertuturan
adalah
(1)
tindak
kebutuhan dan kehendak masyarakat
representatif, (2) tindak direktif, (3)
pemakainya. Setiap penutur bahasa
tindak komosif, (4) tindak ekspresif,
dapat mengungkapkan keinginannya
dan (5) tindak deklaratif. Dengan
dengan memilih variasi bahasa yang
demikian, jargon sebagai tindak tutur
ada sesuai dengan kepentingan dan
masyarakat nelayan dalam interaksi
fungsinya dalam melakukan interaksi
sosialnya
sosial antar anggota kelompok.
representatif, derektif, komosif, dan
Jargon sebagai bentuk variasi
memiliki
deklaratif. Untuk memperjelas fungsi
bahasa dalam tindak tutur bahasa
bahasa
Madura sebagaimana bahasa lainnya
dideskripsikan
memiliki
berikut.
172
fungsi
bahasa
sangat
fungsi
di
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
atas
selanjutnya
uraiannya
sebagai
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
Pertama, fungsi representatif
adalah
fungsi
bahasa
terima kasih, memuji, mengkritik atau
yang
menyindir, memaki, pengungkapan
berorentasi pada cara menyampaikan
rasa kecewa/ gembira, suka/ tidak
suatu hal atau masalah oleh seorang
suka. Pernyataan ekspresif dapat
penutur
menggunakan
diterima sebagai suatu yang wajar
proposi tertentu, sehingga mewakili
dalam bahasa tertentu, tetapi tidak
ekspresi
wajar dalam bahasa lainnya.
dengan
kebenaran
dari
sesuatu
yang disampaikannya. Abdul Wahab,
fungsi
ini
disebut
fungsi
informasional.
Berdasarkan uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa penutur
dalam berkomunikasi antar anggota
Kedua, fungsi direktif adalah
kelompok
sering
menggunakan
fungsi suatu tuturan yang bermuatan
bentuk jargon adalah sebagai bentuk
dorongan
(lawan
solidaritas antar anggota kelompok
bicaranya) untuk melakukan sesuatu,
sosialnya, sehingga mereka berusaha
misalnya
secara kreatif menciptakan jargon
bagi
penutur
memohon,
memerintah,
mendesak, menentang, dan meminta.
dengan
Karakteristik dari fungsi ini adalah (1)
digunakan
timbulnya suatu tindakan (baik akan
kelompoknya.
melakukan
anggota
maupun
berhenti
berbagai
secara
bentuk
yang
terbatas
oleh
Orang
yang
kelompok
bukan
mengalami
melakukan sesuatu) sebagai respon
kesulitan untuk memahami terhadap
dari isi tuturan, (2) masing-masing
ungkapan
bahasa mempunyai variasi bentuk-
meskipun
bentuk derektif yang berlainan dan
tersebut
bukan
rahasia,
berkaitan dengan norma sosial, dan
sebagian
jargon
yang
(3) jika suatu tuturan dalam bentuk
merupakan serapan dari kata bahasa
direktif tidak direspon sedemikian
yang secara umum digunakan oleh
rupa
masyarakat secara luas.
maka
ketidak
dapat
pahaman
diduga
terjadi
dalam
proses
komunikasi.
kelompok
tersebut,
ungkapan-ungkapan
karena
diciptakan
F. Deskripsi Jargon Bahasa Madura
Ketiga, fungsi komisif adalah
pada Masyarakat Nelayan Pantura
menuntut tanggung jawab penutur
Memperhatikan
definisi
untuk melakukan sesuatu, misalnya
jargon, yaitu wujud variasi bahasa
berjanji,
yang
mengancam,
menawarkan,
bersumpah,
menjamin,
dan
sejenisnya..
Keempat,
adalah
pemakainya
terbatas
pada
kelompok-kelompok sosial tertentu.
Istilah-istilah yang dipakai sering tidak
fungsi
mengekspresikan
ekspresif
dimengerti oleh masyarakat umum
sikap
dam masyarakat di luar kelompoknya.
psikologis penutur terhadap sesuatu,
Kelompok
pemakai
jargon
ini
misalnya permintaan maaf, ucapan
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
173
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
biasanya menggunakan istilah-istilah
22. Pojhur
khusus namun tidak bersifat rahasia.
èntar
prappa’en
komarangan.
1.
Rèya nyamana messin lari cong!.
23. Pas sajân angèn tongghârâh!!
2.
Tang jhârmuḍhi karè sakè’ bâri’.
24. Mon aèng surung mabu’ kakè.
3.
Messin
25. Ènga’ satèa rèh pettengan.
Jènsèt
satèya
larang
kèya?.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pada kalimat pertama jargon
Pajâng
pursin
rè
bâk
powa
bahasa Madura terletak pada kata
polana la alpo’.
benda yakni kata messin lari yang
Mon jhâmpang rèya èangghui
mengandung
pajâng.
gunakan untuk mempercepat laju
Mon malem, mon ta’ nagngghui
perahu, messin lari juga biasa disebut
sukle ta’ paddhâng jhoko’en.
dengan
Jiya kèr-takèr cong, mon ollè
mesin
ma’lè padhâ ètaker.
perahu mengejar sekumpulan ikan
Yâ prao mon terro ta’ buruâh
yang sedang berlari atau sering juga
èberri’ mangghâr.
digunakan untuk mengejar perahu
Makè
ojhân
klambhina
ta’
kèra
jâ’rèng
arti mesin
messin
ini
tèmes
dugunakan
yang
di
biasanya
pada
saat
bâcca
yang lain. Selain itu, messin lari juga
èsabâ’
harganya sangat mahal sehingga
èsanggan.
pemilik
perahu
menggunakannya
10. Malemma ta’ ollè makè nyolo.
dengan hati-hati. Dari 10 informan
11. Nyarè bhurâ’ân ta’ ollè apa.
yang penulis datangi hampir semua
12. Pola lakghu’ ollè rèng alèrèp.
80
13. Iyâ! Bâḍâ sè ngoca’ nyambhâng.
messin lari karena menurut mereka
14. Bâri’
ungkapan
pandhighâ
sakonnè’
sè
noro’ jâ rèng aḍâ sè ajhâghâ’ân.
15. Mon majâng malem kèng ta’
ngangghui
lampu
ènyamaih
bhurâ’ân.
menggunakan
yang
gâḍângan.
istilah
pas
untuk
mengistilahkan mesin tersebut adalah
messin lari karena digunakan saat
perahu melaju kencang.
Sedangkan
16. Satèya ta’ patè osom orèng alako
17. Kadhâng
persen
kalimat
yang
kedua juga termasuk dalam kata
benda yakni kata jhârmudhi yang
nyambhâng
sambi
ngancèt.
mengandung
tugasnya
arti
pekerja
memegang
settir
pancer,
19. Kadhâng mon ta’ nyapo’ pas
salah satu dari pekerja yang ikut
20. Mon ollè sa guthung èbâng la
bânnya’.
21. Biasana mon kajhâmbhângan.
sendiri
atau
18. Mon ollè è jhuwâl ka bhâlinan.
nyellang prao laèn.
jhârmudhi
yang
adalah
nelayan hanya saja dia memiliki
perang ganda atau memiliki tugas
tambahan
sebagai
seorang
pemegang
kendali
perahu.
Sementara itu, apabila perahunya
174
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
mendapatkan hasil tangkapan yang
sobek sehingga cara penggunaanya
banyak
harus sangat hati-hati.
maka
jhârmudhi
mendapatkan tambahan dari hasil
Sedangkan
pada
kalimat
kerja yang dilakukannya sehingga
kelima terdapat kata jhâmpang yang
meskipun
mengandung
sama-sama
angota
arti
talit
untuk
nelayan hasil yang didapatkannya
mempercepat laju jala saat ditarik,
berbeda
selain itu jhâmpang juga berfungsi
dengan
teman-temannya
yang lain.
untuk membantu meringankan beban
Kalimat yang ketiga adalah
para pekerja pada saat menarik jala
kata messin jènsèt adalah sejenis
jhâmpang
mesin
saat
jhâmpang adâ’ dan ada jhâmpang
menghidupkan lampu, messin jènsèt
buḍi, alat ini juga berfungsi menbantu
juga menirukan salah satu mesin
apabila jala yang digunakan kurang
yang berada diperahu nelayan yang
pada saat menangkap ikan.
yang
digunakan
sangat dibutuhkan karena mesin ini
memiliki
peran
Kata
dua
jenis,
kerja
ada
selanjutnya
apabila
terdapat pada kalimat keenam yakni
nelayan hendak melakukan pekerjaan
kata suklè adalah sejenis lampu
dimalam hari, karena ditengah-tengah
besar yang digunakan nelayan pada
laut
bisa
malam hari dan biasanya lampu ini
memberikan cahaya bagi nelayan
sinarnya bisa sampai ke dasar laut,
sehingga mesin ini sangat diperlukan.
suklè juga ada dua macam (1) suklè
tidak
ada
Sementara
penting
ada
listrik
yang
pajâng
khusus perahu yang berfungsi untuk
pursin merupakan kata benda yang
memberikan cahaya atau menyinari
memiliki arti jala yang digunakan oleh
perahu pada saat nelayan bekerja
nelayan. Banyak jenis
yang
dimalam hari selain untuk menyinari
terdapat dalam perahu serta alat
perahu benda ini juga digunakan
digunakan untuk menangkap ikan
untuk memberi tanda kepada teman-
dilaut, pajâng pursin adalah alat satu-
teman nelayan yang lain, baik itu
satunya yang menjadi ciri khas atau
pertanda
benda yang keberadaanya tidak bisa
buruk, (1)
digantikan oleh alat lain, karena
laut adalah lampu yang berfungsi
dengan adanya alat ini baru bisa
untuk menarik ikan agar berkumpul
dikatakan bahwa ada proses nelayan.
serta digunakan sebagai pertanda
pajâng
diletakkan
bahwa daerah tersebut sudah dimiliki
disamping kiri perahu nelayan untuk
orang lain dan ini ditaruh di messin
memudahkan pada saat dilempar
jènsèt.
kelaut untuk menangkap ikan serta
Sementara kalimat ketujuh
tergolong juga dalam kata benda
yakni kata ker-taker kata ini adalah
pursin
kata
ini
jala
pajâng pursin ini sangat rawan sekali
baik
ataupun
pertanda
suklè khusus ditaruh di
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
175
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
sejenis benda yang digunakan
nelayan pada saat menakar hasil
tangkapan
agar
tidak
ada
perselisihan dalam takaran, ker-taker
terbuat dari anyaman bambu yang
memiliki sifat hanya bisa digunakan
untuk benda padat bukan benda cair,
selain sebagai tempat penakaran ini
juga berfungsi sebagai tempat
penyimpanan ikan apabila tempat
yang tersedia tidak mencukupi.
Sedangkan kata mangghâr
adalah tali yang digunakan pada saat
perahu berhenti baik itu di pantai
ataupun
ditenganh-tengan
laut,
mangghâr adalah tali yang paling
besar yang ada di dalam perahu serta
memiliki
panjang
200
meter,
mangghâr
berasal
dari
kata
manggher yang dalam bahasa
Indonesia dikenal dengan kata
mengikat. Kata benda berikutnya
terdapat pada kalimat kesembilan
yakni kata sanggan tempat yang
digunakan untuk berteduh serta
penyimpanan barang-barang saat
turun hujan, biasanya sanggan ini
berada diatas perahu yang ditutupi
serta bisa digunakan untuk tidur.
Kalimat berikutnya adalah
kalimat yang tergolong dalam kata
kerja yakni kata nyolo yang memiliki
makna
bahwa
nelayan
pergi
menangkap ikan pada malam hari,
biasanya mencari ikan pada tanggal
17 s.d. 08 pada saat bulan tidak ada
bulan,
sedangkan
cara
penangkapannya sangat unik yakni
menggunakan lampu bangkra’ yang
ditinggalkan
beberapa
jam,
semantara
perahunya
mencari
176
nelayan ditempat lain, setelah itu
apabia sudah ada ikan yang banyak
atau berkerumun maka perahunya
kembali lagi untuk menangkap ikan
yang sudah ada tersebut. Lain halnya
dengan kata bhurâ’ân. Bhurâ’ân
berasal dari kata bhurâ yang memiliki
arti têra’ atau terrang, sementara
dalam masyarakat nelayan bhurâ’ân
memiliki makna nelayan dimalam hari
hanya saja perbedaanya kalau
bhurâ’ân nelayan tidak menggunakan
lampu,
proses
pencariannyapun
sangat unik yakni perahu yang
mencari ikan semua lampu dimatikan
dan tidak boleh ada salah satu
lampupun yang hidup, dengan
demikian pergerakan ikan yang ada
di laut akan jelas kelihatan.
Sementara nelayan di siang
hari dinamakan alèrèp, biasanya
nelayan berangkat ke laut pada waktu
pagi kira-kira jam 4 pagi dan
pulangnya jam 6 sore, serta apabila
tidak mendapatkan ikan waktu
nelayan pulang lebih awal kira-kira
jam 12 siang. Lain halnya dengan
kata nyambhâng juga dinamakan
nelayan pada siang hari, tapi
perbedaanya
terletak
pada
pemberangkatannya, kalau berangkat
jam 12 siang kalau pulang jam 8
malam, serta proses pencarian
ikannya-pun berbeda, kalau alèrèp
hampir sama dengan nyolo karena
meninggalkan umpan dilaut untuk
menarik ikan hanya saja tidak
menggunakan lampu karena disiang
hari, sementara nyambhâng mencari
ikan dengan tidak menggunakan
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
umpan, tetapi mencari langsung
pergerakan ikan yang ada dilaut.
Kalimat berikutnya terdapat
kata pandhighâ adalah sebutan
kepada anggota nelayan, jumlah
maksimal pandhighâ dalam satu
perahu sebanyak 40 orang dan
minimal
17
orang,
sebelum
pandhighâ berangkat nelayan ada
yang
namanya
ajhâghâ’ân,
ajhâghâ’ân adalah pekerjaan yang di
lakukan oleh salah satu anggota
nelayan
yang
bertugas
memberitahukan kepada anggota
yang lain kalau tiba waktunya nelayan
atau berangkat bekerja.
Satèya ta’ patè osom orèng
alako gâḍângan adalah termasuk ke
dalam kata kerja, karena terdapat
kata gâdângan yang memiliki arti
bahwa sekarang tidak banyak orang
yang nelayan dimalam hari karena
cuaca yang sedang buruk, kata kerja
berikutnya terdapat pada kalimat ke
tujuh
belas
yakni
kadhâng
nyambhâng sambi ngancèt maksud
kalimat di atas adalah pekerjaan yang
dilakukan
oleh
nelayan
selain
menggunakan jala besar untuk
menangkap ikan mereka sesekali
menggunakan
waktu
luangnya
dangan ngancèt maksud dari kata ini
adalah memancing di atas perahu
pada saat nelayan siang atau biasa di
sebut dengan nyambhâng.
Kata
kerja
selanjutnya
terdapat pada kalimat ke delapan
belas yakni kata bhâlinan kata ini
memiliki makna pekerjaan jual beli
ikan di tengah-tengah laut yang
dilakukan oleh nelayan yang apabila
hasil tangkapannya melebihi batas,
sementara perahu yang membelinya
dinamakan paroh bhâlinan. Untuk
daerah Bandaran dan sekitarnya
paroh bhâlinan ini adalah perahu
yang datang lansung dari jawa untuk
membeli ikan di laut lansung,
alasannya karena kalau membeli
langsung dari nelayan yang ada dilaut
harganya lebih murah bahkan bisa
sepuluh kali lipat lebih murah
dibandingkan di pasar, selain itu ikan
yang dibeli langsung di laut akan
lebih segar karena masih baru.
Sedangkan kata nyellang
adalah kata yang memiliki arti
pekerjaan yang dilakukan oleh salah
satu anggota nelayan apabila dia
terlambat dan ditinggalkan oleh
perahu yang biasanya dia ikut, dan
dia ikut perahu lain.
Sementara
itu,
kalimat
berikutnya adalah jargon bahasa
Madura
yang
digunakan
oleh
masyarakat nelayan pada kata benda
yakni terdapat pada kalimat ke dua
puluh yakni pada kata guthung
adalah tempat ikan yang digunakan
pada saat
hasil tangkapannya
banyak, ada beberapa sebutan atau
benda-benda yang digunakan oleh
neyan sebagai tempat penyimpanan
ikan, yang paling besar dinamakan
pètak stiap perahu memiliki pètak
yang jumlahnya hampir sama yakni
sebanyak 10 pètak tapi yang sering
digunakan
sebanyak
5
buah
selanjutnya
baskèt
alat
yang
digunakan untuk menyimpan ikan dan
masyarakat di luar nelayan biasanya
menyebut bak, rènjhing tempat ikan
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
177
JARGON BAHASA MADURA PADA MASYARAKAT NELAYAN PANTURA
Moh. Hafid Effendy
yang terbuat dari bambu yang
ukurannya
sangat
besar
dan
biasanya digunakan apabila ikan hasil
tangkapannya melebihi batas.
Selain kata benda dan kata
kerja terdapat pula kata sifat yang
digunakan oleh masyarakat nelayan
salah satunya terdapat pada kalimat
ke duapuluh satu yakni kata
kajhâmbhângan memiliki arti bahwa
air tenang dan pada saat itulah
semua nelayan berlayar mencari ikan
dilaut,
lain halnya dengan kata
komarangan yang memilki arti air
surut, sementara tongghârâh adalah
sejenis angin yang di takuti oleh
seluruh nelayan karena angin ini
merupakan angin yang palig besar,
sehingga apabila tiba waktunya angin
tongghârâh semua nelayan tidak
berani
keluar
atau
bekerja.
Sementara kalimat ke duapuluh
empat juga termasuk kedalam kata
sifat yakni kata surung atau air
pasang, serata kalimat terakhir
adalah kata pettengan di mana
waktunya nelayan bekerja untuk
mencari nafkah di laut.
Dari hasil paparan data di
atas, beberapa kata yang terjaring,
yang tergolong dalam kata benda
sebanyak lima puluh lima kata, yang
tergolong kata kerja sebanyak tiga
puluh lima kata, dan yang tergolong
kata sifat sebanyak dua puluh dua
kata. Dengan demikian, dapat
disintesiskan bahwa kata yang
digunakan oleh masyarakat nelayan
Desa Pasean Tlonto raja mayoritas
menggunakan kata benda.
178
Daftar Rujukan
Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur
Penelitian
Suatu
Pengantar
Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Ali,
Muhammad. 1985. Penelitian
Pendidikan
Prosedur
dan
Strategi. Bandung: Angkasa.
Ibrahim,
Abd.
Syukur.
1995.
Sosiolinguistik: Sajian, Tujuan,
Pendekatan,
dan
Problem.
Surabaya: Usaha Nasional.
Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya
Bahasa.
Jakarta:
Yayasan
Kanisius.
Kemendiknas. 2008. Ejaan Bahasa
Madura yang Disempurnakan.
Surabaya:Balai
Bahasa
Surabaya.
Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik.
Bandung: Angkasa.
Rani, Abdul. 2004. Analisis Wacana:
Sebuah Kajian Bahasa dalam
Pemakaiannya.
Malang:
Banyumedia Publishing.
Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik
Umum. Yogyakarta: PT. Tiara
Wacana.
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Teori
Belajar
Bahasa.
Bandung:
Angkasa.
Verhaar, J.W.M. 2001. Asas-asas
Linguistik Umum. Yogyakarta:
UGM.
OKARA, Vol. II, Tahun 6, November 2011
Download