5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Defenisi Ilmu dan

advertisement
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Defenisi
Ilmu dan pengetahuan adalah dua buah kelebihan manusia dibanding dengan
makhluk lain ciptaan Allah. Dengan pengetahuan (knowledge) maka manusia dapat
mengetahui apa saja tentang alam dan yang lainnya. Manusia dapat mengajukan
pertanyaan “Why dan How”, untuk menjawabnya dapat digunakan ilmu (science).
Menurut Sigit (1999) fungsi ilmu adalah untuk:
Mengerti dan memahami (to understand) suatu masalah yang sedang dihadapi.
Menerangkan atau menjelaskan (to explain) masalah atau fenomena yang sedang terjadi.
Meramal (to predict) suatu kondisi yang akan terjadi bila masalah tidak dicegah atau
diatasi dengan sebaik-baiknya. Menguasai (to control) bidang profesi sehingga dapat
berkontribusi untuk kesejahteraan manusia. Keberhasilan (to be success) dalam
menjalankan tugas (Suyanto, 2008).
Pengetahuan juga merupakan hasil “tahu”, dan terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Engindraan terjadi melalui panca indra
manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
5
Universitas Sumatera Utara
6
Pengetahuan merupakab proses belajar dengan menggunakan panca indra yang
dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan
keterampilan (Hidayat, 2005).
Orang yang tahu disebut mempunyai pengetahuan. Jadi pengetahuan merupakan
tak lain dari hasil tahu. Ada dua macam pengetahuan, yaitu :
a. Pengetahuan khusus yaitu mengenai yang satu saja.
b. Pengetahuan umum yaitu yang berlaku bagi seluruh macam dan masing –
masing macamnya.
Baik pengetahuan umum, maupun pengetahuan khusus, keduanya menjadi milik
manusia
berlandaskan
pengalaman
sendiri
ataupun
pengalaman
orang
lain
(Poedjawijatna, 2004).
2. Tingkat pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkat,
yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu yang diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang diterima. Oleh karena itu, “tahu” merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut
secara jelas benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus
Universitas Sumatera Utara
7
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (rill).
d. Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen – kompenen, tetapi masih di dalam suatu struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sam lain.
e. Sentesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suat kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungi bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulassi
baru dari fomulasi – formulasi yang sudah ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian ini
berdasarkan suatu kriteria yang tertentu sendiri atau menggunakan kriteria –
kriteria yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden
(Notoatmodjo, 2003).
Universitas Sumatera Utara
8
B. Persalinan
1. Defenisi
Persalinan adalah akhir kehamilan dan titik dimulainya kehidupan di luar rahim
bagi bayi baru lahir (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2005). Persalinan merupakan proses
untuk mendorong keluar (ekspulsi) hasil pembuahan dari dalam uterus lewat vagina ke
dunia luar. Normalnya, proses ini berlangsung pada suatu saat ketika uterus tidak dapat
tumbuh lebih besar lagi, ketika janin sudah cukup matang untuk dapat hidup lahir rahim
(Farrer, 2001).
Persalinan juga merupakan suatu proses yang terjadi pada beberapa jam terakhir
kehamilan ditandai dengan kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi serviks dan
mendorong janin melalui jalan lahir. Proses ini mempunyai tahap-tahap untuk melahirkan
bayi sampai ibu kembali seperti keadaan semula (Cunningham, 2006).
2. Tanda-tanda Persalinan
Pada primigravida akan terlihat pada kehamilan 36 minggu sementara pada
multipara baru tampak setelah persalinan dimulai, kepala janin terbenam ke dalam rongga
panggul karena berkurangnya tempat di dalam uterus dan sedikit melebarnya simfisis.
Keadaan ini sering meringankan keluhan pernafasan. Akan tetapi akibat tekanan kepala
janin pada kandung kemih menyebabkan sering buang air kecil. Ibu mengeluh nyeri yang
menetap dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan, perasaan terganggu yang dimulai
dari bagian punggung dan kemudian menyebar di sekitar abdomen bawah.. Lendir (sering
kali mengandung bercak darah) keluar dari vagina menunjukkan bahwa serviks sudah
mulai berdilatasi, dan ketuban pecah dengan spontan (Farrer, 2001).
Universitas Sumatera Utara
9
3. Persalinan normal
Menurut WHO (World Health Organization) persalinan normal dapat
didefinisikan sebagai awitan spontan, berisiko rendah pada awal persalinan dan tetap
demikian sepanjang persalinan dan pelahiran. Janin lahir spontan dalam posisi verteks
pada usia kehamilan antara 37 sampai 42 minggu. Setelah kelahiran, ibu dan bayi dalam
kondisi yang baik (Burhan, 2003).
a. Tahap-tahap di dalam persalinan adalah sebagai berikut:
Tahap pertama dalam persalinan ditetapkan sebagai tahap yang berlangsung sejak
terjadi kontraksi uterus yang teratur sampai dilatasi serviks lengkap (10 cm). Tahap
kedua persalinan berlangsung sejak dilatasi serviks lengkap sampai janin lahir. Tahap
ketiga persalinan berlangsung sejak janin lahir sampai plasenta lahir. Tahap keempat
persalinan ditetapkan berlangsung kira-kira dua jam setelah plasenta lahir (Bobak,
Lowdermilk & Jensen, 2005).
b. Nyeri persalinan
Sebagian besar wanita melahirkan mengalami nyeri persalinan. Rasa sakit terjadi
karena adanya aktivitas besar di dalam tubuh guna mengeluarkan bayi. Otot-otot rahim
berkontraksi mendorong bayi keluar. Otot-otot rahim menegang selama kontraksi,
kandung kemih, rektum, tulang belakang, dan tulang pubic menerima tekanan kuat dari
rahim. Berat kepala bayi ketika bergerak ke bawah menuju jalan lahir juga menyebabkan
tekanan sehingga terasa menyakitkan (Farrer, 2001).
Mungkin ibu yang mengeluhkan perasaan terganggu yang dimulai dari bagian
punggung dan kemudian menyebar di sekitar abdomen bawah. Kontraksi uterus yang
Universitas Sumatera Utara
10
terjadi secara teratur yang kadang-kadang disertai nyeri dapat menimbulkan
ketidaknyamanan (Danuatmaja dan Meiliasari, 2004).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rasa nyeri pada persalinan seperti
intensitas dan lamanya kontraksi, besarnya pembukaan mulut rahim, regangan jalan lahir
bagian bawah, umur, banyaknya persalinan, keadaan umum pasien, dan kelelahan. Nyeri
dapat meningkat secara psikologis apabila ibu sendirian, keletihan, haus, lapar, berpikir
tentang nyeri, stres, cemas, takut dan mengasihani diri sendiri. Nyeri juga dapat
berkurang jika ibu ditemani dan didukung oleh orang yang dicintai, cukup istirahat, tetap
makan dan minum pada saat persalinan, menggunakan teknik relaksasi diantara waktu
kontraksi, tidak mengkhawatirkan sesuatu dan berpikir tentang beruntungnya
mendapatkan hadiah dari persalinan yang akan segera muncul (Maulana, 2008)
c. Keadaan emosional ibu di dalam tahap-tahap persalinan:
Pada tahap pertama persalinan secara emosional ibu merasa cemas, tidak pasti,
takut, gembira, lega, atau siap. Ada juga ibu yang merasa tegang menghadapi persalinan.
Pada tahap kedua persalinan secara emosional ibu merasa gelisah, makin sulit tenang dan
santai, makin tegang, tidak dapat berkonsentrasi, makin terpengaruh dengan kondisi yang
sedang terjadi, rasa percaya dirinya mulai goyah, dan merasa sepertinya persalinan tidak
selesai. Tetapi ada juga ibu yang merasa jadi bersemangat karena sudah diperbolehkan
mengejan. Tahap ketiga secara emosi ibu sudah mulai merasakan lega, karena persalinan
sudah hampir selesai, dan pada tahap akhir sudah mulai merasakan haru dan gembira
karena persalinan sudah usai, dan merasa bertambah dekat dengan pasangannya karena
bayi yang baru dilahirkan (Danuatmaja dan meiliasari, 2006).
Universitas Sumatera Utara
11
C. Kecemasan
1. Defenisi
Kecemasan adalah ketakutan yang tidak nyata, suatu perasaan terancam sebagai
tanggapan terhadap sesuatu yang akan dihadapi. Kecemasan untuk perasaan ketakutan
dapat disertai dengan keadaan reaksi kejiwaan (Calhoun dan Acocella, 1990).
Cemas atau takut biasanya merupakan reaksi individu terhadap ancaman
ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya. Kecemasan dan ketakutan
mempunyai fungsi dapat memperingatkan orang akan datangnya bahaya (Suryabrata,
1998).
Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi dialami secara subjektif
dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Kecemasan berbeda dengan rasa
takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Cemas
adalah respons emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas
diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat kecemasan yang parah tidak sejalan
dengan kehidupan (Stuart dan sundeen, 1998).
2.Tanda-tanda umum kecemasan
Tanda atau keluhan dan gejala kecemasan yang ditunjukkan dan dikemukakan
oleh seseorang sangat bervariasi, tergantung dari berat atau tidaknya kecemasan. Secara
umum keluhan yang sering dikemukakan seseorang pada saat mengalami kecemasan
antara lain Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut, takut sendirian, takut
pada keramaian dan banyak orang, gangguan pola tidur dan mimpi – mimpi yang
Universitas Sumatera Utara
12
menegangkan, gangguan konsentrasi dan daya ingat, keluhan-keluhan somatik, misalnya
rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging, berdebar-debar, sesak nafas,
gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain sebagainya (Hawari,
2006).
3. Tingkat kecemasan
Menurut Peplau (1953) kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui
perubahan fisiologis dan perilaku. Intensitas perilaku mengikat sejalan dengan
peningkatan tingkat kecemasan. Berikut adalah tingkat kecemasan :
a. Cemas tingkat ringan: cemas yang normal menjadi bagin dari bagian
sehari-hari
dan
menyebabkan
seseorang
menjadi
waspada
dan
meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar
dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
b. Cemas tingkat sedang: cemas yang memungkinkan seseorang untuk
memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain.
Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat
melakukan sesuatu yang lebih terarah.
c. Cemas tingkat berat: cemas ini sangat mengurangi lahan persepsi seorang.
Individu cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan
spesifik dan tidak dapat berfikir tenteng hal yang lain. Semua perilaku
ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu ini memerlukan banyak
pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
d. Cemas tingkat panik/berat sekali : tingkat panik dari suatu kecemasan
berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian terpecah
Universitas Sumatera Utara
13
dari proporsinya., karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang
mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan
pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Dengan panik,
terjadi peningkatan sktifitas motorik, menurunnya kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan
kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan
dengan kehidupan, dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama,
dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (stuart dan sundeen,
1998).
D. Kecemasan menghadapi dan pada saat persalinan
1. Respon psikologi ibu dalam kehamilan dan persalinan
Smith (1992) berargumen bahwa banyak penelitian psikologis memandang
kehamilan dari perspektif yang positif. Penelitian ini mengambil pengalaman pribadi
wanita selama masa kehamilan, dan berfokus pada kehamilan sebagai suatu transisi
kehidupan, bukan sebagai peristiwa atau penyakit medis. Wanita yang mengaitkan
kecemasan dan kekhawatiran pada saat hamil dapat berlanjut sampai pascanatal
(Henderson dan Jones, 2006).
Beberapa calon ibu tidak berani membayangkan tentang persalinan karena
khawatir kalau bayinya tidak lahir dalam keadaan sehat. Kurang pengetahuan pada
kebanyakan wanita yang hamil untuk pertama kalinya akan mengakibatkan rasa takut dan
cemas, sehingga masa kehamilan kurang menyenangkan, bahkan dapat mempersulit
Universitas Sumatera Utara
14
persalinan sehingga ibu dapat takut dan cemas menghadapi persalinan (Nolan, 2004 dan
Sani, 2001).
Wanita dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi persalinan khususnya
wanita nulipara. Para ibu sebaiknya mempelajari apa yang diperlukan untuk mendukung
kesehatannya selama masa kehamilan dan persalinan. Mereka membaca buku,
menghadiri kelas untuk orang tua, dan berkomunikasi dengan wanita lain. Mereka juga
dapat mencari orang terbaik untuk memberi nasehat, arahan dan perawatan (Bobak,
Lowdermilk & Jensen, 2005, Maulana, 2008).
2. Beberapa faktor penyebab kecemasan ibu bersalin
a. Cemas akan keselamatan janin
Pada fase terakhir pertumbuhan janin berlangsung pada periode tiga bulan
terakhir, calon ibu merasa cemas, mudah tersinggung, tertekan dan gelisah kemudian
pada saat-saat menghadapi persalinan. Calon ibu semakin merasa cemas akan
keselamatan janin (Dagun, 2002).
Kebanyakan pada akhir kehamilan atau saat-saat bersalin ibu khususnya
primigravida dilanda kecemasan tentang melahirkan bayi yang tidak normal atau
meninggal dunia. Kehamilan kadangkala juga berakhir dengan suatu tragedi, seperti lahir
mati. (Nolan, 2004).
Semua wanita hamil harus menyadari kemungkinan alternatif selain kelahiran
anak alamiah, tidak boleh takut akan konsekwensinya. Prosedur tersebut bisa
menyelamatkan jiwa bayi anda atau sekurang-kurangnya memberikan awal kehidupan
yang lebih sehat (Curtis, 1999).
Universitas Sumatera Utara
15
Hasil penelitian Huliana dalam Dariyo (1997) mengatakan bahwa ibu yang akan
menghadapi persalinan dan yang sedang bersalin mengalami kecemasan pada tingkat
cemas sedang, disebabkan karena khawatir dan cemas tentang keselamatan janin yang
dilahirkan, nyeri persalinan atau kekuatan pada saat mengejan pada masa persalinan.
b. Cemas anak lahir cacat
Hampir setiap calon orang tua, khususnya ibu, dihantui dengan kekhawatiran –
kekhawatiran tentang janinnya, terutama di saat-saat bersalin. Perasaan cemas tentang
apa bayi yang dilahirkan normal atau cacat. Ketakutan akan menghasilkan bayi yang
cacat adalah normal saja, selama ketakutannya tidak berlebihan. Hampir semua janin
yang menunjukkan cacat yang berat, meninggal pada waktu dilahirkan (Hall, 2002).
Dalam beberapa tahun yang silam para ahli berkesimpulan cacat pada bayi dapat
disebabkan oleh faktor keturunan dan kebanyakan cacat ini dapat disebabkan oleh
berbagai keadaan selama sembilan bulan. Misalnya saja, banyak bayi yang dilahirkan
dalam keadaan cacat karena si ibu menderita penyakti campak (rubella), dan cacat yang
diwarisi dari kedua orangtuanya terjadi apabila ada kelainan plasma pembawa sifat, yang
mengatur perkembangan bagian-bagian tubuh (Sani, 2001).
Beberapa calon ibu tidak berani membayangkan dan cemas akan persalinan
karena khawatir kalau bayinya tidak lahir dalam keadaan sehat. Kurang pengetahuan
pada kebanyakan wanita yang hamil dan bersalin untuk pertama kalinya akan
mengakibatkan rasa takut dan cemas, sehingga masa kehamilan kurang menyenangkan,
bahkan dapat mempersulit persalinan sehingga ibu dapat takut dan cemas menghadapi
persalinan (Nolan, 2004).
Universitas Sumatera Utara
16
c. Cemas menghadapi nyeri persalinan
Sebagian besar wanita hamil mencemaskan nyeri persalinan, wanita bertanya
akan seperti apa nyerinya, akan seburuk apa keadaannya dan apakah ia dapat
menahannya. Untuk persalinan pertama, timbulnya kecemasan tentang nyeri persalinan
sangat wajar karena sesuatunya adalah pengalaman baru, dan jika rasa nyeri tidak terasa
malah dapat menimbulkan masalah.
Dari sudut pandang evolusi, tampaknya nyeri persalinan bukanlah sesuatu yang
berada di luar kemampuan seorang wanita. Alam menggunakan nyeri untuk beberapa
tujuan yang sangat penting. Nyeri kontraksi yang pertama mengatakan kepada calon ibu
persalinannya sudah dimulai (Nolan, 2004).
3. Efek cemas
Ketakutan, kecemasan, kesendirian, stres atau kemarahan yang berlebihan dapat
menyebabkan pembentukan katekolamin dan menimbulkan kemajuan persalinan
melambat. Wanita yang tidak didukung secara emosional, atau mengalami kesulitan
dalam persalinan yang lalu, dan pengalaman traumatik akan menjumpai persalinan yang
sangat nyeri (Simkin dan Ancheta, 2005).
Cornolly, et al (1978) meneliti hubungan antara kepribadian, kecemasan, dan
nyeri selama persalinan. Nyeri dan tingkat kecemasan dimonitor selama persalinan, tidak
hasilnya tingkat nyeri dan kecemasan meningkat selama persalinan. Ini berarti jika
kecemasan meningkat maka dapat meningkatkan nyeri selama persalinan (Niven, 2002).
Universitas Sumatera Utara
17
Menurut Maher (1966) cemas dapat menyebabkan orang merasa amat sangat,
yang membuat ketakutan amat luas, mempengaruhi untuk berpikir jernih dan
memecahkan masalah (Calhoun dan Acocella, 1990).
4. Kecemasan ibu bersalin
Perasaan takut dan cemas menghadapi persalinan tidak saja terdapat pada diri
seorang wanita yang baru pertama melahirkan tetapi juga yang sudah melahirkan. Kedua
unsur ini dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan fisik dan psikis, sehingga
persalinan dapat berjalan tidak lancar (Sani, 2001).
Banyak wanita nullipara secara aktif mempersiapkan diri untuk mengatasi
kekhawatirannya menghadapi persalinan. Rubin (1975) Sedangkan wanita multipara
memiliki pengalaman tersendiri dalam melahirkan dan bersalin, rasa cemas dapat timbul
akibat kekhawatiran akan proses kelahiran yang aman untuk dirinya dan anaknya. Merilo
(1988) rasa khawatir mungkin juga bisa timbul karena memiliki perasaan yang belum
diselesaikan pada persalinan pertamanya. Wuitchik (1990) mengatakan bahwa rasa cemas
dan khawatir juga dapat timbul pada fase akhir persalinan (Bobak, Lowdermilk dan
Jensen, 2005).
Umur perempuan untuk hamil dan melahirkan memiliki pengaruh yang berbeda
pada kesehatan ibu dan janinnya. Kehamilan dan persalinan di bawah umur 20 tahun
memiliki resiko yang sama tingginya dengan kehamilan umur 35 tahun keatas sehingga
dapat menimbulkan resiko. Usia berkaitan dengan masalah kesehatan, resiko akan
meningkat sejalan dengan usia. Persalinan pada ibu usia tua dapat menimbulkan
Universitas Sumatera Utara
18
kecemasan yang mengakibatkan persalinan yang lebih sulit dan lama (Kasdu, 2005 dan
Curtis, 2000).
Umumnya ibu bersalin mempunyai pertimbangan, mengapa mereka tidak
mempunyai persiapan menghadapi persalinan, misalnya ibu dengan usia di atas 35 tahun
mempunyai resiko tinggi untuk melahirkan. Kecendrungan memiliki anak berturut-turut
dan kehadiran anak ke dua dan ketiga yang terlalu dekat menyebabkan ibu cemas dan
khawatir tidak siap menghadapi persalinan karena jarak yang terlalu dekat (Musbikin,
2007).
Paritas adalah banyaknya frekuensi ibu melahirkan. Kehamilan atau persalinan
pada ibu dengan paritas lima atau lebih dengan kondisi keadaan umur yang kurang baik,
dimana umur biasanya lebih dari 35 tahun sangat meningkatkan untuk terjadinya resiko,
baik pada saat persalinan atau keadaan dan kondisi anak yang dilahirkan (Tara, 2002).
Menurut Lowe ”Self Cofidence Key” (2001) kecemasan yang disebabkan karena
ketidaktahuan tentang persalinan pada ibu primigravida sering terjadi pada masa
persalinan.
Ibu yang melahirkan untuk kedua kalinya mempunyai kecemasan dan
kekhawatiran yang berbeda. Untuk setiap persalinan tidak ada dua persalinan yang sama,
tidak juga bagi wanita yang sama, karena persalinan berbeda bagi setiap wanita. Tidak
seorang pun dapat memperkirakan akan seperti apa jadinya persalinan (Curtis, 2000).
Kecemasan dapat timbul dan meningkat menjadi lebih berat pada ibu pada masa
persalinan dengan usia <20 tahun dan >35 tahun dan ibu primigravida atau yang belum
pernah melahirkan dapat disebabkan karena ketidaktahuan atau kurangya pengetahuan
tentang persalinan dan belum adanya pengalaman bersalin (Priantono, 2003).
Universitas Sumatera Utara
19
Ketakutan,
kecemasan,
stress
atau
kemarahan
yang
berlebihan
dapat
menimbulkan kemajuan persalinan yang lambat. Perasaan lelah, takut, dan putus asa
merupakan akibat dari pra persalinan atau fase laten yang memanjang. Wanita yang tidak
didukung secara emosional, atau memiliki kesulitan dalam persalinan yang lalu dapat
merasa cemas dan takut mengahadapi persalinan, sehingga menyebabakan persalinan
tanpa kemajuan yang berarti dan persalinan yang sangat nyeri (Simkin, et.al, 2005).
Cemas yang terus-menerus juga dapat menyebabkan stres sehingga dapat mengganggu
proses persalinan seperti pendapat Jameson (2002).
Universitas Sumatera Utara
Download