Bab I Pendahuluan

advertisement
 Bab II Tinjauan Teoritis
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
Realisasi PLL (Phase Locked Loop) sebagai modul praktikum
demodulator FM sebelumnya telah pernah dibuat oleh Rizal Septianda
mahasiswa Program Studi Teknik Telekomunikasi tahun 2007. Modul
praktikum demodulator FM menggunakan PLL (Phase Locked Loop) yang
telah dibuat memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Frekuensi kerja carrier ± 20 KHz
Informasi 300-3400 Hz
Menggunakan IC LM555
Panel hanya terdiri dari dua blok diagram
Pada proyek akhir ini penulis membuat sebuah modul praktikum
demodulator FM dengan PLL (Phase Locked Loop) dengan frekuensi carrier
yang lebih tinggi dan dengan panel yang berisi blok lengkap dari tiga blok
diagram PLL (Phase Locked Loop) yaitu Phase Detector, Low Pass Filter
(LPF) dan VCO (Voltage Controlled Oscillator).
2.2
Teori Dasar Modulasi
Modulasi adalah proses menumpangkan sinyal informasi yang
berfrekuensi rendah ke sinyal pembawa yang berfrekuensi tinggi agar dapat
dipancarkan atau dikirimkan melalui media udara (radio)[ 1].
Dalam sistem komunikasi saat ini bila ditinjau dari jenis sinyal
pemodulasinya. Modulasi terdiri dari 2 jenis, yaitu:
Modulasi Analog
Modulasi analog adalah sistem modulasi yang sinyal pemodulasinya adalah
sinyal analog. Modulasi analog memiliki sifat kontinyu seperti modulasi
amplitudo
dan
modulasi
sudut.
Sinyal
analog
bekerja
dengan
mentransmisikan suara dan gambar dalam bentuk gelombang kontinyu
(continous varying). Dua parameter/ karakteristik terpenting yang dimiliki
oleh sinyal analog adalah amplitudo dan frekuensi. Sinyal analog biasanya
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
4
Bab II Tinjauan Teoritis
dinyatakan dengan gelombang sinus, mengingat gelombang sinus
merupakan dasar untuk semua bentuk sinyal analog. Hal ini didasarkan
bahwa berdasarkan analisis fourier, suatu sinyal analog dapat diperoleh dari
perpaduan sejumlah gelombang sinus. Dengan menggunakan sinyal analog,
maka jangkauan transmisi data dapat mencapai jarak yang jauh, tetapi
sinyal ini mudah terpengaruh oleh noise[ 2].
Modulasi Digital
Modulasi digital adalah sistem modulasi yang sinyal pemodulasinya adalah
sinyal digital. Modulasi digital memiliki sifat diskrit seperti modulasi ASK
(Amplitude Shift Keying), FSK (Frequency Shift Keying), PSK (Phase Shift
Keying) (BPSK, QPSK, 8PSK) dan QAM. Sinyal digital merupakan hasil
teknologi yang dapat mengubah signal menjadi kombinasi urutan bilangan 0
dan 1 (juga dengan biner), sehingga tidak mudah terpengaruh oleh derau,
proses informasinya pun mudah, cepat dan akurat, tetapi transmisi dengan
sinyal digital hanya mencapai jarak jangkau pengiriman data yang relatif
dekat[ 2].
2.3
Alasan Modulasi
Ada beberapa alasan mengapa diperlukannya proses modulasi,
diantaranya:
Ukuran antena
Propagasi / perambatan yang efektif, memerlukan ukuran antenna ¼ ½ dari panjang gelombang sinyal yang akan ditransmisikan.
(1)
λ
= panjang gelombang
c
= kecepatan cahaya
f
= frekuensi sinyal suara
Contoh :
Frekuensi sinyal suara: 300-3000 Hz
Ukuran antena : ¼ - ½ ? (pjg gelombang) dari sinyal yg akan
ditransmisikan
Sehingga didapat :
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
5
Bab II Tinjauan Teoritis
= 100 km
λ
= 100 km, sehingga ukuran antena harus ¼ - ½ = 25 – 50 km,
jadi tidak praktis.
Interferensi sinyal
Sinyal-sinyal suara (frekuensinya sama) jika ditransmisikan secara
bersamaan interferensi, dimana sinyal saling tumpang tindih dan
mengganggu satu sama. Dengan modulasi, frekuensi sinyal-sinyal suara
dipindahkan ke wilayah frekuensi yang jauh lebih tinggi, sehingga
dapat ditempatkan pada
daerah-daerah
frekuensi
yang berbeda-
beda[ 6].
2.4
Modulasi Frekuensi
Modulasi Frekuensi dapat didefinisikan sebagai deviasi frekuensi
sesaat sinyal carrier (sinyal pembawa) sesuai dengan amplitude sesaat sinyal
pemodulasi (sinyal informasi). Sinyal pembawa atau sinyal carrier biasanya
berupa gelombang sinusoidal sedangkan sinyal pemodulasi atau sinyal
informasi dapat berupa gelombang apa saja (sinusoidal, kotak, segitiga, gigi
gergaji atau sinyal audio).
Persamaan hasil modulasi frekuensi:
(2)
Dimana:
= Gelombang hasil modulasi frekuensi
= Frekuensi sudut pembawa (rad/s)
= Frekuensi sudut pemodulasi
= Deviasi frekuensi (Hz)
= Frekuensi modulasi (Hz)
= Indeks modulasi frekuensi
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
6
Bab II Tinjauan Teoritis
Skema dari gelombang carrier dengan modulasi frekuensi ditunjukkan
dengan gambar berikut:
Puncak
Pembawa
Sinyal Carrier
Pembawa
Sinyal Audio
Sinusoida
Sinyal FM
Gambar 1 Modulasi Frekuensi
2.4.1
Deviasi Frekuensi
Perubahan frekuensi disebut “Deviasi Frekuensi” atau “Simpangan
Frekuensi (∆f)”. Harga maksimum
ditulis dengan
disebut dengan deviasi frekuensi dan
. Deviasi frekuensi maksimum
maks terjadi saat puncak
posiif dan puncak negatif sinyal informasi.
(3)
(4)
Dan
bisa disebut
, maka:
(5)
(6)
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
7
Bab II Tinjauan Teoritis
2.4.2
Indeks Modulasi
Indeks modulasi FM (m ) merupakan perbandingan antara deviasi
f
frekuensi maksimum dengan frekuensi sinyal pemodulasi.
(7)
Dengan:
= Deviasi frekuensi (Hz)
= Frekuensi modulasi (Hz)
= Indeks modulasi frekuensi
Besarnya indeks modulasi FM dapat dipilih sebesar mungkin sejauh
tersedia bandwidth (lebar bidang) untuk keperluan transmisinya. Biasanya
besarnya indeks modulasi ini akan dimaksimalkan dengan cara mengatur
besarnya deviasi frekuensi maksimal yang diijinkan.
2.4.3 Bandwidth FM
Bandwidth FM menurut fungsi Bessel:
(8)
Dimana:
= jumlah pasangan frekuensi-frekuensi sisi yang masih signifikan
= frekuensi maksimum sinyal pemodulasi (Hz)
Bandwidth FM menurut rumus Carlson:
(9)
Dimana:
= deviasi maksimum gelombang FM
= frekuensi maksimum sinyal informasi
2.5
Demodulator FM
Demodulasi adalah kebalikan dari modulasi, demodulasi adalah
proses memperoleh kembali sinyal informasi dari pembawanya[ 1].
Demodulasi frekuensi adalah sebuah rangkaian yang mengkonversikan
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
8
Bab II Tinjauan Teoritis
perubahan frekuensi yang sangat cepat ke perubahan tegangan linier. Alat
yang digunakan untuk proses demodulasi adalah demodulator. Untuk
frekuensi modulasi, demodulator yang digunakan adalah demodulator FM.
Demodulator FM terdiri dari berbagai jenis, yaitu:
Slope Detector
Round Travis Detector
Quadrature Detector
2.6
Ratio Detector, dll
PLL (Phase Locked Loop)
PLL adalah sebuah sistem yang mensinkronisasikan dan menyesuaikan
osilator satu dengan osilator lainnya dengan membandingkan phasa antara
kedua
sinyal.
PLL
biasanya
digunakan
untuk
frequency
Shyntesis,
membangkitkan clock pada mikrokontroller, membangkitkan frekuensi carrier,
modulator FM, demodulator FM dan lain-lain[5]. PLL sendiri terdiri dari
beberapa bagian yang diantaranya Detektor Phasa, Filter dan VCO.
Berikut ini adalah blok diagram Phase Locked Loop (PLL) secara umum:
Gambar 2 Diagram blok PLL (Phase Locked Loop) secara umum
Oscillator Reference
Osilator referensi ini menghasilkan frekuensi input bagian PLL. Untuk
menjaga agar sistem Phase Loop tetap akurat, maka osilator referensi
harus tetap dalam keadaan stabil. Frekuensi osilator referensi ini
besarnya harus dibuat sama dengan besar frekuensi umpan balik bila
dalam keadaan lock, sehingga bila kedua sinyal tersebut menjadi input
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
9
Bab II Tinjauan Teoritis
detektor phasa maka Detektor phasa dapat membandingkan phasa
kedua dari sinyal tersebut. dari rangkaian Osilator yang mengguankan
sebuah kristal, yang mempunyai frekuensi outputnya sebesar 5kHz.
output rangkaian sama dengan frekuensi kristal. Untuk demodulator
FM, Osilator Referensi berasal dari sinyal FM yang mengandung
informasi.
Maka kapasitor variabel fungsinya untuk menjaga keseimbangan agar
Detektor Phasa
Rangkaian detektor phasa adalah rangkaian yang berfungsi untuk
memperoleh beda phasa dari kedua input yaitu sinyal arus dan sinyal
tegangan. rangkaian ini terdiri dari rangkaian buffer, zero crossing
detector dan ICXOR. Di Rangkaian detektor beda phasa itu D1 dan D2
adalah dioda zener 4.7 Volt. fungsi dari dua dioda itu adalah sebagai
pengaman agar sinyal output yang dilewatkan hanya memiliki
amplitudo sebesar Vzener ditambah Vforward yaitu 4.7 V ditambah
dengan sekitar 0.7 V sama dengan ±5.4 V saja.
Filter
Filter yang digunakan dalam PLL biasanya menggunakan LPF (Low
Pass Filter). Low Pass Filter (LPF) adalah sebuah rangkaian yang
tegangan keluarannya tetap dari DC naik sampai ke suatu frekuensi cutoff fc. Bersama naiknya frekuensi di atas fc, tegangan keluarannya
diperlemah (turun). Low Pass Filter adalah jenis filter yang
melewatkan frekuensi rendah serta meredam atau menahan frekuensi
tinggi. Bentuk respon LPF seperti ditunjukkan gambar 3 di bawah ini.
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
10
Bab II Tinjauan Teoritis
Gambar 3 Respon Frekuensi LPF
VCO
VCO (Voltage Controlled Oscillator) adalah osilator LC yang
frekuensinya bisa dikendalikan dari tegangan yang diberikan pada
varaktornya (lihat gambar b). Varaktor adalah dioda yang bila diberi
tegangan balik akan menjadi kapasitor, dimana nilai kapasitansinya
tergantung dari tegangan yang diberikan padanya. Jadi dengan
mengubah tegangan pada varaktor itu, frekuensi VCO akan berubah.
Sementara itu nilai kapasitansi varaktor (maupun kapasitansi intrinsik
dalam transistor) sangat mudah dipengaruhi oleh suhu. Inilah yang
membuat frekuensi VCO mudah berubah (kurang stabil).
Gambar 4 Rangkaian VCO
PLL menggunakan dua jenis osilator itu (kristal dan VCO)
sedemikian rupa sehingga menghasilkan frekuensi output yang stabil
dan sekaligus mudah diubah-ubah (variabel). Caranya adalah dengan
membagi frekuensi VCO dan kemudian membandingkannya dengan
frekuensi referensi yang berasal dari osilator kristal (gambar d).
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
11
Bab II Tinjauan Teoritis
Dua buah sinyal dikatakan memiliki frekuensi yang sama bila
berubah maka beda phasa antara osilator kristal dan VCO akan
berubah. Perubahan beda phasa ini kemudian oleh detektor phasa
dikonversi menjadi perubahan tegangan error. Tegangan error berupa
deretan pulsa-pulsa ini kemudian dilewatkan ke rangkaian Low Pass
Filter sehingga menjadi tegangan DC yang benar-benar rata.
beda phasa antara keduanya selalu tetap. Bila misalnya frekuensi VCO
Selanjutnya perubahan tegangan DC yang sudah rata ini diberikan pada
varaktor sehingga frekuensi VCO kembali seperti semula. Dengan cara
ini maka frekuensi VCO akan “terkunci” (locked) dan selalu sama
dengan frekuensi osilator kristal. Berhubung osilator kristal sangat
stabil maka frekuensi VCO dengan sendirinya akan ikut stabil. Inilah
prinsip kerja PLL (gambar c).
Gambar 5 Prinsip Kerja Phase Locked Loop (PLL)
Dalam gambar (d) frekuensi referensi (fr) berasal dari osilator
kristal yang telah dibagi (oleh rangkaian pembagi frekuensi) dengan
bilangan pembagi = R. Sementara itu, sebelum dibandingkan dengan
frekuensi referensi (fr), frekuensi output VCO (fo) juga dibagi dengan
bilangan pembagi = N. Pada saat sistem PLL ini dalam keadaan
terkunci (locked) maka fr = fo / N atau dengan kata lain:
(10)
Berdasarkan persamaan ini maka fo akan mudah dibuat variabel
dengan mengubah besarnya bilangan N, dimana N adalah bilangan
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
12
Bab II Tinjauan Teoritis
bulat dan fr adalah satuan terkecil dari perubahan fo. Satuan terkecil ini
sering disebut step. Dengan demikian mudah di dihitung
Bila fr = 100 kHz maka fo = N. 100 kHz.
Bila fr = 10 kHz maka fo = N . 10 kHz
Bila fr = 1 kHz maka fo = N . 1 kHz, dst.
N adalah bilangan bulat, bukan pecahan, dan N bisa bernilai 1
hingga tak berhingga. Dalam praktek umumnya N ditentukan oleh lebar
frekuensi kerja VCO karena tidak ada VCO yang mampu bekerja pada
frekuensi nol hingga tak berhingga.
Kesimpulan penting yang bisa diambil dari sini adalah bahwa
frekuensi output PLL sangat stabil, sestabil kristal. Selain itu, frekuensi
output PLL ini juga dapat diubah-ubah dengan amat mudah, cukup
dengan mengubah besarnya bilangan pembagi (N).
Ketika berdiri sendiri, frekuensi output VCO sangat tidak stabil.
Hal ini disebabkan karena kapasitansi varaktor dan kapasitansi intrinsik
di dalam transistor yang digunakan, sangat dipengaruhi oleh suhu
lingkungan. Bila suhu berubah maka frekuensi VCO akan berubah,
sehingga dinyatakan bahwa frekuensi VCO tidak stabil. Ketidakstabilan frekuensi VCO ini kemudian diatasi dengan sistem PLL.
Perubahan suhu lingkungan umumnya berlangsung sangat
lambat. Ordenya bisa detik, menit atau jam. Perubahan yang lambat ini
cukup mudah diikuti oleh Low Pass Filter (LPF) di dalam PLL sebab
time response dari LPF ini telah sengaja dibuat lambat. Ketika
frekuensi VCO berubah sedemikian cepat maka LPF tidak mampu lagi
mengikuti perubahan itu.
2.6.1
Demodulator FM dengan PLL (Phase Locked Loop)
Salah satu aplikasi dari PLL (Phase Locked Loop) adalah untuk
demodulator FM. PLL FM demodulator atau biasa disebut detektor dapat
dibuat dengan mudah karena kini dalam membuat rangkaian demodulator FM
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
13
Bab II Tinjauan Teoritis
dapat menggunakan IC (Integrated Circuit) yang didalamnya sudah terdapat
beberapa rangkaian seperti detektor fasa dan VCO. Demodulator FM dengan
PLL kini digunakan dalam berbagai jenis peralatan radio.
Demodulator FM dengan PLL memiliki beberapa keuntungan,
diantaranya:
Linearitas:
Linearitas dari PLL demodulator FM diatur oleh tegangan dengan
karakteristik frekuensi VCO dalam PLL. Karakteristik dari VCO dapat
dibuat relatif linear, tingkat distorsi dari PLL demodulasi biasanya sangat
rendah. Tingkat distorsi biasanya sepersepuluh persen.
Biaya manufaktur:
Pembuatan demodulator FM dengan PLL dapat menggunakan Integrated
Circuit (IC). Hanya beberapa komponen eksternal diperlukan, dan tidak
perlu menggunakan induktor sebagai bagian dari rangkaian resonan
untuk VCO sehingga bisa membuat biaya lebih murah. Hal tersebut
membuat PLL sebagai demodulator FM sangat mudah untuk dibuat.
Ibnu Nugraha (091331048)
Laporan Proyek Akhir Tahun 2012
14
Download