analisis politik ekonomi petani dalam struktur

advertisement
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
ANALISIS POLITIK EKONOMI PETANI
DALAM STRUKTUR HUBUNGAN ANTARA
NEGARA DAN PASAR
Mustain Mashud
Dosen FISIP Universitas Airlangga
lulusan Unair (S1) dan UGM (S2)
Abstract
Democratic consolidation, induced in the Third World countries since 1980s,
the state role in the developmental programs is questioned. Because of the
strong economic assumption, there have been almost no political analysis able
to explain the complexity of the state role in the development programs,
especially those in agricultural sector. This paper briefly discusses the
governmental policies in African countries and the position of peasants in the
relationship structure between state and market.
Keywords: monopsoni, exchange rate, peasant, Africa, democratic
consolidation.
Robert Bates, dalam bukunya Markets and States in Tropical Africa:
The Political Basis of Agricultural
Policies (1981) mengajukan pertanyaan awal mengapa intervensi
negara dalam ekonomi negara negara di Afrika menimbulkan
distorsi pasar. Bagaimana distribus i
pasar bisa menimbulkan melemah nya produksi nasional (Why should
reasonable men adopt public policies
that have harmful consequences for
the societies the govern ?).
Pertama, Bates menjawab
berdasarkan dimensi politik. Bahwa
latar belakang kebijakan politiklah
yang diduga mempengaruhi terjadinya krisis pertanian di Afrika. Dengan menggunakan konsep perilaku
birokrasi rasional, ia mengajukan
asumsi bahwa para birokrat adalah
aktor rasional yang berusaha
memaksimalkan kepentingan mereka sendiri. Sebagai aktor rasional,
mereka akan selalu berpikir bahwa
setiap kebijakan yang dikeluarkan
akan
selalu
didasarkan
pada
kepentingan politik mereka sendiri.
Disadari
betul
bahwa
pilihan
kebijakan akan menentukan akibat
tertentu. Dan, kata Bates, inilah
yang memang terjadi di negara negara Afrika.
Pilihan kebijakan publik di
banyak negara Afrika tersebut,
ternyata telah menyebabkan meka nisme pasar tidak berfungsi secara
efektif. Misalnya: harga jual hasil
pertanian petani jauh di bawah
harga
pasar,
subsidi
input
pertanian (justru) lebih banyak
dinikmati oleh petani kaya dan
harga produk manufaktur jauh
77
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
lebih mahal dibanding dengan
produk pertanian.
Pilihan kebijakan yang berpihak pada elit politik, industrialis
kota, elit kota dan petani kaya ini
telah sangat merugikan petani,
menimbulkan disentif petani, dan
menyebab produk pertanian merosot (Policies are designed to secure
advantages for particular interst, to
appease powerful political forces,
and to enhance the capacity of
political regimes to remine in pow er
(Bates, 1981: 5-6).
Berbagai
kebijakan
yang
dipilih dalam mendorong pemba ngunan ekonomi telah mendorong
penguatan posisi kelompok kepen tingan dominan dan inilah yang
mendorong kebijakan itu diperta hankan. Ini membuktikan diperta hankannya kebijakan s eperti itu
dalam kerangka mempertahankan
koalisi dominan: antara pengusaha,
buruh industri, elit ekonomi dan
politik, petani kaya dan pejabat
negara (Bates, 1981: 119 -121).
Para aktor kepentingan, kata
Bates, masing-masing mempunyai
kepentingan yang spesifik. Mereka
mengetahui secara persis apa yang
menjadi kepentingan mereka. Para
elit politik menerapkan kebijakan
yang
memenuhi
kepentingan
mereka sendiri dan kepentingan
kelompok-kelompok kuat dalam
masyarakat; dan mereka yang tidak
termasuk dalam koalisi itu tidak
dapat berbuat banyak karena tidak
mampu menentang atau memang
ditindas.
Fokus perhatian Bates adalah
kebijakan terhadap harga input
pertanian
dan
harga
produk
78
pertanian (baik ekspor maupun
pangan). Melalui Badan Pemasaran
(peninggalan kolonial) negara mencari keuntungan besar dengan
membeli produk pertanian yang
sangat rendah. Dari keuntungan
ini, dana dipergunakan untuk
pembangunan industrialisasi dan
anggaran belanja negara. Selain itu,
dengan menekan harga produk
pertanian yang murah juga menyenangkan warga kota termasuk
“menekan buruh industri kota”
untuk tidak melakukan tuntutan
kenaikan
upah.
Dengan
nilai
produk
pertanian
yang
tidak
menguntungkan, maka petani juga
tidak tertarik meningkatkan, bah kan cenderung mengurangi, produk
pertaniannya. Dalam konteks Ini
menunjukkan perilaku ekonomi
petani pun cukup rasional juga.
Menurut Bates, pemerintah pemerintah di Afrika menerapkan
kebijakan pertanian yang pro-elit
kota demi keuntungan politik
mereka sendiri. Bates menekankan
gagasannya sebagai berikut: (1)
sumber daya yang diperoleh dari
badan
pemasaran
pemerintah
diberikan
kepada
kelompok kelompok kuat seperti elit politik
puncak, industrialis kota dan para
birokrat pemerintah yang mengelola
pasar pertanian (2) Harga produk
pertanian ditekan rendah demi
memenuhi kepentingan konsumen
kota yang secara politik sulit
dikendalikan; (3) Pemerintah melin dungi industri kota yang tidak
efisien dari persaingan. Meski hal
ini
merugikan
harga
produk
pertanian di pasar lokal, namun
bisa memperkuat hubungan elit
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
politik dan elit ekonomi kota. Itulah
sebabnya
mengapa
kebijakan
pertanian
distortif
seperti
itu
dipertahankan
karena
bisa
memenuhi
kepentingan
koalisi
dominan (Bates, 1987: 97). Yaitu
koalisi yang terdiri dari majikan dan
buruh perusahaan industri, elit
ekonomi dan politik, petani kaya
dan pejabat pemerintah (Bates,
1987: 121).
Negara
perkembangannya, negara justru
kian intensif menggali dana dari
petani melalui: pajak, penetapan
harga pertanian yang rendah dan
tanpa ada kompensasi apapun dari
petani
Dengan demikian, Dewan
Pemasaran menjadi instrumen redistribusi pendapatan dari pertanian untuk kepentingan industri.
Dewan
Pemasaran
Investor dan
Industri Manufaktur
Kota
Dalam sistem ekonomi di
negara-negara Afrika ada lembaga
monopsoni (warisan kolonial, ketika
itu untuk kepentingan petani,
namun ketika dimanfaatkan negara
untuk
mencari dana)
dengan
kewenangan publiknya ia bebas
menentukan harga (membeli harga
lokal dan menjual dengan harga
pasaran ekspor) sehingga keuntung annya surplus sampai 90%.
Selain
pola
monopsoni,
negara juga mempunyai Badan
Pemasaran yang dipakai sebagai
alat menggali dana politik, pribadi
dari pada untuk petani. Semula
dana
ini direncanakan untuk
memberikan
bantuan
kepada
petani, tetapi diselewengkan untuk
kelompok industri di kota. Dalam




Penyediaan bantuan
modal
Pinjaman lunak
Menjamin bahanbahan produksi dari
hasil pertanian
Dan, sifatnya resmi
PETANI
Dana dari petani itu, oleh
negara dipergunakan untuk membantu
industri
kota
melalui
penyediaan bantuan modal, pinja man lunak, penjaminan bahan bahan produksi dari hasil pertanian
dan sifatnya resmi
Selain itu, pemerintah juga
memberikan kebebasan dan bahkan
mensponsori berdirinya perusaha an–perusahaan
pengolah
hasil
pertanian. Perusahaan ini umumnya memproduksi barang produk
pertanian siap pakai/setengah jadi,
dibangun di daerah-daerah, namun
mengabaikan
petani,
berusaha
mempromosikan kepada para petani
akan bisa memberikan nilai tambah
produk pertanian. Dampak langsung dari maraknya perusahaan
79
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
produk pertanian di daerah-daerah
ini
adalah
hancurnya
pasar
tradisional.
Dengan kebijakan seperti ini,
yang diuntungkan bukan hanya
pengusaha kota, industrialis dan
negara, tetapi juga para birokrat.
Para
birokrasi
ternyata
ikut
menikmati eksploitasi petani, yakni
dengan cara mengorganisasikan
pasar, memanipulasi tujuan -tujuan
negara, beaya pemasaran, dan
seterusnya.
Argumentasi Bates terarah,
logis dan benar, namun justru
kelemahannya
terletak
pada
kemulusannya itu? Tanya Mas’oed
pada salah satu artikel dalam
bukunya Politik, Birokrasi dan
Pemba-ngunan (1994). Mengapa,
apakah dunia politik memang
begitu sederhana dan lugas seperti
itu? Misalnya, setiap aktor sosial
mesti mempunyai kepentingan yang
jelas, dan mereka tahu apa
kepentingan mereka.
Elit
politik
menerapkan
kebijakan yang memenuhi kepen tingan
mereka
sendiri
dan
kepentingan kelompok kuat dalam
masyarakat; dan mereka yang tidak
termasuk dalam koalisi tidak dapat
berbuat banyak
karena
tidak
mampu menentang atau memang
ditindas. Argumentasi Bates ini bisa
dikategorikan cukup canggih dan
mulus.
Mengapa
input
pertanian
yang
murah
tidak
bisa
meningkatkan keuntungan dari
kegiatan pertanian dan dengan
demikian meningkatkan investasi
dan produksi? Atul Kohli (1987),
sebagaimana disebutkan Mas’oed
80
(1994),
memberikan
jawaban
hipotetis terhadap pertanyaan Bates
tersebut: (1) Mengaitkan kebijakan
harga pangan dengan kemerosotan
produksi
pertanian.
Kebijakan
harga pangan yang murah telah
menimbulkan
disinsentif
yang
parah
(petani
tidak
tertarik
berproduksi dan ini mengakibatkan
kebijakan subsidi input tidak
berarti apa-apa bagi petani. Untuk
menguji ini diperlukan data tentang
respon relatif output pertanian
terhadap harga input dan output.
Selain itu, juga perlu dibuktikan
bahwa disinsentif yang diciptakan
oleh harga itu secara kuantitatif
lebih signifikan dari pada dampak
subsidi input. Jika ini tak terbukti
(karena tak ada data), maka perlu
mempertimbangkan kemungkinan
jawaban hipotesis kedua.
Hipotesis kedua, keengganan
petani berproduksi karena faktor
kelangkaan teknologi. Perlu dipikir kan tentang kemungkinan kurang
tertariknya petani menerima subsidi
pertanian disebabkan oleh ketidak yakinannya faktor teknologi bisa
meningkatkan produksi pertanian nya?
Mengikuti
Schultz,
Kohli
berpendapat bahwa “low level of
equilibrium”
dalam
pertanian
tradisional telah membuat investasi
baru sulit diharapkan dan karena
itu pertumbuhannya terhambat.
Gagasan Schult yang sederhana ini
telah banyak mendorong diterap kannya kebijakan “revolusi hijau” di
banyak negara dunia ketiga seperti
India,
Meksiko,
Filipina
dan
Indonesia. Paket kebijakan seperti
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
revolusi hijau inilah yang tidak ada
di Afrika (Mas’oed, 1994: 92).
Baik kebijakan harga murah
maupun insentif input dan fak tor
teknologi, hipotesis pertama dan
kedua, adalah sama-sama insentif;
namun mempunyai implikasi politik
dan kebijakan berbeda. Jika yang
diduga sebagai penyebab adalah
distorsi pasar akibat kebijakan
politik, maka implikasi kebijakan
pemerintah harus menghentikan
campur
tangannya
di
pasar.
Sebaliknya, kalau faktor ketiadaan
teknologi sebagai penyebabnya,
maka
implikasi
kebijakannya
adalah justru faktor publik harus
lebih
berperan
dalam
arena
ekonomi.
Meski Bates banyak menyebut negara memberikan subsidi
input pertanian kepada petani,
namun ia tidak menjelaskan sama
sekali tentang bagaimana pengaruh
input pertanian tersebut terhadap
produk pertanian (Bates 1981: 49 54) hanya karena alasan “itu sulit
dilakukan”. Mengapa input pertanian
yang
murah
tidak
bis a
meningkatkan keuntungan dari
kegiatan pertanian dan dengan
demikian meningkatkan investasi
dan produksi? (Mas’oed, 1994:91).
Kohli
(1987:236)
dengan
merujuk Weber (ketika mengkritisi
kaum
liberal
dan
Marxian)
mengemukakan bahwa agar tidak
menerima asumsi yang terlalu
menyederhanakan hubungan anta ra motivasi di balik tindakan
ekonomi dan konsekuensi dari
tindakan itu. Kata Weber, walaupun
kaum Protestan itu berpikir bahwa
yang
mereka
lakukan
adalah
penyelamatan jiwa mereka, ternyata
yang tercipta adalah kapitalisme.
Demikian
halnya
dengan
Hirchman
(1981:23-24),
yang
pernah mengkritik ilmuwan ekonomi pembangunan, karena memegang asumsi yang salah, yaitu
bahwa negara-negara berkembang
hanya punya kepentingan ( interest)
tetapi tidak mempu -nyai nafsu
semangat (passion).
Dari analisis Bates, setidaknya bisa ditarik dalam dua kategori:
pertama
kategori
kepentingan
(interest-oriented), yakni kebijakan
yang mengedepankan korporasi
kepentingan kelompok jaringan elit
kota dan karena itu mengabaikan
masyarakat petani. Kedua, kebijakan yang juga mempertimbangkan
konteks sosial historis perjalanan
bangsa Afrika yang berkehendak
mensejajarkan diri dengan kemaju an negara maju dan pencapaian
kesejahteraan masyarakat. Singkatnya,
faktor idiologi dan pilihan
strategi
pembangunan
ekonomi
merupakan variabel penting yang
mempengaruhi pilihan-pilihan kebijakan ekonomi di Afrika.
Untuk mengetahui berkurang
atau malah bertambahnya peran
pemerintah dalam pembangunan di
Afrika, kata Kohli, perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan pemerintah ketika
melakukan pilihan-pilihan kebijakan (Mas’oed, 1994:93)
Bagaimana elit penguasa dari
suatu masyarakat agraris yang
mengabaikan kepentingan pertanian bisa terus berkuasa? Bates
menjawab bahwa para petani meng gunakan pasar untuk menentang
81
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
negara dengan cara melakukan
kegiatan ekonomi diluar bidang
yang diatur negara; para petani
mengalami kesulitan mengorganisa sikan diri melawan pemerintah
karena begitu banyaknya jumlah
mereka; dan memecah belah oposisi
politik dari masyarakat petani
(Mas’oed, 1994:95).
Analisis Bates untuk Konteks
Problematika Petani di Indonesia
Salah satu faktor penting dalam
buku
Bates
tersebut
adalah
dikemukakannya tentang variabel
kesadaran dan perubahan idiologi
kebijakan para pemimpin (birokrat)
pengambil kebijakan. Kesadaran
para pemimpin di Afrika tentang
semakin
melemahnya
produksi
pertanian akibat pilihan kebijakan
yang pro elit kota di Afrika
sebetulnya mulai muncul. Dalam
konteks ini, Bates menyebutnya
sebagai
kesadaran
idiologi
kebijakan ekonomi di Afrika.
Sebagaimana ia sebutkan
dalam
chapter
6,
khususnya
halaman 97, bahwa “The form of
economic manipulation chosen were
compatible with prevailing economic
doctrines. Many of those who
formulated and implemented the
development program of the new
African states had studied the
theories of the leading development
economist”. Para pemimpin Afrika,
menyadari ada persoalan dengan
doktrin yang mendasari kebijakan
ekonomi yang telah dilakukannya.
Sebuah doktrin tentang teori-teori
awal tentang pembangunan ekonomi yang mendukung kebijakan
82
industrialisasi
substitusi
impor
dengan mengorbankan pertanian.
Doktrin inilah yang selama ini
diposisikan sebagai strategi pembangunan yang rasional (Mas’oed,
1994:99).
Apa yang pernah terjadi di
negara-negara Afrika, sesungguhnya juga pernah, dan bahkan
tengah pula terjadi di Indonesia.
Adanya koalisi dominan, antara
negara (politik), elit kota, birokrat,
industrialis dan petani kaya di desa desa di Afrika, pun ada di
Indonesia. Namun, berbeda dengan
di
Afrika,
pemerintahan
di
Indonesia, khususnya di era orde
baru, dengan cepat menyadari akan
kekeliruan
pilihan
kebijakan
ekonominya sebagai respon dari
krisis pangan di tahun 1960-an.
Menyadari kebijakan ekonominya yang keliru, dengan segera
pemerintah mengeluarkan kebijakan penting di sektor pertanian,
yakni intervensi kebijakan “revolusi
hijau”; suatu kebijakan yang tidak
sempat terpikirkan oleh negara negara di Afrika.
Tetapi pertanyaannya, betulkah strategi modernisasi pertanian
melalui pilihan kebijakan revolusi
hijau telah meningkatkan kesejahteraan petani? Secara makro, harus
diakui, bahwa kebijakan revolusi
hijau itu telah cukup berhasil
mengantarkan Indonesia menjadi
salah satu produsen beras yang
cukup
besar
di
Asia,
atau
setidaknya berhasil berswasembada.
Bahkan
nama
Indonesia
semakin mencuat ketika pemerin tah meneruskannya dengan kebijakan pembangunan melalui mo-
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
dernisasi
yang
mendepankan
pertumbuhan ekonomi, juga telah
mengantarkan Indonesia sebagai
salah “macan Asia’ di bidang
pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pilihan kebijakan
pemerintah tersebut telah menyebabkan
pembangunan
ekonomi
Indonesia tumbuh dengan cepat.
Hal ini setidaknya dapat dilihat dari
indikator makro, tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto
(PDB) antara tahun 1965-1990
mencapai 7 persen per tahun.
Pertumbuhan
ini
mencapai
puncaknya pada periode 1973 1981, yaitu apa yang sering
dikatakan sebagai masa oil boom.
Pada periode pertumbuhan yang
menakjubkan ini, peran pemerintah
terhadap kegiatan ekonomi sangat
dominan.
kaya desa sebagaimana terjadi di
negara-negara Afrika?
Dalam
analisis
politik
ekonomi selalu bertumpu pada
prinsip
basis
struktural
dari
kepentingan itu apa dan terlihat di
mana serta oleh siapa. Hubungan
antara petani dan pasar di atas
merupakan
analisis
kebijakan
negara
yang
sesungguhnya
bermaksud baik, namun dalam
prosesnya menjadi menyimpang dan
atau diselewengkan karena adanya
kepentingan-kepentingan tertentu,
sebagaimana dikemukakan Bates di
muka.
Dalam berhubungan dengan
pasar, posisi petani selalu dalam
posisi tersubordinasi. Dengan pasar
input, semua kebutuhan bahan
Saprotan
(sarana
produksi
pertanian) dipasok oleh sumber
tertentu.
PASAR INPUT
(Saprotan)
PASAR OUTPUT
(Harga jual)
RAKYAT
PETANI
PASAR
KONSUMEN
Namun, bagaimana dengan
kehidupan ekonomi para petani
pedesaan
secara
keseluruhan?
Betulkah akibat pilihan kebijakan di
sekor
pertanian
ini
hanya
menguntungkan kelompok elit kota,
industrialis kota dan para petani
Demikian
halnya,
ketika
panen, akan dijual ke orang (pasar)
tertentu pula. Apalagi, jika kedua
pasar ini (input dan out put)
dikuasai oleh orang sama: monopol i
dan monopsoni.
83
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
Intervensi
negara
yang
bermasud baik membantu petani,
hanya mungkin dilakukan melalui
dua hal: intervensi pasar input dan
intervensi pasar output. Namun,
pemerintah
cenderung
memilih
intervensi dengan cara pertama
(intervensi pasar input) dari pada
output.
Sebab, jika out put semua
orang bisa menjual barang, dengan
harga yang tinggi atas bantuan
pemerintah,
dan
karena
itu
pemerintah tidak bisa memasukkan
kepentingannya. Tetapi, jika cara
pertama dipergunakan, pemerintah
bisa menitipkan kepentingannya
(politik,
sosial,
ekonomi,
dan
sebagainya). Misalnya, yang bisa
mendapatkan subsidi atau bantuan
hanya petani yang …; atau, hanya
mereka yang telah membayar pajak
…, yang telah KB …, dan
seterusnya.
Jadi
intervensi
kebijakan
publik negara yang sesungguhnya
bermaksud baik, menjadi sumber
persoalan, dan dalam kenyataannya
juga menjadi sumber kejengkelan
dan ketidakpuasan petani, karena
adanya titipan-titipan kepentingan
negara.
Apalagi
jika,
titipan
kepentingan itu ditumpangi lagi
oleh kepentingan pihak lain: swasta,
kelompok interest, politik, dan
sebagainya.
Persoalannya menjadi sema kin problematik manakala format
bantuan intervensi negara tersebut
disusun bersamaan dengan paket
kebijakan yang didalamnya terlalu
banyak mengakomodasi kepenting an kelompok-kelompok tertentu
(pasar misalnya). Persoalan inilah
84
yang acapkali menjadi sumber
kemarahan petani dan menyebab kan kegagalan berbagai “paket
kebijakan niat baik” negara tersebut.
Kalaupun seandainya, kebijakan intervensi baik tersebut
dipaketkan tanpa ada kepentingan
yang menumpanginya, keberhasil annya masih dipertanyakan: sebab,
tidak
semua
petani
sudah
mempunyai basis modal (tanah,
pengetahuan, ketrampilan, akses,
dan seterusnya) yang sama, alias
struktur kepemilikan tanah petani
timpang. Jika paket intervensi tetap
diteruskan,
maka
persoalannya
akan sama persis yang terjadi
selama orde baru: yakni paket
kebijakan negara hanya akan
dinikmati oleh sejumlah kecil orang
siap
mengaksesnya;
sementara
sebagian besar petani lain, tidak
bisa.
Yang
terjadi
kemudian,
kesenjangan struktural semakin
melebar.
Kalau persoalannya ada pada
perbedaan akses produksi, lalu
perlukah kebijakan Land Reform?
Tidak semudah itu, sebab kebijakan
ini sungguh sangat kompleks
permasalahannya. Mengapa land
reform di Korea
dan Taiwan
berhasil, sementara di Indonesia
gagal. Sebab, pemilik tanah di
kedua negara itu selain secara
politik lemah, juga ada santunan
dari USA.
Di Korea Selatan misalnya,
pemilik tanah yang akan direform
itu adalah penjajah Jepang yang
kalah perang dan Amerika Serikat
bersedia memberikan santunan ke
Jepang karena tetangga dekatnya
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
(Korea Utara) komunis. Demikian
halnya, di Taiwan, para pemilik
tanah itu adalah orang Cina
daratan, yang komunis, secara
politik lemah dan sekali lagi,
Amerika mau membantu memberikan santunannya.
Di Indonesia, yang mengambil
alih tanah-tanah luas peninggalan
Belanda adalah tentara yang secara
politik sangat kuat hingga sekarang
tanah-tanah tersebut masih dikua sai tentara dan sangat sulit dibebaskan apalagi direform.
Nasib Petani Di Era Reformasi
Sektor pertanian adalah sektor yang
sangat strategis. Pertama, mayoritas
penduduk pelaku pembangunan
yang memerlukan bantuan tinggal
di daerah dan pedesaan atau sektor
ini menguasai hajat hidup 80%
penduduk
Indonesia.
Sebagian
besar atau 50% dari tenaga kerja
juga diserap oleh sektor pertanian.
Kedua, sumber daya alam terletak
di
daerah
pedesaan.
Ketiga,
kegiatan usaha sebagian besar
masyarakat di daerah/desa adalah
di sektor pertanian.
Keempat,
kelembagaan
masyarakat
yang
kooperatif dan masih mapan ada di
daerah. Kelima, produk pertanian
adalah
tahan
terhadap
krisis
ekonomi dan berpeluang baik untuk
ekspor (karet, kopi, coklat, ikan,
dan lain-lain), serta mendukung
pemulihan ekonomi (peningkatan
produksi pangan).
Begitu pun dalam Garis-garis
Besar Haluan Negara (GBHN) baik
GBHN 1983, 1998, dan 1999
disebutkan bahwa agribisnis seba -
gai sektor pembangunan strategis.
Bahkan
dalam
GBHN
1999,
ditegaskan agribisnis adalah bagian
dari strategi pembangunan daerah,
seiring dengan pemantapan otonomi
daerah, khususnya pemberdayaan
masyarakat petani dan nelayan
(Media Indonesia, 3 Maret 2000)
Namun fakta yang ada jauh
berbeda. Pernyataan seperti itu
nyatanya lebih sebagai sekadar
slogan politik. Tidak ada tindakan
serius guna mewujudkan visi dan
tekad
mengembangkan
sektor
pertanian secara luas. Bahkan,
yang terlihat sekarang petani gabah
malah berjalan tertatih-tatih, tanpa
ada perhatian serius pemerintah.
Harga gabah dibiarkan anjlok. Dan
petani pun sulit berharap bisa
mengubah nasib.
Husein Sawit, seorang peneliti
Center for Agro Socio Economic
Research (CASER), Bogor pernah
mengemukakan, selama ini, pemerintah amat bias ke konsumen,
bukan seperti layaknya negara
agraris yang seharusnya membela
petani. Pada waktu nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika di
atas Rp 10.500 per US$ 1, walau
kesulitan dana, pemerintahan tetap
melindungi
konsumen
dengan
menjual beras 60% lebih rendah
ketimbang harga paritas.
Pada tahun anggaran 1998/
1999, para konsumen telah meraup
keuntungan setara dengan Rp 37
trilyun, di mana 73%-nya dinikmati
oleh konsumen tingkat menengah
ke atas, hanya Rp 10 trilyun yang
dinikmati konsumen miskin. Sementara itu, keuntungan petani
padi yang seharusnya bisa diraih,
85
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
sebesar Rp 21 trilyun, lenyap.
Dalam
periode
pemerintahan
reformasi, kebijakan yang bias
konsumen ternyata tetap berlanjut.
Padahal, salah satu karakter istik dari negara sedang berkembang (LDCs), khususnya negara negara miskin, adalah tingkat
perkembangan sektor pertaniannya
yang lebih rendah dibandingkan
dengan sektor industri dan sektor sektor
tersier
lainnya
seperti
keuangan dan jasa. Bahkan di
banyak negara (termasuk Indonesia?), sektor pertama itu praktis
terlupakan
di
dalam
proses
pembangunan
ekonomi
karena
perhatian pemerintah dan masyara kat sepenuhnya terpusat pada
pengembangan
sektor
industri,
khususnya
manufaktur
untuk
tujuan ekspor atau substitusi impor, dan sektor-sektor pendukung
seperti keuangan 1.
Relatif lemahnya perkembangan sektor pertanian, baik dalam arti
diversifikasi produksi maupun laju
pertumbuhan output-nya, mengakibatkan
pendapatan
riil
yang
diterima petani rata -rata lebih
rendah dibandingkan dengan pen dapatan riil yang diterima pekerja di
sektor industri. Dengan kata lain,
harga yang diterima petani lebih
Sayangnya, sering kali pemerintah dan masyarakat
di LDCs (termasuk Indonesia?) tidak menyadari bahwa
pertanian secara potensial dapat berperan sebagai
salah satu sektor pendukung penting sektor industri,
baik lewat sisi permintaan maupun sisi penawaran.
Seperti yang
digambarkan
di dalam model
pembangunan dari Arthur Lewis, dilihat dari sisi
permintaan, sektor pertanian mensuplai makanan dan
produk-produk lainnya bagi kebutuhan pekerja di
sektor industri. Sedangkan, dar i sisi penawaran,
sektor pertanian mensuplai bahan -bahan baku
sebagai input bagi sektor industri. Jadi, sektor
pertanian tidak kalah pentingnya seperti sektor
keuangan bagi sektor industri. Model Lewis dapat
dipelajari misalnya di Michael P.Todaro (1997).
1
86
kecil dari harga yang haru s
dibayarnya. Perbedaan ini mencer minkan nilai tukar petani (NTP).
Karena Nilai Tukar Petani
mencerminkan kondisi ekonomi
petani yang secara teoritis (hipotesis) mempunyai korelasi positif
(selain dengan faktor-faktor lain)
dengan
kinerja
dari
sektor
2
pertanian , maka rasio ini dapat
dipakai sebagai salah satu indikator
untuk mengukur dampak kinerja
sektor pertanian terhadap kesejah teraan petani.
Selama pemerintahan refor masi, keuntungan petani padi yang
paling produktif pun, misalnya
petani di Karawang, telah merosot
sekitar 27%, dan sebagian petani
mulai enggan merawat tanamannya,
apalagi menggunakan
teknologi
baru.
Pada hal besarnya keuntungan petani padi tidak hanya
bergantung pada tingkat harga jual
beras/padi, melainkan juga amat
ditentukan oleh tingkat produktivitas, pengurangan hasil, pemanfaatan teknologi panen dan pasca panen,
perbaikan
rendemen,
efisiensi penggunaan input, serta
pemanfaatan teknologi baru. Masa lah-masalah itu hanya mungkin
dipecahkan
dengan
memberi
perhatian serius pada mas alah
dana, tenaga, irigasi, penelitian dan
pengembangan serta penyuluhan,
Maksudnya, semakin baik kinerja sektor pertanian,
misalnya dalam bentuk diversifikasi produksi semakin
baik (jenis outputnya yang memiliki nilai komersial
yang tinggi semakin bervariasi; misalnya menanam
buah-buahan seperti apel, jeruk, dan jagung, tidak
hanya beras) dan laju pertumbuhan outputnya
semakin tinggi, semakin baik nilai tukar petani,
semakin baik pendapatan (kondisi ekonomi) petani.
2
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
atau program tunjangan penda patan lainnya.
Salah satu bentuk perhatian
pemerintah
terhadap
sektor
pertanian adalah dapat dilihat dari
struktur
anggaran
di
APBN.
Bagaimana dengan APB N 2000?
Situasinya setali tiga uang. Bahkan,
fakta ketidakadilan itu kian tampak
jelas. Anggaran untuk pertanian
jauh
dibandingkan
anggaran
periode
sebelumnya.
Ekspansi
sebagian besar dari APBN 2000
justru akan dialokasikan untuk
membiayai
pembayaran
bunga
utang dalam negeri. Itu didominasi
oleh pembayaran bunga obligasi
dan rekapitalisasi perbankan.
"Masalah keadilan memang
tampak pada alokasi pengeluaran
dana pembangunan sektoral yang
sangat timpang," ujar ekonom Indef
Dr Bustanul Arifin dalam seminar
mengenai `Tinjauan Kritis RAPBN
2000: Nasib Sektor Pertanian`.
Menurut dia, pengeluaran untuk
sektor-sektor
yang
diharapkan
menjadi prioritas pemulihan dan
pertumbuhan
ekonomi
kenapa
justru sangat kecil. Sektor pertanian, nasibnya justru tak kunjung
terangkat oleh perumus kebijakan
di negeri ini.
Meski
ada
revisi
dalam
RAPBN pada 2 Maret 2000 lalu.
Tetapi,
itu
hanya
berhasil
meningkatkan tambahan alokasi
anggaran
dana
pembangunan
sektor pertanian dan kehutanan
senilai Rp 600 miliar menjadi Rp 2,7
triliun. Angka ini berarti terdapat
penurunan
hampir
50%
jika
dibandingkan dengan pengeluaran
yang sama untuk APBN 1999/2000
yang mencapai Rp 4,6 triliun.
Tentu saja dengan anggaran
seperti itu tidak akan banyak
program pembangunan yang bisa
dilaksanakan,"
ujar
Bus tanul.
Padahal subsektor pertanian yang
merupakan basis ekonomi rakyat di
pedesaan menguasai hajat hidup
hampir 80% penduduk Indonesia.
Sektor ini juga menyerap lebih 50%
tenaga kerja. Juga menjadi katup
pengaman pada saat krisis ekonomi
melanda negeri ini.
Keterhimpitan posisi petani,
dalam kaitannya dengan hubungan
negara dan pasar secara struktural
mulai sejak jaman kolonial hingga
jaman reformasi kelihatannya tidak
banyak
berubah.
Sebagaimana
dikemukakan Bates terhadap pengalaman di negara-negara Afrika,
hampir semua kebijakan negara
cenderung, kalau tidak selalu,
berpihak kepada pasar dan kota.
Secara
struktural,
kata
Popkins
dalam
bukunya
The
Rational Peasant: The Political
Economy of Rural Society in Vietnam
(1979), bahwa para petani itu
sesungguhnya
sangat
rasional.
Namun, karena ketiadaan akses,
atau malah aksesnya “diblokade”
oleh negara terhadap dunia luarlah
yang menyebabkan mereka tidak
banyak beranjak dari stagnasi
kehidupannya yang serba pas pasan. Pada saat yang sama, negara
memberikan kebebasan, atau dalam
banyak hal malah memfasilitasi
perkembangan pasar bebas.
Misalnya, di satu pihak demi
kecukupan pangan dan stabilisasi
harga kebutuhan pokok negara
87
Mustain Mashud, “Analisis Politik Ekonomi Petani Dalam Struktur Hubungan antara Negara dan Pasar,” Masyarakat, Kebudayaan dan
Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 77 -88.
menetapkan standar harga produk
pertanian (misalnya beras) dan
mengatur kemana dan kepada s iapa
menjualnya;
sementara
pasar
secara bebas membanjiri produk produk industrinya dengan harga
semaunya. Akibatnya, nilai harga
jual produk pertanian dari tahun ke
tahun tak banyak beranjak, tetapi
harga
barang-barang
produk
industri naik berlipat ganda.
Masyarakat petani di desa desa boleh jadi bisa sedikit
bersyukur. Sampai sejauh ini,
paling tidak, sudah mulai semakin
banyak dana yang dialokasikan dan
ditangani sendiri oleh daerah. Dana
yang didaerahkan dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan. Dari
36,6%
pada
tahun
anggaran
1993/94 meningkat menjadi 38,3%
pada anggaran 1997/1998 dan
pada anggaran 1999/2000 naik lagi
menjadi 50,8%. Kesungguhan pemerintah untuk mengalihkan dana
pembangunan ke daerah, kata dia,
semakin tampak pada anggaran
2000 yakni 64,8% dana pembangunan langsung dialokasikan ke
daerah. "Jadi, upaya meningkatkan
peran sektor pertanian di daerah
akan makin strategis."
Namun, persoalannya bukan
semata-mata pada besaran dana
yang mengalir ke daerah. Apalagi
bagaimana meningkatkan produk tivitas pertanian. Masalah utama nya tak lain bagaimana melepaskan
jeratan dan jebakan struktural yang
dialami para petani selama pemerintahan negara ini ada dan
ironisnya semuanya itu juga akibat
dari kebijakan negara itu sendiri.
88
Daftar Pustaka
Bates, Robert H, Markets and States
in Tropical Africa:The Political
Basis of Agricultural Policies
(Berkeley, CA: University of
California Press, 1981).
Husein Sawit, M, Komoditas Beras:
Bela Petani, Atau Konsumen?,
(Makalah), Center for Agro
Socio
Economic
Research
(CASER), Bogor
Kohli, Atul, “The Political Economy
of Development Strategies:
Comparative Perspectives on
the Role of the State”,
Comparative Politics (January),
1987.
Maso’ed, Mohtar, Ekonomi dan
Struktur Politik Orde Baru
1966–71 (Jakarta: LP3ES,
1989).
-------------------- , Ekonomi Politik
Internasional Pembangunan.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1989).
Nugroho, Heru, Negara, Pasar dan
Keadilan Sosial. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2001).
Popkin, S.L, The Rational Peasant:
The Political Economy of Rural
Society in Vietnam (Barkeley:
University of California Press,
1979).
Tambunan, Tulus, “Nilai Tukar
Petani”, dalam Jurnal Pasar
Modal Indonesia, LP3E-Kadin
Indonesia, Mei 2000: http:/
www.jurnalindonesia. com
Media Indonesia, 3 Maret 2000
Download