ANALISIS GRANGER CAUSALITY TERHADAP KINERJA SOSIAL

advertisement
ANALISIS GRANGER CAUSALITY TERHADAP KINERJA SOSIAL DAN
KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
Ayu Septi Anggraeni
Dr. Endang Kiswara, SE., Msi., Akt.
Universitas Diponegoro Semarang
ABSTRACT
This study aims to analyze the causal relationship between corporate social
performance and financial performance, which refers to study by Makni,
Francoeur, dan Bellavance (2008). In addition, this study also aims to analyze
are there any significant social perormance differences between domestic
companies and multinational companies operating in Indonesia, which refers to
study by Fauzi (2008). This study only tests the differences of CSP between
domestic companies and multinational companies simultaneously, contrary with
study by Fauzi (2008) which also tested the differences of CSP partially .
This study used quantitative method to financial statement of manufacturer
industry that listed in Bursa Efek Indonesia period 2008-2009. Total samples in
this study are 34 companies which contains of 17 domestic companies and 17
multinational companies, that selected with purposive sampling method. The
examinations of hypothesis method using the difference t-test and double linear
regretion.
Result of this study in line with the result of study by Fauzi (2008) that
indicate there is no significant differences CSP (Corporate Social Performace)
between domestic companies and multinational companies operating in
Indonesia, it means that the result of this study supports the social impact
hypothesis by Preston and O’Bannon (1997). In addition, this study indicate that
CSP causes all of the proxy of financial performance (ROA, ROE, and EPS).
Although this study found any significant relationship between CSP to financial
performance ROE. The result of this study is different with the study by Makni,
Francoeur, and Bellavance (2008) that supported trade-off hypothesis, and in the
part the negative synergy hypothesis.
Keywords : multinational, corporate social performance, corporate financial
performance, causality
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fenomena mengenai isu pemanasan global semakin marak baik di
Indonesia maupun di seluruh dunia. Kerusakan alam maupun lingkungan
merupakan salah satu pendorong adanya pemanasan global. Kerusakan alam atau
lingkungan dapat disebabkan salah satunya oleh perbuatan manusia itu sendiri.
Kurangnya kesadaran manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan
membuat pemanasan global ini menjadi semakin cepat terjadi. Oleh karena itu,
dibutuhkan kesadaran dan perhatian yang cukup tinggi terhadap lingkungan untuk
menjaga dan melestarikannya.
Wacana mengenai tanggung jawab sosial di Indonesia semakin
berkembang. Menurut Ulfah (2008) sejak tahun 80-an, di Indonesia sendiri telah
dibahas mengenai pertanggungjawaban sosial perusahaan (Corporate Social
Responsibility) dan akuntansi sosial (Accounting Social). Hal ini didukung dengan
ketentuan yang ada di Indonesia yaitu UU No.40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas pada pasal 66 ayat 2, pasal 74 dan UU No.25 tahun 2007 tentang
Penanaman Modal pada pasal 15 bagian b, pasal 16 bagian d dan e, dan pasal 17.
Ketentuan tersebut menegaskan mengenai kewajiban perusahaan melakukan
tanggung jawab sosial serta melaporkannya.
Menurut Simerly dan Li (1999), berdasarkan interaksi dengan budaya,
adat atau hukum negara tempat mereka beroperasi, perusahaan internasional dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kategori: perusahaan multidomestik dan perusahaan
multinasional (Fauzi, 2008). Perusahaan memperluas cakupannya di luar negara
asal mereka, langkah pertamanya adalah mengekspor produk dari markas mereka.
Mereka dapat diklasifikasikan menjadi perusahaan internasional ketika terdapat
kebutuhan yang relatif untuk berinteraksi dengan budaya, adat, atau hukum negara
yang akan mereka ekspor. Adler (dalam Simerly dan Li, 1999) mengkasifikasikan
perusahaan seperti multi-domestik. Ketika perusahaan memindahkan fasilitas
produksi di luar perbatasan mereka, mereka dapat diklasifikasikan sebagai
perusahaan multinasional (MNC). Kemudian mereka akan melakukan interaksi
dengan perusahaan nasional (Fauzi,2008).
MNC memiliki kekuatan pada teknologi know-how dan nama merek,
kekuatan pasar dihasilkan dari lingkup dan skala ekonomi, peluang investasi yang
lebih luas, pengeceran yang kompetitif, biaya faktor yang lebih rendah, dan
sistematis yang lebih rendah, atau risiko beta (Grant, 1987). Hal ini beralasan
untuk mengekspektasikan MNC memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi
dari perusahaan nasional. Selain itu, karena pengalaman beroperasi di lingkungan
bisnis
yang
beragam,
MNC
memiliki
kemampuan
yang lebih untuk
mengembangkan beragam kemampuan, dan memiliki kesempatan pembelajaran
yang lebih luas daripada mitra mereka pada negara yang sama (Fauzi, 2008).
Nelling dan Webb (2006) menguji hubungan kausal antara kinerja sosial
dan kinerja keuangan perusahaan dengan memperkenalkan teknik ekonometrika
baru, yaitu pendekatan Granger Causality. Dengan menggunakan model regresi
Ordinary Least Square (OLS), kinerja sosial dengan kinerja perusahaan
berhubungan. Mereka menemukan hubungan yang rendah antara kinerja sosial
dengan kinerja keuangan perusahaan ketika menggunakan pendekatan efek time
series. Ditemukan hasil yang sama ketika memperkenalkan model Granger
Causality. Selain itu, dengan fokus pada masing-masing pengukuran kinerja
sosial, mereka menemukan kausalitas yang terjadi dari kinerja pasar saham pada
kinerja sosial penilaian tentang hubungan karyawan (Makni et al, 2008)
Penelitian yang dilakukan oleh Makni et al (2008) menguji hubungan
kausalitas antara kinerja sosial dan kineja keuangan 179 perusahaan di Kanada
dengan menggunakan pendekatan “Granger Causality”. Mereka menemukan
tidak adanya hubungan antara gabungan pengukuran kinerja sosial dan kinerja
keuangan perusahaan, kecuali untuk market returns. Menurut peneliti sejauh ini di
Indonesia belum ditemukan penelitian kausalitas terhadap kinerja sosial dan
kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan pendekatan Granger
Causality.
2.
TELAAH TEORI
2.1 Teori Stakeholder
Menurut Ghozali dan Chariri (2007)
stakeholder theory mengatakan
bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya
sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya (shareholders,
kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain).
Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruh oleh
dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut.
Gray et al (1994) dalam Ghozali dan Chariri (2007) mengatakan bahwa
kelangsungan hidup perusahaan bergantung pada dukungan stakeholder dan
dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan adalah untuk
mencari dukungan tersebut. Makin powerful stakeholder, makin besar usaha
perusahaan untuk beradaptasi. Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari
dialog antara perusahaan dengan stakehodernya (Ghozali dan Chariri, 2007).
2.2 Teori Legitimacy
Teori legitimacy menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya untuk
memastikan bahwa mereka beroperasi dalam bingkai dan norma yang ada dalam
masyarakat atau lingkungan dimana perusahaan berada, dimana mereka berusaha
untuk memastikan bahwa aktivitas mereka (perusahaan) diterima oleh pihak luar
sebagai suatu yang “sah” (Deegan, 2004). Pendapat yang sama diungkapkan juga
oleh Tilt (1994) dalam Haniffa et al (2005) yang menyatakan bahwa perusahaan
memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya berdasarkan
nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok
kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan. Teori legitimasi kaitannya
dengan kinerja sosial dan kinerja keuangan adalah apabila jika terjadi
ketidakselarasan antara sistem nilai perusahaan dan sistem nilai masyarakat, maka
perusahaan dapat kehilangan legitimasinya, yang selanjutnya akan mengancam
kelangsungan hidup perusahaan (Lindblom, 1994 dalam Haniffa et al 2005).
Ghozali dan Chariri (2007) menyatakan bahwa hal yang melandasi teori
legitimacy adalah “kontrak sosial” yang terjadi antara perusahaan dengan
masyarakat dimana perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber ekonomi.
2.3 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social ResponsibilityCSR)
Ebert (2003) dalam Rosmasita (2007) mendefinisikan Corporate Social
Responsibility sebagai usaha untuk menyeimbangkan komitmen-komitmennya
terhadap kelompok-kelompok dan individual-individual dalam lingkungan
perusahaan tersebut, termasuk didalamnya adalah pelanggan, perusahaanperusahaan lain, para karyawan, dan investor.
CSR berusaha memberikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial
kedalam operasinya. Sebagaimana dijelaskan Darwin (2004) dalam Anggraini
(2006) pertanggungjawaban sosial adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk
secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial
kedalam operasinya dan interaksinya dengan pihak-pihak yang berkepentingan,
yang melebihi tanggung jawabnya dibidang hukum. Dengan demikian, operasi
bisnis yang dilakukan perusahaan tidak hanya berkomitmen dengan ukuran
keuntungan secara finansial saja, tetapi juga harus berkomitmen pada
pembangunan sosial ekonomi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
2.4 Kinerja Sosial Perusahaan (Corporate Social Performance-CSP)
Menurut Orlitzky (2000), kinerja sosial perusahaan (Corporate Social
Performance-CSP) didefinisikan sebagai “sebuah konfigurasi prinsip-prinsip
organisasi bisnis dari tanggung jawab sosial, proses tanggapan sosial, dan
kebijakan-kebijakan, program, dan hasil yang dapat diamati sebagai hubunganhubungan tersebut kepada hubungan perusahaan dalam bermasyarakat. Model
“kinerja sosial perusahaan”, yang dikembangkan oleh Wood (Meehan, 2006),
menawarkan perpaduan konseptual dari perkembangan yang ada, dalam usaha
untuk memberikan akademis menempatkan konsep CSR dalam sebuah pengertian
keseluruhan yang lebih luas. Akan tetapi, tujuan utama dari model CSP adalah
untuk menempatkan perhatian Ackerman dan Bauer’s dengan fokus perhatian
pada hasil: istilah kinerja berbicara mengenai tindakan dan hasil, bukan interaksi
atau integrasi”.
Carroll dalam Fauzi (2008) mendefinisikan CSP sebagai pertemuan pada
saat tertentu dalam waktu dari tiga dimensi: prinsip-prinsip CSR, yang akan
ditahan di empat level yang berbeda (ekonomi, hukum, etika, dan diskresioner);
jumlah total dari masalah-masalah sosial yang dihadapi perusahaan (misalnya
diskriminasi rasial, dll); dan filsafat yang mendasari responnya, yang dapat
berkisar sepanjang kontinum pergi dari antisipasi masalah perusahaan kepada
penolakan langsung yang dikenakan tanggung jawab di semua perusahaan.
Sebagian besar pengertian, aspek lingkungan jarang sekali disinggung karena
perspektif CSP sudah termasuk aspek lingkungan didalamnya. Berdasarkan
pengertian di atas, CSP dapat diartikan sebagai tindakan dan hasil ketika
perusahaan telah menjalankan CSR (aspek sosial dan lingkungan yang terdapat
didalamnya).
2.5 Kinerja Keuangan Perusahaan (Corporate Financial Performance-CFP)
Bird (2006) suatu proposisi bahwa manajemen yang baik akan menginvestasikan
jangkauan yang lebih luas dalam aktivitas CSR untuk mencari kepuasan dari
kepentingan kelompok stakeholder besar yang merupakan prasyarat untuk
menciptakan kebutuhan lingkungan yang memungkinkan perusahaan untuk
menghasilkan kinerja keuangan yang kuat. Fauzi (2008) tanggung jawab dari
manajemen untuk meningkatkan kinerja keuangan, kinerja keuangan yang lebih
tinggi menuju ke arah peningkatan kekayaan dari para stakeholder. Oleh karena
itu, ditinjau dari aspek ekonomi tentunya perusahaan akan terus berusaha
meningkatkan kinerja keuangan.
Fauzi (2008) terdapat banyak pengukuran yang digunakan untuk mewakili
kinerja keuangan. Mereka membagi pengukuran ke dalam tiga kategori: ROA
(return on asset) dan ROE (return on equity) (Waddock, Graves, Mahoney,
Roberts dalam Fauzi, 2008); profitabilitas (Stanwick dalam Fauzi, 2008); dan
perkalian akuntansi berdasarkan pengukuran dengan indeks secara keseluruhan
menggunakan skor 0-10 (Moore dalam Fauzi, 2008). Griffin, Mahon, Orlitzky et
al. (Fauzi, 2008) dalam istilah pengukuran kinerja perusahaan, terdapat derajat
tinggi dari konsensus mengenai dasar variabel-variabel yang mencerminkan
kinerja keuangan: indikator yang berhubungan dengan profit, investasi aset,
pertumbuhan, likuiditas dan risiko profitabilitas, menjadi paling fundamental.
Kinerja keuangan dalam penelitian ini akan diukur dari ROA, ROE dan
EPS (earning per share). ROA menunjukkan kemampuan atas modal yang
diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
ROE mengukur seberapa baik suatu perusahaan menggunakan pendapatan
diinvestasikan kembali untuk menghasilkan pendapatan tambahan, memberikan
indikasi umum efisiensi perusahaan (Brine, n.d.). Menurut PSAK No.56, Laba per
saham (LPS) dasar adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk
setiap saham biasa yang beredar selama periode pelaporan. LPS atau EPS adalah
data yang banyak digunakan sebagai alat analisis keuangan. EPS dengan ringkas
menyajikan kinerja perusahaan dikaitkan dengan saham beredar. EPS yang
dikaitkan dengan harga pasar saham (price-earning ratio) bila memberikan
gambaran tentang kinerja perusahaan dibanding dengan uang yang ditanam
pemilik perusahaan.
2.6 Faktor-faktor Lain yang Mempengaruhi Kinerja Sosial dan Kinerja
Keuangan
1. Company size
Menurut Waddock, Graves dan Itkonen (Fauzi, 2008) ukuran perusahaan
memiliki hubungan dengan kinerja sosial perusahaan, perusahaan yang lebih besar
cenderung berperilaku lebih bertanggung jawab sosial daripada perusahaan yang
lebih kecil. Menurut Orlitzky dan Itkonen (Fauzi, 2008), CSP adalah terkait
dengan ukuran perusahaan sejak awal, strategi kewirausahaan fokus pada
kelangsungan hidup ekonomi dasar dan bukan pada tanggung jawab etis dan
filantropis. Berdasarkan argumen, diharapkan bahwa ukuran perusahaan dapat
dikaitkan dengan CFP yang dihasilkan dari, misalnya skala ekonomi (Orlitzky dan
Itkonen, dalam Fauzi, 2008).
2. Risk
Menurut Moore dan Itkonen (Fauzi, 2008), agar perusahaan memiliki
risiko rendah, mereka harus mempertimbangkan dan mengelola tanggung jawab
sosial. Akibatnya, sebuah perusahaan dengan CSP rendah akan memiliki dampak
yang berlawanan dalam hal risiko. Financial risk dapat dilihat dari financial
leverage. Financial leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk
membiayai investasinya. Perusahan yang tidak memiliki leverage berarti
menggunakan modal sendiri 100% (Husnan, 2004). Beberapa industri memiliki
nilai debt to equity ratio (DER) yang berbeda-beda, dapat lebih besar dibanding
yang lain. Hal ini dikarenakan bahwa industri-industri tersebut mempunyai risiko
usaha yang lebih kecil sehingga berani menggunakan proporsi hutang yang lebih
besar (Husnan, 2004). Menurut Moore (2001) dan Itkonen (2003), agar
perusahaan memiliki risiko rendah, mereka harus mempertimbangkan dan
mengelola tanggung jawab sosial akibatnya sebuah perusahaan dengan CSP
rendah akan memiliki dampak yang berlawanan dalam hal risiko (Fauzi, 2008).
3. Industry
Penelitian ini menggunakan variabel dummy nilai 1 untuk perusahaan
multinasional dan nilai 0 untuk perusahaan domestik, untuk menguji perbedaan
CSP (Corporate Social Performance) antara perusahaan multinasional dengan
perusahaan domestik (Hossain dan Kham, 2006; Bhuiyan dan Biswas, 2007).
2.7 Perusahaan Multinasional
Menurut Grant (1987) MNC memiliki kekuatan pada teknologi know-how
dan nama merek, kekuatan pasar dihasilkan dari lingkup dan skala ekonomi,
peluang investasi yang lebih luas, pengeceran yang kompetitif, biaya faktor yang
lebih rendah, dan sistematis yang lebih rendah, atau risiko. Hal ini beralasan untuk
mengekspektasikan MNC memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi dari
perusahaan nasional. Selain itu, karena pengalaman beroperasi di lingkungan
bisnis yang beragam, MNC kemampuan lebih untuk mengembangkan beragam
kemampuan, dan memiliki kesempatan pembelajaran yang lebih luas daripada
mitra mereka pada negara yang sama (Fauzi, 2008)
Menurut Nizamuddin (2007), perusahaan multinasional adalah perusahaan
yang beroperasi tidak hanya pada satu negara. Perusahaan multinasional yang
beroperasi di negara asal disebut perusahaan induk, sedangkan perusahaan
multinasional yang beroperasi di negara lain disebut sebagai perusahaan anak.
Ada empat karakteristik perusahaan multinasional yang digunakan untuk
membedakan dengan perusahaan yang lain. Pertama, perusahaan multinasional
memiliki birokrasi yang berkualitas dan terorganisasi. Dalam birokrasi ini terdapat
aturan dan prosedur tersendiri untuk mengatur kegiatan perusahaan multinasional.
Kedua, perusahaan multinasional mengoperasikan jenis kegiatan bisnis tertentu.
Ketiga, perusahaan multinasional melakukan fungsi secara lintas batas nasional.
Terakhir, terdapat integritas yang tinggi antar unit-unit perusahaan multinasional
sebagai hasil dari komunikasi dan transportasi yang maju.
2.8 Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Perusahaan Domestik
Aspek-aspek
Penilaian
Tanggung Jawab
Sosial (Global
Reporting
Initiative):
 Ekonomi
 Lingkungan
 Tenaga
Kerja
 Hak Asasi
Manusia,
 Masyarakat,
 Tanggung
Jawab
Produk
Perusahaan Multinasional
Return on
Asset
H1
Corporate
Social
Performance
H2
Corporate
Financial
Performance
Return on
Equity
Earning per
Share
Company Size
Risk
Industry
2.9
Pengembangan Hipotesis
1. Kinerja Sosial Perusahaan (CSP) Perusahaan Indonesia dan Perusahaan
Multinasional yang Beroperasi di Indonesia
Perusahaan multinasional mempunyai kekuatan yang lebih pada bidang
teknologi dan pencitraan merk, lingkup dan skala ekonomi menghasilkan
kekuatan pasar, peluang investasi yang lebih luas, dan biaya faktor yang lebih
rendah. Berdasarkan hal-hal tersebut sangat beralasan jika mengekspektasikan
perusahaan multinasional mempunyai level profitabilitas yang tinggi daripada
perusahaan domestik. Dengan level profitabilitas yang lebih tinggi, perusahaan
multinasional diharapkan memiliki level kinerja sosial yang lebih tinggi daripada
perusahaan domestik.
H1: ada perbedaan signifikan CSP antara perusahaan Indonesia dengan
perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia
2. Kausalitas terhadap Kinerja Sosial dan Kinerja Keuangan Perusahaan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nelling dan Webb (2006)
yang menguji hubungan kausal antara CSP dan FP dengan menggunakan
pendekatan Granger Causality, mereka menemukan bahwa dengan menggunakan
model regresi Ordinary Least Square (OLS), CSP dan FP saling terkait.
Mahoney dan Roberts (2007) telah meneliti hubungan antara CSP dan FP
dalam konteks Kanada. Penelitian ini menguji hubungan antara konstruksi ini
dengan menggunakan pengukuran CSID (Canadian Social Investment Database)
pada CSP. Mereka menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara ukuran
gabungan dari CSP dan FP perusahaan. Namun, dengan menggunakan lag satu
tahun, temuan mereka menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan
antara masing-masing pengukuran CSP perusahaan tentang lingkungan dan
aktivitas internasional dan FP. Penelitian ini menguji hanya kausalitas satu arah :
dari CSP ke FP (dikutip dari Makni et.al, 2008). Dengan demikian dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: lebih tinggi (lebih rendah) level kinerja keuangan (kinerja sosial)
mengakibatkan kausalitas Granger pada level kinerja sosial (kinerja
keuangan) yang lebih tinggi (lebih rendah)
3. METODE PENELITIAN
a.
Kinerja Sosial Perusahaan (Corporate Social Performance-CSP)
Variabel CSP diukur dengan cara menggunakan item-item yang ada di
dalam aspek penilaian tanggung jawab sosial dunia usaha yang dikeluarkan oleh
GRI (Global Reporting Initiative). Kemudian kinerja sosial perusahaan akan
dihitung dengan membandingkan berapa banyak item yang diungkapkan dengan
total item pengungkapan sebanyak 79 item, meliputi; ekonomi, lingkungan,
praktik tenaga kerja, hak asasi manusia, masyarakat, dan tanggung jawab produk.
Apabila item informasi yang ditentukan diungkapkan dalam laporan tahunan
maka diberi skor 1, dan jika item informasi yang ditentukan tidak diungkapkan
dalam laporan tahunan maka diberi skor 0. Perhitungan Indeks Luas
Pengungkapan CSR (CSRI) dirumuskan sebagai berikut :
CSRI t =
b.
Total item yang diungkapkan
79
Kinerja Keuangan Perusahaan (Corporate Financial Performance-CFP)
Variabel CFP yang digunakan adalah ROA (return on assets), ROE (return
on equity) dan EPS (earning per share). Pengukuran kinerja keuangan perusahaan
dengan ROA menunjukkan kemampuan atas modal yang diinvestasikan dalam
keseluruhan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba. ROA (Return On
Asset) adalah rasio keuntungan bersih setelah pajak untuk menilai seberapa besar
tingkat pengembalian dari asset yang dimiliki oleh perusahaan. Untuk menghitung
ROA dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROA =
Laba Bersih
Total Aktiva
x 100%
ROE merupakan rasio yang mengukur seberapa banyak keuntungan yang
menjadi hak pemilik modal sendiri. Yang dianggap modal sendiri adalah saham
biasa, agio saham, laba ditahan, saham preferen dan cadangan-cadangan lain.
ROE mengukur seberapa baik suatu perusahaan menggunakan pendapatan
diinvestasikan kembali untuk menghasilkan pendapatan tambahan, memberikan
indikasi umum efisiensi perusahaan (dikutip dari Brine, n.d.). untuk menghitung
ROE dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROE =
Laba Bersih
Total Ekuitas
x 100%
EPS atau seringkali disebut sebagai laba bersih per saham dasar
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya laba yang didapatkan
dari setiap jumlah saham yang beredar (IDX Statistic, 2008). Untuk menghitung
EPS dapat dirumuskan sebagai berikut:
EPS =
3.3
Net Income
Total Outstanding Share
x 100%
Variabel Kontrol
Variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat
konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak
dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diamati di dalam penelitian ini. Variabel
kontrol yang digunakan di dalam penelitian ini adalah company size (SIZE), risk;
market dan financial, dan industry.
a. Company Size (ukuran perusahaan-SIZE)
Menurut Waddock, Graves dan Itkonen (dikutip oleh Fauzi, 2008) ukuran
perusahaan memiliki hubungan dengan kinerja sosial perusahaan, perusahaan
yang lebih besar cenderung berperilaku lebih bertanggung jawab sosial daripada
perusahaan yang lebih kecil. Ukuran perusahaan yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu:
SIZE = log Total Asset
b. Risk
Financial risk dapat dilihat dari financial leverage. Financial leverage
menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya.
Financial risk yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
Leverage (LEV) =
Total Utang
Total Ekuitas
x 100%
c. Industry
Penelitian ini menggunakan variabel dummy nilai 1 untuk perusahaan
multinasional dan nilai 0 untuk perusahaan domestik, untuk menguji perbedaan
CSP (Corporate Social Performance) antara perusahaan multinasional dengan
perusahaan domestik (Hossain dan Kham, 2006; Bhuiyan dan Biswas, 2007).
3.4
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian yang digunakan yaitu seluruh perusahaan domestik dan
mutinasional yang beroperasi di Indonesia yang go public dan listed di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Perusahaan yang terdaftar di BEI digunakan sebagai populasi
karena perusahaan tersebut mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan laporan
tahunan perusahaan kepada pihak luar perusahaan terutama stakeholder.
Metode yang digunakan dalam pemilihan sampel pada penelitian ini yaitu
metode purposive sampling, yaitu tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang
informasinya diperoleh dengan menggunakan kriteria tertentu. Penggunaan
kriteria untuk pemilihan sampel bertujuan untuk menyempitkan area penelitian,
sehingga hanya data yang benar-benar bisa terpakai saja yang akan ditelaah.
Kriteria yang digunakan dalam menentukan sampel yaitu:
1. Perusahaan tercatat sebagai anggota di Bursa Efek Indonesia pada tahun
2008 dan 2009
2. Laporan tahunan tahun 2008 dan 2009 yang ter-publish.
3. Laporan tahunan mengandung informasi mengenai CSR yang dilakukan
oleh perusahaan.
3.5
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumenter
yang berupa laporan tahunan 2008 dan 2009 perusahaan domestik dan
multinasional yang neroperasi di Indonesia go public yang listed di BEI.
Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data sekunder yaitu sumber data
penelitian yang diperoleh secara tidak langsung. Data yang digunakan dalam
penelitian ini berasal dari:
a. Situs resmi Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id
b. Situs resmi perusahaan
c. Indonesia Capital Market Directory
3.6
Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa
dokumentasi dan kutipan langsung. Metode yang digunakan dalam mengukur
kinerja sosial dalam laporan tahunan yaitu dengan metode content analysis.
Pengembangan hipotesis dan kerangka pemikiran merupakan data kualitatif yang
diperoleh dengan dokumentasi dan kutipan langsung dari beberapa buku, jurnal
dan media internet.
Metode content analysis adalah teknik penelitian untuk menghasilkan
kesimpulan terhadap data yang dapat diulangi dan valid. Metode content analysis
dalam penelitian ini dilakukan dengan cara melihat kandungan isi dari laporan
tahunan yang disesuaikan dengan aspek-aspek penilaian tanggung jawab sosial
dunia usaha yang dikeluarkan oleh GRI (Global Reporting Initiative) . Laporan
tahunan ditelaah dengan menandakan checklist berdasarkan aspek penilaian.
Setiap item yang laporkan akan diberi nilai 1 dan item yang tidak dilaporkan akan
diberi nilai 0. Kemudian item yang diungkapan dijumlah dan dibagi dengan total
item pengungkapan yang ada maka akan didapatkan indeks kinerja sosial
perusahaan.
3.7
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah
metode analisis data kuantitatif.
3.8
Persamaan Regresi Linier Berganda
Variabel dependen dan independen dalam penelitian ini adalah CSP dan FP.
Penelitian ini juga menggunakan variable kontrol yaitu company size, risk, dan
industry. Adapun persamaan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
FPROA,2009 = β0 + β1 FPROA,2008 + β2 CSP i,2008 + γ SIZE + δ RISK + ε1i…….... (1)
CSPi,2009 = α0 + α1 CSPi,2008 + α2 FPROA,2008 + γ SIZE + δ RISK + ε2i……...…. (2)
FPROE,2009 = β0 + β1 FPROE,2008 + β2 CSP i,2008 + γ SIZE + δ RISK + ε1i…….... (3)
CSPi,2009 = α0 + α1 CSPi,2008 + α2 FPROE,2008 + γ SIZE + δ RISK + ε2i……….... (4)
FPEPS,2009 = β0 + β1 FPEPS,2008 + β2 CSP i,2008 + γ SIZE + δ RISK + ε1i……..... (5)
CSPi,2009 = α0 + α1 CSPi,2008 + α2 FPEPS,2008 + γ SIZE + δ RISK + ε2i……….... (6)
Dimana :
FPi,2009
: FP tahun 2009 untuk perusahaan i
FPi,2008
: FP tahun 2008 untuk perusahaan i
CSPi,2009
: CSP tahun 2009 untuk perusahaan i
CSPi,2008
: CSP tahun 2008 untuk perusahaan i
SIZE
: company size
RISK
: risiko perusahaan
ε
: error term
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data
4.1.1 Hipotesis 1
Uji Beda t-test
Uji beda t-test digunakan untuk menentukan apakah dua sample yang tidak
berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda (Ghozali, 2006). Hasil
pengujian diperoleh sebagai berikut :
Uji Beda t-test
Sig
Variabel
Multinasional
Domestik
T
Ket
CSP tahun 2008
0.210
0.206
0.180
0.858
Tidak berbeda
CSP tahun 2009
0.213
0.211
0.066
0.948
Tidak berbeda
Sumber : Data sekunder yang diolah
Hasil pengujian CSP pada perusahaan multinasional dengan perusahaan
domestik menunjukkan nilai signifikansi di atas 0,05. Hal ini berarti tidak
perbedaaan luas pengungkapan CSP yang dilakukan
oleh perusahaan
multinasional dan perusahaan domestik. Dengan demikian Hipotesis 1 ditolak.
4.1.2 Hipotesis 2
4.1.2.1 Model Kinerja Keuangan ROA
Hasil Uji Regresi
Dependen Variabel
CSR 2009
Var Independen
(Constant)
Koef
T
ROA 2009
Sig
Koef
T
sig
-0.029
-1.107
0.277
-5.900
-0.550
0.587
CSR Indeks 08
1.004
17.798
0.000**
66.709
2.858
0.008**
ROA 08
0.001
1.683
0.103
0.856
6.634
0.000**
SIZE 09
0.004
1.194
0.242
-0.642
-0.418
0.679
RISK 09
-0.0001
-0.469
0.643
-0.036
-0.693
0.494
Sumber : Data sekunder yang diolah
Berdasarkan Tabel5 tersebut diatas dapat diperoleh persamaan regresi
untuk mengetahui kausalitas antara CSR dengan kinerja keuangan ROA sebagai
berikut :
ROA2009 = -5,900 + 0,856 ROA2008 + 66,709 CSP 2008 - 0,642 SIZE – 0,036
RISK + 10,726
dan
CSP2009= -0,029 + 1,004 CSP2008 + 0,0001ROA 2008 + 0,004 SIZE – 0,0001
RISK + 0,026
Hasil persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa koefisien regresi
variabel CSP2008 dan ROA2008 keduanya bertanda positif dalam pengaruhnya
terhadap CSP maupun ROA. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan
ROA yang lebih besar CSP yang lebih luas, dan sebaliknya perusahaan yang
memiliki CSP yang lebih luas akan memiliki kinerja ROA yang lebih besar.
Uji Hipotesis
Uji statistik t digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi
variabel dependen. Dari hasil estimasi regresi pada lampiran diketahui nilai t
hitung sebagai berikut :
a. Pengaruh CSP terhadap ROA
Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini adalah untuk menguji
apakah kinerja sosial mempengaruhi kinerja keuangan ROA. Hasil penelitan
menunjukkan nilai t sebesar 2,858 dengan tingkat signifikan sebesar 0,002
berada lebih kecil dari  = 0,05, sehingga hasil penelitian ini mendukung
hipotesis
yang
diajukan.
Dapat
disimpulkan
bahwa
kinerja
sosial
mempengaruhi kinerja keuangan ROA.
b. Pengaruh ROA terhadap CSP
Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini adalah untuk menguji
apakah kinerja keuangan ROA mempengaruhi kinerja sosial. Hasil penelitan
menunjukkan nilai t sebesar 1,683 dengan tingkat signifikan sebesar 0,103
berada lebih besar dari  = 0,05, sehingga hasil penelitian ini tidak
mendukung hipotesis yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa kinerja
keuangan ROA tidak mempengaruhi kinerja sosial.
4.1.2.2 Model Kinerja Keuangan ROE
Hasil Uji Regresi
Dependen Variabel
CSR 2009
Var Independen
(Constant)
Koef
ROE 2009
T
sig
Koef
T
sig
-0.007
-0.254
0.802
-4.980
-0.303
0.765
0.947
15.672
0.000**
73.277
1.898
0.069
ROE 08
0.0004
2.444
0.022*
0.451
4.397
.000**
SIZE 09
0.003
0.764
0.452
-0.116
-0.051
0.960
RISK 09
-0.0001
-0.712
0.483
0.022
0.268
0.791
CSR Indeks 08
Sumber : Data sekunder yang diolah
Berdasarkan Tabel5 tersebut diatas dapat diperoleh persamaan regresi
untuk mengetahui kausalitas antara CSR dengan kinerja keuangan ROE sebagai
berikut :
ROE2009 = -4,980 + 0,451 ROE2008 + 73,277 CSP2008 - 0,116 SIZE + 0,022
RISK + 16,456
dan
CSP2009 = -0,007 + 0,947 CSP2008 + 0,0004 ROE2008 + 0,003 SIZE – 0,0001
RISK + 0,026
Hasil persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa koefisien regresi
variabel CSP2008 dan ROE2008 keduanya bertanda positif dalam pengaruhnya
terhadap CSP maupun ROE. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan
ROE yang lebih besar memiliki CSP yang lebih luas, dan sebaliknya perusahaan
yang memiliki CSP yang lebih luas akan memiliki kinerja ROE yang lebih besar.
Uji Hipotesis
Untuk menentukan pengaruh masing – masing variabel bebas terhadap
variabel tergantung digunakan uji t. Dari hasil estimasi regresi pada lampiran
diketahui nilai t hitung sebagai berikut :
a. Pengaruh CSP terhadap ROE
Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini adalah untuk menguji
apakah kinerja sosial mempengaruhi kinerja keuangan ROE. Hasil penelitan
menunjukkan nilai t sebesar 1,898 dengan tingkat signifikan sebesar 0,069
berada lebih besar dari 0,05 namun lebih kecil dari  = 0,10, sehingga hasil
penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan pada taraf 10%. Dapat
disimpulkan bahwa kinerja sosial mempengaruhi kinerja keuangan ROE pada
taraf 10%.
b. Pengaruh ROE terhadap CSP
Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini adalah untuk menguji
apakah kinerja keuangan ROE mempengaruhi kinerja sosial. Hasil penelitan
menunjukkan nilai t sebesar 2,444 dengan tingkat signifikan sebesar 0,022
berada lebih kecil dari  = 0,05, sehingga hasil penelitian ini mendukung
hipotesis yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan ROE
mempengaruhi kinerja sosial.
4.1.2.3 Model Kinerja Keuangan EPS
Hasil Uji Regresi
Dependen Variabel
CSR 2009
Var Independen
(Constant)
Koef
t
EPS 2009
sig
Koef
T
sig
-0.019
-0.693
0.494
-225.029
-0.977
0.337
0.996
17.481
0.000**
1099.192
2.025
0.053
EPS 08
0.0002
1.361
0.185
0.937
6.733
.000**
SIZE 09
0.003
0.883
0.385
14.702
0.396
0.696
RISK 09
-0.0001
-0.665
0.512
0.004
0.003
0.997
CSR Indeks 08
Sumber : Data sekunder yang diolah
Berdasarkan Tabel tersebut diatas dapat diperoleh persamaan regresi
untuk mengetahui kausalitas antara CSR dengan kinerja keuangan EPS sebagai
berikut :
EPS2009= -225,029 + 0,937 EPS2008+ 1099,192 CSP2008 +14,702 SIZE +
0,004RISK + 260,978
dan
CSP2009= -0,019 + 0,996 CSP2008 + 0,0002 EPS2008 + 0,003 SIZE – 0,0001
RISK + 0,027
Hasil persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa koefisien regresi
variabel CSR2008 dan EPS2008 keduanya bertanda positif dalam pengaruhnya
terhadap CSP maupun EPS. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan EPS
yang lebih besar memiliki CSP yang lebih luas, dan sebaliknya perusahaan yang
memiliki CSP yang lebih luas akan memiliki kinerja EPS yang lebih besar.
Uji Hipotesis
Untuk menentukan pengaruh masing – masing variabel bebas terhadap
variabel tergantung digunakan uji t. Dari hasil estimasi regresi pada lampiran
diketahui nilai t hitung sebagai berikut :
a. Pengaruh CSP terhadap EPS
Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini adalah untuk menguji
apakah kinerja sosial mempengaruhi kinerja keuangan EPS. Hasil penelitan
menunjukkan nilai t sebesar 2,025 dengan tingkat signifikan sebesar 0,053
berada lebih besar dari 0,05 namun lebih kecil dari  = 0,10, sehingga hasil
penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan pada taraf 10%. Dapat
disimpulkan bahwa kinerja sosial mempengaruhi kinerja keuangan EPS pada
taraf 10%.
b. Pengaruh EPS terhadap CSP
Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini adalah untuk menguji
apakah kinerja keuangan EPS mempengaruhi kinerja sosiall. Hasil penelitan
menunjukkan nilai t sebesar 1,361 dengan tingkat signifikan sebesar 0,185
berada lebih besar dari  = 0,05, sehingga hasil penelitian ini tidak
mendukung hipotesis yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa kinerja
keuangan EPS tidak mempengaruhi kinerja sosial.
4.2
4.2.1
Pembahasan
Hipotesis 1
Hasil analisis pengujian hipotesis 1 dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa CSP perusahaan domestik dengan perusahaan multinasional yang
beroperasi di Indonesia tidak mempunyai perbedaan yang signifikan. Hal ini
mendukung penelitian Fauzi (2008) yang menyatakan bahwa dari perusahaan
Indonesia dengan MNC berada pada level yang sama.
Hasil penelitian terdahulu yang berbeda diungkapkan oleh Lewis dan
Minchev (2001) dan Simerly dan Li (1999) dan penelitian tidak langsung oleh
Waddock dan Graves (1997), Orlitzky (2001) dan Itkonen (2003) yang
menyatakan bahwa kinerja MNC pada CSP seharusnya lebih tinggi daripada
perusahaan Indonesia. Sebagian, hasil penelitian ini sejalan dengan penemuan dari
Ite (2004) yang menyatakan bahwa kesuksesan MNC dalam meningkatkan CSP
dalam suatu negara juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah negara asal.
4.2.2
Hipotesis 2
Hasil analisis pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa kinerja sosial lebih mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Analisis
menunjukkan bahwa proksi kinerja keuangan ROA signifikan terhadap CSP
dengan tingkat signifikasi 0,05, sedangkan proksi kinerja keuangan ROE dan EPS
signifikan terhadap CSP dengan tingkat signifikasi 0,10. Pada analisis kausalitas
kinerja keuangan terhadap kinerja sosial perusahaan ditemukan hasil yang tidak
signifikan pada proksi kinerja keuangan ROA dan EPS, dan signifikan pada
proksi kinerja keuangan ROE.
Waddock dan Graves (1997) menemukan hubungan positif yang signifikan
antara indeks CSP dan tolok ukur kinerja, seperti ROA pada tahun berikutnya
(dikutip oleh Tsoutsoura, 2004). Tsoutsoura menemukan adanya hubungan yang
signifikan dan positif antara CSP dan FP. Pendapat yang mendukung pandangan
ini adalah perusahaan yang mempunyai kinerja keuangan yang baik akan
menginvestasikan ketersediaan sumber dayanya pada kinerja sosial, seperti
hubungan karyawan, perhatian pada lingkungan, atau hubungan dengan
masyarakat. Perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik akan berinvestasi
yang menghasilkan strategi jangka panjang, seperti menyediakan layanan untuk
masyarakat atau karyawan mereka. Teori ini disebut dengan slack resource,
dengan kata lain hasil penelitian Tsoutsoura bertentangan dengan hasil analisis
penelitian yang dilakukan oleh penulis yang lebih mendukung pada social impact
hypothesis.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Preston (1997) juga menguji
hubungan dari kinerja keuangan ke kinerja sosial. Hasil yang didapatkan dari
penelitian Preston, positive synergies atau dengan available funds menunjukkan
hubungan yang paling baik antara kinerja keuangan dan kinerja sosial. Hal ini
sesuai dengan teori slack resources yang menyatakan bahwa perusahaan akan
berkontribusi pada kinerja sosial jika perusahaan memiliki posisi keuangan yang
baik. Dapat dikatakan bahwa kinerja keuangan memiliki hubungan positif
terhadap kinerja sosial. Hasil penelitian bertentangan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh penulis, yaitu kinerja sosial lebih mempengaruhi kinerja keuangan.
Penelitian oleh Makni et al (2008) menguji kausalitas antara kinerja sosial
dengan kinerja keuangan perusahaan Kanada menggunakan pendekatan “Granger
causality”, dengan variabel kontrol: ukuran, resiko perusahaan dan industri.
Mereka menemukan tidak ada hubungan antara sejumlah pengukuran CSP dan
FP, kecuali untuk market returns. Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian
yang menemukan adanya hubungan kausalitas antara CSP dengan sejumlah proksi
FP.
Penelitian Nelling dan Webb (2006) menguji hubungan kausal antara CSP
dan FP dengan memperkenalkan teknik ekonometrik baru, pendekatan kausalitas
Granger. Penemuan mereka menyatakan bahwa, dengan menggunakan model
regresi Ordinary Least Square (OLS), CSP dan FP saling terkait. Ketidaksetujuan
dengan penelitian sebelumnya, mereka menemukan hubungan yang rendah antara
CSP dan FP ketika menggunakan pendekatan efek time series. Hasil yang serupa
juga ditemukan ketika memperkenalkan model kausalitas Granger. Selain itu,
dengan berfokus pada masing-masing ukuran CSP, mereka menemukan kausalitas
yang terjadi pada kinerja pasar saham terhadap rating CSP dalam hubungan
karyawan (dalam Makni et al , 2008). Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh penulis , yaitu EPS tidak signifikan terhadap CSP.
Hasil penelitian ini sesuai dengan salah satu hipotesis yang diungkapkan
oleh Preston dan O’Bannon (1997) yaitu Social Impact Hypothesis. Dalam
hipotesis ini dinyatakan bahwa teori stakeholder yaitu pertemuan berbagai
kebutuhan stakeholder akan berujung dengan kinerja sosial yang baik. Cornell dan
Shapiro (1987) berpendapat bahwa kegagalan untuk mempertemukan harapan dari
berbagai konstitusi kepemilikan non saham akan menghasilkan ketakutan pasar,
yang mana pada akhirnya akan meningkatkan risiko premi perusahaan dan
berujung pada harga yang lebih tinggi dan/atau kehilangan peluang laba.
Berdasarkan analisis mereka,menyajikan klaim implisit stakeholder utama (seperti
karyawan, pelanggan) meningkatkan reputasi perusahaan yang berdampak positif
pada kinerja keuangannya; sebaliknya, mengecewakan kelompok ini akan
berdampak negatif pada kinerja keuangan. Versi “social impact” dari teori
stakeholder ini mengimplikasikan hubungan lead-lag antara CSP dan FP; reputasi
eksternal (baik atau tidak baik) berkembang lebih dahulu, kemudian hasil
keuangan (baik atau tidak baik) akan mengikuti (Preston dan O’Bannon, 1997).
Selain itu, hasil penelitian ini juga tidak sesuai dengan teori slack
resources yang menyatakan bahwa perusahaan harus memiliki posisi keuangan
yang baik untuk berkontribusi pada kinerja sosial perusahaan. Dimana kinerja
keuangan yang lebih baik memimpin manajemen ketersediaan peluang investasi,
dan juga pengalokasian sumber daya untuk kegiatan yang bertanggung jawab
sosial (Bird, 2006). Hal ini dapat disebabkan perusahaan tidak memiliki komitmen
yang kuat serta paradigma mengenai tanggung jawab sosial. Sehingga walupun
perusahaan memiliki posisi keuangan yang baik, dana yang dikeluarkan untuk
kegiatan sosial dan lingkungannya merupakan sebagian kecil dari dana yang
dimiliki. Artinya bahwa persentase dana yang dikeluarkan untuk kegiatan sosial
dan lingkungan tidak mempengaruhi keuangan perusahaan secara keseluruhan
(seperti sumbangan atau amal). Dapat dikatakan bahwa perusahaan tidak memiliki
pendekatan strategis terhadap tanggung jawab sosial. Hal ini dapat dilihat dari
salah satu item aspek penilaian seperti visi, misi, serta kebijakan perusahaan.
Perusahaan yang tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap CSR, dapat dilihat
dari visi, misi serta kebijakannya yaitu tidak tercantumnya pendekatan strategis
dalam visi, misi atau kebijakan yang kuat terhadap CSR. Sehingga walaupun
perusahaan memiliki posisi keuangan yang baik, ketika melakukan tanggung
jawab sosialnya hanya dalam rangka syarat untuk memenuhi peraturan. Jadi dana
yang dikeluarkan hanya sedikit atau sebagian kecil dari dana yang terdapat dalam
perusahaan secara keseluruhan.
Dapat dikatakan bahwa masih rendahnya tekanan baik dari para
stakeholder maupun masyarakat mengenai kinerja sosial yang dilakukan oleh
perusahaan. Hal ini sesuai dengan Sudibyo (dikutip dari Ulfah, 2008)
menyimpulkan bahwa terdapat dua hal yang menjadi kendala sulitnya penerapan
akuntansi sosial di Indonesia yaitu lemahnya tekanan sosial yang menghendaki
pertanggung jawaban sosial perusahaan dan rendahnya kesadaran perusahaan di
Indonesia tentang pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan. Selain itu, hal ini
dapat disebabkan belum adanya peraturan yang menegaskan perusahaan untuk
menerbitkan laporan tahunannya. Sesuai dengan UU No.40 tahun 2007 tidak
terdapat ketentuan perusahaan untuk menerbitkan mengenai laporan tanggung
jawab sosialnya hanya mewajibkan perusahaan untuk melakukan tanggung jawab
sosial serta melaporkannya tetapi tidak mem-publish (menerbitkan ke masyarakat
luas). Berdasarkan data yang diperoleh dapat dikatakan masih rendahnya tingkat
perusahaan untuk menerbitkan laporan tahunan. Oleh karena itu, peneliti tidak
dapat melihat keseluruhan tanggung jawab sosial yang sudah dilakukan oleh
perusahaan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan
terhadap CSP dengan arah negatif. Alasan mendasar atas pengaruh negatif dan
signifikan dari variable ROE terhadap pengungkapan sosial CSP adalah karena
pengungkapan aktivitas sosial oleh perusahaan merupakan pengungkapan
sukarela, sehingga manajer nampaknya memiliki pertimbangan bahwa dalam
kondisi perolehan profitabilitas perusahaan yang baik, maka perusahaan akan
memperkecil pengungkapan sosialnya.
Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa dengan melaporan CSR
yang lebih luas, maka perusahaan cenderung memiliki profitabilitas yang rendah.
Dalam kondisi demikian manajemen nampaknya akan menutupi rendahnya
profitabilitas perusahaan dengan memperbanyak pengungkapan sosialnya. Hal ini
memberikan satu fenomena bahwa CSR dapat menjadi satu bentuk alasan atau
informasi kabar buruk perusahaan akibat memiliki profitabilitas yang rendah.
5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan kausalitas terhadap
kinerja sosial dan kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan yang dijadikan
sampel dalam penelitian ini sebesar 17 perusahaan multinasional dan 17
perusahaan domestik. Dari hasil analisis data, pengujian hipotesis, dan
pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Perusahaan domestik dan perusahaan multinasional yang beroperasi di
Indonesia berada pada level kinerja sosial yang sama.
2. Hanya pada kinerja keuangan ROE saja yang menyebabkan kausalitas
Granger terhadap kinerja sosial dengan arah positif.
3. Perusahaan yang mempunyai level kinerja sosial yang lebih tinggi
menyebabkan kausalitas Granger pada kinerja keuangan ROA, ROE, dan EPS.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang sekaligus dapat
merupakan arah bagi penelitian yang akan datang antara lain :
1. Jumlah sampel yang digunakan terlalu kecil, yaitu hanya 34 perusahaan dari
lebih dari 300 perusahaan yang terdaftar di BEI.
2. Terdapat unsur subjektivitas dalam menentukan indeks pengungkapan. Hal ini
dikarenakan tidak adanya penentuan baku yang dapat dijadikan standar atau
acuan, sehingga penentuan indeks untuk indikator dalam kategori yang sama
akan berbeda untuk setiap peneliti.
5.3 Saran
Demi kesempurnaan penelitian selanjutnya perlu diperhatikan beberapa
faktor yang dapat meningkatkan validitas hasil penelitian, yaitu:
1. Pada penelitian masa mendatang disarankan untuk memperbanyak jumlah
sampel.
2. Pada penelitian masa mendatang disarankan untuk mengevaluasi hubungan
jangka panjang yang terjadi antara CSP dan FP.
3. Pada penelitian masa mendatang disarankan untuk mencari pengukuran CSP
dan FP (ukuran akuntansi dan pasar) untuk meningkatkan konsistensi dari
hubungan.
REFERENSI
Anggraini, Fr. R.R. 2006. “Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan
Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang
Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)”. Simposium Nasional Akuntansi 9.
Padang. 23-26 Agustus.
Bhuiyan, Md Hamid Ullah dan P.K Biswas. 2007. ’’Corporate Governance and
Reporting: An Empirical Study of the Listed Companies in
Bangladesh”. Journal of Business Studies, Vol XXVIIII, No. 1.
www.ssrn.com. Diakses 23 Mei 2011.
Deegan, C. 2002. “The Legitimising effect of social and environmental
disclosures: a theoretical foundation”. Accounting, Auditing and
Accountability Journal, 15 (3): 282-312.
________ dan M. Rankin. 2006. “Do Australian companies report environmental
news objectively? An analysis of environmental disclosures by firms
prosecuted successfully by the Environmental Protection Authority”.
Accounting, Auditing and Accountability Journal, Vol-9, lss 2, pp. 5269.
Donaldson, T., dan L. Preston 1995. ’’The Stakeholder theory of the modern
corporation: concepts, evidence and implications”. Academy of
Management Review 20, 65-91.
Fauzi, H. 2008. “Corporate Social and Environmental Performance: A
Comparative Study of Indonesian Companies and Multinational
Companies (MNCs) Operating in Indonesia”. Journal of Knowledge
Globalization, Vol. 1, No.1
Fauzi, H., A.A Rahman, M. Hussain, dan A.A Priyanto. 2009. “Corporate Social
Performance of Indonesian State-Owned and Private Companies”,
http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1489772 diakses
pada 2 November 2010
Ghozali, I. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Undip.
________., dan A. Chariri. 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit
Undip.
Haniffa, R.M., dan T.E Cooke. 2005. “The Impact of Culture and Governance on
Corporate Social Reporting”. Journal of Acounting and Public Policy
24, pp. 391-430.
Hossain, Dewan Mahboob dan Arthur Rahman Khan. 2006. „Disclosure on
Corporate Governance Issues in Bangladesh: A Survey of The Annual
Report”. The Bangladesh Accountant 50 (23): 95-99. www.ssrn.com.
Diakses 23 Mei 2011.
Husnan, S. dan Enny P. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta:
UPP AMP YKPN.
Makni, Rim., Claude Francoeur, dan Franco Bellavance. 2008. “Causality
Between Corporate Social Performance and Financial Performance:
Evidence from Canadian Firms”, http://ssrn.com/abstract=1372389,
diakses pada 15 November 2010
Nizamuddin, Ali. M. 2007. ’’Multinational Corporations and Economic
Development: The Lesson of Singapore”. Forum: International Social
Science Review. www.britannica.com. Diakses 23 Mei 2011.
Orlitzky, M. 2000. “Corporate Social Performance: Developing Effective
Strategies”. Established and supported under the Australian Research
Council’s Research Centre Programs.
Preston, L.E., dan D.P. O’Bannon. 1997. “The Corporate Social-Financial
Performance Relationship”. Business and Society (36,4)
Rosmasita. 2007. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial
(Social Disclosure) dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan
Manufaktur di Bursa Efek Jakarta“. Simposium Nasional Akuntansi X.
Makasar.
Tsoutsoura, Margarita. 2004. “Corporate Social Responsibility and Financial
Performance. Working Paper Series”. (University of California,
Barkeley). http://repositories.cdlib.org, diakses tanggal 15 November
2010.
Ulfah, M. 2008. “Analisis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Akuntansi
Sosial (Corporate Social Responsibility and Social Accounting) Studi
Kasus pada PT. JAMSOSTEK (Persero) Kantor Cabang Surakarta.”
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Download