RESPON BIBIT STUM MATA TIDUR TANAMAN KARET

advertisement
RESPON BIBIT STUM MATA TIDUR TANAMAN KARET
(Hevea brasilliensis Mull Arg) TERHADAP PEMBERIAN
KINETIN
Oleh :
Elly Sarnis Pukesmawati, SP.,MP.
I.
PENDAHULUAN
Tanaman karet (Hevea brasilliensis Mull Arg) merupakan komoditas
perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber
devisa kedua dari perkebunan setelah sawit, karet juga mampu mendorong
pertumbuhan sentra – sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangannya
(Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2003).
Copyright:
www.bppjambi.info
Menurut
Direktorat
Jenderal Bina
Produksi
Perkebunan,
(2003)
produktivitas perkebunan besar Negara 1,136 kg/ha dan perkebunan besar swasta
sebesar 1,143 kg/ha. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan oleh usia
tanaman telah lebih dari 20 tahun, pemeliharaan yang tidak intensif dan sebagian
besar tanaman berasal dari benih sapuan, bukan dari klon unggul.
Gambar 1. Kebun yang kurang terpelihara
1
Untuk meningkatkan produktivitas perkebunan karet rakyat pemerintah
telah menempuh berbagai upaya antara lain perluasan tanaman, penyuluhan,
intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan serta penyebaran klon-klon unggul bibit
karet. Dalam menunjang keberhasilan peningkatan produktivitas perkebunan
karet, khususnya untuk peremajaan dan perluasan tanaman karet rakyat perlu
diupayakan pengadaan klon unggul bibit karet (Direktorat Jenderal Bina Produksi
Perkebunan, 2003).
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbanyak bibit tanaman
karet dari klon - klon unggul adalah dengan menggunakan teknik okulasi
(Setiawan dan Andoko, 2005). Menurut Setyamidjaja (1993), hasil okulasi pada
tanaman karet salah satunya adalah stum mata tidur.
Copyright:
www.bppjambi.info
Gambar 2. Stum Mata Tidur yang telah di okulasi
Kuswanhadi (1991) menyatakan bahwa seringkali mata okulasi stum mata
tidur mengalami dormansi sehingga tidak jarang batang bawah mati sebelum
tunas berkembang, dalam keadaan normal tunas akan berkembang setelah 21 hari.
Selanjutnya Soemomarto dan Pudji Hardjo (1982) menyatakan bahwa mata
2
okulasi tanaman karet memerlukan waktu 23 hari untuk mekar setelah
pemotongan batang bawah.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah lamanya
masa dormansi adalah dengan menggunakan zat pengatur tumbuh (Kusumo,
1994). Selanjutnya Sutarmi (1974), menyatakan kinetin merupakan salah satu zat
pengatur tumbuh yang dapat menumbuhkan mata atau tunas tidur tanaman.
Kinetin tidak terdapat secara alami di dalam tanaman. Zat ini dibuat dari
pemecahan deoxyribonucleic acid adalah 6-(fulfurylamino) purine. Zat yang
secara alami mempunyai pengaruh morfologi dan fisiologi yang sama dengan
kinetin dan terdapat di dalam tanaman adalah sitokinin (Kusumo, 1984).
Dari uraian di atas jelas bahwa kinetin sebagai zat pengatur tumbuh dapat
Copyright:
www.bppjambi.info
digunakan untuk memacu pemecahan dormansi yang terjadi pada mata tunas
okulasi stum mata tidur tanaman karet dan meningkatkan pertumbuhan tunas
selanjutnya, yang pada akhirnya dapat memperpendek masa siap tanam bibit karet
asal stum mata tidur. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi
konsentrasi kinetin dan asal stum okulasi yang tepat, mendapatkan konsentrasi
kinetin yang tepat, dan mendapatkan stum mata tidur yang baik terhadap
pemecahan mata tunas dan pertumbuhan bibit tanaman karet.
3
II.
BAHAN DAN METODE
Percobaan ini dilaksanakan di Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan
Kota Baru Kota Jambi dengan ketinggian tempat ± 35 m dari permukaan laut.
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bibit karet asal okulasi
stum mata tidur yang belum tumbuh hasil pertautan antara klon PB 260 sebagai
batang atas dan klon GT 1 yang berumur 12 bulan dengan diameter 2 cm sebagai
batang bawah. Bibit dibongkar dari kebun pembibitan 1 hari sebelum penanaman
di polybag.
Percobaan ini berbentuk percobaan faktorial 5 x 2 dalam Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi Kinetin (K)
Copyright:
www.bppjambi.info
yaitu 0 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm sedangkan faktor kedua adalah
asal Entres (E) yaitu entres hijau dan entres coklat. Dengan demikian terdapat 30
satuan percobaan, masing-masing satuan percobaan ada 4 tanaman. Secara
kelseluruhan terdapat 120 buah tanaman atau polybag. Data yang diperoleh
dianalisis secara startistik dengan menggunakan sidik ragam (uji F) untuk RAL
pada taraf nyata 5 % dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DNRMT
taraf 5 %.
4
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kecepatan Pemacahan Mata Tunas
Pengaruh interaksi antara perlakuan konsentrasi kinetin dan asal entres
berbeda nyata terhadap kecepatan pemecahan mata tunas. Pengaruh interaksi
perlakuan konsentrasi kinetin dengan asal entres terhadap rata – rata waktu
kecepatan pemecahan mata tunas dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh konsentrasi kinetin dan asal entres terhadap kecepatan
pemecahan mata tunas.
Konsentrasi
Asal Entres
Kinetin (ppm)
Hijau (HST)
Coklat (HST)
27,83 A
30,50 A
0
b
a
19,17 C
22,17 D
5
b
a
16,33 D
21,67 D
10
b
a
20,17 C
23,50 C
15
b
a
26,50 B
24,67 B
20
b
a
Copyright:
www.bppjambi.info
Angka-angka pada baris yang sama diikuti huruf kecil yang sama dan angka-angka pada kolom
yang sama diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT 5 %.
Dari Tabel 1 di atas, kenyataan menunjukkan bahwa pemberian kinetin
dengan konsentrasi 5 ppm – 20 ppm pada entres hijau dan coklat mampu
mempercepat pemecahan mata tunas dibandingkan perlakuan tanpa pemberian
kinetin, perlakuan pemberian kinetin dengan konsentrasi 10 ppm adalah
konsentrasi yang tepat untuk percepatan pemecahan mata tunas baik pada entres
hijau maupun entres coklat. Hal ini diduga karena kinetin dikenali dan diikat erat
oleh kelompok sel membran plasma dan dapat mengaktifkan enzim fosfilase C
(PLC) yang berdekatan dengan membran sel, yang selanjutnya mengendalikan
5
proses kimia dalam sel akhirnya berpengaruh pada kecepatan pemecahan mata
tunas.
Gambar 3. Mata Tunas Pada Entres Hijau dan Coklat
Guttman (1996) cit Wilkins (1989), menyatakan bahwa kinetin berperan
Copyright:
www.bppjambi.info
selama antara fase mitosis dalam sel-sel akar bawang (Allium cepa) untuk
memacu profase selanjutnya.
Kecepatan pemecahan mata tunas entres hijau baik pada perlakuan tanpa
pemberian kinetin maupun pada perlakuan pemberian kinetin dengan konsentrasi
5 ppm, 10 ppm, dan 15 ppm lebih cepat dibandingkan dengan entres coklat, tetapi
pada perlakuan pemberian kinetin dengan konsentrasi 20 ppm kecepatan
pemecahan mata tunas entres coklat lebih cepat dari entres hijau. Pemberian
kinetin dapat mempercepat proses pembelahan sel dan selanjutnya mempercepat
kecepatan pemecahan mata tunas, sedangkan pada entres coklat sel-sel tanaman
relatif sudah tua, kinetin yang diberikan memerlukan waktu yang lama untuk
menembus jaringan sel tanaman, sehingga pengaktifan hormon yang ada pada
tanaman juga lambat.
6
Perlakuan pemberian konsentrasi kinetin 20 ppm pada entres hijau justru
memperlambat laju kecepatan pemecahan mata tunas. Hal ini diduga proses
metabolisme sel terhambat karena konsentrasi kinetin yang tinggi, sedangkan
pada entres coklat pemberian konsentrasi kinetin 20 ppm adalah konsentrasi yang
memperlihatkan kecepatan pemecahan mata tunas yang baik, karena mampu
mengaktifkan sel-sel yang berpengaruh pada proses metabolisme yang selanjutnya
berpengaruh kepada laju kecepatan pemecahan mata tunas.
Persentase Tunas Yang Tumbuh
Berdasarkan hasil sidik ragam pengaruh interaksi antara perlakuan
konsentrasi kinetin dan asal entres tidak berbeda nyata terhadap persentase tunas
Copyright:
www.bppjambi.info
yang tumbuh. Pengaruh konsentrasi kinetin dan asal entres terhadap persentase
tunas yang tumbuh dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh konsentrasi kinetin dan asal entres terhadap persentase tunas
yang tumbuh
Konsentrasi
Kinetin (ppm)
0
5
10
15
20
Rerata Asal Entres
Asal Entres
Hijau (%)
Coklat (%)
75,00
75,00
91,67
91,67
100,00
91,67
91,67
91,67
83,33
83,33
88,33
86,67
Rerata Pengaruh
Konsentrasi Kinetin (%)
75,00 A
91,67 A
95,84 A
91,67 A
83,33 A
Angka-angka pada baris yang sama diikuti huruf kecil yang sama dan angka-angka pada kolom
yang sama diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT 5 %.
7
Dari Tabel 2 di atas, terlihat bahwa terjadinya perbedaan yang tidak nyata
terhadap persentase tunas tumbuh akibat dari berbagai perlakuan konsentrasi
kinetin dan asal entres diduga karena karbohidrat dan protein yang ada pada
batang bawah bibit tanaman karet sudah mampu mensuplai nutrisi yang
dibutuhkan tunas untuk tumbuh, sehingga perlakuan pemberian berbagai
konsentrasi kinetin dan asal entres tidak mempengaruhi persentase tunas yang
tumbuh baik pada entres hijau maupun pada entres coklat bibit tanaman karet di
polybag.
Cadangan karbohidrat yang cukup dan lingkungan yang sangat
mendukung merupakan faktor penyebab tingginya angka persentase tunas yang
tumbuh. Apalagi sitokinin endogen yang terdapat pada bibit tanaman karet
Copyright:
www.bppjambi.info
tersebut dapat meningkatkan sintesa protein sehingga dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. Karyadi, et al, (1986), menyatakan cadangan karbohidrat
yang terdapat pada batang bawah sangat diperlukan untuk pertumbuhan awal
tanaman.
Panjang Tunas Hasil Okulasi
Pengaruh interaksi antara konsentrasi kinetin dengan asal entres berbeda
nyata terhadap panjang tunas hasil okulasi. Panjang tunas hasil okulasi hanya
dipengaruhi oleh perlakuan konsentrasi kinetin. Pengaruh interaksi perlakuan
konsentrasi kinetin dengan asal entres terhadap rata-rata panjang tunas hasil
okulasi dapat dilihat pada Tabel 3.
8
Tabel 3. Pengaruh Konsentrasi Kinetin dan Asal Entres terhadap Panjang Tunas
Hasil Okulasi
Konsentrasi Kinetin
Asal Entres
(ppm)
Hijau (cm)
Coklat (cm)
0
15,70 A
18,33 A
a
a
5
22,40 AB
19,67 A
a
a
10
28,75 B
20,20 AB
b
a
15
22,30 AB
24,88 AB
a
a
20
16,97 A
25,59 B
b
a
Angka-angka pada baris yang sama diikuti huruf kecil yang sama dan angka-angka pada kolom
yang sama diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT 5 %.
Dari Tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa pemberian kinetin dapat
mempercepat metabolisme dalam tubuh tanaman yaitu dengan menginduksi
pembelahan sel dan selanjutnya menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan
Copyright:
www.bppjambi.info
tunas.
Gambar 4. Pertumbuhan Tunas Hasil Okulasi
9
Sitokinin eksogen menyebabkan pertumbuhan dengan cara mendorong
pemanjangan sel. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Wright (1966) cit
Salisbury dan Ross (1955), yang menunjukkan bahwa pemberian sitokinin benarbenar memacu pemanjangan potongan koleoptil muda tanaman gandum.
Selanjutnya dari hasil penelitian loy (1980), menunjukkan bahwa pemberian
sitokinin memacu pemanjangan hipokotil utuh tanaman semangka terutama dari
kultivar katai atau kerdil.
Hormon pada konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu
respon fisiologis. Respon pada organ tanaman tidak hanya bersifat memacu tetapi
juga menghambat pertumbuhan (Salisbury dan Ross, 1995).
Pemberian kinetin dengan konsentrasi 20 ppm pada entres coklat
Copyright:
www.bppjambi.info
menghasilkan rata-rata panjang tunas terpanjang yaitu 25,59 cm berbeda nyata
dengan perlakuan tanpa pemberian kinetin (kontrol) dan pemberian kinetin
dengan konsentrasi 5 ppm, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan
pemberian kinetin 10 ppm, 15 ppm, sedangkan panjang tunas terpendek terjadi
pada perlakuan tanpa pemberian kinetin (kontrol) yaitu rata-rata 18,33 cm.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa setiap penambahan konsentrasi kinetin akan
menambah panjang tunas hasil okulasi. Panjang tunas hasil okulasi pada
perlakuan tanpa pemberian kinetin dan perlakuan pemberian kinetin dengan
konsentrasi 5 ppm dan 15 ppm antara entres hijau dengan entres coklat walau
secara visual memperlihatkan perbedaan namun setelah diuji dengan sidik ragam
memperlihatkan perbedaan yang tidak nyata. Hal ini diduga karena tanpa
pemberian kinetin, pemberian kinetin dengan konsentrasi 5 ppm dan 15 ppm
10
antara entres hijau dan entres coklat tidak berpengaruh terhadap panjang tunas
yang dihasilkan, karena entres hijau dan entres coklat memberikan respon yang
sama terhadap perlakuan yang diberikan.
Pada perlakuan pemberian konsentrasi kinetin 10 ppm antara entres hijau
dengan entres coklat berbeda nyata. Pada perlakuan pemberian kinetin dengan
konsentrasi 10 ppm panjang tunas hasil okulasi entres hijau lebih panjang rata-rata
8,55 cm dari entres coklat.
Pada perlakuan pemberian kinetin 20 ppm, panjang tunas hasil okulasi
entres coklat lebih panjang rata-rata 8,62 cm berbeda nyata dengan panjang tunas
entres hijau. Hal ini diduga karena pada entres coklat, kinetin yang diberikan
masih direspon dengan baik sehingga metabolisme sel tetap terus berlangsung dan
Copyright:
www.bppjambi.info
meningkatkan laju pertambahan panjang tunas, sedangkan pada entres hijau
pertumbuhan tunas menjadi terhambat. Wareing dan Phillip (1981), menyatakan
bahwa sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang secara umum mampu
merangsang pembelahan sel, menghambat pembelahan akar, merangsang
pertumbuhan dan pembentukan tunas axilar dengan jalan menurunkan dominansi
apikal.
Diameter Batang Hasil Okulasi
Berdasarkan hasil sidik ragam, pengaruh interaksi antara perlakuan
konsentrasi kinetin dengan asal entres tidak berbeda nyata terhadap diameter
batang hasil okulasi. Diameter batang hasil okulasi hanya dipengaruhi oleh
perlakuan konsentrasi kinetin. Pengaruh interaksi perlakuan konsentrasi kinetin
11
dengan asal entres terhadap rata-rata diameter batang hasil okulasi dapat dilihat
pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Konsentrasi Kinetin dan Asal Entres terhadap Diameter Batang
Hasil Okulasi
Konsentrasi
Asal Entres
Rerata Pengaruh
Kinetin (ppm)
Kinetin (cm)
Hijau (cm)
Coklat (cm)
0
0,38
0,40
0,39 A
5
0,47
0,42
0,45 AB
10
0,56
0,44
0,50 B
15
0,43
0,46
0,45 AB
20
0,41
0,50
0,46 AB
Rerata Pengaruh
0,45
0,44
Entres
Angka-angak pada kolom yang sama diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut
DNMRT 5 %.
Dari Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa pada pemberian konsentrasi
kinetin 10 ppm memberikan rata-rata diameter batang ahsil okulasi tertinggi yaitu
Copyright:
www.bppjambi.info
0,50 cm, berbeda nyata dengan tanpa pemberian kinetin tetapi tidak berbeda nyata
dengan pemberian konsentrasi kinetin 5 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm, sedangkan
rata-rata diameter batang hasil okulasi terendah pada tanpa pemberian kinetin
yaitu 0,39 cm. Hal ini diduga pada pemberian konsentrasi kinetin 10 ppm dapat
memacu aktivitas meristem yang secara aktif terlibat dalam pembelahan dan
pertumbuhan sel, selanjutnya akan mendorong pertumbuhan dan menentukan arah
perkembangan batang. Bila fotosintat tersedia dalam jumlah cukup, maka
aktivitas jaringan meristem untuk membelah dan memperbesar sel akan semakin
cepat sehingga pertumbuhan diameter batang akan semakin besar. Selain itu
adanya pengaruh terhadap peningkatan diameter batang hasil okulasi dikarenakan
terjadinya proses metabolisme yang merubah zat makanan menjadi karbohidrat
dan protein. Menurut Lakitan (1995), sebagian dari karbohidrat dan protein
12
tersebut ditranslokasikan ke daerah titik tumbuh dan batang selanjutnya akan
digunakan dalam proses pembelahan, perpanjangan dan penebalan sel yang pada
akhirnya terlihat dengan bertambahnya diameter batang.
Gambar 5. Pengukuran Diameter Batang Tunas Hasil Okulasi
Copyright:
www.bppjambi.info
Pada pemberian kinetin dengan konsentrasi 5 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm
terjadi penurunan diameter batang hasil okulasi namun berdasarkan hasil sidik
ragam tidak berbeda nyata dengan pemberian konsentrasi kinetin 10 ppm. Hal ini
diduga karena pada konsentrasi tersebut masih dalam batas kecukupan jumlah
yang dibutuhkan untuk mengaktifkan jaringan meristem pada pembelahan dan
pembesaran sel. Gardner, et al (1991), menyatakan bahwa kinetin mempengaruhi
pertumbuhan lebih kepada pembelahan sel.
Bobot Kering Akar
Berdasarkan hasil sidik ragam pengaruh interaksi antara perlakuan
konsentrasi kinetin dengan asal entres berbeda nyata terhadap bobot kering akar.
Bobot kering akar hanya dipengaruhi oleh perlakuan konsentrasi kinetin.
13
Pengaruh interaksi perlakuan konsentrasi kinetin dengan asal entres terhadap ratarata bobot kering akar dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh Konsentrasi Kinetin dan Asal Entres Terhadap Bobot Kering
Akar.
Konsentrasi Kinetin
Asal Entres
(ppm)
Hijau (g)
Coklat (g)
0
0,79 A
1,13 A
a
a
5
1,74 BC
1,41 AB
a
a
10
2,19 C
1,65 AB
b
a
15
1,70 BC
1,88 B
a
a
20
1,42 B
1,97 B
b
a
Angka-angka pada baris yang sama diikuti huruf kecil yang sama dan angka-angka pada kolom
yang sama diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT 5 %
Copyright:
www.bppjambi.info
Dari Tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa pada pemberian kinetin dengan
konsentrasi 10 ppm menghasilkan rata-rata bobot kering akar terberat pada entres
hijau yaitu 2,19 g, berbeda nyata dengan tanpa pemberian kinetin dan pada
pemberian konsentrasi kinetin 20 ppm, sedangkan terendah pada perlakuan tanpa
pemberian kinetin yaitu 0,79 g . Hal ini diduga karena fotosintat yang berasal dari
daun tunas hasil okulasi ditranslokasikan dengan sempurna melalui batang ke
bagian tanaman yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan akar.
Kuswanhadi dan Boerhendi (1994) menyatakan bahwa akar pada stum
mata tidur diperkirakan sangat terbatas menyerap hara dari tanah. Suplai hara
lewat daun diduga sangat berguna untuk pertumbuhan akar tanaman. Gardner, et
al, (1985) menyatakan bahwa faktor-faktor di atas tanah mempengaruhi
14
pertumbuhan pucuk, terutama transfer karbohidrat ke akar dapat memberikan
pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan akar.
Gambar 6. Perakaran pada entres Hijau dan Coklat
Menurutnya bobot kering akar pada pemberian kinetin konsentrasi 15 ppm
dan 20 ppm diduga disebabkan oleh terciptanya ketidakstabilan nisbah kinetin dan
auksin yang tinggi, sehingga menghambat aktifitas auksin pada pembentukan
Copyright:
www.bppjambi.info
akar. Bhaskaran dan Smith (1990), menyatakan bahwa diferensiasi organ diatur
oleh kerja saling pengaruh mempengaruhi antara auksin dan sitokinin. Jika
sitokinin relatif lebih tinggi dari auksin pada konsentrasi yang sudah efektif akan
mendorong pembentukan tunas sebaliknya bila auksin relatif lebih tinggi dari
sitokinin akan mengarah pada pembentukan akar.
Pada perlakuan pemberian konsentrasi kinetin 20 ppm bobot kering akar
entres coklat terberat yaitu rata-rata 1,97 g, berbeda nyata dengan tanpa
pemberian kinetin, tetapi tidak berbeda nyata dengan pemberian kinetin dengan
konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, dan 15 ppm. Perlakuan tanpa pemberian kinetin bobot
kering akar terendah yaitu rata-rata 1,13 g, semakin tingginya pemberian
konsentrasi kinetin bobot kering akar semakin berat. Hal ini diduga adanya
korelasi antara panjang tunas dengan bobot kering akar dimana tunas yang
15
terbentuk mampu menyuplai fotosintat yang berasal dari daun yang berguna bagi
pertumbuhan akar.
Bobot kering akar pada perlakuan tanpa pemberian kinetin dan perlakuan
pemberian kinetin dengan konsentrasi 5 ppm, dan 15 ppm antara entres hijau
dengan entres coklat tidak berbeda nyata, sedangkan pada perlakuan pemberian
kinetin dengan konsentrasi 10 ppm, dan 20 ppm antara entres coklat dan entres
hijau berbeda nyata. Pada perlakuan pemberian kinetin dengan konsentrasi 10
ppm bobot kering akar entres hijau lebih berat dari entres coklat yaitu rata-rata
0,54 g, sedangkan pada perlakuan pemberian kinetin dengan konsentrasi 20 ppm
bobot kering akar entres coklat lebih berat rata-rata 0,55 g dari entres hijau.
Fenomena ini terjadi diduga sangat berkaitan dengan panjang tunas hasil
Copyright:
www.bppjambi.info
okulasi. Pada panjang tunas hasil okulasi yang terpanjang terdapat daun dan
diameter batang yang relatif lebih besar dari pada panjang tunas hasil okulasi yang
lebih pendek. Daun berfungsi sebagai organ utama fotosintesis pada tumbuhan
tingkat tinggi yang menghasilkan gula heksosa yang selanjutnya akan banyak
perubahan yang terjadi karena ditranslokasikan ke sel-sel yang lain seperti ke
tempat yang aktif tumbuh termasuk ke akar. Gardner, et al (1995), menyatakan
produk fotosintesis digunakan untuk cadangan makanan, struktur, respirasi dan
pertumbuhan. Selanjutnya dikatakannya bahwa fotosintesis mengakibatkan
meningkatnya bobot kering akar.
Guritno dan Sitompul (1995), menyatakan bahwa bahan kering adalah
hasil dari penumpukan fotosintat pada sel dan jaringan tanaman, dimana produksi
yang lebih besar akan menghasilkan pertumbuhan organ tanaman yang lebih besar
16
seperti daun dan akar. Selanjutnya Wilkins (1989) menyatakan bahwa, berat
kering akar akan bertambah apabila terjadi kelebihan dari hasil fotosintesis yang
dilaksanakan oleh tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan akar sangat
berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan tunas, karena fotosintst yang
dihasilkan daun membantu proses pembentukan akar.
Copyright:
www.bppjambi.info
17
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan.
Konsentrasi kinetin 10 ppm dapat merangsang kecepatan pemecahan mata
tunas dan memberikan pertumbuhan yang terbaik pada stum mata tidur entres
hijau tanaman karet, sedangkan pada entres coklat konsentrasi kinetin 10 ppm
hanya dapat merangsang kecepatan pemecahan mata tunas tetapi untuk
pertumbuhannya belum didapat konsentrasi yang tepat karena sampai dengan
pemberian kinetin 20 ppm masih menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan.
Saran
Copyright:
www.bppjambi.info
Untuk mempercepat pemecahan mata tunas pada pembibitan tanaman
karet stum mata tidur entres coklat dapat menggunakan kinetin dengan
konsentrasi 10 ppm.
18
DAFTAR PUSTAKA
Bhaskaran, S and R.H. Smith, 1990. Cell Biology and Molekuler Genetik
Regeneration in Cereal Tissue Culture. Jour. Crop. Science.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2003. Statistik Perkebunan
Indonesia Tahun 2001 – 2003. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal
Bina Produksi Perkebunan. Jakarta.
Gardner,P.F, Pearce,R.B dan Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Penterjemah Herawati Susilo. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Guritno dan S.M. Sitompul. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Karyadi, N.H.S dan Sunarwidi, 1986. Penggunaan Stum Akar Tunggang Pendek
Sebagai Bahan Tanaman Karet I. Pengaruh Panjang Akar Tunggang dan
Rootone F Terhadap Pertumbuhan Tanaman. Balai Penelitian Perkebunan
Sungai Putih. Sumatera Utara.
Copyright:
www.bppjambi.info
Kusumo. 1984. Zat Pengatur Tumbuh. CV. Yasaguna. Jakarta.
Kuswanhadi dan I. Boerhendy, 1994. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh dan Pupuk
Daun Pada Tanaman Karet di Polybag. Pusat Penelitian Karet Sembawa.
Sumatera Utara.
Lakitan, B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Loy, J.B. 1980. Promotion of Hypocotyl Elongation in Watermelon Seedlings by
6 – Benzyladenine, journal of Experimental Botani.
Salisbury, F.B dan C.W.Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Alih Bahasa oleh
Diah R Lukman dan Sumaryono.
Setiawan, D.H dan Andoko, A. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Soemomarto dan Puji Hardjo. 1982. Pengaruh Berbagai Senyawa Kimia untuk
Merangsang Meleknya Mata Tidur Pada Okulasi Stum Pendek Karet. RC
– Getas. Salatiga.
Sutarmi. 1974. Merawat Anggrek. Yayasan Kanisius. Jakarta.
19
Wareing, P.F and I.D.J. Philips. 1991. Growth and Diferentation in Plant.
Pergamon Press.
Wilkins, M.B. 1989. Fisiologi Tanaman. Alaih Bahasa oleh Mulyadi Sutedjo dan
A.g. Kartasapoetra. Bina Aksara. Jakarta.
Copyright:
www.bppjambi.info
20
Download