Postpartum Blues, Usia - repository stikes poltekkes majapahit

advertisement
USIA DAN PARITAS DENGAN POSTPARTUM BLUES
DI RSUD BANGIL PASURUAN
2014
HOSNOL KHOTIMAH
11002154
Subject : Postpartum Blues, Usia, Paritas
DESCRIPTION
Postpartum blues dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan
psikosis pasca salin yang mempunyai dampak lebih buruk terutama bagi ibu dan
perkembangan anaknya. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya postpartum blues
diantaranya adalah usia dan paritas. Tujuan penelitian untuk mengetahui adakah hubungan
usia dan paritas dengan kejadian postpartum blues.
Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan rancang bangun penelitian cross
sectional. Variabel independen adalah usia dan paritas, variabel dependen adalah kejadian
postpartum blues. Populasi dalam penelitian 36 ibu postpartum dan sampel sebanyak 33
responden. Teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling tipe simple random
sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Bangil Pasuruan pada tanggal 19-24 Mei 2014.
Pengumpulan data dengan menggunakan Skrining Edinburgh Postnatal Depression Scale
(EPDS) dan lembar kuesioner. Pengolahan data dengan cara editing, coding, scoring,
tabulating dilakukan dengan uji chisquare.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata responden berusia 20-35 tahun sebanyak
23 responden (69,7%), rata-rata responden melahirkan 2-3 anak (multipara) sebanyak 20
responden (60,6%), sebagian kecil responden mengalami post partum blues sebanyak 18
responden (54,5%).
Hasil uji Chi Square menunjukkan hubungan antara usia dengan postpartum blues
diperoleh nilai  value = 0,003 sedangkan pada hubungan paritas dengan postpartum blues
diperoleh nilai  = 0,002 dengan tingkat kemaknaan yang ditetapkan adalah pada α = 0,05.
Oleh karena nilai  < α maka H1 diterima dengan demikian ada hubungan usia dan paritas
dengan kejadian postpartum blues di RSUD Bangil Pasuruan.
Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan paritas dengan kejadian postpartum
blues. Petugas kesehatan atau bidan di harapkan memberikan penyuluhan kesehatan
khususnya pada ibu tentang cara untuk mencegah terjadinya postpartum blues dengan benar.
ABSTRACT
Postpartum blues can develop to be a more severe condition namely postpartum
depression and psychosis that has a worse impact especially for maternal and child
development. There are several factors that lead to postpartum blues, which are age and
parity. The purpose of this study was to know the relationship between age and parity with
postpartum blues.
This research was an analytic observational with cross sectional design. The
independent variables were age and parity and the dependent variable was the incidence of
postpartum blues. The population in this study was 36 postpartum mothers and sample used
was 33 respondents. The sampling technique used was a type of probability sampling simple
random sampling. This research was conducted in RSUD Bangil Pasuruan on 19-24 May
2014. Collecting data using the Edinburgh Postnatal Depression Screening Scale (EPDS) and
the questionnaire. Data processed through editing, coding, scoring, tabulating and performed
with the chi-square test.
The results showed that on average respondents aged 20-35 years were 23
respondents (69.7%), the average respondent gave birth to 2-3 kids (multipara) were 20
respondents (60.6%), a small proportion of respondents experienced post partum blues as
many as 18 respondents (54.5%).
Based on chi-square test on the calculation of the relationship between age and
postpartum blues obtained result ρ value = 0,003 while the relationship between parity and
postpartum blues obtained ρ value = 0,002 with significance level at α = 0,05. Therefore, ρ <
α so that H1 was accepted it meant there was a relationship b etween age and parity with
postpartum blues incidience in RSUD Bangil Pasuruan.
There was a significant relationship between age and parity with the incidence of
postpartum blues. Health worker or midwife should provide health education especially in the
mother on how to prevent postpartum blues properly.
Keywords: Age, Parity, Postpartum Blues
Contributor
: Ika Yuni Susanti S.ST
Fitria Edni Wari S.Keb Bd
Date
: 30 Mei 2014
Type Material
: Laporan Penelitian
Identifier
:
Right
:
Summary
:
LATAR BELAKANG
Postpartum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak
ditangani dengan baik. Banyak ibu yang berjuang sendiri dalam beberapa saat setelah
melahirkan. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benarbenar mengetahui apa yang sedang terjadi. Para ibu yang mengalami postpartum blues
membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan
psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi (Yeyeh, 2010: 378).
Postpartum Blues dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan, tetapi bila
tidak ditatalaksanai dengan baik dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang
mengalaminya, dan bahkan gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih
berat yaitu depresi dan psikosis pasca salin yang mempunyai dampak lebih buruk terutama
dalam hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya (Yuliantari, 2013).
Angka kejadian post partum blues di luar negeri cukup tinggi mencapai 26-85%. Secara
global diperkirakan 20% wanita melahirkan menderita post partum blues. Di belanda tahun
2011 diperkirakan 2-10% ibu melahirkan mengidap gangguan ini (Chairunnisa, 2012). Di
Indonesia pada tahun 2009, angka kejadian postpartum blues antara 50%-70% dari ibu
primipara pasca persalinan dan sebagian diantaranya adalah ibu melahirkan pada usia <20
tahun, mereka merasa khawatir dengan keadaannya sehingga perlu dilakukan perawatan dan
dukungan sosial yang tepat. Di Jawa Timur pada tahun 2009, kejadian depresi pasca
persalinan dianggap sebagai suatu yang riskan dialami oleh ibu. Hal ini dapat dibuktikan pada
hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Irnawati Sp.Kj, sebagian besar responden mengalami
gejala postpartum blues pada usia 20-25 tahun sebesar 58% dan 27% terjadi pada wanita
postpartum dengan usia <20 tahun, hal ini dikarenakan ibu yang kurang siap fisik maupun
psikis dalam merawat bayi, sehingga mampu mencetuskan gejala postpartum blues (Sylvia,
2012).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RSUD Bangil pasuruan pada tanggal
28 Februari – 1 Maret 2014, jumlah persalinan pada bulan Januari sebanyak 231 partus,
terdiri dari 107 persalinan normal, 25 persalinan normal dengan komplikasi dan 99 persalinan
SC. Hasil yang didapatkan dari observasi langsung kepada 12 ibu bersalin, didapatkan bahwa
8 ibu (66,7%) mengalami postpartum blues dan 4 ibu (33,3%) tidak mengalami postpartum
blues.
Puncak dari postpartum blues ini 3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari
beberapa hari sampai 2 minggu. Keadaan ini dikatakan umum maka diharapkan tidak
dianggap sebagai suatu penyakit. Postpartum blues tidak mengganggu kemampuan seorang
wanita untuk merawat bayinya sehingga ibu dengan postpartum blues bisa merawat bayinya
(Yuliantari, 2013).
Faktor yang menyebabkan terjadinya postpartum blues bisa terjadi dari dalam dan luar
individu, misalnya ibu belum siap menghadapi persalinan, adanya perubahan hormon,
payudara membengkak, ketidaknyamanan fisik yang dialami wanita menimbulkan ganguan
pada emosional seperti payudara bengkak dan nyeri, rasa mulas, ketidakmampuan
beradaptasi terhadap perubahan fisik dan emosional yang kompleks, faktor umur dan paritas,
pengalaman dalam proses persalinan dan kehamilan (Yeyeh, 2010: 377). Faktor usia
perempuan yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan
kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu. Sebagian besar masyarakat
percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara
20–30 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh
seorang ibu. Handenson dan Jones (2004) menyebutkan keadaan krisis situasi, pengalaman
yang menyangkut kesiapan menjadi orang tua, beban peran dalam lingkungan sosial dapat
menimbulkan masalah pada wanita melahirkan, termasuk mereka yang berumur kurang dari
20 tahun. Faktor paritas diduga riwayat obstetri dan komplikasi yang meliputi riwayat hamil
sampai melahirkan sebelumnya yang juga berpengaruh buruk pada ibu pasca bersalin
sehingga memicu timbulnya postpartum blues (Hidayatul, 2008). Kehamilan secara
tradisional dipandang sebagai krisi emosi oleh beberapa ahli psikologi. Kondisi yang dialami
wanita pada saat pertama kali mengalami kehamilan merupakan kondisi yang baru dihadapi
sehingga tida jarang dapat menimbulkan stres baginya. Perubahan yang terjadi selama
kehamilan khususnya peningkatan hormon dapat menimbulkan tingkat kecematan yang
semakin berarti (Henderson, 2006).
Bidan sebagai tenaga kesehatan lebih giat lagi dalam memberikan penyuluhan dan
penjelasan kepada kepala keluarga pentingnya dukungan suami pada ibu postpartum, karena
dengan dukungan suami psikologi ibu akan lebih baik dalam menghadapi masalah, serta
memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan melibatkan keluarga dengan cara konseling
atau penyuluhan, selain itu dapat dilaksanakan program skrining kesehatan fisik dan psikis
ibu postpartum. Skrining kesehatan psikis dan pendataan data demografi pada ibu hamil dan
postpartum mampu mencegah timbulnya gangguan psikologis pada ibu hamil dan postpartum.
Kegiatan tersebut dapat diterapkan kontinyu hingga anak balita (Ratna, 2006). Perlu adanya
intervensi medis lebih lanjut mengenai penanganan postpartum blues terlebih pada ibu yang
berusia muda dan ibu primigravida (Chairunnisa, 2012).
Berdasarkan fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai “Hubungan usia dan paritas dengan kejadian postpartum blues di RSUD Bangil
Pasuruan”
METODOLOGI
Jenis penelitian menggunakan analitik observasional dengan rancang bangun
penelitian yang digunakan Cross Sectional, di lakukan di ruang nifas RSUD Bangil Pasuruan.
Populasinya semua ibu postpartum pada hari ke 1-2 pada bulan April 2014 ± sebanyak 36
orang. Sampel penelitiannya adalah seluruh ibu postpartum pada hari ke 1-2. Dalam
penelitian ini metode sampling yang digunakan adalah non probability sampling tipe
accidental sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah usia dan paritas.
Variabel dependen adalah kejadian postpartum blues. Instrumen penelitian yang digunakan
berupa Skrining Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Analisa data menggunakan
Analisa Univariat dan Analisa Bivariat.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata responden berusia 20-35
tahun sebanyak 23 responden (69,6%).
Masa reproduksi merupakan masa yang terpenting bagi perempuan dan berlangsung
pada usia 20-35 tahun, pada masa ini juga terjadi ovulasi ± 450 kali dan pada umur 40 tahun
keatas perempuan masih dapat hamil, fertilitas menurun cepat setelah umur tersebut
(Wiknjosastro, dkk, 2007). Usia rawan untuk hamil adalah usia yang kurang atau lebih dari
rentang usia reproduksi sehat. Usia reproduksi sehat adalah usia antara 20-35 tahun
(Soelaeman, 2006). Untuk perempuan dengan usia dibawah 20 tahun berisiko terhadap
kehamilannya karena alat-alat atau organ reproduksinya belum siap untuk menerima
kehamilannya, sedangkan untuk perempuan dewasa berusia 35 tahun keatas kondisi organorgan reproduksinya berbanding terbalik dengan perempuan yang berusia dibawah umur 20
tahun. Pada usia ini wanita mulai mengalami proses penuaan, sehingga organ reproduksinya
pun mulai kendor dan kaku (Supriatiningsih, 2009).
Umur mempunyai pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan ibu. Usia yang
kemungkinan tidak resiko tinggi pada saat kehamilan dan persalinan yaitu umur 20-35 tahun,
karena pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan, mental sudah matang dan
sudah mampu merawat bayi dan dirinya. Sedangkan umur < 20 tahun dan > 35 tahun
merupakan umur yang resiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan (Sarwono, 2010).
Banyak masyarakat yang memulai kehamilan di usia 20-35 tahun, karena masyarakat
sudah banyak yang mengetahui usia reproduksi sehat yaitu pada usia 20-35 tahun dan
masyarakat takut untuk memulai kehamilan pada usia <20 tahun dan usia > 35 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata responden melahirkan 2-3
anak sebanyak 20 responden (60,6%).
Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan jumlah janin hidup, bukan
janin yang dilahirkan, janin yang lahir hidup atau mati setelah viabilitas (28 minggu/lebih)
dicapai, tidak mempengaruhi paritas (Bobak, 2005: 104). Paritas dibagi menjadi 3 yaitu
wanita yang telah melahirkan bayi eterm sebanyak satu kal, multipara yaitu wanita yang telah
melahirkan anak hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali,
grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari empat kali
(Manuaba, 2010: 166).
Banyak responden yang mempunyai 2-3 anak (multipara), hal ini dikarenakan
masyarakat telah menyadari bahwa saat ini beban lebih tinggi dan masyarakat sudah banyak
yang mengikuti program KB, dan masyarat telah menerapkan program yang sedang
dilaksanakan oleh pemerintah yaitu “2 anak cukup” berencana untuk memberikan dampak
optimal bagi pengendalian penduduk.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil responden mengalami
post partum blues sebanyak 18 responden (54,5%).
Postpartum blues atau sering juga disebut maternity blues atau sindroma ibu baru
dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak dalam minggu
pertama setelah persalinan (Vivian, 2012: 67). Postpartum blues dikategorikan sebagai
sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab ini sering tidak dipedulikan dan diabaikan
sehingga tidak terdiagnosa dan tidak dilakukan asuhan sebagai mana mestinya (Suherni, 2009:
92).
Berdasarkan hasil penelitian banyak responden yang mengalami post partum blues,
dikarenakan tidak semua perempuan yang hamil pasti lancar dalam proses persalinan dan
nifasnya. Ibu mengungkapkan mereka merasa cemas saat setelah melahirkan dikarenakan
persalinan ini merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.
Berdasarkan hasil penelitian menunjjukkan bahwa dari 33 responden yang ditabulasi
silang antara usia dengan kejadian postpartum blues, didapatkan bahwa kelompok yang usia
beresiko <20 tahun dan >35 tahun yaitu sebanyak 10 reponden (30,4%). Berdasarkan uji Chi
Square diperoleh hasil perhitungan dengan nilai ρ (0,003) < α (0,05) maka H1 diterima
sehingga ada hubungan usia dengan kejadian postpartum blues di RSUD Bangil Pasuruan.
Umur ibu saat menjalani kehamilan ataupun persalinan sangat berpengaruh dengan
kejadian post partum blues dimana kesiapan dan kedewasaan seorang ibu dalam menghadapi
peran barunya dengan perubahan fisik dan mental yang terjadi selama kehamilan dan
sebagainya. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang
perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20-30 tahun, dan hal ini mendukung masalah
periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang
bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental
perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu (Marmi, 2012).
Responden yang mengalami post partum blues kebanyakan yang berusia 20-35 tahun
yaitu 24,2%. Semua ini disebabkan karena mereka telah merasakan efek post partum blues.
Sehingga mereka mengalami trauma postpartum blues dan mengalami kecemasan, sedangkan
ibu yang memiliki usia <20 tahun yaitu 15,2% mengalami postpartum blues dikarenakan
belum pernah melahirkan sehingga mereka merasa ketakutan setelah melahirkan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 33 responden yang ditabulasi
silang antara paritas dengan kejadian postpartum blues, didapatkan bahwa hampir setengah
responden yang paritas anak pertama mengalami post partum blues sebanyak 9 reponden
(27,3%) dan sebagian kecil responden yang paritas anak pertama mengalami post partum
blues sebanyak 3 reponden (9,1%). Berdasarkan uji Chi Square diperoleh hasil perhitungan
dengan nilai ρ (0,002) < α (0,05) maka H1 diterima sehingga ada hubungan paritas dengan
kejadian postpartum blues di RSUD Bangil Pasuruan.
Jumlah anak yang dihasilkan memiliki pengaruh terhadap kejadian postpartum blues,
proses persalinan, lamanya persalinan hingga komplikasi yang dialami setelah persalinan
terutama pada ibu primi dapat mempengaruhi psikologis seorang ibu, dimana semakin besar
trauma fisik yang dialami semakin besar trauma psikis yang muncul, dan hal ini semakin berat
dirasakan pada wanita yang pertama kali melahirkan anak mereka (Robson, 2009). Beberapa
penelitian diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Paykel dan inwood (Regina dkk,
2006) mengatakan bahwa postpartum blues ini lebih banyak ditemukan pada perempuan
primipara,'mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya
merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat menimbulkan stres. Selain itu
penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami istri muda dari kelas sosial
menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami krisis setelah kelahiran
bayi pertama.
Ibu primipara lebih beresiko mengalami post partum blues, hal ini dikarenakan pada
ibu primipara ini adalah persalinan pertama dan merupakan pengalaman pertama sehingga
ibu kurang siap untuk menghadapi persalinan.
SIMPULAN
1. Rata-rata responden berusia 20-35 tahun sebanyak 23 responden (69,7%).
2. Rata-rata responden melahirkan 2-3 anak (multipara) sebanyak 20 responden (60,6%).
3. Rata-rata responden mengalami post partum blues sebanyak 18 responden (54,5%).
4. Berdasarkan uji Chi Square diperoleh hasil perhitungan dengan nilai ρ (0,003) < α
(0,05) maka H1 diterima sehingga ada hubungan usia dengan kejadian postpartum
blues di RSUD Bangil Pasuruan.
5. Berdasarkan uji Chi Square diperoleh hasil perhitungan dengan nilai ρ (0,002) < α
(0,05) maka H1 diterima sehingga ada hubungan paritas dengan kejadian postpartum
blues di RSUD Bangil Pasuruan
.
REKOMENDASI
1. Bagi Responden
Ibu seharusnya mempersiapkan diri dengan baik pada saat kehamilan dengan
cara membaca artikel atau buku yang ada kaitanya dengan proses persalinan dan
pasca bersalin, sehingga ibu dapat mengerti dan dapat mencegah terjadinya
postpartum blues.
2. Bagi Profesi Kebidanan
Bidan seharusnya dapat memberikan konseling tentang cara pencegahan
postpartum blues, selain itu melaksanakan program skrining kesehatan fisik dan psikis
pada ibu postpartumyang bertujuan untuk mencegah timbulnya gangguan psikologis
pada ibu hamil dan postpartum.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Instutusi pendidikan dapat menambah sumber kepustakaan dan bacaan
khususnya tentang postpartum blues dan cara untuk mencegah terjadinya postpartum
blues dengan benar.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan konsep atau melakukan
penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi postpartum blues selain usia dan
paritas, seperti dukungan sosial dari suami atau keluarga, faktor fisik, pola tidur,
antenatal care dan harapan tentang persalinan.
ALAMAT KORESPONDENSI
Email
: [email protected]
No Telp
: 087855008730
Alamat
: Jl. Raya Karduluk cempaka 01/01 Sumenep Madura
Download