perspective - Commonwealth Bank

advertisement
market
PERSPECTIVE
Wealth Management Newsletter • November 2011
Investment Update
• Local Outlook & Global Outlook
• Menjadi yang Terdepan
Bersama First State Investment
• Asuransi Penyakit Kritis,
Kebutuhan yang Semakin Mendesak
FX Update
• Analisa Pasar Forex
1 | Market Perspective | November 2011
Local Outlook
Dewi Huta Djaja
Research Analyst, Wealth Management Services
B
I secara proaktif menurunkan tingkat suku bunga
dan menjaga stabilitas pada pasar obligasi untuk
mengantisipasi kemungkinan perlambatan ekonomi Indonesia.
Walaupun Indonesia saat ini sudah berada di posisi yang lebih
baik untuk menghadapi ekspektasi perlambatan pertumbuhan
global, tapi Indonesia masih akan terimbas dampaknya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bergantung pada
arus perdagangan (net ekspor) hanya sekitar 30%, sehingga
konsumsi domestik masih menjadi pilar utama pertumbuhan
ekonomi kedepannya. Namun, fluktuasi ekspektasi investor
tentang pertumbuhan ekonomi global bisa membuat harga
komoditas bergejolak, dan komoditas merupakan 65% dari
porsi pendapatan ekspor Indonesia (lihat gambar 1). Indonesia
harus tetap waspada akan porsi asing pada pasar modal lokal
yang masih cukup besar. Dalam menghadapi fluktuasi dalam
berinvestasi, Investor dihimbau untuk mendiversifikasi alokasi
aset ke berbagai instrumen investasi untuk menjaga agar
kinerja portofolio lebih terjaga dari fluktuasi.
Nasabah yang terhormat,
Pada edisi kali ini kami akan memaparkan
kondisi terkini dari gejolak perekonomian
global dan juga lokal, serta tren
perkembangan pasar modal dan valuta
asing yang berlangsung selama bulan
Oktober 2011.
Pada segmen bancassurance, kami
menjelaskan bagaimana Anda dapat
mengurangi risiko dari dampak negatif
penyakit kritis. Saat ini masyarakat mulai
menyadari pentingnya melakukan salah
satu pilar dalam perencanaan keuangan,
yaitu perlindungan keuangan/kekayaan
(Financial/Wealth Protection). Melalui
produk asuransi jiwa, kebutuhan akan
perlindungan terhadap aset dan tujuan
keuangan ini dapat diakomodir. Terlebih
dengan adanya kombinasi manfaat
proteksi dan investasi melalui produk
unit linked, masyarakat tidak lagi perlu
merasa ”rugi” ketika tidak ada risiko
apapun yang terjadi selama masa
pertanggungan karena dapat menikmati
pertumbuhan dananya secara lebih
optimal.
Dalam segmen FX Update, kami
tampilkan informasi terkini dari
kondisi valuta asing dengan analisa
perkembangan pasar valuta asing dan
strategi investasi valuta asing.
Terima kasih untuk menjadi nasabah setia
kami dan selamat membaca!
Salam hangat,
Liliawati Gunawan
Executive Vice President,
Head of Wealth Management
Gambar 1: Rentan akan ketergantungan pada
ekspor komoditas
% dari ekspor
Sentimen positif nampaknya sudah mulai
terlihat pada bulan Oktober, baik untuk
perekonomian lokal, maupun global.
Hal ini dapat dilihat dari bursa global
yang ditutup naik sebesar 10,26% untuk
bulan Oktober, namun investor masih
terus mencermati perkembangan di Uni
Eropa. Untuk perekonomian Indonesia
saat ini sudah berada di posisi yang
lebih baik untuk menghadapi ekspektasi
perlambatan pertumbuhan global, karena
konsumsi domestik masih menjadi pilar
utama pertumbuhan ekonomi. Melihat
kondisi ini, kami menyarankan Anda
sebagai investor untuk mendiversifikasi
instrumen investasi untuk menjaga
portofolio dari fluktuasi pasar.
tantangan. Penurunan BI Rate 25 bps menjadi
6,5% direspon positif perbankan dalam
negeri. Pengaruh yang paling terasa adalah
penurunan bunga kredit perumahan (KPR),
sehingga semakin banyak masyarakat yang
mampu mencicil rumah. Keputusan BI ini
memberikan sinyal bahwa BI cukup nyaman
dengan kekuatan ekonomi domestik Indonesia
dan penurunan BI Rate diharapkan tidak akan
memicu keluarnya arus dana asing.
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Oil & Gas
Minerals
Palm Oil
2003-2005
Rubber
2006-2008
Other
Commodity
Manu
2009-2011
Sumber: CIC, Barclays Capital
Indonesia
Pada bulan Oktober, IHSG menguat 6,8%
karena sentimen positif dari eurofia global
merespon upaya penyelamatan krisis utang Uni
Eropa yang dinilai sudah mengalami kemajuan.
Dari domestik, sejumlah sentimen positif yang
mendukung aksi beli investor diantaranya
adalah kebijakan BI Rate diturunkan ke
6,5% untuk menunjang pemulihan ekonomi
Indonesia, serta tingkat inflasi tahunan yang
diekspektasi akan sesuai target di bawah 5%.
BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi
Indonesia mencapai 6,6% pada akhir 2011.
Investor juga positif mengantisipasi laporan
kinerja keuangan emiten periode kuartal
III/2011.
Pada bulan Oktober, diluar ekspektasi, Bank
Indonesia (BI) akhirnya menurunkan BI Rate
25 bps menjadi 6,5% setelah selama 8
bulan ditahan di 6,75%. Inflasi di 2011 yang
diekspektasi akan lebih rendah di bawah
5% dan juga di 2012 seiring dengan koreksi
harga komoditas global. BI menilai, ke depan
pertumbuhan ekonomi negara maju akan
turun yang berpengaruh pada lesunya arus
perdagangan dunia. Namun BI meyakini
pertumbuhan ekonomi dan perbankan dalam
negeri masih kuat. Ekonomi domestik di
2011 akan tumbuh 6,6% dan 6,5% di 2012
ditopang konsumsi yang kuat dan investasi
meningkat namun ekspor akan menghadapi
Tingkat inflasi untuk bulan Oktober dilaporkan
cukup terjaga di level -0,12% dari level 0,27%
level September lalu karena penurunan
sejumlah harga komoditas, terutama emas
perhiasan yang tercatat turun hingga 0,11%.
Inflasi inti yoy sebesar 4,43% sedangkan
laju inflasi tahun kalender Januari-Oktober
2011 sebesar 2,85%, masih jauh di bawah
target tahunan BI sekitar 5%. Dengan level
inflasi yang cukup terkendali, BI mempunyai
ruang untuk mempertahankan atau bahkan
menurunkan BI Rate dari level 6,5% saat ini.
Cadangan devisa Indonesia saat ini
sudah berada di level yang jauh lebih kuat
dibandingkan tahun 2008 sehingga dapat
menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di saat
gejolak penurunan bursa di bulan Agustus
dan September lalu. Tingkat cadangan devisa
tetap terjaga cukup tinggi di level US$114
miliar per 31 Oktober 2011. Posisi ini lebih
rendah sedikit dari posisi bulan September
yaitu US$114,5 miliar. Cadangan devisa
sempat mencapai US$124,6 miliar pada
bulan Agustus sebelumnya. BI yakin di kuartal
empat, cadangan devisa akan kembali naik
karena positifnya fundamental perekonomian
menjadi alasan utama bagi dana asing masuk
ke Indonesia. Terkait kepemilikan asing di
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tercatat sebesar
Rp30,9 triliun atau menguasai 21,6% dari
total SBI, lebih rendah dari kepemilikan asing
di akhir September 2011 yang mencapai
27,36%. Sedangkan Surat Berharga Negara
(SBN) tercatat sebesar Rp219,8 triliun atau
menguasai 29,9% dari total SBN, lebih rendah
dari kepemilikan asing di akhir September 2011
yang mencapai 30,4%.
2 | Market Perspective | November 2011
serta mengurangi rasio utang Yunani dari 160%
menjadi 120% terhadap PDB pada 2020. Ketiga
kesepakatan ini dipercaya mampu mencegah
penyebaran krisis utang Yunani ke Italia dan
Perancis. Pertemuan G-20 di Paris pada pekan
depan diharapkan dapat memberikan dorongan
agar UE segera merealisasikan implementasi
kesepakatan tersebut. Untuk jangka panjang,
kesuksesan solusi krisis UE membutuhkan
tingkat pertumbuhan ekonomi serta penurunan
tingkat pengangguran yang signifikan di UE.
Untuk jangka pendek, volatilitas masih ada
sejalan dengan upaya penyelesaian krisis utang
UE.
Global Outlook
Dewi Huta Djaja
Research Analyst, Wealth Management Services
W
alaupun investor masih terus mencermati perkembangan di Uni Eropa. Sentimen investor
akan cukup rentan jika ada kekecewaan dalam proses implementasi karena dalam sebulan
terakhir, bursa global sudah ‘price in’ outlook yang lebih positif. Namun, banyak juga sentimen
positif yang bisa mendukung rally. Optimisme bahwa momentum pertumbuhan ekonomi di Cina
berlanjut serta semakin berkurangnya risiko AS masuk resesi dengan harapan yang cukup positif
di kuartal empat. Investor mungkin akan sedikit khawatir kemungkinan inflasi terpicu kembali
dengan kebijakan AS menstimulus pertumbuhan ekonominya dengan melakukan pembelian
sekuritas dalam jumlah besar dalam putaran tiga. Melihat kondisi negara maju yang masih
memerangi berbagai tantangan ekonomi, investor bisa mengalokasikan portofolio ke negara
berkembang seperti Indonesia, Cina dan India, yang mengandalkan konsumsi domestik sebagai
faktor pendorong pertumbuhan ekonominya.
Cina - Pertumbuhan ekonomi Cina tahunan
sedikit melambat menjadi 9,1% pada kuartal
ketiga dari 9,5% pada kuartal ke dua.
Fixed investment masih menjadi pendorong
pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi 5%
terhadap pertumbuhan 9,4% untuk 3 kuartal
pertama tahun ini. Sedangkan, kontribusi
kekuatan konsumsi domestik sebagai faktor
pendorong pertumbuhan ekonominya juga
tidak kalah kuat, dengan angka konsumsi privat
dan publik, menyumbang 4,5% sedangkan net
ekspor mengambil 0,1%. Secara keseluruhan,
momentum pertumbuhan ekonomi Cina cukup
bertahan di kuartal 3. Namun, pengetatan
likuiditas dan penurunan pada sektor properti
mulai terlihat, kemungkinan laju pertumbuhan
kedepannya akan mendapatkan beberapa
tantangan.
Tabel 1. Indeks Global
Indeks MSCI Asia Pasific Ex Japan
Oktober 2011
Harga
September 2011
Perubahan (%)
427,73
377,83
13,21%
US S&P
1.253,30
1.131,42
10,77%
MSCI World
1.217,30
1.104,06
10,26%
11.955,01
10.913,38
9,54%
996,01
923,41
7,86%
IHSG Indonesia
3.790,85
3.549,03
6,81%
Cina Shanghai
2.468,25
2.359,22
4,62%
93,32
82,34
13,33%
1.743,75
1.614,40
8,01%
US Dow Jones
Europe FTSE Eurofist 300
Minyak mentah
Emas
Sumber: Bloomberg
Bursa global ditutup naik 10,26% untuk bulan
Oktober. Reaksi pasar cukup positif sehingga
investor mulai mengoleksi instrumen berisiko
kembali dan mendorong bursa global mencatat
kenaikan cukup signifikan. Di awal bulan, investor
mengkaji kesepakatan pemerintah Prancis,
Belgia, dan Luksemburg untuk penyelamatan
bank Dexia yang terancam bangkrut terkait krisis
utang Zona Euro. Pemimpin Eropa juga akhirnya
menyetujui rencana rekapitalisasi perbankan
eropa serta pemotongan nilai (haircut) obligasi
Yunani sebesar 50%.
AS - Data AS di bulan Oktober cukup positif.
Jumlah tenaga kerja naik 103 ribu orang
walaupun tingkat pengangguran masih tetap
berada di 9,1%. Penjualan ritel di AS dilaporkan
tumbuh sebesar 1,1% dari ekspektasi hanya
0,7%. Lalu, prospek pertumbuhan ekonomi di
AS juga terlihat lebih cerah dengan laporan GDP
kuartal ketiga AS menunjukkan laju pertumbuhan
tercepat dalam setahun yaitu tumbuh 2,5%
sesuai dengan ekspektasi, jauh lebih tinggi dari
laju pertumbuhan di kuartal dua yaitu 1,2%.
Pertumbuhan konsumsi pribadi juga meningkat
2,4% (lihat gambar 2). Halangan pertumbuhan
GDP AS di semester pertama seperti harga
bahan bakar yang tinggi serta gangguan rantai
pasokan pada sektor otomotif sudah mulai pudar,
sehingga pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal
ke empat juga diekspektasi akan terus membaik.
Musim laporan laba emiten juga melaporkan hasil
yang cukup baik dengan 76% dari perusahaan
yang terdaftar pada indeks S&P 500 melaporkan
laba untuk kuartal tiga di atas estimasi analis (lihat
gambar 3). Kedepannya, sektor korporasi terlihat
mulai siap untuk menambah anggaran untuk
investasi lebih lanjut karena laba dan jumlah kas
korporasi tercatat cukup tinggi.
Gambar 2: Pertumbuhan GDP AS didukung
oleh tingkat konsumsi yang lebih kuat
%
GDP US Riil
Konsumsi Privat US Riil
6
4
2
0
-2
-4
-6
-8
-10
06
07
08
09
10
11
Sumber: Bureu of Economic Analysis, Haver Analytics, Barclays Capital
Gambar 3: Pertumbuhan laba emiten US masih kuat
S&P 500 Earnings Surprise Index
% dari emiten yang mencapai atau melebihi estimasi laba
%
90
80
70
60
81
75
62
60
83
75
79
76
68
74
72
74
76
50
40
Q3 08
Q1 09
Q3 09
Q1 10
Q3 10
Q1 11
Q3 11
Sumber: Factset, Barclays Capital
Eropa - Pemimpin Uni Eropa akhirnya
menyepakati tiga langkah penyelamatan Yunani
dan Eropa, meliputi penambahan dana talangan
(bailout) dari 440 miliar euro menjadi 1 triliun
euro, memangkas hutang (hair cut) pada obligasi
bermasalah Yunani hingga 50% kepada kreditor
swasta,dan program rekapitalisasi perbankan
Eropa. Reaksi pasar awalnya cukup positif, dan
selanjutnya menunggu proses implementasinya.
UE mengharapkan kerjasama dari Brazil dan
Cina untuk membeli obligasi yang ditawarkan
EFSF. Dengan ‘hair cut’ ini, beban utang Yunani
diproyeksi bisa berkurang sebesar 100 miliar euro
India - Seperti Indonesia dan Cina, India juga
mengandalkan kekuatan konsumsi domestik
sebagai faktor pendorong pertumbuhan
ekonominya sehingga bisa dikatakan lebih
bertahan dari fluktuasi krisis di Uni Eropa dan AS.
Indonesia dan India memiliki populasi besar dan
konsumsi yang terus meningkat. Perbedaannya,
Bank Sentral India (RBI) masih fokus terhadap
ancaman inflasi, dan diekspektasi tidak akan
menurunkan suku bunga sebelum kuartal
kedua 2012. RBI meningkatkan tingkat suku
bunga acuannya sebesar 25 bps ke 8,5%, yaitu
kenaikan ketigabelas sejak bulan Maret 2010.
Dengan pertimbangan kondisi global yang belum
pasti, sepertinya RBI akan menahan kenaikan
suku bunga dibulan Desember nanti. RBI juga
menurunkan angka proyeksi pertumbuhan
ekonomi untuk tahun 2012 menjadi 7,6% dari
8% tapi menahan proyeksi angka inflasi di 7%
sampai Maret 2012 nanti.
Minyak & Emas - Pada bulan Oktober,
harga minyak naik lebih dari 13% karena
maraknya spekulasi pemimpin Uni Eropa (UE)
dapat mencegah menyebaran krisis utang,
pertumbuhan ekonomi dunia bisa kembali
melaju serta permintaan untuk komoditas akan
bertambah. OPEC juga tidak melihat keperluan
untuk merevisi tingkat produksi sampai paling
tidak dipertemuan OPEC selanjutnya pada
tanggal 14 Desember.
Harga emas juga meningkat sebanyak
8% karena pelaku pasar masih menyimak
implementasi dari kesepakatan UE. Permintaan
untuk emas kedepannya dinilai akan terus
besar. Cina dispekulasi akan mengimpor lebih
dari sekitar 400 ton emas tahun ini sedangkan
permintaan emas dari India, negara pembeli
terbesar, akan naik tahun ini. Emas mencapai
angka tertinggi di US$1.921,15 per ons pada
tanggal 9 September lalu.
3 | Market Perspective | November 2011
Menjadi yang Terdepan Bersama
Rheza Karyanto
Investments Unit Head, Product and Marketing
F
irst State Investments (‘FSI’) merupakan divisi internasional dari bisnis manajemen aset Commonwealth Bank of Australia.
FSI didukung oleh Colonial First State Global Asset Management, yang merupakan salah satu perusahaan pengelola
aset terbesar di Australia dan memiliki aset kelolaan sebesar US$159,6 miliar per 30 Juni 2011. Di Indonesia, FSI telah
beroperasi selama 8 tahun dan masuk dalam 15 Manajer Investasi terbesar dengan total aset kelolaan lebih dari
Rp2,4 triliun per 30 September 2011.
FSI Indonesia memiliki 6 produk reksa dana yang didistribusikan melalui Commonwealth Bank. Kinerja produkproduk reksa dana FSI selama tahun 2010-2011 sangat memuaskan, di mana aset kelolaan FSI Indonesia tumbuh
sekitar 20% dalam satu tahun terakhir. Meningkatnya permintaan nasabah juga telah menumbuhkan aset kelolaan
FSI di Commonwealth Bank hingga 32% tahun ini (data per 30 September 2011).
Ingin tahu apa saja produk-produk unggulan dari FSI? Simak penjelasan berikut:
Reksa Dana Saham FSI Indoequity Sectoral Fund
Reksa Dana Campuran FSI Multistrategy Fund
Reksa Dana Pendapatan Tetap FSI Bond Fund
Reksa Dana Pasar Uang FSI Money Market Fund
Kinerja 2 tahun terakhir *:
47,9% atau setara dengan
21,6% per tahun
Kinerja 2 tahun terakhir *:
45,7% atau setara dengan
20,4% per tahun
Kinerja 2 tahun terakhir *:
32,6% atau setara dengan
15,2% per tahun
Kinerja 6 bulan terakhir *:
2,72% atau ekuivalen dengan
5,4% setahun.
Reksa dana yang berorientasi
pada pertumbuhan modal
dimana investasinya akan
menitikberatkan pada sektorsektor yang strategis.
Reksa dana yang memiliki
fleksibilitas dalam menggunakan
strategi untuk menghadapi
berbagai skenario dan kondisi
pasar.
Reksa dana yang dikelola
secara aktif dan menitik
beratkan investasi dalam
obligasi pemerintah.
Keunggulan:
• Potensi return yang tinggi
dengan bobot investasi yang
besar pada saham–saham di
sektor yang memberikan
kinerja terbaik
• Dapat berinvestasi pada efek
luar negeri hingga maksimal
10% dari Nilai Aktiva Bersih.
Keunggulan:
• Fleksibilitas yang tinggi dalam mengatur alokasi
aset (rebalancing) dan strategi pemilihan sahamnya sehingga
cocok untuk kondisi pasar yang dinamis.
• Dapat berinvestasi pada efek luar negeri hingga maksimal 10% dari Nilai Aktiva Bersih.
Reksa dana yang bertujuan
untuk memberikan hasil
investasi lebih dari deposito
melalui investasi di instrumen
pasar uang, khususnya obligasi
pemerintah dan/atau korporasi
yang jatuh tempo kurang dari
1 tahun.
Keunggulan:
• Risiko kredit yang sangat kecil karena diinvestasikan pada Obligasi Pemerintah.
• Pertumbuhan modal yang relatif lebih stabil dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan reksa dana saham.
Keunggulan:
• Potensi imbal hasil Obligasi Korporasi yang lebih tinggi.
• Tingkat likuiditas yang tinggi,
dengan waktu penjualan
kembali (redemption) T+1.
*Data per 30 Oktober 2011; Sumber: Bloomberg & FSI Fund Fact Sheet
Asuransi Penyakit
Kritis, Kebutuhan yang
Semakin Mendesak
Alexander Wiharja
Product Manager, Bancassurance
S
aat ini masyarakat mulai menyadari
pentingnya melakukan salah satu
pilar dalam perencanaan keuangan,
yaitu perlindungan keuangan/kekayaan
(Financial/Wealth Protection). Melalui
produk asuransi jiwa, kebutuhan akan
perlindungan terhadap aset dan tujuan
keuangan ini dapat diakomodir. Terlebih
dengan adanya kombinasi manfaat
proteksi dan investasi melalui produk unit
linked, masyarakat tidak lagi perlu merasa
”rugi” ketika tidak ada risiko apapun
yang terjadi selama masa pertanggungan
karena dapat menikmati pertumbuhan
dananya secara lebih optimal daripada
disimpan di tabungan biasa.
Perkembangan lebih lanjut dari kondisi ini
adalah munculnya concern terhadap risiko
hidup, dimana semakin banyak terjadi kasus
penyakit kritis yang menimbulkan potensi
kehilangan atau menurunnya penghasilan
serta biaya yang besar untuk pengobatan
dan pemulihannya. Hal tersebut berpotensi
besar mengganggu tujuan keuangan
jangka menengah-panjang nasabah, terutama
terhadap tujuan-tujuan yang bersifat mutlak/
tidak dapat ditunda lagi seperti kebutuhan
dana pendidikan anak serta persiapan dana
pensiun.
Secara sederhana, definisi penyakit kritis
adalah suatu kondisi medis yang menyebabkan
2 hal sbb :
1.Perubahan gaya hidup seseorang (dari kondisi mandiri, menjadi bergantung pada bantuan alat/orang lain dalam melakukan beberapa aktivitas).
2.Life threatening (mengancam jiwa,
menurunkan tingkat harapan hidup
seseorang).
Berikut beberapa fakta seputar penyakit kritis
yang terjadi di sekitar kita:
•Tiap 1 menit, 2 orang meninggal akibat stroke
di Asia Tenggara.
•Di dunia, setiap dua menit seorang wanita
meninggal dunia akibat kanker serviks.
•Kanker menjadi penyakit mematikan, 7,9 juta
orang meninggal per tahun di Indonesia.
•6 dari 10 orang (60,44%) orang Indonesia
rentan terkena penyakit kritis.
Di produk COMMLink Premier, kami memiliki
produk asuransi penyakit kritis yang dapat
ditambahkan sebagai manfaat pelengkap
sehingga perlindungan terhadap Nasabah lebih
optimal, yaitu COMM Critical Illness (CI) 50
Plus, dengan manfaat sebagai berikut :
a.Manfaat: uang pertanggungan tidak
mengurangi uang pertanggungan dasar.
b.Manfaat Asuransi: 100% Uang
Pertanggungan (UP) apabila tertanggung
terdiagnosa salah satu dari 53 jenis
penyakit kritis, tambahan 50% UP apabila
tertanggung menderita salah satu dari 10
penyakit kritis utama (khusus penyakit
Angioplasty adalah 10% dari UP). Hasil
riset menunjukan bahwa 90% penyakit
kritis yang dialami termasuk dalam
penyakit kritis utama.
c.Manfaat tambahan: Santunan duka
sebesar Rp10 juta apabila tertanggung
meninggal dunia akibat sakit atau
kecelakaan, pilihan manfaat layanan
bantuan medis darurat.
d.Usia masuk: 6–60 tahun.
e.Masa perlindungan: s/d usia 70 tahun.
f. Besaran UP: min 10%-300% UP dasar,
maksimum Rp2,5 miliar (untuk penyakit
kritis utama).
g. Manfaat akselerasi Terminal Illness,
maksimum 50% UP dasar.
“Risiko Penyakit Kritis bisa terjadi kapan
saja, sementara biaya pengobatannya sangat
mahal”.
Siapkan diri Anda dengan perlindungan
Asuransi Tambahan COMM CI 50 Plus dari
Commonwealth Life.
4 | Market Perspective | November 2011
FX Update
Analisa
Pasar Forex
Mika Martumpal
Senior Market Analyst, Treasury Department
USD masih akan diminati investor saat
persepsi risiko meningkat, karena status USD
sebagai “safe heaven currency”.
GBP saat ini mengalami aksi jual yang besar
akibat naiknya persepsi risiko dan keputusan
dari bank sentral Inggris untuk menambah
suntikan dana ke pasar uang atau yang lebih
dikenal sebagai quantitative easing.
Kondisi ekonomi yang masih sangat lemah
adalah alasan di belakang rencana bank
sentral untuk kembali membeli obligasi
pemerintah dan swasta untuk menurunkan
yield dengan tujuan menyediakan dana murah
untuk investasi. Namun efek negatif program
pembelian obligasi adalah naiknya suplai uang
yang berpotensi meningkatkan inflasi. Saat
ini dengan inflasi di atas 5% dan tingkat suku
bunga mendekati nol, maka GBP di jangka
panjang akan cenderung lemah.
Investor yang membeli USD biasanya
menginvestasikan dananya di obligasi
pemerintah Amerika Serikat. Dengan tingkat
suku bunga yang mendekati nol untuk suku
bunga jangka pendek dan kurang lebih 2%
untuk 10 tahun, maka USD lebih tepat untuk
investasi jangka pendek.
Aksi intervensi Bank of Japan senilai kurang
lebih USD100 miliar pada akhir Oktober 2011
mengakibatkan USD/JPY naik drastis dari
75,50 ke 79,50 hanya dalam hitungan jam.
EUR saat ini berpeluang melemah akibat
masalah defisit dan utang pemerintah
Yunani yang sangat besar sehingga dapat
menyebabkan gagal bayar.
Penguatan JPY telah mengakibatkan turunnya
nilai ekspor Jepang dan merupakan ancaman
bagi pertumbuhan ekonomi Jepang. Bank
of Japan yang saat ini hanya memiliki
dana terbatas untuk intervensi, sehingga
diperkirakan hanya akan melakukan intervensi
dalam jumlah besar ketika nilai tukar JPY
menguat banyak.
Keputusan Uni Eropa untuk memperkuat
dana stabilitas Eropa menjadi lebih dari
EUR1 triliun dan kesepakatan dari pemegang
obligasi Yunani untuk menerima sekitar 50%
haircut dari pokok utang adalah satu langkah
positif untuk mengembalikan kepercayaan
investor, namun dibutuhkan perbaikan yang
mendasar pada defisit dan tingkat utang
Eropa untuk memberikan stabilitas yang
berkesinambungan.
Aksi intervensi Bank Sentral Swiss untuk
mempertahankan nilai tukar EUR/CHF pada
1,20 saat ini adalah salah satu faktor yang
menolong EUR dari kejatuhan yang dalam.
Perekonomian Singapura yang mengandalkan
perdagangan internasional dan jasa sangat
bergantung pada kesehatan perekonomian
negara-negara seperti AS dan Cina.
Dengan kondisi yang tidak menguntungkan
di AS dan melambatnya perekonomian Cina
menyebabkan SGD melemah terhadap USD.
Turunnya tingkat inflasi juga mengurangi
kecenderungan Monetary Authority of
Singapore untuk menjaga SGD tetap kuat.
IDR cenderung melemah terhadap USD
akibat aksi jual di pasar saham dan obligasi
pemerintah yang dilakukan oleh investor asing.
Turunnya nilai rupiah, rendahnya harga saham
dan obligasi pemerintah seharusnya menjadi
peluang investasi yang sangat bagus karena
pada dasarnya perekonomian domestik masih
bertumbuh kuat. Inflasi yang cenderung turun
dan tingkat suku bunga IDR yang masih
menarik dan tingginya belanja konsumen dan
investasi adalah faktor-faktor utama di balik
peluang menguatnya IDR di jangka waktu
menengah dan panjang.
Keputusan Reserve Bank of Australia untuk
menurunkan tingkat suku bunga sebesar 25
bps ke 4,50% adalah akibat kecenderungan
inflasi yang turun dan ancaman melemahnya
perekonomian global.
Dengan tingkat inflasi tahunan di sekitar
3–3,5% dan harga komoditas yang lebih
rendah maka masih terbuka kemungkinan
turunnya suku bunga RBA, hanya saja
dengan tingkat pengangguran yang rendah
maka penurunan suku bunga akan terbatas.
Turunnya tingkat suku bunga RBA tidak
otomatis menyebabkan AUD lemah karena
dengan inflasi yang juga turun maka real
interest rate AUD tetap positif.
Turunnya surplus perdagangan dan
melambatnya inflasi adalah dua faktor
penggerak domestik untuk NZD.
Turunnya surplus perdagangan adalah faktor
yang bersifat negatif sedangkan turunnya
inflasi adalah faktor positif. Dengan tingkat
suku bunga yang masih rendah, maka kecil
kemungkinan bank sentral menurunkan
suku bunga akibat turunnya inflasi. Dengan
turunnya inflasi dan suku bunga yang relatif
stabil maka nilai NZD secara relatif menjadi
lebih menarik.
5 | Market Perspective | November 2011
Strategi Forex Trading
Dengan tingginya fluktuasi pasar, maka disarankan untuk strategy FX adalah jangka pendek dan terus memonitor perkembangan pasar.
Bila pasar saham dan komoditas dunia terus turun sebaiknya kita membeli USD atau JPY dan menjual mata uang yang lain. JPY tidak
terlalu direkomendasikan karena adanya faktor intervensi yang sulit untuk diperkirakan. Hal yang sebaliknya kita lakukan jika pasar saham
dan komoditas dunia naik.
Namun dengan kondisi saat ini di mana mata uang seperti AUD, EUR dan IDR yang walaupun turun, namun secara teknikal masih
cenderung kuat melawan USD, disarankan untuk beli mata uang AUD, NZD dan IDR di saat melemah terhadap USD.
Tapi jika AUD, NZD dan IDR terus melemah di bawah tingkat support utama maka kita harus kembali pegang USD atau JPY.
Keunggulan dari memegang USD saat ini hanyalah harapan bahwa harga saham, komoditas dan mata uang dengan suku bunga tinggi
terus turun terhadap USD sehingga bisa dibeli dengan harga murah. Investor tidak bisa mengandalkan bunga USD karena nilainya hampir
sama dengan nol.
DISCLAIMER
Kecuali dinyatakan lain, semua data bersumber dari berita media massa, dan tidak diterbitkan oleh PT Bank Commonwealth (PTBC). PTBC harus dijamin untuk dibebaskan dari tanggung jawab, termasuk tetapi tidak terbatas
pada penuntutan hukum oleh pihak ketiga. PTBC beserta direkturnya, karyawannya dan perwakilannya dalam Lampiran ini selanjutnya bersama-sama disebut sebagai “Grup” “Laporan ini diterbitkan semata-mata untuk
tujuan informasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu ajakan atau penawaran untuk membeli efek atau instrumen keuangan. Laporan ini telah disusun tanpa mempertimbangkan tujuan, situasi keuangan dan kapasitas
untuk menanggung kerugian, pengetahuan, pengalaman atau kebutuhan orang-orang tertentu yang mungkin menerima laporan ini. Tidak ada anggota dari Grup yang melakukan atau harus melakukan penilaian kelayakan atau
penyesuaian laporan untuk penerima laporan ini yang karenanya tidak mendapatkan manfaat dari perlindungan peraturan dalam hal ini. Laporan ini bukan nasihat atau petunjuk. Semua penerima laporan ini harus, sebelum
bertindak atas dasar informasi dalam laporan ini, mempertimbangkan kewajaran/kelayakan dan kesesuaian informasi, dengan memperhatikan tujuan-tujuan mereka sendiri, situasi keuangan dan kebutuhan, dan, jika perlu
mencari profesional yang tepat, memperhatikan kondisi valuta asing atau nasihat keuangan tentang isi laporan ini sebelum membuat keputusan investasi. Kami percaya bahwa informasi dalam laporan ini adalah benar dan
setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang cukup telah diadakan atau dibuat, berdasarkan informasi yang tersedia pada saat kompilasi, tetapi tidak ada pernyataan atau jaminan, baik tersurat maupun tersirat, yang
dibuat atau disediakan untuk akurasi, kehandalan atau kelengkapan setiap pernyataan yang dibuat dalam laporan ini. Setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang ditetapkan dalam laporan ini dapat berubah sewaktuwaktu tanpa pemberitahuan dan mungkin berbeda atau bertentangan dengan, kesimpulan pendapat atau rekomendasi yang diungkapkan oleh Grup di tempat lain. Kami tidak berkewajiban untuk, dan tidak,memberitahukan
perkembangan terkini atau terus mengikuti informasi terkini yang terdapat dalam laporan ini. Grup tidak menerima tanggung jawab untuk setiap kerugian atau kerusakan yang timbul akibat dari penggunaan seluruh atau setiap
bagian dari laporan ini. Setiap penilaian, proyeksi dan prakiraan yang terkandung dalam laporan ini didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan dan tunduk pada kontinjensi dan ketidakpastian. Asumsi dan perkiraan
yang berbeda dapat mengakibatkan hasil material yang berbeda pula. Grup tidak mewakili atau menjamin bahwa salah satu proyeksi penilaian atau prakiraan, atau salah satu dasar asumsi atau perkiraan, akan dipenuhi.
Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja masa depan Grup tidak menjamin kinerja dari produk investasi atau pembayaran kembali modal dengan produk yang didistribusikan oleh
PTBC. Investasi dalam produk ini bukan merupakan simpanan atau kewajiban lainnya dari Grup atau anak perusahaannya dan setiap jenis produk investasi memiliki risiko investasi termasuk hilangnya pendapatan dan modal
yang diinvestasikan. Contoh yang digunakan dalam komunikasi ini hanya untuk ilustrasi. Semua materi yang disajikan dalam laporan ini, kecuali bila ditentukan lain, berada di bawah hak cipta Grup. Tak satu pun dari materi,
maupun isinya, maupun salinannya, dapat diubah dengan cara apapun, ditransmisikan ke, disalin atau didistribusikan kepada pihak lain, tanpa izin tertulis dari perusahaan terkait yang menjadi bagian dalam Grup. Grup, berikut
agennya, asosiasinya dan kliennya memiliki atau telah memiliki posisi panjang atau pendek pada efek atau instrumen keuangan lainnya yang disebut di sini, dan dapat setiap saat melakukan pembelian dan/atau penjualan terhadap kepentingan atau surat berharga dalam kapasitasnya sebagai prinsipal atau agen, termasuk menjual atau membeli dari klien atas dasar pokok dan dapat terlibat dalam transaksi yang tidak konsisten dengan laporan ini.
Silahkan melihat website kami di www.commbank.co.id untuk informasi lebih lanjut. Jika Anda ingin berbicara dengan seseorang mengenai instrumen keuangan yang dijelaskan dalam laporan ini, silakan hubungi kami hubungi
Call Centre kami di 5000 30 atau email kami di [email protected]
commbank.co.id
Download