this PDF file

advertisement
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP IKLAN OBAT LAKSATIF DI TELEVISI DENGAN
PERILAKU SWAMEDIKASI MASYARAKAT DI KELURAHAN SUNGAI BESAR KECAMATAN
BANJARBARU SELATAN
RELATIONSHIP IN PERCEPTION OF LAXATIVE DRUG TELEVISION
ADVERTISING WITH SELF-MEDICATION BEHAVIOR IN THE COMMUNITY
OF SUNGAI BESAR DISTRICT OF SOUTH
Sriyatul Adawiyah, Noor Cahaya, Difa Intannia
Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA,
Universitas Lambung Mangkurat
Jl. A. Yani Km 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia
Email: [email protected] (Noor Cahaya)
ABSTRAK
Obat laksatif merupakan obat yang digunakan untuk melancarkan buang air besar pada
kondisi sembelit. Informasi mengenai obat ini sering didapatkan melalui iklan di televisi
yang akan berpengaruh pada perilaku swamedikasi (pengobatan sendiri). Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara persepsi terhadap iklan obat laksatif
dengan perilaku swamedikasi menggunakan obat laksatif. Metode penelitian adalah
survei analitik dengan teknik quota sampling berdasarkan kriteria inklusi: penduduk
Kelurahan Sungai Besar dan berusia ≥ 17 tahun, bersedia menjadi responden, pernah
melihat iklan laksatif di televisi, dan menggunakan obat laksatif secara swamedikasi.
Sampel penelitian sebanyak 62 responden. Hasil penelitian menunjukkan, persepsi
responden terhadap iklan obat dalam pengobatan sendiri diperoleh sebesar 77,4%
terpengaruh dan 22,6% tidak terpengaruh. Perilaku swamedikasi yang dilakukan oleh
responden diperoleh sebesar 37,1% rasional dan 62,9% tidak rasional. Berdasarkan hasil
analisis data, terdapat hubungan antara persepsi terhadap iklan obat dengan perilaku
swamedikasi (P value = 0,000).
Kata kunci: persepsi, iklan obat, swamedikasi, laksatif.
ABSTRACT
Laxative is drug used to smoothen the defecation during constipation conditions.
Information regarding these drugs are often obtained through advertisement on
television that will affect the behavior of self-medication. The purpose of this study was
to analyze the relationship between perceptions of laxatives advertising with laxatives
self-medication behavior. This study was survey research methods with sampling
technique based on these inclusion criterias: the residents of village population of Sungai
Besar with age ≥ 17 years old, willing to become respondents, ever seen the laxatives
108
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
ads on television, and ever use it as a self-medication drug. The sample of this study were
62 respondents.The results showed that respondent’s perceptions on drug advertisement
in self-medication was 75.8% affected and 24.2% unaffected. Self-Medication behavior
conducted by the respondent was 37.1% rational and 62.9% irrational. Based on the
analysis of the data, there is a relationship between perceptions of drug ads with selfmedication behavior (P value = 0.000).
Key words: perception, drug advertisement, self-medication, laxative.
109
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
Pendahuluan
sumber
informasi.
Berdasarkan
Salah satu hal yang sangat
penelitian Dianawati et al. (2008) yang
penting dalam kehidupan masyarakat
berjudul “Hubungan Persepsi terhadap
adalah kesehatan, ketika seseorang
Iklan
merasa sakit maka seseorang tersebut
Swamedikasi Pelajar SMU Negeri di
akan
mendapatkan
Surabaya”, diperoleh informasi bahwa
kesehatannya kembali. Pilihan yang
persepsi responden terhadap iklan obat
dilakukan
mendapatkan
di televisi memberikan pengaruh yang
kesembuhan dari suatu penyakit, yaitu
signifikan terhadap perilaku swamedikasi
dengan
pelajar (remaja) di Surabaya. Sama
berusaha
untuk
untuk
berobat
mengobati
diri
Departemen
ke
dokter
sendiri.
Kesehatan
atau
di
televisi
Menurut
halnya
dengan
Republik
Rachmawati
dengan
Perilaku
hasil
(2011)
penelitian
yang
berjudul
Indonesia (2008), upaya yang paling
“Pengaruh Iklan Obat Flu di Televisi
banyak dilakukan masyarakat untuk
terhadap
mengatasi
Swamedikasi
mencari
gejala
penyakit
pertolongan
kesehatan
adalah
dari
sebelum
tenaga
pengobatan
Pemilihan
pada
Obat
secara
Masyarakat
di
Malang, diperoleh hasil bahwa iklan flu
diri
di
televisi
berpengaruh
terhadap
sendiri atau yang biasa disebut dengan
pemilihan obat flu secara swamedikasi.
swamedikasi. Data faktual berdasarkan
Televisi mempunyai kemampuan yang
SUSENAS-BPS
kuat untuk mempengaruhi persepsi
(2009),
menunjukkan
bahwa 66,8% orang sakit di Indonesia
masyarakat
melakukan swamedikasi sebagai usaha
(Durianto & Liana, 2004). Persepsi itu
pertama
sendiri mampu mempengaruhi perilaku
dalam
penyakitnya.
menanggulangi
Persentase
tersebut
daripada
media
lain
seseorang (Wuryaningsih, 2008).
cenderung lebih tinggi dibandingkan
Berdasarkan data pengawasan
33,2% penduduk yang langsung berobat
iklan obat yang telah dilakukan oleh
jalan ke dokter.
Badan Pengawas Obat dan Makanan
Salah
yang
tahun 2012, iklan obat yang beredar
mempengaruhi swamedikasi, sebagai
pada media seperti televisi, media cetak
faktor
dan
yang
swamedikasi
satu
faktor
menentukan
adalah
kualitas
ketersediaan
radio
yang
tidak
memenuhi
ketentuan peraturan periklanan obat
110
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
bebas,
obat
makanan
tradisional,
minuman,
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
kosmetika,
adanya ketersediaan obat di rumah akan
perbekalan
memudahkan
masyarakat
untuk
kesehatan rumah tangga, dan alat
melakukan swamedikasi. Sementara itu,
kesehatan sebanyak 565 (23,88%) iklan
berdasarkan
dari total 2.366 iklan dan ditindaklanjuti
Indonesia (2006) menyatakan bahwa
dengan
penggunaan
peringatan
sebanyak
551
Kepmenkes
obat
umumnya
rasional,
dengan peringatan keras sebanyak 14
penelitian yang dilakukan oleh Kristina et
(2,48%) iklan. Hal ini terjadi karena iklan
al. (2008) bahwa 67,8% dari seluruh
yang ditayangkan banyak yang tidak
responden
melalui
dengan
mengobati diri sendiri. Swamedikasi
mengiklankan langsung tanpa melalui
yang dilakukan secara tidak rasional
tim penilai iklan yaitu sensor Badan POM
memungkinkan terjadinya medication
(Turisno, 2012). Banyaknya iklan obat di
error dalam perilaku swamedikasi.
televisi
yang
ketentuan
prereview
tidak
sesuai
periklanan,
dengan
tidak
Laksatif
diperkuat
belum
(97,52%) iklan serta yang ditindaklanjuti
tahap
yang
Republik
dengan
rasional
atau
dalam
pencahar
dikhawatirkan
merupakan obat-obatan yang dapat
dapat menyebabkan interpretasi yang
digunakan secara swamedikasi, yaitu zat-
salah
tentang
zat yang dapat menstimulasi gerakan
tindakan
peristaltik dinding usus pada saat terjadi
(swamedikasi)
konstipasi. Penggunaan laksatif yang
pada
masyarakat
penggunaan
obat
dalam
pengobatan
sendiri
(Dianawati et al., 2008).
Berdasarkan
terlalu sering mengganggu absorpsi
tersebut,
normal dari bahan-bahan gizi di usus
penayangan iklan laksatif di televisi
kecil, menimbulkan berbagai gangguan
tanpa
saluran
penyaringan
dikhawatirkan
juga
hal
lebih
lanjut
cerna,
dan
menimbulkan
berpotensi
ketergantungan (Tjay & Rahardja, 2002).
menyebabkan medication error dalam
Beberapa hal yang harus diperhatikan
perilaku swamedikasi pada masyarakat.
pada penggunaan obat ini adalah hanya
Hal ini mengingat data Riset Dasar
dianjurkan pada kondisi konstipasi, tidak
Kesehatan Nasional (2013) sebanyak
boleh
103.860 atau 35,2% dari 294.959 rumah
menurunkan berat badan, tidak boleh
tangga di Indonesia menyimpan obat
digunakan untuk jangka panjang dan
untuk swamedikasi sehingga dengan
penderita radang usus & usus buntu,
111
disalahgunakan
untuk
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
serta tidak dianjurkan anak di bawah 6
swamedikasi, kemungkinan besar di
tahun. Oleh karena itu, informasi yang
antaranya adalah penggunaan laksatif.
tepat mengenai obat-obat ini diperlukan
Golongan obat yang dapat digunakan
untuk
sebagai swamedikasi adalah golongan
masyarakat,
agar
terwujud
perilaku swamedikasi yang rasional.
obat bebas, obat bebas terbatas, dan
Ketepatan informasi mengenai
obat
wajib
apotek
(Atmoko
&
obat harus tercantum pada iklan yang
Kurniawati, 2009). Sebagian besar obat
akan dipublikasikan para pemasang
pencahar termasuk dalam golongan obat
iklan,
bebas yang banyak beredar dan mudah
mengingat
sumber
utama
masyarakat untuk mengetahui informasi
didapat (Sundari & Winarto, 2010).
mengenai obat adalah melalui iklan
Tempat penelitian adalah di
televisi. Akan tetapi, tidak ada data pasti
Kelurahan Sungai Besar, Kecamatan
seberapa besar jumlah iklan laksatif yang
Banjarbaru Selatan. Berdasarkan data
tidak
BPS
memenuhi
dengan
adanya
ketentuan,
dari
Kota
Banjarbaru
tahun
2014,
Badan
kelurahan ini memiliki jumlah rumah
Pengawas Obat dan Makanan (2012)
tangga terbesar yaitu sebanyak 6644
mengenai
buah dibandingkan seluruh kelurahan
iklan
data
namun
tersebut,
maka
di
antaranya kemungkinan besar adalah
yang
iklan laksatif. Mengingat sekarang ini
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu
kemunculan obat golongan laksatif atau
dilakukan penelitian terkait hubungan
pencahar banyak ditemukan di media
persepsi terhadap iklan obat laksatif di
komunikasi terutama iklan di televisi,
televisi dengan perilaku swamedikasi
sementara iklan tersebut sebagian besar
masyarakat Kelurahan Sungai Besar,
memberikan
pengaruh
untuk
Kecamatan Banjarbaru Selatan.
masyarakat
menyalahgunakan
obat
tersebut
sebagai
pelangsing
tubuh
ada
di
Kota
Banjarbaru.
Metode Penelitian
secara swamedikasi dengan penggunaan
Penelitian
ini
merupakan
secara terus-menerus. Meskipun belum
penelitian survei analitik. Instrumen
ada data pasti penggunaan laksatif
penelitian menggunakan kuesioner yang
secara swamedikasi, namun di antara
meliputi dua bagian, yaitu lembar
persentase
Dasar
persetujuan (informed consent) dan
Kesehatan Nasional (2013) mengenai
lembar kuesioner. Jumlah sampel yang
dari
data
Riset
112
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
digunakan dalam penelitian dihitung
antara persepsi terhadap iklan obat
dengan menggunakan rumus jumlah
laksatif di televisi dengan perilaku
sampel untuk estimasi proporsi:
swamedikasi
dan
hubungan
antara
karakteristik dengan persepsi terhadap
iklan laksatif di televisi, dilakukan analisis
chi-Square.
Keterangan:
Zα = Deviat baku alfa
P = Proporsi kategori variabel yang
diteliti (proporsi rumah tangga
yang menyimpan obat untuk
swamedikasi adalah 35,2%)
Q = 1 - P (proporsi sisa di dalam
populasi)
d = Presisi (kesalahan penelitian yang
masih bisa diterima)
(Dahlan, 2010).
Hasil dan Pembahasan
Karakteristik Responden
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa
mayoritas
responden
yang
pernah melihat iklan laksatif di televisi
dan menggunakan obat laksatif secara
swamedikasi adalah responden dengan
umur
17–28
tahun
(50,0%)
yang
merupakan usia dewasa awal. Menurut
Jumlah sampel yang digunakan
Santrock (2009), dewasa awal adalah
adalah sebanyak 62 rumah tangga.
masa peralihan dari remaja. Berdasarkan
Teknik sampling yang digunakan adalah
data
teknik sampling nonrandom yaitu quota
Makanan (2013) tentang konstipasi,
sampling.
Subyek
yang
penggunaan pencahar secara rutin atau
digunakan
dalam
ini
jangka panjang seringkali dilakukan oleh
memenuhi kriteria inklusi yang meliputi
orang dewasa, mahasiswa, dan remaja.
warga
Besar
Hasil penelitian Dianawati et al. (2008),
(berdasarkan KTP) dan berusia ≥ 17
menunjukkan remaja yang berada pada
tahun; bersedia menjadi responden;
usia yang dikategorikan usia remaja
pernah
lanjut
penelitian
Kelurahan
menggunakan
penelitian
Sungai
obat
laksatif
Badan
Pengawas
mempunyai
Obat
karakter
dan
mulai
secara swamedikasi, dan pernah melihat
mempunyai keinginan untuk membuat
iklan obat laksatif di televisi.
keputusan sendiri dan mencoba sesuatu
Data
karakteristik
penelitian
responden
berupa
yang baru dan menarik. Adanya televisi
dianalisis
memberi
dengan analisis deskriptif. Hubungan
rekomendasi
bagi
remaja
untuk pemilihan dan penggunaan obat.
113
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
Tabel 1. Karakteristik responden
No
1
2
3
4
Karakteristik Responden
Umur
17-27 tahun
28-38 tahun
39-49 tahun
50-60 tahun
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Pendidikan Terakhir
SMA/SMK
Perguruan Tinggi
SMP
SD
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
Wiraswasta
Pegawai Negeri Sipil
Mahasiswa
Pegawai Swasta
Tidak/Belum Bekerja
Guru Honor
Menurut Nur & Junaedi (2010),
Frekuensi (N = 62)
(%)
31
14
12
5
50,0
22,6
19,4
8,1
43
19
69,4
30,6
33
19
6
4
53,2
30,6
9,7
6,5
17
14
10
9
6
5
1
27,4
22,6
16,1
14,5
9,7
8,1
1,6
luang. Berdasarkan data-data tersebut,
persentase kaum perempuan menonton
maka
televisi lebih besar dibandingkan dengan
penelitian ini yang juga menunjukkan
laki-laki yaitu sebesar 91%. Berdasarkan
bahwa
penelitian yang dilakukan oleh Virdha
pernah melihat iklan laksatif di televisi
(2010),
menonton
dan menggunakan obat laksatif secara
televisi untuk mengisi waktu luang dan
swamedikasi adalah berjenis kelamin
memenuhi kebutuhan hiburan, sebagian
perempuan (69,4%).
responden
yang
terjadi
kesesuaian
mayoritas
responden
dengan
yang
besar adalah perempuan (69,7%) dan
Pendidikan terakhir responden
sisanya laki-laki (30,3%). Sejalan pula
mayoritas adalah SMA (53,2%). Menurut
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Supardi & Raharni (2006), responden
Mahsud (2013), mayoritas responden
dengan tingkat pendidikan terakhir SMA
yang menonton televisi di Kota Makassar
atau sederajat termasuk dalam kategori
didominasi oleh perempuan (52,7%)
pendidikan lanjutan. Seperti yang telah
untuk bersantai dan mengisi waktu
dijelaskan pada penelitian terdahulu,
114
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
bahwa prevalensi swamedikasi lebih
mengerjakan berbagai macam pekerjaan
tinggi
orang-orang
rumah tangga dalam setiap harinya
dengan tingkat pendidikan baik (Gupta
dengan jam kerja yang tidak terbatas
et al., 2011). Kebanyakan orang-orang
karena
dengan tingkat pendidikan tersebut
tuntutan kerja yang terlalu banyak dan
menggunakan obat-obat bebas untuk
beban
pengobatan penyakit ringannya (Islam,
menimbulkan stress. Menurut Oktariyani
2007).
(2013), stress merupakan faktor risiko
dilakukan
Mayoritas
oleh
kerja
yang
terus-menerus,
berat
dapat
yang
penyebab konstipasi. Menurut Siregar
pernah melihat iklan laksatif di televisi
(2004), peningkatan stress psikologi
dan menggunakan obat laksatif secara
merupakan salah satu faktor penyebab
swamedikasi adalah ibu rumah tangga
konstipasi, yaitu emosi yang kuat yang
(27,4%). Penelitian Kaihatu et al. (2013),
diperkirakan dapat menghambat gerak
ibu
peristaltik
rumah
responden
berlangsung
tangga
cenderung
usus
melalui
kerja
dari
menghabiskan banyak waktu di rumah
epinefrin dan sistem syaraf simpatis.
(83 jam perminggu), sebagian besar
Menurut Nicola (2015), emosi akan
waktunya diluangkan untuk menonton
mengaktifkan hormon progesteron dan
televisi dibandingkan ibu bekerja, serta
estrogen, yang kemudian bertindak
media televisi tetap dianggap sebagai
mempengaruhi
pencernaan
media favorit dibandingkan dengan
memperlambat
atau
media cetak. Berdasarkan penelitian
cairan pencernaan dalam lambung yang
yang dilakukan oleh Fauzia (2014) di
diperlukan untuk pemecahan makanan.
Purwakarta, ibu rumah tangga banyak
Hal
melakukan pengobatan sendiri dengan
makanan
alasan, tidak perlu membuang-buang
bergerak dan terhenti di dalam usus,
uang untuk membayar transportasi ke
sehingga
puskesmas, obat yang mereka perlukan
Bersesuaian pula dengan pendapat Tjay
jika sakit dengan mudah ditemukan di
& Rahardja (2002) bahwa ketegangan
warung dengan harga terjangkau dengan
saraf
sumber informasi melalui iklan televisi.
menyebabkan
seseorang
Menurut
Mumtahinnah
kejang pada
ususnya dan gerakan
rumah
tangga
(2012),
dituntut
ibu
untuk
ini
kemudian
yang
menghentikan
menyebabkan
dikonsumsi
menyebabkan
dan
emosi
tidak
sembelit.
(stress)
peristaltik usus akan terhenti.
115
dengan
akan
mengalami
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
Kelengkapan
Responden
Iklan
Obat
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
Menurut
kesehatan. Bahwa, informasi mengenai
produk obat dalam iklan harus sesuai
Kelengkapan iklan diatur oleh
Menteri
Kesehatan
dengan kriteria yang ditetapkan. Kriteria
nomor
tersebut adalah obyektif, lengkap (nama
386/SK/4/1994 tentang periklanan obat
bebas,
obat
makanan
tradisional,
minuman,
obat,
kosmetika,
bahan
aktif
obat,
aturan
penggunaan, indikasi, efek samping,
perbekalan
kontraindikasi), dan tidak menyesatkan.
kesehatan rumah tangga, dan alat
Tabel 2. Distribusi frekuensi kelengkapan iklan obat laksatif
Kelengkapan Iklan
Lengkap
Tidak Lengkap:
- Bahan Aktif Obat
- Kontra Indikasi
- Efek Samping
Total
Menurut
Turisno
Frekuensi
35
(%)
56,4
15
7
5
62
24,2
11,3
8,1
100
(2012),
penggunaan obat oleh orang yang
sebagian besar iklan obat membawa
sebenarnya
pesan yang menyesatkan oleh karena
menggunakannya, dan mengira efek
informasi yang tidak lengkap, iklan hanya
samping suatu obat sebagai gejala
memberikan setengah kebenaran yaitu
penyakit lain. Kelengkapan informasi
tidak menyampaikan hal-hal berupa
iklan yang disajikan di televisi perlu
realitas
untuk diketahui konsumen agar dapat
yang
negatif
tetapi
hanya
menyampaikan hal-hal yang dipandang
tidak
boleh
menentukan pilihan yang tepat.
positif. Iklan obat yang membawa pesan
Berdasarkan
informasi
yang
yang tidak lengkap merupakan informasi
didapatkan dari responden, menyatakan
yang menyesatkan, dampaknya adalah
bahwa informasi iklan laksatif di televisi
penggunaan
tidak lengkap (43,6%). Menurut Yoga
obat
yang
berlebihan,
penggunaan obat pada kondisi yang
(2009),
sebenarnya tidak memerlukan obat,
menyebutkan nama bahan aktif secara
pemilihan
benar,
obat
bebas
keliru,
116
ada
dan
69%
sebanyak
iklan
31%
tidak
iklan
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
mencantumkan
informasi
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
yang
dipahami pesannya, menarik, dapat
menyesatkan serta 93% dari responden
dipercaya,
yang
kondisi/kebutuhan,
memperhatikan
iklan
obat
dan
sesuai
dengan
sehingga
dari
menyatakan pencantuman nama bahan
persepsi tersebut dapat mempengaruhi
aktif bermanfaat dalam memilih obat
pengambilan
sewaktu sakit dan menghindari kontra
(intensitas
indikasi/efek samping. Sama halnya
Sumarwan et al. (2012) keberadaan iklan
dalam penelitian ini, diketahui bahwa
penting dalam pembentukan persepsi
mayoritas responden yang melihat iklan
konsumen. Hasil penelitian ini juga
laksatif di televisi mengatakan informasi
memperlihatkan
iklan tidak lengkap karena tidak adanya
responden dengan mayoritas responden
informasi bahan aktif obat (24,2%).
terpengaruh dengan iklan obat laksatif di
Persepsi terhadap Iklan Obat Laksatif di
Televisi
televisi (77,4%), untuk hasil penilaian
persepsi
Hasil penelitian Jamilah (2003)
pembelian
pembelian).
Menurut
bahwa
terhadap
keseluruhan,
menunjukkan bahwa persepsi konsumen
keputusan
persepsi
iklan.
responden
Secara
terpengaruh
dengan adanya iklan, hasil ini didapat
terhadap iklan di televisi adalah mudah
berdasarkan pada nilai skala Likert.
Tabel 3. Distribusi frekuensi persepsi responden terhadap iklan obat laksatif di televisi
Persepsi Terhadap Iklan
Terpengaruh
Tidak Terpengaruh
Total
Frekuensi
48
14
62
Berdasarkan teori pendekatan
konvensional,
rangsangan
proses
sampai
gerak. Oleh karena itu, pesan yang
diterimanya
rangsangan
Persentase (%)
77,4
22,6
100
disampaikan melalui media ini sangat
itu
menarik
perhatian.
Perhatian
disadari dan dimengerti oleh individu
merupakan faktor internal yang dapat
yang bersangkutan dan kemudian proses
mempengaruhi
akhirnya
(Purnomo, 2013). Persepsi yang dimiliki
adalah
persepsi
(Laurens,
2004). Sesuai karakternya, iklan televisi
konsumen
mengandung unsur suara, gambar, dan
membentuk
117
persepsi
terhadap
seseorang
produk
preferensi.
akan
Preferensi
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
konsumen
dapat
berarti
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
kesukaan,
informasi iklan obat laksatif di televisi.
pilihan, atau sesuatu hal yang lebih
Menurut Turisno (2012), iklan obat yang
disukai konsumen. Preferensi konsumen
membawa pesan yang tidak lengkap
berhubungan
menyebabkan
dengan
harapan
salah
oleh
konsumen akan suatu produk yang
konsumen.
disukainya. Harapan konsumen diyakini
terdapat
mempunyai peranan yang besar dalam
kelengkapan
informasi
menentukan kualitas produk (barang
rasionalitas
perilaku
dan jasa) dan kepuasan pelanggan
Berdasarkan keputusan Menkes no.
(Rakhmat, 2004).
386/SK/4/1994 tentang periklanan obat
Rasionalitas Pengobatan Sendiri dengan
Obat Laksatif
bebas,
obat
bahan
mengatakan
mengenai
kriteria
antara
obat
iklan
dan
swamedikasi.
tradisional,
minuman,
kosmetika,
perbekalan
memuat informasi mengenai nama,
yang didapat dari responden bahwa
lengkap
perbedaan
suatu iklan dikatakan lengkap apabila
Berbanding terbalik dengan informasi
responden
karena
kesehatan, antara lain menyebutkan:
laksatif
sebagian besar tidak rasional (62,9%).
mayoritas
terjadi
kesehatan rumah tangga, dan alat
responden yang melakukan swamedikasi
menggunakan
ini
makanan
Data pada Tabel 4 menunjukkan
dengan
Hal
tindakan
aktif
obat,
indikasi,
penggunaan,
efek
samping,
aturan
serta
kontraindikasi.
kelengkapan
Tabel 4. Distribusi frekuensi rasionalitas pengobatan sendiri obat laksatif
Perilaku Swamedikasi
Tidak Rasional
Rasional
Total
Frekuensi
39
23
62
Persentase (%)
62,9
37,1
100
Menurut Kristina et al. (2008),
makanan, serta ada tidaknya polifarmasi.
kriteria kerasionalan penggunaan obat
Perbedaan informasi yang seharusnya
terdiri
indikasi,
dimuat dalam iklan dengan kriteria
tidaknya
rasionalitas
dari
kesesuaian
kontraindikasi,
ketepatan
dosis,
ada
ada
tidaknya
dapat
menyebabkan
efek
ketidakrasionalan perilaku swamedikasi
samping dan interaksi dengan obat dan
seseorang. Selain itu, faktor lain yang
118
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
dapat
mempengaruhi
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
perilaku
kemudahan
untuk
mencapainya,
swamedikasi seseorang di antaranya
keterampilan
faktor predisposisi, faktor pendukung,
Sedangkan faktor pendorong terwujud
dan
dalam
faktor
predisposisi
pendorong.
mencakup
Faktor
pengetahuan,
adanya
bentuk
referensi.
dukungan
keluarga,
tetangga, dan tokoh masyarakat (Green,
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai,
2000).
dan lain sebagainya. Faktor pendukung
Hubungan Karakteristik Responden
dengan Persepsi Responden terhadap
Iklan Obat Laksatif di Televisi
adalah sarana pelayanan kesehatan dan
Tabel 5. Hubungan karakteristik responden dengan persepsi responden terhadap iklan
obat laksatif di televisi
Karakteristik
Terpengaruh
%
Tidak Terpengaruh
%
P value
80,6
92,9
66,7
20,0
19,4
7,1
33,3
80,0
0,008
68,4
79,1
31,6
20,9
0,520
100,0
83,3
72,7
73,7
0,0
16,7
27,3
26,3
0,739
100,0
83,3
60,0
64,3
81,5
0,0
16,7
40,0
35,7
18,5
0,337
Umur
17-27 Tahun
28-38 Tahun
39-49 Tahun
50-60 Tahun
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Pendidikan Terakhir
SD
SMP
SMA/SMK
Perguruan Tinggi
Pekerjaan
Tidak Bekerja
Pegawai Swasta
Pegawai Negeri Sipil
Wiraswasta
Lainnya
1. Hubungan persepsi terhadap iklan
obat dengan umur
Hasil
analisis
memperlihatkan
bahwa
memiliki hubungan dengan persepsi
seseorang terhadap iklan obat laksatif
chi-square
di televisi (P value = 0,008<0,05).
umur
Menurut
119
Wuryaningsih
(2008),
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
persepsi seseorang dapat dipengaruhi
faktor tersebut adalah iklan. Pendapat
oleh faktor internal, yaitu umur.
tersebut bersesuaian dengan hasil
Singgih (2003) mengemukakan bahwa,
pada Tabel 5, mayoritas responden
makin tua umur seseorang maka
jenis kelamin laki-laki dan perempuan,
proses-proses
terpengaruh dengan iklan laksatif di
perkembangan
mentalnya
bertambah
Perkembangan
secara
mental
tidak
baik.
televisi dengan nilai persentase yang
seseorang
tidak berbeda jauh, yaitu sebesar
langsung
dapat
68,4%
(laki-laki)
dan
79,1%
mempengaruhi persepsi yang didapat
(perempuan).
dari pengetahuan dan pengalaman
tersebut, responden dengan jenis
pribadinya atau pengalaman dari
kelamin
orang lain. Hal ini bersesuaian dengan
memiliki persepsi yang sama terhadap
hasil penelitian ini bahwa umur
iklan obat laksatif.
berhubungan
dengan
persepsi
tidak
memiliki
hubungan
dengan
persepsi terhadap iklan obat laksatif di
rentang umur 50–60 tahun sebesar
televisi (P value = 0,739>0,05). Hal ini
80% responden tidak terpengaruh
terjadi karena menurut Wuryaningsih
dengan iklan obat laksatif di televisi.
(2008),
2. Hubungan persepsi terhadap iklan
obat dengan jenis kelamin
analisis
perempuan
menunjukkan bahwa pendidikan akhir
iklan.
Berdasarkan hasil pada Tabel 5,
Hasil
dan
Berdasarkan analisis chi-square,
umur responden maka semakin tidak
dengan
laki-laki
hasil
3. Hubungan persepsi terhadap iklan
obat dengan pendidikan terakhir
terhadap iklan obat, semakin tua
terpengaruh
Berdasarkan
perilaku
dipengaruhi
oleh
seseorang
persepsi
dan
chi-square
menurut Nilawati (2013), jika persepsi
memperlihatkan bahwa jenis kelamin
seseorang berbeda maka pola perilaku
tidak
yang
memiliki
hubungan
dengan
dihasilkan
akan
berbeda.
persepsi terhadap iklan obat di televisi
Sedangkan menurut Putra (2009),
(P value = 0,520>0,05). Hal ini terjadi
tingkat pendidikan yang bervariatif
karena
(2013),
dari sekolah dasar sampai perguruan
konsumen laki-laki dan perempuan
tinggi tidak menunjukkan adanya
memiliki persepsi yang sama pada
perbedaan
berbagai macam faktor, salah satu
pemilihan produk dengan sumber
menurut
Supomo
120
dalam
perilaku
untuk
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
informasi iklan. Pendapat tersebut
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat
bersesuaian dengan hasil pada Tabel
disimpulkan
bahwa
5, mayoritas responden terpengaruh
bekerja
tidak
dengan iklan obat laksatif di televisi
memiliki persepsi yang sama terhadap
dengan
70%.
iklan. Hal ini bersesuaian dengan hasil
nilai
pada Tabel 5, mayoritas responden
berdekatan,
adalah terpengaruh dengan iklan obat
persentase
Berdasarkan
data
persentase
hampir
sehingga
persepsi
>
tersebut,
antara
tingkat
Hubungan Persepsi terhadap Iklan
dengan
Perilaku
Swamedikasi
menggunakan Obat Laksatif
4. Hubungan persepsi terhadap iklan
obat dengan pekerjaan
Berdasarkan
chi-square
obat
terhadap iklan obat laksatif di televisi
persepsi
(2013),
mempengaruhi
sikap
iklan obat laksatif di televisi memberikan
pengaruh
yang
antara
kedua
produk di televisi, karena kuantitas
antara
adanya
variabel.
Dengan
kata
lain,
persepsi terhadap iklan, maka semakin
tinggi skor perilaku swamedikasi. Hal ini
menurut Supomo (2013), pekerjaan
berarti ketika terdapat hubungan antara
yang berbeda memiliki persepsi yang
suatu
menunjukkan
swamedikasi dan semakin rendah skor
sikapnya terhadap iklan pun sama dan
terhadap
negatif
iklan maka semakin rendah skor perilaku
responden
bekerja dan tidak bekerja sehingga
sama
perilaku
semakin tinggi skor persepsi terhadap
menonton iklan di televisi tidak
jauh
pada
hubungan yang berlawanan arah antar
pekerjaan dengan sikap terhadap iklan
berbeda
kuat
swamedikasi seseorang. Angka koefisien
akan berbeda. Menurut Aisyah (2006)
hubungan
perilaku
korelasi kuat. Hal ini menunjukan bahwa
berbeda, maka sikap yang dihasilkan
terdapat
dengan
koefisien korelasi -0,502 yang berarti
seseorang, jika persepsi seseorang
tidak
laksatif
swamedikasi (P value = 0,000) dengan
(P value = 0,337>0,05). Hal ini terjadi
Nilawati
analisis
hubungan antara persepsi terhadap iklan
memiliki hubungan dengan persepsi
menurut
hasil
dengan uji korelasi Kendall Tau, terdapat
menyatakan bahwa pekerjaan tidak
karena
juga
60%.
yang lainnya hampir sama.
analisis
bekerja
laksatif di televisi dengan persentase ≥
pendidikan terakhir yang satu dengan
Hasil
dan
responden
persepsi dengan perilaku, maka persepsi
produk.
121
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
responden yang dengan iklan cenderung
hendaknya berhati-hati dalam menerima
menggunakan obat dengan frekuensi
informasi obat yang disajikan melalui
yang tidak tepat. Menurut penelitian
iklan di televisi, harus menelaah dengan
yang dilakukan oleh Dianawati et al.
benar agar tidak mudah terpengaruh
(2008), persepsi terhadap iklan obat di
yang
televisi memberikan pengaruh yang
pengobatan sendiri yang menyimpang,
signifikan terhadap perilaku swamedikasi
tanyakan hal-hal yang dianggap perlu
remaja
kepada tenaga kesehatan terdekat dan
di
Surabaya.
Jika
persepsi
berakibat
pada
terhadap iklan obat semakin kuat, maka
produsen
perilaku swamedikasi yang dilakukan
hendaknya memberikan informasi yang
akan
jelas, akurat, dan memadai tanpa unsur
menunjukkan
indikasi
sebagai
perilaku
pelaku
penyimpangan yang makin besar pula.
ketidakjujuran
Menurut Wuryaningsih (2008), persepsi
karena konsumen memiliki hak atas itu.
merupakan
yang
Sedangkan pihak BPOM, melakukan
mempunyai peranan penting dalam
pengawasan terhadap iklan obat, yang
mempengaruhi perilaku seseorang.
mencakup
faktor
fisiologis
kepada
usaha,
penilaian
konsumen,
sebelum
iklan
Pada penelitian ini, karakteristik
ditayangkan dan pengawasan terhadap
yang berhubungan dengan persepsi
iklan yang sudah ditayangkan agar
terhadap iklan obat adalah umur dan
konsumen terlindungi dari iklan-iklan
yang tidak berhubungan adalah jenis
yang
kelamin,
lengkap.
pendidikan
terakhir,
dan
membawa
pesan
yang
tidak
pekerjaan. Sedangkan hubungan antara
Penelitian ini memiliki beberapa
persepsi iklan obat laksatif di televisi
keterbatasan antara lain yaitu jumlah
dengan perilaku swamedikasi adalah
sampel penelitian yang masih sedikit
terdapat hubungan dengan kekuatan
karena menggunakan taraf kepercayaan
korelasi adalah kuat, artinya iklan obat
terendah yaitu 90%. Selain memiliki
memberikan pengaruh kuat terhadap
keterbatasan tersebut, penelitian ini juga
perilaku
memiliki
swamedikasi.
masyarakat
Peran
(konsumen),
serta
produsen
kelebihan
yaitu
menggambarkan persentase
dapat
persepsi
(pelaku usaha), dan Badan POM sangat
responden terhadap iklan obat dan
diperlukan untuk meningkatkan perilaku
persentase
swamedikasi yang rasional. Konsumen
sendiri
122
rasionalitas
menggunakan
pengobatan
obat
laksatif,
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
selain
itu
penelitian
menghubungkan
sosiodemografi
ini
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
juga
Daftar Pustaka
karakteristik
responden
Aisyah.
dengan
persepsi terhadap iklan obat laksatif di
televisi, serta menghubungkan persepsi
terhadap
iklan
dengan
rasionalitas
pengobatan sendiri menggunakan obat
Atmoko, W. dan Kurniawati, I. 2009.
Swamedikasi: sebuah respon
realistik perilaku konsumen di
masa
kritis.
Bisnis
dan
kewirausahaan, 2(3):233-237.
laksatif yang belum pernah dilakukan
sebelumnya, terutama di Kelurahan
Sungai Besar. Penelitian ini dapat pula
dilanjutkan
hubungan
dengan
edukasi
menganalisis
dengan
2006.
Hubungan
antara
karakteristik individu dan sikap
terhadap iklan di televisi dengan
perilaku ibu rumah tangga dalam
menggunakan produk detergen.
Skripsi.
Fakultas
Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.
2012. Laporan Kinerja Badan
Pengawas Obat dan Makanan
RI. Jakarta: BPOM RI.
persepsi
terhadap iklan obat dan edukasi dengan
perilaku swamedikasi, sehingga akan
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.
2013.
Bahaya
keracunan
melamin yang terkandung dalam
pangan. InfoPOM, 14(4):7-8.
terlihat bagaimana persepsi responden
setelah diberikan edukasi dan terlihat
pula rasionalitas pengobatan sendiri
setelah diberikan edukasi.
Badan
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa
terdapat
hubungan
Pusat Statistik. 2014. Kota
Banjarbaru
dalam
Angka.
Banjarbaru: Badan Pusat Statistik
Kota Banjarbaru.
Badan Pusat Statistik. 2009. SUSENAS
Indonesia
2011:
Indikator
Kesehatan 1995–2011. Jakarta:
Badan Pusat Statistik.
antara
persepsi terhadap iklan obat dengan
perilaku swamedikasi pada masyarakat
Dahlan, M.S. 2010. Besar Sampel dan
Cara Pengambilan Sampel dalam
Penelitian
Kedokteran
dan
Kesehatan. Jakarta: Salemba
Medika.
di Kelurahan Sungai Besar, Kecamatan
Banjarbaru Selatan.
persepsi
responden
Sebanyak 77,4%
terpengaruh
terhadap iklan obat dalam pengobatan
Dianawati, O., Fasich, dan Athijah, U.
2008.
Hubungan
persepsi
terhadap iklan di televisi dengan
perilaku swamedikasi pelajar
SMU Negeri di Surabaya.
sendiri.
123
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
Majalah Farmasi
6(1):10-16.
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
Airlangga,
di Ciputat, Tanggerang). Tesis.
Institut Pertanian Bogor.
Durianto, D. dan Liana, C. 2004. Analisis
efektivitas iklan televisi softener
soft & fresh di Jakarta dan
sekitarnya dengan menggunakan
consumer decision model. Jurnal
Ekonomi Perusahaan, 11(1):3555.
Nur, T.H dan Junaedi, F. 2010. Banalitas
informasi dalam jurnalisme
infotainment di media televisi
dan
dampaknya
terhadap
penonton infotainment. Jurnal
Komunikasi, 4(2):131-142.
Fauzia,
Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia
Nomor
386/Menkes/SK/IV/1994 tentang
pedoman periklanan: obat, obat
tradisional, alat
kesehatan,
kosmetika,
perbekalan
kesehatan rumah tangga, dan
makanan dan minuman.
R.
2014.
Faktor
yang
mempengaruhi
perilaku
pengobatan
sendiri
pada
kelompok ibu rumah tangga di
Kabupaten Purwakarta Tahun
2014.
Skripsi.
Fakultas
Kedokteran, Universitas Islam
Bandung.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia
Nomor
189/MenKes/SK/III/2006 tentang
Kebijakan obat Nasional.
Green, L.W., Kreuter, M.W., Deeds, S.G.
& Patridge, K.B. 2000. Health
Promotion
Planning
an
Educational and Environmental
Approach.
Edisi
kedua.
California: Mayfield Publising
Company.
Kristina, S., Prabandari, Y., dan
Sudjaswadi, R. 2008. Perilaku
pengobatan sendiri yang rasional
pada masyarakat Kecamatan
Depok
dan
Cangkringan
Kabupaten Sleman. Majalah
Farmasi Indonesia, 19(01):32-40.
Gupta, P., Bobhate, P.S., dan Shrivastava,
S.R. 2011. Determinants of self
medication practices in an urban
slum community. Asian Journal
Pharmaceutical and Clinical
Research, 4(3):54-57.
Islam,
Laurens, J.M. 2004. Arsitektur dan
Perilaku Manusia. Jakarta: PT.
Grasindo.
M.S. 2007. Self-medications
among
higher
educated
population in Bangladesh: an
email-based exploratory study.
The Internet Journal of Health,
5(2):1-5.
Mahsud, R. 2013. Pola menonton televisi
lokal pada pemirsa di Kota
Makassar. Skripsi. Program Studi
Ilmu Komunikasi, Universitas
Hasanuddin.
Jamilah, J. 2003. Pengaruh klaim
kesehatan pada iklan televisi
terhadap
pengambilan
keputusan konsumen dalam
membeli produk pangan (kasus
Mumtahinnah, N.
antara stres
ibu rumah
bekerja.
124
2012. Hubungan
dengan agresi pada
tangga yang tidak
Skripsi.
Fakultas
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
Psikologi,
Gunadarma.
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
Universitas
Riset Dasar Kesehatan Nasional. 2013.
Riset Kesehatan Dasar. Jakarta:
Bakti Husada.
Nicola. 2015. Constipation Experts 2015.
London: Other Publications.
Kaihatu, T.S., Rumambi, L.J., dan Djati,
S.P. 2013. Membidik pasar ibu di
Indonesia:
sebuah kajian
efektivitas pemilihan media
beriklan.
http://fportfolio.petra.ac.id/user
_files/03-039/JURNAL%2520%2520Membidik%2520Pasar%2
520Ibu%2520di%2520Indonesia.
pdf.
Nilawati. 2013. Hubungan antara
persepsi dengan sikap orangtua
terhadap PAUD Khairunnisa
Seberang Padang Kecamatan
Padang Selatan Kota Padang.
SPEKTRUM PLS, 1(1):33-44.
Oktariyani. 2013. Analisis Praktik Klinik
Keperawatan
Kesehatan
Masyarakat Perkotaan pada
Bapak B (78 Tahun) dengan
Masalah Konstipasi di Wisma
Bungur Sasana Tresna Werdha
Karya Bhakti Cibubur. Karya
Ilmiah Akhir Ners. Program
Profesi Ilmu Keperawatan, UI.
Santrock, J.W. 2009. Perkembangan
Anak. Jakarta: Erlangga.
Singgih,
D.G.
2003.
Psikologi
Perkembangan. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Siregar, C.T. 2004. Kebutuhan dasar
manusia eliminasi B.A.B. Karya
Tulis
Ilmiah.
Universitas
Sumatera Utara.
Purnomo,
J.W.
2013.
Persepsi
perempuan
Kelurahan
Loa
Bakung
Kota
Samarinda
mengenai pesan iklan televisi
anlene one-a-day. eJournal Ilmu
Komunikasi. 1(2):1-19.
Sundari, D. dan Winarno, M.W. 2010.
Efek laksatif jus daun asam jawa
(Tamarindus indica Linn.) pada
tikus putih yang di induksi
dengan gambir. Media Litbang
Kesehatan, 20(3):100-103.
Putra, M.G.B.A. 2009. Perilaku memilih
produk pembalut wanita antara
ibu dengan remaja putri ditinjau
dari status pernikahan dan
tingkat
pendidikan.
Jurnal
Psikologi, 2:1-16.
Supardi, S. dan Raharni. 2006.
Penggunaan obat yang sesuai
dengan
aturan
dalam
pengobatan sendiri keluhan
demam, sakit kepala, batuk, dan
flu. Jurnal Kedokteran Yasri,
14(1):61-69.
Rachmawati, H. 2011. Pengaruh Iklan
obat flu di televisi terhadap
pemilihan
obat
secara
swamedikasi pada masyarakat di
Malang. Farmasains, 1(2):1-11.
Supomo, J.C. 2013. Perbedaan persepsi
konsumen atas faktor penentu
tempat
belanja
terhadap
indomaret dan alfamart. Skripsi.
Manajemen
Ekonomi,
Rakhmat, J. 2004. Psikologi Komunikasi.
Bandung:
PT.
Remaja
Rosdakarya.
125
PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017
Universitas
Yogyakarta.
Atma
p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X
Jaya
dengan perilaku masyarakat
dalam pemberantasan sarang
nyamuk
demam
berdarah
dengue (PSN DBD) di Kota Kediri.
Tesis. Program Pasca Sarjana,
Universitas Sebelas Maret.
Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2002. ObatObat Penting. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo.
Turisno, B.E. 2012. Perlindungan
konsumen dalam iklan obat.
MMH, 41(1):20-28.
Yoga, A.A.A. 2009. Analisis iklan obat
bebas dan obat bebas terbatas
pada enam media cetak yang
beredar di Kota Surakarta
periode bulan Februari-April
2009. Skripsi. Fakultas Farmasi,
Universitas
Muhammadiyah
Surakarta.
Virdha, K. 2010. Film televisi dan
kesenjangan kepuasan (studi
tentang kesenjangan kepuasaan
menyaksikan film televisi
di
SCTV dan sinema siang di RCTI di
kalangan
mahasiswa
ilmu
komunikasi angkatan 2007-2009
melalui pendekatan uses and
grafiticaton. Skripsi. Program
Studi
Ilmu
Komunikasi,
Universitas Sebelas Maret.
Sumarwan, U., Simanjuntak, M., dan
Yurita. 2012. Persepsi dan
preferensi iklan mempengaruhi
niat beli anak pada produk
makanan ringan. Jurnal Ilmu
Keluarga dan Konsumen, 5(2):
185-192.
Wuryaningsih, T. 2008. Hubungan antara
pengetahuan
dan
persepsi
126
Download