i PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

advertisement
PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
(IPS) DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA POP-UP PADA SISWA
KELAS VB SD NEGERI TEGAL PANGGUNG KECAMATAN
DANUREJAN KOTA YOGYAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh:
Adiza Belva Hendrakusuma
NIM 13108244011
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
APRIL 2017
i
ii
iii
iv
MOTTO
“Pendidikan bukanlah proses mengisi wadah yang kosong. Pendidikan adalah
proses menyalakan api pikiran.” (W. B. Yeats)
v
PERSEMBAHAN
Seiring rasa syukur kepada Allah, SWT, skripsi ini kupersembahkan untuk:
1.
Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikanku kasih sayang sekaligus
mengajarkan betapa besar arti perjuangan dan pengorbanan.
2.
Almamaterku Universitas Negeri Yogyakarta
3.
Agama, Nusa, dan Bangsa
vi
PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
(IPS) DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA POP-UP PADA SISWA
KELAS VB SD NEGERI TEGAL PANGGUNG KECAMATAN
DANUREJAN KOTA YOGYAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Oleh
Adiza Belva Hendrakusuma
NIM 13108244011
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung,
Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta Tahun Ajaran 2016/2017 dengan
menggunakan media pop-up.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung tahun ajaran
2016/2017 dengan jumlah 21 siswa. Model penelitian yang digunakan adalah
model Kemmis dan Mc. Taggart, yang terdiri dari tahap perencanaan, tahap
tindakan dan observasi, dan tahap refleksi. Teknik pengumpulan data dengan
menggunakan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif
dan analisis kualitatif. Untuk menjamin validitas data, maka digunakan teknik
triangulasi sumber.
Dalam kegiatan pembelajaran IPS menggunakan media pop-up, guru
membagi siswa menjadi tiga kelompok, dimana setiap kelompok mendapatkan
buku pop-up yang berbeda-beda. Setiap siswa memperoleh lembar kerja siswa
yang sesuai dengan materi pada media pop-up. Kemudian, perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Dengan
menggunakan media pop-up dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Hal
tersebut dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPS, yaitu pada kondisi awal pratindakan hasil belajar rata-rata kelas sebesar
64,28 dengan persentase ketuntasan sebesar 42,86%. Setelah dilaksanakan
tindakan pada siklus I diperoleh hasil belajar rata-rata kelas sebesar 73,46 dengan
persentase ketuntasan sebesar 71% dan setelah dilaksanakan tindakan pada siklus
II diperoleh hasil belajar rata-rata kelas sebesar 80,47 dengan persentase kelulusan
80,95%. Hal ini berarti bahwa target penelitian untuk meningkatkan ketuntasan
belajar siswa sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yaitu 75% siswa
yang mengikuti pembelajaran IPS dengan menggunakan media pop-up
mendapatkan nilai ≥ 70.
Kata kunci: media pop-up, hasil belajar IPS SD
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah subhanahu wata’ala,
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir skripsi yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) dengan Menggunakan Media Pop-Up pada Siswa Kelas
VB SD Negeri Tegal Panggung Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta Tahun
Pelajaran 2016/2017”. Skripsi ini diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Yogyakarta
untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Prasekolah
dan Sekolah Dasar.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari adanya kerjasama, bantuan,
bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak. Oleh Karena itu, pada kesempatan ini
perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Rektor UNY yang telah memberikan kebijaksanaan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
2.
Dekan FIP UNY yang telah memberikan kelancaran administrasi dalam
penyelesaian skripsi ini.
3.
Wakil Dekan I FIP UNY yang telah memberikan kelncaran administrasi
dalam penyelesaian skripsi ini.
4.
Ketua Jurusan PPSD yang telah memberikan kelancaran administrasi dalam
penyelesaian skripsi ini.
5.
Ibu Mujinem, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang dengan sabar
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
viii
6.
Ibu Purwanti Handayani, M.Pd., selaku Kepala Sekolah SD Negeri Tegal
Panggung yang telah berkenan memberikan izin penelitian dan membantu
dalam pengumpulan data-data penelitian untuk menyelesaikan skripsi ini.
7.
Bapak Marmo Gupito, S.Pd., selaku wali kelas VB SD Negeri Tegal
Panggung yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk
menjadi kolaborator dalam penelitian ini.
8.
Seluruh siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung, atas kerjasama yang
diberikan selama penulis melakukan penelitian.
9.
Sahabat-sahabatku yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang
senantiasa memberikan semangat, dorongan, dan doa.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga amal baik yang telah
mereka berikan senantiasa mendapat ridho dari Allah SWT. Amin.
Penulis
Adiza Belva Hendrakusuma
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN .............................................................................. ii
HALAMAN PERNYATAAN .............................................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iv
HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... vi
ABSTRAK ............................................................................................................ vii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... viii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................................... 7
C. Batasan Masalah ............................................................................................... 7
D. Rumusan Masalah ............................................................................................ 7
E. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 8
F. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................ 10
A. Tinjuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar ........................................ 10
1. Pengertian IPS SD ....................................................................................... 10
2. Tujuan Pembelajaran IPS SD ...................................................................... 11
3. Pentingnya Pembelajaran IPS SD ................................................................ 13
4. Ruang Lingkup IPS SD ............................................................................... 14
B. Tinjauan Hasil Belajar ...................................................................................... 15
1. Pengertian Hasil Belajar .............................................................................. 15
2. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ................................................... 18
C. Tinjauan Media Pembelajaran Pop-Up ............................................................ 20
1. Pengertian Media Pembelajaran .................................................................. 20
2. Manfaat Media Pembelajaran ...................................................................... 22
x
3. Ciri-Ciri Media Pembelajaran...................................................................... 23
4. Macam-Macam Media Pembelajaran .......................................................... 25
5. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran ...................................................... 26
6. Jenis-Jenis Media Pembelajaran IPS SD ..................................................... 27
7. Pengertian Pop-Up....................................................................................... 28
8. Manfaat Media Pop-Up ............................................................................... 29
9. Kelebihan Media Pop-up ............................................................................. 30
10. Langkah-Langkah Penggunaan Media Pop-up ........................................... 31
11. Jenis-Jenis Teknik Pembuatan Pop-Up ....................................................... 32
D. Karakteristik Siswa Kelas V Sekolah Dasar .................................................... 33
E. Penelitian yang Relevan ................................................................................... 35
F. Kerangka Pikir .................................................................................................. 35
G. Hipotesis Tindakan ........................................................................................... 36
H. Definisi Operasional Variabel Penelitian ......................................................... 37
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 39
A. Jenis Penelitian ................................................................................................. 39
B. Subjek dan Objek Penelitian ............................................................................ 39
C. Setting Penelitian .............................................................................................. 40
D. Model Penelitian............................................................................................... 41
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................... 43
F. Instrumen Penelitian ......................................................................................... 44
G. Teknik Analisis Data ........................................................................................ 45
H. Kriteria Keberhasilan Tindakan ....................................................................... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 47
A. Hasil Penelitian................................................................................................. 47
1. Deskripsi Pratindakan .................................................................................. 47
2. Deskripsi Hasil Penelitian............................................................................ 49
B. Pembahasan ...................................................................................................... 73
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 80
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 82
LAMPIRAN .......................................................................................................... 84
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Pikir..................................................................................... 36
Gambar 2. Model Penelitian Kemmis dan Mc Taggart ........................................ 41
Gambar 3. Diskusi Kelompok Pertemuan Pertama Siklus I ................................. 54
Gambar 4. Diskusi Kelompok Pertemuan Kedua Siklus II................................... 57
Gambar 5. Presentasi Kelompok Pertemuan Pertama Siklus II ............................ 65
Gambar 6. Diskusi Kelompok Pertemuan Kedua Siklus II................................... 69
Gambar 7. Diagram Perbandingan Persentase Ketuntasan Siswa ........................ 76
Gambar 8. Diagram Perbandingan Persentase Belum Tuntas Siswa .................... 77
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbandingan Rata-Rata Ulangan Tengah Semester .............................. 4
Tabel 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS Kelas V ...................... 15
Tabel 3. Kisi-Kisi Butir Soal Post-Test Siklus I & Siklus II ................................ 45
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Ulangan Tengah Semester IPS Kelas V ................... 48
Tabel 5. Waktu Pelaksanaan Siklus I & Siklus II ................................................. 49
Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Pertama Siklus I ......................... 55
Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Kedua Siklus I ............................ 58
Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus I ......................................................... 59
Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Pertama Siklus II ........................ 66
Tabel 10. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Kedua Siklus II ........................ 70
Tabel 11. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus II ...................................................... 72
Tabel 12. Peningkatan Hasil Belajar Pratindakan ke Siklus I ............................... 74
Tabel 13. Peningkatan Hasil Belajar Siklus I ke Siklus II. ................................... 75
Tabel 14. Peningkatan Hasil Belajar Pratindakan, Siklus I, & Siklus II ............... 75
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. RPP Siklus I ...................................................................................... 84
Lampiran 2. Lembar Soal Post-Test Pertemuan Pertama Siklus I ........................ 99
Lampiran 3. Lembar Soal Post-Test Pertemuan Kedua Siklus I........................... 100
Lampiran 4. RPP Siklus II .................................................................................... 103
Lampiran 5. Lembar Soal Post-Test Pertemuan Pertama Siklus II ....................... 118
Lampiran 6. Lembar Soal Post-Test Pertemuan Kedua Siklus II ......................... 120
Lampiran 7. Surat Keterangan Validasi Ahli Media............................................. 122
Lampiran 8. Contoh Hasil Post-Test Pertemuan Pertama Siklus I ....................... 125
Lampiran 9. Contoh Hasil Post-Test Pertemuan Kedua Siklus I .......................... 127
Lampiran 10. Contoh Hasil Post-Test Pertemuan Pertama Siklus II .................... 133
Lampiran 11. Contoh Hasil Post-Test Pertemuan Kedua Siklus II....................... 137
Lampiran 12. Surat Izin Penelitian dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta ......... 141
Lampiran 13. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan ...................... 142
Lampiran 14. Surat Keterangan Penelitian dari SD Tegal Panggung ................... 143
Lampiran 15. Foto Dokumentasi........................................................................... 145
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan memiliki peranan penting dalam upaya mencerdaskan bangsa,
karena melalui pendidikan dapat mencetak generasi yang cerdas, terampil, dan
berkepribadian. Kecerdasan yang harus dimiliki suatu bangsa tidak hanya
kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan interpersonal. Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3
menyebutkan bahwa:
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Pendidikan yang ada di Indonesia diselenggarakan pada jalur pendidikan
formal, pendidikan informal, dan pendidikan nonformal pada setiap jenjang dan
jenis pendidikan. Untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional,
pemerintah mewajibkan pendidikan formal bagi warga negara meliputi Sekolah
Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas
(SMA).
Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) merupakan pendidikan formal yang
menyelenggarakan program pendidikan tingkat dasar selama enam tahun bagi
anak-anak usia 6-12 tahun, yang bertujuan memberikan bekal ilmu dan
kemampuan dasar. Melalui pendidikan dasar, diharapkan siswa memperoleh bekal
1
di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan untuk menghadapi tantangan
kehidupan bermasyarakat yang selalu mengalami perubahan.
Guru memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan mutu dan
kualitas pendidikan. Keberhasilan pendidikan sebuah bangsa dapat dilihat dari
keberhasilan guru dalam mengembangkan potensi siswa. Menurut Moh Uzer
Usman (2006: 9) peran guru adalah sebagai pengelola kelas, fasilitator,
demonstrator, mediator, dan evaluator, sehingga sebagai pengelola kelas guru
harus mampu menciptakan suasana kelas yang dapat membangkitkan motivasi
siswa agar aktivitas dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Oleh karena
itu, dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan guru lebih banyak memposisikan
diri sebagai fasilitator, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk berperan aktif
dalam menggali dan memecahkan masalah-masalah dari suatu konsep yang
dipelajari.
Mata pelajaran yang ada di jenjang sekolah dasar terdiri dari Matematika,
Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Salah satu mata pelajaran di Sekolah
Dasar yang bertujuan membentuk siswa agar memiliki kesadaran dan kepekaan
terhadap lingkungan sosialnya adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan suatu mata pelajaran yang memadukan
konsep-konsep dari berbagai ilmu sosial dan humaniora, yang memiliki tujuan
agar siswa memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial di
lingkungannya, memiliki keterampilan mengkaji dan memecahkan masalahmasalah sosial dalam rangka pembinaan menjadi warga negara yang baik. Pada
2
jenjang pendidikan dasar, mata pelajaran IPS menjadi sangat penting, karena usia
sekolah dasar merupakan usia yang tepat dalam menanamkan dan membentuk
sikap peduli sosial di lingkungannya.
Dalam proses pembelajaran IPS, guru lebih mudah dalam menyampaikan
tujuan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran yang lebih
inovatif dan kreatif. Dengan menggunakan media pembelajaran, dapat
memudahkan siswa dalam menerima materi pembelajaran dan membangkitkan
antusiasme dan peran aktif siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini
sejalan dengan Hamalik (dalam Azhar Arsyad, 2011: 15) yang mengemukakan
bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat
membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan
rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa, serta penggunaan media pembelajaran dapat membantu siswa
dalam meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan
terpecaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Guru
sebagai komunikator yang menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa
memiliki peran penting dalam tercapaianya keberhasilan belajar siswa. Dengan
demikian, media pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam pemahaman
terkait materi yang disampaikan guru. Pemilihan media pembelajaran yang tepat
dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik akan menjadi faktor penting
dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar. Akan tetapi, pada
kenyataannya guru masih jarang menggunakan media pembelajaran dalam proses
pembelajaran.
3
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Gupito, selaku wali kelas V
SD Negeri Tegal Panggung pada tanggal 17 Oktober 2016, dapat diketahui bahwa
nilai rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS belum optimal dan
terbilang rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata mata pelajaran lain. Hal ini
terlihat dari hasil nilai Ulangan Tengah Semester Ganjil dengan nilai rata-rata
kelas sebesar 64,28 dari keseluruhan siswa yang berjumlah 21 siswa. SD Negeri
Tegal Panggung memiliki batas nilai standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
sebesar 70. Dari jumlah siswa kelas V sebanyak 21 siswa terdapat 12 siswa atau
sebesar 57,14 % yang belum mencapai KKM dan terdapat 9 siswa atau sebesar
42,86 % yang telah mencapai KKM. Oleh karena itu, nilai rata-rata kelas tersebut
masih
berada
dibawah
Kriteria
Ketuntasan
Minimal
(KKM).
Apabila
dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain, hasil belajar mata pelajaran IPS
masih lebih rendah, sebagaimana dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Perbandingan Rata-Rata UTS Mata Pelajaran IPS dan Mata
Pelajaran Lain di Kelas V SD Negeri Tegal Panggung
No.
Mata Pelajaran
Rata-Rata Nilai Ujian Tengah Semester
1.
Ilmu Pengetahuan Alam
78,63
2.
Matematika
75,3
3.
Ilmu Pengetahuan Sosial
64,28
4.
Bahasa Indonesia
73,40
Dari hasil observasi di kelas V SD Negeri Tegal Panggung pada tanggal
12, 13, 17 Oktober 2016, dapat diketahui beberapa faktor yang menyebabkan
rendahnya rata-rata hasil belajar IPS, seperti pembelajaran tidak menggunakan
media yang inovatif, penyampaian materi pembelajaran dengan menggunakan
metode ceramah dan hanya terpaku pada buku pelajaran. Kegiatan belajar
mengajar kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
4
lebih menarik apabila menggunakan media pembelajaran yang dapat melibatkan
siswa ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran dan guru berperan sebagai
fasilitator.
Menurut Sabuda (dalam Aditya Dewa Kusuma, 2013: 8) mengatakan
bahwa buku pop-up dapat memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik.
Mulai dari gambar yang terlihat memiliki tampilan tiga dimensi dan kinetik,
gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka atau bagiannya digeser
dapat bergerak sehingga dapat membentuk seperti benda aslinya. Hal lain yang
membuat buku pop-up menarik dan berbeda dari buku cerita ilustrasi biasa adalah
pembaca seperti menjadi bagian dari hal yang menakjubkan itu karena mereka
memiliki andil ketika membuka halaman buku tersebut. Berdasarkan pendapat di
atas, dapat diketahui bahwa media pembelajaran pop-up dapat membantu siswa
dalam menerima materi yang disampaikan guru, menarik perhatian siswa dan
meningkatkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran.
Pada penelitian ini, peneliti menerapkan penggunaan media pop-up dalam
proses pembelajaran,
karena media pop-up
dapat memperbaiki
proses
pembelajaran IPS. Hal ini berdampak positif pada peningkatkan hasil belajar IPS
siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung Kecamatan Danurejan Kota
Yogyakarta.
Berdasarkan kondisi yang telah dipaparkan di atas, maka diperlukan solusi
alternatif untuk mengefektifkan proses pembelajaran IPS sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dari 64,28 menjadi 70 sebagai batas Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam hal ini, media pembelajaran pop-up dipilih
5
untuk meningkatkan hasil belajar IPS terutama pada materi Keragaman Suku
Bangsa dan Budaya di Indonesia.
Pemilihan media pembelajaran berbentuk pop-up di atas mengingat bahwa
usia sekolah dasar dengan rentan usia 7-12 tahun memasuki tahap operasional
konkret dalam berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa pada usia sekolah dasar,
siswa akan lebih mudah memahami dan menerima materi pelajaran dengan
menggunakan media yang konkret. Pada materi Keragaman Suku Bangsa dan
Budaya di Indonesia yang terdiri dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia,
siswa akan mengalami kesulitan dalam menerima materi pelajaran, karena siswa
hanya dapat membayangkan terkait materi tersebut dan guru mengalami kesulitan
dalam menghadirkan langsung benda konkret, seperti pakaian adat, tarian
tradisional, senjata khas, dan rumah adat. Media pop-up yang dimaksud berupa
miniatur wilayah Indonesia yang dilengkapi dengan keragaman suku dan
kebudayaan Indonesia dengan efek dua dimensi. Dengan menggunakan media
pop-up tersebut, guru dapat memvisualisasikan atau menyalurkan pesan dari
sumber ke penerima (siswa), sehingga siswa memperoleh gambaran yang konkret
dari materi yang disampaikan. Selain itu, media pop-up tersebut dapat
meningkatkan antusiasme dan peran aktif siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran serta membantu siswa untuk mengenal bentuk benda yang asli dari
materi yang disampaikan. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil
Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan Menggunakan Media Pop-Up Pada
6
Siswa Kelas V SD Negeri Tegal Panggung Kecamatan Danurejan Kota
Yogyakarta Tahun Pelajaran 2016/2017”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut.
1.
Pada waktu pembelajaran IPS, guru tidak menggunakan media pembelajaran
pop-up.
2.
Pada waktu pembelajaran IPS, siswa kurang memperhatikan pelajaran yang
disampaikan guru.
3.
Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS belum mencapai
KKM.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti melakukan pembatasan
masalah pada rata-rata hasil belajar IPS siswa belum mencapai KKM, karena
belum menggunakan media pembelajaran yang membantu siswa dalam
memahami materi pembelajaran. Dari hal tersebut, peneliti akan memperbaiknya
melalui penggunaan media pop-up pada pembelajaran IPS pada siswa kelas VB
SD Negeri Tegal Panggung, Danurejan, Yogyakarta.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana peningkatan hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) dengan menggunakan media pop-up pada siswa kelas
VB SD Negeri Tegal Panggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta?”
7
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui
peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan menggunakan
media pop-up pada siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung, Kecamatan
Danurejan, Kota Yogyakarta.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat praktis yang diperoleh dari penelitian ini sebagai berikut.
1.
Manfaat Teoritis
a.
Hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi mengenai berbagai hal
yang berkaiatan dengan penggunaan media pop-up sebagai salah satu media
pembelajaran yang dapat untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa di
sekolah dasar.
b.
Hasil penelitian ini memperkuat teori dari Azhar Arsyad (2011: 15) yang
mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman materi
pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi guru
1) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran.
2) Sebagai bahan informasi tentang penggunaan media pembelajaran pop-up
untuk meningkatkan hasil belajar IPS.
8
3) Sebagai bahan masukkan untuk petimbangan dalam pemilihan media
pembelajaran sebelum pelaksanaan proses pembelajaran IPS.
b.
Manfaat bagi siswa
1) Mempermudah pemahaman siswa mengenai materi pembelajaran IPS
terutama pada materi Keragaman Suku dan Budaya di Indonesia secara
konkret.
2) Meningkatkan peran aktif dan rasa antusiasme siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran IPS.
3) Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS terutama pada
materi Keragaman Suku dan Budaya di Indonesia.
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
1.
Pengertian IPS SD
IPS SD adalah nama mata pelajaran yang membahas hubungan antara
peserta didik dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana peserta
didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat yang dihadapkan
pada berbagai permasalahan sosial di lingkungannya. Nursid Sumaatmadja
(Supriatna, 2008:1) mengemukakan bahwa secara mendasar pengajaran IPS di SD
berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan
kebutuhannya.
Sapriya (2009: 20) mengemukakan bahwa IPS di sekolah dasar merupakan
nama mata pelajaran yang diintegrasikan dari sejumlah konsep disiplin ilmu
sosial, humaniora, sains serta berbagai isu dan masalah sosial kehidupan. Oleh
karena itu, pendidikan IPS di sekolah dasar memiliki peran dalam memberikan
pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai media pelatihan bagi siswa agar
menjadi warga negara yang baik. Fakih Samlawi dan Bunyamin Maftuh (1998: 1)
mengemukakan bahwa IPS di sekolah dasar merupakan mata pelajaran yang
memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial yang disusun melalui
pendekatan pendidikan dan psikologis serta kelayakan dan kebermaknaannya bagi
siswa dan kehidupannya.
Jadi, berdasarkan pendapat para ahli diatas, penulis dapat menyimpulkan
bahwa IPS adalah salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang merupakan
10
integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial dan mengkaji terkait fenomena sosial
yang terjadi di lingkungan sekitar agar siswa menguasai pengetahuan,
keterampilan, serta nilai dan sikap sebagai bekal siswa untuk menghadapi
permasalahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
2.
Tujuan Pembelajaran IPS SD
Pembelajaran IPS di SD bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dan
wawasan tentang konsep-konsep dasar ilmu sosial dan humaniora, memiliki
kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial yang terjadi di lingkungannya,
serta memiliki keterampilan mengkaji dan memecah masalah sosial tersebut.
Sapriya (2009: 157) mengemukakan bahwa salah satu tujuan pembelajaran
IPS adalah untuk mempersiapkan warga negara Indonesia agar dapat
berpartisipasi dalam hidup di masyarakat, baik dalam masyarakat lokal, nasional,
maupun masyarakat dunia. Hal ini senada dengan Ahmad Susanto (2014: 10)
menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran IPS di sekolah, adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau
lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan
kebudayaan masyarakat.
Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan
metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta
membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang
berkembang di masyarakat.
Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta
mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil
tindakan yang tepat.
Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu
membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung
jawab membangun masyarakat.
11
Arah mata pelajaran IPS dilatar belakangi oleh pertimbangan bahwa di
masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat, karena
kehidupan masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh
karena itu, mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan,
pemahaman, dan kemampuan analisi terhadap kondisi sosial masyarakat yang
dinamis. Ahmad Susanto (2014: 33) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran IPS
di SD secara umum, sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
Memperoleh gambaran tentang suatu daerah/lingkungan sendiri.
Mendapatkan informasi tentang suatu lingkungan daerah/wilayah
Indonesia.
Memperoleh pengetahuan tentang penduduk Indonesia.
Menumbuhkembangkan kesadaran dan wawasan kebangsaan.
Mengetahui kebutuhan hidup.
Mampu merasakan sebuah kemajuan khususnya teknologi mutakhir.
Mampu berkomunikasi, bekerja sama dan bersaing di tingkat lokal,
nasional, dan internasional.
Mampu berinteraksi sebagai makhluk sosial yang berbudaya.
Memiliki kepekaan terhadap fenomena sosial budaya.
Memiliki integritas yang tinggi terhadap negara dan bangsa.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006: 67), mata pelajaran
IPS di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat dan lingkungannya.
Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin
tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam
kehidupan sosial.
Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan.
Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, dan
global.
Jadi, dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
pembelajaran IPS di SD adalah memberikan bekal kepada siswa berupa ilmu
12
pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan agar siswa mampu mengembangkan
potensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, serta membantu pembentukan
pribadi siswa agar menjadi warga nergara yang baik dan berbudaya, peka, serta
peduli terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
3.
Pentingnya Pembelajaran IPS SD
Dengan mempelajari IPS di SD, siswa memperoleh pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan kemampuan berfikir kritis dan rasional dalam
memecahkan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Sesuai dengan
tingkat perkembangannya, siswa sekolah dasar belum mampu memahami
keluasan dan kedalaman masalah-masalah sosial secara utuh, tetapi mereka dapat
diperkenalkan kepada masalah-masalah tersebut. Melalui pengajaran IPS, siswa
dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepekaan untuk
menghadapi hidup dengan tantangan-tantangannya.
Menurut Hidayati (2002: 16) alasan penting mempelajari IPS di sekolah
pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
Agar siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi, dan
kemampuan yang dimiliki yang telah dimiliki mejadi lebih bermakna.
Agar siswa dapat lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah
sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
Agar siswa dapat mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di
lingkungan sendiri dan antar manusia.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
IPS di SD sangatlah penting, karena usia sekolah dasar merupakan usia yang tepat
dalam menanamkan sikap peduli terhadap masalah-masalah sosial yang ada di
lingkungan sekitar. Melaui pembelajaran IPS di SD, guru dapat mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam mengenal dan mempelajari
13
masyarakat yang beraneka ragam sebagai bekal siswa dalam menghadapi
tantangan-tantangan kehidupan bermsyarakat di kemudian hari.
4.
Ruang Lingkup IPS SD
Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan
menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan (SKL) pada mata pelajaran IPS
SD adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Memahami identitas diri dan keluarga, serta mewujudkan sikap saling
menghormati dalam kemajemukan keluarga.
Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota dalam keluarga dan
lingkungan tetangga, serta kerjasama di antara keduanya.
Memahami sejarah kenampakan alam dan keragaman suku bangsa di
lingkungan kabupaten, kota dan provinsi.
Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan
teknologi di lingkungan kota, kabupaten, dan provinsi.
Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah nasional,
keragaman suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
Menghargai peranan tokoh pejuang dalam mempersiapkan dan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Memahami perkembangan wilayah Indonesia sosial di Asia Tenggara
serta benua-benua.
Mengenal gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara
tetangga, serta dapat melakukan tindakan dalam menghadapi bencana
alam.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BSNP, 2009: 19)
menyebutkan bahwa ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek
sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Manusia, tempat, dan lingkungan.
Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
Sistem sosial dan budaya.
Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
Berdasarkan ruang lingkup tersebut dapat dikembangkan standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas V
14
berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebagai
berikut.
Tabel 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas V
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Menghargai berbagai peninggalan 1.1 Menghargai makna peninggalan
dan tokoh sejarah yang berskala
dan tokoh sejarah yang berskala
nasional pada masa Hindu, Budha,
nasional dari masa Hindu-Budha
dan Islam, keragaman kenampakan
dan Islam di Indonesia.
alam dan suku bangsa serta 1.2 Menceritakan tokoh-tokoh sejarah
kegiatan ekonomi di Indonesia.
pada masa Hindu-Budha dan Islam
di Indonesia.
1.3 Mengenal keragaman kenampakan
alam dan buatan serta pembagian
wilayah waktu di Indonesia dengan
menggunakan peta/atlas/globe dan
media lainnya.
1.4 Menghargai
keragaman
suku
bangsa dan budaya di Indonesia.
1.5 Mengenal jenis-jenis usaha dan
kegiatan ekonomi di Indonesia.
Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan ruang lingkup materi pada
Standar Kompetensi 1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang
berskala nasional pada masa Hindu, Budha, dan Islam, keragaman kenampakan
alam dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia dengan Kompetensi
Dasar 1.4 Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia.
B. Tinjauan Hasil Belajar
1.
Pengertian Hasil Belajar
Proses belajar memiliki suatu tujuan, tujuan dalam belajar merupakan hasil
belajar yang dicapai siswa. Hasil belajar merupakan suatu pencapaian tujuan
pengajaran berkat tindakan guru, yang meliputi perubahan kemampuan pada
siswa baik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar menjadi
15
sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat dijadikan petunjuk
untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
ia menerima pengalaman belajarnya (Nana Sudjana, 2009: 22). Soedijarto
(Purwanto, 2010: 46) mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan
yang dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai
dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Asep Jihad & Abdul Haris (2008: 14) mengemukakan bahwa hasil belajar
adalah pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik dari proses belajar yang dilakukan dalam
waktu tertentu. Purwanto (2010: 49) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah
yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
a.
Ranah Kognitif
Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam
kawasan kognisi. Proses belajar yang melibatkan kognisi meliputi kegiatan sejak
dari penerimaan stimulus eksternal oleh sensori, penyimpanan dan pengolahan
dalam otak menjadi informasi hingga pemanggilan kembali informasi ketika
diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Bloom (Purwanto, 2010: 50) membagi
dan menyusun secara hirarkhis tingkat belajar kognitif mulai dari yang paling
rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks yaitu
evaluasi. Enam tingkatan hasil belajar tersebut, yaitu:
1) kemampuan menghafal (C1) merupakan kemampuan memanggil
kembali fakta yang disimpan dalam otak yang digunakan untuk
merespon suatu masalah,
16
2) kemampuan pemahaman (C2) merupakan kemampuan untuk melihat
hubungan fakta dengan fakta,
3) kemampuan penerapan (C3) merupakan kemampuan kognitif untuk
memahami aturan, hukum, rumus, dan sebagainya yang digunakan
untuk memecahkan masalah,
4) kemampuan analisis (C4) merupakan kemampuan memahami sesuatu
dengan menguraikannya ke dalam unsur-unsur,
5) kemampuan sintesis (C5) merupakan kemampuan memahami dengan
mengorganisasikan bagian-bagian ke dalam kesatuan, dan
6) kemampuan evaluasi (C6) merupakan kemampuan membuat penilaian
dan mengambil keputusan dari hasil penilaiannya.
b.
Ranah Afektif.
Krathwohl (Purwanto, 2010: 51) membagi hasil belajar afektif menjadi
lima tingkat, yaitu:
1) penerimaan adalah kesediaan menerima rangsangan dengan
memberikan perhatian kepada rangsangan yang datang kepadanya,
2) partisipasi adalah kesediaan memberikan respon dengan
berpartisipasi,
3) penilaian adalah kesediaan untuk menentukan pilihan sebuah nilai dari
rangsangan tersebut,
4) organisasi adalah kesediaan mengorganisasikan nilai-nilai yang
dipilihnya untuk menjadi pedoman yang mantap dalam perilaku, dan
5) internalisasi adalah menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan untuk
tidak hanya menjadi pedoman perilaku tetapi juga menjadi bagian dari
pribadi dalam perilaku sehari-hari.
c.
Ranah Psikomotorik
Simpson
(Purwanto,
2010:
53)
mengklasifikasikan
hasil
belajar
psikomotorik menjadi enam, yaitu:
1) persepsi adalah kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala
lain,
2) kesiapan adalah kemampuan menempatkan diri untuk memulai suatu
gerakan,
3) gerakan terbimbing adalah kemampuan melakukan gerakan meniru
model yang dicontohkan,
4) gerakan terbiasa adalah kemampuan melakukan gerakan tanpa ada
model contoh,
5) gerakan kompleks adalah kemampuan melakukan serangkaian
gerakan dengan cara, urutan, dan irama yang tepat, dan
17
6) kreativitas adalah kemampuan menciptakan gerakan-gerakan baru
yang tidak ada sebelumnya atau mengombinasikan gerakan-gerakan
yang ada menjadi kombinasi gerakan baru yang orisinal.
Jadi berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah suatu pencapaian dari tujuan pendidikan yang diperoleh peserta
didik dari pengalaman-pengalaman belajarnya dan ditandai dengan perubahanperubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ke arah yang lebih baik.
Dalam penelitian ini, hasil belajar IPS yang dimaksud adalah tingkat keberhasilan
siswa sekolah dasar dalam proses pembelajaran IPS pada materi Keragaman Suku
Bangsa dan Budaya di Indonesia.
2.
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Dimyati & Mudjiono (2002: 10) mengatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi hasil belajar terdiri dari dua, yaitu faktor yang berasal dari dalam
diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Salah satu faktor yang
berasal dari luar siswa adalah peranan guru dalam mengelola pembelajaran di
kelas seperti penggunaan media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan
materi yang akan dibahas. Clark (Nana Sudjana & Ahmad Rivai, 2001: 39)
mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.
Menurut Slameto (2003: 54), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor
ekstern.
a.
Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang
belajar. Di dalam faktor intern akan dibahas beberapa faktor yang
mempengaruhi, yaitu:
1) faktor jasmaniah, yang terdiri dari:
18
a) kesehatan, sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta
bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit, karena proses belajar
seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain
itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing,
ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguangangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indera serta tubuhnya.
b) cacat tubuh, adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau
kurang sempurna mengenai tubuh atau badan, seperti buta, tuli, patah
kaki, dan lumpuh.
2) faktor psikologis, yang terdiri dari:
a) inteligensi, adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu
kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi
yang baru dengn cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan
konsep-konsep yang abstrak secara efektif, dan mengetahui relasi dan
mempelajarinya dengan cepat.
b) perhatian, adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun sematamata tertuju kepada suatu obyek, sehingga untuk dapat menjamin hasil
belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap
bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian
siswa, maka timbullah kebosanan yang dapat menyebabkan ia tidak
lagi suka belajar.
c) minat, dapat diartikan dengan kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, sehingga apabila
bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka
siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.
d) motivasi, dapat diartikan suatu penggerak pada diri individu dalam
mewujudkan tujuan yang akan dicapai dan besarnya motivasi yang
dimiliki individu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas tingkah
laku yang ditampilkan.
b. Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi:
1) keluarga, merupakan lingkungan pertama dari anak dimana di
keluarga anak memperoleh pendidikan pertama, sehingga kondisi
keluarga yang baik akan mempengaruhi perkembangan dan hasi
belajar anak, selain itu suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,
hubungan dengan orang tua, dan bimbingan orang tua sangatlah
berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar anak.
2) sekolah, faktor di sekolah yang memperngaruhi hasil belajar
mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,
relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu
sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas
rumah.
3) masyarakat, lingkungan masyarakat di sekitar rumah peserta didik
juga berpengaruh terhadap hasil belajarnya, hal ini meliputi kegiatan
siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan
masyarakat.
19
Jadi berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor intern dan
faktor ekstern. Faktor intern meliputi faktor jasmaniah dan faktor rohani,
sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan
sekitar. Dalam penelitian ini, salah satu faktor ekstern yaitu sekolah, terutama
penggunaan media pembelajaran pop-up untuk meningkatkan hasil belajar IPS.
C. Tinjauan Media Pembelajaran Pop-up
1.
Pengertian Media Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kegiatan edukatif dimana terjadi interaksi
antara siswa dan guru. Kegiatan pembelajaran memiliki nilai edukatif dikarenakan
guru mengarahkan siswa secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu yang
telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dituntut untuk kreatif dan
inovatif dalam proses pengajaran agar materi yang disampaikan mudah diterima
dan dipahami oleh siswa. Pembelajaran yang efektif dan banyak diminati siswa
diperlukan media atau alat bantu pembelajaran yang dipilih secara tepat sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti
tengah, perantara, atau pengantar. Secara lebih khusus, pengertian media dalam
proses belajar mengajar cenderung diartikansebagai alat-alat grafis, photografis,
atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi
visual atau verbal. Di samping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media
sering diganti dengan kata mediator. Dengan istilah mediator, media
20
menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara
dua pihak utama dalam proses belajar, siswa dan isi pelajaran.
Gagne dan Briggs (Azhar Arsyad, 2011: 4) secara implisit mengatakan
bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk
menyampaikan isi meteri pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape
recorder, kaset, video camera, video recorder, form, slide (gambar bingkai), foto,
gambar, grafik, televisi dan komputer. Oleh karena itu, apabila media itu
membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau
mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media
pembelajaran. Burden dan Byrd (Ahmad Susanto, 2014: 313) mendefinisikan
bahwa media pembelajaran sebagai alat yang menyediakan fungsi-fungsi
pembelajaran dalam pendidikan terutama dalam mengantarkan informasi dari
sumber ke penerima, yang dapat memfasilitasi dan meningkatkan kualitas belajar
siswa.
Bambang Warsita (2008: 123) mengatakan bahwa media dapat dibagai
dalam dua kategori, yaitu alat bantu pembelajaran (instructional aids) dan media
pembelajaran (instructional media). Alat bantu pembelajaran atau alat untuk
membantu guru (pendidik) dalam memperjelas materi (pesan) yang akan
disampaikan. Oleh karena itu, alat bantu pembelajaran disebut juga alat bantu
mengajar (teaching aids), seperti OHP/OHT, film bingkai (slide), foto, poster,
grafik, flip chart, model benda sebenarnya, dan lingkungan belajar siswa yang
dimanfaatkan untuk memperjelas materi pembelajaran. Sadiman dkk (Ahmad
Susanto, 2014: 314) yang mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah
21
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta
perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Berdasarkan pernyataan beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
media pembelajaran adalah suatu alat yang berupa fisik digunakan untuk
menyampaikan materi pembelajaran guna memperoleh proses belajar yang efektif
dan efisien. Dengan menggunakan media pembelajaran, maka interaksi guru dan
siswa akan lebih interaktif serta dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial terutama materi keanekaragaman suku dan budaya
Indonesia.
2.
Manfaat Media Pembelajaran
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002: 2) mengemukakan bahwa manfaat
media pembelajaran dalam proses belajar siswa, adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa sehingga memungkinkannya menguasai dan
mencapai tujuan pembelajaran.
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi
verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak
bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar
pada setiap jam pelajaran.
Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti
mengamati dan demonstrasi.
Azhar Arsyad (2011: 15) mengemukakan bahwa pemakaian media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan
minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan
bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan
22
media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu
keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran.
Ahmad Susanto (2014: 322) mengemukakan bahwa tujuan diterapkannya
media pembelajaran dalam proses belajar siswa, sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai
tujuan pembelajaran.
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi
verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak
bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar
pada setiap jam pelajaran.
Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga kativitas lain seperti
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lainlain.
Berdasarkan penjelasan di atas yang dikaitkan dengan penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa manfaat media pembelajaran untuk mempermudah siswa
dalam menerima dan menyerap materi pelajaran yang diberikan guru serta
menciptakan proses pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, efisien, dan
efektif pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terutama materi
keanekaragaman suku dan budaya Indonesia.
3.
Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Menurut Arsyad Azhar (2005: 6), ciri-ciri umum yang terkandung dalam
media, adalah sebagai berikut.
a.
b.
Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal
sebagai hardware (perangkat keras), yaitu suatu benda yang dapat
dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera.
Media pendidikan memiliki pengertian non fisik yang dikenal sebagai
software (perangkat lunak) yaitu kandungan pesan yang terdapat
23
c.
d.
e.
f.
g.
dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan
kepada siswa.
Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar
baik di dalam maupun di luar kelas.
Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi
guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya radio dan
televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide,
video, OHP) atau perorangan (misalnya modul, komputer, radio tape,
video recorder).
Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang
berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Gerlach & Ely (Azhar Arsyad, 2011: 12) mengemukakan tiga ciri media
sebagai berikut.
a.
b.
c.
Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu
peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media
seperti fotografi, video tape, audio tape, disket komputer, dan film.
Suatu objek yang telah diambil gambarnya dengan kamera atau video
kamera dapat direproduksi sesuai yang diperlukan dengan mudah dan
tanpa mengenal waktu.
Ciri Manipulatif (Manipulative Property)
Tranformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media
memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari
dapat disajikan kepada siswa dalam waktu beberapa menit dengan
teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Kemampuan media
dari ciri manipulatif memerlukan perhatian sungguh-sungguh karena
apabila terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian
atau pemotongan bagian-bagian yang salah, maka akan terjadi pula
kesalahan penafsiran yang tentu saja akan membingungkan.
Ciri Distributif (Distributive Property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian
ditransportasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian
tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus
pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri suatu media
dapat dilihat dari kemampuan media untuk merekontruksi kembali dan
memanipulasi suatu peristiwa, sehingga dapat digunakan setiap saat sesuai dengan
24
kebutuhan. Selain itu, media memiliki kemampuan untuk menyamakan informasi
yang diterima siswa di berbagai tempat yang berbeda.
4.
Macam-Macam Media Pembelajaran
Leshin, Pollock, dan Reigeluth (Azhar Arsyad, 2011: 36) mengemukakan
bahwa media dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan
kelompok, field trip).
Media berbasis buku cetak (buku, penuntun, buku latihan).
Media berbasis visual (buku, bagan, grafik, peta, gambar, slide).
Media berbasis audio-visual (video, film).
Media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer,
interaktif video, hypertext).
Djamarah (Ahmad Susanto, 2014: 317) menyebutkan bahwa berdasarkan
jenisnya media pembelajaran dapat dikelompokkan, sebagai berikut.
a.
b.
c.
Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan
suara saja seperti tape recorder.
Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra
penglihatan dalam wujud visual.
Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan
unsur gambar.
Azhar
Arsyad
(2011:
29)
mengemukakan
bahwa
berdasarkan
perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam
empat kelompok, yaitu media hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audiovisual, media hasil teknologi yang berdasarkan komputer, dan media hasil
gabungan teknologi cetak dan komputer. Adapun penjelasannya sebagai berikut.
a.
b.
Teknologi cetak, adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan
materi seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses
pencetakan mekanis atau fotografis. Kelompok media hasil teknologi
cetak meliputi teks, grafik, foto atau representasi fotografik dan
reproduksi.
Teknologi
audio-visual,
adalah
cara
menghasilkan
atau
menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis
25
c.
d.
dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual.
Pengajaran melalui audio-visual bercirikan pemakaian perangkat keras
selama proses belajar, seperti mesin proyektor film, tape recorder, dan
proyektor visual yang lebar.
Teknologi berbasis komputer, adalah cara menghasilkan atau
menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang
berbasis mikro-prosesor. Pada media yang dihasilkan dari teknologi
berbasis komputer, informasi atau materi disimpan dalam bentuk
digital, bukan dalam bentuk cetak atau visual.
Teknologi gabungan, adalah cara untuk menghasilkan dan
menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa
bentuk media yang dikendalikan oleh komputer.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam
perkembangan media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi, baik
media pembelajaran berbasis cetak, visual, audio-visual, komputer, maupun
berbasis manusia. Dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, guru
diharapkan mampu melakukan inovasi dalam penyampaian isi atau pesan
pelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efisien dan efektif.
5.
Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis
yang perlu mendapatkan pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media
antara lain motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi,
persiapan sebelum belajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan, latihan dan
pengulangan, dan penerapan (Azhar Arsyad, 2011: 72).
John Jarolimek (Hidayati, 2002: 121) menyebutkan hal-hal yang perlu
diperhatikan guru dalam menentukan pemilihan media, sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
Tujuan instruksional yang akan dicapai.
Tingkat usia dan kematangan anak.
Kemampuan baca anak.
Tingkat kesulitan dan jenis konsep pelajaran.
Keadaan atau latar belakang pengetahuan atau pengalaman anak.
26
Azhar Arsyad (2011: 75) mengemukakan beberapa kriteria yang patut
diperhatikan dalam memilih media, antara lain sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep,
prinsip, atau generalisasi.
Praktis, luwes, dan bertahan.
Guru terampil dalam menggunakannya.
Pengelompokkan sasaran, media yang efektif untuk kelompok besar
belum tentu sama efektifnya untuk kelompok kecil atau perseorangan.
Mutu teknis, pengembangan visual baik gambar maupun fotografi
harus memenuhi persyaratan teknis tertentu.
Basuki Wibawa dan Farida Mukti 1992: 67) mengatakan bahwa kriteria
yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media, adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Tujuan
Karakteristik siswa
Alokasi waktu
Ketersediaan
Efektivitas
Kompatibilitas
Biaya
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat kriteriakriteria dalam pemilihan media yang akan digunakan oleh guru, antara lain sesuai
dengan tujuan pembelajaran dan perkembangan peserta didik. Pemilihan media
yang sesuai kriteria, dapat memudahkan siswa dalam menerima materi yang
diberikan guru, sehingga akan berpengaruh positif pada meningkatnya hasil
belajar siswa.
6.
Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Ahmad Susanto (2014: 327) mengemukakan bahwa jenis-jenis media
pembelajaran, antara lain media berbasis visual, media berbasis audiovisual,
media berbasis komputer, media berbasis edutaiment, dan film animasi.
27
Sedangkan Hidayati (2002: 113) menyebutkan bahwa macam-macam ragam dan
bentuk media pembelajaran, sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Media yang tidak diproyeksikan, berupa gambar diam, bahan-bahan
grafis serta model dan realita.
Media yang diproyeksikan, contohnya slide, film, televisi, OHP, tape
recorder, dan sebagainya.
Media audio, contohnya radio dan rekaman.
Sistem Multi Media berupa gabungan dari satu jenis media yang
disusun berdasarkan atas topik tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat bahwa jenis media
pembelajaran sangatlah beragam dan bermacam-macam yang hal ini dapat
memotivasi guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran
sehingga dapat mendorong peran aktif siswa dan antusiasme siswa terhadap mata
pelajaran IPS. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan media yang tidak
diproyeksikan, yaitu media pop-up.
7.
Pengertian Pop-Up.
Joko D. Muktiono (2003: 65) mengemukakan bahwa pop-up book adalah
sebuah buku yang memiliki tampilan gambar yang bisa ditegakkan serta
membentuk obyek-obyek yang indah dan dapat bergerak atau memberi efek yang
menakjubkan. Sedangkan, Dzuanda (Nila Rahmawati, 2014: 4) mengemukakan
bahwa pop up book adalah sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat
bergerak atau memiliki unsur 3 dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang
menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya
dibuka.
Menurut Bluemel dan Taylor (Nila Rahmawati, 2014: 4) pengertian popup book adalah sebuah buku yang menampilkan potensi untuk bergerak dan
28
interaksinya melalui penggunaan kertas sebagai bahan lipatan, gulungan, bentuk,
roda atau putarannya. Sabuda (Aditya Dewa Kusuma, 2013) mengemukakan
bahwa buku pop-up dapat memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik,
mulai dari gambar yang terlihat memiliki tampilan tiga dimensi dan kinetik,
gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka atau bagiannya digeser
dapat bergerak sehingga dapat membentuk seperti benda aslinya. Hal lain yang
membuat buku pop-up menarik dan berbeda dari buku cerita ilustrasi biasa adalah
pembaca seperti menjadi bagian dari hal yang menakjubkan itu karena mereka
memiliki andil ketika membuka halaman buku tersebut.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa popup book adalah media pembelajaran yang memiliki unsur 3 dimensi dan dapat
bergerak ketika halaman dibuka yang disertai dengan ilustrasi gambar yang lebih
menarik dan bisa ditegakkan. Media pop-up book dapat meningkatkan peran aktif
siswa dalam proses pembelajaran, karena siswa memiliki andil dan dapat
mengeksplorasi pengalaman-pengamalan belajar ketika membuka halaman buku
tersebut
8.
Manfaat Media Pop-Up
Dzuanda (Nila Rahmawati, 2014: 4) mengemukakan bahwa manfaat dari
media pop-up book, adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Mengajarkan anak untuk lebih menghargai buku dan
memperlakukannya dengan baik.
Mendekatkan anak dengan orang tua karena buku pop-up memiliki
bagian yang halus sehingga memberikan kesempatan untuk orang tua
untuk duduk bersama dengan putra-putri mereka dan menikmati cerita
(mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak)
Mengembangkan kreativitas anak.
Merangsang imajinasi anak.
29
e.
f.
Menambah pengetahuan hingga memberikan penggambaran bentuk
suatu benda (pengenalan benda).
Dapat digunakan sebagai media untuk menanamkan kecintaan anak
terhadap membaca.
Bluemel dan Taylor (Nila Rahmawati, 2014: 4) menyebutkan bahwa
beberapa kegunaan media pop-up, sebagai berikut.
a.
b.
c.
Untuk mengembangkan kecintaan anak muda terhadap buku dan
membaca.
Bagi peserta didik anak usia dini untuk menjebatani hubungan antara
situasi kehidupan nyata dan simbol yang mewakilinya.
Bagi siswa yang lebih tua dapat berguna untuk mengembangkan
kemampuan berfikir kritis dan kreatif.
Dari beberapa pendapat ahli di atas disimpulkan bahwa media pop-up
dapat meningkatkan kecintaan siswa terhadap buku dan menambah pengetahuan
hingga memberikan penggambaran bentuk suatu benda.
9.
Kelebihan Media Pop-Up
Anggi Nur Cahyani (2014: 23) menjelaskan kelebihan pop-up dalam
bentuk buku cerita yaitu dapat memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik
dibandingkan dengan buku cerita pada umumnya. Inovasi lain yang dimiliki buku
pop-up, seperti gambar yang dapat bergerak, berubah bentuk, bahkan dapat
mengeluarkan bunyi dapat membuat anak-anak terkesan untuk membuka setiap
halamannya dan mengikuti alur ceritanya. Selain itu, melalui pop-up, dapat
memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ilustrasi. Sedangkan,
Van Dyk (Na’ilatun Ni’mah, 2014: 22) mengemukakan bahwa kelebihan dari
media pop-up dalam pemebelajaran, adalah sebagai berikut.
a.
b.
Membuat pembelajaran lebih efektif, interaktif, dan mudah diingat.
Menyediakan umpan pembelajaran, karena bagi siswa ilustrasi visual
dapat menggambarkan konsep abstrak menjadi jelas.
30
c.
d.
e.
f.
Membantu siswa dalam mendokumentasi, meneliti, dan memberikan
pengalaman mengenai lingkungan sekitar.
Menyediakan pengalaman baru dan menambah pengalaman tentang
aktivitas sehari-hari.
Menghibur dan menarik perhatian siswa.
Memberikan pengalaman langsung atau kesempatan bagi siswa untuk
berpartisipasi saat menggunakan pop-up dalam proses pembelajaran.
Surakhmad (1998: 17) yang mengemukakan bahwa sistem belajar siswa
aktif akan lebih efektif jika diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, artinya
sistem belajar mengajar yang menekankan pada keaktifan siswa secara fisik,
intelektual, emosional untuk mendapatkan hasil belajar yang baik. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh aktivitas belajar siswa
dalam pembelajaran, semakin baik aktivitas belajar siswa, maka semakin baik
hasil belajar siswa tersebut.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan media pop-up dapat menunjukkan objek secara lebih utuh dan
terlihat seperti nyata, sehingga siswa lebih mudah mengilustrasikan materi yang
disampaikan guru. Selain itu, pembelajaran akan lebih efektif dan interaktif,
karena siswa terlibat dalam penggunaan media pop-up, yang hal ini dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
10. Langkah-Langkah Penggunaan Media Pop-Up
a.
Bukalah media pop-up dengan hati-hati
b.
Lihat daftar isi untuk menemukan provinsi yang ingin kamu pelajari
c.
Bukalah halaman provinsi yang ingin kamu pelajari dan perhatikan pop-up
yang terbentuk.
d.
Bagian tengah merupakan rumah adat provinsi yang sedang kamu pelajari
31
e.
Terdapat pop-up berbentuk laki-laki dan perempuan yang mengenakan
pakaian adat provinsi yang sedang kamu pelajari
f.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan senjata tradisional untuk menemukan
keterangan terkait senjata tradisional provinsi yang sedang kamu pelajari
g.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan rumah adat untuk menemukan
keterangan terkait rumah adat provinsi yang sedang kamu pelajari
h.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan pakaian adat untuk menemukan
keterangan terkait pakaian adat provinsi yang sedang kamu pelajari
i.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan tarian daerah untuk menemukan
keterangan terkait tarian daerah provinsi yang sedang kamu pelajari
j.
Bukalah buku kecil pada bagian bawah pop-up untuk menemuka keterangan
terkait suku, bahasa, lagu daerah, dan peta provinsi yang sedang kamu
pelajari
k.
Baca dan amati dengan seksama keterangan pada setiap lipatan kecil untuk
memudahkanmu menemukan jawaban yang sedang kamu cari
11. Jenis-Jenis Teknik Pembuatan Pop-Up
Sabuda (Aditya Dewa Kusuma, 2013: 9) menyebutkan bahwa terdapat
beberapa macam teknik pop-up, diantaranya sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Transformations, yaitu bentuk tampilan yang terdiri dari potonganpotongan pop-up yang disusun secara vertikal.
Volvelles, yaitu bentuk tampilan yang menggunakan unsur lingkaran
dalam pembuatannya.
Peepshow, yaitu tampilan yang tersusun dari serangkaian tumpukan
kertas yang disusun bertumpuk menjadi satu sehingga menciptakan
ilusi kedalaman dan perspektif.
Pull-tabs, yaitu sebuah tab kertas geser atau bentuk yang ditarik dan
didorong untuk memperlihatkan gerakan gambaran baru.
32
e.
f.
Carousel, yaitu teknik yang didukung dengan tali, pita atau kancing
yang apabila dibuka dan dilipat kembali berbentuk benda yang
kompleks.
Box and Cylinder, yaitu gerakan sebuah kubus atau tabung yang
bergerak naik dari tengah halaman ketika halaman dibuka.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, terdapat beberapa teknik dalam
pembuatan pop-up. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pembuatan
volvelles, pull-tabs, serta box and cylinder.
D. Karakteristik Siswa Kelas V Sekolah Dasar
Menurut Conny R. Semiawan (1999: 63) karakteristik yang diharapkan
pada cara pembelajaran untuk anak SD, adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
Programnya disusun fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan
perbedaan individual anak.
Tidak dilakukan secara monoton dan verbalistik, tetapi disajikan
secara variatif melalui banyak aktivitas seperti eksperimen, praktek,
observasi langsung, permainan, dan sejenisnya.
Melibatkan penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga
memungkinkan anak terlibat secara penuh dengan menggunakan
berbagai proses mental dan perseptual.
Utami Munandar (1999: 4) mengemukakan bahwa masa usia sekolah dasar
dapat dibagi menjadi dua fase, sebagai berikut.
1.
Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, sekitar usia 6 sampai 9 tahun.
2.
Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, sekitar usia 10 sampai 12-13 tahun
Lebih lanjut, Utami Munandar (1999: 4) mengemukakan beberapa sifat khas
anak-anak pada masa ini, sebagai berikut.
1.
a.
b.
c.
d.
Sifat khas masa kelas-kelas rendah, sebagai berikut.
Ada korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan
prestasi sekolah.
Sikap tunduk kepada peraturan permainan yang tradisional.
Ada kecenderungan memuji diri sendiri.
Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, kalau hal itu
menguntungkan.
33
e.
Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu
dianggapnya tidak penting.
f. Pada masa ini, anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa
mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau
tidak.
2. Sifat khas masa kelas-kelas tinggi, sebagai berikut.
a. Minat kepada kehidupan praktis konkret sehari-hari, kecenderungan
membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
b. Amat realistis, ingin tahu, ingin belajar.
c. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata
pelajaran khusus.
d. Sampai kira-kira umur 11 tahun, anak membutuhkan guru atau orangorang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi
keinginannya.
e. Pada masa ini, anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran
yang tepat terhadap prestasi sekolah.
f. Di dalam permainan biasanya anak tidak lagi terikat kepada aturan
permainan tradisional, mereka membuat peraturan sendiri.
Syamsudin dkk (2004: 87) mengemukakan bahwa sifat khas kelas tinggi
sekolah dasar, sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari.
Ingin tahu, ingin belajar, realistis.
Timbul minat kepada pelajaran khusus.
Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi
belajarnya di sekolah.
Anak suka membentuk kelompok sebaya atau peer group untuk
bermain bersama dan mereka membuat peraturan sendiri di dalam
kelompok.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan karakteristik antara siswa kelas rendah dengan siswa kelas tinggi. Pada
masa kelas tinggi, siswa memiliki sifat khas, antara lain perhatiannya lebih tertuju
terhadap kehidupan sehari-hari yang konkret, realistis dan praktis, memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi, dan memiliki minat pada mata pelajaran tertentu. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan subjek penelitian kelas V SD yang termasuk
ke dalam kelas tinggi. Dengan menggunakan media pembelajaran yang kreatif dan
inovatif, siswa diharapkan lebih mudah memahami materi pembelajaran, berperan
34
aktif, dan memiliki minat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar,
sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
E. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian relevan sebelumnya yang sesuai dengan penelitian ini
adalah penelitian yang dilakukan oleh Adiza Belva Hendrakusuma, Septi Rohni
Undari, Wildan Isnaini Yahya, Neng Sa’adah, dan Imas Widowati yang berjudul
“POBUNDO (Pop-up Budaya Indonesia): sebagai Media Pembelajaran Berbasis
Kebudayaan Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”
F. Kerangka Pikir
Proses pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Tegal Panggung masih
berpusat pada guru dan belum menggunakan media pembelajaran yang variatif,
sehingga siswa mengalami kesulitan menerima materi yang disampaikan guru
terutama pada materi Keragaman Suku dan Budaya di Indonesia. Hal ini
menyebabkan siswa kurang antusias pada mata pelajaran IPS, yang berdampak
terhadap rendahnya hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Tegal Panggung. Guru
perlu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa sebagai
subjek pendidikan memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam proses
pembelajaran. Oleh karena itu, perlu adanya solusi untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan media pembelajaran
yang sesuai dan relevan, sehingga siswa lebih antusias dalm mengikuti proses
pembelajaran IPS dan diharapkan hasil belajar siswa meningkat.
Usia siswa kelas V SD memasuki tahap operasional konkret, dimana siswa
lebih mudah menerima materi pembelajaran yang bersifat konkret. Selain itu,
35
siswa kelas V SD termasuk dalam golongan kelas tinggi yang memiliki sifat khas,
yaitu lebih tertuju pada suatu hal yang konkret, realistis, dan praktis. Oleh karena
itu, media pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPS. Penggunaan media pembelajaran pop-up, akan memberikan
pengetahuan secara konkret dan menciptakan proses pembelajaran yang
menyenangkan, sehingga hasil belajar siswa akan meningkat.
Gambar 1. Kerangka Pikir
G. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan teori dan kerangka pikir di atas, maka peneliti membuat suatu
hipotesis tindakan sebagai berikut: penggunaan media pop-up dapat meningkatkan
hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri Tegal Panggung, Kecamatan
Danurejan, Kota Yogyakarta.
36
H. Definisi Operasional Variabel
1.
Hasil belajar adalah suatu pencapaian dari tujuan pendidikan yang diperoleh
peserta didik dari pengalaman-pengalaman belajarnya dan ditandai dengan
perubahan-perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ke arah
yang lebih baik. Dalam penelitian ini, hasil belajar yang dimaksud adalah
hasil perubahan kemampuan kognitif yang dicapai dari suatu kegiatan
pembelajaran yang diukur dengan tes. Perubahan kognitif yang dicapai pada
penelitian ini meliputi tingkat kemampuan C1 (menghafal), C2 (pemahaman),
dan C3 (penerapan) pada mata pelajaran IPS materi Keragaman Suku dan
Budaya Indonesia.
2.
Media pop-up adalah sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak
atau memiliki unsur 3 dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang
menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya
dibuka. Terdapat beberapa jenis teknik pembuatan pop-up seperti
transformations, volvelles, peepshow, pull-tabs, carousel, box and cylinder.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis teknik pembuatan volvelles,
pull-tabs, serta box and cylinder. Langkah-langkah dalam penggunaan media
pop-up, adalah sebagai berikut.
a.
Bukalah media pop-up dengan hati-hati.
b.
Lihat daftar isi untuk menemukan provinsi yang ingin kamu pelajari.
c.
Bukalah halaman provinsi yang ingin kamu pelajari dan perhatikan popup yang terbentuk.
37
d.
Bagian tengah merupakan rumah adat provinsi yang sedang kamu
pelajari.
e.
Terdapat pop-up berbentuk laki-laki dan perempuan yang mengenakan
pakaian adat provinsi yang sedang kamu pelajari.
f.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan senjata tradisional untuk
menemukan keterangan terkait senjata tradisional provinsi yang sedang
kamu pelajari.
g.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan rumah adat untuk menemukan
keterangan terkait rumah adat provinsi yang sedang kamu pelajari.
h.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan pakaian adat untuk menemukan
keterangan terkait pakaian adat provinsi yang sedang kamu pelajari.
i.
Bukalah lipatan kecil yang bertuliskan tarian daerah untuk menemukan
keterangan terkait tarian daerah provinsi yang sedang kamu pelajari.
j.
Bukalah buku kecil pada bagian bawah pop-up untuk menemuka
keterangan terkait suku, bahasa, lagu daerah, dan peta provinsi yang
sedang kamu pelajari.
k.
Baca dan amati dengan seksama keterangan pada setiap lipatan kecil
untuk memudahkanmu menemukan jawaban yang sedang kamu cari
38
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Wina Sanjaya (2011: 26) menjelaskan bahwa PTK dapat diartikan sebagai
proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri
dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan
berbagai tindakan terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap
pengaruh
dari
perlakuan
tersebut.
Jasa
Ungguh
Muliawan
(2010:
1)
mengemukakan bahwa PTK merupakan salah satu bentuk penelitian yang
dilakukan di kelas yang biasanya dilakukan oleh guru bekerja sama dengan
peneliti atau ia sendiri sebagai guru berperan ganda melakukan penelitian individu
di kelas, di sekolah dan atau di tempat ia mengajar untuk tujuan penyempurnaan
atau peningkatan proses pembelajaran.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa PTK adalah
suatu penelitian berdasarkan suatu masalah yang terjadi di kelas yang dilakukan
untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini,
peneliti ingin melakukan perbaikan dan penyempurnaan terkait hasil belajar IPS
siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung dengan menggunakan media pop-up.
B. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung,
Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta tahun pelajaran 2016/2017 yang
berjumlah 21 anak yang terdiri dari 9 laki-laki dan 12 perempuan. Alasan peneliti
memilih kelas tersebut karena dari hasil observasi yang dilakukan ditemukan data
39
bahwa rata-rata hasil belajar IPS siswa belum mencapai KKM dan terdapat 12
siswa atau sebesar 57,14% yang belum tuntas dan 9 siswa atau sebesar 42,86%
yang sudah tuntas. Sedangkan objek penelitian pada penelitian ini adalah
peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung dengan
menggunakan media pop-up pada materi keragaman suku bangsa dan budaya
Indonesia.
C. Setting Penelitian
Setting Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di dalam ruang kelas
dengan menggunakan sistem kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 7 siswa.
Siswa akan duduk secara berkelompok sesuai dengan kelompoknya masingmasing. Setiap kelompok mendapatkan media pop-up yang berbeda-beda.
Kemudian, guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing siswa.
Setiap kelompok memiliki bahan diskusi yang berbeda dengan kelompok lainnya.
Guru berkeliling pada saat kegiatan diskusi kelompok. Setelah itu, setiap
perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas
dan kelompok lain mendengarkan. Guru melakukan konfirmasi kepada siswa
lainnya terkait hasil diskusi kelompok yang sedang dipresentasikan. Penelitian ini
dilaksanakan dilaksanakan di kelas VB SD Negeri Tegal Panggung yang
beralamatkan di Jalan Tegal Panggung No. 41, Tegal Panggung, Danurejan,
Yogyakarta pada bulan November-Desember 2016. Lokasi sekolah ini berada di
tengah perkotaan dan berbatasan dengan Sungai Code.
40
D. Model Penelitian
Kurt Lewin (Suharsimi Arikunto, 2010: 131) mengemukakan bahwa
penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok, yaitu perencanaan atau
planning, tindakan atau acting, pengamatan atau observing, dan refleksi atau
reflecting.
Model Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen tersebut kemudian
dikembangkan oleh Kemmis & Mc Taggart. Kemmis & Mc Taggart memandang
komponen sebagai langkah dalam siklus sehingga mereka menyatukan dua
komponen, yaitu tindakan (acting) dan pengamatan (observing) sebagai satu
kesatuan. Begitu berlangsungnya suatu tindakan dilakukan, tahap observasi juga
harus dilakukan sesegera mungkin. Hasil dari pengamatan kemudian dijadikan
dasar sebagai langkah berikutnya, yaitu refleksi (Suharsimi Arikunto, 2010: 131).
Model visualisasi bagan yang disusun oleh Kemmis dan Mc Taggart dalam
penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut.
Gambar 2. Model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan Mc
Taggart (Kusumah dan Dwitagama, 2009: 20)
41
Kegiatan penelitian ini direncanakan melalui beberapa siklus. Setiap siklus
yang dilaksanakan dalam pembelajaran dapat diuraikan sebagai berikut.
a.
Perencanaan (Planning)
Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan pengamatan proses belajar
mengajar mata pelajaran IPS pada siswa kelas VB SD Negeri Tegal Panggung,
Yogyakarta. Dari hasil observasi selama kegiatan belajar mengajar diperoleh
suatu permasalahan, yaitu guru belum menggunakan media pembelajaran secara
optimal sehingga nilai rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih
rendah. Dari masalah tersebut, maka peneliti dalam tahap perencanaan ini dapat
membuat sebuah perencanaan, yaitu:
1) menentukan materi pelajaran IPS yang akan diteliti, yaitu keragaman suku
bangsa dan budaya Indonesia,
2) menentukan indikator pembelajaran,
3) membuat RPP tentang materi keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia
dengan menggunakan media pop-up,
4) mempersiapkan media pop-up yang akan digunakan dalam pembelajaran IPS,
5) mempersiapkan lembar kerja siswa tentang materi keragaman suku bangsa
dan budaya Indonesia,
6) mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati keaktifan siswa selama
pembelajaran IPS dengan menggunakan media pop-up, dan
7) mempersiapkan soal tes yang akan diberikan kepada siswa pada akhir
pertemuan.
b.
Tindakan (Acting) dan Observasi (Observing)
42
Pada tahap ini, tindakan dilakukan dengan menggunakan panduan
perencanaan yang telah dibuat dan dalam pelaksanaannya bersifat fleksibel dan
terbuka terhadap perubahan-perubahan dalam pelaksanaannya. Jadi, tindakan
yang dilakukan bersifat dinamis dan tidak tetap, sehingga dapat berubah
menyesuaikan kondisi yang ada. Selama proses pembelajaran IPS, guru mengajar
dengan menggunakan RPP yang telah disusun dan peneliti mengamati kegiatan
pembelajaran IPS dengan menggunakan media pop-up tersebut sekaligus
melakukan dokumentasi. Hal yang perlu dicatat dalam kegiatan observasi adalah
proses tindakan, pengaruh tindakan yang disengaja maupun tidak sengaja, situasi
tempat dan tindakan, dan kendala yang dihadapi.
c.
Refleksi (Reflecting)
Data yang diperoleh dari hasil test dianalisis, kemudian peneliti bersama
guru IPS melakukan refleksi berupa diskusi. Diskusi bertujuan untuk
mengevaluasi hasil dari tindakan yang telah dilakukan dengan cara melakukan
penilaian terhadap proses yang terjadi, prosedur, masalah yang timbul, dan hasil
dari tindakan.
Dari hasil analisis tersebut, akan ditemukan kekurangan atau penyebab
kurang berhasilnya suatu siklus sehingga perlu dilakukan perencanaan dan
tindakan berikutnya. Penelitian akan dihentikan apabila hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPS telah meningkat atau lebih baik.
E. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 185) mengemukakan bahwa teknik
pengumpulan
data
dapat
diartikan
sebagai
43
cara
yang
dipakai
dalam
mengumpulkan data, seperti melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Peneliti
tidak akan memperoleh data yang akurat atau sesuai standar yang ditetapkan
apabila peneliti tidak mengetahui teknik pengumpulan data. Sedangkan Sugiyono
(2009: 308) mengatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah
yang paling utama dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah
memperoleh data. Adapun, teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti
yaitu melalui tes.
Suharsimi Arikunto (2010: 193) mengemukakan bahwa tes adalah
serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki
individu atau kelompok. Dalam penelitian ini, tes digunakan untuk mengetahui
sejauh mana siswa mengalami perubahan hasil belajar sebelum dan sesudah
mengambil tindakan pada materi keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data dalam penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes
hasil belajar. Pada penelitian ini, tes yang diberikan di akhir pertemuan pada
setiap siklus digunakan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar IPS siswa
setelah menggunakan media pop-up pada aspek kognitif yang sesuai indikator
pembelajaran. Materi yang digunakan pada siklus I, yaitu tentang keragaman suku
bangsa di Indonesia dan materi yang digunakan pada siklus II, yaitu keragaman
budaya di Indonesia.
44
Tabel 3. Kisi-Kisi Butir Soal Post Test Siklus I & Siklus II
Kompetensi
Indikator
Nomor Soal
Dasar
C1
C2
C3
1.4 Menghargai
1.4.1 Menyebutkan nama 1, 2, 4, 6, 7, 11, 14
keragaman suku
suku yang ada di
bangsa dan
Indonesia
10, 13, 15
budaya di
Indonesia
1.4.2 Menunjukkan suku
17, 18,
pada peta/provinsi
beberapa suku bangsa
19
yang ada di Indonesia
1.4.3 Menjelaskan sikap
3, 8, 12
menghargai keragaman
suku bangsa di Indonesia
1.4.4 Mengidentifikasi
sikap menghargai antar
suku yang ada di
Indonesia
1.4.5 Menyebutkan nama
pakaian adat yang ada di
Indonesia
1.4.6 Menyebutkan nama
senjata tradisional yang
ada di Indonesia
1.4.7 Menyebutkan nama
rumah adat yang ada di
Indonesia
1.4.8 Menyebutkan nama
tarian adat yang ada di
Indonesia
1.4.9 Menjelaskan sikap
saling menghormati
kebudayaan yang ada di
Indonesia
1.4.10 Mengidentifikasi
sikap saling menghormati
kebudayaan yang ada di
Indonesia
G. Teknik Analisis Data
5, 9
16, 20
7, 17
1,3,10,14,16 19
5, 9, 11
2, 13, 18
6
4, 20
8,
12,
15
Suharsimi Arikunto (2006: 239) mengemukakan bahwa dalam penelitian
tindakan kelas terdapat dua klasifikasi kelompok data yang dapat dikumpulkan
peneliti, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti
45
menganalisis data kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis hasil tes
peningkatan hasil belajar siswa. Data penelitian kuantitatif dianalisis secara
deskripsi dengan penyajian tabel dan persentase yang dideskripsikan dan diambil
kesimpulan terkait masing-masing komponen dan indikator berdasarkan kriteria
yang ditentukan.
Tes yang digunakan untuk analisis hasil belajar siswa berupa soal pilihan
ganda yang terdiri dari 20 soal pada setiap siklus. Pada pertemuan pertama siklus
I, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 8 soal dan pertemuan kedua
siklus I, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 12 soal. Kemudian, pada
pertemuan pertama siklus II, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 10
soal dan pertemuan kedua siklus II, guru memberikan soal post-test yang
berjumlah 10 soal, dengan perhitungan, sebagai berikut:
Skor = (jumlah soal yang dijawab benar : jumlah soal seluruhnya) X 100
H. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Penelitian ini dikatakan berhasil jika 75% siswa yang mengikuti
pembelajarn IPS menggunakan media pop-up dinyatakan memenuhi KKM, yaitu
≥ 70.
46
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
A. Deskripsi Pratindakan
Kegiatan pratindakan dilaksanakan sebelum mengadakan penelitian untuk
mengetahui kondisi awal siswa sebelum tindakan. Peneliti menggunakan hasil
ulangan tengah semester sebagai data awal sebelum melakukan tindakan.
Penelitian ini dimulai dengan observasi dan wawancara dengan guru kelas V. Dari
hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa permasalahan di kelas yang
menyebabkan rendahnya rata-rata hasil belajar IPS, seperti guru belum
menggunakan media pembelajaran yang inovatif dalam menyampaikan materi
pembelajaran dan hanya terpaku dengan buku pelajaran, siswa kurang
memperhatikan guru dalam proses pembelajaran, dan kegiatan belajar mengajar
masih berpusat pada guru sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran
masih kurang. Hal ini menyebabkan siswa lebih mudah bosan dan mengantuk
pada proses pembelajaran. Oleh karena itu, perlu diadakan suatu tindakan untuk
mengatasi permasalahan tersbut. Adapaun data awal sebelum tindakan, adalah
sebagai berikut.
47
Tabel 4.Rekapitulasi Hasil Ulangan Tengah Semester IPS Siswa Kelas V
No
Nama
Nilai
Keterangan
1.
ADK
2.
ADT
3.
ADD
4.
BYU
5.
ARY
6.
RGL
7.
ELA
8.
FBY
9.
KRS
10.
LTF
11.
MCL
12.
EDO
13.
MUA
14.
PRI
15.
WLD
16.
VRD
17.
FTR
18.
MRA
19.
STY
20.
AZZ
21.
VNA
Rata-Rata Nilai
KKM
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Siswa Tuntas
Persentase Siswa Tuntas
Siswa Belum Tuntas
Persentase Siswa Belum Tuntas
65
80
80
70
65
65
55
80
70
70
60
45
75
60
40
50
80
65
80
50
45
64,28
70
80
40
9
42,86%
12
57,14%
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai hasil belajar
IPS siswa kelas V sebesar 64,28, dengan rincian siswa yang tuntas sebanyak 9
siswa atau 42,86% sedangkan siswa yang belum tuntas sebesar 12 siswa atau
57,14%. Nilai tertinggi sebesar 80 sedangkan nilai terendah sebesar 40. Terdapat
12 siswa yang belum mencapai KKM dikarenakan belum optimalnya penggunaan
media dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti melaksanakan
48
tindakan dengan menggunakan media pop-up. Tindakan yang dilakukan dalam
penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa, terutama
pada materi Keragaman Suku Bangsa dan Budaya Indonesia.
B. Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap
siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung selama 2x35
menit atau 2 jam pelajaran. Setiap selesai pertemuan siklus I dan II dilaksanakan
post test untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran dengan menggunakan pop-up. Siklus I dilaksanakan pada tanggal
23 dan 24 November 2016. Sementara siklus II dilaksanakan pada tanggal 30
November dan 1 Desember 2016. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Siklus keSiklus I
Siklus II
Tabel 5. Waktu Pelaksanaan Siklus I dan Siklus II
Hari / Tanggal
Materi Pembelajaran
Rabu,
Membahas tentang materi suku yang ada di
23 November 2016
Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera
Kamis,
Membahas tentang materi suku yang ada di
24 November 2016
Pulau Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara,
Maluku, dan Papua
Rabu,
Membahas tentang materi kebudayaan yang
30 November 2016
ada di Pulau Jawa, Kalimantan, dan
Sumatera
Kamis,
Membahas tentang materi kebudayaan yang
1 Desember 2016
ada di Pulau Sulawesi, Bali & Nusa
Tenggara, Maluku, dan Papua
Prosedur penelitian dalam penetitian tindakan kelas ini terdiri dari tahap
perencanaan, tahap tindakan dan observasi, dan tahap refleksi. Tahapan-tahapan
tersebut dilaksanakan dalam setiap siklus. Deskripsi hasil penelitian pada siklus I
dan siklus II, yaitu sebagai berikut.
49
a.
Deskripsi Penelitian Siklus I
1) Perencanaan Siklus I
Tahap perencanaan siklus I merupakan tindak lanjut dari permasalahan
yang ditemukan oleh peneliti saat observasi pra tindakan di kelas V. Dalam tahap
ini, peneliti bersama guru melakukan diskusi dalam merencanakan tindakan yang
dilakukan untuk menangani masalah rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas V.
Langkah-langkah dalam merencanakan tindakan tersebut, adalah sebagai berikut.
a)
Menentukan Waktu Pelaksanaan Tindakan
Peneliti bersama guru melakukan diskusi dalam menentukan waktu yang
tepat untuk melaksanakan tindakan. Waktu yang disepakati untuk melaksanakan
tindakan pada siklus I yaitu pada tanggal 23 November 2016 pada jam keempat
(pukul 09.00-10.10) dan tanggal 24 November 2016 pada jam keempat (pukul
09,00-10.00).
b) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Peneliti berkonsultasi pada guru kelas terkait desain pembelajaran yang
berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Setelah berkonsultasi dengan
guru kelas maka disepakati bahwa materi yang diajarkan pada siklus I adalah
materi Suku Bangsa di Indonesia. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I terdiri
dari dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama membahas pokok bahasan
tentang suku bangsa yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan,
sedangkan pada pertemuan kedua membahas pokok bahasan tentang suku bangsa
yang ada di Pulau Sulawesi, Bali&Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
50
c)
Menyiapkan Lembar Post Test
Peneliti menyiapkan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data
berupa soal post test yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada
ranah kognitif. Lembar post test ini terdiri dari 20 soal pilihan ganda yang memuat
materi tentang Suku Bangsa di Indonesia.
d) Diskusi Bersama Guru Terkait Penggunaan Media Pop-up
Peneliti melakukan penjelasan kepada guru terkait penggunaan media popup dalam proses pembelajaran agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam langkahlangkah pembelajaran IPS dengan menggunakan media pop-up.
2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pada tahap ini, guru melaksanakan proses pembelajaran IPS dengan
menggunakan media pop-up. Pelaksanaan tindakan bersifat fleksibel dan terbuka
terhadap perubahan-perubahan. Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan
dalam dua kali pertemuan, yaitu pada tanggal 23 November 2016 pukul 09.0010.10 dan 24 November 2016 pukul 09.00-10.10. Adapun deskripsi pada setiap
pertemuannya, adalah sebagai berikut.
a) Pertemuan Pertama Siklus I
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I dilaksanakan
pada tanggal 23 November 2016 jam keempat pukul 09.00-10.10 yang
berlangsung selama dua jam pelajaran atau 2x35 menit. Pembelajaran dilakukan
oleh guru kelas dan peneliti dibantu oleh rekan mahasiswa PGSD menjadi
observer. Pada pertemuan ini sub pokok bahasan yang dipelajari adalah suku
bangsa yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
51
Kegiatan Awal
Sebelum memulai pembelajaran, guru mempersiapkan media pop-up yang
digunakan. Guru membagikan kartu nomor persensi kepada setiap siswa. Guru
membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. Guru memeriksa kesiapan siswa
dalam mengikuti pelajaran. Kemudian, guru melakukan apersepsi dengan
bertanya kepada siswa mengenai asal daerah siswa. Beberapa siswa ditunjuk guru
untuk menjawab pertanyaan tersebut. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang dicapai.
Kegiatan Inti
Pada pertemuan ini, guru menjelaskan materi mengenai keragaman suku
bangsa yang ada di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Setelah menjelaskan
materi, guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk memperdalam materi.
Selanjutnya, guru mulai menunjukkan media pop-up yang digunakan dan
menjelaskan cara penggunaan media pop-up tersebut.
Pada pembelajaran ini, guru menggunakan metode diskusi kelompok.
Pertama, guru membagi siswa menjadi tiga kelompok dengan cara berhitung.
Siswa pun duduk dengan satu kelompoknya. Kelompok 1 mendapatkan media
pop-up tentang Pulau Jawa, kelompok 2 mendapatkan media pop-up tentang
Pulau Sumatera, dan kelompok 3 mendapatkan media pop-up tentang Pulau
Kalimantan. Kemudian, guru memberikan lembar kerja siswa (LKS) sesuai
dengan pokok bahasan yang ada di setiap kelompok. Guru dan peneliti berkeliling
untuk memantau penggunaan media pop-up yang dilakukan siswa. Setelah selesai
52
mengerjakan LKS, setiap kelompok menunjuk perwakilan kelompoknya untuk
mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
Kelompok pertama yang melakukan presentasi adalah kelompok 1 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Jawa. Perwakilan kelompok 1 membacakan
hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Jawa dan suku yang
berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak sedang presentasi di depan
kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi temannya. Kemudian, guru
melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait hasil diskusi kelompok yang
sedang presentasi.
Kelompok kedua yang melakukan presentasi adalah kelompok 2 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Sumatera. Perwakilan kelompok 2
membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Sumatera
dan suku yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak sedang
presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi temannya.
Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait hasil diskusi
kelompok yang sedang presentasi.
Selanjutnya, kelompok ketiga yang melakukan presentasi adalah kelompok
3 yang mendapatkan pop-up tentang Pulau Kalimantan. Perwakilan kelompok 3
membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau
Kalimantan dan suku yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak
sedang presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
temannya. Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait
hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi.
53
Gambar 3. Diskusi Kelompok Pertemuan Pertama Siklus I
Kegiatan Akhir
Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil diskusinya, guru
dan siswa melakukan tanya jawab terkait materi apa saja yang sudah dipelajari.
Kemudian, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 8 soal pilihan ganda
untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai pada pertemuan tersebut.
Setelah selesai mengerjakan soal post-test, guru menyuruh siswa untuk
mempelajari kembali materi yang sudah dipelajari di rumah. Kemudian, guru
menutup pembelajaran dengan salam
Adapun hasil belajar IPS siswa pada pertemuan pertama siklus I adalah
sebagai berikut.
54
Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Pertama Siklus I
No
Nama
Nilai
Keterangan
1.
ADK
87,5
Tuntas
2.
ADT
87,5
Tuntas
3.
ADD
87,5
Tuntas
4.
BYU
75
Tuntas
5.
ARY
75
Tuntas
6.
RGL
75
Tuntas
7.
ELA
62,5
Belum Tuntas
8.
FBY
87,5
Tuntas
9.
KRS
75
Tuntas
10.
LTF
75
Tuntas
11.
MCL
62,5
Belum Tuntas
12.
EDO
62,5
Belum Tuntas
13.
MUA
87,5
Tuntas
14.
PRI
75
Tuntas
15.
WLD
50
Belum Tuntas
16.
VRD
62,5
Belum Tuntas
17.
FTR
87,5
Tuntas
18.
MRA
75
Tuntas
19.
STY
87,5
Tuntas
20.
AZZ
62,5
Belum Tuntas
21.
VNA
62,5
Belum Tuntas
b) Pertemuan Kedua Siklus I
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua siklus I dilaksanakan
pada tanggal 24 November 2016 jam keempat pukul 09.00-10.10 yang
berlangsung selama dua jam pelajaran atau 2x35 menit. Pembelajaran dilakukan
oleh guru kelas dan peneliti dibantu oleh rekan mahasiswa PGSD menjadi
observer. Pada pertemuan ini, sub pokok bahasan yang dipelajari adalah suku
bangsa yang ada di Pulau Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kegiatan Awal
Sebelum memulai pembelajaran, guru menyiapkan media pop-up yang
digunakan. Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam dan
memeriksa kesiapa siswa dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian guru
55
memeriksa kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Setelah itu, guru
memberikan apersepsi dengan menanyakan kepada siswa tentang materi yang
telah dipelajari sebelumnya. Guru menyampaikan materi yang dipelajari hari ini
dan tujuan pembelajaran yang dicapai.
Kegiatan Inti
Pada pertemuan ini, guru menjelaskan materi mengenai keragaman suku
bangsa yang ada di Pulau Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua..
Setelah menjelaskan materi, guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk
memperdalam materi.
Pada pembelajaran ini, guru masih menggunakan metode diskusi
kelompok. Pertama, guru membagi siswa menjadi tiga kelompok. Siswa pun
duduk dengan satu kelompoknya. Kelompok 1 mendapatkan media pop-up
tentang Pulau Bali & Nusa Tenggara, kelompok 2 mendapatkan media pop-up
tentang Pulau Sulawesi, dan kelompok 3 mendapatkan media pop-up tentang
Pulau Maluku & Papua. Kemudian, guru memberikan lembar kerja siswa (LKS)
sesuai dengan pokok bahasan yang ada di setiap kelompok. Guru dan peneliti
berkeliling untuk memantau penggunaan media pop-up yang dilakukan siswa.
Setelah selesai mengerjakan LKS, setiap kelompok menunjuk perwakilan
kelompoknya untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
Kelompok pertama yang melakukan presentasi adalah kelompok 1 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Bali & Nusa Tenggara. Perwakilan kelompok
1 membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Bali &
Nusa Tenggara dan suku yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang
56
tidak sedang presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
temannya. Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait
hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi.
Kelompok kedua yang melakukan presentasi adalah kelompok 2 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Sulawesi. Perwakilan kelompok 2
membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Sulawesi
dan suku yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak sedang
presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi temannya.
Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait hasil diskusi
kelompok yang sedang presentasi.
Selanjutnya, kelompok ketiga yang melakukan presentasi adalah kelompok
3 yang mendapatkan pop-up tentang Pulau Maluku & Papua. Perwakilan
kelompok 3 membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di
Pulau Maluku & Papua dan suku yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa
yang tidak sedang presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil
diskusi temannya. Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya
terkait hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi.
Gambar 4. Diskusi Kelompok Pertemuan Kedua Siklus I
57
Kegiatan Akhir
Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil diskusinya, guru
dan siswa melakukan tanya jawab terkait materi apa saja yang sudah dipelajari.
Kemudian, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 12 soal pilihan ganda
untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai pada pertemuan tersebut.
Setelah selesai mengerjakan soal post-test, guru menyuruh siswa untuk
mempelajari kembali materi yang sudah dipelajari di rumah. Kemudian, guru
menutup pembelajaran dengan salam.
Adapun rekapitulasi hasil belajar IPS siswa pada pertemuan kedua siklus I,
adalah sebagai berikut.
Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Kedua Siklus I
No
Nama
Nilai
Keterangan
1.
ADK
75
Tuntas
2.
ADT
75
Tuntas
3.
ADD
75
Tuntas
4.
BYU
75
Tuntas
5.
ARY
75
Tuntas
6.
RGL
92
Tuntas
7.
ELA
58
Belum Tuntas
8.
FBY
83
Tuntas
9.
KRS
75
Tuntas
10.
LTF
67
Belum Tuntas
11.
MCL
83
Tuntas
12.
EDO
58
Belum Tuntas
13.
MUA
83
Tuntas
14.
PRI
58
Belum Tuntas
15.
WLD
50
Belum Tuntas
16.
VRD
67
Belum Tuntas
17.
FTR
83
Tuntas
18.
MRA
75
Tuntas
19.
STY
83
Tuntas
20.
AZZ
83
Tuntas
21.
VNA
50
Belum Tuntas
58
Dari hasil post test yang dilaksanakan pada pertemuan pertama dengan
jumlah 8 soal pilihan ganda dan pertemuan kedua dengan jumlah 12 soal
menunjukkan bahwa ketuntasan nilai IPS siswa kelas V pada siklus I sebesar
71%, yang artinya terdapat 15 siswa yang sudah tuntas dan terdapat 6 siswa atau
sebesar 29% yang belum tuntas dengan hasil rata-rata nilai kelas sebesar 73,46.
Adapun rekapitulasi hasil belajar IPS siswa kelas V pada siklus I dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus I
Nama
Nilai
RataPertemuan Pertemuan Rata
Nilai
1
2
1.
ADK
87,5
75
81,25
2.
ADT
87,5
75
81,25
3.
ADD
87,5
75
81,25
4.
BYU
75
75
75
5.
ARY
75
75
75
6.
RGL
75
92
83,5
7.
ELA
62,5
58
60,25
8.
FBY
87,5
83
85,25
9.
KRS
75
75
75
10.
LTF
75
67
71
11.
MCL
62,5
83
72,75
12.
EDO
62,5
58
60,25
13.
MUA
87,5
83
85,25
14.
PRI
75
58
66,5
15.
WLD
50
50
50
16.
VRD
62,5
67
64,75
17.
FTR
87,5
83
85,25
18.
MRA
75
75
75
19.
STY
87,5
83
85,25
20.
AZZ
62,5
83
72,75
21.
VNA
62,5
50
56,25
Rata-Rata Nilai
74,40
72,52
73,46
Nilai Tertinggi
87,5
92
85,25
Nilai Terendah
50
50
50
Siswa Tuntas
14
14
15
Persentase Siswa Tuntas
67%
67%
71%
Siswa Belum Tuntas
7
7
6
No
59
Keterangan
Rata-Rata
Nilai
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Persentase Siswa Belum
Tuntas
33%
33%
29%
3) Refleksi
Tahap refleksi dilakukan untuk membahas hal-hal yang menjadi hambatan
dan kekurangan pada siklus I. Hal ini sangat penting untuk memperbaiki tindakan
sebelumnya. Guru telah berusaha melakukan proses pembelajaran sesuai dengan
RPP, namun pada kenyataan kondisi di dalam kelas berbeda dengan yang
diperkirakan. Peneliti bersama guru melakukan diskusi terkait hal-hal apa saja
yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya. Adapun beberapa kekurangan
yang terjadi pada proses pembelajaran siklus I, adalah sebagai berikut.
a)
Guru kurang menyiapkan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran,
dimana pembelajaran IPS dilakukan setelah jam istirahat, sehingga masih
banyak siswa yang belum siap mengikuti pembelajaran.
b) Guru kurang bisa mengkondisikan siswa pada proses pembentukan
kelompok, sehingga terjadi kegaduhan.
c)
Guru kurang mendampingi siswa dalam proses diskusi kelompok.
d) Terdapat beberapa siswa yang masih malu untuk bertanya dan menyampaikan
pendapatnya.
e)
Persentase siswa yang tuntas belum mencapai kriteria keberhasilan yaitu
sebesar 71% sehingga perlu dilanjutkan siklus II.
Oleh karena itu, peneliti memberikan saran untuk memperbaiki kegiatan
pembelajaran pada siklus berikutnya, adalah sebagai berikut.
a)
Guru melakukan pembagian kelompok dengan berhitung.
60
b) Guru memberikan reward kepada siswa yang aktif bertanya dan menjawab.
c)
Guru berkeliling untuk memberikan pendampingan pada saat diskusi
kelompok
b. Deskripsi Penelitian Siklus II
1) Perencanaan Siklus II
Tahap perencanaan tindakan pada siklus II hampir sama dengan
perencanaan tindakan pada siklus I. Akan tetapi, terdapat beberapa hal yang perlu
diperbaiki sesuai dengan refleksi tindakan pada siklus I. Berdasarkan hasil refleksi
tindakan pada siklus I, maka kegiatan yang akan dilakukan pada siklus II, adalah
sebagai berikut.
a)
Menentukan Waktu Pelaksanaan Tindakan
Peneliti bersama guru melakukan diskusi dalam menentukan waktu yang
tepat untuk melaksanakan tindakan. Waktu yang disepakati untuk melaksanakan
tindakan pada siklus II yaitu pada tanggal 30 November 2016 pada jam keempat
(pukul 09.00-10.10) dan tanggal 1 Desember 2016 pada jam keempat (pukul
09,00-10.00).
b) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Peneliti berkonsultasi pada guru kelas terkait desain pembelajaran yang
berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Setelah berkonsultasi dengan
guru kelas maka disepakati bahwa materi yang diajarkan pada siklus II adalah
materi Keragaman Budaya di Indonesia. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II
terdiri dari dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama membahas pokok
bahasan tentang kebudayaan yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan,
61
sedangkan pada pertemuan kedua membahas pokok bahasan tentang kebudayaan
yang ada di Pulau Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
c)
Menyiapkan Lembar Post Test
Peneliti menyiapkan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data
berupa soal post test yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada
ranah kognitif. Lembar post test ini terdiri dari 20 soal pilihan ganda yang memuat
materi tentang Kebudayaan di Indonesia.
d) Diskusi Bersama Guru Terkait Hasil Refleksi
Peneliti bersama guru melakukan perubahan dalam proses pembelajaran
berdasarkan hasil refleksi. Dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, guru
memberikan reward, motivasi, dan penguatan positif kepada setiap siswa agar
berani bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Pada saat awal kegiatan
pembelajaran, guru memeriksa kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran dengan
lebih tegas. Selain itu, guru memberikan pendampingan dan perhatian kepada
seluruh siswa saat diskusi kelompok menggunakan media pop-up.
e)
Dokumentasi
Peneliti
mempersiapkan
kamera
untuk
mempermudah
dalam
mendokumentasikan aktivitas pembelajaran.
2) Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, guru melaksanakan proses pembelajaran dengan
menggunakan pedoman perencanaan yang telah dibuat. Pelaksanaan tindakan
bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan. Pelaksanaan
tindakan pada siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, yaitu pada tanggal
62
30 November 2016 pukul 09.00-10.10 dan 1 Desember 2016 pukul 09.00-10.10.
Adapun deskripsi pada setiap pertemuannya, adalah sebagai berikut.
a) Pertemuan Pertama Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus II dilaksanakan
pada tanggal 30 November 2016 jam keempat pukul 09.00-10.10 yang
berlangsung selama dua jam pelajaran atau 2x35 menit. Pembelajaran dilakukan
oleh guru kelas dan peneliti dibantu oleh rekan mahasiswa PGSD menjadi
observer. Pada pertemuan ini sub pokok bahasan yang dipelajari adalah
kebudayaan yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Kegiatan Awal
Sebelum memulai pembelajaran, guru mempersiapkan media pop-up yang
akan digunakan. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. Guru
memeriksa kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran dan menegur siswa yang
membuat kegaduhan. Kemudian, guru melakukan apersepsi dengan bertanya
kepada siswa mengenai pakaian adat. Beberapa siswa ditunjuk guru untuk
menjawab pertanyaan tersebut. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai.
Kegiatan Inti
Pada pertemuan ini, guru menjelaskan materi mengenai kebudayaan yang
ada di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Setelah menjelaskan materi, guru
dan siswa melakukan tanya jawab untuk memperdalam materi. Guru memberikan
pujian kepada siswa yang aktif bertanya dan menjawab. Kemudian, guru
63
menunjukkan media pop-up yang akan digunakan dan menjelaskan cara
penggunaan media pop-up tersebut.
Pada pembelajaran ini, guru menggunakan metode diskusi kelompok.
Pertama, guru membagi siswa menjadi tiga kelompok dengan cara berhitung.
Peneliti ikut membantu mengkondisikan siswa. Guru memberikan teguran kepada
siswa yang membuat kegaduhan. Siswa pun duduk dengan satu kelompoknya.
Kelompok 1 mendapatkan media pop-up tentang Pulau Jawa, kelompok 2
mendapatkan media pop-up tentang Pulau Sumatera, dan kelompok 3
mendapatkan media pop-up tentang Pulau Kalimantan. Kemudian, guru
memberikan lembar kerja siswa (LKS) sesuai dengan pokok bahasan yang ada di
setiap kelompok. Guru dan peneliti berkeliling untuk memantau penggunaan
media pop-up yang dilakukan siswa. Guru memberikan pendampingan kepada
seluruh kelompok saat proses mengerjakan LKS dan diskusi kelompok
menggunakan media pop-up. Setelah selesai mengerjakan LKS, setiap kelompok
menunjuk perwakilan kelompoknya untuk mempresentasikan hasil diskusinya di
depan kelas.
Kelompok pertama yang melakukan presentasi adalah kelompok 1 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Jawa. Perwakilan kelompok 1 membacakan
hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Jawa dan kebudayaan
seperti pakaian adat, senjata tradisional, rumah adat, dan tarian adat yang berasal
dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak sedang presentasi di depan kelas,
mendengarkan dan mencatat hasil diskusi temannya. Kemudian, guru melakukan
64
konfirmasi dengan siswa lainnya terkait hasil diskusi kelompok yang sedang
presentasi.
Kelompok kedua yang melakukan presentasi adalah kelompok 2 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Sumatera. Perwakilan kelompok 2
membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Sumatera
dan kebudayaan seperti pakaian adat, senjata tradisional, rumah adat, dan tarian
adat yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak sedang presentasi
di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi temannya. Kemudian,
guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait hasil diskusi kelompok
yang sedang presentasi.
Selanjutnya, kelompok ketiga yang melakukan presentasi adalah kelompok
3 yang mendapatkan pop-up tentang Pulau Kalimantan. Perwakilan kelompok 3
membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau
Kalimantan dan kebudayaan seperti pakaian adat, senjata tradisional, rumah adat,
dan tarian adat yang berasal dari setiap provinsi tersebut.
Siswa yang tidak
sedang presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
temannya. Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait
hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi. Guru memberikan reward berupa
tepuk tangan kepada setiap perwakilan kelompok.
Gambar 5. Presentasi Kelompok Pertemuan Pertama Siklus I
65
Kegiatan Akhir
Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil diskusinya, guru
dan siswa melakukan tanya jawab terkait materi apa saja yang sudah dipelajari.
Guru memberikan pujian kepada siswa yang berani bertanya dan menyampaikan
pendapatnya. Kemudian, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 10 soal
pilihan ganda untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai pada pertemuan
tersebut. Setelah selesai mengerjakan soal post-test, guru menyuruh siswa untuk
membaca terkait materi kebudayaan di pulau-pulau yang belum dipelajari pada
pertemuan hari ini. Kemudian, guru menutup pembelajaran dengan salam.
Adapun rekapitulasi hasil belajar IPS siswa kelas V pada pertemuan
pertama siklus II, adalah sebagai berikut.
Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Pertama Siklus II
No
Nama
Nilai
Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
ADK
ADT
ADD
BYU
ARY
RGL
ELA
FBY
KRS
LTF
MCL
EDO
MUA
PRI
WLD
VRD
FTR
MRA
STY
AZZ
80
80
80
70
70
100
60
90
90
80
80
60
100
90
60
70
80
80
90
80
66
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
21.
VNA
60
Belum Tuntas
b) Pertemuan Kedua Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua siklus II dilaksanakan
pada tanggal 1 Desember 2016 jam keempat pukul 09.00-10.10 yang berlangsung
selama dua jam pelajaran atau 2x35 menit. Pembelajaran dilakukan oleh guru
kelas dan peneliti dibantu oleh rekan mahasiswa PGSD menjadi observer. Pada
pertemuan ini sub pokok bahasan yang dipelajari adalah kebudayaan yang ada di
Pulau Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kegiatan Awal
Sebelum memulai pembelajaran, guru mempersiapkan media pop-up yang
akan digunakan. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. Guru
memeriksa kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran dan menegur siswa yang
membuat kegaduhan. Kemudian, guru melakukan apersepsi dengan bertanya
kepada siswa mengenai materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
Beberapa siswa ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan tersebut. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Kegiatan Inti
Pada pertemuan ini, guru menjelaskan materi mengenai kebudayaan yang
ada di Pulau Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Setelah
menjelaskan materi, guru dan siswa melakukan tanya jawab untuk memperdalam
materi. Guru memberikan pujian kepada siswa yang aktif bertanya dan menjawab.
Kemudian, guru menunjukkan media pop-up yang akan digunakan dan
menjelaskan cara penggunaan media pop-up tersebut.
67
Pada pembelajaran ini, guru menggunakan metode diskusi kelompok.
Pertama,
guru menyuruh siswa untuk
berkelompok seperti
pertemuan
sebelumnya. Peneliti ikut membantu mengkondisikan siswa. Guru memberikan
teguran kepada siswa yang membuat kegaduhan. Siswa pun duduk dengan satu
kelompoknya. Kelompok 1 mendapatkan media pop-up tentang Pulau Bali &
Nusa Tenggara, kelompok 2 mendapatkan media pop-up tentang Pulau Sulawesi,
dan kelompok 3 mendapatkan media pop-up tentang Pulau Maluku & Papua.
Kemudian, guru memberikan lembar kerja siswa (LKS) sesuai dengan pokok
bahasan yang ada di setiap kelompok. Guru dan peneliti berkeliling untuk
memantau penggunaan media pop-up yang dilakukan siswa. Guru memberikan
pendampingan kepada seluruh kelompok saat proses mengerjakan LKS dan
diskusi kelompok menggunakan media pop-up. Setelah selesai mengerjakan LKS,
setiap kelompok menunjuk perwakilan kelompoknya untuk mempresentasikan
hasil diskusinya di depan kelas.
Kelompok pertama yang melakukan presentasi adalah kelompok 1 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Bali & Nusa Tenggara. Perwakilan kelompok
1 membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Bali &
Nusa Tenggara dan kebudayaan seperti pakaian adat, senjata tradisional, rumah
adat, dan tarian adat yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak
sedang presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
temannya. Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait
hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi.
68
Kelompok kedua yang melakukan presentasi adalah kelompok 2 yang
mendapatkan pop-up tentang Pulau Sulawesi. Perwakilan kelompok 2
membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di Pulau Sulawesi
dan kebudayaan seperti pakaian adat, senjata tradisional, rumah adat, dan tarian
adat yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang tidak sedang presentasi
di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi temannya. Kemudian,
guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait hasil diskusi kelompok
yang sedang presentasi.
Selanjutnya, kelompok ketiga yang melakukan presentasi adalah kelompok
3 yang mendapatkan pop-up tentang Pulau Maluku & Papua. Perwakilan
kelompok 3 membacakan hasil diskusi, yaitu nama-nama provinsi yang ada di
Pulau Maluku & Papua dan kebudayaan seperti pakaian adat, senjata tradisional,
rumah adat, dan tarian adat yang berasal dari setiap provinsi tersebut. Siswa yang
tidak sedang presentasi di depan kelas, mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
temannya. Kemudian, guru melakukan konfirmasi dengan siswa lainnya terkait
hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi. Guru memberikan reward berupa
tepuk tangan kepada setiap perwakilan kelompok.
Gambar 6. Diskusi Kelompok Pertemuan Kedua Siklus II
69
Kegiatan Akhir
Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil diskusinya, guru
dan siswa melakukan tanya jawab terkait materi apa saja yang sudah dipelajari.
Guru memberikan pujian kepada siswa yang berani bertanya dan menyampaikan
pendapatnya. Kemudian, guru memberikan soal post-test yang berjumlah 10 soal
pilihan ganda untuk mengetahui hasil belajar yang telah dicapai pada pertemuan
tersebut. Setelah selesai mengerjakan soal post-test, guru . Guru memberikan
tugas rumah, yaitu mempelajari kembali materi yang sudah diajarkan.
Adapun rekapitulasi hasil belajar IPS siswa pada pertemuan kedua siklus
II, adalah sebagai berikut.
Tabel 10.Rekapitulasi Hasil Belajar Pertemuan Kedua Siklus II
No
Nama
Nilai
Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
ADK
ADT
ADD
BYU
ARY
RGL
ELA
FBY
KRS
LTF
MCL
EDO
MUA
PRI
WLD
VRD
FTR
MRA
STY
AZZ
VNA
90
100
90
80
80
80
70
90
90
80
90
70
80
80
60
80
90
90
90
80
70
70
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Dari hasil post test yang dilaksanakan pada pertemuan pertama dengan
jumlah 10 soal pilihan ganda dan pertemuan kedua dengan jumlah 10 soal
menunjukkan bahwa ketuntasan nilai IPS siswa kelas V pada siklus II sebesar
80,95%, yang artinya terdapat 17 siswa yang sudah tuntas dan terdapat 4 siswa
atau sebesar 19,05% yang belum tuntas dengan hasil rata-rata nilai kelas sebesar
80, 47. Adapun hasil belajar IPS kelas V pada siklus II dapat dilihat pada tabel
berikut.
71
Tabel 11. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus II
Nama
Nilai
RataPertemuan Pertemuan Rata
Nilai
1
2
1.
ADK
80
90
85
2.
ADT
80
100
90
3.
ADD
80
90
85
4.
BYU
70
80
75
5.
ARY
70
80
75
6.
RGL
100
80
90
7.
ELA
60
70
65
8.
FBY
90
90
90
9.
KRS
90
90
90
10.
LTF
80
80
80
11.
MCL
80
90
85
12.
EDO
60
70
65
13.
MUA
100
80
90
14.
PRI
90
80
85
15.
WLD
60
60
60
16.
VRD
70
80
75
17.
FTR
80
90
85
18.
MRA
80
90
85
19.
STY
90
90
90
20.
AZZ
80
80
80
21.
VNA
60
70
65
Rata-Rata Nilai
78,57
82,38
80,47
Nilai Tertinggi
100
100
90
Nilai Terendah
60
60
60
Siswa Tuntas
17
20
17
Persentase Siswa Tuntas
80,95%
95%
80,95
Siswa Belum Tuntas
4
1
4
Persentase Siswa Belum
19,05%
5%
19,05
Tuntas
No
Keterangan
Rata-Rata
Nilai
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
3) Refleksi
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dari siklus II terlihat peningkatan
baik pada aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Pada aspek
kognitif, hasil post-test pada siklus II mengalami peningkatan dibanding siklus I.
Pada siklus II dapat dilihat hasil nilai rata-rata kelas sebesar 80,47 dengan jumlah
72
siswa yang tuntas sebanyak 17 siswa atau 80,95% dan siswa yang belum tuntas
sebanyak 4 siswa atau 19,05%, sedangkan pada siklus I dapat dilihat hasil nilai
rata-rata kelas sebesar 73,46 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 15 siswa
atau 71% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 6 siswa atau 29%.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti dan guru merasa tindakan sudah cukup
dan akan diberhentikan, karena lebih dari 75% siswa yang mengikuti pembelajarn
IPS menggunakan media pop-up dinyatakan memenuhi KKM.
B. Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini
dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II, dimana guru berperan
sebagai pengajar dan peneliti sebagai observer. Setiap siklus terdiri dari dua kali
pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu tahap
perencanaan (planning), tahap pelaksanaan (acting) dan tahap pengamatan
(observing), serta tahap refleksi (reflecting).
Dalam pembahasan ini akan diuraikan hasil penelitian mengenai
peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan media pop-up. Dari hasil
penelitian dapat diketahui bahwa penggunaan media pop-up dapat meningkatkan
hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri Tegal Panggung. Untuk lebih
detailnya, dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah ini.
73
Tabel 12. Peningkatan Hasil Belajar Pratindakan ke Siklus I
Nama
Nilai
Pratindakan
Keterangan
Siklus I
Keterangan
1.
ADK
65
81,25
Tuntas
Belum Tuntas
2.
ADT
80
Tuntas
81,25
Tuntas
3.
ADD
80
Tuntas
81,25
Tuntas
4.
BYU
70
Tuntas
75
Tuntas
5.
ARY
65
75
Tuntas
Belum Tuntas
6.
RGL
65
83,5
Tuntas
Belum Tuntas
7.
ELA
55
60,25
Belum Tuntas
Belum Tuntas
8.
FBY
80
Tuntas
85,25
Tuntas
9.
KRS
70
Tuntas
75
Tuntas
10.
LTF
70
Tuntas
71
Tuntas
11.
MCL
60
72,75
Tuntas
Belum Tuntas
12.
EDO
45
60,25
Belum Tuntas
Belum Tuntas
13.
MUA
75
Tuntas
85,25
Tuntas
14.
PRI
60
66,5
Belum Tuntas
Belum Tuntas
15.
WLD
40
50
Belum Tuntas
Belum tuntas
16.
VRD
50
64,75
Belum Tuntas
Belum Tuntas
17.
FTR
80
Tuntas
85,25
Tuntas
18.
MRA
65
75
Tuntas
Belum Tuntas
19.
STY
80
Tuntas
85,25
Tuntas
20.
AZZ
50
72,75
Tuntas
Belum Tuntas
21.
VNA
45
56,25
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Total Nilai
1350
1542,75
Rata-Rata Nilai
64,28
73,46
Nilai Tertinggi
80
85,25
Nilai Terendah
40
50
Siswa Tuntas
9
15
Persentase Siswa
42,86%
71%
Tuntas
Siswa Belum Tuntas
12
6
Persentase Siswa
57,14%
29%
Belum Tuntas
No
74
Tabel 13. Peningkatan Hasil Belajar Siklus I ke Siklus II
Nama
Nilai
Siklus I
Keterangan
Siklus II
Keterangan
1.
ADK
81,25
Tuntas
85
Tuntas
2.
ADT
81,25
Tuntas
90
Tuntas
3.
ADD
81,25
Tuntas
85
Tuntas
4.
BYU
75
Tuntas
75
Tuntas
5.
ARY
75
Tuntas
75
Tuntas
6.
RGL
83,5
Tuntas
90
Tuntas
7.
ELA
60,25
65
Belum Tuntas
Belum tuntas
8.
FBY
85,25
Tuntas
90
Tuntas
9.
KRS
75
Tuntas
90
Tuntas
10.
LTF
71
Tuntas
80
Tuntas
11.
MCL
72,75
Tuntas
85
Tuntas
12.
EDO
60,25
65
Belum Tuntas
Belum Tuntas
13.
MUA
85,25
Tuntas
90
Tuntas
14.
PRI
66,5
85
Tuntas
Belum Tuntas
15.
WLD
50
60
Belum tuntas
Belum Tuntas
16.
VRD
64,75
75
Tuntas
Belum Tuntas
17.
FTR
85,25
Tuntas
85
Tuntas
18.
MRA
75
Tuntas
85
Tuntas
19.
STY
85,25
Tuntas
90
Tuntas
20.
AZZ
72,75
Tuntas
80
Tuntas
21.
VNA
56,25
65
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Rata-Rata Nilai
73,46
80,47
Nilai Tertinggi
85,25
90
Nilai Terendah
50
60
Siswa Tuntas
15
17
Persentase Siswa
71%
80,95%
Tuntas
Siswa Belum Tuntas
6
4
Persentase Siswa
29%
19,05%
Belum Tuntas
No
Tabel 14. Peningkatan Hasil Belajar dari Pratindakan, Siklus I & Siklus II
Pratindakan
Siklus I
Siklus II
Total Skor
1350
1542,75
1690
Rata-Rata
64,28
73,46
80,47
Skor Tertinggi
80
85,25
90
Skor Terendah
40
50
60
Jumlah Siswa Tuntas
9
15
17
Persentase Siswa Tuntas
42,86%
71%
80,95%
75
Gambar 7. Diagram Perbandingan Persentase Ketuntasan Siswa
Pratindakan, Tindakan Siklus I, dan Tindakan Siklus II
100,00%
90,00%
80,95%
80,00%
71%
70,00%
60,00%
50,00%
Pratindakan
42,86%
Siklus I
40,00%
Siklus II
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
Pratindakan
Siklus I
Siklus II
Gambar 8. Diagram Perbandingan Persentase Siswa Belum Tuntas
Pratindakan, Tindakan Siklus I, dan Tindakan Siklus II
100,00%
90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
57,14%
Pratindakan
Siklus I
29%
Siklus II
19,05%
Pratindakan
Siklus I
Siklus II
Dari tabel dan diagram di atas, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan
hasil belajar dari pratindakan ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. Rata-rata
hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Tegal Panggung pada pratindakan
sebesar 64,28 dengan persentase ketuntasan sebesar 42,86%. Hasil ketuntasan
tersebut masih jauh dari sebuah ketuntasan pembelajaran minimal, yaitu 75%
siswa yang mengkuti pembelajaran sudah mencapai KKM. Menurut teori Mastery
76
Learning, pembelajaran tuntas dapat diukur dari performance peserta didik dalam
setiap unit sudah mencapai 75%. Pada pratindakan, pembelajaran IPS di kelas V
belum menggunakan media pop-up dalam menyampaikan materi pembelajaran
dan kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga kurang melibatkan
siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa lebih mudah bosan
dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, sehingga akan berdampak
pada penerimaan materi yang disampaikan guru.
Setelah diberikan sebuah tindakan pada siklus I, terjadi peningkatan hasil
belajar, yaitu rata-rata hasil belajar sebesar 73,46 dengan persentase ketuntasan
sebesar 71%. Pada siklus I, guru telah menggunakan media pop-up dalam
menyampaikan materi pembelajaran. Akan tetapi, guru belum secara tegas
mengkondisikan dan memeriksa kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Selain itu, guru kurang memberi pendampingan pada saat kegiatan diskusi
kelompok. Kemudian, masih ditemukan siswa yang belum konsentrasi dalam
mengikuti pembelajaran, membuat kegaduhan di dalam kelas, dan kurang aktif
dalam kegiatan tanya jawab. Penelitian dilanjutkan dengan melaksanakan
tindakan pada siklus II, karena ketuntasan pada siklus I belum mencapai
ketuntasan minimal, yaitu sebesar 75%.
Dari beberapa kekurangan pada siklus I, maka peneliti melakukan diskusi
dengan guru untuk merencanakan sebuah perubahan dan refleksi untuk dilakukan
pada siklus I, seperti guru melakukan pendampingan kepada setiap kelompok
pada saat diskusi kelompok, guru lebih memancing siswa untuk aktif dalam
kegiatan tanya jawab, guru memberikan reward bagi siswa yang berani
77
menyampaikan pendapat, guru lebih mempertegas pada pengkondisian siswa
dalam pembentukan kelompok dan saat memeriksa kesiapan siswa dalam
mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan dari hasil belajar siklus II ditemukan empat siswa yang belum
tuntas, yaitu Ella dengan nilai 65, Edo dengan nilai 65, Wulandari dengan nilai
60, dan Vina dengan skor 65. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, baik
faktor intern,seperti psikologis maupun faktor ekstern, seperti keluarga. Hal ini
sesuai dengan Slameto (2003: 54) yang mengatakan terdapat dua faktor yang
dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
Akan tetapi, hasil belajar keempat siswa tersebut selalu mengalami peningkatan
dari hasil belajar pratindakan, siklus I, maupun ke siklus II.
Pada pembelajaran siklus II telah dilakukan beberapa perbaikan dari hasil
refleksi siklus I. Guru lebih tegas dalam memeriksa kesiapan siswa dan menegur
siswa yang membuat kegaduhan. Selain itu, guru memberikan reward kepada
siswa yang berani menyampaikan pendapat dan aktif dalam kegiatan tanya jawab.
Dalam kegiatan diskusi kelompok, guru telah memberikan pendampingan pada
setiap kelompok. Setelah diberikan sebuah tindakan pada siklus II terjadi
peningkatan hasil belajar siswa, yaitu rata-rata hasil belajar sebesar 80,47 dengan
persentase ketuntasan sebesar 80,95%. Hal ini sesuai dengan Hamalik (Azhar
Arsyad, 2011: 15) yang mengemukakan bahwa penggunaan media pembelajaran
dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan
menarik dan terpecaya, serta dapat membangkitkan keinginan dan minat belajar
siswa. Hal ini akan berdampak positif pada peningkatan hasil belajar siswa.
78
Berdasarkan dari hasil penelitian oleh Riani Astuti yang berjudul
“Peningkatan Keterampilan Berbicara Menggunakan Media Pop-Up Siswa Kelas
III SD Negeri Gembongan Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo Tahun
Ajaran 2014/2015” menjelaskan bahwa penggunaan media pop-up dalam proses
pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian yang dilakukan peneliti. Akan tetapi, dari dua penelitian ini
diaplikasikan pada mata belajaran yang berbeda, Riani Astuti melakukan
penelitian pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan peneliti melakukan
penelitian pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
79
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pembelajaran IPS dilakukan dengan menggunakan media pop-up, yang
terdiri dari buku pop-up Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali & Nusa
Tenggara, Sulawesi, Maluku & Papua. Guru membagi siswa menjadi tiga
kelompok. Siswa menggunakan media pop-up saat diskusi kelompok, dimana
setiap kelompok mendapatkan satu buku pop-up. Pada setiap buku pop-up
berisikan materi tentang suku bangsa dan kebudayaan seperti pakaian adat, senjata
tradisional, rumah adat, dan tarian adat. Kemudian, perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Dengan media popup, guru dapat memvisualisasikan materi yang akan disampaikan kepada siswa,
sehingga siswa memperoleh gambaran yang lebih konkret dari materi tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa penggunaan
media pop-up dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VB SD Negeri
Tegal Panggung. Hal ini dapat dilihat pada siklus I rata-rata nilai kelas sebesar
73,46 dimana terdapat 15 siswa atau sebesar 71% yang sudah mencapai KKM,
kemudian pada siklus II rata-rata nilai kelas sebesar 80,47 dimana terdapat 17
siswa atau sebesar 80,95% yang sudah mencapai KKM. Dengan demikian,
persentase jumlah siswa yang sudah tuntas telah mencapai target penelitian, yaitu
75% siswa yang mengikuti pembelajaran IPS dengan menggunakan media pop-up
mencapai nilai KKM, yaitu ≥ 70.
80
B. Saran
Bagi Guru
Dalam pembelajaran IPS terutama pada materi Keragaman Suku Bangsa dan
Budaya Indonesia, guru sebaiknya menggunakan media pop-up dalam
menyampaikan materi pelajaran.
81
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Susanto. (2014). Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.
Jakarta: Prenadamedia Group
Aditya Dewa kusuma. (2013). Perancangan Buku Pop-Up Cerita Rakyat Bledhug
Kuwu. Skripsi.FBS-UNNES
Anggi Nur Cahyani. (2014). Pengembangan Modul Berbasis Pop Up Book pada
Materi Alat-alat Optik untuk Siswa SMPLB-B (Tunarungu) Kelas VIII.
Skripsi. Saintek-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Asep Jihad & Abdul Haris. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi
Pressindo.
Azhar Arsyad. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Bambang Warsita. 2008. Teknologi Pembelajaran Landasan & Aplikasinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Conny R. Semiawan. (1999). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta:
Depdikbud.
Fakih Samlawi & Bunyamin Maftuh. (1998). Konsep Dasar IPS. Jakarta:
Depdikbud.
Hidayati. (2002). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar.
Yogyakarta: Program DII-PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Negeri Yogyakarta.
Jasa Ungguh Muliawan. (2010). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research). Yogyakarta: Gava Media.
Joko D. Muktiono (2003). Aku Cinta Buku. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Kusuma Wijaya dan Dwitagama. (2009). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Indeks Permata Puri Media.
Moh. Uzer Usman. (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nanang Hanafiah & Cucu Suhana. (2009). Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung: PT Refika Aditama
Nana Sudjana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
82
Nila Rahmawati. (2014). Pengaruh Media Pop-Up Book Terhadap Penguasaan
Kosakata Anak Usia 5-6 Tahun di TK Putera Harapan Surabaya. Diakses
pada web ejournal.unesa.ac.id pada tanggal 7 November 2016 pukul 11.21
Na’ilatun Ni’mah. (2014). Efektivitas Penggunaan Media Pop Up dalam
Pengajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Perancis Siswa Kelas IX
SMA Negeri 1 Mertoyudan Magelang. Skripsi. FBS-UNY.
Purwanto. (2010). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saefudin Azwar. (1998). Tes Prestasi: Fungsi Dan Pengembangan Pengukuran
Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka belajar.
Sapriya. (2009). Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Suhasimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi
Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.
______. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi 2010.
Jakarta: Rineka Cipta.
Suyono & Hariyanto. (2011). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Syamsudin dkk. (2004). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Utami Munandar. (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Winarno Surakhmad. (1982). Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung:
Tarsito
Wina Sanjaya. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Yatna Supriatna. 2008. Meningkatkan Prestasi Pembelajaran IPS. Diakses pada
faizalnizbah.blogspot.co.id
83
Lampiran RPP Siklus I
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah Dasar
: SD Negeri Tegal Panggung
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Materi Pokok
: Keragaman Suku Bangsa di Indonesia
Kelas
:V
Alokasi Waktu
: 2 x 2 jam pelajaran (2X35 Menit)
A. Standar Kompetensi
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala
nasional pada masa Hindu, Budha, dan Islam, keragaman kenampakan alam
dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
B. Kompetensi Dasar
1.4
Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia.
C. Indikator
1.4.1 Menyebutkan nama suku yang ada di Indonesia
1.4.2 Menunjukkan suku pada peta/provinsi beberapa suku bangsa yang ada
di Indonesia
1.4.3 Menjelaskan sikap menghargai keragaman suku bangsa di Indonesia
1.4.4 Mengidentifikasi sikap menghargai antar suku yang ada di Indonesia
D. Tujuan Pembelajaran
1.
Melalui media pop-up siswa dapat menyebutkan nama suku yang ada di
Indonesia.dengan benar
2.
Melalui media pop-up, siswa dapat menunjukkan suku pada
peta/provinsi yang ada di Indonesia dengan benar.
3.
Melalui
kegiatan
berdiskusi
siswa
dapat
menyebutkan
sikap
menghargai keragaman suku bangsa di Indonesia dengan tepat.
4.
Melalui kegiatan tanya jawab, siswa dapat menjelaskan sikap
menghargai antar suku yang ada di Indonesia dengan tepat.
84
5.
Melalui
penjelasan
guru,
siswa
dapat
mengidentifikasi
sikap
menghargai antar suku yang ada di Indonesia dengan tepat.
E. Materi
Ragam Suku Bangsa di Indonesia
F. Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1
No. Kegiatan
1.
Awal
Alokasi
Waktu
10 menit
Deskripsi Kegiatan
1.
Guru membuka pembelajaran.
2.
Salah satu siswa memimpin berdoa.
3.
Guru menanyakan kabar siswa sambil
memeriksa
mengikuti
kesiapan
proses
siswa
dalam
pembelajaran
dan
melakukan presensi kehadiran siswa.
4.
Guru
melakukan
apersepsi
dengan
bertanya; “Siapa yang berasal dari Suku
Jawa, Sumatera, Madura?”
5.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
bahwa hari ini siswa akan belajar suku
bangsa yang berasal dari Pulau Jawa,
Sumatera, dan Kalimantan.
2.
Inti
50 menit
1.
Siswa mendengarkan penjelasan guru
terkait nama dan persebaran suku bangsa
yang ada di Indonesia, terutama pada
Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
2.
Siswa dan guru melakukan tanya jawab.
3.
Siswa dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 7-8 siswa.
4.
Setiap kelompok mendapat satu media
85
pop-up antara lain yaitu: pop-up pulau
Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
5.
Siswa
mendengarkan
perintah
dan
petunjuk penggunaan media pop-up yang
dijelaskan oleh guru.
6.
Setiap siswa mendapatkan LKS yang
sama dalam satu kelompok.
7.
Siswa
mengerjakan
LKS
dengan
menggunakan media pop-up, sementara
guru
memberikan
bimbingan
ketika
diperlukan.
8.
Guru berkeliling pada saat kegiatan
diskusi kelompok.
9.
Setiap perwakilan kelompok membacakan
hasil diskusi dengan maju ke depan kelas.
10. Kelompok
yang
tidak
maju,
mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
kelompok yang maju.
11. Setelah seluruh kelompok membacakan
hasil
diskusi,
guru
mengkonfirmasi
jawaban siswa dan memberi kelengkapan
jawaban.
12. Siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang sikap menghargai keragaman
suku bangsa di Indonesia
13. Siswa
bertanya
diberikan
terkait
kesempatan
untuk
hal
belum
yang
dimengerti siswa oleh guru.
14. Siswa bersama guru menarik kesimpulan
pembelajaran dengan kegiatan bertanya
jawab.
86
15. Guru memberikan soal evaluasi
3.
Penutup
1.
Siswa bersama guru melakukan refleksi 10 menit
pembelajaran.
2.
Guru memberikan motivasi kepada siswa.
3.
Guru
menutup
pembelajaran
dengan
berdoa dan salam.
Pertemuan 2
No. Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi
Waktu
1.
Awal
1.
Guru membuka pembelajaran.
2.
Salah satu siswa memimpin berdoa.
3.
Guru menanyakan kabar siswa sambil
memeriksa
mengikuti
kesiapan
pelajaran
10 menit
siswa
dan
dalam
melakukan
presensi kehadiran siswa.
4.
Guru
melakukan
apersepsi
dengan
bertanya; “Siapa yang berasal dari Suku
Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara, Maluku
& Papua ?”
5.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
bahwa hari ini siswa akan belajar suku
bangsa yang berasal dari Pulau Sulawesi,
Bali & Nusa Tenggara, dan Maluku &
Papua.
2.
Inti
1.
Siswa mendengarkan penjelasan guru
terkait nama dan persebaran suku bangsa
yang ada di Indonesia, terutama pada
Pulau Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara,
dan Maluku & Papua.
87
50 menit
2.
Siswa dan guru melakukan kegiatan tanya
jawab.
3.
Siswa dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 7-8 siswa.
4.
Setiap kelompok mendapat satu media
pop-up antara lain yaitu: pop-up pulau
Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara dan
Maluku & Papua..
5.
Siswa
mendengarkan
perintah
dan
petunjuk penggunaan media pop-up yang
dijelaskan oleh guru.
6.
Setiap siswa mendapatkan LKS yang
sama dalam satu kelompok.
7.
Siswa
mengerjakan
LKS
dengan
menggunakan media pop-up, sementara
guru
memberikan
bimbingan
ketika
diperlukan.
8.
Guru berkeliling pada saat kegiatan
diskusi kelompok
9.
Setiap perwakilan kelompok membacakan
hasil diskusi dengan maju ke depan kelas.
10. Kelompok
yang
tidak
maju,
mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
kelompok yang maju.
11. Setelah seluruh kelompok membacakan
hasil
diskusi,
guru
mengkonfirmasi
jawaban siswa dan memberi kelengkapan
jawaban.
12. Siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang sikap menghargai keragaman
suku bangsa di Indonesia
88
13. Siswa
diberikan
bertanya
terkait
kesempatan
untuk
hal
belum
yang
dimengerti siswa oleh guru.
14. Siswa bersama guru menarik kesimpulan
pembelajaran dengan kegiatan bertanya
jawab.
15. Guru memberikan soal evaluasi
3.
Penutup
1.
Siswa bersama guru melakukan refleksi 10 menit
pembelajaran.
2.
Guru memberikan motivasi kepada siswa.
3.
Guru
menutup
pembelajaran
dengan
berdoa dan salam.
G. Metode Pembelajaran
Metode
: Diakusi, Tanya Jawab, dan Ceramah
H. Media dan Sumber Belajar
Media
Buku Pop-Up
Sumber belajar:
Buku paket BSE Ilmu Pengetahuan Sosial V, karangan Reny Yuliati dan Ade
Munajat. Pusat Perbukuan Departemen Nasional tahun 2008
I. Penilaian
1. Kognitif
Nilai Akhir = Jumlah Soal Benar X 100
Jumlah Total Soal
2. Afektif
Aspek
yang
diamati
Visual
Activity
Indikator
Skor
1
1. Siswa mengamati
guru ketika
mendemonstrasikan
media Pop-Up
89
2
3
4
Oral
Activity
2. Siswa
memperhatikan
perintah dan petunjuk
guru dalam
menggunakan media
Pop-Up
3. Siswa aktif dalam
kegiatan tanya jawab
4. Siswa aktif
menyampaikan
pendapat
Listening
Activity
5. Siswa menyimak
penjelasan materi yang
disampaikan guru
6. Siswa
mendengarkan teman
yang sedang presentasi
di depan kelas
Writing
7. Siswa sungguhActivity
sungguh mengerjakan
LKS
8. Siswa mencatat
materi yang
disampaikan guru
Mental
9. Siswa berani
Activity
menanggapi pendapat
teman
10. Siswa berani
mengemukakan
pendapat di
Emotional 11. Siswa bersemangat
Activity
dalam mengikuti
pelajaran
12. Siswa merasa
senang dalam
mengikuti pelajaran
Keterangan Skor: 1. Kurang 2. Cukup 3. Baik 4. Sangat Baik
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Rentang Skor
X > (M+1,5 S)
(M+0,5 S) < X < (M+1,5 S)
(M-0,5 S) < X < (M+0,5 S)
(M-1,5 S) < X < (M-0,5 S)
X < (M-1,5 S)
> 63
50-63
36-49
22-35
< 21
90
Kategori
Sangat Baik (SB)
Baik (B)
Cukup (C)
Kurang (K)
Sangat Kurang (SK)
J. Kriteria Keberhasilan
91
Lampiran 1. Ringkasan Materi
Keanekaragaman Suku Bangsa di Indonesia
Penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta orang terdiri atas
berbagai suku bangsa. Jumlah suku bangsa di Indonesia ± 320 suku yang tersebar
di berbagai daerah. Dari berbagai suku bangsa ada yang jumlah penduduknya
besar, adapula yang hanya sedikit. Di antara suku bangsa itu adalah suku bangsa
Jawa yang mendiami beberapa daerah pedalaman di Indonesia. Diperkirakan
jumlah mereka tinggal sedikit. Bahkan, ada beberapa sukuyang hanya terdiri atas
beberapa ratus orang saja. Selain kekayaan alamnya yang berlimpah, adanya
keanekaragamansuku bangsa di Indonesia menjadikan negara kita kaya akan
budaya yangharus tetap dipertahankan kelestariannya. Suku bangsaatau etnis
adalah suatu kesatuan masyarakat atas dasarkesamaan budaya, bahasa, dan tempat
tinggal. Misalnya, suku yang disebut suku bangsa Sunda adalah orang-orang yang
tinggal di Jawa Barat.Mereka memiliki bahasa serta adat istiadat Sunda. Suku
bangsa Rejang adalah orang-orang yang tinggal di Bengkulu, berbahasa dan
beradat istiadat Bengkulu. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
bangsabangsadi seluruh dunia.
Berbagai suku bangsa dengan ciri khas masing-masing, tersebar
diberbagai pulau. Bahkan, dalam satu pulau saja kadang-kadang terdapat berbagai
suku
bangsa.Di
Sumatra
terdapat
suku
bangsa
Aceh,
Gayo,
Batak,
Minangkabau,Mentawai, dan sebagainya. Di Jawa ada suku Sunda, Jawa, dan
Madura.Di Bali ada suku bangsa Bali. Di Nusa Tenggara ada suku Sasak,
Sumbawa,Bima, Flores, Alor, Roti, dan sebagainya. Di Kalimantan terdapat
sukubangsa Dayak, Banjar, Ngaju, Punan, Kayan, dan sebagainya. Di
Sulawesiada suku bangsa Mandar, Toraja, Bugis, Makassar, Minahasa,
Sangir,Talaud, dan sebagainya. Di Maluku terdapat suku bangsa Ambon,
Alifuru,dan sebagainya. Di Irian Jaya (Papua) terdapat suku bangsa Asmat, Dani,
Melayu Irian, dan sebagainya.
92
Lampiran 2. Soal Post-Test
Pertemuan Pertama
Soal Postest Pertemuan 1
1. Suku Betawi tinggal di wilayah ...
a. Jakarta
b. Yogyakarta
c. Jawa Tengah
d. Jawa Timur
2. Contoh sikap menghargai perbedaan suku adalah ...
a. Hanya bermain dengan teman yang satu suku
b. Tidak mengejek teman yang berbeda suku
c. Menjauhi teman yang berbeda suku
d. Berkelahi dengan teman yang berbeda suku
3. Suku yang mendiami wilayah Sumatera Barat adalah ...
a. Suku Jawa
b. Suku Sunda
c. Suku Toraja
d. Suku Minangkabau
4. Suku Batak terdapat di wilayah ...
a. Sumatera Utara
b. Yogyakarta
c. Jakarta
d. Jawa Timur
5. Suku yang tinggal di Pulau Kalimantan adalah ...
a. Suku Madura
b. Suku Dayak
c. Suku Mentawai
d. Suku Asmat
6. Bondan berasal dari Provinsi Jawa Barat. Dia merupakan suku ...
a. Suku Toraja
93
b. Suku Tengger
c. Suku Sunda
d. Suku Betawi
7. Suku Tengger tinggal di wilayah ...
a. Jawa Timur
b. Jakarta
c. Lampung
d. Gorongtalo
8. Di bawah ini suku yang tinggal di Pulau Jawa, kecuali ...
a. Suku Dayak
b. Suku Badui
c. Suku Jawa
d. Suku Sunda
Pertemuan Kedua
Soal Postest Pertemuan 2
1. Suku Toraja tinggal di Pulau ...
a. Papua
b. Jawa
c. Bali
d. Sulawesi
2. Manfaat dari sikap menghargai perbedaan suku adalah ...
a. Menciptakan permusuhan
b. Memutus tali persaudaraan
c. Mudah terpecah belah
d. Memperkuat persatuan dan kesatuan
3. Suku Asmat tinggal di Pulau ...
a. Jawa
b. Madura
c. Papua
d. Sumatera
94
4. i. Budi menjenguk teman yang berbeda suku yang sedang sakit.
ii. Andi mengejek teman yang berasal dari daerah lain.
iii. Santi menolong teman yang sedang kesusahan meskipun berbeda suku.
Pernyataan di atas yang termasuk contoh sikap menghargai perbedaan
suku adalah ...
a. i dan ii
b. ii dan iii
c. i, ii, dan iii
d. i dan iii
5. Akibat sikap tidak menghargai perbedaan suku, kecuali ...
a. terjadi perpecahan
b. menciptakan permusuhan
c. hidup akan menjadi damai
d. mudah diadu domba
6. Jika kita tidak saling menghormati antar suku bangsa maka akan berakibat
kecuali...
a. Timbul permusuhan antar suku
b. Persatuan dan kesatuan tidak terjamin
c. Perang antar suku
d. Memperkokoh persatuan dan kesatuan
7. Suku Bugis tinggal di Provinsi ...
a. Jawa Tengah
b. Papua
c. Kalimantan Timur
d. Sulawesi Selatan
8. i) gotong royong
ii) perang suku
iii) melayat
iv) saling menghormati
Dari pernyataan di atas, sikap yang menunjukkan persatuan dan kesatuan
antar suku adalah ...
95
a. i, ii dan iii
b. ii, iii, dan iv
c. i, iii, dan iv
d. ii dan iii
9. Dari gambar peta di atas, suku yang tinggal di wilayah tersebut adalah ...
a. Suku Toraja
b. Suku Madura
c. Suku Bugis
d. Suku Bali
10. Dari gambar peta di atas, suku yang tinggal di wilayah tersebut adalah ...
a Suku Dani
b. Suku Ambon
96
c. Suku Dayak
d. Suku Banjar
11. Dari gambar peta di atas, suku yang tinggal di wilayah tersebut adalah ...
a. Suku Ambon
b. Suku Bima
c. Suku Asmat
d. Suku Kenyah
12. Domi berasal dari Suku Asmat, Budi berasal dari Suku Betawi. Sikap yang
seharusnya dimiliki Domi dan Budi adalah ...
a. Merasa suku daerahnya paling bagus
b. Saling mengejek antar suku
c. Saling menghormati antar suku
d. Tidak mau berteman karena berbeda suku
97
Lampiran 3. LKS
Nama:
Nomor Absen:
Lembar Kerja Siswa
(LKS)
Keanekaragaman Suku Bangsa di Indonesia
Petunjuk pengerjaan LKS:
1. Amati media pop-up yang kelompokmu dapatkan!
2. Tuliskan informasi nama suku dalam setiap provinsi pada tabel dibawah ini!
Nama Pulau : .......................................
No.
Provinsi
Nama Suku
98
Lampiran 4. Kunci Jawaban
Pertemuan Pertama Siklus I
1.
A. Jakarta
2.
B. Tidak mengejek teman yang berbeda suku
3.
D. Suku Minangkabau
4.
A. Sumatera Utara
5.
B. Suku Dayak
6.
C. Suku Sunda
7.
A. Jawa Timur
8.
A. Suku Dayak
Pertemuan Kedua Siklus I
1. D. Sulawesi
2.
D. Memperkuat persatuan dan kesatuan
3.
C. Papua
4.
D. i dan iii
5.
C. Hidup akan menjadi damai
6.
D. Memperkokoh persatuan dan kesatuan
7.
D. Sulawesi Selatan
8.
C. i, iii, dan iv
9.
D. Suku Bali
10. A. Suku Dani
11. A. Suku Ambon
12. C. Saling menghormati antar suku
99
Lampiran RPP Siklus II
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah Dasar
: SD Negeri Tegal Panggung
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Materi Pokok
: Keragaman Budaya di Indonesia
Kelas
:V
Alokasi Waktu
: 2 x 2 jam pelajaran (2X35 Menit)
I.
Standar Kompetensi
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala
nasional pada masa Hindu, Budha, dan Islam, keragaman kenampakan alam
dan suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
J.
Kompetensi Dasar
1.4
Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia.
K. Indikator
1.4.1 Menyebutkan nama pakaian adat yang ada di Indonesia
1.4.2 Menyebutkan nama senjata tradisional yang ada di Indonesia
1.4.3 Menyebutkan nama tarian adat yang ada di Indonesia
1.4.4 Menyebutkan nama rumah adat yang ada di Indonesia
1.4.5 Menunjukkan sikap menghormati keragaman budaya di Indonesia
1.4.6 Menjelaskan sikap menghormati keragaman budaya di Indonesia
1.4.7 Mengidentifikasi sikap menghormati keragaman budaya di Indonesia
L. Tujuan Pembelajaran
6.
Melalui media pop-up siswa dapat menyebutkan nama pakaian adat
yang ada di Indonesia.dengan benar
7.
Melalui media pop-up siswa dapat menyebutkan nama senjata
tradisional yang ada di Indonesia.dengan benar
8.
Melalui media pop-up siswa dapat menyebutkan nama tarian adat yang
ada di Indonesia.dengan benar
100
9.
Melalui media pop-up siswa dapat menyebutkan nama rumah adat yang
ada di Indonesia.dengan benar
10.
Melalui
kegiatan
berdiskusi
siswa
dapat
menyebutkan
sikap
menghormati keragaman budaya di Indonesia dengan tepat.
11.
Melalui kegiatan tanya jawab, siswa dapat menjelaskan sikap
menghormati keragaman budaya di Indonesia dengan tepat.
12.
Melalui
penjelasan
guru,
siswa
dapat
mengidentifikasi
sikap
menghormati keragaman budaya di Indonesia dengan tepat.
M. Materi
Ragam Budaya di Indonesia
N. Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1
No. Kegiatan
1.
Awal
Alokasi
Waktu
10 menit
Deskripsi Kegiatan
6.
Guru membuka pembelajaran.
7.
Salah satu siswa memimpin berdoa.
8.
Guru menanyakan kabar siswa sambil
memeriksa
kesiapan
mengikuti
proses
siswa
dalam
pembelajaran
dan
melakukan presensi kehadiran siswa.
9.
Guru
melakukan
apersepsi
dengan
bertanya; “Siapa yang pernah melihat tari
gambyong?”
10. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
bahwa hari ini siswa akan belajar tentang
kebudayaan yang berasal dari Pulau Jawa,
Sumatera, dan Kalimantan.
2.
Inti
50 menit
16. Siswa mendengarkan penjelasan guru
terkait kebudayaan yang ada di Indonesia,
terutama pada Pulau Jawa, Sumatera, dan
101
Kalimantan.
17. Siswa dan guru melakukan tanya jawab.
18. Siswa dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 7-8 siswa.
19. Setiap kelompok mendapat satu media
pop-up antara lain yaitu: pop-up pulau
Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
20. Siswa
mendengarkan
perintah
dan
petunjuk penggunaan media pop-up yang
dijelaskan oleh guru.
21. Setiap siswa mendapatkan LKS yang
sama dalam satu kelompok.
22. Siswa
mengerjakan
LKS
dengan
menggunakan media pop-up, sementara
guru
memberikan
bimbingan
ketika
diperlukan.
23. Guru berkeliling pada saat kegiatan
diskusi kelompok.
24. Setiap perwakilan kelompok membacakan
hasil diskusi dengan maju ke depan kelas.
25. Kelompok
yang
tidak
maju,
mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
kelompok yang maju.
26. Setelah seluruh kelompok membacakan
hasil
diskusi,
guru
mengkonfirmasi
jawaban siswa dan memberi kelengkapan
jawaban.
27. Siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang sikap menghargai keragaman
kebudayaan di Indonesia
28. Siswa
diberikan
102
kesempatan
untuk
bertanya
terkait
hal
yang
belum
dimengerti siswa oleh guru.
29. Siswa bersama guru menarik kesimpulan
pembelajaran dengan kegiatan bertanya
jawab.
30. Guru memberikan soal evaluasi
3.
Penutup
4.
Siswa bersama guru melakukan refleksi 10 menit
pembelajaran.
5.
Guru memberikan motivasi kepada siswa.
6.
Guru
menutup
pembelajaran
dengan
berdoa dan salam.
Pertemuan 2
No. Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi
Waktu
1.
Awal
6.
Guru membuka pembelajaran.
7.
Salah satu siswa memimpin berdoa.
8.
Guru menanyakan kabar siswa sambil
memeriksa
mengikuti
kesiapan
pelajaran
10 menit
siswa
dan
dalam
melakukan
presensi kehadiran siswa.
9.
Guru
melakukan
apersepsi
dengan
bertanya; “Siapa yang pernah melihat tari
pendet ?”
10. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
bahwa hari ini
siswa akan belajar
kebudayaan yang berasal dari Pulau
Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara, dan
Maluku & Papua.
2.
Inti
16. Siswa mendengarkan penjelasan guru
103
50 menit
terkait kebudayaan yang ada di Indonesia,
terutama pada Pulau Sulawesi, Bali &
Nusa Tenggara, dan Maluku & Papua.
17. Siswa dan guru melakukan kegiatan tanya
jawab.
18. Siswa dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 7-8 siswa.
19. Setiap kelompok mendapat satu media
pop-up antara lain yaitu: pop-up pulau
Sulawesi, Bali & Nusa Tenggara dan
Maluku & Papua..
20. Siswa
mendengarkan
perintah
dan
petunjuk penggunaan media pop-up yang
dijelaskan oleh guru.
21. Setiap siswa mendapatkan LKS yang
sama dalam satu kelompok.
22. Siswa
mengerjakan
LKS
dengan
menggunakan media pop-up, sementara
guru
memberikan
bimbingan
ketika
diperlukan.
23. Guru berkeliling pada saat kegiatan
diskusi kelompok
24. Setiap perwakilan kelompok membacakan
hasil diskusi dengan maju ke depan kelas.
25. Kelompok
yang
tidak
maju,
mendengarkan dan mencatat hasil diskusi
kelompok yang maju.
26. Setelah seluruh kelompok membacakan
hasil
diskusi,
guru
mengkonfirmasi
jawaban siswa dan memberi kelengkapan
jawaban.
104
27. Siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang sikap menghargai keragaman
suku bangsa di Indonesia
28. Siswa
diberikan
bertanya
terkait
kesempatan
untuk
hal
belum
yang
dimengerti siswa oleh guru.
29. Siswa bersama guru menarik kesimpulan
pembelajaran dengan kegiatan bertanya
jawab.
30. Guru memberikan soal evaluasi
3.
Penutup
4.
Siswa bersama guru melakukan refleksi 10 menit
pembelajaran.
5.
Guru memberikan motivasi kepada siswa.
6.
Guru
menutup
pembelajaran
dengan
berdoa dan salam.
O. Metode Pembelajaran
Metode
: Diakusi, Tanya Jawab, dan Ceramah
P. Media dan Sumber Belajar
Media
Buku Pop-Up
Sumber belajar:
Buku paket BSE Ilmu Pengetahuan Sosial V, karangan Reny Yuliati dan Ade
Munajat. Pusat Perbukuan Departemen Nasional tahun 2008
I. Penilaian
3. Kognitif
Nilai Akhir = Jumlah Soal Benar X 100
Jumlah Total Soal
4. Afektif
Aspek
yang
Indikator
Skor
1
105
2
3
4
diamati
Visual
Activity
Oral
Activity
1. Siswa mengamati
guru ketika
mendemonstrasikan
media Pop-Up
2. Siswa
memperhatikan
perintah dan petunjuk
guru dalam
menggunakan media
Pop-Up
3. Siswa aktif dalam
kegiatan tanya jawab
4. Siswa aktif
menyampaikan
pendapat
Listening
Activity
5. Siswa menyimak
penjelasan materi yang
disampaikan guru
6. Siswa
mendengarkan teman
yang sedang presentasi
di depan kelas
Writing
7. Siswa sungguhActivity
sungguh mengerjakan
LKS
8. Siswa mencatat
materi yang
disampaikan guru
Mental
9. Siswa berani
Activity
menanggapi pendapat
teman
10. Siswa berani
mengemukakan
pendapat di
Emotional 11. Siswa bersemangat
Activity
dalam mengikuti
pelajaran
12. Siswa merasa
senang dalam
mengikuti pelajaran
Keterangan Skor: 1. Kurang 2. Cukup 3. Baik 4. Sangat Baik
106
107
Lampiran 1. Ringkasa Materi
Keanekaragaman Budaya di Indonesia
Negara Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya daerah. Kebudayaan
masing-masing daerah mempunyai ciri khas yang membedakan daerah satu
dengan yang lainnya. Perbedaan budaya dapat memperkaya kebudayaan nasional.
Dengan mempelajari kebudayaan daerah, persatuan dan kesatuan bangsa dapat
diperkokoh. Keanekaragaman budaya daerah yang kita miliki hendaknya
dijadikan sumber kemajuan bangsa. Hal itu sesuai dengan semboyan negara kita
“Bhinneka Tunggal Ika”. Budaya atau kebudayaan merupakan hasil kegiatan dan
penciptaan akalbudi manusia yang berhubungan erat dengan alam sekitarnya dan
dipergunakan untuk ketenangan hidup. Keadaan alam dan masyarakat sangat
berpengaruh
terhadap
kebudayaan
setempat.
Itulah
sebabnya
lahir
keanekaragaman budaya di negara kita. Selain budaya asli Indonesia, ada pula
budaya asing, yaitu kebudayaan yang berasal dari negara lain. Masuknya budaya
asing, baik melalui pergaulan ataupun perkembangan teknologi, harus kita,
pelajari secara cermat. Tujuannya supaya kita dapat mengambil hal-hal yang baik
dari budaya asing itu. Di samping itu, budaya asing harus disesuaikan dengan
kepribadian bangsa serta nilai-nilai luhur Pancasila. Keragaman budaya di
Indonesia tercermin dari bermacam-macam pakaian adat, rumah adat, senjata
tradisional, dan tarian adat.
Kebudayaan yang berasal dari suku-suku bangsa di Indonesia disebut
kebudayaan daerah. Setiap kebudayaan daerah memiliki ciri tersendiri yang
berbeda antara satu dengan lainnya. Meskipun demikian, kita masih dapat
mengenal ciri-ciri kebudayaan, baik daerah maupun nasional yang ada di
Indonesia.
A. Beberapa ciri kebudayaan daerah adalah sebagai berikut.
1. Sifatnya kedaerahan
2. Adanya bahasa, seni, rumah, pakaian, atau senjata yang khas
3. Memiliki adat kebiasaan
4. Adanya peninggalan sejarah
5. Adanya unsur kepercayaan (di luar agama).
108
B. Beberapa ciri-ciri kebudayaan nasional adalah sebagai berikut.
1. Mencerminkan nilai luhur dan kepribadian bangsa
2. Kebudayaan daerah yang diakui secara nasional
3. Adanya unsur-unsur pemersatu bangsa.
4. Menjadi kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kita mengakui adanya perbedaan dengan kesadaran yang tulus. Kita juga
mengutamakan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Kita harus
dapat menunjukkan sikap menerima keragaman kebudayaan di masyarakat. Sikap
menerima itu ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, pergaulan, perbuatan,
tingkah laku, dan tutur bahasa. Sebagai bangsa Indonesia yang baik, justru kita
harus berbangga. Keanekaragaman suku bangsa dan budaya itu merupakan
kekayaan bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Kebiasaan bergotong
royong dan kerja bakti di masyarakat sangat baik. Kita bersama-sama bekerja
demi kepentingan masyarakat. Seluruh masyarakat ikut serta.
Lampiran 2. Soal Post-Test
Pertemuan Pertama
Soal Post Test Pertemuan I
1.
Senjata tradisional yang berasal dari Provinsi Jawa Barat adalah ...
a. Panah
b. Kujang
c. Clurit
d. Golok
2.
Tari Serimpi berasal dari Provinsi ...
a. Sumatera Utara
b. Lampung
c. Kalimantan Tengah
d. Daerah Istimewa Yogyakarta
3.
Golok merupakan senjata tradisional yang berasal dari Provinsi ...
a. DKI Jakarta
b. Sulawesi Selatan
c. Gorongtalo
109
d. Papua Barat
4.
Salah satu sikap menghormati keanekaragaman kebudayaan adalah ...
a. Mengejek kebudayaan dari daerah lain
b. Tidak mengganggu perayaan upacara adat dari daerah lain
c. Menganggap kebudayaan daerah sendiri yang paling baik
d. Mencela pertunjukkan keduyaan dari daerah lain
5.
Rumah adat dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah
a. Jabu Bolon
b. Joglo
c. Rumah Gadang
d. Rumah Lamin
6.
Keris merupakan senjata tradisional yang berasal dari Provinsi ...
a. Nusa Tenggara Barat
b. Kalimantan Barat
c. Kalimantan Timur
d. Jawa Tengah
7.
Tari Jaipong dan Merak berasal dari Provinsi ...
a. Sumatera Barat
b. Jawa Timur
c. Sulawesi Tenggara
d. Jawa Barat
8.
Pria Yogyakarta memakai pakaian adat berupa tutup kepala, yang seing
disebut ...
a. Blangkon
b. Sabe-Sabe
c. Giwang
d. Kupluk
9.
Senjata tradisional yang dimiliki Andi adalah Clurit. Maka, Andi berasal dari
Provinsi ...
a. Papua Barat
b. Sulawesi Tenggara
110
c. Jawa Timur
d. Maluku Utara
10. Menghormati budaya daerah lain dapat diwujudkan melalui sikap ...
a. Tidak menonjolkan budaya daerah sendiri
b. Menjelek-jelekkan budaya daerah lain
c. Tidak mau mempelajari budaya daerah lain
d. Tidak mau menonton pertunjukkan budaya daerah lain
Pertemuan Kedua
Soal Post Test Pertemuan II
1.
Santi sedang menari Tarian Pendet. Santi berasal dari Pulau ...
a. Sumatera
b. Jawa
c. Kalimantan
d. Bali
2.
Ikat kepala yang digunakan oleh pria Bali disebut ...
a. Udeng
b. Blangkon
c. Caping
d. Kebaya
3.
Keragaman budaya yang ada di Indonesia sebaiknya ...
a. Dijaga agar terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
b. Dihapus karena menghambat kemajuan bangsa
c. Dipermasalahkan karena dapat menimbulkan pertikaian
d. Dihilangkan agar tidak terjadi permusuhan
4.
Rumah adat yang berasal dari Provinsi Papua Barat adalah ...
a. Hanoi
b. Bangsa Kencono
d. Limas
d. Tambai
5.
Rumah adat yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan adalah ...
a. Rumah Limas
111
b. Rumah Kotak
c. Rumah Lingkaran
d. Rumah Segitiga
6.
Akibat apabila kita tidak saling menghormati kebudayaan daerah lain adalah
...
a. Timbul permusuhan
b. Mempererat persaudaraan
c. Meningkatkan rasa saling menyayangi
d. Memperkokoh persatuan dan kesatuan
7.
Rencong merupakan senjata tradisional yang berasal dari Provinsi ...
a. Jawa Tengah
b. Lampung
c. Aceh
d. Kalimantan Selatan
8.
i. ikut menonton pertunjukan kebudayaan dari daerah lain
ii. mencela pakaian adat dari derah lain
iii. mencoret-coret rumah adat dari daerah lain
iv. membantu perayaan adat dari daerah lain
Dari pernyataan di atas yang menunjukkan sikap menghormati budaya daerah
lain adalah...
a. i dan iii
b. i dan iv
c. ii dan iii
d. i dan ii
9.
Busur dan panah merupakan senjata tradisional dari Pulau ...
a. Jawa
b. Bali
c. Sumatera
d. Papua
10. Tarian yang berasal dari Pulau Bali adalah ...
a. Tari Serimpi
112
b. Tari Gambyong
c. Tari Kecak
d. Tari Jaipong
Lampiran 3. LKS
Nama:
Nomor Absen:
Lembar Kerja Siswa (LKS)
Keanekaragaman Suku Bangsa di Indonesia
Petunjuk pengerjaan LKS:
1. Amati media pop-up yang kelompokmu dapatkan!
2. Tuliskan informasi nama suku dalam setiap provinsi pada tabel dibawah ini!
Nama Pulau : .......................................
No.
Nama Provinsi
Rumah
Pakaian
Senjata
Tarian
Adat
Adat
113
Tradisional
Adat
Lampiran 4. Kunci Jawaban
Pertemuan Pertama Siklus II
1.
B. Kujang
2.
D. Daerah Istimewa Yogyakarta
3.
A. DKI Jakarta
4.
B. Tidak mengganggu perayaan upacara adat dari daerah lain
5.
B. Joglo
6.
D. Jawa Tengah
7.
D. Jawa Barat
8.
A. Blangkon
9.
C. Jawa Timur
10. A. Tidak menonjolkan budaya daerah sendiri
Pertemuan Kedua Siklus II
1.
D. Bali
2.
A. Udeng
3.
A. Dijaga agar terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
4.
A. Hanoi
5.
A. Rumah Limas
6.
A. Timbul Permusuhan
7.
C. Aceh
8.
C. ii dan iii
9.
D. Papua
10. C. Kecak
114
Lampiran Soal Post Test
Nama:
Nomor Absen:
Soal Postest Pertemuan 1
1. Suku Betawi tinggal di wilayah ...
a. Jakarta
b. Yogyakarta
c. Jawa Tengah
d. Jawa Timur
2. Contoh sikap menghargai perbedaan suku adalah ...
a. Hanya bermain dengan teman yang satu suku
b. Tidak mengejek teman yang berbeda suku
c. Menjauhi teman yang berbeda suku
d. Berkelahi dengan teman yang berbeda suku
3. Suku yang mendiami wilayah Sumatera Barat adalah ...
a. Suku Jawa
b. Suku Sunda
c. Suku Toraja
d. Suku Minangkabau
4. Suku Batak terdapat di wilayah ...
a. Sumatera Utara
b. Yogyakarta
c. Jakarta
d. Jawa Timur
5. Suku yang tinggal di Pulau Kalimantan adalah ...
a. Suku Madura
b. Suku Dayak
c. Suku Mentawai
d. Suku Asmat
6. Bondan berasal dari Provinsi Jawa Barat. Dia merupakan suku ...
a. Suku Toraja
b. Suku Tengger
c. Suku Sunda
d. Suku Betawi
115
7. Suku Tengger tinggal di wilayah ...
a. Jawa Timur
b. Jakarta
c. Lampung
d. Gorongtalo
8. Di bawah ini suku yang tinggal di Pulau Jawa, kecuali ...
a. Suku Dayak
b. Suku Badui
c. Suku Jawa
d. Suku Sunda
116
Nama:
Nomor Absen:
Soal Postest Pertemuan 2
1. Suku Toraja tinggal di Pulau ...
a. Papua
b. Jawa
c. Bali
d. Sulawesi
2. Manfaat dari sikap menghargai perbedaan suku adalah ...
a. Menciptakan permusuhan
b. Memutus tali persaudaraan
c. Mudah terpecah belah
d. Memperkuat persatuan dan kesatuan
3. Suku Asmat tinggal di Pulau ...
a. Jawa
b. Madura
c. Papua
d. Sumatera
4. i. Budi menjenguk teman yang berbeda suku yang sedang sakit.
ii. Andi mengejek teman yang berasal dari daerah lain.
iii. Santi menolong teman yang sedang kesusahan meskipun berbeda suku.
Pernyataan di atas yang termasuk contoh sikap menghargai perbedaan
suku adalah ...
a. i dan ii
b. ii dan iii
c. i, ii, dan iii
d. i dan iii
5. Akibat sikap tidak menghargai perbedaan suku, kecuali ...
a. terjadi perpecahan
b. menciptakan permusuhan
c. hidup akan menjadi damai
d. mudah diadu domba
6. Jika kita tidak saling menghormati antar suku bangsa maka akan berakibat
kecuali...
a. Timbul permusuhan antar suku
b. Persatuan dan kesatuan tidak terjamin
c. Perang antar suku
d. Memperkokoh persatuan dan kesatuan
7. Suku Bugis tinggal di Provinsi ...
a. Jawa Tengah
117
b. Papua
c. Kalimantan Timur
d. Sulawesi Selatan
8. i) gotong royong
ii) perang suku
iii) melayat
iv) saling menghormati
Dari pernyataan di atas, sikap yang menunjukkan persatuan dan kesatuan
antar suku adalah ...
a. i, ii dan iii
b. ii, iii, dan iv
c. i, iii, dan iv
d. ii dan iii
9. Dari gambar peta di atas, suku yang tinggal di wilayah tersebut adalah ...
a. Suku Toraja
b. Suku Madura
c. Suku Bugis
d. Suku Bali
118
10. Dari gambar peta di atas, suku yang tinggal di wilayah tersebut adalah ...
a Suku Dani
b. Suku Ambon
c. Suku Dayak
d. Suku Banjar
11. Dari gambar peta di atas, suku yang tinggal di wilayah tersebut adalah ...
a. Suku Ambon
b. Suku Bima
c. Suku Asmat
d. Suku Kenyah
12. Domi berasal dari Suku Asmat, Budi berasal dari Suku Betawi. Sikap yang
seharusnya dimiliki Domi dan Budi adalah ...
a. Merasa suku daerahnya paling bagus
b. Saling mengejek antar suku
c. Saling menghormati antar suku
d. Tidak mau berteman karena berbeda suku
119
Nama:
Nomor Absen:
Soal Post Test Pertemuan I
1.
Senjata tradisional yang berasal dari Provinsi Jawa Barat adalah ...
a. Panah
b. Kujang
c. Clurit
d. Golok
2. Tari Serimpi berasal dari Provinsi ...
a. Sumatera Utara
b. Lampung
c. Kalimantan Tengah
d. Daerah Istimewa Yogyakarta
3. Golok merupakan senjata tradisional yang berasal dari Provinsi ...
a. DKI Jakarta
b. Sulawesi Selatan
c. Gorongtalo
d. Papua Barat
4. Salah satu sikap menghormati keanekaragaman kebudayaan adalah ...
a. Mengejek kebudayaan dari daerah lain
b. Tidak mengganggu perayaan upacara adat dari daerah lain
c. Menganggap kebudayaan daerah sendiri yang paling baik
d. Mencela pertunjukkan keduyaan dari daerah lain
5.
Rumah adat dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah
a. Jabu Bolon
b. Joglo
c. Rumah Gadang
d. Rumah Lamin
6.
Keris merupakan senjata tradisional yang berasal dari Provinsi ...
120
a. Nusa Tenggara Barat
b. Kalimantan Barat
c. Kalimantan Timur
d. Jawa Tengah
7.
Tari Jaipong dan Merak berasal dari Provinsi ...
a. Sumatera Barat
b. Jawa Timur
c. Sulawesi Tenggara
d. Jawa Barat
8.
Pria Yogyakarta memakai pakaian adat berupa tutup kepala, yang seing
disebut ...
a. Blangkon
b. Sabe-Sabe
c. Giwang
d. Kupluk
9.
Senjata tradisional yang dimiliki Andi adalah Clurit. Maka, Andi berasal dari
Provinsi ...
a. Papua Barat
b. Sulawesi Tenggara
c. Jawa Timur
d. Maluku Utara
10. Menghormati budaya daerah lain dapat diwujudkan melalui sikap ...
a. Tidak menonjolkan budaya daerah sendiri
b. Menjelek-jelekkan budaya daerah lain
c. Tidak mau mempelajari budaya daerah lain
d. Tidak mau menonton pertunjukkan budaya daerah lain
121
Nama:
Nomor Absen:
Soal Post Test Pertemuan II
1.
Santi sedang menari Tarian Pendet. Santi berasal dari Pulau ...
a. Sumatera
b. Jawa
c. Kalimantan
d. Bali
2. Ikat kepala yang digunakan oleh pria Bali disebut ...
a. Udeng
b. Blangkon
c. Caping
d. Kebaya
3. Keragaman budaya yang ada di Indonesia sebaiknya ...
a. Dijaga agar terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
b. Dihapus karena menghambat kemajuan bangsa
c. Dipermasalahkan karena dapat menimbulkan pertikaian
d. Dihilangkan agar tidak terjadi permusuhan
4. Rumah adat yang berasal dari Provinsi Papua Barat adalah ...
a. Hanoi
b. Bangsa Kencono
d. Limas
d. Tambai
5. Rumah adat yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan adalah ...
a. Rumah Limas
b. Rumah Kotak
c. Rumah Lingkaran
d. Rumah Segitiga
6. Akibat apabila kita tidak saling menghormati kebudayaan daerah lain adalah ...
a. Timbul permusuhan
b. Mempererat persaudaraan
122
c. Meningkatkan rasa saling menyayangi
d. Memperkokoh persatuan dan kesatuan
7. Rencong merupakan senjata tradisional yang berasal dari Provinsi ...
a. Jawa Tengah
b. Lampung
c. Aceh
d. Kalimantan Selatan
8. i. ikut menonton pertunjukan kebudayaan dari daerah lain
ii. mencela pakaian adat dari derah lain
iii. mencoret-coret rumah adat dari daerah lain
iv. membantu perayaan adat dari daerah lain
Dari pernyataan di atas yang menunjukkan sikap menghormati budaya daerah lain
adalah...
a. i dan iii
b. i dan iv
c. ii dan iii
d. i dan ii
9. Busur dan panah merupakan senjata tradisional dari Pulau ...
a. Jawa
b. Bali
c. Sumatera
d. Papua
10.
Tarian yang berasal dari Pulau Bali adalah ...
a. Tari Serimpi
b. Tari Gambyong
c. Tari Kecak
d. Tari Jaipong
123
Lampiran Hasil Belajar Siswa
124
125
126
Lampiran Validasi Media
127
128
129
Lampiran Surat Izin Penelitian Dinas Kota Yogyakarta
130
Lampiran Surat Keterangan Penelitian
131
Lampiran Surat Izin Penelitian Fakultas Ilmu Pendidikan
132
Lampiran Dokumentasi Foto
133
Download
Study collections