ANALISIS KETAHANAN BAKTERIOSIN DARI

advertisement
ANALISIS KETAHANAN BAKTERIOSIN DARI Lactobacillus
plantarum 1A5, 1B1, 2B2, DAN 2C12 PADA pH ASAM
DALAM MENGHAMBAT AKTIVITAS
BAKTERI PATOGEN
SKRIPSI
FARIZ AM KURNIAWAN
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
RINGKASAN
FARIZ AM KURNIAWAN. D14070267. 2012. Analisis Ketahanan Bakteriosin
dari Lactobacillus plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 pada pH Asam dalam
Menghambat Aktivitas Bakteri Patogen. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama
: Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si.
Pembimbing Anggota : Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si.
Mikroorganisme dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan dalam
memproduksi pangan yang difermentasi secara alami, akan tetapi mikroorganisme
juga dapat menyebabkan kerusakan serta menjadi penyebab keracunan karena bahan
pangan tersebut. Oleh karena itu, keberadaan mikroorganisme pada bahan pangan
perlu dikontrol. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengawetkan
(preservasi) pangan agar terhindar dari pembusukan akibat cemaran mikroorganisme
pembusuk dan patogen. Penambahan zat antimikrob pada bahan pangan merupakan
salah satu metode pengawetan secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis ketahanan bakteriosin pada kondisi pH asam yang dihasilkan oleh
empat galur L. plantarum dan menganalisis aktivitas antimikrobnya terhadap
beberapa bakteri patogen (Staphylococcus aureus ATCC 25923, Bacillus cereus,
Escherichia coli ATCC 25922, Salmonella enterica ser. Typhimurium ATCC 14028,
dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27852).
Bakteri L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 merupakan isolat lokal asal
daging yang diidentifikasi dapat menghasilkan zat antimikrob. Karakteristik
morfologis keempat galur L. plantarum dan kelima bakteri indikator diidentifikasi
melalui uji pewarnaan Gram. Keempat galur L. plantarum ditumbuhkan pada media
de Man Rogosa and Sharpe broth (MRSb) yang ditambah yeast extract (YE) 3%,
diinkubasi selama 20 jam, kemudian disentrifugasi pada kecepatan 10.000 rpm untuk
mendapatkan supernatan antimikrob. Supernatan antimikrob disaring menggunakan
membran saring sartorius untuk mendapatkan supernatan bebas sel, yang kemudian
pH supernatan bebas sel dinetralkan menjadi 5,8 – 6,2. Proses purifikasi parsial
dilakukan dengan menjenuhkan larutan menggunakan ammonium sulfat hingga
kejenuhan mencapai 80%. Presipitat bakteriosin didapat dan didialisis menggunakan
membran dialisis. Proses dialisis menghasilkan ekstrak kasar bakteriosin yang
kemudian dimurnikan dengan teknik kromatografi kolom pertukaran kation untuk
mendapatkan plantaricin.
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian produksi plantaricin
dan ketahanan plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap pH asam adalah
rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Rancangan acak lengkap
(RAL) pola faktorial 3x4 digunakan pada penelitian uji antagonistik plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap bakteri indikator dengan tiga kali ulangan. Faktor
perlakuan pertama adalah perlakuan pH asam (pH 4, 5, dan 6), dan faktor perlakuan
kedua adalah plantaricin asal galur L. plantarum yang berbeda. Analisis data
diameter zona hambat dianalisis menggunakan analisis ragam. Data yang diperoleh
juga dianalisis secara deskriptif untuk memperjelas pembahasan terhadap hasil yang
telah didapatkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, plantaricin asal empat galur L.
plantarum memiliki ketahanan terhadap perlakuan pH asam. Hal ini dibuktikan
dengan masih adanya aktivitas penghambatan oleh plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 terhadap bakteri patogen meskipun nilai pH plantaricin telah diturunkan. Tidak
terlihat perbedaan (P<0,05) pada nilai diameter zona hambat akibat perlakuan pH
dalam menghambat bakteri patogen, kecuali pada bakteri E. coli ATCC 25922.
Plantaricin 2C12 memperlihatkan nilai aktivitas antimikrob terbesar terhadap bakteri
P. aeruginosa ATCC 27853. Spektrum penghambatan yang luas dan ketahanan yang
baik pada kondisi pH asam mengindikasikan bahwa plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 memiliki potensi untuk dapat diaplikasikan sebagai bahan biopreservatif pada
produk pangan, khususnya pangan hasil peternakan yang memiliki pH rendah
(asam).
Kata-kata kunci: Lactobacillus plantarum, plantaricin, pH asam, aktivitas antimikrob
ABSTRACT
The Analysis of Bacteriocin Durability from Lactobacillus plantarum 1A5, 1B1,
2B2, and 2C12 on Acid pH to Inhibit the Activity of Pathogenic Bacteria
Kurniawan, F.A., I.I. Arief and Jakaria
Nowadays microbial researchers in Indonesia are having great attention on
Lactobacillus plantarum in producing plantaricin as a food biopreservative.
However, acidic condition is often a main consideration factor for preservative
material, especially for food with low pH condition. The aims of this research was to
study the bacteriocin durability produced by Lactobacillus plantarum as Indonesian
indigenous isolate (L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, and 2C12) in the acid condition and
also the antimicrobial activity to inhibit the pathogenic bacteria (Staphylococcus
aureus ATCC 25923, Bacillus cereus, Escherichia coli ATCC 25922, Salmonella
enterica ser. Typhimurium ATCC 14028, and Pseudomonas aeruginosa ATCC
27852). The pure plantaricin were obtained from purification steps, consisted of
partial purification using ammonium sulphate precipitation, dialysis, and purification
using chromatography cation exchange. The result showed that plantaricins were
still active to inhibit the activity of the pathogenic bacteria after the acid pH (4 and 5)
treatment. There was no difference (P>0,05) in the inhibition zone diameter was
recorded, except for E. coli ATCC 25922 on the pH 4 treatment. Plantaricin 2C12
showed the highest antimicrobial activity againts the P. aeruginosa ATCC 27853. In
conclusion, the broad of inhibition spectrum and have the durability on the acid pH,
indicated that plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, and 2C12 had potential for application as a
biopreservative to control pathogens in foods.
Keywords: Lactobacillus plantarum, plantaricin, acid pH, antimicrobial activity
ANALISIS KETAHANAN BAKTERIOSIN DARI Lactobacillus
plantarum 1A5, 1B1, 2B2, DAN 2C12 PADA pH ASAM
DALAM MENGHAMBAT AKTIVITAS
BAKTERI PATOGEN
FARIZ AM KURNIAWAN
D14070267
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
Judul : Analisis Ketahanan Bakteriosin dari Lactobacillus plantarum 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 pada pH Asam dalam Menghambat Aktivitas Bakteri
Patogen
Nama : Fariz Am Kurniawan
NIM : D14070267
Menyetujui,
Pembimbing Utama,
(Dr. Irma Isnafia Arief, S. Pt. M.Si.)
NIP : 19750304 199903 2 001
Pembimbing Anggota,
(Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si.)
NIP : 19660105 199303 1 001
Mengetahui:
Ketua Departemen,
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc.)
NIP: 19591212 198603 1 004
Tanggal Ujian: 8 Maret 2012
Tanggal Lulus:
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 5 Pebruari 1986 di Padang, Sumatera Barat.
Penulis adalah anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Afrizal
Musa, B.A. dan Ibu Maryam.
Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Aisyiyah pada tahun 1992, dan
menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Pajeleran 01 pada tahun 1998.
Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 1999 dan diselesaikan pada
tahun 2002 di SLTP Negeri 02 Cibinong, Bogor. Penulis melanjutkan pendidikan di
SMA Negeri 3 Bogor pada tahun 2002 hingga selesai pada tahun 2005. Penulis
diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur Seleksi
Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan diterima di Departemen Ilmu Produksi
dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2008.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa
Paduan Suara Mahasiswa Agria Swara IPB dan menjadi anggota Himpunan
Mahasiswa Produksi Ternak (HIMAPROTER). Penulis aktif dalam beberapa
kepanitiaan kegiatan kampus antara lain Kepanitiaan Futsal Nasional tahun 2007 di
IPB dan Kepanitiaan konser tahunan Agria Swara tahun 2009 di Eramus, Kuningan
Jakarta. Penulis pernah mengikuti kegiatan magang di Bagian Produksi Ternak
Perah, Fakultas Peternakan IPB, pada bulan Februari 2009. Penulis aktif sebagai
pengisi acara di beberapa seminar kampus dan menjadi pemenang juara III pada
lomba Agroindustrial Debate Competition tahun 2009 di IPB Bogor. Penulis
menerima Beasiswa Unggulan Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia
pada tahun 2011.
Penulis pernah mengikuti kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa bidang
penelitian tahun 2010-2011 dengan judul “Produksi Bakteriosin dari Lactobacillus
plantarum 2C12 Sebagai Biopreservatif dan Aktivitas Antimikrobnya Terhadap
Bakteri Patogen” dan berhasil didanai. Penulis juga berkesempatan untuk mengikuti
kegiatan 18th Tri-University International Joint Seminar & Symposium pada tahun
2011 di Jiangsu University, China dan mendapatkan 3rd winner untuk Low Carbon
Workshop presentation.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
nikmat serta karunia-Nya hingga akhirnya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan
dengan baik. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW dan untuk umatnya hingga akhir zaman. Skripsi ini diselesaikan
guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Substansi skripsi ini terkait tentang pengkajian lebih dalam mengenai substrat
antimikrob yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat Lactobacilllus plantarum 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 yang berupa plantaricin. Plantaricin dari ke empat galur L.
plantarum
mampu menunjukkan aktivitas antimikrobnya terhadap lima bakteri
patogen setelah melalui proses purifikasi, dan bahkan setelah mendapatkan perlakuan
pH asam. Komponen aktif yang bekerja sebagai zat antimikrob diidentifikasi sebagai
plantaricin yang merupakan peptida.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya dalam peningkatan keamanan pangan di
Indonesia melalui biopreservatif alami pada bidang peternakan Indonesia. Saran dan
kritik yang membangun sangat bermanfaat bagi penulis.
Bogor, April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
i
RINGKASAN .......................................................................................
ABSTRACT ..........................................................................................
iii
LEMBAR PERNYATAAN ..................................................................
iv
LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................
v
RIWAYAT HIDUP ...............................................................................
vi
KATA PENGANTAR ...........................................................................
vii
DAFTAR ISI ..........................................................................................
viii
DAFTAR TABEL ..................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR .............................................................................
xi
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................
xii
PENDAHULUAN .................................................................................
1
Latar Belakang ...........................................................................
Tujuan ........................................................................................
1
2
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................
3
Lactobacillus plantarum ...........................................................
Bakteriosin ................................................................................
Bakteri Patogen ..........................................................................
Salmonella enterica ser. Typhimurium .....................................
Staphylococcus aureus ..............................................................
Escherichia coli .........................................................................
Bacillus cereus ..........................................................................
Pseudomonas aeruginosa .........................................................
3
4
5
5
6
7
8
9
MATERI DAN METODE ....................................................................
10
Lokasi dan Waktu .....................................................................
Materi ........................................................................................
Prosedur ....................................................................................
Pemeriksaan Kemurnian Bakteri ...................................
Purifikasi Parsial dengan Menggunakan Presipitasi
Ammonium Sulfat ..........................................................
Dialisis ...........................................................................
Purifikasi dengan Menggunakan Kromatografi
Kation Exchange ...........................................................
Ketahanan Terhadap pH Asam .....................................
Uji Antagonistik Plantaricin pada Mikroba Patogen
Metode Difusi Sumur ....................................................
10
10
11
11
Rancangan dan Analisis Data ...................................................
Produksi Plantaricin .....................................................
17
17
12
13
14
15
15
Ketahanan Plantaricin Terhadap pH Asam ..................
Uji Antagonistik Plantaricin Terhadap Bakteri
Indikator ........................................................................
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................
17
Pengujian Kemurnian Bakteri L. plantarum dan Patogen .........
Purifikasi Plantaricin ................................................................
Karakterisasi Plantaricin ..........................................................
Perlakuan pH Asam .......................................................
Aktivitas Penghambatan Plantaricin Terhadap
Staphylococcus aureus ATCC 25923 ...........................
Aktivitas Penghambatan Plantaricin Terhadap
Bacillus cereus ..............................................................
Aktivitas Penghambatan Plantaricin Terhadap
Salmonella enterica ser. Typhimurium
ATCC 14028 .................................................................
Aktivitas Penghambatan Plantaricin Terhadap
Escherichia coli ATCC 25922 ......................................
Aktivitas Penghambatan Plantaricin Terhadap
Pseudomonas aeruginosa ATCC 14028 .......................
20
23
24
24
KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................
36
Kesimpulan ...............................................................................
Saran ..........................................................................................
36
36
UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................
37
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................
38
LAMPIRAN ..........................................................................................
41
18
20
25
27
29
31
33
DAFTAR TABEL
Nomor
1. Nilai Diameter Zona Hambat Supernatan Netral Asal Empat galur
L. plantarum terhadap Bakteri Indikator ......................................
Halaman
5
2. Penggunaan Padatan Amonium Sulfat (% Penjenuhan) ..............
13
3. Morfologi dan Hasil Pewarnaan Gram Kelima Bakteri Indikator
22
4. Nilai Konsentrasi Protein Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
Hasil Proses Purifikasi ...................................................................
5. Nilai Konsentrasi Protein Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
Hasil Perlakuan Asam ...........................................................
24
25
6. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 terhadap S.aureus ATCC 25923 ..........................................
26
7. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 terhadap Bacillus cereus ......................................................
28
8. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 terhadap S. Typhimurium ATCC 14028 .............................
30
9. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 terhadap E. coli ATCC 25922 ..............................................
32
10. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 terhadap P. aeruginosa ATCC 27853 ..................................
33
DAFTAR GAMBAR
Nomor
1. Lactobacillus plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 ..................
Halaman
3
2. Staphylococcus aureus ...............................................................
7
3. Escherichia coli ..........................................................................
8
4. Bacillus cereus ...........................................................................
8
5. Hasil Pewarnaan Gram dan Morfologi Lactobacillus plantarum:
L. plantarum 1A5; L. plantarum 1B1; L. plantarum 2B2; dan L.
plantarum 2C12 .........................................................................
21
6. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator
S. aureus ATCC 25923 dalam Activity Unit (AU) .....................
27
7.
Foto Diameter Zona Hambat Hasil Uji Antagonistik terhadap
Bakteri Indikator B. cereus ........................................................
28
8. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator
B. cereus dalam Activity Unit (AU) ...........................................
29
9. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator
S. Typhimurium ATCC 14028 dalam Activity Unit (AU) ..........
30
10. Foto Diameter Zona Hambat Hasil Uji Antagonistik terhadap
Bakteri Indikator E. coli ATCC 25922 ......................................
31
11. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator
E. coli ATCC 25922 dalam Activity Unit (AU) ........................
33
12. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator
P. aeruginosa ATCC 27853 dalam Activity Unit (AU) ............
35
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1. Analisis Ragam Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 terhadap S.Typhimurium ATCC 14028 ...........
Halaman
42
2. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 dengan Perlakuan pH terhadap E. coli
ATCC 25922 ...............................................................................
42
3. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap E. coli ATCC 25922 ...................
43
4. Analisis Ragam Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 terhadap S. aureus ATCC 25923 .......................
43
5. Analisis Ragam Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 terhadap B.cereus ...............................................
43
6. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 dengan Perlakuan pH terhadap
P. aeruginosa ATCC 27853 .......................................................
44
7. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap P. aeruginosa ATCC 27853 .......
44
8. Gambar Proses Purifikasi Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
45
9. Gambar Zona Hambat Plantaricin Terhadap Bakteri Indikator
45
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahan pangan manusia mengandung satu atau lebih mikroorganisme yang
hidup dan tumbuh di dalamnya, kecuali untuk beberapa pangan yang steril. Beberapa
dari mikroorganisme ini diinginkan oleh manusia berada dalam bahan pangan,
karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam memproduksi pangan yang
difermentasi secara alami. Mikroorganisme lain dapat menyebabkan kerusakan pada
bahan pangan dan menjadi penyebab penyakit akibat keracunan pangan tersebut.
Oleh karena itu, keberadaan mikroorganisme pada bahan pangan perlu untuk
dikontrol.
Preservasi merupakan kegiatan untuk mengawetkan produk pangan agar
terhindar dari pembusukan akibat cemaran mikroorganisme pembusuk dan patogen.
Pertumbuhan bakteri perusak makanan ini dapat dihambat dengan penggunaan bahan
kimia seperti boraks, nitrit, formalin, rhadomin, dan lain-lain sebagai bahan
pengawet makanan kimiawi. Bahan-bahan tersebut akan tetapi, dapat menimbulkan
alergi pada individu yang sensitif dan memiliki efek samping yang berpotensi
sebagai zat karsinogenik (seperti nitrosamine dari nitrit). Tantangan untuk
mengembangkan sistem pengawetan baru yang dapat mempertahankan kualitas dan
memperpanjang umur simpan bahan pangan mulai banyak berkembang, yaitu dengan
pengawet pangan alami (biopreservatif).
Salah satu metode pengawetan secara alami adalah dengan penambahan zat
antimikrob. Zat antimikrob alami yang termasuk Generally Recognize as Safe
(GRAS) banyak dihasilkan dari golongan bakteri asam laktat (BAL) yang banyak
ditemukan pada bahan pangan hasil ternak seperti susu, daging, dan juga dapat
tumbuh pada sayur-sayuran meskipun dalam jumlah yang terbatas. Bakteri asam
laktat (BAL) dapat menghasilkan produk metabolit seperti asam-asam organik,
hidrogen peroksida, dan bakteriosin yang memiliki sifat antimikrob. Salah satu jenis
BAL yang potensial dalam memproduksi zat antimikrob adalah Lactobacillus
plantarum yang bersifat homofermentatif.
Beberapa bakteri patogen dan pembusuk makanan seperti Bacillus cereus dan
Salmonella enterica ser. Typhimurium dapat bertahan hidup pada kondisi pH yang
1
rendah (asam). Hal ini merupakan salah satu alasan perlunya ditambahkan zat
antimikrob agar dapat memperpanjang umur simpan bahan pangan.
Aplikasi bakteriosin sebagai biopreservatif pada bahan pangan memiliki
keistimewaan antara lain dengan tidak merubah rasa dan tekstur produk pangan
tetapi dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen. Oleh karena itu bakteriosin
menjadi perhatian khusus sebagai biopreservatif yang potensial dan aman untuk
kesehatan. Akan tetapi faktor pH seringkali menjadi pertimbangan bagi bahan
pengawet yang akan digunakan pada bahan pangan, khususnya bagi pangan hasil
peternakan dengan kondisi pH rendah seperti daging sapi, ham, bakso, susu, butter,
keju, dan lain-lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ketahanan bakteriosin
asal empat galur L. plantarum pada kondisi pH rendah (asam).
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis :
1. Karakteristik morfologis dari bakteri Lactobacillus plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 serta kelima bakteri patogen melalui uji pewarnaan Gram.
2. Ketahanan bakteriosin asal empat galur Lactobacillus plantarum terhadap kondisi
pH asam dan aktivitas antimikrob yang dihasilkan dalam menghambat bakteri
patogen.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Lactobacillus plantarum
Bakteri L. plantarum termasuk bakteri dalam filum Firmicutes, Ordo
Lactobacillales, famili Lactobacillaceae, dan genus Lactobacillus. Lactobacillus
dicirikan dengan bentuk batang, umumnya dalam rantai-rantai pendek. Lactobacillus
merupakan bakteri Gram positif, tidak menghasilkan spora, anaerob fakultatif, dan
sering ditemukan dalam produk susu, serelia, produk daging, air, limbah, bir, anggur,
buah-buahan, dan sayur-mayur. Genus ini tumbuh baik atau optimum pada suhu 300
sampai 40 0C (Pelczar dan Chan, 2008).
Bakteri L. plantarum umumnya lebih tahan terhadap keadaan asam dan oleh
karena ketahanan tersebut, bakteri ini menjadi lebih banyak terdapat pada tahapan
terakhir dari fermentasi tipe asam laktat. Bakteri ini sering digunakan dalam
fermentasi susu, daging, dan sayuran. Ray (2004) menyatakan bahwa, bakteri L.
plantarum memproduksi bakteriosin yang dapat digunakan sebagai biopreservatif
pangan. Fermentasi dari L. plantarum merupakan tipe homofermentatif.
(a)
(b)
(c)
(d)
Gambar 1. Lactobacillus plantarum 1A5 (a), 1B1 (b), 2B2 (c), dan 2C12 (d)
Sumber : Firmansyah (2009)
Bakteri L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 (Gambar 1) merupakan isolat
indigenus yang diisolasi dari daging sapi lokal Indonesia. Arief et al. (2007)
menyatakan bahwa suatu senyawa antimikrob diproduksi oleh bakteri asam laktat
yang diidentifikasi sebagai L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12. Senyawa
antimikrob tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen E. coli, S.
Typhimurium dan S. aureus. Senyawa antimikrob yang diproduksi oleh L. plantarum
ini mengandung bakteriosin yang disebut sebagai plantaricin. Penelitian sebelumnya
oleh Firmansyah (2009), menyatakan bahwa L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
merupakan bakteri yang berbentuk batang, Gram positif, mesofilik, dan hasil uji
katalase yang dilakukan berupa katalase negatif.
Bakteriosin
Bakteriosin merupakan protein antimikrob yang dihasilkan oleh bakteri yang
dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan dari bakteri lain (Cleaveland et al.,
2001). Kusmiati dan Malik (2002) menyatakan bahwa, bakteriosin merupakan
senyawa protein yang diekskresikan oleh bakteri yang yang memiliki sifat
menghambat pertumbuhan bakteri lain terutama yang memiliki kekerabatan erat
secara filogenik. Senyawa ini mudah terdegradasi oleh enzim proteolitik dalam
pencernaan manusia dan hewan. Bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat
mudah diterima sebagai bahan tambahan dalam makanan baik oleh ahli kesehatan
maupun oleh konsumen karena bakteri ini secara alami berperan dalam proses
fermentasi makanan.
Bakteriosin diproduksi oleh beberapa strain bakteri termasuk bakteri asam laktat
(BAL). Substansi ini disintesis oleh bakteri asam laktat yang berhubungan dengan
asam organik. Bakteriosin bersifat mudah dicerna, berpengaruh positif terhadap
kesehatan, dan aktif pada konsentrasi rendah (Cleaveland et al., 2001). Ogunbanwo
et al. (2003) menyatakan bahwa, bakteriosin yang dihasilkan oleh suatu organisme
tidak akan memiliki efek penghambatan bagi organisme itu sendiri.
Plantaricin merupakan bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri L. plantarum
yang dapat menghambat dan membunuh bakteri patogen (Gong et al., 2010; AboAmer, 2007). Penelitian sebelumnya oleh Ayuningtyas (2012) menunujukan adanya
aktivitas antimikrob yang dilakukan oleh supernatan bebas sel netral asal empat galur
Lactobacillus plantarum yang diduga plantaricin terhadap bakteri indikator sebagai
uji antimikrob awal disajikan pada Tabel 1. Besarnya diameter zona hambat berkisar
antara 7,46 mm hingga 18,00 mm.
4
Tabel 1. Nilai Diameter Zona Hambat Supernatan Netral Asal Empat galur L.
plantarum terhadap Bakteri Indikator
Galur L. plantarum
1A5
Bakteri Indikator
1B1
2B2
2C12
------------------------------(mm)-----------------------Pseudomonas aeruginosa
ATCC 27853
16,86
13,37
13,50
10,32
Bacillus cereus
16,30
15,02
11,05
7,46
Staphylococcus aureus
ATCC 25923
17,72
16,21
15,01
10,46
Escherichia coli ATCC
25922
15,73
15,22
9,74
10,93
Salmonella enterica ser.
Typhimurium ATCC 14028
18,00
13,09
9,13
14,55
Keterangan: Diameter lubang sumur (5 mm) termasuk ke dalam diameter zona hambat.
Bakteri Patogen
Mikroorganisme pada bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang
menguntungkan dan diinginkan seperti perbaikan bahan pangan secara gizi, daya
cerna, maupun daya simpan. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga
dapat berakibat pada perubahan fisik dan kimia yang tidak diinginkan sehingga
bahan pangan tersebut menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Banyak jenis bakteri
yang mampu menjadi penyebab keracunan makanan. Menurut Ray (2004), bakteri di
sinyalir sebagai penyebab utama dari kerusakan pangan dan penyakit yang
disebabkan akibat keracunan pangan karena kemampuan mereka untuk dapat hidup
di berbagai tempat serta grafik pertumbuhan yang cepat, bahkan pada kondisi dimana
ragi dan kapang tidak dapat tumbuh.
Salmonella enterica ser.Typhimurium
Bakteri S. Typhimurium digolongkan ke dalam famili Enterobacteriaceae,
yang termasuk ke dalam golongan bakteri Gram negatif, berbentuk batang dan tidak
berspora. Bakteri ini bersifat motil, anaerob fakultatif, menghasilkan H2S,
menghasilkan asam hasil fermentasi glukosa, maltosa, manitol, dan sorbitol. Bakteri
5
ini juga mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbon, tetapi tidak dapat
memfermentasi salisin, sukrosa dan laktosa (Fardiaz, 1992).
Bakteri S. Typhimurium bersifat mesofilik, pertumbuhan optimum pada suhu
antara 35 dan 37 0C, tetapi umumnya suhu yang masih dapat diterima bakteri ini
sekitar adalah 5 sampai 46 0C. Bakteri ini dapat terbunuh oleh suhu pasteurisasi
dengan waktu tertentu serta sensitif pada pH rendah (4,5 atau lebih rendah). Jay
(2000) menyatakan bahwa, nilai pH minimum untuk pertumbuhan bakteri S.
Typhimurium adalah pH 4,05. Sel-sel S. Typhimurium tahan terhadap keadaan beku
dan panas kering untuk jangka waktu yang panjang, dan merupakan penyebab utama
kerusakan bahan pangan (Ray, 2004). Bakteri ini sangat sensitif terhadap suhu
pemasakan yang umum digunakan rumah tangga.
Bakteri dari jenis Salmonella merupakan bakteri penyebab infeksi. Jika
tertelan oleh manusia dan masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala
salmonelosis. Gejala salmonelosis yang sering terjadi adalah gastroentritis. Selain
gastroentritis beberapa spesies salmonella juga dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit, demam enterik, demam tifoid, dan demam paratifoid, serta infeksi lokal
(Fardiaz, 1992).
Staphylococcus aureus
Bakteri S. aureus merupakan bakteri Gram positif, berbentuk kokus dengan
diameter 0,5-1,5 mikrometer. Bakteri ini terdapat dalam bentuk tunggal,
berpasangan, dan secara khas membelah diri pada lebih dari satu bidang sehingga
membentuk gerombol yang tidak teratur (hidup berkelompok). Bakteri ini tumbuh
secara anaerobik fakultatif dan tumbuh lebih cepat serta lebih banyak dalam keadaan
aerobik. Metabolisme dengan respirasi dan fermentatif, serta memiliki suhu optimum
35-40 0C (Pelczar dan Chan, 2008). Menurut Ray (2004), S. aureus merupakan
bakteri yang non motil, mesofilik, dan sering dikaitkan dengan foodbourne disease.
Habitat utama dari bakteri ini adalah kulit manusia, hewan, dan unggas. Jay (2000)
menyatakan bahwa, nilai pH minimum untuk pertumbuhan bakteri S. aureus adalah
pH 4.
Bakteri S. aureus memiliki beberapa karakteristik yang menarik. Bakteri ini
hidup berkelompok menyerupai kumpulan anggur. Nama didapatkan karena koloni
yang berpigmen kuning (aureus=golden). Apabila dibandingkan dengan bakteri lain,
6
mereka hidup dengan baik pada kondisi dimana tekanan osmotik tinggi dan
kelembaban rendah. Ini menjelaskan bagaimana S. aureus (Gambar 2) dapat hidup
pada makanan dengan tekanan osmotik tinggi (seperti ham dan beberapa cured meats
lainnya) atau dalam pangan dengan kelembaban rendah yang dimana malah
menghambat pertumbuhan organisme lain (Tortora et al., 2006).
Gambar 2. Staphylococcus aureus
Sumber : Tortora et al. (2006)
Escherichia coli
Bakteri E. coli tergolong dalam famili Enterobacteriaceae dan termasuk
bakteri Gram negatif, berbentuk batang lurus dengan ukuran panjang 1,1-1,5 μm x
2,0-6,0 μm. Bakteri ini terdapat dalam bentuk tunggal atau berpasangan, bersifat
motil dengan flagelum peritrikus atau non motil. Tumbuh dengan mudah pada
medium nutrien sederhana (Pelczar dan Chan, 2008). Menurut Ray (2004), beberapa
strain dari Escherichia merupakan patogen bagi manusia dan hewan serta terlibat
dalam penyebab kerusakan bahan pangan. Jay (2000) menyatakan bahwa, nilai pH
minimum untuk pertumbuhan bakteri E. coli adalah pH 4.
Bakteri E. coli merupakan spesies bakteri yang seringkali ditemukan pada
saluran pencernaan manusia dan kemungkinan merupakan organisme yang paling
dikenal dalam dunia mikrobiologi. Tortora et al. (2006) menyatakan bahwa,
kehadiran E. coli dalam air ataupun pangan merupakan indikasi dari fecal
contamination atau disebut sebagai indikator sanitasi. Bakteri ini tidak selalu
patogen, akan tetapi dapat menjadi penyebab dari infeksi saluran urin, serta beberapa
strain memproduksi enterotoksin yang menyebabkan penyakit diare dan juga
penyakit keracunan makanan serius lainnya (Gambar 3).
7
Gambar 3. Escherichia coli
Sumber : Tortora et al. (2006)
Bacillus cereus
Bakteri B. cereus seringkali ditemukan sebagai saprofit pada tanah, air,
vegetasi,
udara,
dan
tempat
dimana
bakteri
ini
dapat
dengan
mudah
mengkontaminasi pangan, baik dari bahan mentah maupun pada saat proses
pengolahan berlangsung. Bakteri B. cereus dapat memproduksi endospora yang
membuatnya dapat tahan terhadap proses pasteurisasi dan banyak jenis desinfektan.
Bakteri ini juga membentuk enzym seperti lipase, protease, xylanase, serta enzym
lainnya (Torkar dan Bojana, 2003).
Ray (2004) menyatakan bahwa, B. cereus merupakan bakteri Gram positif
yang bersifat motil. Merupakan penyebab kerusakan dan keracunan bahan pangan
karena dapat memproduksi enzim ekstraselullar yang dapat menghidrolisis
karbohidrat, protein, dan lemak. Sel sensitif terhadap proses pasteurisasi dan spora
dapat bertahan pada perlakuan suhu tinggi seperti yang digunakan pada banyak cara
memasak bahan pangan. Bakteri ini bersifat aerobik, dan dapat memperbanyak diri
pada rentang suhu 4 sampai 50 0C dengan suhu optimum antara 35 sampai 40 0C
(mesofilik). Selain itu, bakteri ini dapat tumbuh pada pH lingkungan antara 4,9
sampai 9,3 serta aktivitas air (Aw) 0,95 dan diatasnya (Gambar 4).
Gambar 4. Bacillus cereus
Sumber : Tortora et al. (2006)
8
Pseudomonas aeruginosa
Bakteri Pseudomonas merupakan bakteri patogen bagi manusia. Bakteri ini
dapat menyebabkan infeksi pada manusia apabila sistem pertahanan tubuh inang
tersebut sedang melemah atau menurun. Tortora et al. (2006) menyatakan bahwa,
Pseudomonas merupakan bakteri Gram negatif, bersifat aerobik dan motil dengan
polar flagella. Menurut Pelczar dan Chan (2008), Pseudomonas merupakan bakteri
yang berupa sel tunggal (baik batang lurus atau melengkung namun tidak berbentuk
heliks), pada umumnya berukuran 0,5-1,0 μm x 1,5-4 μm. Bakteri ini motil dengan
flagelum polar, Gram negatif, katalase positif, metabolisme dengan respirasi dan
tidak pernah fermentatif. Jay (2000) menyatakan bahwa, nilai pH minimum untuk
pertumbuhan bakteri Pseudomonas adalah pH 5.
Salah satu spesies yang tergolong dalam genus Pseudomonas yaitu
Pseudomonas aeruginosa. Bakteri P. aeruginosa merupakan salah satu bakteri yang
dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang
diperoleh selama perawatan di rumah sakit (Tortora et al., 2006). Ray (2004) juga
menyatakan bahwa P.aeruginosa merupakan bakteri perusak pangan yang penting
karena dapat memetabolisme berbagai variasi dari karbohidrat, protein, dan lemak
dalam pangan.
9
MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium
Terpadu, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus
2011.
Materi
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung reaksi, cawan
petri, timbangan, gelas ukur, pipet mikro, inkubator, refrigerator, alat centrifuge,
membran saring Sartorius diameter 0,22 µm, membran dialisis diameter 20,
kromatografi kolom terbuka (open column) Econo-Column Bio-Rad (Hata et al.,
2010). Alat-alat lain yang digunakan pada penelitian ini yaitu laminar air flow,
pemanas Bunsen, Ose, alumunium foil, kapas, pipet Pasteur, oven, pH-meter, jangka
sorong, autoclave, vortex, hot plate, tabung penampung eluent, mikroskop, kamera
digital, dan Spektrofotometer UV-Vis.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain empat galur
bakteri asam laktat asal daging sapi (isolat indigenus) yaitu L. plantarum 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 yang diperoleh dari penelitian sebelumnya oleh Arief et al. (2007).
Kode keempat galur ini diperoleh dari daging dengan masa penyimpanan berbeda
yaitu 12 jam (1) dan 34 jam (2), serta pasar berbeda lokasi pengambilan yaitu pasar
Anyar (A), pasar Cibeureum (B), dan pasar Ciampea (C); dan bakteri ke 1 (1), ke 2
(2), ke 4 (4), ke 5 (5), dan ke 12 (12). Bahan bahan lain yang digunakan antara lain
yaitu bakteri indikator (Escherichia coli ATCC 25922, Staphylococcus aureus
ATCC 25923, Bacillus cereus, Salmonella enterica ser. Typhimurium ATCC 14028,
dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853), media de Man Rogosa and Sharpe
agar (MRSa), de Man Rogosa and Sharpe broth (MRSb), Nutrien agar (Na), Buffer
Water Pepton (BWP), Mueller Hilton agar (MHa) untuk media konfrontasi
plantaricin dengan bakteri uji, yeast extract, larutan NaCl, larutan NaOH, larutan
HCl, garam ammonium sulfat, buffer potassium phospate (campuran KH2PO4 dan
K2HPO4 dengan konsentrasi tertentu), resin SP Sepharose – Fast Flow dan aquades.
Prosedur
Pemeriksaan Kemurnian Bakteri
Kultur starter yang telah yang telah diisolasi dari daging sapi pada penelitian
sebelumnya dikonfirmasi kembali untuk memastikan kemurniannya dengan cara
ditumbuhkan pada media de Man Rogosa Sharp agar (MRSa) dengan metode
striking plate dan diinkubasi pada suhu 37 °C selama 24 jam, kemudian diambil satu
koloni yang dianggap sebagai koloni bakteri asam laktat dan dimasukkan ke de Man
Rogosa Sharp broth (MRSb), kultur ini disebut kultur stok. Setiap kultur stok
dilakukan penyegaran pada media MRSb sebelum dilakukan pengujian. Sebanyak 1
ml kultur diinokulasikan ke dalam media MRSb. Kultur kemudian diinkubasi pada
suhu 37 °C selama 24 jam yang hasilnya disebut kultur kerja. Kultur kerja ini yang
digunakan untuk mengkonfirmasi bakteri uji. Uji yang dilakukan adalah uji
pewarnaan Gram.
Sampel bakteri dari koloni yang homogen dioleskan pada kaca objek
kemudian difiksasi panas. Olesan bakteri kemudian diteteskan dengan Kristal violet
selama satu menit, kemudian diratakan, dibilas dengan aquades dan dikering
udarakan. Setelah kering, olesan bakteri diteteskan iodium dan diratakan kembali,
kering udara selama dua menit, kemudian dibilas aquades dan ditiriskan. Preparat
dicuci dengan pemucat warna yaitu etanol 95% tetes demi tetes selama 30 detik,
kemudian dicuci segera dengan aquades dan ditiriskan. Setelah kering preparat
diteteskan minyak imersi dan diamati di bawah mikroskop untuk melihat bentuk dan
warna dinding sel setelah dilakukan pewarnaan. Bakteri yang termasuk dalam
kelompok Gram positif akan menunjukkan warna ungu atau biru keunguan,
sedangkan kelompok bakteri Gram negatif akan menunjukkan warna merah safranin
(Waluyo,
2008).
Beishir
(1991)
menyatakan
bahwa,
organisme
yang
mempertahankan kompleks warna kristal violet-iodium meskipun telah diberi larutan
pemucat sehingga berwarna ungu atau biru keunguan disebut bakteri Gram positif.
Sel yang berwarna merah karena kompleks warna kristal violet larut sewaktu
pemberian larutan pemucat dan kemudian mengambil zat warna kedua yang
berwarna merah disebut Gram negatif.
11
Purifikasi Plantaricin
Purifikasi Parsial dengan Menggunakan Presipitasi Amonium Sulfat. Sebanyak
500 liter media MRSB ditambah yeast ekstrak 3% dan NaCl 1% diinokulasikan
dengan 10% (v/v) kultur L. plantarum (masing-masing isolat), selanjutnya diinkubasi
pada suhu 37 oC selama 20 jam. Hasil pencampuran disimpan pada refrigerator suhu
4 oC selama 2 jam, lalu dilakukan sentrifugasi pada kecepatan 10.000 rpm selama 20
menit (suhu 4 oC). Setelah selesai, dilakukan penyaringan dengan menggunakan
membran saring Sartorius diameter 0,22 µm dan selanjutnya pH dari supernatan
bebas sel dinetralkan menjadi pH 6 dengan menggunakan 1 N NaOH. Semua tahapan
proses ini dilakukan pada suhu dingin (4 oC) (Todorov dan Dicks, 2005). Produksi
bakteriosin dilakukan dengan menggunakan media pertumbuhan MRSb yang
ditambah dengan yeast extract 3% dan NaCl 1% sebagai suplemen pertumbuhan bagi
kultur L. plantarum (Syahniar, 2009; Ogunbanwo et al., 2003). Penyaringan
menggunakan membran saring Sartorius diameter 0,22 µm bertujuan untuk
mendapatkan supernatan bebas sel. Supernatan antimikrob yang dihasilkan berada
pada kondisi asam sehingga, harus dinetralkan menjadi pH 6 dengan menggunakan 1
N NaOH. Hal ini dilakukan agar asam-asam organik termasuk asam laktat yang
terdapat di dalam supernatan antimikrob tidak menutupi aktivitas dari bakteriosin
saat menghambat bakteri indikator atau dengan kata lain dapat memaksimumkan
aktivitas antimikrob dari bakteriosin yang terbentuk dengan mengurangi ataupun
menghilangkan aktivitas antimikrob dari asam-asam organik selain bakteriosin
(Todorov dan Dicks, 2005; Abo-Amer, 2007). Wirahadikusumah (2008) menyatakan
bahwa, pH 6,02 merupakan titik dimana jumlah muatan positif dan negatif pada
molekul asam amino monokarboksilat sama. Keadaan pH tersebut disebut pH
isoelektrik.
Purifikasi parsial bakteriosin dilakukan pada supernatan bebas sel dari
masing-masing galur L. plantarum pada kondisi pH 6. Serbuk ammonium sulfat
ditambahkan sebanyak 80% secara bertahap (20, 40, 60, dan 80%) ke dalam
supernatan antimikrob yang telah disaring steril untuk menghasilkan endapan
protein, kemudian dihomogenkan secara perlahan pada suhu 4 oC selama 2 jam
(Todorov dan Dicks, 2008; Abo-Amer, 2007). Perhitungan padatan amonium sulfat
didasarkan pada Tabel 2.
12
Tabel 2. Penggunaan Padatan Ammonium Sulfat (% Penjenuhan)
Awal
%
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
20
25
10.6
7.9
5.3
2.6
0
13.4
10.8
8.1
5.4
2.7
0
30
16.4
13.7
10.9
8.2
5.5
2.7
0
35
19.4
16.6
13.9
11.2
8.3
5.6
2.8
0
40
45
50
55
60
65
70
75
Konsentrasi Akhir dari Padatan Amonium Sulfat (gram)
22.6 25.8 29.1 32.6 36.1 39.8 43.6 47.6
19.7 22.9 26.2 29.6 33.1 36.8 40.5 44.4
16.9 20.0 23.3 26.6 30.1 33.7 37.4 41.2
14.1 17.2 20.4 23.7 27.1 30.6 34.3 38.1
11.3 14.3 17.5 20.7 24.1 27.6 31.2 34.9
8.6
11.5 14.6 17.9 21.1 24.5 28.0 31.7
5.6
8.6 11.7 14.8 18.1 21.4 24.9 28.5
2.9
5.7
8.7 11.8 15.1 18.4 21.8 25.8
0
2.9
5.8
8.9 12.0 15.3 18.7 22.2
0
3.0
5.9
9.0 12.3 15.6 19.0
0
3.0
6.0
9.2 12.5 15.9
0
3.1
6.1
9.3 12.7
0
3.1
6.2
9.5
0
3.2
6.3
0
3.2
0
80
85
90
95
100
51.6
48.4
45.2
42.0
38.7
35.5
32.3
29.6
26.3
22.6
19.0
16.1
12.9
9.7
6.5
3.3
0
55.9
52.6
49.3
46.0
42.7
39.5
36.2
32.9
29.6
26.3
23.5
20.1
16.8
13.2
9.9
6.6
3.4
0
60.3
57.0
53.6
50.3
46.9
43.6
40.2
36.9
33.5
30.2
26.8
23.5
20.1
16.8
13.4
10.1
6.7
3.4
0
65.0
61.5
58.1
54.7
51.2
47.8
44.5
41.0
37.6
34.2
30.8
27.3
23.9
20.5
17.1
13.7
10.3
6.8
3.4
0
69.7
66.2
62.7
59.2
55.7
52.2
48.8
45.3
41.8
38.3
34.8
31.2
27.9
24.4
20.9
17.4
13.9
10.5
7.0
3.5
0
Sumber: http//www.science.smith.edu/departments/Biochem_353/Amsulfate.htm [5 Februari 2011]
Setelah itu supernatan dipindahkan ke tabung centrifuge lalu dilakukan
sentrifugasi 10.000 rpm selama 20 menit pada suhu 4 oC . Selanjutnya, supernatan
dibuang dan didapatkan presipitat bakteriosin. Presipitat bakteriosin dikoleksi pada
tabung reaksi. Pengecekan protein plantaricin hasil purifikasi diamati menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 280 nm (λ=280 nm). Tahap ini
merupakan salah satu cara pengendapan protein dengan memanfaatkan perbedaan
kelarutan. Wirahadikusumah (2008) menyatakan bahwa, pada umumnya molekul
protein mempunyai daya kelarutan minimum pada pH isoelektrik. Efek pengendapan
protein disebabkan oleh perubahan kecenderungan berdisosiasi gugus-gugus dalam
protein. Bila konsentrasi garam netral yang ditambahkan dinaikan terus, maka
kelarutan protein menjadi berkurang, dan sampai pada konsentrasi garam yang
sangat tinggi maka protein akan mengalami pengendapan. Hasil yang didapatkan
disebut sebagai presipitat bakteriosin.
Dialisis. Dialisis dilakukan dengan tujuan untuk (desalting) atau menghilangkan
garam ammonium sulfat yang masih bercampur dengan presipitat bakteriosin. Buffer
13
yang digunakan adalah buffer potassium phospate (campuran KH2PO4 dan K2HPO4
dengan konsentrasi tertentu) pH 6, dengan perbandingan 1: 1000 (1 bagian presipitat
dan 1000 bagian buffer). Dialisis dilakukan dengan menggunakan membran dialisis
diameter 20 pada buffer potassium phosphate selama 12 jam, dan dilakukan
penggantian buffer sebanyak 2 kali (jam ke-2 dan ke-4) pada suhu 4 oC . Setelah
selesai, didapatkan ekstrak kasar bakteriosin. Pengecekan protein dari ekstrak kasar
bakteriosin diamati menggunakan Spektrofotometer
UV-Vis pada panjang
gelombang 280 nm (λ=280 nm).
Purifikasi dengan menggunakan Kromatografi Kation Exchange. Resin yang
digunakan adalah SP Sepharose - Fast Flow dengan kolom terbuka (open column)
Econo-Column Bio-Rad (Hata et al., 2010). Kolom terlebih dahulu diisi (dipacking)
dengan resin. Buffer yang digunakan adalah buffer potassium phospate pH 6,8.
Kolom dipasangkan pada penjepit bunsen kemudian buffer dituangkan ke
dalam kolom. Setelah itu buffer dibuang secara perlahan. Resin dimasukan secara
perlahan dengan menggunakan pipet Pasteur ke dalam kolom, dan dijaga supaya
tidak ada udara (gas) yang masuk ke dalam kolom. Selanjutnya resin akan menjadi
gel. Kemudian di atas resin diberikan buffer dan kolom disimpan pada suhu dingin
sampai siap untuk digunakan.
Plantaricin hasil dialisis dimasukan ke dalam kolom secara perlahan, dan di
bawah kolom diberikan tabung penampung eluent yang keluar dari kolom. Eluent
pertama adalah buffer, sedangkan yang berikutnya adalah sampel plantaricin murni.
Kecepatan alir yang diberikan adalah 0,8 ml/ menit. Setelah selesai, dilakukan
pencucian dengan buffer kembali dan ditampung untuk mengambil eluent yang
terikat pada gel (resin). Semua dilakukan di ruang dingin. Setelah selesai, dalam
beberapa tabung koleksi didapatkan eluent yang berisikan plantaricin murni.
Plantaricin murni disimpan pada suhu dingin (4 oC) dan selanjutnya siap untuk
dianalisis sifat dan karakteristiknya (Hata et al., 2010). Pengecekan protein
plantaricin murni hasil kromatografi kolom diamati menggunakan Spektrofotometer
UV-Vis pada panjang gelombang 280 nm (λ=280 nm). Wirahadikusumah (2008)
menyatakan bahwa, pada kromatografi penukar ion, pemisahan asam amino dari
suatu campuran didasarkan pada perbedaan sifat asam-basa. Asam amino yang
bersifat kation akan mengusir sebagian ion NH3+ yang terikat dan mengikatkan
14
dirinya pada partikel resin yang mengandung gugus-gugus bermuatan. Dengan
menaikan pH larutan elusi secara bertingkat, maka asam amino yang telah terikat
pada resin tersebut akan bergerak turun dalam pipa kolom. Larutan yang keluar dari
bagian bawah pipa kolom ditampung fraksi demi fraksi.
Karakterisasi Plantaricin
Ketahanan Terhadap pH Asam. Uji ketahanan terhadap pH asam sangat penting
untuk mengetahui karakteristik aktivitas plantaricin sebagai antimikrob yang dapat
diaplikasikan pada berbagai kondisi penanganan dan pengolahan pangan. Plantaricin
murni hasil kromatografi kolom diuji ketahanannya terhadap berbagai nilai pH (4,5,
dan 6) dengan menambahkan HCl 1 N (yang telah disterilisasi dingin). Ketahanan
terhadap pH dilihat dengan menguji aktivitas antimikrob plantaricin murni hasil
perlakuan pH tersebut dengan metode difusi sumur. Jika terdapat zona hambat di
sekitar sumur pada cawan yang berisikan bakteri patogen dan pembusuk maka
plantaricin tersebut bersifat tahan terhadap pH tertentu (Hata et al., 2010).
Pengecekan
protein
plantaricin
hasil
perlakuan
pH
asam
menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 280 nm (λ=280 nm). Plantaricin
diperoleh dari plantaricin murni dengan nilai protein tertinggi yang dilihat dari
spektrum tertinggi.
Uji Antagonistik Plantaricin pada Mikroba Patogen dengan Metode Difusi
Sumur. Metode yang digunakan adalah metode difusi sumur (Savadogo et al.,
2004). Bakteri indikator (patogen dan pembusuk makanan) sebanyak 106 cfu/ml yang
berumur 24 jam diinokulasikan ke dalam cawan, selanjutnya dituangkan media
konfrontasi yaitu Mueller Hilton agar (MHa). Setelah agar mengeras dan dingin,
dibuat sumur pada cawan dengan diameter 5 mm menggunakan ujung pipet tetes.
Kedalam sumur dipipet 50 µl plantaricin murni, kemudian cawan disimpan
dalam refrigerator (suhu 7 0C) selama 2 jam untuk memberikan kesempatan
plantaricin berdifusi kedalam agar. Cawan setelah itu diinkubasi pada suhu 37 oC
selama 24 jam. Zona bening yang terbentuk di sekitar area sumur menandakan
bahwa plantaricin mampu menghambat bakteri indikator. Selanjutnya dilakukan
pengukuran diameter zona bening (mm).
Zona hambat yang terbentuk di sekitar sumur pada seluruh cawan diamati dan
diukur diameternya dengan menggunakan jangka sorong. Diameter dari masing15
masing zona hambat diukur sebanyak tiga kali di daerah yang berbeda yang
kemudian hasilnya dirata-ratakan. Setiap pengujian diulang sebanyak tiga kali dan
pada setiap ulangan dilakukan secara duplo. Zona bening maupun warna semu
menunjukkan bahwa bakteriosin berperan dalam membunuh maupun menghambat
aktivitas bakteri indikator. Sapatnekar et al. (2010) menyatakan bahwa, hasil dari uji
antagonistik adalah zona hambat (clear and distinct zone of inhibition) yang
menunjukkan bahwa terdapat aktivitas antimikrob yang melakukan penghambatan
terhadap bakteri indikator.
Pan et al. (2009) pada penelitian mengenai aktivitas antimikrob dari
Lactobacillus acidophilus NIT terhadap bakteri indikator patogen yaitu Escherichia
coli CCTCC AB 206316, Salmonella typhimurium CCTCC M 90030, Clostridium
histolyticum DSM 627, Bacteroides vulgatus DSM 1447, dan Clostridium difficile
DSM 1296; menggunakan metode difusi sumur untuk mengukur aktivitas
antimikrob. Kekuatan aktivitas antimikrob dikategorikan pada ukuran diameter zona
hambat: diameter zona hambat sama dengan diameter sumur atau zona hambat 0 mm
berarti tidak ada penghambatan (-), diameter diantara 0-3 mm berarti penghambatan
lemah (+), diameter diantara 3-6 mm berarti penghambatan sedang (++), dan
diameter lebih besar dari 6 mm berarti aktivitas penghambatan kuat (+++).
Nilai aktivitas penghambatan plantaricin juga ditampilkan dalam Activity
Unit (AU), dimana 1 AU merupakan luas daerah hambatan persatuan volum contoh
plantaricin yang diuji. Perhitungan aktivitas plantaricin dalam AU didapatkan
dengan persamaan Luas zona bening (mm2) dikurangi dengan luas sumur (mm2) lalu
dibagi dengan volume contoh plantaricin yang digunakan (ml) (Usmiati et al., 2009).
Aktivitas bakteriosin dalam Activity Unit dapat dihitung menggunakan persamaan
berikut :
Activity Unit (mm2/ml) = Lz-Ls
V
Keterangan :
Lz = Luas zona bening (mm2)
Ls = Luas sumur (mm2)
V = Volume contoh (ml)
16
Rancangan dan Analisis Data
Rancangan dan analisis data terdiri dari model rancangan percobaan
penelitian, metode statistik, perlakuan, peubah yang diamati, dan analisis data yang
digunakan pada penelitian ini. Rancangan dan analisis data yang digunakan
penelitian ini meliputi produksi plantaricin, ketahanan plantaricin terhadap pH asam,
dan uji antagonistik plantaricin terhadap kelima bakteri indikator.
Produksi Plantaricin
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)
dengan ulangan sebanyak tiga kali. Faktor perlakuan adalah galur Lactobacillus
plantarum, dengan empat taraf perlakuan (1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12). Analisis data
dilakukan secara deskriptif. Peubah yang diamati adalah nilai pH supernatan bebas
sel dan konsentrasi protein plantaricin hasil proses purifikasi. Model statistik
rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan berdasar pada Steel dan
Torrie (1995) adalah:
Yij = µ + Pi + €ij
keterangan:
Yij = nilai respon akibat pengaruh perlakuan pada taraf ke-i (i = perlakuan
empat jenis isolat L. plantarum yang berbeda) pada ulangan ke-j
µ
= nilai tengah umum
Pi
= pengaruh perlakuan galur L. plantarum pada taraf ke- i (galur 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12).
€ij
= pengaruh galat percobaan ke- i dan pada ulangan ke- j (1,2,3).
Ketahanan Plantaricin Terhadap pH Asam
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)
dengan ulangan sebanyak tiga kali. Faktor perlakuan adalah galur Lactobacillus
plantarum, dengan empat taraf perlakuan (1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12). Analisis data
dilakukan secara deskriptif.
Peubah yang diamati adalah konsentrasi protein
plantaricin hasil perlakuan pH asam (pH 4, 5, dan 6). Model statistik rancangan acak
lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan berdasar pada Steel dan Torrie (1995)
adalah:
17
Yij = µ + Pi + €ij
keterangan:
Yij = nilai respon akibat pengaruh perlakuan pada taraf ke-i (i = perlakuan
empat jenis isolat L. plantarum yang berbeda) pada ulangan ke-j
µ
= nilai tengah umum
Pi
= pengaruh perlakuan galur L. plantarum pada taraf ke- i (galur 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12).
€ij
= pengaruh galat percobaan ke- i dan pada ulangan ke- j (1,2,3).
Uji Antagonistik Plantaricin Terhadap Bakteri Indikator
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)
pola faktorial dengan ulangan sebanyak tiga kali, faktor perlakuan A terdiri dari
empat taraf (L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12) dan faktor perlakuan B terdiri
dari 3 taraf (pH 4, 5, dan 6). Peubah yang diamati adalah nilai diameter zona hambat
hasil uji antagonistik plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap bakteri
indikator. Model statistika yang digunakan untuk rancangan acak lengkap (RAL)
pola faktorial 4 x 3 dengan tiga kali ulangan berdasar pada Steel dan Torrie (1995)
adalah:
Yijk = µ + Ai + Bj+ (AB)ij + €ijk
keterangan:
Yijk = nilai respon (diameter zona hambat) pada ulangan ke-k dari kombinasi
perlakuan pada taraf ke-i (i = perlakuan empat galur L. plantarum yang
berbeda) dan taraf perlakuan ke-j (j= perlakuan pH asam)
µ
= nilai tengah umum.
Ai
= pengaruh perlakuan A yaitu penggunaan L. plantarum pada taraf ke- i
(galur 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12).
Bj
= pengaruh perlakuan B yaitu perlakuan pH asam pada taraf ke- j (pH 4,
5, dan 6).
ABij = pengaruh interaksi faktor perlakuan A pada taraf ke- i dengan faktor
perlakuan B pada taraf ke- j
€ijk = pengaruh galat percobaan yang berasal dari faktor perlakuan A taraf
ke- i dan faktor perlakuan B taraf ke- j pada ulangan ke- k (1,2,3).
18
Data diameter zona hambat diuji asumsi, apabila hasil yang didapatkan
memenuhi uji asumsi maka data dianalisis dengan analisis ragam. Bila hasil yang
diperoleh nyata maka dilanjutkan dengan uji Tukey (Mattjik dan Sumertajaya, 2002).
19
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian Kemurnian Bakteri L. plantarum dan Patogen
Penelitian diawali dengan tahap persiapan dan pemurnian kembali dari
keempat kultur bakteri asam laktat (BAL) yaitu Lactobacillus plantarum 1B1, 2B2,
1A5, dan 2C12, serta kelima bakteri indikator yaitu Staphylococcus aureus ATCC
25923, Bacillus cereus, Escherichia coli ATCC 25922, Salmonella enterica ser.
Typhimurium ATCC 14028, dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27852. Pengujian
yang dilakukan adalah uji pewarnaan Gram. Menurut Waluyo (2008), pewarnaan
Gram merupakan salah satu pewarnaan differensial dan prosedur penting dalam
identifikasi bakteri. Pewarnaan Gram memilahkan bakteri menjadi 2 kelompok,
yakni bakteri Gram positif dan Gram negatif. Penyebab perbedaan pewarnaan Gram
dimungkinkan karena komposisi dinding sel bakteri Gram positif berbeda dengan
bakteri Gram negatif. Dinding sel yang lebih tebal pada bakteri Gram positif
menyusut oleh perlakuan alkohol karena terjadi dehidrasi, meyebabkan pori-pori
dinding sel menutup sehingga mencegah larutnya kompleks zat warna ungu kristaliodium pada langkah pemucatan. Sedangkan bakteri Gram negatif memiliki
kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding sel, dan lipid tersebut dapat larut
dalam alkohol dan aseton. Larutnya lipid oleh zat pemucat diduga memperbesar poripori dinding sel yang menyebabkan proses pemucatan pada dinding sel bakteri Gram
negatif berlangsung lebih cepat (Waluyo, 2008; Beishir, 1991).
Karakteristik morfologis dari keempat isolat bakteri L. plantarum yang
didapatkan adalah bakteri dengan bentuk batang, memiliki susunan tunggal ataupun
berkelompok membentuk susunan rantai. Ray (2004) menyatakan bahwa, bakteri L.
plantarum merupakan bakteri Gram positif dengan sel berbentuk batang, tunggal
ataupun rantai panjang dan pendek, fakultatif anaerob, dan banyak digunakan dalam
proses pengolahan pangan. Ini didukung oleh penelitian sebelumnya oleh
Firmansyah (2009) yang menyatakan bahwa, L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan
2C12 merupakan bakteri yang berbentuk batang, Gram positif, mesofilik, dan hasil
uji katalase yang dilakukan berupa katalase negatif. Dari hasil perwarnaan, keempat
bakteri ini menunjukkan warna biru keunguan yang dapat disimpulkan bahwa bakteri
asam laktat ini tergolong kedalam bakteri Gram positif (Gambar 5).
(a)
(b)
(c)
(d)
Gambar 5. Hasil Pewarnaan Gram dan Morfologi Bakteri Lactobacillus. plantarum :
L. plantarum 1A5 (a); L. plantarum 1B1 (b); L. plantarum 2B2 (c); dan
L. plantarum 2C12 (d)
Bakteri indikator yang digunakan pada penelitian ini merupakan bakteri yang
tergolong kedalam bakteri pembusuk makanan dan patogen bagi manusia. Kelompok
bakteri ini juga sering ditemukan di dalam pangan yang telah terkontaminasi.
Staphylococcus aureus dan Salmonella enterica ser. Typhimurium merupakan
bakteri yang perlu mendapat perhatian khusus sebagai cemaran mikroba pada daging
menurut Badan Standarisasi Nasional (2000).
Kelima bakteri indikator yang digunakan mewakili tipe bakteri Gram positif
dan Gram negatif untuk pengujian aktivitas antimikrob bakteriosin. Penggunaan
kedua tipe Gram bakteri bertujuan untuk mengetahui spektrum penghambatan dari
plantaricin yang dihasilkan oleh keempat galur L. plantarum. Karakteristik
morfologis secara mikroskopis dan hasil pewarnaan Gram dari kelima bakteri
indikator dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 2. Bakteri indikator yang
didentifikasi sebagai bakteri Gram positif terdiri dari Staphylococcus aureus ATCC
25923 dan Bacillus cereus sedangkan bakteri indikator Gram negatif terdiri dari
Escherichia coli ATCC 25922, Salmonella enterica ser. Typhimurium ATCC 14028,
dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27852. Semua bakteri indikator memiliki
21
bentuk sel batang kecuali S. aureus ATCC 25923 yang memiliki bentuk kokus atau
bulat (Tabel 3).
Tabel 3. Morfologi dan Hasil Pewarnaan Gram Kelima Bakteri Indikator
Jenis
Hasil Foto Gram
Pewarnaan Gram Keterangan
Salmonella
enterica ser.
Typhimurium
ATCC 14028
Gram negatif
Batang, hasil
pewarnaan Gram
berwarna merah
Escherichia coli
ATCC 25922
Gram negatif
Batang, hasil
pewarnaan Gram
berwarna merah
Gram positif
Bulat, hasil
pewarnaan Gram
berwarna biru
keunguan
Bacillus cereus
Gram positif
Batang, hasil
pewarnaan Gram
berwarna biru
keunguan
Pseudomonas
aeruginosa
ATCC 27853
Gram negatif
Batang, hasil
pewarnaan Gram
berwarna merah
Staphylococcus
aureus ATCC
25923
22
Purifikasi Plantaricin
Nilai pH awal semua supernatan bebas sel dari keempat galur L. plantarum
berkisar 3,94±0,11 - 4,01±0,04. Nilai pH awal supernatan bebas sel untuk galur L.
plantarum 1A5 yang didapatkan adalah 4,01±0,04; L. plantarum 1B1 3,94±0,11; L.
plantarum 2B2 4,00±0,02; dan L. plantarum 2C12 3,98±0,01. Setelah proses
penetralan dilakukan, nilai pH supernatan bebas sel berkisar antara 5,87±0,12 –
6,17±0,31. Nilai pH awal yang rendah menunjukkan bahwa asam-asam organik telah
dibentuk oleh keempat galur L. plantarum yang termasuk kedalam bakteri asam
laktat (BAL).
Hasil kondisi asam yang mendekati nilai pH 4 pada pH awal, menunjukkan
L.plantarum cukup optimal dalam memproduksi bakteriosin. Todorov dan Dicks
(2005) menyatakan bahwa, produksi optimal bakteriosin dari L. plantarum terjadi
dalam fase pertumbuhan logaritmik awal, yang biasanya berada pada pH di atas 4,5.
Purifikasi plantaricin yang dilakukan terdiri dari tiga tahap pemurnian yaitu
purifikasi parsial bakteriosin dengan menggunakan ammonium sulfat, proses dialisis,
dan purifikasi dengan menggunakan Kromatogafi Kation Exchange. Semua tahap
pemurnian ini dilakukan agar mendapatkan nilai aktivitas antimikrob dari bakteriosin
yang lebih besar, serta tidak mendapat pengaruh lebih banyak oleh produk-produk
asam organik lain yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat (BAL) selain bakteriosin
(Abo-Amer, 2007; Todorov dan Dicks, 2005).
Pada saat proses purifikasi parsial dapat terlihat posisi dari endapan protein
berada di bagian atas atau melayang pada media supernatan bebas sel antimikrob.
Hal ini menunjukkan sifat protein presipitat bakteriosin yang hidrofobik. Hal ini
didukung oleh penelitian Abo-Amer (2007) yang menyebutkan bahwa, bakteriosin
yang dihasilkan oleh Lactobacillus plantarum AA135 memiliki sifat protein yang
hidrofobik. Cleveland et al. (2001) juga menyatakan bahwa, bakteriosin termasuk
nisin terdiri dari peptida kationik dan hidrofobik yang dapat membentuk pori pada
membran sel target. Nilai konsentrasi protein hasil purifikasi plantaricin dari
keempat galur L. plantarum diukur menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dan
dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 4.
23
Tabel 4. Nilai Konsentrasi Protein Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 Hasil
Proses Purifikasi
Konsentrasi Protein (mg/ml)
Galur L. plantarum
Presipitat
Bakteriosin
Ekstrak Kasar
Bakteriosin
Plantaricin
Murni
1A5
24,08±0,5
56,65±0,79
44,41±4,95
1B1
24,61±1,96
71,20±0,90
18,01±0,66
2B2
15,62±2,79
44,59±4,86
7,53±0,14
2C12
3,41±1,57
0,96±0,13
13,52±0,53
Nilai konsentrasi protein hasil purifikasi yang didapatkan meningkat (Tabel
4), kecuali pada ekstrak kasar bakteriosin 2C12 yang mengalami penurunan sebesar
71,85 %. Penurunan nilai konsentrasi protein plantaricin 2C12 pada ekstrak kasar
bakteriosin diduga akibat kontribusi konsentrasi protein dari media yang digunakan
telah berkurang pada saat proses dialisis berlangsung . Nilai konsentrasi protein
plantaricin 2C12 murni meningkat dibandingkan dengan tiga plantaricin lainnya.
Peningkatan nilai konsentrasi protein diduga akibat perbedaan tipe plantaricin 2C12
yang bukan merupakan tipe plantaricin W seperti tiga plantaricin lainnya.
Noonpakdee et al. (2009) menyatakan bahwa, plantaricin W merupakan tipe
plantaricin yang terdiri dari dua peptida untuk dapat aktif yaitu Plwα dan Plwβ.
Karakterisasi Plantaricin
Perlakuan pH asam
Faktor pH seringkali menjadi pertimbangan bagi bahan pengawet yang akan
digunakan pada bahan pangan, khususnya bagi pangan hasil peternakan dengan
kondisi pH rendah seperti daging sapi, ham, bakso, susu, butter, keju, dan lain-lain
(Jay, 2000). Karakterisasi plantaricin perlu dilakukan untuk mengetahui ketahanan
bakteriosin asal empat galur L. plantarum pada kondisi pH rendah (asam). Perlakuan
pH asam dilakukan dengan cara menurunkan nilai pH plantaricin murni hingga
mencapai nilai pH 4 dan pH 5, menggunakan asam HCl 1 M. Pemeriksaan nilai pH
dengan menggunakan pH universal disebabkan sampel plantaricin yang digunakan
terbatas, serta bertujuan untuk
menjaga sterilitas plantaricin dari kontaminan-
24
kontaminan. Nilai konsentrasi protein plantaricin 1A5 meningkat sebesar 15,94 %
pada perlakuan pH 5 dan meningkat 8 % pada perlakuan pH 4. Plantaricin 2B2 juga
terlihat meningkat sebesar 120,72 % pada perlakuan pH 5 dan 77,82 % pada
perlakuan pH 4. Nilai konsentrasi protein plantaricin 1B1 mengalami penurunan
sebesar 29,04 % pada perlakuan pH 5 dan sebesar 28,76 % pada perlakuan pH 4.
Konsentrasi protein plantaricin 2C12 juga menurun sebesar 29,50 % pada perlakuan
pH 5 dan sebesar 18,05 % pada perlakuan pH 4. Penurunan nilai konsentrasi protein
plantaricin diduga akibat terjadinya proses hidrolisis protein akibat perlakuan asam
(Cowan dan Talaro, 2009). Nilai konsentrasi protein plantaricin setelah mendapatkan
perlakuan asam dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai Konsentrasi Protein Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 Hasil
Perlakuan Asam
Konsentrasi Protein (mg/ml)
Galur L. plantarum
Plantaricin
Murni
Perlakuan pH 4
Perlakuan pH 5
1A5
44,41±4,95
51,49±7,56
48,32±8,83
1B1
18,01±0,66
12,78±1,14
12,83±1,60
2B2
7,53±0,14
16,62±0,81
13,39±0,13
2C12
13,52±0,53
10,44±0,39
11,08±0,19
Aktivitas Penghambatan Plantaricin terhadap Staphylococcus aureus
ATCC 25923
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa besarnya zona hambat pada uji
antagonistik terhadap bakteri indikator S.aureus ATCC 25923 tidak berbeda nyata
(P>0,05), serta tidak ada interaksi diantara perlakuan. Nilai rataan diameter zona
hambat karena perlakuan pH yang berbeda yang didapatkan berkisar antara
9,12±1,20 - 10,38±1,40 mm, dan berkisar antara 8,91±1,53 - 11,56±1,55 mm karena
perlakuan plantaricin yang berbeda (Tabel 6).
25
Tabel 6. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
terhadap S.aureus ATCC 25923
Galur L.
plantarum
Kontrol pH 6
Perlakuan pH 5
Perlakuan pH 4
Rata-rata
-------------------------------------(mm)---------------------------------------
1A5
10,27±1,29
9,24±1,04
9,16±0,49
9,56±0,94
1B1
9,57±1,26
8,74±1,53
8,41±1,80
8,91±1,53
2B2
9,71±1,45
8,98±1,82
9,17±1,89
9,29±1,72
2C12
11,96±1,58
12,99±2,45
9,74±0,62
11,56±1,55
Rata-rata
10,38±1,40
9,99±1,71
9,12±1,20
Keterangan: Masing-masing kolom yang sama menunjukkan tidak nyata (P>0,05)
*Diameter lubang sumur ± 5 mm (termasuk ke dalam zona hambat)
Jika dikategorikan sesuai dengan pendapat Pan et al. (2009), semua nilai
diameter zona hambat di atas 8 mm menunjukkan kekuatan aktivitas antimikrob
plantaricin termasuk kategori sedang, dan nilai diameter zona hambat di atas 11 mm
menunjukkan kekuatan aktivitas antimikrob kategori kuat yang diperlihatkan oleh
nilai rataan zona hambat plantaricin 2C12.
Nilai aktivitas penghambatan plantaricin terhadap bakteri indikator juga
ditampilkan dalam Activity Unit (AU), dimana 1 AU merupakan luas daerah
hambatan persatuan volum contoh plantaricin yang diuji (Usmiati et al., 2009).
Penurunan nilai rataan diameter zona hambat akibat perlakuan kondisi pH asam pada
S. aureus ATCC 25923 diikuti dengan penurunan nilai Activity Unit, kecuali pada
plantaricin 2C12 yang meningkat sebesar 23,40 % pada perlakuan pH 5. Rataan nilai
Activity Unit plantaricin terhadap bakteri indikator S. aureus ATCC 25923 dapat
dilihat secara lengkap pada Gambar 6.
26
Gambar 6. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator S. aureus
ATCC 25923 dalam Activity Unit (mm2/ml)
Aktivitas Penghambatan Plantaricin terhadap Bacillus cereus
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa besar zona hambat tidak
dipengaruhi (P>0,05) oleh perlakuan pH dan perlakuan plantaricin yang berbeda,
serta tidak ada interaksi di antara perlakuan. Nilai rataan diameter zona hambat yang
didapatkan pada uji antagonistik terhadap bakteri indikator B. cereus berkisar antara
8,62±0,57 - 9,26±0,67 mm karena perlakuan pH yang berbeda, dan berkisar antara
8,68±0,52 - 9,38±0,74 mm karena perlakuan plantaricin yang berbeda. Jika
dikategorikan sesuai dengan pendapat Pan et al. (2009), nilai rataan diameter zona
hambat di antara 8 mm hingga 11 mm menunjukkan kekuatan aktivitas antimikrob
dari plantaricin terhadap bakteri indikator B. cereus pada penelitian ini termasuk
kategori sedang (Tabel 7).
Aktivitas antimikrob plantaricin terhadap bakteri indikator S. aureus ATCC
25923 dan B. cereus menunjukkan bahwa plantaricin dapat menghambat bakteri
Gram positif. Cleveland et al. (2001) menyatakan bahwa, peptida atau protein
antimikrob yang diproduksi oleh bakteri disebut bakteriosin. Bakteriosin tersebut
disintesis di ribosom dan membunuh bakteri yang memiliki hubungan kekerabatan
dekat.
27
Tabel 7. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
terhadap Bacillus cereus
Galur L.
plantarum
Kontrol pH 6
Perlakuan pH 5
Perlakuan pH 4
Rata-rata
--------------------------------------(mm)-------------------------------------
1A5
10,13±1,08
8,92±0,71
9,10±0,43
9,38±0,74
1B1
9,25±0,27
8,42±0,90
8,37±0,39
8,68±0,52
2B2
9,09±0,75
8,63±0,61
8,38±0,74
8,70±0,70
2C12
8,57±0,59
9,28±1,37
8,64±0,71
8,83±0,89
Rata-rata
9,26±0,67
8,81±0,90
8,62±0,57
Keterangan: Masing-masing kolom yang sama menunjukkan tidak nyata (P>0,05)
*Diameter lubang sumur ± 5 mm (termasuk ke dalam zona hambat)
Penelitian Enan et al. (1996) menyatakan bahwa, plantaricin UG1 yang
diproduksi oleh L.plantarum UG1 (diisolasi dari sosis kering) memperlihatkan
aktivitas antimikrob terhadap bakteri Gram positif Lactococcus lactis MG 1614.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa plantaricin UG1 masih aktif dalam
menghambat bakteri indikator walaupun telah mendapat perlakuan asam hingga nilai
pH 3,5. Aktivitas penghambatan juga terlihat menurun sesuai dengan menurunnya
nilai pH, fenomena sama yang juga terjadi pada penelitian kali ini.
Gambar 7. Foto Diameter Zona Hambat Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri
Indikator B. cereus.
Nilai rataan Activity Unit plantaricin pH 6 (kontrol) terlihat menurun pada
perlakuan kondisi pH asam, kecuali pada plantaricin 2C12 dimana Activity Unit
meningkat pada perlakuan pH 5 sebesar 28,25 % dan meningkat sebesar 2,57 % pada
perlakuan pH 4. Rataan nilai Activity Unit plantaricin terhadap bakteri indikator B.
cereus dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 8.
28
Gambar 8. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator B. cereus
dalam Activity Unit (mm2/ml).
Aktivitas Penghambatan Plantaricin terhadap Salmonella enterica
ser. Typhimurium ATCC 14028
Perlakuan pH asam dan plantaricin yang berbeda tidak mempengaruhi
penghambatan terhadap bakteri indikator S. Typhimurium ATCC 14028. Hasil dari
analisis ragam menunjukkan bahwa besar zona hambat yang terbentuk tidak berbeda
nyata (P>0,05), serta tidak ada interaksi di antara perlakuan. Nilai rataan diameter
zona hambat yang didapatkan pada uji antagonistik terhadap bakteri indikator S.
Typhimurium ATCC 14028 berkisar antara 8,42±0,86 - 9,44±1,19 mm karena
perlakuan pH yang berbeda, dan berkisar antara 8,59±1,04 - 9,24±1,38 mm karena
perlakuan plantaricin yang berbeda. Aktivitas bakteriosin pada bakteri indikator S.
Typhimurium ATCC 14028 menunjukkan bahwa plantaricin dapat menghambat
bakteri Gram negatif, ini merupakan fenomena yang jarang terjadi. Hasil
menunjukkan bahwa bakteriosin yang dihasilkan oleh plantaricin yang didapatkan
pada penelitian ini memiliki spektrum penghambatan yang luas. Jika dikategorikan
sesuai dengan pendapat Pan et al. (2009), nilai rataan diameter zona hambat di antara
8 mm hingga 11 mm menunjukkan kekuatan aktivitas antimikrob dari plantaricin
terhadap S. Typhimurium ATCC 14028 pada penelitian ini termasuk kategori sedang
(Tabel 8).
29
Tabel 8. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
terhadap S. Typhimurium ATCC 14028
Galur L.
plantarum
Kontrol pH 6
Perlakuan pH 5 Perlakuan pH 4
Rata-rata
-----------------------------------------(mm)----------------------------------
1A5
10,20±1,95
8,87±1,05
8,66±1,15
9,24±1,38
1B1
9,51±1,07
8,24±1,25
8,01±0,81
8,59±1,04
2B2
9,13±1,19
8,57±0,94
8,23±1,10
8,64±1,08
2C12
8,91±0,55
8,85±0,26
8,77±0,36
8,84±0,39
Rata-rata
9,44±1,19
8,63±0,86
8,42±0,86
Keterangan: Masing-masing kolom yang sama menunjukkan tidak nyata (P>0,05)
*Diameter lubang sumur ± 5 mm (termasuk ke dalam zona hambat)
Penurunan nilai rataan Activity Unit plantaricin terbesar pada bakteri S.
Typhimurium ATCC 14028 terlihat pada plantaricin 1B1 yang mengalami
penurunan sebesar 33,68 % pada karena perlakuan pH 5 dan sebesar 40,24 % karena
perlakuan pH 4. Rataan nilai Activity Unit (AU) terhadap bakteri indikator S.
Typhimurium ATCC 14028 dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 9.
Gambar 9. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator S.
Typhimurium ATCC 14028 dalam Activity Unit (mm2/ml).
30
Aktivitas Penghambatan Plantaricin terhadap Escherichia coli
ATCC 25922
Aktivitas penghambatan oleh plantaricin terhadap bakteri indikator
Escherichia coli ATCC 25922 dapat dilihat pada Gambar 10. Zona hambat disekitar
sumur terbentuk akibat adanya pengaruh dari plantaricin.
Gambar 10. Foto Diameter Zona Hambat Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri
Indikator E. coli ATCC 25922.
Hasil uji non parametrik Kruskall-Wallis memperlihatkan bahwa ada
perbedaan (P<0,05) antara rataan diameter zona hambat yang dihasilkan karena
perlakuan pH berbeda. Perlakuan pH 6 (kontrol) menunjukkan aktivitas
penghambatan terbesar diantara yang lainnya terhadap bakteri indikator E. coli
ATCC 25922 dengan rataan diameter zona hambat sebesar 9,25±1,10 mm. Hasil
kontrol tidak berbeda (P>0,05) dengan rataan diameter zona hambat perlakuan pH 5
sebesar 8,30±0,90 mm, akan tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan pH 4
sebesar 8,02±0,64 mm. Penurunan aktivitas penghambatan yang mulai terlihat pada
perlakuan pH 4 terhadap bakteri indikator diduga akibat plantaricin yang merupakan
protein, mengalami proses denaturasi sehingga berakibat pada ketidakstabilan
struktur protein. Hasil tersebut dapat mengindikasikan bahwa plantaricin asal
keempat galur L. plantarum akan berkurang aktivitas antimikrobnya terhadap E. coli
ATCC 25922 pada nilai pH 4 sehingga penggunaan pada bahan pangan yang
memiliki kadar pH tersebut atau lebih rendah perlu untuk dipertimbangkan. Cowan
dan Talaro (2009) menyatakan bahwa panas, asam, alkohol, dan beberapa zat
desinfektan dapat membuat ikatan rantai
protein menjadi tidak stabil sehingga
menyebabkan molekul protein menjadi tidak berfungsi.
31
Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan tidak ada perbedaan (P>0,05) antara
zona hambat yang dihasilkan plantaricin berbeda. Nilai kisaran diameter zona
hambat adalah sebesar 8,02±0,64 - 9,25±1,10 mm. Nilai rataan diameter zona hambat
terhadap bakteri indikator E. coli ATCC 25922 berada antara 8-11 mm sehingga jika
dikategorikan sesuai dengan Pan et al. (2009), maka kekuatan aktivitas antimikrob
termasuk kategori sedang, kecuali plantaricin 2C12 dengan rataan 7,95±0,32 mm
yang termasuk kategori lemah (Tabel 9).
Tabel 9. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
terhadap E. coli ATCC 25922
Galur L.
plantarum
Kontrol pH 6
Perlakuan pH 5
Perlakuan pH 4
Rata-Rata
---------------------------------------(mm)------------------------------------
1A5
10,58±2,93
8,87±1,06
8,62±0,79
9,36±1,59
1B1
9,29±0,45
8,26±1,02
7,99±0,84
8,51±0,77
2B2
8,97±0,79
7,95±1,02
7,89±0,73
8,27±0,84
2C12
8,16±0,23
8,12±0,51
7,58±0,22
7,95±0,32
Rata-Rata
9,25±1,10 a
8,30±0,90 ab
8,02±0,64 b
Keterangan: Superskrip huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda menunjukkan hasil yang
berbeda nyata (P<0,05)
*Diameter lubang sumur ± 5 mm (termasuk ke dalam zona hambat)
Nilai rataan Activity Unit plantaricin pH 6 (kontrol) terhadap bakteri
indikator E. coli ATCC 25922 terlihat menurun setelah mendapatkan perlakuan
kondisi pH asam. Penurunan nilai rataan Activity Unit terbesar terjadi pada
plantaricin 1A5 yang mengalami penurunan aktivitas sebesar 41,34 % karena
perlakuan pH 5 dan menurun sebesar 46,40 % karena perlakuan pH 4. Rataan nilai
Activity Unit plantaricin terhadap bakteri indikator E. coli ATCC 25922 dapat dilihat
secara lengkap pada Gambar 11.
32
Gambar 11. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator E. coli
ATCC 25922 dalam Activity Unit (mm2/ml).
Aktivitas Penghambatan Plantaricin terhadap Pseudomonas aeruginosa
ATCC 27853
Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan nilai rataan diameter zona hambat
dengan perlakuan pH berbeda terhadap bakteri indikator P. aeruginosa ATCC 27853
tidak berbeda nyata (P>0,05). Kisaran nilai rataan zona hambat yang terbentuk
karena perlakuan pH berbeda adalah sebesar 8,97±0,73 - 11,18±1,85 mm yang
dikategorikan oleh Pan et al., (2009) kekuatan aktivitas antimikrob termasuk kategori
sedang hingga kuat.
Hasil uji Kruskall-Wallis pada nilai rataan diameter zona hambat keempat
plantaricin berbeda nyata (P<0,05). Plantaricin 2C12 menunjukkan aktivitas
antimikrob yang kuat (Pan et al., 2009) terhadap bakteri indikator P. aeruginosa
ATCC 27853 dengan nilai rataan diameter zona hambat sebesar 13,56±3,03 mm.
Nilai rataan diameter zona hambat plantaricin 2C12 tidak berbeda dengan zona
hambat yang dihasilkan oleh plantaricin 1A5, akan tetapi berbeda nyata (P<0,05)
dengan rataan zona hambat plantaricin 1B1 dan plantaricin 2B2. Nilai diameter
zona hambat plantaricin 1A5, 2B2, dan 1B1 tidak berbeda (P>0,05) dan nilai
diameter zona hambat plantaricin 1B1 dan 2B2 berbeda nyata (P<0,05) dengan
plantaricin 2C12. Aktivitas plantaricin dari keempat strain L. plantarum terhadap
33
bakteri indikator P.aeruginosa ATCC 27853 disajikan secara lengkap pada Tabel
10.
Tabel 10. Nilai Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
terhadap P. aeruginosa ATCC 27853
Galur L.
plantarum
Kontrol pH 6
Perlakuan pH 5 Perlakuan pH 4
Rata-Rata
--------------------------------------(mm)---------------------------------------
1A5
10,10±1,61
9,16±0,72
8,62±0,56
9,29±0,96 ab
1B1
9,14±0,60
8,38±0,65
8,35±0,97
8,62±0,74 b
2B2
9,05±0,73
8,43±0,81
8,12±0,44
8,53±0,66 b
2C12
16,41±4,46
13,49±3,69
10,78±0,95
13,56±3,03 a
Rata-rata
11,18±1,85
9,86±1,47
8,97±0,73
Keterangan: Superskrip huruf yang berbeda pada baris yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda
nyata (P<0,05)
*Diameter lubang sumur ± 5 mm (termasuk ke dalam zona hambat)
Plantaricin 2C12 memperlihatkan aktifitas penghambatan terbesar terhadap
P. aeruginosa ATCC 27853. Ramos et al. (2010) menyatakan bahwa, supernatan
dari Lactobacillus dapat mengurangi kuota sinyal gabungan (acyl-homoserinelactones) yang diproduksi oleh P. aeruginosa untuk pembentukan lapisan biofilm.
Biofilm merupakan lapisan alginate exopolysaccharida (sebuah polymer dari asam
guluronic dan mannuronic) yang melindungi bakteri dari phagocytes, beberapa
antibiotik, dan desinfektan. Penelitian Abo-Amer (2007) juga menyatakan hasil yang
menarik dimana P. aeruginosa sangat sensitif terhadap supernatan bebas sel L.
plantarum AA135 (yang telah dinetralkan menjadi pH 6 dan telah diberi perlakuan
katalase untuk menghilangkan aktivitas antagonistik dari hidrogen peroksida) dan
nilai aktivitas penghambatan lebih besar bila dibandingkan dengan penghambatan
terhadap bakteri indikator Gram negatif lain yaitu Shigella sp. dan S. Typhimurium.
Nilai rataan Activity Unit plantaricin terbesar terhadap bakteri indikator P.
aeruginosa ATCC 27853 ditunjukan oleh plantaricin 2C12 pH 6 (kontrol), dengan
nilai penghambatan sebesar 5054,62 mm2/ml. Nilai rataan Activity Unit menurun
setelah mendapatkan perlakuan kondisi pH asam. Penurunan Aktivitas sebesar 35,55
% karena perlakuan pH 5 dan menurun sebesar 64,32 % karena perlakuan pH 4.
34
Rataan nilai Activity Unit plantaricin terhadap bakteri indikator P. aeruginosa ATCC
27853 dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 12.
Gambar 12. Diagram Hasil Uji Antagonistik terhadap Bakteri Indikator P.
aeruginosa ATCC 27853 dalam Activity Unit (mm2/ml).
Aktivitas penghambatan pada bakteri indikator S. Typhimurium ATCC
14028, E. coli ATCC 25922 , dan P. aeruginosa ATCC 27853 menunjukkan bahwa
plantaricin asal keempat galur L. plantarum dapat menghambat bakteri Gram
negatif. Beberapa penelitian sebelumnya juga melaporkan bahwa bakteriosin yang
diproduksi oleh BAL juga memperlihatkan aktivitas penghambatan terhadap bakteri
Gram negatif (Cleaveland et al., 2001). Gong et al. (2010) menyatakan bahwa, pada
plantaricin MG yang diproduksi oleh L. plantarum KLDS1.0391 (diisolasi dari krim
fermentasi tradisional China “Jiaoke”) menunjukkan aktivitas penghambatan yang
luas melawan bakteri Gram positif dan Gram negatif termasuk S. aureus, L.
monocytogenes, S. Typhimurium, dan E. coli. Plantaricin MG juga dinyatakan stabil
pada panas (30 menit pada suhu 1210 C) dan masih aktif sesudah diinkubasi pada pH
2 - pH 10 yang diujikan pada bakteri indikator S. Typhimurium 14028.
35
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Karakteristik morfologis keempat galur L. plantarum memiliki bentuk batang
dan merupakan bakteri Gram positif. Karakteristik morfologis kelima bakteri
indikator berbentuk batang kecuali Staphylococcus aureus ATCC 25923 yang
memiliki bentuk bulat. Semua plantaricin asal empat galur Lactobacillus plantarum
(L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12) menunjukkan aktivitas antimikrob
walaupun telah mendapatkan perlakuan pH asam, yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri indikator Gram positif yaitu Staphylococcus aureus ATCC
25923 dan Bacillus cereus; serta
Gram negatif yaitu Pseudomonas aeruginosa
ATCC 27853, Salmonella enterica ser. Typhimurium ATCC 14028, dan Escherichia
coli ATCC 25922. Kekuatan aktivitas antimikrob dari keempat plantaricin
menunjukkan aktivitas kekuatan sedang dalam melakukan penghambatan, kecuali
plantaricin 2C12 yang menunjukan aktivitas kekuatan kuat pada bakteri S. aureus
ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 serta menunjukan aktivitas kekuatan
lemah pada E. coli ATCC 25922. Spektrum penghambatan yang luas dan ketahanan
yang baik pada kondisi pH asam mengindikasikan bahwa plantaricin 1A5, 1B1, 2B2,
dan 2C12 memiliki potensi untuk dapat diaplikasikan sebagai bahan biopreservatif
pada produk pangan, khususnya pangan dari produk peternakan yang memiliki pH
rendah.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk:
1. Mengetahui kestabilan plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 pada nilai pH yang
lebih rendah.
2. Menemukan pengganti media pertumbuhan L. plantarum yang lebih murah serta
mudah untuk didapat agar meminimalkan biaya produksi, sehingga produk
plantaricin dapat lebih terjangkau.
3. Menganalisis keamanan plantaricin asal empat galur L. plantarum sebagai
biopreservatif yang aman.
36
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
baik. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
beserta para keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si.
dan Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si. yang telah membimbing, mengarahkan, meluangkan
waktu serta memberi semangat kepada penulis, mulai saat penyusunan proposal,
selama penelitian berjalan dan penulisan skripsi hingga ujian akhir sarjana. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada Ir. Zulfikar Musa, M.S. dan Dr. Rudi Afnan S.Pt.,
M.Sc.Agr selaku pembimbing akademik, kepada Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri
M.Agr.Sc selaku dosen penguji seminar atas masukan-masukannya, dan kepada
Zakiah Wulandari STP., M.Si dan Dr. Ir. Asep Sudarman selaku dosen penguji
sidang atas koreksi dan sarannya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayah Afrizal Musa, B.A. dan Ibu
Masitha S.Pd yang senantiasa memberikan kasih sayang, semangat, dukungan penuh
secara materil dan selalu mendoakan yang terbaik untuk keberhasilan penulis.
Terima kasih kepada kakak Ferson, Fresh, Fandi, dan Adik Ridho Am Kurniawan
atas segala dukungan dan doa yang selalu mengalir dari pertama masuk hingga
penyelesaian studi di IPB. Terima kasih kepada Kriswindya Tasha atas doa,
dukungan dan semangatnya selama ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada teman seperjuangan Grup
Plantaricin (Gilang Ayu N, Ade Fuziawan, Indri Septiani, Tri Santi M, Anis Usfah
PJ, Handa Habibullah S, Khairul Bariah, dan Dede Supriatna) serta Ibu Devi Murtini
S.Pt dan Ebi atas bantuannya selama penelitian, teman senasib dan seperjuangan
Papa Rabitts (Gilang SP, Fahri WN, Ari P), M Sarwar Khan, Wulan WI, Ribka,
seluruh warga IPTP 44, dan teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu,
atas segala dukungan, keceriaan, kebersamaan, perhatian, nasehat, kritik dan saran
yang selalu diberikan. Terakhir Penulis ucapakan terima kasih kepada civitas
akademika Fakultas Peternakan IPB. Semoga skripsi ini berguna di masa depan
khusus nya bagi dunia peternakan.
37
DAFTAR PUSTAKA
Abo-Amer, A. E. 2007. Characterization of a bacteriocin-like inhibitory substance
produced by Lactobacillus plantarum isolated from egyptian home-made
yogurt. J. Sci. Asia 33: 313-319.
Arief, I. I., R. R. A. Maheswari, & T. Suryati. 2007. Isolasi dan karakterisasi bakteri
asam laktat dari daging sapi lokal di pasar tradisional daerah Bogor. Laporan
Penelitian Hibah Bersaing XIII/3. LPPM-IPB.
Ayuningtyas, G. 2012. Karakterisasi plantaricin asal empat galur Lactobacillus
plantarum bedasarkan sensitivitasnya terhadap enzim tripsin. Skripsi.
Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Badan Standarisasi Nasional. 2000. Standar Nasional Indonesia 01-6366-2000. Batas
Maksimum Cemaran Mikroba pada Daging (CFU/g). Badan Standarisasi
Nasional, Jakarta.
Beishir, L. 1991. Microbiology in Practice: A Self-Instructional Laboratory Course,
Fifth Edition. HarperCollins Publishers Inc. New York 10022.
Cleveland, J., T. J. Montville, I. F. Nes, & M. L. Chikindas. 2001. Bacteriocins :
safe, natural antimicrobials for food preservation. International J. Food
Microb. 71: 1-20.
Cowan, M. K., & K. P. Talaro. 2009. Microbiology : A Systems Approach.
McGraw-Hill. New York 10020.
Enan, G., A. A. El-Essawy, M. Uyttendaele, & J. Debevere. 1996. Antibacterial
activity of Lactobacillus plantarum UG1 isolated from dry sausage:
characterization, production and bactericidal action of plantaricin UG1.
International J. Food Microb. 30: 189-215.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Firmansyah, D. 2009. Profil fenotipik isolat bakteri asam laktat
asal daging sapi. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi
Peternakan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Gong, H. S., X. C. Meng, & H. Wang. 2010. Plantaricin MG active againts Gramnegative bacteria produced by Lactobacillus plantarum KLDS1.0391 isolated
from “Jiaoke”, a traditional fermented cream from China. J. Food Control 21:
89-96.
Hata, T., R. Tanaka., & S. Ohmomo. 2010. Isolation and characterization of
plantaricin ASM1: A new bacteriocin produced by Lactobacillus plantarum
A-1. J. Food Microb. 137 : 94-99.
Jay, J. M. 2000. Modern Food Microbiology. 6th Edition. Aspen Publishers, Inc.
Gaithersburg, Maryland.
Kusmiati, & A. Malik. 2002. Aktivitas bakteriosin dari bakteri Leuconostoc
mesenteroides Pbac1 pada berbagai media Jurnal Makara Seri Kesehatan.
Sistem Informasi Jurnal Ilmiah UI (Sijuri). http://Journal.ui.ac.id. [5 April
2011 ]
38
Mattjik A. A. & M. Sumertajaya. 2002. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi
SAS dan Minitab. Jilid I. Edisi Kedua. IPB Press, Bogor.
Noonpakdee, W., P. Jumriangrit, K. Wittayakom, J. Zendo, J. Nakayama, K.
Sonomoto, S. panyim. 2009. Two-peptide bacteriocin from Lactobacillus
plantarum PMU 33 strain isolated from som-fak, a Thai low salt fermented
fish product. J. Molec. Bio. and Biotechnol. Vol. 17 (1): 19-25
Ogunbanwo, S. T., A. I. Sanni, & A. A. Onilude. 2003. Characterization of
bacteriocin produced by Lactobacillus plantarum F1 and Lactobacillus brevis
OG1. Afric. J. Biotechnol Vol. 2 (8): 219-227. Ibadan. Nigeria
Pan, X., F. Chen, T. Wu, H. Tang, & Z. Zhao. 2009. The acid, bile tolerance and
antimicrobial property of Lactobacillus acidophilus NIT. J. Food Control 20 :
598-602.
Pelczar, M. J. & E.C.S. Chan. 2008, Dasar-Dasar Mikrobiologi 2, UI Press, Jakarta
Ramos A.N., N. Gobbato, M. Rachid, L. Gonzales, O. Yantorno, J. C. Valdes. 2010.
Effect of Lactobacillus plantarum and Pseudomonas aeruginosa culture
supernatants on polymorphonuclear damage and inflammatory response. J.
Int Immunopharmacol 2010 (10): 247-251.
Ray, B. 2004. Fundamental Food Microbiology. 3rd Edition. CRC Press Boca Raton,
New York, Washington D.C.,London.
Sapatnekar, N. M., S. N. Patil, & B. A. Aglave. 2010. Extraction of bacteriocin and
study of its antagonistic assay. International J. Biotechnol and Biochem (6):
865-870.
Savadogo, A., C. A. T. Ouattara, I. H. N. Bassole, & A. S. Traore. 2004.
Antimicrobial activities of lactic acid bacteria strains isolated from burkina
faso fermented milk. Pakistan J. Nutrition 3 (3): 174-179.
Steel, R. G. D. & J. H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu
Pendekatan Biometri Edisi kedua. Terjemahan Bambang S. PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Syahniar, T. M. 2009. Produksi dan karakterisasi bakteriosin asal Lactobacillus
plantarum 1A5 serta aktivitas antimikrobnya terhadap bakteri patogen.
Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Todorov, S. D. & L. M. T. Dicks. 2005. Effect of growth medium on bacteriocin
production by Lactobacillus plantarum ST 194BZ, a strain isolated from
boza. J. Food Technol. Biotechnol 43 (2): 165-173.
Torkar, K. G. & B. M. Bojana. 2003. Partial characterisation of bacteriocins
produced by Bacillus cereus isolates from milk and milk products. J. Food
Technol. Biotechnol. 41 (2) 121–129.
Tortora G. J., B. R. Funke, & C. L. Case. 2006. Microbiology an Introduction. 9th
Edition. Pearson Education, Inc., Publishing as Benjamin Cummings, San
Francisco.
39
Usmiati S. & R. R. A. Maheswari. 2009. Pengaruh penggunaan bakteriosin dari
Lactobacillus sp. Galur SCG 1223 terhadap kualitas mikrobiologi daging sapi
segar. JITV vol 14 (2): 150-166.
Waluyo L. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. UMM Press,
Malang.
Wirahadikusumah, M. 2008. Biokimia Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. Cetakan
Ketujuh. Penerbit ITB, Bandung.
http//www.science.smith.edu/departments/Biochem_353/Amsulfate.htm [5 Februari
2011]
40
LAMPIRAN
41
Lampiran 1. Analisis Ragam Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 terhadap S.Typhimurium ATCC 14028
Sumber Keragaman
Derajat
Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
F
P
Perlakuan pH
2
0,012652
0,006326
2,91
0,074
Isolat BAL
3
0,004302
0,001434
0,66
0,585
Perlakuan pH*Isolat
BAL
6
0,004359
0,000726
0,33
0,912
Galat
24
0,052168
0,002174
Total
35
0,073480
Lampiran 2. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 dengan Perlakuan pH terhadap E. coli
ATCC 25922
Perlakuan
N
Nilai Tengah
Rangking
Z
pH 4
12
7,670
13,1
-2,18
pH 5
12
8,280
17,4
-0,45
pH 6
12
9,065
25,0
2,63
Total
36
H=7,94
db=2
18,5
p=0,019
Uji lanjut All-Pairwise Comparisons (p=0,05)
PERLAKUAN
Rataan
Homogeneous Groups
3
2
1
25.042
17.375
13.083
A
AB
B
42
Lampiran 3. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap E. coli ATCC 25922
Perlakuan
N
Nilai Tengah
Rangking
Z
L. plantarum 1B1
9
8,80
19,4
0,29
L. plantarum 2B2
9
8,140
17,3
-0,38
L. plantarum 1A5
9
8,820
24,6
1,99
L. plantarum 2C12
9
7,980
12,7
-1,90
Total
36
H=5,85
db=3
18,5
p=0,119
Lampiran 4. Analisis Ragam Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 terhadap S. aureus ATCC 25923
Sumber Keragaman
Derajat
Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
F
P
Perlakuan pH
2
9,947
4,974
2,14
0,140
Isolat BAL
3
38,111
12,704
5,45
0,005
Perlakuan pH*Isolat
BAL
6
11,933
1,989
0,85
0,542
Galat
24
55,908
2,329
Total
35
115,899
Lampiran 5. Analisis Ragam Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5, 1B1,
2B2, dan 2C12 terhadap B.cereus
Sumber Keragaman
Derajat
Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
F
P
Perlakuan pH
2
2,5460
1,2730
2,16
0,138
Isolat BAL
3
2,9602
0,9867
1,67
0,200
Perlakuan pH*Isolat
BAL
6
3,1340
0,5223
0,88
0,521
Galat
24
14,1765
0,5907
Total
35
22,8168
43
Lampiran 6. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 dengan Perlakuan pH terhadap P.
aeruginosa ATCC 27853
Perlakuan
N
Nilai Tengah
Rangking
Z
pH 4
12
8,625
14,8
-1,51
pH 5
12
9,125
17,3
-0,50
pH 6
12
9,61
23,5
2,01
Total
36
H=4,39
18,5
db=2
p=0,111
Lampiran 7. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Plantaricin 1A5,
1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap P. aeruginosa ATCC 27853
Perlakuan
N
Nilai Tengah
Rangking
Z
L. plantarum 1B1
9
8,55
13,0
-1,81
L. plantarum 2B2
9
8,33
11,8
-2,21
L. plantarum 1A5
9
9,14
18,4
-0,02
L. plantarum 2C12
9
11,58
30,80
4,04
Total
36
H=18,34
db=3
18,5
p=0,0004
Uji Lanjut All-Pairwise Comparisons (p=0,05)
Galur L. plantarum
Rataan
Homogeneous Groups
4
30.778
A
3
18.444
AB
1
13.000
B
2
11.778
B
44
Lampiran 8. Gambar Proses Purifikasi Plantaricin 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
Purifikasi Parsial
Dialisis
Kromatografi
Plantaricin Murni
Lampiran 9. Gambar Zona Hambat Plantaricin Terhadap Bakteri Indikator
45
Download