18 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil yang diperoleh pada

advertisement
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini diawali dengan pemeriksaan
karakteristik morfologi dan kemurnian isolat bakteri yang digunakan. Isolat bakteri
yang digunakan adalah BAL indigenous daging sapi yaitu bakteriosin asal L. plantarum
1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 serta bakteri patogen indikator yang terdiri atas bakteri
Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028, E. coli ATCC 25922, S. aureus
ATCC 25923, B. cereus, dan P. aeruginosa ATCC 27853. Karakteristik morfologis
yang diamati meliputi bentuk dan susunan sel-sel bakteri secara mikroskopik, dilakukan
dengan bantuan pewarnaan Gram.
Pemeriksaan Kemurnian Isolat Bakteri Asam Laktat dan Bakteri Patogen
Indikator
Pemeriksaan kemurnian Bakteri Asam Laktat (BAL) merupakan cara untuk
memastikan bahwa bakteri yang akan diuji merupakan kultur murni BAL hasil isolasi
dengan mengetahui karakteristik masing-masing kultur berdasarkan sifat yang tampak
pada setiap bakteri. Karakteristik tersebut berdasarkan profil fenotip seperti berdasarkan
dinding sel bakteri melalui pewarnaan Gram serta bentuk dari masing-masing isolat
BAL yang sudah diisolasi sebelumnya dari daging sapi yang beredar di Bogor
(Hidayati, 2006).
Morfologi Sel
Konfirmasi bakteri uji yang selanjutnya diuji adalah morfologi sel. Sebanyak
empat BAL dan lima bakteri patogen indikator dikarakterisasi berdasarkan morfologi
selnya untuk mengetahui bentuk bakteri dari masing-masing isolat menggunakan
mikroskop. Fardiaz (1992) menyatakan bahwa berdasarkan bentuk morfologinya bakteri
dibagi menjadi tiga golongan yaitu golongan batang (basil), bulat (kokus), dan golongan
spiral.
Hasil pengamatan morfologi sel empat isolat BAL yaitu 1A5, 1B1, 2B2 dan
2C12 adalah bakteri dengan bentuk batang (basil) dengan susunan tunggal atau pendek.
Isolat ini merupakan kelompok bakteri asam laktat genus Lactobacillus (Fardiaz, 1992).
Menurut Buckle et al (2007), bakteri E. coli, Salmonella dan P. aeruginosa tergolong
bakteri Gram negatif karena memiliki ciri-ciri morfologi yaitu berbentuk batang,
bergerak, dan bersifat fakultatif anaerob. Bakteri S. aureus merupakan bakteri Gram
18
positf dengan ciri-ciri morfologi yaitu berbentuk kokus dan berkelompok menyerupai
buah anggur, tidak bergerak, dan tidak berspora (Holt et al., 1994). B. cereus juga
merupakan bakteri Gram positif dengan ciri-ciri morfologi yaitu berbentuk batang dan
merupakan bakteri gram positif yang memiliki spora (Ray, 2000). Karakteristik keempat
isolat BAL dan bakteri patogen indikator dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 serta Bakteri Patogen
Indikator Berdasarkan Uji Morfologi dan Pewarnaan Gram
Bakteri
Pewarnaan Gram
Morfologi Bentuk dan Susunan
L. plantarum 1A5
Positif
Batang, susunan tunggal dan
berkoloni rantai pendek
L. plantarum 1B1
Positif
Batang, susunan tunggal dan
berkoloni rantai pendek
L. plantarum 2B2
Positif
Batang, susunan tunggal dan
berkoloni rantai pendek
L. plantarum 2C12
Positif
Batang, susunan tunggal dan
berkoloni rantai pendek
Salmonella enteritidis ser.
Typhimurium ATCC 14028
Negatif
Batang tunggal dan berkoloni
E. coli ATCC 25922
Negatif
Berbentuk batang, bergerak
S. aureus ATCC 25923
Positif
Bulat tunggal dan berkoloni
seperti buah anggur
P. aeruginosa ATCC 27853
Negatif
Batang, susunan tunggal dan
berkoloni rantai pendek
Positif
Batang, susunan tunggal dan
berkoloni serta terdapat kantung
spora
B. cereus
Pewarnaan Gram merupakan metode uji untuk mengetahui makromolekul
dinding sel setiap isolat bakteri uji dan bakteri indikator. Bakteri berdasarkan reaksi
pewarnaan Gram dibedakan menjadi bakteri Gram positif dan Gram negatif. Sebanyak
empat isolat bakteri asam laktat dan lima bakteri patogen indikator dilakukan pengujian
pewarnaan Gram. Pewarnaan Gram dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik
morfologis dan kemurnian kultur bakteri yang digunakan. Karakteristik morfologis
Lactobacillus sp. tergolong bakteri Gram positif yang mempunyai bentuk batang
19
bervariasi dari panjang dan ramping sampai kokobacilus pendek (Pelczar dan Chan,
2005). Hasil pengamatan morfologi dan pewarnaan Gram secara mikroskopis dari
bakteri L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 serta bakteri patogen indikator dapat
dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.
(A)
(C)
(B)
(D)
Gambar 1. Morfologi dan Hasil Pewarnaan Gram L. plantarum : (A) L. plantarum 1A5;
(B) L. plantarum 1B1; (C) L. plantarum 2B2; (D) L. plantarum 2C12
20
(A)
(B)
(C)
(D)
(E)
Gambar 2. Morfologi dan Hasil Pewarnaan Gram Bakteri – Bakteri Patogen Indikator:
(A) Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028; (B) E. coli
ATCC 25922; (C) S. aureus ATCC 25923; (D) P. auruginosa ATCC
27853; (E) B. cereus
21
Hasil yang diperoleh berdasarkan pewarnaan Gram, ternyata bakteri L.
plantarum 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 serta bakteri patogen indikator S. aureus ATCC
25923 dan B. cereus yang digunakan merupakan bakteri Gram positif. Hal ini
disebabkan keenam bakteri ini tetap mempertahankan warna ungu Kristal violet
meskipun telah diberi alkohol 95% dan zat warna lain yaitu safranin. Bakteri
Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028, E. coli ATCC 25922 dan P.
aeruginosa ATCC 27853 merupakan Gram negatif. Hal ini disebabkan ketiga bakteri
tersebut tidak dapat mempertahankan warna ungu Kristal violet setelah diberi alkohol
95% dan bakteri ini menyerap warna merah yang berasal dari zat warna safranin.
Produksi Plantarisin
Produksi plantarisin dilakukan dengan menggunakan inducer berupa kombinasi
NaCl 1% dan yeast extract 3% dengan media pertumbuhan kultur menggunakan MRS
broth. Tabel 3 menunjukkan kondisi pH awal dari supernatan bebas sel dan kondisi pH
supernatan bebas sel yang telah dinetralkan menggunakan NaOH 1N. Berdasarkan nilai
pH pada Tabel 3 supernatan antimikrob yang telah dihasilkan dari media produksi
dengan inducer berada pada kondisi asam. Kondisi asam tersebut disebabkan oleh
adanya asam-asam organik yang terbentuk sebagai metabolit primer dari bakteri asam
laktat. Asam organik tersebut mempunyai spektrum penghambatan yang luas terhadap
mikroorganisme yaitu dengan cara menyerang dinding sel, membran sel, metabolisme
enzim, sistem sintesis protein maupun secara genetik (Smid dan Gorris, 2007).
Asam-asam organik yang terdapat di dalam supernatan antimikrob L. plantarum
dapat menutupi aktivitas plantarisin yang terbentuk saat akan menghambat bakteri
indikator pada uji antagonistik. Asam-asam organik dihilangkan dengan cara dilakukan
penambahan buffer (NaOH 1N) agar supernatan antimikrob tersebut mencapai pH 5,8 –
6,2. Hal ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh asam organik yang terdapat pada
supernatan antimikrob sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan kerja plantarisin
yang terbentuk. Kondisi pH dari supernatan antimikrob L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2,
dan 2C12 pada media MRS broth dapat dilihat pada Tabel 3.
22
Tabel 3. Kondisi pH Supernatan Bebas Sel (pH awal) dan Supernatan Netral
Plantarisin asal galur
Lactobacillus plantarum
pH awal
pH setelah dinetralkan
1A5
4,01 ± 0,04
6,11 ± 0,34
1B1
3,94 ± 0,11
5,87 ± 0,12
2B2
4,00 ± 0,02
6,17 ± 0,31
2C12
3,98 ± 0,01
6,04 ± 0,16
Hasil uji antagonistik supernatan bebas sel asal empat galur L. plantarum 1A5,
1B1, 2B2 dan 2C12 dari media produksi plantarisin terhadap masing-masing bakteri
indikator disajikan secara lengkap pada Tabel 4. Uji antagonistik keempat galur L.
plantarum terhadap bakteri patogen indikator ditunjukkan dengan adanya zona hambat
yang terbentuk di sekitar sumur.
Tabel 4. Hasil Uji Antagonistik Supernatan Netral terhadap Bakteri Patogen Indikator
Supernatan Bebas Sel asal Galur Lactobacillus plantarum
Bakteri
Patogen
1A5
1B1
2B2
2C12
Rata-rata
---------------------------------------------- (mm) -------------------------------------------S. aureus
ATCC 25923
12,64 ± 0,12
12,78 ± 0,28
12,57 ± 0,38
11,08 ± 0,10
12,27 ± 0,80ab
P. aeruginosa
ATCC 27853
13,42 ± 1,03
13,10 ± 0,20
13,16 ± 0,15
11,23 ± 0,15
12,73 ± 1,01ab
Salmonella
ATCC 14028
13,15 ± 0,85
13,19 ± 0,09
13,15 ± 0,45
12,14 ± 1,00
12,91 ± 0,51ab
E. Colli ATCC
25922
13,27 ± 0,32
13,31 ± 0,32
13,56 ± 0,04
12,33 ± 0,30
13,12 ± 0,54a
Bacillus cereus
12,17 ± 0,15
12,23 ± 0,20
12,60 ± 0,22
11,79 ± 0,27
12,20 ± 0,33b
Rata-rata
12,93 ± 0,52A
12,92 ± 0,43A
13,01 ± 0,42A
11,71 ± 0,55B
12,65 ± 0,40
Keterangan : Besarnya diameter zona hambat tidak termasuk diameter lubang sumur (5mm); Huruf
superskrip horizontal yang berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)
terhadap supernatan yang berbeda; Huruf superskrip vertikal yang berbeda menun- jukkan
perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap bakteri patogen yang berbeda
Berdasarkan Tabel 4, supernatan bebas sel netral asal empat galur L. plantarum
terhadap bakteri patogen indikator setelah diuji statistik menunjukkan perbedaan yang
sangat nyata (P<0,01) antara jenis patogen dan jenis superanatan bebas sel. Terdapat
perbedaan yang sangat nyata antara supernatan bebas sel galur 1A5, 1B1 dan 2B2
23
dengan supernatan bebas sel galur 2C12. Supernatan bebas sel galur 2C12
menghasilkan rataan zona hambat yang paling rendah dibandingkan dengan supernatan
asal galur lain. Hal ini dapat dikatakan bahwa 2C12 kurang efektif digunakan untuk uji
antagonistik terhadap kelima bakteri patogen indikator. Diameter zona hambat
supernatan bebas sel juga dipengaruhi oleh jenis bakteri patogen indikator, terdapat
perbedaan yang sangat nyata diameter zona hambat yang dihasilkan keempat supernatan
antara bakteri E. coli ATCC 25922 dengan bakteri B. cereus.
Pengamatan secara deskriptif menunjukkan bahwa supernatan asal empat galur
L. plantarum dapat menghambat pertumbuhan bakteri indikator Gram negatif (E. coli
ATCC 25922, Salmonella enteriditis ser. Typhimurium ATCC 14028, P. aeruginosa
ATCC 27853). Hasil ini dikuatkan oleh pernyataan Smaoui et al. (2010) bahwa
bakteriosin yang dihasilkan oleh Lactobacillus plantarum sp. TN635 dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Gram negatif (Salmonella enterica ATCC43972, Pseudomonas
aeruginosa ATCC 49189, Hafnia sp. and Serratia sp.) dan Candida tropicalis R2
CIP203 yang termasuk jamur (fungi) patogen.
Pengujian Konsentrasi Protein Plantarisin
Plantarisin murni diperoleh dari beberapa tahapan, diantara tahapan yang
digunakan yaitu tahap purifikasi. Tahap purifikasi terdiri atas purifikasi parsial yang
menggunakan
ammonium
sulfat
dan
dialisis,
serta
purifikasi
menggunakan
kromatografi pertukaran kation. Hasil dari tahapan purifikasi menggunakan ammonium
sulfat disebut presipitat plantarisin dan hasil dari tahap dialisis disebut plantarisin kasar,
sedangkan hasil dari purifikasi menggunakan kromatografi pertukaran kation disebut
plantarisin murni.
Pengujian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui konsentrasi protein dari
presipitat plantarisin, plantarisin kasar dan plantarisin murni, sehingga dapat dilihat
perbedaan konsentrasi protein dari ketiga bentuk plantarisin tersebut. Pengujian protein
ini menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang (λ) 280. Konsentrasi
protein dari ketiga tahapan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.
24
Tabel 5. Konsentrasi Protein Plantarisin Asal L. plantarum pada Presipitat Plantarisin,
Plantarisin Kasar dan Plantarisin Murni.
Plantarisin asal
galur L. plantarum
Konsentrasi Protein
Presipitat
Plantarisin kasar
plantarisin
Plantarisin
murni
----------------------------- (mg/ml) -----------------------------1A5
24,08 ± 0,50
56,65 ± 0,79
32,43 ± 1,80
1B1
24,61 ± 1,95
71,20 ± 0,90
37,22 ± 0,70
2B2
15,62 ± 2,79
44,60 ± 4,86
15,27 ± 1,64
2C12
3,41 ± 1,38
0,97 ± 0,13
10,65 ± 0,02
Berdasarkan Tabel 5, hasil kuantitatif presipitat plantarisin, plantarisin kasar dan
plantarisin murni, secara deskriptif dapat dikatakan bahwa nilai rataan konsentrasi
protein plantarisin kasar lebih tinggi dibandingkan presipitat plantarisin terhadap ketiga
plantarisin asal galur L. plantarum 1A5, 1B1, dan 2B2. Presipitat plantarisin merupakan
hasil dari purifikasi parsial dengan konsentrasi yang tinggi namun masih mengandung
garam mineral yang digunakan untuk mengendapkan protein. Proses dialisis atau proses
pencucian yang bertujuan untuk menghilangkan pengotor pada permukaan partikelpartikel protein sehingga dapat menghasilkan plantarisin kasar dengan konsentrasi
protein yang lebih tinggi dari presipitat plantarisin (Day dan Underwood, 2002). Nilai
konsentrasi protein plantarisin kasar galur L. plantarum 2C12 cenderung lebih rendah
dari ketiga galur lainnya. Konsentrasi protein plantarisin kasar 2C12 mengalami
penurunan setelah tahap dialisis. Hal ini dapat disebabkan masih terdapat pengaruh
media MRSB di dalam presipitat plantarisin dan pada saat didialisis banyak yang
keluar. Proses purifikasi plantarisin dengan menggunakan kromatografi pertukaran
kation akan menghasilkan sejumlah fraksi plantarisin murni yang konsentrasi
proteinnya berbeda-beda. Fraksi dengan konsentrasi protein yang tidak terlalu tinggi
dipilih sebagai sampel untuk melakukan pengujian karakterisasi plantarisin terhadap
lamanya penyimpanan suhu dingin.
Konsentrasi protein plantarisin murni jika dibandingkan dengan plantarisin kasar
memiliki konsentrasi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan konsentrasi protein yang
dihasilkan oleh plantarisin kasar tidak hanya berasal dari plantarisin namun ada sumber
25
penghasil protein lain yaitu masih terdapat media MRSB yang memiliki kandungan
pepton dan yeast extract. Konsentrasi protein keempat plantarisin murni yang diperoleh
cukup tinggi, sehingga keempat plantarisin tersebut dapat digunakan untuk uji
selanjutnya yaitu pengujian 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12 terhadap ketahanan suhu dingin
(10 °C).
Pengaruh Lama Penyimpanan Plantarisin Murni Galur 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12
melalui Aktivitas Penghambatan Antimikrob pada Suhu Dingin (10 °C)
Aktivitas penghambatan keempat plantarisin asal galur L. plantarum selama 15
hari pada suhu 10 °C diamati untuk mengetahui stabilitas plantarisin 1A5, 1B1, 2B2,
dan 2C12 selama penyimpanan suhu dingin. Stabilitas aktivitas penghambatan
ditentukan melalui diameter zona hambat (berupa zona bening atau zona semu) yang
dihasilkan terhadap kelima bakteri patogen indikator (S. aureus ATCC 25923,
Salmonella enteritidis ser. Thyphimurium ATCC 14028, P. aeruginosa ATCC 27853,
E. coli ATCC 25922 dan B. cereus).
S. aureus ATCC 25923. Stabilitas aktivitas penghambatan plantarisin murni asal L.
plantarum 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 terhadap bakteri indikator S. aureus yang disimpan
selama 15 hari pada suhu dingin (10 °C) dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Diameter Zona Hambat Plantarisin Asal Empat Galur L. Plantarum selama
Penyimpanan terhadap S. aureus ATCC 25923 pada Suhu Dingin (10 °C)
Plantarisin asal
Galur L. plantarum
Perlakuan
H-0
H-5
H-10
H-15
------------------------------------ (mm) --------------------------------1A5
8,63 ± 0,45
9,40 ± 0,73
9,67 ± 1,45
10,10 ± 0,47
1B1
9,18 ± 1,11
8,81 ± 0,44
10,16 ± 1,79
9,98 ± 1,79
2B2
8,11 ± 0,53
8,84 ± 0,86
9,26 ± 0,79
9,70 ± 2,33
2C12
10,48 ± 0,92
6,93 ± 0,22
10,43 ± 0,92
8,52 ± 0,44
Rata-rata
9,10 ± 1,02ab
8,50 ± 1,08b
9,88 ± 0,52a
9,57 ± 0,72ab
Keterangan : Besarnya diameter zona hambat sudah termasuk diameter lubang sumur (5 mm); Huruf
superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P< 0,05)
Penyimpanan plantarisin murni asal empat galur yaitu 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
yang disimpan pada suhu dingin selama 15 hari, setelah diujikan pada bakteri S. aureus
ATCC 25923 dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hasil yang diperoleh
26
berdasarkan uji antagonistik yaitu terdapat diameter zona hambat di sekitar sumur.
Diameter zona hambat yang terbentuk berupa diameter zona semu. Menurut JimenezDiaz (1993), Diameter zona hambat dapat berupa diameter zona bening di sekeliling
sumur yang menunjukkan sifat bakterisidal (membunuh bakteri) maupun diameter zona
semu yang merupakan sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan mikroba).
Berdasarkan analisis ragam, diameter zona hambat yang diperoleh tidak terdapat
interaksi antara jenis plantarisin dengan umur simpan (P>0,05). Penghambatan bakteri
S. aureus ATCC 25923 tidak dipengaruhi oleh jenis plantarisin yang berbeda. Hal ini
disebabkan bakteri S. aureus ATCC 25923 merupakan bakteri Gram negatif, menurut
Jimenez-Diaz (1993), bakteriosin merupakan protein atau peptida pada bakteri yang
menunjukkan aksi bakterisidal ataupun bakteriostatik terhadap spesies yang umumnya
berkerabat dekat. Plantarisin 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 berpengaruh nyata (P<0,05)
terhadap perlakuan umur simpan, sehingga dilakukan pengujian lanjut. Hasil pengujian
lanjut menunjukkan bahwa penyimpanan pada hari ke-5 berbeda nyata terhadap S.
aureus ATCC 25923 jika dibandingkan dengan hari ke-10.
Perbedaan lamanya umur simpan keempat plantarisin asal galur L. plantarum
mengalami penurunan aktivitas penghambatan pada penyimpanan selama lima hari,
namun perpanjangan penyimpanan hingga 10 hari mampu mengembalikan aktivitas
penghambatan plantarisin murni dengan menghasilkan diameter zona hambat yang tidak
berbeda dengan H-0. Menurut Amanah (2011), penyimpanan 1 minggu pada suhu
refrigerator menyebabkan FBS (filtrat bebas sel) L. acidophilus Y-01 mengalami
penurunan aktivitas
penghambatan
yang sangat
nyata, namun
perpanjangan
penyimpanan hingga 2 minggu mampu mengembalikan aktivitas penghambatan FBS L.
acidophilus Y-01 dengan menghasilkan diameter zona hambat yang tidak berbeda
dengan kontrol. Aktivitas plantarisin selama penyimpanan suhu
dingin bersifat
fluktuatif. Penyimpanan plantarisin selama 10 hari efektif digunakan untuk uji
antagonistik terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 karena menghasilkan diameter
zona hambat yang optimum.
Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028. Stabilitas aktivitas
penghambatan plantarisin murni asal L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 terhadap
27
bakteri indikator Salmonella yang disimpan selama 15 hari pada suhu dingin (10 °C)
dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Diameter Zona Hambat Plantarisin Asal Empat Galur L. Plantarum selama
Penyimpanan terhadap Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC
14028 pada Suhu Dingin (10 °C)
Plantarisin
asal Galur L.
plantarum
Perlakuan
H-0
H-5
H-10
H-15
Rata-Rata
--------------------------------------------- (mm) -------------------------------------------------
1A5
8,70 ± 0,43
9,81 ± 1,11
9,97 ± 1,56
10,78 ± 3,90
9,82 ± 0,86
1B1
8,67 ± 0,47
8,53 ± 0,49
10,45 ± 3,42
10,57 ± 3,03
9,56 ± 1,11
2B2
8,94 ± 0,21
8,59 ± 1,20
9,33 ± 1,29
10,36 ± 3,63
9,31 ± 0,77
2C12
12,58 ± 4,75
7,04 ± 0,79
14,17 ± 1,23
9,03 ± 1,39
10,71 ± 3,25
Keterangan : Besarnya diameter zona hambat sudah termasuk diameter lubang sumur (5mm)
Penyimpanan plantarisin murni asal empat galur L. plantarum 1A5, 1B1, 2B2
dan 2C12 selama 15 hari pada suhu dingin, setelah diujikan pada bakteri Salmonella
enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028 dapat menghambat pertumbuhan bakteri
tersebut. Hasil yang diperoleh berdasarkan uji antagonistik yaitu terdapat diameter zona
hambat di sekitar sumur.
Analisis yang digunakan yaitu non parametrik karena data tersebut tidak
memenuhi uji asumsi, sehingga menggunakan Kruskal-Wallis. Hasil yang diperoleh
tidak berbeda nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil uji antagonistik, diameter zona hambat
yang dihasilkan oleh plantarisin 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 dari penyimpanan H-0
sampai H-15 terhadap bakteri Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028
masih mempunyai aktivitas antimikrob sehingga dapat dikatakan bahwa keempat
plantarisin tersebut tetap stabil. Menurut Davis dan Stout (1971), rataan diameter zona
hambat yang dihasilkan oleh plantarisin 1A5, 1B1 dan 2B2 termasuk kategori sedang
dan plantarisin 2C12 termasuk kategori kuat. Kategori sedang yaitu plantarisin memiliki
aktivitas penghambatan yang sedang terhadap bakteri patogen indikator dilihat dari zona
hambat yang dihasilkan. Kategori kuat yaitu plantarisin memiliki aktivitas
penghambatan yang kuat terhadap bakteri patogen indikator dilihat dari zona hambat
yang dihasilkan. Plantarisin yang paling efektif digunakan untuk menghambat
pertumbuhan bakteri Salmonella enteritidis ser. Typhimurium ATCC 14028 yaitu
28
plantarisin 2C12 karena 2C12 menghasilkan rataan diameter zona hambat terbesar dan
termasuk kategori kuat.
P. aeruginosa ATCC 27853. Stabilitas aktivitas penghambatan plantarisin murni asal
L. plantarum 1A5, 1B1 2B2 dan 2C12 terhadap bakteri indikator P. aeruginosa yang
disimpan selama 15 hari pada suhu dingin (10 °C) dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Diameter Zona Hambat Plantarisin Asal Empat Galur L. plantarum selama
Penyimpanan terhadap P. aeruginosa ATCC 27853 pada Suhu Dingin (10
°C)
Plantarisin
asal Galur L.
plantarum
Perlakuan
H-0
H-5
H-10
H-15
-------------------------------------- (mm) --------------------------------------1A5
8,49 ± 0,42 Aa
9,72 ±2,19 Aa
9,64 ± 1,12 Aa
9,20 ± 0,72 Aa
1B1
9,39 ± 1,45 Aa
8,49 ± 0,60 Aa
10,64 ± 1,58 Aa
8,91 ± 1,72 Aa
2B2
8,94 ± 0,30 Aa
8,73 ± 1,44 Aa
10,21 ± 1,10 Aa
8,69± 1,26 Aa
2C12
10,94 ± 1,88 Aac
6,34 ± 0,23 Ab
12,83 ± 4,02 Aa
8,67± 1,05 Abc
Keterangan : Besarnya diameter zona hambat tidak termasuk diameter lubang sumur (5mm); Huruf
superskrip kapital yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05) antara jenis
plantarisin; Huruf superskrip (kecil) yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05) antara umur simpan
Penyimpanan plantarisin murni asal empat galur yaitu 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
yang disimpan pada suhu dingin selama 15 hari, setelah diujikan pada bakteri P.
aeruginosa ATCC 27853 dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hasil yang
diperoleh yaitu terdapat diameter zona hambat disekitar sumur.
Berdasarkan analisis ragam, hasil yang diperoleh berbeda nyata (P<0,05)
sehingga dilakukan pengujian lanjut. Terdapat interaksi antara kedua perlakuan yaitu
jenis plantarisin yang berbeda dengan lamanya umur simpan terhadap bakteri indikator
P. aeruginosa ATCC 27853. Pengujian berdasarkan pengaruh sederhana dari perlakuan
jenis plantarisin dengan menggunakan uji Tukey, plantarisin 1A5, 1B1 dan 2B2 setelah
mengalami penyimpanan (H-0, H-5, H-10 dan H-15) memberikan pengaruh yang sama
(tidak berbeda nyata) terhadap diameter zona hambat yang dihasilkan. Implikasi dari
pengujian pengaruh sederhana ini adalah penyimpanan ketiga plantarisin tersebut dapat
menggunakan salah satu umur simpan (H-0, H-5, H-10 atau H-15) untuk menghambat
pertumbuhan bakteri P. aeruginosa ATCC 27853. Hal ini disebabkan plantarisin 1A5,
29
1B1, dan 2B2 tetap stabil selama penyimpnan 15 hari pada suhu dingin (10 ºC).
Terdapat pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap plantarisin 2C12 selama
penyimpanan 15 hari. Plantarisin 2C12 efektif digunakan sebagai antimikrob bakteri P.
aeruginosa ATCC 27853 setelah mengalami penyimpanan selama 10 hari karena
aktivitas 2C12 meningkat dan menghasilkan diameter zona hambat yang paling besar.
Pengujian berdasarkan pengaruh sederhana dari perlakuan umur simpan yang
berbeda menggunakan uji Tukey, penyimpanan (H-0, H-5, H-10 dan H-15) memberikan
pengaruh yang sama (tidak berbeda nyata) pada keempat plantarisin terhadap diameter
zona hambat yang dihasilkan. Implikasi dari pengujian pengaruh sederhana ini adalah
keempat umur simpan tersebut dapat digunakan untuk salah satu jenis plantarisin (1A5,
1B1, 2B2, atau 2C12) sebagai penghambat pertumbuhan bakteri P. aeruginosa ATCC
27853.
E. coli ATCC 25922. Stabilitas aktivitas penghambatan plantarisin murni asal L.
plantarum 1A5, 1B1, 2B2 dan 2C12 terhadap bakteri E. coli yang disimpan selama 15
hari pada suhu dingin (10 °C) dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Diameter Zona Hambat Plantarisin Asal Empat Galur L. plantarum selama
Penyimpanan terhadap E. coli ATCC 25922 pada Suhu Dingin (10 °C)
Plantarisin
asal Galur L.
plantarum
Perlakuan
H-0
H-5
H-10
H-15
Rata-Rata
--------------------------------------------- (mm) -----------------------------------------------1A5
9,40 ± 0,52
8,78 ± 0,61
9,89 ± 1,31
9,99 ± 2,59
9,52 ± 0,55ab
1B1
8,99 ± 0,91
8,30 ± 0,81
9,64 ± 0,65
9,70 ± 1,59
9,16 ± 0,66ab
2B2
8,45 ± 0,70
8,42 ± 1,23
9,63 ± 1,14
8,89 ± 2,22
8,85 ± 0,56b
2C12
11,71 ± 2,16
8,49 ± 0,57
12,70 ± 1,13
9,78 ± 1,08
10,67 ± 1,89a
Rata-rata
9,64 ± 1,44AB
8,50 ± 0,20B
10,47 ± 1,49A
9,59 ± 0,48AB
Keterangan : Besarnya diameter zona hambat tidak termasuk diameter lubang sumur (5mm); Huruf
superskrip horizontal yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap
umur simpan; Huruf superskrip vertikal yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05) terhadap plantarisin yang berbeda
Penyimpanan plantarisin murni asal empat galur L. plantarum yaitu 1A5, 1B1,
2B2 dan 2C12 yang disimpan selama 15 hari pada suhu dingin, setelah diujikan pada
bakteri E. coli dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hasil yang diperoleh
berdasarkan uji antagonistik yaitu terdapat diameter zona hambat disekitar sumur.
30
Berdasarkan analisis ragam, hasil yang diperoleh berbeda nyata (P<0,05)
sehingga dilakukan pengujian lanjut. Interaksi diantara kedua faktor perlakuan (umur
simpan dan jenis plantarisin) tidak berpengaruh nyata, namun berpengaruh nyata
terhadap umur simpan dan jenis plantarisin yang berbeda. Hasil yang diperoleh
berdasarkan pengujian lanjut, keempat plantarisin asal galur L. plantarum yaitu terdapat
perbedaan yang nyata antara plantarisin 2B2 dengan 2C12. Plantarisin 2C12 memiliki
rataan diameter zona hambat paling besar, sehingga plantarisin 2C12 lebih efektif jika
digunakan sebagai antimikrob terhadap bakteri E. coli ATCC 25922 dibandingkan
ketiga plantarisin lainnya.
Berdasarkan faktor perlakuan umur simpan, terdapat perbedaan yang nyata
(P<0,05) antara H-5 dan H-10. Aktivitas keempat plantarisin setelah mengalami
penyimpanan suhu dingin selama 10 hari menghasilkan diameter zona hambat yang
paling besar, sehingga plantarisin yang telah disimpan selama 10 hari efektif digunakan
sebagai antimikrob terhadap bakteri E. coli ATCC 25922.
B. cereus. Stabilitas aktivitas penghambatan plantarisin murni asal L. plantarum 1A5,
1B1, 2B2 dan 2C12 terhadap bakteri indikator B. cereus yang disimpan selama 15 hari
pada suhu dingin (10 °C) dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Diameter Zona Hambat Plantarisin Asal Empat Galur L. Plantarum selama
Penyimpanan terhadap B. cereus pada Suhu Dingin (10 °C)
Plantarisin
asal Galur L.
plantarum
Perlakuan
H-0
H-5
H-10
H-15
------------------------------------- (mm) ---------------------------------------1A5
9,26 ± 0,94 Aa
8,80 ± 0,68 Aa
10,43 ± 1,00 Aa
9,53 ± 1,94 Aa
1B1
9,91 ± 1,85 Aa
8,73 ± 1,12 Aa
9,65 ± 1,44 Aa
9,13 ± 1,45 Aa
2B2
8,28 ± 0,49 Aa
8,18 ± 0,61 Aa
9,24 ± 1,32 Aa
9,72 ± 2,98 Aa
2C12
11,13 ± 1,84 Aa
5,81± 0,18 Ab
11,50 ± 0,24 Aa
8,77 ± 1,13 Aab
Keterangan : Besarnya diameter zona hambat sudah termasuk diameter lubang sumur (5mm); Huruf
superskrip kapital yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05) antara jenis
plantarisin; Huruf superskrip (kecil) yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05) antara umur simpan
Penyimpanan plantarisin murni asal empat galur yaitu 1A5, 1B1, 2B2, dan 2C12
yang disimpan pada suhu dingin selama 15 hari, setelah diujikan pada bakteri B. cereus
31
dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hasil yang diperoleh berdasarkan uji
antagonistik yaitu terdapat diameter zona hambat disekitar sumur.
Berdasarkan analisis ragam, hasil yang diperoleh berbeda nyata (P<0,05)
sehingga dilakukan pengujian lanjut. Terdapat interaksi antara kedua perlakuan yaitu
jenis plantarisin yang berbeda dengan lamanya umur simpan terhadap bakteri indikator
B. cereus. Pengujian berdasarkan pengaruh sederhana dari perlakuan jenis plantarisin
dengan menggunakan uji Tukey, plantarisin 1A5, 1B1 dan 2B2 setelah mengalami
penyimpanan (H-0, H-5, H-10 dan H-15) memberikan pengaruh yang sama (tidak
berbeda nyata) terhadap diameter zona hambat yang dihasilkan. Implikasi dari
pengujian pengaruh sederhana ini adalah penyimpanan ketiga plantarisin tersebut dapat
menggunakan salah satu umur simpan (H-0, H-5, H-10 atau H-15) untuk menghambat
pertumbuhan bakteri B. cereus. Hal ini disebabkan plantarisin 1A5, 1B1, dan 2B2 tetap
stabil selama penyimpnan 15 hari pada suhu dingin (10 ºC). Terdapat pengaruh yang
berbeda nyata (P<0,05) terhadap plantarisin 2C12 selama penyimpanan 15 hari yaitu
pada H-15. Plantarisin 2C12 efektif digunakan sebagai antimikrob bakteri B. cereus
setelah mengalami penyimpanan selama 10 hari karena aktivitas 2C12 meningkat dan
menghasilkan diameter zona hambat yang paling besar.
Pengujian berdasarkan pengaruh sederhana dari perlakuan umur simpan yang
berbeda menggunakan uji Tukey, penyimpanan (H-0, H-5, H-10 dan H-15) memberikan
pengaruh yang sama (tidak berbeda nyata) pada keempat plantarisin terhadap diameter
zona hambat yang dihasilkan. Implikasi dari pengujian pengaruh sederhana ini adalah
keempat umur simpan tersebut dapat digunakan untuk salah satu jenis plantarisin (1A5,
1B1, 2B2, atau 2C12) sebagai penghambat pertumbuhan bakteri B. cereus.
32
Download