FAKTOR PRESIPITASI YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA

advertisement
FAKTOR PRESIPITASI YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PERILAKU
KEKERASAN DI RSKD PROVENSI SULAWESI SELATAN
Nengsi Watin Tarra1, Herman2, Abd Rahman3
1STIKES
Nani Hasanuddin Makassar
Kemenkes Makassar
3Poltekkes Kemenkes Makassar
2Poltekkes
(AlamatRespondensi: [email protected]/085256783797)
ABSTRAK
Perilaku kekerasan adalah salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan
ancaman, mencenderai orang lain, dan atau merusak lingkungan. Respon tersebut sering muncul
karena adanya stressor. Respon ini dapat menimbulkan kerugian baik pada diri sendiri, orang lain,
maupun lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinyafakotpresipitasi yang dapat
mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian
ini adalah deskriptif non eksperimen dengan pendekatan Kohort. Penelitian ini dilakukan sejak
tanggal 3 Juni sampai dengan 19 Juni 2013 dengan populasi pasien gangguan perilaku kekerasan di
RSKD Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik purposive sampling
dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dengan menggunakan lembar
obsevarsi,kemudian data diolah dengan menggunakan program komputer SPSS for windows versi
16.0.uji statistik Chi-square. Hasil uji bivariat menunjukan ada pengaruh harga diri rendah dengan
terjadinya perilaku kekerasan dengan nilai p = 0,001 lebih kecil dari nilai α = 0,05, ada pengaruh
peran keluarga dengan terjadinya perilaku kekerasan dengan nilai p = 0,004 lebih kecil dari nilai α =
0,05, ada pengaruh lingkungan sosial dengan terjadinya perilaku kekerasan dengan nilai p = 0,001
lebih kecil dari nilai α = 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah, ada pengaruh faktor presipitasi
(harga diri rendah, peran keluarga dan lingkungan sosial) dengan terjadinya perilaku kekerasan.
Mengingat pada penelitian ini hanya dengan jumlah sampel yang standar diharapkan penelitian
selanjutnya dengan sampel yang lebih besar.
Kata kunci :Harga diri rendah, Peran keluarga dan lingkungan sosial.
PENDAHULUAN
Pembangunan
disemua
bidang,
pergeseran pola masyarakat dari masyarakat
agrikultur ke masyarakat industri dan dari
masyarakat tradisional menjadi masyarakat
modern,
serta
tekanan
arus
globalisasi/informasi yang diperberat dengan
krisis ekonomi, sosial, politik, selain membawa
kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan
masyarakat, juga telah menimbulkan berbagai
masalah. Masalah yang ditimbulkan antara
lain, terjadinya pergeseran nilai moral,
kesenjangan
sosial
ekonomi,
proporsi
penduduk miskin yang makin besar, angka
pengangguran yang makin tinggi, serta
berbagai masalah sosial lain dan politik,
sementara pemenuhan kebutuhan untuk
bertahan hidup makin sulit dilakukan. Kondisi
ini mendukung peningkatan tindak kekerasan,
terutama bagi golongan yang dianggap lemah
dan rentan yaitu wanita dan anak-anak.
Perilaku kekerasan biasa juga disebut
dengan perilaku yang bersifat agresif
menimbulkan kata-kata yang menggambarkan
perilaku permusuhan, dan potensi untuk
merusak secara fisik yang dapat menimbulkan
kerusakan dan membahayakan diri sendiri
maupun orang lain.
Masalah yang ditimbulkan dari perilaku
kekerasan ini selain merusak dirinya sendiri,
juga merusak orang lain, mencederai orang
lain dan memandang tajam orang tersebut
seperti memandang musuh terbesarnya,
kemudian contoh dari lingkungan, misalnya
merusak dan mengotori lingkungan tersebut
juga termasuk perilaku kekerasan.
WHO Global Campaign For Violence
Prevention (2003), menginformasikan bahwa
1,6 juta penduduk dunia kehilangan hidupnya
karena tindak kekerasan dan penyebab utama
kematian pada mereka yang berusia antara 15
hingga 44 tahun. Empat puluh hingga tujuh
puluh persen wanita yang menjadi korban
pembunuhan ternyata dilakukan oleh suami
atau teman kencan mereka sendiri. Bahkan di
beberapa Negara, 69% wanita dilaporkan
335
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
pernah diperlakukan kasar oleh teman kencan
laki-lakinya. Data yang menunjukan bahwa
hampir 1 dari 4 perempuan melaporkan
pernah dianiaya secara seksual oleh teman
dekatnya dan hingga sepertiga wanita di dunia
diperjualbelikan untuk dijadikan pekerja
seksual. Sementara itu, jutaan anak-anak di
dunia dianiaya dan diterlantarkan oleh orang
tua mereka atau yang seharusnya mengasuh
mereka. Terjadi 57.000 kematian karena
tindak kekerasan terhadap anak di bawah usia
15 tahun pada 2000, dan anak berusia 0-4
tahun lebih dari dua kali lebih banyak dari
anak berusia 5-14 tahun yang mengalami
kematian. Terdapat 4-6% lansia mengalami
penganiayaan di rumah (Jenkins 2003 dalam
Hamid 2009;156).
Data tahun 1993, sebelum krisis
moneter saja, telah terjadi 164.577 kasus
kekerasan
berupa
tindakan
pencurian,
pemerasan,
perkosaan,
pembunuhan,
narkotika, kenakalan remaja, penipuan,
penggelapan, pengrusakan, perjudian, dan
kebakaran (Roesdihardjo 1994 dalam Hamid
2009;15). Tidak terhitung jumlah korban tindak
kekerasan akibat tekanan sosial politik yang
terjadi di beberapa daerah tertentu di
Indonesia, yang tidak saja meninggalkan
beban materi, tetapi juga beban psikososial
bahkan rendahnya kualitas kehidupan secara
menyeluruh bagi korban dan keluarga serta
masyarakat.
Menurut
Miswanti
(2011),
faktor
presipitasi
perilaku
kekerasan
dapat
bersumber dari klien, lingkungan, atau
interaksi dengan orang lain. Kondisi pasien
seperti kelemahan fisik (penyakit fisik),
keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri
yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku
kekerasan. Pasien perilaku kekerasan yang
dirawat di Rumah Sakit Khusus Daerah
(RSKD) Provinsi Sulawesi selatan pada tahun
2011 dengan jumlah populasi 30 responden,
yang ada gangguan fisik dan terjadi perilaku
kekerasan sebanyak 20 (66,7%) sedangkan
yang berisiko kekerasan sebanyak 2 (6,7%).
Dan yang tidak ada gangguan fisik dengan
terjadinya perilaku kekerasan sebanyak 4
(13,3%).
Berdasarkan medical record yang
diperoleh dari RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan, klien dengan perilaku kekerasan
pada tahun 2010, sebanyak 887 pasien.
Tahun 2011 jumlah klien turun menjadi 562
pasien, sedangkan tahun 2012 klien dengan
perilaku kekerasan meningkat menjadi 958
pasien.
Berdasarkan
uraian
data
yang
dikemukakan di atas maka penulis mencoba
menfokuskan penelitian ini tentang “ Faktor
Presipitasi yang Mempengaruhi Terjadinya
Perilaku Kekerasan di RSKD Provinsi
Sulawesi Selatan”.
BAHAN DAN METODE
Lokasi, Populasi, dan Sampel
Jenis penelitian ini adalah penelitian
deskriptif non eksperimen, merupakan bagian
dari jenis penelitian observasional, yang
dilakukan dengan cara pengamatan baik
secara langsung maupun tidak langsung tanpa
ada
perlakuan,
dengan
menggunakan
pendekatan Lokasi penelitian ini dilaksanakan
di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan, ruang
perawatan Kenari.Jalan Lanto Dg. Pasewang
no. 34 kota Makassar. Penelitian ini dilakukan
pada bulan Juni-Juli 2013.
Populasi dalam penelitian ini adalah
semua pasien dengan gangguan perilaku
kekerasan di RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan. Jadi besar sampel pada penelitian ini
adalah sebanyak 30 responden
Pengumpulan Data
1. Data Primer
Teknik pengumpulan data digunakan untuk
mendapatkan data yang di harapkan agar
dapat menunjang penelitian ini, dengan
melakukan observasi langsung pada klien
dan untuk pernyataan kepada responden.
2. Data Sekunder
Data yang digunakan sebagai data
pelengkap dan penunjang data primer yang
ada relevasinya untuk keperluan penelitian.
Data diperoloeh dari medical record RSKD
Propinsi Sulawesi Selatan.
Pengolahan Data
Adapun langkah – langkah pengolahan
data yaitu:
1. Selecting
Selecting merupakan pemilihan untuk
mengklarifikasikan data menurut kategori.
2. Editing
Editing di lakukan untuk meneliti setiap
daftar pertanyaan yang sudah di isi,
meliputi kelengkapan pengisian, kesalahan
pengisian dan konsistensi dari setiap
jawaban.
3. Koding
Koding merupakan tahap selanjutnya yaitu
dengan memberi kode pada jawaban
responden.
4. Tabulasi Data
Setelah dilakukan editing dan koding
dilanjutkan dengan pengolahan data ke
dalam suatu tabel menurut sifat-sifat yang
dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.
336
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
Analisis Data
1. Analisis Univariat
Dilakukan untuk mendapatkan gambaran
umum dengan cara mendiskripsikan tiap
variabel yang digunakan dalam penelitian
dengan melihat distribusi n, mean, median,
dan modus.
2. Analisis Bivariat
Dilakukan untuk melihat hubungan antara
variabel bebas secara sendiri dengan
variabel terikat dengan menggunakan uji
statistik Chi- Square, SPSS 16.00.
HASIL PENELITIAN
1. Analisis univariat
Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan
Pendidikan di RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan, 2013
Umur
n
%
Tidak Sekolah
4
13,3
SD
12
40,0
SMP
7
23,3
SMA
6
20,0
D3/Sarjana
1
3,4
Total
30
100.0
Berdasarkan
tabel
di
atas
menunjukkan bahwa pendidikan responden
yang tidak sekolah 4 responden (13,3%),
SD sebanyak 12 responden (40,0%), SMP
sebanyak 7 responden (23,3%), SMA
sebanyak 6 responden (20,0%), dan
DIII/Sarjana sebanyak 1 responden (3,4%).
Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan
Umur di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan,
2013
Umur (Tahun)
n
%
10-20
2
6,7
21-30
12
40,0
31-40
7
23,3
> 41
9
30,0
Total
31
100.0
Berdasarkan tabel hasil penelitian di
atas dapat diketahui bahwa jumlah
responden yang berumur 10-20 tahun
sebanyak 2 responden (6,7%), umur 21-30
tahun sebanyak 12 responden (40,0%),
umur 31-40 tahun sebanyak 7 responden
(23,3%), dan yang berumur > 41 tahun
sebanyak 9 responden (30,0%).
Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin di RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan, 2013
Jenis Kelamin
n
%
Laki-Laki
30
100
Total
30
100.0
Berdasarkan
data
dari
tabel
penelitian di atas diketahui tingkat jenis
kelamin responden adalah laki-laki semua
dengan jumlah sebanyak 30 responden
(100%). Karena di ruang Kenari adalah
ruang perawatan laki-laki.
Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan
Variabel Harga Diri Rendah di RSKD
Provinsi Sulawesi Selatan, 2013
Harga Diri
n
%
Rendah
Ya
24
80,0
Tidak
6
20,0
Total
30
100.0
Data dari tabel 4 di atas
menunjukkan bahwa responden yang
mengalami harga diri rendah adalah
sebanyak 24 responden (80,0%) dan yang
tidak mengalami harga diri rendah
sebanyak 6 responden (20,0%).
Tabel 5 Distribusi Responden Berdasarkan
Variabel Lingkungan Sosial di RSKD
Provinsi Sulawesi Selatan, 2013
Lingkungan
n
%
Sosial
Buruk
Baik
27
3
90,0
10,0
Total
30
100.0
Data dari tabel 5 di atas
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden mengalami lingkungan sosial
yang buruk sebanyak 27 responden
(90,0%) dan yang lingkungan sosialnya
baik sebanyak 3responden (10,0%).
Tabel 6 Distribusi Responden Berdasarkan
Variabel Peran Keluarga di RSKD Provinsi
Sulawesi Selatan, 2013
Peran Keluarga
n
%
Tidak
26
86,7
Ada
4
13,3
Total
30
100.0
Data dari tabel 6 di atas
menunjukkan bahwa responden yang tidak
ada peran/dukungan keluarganya adalah
sebanyak 26 responden (86,7%) dan yang
ada peran keluarganya sebanyak 4
responden (13,3%).
Tabel 7 Distribusi Responden Berdasarkan
Variabel Perilaku Kekerasan di RSKD
Provinsi Sulawesi Selatan, 2013
337
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
Perilaku Kesehatan
n
%
Perilaku Kekerasan
Risiko Perilaku Kekerasan
26
4
86,7
13,3
Total
31
100.0
Data dari tabel 7 di atas
menunjukkan bahwa ada sebanyak 26
responden (86,7%) yang mengalami
perilaku kekerasaan dan yang resiko
perilaku kekerasan sebanyak 4 responden
(13,3%).
2. Analisis Bivariat
Tabel 8 Pengaruh Harga Diri Rendah
Terhadap Kejadian Perilaku Kekerasan di
RSKD Provinsi Sulawesi Selatan, 2013
Harga Diri
Rendah
Ya
Tidak
Kejadian Perilaku
Kekerasan
Total
Risiko
Perilaku
Perilaku
kekerasan
Kekerasan
n
%
n
%
n
%
24 80,0 0
0
24 100
2
6,7
4 13,3 6 100
p = 0,001
Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui responden yang mengalami
harga diri rendah dan mengalami perilaku
kekerasaan sebanyak 24 responden
(80,0%), sedangkan yang mengalami
resiko perilaku kekerasan sebanyak 0
responden (0,0%). Responden yang tidak
mengalami harga diri rendah dan
mengalami perilaku kekerasan sebanyak 2
responden (6,7%), sedangkan yang
mengalami resiko perilaku kekerasan
sebanyak 4 responden (13,3%).
Hasil uji statistik chi-square yaitu
fisher antara variabel tingkat harga diri
rendah
terhadap
kejadian
perilaku
kekerasaan diperoleh nilai ρ = 0,001 (ρ <
0,05) yang artinya ada pengaruh yang
signifikan antara harga diri rendah
terhadap kejadian perilaku kekerasan.
Tabel 9 Pengaruh Peran Keluarga
Terhadap Kejadian Perilaku Kekerasan di
RSKD Provinsi Sulawesi Selatan, 2013
Peran
Keluarga
Tidak
Ada
Kejadian Perilaku
Kekerasan
Total
Risiko
Perilaku
Perilaku
kekerasan
Kekerasan
n
%
n
%
n
%
25 83,3 1
3,3 26 100
1
3,3
3 10,0 4 100
p = 0,004
Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui responden yang tidak ada peran
keluarganya dan mengalami kejadian
perilaku
kekerasan
sebanyak
25
responden (83,3%), sedangkan yang
mengalami
kejadian
resiko
perilaku
kekerasan sebanyak 1 responden (3,3%).
Responden yang ada peran keluarganya
dan
mengalami
kejadian
perilaku
kekerasan sebanyak 1 responden (3,3%),
dan yang mengalami kejadian resiko
perilaku kekerasan sebanyak 3 responden
(10,0%).
Hasil uji statistik chi-square antara
variabel peran keluarga terhadap kejadian
perilaku kekerasan diperoleh nilai ρ= 0,004
(ρ < 0,005) yang berati ada pengaruh
antara peran keluarga dengan kejadian
perilaku kekerasan.
Tabel 10 Pengaruh Lingkungan Sosial
Terhadap Kejadian Perilaku Kekerasan di
RSKD Provinsi Sulawesi Selatan, 2013
Kejadian Perilaku
Kekerasan
Total
Lingkungan
Risiko
Perilaku
Sosial
Perilaku
kekerasan
Kekerasan
n
%
n
%
n
%
Buruk
26 86,7 1
3,3 24 100
Baik
0
3,3
3
10
6 100
p = 0,001
Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui responden yang lingkungan
sosialnya buruk dan mengalami kejadian
perilaku
kekerasan
sebanyak
26
responden (86,7%) dan yang mengalami
kejadian
resiko
perilaku
kekerasan
sebanyak 1 responden (3,3%). Responden
dengan lingkungan sosial yang baik dan
mengalami kejadian perilaku kekerasan
sebanyak 0 responden (0%), sedangkan
yang mengalami kejadian resiko perilaku
kekerasan sebanyak 3 responden (10%).
Hasil uji statistik chi-square antara
variabel lingkungan
sosial
terhadap
kejadian perilaku kekerasan diperoleh nilai
ρ = 0,001 (ρ < 0,05) yang berarti ada
pengaruh
antara
lingkungan
sosial
terhadap kejadian perilaku kekerasan.
PEMBAHASAN
1. Pengaruh harga diri rendah terhadap
kejadian perilaku kekerasan.
Hasil analisis univariat menunjukkan
bahwa lebih dari sebagian responden
memiliki harga diri rendah 80,0% dan
hanya 20% responden yang tidak memiliki
harga diri rendah. Sedangkan analisis
bivariat menunjukkan bahwa berdasarkan
338
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
hasil uji statistic chi-square. Nilai yang
dipakai adalah pada nilai Pearson chisquare . Nilai significancy-nya adalah
0,001, nilai p < 0,05 Dengan demikian
dikatakan ada pengaruh antara harga diri
rendah
dengan
perilaku
kekerasan
sehingga Ha diterima dan Ho ditolak
dengan Interpretasi ”bahwa ada pengaruh
harga diri rendah dengan kejadian perilaku
kekerasan di RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan”.
Berdasarkan hasil data penelitian
yang didapatkan pasien yang mengalami
harga diri rendah disebabkan oleh
kurangnya rasa percaya diri akan
kemampuan yang dimilikinya. Pasien selalu
menganggap dirinya tidak ada gunanya
dan selalu merasa pesimis dalam
menghadapi suatu masalah. Padahal
perilaku kekerasan yang dialami pasien
dapat
teratasi
dengan
berusaha
menghilangkan sikap harga diri rendah
dengan
berupaya
menyalurkan
kemampuan yang dimiliki dan selalu
optimis dalam melakukan hal dan
mengganggap akan bermanfaat bagi
dirinya sendiri dan orang yang ada
disekitarnya.
Pada pasien perilaku kekerasan di
ruang Kenari RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan belum bisa mengatasi sikap harga
diri rendah yang dapat berdampak pada
kejadian perlaku kekerasan. Hal ini
dikarenakan
masih
adanya
ketidak
mampuan pasien dalam menyalurkan
kemampuannya dan selalu merasa tak
berguna serta pesimis dalam mengatasi
suatu keadaan.
Hasil
penelitian
ini
memiliki
kesamaan dengan hasil penelitian yang
pernah dilakukan oleh Rostaria (2011)
yang menyatakan bahwa harga diri rendah
sangat mempengaruhi tingkat perilaku
kekerasan. Perilaku kekerasan yang biasa
dialami oleh seorang pasien dikarenakan
rasa stress yang berkelanjutan. Stress
sendiri itu muncul saat seseorang merasa
tidak sanggup melakukan sesuatu atau
menyelesaikan suatu persoalan hidupnya.
Saat itulah pasien akan merasakan stress
yang berkepanjangan yang pada akhirnya
menimbulkan perilaku kekerasan pada
dirinya sendiri atau orang-orang yang ada
disekitarnya.
Menurut Towsend, M.C. (1998),
harga diri rendah adalah perilaku negatif
terhadap diri dan perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negatif, yang
dapat diekspresikan secara langsung
maupun tak langsung. Harga diri klien yang
rendah menyebabkan klien merasa malu,
dianggap tidak berharga dan berguna.
Klien kesal kemudian marah dan
kemarahan tersebut diekspresikan secara
tak konstruktif, seperti memukul orang lain,
membanting-banting
barang
atau
mencederai diri sendiri.
Harga diri rendah kronis terjadi
disebabkan banyak
faktor. Awalnya
individu berada pada situasi yang penuh
dengan stressor (krisis), individu berusaha
menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas
sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak
mampu atau merasa gagal menjalankan
fungsi dan peran. Penilaian individu
terhadap diri sendiri karena gagal
menjalankan fungsi dan peran adalah
kondisi harga diri rendah situsional, jika
lingkungan tidak memberi dukungan positif
atau justru menyalahkan individu dan
terjadi secara terus menerus akan
mengakibatkan individu mengalami harga
diri rendah kronis.
Harga diri rendah adalah penilaian
pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisis seberapa jauh perilaku
memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen,
1998 :227). Menurut Townsend (1998:189),
harga diri rendah merupakan evaluasi diri
dari
perasaan
tentang
diri
atau
kemampuan diri yang negatif baik langsung
maupun tidak langsung. Pendapat senada
dikemukakan
oleh
Carpenito,
L.J
(1998:352), bahwa harga diri rendah
merupakan keadaan dimana individu
mengalami evaluasi diri yang negatif
mengenai diri atau kemampuan diri.
Dari pendapat-pendapat di atas
dapat dibuat kesimpulan, harga diri rendah
adalah suatu perasaan negatif terhadap diri
sendiri, hilangnya kepercayaan diri, dan
gagal mencapai tujuan yang diekspresikan
secara langsung maupun tidak langsung,
penurunan harga diri ini dapat bersifat
situasional maupun kronis atau menahun.
2. Pengaruh peran keluarga terhadap perilaku
kekerasan.
Hasil analisis univariat menunjukkan
bahwa lebih dari sebagian responden yang
tidak ada peran keluarga 86,7% dan hanya
13,3% responden yang ada peran
keluarganya. Sedangkan analisis bivariat
menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji
statistic chi-square. Nilai yang dipakai
adalah pada nilai Pearson chi-square . Nilai
significancy-nya adalah 0,004, nilai p <
0,05 Dengan demikian dikatakan ada
pengaruh antara peran keluarga dengan
perilaku kekerasan sehingga Ha diterima
dan Ho ditolak dengan Interpretasi ” bahwa
339
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
ada pengaruh peran keluarga dengan
kejadian perilaku kekerasan di RSKD
Provinsi Sulawesi Selatan”.
Dari hasil penelitian yang didapatkan
bahwa pasien yang mengalami perilaku
kekerasan juga dipengaruhi oleh peran
keluarga, pasien tidak dipercaya oleh
anggota keluarganya, tidak dihargai
dikeluarganya, dan pasien tidak mendapat
dukungan dari keluarganya. Sehingga,
peran keluarga sangat membantu pasien,
karena dengan adanya peran keluarga
pasien merasa dihargai dan dianggap ada.
Dengan begitu, pasien akan selalu ikut
berpatisispasi dalam keluarganya.
Selain itu, peran keluarga juga
sangat
membantu
pasien
dalam
memulihkan perasaan atau keadaanya
yang telah mengalami perilaku kekerasan.
Perilaku kekerasan yang dialami pasien
mungkin saja akan membuat trauma yang
berkepanjangan, sehingga peran keluarga
sangat
penting
dalam
proses
penyembuhan pasien.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Solihin
(2011)
menyatakan
bahwa
beberapa peran keluarga membenarkan
penggunaan
kekuasan
dengan
beranggapan bahwa hal tersebut cukup
efektif dan tidak berbahaya. Tetapi hal itu
bukan
berarti
bahwa
penggunaan
kekuasaan dan otoritas itu tidak merugikan
penggunaan kekuasan dan otoritas itu
akan lebih berbahaya apabila orang tua
tidak konsisten. Apabila orang tua merasa
bahwa
mereka
perlu
menggunakan
otoritas, maka konsistensi di dalam
penerapannya
akan
memberikan
kesempatan yang lebih banyak pada
seseorang untuk mengenali tingkah laku
mana yang baik atau tidak baik, sehingga
mengakibatkan seseorang berani berbuat
sesuka hatinya seperti perilaku kekerasan.
Keluarga
merupakan
lembaga
pertama dalam kehidupan seseorang,
tempat ia belajar dan menyatakan diri
sebagai makhluk sosial. Segala sesuatu
yang dibuat mempengaruhi keluarganya,
begitu
pula
sebaliknya.
Keluarga
memberikan dasar pembentukan tingkah
laku, watak, moral dan pendidikan kepada
anggota
keluarganya.
Pengalaman
interaksi
di
dalam
keluarga
akan
menentukan pula pola tingkah laku
seseorang terhadap orang lain dalam
masyarakat. Di samping keluarga sebagai
tempat awal bagi proses sosialisasi
seseorang, keluarga juga merupakan
tempat seseorang mengharapkan dan
mendapatkan pemenuhan kebutuhan akan
kepuasan
emosional.
Peranan
dan
tanggung jawab yang harus dimainkan
keluarga dalam membina anggota keluarga
yang lainnya.
Interaksi fungsional dalam hierarki
kekuasaan terjadi apabila kekuasaan
didistribusikan menurut pertumbuhan dan
perkembangan anggota keluarga atau
apabila kekuasaan diterapkan menurut
kemampuan dan sumber anggota keluarga
sesuai dengan ketentuan kebudayaan
keluarga
dari
hubungan
kekuasan
keluarga. (Friedman dkk, 2010)
Kondisi keluarga atau orang tua
dapat diartikan dalam konteks yang luas
yakni tidak hanya orang tua di rumah,
melainkan juga di luar rumah. Peran orang
tua menjadi kunci keberhasilan dalam
upaya pencegahan dan penanganan
perilaku menyimpang remaja atau pelajar.
Keluarga harus menciptakan suasana yang
kondusif bagi perkembangan sehat remaja,
yakni suasana keluarga yang harmonis
(sakinah). Sebaliknya keluarga yang tidak
baik atau harmonis, maka resiko anak
mengalami gangguan kepribadian dan
perilaku menyimpang lebih besar, kondisi
keluarga yang dimaksud sebagai berikut :
broken home, kesibukan orang tua yang
melupakan
keluarga,
hubungan
interpersonal yang buruk dan keluarga
kurang kasih sayang. (Setiawan. 2012)
Lingkungan
keluarga
adalah
lembaga pertama dan utama dalam
melaksanakan proses sosialisasi dan
sivilisasi pribadi anak. Karena di tengah
keluarga anak belajar mengenal makna
cinta kasih, simpati, loyalitas, ideologi,
bimbingan dan pendidikan. Keluarga
memberikan pengaruh menentukan pada
pembentukan watak dan kepribadian anak,
dan menjadi unit sosial terkecil yang
memberikan
pondasi
primer
bagi
perkembangan anak. Baik buruknya
struktur keluarga memberikan dampak baik
atau buruknya perkembangan jiwa dan
jasmani anak. (Setiawan. 2012).
3. Pengaruh lingkungan sosial terhadap
kejadian perilaku kekerasan.
Hasil analisis univariat menunjukkan
bahwa lebih dari sebagian responden
dengan lingkungan sosial buruk 90,0% dan
hanya
10,0%
responden
dengan
lingkungan sosial baik. Sedangkan analisis
bivariat menunjukkan bahwa berdasarkan
hasil uji statistic chi-square. Nilai yang
dipakai adalah pada nilai Pearson chisquare . Nilai significancy-nya adalah
0,001, nilai p < 0,05 Dengan demikian
dikatakan ada pengaruh antara lingkungan
340
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
sosial dengan perilaku kekerasan sehingga
Ha diterima dan Ho ditolak dengan
Interpretasi ” bahwa ada pengaruh
lingkungan sosial dengan kejadian perilaku
kekerasan di RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan”.
Dari data penelitian yang dilakukan,
pasien perilaku kekerasan dipengaruhi oleh
lingkungan
sosialnya.
Pasien
yang
mempunyai lingkungan sosial yang buruk
dengan menganggap orang lain itu sebagai
musuh, hidup dengan tetangga yang sering
mengejeknya, sering melakukan kekerasan
di luar rumah, dan tidak bisa berinterksi
dengan orang di sekitarnya. Sehingga,
menjadikan seseorang berani melakukan
perilaku kekerasan. Lingkungan sosial
pasien yang buruk muncul karena interaksi
dengan lingkungan sekitarnya kurang
terjalin dengan baik atau tidak terjalin sama
sekali, memungkinkan seseorang atau
pasien mengalami kejadian perilaku
kekerasan. Lingkungan sosial yang buruk
juga dapat muncul dari cara sehari-hari
pasien bergaul dengan orang-orang di
sekitarnya.
Hasil
penelitian
ini
memiliki
persamaan dengan hasil Itriyanti (2010)
yang menyatakan bahwa lingkungan sosial
sangat
mempengaruhi
terjadi
suatu
tindakan perilaku kekerasan. Kekecewaan
terhadap dirinya, orang dan lingkungannya
menjadikan seseorang merasa ada beban
psikologis yang membuat orang tersebut
jadi berbuat kasar hingga munculnya
perilaku kekerasan.
Situasi lingkungan sosial yang tidak
sehat atau rawan, cenderung juga akan
menimbulkan perilaku menyimpang dan
kerawanan sosial seperti halnya perilaku
kekerasan tersebut. Adapun lingkungan
yang dimaksud adalah hiburan malam,
minum-minuman keras dan narkoba,
prostitusi,
pornografi
dan
tindakan
kekerasan lainnya. Pelajar merupakan
generasi muda yang lahir dari keluarga
yang tumbuh dan berkembang, serta
berinteraksi dalam lingkungan pergaulan
masyarakat,
akan
bereaksi
dan
memberikan respon terhadap situasi yang
terjadi pada lingkungannya. (Kartono,
2010)
Menurut Gerungan (1991:82), situasi
sosial pada diri sendiri sudah mempunyai
pengaruh tertentu terhadap kegiatankegiatan individu dibandingkan dengan
kegiatan-kegiatan yang sama apabila
dalam keadaan sendirian; yakni situasi
kebersamaan
mempunyai
pengaruh
menyama-ratakan
pendapat-pendapat
orang yang ada di dalamnya. Jadi situasi
sosial seseorang akan mempengaruhi
proses yang berlangsung dalam diri
individu, baik dalam keputusan, perilaku
maupun tindakan yang dilakukan.
Sejak individu itu dilahirkan di dunia,
ia selalu berinteraksi dengan individuindividu yang lain di dalam kelompoknya,
sehingga dapat membentuk individu
menjadi person dan mengubah sifat-sifat
aslinya menjadi sifat-sifat kemanusiaan.
Hal-hal tersebut terjadi pada suku-suku
yang masih sederhana maupun orangorang modern yang hadir di kota-kota
besar selalu berinteraksi diantara teman
pergaulan. Secara singkat dapat dikatakan
bahwa
pergaulan
merupakan
suatu
hubungan yang mempengaruhi tingkah
laku individu. (Kartono, 2010)
Menurut Sherif dan Sherik (1991:94),
pergaulan adalah suatu unit sosial terdiri
dari dua atau lebih individu yang telah
mengadakan interaksi sosial yang cukup
intensif dan teratur, sehingga individu itu
sudah terdapat pembagian tugas, struktur
dan norma-norma tertentu yang khas bagi
kelompok itu. Pergaulan bila disorot secara
khusus akan memberikan gambaran yang
berbeda-beda. Akan terlihat adanya
pergaulan yang hanya bersifat sementara,
menengah sampai dalam jangka waktu
yang cukup panjang.
Demikian pula sifat pergaulan yang
tidak selalu sama, ada pergaulan yang
menggambarkan hubungan reaktif saja,
seolah-olah hubungan antara dua individu
atau lebih hanya terjalin hubungan yang
bersifat aksi dan reaksi saja. Namun
menurut Singgih (1977:35), ada pula
pergaulan dimana individu-individu yang
bersangkutan aktif dan kreatif menciptakan
hubungan
dimana
masing-masing
memajukan taraf kehidupannya dan saling
menyempurnakan
martabatnya.
Di
samping itu pula ada pergaulan yang
bentuknya cenderung bersifat ekspresif,
artinya pergaulan yang terjadi karena
keinginan untuk mengekspresikan jiwa
muda seseorang, yang dalam hal ini
kecenderungannya kurang positif, misalnya
hura-hura.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang
faktor
presipitasi
yang
mempengaruhi
terjadinya perilaku kekerasan di RSKD
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013, dapat
disimpulkan bahwa:
341
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
1. Ada pengaruh harga diri rendah
perilaku kekerasan di RSKD
Sulawesi Selatan.
2. Ada pengaruh peran keluarga
perilaku kekerasan di RSKD
Sulawesi Selatan.
3. Ada pengaruh lingkungan sosial
perilaku kekerasan di RSKD
Sulawesi Selatan.
terhadap
Provinsi
terhadap
Provinsi
SARAN
Diharapkan bagi pihak rumah sakit agar
meningkatkan penanganan pada pasien
perilaku kekerasan, dalam hal deteksi dini
penyebab terjadinya perilaku kekerasan.
terhadap
Provinsi
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni,
2011.Tugas
Psikologi
Lingkungan,
(online).
(http://Devianggraeni90.Word
2011/02/26/Tugas-Psikologi-Lingkunga) Diakses 26 April 2011.
press.com/
Dalami dkk, 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa dengan masalah Psikososial. CV. Trans Info Media. Jakarta
Direja, 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika. Yogyakarta.
Hamid, 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa Kesehatan Jiwa. Cetak 1. Penerbit kedokteran,EGC, Jakarta
Hidayat, 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Healt Books Publishing. Surabaya.
Iyus, 2011. Keperawat Jiwa. PT. Refika Aditama. Bandung.
Keliat dkk, 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas (CMHN(Basic Course). EGC, Jakarta
Kusumawati, 2012. Buku ajar Keperawatan Jiwa. Salemba Medika. Jakarta.
Mirawanti. Faktor Presipitasi yang Berhubungan Dengan Perilaku Kekerasan di RSKD Provinsi Sulawesi
Selatan. 2011.
Nanang, 2010. Metode Penelitian Kuantutatif. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Notoatmodjoko, 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.
Payapo Suliswati, Tjie Anita, Murahawa Jeremia, Sumijatun, 2012. Konsep Dasar Keperawatn Kesehatan
Jiwa.Buku Kedokteran,EGC. Jakarta.
Setiawan. Asuhan Keperawatan Keluarga. Edisi 2. Trans Info Media. Jakarta.
Setyowati. Asuhan Keperawatan Keluarga. Mitra Cendika Press. Jogjakarta.
Sulolipu, 2012. Sejarah Dan Pendekatan Kesehatan Masyarakat. FKM Universitas Muslim Indonesia. Makassar.
342
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 3 Tahun 2014 ● ISSN : 2302-1721
Download