PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP

advertisement
PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP
PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA
Pirantie Imadayani
Uly Gusniarti
Intisari
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik apakah pelatihan
kecerdasan emosi memberikan pengaruh terhadap kepercayaan diri remaja.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan membagi subjek menjadi
dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Metode ini
memberikan perlakuan berupa pelatihan kecerdasan emosi pada kelompok
eksperimen. Materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah kemampuan
intrapribadi, kemampuan antarpribadi, ketahanan menanggung stres, penyesuaian
diri dan suasana hati.
Desain eksperimen dalam penelitian ini menggunakan two independent
groups design, dengan menggunakan metode analisis independent sample t-test.
Subjek penelitian ini berjumlah 12 orang. Subjek adalah siswa kelas IX MTs
YAPI Pakem yang berusia antara 13 – 16 tahun. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan ada pengaruh pelatihan kecerdasan emosi terhadap peningkatan
kepercayaan diri remaja.
Kata kunci : Pelatihan kecerdasan emosi, Kepercayaan diri remaja
PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP
PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA
Pengantar
Dewasa ini, untuk mengikuti arus zaman yang terus melaju pesat, seseorang
harus memiliki kemampuan intelektual dan kemampuan sosial yang baik, dan
juga dituntut untuk memiliki mental yang kuat agar dapat bersaing dan bertahan
untuk mencapai kesuksesan. Kemampuan intelektual dan sosial harus diasah sejak
seseorang memasuki masa remaja, sehingga ia akan mendapatkan kehidupan yang
lebih baik dikemudian hari.
Pada masa remaja ini juga individu atau remaja akan sangat tergantung
pada pandangannya akan apa yang dia miliki, terutama dalam bersosialisasi
dengan lingkungannya. Pandangan akan apa yang dia miliki pada diri tersebut
menyangkut, misalnya penampilan fisik, status ekonomi, kemampuan akademik,
atau tingkat inteligensi.
Menurut Erikson, remaja seharusnya mampu mengatasi masalah dalam
dirinya, sehingga mereka dapat menentukan masa depannya. Intinya remaja harus
memiliki rasa percaya diri dengan apa yang mereka punya dan mampu
memanfaatkan potensinya (Iswidharmanjaya & Agung, 2004)
Sedangkan menurut Maslow percaya diri merupakan modal dasar untuk
pengembangan dalam aktualisasi diri (eksplorasi kemampuan dalam diri).
Seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan lebih mampu mengenal dan
memahami diri sendiri, sebaliknya jika seseorang kurang memiliki rasa percaya
diri maka akan sulit untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki dan akan
menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan raguragu untuk menyampaikan gagasan, bimbang dalam menentukan pilihan dan
sering membandingkan dirinya dengan orang lain (Iswidharmanjaya & Agung,
2004).
Seseorang yang penuh dengan rasa percaya diri memiliki sikap atau
perasaan yang yakin pada kemampuan mereka sendiri. Keyakinan itu muncul
setelah ia tahu apa yang dibutuhkan dalam hidup, sehingga mampu melihat
kenyataan yang ada. Kepercayaan diri inilah yang membuat seseorang tidak
membandingkan dirinya dengan orang lain, dan tidak terlalu membutuhkan
dukungan dari orang lain sebab ia tahu apa yang dibutuhkan dan diharapkan
dalam hidup (Iswidharmanjaya & Agung, 2004).
Secara umum, rasa percaya diri dapat dimiliki oleh seseorang jika ia telah
memiliki pengalaman, karena ia merasa dapat melakukan melakukan segala
sesuatu dengan kekuatannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan yang
dikemukakan oleh Hasan yang menyatakan bahwa kepercayaan diri adalah
kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan
yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat (Iswidharmanjaya &
Agung, 2004).
Rasa percaya diri belum tentu dimiliki oleh semua remaja yang sedang
berkembang. Dewasa ini banyak remaja yang memiliki rasa kurang percaya pada
dirinya sendiri baik itu di lingkungan sekolah, di depan banyak orang, juga saat
sedang menghadapi masalah untuk mengambil keputusan dan masih banyak
contoh lainnya lagi. Krisis kepercayaan diri ini merupakan hal yang sangat
manusiawi. Hal ini telah dibuktikan oleh banyak psikolog perkembangan yang
mengatakan bahwa sejak kecil hingga saat ini orang selalu mengalami krisis
percaya diri, bahkan penyakit ini bisa sangat kronis dan bisa menyebabkan orang
yang mengalami hal ini akan menarik diri dan tidak mau bergaul dengan orang
lain (Iswidharmanjaya & Agung, 2004).
Dampak utama yang muncul dari adanya rasa tidak percaya diri adalah
dampak psikologis, dimana siswa yang merasa dirinya tidak bisa untuk berbaur
sulit untuk lebih menunjukkan potensi yang dimilkinya, dan menyebabkan mereka
tidak bisa berkembang untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Siswa
menjadi pendiam dan menutup diri, karena ia merasa sulit untuk bersosialisasi dan
tidak percaya diri untuk bergaul dengan teman-temannya yang lebih mampu.
Dampak-dampak psikologis lain yang muncul dikarenakan kurangnya rasa
percaya diri adalah siswa menjadi kesulitan ber-adaptasi dengan lingkungan yang
baru, mereka tidak memiliki keberanian untuk memulai pembicaraan terlebih
dahulu, menyapa temannya, dan menyatakan pendapat (Triswanto, 2005)
Rendahnya rasa percaya diri yang dimiliki remaja menunjukkan bahwa
remaja tersebut memiliki kecerdasan emosional yang rendah (Hankin, 2004).
Definisi kecerdasan emosi itu sendiri menurut Baron adalah kemampuan untuk
mengenali diri sendiri, kemampuan untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang
lain, kemampuan untuk bersikap lentur dan realistis, kemampuan untuk tetap
tenang dan mampu bertahan dalam menghadapi konflik, serta kemampuan untuk
mempertahankan sikap optimis dan positif dalam menghadapi situasi sulit (Stein
& Book, 2002)
Remaja dengan kecerdasan emosi yang tinggi akan mampu untuk
menyelaraskan diri dan peka terhadap perasaan dan pikiran orang lain, mampu
untuk memahami, menyadari dan menghargai perasaan orang lain. Remaja dengan
kecerdasan emosi yang tinggi akan memiliki kesadaran dan kepedulian sosial,
mampu bekerja sama dan berperan konstruktif dalam lingkungan masyarakat,
serta tanggung jawab hidup bermasyarakat. Remaja dengan kecerdasan emosi
yang tinggi mampu membina dan memelihara hubungan yang saling memberi dan
menerima, serta lebih terampil dalam menjalin hubungan anatar pribadi yang
positif (Stein & Book, 2002).
Keterkaitan antara variasi kecerdasan emosi dan kepercayaan diri adalah
bahwa remaja yang memiliki kecerdasan emosi yang baik maka akan
membuatnya mampu bergaul dengan baik, mengenali dirinya, menangani stres,
dan memiliki tanggung jawab dalam kehidupannya. Sehingga, akan membuat
remaja memiliki rasa percaya diri.
Melalui pelatihan kecerdasan emosi, remaja akan diajarkan untuk lebih
mampu mengenali emosi yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
kepercayaan diri serta mampu menunjukkan potensi yang dimilikinya dan
menggunakan potensi tersebut dengan tepat untuk bergaul dan mengatasi masalah
yang dihadapi, sehingga mereka mampu mencapai tujuan hidup dengan sukses
tanpa merugikan orang lain.
Melalui pelatihan kecerdasan emosi diharapkan siswa lebih mampu untuk
bergaul dan berinteraksi satu sama lain sehingga lebih mampu untuk mengenali
perasaan orang lain, memiliki tanggung jawab yang tinggi, serta mampu
memelihara dan membina hubungan interpersonal yang saling menguntungakan
antara satu dan yang lainnya. Setelah mengikuti pelatihan kecerdasan emosi ini
diharapkan siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mampu
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, dan mampu melihat segala hal sesuai
dengan kenyataan. Setelah mengikuti pelatihan kecerdasan emosi ini diharapkan
siswa akan lebih mampu bertahan menghadapi situasi yang menimbulkan stres
serta mampu mengendalikan dorongan untuk melakukan tindakan yang
merugikan diri sendiri maupun orang lain. Melalui pelatihan kecerdasan emosi ini
diharapkan siswa mampu menikmati hidup dan memiliki pandangan optimis yang
realistis terhadap masa depan sehingga mampu merasa bahagia dalam menjalani
kehidupan (Baron dalam Stein & Book, 2002)
Pelatihan kecerdasan emosi diharapkan dapat membentuk karakteristik
remaja yang pada awalnya kurang memiliki rasa percaya diri menjadi lebih
percaya diri, karena hal itu sangat berperan dalam kesuksesan remaja di masa
depan.
Metode Penelitian
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 3 SMP di MTs Yappi Pakem,
Sleman, Yogyakarta. Subjek kemudian dipisah menjadi dua kelompok yaitu
kelompok eksperimen (KE) dan kelompok kontrol (KK). Pemisahan tersebut
dilakukan dengan cara random.
Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
metode skala dan observasi.
1. Skala Kepercayaan diri
Skala yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah skala kepercayaan diri
dari Lauster (1978), skala ini merupakan test kepribadian yang mengungkap
seberapa besar kepercayaan diri yang dimiliki oleh seseorang. Aitem yang
terdapat dalam skala ini berjumlah 50 aitem, setiap aitem mengungkap aspekaspek dari kepercayaan diri.
Jenis pertanyaannya bersifat tertutup. Tingkat kepercayaan diri subjek
dilihat dari hasil skoring test, jika hasil skoringnya tinggi maka subjek memiliki
rasa percaya diri yang tinggi, tetapi jika hasil skoringnya rendah subjek kurang
memiliki rasa percaya diri.
Tabel 1
Distribusi butir aitem skala kepercayaan diri setelah uji coba
Butir Favourable
Butir Unfavourable
Aspek
Nomor Butir
Jumlah Nomor Butir
Jumlah
Mudah menyesuaikan
diri
3 (1) , 39 (14),
3
38 (13)
1
49 (16)
Tanggung jawab
23 (9)
1
12 (4), 11 (5)
3
14 (6)
Optimistis
30 (11), 31 (12)
2
8 (2)
1
Ambisi
3 (1), 39 (14),
3
25 (10)
1
40 (15)
Toleransi
19 (7)
1
Jumlah
10
6
Keterangan : Angka yang bertanda ( ) adalah nomor aitem yang digunakan dalam
pre-test
Metode Analisis data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode Independent
Sample t-test, perbandingan antara skor pretest dan posttest dari kelompok
eksperimen. Analisis data dilakukan dengan SPSS versi 12.0 for windows.
Hasil Penelitian
Deskripsi Subjek Penelitian
Tabel 2
Karakteristik Usia Kelas IX MTs YAPI Pakem
Jenis
Kelamin
Usia
13
14
15
16
Laki-laki
2
4
Perempuan
1
4
1
Total
1
4
3
4
(Sumber : Profil MTs YAPI Pakem)
Jumlah
6
6
12
Deskripsi Data Penelitian
Tabel 3
Deskripsi Data Penelitian
Variabel
Hipotetik
Min
Max
Skor
Pretest
0
48
Skor
Posttest
0
48
Mean
Min
Empirik
Max
24
26
37
31.5
24
27
47
37
Mean
Deskripsi data penelitian di atas selanjutnya akan digunakan untuk
mengetahui kriteria kategorisasi kelompok subjek pada variabel-variabel yang
diteliti. Kategorisasi ini dimaksudkan untuk menempatkan individu ke dalam
kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang
Dalam hal ini, penulis menggunakan rumus kategorisasi yang dibuat oleh
Azwar (1999), dimana terdapat lima kategori. Rumus tersebut dapat dilihat pada
tabel 9 di bawah ini.
Tabel 4
Norma Kategorisasi
Norma Kategorisasi
X < Mµ - 1,8 . SD Hipotetik
Mµ - 1,8 . SD Hipotetik = X < Mµ - 0,6 . SD
Hipotetik
Mµ - 0,6 . SD Hipotetik = X < Mµ + 0,6. SD
Hipotetik
Mµ + 0,6 . SD Hipotetik = X = Mµ + 1,8 . SD
Hipotetik
X > Mµ + 1,8 . SD Hipotetik
Kategori
Kategori Sangat Rendah
Kategori Rendah
Kategori Sedang
Kategori Tinggi
Kategori Sangat Tinggi
Berdasarkan norma kategorisasi yang telah disebutkan sebelumnya, maka
subjek penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori pada masingmasing variabel, yang dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini :
Tabel 5
Deskripsi kategorisasi subjek penelitian berdasarkan hasil pretest
Kategori
Norma
Kepercayaan diri Sangat
Rendah
X < 9,6
Kepercayaan diri Rendah
9,6 = X< 19,2
Kepercayaan diri Sedang
19,2 = X < 28,8
Kepercayaan diri Tinggi
28,8 = X = 38,4
Kepercayaan diri Sangat
X > 38,4
Tinggi
n
Persentase
0
0
7
5
0%
0%
58,33%
41,67%
0
0%
Tabel 6
Deskripsi kategorisasi subjek berdasarkan hasil posttest
Kategori
Norma
Kepercayaan diri Sangat
Rendah
X < 9,6
Kepercayaan diri Rendah
9,6 = X< 19,2
Kepercayaan diri Sedang
19,2 = X < 28,8
Kepercayaan diri Tinggi
28,8 = X = 38,4
Kepercayaan diri Sangat
X > 38,4
Tinggi
n
Persentase
0
0
1
8
0%
0%
8,33%
66,67%
3
25%
Uji Asumsi
Uji Normalitas
Hasil uji normalitas pada data pretest kelompok eksperimen menunjukkan
sebaran yang normal pada skala kepercayaan diri remaja dengan koefisien KS-Z
0,747 dan p = 0,631 (p > 0,05). Sedangkan uji normalitas data pretest pada
kelompok kontrol menunjukkan sebaran yang normal dengan nilai KS-Z 0,686
dan p = 0,734 (p > 0,05). Selain melakukan uji normalitas pada data pretest,
penulis juga melakukan uji normalitas pada data posttest pada kedua kelompok.
Hasil uji normalitas data posttest pada kelompok eksperimen menunjukkan
sebaran normal dengan nilai KS-Z 0,571 dan p = 0,900 (p > 0,05). Sedangkan uji
normalitas data posttest kelompok kontrol menunjukkan sebaran normal dengan
nilai KS-Z 0,838 dan p = 0,484 (p > 0,05).
Uji Hipotesis
Uji hipotesa menggunakan independent sample t-test. Analisis data
menggunakan data gain score, uji hipotesa menunjukkan bahwa rata-rata tingkat
kepercayaan diri pada kelompok eksperimen adalah 5,4167 dan rata-rata tingkat
kepercayaan diri kelompok kontrol adalah -1,3636. Berdasarkan hasil analisis
diketahui bahwa nilai t = 3,205 dan sig (p) = 0,002 (p < 0,05). Artinya ada
perbedaan yang signifikan pada tingkat kepercayaan diri antar kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol.
Pembahasan
Melihat
adanya
pengaruh
pelatihan
kecerdasan
emosi
terhadap
peningkatan keprcayaan diri remaja, dapat dipahami jika jika seseorang mampu
mengidentifikasi perasaan yang sedang dialami atau yang sedang terjadi pada diri
sendiri, merupakan suatu bentuk rasa percaya diri. Jika seseorang mengenali
perasaan yang sedang dialami, maka ia juga akan mempunyai keberanian untuk
mengungkapkan perasaan kepada orang lain. Jika seseorang memendam
perasaannya, maka akan menambah beban dan justru akhirnya akan merugikan
diri sendiri, dan akan mengalami kesulitan membuka diri. Saat seseorang
memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada orang lain, maka ia
akan mampu bersosialisasi dengan baik. Selain itu, seseorang akan lebih
menghargai dirinya sendiri, dan memiliki keyakinan bahwa ia mampu
memberikan manfaat bagi orang lain. Selain itu Gottman berpendapat bahwa anak
yang emosinya terlatih akan membuatnya lebih terampil dalam menenangkan
dirinya sendiri bila anak tersebut marah, lebih terampil dalam memusatkan
perhatian, dan lebih cakap dalam memahami orang lain. Gottman juga
menambahkan bahwa anak yang mendapatkan pelatihan emosi akan memiliki
persahabatan yang lebih baik dengan anak lain yang kebanyakan adalah teman
sebayanya, sehingga hal ini akan membuat anak merasa diterima dengan baik oleh
lingkungan dan akhirnya akan meningkatkan rasa kepercayaan diri pada anak
tersebut.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa pelatihan
kecerdasan emosi mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja.
Saran
Bagi Subjek
Sebaiknya subjek harus lebih meningkatkan kecerdasan emosinya. Subjek
harus bisa mengenali perasaannya, mengenali siapa dirinya, mengenali perasaan
orang lain, mengelola emosi dengan baik dan mengerti perasaan orang lain,
sehingga akan mempermudah subjek dalam bergaul dan menghadapi lingkungan
sekitar.
Bagi Sekolah
Meskipun keluarga merupakan tempat pertama bagi seseorang, namun tidak bisa
dipungkiri bahwa sekolah juga memiliki peranan yang penting. Penulis
mengharapkan pihak sekolah lebih sering berdialog dengan siswanya, dan jangan
pernah bosan untuk selalu memberikan pengarahan dan semangat kepada para
siswanya. Hal ini diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru
bimbingan konseling, tetapi untuk seluruh guru yang memberikan pelajaran dapat
mengintegrasikan nilai-nilai kecerdasan emosi dalam memberikan pelajaran di
sekolah.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya pada alat ukur,
pelaksanaan eksperimen, serta kurangnya penggalian informasi tambahan. Pada
penggunaan alat ukur penulis mengharapkan agar peneliti selanjutnya dapat
membuat alat ukur sendiri. Jika menggunakan alat ukur yang digunakan pada saat
pretest maupun posttest sebaiknya dibuat berbeda, untuk menghindari adanya
proses belajar pada subjek.
Pelaksanaan eksperimen hendaknya dilengkapi dengan adanya evaluasi.
Evaluasi yang diperlukan bukan hanya evaluasi reaksi tetapi diperlukan juga
evaluasi hasil untuk melihat keberhasilan penelitian dan pengaruh pelatihan pada
subjek.
Daftar Pustaka
Agustien, F. 2005. Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosional Terhadap
Peningkatan Kepercayaan Diri Pada Siswa Sekolah Dasar. Skripsi (Tidak
Diterbitkan). Yogyakarta : Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan
Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia
Anida, K. 1997. Pengaruh Emotional Intelligence (EQ) Terhadap Pengembangan
Potensi Anak. Makalah (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas
Psikologi Universitas Gajah Mada
Azwar, S. 1999. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Andriani, H. 2001. Hubungan Antara Kepercayaan Diri, Kemandirian dengan
Prestasi Atlet Pencak Silat. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta :
Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia
Cremer, H & Siregar, M. 1993. Proses Pengembangan diri. Jakarta : Grasindo
Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan remaja. Bogor : Ghalia Indonesia
Davies, P. 2004. Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Terjemahan). Yogyakarta :
Torrent Books
Field, L. 1997. 60 Tips for Self Esteem. Amerika Serikat : Element Book. Inc
Goleman, D. 1996. Kecerdasan Emosional (Terjemahan). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Goleman, D. 1999. Working With Emotional Intelligence (Terjemahan). Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Goleman, D. 2000. Executive EQ : Kecerdasan emosional Dalam Kepemimpinan
dan Organisasi (Terjemahan). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Gottman, J & DeClaire, J. 1998. Kiat-kiat membesarkan anak yang memiliki
kecerdasan emosi. Jakarta : P.T. Gramedia Pustaka Utama
Hankin, S. 2004. Strategi Untuk Meningkatkan rasa Percaya Diri (Terjemahan).
Jakarta : Gramedia pustaka Utama
Huda, N. 2003. Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan
Menghadapi Masa Depan Pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Skripsi (Tidak
Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
Hurlock, E.B. 1990. Psikologi perkembangna. Jilid II Edisi Keenam. Jakarta :
Erlangga.
Iswidharmanjaya, D & Agung, G. 2004. Satu Hari Menjadi Lebih Percaya Diri.
Jakarta : PT. Elex Media Komputindo
Jati, W. 2002. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kecemasan
Penyusunan Skripsi Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam
Indonesia. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Program Studi
Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam
Indonesia
Kartono, K & Gulo, D . 2000. Kamus Psikologi. Bandung : Pionir Jaya.
Kumara, A. 1990. Studi Pendahuluan Tentang Validitas dan Reliabilitas The Test
of Self Confidence, Laporan Penelitian. Yogyakarta : Fakultas Psikologi
Universitas Gajah Mada
Lauster, P. 1978. The Personality test. Pan Book London and Sydney
Mahardicka, C. 2004. Hubungan Persepsi terhadap Konflik Aceh dengan Tingkat
Kepercayaan Diri Pada Mahasiswa Aceh di Yogyakarta. Skripsi (Tidak
Diterbitkan). Yogyakarta : Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan
Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia
Mettasari, S. 2004. Hubungan Nilai IPK Dengan Kepercayaan Diri dalam
Memasuki Dunia Kerja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta :
Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia
Myers, A. 1987. Experimental Psychology. Second edition. California :
Brooks/Cole publishing company.
Raudhah, H. 2002. Persepsi Terhadap Suasana Rumah dan Kepercayaan Diri
Pada Remaja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Program Studi
Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam
Indonesia
Santrock, J.W. 2001. Perkembangan Remaja (Terjemahan oleh Yustinus). Jakarta
: Penerbit Erlangga.
Shapiro, L. 1997. Mengajarkan Emosional Intelligence pada Anak. Jakarta:
Buana Printing.
Seniati, L., Yulianto, A., & Setiadi, B. 2005. Psikologi Eksperimen. Jakarta :
Indeks Kelompok Gramedia.
Stein, S.J. & Book, H.E. 2000. Ledakan EQ : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan
Emosional Meraih sukses (Terjemahan). Bandung : Kaifa.
Subandi. 1998. Hubungan Antara kecerdasan Emosional , Sikap Terhadap
Penyajian Materi Kuliah, Motivasi Berprestasi Dengan Prestasi belajar
Mahasiswa PGSD. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Program
Pasca Sarjana Psikologi Universitas Gajah Mada
Tafthoyani, A. 2003. Hubungan Antara Pemahaman Diri dengan Kepercayaan
Diri Pada Penyandang Cacat Tubuh. Skripsi (Tidak Diterbitkan).
Yogyakarta : Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial
Budaya Universitas Islam Indonesia
Triswanto, S.D. 2005. Pede Abis... Siapa Takut. Yogyakarta : Media Abadi
Wibowo, H.G. 1998. Hubungan Penerimaan Diri dan Persepsi Penerimaan
Masyarakat Dengan Kepercayaan Diri Pada Pria Homoseksual. Skripsi
(Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah
Mada
Download