pengaruh model pembelajaran multikultur terhadap prestasi belajar

advertisement
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MULTIKULTUR
TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN
EMPATI SOSIAL SISWA SD
Riyanto, Diah Aryulina, dan Sukino*)
Abstract: This research aimed to prove multicultural teaching model towards primary students’
achievement progress. The method used was quasi-experiment. The subject of the research was
the second year students of SDN 11 Bengkulu city which were grouped into experimental and
control. The instrument used was learning achievement test. The finding showed that multicultural
teaching model significantly influenced students’ learning achievement.
Keywords: Multicultural teaching model, learning achievement.
Menjelang era globalisasi saat ini, Indonesia
menghadapi tantangan perkembangan dunia yang
semakin berorientasi ilmu pengetahuan dan
teknologi. Selain itu, Indonesia juga menghadapi
tantangan berat dari dalam negeri yaitu krisis
moneter dan ekonomi serta buruknya iklim sosial
dan politik yang bermula sejak akhir 1997 mengakibatkan terjadinya krisis kultural di dalam
kehidupan bangsa dan negara (Azra, 2003).
Kondisi kritis bangsa Indonesia saat ini menuntut
upaya sungguh-sungguh dalam memperbaiki
segala aspek kehidupan. Salah satu upaya yang
krusial adalah dengan mereformasi sistem dan
praktik pendidikan. Praktik pendidikan perlu diperbaiki agar produk pendidikan tidak saja
menguasai iptek namun juga berkepribadian
mulia sehingga sanggup menghadapi tantangan
global maupun lokal. Sebagaimana yang dituangkan dalam Undang Undang Sistem Pendidikan
Nasional (UUSPN) tahun 2003 bahwa pendikan
nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi
pesrta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Upaya pembentukan SDM yang menguasai
iptek dan berkepribadian mulia dapat dilakukan
pada setiap bidang pendidikan, meliputi bahasa,
matematika, IPA, dan IPS. Pembentukan SDM
yang melek sains dan teknologi dibutuhkan agar
Indonesia mampu meningkatkan kemampuan
teknologi bangsa (Buchori, 2000). Untuk membentuk manusia yang menguasai ipteks dapat
dilakukan melalaui pendidikan. Bahkan pem-
bentukan tersebut harus dimulai dari sekolah
dasar (SD). Pendidikan SD merupakan fondasi
yang dibutuhkan untuk mengembangkan dasardasar perilaku (iptek dan akhlak) yang selanjutnya berperan dalam mengembangkan sektor
industri, meningkatkan pertumbuhan ekonomi
suatu bangsa yang berbudaya luhur. Peran pendidikan SD yang strategis tersebut berimplikasi
pada perlunya pendidikan SD yang bermutu.
Kompas (2000) mengutip beberapa ahli pendidikan bahwa menyikapi kondisi masyarakat
Indonesia saat ini pendidikan dasar sebagai prioritas utama perbaikan pendidikan di Indonesia.
Kenyataannya, saat ini mutu pendidikan
berada pada posisi yang tidak menggembirakan.
Hasil penilaian Human Development Index
(HDI) tahun 2002 menunjukkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dibandingkan dengan negara lainnya pada tahun 2002
berada pada peringkat 110 dari 173 negara. Hal
ini menunjukkan bahwa kemiskinan telah mengakibatkan menurunnya kualitas SDM Indonesia.
Jika hal ini tidak segera diatasi, maka diperkirakan akan menurunkan daya saing bangsa
Indonesia dibandingkan dengan negara lainnya
di dunia (Deni, 2002). Di tingkat ASEAN,
Indonesia berada di atas Filipina, namun jauh di
bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan perbandingan internasional, kemampuan anak Indonesia bidang MIPA kurang menggembirakan (TIMSS-R tahun 2003 dalam http://
nces.ed.gov/pubs2005/2005005.pdf). Mutu pendidikan rendah juga ditunjukkan dari rendahnya
nilai ujian Nasional di tingkat SLTA, SLTP, dan
SD. Hasil belajar siswa SD di Kota Bengkulu
*) Riyanto, Diah Aryulina dan Sukino adalah dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Bengkulu
139
140 FORUM KEPENDIDIKAN, VOLUME 27, NOMOR 2, MARET 2008
kurang baik. Hasil belajar sains yang ditunjukkan
oleh rerata nilai UAS mata pelajaran sains adalah
5,88 (Dinas Diknas Kota Bengkulu,2004). Demikian juga, hasil belajar bidang IPA siswa SD di
Provinsi Bengkulu tergolong kurang baik, yaitu
rerata nilai USBN mata pelajaran IPA adalah
6,10 (Dinas Diknas Provinsi Bengkulu, 2008).
Mutu pendidikan yang rendah di Indonesia
tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa studi yang dikutip Cahyana (1998)
menunjukkan faktor-faktor tersebut antara lain
adalah: (1) kurangnya motivasi siswa untuk
belajar; (2) kurangnya siswa mempunyai pemahaman yang mendasar tentang konsep-konsep
dasar; (3) belum memadainya kualitas guru pada
umumnya dari sisi kualifikasi, latar belakang
pendidikan dan pengalaman kerjanya; serta (4)
terlalu banyak dan terlalu tingginya materi yang
disajikan dibandingkan dengan kemampuan
guru, kesiapan siswa, dan peralatan belajar pendukungnya. Menurut laporan Balitbang Depdiknas, hanya sekitar 30 persen dari keseluruhan
guru tingkat SD di Indonesia yang mempunyai
kualifikasi untuk mengajar. Hal yang sama juga
terjadi di satuan pendidikan menengah, terutama
di lingkungan madrasah Faqih, Data Departemen
Agama (2006) menyebutkan bahwa sekitar 60
persen guru madrasah tidak mempunyai kualifikasi mengajar Faqih, 2007). Karena itu, sekolah
perlu dibantu dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Perbaikan dalam proses pendidikan menurut Buchori (2000) perlu dilakukan dengan
merancang pembelajaran agar dapat dicerna oleh
setiap siswa dan tidak membuat siswa takut.
Pendidikan yang tidak membuat takut siswa berarti bahwa pendidikan perlu mengintegrasikan
cara-cara pembelajaran yang dapat mendorong
minat belajar siswa. Menurut Tilaar dan
Suhaenah dalam Kompas (2006) sekolah sebagai
lingkungan kedua anak dalam kehidupan seharihari dapat menjadi tempat pembangunan karakter
anak dan watak. Menurut Semiawan (2002)
untuk memperbaiki mutu bangsa Indonesia yang
dilanda konflik dan bermutu rendah seperti saat
ini perlu diterapkan pendidikan multikultur di
sekolah. Menurut Sue Kenny (dalam Kompas 20
Maret 2006) multikulturalisme perlu dipertahankan di Indonesia, tidak saja di tingkat nasional
tetapi juga di tingkat daerah, karena meskipun
homogen tetap ada perbedaan penafsiran maupun
akses ekonomi (Ahmad Suaedy dalam Kompas
20 Maret 2006).
Salah satu tujuan utama pendidikan multikultur adalah mengubah berbagai pendekatan
belajar mengajar, mengubah konseptulisasinya
dan organisasinya sehingga setiap indiividu dari
berbagai budaya memeroleh kesempatan yang
sama (perhatian dan pelayanan penuh) untuk
belajar dalam lembaga pendidikan. Berdasarkan
pada paparan tersebut, model pembelajaran
multikultur merupakan perpaduan dari berbagai
ragam metode, media, dan kegiatan yang sesuai
dengan kebutuhan dan latar masing-masing
individu. Beberapa metode yang akan diterapkan
adalah permainan, belajar kooperatif, tematik
dengan memanfaatkan sumber belajar dan memperhatikan pengetahuan awal siswa.
Salah satu upaya perbaikan pendidikan di
SD adalah dengan memadukan unsur bermain,
bekerjasama, keaktifan siswa, sumber belajar,
dan pengetahuan awal siswa dalam penyajian
materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan
prestasi dan empati sosial siswa dalam pembelajaran. Bentuk bermain antara lain adalah game.
Permainan (game) adalah kegiatan yang pemainnya bermain mengikuti aturan yang sudah
ditentukan yang berbeda dengan realita untuk
mencapai tujuan permainan (Heinich, Molenda,
dan Russel, 1993). Perbedaan antara permainan
dan kenyataan keseharian inilah yang membuat
game menghibur. Menurut Heinich, Molenda,
dan Russel (1993), penerapan game dalam pembelajaran sangat cocok antara lain untuk mendukung pencapaian tujuan kognitif pada kegiatan
belajar bahasa, aritmatika, dan sains serta meningkatkan minat siswa karena game merupakan
kegiatan yang menyenangkan. Sapari (2000) dan
Rieber (1996) mengungkapkan penelitian mengenai pembelajaran yang menyenangkan menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar
siswa. Kondisi bermain yang santai dan menyenangkan terutama produktif untuk siswa yang
berprestasi rendah yang mendapat kesulitan dari
jenis kegiatan belajar yang terstruktur (Heinich,
Molenda, dan Russel, 1993). Penggunaan game
pada pembelajaran matematika menghasilkan
prestasi belajar siswa yang lebih tinggi daripada
pembelajaran konvensional (Randel, 1992).
Penggunaan game juga membangkitkan minat
belajar (Randel, 1992; Rieber, 1996) dan berperan dalam membentuk kecerdasan emosional
dan sosial (Elias et.al., 1997).
Pembelajaran kooperatif memberikan
lingkungan belajar di mana siswa bekerja sama
dalam suatu kelompok kecil yang kemampuan-
141 FORUM KEPENDIDIKAN, VOLUME 27, NOMOR 2, MARET 2008
nya berbeda (heterogin) untuk menyelesaikan
tugas akademik. Keragaman inilah yang membudayakan siswa untuk saling memahami
keunikan, kelebihan, dan kekurangan masingmasing. Jika hal ini berkelanjutan maka dapat
menumbuhkan pada diri siswa empati sosial.
Menurut Semiawan (2002) pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan mutu dan mencegah
konflik. Hasil penelitian Riyanto (1988) bahwa
belajar kerjasama dapat meningkatkan hasil
belajar praktik mesin di STM.
Pengajaran tematik merupakan pengajaran yang didasarkan pada topik penyatu. Menurut
(Czerniak, Weber, Sandmann Jr., dan Ahern,
1999), topik penyatu dapat berupa tema sentral,
isu, masalah nyata, atau pengalaman siswa.
Lederman dan Niess (1997) menyebutkan istilah
lain yang sering digunakan untuk tematik yaitu
terpadu, interdisipliner, dan terintegrasi. Contoh
pengajaran tematik yang menggabungkan beberapa mata pelajaran menurut Barbra (1998)
yaitu integrasi sains dengan matematika, Science
Technology Society (STS), dan Teaching Reading in The Content Area (TRICA). Pengajaran
tematik yang berdasarkan pada tema yang
relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa
sesuai dengan proses belajar siswa menurut
perspektif konstruktivistik (Czerniak, Weber,
Sandmann Jr., dan Ahern, 1999). Siswa belajar
dengan mengembangkan pengetahuannya. Belajar akan lebih bermakna jika siswa dapat melihat
keterkaitan pengetahuan baru dengan pengetahuan awalnya. Hasil penelitian Riyanto (1997)
bahwa belajar terpadu dapat meningkatkan
prestasi siswa dalam praktik mesin.
Berdasarkan paparan di muka, dapat disimpulkan bahwa belajar yang baik adalah yang
melibatkan unsur bermain, kooperatif, tematik
dengan memanfaatkan sumber belajar dan memperhatikan pengetahuan awal siswa (budaya
lokal). Hasil penelitian Aryulina, Riyanto, dan
Bakti Kharyadi (2002) menunjukkan bahwa pengetahuan awal siswa dapat memudahkan siswa
memahami konsep baru. Karena itu, dalam penelitian ini akan dikembangkan model pembelajaran multikultur SD agar tujuan pembelajaran SD
(UUSPN, 2003) dan empat pilar belajar abad 21
yang dicanangkan oleh Komisi Pendidikan Unesco (Tilaar, 1999) dapat dicapai.
Berdasarkan uraian di muka, pertanyaan
utama dalam penelitian ini adalah apakah model
pembelajaran multikultur SD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hipotesis penelitian
ini adalah model pembelajaran multikultur SD
dapat meningkatkan prestasi siswa.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan rancangan
eksperimen kuasi karena peneliti ingin menyelidiki pengaruh satu variabel bebas dan
pengambilan sampel tidak dapat dilakukan
secara acak (Sowell dan Cassey, 1987). Disebut
rancangan eksperimen kuasi karena penelitian ini
tidak dapat mengontrol semua sumber ketidaksahihan internal dan penentuan subjek penelitian
tidak dapat dilakukan secara acak (Campbell dan
Stanley, 1966; Tuckman, 1988). Penentuan
subjek dilakukan dengan intact group, yaitu pemilihan acak terhadap dua kelompok dari setiap
sekolah yang telah diorganisasikan ke dalam
kelompok tertentu, sehingga sumber bias karena
faktor seleksi dapat dikendalikan.
Bias seleksi juga ditanggulangi dengan
membandingkan nilai beberapa variabel kontrol
yang secara potensial berhubungan dengan perlakuan, seperti jenis kelamin, bakat, intelegensi,
dan lain-lain (Tuckman, 1988). Data utama diperoleh dengan memberikan tes hasil belajar.
Sampel sekolah pada tahap eksperimen
kelompok kecil (tahun pertama) dilakukan secara
purposive (Gay, 1992) dari sekolah di Kota
Bengkulu. Pemilihan SD didasarkan pada SD
yang memiliki beragam karakteristik siswa. Pada
sekolah yang terpilih, dipilih secara acak dua
kelas untuk siswa kelas 2. Seluruh siswa di 2
kelas yang terpilih merupakan sampel penelitian.
Berdasarkan hasil survey SD yang memenuhi
kriteria di atas adalah SD Negeri 11 karena SDN
11 memiliki 4 kelas paralel siswa kelas 2. Dari 4
kelas yang ada dipilih 2 kelas yang setara dan
memiliki beragam karakteristik, yaitu kelas 2C
dan 2D. Siswa di Kelas 2C, orang tua mereka
berasal dari daerah yang berbeda, yaitu Jawa/
Jakarta, Padang, Palembang, Medan, Pekanbaru/
Riau, Jambi, dan Bengkulu; pendidikannya dari
tamat SD sampai sarjana; pekerjaaanya juga
beragam, yaitu buruh, pedagang, swasta,
nelayan, PNS, dan Polri. Siswa di Kelas 2D,
orang tua mereka berasal dari daerah yang berbeda, yaitu Jawa/Jakarta, Padang, Lampung,
Medan, Linggau, dan Bengkulu; pendidikannya
dari tamat SD sampai sarjana; pekerjaaanya juga
beragam, yaitu buruh, pedagang, swasta, nelayan, PNS, dan TNI. Kemampuan kedua kelas
142 FORUM KEPENDIDIKAN, VOLUME 27, NOMOR 2, MARET 2008
tersebut setara, yaitu kelompok sedang. Dipilih
kelompok sedang agar hasil penelitian ini dapat
digeneralisasikan ke sekolah lain karena kelompok sedang merupakan kelompok mayoritas.
Instrumen yang digunakan adalah Tes
Prestasi. Tes prestasi belajar yang digunakan
berupa tes pilihan ganda dan uraian. Tes pilihan
ganda berjumlah 15 butir, isian singkat 11 butir,
dan uraian 7 butir. Butir tes yang digunakan
diperoleh dari sumber-sumber sendiri dan ada
yang dikembangkan dari buku-buku SD. Butir
tes disusun berdasarkan kompe-tensi yang akan
dicapai. Untuk butir tes pilihan ganda, setiap
butir diberikan nilai 1 jika jawaban betul dan 0
jika jawaban salah. Untuk butir tes uraian, setiap
butir diberikan nilai rentang 0—10. Untuk mendapatkan butir tes yang memenuhi syarat, butir
tes yang telah disusun divalidasi kepada ahli.
Pengukuran validitas untuk tes prestasi adalah
validitas isi (content validity). Pelaksanaan validasi butir tes dilakukan oleh 4 orang guru SD, 1
orang ahli psikologi/tes. Rentang penilaiannya
dibagi dalam 4 kategori, yaitu baik sekali, baik,
cukup, dan kurang. Berdasarkan hasil validasi
ahli, seluruh butir tes dinyatakan baik sekali
(valid), tetapi ada 3 butir tes yang kalimatnya
perlu diperbaiki, yaitu butir nomor, 2, 8, dan 14.
Prosedur pengumpulan data ini dibagi
dalam dua tahap, yaitu tahap kegiatan belajarmengajar dan postes. Desain penelitian yang
digunakan adalah posttest only control group
design karena desain ini merupakan desain yang
paling kuat dalam validitas internalnya (Campbell dan Stanley, 1966). Menurut Campbell dan
Stanley (1966) tes awal tidak perlu diadakan jika
bahan pelajaran yang diajarkan pada siswa
adalah bahan pelajaran baru. Tahap kegiatan
belajar mengajar satu kelompok (kelas 2D)
diajar dengan model pembelajaran multikultur
dan satu kelompok (kelas 2C) diajar dengan
model konvesional. Pembelajaran dilakukan selama 4 minggu (70 jam pelajaran). Materi pelajaran yang diajarkan kedua kelompok adalah
sama dan dalam jangka waktu yang sama pula.
Masing-masing kelompok diajar oleh guru yang
berbeda, tetapi keduanya memiliki kualifikasi
pendidikan dan pengalaman mengajar yang
sama. Postes berupa tes prestasi belajar diberikan
setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Untuk menguji hipotesis peneltian digunakan tes-t. Agar tes-t dapat dilakukan ada empat
asumsi yang harus dipenuhi (Tuckman, 1988).
Keempat asumsi tersebut adalah (1) subjek yang
dijadikan sample dalam penelitian harus diambil
secara acak. Pengacakan yang dilakukan dalam
rancangan penelitian ini berjenis acak antarkelompok (intack group). Cara ini dapat dianalisis dengan tes t (Moore, 1983); (2) distribusi
gejala yang diselidiki dalam masing-masing
populasi harus sama normal. Untuk menguji
distribusi normal diguanakan uji One Sample
Kolmogorov-Smirnov (Sprent, 1991). Analisis
uji distribusi normal dengan SPSS 16 menunjukkan hasil sebagai berikut: kelompok model
klasikal nilai KSZ = 1,132 dengan p = 0,154 dan
kelompok model multikultur nilai KSZ = 0,876
dengan p = 0,427; 3) Varian-varian dari masingmasing populasi tidak berbeda secara signifikan
satu dengan yang lain. Untuk menguji kesamaan
varian digunakan Levene’test dengan SPSS 16.
Hasil analisis menunjukkan bahwa F=0,656
dengan signifikansi 0,422; 4) Distribusi nilai
harus linier. Untuk menguji linieritas diguanakn
analisis linieritas (Guilfort, 1981). Untuk menghitung analisis linieritas digunakan SPPS 16.
Hasil analisis linieritas menunjukkan harga p=
0,33.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah penelitian berakhir, data yang terkumpul ditabulasi. Tabulasi data secara lengkap
dapat dilihat pada Tabel 1 dan ringkasannya
sebagai berikut.
Tabel 1. Kelompok dan Nilai
Kelompok
Eksprimen
Kontrol
Nilai
Terendah
52
42
Nilai
Rata-rata
80,07
74,58
Nilai
Tertinggi
94
91
Hasil tabulasi itu menunjukkan bahwa
tidak semua siswa yang dikutsertakan dalam eksperimen dapat melaksanakan setiap tahapan
eksperimen sepenuhnya, seperti perlakuan dan
postes. Untuk mempertahankan kesahihan internal maka semua data yang diambil dari subjek
penelitian yang tidak terlibat dalam setiap tahapan eksperimen tidak disertakan dalam analisis
statistik.
Berdasarkan pada cara yang dipaparkan di
muka, maka jumlah subjek penelitian yang diikutsertakan dalam analisis statistik tidak sama
dengan jumlah subjek penelitian yang terlibat
dalam eksperimen. Data yang memenuhi syarat
untuk dianalisis adalah 29 dari 32 subjek untuk
kelompok eksperimen. Ketiga siswa tidak me-
143 FORUM KEPENDIDIKAN, VOLUME 27, NOMOR 2, MARET 2008
menuhi syarat untuk dianalisis karena tidak
mengikuti tes prestasi. Kelompok kontrol yang
memenuhi syarat untuk dianalisis adalah 29 dari
34 subjek. Kelima siswa tidak memenuhi syarat
untuk dianalisis karena 5 siswa tidak mengikuti
tes prestasi. .Dengan demikian, jumlah subjek
pada setiap kelompok yang akan dibandingkan
29 kasus. Menurut Borg (1983) jumlah ini cukup
memadai.
Untuk menguji hipotesis, data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan tes t,
sedangkan untuk menguji hipotesis 2 digunakan
deskriptif persentase karena data hipotesis 2
berupa nominal. Penghitungan tes t dilakukan
dengan bantuan SPSS 16. Ringkasan hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Ringkasan Hasil Analisis
Pretasi
Belajar
df
t
Taraf Sgonifikan
56
2,009
0,049
Berdasarkan análisis diatas, diperoleh hasil
bahwa ada perbedaan nilai rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dengan taraf signifikan 0,05 untuk dua ekor (p=
0,049). Dengan hasil analisis ini, hipotesis nol
ditolak secara signifikan. Nilai rata-rata siswa
kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Karena itu, dapat diartikan
bahwa model pembelajaran multikultur dapat
meningkatkan prestasi siswa.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis
dapat dikatakan bahwa model pembelajaran multikultur dalam mengajarkan pokok bahasan bertema lingkungan berpengaruh terhadap prestasi
siswa. Dengan demikian, prestasi belajar siswa
meningkat. Temuan-temuan tersebut dijadikan
titik tolak dalam melakukan kajian lebih lanjut
tentang keungggulan model pembelajaran multikultur.
Temuan menunjukkan bahwa model multikultur efektif untuk meningkatkan prestasi siswa.
Keefektifan model multikultur terhadap prestasi
siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Perbedaan utama kedua model pembelajaran adalah
pada model pembelajaran multikultur siswa
belajar secara kooperatif dan pada model konvensional siswa belajar secara klasikal. Dengan
belajar kooperatif siswa yang kurang pandai
dapat belajar dengan siswa yang pandai. Selain
itu, siswa lebih berani bertanya kepada temannya
sampai paham, sehingga penjelasan siswa kepada
temannya lebih mudah dipahami daripada pen-
jelasan guru. Hal ini mudah dipahami karena
siswa berani bertanya berkali-kali sampai paham
kepada temannya. Berbeda dengan guru, pada
umumnya siswa segan bertanya terus. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang
dilakukan oleh Wincent dalam Nasir (1985)
bahwa kelompok diajar oleh tutor sebaya lebih
baik daripada kelompok diajar oleh guru. Hal ini
mungkin disebabkan oleh rasayaman berinteraksi dalam kelompok, sehingga mereka lebih
mudah dalam mengembangkan pertumbuhan
kognitif dan keterampilan. Selain itu, tutorial
sebaya dapat memerbaiki keterampilan sosial,
meningkatkan percaya diri, dan memerbaiki keterampilan mereka (TRIPS, 1997--2008). Penelitian yang dilakukan Cohen, Kulik, dan Kulik,
1982; Hedin, 1987; Goodlad dan Hirst, 1989;
Greenwood, Delquadri, dan Hall, 1989; Bernard,
1990; Swengel, 1991 yang dikutip oleh Gartner
dan Riessman, 1993 menunjukkkan bahwa kelompok yang diajar oleh tutor sebaya sebih baik
daripada kelompk yang diajar oleh guru.
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa
dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang
efektif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa
dituntut tidak hanya bertanggung jawab pada diri
sendiri tetapi juga bertanggung jawab terhadap
kelompoknya. Dalam pembelajaran kooperatif
siswa dilatih keterampilan-keterampilan khusus
seperti memahami konsep, kemampuan bekerjasama, kemampuan berfikir kritis dan sifat toleran
kepada siswa lain. Penggunaan model kooperatif
diharapkan tidak saja dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa dalam memahami
konsep-konsep, tetapi juga dapat meningkatkan
kemapuan kerjasama dan empati sosial siswa.
Hasil penelitian Riyanto (1988 dan 1997) menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang
menggunakan metode bekerjasama lebih baik
daripada siswa yang belajar individu.
Komponen kedua model pembelajaran
yang lain, seperti tematik, bermain, bernyayi
juga sangat mendukung keberhasilan siswa. Terbukti bahwa baik kelompok yang menggunakan
model multikultur maupun kelompok yang menggunakan model konvensional mencapai nilai
rata-rata yang memuaskan, yaitu kelompok
multikultur 80,07 sedangkan kelompok konvensional 74,58. Nilai sebesar itu, biasanya sulit
diperoleh karena kelas 2C dan 2D.
Saat awal mengajar diawali dengan bernyayi. Dengan bernyayi membuat para siswa
144 FORUM KEPENDIDIKAN, VOLUME 27, NOMOR 2, MARET 2008
senang. Mereka merasakan seperti di rumah
sendiri. Pembelajaran disajikan secara tematik
dengan metode permainan. Melalui pembelajaran
tematik siswa mengetahui saling kait antara satu
matapelajaran dengan matapelajaran yang lain.
Melalui metode permainan mereka merasakan
seperti tidak belajar sehingga memudahkan siswa
menerima pelajaran.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
model multikultur berpengaruh secara signifikan
terhadap prestasi belajar siswa. Nilai rata-rata kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran multikultur lebih tinggi daripada kelompok yang diajar dengan model pembelajaran
konvensional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran multi-kultur
lebih efektif daripada model pembelajaran konvensional.
Saran
Berdasarkan atas simpulan yang telah dikemukakan untuk mengkaji lebih lanjut hasil
penelitian ini, dikemukakan beberapa saran berikut (1) model pembelajaran digunakan oleh
guru, yaitu model pembelajaran klasikal khususnya dalam mengajarkan materi tematik di kelas 2
SD sebaiknya diganti dengan model pembelajaran multikultur; (2) dalam melakukan penelitian
lanjut, waktu pelaksanaan eksperimen perlu ditambah, sehingga siswa sikap empati social
siswa semakin mantap; (3) dalam melakukan penelitian lanjut, jumlah SD yang dilibatkan perlu
ditambah dengan karakter yang beragam agar
hasil penelitian yang diperoleh dapat digeneralisasikan ke SD yang se karakteristik; (4) perlu
dilakukan penelitian tentang pengamatan selama
proses belajar/masa perlakuan secara terus
menerus. Selama proses belajar (masa perlakuan)
diduga ada perbedaan kesulitan belajar antara
subjek yang diajar dengan menggunakan model
multikultur dan subjek yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
(klasikal); dan (5) instrumen empati sosial perlu
diperbaiki.
DAFTAR RUJUKAN
Aryulina, Riyanto, dan Karyadi. 2004. Identifi-
kasi pengetahuan awal siswa sebagai dasar
pengembangan buku ajar IPA tematik
konstruktivisme untuk siswa SMP. Forum
Kependidikan. 24(1).
Azra, Azyumardi. 2003. Pendidikan Multikultur
(membangun kembali Indonesia Bhineka
Tunggal ika). Kompas, 3 September 2003.
Barbra, R.H. 1998. Science in the Multicultural
Classroom. Needham Heights, MA: Allyn
& Bacon.
Borg, W., & Gall, M. D. (1983). Educational
research, an introduction. New York:
Longman.
Buchori, M. 14 September 2000. Meningkatkan
Kemampuan Teknologi Bangsa. Kompas.
Cahyana, A. 1998. Tujuan pendidikan untuk
pembangunan: Mencari alternatif reformasi pembangunan pendidikan. Kajian
Dikbud, 014 (IV): September 1998.
Campbell, D.T. dan Stanley, J.C. 1966. Experimental and quai-expermental design for
research. Chicago: Rand McNally and
Company.
Czerniak, C.M., W.B. Weber, A. Sandmann Jr.,
dan J. Ahern. 1999. A Literature Review
Of Science And Mathematics Integration.
School Science & Mathematics, 99(8):
421-430.
Deni Ruchyat. 2002. Peran Serta Masyarakat
Dalam Penataan Ruang Dalam Rangka
Menanggulangi Kemiskinan Disampaikan
dalam Seminar Nasional Pemberdayaan
masyarakat Bagi Penanggulangan Kemiskinan: Sebuah Tantangan dalam Pembangunan Wilayah dan Kota. 21 September 2002. Direktorat Jenderal Penataan
Ruang Departemen Permukiman Dan
Prasarana Wilayah
Depdiknas. 2003. Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional
Dinas Diknas Prop. Bengkulu. 2004. Laporan
peringkat SLTP, MTs, SMU, MA, dan SMK
berdasarkan nilai ujian akhir nasional
tahun pelajaran 2003/2004 Propinsi
Bengkulu. Tidak diterbitkan.
Depdiknas. 2002. Rerata NEM Nasional,
Provinsi, dan Kota Kabupaten. http://
ebtanas.org/nemkota/nemkotaatas.danhttp:
//www.websamba.com/infoebtanas
Elias, M. J. et al. 1997. Promoting Social and
Emotional learning: Guidelines for educator. Alexandria, Virginia: Association for
145 FORUM KEPENDIDIKAN, VOLUME 27, NOMOR 2, MARET 2008
Supervision and Curriculum development
(ASCD).
Faqih, Abdullah. 2007. Strategi Peningkatan
Mutu Pendidikan. Apr 29, '07 12:29 PM
Bloger Abdullah Faqih. http://abdullah
faqih.multiply.com/journal/item/. Diunduh
27 April 2009.
Gartner, Audrey dan Riesddman, Frank 1993.
Peer-Tutoring: Toward a New Model.
ERIC Digests. Hhttp://www.ericfasility
.net/databases/ERJC digests.
Gay, L.R. 1992. Educational Research: Compencies for Analysis and Application. New
York: Merrill.
Heinich, R., M. Molenda, dan J.D. Russel. 1993.
Instructional Media and the New Technologies of Instruction. New York: Macmillan Publishing Company.
Kompas 20 Maret 2006. Multikulturalisme juga
diperlukan di Daerah.
Kompas, 8 Maret 2006. Bangun Karakter lewat
Penciptaan Kultur Sekolah.
Kompas. 9 Desember 2000. Soal rendahnya
penguasaan matematika dan IPA, disinyalir ada faktor politis.
Kompas. 24 Agustus 2000. Sejak dini anak
perlu dilatih mengelola konflik.
Karaliotas, Y. 1999. The element of play in
learning. Makalah dipresentasikan pada
MA in Open & Distance Education at OU,
UK September 1999.
Lederman, N. G., & Niess, M. L. 1997. Integrated, interdisciplinary, or thematic instruction? Is this a question or is it questionable
semantics? School Science and Mathematics, 97(2),57-69.
Moore, G. W. 1983. Developing and evaluating
eduacational research. London: scott,
Foresman and Company.
Randel, J.M., et.al. 1992. The effectiveness of
games for educational purposes: a review
of the research. Simulation and Gaming.
25, 261-276.
Rieber, L. P. 1996. Seriously considering play:
Designing interactive learning environments based on the blending of microworlds, simulations, and games. Educational Technology Research & Development, 44 (2), 43-58.
Riyanto. 1988. Pengaruh Metode mengajar
terhadap hasil belajar praktik kerja mesin
siswa jurusan mesin produksi STM Negeri
Malang. Tesis. Malang. Tidak diterbitkan.
Riyanto. 1999. The development of integrated
mechanical skill instructional of model in
the STM for the improvement of midle
level skilled worker. Jurnal Ilmu Pendidikan. Jidid 6, Edisi Khusus, hal. 441--451.
Sapari, A. 2000. Pembelajaran yang menyenangkan. Kompas. 20 September 2000.
Semiawan, C. 2002. Menuju Pendidikan Multikultur. Dalam Peluang Dan Tantangan
Riset Dan Teknologi Menuju Demokrasi
Dan Integrasi Nasional, Perspektif Sosial
Budaya. Jakarta. Dewan riset Nasional,
Forum kerja sosial budaya.
Sowell, E.J. dan Cassey, R.J. 1987. Analyzing
eduactional research. Belmont, CA:
Wadsworth.
Sprent, P. 1991. Terjemahan Erwin R. Osman.
Metode statistik non parametrik terapan.
Jakarta: UI Press.
Tilaar, H.A.R. 1999. Tantangan pengembangan
sumberdaya manusia yang berkualitas di
daerah tingkat II memasuki era globalisasi.
Dalam Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional: Dalam Perspektif Abad
21, 396- 409. Magelang: Tera Indonesia.
TRIPS. 1997—2008. Peer tutoring in writing: A
school systems approach. http://www.
standards.dfes.gov.uk/research/themes/ass
essment_for_learning/peer_tutoring_writin
g/what is peer tut.
Tuckman, B.W. 1988. Conducting educational
research. New York: Harcourt Brace
Jovanovic.
Download