Peningkatan Prestasi Belajar Melaksanakan Pelayanan Prima

advertisement
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
Peningkatan Prestasi Belajar Melaksanakan Pelayanan Prima Melalui Penerapan Model
Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) Pada Siswa
Kelas XII Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonolan Semester 5
Tahun Pelajaran 2015/2016
Oleh : Siti Rochani
Email : [email protected]
SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar melaksanakan pelayanan
prima melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) siswa Kelas
XII Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten semester 5 tahun pelajaran 2015/2016.
Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas, yaitu suatu penelitian yang dilakukan
kolaborasi antara peneliti, siswa, dan guru pengampu mata pelajaran produktif program keahlian
pemasaran. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan
Klaten yang berjumlah 36 orang. Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh peneliti yang direncanakan
bersama dengan guru teman sejawat. Sumber data penelitian ini adalah informan, tempat, peristiwa
dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi dan tes. Proses
penelitian dilakukan dalam dua siklus mengingat peneliti adalah guru pengampu mata pelajaran
tersebut. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi dan evaluasi, dan analisis dan refleksi. Setiap siklus dilakukan dengan tiga kali
pertemuan dan masing-masing pertemuan 2 x 45 menit.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan
prestasi belajar melaksanakan pelayanan prima siswa kelas XII Pemasaran 2 SMK Negeri 1
Jogonalan Klaten melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL).
Hasil penelitian yang telah dilakukan adalah ada peningkatan prestasi belajar melaksanakan
pelayanan prima siswa dari 19 siswa (53%) yang tuntas pada pra siklus menjadi 26 siswa (72%)
yang tuntas pada siklus I dan meningkat menjadi 33 siswa (92%) yang mencapai batas ketuntasan
belajar. Nilai rata-rata prestasi belajar melaksanakan pelayanan prima meningkat dari 72,78 pada
pra siklus menjadi 79,72 (meningkat 10%) pada siklus I dan menjadi 84,72 (meningkat 16%) pada
siklus II.
Kata kunci : Model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL). Prestasi belajar. Siklus
bahwa pembelajaran yang dilakukan selama
ini belum memperoleh hasil yang maksimal.
Dari hasil observasi terlihat bahwa
model pembelajaran guru memberi pengaruh
yang besar untuk membangkitkan motivasi
belajar siswa. Model pembelajaran yang
kurang sesuai dengan karakter materi dan
karakteristik siswa akan membuat kegiatan
pembelajaran berjalan tidak sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan kegiatan
pembelajaran melaksanakan prima masih
menggunakan model konvensional, guru
masih menganggap siswa hanya sebatas
obyek. Kondisi ini mengakibatkan siswa
merasa
yang
membutuhkan
kegiatan
pembelajaran adalah guru, sehingga ia
bersikap acuh tak acuh dan tidak fokus dalam
I.
PENDAHULUAN
Salah satu mata pelajaran kompetensi
keahlian program keahlian pemasaran yang
diajarkan di kelas XII program keahlian
pemasaran SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten
adalah
mata
pelajaran
melaksanakan
pelayanan prima. Berdasarkan survei awal
yang dilakukan peneliti menunjukkan kualitas
pembelajaran melaksanakan pelayanan prima
di SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten dapat
dikatakan masih rendah. Dari hasil observasi
yang dilakukan pada siswa kelas XII
Pemasaran 2 ternyata masih terdapat 17anak
atau 43% yang nilai rata-ratanya di bawah
batas kriteria ketuntasan minimal (KKM)
yaitu 78. Kondisi tersebut mengindikasikan
18
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
pembelajaran. Akibatnya materi yang
disampaikan guru tidak akan terserap
maksimal dan hasil belajarnya pun akan
rendah.
Untuk itu, pada penelitian ini alternatif
model pembelajaran yang akan digunakan
untuk mengatasi masalah tersebut adalah
model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL).
Model pembelajaran CTL merupakan
suatu inovasi pembelajaran yang dirancang
untuk membantu peserta didik dalam
memahami
materi
pelajaran.
Dengan
pembelajaran CTL akan membantu guru
mengkaitkan isi mata pelajaran dengan situasi
dunia nyata dan memotivasi siswa membuat
hubungan
antara
pengetahuan
dan
penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga, warga negara, dan
tenaga kerja. Dalam proses belajar mengajar
model pembelajaran CTL dapat dilaksanakan
dengan model yang lain yaitu dengan kegiatan
praktik. Melalui kegiatan praktik akan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melakukan praktik dan pengamatan sendiri
secara langsung, menuliskan hasil praktik dan
menganalisis hasil praktik untuk menemukan
suatu konsep yang sedang dipelajari..
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan judul: “PENINGKATAN PRESTASI
BELAJAR
MELAKSANAKAN
PELAYANAN
PRIMA
MELALUI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
(CTL) PADA SISWA KELAS XII
PEMASARAN 2 SMK
NEGERI 1
JOGONOLAN SEMESTER 5 TAHUN
PELAJARAN 2015/2016
Tujuan penelitian ini adalah : untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi
lebih bermutu dan prestasi belajar prinsipprinsip bisnis melalui penerapan model
pembelajaran contextual teaching learning
(CTL).
individu yang belajar menuju terbentuknya
kepribadian seutuhnya. Perubahan itu tidak
hanya berkaitan dengan penambahan ilmu
pengetahuan, tetapi juga terbentuk kecakapan,
ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri,
minat, watak, penyesuaian diri, dan
sebagainya. Menurut Tabrani Rusyan (1989 :
8) “Belajar merupakan proses perubahan
tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk
penguasaan, penggunaan, dan penilaian
terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai,
pengetahuan dan kecakapan dasar yang
terdapat dalam berbagai bidang studi”. Dari
kedua pendapat tersebut dapat diambil
pengertian bahwa belajar adalah usaha
mengubah tingkah laku yang mengarah
kepada penguasaan, penggunaan, dan
penilaian, yang mencakup aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor dalam situasi belajar.
Sedangkan definisi dari prestasi
menurut Winkel. W.S. (1988 : 35) bahwa
“Prestasi adalah bukti keberhasilan usaha
yang telah dicapai”. Menurut Chasiyah (1988
: 25) “Prestasi adalah hasil yang diperoleh
setelah mengikuti pendidikan atau latihan
tertentu, yang hasilnya bisa ditentukan dengan
memberi tes pada akhir pendidikan”. Dengan
demikian kecakapan yang dimiliki seseorang
harus nyata dan betul-betul ada, dan dengan
tes sebagai alat ukur akan diketahui prestasi
seseorang. Jadi prestasi mengandung unsurunsur yang ada di dalamnya, meliputi hasil
penilaian, hasil usaha yang telah dicapai, dan
menunjukkan ukuran kecakapan nyata.
Dari batasan-batasan mengenai prestasi
dan belajar, maka dapat diambil pengertian
bahwa prestasi belajar adalah kecakapan nyata
yang merupakan suatu bukti keberhasilan
usaha belajar yang telah dicapai peserta didik
setelah mengikuti pendidikan, yang sedikitnya
mencakup tiga segi yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor, yang hasilnya dapat ditentukan
dengan memberi tes pada akhir pendidikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar
Prestasi belajar merupakan bukti dari
usaha yang dicapai. Usaha-usaha tersebut
mempunyai tujuan tertentu, untuk mengetahui
sejauh mana tujuan tersebut benar-benar
tercapai, maka diadakan penilaian atau
evaluasi. Hasil penilaian belajar mungkin
akan ada perbedaan antara siswa yang satu
dengan yang lain, hal tersebut dikarenakan
II.
KAJIAN TEORI
Pengertian Prestasi Belajar
Definisi belajar menurut Sardiman A.M.
(2001 : 23) adalah suatu proses yang
berhubungan erat dengan perubahan tingkah
laku seseorang. Sehingga belajar dapat
membawa suatu perubahan pada individu-
19
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
dalam kegiatan belajar mengajar terdapat
factor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar. Slameto (1995:54) mengemukakan
bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar:
1. Faktor Intern
a. Faktor Jasmaniah
b. Faktor Psikologis
c. Faktor Kelelahan
2. Faktor Ekstern
a. Faktor Keluarga
b. Faktor Sekolah
c. Faktor Masyarakat
Evaluasi Belajar
Oemar
Hamalik
(2001:159)
mengemukakan bahwa “ Evaluasi Belajar
adalah keseluruhan kegiatan pengukuran
(pengumpulan
data
dan
informasi),
pengolahan, penafsiran dan pertimbangan
untuk membuat keputusan tentang tingkat
hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah
melakukan kegiatan belajar dalam upaya
mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Hasil belajar menunjuk pada
prestasi belajar, sedang prestasi belajar itu
merupakan indikator adanya dan derajat
perubahan tingkah laku siswa”.
Dari
pengertian
diatas
dapat
disimpulkan bahwa evaluasi belajar adalah
suatu proses kegiatan penilaian untuk
membuat keputusan tentang hasil belajar yang
dicapai siswa dalam proses belajar mengajar
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem Penilaian di SMK
Menurut Nana Sudjana (2001:7)
“Sistem penilaian hasil belajar pada umumnya
dibedakan ke dalam dua cara atau dua system,
yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan
Penilaian Acuan Patokan (PAP).” Penelitian
Acuan Norma adalah penilaian yang mengacu
pada rata-rata kelompoknya. Norma yang
digunakan dalam system ini untuk
menentukan derajad prestasi siswa dengan
cara membandingkan dengan nilai rata-rata
kelasnya. Sedangkan Penilaian Acuan
Patokan merupakan penilaian yang mengacu
pada tujuan instruksional yang harus dikuasai
siswa.
Untuk mengetahui prestasi belajar
siswa, peneliti melakukan evaluasi setiap
mengadakan siklus penelitian. Nilai Kriteria
Ketentuan Minimal (KKM) pada mata
pelajaran melaksanakan pelayanan prima
adalah 78.
Mata Pelajaran Melaksanakan Pelayanan
Prima
Mata
pelajaran
melaksanakan
pelayanan prima merupakan salah pelajaran
produktif yang diajarkan pada siswa kelas XII
program keahlian pemasaran. Pada penelitian
ini materi yang diajarkan pada kegiatan
pembelajaran adalah menerapkan prinsipprinsip pelayanan prima. Pada materi ini
siswa perlu menggali pemahamannya melalui
pengamatan dan praktik. Materi menerapkan
prinsip-prinsip pelayanan prima adalah :
a. Pengertian pelayanan prima
b. Konsep-konsep pelayanan prima
c. Pengertian pelanggan
d. Tujuan pelayanan prima
e. Unsur-unsur kualitas pelayanan prima
f. Karakteritik pelayanan prima
g. Harapan pelanggan
Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL)
CTL adalah sebuah sistem belajar yang
didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu
menyerap
pelajaran,
apabila
mereka
menangkap makna dalam materi yang
diterima. Menurut Mulyasa (2006:102) “CTL
merupakan konsep pembelajaran dengan
dunia kehidupan peserta didik secara nyata,
sehingga para peserta didik mampu
menghubungkan dan menerapkan kompetensi
hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari”.
Selanjutnya Erman Suherman (2003, h. 3)
dalam mengemukakan bahwa “Pembelajaran
dengan pendekatan konstektual (Contextual
Teaching and Learning) adalah pembelajaran
yang
dimulai
dengan
mengambil
(menstimulasi, menceritakan, berdialog, atau
tanya jawab) kejadian pada dunia nyata
kehidupan sehari-hari yang dialami siswa
kemudian diangkat ke dalam konsep yang
dibahas”.
Menurut pendapat di atas dapat
disimpulkan
bahwa
pendekatan
CTL
merupakan pendekatan yang memberikan
penekanan pada penggunaan berpikir tingkat
tinggi, transfer pengetahuan, pemodelan,
informasi, dan data dari berbagi sumber.
Proses pembelajaran konstektual mendorong
guru untuk menghubungkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan
membantu siswa agar mengerti makna dari
20
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
materi pelajaran yang mereka pelajari dengan
menghubungkan atau mengkaitkan antara
pokok bahasan dengan konteks kehidupan
sehari-hari.
Pada
penelitian
ini,
kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran contextual teaching learning
(CTL) dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan materi dengan
menggambarkan
contoh
nyata
di
lingkungan sekitar siswa melalui media
LCD.
2. Guru membagi siswa dalam beberapa
kelompok secara heterogen baik jenis
kelamin maupun kemampuannya.
3. Siswa memperhatikan ceramah yang
disampaikan guru dan mengamati contoh
yang diberikan.
4. Siswa berdiskusi dengan teman dalam satu
kelompok untuk membangun pemahaman
tentang materi yang diajarkan guru.
5. Siswa
berbagi
pengalaman
dan
pengetahuan
dengan
memperhatikan
contoh dan memperagakan sendiri.
6. Siswa menyampaikan hasil diskusi
kelompok ke depan kelas untuk ditanggapi
siswa lainnya.
7. Siswa bersama guru menyimpulkan materi
yang diajarkan pada hari tersebut.
8. Guru
mengadakan
evaluasi
untuk
dikerjakan siswa secara individu untuk
mengetahui tingkat pemahaman mereka
terhadap materi.
Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian ini
dapat dijelaskan sebagai berikut :
Salah satu permasalahan yang dihadapi
dalam pembelajaran melaksanakan pelayanan
prima pada materi prinsip-prinsip pelayanan
prima kelas XII Pemasaran 2 adalah guru
merasa kesulitan membangun pemahaman
bila menggunakan metode pembelajaran
konvensional.
Guru
merasa
kesulitan
menemukan model pembelajaran yang tepat
untuk membangkitkan dan meningkatkan
minat siswa terhadap mata pelajaran tersebut.
Hal tersebut merupakan indikator bahwa
kualitas pembelajaran yang dilakukan selama
ini masih kurang berkualitas. Prestasi belajar
siswa pun tidak mencapai hasil yang
maksimal terbukti masih ada beberapa anak
yang nilainya kurang dari nilai KKM. Faktor
lain yang turut mempengaruhi prestasi belajar
siswa adalah kemampuan siswa yang berbedabeda antara satu orang dengan yang lainnya
turut mempengaruhi keberhasilan mereka
dalam pembelajaran. Oleh karena itu, untuk
meningkatkan meningkatkan prestasi belajar
melaksanakan pelayanan prima, peneliti akan
menerapkan model pembelajaran dengan
model Contextual Teaching and Learning
(CTL). Dengan penerapan model Contextual
Teaching and Learning CTL ini diharapkan
akan terjadi suatu kegiatanpembelajaran yang
lebih
menarik,
berkualitas,
berkesan
mendalam dan membuat siswa lebih aktif
dalam kegiatan pembelajaran. Keberhasilan
belajar rata-rata siswa diharapkan juga akan
meningkat seiring dengan meningkatnya
pemahaman mereka pada materi pembelajaran
dengan penerapan model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL).
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka
berpikir tersebut di atas, dapat dirumuskan
hipotesis tindakan sebagai berikut :
Penerapan
model
pembelajaran
contextual teaching learning (CTL)
mampu meningkatkan prestasi belajar
melaksanakan pelayanan prima pada
siswa kelas XII Pemasaran 2 SMK
Negeri 1 Jogonalan Klaten semester 5
tahun pelajaran 2015/2016.
III. METODOLOGI PENELITIAN
Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1
Jogonalan yang terletak di Tegalmas
Prawatan, Jogonalan Kabupaten Klaten.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama enam bulan
mulai bulan Juli sampai Desember 2015.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian dalam penelitian ini
adalah siswa kelas XII Pemasaran 2 tahun
pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa
36 anak.
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan
pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Rangkaian kegiatan berurutan mulai dari
perencanaan tindakan sampai dengan refleksi
disebut satu siklus penelitian. Jika dalam
setiap refleksi ditemukan masalah yang
21
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
dihadapi guru, baik masalah baru maupun
masalah lama yang dianggap mengganggu
tercapainya PTK, maka guru dapat
mengidentifikasi,
menganalisis,
dan
merumuskan masalah tersebut. Selanjutnya,
guru dapat melakukan penelitian lebih lanjut
pada siklus berikutnya, yang dimulai dari
penyusunan rencana tindakan sampai dengan
refleksi. Namun, jika refleksi pada siklus
tertentu tidak terjadi kendala dan tujuan PTK
telah
terselesaikan/tercapainya,
maka
penelitian tidak perlu dilanjutkan ke siklus
kedua.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan
PTK dilakukan dalam penelitian ii melalui
empat tahap, yakni: (1) perencanaan tindakan
(2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan
interprestasi, dan (4) analisis dan refleksi.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1. Observasi, digunakan untuk mengamati
pelaksanaan
dan
perkembangan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru
dan siswa. Alat untuk mengumpulkan data
digunakan lembar pengamatan terhadap
kegiatan
siswa
selama
kegiatan
pembelajaran berlangsung.
2. Tes,
digunakan untuk
mengetahui
perkembangan
atau
keberhasilan
pelaksanaan tindakan. Adapun bentuk tes
yang diberikan kepada siswa, yakni tes
yang berupa tes tertulis.
Validasi Data
Pada penelitian ini uji validitas yang
akan digunakan untuk memeriksa keabsahan
data adalah triangulasi, yaitu dengan
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data
itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data itu. Triangulasi
data berarti peneliti memperoleh data dari
berbagai sumber dalam hal ini ketua
program keahlian pemasaran dan guru teman
sejawat .
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini
adalah analisa deskriptif. Data yang diperoleh
digunakan untuk menggambarkan hasil
penelitian dan membuat refleksi dari hasil
tersebut.
Indikator Kinerja
Indikator ketercapaian siklus I dan II
dinilai dari beberapa komponen dan target
yang diharapkan dapat dicapai. Indikator
ketercapaian dalam penelitian ini adalah hasil
evaluasi target 80% atau 29 siswa
mendapatkan nilai 78 ke atas.
IV. HASIL TINDAKAN
Deskripsi Siklus Awal
Observasi awal dilakukan pada tanggal
Kamis tanggal 27 Agustus 2015 di kelas XII
Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan
Klaten. Dari hasil observasi awal yang
dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa
prestasi belajar siswa pada pelajaran
melaksanakan pelayanan prima masih banyak
yang berada di bawah nilai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) 78. Berdasarkan
hasil nilai pra siklus tersebut menunjukkan
bahwa sebanyak 24 siswa telah memenuhi
KKM sedangkan sisanya sebanyak 15 siswa
belum memenuhi KKM. Berdasarkan hasil
pengamatan pra siklus di atas diperoleh hasil
sebagai berikut :
Tabel 1. Prestasi belajar Mata Pelajaran
Melaksanakan Pelayanan Prima Pra Siklus
No
Kriteria
Jumlah Prosentase
1
Tuntas
19
53
2
Tidak Tuntas
17
47
Jumlah
36
100
(Sumber : Data Hasil Penelitian)
Dari hasil observasi dapat disimpulkan
bahwa penyebab kurang efektifnya kegiatan
pembelajaran tersebut antara lain adalah :
1. Ditinjau dari Siswa
a. Siswa kurang aktif karena hanya
dianggap obyek pembelajaran dan tidak
dilibatkan secara aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
b. Siswa malu dan enggan bertanya
tentang kesulitan belajar yang mereka
hadapi kepada guru pada saat
pembelajaran.
c. Motivasi siswa mengikuti pembelajaran
melaksanakan pelayanan prima rendah,
karena masih terlihat bebrapa siswa
yang masih suka bercanda dengan
temannya.
2. Ditinjau dari Guru
a. Guru belum menggunakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student center) yang sesuai dengan
karakteristik materi maupun siswanya.
22
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
b. Guru masih menganggap siswa hanya
sebagai obyek belajar, terbukti siswa
kurang dilibatkan dan cenderung
bersikap pasif selama
kegiatan
pembelajaran yang berlangsung.
Deskripsi Hasil Siklus I
Perencanaan Tindakan
1. Peneliti bersama guru teman sejawat
mendiskusikan skenario pembelajaran
melaksanakan
pelayanan
prima
menggunakan
model
pembelajaran
contextual teaching learning (CTL) untuk
meningkatkan pemahaman siswa
pada
materi menerapkan prinsip pelayanan prima.
2. Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran
(RPP)
untuk
materi
menerapkan prinsip pelayanan prima.
3. Peneliti mempersiapkan presentasi materi
pembelajaran menggunakan aplikasi power
point.
4. Peneliti menyusun instrumen penelitian,
yang berupa tes tertulis dan non tes.
Instrumen tes dari hasil pekerjaan siswa
(evaluasi
akhir
siklus),
sedangkan
instrumen non tes dinilai berdasarkan
pedoman observasi yang dilakukan oleh
peneliti dengan mengamati keaktifan dan
sikap siswa selama proses pembelajaran
berlangsung.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan
selama tiga kali pertemuan sesuai dengan
skenario pembelajaran dan RPP. Masingmasing pertemuan dilaksanakan selama 2 x
45 menit (dua jam pelajaran). Materi
pembelajaran melaksanakan pelayanan
prima pada pelaksanaan tindakan 1 ini
adalah menerapkan prinsip pelayanan
prima.
Observasi dan Interpretasi
Hasil nilai evaluasi siswa pada siklus I
menunjukkan hanya 26 siswa (72%) yang
mampu mendapatkan nilai di atas batas KKM,
sedangkan 10 siswa lainnya (28%) belum
mampu mencapai batas KKM. Nilai rata-rata
prestasi belajar melaksanakan pelayanan prima
pada siklus I ini adalah 79,72meningkat 10%
dari nilai rata-rata pra siklus. Hasil nilai evaluasi
siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 2. Hasil Nilai Evaluasi Siklus I
No Siklus 1
Jumlah
Prosentase
1
2
Tuntas
Tidak Tuntas
26
10
36
72
28
100
Jumlah
Refleksi Tindakan Siklus I
Berdasarkan observasi dan analisis
di atas, maka tindakan refleksi yang dapat
dilakukan
untuk
mencapai
target
keberhasilan penelitian adalah:
1. Sebaiknya guru memberitahukan kegiatan
yang akan dilakukan pada pertemuan
berikutnya, sehingga siswa akan lebih siap
dalam mengikuti pelajaran.
2. Guru perlu memperhatikan tingkat
kemampuan siswa dalam membagi
kelompok supaya pada setiap kelompok
tidak beranggotakan siswa yang pintar saja
atau kurang pintar saja.
3. Guru membagi siswa menjadi 9 kelompok
dengan anggota 4 orang per kelompok.
4. Guru perlu memberikan kesempatan yang
lebih lama
kepada
siswa
untuk
menanyakan
hal-hal
yang
belum
dimengertinya.
5. Guru lebih sering berkeliling ke kelompok
pada saat elaborasi agar dapat memahami
kondisi konsentrasi siswa pada saat
pembelajaran berlangsung.
Deskripsi Hasil Siklus II
Perencanaan Tindakan Siklus II
Kegiatan perencanaan tindakan II
dilaksanakan pada hari Senin tanggal 28
September 2016 di ruang guru SMK Negeri 1
Jogonalan Klaten. Peneliti merencanakan
rancangan tindakan yang akan dilakukan pada
siklus II. Berdasarkan hasil analisis dan
refleksi dari siklus I, kemudian direncanakan
pelaksanaan tindakan pada siklus II akan
dilaksanakan selama tiga kali pertemuan,
yakni pada hari Kamis tanggal 1, 8 dan 15
Oktober 2015.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan II dilaksanakan
selama tiga kali pertemuan sesuai dengan
skenario pembelajaran dan RPP. Masingmasing pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45
menit (dua jam pelajaran).
Pelaksanaan
tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan
tindakan I, hanya pada pelaksanaan tindakan
II terdapat penguatan yang masih diperlukan
dari tindakan I dengan membagi siswa pada
kelompok yang lebih kecil, lebih heterogen
dan memberikan waktu yang lebih bagi siswa
23
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
untuk berkonsultasi dengan guru. Materi
pembelajaran melaksanakan pelayanan prima
pada pelaksanaan tindakan II ini adalah
karakteristik pelayanan prima.
Observasi dan Interprestasi
Hasil nilai evaluasi siswa pada siklus II
terdapat 33siswa (92 %) yang mampu
mendapatkan nilai di atas batas KKM,
sedangkan 3 siswa lainnya (8 %) belum mampu
mencapai batas KKM. Siswa yang mendapatkan
nilai di atas batas KKM sudah lebih banyak
karena adanya perbaikan pelaksanaan model
pembelajaran yang dilakukan guru pada siklus II
ini. Sedangkan siswa yang masih belum
mencapai KKM karena konsentrasinya dan
motivasinya mengikuti kegiatan pembelajaran
masih rendah. Pada saat melaksanakan diskusi
dengan kelompok, mereka tetap saja bercanda
dan mengabaikan tugas dari guru. Nilai rata-rata
hasil evaluasi siklus II adalah 84,72 naik 16%
dari nilai rata-rata hasil evaluasi pra siklus.
Hasil nilai evaluasi siswa pada siklus II dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3. Hasil Nilai Evaluasi Siklus II
Keterangan
No
Jumlah Prosentase
Tuntas
1
33
92
Tidak
Tuntas
2
3
8
Jumlah
36
100
(Sumber : Data Hasil Penelitian)
Tindakan refleksi yang dapat diambil
berdasarkan pengamatan dan analisis yang
telah dilakukan adalah:
1. Guru hendaknya menciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif untuk
menjaga konsentrasi dan motivasi siswa
mengikuti pelajaran.
2. Guru hendaknya selalu berinovasi untuk
menggunakan
berbagai
model
pembelajaran yang menyenangkan dalam
kegiatan pembelajaran.
3. Guru harus lebih kreatif menemukan dan
menggunakan
berbagai
media
pembelajaran yang mudah dicerna dan
melibatkan siswa agar mereka lebih mudah
memahami materi dan tertarik mengikuti
kegiatan belajar mengajar sampai akhir
jam pelajaran.
Pembahasan
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan
pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa
terjadi
peningkatan
prestasi
belajar
24
melaksanakan pelayanan prima dengan
menggunakan model pembelajaran contextual
teaching learning (CTL) dari siklus satu ke
siklus berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat
dari tabel berikut ini:
Tabel 4. Ketuntasan Hasil Evaluasi Siklus I
dan Siklus II
Siklus I
Siklus II
Kriteria
Jumla Prosenta Jumla Prosenta
h
se
h
se
Tuntas
26
72
33
90
Tidak
10
28
3
10
Tuntas
Jumlah
36
100
36
100
(Sumber : Data Hasil Penelitian)
Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom
Action Research) ini dilaksanakan dalam dua
siklus. Deskripsi hasil penelitian dari siklus I
sampai siklus II dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti
melakukan survei awal untuk mengetahui
kondisi yang ada di SMK Negeri 1 Jogonalan
Klatena. Dari hasil survei ini, peneliti
kemudian menemukan bahwa pembelajaran
melaksanakan pelayanan prima pada siswa
kelas XII Pemasaran 1 masih belum
maksimal, karena siswa masih kurang tertarik
mengikuti pembelajaran dan prestasi belajar
mereka rendah. Oleh karena itu, peneliti
mencari solusi alternatif untuk mengatasi
masalah tersebut, yaitu dengan menerapkan
model pembelajaran contextual teaching
learning (CTL). Peneliti menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guna
melaksanakan kegiatan siklus I. Materi pada
pelaksanaan tindakan siklus I adalah konsep
pelayanan prima. Kemudian siswa dibagi
menjadi 6 kelompok dengan anggota 6 orang
secara heterogen. Pada pertemuan ketiga
diadakan tes evaluasi untuk mengukur capaian
konsep siswa pada siklus I.
Namun, dari hasil pengamatan terhadap
proses pembelajaran melaksanakan pelayanan
prima pada siklus I masih terdapat kekurangan
di antaranya adalah siswa kurang aktif dalam
mengikuti
pelajaran
dan
pembagian
kelompoknya kurang heterogen. Pada siklus II
siswa dibagi menjadi 9 kelompok dengan
anggota 4 orang dengan harapan mengurangi
mereka bercanda pada saat berelaborasi dan
lebih berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas
dari guru. Berdasarkan hasil pengamatan
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
terhadap
proses
belajar
mengajar
kemudian pada setelah dilaksanakan tindakan
melaksanakan pelayanan prima pada siklus II,
siklus I meningkat menjadi 77,82 naik 8%
prestasi belajar siswa sudah menunjukkan
dari rata-rata semula. Pada siklus II diperoleh
peningkatan. Terbukti siswa yang nilainya
nilai rata-rata 82,31. Kenaikan nilai rata-rata
masih belum mencapai KKM tinggal 3 orang
siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
siswa. Selain itu dari kegiatan pembelajaran
Tabel 6. Nilai Rata-Rata Per Siklus
terlihat siswa sudah aktif dalam berelaborasi
No
Keterangan
Nilai
dengan kelompoknya dan tidak segan berbagi
1
Pra Siklus
72,78
pengalaman maupun pengetahuan.
2
Siklus 1
79,72
Dari hasil pengamatan pelaksanaan
siklus II terlihat bahwa masalah yang dihadapi
3
Siklus 2
84,72
pada pembelajaran melaksanakan pelayanan
Hasil penelitian membuktikan bahwa
prima di kelas XII Pemasaran 1 sudah dapat
terjadi
peningkatan
prestasi
belajar
teratasi
dengan
penerapan
model
melaksanakan pelayanan prima pada siswa
pembelajaran contextual teaching learning
kelas XII Pemasaran 1 SMK Negeri 1
(CTL).
Jogonalan Klaten melalui penerapan model
HASIL TINDAKAN
pembelajaran contextual teaching learning
Berdasarkan data penelitian diperoleh
(CTL).
nilai tes awal pra siklus, hanya 19 siswa yang
tuntas yaitu nilai memenuhi KKM dengan
V.
PENUTUP
persetase 53 % dan sisanya 17 siswa atau
Simpulan
47% belum tuntas. Kemudian ketuntasan
Berdasarkan hipotesis tindakan yang
belajar yang tercapai pada siklus I adalah
telah dikemukakan dan tindakan penelitian
sebanyak 26 siswa dengan persentase sebesar
yang telah dilakukan, diperoleh simpulan
72% telah memenuhi KKM dan 10 siswa atau
bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar
28% belum memenuhi KKM, namun disini
melaksanakan pelayanan prima
dengan
sudah terlihat peningkatan namun persentase
menerapkan model pembelajaran contextual
belum mencapai target tujuan yang ditetapkan
teaching learning (CTL) pada kelas XII
sehingga perlu melakukan tindakan siklus II .
Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan
Kemudian untuk siklus II, ketuntasan prestasi
Klaten tahun pelajaran 2015/2016.
belajar yang tercapai sebanyak 33 siswa
Implikasi
dengan persentase sebesar 92 % dan hanya 3
Implikasi dari penelitian tindakan kelas
anak yang dinyatakan belum tuntas yaitu
ini adalah:
sekitar 8 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
Penelitian ini juga
memberikan
pada tabel berikut ini.
gambaran secara jelas bahwa dengan
Tabel 5. Ketuntasan Prestasi belajar Siswa Pra
menggunakan model pembelajaran contextual
Siklus, Siklus I dan II
teaching learning (CTL) dalam pembelajaran
Indikator Keberhasilan 80%
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
pelayanan prima. Hasil
Pra Siklus
Siklus I
Siklus melaksanakan
II
penelitian
ini
dapat digunakan sebagai
Juml
Juml
Juml
Kriteria
Per
alternatif pilihan dalam meningkatkan kualitas
ah
Perse ah
Perse ah
sen
Sisw ntase Sisw ntase Sisw proses dan hasil pembelajaran. Disamping itu
tase
dapat menjadikan siswa lebih aktif dan
a
a
a
menghapus
pandangan siswa terhadap
Tuntas
19
53
26
72
33
92
pembelajaran
yang membosankan menjadi
Tidak
17
47
10
28
3
8
pembelajaran
yang
menarik
dan
Tuntas
menyenangkan.
Jumlah
36
100
36
100
36
100
Pemberian tindakan dan siklus I sampai
Sumber : (Sumber : Data Hasil Penelitian)
siklus
II memberikan deskripsi bahwa
Berdasarkan data penelitian diperoleh
terdapatnya
kekurangan dan kelemahan yang
hasil bahwa nilai rata-rata evaluasi prestasi
terjadi
selama
proses
pembelajaran
belajar juga mengalami peningkatan. Nilai
matematika
berlangsung.
Namun,
rata-rata pada pra siklus adalah 72,18
kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi
25
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
pada pelaksanaan tindakan pada siklus II.
Pelaksanaan tindakan yang kemudian
dilakukan
refleksi
terhadap
proses
pembelajaran,
dapat
dideskripsikan
terdapatnya peningkatan kualitas baik proses
maupun hasil dan pembelajaran matematika.
Hasil
penelitian
menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran contextual
teaching learning (CTL) dapat mengatasi
rendahnya prestasi belajar matematika siswa.
Hal ini dapat pula diterapkan pada mata
pelajaran yang lain yang memiliki
karakteristik yang sama dengan materi
pelajaran pemasarana barang dan jasa.
Saran
Berkaitan dengan simpulan di atas,
maka peneliti mengajukan saran-saran yang
dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Bagi Kepala Sekolah
a. Hendaknya selalu mendorong guru
untuk menerapkan pembelajaran yang
lebih
inovatif,
kreatif
dan
menyenangkan sehingga siswa selalu
bersemangat
mengikuti
kegiatan
pembelajaran.
b. Hendaknya berusaha menyediakan
fasilitas sarana dan pra sarana yang
mendukung
penciptaan
suasana
pembelajaran yang kondusif untuk
meningkatkan
kualitas
pelayanan
kepada siswa.
2. Bagi Guru
a. Guru hendaknya selalu berinovasi dan
kreatif dalam menerapkan model
pembelajaran agar sesuai dengan
karakteristik materi dan siswa yang
diampunya.
b. Guru perlu melakukan pendekatan yang
intensif dengan siswa agar dapat
membantu kesulitan yang dialami oleh
siswa secara indvidual.
c. Guru hendaknya selalu berusaha
mengembangkan kompetensi utamanya
paedagogik dan profesi
untuk
menciptakan pembelajaran yang lebih
bermutu.
3. Bagi Siswa
a. Dengan adanya penerapan model
pembelajaran
yang
PAIKEM,
diharapkan siswa lebih bersemangat
mengikuti kegiatan pembelajaran agar
pemahamannya
terhadap
materi
pembelajaran lebih mendalam.
b. Siswa berlatih untuk bekerja sama
dalam satu kelompok dan belajar
bertanggung jawab kepada kelompok
dan dirinya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rivai, Nana Sudjana. 2005. Media
Pengajaran. Bandung : Sinar Baru.
Anita. Lie. 2002. Mempraktikkan Coopertive
Learning di Ruang-Ruang Kelas.
Jakarta : Gramedia.
Arnie Fajar, dkk. 2005. Portofolio dalam
pembelajaran IPS. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
Asri
Budiningsih. 2005. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi
Mahasatya.
Isjoni. 2007. Coopertive Learning :
Mengembangkan Kemampuan Belajar
Berkelompok. Bandung : Alfabeta.
Kasihani
Kasbolah.
2001
.Penelitian
Tindakan Kelas Untuk Guru. Malang
Unversitas Negeri Malang.
Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan
Dengan Pendekatan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 2001.
Strategi Belajar Mengajar. Bandung::
PT Remaja Rosdakarya.
— 2005. Implementasi Kurikulum 2004
Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
—
Nana Sudjana. 2008. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
Nasution, S. 2005. Berbagai Pendekatan
Dalam Proses Belajar Mengajar.
Jakarta : PT Bumi Aksara.
Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
26
Jurnal Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2355-5009 Vol. 2 Nomor 5 Juni Tahun 2016
Rini
Budiharti. 2002. Strategi Belajar
Mengajar. Wonogiri: UNS Press
Slavin, Robert, E. 2008. Cooperative
Learning Teori, Riset dan Praktik.
Bandung : Nusa Media.
Sardiman AM. 2007. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Suharsimi Arikunto,dkk. 2007. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta : PT Dumi Aksara.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT
Rineka Cipta.
Suwarsih Madya. 2007. Penelitian Tindakan
Kelas. Bandung : Alfabeta.
Undang-Undang Republik Indonesia Tentang
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Tahun 2003.
27
Download