22 BAB II PERBANDINGAN MADZHAB A. Definisi Perbandingan

advertisement
BAB II
PERBANDINGAN MADZHAB
A. Definisi Perbandingan Mazhab
Kata perbandingan merupakan alih bahasa dari lafadz arab yaitu
muqaranah. Sedangkan menurut
etimologi, muqaranah berasal dari kata
kerja qarana, yang artinya membandingkan dan kata muqaranah sendiri, kata
yang menunjukan keadaan atau hal yang berarti membandingkan atau
perbandingan. Berarti yang dimaksud dengan perbandingan di sini adalah
membandingkan satu pendapat dengan pendapat yang lain. Sedangkan kata
mazhab mempunyai arti aliran atau paham yang dianut.30 Sedangkan menurut
istilah, madzhab bermakna :
1.
Jalan pikiran atau metode yang ditempuh oleh seorang imam Mujtahid
dalam menetapkan suatu peristiwa berdasarkan kepada Al-Qur’an dan
Hadits.
2.
Fatwa atau pendapat seorang imam mujtahid tentang hukum atau
peristiwa yang diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits 31
Menurut ulama fikih Islam, perbandingan madzhab adalah suatu cara
untuk menemukan kesimpulan hukum yang pasti setelah mengumpulkan
berbagai macam pendapat dari kalangan fuqoha’ yang saling berbenturan
30
Romli SA, 1999, Muqaranah Mazahib fil Ushul, Jakarta, Gaya Media Pratama, hlm. 7.
Huzaemah Tahido Yanggo, 2011, Pengantar Perbandingan Mazhab, Jogjakarta, Gaung
Persada Press, Cet. 4, hlm. 80.
31
22
23
dengan metode-metode tertentu, sehingga mendapatkan suatu jawaban untuk
bisa diamalkan secara pasti dan lebih maslahah.32
B. Sejarah Lahirnya Madzhab
Proses lahirnya madzhab adalah usaha para pengikut atau pendukung
untuk menyebarkan hasil ijtihad imamnya. Penyebaran ini dilakukan dengan
metode lisan dan juga tulis (pembukuan fiqih). Kemudian, pengikut hasil
ijtihad itu semakin banyak, membentuk suatu komunitas dan disebutlah
komunitas tersebut bermadzhab imam ini dan itu. Jika dilihat dalam sejarah
tasyri Islam, madzhab lahir dari perjalanan yang cukup panjang. Dimulai dari
para sahabat Nabi Muhammad SAW yang focus pada ilmu dan hukum,
sampai kepada para tabi’in di setiap daerah-daerah. Pada masa tabi’in dan
imam-imam mujtahid, muncul sederetan ulama dalam jumlah yang cukup
banyak. Berbagai kawasan (negeri) Islam dipenuhi dengan ilmu dan ulama.
Banyak diantara mereka yang mencapai tingkatan mujtahid mutlak.
Sebagian ulama terbaik itu membuat metode yang digunakan untuk mengenal
hukum-hukum. Akhirnya masing-masing mempunyai murid dan pengikut
yang mengikuti metodenya. Metode ini yang kemudian dinamakan madzhab.33
Syekh Abu Malik Kamal menyebutkan, bahwa setelah abad kedua
muncullah di tengah-tengah mereka sikap bermadzhab pada mujtahid tertentu,
dan jarang sekali ada orang yang tidak berpegang pada madzhab mujtahid
tertentu. Di Madinah misalnya, banyak nama Tabi’in yang memiliki perhatian
32
33
32.
Ibid. hlm. 92.
Abu Malik Kamal, 2012, Shohih Fiqih Sunnah, Jakarta, Pustaka At Tazkia, Cet.7, hlm.
24
besar terhadap hukum dan ilmu pengetahuan. Misalnya, Said bin Musayyab,
Urwah bin Zubair, Salim Ibnu Abdillah, Nafi maula Ibnu Umar, Ibnu Syihab
az-Zuhri dan lainnya. Di Makkah, tersebut nama besar seperti Ibnu Abbas
Mujahid ibn Jabir, Ikrimah dan lainnya. Demikian juga kita temukan nama
besar di Kufah dan Bashrah seperti ‘Al-Qamah bin Qais, Anas bin Malik,
Qatadah ibn Da’aman dan nama besar lainnya. Maka tidak heran kalau dalam
literature hukum Islam terdapat istilah madzhab Aisyah, madzhab Ibn Mas’ud,
dan madzhab tabi’in lainnya. Para pemilik nama besar inilah yang sangat
berjasa mengembangkan kegiatan ilmiah dan dengan pegajaran yang mereka
lakukan mendorong munculnya generasi-generasi baru yang focus pada
masalah hukum. Generasi baru ini melakukan ijtihad dan istinbath hukum
sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. Mereka menyebarkan hasil ijtihadnya,
menulis dan menjadi rujukan hukum bagi yang memerlukan.34
Menurut Thaha Jabir Al-Ulwani generasi baru ini berjumlah 13 aliran,
diantaranya adalah sebagai berikut : 35
1.
Sufyan bin Uyaynah (w. 198 H) di Makkah
2.
Malik bin Anas (w. 179 H) di Madinah
3.
Hasan al-Bashri (w. 110) di Bashrah
4.
Abu Hanifah (w. 150 H) di Kufah
5.
Sufyan al-Tsauri (w. 160 H) di Kufah
6.
Al-Auzai (w. 157 H) di Syam
7.
Abdullah bin Idris as-Syafii (w. 204 H) di Mesir
34
35
Ibid. hlm. 33
Ibid. hlm. 34
25
8.
Al-Laits bin Saad (w. 175 H) di Mesir
9.
Ishaq bin Ruhawaih (w. 238 H) di Naisabur
10. Abu Tsaur (w. 240 H) di Baghdad
11. Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) di Baghdad
12. Daud adz-Dzhahiri (w. 270) di Baghdad
13. Ibn Jarir at-Thabari (w. 310) di Baghdad
Aliran ini pada akhirnya membentuk madzhab-madzhab tersendiri.
Mereka memiliki buku rujukan, memiliki metode istinbat dan pengikut di
masing-masing daerah. Ketiga belas madzhab ini digolongkan pada komunitas
Sunni. Dalam kelompok Syi’ah, ditemukan juga berbagai madzhab fiqih,
diantaranya adalah madzhab Syi’ah Zaidiyyah, Imamiyyah, Ismailiyyah.
Ditemukan juga madzhab dari kelompok Khawarij, yaitu madzhab Ibadiyyah.
Pendiri madzhab-madzhab ini adalah ulama-ulama terkenal. Mereka belajar
kepada ulama-ulama sebelumnya. Apa yang mereka hafal dan faham dari
warisan Nabi. Pada masa imam-imam, negeri-negeri Islam dipenuhi dengan
ilmu dan ulama. Ilmu-ilmu syar’i mendominasi orang-orang yang memiliki
akal yang cerdas, jiwa yang suci dan semangat yang tinggi. Ulama syari’ah
pada waktu itu adalah orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dan
terhormat di masyarakat Islam.36
Dengan ilmu wahyu yang mereka pelajari, mereka terangkat ke derajat
yang tinggi. Mereka memantapkan madzhab mereka dan meninggalkan
kekayaan ilmiah yang begitu banyak untuk generasi berikutnya dalam
36
Ibid. hlm. 34
26
mengetahui kebenaran dan memahami nash-nash. Seorang ahli fiqih dari
madzhab Syafi’i Al ‘Allamah Abu Sya’amah berkata : “Imam Syafi‟i
membangun madzhabnya dengan bangunan yang kokoh; yaitu dengan
berpegang teguh dengan Al-Qur`an, Al-Hadits dan pandangan yang benar,
berupa ijtihad yang dasar rujukannya Al-Qur`an dan Al-Hadits”. Semua
imam membangun madzhabnya dengan cara seperti ini. Madzhab mereka
tercermin dalam pendapat yang mereka tuangkan dalam buku-buku mereka,
mereka
imla`kan
pada
murid-murid
mereka
atau
mereka
jawab
atas pertanyaan dan permintaan fatwa. Kemudian teman-teman dan muridmurid mereka membawanya (menyebarkannya). Kemudian para pengikut
imam inilah yang memiliki peran besar dalam memperluas ilmu para imam
tersebut. Mereka menghafal dan menukilnya. Seandainya mereka tidak
melakukan hal itu, niscaya madzhab mereka akan lenyap.
Peran para pengikut madzhab bukan terbatas pada menukil semua yang
mereka dengar dan memperluas ilmu tersebut, tetapi mereka juga adalah
orang-orang yang memiliki akal yang cerdas yang mampu melakukan
penelitian dan istimbat. Oleh karena itu mereka juga melakukan ijtihad seperti
yang dilakukan oleh para imam. Mereka tidak merasa berat untuk memilih
pendapat yang berbeda dengan pendapat imam mereka jika memang
kebenaran tidak sesuai dengan pendapat para imam tersebut.37
37
Ibid. hlm. 36
27
C. Dampak Madzhab terhadap Perkembangan Fiqih
Madzhab fiqh dapat dikelompokkan menjadi tiga madzhab utama yaitu:
Sunni, Syi’ah, dan Khawariji. Dari tiga madzhab itu berkembang madzhab
yang lebih kecil, misalnya madzhab Sunni sampai sekarang berkembang
menjadi empat madzhab : Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali (Al-Madzahib
Al-Arba‟ah), madzhab Syi’ah berkembang menjadi : Madzhab Ja’fari (Imami),
Zaidi, dan Isma’ili, terakhir madzhab Khawarij menyisakan satu madzhab
yaitu madzhab Ibadi.
Ketiga madzhab tersebut mempunyai karakteristik masing-masing
dalam menggali hukum Islam dan menyebarkan pemahamannya kepada
masyarakat. Begitu pula, dalam proses pembentukan dan penulisan kitab
fiqhnya,
masing-masing
memiliki sistematika
yang
berbeda.
Proses
pembentukan tersebut, secara operasional, menurut Schahct, terungkap dalam
uraian berikut ini : “Masa penulisan hukum Islam dimulai sekitar tahun 150 K
(767 M) dan semenjak saat itu perkembangan hukum yang bersikap teknis
dapat diikuti langkah demi langkah dari satu ulama ke ulama berikutnya.
Di Irak,
perkembangan
hukum
harus
dinisbahkan
berturut-turut
kepada Hammad ibn Abi Sulaiman, ahli hukum Kufah (wafat 150 H/738 M)
dan doktrin-doktrin dari Ibn Aby Layla (wafat 148 H/765 M) dan doktrin
Abu Hanifah (wafat 150 H/767M), Abu Yusuf (wafat 182 H/798 M) serta
doktrin dari Syaibani (wafat 189 H/805 M), orang syria Awza‟I (wafat 157
H/774 M) menggambarkan satu tipe hukum lama dan Malik (wafat 179
H/795 M)
doktrinnya
rata-rata
menjadi
anutan
aliran
hukum
28
Madinah. Selama periode kedua, pemikiran hukum secara teknis berkembang
secara cepat dari permulaannya dengan menggunakan metode analogi.”38
Lebih tegas lagi, Schacht mengatakan bahwa yurisprudensi hukum
Islam lahir dari satu pusat, yakni madzhab Irak sebagaimana pendapat
Goldziher. Madzhab Irak ini lebih berkembang dan sistematis dibanding
madzhab Madinah. Dampak nyata dalam bentuk penulisan kitab fiqh dapat
dilihat dari karya-karya para imam atau murid imam madzhab fiqh. Misalnya,
Kitab-kitab fiqh disusun berdasarkan permintaan penguasa dan pemerintah
pun mulai menganut salah satu madzhab fiqh resmi negara, seperti dalam
pemerintahan Daulah Abbasiyah yang menjadikan fiqh Madzhab Hanafi
sebagai pegangan para hakim di pengadilan. Di samping sempurnanya
penyusunan kitab-kitab fiqh dalam berbagai madzhab, juga disusun kitabkitab usul fiqh, seperti kitab Ar-Risalah yang disusun oleh Imam Asy Syafi’i.
sebagaimana pada periode ketiga, pada periode ini, fiqh iftiradi semakin
berkembang karena pendekatan yang dilakukan dalam fiqh tidak lagi
pendekatan aktual di kala itu, tetapi mulai bergeser pada pendekatan teoretis.
Selain itu, penulisan sunnah dikenal dengan “kutub al-sittah” (Bukhari,
Muslim, Nasai, Ibn Majjah, Dawud, dan Tirmidzi) yang jumlahnya berpuluh
jilid serta penulisan tafsir telah dilakukan seperti tafsir ibn juraih, Saddi dan
Muhammad bin Ishaq yang dikembangkan oleh Ibn Jarir Ath-Thabari (ulama
tafsir terkenal).39
38
39
Ibid. hlm. 48.
Ibid. hlm 49.
29
Dalam analisis Qordri Azizy, penulisan kitab-kitab fiqh tidak lepas dari
madzhab besar atau imam sebelumnya. Ia ungkapkan sebagai berikut: “Ulama
pada akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 pada umumnya mengikatkan diri
pada
tetap
suatu
madzhab
besar,
mengembangkan
mengembangkan
pemikiran
namun
sebenarnya
mereka
juga
pemikiran
mereka
juga
tetap
mereka,
meskipun
dalam
proses
pengembangannya terkadang harus terjadi perbedaan dengan pendapat
imam-imam mereka. Di samping secara formalitas mengikat diri kepada
madzhab tertentu, metodologi berpikirnya barangkali terikat hanya pada
dasar-dasar pokoknya. Sebagai contoh, misalnya Al-Thahawi, memiliki
banyak perbedaan dengan para imam asalnya, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan
Asy-Ayaibani, dia masih mengikat diri secara formal pada madzhab Hanafi
dan dalam waktu yang bersamaan, ia juga mengenbangkan lebih maju lagi
madzhab ini secara teoretis”
Peralihan dari tradisi ijtihad kepada tradisi taklid pun terjadi sebagai
dampak madzhab besar terhadap para pengikut atau muridnya. Sebagai
contoh, uraian yang terdapat dalam Al-Majmu karya An-Nawawi, AlMustasfha, dan Ihya Ulum Ad-Din karya Al-Ghazali, dan masih banyak lagi.
Mereka juga giat meneliti dan mengklarifikasikan permasalahan fiqh dan
memperdebatkannya dalam forum-forum ilmiah sehingga dapat diketahui
mana pendapat yang disepakati dan mana pendapat yang diperselisihkan.
Kemudian, mereka bukukan dalam bentuk kitab seperti Al-Inshaf karya AlBathliyusi, Bidaya Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd (w. 595 H), Al-I’tisham
30
karya Asy-Syatibi dan lain-lainnya yang merupakan embrio bagi kelahiran
ilmu fiqh Al-Muqaram pada periode selanjutnya. Fuqaha juga sangat berkreasi
dalam
bidang
usul
fiqh.
Mereka
mempelajari metode-metode
yang
dirumuskan oleh fuqaha sebelumnya, menyempurnakan, dan menganalisis
hasil penerapan masing-masing metode kepada masalah-masalah fiqhiyyah
sehingga fase ini telah dapat menelurkan puluhan kitab dalam bidang
qawaid fiqhiyyah, seperti Al-Asybah Was Al-Nadhair oleh Ibnu Nujaim (w.
969 H0, Al-Qawaid oleh Ibnu Jizy (w. 741 H). Al-Qawaid oleh Ibnu Rajab
(w. 790 H) dan sebagainya. Begitu pula dampak madzhab terhadap penulis
fiqh pada madzhab Syi’ah (Ja’fari, Ismail, dan Zaidiyah) dan madzhab
Khawarij (ibadi), berikut ini : Madzhab Syi’ah Ja’fari menghimpun beberapa
kitab pedomannya sebagai berikut : 40
1.
Al-Kafi fi ilm Ad-Din, karya Muhammad ibn Yakub ibn Ishaq Al-Kulaini
(w. 328 H)
2.
Basyairu al-Darajat fi ulum Ali Muhammad wa ma khassahum Allah bih,
karya Ibnu Jafar Muhammad id Al-Hasan
3.
Man laa yahdhur Al-faqih, karya Abu Jafar Muhammad bin Ali Husain
4.
Al-Itibar dan al-Tahdzhib, karya Muhammad bin Hasan Al-Thusi
5.
Syarai’ al-Islam, karya Ja’far ibn Hasan Al-Hully (678 H)
6.
Syarah Jawahirul Kalam, karya Muhammad Hasan Al-Najmi
7.
Miftahu Al-Karamah, karya Muhammad Al-Jawad ibn Muhammad AlHusein (1226 H)
40
Ibid. hlm. 50.
31
Wasail al-Syi’ah ila Masail al-Syari’ah, karya Muhammad Al-Hasan ibn
8.
Ali Al-Hari (1104 H).
Sementara itu, madzhab Zaidiyah, meskipun sedikit, madzhab ini
memiliki format penulisan fiqh, yakni Al-Majmu (fatwa-fatwa Zaid ibn Ali),
baik bidang hadis maupun fiqh, yang dikumpulkan oleh Abu Khalid ‘Amar
bin Khalid Al-Wasithi (w. 150 H) dan al-Raudhu An-Nadhir Syarh Majmu’
al-Fiqh al-Kabir karya Syafrudin Husein Ibn Ahmad Al-Haimi Al-Yamini alSon’ani (1221 H). Adapun kitab resmi Fiqh madzhab Ismaili, Da’aim alIslam, karya Numan Ibn Muhammad At-Tamimi (w. 974 H).
Adapun madzhab Khawarij, format penulisan kitab yang dijadikan
rujukan oleh madzhab Ibadiyah adalah Musnad Ar-Rab’i karya Rabi’ bin
Habib Al-Farahidi Al-Umani Al-Bashri dan kitab Ashdag Al-Manahij fi
Tamyiz Al-Ibadiyah Min Al-Khawarij karya ulama mutqkhir Ibadi, Salim bin
Hamud. Dampak madzhab tehadap bentuk penulisan kitab fiqh terdapat tiga
macam bentuk kitab, yaitu : 41
1.
Matan, yaitu kitab yang mengumpulkan masalah-masalah pokok yang
disusun dengan uraian yang mudah. Akan tetapi, kemudian ada pula
dengan uraian yang sukar, sehingga membutuhkan syarh (keterangan).
2.
Syarh, yaitu kitab yang merupakan komentar dari kitab matan.
3.
Hasyiah, yang merupakan komentar dari syarh.
Ketiga bentuk kitab di atas, sampai sekarang masih banyak digunakan
di tengah-tengah masyarakat luas. Di samping itu, selain dipelajari di tengah-
41
Ibid. hlm. 52
32
tengah masyarakat umum, juga dipelajari di pasantren-pasantren di Indonesia.
Bahkan, para cendikiawan pun tidak sedikit yang mempergunakan buku-buku
tersebut sebagai rujukan. Meskipun penggunaan kitab-kitab tersebut selektif
dan bergantung pada paham dan aliran yang dianut. Berdasarkan uraian
tersebut, dapat dipahami bahwa dampak madzhab terhadap pembentukan dan
penulisan kitab fiqh tidak hanya didasarkan pada idealisme masing-masing
madzhab, tetapi juga campur tangan penguasa yang berkeinginan memiliki
madzhab resmi dengan kitab yang dianutnya, seperti Al-Kharraj karya Abu
Usuf murid Imam Hanafi, Al Muwaththa karya Imam Maliki, dan
sebagainya.
D. Tujuan Perbandingan Madzhab
Sebagian orang masih ada yang beranggapan bahwa mempelajari
berbagai mazhab dan perbedaan yang ada didalamnya adalah sesuatu yang
tabu dan tidak ada gunanya, dengan asumsi bahwa perbandingan itu akan
menggoyahkan pendirian seseorang dan boleh jadi nantinya seseorang akan
selalu membanding-bandingkan hukum atau dalil dan mencari yang mudah
dengan berpindah-pindah mazhab. Mempelajari perbandingan mazhab
sangatlah luas manfaatnya sebab perbandingan yang dilakukan merupakan
perbandingan lintas mazhab, tidak ada lagi keterikatan pada satu paham,
netralitas benar-benar diuji dalam hal ini sehingga keputusan yang diambil
benar-benar objektif berdasarkan kenyataan dan bukan rekayasa hukum.
Tujuan
dari
muqaranah
atau
perbandingan
bukanlah
setelah
kita
membandingkan sebuah dalil atau hukum, lantas kita jadikan untuk saling
33
melemahkan atau menjatuhkan pendapat satu dengan lainnya, karena fungsi
perbandingan juga untuk mempererat atau mendekatkan mazhab-mazhab itu
sendiri. 42
Diantara manfaat mempelajari ilmu muqaranah Al-Mazahib adalah
sebagai berikut : 43
1. Dapat mengetahui hukum agama dengan sempurna dan beramal dengan
hukum yang didukung oleh dalil terkuat.
2. Dapat mengetahui berbagai pendapat, baik dalam satu mazhab, ataupun
mazhab-mazhab lain, baik pendapat itu disepakati atau diperselisihkan dan
dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan itu.
3. Dapat mengetahui metode istibath dan cara penalaran ulama terdahulu
dalam menggali hukum syara dari dalilnya yang terperinci
4. Dapat mengetahui sebab khilaf atau letak perbedaan pendapat yang
diperselisihkan
5. Dapat memperoleh pandangan yang luas tentang pendapat para imam dan
dapat mentarjihkan mana yang terkuat.
6. Dapat mendekatkan berbagai mazhab sehingga perpecahan umat dapat
disatukan kembali, ataupun jurang perbedaan dapat diperkecil sehingga
ukhuwah islamiyah lebih terjalin.
7. Dapat mengetahui betapa luasnya pembahsan ilmu fiqh
8. Dapat menghilangkan kepician dalam mengamalkan syari’at islam, yang
hanya terikat pada satu pendapat serta menyalahkan pendapat mazhab lain.
42
Hasbiallah, 2009, Perbandingan Madzhab, Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan
Islam Kemenag RI, Cet. 2, hlm. 6.
43
Ibid. hlm. 8
34
9. Dapat menghilangkan sifat taqlid buta
E. Ruang Lingkup Perbandingan Madzhab
Mazhab-mazhab yang telah tumbuh dan berkembang yang menjadi
pegangan masyarakat, ternyata memiliki metode atau cara-cara yang berbeda
satu sama lain dalam melakukan istimbat hukum. Perbedaan tersebut berkisar
pada perbedaan pola fikir para imam mazhab, serta sistematika sumber yang
digunakan, juga latar belakang imam tersebut yang kemudian berimplikasi
pada perbedanya produk hukum yang dihasilkan. Perbedaan tersebut
disebabkan perbedaan pemahaman terhadap nash dan karakteristiknya. Daerah
atau tempat imam itu tinggal juga menjadi sebab mendasar terjadinya ikhtilaf
pada dalil-dalil dan masalah yang sama, sehingga itu juga menjadi bahasan
yang menarik dalam perbandingan mazhab ini. 44
Bidang kajian perbandingan mazhab ialah seluruh masalah fiqh yang
didalamnya terdapat dua pendapat atau lebih. Sedangkan masalah-masalah
fiqh yang terjadi ijma‟atau ittifa, maka masalah tersebut tidak termasuk dalam
kajjian perbandingan mazhab. Secara eksplisit dapat kami kemukakan bahwa
ruang lingkup pembahasan perbandingan mazhab meliputi hal-hal sebagai
berikut : 45
1.
Dalil-dalil yang dijadikan dasar oleh para mujtahid, baik dari Al-Qur’an,
Al-Hadits atau dalil-dalil syara’ lainnya.
44
Romli, 1999, Muqaranah MAzahib fi al-Usul, Jakarta, Gaya Media Pratama, Cet. Ke-1,
hlm. 12.
45
M. Bahri Ghazali, 1992, Perbandingan Mazhab, Jakarta, 1992, Cet. Ke-1, hlm. 9.
35
2.
Metode atau cara mereka berijtihad dan cara beristimbat dari sumbersumber hukum yang mereka jadikan dasar dalam menetapkan hukum.
3.
Latar belakang para mujtahid itu sendiri, latar belakang timbulnya suatu
mazhab dan perbedaan-perbedaan yang kemudian muncul di tengahtengah mazhab yang ada.
4.
Pola pemikiran para imam mazhab, hal-hal yang mempengaruhinya
seperti sisitematika sumber hukum, sistem istidlal masing-masing
mazhab.
5.
Kondisi sosiologis serta hukum-huum yang berlaku di tempat dimana
para muqarin hidup.
F. Penyelesaian Perbedaan Pendapat Fuqoha’
Perbedaan di kalangan ulama’ adalah rahmat bagi umat. Sebuah
perbedaan di kalangan ulama bukan tanda bahwa Islam adalah agama yang
sulit dan menyulitkan umat dalam menentukan pilihan hukum mereka. Justru
dengan adanya perbedaan hukum diatara ulama memudahkan bagi umat untuk
mengikutinya dan Islam bukanlah agama yang sering diutarakan oleh orang
non Islam. Islam adalah agama perdamaian, kasih sayang, toleransi, dan
seimbang. Namun dalam menyikapi perbedaan tidak bisa kita serta merta
mengikuti sembarang pendapat sesuai dengan keinginan kita bahkan memilih
pendapat yang ringan saja. Ada cara dalam mengamalkan sebuah hukum yang
berbeda.
36
Radd Al-Qur’an Wa Al-Hadits 46
1.
Radd Al-Qur’an Wa Al-Hadits adalah mengembalikan masalah
kepada Al-Qu’ran dan Al-Hadits. Seorang yang menemukan pertentangan
pendapat ulama kemudian ingin memilih dari pendapat tersebut maka
terlebih dahulu hendaknya mengembalikan kepada Al-Qur’an dan AlHadits. Sebagaimana firman Allah SWT :
            
      
Artinya : Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya. (An-Nisa [04] : 59)
Bagi seseorang yang bisa menelitinya maka wajib baginya untuk
meneliti yang paling kuat dengan mengembalikan kepada Al-Qur’an dan
Al-Hadits. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr,
bahwa yang wajib dalam menyikapi perselisihan para ulama adalah
mencari dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits serta Ijma’ dan Qiyas yang
berdasarkan ushul (kaidah-kaidah pokok) yang bersumber dari semua itu.
Tidak bisa tidak.
Ta’arudh Al-Adillah
2.
Ta’arud Al-Adillah adalah terjadinya pertentangan hukum yang
dikandung satu dalil dengan hukum yang dikandung dalam dalil lainnya
46
Firdaus. 2004, Ushul Fiqh (Metode Mengkaji Dan Memahami Hukum Islam Secara
Komprehensif, Jakarta, Zikrul Hakim, hlm. 198.
37
dan kedua dalil tersebut berada dalam satu derajat.47 Berarti apabila
ditemukan dua dalil yang bertentangan secara lahirnya, maka harus
dilakukan penelitian dengan memadukannya, seperti halnya yang telah
diatur dalam ushul fiqh. Dan apabila dua dalil tersebut telah diusahakan
perpaduannya, namun tetap tidak menemukan jalan keluar, maka
pelaksaannya dihentikan dan mencari dalil yang lain. Para ulama ushul
telah
merumuskan
tahapan-tahapan
penyelesaian
dalil-dalil
yang
kontradiksi yang bertolak pada suatu prinsip yang tertuang dalam kaidah
sebagai berikut.
“Mengamalkan dua dalil yang berbenturan itu lebih baik daripada
meninggalkan keduanya“48
Dari kaidah di atas dapat dirumuskan tahapan penyelesaian dalildalil yang berbenturan serta cara-caranya sebagai berikut:
a.
Mengamalkan dua dalil yang kontradiksi
Adapun cara menemukannya adalah dengan jalan sebagai berikut:
1) Taufiq (kompromi), yaitu mempertemukan dan mendekatkan
dalil-dalil yang diperkirakan berbenturan atau menjelaskan
kedudukan hukum yang ditunjuk oleh kedua dalil tersebut,
sehingga tidak terlihat lagi adanya kontradiksi.
2) Takhsis, yaitu jika dua dalil yang secara zhahir berbenturan dan
tidak mungkin dilakukan usaha kompromi, namun satu diantara
dalil tersebut bersifat umum dan yang lain bersifat khusus, maka
47
Rachmad Syafe’i, 1999, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung, Pustaka Setia, hlm. 225
Firdaus, Ushul Fiqh (Metode Mengkaji Dan Memahami Hukum Islam Secara
Komprehensif, Op.Cit., hlm. 201
48
38
dalil yang khusus itulah yang diamalkan untuk mengatur hal yang
khusus. Sedangkan dalil yang umum diamalkan menurut
keumumannya sesudah dikurangi dengan ketentuan yang khusus.
b. Mengamalkan satu dalil diantara dua dalil yang kontradiksi
Ketika ditemukan dalil yang kontra dan tidak dapat ditaufiqkan
atau ditakhsis, maka kedua dalil tersebut tidak dapat diamalkan
melainkan hanya satu yang bisa diamalkan. Hal ini bisa diselesaikan
dengan bentuk 3 cara : 49
1) Nasakh, yaitu apabila dapat diketahui secara pasti bahwa satu
diantara dua dalil yang kontradiksi itu lebih dahulu turun atau
lebih dahulu berlakunya, sedangkan dalil yang satu lagi
belakangan turunnya, maka dalil yang datang belakangan itu
dinyatakan berlaku untuk seterusnya, sedangkan dalil yang lebih
dulu dengan sendirinya dinyatakan tidak berlaku lagi.
2) Tarjih, yaitu apabila diantara dua dalil yang diduga berbenturan
tidak diketahui mana yang belakangan turun atau berlakunya,
sehingga tidak dapat diselesaikan dengan nasakh, namun
ditemukan banyak petunjuk yang menyatakan bahwa salah satu
diantaranya lebih kuat dari pada yang lain, maka diamalkanlah
dalil yang disertai petunjuk yang menguatkan itu, dan dalil yang
lain ditinggalkan.
49
961
Wahbah Al-Zuhaili, 2001, Ushul al-Fiqh Al-Islami, Beirut, Dar Al-Fikr, Cet.ke-2, hlm.
39
3) Takhyir, yaitu apabila dua dalil yang berbenturan tidak dapat
ditempuh secara nasakh dan tarjih, namun kedua dalil itu masih
mungkin untuk diamalkan, maka penyelesaiannya ditempuh
dengan cara memilih salah satu diantara dua dalil itu untuk
diamalkan, sedangkan yang lain tidak diamalkan.
c.
Meninggalkan dua dalil yang berbenturan 50
Ketika metode – metode seperti di atas sudah tidak bisa ditempuh
lagi maka cara yang dilakukan adalah meninggalkan dua dalil
tersebut. Adapun cara meninggalkan kedua dalil tersebur, yaitu:
1) Tawaquf (menangguhkan), menangguhkan pengamalan dalil
tersebut sambil menunggu kemungkinan adanya petunjuk lain
untuk mengamalkan salah satu diantara keduanya.
2) Tasaquth (saling berguguran), meninggalkan kedua dalil tersebut
dan mencari dalil yang lain untuk diamalkan.
Demikian apabila ditemukan dua dalil yang bertentangan secara
lahirnya, antara ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, hadits dengan
hadits. Namun apabila masih juga terjadi pertentangan antara
pendapat ulama karena berbeda penafsiran atau penjelasan dalam AlQur’an dan Hadis, maka harus diselesaikan juga.
50
Ibid
40
d. Takhyir Quol Ulama
1) Memilih Pendapat yang Paling Ringan 51
Sebagian ulama’ ada yang membolehkan mengambil
pendapat yang lebih mudah saja untuk diamalkan dari pada
mengambil pendapat ulama yang terkesan berat dan sulit. Karena
hal ini tidak ada larangan dalam syariah untuk beribadah sesuai
dengan pendapat ulama yang memudahkan.52 Namun tidak berlaku
untuk semua orang bisa memilih pendapat yang paling ringan.
Hanya bagi orang awwanlah yang bisa mengikuti para ulama
Mujtahid yang paling ringan. Memilih pendapat mana yang kita
sukai. Selama memang pendapat itu keluar dari mulut seorang
ulama mujtahid mu’tabar, yang memang punya kapasitas untuk itu.
Dan bukan keluar dari seorang yang sama sekali tidak kompeten
dalam mengeluarkan sebuah pandangan atau fatwa dalam masalah
fiqih. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.
ِ
‫ت َما ُخيِّ َر رسول اللَه صلّى اللَه عليه وسلّم ْبْي‬
ْ َ‫َع ْن َعائ َشة قَال‬
ُّ
‫َيسرمها إّل أن يكون فيه إِ ْْثٌ فإن كان ْإْثًا كان‬
َ ‫ْأمَريْن قَط ّإّل اختار أ‬
ِ ‫عد‬
‫الناس منه‬
َ ْ‫أَب‬
Artinya : Dari „Aisyah ra, beliau berkata bahwa Nabi tidak
diberikan 2 pilihan kecuali ia memilih yang paling
mudah kecuali jika itu dosa. Kalau itu dosa ia adalah
orang yang paling menjauhinya” (HR Ahmad)
51
Sayyid Sabiq, 2001, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Bairut, Darl Fikr, Juz 1, hlm. 85
Imam Al-Qorofi dari kalangan Malikiyah mengatakan secara tegas kebolehan bagi
seseorang untuk beribadah dengan landasan pendapat ulama yang memang meringankannya. Tapi
kemudian beliau memberikan syarat bahwa keputusannya mengambil pendapat yang ringan
tersebut tidak membuatnya mengerjakan suatu amalan yang batil dan juga tidak sampai kepada
prkatek Talfiq. Ibid, hlm. 86
52
41
2) Memilih Pendapat yang Paling Berat 53
Imam Ahmad bin Hanbal dan juga beberapa ulama dari
kalangan Malikiyah sangat keras, sehingga orang dihukumi haram
jika mengikuti pendapat yang mudah atau yang ringan. Ulama ini
mewajibkan mengambil pendapat yang memang berat dan
kuat. Ini juga termasuk pendapat Imam Al-Ghozali dari kalangan
Syafiiyah. Menurut pendapat ini, bagi seseorang yang mengambil
pendapat ringan dalam beribadah menggambarkan pada keinginan
hawa nafsu saja. Padahal Allah memerintahkan kepada kita untuk
kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits Jika menghadapi sebuah
perbedaan. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa [04] :
59, yang sudah dikutip di atas. Demikian juga yang dikatakan oleh
Imam Al-Ghozali dalam kitabnya : Seorang awaam (yang tidak
mampu berijtihad) tidak diperkenankan baginya menyeleksi
pendapat madzhab yang paling menguntungka buatnya, (khawatir)
ia bisa melampaui batas (memudahkan). 54
3) Memverifikasi Pendapat Ulama’ 55
Imam Syathibi menjelaskan bahwa bagi seseorang ketika
menemui sebuah pendapat ulama’ yang berbeda dalam satu
masalah, hendaknya mencari pendapat yang lebih unggul. Tidak
53
------- 1977, Usul Madzhab Al-Imam Ahmad (Dirosah Usuliyyah Muqoronah), Riyad,
Al-Hadisiyyah, hlm. 662
54
Abu Hamid Muhammad Al-Ghazal, Al-Mustashfa min Ilmi Al-Usul Imam Al-Ghazali,
Juz I, hlm. 374. (Maktabah Syamilah)
55
Ibrahim Abu Ishaq As-Syatibi Al-Maliki, Al-Muwafaqot Fi Usul As-Syari‟ah, Juz V, hlm.
84. (Maktabah Syamilah)
42
boleh baginya langsung memilih yang lebih mudah ataupun yang
lebih berat sebagai pedoman. Tapi menimbang terlebih dahulu
mana yang paling kuat dan melihat bagaimana Imam Mujtahid itu
beristidlal (berdalil). Karena menurut beliau perbedaan pendapat
dikalangan ulama untuk seorang awwam itu bagaikan dalil-dalil
yang saling berselisih. Dan bagi awwam adalah hal yang
membingungkan. Pendapat Imam Syathibi bisa menjadi pendapat
penengah antara dua pendapat di atas. Akan tetapi pendapat beliau
di sini tidak bisa diemplementasikan kepada seluruh orang, itu
hanya cocok bagi mereka yang mampu memverifikasi pendapat
mana yang sekiranya kuat. Sedangkan yang tidak mempu, cukup
mengikuti pendapat salah satu pendapat ulama.
Sedangkan cara yang baik bagi orang yang awwam ialah
mengikuti pendapat madzhab Negara. Andai kata dalam sebuah
negara menganut sistem salah satu madzhab fikih sebagai pedoman
hukum. Seperti halnya seorang yang tinggal pada lingkungan
Maliki,
mengikuti pendapat Madzhab Maliki. Demikian juga
apabila tinggal di lingkungan Hanafi, Safi’i dan Hambali. Namun
jika tidak demikian ikutilah pendapat yang banyak dipegang oleh
lingkungan sekitar, yaitu suara mayoritas.56 Karena bagaiamanapun
menampakkan perbedaan di kalangan masyoritas pasti akan
menimbulkan gesekan. Disadari atau tidak, masih banyak pihak
56
Demikianlah pendapat Ustad Ahmad Zarkasi, Lc. M.A, DIALOG INTERAKTIF tema
MENILIK ULANG DINAMIKA PEMIKIRAN MADZHAB FIQIH, Hotel Dafam Kab.
Pekalongan, 09.30, 23 April 2014.
43
yang alergi dengan perbedaan. Tentu jalan yang terbaik ialah
mengajarkan
mereka
tentang
perbedaan
itu
sendiri,
agar
kedepannya tidak ada lagi yang aneh dengan perbedaan fiqih.
Memang tidak ada kewajiban seseorang untuk berpegang pada
salah satu madzhab tertentu. Akan tetapi memilih berselisih dengan
pandangan mayoritas dalam masalah fiqih bukan sesuatu yang
layak dipegang.
Download