asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan preeklampsia ringan di

advertisement
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN
PREEKLAMPSIA RINGAN DI POLI
KEBIDANAN RSUD CIAMIS
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Mencapai
Gelar Ahli Madya Kebidanan
Oleh :
RINNY PRILYA SILVIANI
NIM. 13DB277081
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Preeklampsia dan eklampsia merupakan masalah kesehatan yang
memerlukan perhatian khusus karena preeklampsia adalah penyebab
kematian ibu hamil dan perinatal yang tinggi terutama di negara
berkembang. Sampai saat ini preeklampsia dan eklampsia masih merupakan
“the disease of theories”. Karena angka kejadian preeklampsia dan
eklampsia tetap tinggi dan mengakibatkan angka morbiditas dan mortilitas
maternal yang tinggi (Manuaba, 2010).
Preeklampsia dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu dan
perinatal yang tinggi terutama di negara berkembang. Kejadian preeklampsia
dan eklampsia bervariasi disetiap negara bahkan di setiap daerah. Dijumpai
berbagai faktor yang mempengaruhi diantaranya jumlah primigravida,
terutama primigravida muda, hidramnion, hamil kembar, diabetes mellitus,
kegemukan, mola hidatidosa, usia ibu lebih dari 40 tahun (Manuaba, 2010).
Ayat Al-Quran tentang kehamilan juga terdapat dalam Q.S Al-Ahqaf/46
:15.
ۖ ‫ض َع ْت ُه ُكرْ هًا‬
َّ ‫َو َو‬
َ ‫ان ِب َوالِدَ ْي ِه إِحْ َسا ًنا ۖ َح َملَ ْت ُه أ ُ ُّم ُه ُكرْ هًا َو َو‬
َ ‫اْل ْن َس‬
ِ ْ ‫ص ْي َنا‬
ۚ ‫ون َشهْرً ا‬
َ ‫ِصالُ ُه َث ََل ُث‬
َ ‫َو َحمْ لُ ُه َوف‬
Artinya : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik
kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah
payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya
sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”.
Ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa Nabi cukup bijaksana dan
memberi empati pada ibu yang meninggal karena melahirkan sebagai
syahid, setara dengan perjuangan jihad di medan perang. Penghargaan itu
diberikan Nabi sebagai rasa empati karena musibah yang dialami juga
beratnya resiko kehamilan dan melahirkan bagi seorang ibu. Hal ini bukan
berarti membiarkan ibu yang akan melahirkan bagi agar mati syahid, tetapi
justru
memberi
isyarat
agar
dilakukan
1
upaya-upaya
perlindungan,
2
pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pada ibu pada masa-masa
kehamilan
dan
melahirkan.
Namun
apabila
ibu
meninggal
karena
melahirkan, Allah menilainya sebagai perjuangan dan meninggal dalam
keadaan syahid.
Menurut organisasi kesehatan tingkat dunia, WHO ( World Health
Organization) memperkirakan 800 perempuan meninggal setiap harinya
akibat komplikasi kehamilan dan proses kelahiran sekitar 99% dari seluruh
kematian ibu terjadi di negara berkembang, sekitar 80% kematian maternal
merupakan akibat meningatnya komplikasi selama kehamilan, persalinan
dan setelah persalinan (ICD-10. 2012 : WHO, 2014).
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2013 Angka Kemtaian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 359 per 100.000
kelahiran hidup. Angka kematian ibu saat hamil dan persalinan di Indonesia
ternyata tergolong tinggi. Indonesia menduduki nomor 3 tertinggi di kawasan
Asia Selatan dan Asia Tenggara untuk jumlah AKI. Lima penyebab kematian
ibu terbesar yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), infeksi,
partus lama/macet, dan abortus. Kematian ibu di Indonesia masih didominasi
oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan 30,3%, hipertensi
dalam kehamilan (HDK) 27,1%, dan infeksi 7,3%. Namun proporsinya telah
berubah, dimana perdarahan dan infeksi cenderung mengalami penurunan
sedangkan hipertensi dalam kehamilan proporsinya semakin meningkat.
Lebih dari 25% kematian ibu di Indonesia pada tahun 2013 disebabkan oleh
hipertensi dalam kehamilan.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat menyatakan angka kematian ibu (AKI) di Jawa Barat 2013
hingga 2014 menurun. Angka kematian ibu di Jawa Barat pada tahun 2013
adalah 781 kasus dan pada tahun 2014 turun menjadi 747 kasus. Penyebab
utama kematian ibu di Jawa Barat adalah perdarahan sekitar 27%, infeksi
sebanyak 22% dan hipertensi dengan angka kejadian sekitar 14% pada
tahun 2013.
Dinas
Kesehatan
Kabupaten
Ciamis
juga
menyatakan
Angka
Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Ciamis 2014 hingga 2015 menurun. Angka
Kematian Ibu di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah 21 kasus dan
pada tahun 2015 turun menjadi 15 kasus. AKI pada tahun 2015 relatif
3
menurun, namun angka kejadian Preeklampsia Ringan masih banyak. Pada
tahun 2015 di Rumah Sakit Umum Daerah Ciamis juga ditemukan 21 kasus
Preeklampsia Ringan pada kehamilan.
Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program
Expanding
Maternal and
Neonatal Survival
(EMAS) dalam
rangka
menurunkan angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25%. Program ini
dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian ibu dan
neonatal yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dasar pemilihan provinsi
tersebut dikarenakan 52,6% dari jumlah total kejadian kematian ibu di
Indonesia
berasal
dari
enam
provinsi
tersebut.
Sehingga
dengan
menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi tersebut diharapkan akan
dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia secara signifikan.
Upaya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal
melalui program EMAS dilakukan dengan cara: 1. Meningkatkan kualitas
pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 rumah sakit
(PONEK) dan 300 puskesmas/balkesmas (PONED); 2. Memperkuat sistem
rujukan yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit. Selain itu,
pemerintah bersama masyarakat juga bertanggung jawab untuk menjamin
setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang
berkualitas, mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan
khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, memperoleh cuti hamil dan
melahirkan, serta akses terhadap keluarga berencana. Di samping itu,
pentingnya melakukan intervensi lebih ke hulu, yakni kepada kelompok
remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI. Upaya
pelayanan kesehatan ibu meliputi: (1) Pelayanan kesehatan ibu hamil, (2)
Pelayanan kesehatan ibu bersalin, (3) Pelayanan kesehatan ibu nifas, (4)
Pelayanan/penanganan
komplikasi
kebidanan,
dan
(5)
Pelayanan
kontrasepsi.
Berdasarkan hasil penelitian Novida (2012) menyebutkan bahwa dari
22 responden dengan paritas primipara terdapat 12 (54,5%) responden yang
mengalami preeklampsia dan pada 46 responden dengan paritas multipara
terdapat 3 (6,3%) responden mengalami preeklampsia.
4
Berdasarkan hasil penelitian Nurmalichatun (2012) juga menyebutkan
bahwa
dari 1108
responden
ibu
hamil yang
mengalami kejadian
preeklampsia yaitu sebanyak 129 (11,6%) responden dan
responden
pada
primipara
yang
mengalami
kejadian
dari 574
preeklampsia
cenderung lebih banyak yaitu sebanyak 81 (14,1%) responden.
Preeklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang
berkelanjutan dengan penyebab yang sama. Oleh karena itu, pencegahan
atau diagnosa dini dapat mengurangi angka kejadian dan angka kesakitan
dan
kematian.
Untuk
dapat menegakkan
diagnosa
dini diperlukan
pengawasan hamil yang teratur dengan memperhatikan pembengkakan
pada muka dan ekstremitas, kenaikan berat badan, kenaikan tekanan darah
dan pemeriksaan urine untuk menetapkan proteinuria (Manuaba, 2010).
Asuhan kehamilan atau Antenatal Care adalah pengawasan kehamilan
untuk mengetahui kesehatan umum ibu, menegakan secara dini penyakit
yang menyertai kehamilan, menegakan secara dini komplikasi kehamilan,
dan menetapkan resiko kehamilan (Manuaba, 2010). Pemeriksaan antenatal
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan terdidik dalam bidang
kebidanan. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan antenatal
sebanyak 4 kali, yaitu pada setiap trimester dan trimester terakhir sebanyak
2 kali (Sarwono, 2010).
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik melakukan
asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan preeklampsia ringan di RSUD
Ciamis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dari Laporan
Tugas Akhir adalah : “Bagaimana asuhan kebidanan komperhensif pada ibu
hamil dengan Preeklampsia Ringan di RSUD Ciamis?”.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan kebidanan
pada ibu hamil dengan
Preeklampsia Ringan di ruang Poli Kebidanan RSUD Ciamis tahun 2016
5
dengan pendokumentasian menurut 7 langkah Varney dalam bentuk
SOAP.
2. Tujuan khusus
a. Mampu mengumpulkan data subjektif dan objektif ibu hamil dengan
Preeklampsia Ringan di RSUD Ciamis tahun 2016.
b. Mampu melakukan interpretasi data sehingga ditemukan masalah
atau diagnosa ibu hamil dengan Preeklampsia Ringan di RSUD
Ciamis tahun 2016.
c. Mampu
mengidentifikasi
diagnosa
potensial
dan
antisipasi
penanganan ibu hamil dengan Preeklampsia Ringan di RSUD Ciamis
ahun 2016.
d. Mampu melakukan antisipasi penanganan kebutuhan terhadap
tindakan
segera
konsultasi,
kolaborasi
ibu
hamil
dengan
Preeklampsia Ringan di RSUD Ciamis tahun 2016.
e. Mampu merencanakan penatalaksanaan asuhan kebidanan pada ibu
hamil dengan Preeklampsia Ringan di RSUD Ciamis tahun 2016.
f. Mampu melaksanakan asuhan berdasarkan perencanaan yang
dibuat pada ibu hamil dengan Preeklampsia Ringan di RSUD Ciamis
tahun 2016.
g. Mampu mengevaluasi keefektifan dari asuhan kebidanan yang telah
diberikan pada ibu hamil dengan Preeklampsia Ringan di RSUD
Ciamis tahun 2016.
D. Manfaat
1. Bagi pasien dan keluarga
Bermanfaat untuk memberikan informasi bagi ibu tentang
pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, sehingga
apabila terjadi tanda bahaya kehamilan seperti Preeklampsia Ringan bisa
ditangani dengan segera.
2. Bagi tenaga kesehatan / Bidan
Bermanfaat sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan /
bidan sebagai pemberi pelayanan kesehatan kepada ibu hamil untuk
mempertahankan kualitas pelayanan.
6
3. Bagi institusi pendidikan
Bermanfaat seagai bahan kajian, masukan dan dasar pemikiran
bagi
mahasiswa
khususnya
untuk
penelitian
lebih
lanjut,
guna
meningkatkan kualitas pendidikan.
4. Bagi penulis lainnya
Bermanfaat
untuk
menambah
wawasan,
pengetahuan,
pengalaman dan gambaran nyata dalam memberikan asuhan sehingga
dapat mengenali tanda bahaya atau faktor resiko ibu hamil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Teori
1.
Kehamilan
a.
Pengertian
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa
dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi (Sarwono,
2010). Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi,
kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau
10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional.
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu
berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua pada usia kehamila
13 hingga 27 minggu, dan trimester ketiga pada usia kehamilan 28
hingga 40 minggu (Wiknjosastro, 2010).
b. Proses kehamilan
1)
Menurut Sulistyawati (2009), proses kehamilan meliputi :
a) Konsep yaitu pertemuan antara ovum matang dan sperma
sehat yang memungkinkan terjadi kehamilan.
b) Fertilisasi yaitu kelanjutan dari proses konsepsi terjadi
penyatuan sperma dan ovum, sampai dengan terjadi
perubahan fisik dan kimiawi ovum-sperma hingga menjadi
buah kehamilan.
c) Implantasi (Nidasi) yaitu masuknya atau tertanamnya hasil
konsepsi ke dalam .
2)
Tanda-tanda kemungkinan hamil (Wiknjosastro, 2010) :
a) Adanya HCG (Human Chorioic Gonadotropin) cara khas
yang dipakai untuk menentukan HCG pada kehamilan muda
adalah air kencing pertama pagi hari.
b) Pada pemeriksaan ditemukan tanda hegar yaitusegmen
bawah rahim melunak. Tanda goodell’s tanda ini berupa
serviks menjadi lebih lunak. Tanda chadwick biasanya tanda
ini berupa perubahan warna , warna pada vagina dan vulva
menjadi lebih merah dan agak kebiruan. Tanda piscaseks
7
8
uterus membesar secara simetris menjauhi garis tengah
tubuh. Tanda braxton hicks bila uterus dirangsang mudah
berkontraksi, tanda ini khas untuk uterus dalam masa hamil.
3)
Tanda tidak pasti (Wiknjosastro, 2010) :
a) Amenorea (tidak haid), gejala ini sangat penting karena
umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting
diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat
ditentukan
tuanya
kehamilan
dan
bila
persalinan
diperkirakan akan terjadi.
b) Nause dan emesis (mual dan muntah), dimana enek pada
umumnya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan,
disertai kadang-kadang oleh emesis. Sering terjadi pada
pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut
morning sickness.
c) Mengidam (menginginkan makanan dan minuman tertentu),
sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi
menghilang dengan makin tuanya kehamilan.
d) Pingsan, sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat
ramai. Dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat-tempat ramai
pada
bula-bulan
pertama
kehamilan. Hilang
sesudah
kehamilan 16 minggu.
e) Anoreksia (tdak ada nafsu makan), pada bulan-bulan
pertama tetapi setelah itu nafsu makan timbul lagi.
Hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan
untuk dua orang, sehingga kenaikan tidak sesuai dengan
tuanya kehamilan.
f) Frekuensi buang air kecil bertambah, sering kencing terjadi
karena
kandung
kencing
pada
bulan-bulan
pertama
kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar.
g) Leukore (keputihan), tanda berupa peningkatan jumlah
cairan vagina pada pengaruh hormon, cairan tersebut tidak
menimbulkan rasa gatal, warnanya jernih dan jumlahnya
tidak banyak.
9
h) Mamae menjadi tegang dan membesar, keadaan ini
disebabkan pengaruh estrogen dan progesterone yang
merangsang duktuli dan alveoli di mammae.
4) Tanda pasti kehamilan (Wiknjosastro, 2010) :
a) Adanya gerakan janin sejak usia kehamilan 16 minggu.
b) Terdengar denyut jantung janin pada kehamilan 12 minggu
dengan fetal elektro cardiograph dan pada kehamilan 18-20
minggu dengan stethoscope leannec.
c) Terabanya bagian-bagian janin.
d) Terlihat kerangka janin bila dilakukan pemeriksaan Rongent.
e) Terlihat kantong janin pada pemeriksaan USG
c. Kunjungan dalam kehamilan
Menurut Saifudin (2010), ibu hamil memerlukan sedikitnya 4 kali
kunjungan selama kehamilan :
1)
Kehamilan trimester I (<14 minggu) satu kali kunjungan.
2)
Kehamilan trimester II (14-28 minggu) satu kali kunjungan.
3)
Kehamilan trimester III (28-36 minggu dan sesudah minggu ke
36) dua kali kunjungan.
Walaupun
demikian,
disarankan
kepada
ibu
hamil
untuk
memerikasakan kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut:
Kehamilan 28-36 minggu perlu pemeriksaan dua minggu sekali,
kehamilan 36-40 minggu satu minggu sekali. Bila ada masalah atau
ganggun kehamilannya, ibu segera menemui petugas kesehatan
(bidan atau dokter) untuk penanganan lebih lanjut.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan
Menurut Sulistyawati (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi
kehamilan antara lain:
1)
Faktor fisik
Berkaitan dengan status kesehatan kehamilan pada usia tua,
berkaitan
dengan
status
kesehatan
kehamilan
multiple,
berkaitan dengan status kesehatan kehamilan dengan HIV.
10
2)
Status gizi
Pemenuhan gizi seimbang selama hamil akan meningkatkan
kondisi kesehatan bayi dan ibu, terutama dalam menghadapi
masa nifas sabagai modal awal untuk menyusui.
3)
Gaya hidup
Berkaitan dengan perokok, minuman keras, obat-obatan
penenang (narkoba), pergaulan bebas (hamil pranikah, hamil
tidak diinginkan).
4)
Faktor psikologis
a) Stresol internal
Faktor pemicu stress ibu hamil berasal dari ibu sendiri
seperti adanya beban psikologis yang ditanggung oleh ibu
yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi.
b) Stresol eksternal
Pemicu stress yang berasal dariluar antara lain: masalah
ekonomi, konflik keluarga, pertengkaran dengan suami, dan
tekanan dari lingkungan.
e. Asuhan Antenatal
Menurut Rukiah (2013), penatalaksanaan asuhan paada kehamilan
adalah :
1)
Melakukan anamnesa tentang identitas ibu, riwayat kehamilan
selengkap mungin.
2)
Melakukan pemeriksaan fisik (head to toe).
3)
Melakukan pemeriksaan labolatorium untuk menilai apakah
kehamilan ibu normal atau tidak.
4)
Memberikan
konseling
mengenai
asupan
nutrisi,
pola
kehidupan sehari-hari, personal hygiene, persiapan persalinan,
perubahan fisiologi kehamilan, tanda bahaya kehamilan,
menjadwalkan kunjungan berikutnya, memberikan imunisasi
TT.
5)
Mendokumentasikan dalam bentuk SOAP.
11
2. Kehamilan dengan Preeklampsia Ringan
a.
Pengertian
Preeklampsia ringan adalah tekanan darah ≥140/90 mmHg
setelah usia kehamilan 20 minggu, proteinuria ≥ pada pengukuran
dengan dipstick urin atau kadar protein total ≥ 300mg/24
(Wiknjosastro, 2008).
Preeklampsia ringan adalah kenaikan tekanan darah
diastolik 15mmHg atau >90 sampai 110 mmHg, dan kenaikan
tekanan darah sistolik 30 mmHg atau >140 setelah usia kehamilan
20 minggu disertai protein urin dan oedema pada kaki, jari tangan
dan muka (Elisabeth, 2015).
Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik
kehamilan dengan menurunnya perfusi oran yang berakibat
terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel
(Sarwono, 2010).
b. Patofisiologi
Penyebab preeklampsia dalam kehamilan hingga kini
belum diketahui secara pasti. Banyak teori telah dikemukakan
tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi belum ada
satu pun teori tersebut yang dianggap mutlak benar dan
memuaskan. Menurut Sarwono (2010), teori yang sekarang dianut
adalah :
1)
Teori kehamilan vaskularisasi plasenta.
2)
Teori iskemia plasenta, radikal bebas dan disfungsi endotel.
3)
Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin.
4)
Teori adaptasi kardiovaskulalori genetik.
5)
Teori defisiensi gizi.
6)
Teori inflamasi.
c. Faktor Resiko
Terdapat banyak faktor resiko untuk terjadinya hipertensi dalam
kehamilan, menurut Sarwono (2010) yang dapat dikelompokkan
dalam faktor resiko sebagai berikut :
1)
Primigravida, primipaternitas.
12
2)
Hiperplasentosis, misalnya : mola hidatidosa, kehamilan
multipel, diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar.
3)
Umur yang ekstrim, jika usia ibu hamil kurang dari 18 tahun
atau lebih dari 40 tahun.
4)
Riwayat keluarga pernah preeklampsia/eklampsia.
5)
Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada
sebelum hamil.
6)
Obesitas.
d. Gangguan Klinis
Secara
teoritik
urutan-urutan
gejala
yang
timbul
pada
preeklampsia ialah eodema, hipertensi dan terakhir proteinuria.
Sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urutas diatas
dapat dianggap bukan preeklampsia Lisnawati (2013).
1)
Hipertensi
Gejala yang terlebih dahulu timbul ialah hipertensi yang terjadi
secara tiba-tiba, sebagai batas diambil tekanan darah sistolik
140 mmHg dan diastolik 90 mmHg, tapi juga kenaikan sistolik
30 mmHg atau diastolik 15 mmHg diatas tekanan yang biasa
merupakan petanda. Tekanan darah sistolik dapat mencapai
180 mmHg dan diastolik 110 mmHg, tetapi jarang mencapai
200 mmHg. Jika tekanan darah melebihi 200 mmHg maka
sebabnya biasanya hipertensi asensial.
2)
Oedema
Timbulnya oedema didahului oleh pertambahan berat badan
yang berlebihan. Pertambahan berat 0,5 kg pada seseorang
yang hamil dianggap normal, tetapi jika mencapai 1kg per
minggu atau 3 kg dalam satu bulan, pre-eklampsia harus
dicurigai. Oedema ini tidak hilang dengan istirahat.
3)
Proteinuria
Proteinuria didefinisikan sebagai konsentrasi protein sebesar
0.19/L (> positif 2 dengan cara dipstik) atau lebih dalam
sekurang-kurangnya dua kali spesimen urin yang dikumpulkan
sekurang-kurangnya dengan jarak 6 jam. Pada spesimen urin
13
24 jam. Proteinuria didefinisikan sebagai suatu konsentrasi
protein 0,3 per 24 jam.
Dari
semua
gejala
tersebut,
timbulnya
hipertensi
dan
proteinuria merupakan gejala yang paling penting. Namun penderita
seringkali tidak merasakan perubahan tersebut. Biasanya apabila
penyakit ini sudah cukup lanjut maka penderita akan mengalami :
1)
Sakit kepala terutama daerah frontal.
2)
Rasa nyeri pada epigastrum.
3)
Gangguan penglihatan.
4)
Terdapat mual sampai muntah.
5)
Gangguan pernafasan sampai sianosis.
6)
Gangguan kesadaran.
e. Diagnosis
Menurut
Sarwono
(2010)
diagnosis
preeklampsia
ringan
ditegakkan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria
dan/atau eodema setelah kehamilan 20 minggu.
1) Hipertensi : sistolik/diastolik ≥149/90 mmHg.
2) Proteinuria : ≥300 mg/24 jm atau ≥ 1+ dipstik.
3) Oedema : oedema pada lengan, muka dan perut, oedema
generalisata.
f.
Pencegahan
Preeklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan
berkelanjutan dengan penyebab yang sama (Manuaba, 2010). Oleh
karena itu, pencegahan atau diagnosis dini dapat mengurangi
kejadian dan menurunkan angka kesakitan dan kematian. Belum
ada
kesepakatan
dalam
strategi
pencegahan
preeklampsia.
Menurut Walyani (2015), untuk mencegah terjadinya Preeklampsia
dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan :
1)
Nutrisi
Diet rendah garam, diet tinggi ptotein, suplemen kalsium,
magnesium dan lain-lain. Makanan tinggi protein, tinggi
karbohidrat, cukup vitamin dan rendah lemak. Kurangi garam
apabila berat badan bertambah atau oedema. Makanan
berorientasi
pada
empat
sehat
lima
sempurna.
Untuk
14
meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir terlur
setiap hari.
2)
Cukup istirahat
Istirahat yang cukup pada saat hamil semakin tua dalam arti
bekerja seperlunya disesuaikan dengan kemampuan. Lebih
banyak duduk atau berbaring kearah kiri sehingga aliran darah
menuju plasenta tidak mengalami gangguan.
3)
Pengawasan antenatal (hamil)
Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim
segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang
memerlukan perhatian:
a)
Uji kemungkinan Preeklampsia:
(1) Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya.
(2) Pemeriksaan tinggi fundus uteri.
(3) Pemeriksaan kenaikan berat badan atau oedema .
(4) Pemeriksaan protein dalam urin.
(5) Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal,
fungsi hati, gambaran darah umum dan pemeriksaan
retina mata.
b)
Penilaian kondisi janin dalam rahim.
(1) Pemantauan tinggi fundus uteri.
(2) Pemeriksaan janin: gerakan janin dalam rahim, denyut
jantung janin, pemantauan air ketuban.
g. Penanganan
Penanganan preeklampsia bertujuan untuk menghindari
kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan kebidanan dengan
melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan
dengan trauma minimal.
Menurut Sarwono (2010) ibu hamil dengan preeklampsia
ringan dapat dirawat secara jalan. Dianjurkan ibu hamil banyak
istirahat dengan cara berbaring atau tidur miring. Pada kehamilan
diatas 20 minggu, posisi miring menghilangkan tekanan rahim pada
kava inferior, sehingga meningkatkan aliran darah balik dan akan
menambah curah jantung. Hal ini berarti pula meningkatkan aliran
15
darah ke organ-organ vital seperti ginjal yang akan meningkatkan
filtrasi
glomeruli
meningkatkan
dan
ekskresi
meningkatkan
natrium
dan
diuresis
yang
menurunkan
akan
reaktivitas
kardiovaskular. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan pula
aliran
darah
rahim,
menambah
oksigenasi
plasenta
dan
memperbaiki kondisi janin dalam rahim. Tekanan pada ekstermitas
bawah turun dan resobsi aliran darah tersebut bertambah. Selain itu
juga mengurangi kebutuhan volume darah yang beredar. Oleh
sebab itu, dengan istirahat biasanya tekanan darah turun dan
oedema berkurang.
Diet yang mengandung 2 gram natrium atau 4-6 gram NaCl
adalah cukup. Kehamilan sendiri lebih banyak membuang garam
lewat ginjal, tetapi pertumbuhan janin justru membutuhkan lebih
banyak konsumsi garam. Bila konsumsi garam hendak dibatasi,
hendaknya diimbangi dengan konsumsi cairan yang banyak berupa
susu atau air buah. Diet diberikan cukup protein, rendah
karbohidrat, lemak dan garam.
Pemberian fenobarbital 3 x 30mg sehari atau diazepam 3x2
mg peroral selama 7 hari (atas intruksi dokter) akan menurunkan
tekanan darah. Pada umunya pemberian diuretik dan anti hipertensi
pada preeklamsia ringan tidak dianjurkan karena obat-obat tersebut
tidak menghentikan proses penyakit dan juga tidak memperbaiki
prognosis janin. Selain itu, pemakaian obat-obatan tersebut dapat
menutupi tanda dan gejala preeklamsia berat.
Pada keadaan tertentu ibu hamil dengan preeklampsia
ringan perlu dirawat di rumah sakit. Hal ini perlu dilakukan apaila
setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan
adanya perbaikan tekanan darah, kadar proteinuria, kenaikan berat
badan ibu 1kg atau lebih perminggu selama 2 kali berturut-turut
serta timbul salah satu atau lebih tanda-tanda preeklampsia berat.
Pada kehamilan preterm <37 minggu, bila tekanan darah
mencapai normotensif, selama perawatan persalinannya ditunggu
sampai aterm.
16
Pada kehamilan aterm >37minggu persalinan ditunggu
sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk
melakukan induksi persalinan pada taksiran tanggal persalinan.
Persalinan
dapat
dilakukan
secara
spontan,
bila
perlu
memperpendek kala II.
B. Teori Manajemen Kebidanan
1.
Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisirkan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan dalam
rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus
pada klien (Simatupang, 2008).
2.
Proses Manajemen Kebidanan 7 Langkah Verney
Dalam penyusunan studi kasus ini penulis mengacu pada
penerapan manajemen kebidanan pada ibu hamil degan Preeklampsia
Ringan menurut 7 langkah Varney karena metode dan pendekatannya
sistematik dan analitik sehingga memudahkan dalam pengarahan
pemecahan masalah terhadap klien. Dalam proses ketujuh langkah
tersebut dimulai dari pengumpulan data dasar dan berakhir dengan
evaluasi, yaitu menurut Varney (2007) :
a.
Langkah I : Pengkaji
Pengkaji adalah mengumpulkan semua data yang dibutuhkan
untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah pertama
untuk pengumpulan semua informasi yang akurat dari sumber yang
berkaitan dengan kondisi pasien.
b.
Langkah II : Interpretasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap
diagnosa
atau
masalah
dan
kebutuhan
klien
berdasarkan
interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan. Data
dasar
yang
sudah
dikumpulkan
diinterpretasikan
ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
sehingga
17
c. Langkah III : Diagnosa Potensial
Diagnosa potensial adalah mengidentifikaiskan masalah atau
diagnosa potensial lain didasarkan rangkaian masalah dan
diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil
mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila
diagnose atau masalah potensial benar-benar terjadi. Dan yang
paling penting asuhan yang aman.
d. Langkah IV : Antisipasi
Antisipasi adalah mengidentifikasi dan menetapkan beberapa
kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. Kegiatan
bidan
pada
tahap
ini
adalah
konsultasi,
kolaborasi,
dan
mmelakukan rujukan.
e. Langkah V : Perencanaan
Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap
masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi dan diantisipasi,
apakah dibutuhkan penyulu han, konseling dan rujukan yang
mungkin diperukan.
f.
Langkah VI : Pelaksanaan
Pada langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan
menyeluruh
mengarahkan
seperti
atau
yang
diuraikan
melaksanakan
pada
rencana
langkah
kelima,
asuhan
secara
efesiensi dan bermutu.
g.
Langkah VII : Evaluasi
Langkah ini merupakan mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang
sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan pada klien apakah
benar-benar
telah
terpenuhi
sesuai
dengan
kebutuhan
sebagaimana telah diidentifikasi didalam diagnosa dan masalah
rencana tersebut.
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
Menurut Helen Varney, alur berfikir bidan saat menghadapi
klien meliputi tujuh langkah, agar diketahui orang lain apa yang telah
dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berfikir sistematis, maka
dilakukan pendokumentasian dalam bentuk SOAP yaitu :
18
a)
Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien
dan keluarga melalui anamnese sebagai langkah I Varney.
b)
Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien,
hasil laboratorium dan diagnostic lain yang dirumuskan dalam data
fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.
c)
Assessment atau analisa data
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi
data subjektif dalam suatu identifikasi diagnosa atau masalah,
potensial, perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter,
konsultan atau kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah 2, 3,
dan 4 Varney.
d) Planning atau penatalaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan
implementasi (I) dan evaluasi (E) berdasarkan assessment sebagai
langkah 5,6,7 Varney.
4.
Keterkaitan
Antara
Manajemen
Kebidanan
dan
Sistem
Pendokumentasian SOAP
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang
berurutan yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan di akhiri
dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka
yang lengkap yang bisa di aplikasikan dalam semua
19
Gambar 2.1 Keterkaitan Antara Manajemen Kebidanan dan Sistem
Pendokumentasian Soap
20
C. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Preeklampsia Ringan
1.
Asuhan Kebidanan Kehamilan (Antenatal Care) pada Preeklampsia
Ringan
a. Pengertian
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan
kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal
melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan
(Sarwono, 2010).
b. Penatalaksanaan Asuhan Kebidanan dengan Preeklampsia Ringan
1)
Mengumpulkan data subjektif
a) Identitas pasien
b) Keluhan
c) Graviditas dan paritas
d) Usia kehamilan
e) HPHT dan TP
f) Tekanan darah tinggi sejak usia kehamilan ≥20minggu
g) Pergerakan janin.
h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
i) Riwayat penyakit yang lalu.
j) Riwayat perkawinan.
2) Mengumpulkan data objektif
a) Keadaan umum
b) Kesadaran
c) Tanda-tanda vital → tekanan darah ≥140/90 mmHg
d) Pemeriksaan fisik : pada ibu hamil mulai dari konjungitva,
TFU, TBI, Leopold, His, DJJ, periksa dalam, ektremitas atas
dan bawah ada oedema atau tidak dan refleks patella.
e) Pemeriksaan lab : Hb, protein urine positif +1 dan glukosa
urine.
3)
Menganalisa data
Menegakkan diagnosa berdasarkan data subjektif dan data
obejktif yang didapat. Format penulisan : GPA hamil ... minggu
dengan Preeklampsia Ringan (PER).
21
4)
Penatalaksanaan asuhan kebidanan
a) Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga.
b) Menjelaskan hasil pemeriksaan.
c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang preeklampsia
ringan.
d) Melakukan kolaborasi dengan dokter spresialis obgyn.
e) Melakukan kolaborasi dengan pertugas labolatorium untuk
pemeriksaan darah dan urine.
f) Mengobservasi keadaan umum, tanda vital, his dan DJJ.
g) Memberikan terapi sesuai anjuran dokter.
h) Memberikan dukungan moril pada pasien dan keluarga.
D. Landasan Hukum Tugas dan Kewenangan Bidan
Sesuai
Menkes/SK/VII/2002.
Keputusan
Bidan
Menteri
dalam
Kesehatan
menjalankan
RI
praktik
No.900/
profesinya
berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi :
1. Pelayanan Kebidanan kepada Ibu pada masa pranikah, prahamil, masa
kehamilan, masa persalinan, masa nifas, menyusui. Meliputi :
a. Penyuluhan dan konseling
b. Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi :
1) Penyuluhan dan konseling
2) Pemeriksaan fisik
3) Pelayanan antenatal pada kehamilan abnormal
4) Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup abortus
imminens, Hiperemesis gravidarum tingkat I, pre eklampsia ringan
dan anemia ringan.
5) Pertolongan persalinan normal
6) Pertolongan persalinan abnormal, yang mencakup letak sungsang,
partus macet kepala di dasar panggul, ketuban pecah dini (KPD)
tanpa infeksi, perdarahan post partum, laserasi jalan lahir, distosia
karena inersia uteri, postterm dan preterm.
7) Pelayanan ibu nifas normal
8) Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta
dan infeksi ringan.
22
9) Pelayanan dan
pengobatan pada kelainan
ginekologi yang
mengalami keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan
haid.
E. Tinjauan Al-Quran dan Hadist tentang Kehamilan
1. Ayat Al-quran
Ayat-ayat Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang kehamilan sangat
banyak, umumnya terkait dengan tanda-tanda adanya Allah, kebesaraan
dan kakuasaan Nya. Diantaranya, Al-Qur‟an Surat Al-Mukminun /23:1214 :
Artinya “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air
mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu. Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun : 12-14)
Ayat
tersebut
mengisyaratkan
adanya
proses
penciptaan
manusia dalam alam arham (masa kehamilan), yang diawali dengan
“sulalah min tin”, kemudian “menjadi nutfah, „alaqah, mudghah, izaman,
lahman dan khalqan”. Penciptaan manusia berasal dari sulalah min tin,
artinya saripati tanah, yaitu inti zat-zat yang ada dalam tubuh wanita
dalam bentuk ovum dan dalam diri laki-laki dalam bentuk sperma. Sel
telur yang telah dibuahi oleh sperma, atau zygote, disebut nutfah. Setelah
terjadi pembuahan, zygote berjalan secara perlahan melalui tuba fallopi
menuju rahim. Setelah menempel di dinding rahim, berubah menjadi
23
„alaqah. Istilah „alaqah biasa diterjemahkan dengan segumpal darah.
Penggunaan istilah „alaqah oleh Al-Qur‟an sangat tepat, karena posisi
zygote menggantung di dinding rahim. „Alaqah juga berarti sesuatu yang
menggantung. Proses berikutnya, berubah menjadi mudghah, yang
bentuknya seperti sekerat daging, kemudian tumbuh tulang (izamaman)
tulang dibungkus daging (lahman), selanjutnya menjadi khlaqan akhar
(makhluk janin, yang sudah berbeda dengan kondisi awal terjadinya
manusia). Kemudian Allah meniupkan ruh dalam janin.
2. Hadist
Hadist yang menjelaskan tentang kehamilan juga banyak,
umumnya terkait dengan tanda-tanda adanya Allah, kebesaraan dan
kakuasaan Nya. Salah satunya hadist Rasulullah SAW :
ّ ‫َع ِن ا ْب ِن َم ْس ُع ْو ٍد َرضِ َي‬
‫صا ِد ُق‬
ِ ّ ُ ‫س ْول‬
َّ ‫ َوه َُو ال‬.‫صلم‬. ‫ّللا‬
ُ ‫;حدَّ َثنا َ َر‬
َ َ‫ّللاُ َع ْن ُه قاَل‬
ُ‫ ُث َّم َي ُك ْون‬، ‫صد ُْو ُق ; إِنَّ أَ َحدَ ُك ْم َل ُي ْج َم ُع َخ ْلقُ ُه ف ِْي َب ْط ِن أُمه أَ ْر َب ِع ْينَ َي ْوما ً ُن ْط َف ًة‬
ْ ‫ا ْل َم‬
‫سل ُ إِ َل ْي ِه ا ْل َم َل ُك َف َي ْنفُ ُخ فِ ْي ِه‬
َ ‫ ُث َّم ُي ْر‬، ‫ض َغ ًة ِم ْثلَ ذاَل َِك‬
ْ ‫ ُث َّم َي ُك ْونُ ُم‬، ‫َع َل َق ًة ِم ْثلَ ذاَلِ َك‬
َ ‫ َو َهلْ ه َُو‬، ‫ َو َع َملِه‬، ‫ َوأَ َجلِه‬، ‫ت ; ِر ْزقِه‬
- ‫س ِع ْيد‬
ٍ َ ‫ َو ُي ْؤ َم ُر ِبأ َ ْر َب ِع َكلِما‬، ‫الر ْو َح‬
َ ‫شق ٌِّي أَ ْو‬
ُّ
-‫الحديث رواه أحمد‬
“ Dari Ibnu Mas‟ud RA, ia berkata : Telah bersabda kepada kami
Rasulullah SAW – Beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya;
“Sesungguhnya seorang diantara kamu (setiap kamu) benar-benar
diproses kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud air
mani; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal darah;
lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal daging; kemudian
malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas
(sang janin) itu ditetapkan dalam 4 ketentuan : 1. Ditentukan (kadar)
rizkinya, 2. Ditentukan batas umurnya, 3. Ditentukan amal perbuatannya,
4. Ditentukan apakah ia tergolomg orang celaka ataukah orang yang
beruntung“ (HR Ahmad).
Hadis tersebut dimuka menjelaskan proses kejadian manusia
dalam rahim ibunya, yaitu 40 hari pertama berwujud “Nutfah“ (air mani
24
laki-laki bersenyawa dengan sel telur perempuan), 40 hari kedua
berproses menjadi “Alaqah“ (segumpal darah), 40 hari ketiga berproses
menjadi “Mudlghoh“ (segumpal daging).
Hadis tersebut di muka lebih lanjut menjelaskan bahwa saat
berwujud
mudlghah
itulah
Allah
SWT
mengirim
malaikat
untuk
memasangkan roh kepadanya bersamaan dengan ditetapkannya 4
ketentuan.
Download