7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Sikap Hidup

advertisement
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1. Sikap Hidup Sederhana
a. Pengertian Sederhana
Kebutuhan manusia di dunia ini berbeda-beda. Tetapi terkadang
manusia bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhannya tetapi juga
keinginannya, sehingga kehidupannya tidak sederhana. Wijaya (2014:
117) mengungkapkan sederhana adalah kebiasaan seseorang untuk
berperilaku sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Sederhana dapat pula
berarti tidak berlebihan atau tidak mengandung unsur kemewahan.
Kemendikbud (dalam Wibowo, 2013: 46) mengungkapkan sederhana
adalah bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak
seluk-beluk, tidak banyak pernik, lugas, dan apa adanya, hemat sesuai
kebutuhan, dan rendah hati.
Sederhana
adalah
kebiasaan
atau perilaku sehari-hari yang
dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan serta tidak mencerminkan
sikap yang berlebihan atau mengandung unsur kemewahan. Sederhana
ditekankan pada unsur dan kemampuan materi atau keuangan, misalnya:
makan, minum, jajan, membeli buku, rumah, dan kendaraan.
7
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
8
b. Indikator Sederhana
Indikator merupakan suatu nilai yang berada di dalam karakter.
Menurut Wijaya (2014: 87) indikator sederhana yaitu:
Nilai-Nilai
Tabel 2.1 Indikator Sederhana
Indikator
 Selalu berpenampilan
berlebihan
 Tidak pamer
 Tidak ria
c. Sikap Hidup Sederhana
Sederhana
apa
adanya,
tidak
Pola hidup sederhana terdiri atas dua pengertian pokok, yaitu pola
hidup dan sederhana. Wijaya (2014: 119) mengemukakan pola hidup
adalah cara berperilaku sehari-hari, sejak bangun tidur sampai tidur lagi.
Kegiatan berperilaku tersebut misalnya, tidur, makan, mandi, olahraga,
dan belajar. Pola hidup dapat disamakan dengan kebiasaan, jika memiliki
kebiasaan yang buruk berarti juga memiliki pola hidup yang buruk, dan
begitu pun sebaliknya. Kebiasaan yang baik menandakan telah melakukan
pola hidup yang baik.
Pola hidup sederhana dalam hal materi antara lain meliputi sebagai
berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
Mengomsusi makanan yang sehat dan sederhana
Memakai pakaian yang sopan sesuai dengan situasi
Memakai perhiasan tidak berlebihan
Membeli barang sesuai dengan kebutuhan
Uang saku tidak berlebihan
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
9
Pola hidup sederhana juga dapat ditunjukkan dalam sikap hidup
berikut ini:
1) Tidak mudah menaruh curiga kepada orang lain
2) Tidak suka pamer
3) Tidak sombong
4) Jujur
5) Suka menolong
Pola hidup sederhana adalah cara berpikir atau sesuatu kebiasaan
yang dilakukan sehari-hari secara terus menurus berdasarkan kebutuhan
dengan pendapatan yang dihasilkan dapat berjalan dengan seimbang. Pola
hidup tersebut tidak mengutamakan apa yang diinginkan tetapi melihat
apa yang menjadi kewajiban terpenting untuk dipenuhi, dengan pola hidup
sederhana maka akan ditunjukkan dalam sikap hidup yang tidak mudah
menaruh curiga kepada orang lain, tidak suka pamer, tidak sombong, jujur
dan suka menolong.
d. Cara Hidup Sederhana
Untuk melaksanakan pola hidup sederhana, ada beberapa cara
yang bisa dilakukan, antara lain sebagai berikut :
1) Utamakan kebutuhan pokok daripada kebutuhan lain. Kenali
dengan benar apa yang menjadi kebutuhan pokok. Kebutuhan
pokok adalah kebutuhan yang harus dipenuhi, yaitu pangan
(makanan, minuman), sandang (pakaian), dan papan (rumah).
Kebutuhan lainnya adalah kebutuhan sekunder dan kebutuhan
tersier (mewah). Dua kebutuhan terakhir itulah berbeda-beda
untuk setiap orang.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
10
2) Perhitungkan kemampuan keuangan. Hitunglah seberapa
banyak uang yang diperoleh dan hitunglah seberapa banyak
uang yang bisa dikeluarkan.
3) Biasakan untuk berhemat dan suka menabung. Hidup hemat
tidak sama dengan hidup kikir. Hidup hemat itu penuh
perhitungan, terutama untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Sehingga dengan berhemat, dapat menyisihkan sebagian uang
untuk ditabung.
Cara hidup sederhana bukan cara hidup yang kikir atau pelit
melainkan cara hidup yang dapat menekan hawa nafsu atau keinginan dan
mengutamakan kebutuhan primer yang disesuaikan dengan pendapatan
yang diperoleh. Salah satu cara hidup sederhana yaitu dapat menyisihkan
sebagian pendapatan untuk ditabung.
2. Prestasi Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang disengaja dilakukan oleh
individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak
yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu
melakukan sesuatu itu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi
terampil. Slameto (2010: 2) mengemukakan belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Kingsley (Soemarto 1990:
99) menyatakan “Learning is the process by which behavior (in the
broader sense) is originated or change through practice or training” yaitu
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
11
belajar adalah proses tingkahlaku ditimbulkan atau diubah melalui praktek
atau latihan.
Belajar adalah merupakan suatu proses yang mengakibatkan
perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan, sebagai hasil
pengalamnnya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Setiap
individu akan berinteraksi dan bersosialiasi dengan lingkungan sehingga
mampu menggabungkan dan membandingkan pengetahuan yang telah
dimiliki dengan pengetahuan baru yang ada di lingkungannya sebagai
proses menuju perubahan tingkah laku.
b. Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya,
menurut Slameto (2010: 54) faktor yang mempengaruhi belajar dapat
digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu faktor
intern dan faktor
ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada diri individu yang sedang
belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.
1) Faktor-faktor intern, meliputi:
a) Faktor Jasmaniah
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagianbagiannya bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal
sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.
b) Faktor Psikologis Psikologis Psikologis Psikologis
Faktor
Psikologis
yang tergolong ke dalam faktor psikologis
yang
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
12
mempengaruhi belajar, antara lain: (1) intelegensi, (2) perhatian,
(3) minat, (4) bakat, (5) motif, (6) kematangan, (7) kesiapan.
c) Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).
2) Faktor-faktor ekstern, meliputi:
a) Faktor Keluarga
Siswa
yang
belajar
akan menerima pengaruh dari
keluarga berupa: (1) cara orang tua mendidik, (2) relasi antara
anggota keluarga, (3) suasana rumah tangga, (4) keadaan ekonomi,
(5) pengertian orang tua, (6) latar belakang kebudayaan, (4) bentuk
kehidupan masyarakat.
b) Faktor Sekolah
Faktor
sekolah
yang
mempengaruhi
belajar ini
mencakup: (1) metode mengajar, (2) kurikulum, (3) relasi guru
dengan siswa, (4) relasi siswa dengan siswa, (5) disiplin sekolah,
(6) pelajaran
dan
waktu sekolah, (7) standar pelajaran,
(8) keadaan gedung, (9) metode belajar, dan (10) tugas rumah.
c) Faktor Masyarakat
Masyarakat
merupakan
faktor
ekstern
yang
juga
berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh ini terjadi karena
keberadaannya
siswa dalam masyarakat.
Faktor masyarakat
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
13
yang mempengaruhi ini mencakup: (1) kegiatan siswa dalam
masyarakat, (2) media massa, (3) teman bergaul, dan (4) bentuk
kehidupan masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa
ada dua faktor yang dapat
mempengaruhi
belajar. Faktor
yang
berada dalam diri individu (intern) dan dalam luar individu yang
belajar (ekstern).
c. Pengertian Prestasi Belajar
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie.
Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil
usaha. Istilah prestasi belajar (achievement) berbeda dengan hasil belajar
(learning outcame). Prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan
pengetahuan. Arifin (2011:12) prestasi belajar merupakan suatu masalah
yang bersifat perennial dalam sejarah kehidupan
manusia, karena
sepanjang rentang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi
menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Mulyasa berpendapat
(2014:189) prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang
setelah menempuh kegiatan belajar, sedangkan belajar pada hakekatnya
merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memenuhi
kebutuhannya.
Pengertian prestasi belajar yang dipaparkan oleh para ahli di
atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
14
peserta didik dari kegiatan belajar, kemudian kegiatan belajar tersebut
dinilai dengan tes yang hasilnya berbentuk angka atau huruf. Prestasi
belajar dalam pembelajaran biasanya dilihat atau untuk menilai aspek
kognitif.
Prestasi
sangat
erat
hubunganya
dengan
keberhasilan
pembelajaran, karena prestasi memiliki fungsi sebagai indikator intern
dan ekstern dalam pembelajaran. Arifin (2011:12) berpendapat fungsi
prestasi belajar (achievement) yaitu:
1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas
pengetahuan yang telah dikuasi peserta didik.
2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu.
3) Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi
pendidikan.
4) Prestasi sebagai indikator intern dan ekstern dari institusi
pendidikan.
5) Prestasi belajar sebagai indikator daya serap (kecerdasan)
peserta didik.
Keberhasilan dari meningkatkanya suatu prestasi belajar tidak
terlepas dari adanya suatu fungsi prestasi itu sendiri. Berdasarkan
pendapat ahli di atas fungsi prestasi belajar ada lima yang pada intinya
fungsi prestasi belajar akan memberikan suatu perubahan yang positif dari
segi kognitif (kecerdasan) siswa yang nantinya akan berpengaruh baik
juga untuk sekolah itu sendiri.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
15
d. Faktor yang Mempengaruhi Pestasi Belajar
Untuk meningkatkan prestasi belajar, menurut Mulyasa (2014:
191) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi dan perlu didalami, yaitu
baik faktor internal maupun eksternal.
1) Faktor Internal
a) Prestasi belajar seseorang akan ditentukan oleh faktor diri
(internal), baik secara fisiologis
maupun secara psikologis,
beserta usaha yang dilakukannya. Faktor fisiologis berkaitan
dengan
kondisi jasmani atau fisik seseorang, yang dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu kondisi jasmani pada
umumnya dan kondisi yang berkaitan dengan fungsi-fungsi
jasmani tertentu terutama panca indera, sedangkan faktor
psikologis, berasal dari dalam diri seseorang seperti intelegensi,
minat, dan sikap.
b) Intelegensi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap
merupakan
tinggi
dasar
rendahnya
potensial
prestasi belajar. Intelegensi
bagi
pencapaian
hasil belajar,
artinya hasil belajar yang dicapai akan bergantung pada
tingkat intelegensi, dan hasil belajar yang dapat dicapai. Jika
intelegensinya
rendah,
maka
kecenderungan
hasil
yang
dicapainyapun rendah.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
16
c) Minat (interest), yaitu kecenderungan dan kegairahan yang
tinggi atau ke inginan yang besar terhadap sesuatu.
d) Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif, berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (respon tendency)
dengan cara yang relative tetap terhadap obyek orang, barang
dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
e) Waktu dan Kesempatan
Waktu dan kesempatan
berbeda
sehingga
akan
yang
dimiliki oleh setiap individu
berpengaruh
terhadap
perbedaan
kemampuan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik yang
memiliki
banyak
waktu dan
kesempatan
untuk belajar
cenderung memiliki prestasi yang tinggi daripada yang hanya
memiliki sedikit waktu dan kesempatan untuk belajar.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
peserta didik dapat digolongkan ke dalam faktor sosial dan faktor
non sosial.
a) Faktor sosial menyangkut hubungan antarmanusia yang terjadi
dalam berbagai situasi sosial. Ke dalam faktor ini termasuk
lingkungan
keluarga,
sekolah, teman dan masyrakat pada
umumnya.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
17
b) Faktor non sosial adalah faktor-faktor lingkungan yang bukan
sosial seperti lingkungan dan fisik, misalnya: keadaan rumah,
ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber, dan sebagainya.
Untuk melancarkan belajar dan meningkatkan prestasi belajar Mulyasa
(2014: 195) menyatakan terdapat hal-hal di bawah ini yang perlu
diperhatikan:
a. Hendaknya dibentuk kelompok belajar, karena dengan belajar
peserta didik yang kurang paham dapat diberitahu oleh peserta
didik yang telah paham dan peserta didik yang telah paham
karena menerangkan kepada temannya menjadi lebih menguasai.
b. Semua pekerjaan dan latihan yang diberikan oleh guru hendaknya
dikerjaan segera dan sebaik-baiknya, ingat maksud guru memberi
tugas-tugas tersebut adalah untuk latihan ekspresi dan latihan
ekspresi adalah cara terbaik untuk penguasaan ilmu/kecakapan.
c. Mengesampingan perasaan negatif dalam membahas atau berdebat
mengenai suatu masalah/pekerjaan. Karena perasaan negatif dapat
menghambat ekspresi serta mengurangi kejernihan pikiran.
d. Rajin membaca buku/majalah yang bersangkutan dengan
pelajaran. Dengan banyak membaca, maka batas pandangan
mengenai suatu pelajaran akan tambah jauh dan luas.
e. Berusaha melengkapi dan merawat dengan baik alat-alat belajar
(alat tulis dan sebaginya). Hal ini kelihatannya soal sepele tetapi
alat-alat yang tidak lengkap atau tidak baik akan mengganggu
belajar.
f. Selalu menjaga kesehatan agar dapat belajar dengan baik, tidur
teratur, makan bergizi serta cukup istirahat.
g. Waktu rekreasi gunakan sebaik-baiknya, terutama untuk
menghilangkan kelelahan.
h. Untuk mempersiapkan dan mengikuti ujian harus melakukan
persiapan minimal seminggu sebelum ujian berlangsung.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
18
3. Matematika di Sekolah Dasar
a. Pengertian Matematika
Pengajaran matematika di Sekolah Dasar bertujuan untuk melatih
siswa
memecahkan
masalah. Latihan pemecahan masalah yang
dilakukan pada siswa, diharapkan
siswa dapat mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah-masalah yang mereka jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Hariwijaya (2009: 29) menjelaskan bahwa
matematika secara umum didefinisikan sebagai bidang ilmu yang
mempelajari pola dari struktur, perubahan dan ruang. Matematika secara
informal, dapat pula disebut sebagai ilmu tentang bilangan dan angka.
Dalam
pandangan
formalis, matematika adalah
penelaah
struktur
abstrak yang didefisinikan secara aksioma dengan menggunkan logika
simbolik dan notasi.
Pengertian matematika antara lain menurut James and James
(Suwangsih dan Tiurlina, 2006: 4) bahwa matematika adalah ilmu tentang
logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang
berhubungan satu dengan yang lainnya. Matematika terbagi dalam tiga
bagian
yaitu
aljabar, analisis dan
geometris. Ruseffendi dalam
(Heruman, 2007: 1) matematika adalah bahasa simbol; ilmu deduktif yang
tidak menerima pembuktian
secara
induktif; ilmu
tentang
pola
keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsure yang
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
19
tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat,
dan akhirnya ke dalil.
Berdasarkan definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
matematika adalah ilmu pasti yang berkaitan dengan berfikir serta
memiliki ciri utama yaitu penalaran deduktif. Kebenaran suatu konsep
diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga
kaitan antara konsep dalam matematika bersifat konsisten dan berfungsi
untuk mengembangkan dan menggunakan rumus matematika serta
untuk mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan
bahasa melalui model matematika.
b. Langkah Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Secara umum menurut Depdiknas (2009: 1) terdapat empat
tahapan
aktivitas
dalam
rangka
penguasaan
materi pelajaran
matematika di dalam pembelajaran, yaitu:
1) Penanaman Konsep
Tahap penanaman konsep merupakan tahap pengenalan awal
tentang konsep yang akan dipelajari siswa. Pada tahap ini
pengajaran memerlukan penggunaan benda konkrit sebagai alat
peraga.
2) Tahap Pemahaman Konsep
Tahap pemahaman konsep merupakan tahap lanjutan setelah
konsep ditanamkan. Pada tahap ini penggunaan alat peraga
mulai dikurangi dan bentuknya semi konkrit sampai pada
akhirnya tidak diperlukan lagi.
3) Tahap Pembinaan Keterampilan
Tahap pembinaan keterampilan merupakan tahap yang
tidak boleh dilupakan dalam rangka membina pengetahuan
bagi siswa. Tahap ini diwarnai dengan latihan-latihan seperti
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
20
mencongak dan berlomba. Pada tahap pengajaran ini alat
peraga sudah tidak boleh digunakan lagi.
4) Tahap Penerapan Konsep
Tahap penerapan konsep yaitu penerapan konsep yang sudah
dipelajari ke dalam bentuk soal-soal terapan (cerita) yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tahap ini disebut juga
sebagai pembinaan kemampuan memecahkan masalah.
Langkah pembelajaran matematika terdiri dari 4 tahapan yaitu
penanaman konsep, pemahaman konsep, pembinaan keterampilan dan
penerapan konsep. Semua tahapan tersebut harus dilaksanakan dengan
baik agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat mudah dipahami oleh
siswa.
4. Model PAKEM
a. Pengertian Model PAKEM
Perubahan paradigma yang terjadi pada kondisi sekarang ini,
mengubah peran guru yang biasanya hanya sekedar menyampaikan materi
saja tanpa mengetahui apakah materi yang disampaikan itu sudah dapat
dimengerti oleh siswa atau belum berubah menjadi seorang fasilitator
yang dapat membantu siswanya dalam belajar. Rusman (2013: 322)
mengungkapkan bahwa PAKEM merupakan model pembelajaran dan
menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang partisipasif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pendapat lain
oleh Daryanto (2013: 117) bahwa model pembelajaran PAKEM adalah
sebuah
model
pembelajaran
yang
memungkinkan
peserta
didik
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
21
mengerjakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan
sikap dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja.
Model pembelajaran PAKEM lebih memungkinkan siswa dan
guru sama-sama aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Proses belajar
mengajar yang dilakukan dapat lebih berkembang, karena dapat
menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk
pemanfaatan
lingkungan
supaya
pembelajaran
lebih
menarik,
menyenagkan dan efektif.
b. Ciri – Ciri atau Karakteristik PAKEM
PAKEM merupakan kependekan dari pembelajaran partisipatif,
aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Berlandaskan kata tersebut
Daryanto (2013: 118) mengungkapkan ciri-ciri atau karakteristik PAKEM
yaitu:
(1) Partisipatif
Ciri pertama pembelajaran model PAKEM adalah partisipatif.
Pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa
dalam kegiatan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran ini
menitik beratkan pada keterlibatan siswa pada kegiatan pembelajaran,
bukan pada dominasi guru dalam penyampaian materi pembelajaran.
Proses belajar mengajar yang dilakukanakan lebih bermakna jika
siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai
aktivitas kegiatan pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator dan
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
22
mediator sehingga siswa mampu berperan dan berpartisipasi aktif
dalam mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas.
(2) Aktif
Ciri kedua pembelajaran model PAKEM adalah aktif.
Pembelajaran model ini memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif
dengan lingkungannya, memanipulasi objek-objek yang ada di
dalamnya dan mengamati pengaruh dari manipulasi objek-objek
tersebut. Proses belajar yang dilakukan bukan hanya menuntut siswa
yang aktif, melainkan guru juga terlibat aktif, baik dalam merancang,
melaksanakan maupun mengevaluasi proses pembelajarannya.
(3) Kreatif
Ciri
ketiga
model
pembelajaran
ini
adalah
kreatif.
Pembelajaran yang dilaksanakan membangun kreatifitas siswa dalam
berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar, dan sesama siswa,
utamanya dalam menghadapi tantangan atau tugas-tugas yang harus
diselesaikan dalam pembelajaran. Guru juga dituntut untuk kreatif
dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran model PAKEM.
(4) Efektif
Ciri
Pembelajaran
keempat
yang
pembelajaran
aktif,
kreatif
model
dan
ini
adalah
menyenangkan
efektif.
dapat
meningkatkan efektivitas pembelajaran, yang pada gilirannya dapat
meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
23
(5) Menyenangkan
Ciri kelima model pembelajaran ini adalah menyenangkan.
Pembelajaran model PAKEM dirancang dapat menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran dengan suasana
yang menyenangkan, diharapkan mempermudah peserta didik dalam
memahami materi yang diajarkan sehingga dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik.
Model pembelajaran PAKEM yang mempunyai lima ciri
tersebut jika diterapkan secara optimal akan mewujudkan proses
pembelajaran
yang
sesuai
dengan
tujuan
yang
diinginkan.
Pembelajaran yang berjalan secara optimal akan menghasilkan prestasi
belajar siswa yang memuaskan.
c. Prinsip PAKEM
Model pembelajaran pakem mempunyai empat prinsip yakni:
(1) Mengalami
Peserta
didik
mengalami
secara
langsung
dengan
memanfaatkan banyak indra. Bentuk kongkretnya adalah peserta
melakukan pengamatan, percobaan dan wawancara, sehingga peserta
didik belajar banyak memalui berbuat.
(2) Interaksi
Interaksi antara peserta didik itu sendiri, maupun dengan guru,
baik melalui diskusi, tanya jawab atau saling melempar pertanyaan
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
24
harus selalu ada dan terjaga. Interaksi inilah, pembelajaran lebih hidup
dan menarik dan kesalahan makna yang diperbuat oleh siswa
berpeluang untuk terkoreksi.
(3) Komunikasi
Komunikasi perlu diupayakan dengan baik. Komunikasi adalah
cara untuk menyampaikan apa yang diketahui. Interaksi tidak cukup
jika tidak terjadi komunikasi. Interaksi menjadi lebih bermakna jika
interaksi itu komunikatif.
(4) Refleksi
Refleksi merupakan hal penting lainnya agar pembelajarannya
itu bermakna. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang
memungkinkan terjadinya refleksi dari peserta didik ketika mereka
mempelajari sesuatu. Refleksi disini maksudnya adalah memikirkan
kembali apa yang telah diperbuat atau dipikirkan.
Prinsip dari model pembelajaran PAKEM salah satunya yaitu
mengalami. Hal yang dapat dialami siswa secara langsung yaitu bisa
dalam bentuk kegiatan menghitung kebutuhan sehari-hari. Kegiatan
menghitung kebutuhan sehari-hari yang dilakukan dapat membuat
siswa
berinteraksi
baik
dengan
sesama
siswa,
guru
atau
lingkungannya.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
25
d. Langkah Pembelajaran PAKEM Matematika
(1) Guru merancang dan mengelola pembelajaran yang mendorong siswa
untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Guru melaksanakan
pembelajaran dalam kegiatan yang beragam, misalnya: diskusi
kelompok dan memecahkan masalah. Kegiatan yang ada dalam
diskusi kelompok dapat berupa siswa bersama-sama teman satu
kelompoknya melakukan aktivitas menimbang beras (makanan pokok)
yang dikomsumsinya dalam satu hari.
(2) Guru dapat menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang
beragam, sesuai dengan materi yang diajarkan, misalnya: guru
menggunakan alat peraga gula untuk menjelaskan materi penjumlahan
pada pecahan.
(3) Memberi
kesempatan
kepada
siswa
untuk
mengembangkan
keterampilan siswa, seperti: membagi donat untuk menunjukan
bilangan pecahan pada materi menyederhanakan pecahan. Dalam
menjelaskan materi pecahan yang diajarkan guru juga dapat
menggunakan alat peraga tempe.
(4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan
gagasannya
sendiri
secara
lisan
atau
tulisan.
Siswa
dapat
mengungkapkan pendapatnya mengenai bagaimana sikap hidup
sederhana yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, setelah
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
26
mengetahui bagaimana cara menghitung kebutuhannya secara
sederhana.
5. Pecahan
a. Pengertian Pecahan
Materi pecahan merupakan materi yang dilaksanakan dalam
penelitian. Materi
pecahan
sangat
penting
karena pecahan,
perbandingan dan skala sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
siswa. Siswa dapat menjumpai materi ini untuk menghitung jarak pada
denah dengan jarak sebenarnya, menghitung perbandingan banyaknya
benda, dan lain sebagainya.
Pengertian pecahan menurut Heruman (2007: 43) dapat diartikan
sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilustrasi gambar, bagian
yang dimaksud adalah bagian yang diperhatikan, yang biasanya ditandai
dengan
arsiran. Bagian
inilah yang dinamakan pembilang, adapun
bagian yang utuh adalah bagian yang dianggap
sebagai satuan, dan
dinamakan penyebut. Simanjuntak, Manurung dan Matutina (1993: 153)
berpendapat
bahwa pengertian
bilangan pecahan
pada matematika
Sekolah Dasar dapat didasarkan atas pembagian suatu benda atau
himpunan atas beberapa bagian yang sama, misalnya: seorang ibu yang
baru pulang dari pasar membawa jeruk 4 sedangkan anaknya 2 orang.
Supaya anak mendapatkan bagian yang sama maka, empah buah tersebut
dibagi 2.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
27
Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Badan
Penelitian dan Pengembangan (Depdikbud, 1999) dalam (Heruman,
2007: 43) menyatakan bahwa pecahan merupakan salah satu topik yang
sulit untuk diajarkan. Kesulitan itu terlihat dari kurang bermaknanya
kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru, dan sulitnya pengadaan
media pembelajaran. Akibatnya, guru biasanya langsung mengajarkan
1
pengenalan angka, seperti pada pecahan 2, 1 disebut pembilang dan 2
disebut penyebut.
Adapun standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD)
yang dijadikan bahan penelitian tertera dalam tabel 2.3
Tabel 2.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar kelas IV
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
6. Menggunakan pecahan dalam 6.5 menyelesaikan masalah
pemecahan masalah
yang berkaitan dengan
pecahan.
b. Contoh soal pecahan
Berdasarkan data di atas dapat diketahui materi yang akan
dipakai untuk penelitian yaitu bilangan pecahan. Menyelesaikan masalah
yang berhubungan dengan pecahan.
Contoh 1 (operasi campuran)
Pak Slamet memiliki 1 nampan tahu,
1
5
bagiannya digoreng,
1
4
bagiannya
direbus dan sisanya diberikan kepada Eli.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
28
Berapa bagian tahu yang diberikan pada Eli?
Penyelesaian:
1
1
1𝑥5
1𝑥4
5
4
+ 4 = 1 𝑥 5 + 1 𝑥 4 = 20 + 20 =
5
5+4
20
9
= 20
Bagian yang diberikan pada Eli adalah :
9
20
9
1 - 20 = 20 - 20 =
20−9
20
=
11
20
Jadi, tahu Pak Slamet yang diberikan pada Eli adalah
11
20
Contoh 2 (pengurangan pecahan)
Ibu membeli kue. Bagian yang
1
4
diberikan untuk Kak Jo dan sisanya
diberikaan untuk ayah. Berapa bagian kue yang diterima ayah?
Penyelesaian:
Bagian kue yang diterima ayah adalah:
1
4
1
1-4 =4 -4 =
4−1
4
=
3
4
Jadi, kue yang diterima ayah
3
4
bagian
Contoh 3 (penjumlahan pecahan)
Lulu makan tempe yang digoreng ibu
tempe pemberian dari nenek
1
4
2
8
bagian. Kemudian makan lagi
bagian. Berapa jumlah tempe yang Lulu
makan seluruhnya?
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
29
Penyelesaian:
Jumlah tempe seluhnya adalah
2
1
2
1𝑥2
2
2
4
+ 4 = 8 + 4𝑥2 = 8 + 8 = 8
8
Jika disederhanakan, maka diperoleh:
4
8
4∶4
1
= 8∶4 = 2
1
Jadi, jumlah tempe yang dimakan Lulu seluruhnya adalah 2
Contoh 4 (menghitung kebutuhan sehari-hari pada kegiatan
pembelajaran matematika)
Menghitung kebutuhan makan sehari-hari
Seorang guru menghendaki setiap siswa mampu mengaitkan matematika
yang dipelajari siswa di sekolah dengan kehidupan keseharian. Pada suatu
hari guru membuka pembelajaran kemudian bertanya “berapa banyak nasi
yang siswa habiskan dalam sehari?”.jawaban siswa ternyata bermacammacam. Ada yang mengatakan 1 kg,
1
2
1
kg, , 4 kg, dan ada yang menjawab
2 kg. Jawaban siswa yang bervariasi tersebut, guru meminta para siswanya
untuk membuat daftar bahan makanan yang dimakan setiap hari. Contoh
seorang siswa dalam satu hari menghabiskan 3 piring nasi atau sama
dengan
1
2
kg beras, kemudian guru meminta siswa untuk menghitung
berapa jumlah beras yang dimakan dalam satu Minggu?.
Penyelesaian :
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
30
1
3 piring nasi dalam satu hari = 2 kg beras
1 Minggu = 7 hari
Beras yang dimakan dalam satu Minggu =
1
2
1
1
1
1
1
1
7
1
+ 2 + 2 + 2 + 2 +2 + 2 = 2 = 3 2 kg
1
Jadi beras yang dimakan dalam satu Minggu = 3 kg
2
Langkah-langkah pembelajaran matematika menghitung kebutuhan
sehari-hari melalui PAKEM :
1. Review
Guru dan siswa meninjau ulang pelajaran yang lampau.
2. Pengembangan
Guru senantiasa menyajikan ide baru dan perluasan konsep.
3. Latihan terkontrol
Guru memeriksa kemungkinan terjadinya miskonsepsi. Dianjurkan
dengan kerja kelompok.
4. Seat work
Siswa bekerja mandiri atau dalam kelompok dengan perluasan konsep.
5. Laporan siswa perorangan atau kelompok
Hasil kerja individu atau kelompok dilaporkan untuk dibahas dan ada
perbaikan.
6. Pendalaman melalui pendekatan Contextual Teaching Learning
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
31
Siswa diajak untuk melihat kelingkungan sekitar, kegiatan sehari-hari
yang dilakukan dengan tujuan untuk memperdalam materi.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian
yang
relevan
merupakan
salah
satu
referensi
untuk
menunjukkan bahwa topik penelitian ini menarik dijadikan sebagai penelitian,
namun
tidak
sehingga dapat
memiliki
kesamaan pada penelitian yang sudah dilakukan,
menambah pembahasan mengenai pembelajaran matematika
melalui kegiatan menghitung kebutuhan sehari-hari pada mata pelajaran
matematika materi pecahan:
1. Sutinah (2013) tentang “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada
Operasi Penjumlahan Pecahan Melalui Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas
IVB MIN Kebonagung Imogiri Bantul” jenis penelitian apenelitian Tindakan
Kelas. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa upaya meningkatkan hasil
prestasi belajar matematika dengan alat peraga yang dihubungkan dengan
pembelajaran yang nyata membuat siswa manjadi lebih aktif dan kreatif
sehingga tercipta pembelajaran yang variatif.
2. Nur’aeni (2009) tentang “Penerapan Pakem Dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Di SD Muhammadiyah Serang” jenis penelitian PTK.
Penelitian tersebut menyimpulkan pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan/strategi PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
32
C. Kerangka Berpikir
Kondisi pada awal survei telah
diperoleh gambaran bahwa karakter
sederhana dan prestasi belajar siswa masih tergolong rendah. Rendahnya sikap
hidup sederhana siswa mempengaruhi prestasi belajar siswa, karena siswa
akan lebih mementingkan apa yang mereka inginkan daripada apa yang siswa
butuhkan untuk kegiatan belajar mengajar. Agar sikap sederhana dan prestasi
belajar siswa pada mata pelajaran matematika dikelas IV melalui kegiatan
menghitung kebutuhan sehari-hari materi pecahan dapat meningkat, maka
perlu dilakukan adanya tindakan yang berasal dari guru dengan menggunakan
model pembelajaran PAKEM serta pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik siswa. Banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk dapat
meningkatakan hidup sederhana dan prestasi belajar siswa.
Salah satu cara dengan menciptakan pembelajaran yang bersifat aktif,
kreatif, menyenangkan dan nyata yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari
siswa. Dengan seperti itu diharapakan dapat lebih memberikan pembelajaran
yang bermakna bagi siswa. Hal ini dapat ditunjukan dalam skema kerangka
berpikir pada gambar 2.1 sebagai berikut:
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
33
Belum menggunakan
model pembelajaran
PAKEM
Kondisi Awal
Refleksi
Siklus I
Siklus II
Rendahnya sikap
hidup sederhana dan
Prestasi belajar siswa
Menggunakan model
pembelajaran PAKEM
dengan kegiatan
menghitung kebutuhan
sehari-hari
Kondisi Akhir
Tindakan
Melalui model pembelajaran PAKEM dapat
meningkatkan sikap hidup sederhana dan
prestasi belajar siswa
Gambar 2.1 Skema kerangka berpikir penelitian
D. Hipotesis Tindakan
1. Model pembelajaran PAKEM melalui
kegiatan
menghitung
kebutuhan
sehari-hari dapat meningkatkan sikap hidup sederhana siswa pada mata
pelajaran matematika materi pecahan di kelas IV SD Negeri 3 Lesmana.
2. Model pembelajaran PAKEM
melalui
kegiatan
menghitung kebutuhan
sehari-hari dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran
matematika materi pecahan di kelas IV SD Negeri 3 Lesmana.
Upaya Meningkatkan Sikap..., Selasih Dwi Palupi, FKIP, UMP, 2016
Download