1 PENDAHULUAN Latar Belakang Anak

advertisement
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anak merupakan investasi suatu bangsa dan negara yang sangat penting.
Menjamin tumbuh kembang anak secara optimal menjadi tugas utama orang tua
dan harus dipersiapkan dengan baik bahkan semenjak sebelum menikah. Sunarti
(2004) menyatakan bahwa kualitas anak adalah cermin kualitas bangsa dan cermin
peradaban dunia. Indikator kesejahteraan suatu masyarakat atau suatu bangsa
salah satunya bisa dilihat dari kualitas hidup anak. Hal senada juga disampaikan
oleh Yudesti dan Prayitno (2013) yang menyatakan bahwa anak merupakan salah
satu aset sumberdaya manusia di masa depan yang perlu mendapat perhatian
khusus. Adanya peningkatan dan perbaikan kualitas hidup anak merupakan salah
satu upaya yang penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa.
Masa-masa yang rentan dari kehidupan seseorang berada pada lima tahun
pertama dalam kehidupannya yang merupakan pondasi bagi perkembangan
selanjutnya. Anwar (2002) menyatakan apabila pada masa tersebut pertumbuhan
dan perkembangan seorang anak berjalan secara optimal diharapkan pada masa
dewasa akan tumbuh menjadi manusia yang berkualitas. Usia dini merupakan
masa terjadinya kematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon
stimulasi (rangsangan) yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa
untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan potensi fisik (motorik),
intelektual, emosional, sosial, bahasa, seni dan moral spiritual (Widhianawati
2011).
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan anak diantaranya
adalah kesiapan menikah kedua orang tua dan faktor karakteristik keluarga.
Dampak dari tidak siapnya pasangan ketika memasuki jenjang pernikahan tidak
hanya berdampak pada stabilitas perkawinan namun juga berpengaruh besar
terhadap kualitas anak. Kenyataannya, banyak diantara pasangan yang hendak
menikah lebih memfokuskan diri dalam persiapan hari pernikahan dibandingkan
mempersiapkan diri menjadi orang tua. Ghalili et al. (2012) menunjukkan bahwa
hanya sedikit dari remaja yang telah mendapat informasi yang cukup mengenai
pernikahan dari keluarga maupun lingkungan mereka. Selain itu, tidak sedikit
diantara laki-laki maupun wanita yang kurang menyadari perlunya persiapan yang
matang sebelum menuju sebuah perkawinan (Maryati et al. 2007).
Persiapan sebelum menikah menjadi hal yang sangat penting untuk
mencapai kesuksesan keluarga. Memasuki dunia pernikahan diperlukan sebuah
kesiapan (Blood et al. 1978). Penting bagi setiap orang tua untuk dapat
memberikan contoh-contoh positif agar anak dapat meniru kebiasaan baik tersebut,
sehingga hal ini penting bagi anak dalam rangka pembentukan kepribadian yang
baik ke depannya (KPP dan PA 2012). Sebelum menikah, calon pasangan harus
memenuhi minimal tiga syarat yaitu mampu memperoleh sumber daya ekonomi
untuk memenuhi kebutuhan dasar dan perkembangan keluarga, memiliki kualitas
sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola keluarga sebagai ekosistem
dan memiliki kematangan pribadi untuk menjalankan fungsi, peran dan tugas
keluarga (Burgess dan Locke 1960). Kesiapan menikah dianggap penting karena
kehidupan pernikahan cenderung berbeda dengan kehidupan saat masih lajang.
Sekitar 2-3 tahun di awal pernikahan, beberapa perubahan akan terjadi sehingga
2
pada tahap ini pasangan butuh menyesuaikan diri satu sama lain (Williams et al.
2006).
Keutuhan perkawinan harus selalu dijaga, pasangan calon suami istri harus
mempunyai bekal yang cukup agar siap dan mampu menghadapi segala
kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga (Arjoso 1996), salah
satunya adalah faktor usia. Keadaan perkawinan antara seseorang yang menikah
dengan usia yang belum matang dengan seseorang yang usia sudah matang, akan
menghasilkan kondisi rumah tangga yang berbeda. Emosi, pikiran dan perasaan
seseorang di bawah usia masih labil, sehingga tidak bisa mensikapi permasalahanpermasalahan yang muncul dalam rumah tangga dengan dewasa, melainkan
dengan sikap yang lebih menonjolkan arogansi yaitu sifat yang mementingkan
egonya masing-masing (Munir 2003). Dampak dari menikah dini lainnya adalah
abortus, perceraian, tidak ada kesiapan untuk berkeluarga, tingginya angka
kematian bayi dan ibu melahirkan (Maryanti dan Septikasari 2009).
Perkawinan usia dini berdampak pada perkawinan itu sendiri dimana
tingkat kemandirian dari pasangan tersebut masih rendah, masih rawan dan masih
belum stabil sehingga dapat menyebabkan banyak terjadi perceraian. Oleh karena
itu, dari perkawinan usia dini tersebut akan sulit untuk memperoleh keturunan
yang berkualitas. Selain itu, jika dilihat dari segi kependudukan, perkawinan usia
dini mempunyai tingkat fertilitas yang tinggi sehingga kurang mendukung
pembangunan di bidang kependudukan (KPP dan PA 2012). Oleh karena itu,
penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan agar generasi muda, utamanya
yang sedang mempersiapkan pernikahan dapat lebih memahami akan pentingnya
kesiapan menikah dan karakteristik keluarga bagi perkembangan anak.
Perumusan Masalah
Di Indonesia, kecenderungan rata-rata usia menikah pertama selalu
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) Tahun 2012 menunjukkan rata-rata usia kawin pertama pada
kelompok wanita yang sudah menikah berusia 25-49 tahun adalah 20,1 tahun.
Angka tersebut mengalami peningkatan dari data SDKI Tahun 2007 sebesar 19,8
tahun. Pendidikan menjadi salah satu indikator seorang wanita menunda menikah,
rata-rata usia menikah pertama pada wanita usia 25-49 tahun yang berpendidikan
tinggi adalah 22.9 tahun, lebih tua lima tahun dibandingkan yang tidak
berpendidikan yaitu 17.2 tahun (SDKI 2012). Data tersebut menunjukkan bahwa
generasi muda saat ini semakin menyadari bahwa pernikahan membutuhkan
kesiapan yang matang sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Fakta lainnya menunjukkan bahwa secara nasional, sebesar 1,62 persen
anak perempuan berusia 10-17 tahun di Indonesia berstatus kawin dan pernah
kawin. Sebagian kecil dari jumlah tersebut, 1,54 persen diantaranya berstatus
kawin dan 0,08 persen berstatus cerai (cerai hidup dan cerai mati) (BPS 2011).
Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, karena dalam usia yang sangat muda
anak-anak tersebut sudah mengalami perceraian baik cerai hidup maupun cerai
mati (KPP dan PA 2012).
Pernikahan muda yang tidak diiringi persiapan yang matang oleh kedua
pasangan tak jarang menimbulkan dampak perceraian. Dalam kurun waktu 2007
hingga 2009, kasus perceraian meningkat dari 157.711 kasus menjadi 223.371
3
kasus (Badilag 2010). Sebagian besar masalah perceraian dipicu oleh adanya
suami atau istri yang meninggalkan kewajiban (Sunarti et al. 2012). Selain
tingginya tingkat perceraian, angka kelahiran bayi dari remaja perempuan justru
mengalami peningkatan.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menyebutkan
angka fertilitas remaja (ASFR) pada kelompok usia 15-19 tahun mencapai 48 dari
1.000 kehamilan. Angka rata-rata itu jauh lebih tinggi dibandingkan temuan SDKI
2007 yaitu 35 dari 1.000 kehamilan (SDKI 2012). Hal ini mengindikasikan bahwa
pernikahan muda kemudian menyebabkan pasangan muda harus siap dengan
tugas pengasuhan anak pertama yang tidak mudah padahal anak sangat
membutuhkan peran orang tua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka.
Oleh karena itu, pasangan harus memiliki cara yang disepakati bersama mengenai
segala hal yang berhubungan dengan perencanaan yang berkaitan dengan anak
dan cara pengasuhan (Fowers dan Olson 1989).
Lahirnya seorang anak tentu masalah akan bertambah pula. Pertama,
masalah ekonomi, yang berarti bertambahnya pengeluaran yang harus pula
diimbangi dengan pemasukan yang lebih besar, sedangkan sumber nafkah
biasanya justru berkurang, karena istri mengurangi waktu bekerjanya demi
mengurus anak. Keadaan juga mengalami perubahan, karena berubahnya jadwal
harian dan perhatian yang tidak lagi sepenuhnya dicurahkan ke hubungan suami
istri, melainkan kepada si bayi. Perubahan keadaan ini memerlukan pengertian
dari suami dan istri (Gunarsa dan Gunarsa 2012). Hal ini menekankan pentingnya
calon pasangan untuk mempersiapkan diri secara maksimal sebelum menikah agar
mereka mampu menjalankan fungsi, peran dan tugasnya dalam keluarga dengan
baik.
Kota Depok sebagai lokasi penelitian menunjukkan persentase umur
perkawinan pertama yang cukup fluktuatif. Susenas 2003-2009 menunjukkan usia
kawin pertama pada tahun 2003 adalah 25,48 tahun, lalu mengalami penurunan
pada tahun 2008 yaitu 23,98 tahun dan pada tahun 2009 mengalami peningkatan
kembali menjadi 24,62 tahun. Perkembangan selama lima tahun terakhir
menunjukkan bahwa perempuan di Kota Depok sudah mulai menunda perkawinan
pertama mereka sampai usia yang lebih matang. Selain itu, angka perceraian Kota
Depok pada tahun 2009 pun relatif cukup rendah yaitu 2,70 artinya tiap seratus
orang perempuan umur 10-49 tahun yang pernah kawin ada sebanyak 2 orang
yang berpisah karena perceraian. Fakta lain menunjukkan bahwa angka perceraian
justru cenderung tinggi untuk perempuan pernah kawin pada kelompok umur 2024 tahun yaitu sebesar 3,30. Diperkirakan, tingginya angka perceraian perempuan
berumur muda tersebut karena ketidaksiapan mereka dalam menjalani perkawinan
(BPS 2010).
Penelitian ini dilakukan didasarkan atas fenomena masih rendahnya
kesiapan menikah dan kesiapan menjadi orang tua di Indonesia khususnya di Kota
Depok. Kedua komponen tersebut sangat penting bagi keutuhan sebuah keluarga.
Melihat fenomena diatas, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik keluarga, kesiapan menikah istri dan
perkembangan anak usia 3-5 tahun pada keluarga dengan istri yang
menikah muda dan dewasa?
4
2. Seberapa besar perbedaan karakteristik keluarga, kesiapan menikah istri
dan perkembangan anak usia 3-5 tahun pada keluarga dengan istri yang
menikah muda dan dewasa?
3. Adakah pengaruh karakteristik keluarga dan kesiapan menikah istri
terhadap perkembangan anak usia 3-5 tahun?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui karakteristik
keluarga, kesiapan menikah istri, perkembangan anak usia 3-5 tahun.
Tujuan Khusus
Tujuan Penelitian ini secara khusus adalah untuk:
1. Menganalisis karakteristik keluarga, kesiapan menikah istri dan
perkembangan anak usia 3-5 tahun pada keluarga dengan istri yang
menikah muda dan dewasa
4. Menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, kesiapan menikah istri dan
perkembangan anak usia 3-5 tahun pada keluarga dengan istri yang
menikah muda dan dewasa
2. Menganalisis pengaruh karakteristik keluarga dan kesiapan menikah istri
terhadap perkembangan anak usia 3-5 tahun
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya yaitu:
1. Sebagai bahan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu
keluarga mengenai hubungan karakteristik keluarga dan kesiapan menikah
terhadap perkembangan anak usia 3-5 tahun
2. Sebagai tambahan informasi baik untuk individu maupun untuk orang tua
mengenai pentingnya kesiapan menikah agar memperoleh perkembangan
anak yang optimal
3. Sebagai bahan pengembangan program pendewasaan usia perkawinan dan
program sosialisasi stimulasi tumbuh kembang anak yang lebih baik lagi
yang dilakukan oleh pemerintah atau instansi terkait.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit sosial-ekonomi terkecil dalam masyarakat yang
merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat dan negara. Sebagai
unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki kewajiban untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan, minum
dan sebagainya (Puspitawati 2013). Keluarga yang menjadi fokus dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga dengan anak usia 3-5 tahun memiliki
tugas-tugas tertentu yang harus dipenuhi untuk menjamin tumbuh kembang anak
5
yang maksimal. Klein dan White (1996) menyatakan keluarga menjadi beberapa
pengertian diantaranya: (1) keluarga terbentuk hingga jangka waktu yang panjang
dibandingkan kelompok sosial lainnya; (2) keluarga merupakan intergenerasi; (3)
keluarga terdiri baik karena hubungan biologis namun juga karena legalisasi
hukum (adopsi dsb); (4) faktor biologis dalam keluarga maupun adopsi anak
secara legal di mata hukum merupakan aspek yang menghubungkan mereka
kepada organisasi kekerabatan yang semakin besar.
Keluarga memiliki beberapa ciri khas dan juga tugas-tugas yang harus
dipenuhi. Mattessich dan Hill (1987) dalam Zeitlin et al. (1995) menyatakan
bahwa keluarga adalah kelompok yang berhubungan dengan kekerabatan, tempat
tinggal ataupun kedekatan secara emosional dan menjadikan mereka kepada
empat bentuk sistemik diantaranya saling ketergantungan satu sama lain
(hubungan intim), memelihara batasan-batasan terseleksi, kemampuan untuk
beradaptasi terhadap perubahan dan memelihara identitas mereka sepanjang waktu,
serta melakukan beberapa tugas keluarga seperti pemeliharaan fisik, sosialisasi,
edukasi, kontrol sosial dan perilaku seksual, memelihara moral dan motivasi
keluarga untuk melakukan yang terbaik di dalam maupun diluar keluarga, akuisisi
anggota keluarga yang dewasa dengan pembentukan formasi kemitraan seksual,
dan melepas anggota keluarga yang remaja ketika beranjak dewasa.
Teori Struktural Fungsional
Perspektif teoritis struktural fungsional pada awalnya dikembangkan untuk
menganalisis keadaan sosial kemasyarakatan secara umum. Para sosiolog generasi
pertama pada akhir abad ke-18 dan kurun waktu abad ke-19, mulai memikirkan
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “bagaimana dan mengapa suatu
masyarakat bisa ada?” “Faktor-faktor apa yang dapat mempersatukan
masyarakat?”. Selain itu, ketidaksetujuan pada pemikir sosial abad ke-19 terhadap
paham utilitarianism timbul, karena melihat kenyataan yang sebaliknya, dimana
ketertiban sosial justru semakin kacau setelah faham utilitarianism semakin besar
mewarnai kehidupan masyarakat. Kenyataan yang demikian telah membuka
peluang timbulnya pemikiran baru tentang bagaimana tatanan masyarakat yang
tertib dan harmonis dapat diwujudkan. Sehingga pendekatan struktural fungsional
digunakan untuk menganalisis struktur sosial masyarakat. Pendekatan ini muncul
bersamaan dengan semakin mapannya ilmu biologi, terutama yang berkaitan
dengan struktur biologi kehidupan. Struktur biologi organisme hidup terdiri dari
elemen-elemen yang saling terkait walaupun berbeda fungsi. Perbedaan fungsifungsi tersebut ternyata diperlukan, terutama untuk saling melengkapi agar suatu
sistem kehidupan yang berkesinambungan dapat terwujud (Megawangi 1999).
Parson dan Bales (1955) dalam Megawangi (1999) membagi dua peran
orangtua dalam keluarga yaitu peran instrumental yang diharapkan dilakukan oleh
suami atau bapak dan peran emosional dan ekspresif yang biasanya dipegang oleh
figur istri atau ibu. Peran instrumental dikaitkan dengan peran mancari nafkah
untuk kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga sedangkan peran emosional
ekspresif adalah peran pemberi cinta, kelembutan dan kasih sayang. Peran ini
bertujuan untuk mengintegrasikan atau menciptakan suasana harmonis dalam
keluarga, serta meredam tekanan-tekanan yang terjadi karena adanya interaksi
sosial antaranggota keluarga atau antarindividu di luar keluarga. Levy (1949)
6
dalam Megawangi (1999) menyatakan bahwa tanpa ada pembagian tugas yang
jelas pada masing-masing aktor dengan status sosialnya, maka fungsi keluarga
akan terganggu yang selanjutnya akan mempengaruhi sistem yang lebih besar lagi.
Berikut ini prasyaratan struktural yang harus dipenuhi agar struktur keluarga
sebagai sistem dapat berfungsi: (1) diferensiasi peran: harus ada alokasi peran
untuk setiap aktor dalam keluarga; (2) alokasi solidaritas: distribusi relasi
antaranggota keluarga menurut cinta, kekuatan dan intensitas hubungan; (3)
alokasi ekonomi: distribusi barang-barang dan jasa untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan; (4) alokasi politik: distribusi kekuasaan dalam keluarga dan siapa
yang bertanggungjawab atas setiap tindakan keluarga; (5) alokasi integrasi dan
ekspresi: distribusi teknik atau cara untuk sosialisasi, internalisasi, dan pelestarian
nilai-nilai dan perilaku yang memenuhi tuntutan norma yang berlaku untuk setiap
anggota keluarga.
Teori Perkembangan
Teori perkembangan merupakan teori yang menjelaskan perubahan, baik
yang terjadi pada individu atau kelompok. Individu, kelompok, dan masyarakat
mengalami perkembangan melalui tahapan-tahapan yang terjadi sepanjang waktu.
Menurut Klein & White (1996), ada beberapa asumsi dalam paradigma teori
perkembangan, yaitu:
- Proses perkembangan merupakan proses yang tidak bisa dielakkan dan juga
sangat penting dalam memahami keluarga. Keluarga dan individu mengalami
perubahan dalam jangka waktu tertentu melalui serangkaian tahapan
perkembangan yang sama dan menghadapi titik transisi dan tugas-tugas
perkembangan serupa. Memahami keluarga harus mempertimbangkan
tantangan yang dihadapi dalam setiap tahapnya, seberapa baik mereka
menyelesaikannya dan seperti apa transisi ke tahap berikutnya.
- Keluarga di analisis pada berbagai tingkat. Keluarga terdiri pada tingkat analisa
yang berbeda-beda. Pertama, keluarga ditinjau sebagai kelompok sosial. Kedua,
keluarga ditinjau dari hubungan seperti hubungan suami istri, orangtua dan
anak. Ketiga, keluarga ditinjau dari individunya sebagai anggota keluarga.
Keluarga dapat dipandang sebagai homogenous agregat cluster yang
terstrukturkan oleh kelas sosial dan etnis.
- Keluarga di pengaruhi oleh semua tingkat analisis. Keluarga dipengaruhi oleh
berbagai tingkat analisa termasuk norma sosial dari masyarakat yang lebih luas
dan norma sosial dari kelompok tertentu
- Keluarga merupakan kelompok semi-tertutup dan semipermeable. Keluarga
memiliki batasan-batasan yang jelas biasanya ditandai secara spasial oleh
lingkungan rumah atau tempa tinggal namun sesungguhnya batasan-batasn
tersebut dapat diserapi oleh pengaruh dari masyarakat yang lebih luas.
- Waktu adalah multidimensional. Asumsi ini mengatakan bahwa “waktu”
sesungguhnya tergantung dari cara mendefinisikan, memahaminya dan bahwa
“waktu: bergerak ke depan dan tidak dapat kembali lagi.
Teori perkembangan keluarga merupakan multilevel theory yang
berhubungan dengan individualis dan institusi keluarga. Hal-hal yang sering
dibahas pada teori ini adalah konsep perkembangan tugas (the Development of
7
task) sepanjang siklus kehidupan keluarga (Family Life Cycle). Tahapan
perkembangan keluarga menurut Duvall dan Miller (1985) ada 8 tahap yaitu: (1)
tahapan perkawinan (marriage couple); (2) tahapan mempunyai anak
(childbearing); (3) tahapan anak berumur prasekolah; (4) tahapan anak berumur
sekolah dasar; (5) tahapan anak berumur remaja; (6) tahapan anak lepas dari
orang tua; (7) tahapan orang tua umur menengah; dan (8) tahapan orang tua umur
manula.
Penelitian ini memiliki fokus pembahasan pada keluarga tahap tiga yaitu
keluarga dengan anak berumur prasekolah namun ditinjau juga dari kesiapan
kedua orang tua sebelum menikah. Pada fase ini, suami dan istri berbagi peran dan
tugas untuk menjalankan fungsi pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan anakanaknya usia prasekolah. Mulai dipikirkan perencanaan keuangan untuk investasi
anak dalam hal kesehatan dan pendidikan serta jaminan sosial anak. Pendidikan
karakter sejak usia dini sudah menjadi keharusan bagi peran ayah dan ibu
(Puspitawati 2012).
Kesiapan Menikah
Kesiapan menikah adalah sebuah istilah yang digunakan untuk
mengindikasikan persiapan penting apa saja yang dapat seseorang lihat sebelum
mereka merasa siap untuk menikah. Teori horizon pernikahan menyatakan
kesiapan menikah tidak hanya berarti seperti diatas namun juga mengenai
keyakinan individu yang membuat mereka siap untuk menikah (Olson 2008).
Rapaport dalam Duvall dan Miller (1985) menyatakan kesiapan menikah
adalah kemampuan individu untuk menyandang peran barunya, yaitu sebagai
suami atau istri, dan berusaha untuk terlibat dalam pernikahannya serta mampu
memasukkan pola-pola kepuasan yang diperolehnya sebelum menikah ke dalam
kehidupan pernikahan. Kesiapan menikah merupakan keadaan siap atau bersedia
dalam berhubungan dengan seorang pria atau wanita, siap menerima tanggung
jawab sebagai seorang suami atau seorang istri, siap terlibat dalam hubungan
seksual, siap mengatur keluarga dan siap mengasuh anak (Duvall dan Miller
1985).
Kesiapan Menikah adalah penting untuk dipelajari karena membentuk
dasar dalam menentukan keputusan dengan siapa harus menikah, kapan harus
menikah, mengapa menikah dan perilaku perkawinan nanti (Larson dan Lamont
2005). Keadaan “kesiapan” seperti yang disebutkan Holman dan Li (1997) adalah
suatu keadaan diluar persiapan tindakan yang membentuk dan mengarahkan
tindakan. Oleh karena itu, kesiapan dapat digunakan untuk menjelaskan dan
memperkirakan jenis khusus dari tindakan. Kesiapan menikah menurut Larson
(1988) merupakan evaluasi subjektif dari kesiapan seseorang untuk mengambil
tanggung jawab dan tantangan pernikahan. Kesiapan menikah adalah kemampuan
seseorang untuk mengembangkan proses seleksi pasangan. Dengan demikian,
kesiapan menikah adalah kunci indikator perilaku perkawinan dan waktu transisi
dalam pernikahan.
Kesiapan dalam sebuah perkawinan sangat diperlukan baik dari segi
kehidupan sosial, ekonomi, fisiologis, maupun psikologis. Kesiapan sosialekonomi berkaitan dengan bagaimana individu berani membentuk keluarga
melalui perkawinan dengan segala tanggung jawabnya dalam menghidupi
8
keluarga dan menjadi penyangga bagi keluarga. Kesiapan dari segi fisiologis atau
badaniah sangat diperlukan karena untuk melakukan tugas atau kewajiban dari
perkawinan itu sendiri dibutuhkan kesiapan jasmani yang cukup matang dan sehat
(Maryati et al. 2007). DeGenova (2008) memaparkan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kesiapan menikah pada individu, seperti usia saat menikah, level
kedewasaan dari pasangan yang akan menikah, waktu menikah, motivasi untuk
menikah, kesiapan untuk eksklusivitas seksual, emansipasi emosional dari orang
tua, tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Rapaport (1963) dalam Duvall dan Miller (1985) menyatakan seseorang
dinyatakan siap untuk menikah apabila memenuhi kriteria diantaranya (1)
memiliki kemampuan mengendalikan perasaan diri sendiri; (2) Memiliki
kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang banyak; (3) Bersedia dan
mampu menjadi pasangan istimewa dalam hubungan seksual; (4) Bersedia untuk
membina hubungan seksual yang intim; (5) Memiliki kelembutan dan kasih
sayang kepada orang lain; (6) Sensitif terhadap kebutuhan dan perkembangan
orang lain; (7) Dapat berkomunikasi secara bebas mengenai pemikiran, perasaan
dan harapan; (8) Bersedia berbagi rencana dengan orang lain; (9) Bersedia
menerima keterbatasan orang lain; (10) Realistik terhadap karakteritik orang lain;
(11) Memiliki kapasitas yang baik dalam menghadapi masalah-masalah yang
berhubungan dengan ekonomi; dan (12) Bersedia menjadi suami atau istri yang
bertanggung jawab.
Perkawinan adalah suatu hal yang serius, sehingga memerlukan persiapan
yang matang, khususnya dalam kematangan fisik dan kematangan mental.
Pasangan calon suami istri harus mempunyai bekal yang cukup, agar siap dan
mampu menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan berumah
tangga untuk menjaga keutuhan perkawinan (Arjoso 1996).
a) Kedewasaan Fisik
Berdasarkan agama, seorang wanita dianggap dewasa setelah mendapatkan
menstruasi dan seorang pria dianggap dewasa pada waktu ia sudah mengalami
ejakulasi. Selain itu, ilmu kedokteran juga membuktikan bahwa kehamilan
dibawah usia 20 tahun adalah kehamilan dengan risiko tinggi dengan
kemungkinan tingginya angka kematian, baik bagi bayi maupun bagi ibunya,
sehingga dianjurkan agar kehamilan itu terjadi setelah seorang wanita berusia
paling sedikit 20 tahun.
b) Kedewasaan Sosial
Di Indonesia, pada umumnya pria memegang peranan penting dalam rumah
tang. Begitu terjadi perkawinan, maka suami harus mengambil tanggung jawab
sebagai kepala rumah tangga dengan mencari nafkah untuk keluarga dan
menjadi pelindung bagi keluarganya. Oleh karena itu, seorang calon pengantin
pria dituntut mempunyai kesanggupan untuk mempunyai penghasilan tertentu,
masa depan yang jelas, mempunyai tempat tinggal dengan perlengkapannya
dan lain-lain. Persyaratan-persyaratan tersebut jelas tidak dapat dipenuhi oleh
seorang pria remaja, kecuali dengan dukungan orang tua atau keluarganya
namun, keadaan demikian akan menjadi masalah karena berarti rumah tangga
yang demikian menjadi tidak mandiri. Pada umumnya seorang pria mencapai
kedewasaan sosial pada usia 25 tahun, sehingga dianjurkan seorang pria
9
menikah pada usia 25-30 tahun. Persyaratan sosial buat seorang wanita tidak
seberat persyaratan sosial untuk seorang pria. Setelah seorang wanita menikah
dan hamil atau melahirkan, ia sudah berubah status menjadi seorang ibu.
c) Kepribadian yang mantap
Kepribadian yang dewasa dan mantap merupakan faktor utama untuk mencapai
suatu perkawinan yang bahagia. Kepribadian yang dewasa ditunjukkan oleh
kemampuan seorang untuk menilai diri sendiri secara objektif, sehingga ia
mengetahui kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan, juga ia
mempunyai citra yang benar tentang dirinya sendiri. Seseorang yang
berkepribadian mantap akan memilih pasangan yang dianggap cocok betul
dengan jalan hidupnya, bisa mengisi kekurangan-kekurangan dan dapat
memberikan dorongan kearah cita-cita yang sudah ditetapkan. Pilihan pasangan
yang didasarkan kepribadian yang mantap tidak mudah berubah dan
perkawinan yang dibina dapat kekal abadi sampai akhir hayat. Perlu diketahui,
bahwa pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh masa kanakkanaknya, terutama pada usia di bawah lima tahun dan melalui proses
perkembangan bertahun-tahun, sehingga pada usia remaja, kepribadiannya
sudah nampak selanjutnya dimantapkan oleh pengalaman-pengalaman
hidupnya.
Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP)
Program pendewasaan usia perkawinan adalah upaya untuk meningkatkan
usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat
perkawinan yaitu usia 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan
sekedar menunda sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar
kehamilan pertama pun terjadi pada usia yang cukup dewasa bahkan harus
diusahakan apabila seseorang gagal mendewasakan usia perkawinannya, maka
penundaan kelahiran anak pertama harus dilakukan.
Pendewasaan Usia Perkawinan merupakan bagian dari program keluarga
berencana nasional. Program PUP memberikan dampak pada peningkatan umur
kawin pertama yang pada giliriannya akan menurunkan Total Fertility Rate
(TFR). Tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan
pengertian dan kesadaran kepada remaja agar didalam merencanakan keluarga,
mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan
berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi
serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran. Tujuan PUP seperti ini
berimplikasi pada perlunya peningkatan usia kawin yang lebih dewasa.
Program PUP dalam program KB bertujuan meningkatkan usia kawin
perempuan pada umur 21 tahun.
Program pendewasaan usia perkawinan dan perencanaan keluarga
merupakan kerangka dari program pendewasaan usia perkawinan. Kerangka ini
terdiri dari tiga masa reproduksi, yaitu: 1) Masa menunda perkawinan dan
kehamilan, 2) Masa menjarangkan kehamilan dan 3) masa mencegah
kehamilan. Kerangka ini dapat dilihat seperti bagan dibawah ini (BKKBN
2008):
10
20 THN
Masa menunda perkawinan
dan kehamilan
35 THN
Masa menjarangkan
kehamilan
Masa mencegah
kehamilan
Gambar 1 Perencanaan Keluarga
Masa Kanak-Kanak
Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak merupakan
masa yang terpanjang dalam rentang kehidupan – saat dimana individu relatif
tidak berdaya dan tergantung pada orang lain. Masa kanak-kanak dimulai setelah
melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun
sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk wanita
dan empat belas tahun untuk pria. Periode awal masa kanak-kanak berlangsung
dari usia dua sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya
anak matang secara seksual. Sebagian orang tua menganggap awal masa kanakkanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Para pendidik
menyebutnya sebagai usia prasekolah untuk membedakannya dari saat dimana
anak dianggap cukup tua, baik secara fisik dan mental, untuk menghadapi tugastugas pada saat mereka mulai mengikuti pendidikan formal. Para ahli psikologi
menyebutnya dengan usia kelompok, usia menjelajah, usia bertanya dan usia
meniru serta usia kreatif (Hurlock 1980).
Gunarsa dan Gunarsa (2012) menyebut periode anak sekitar usia 3 tahun
dan berjalan sampai kira-kira anak berumur 5 tahun sebagai masa krisis kedua.
Sering kali, masa ini ditandai dengan sikap-sikap negatif, penentangan, atau
dengan istilah bahasa Jerman, periode Trots-alter. Bagi ahli psikologi, masa ini
dianggap sebagai masa krisis pertama. Pada masa ini, anak mulai memperlihatkan
tingkah laku yang sungguh “mengesalkan” orang tua. Segala permintaan orang
lain ditolaknya. Apabila anak disuruh makan, mandi bahkan berjabatan tangan
atau memberi salam selalu dijawabnya dengan kata “tidak”. Anak berada dalam
masa dimana ia sedang memperkembangkan diri untuk melepaskan diri dari orang
tua. Masa krisis ini juga memerlukan pemikiran khusus orang tua karena mereka
juga turut mengalami penambahan persoalan, baik sehubungan dengan
bertambahnya anak maupun kelakuan sang anak.
Perkembangan Anak
Perkembangan merupakan sesuatu proses yang mula-mula global, massif,
belum terpecah atau terperinci, dan kemudian semakin lama semakin banyak,
berdiferensiasi dan terjadi integrasi yang hierarkis (Gunarsa 2008). Menurut Negel
11
(1957) dalam Gunarsa (2008), perkembangan merupakan pengertian dimana
terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, dan
karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun
dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Perkembangan (development) adalah pola perubahan yang dimulai sejak
pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup. Kebanyakan perkembangan
melibatkan pertumbuhan, meskipun juga melibatkan penuaan. Saat ini, pandangan
Barat mengenai anak-anak menyatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan
masa yang unik dan sangat hidup, yang meletakkan dasar penting bagi tahuntahun dewasa dan jelas berbeda dari tahun-tahun dewasa tersebut. Masa kanakkanak tidak lagi dilihat sebagai periode menunggu yang tidak nyaman di mana
orang dewasa harus bertoleransi terhadap kebodohan anak-anak. Sebagai gantinya,
kita melindungi anak dari tekanan dan tanggung jawab pekerjaan orang dewasa
melalui hukum perburuhan anak (Santrock 2007).
Anak menjalani proses perkembangan dengan pengaruh lingkungan alam
yang benar-benar asli maupun pengaruh lingkungan alam yang sudah diubah oleh
lingkungan sosial, juga pengaruh linkungan sosial itu sendiri. Ia akan berkembang
menjadi seorang manusia dewasa yang lebih tangkas dalam menghadapi dan
mengatasi tuntutan lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Proses ini
meliputi penambahan ketangkasan, pengolahan dan pengamalan ilmu sepanjang
masa hidupnya (Gunarsa dan Gunarsa 2012).
Menurut Depkes (2006) aspek-aspek perkembangan anak yang perlu dipantau
diantaranya adalah:
1. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh melibatkan otototot besar seperti duduk, berdiri dan sebagainya
2. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan
koordinasi yang cermat seperti mengawasi sesuatu, menjimpit, menulis
dan sebagainya
3. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara,
berkomunikasi, mengikuti perintah, dan sebagainya
4. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan setelah
selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya dan sebagainya.
Anak usia prasekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 2-6 tahun,
ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita,
dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal
yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya). Berikut ini beberapa
perkembangan anak usia prasekolah (Yusuf 2000):
1. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya.
Meningkatnya pertumbuhan tubuh baik menyangkut ukuran berat dan tinggi,
12
maupun kekuatannya memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan
keterampilan fisiknya dan eksplorasi terhadap lingkungannya dengan tanpa
bantuan dari orangtuanya. Perkembangan fisik anak sangat memerlukan gizi
yang cukup, baik protein, vitamin, mineral dan karbohidrat. Perkembangan
fisik anak ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan dan keterampilan
motorik, baik yang kasar maupun yang lembut. Kemampuan motorik tersebut
dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Tabel 1 Deskripsi kemampuan motorik anak usia 3-6 tahun
Usia
3-4 Tahun
4-6 Tahun
Kemampuan Motorik
Kasar
1. Naik Turun Tangga
2. Meloncat dengan
dua kaki
3. Melempar bola
1. Meloncat
2. Mengendarai
sepeda anak
3. Menangkap bola
4. Bermain olahraga
Kemampuan Motorik Halus
1. Menggunakan krayon
2. Menggunakan
benda/alat
3. Meniru bentuk (meniru
gerakan orang lain)
1. Menggunakan pensil
2. Menggambar
3. Memotong dengan
gunting
4. Menulis huruf cetak
2. Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode
praoperasional,, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi
mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangya
representasional atau “symbolic function” yaitu kemampuan menggunakan
sesuatu untuk merepresentasikan (mewakili) sesuatu yang lain degan
menggunakan symbol (kata-kata, gesture/bahasa gerak dan benda). Berikut
beberapa perkembangan periode praoperasional: (1) mampu berpikir dengan
menggunakan symbol; (2) berpikirnya masih dibatasi oleh persepsinya. Mereka
meyakini apa yang dilihatnya, dan hanya terfokus kepada satu atribut/dimensi
terhadap satu objek dalam waktu yang sama; (3) cara berpikirnya masih kaku
tidak fleksibel. Cara berpikirnya terfokus kepada keadaan awal atau akhir dari
suatu transformasi, bukan kepada transformasi itu sendiri yang mengantarai
keadaan tersebut; (4) Anak sudah mulai mengerti dasar-dasar mengelompokkan
sesuatu atas dasar satu dimensi, seperti atas kesamaan warna, bentuk dan
ukuran.
3. Perkembangan Emosional
Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya
(dirinya) berbeda dengan bukan aku (orang lain atau benda). Kesadaran ini
diperoleh dari pengalamannya, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh
orang lain atau benda lain. Beberapa jenis emosi yang berkembang pada masa
anak,, yaitu sebagai berikut: takut, cemas, marah, cemburu, kegembiraan, kasih
sayang, phobi dan ingin tahu.
13
4. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak usia prasekolah dapat diklasifikasikan ke dalam
dua tahap yaitu sebagai berikut:
Masa ketiga (2.0-2,6) yang bercirikan:
a. Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna
b. Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan
c. Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, dimana dan dari mana
d. Anak sudah banyak menggunakan kata-kata yang berawalan dan yang
berakhiran
Masa Keempat (2,6-6,0) yang bercirikan:
a. Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak
kalimatnya
b. Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal
waktu-sebab akibat melalui pertanyaan-pertanyaan: kapan, kemana,
mengapa dan bagaimana
5. Perkembangan Sosial
Pada usia prasekolah (terutama mulai usia empat tahun), perkembangan social
anak sudah tampak jelas, karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan
teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan social pada tahap ini adalah: (1)
anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun
dalam lingkungan bermain; (2) sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk
pada peraturan; (3) anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain dan
(4) anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain atau teman sebaya.
6. Perkembangan Moral
Pada masa ini, anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap
kelompok sosialnya (orangtua, saudara dan teman sebaya). Melalui
pengalaman berinteraksi dengan orang lain, anak belajar memahami tentang
kegiatan atau perilaku mana yang baik/boleh/diterima/disetujui atau
buruk/tidak boleh/ditolak/tidak disetujui. Berdasarkan pemahamannya itu,
maka pada masa ini anak harus dilatih atau dibiasakan mengenai bagaimana dia
harus bertingkah laku.
Penelitian Terdahulu
Saat ini ketersediaan data mengenai persiapan dan kesiapan menikah
pasangan yang baru menikah masih sangat terbatas (Holman dan Li 1997; Larson
dan Holman 1994). Carrol, Badger, Willoughby, Nelson, Madsen dan Barry (2009)
menunjukkan bahwa kesiapan pernikahan dipandang oleh orang dewasa muncul
sebagai proses pengembangan kompetensi interpersonal, membuat komitmen
seumur hidup dan memperoleh kapasitas untuk merawat orang lain. Selain itu,
kesiapan menikah menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan anak.
Berikut ini adalah beberapa ringkasan hasil penelitian terkait perkembangan anak
dan kesiapan menikah:
14
Tabel 2 Penelitian terdahulu
Tahun
Penulis
Perkembangan Anak
2012
Dewanggi et al.
2011
Hastuti et al.
2009
Hastuti
2010
Hastuti et al.
2009
Latifah et al.
Judul
Hasil
Pengasuhan Orang Tua
dan Kemandirian Anak
Usia 3-5 Tahun
berdasarkan Gender di
Kampung Adat Urug
Terdapat hubungan antara pola
asuh orang tua dengan
kemandirian anak. Kemandirian
Anak berhubungan dengan
umur anak dan pendapatan
keluarga. Selain itu, ditemukan
perbedaan nyata antara
kemandirian anak laki-laki dan
anak perempuan.
Perkembangan sosial emosi
anak berhubungan dengan
tingkat pendidikan ibu, usia
anak, pengeluaran keluarga dan
kualitas lingkungan
pengasuhan.
Usia anak, stimulasi psikososial
di rumah dan sarana prasarana
di sekolah berpengaruh
signifikan terhadap
perkembangan motorik dan
kognitif anak pada kedua
kelompok penelitian.
Kualitas lingkungan
pengasuhan dan
Perkembangan Sosial
Emosi Anak Usia
Balita di Daerah
Rawan Pangan
Stimulasi Psikososial
Pada Anak Kelompok
Bermain dan
Pengaruhnya Pada
Perkembangan
Motorik, Kognitif,
Sosial Emosi dan
Moral/Karakter Anak
Nilai Anak, Stimulasi
Psikososial, dan
Perkembangan
Kognitif Anak Usia 2-5
Tahun Pada Keluarga
Rawan Pangan di
Kabupaten
Banjarnegara, Jawa
Tengah
Kualitas Tumbuh
Kembang, Pengasuhan
Orang Tua, dan Faktor
risiko komunitas Pada
Anak Usia Prasekolah
Wilayah Pedesaan di
Bogor
Perkembangan kognitif anak
dipengaruhi positif oleh lama
pendidikan ibu, lama partisipasi
anak di pendidikan prasekolah,
status ekonomi keluarga dan
stimulasi psikososial.
Tingkat stress dan kecemasan
ibu memberikan pengaruh
negatif terhadap kualitas
pengasuhan. Terdapat beberapa
faktor yang menjadi faktor
risiko terhadap perkembangan
anak diantaranya rendahnya
tingkat pendidikan, pendapatan
dan pengetahuan mengenai
pengasuhan.
15
Kesiapan Menikah
2012
Sunarti et al.
Kesiapan Menikah dan
Pemenuhan Tugas
Keluarga Pada
Keluarga Dengan Anak
Usia Prasekolah
2012
Ghalili et al.
Marriage Readiness
Criteria among young
adults of Isfahan: A
Qualitative Study
2010
Krisnatuti dan
Oktaviani
Persepsi dan Kesiapan
Menikah Pada
Mahasiswa
2011
Afifah
Perkawinan Dini dan
Dampak Status Gizi
Pada Anak (Analisis
Data Riskesdas 2010)
2013
Gunnels
The Impact of SelfEsteem and
Religiousity on the
Marital Readiness
Criteria of College
Students
Kesiapan menikah istri lebih
rendah dibandingkan dengan
kesiapan menikah suami.
Kesiapan menikah suami dan
istri berpengaruh terhadap tugas
perkembangan keluarga. Tugas
perkembangan keluarga dan
kesiapan menikah istri
berpengaruh terhadap
perkembangan anak
Hasil penelitian menunjukkan
Sembilan kategori utama dalam
kesiapan menikah diantaranya:
kesiapan usia, fisik, mental,
finansial, moral, emosional,
sosial kontekstual,
interpersonal, dan keterampilan
hidup dalam rumah tangga.
Remaja dewasa saat ini fokus
untuk siap secara finansial
kemudian moral sebelum
akhirnya memutuskan untuk
menikah.
Pengetahuan tentang pernikahan
berhubungan signifikan dengan
usia, jenis kelamin dan prestasi
akademik. Kesiapan menikah
berhubungan signifikan dengan
frekuensi memperoleh
informasi tentang pernikahan,
dan dipengaruhi oleh usia,
jumlah penyakit yang diderita,
dan cara untuk mengelola
rumah tangga.
Pernikahan dini dapat
mempengaruhi status gizi
anaknya yang lahir dan tumbuh
kembangnya sehingga menjadi
anak pendek. Persentase anak
pendek meningkat pada ibu
yang menikah pada usia dini.
Self esteem dan religiusitas
memiliki hubungan signifikan
positif dengan kriteria kesiapan
menikah.
Download