koperasi menembus generasi milenial

advertisement
KOPERASI & UKM
No. 07 - September.2017
KOPERASI MENEMBUS
GENERASI MILENIAL
H.03
H.7
H.14
Koperasi Menembus
Generasi Milenial
Seluruh Koperasi
Wajib RAT Mulai 2018
Cegah Koperasi Jadi
Wadah Pencucian Uang
@KemenkopUKM
Daftar isi
2 DAFTAR ISI
3 LIPUTAN KHUSUS
7 SELURUH KOPERASI WAJIB RAT MULAI 2018
8 BELUM OPTIMALNYA UMKM MANFAATKAN HAK CIPTA
9 PERLU PENDAMPING USAHA DI SETIAP KECAMATAN
17 TOKOH:
Korporatisasi Petani Ala Luwarso
10 APLIKASI LAMIKRO.COM SEGERA DILUNCURKAN
15 INSPIRASI UKM:
Perjuangan Sukses Pembuat Roti Gaplek
G
enerasi milenial menjadi
generasi yang saat ini
digadang-gadang menjadi
bagian penting dalam perkembangan
negara Indonesia. Apalagi jika
melihat pada prediksi periode bonus
demografi yang pada tahun 2020
s/d 2030, usia produktif lebih banyak
dibandingkan usia yang non-produktif.
Namun apakah koperasi sadar akan
hal ini?
Bisa dikatakan saat ini koperasi
merupakan barang antik yang perlu
dikenalkan ke generasi milenial.
Mengingat koperasi saat ini sudah
berusia 70 tahun, perlu adanya
pembaruan brand dari koperasi agar
kembali dikenal oleh generasi tersebut.
Dimulai dari adanya keinginan koperasi
untuk dapat menyesuaikan dengan
era saat ini. Era dimana teknologi
dan informasi menjadi komiditi utama
dalam pergerakan ekonomi global.
Sudah seharusnya koperasi
11 MEMBANGUN KOORDINASI STRATEGIS MEMBENTUK
JAMKRIDA
mengembalikan kejayaannya yang
pernah ada pada jaman orde baru,
dimana koperasi menjadi poros
dalam setiap kegiatan ekonomi di
perkantoran pemerintah, di setiap
desa, bahkan di setiap sekolah.
Generasi milenial yang kini terbiasa
dengan kecepatan arus informasi
menjadi alasan mengapa koperasi
perlu berbenah diri, terutama dalam
mengimplementasikan teknologi dalam
kegiatan koperasi.
Koperasi yang kini hanya dijadikan
pelengkap buku pelajaran perlu
diubah menjadi sebuah kebutuhan
di masyarakat. Terutama dimulai dari
sekolah dan perguruan tinggi dimana
koperasi perlu menyatukan dirinya
ke dalam budaya dan lingkungan
generasi milenial. Kebiasaan dari
generasi itu perlu dipelajari dan
disesuaikan sehingga koperasi bukan
lagi menjadi barang yang jadul.
Misalnya dengan membuat akun di
20 SUKABUMI, KETIKA KOPERASI DAN UKM TUMBUH SEIRING
media sosial yang memperkenalkan
diri bahwa koperasi tidak diisi hanya
oleh orang tua saja. Koperasi juga
mampu bermain dalam gelombang
teknologi dan informasi. Oleh karena
itu koperasi perlu memberikan added
value yang dibutuhkan oleh anak-anak
muda saat ini.
Budaya generasi milenial yang sering
membentuk komunitas juga bisa
menjadi peluang untuk rebranding
koperasi. Acara yang sekedar ngumpul
bisa ditambahkan nilainya jika
membuat koperasi. Selain menambah
keeratan hubungan antar sesama
(anggota), kumpulan ini menjadi
legal dan bisa dikembangkan untuk
usaha yang produktif. Maka tepat jika
membuat koperasi bak menyelam
sambal minum air.
Untuk itu rebranding koperasi
menjadi bagian penting yang harus
dilakukan sehingga koperasi tetap
hidup dalam pusaran generasi milenial.
Penanggung Jawab: Hardiyanto, Redaktur: Darmono, Redaktur Pelaksana: Bambang Sunaryo, Penyunting/Editor:
M.Maulana, S.I.Kom, Edy Haryana, S.Sos, Desain: Muhammad Ali, Adhiguna Suryadi, Mulyadi, Fotografer: Timbul Priyono,
Topik, Kurniawan, Sekretariat: Nurlailah, Fira Desiana Nasril, Suhandi, Imam Ahmad Al Hushori, Sutarsono. S.sos, Ali
Imron Rasidi, Rr. Dwitya Suci, Pradityo Ariwibowo, Nur Sholeh, M. Kamal, Wira Suanda
2
2017
Liputan Khusus
KOPERASI MENEMBUS GENERASI
MILENIAL
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga memberikan arahan saat membuka workshop Pendidikan 3700 Anggota
Koperasi Mahasiswa UIN Walisongo di Semarang, Senin 28 Agustus 2017.
H
arus diakui, suka atau tidak
suka, nama, makna, dan
peran koperasi dalam kancah
perekonomian nasional, belum terlalu
popular khususnya di kalangan kaum
milenial atau mereka yang lahir pada
kurun akhir 1990-2000an. Sampai-sampai, ada sebuah survei
yang menyebutkan bahwa generasi
milenial usia 17-30 tahun yang jumlahnya bisa mencapai 60% dari total
penduduk Indonesia, tidak paham
dan tidak tertarik pada koperasi.
Tentu saja, fenomena dan fakta
itu menggelitik Menteri Koperasi
dan UKM AAGN Puspayoga. Untuk
itu, mantan Wakil Gubernur Bali dan
Walikota Denpasar itu pun mengge
lontorkan program strategis bertajuk
Re-Branding Koperasi.
“Saya berharap mahasiswa bisa
menjadi ikon dalam upaya Re-Branding koperasi di kalangan generasi
muda, khususnya mahasiswa. Tujuan
Re-Branding itu agar generasi muda
tahu, paham, dan tertarik berkoperasi,” tandas Menkop.
Menkop menyebutkan, mahasiswa
yang mampu bicara tentang koperasi
itu kini menjadi sesuatu yang langka.
“Saya berharap mahasiswa mampu
menjadi motor dalam Re-Branding
koperasi di kalangan generasi
muda,” imbuh Puspayoga.
Namun, Puspayoga mengakui,
tidak bisa begitu saja mengajak
mahasiswa dan generasi milenial
lainnya untuk mengenal koperasi
dengan cara ceramah, seminar, atau
pun workshop. “Kami di Kemenkop
UKM sedang merancang cara yang
jitu dan tepat, agar Re-Branding
koperasi bisa berhasil. Oleh karena
itu juga, saya berharap mahasiswa
yang sudah aktif berkoperasi bisa
mengajak yang lainnya untuk
mengenal dan memahami eksistensi
koperasi,” kata Puspayoga.
Hanya saja, lanjut Menkop, langkah awal dari Re-Branding koperasi
sudah dimulai dengan menggulirkan
program Reformasi Total Koperasi.
Dimana nantinya dengan dimunculkannya koperasi-koperasi yang
berkualitas akan membukakan mata
kalangan generasi milenial tentang
peran koperasi sebagai tulang punggung perekonomian nasional. “Saat ini, tak usah heran bila
banyak koperasi sudah memiliki aset
ratusan miliar hingga triliunan rupiah.
Termasuk Kopma, bila dikelola
dengan baik dan benar, bukan tidak
mungkin bisa menjadi besar,” kata
Puspayoga.
Untuk itu, Puspayoga takkan
terlalu gundah karena sudah ada
dua Koperasi Mahasiswa (Kopma),
yaitu Kopma UGM Yogyakarta dan
UIN Walisongo Semarang, yang
bakal jadi motor penggerak program
re-Branding Koperasi di kalangan
generasi milenial. “Di satu sisi,
banyak generasi milenial tidak tahu
dan paham benar tentang koperasi,
namun di sisi lain saya menyaksikan
ada Kopma Walisongo menerima
3.700 mahasiswa sebagai anggota
baru koperasi,” kata Puspayoga.
Puspayoga pun akan menjadikan
Kopma Walisongo sebagai koperasi
percontohan dalam mengembangkan Kopma-Kopma di seluruh Indonesia. “Untuk mengawal keberadaan
2017
3
Kopma, khususnya Kopma Walisongo, Kementerian Koperasi dan UKM
akan membantu dalam melakukan
pendampingan,” imbuh Menkop.
Bagi Menkop, Indonesia saat ini
tidak membutuhkan jumlah koperasi
besar dalam kuantitas secara badan
hukum. Melainkan terus mendorong
koperasi berkualitas meski jumlahnya
tidak banyak.
“Salah satu indikator koperasi
berkualitas itu apabila jumlah anggotanya selalu meningkat setiap tahun. Itu yang kita canangkan dalam
program Reformasi Total Koperasi
di seluruh Indonesia yang mencakup
rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi, dan pengembangan koperasi,”
kata Puspayoga.
Selain pendampingan, lanjut
Puspayoga, Kemenkop dan UKM
juga akan memberikan pelatihanpelatihan bagi Kopma Walisongo di
antaranya, pelatihan kewirausahaan
dan manajemen perkoperasian. Tujuannya, agar mahasiswa
mampu berkoperasi dengan baik
dan benar. “Sedangkan dengan
pelatihan kewirausahaan, saya berharap agar para mahasiswa setelah
lulus nanti bisa mengubah pola piker
dari pencari kerja menjadi pencipta
lapangan kerja sebagai wirausaha,”
papar Puspayoga.
Kiprah kopma pun tak perlu
diragukan lagi, Ketua Kopma UGM
Akhmad Faqihuddin misalnya, mengungkapkan bahwa pihaknya pada
28 Oktober 2017 menyelenggarakan
Olimpiade Koperasi Siswa Nasional
2017 di Kampus UGM. Pesertanya
dating dari berbagai Koperasi Siswa
se-Indonesia. “Materi yang dilombakan diantaranya semua tentang
perkoperasian, dari mulai aturanaturan hukum (UU, Peraturan Menteri), hingga pengenalan koperasi,”
katanya.
Dia menambahkan, saat ini Kopma UGM memiliki anggota sebanyak
1.064 mahasiswa UGM dari berbagai
fakultas. Selain itu, Kopma UGM
4
2017
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Foto bersama Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga dengan pengurus
Koperasi Mahasiswa UGM.
juga memiliki beberapa unit usaha
yang dikelola. Diantaranya, swalayan (minimarket) di kampus UGM,
Warparpostel (logistik) kerja sama
dengan JNE dan PT Pos dalan jasa
pengiriman, konveksi untuk keperluan kampus dan sekolah-sekolah di
sekitar kampus UGM, serta kafetaria
atau semacam foodcourt di kampus
UGM.
“Kita juga baru mengembangkan
program yang dinamakan Wirausaha
Anggota. Dimana Kopma mendorong
para mahasiswa anggota Kopma
untuk menjadi wirausaha. Di samping itu, Kopma UGM di usianya yang
35 tahun aktif dan rutin mengadakan
RAT,” tukas Faqihuddin.
Sementara itu, Ketua Kopma Walisongo UIN Semarang Edi Hermawan
menjelaskan, Kopma Walisongo
terus mengalami peningkatan kinerja
unit usahanya, seperti UKM Mart,
fotocopy, produksi aksesoris,
penjualan dan persewaan toga,
katering Kopma, kafe, konter pulsa
dan deposit. “Bahkan, saat ini, kami
memiliki unit usaha baru seperti jasa
service computer dan Galeri UIN. Ini
merupakan sebuah inovasi berbasis
keterampilan anggota. Jadi, usaha
service komputer dan Galeri UIN
merupakan buah dari keterampilan
anggota Kopma Walisongo,” jelas
Edi.
Dengan jumlah anggota Kopma
Walisongo lebih dari 14 ribu anggota,
Edi mengatakan bahwa Kopma
Walisongo memiliki rencana ke
depan, yaitu ingin mengembangkan
Kopma tidak hanya bergerak di
dalam kampus. “Tapi, kita berupaya
untuk mengembangkan Kopma
di luar kampus. Yang mana, ini
akan memberikan peluang buat
Kopma agar bisa mengembangkan
Kopma menjadi lebih maju dan dapat
mensejahterakan anggota,” kata Edi
Edi menjelaskan bahwa pihaknya
memiliki beberapa strategi khusus
dalam upaya menyosialisasikan
koperasi di kalangan mahasiswa.
Diantaranya, mengadakan kerja
sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan BEM tingkat universitas untuk melakukan sosialisasi
koperasi. “Ini sangat penting, karena
biasanya mahasiswa berkumpul
dalam organisasi-organisasi tingkat
kampus. Selanjutnya, kami juga
melakukan kegiatan Pendidikan
Anggota sesuai dengan standar
Lembaga Pendidikan Perkoperasian
(Lapenkop),” jelas Edi.
Sayangnya, Edi mengakui, dukungan pihak kampus masih sangat
minim. Mulai dari dukungan secara
material maupun secara moral, pihak
kampus masih belum memihak dengan koperasi secara nyata. Ditambah
lagi, adanya Pusat Pengembangan
Bisnis yang dibentuk pihak kampus,
membuat gerak koperasi semakin
sempit. “Selain itu, juga adanya
kebijakan-kebijakan baru, sehingga
koperasi mendapat perhatian yang
minim dari kampus,” tandas Edi.
Edi pun berharap Kementerian Koperasi dan UKM dapat memberikan
perlindungan dan perhatian kepada
Kopma, ketika ada kebijakan yang
berpotensi kurang baik terhadap
perkembangan dari Kopma. “Karena,
masalah kebijakan dari instansi kampus sebagian besar perguruan tinggi
cenderung memberikan dampak
yang kurang baik terhadap kemajuan
Koperasi Mahasiswa,” pungkas Edi.•
Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis ( AKSES)
Re-branding Koperasi Butuh
Pembaharuan Regulasi
K
emenkop dan UKM telah
menggulirkan konsep
rebranding koperasi bagi
generasi milenial. Ini upaya bagus
untuk merehabilitasi kembali gerakan
koperasi agar tidak ditinggalkan
anak-anak muda. Untuk mengakomodir hal ini maka perlu langkah
perbaikan regulasi. Undang-Undang
(UU) No. 25 Tahun 1992 sudah tidak
memadai untuk memberikan stimulasi daya tarik bagi pengembangan
koperasi bagi generasi milenial di
Tanah Air.
Contoh paling kongkrit adalah
mengenai keanggotaan koperasi.
Menurut UU untuk mendirikan koperasi itu diperlukan 20 orang sebagai
syarat awal. Akibatnya, anak-anak
muda yang mau memulai bisnis
menggunakan jalur koperasi tidak
muncul.
Mereka yang sudah aktif di Koperasi Mahasiswa (Kopma) waktu masih
kuliah juga pada akhirnya tidak mau
mengembangkan koperasi karena
hambatan ini. Mereka pada akhirnya
hanya jadi pekerja atau berbisnis
secara kapitalis.
Padahal, di luar negeri untuk
mendirikan bisnis koperasi itu hanya
perlu 2 orang saja. Ini juga diatur
dalam International Co-operative
Law Guidance. Maka idealnya dalam
RUU koperasi yang sedang dibahas
di parlemen harus mengakomodir ini.
Perbedaan paling mendasar
adalah kalau dalam perusahaan koperasi itu setiap orang mempunyai
hak satu suara. Sedang di perseroan itu mereka yang mempunyai
saham mayoritas maka merekalah
yang tentukan keputusan perusahaan.
Koperasi kalau ingin jadi alternatif
bisnis secara natural dan ingin berperan besar dalam perekonomian
maka harus mampu membongkar
masalah ini. Kalau tidak, nanti
ujungnya hanya akan terus terjebak
dalam model koperasi lama yang
orientasinya pada sekadar simpan
pinjam terus-menerus.
Paling tidak dalam UU perkoperasian yang baru nanti, untuk
pengembangan jalur koperasi pekerja (worker co-op) dimana setiap
pekerja jadi pemilik perusahaan
yang cocok untuk anak muda itu
diberikan pasal eksepsi dengan bunyi pasalnya yang dapat ditentukan
oleh Menteri Koperasi dan UKM.
Perubahan regulasi ini juga akan
merombak paradigma masyarakat
kalau akan mendirikan koperasi itu
semudah mendirikan perseroan,
namun tetap menjalankan prinsip
koperasi. Hingga akhirnya koperasi
dapat berkembang bukan sekadar
sebagai figuran seperti sekarang
ini namun pemeran utama dalam
pembangunan bangsa. •
2017
5
Sekretariat
UKM Harus Lebih Kompetitif dan Adaptif
di Era Digital
S
aat ini, telah terjadi perubahan
mindset, baik dalam pola pikir
maupun dalam pola tindak,
yang diakibatkan oleh kemajuan
teknologi digital di era digitalisasi.
Untuk itu, Sekretaris Kementerian
Koperasi dan UKM Agus Muharram
berharap, perencanaan wilayah
dan kota ke depan harus tetap pro
terhadap koperasi dan UKM. “Artinya,
simpul-simpul distribusi jasa dan
produk harus benar-benar berbasis
koperasi dan UKM. Jangan sampai
dengan adanya jasa berbasis digital,
kemudian produk-produk UKM men-
jadi tersingkirkan,” kata Agus.
Agus mengakui, bahwa pemerintah belum maksimal mengontrol aktivitas usaha di dunia maya, tentang
produk mana saja yang dijual. Maka
dari itu, menurut Agus, para UKM harus lebih kompetitif dan memiliki daya
saing yang lebih kuat di era digital
seperti saat ini.
“Misalnya dengan memberikan
sertifikasi dan standarisasi produk.
Sehingga di dalam perkembangan
wilayah dan kota ini, UKM bisa mengantisipasi dengan lebih adaptatif.
Karena jika di era digital seperti ini,
kemudian UKM masih menggunakan
pola konvensional, maka dia akan
tereliminir secara pelan-pelan,”
tandasnya.
Untuk itu, Agus mengharapkan,
agar UKM dapat berkembang ke
arah digital, khususnya UKM yang
berbisnis di wilayah perkotaan.
Karena menurut Agus, UKM saat
ini sudah tidak lagi ketergantungan
terhadap ruang, waktu dan jarak.
“Jadi, walaupun di dalam ruang yang
kecil, mereka bisa memiliki usaha
dengan adanya teknologi digital, dan
UKM juga harus mampu mengantisi6
2017
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram memberikan sambutan sekaligus membuka Seminar Nasional “Perencanaan Wilayah dan Kota
di Era Digital” di Aula Timur ITB. 23/9/17
pasi perkembangan wilayah dan kota
yang semakin cepat. Dengan adanya
Smart City itu, maka UKM juga harus
smart,” harap Agus.
Hingga saat ini, Kemenkop dan
UKM juga terus melakukan sosialisasi
guna menunjang percepatan UKM
menuju digital. Salah satunya yaitu
dengan menggelar pelatihan, seperti
pelatihan e-commerce dan penggunaan teknologi digital dalam usaha.
Upaya percepatan tersebut juga
dimaksudkan agar kedepan, UKM
sudah maksimal dalam berbisnis dengan memanfaatkan teknologi digital.
Namun, Agus mengeluhkan sikap
pengelola wilayah dan kota yang
sudah jarang berkomunikasi dengan
masyarakat dalam perencanaan
wilayah dan kota. “Karena planning
process itu butuh komunikasi langsung. Artinya, dia terjun ke masyarakat. Tetapi karena ini eranya digital,
maka komunikasi langsung juga bisa
dilakukan tanpa face to face,” keluhnya.
Maka, menurut Agus, UKM harus
memikirkan masa depan usahanya
dengan perkembangan wilayah dan
kota. Bahwa kedepan, akses untuk
berbisnis akan jauh lebih mudah dengan adanya digital dan transportasi
baru yang akan mempercepat proses
distribusi produk. •
Kelembagaan
Seluruh Koperasi Wajib RAT Mulai 2018
M
enuju koperasi sehat pada
2019 memerlukan tahapantahapan untuk pencapaiannya. Salah satu tahapan krusial yang
juga menjadi target Deputi Kelembagaan Kemenkop dan UKM, adalah
seluruh koperasi wajib melakukan
Rapat Anggota Tahunan (RAT) mulai
2018.
Saat ini, dari 152 ribu koperasi
yang terdata, setengahnya dalam
kondisi kurang sehat, setengahnya
lagi dalam kondisi sehat. Selain itu,
sebanyak 40 ribu lebih koperasi sudah
dibubarkan karena tidak aktif, hanya
papan nama, dan abal-abal.
“RAT sangat penting dan harus
dilakukan oleh koperasi sebagai
fungsi kontrol, misalnya ketika ada
tindak penyimpangan maka anggota
dapat mengetahui sehingga pengurus
koperasi bisa segera mempertanggungjawabkannya,” kata Meliadi.
Diakui Meliadi, meski sudah
melakukan RAT, bukan jaminan
bahwa koperasi tersebut sehat,
karena harus dilihat dulu partisipasi
anggota maupun aktivitas koperasi
yang bersangkutan. Partisipasi anggota koperasi dalam RAT harus tinggi
karena anggota merupakan elemen
yang menentukan keberhasilan
koperasi.
“Anggota koperasi adalah pemilik
koperasi sekaligus sebagai pengguna
jasa koperasi,” ungkapnya.
Sebagai pemilik maka anggota
berkewajiban untuk berpartisipasi
dalam penyertaan modal koperasi
dengan membayar simpanan, mengawasi, dan memegang kekuasaan
tertinggi dalam rapat anggota.
Sedangkan sebagai pengguna jasa
atau pelanggan, anggota koperasi
wajib untuk memanfaatkan fasilitas,
layanan, dan jasa yang disediakan
(istimewa)
oleh koperasi.”Dalam RAT itulah
partisipasi anggota sebagai pemilik
dan pengguna jasa koperasi dapat
dimaksimalkan,” jelasnya.
Namun pada kenyataannya
partisipasi anggota koperasi dalam
RAT masih rendah, terindikasi dari
pelaksanaan RAT yang tampak masih
sebatas acara seremonial, anggota
cenderung tidak mencermati laporan
pertanggungjawaban pengurus dan
pengawas, termasuk rencana program kerja koperasi, dan RAT sistem
perwakilan belum menggambarkan
demokrasi di koperasi.”Seharusnya
didahului dengan rapat anggota kelompok dan pendapat dari kelompok
dibawa ke RAT pleno oleh wakil yang
ditunjuk kelompok bukan oleh pengurus,” katanya.
Ada juga indikasi dalam pelaksanaan RAT masih banyak terjadi
pengurus menjadi pimpinan sidang
sekaligus menyampaikan laporan
pertanggungjawabannya, padahal seharusnya pimpinan sidang dipilih dari
anggota yang hadir sesuai Peraturan
Menteri Koperasi dan UKM Nomor
19/2015. Selain itu, kata dia, anggota
belum memahami pemanfaatan fungsi
kontrol yang melekat pada dirinya
sebagai pemilik koperasi.
Pembubaran Koperasi
Pemerintah masih memberi ruang bagi koperasi bila keberatan
dibubarkan. Penyampaian keberatannya dapat langsung ditujukan ke
Kementrian Koperasi dan UKM,
melalui Dinas Koperasi Wilayah/kab/
kota. Hanya saja peluang itu dibatasi
selama enam bulan. Bila tidak mengajukan keberatan berarti setuju dengan
keputusan pembubaran.
Deputi Meliadi Sembiring mengatakan koperasi dapat dibubarkan
jika tidak melaksanakan RAT selama
tiga tahun berturut. RAT disebutnya
merupakan kewajiban bagi koperasi
dengan diikuti seluruh anggota. Kemudian kegiatan koperasi tidak boleh
vakum selama tiga tahun. Aktivitas
atau jenis usaha yang dijalankan harus
tetap berjalan berkesinambungan.
Pihaknya mencatat sampai saat ini
dari 62.000 koperasi yang tidak aktif,
koperasi yang sudah dibubarkan sebanyak 40.013 koperasi, terdiri 7.237
dibubarkan di tingkat dinas koperasi,
dan 32.690 koperasi melalui pusat.
“Jadi masih ada 12.000 koperasi tak
aktif yang sedang kita teliti dan memberikan kesempatan pada pengurus
untuk melakukan sanggahan,” kata
Meliadi. •
2017
7
Produksi & Pemasaran
Belum Optimalnya UMKM
Manfaatkan Hak Cipta
dan tenun untuk mendapatkan hak
cipta.
"Mereka yang mendapatkan
fasilitas hak cipta adalah UMKM yang
mampu memproduksi karya seni dan
hasil kreativitas yang mencakup seni
(Dok.N.Agung Nugroho)
S
ejatinya peluang bagi UMKM
untuk mengurus hak cipta dan
hak merek atas produknya
telah dibuka lebar-lebar. Pemerintah
melakui Kementerian Koperasi dan
UKM misalnya secara khusus memberikan fasilitasi pemilikan hak atas
kekayaan intelektual (hak cipta dan
hak merek) atas produk dan desain
UMKM untuk kegiatan dalam negeri
dan luar negeri bagi UMKM.
Sayangnya, program itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh para
pelaku UMKM di Tanah Air. Deputi
Bidang Produksi dan Pemasaran
Kemenkop dan UKM I Wayan Dipta
mengatakan tercatat saat ini jumlah
UKM di Indonesia setidaknya telah
mencapai lebih dari 58 juta pelaku.
Namun dari angka tersebut, yang
mendaftarkan pembuatan hal cipta
dan merek secara nasional kurang
dari 3.000 setiap tahunnya.
"Padahal, kami mempunyai
fasilitas untuk membantu pelaku UKM
untuk memperoleh hak cipta dan
merek," katanya.
Meski biayanya sudah digratiskan
kata dia, namun kemauan pelaku
UKM untuk mematenkan merek dan
hak cipta masih belum optimal. Hal
itu disadari juga, UKM yang memerlukan hak cipta dan merek di Indonesia
memang tidak begitu banyak. Menurut dia, hal itu juga karena produk
8
2017
UKM di Indonesia banyak yang
berada di sektor pertanian dan jasa.
"Umumnya yang memerlukan
hak cipta dan merek itu UKM yang
berada di sektor kerajinan. Termasuk
yang hasil produksinya dinilai masih
original,” kata I Wayan Dipta.
Produk-produk seperti ini yang
rawan untuk ditiru, karena itu dibutuhkan perlindungan terhadap hak
cipta dan hak mereka produk yang
bersangkutan. Misalnya saat pameran
di luar negeri, produk UMKM yang
tak terlindungi hak mereka dan hak
cipta, akan susah melakukan protes
atau komplain atas produk mereka
yang ditiru. Sehingga bisa dituntut
di badan arbitrase misalnya dalam
perkara sengketa dagang yang kemudian akan susah kalau tidak memiliki
bukti-bukti otentik.
Kemenkop UKM sendiri memfasilitasi untuk proses hak merek dan
hak cipta para pelaku UKM. Tercatat
setiap tahunnya, ada sebanyak 3.000
UKM yang mengajukan hak merek.
Sementara untuk hak cipta, setiap
tahunnya difasilitasi untuk sebanyak 600 UKM. Total yang difasilitasi
pemerintah sejak 2015 mencapai sebanyak 1.500 hak cipta. UMKM yang
mengurus di antaranya yang bergerak
di bidang usaha pakaian dan batik,
perhiasan dan aksesoris, kerajinan
tangan, tas dan sepatu, serta songket
rupa, seni gambar, seni lukis, seni
patung, seni motif, karya rekaman
suara, dan komposisi musik," kata
Wayan.
Ia mengatakan, standarisasi dan
sertifikasi produk merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan
nilai tambah dan daya saing produk
KUMKM baik di pasar internasional
dan dalam negeri. Hak cipta dan hak
merek adalah salah satu bentuk sertifikasi produk yang merupakan bagian
dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Kekayaan intelektual inilah yang akan
menjadi aset yang sangat berharga
bagi UMKM dalam berinovasi dan
berkreasi.
Oleh karena itu, pemerintah memberi perlindungan terhadap kekayaan
intelektual, khususnya terhadap
produk-produk yang diperdagangkan.
Waktu pendaftaran hak cipta yang
semula selambat-lambatnya tiga
bulan berubah menjadi selambatlambatnya 11 hari. Bahkan, secara
online apabila dokumen lengkap
dapat diselesaikan dalam waktu satu
hari.
Produk KUMKM yang strategis
memiliki daya saing yang diprioritaskan diberi HKI, antara lain, pakaian
dan batik, perhiasan dan aksesoris,
kerajinan tangan, furniture, tas dan
sepatu, serta songket dan tenun.
Sedangkan untuk hak merek produk
UMKM diprioritaskan pada produk
UMKM yang telah memiliki pasar
potensial. Sehingga, produk UMKM
memiliki perlindungan karena memiliki
merek dagang sendiri. •
Restrukturasi Usaha
Perlu Pendamping Usaha di
Setiap Kecamatan
K
ementerian Koperasi dan
UKM mengoptimalisasikan
peran pendamping usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan
memberdayakan koperasi di Tanah
Air. Hal ini sejalan dengan kebijakan
pemerintah dalam meningkatkan
daya saing KUMKM sehingga tumbuh
menjadi usaha yang berkelanjutan
dengan skala lebih besar atau ‘naik
kelas’ sekaligus dalam rangka mendukung kemandirian perekonomian
nasional.
Berdasarkan data Kemenkop dan
UKM, tercatat 59.267.759 unit usaha
mikro atau sekitar 99 persen, usaha
kecil sebanyak 681.522 unit atau 1,15
persen, usaha menengah sebanyak
59.263 unit atau 0,10 persen dan
4.987 unit usaha besar atau 0,1
persen.
Deputi Bidang Restrukturisasi
Usaha Kemenkop dan UKM Abdul
Kadir Damanik mengatakan dengan
jumlah pelaku usaha tersebut, terlihat
adanya struktur ketidakseimbangan
antara jumlah pelaku usaha mikro
dengan usaha kecil, usaha menengah
dan usaha besar.
"Untuk itu, perlu dibantu mewujudkan pola kemitraan antara UMKM
dan usaha berskala besar, sehingga
UMKM mampu memperbesar omset
dan meningkatkan pendapatan bagi
karyawannya. Setidaknya bisa mencapai upah minimum di daerahnya,"
kata Abdul Kadir Damanik.
Dia juga mengatakan, dengan jumlah UMKM yang besar dan sebarannya yang luas mencakup 34 provinsi
dan 514 kabupaten/kota dan sumber
daya pembina yang terbatas, tenaga
pendamping sangat strategis dan
dibutuhkan.
Saat ini, jumlah tenaga pendamp-
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Pelaku UKM di Sukabumi mendapat masukan dari pakar untuk mendorong
peningkatan bisnis melalui PLUT.
ing yang mampu direkrut oleh
Kemenkop dan UKM sebanyak 4.242
orang terdiri dari PNS dan non PNS.
Melalui sinergi dengan BDS di seluruh
Indonesia terdapat tambahan tenaga
pendamping sebanyak 2.253 orang
sehingga jumlah keseluruhan sebanyak 6.495 orang.
"Tapi ini masih di bawah jumlah
kecamatan yang ada sebanyak 7.000an. Baiknya 1 kecamatan 1 pendamping usaha," ujar Damanik.
Terkait program peningkatan kualitas dan kapasitas tenaga pendamping di lingkungan UMKM, telah terbit
Peraturan Menteri Koperasi dan UKM
Nomor: 02/Per/M.KUKM/1/2016
Tentang Pendampingan KUMKM dan
Permenkop Nomor 24/Kep/M.KUKM/
VIII/2016 Tentang Komite Standar
Kompetensi Bidang Koperasi dan
UMKM. Kemudian, atas kerja sama
semua pihak juga terbit Kepmen
Ketenagakerjaan Nomor:181 tanggal
19 Juni 2017 Tentang Penetapan
Standar Kompetensi Kerja Nasional.
"Ke depan, tentunya kegiatan
masih harus terus dilanjutkan dengan
penyusunan Kerangka Kualifikasi
Nasional Indonesia (KKNI) yang akan
ditetapkan dengan keputusan Menteri
Koperasi dan UKM," tukas dia.
Hingga saat ini Kemenkop dan
UKM telah memfasilitasi pembangunan PLUT sebanyak 51 unit, terdiri
dari 24 unit PLUT tingkat provinsi dan
27 PLUT tingkat Kabupaten/Kota.
Sementara untuk tahun 2017, Kemenkop dan UKM bekerja sama dengan
Pemprov Kaltim mengembangkan
program PLUT Mandiri dan akan
direplikasi secara lebih luas pada
tahun-tahun berikutnya.
Lingkup pelayanan PLUT KUMKM
meliputi SDM melalui pelatihan.
Produksi sendiri dilakukan melalui
akses bahan baku, pengembangan
produk, diversifikasi produk, standarisasi dan sertfikasi produk, serta
aplikasi teknologi.
Sementara pembiayaan meliputipenyusunan rencana bisnis, proposal
usaha, fasilitasi dan mediasi ke lembaga keuangan bank dan non bank,
pengelolaan keuangan, dan advokasi
permodalan. Pemasaran meliputi
informasi pasar, promosi, peningkatan akses pasar, pengembangan
jaringan, pemasaran dan kemitraan,
pemanfaatan IT, serta pengembangan
database yang terkait pengembangan
KUMKM. •
2017
9
Sumber Daya Manusia
Aplikasi Lamikro.com
Segera Diluncurkan
(Istimewa)
K
eresahan para pelaku
usaha mikro terkait
sulitnya mengakses dana
atau pembiayaan dari
perbankan atau lembaga keuangan lainnya karena dinilai belum
bankable segera teratasi. Pasalnya,
dalam waktu dekat Kementerian Koperasi dan UKM dalam hal ini Deputi
bidang Pengembangan umber Daya
Manusia akan meluncurkan sebuah
aplikasi keuangan sederhana
berbasis cyber yang diberi nama
Laporan Akuntansi Usaha Mikro
atau Lamikro.
Aplikasi online www.lamikro.
com ini dapat diakses melalui handphone android, iphone, laptop.
Dengan mengklik www.lamikro.com,
pelaku usaha mikro dapat dengan
mudah belajar bahkan langsung
praktik membuat laporan keuangan
dengan baik dan benar.
Deputi bidang Pengembangan
Sumber Daya Manusia Kementerian
Koperasi dan UKM, Prakoso BS
10
2017
menjelaskan, aplikasi ini dirancang
dengan sangat sederhana dan
ramah digunakan, sehingga pelaku
usaha mikro diharapkan dapat
dengan mudah belajar tentang
membuat laporan keuangan, dari
pembukuaan harian hingga membuat neraca rugi/laba.
Prakoso menuturkan, latar belakang dibuatnya aplikasi ini karena
selama ini dalam berbagai pelatihan yang digelarnya, pelaku usaha
mikro banyak mengeluhkan tentang
susahnya membuat pembukuan
atau akuntasi keuangan dengan
benar yang disyaratkan lembaga
keuangan. Akibatnya, mereka selalu
ditolak saat mengajukan pinjaman
ke bank atau lembaga keuangan
lainnya.
“Atas dasar keluhan tersebut,
kami berinsiatif membuat aplikasi ini
(www.lamikro.com). Dengan aplikasi
yang dibuat sangat sederhana dan
mudah ini diharapkan mereka
(pelaku usaha mikro) dapat belajar
dan langsung praktik membuat
laporan keuangan,” kata Prakoso.
Dengan bisa membuat laporan
akuntasi keuangan yang baik dan
benar, kata Prakoso, pelaku usaha
mikro dapat memenuhi persyaratan
yang diwajibkan oleh perbankan
atau lembaga keuangan lainnya saat
mereka akan mengajukan pinjaman.
“Kami berharap dengan memdapat
pinjaman atau tambahan modal,
pelaku usaha mikro segera naik
kelas menjadi usaha kecil hingga
menengah,” harapnya.
Selain itu, lanjutnya, melalui
aplikasi berbasis internet tersebut,
Kementerian Koperasi dan UKM
dapat memperoleh data yang valid
tentang keberadaan usaha mikro di
Tanah Air. Bukan hanya itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga dapat
memantau perkembangan mereka.
Asisten Deputi bidang Kewirausahaan dan Pengembangan SDM
Kemenkop dan UKM, Budi Mustopo
menambahkan, aplikasi tersebut
sebenarnya sudah bisa diakses,
namun masih dalam tahap uji coba.
Sampai saat ini sudah ada sekitar
200-an pelaku usaha mikro yang
memanfaatkan fasilitas ini.
“Kami rencanakan aplikasi ini dapat
di luncurkan secara resmi paling
lambat akhir tahun ini,” katanya.
Budi menambahkan, dengan menggunakan Aplikasi Laporan Keuangan Akuntansi ini diharapkan para
pelaku usaha mikro seluruh Indonesia dapat memonitoring aktivitas
keuangannya.
“Aplikasi pembukuan ini dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
Dan sengaja dirancang untuk menjadi fleksibel dengan banyak pilihan
berbasis pengguna,” pungkasnya. •
Layanan Pembiayaan
Membangun Koordinasi
Strategis Membentuk Jamkrida
H
ingga kini porsi kredit UMKM
pada perbankan nasional
tercatat hanya sebesar 20,4%
atau sekitar Rp900,39 triliun, dari
total keseluruhan yang mencapai
Rp4.413,41 triliun. Artinya, UMKM
masih diidentifikasi sebagai unit bisnis
yang berisiko tinggi, tidak terkelola
dengan baik, lemah dalam administrasi, dan tidak memiliki agunan
yang disyaratkan perbankan. Dengan
kondisi seperti itu, maka kehadiran
perusahaan penjaminan kredit atau
Jamkrida di seluruh Indonesia, ibarat
sebuah jantung di tubuh manusia.
Sayangnya, masih ada 16 provinsi
yang hingga kini belum memiliki Jamkrida. Ke-16 provinsi yang belum memiliki Jamkrida adalah Aceh, Sumatra
Utara (Sumut), Kepulauan Riau (Kepri),
Lampung, Bengkulu, Jambi, DI Yogyakarta, Kalimantan Utara (Kaltara),
Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Barat
(Sulbar), Sulawesi Tenggara (Sultra),
Sulawesi Tengah (Sulteng), Gorontalo,
Maluku, dan Maluku Utara. “Padahal, pembentukan Jamkrida merupakan social engineering yang nyata
bagi UMKM agar memiliki akses ke
lembaga perbankan terkait perkuatan
permodalan,” papar Deputi Bidang
Pembiayaan Kementerian Koperasi
dan UKM Yuana Sutyowati.
Oleh karena itu, Kementerian
Koperasi dan UKM bersama Kementerian Dalam Negeri dan Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) melakukan koordinasi strategis guna pembentukan Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah
(PPKD) atau Jamkrida di 16 provinsi
yang belum memiliki perusahaan penjamin tersebut. “Kami akan melakukan
penguatan akses kelembagaan secara
sistemik, termasuk membangkitkan
komitmen para kepala daerah khusus-
nya Gubernur, untuk segera mendirikan Jamkrida,” kata Yuana.
Sampai saat ini, telah terbentuk
21 perusahaan Penjaminan Kredit,
dimana 18 diantaranya dimiliki Pemda
seperti Jawa Timur (Jatim), Bali,
Riau, Nusa Tenggara Barat (NTB),
Jawa Barat (Jabar), Sumatra Barat
(Sumbar), Kalimantan Selatan (Kalsel),
Sumatera Selatan (Sumsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), Bangka Belitung
(Babel), Banten, Nusa Tenggara Timur
(NTT), Kalimantan Timur (Kaltim),
Papua, Jawa Tengah (Jateng), DKI
Jakarta, Kalimantan Barat (Kalbar),
dan Sulawesi Selatan (Sulsel). Secara
nasional, total aset seluruh Jamkrida
sebesar Rp16 triliun, dimana Rp14
triliun merupakan aset Perum Jamkrindo. Selebihnya, sebesar Rp2 triliun
adalah aset 18 PT Jamkrida. Tercatat
Jamkrida dengan asset terbesar
adalah PT Jamkrida DKI Jakarta sebesar Rp316 miliar.
Hanya saja, kata Yuana, dengan
jumlah aset itu, kinerja yang diukur dari jumlah kredit yang dijamin
belumlah optimal. “Untuk itu, lembaga
keuangan khususnya perbankan
diharapkan memanfaatkan potensi
yang dimiliki PT Jamkrida untuk meningkatkan akses pembiayaan UMKM.
Dengan demikian, target pemerintah
terkait kredit berjaminan pada 2019
sejumlah 25% dapat tercapai,” tukas
Yuana.
Menurut Yuana, penjaminan kredit
di daerah merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses kredit yang berfungsi sebagai penambah keyakinan
kreditur terhadap potensi risiko kredit.
“Dampak yang ditimbulkan adanya
penjaminan kredit adalah peningkatan
jumlah kredit yang disalurkan kreditur
terhadap debitur khususnya KUMKM,
yang diukur dari besaran Gearing
Ratio,” kata Yuana.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum
Kemendagri Widodo Sigit Pudjianto
menegaskan tahun ini ditargetkan
semua provinsi sudah memiliki
Jamkrida. “Karena ini merupakan
amanah Presiden RI yang tertuang
dalam Nawacita, dimana negara harus
hadir dalam pemberdayaan UMKM di
seluruh Indonesia,” tandas Widodo.
Dengan adanya Jamkrida, lanjut
Widodo, maka manfaat besar bisa diambil oleh UMKM di antaranya, usaha
mikro dan kecil lebih berkesempatan
mendapatkan kredit tanpa harus
menyediakan jaminan atau agunan
yang kerap kali tidak dimiliki oleh
para pelaku UMKM. Dengan begitu,
mereka tidak akan lagi terjerat rentenir
yang mencekik. •
2017
11
LPDB KUKM
LPDB-KUMKM Menuju
Lembaga Inklusif
juga mengungkapkan bahwa LPDB
sedang fokus untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi berbasis
syariah yaitu dengan meluncurkan
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Dirut LPDB KUMKM Braman Setyo memberikan sambutan dalam acara
sosialisasi Direktorat Pembiyaan Syariah LPDB KUMKM.
L
embaga Pengelola Dana
Bergulir Koperasi Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah
(LPDB-KUMKM) di bawah kepemimpinan Braman Setyo mengusung paradigma baru yakni ingin
menjadikan LPDB-KUMKM sebagai
lembaga yang inklusif. Selanjutnya
diharapkan dengan paradigma baru
itu LPDB-KUMKM bisa menjalin
kemitraan strategis dengan berbagai stakeholders yang membidangi
koperasi dan UKM di daerah dalam
program penyaluran dana bergulir.
“Hal yang ingin saya sampaikan
bahwa selama ini timbul kesan
di tataran dinas bahwa LPDB itu
eksklusif. Oleh karena itu, saya ingin
lembaga ini inklusif, tidak eksklusif.
Kalau ekslusif, kita tidak akan punya
teman,” kata Braman. Braman akan menjadikan dinas
koperasi dan UKM sebagai ujung
tombak untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev), sekaligus
mengupayakan pengembalian dana
bergulir yang telah disalurkan kepada mitra LPDB-KUMKM. Menurut
dia, selama ini LPDB terkesan sangat eksklusif. Dinas yang mempunyai kewenangan membina koperasi
12
2017
dan UKM di daerah serinngkali tidak
dilibatkan dalam program penyaluran dana bergulir. Sehingga praktis
nilai bantuan perkuatan modal yang
diberikan tidak diketahui jumlahnya. “Ini nanti kita lakukan bersama.
Saya inginkan nanti ketika koperasi
yang ada di lingkup daerah masingmasing setelah dapat persetujuan
dari LPDB, akan kami informasikan
berapa dana yang dikucurkan LPDB
kepada dinas setempat,” ungkap
Braman.
Ia ingin dana bergulir yang disalurkan bisa tepat sasaran, yakni
kepada mitra yang benar-benar
memenuhi syarat kelayakan sebagai
penerima. Misalnya koperasi yang
berkualitas dan UKM yang kegiatan
usahanya produktif. Maka keterlibatan dinas untuk menilai kelayakan
koperasi dan UKM sangat diperlukan, kata Braman. “Banyak kasus terjadi saat ini.
Jadi saya berharap dinas kiranya
bisa kita sinergikan tentunya agar
kita bisa bekerja sama dalam rangka
penyaluran dana bergulir sehingga
tidak terhambat,” tandasnya.
Mantan Kepala Dinas Koperasi
dan UKM Provinsi Jawa Timur itu
direktorat khusus pembiayaan
syariah. Upaya ini diharapkan dapat
menjadi opsi bagi pelaku UKM
termasuk koperasi untuk mengembangkan sayap bisnisnya.
Namun diakuinya penyerapan
dana bergulir dari LPDB yang
pada 2017 ini sebesar Rp1,5 triliun
faktanya memang masih kurang
merata. Mayoritas program pembiayaan ini masih terfokus di Sumatra
dan Jawa. Sementara di wilayah
lain seperti Sulawesi, Kalimantan,
Papua, dan lainnya masih tergolong
rendah.
Sementara untuk mendukung
gerakan wirausaha pemula,
pihaknya juga memformulasikan
program bantuan pendanaan yang
spesifik. Dia juga mengharapkan
konsep pembiayaan bagi bisnis
start up itu dapat segera digulirkan.
Kepala Dinas koperasi dan UKM
Provinsi Jawa Timur Mas Purnomo
Hadi mengusulkan perlunya penandatanganan nota kesepahaman
bersama (MoU), ataupun Perjanjian
Kerja Sama (PKS) dalam membentuk mitra strategis yang dimaksud.
Dengan begitu jenjang pembinaan
mulai dari tingkat kabupaten-kota,
hingga provinsi dapat terarah. “Saya pikir lebih baik dilakukan
(PKS) untuk meningkatkan kualitas
pelayanan di semua lini, sehingga
semua bisa berjalan lancar, sehingga tidak ada yang ditutup-tutupi
dalam rangka pelaksanaan kegiatan
penyaluran dana bergulir,” tukas
Mas Purnomo. •
LLP-KUKM
SMESCO Gandeng UMN
Kembangkan Kewirausahaan
M
elibatkan perguruan tinggi
untuk menumbuhkan lebih
banyak wirausaha baru
dianggap sebagai salah satu cara
yang sangat efektif, sebab perguruan tinggi selama ini terbukti menjadi
wadah bibit-bibit unggul generasi
muda yang akan memimpin masa
depan bangsa.
Oleh karena itulah Lembaga
Layanan Pemasaran Koperasi dan
UKM (LLP-KUKM) sebagai pengelola Smesco Indonesia menggandeng salah satu perguruan tinggi
ternama di ibukota yakni Universitas
Multimedia Nusantara (UMN) untuk
bersama-sama mengembangkan
dan mencetak wirausaha muda.
Terlebih sebagai perguruan tinggi
berplatform modern, UMN dinilai
sangat ideal untuk bisa menjadi
wadah bibit wirausaha muda yang
mumpuni di bidang teknologi dan
informasi. Direktur Utama LLPKUKM Emilia Suhaimi mengatakan
kerja sama dengan UMN salah satunya akan mencakup soal pengembangkan laboratorium kewirausahaan.
’’UMN kami gandeng sebagai mitra kerja baru untuk mengembangkan kewirausahaan dan mendukung
Smesco sebagai tulang punggung
dan menjadikan laboratorium kewirausahaan,” ujar Emilia.
Bahkan, kata Emilia, kerja sama
tersebut diperkuat dengan nota
kesepahaman yang bertujuan untuk
memperkuat sinergi dan menyelaraskan program serta kegiatan
kewirausahaan kemahasiswaan
khususnya untuk bidang KUMKM. Selain itu, kata Emilia, UMN
yang berbasis IT sepakat bersama
Smesco mempersiapkan technopre-
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Direktur Utama LLP-KUKM Emilia Suhaimi MoU dengan Universitas
Multimedia dalam hal mengembangkan dan mencetak usaha.
neur yang potensial dan menjadikan
Smesco Gallery Indonesia WOW sebagai laboratorium kewirausahaan.
“Smesco bersama UMN juga
akan menjalin dan mengembangkan hubungan bisnis para start-up
entrepreneur,’’ kata Emilia.
Emilia juga berharap kerja sama
tersebut mendorong semakin
banyak mahasiswa di Indonesia
secara umum agar bisa mengubah
paradigm dari pencari kerja menjadi
pencipta lapangan pekerjaan.
Menurut Emilia, kini sudah banyak
kemudahan yang disediakan pemerintah untuk membantu wirausaha
pemula semakin berkembang.
“Untuk pemasaran misalnya,
mereka bisa menjadi mitra Smesco
yang akan terus dibimbing dan
dibina sampai bisa terjun ke pasar
ekspor. Untuk ekspor pun beberapa kami fasilitasi termasuk untuk
berpromosi dalam pameran baik
di dalam maupun di luar negeri,”
katanya.
Emilia sekaligus berharap ke
depan Smesco Indonesia bisa
menjadi salah satu instrumen yang
dapat dimanfaatkan generasi muda
yang ingin menjadi wirausaha untuk
mengembangkan usahanya.
Sebelumnya, Rektor Universitas
Multimedia Nusantara (UMN) Ninok
Laksono mengatakan salah satu
usaha yang dapat bisa diciptakan
lulusan sarjana adalah membuat
perusahaan rintisan atau startup.
Namun, kata dia, membuat startup perlu inovasi dan menggunakan
teknologi yang tinggi, sehingga
dapat bersaing dengan startup dari
negara lain. “Jadi membuat startup itu jangan
hanya punya saja, tetapi harus
terus berinovasi dan menggunakan
teknologi. Ini adalah tahap yang
paling canggih. Dan kita harapkan
adanya terobosan dari startup yang
sudah ada,” tandasnya. Menurut data Badan Pusat Statistik
(BPS) jumlah wirausaha Indonesia
sebanyak 7,9 juta atau 3,1 persen
dari jumlah penduduk Indonesia
sebanyak 252 juta orang.
Jumlah wirausaha tersebut tergolong masih kecil dibandingkan
negara tetangga seperti Malaysia
yang sudah mencapai sebesar 5
persen dari penduduknya. •
2017
13
Pengawasan
Cegah Koperasi Jadi Wadah
Pencucian Uang
M
odus kejahatan di industri jasa keuangan dan
koperasi semakin beragam seiring dengan perkembangan
teknologi dan informasi. Maka untuk
meminimalisasi masalah tersebut
tidak berkembang, Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM
mengeluarkan kebijakan untuk penangkal kejahatan di industri tersebut,
khususnya koperasi.
Kebijakan tersebut berupa Peraturan Menteri Koperasi dan UKM
Nomor 06/PER/M.KUKM/V/2017
tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa bagi Koperasi yang
Melakukan Kegiatan Simpan Pinjam.
Kepmen ini salah satunya bertujuan
untuk mencegah dan melindungi
koperasi dari tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Permenkop itu memiliki ruang
lingkup pengawasan aktif pengurus,
pengelola dan pengawas, kebijakan
dan prosedur, pengendalian internal
sistem informasi dan pelaporan, dan
SDM serta peningkatan kapasitas
bagi koperasi. “Dalam pelaksanaannya, regulasi baru ini dilakukan secara berjenjang sesuai dengan cakupan wilayah keanggotaan koperasi,”
kata Deputi Bidang Pengawasan
Kementerian Koperasi dan UKM,
Suparno pada acara sosialisasi bertema pencegahan dan penindakan
14
2017
investasi ilegal tindak pidana pencucian uang dan pendanaan teroris
bagi koperasi, di Jakarta, beberapa
waktu lalu.
Pihaknya menyatakan akan
mengawasi koperasi dengan wilayah
keanggotaan lintas provinsi. Untuk
wilayah keanggotaan lintas kabupaten/kota dalam satu provinsi
pengawasan akan dilakukan oleh
Gubernur. Sedangkan koperasi yang
keanggotaannya hanya dalam satu
wilayah kabupaten/kota pengawasannya akan dilakukan oleh
Bupati/Walikota.
Sebagai anggota komite TPPU
(Tindak Pidana Pencucian Uang),
lanjut Suparno, Kemenkop dan UKM
bertanggung jawab untuk turut serta
menjaga nama Republik Indonesia
sehingga dapat memenuhi rekomendasi yang disampaikan oleh Financial
Action Task Force (FATF). “Untuk
itu, kami sudah melakukan beberapa
upaya. Di antaranya, penandatanganan MoU pencegahan pencucian
uang dengan PPATK pada 17 Oktober 2016, kerja sama pelatihan dengan PPATK di beberapa daerah bagi
koperasi yang mempunyai kegiatan
usaha simpan pinjam,” paparnya.
Selain itu, juga telah disiapkan
beberapa koperasi yang telah dilatih
oleh Kemenkop dan UKM dan
PPATK dalam rangka persiapan
kunjungan dari Tim FATF. “Kita juga
telah melakukan kegiatan sosialisasi
Permenkop ini di tiga tempat, yaitu
Jambi, Tasikmalaya, dan Jember,”
imbuh Suparno.
Di samping itu, kata Suparno,
untuk melindungi KSP, Kemenkop
dan UKM sudah menjalin kerja sama
pemberantasan investasi bodong
dalam Satuan Tugas Waspada
Investasi. Satgas ini beranggotakan
OJK, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti),
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri
Kemendag, Bareskrim Mabes Polri,
Kejaksaan Agung, Kemenkop dan
UKM, Kominfo, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
“Satgas ini pula yang nantinya akan
dimaksimalkan memberantas koperasi yang jadi wadah pencucian uang.
Selain Satgas di pusat, pengawasan pencegahan pencucian uang juga
akan dilakukan di daerah-daerah
dengan pembentukan Satgas Pengawasan Koperasi di provinsi dan
kabupaten/kota,” tandas Suparno.
Untuk mencegah koperasi masuk
dalam kategori investasi bodong
dan pencucian uang, menurut dia,
ada tiga hal yang harus diperhatikan.
Pertama, legalitas koperasi dimana
koperasi harus memiliki izin usaha
sesuai dengan bidang usahanya.
Misalnya, KSP atau unit simpan
pinjam. Kedua, harus sesuai dengan
prinsip-prinsip koperasi berdasarkan
hasil keputusan RAT. Ketiga, koperasi harus fokus untuk kesejahteraan anggotanya, bukan ke luar dari
fokus ke anggota. Dengan begitu
maka ke depan diharapkan koperasi
tidak menjadi wadah pencucian uang
bahkan pendanaan terorisme. •
Inspirasi UKM
Perjuangan Sukses Pembuat
Roti Gaplek
(Dok.Pribadi)
S
uatu kesuksesan tidak akan
datang secara tiba- tiba. Kesuksesan bisa diraih dengan
ketekunan, keuletan, kerja keras,
penuh perjuangan, pengorbanan dan
pantang menyerah dalam menjalani
setiap proses. Maka sukses memerlukan perjalanan panjang.
Itulah prinsip hidup yang dipegang
teguh oleh Yadi Putra Prima yang
sering dipanggil dengan Mas Yadi,
warga Desa Tangulangin, Kecamatan
Jatisrono, Kabupaten Wonogiri,
Jawa Tengah. Yadi yang pernah
mendapatkan bantuan Wirausaha
Pemula (WP) dari Kementerian Koperasi dan UKM ini, kini bisa dibilang
telah meraih sukses menjadi pengusaha roti berbahan baku gaplek
bermerek “Mutiara Prima Bakerry”
yang sekarang beromset ratusan juta
perbulan.
Kesuksesan ini tidak diraih
dengan mudah, namun butuh
perjuangan dan perjalanan panjang.
Mas Yadi yang lahir di Wonogiri, 23
Oktober 1975 itu pernah bekerja
menjadi buruh bangunan di Jakarta.
Pada 1990 ia pulang lalu melanjutkan
sekolah di MTs di Madiun Jatim.
Yadi bisa melanjutkan sekolah,
berkat tak malu untuk ngenger (ikut
orang) pemilik Yayasan Nurul Iman di
Dusun Ngendut, Desa Pucanganom,
Kebonsari, Madiun.
Selama tiga tahun sekolah, Yadi
bekerja membantu pemilik yayasan
mengolah lahan pertanian. Setelah
lulus MTs Yadi pulang ke Jatisrono
dan melanjutkan sekolah di STM
Pancasila 2 Jatisrono jurusan mesin
industri hingga lulus pada 1998.
Setelah itu Yadi bekerja sebagai
kondektur Bus PO Sri Mulyo Agung
Plaosan Magetan selama setahun.
Pada 2001 ia banting setir bekerja
sebagai sales roti. Dagangan roti dari
Solo diloper ke wilayah Jatisrono
dan sekitarnya, dengan mobil Suzuki
Carry truntung (ST20).
Mulai saat itu perlahan tetapi
pasti Yadi belajar merintis jaringan.
Setiap hari pelanggannya bertambah
dan terus berkembang. Pada 2004
Yadi memberanikan diri untuk mulai
memproduksi sendiri di rumah orang
tuanya berupa roti semir seharga
Rp500 perbuah. Omset penjualan
1 bulan kala itu sekitar Rp8 jutaan. Usaha itu dikerjakan oleh Yadi,
2017
15
(Dok.Pribadi)
istri, dan adiknya. Namun, proses
produksi hanya bertahan selama
setahun. Pada 2005 ia berhenti berproduksi dan beralih ke usaha peternakan.
Ia beternak sapi dan kambing dengan modal Rp20 juta. Namun, usaha
ini tak memberikan hoki kepadanya,
ia bahkan bangkrut ketika itu.
Akhirnya Yadi kembali menekuni
usaha roti dengan mengunakan
merek “Mutiara Prima”. Kali ini Yadi
melakukan terobosan melayani
pesanan roti untuk pesta, hajatan,
acara pengajian, dan lainnya.
Produknya beragam mulai dari
roti bolu gulung, mandarin, hingga
krumpul sebagai bingkisan tamu undangan. Omset pun perlahan mulai
naik. Yadi dan istri juga turut serta
untuk memasarkan. Karena kerepotan menangani pesanan ia merekrut
3 karyawan bagian produksi. “Omset
perbulan perlahan-lahan mulai naik
mencapai Rp100 juta. Setiap tahun
berkembang terus,” katanya.
Kala itu untuk operasional pemasaran ia mengunakan mobil Suzuki
16
2017
Carry keluaran 1986. Sejak itu setiap
tahun omset naik dan karyawan
terus bertambah. “Saat ini sudah ada
27 karyawan,” kata Yadi.
Karyawan terdiri dari bagian
produksi 20 orang, 7 orang sales
dengan kendaraan operasional
sebanyak tiga unit mobil boks dan
1 unit mobil blind-fan (mini bus)
untuk distribusi wilayah Wonogiri,
Ponorogo, Madiun Magetan, Pacitan,
Wonosari, Boyolali, dan Soloraya.
“Omset perbulan mencapai Rp250300 juta. Merek dagang Mutiara
Prima kini memiliki 17 jenis produk
roti kering dan basah,” ujarnya.
Yadi pun terus berusaha
mengembangkan pemasaran
produknya yang terbuat dari tepung
mokaf atau gaplek. Pada Agustus
2017, ia mengikuti Festival Indonesia
Moscow, Rusia. Dalam festival yang
digelar di Kedutaan Besar Indonesia
di Moscow ini, Yadi berhasil membuat warga Rusia terkesan.
Kala itu Yadi membawa produk unggulannya, yakni roti kering kemasan
kaleng yang dia beri nama Inagiri,
akronim dari Indonesia Wonogiri.
Sebanyak 100 kaleng Inagiri yang
dibawanya langsung ludes pada hari
pertama kegiatan. Hari berikutnya, Yadi hanya dapat
mempromosikan produk melalui
selebaran berisi profil tempat usaha
(company profile), katalog, kartu
nama, dan melakukan business
machting.
“Inagiri ini memang bukan sembarang roti. Inagiri produk gluten
free murni dari bahan tepung mokaf
yang dipadukan dengan rempah
asli, seperti cengkih, kayu manis,
jahe, pala, dan sebagainya. Sebelum
dipasarkan Inagiri sudah melalui tes
laboratorium Balai Industri Semarang,” ungkapnya.
Karena itu, tak heran jika dalam
festival tersebut, Inagiri masuk 10
besar nominasi Food Start Up Indonesia. “Saya mendapat sambutan
luar biasa dari Kedubes karena dinilai
bisa mandiri dan semangat untuk go
international. Selain itu warga Rusia
sangat antusias menikmati Inagiri,”
kata Yadi dengan bangga. •
Tokoh
Korporatisasi Petani Ala
Luwarso
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
P
ersoalan ketahanan pangan,
minimnya kesejahteraan
petani, produksi rendah, rantai
pasok yang sarat dengan pemburu
rente menjadi masalah pertanian yang
paling klassik. Bak benang kusut,
masalah itu menjadi beban tersendiri
bagi pemerintah.
Adalah BUMR Pangan Terhubung di
desa Sukaraja, Kabupetan Sukabumi,
Jawa Barat yang berhasil mengurai
kerumitan persoalan pertanian dan
pangan itu. BUMR Pangan Terhubung ini pemiliknya bukan pengusaha kaya tapi para petani. Sahamnya
dimiliki lebih dari 1.200 petani melalui
Koperasi Ar-rohmah. BUMR Pangan
adalah usaha produksi beras dari
hulu hingga hilir, dari penanaman padi
hingga pemasaran dalam satu sistem
yang dikelola dalam skala industri.
Otak dibalik berdirinya BUMR Pangan
itu adalah Luwarso. Pria berkacamata
ini mengisahkan membangun BUMR
Pangan Terhubung melalui proses
yang sangat panjang dimulai sejak
1994. Dia bercerita, awalnya dirinya
hanya seorang penjual nasi goreng.
Sebagai penjual nasi goreng, Luwarso
wajib mendapatkan suplai beras yang
2017
17
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Luwarso berfoto bersama Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga sambil
memegang beras Caping Gunung produksi BUMR Pangan Terhubung.
stabil. Namun kenyataan, seringkali
kualitas beras yang didapat berbedabeda dan pasokannya kadang tidak
menentu.
Kondisi ini lantas mendorongnya
membeli beras langsung dari penggilingan padi. Sejak itu, Luwarso
mendapatkan kualitas beras secara
konsisten. Bahkan dia memasarkan
100% produksi beras dari penggilingan padi tersebut ke sesama penjual
nasi goreng, warung makan dan hotel.
Namun, sejalan waktu, bisnis menjual
beras diterpa badai. Penggilingan padi
tersebut hendak dijual pemiliknya.
Ini membuatnya harus memutar otak
kembali, apalagi dia sudah terikat
kontrak dengan perusahaan katering.
Mau tidak mau, agar bisnis menjual
18
2017
berasnya berjalan terus, Luwarso
memberanikan diri membeli penggilingan padi tersebut.
“Penggilingan padi itu akhirnya kami
miliki. Saya pikir masalah sudah
selesai. Tetapi kenyataannya, muncul
masalah lagi, gabah dari petani ajrutajrutan. Suplai gabah dari petani
malah tidak menentu,” tutur Luwarso.
Agar menjamin pasokan gabah
lancar, dia langsung mencari petani
dan membuat kesepakatan akan
memasok ke penggilingan padinya.
Di sini, Luwarso menemukan fakta
berbagai masalah petani yang menyebabkan ketidakstabilan panen.
Ternyata petani menghadapi berbagai
faktor kendala, antara lain kekurangan
modal untuk biaya produksi dan ke-
mampuan teknis bertani yang masih
rendah.
Dia mengatakan, harus ada
jalan keluar agar petani berproduksi
dengan baik. Luwarso lantas mengajak para petani mendirikan BMT
Rohmah. Lewat BMT Rohmah
ini, petani yang kekurangan modal
bisa mendapatkan pinjaman untuk
membeli benih, pupuk dan lainnya.
Dananya berasal dari hasil penggilingan padi.
“Kami tidak mengenakan bunga atas
semua pinjaman itu, berapa yang
dipinjam petani sebesar itu juga yang
dikembalikan. Hanya administrasi
saja. Sumber dananya dari penggilingan padi,” kata Luwarso seraya
mengatakan BMT Rohmah kemudian
berubah menjadi Koperasi Ar-rohmah.
Untuk memperkuat produksi, sebelumnya juga dibentuk Gapoktan SAPA
(Sentra Pelayanan Agribisnis) sebagai
wadah untuk mengembangkan
pertanian dengan sekala yang lebih
besar, sekaligus sebagai wadah dalam
pengembangan sumberdaya manusia
(petani anggota). Selain itu, badan
usaha “PB. Tunggal Jaya” sebagai
penyedia sarana produksi pertanian
untuk memenuhi kebutuhan saprotan. Luwarso mengatakan banyak belajar
bagaimana mengembangkan bisnis
pertanian agar mampu menyejahterakan petani. Melalui SAPA, dikembangkan sistem IT pertanian, lembaga
riset, badan usaha prosesing.
Line Bisnis
Setelah melalui proses yang cukup
lama dan melihat keberhasilan pengelolaan SAPA, koperasi kemudian mendirikan PT BUMR Pangan
Terhubung pada 2016 yang fokus
pada pengembangan bidang pangan.
Dalam wesbiste resminya, disebutkan
BUMR adalah solusi terhadap kelemahan struktural koperasi, usaha kecil
dan mikro untuk menjadi lembaga
pelaku ekonomi yang memiliki posisi
yang sejajar dengan badan-badan
usaha lain sesuai dengan strategi
pemberdayaan ekonomi Pancasila. BUMR Pangan Terhubung ini menjadi
line bisnis koperasi. BUMR Pangan
membeli seluruh panen petani, mengolahnya hingga distribusi dan pemasaran. Harga gabah dibeli diatas HPP,
yakni 4.000 per kg. Selain itu ada unit
riset pangan, unit pembiayaan, Saat
ini ada lebih 1.200 petani dengan luas
lahan 1.000 hektar yang tergabung
dalam koperasi Ar-rohmah.
Koperasi Ar-rohmah juga mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi
berasnya.
Usaha tersebut memanfaatkan quadcopter nirawak untuk memeriksa keadaan tanaman padi dan juga aplikasi
digital dalam perawatan tanaman.
“BUMR Pangan menangani bisnisnya, sedangkan koperasi Ar-Rohmah
berperan mewadahi petani, melakukan
pendampingan kepada petani, memberikan pembiayaan kepada petani,”
jelas Luwarso, yang merupakan ketua
Koperasi AR-rohmah.
Dia menyebut skala ekonomi dalam
satu klaster pangan seharusnya
dengan luasan lahan 5.000 hektar.
Dengan konsep klaster pangan yang
dibangun, Luwarso mengatakan
banyak petani yang ingin tergabung,
sehingga dia yakin target 5.000 hektar
lahan dapat tercapai.
BUMR Pangan Terhubung kini memiliki unit usaha penggilingan padi
modern, dengan produksi 1,5 ton
beras per jam, unit jaringan pemasaran yang luas, dan unit sistem
pertanian terpadu. Jaringan pemasaran dilakukan oleh BUMR langsung
ke konsumen yang disebut dengan
supply chain management end to end.
Pemasarannya dengan sistem online
langsung ke konsumen, rumah makan,
warteg, restoran, katering dan perhotelan. Dengan sistem ini, Luwarso
mengatakan, pihaknya bisa mengelola
stok dengan tepat sesuai kebutuhan
konsumen. Beras dengan merek
Caping Gunung itu, memiliki lima varian, yakni blue label, black label, gold
(Dok.Widiarso Arso)
label, green label dan red label.
“Kami tidak pakai gudang. Panen
hari ini, digiling hari ini, distribusikan
hari ini. Jadi 23 jam harus sampai
konsumen, Kalau ada gudang berarti
saya harus ada ongkos logistik. Orang
makan tiap hari kenapa harus disimpan di gudang,” kata Luwarso yang
menjadi Founder di BUMR Pangan
Terhubung.
BUMR ini juga sudah memproduksi
sendiri benih, pupuk, pestisida. Selain
itu, melalui unit riset hendak dikembangkan produk ready to eat. Targetnya 30% dari total produksi menjadi
produk siap saji. Untuk itu, pihaknya
melakukan bekerjasama riset dengan
lebih dari 10 perguruan tinggi.
Dipuji Presiden
Sistem bisnis pangan yang dibangun
oleh Luwarso ini membuat banyak
pihak tertarik. PT Pertamina (Persero) turun memberikan pembiayaan
kepada petani dengan nilai Rp 13,4
juta per petani. Bahkan membuat
Presiden Jokowi juga kepincut.
Saat berkunjung ke BUMR Pangan
Terhubung baru-baru ini, Presiden
memuji BUMR itu karena konsep
korporasi petani dilakukan secara menyeluruh dari mulai pengolahan sampai pemasarannya. Presiden bahkan
meminta konsep koperasi dan BUMR
Pangan direplikasi ke daerah lain.
“Ini adalah sebuah pengkorporasian
petani, ya ini. Contoh yang sudah
konkret dan sudah saya lihat sejak
awal sampai akhir, ini yang saya cari,”
kata Jokowi.
Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga mengatakan konsep BUMR Pangan akan dibangun di 65 klaster pangan di seluruh Indonesia. Puspayoga
mengatakan koperasi harus menjadi
basis ketahanan pangan nasional.
Untuk mewujudkannya pengelolaan
koperasi perlu direformasi dengan
pengembangan ke arah korporatisasi.
Sehingga pertanian tidak lagi hanya
bicara soal teknis tapi juga bisnis.
Dengan konsep ini, kluster pangan yang didirikan adalah berbasis
koperasi yang beranggotakan petani.
Koperasi kemudian mendirikan
BUMR pangan berbentuk perseroan
terbatas (PT) untuk menampung dan
memasarkan produk petani. Dengan konsep kluster pangan, pertanian
dari hulu hingga hilir dikelola dalam
satu sistem sehingga tidak memberi
celah masuknya tengkulak pangan.
Luwarso yakin dalam satu tahun
65 klaster pangan yang ditargetkan
dapat tercapai, jika koperasi mau
serius dan pemerintah konsisten
memfasilitasi dan mencari sistem
pembiayaan. Investasi untuk membangun satu klaster diperkirakan
mencapai Rp 48 miliar. Dia sudah
menghitung, jika 65 klaster pangan,
dengan skala ekonomi 5.000 hektar
lahan terwujud akan memiliki nilai
buku mencapai Rp 900 triliun pada
tahun 2020. Cita-citanya, semua
BUMR Pangan itu membentuk holding yang selanjutnya akan melantai di
bursa saham. •
2017
19
Kabar Daerah
Sukabumi, Ketika Koperasi dan
UKM Tumbuh Seiring
(Dok.Humas Kemenkop UKM)
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM meninjau stand UKM pada saat
pameran Forum Kewirausahaan Pemuda Kabupaten Sukabumi.
D
alam sejarahnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa
Barat, merupakan salah
satu wilayah penggerak koperasi
yang aktif. Bahkan ada saat ketika
koperasi di kabupaten tersebut
mencatatkan jumlah yang terbanyak dibandingkan kabupaten lain di
Provinsi Jawa Barat.
Sayangnya seiring berjalannya waktu, banyak koperasi yang
terhempas dan tak mampu bersaing,
tidak melaksanakan Rapat Anggota
Tahunan (RAT), dorman, hingga tertinggal papan namanya saja. Meski
beberapa koperasi yang lain mampu
merespon perkembangan zaman
dengan lebih baik.
Kini, jumlah koperasi yang aktif
di Kabupaten Sukabumi tertinggal
sekitar 360 unit. Jumlahnya relatif
kecil mengingat secara keseluruhan
koperasi di Kabupaten Sukabumi
mencapai 1.800 unit. Di sisi lain,
jumlah UMKM (Usaha Mikro Kecil
Menengah) di Kabupaten Sukabumi
tumbuh terus dan kini mencapai
27.000 unit usaha.
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
20
2017
Sukabumi Asep Jafar mengatakan
saat ini cukup banyak jumlah
koperasi di Kabupaten Sukabumi
yang tercatat, namun yang koperasi
aktif kurang tidak lebih dari 400 unit.
“Meskipun kondisinya seperti itu
dengan dukungan Bupati, kami akan
terus mendorong pelaku koperasi
agar bisa meningkatkan kualitas
koperasi yang ada di Kabupaten
Sukabumi,” katanya.
Untuk mendukung upaya perkuatan permodalan koperasi misalnya,
setiap koperasi biasanya mengajukan bantuan ke pemerintah pusat
melalui Kementerian Koperasi dan
UKM. Dan agar dana bantuan tak
disalahgunakan, Asep menekankan,
instansi yang dipimpinnya selalu ikut
mengawasi. Namun bentuk pengawasannya pun kadang sulit dilakukan. “Cukup sulit memang. Mereka
sudah pandai mencari bantuan dari
pusat,” tambah Asep.
Ke depan Asep mengaku akan
lebih memperketat proses seleksi
bagi koperasi yang akan mengajukan bantuan ke pusat. Langkah itu
perlu dilakukan agar bantuan yang
diberikan bisa dipergunakan seb-
agaimana mestinya sesuai peruntukkan. “Kalau untuk pembekuan bagi
koperasi yang tersandung hukum
belum bisa kita lakukan. Yang
diduga terlibat itu mungkin hanya
ketua dan beberapa pengurus lainnya,” ucapnya.
Asep mengatakan pihaknya akan
terus mendampingi setiap koperasi.
Utamanya membantu pengembangan koperasi agar lebih maju.
“Jika dikelola dengan baik, tentunya
konsep pemberdayaan masyarakat
dengan koperasi bisa berdampak
baik, khususnya dari sisi kesejahteraannya,” katanya.
Berbanding terbalik dengan koperasi, saat ini ribuan usaha rakyat di
Kabupaten Sukabumi bermunculan
seiring dengan berkembangan media digital, khususnya media sosial.
Kini tak kurang dari 27.000 UMKM
yang tercatat di Kab Sukabumi.
“Faktor utama keberlangsungan UKM produksi adalah modal
dan pasar. Saat ini banyak yang
mencoba namun gagal karena
kedua faktor tersebut. Kita sedang
inventarisir agar Pemkab Sukabumi
bisa memberikan bantuan,” jelas
Asep Jafar
Dari 27.000 UKM di Kabupaten
Sukabumi, 30 persennya adalah
sektor produksi seperti perajin. Dari
jumlah ini hanya 60 persennya yang
baru bisa diakomodir promosinya
oleh pemerintah daerah melalui gerai
Dekranasda.
Perkembangan UMKM di Kabupaten Sukabumi, juga didukung
oleh PLUT (Pusat Layanan Usaha
Terpadu) Kabupaten Sukabumi, yang
merupakan salah satu PLUT teraktif. •
Galeri Foto
MENTERI KOPERASI DAN UKM PUSPAYOGA MENYERAHKAN AKTA KOPERASI DAN BANTUAN PEMERINTAH
BAGI WIRAUSAHAWAN PEMULA DI PONDOK PESANTREN AL-MASTHURIYAH DIDAMPINGI PIMPINAN PONDOK
PESANTREN AL MASTHURIYAH K.H. ABDUL AZIZ DI SUKABUMI. 31 Agustus 2017
MENTERI KOPERASI DAN UKM PUSPAYOGA BERFOTO BERSAMA PADA ACARA GEBYAR PENDIDIKAN 3700
ANGGOTA (PAG) XIV KOPERASI MAHASISWA WALISONGO, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) WALISONGO
SEMARANG, JAWA TENGAH, SENIN (28/8).
2017
21
Galeri Foto
MENTERI KOPERASI DAN UKM, AAGN PUSPAYOGA BERDIALOG DENGAN PENGURUS KOPERASI SIMPAN
PINJAM PATUH ANGEN DI DESA LENDANG BATU, KAYANGAN, KABUPATEN LOMBOK UTARA, NUSA TENGGARA
BARAT, SABTU (16/9/217).
SEKRETARIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM AGUS MUHARRAM BERFOTO BERSAMA DENGAN KOPMA
PEMENANG LOMBA PADA PENUTUPAN JAMBORE KOPERASI MAHASISWA (KOPMA) NASIONAL 2017 DI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI), KAMIS (14/9/17).
22
2017
Download