7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi sejumlah teori terkait

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi sejumlah teori terkait yang digunakan dalam penelitian. Teori yang
akan dipaparkan yakni teori Segitiga Cinta yang termasuk teori komponen-komponen
cinta serta orientasi masa depan dan teori homoseksual yang nantinya merupakan
unsur penting dari subjek penelitian. Selain itu Bab ini juga akan menguraikan
penelitian-penelitian terdahulu yang berhubungan dengan fokus penelitian.
2.1. Pengertian Cinta
Menurut Sternberg (1987) Cinta merupakan ekspresi emosi manusia yang
paling hebat dan paling diinginkan setiap orang. Sternberg (1987) memformulasikan
sebuah model berkenaan dengan cinta. Teori ini dinamakan sebagai Triangular
Theory of Love atau teori segitiga cinta yang menjelaskan bahwa cinta dapat
dipahami melalui tiga komponen yaitu intimacy, passion dan commitment.
Dalam Kamus Lengkap Psikologi J.P. Chaplin (1968) love (cinta) adalah satu
perasaan kuat penuh kasih sayang atau kecintaan terhadap seseorang, biasanya
disertai satu komponen seksual. Sedangkan Kelley (dalam Sternberg, 1987)
mendefinisikan cinta sebagai berikut :
“positive feeling and behaviors and commitment to the stability of the force that
affect an ongoing relationship”
7
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Menurut definisi di atas, cinta adalah suatu perasaan dan tingkah laku yang
positif serta komitmen yang dimiliki seseorang guna menjaga kestabilan perasaan dan
tingkah lakunya yang dapat mempengaruhi hubungan yang sedang dijalani. Unuk
memahami dan menguraikan cinta secara mendalam. Berdasarkan beberapa
pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa cinta adalah suatu perasaan emosi
yang kuat penuh kasih sayang terhadap seseorang yang bersifat positif serta memiliki
pengaruh positif (apabila individu mengimplementasikan cinta sesuai makna yang
sebenarnya) bagi individu yang merupakan gabungan dari berbagai perasaan, hasrat,
dan pikiran yang terjadi secara bersamaan.
2.1.1. Komponen Intimacy
“Intimacy refer to those feelings in a relationship that promote closeness,
bondedness and connectedness.”
Menurut Sternberg (1987), keintiman mengacu pada perasaan–perasaan dalam
suatu hubungan yang dapat meningkatkan kedekatan, keterikatan dan pertalian antara
orang-orang di dalamnya. Komponen keintiman meliputi juga perasaan yang dapat
menimbulkan kehangatan dalam hubungan percintaan.
Sternberg & Grajek (dalam Sternberg 1987) mengindentifikasikan sepuluh
komponen intimacy dalam cinta :
1) Memiliki keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan pasangan.
8
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2) Merasa bahagia dan menikmati saat-saat menyenangkan dengan orang yang
dicintai.
3) Menghormati dan menghargai pasangan dengan baik.
4) Dapat mengharapkan dan mengandalkan pasangan saat dibutuhkan.
5) Saling mengerti dan memahami kelebihan atau kekurangan satu sama lain
6) Berbagi diri, waktu, kepemilikan dan rahasia bersama dengan orang yang
dicintai.
7) Merasa mendapat dukungan dan dorongan dari pasangan.
8) Berempati dan memberikan dukungan emosional pada orang yang dicintai
kapanpun dibutuhkan.
9) Dapat berkomunikasi secara intim, mendalam dan terbuka mengenai
perasaan-perasaan terdalam dengan orang yang dicintai.
10) Menilai dan menganggap penting orang yang dicintai.
Selain itu, berdasarkan penelitian mengenai sejumlah tingkah laku yang
tergolong dalam cinta romantis, Sternberg dan Barnes (dalam Sternberg, 1987)
menemukan tiga subdimensi yang dapat lebih menjelaskan komponen intimacy.
Ketiga subdimensi ini mengacu pada perbedaan level keintiman. Subdimensi pertama
mengacu pada semua perilaku yang umumnya muncul dalam hubungan intim,
sementara subdimensi kedua mengacu pada aspek-aspek khusus yang baik bagi
individu. Selanjutnya, pada subdimensi ketiga mengacu pada hal yang lebih dalam
lagi, yaitu aspek-aspek pada intimacy yang dapat menjadikan suatu hubungan special
9
http://digilib.mercubuana.ac.id/
atau unik, dimana suatu pasangan sudah sangat dekat dan selalu merasakan
kebersamaan meskipun terpisah jauh.
Dari tiga subdimensi di atas, Sternberg dan Barnes (dalam Sternberg, 1987)
membedakan tiga level keintiman :

Aspek yang baik untuk siapapun dalam hubungan;

Aspek yang terutama baik untuk individu (saya);

Aspek yang dapat menjadikan pasangan special atau unik.
2.1.2. Komponen Passion
Passion adalah suatu kondisi yang secara intens membuat kita selalu ingin
bersatu dengan orang yang dicintai (Hatfield & Walster, dalam Sternberg 1987).
Menurut Sternberg (1987), passion is largely the expression of desires and needssuch as for self esteem, nurturance, affiliation, dominance, submission and sexual
fulfillment. Passion merupakan ekspresi dari berbagai keinginan dan kebutuhan
seperti penghargaan diri, kedewasaan, kebutuhan dalam pertalian, keinginan untuk
berkuasa dan menuruti kehendak penguasa, serta pemenuhan kebutuhan seksual.
Secara sederhana, komponen ini mengacu pada dorongan yang mengarah pada
romansa, ketertarikan fisik dan kepuasan seksual. Ekspresi dari berbagai keburuhan
ini berbeda antara satu individu dengan individu yang lain, sehingga passion antara
dua individu yang bercinta mungkin akan berbeda pula.
Kebanyakan orang hanya menghubungkan passion dengan kebutuhan seksual,
padahal tidak hanya sekedar itu. Kebutuhan lain seperti harga diri, afiliasi, dominasi
10
http://digilib.mercubuana.ac.id/
dan lain sebagainya juga berkontribusi dalam passion. Tidak dapat dipungkiri bahwa
passion dalam cinta cenderung berhubungan dengan intimacy. Sebagai contoh, hasrat
seksual yang baik akan menghasilkan keintiman. Dengan demikian, kedua komponen
ini hampir selalu berinteraksi satu sama lain dalam hubungan dekat.
2.1.3. Komponen Commitment
Harolf Kelley (dalam Sternberg, 1987) mendefinisikan komitmen sebagai “the
extent to which a person is likely to stick with something or someone and see it (or
him or her) through to finish”. Komitmen merupakan tingkat yang memungkinkan
seseorang untuk ‘melekat’ atau ‘terpaut’ pada sesuatu atau seseorang dan menjaga hal
tersebut hingga selesai. Seseorang yang menjalankan sesuatu diharapkan terus
melakukannya hingga sasarannya tercapai. Permasalahan yang mungkin terjadi
adalah bahwa pasangan yang bercinta memiliki pandangan yang berbeda tentang apa
yang harus dicapai, sehingga dapat terjadi komitmen yang berbeda antara satu
individu dengan pasangannya.
Sternberg menyebutkan bahwa komponen keputusan/komitmen memiliki dua
aspek yaitu short-term (keputusan) dan long-term (komitmen). Aspek short-term
adalah keputusan untuk mencintai orang tertentu, sedangkan long-term adalah
komitmen untuk mempertahankan cinta tersebut. Kedua aspek dari komponen
keputusan/komitmen ini tidak harus terjadi bersamaan. Keputusan untuk bercinta
11
http://digilib.mercubuana.ac.id/
tidak harus mengimplikasikan komitmen dalam bercinta dan sebaliknya komitmen
tidak mengimplikasikan keputusan. Namun demikian, keputusan hendaknya
mendahului komitmen.
Aspek long-term pada komponen komitmen erat kaitannya dengan adanya
orientasi masa depan seseorang. Gjesme (dalam Oner, 2000a;2000b) mendefinisikan
orientasi masa depan sebagai “the ability to foresee and anticipate, to make plans and
organize future possibilities”. Orientasi masa depan merupakan suatu kemampuan
untuk
meramalkan
dan
mengantisipasi,
serta
membuat
perancanaan
dan
mengorganisasikan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di masa yang akan
datang.
Gjesme (dalam Oner, 2000a) menyebutkan tentang empat faktor dalam
orientasi masa depan secara umum yaitu involvement, anticipation, occupation dan
speed. Involvement merupakan derajat di mana individu fokus pada suatu peristiwa
tertentu. Anticipation menentukan seberapa mantap kesiapan individu menghadapi
kejadian di masa depan. Occupation adalah jumlah waktu yang diluangkan individu
untuk memikirkan masa depannya. Speed merupakan kecepatan individu dalam
mempersepsikan pendekatan yang dilakukan untuk mencapai masa depan (Gjesme
dalam Chak, 2007).
Dalam memahami konteks yang digunakan dalam orientasi masa depan,
Gjesme mengemukakan perbedaan antara orientasi masa depan seseorang secara
umum dengan orientasi masa depan seseorang pada situasi tertentu. Menurut Gjesme,
12
http://digilib.mercubuana.ac.id/
tinggi atau rendahnya skor orientasi masa depan seseorang yang diukur pada situasi
tertentu, tidak selalu menunjukkan posisi orang tersebut dalam istilah orientasi masa
depan. Skor ini mungkin hanya merefleksikan orientasi individu pada situasi tertentu
saja. Berdasarkan hal tersebut, Gjesme menegaskan pentingnya penggunaan acuan
umum dalam memahami orientasi masa depan.
Di lain pihak, pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Oner (2000a).
Menurutnya, pengukuran orientasi masa depan dapat dilakukan pada situasi tertentu.
Beberapa aspek pada konsepsi orientasi masa depan tidak selalu bisa diamati dalam
analisis umum saja, melainkan perlu adanya analisis pada konteks tertentu. Salah satu
konteks pada situasi tertentu adalah orientasi masa depan pada hubungan romatis.
Oner mengemukakan bahwa orientasi masa depan pada hubungan romantis
berbeda dari orientasi masa depan pada umumnya.
Orientasi masa depan pada
hubungan romantis atau Future Time Orientation In Romantic Relationship
(selanjutnya akan disebutt FTORR) merupakan kecenderungan untuk mencari
hubungan sementara atau permanen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Oner (2000b), ditemukan dua skala faktor, yaitu permanent relationship seeking dan
future relationship focus.
Faktor permanent relationship seeking mengacu pada kecenderungan seseorang
untuk menikmati dan mencari hubungan yang sementara atau permanen. Skor tinggi
pada faktor ini mencerminkan kecenderungan pada hubungan permanen, sedangkan
skor rendah mencerminkan kecenderungan pada hubungan yang sementara.
13
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Selanjutnya, faktor future relationship focus mengindikasikan pada investasi dan
keterlibatan individu dalam menentukan masa depan hubungan yang dijalani. Skor
tinggi pada faktor ini mencerminkan perhatian atau kepentingan yang tinggi pada
masa depan hubungan, sedangkan skor rencah mencerminkan rendahnya perhatian
individu pada masa depan hubungan yang sedang dijalani.
Selain kedua faktor di atas,menurut Oner terdapat pula beberapa hal lain yang
juga dapat mempengaruhi FTORR, diantaranya pengalaman berpacaran, kepuasan
dalam hubungan, kecemburuan dan gender. Yang menjadi fokus dalam penelitian ini
adalah orientasi masa depan pada konteks yang lebih khusus yaitu pada hubungan
romantis.
2.1.4 Kombinasi Komponen Cinta
Kombinasi dari tiga dimensi cinta utama, menghasilkan adanya 8 tipe cinta
berbeda. Satu tipe adalah nonlove, berarti tidak ada cinta. Kebanyakan hubungan
antar manusia merupakan nonlove, misalnya antara guru dan murid, antara
penumpang dan sopit taksi, antara pembeli dan penjual, dan sebagainya. Oleh karena
itu sebenarnya hanya ada 7 tipe cinta yang benar-benar mengandung cinta.
1)
Liking (intimacy). Hubungan secara esensial dimaknai sebagai persahabatan.
Tipe cinta ini mengandung kehangatan, keintiman, kedekatan, dan emosi
positif lainnya, akan tetapi kurang adanya hasrat (passion) dan commitment.
14
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2)
Infatuation (Passion). Dalam tipe cinta ini ‘cinta pada pandangan pertama’
menjadi cerita yang paling menonjol. Daya tarik satu sama lain sangat
kelihatan dan menggetarkan. Gelora dan hasrat sangat tampak.
3)
Empty love (Commitment). Dalam cinta ini, antar pasangan memiliki
komitmen untuk saling setia dan setia pula terhadap hubungan itu. Akan tetapi
mereka kurang memiliki keterhubungan emosi yang dalam dan tidak pula
memiliki hasrat yang mendalam.
4)
Romantic love (Intimacy + passion). Pasangan memiliki rasa dekat dan
keterhubungan serta daya tarik fisik yang kuat. Mereka memiliki hasrat yang
menyala dan memiliki kedekatan emosional. Mereka yang memiliki tpe cinta
ini tidak memiliki komitmen untuk setia terhadap hubungan dan terhadap
pasangan.
5)
Companionate love (intimacy + commitment). Dalam hubungan cinta tipe ini
terdapat persahabatan yang stabil dan jangka panjang. Mereka yang memiliki
tipe cinta ini memiliki kedekatan emosional yang tinggi, berkeputusan untuk
mencintai pasangan, dan komitmen untuk selamanya dalam hubungan itu.
Tipe hubungan ini sering disebut ‘persahabatan terbaik, dimana tidak ada
ketertarikan seksual ataupun kalau ada dalam pernikahan jangka panjang daya
tarik seksual akan memudar dan tidak diangggap penting.
6)
Fatuous love (passion + commitment). Hubungannya penuh gelora dan
hangat. Akan tetapi biasanya hubungan seperti ini tidak stabil dan berisiko
cepat berakhir.
15
http://digilib.mercubuana.ac.id/
7)
Consummate love (intimacy + passion + commitment). Ini adalah cinta yang
lengkap dimana setiap orang ingin mencapainya. Dalam tipe cinta ini terdapat
hasrat, terdapat keintiman, dan sekaligus terdapat komitmen. Inilah tipe cinta
yang diidealkan.
2.2. Homoseksual
Homoseksual menurut Kartono (1989) adalah relasi seksual dengan jenis
kelamin yang sama atau rasa ketertarikan dan mencintai jenis kelamin yang sama.
Pengertian ini lebih menekankan adanya hubungan fisik sesama jenis sehingga
pengertian tersebut lebih berdimensi fisik. Sedangkan menurut Rathus dan Nevid
(1991) homoseksual merupakan orientasi seks yang melibatkan perilaku seksual
dengan jenis kelamin yang sama.
Pengertian homoseksual juga dapat memiliki pengertian yang lain. Menurut
PPDGJ II (Depkes, RI,1983) homoseksual memiliki makna rasa ketertarikan perasaan
(kasih sayang, hubungan emosional dan atau secara erotik, baik secara ekskusif
terhadap orang – orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan
fisik. Dalam pengertian yang disusun oleh para ahli kedokteran dan psikologi
homoseksual dimaknai bukan sebagai perilaku seksual semata akan tetapi juga
melibatkan adanya unsur emosi atau perasaan.
16
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Pengertian yang lain tentang homoseksual dapat dilihat dari Dede Oetomo
(2001) yang mendefinisikan homoseksual sebagai orang – orang yang orientasi atau
pilihan seks pokok atau dasarnya, entah diwujudkan atau dilakukan maupun tidak,
diarahkan sesama jenis kelaminnya. Dalam memahami pengertian homoseksual
dikenal istilah gay dan lesbian, gay digunakan unuk homoseksual laki – laki,
sedangkan lesbian digunakan untuk menunjukkan adanya homoseksual pada
perempuan.
Pengertian tentang homoseksual juga dapat dilihat dengan mengetahui orientasi
seseorang. Hal ini dapat diketahui dengan adanya pendapat dari Kinsey (1953:PPDGJ
II, 1983) yang lebih dikenal dengan skala Kinsey, yang digunakan untuk mengukur
ketertarikan seksual antara manusia heteroseksual dan homoseksual. Skala Kinsey ini
menjabarkan tentang adanya gradasi seksual manusia, yaitu sebagai berikut : 0 =
heteroseksual eksklusif, 1 = heteroseksual kadang – kadang, 3 = heteroseksual dan
homoseksual seimbang (biseksual), 4 = homoseksual predominan lebih dari kadang –
kadang, 5 = heteroseksual predominan atau heteroseksual cuma kadang – kadang, 6 =
homoseksual ekskusif.
Homoseksual menurut Kartono (1989) dapat digolongkan dalam tiga bagian
yaitu :
1)
Homoseksual yang aktif, yaitu homoseksual yang bertindak sebagai pria
agresif;
17
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2)
Homoseksual yang pasif, yang bertingkah laku lebih dominan sebagai wanita
dan memiliki kecenderungan feminim;
3)
Homoseksual yang bergantian peranan, kadang-kadang memerankan laki-laki
dan dilain waktu memerankan wanita.
Pendapat lain diungkapkan oleh Coleman, Bucher dan Carson dalam
(Supratiknya, 1995) yang menggolongkan homoseksual dalam beberapa jenis yaitu :
1)
Homoseksual tulen : jenis ini memenuhi gambaran streotip tentang laki – laki
yang mengidentifikasi perempuan atau sebaliknya
2)
Homoseksual malu – malu : homoseksual ini yaitu laki – laki yang memiliki
hasrat homoseksual akan tetapi tidak berani menjalin hubungan personal yang
intim dengan orang lain untuk melaksanakan kegiatan homoseksual.
3)
Homoseksual tersembunyi : biasanya berasal dari golongan menengah ke atas
dan memiliki status sosial yang tinggi, sehingga biasanya hanya diketahui oleh
teman atau sahabat dekatnya.
4)
Homoseksual situasional : homoseksual jenis ini diantaranya ditemui pada
situasi khusus seperti perang dan penjara.
5)
Biseksual : jenis ini mempraktekan kegiatan homoseksual dan heteroseksual
secara sekaligus.
6)
Homoseksual mapan : homoseksual yang tergolong dalam jenis ini dapat
menerima homoseksualitas mereka, memenuhi peran kemasyarakatan secara
bertanggung jawab dan mengikatkan diri pada suatu komunitas.
18
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Berbeda
dengan
penggolongan
di
atas,
berdasarkan
PPDGJ
II
(Depkes,RI,1983) yang disusun oleh psikolog dan psikiater di Indonesia
mengelompokkan homoseksual dalam dua jenis yaitu homoseksual ego sentonik
dan homoseksual ego distonik.
Homoseksual ego sintonik adalah homoseksual yang merasa tidak terganggu
oleh orientasi seksualnya, sedangkan homoseksual ego distonik merasa selalu
terganggu akibat timbulnya konflik psikis, konflik psikis internal individu ini akan
menimbulkan perasaan bersalah, malu bahkan depresi (Adib, A.dkk, 2005).
Mengenai hubungan seks homoseksual mengambil imitasi dari hubungan
heterokseksual. Dimana ada yang berperan sebagai laki-laki dan ada yang
berperan sebagai perempuan. Kartono (1989) menjelaskan pola dalam hubungan
dan perilaku homoseksual dalam 3 bentuk hubungan seksual, yaitu :
1) Oral Eratism
Oral (segala sesuatu yang berhubungan dengan mulut), stimulan oral pada
penis disebut Fellatio (fellare : mengisap). Fellatio yaitu mendapatkan
kenikmatan seksual dengan cara mengisap alat kelamin partnernya yang
dimasukkan ke dalam mulut. Fellatio umumnya dilakukan homoseksual
remaja dan dewasa. Fellatio dapat dilakukan dengan tunggal atau ganda.
Fellatio tunggal bila hanya dilakukan salah seorang partner, sedangkan
fellatio ganda atau dikenal hubungan 69 dilakukan dengan saling mengisap
alat kelamin pasangan pada saat yang bersamaan.
19
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2) Body Contact
Body contact mengambil bentuk onani atau menggesekkan tubuh atau dengan
cara senggama sela paha. Salah satu partner memanipulasi pahanya
sedemikian segingga alat kelamin pasangannya dapat masuk di sela pahanya.
3) Anal Seks
Anal seks (seks yang berhubungan dengan anus), dalam dunia homoseksual
terkenal dengan sebutan sodomi. Sodomi mengacu pada hubungan seks
dengan cara memasukkan alat kelamin ke dalam anus partnernya. Dalam
hubungan sodomi tersebut salah satu partner bertindak aktif sedang yang lain
bertindak pasif menerima.
2.2.1. Faktor Penyebab Homoseksual
Kemudian mengenai faktor – faktor penyebab terjadinya homoseksual sampai
saat ini masih menjadi perdebatan para ahli. Hal ini dikarenakan faktor terjadinya
homoseksual sangat beragam, tidak mutlak dikarenakan oleh satu faktor. Sehingga
kalau dipahami tidak ada faktor tunggal penyebab terjadinya homoseksual. Hal ini
sesuai dengan pendapat dari Mc Whiter, Reinisch & Sanders, 1989;Money,1987,1993
(Santrock,2002) dikatakan bahwa penyebab terjadinya homoseksual merupakan
kombinasi antara faktor genetik, hormonal, kognitif dan lingkungan.
20
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Menurut Kartono (1989) penyebab terjadinya homoseksual adalah faktor
herediter, pengaruh lingkungan, pengalaman traumatis dan adanya keinginan untuk
mencari kepuasan relasi homoseksual.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut dapat direduksi
faktor-
faktor penyebab terjadinya homoseksual dalam tiga bagian yaitu : faktor genetik atau
sering disebut faktor biogenik, faktor psikodinamik atau disebut juga psikogenetik,
dan yang terakhir adalah faktor lingkungan atau disebut sosiogenetik. Penjelasan
mengenai faktor – faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1)
Biogenik, yaitu homoseksual yang disebabkan oleh kelainan di otak atau
kelainan genetik. Hal ini senada dengan pendapat Ellis & Ames dalam
(Santrock, 2002) faktor biologis yang dipercaya berpengaruh dalam
homoseksual adalah karena keadaan hormon prenatal. Ellis dan Ames juga
mengungkapkan bahwa pada bulan kedua sampai kelima terjadinya konsepsi,
penampakan fetus kepada tingkat hormon yang berkarakter perempuan
menyebabkan individu (laki-laki atau perempuan) tertarik kepada laki-laki.
2)
Psikogenetik, yaitu homoseksual yang disebabkan oleh kesalahan dalam pola
asuh atau pengalaman dalam hidupnya yang memperngaruhi orientasi
seksualnya di kemudian hari. Kesalahan pola asuh yang dimaksud adalah
ketidaktegasan dalam mengorientasikan sejak dini kecenderungan perilaku
berdasarkan jenis kelamin. Freud (1992,Mayasari,2002) menjelaskan bahwa
pengalaman hubungan orang tua dan anak pada masa kanak-kanak sangat
berpengaruh terhadap kecenderungan homoseksual. Kurangnya kasih sayang
21
http://digilib.mercubuana.ac.id/
ibu, hubungan yang buruk dengan ayahnya menjadi pola yang dapat
menyebabkan seseorang menjadi homoseksual. Hal ini senada dengan
penelitian Bieber dalam (Fatimah,2003), bahwa faktor psikologis amat penting
dalam
perkembangan
kepribadian
anak.
Faktor-faktor
tersebut
ialah
harmonisnya keluarga,hubungan ayah-ibu-anak, sikap orang tua yang penuh
perhatian dan toleransi dengan kebijaksanaan merupakan suatu jaminan
terhadap tidak berkembangnya kecenderungan homoseksual.
3)
Sosiogenetik, yaitu orientasi seksual yang dipengaruhi oleh faktor sosial
budaya, misal kaum Nabi Luth yang homoseksual adalah contoh dalam sejarah
umat manusia tentang bagaimana faktor sosial-budaya homosexual oriented
mempengaruhi orang yang ada dalam lingkungan tersebut untuk berperilaku
yang sama. Hal ini senada dengan pendapat Kartono (1989) yang menyebutkan
bahwa terjadinya homoseksual, karena pada proses perkembangan seseorang
saat pubertas mendapat pengaruh dari luar (bisa dari lingkungan atau budaya).
Lingkungan sebagai penyebab munculnya homoseksual juga dikuatkan oleh
pendapat yang dikemukakan oleh Sullivan (PPDGJ,1983); terjadinya perilaku
homoseksual, karena hubungan antar manusia yang tidak serasi sehingga
mereka dekat dengan lawan jenisnya tetapi lebih dekat dengan sesama
jenisnya. Teori ini misalnya bisa muncul ketika seseorang mengalami
kekeceaan karena patah hati.Hal itu dapat menyebabkan seseorang menjadi
membenci lawan jenis dan memiliki kedekatan yang lebih pada sesama jenis.
22
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2.2.2. Tipe Relationship pada Homoseksual
Sama halnya seperti hubungan heteroseksual, hubungan homoseksual juga
memiliki beberapa tipe dalam hubungannya yang dikategorikan menjadi monogami
(close relationship) dan non-monogami (open relationship).
1)
Monogami (close relationship)
Menurut Preble (1962) Monogami adalah bentuk hubungan di mana seorang
individu hanya memiliki satu pasangan selama hidup atau pada satu kurun waktu
tertentu. Pada pasangan homoseksual istilah monogami atau close relationship
lebih mengacu pada dua orang yang hidup bersama, berhubungan seks satu sama
lain, dan tidak memiliki pasangan seks di luar serta bekerja sama dalam
memperoleh sumber daya dasar seperti tempat tinggal, makanan, dan uang.
(Reichard, Ulrich H. 2003)
2)
Non-monogami (open relationship)
Kathy Labriola (2005) menyatakan “Non-monogamy is a type of interpersonal
relationship in
which
an
individual
forms
multiple
and
simultaneous sexual or romantic bonds”, yang dapat diartikan bahwa non
monogami adalah tipe hubungan interpersonal dimana seorang individu
menjalani lebih dari satu hubungan romantis secara simultan. Dalam kaitannya
dengan pasangan homoseksual, perlu digaris bawahi bahwa hubungan nonmonogami ini terjadi karena adanya komitmen kedua belah pihak untuk bersama
23
http://digilib.mercubuana.ac.id/
tapi setuju untuk bentuk hubungan non-monogami. Hal ini memiliki arti bahwa
mereka setuju bahwa hubungan romantis atau intim dengan orang lain diterima,
diizinkan, atau ditoleransi . Umumnya, pada sebuah hubungan non monogami
(open relationship), pihak yang terlibat memiliki lebih dari satu hubungan
romantis atau seksual terjadi pada saat yang sama. Beberapa tipe dari hubungan
terbuka antara lain :
a)
Multipartner relationship, terjadi ketika ada tiga atau lebih personil dalam
sebuah pasangan namun hubungan seksual tidak terjadi antara semua pihak
yang terlibat.
b)
Hybrid Relationship, ketika salah satu pasangan adalah non-monogami dan
yang lainnya adalah monogami (setia pada satu pasangan).
c)
Swinging, di mana semua pihak dalam sebuah pasangan/hubungan
berkomitmen terlibat dalam kegiatan seksual dengan orang lain sebagai
kegiatan rekreasi (fun).
24
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download