PENGARUH METODE KERJA KELOMPOK TERHADAP SELF

advertisement
PENGARUH METODE KERJA KELOMPOK TERHADAP
SELF CONCEPT SISWA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Nonik Wus Rahayu
NIM 09108244039
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SEPTEMBER 2013
ii
iii
iv
MOTTO
“Awalnya seseorang dilahirkan tanpa mengenali dirinya, kemudian belajar untuk
mengenali dirinya dan menjadi pengenal, kemudian ia akan belajar untuk
dikenali”
(Willian James, 1890)
v
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk :
1. Allah SWT, semoga skripsi ini menjadi salah satu bagian dari ibadahku
untukMu
2. Kedua orang tuaku (Bapak Riyono dan Ibu Karbini), atas doa dan
dukungan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan
3. Almamaterku, Universitas Negeri Yogyakarta
vi
PENGARUH METODE KERJA KELOMPOK TERHADAP
SELF CONCEPT SISWA
Oleh
Nonik Wus Rahayu
NIM 09108244039
ABSTRAK
Berdasarkan data hasil need assessment (analisis kebutuhan) siswa masih
memiliki self concept rendah. Self concept siswa yang rendah terjadi karena
adanya interaksi yang kurang dibangun dalam proses pembelajaran. Hubungan
atau interaksi yang baik dalam proses pembelajaran dapat membentuk self concept
yang positif. Hal ini yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian
dengan tujuan mengetahui pengaruh metode kerja kelompok terhadap self concept
siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian
Quasi Eksperimen. Populasi penelitian ini sebanyak 27 siswa yang merupakan
siswa kelas VA dan VB SDN Kalikutuk tahun ajaran 2012/2013. Pengambilan
data dilakukan dengan teknik kuesioner. Sebelum digunakan dalam penelitian,
instrumen penelitian di validasi secara empirik dan expert judgement. Hasil uji
coba instrument dari 30 butir angket yang dipersiapkan terdapat 25 butir yang
dinyatakan valid dan uji reliabilitas sebesar 0,885. Analisis data yang digunakan
menggunakan statistik deskriptif.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa kelas yang pembelajarannya
menggunakan metode kerja kelompok memiliki rata-rata nilai self concept lebih
tinggi dibanding kelas yang pembelajarannya menggunakan metode ceramah. Hal
ini terlihat dari perbedaan rata-rata nilai posttest angket self concept kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Hasil posttest menunjukkan bahwa kelas
eksperimen memiliki rata-rata nilai self concept sebesar 83,57 sedangkan kelas
kontrol memiliki rata-rata nilai self concept sebesar 77,23.
Kata kunci : metode kerja kelompok, metode ceramah, self concept
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
kebaikan-Nya sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan tugas akhir
skripsi “PENGARUH METODE KERJA KELOMPOK TERHADAP SELF
CONCEPT SISWA” ini dengan sebaik – baiknya. Tugas ini ditulis sebagai realisasi
untuk memenuhi tugas mata kuliah Tugas Akhir Skripsi, sekaligus diajukan kepada
Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Yogyakarta untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapat gelar sarjana
pendidikan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Rochmat Wahab, M. Pd. M. A, selaku Rektor Universitas Negeri
Yogyakarta yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan
pendidikan di UNY.
2. Bapak Dr. Sugito, M. A, selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang
telah memberikan ijin penelitian.
3. Ibu Hidayati, M. Hum, selaku Ketua Jurusan PPSD yang telah memberikan
bimbingan dalam pengambilan tugas akhir skripsi.
4. Bapak Dr. Suparno, M. Pd. dan Ibu Aprilia Tina Lidyasari, M. Pd. selaku dosen
pembimbing skripsi yang dengan sabar dan ikhlas membimbing saya dalam
penyelesaian skripsi ini.
5. Ibu Woro Sri Hastuti, M. Pd. selaku dosen pembimbing akademik yang telah
memberikan dorongan dan bimbingan dalam kegiatan perkuliahan.
viii
6. Para dosen Jurusan PPSD Fakultas Ilmu Pendidikan UNY yang telah
memberikan ilmu dan membekali saya pengetahuan.
7. Orangtua yang selalu memberikan doa dan memberikan tetesan keringat demi
pendidikan putrinya.
8. Adik saya Noor Aini Istiqomah yang selalu membantu dan mendengarkan
curhatku sehingga akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan
9. Mas Tri Wibowo tercinta yang setia, tulus dan mendampingi dalam segala hal
10. Keluarga besar di Kulon Progo yang sangat saya cintai yang telah
memberikan semangat dan dukungan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
11. Bapak Basuki, S. Pd selaku Kepala SD Negeri Kalikutuk, Sentolo, Kulon Progo
yang telah memberikan ijin dan membimbing saya dalam penelitian di lapangan.
12. Ibu Karsiyah, S. Pd. SD dan Bapak Suparjono, S. Pd. selaku guru kelas V SD
Negeri Kalikutuk, Sentolo, Kulon Progo yang telah membantu dan mengarahkan
saya dalam penelitian.
13. Veryl, Amir, Retno, Detty, Dita, Dewi, Rahma, Zeny dan Septian yang selalu
membantu sehingga akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan
14. Semua pihak yang telah membantu, memberikan dukungan dan menyemangati
saya dalam mengerjakan penelitian ini.
Semoga kebaikan yang telah diberikan dibalas dengan balasan yang
setimpal. Demikianlah skripsi ini saya buat semoga dapat bermanfaat bagi para
pembaca.
Penulis,
Nonik Wus Rahayu
ix
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN ............................................................................ iii
PENGESAHAN .................................................................................................. iv
MOTTO .............................................................................................................. v
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... vi
ABSTRAK .......................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................
1
B. Identifikasi Masalah ....................................................................................
5
C. Batasan Masalah ..........................................................................................
5
D. Rumusan Masalah ........................................................................................
5
E. Tujuan Penelitian .........................................................................................
6
F. Manfaat Penelitian .......................................................................................
6
G. Definisi Operasional ....................................................................................
7
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Self Concept ................................................................................................ 8
1. Pengertian Self Concept .......................................................................... 8
2. Pembentukan Self Concept ...................................................................... 10
3. Struktur Self Concept ............................................................................... 12
4. Jenis-jenis Self Concept ........................................................................... 15
B. Metode Kerja Kelompok .............................................................................. 19
x
1. Pengertian Metode ................................................................................... 19
2. Metode Kerja Kelompok.......................................................................... 20
3. Bentuk-bentuk Kerja Kelompok .............................................................. 22
4. Langkah-langkah Kerja Kelompok .......................................................... 25
5. Dasar Pengelompokan dalam Kerja Kelompok ....................................... 27
6. Kelebihan dan Kekurangan Metode Kerja Kelompok ............................. 28
7. Peran Guru dalam Kerja Kelompok ......................................................... 31
8. Pengaruh Metode Kerja Kelompok Terhadap Self Concept .................... 31
C. Metode Ceramah .......................................................................................... 33
1. Metode Ceramah ...................................................................................... 33
2. Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Self Concept…………………..... 35
D. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................................... 36
E. Kerangka Berfikir ........................................................................................ 36
F. Hipotesis Penelitian .................................................................................... 38
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Populasi Penelitian ....................................................................................... 39
B. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................................... 39
C. Metode Penelitian ....................................................................................... 39
D. Variabel Penelitian ...................................................................................... 40
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 41
F. Instrumen Penelitian .................................................................................... 41
G. Uji Coba Instrumen Penelitian .................................................................... 43
1. Uji Validitas ............................................................................................ 43
2. Uji Reliabilitas ........................................................................................ 46
H. Teknik Analisis Data ........................................................................................... 47
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN
A. Hasil Penelitian ............................................................................................ 49
1. Pelaksanaan Pretest ................................................................................. 50
2. Pelaksanaan Treatment ............................................................................ 51
3. Pelaksanaan Posttest ................................................................................ 59
4. Hasil Pretest ............................................................................................. 59
xi
5. Hasil Posttest ........................................................................................... 62
6. Perbedaan Rata-rata Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ..... 65
7. Uji Hipotesis Penelitian ........................................................................... 66
B. Pembahasan .................................................................................................. 68
C. Keterbatasan Penelitian ................................................................................ 71
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................. 72
B. Saran ............................................................................................................ 72
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 74
LAMPIRAN ........................................................................................................ 77
xii
DAFTAR GAMBAR
hal
Gambar 1. Kerangka Berpikir ............................................................................. 37
Gambar 2.Diagram Nilai Pretest Kelompok Eksperimen................................... 60
Gambar 3.Diagram Nilai Pretest Kelompok Kontrol ......................................... 62
Gambar 4.Diagram Nilai Posttest Kelompok Eksperimen ................................. 63
Gambar 5.Diagram Nilai Posttest Kelompok Kontrol ........................................ 65
Gambar 6.Diagram Perbedaan Rata-rata Nilai Pretest dan Posttest ................... 66
xiii
DAFTAR TABEL
hal
Tabel 1.
Desain Penelitian ............................................................................. 40
Tabel 2.
Kisi-kisi Instrumen Self Concept ..................................................... 42
Tabel 3.
Hasil Uji Validitas Angket Self Concept ......................................... 45
Tabel 4.
Hasil Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ........................ 51
Tabel 5.
Hasil Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ....................... 59
Tabel 6.
Distribusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Pretest Kelompok
Eksperimen ....................................................................................... 59
Tabel 7.
Distribusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Pretest Kelompok
Kontrol ............................................................................................. 61
Tabel 8.
Distrbusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Posttest Kelompok
Eksperimen ....................................................................................... 62
Tabel 9.
Distrbusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Posttest Kelompok
Eksperimen ....................................................................................... 64
Tabel 10.
Rata-rata Nilai Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ...... 65
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
hal
Lampiran 1.
Instrumen Penelitian ............................................................... 78
Lampiran 2.
Data Uji Coba Instrumen Penelitian ........................................ 84
Lampiran 3.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian........................ 88
Lampiran 4.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ........................................ 91
Lampiran 5.
Hasil Pretest dan Posttest Angket Self Concept ...................... 140
Lampiran 6.
Surat Ijin Penelitian ................................................................ 149
Lampiran 7.
Foto Penelitian ........................................................................ 155
xv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pandangan seseorang tentang dirinya akan menentukan sikap, perilaku dan
reaksi terhadap orang lain. Ketika seseorang mempunyai pandangan yang positif
tentang dirinya maka orang tersebut akan memiliki rasa optimis, percaya diri dan
bangga akan dirinya. Pandangan positif tentang diri sendiri ini akan mendorong
orang untuk berusaha mengerti kekurangan dirinya sebagai bahan evaluasi diri.
Pandangan seseorang tentang dirinya sendiri dikenal dengan istilah self concept.
Self concept mempunyai beberapa pengertian. Self concept menurut
Mardatillah (2010:55), merupakan bagian dari kepribadian seseorang yang
diwujudkan dalam bentuk pemikiran, dirasakan dengan perasaan dan ditunjukkan
melalui perilaku, sebagai proses pembelajaran diri yang selalu berkembang. Self
concept yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pemikiran, perasaan dan
perilaku seseorang sesuai dengan keyakinan tentang dirinya sendiri. Self concept
sebagai proses pembelajaran diri bersifat dinamis, artinya self concept senantiasa
berubah dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan seseorang.
Self concept menurut pandangan Shavelson dan Bolus (1982) dalam Daniel dan
David (2008:218), “Self concept sebagai persepsi seseorang tentang dirinya
sendiri, yang terbentuk melalui pengalamannya dengan lingkungan, interaksinya
dengan significant others (orang lain yang memiliki arti penting) dan atribut
tentang perilakunya sendiri”. Self concept tidak terbentuk dengan sendirinya tetapi
1
merupakan hasil interaksi seseorang dengan lingkungannya. Self concept
berkembang sepanjang hidup.
Self concept hendaknya dimiliki oleh setiap individu termasuk siswa sekolah
dasar. Hal ini diperkuat oleh pendapat Amaryllia (2007:6) yang menyatakan
bahwa self concept diperlukan siswa untuk menumbuhkan keyakinan diri dalam
meraih prestasi di sekolah. Ketika siswa mempunyai self concept positif tentang
kemampuannya di sekolah, maka siswa akan senantiasa memiliki motivasi yang
tinggi untuk berprestasi dan mengembangkan diri. Siswa yang memiliki self
concept positif akan merasa yakin dengan kemampuan dirinya sehingga siswa
memiliki keyakinan diri bahwa siswa mampu, tidak bodoh dan yakin dapat meraih
prestasi yang baik di sekolah.
Pembelajaran di sekolah dasar seringkali kurang mengembangkan self concept
yang positif pada diri siswa. Amaryllia (2007:22) mengemukakan bahwa,
“Kadangkala sebagai orang tua ataupun guru, penekanan pengembangan diri lebih
ditekankan kepada pencapaian sisi akademis saja. Pengukuran seperti nilai rapor,
rangking ataupun prestasi dalam berolahraga, lebih dianggap sebagai indikator
konsep positif dan keberhasilan anak anda”. Sebagai contoh ada siswa yang
dikatakan tidak memiliki kelebihan akademik namun siswa tersebut mempunyai
kemampuan untuk menghargai orang lain dengan lebih baik. Self concept seperti
ini tidak berbeda dengan self concept positif pada bidang akademik. Perilaku
positif seperti kejujuran, sabar dan menghargai orang lain merupakan hal positif
yang dapat dikembangkan pada self concept siswa.
2
Self concept pada bidang akademik mempunyai hubungan yang signifikan
dengan prestasi siswa. Maureen (2007:12) berpendapat bahwa, “Self concept is
frequently positively correlated with academic performance…” yang artinya self
concept seringkali berkorelasi positif dengan penampilan akademik. Siswa dengan
self concept tinggi akan mudah menyesuaikan diri dalam menyelesaikan tugastugas akademiknya, sebaliknya siswa dengan self concept rendah cenderung
kurang bisa menyesuaikan diri dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan
tugas-tugas perkembangannnya. Siswa yang mempunyai self concept tinggi akan
menerima diri sendiri, apa adanya, mempunyai harapan yang realistik dan
kepercayaan diri yang tinggi. Self concept yang tinggi dapat diketahui dengan
adanya penghargaan diri, sebaliknya self concept rendah dapat diketahui dengan
adanya evaluasi diri yang negatif, rasa benci terhadap diri, minder, kurang dapat
menerima diri dan merasa kurang berharga. Self concept yang positif sangat
perlukan dalam proses pembelajaran.
Amaryllia (2007:45) menuliskan bahwa seharusnya di usia sekolah dasar, ada
kecenderungan anak memiliki self concept yang positif. Namun, berdasarkan hasil
need assessment (analisis kebutuhan) terhadap siswa kelas VA dan VB di SDN
Kalikutuk,
didapatkan data bahwa masih ada beberapa siswa kelas V SDN
Kalikutuk tahun ajaran 2012/2013 yang memiliki self concept rendah. Beberapa
siswa yang mempunyai self concept rendah pada kelas VA yaitu sebanyak 4 dari
14 siswa atau sebesar 28.57% sedangkan kelas VB sebanyak 3 dari 13 siswa atau
sebesar 23.04%. Dari hasil need assessment, siswa dengan self concept negatif
cenderung memiliki prestasi yang rendah, lebih senang menyendiri, pasif, mudah
3
marah merasa tidak disukai dan hanya memiliki beberapa teman. Sedangkan siswa
dengan self concept positif cenderung percaya diri, memiliki banyak teman dan
yakin dengan kemampuan yang dimiliki.
Self concept yang positif dapat ditumbuhkan oleh guru salah satunya dengan
menggunakan metode mengajar yang melibatkan siswa aktif untuk bekerjasama,
namun hal tersebut belum peneliti temukan pada saat melakukan observasi di
SDN Kalikutuk, dimana pelajaran disajikan melalui kegiatan ceramah dengan
keterlibatan siswa yang sangat minim untuk bekerjasama. Hal ini senada dengan
pernyataan Maureen (2007:15), ”Techers also can promote self concept by
fostering
supportive
mempromosikan
self
relationships
concept
among
dengan
students”.
Guru
mengembangkan
juga
dapat
hubungan
yang
mendukung antara siswa. Kerjasama positif dalam kelompok akan mampu
menjadikan siswa mendapat kesan yang baik tentang dirinya. Kesan yang baik
tentang diri ini berpengaruh terhadap perkembangan self concept siswa. Kerja
kelompok merupakan salah satu metode mengajar dengan mengkondisikan siswa
ke dalam kelompok untuk mencapai bermacam-macam tujuan. Kegiatan ini tentu
saja akan mampu melibatkan siswa secara aktif bekerjasama guna memperoleh
kesan yang baik tentang dirinya.
Pernyataan ini dikuatkan oleh Mulyani dan Johar (1999:149), salah satu
kelebihan dari kerja kelompok adalah menciptakan kerja sama dan kekompakan
antar anggota kelompok. Dengan terlibat aktif bekerjasama, siswa akan menjalin
interaksi yang baik dengan teman kelompok. Pembagian peran dalam kelompok
mampu melatih tanggung jawab tiap-tiap anggotanya. Interaksi dalam kelompok
4
ini menjadikan siswa memiliki kesan yang baik tentang dirinya, kemudian mampu
mempengaruhi perkembangan self concept siswa.
Dari uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa ada pengaruh antara metode
mengajar yang digunakan guru dengan self concept siswa. Untuk membuktikan
hal tersebut, peneliti bermaksud meneliti pengaruh metode kerja kelompok dan
metode ceramah terhadap self concept siswa.
B. Identifikasi Masalah
1. Siswa kelas V SDN Kalikutuk memiliki self concept yang rendah.
2. Siswa dengan self concept rendah pasif dan lebih senang menyendiri.
3. Ada kecenderungan siswa kelas V SDN Kalikutuk jarang melakukan kerja
kelompok
4. Pelajaran disajikan melalui kegiatan ceramah dengan keterlibatan siswa
yang minim untuk saling berinteraksi
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di
atas, tentu tidak semua masalah akan dikaji dalam penelitian ini. Penelitian ini
hanya membatasi pada masalah rendahnya self concept siswa kelas V SDN
Kalikutuk dan jarangnya kegiatan kerja kelompok. Peneliti tertarik untuk melihat
hubungan antara keduanya.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah peneliti kemukakan di atas, maka
rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah kelas yang pembelajarannya
5
menggunakan metode kerja kelompok lebih tinggi self concept-nya dibanding
dengan kelas yang pembelajarannya menggunakan metode ceramah?”
E. Tujuan Penelitian
Bertumpu pada rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh metode kerja kelompok dan metode ceramah terhadap self
concept siswa.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai
berikut:
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai rujukan bagi
peneliti lain yang ingin mengkaji tentang peningkatan self concept.
2. Manfaat praktis
a. Bagi Sekolah
Memberikan informasi kepada guru, kepala sekolah dan wali murid
mengenai pengaruh metode kerja kelompok terhadap self concept siswa
di sekolah dasar, sehingga dapat digunakan sebagai masukan guru
dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan guna meningkatkan self
concept siswa.
b. Bagi Siswa
Siswa di sekolah dasar dapat termotivasi untuk meningkatkan self
concept mereka melalui kerja kelompok, serta mampu menyadari
pentingnya self concept bagi keberhasilan akademik
6
G. Definisi Operasional
1.
Self Concept
Self concept merupakan pandangan siswa tentang diri yang
diungkapkan dalam bentuk pemikiran, perasaan dan perilaku tentang
segala
kekurangan
kelebihannya.
Pandangan
ini
akan
mempengaruhinya dalam berhubungan dengan orang lain. Siswa
dikatakan memiliki self concept yang positif jika merasa yakin dengan
kemampuan, peran dan status dirinya dalam kelompok, memiliki
pandangan positif tentang bagaimana orang lain menilai dirinya dalam
kelompok, serta memiliki optimis terhadap dirinya di masa depan.
Sedangkan siswa dikatakan memiliki self concept negatif jika tidak
yakin dengan kemampuan yang dimilikinya dalam kelompok, memiliki
pandangan negatif tentang bagaimana orang lain menilai dirinya dalam
kelompok dan pesimis terhadap diri di masa yang akan datang.
2.
Metode kerja kelompok
Metode kerja kelompok merupakan metode mengajar dengan
mengkondisikan siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 4
sampai 5 siswa, penempatan anggotanya didasarkan pada kemampuan,
peran dan status akademik. Bentuk kerja kelompok yang digunakan
adalah kerja kelompok jangka panjang.
3. Metode ceramah
Metode ceramah adalah penyampaian pelajaran oleh guru dengan cara
memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Self Concept
1. Pengertian Self Concept
Self concept berasal dari “Self Theory” yang dikemukakan oleh Carl
Rogers (Calvin & Gardner,1993:126). Teori Roger tentang kepribadian
lahir dari pengalaman-pengalamannya selama bekerja dengan indviduindividu. Roger (1959:200) dalam Calvin & Gardner (1993:134), self
atau self concept merupakan:
“Gestalt konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari
persepsi-persepsi tentang sifat-sifat dari „diri subjekβ€Ÿ atau „diri objekβ€Ÿ
dan persepsi-persepsi tentang hubungan-hubungan antara „diri subjekβ€Ÿ
atau „diri objekβ€Ÿ dengan orang-orang lain dan dengan berbagai aspek
kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat pada persepsi-persepsi ini.
Gestaltlah yang ada dalam kesadaran meskipun tidak harus disadari.
Gestalt tersebut bersifat lentur dan berubah-ubah, suatu proses, tetapi
pada setiap saat merupakan suatu entitas spesifik.”
Syamsu dan Juntika (2007:7), “Self concept dapat diartikan sebagai:
(a)persepsi, keyakinan, perasaan atau sikap seseorang tentang dirinya;
(b)kualitas pensifatan individu tentang dirinya; dan (c)suatu sistem
pemaknaan individu dan pandangan orang lain terhadap dirinya”.
Sedangkan Karen Farchaus Stein (1195:187) menjelaskan, “Self concept
refers to a person total collection of cognitions about the self including
self schemas, possible selves, and other less fully elaborated self image”.
Self concept mengacu pada seluruh pengetahuan seseorang tentang
dirinya termasuk skema diri, kemungkinan diri dan citra diri yang
kemudian menghasilkan gambaran diri (self image).
8
James (1990:66), “Self concept merupakan ramalan yang
dipersiapkan untuk diri sendiri. Pengharapan mengenai diri kita
masing-masing menentukan sampai batas tertentu, bagaimana kita
akan bertindak dalam hidup. Bila kita berpikir bahwa kita akan bisa,
maka kita cenderung sukses. Bila kita berfikir bahwa kita mungkin
gagal, maka sebenarnya kita menyiapkan diri untuk gagal”.
Mardatillah (2010:52), self concept adalah pandangan, persepsi, nilai,
kepercayaan dan segala hal yang berhubungan dengan seseorang itu
sendiri. Ini juga berarti bahwa self concept merupakan hal yang sifatnya
mampu menyesuaikan situasi dan kondisi lingkungan. Self concept dapat
dijelaskan sebagai bagian dari jati diri seseorang baik yang diwujudkan
dalam bentuk pemikiran, perasaan dan perilaku terhadap segala
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, sebagai bagian proses
pembelajaran diri yang selalu berkembang.
Hurlock (1986) dalam Syamsu dan Juntika (2007:7), self concept
adalah salah satu bagian inti atau pusat gravitasi kepribadian. Self
concept merupakan bagian penting dari kepribadian yang dipergunakan
oleh siswa dalam mengembangkan dirinya secara optimal. Apabila
proses pembentukan dan penerapan self concept siswa berjalan dengan
baik maka akan menimbulkan hal-hal yang baik pula bagi pengembangan
dirinya seperti sikap yang optimis, percaya diri, pandai mengelola emosi
dan sebagainya.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa self
concept adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya. Pandangan tentang diri akan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Self
9
concept merupakan bagian dari diri seseorang yang diwujudkan dalam
bentuk pemikiran, perasaan dan perilaku tentang segala kekurangan dan
kelebihannya.
2. Pembentukan Self Concept
Hurlock (1980) dalam Mardatillah (2010:53), menyebutkan bahwa
self concept bukan bawaan lahir, self concept merupakan hasil belajar
karenanya self concept bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Self concept
senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Self concept
dipengaruhi oleh bentuk tubuh, status sosial, taraf intelegensi, nama dan
sebagainya. Self concept terbentuk dan berkembang dari pengalaman
hidup seseorang. .
Shavelson dan Bolus (1982) dalam Daniel dan David (2008:218)
mendefinisikan, “Self concept sebagai persepsi seseorang tentang dirinya
sendiri, yang terbentuk melalui pengalamannya dengan lingkungan,
interaksinya dengan significant others (orang lain yang memiliki arti
penting) dan atribut tentang perilakunya sendiri”. Pendapat yang sama
dikemukakan Amaryllia (2007:123), “self concept seseorang sangat
bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh kondisi eksternal”. Contoh
sewaktu masih kecil Nina seringkali dipuji oleh orang-orang di
sekitarnya sebagai anak yang rajin, maka Nina akan menganggap dirinya
sebagai anak rajin. Ketika Nina berpikir bahwa dirinya adalah anak yang
rajin, maka ia merasa yakin bisa menyelesaikan tugas-tugas akademiknya
dengan baik.
10
Mardatillah (2010:52), self concept menjadi hal penting untuk
diketahui dan diterapkan sehingga ketika seseorang telah mengenal
dirinya dengan baik tentang kelebihan dan kekurangannya, maka orang
tersebut dapat memperbaiki dan mempertahankan apa yang menjadi jati
dirinya. Self concept perlu diarahkan positif pada siswa sejak dini
sehingga ketika dewasa mereka telah mengenal dirinya dengan baik.
Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan James (1990:76), “self concept
terus berkembang sepanjang hidup, tetapi cenderung berkembang
sepanjang garis yang telah terbentuk pada awal masa kanak-kanak”. Self
concept menjadi pondasi awal bagi tumbuh kembang siswa, sehingga
bisa diibaratkan sebagai pondasi dalam bersosial.
Sumadi (2006:260), self mempunyai bermacam-macam sifat:
a. Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungannya
b. Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan
mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar
c. Self mengejar (menginginkan) konsistensi (keutuhan/kesatuan,
keselarasan)
d. Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras (konsisten)
dengan self
e. Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self
diamati sebagai ancaman
f. Self mungkin berubah sebagai hasil dari pengamatan
(maturation) dan belajar
Amaryllia (2007:5) menjelaskan proses terbentuknya self concept,
“Self concept dalam penerapan sehari-hari dapat terlihat melalui
proses terbentuknya percaya diri. Mekanisme percaya diri dapat
dijelaskan sebagai berikut: seseorang yang memiliki self concept
positif tentu akan memiliki perasaan positif dalam dirinya. Perasaan
positif inilah yang menyebabkan adanya perkembangan komunikasi
maupun identitas diri yang lebih baik pada diri seseorang. Tingkat
percaya diri yang tinggi memiliki pengertian bahwa pada diri
seseorang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi tersebut dapat
11
menerima dirinya tentu akan mengevaluasi dirinya secara positif.
Sebaliknya, self concept yang rendah pada seseorang akan
memunculkan persepsi negatif, yang tentunya akan menimbulkan
rendahnya percaya diri. Self concept itu sendiri kemudian dapat
digunakan untuk mengevaluasi diri kita sendiri.”
Jerald and Patrick (1986:35), “One important way in which students
form self concept about their academic abilities ( as well as a broad
range of other characteristic) is by a social comparison process: in
particular by comparing themselves with their schoolmates”. Salah satu
cara penting siswa membentuk self concept tentang kemampuan
akademis mereka (serta berbagai karakteristik lainnya) adalah dengan
proses perbandingan sosial, khususnya membandingkan diri mereka
dengan teman sekolahnya.
Dari penjabaran teori-teori di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa
self concept tidak lahir begitu saja tetapi terbentuk dan berkembang dari
pengalaman hidup seseorang sehingga sifatnya dinamis. Pandangan
tentang kelebihan dan kekurangan diri ini akan mempengaruhi sikap,
pikiran dan tingkah laku seseorang.
3. Struktur Self Concept
Amaryllia (2007:19), self concept terbentuk dari beberapa struktur
atau pola pandang yang dirasakan individu. Pola pandang yang tersebut
adalah:
a. Pola pandang diri subjektif (subjective self) yakni cara pengenalan diri
yang berasal dari bagaimana orang melihat dirinya sendiri. Secara
umum, biasanya diri yang dipikirkan terdiri dari gambaran-gambaran
12
diri (self image), baik itu potongan visual (seperti bentuk wajah dan
tubuh yang dicermati ketika bercermin), persepsi diri (didapat melalui
komunikasi terhadap diri sendiri ataupun pengalaman bersosialisasi
dengan orang lain)
b. Bentuk dan bayangan tubuh (body image), yakni pandangan atau
pengalaman
emosional
yang
memberikan
pengaruh
terhadap
bagaimana seseorang mengenali bentuk fisiknya.
c. Perbandingan ideal (the ideal self), yakni pengenalan diri melalui cara
membandingkan diri dengan sosok ideal yang diharapkan oleh
seseorang. Proses pembentukan diri ideal terbentuk dari harapan diri,
seperti ingin lebih cantik, lebih pandai, taat beribadah, taat pada orang
tua dan sebagainya.
d. Pembentukan diri sosial (the social self), adalah melihat diri seperti
yang dirasakan orang lain. Dalam hal ini seseorang mencoba untuk
memahami penilaian orang lain terhadap dirinya.
Hal yang hampir sama juga dikemukakan William James dalam
Mardatillah (2010: 57) mengenai struktur self concept. Self concept
merupakan suatu pandangan diri yang sifatnya menyeluruh tentang
seluruh keunikan yang dimiliki individu. Self concept terbagi atas tiga hal
penting yakni:
a. konsep diri yang disadari (pandangan individu akan kemampuan,
status dan perannya)
13
b. konsep sosial atau aku menurut orang lain (pandangan individu
tentang bagaimana orang lain menilai dirinya)
c. konsep ideal (harapan individu tentang akan menjadi apa dirinya
kelak).
Pandangan mengenai dimensi self concept yang sama dikemukakan
oleh James (1990:67), “Self concept adalah pandangan diri tentang diri
kita. Potret diri mental ini memiliki tiga dimensi yakni pengetahuan
individu tentang diri sendiri, pengharapan individu mengenai diri sendiri
dan penilaian tentang diri sendiri”. Struktur self concept serupa juga
dikemukakan Syamsu dan Juntika (2007:7), yaitu:
a. perceptual atau physical self-concept adalah citra seseorang
tentang penampilan dirinya (fisik)
b. conceptual atau psychological self-concept adalah konsep
seseorang tentang kemampuan dan ketidakmampuan dirinya
c. attitudinal, menyangkut perasaan seseorang tentang dirinya,
sikapnya
terhadap
keberhargaan,
kebanggan
dan
keterhinaannya.
Selain itu Alena (2008) menyebutkan, “eight domain that make up an
adolescent’s self concept: scholastic competence, athletic competence,
physical appearance, peer acceptance, close friendships, romantic
relationships, job competence, conduct / morality”. Delapan aspek yang
membentuk self concept seseorang: kemampuan akademik, kemampuan
fisik,
penampilan
fisik,
penerimaan
lingkungan,
persahabatan,
hubungan dengan lawan jenis, kompetensi kerja, perilaku/moralitas.
Lingkungan sekolah memberikan kontribusi yang besar dalam
perkembangan aspek-aspek tersebut.
14
4.
Jenis-jenis Self Concept
James (1990:72-74) membagi self concept menjadi dua jenis yakni
self concept positif (tinggi) dan self concept negatif (rendah).
a. Self concept positif
Self concept positif adalah rasa bangga tentang apa yang ada dalam
diri sendiri. Self concept positif akan menghasilkan rasa optimis,
percaya diri dan sikap positif terhadap segala sesuatu. Siswa dengan
self concept tinggi akan mampu menghargai dirinya dan melihat halhal positif yang dapat siswa dilakukan demi keberhasilan di masa
depan.
George (1997:320), “Perhatian positif terhadap diri sendiri yaitu
kehormatan, rasa bangga, citraan yang baik pada diri sendiri, dan
lain sebagainya. Kita memperoleh perhatian positif terhadap diri
sendiri ini dengan merasakan perhatian positif yang diberikan
orang lain kepada kita selama masa-masa pertumbuhan. Tanpa
adanya perhatian terhadap diri sendiri ini, kita akan merasa kecil
tak berdaya dan tak berguna, dan sekali lagi kita akan gagal
menjadi apa yang seharusnya.
Mardatillah (2010:62), mengemukakan ciri-ciri self concept positif
yakni :
1)
2)
3)
4)
Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
Ia merasa setara dengan orang lain
Ia menerima pujian tanpa rasa malu
Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai
perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya
disetujui oleh masyarakat
5) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup
mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi
dan berusaha mengubahnya.
Aspek-aspek self concept yang positif menurut Lutan (2001:8992) dalam Djukanda (2008) diantaranya adalah sebagai berikut:
15
1) Merasa diakui lingkungan sekitar
Siswa merasa diakui dan dihargai oleh lingkungan sosialnya,
termasuk lingkungan belajar. Dalam lingkungan belajar siswa
membutuhkan adanya pengakuan guru dan teman. Hal ini
merupakan salah satu unsur untuk memperkuat self concept
yang positif.
2) Merasa mampu
Siswa yang memperoleh kesempatan dan pengalaman sukses
dalam belajar umumnya memiliki self concept yang positif. Ia
akan merasa mampu melaksanakan tugas yang disampaikan
guru. Pada kasus siswa yang mengalami kegagalan, guru
memegang peranan penting untuk meminimalkan dampak
terbentuknya self concept yang negatif, sebaliknya apabila guru
tidak mampu memotivasi siswa, kemugkinan besar siswa akan
pesimis dan selalu rendah diri.
3) Merasa patut
Guru harus memilki kepedulian tinggi terhadap kemampuan
setiap siswa yang berbeda satu sama lain.
4) Menerima keadaan diri sendiri
Guru merupakan sumber utama bagi setiap siswa untuk
memperoleh penghargaan akademik. Pengahargaan akademik
akan membesarkan hati siswa karena ditumbuhkan kesan yang
baik tentang dirinya.
16
5) Menerima keterbatasan
Siswa yang memiliki self concept positif dapat memahami
kelemahan dan menerima keterbatasan dirinya.
6) Keunikan
Guru harus menyadari bahwa setiap siswa memiliki sifat dan
kemampuan yang berbeda. Menghormati dan menghargai setiap
perbedaan siswa berpengaruh pada pembentukkan sikap positif
diri siswa yang bersangkutan.
b. Self concept negatif
Self concept negatif adalah penilaian negatif terhadap diri.
Seseorang menilai dirinya tidak pernah cukup baik. Apapun yang
diperoleh, tampaknya tidak berharga dibandingkan dengan apa yang
diperoleh orang lain. Siswa dengan self concept negatif meyakini
dan memandang dirinya lemah, bodoh, tidak dapat berbuat apa-apa,
gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai, pesimis dan tidak
bersemangat terhadap hidupnya.
Indikator self concept yang negatif menurut Alena (2008:2)
“Signs of negative self concept is doing poorly in school, having few
friends, putting down on self and other, rejecting compliments,
teasing others, showing excessive amounts of anger, being
excessively jealous, appearing conceited or, hesitating to try new
things”. Tanda anak yang memiliki self concept negatif diantaranya
adalah berperilaku buruk di sekolah, hanya memiliki beberapa
17
teman, menganggap rendah dirinya, menolak pujian, mengganggu
orang lain, marah yang berlebihan, terlalu cemburu, terlalu sombong,
ragu untuk mencoba hal baru.
Mardatillah (2010:62), karakteristik self concept yang negatif
dijelaskan sebagai berikut:
1) Ia peka tehadap kritik dari orang lain. Bagi individu ini kritikan
diterima sebagai ejekan untuk merendahkan dirinya. Dia sangat
tidak tahan terhadap kritik dan cenderung marah. Dalam
berkomunikasi dengan orang lain, ia cenderung menghindari
percakapan
terbuka
dan
bersikeras
mempertahankan
pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
2) Ia sangat responsif terhadap pujian dan bereaksi secara
berlebihan
3) Ia sangat hiperkritis terhadap orang lain, banyak mengeluh,
mencela dan meremehkan orang lain
4) Bersikap pesimis terhadap masa depan sehingga mudah putus
asa ketika menghadapi permasalahan
5) Memusuhi orang lain dengan menunjukkan sikap kurang
bersahabat dan tidak mampu membangun hubungan yang baik
Alena (2008:1) menjelaskan “Self concept refers to self
evaluation or self perception and it represents the sum of an
individual’s beliefs about his or her own attributes. Self concept
reflects how an adolescent evaluates himself or herself in
domains (or areas) in which he or she considers success
important. An adolescent can have a positive self concept in some
domains and a negative self concept”.
Self concept mengacu pada evaluasi diri atau persepsi diri dan keyakinan
individu tentang dirinya. Self concept mencerminkan bagaimana
seseorang mengevaluasi dirinya, dimana ia menganggap penting
keberhasilan. Seseorang dapat memiliki self concept yang positif dan self
concept yang negatif.
Dari penjelasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa self
concept terbagi menjadi dua jenis yakni self concept positif dan self
18
concept negatif. Self concept positif adalah pandangan positif seseorang
tentang dirinya yang akan menghasilkan rasa optimis, percaya diri dan
bersikap positif terhadap segala sesuatu. Sementara self concept negatif
adalah penilaian negatif terhadap diri yang ditunjukkan dengan meyakini
dan memandang dirinya lemah, tidak dapat berbuat apa-apa, gagal,
malang, tidak menarik, tidak disukai dan tidak bersemangat terhadap
hidupnya.
B. Metode Kerja Kelompok
1. Pengertian Metode
Sri Anitah (2008: 24), metode adalah cara yang digunakan guru dalam
membelajarkan siswa. Menurut Joni dalam Sri Anitah (2008: 24), metode
adalah berbagai cara kerja yang sifatnya umum untuk mencapai tujuan
tertentu. Setiap metode memiliki langkah-langkah atau prosedur
penggunaan tersendiri.
Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad (2011: 7), menyatakan bahwa
metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menjalankan
fungsinya dan merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode bersifat prosedural. Wina Sanjaya (2008: 127), menyatakan bahwa
metode merupakan cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan
pembelajaran. Pengertian metode yang serupa juga diungkapkan oleh
Miftahul Huda (2012:114), metode merupakan cara kerja yang teratur dan
bersistem untuk melaksanakan suatu kegiatan dengan mudah dan
sistematis.
19
Dari beberapa pengertian metode pembelajaran di atas maka dapat
disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan cara kerja yang
digunakan guru untuk melaksanakan pembelajaran. Metode berisi prosedur
atau cara kerja yang mudah dan sistematis untuk melaksanakan suatu
kegiatan pembelajaran. Metode adalah cara kerja yang bersifat relatif
umum untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
2. Metode Kerja Kelompok
Mulyani dan Johar (1999:148) mendefinisikan metode kerja
kelompok sebagai salah satu metode mengajar dengan mengkondisikan
siswa ke dalam kelompok yang akan diberikan tugas untuk dibahas
bersama. Menurut Moedjiono dalam Mulyani dan Johar (1999:48),
metode kerja kelompok adalah kegiatan belajar mengajar yang
memfokuskan pada interaksi antar siswa dalam kelompok guna
menyelesaikan tugas belajar bersama. Tugas kerja kelompok harus
dikerjakan bersama-sama, sehingga melalui interaksi positif diharapkan
dapat mempererat hubungan antar siswa.
Roestiyah dan Yumiarti (1985:15) menjelaskan bahwa kerja
kelompok merupakan suatu cara mengajar yang membagi siswa dalam
kelas menjadi beberapa kelompok. Sementara Robert dan William dalam
Roestiyah dan Yumiarti (1985:15) memberikan pengertian kerja
kelompok adalah suatu kegiatan sekelompok siswa dengan jumlah kecil
untuk kepentingan belajar. Kelompok terdiri dari 5 sampai 7 siswa yang
akan bekerja sama untuk melaksanakan tugas tertentu. Tujuan dari
20
metode kerja kelompok yakni agar siswa mampu bekerja sama dengan
teman yang lain untuk mencapai suatu tujuan.
Pengertian metode kerja kelompok yang lain dikemukakan oleh
Sudjana (2001:160), kerja kelompok adalah kerjasama yang dilakukan
oleh sekelompok siswa dengan jumlah maksimal 10 orang untuk
melaksanakan tugas tertentu dalam kegiatan pembelajaran. Metode ini
digunakan untuk membantu siswa agar mampu bekerjasama dalam
kelompok yang sengaja dibentuk guna menyelesaikan tugas tertentu.
Tugas yang diberikan dapat berkaitan dengan materi pelajaran ataupun
materi diluar pelajaran.
Syaiful (2010:215), kerja kelompok merupakan metode mengajar
dimana siswa di ditempatkan dalam satu kelompok untuk mencapai
tujuan tertentu dengan cara bekerja sama. Dalam metode kerja kelompok
ini banyak jenis kegiatan dapat digunakan untuk mencapai bermacammacam tujuan. Pemilihan jenis kegiatan yang akan diberikan tergantung
dari tujuan khusus kegiatan, umur dan kemampuan siswa, serta fasilitas
pendukung yang ada.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
metode kerja kelompok adalah salah satu metode mengajar yang
membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan jumlah anggota 5
sampai 7 siswa. Pembagian kelompok didasarkan pada jenis tugas yang
akan diberikan tergantung dari tujuan kegiatan. Jenis tugas dapat
mencakup materi pelajaran ataupun materi di luar pelajaran.
21
3. Bentuk-bentuk Kerja Kelompok
Roestiyah N.K (1989:80) dalam Syaiful dan Aswan (2006:209),
membagi pengelompokkan siswa dengan melihatnya dari segi waktu,
kecepatan dan sifatnya. Penjelasannya:
a. Waktu
:1) Kelompok jangka pendek
2) Kelompok jangka panjang (3 bulan)
b. Kecepatan
:1) Kelompok anak cepat
2) Kelompok anak lambat
c. Sifatnya
:1) Kelompok untuk mengatasi alat pelajaran
2) Kelompok atas dasar intelegensi
3) Kelompok atas dasar minat
4) Kelompok untuk memperbesar partisipasi
5) Kelompok untuk pembagian pekerjaan
6) Kelompok untuk belajar efisien untuk mencapai
suatu tujuan
Pendapat tentang pengelompokan berbeda dikemukakan oleh Conny
Semiawan (1985:67) dalam Syaiful dan Aswan (2006:210). Conny
Semiawan membagi jenis-jenis kerja kelompok sebagai berikut:
a. Kelompok menurut pertemanan. Pengelompokan didasarkan pada
pertemanan dekat yang terdiri dari 4 sampai 6 siswa.
b. Kelompok menurut kemampuan. Pengelompokkan didasarkan pada
kecerdasan untuk membantu siswa-siswa tertentu yang mengalami
kesulitan khusus dalam mata pelajaran tertentu.
c. Kelompok menurut minat. Pengelompokkan didasarkan pada
kesenangan belajar siswa.
Ahli lain menjelaskan jenis kerja kelompok dibagi atas dasar tugas
yang diberikan untuk bekerjasama di dalam kelas atau di luar kelas.
Pendapat ini dikemukakan oleh Udin dan Rustanta (1991) dalam Syaiful
dan Aswan (2006:211) sebagai berikut:
a. Pola bekerja paralel
22
Kelompok-kelompok diberikan tugas yang sama untuk dikerjakan.
Hasil pekerjaan seluruh kelompok nantinya akan dibandingkan satu
dengan yang lainnya untuk disimpulkan.
b. Pola bekerja komplementer
Masing-masing kelompok mendapat tugas yang berbeda satu sama
lain. Walaupun setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda,
namun masing-masing tugas merupakan satu kesatuan tentang
materi yang mereka hadapi.
c. Pola campuran paralel dan komplementer
Dua kelompok atau lebih mendapatkan tugas yang sama sedangkan
dua kelompok atau lebih lainnya mendapat tugas yang berbeda.
Tugas kemudian akan dibahas dan dikaitkan satu sama lain yang
pada akhirnya akan disimpulkan bersama.
Bentuk-bentuk kerja kelompok yang serupa juga dikemukakan oleh
Roestiyah dan Yumiarti (1985:18-19). Bentuk-bentuk kerja kelompok
yang bisa dilaksanakan adalah:
a. Kerja kelompok jangka pendek
Bentuk kerja kelompok yang hanya mengambil waktu kira-kira 15
menit. Tujuannya untuk memecahkan suatu persoalan khusus. Guru
membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk membahas
persoalan tersebut dalam waktu yang singkat.
b. Kerja kelompok jangka panjang
23
Bentuk kerja kelompok yang memerlukan waktu panjang seperti 2
hari, 1 minggu atau mungkin 1 bulan. Banyaknya waktu yang
diperlukan tergantung dari banyaknya tugas yang harus diselesaikan.
Apabila siswa sudah dapat menyelesaikan tugas kelompoknnya,
siswa diperbolehkan membantu menyelesaikan tugas kelompok lain.
c. Kerja kelompok campuran
Pada bentuk kelompok campuran, siswa dibagi dalam kelompok
yang disesuaikan dengan kemampuan belajarnya. Guru harus
menyediakan tugas belajar yang sesuai dengan kemampuan setiap
kelompok. Guru perlu memberikan petunjuk yang jelas sehingga
siswa tahu apa yang harus dilakukan dan diharapkan dari mereka
masing-masing.
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
bentuk-bentuk kerja kelompok secara umum dikelompokkan menjadi tiga
jenis yakni kerja kelompok berdasarkan waktu, kerja kelompok
berdasarkan kecepatan dan kerja kelompok berdasarkan sifat. Kerja
kelompok berdasarkan waktu merupakan bentuk pengelompokkan
siswanya yang didasarkan pada pendek atau panjangnya waktu yang
diperlukan
untuk
dapat
menyelesaikan
tugas.
Kerja
kelompok
berdasarkan kecepatan adalah bentuk pengelompokkan siswa yang
didasarkan pada kemampuan siswa, seperti kelompok anak cepat dan
kelompok anak lambat. Kerja kelompok berdasarkan sifatnya merupakan
24
bentuk pengelompokkan siswa yang didasarkan pada sifat tugas yang
diberikan.
4. Langkah-langkah Kerja Kelompok
Menurut Roestiyah dan Yumiarti (1985:19-20), agar lebih maksimal
kerja kelompok harus melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
Menjelaskan tugas kepada siswa.
Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok itu.
Membagi kelas menjadi beberapa kelompok.
Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat
laporan tentang kemajuan dan hasil kerja kelompok tersebut.
e. Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu
memberi saran/pertanyaan.
f. Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil
kerja kelompok
Sudjana (2001:161-162), secara lebih lengkap menjelaskan langkahlangkah penggunaan metode kerja kelompok adalah:
a. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan, pertama-tama guru menyiapkan tugas yang
akan diberikan untuk mencapai tujuan belajar. Kedua, guru
menyiapkan bahan belajar yakni topik dan masalah yang akan
dipelajari kelompok. Selanjutnya, guru perlu menyusun prosedur
pelaksanaan kerja kelompok dan menyiapkan fasilitas, alat serta
waktu yang diperlukan. Terakhir, guru harus menyusun alat evaluasi
kerja kelompok.
b. Tahap pelaksanaan
1) Tahap pelaksanaan oleh guru. Pertama-tama guru harus
menjelaskan tujuan, tugas, bahan belajar, prosedur pelaksanaan,
25
alat dan waktu untuk melakukan kerja kelompok. Selanjutnya,
guru harus memotivasi siswa agar mau berpartisipasi maksimal
dalam kerja kelompok. Ketiga, guru harus mampu melakukan
pembagian kerja yang merata dalam kelompok. Terakhir, guru
harus mampu membagi kelompok dengan memperhatikan
keseimbangan
jumlah
anggota,
kemampuan
dan
pengorganisasian kelompok.
2) Tahap pelaksanaan oleh siswa. Pertama, siswa melakukan kerja
kelompok untuk membahas atau mempelajari tugas yang
diberikan guru. Lalu siswa melaksanakan tugas kelompok
tersebut dengan bekerjasama. Selanjutnya kegiatan evaluasi oleh
kelompok terhadap proses dan pelaksanaan tugas. Terakhir
siswa menyusun laporan kelompok tertulis atau lisan intuk
disampaikan kepada guru dan teman sekelasnya.
c. Tahap akhir kegiatan
Pada tahap akhir kegiatan, siswa dan guru melakukan diskusi kelas
untuk membahas hasil kerja masing-masing kelompok. Selanjutnya
keseluruhan pelaksanaan kegiatan kelompok disusun dalam bentuk
laporan akhir. Kegiatan terakhir yang harus dilakukan adalah evalusi
terhadap tugas, bahan ajar dan proses kerja kelompok.
Dari pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa langkah-langkah
kerja kelompok terdiri atas tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap
akhir kegiatan. Pada tahap persiapan, guru mempersiapkan segala sesuatu
26
tentang tugas yang akan diberikan seperti bahan ajar, prosedur,fasilitas,
waktu dan alat evaluasi kerja kelompok. Pada tahap pelaksanaan, siswa
mengerjakan tugas kelompok secara bersama-sama dengan bantuan dan
pengawasan guru. Pada tahap akhir kegiatan, siswa dan guru bersamasama mengevaluasi dan menyimpulkan hasil kerja kelompok.
5. Dasar Pengelompokkan dalam Kerja Kelompok
Roestiyah dan Yumiarti (1985:15-16), pengelompokkan dalam kerja
kelompok biasanya didasarkan pada:
a. Alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya
Karena jumlah alat yang tidak mencukupi, siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok kecil agar dapat memanfaatkan alat-alat
pelajaran sebaik mungkin tanpa harus menunggu giliran.
b. Kemampuan belajar siswa
Perbedaan kemampuan belajar siswa menjadi salah satu alasan
perlunya dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masingmasing agar setiap siswa dapat belajar maksimal
c. Minat khusus
Setiap individu memiliki minat khusus yang perlu dikembangkan
d. Memaksimalkan partisipasi siswa
Dengan berkelompok, kemungkinan siswa berpartisipasi dalam
melaksanakan tugas menjadi lebih besar.
e. Pembagian tugas
27
Untuk menyelesaikan pekerjaan kelompok yang diberikan guru
maka perlu adanya pembagian tugas yang jelas dalam kelompok
f. Kerja sama yang efektif
Siswa harus mampu bekerja sama dan menyesuaikan diri dalam
kelompok agar dapat mencapai tujuan bersama.
6. Kelebihan dan Kekurangan Metode Kerja Kelompok
Mulyani dan Johar (1999:149-150) menjelaskan kelebihan dan
kelemahan metode kerja kelompok adalah sebagai berikut,
Kelebihan dari metode kerja kelompok:
a. Siswa aktif mencari bahan untuk menyelesaikan tugasnya
b. Siswa aktif bekerjasama dalam kelompok
c. Mengembangkan keterampilan berdiskusi dan proses sosial
Kelemahan metode kerja kelompok:
a. Hanya memberikan peran kepada siswa yang aktif, sementara siswa
yang pasif tidak berbuat apa-apa
b. Fasilitas yang diperlukan bermacam-macam
Syaiful (2010:216) menjelaskan, kelebihan metode kerja kelompok
adalah membiasakan siswa bekerja sama, membangkitkan rasa kompetitif
yang sehat dan melatih tanggung jawab anggota-anggotanya. Sementara
kelemahan kerja kelompok diantaranya peyusunan kelompok bisa kurang
proporsional dan pembagian kerja kadang-kadang tidak merata. Namun
kelemahan metode kerja kelompok dapat diatasi asalkan guru mampu
28
membentuk kelompok-kelompok yang tepat. Pengelompokan tersebut
tentu saja disesuaikan dengan jenis tugas yang akan diberikan.
Pendapat tentang kelebihan dan kelemahan metode kerja kelompok
yang hampir sama dikemukakan oleh Sudjana (2001:162). Berikut adalah
kelebihan dan kelemahan kerja kelompok:
Kelebihan:
a. Dapat menumbuhkan semangat belajar siswa
b. Meningkatkan motivasi belajar, kerjasama, keakraban dan saling
menghargai
c. Memberikan kesempatan siswa untuk menyampaikan gagasan dan
pendapat dalam kelompok
d. Memantapkan kegiatan belajar
Kelemahan:
a. Memerlukan persiapan yang lebih rumit
b. Guru terkadang kesulitan dalam mengelola kegiatan team
c. Fasilitas, alat dan biaya yang diperlukan lebih banyak
d. Didominasi ketua kelompok
Kelebihan dan kelemahan metode kerja kelompok secara lebih lengkap
dijabarkan oleh Roestiyah dan Yumiarti (1985:17).
Kelebihan metode kerja kelompok ialah:
- Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
menggunkan keterampilan bertanya dan membahas sesuatu
masalah.
- Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih
intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau
masalah.
29
- Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan
keterampilan berdiskusi.
- Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa
sebagai individu serta kebutuhannya belajar.
- Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka dan
mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
- Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi
temannya, menghargai pendapat orang lain: hal mana mereka telah
saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan
bersama.
Tetapi disamping keunggulannya, metode kerja kelompok juga memiliki
beberapa kelemahan:
-
Sering hanya melibatkan siswa yang aktif.
-
Pelaksanaannya menuntut pengaturan tempat duduk dan gaya
mengajar yang berbeda.
-
Keberhasilan metode kerja kelompok tergantung dari kemampuan
siswa dalam memimpin kelompok
Dari pendapat-pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
ditarik kesimpulan tentang kelebihan dan kelemahan metode kerja
kelompok. Kelebihan metode kerja kelompok adalah menjadikan siswa
aktif bekerjasama dalam team, mengembangkan keterampilan sosial siswa,
menumbuhkan keakraban antar siswa dan membangkitkan semangat
kompetitif yang sehat. Sementara kelemahan dari metode ini diantaranya
adalah penyelesaian tugas didominasi siswa yang aktif, persiapan lebih
rumit, fasilitas yang diperlukan bermacam-macam dan guru terkadang
kesulitan dalam mengelola kegiatan.
30
7. Peran Guru dalam Kerja Kelompok
Hasibuan dan Moedjiono (2004:25) memaparkan peran guru dalam
kerja kelompok adalah sebagai:
a. Manager
Membantu siswa menempatkan diri dalam kelompok, tempat duduk
dan menyediakan bahan tugas yang diperlukan
b. Observer
Mengamati kerja kelompok tentang kepemimpinan, interaksi, tujuan,
perasaan serta norma-norma yang terjadi dalam kelompok
c. Advisor
Memberikan saran yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan
tugas kelompok
d. Evaluator
Mengevaluasi proses kelompok yang terjadi pada saat diberi tugas
secara berkelompok
8. Pengaruh Metode Kerja Kelompok Terhadap Self Concept
Self concept pada siswa terbentuk secara positif apabila guru dan
teman-teman sekolah banyak memberi penghargaan terhadap usaha yang
telah dilakukan siswa. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam
proses pembelajaran akan membuat siswa merasa dihargai, siswa dapat
mengaktualisasikan dirinya dan tentu saja akan membentuk self concept
yang positif. Salah satu metode yang dapat melibatkan siswa secara aktif
dalam proses pembelajaran adalah metode kerja kelompok.
31
Moedjiono dalam Mulyani dan Johar (1999:48), metode kerja
kelompok mampu membuat siswa aktif bekerjasama dalam kelompok.
Siswa menjadi aktif dan lebih mengenal teman sekelasnya sehingga
metode kerja kelompok dirasa cukup efektif untuk mempererat interaksi
antar siswa. Kerjasama dan interaksi ini dimaksudkan agar siswa
memperoleh kesan positif tentang dirinya, sebagai salah satu upaya
meningkatkan self concept dalam kegiatan belajar.
Serupa dengan pendapat tersebut, Melanie D. (2007:68) dalam
kegiatan kerja kelompok, siswa diberi kesempatan untuk mengeluarkan
pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan sehingga merasa dihargai
keberadaannya. Suasana yang akrab antar siswa dalam kerja kelompok
memungkinkan berkembangnya sikap terbuka, saling mempercayai dan
saling menghargai. Metode kerja kelompok menitikberatkan pada
pembentukan rasa percaya diri dan rasa saling menghargai yang akan
membentuk self concept positif pada diri siswa.
Metode kerja kelompok melibatkan siswa aktif dalam kelompok,
pembelajaran akan jauh lebih baik karena siswa terlibat langsung dalam
proses pembelajaran sehingga keterampilan dan kematangan berfikir
serta interaksi antar siswa semakin terbentuk. Kerja kelompok
memberikan kesempatan siswa menyampaikan gagasan, menunjukkan
kemampuan, menunjukkan motivasi dan percaya diri dalam bekerjasama.
Dengan terlibat aktif pada seluruh kegiatan kerja kelompok, siswa akan
lebih menguasai materi pelajaran dan mendapat pengalaman berharga
32
saat berinteraksi dengan guru serta teman-temannya sehingga self
concept siswa akan terbentuk secara positif.
Berdasarkan teori yang dikemukakan, peneliti menyimpulkan bahwa
metode kerja kelompok memberikan pengaruh yang baik dalam
perkembangan self concept siswa. Dengan terlibat aktif pada seluruh
kegiatan kerja kelompok, siswa lebih mampu membangun hubungan
yang baik dengan teman-temannya. Hubungan yang baik pada proses
pembelajaran mampu menjadikan self concept siswa berkembang secara
positif.
C. Metode Ceramah
1. Metode Ceramah
Mulyani dan Johar (1999:136), metode ceramah adalah penyampaian
pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan
kepada siswa. Keberhasilan penggunaan metode ceramah sangat
tergantung kepada kemampuan guru dalam menguasai bahan, pendengar
dan keterampilan bahasa. Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan
bahan yang bersifat informasi.
Mulyani dan Johar (1999:137) secara spesifik metode ceramah
bertujuan untuk:
1) Menciptakan landasan pemikiran siswa melalui produk ceramah yaitu
bahan tulisan sehingga siswa dapat belajar melalui bahan tulisan hasil
ceramah guru
33
2) Menyampaikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan
penting yang terdapat dalam isi pelajaran
3) Merangsang siswa untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin
tahu melalui pemerkayaan belajar
4) Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara rinci
5) Sebagai langkah awal untuk metode lain yang harus ditempuh siswa
Mulyani dan Johar (1999:138) kekuatan metode ceramah:
1) Hemat waktu dan biaya
2) Materi dapat disesuaikan dengan keterbatasan waktu, karakteristik
siswa tertentu, pokok permasalahan dan keterbatasan peralatan
3) Meningkatkan daya dengar dan menumbuhkan minat belajar dari
sumber lain
4) Memberikan wawasan yang luas dari sumber lain
Sedangkan kekurangan metode ceramah:
1) Dapat menimbulkan kebosanan bagi siswa
2) Menimbulkan verbalisme pada siswa
3) Materi ceramah terbatas pada apa yang diingat guru
4) Merugikan siswa yang lemah dalam keterampilan mendengarkan
5) Memaksa siswa menerima konsep yang belum tentu diingat
6) Informasi yang disampaikan mudah lupa
7) Tidak merangsang perkembangan kreativitas siswa
8) Terjadi proses komunikasi satu arah
34
2. Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Self Concept
Metode ceramah lebih bersifat pemberian informasi dan tanya jawab
tentang materi yang dibahas. Penyampaian pelajaran oleh guru dengan
cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Dalam mengikuti
kegian belajar ini siswa dituntut untuk selalu memusatkan perhatian
terhadap pelajaran, kelas harus sunyi dan semua murid duduk di tempat
masing-masing mengikuti uraian guru.
Sri Anitah (2004:138) ceramah yang kurang bervariasi akan
membentuk
kebiasaan
perilaku
yang
tidak
menguntungkan
bagi
perkembangan aspek afeksi siswa. Salah satu unsur afeksi siswa adalah
self concept. Interaksi yang terjadi dalam metode ceramah lebih bersifat
verbalisme sehingga kurang mampu membangun hubungan yang
mendukung antar siswa sebagai salah satu upaya meningkatkan self
concept dalam kegiatan belajar.
Rogers dalam Syamsu dan Juntika (2007:147), melalui penafsiran
terhadap reaksi yang diterima dari orang lain, siswa mungkin mengubah
dan memperbaiki self conceptnya, hal ini menunjukkan bahwa
perkembangan self concept siswa dipengaruhi oleh interaksi dengan
teman-teman seusianya. Hubungan atau interaksi yang baik dengan temanteman seusianya akan mempengaruhi pandangan positif seseorang tentang
diri yang kemudian membentuk self concept positif.
35
D. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya terkait dengan peningkatan
self concept adalah “Pengaruh Bermain Peran Prososial terhadap Peningkatan
Konsep Diri Anak pada Siswa SD N Prambanan” oleh Diah Tri Novitasari. Dalam
penelitiannya Diah Tri Novitasari menyimpulkan bahwa bermain peran prososial
memberikan pengaruh peningkatan self concept siswa sebesar 4,44%, dari semula
25,19% naik menjadi 29,63%. Dari karya tersebut terdapat perbedaan dalam
penelitian ini yaitu:
1. Subjek penelitian di atas adalah seluruh siswa SD N Prambanan
sedangkan dalam penelitian ini populasi penelitiannya adalah siswa kelas
V sekolah dasar, sehingga sejak masih anak-anak mereka mampu
memperbaiki dan mempertahankan self concept yang baik sebagai
pondasi
awal
anak
agar
dapat
menyelesaikan
tugas-tugas
perkembangannya secara optimal.
2. Peningkatan self
concept dalam penelitian tersebut adalah dengan
melalui bermain peran prososial sementara dalam penelitian ini
menggunakan metode kerja kelompok.
E. Kerangka Berfikir
Metode kerja kelompok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan
siswa ke dalam kelompok untuk mencapai bermacam-macam tujuan. Hubungan
atau interaksi yang baik dengan orang lain akan mempengaruhi pandangan positif
seseorang tentang diri yang kemudian membentuk self concept positif. Melalui
kerja kelompok siswa akan mulai belajar berinteraksi dengan teman, melihat
36
seseorang tidak hanya dari kelemahannya saja tetapi juga menghargai
kelebihannya, sehingga pada gilirannya siswa mampu memiliki kesan positif
tentang dirinya. Dari uraian di atas, maka kerangka berfikir dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan metode kerja kelompok, siswa menjadi aktif
bekerjasama dan lebih mengenal teman sekelasnya, kerjasama yang baik antar
siswa dalam kelompok efektif menumbuhkan kesan positif siswa tentang dirinya
sehingga berpengaruh terhadap self concept siswa dalam kegiatan belajar.
Gambaran kerangka berfikir penelitian ini disajikan dalam gambar berikut.
METODE MENGAJAR
CERAMAH
KERJA KELOMPOK
Siswa pasif, tidak
saling berinteraksi,
individual
Siswa aktif, saling
terbuka, saling
berinteraksi,
bekerjasama, toleran
Kesan siswa
terhadap dirinya
tidak berkembang
Siswa memiliki
kesan positif
terhadap dirinya
SELF CONCEPT
Gambar 1. Model Kerangka Berfikir Metode Kerja Kelompok
37
F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan diskripsi teori dan kerangka berpikir di atas, maka peneliti
mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:
Kelas yang pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok lebih tinggi
self conceptnya dibanding dengan kelas yang pembelajarannya menggunakan
metode ceramah.
38
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi Penelitian
Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri
Kalikutuk Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo tahun ajaran 2012/2013.
Jumlah seluruh siswa kelas V SDN Kalikutuk tahun ajaran 2012/2013 adalah
sebanyak 27 siswa, dengan jumlah siswa kelas A sebanyak 14 anak dan siswa
kelas B sebanyak 13 anak.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama bulan Mei 2013, bertempat di SDN Kalikutuk.
Penelitian ini dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan. Pemberian treatment
dilakukan pada pertemuan kedua, ketiga dan keempat
C. Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent
Control Group Design yang merupakan salah satu desain Quasi Eksperimen atau
eksperimen semu. Sugiyono (2009: 79) menjelaskan bahwa quasi eksperimen
adalah metode yang mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi
sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang dapat mempengaruhi
pelaksanaan eksperimen. Aunurrahman (2009: 2-27), metode eksperimen semu
pada dasarnya sama dengan eksperimen murni, bedanya adalah dalam
pengontrolan variabel yang dipandang paling dominan.
39
Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yakni kelompok kontrol (VA) dan
kelompok eksperimen (VB). Secara lebih jelas gambar desain penelitiannya
seperti pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Desain Penelitian
Kelompok
Pretest
Eksperimen (E)
Kontrol (K)
Perlakuan
(Treatment)
T1
T2
Ya (O1)
Ya (O3)
Posttest
Ya (O2)
Ya (O4)
Keterangan:
O1/O3
= dilakukan pretest
T1
= penerapan metode kerja kelompok
T2
= penerapan metode ceramah
O2/O4
= dilakukan posttest
D. Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sehingga data diwujudkan
dalam bentuk angka dan analisisnya menggunakan statistik diskriptif. Variabelvariabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan atau
timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2009:39). Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah metode kerja kelompok dan metode ceramah (X).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2009: 39). Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah self concept (Y).
40
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner. Kuesioner dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur data tentang
variabel self concept dalam bentuk checklist. Kuesioner menilai sikap atau tingkah
laku yang diinginkan oleh peneliti dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan
kepada responden. Jawaban setiap item diklasifikasikan menjadi 4 kategori yang
mempunyai tingkatan dari sangat positif sampai sangat negatif. Responden
dianjurkan untuk memilih kategori jawaban yang telah diatur oleh peneliti.
Kuesioner berisi item-item pernyataan, akan diskor menggunakan empat
klasifikasi jawaban untuk setiap pernyataan. Untuk pertanyaan atau pernyataan
positif pensekorannya: Selalu (SL) = 4, Sering (SR) = 3, Kadang-kadang (KD) = 2
dan Tidak Pernah (TP) = 1. Nana Syaodih Sukmadinata (2009: 240), menyatakan
bahwa untuk pertanyaan atau pernyataan negatif pensekorannya adalah
sebaliknya: Selalu (SL) = 1, Sering (SR) = 2, Kadang-kadang (KD) = 3 dan Tidak
Pernah (TP) = 4. Pertanyaan atau pernyataan dikatakan positif apabila mendukung
nilai variabel dan dikatakan negatif apabila tidak mendukung variabel. Kuesioner
ini digunakan untuk mengukur self concept siswa, yang akan diberikan pada siswa
di awal (pretest) dan akhir (posttest) kegiatan belajar. Sebelum digunakan
kuesioner terlebih dahulu didiskusikan dengan ahli pada bidang tersebut yang
kemudian diukur validitasnya.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket self
concept. Penyusunan kisi-kisi untuk membuat angket self concept berdasar pada
41
struktur self concept yang dikemukakan William James dalam Mardatilah
(2007:57). Self concept terbagi atas 3 hal penting:
a. Konsep diri yang disadari
Pandangan individu tentang dirinya seperti kemampuan, status dan
perannya
b. Konsep sosial
Pandangan individu tentang bagaimana orang lain menilai dirinya
c. Konsep ideal
Harapan individu tentang dirinya akan menjadi apa kelak
Struktur-struktur tersebut selanjutnya dijabarkan dalam indikator variabel
penelitian agar dapat diukur. Secara lebih jelasnya kisi-kisi istrumen self concept
akan dijelaskan dalam tabel berikut:
No
1
2
Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Self Concept
Indikator
Struktur/
Aspek self
concept
Pandangan siswa yang
berkaitan dengan
kemampuan dirinya dalam
kelompok
Konsep diri
Pandangan siswa yang
yang
berkaitan dengan peran
disadari
dirinya dalam kelompok
Pandangan siswa yang
berkaitan dengan status
dirinya dalam kelompok
Pandangan siswa yang
berkaitan dengan penilaian
Konsep
teman-teman terhadap
sosial
kemampuan dirinya dalam
kelompok
42
No Item
Positif
Jml
Negatif
1, 9, 17,
25
4, 28
6, 18, 27
8
10, 14,
20
-
13
2, 16, 21,
24
10
3
Pandangan siswa yang
berkaitan dengan penilaian
teman-teman terhadap peran
dirinya dalam kelompok
Pandangan siswa yang
berkaitan dengan penilaian
teman-teman terhadap status
dirinya dalam kelompok
Pandangan siswa yang
berkaitan dengan
Konsep
harapan tentang dirinya di
ideal
masa depan melalui kerja
kelompok
Jumlah
Setelah kisi-kisi instrumen terbentuk
5, 11, 19
-
7, 15, 23
-
3, 12, 13, 22, 26,
29, 30
7
30
selanjutnya adalah menyusun
item pernyataan angket dengan bahasa yang sederhana agar mudah
dipahami oleh siswa. Hal ini dilakukan karena mengingat karakteristik
siswa sekolah dasar yang baru dapat memahami bahasa-bahasa
sederhana yang sering mereka gunakan dalam lingkungan mereka.
G. Uji Coba Instrumen Penelitian
1. Uji Validitas
Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
diinginkan
(Suharsimi
Arikunto,
1993:168).
Sedangkan
Sukardi
(2011:122) menjelaskan validitas suatu instrumen penelitian adalah derajat
yang menunjukan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur.
Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa
instrumen hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja.
Instrumen yang akan dilakukan pengujian dalam penelitian ini
adalah angket self concept. Uji validitas yang dilakukan dalam menguji
43
angket self concept dengan validitas isi, meminta masukan expert
judgement. Setelah expert judgement selesai maka langkah selanjutnya
adalah menguji coba instrumen. Instrumen yang telah dibuat diuji cobakan
pada siswa kelas V SDN Asemcilik dengan jumlah siswa sebanyak 23
siswa. SDN Asemcilik masih satu gugus dengan SDN Kalikutuk sehingga
diharapkan memiliki karakteristik siswa yang hampir sama dengan SDN
Kalikutuk. Uji coba angket dilakukan pada 23 responden dengan jumlah
item 30 butir.
Untuk menyeleksi butir akan digunakan rumus korelasi Product
Moment yang dikemukakan oleh Pearson. Rumus korelasi Product
Moment Pearson sebagai berikut (Anas Sudijono, 2008: 206).
π‘Ÿ
π‘₯𝑦 =
π‘Σ xy − Σx (Σy)
𝑁Σx 2 − (Σx)2 𝑁Σy 2 − (Σy)2
Keterangan:
rxy
= validitas instrumen
X
= skor butir total
Y
= skor total soal
N
= jumlah responden
ΣX
= Jumlah skor soal
ΣY
= Jumlah skor total soal
Dalam uji validitas soal, peneliti menggunakan SPSS 16 dengan taraf
signifikan 5% dan responden 23 orang diperoleh data r tabel=0,352.
Validitas butir diketahui dengan mengkorelasikan skor-skor yang ada pada
butir dimaksud dengan skor total. Kriteria pengambilan keputusan untuk
menentukan valid jika harga r hitung sama dengan atau lebih besar dari
44
harga r tabel pada taraf signifikan 5%. Jika harga r hitung lebih kecil dari
harga r tabel pada taraf signifikan 5%, maka butir instrumen yang
dimaksud tidak valid. Hasil uji validitas angket berdasarkan perhitungan
dengan SPSS 16 terhadap 23 responden adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Uji Validitas Angket Self Concept
Butir Soal
Soal 1
Soal 2
Soal 3
Soal 4
Soal 5
Soal 6
Soal 7
Soal 8
Soal 9
Soal 10
Soal 11
Soal 12
Soal 13
Soal 14
Soal 15
Soal 16
Soal 17
Soal 18
Soal 19
Soal 20
Soal 21
Soal 22
Soal 23
Soal 24
Soal 25
Soal 26
Soal 27
Soal 28
Soal 29
Soal 30
Corrected ItemTotal Correlation
(R hitung)
0,131
-0,065
0,665
-0,195
0,399
-0,099
0,609
0,629
0,357
0,535
0,370
0,674
0,628
0,398
0,630
-0,286
0,435
0,379
0,600
0,664
0,559
0,529
0,457
0,676
0,691
0,529
0,600
0,596
0,640
0,556
45
R tabel
Ket.
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
0,352
Tidak Valid
Tidak Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Hasil uji validitas berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS 16
terhadap 23 responden dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua
pertanyaan dalam angket valid. Pertanyaan nomor 1, 2, 4, 6 dan 16 tidak
valid atau gugur, karena koreasi r hitung kurang dari r tabel (0,352)
sehingga tidak disertakan dalam koesioner penelitian yang sesungguhnya.
2. Uji Reliabilitas
Sugiyono (2011: 173), menyatakan bahwa instrumen yang reliabel
adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur
obyek yang sama walaupun dalam waktu yang berbeda akan tetap
menghasilkan data yang sama. Reliabilitas menunjukkan tingkat keandalan
instrumen dalam memperoleh data. Perhitungan reliabilitas dalam
penelitian ini juga dilakukan dengan SPSS 16 menggunakan rumus Alpha
Cronbach yang dijelaskan sebagai berikut.
π‘˜
π‘Ÿπ‘– = π‘˜−1 1 −
𝑠𝑖2
𝑠𝑑2
( Sugiyono, 2007: 365)
Keterangan:
ri
= reliabilitas instrumen
k
= mean kuadrat antara subjek
𝑠𝑖2
𝑠𝑑2
= mean kuadrat kesalahan
= varians total
Instrumen tergolong reliabel jika indeks reliabilitas yang diperoleh ≥
0,60. Apabila indeks reliabilitas yang diperoleh ≤ 0,60 maka instrumen
tersebut tidak reliabel. Perhitungan reliabilitas dilakukan bersamaan
46
dengan waktu perhitungan validitas menggunakan SPSS 16 pada analisis
korelasi inter item. Perhitungan reliabilitas dilakukan dua kali yaitu dengan
menggunakan keseluruhan soal baik soal itu valid atau tidak valid.
Perhitungan yang kedua dilakukan dengan menghilangkan butir yang valid
agar diperoleh reliabilitas yang lebih tiggi. Apabila reliabilitas butir telah
memenuhi ≥ 0,60 maka butir dapat digunakan sebagai instrumen
pengumpul data. Dalam penelitian ini pengujian reliabilitas digunakan
pada angket self concept. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai
koefisien cronbach’s alpha untuk angket self concept sebesar 0,885. Oleh
karena koefisien cronbach’s alpha lebih dari 0,60, maka dapat disimpulkan
bahwa instrumen tersebut reliabel dan dapat digunakan sebagai alat
pengumpul data.
H. Teknik Analisis data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data statistik
deskriptif, sesuai dengan yang ditegaskan Sugiyono (2009:147), “Penelitian
yang diberlakukan pada populasi (tanpa diambil sampelnya) jelas akan
menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya. Analisis data yang
dilakukan dalam penelitian ini berlangsung setelah seluruh data penelitian
terkumpul.
Adapun
langkah
yang
dilakukan
antara
lain
adalah
mendiskripsikan data pretest dan posttest dari hasil penilaian kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol, melakukan perhitungan dan terakhir
melakukan uji hipotesis yang telah diajukan dengan membandingkan rata-rata
nilai pretest posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
47
Perhitungan yang dilakukan untuk penelitian quasi eksperimen ini dengan
cara membandingkan hasil nilai rata-rata pretest postest dari kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Dalam melakukan kegiatan analisis data,
hal yang paling utama dilakukan adalah menguji hipotesis yaitu jawaban
sementara atas rumusan masalah dari sebuah penelitian. Uji hipotesis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah membandingkan nilai rata-rata posttest
dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Rumus yang digunakan
adalah rata-rata data kelompok karena penyebaran nilai yang akan disajikan
terlalu luas, yakni sebagai berikut:
Mx =
fX
N
(Anas Sudjono, 2008: 86)
Keterangan:
Mx
= mean (rata-rata)
Σ fX
= jumlah hasil perkalian antara nilai tengah (midpoint) dari masingmasing interval dengan frekuensinya
N
= jumlah subjek (responden)
48
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimen
atau eksperimen semu karena peneliti tidak dapat sepenuhnya mengendalikan
variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi eksperimen. Eksperimen
menggunakan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen adalah kelompok atau kelas yang diberi suatu perlakuan
atau treatment berupa penggunaan metode kerja kelompok jangka panjang untuk
menyelesaikan tiga macam tugas berkaitan dengan materi self concept dalam
pembelajaran. Sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok atau kelas yang
tidak diberi perlakuan, pembelajaran yang dilakukan pada kelas kontrol bersifat
klasikal yakni dengan metode ceramah.
Siswa kelas V SDN Kalikutuk terdiri dari dua kelas paralel yakni kelas VA dan
VB. Suatu hal yang menguntungkan bagi penelitian adalah pembagian kelas ini
dilakukan secara acak tanpa melihat prestasi siswa sejak kelas I, sehingga siswa
yang berprestasi baik mampu kurang baik tersebar secara merata dalam kedua
kelas. Kelas yang dijadikan kelompok eksperimen adalah kelas VA sedangkan
kelas yang dijadikan kelompok kontrol adalah kelas VB. Pada masing-masing
kelompok diberi pretest dan posttest. Pemberian pretest bertujuan untuk
mengetahui keadaan awal masing-masing kelompok. Sedangkan posttest
bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh perlakuan yang telah
diberikan.
49
1. Pelaksanaan Pretest
Langkah pertama yang dilakukan sebelum meneliti data kelompok
dalam penelitian eksperimen adalah memberikan pretest kepada kedua
kelompok tersebut. Tes yang diberikan berupa kuesioner dengan 4
kategori peringkat jawaban. Jumlah pertanyaan pada saat pretest adalah
25 butir digunakan untuk mengukur self concept siswa. Pretest
diharapkan dapat mengukur self concept siswa meliputi konsep diri yang
disadari, konsep sosial dan konsep ideal.
Ketentuan untuk mencari skor pada pretest adalah sebagai berikut.
Untuk pertanyaan positif pensekorannya: Selalu (SL) = 4, Sering (SR) =
3, Kadang-kadang (KD) = 2 dan Tidak Pernah (TP) = 1. Sementara untuk
pertanyaan negatif pensekorannya adalah sebaliknya: Selalu (SL) = 1,
Sering (SR) = 2, Kadang-kadang (KD) = 3 dan Tidak Pernah (TP) = 4.
Dalam tes ini, nilai dihitung dengan menjumlahkan seluruh skor pada
tiap-tiap butir pertanyaan.
Pretest dilaksanakan pada Sabtu 11 Mei 2013 jam ke IV (untuk kelas
eksperimen) dan jam ke V (untuk kelas kontrol). Pretest diawali dengan
perkenalan dan sedikit penjelasan mengenai self concept. Kegiatan
pretest untuk masing-masing kelas berlangsung selama 35 menit. Secara
keseluruhan pelaksanaan pretest berlangsung dengan baik dan tertib.
50
Hasil pretest kelas V A (kelompok eksperimen) dan kelas V B
(kelompok kontrol) dapat dilihat pada tabel 4 berikut:
Tabel 4. Hasil Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No Kelas
Peserta
Rata-rata
Nilai maks.
1
VA
14
68,14
83
2
VB
13
69,73
82
Nilai min.
54
55
2. Pelaksanaan Treatment
Langkah selanjutnya setelah pelaksanaan pretest adalah memberikan
perlakuan bebas (treatment) pada kelompok eksperimen, yaitu kelas V A.
Perlakuan bebas (treatment) dalam penelitian ini adalah berupa
pelaksanaan metode kerja kelompok jangka panjang pada kegiatan
belajar mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia materi cerita anak dan
komponen-komponen bermain drama, sedangkan pada mata pelajaran
SBK terkait dengan materi cita-citaku. Sementara kegiatan belajar
mengajar dengan materi yang sama di kelas kontrol yakni kelas V B
dengan menggunakan metode ceramah.
Sebelum melaksanakan perlakuan tersebut, peneliti membuat rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk materi yang akan disampaikan,
kemudian dikonsultasikan dengan guru kelas V SDN Kalikutuk. Rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) tersebut digunakan sebagai pedoman
ketika
kegiatan
belajar
mengajar.
Pada
rencana
pelaksanaan
pembelajaran ini tergambar langkah-langkah dan prinsip metode kerja
kelompok
yang
diterapkan.
Rencana
terlampir.
51
pelaksanaan
pembelajaran
a. Pertemuan Pertama Membahas Tentang Cerita Anak
Hari pertama pelaksanaan pembelajaran, siswa tampak antusias
sejak kegiatan belajar belum dimulai. Guru terlebih dahulu
mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses
pembelajaran kemudian memeriksa apakah siswa sudah siap untuk
mengikuti proses pembelajaran. Setelah dirasa cukup kondusif, guru
membuka pelajaran. Sebelum masuk pada materi pelajaran guru
memberikan apersepsi, kemudian menyampaikan materi, kompetensi
(tujuan) yang akan dicapai dan rencana pembelajaran yang akan
dilakukan.
Kegiatan inti diawali dengan kegiatan mendengarkan cerita anak
yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan diri yang
disampaikan oleh guru, dilanjutkan dengan melakukan tanya jawab
dan membuat daftar kelebihan kekurangan tokoh utama dalam cerita.
Guru melakukan pembagian kelompok jangka panjang dengan
seimbang yang akan dipakai selama proses penelitian berdasarkan
kemampuan, status dan peran siswa dalam kelompok. Pembagian
kelompok oleh guru ini awalnya kurang disepakati siswa, namun
sejalan dengan berlangsungnya proses kerja kelompok nampaknya
siswa sudah mulai bisa menyesuaikan diri dalam kelompok baru.
Guru menjelaskan tugas, aturan pelaksanaan dan waktu kerja
kelompok. Setiap anggota kelompok diminta menuliskan sebanyak
mungkin kelebihan dan kekurangan yang mereka ketahui tentang
52
dirinya lalu secara kelompok mereka saling memberi masukan
tentang bagaimana teman kelompok dapat mengatasi kekurangan diri
tersebut. Siswa dalam kelompok aktif membahas dan saling
membantu dalam menyelesaikan tugas kerja kelompok. Saat
kegiatan kerja kelompok berlangsung, guru senantiasa berkeliling
untuk memantau perkembangan tugas kelompok siswa. Setelah
selesai membuat daftar kelebihan kekurangan diri, siswa diminta
menceritakan diri dalam bentuk paragraf sederhana. Siswa diberi
kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas, lalu
diminta mengerjakan 5 butir soal evaluasi dan hasil pekerjaannya
dibahas bersama.
Pada kegiatan akhir guru melakukan evaluasi pelaksanaan kerja
seluruh kelompok beserta evaluasi kemajuan anggota kelompok.
Kemudian secara bersama-sama guru dan siswa meyimpulkan materi
yang telah dipelajari pada pertemuan ini. Pada akhir pelajaran guru
memberikan refleksi pesan moral dari kegiatan kerja kelompok yang
telah dilakukan yakni agar siswa senantiasa memiliki pandangan
positif
tentang
dirinya.
Guru
menuntup
pelajaran
dengan
menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan
selanjutnya.
b. Pertemuan Kedua Membahas Tentang Komponen Bermain Drama
Sama seperti pada pertemuan pertama, pembelajaran ini
melibatkan
siswa
untuk
melakukan
53
kerja
kelompok.
Guru
mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses
pembelajaran. Pembelajaran dimulai setelah suasana kelas dirasa
cukup kondusif untuk menerima pelajaran. Guru memberikan
apersepsi, kemudian menyampaikan materi, kompetensi (tujuan)
yang akan dicapai dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan.
Pelajaran dimulai dengan penjelasan guru tentang komponenkomponen yang harus diperhatikan dalam bermain drama, kemudian
dilanjutkan tanya jawab tentang materi tersebut. Siswa masuk dalam
kelompok yang telah ditentukan oleh guru pada pertemuan
sebelumnya. Guru menyampaikan tugas, aturan pelaksanaan dan
waktu kerja kelompok. Pada pertemuan kali ini siswa diminta
memainkan drama pendek secara berkelompok. Siswa melakukan
pembagian peran dengan seimbang. Siswa sangat antusias dalam
melaksanakan tugas kerja kelompok, hal ini terlihat pada proses
latihan yang berjalan lancar dan kondusif. Siswa dalam kelompok
saling membantu dan memotivasi agar kelompok mereka dapat
tampil dengan baik. Saat kegiatan kerja kelompok berlangsung, guru
berkeliling untuk memantau proses latihan drama kelompok. Pada
akhir kegiatan masing-masing kelompok mementaskan naskah
drama yang telah ditugaskan secara bergantian di depan kelas. Siswa
diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas, lalu
diminta mengerjakan soal evaluasi dan hasil pekerjaannya dibahas
bersama.
54
Pada kegiatan penutup guru melakukan evaluasi pelaksanaan
kerja seluruh kelompok beserta evaluasi kemajuan anggota
kelompok. Kemudian secara bersama-sama guru dan siswa
meyimpulkan materi yang telah dipelajari pada pertemuan ini. Pada
akhir pelajaran guru memberikan refleksi pesan moral dari kegiatan
kerja kelompok yang telah dilakukan yakni agar siswa senantiasa
memiliki
pandangan
positif
tentang
bagaimana
orang
lain
memandangnya. Guru menuntup pelajaran dengan menyampaikan
materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
c. Pertemuan Ketiga Membahas Tentang Cita-cita
Guru mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan
proses pembelajaran sebelum memulai pelajaran. Setelah suasana
kelas dirasa cukup kondusif untuk menerima pelajaran, guru
membuka pelajaran dengan doa dan salam. Guru memberikan
apersepsi, kemudian menyampaikan materi, kompetensi (tujuan)
yang akan dicapai dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan.
Mulai masuk pada kegiatan inti, guru menyampaikan sebuah
cerita tentang cita-cita dilanjutkan dengan tanya jawab tentang citacita siswa di masa yang akan datang. Siswa masuk dalam kelompok
yang telah ditentukan oleh guru pada pertemuan sebelumnya. Guru
menyampaikan tugas, aturan pelaksanaan dan waktu kerja kelompok.
Pada pertemuan kali ini siswa diminta membuat gambar imajinatif
tentang cita-cita anggotanya, disertai dengan keterangan hal yang
55
dilakukan siswa untuk meraih cita-cita tersebut. Anggota kelompok
saling berdiskusi dan memberi masukan tentang cara yang dapat
dilakukan untuk meraih cita-cita tersebut sesuai dengan kreatifitas
kelompok. Siswa sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan
mengambar cita-cita diri ini. Siswa dalam kelompok saling
membantu dan memotivasi agar mereka dapat menyelesaikan tugas
dengan baik. Saat kegiatan kerja kelompok berlangsung, guru
senantiasa berkeliling untuk memantau pekerjaan siswa, selanjutnya
masing-masing kelompok menampilkan hasil kerja di depan kelas.
Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum
jelas.
Pada kegiatan penutup guru melakukan evaluasi pelaksanaan
kerja seluruh kelompok beserta evaluasi kemajuan anggota
kelompok. Kemudian secara bersama-sama guru dan siswa
meyimpulkan materi yang telah dipelajari pada pertemuan ini. Pada
akhir pelajaran guru memberikan refleksi pesan moral dari kegiatan
kerja kelompok yang telah dilakukan yakni siswa senantiasa optimis
terhadap masa depannya. Guru menuntup pelajaran dengan doa dan
salam.
56
Sedangkan deskripsi pembelajaran di kelas kontrol adalah sebagai
berikut:
a. Pertemuan Pertama Membahas Tentang Cerita Anak
Guru memasuki kelas lalu menyapa siswa. Setelah membuka
pelajaran, guru memberikan apersepsi tentang materi cerita anak
yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan diri. Pembelajaran
dimulai, guru menyampaikan cerita anak terkait materi yang akan
diajarkan disertai dengan tanya jawab. Guru menulis penjelasan pada
papan tulis. Siswa mendengarkan, mencatat dan mencoba memahami
apa yang disampaikan guru. Pemahaman siswa diukur dengan
memberikan tugas individu tentang cerita anak yang telah
dipersiapkan
sebelumnya
oleh
guru.
Masing-masing
siswa
mengerjakan tugas tersebut dan kemudian dibahas secara bersamasama.
Pada akhir pertemuan, guru memberikan kesimpulan terkait
materi yang telah disampaikan. Guru menyampaikan materi yang
harus dipersiapkan untuk pertemuan yang akan datang. Guru
menutup pelajaran.
b. Pertemuan Kedua Membahas Tentang Komponen Bermain Drama
Guru memulai pelajaran dengan menyampaikan apresepsi terkait
dengan materi memerankan tokoh drama. Guru menjelaskan materi
tentang komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam
bermain drama
dengan ceramah. Penjelasan tentang komponen
57
bermain drama tersebut selanjutnya dicatat pada papan tulis. Siswa
diberi tugas individu tentang komponen-komponen bermain drama
yang telah dijelaskan guru. Masing-masing siswa mengerjakan tugas
tersebut dan kemudian dibahas secara bersama-sama.
Guru memberikan kesimpulan terkait materi yang telah
disampaikan. Guru menyampaikan materi yang harus dipersiapkan
untuk pertemuan yang akan datang. Guru menutup pelajaran dengan
doa dan salam.
c. Pertemuan Ketiga Membahas Tentang Cita-cita
Materi pada pertemuan ketiga ini membahas tentang cita-cita.
Guru memberikan sedikit penjelasan mengenai pentingnya seseorang
mempunyai cita-cita. Penjelasan ini dilanjutkan dengan memberikan
tugas kepada masing-masing siswa untuk menggambar cita-cita
mereka pada buku gambar SBK. Siswa mengerjakan tugas
menggambar dengan antusias. Siswa yang telah menyelesaikan
tugasnya diberikan nilai.
Pada akhir kegiatan guru menyampaikan materi yang harus
dipersiapkan untuk pertemuan yang akan datang. Siswa berkemas
untuk pulang. Guru menutup pelajaran dengan doa dan salam.
3. Pelaksanaan Posttest
Langkah terakhir yang harus dilakukan adalah memberikan posttest
kepada kedua kelas. Soal yang digunakan dan ketentuan yang
diberlakukan dalam posttest sama dengan soal dan ketentuan yang
58
diberlakukan dalam pretest. Posttest dilaksanakan pada 24 Mei 2013
yang diikuti oleh kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pelaksanaan
posttest secara keseluruhan berjalan dengan baik dan tertib. Hasil posttest
kelas V A dan V B dapat dilihat pada tabel 5 berikut:
Tabel 5. Hasil Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No Kelas
Peserta
Rata-rata
Nilai maks.
1
VA
14
83,57
97
2
VB
13
77,23
95
Nilai min.
63
61
4. Hasil Pretest
a.
Nilai Pretest Kelompok Eksperimen
Pretest dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur data
tentang variabel self concept awal siswa sebelum diajar dengan
menggunakan perlakuan tertentu. Adapun hasil pretest kelas
eksperimen disajikan pada tabel 6 di bawah ini:
Tabel 6. Distribusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Pretest Kelompok
Eksperimen
Interval Nilai Frekuensi (f) Titik Tengah (x)
Fx
Persen %
79-83
1
81
81
7,14
74-78
2
76
152
14,29
69-73
4
71
284
28,57
64-68
3
66
198
21,43
59-63
3
61
183
21,43
54-58
1
56
56
7,14
Jumlah
14
954
100
Rata-rata
68,14
Berdasarkan data dalam tabel 6 di atas dan berdasarkan
perhitungan, maka dapat dideskripsikan bahwa hasil pretest
kelompok eksperimen adalah sebagai berikut:
59
Nilai minimal
: 54
Nilai maksimal : 83
Rata-rata
: 68,14
Berdasarkan tabel 6 diatas dapat diketahui bahwa mayoritas siswa
mendapat nilai antara 69-73 yaitu sebanyak 4 siswa atau 28,57% dari
total kelompok eksperimen. Adapun grafik histogram untuk
memperjelas data di atas dapat dilihat pada gambar 2 berikut:
4
3
Banyak 2
siswa
Frekuensi
1
0
54-58
59-63
64-68
69-73
Interval Nilai
74-78
79-83
Gambar 2. Diagram Nilai Pretest Kelompok Eksperimen
b.
Nilai Pretest Kelompok Kontrol
Kelompok kontrol merupakan kelompok yang tidak memperoleh
perlakuan. Namun sebelum dilakukan penelitian kelompok kontrol
ini juga harus diukur self concept siswa menggunakan pretest guna
memenuhi syarat dari penelitian eksperimen.
60
Data hasil pretest kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 7
berikut:
Tabel 7. Distribusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Pretest Kelompok
Kontrol
Interval Nilai Frekuensi (f) Titik Tengah (x)
Fx
Persen %
79-82
1
80,5
80,5
7,69
75-78
2
76,5
153
15,38
71-74
4
72,5
290
30,77
67-70
2
68,5
137
15,39
63-66
2
64,5
129
15,39
59-62
1
60,5
60,5
7,69
55-58
1
56,5
56,5
7,69
Jumlah
13
954
100
Rata-rata
69,73
Berdasarkan data dalam tabel 7 di atas dan berdasarkan
perhitungan, maka dapat dideskripsikan bahwa hasil pretest
kelompok kontrol adalah sebagai berikut:
Nilai minimal
: 55
Nilai maksimal : 82
Rata-rata
: 69,73
Berdasarkan tabel 7 di atas juga dapat diketahui bahwa mayoritas
siswa mendapat
nilai antara 71-74 yaitu sebanyak 4 siswa atau
30,77% dari total kelompok kontrol.
61
Adapaun grafik histogram untuk memperjelas data di atas dapat
dilihat pada gambar 3 berikut:
4
3
Banyak
siswa
2
Frekuensi
1
0
55-58 59-62 63-66 67-70 71-74 75-78 79-82
Interval Nilai
Gambar 3. Diagram Nilai Pretest Kelompok Kontrol
5. Hasil Posttest
a.
Nilai Posttest Kelompok Eksperimen
Setelah
kelompok
eksperimen
memperoleh
perlakuan,
selanjutnya self concept siswa ini diukur menggunkan posttest.
Adapun data hasil posttest kelompok eksperimen dapat dilihat pada
tabel 8 berikut:
Tabel 8. Distrbusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Posttest Kelompok
Eksperimen
Interval Nilai Frekuensi (f) Titik Tengah (x)
fx
Persen %
93-97
2
95
190
14,29
88-92
3
90
270
21,43
83-87
4
85
340
28,57
78-82
2
80
160
14,29
73-77
1
75
75
7,14
68-72
1
70
70
7,14
63-67
1
65
65
7,14
Jumlah
14
1.170
100
Rata-rata
83,57
62
Berdasarkan data dalam tabel 8 di atas dan berdasarkan
perhitungan, maka dapat dideskripsikan bahwa hasil posttest
kelompok eksperimen adalah sebagai berikut:
Nilai minimal
: 63
Nilai maksimal : 97
Rata-rata
: 83,57
Berdasarkan tabel 8 di atas juga dapat diketahui bahwa mayoritas
siswa mendapat
nilai antara 83-87 yaitu sebanyak 4 siswa atau
28,57% dari total kelompok eksperimen. Adapaun grafik histogram
untuk memperjelas data di atas dapat dilihat pada gambar 4 berikut:
4
3
Banyak 2
siswa
Frekuensi
1
0
63-67 68-72 73-77 78-82 83-87 88-92 93-97
Interval Nilai
Gambar 4. Diagram Nilai Posttest Kelompok Eksperimen
b.
Nilai Posttest Kelompok Kontrol
Sebagai
kelompok
kontrol,
walaupun
tidak
memperoleh
perlakuan seperti kelompok eksperimen, namun tetap saja kelompok
ini juga diberikan posttest sebagai alat untuk mengukur self concept
siswa setelah menerima materi dengan metode ceramah. Adapun
63
data hasil posttest kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 9
berikut:
Tabel 9. Distrbusi Frekuensi dan Rata-rata Nilai Posttest Kelompok
Eksperimen
Interval Nilai Frekuensi (f) Titik Tengah (x)
Fx
Persen %
91-95
1
93
93
7,69
86-90
1
88
88
7,69
81-85
2
83
166
15,39
76-80
4
78
312
30,76
71-75
2
73
146
15,39
66-70
2
68
136
15,39
61-65
1
63
63
7,69
Jumlah
14
1.170
100
Rata-rata
77,23
Berdasarkan data dalam tabel 9 di atas dan berdasarkan
perhitungan, maka dapat dideskripsikan bahwa hasil posttest
kelompok kontrol adalah sebagai berikut:
Nilai minimal
: 61
Nilai maksimal : 95
Rata-rata
: 77,23
Berdasarkan tabel 9 di atas juga dapat diketahui bahwa mayoritas
siswa mendapat
nilai antara 76-80 yaitu sebanyak 4 siswa atau
30,76% dari total kelompok eksperimen.
64
Adapaun grafik histogram untuk memperjelas data di atas dapat
dilihat pada gambar 5 berikut:
4
3
Banyak 2
siswa
Frekuensi
1
0
61-65 66-70 71-75 76-80 81-85 86-90 91-95
Interval Nilai
Gambar 5. Diagram Nilai Posttest Kelompok Kontrol
6. Perbedaan Rata-rata Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Setelah pemberian treatment atau perlakuan terhadap kelompok
eksperimen yaitu dengan menerapkan metode kerja kelompok, terdapat
perbedaan mean nilai posttest dengan kelompok kontrol yang tidak
menerapkan metode tersebut melainkan dengan menggunakan metode
ceramah. Baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol
mengalami perubahan rata-rata nilai self concept, akan tetapi perubahan
nilai tersebut lebih besar terjadi pada kelompok eksperimen. Ringkasan
nilai pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dapat dilihat pada tabel 10 berikut:
Tabel 10. Rata-rata Nilai Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
No
Kelompok
Rata-rata pretest Rata-rata posttest
1
Eksperimen
68,14
83,57
2
Kontrol
69,73
77,23
65
Berdasarkan tabel 10 di atas, kelompok eksperimen memiliki rata-rata
nilai self concept yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Kelompok eksperimen memiliki rata-rata nilai self concept
sebesar 83,57 sedangkan kelompok kontrol memiliki rata-rata nilai self
concept sebesar 77,23 sehingga dapat disimpulkan bahwa antara rata-rata
nilai akhir kelompok eksperimen dan rata-rata kelompok kontrol terdapat
perbedaan. Perbedaan rata-rata masing-masing kelompok dapat dilihat
seperti pada gambar 6 di bawah ini:
90
80
70
60
Rata-rata
50
Pretest
40
Posttest
30
20
10
0
Eksperimen
Kontrol
Gambar 6. Diagram Perbedaan Rata-rata Nilai Pretest dan Posttest
7. Uji Hipotesis Penelitian
Setelah diketahui data dari kedua kelompok, maka perbedaan hasil
kedua kelompok akan dianalisis menggunakan beda rata-rata Pengujian
ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil posttest
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil perhitungan rata-rata
pada tabel 10 menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki ratarata nilai self concept yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
66
kontrol. Kelompok eksperimen memiliki perubahan rata-rata nilai self
concept sebesar 15,43 sedangkan kelompok kontrol memiliki perubahan
rata-rata nilai self concept sebesar 7,5.
Tampak ada perbedaan nilai self concept pada kelompok ekperimen
sebelum dan sesudah diberi perlakuan berupa penerapan metode kerja
kelompok. Demikian halnya dengan kelompok kontrol, tampak adanya
perbedaan nilai self concept akan tetapi tidak sebesar nilai self concept
kelompok eksperimen. Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 10,
dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok eksperimen memiliki
perubahan rata-rata nilai self concept sebesar 15,43 sedangkan perubahan
rata-rata nilai self concept pada kelompok kontrol sebesar 7,5.
Tabel 10 menunjukkan adanya perbedaan signifikan rata-rata nilai
pretest dan posttest kelompok eksperimen maka dapat dikatakan bahwa
kelas yang pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok lebih
tinggi self conceptnya dibandingkan dengan kelompok kontrol yang
pembelajarannya menggunakan metode ceramah. Perubahan rata-rata
nilai self concept pada kelompok eksperimen sebesar 15,43 dan
perubahan rata-rata nilai self concept pada kelompok kontrol sebesar 7,5.
Berdasarkan data tersebut, maka hipotesis yang berbunyi kelas yang
pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok lebih tinggi self
conceptnya dibanding dengan kelas yang pembelajarannya menggunakan
metode ceramah diterima.
67
B. Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V SDN Kalikutuk,
siswa masih memiliki self concept rendah. Hasil need assessment (analisis
kebutuhan) menunjukkan bahwa siswa dengan self concept rendah cenderung
memiliki prestasi yang kurang, lebih senang menyendiri, pasif, mudah marah
merasa tidak disukai dan hanya memiliki beberapa teman. Sedangkan siswa
dengan self concept tinggi cenderung percaya diri, memiliki banyak teman dan
yakin dengan kemampuan yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri self
concept yang dikemukakan Mardatillah (2010:62).
Kelas VA adalah kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan
metode kerja kelompok sedangkan kelas VB adalah kelas kontrol yang
pembelajarannya menggunakan metode ceramah. Pada masing-masing kelompok
diberi pretest dan posttest. Pemberian pretest bertujuan untuk mengetahui keadaan
awal masing-masing kelompok. Sedangkan posttest diberikan pada akhir
penelitian untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang telah diberikan terhadap
self concept siswa.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan metode kerja kelompok
dan metode ceramah, sedangkan variabel terikatnya adalah self concept siswa
kelas V SDN Kalikutuk. Uji beda rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah
kelas yang pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok lebih tinggi
self concept-nya dibanding dengan kelas yang pembelajarannya menggunakan
metode ceramah.
68
Uji beda rata-rata pertama dilakukan untuk menguji perbedaan hasil pretest
antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji beda rata-rata hasil
pretest tujuannya untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil pretest yang
diperoleh dua kelompok tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan, dari tabel 10
diperoleh nilai rata-rata pretest kelompok eksperimen sebesar 68,14 dan nilai ratarata pretest kelompok kontrol sebesar 69,73 yang artinya tidak terdapat perbedaan
selisih rata-rata yang besar antara hasil pretest kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Hal ini menandakan bahwa kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol memiliki kemampuan awal yang setara.
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan, diperoleh nilai rata-rata posttest
angket self concept kelompok eksperimen sebesar 83,57 sedangkan nilai rata-rata
posttest kelompok eksperimen sebesar 77,23. Rata-rata kelompok eksperimen
berubah sebesar 15,43 dari 68,14 menjadi 83,57. Dari perhitungan yang
dilakukan, dapat dikatakan bahwa kelas yang pembelajarannya menggunakan
metode kerja kelompok lebih tinggi self concept-nya. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh Melanie D. (2007:68) bahwa dengan kerja kelompok
memungkinkan berkembangnya sikap terbuka, percaya diri, saling mempercayai
dan saling menghargai yang akan membentuk self concept positif pada diri siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan kerja kelompok siswa menjadi
aktif dan lebih mengenal teman sekelasnya sehingga metode kerja kelompok
cukup efektif untuk mempererat interaksi antar siswa. Kerjasama dan interaksi ini
menjadikan siswa memperoleh kesan positif tentang dirinya, sebagai salah satu
upaya meningkatkan self concept dalam kegiatan belajar. Keadaan dalam
69
pembelajaran ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Maureen (2007:14),
“Teachers can promote self concept by fostering supportive relationships among
students”.
Guru
dapat
mempromosikan
self
concept
siswa
dengan
mengembangkan hubungan yang mendukung antar siswa.
Hubungan atau interaksi yang baik dengan teman kelompok akan
mempengaruhi pandangan positif siswa tentang diri yang kemudian membentuk
self concept tinggi. Melalui kerja kelompok siswa akan mulai belajar berinteraksi
dengan teman, melihat seseorang tidak hanya dari kelemahannya saja tetapi juga
menghargai kelebihannya, sehingga pada gilirannya siswa memiliki kesan positif
tentang dirinya. Rogers dalam Syamsu dan Juntika (2007:147), melalui penafsiran
terhadap reaksi yang diterima dari orang lain, siswa mungkin mengubah dan
memperbaiki self conceptnya, hal ini menunjukkan bahwa perkembangan self
concept siswa dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain.
Suasana yang akrab antar siswa dalam kerja kelompok memungkinkan
berkembangnya sikap terbuka, saling mempercayai dan saling menghargai.
Metode kerja kelompok menitikberatkan pada pembentukan rasa percaya diri dan
rasa saling menghargai yang kemudian membentuk self concept positif pada diri
siswa. Hal ini sesuai dengan yang ditegaskan Melanie D. (2007:68) dalam
kegiatan kerja kelompok, siswa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat,
bertanya dan menjawab pertanyaan sehingga merasa dihargai keberadaannya.
Dengan metode kerja kelompok siswa mendapat kesempatan siswa
menyampaikan gagasan, menunjukkan kemampuan, menunjukkan motivasi dan
percaya diri dalam bekerjasama. Siswa terlibat aktif pada seluruh kegiatan kerja
70
kelompok, lebih menguasai materi pelajaran dan mendapat pengalaman berharga
saat berinteraksi dengan guru serta teman-temannya sehingga self concept siswa
akan terbentuk secara positif.
Rata-rata nilai self concept yang lebih tinggi sebesar 83,57 pada kelompok
eksperimen yang pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok menjadi
bukti bahwa penggunaan metode kerja kelompok lebih besar pengaruhnya
terhadap self concept siswa dibanding dengan metode ceramah. Hal tersebut
sesuai dengan yang dikemukakan Rogers dalam Syamsu dan Juntika (2007:147),
melalui kerja kelompok siswa memiliki pandangan terhadap reaksi yang diterima
dari orang lain. Interaksi positif dengan teman dalam kerja kelompok akan mampu
mengubah dan meningkatkan self concept ke arah yang positif. Berdasarkan
pernyatan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode kerja kelompok
lebih besar pengaruhnya dibanding metode ceramah terhadap self concept siswa
pada kelompok kontrol.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimen dimana variabelvariabel lain di luar variabel eksperimen sulit dikendalikan sehingga hasil
penelitian tidak mungkin sama sekali menghilangkan pengaruh variabel non
eksperimen. Dalam penelitian ini tidak memungkinkan untuk diadakan remidial
bagi para siswa yang nilai self concept masih dibawah rata-rata karena
keterbatasan waktu.
71
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan dalam skripsi ini dan data hasil
penelitian serta analisisnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kelas yang
pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok lebih tinggi self
conceptnya dibanding dengan kelas yang pembelajarannya menggunakan metode
ceramah. Hal ini terlihat dari perbedaan rata-rata nilai posttest angket self concept
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memiliki
rata-rata nilai self concept sebesar 83,57 sedangkan kelompok kontrol memiliki
rata-rata nilai self concept sebesar 77,23. Kelompok eksperimen yang
pembelajarannya menggunakan metode kerja kelompok memiliki rata-rata nilai
posttest angket self concept yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nilai
posttest
angket
self
concept
kelompok
kontrol
yang
pembelajarannya
menggunakan metode ceramah.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti dapat memberikan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Kepada Pihak Sekolah
Sekolah hendaknya terus memberikan motivasi kepada siswa untuk
mengembangkan self concept ke arah yang positif, mengingat pentingnya self
concept untuk menumbuhkan keyakinan diri dalam meraih prestasi akademik.
72
2. Kepada Guru Kelas
Hendaknya
dapat
melaksanakan
proses
pembelajaran
dengan
memperhatikan kondisi psikologis siswa serta mampu mengadakan inovasi
dalam metode pembelajaran dikelas. Hal ini merupakan faktor penting untuk
membina hubungan yang baik dengan siswa maupun antar siswa guna
mendukung perkembangan self concept.
73
DAFTAR PUSTAKA
Amaryllia Puspasari. (2007). Mengukur Konsep Diri Anak. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Anas Sudijono. (2008). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada.
Aunurrahman. (2009). Bahan Ajar Cetak: Penelitian Pendidikan SD 4 SKS.
Jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.
A. Subarwati dan V.Wangun. (2009). Bahasaku, Bahasa Indonesia 5 untuk SD/MI
Kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Bachman, Jerald G. & Oβ€ŸMalley Patrick M. (1986). Self Concept, Self esteem and
Educational Experiences: The Frog Pond Revisited (Again). Journal of
Personality and Social Psychology Vol. 50, No. 1, 35-46.
Boeree, George. (1997). Personality Theories Melacak Kepribadian Anda
Bersama Psikologi Dunia. Yogyakarta: Primasophie.
Calhoun, James F. & Acocella, Joan Ross. (1990). Psikologi tentang Penyesuaian
dan Hubungan Kemanusiaan Edisi ke Tiga. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Djukanda Harjasuganda. (2008). Pengembangan Konsep diri yang Positif pada
Siswa SD sebagai Dampak Penerapan Umpan Balik (Feedback) dalam
Proses Pembelajaran Penjas. Jurnal Pendidikan Dasar nomor 9-April.
Eccles, Jacquelynne S. et al. (1989). Self Concept, Domain Values and Self
Esteem: Relations and Changes at Early Adolescence.
Journal of
Personality 57:2.
Hadley, Alena M. et al. (2008). Assessing What Kids Think About Themselves: A
Guide To Adolescent Self-Concept For Out Of School Time Program
Practitioners. Research to Results Child Trends. Hlm.1-6.
Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner. (1993). Teori-teori Holistik (Organismikfenomenologis). Yogyakarta: Kanisius.
Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad. (2011). Belajar dengan Pendekatan
PAIKEM. Jakarta: Bumi Aksara.
74
Hasibuan dan Moedjiono. (2004). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Manning, Maureen A. (2007). Self Concept and Self Esteem in Adolescents. PL
Student Services February.
Mardatillah. (2010). Pengembangan Diri. Balikpapan: STIE Madani.
Melanie D. (2007). Pembentukan Konsep Diri Siswa melalui Pembelajaran
Partisipasif. Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni.
Miftahul Huda. (2012). Cooperative Learning (Metode, Teknik. Struktur dan
Model Pembelajaran). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mujjis, Daniel & Reynolds, David. (2008). Effective Teaching: Teori dan Aplikasi
Edisi Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mulyani dan Johar. (1999). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Rita Eka Izzaty,dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta:UNY
Press.
Roestiyah N. K dan Yumiati Suharto. (1985). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Bina Aksara.
Sri Anitah. (2008). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sri Rahayu dan Yanti Sri R. (2009). Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas V.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Stein, Karen Farcheus. (1995). Schema Model of the Self Concept. Journal of
Nursing Scholarship Volume 27, Number 3.
Sudjana. (2001). Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah
Production.
Sugiyono. (2009). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. (1993). Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
75
Sukardi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sumadi Suryabrata. (2006). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. raja Grafindo
Persada.
Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. (2006). Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Syaiful Sagala. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Umri Nuraini dan Indriyani. (2008). Bahasa Indonesia 5 untuk SD/MI Kelas V.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Wina Sanjaya. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.
76
77
Instrumen Penelitian
78
Nama
:
Kelas
:
No. Absen
:
Pada angket berikut ini, adik-adik diminta untuk memberikan jawaban yang sesuai
dengan konsep diri adik-adik.
Konsep diri adalah cara pandang seseorang dalam melakukan penilaian
pada dirinya sendiri.
Tidak perlu takut, semua jawaban yang adik-adik berikan disini adalah BENAR
dan tidak akan mempengaruhi nilai adik-adik di sekolah.
Berilah tanda centang (οƒΌ) pada jawaban yang menurut adik-adik merupakan
jawaban yang paling mewakili diri kalian,
SL = Selalu
KD
= Kadang - kadang
SR = Sering
TP
= Tidak Pernah
Untuk seluruh pertanyaan yang ada, diharapkan adik-adik memberikan jawaban
pada setiap pertanyaan dan tidak melewatkan satu pertanyaan pun.
Silakan adik-adik bisa mulai kerjakan. Terima kasih
ANGKET SELF CONCEPT SISWA KELAS V SD
No
.
1
Jawaban
Pertanyaan
SL
Saya senang berdiskusi dalam kelompok karena
tugas yang dikerjakan menjadi lebih cepat selesai
2
Teman-teman senang jika saya banyak
membantu dalam menyelesaikan tugas kelompok
3
Saya senang dengan teman yang mau bertanya
pada saat diskusi kelompok
4
Saya tidak ikut menyelesaikan tugas kerja
kelompok yang diberikan guru
5
Saya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan
guru secara mandiri
79
SR
KD
TP
6
Saya diberi kesempatan untuk menyampaikan
pendapat dalam kerja kelompok
7
Teman-teman senang jika saya dapat bekerja
sama dengan baik dalam menyelesaikan tugas
kelompok
8
Dengan kerja kelompok, saya menjadi lebih rajin
untuk belajar
9
Dengan kerja kelompok, kesulitan yang ada
menjadi mudah
10
Saya dengan senang hati membantu teman yang
mengalami kesulitan saat kerja kelompok
11
Teman-teman suka jika saya membantu
memecahkan masalah dalam kerja kelompok
12
Saya memiliki nilai yang bagus pada beberapa
mata pelajaran
13
Sebelum mengerjakan, saya mempelajari tugas
kelompok yang diberikan guru.
14
Teman-teman suka jika saya ikut berdiskusi
dalam kerja kelompok
15
Saya dapat bekerja sama dengan teman-teman
dalam kerja kelompok
16
Teman-teman suka jika saya dapat
menyelesaikan tugas dengan baik
17
Dengan kerja kelompok, saya menjadi tahu
bahwa teman-teman menyukai saya
18
Teman-teman suka jika saya tidak menggangu
jalannya proses kerja kelompok
19
Saya senang dengan teman yang rajin mencari
bahan bacaan untuk menyelesaikan tugas kerja
kelompok
80
20
Saya senang diberi tugas kerja kelompok
meskipun kelompok tersebut dibentuk oleh guru
21
Dengan kerja kelompok, saya dapat lebih
memahami pengetahuan yang didapatkan
22
Saya pernah memimpin pembagian tugas dalam
kerja kelompok
23
Saya tidak yakin dapat menyelesaikan tugas
yang diberikan guru
24
Dengan kerja kelompok, saya dapat lebih akrab
dengan teman-teman
25
Dengan kerja kelompok, saya dapat
menyelesaikan tugas dengan baik dan
memuaskan
81
82
83
Data Uji Coba Instrumen
Penelitian
84
85
86
87
Validitas dan Reliabilitas
Instrumen Penelitian
88
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
%
23
100.0
0
.0
23
100.0
a
Excluded
Total
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.885
30
Item-Total Statistics
Cronbach's
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted
Total Correlation
Alpha if Item
Deleted
Pertanyaan 1
92.57
138.075
.131
.887
Pertanyaan 2
92.22
141.814
-.065
.894
Pertanyaan 3
91.70
132.676
.665
.878
Pertanyaan 4
92.39
144.613
-.195
.895
Pertanyaan 5
92.26
134.111
.399
.882
Pertanyaan 6
92.91
142.538
-.099
.892
Pertanyaan 7
92.26
126.111
.609
.877
Pertanyaan 8
92.13
128.846
.629
.877
Pertanyaan 9
92.39
133.249
.357
.883
Pertanyaan 10
92.13
131.300
.535
.879
Pertanyaan 11
92.09
135.265
.370
.882
Pertanyaan 12
92.35
124.510
.674
.875
Pertanyaan 13
92.30
125.949
.628
.876
Pertanyaan 14
92.35
133.964
.398
.882
Pertanyaan 15
92.00
132.364
.630
.878
Pertanyaan 16
93.17
145.877
-.286
.895
89
Pertanyaan 17
92.39
132.976
.435
.881
Pertanyaan 18
92.00
133.727
.379
.882
Pertanyaan 19
91.74
133.202
.600
.879
Pertanyaan 20
91.96
131.862
.664
.878
Pertanyaan 21
92.48
128.625
.559
.878
Pertanyaan 22
92.09
131.265
.529
.879
Pertanyaan 23
92.52
129.897
.457
.881
Pertanyaan 24
92.04
131.862
.676
.878
Pertanyaan 25
92.35
124.146
.691
.874
Pertanyaan 26
92.26
130.474
.529
.879
Pertanyaan 27
91.74
133.202
.600
.879
Pertanyaan 28
92.35
126.237
.596
.877
Pertanyaan 29
92.35
125.964
.640
.876
Pertanyaan 30
92.13
130.937
.556
.879
90
Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran
91
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah
: SD Negeri Kalikutuk
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester
: V (Lima)/II (Genap)
Alokasi Waktu
: 2 x 35 menit
Pertemuan Ke
: 1 (Satu)
Hari/Tanggal
: Senin, 13 Mei 2013
A. Standar Kompetensi:
Memahami penjelasan nara sumber dan cerita rakyat secara lisan
(Mendengarkan)
B. Kompetensi Dasar:
Mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat yang didengarkan
C. Indikator:
1. Menyebutkan tokoh dan watak dalam cerita anak
D. Tujuan:
Setelah mempelajari materi ini ,
1. Siswa mampu menyebutkan tokoh dalam cerita anak
2. Siswa mampu menyebutkan watak tokoh dalam cerita anak
E. Materi Pokok:
Cerita Anak
F. Pendekatan Pembelajaran: Student Center
G. Metode Pembelajaran:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Kerja Kelompok
H. Kegiatan Pembelajaran:
a. Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru mempersiapkan media, sumber belajar dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan proses pembelajaran
92
2. Guru memeriksa kesiapan siswa sebelum menerima pelajaran
3. Guru mengawali pelajaran dengan memberikan salam
4. Guru memberikan apersepsi kepada siswa melalui pertanyaan
“Pernahkah kalian membaca cerita Malin Kundang? Bagaimana
sikap Malin Kundang dalam cerita tersebut”
5. Guru menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan
rencana pembelajaran yang akan dilakukan dalam pertemuan kali
ini
b. Kegiatan inti ( 50 menit)
Eksplorasi:
1. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai materi yang
telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
2. Siswa mendengarkan cerita anak yang dibacakan oleh guru.
3. Siswa bersama guru melakukan tanya jawab seputar tokoh dan
watak dalam cerita.
4. Siswa bersama guru membuat daftar kelebihan dan kekurangan
tokoh utama dalam cerita yang telah didengarkan
Elaborasi
1. Siswa masuk dalam kelompok yang ditentukan guru. Setiap
kelompok beranggotakan 4 sampai 5 anak. Pembagian kelompok
ini didasarkan oleh kemampuan, status dan peran siswa dalam
kelompok.
2. Siswa mendengarkan tugas kerja kelompok yang disampaikan guru
yakni anggota kelompok diminta menuliskan sebanyak mungkin
kelebihan dan kekurangan yang mereka ketahui tentang dirinya.
3. Siswa diminta untuk saling memberi masukan tentang bagaimana
teman kelompok dapat mengatasi kekurangan diri tersebut
4. Siswa diminta menceritakan diri berdasarkan daftar kekurangan
kelebihan yang telah mereka buat secara kelompok dalam bentuk
paragraf sederhana
93
5. Siswa dan guru membahas hasil pekerjaan tersebut secara bersamasama.
Konfirmasi
1. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum
jelas dan perlu untuk ditanyakan.
2. Siswa mengerjakan 5 butir soal evaluasi
3. Setelah selesai, hasil pekerjaan dikoreksi secara bersama-sama.
c. Kegiatan akhir (10 menit)
1. Siswa menyampaikan apa yang bisa mereka lakukan setelah
mempelajari materi ini
2. Siswa dibantu oleh guru, bersama-sama meyimpulkan materi yang
telah dipelajari pada pertemuan ini.
3. Guru memberikan refleksi pesan kepada siswa terkait kegiatan
pembelajaran
4. Guru menuntup pelajaran dengan mengucapkan salam.
I. Skenario pembelajaran
No.
A.
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru
mempersiapkan
media, 1. Siswa
mempersiapkan
sumber belajar dan segala sesuatu
untuk
yang
pembelajaran
berkaitan
dengan
proses
mengikuti
diri
proses
pembelajaran
2. Guru memeriksa kesiapan siswa 2. Siswa siap mengikuti proses
sebelum menerima pelajaran
pembelajaran
3. Guru mengucapkan salam
3. Siswa menjawab salam yang
diucapkan guru.
94
4. Guru memberikan apersepsi kepada 4. Siswa menjawab pertanyaan
siswa melalui pertanyaan “Pernahkah
kalian
membaca
cerita
guru
Malin
Kundang? Bagaimana sikap Malin
Kundang dalam cerita tersebut”
5. Guru
menyampaikan
kompetensi 5. Siswa mendengarkan apa yang
(tujuan) yang akan dicapai dan
disampaikan oleh guru.
rencana pembelajaran yang akan
dilakukan dalam pertemuan kali ini
B.
Kegiatan Inti (50 menit)
1. Guru bertanya mengenai materi yang 1. Siswa menjawab pertanyaan
telah
dipelajari
pada
pertemuan
sebelumnya
guru terkait materi yang telah
dipelajari
pada
pertemuan
sebelumnya
2. Guru
menyampaikan
cerita 2. Siswa mendengarkan cerita
“Rumahku” di depan kelas
“Rumahku” yang disampaikan
guru
3. Guru bertanya seputar tokoh dan 3. Siswa menjawab pertanyaan
watak dalam cerita
guru seputar tokoh dan watak
dalam cerita
4. Guru dan siswa membuat daftar 4. Siswa
dan
kelebihan dan kekurangan tokoh
daftar
utama
kekurangan
dalam
cerita
yang
telah
didengarkan
dalam
guru
membuat
kelebihan
dan
tokoh
utama
cerita
yang
telah
didengarkan
5. Guru meminta siswa masuk dalam 5. Siswa masuk dalam kelompok
kelompok yang sudah ditentukan
yang ditentukan guru
6. Guru memberi kesempatan siswa 6. Siswa aktif mencatat
untuk mencatat
95
7. Guru menyampaikan tugas kerja 7. Siswa
mengerjakan
tugas
kelompok
yakni
kelompok yakni anggota kelompok
kerja
diminta
menuliskan
menuliskan
sebanyak
mungkin kelebihan dan kekurangan
mungkin
yang mereka ketahui tentang dirinya.
kekurangan
sebanyak
kelebihan
yang
dan
mereka
ketahui tentang dirinya.
8. Guru
meminta
kelompok
untuk 8. Siswa dalam kelompok saling
saling memberi masukan tentang
memberi
masukan
tentang
bagaimana teman kelompok dapat
bagaimana teman kelompok
mengatasi kekurangan diri tersebut
dapat mengatasi kekurangan
diri tersebut.
9. Guru meminta siswa menceritakan 9. Siswa
menceritakan
diri
diri berdasarkan daftar kekurangan
berdasarkan daftar kekurangan
kelebihan yang telah mereka buat
kelebihan yang telah mereka
secara
buat secara kelompok dalam
kelompok
dalam
bentuk
paragraf sederhana
bentuk paragraf sederhana
10. Guru dan siswa membahas hasil 10. Siswa dan guru membahas
pekerjaan tersebut secara bersama-
hasil pekerjaan tersebut secara
sama
bersama-sama
11. Guru memberi kesempatan untuk 11. Siswa
menanyakan
hal-hal
menanyakan hal-hal yang belum jelas
yang belum jelas dan perlu
dan perlu untuk ditanyakan
untuk ditanyakan
12. Guru meminta siswa mengerjakan 5 12. Siswa mengerjakan 5 butir
butir soal evaluasi
soal evaluasi
13. Guru dan siswa mengkoreksi hasil 13. Siswa dan guru mengkoreksi
pekerjaan siswa
C.
hasil pekerjaan siswa
Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Guru bertanya apa yang bisa siswa
1. Siswa menyampaikan apa
lakukan setelah mempelajari materi
yang bisa mereka lakukan
ini
setelah mempelajari materi
96
ini
2. Guru membantu siswa meyimpulkan
2. Siswa meyimpulkan materi
materi yang telah dipelajari pada
yang telah dipelajari pada
pertemuan ini.
pertemuan ini
3. Guru memberi refleksi pesan untuk
siswa
agar
mereka
senantiasa
3. Siswa memiliki kesan positif
tentang dirinya
memiliki pandangan positif tentang
dirinya
4. Guru mengucapkan salam penutup.
4. Siswa
menjawab
salam
penutup dari guru.
J. Sumber dan media pembelajaran
a. Sumber :
1. A. Subarwati dan V. Wanngun. (2009). Bahasaku, Bahasa Indonesia
5 untuk SD/MI Kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.
b. Media
Gambar tokoh cerita, yang digunakan dalam menyampaikan cerita anak
kepada siswa
K. Penilaian
1. Prosedur
a. Proses
b. Akhir
2. Jenis
a. Lisan
b. Tertulis
3. Bentuk
a. Unjuk Kerja
b. Essay
4. Alat
97
a. Proses
: terlihat pasa saat siswa mengerjakan tugas kerja kelompok
b. Akhir
:Soal Essay
5. Kriteria penilaian
a. Penilaian kognitif
Setiap menjawab benar soal essay akan mendapat skor 10 sehingga
total nilai adalah 50 X 2 = 100
Total nilai adalah 100
Keterangan:
Nilai A (baik sekali)
= 90-100
Nilai B (baik)
= 76-89
Nilai C (cukup)
= 66-75
Nilai D (kurang)
= <66
b. Penilaian Afektif
No
Kelompok
Pembagian
Tanggung
Kerja
tugas
jawab
sama
1
2
Setiap kolom diisi dengan nilai 20-30, jadi total nilai adalah 60-90
Keterangan nilai
A (baik sekali) : 81-90
B (baik)
: 71-80
C (cukup)
: 61-70
c. Penilaian Psikomotorik
No
Kelompok
Kerapian
dalam
melakukan
kerja
kelompok
1
2
98
Ketelitian
dalam
melakukan
kerja
kelompok
Kelincahan
dalam
melakukan
kerja
kelompok
Setiap kolom diisi dengan nilai 20-30, jadi total nilai adalah 60-90
Keterangan nilai
A (baik sekali) : 81-90
B (baik)
: 71-80
C (cukup)
: 61-70
L. Lampiran
1. Materi
2. Lembar Kerja Kelompok
3. Soal Evaluasi
4. Kunci Jawaban
5. Lembar Evaluasi Siswa Kegiatan Kerja Kelompok
6. Media
Sentolo, 13 Mei 2013
Mengetahui
Kepala Sekolah
Guru Kelas
Basuki, S.Pd
Karsiyah, S.Pd. SD
NIP. 19640815 198604 1 004
NIP. 19670402 199303 2 001
99
LAMPIRAN 1
Materi
Janji
Sejak duduk di bangku TK, Panji dan Aldo bersahabat. Mereka bisa
bersahabat karena mama mereka bersahabat. Mama Panji dan mama Aldo
memang bersahabat sejak kecil.
Ketika Panji dan Aldo masuk SD, mulai tampak perbedaan diantara
mereka. Panji sangat pandai bergaul. Ia punya teman di mana-mana. Aldo
sebaliknya. Ia pendiam, pemalu, dan kutu buku. Sementara Aldo sibuk
mempersiapkan belajar untuk mempertahankan gelar juara kelasnya. Panji sibuk
mengikuti kegiatan basket. Pelan-pelan keduanya menjauh.
Aldo hampir tak punya teman karena sifatnya yang pendiam. Panji juga
menganggap Aldo tidak menarik. Panji kini agak malas bersama-sama Aldo lagi.
“Kok, sekarang kamu jarang main ke tempat Aldo? Tante Rika kemarin
tanya pada mama,” kata mama Panji.
“Habis, di rumah Aldo hanya ada buku. Lagi pula, aku kan sekarang baru
sibuk latihan basket.”
“Kamu tidak boleh begitu, dong. Kamu kan yang paling dekat dengan
Aldo. Tante Rika sering curhat (berbagi rasa) dengan mama. Dia bingung melihat
Aldo yang tidak pernah main keluar rumah. Katanya kalau kamu datang, Aldo
terlihat lebih gembira.”
“Iya, ma. Nanti Panji ajak Aldo untuk main basket.”
Kesempatan yang ditunggu akhirnya datang. Panji mengajak Aldo untuk
bermain basket di lapangan sekolah pada hari Minggu. Aldo dan Panji memang
suka basket. Dulu mereka senang bermain basket bersama-sama. Karena rumah
mereka tidak searah, mereka berangkat sendiri-sendiri. Mereka berjanji bertemu di
lapangan.
Pada waktu Panji berjalan menuju ke lapangan, Panji bertemu dengan
temannya yang bernama Toni.
“Hei, Panji! Kebetulan ketemu di sini. Aku baru saja mau ke rumahmu.”
100
“Hei, Toni. Ada apa?”
“Aku baru saja beli PS 2 baru. Sekarang aku lagi butuh lawan tanding
nih.”
Tanpa basa-basi Panji langsung menyetujui tawaran dari Toni. Padahal dia ada
janji dengan Aldo di lapangan basket.
Waktu pun cepat berlalu di rumah Toni. Keduanya sedang menikmati
pertandingan sepak bola di PS 2. Ketika terdengar bunyi guntur di luar, Panji
teringat pada Aldo. Kemudian, Aldo melihat ke jendela. Hujan cukup deras. Panji
berpendapat bahwa mungkin Aldo sudah pulang ke rumah.
Malam harinya hujan belum berhenti. Sopir Toni mengantar Panji Pulang
ke rumah. Sampai di rumah mama Panji memberi tahu bahwa Aldo masuk rumah
sakit. Aldo menunggu di lapangan basket dari pagi hingga sore hari. Aldo
kehujanan dan dia kedinginan. Panji menyesal atas apa yang dilakukannya. Dia
kemudian menengok Aldo dan meminta maaf.
Sumber :
A. Subarwati dan V. Wanngun. (2009). Bahasaku, Bahasa Indonesia 5 untuk
SD/MI Kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
101
LAMPIRAN 2
Lembar Kerja Kelompok
NAMA ANGGOTA KELOMPOK:
KELEBIHAN SAYA:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9. dst
KEKURANGAN SAYA:
1.
2.
3.
4. dst
CARA MENGATASI KEKURANGAN SAYA:
-
CERITA DIRI:
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
102
LAMPIRAN 3
Soal Evalusi
RUMAHKU
“Hari ini kita latihan menyanyi di mana?” tanya Rara. Ina pura-pura tidak
mendengarkan. Ina langsung menyibukkan diri mencatat tugas di papan tulis.
Jangan sampai latihan musik di tempatku. Sebab selama ini hanya rumahku dan
rumah Nining yang belum pernah ketempatan untuk kerja kelompok. Ina selalu
cemas.
Beberapa minggu lalu, kami latihan menyanyi di rumah Dian. Rumahnya
besar sekali. Seperti rumah dalam sinetron. Di halaman belakangnya ada taman
dan kolam renang. Selesai latihan manyanyi kami berenang dan makan siang.
Sementara tiga minggu yang lalu, giliran Gino yang jadi tuan rumah.
Rumahnya sangat luas. Ada kebun durian di sana. Ayah Gino juga sangat lucu
dan ramah. Sewaktu pulang, kami diberi durian untuk dibawa pulang. Begitu juga
dengan rumah Bagus dan Ika. Rumah mereka bagus-bagus. Penuh pajangan
keramik dan kristal-kristal yang mewah.
“Bagimana kalau latihan menyanyi hari ini di tempat Ina?” Usul Gino
mengejutkan. Ina tersentak dan dadanya berdetak kencang. Akhirnya apa yang
kutakutkan menjadi kenyataan. Rumah Ina tak sebesar rumah mereka. Tak ada
pernak-pernik hiasan yang menghias ruangannya. Keluargaku hanya tinggal di
rumah mungil. Walaupun kami hidup berkecukupan, tetapi sangat sederhana bila
dibandingkan dengan teman-teman sekolahku.
Tiba-tiba Nining menyahut pembicaraan. “Eit, tunggu dulu. Sekarang
giliranku! Sekarang jambu di kebunku sedang berbuah, lo!”. “Asyik kita rujakan,
ya?”sahut Bagus bersemangat. “Beres! Kata Nining mengacungkan jempolnya.
Aku menarik napas. Fiuuuh... lega rasanya!
Pulang sekolah kami sama-sama menuju ke rumah Nining. Kami diantar
oleh Pak Rasa, sopir Ika sampai depan gang. Soalnya mobil tidak bisa masuk ke
dalam gang tersebut. “Maklum! Banyak orang penting tinggal di sini. Jadi untuk
menjaga ketenangan, jalannya sengaja dibuat sempit. Biar tak sembarangan orang
103
bisa masuk” Seloroh Nining yang langsung disambut teriakan huuuu.. yang keras.
Nining hanya tertawa.
Setelah melewati jalan yang becek, kami tiba di sebuah rumah kecil
berdinding kayu. Rumah tersebut tidak tertata dengan baik. “Nah, kita sudah
sampai!” seru Nining.
Astaga! Aku terkejut ternyata Nining yang supel dan ceria ternyata rumahnya
hanya biasa-biasa saja. Bahkan rumah itu tidak permanen seperti rumahku.
Dindingnya bukan dari batu bata, tetapi dari kayu. Letaknya di dalam gang, bukan
di kompleks seperti di
rumahku. Ina selalu berbicara dalam hatinya.
Kemudian, kami semua latihan menyanyi. Sesudah latihan menyanyi,
kami berenam makan. Makanan yang disediakan hanya cah kangkung dan tempe
bacem. Setelah itu, kami rujakan. Aku memandangi Nining. Nining yang selalu
bercanda dan
ceria. Nining yang selalu tertawa renyah. Entah mengapa dia tidak malu terhadap
keadaan rumahnya. Setelah sore, kami semua pulang.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Siapa saja tokoh dalam cerita “Rumahku”?
2. Bagaimana watak dari masing-masing tokoh dalam cerita tersebut?
3. Kenapa Ina merasa malu jika teman-teman berlatih musik di rumahnya?
4. Menurutmu apakah sebaiknya yang dilakukan Ina?
5. Amanat atau pesan apa yang kamu dapatkan dari cerita yang berjudul
“Rumahku” di atas?
Sumber :
A. Subarwati dan V. Wanngun. (2009). Bahasaku, Bahasa Indonesia 5 untuk
SD/MI Kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
104
LAMPIRAN 4
Kunci Jawaban
1. Tokoh dalam cerita “Rumahku” adalah Rara, Ina, Nining, Gino dan Bagus.
2. Watak tokoh dalan cerita “Rumahku”
a. Rara
: Ceria
b. Ina
: Ceria, Minder atau tidak percaya diri
c. Nining : Supel, ceria, percaya diri
d. Gino
: Ceria
e. Bagus
: Ceria
3. Karena rumah Ina tak sebesar rumah teman-temannya. Rumah Ina sangat
sederhana, mungil dan tak ada pernak-pernik hiasan yang menghias
ruangannya
4. Seharusnya Ina tidak perlu merasa minder atau malu dengan rumahnya
yang mungil dan sederhana karena Niningpun yang rumahnya biasa-biasa
saja tidak malu terhadap keadaan rumahnya
5. Kita harus bersyukur dan tidak boleh malu dengan keadaan rumah kita.
105
LAMPIRAN 5
Lembar Evaluasi Siswa Kegiatan Kerja Kelompok
Evaluasi siswa eksperimen 1
Nama Kelompok
:
Nama
:
No absen
:
Isilah lembar evalusi kegiatan berikut ini dengan memberikan tanda centang (οƒΌ)
pada kolom ya atau tidak sesuai dengan pemahamanmu!
No
1
jawaban
Pertanyaan
Ya
Saya menyelesaikan tugas
kelompok dengan baik
2
Saya dapat bekerjasama dengan
teman-teman kelompok
3
Saya dapat berkomunikasi
dengan teman-teman kelompok
4
Teman kelompok membantu
saya menyadari bahwa saya
punya banyak kelebihan diri
5
Teman kelompok memberi saya
masukan cara agar saya mampu
mengatasi kekurangan diri
6
Saya dapat menceritakan diri
dengan baik
7
Saya paham bahwa pandangan
positif tentang diri itu penting
8
Saya punya banyak pandangan
positif tentang diri
106
tidak
LAMPIRAN 6
Media
107
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah
: SD Negeri Kalikutuk
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester
: V (Lima)/II (Genap)
Alokasi Waktu
: 2 x 35 menit
Pertemuan Ke
: 2 (Dua)
Hari/Tanggal
: Kamis, 16 Mei 2013
A. Standar Kompetensi:
Mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain
drama (Berbicara)
B. Kompetensi Dasar:
Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat
C. Indikator:
1. Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat
D. Tujuan:
Setelah mempelajari materi ini ,
1. Siswa mampu dan berani memerankan tokoh dalam drama singkat
dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat
E. Materi Pokok:
Memerankan Tokoh Drama
F. Pendekatan Pembelajaran: Student Center
G. Metode Pembelajaran:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Kerja Kelompok
H. Kegiatan Pembelajaran:
a. Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru mempersiapkan media, sumber belajar dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan proses pembelajaran
108
2. Guru memeriksa kesiapan siswa sebelum menerima pelajaran
3. Guru mengawali pelajaran dengan memberikan salam
4. Guru memberikan apersepsi kepada siswa melalui pertanyaan
“Pernahkah kalian melihat pementasan drama saat acara tujuh
belasan?”
5. Guru menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan
rencana pembelajaran yang akan dilakukan dalam pertemuan kali
ini
b. Kegiatan inti ( 50 menit)
Eksplorasi:
1. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai materi yang
telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
2. Siswa
mendengarkan
penjelasan
guru
tentang
komponen-
komponen yang harus diperhatikan dalam bermain drama.
3. Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang komponenkomponen yang harus diperhatikan dalam bermain drama.
Elaborasi
1. Siswa masuk dalam kelompok yang telah ditentukan oleh guru
pada pertemuan sebelumnya.
2. Siswa mendengarkan tugas kerja kelompok yang disampaikan guru
yakni masing-masing kelompok mementaskan naskah drama yang
telah dipersiapkan.
3. Siswa berlatih drama secara berkelompok
4. Masing-masing kelompok mementaskan naskah drama yang telah
ditugaskan secara bergantian di depan kelas
Konfirmasi
1. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum
jelas dan perlu untuk ditanyakan.
2. Siswa mengerjakan soal evaluasi
3. Setelah selesai, hasil pekerjaan dikoreksi secara bersama-sama.
109
c. Kegiatan akhir (10 menit)
1. Siswa menyampaikan apa yang bisa mereka lakukan setelah
mempelajari materi ini
2. Siswa di bantu oleh guru, bersama-sama meyimpulkan materi yang
telah dipelajari pada pertemuan ini.
3. Guru memberikan refleksi pesan kepada siswa terkait kegiatan
pembelajaran
4. Guru menuntup pelajaran dengan mengucapkan salam.
I. Skenario pembelajaran
No.
A.
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru
mempersiapkan
media, 1. Siswa
mempersiapkan
sumber belajar dan segala sesuatu
untuk
yang
pembelajaran
berkaitan
dengan
proses
mengikuti
diri
proses
pembelajaran
2. Guru memeriksa kesiapan siswa 2. Siswa siap mengikuti proses
sebelum menerima pelajaran
3. Guru mengucapkan salam
pembelajaran
3. Siswa menjawab salam yang
diucapkan guru.
4. Guru memberikan apersepsi kepada 4. Siswa menjawab pertanyaan
siswa melalui pertanyaan “Pernahkah
guru
kalian melihat pementasan drama
saat acara tujuh belasan?”
5. Guru
menyampaikan
kompetensi 5. Siswa mendengarkan apa yang
(tujuan) yang akan dicapai dan
disampaikan oleh guru.
rencana pembelajaran yang akan
dilakukan dalam pertemuan kali ini
B.
Kegiatan Inti (50 menit)
1. Guru bertanya mengenai materi yang 1. Siswa menjawab pertanyaan
110
telah
dipelajari
pada
pertemuan
sebelumnya
guru terkait materi yang telah
dipelajari
pada
pertemuan
sebelumnya
2. Guru memberikan penjelasan tentang 2. Siswa
komponen-komponen
yang
harus
mendengarkan
penjelasan guru
diperhatikan dalam bermain drama
3. Guru bertanya seputar komponen- 3. Siswa menjawab pertanyaan
komponen yang harus diperhatikan
guru
seputar
dalam bermain drama
komponen
komponen-
yang
harus
diperhatikan dalam bermain
drama
4. Guru meminta siswa masuk dalam 4. Siswa masuk dalam kelompok
kelompok yang sudah ditentukan
yang ditentukan guru pada
pada pertemuan sebelumnya
pertemuan sebelumnya
5. Guru menyampaikan tugas kerja 5. Siswa
kelompok
yakni
masing-masing
kelompok
mementaskan
naskah
kerja
mendengarkan
tugas
kelompok
yang
disampaikan guru
drama yang telah dipersiapkan
6. Guru mendampingi jalannya proses 6. Siswa berlatih drama secara
latihan drama secara berkelompok
7. Guru
memperhatikan
berkelompok
penampilan 7. Masing-masing
kelompok
siswa dan mengamati perkembangan
mementaskan naskah drama
konsep sosial siswa.
yang telah ditugaskan secara
bergantian di depan kelas.
8. Guru memberi kesempatan untuk 8. Siswa
menanyakan
hal-hal
menanyakan hal-hal yang belum
yang belum jelas dan perlu
jelas dan perlu untuk ditanyakan
untuk ditanyakan.
9. Guru meminta siswa mengerjakan 9. Siswa
soal evaluasi
evaluasi
111
mengerjakan
soal
10. Guru dan siswa mengkoreksi hasil 10. Siswa dan guru mengkoreksi
pekerjaan siswa
C.
hasil pekerjaan siswa
Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Guru bertanya apa yang bisa siswa
1. Siswa menyampaikan apa
lakukan setelah mempelajari materi
yang bisa mereka lakukan
ini
setelah mempelajari materi
ini
2. Guru membantu siswa meyimpulkan
2. Siswa meyimpulkan materi
materi yang telah dipelajari pada
yang telah dipelajari pada
pertemuan ini.
pertemuan ini
3. Guru memberi refleksi pesan untuk
siswa
agar
mereka
senantiasa
memiliki pandangan positif tentang
bagaimana
orang
3. Siswa memiliki kesan positif
tentang bagaimana orang lain
memandangnya
lain
memandangnya
4. Guru mengucapkan salam penutup.
4. Siswa
menjawab
salam
penutup dari guru.
J. Sumber dan media pembelajaran
a. Sumber :
1. Sri Rahayu dan Yanti Sri R. (2009). Bahasa Indonesia untuk SD/MI
Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
2. A.Subarwati dan V.Wangun. (2009). Bahasaku, Bahasa Indonesia 5
untuk SD/MI Kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.
3. Umri Nuraini dan Indriyani. (2008). Bahasa Indonesia 5 untuk SD/MI
Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
b. Media
Naskah drama pendek
112
K. Penilaian
1. Prosedur
a. Proses
b. Akhir
2. Jenis
a. Lisan
b. Tertulis
3. Bentuk
a. Unjuk Kerja
b. Essay
4. Alat
a. Proses
: terlihat pasa saat siswa mengerjakan tugas kerja kelompok
yakni berlatih dan memerankan
b. Akhir
:Soal Essay
5. Kriteria penilaian
a. Penilaian kognitif
Setiap menjawab benar soal essay akan mendapat skor 10 sehingga
total nilai adalah 50 X 2 = 100
Total nilai adalah 100
Keterangan:
Nilai A (baik sekali)
= 90-100
Nilai B (baik)
= 76-89
Nilai C (cukup)
= 66-75
Nilai D (kurang)
= <66
b. Penilaian Afektif
No
Kelompok
Pembagian
Tanggung
Kerja
kerja
jawab
sama
1
2
Setiap kolom diisi dengan nilai 20-30, jadi total nilai adalah 60-90
Keterangan nilai
113
A (baik sekali) : 81-90
B (baik)
: 71-80
C (cukup)
: 61-70
c. Penilaian Psikomotorik
No
Nama Siswa
Penghayatan
Vokal
Penampilan
1
2
Setiap kolom diisi dengan nilai 20-30, jadi total nilai adalah 60-90
Keterangan nilai
A (baik sekali) : 81-90
B (baik)
: 71-80
C (cukup)
: 61-70
6. Kriteria Keberhasilan
Siswa dikatakan berhasil apabila memperoleh nilai minimal 80
L. Lampiran
1. Materi
2. Soal Evaluasi
3. Kunci Jawaban
4. Lembar Evaluasi Siswa Kegiatan Kerja Kelompok
5. Media (Naskah Drama Pendek)
Sentolo, 16 Mei 2013
Mengetahui
Kepala Sekolah
Guru Kelas
Basuki, S.Pd
Karsiyah, S.Pd. SD
NIP. 19640815 198604 1 004
NIP. 19670402 199303 2 001
114
LAMPIRAN 1
Materi
Bermain Drama
Kalian pernah memerankan tokoh tertentu dalam suatu pementasan
drama? Jika
kalian akan bermain drama, perhatikanlah komponen-komponen dalam bermain
drama. Komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam bermain drama
berdasarkan naskah adalah sebagai berikut:
1. Pengahayatan
Penghayatan adalah pemahaman terhadap isi naskah drama yang akan
dipentaskan yang terlihat pada ekspresi dan pemahaman karakter tokoh.
Dalam bermain drama, pemahaman harus dilakukan terhadap keseluruhan
teks, tidak hanya terbatas tokoh yang diperankan saja. Pemahaman
terhadap tokoh yang
diperankan tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya pemahaman terhadap
tokoh yang lain mengenai latar belakang sosial budaya yang ada dalam
teks tersebut, dan tanggapan tokoh lain terhadap tokoh yang diperankan.
2. Vokal
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain drama mengenai vokal
yaitu:
a. Kejelasan ucapan
Setiap kata atau kalimat yang ada dalam teks drama yang
diekspresikan harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton
secara jelas. Jelas tidaknya suatu ucapan tergantung suara yang
diucapkan. Untuk dapat menghasilkan suara yang jelas rajinlah
mengadakan pelatihan olah vokal.
b. Jeda
Masalah jeda, kalian harus dapat mengatur secara tepat, artinya di
manakah kalian boleh mengambil nafas dan berapa lama, karena
115
jeda merupakan faktor yang penting supaya apa yang diucapkan
sampai kepada pendengar atau penonton.
c. Ketahanan dan kelancaran
Dalam bermain drama diharapkan seorang tokoh atau pemain
memiliki ketahanan dan kelancaran suara. Seorang tokoh jangan
sampai terjadi intensitas suara semakin berkurang, atau semakin
lama semakin tidak lancar dalam berdialog.
3. Penampilan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penampilan kita adalah:
a. Teknik muncul
Teknik
muncul
yakni
cara
yang
harus
ditempuh
dalam
memperlihatkan diri untuk pertama kalinya.
b. Gerakan
Gerakan artinya cara mengekspresikan tubuh yang disesuaikan
dengan dialog yang diucapkan.
c. Cara berpakaian
Cara berpakaian sering disebut dengan kostum. Kostum harus
disesuaikan benar dengan karakter tokoh sehingga kostum yang
dipakai dapat lebih mencerminkan karakter tokoh.
4. Pandangan mata
Pandangan mata juga disesuaikan dengan karakter tokoh yang diperankan.
5.
Konsentrasi
Konsentrasi merupakan pengelolaan dari yang dapat menentukan
keberhasilan dalam mengekspresikan drama, karena konsentrasi berfungsi
sebagai pembalut saat berekspresi.
Sumber:
Sri Rahayu dan Yanti Sri R. (2009). Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas V.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
116
LAMPIRAN 2
Soal Evalusi
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Sebutkan 5 hal yang harus diperhatikan saat bermain drama!
2. Apa yang dimaksud dengan penghayatan dalam bermain drama?
3. Jelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain peran mengenai
vokal!
4. Apa saja yang harus diperhatikan dalam penampilan kita saat bermain
drama?
5. Bagaimana cara mengatasi rasa tidak percaya diri saat bermain drama?
117
LAMPIRAN 3
Kunci Jawaban
1. Lima hal yang harus diperhatikan saat bermain drama adalah penghayatan,
vokal, penampilan, pandangan mata dan konsentrasi
2. Penghayatan dalam bermain drama adalah pemahaman terhadap isi naskah
drama yang akan dipentaskan terlihat pada ekspresi dan pemahaman
karakter tokoh yang diperankan
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain peran mengenai vokal
yaitu:
a. Kejelasan ucapan
Setiap kata atau kalimat yang ada dalam teks drama yang
diekspresikan harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton
secara jelas. Jelas tidaknya suatu ucapan tergantung suara yang
diucapkan. Untuk dapat menghasilkan suara yang jelas rajinlah
mengadakan pelatihan olah vokal.
b. Jeda
Masalah jeda, kalian harus dapat mengatur secara tepat, artinya di
manakah kalian boleh mengambil nafas dan berapa lama, karena
jeda merupakan faktor yang penting supaya apa yang diucapkan
sampai kepada pendengar atau penonton.
c.
Ketahanan dan kelancaran
Dalam bermain peran diharapkan seorang tokoh/pemain memiliki
ketahanan dan kelancaran suara. Seorang tokoh jangan sampai
terjadi intensitas suara semakin berkurang, atau semakin lama
semakin tidak lancar dalam berdialog.
4. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penampilan kita saat bermain
drama adalah teknik muncul, gerakan dan cara berpakaian
5. Cara mengatasi rasa tidak percaya diri saat bermain drama adalah dengan
membiasakan diri tampil di depan kelas
118
LAMPIRAN 4
Lembar Evaluasi Siswa Kegiatan Kerja Kelompok
Evaluasi siswa eksperimen 2
Nama Kelompok
Nama
No absen
:
:
:
Isilah lembar evalusi kegiatan berikut ini dengan memberikan tanda centang (οƒΌ)
pada kolom ya atau tidak sesuai dengan pemahamanmu!
jawaban
No
Pertanyaan
Ya
tidak
1
Saya menyelesaikan tugas
kelompok dengan baik
2
Saya dapat bekerjasama dengan
teman kelompok sesama jenis
3
Saya dapat bekerjasama dengan
teman kelompok lawan jenis
4
Teman kelompok meyakinkan
saya bahwa saya bisa
memainkan peran yang
diberikan
5
Teman kelompok meyakinkan
saya bahwa saya mampu
memberikan penampilan
terbaik
6
Saya menjadi lebih percaya diri
karena bekerja secara kelompok
7
Saya paham bahwa pandangan
positif tentang bagaimana orang
lain memandang diri kita itu
penting
8
Saya yakin orang lain (teman,
guru atau peneliti) memiliki
pndangan yang baik kepada
saya
119
LAMPIRAN 5
Media
(Naskah Drama Pendek)
Drama 1
KRISIS EKONOMI
Pemain:
1. Pino
2. Lala
3. Ibu
Di Sebuah kamar tidur. Seorang anak perempuan berambut panjang
sedang memasukkan uang ke dalam celengan berbentuk ayam. Tiba-tiba datang
seorang anak laki-laki membawa buku pelajaran.
Pino
Lala
Pino
Lala
Pino
Lala
Pino
Ibu
Pino
: (Menghampiri Lala, kemudian berdiri di samping Lala.)
Kak, apa yang dimaksud dengan krisis ekonomi?
: (Memandang Pino.)
Krisis ekonomi adalah ekonomi dalam keadaan gawat atau sulit.
Maksudnya adalah kita sekarang sulit untuk mencari uang atau nafkah.
Mengapa kamu menanyakan tentang krisis ekonomi?
: (Duduk di tempat tidur Lala yang berada di sebelah meja belajar.)
Aku membaca materi pelajaran untuk besok. Di dalam materi tersebut ada
hal mengenai krisis ekonomi.
: (Menutup buku pela-jaran, lalu mengarahkan tempat duduknya ke arah
Pino duduk.)
Bangsa Indonesia memang sedang dilanda krisis ekonomi. Dengan adanya
krisis ekonomi ini, banyak perusahaan yang gulung tikar atau bangkrut.
Karena perusahaan bangkrut, banyak orang yang kehilangan pekerjaannya.
Akhirnya, pengangguran menjadi banyak.
: Terus dengan adanya krisis ekonomi ini, apa yang harus kita lakukan,
Kak Lala?
: Kita harus rajin menabung!
: Bagaimana caranya menabung, Kak?
: (Mendekati Lala dan Pino)
Ibu, kan selalu memberi kita uang jajan. Uang jajan tersebut jangan
dihabiskan, tetapi juga harus disisihkan sedikit untuk ditabung.
: (Memukul kening dengan telapak tangan.)
120
Ibu
Pino
Ibu
Pino
Lala
Aduh! Selama ini aku selalu menghabiskan uang jajanku. Terus, di mana
saya bisa menabung, Bu?
: (Mengambil celengan yang ada di atas meja belajar)
Kamu bisa menabung di celengan atau di bank.
: Memangnya apa bedanya antara menabung di bank dan menabung di
celengan?
: Sebenarnya sama saja. Hanya kalau kamu menabung di bank akan lebih
aman.
: (Menguap dan berdiri dari tempat tidur Lala.)
Mulai dari sekarang aku akan menyisihkan uang jajanku untuk aku tabung.
Terima kasih atas penjelasannya, ya Kak Lala dan Ibu. Sekarang aku mau
pergi tidur dulu. Selamat Malam!”
(Pergi dari kamar tidur Lala dan menutup pintu.)
: (Meletakkan celengan di tempat semula.)
Selamat Malam.
Sumber:
A.Subarwati dan V.Wangun. (2009). Bahasaku, Bahasa Indonesia 5 untuk SD/MI
Kelas 5. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
121
Drama 2
MEMILIH TONTONAN DI TELEVISI
Pemain:
1. Rena
2. Fajar
3. Ayah
4. Ibu
Suatu sore Ayah, Rena dan Fajar sedang duduk santai di ruang keluarga.
Mereka sedang melihat televisi. Rena duduk didekat ayah. Mereka bercakapcakap tentang hiburan di televisi yang makin banyak variasinya.
Rena : (Memandang wajah ayah.)
Ayah, tadi pagi Ida bercerita tentang sinetron yang ditontonnya semalam.
Fajar : (Memandang Rena.)
Apa yang ditonton Ida semalam?
Rena : Katanya ia menonton sinetron yang menceritakan pembunuhan seorang
anak kecil. Bolehkah Rena menonton film itu, Kak? Sebab menurut Ida,
filmnya akan dilanjutkan malam ini pukul 20.00.
Ayah : (Memandang rena)
Rena, Ayah tidak melarang kalian menonton televisi tetapi kita harus dapat
memilih tontonan yang baik.
Rena : (Mukanya cemberut karena kecewa.)
Lalu, tontonan yang bagaimana yang boleh ditonton oleh anak-anak?
Ibu datang membawa minuman dan makanan. Lalu ibu menyajikan makanan dan
minuman tersebut di meja. Setelah menyajikan, Ibu duduk di sebelah Rena.
Ibu
: Yang boleh kamu lihat adalah acara televisi yang khusus untuk anakanak. Misalnya acara menyanyi untuk anak, cerita untuk anak, belajar
menggambar, pengetahuan untuk anak-anak, film kartun, dan masih
banyak lagi.
Ayah : (Mengambil minuman yang ibu sajikan.)
Sekarang acara untuk anak-anak juga harus diseleksi lagi karena banyak
acara anak-anak yang sudah berbau dewasa.
(Minum minuman yang disajikan.)
Fajar : (Mengambil makanan.)
Acara apa yang tidak boleh ditonton anak-anak, Yah?
(Memakan makanan yang disajikan oleh ibu.)
122
Ayah : (Mengembalikan minuman ke meja. Kemudian mengambil makanan yang
disajikan oleh ibu.)
Film-film yang mengandung kekerasan sebaiknya jangan ditonton. Anakanak masih mudah terpengaruh. Kalau banyak menonton film yang
mengandung kekerasan, anak-anak akan terus ingat adegan-adegan
tersebut dan mereka akan bertindak keras juga.
Ibu
: Begitu pula adegan-adegan khusus untuk orang dewasa tidak boleh
ditonton oleh anak-anak.
Rena : (Mukanya tidak cemberut lagi.)
Kalau begitu acara apa yang boleh ditonton anak-anak?
Ayah : Berita boleh ditonton anak-anak agar kalian tahu peristiwa yang terjadi di
tempat lain. Film yang menayangkan dunia anak-anak, yaitu bermain dan
belajar tentu boleh ditonton anak-anak.
Ibu
: (Mengambil makanan.)
Pilihlah tontonan yang baik dan bermanfaat untuk kita. Rena, Fajar sudah
sore. Ayo lekas mandi!
(Memakan makanan.)
Rena dan Fajar
: Baik, Bu. Kami berjanji akan mencari hiburan yang baik
dan bermanfaat.
Rena dan Fajar kemudian meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersiap mandi.
Sedangkan, ayah dan ibu masih melihat televisi sambil memakan makanan yang
disajikan ibu.
Sumber:
Sri Rahayu dan Yanti Sri R. (2009). Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas V.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
123
Drama 3
SALAH PAHAM
Pemain:
1. Tian
2. Yosep
3. Vani
4. Pak Anwar
Pada saat istirahat setelah pelajaran olahraga, Tian, Yosep dan Vani
berada di depan kelas. Mereka bercakap-cakap membahas tentang sesuatu hal.
Tian : Sep, aku rasa Pak Anwar memang tidak suka padaku!
Yosep : Mengapa kamu berkata begitu, Yan?
Tian : Coba kamu perhatikan sikap Pak Anwar selama ini! Kemarin, aku tidak
mengikuti pelajaran olahraga sekali saja langsung dihukum.
Yosep : Itu hanya perasaanmu saja! Soal itu, kamu kan yang salah, mengapa
kamu berbohong kepada Pak Anwar? Akhirnya ketahuan juga, kan? Lagi
pula, kamu kan baru dihukum satu kali.
Tian : Sekali bagaimana? Tadi, aku disuruh push up sama squat jump di depan
anak-anak. Kok, hanya aku saja yang disuruh memperhatikan, yang lain
tidak?
Vani : Yan, tadi bukan hukuman, tadi kamu memang dipilih untuk memberi
contoh kepada teman-teman cara push up yang baik sekalian dibetulkan
sama Pak Anwar!
Tian : Mengapa aku yang dipilih, tidak bergantian? Aku, kan jadi capek disuruh
push up dan squat jump!
Vani : Ya, anggap saja itu gantinya olahraga yang kemarin kamu tidak masuk!
Tian : Enak saja, kemarin aku sudah dihukum lari keliling lapangan 3x, lho!
Masa sekarang disuruh mengganti lagi, itu namanya tidak adil.
Vani : Iya-iya, tapi kamu jangan emosi dong! Aku yakin Pak Anwar bermaksud
baik.
Tian : Ah, kamu membela Pak Anwar!
Tiba-tiba, Pak Anwar lewat di depan mereka. Tian nampak kebingungan.
Yosepdan Vani tersenyum saja.
Yosep
Tian
: Yan, sudahlah kamu jangan salah sangka begitu, tidak baik itu
namanya!
: Sudahlah, percuma bicara dengan kamu!
124
Pak Anwar
: Lho, kalian kok nggak ganti baju seragam. Pelajaran sudah
selesai, lho! Sana ganti pakaian, langsung istirahat sebentar!
Yosep, Tian &Vani : Iya, Pak! Ini juga mau ganti pakaian.
Pak Anwar
: Tetapi, sepertinya kalian mendiskusikan sesuatu, apa yang kalian
diskusikan?
Tian
: Tidak, Pak! Kami cuma bercanda biasa.
Pak Anwar
: Ya, sudah, kalau begitu jangan bohong lagi, ya. Nanti kalau
ketahuan saya hukum, lho!
Yosep
: Ah, ini lho, Pak! Sebelumnya maaf, sepertinya Tian salah paham
kepada Bapak.
Tian
: (Berusaha membela diri)
Ah, nggak Pak! Jangan percaya Yosep, dia memang suka begitu!
Pak Anwar
: Salah paham kepada Bapak?
Vani
: Ya, Pak. Tian merasa Bapak tidak suka padanya, soalnya
beberapa hari ini Bapak sering menghukumnya!
Pak Anwar
: (Sambil tertawa)
Aduh, itu bukan hukuman, Yan! Yang pertama, saya lakukan
karena kamu membohongi Bapak. Terus yang tadi, saya suruh
kamu push up dan squat jump, karena saya tahu kemampuanmu
melebihi teman-temanmu, jadi, kamu yang saya suruh! Sudah jelas
kan? Semua itu saya lakukan bukan karena Bapak tidak suka sama
kamu. Tetapi sebaliknya, Bapak sayang sama kamu.
Yosep & Vani : Tuh, benar kan, Yan! Kamu jangan salah paham dulu sama Pak
Anwar.
Tian
: Iya.. ya! Aku juga minta maaf sama Pak Anwar telah salah
paham.
Pak Anwar
: Iya.. tidak apa-apa! Bapak juga minta maaf jika ada kesalahan!
Eh, gimana kalau nanti sore kita melihat pertandingan sepak bola
bersama di lapangan sentolo? Bagus, lho! Kebetulan yang
bertanding SD Makmur dengan SD Sejahtera. Bagaimana mau,
tidak? Anggap saja untuk menghilangkan salah paham antara kita!
Tian, Yosep & Vani: Oke.. Pak, kami mau!
Pak Anwar
: Ya sudah, jam 3 saya tunggu di rumah, ya! Dan sekarang
waktunya ganti pakaian.
Tian, Yosep & Vani: Siap!
Sumber:
Umri Nuraini dan Indriyani. (2008). Bahasa Indonesia 5 untuk SD/MI Kelas V.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
125
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah
: SD Negeri Kalikutuk
Mata Pelajaran
: Seni Budaya dan Keterampilan
Kelas/ Semester
: V (Lima)/II (Genap)
Alokasi Waktu
: 2 x 35 menit
Pertemuan Ke
: 3 (Tiga)
Hari/Tanggal
: Kamis, 23 Mei 2013
A. Standar Kompetensi:
Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa
B. Kompetensi Dasar:
Mengekspresikan diri melalui gambar ilustrasi manusia dan kehidupannya
C. Indikator:
1. Membuat gambar ilustrasi diri di masa yang akan datang
D. Tujuan:
Setelah mempelajari materi ini ,
1. Siswa mampu memiliki gambaran tentang dirinya di masa yang akan
datang
E. Materi Pokok:
Cita-citaku
F. Pendekatan Pembelajaran: Student Center
G. Metode Pembelajaran:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Kerja Kelompok
H. Kegiatan Pembelajaran:
a. Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru mempersiapkan media, sumber belajar dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan proses pembelajaran
2. Guru memeriksa kesiapan siswa sebelum menerima pelajaran
126
3. Guru mengawali pelajaran dengan memberikan salam
4. Guru memberikan apersepsi kepada siswa melalui pertanyaan “Apa
saja pekerjaan yang ada di lingkungan tempat kita beraktifitas?”
5. Guru menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan
rencana pembelajaran yang akan dilakukan dalam pertemuan kali
ini
b. Kegiatan inti ( 50 menit)
Eksplorasi:
1. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai materi yang
telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
2. Siswa mendengarkan sebuah cerita yang disampaikan guru tentang
cita-cita
3. Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang cita-cita siswa di
masa yang akan datang .
4. Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang hal apa saja yang
dapat siswa lakukan untuk meraih cita-cita tersebut.
Elaborasi
1. Siswa masuk dalam kelompok yang telah ditentukan oleh guru
pada pertemuan sebelumnya.
2. Siswa mendengarkan tugas kerja kelompok yang disampaikan guru
yakni
masing-masing
kelompok
diminta
membuat
gambar
imajinatif tentang cita-cita anggotanya, disertai dengan keterangan
hal yang dilakukan siswa untuk meraih cita-cita tersebut.
3. Anggota kelompok saling berdiskusi dan memberi masukan
tentang cara yang dapat dilakukan untuk meraih cita-cita tersebut
sesuai dengan kreatifitasnya
4. Siswa menyelesaikan gambar dan keterangan cara meraih cita-cita
secara berkelompok
5. Masing-masing kelompok menampilkan hasil kerja di depan kelas
127
Konfirmasi
1. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum
jelas dan perlu untuk ditanyakan.
c. Kegiatan akhir (10 menit)
1. Siswa menyampaikan apa yang bisa mereka lakukan setelah
mempelajari materi ini
2. Siswa di bantu oleh guru, bersama-sama meyimpulkan materi yang
telah dipelajari pada pertemuan ini.
3. Guru memberikan refleksi pesan kepada siswa terkait kegiatan
pembelajaran
4. Guru menuntup pelajaran dengan mengucapkan salam.
I. Skenario pembelajaran
No.
A.
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Kegiatan Awal (10 menit)
1. Guru
mempersiapkan
media, 1. Siswa
mempersiapkan
sumber belajar dan segala sesuatu
untuk
yang
pembelajaran
berkaitan
dengan
proses
mengikuti
diri
proses
pembelajaran
2. Guru memeriksa kesiapan siswa 2. Siswa siap mengikuti proses
sebelum menerima pelajaran
3. Guru mengucapkan salam
pembelajaran
3. Siswa menjawab salam yang
diucapkan guru.
4. Guru memberikan apersepsi kepada 4. Siswa menjawab pertanyaan
siswa melalui pertanyaan “Apa saja
guru
pekerjaan yang ada di lingkungan
tempat kita beraktifitas?”
5. Guru
menyampaikan
kompetensi 5. Siswa mendengarkan apa yang
(tujuan) yang akan dicapai dan
rencana pembelajaran yang akan
dilakukan dalam pertemuan kali ini
128
disampaikan oleh guru.
B.
Kegiatan Inti (50 menit)
1. Guru bertanya mengenai materi yang 1. Siswa menjawab pertanyaan
telah
dipelajari
pada
pertemuan
sebelumnya
guru terkait materi yang telah
dipelajari
pada
pertemuan
sebelumnya
2. Guru menyampaikan sebuah cerita 2. Siswa mendengarkan cerita
tentang cita-cita
yang disampaikan guru
3. Guru bertanya tentang cita-cita siswa 3. Siswa menjawab pertanyaan
di masa yang akan datang
guru tentang cita-citanya di
masa yang akan datang
4. Guru bertanya tentang hal apa saja 4. Siswa menjawab pertanyaan
yang dapat siswa lakukan untuk
guru tentang hal apa saja yang
meraih cita-cita tersebut
dapat siswa lakukan untuk
meraih cita-cita tersebut
5. Guru meminta siswa masuk dalam 5. Siswa masuk dalam kelompok
kelompok yang sudah ditentukan
yang ditentukan guru pada
pada pertemuan sebelumnya
pertemuan sebelumnya
6. Guru menyampaikan tugas kerja 6. Siswa
kelompok
yakni
masing-masing
kelompok diminta membuat gambar
imajinatif
anggotanya,
tentang
disertai
mendengarkan
tugas
kelompok
yang
kerja
disampaikan guru
cita-cita
dengan
keterangan hal yang dilakukan siswa
untuk meraih cita-cita tersebut
7. Guru mendampingi jalannya proses 7. Anggota
kerja berkelompok
berdiskusi
kelompok
dan
saling
memberi
masukan tentang cara yang
dapat dilakukan untuk meraih
cita-cita tersebut
8. Guru mendampingi jalannya proses 8. Siswa menyelesaikan gambar
129
kerja berkelompok
dan keterangan cara meraih
cita-cita secara berkelompok
9. Guru memberikan apresiasi positif 9. Masing-masing
kelompok
berupa reward bagi setiap kelompok
menampilkan hasil kerja di
yang
depan kelas
berhasil
menyelesaikan
tugasnya
10. Guru memberi kesempatan untuk 10. Siswa
menanyakan
hal-hal
menanyakan hal-hal yang belum jelas
yang belum jelas dan perlu
dan perlu untuk ditanyakan
untuk ditanyakan
C.
Kegiatan Penutup (10 menit)
1. Guru bertanya apa yang bisa siswa
1. Siswa menyampaikan apa
lakukan setelah mempelajari materi
yang bisa mereka lakukan
ini
setelah mempelajari materi
ini
2. Guru membantu siswa meyimpulkan
2. Siswa meyimpulkan materi
materi yang telah dipelajari pada
yang telah dipelajari pada
pertemuan ini.
pertemuan ini
3. Guru memberi refleksi pesan untuk
3. Siswa memiliki kesan positif
siswa agar mereka senantiasa optimis
tentang
dirinya
sehingga
terhadap masa depannya
tumbuh rasa optimis terhadap
masa depannya
4. Guru mengucapkan salam penutup.
4. Siswa
menjawab
salam
penutup dari guru.
J. Sumber dan media pembelajaran
a. Sumber :
1. Sri Rahayu dan Yanti Sri R. (2009). Bahasa Indonesia untuk SD/MI
Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
b. Media
Papan “Jika Aku Besar Nanti”
130
K. Penilaian
1. Prosedur
a. Proses
b. Akhir
2. Jenis
a. Lisan
b. Tertulis
3. Bentuk
a. Produk
4. Alat
a. Proses
: terlihat pasa saat siswa mengerjakan tugas kerja kelompok
yakni bekerjamasa dan berdiskusi dengan kelompoknya
b. Akhir
: Soal penilaian
5. Kriteria penilaian
a. Penilaian kognitif
No
Kelompok
Kualitas
Kreativitas
pengerjaan
dalam
tugas
pengerjaan
Hasil akhir
tugas
1
2
Setiap kolom diisi dengan nilai 20-30, jadi total nilai adalah 60-90
Keterangan nilai
A (baik sekali) : 81-90
B (baik)
: 71-80
C (cukup)
: 61-70
b. Penilaian Afektif
No
Kelompok
Pembagian
kerja
1
2
131
Tanggung
jawab
Kerja
sama
Setiap kolom diisi dengan nilai 20-30, jadi total nilai adalah 60-90
Keterangan nilai
A (baik sekali) : 81-90
B (baik)
: 71-80
C (cukup)
: 61-70
c. Penilaian Psikomotorik
No
Kelompok
Kerapian
Ketelitian
Kelincahan
dalam
dalam
dalam
melakukan
melakukan
melakukan
kerja
kerja
kerja
kelompok
kelompok
kelompok
1
2
Setiap kolom diisi dengan nilai 10-20, jadi total nilai adalah 50-100
Keterangan nilai
A (baik sekali) : 84-100
B (baik)
: 67-83
C (cukup)
: 50-66
6. Kriteria Keberhasilan
Siswa dikatakan berhasil apabila memperoleh nilai minimal 80
132
L. Lampiran
1. Materi
2. Lembar Evaluasi Siswa Kegiatan Kerja Kelompok
3. Media
Sentolo, 23 Mei 2013
Mengetahui
Kepala Sekolah
Guru Kelas
Basuki, S.Pd
Karsiyah, S.Pd. SD
NIP. 19640815 198604 1 004
NIP. 19670402 199303 2 001
133
LAMPIRAN 1
Materi
Tiga Penjual Sapu
Oleh : Iin Solihin
Musim gugur yang paling dinantikan oleh seluruh penduduk kerajaan Ayodia
telah tiba. Namun bagi Raja Aleida, musim gugur kali ini merupakan musim yang
menyedihkan. Betapa tidak, ia harus berpikir keras bagaimana caranya
membersihkan halaman istana yang sangat luas itu setiap hari.
Seminggu sebelum musim gugur tiba, Pak Andaru, kepala kebersihan istana,
pensiun karena sudah uzur dan sakit-sakitan. Celakanya, musim gugur kali ini
begitu dahsyat. Daun pada pepohonan di halaman istana berguguran. Saking
kencangnya angin bertiup, tidak hanya daun kering yang berguguran, daun-daun
hijau pun berjatuhan. Tentu saja keadaan ini membuat istana menjadi kotor.
Melihat situasi seperti itu, Raja segera menitahkan Mahapatih Gazdera untuk
mencari tukang sapu di berbagai pelosok negeri. Raja membutuhkan 42 sapu yang
akan digunakan untuk membersihkan halaman istana oleh 21 pembersih istana.
Sapu-sapu yang ada ternyata tidak lagi memadahi. Kalau pun ada, sapu-sapu
tersebut umumnya sudah tua, atau tidak cocok lagi untuk menyapu sampah yang
kian menggunung. Akhirnya Mahapatih Gazdera berkeliling ke beberapa tempat.
Setelah dua minggu, barulah ia menemukan tiga penjual sapu.
Mereka ini penjual sapu terkenal di kerajaan Ayodia. Penjual sapu pertama
adalah seorang bapak tua. Ia tinggal di sebuah desa di tepi hutan. Tetapi ketika
134
ditanya oleh Mahapatih Gazdera berapa harga sapunya, dengan tidak bersemangat
ia mengangkat bahu.
“Sapu-sapu ini tidak dijual. Sudah ada yang pesan,” jawabnya sambil memberesi
barang dagangannya. “Nanti sore akan diambil,”katanya lagi.
Namun, matahari semakin condong ke arah barat, tak seorang pun datang
menghampirinya. Sebenarnya ia telah berbohong. Ia tak yakin Mahapatih Gazdera
akan membeli sapu dalam jumlah banyak. Selama ini memang tidak melayani
eceran. Mahapatih Gazdera berlalu. Ia menuju pedagang sapu ke dua, tak jauh dari
bapak tua tadi. Hatinya senang ketika pedagang sapu itu menyambutnya dengan
senyum.
“Sapunya masih ada, Pak?” tanya Patih Gazdera sambil tersenyum.
“Masih, Pak. Bapak perlu berapa?” tanyanya sambil memperlihatkan sapu-sapu
hasil karyanya. Sapu-sapu itu bagus dan beragam corak serta warnanya.
“Saya membutuhkan 42 sapu untuk membersihkan halaman istana,” ujar
Mahapatih.
Pedagang sapu itu tersentak kaget.” Bapak dari istana?”
Ia mengiyakan. “Saya Patih Gazdera. Raja menitahkan saya untuk mencari sapu.”
Lama pedagang sapu itu berpikir. Kemudian ia berkata.
“Tetapi, maaf beribu maaf Mahapatih, sapu-sapu ini sudah ada yang pesan.
Mungkin besok atau lusa Mahapatih bisa datang ke sini. Saya akan siapkan sapusapu sesuai pesanan istana,” katanya sambil berharap Mahapatih Gazdera tidak
marah.
135
Ia tak yakin istana akan membayarnya. Manurut dia, Raja bisa saja mengambil
sapu sesuka hati, dan ia tidak mendapat bayaran sepeserpun. Sapu-sapu itu
dibuatnya dengan susah payah, ia tak rela jika seseorang mengambilnya, termasuk
raja sekalipun.
Sambil tersenyum Mahapatih Gazdera berkata, “Tidak apa-apa Pak, kalau
sudah ada yang pesan. Saya akan cari ke tempat lain saja. Mudah-mudahan
dapat.” Bersorak gembira hati sang pedagang sapu itu.
“Akhirnya sapu-sapu saya selamat dari rampasan istana,” gumamnya.
Ia sempat khawatir. Mahapatih Gazdera memaksa meminta sapu-sapunya.
Malam telah tiba. Tetapi Mahapatih Gazdera tidak putus asa. Persis di
seberang pedagang sapu kedua, ia melihat ada seorang bapak renta ditemani anak
laki-lakinya berjualan sapu. Dengan berheran-heran ia hampiri pedagang sapu
tersebut.
“Silakan masuk, Pak.” kata anak laki-laki itu sambil menyorongkan sebuah kursi
kayu. “Bapak mencari sapu?”
“Ya, saya mencari sapu. Saya membutuhkan 42 sapu.”
“Wah, banyak sekali, buat apa sapu sebanyak itu, Pak?” tanyanya polos.
“Maaf saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Hari sudah malam, saya harus
segera pulang. Jika Bapak tidak keberatan, boleh saya bawa sapu-sapu ini ke
tempat saya? Saya janji, pasti dibayar,” katanya berharap.
Dari pengalaman sebelumnya, ia tak ingin menyebutkan identitas. Tanpa
berpikir panjang lagi, Bapak renta itu mengiyakan. “Silakan Bapak ambil dulu
136
jika memang tidak membawa uang. Dibayar kemudian pun tidak apa-apa,”
ujarnya tulus.
Kemudian, “Tapi bagaimana caranya mambawa sapu sebanyak ini?” katanya
kebingungan. Tiba-tiba anaknya menyahut, “Saya bisa membantu, Pak!”
Setelah sapu-sapu selesai dirapikan, Mahapatih Gazdera pulang. Sambil
berjalan menyusuri jalan perkampungan, Mahapatih tak henti-hentinya berdecak
kagum kepada anak laki-laki itu. Meskipun masih kecil, tenaganya luar biasa.
Seraya memikul sapu, anak itu tak henti-hentinya bersiul dan bernyanyi riang.
Padahal hari semakin malam.
“Nak, kamu tidak capai? Kalau capek, kita istirahat dulu,” tawarnya. “Tidak, Pak.
Kalau diselang istirahat, saya suka ketiduran. Lebih baik jalan terus,” jelasnya.
“Baiklah kalau begitu. Tak lama lagi juga sampai.”
Tak lama kemudian sampai di pintu masuk istana. Karena perjalanan pada
malam hari, anak laki-laki itu baru menyadari di mana kini dia berada. Belum
hilang rasa kagetnya, ia segera diajak masuk oleh Mahapatih Gazdera. Bukan
main senangnya Raja ketika Mahapatih Gazdera mendapat sapu sesuai dengan
keinginannya. Sapu-sapu itu sangat bagus, kuat, dan warna-warni pula. Raja
Aleida pun menitahkan Mahapatih Gazdera agar bapak renta dan anak lakilakinya itu dibawa ke istana untuk menjadi kepala kebersihan istana, sekaligus
pembuat sapu di lingkungan kerajaan.
Sumber:
Sri Rahayu dan Yanti Sri R. (2009). Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas V.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
137
LAMPIRAN 2
Lembar Evaluasi Siswa Kegiatan Kerja Kelompok
Evaluasi siswa eksperimen 3
Nama Kelompok
Nama
No absen
:
:
:
Isilah lembar evalusi kegiatan berikut ini dengan memberikan tanda centang (οƒΌ)
pada kolom ya atau tidak sesuai dengan pemahamanmu!
jawaban
No
Pertanyaan
Ya
tidak
1
Saya menyelesaikan tugas
kelompok dengan baik
2
Saya dapat bekerjasama dengan
teman kelompok dengan baik
3
Teman kelompok meyakinkan
saya bahwa saya bisa meraih
apa yang telah dicita-citakan
dengan berbagai cara
4
Teman kelompok memberi saya
masukan bagaimana agar saya
dapat meraih cita-cita saya
5
Banyak usaha yang pasti bisa
saya lakukan untuk meraih citacita saya
6
Saya yakin akan berhasil di
masa depan
7
Saya paham bahwa pandangan
positif tentang bagaimana diri
kita di masa depan itu penting
8
Saya yakin saya dapat meraih
apa yang saya cita-citakan
138
LAMPIRAN 3
Media
139
Hasil Pretest dan Posttest Angket
Self Concept
140
141
142
143
144
145
146
147
148
Surat Ijin Penelitian
149
150
151
152
153
154
Foto-Foto Penelitian
155
FOTO SUASANA BELAJAR KELAS EKSPERIMEN
Siswa Saling Membantu dalam Melaksanakan Kerja Kelompok
Siswa Aktif Berdiskusi dalam Kelompok
Siswa Aktif Berlatih Drama Secara Kelompok
Siswa Menyelesaikan Tugas Kerja Kelompok
156
FOTO SUASANA BELAJAR KELAS KONTROL
Guru Menjelaskan Materi Pelajaran
Guru Melakukan Tanya Jawab dengan Siswa
Guru Menulis Penjelasan di Papan Tulis
Siswa Mengerjakan Soal Evaluasi
157
FOTO PELAKSANAAN PRETEST DAN POSTTEST ANGKET SELF CONCEPT
Pretest Kelas VA
Posttest Kelas VA
Pretest Kelas VB
Posttest Kelas VB
158
Download