analisis pembiayaan melalui finance lease dan aplikasi perlakuan

advertisement
ANALISIS PEMBIAYAAN MELALUI FINANCE LEASE DAN APLIKASI
PERLAKUAN AKUNTANSI LEASING BERDASARKAN PSAK NO.30 TAHUN 2012
PADA PT. ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE TANJUNGPINANG
Oleh
SUGIARTI WULANDARI
120462201002
Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
2016
ABSTRAK
Sulitnya perekonomian Indonesia pada saat ini, mengharuskan masyarakat kecil dan
menengah kebawah sangat membutuhkan transportasi yang sesuai dengan penghasilan dari
masing-masing individu. Saat ini banyak bermunculan perusahaan pembiayaan seperti
leasing. PT. Adira Dinamika Multi Finance Tanjungpinang merupakan lembaga pembiayaan
resmi sepeda motor dan mobil, dimana dalam hal ini bertindak sebagai lessor. Aktivitas
usaha PT. Adira Dinamika Multi Finance Tanjungpinang adalah melakukan kegiatan
pembiayaan sepeda motor dan mobil. Aktivitas bisnis atau penjualan perusahaan PT. Adira
Dinamika Multi Finance Tanjungpinang dilakukan secara kredit. Dalam hal ini dibuat suatu
perjanjian dimana lessor menyediakana barang dengan hak penggunaan oleh lesee dengan
imbalan pembayaran sewa untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan antara
lessor dengan lesee. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan akuntansi pada PT. Adira Dinamika Multi Finance
Tanjungpinang menggunakan model akuntansi leasing finance lease atau sewa guna usaha
dengan hak opsi dengan model Direct Financing Lease dan telah memenuhi kriteria-kriteria
dalam PSAK No. 30 Tahun 2012
Kata Kunci: leasing, akuntansi piutang leasing, PSAK No. 30
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada masa pembangunan ini, kehidupan masyarakat tidak terlepas dari berbagai
kebutuhan. Karena pada umumnya dalam masyarakat seseorang tidak mampu memenuhi
segala kebutuhannya sendiri, namun ia memerlukan tangan ataupun bantuan dari pihak lain.
Maka dalam keadaan ini, tidak jarang utang piutang hanya sekedar untuk tambahan dana
dalam mencukupi hidupnya.
Sulitnya perekonomian Indonesia pada saat ini, mengharuskan masyarakat kecil dan
menengah kebawah sangat membutuhkan transportasi yang sesuai dengan penghasilan dari
masing-masing individu. Yang mana salah satu fungsi dari kendaraan bermotor tersebut
berguna sebagai sarana penunjang perekonomian dari individu tersebut. Seiring dengan
kebutuhan serta permintaan masyarakat akan sarana transportasi yang layak dan memadai
untuk digunakan, mengharuskan setiap individu untuk bergerak lebih mudah serta lebih
cepat untuk mencapai tujuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dengan begitu
perkembangan industri kendaraan sepeda motorpun menunjukkan pertumbuhan yang cukup
signifikan.
Dalam hal pemenuhan kebutuhan akan transportasi masyarakat di Indonesia, turut
memberikan kontribusi bagi dunia kerja yang bergerak di suatu lembaga keuangan khususnya
pada bidang pembiayaan/finance, yang dapat dilihat dengan banyaknya berbagai bentuk
perusahaan dibidang pembiayaan yang memberikan solusi untuk memiliki kendaraan
bermotor terutama roda dua. Dan Kepulauan Riau merupakan salah satu yang tergolong pesat
dalam penggunaan dan pemilikan baik roda dua maupun roda empat, khususnya di
Tanjungpinang.
Salah satu bentuk lembaga pembiayaan kendaraan bermotor adalah leasing. Menurut
Pasal 1 Angka (2) Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988, pengertian Lembaga
Pembiayaan (leasing) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari
masyarakat. Lembaga pembiayaan leasing sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia
karena lembaga pembiayaan sangat membantu dalam menunjang pemasaran kendaraan
bermotor dan kepemilikan kendaraan bermotor bagi masyarakat. (Elyviana, 2010)
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perlakuan
akuntansi leasing telah sesuai dengan PSAK No.30 Tahun 2012 pada PT. Adira Dinamika
Multi Finance Tanjungpinang.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Sewa Guna Usaha (Leasing)
Pengertian sewa guna usaha (leasing) menurut Keputusan Menteri Keuangan No.
1169/KMK.01/1991 tanggal 21 September 1991 tentang kegiatan sewa guna usaha
memberikan definisi sebagai berikut;
“Sewa Guna Usaha adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan
barang-barang modal, baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease)
maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease), untuk digunakan oleh
lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.”
Perlakuan akuntansi leasing menurut PSAK adalah: peraturan baku yang telah
disahkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) terhadap penerapan Akuntansi di Indonesia
adalah PSAK. Untuk penelitian ini, perlakuan akuntansi leasing tertulis di PSAK No.30
Revisi 2012, yang isi nya mengatur tentang sewa pembiayaan atau leasing dengan
penerapannya sebagai berikut:

“Suatu sewa diklasikfikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut
mengalihkan secara substansial seluruh resiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak
mengalihkan secara substansial seluruh resiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan aset”. (Paragraf : 08)

“Lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan dilaporan posisi keuangan
sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa netto tersebut”. (Paragraf : 35)

“Pada hakikatnya dalam sewa pembiayaan seluruh resiko dan manfaat yang terkait
dengan kepemilikan hukum dialihkan oleh lessor kepada lessee, dan dengan demikian
penerimaan piutang sewa diperlakukan oleh lessor sebagai pembayaran pokok dan
pendapatan keuangan yang diterima sebagai penggantian dan imbalan atas investasi
dan jasanya”.
(Paragraf : 36)

Pengukuran setelah pengakuan: ”Pengakuan pendapatan keuangan didasarkan pada
suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan
atas investasi netto lessor dalam sewa pembiayaan”. (Paragraf : 38)
Leasing sebagai suatu sarana alternatif untuk suatu pembiayaan banyak menunjang
tujuan pemerintah dalam mengembangkan sektor swasta. Dalam hal ini terdapat dua jenis
pembiayaan leasing, yaitu financial lease dan operating lease. Financial lease memberikan
hak opsi kepada peminjam untuk membeli barang tersebut setelah habis masa kontrak.
Sedangkan operating lease hanya memberikan hak pakai saja dan setelah habis masa pakai
barang modal tersebut dikembalikan. Cara seperti
ini dimungkinkan perusahaan sebab
setelah masa sewa habis, kemungkinan barang modal tersebut masih cukup berharga untuk
disewakan lagi ataupun dijual. Untuk sistem operating lease biasanya pihak lessor
bertanggungjawab terhadap perawatan barang modal tersebut. Jenis barang-barang modal
tersebut yang banyak disewakan dalam sistem operating lease ini adalah barang-barang yang
memiliki nilai yang tinggi, misalnya alat-alat berat, alat kontraktor dan mesin-mesin.
Untuk menghindari dari resiko kerugian yang besar karena suatu kecelakaan atau lain
hal, maka dalam sistem leasing ini mensyaratkan suatu asuransi. Premi asuransi tersebut
dibayarkan oleh lessee dengan alasan bahwa lessee adalah pihak yang paling mengetahui
bagaimana karakteristik dari barang modal tersebut. Berhubungan dengan hal tersebut, maka
pihak lessor melakukan pengecekan atas kelangsungan asuransi barang modal yang
merupakan milik lessor.
Keuntungan leasing bagi lessee disini adalah uang muka dan pembayaran yang lebih
murah dibandingkan pinjaman langsung (straight loans). Hal itu dimungkinkan karena
leasing mengandung tax saving (penurunan pajak) dari terdepresiasinya barang-barang yang
di lease kan tersebut. Oleh karena itu, untuk memulai suatu pemilikan barang modal, lessee
tidak harus menyediakan dana dengan jumlah yang besar untuk membeli barang modal.
Pihak-pihak yang Terlibat dalam Leasing
Leasing merupakan suatu perjanjian antara pemilik barang (lessor) degan pemakai
barang (lessee). Menurut Arthesa dan Handiman (2008 : 249) Setiap transaksi leasing
sekurang-kurangnya melibatkan 4 (empat) pihak yang berkepentingan , yaitu: lessor, lessee,
supplier, dan bank atau kreditor:
 Lessor, adalah perusahaan leasing atau pihak yang memberikan jasa pembiayaan atau
penyewaan kepada konsumen. Lessor dapat memberikan jasa pembiayaan dalam
bentuk finance lease atau operating lease. Pilihan ini berdasarkan kesepakatan antara
pihak lessor dengan pihak penyewa atau lessee.
 Lessee, adalah seorang atau perusahaan yang mendapatkan jasa pembiayaan dari
perusahaan leasing atau lessor. Pihak lessee mendapatkan keuntungan dari jasa
pembiayaan ini karena kebutuhan akan barang-barang modal dapat dipenuhi tanpa
mengeluarkan biaya yang besar. Lessee dapat memilih cara penyewaan baik dengan
finance lease maupun dengan operating lease, dan pilihan ini disesuaikan dengan
kebutuhan seseorang atau perusahaan tersebut.
 Supplier, adalah perusahaan ataupun pihak-pihak yang menyediakan barang-barang
modal sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau perusahaan atau penyewa/lessee.
Pada umumnya supplier telah mengetahui kebutuhan penyewa akan jenis barang
modal teertentu. Kemudian supplier secara aktif melakukan pendekatan kepada lessee
dan lessor agar mereka memilih barang modal yang ditawarkan. Persaingan antara
pihak supplier yang cukup tinggi memberikan keuntungan bagi pihak lessee dan
lessor berupa potongan harga ataupun keuntungan lainnya.
 Bank atau kreditor, dalam suatu perjanjian atau kontrak leasing pihak bank atau
kreditor tidak terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut, namun pihak bank
memegang peranan dalam hal penyediaan dana kepada lessor, terutama dalam
mekanisme leverage lease dimana sumber dana pembiayaan lessor diperoleh melalui
kredit bank. Dan kreditor mempunyai peran yang besar bagi pertumbuhan leasing.
Karena pada umumnya dalam perjalanan usaha, lessor mengalami kekurangan dana
karena tingginya kebutuhan lessee akan barang-barang modal. Kreditur terutama
adalah pihak perbankan nasional, namun ada pula perusahaan keuangan lainnya yang
dapat menyediakan bantuan dana bagi perkembangan usaha leasing di Indonesia.
Teknik Pembiayaan pada Leasing
Pada teknik pembiayaan leasing dapat dilihat berdasarkan jenis transaksi leasing yang
digunakan. Secara umum dalam leasing terdapat dua kategorri pembiayaan dari sudut
pandang lessee, yaitu finance lease dan operating lease.
1. Finance Lease
Finance lease atau terkadang disebut dengan full-pay out leasing merupakan suatu bentuk
pembiayaan dengan cara kontrak antara pihak lessor dan lessee dengan beberapa ketentuanketentuan.
2. Operating Leasing
Teknik leasing dalam bentuk ini, dengan sengaja lessor membeli barang modal lalu
selanjutnya di lease kan kepada pihak lessee. Pada teknik ini berbeda dengan finance lease,
pada operating lease jumlah seluruh pembayaran berkala tidak cukup menutup jumlah biaya
yang harus dikeluarkan untuk memperoleh modal tersebut berikut bunganya dikarenakan
perusahaan leasing tersebut mengharapkan keuntungan justru dari penjualan barang modal
yang di lease kan atau melalui beberapa kontrak leasing berikutnya.
Sistem operating lease ini terkadang juga disebut dengan sewa guna usaha biasa merupakan
suatu perjanjian kontrak antara lessor
Pengakuan, Pengukuran, dan Pengungkapan Akuntansi Leasing Berdasarkan PSAK
No. 30 Tahun 2012
Berdasarkan PSAK No.30 Tahun 2012 mengenai pengakuan awal, pengukuran
setelah pengakuan awal, dan pengungkapan dalam sewa pembiayaan dalam laporan keuangan
lessee maupun lessor dan dalam pembiayaan finance lease dan operating lease dikatakan
bahwa;
1) Sewa dalam Laporan Keuangan Lessee
 Finance Lease
Pengakuan Awal
“Pada awal masa sewa, lessee mengakui sewa pembiayaan sebagai aset dan liabilitas dalam
laporan posisi keuangan sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari
pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Penilaian ditentukan
pada awal kontrak sewa. Tingkat diskonto yang digunakan dalam perthitungan nilai kini dari
pembayaran sewa minimum adalah tingkat suku bunga implisit dalam sewa, jika dapat
ditentukan secara praktis; jika tidak, digunakan tingkat suku bunga pinjaman inkremental
lessee. Biaya langsung awal yang dikeluarkan lessee ditambah ke dalam jumlah yang diakui
sebagai aset”. (Paragraf : 19)
Ayat jurnal untuk mencatat pengakuan awal perjanjian:
Aset lease
xxx
Utang lease
xxx
Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
“Pembayaran sewa minimum dipisahkan antara bagian yang merupakan beban dan bagian
yang merupakan pelunasan liabilitas. Beban keuangan dialokasikan kesetiap periode selama
masa sewa sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik yang
konstan atas saldo liabilitas. Rental kontinjen dibebankan pada periode terjadinya”. ( Paragraf
: 24)
Ayat jurnal untuk pembayaran sewa pertama:
Utang lease
xxx
Beban pajak
xxx
Beban bunga
xxx
Kas
xxx
Ayat jurnal mencatat pengakuan penyusutan aset:
Beban penyusutan aset lease
Akumulasi penyusutan aset lease
xxx
xxx
Pengungkapan
Lessee juga mengungkapkan hal-hal berikut yang berkaitan dengan sewa pembiayaan
(Paragraf : 30):
a) Jumlah neto jumlah tercatat untuk setiap kelompok aset pada tanggal pelaporan;
b) Rekonsiliasi antara total pembayaran sewa minimum dimasa depan pada tanggal
pelaporan, dengan nilai kininya. Selain itu, entitas mengungkapkan total pembayaran
sewa minimum dimasa depan pada tanggal pelaporan, dan nilai kininya, untuk setiap
periode berikut:
(i)
Sampai dengan satu tahun;
(ii)
Lebih dari satu tahun sampai lima tahun;
(iii)
Lebih dari lima tahun.
c) Rental kontinjen yang diakui sebagai beban pada periode tersebut;
d) Total perkiraan penerimaan pembayaran minimum sewa-lanjut dimasa depan dari
kontrak sewa-lanjut yang tidak dapat dibatalkan (non-cancellable subleases) pada
tanggal pelaporan.
e) Penjelasan umum isi perjanjian sewa yang material, yang meliputi, tetapi tidak
terbatas pada, hal berikut:
(i)
Dasar penentuan utang rental kontinjen;
(ii)
Ada tidaknya klausal-klausal yang berkaitan dengan opsi perpanjangan atau
pembelian dan eskalasi beserta syarat-syaratnya; dan
(iii)
Pembatasan-pembatasan yang ditetapkan dalam perjanjian sewa, misalnya
yang terkait dengan dividen, tambahan utang, dan sewa-lanjut.
 Operating Lease
Pengakuan Awal
“Pembayaran sewa dalam sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama
masa sewa kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu
dari manfaat aset yang dinikmati pengguna”. (Paragraf : 32)
Ayat jurnal untuk mencatat pengakuan awal:
Beban lease
xxx
Kas
xxx
Hutang lease
xxx
2) Sewa dalam Laporan Keuangan Lessor
 Finance Lease
Pengakuan Awal
“Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan di laporan
posisi keuangan sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto tersebut”. (Paragraf :
35)

Perusahaan tidak menginvestasikan dana tunai kepihak dealer, perusahaan akan
mengeluarkan dana pembiayaan pada saat terjadi transaksi. Maka ayat jurnal pada
transaksi ini adalah:
Aset sewa guna usaha
xxx
Kas

xxx
Jurnal pada saat transaksi untuk mencatat lease:
Piutang lease
xxx
Aset sewa guna usaha
xxx
Pendapatan bunga diterima dimuka
xxx
Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
“Pengakuan penghasilan pembiayaan didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu
tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih lessor dalam sewa
pembiayaan”. (Paragraf : 38)


Jurnal untuk mencatat awal sewa perjanjian pada pembayaran pertama:
Kas
xxx
Pendapatan bunga diterima dimuka
xxx
Piutang lease
xxx
Biaya asuransi
xxx
Biaya administrasi
xxx
Pendapatan bunga
xxx
Jurnal transaksi pada saat pembayaran angsuran perbulan:
Kas
xxx
Piutang lease
xxx

Jurnal transaksi untuk mengakui pendapatan bunga perbulan yang diperoleh lessor:
Pendapatan bunga diterima dimuka
xxx
Pendapatan bunga
xxx
Pengungkapan
Pengungkapan lessor mengungkapkan hal berikut untuk sewa pembiayaan: (Paragraf : 47)
a) Rekonsiliasi antara investasi sewa bruto dan sewa kini piutang pembayaran sewa
minimum pada tanggal pelaporan. Disamping itu, lessor mengungkapkan investasi
sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa minimum pada tanggal pelaporan,
untuk setiap periode berikut:
(i)
Kurang dari satu tahun
(ii)
Lebih dari satu tahun sampai lima tahun
(iii)
Lebih dari lima tahun
b) Penghasilan pembiayaan tangguhan
c) Nilai residu tidak dijamin yang diakru sebagai manfaat lessor
d) Akumulasi penyisihan piutang tidak tertagih atas pembayaran sewa minimum
e) Rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan, dan
f) Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessor yang material
 Operating Lease
Pengakuan Awal
“Lessor menyajikan aset untuk sewa operasi di laporan posisi keuangan sesuai sifat aset
tersebut”. (Paragraf : 49)
“Pendapatan sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus
selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola
waktu dimana manfaat penggunaan aset sewaan menurun”. (Paragraf : 50)
“Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses negosiasi dan pengaturan
sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat aset sewaan dan diakui sebagai beban selama
masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa”. (Paragraf : 52)
Ayat jurnal untuk mencatat penerimaan pembayaran pertama:
Kas
xxx
Pendapatan sewa diterima dimuka
xxx
Ayat jurnal untuk mengakui pendapatan yang diperoleh dan penyusutan aktiva:
Pendapatan sewa diterima dimuka
xxx
Pendapatan sewa
xxx
Beban penyusutan
xxx
Akumulasi penyusutan
xxx
3) Penyajian Piutang Dineraca
Menurut Kieso and Weygandt (dalam Izati, 2014) Umunya, piutang pembayaran
lease, walaupun dicatat pada jumlah investasi kotornya, dilaporkan dineraca pada jumlah
investasi bersih (investasi kotor - pendapatan bunga diterima dimuka) dan diberi keterangan
“investasi bersih dalam lease modal”. Hal ini dapat diklasifikasikan baik sebagai lancar
maupun tidak lancar, tergantung pada kapan investasi bersih itu dipulihkan.
PT. XXXX
Neraca
Per 31 Desember 20xx
Aktiva
Utang+Modal
Aktiva Lancar
Utang Lancar
Kas
Xxx
Piutang Leasing
Xxx
Aktiva Tetap
Utang Jangka Panjang
Modal
Neraca
Sumber: Rudianto (dalam Runtuwene, 2013)
Kelebihan Leasing sebagai Sumber Pembiayaan
Menurut Arthesa dan Handiman (2008 : 254) leasing sebagai alternatif sumber
pembiayaan memiliki beberapa kelebihan dan manfaat dibandingkan dengan sumber-sumber
pembiayaan lainnya antara lain sebagai berikut:
A. Perusahaan Pembiayaan Leasing
Manfaat yang diterima perusahaan leasing adalah:

Manfaat yang diterima oleh perusahaan leasing adalah penerimaan dari bunga dan
biaya administrasi yang diperoleh dari konsumen. Tingkat bunga yang diterima oleh
konsumen umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat bunga pinjaman dari
bank. Hal ini karena tingkat risiko usaha pembiayaan
ini jauh lebih besar
dibandingkan dengan risiko yang dihadapi oleh bank.
B. Supplier
Manfaat yang diterima supplier adalah:

Peningkatan Penjualan Barang
Hal ini terjadi karena perusahaan leasing dapat membiayai kebutuhan atau keinginan
konsumen akan barang yang dijual oleh supplier meskipun konsumen tidak memiliki
uang tunai.

Supplier Terhindar dari Risiko Gagal Bayar
Supplier menerima uang tunai dari perusahaan leasing, sehingga supplier tidak
menerima risiko pembayaran angsuran konsumen yang tidak lancar.
C. Konsumen
Manfaat yang diterima konsumen adalah:

Sumber Pembiayaan Alternatif
Leasing merupakan sumber pembiayaan lain bagi perusahaan tanpa mengganggu
fasilitas kredit (credit line) yang telah dimiliki. Dari segi jaminan leasing tidak terlalu
menuntut adanya jaminan tambahan yang lebih banyak dibandingkan apabila lessee
memperoleh pinjaman dari pihak lainnya yaitu pihak perbankkan. Karena hak
kepemilikan sah atas objek lease serta pengaturan pembayaran lease sesuai dengan
pendapatan yang dihasilkan oleh objek lease sehingga merupakan jaminan bagi
leasing itu sendiri. Dengan demikian harta yang telah dijaminkan untuk kredit tetap
dapat menjamin kredit yang sudah ada.

Memberikan Persyaratan yang Fleksibel
Dibandingkan dengan bank, perusahaan leasing memiliki persyaratan yang jauh lebih
fleksibel dibandingkan dengan bank. Kemudahan tersebut terutama adalah
persyaratan dokumen yang lebih ringan, proses yang lebih cepat, dan hubungan yang
lebih mudah. Namun, konsekuensi dari kemudahan tersebut adalah tingkat suku
bunga leasing yang umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat bunga
pinjaman bank. Tingginya suku bunga leasing merupakan antisipasi dari berbagai
resiko yang mungkin timbul dari kemudahan pemberian fasilitas pembiayaan ke pihak
lessee.

Mendapatkan Barang Dengan Pendanaan yang Sesuai Kemampuan
Konsumen mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan barang yang diinginkannya
meskipun mereka tidak mempunyai dana yang cukup untuk membeli barang tersebut.
Pengertian Kredit
Dalam kehidupan keseharian kita tidak terlepas dari kata kredit. Kata kredit bukan
merupakan kata yang asing dikalangan masyarakat kita. Kata kredit tidak hanya terkenal
dikalangan kota-kota besar saja, akan tetapi kata kreditpun telah populer dikalangan
penduduk pedesaan.
Menurut Abdullah dan Tantri (2012 : 162) dalam bukunya yang berjudul Bank dan
Lembaga Keuangan mengatakan bahwa: Istilah kredit berasal dari bahasa Yunani “credere”
yang berarti kepercayaan (truth atau faith). Oleh karena itu, dasar dari kredit adalah
kepercayaan. Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit percaya bahwa penerima
kredit pada masa yang akan datang akan sanggup memenuhi segala susuatu yang telah
dijanjikan. Apa yang telah dijanjikan itu dapat berupa barang, uang dan jasa. Dengan
demikian, prestasi dan kontraprestasi dapat berbentuk barang terhadap jasa, barang terhadap
barang, barang terhadap uang, uang terhadap uang, uang terhadap jasa, dan uang terhadap
barang. Dengan diterimanya kontraprestasi pada masa yang akan datang, maka jelas
tergambar bahwa kredit dalam arti ekonomi adalah penundaan pembayaran dari prestasi yang
diberikan sekarang, baik dalam bentuk uang, maupun jasa dan barang.
Penelitian terdahulu
Terdapat beberapa penelitian yang penulis ambil sebagai literatur tambahan dengan
data olahan penunjang lainnya, sehingga dapat dijelaskan hasil judul penelitian terdahulu.
Penelitian (Lidya, 2014) dengan judul Analisis Perlakuan Akuntansi Sewa Guna Usaha (Leasing)
Pada PT. MAF & MCF Berdasarkan PSAK No.30 Tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
PT. MAF & MCF mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan dalam laporan posisi keuangan
sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto. Dasar pengukuran laporan keuangan adalah
konsep biaya perolehan (historical cost) dan laporan keuangan disusun dengan dasar akrual. Dalam
pengungkapan sewa guna usaha PT. MAF & MCF mengungkapkan pendapatan pada laporan laba
rugi dan disajikan dalam posnya masing-masing seperti iuran pendapatan kredit sepeda motor.
Penelitian (Nur Izati, 2014) dengan judul Analisis Akuntansi Sewa Berdasarkan PSAK No.
30 pada PT. MAF-MCF Tanjungpinang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan kriteria
klasifikasi sewa guna usaha yang ditetapkan dalam PSAK No.30 tentang Sewa guna Usaha/ Leasing,
transaksi sewa guna usaha yang dilakukan oleh PT. MAF & MCF cabang Tanjungpinang adalah sewa
pembiayaan (capital lease). Pada pencatatan transaksi perusahaan mengakui dan mencatat pendapatan
sewa saat penerimaan pembayaran awal dan angsuran. Saat konsumen menyetujui leasing, kerjasama
antara perusahaan dengan dealer/suplier kendaraan, uang muka sebagai deposit. Jaminan untuk dealer
/supplier. Pencatatan pendapatan denda dari konsumen, di kartu piutang dengan voucher pada
perusahaan dipisahkan dari pendapatan pokok serta pendapatan bunga.
Penelitian (Runtuwene, 2013) dengan judul Penerapan Akuntansi Piutang Leasing untuk
Perencanaan dan Pengendalian pada PT. Suzuki Finance Indonesia Cabang Manado. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Penerapan akuntansi pada PT. SFI Manado menggunakan model akuntansi
leasing capital lease dengan model Direct Financing lease atau model pembiayaan langsung. Dan
pendapatan akuntansi piutang telah disesuaikan dengan PSAK No.30 tentang sewa, dimana piutang
sewa telah berjalan dengan baik.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
Penelitian adalah usaha untuk memperoleh fakta atau prinsip (menemukan,
mengembangkan, menguji kebenaran) dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data
(informasi)
yang
dilaksanakan
dengan
teliti,
jelas,
sistematik
dan
dapat
dipertanggungjawabkan (metode ilmiah). Sesuai dengan judul penelitian yang ingin diteliti
penulis, maka dalam hal ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan analisis data
secara induktif. Analisis data induktif adalah jalan berfikir dengan mengambil suatu
kesimpulan dari data-data yang bersifat khusus. Berfikir induktif ini berangkat dari faktafakta ataupun peristiwa–peristiwa yang kongkrit itu ditarik generalisasi-generalisasi yang
mempunyai sifat umum.
metode pada penelitian ini berusaha mendeskripsikan objek penelitian berdasarkan
data serta fakta yang sebenarnya, serta mengalisanya melalui konsep-konsep yang telah
dikembangkan sebelumnya dengan peneliti sebagai instrumen itu sendiri dalam memecahkan
suatu permasalahan. Jadi peneliti menggunakan metode ini adalah untuk menyimpulkan hasil
observasi, wawancara dan data yang terkumpul lainnya. Metode induktif adalah untuk
menilai fakta-fakta empiris yang ditemukan dan kemudian dicocokkan dengan landasan yang
ada.
Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan cara perolehannya
adalah:
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama (sumber asli) baik
dari individu ataupun perorangan yang akan diproses untuk tujuan-tujuan tertentu sesuai
dengan kebutuhan. Adapun proses penelitian dalam mengumpulkan data primer adalah
dengan observasi dan wawancara. (Lidya, 2014)
2. Data Skunder
Data skunder merupakan data yang berfungsi sebagai pelengkap ataupun pendukung
data primer. Data skunder ini diperoleh dari sumber yang sudah terdokumentasi dari
perusahaan.
Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan penulis untuk
mendapatkan data-data yang objektif sebagai pendukung untuk menganalisa terhadap
permasalahan yang akan dibahas yaitu:
1) Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan ini akan digunakan sebagai dasar pembahasan secara teoritis dalam
mengumpulkan data dengan cara membaca buku-buku literatur, makalah ilmiah
mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan akuntansi leasing serta
menganalisis hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan pokok penelitian yang
dilakukan.
2) Studi Lapangan
Dalam studi lapangan ini, penulis akan melakukan penelitian langsung ke pihak PT.
Adira Dinamika Multi Finance untuk memperoleh data yang real serta diperlukan.
Teknik yang digunakan oleh penulis untuk memperoleh data meliputi:
a) Observasi
Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan
pegamatan secara langsung mengenai prosedur yang diterapkan berdasarkan
PSAK NO.30 Tahun 2012 dan dapat mengamati secara langsung segenap
aktivitas atau kegiatan yang ada di PT. Adira Dinamika Multi Finance
Tanjungpinang.
b) Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara
mengajukan beberapa pertanyaan lisan secara langsung kepada pimpinan dan
staff bagian-bagian yang terkait dalam akuntansi leasing.
c) Teknik Dokumentasi
Dalam teknik dokumentasi ini, penulis dapat mengambil beberapa data terkait
tentang akuntansi leasing dari PT. Adira Dinamika Multi Finance, seperti
laporan keuangan, struktur organisasi serta data-data pelengkap lainnya yang
dapat menunjang penelitian skripsi ini.
Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan suatu rangkaian proses penyederhanaan dan pengelompokan
data-data sesuai dengan alat yang digunakan. Analisis data dimaksudkan sebagai suatu cara
untuk menganalisis sebab-sebab timbulnya suatu permasalahan yang terjadi didalam suatu
perusahaan serta seberapa jauh permasalahan tersebut mempengaruhi perusahaan.
Menurut Sugiyono (2015 : 244) analisis data adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahanbahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada
orang lain. Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan
data yang diperoleh, dan selanjutnya dikembangkan.
Pada teknik analisis data ini, penulis menggunakan analisis data dilapangan model
Miles and Huberman (1984). Menurut Miles and Huberman (dalam Sugiyono, 2015: 246)
mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas
dalam analisis data model Miles and Huberman (1984), yaitu data reduction, data display,
dan conclusion drawing/verification.
A. Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu
dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin lama peneliti kelapangan,
maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu dilakukan
analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang
pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema polanya. Dengan demikian data
yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih
jelas dan mempermudah
peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
B. Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam
penelitian kualitatif, penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori, tabel dan sejenisnya. Dalam hal ini, Miles and Huberman (1984) menyatakan,
yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah
dengan teks yang bersifat naratif. Melalui penyajian data tersebut, maka data
terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.
Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi,
merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut.
C. Conclusion Drawing/Verification
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman (1984)
adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih
bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang
mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang
dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat
peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan
merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah
merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi
ataupun gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga
setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif dan juga teori.
ANALISA DATA
Gambaran Umum Perusahaan
Sejarah Perkembangan Perusahaan dan Dasar-Dasar Pendirian Perusahaan
Perseroan didirikan dengan nama PT Adira Dinamika Multi Finance berdasarkan
Akta Pendirian No. 131 Tanggal 13 November 1990, Dibuat di hadapan Misahardi
Wilamarta, S.H., Notaris di Jakarta, dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman
Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusannya No. C2-19.HT.01.01.TH.91 Tanggal 8
Januari 1991, Dan didaftarkan dalam register untuk maksud itu yang berada di Kantor
Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di bawah No. 34/Not.1991/PN.JKT.SEL
pada tanggal 14 Januari 1991, Serta diumumkan dalam Tambahan No. 421 Berita Negara
Republik Indonesia No. 12 tanggal 8 Februari 1991. (www.adira.co.id)
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance didirikan pada tahun 1990
dan mulai beroperasi pada tahun 1991. Sejak awal, Adira Finance berkomitmen untuk
menjadi perusahaan pembiayaan terbaik dan terkemuka di Indonesia. Adira Finance hadir
untuk melayani beragam pembiayaan seperti kendaraan bermotor baik baru ataupun bekas.
Melihat adanya potensi ini, Adira Finance mulai melakukan penawaran umum melalui
sahamnya pada tahun 2004 dan Bank Danamon menjadi pemegang saham mayoritas sebesar
75%. Tahun 2009, Bank Danamon kembali mengakuisisi 20% saham Adira Finance sehingga
total saham yang dimiliki menjadi 95%. Dengan demikian, Adira Finance menjadi bagian
Temasek Holdings yang merupakan perusahaan investasi plat merah asal Singapura.
Perseroan berkedudukan di Jakarta Selatan dengan Kantor Pusat di The Landmark I, Lantai
26-31, Jl. Jenderal Sudirman No. 1, Jakarta 12910. (www.adira.co.id)
Adira Finance Tanjungpinang ini merupakan salah satu kantor perwakilan cabang dari
Adira Finance Batam yang memiliki kantor pusat di Jakarta Selatan, yang mulai beroperasi di
Tanjungpinang sejak tahun 2006 yang beralamat di Jl. Gatot Subroto Km. 5, Tanjungpinang.
Adira Finance Tanjungpinang melayani pembiayaan seperti kendaraan bermotor dan mobil
baik baru ataupun bekas. Serta pembiayaan dengan menjaminkan BPKB kendaraan motor
maupun mobil dan memberikan dana tunai kepada konsumen, yang nantinya konsumen
tersebut akan melakukan pembayaran secara kredit dengan pihak perusahaan sesuai dengan
jangka waktu yang telah disepakati diawal perjanjian.
Kinerja anak perusahaan ini berada dalam pengawasan kantor pusat yang berada di
Jakarta . Oleh karena itu sistem kerja seluruh karyawan dilakukan secara online. Karyawan
setiap divisi menginput data dari kantor perwakilan yang langsung terhubung dikantor
cabang. Dan untuk pembayaran dari konsumen dapat dilakukan dimana dan kapan saja, baik
itu melalui ATM BCA, kantor pos, kedai Adira Finance dan bisa langsung melakukan
pembayaran kekantor.
Visi dan Misi Perusahaan
Dalam pendirian suatu perusahaan, tidak terlepas dari visi dan misi perusahaan yang
dapat menunjang perusahaan tersebut kearah yang lebih baik. Visi dan misi Adira Finance
adalah: (www.adira.co.id)

Visi
Menciptakan nilai bersama demi kesinambungan perusahaan dan kesejahteraan
masyarakat Indonesia

Misi
 Menyediakan produk dan layanan yang beragam sesuai siklus kehidupan
pelanggan
 Memberikan pengalaman yang menguntungkan dan bersahabat kepada
pemangku kepentingan
 Memberdayakan komunitas untuk mencapai kesejahteraan
Dari tahun 2004, perusahaan telah menerapkan prinsip dari kode etik yang harus
ditaati oleh seluruh karyawan perusahaan yang dinamakan “ADIRA TOP”. ADIRA TOP
merupakan prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seluruh karywan, yang mana masingmasing prinsip memiliki ciri, sikap masing-masing dengan penjabaran. Kode etik tersebut
harus
dibaca,
dimengerti
dan
ditandatangani
oleh
setiap
karyawan
perusahaan.
(www.adira.co.id)
Prinsip-prinsip dasar ADIRA TOP adalah sebagai berikut:
1. Advance
2. Discipline
3. Integrity
4. Reliable
5. Accountable
6. Teamwork
7. Obsessed
8. Professional
Aktivitas Perusahaan
Aktivitas yang dilakukan oleh Adira Finance Tanjungpinang adalah pembiayaan
modal bagi motor dan mobil serta penyaluran dana dengan jaminan BPKB kendaraan sebagai
jaminannya. Dalam hal ini industri otomotif merupakan penyedia produk-produk yang
dibiayai oleh Adira Finance. Adira Finance bekerjasama dengan dealer/showroom yang
menyediakan produk otomotif kepada konsumen. Adira Finance mendapatkan order dari
dealer/showroom yang telah melakukan perjanjian kerjasama (MOU). Kerjasama pihak Adira
Finance dengan dealer/showroom berlangsung selama 5 tahun, dan kerjasama dapat
dihentikan tanpa sepengetahuan dealer/showroom
apabila pihak perusahaan merasa
dirugikan dari pihak dealer/showroom tersebut. Pihak Adira Finance melakukan kerjasama
dengan beberapa dealer motor sebagai supplier kendaraan yang terdiri dari dealer motor baru
dan juga dealer motor bekas sebagai penyalur motor bekas yang ditarik dari konsumen, yang
berada diwilayah kota Tanjungpinang.
Dalam hal ini, Adira Finance menetapkan suatu asuransi. Asuransi merupakan
perusahaan yang menanggung resiko terhadap perjanjian antara lessor dan lessee. Dalam hal
ini lessee dikenakan biaya asuransi. Apabila terjadi sesuatu, perusahaan akan menanggung
resiko yang besarnya sesuai dengan perjanjian terhadap barang yang di leasing kan. Asuransi
kerugian untuk otomotif adalah:
 Total Lost Only (motor dan mobil)
-
Kehilangan
-
Kendaraan rusak akibat kecelakaan 75%
 Comprehensive Risk/All Risk (mobil)
-
Klaim asuransi untuk semua resiko yang terjadi pada mobil
Untuk proses klaim asuransi kendaraan yang hilang ataupun rusak akibat kecelakaan
dengan
cara pihak asuransi membayar ke pihak perusahaan sebanyak sisa pembayaran
konsumen tanpa bunga cicilan. Namun apabila tidak terdapat klaim asuransi dari pihak
konsumen, maka dalam hal ini Adira Finance mendapatkan keuntungan dari selisih premi
yang telah dibayarkan nasabah dan premi asuransi yang dibayarkan keperusahaan asuransi.
Rekanan Adira Finance yang bertugas meng-cover segala resiko kerugian adalah Adira
Insurance. Pembayaran premi asuransi disesuaikan dengan besarnya angsuran nasabah setiap
bulannya.
Skema Pembiayaan Finance Lease
Untuk alur terjadinya finance lease kendaraan bermotor di Adira Finance dapat dilihat
pada gambar berikut:
Bank
g. Funding
g. Bayar dealer
Adira Finance
h. Pegang BPKB b. Order in
f. Terima uang muka
f. Kirim Tagihan
d. Purchase order
h. Serah BPKB
Dealer
e. Kirim Barang
a. Kredit kendaraan
j. Pembayaran angsuran
e. Uang muka
Konsumen
c. Survey
i. Perjanjian Kredit
Skema Pembiayaan Perusahaan
Sumber: PT. Adira Dinamika Multi Finance
Perlakuan Akuntansi Sewa Guna Usaha/ Leasing di PT.Adira Dinamika Multi Finance
Tanjungpinang
Kendaraan tarikan dari konsumen merupakan suatu investasi yang telah dikeluarkan
oleh perusahaan. Terjadinya penarikan kendaraan termasuk resiko yang harus dialami oleh
perusahaan. Terkadang motor yang ditarik dari konsumen sudah tidak lengkap lagi, yang
terkadang terjadi kehilangan STNK dan kunci dari pemilik kendaraan yang merupakan resiko
yang harus ditanggung pihak perusahaan yang harus menerbitkan STNK kembali dengan
biaya sebesar Rp 800.000,-. Kendaraan yang telah lama berada digudang penyimpanan yang
telah melewati batas peringatan apabila konsumen ingin menebusnya, maka untuk itu
diperlukan kebijaksanaan dari pihak perusahaan atas suatu kejadian tersebut agar konsumen
diberikan solusi mengingat jumlah angsuran sewa yang telah dicicil oleh konsumen selama
periode yang telah dibayarkan cukup besar. Dalam hal ini sesuai dalam PSAK No. 30 yang
terdapat pada paragraf 36 yang berbunyi: “Pada hakikatnya dalam sewa pembiayaan seluruh
resiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan hukum dialihkan oleh lessor kepada
lessee, dan dengan demikian penerimaan piutang sewa diperlakukan oleh lessor sebagai
pembayaran pokok dan pendapatan keuangan yang diterima sebagai penggantian dan atas
imbalan atas investasi dan jasanya”
Untuk akun pendapatan yang diakibatkan lessee atas keterlambatan pembayaran dari
tanggal jatuh tempo yang telah disepakati yang biasa disebut dengan denda, dihitung perhari
dari tanggal jatuh tempo dikalikan dengan 0,5%. Dalam hal konsumen yang mengalami
kesulitan dalam pembayaran denda akibat keterlambatan membayar, maka untuk denda
konsumen bisa meminta keringanan pembayaran beban denda tersebut kepada pihak
perusahaan. Dan perusahaan akan memberikan solusi melalui prosedur tertulis yang harus
dilengkapi konsumen dari pihak perusahaan bersangkutan kekantor pusat untuk mohon
persetujuan keringanan membayar denda untuk konsumen.

Jurnal untuk mengakui pendapatan denda adalah:
Kas
xxx
Pendapatan denda sewa guna usaha
xxx
Untuk proses klaim asuransi kendaraan akibat kecelakaan atau hilang, dalam hal ini
pihak asuransi membayarkan kepihak perusahaan sebanyak sisa pembayaran konsumen tanpa
bunga cicilan.

Jurnal untuk mengakui aset atas penarikan kendaraan akibat dari klaim asuransi
Aset sewa guna usaha
xxx
Piutang lease
xxx

Pendapatan SGU yang telah diterima
xxx
Klaim asuransi
xxx
Pendapatan bunga tak tertagih
xxx
Apabila terjadi penarikan kendaraan bermotor yang telah disepakati dalam perjanjian
leasing. Maka ayat jurnal untuk mencatat penarikan kendaraan bermotor adalah:
Aset sewa guna usaha
xxx
Piutang lease
xxx
Pendapatan SGU yang telah diterima
xxx
Piutang tak tertagih
xxx
Berdasarkan kejadian yang sering terjadi atas unit kendaraan tarikan, perusahaan
menetapkan kebijakan untuk menjual kembali kendaraan tersebut dengan sistem lelang
dengan dasar hukum berita acara lelang dan dengan ketentuan persetujuan harga dari pusat
yang nantinya kendaraan akan dilelang kepada dealer motor bekas. Kendaraan tarikan inilah
yang dijual kembali kepada dealer motor bekas.

Jurnal untuk mencatat transaksi penjualan lelang atas kendaraan yang ditarik
Aset sewa guna usaha
xxx
Piutang lease
xxx
Pendapatan penjualan SGU tarikan
xxx
Kerugian penjualan tarikan
xxx
Untuk penetapan uang muka, perusahaan menetapkan pembayaran uang muka
minimal sebesar 20% dari harga total aset sewa guna usaha. Dan untuk biaya administrasi
perusahaan setiap tahun berbeda berdasarkan keputusan pihak perusahaan, dan untuk saat ini
biaya administrasi sebesar Rp 925.000,-. Untuk mencatat angsuran sewa guna usaha, pihak
lessor membedakan menjadi angsuran pelunasan kewajiban/pokok sewa guna usaha serta
beban bunga. Untuk menentukan tingkat bunga aset, pihak lessor menetapkan bunga
berdasarkan per periode sewa pembiayaan atau berdasarkan tahun cicilan yang diambil oleh
pihak lessee sesuai dengan perjanjian awal.
Berikut akan penulis jelaskan perhitungan pembiayaan pada PT. Adira Dinamika
Multi Finance Tanjungpinang. Misalnya konsumen membeli motor bekas dengan harga OTR
(harga penetapan dari dealer motor) sebesar Rp 8.900.000. Dan mengambil tenor 24 bulan
serta pembayaran asuransi dan administrasi dibelakang atau dengan cara dicicil:
Harga OTR
Rp 8.900.000
Total harga
Rp 8.900.000
DP net
20,78%
Rp 1.850.000
Pokok hutang
79,21%
Rp 7.050.000
Asuransi diangsur
3,90%
Rp 347.100
Asuransi 2 diangsur
0,42%
Rp 37.380
Administrasi diangsur
Rp 925.000 +
Rp 1.309480
Total pokok hutang
Rp 8.359.480
Bunga
Rp 4.480.520
Total hutang
Rp 13.200.000
Angsuran perperiode
Rp 550.000
Dp gross
Rp 1.850.000
Berikut akan ditampilkan jurnal umum perusahaan dalam laporan keuangan lessor
Pengakuan Awal
“Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan di laporan
posisi keuangan sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto tersebut”. (Paragraf :
35)

Perusahaan tidak menginvestasikan dana tunai kepihak dealer, perusahaan akan
mengeluarkan dana pembiayaan pada saat terjadi transaksi. Maka ayat jurnal pada
transaksi ini adalah:
Aset sewa guna usaha
Kas

Rp 8.900.000
Rp 8.900.000
Jurnal pada saat transaksi untuk mencatat lease:
Piutang lease
Rp13.200.000
Aset sewa guna usaha
Rp 8.359.480
Pendapatan bunga diterima dimuka
Rp 4.840.520
Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
“Pengakuan penghasilan pembiayaan didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu
tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih lessor dalam sewa
pembiayaan”. (Paragraf : 38)

Jurnal untuk mencatat awal sewa perjanjian pada pembayaran pertama:
Kas
Rp 1.648.000
Pendapatan bunga diterima dimuka
Rp 202.000
Piutang lease
Rp 338.520
Biaya asuransi
Rp 384.480
Biaya administrasi
Rp 925.000
Pendapatan bunga
Rp 202.000

Jurnal transaksi pada saat pembayaran angsuran perbulan:
Kas
Rp 550.000
Piutang lease

Rp 550.000
Jurnal transaksi untuk mengakui pendapatan bunga perbulan yang diperoleh lessor:
Pendapatan bunga diterima dimuka
Pendapatan bunga
Rp 202.000
Rp 202.000
Dalam kasus pihak lessee yang mengalami kesulitan dalam pembayaran/ piutang tertunggak,
pihak perusahaan menugaskan kepada debt collector untuk menagih piutang kepada pihak
lessee. Dalam hal ini pihak perusahaan menetapkan biaya administrasi yang merupakan biaya
transportasi penagihan langsung ke alamat konsumen bagi debt collector sebesar Rp 10.000,-.
Pengakuan, Pengukuran dan Pengungkapan Transaksi Keuangan PT. Adira Dinamika
Multi Finance Tanjungpinang
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa PT. Adira Dinamika Multi Finance
menggunakan teknik pembiayaan finance lease dengan model pembiayaan direct financing
lease atau yang lebih dikenal dengan model pembiayaan secara langsung. Karena pada akhir
masa sewa, pihak lessee memiliki aset yang disewa guna usahakan. Sistem pembiayaan
dengan finance lease adalah dengan memberikan modal kepada konsumen dalam hal
kepemilikan kendaraan bermotor yang dibutuhkan konsumen. Jenis barang yang disewa guna
usahakan adalah kendaraan bermotor roda dua dan empat, baik baru maupun bekas. Dan
dalam hal ini, perusahaan juga melakukan transaksi sales and lease back yaitu dengan
menggadaikan BPKB kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat. Perusahaan
memperoleh dana dari Bank Danamon. Yang mana pihak Bank Danamon ini merupakan
pemegang saham mayoritas perusahaan sebesar 95%.
Perusahaan dalam hal ini tidak menetapkan awal sewa seperti yang telah diatur dalam
PSAK No. 30 tentang sewa. Tetapi perusahaan langsung menetapkan awal masa sewa, karena
dalam hal ini perusahaan mulai mengakui sewa (aset, liabilitas, penghasilan, beban sewa)
setelah pihak lessee mulai berhak menggunakan aset sewaan tersebut. Setelah adanya
kesepakatan antara pihak perusahaan dengan pembeli yang sebelumnya telah diadakan survey
terhadap calon konsumen yang dilakukan oleh Credit Marketing Officer dan telah disetujui
oleh Credit Marketing Head dan Credit Analyst maka selanjutnya pihak perusahaan dan
calon kosumen menandatangani surat-surat perjanjian kontrak dan piutang dianggap telah
terjadi.
Pembahasan mengenai pengakuan, pengukuran dan pengungkapan transaksi keuangan
perusahaan didapatkan penulis dari observasi lapangan dan wawancara secara langsung
dengan pimpinan dan juga staff PT. Adira Dinamika Multi Finance Tanjungpinang. Dalam
hal ini, pihak pimpinan menyatakan bahwa seluruh aturan dalam PSAK No. 30 Tahun 2012
tentang sewa sudah sesuai dan sudah diaplikasikan dengan baik oleh PT. Adira Dinamika
Multi Finance Tanjungpinang.
Kendala yang dihadapi Perusahaan
Kendala yang dihadapi oleh perusahaan pembiayaan adalah sesuatu yang tidak dapat
terhindarkan. Hal terseut merupakan resiko yang harus ditanggung oleh perusahaan
pembiayaan tersebut. Berikut penulis akan memaparkan beberapa kendala yang dihadapi
perusahaan Adira Finance berdasarkan hasil wawancara dan temuan langsung kelapangan:
1. Terjadi penunggakan atau penundaan pembayaran dari pihak lessee yang telah jatuh
tempo yang pada awalnya sudah diberikan surat peringatan (surat janji bayar) kepada
lessee atas keterlambatan pembayaran, yang apabila terus menunda pembayaran
kendaraan bermotor tersebut harus ditarik oleh perusahaan.
2. Terjadi pemindahan aset sewaan yang dilakukan oleh lessee yang bersangkutan tanpa
diketahui oleh pihak lessor. Baik itu dengan penjualan langsung lessee kepada pihak
kedua ataupun dengan sistem gadai yang dilakukan oleh lessee.
3. Karyawan di bagian penagihan yang langsung berhubungan dengan pihak lessee
dilapangan/pihak debt collector terkadang ada yang tidak jujur walaupun perusahaan
melakukan tindakan yang tegas dengan pemberhentian langsung karyawan tersebut.
Akan tetapi hal itu dapat merusak nama baik dari perusahaan jika diketahui oleh pihak
masyarakat dan terjadi kerugian dana perusahaan yang digelapkan oleh debt collector
terhadap perusahaan.
4. Terjadinya kesulitan untuk menghadapi berbagai karakter konsumen terutama yang
memiliki sikap yang keras yang nantinya akan menyulitkan pihak debt collector untuk
menagih utang cicilan pembayaran kendaraan yang satiap tanggal jatuh tempo harus
dibayarkan konsumen tersebut. Walaupun isi didalam surat perjanjian telah disepakati
bersama di awal perjanjian.
5. Kurangnya ketelitian pihak lessee dalam hal pentingnya keberadaan surat perjanjian
leasing bagi suatu aset yang hendak dibeli dengan sistem kredit. Dalam hal ini,
terkadang pihak lessee menjual kembali aset tersebut kepada pihak kedua dan pihak
kedua melanjutkan pembayaran ke pihak lessor. Atau yang lebih dikenal dengan
overkredit, yang mana hal tersebut dapat menyulitkan pihak kedua dalam hal
pengambilan surat penting kendaraan yang masih berada di pihak lessor yaitu BPKB
yang masih atas nama asli konsumen atau pihak pertama.
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam pembahasan yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. PT. Adira Dinamika Multi Finance Tanjungpinang mengakui aset berupa piutang
sewa pembiayaan dalam laporan posisi keuangan sebesar jumlah yang sama dengan
investasi sewa neto. Untuk dasar pengukuran laporan keuangan adalah konsep
pembiayaan perolehan atau yang lebih dikenal dengan historical cost. Untuk
pengungkapan sewa Adira Finance mengungkapkan pendapatan pada laporan laba
rugi dan disajikan dalam posnya masing-masing seperti pendapatan perusahaan atas
pembiayaan kredit dari pihak lessee.
2. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa kriteria klasifikasi sewa guna usaha
yang diterapkan didalam PSAK No. 30 tentang sewa pada PT. Adira Dinamika Multi
Finance Tanjungpinang merupakan suatu sewa pembiayaan (finance lease) dengan
model direct financing lease atau pembiayaan secara langsung. Pada akhir masa sewa,
pihak lessee memiliki aset sewa guna usaha yang telah dibayarkan setiap bulannya
kepada lessor.
3. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan akuntansi piutang telah
disesuaikan dengan PSAK No. 30 tentang sewa, yang mana dalam hal ini piutang
sewa telah berjalan dengan baik, dan mengenai pengakuan, pengukuran dan
pengungkapan transaksi keuangan sudah sesuai dengan aturan PSAK No. 30 Tahun
2012.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian penulis, maka dengan ini terdapat beberapa saran dari
penulis:
1. Hendaknya pihak perusahaan PT. Adira Dinamika Multi Finance Tanjungpinang
menentukan awal sewa, seperti yang telah di atur dalam PSAK No. 30 tentang sewa.
Agar lebih memahami mengenai prosedur yang sesungguhnya tentang aturan sewa.
2. Dan sebaiknya pihak lessor lebih tegas dalam hal perjanjian awal pembiayaan yang
terdapat pada PSAK No. 30 pada paragraf 11 (a) yang menyatakan bahwa jika lessee
membatalkan sewa, maka rugi lessor yang terkait dengan pembatalan tersebut
ditanggung oleh pihak lessee. Akan tetapi yang terjadi pada perusahaan, kerugian
akibat pembatalan sewa ditanggung oleh lessor, yang mana ini akan berdampak pada
laporan keuangan lessor yang mengalami kerugian akibat piutang tak tertagih oleh
lessee.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Thamrin. Dan Francis Tantri, 2012. Bank dan Lembaga Keuangan.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Arthesa, Ade. Dan Edia Handiman, 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank.
Jakarta Barat: PT. Macanan Jaya Cemerlang.
Elyviana, 2010. Hubungan Hukum Para Pihak dalam Pembiayaan Kendaraan Bermotor
dengan Cara Leasing (Studi Kasus CV. Karya Rejeki Motor di Kota Semarang).
Tesis .
Harrison Jr, Walter T, et.al, 2011. Akuntansi Keuangan International Financial Reporting
Standards-IFRS. Jakarta: Erlangga.
Hery, 2013. Teori Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Indonesia, Ikatan Akuntan, 2012. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 30.
Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.
Izati, Nur, 2014. Analisis Akuntansi Sewa Berdasarkan PSAK No. 30 pada PT. MAF-MCF
Tanjungpinang. Jurnal Akuntansi Universitas Maritim Raja Ali Haji .
Kasmir, 2013. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Lidya, 2014. Analisis Perlakuan Akuntansi Sewa Guna Usaha (Leasing) pada PT. MAFMCF Berdasarkan PSAK No. 30 Tahun 2012. Jurnal Akuntansi Universitas Maritim
Raja Ali Haji .
Nasution, M, 2003. Akuntansi Guna Usaha (Leasing) Menurut Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 30. Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara .
Negara, I Kadek
Putra, Dan Ni Ketut Purnawati, 2012. Alternatif Pembiayaan untuk
Pengadaan Kendaraan Operasional Antara Leasing dan Kredit Bank. Jurnal
Akuntansi, Volume 1, Nomor 1 .
Runtuwene, Irene Herminda, 2013. Penerapan Akuntansi Piutang Leasing untuk
Perencanaan dan Pengendalian pada PT. Suzuki Finance Indonesia Cabang Manado.
Jurnal EMBA, Volume 1, Nomor 4, ISSN 2303-1174.
Samryn, L, 2011. Pengantar Akuntansi Mudah Membuat Jurnal Dengan Pendekatan Siklus
Akuntansi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Silvanita, Ktut, 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Erlangga.
Sugiyono, 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitaif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Widayat, Utoyo, 2008. Leasing Sebagai Alternatif Sumber Pembiayaan. Jurnal Akuntansi,
Volume 6, Nomor 2.
Yanti, Rina. Dan Hamdani Arifulsyah, 2013. Analisis Akuntansi Leasing pada PT. Puri
Green Resources Pekanbaru. Jurnal Akuntansi Keuangan dan Bisnis. Volume 6,
Desember 2013 .
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Pasal 6 diakses pada tanggal 25 Maret 2016,
pukul
12.17
WIB
dari
(http://bppt.jabarprov.go.id/assets/data/arsip/KUHD_new_version.pdf)
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 diakses pada tanggal 25 Maret 2016,
pukul
12.30
WIB
dari
(http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/pdf-
peraturan/PMK_220_PMK.010_2012.pdf)
Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 diakses pada tanggal 25 Maret 2016, pukul12.43
WIB dari (www.bpn.go.id/.../DocumentDownload.ashx?...)
Keputusan Menteri Keuangan Nomor Keputusan 38/MK/IV/1972 diakses pada tanggal 25
Maret
2016,
pukul
13.02
WIB
dari
(http://www.jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/1972/KEP-38~MK~IV~1~1972Kep.htm)
Undang-Undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 diakses pada tanggal 25 Maret 2016, pukul
13.30 WIB dari (http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/uu-bi/Documents/uu_bi_1099.pdf)
www.HaluanKepri.Com/tanjungpinang/58509-pertumbuhan–kendaraan
pesat,html. Diakses pada tanggal 19 Maret 2016, pukul 10.27 WIB.
www.adira.co.id. Diakses pada tanggal 26 April 2016, pukul 14.54 WIB.
ditanjungpinang-
Download