problematik imunitas hukum anggota parlemen

advertisement
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..129
PROBLEMATIK IMUNITAS HUKUM ANGGOTA PARLEMEN
DITINJAU DARI PRINSIP EQUALITY BEFORE THE LAW
Wenly R.J. Lolong*
Abstract: Immunity laws and ownership rights by members of Parliament as State officials into
a huge deal lately. The right of immunity that attaches to the Member of Parliament is becoming
attractive to examined in comparison with the existence of the principle of equality before the
lawThe focus of this study is to analyze the basic concept of building immunity State officials
especially ownership rights of immunity of members of Parliament, when faced with the
fundamental problems in the country namely the presence of equality before the law in every
citizen. The outline of issues raised, namely whether the juridical foundation of legal immunity
for members of Parliament in Indonesia as a privilege that is owned in the context of his
position as State officials? The second issue is how does the existence of the principle of legal
immunity for State officials when it examined the position and enforceability before the
principle of equality before the law? As a conclusion here is that the right of immunity of its
existence included expressly in the UUD 1945 specially section 20A para 3. The elaboration of
advanced settings of the existence of the right of immunity members of Parliament in fact
provided for in Article 224 of the Act Number 17 of 2014 of the MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
While the principle of equality before the law as a basic principle in the concept of law and the
human rights embodied in the Constitution by forming the State in article 27 paragraph (1) of
the Constitution
Keywords: Immunity, Parliament, Equality Before The Law
Pendahuluan
Imunitas hukum bagi pejabat negara
khususnya anggota parlemen akhir-akhir ini
menjadi sebuah persoalan pelik yang terus
diperdebatkan keberadaan terutama penerapannya. Pro kontra muncul terhadap perlu
tidaknya imunitas hukum bagi pejabat
negara dalam tujuan untuk memaksimalkan
pelaksanaan tugasnya. Terakhir berkembang
wacana bagi perlunya personil pejabat
negara di bawah Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) untuk memiliki hak
istimewa ini. 1 Kepemilikan hak imunitas ini
* Dosen Fakultas Ilmu Sosial, Program
Studi Ilmu Hukum Universitas Negeri Manado
1
Lihat berita media online: Republika
Online, ―Hak Imunitas Rawan Disalahgunakan‖,
tanggal 28 Januari 2015. Alamat url: http://
www.republika.co.id/berita/koran/hukum-koran/
15/01/28/ Lihat juga berita media online lainnya
Aktual.co tanggal 26 Januari 2015 dengan judul
berita ―Menkumham Sebut Hak Imunitas
Langgar Konstitusi: yang memuat komentar
Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly yang
menyebut bahwa pemberian hak imunitas kepada
personil KPK merupakan pelanggaran konstitusi.
Alamat url: http://www.aktual.co/politik/ men
kumham-sebut-hak-imunitas-langgar-konstitusi.
menjadi sebuah isu menarik ditengah berkembangnya polemik kriminalisasi anggota
KPK saat ini. Dapat dikatakan bahwa
imunitas hukum saat ini menjadi sebuah persoalan publik mengingat keistimewaan keberlakuannya, yaitu ketika seseorang memiliki hak kekebalan hukum selama dalam
fungsi menjalankan tugasnya.
Khusus untuk persoalan imunitas
hukum bagi anggota parlemen sebagai pejabat negara maka hak istimewa ini keberadaannya diatur dalam UUD 1945 maupun
UU No 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR,
DPD, dan DPRD (selanjutnya disingkat UU
MD3). Ketentuan hukum ini secara garis
besar mengatur perihal adanya kepemilikan
hak imunitas hukum bagi anggota parlemen
terkait dengan posisinya ketika menjalankan
tugasnya sebagai anggota legislatif tersebut.
Terkait dengan ini maka keberlakuan hak
imunitas bagi personil lembaga legislatif
terutama didasarkan pada UU MD3 diatas
dalam kenyataan menimbulkan polemik
dalam masyarakat. Kontra yang muncul
merujuk kepada kenyataan ketakutan akan
munculnya sikap dan perilaku yang tidak
wajar dalam hal ini merasa kebal hukum dari
para anggota dewan saat menjalankan
130 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
tugasnya. Ketakutan demikian setidaknya
memang terwujud hanya beberapa bulan
ketika UU MD3 ini disahkan dan diberlakukan saat secara faktual DPRD DKI bersitegang saat rapat dengan Gubernur DKI
baru-baru ini. Reaksi masyarakat sungguh
luar biasa menggugat keadaan tersebut.2
Diluar daripada ini yang harus dikatakan disini ialah bahwa memang sepatutnya
diperlukan kajian mendasar lagi terhadap
urgensitas eksistensi hak imunitas bagi
pejabat negara. Penegasannya ialah bahwa
sesungguhnya harus dipertanyakan lagi soal
kesahihan landasan pemberlakuan imunitas
sebagai hak yang diberikan Negara bagi
pejabat yang menjalankan tugas kenegaraan
dengan berdasar pada kenyataan kompleksitas persoalan penerapannya dilapangan.
Jelas hal yang dimaksud ialah kokoh tidaknya bangunan konsepsi asas imunitas bagi
pejabat Negara ketika dihadapkan pada persoalan yang lebih fundamental yaitu persamaan hak bagi setiap warga didalam
negara.
Dasar persoalan ini ialah jelas yaitu
bukankah telah terjadi pembedaan, pengkhususan serta pengecualian mengenai persoalan kedudukan setiap warga dihadapan
hukum? Bagaimana kemudian hukum itu
sendiri dari sisi landasan keilmuannya memandang validitas imunitas hukum ini sebagai sebuah konsep yang telah diterjemahkan dan diterapkan di banyak negara sekian
lama? Pada pertanyaan selanjutnya maka
mampukah hukum kemudian sebagai sebuah
entitas ilmu mereformasi diri dalam konteks
menemukan sebuah kebenaran baru untuk
sebuah per-tanyaan haruskah ada imunitas
hukum bagi pejabat Negara? Sementara itu
pada sisi lainnya secara kontra, imunitas
hukum sungguh diperlukan untuk menjamin
adanya kebebasan secara fisik dan mental
dari para pejabat dalam hal ini anggota
parlemen yang sementara menjalankan tug2
Lihat berita media online: Kompas.com
anggal 6 Maret 2015, ―Makian Anggota DPRD
DKI Terhadap Ahok Dikecam Netizen‖, Alamat
url: http://megapolitan.-kompas.com. Lihat pula
berita terkait: Kompas.com tanggal 10 Maret
2015, ―Dilaporkan Ke Polda Karena Memaki
Ahok Ini Tanggapan Anggota Dewan‖, Alamat
Url: http://megapolitan .kompas.com
asnya melayani negara. Ancaman-ancaman
tekanan pertanggungjawaban hukum dapat
diminimalisir dengan adanya hak imunitas
hukum.
Pro kontra atas keberadaan hak imunitas terutama dalam implementasinya
menyebabkan perlu adanya kajian ulang
terhadap konsep sesungguhnya dari asas
imunitas ini. Kajian ini diperlukan untuk
mencari dasar pembenaran daripada keberadaan asas imunitas dimaksud. Hal ini akan
menghadirkan pemahaman yang lebih baik
terhadap nilai penting daripada imunitas
hukum ini yang sesungguhnya telah diakui
sejak lama penerapannya dalam negara.
Menjadi penting untuk kemudian menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
demikian. Ketika persoalan imunitas bagi
pejabat Negara ini terus meruncing maka
menjadi keharusan akademik disini untuk
kemudian mempertanyakan dan menelaah
kembali kesahihan argumentasi dogmatik
pemilikan hak imunitas oleh pejabat Negara.
Dalam keterkaitan dengan uraian
diatas ini maka ada dua rumusan masalah
yang diangkat yaitu apakah landasan yuridis
imunitas hukum anggota parlemen di Indonesia sebagai hak istimewa yang dimiliki
dalam konteks kedudukannya sebagai
pejabat negara? Permasalahan yang kedua
ialah bagaimanakah eksistensi asas imunitas
hukum bagi pejabat negara ketika diujikan
posisi dan keberlakuannya dihadapan prinsip
equality before the law?
Konsep Imunitas Hukum
Imunitas merupakan tejemahan dari
kata “immunity” yang berarti kekebalan.
Kekebalan berasal dari kata kebal yang
dalam bidang hukum artinya tidak dapat
dituntut.3Imunitas Hukum di Indonesia sendiri merupakan sebuah hak yang diberikan
Negara untuk dimiliki oleh pihak legislatif
dan pihak eksekutif dalam konteks menjalankan tugas kenegaraan. Dalam contoh
dapat dikemukakan disini adanya imunitas
hukum pada anggota DPR dengan berdasar
pada landasan ketentuan dalam negara. Pasal
20 A UUD 1945 menegaskan imunitas
3
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum
Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Balai Pustaka,
1976 hal. 455.
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..131
sebagai salah satu hak individual yang
dimiliki oleh setiap anggota DPR dalam
menjalankan tugasnya.
Dalam perbandingan dengan keberlakuannya pada institusi lembaga perwakilan
rakyat di Indonesia maka Pasal 28 huruf f
UU No 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan
Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD,
menggariskan bahwa anggota DPR mempunyai hak imunitas atau hak kekebalan
hukum dan selanjutnya oleh penjelasannya
ditafsirkan bahwa hak imunitas itu adalah
hak untuk tidak dapat dituntut di muka
pengadilan karena pernyataan dan pendapat
yang disampaikan dalam rapat-rapat DPR
dengan pemerintah dan rapat-rapat DPR
lainnya sesuai dengan peraturan perundangundangan. Rumusan Pasal 28 huruf f
tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi terkait
dengan Pasal 103 ayat 1 yang menyatakan
hak kekebalan tersebut dibatasi yaitu
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan Kode Etik Lembaga.
Munir Fuady menjelaskan bahwa secara umum pengertian fungsi legislatif yang
dilindungi berdasarkan konsep hak imunitas
ini mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Kebebasan untuk berbicara dan berdebat didalam sidang-sidang atau rapatrapat di parlemen.
2. Pemungutan suara secara bebas di parlemen.
3. Penyediaan laporan-laporan fraksi,
komisi atau pribadi anggota parlemen.
4. Partisipasi dalam hearing, rapat, sidang,
di parlemen atau dalam tinjauan
lapangan secara resmi oleh parlemen
atau anggota parlemen.
5. Kebebasan untuk tidak ditangkap atau
ditahan.
6. Kebebasan untuk tidak dituduh melakukan tindak pidana penghinaan atau
penistaan.4
Dalam lanjutan penjelasannya, Munir
Fuady menegaskan hak imunitas hukum merupakan teori hukum yang berlaku umum
diakui secara universal dengan penjelasan
bahwa hak ini pada pihak legislatif berfungsi
untuk:
1. Membuat kedudukan pihak legislatif
lebih mandiri.
2. Membuat pihak legislatif lebih berani
dalam memberikan pendapatnya, tanpa
harus dibayang-bayangi oleh gugatan
atau tuduhan hukum yang akan
menimpanya.
3. Membuat pihak legislatif lebih dapat
berkonsentrasi kepada tugas-tugasnya
tanpa harus membuang waktu, tenaga,
pikiran dan ongkos-ongkos untuk beracara di pengadilan. 5
Seperti juga untuk pihak legislatif,
kepada pihak eksekutif oleh hukum diberikan pula hak imunitas tertentu, baik dalam
bidang acara perdata bahkan secara terbatas
juga dalam bidang acara pidana sejauh
tindakan dari pihak eksekutif tersebut dilakukan dalam ruang lingkup kerjanya
selaku pihak eksekutif. Hak imunitas kepada
Presiden atau eksekutif ini diberikan dengan
rasional utamanya ialah agar Presiden mempunyai kewenangan yang luas dan seringkali
kontroversial, sehingga sangat rentan terhadap gugatan perdata atau tuduhan pidana.
Dan jika hak imunitas ini tidak diberikan,
Presiden akan sangat sibuk melayani perkara-perkara perdata ataupun pidana di
pengadilan yang ditujukan kepadanya termasuk oleh lawan-lawan politiknya. Selain
daripada itu, pemberian hak imunitas kepada
pihak eksekutif juga berkaitan dengan eksistensi dari pranata hukum berupa impeachhment terhadap pihak eksekutif (Presiden)
manakala pihak eksekutif tersebut telah
melakukan tindakan salah atau pidana berat.
Artinya hukuman berupa impeachment
dipandang sudah cukup berat baginya selaku
Presiden disebuah negara, sehingga tidak
relevan lagi untuk dipertimbangkan penjatuhan hukuman-hukuman selanjutnya.6
Prinsip Equality Before The Law
Equality before the law berasal dari
pengakuan terhadap individual freedom.
Bertalian dengan hal tersebut Thomas
Jefferson menyatakan bahwa "that all men
are created equal" terutama dalam kaitannya dengan hak-hak dasar manusia. Pasal
4
MunirFuady, Teori Negara Hukum
Modern, Jakarta: PT. RefikaAditama, 2009, hal.
165.
5
Ibid., hal. 167.
6
Ibid., hal. 169.
132 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
27 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa
segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan
itu dengan tidak ada kecualinya. Artinya,
semua orang diperlakukan sama di depan
hukum. Dengan demikian konsep Equality
before the Law telah diintodusir dalam
konstitusi, suatu pengakuan tertinggi dalam
sistem peraturan perundang-undangan di
tanah air.
Ironisnya dalam gambaran umum oleh
masyarakat maka hukum di Indonesia masih
diskriminatif, equality before the lawsebagai
sebuah prinsip pokok dalam penerapan
hukum tidak dilaksanakan secara setara pada
setiap individu bahkan seringkali diabaikan,
kepentingan penguasa lebih mengedepan
dibandingkan kepentingan publik. Equality
before the law sebagai prinsip kesetaraan dihadapan hukum menjadi minimal pengoperasian dan pengakuannya sebagai prinsip
hukum umum ketika dihadirkan sebuah
prinsip hukum umum yang lain seperti
imunitas hukum pejabat negara.
Landasan Yuridis Imunitas Hukum
Anggota Parlemen Di Indonesia
Pada prinsipnya hak imunitas, yang
dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan
hak kekebalan, secara konstitusional telah
diatur keberadaannya dalam Pasal 20A ayat
(3) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, yang dinyatakan
bahwa selain hak yang diatur dalam pasalpasal lain Undang-Undang Dasar ini, Dewan
Perwakilan Rakyat mempunyai hak mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul dan
pendapat, serta hak imunitas.7
Aulawi menjelaskan bahwa dalam
konteks kekinian, pelaksanaan hak imunitas
anggota DPR RI telah diatur dalam Pasal
224 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD
(Undang-Undang MD3). Terdapat 3 (tiga)
hal pokok yang diatur dalam Pasal 224
tersebut, yaitu :
7
Akhmad Aulawi, Perspektif Pelaksanaan
Hak
Imunitas
Anggota
Parlemen
Dan Pelaksanaanya Di Beberapa Negara, Jurnal
Rechtvinding,
http://rechtsvinding.bphn.go.id/
jurnal_online, diakses 10 Agustus 2015
1. Anggota DPR tidak dapat dituntut di
depan pengadilan karena pernyataan,
pertanyaan, dan/atau pendapat yang
dikemukakannya baik secara lisan
maupun tertulis di dalam rapat DPR
ataupun di luar rapat DPR yang berkaitan dengan fungsi serta wewenang
dan tugas DPR.
2. Anggota DPR tidak dapat dituntut di
depan pengadilan karena sikap, tindakan, kegiatan di dalam rapat DPR
ataupun di luar rapat DPR yang
semata-mata karena hak dan kewenangan konstitusional DPR dan/atau
anggota DPR.
3. Anggota DPR tidak dapat diganti
antarwaktu karena pernyataan, pertanyaan, dan/atau pendapat yang dikemukakannya baik di dalam rapat
DPR maupun di luar rapat DPR yang
berkaitan dengan fungsi serta
wewenang dan tugas DPR.8
Menurut Aulawi, ada prinsip penting
yang harus diperhatikan terkait pelaksanaan
hak imunitas anggota DPR ini. Aulawi menjelaskan bahwa pelaksanaan hak imunitas
Anggota DPR ini tidak bisa dijalankan secara mutlak. Dalam ketentuan dalam Pasal
224 ayat (4) Undang-Undang MD39,
mengecualikan terhadap anggota DPR RI
yang mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk
dirahasiakan atau hal lain yang dinyatakan
sebagai rahasia negara menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Aulawi menegaskan bahwa ketentuan
ini sangat penting agar Anggota DPR RI
dapat menjaga kerahasiaan terhadap materi
yang telah disepakati dalam rapat tertutup
untuk dirahasiakan atau hal lain yang
dinyatakan sebagai rahasia Negara menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan.
8
Ibid.
9
Pasal 224 ayat 4 UU MD3: ―Ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan
mengumumkan materi yang telah disepakati
dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal
lain yang dinyatakan sebagai rahasia negara
menurut ketentuan peraturan perundangundangan.‖
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..133
Lebih dari yang demikian, memang
harus tetap diakui bahwa keber-adaan Pasal
224 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD ini
menghadirkan landasan nyata bagi keberlakuan imunitas hukum terhadap anggota
parlemen. Namun demikian dilandaskan
pada pasal ini pula maka harus diperhatikan
bahwa imunitas hukum di maksud hanya
dimiliki oleh anggota parlemen negara ini
ketika berada dalam wilayah tugas kerja
anggota parlemen. Artinya bahwa diluar
tugas kerja tersebut, maka anggota parlemen
tidak memiliki imunitas hukum. Dengan
demikian imunitas hukum ini hadir secara
terbatas dan tidak berlaku menyeluruh dalam
segenap aspek kehidupan sebagai sesuatu
yang melekat mutlak pada diri pribadi
anggota parlemen dimaksud.
Pembatasan ini mutlak untuk menjamin tetap tegaknya prinsip kesetaraan dihadapan hukum dari setiap warga di dalam
negara ini. Keberadaan imunitas anggota
parlemen memang sangat penting demi menjamin hadirnya stabilitas dalam pemerintahan negara. Tugas fungsi parlemen sangat
menuntut adanya jaminan kebebasan berbicara, sepanjang kebebasan tersebut hadir
dalam konteks pelaksanaan tugas. Hal
demikian menjadi sebuah kemutlakan dalam
hal keberadaan dan keberlakuan asas imunitas hukum dalam negara ini.
Sementara itu terkait prosedur pemeriksaan dalam situasi dugaan telah terjadi
perbuatan melawan hukum oleh anggota
DPR maka Pasal 244 dan Pasal 245 dari UU
MD3 ini telah mengaturnya. Pasal 244
memberikan landasan normatif terhadap
dasar pemberhentian baik sementara maupun tetap. Pemberhentian sementara ketika
anggota DPR menjadi seorang terdakwa
diatur dalam Pasal 244 ayat 1 huruf a dan b
lengkapnya menyebut demikian:
Anggota DPR diberhentikan sementara
karena: a. menjadi terdakwa dalam
perkara tindak pidana umum yang
diancam dengan pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun; atau b. menjadi
terdakwa dalam perkara tindak pidana
khusus. Anggota DPR diberhentikan
sementara karena: a. menjadi terdakwa
dalam perkara tindak pidana umum
yang diancam dengan pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun; atau b.
menjadi terdakwa dalam perkara tindak
pidana khusus.10
Selanjutnya ketika anggota DPR tersebut
dalam pemeriksaan ternytaa bersalah maka
secara langsung dia diberhentikan sebagai
anggota DPR. Hal ini diatur dalam ayat 2
pasal ini. Secara lengkap ayat 2 Pasal ini
mengurai demikian:
Dalam hal anggota DPR dinyatakan
terbukti bersalah karena melakukan
tindak pidana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a atau huruf b
berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum
tetap, anggota DPR yang bersangkutan
diberhentikan sebagai anggota DPR.11
Perbandingan Kepemilikan Hak Imunitas
Parlemen di Australia
Sebagaimana dikutip Aulawi dari
Simon Wigley bahwa hak imunitas parlemen
dapat dipersamakan dengan hak imunitas
legislatif, pada dasarnya merupakan suatu
sistem yang memberikan kekebalan terhadap
anggota parlemen agar tidak kenai sanksi
hukuman. Bahkan dalam English Bill of
Rights, dinyatakan bahwa kebebasan untuk
berbicara dan berdikusi atau berdebat di
parlemen, tidak dapat di-impeach atau dipertanyakan dalam persidangan di lembaga peradilan.12 Pelaksanaan Hak Imunitas sudah
merupakan ―senjata‖ efektif bagi legislator
hampir di semua Parlemen di dunia untuk
dapat melaksanakan tugas dan kewenangannya. Tidak hanya dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan, namun
juga untuk melaksanakan fungsi anggaran
dan fungsi pengawasan terhadap eksekutif. 13
Aulawi menjelaskan dalam penelitiannya bahwa untuk konteks pelaksanaan di
Parlemen Australia, dinyatakan bahwa
Istilah 'hak istimewa parlemen' mengacu
pada dua aspek penting pertama hak-hak
10
Republik Indonesia, Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR,
DPD, dan DPRD
11
Ibid.
12
Ibid.
13
Ibid.
134 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
istimewa atau imunitas atas parlemen itu
sendiri serta kedua, imunitas atau kekebalan
untuk melindungi integritas dari para anggota parlemen dalam melaksanakan tugas
dan kewenangannya, terutama kekuasaan
untuk memberikan sanksi terhadap pihak
yang tidak menghormati (contempt) parlemen. Pelaksanaan atas hak imunitas ini
menjadi sangat luas, dan menjadi dasar bagi
anggota Parlemen dalam melaksanakan
tugas dan kewenangannya.14
Selanjutnya Di Parlemen Australia
pun, pelaksanaan Hak Imunitas bertujuan
untuk mengefektifkan fungsi anggota parlemen khususnya dalam melaksanakan
fungsi legislasi (proses pembuatan undangundang). Pada prinsipnya, hak imunitas di
Parlemen Australia digunakan untuk kebebasan parlemen dalam berdebat atau berdiskusi, dan hal ini tidak dapat dijadikan
bahan untuk dipertanyakan dilembaga peradilan. Selain itu hak imunitas di Parlemen
Australia juga menjamin anggota parlemen
tidak dapat dituntut untuk setiap tindakannya
yang dilakukan dalam proses debat di
Parlemen. 15
Hak Imunitas Parlemen di Australia
merupakan bagian dari hukum yang berlaku
yang dijamin oleh konstitusi Australia. Pada
prinsipnya hak imunitas di parlemen merupakan kekebalan anggota parlemen dan
pihak lainnya yang mengambil bagian dalam
proses di parlemen, dari tuntutan pidana atau
perdata, dan pemeriksaan dalam proses
hukum. Kekebalan atau imunitas ini di
Parlemen Australia dikenal sebagai hak
kebebasan berbicara di Parlemen. Terkait
mengenai hak kebebasan berbicara ini, di
Australia telah diatur dalam the Parliamentary Privileges Act 1987. Kebebasan
berbicara ini meliputi: a) pemberian bukti di
Parlemen; b) penyajian atau penyampaian
dokumen ke Parlemen; c) penyusunan
dokumen untuk tujuan tertentu yang terkait
dengan tugas dan kewenangan Parlemen;
dan d) membuat formulasi atau publikasi
dokumen, termasuk laporan, oleh atau sesuai
dengan perintah dari Parlemen, dari mulai
perumusan hingga publikasian.
14
15
Perbandingan Kepemilikan Hak Imunitas
Parlemen di Kanada
Dalam pelaksanaan hak imunitas di
Parlemen Kanada, hak imunitas anggota
Parlemen bersifat terbatas, artinya Anggota
Parlemen dapat diperiksa oleh Pengadilan
apabila hak imunitas yang dimilikinya tersebut melanggar ketentuan dalam Konstitusi
atau Undang-Undang. Dengan demikian
Anggota Parlemen harus menghindari menciptakan konflik yang tidak perlu dengan
hak pribadi, karena hal itu akan berimplikasi
hak istimewa yang dimilikinya dibawa ke
pengadilan.
Selanjutnya dalam pelaksanaannya,
hak imunitas yang paling penting yang diberikan kepada anggota Parlemen Kanada
adalah pelaksanaan kebebasan berbicara di
persidangan parlemen. Secara garis besar
kebebasan berbicara diartikan sebagai hak
dasar yang tanpanya Anggota Parlemen akan
terhambat dalam melaksanakan tugasnya.
Kebebasan berbicara ini memungkinkan
Anggota Parlemen untuk berbicara di
Parlemen tanpa hambatan, untuk mengacu
pada sesuatu hal atau mengungkapkan pendapat apapun, untuk mengatakan apa yang
Anggota Parlemen rasakan perlu dikatakan
dalam kelanjutan dari kepentingan nasional
dan aspirasi konstituen mereka.16
Kebebasan berbicara memungkinkan
Anggota Parlemen untuk berbicara dengan
bebas di Parlemen atau dalam komite selama
pertemuan sambil menikmati kekebalan
penuh dari penuntutan untuk setiap komentar mereka mungkin buat. Kebebasan berbicara ini ini sangat penting untuk kerja
yang efektif dari DPR. Dalam pelaksanaan
kebebasan berbicara di Parlemen Kanada ini
pada prinsipnya tidak ada batasan, artinya
bahwa Anggota Parlemen bebas untuk berbicara di Parlemen dalam rangka melaksanakan tugas dan kewenangannya.17 Namun
demikian di Parlemen Kanada, kebebasan
berbicara anggota Parlemen tidak berlaku
untuk laporan proses atau perdebatan yang
diterbitkan oleh surat kabar atau orang lain
di luar parlemen, artinya pada saat Anggota
Parlemen mengeluarkan pernyataan yang
Ibid.
16
Ibid.
Ibid.
17
Ibid.
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..135
berimplikasi pelanggaran di surat kabar atau
tempat lain di luar Parlemen, Hak Imunitas
Anggota Parlemen berupa Kebebasan Berbicara itu akan tidak berpengaruh apapun
dan dapat dituntut oleh hukum. 18
Aulawi menegaskan bahwa berdasarkan pemaparan pelaksanaan Hak Imunitas
bagi Anggota Parlemen baik di Indonesia
maupun di beberapa parlemen di dunia,
nampaknya dapat diambil kesimpulan
beberapa hal:
1. Bahwa untuk melaksanakan tugas dan
kewenangannya, Anggota Parlemen
perlu dibekali suatu instrumen atau
perangkat yang menjamin pelaksanaan
tugas dan kewenangannya dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai
dengan kepentingan masyarakat. Instrumen atau perangkat ini berupa Hak
Imunitas, yang menjamin Anggota Parlemen untuk bebas berbicara dan berpendapat dalam rangka melaksanakan
tugas dan kewenangannya.
2. Dalam pelaksanaan Hak Imunitasnya
yang lebih berbentuk kepada Hak Kebebasan Berbicara (Freedom of Speech)
pada prinsipnya tidak dibatasi, sepanjang dilakukan dalam melaksanakan
tugas dan kewenangannya sebagai Anggota Parlemen, walaupun ada juga
beberapa Parlemen yang membatasi
Hak Kebebasan Berbicara ini hanya
berada di dalam ruang Parlemen atau
Komite.
3. Pelaksanaan Hak Imunitas berupa Kebebasan Berbicara ini dapat menjadi
tidak berlaku pada saat Anggota
Parlemen melakukannya di luar tugas
dan kewenangannya, artinya seorang
Anggota Parlemen dapat dituntut di
hadapan hukum atas perbuatan atau
tindakannya di luar tugas dan kewenangannya. Akhirnya, masyarakat
dapat mengetahui bahwa Hak Imunitas
merupakan suatu hak yang melekat bagi
setiap anggota parlemen. Keberadaannya menjadikan Anggota Parlemen
dapat melaksanakan tugas dan kewenangannya secara efektif untuk menyuarakan kepentingan bangsa dan negara.
18
Ibid.
Namun demikian harus tetap dalam
koridor ketentuan perundang-undangan
yang berlaku agar tidak terjadi abuse of
power.19
Prinsip Equality Before The Law Dalam
Hubungan Dengan Imunitas Parlemen
Mardjono Reksodiputro menjelaskan
bahwa persamaan di hadapan hukum
(Equality before the law principle) merupakan salah satu asas yang utama dalam
Deklarasi Universal HAM dan dianut pula
dalam UUD 1945 kita. Asas ini menurut
Reksodiputro mengandung arti bahwa
“semua warga harus mendapat perlindungan yang sama dalam hukum – tidak
boleh ada diskriminasi dalam perlindungan
hukum ini”. Beliau menegaskan bahwa kata
kunci dari asas ini adalah ―perlindungan‖.
Pendapat yang berbeda adalah yang menafsirkan bahwa persamaan yang dimaksud
adalah untuk ―perlakuan‖. Perbedaan kata
kunci ini dapat membawa kepada penafsiran
yang berbeda dari makna asas ini bagi
HAM.20
Dengan kata-kunci ―perlindungan‖,
maka yang dituju adalah perintah kepada
negara/pemerintah untuk memberi perlindungan hukum yang sama adilnya (fairness)
kepada warganya. Dalam sebuah negara
dengan masyarakat majemuk atau bersifat
multi-kultural seperti Indonesia, ini mengandung makna perlindungan terhadap kelompok minoritas (terhadap kemungkinan ketidakadilan dari kelompok mayoritas). Mencegah adanya diskriminasi dalam perlindungan dan rasa aman kelompok minoritas. Diskriminasi yang dilarang adalah
yang merugikan kelompok tertentu.
Namun, kalau dipergunakan katakunci ―perlakuan‖, maka penafsiran yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia
adalah perintah kepada negara/pemerintah
untuk tidak membedakan dalam perlakuan
hukum antara warganya. Dan dalam masyarakat yang terstruktur dalam ―kelas‖, maka
19
20
Ibid.
Mardjono Reksodiputro, Hak Imunitas
dan Asas Persamaan Kedudukan di Hadapan
Hukum dalam UU MD3, http://www.hukum
online.com/ diakses tanggal 3 Agustus 2015.
136 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
ini mengandung makna jangan mem-beri
perlakuan istimewa kepada anggota kelas
tertentu. Khususnya dalam beberapa kasus,
protes ditujukan terhadap persang-kaan
bahwa ―kelas pejabat Negara‖ dan/ atau
―kelas orang kaya‖ mendapat perlakuan
khusus/istimewa dalam proses peradilan
pidana. Diskriminasi yang dilarang di sini
adalah menguntungkan kelas tertentu.21
Equality before the law berasal dari
pengakuan terhadap individual freedom bertalian dengan hal tersebut Thomas Jefferson
menyatakan bahwa "that all men are created
equal" terutama dalam kaitannya dengan
hak-hak dasar manusia. Pasal 27 ayat (1)
UUD 1945 menyatakan bahwa segala warga
negara bersamaan kedudukannya didalam
hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya. Artinya, semua orang
diperlakukan sama di depan hukum. Dengan
demikian konsep Equality before the Law
telah diintodusir dalam konstitusi, suatu
pengakuan tertinggi dalam sistem peraturan
perundang-undangan di tanah air.22
Ironisnya dalam gambaran umum oleh
masyarakat maka hukum di Indonesia masih
diskriminatif, equality before the law
sebagai sebuah prinsip pokok dalam penerapan hukum tidak dilaksanakan secara
setara pada setiap individu bahkan seringkali
diabaikan, kepentingan penguasa lebih didepan dibandingkan kepentingan publik.
Equality before the law sebagai prinsip kesetaraan dihadapan hukum menjadi minimal
pengoperasian dan pengakuannya sebagai
prinsip hukum umum ketika dihadirkan sebuah prinsip hukum umum yang lain seperti
imunitas hukum pejabat negara.
Dalam kenyataan ketika diperbandingkan penerapan dilapangan maka tidak
ada perlakuan yang sama (equal treatment)
dihadapan hukum antara individu biasa
dengan pejabat negara. Dengan nyatayang
demikian ini menyebabkan hak-hak individu
dalam memperoleh keadilan (access to
21
Ibid.
justice) terabaikan. Bukankah ini merupakan
perwujudan terlanggarnya hak asasi seseorang?. Jelas pula bahwa kepastian hukum
telah terabaikan dengan posisi Pejabat
Negara terlihat berada diatas hukum (above
the law).
Dalam perbandingan dengan keberadaan imunitas hukum oleh pejabat negara
dalam hal ini anggota parlemen sepertinya
mendapatkan penentangan yang sangat keras
dihadapan prinsip equality before the law.
Ingin dikatakan disini bahwa sejatinya perlu
pembahasan yang sangat serius terhadap
dasar keberlakuan imunitas hukum bagi
pejabat negara sebagai hak yang dimilikinya
walaupun memang hal itu hadir khusus
dalam kaitan dengan pelaksanaan tugas dan
fungsi sebagai pejabat negara.
Imunitas Dalam Hukum Pidana
Hiariej menegaskan bahwa dalam
hukum pidana, paling tidak ada dua asas
pokok yang disebutnya sebagai postulat
terkait imunitas. Dijelaskan beliau bahwa
dua postulat dasar tersebut ialah:
Imunitas continuum affectum tribuit
delinquendi yang berarti imunitas yang
dimiliki seseorang membawa kecenderungan kepada orang tersebut untuk
melakukan kejahatan. Kedua, impunitas semper ad deteriora invitat yang
berarti imunitas mengundang pelaku
untuk melakukan kejahatan yang lebih
besar. Berdasarkan kedua postulat itu,
imunitas dalam hukum pidana pada
dasarnya tidak dikenal. Imunitas dalam
hukum pidana hanya diberikan kepada
orang tertentu atas tindak pidana yang
dilakukan di luar teritorial negaranya.23
Hiariej menerangkan bahwa seorang
kepala negara memiliki imunitas di luar
wilayah teritorial negaranya. Ini berdasarkan
postulat par in parem non hebet imperium
bahwa kepala negara tidak boleh dihukum
dengan menggunakan hukum negara lain.
Namun demikian beliau menegaskan bahwa
―postulat ini sudah disimpangi berdasarkan
Pasal 27 Statuta Roma yang menurut Bruce
22
Rusma Dwiyana, Equality Before The
Law
Vs Impunity: Suatu Dilema, https://
rusmadwiyana.files. wordpress.com. diakses
tanggal 10 September 2015.
23
Eddy OS Hiariej, Imunitas dalam
Hukum Pidana, http://nasional.kompas.com,
diakses tanggal 10 September 2015.
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..137
Broomhall merupakan karakteristik hukum
pidana internasional bahwa tanggung jawab
individu dalam hukum pidana tak kenal
relevansi jabatan resmi‖.24
Sementara itu dalam konteks jalinan
hubungan diplomatik antar negara maka
hadir duta besar, konsul, dan diplomat.
Terkait dengan ini makaHiariej menerangkan bahwa subjek-subjek hukum ini mempunyai imunitas di negara penerima berdasarkan Konvensi Vienna 1961 tentang
Hubungan Diplomatik. Beliau menjelaskan
bahwa Imunitas ini merujuk pada postulat
legatus regis vice fungitur a quo destinatur,
et honorandus est sicut ille cujus vicem
gerit. Secara harfiah, postulat itu berarti
seorang duta besar mewakili raja yang
mengutusnya sehingga ia harus dihormati
karena mengisi posisi sang raja.25
Pengakuan terhadap keberadaan imunitas lewat dua postulat di atas, memunculkan asumsi negatif keberadaan hak tersebut.
Keberadaan imunitas yang dianggap merupakan hak yang mengandung potensi hadirnya kejahatan pada awal mulanya serta
potensi kecenderungan munculnya kejahatan
yang lebih besar dalam kenyataan memaksa
orang untuk berpikir mengapa kemudian
imunitas ini hadir bagi pejabat negara
sebagai hak cukup penting untuk dimiliki
secara personal. Dalam kenyataan maka hal
ini sesungguhnya didasarkan pada dasar
alasan bahwa hak tersebut dimiliki hanya
khusus untuk kepentingan pelaksanaan
tugas. Hak imunitas sejatinya hanya dilekatkan pada jabatan dan bukan secara personal
melekat diluar konteks jabatan tersebut.
Memang harus diakui bahwa potensi
berhadapan dengan hukum dalam kenyataan,
sungguh melekat pada jabatan pejabat
negara. Jika ini benar-benar terjadi maka
pejabat negara tentunya akan mengalami
kesulitan dalam bekerja. Waktunya dalam
menjalankan tugas akan tersita hanya untuk
menghadapi kasus-kasus hukum yang
menimpa dirinya yang dilatari pelaksanaan
tugas dan fungsi sesuai jabatannya. Pada
titik ini maka tentu saja keberadaan imunitas
24
Ibid.
25
Ibid.
hukum menjadi sebuah hal yang sangat
diperlukan.
Namun demikian persoalannya menjadi tidak selesai pada pembahasan tersebut
sebab dalam kenyataan bukankah menjadi
tidak adil ketika seseorang dengan posisi
dan kedudukan istimewa dalam konteks
strata sosial sebagai pejabat negara masih
ditambah keperbedaannya dengan individu
warga negara biasa dalam hal kedudukannya
didalam negara?. Keberadaan hak imunitas
ini dalam kenyataan mendapat penentangan
secara keras dengan keberadaan prinsip
equality before the law. Dalam kalimat
berbeda bahwa keberadaan prinsip equality
before the law ini seakan terlecehkan dengan
hadinya hak imunitas hukum pejabat negara.
Dilematika kehadiran imunitas bagi
pejabat negara ini dalam kenyataan telah
mendorong penggalian terhadap konsepkonsep pokok alasan penghapus pidana.
Hiariej mengkaji hal ini dalam konteks
perbandingan dengan pengaturan pada Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
yakni Pasal 50 KUHP. Hiariej melihat
bahwa ada korelasi yang cukup kuat antara
keberadaan imunitas hukum bagi pejabat
negara dalam hal ini secara khusus anggota
parlemen dengan substansi Pasal 50 KUHP
dimaksud. Pasal 50 KUHP sendiri memang
menjelaskan bahwa barang siapa melakukan
perbuatan untuk melaksanakan ketentuan
undang-undang, tidak dipidana. Pertanyaannya kemudian apakah hal ini memang dapat
dijadikan dasar logis dalam hal hadirnya
argumentasi yuridis untuk menguatkan keberadaan dan keberlakuan prinsip imunitas
hukum bagi anggota parlemen?
Sebelum menjawab pertanyaan terurai
diatas maka patut dicermati ulasan Hiariej
yang mengurai terlebih dulu keberadaan
pandangan George P Fletcher tentang teori
terkait alasan penghapus pidana. Fletcher
sebagaimana diterangkan kembali oleh
Hiariej menyebut adanya theory of pointless
punishment yang diterjemahkan sebagai
teori hukuman yang tak perlu sebagai teori
pertama dalam konteks ini. Teori ini
merupakan landasan adanya alasan penghapus pidana, khususnya alasan pemaaf.
Selanjutnya, theory of lesser evils yang merupakan teori alasan pembenar sebagai teori
yang kedua dalam konteks ini. Teori ini
138 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
sendiri merupakan alasan penghapus pidana
yang berasal dari luar diri pelaku. Sementara
itu yang ketiga ialah theory of necessary
defense atau teori pembelaan yang diperlukan. Pada yang ketiga ini Hiariej menegaskan bahwa ada ketidakesepakatan di antara
para ahli hukum pidana, apakah teori terakhir ini merupakan dasar alasan pembenar
ataukah alasan pemaaf.26 Hiariej menyebut,
bahwa ada kalanya theory of necessary
defense dapat menghapuskan sifat melawan
hukum sehingga merupakan alasan pembenar. Namun, tidak jarang theory of necessary defense menghapuskan sifat dapat
dicelanya pelaku sehingga theory of necessary defense digolongkan ke dalam teori
alasan pemaaf. Salah satu alasan pembenar
melaksanakan perintah undang-undang (te
uitvoering van een wettelijke voorschrift)
adalah untuk kemanfaatan publik dan
kepentingan umum sehingga tidaklah dapat
dipidana. Artinya, berdasarkan Pasal 50
KUHP (barang siapa melakukan perbuatan
untuk melaksanakan ketentuan undangundang, tidak dipidana), seorang pemimpin
lembaga atau seorang pejabat negara dalam
melaksanakan tugas, kewajiban, dan kewenangannya berdasarkan undang-undang tak
dapat dipidana tanpa perlu penegasan dalam
undang-undang yang memberi tugas, kewajiban, kewenangan, dan hak kepadanya. 27
Demikian pula seorang bawahan
tidaklah dapat dipidana jika suatu perbuatan,
meskipun melawan hukum, dilakukan
dengan itikad baik dan berdasarkan perintah
jabatan. Sejumlah ketentuan dalam hukum
positif kita yang memberi imunitas tak dapat
dituntut secara pidana dalam rangka melaksanakan tugasnya bukanlah konsep baru,
melainkan lebih memperlihatkan ketidakpahaman pembentuk undang-undang terhadap konsep dasar hukum pidana. Dengan
dasar Pasal 224 Undang-Undang MD3,
anggota DPR tidaklah dapat dituntut selama
yang bersangkutan melaksanakan tugas
sesuai dengan undang-undang. 28
Meski demikian ketentuan Pasal 50
KUHP ini sesungguhnya memiliki ruang
26
Ibid.
27
Ibid.
28
Ibid.
interpretasi yang sangat luas. Dalam konteks
yang khusus untuk Pasal 50 dimaksud maka
harus ada penjelasan lebih dan detail
terhadap frase ―perbuatan untuk melaksanakan undang-undang‖. Dimaksudnya hal
ini ialah lebih kepada batasan pengertian
kata ―perbuatan‖ dalam konteks ini. Sebab
kata perbuatan sebagaimana dimaksud disini
sesungguhnya sangat kabur meskipun mendapat syarat lanjutan dengan frase untuk
melaksanakan undang-undang dimana jelas
bahwa perbuatan dimaksud disini ialah yang
melaksanakan undang-undang.
Secara faktual perbuatan yang selaras
undang-undang atau bahkan menuruti perintah undang-undang sesungguhnya memiliki
potensi multi tafsir. Ukuran pelak-sanaannya
dapat menjadi berbeda-beda bagi para pihak.
Semisal disini terkait batasan dimana Polisi
dalam melaksanakan tugas penegakan
hukum berhak meletuskan senjata api
terhadap pihak yang dianggap melawan atau
melarikan diri saat akan ditangkap. Batasan
penggunaan senjata api disini jika dicermati
akan sangat bergantung pada batasan
pengertian kata melawan atau melarikan
diri. Sementara kata melawan atau kata
melarikan diri masih dapat diartikan secara
berbeda-beda bila tidak diberikan batasan
secara langsung dan tegas dalam ketentuan
undang-undang dimaksud.
Asas bahwa tidak adanya pidana bagi
perbuatan yang hadir dalam konteks melaksanakan undang-undang setidaknya memberikan penegasan yang tegas terhadap adanya kekebalan hukum terhadap perbuatan
tertentu dimana perbuatan tertentu ini hadir
dalam konteks keselarasan dengan hal yang
baik yang berada pada koridor menjalankan
tugas. Lebih dari pengertian ini maka keberadaan dan keberlakuan imunitas sesungguhnya akan berhadapan dengan persoalan
prinsip kesetaraan dihadapan hukum.
Hal yang harus dipertimbangkan disini
ialah bahwa pejabat negara khusus dalam
hal ini anggota parlemen merupakan individu yang memiliki beberapa hak istimewa
termasuk hak imunitas dalam menjalankan
tugas. Pada konteks perbandingan dengan
warga negara biasa maka tentu saja individu
pejabat negara dalam hal ini khusus anggota
parlemen memiliki perbedaan dengan warga
negara biasa tersebut. Terjadi perbedaan per-
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..139
lakuan oleh undang-undang kepada mereka
dalam perbedaaan dengan warga negara
biasa.
Hal ini sesungguhnya tanpa disadari
secara otomatis mendorong hadirnya jurang
kesenjangan khususnya ketidaksetaraan
antara warga negara dengan pejabat negara
dalam hal ini anggota parlemen, walau
memang ketidaksetaraan secara sosial ini
sesungguhnya pun masih dapat diterima
dalam logisitas keberadaan negara berikut
adanya pejabat pemerintah dan warga biasa.
Namun demikian pada konteks tertentu
kondisi ini harus berpotensi mengancam
keberadaan negara. Ingin dikatakan disini
bahwa Imunitas hukum jika tidak dihadirkan
dalam konteks yang benar Dan tepat pelaksanaannya dapat mendorong hadirnya kekacauan sosial yang sekali lagi berpotensi
menghancurkan
kepemimpinan
dalam
negara. Sejatinya pada konteks ini memang
sangat nampak akan adanya persoalan
ketidakadilan secara konseptual.
Imunitas
Hukum
Dalam
Konsep
Keadilan Sosial
Jika kemudian secara terus menerus
keadilan itu diajukan untuk menggugat
kekokohan asas hukum umum seperti
imunitas hukum pejabat negara ini maka
bagaimana sebenarnya konsep keadilan itu
sendiri ketika dihadirkan dalam konteks ini?
Sederhananya ialah bahwa disini imunitas
hukum dari pejabat negara ketika diterapkan
ialah tidak adil bagi warga lainnya dalam
konteks kesetaraan dihadapan hukum
(equality before the law). Dalam artian
selanjutnya ialah merujuk kepada bagaimana
keadilan tidak menjadi sebuah konsep yang
berada diluar jangkauan praktis namun
dengan nyata mampu hadir ditengah-tengah
kehidupan hukum masyarakat.
Zainuddin
Ali
mempertanyakan
mengapa sifat adil itu dianggap sebagai
bagian konsitutif dari hukum? Alasannya
ialah bahwa hukum dipandang sebagai tugas
etis manusia didunia ini. Artinya manusia
berkewajiban membentuk suatu kehidupan
bersama yang baik dengan mengaturnya
secara adil. Menurut keinsafan keadilan
yang timbul secara spontan dalam hati
manusia, bahwa hukum merupakan pernyataan keadilan. Hukum yang tidak adil itu
bukan hukum. Theo Huijbers dalam
Zainuddin Ali menegaskan bahwa hal
demikian didasari pada sebuah idealitas
bahwa seharusnya :
1. Pemerintah negara manapun selalu
membela tindakannya dengan memperlihatkan keadilan yang nyata didalamnya.
2. Undang-undang yang tidak cocok lagi
dengan prinsip-prinsip keadilan akan
dianggap usang dan tidak berlaku lagi.
3. dengan bertindak secara tidak adil suatu
pemerintah sebenarnya telah bertindak
diluar wewenangnya, maka secara tidak
sah juga. 29
Kesimpulan awal disini kemudian
muncul dalam bentuk pertanyaan baru ialah
apakah kemudian dengan berdasar pada
beberapa argumentasi diatas maka berbagai
rangkaian aturan yang memuat hak imunitas
pejabat negara saat ini merupakan sekelompok norma yang usang dan seharusnya
tidak berlaku lagi?
Sebelum memastikannya maka ada
baiknya menelaah konsep keadilan yang
diperkemukakan oleh John Rawls dalam
bukunya A Theory of Justice. Dalam konsep
justice as fairness ini Rawls berkeyakinan
bahwa perlu adanya keadilan yang diformalkan melalui konstitusi dan hukum sebagai
basis pelaksanaan hak dan kewajiban individu dalam interaksi sosial atau keadilan
formal menuntut kesamaan minimum bagi
segenap masyarakat.30
Tujuan utama dari konsep Rawls ini
adalah untuk memberikan solusi terhadap
permasalahan politik atau untuk menjelaskan dalam kondisi seperti apa warga negara
dituntut untuk patuh terhadap hukum yang
diciptakan oleh negara. Rawls membuat
konsep ini berdasarkan hipotesa atas
equality, sehingga tidak ada disparitas dalam
bargaining power.
29
Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, Jakarta:
SinarGrafika, 2008, hal. 86-87
30
Darsis Humah, Teori Keadilan John
Rawls, Jurnal Tata Negara Prinsip Keadilan dan
Feminisme, Pusat Studi HTN Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Jakarta:Pusat Studi HTN
FHUI, 2003, hal. 40.
140 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
Pada dasarnya Rawls memberikan
suatu jaminan minimum bahwa setiap orang
dalam kasus yang sama harus diperlakukan
secara sama. Dengan demikian Rawls
percaya bahwa eksistensi suatu masyarakat
sangat bergantung pada peng-aturan formal
melalui hukum serta lembaga-lembaga
pendukungnya.31
Konsep Rawls ini terdiri atas dua
prinsip berikut, yaitu:
1. each person is to have an equal right to
the most extensive basic liberty
compatible with similar liberty for
others.
2. social and economic inequalities are to
be arranged so that they are both:a)
reasonably expected to be everyone‟s
advantage and b) attached to positions
and offices open to all.32
Prinsip pertama seringkali disebut
sebagai prinsip kebebasan (Liberty Principle) yang dirumuskan oleh Rawls sebagai
berikut: ―Semua nilai-nilai sosial (kebebasan
dan kesempatan, pendapatan dan kekayaan,
dan basis harga diri) harus didistribusikan
secara sama. Suatu distribusi yang tidak
sama atas nilai sosial tersebut hanya diperbolehkan apabila hal itu memang bermanfaat
bagi orang banyak‖. Prinsip pertama ini
memberikan pengakuan dasar sekaligus
universal kepada tiap orang sebagai suatu
standar minimum. Secara moral setiap orang
adalah sama namun disisi lain, dalam dunia
nyata (the real world) ada perbedaan secara
signifikan antara individu yang berada
dalam kondisi merdeka yang mengacu pada
ketimpangan baik secara ekonomi maupun
sosial.Prinsip kedua acapkali disebut prinsip
perbedaan (Difference Principle), yang dirumuskan oleh Rawls sebagai berikut: 1)
setiap orang harus memiliki hak yang sama
bagi semua orang 2) ketidaksamaan sosial
dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa
sehingga: a) diharapkan memberikan keuntungan bagi setiap orang, dan b) semua
31
Lowrynata Ginting, Tinjauan Kritis
Terhadap Keadilan Menurut Pandangan Para
Filosof, Jurnal Tata Negara Prinsip Keadilan dan
Feminisme, Pusat Studi HTN Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Jakarta:Pusat Studi HTN
FHUIPusat Studi HTN FHUI,2003, hal. 5
32
Ibid., hal. 6.
posisi dan jabatan terbuka bagi semua
orang. 33
Kekuatan dari keadilan justru terlepas
pada tuntutan bahwa ketidaksamaan dibenarkan sejauh juga memberikan keuntungan bagi semua pihak dan sekaligus memberi
prioritas pada kebebasan. Rawls berulang
kali menegaskan bahwa kebebasan dan
kesamaan seharusnya tidak boleh dikorbankan demi manfaat sosial dan ekonomi,
betapapun besarnya manfaat yang dapat diperoleh dari sudut itu. Perbedaan ras, agama,
dan warna kulit bukanlah penyebab terjadinya pembagian alamiah yang tidak adil. Ketidakadilan dalam pembagian yang alamiah
tersebut lebih disebabkan oleh situasi. Oleh
karena itulah Rawls menawar-kan suatu
konsep yang menarik mengenai nilai keadilan ini, setiap orang harus kembali kepada posisi asali (original position). Posisi
asali ini merupakan suatu keadaan dimana
manusia berhadapan dengan manusia lain
sebagai manusia dalam kodratnya.34
Dengan menggunakan pandangan
Rawls ini maka diskursus hak imunitas bagi
pejabat negara dengan demikian makin jelas
arah kesimpulan bahasannya. Keadilan oleh
Rawls yang diarahkan khusus pada persoalan sosial dan ekonomi (sebagai hal yang
kodrati terwujud berbeda antara satu individu dengan individu lainnya namun diupayakan akses pemberlakuannya seharusnya sama bagi setiap individu untuk merubah sesuatu menjadi lebih bermakna
positif sama bagi setiap individu), haruslah
diupayakan dan digunakan logika pandangan teori Keadilan milik Rawls ini untuk
kemudian menjadi dasar dari penerapan
prinsip kesetaraan dihadapan hukum.
Jelasnya bila kemudian menurut
Rawls yang dipersoalkan ialah nilai keadilan
maka setiap orang haruslah dikembalikan
pada posisi asali (original position) sebagai
manusia secara kodrati. Proposisi dasarnya
ialah manusia terlahir sama antara satu
dengan yang lain dengan pemilikan hak dan
kewajiban yang sama. Dengan demikian
antara pejabat negara dan rakyat biasa
tersimpulkan dengan nyata bahwa keduanya
33
Ibid., hal 7.
34
Rusmadwiyana, Ibid.
Wenly R.J. Lolong, Problematika Imunitas Hukum …..141
terposisi dalam kondisi yang sejajar. Bila
kemudian ini menjadi asumsi nyata maka
bolehlah disimpulkan bahwa kesetaraan
manusia dihadapan hukum dengan demikian
menjadi sesuatu yang mutlak.
Simpulan
Menjadi kesimpulan disini ialah
bahwa hak imunitas keberadaannya termuat
secara tegas dalam UUD 1945 khususnya
pada Pasal 20A ayat 3. Pasal ini menyebutkan secara nyata bahwa Dewan Perwakilan
Rakyat memiliki hak imunitas sebagai salah
satu hak selain hak mengajukan pertanyaan,
serta hak menyampaikan usul dan pendapat.
Penjabaran lanjutan dari pengaturan keberadaan hak imunitas anggota DPR dalam
kenyataan diatur dalam Pasal 224 UndangUndang Nomor 17 Tahun 2014 tentang
MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
Prinsip equality before the lawsebagai
prinsip dasar dalam konsep hukum dan hak
asasi manusia diakomodir dalam konstitusi
oleh pembentuk negara yakni pada Pasal 27
ayat (1) UUD 1945. Pasal ini menyatakan
bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan
pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Dengan berdasar pada Pasal 27 ayat 1
UUD 1945 yang didalamnya terkandung
prinsip equality before the law, dalam
kenyataan memaksa asas imunitas hukum
bagi anggota DPR (parlemen) untuk
diberlakukan secara terbatas. Keberlakuan
secara terbatas dapat dilihat pada substansi
pengaturan
Pasal
224Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR,
DPD, dan DPRD, dimana diluar dari apa
yang diatur dalam ketentuan ini maka
imunitas sebagai hak kekebalan hukum yang
dimiliki anggota parlemen sesungguhnya
menjadi tidak ada.
Hal yang perlu diperhatikan sebagai
rekomendasi disini ialah bahwa imunitas
hukum bagi anggota parlemen merupakan
hal mutlak untuk disematkan bagi personal
anggota parlemen dalam menjalankan tugas.
Keberadaan dan keberlakuan hak imunitas
hukum ini dalam kenyataan diperlukan
untuk menjamin produktivitas maksimal
kinerja anggota DPR. Dalam konteks
demikian keberadaan formal dan substansi
Pasal 224 UU Nomor 17 Tahun 2014
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD
mutlak harus tetap dihadirkan dalam UU ini
sebagai bagian penegasan kemutlakan
dimaksud sebelumnya.Kehadiran Pasal 224
dalam UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang
MPR, DPR, DPD, dan DPRD, harus
mendapat penjabaran lanjutan dalam ketentuan normatif dibawah Undang-Undang
dengan memperhatikan keberadaan Pasal 27
ayat 1 UUD 1945 yang didalamnya terkandung prinsip equality before the law.
Penjabaran yang memperhatikan keberadaan
prinsip equality before the law dalam Pasal
27 ayat 1 UUD 1945 sangat diperlukan
dalam maksud untuk memberi batas-batas
tegas keberadaan dan keberlakuan hak
imunitas dimaksud.
Reference
Buku:
Darsis Humah, Teori Keadilan John Rawls,
Jurnal Tata Negara Prinsip Keadilan
dan Feminisme, Pusat Studi HTN
Fakultas
Hukum
Universitas
Indonesia, Jakarta. 2003.
Lowrynata
Ginting,
Tinjauan Kritis
Terhadap
Keadilan
Menurut
Pandangan Para Filosof,Jurnal Tata
Negara
Prinsip
Keadilan
dan
Feminisme, Pusat Studi HTN Fakultas
Hukum
Universitas
Indonesia,
Jakarta. 2003.
Munir Fuady, Teori Negara Hukum Modern,
Jakarta: PT. Refika Aditama, 2009.
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum
Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Balai
Pustaka, 1976.
Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, Jakarta:
Sinar Grafika, 2008.
Internet:
Akhmad Aulawi, Perspektif Pelaksanaan
Hak Imunitas Anggota Parlemen
Dan Pelaksanaanya Di Beberapa
Negara,
Jurnal
Rechtvinding,
http://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal
_online/PERSPEKTIF%20PELAKSA
NAAN%20HAK%20IMUNITAS%20
ANGGOTA%20PARLEMEN%20DA
142 Al Ahkam, Vol. V No. 2, Desember 2015
N%20PELAKSANAANNYA%20DI
%20BEBERAPA%20NEGARA.pdf,
diakses 10 Agustus 2015
Aktual.co, 26 Januari 2015, Menkumham
Sebut
Hak
Imunitas
Langgar
Konstitusi,
http://www.aktual.co/politik/menkum
ham-sebut-hak-imunitas-langgarkonstitusi.
Eddy OS Hiariej, Imunitas dalam Hukum
Pidana,
http://nasional.kompas.com/read/2015
/02/18/15100061/Imunitas.dalam.Huk
um.Pidana, diakses tanggal 10
September 2015.
Kompas.com, 6 Maret 2015, Makian
Anggota DPRD DKI Terhadap Ahok
Dikecam Netizen,
Alamat url:
http://megapolitan.kompas.com/read/2
015/03/06/10473841/Makian.Anggota
.
DPRD.DKI.
terhadap.Ahok.Dikecam.Netizen
Kompas.com 10 Maret 2015, Dilaporkan Ke
Polda Karena Memaki Ahok Ini
Tanggapan Anggota Dewan, Alamat
Url:
http://megapolitan.kompas.com/read/2
015/03/10/
13124551/Dilaporkan.ke.Polda.karena
.Memaki.Ahok.Ini.Tanggapan.Anggot
a.Dewan.?utm_source=news&utm_m
edium=bpkompas&utm_campaign=related&
Mardjono Reksodiputro, Hak Imunitas dan
Asas Persamaan Kedudukan di
Hadapan Hukum dalam UU MD3,
http://www.hukumonline.com/berita/b
aca/lt540d7c056fc44/hak-imunitasdan-asas-persamaan-kedudukan-dihadapan-hukum-dalam-uu-md3broleh--prof-mardjono-reksodiputro-sh--ma, diakses tanggal 3 Agustus
2015.
Republika Online, 28 Januari 2015, Hak
Imunitas Rawan Disalahgunakan,
Alamat
url:
:
http://www.republika.co.id/berita/kora
n/hukum-koran/15/01/28/nivi0916hak-imunitas-rawan-disalahgunakan
Rusma Dwiyana, Equality Before The Law
Vs
Impunity:
Suatu
Dilema,
https://rusmadwiyana.files.wordpress.
com/.../equality-before-the-law-vs-i...,
diakses tanggal 10 September 2015.
Undang-Undang:
Republik
Indonesia,
Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2014 Tentang
MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
Download