BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

advertisement
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Deskripsi Kasus
The Dharmawangsa merupakan hotel yang dibangun dibawah naungan
Rosewood pada tahun 1997. Setelah tahun 2008, The Dharmawangsa telah menjadi
sebuah hotel yang independen yang artinya hotel tersebut dikelola oleh
manajemennya sendiri. Manajemen The Dharmawangsa sekarang ini telah berubah
menjadi PT. Puri Dharmawangsa Raya Hotel.
Setelah The Dharmawangsa menjadi hotel yang dikelola sepenuhnya oleh
lokal, hotel ini tetap bisa mempertahankan imej nya untuk menjadi salah satu hotel
terbaik yang ada di Jakarta. Berdasarkan dari informasi yang didapat dari beberapa
website travel, didapat bahwa The Dharmawangsa memiliki performa pelayanan yang
sangat memuaskan dan termasuk ke dalam salah satu hotel lokal yang
direkomendasikan oleh pelanggannya.
Kasus ini akan membahas mengenai rahasia dibalik kesuksesan yang dimiliki
oleh The Dharmawangsa dalam memberikan pelayanan yang unik, yang membuat
para pelanggan merekomendasikan hotel tersebut.
Bpk. Alexander Nayoan sebagai Managing Director menyadari bahwa untuk
membangun sebuah hotel dengan service performance yang baik, diperlukan sebuah
manajemen yang kokoh dan baik pula. Dibantu oleh beberapa jajaran manager, Bapak
35 36 Alexander Nayoan berusaha membangun manajemen yang dapat menjalankan visi
The Dharmawangsa dengan baik.
4.1.1 Sejarah The Dharmawangsa, Jakarta
The Dharmawangsa, Jakarta diresmikan oleh mantan Presiden
Republik Indonesia H.M Soeharto pada tanggal 1 Desember 1997 yang
bertepatan dengan konferensi tingkat tinggi OPEC yang dihadiri dari beberapa
Negara dan The Dharamawangsa ini digunakan untuk mengakomodasikan
para anggota yang dihadiri OPEC, mulai dari para pemimpin Negara hingga
para menterinya.
Konsep The Dharmawangsa adalah sebuah permukiman hotel yang
megah, elegan dengan pelayanan yang sangat lengkap.Alasan dipilihnya
lokasi Kebayoran Baru dikarenakan pertimbangan akan lokasi ini yang
merupakan kawasan bergengsi di Jakarta Selatan.
The Dharmawangsa dibuat dengan karya arsitektur yang artistic dari
kebudayaan Majapahit. Simbol utama yang digunakan sebagai logo dari The
Dharmawangsa adalah simbol Surya yang diambil dari bahasa sansekerta
yang artinya matahari. Digunakannya symbol ini karena symbol ini
merupakan sinar bagi bumi dan matahari juga merupakan sumber kehidupan
bagi mahluk di bumi.
Tema bagunan arsitek ala Jawa antik serta modern merupakan kunci
dari seni arsitek gedung The Dharmawangsa, Kekuatan dari desain artsitektur
The Dharmawangsa terletak pada titik dimana poros utara dan selatan yang
37 melintasi poros timur dan barat. The Majapahit Hall adalah “jantung” The
Dharmawangsa yang merupakan sebuah tempat / sarana yang bernuansa
kesederhanaan dari kemegahan rumah candi di abad 14 dimana para tamu
dapat menikmati secangkir teh ditemani oleh wewangian dari bunga-bunga
tropis.
The Dharmawangsa dibangun oleh dua arsitektur yaitu Jasin
Tedjakusuma (Indonesia) dan Don Sandy (San Fransisco). Sedangkan pada
rancangan interior dari seluruh ruangan dikerjakan oleh Jaya Ibrahim dan
bertindak sebagai konsultan rancangan menggunakan jasa Cheong Yew
Kuandan Reny Dahlan.
Konsep The Dharmawangsa diperuntukkan kepada dua segmen, yaitu
segmen bisnis dan segmen turis.Tujuan dari The Dharmawangsa adalah
menjadi hotel yang menciptakan tren / inspirasi dan bentuk gaya hidup
melalui konsep dekorasi, makanan, pelayanan dan sumber daya manusia yang
tepat untuk menjamin seluruh kepuasan para tamu.
Moto dari pelayanan The Dharmawangsa yaitu sebagai hotel megah
dengan kualitas pelayanan yang melebihi harapan konsumen.
The Dharmawangsamenyediakan 66 kamar yang terdiri dari Executive
Room dan Senior Executive Room dan 34 suites yang terdiri dari
Dharmawangsa Suite, Townhouse- One Bedroom Suite, Deluxe Suite,
Townhouse- Two Bedrooms Suite, Penthouse Suite dan Presidential Suite.
Selain itu, The Dharmawangsa juga memiliki beberapa fasilitas seperti dua
buah kolam renang (indoor dan outdoor), lapangan tenis, spa, ruangan untuk
38 aerobik, lapangan squash dan gym. Tersedia juga The Dharmawangsa’s
Restaurants dimana menyediakan masakan tradisional Indonesia, Asia dan
jenis makanan lainnya. The Dharmawangsa juga memiliki Lounge untuk
menikmati signature drink “Chocolate Martini”, cocktails dan memiliki
perpustakaan yang menyediakan lebih dari 500 jenis buku termasuk bukubuku langka. Selain itu juga, The Dharmawangsa memiliki ruang serbaguna
dan meeting room yang biasa digunakan untuk business meeting dan juga
resepsi pernikahan.
4.1.2 Core Values The Dharmawangsa
The Dharmawangsa memiliki nilai yang menjadi core values
keseluruhan hotel. Core values tersebut adalah sebagai berikut:
− We respect our guests, employess and owners (Kami menghargai tamu
kami, karyawan dan pemilik)
− We deliver exceptional service to our guests (Kami menyajikan pelayanan
yang luar biasa untuk para tamu kami)
− We encourage every individual’s contributions and personal growth
(Kami mendorong kontribusi setiap individual dan pertumbuhan pribadi)
− We honor diversity (Kami menjunjung tinggi perbedaan / keragaman)
− We foster work environments that provide personal pride through job
satisfaction and a balanced life (Kami membantu mengembangkan
39 lingkungan pekerjaan yang memberikan kebanggaan pribadi melalui
kepuasan bekerja dan hidup yang seimbang)
− We embrace the environment and surroundings (Kami menjaga –
kenyamanan lingkungan dan sekitarnya)
− We promote open communications, innovation and creativity (Kami
menyenangi komunikasi yang terbuka, inovasi dan kreativitas)
4.1.3 Visi dan Misi The Dharmawangsa, Jakarta
a. Visi
“To maintain The Dharmawangsa Jakarta as Indonesia’s most
personalized service oriented ultra luxury boutique hotel where service
exceeds all expectation”.
Artinya: Mempertahankan The Dharmawangsa Jakarta sebagaibutik hotel
yang paling mewah dengan pelayanan yang dapatn dipersonalisasikan
dimana pelayanannya dapat melebihi dari yang diharapkan.
b. Misi
“To provide consistent high service levels and maintain the quality of the
product facilities in order to achieve maximum revenue.”
Artinya: Dengan menyediakan pelayanan tingkat tinggi dan menjaga
kualitas dari fasilitas produk untuk mencapai keuntungan yang maksimal.
40 4.2
Analisis dan Pembahasan Kasus
4.2.1 Strategi Visi Pelayanan
Berdasarkan James a Fitzsimmons & Mona J. Fitzsimmons dalam Service
Management (2004, p.38) dikatakan bahwa framework kini digunakan untuk
menanyakan strategi dari visi pelayanan yang akan dijalankan.
•
Target Market Segments (Segmen Target Pasar)
Target pasar dari The Dharmawangsa adalah diperuntukkan untuk para
turis mancanegara atau lokal, business men, pejabat atau kalangan
menengah ke atas yang menginap dalam rangka business tripatau
sedang berlibur.
•
Service Concept (Konsep Layanan)
Konsep dari pelayanan The Dharmawangsa adalah dengan menyajikan
pelayanan yang luar biasa dan dapat dipersonalisasikan serta
pelayanan yang melebihi harapan para tamunya.
•
Operating Strategy (Strategi Operasi)
Strategi The Dharmawangsa dalam beroperasi adalah salah satunya
tidak hanya dengan menghargai para tamu, tetapi juga menghargai
para
karyawan.
Dengan
mendorong
para
karyawan
untuk
berkontribusi dan menciptakan lingkungan kerja yang seimbang dan
nyaman. Sesuai dengan core value yang dimiliki The Dharmawangsa
bahwa komunikasi, kreativitas dan juga inovasi dijunjung tinggi oleh
manajemen.
41 •
Service Delivery System (Sistem Penyajian Layanan)
The Dharmawangsa memberikan pelayanan yang eksepsional untuk
para tamunya. dengan memberikan kenyamanan seperti rumah sendiri
dengan sentuhan elegensi dan tradisional Indonesia. Dengan letak
hotel yang tidak terletak di tengah kota beserta jumlah ruangan yang
tidak banyak namun memiliki kapasitas luas yang besar menandakan
bahwa The Dharmawangsa merupakan high end hotel (hotel berkelas
atas) yang unik dibandingkan dengan hotel lainnya.
42 .
Sumber: Heskett, Sasser, Schlesinger, Service Profit Chain, (1997, p.9)
Gambar 4.1 Elemen dari Visi Strategi Pelayanan
* Cara menggunakan yang efektif untuk framework ini adalah dari kanan ke kiri
43 Adapun ke empat bagian dari framework diatas mempunyai hubungan timbal
balik satu dengan yang lainnya. Hubungan ke empat bagian diatas adalah sebagai
berikut:
•
Antara segmen target pasar dengan konsep layanan membahas tentang
hubungan antara konsep pelayanan diposisikan dalam kebutuhan
pelanggan dan yang ditawarkan oleh kompetitor lain. Dengan target pasar
yang diperuntukkan kepada para business men kalangan mengenah keatas,
pejabat, dan lainnya, konsep pelayanan The Dharmawangsa yaitu
menyajikan pelayanan yang luar biasa yang melebihi ekspektasi
pelanggan merupakan hal yang cocok. Dikarenakan pada saat tamu
menginap, tamu akan mengharapkan sebuah pelayanan yang baik sesuai
dengan harga yang mahal dan kualitas bintang lima.
Hotel bintang lima di Jakarta rata-rata memiliki pelayanan yang hampir
sama antara satu hotel dengan hotel yang lainnya, yang membedakan
mereka biasanya hanyalah desain ruangan dan lainnya. Namun The
Dharmawangsa selain dapat menciptakan nuansa arsitektur Indonesia,
dapat juga memberikan pelayanan yang melebihi harapan pelanggan dan
dapat dikostumisasikan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
•
Pada bagian antara konsep layanan dengan strategi operasi menyinggung
tentang sejauh mana nilai dari hasil dan proses kualitas bagi pelanggan
menghasilkan keuntungan biaya bagi penyedia layanan. Dengan strategi
operasi yang dijalankan beserta dengan konsep pelayanan yang ada yaitu
44 memberikan pelayanan yang maksimal melebihi harapan oleh pelanggan
tentu akan mendatangkan keuntungan sendiri bagi The Dharmawangsa.
Dengan pelayanan The Dharmawangsa yang maksimal akan membangun
customer loyalty (kesetiaan pelanggan), jadi ketika pelanggan (tamu)
berkunjung ke Jakarta dalam rangka bisnis atau liburan tamu akan
memilih The Dharmawangsa sebagai tujuan pertama untuk menginap.
Dengan adanya pelanggan yang setia, secara tidak langsung dapat
membantu The Dharmawangsa dalam mengiklankan dirinya di mata
masyarakat. Dalam Service Management (Fitszimmons, 2004, p.47)
reputasi merupakan salah satu elemen atau cara memenangkan pelanggan
di pasar (dalam hal ini industri perhotelan). Jika pelanggan bisa merasakan
pengalaman
yang
baik
atau
memuaskan
pada
pelayanan
The
Dharmawangsa maka pelanggan tidak segan untuk memberitakan hal
tersebut ke orang lain atau ke masyarakat. Dan informasi yang disebarkan
dari mulut ke mulut merupakan salah satu cara beriklan yang efektif.
•
Pertanyaan diantara strategi operasi dengan sistem penyajian layanan
menyinggung kepada apakah sistem penyajian layanan dapat men-support
strategi operasi. Untuk mendapatkan sistem pelayanan yang sempurna
dibutuhkan strategi beroperasi yang baik. Dalam hal ini untuk
menciptakan
pelayanan
yang
eksepsional,
The
Dharmawangsa
menciptakan nuansa kenyamanan rumah dan pelayanan yang unik
dibandingkan dengan hotel berbintang lima lainnya, strategi utama yang
dilakukan untuk menyiapkannya adalah dengan cara mempersiapkan
45 sumber daya manusia yang baik. Dari hasil wawancara dengan pihak HRD
dan juga pada pihak manajemen The Dharmawangsa, dikatakan bahwa
dalam memilih sumber daya yang baik dan sesuai dengan keinginan
manajemen, dilakukan beberapa rangkaian seleksi dan wawancara. Tidak
hanya melakukan wawancara pada bagian HRD saja atau pada bagian
manajemen saja, tetapi pelaksana seleksi dan wawancara calon karyawan
dilakukan dengan cara melakukan 5 tahap. Yaitu pada bagian Psikotes,
test pengetahuan umum, wawancara dengan HRD, Manajer dan Head
Group, jajaran direksi.
Tahapan ini dilakukan guna mengetahui kemampuan dasar dari calon
karyawan, potensi, dan juga menghindari adanya sifat nepotisme pada
tahap recruitment. Alex Nayoan mengatakan bahwa berbisnis pada bidang
jasa - terutama pada industri perhotelan, dibutuhkan tidak hanya ketelitian
dan kemampuan untuk melayani tetapi juga karyawan dari The
Dharmawangsa harus memiliki passion (hati) untuk melayani orang lain.
46 Sumber: Heskett, Jones, Loveman, Schlesinger, The Service Profit Chain, 1997
Gambar 4.2 Rantai Keuntungan Pelayanan
Selain sistem seleksi karyawan yang begitu ketat, The Dharmawangsa
juga melakukan beberapa rangkaian pelatihan. Pelatihan - pelatihan ini
digunakan selain untuk membekali karyawan dengan ilmu pengetahuan
tambahan tetapi juga memotivasi karyawan dalam bekerja. Zairil S.A
sebagain H.R Director juga mengungkapkan bahwa dengan karyawan
dibekali ilmu pengetahuan mengenai pelayanan The Dharmawangsa dan
pelatihan- pelatihan lainnya, akan membantu karyawan merasa dihargai
dan dihormati oleh bagian manajemen. Dengan adanya rasa hormat, rasa
dihargai dan juga motivasi, otomatis karyawan akan menjadi setia kepada
perusahaan dan selain itu juga akan membantu operasional secara
keseluruhan, yaitu para karyawan jadi lebih baik dalam melayani para
47 tamu yang datang. Seperti pada gambar 4.2 rantai keuntungan pelayanan
menjelaskan bahwa keuntungan dan profitabilitas didapat dari kepuasan
pelanggan yang berujung kepada loyalitas yang didapat dari nilai dari
pelayanan tersebut. Untuk membangun value dari pelayanan perlu juga
dibangun sebuah internal yang baik yaitu membangun karyawan yang
memiiki kualitas pelayanan, kapabilitas, kepuasan kerja, loyalitas, dan
produktivitas serta kualitas output yang baik.
Berdasarkan kepada visi strategi pelayanan, dijelaskan bahwa dengan
adanya target segmen dari pelayanan The Dharmawangsa yaitu bertujuan
kepada pasar menengah keatas berarti The Dharmawangsa menyusun
sebuah konsep pelayanan yang maksimal dan unik. Konsep pelayanan
yang dihadirkan adalah berupa konsep pelayanan yang mencerminkan
budaya Indonesia dan juga pelayanan yang melebihi ekspektasi
pelanggan. Konsep pelayanan yang diberikan oleh The Dharmawangsa
juga lebih berpusat kepada sumber daya manusia sebagai strateginya
dalam beroperasi yaitu memilih dan mengambil sumber daya manusia
yang kompeten dan juga memiliki passion (kemauan) dalam melayani.
Dengan ini, sistem penyajian layanan yang sedang dijalankan oleh The
Dharmawangsa saling medukung satu sama lain dengan strategi
operasinya dan The Dharmawangsa memiliki strategi pelayanan yang
cukup kuat.
48 4.2.2 GAP dalam Kualitas Pelayanan
Metode analisa GAP dilakukan pada The Dharmawangsa untuk
mengetahui apakah pelayanan yang diharapkan sesuai dengan pelayanan yang
diterima. Dalam melakukan nya dilakukan beberapa analisa terhadap beberapa
GAP.
Sumber: Bagchi, University of Texas at Austin
Gambar 4.3 GAP Model untuk Kualitas Pelayanan
GAP 1: Riset Pasar
GAP 1 akan menjelaskan bagaimana The Dharmawangsa melakukan riset
pasar dan menerjemahkan apa yang ekspektasikan oleh pelanggan dan
menjadikannya persepsi manajemen.
Sebelumnya
The
Dharmawangsa
dibangun
dibawah
naungan
Rosewood, sebuah manajemen hotel internasional. Pada saat itu,
Rosewood memiliki target pasar yang sangat niche. Target pasar dari The
49 Dharmawangsa pada saat dibawah naungan Rosewood adalah para CEO
dari perusahaan gas dan minyak bumi internasional, para pejabat tinggi,
kepresidenan, dan orang- orang penting lainnya. Namun target tersebut
tidak tercapai dikarenakan oleh target pasar yang terlalu sempit dan
spesifik.
Setelah The Dharmawangsa menjadi sebuah hotel dibawah naungan
yang independen, pihak manajemen yaitu PT. Puri Dharmawangsa Raya
Hotel mengubah pola manajemen dari segi keseluruhan hotel seperti
memperbaiki marketing-nya, mengubah kualitas pelayanannya, dan lainlain tanpa menghilangkan esensi dari konsep hotel itu sendiri yaitu hotel
dengan konsep desain elegan dan sangat Indonesia.
Melihat dari Visi dan Misi serta Core Values dari The Dharmawangsa,
menjelaskan bahwa The Dharmawangsa memiliki pandangan mengenai
apa yang dibutuhkan oleh pelanggan dan apa yang diharapkan oleh
pelanggan pada saat menginap di The Dharmawangsa yaitu sebuah
pelayanan yang unik dan kualitas dari pelayanan yang baik. Dengan imej
mewah
yang
dimiliki,
The
Dharmawangsa
berusaha
untuk
mempertahankan memberikan kualitas-kualitas pelayanan yang ada.
Tidak hanya pada bentuk dan desain hotel yang elegan namun juga pada
pelayanan-pelayanan seperti makanan, hingga kualitas dari barang-barang
yang ada di dalam suites (kamar).
Pengaturan kualitas lainnya terlihat dari jumlah kamar yang dimiliki
The Dharmawangsa. Jumlah kamar yang dimiliki hotel tersebut tidak
50 banyak dengan alasan agar mudah untuk melakukan maintanance.
Dengan ini, The Dharmawangsa menunjukkan bahwa manajemen tidak
menargetkan keuntungan yang maksimal melalui promosi penginapan
sebanyak-banyaknya,
tetapi
manajemen
memiliki
target
yaitu
memberikan kualitas pelayanan yang maksimal. Jadi pada saat orang
menginap kenyamanan dan ketenangan juga tetap terjaga.
Jadi, pola pandang (persepsi) manajemen terhadap kebutuhan
pelanggan dikenal baik oleh The Dharmawangsa melalui visi dan misi
yang dimiliki oleh The Dharmawangsa.
GAP 2: Desain
Dengan
menbentuk
persepsi
manajemen
terhadap
ekspektasi
pelanggan, The Dharmawangsa telah membuat standar dari pelayanannya.
Standar- standar yang dimiliki oleh The Dharmawangsa merupakan
gabungan antara standar yang dimiliki oleh hotel bintang lima dan juga
penambahan dari ekspektasi- ekspektasi dari pelanggan terhadap
manajemen.
51 Gambar 4.5 Service Standard & Culture Standard
Gambar 4.6 Greetings Manual
Gambar – gambar diatas merupakan upaya manajemen dalam
membangun desain kerja yang berkomitmen kepada visi dan misi
perusahaan. Untuk membangun dan mempersiapkan pelayanan yang
maksimal, lingkungan kerja bersifat kekeluargaan perlu dibangung. Pada
areal tempat para karyawan bekerja, diletakkan information board seperti
52 yang ada pada gambar 4.4 dimana diletakkan informasi- informasi
mengenai hari ulang tahun karyawan sampai ke informasi mengenai
komentar- komentar tamu. Bpk. Zairil S.A bagian HR Director
mengungkapkan bahwa dengan adanya informasi mengenai karyawan
yang berulang tahun di setiap bulannya merupakan salah satu bentuk
apresiasi manajemen terhadap karyawan. Dengan ini, karyawan lebih
merasa diakui dan disambut oleh manajemen. Dan ini dapat memotivasi
karyawan dalam bekerja.
Tidak hanya itu, The Dharmawangsa juga memberikan standart
pelayanan yang diberikan singkatan SERVICE yaitu:
•
Smile – selalu melemparkan senyum kepada siapapun yang masuk
kedalam The Dharmawangsa.
•
Eye Contact – Selalu melakukan kontak mata pada saat berbicara
dan melayani karena dengan kontak mata dengan lawan bicara
artinya menghargai mereka.
•
Recognition – Dengan mengenal siapapun mereka artinya kita
peduli.
•
Voice – Dengan memberikan suara atau menyapa orang lain,
merupakan salah satu ungkapan menghormati dan menghargai
orang lain.
•
Informed – Selalu menjadi karyawan yang informatif bagi para
tamu dan sesama karyawan.
53 •
Clean – Kebersihan itu mutlak.
•
Everyone – The Dharmawangsa merupakan sebuah tim dan
kekeluargaan.
Selain standar pelayanan yang diterapkan, standar kultur (budaya) juga
diterapkan di The Dharmawangsa, yaitu:
•
“Do it with a little bit extra” - biasakan melakukan pekerjaan
dengan hasil lebih dari yang diharapkan.
•
“Always say yes” – selalu mengatakan “iya” pada apapun yang
diinginkan oleh tamu.
•
“One goal One group” – semua yang dilakukan merupakan
keberhasilan bersama.
Gambar 4.6 menunjukkan tata cara dalam melakukan salam kepada
para tamu yang akan hadir. Hal ini merupakan hal yang penting terutama
pada penerima tamu. Salam yang baik dan sesuai standar merupakan
impresi pertama baik atau buruknya sebuah hotel bagi para tamu.
Bpk. Alexander Nayoan mengungkapkan bahwa rata- rata orang yang
menginap dihotel mencari intangible needs terlebih dahulu seperti
misalnya kenyamanan, pelayanan yang baik, keamanan. Baru kemudian
yang dicarinya adalah tangible needs-nya yaitu keindahan arsitektur dan
54 lainnya. Maka dari itu hotel sangat dikenal dengan pelayanannya, bukan
dari segi apa yang dilihat.
Dengan letak The Dharmawangsa yang berlokasi di Jakarta Selatan
dan dekat dengan areal perumahan merupakan salah satu tujuan dari
keamanan
dan
kenyamanan
yang
ingin
diterapkan
oleh
The
Dharmawangsa. Dengan areal di tengah perumahan artinya ketenangan
dari The Dharmawangsa akan tetap terjaga.
Sesuai dengan visi The Dharmawangsa mengenai butik hotel mewah
dengan pelayanan yang dapat dipersonalisasikan. The Dharmawangsa
menggunakan Butler. Divisi ini merupakan salah satu divisi atau bagian
dari pelayanan hotel yang belum pernah ada di hotel bintang lima lainnya
di Indonesia dan ini merupakan keunikan dari The Dharmawangsa.
Dengan adanya butler, tamu seperti mempunyai asisten pribadi di dalam
hotel tersebut. Butler berbeda dengan bell boy atau room service karena
butler merupakan orang yang akan terus bertemu dengan tamu ketika
tamu membutuhkan apapun. Butler merupakan salah satu divisi
“frontline” dari perusahaan selain divisi penjualan dikarenakan butler
selalu bertemu dengan tamu dan termasuk salah satu divisi yang selalu
membawa nama baik The Dharmawangsa. Maka itu menjadi butler
memerlukan pengetahuan yang luas tidak saja dibekali ilmu pengetahuan
tentang pelayanan tetapi juga tentang ilmu komunikasi, penjualan, dan
pengetahuan lainnya.
55 Menurut Klasifikasi Jasa (Fitzsimmons, 2004, p.19) pada matriks
proses pelayanan dinyatakan bahwa hotel termasuk pada Service Factory
dimana pelayanan telah distandarisasikan dengan modal dana yang tinggi,
hampir sama dengan alur proses manufaktur sedangkan service shop
adalah pelayanan yang dapat dikostumisasikan tetapi tetap berasal dari
lingkungan dengan modal yang tinggi.
Gambar 4.6 Matriks Proses Jasa
Sumber: Schmenner, Sloan Management Review, 1986, p.25
Dengan berdasar kepada visi, misi, strategi pelayanan ditambah
dengan adanya butler The Dharmawangsa telah mengubah klasifikasi jasa
dari Service Factory yaitu pelayanan yang memiliki standar dan interaksi
yang rendah menjadi Service Shop yaitu pelayanan yang memiliki tingkat
kostumisasi dan personalitas-nya tinggi. Ini yang menjadikan The
Dharmawangsa unik dan lebih dibandingkan dengan hotel bintang lima
lainnya yang ada di Indonesia.
56 GAP 3: Kesesuaian
Dalam GAP ini akan membahas mengenai apa yang telah dibangun
oleh manajemen telah sesuai dengan pelayanan yang diberikan.
Manajemen berusaha untuk bisa menanamkan pikiran para karyawannya
dengan desain dan visi misi yang telah dibangun.
HR Director Bpk. Zairil S.A dan Bpk. Yayat Andiat sebagai Head of
Butler mengungkapkan bahwa semua orang bisa melayani orang lain,
tetapi hanya orang tertentu yang bisa melayani dengan sepenuh hati yaitu
orang yang memiliki passion dan attitude. Melatih seseorang untuk
melayani itu mudah tetapi tidak semua orang mau melakukan hal tersebut.
Maka itu The Dharmawangsa melakukan beberapa seleksi ketat pada
setiap calon karyawannya.
The Dharmawangsa melakukan beberapa seleksi untuk setiap calon
karyawannya. Mulai dari psiko test dilanjutkan dengan test kesehatan.
Berikutnya dilakukan wawancara dengan pihak HRD. Setelah melalui
pihak HRD, wawancara dilanjutkan ke tahap head group tujuan pelamar
mendaftar. Wawancara berikutnya dilakukan bersama dengan Board of
Director untuk mengetahui potensi- potensi lain yang dimiliki oleh calon
karyawan. Yang terakhir dilakukan wawancara kembali oleh HRD
terakhir kalinya.
Serangkaian wawancara dan test yang dijalankan untuk menjadi
karyawan The Dharmawangsa merupakan bagian dari seleksi ketat untuk
menghindari kesalahan perekrutan dan juga nepotisme.
57 Setelah memasuki perekrutan, The Dharmawangsa juga melakukan
pelatihan dasar kepada setiap karyawan barunya. Biasanya pelatihan dasar
ini dibimbing oleh head group divisi masing – masing. Ideal pelatihan
dasar yang dilakukan oleh karyawan baru biasanya berkisar kurang lebih
80 jam atau 3 bulan.
Selain dari pelatihan dasar, para karyawan juga mendapatkan macam –
macam pelatihan yang dibuat oleh manajemen. Harapan Bpk. Alexander
Nayoan dan Bpk Zairil S.A membangun rangkaian pelatihan tersebut
bertujuan untuk menciptakan karyawan yang SPECTA.
Karyawan yang SPECTA menurut Bpk. Alexander Nayoan dan Bpk.
Zairil S.A adalah karyawan yang berbekal:
1.
Service Performance – sanggup melakukan performa pelayanan
yang baik
2.
Professionalism
–
sanggup
bersikap
dan
bekerja
secara
profesional
3.
Ethics Work – memiliki etika kerja yang baik
4.
Communication Skill – memiliki kemampuan berkomunikasi yang
baik
5.
Team Player – mampu bekerja sama
6.
Adaptability – mampu beradaptasi dengan lingkungan
Cara untuk menciptakan sebuah lingkungan kerja yang baik,
membentuk seorang karyawan yang memiliki kemampuan, atittude dan
profesional adalah dengan cara melakukan pelatihan rutin yang bersifat
58 selalu mengingatkan dan juga mengasah kemampuan dan potensi masingmasing karyawan.
Seperti pada lampiran 1 adalah daftar pelatihan yang dilakukan dalam
sebulan. Pelatihan ini juga sebagai sarana untuk memotivasi karyawan.
Dengan adanya pelatihan-pelatihan yang dilakukan, karyawan bisa
menjadi termotivasi dalam melakukan pekerjaannya dan merasa dihargai.
Pelatihan ini telah dilakukan selama kurang lebih 2 tahun. Pelatihanpelatihan yang dijalankan oleh karyawan The Dharmawangsa selama
setahun sebanyak 53 paket pelatihan yang terdiri dari beberapa program.
Diantaranya adalah Generic Training Program (GTP) sebanyak 8 modul,
Supervisory Development Series (SDS) sebanyak 14 modul, Management
Development Program (MDP) sebanyak 15 modul, Supplemental
Training Programme (STP) 16 modul (lampiran2). Adapun pelatihanpelatihan ini selain bisa merupakan motivasi bagi para karyawannya,
tetapi juga pelatihan-pelatihan yang dilakukan mengarah kepada core
value yang dimiliki oleh perusahaannya.
Pelatihan-pelatihan tersebut dapat dijabarkan kurang lebih sebagai
berikut:
− Managing Conflicts, Emotional Intelegence at work, Stress Conciousness,
dll mengarah kepada butir: We respect our guests, employess and owners
− Communication Skill, Up Selling Skills, Service Excellence, dll mengarah
kepada butir: We deliver exceptional service to our guests
59 − Setting Goal, Breakthrough Standard Performance, dll mengarah kepada
butir: We encourage every individual’s contributions and personal
growth We honor diversity (Kami menjunjung tinggi perbedaan /
keragaman)
− Dan training lainnya
Selain melakukan pelatihan–pelatihan untuk membangun motivasi
karyawan, reward juga diberikan kepada karyawan yang berprestasi di
bidangnya dan juga memotivasi karyawan untuk berkarya lebih. Reward
yang dilakukan tidak hanya berupa promosi kerja atau kenaikan gaji
(bonus) tetapi juga berupa family gathering, outing departement, olah
raga bersama, dan lainnya. Kegiatan- kegiatan ini membantu kedekatan
dan komunikasi antar karyawan yang akhirnya bisa membangun
kerjasama yang kuat sebagai tim.
Komunikasi antara pihak manajemen dengan karyawan juga terjalin
dengan baik. Selain pada pelatihan- pelatihan yang dijalankan untuk
memotivasi karyawan diadakan juga luncheon(pertemuan makan siang)
yang dihadiri oleh pihak karyawan dengan staff dimana disini para
karyawan akan diperlakukan oleh para staff seperti tamu kehormatan dan
duduk makan bersama dengan mereka. Menurut Bpk. Alex Nayoan ini
merupakan salah satu sarana untuk bisa berinteraksi langsung dengan
karyawan dan juga bisa berbagi cerita sekaligus mengakrabkan tali
60 silaturahmi antar staff dengan karyawan. Bpk. Alex Nayoan juga
menambahkan, dengan adanya luncheon ini juga membantu karyawan
untuk lebih termotivasi dalam bekerja dan juga “penghibur” karyawan
karena dengan adanya luncheon ini karyawan juga mendapatkan
kesempatan untuk menyampaikan pikiran mereka langsung kepada pihak
staff dan hal ini membuat karyawan merasa dihormati.
Salah satu bentuk apresiasi yang diberikan oleh manajemen kepada
karyawan adalah dengan adanya information board yang berisikan daftar
ulang tahun karyawan, employee of the month, dan pengumumanpengumuman
lainnya.
Menurut
Bpk.
Zairi
S.A
HR
Director
mengungkapkan bahwa manajemen berusaha untuk menciptakan sebuah
lingkungan kekeluargaan karena dengan ini semua karyawan akan merasa
diperlakukan sama tanpa ada yang merasa terkucilkan. Dengan adanya
papan pengumuman berisikan tanggal – tanggal ulang tahun karyawan
dan juga pengumuman employee of the month merupakan suatu wujud
dari menghargai karyawan da juga sebagai motivasi karyawan secara
tidak langsung.
GAP Kesesuaian ini juga tergambar pada core value yang dimiliki The
Dharmawangsa yaitu selain menghargai tamu, The Dharmawangsa juga
menghargai karyawan yang bekerja dengan memberikan lingkungan kerja
yang seimbang dan baik. Manajemen juga membangun komunikasi yang
baik antara manajemen dan karyawannya. Dengan pemilihan karyawan
yang benar dan dengan seleksi yang ketat menandakan bahwa penyajian
61 pelayanan yang dilaksanakan bisa memenuhi standar dari pelayanan yang
telah dibangun oleh manajemen.
GAP 4: Komunikasi
Advertising
merupakan
salah
satu
cara
sebuah
perusahaan
mengkomunikasikan produknya ke masyarakat. Bpk. Alexander Nayoan
mengungkapkan bahwa cara beriklan dengan menyebarkan informasi dari
mulut ke mulut merupakan hal yang lebih efektif dan mengena
dibandingkan
Dharmawangsa
dengan
beriklan
mengandalkan
secara
poster
pelayanannya
advertising.
untuk
The
mendapatkan
keuntungan yang maksimal bukan dengan cara melakukan poster
advertising karena target utama dari The Dharmawangsa adalah
mendapatkan tamu loyal.
Cara The Dharmawangsa mengiklankan diri biasanya melalui
penulisan artikel yang dimuat di majalah karena dengan ini manajemen
lebih merasa bahwa dengan penulisan artikel produk- produk dan core
value dari manajemen lebih jelas.
62 Gambar 4.7 MAXX-M Article - The Dharmawangsa review
Beberapa artikel mengenai review hotel The Dharmawangsa
diantaranya majalah internasional dan high-end magazines seperti
MAXX-M, Registry, Helo Bali, Jakarta Java Kini, Java Post, Indonesia
Tadler, dan lainnya.
Cara lain The Dharmawangsa dapat dikenal oleh mata internasional
adalah dengan cara mendapatkan komentar- komentar para tamu yang
pernah menginap di The Dharmawangsa melalui internet yaitu
www.tripadvisor.com. Tripadvisor.com merupakan salah satu website
travel terbaik dunia. Disini tidak hanya turis bisa mem- booking kamar
63 secara online tetapi juga para turis bisa membaca rekomendasi dari orangorang yang sebelumnya pernah menginap di The Dharmawangsa
Gambar 4.8 Tripadvisor.com
Dengan
serangkaian
advertisment
yang
dilakukan
oleh
The
Dharmawangsa artinya manajemen telah berhasil mengkomunikasikan
penyajian layanannya kepada persepsi pelanggan. Walaupun komunikasi
yang dilakukan tidak banyak dibandingkan dengan hotel bintang lima
lainnya tetapi komunikasi yang dilakukan tepat sasaran artinya pelanggan
dapat mengharapkan pelayanan yang sesuai dengan apa yang telah
diiklankan oleh The Dharmawangsa.
64 GAP
P 5: Kepuassan Pelanggan
Bagi sebbuah perusahhaan jasa, kepuasan
k
peelanggan meerupakan haasil
akhir
a
dan eleemen terpennting. GAP inni merupakaan batasan anntara apa yaang
diekspektasi
d
ikan oleh peelanggan daan apa pelayyanan yang diterima olleh
pelanggan.
p
Setelah Thhe Dharmaw
wangsa meengetahui appa kebutuhhan
pelanggan,
p
langkah berikutnya
b
adalah mennganalisa apa
a
kepuassan
pelanggan.
p
Gambaar 4.9 Guestt Comment Card
C
Langkah dalam menngetahui keppuasan pelannggan adalahh dengan caara
meminta
m
tam
mu untuk mengisi
m
kuessioner yang terletak di kamar sepeerti
pada
p
gambaar 4.7. Denggan para taamu menjaw
wab rangkaiaan pertanyaaan
yang
y
ada pada kuesioner, manajemeen The Dharrmawangsa akan
a
membuuat
kuesioner tersebut. Dalam
rangkuman
r
D
kueesioner tersebut terdappat
beberapa
b
peertanyaan meengenai fasiilitas yang ada
a pada hootel, pelayannan
65 dan juga performa dari pekerja yang melayani tamu tersebut (misalnya
penampilan, keramahan, ketanggapan, dan lainnya). Dari rangkuman
tersebut, manajemen akan mengetahui apakah yang diterima oleh tamu
sesuai dengan apa yang di ekspektasikan terhadap The Dharmawangsa
(lampiran 3).
Menurut pengalaman dari pihak manajemen, tidak semua tamu akan
mengisi kuesioner oleh karena itu pada saat tamu melakukan check out
registeration, tamu akan ditanyakan pendapat dan pengalaman (komentar
dan kritik) selama menginap di hotel. Namun ada beberapa tamu yang
mau memberikan feed back melaluie-mail atau surat mengenai
pengalaman menginap di The Dharmawangsa.
Dari komentar- komentar yang terdapat pada guest comment card dan
e-mail yang diterima oleh manajemen. Manajemen akan melakukan
summary setiap bulannya seperti pada lampiran 4. Dari komentar dan
komplimen yang ada, terdapat beberapa keluhan dari tamu yang pada saat
ini tidak bisa di lampirkan oleh penulis. Keluhan- keluhan dan kritik yang
diberikan kepada manajemen kebanyakan lebih kepada keluhan terhadap
teknologi atau fasilitas yang terdapat pada hotel misalnya internet yang
tidak berfungsi, tidak ada shower cap, head shower yang rusak, AC yang
suhunya tidak bisa dinaikkan. Selama ini belum ditemukan keluhan
mengenai pelayanan yang di berikan oleh karyawan The Dharmawangsa,
66 ini
membuktikan
bahwa
pelayanan
yang
diberikan
oleh
The
Dharmawangsa memenuhi ekspektasi pelanggannya.
Untuk menanggapi keluhan- keluhan yang ada The Dharmawangsa
berusaha untuk terus bisa memperbaiki fasilitas- fasilitas yang ada.
Dengan memberikan feedback atau email permintaan maaf terhadap
kekurangan yang dimiliki oleh The Dharmawangsa, ini menunjukkan
ketanggapan manajemen terhadap keluhan pelanggan.
Melihat dari guest command card dan juga komentar- komentar
pelanggan terhadap pelayanan yang dilakukan oleh The Dharmawangsa.
Pelayanan yang dipersepsikan oleh pelanggan cukup sesuai dengan apa
yang telah didapat oleh pelanggan. Ini menandakan bahwa The
Dharmawangsa telah berhasil untuk bisa membangun sebuah manajemen
yang baik dan sesuai dengan keinginan pelanggan.
Download